http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9
disebut banyak orang Amerika setelah 11 September 2001: ”Ke-
napa mereka membenci kami?”
Sebuah pertanyaan yang wajar—meskipun yang dipersoal
kanbukan benci. Sebagaimana yang mungkin berkecamuk di
kepala para teroris, yang dipersoalkan adalah mereka dan kami.
Fokus perhatian tak diarahkan untuk mencari jawab kenapa kini
kebencian berkecamuk di pelbagai bagian dunia. Yang jadi obsesi
adalah merumuskan posisi kami dan mereka, mengutarakan ke
istimewaan kami dan keanehan mereka.
Patriotisme memang sering seperti api lilin di dalam tong:
terang, tapi terkurung. Di Gedung Putih dan Pentagon orang tak
melihat bahwa rasa benci dan teror bukan hanya diderita orang
Amerika. Bahkan ratusan orang asing, terutama Pakistan,yang
jadi buruh di World Trade Center, tewas pada tanggal 11 Septem-
ber yang mengerikan itu. Kata kami hari itu seharusnya berlaku
bagi siapa saja, di bagian dunia mana saja, tempat orang-orang
yang tak bersalah dibunuh untuk pernyataa n politik. Kata mere
ka juga tak seharusnya hanya terbatas kepadayang asing, yang di
luar tapal batas dan tak mengibarkan Bintang-Garis.
Tapi ini memang sebuah masa nasionalisme yang patologisda
lam sejarah Amerika. Di Gedung Putih dan di Pentagon, danju
ga di pelbagai negara bagian, orang kian menebarkan perseteruan
kami dan mereka—dan sebuah benteng raksasa pun ditegakkan,
pintu gerbangnya dijaga ketat, dan menarapengintainya diba
nguncanggih. Tak selamanya itu berh ub unga n dengan kesiaga
ananti-teror.
Clyde Prestowitz, dalam Rogue Nation, sebuah buku yang
menguliti tendensi AS hari ini untuk menutup diri dari dunia,
mendaftar perilaku pemerintah Bush. Dengan melihatdiri begi-
tu kuat untuk berdiri sendirian di atas bumi, AS pun menjadik an
PBB sasaran olok-olok. Bahkan sebelum Perang Irak dilancarkan
tanpa mengindahkan organisasi bangsa-bangsa itu, pelbagai per-
42 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9
janjian internasional sebenarnya sudah dijauhi—termasuk Kon-
vensi Pengaturan Senjata Kimia, Konvensi Anti-Penyiksaan Ta
hana n, dan Konvensi Internasional Hak Anak. Dan kita semua
tahu AS tak hendak mengakui Mahkamah Pidana Internasional
yang disepakati negara-negara Eropa.
Kita memang bisa memandang semua itu sebagai campur ba
ur antara paranoia dan ketakaburan. Tapi mungkin ada sesuatu
yang lain dalam postur ini—postur yang diwakili oleh kaum
Kristen Kanan yang kini amat berpengaruh. Prestowitz mengu
tip kata-kata Herman Melville, pengarang Moby Dick dari abad
ke-19: ”Kita orang Amerika adalah Bangsa Terpilih yang Khas—
bangsa Israel pada zaman ini.”
Bahasa Melville adalah bahasa Alkitab. Dalam kata-kata itu
terkandung sebuah ”janji” yang akan dipenuhi oleh Tuhan,janji
tentang sebuah tanah yang kaya susu dan madu dan sebuah kota
yang bersinar di atas bukit. Mungkin semacam surga,tak jauh
dari yang dibayangkan sang pengkhotbah di tepi jalan Kota New
York....
Saya ingat Regis Debray, ketika cendekiawan terkemuka
Pranc is itu membandingkan Eropa dan Amerika. Terbentuk oleh
trad isi Puritanisme Kristen, kata Debray, AS adalah ”sandera dari
sebuah moralitas suci”. AS memandang diri ditakdirkan untuk
jadi wadah Kebaikan, dengan misi untuk menghancurkan Ke-
durjanaan. ”Percaya kepada Petunjuk Allah,” tulis Debray pula,
”Amerika menjalankan sebuah politik yang pada dasarnya ber
sifattheologis.” Dan kuno.
Eropa telah melalui yang kuno itu. Ia telah mengalami buruk
nya perang yang memakai ”moralitas suci” dan mengikuti”Pe-
tunjuk Allah” berabad-abad yang lalu. Ia telah menanggungkan
sengketa yang berdasarkan keyakinan absolut, juga dalam Nazi
isme dan Komunisme. Eropa, kata Debray, ”telah selesai men a
ngisihilangnya yang Mutlak”. Bagi Eropa, planetini terlampau
Catatan Pinggir 7 43
http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9
kompleks untuk diterangkan dengan sebuah ”logika monoteistik
yang biner”—hitam atau putih, mulia atau durjana, kawan atau
lawan.
Saya mencoba mengingat New York 11 September 2001: sang
penginjil, para teroris, imbauan surga, bendera-bendera yang na-
sionalistik, kami dan mereka, hitam dan putih....
Tempo, 14 September 2003
44 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)
DENGAN mata membelalak, dengan teriak, dengan
nama Tuhan dan tangan yang diayunkan, Imam Sa
mudrasebenarnya tak mengagetkan. Ia ingin menun-
jukkan bahwa ia tak gentar. Ia juga tak menyesal. Pengadilan
memb uktikan ia bersalah telah merancang pembunuhan besar-
besaran yang terjadi di Bali pada Oktober 2002 itu, ketika bom
meledak di sebuah kafe yang padat di Kuta. Hakim memutus-
kan: ia dihukum mati. Tapi hukuman itu akan dijalaninya—be-
gitulah ia percaya—sebagai kesempatan untuk menjadi syuhada.
Ia yakin bahwa Taman Firdaus menantinya.
Syuhada sebenarnya bukan hanya sebuah cerita tentang iman
dan keberanian. Sebagaimana halnya pahlawan, ia petunjuk ten-
tang sebuah masyarakat yang tak berbahagia. Bila orang hanya
jadi berarti sesudah mati, pasti begitu buruknya kehidupan. Keti-
ka orang harus menjalankan dan mengalamisesuatu yang brutal
karena masa depan yang indah (dalam bentuk sebuah masyara-
kat yang ideal atau sebidang surga yang asyik), pasti ada yang tak
beres dalam masa kini. Maka ”yang-kelak” harus dibayar oleh
”yang-kini” dengan amat mahal, dengankematian dan kekejam
an. Seperti diutarakan oleh dua baris dalam sebuah sajak Bertolt
Brecht:
Ah, kita yang coba membuka tanah
yang ramah
Kita sendiri tak akan ramah
Persoalannya, tentu, apa yang dibayangkan sebagai ”tanah
yang ramah” itu, sehingga yang ”tak akan ramah”, bahkan yang
kejam, harus dilakukan. Bagi Brecht, seorang sosialis, ”tanah” itu
Catatan Pinggir 7 45
http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)
pasti bukan Firdaus di akhirat buat diri sang syuhadasendiri— se-
perti kenikmatan seorang borjuis yang diperoleh setelah ia mena-
namkan modalnya dalam keadaan penuhrisikopada hari kema-
rin. Dalam cita-cita dan perjuanga n politikumumn ya, masyara-
kat masa depan itu adalah sesuatuyang dalam pelbagai hal lebih
baik ketimbang masyarakat sekarang—dan dengan demikian,
yang mati, yang mengorbankan diri, hadir merendah, bahkan
menghilang, di tengah-tengah derapbersama. Itu sebabnya ada
penghormatan istimewa bagi ”pahlawan tak dikenal”.
Adapun Imam Samudra ingin mati syahid dan masuk surga
.... Tapi baiklah kita katakan bahwa ia melakukan dua hal seka-
ligus: menggapai Firdaus yang penuh bidadari itu untuk dirinya
sendiri dan sekaligus menghasilkan sesuatu untuk ”bersama”—
yang agaknya diterjemahkannya sebagai ”umat”. Namun ada
perbedaan antara para pelaku pengeboman Bali dan para teroris
seperti yang dilukiskan Albert Camus dalam Les Justes. Kedua-
duanya memang tak sepenuhnya melakukan kekejaman itu un-
tuk diri mereka sendiri. Tapi bila dalam Les Justes, membunuh se
orang yang duduk di takhta adalah bagian dari aksi politik, tak
begitu jelas begitukah halnya dalam hal bom di Bali yang mele-
dakkan hampir 200 orang yang tengah bersenang-senang di kafe
itu.
Aksi politik bertujuan merebut kekuasaan—dan itulah yang
ada dalam agenda kaum revolusioner Rusia, tokoh-tokoh dalam
Les Justes. Bom yang diledakkan dan juga para pelakunyahanya
salah satu unsur dalam sebuah strategi. Di kalanga n kaum revo
lusioner itu, ada musuh yang didefinisikan secara jelas: kekua-
saan Tsar dan struktur kekuasaan itu, yang harus dihabisi.
Tapi apa strategi dan apa musuh Imam Samudra? Merebut ke
kuasaan ”Amerika”?
Tak mudah menjawab itu. Kata ”Amerika” dapat berartiba
nyak: sebuah negeri, atau sebuah bangsa, atau sebuah pemerin
46 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)
tahan, atau sebuah gaya hidup, mungkin sebuah kebudayaa n.
Tak setiap orang Amerika menjalankan ”gaya hidup Amerika”,
sebagaimana tak selamanya ”bangsa Amerika” identik dengan
”pemerintah Amerika”. Tak jauh berbeda dari itu adalah sebutan
”Zionis”. Seorang ”Zionis” bisa berarti seorang Yahudi,tapi juga
bisa berarti seorang yang meyakini paham Zionisme. Namun tak
semua orang Yahudi penganut Zionisme, dan tak semua penga-
nut Zionis mempunyai satu paham politik. Maka ”Amerika” se
bagai apa yang akan dikalahkan? ”Zionis” dalam arti apa yang
harus dihabisi?
Kerancuan ini jelas membedakan terorisme di Bali dari sebu
ah aksi politik. Sebuah aksi politik akan berangkat dari sebuah
kata yang sama tentang musuh, tapi dengan dua pengertia n dan
fungsi yang berbeda. Yang pertama adalah pengertian definitif,
untuk merumuskan sasaran secara persis: ”Amerika” secara spesi-
fik berarti, misalnya, ”pemerintah Bush”. Dengan itu ditentukan
pula bagaimana ia dikalahkan, sesuai dengan kondisinya yang
khusus, dan dengan cara yang cocok—yang tak selamanya me-
lalui kekerasan. Yang kedua, kata ”Amerika” atau ”Zionis” adalah
pengertian konotatif, mirip dengan stigma, sesuatu yang tak per-
sis, malah mendekati gelap, sebuah kata yang dipakai untuk men-
cari dukungan orang ramai agar sama-sama membenci, memo-
jokkan sang lawan.
Tapi politik menghilang ketika sebutan yang konotatif men-
jadi sepenuhnya pengertian definitif, dan jihad muncul. Dalam
sebuah ”perang suci”, sang Setan tak pernah jelas sosokn ya. Tak
pula ia bertahan di satu tempat, di suatu waktu. Sebuah ”perang
suci” tak punya patokan yang jelas, bagaimana dan bila ”pihak
sini” menang dan ”pihak sana” kalah. Yang berlaku bukan ”tu-
juan menghalalkan cara”, sebab ”tujuan” itu tak dirumuskan.
Akhirnya ”cara” itu jadi tujuan. Perang itu berkecamuk kapan
saja, di mana saja. Ia seakan-akan di luar ruang dan waktu. Ia bu-
Catatan Pinggir 7 47
http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)
kan sebuah praxis. Ia sebuah langkah kosmis.
Perang di luar sejarah itukah yang hendak dilancarkan Imam
Samudra—dan sebab itu tak perlu dipikirkan kapan Amerika ka-
lah, bagaimana Amerika kalah? Jika demikian, yang utama bu-
kanlah ”membuka tanah yang ramah” seperti disebutkan dalam
sajak Brecht. Yang utama adalah pensucian diri terus-menerus.
Persekutuan dengan orang lain pun tak perlu. Maka politik pun
dinafikan, rembukan, rundingan, dan komunikasi, dianggap tak
penting—dan hidup, sebenarnya, kian menjadi mustahil.
Tempo, 21 September 2003
48 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH
MAYORITAS dengan mudah menang, tapi dengan mu-
dah pula membeku, dan kemudian mencekik. ”Mu-
suh paling berbahaya bagi kebenaran dan kebebasan,”
kata Dr. Stockman dalam Musuh Masyarakat, ”adalah mayoritas
yang kompak.”
Saya kira bukan kebetulan bila karya Henrik Ibsen dari tahun
1882 ini dipentaskan sekarang oleh Actors Unlimiteddari Ban
dung,ketika reformasi politik Indonesia berubah masam,ketika
orang menemukan bahwa suara terbanyak ternyata hanyamela-
hirkan Megawati dan Hamzah Haz. Ditulis oleh Ibsen dengan
luar biasa cepat, Musuh Masyarakat (En folkefiende) memang be-
rangkat dengan niat berpolemik. Ia melawansuara yang di akhir
abad ke-19 itu berkumandang di Eropa,bahwa demokrasi, opini
publik, dan moderasi adalah hal-hal yang harus dimuliakan.
”Saya seorang aristokrat,” tulis Ibsen. Aristokrasi berartipe
nampikan suara yang datang dari bawah. Dalam Musuh Masya
rakat, penampikan itu tampak bahkan dalam bangunanlakon
ini. Ibsen menampilkan Dr. Stockman, seorang pejabatkesehat-
an yang terpelajar, lurus hati, dan berani. Ia dengan berapi-api
mengatakan, ”Saya di pihak yang benar,” di hadapanorang ramai
yang menentangnya—dan tak secercah pun argumen mereka
mempengaruhi posisinya.
Ia kukuh sebab ia merasa punya bukti. Dokter ini menemukan
bahwa air pemandian di kota pantai di selatan Norwegia itu, tem-
pat ratusan pendatang berkunjung untuk berobat— dan menja-
dikannya ”urat nadi” kehidupan penduduk—ternyatamen gan
dunginsuforia yang berbahaya. Di sini Ibsentak hanya menam
pilkan Stockman yang teguh, bahkan tegar. Ibsen juga tak mem-
beri kesempatan cukup kepada suara lain untuk beroleh nilai.
Catatan Pinggir 7 49
http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH
Dalam lakon ini, sang wali kota tampak sebagai seorang politi-
kus yang hanya memikirkan sumber hidupkota. Sang wartawan,
Hovstad, akhirnya hanya mengutamakan para pelanggan koran-
nya, wakil ”opini publik” itu. Sang pengusaha, Aslaksen, cuma
mempertahankan milik, dan ketika ia mengimbau perlunya ”mo
derasi”, ia adalah suara borjuis kecil yang takut akan segala yang
ekstrem. Seluruh warga kota tampak sebagai kawanan: tak jauh
dari hitungan laba dan rugi, mereka membeku, tak berani untuk
berubah, berbeda. Mereka bungkam suara yang bebas, juga suara
mereka sendiri.
Dengan kata lain, sang pengarang—ingat, ia seorang ”aris-
tokrat”—hadir ibarat Tuhan yang tak bahagia. Stockman ada
lahrasulnya yang menyodorkan kebenaran yang tak bisa dikom-
promikan. Mungkin itu sebabnya lakon ini kurang terasasebuah
proses; ia terasa sebagai sebuah percakapan yang dibebani dan di
kendalikan oleh sebuah ide (atau keyakinan, atau amarah) besar
yang tunggal. Ide tunggal itu—bahwa mayoritas adalah musuh
kebenaran dan kebebasan—begitumenguasaicerita, hingga la-
kon ini, yang sepenuhnya berpusatdalam kata-kata Stockman,
akhirnya tak mempersoalk an benar atau tidaknya pencemaran
terjadi di air pemandian. Yang jadi fokus: keteguhan hati Pak
Dokter, yang di akhir lakon berkata, ”Orang terkuat di dunia
adalah ia yang tegak sendirian.”
Sebenarnya aneh. Teater, berbeda dengan pamflet, bukan se-
buah suara seorang yang tegak sendirian. Teater tak hidup dari sa
tu sisi. Teater adalah tempat di mana bahkan suara dan titah sang
pujangga (kita ingat kata author membentuk authority) tak hadir
mutlak. Bahkan dalam bentuk monolog sekalipun, sebuah pe-
mentasan yang berhasil tak akan bergerak di garis lempang yang
membatasi lakon, yang menutup kemungkinan tumbuhnya hal-
hal yang tiap kali bisa berbeda. Sebab teater, seperti demokrasi,
bukan sebuah arena tempat perbedaa n dikalahkan sejak layar di
50 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH
buka. Teater, seperti demokrasi, tak dibangun dari sebuah kenya
taan hidup yang jernih dan jelas.
Saya kira di situ letak kesalahan Ibsen, sang ”aristokrat”.Rasul
nya, Stockman, berangkat dari hasil penelitian laboratorium.
Konklusinya: ada sesuatu yang beracun dalam air pemandian.
Tak lama kemudian ia menyimpulkan bahwa ada insuforia yang
lain: bahwa massa, mayoritas yang kompak itu, ”meracuni sum-
ber kehidupan moral kita dan menjangkiti tanah tempat kita ber
diri.”
Artinya, dengan satu analogi mendadak, Stockman menyeja-
jarkan air pemandian dengan kehidupan moral—seakan-akan
kehidupan moral pun dapat ditilik dari luar, dingin, dari mik-
roskop, dengan konsistensi ilmu-pasti. Pangkal tolaknya adalah
rasio, yang ia kira mampu membaca dan menguasaialam dan hi
dup.Ia seorang Descartes baru—seorang yang menganggap ke-
hidupan bersama seharusnya dibangun den gan sebuah desain
yang sadar. Seorang Descartes yakin bahwasebuah kota memer-
lukan bimbingan seorang perekayasayang pintar, ulung, dan per-
kasa. Baginya, hidup seharusnya tak membiarkan hal yang tak
terduga-duga muncul dan mengganggu desain besar itu—seperti
sang pemabuk yang bersuara ganjil di tengah para peserta rapat
umum yang berderap seia-sekata.
Apa beda, kemudian, antara si Descartes baru dan mereka
yang seia-sekata itu? Apa beda antara Stockman dan ”mayoritas
kompak” yang dimusuhi dan memusuhinya? Sang dokter me-
mang tampak sebagai subyek yang seakan-akan tanpa sejarah,
tanp a badan, tanpa kepentingan, yang melahirkan dan jadi fon-
dasi bagi dirinya sendiri. Sementara itu, para warga kota seakan-
akan terapung-apung, hanya mewakili naluri untuk menyela
matkan perut dan properti.
Tapi sebenarnya beda itu tak amat jauh. Keduanya posisiyang
satu ”ya”, satu ”kata”. Yang menonjol dari ”mayoritasyangkom-
Catatan Pinggir 7 51
http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH
pak” adalah sifatnya yang ”kompak”. Keduanya mengh endaki
hid up yang bisa dimanipulasi dan dikuasai, menampik yang tak
ajek dan tak pasti.
Dalam arti tertentu, itulah sikap anti-teater dan anti-demo
krasi. Tentu saja jika demokrasi, seperti teater, sebenarnya bukan
lah proses untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk
menghadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan se
dih, terkadang dengan ketawa.
Tempo, 28 September 2003
52 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SAID
KABAR tentang Edward Said meninggal saya baca di se-
baris sandek. Kalimat itu muncul di layar telepon geng-
gam ketika saya tengah duduk di depan sebuah lampu
meja yang penyungginya terbuat dari batu berukirkan dua sosok
penari: sebuah nukilan Borbudur.
Kabar datang, pergi, informasi melintas cepat-cepat. Mung
kinsebab itulah orang membangun monumen. Memahatada
lahmengingat. Atau sebaliknya: sejarah ingin dipahat, ditulis
kan dengan huruf kapital ”S”, tapi segala yang datang dan pergi
tak bisa disusun dalam kronologi dan tema besar. Mereka terus
mengerumuni kita, merasuki kita. Dan Sejarah pun seakan-akan
mengunjal napas, capek dan gaek, di hadapa n kini. Kini itu tak
kunjung berhenti. Yang terpeluk oleh Sejarah hanya segala yang
telah lewat, reruntuhan.
”The sigh of History rises over ruins...”
Edward Said meninggal, dan aneh bahwa saya teringat po
tongan kalimat Derek Walcott itu. Sang penyair Karibiatengah
melukiskan sebuah sore di sebuah dusun Trinidad ketika orang-
orang keturunan India mempertunjukkan satu versiRamayana di
lapangan desa. Bendera warna-warni berkibar, bocah-bocah ber-
pakaian merah dan hitam mengarahkan panahmereka ke cahaya
setelah siang, dan di arah sana tampak dua bangunan bambu,ba
gian dari patung dewa yang nanti akan dibakar. Para penabuh
tabla telah menyalakan api. Langitmulai gelap. Burung-burung
ibis yang kemerahan terbang pulang.
Di lapangan itu, para aktor Ramayana di dusun Trinidad
itubukan hendak menegakkan kembali masa lampau. Mereka
Catatan Pinggir 7 53
http://facebook.com/indonesiapustaka SAID
hanya ingin bermain, menjalankan ritus. Lanskap itu sebuah la-
pangan yang hidup dan hiruk. Kejadian itu bukan wakil sebuah
”periode”. Ia bukan secuil contoh dari satu ”zaman”. Di sini, di
mana-mana, suara Sejarah luruh. The sigh of History dissolves....
Tapi bila Sejarah sebenarnya tak mampu menyusun peta wak-
tu, sebagaimana geografi tak bisa menyusun peta bumi dan peng
huni—karena hal-hal itu selalu berubah, karenavariasimereka
tak tepermanai—dengan cara apakah kita mampu membaca
garis hidup dan memahami dunia? Yang pasti, kita tak akan bisa
membacanya utuh. Mengetahui adalah menguasai,tapi itu ikh
tiar yang tak kunjung sampai. Sebab itulah cerita pengetahuan
adalah cerita mobilisasi sehimpun lembaga, teknologi, dan mo
dal.Pengetahuan pun berbaur dengan kekuasaan. Pengetahuan
menjadi kekuasaan.
Bertahun-tahun Edward Said dikenal dengan premis á la Fou-
cault itu, dan dengan itulah karya besarnya, Orientalism, selalu
diperbincangkan. Mungkin karena ia sebuah polemik yang di
tembakkan ketika imperialisme dibongkar: sebuah serangan ke
sejumlah besar karya para ilmuwan, pemikir, dan penulis di Ero-
pa. Mereka ini bagian dari usaha kolonialisme, kata Said. Mereka
menghadapi lanskap yang hidup dan hiruk di luar lingkup mere
ka, dan mereka meringkas dan meringkus; mereka membentuk
sebuah Sejarah. Di bungkusnya mereka capkan label ”Timur”
dan ”Barat”. Walhasil, ”Timur” adalah sebuah sistem pelukisan
tentang sebuah dunia ”lain” yang oleh kekuatan politik diberi
rangka tertentu untuk disajikan untuk disiasati orang di ”Barat”.
Dengan semangat polemis yang sama Said juga menunjukkan
bahwa ”Eropa” memang butuh satu sosok yang berbeda agar ia
bisa memperjelas identitasnya sendiri. Maka ”Eropa” pun mem-
bentuk sebuah Sejarah dan Peta yang secara esensial lain, bahkan
berlawanan. Tentu saja bagi Said, ”esensialisme” ini sewenang-
wenang. Dalam edisi 1995 dari buku terkenalnya itu ia mengu
54 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SAID
tuk tiap ”usaha untuk memaksa kebudayaan dan orang-orang ke
dalam jenis dan esensi yang terpisah dan beda.” Sebab, katanya,
”posisi palsu ini menyembunyikan peru bahan sejarah.”
”Palsu”—dengan hasil yang salah. ”Pertimbangkan, besar
nyaAsia yang direduksi jadi fragmen-fragmen ini...,” tulis Derek
Walcott, yang juga tak percaya bahwa Sejarah bisa ditulis bahkan
tentang serpihan Ramayana di dusun Trinidad itu. Dari Said kita
juga belajar bahwa semua gambaran tentang ”Asia”, sebagai dis
course, selalu diwarnai oleh bahasa, budaya, institusi, dan suasana
politik si orang yang membuat gambar. Semuanya bukan ”ke-
benaran”.
Begitulah, Said adalah sebuah kritik. Tapi sebagaimana la
zimnya sebuah polemik, Orientalism kadang terlalu bersemangat
menembak, dan meleset. Ia lupa bahwa hubungan antara penge-
tahuan dan kekuasaan tak hanya terbatas dalam discourse yang
topang-menopang dengan imperialisme ke dunia ” Timur”. Hei-
degger, sebelum Foucault, telah memaparkan bahwa sejak masa
Sok rates dan Plato di Yunani, cara manusia (Eropa) berpikir telah
mengarah ke meringkus dan meringkas dunia di luar dirinya—
dan tendensi ini diperkeras oleh penerjemahan konsep Yunani
lama oleh semangat imperial Romawi.
Cara berpikir itu tak ayal merasuki gambaran Said sendiri ten-
tang para ”Orientalis”. Ia membangun satu Sejarah dari sebuah
lapangan pemikiran yang hidup dan hiruk. Ia tak memberi ke-
mungkinan sesuatu yang berbeda, bahwa di Eropa, ”Timur” tak
selamanya dilukiskan sebagai sesuatu yang harus dijajah agar
beradab—misalnya ketika Voltaire di pertengaha n abad ke-18
memuji Islam dan mengejek Gereja Katolik. Said begitu berapi-
api mengecam pengetahuan ”Barat” tentang ”Timur” sehingga ia
(dan juga para pengagumnya) sering tak hendak melihat kesalah
an pengetahuan ”Timur” tentang dirinya sendiri.
Tapi di situ pula Said menyiratkan kepedihan: menghadapi
Catatan Pinggir 7 55
http://facebook.com/indonesiapustaka SAID
kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi sen-
jata, harta, dan kata-kata yang begitu kuat dan menaklukkan, ia
berangkat untuk membebaskan. Bukan kebetulan ia seorang Pa
lestina.
Tapi kini ia meninggal, dan seorang teman mengirimseba
ris sandek: ”Kenapa saya sedih?” Kenapa kita sedih? Mungkin
karena hati kita adalah Palestina, jawab saya, pernah merasakan
bagaimana diringkas, diringkus, dan dibungkam di dunia.
Tempo, 5 Oktober 2003
56 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH
TUAN bertanya tidakkah saya takut akan kehilangan
rum ah. Seperti biasa saya punya jawab yang panjang,
membingungkan, dan tak menarik. Sebab saya ingat
akan sebuah sajak Chairil Anwar tentang rumah dan tak be-
rumah—tentang kepastian dan ketidakpastian:
Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Ada kontras yang langsung dalam sajak itu. Rumah yang rapi
dan terang itu adalah kelanjutan dari sebuah riwayat dan sekali
gus harapan yang tak bisa dipenggal—salah satu dari ”gores
[yang] belum terputus”. Tapi pada saat yang sama, di dalamnya
ada yang tak permanen. Perubahan yang drastis, perpindahan
yang tak menentu, juga keresahan dan kepergian, akan datang
menyusul: ”Sudah itu tempatku tak tentu di mana”.
Rasanya tak kita dengar sebuah keluh dan sesal dalam baris
terakhir Chairil Anwar itu. Bagi si ”aku” dalam puisi itu, ketidak
tentuan adalah sesuatu yang tak tersingkirkan, juga bila ia ber
ada dalam sebuah ruang dengan riwayat yang intim dan panjang.
Sajak ini mengakui bahwa dalam ketenteraman itu selalu ada
yang lain, yang bukan-ketenteraman. ”Satu rumah kecil putih de
ngan lampu merah muda” itu memang sebuah kosmos alit yang
utuh, tapi di dalamnya selalu terkandung khaos yang tak tampak.
”Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran”, tulis Chairil
dalam bait berikutnya. Dan pada akhirnya kita pun terban, seper
Catatan Pinggir 7 57
http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH
ti diembus angin, ”tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!?”.
Tuan bertanya tidakkah saya takut akan kehilangan rumah.
Saya cenderung bertanya kembali dengan pertanyaan panjang
yang tak menarik: apa yang kini tersisa dari lokalitas dan stabilitas
yang pernah ada dahulu? Tuan lihat: kini begitu banyak orang di-
gusur, begitu banyak orang mengungsi. Saya sering dengarajaran
yang mengibaratkan manusia sebagai tanaman: punya petak, pu-
nya letak, punya akar. ”Akar” jadi hal yang mustahak. Seorang
penulis pernah mengutip Heidegger yang bertanya, ”Masih ada-
kah rumah yang memupuk akar, di mana manusia selamanya
berdiri... dalam keadaan bodenständig?”
Heidegger: pemikir ini dengan nostalgia seorang Jerman tua
bisa dengan terharu bicara tentang sebuah rumah petani abad ke-
19 di Hutan Hitam di dekat Freibourg. Ia memang salah satu sua
ra abad ke-20 yang menyaksikan teknologi dengancemas, salah
satu kritik murung Eropa yang letih oleh kemajuan. Dalam ce-
ramah memperingati 175 tahun kelahiran komponis Conradin
Kreutzer, Heidegger menunjuk bahwa teknologi secara hakiki
mengancam ”keberakaran manusia di hari ini”. Di tempat lain di
masa lain, Gaston Bachelard juga menyesaliperkembangan Paris
yang mengubah ruang jadi mandul: di kota itu, kata penulis La
poétique de l’espace ini, ”rumah tinggal telah jadi sekadar horizon-
talitas”.
Namun kritik kepada modernitas—dalam arti dorongan me
naklukkan alam dan menjadikannya ruang tanpa kedalama n—
tak sepenuhnya menjawab, benarkah ”akar” begitu sentraldalam
hidup manusia. Tidakkah teknologi memberikan sesuatu yang
lain, yakni kemerdekaan?
Dalam hal ini Chairil Anwar bisa mengejutkan dan sekaligus
fasih. Dalam sebuah sajaknya yang lain ia—merasa terimpit di se-
buah ruang yang pasti—menyatakan sebuah alternatif:
58 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH
Kita terapit, cintaku
—mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak—
Mari kita kepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
—the only possible non-stop flight
Terbang dan mengarungi samudra dengan kapal udara mau-
pun laut, menjelajah dengan Internet yang tak bertempat,semua
itu dimungkinkan oleh teknologi—dan manusia pun bebas
membuat ”jiwa” jadi ”merpati” yang tak ”terapit” dan ”mengecil
diri”. Kita pun mengarungi keluasan tak henti-henti,tak takut
bila akhirnya kita tak ”mendapat”. Dan rumah pun jadi bagian
dari mobilitas, dan arsitektur tak lagi merancang kastil yang
gelap berat, melainkan konstruksi yang ringan bagaikan kemah
musafir. Atau gubuk para gelandangan dan bedeng para peng
ungsi.
Rumah petani di Hutan Hitam itu akhirnya hanya dalam ke-
nangan. Tapi nostalgia memang sebuah paradoks. Ia mendekat-
kan kita dengan apa yang tak lagi dekat. Mungkin karena hidup
bukanlah sepenuhnya kehadiran, melainkan juga ketidakhadir
an? Rumah—meskipun bukan sebuah puri yang angker—bisa
merupakan kehadiran yang membatasi. Tapi bahkan dengan ke-
cenderungannya yang konservatif pun Heidegger melihat peran
perbatasan sebagai sebuah awal. ”Sebuah perbatasan bukanlah
suatu tempat di mana sesuatu berhenti,” katanya dalam sebuah
ceramah untuk satu simposium tentang ”manusia dan ruang”
pada tahun 1951. Sebuah perbatasan, katanya, ”Adalah dari ma
na sesuatu memulai geraknya untuk hadir.” Dengan kata lain, ke-
merdekaan itu ada justru di antara ketidakmerdekaan.
Maka apa arti sebuah rumah, sebenarnya? Sebuah ruang hi
Catatan Pinggir 7 59
http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH
dupdi mana ada kemerdekaan. Ketika rumah kehilangan sifat-
nya itu, ia pun jadi sesuatu yang lain—mungkin sepetak bumi
berpasir hisap yang menyedot kita ke kematian. Sebab itu rumah
(juga tanah air dan tiap ruang tempat kita mempertautkan diri)
adalah sebuah ekspresi dan sekaligus sebuah rekaman perjalanan
penjelajahan. ”Rumahku dari unggun-timbun sajak,” kata sebaris
sajak seorang penyair Belanda yang disadur Chairil Anwar.
Pada akhirnya, paradoks itu memang tak terelakkan. Manusia
berdiri bertaut dengan bumi, selalu dalam bodenständig, tapi kita
tak mungkin terjebak di dalam pot dan petak tanah. Tak meng
herankan bila—meskipun ia menakutkan rusaknya ”akar”—
Heidegger juga mengutip penyair Johann Peter Hebel: ”Kita
tanaman, yang... harus bangkit dengan akarnya, dari bumi, jika
inginberbunga di udara terbuka...”.
Takutkah saya kehilangan rumah? Bukankah kita akan selalu
kehilangan rumah?
Tempo, 12 Oktober 2003
60 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR
DUA gelegar mengagetkan seperti petir—api murub—
asap hitam membubung—pekik berpuluh-puluh sua
rakesakitan yang serentak.... Kebuasan itu memang bi
sa tampak seperti sebuah spectacle, baik di New York pada tahun
2001 maupun di Bali pada tahun 2002.
Kita seakan-akan menyaksikan lukisan Hutan Terbakar Ra
den Saleh dalam tiga dimensi, atau satu adegan opera Götterdäm
merung karya Wagner. Mungkin sebab itu, ketika dua pesawat
Boeing 767 ditabrakkan para teroris ke Menara Kembar di New
York, dan bangunan kukuh itu runtuh, dan 3.000 mati, Stock-
hausen, komponis Jerman terkenal itu, berucap, ”Itulah karya se
ni terbesar untuk seluruh kosmos.”
Tapi orang marah mendengarnya. Teror sebagai karya seni,
korb an sebagai tontonan, para pembunuh sejajar dengan para je
nius? Stockhausen dikecam; sejak itu ia tutup mulut. Tapi salah
kahsang komponis untuk mengatakan demikian, di zaman ke-
tika setiap benda, setiap tindak, dapat dinyatakan sebag ai ”seni”?
Pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp mengikutsertakan
sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di
New York. Sebuah ”revolusi” pun terjadi. Pada tahun 2001 se-
harusnya tak mengejutkan lagi jika Stockhausen membaptiskan
penghancuran Menara Kembar sebagai sebuah ”karya seni”.
Apa gerangan ”seni” dan apa gerangan yang bukan? Di mu
seumseni rupa Tate Modern, London, ada sebuah karya Paul Mc-
Carthy, Rocky (1976). Karya itu sebuah rekaman video: si seniman
telanjang, memasang sarung tinju, wajahnya ditutuptopeng bi-
natang; seraya seakan-akan menyerang memukul,ia meninju tu-
buhnya sendiri. Kini orang bisa menunjukkaninilah beda antara
McCarthy dan seorang Palestina yang meledakkan dirinya sendi
Catatan Pinggir 7 61
http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR
ri: Rocky diletakkan di Tate Modern karena ia dinyatakan seba
gai ”seni” dan dibuat oleh seorang seniman.
Itulah hasil sampingan ”revolusi” Duchamp: berseni atau ti-
daknya X tak lagi ditentukan oleh indah atau tidaknya X, me-
lainkan sepenuhnya oleh sebuah fatwa. Bagaimana X menyentuh
hati para penikmat atau pengamat, tak lagi penting. Hubungan
antara X dan penikmat bahkan praktis tak dibicarakan. Sang se
niman adalah Sang Penentu. Beberapa tahunyang lalu Danarto
memasang sebuah kanvas kosong, putih, di sebuah pameran Ta-
man Ismail Marzuki. Karena ia seorang Danarto—waktu itu ia
telah diakui sebagai sastrawan yang memulai penulisan ”realisme
magis” di Indonesia dan juga seorang pelukis—kita pun diyakin
kan bahwa kanvas kosong itu sesuatu yang punya potensi untuk
menyentuh hati dan menimbulkan permenungan, misalnya ten-
tang ”sepi” dan ”ketiadaa n”.
Dengan begitu sang seniman diletakkan dalam posisi dengan
fondasi kukuh. Tapi sebenarnya itu hanyalah separuh cerita.
Separuh lainnya menunjukkan bahwa posisi itu didapatnya juga
karena ada pusat kesenian, atau sebuah galeri ternama, atau kare-
na seorang kurator yang johari dan sejumlah kritikus yang menu
lis di media tenar. Diakui atau tidak, sang seniman adalah sebuah
tokoh yang ditopang oleh institusi dan geografi yang ”tepat”. Se-
andainya Danarto menggantungkan pigura kosongnya di pojok
stasiun bus, orang mungkin akan memakainya untuk tempat
pengumuman ”Awas Copet!”
Seperti Danarto, Stockhausen punya otoritas, Stockhausen
bisa dibungkam, atau jadi lucu, tapi bagaimanapun, sebuah fat-
wa tetap krusial. Gelegar dan kebuasan yang spektakuler 11 Sep-
tember 2001 itu memang bisa dianggap bukan ”karya seni”, se-
bab Muhammad Atta dan kawan-kawannya tak menyatakan diri
mereka seniman dan tak hendak mempersembahkan teror itu se-
bagai sebuah performance. Tapi pentingkah niat mereka? Harold
62 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR
Rosenberg, kritikus seni rupa untuk The New Yorker, pernah me
ngatakan bahwa sepotong kayu yang diketemukan di pesisir bisa
saja jadi ”seni”.
Dengan kata lain, selama sebuah otoritas membaptiskan sesu
atu sebagai ”seni” atau ”seni modern”—sepotong kayu di pasir,
sebuah jembatan yang dibungkus terpal, sebuah piano yang di-
rusak, mungkin juga sebuah gedung yang dihancurkan—semua
nyabisa dikeramatkan dalam wacana kesenian.
Memang di situ tampak ada otoritas yang begitu kuasa, hingga
bisa memfatwakan X jadi Y begitu saja. Tapi yang merisaukan bu-
kan itu. Yang merisaukan juga bukan anarki dalam menilai. Su-
san Buck-Morss, dalam Thinking Past Terror: Islamism and Criti
cal Theory on the Left (Verso, 2003), dengan tepat menunjukkan
ada yang lebih mencemaskan: pembenaran ”ontologis”.
Pembenaran ontologis adalah yang mengatakan, ”Karena X
ada di Taman Ismail Marzuki, maka X sebuah karya seni.” Ini
berbeda dengan pembenaran ”epistemologis”, yang mengatak an,
”Karena X adalah sebuah karya seni, maka ia ada di Taman Is-
mail Marzuki.”
Pembenaran ontologis juga bisa kita temukan dalam pernyata-
an ini: ”Karena AS negeri yang beradab, ia menghormatihak asasi
manusia.” Pembenaran epistemologis: ”Karena AS menghormati
hak asasi manusia, ia sebuah negeri yang beradab.”
Dalam pembenaran ontologis, apa pun yang dilakukan AS,
karena negeri ini menurut definsinya ”beradab”, tak akan me
langg ar hak asasi. Sebaliknya dalam pembenaran epistemologis,
masih ada kemungkinan untuk dipersoalkan, benarkah AS se
buahnegeri yang beradab.
Sama halnya dengan perkara lain: ”Karena aku berjihad, ma
kajalanku secara definisi suci.” Ini berbeda dengan pernyataan
ini: ”Karena yang kujalankan sesuatu yang suci, maka aku berji-
had.” Statemen terakhir ini membuka diri untuk ditelaah, benar
Catatan Pinggir 7 63
http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR
kah yang kujalankan ”sesuatu yang suci.”
Pembenaran epistemologis memang mengandung keterb uka
an, pertanyaan, dan sikap kritis—juga kepada diri send iri.Pem-
benaran ontologis tidak. Dan agaknya itulah yang berlangsung
ketika ”aku” berilusi bahwa ”aku”-lah yang punyafondasi untuk
menentukan yang indah dan tak indah, yang suci dan tak suci.
Dari sini apa pun akan tampak sah, juga kek ejaman, gelegar bom,
jerit kematian....
Tempo, 19 Oktober 2003
64 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI
KORUPSI adalah korupsi karena sebuah garis batas. Kita
ingatSi Mamad. Ia mengambil setumpuk kertas milik
kantor yang kemudian dijualnya—dan ia merasa ber-
salah. Rasa bersalah itu begitu kencang mengganggu pegawai ke-
cil ini, hingga ia menggelikan dan sekaligus mengenaskan, dan
sebab itulah film Sjumandjaja dari tahun 1973 ini, yang diolah
dari sebuah cerita Anton Chekov pada abad ke-19, jadi satu kisah
men arik. Ia tak memaparkan kejahatan, melainkan kesadaran.
Mamad, dengan baju dinasnya yang kuno dan kereta anginnya
yang tua, sadar bahw a ada sebuah garis batas yang telah dirusak
nya, dan tindak itu adalah korupsi.
Tapi dari mana datangnya garis itu, sebenarnya?
Di permukaan, ia bermula dari perbedaan antara konsep
”milik sendiri” dan ”milik orang banyak”. Dalam bentuknya
yang terburuk, milik ”orang banyak” itu adalah milik ”publik”.
Seorang koruptor bukan seorang pencopet yang mencuri dompet
milik orang seorang. Namun benarkah Si Mamad (dalam cerita
aslinya ia bekerja di sebuah kementerian) merasa bersalah karena
men yadari ia korupsi?
Mungkin tidak. Ada pendapat, pengertian ”publik” adalah
bagian dari kesadaran modern. Di dunia tradisional, demikian
dikatakan, tak ada garis batas antara yang ”negara” dan yang ”pri
badi”, sejajar dengan tak ada garis batas antara yang ”publik” dan
yang bukan. Ketika Bupati Lebak dalam novel Max Havelaar me-
minta rakyat memberikan persembahan bagi dirinya, Havelaar,
asisten residen Belanda itu, mendakwanya ”korupsi”. Tapi benar
kah? Ada yang membela bahwa sang Bupati (seperti Raja Louis
XIV yang menyatakan l’ état c’est moi) memang sejak dulu meng
anggap Lebak, juga rakyat dan upeti mereka, adalah bagian dari
Catatan Pinggir 7 65
http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI
miliknya, bahkan dirinya.
Dengan kata lain, Havelaar yang berapi-api itu memakai se-
buah dalil ”modern” ke sebuah dunia ”pra-modern”. Ia meleset.
Namun saya mengerti kenapa Si Mamad merasa bersalahdan
Havelaar marah. Bukan sebab kesadaran ”modern” rasan ya,tapi
karena di situ ada sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, yakni
soal ”adil” dan ”tak adil”—ihwal yang telah merisaukan manusia
sejak sebelum datang negara modern dengan legislasinya. Saya
kira dari situlah lahirnya garis batas yang saya sebut tadi.
Korupsi dianggap salah karena ia ”tak adil”: perbuatan itu
menghasilkan sesuatu yang berlebihan—uang, kekuasaan, nama
baik, juga kekejaman—yang secara berlebihan pula merugikan
orang lain yang sedang ada dalam status dan posisi lain. Maka bi
sa dimengerti kenapa bukan cuma Havelaar yang marah. Seperti
ditulis sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam karyanya yang ter-
kenal tentang pemberontakan petani Banten pada abad ke-19,
orang-orang udik itu pun melawan, seraya berharap datangnya
”Ratu Adil”.
Angan-angan atau bukan, ratu yang adil tak selamanya diang-
gap berasal dari seberang samudra dongeng. Dulu saya pernah
membaca satu fragmen sejarah Jawa Tengah abad ke-7, tentang
Ratu Sima yang melarang orang mengganggu barang yang bukan
miliknya. Syahdan, suatu hari seorang pangeran melihat sekan-
tong emas di jalan. Ia menyepaknya. Baginda Ratu pun menghu
kum anak kandungnya itu. Dongeng atau bukan dongeng, ceri-
ta ini mencerminkan hasrat untuk yang ”adil”: di sana hukum
berlaku bagi siapa saja, dan ada penangkalan terhadap ”nepotis
me”—biarpun ini abad ke-7.
Kemudian lahir negara modern. Juga di Indonesia. Negara
mod ern sesungguhnya adalah sebuah bangunan yang berusaha
agar soal ”adil” dan ”tak adil” tidak diputuskan hanya karena
kebetulan dan karena nasib. Seperti dibayangkan Hegel (dari
66 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI
Eropa yang dirundung perang dan persengketaan), ”Negara”
(dieja dengan ”N”) berarti Negara Rasional, yang mengelola ke-
bersamaan tanpa anarki ataupun tirani. Di sana hukum dipatuhi
sebagai pengejawantahan akal budi yang universal, bukan karena
dorongan nafsu dan kepentingan tertentu. Di sana birokrasi di
gambarkan sebagai struktur yang ajek dan mengikutinalar.
Marx memang kemudian menunjukkan bahwa Hegel hanya
menutup-nutupi fiil yang buruk. Bagi Marx, ”Negara” adalah se
suatu yang menindas. Baru ketika tak ada lagi kelas sosial yang
punya kebutuhan untuk represif, Negara akan lingsir. Tapi seper
ti Hegel, Marx membayangkan Negara sebagai suatu kehadiran,
utuh, kompak, bergeming—seakan-akan tak akan pernah ter-
jadi saling terobos antara yang ”Negara” dan yang ”bukan-Nega
ra”, antara yang ”publik” dan yang ”privat”. Hegel dan Marx tak
membayangkan Negara sebagai sesuatu yang tak kunjung selesai.
Seandainya mereka melihat Indonesia sekarang....
Di negeri ini, Negara adalah sebuah paradoks: ia represif dan
sekaligus rentan, cerewet dan sekaligus ceroboh. Polisiyang de-
ngan rajin menyetop sopir yang dianggap melanggar aturan Ne
gara adalah juga polisi yang siap menerima sogok. Birokrasiyang
dengan produktif mengeluarkan regulasi adalah juga birok rasi
yang mengharap agar peraturan pemerintah sering dilanggar,
dan dengan itu si pelanggar akan membayar.
Dengan kata lain, korupsi bukanlah tanda bahwa Negarakuat
dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi—tapi yang se
lingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagang-
kan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanyamerepotkan,
tapi tanpa kewibawaan. Keadilan yang dikelolaoleh kejaksaan
dan kehakiman bisa dibeli dengan harga tertentu,maka ia ber-
peran tapi tak menjadi keadilan. Kekerasan yang dimonopoli
Negara, dan dipegang oleh polisi dan tentara,bisa jadi komoditas
seperti jasa tukang pijat, ketika seorang marinir bisa disewa un-
Catatan Pinggir 7 67
http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI
tuk membunuh dan seorang anggota Kopassus bisa dibayar un-
tuk jadi bodyguard.
Berangsur-angsur, korupsi, yang melintasi sebuah garis batas,
berakhir jadi cerita hantu. Hantu itu bernama ”Negara Kesatuan
Republik Indonesia”—sesuatu yang sebenarnya bukan 100 per
sen”Negara”, bukan pula ”kesatuan”, sesuatu antara ada dan tia-
da, seram dan tak menentu.
Tempo, 26 Oktober 2003
68 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK
TERKADANG modernitas datang di sebuah dunia yang
tak terduga. Terkadang tak jelas dari luar ataukah dari
dalam ia muncul. Kita dengar kisah Djasi’ah, misalnya.
Ia tokoh utama dalam Emak, memoar yang ditulis Daoed Joe
soef tentang ibunya yang dikenangnya dengan penuh rasa cinta
itu. Perempuan ini datang dari keluarga petani di Sumatera
Utara, dan menikah dengan Moehammad Joesoef, seorang peng
usaha susu lembu yang juga berladang.
Pasangan suami-istri itu buta huruf Latin. Berakar di ling-
kungan Nahdlatul Ulama, keluarga itu membesarkan kelima
anaknya dengan ritual Islam yang lazim. Tradisi tak boleh diabai
kan. Nasihat Djasi’ah kepada anaknya: ”Kau harus berlaku seba
gai batang air...”. Sebab, sekalipun sungai itu tetap terus mengalir
ke muara dan semakin menjauhi mata airnya, ”ia tidak pernah
memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya itu...”.
Dengan kata lain, antara muara dan sumber, antara arah dan
asal, tak jatuh bayang-bayang. Tapi kita kemudian tahu bahwa
ada bayang-bayang lain di kampung di tepi Kota Medan itu,
dalam empat dasawarsa pertama abad ke-20 itu, ketika hutan
masih rimbun dan sungai masih bersih. Di sana, dunia modern
tampak tumbuh tak terduga.
Djasi’ah adalah bagian dari yang tak terduga itu. Ia punyalima
anak, tiga di antaranya perempuan, dan di antara anakn ya yang
lelaki adalah Daoed Joesoef (dibaca ”Daud Yusuf”), orang Indo-
nesia pertama yang mendapat gelar Doctorat d’Etat dengan sebut
ancum laude pula, dari Universitas Sorbonne, Prancis. Daoed
Joesoef sadar: ia telah bisa melintasi dunia kampung di Medan itu
dan masuk ke kancah akademi di Eropa Barat karena ia adalah
bagian dari kehidupan baru yang dibangun oleh seorang emak
Catatan Pinggir 7 69
http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK
yang menakjubkan.
Djasi’ah digambarankannya sebagai seorang perempuan yang
”bertubuh langsing semampai”, ”berambut ikal dan panjang”,
berkulit bersih yang terawat. Tapi perempuan ini juga seorang
yang, dalam ke-20 bab buku ini, merupakan bagian dari argu-
men tentang pelbagai persoalan hidup: pendidikan, lingkungan,
agama dan masyarakat, ilmu pengetahuan.
Mungkin dengan demikian ia kedengaran terlampau me
nakjubkan. Tapi rasanya bukan hanya imajinasi pengarang ke-
tika dikisahkan bagaimana perempuan ini berani menentang
apa yang dianggap lazim dan baik oleh masyarakat sekitarnya.
Djasi’ah belajar naik sepeda. Dengan demikian ia jadi perem-
puan pertama di kampung itu yang berperilaku demikian, seraya
mengenakan serual (dan bukan kain) panjang.
Ia tahu orang akan bergunjing sebab itu, tapi ia tak peduli.
Ia tetap naik sepeda, seperti ia tetap mempertahankan anaknya
yang perempuan bersekolah di Meisjes Vervolgschool. Si Daoed
juga dikirimnya ke ”sekolah Belanda”, yang oleh orang kampung
disebut ”sekolah kafir”.
Djasi’ah memang tak terduga-duga, tapi dunia modern
datang kepadanya tak hanya dalam bentuk sepeda, atau tonil dari
Betawi, atau topi baret. Dunia itu juga tak datang dalam sebuah
ruang yang kosong. Sebab di sana terbentang sebuah masyarakat
kolonial yang tegang. Di sana telah hadir Soelaiman,yang kemu-
dian dibuang ke Digul oleh pemerintah, dan Mas Singgih, yang
bekerja diam-diam di kalangan kuli perkebunan untuk mence-
tuskan perjuangan politik.
Kolonialisme sering membawa hal-hal yang tak diniatkan-
nya sendiri. Sang penjajah hendak menetapkan posisi si terjajah
di dalam dunia dan sejarah yang terpisah—yang satu ”Barat” dan
yang lain ”Timur”, yang satu ”modern” dan yang lain ”tradisio
nal”,yang satu ”maju” yang lain ”asli”. Terkadang kategori itu
70 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK
melekat, tapi tak jarang si terjajah merasa terancam, terjepit, dan
ia pun menerobos keterpisahan itu.
Hasilnya adalah sebuah mimicry, seperti ketika bunglon
mengu bah warna tubuhnya mengikuti latar tempatnya menem
pel.Si bunglon ingin selamat. Orang bisa mencemoohnya, tapi
pada saat itu, yang menyamar sebenarnya yang membebaskan di
ri.
Modernitas sebagai mimicry itulah mungkin yang mendorong
Soelaiman menempuh jalan ”Belanda” dengan belajar tata buku
dan hitung dagang dan bahasa Belanda serta Inggris. Seperti
Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer:
seorang perempuan yang menerobos batas gender, kelas, warna
kulit, dan menyamakan diri setaraf dengan sang Tuan.
Djasi’ah bukan Nyai Ontosoroh. Dunianya—sebagaima-
na dikenang oleh seorang anak—tak memantulkan ketegangan
masyarakat kolonial seperti yang digambarkan Bumi Manusia.
Kampung itu teramat damai, rumah terasa teramat rukun, ke-
bun, bunga, tetangga dan hutan terasa sebagai bagian dari sebuah
harmoni agung—sebuah gambaran idyllic yang hanya bisa di-
tangkap oleh nostalgia.
Tapi Emak juga tampaknya bisa menangkap modernitas se-
bagai mimicry—meskipun kiasan batang air yang saya kutip di
atas tetap melekat pada dirinya. Dengan itu, baginya modernitas
tampak tumbuh dari dalam, tanpa konflik, bukan dari luar, dari
”Barat”.
Di keluarga Joesoef yang salih itu, Islam dan ritualnya me-
mang tak menjadi lekang. Di sini agama dihayati sebagai akal,
dan sebab itu bisa menangkap apa yang universal. Dengan akal,
Djasi’ah, seorang perempuan tak terpelajar di kampung Kota
Medan pada awal abad ke-20, bisa menyimpulkan hal yang sama
dengan yang disimpulkan seorang filosof Jerman abad ke-19.
Kenapa tidak? Kini orang masih belum capek bergumam ten-
Catatan Pinggir 7 71
http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK
tang ”bentrok peradaban” seraya bimbang, mungkinkah ada
sesuatu yang ”universal” di percakapan kita—sesuatu yang bisa
menjangkau orang lain di mana saja, siapa saja. Dewasa ini, de-
ngan semangat ”bentrok peradaban”, bahkan agama diangkat
bukan sebagai salam, tapi sebagai perisai untuk menutup diri.
Pada saat seperti ini, tak ada salahnya kita ingat Emak yang
pandai memasak. Dari arah dapurnya ia menemukan kiasan lain.
Baginya, lebih baik agama ibarat garam: meresap, menyebar, dan
memberikan manfaat di mana-mana, tanpa kelihatan.
Tempo, 2 November 2003
72 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KAYA
DI kampung saya semasa kecil, kami sering menghabis-
kan jam-jam menjelang berbuka puasa di sebuah mas-
jid di dekat sungai. Di ruang kiri ada orang dewasa yang
mengajarkan membaca Quran, dan di sela-sela itu beberapame-
nit kami menembangkan lagu yang sering disebut sebagai ”puji-
pujian” bagi Tuhan.
Pada dasarnya nyanyian itu hanya bentuk hafalan dari sejum-
lah diktum dan petuah. Saya ingat satu baris yang agak ganjil, da
lam bahasa Jawa:
Ing donya sugih dosa
Ing akerat dipun siksa
Setelah agak dewasa kami tahu bahwa kedua kalimat itu ku
rang-lebih berarti ”siapa yang penuh dosa di dunia, di akhiratia
akan disiksa.” Tapi waktu itu, seperti galibnya anak-anak, ka
mi tak semuanya paham kata-kata yang kami lagukan, dan ter-
istimewa kalimat itu membingungkan: dalam melodinya, ada
pause sejenak antara kata ”sugih” dan ”dosa”. Tentang itu, se
orang teman yang lebih tua dan lebih lanjut bacaan Quran-nya
mengatakan bahwa arti kedua baris itu adalah ”barang siapayang
kaya di dunia” (ing ndonya, sugih), ia akan menanggung ”dosa”
(dosa) dan kelak akan disiksa di neraka.
Kami tak membantahnya, mungkin juga karena teman ini
datang dari sebuah rumah dengan lantai tanah, dinding anyam
anbambu, tiang yang sudah aus, dan ruang dalam yang gelap.
Kini saya dapat membayangkan bagaimana dia harus mampu
mendapatkan argumen bagi keadaan dirinya, bagi nasibnya, se-
bagai seorang anak keluarga yang melarat sejak kakek-neneknya.
Catatan Pinggir 7 73
http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA
Sementara ia taat beribadat. Atau ia merasakan ada sesuatu yang
tak adil bila para pedagang di antara tetangga kami, dengan peka
rangan luas, toko lengkap, rumah besar, dan pakaian bagus, bisa
hidup menikmati kehidupan dunia sekarang dan, insya Allah,
juga kehidupan akhirat nanti.
Atau mungkin ada sebab lain. Jauh di lubuk tiap sikap religi-
us, yang juga menyangkut sikap ethis, selalu ada tendensi zuhud
yang melihat keduniawian sebagai cela. Pada umumnya orang Is-
lam di sekitar saya tak punya anggapan semacam itu. Tapi kami
selamanya ingat bahwa Nabi, yang datang dari keluarga tak ber-
punya, meskipun kemudian menikah dengan seorang wanita
bera da, sering pergi menjauhi Mekah yang komersial itu dan ber-
takhanus di Gua Hira. Mencari kekayaan dapat menyesatkan,
dan contoh terburuk adalah membungakan uang dalam riba—
satu hal yang jauh sebelum Islam juga telah dicela oleh ulama Ya-
hudi dan Gereja Kristen.
Di masa kecil di Jawa Tengah itu, ada unsur lain. Di sini, para
ningrat memandang rendah wong ati saudagar, seperti disebut
dalam syair Wulangreh. Ini hampir tak ada bedanya dengan sikap
kaum mandarin di Cina, yang menunjukkan keunggulan kelas
sosial mereka dengan budi pekerti yang halus dan tangan lentik
yang terawat. Mereka ini, sebagaimana para samurai Jepang yang
anggun dan penuh dekorum, menganggap para pedagang ha
nyasejumlah makhluk kasar, licin, dan loba. Dan sebagaimana
dalam susunan kasta di India, kaum waisya dianggap lebih ren-
dah ketimbang kaum brahmana dan kesatria, di zaman Yunani
kuno Aristoteles juga menganggap bahwa warga sebaiknya tak
mengikuti cara ”yang vulgar dan kaum pedagang.” Ia memper
ingatk an orang akan bahaya pleonexia, tamak dan berlebihan.
Si kaya, dengan harta benda yang bertimbun melalui perda-
gangan, memang tak selalu diterima dengan nyaman di sepan-
jang sejarah. Seperti Yesus yang mengatakan bahwa lebih gam-
74 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA
pang bagi seekor unta untuk masuk ke liang jarum ketimbang
seorang kaya memasuki kerajaan Tuhan, teman saya di masjid
kampung dulu juga percaya bahwa ”sugih [kuwi] dosa.”
Tapi sejarah berjalan dengan harta bertimbun. Pada akhirn ya,
lambat laun, sikap religius dan ethis menyesuaikan diri dengan
pelbagai tendensi pleonexia itu. Gereja Lutheran yang tetap mela-
rang riba sampai tahun 1139 dan Geraja Katolik yangmenegas-
kan ajaran yang sama sampai tahun 1745 harusmenghadapi ke-
nyataan yang diungkapkan secara lucu oleh seorang penulis Italia
abad ke-14: ”Mereka yang menjalankan riba masuk neraka, mere
ka yang gagal menjalankan riba masuk ke kemiskinan.”
Sebuah buku yang terbit tahun lalu, The Mind and the Mar
ket, yang ditulis dengan bahasa yang terang oleh Jerry Z. Muller,
merekam perubahan sikap dan pemikiran Eropa tentang ”kapi-
talisme” dalam sejarah yang panjang itu. Buku ini adalah sebuah
kombinasi antara sejarah yang penuh anekdot dan sebuah argu-
men. Dari dalamnya kita bisa tahu bagaimanaVoltaire bukan saja
pintar memainkan uangnya, terkadang dengan cara curang, dan
menjadi cendekiawan terkaya Eropa pada abad ke-18. Kita juga
tahu bagaimana Adam Smith, penganjur ”masyarakat komersial”
yang kemudian disebut ”kapitalisme” itu, meninggal pada tahun
1790 dengan milik yang minim karena telah mendermakan selu-
ruh hartanya dengan diam-diam.
Juga kita tahu bagaimana orang-orang Yahudi Eropa, yang
oleh Gereja dilarang memiliki tanah, dan oleh gilda-gilda pertu-
kangan dan keahlian disingkirkan (karena mereka bukan Kris-
ten), pada akhirnya harus menjadi kaum pedagang dan bankir—
dan justru sebab itu memperoleh stigma sebagai tukang riba yang
dibenci. Dari Muller kita juga menemukan semacam sebuah plei-
doi bagi kapitalisme, atau setidaknya sebuah sikap yang meneri-
ma bahwa kapitalisme akan bersama kita untuk waktu yang pan-
jang, dan bahwa para saudagar dan pencari harta akan mengeru-
Catatan Pinggir 7 75
http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA
muni sejarah sampai entah kapan.
Tak semua akibatnya buruk. Tak semuanya berupa dosa. Bah-
kan mungkin garis demarkasi antara yang ”dosa” dan ”bukan”
telah luruh, perbatasan antara yang ”suci” dan ”tak suci” akhir
nya cair. Melalui distribusi dan teknologi, khotbahdan dakwah,
gereja dan kuil, buku sufi dan risalah radikal, pelan atau cepat
berkait dengan apa yang juga bergelimang di jalanan dengan ke
rin gat orang jujur, kelicikan para penipu, penjudi, pelacur, pen-
curi—dengan kata lain, uang, modal, pasar, dan dunia yang tak
putus-putusnya resah.
Tempo, 9 November 2003
76 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON
SIAPA yang pernah menanam pohon akan tahu bahwa
yang tumbuh bukan hanya sebuah batang dalam ruang,
tapi juga sebentuk tanda dalam waktu. Berapa ratus ta-
hun terhimpun dalam hutan yang masih utuh di sekeliling Da-
nau Tamblingan? Ribuan pokok tua dan muda saling merapat,
jalin-menjalin bersama perdu, carang dan sulur; sekitar pun tam-
bah rimbun oleh gugus-gugus pakis yang entah sejak kapan me
nyemb unyikan jalan setapak.
Senja itu saya berjalan di sana, di tepi telaga di perbukita nBali
Utara itu, menembus semak, entah berapa kilometer, dalam ke-
sepian yang hanya terusik oleh bunyi langkah sendiri. Jauh di
timur, di tepi danau, tampak sebuah puri kecil yang nyaris ter-
lindung. Di saat itu, di separuh gelap yang hijau itu, yang kekal
hadir. Keabadian bergerak. Tiap detik seakan-akan menyelinap
menyatu dalam klorofil daun damar. Abad seakan-akan bergetar
di ruas batang trembesi.
Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktu pun ber
ubah.Bagaikan sepetak tanah yang gundul, di mana jalanakan
direntang dan pasar akan dibangun, waktu pun terhantar,datar,
siap diukur. Tamasya itu—hutan yang hilang, waktu yang diram-
pat—tak lagi punya tuah. Ia hanya punya harga. Ia hanya punya
guna. Tiap jengkal telah tercampak, menyerah ke dalam reng-
kuhan kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga ”puak
yang perkasa dan damai” itu—ungkapan Marcel Proust tentang
pohon-pohon—pun punah, tak akan dilahirkan kembali.
Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan di mana Ke
gaiba n masih belum hilang, di mana Misteri belum dipetakan.
Itu sebabnya, dulu, raja-raja yang uzur dan tua menyingkir ke
dalamnya sebagai pertapa, untuk—seperti Destarastra, disertai
Catatan Pinggir 7 77
http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON
Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir Mahabharata—me
nantikan mati. Para penguasa yang mengubah diri jadi resi itu tak
lagi berniat menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba mene-
mui kembali pohon-pohon (seraya mengenakan pakaian dari ku-
lit kayu dan anyaman gelagah), dan berharap untuk dapat bertaut
lagi dengan Kegaiban yang dulu mereka lupakan.
Berapa lama gerangan Kegaiban itu dilupakan, sehingga
tuah alam sirna? Hilangnya pesona dunia, the disenchantment of
the world, bermula ketika datang ”modernitas”—itulah yang di-
katakan dalam risalah termasyhur Max Weber. Tapi mungkin
lupa dan lenyap itu jauh lebih tua ketimbang abad ke-17 Eropa.
Bagi saya, lupa itu bisa datang kapan saja, ketika manusia melihat
dunia hanya sebagai sehimpunan obyek yang siap dalam jang-
kauannya, untuk disimpulkan dalam ”pengetahuan” atau untuk
diutak-atik sebagai alat. Pada saat itu, manusia pun lupa, bahwa ia
pernah terpesona oleh apa yang disebut dalam filsafat Jawa seba
gai sangkan paraning dumadi, ”asal dan bakal apa yang ada, yang
men-jadi”. Pada saat itu, manusia yang lupa juga tak lagi tersen-
tuh oleh apa yang disebut orang-orang tasawuf sebagai wujud.
Pada saat itu manusia sibuk dengan apa yang tampak dan ter
dengar, dengan segala yang dapat diraba dan dicium, dengan
apa yang ada yang di hadapannya—dan ia pun abai bahwa”ada”
(wujud) adalah sesuatu yang ajaib, sebenarnya: Kenapa kok ada
”ada”? Kenapa bukan ”tidak ada” saja?
Pertanyaan itu mengusik, tapi bukan sebuah pengusik. Ia se-
benarnya sebuah getar yang menggugah. Dan di gua pertapaan
yang dilindungi pohon-pohon, ”puak yang perkasa dan damai”,
getar yang menggugah tapi telah dilupakan itu hendak ditebus
kembali. Dengan diam, sunyi, rela, melepas hasrat. Dengan,
dalam kata-kata penyair Wordsworth, ”kepasifan yang arif”.
Di sanalah ruang yang statis itu bertaut dengan waktu yang
berlalu. Sang pertapa membiarkan, mempersilakan, apa saja
78 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON
yang di luar egonya untuk merayakan wujud. Ia tak mengalah
kan waktu. Ia tak membabatnya hingga datar, rata, terukur, se-
perti sang pembangun yang menjarah hutan. Sang pertapa, raja
yang telah jadi resi itu, tak lagi hendak menentukan. Ia ditentu
kan. ”Lalu waktu, bukan giliranku...,” kata salah satu puisi medi-
tatif Amir Hamzah. Sang resi mencoba meresapkanbetapa abad
membentuk batang, tahun menyambung dahan,dan, di dekat
kakinya, embun menyusun jaring lembut di antara rumput dan
daun putri malu. Ia kini bahkan merasakan bahwa basah adalah
momen dari air yang terus-menerus bergerak, entah dari mana,
entah ke mana. Mungkin dalam kekekalan.
Konon, seorang sufi akan menyebut bahwa pada saat itulah
iamenemukan tajall?, manifestasi-diri Yang Maha Gaib. Ia akan
teringat akan sebuah Hadis, bahwa Tuhan menyembunyikan
diri-Nya ”di balik tujuh puluh ribu cadar cahaya dan kegelapan”.
Ia akan langsung merasakan betapa benar dan indahnya kalimat
itu: kedua anasir dalam cadar itu hadir, dan yang gelap tak akan
menyingkirkan yang terang, juga sebaliknya.
Sebab sang sufi adalah manusia yang dulu ibarat raja, atau se-
buah subyek yang imperial, yang ingin mengendalikan dunia di
luar dirinya dan sebab itu tak hendak membiarkan hal-hal yang
gelap hadir. Kini, sebagai resi yang pasif tapi arif, ia bersyukur,
bahwa kegelapan itu juga bagian dari rahmah. Sebab, sebagaima-
na dikatakan dalam Hadis pula, seandainya Tuhan menanggal-
kan semua cadar, cahaya yang menyemburat dari Paras-Nya akan
serta-merta ”menghancurkan penglihatan makhluk mana saja
yang berani menatap”.
Mungkin tajall? itulah Lichtung—kata yang dipilih Heideg
ger, ketika Ada (Sein) menyatakan diri, ketika Yang Gaib menge-
jawantah. Lichtung, dalam deskripsi George Steiner, penafsir
Heid egger, adalah ”seperti cahaya yang bergerak di sekitar obyek-
obyek dalam hutan yang gelap, meskipun kita tak tahu dari mana
Catatan Pinggir 7 79
http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON
sumbernya”.
Hutan gelap, rimba purba, tapi yang terkadang menghadir-
kan cahaya yang mempesona tanpa jelas sumbernya—mungkin
itulah kiasan yang baik hari ini: kerinduan manusia kepada tiap
getaran dari Kekekalan Yang Maha Gaib, sekaligus Yang Maha
Indah, di mana hidup adalah pohon-pohon lebat yang mensyu-
kuri matahari. Tapi kita menebangnya, kita menghancurkannya,
dan nihilisme yang menakutkan itu pun mulai.
Tempo, 16 November 2003
80 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA
TUAN Kapital menarikan dansa macabre.... Gambaran
Marx yang muram, tentang modal yang membujuk ma-
nusia berjoget mengiringi Maut, kini tampak seperti lu
kisan yang ditemukan kembali di seberkas naskah kuno. Tuan
Kapital kini tampil lain. Mungkin ia seperti Dasamuka dalam
cerita wayang: selalu mampu menjelma dengan wajah yang baru,
tak kunjung mati. Ia bahkan bisa menghilang.
Dulu ia satu metamorfosis dari riba, uang yang lahir dari
uang. Kita tahu bahwa perbuatan menganakkan uang itu dinis
tak an ramai-ramai dari zaman ke zaman. Devarim, kitab yang
mem aklumkan ulangan undang-undang Musa, yang konon di
susun pada abad ke-7 sebelum Masehi, melarang orang Yahudi
menarik bunga dari pinjaman kepada ”saudara”-nya. Empat abad
kemudian Aristoteles menegaskan bahwa riba memang layak
dibenci. Delapan ratus lima puluh tahun setelah itu, di sekitar
abad ke-6 Masehi, Uskup Jakob dari Saroug, di Suriah, menulis
bahwa bunga (rebitha) adalah hasil siasat Setan untuk memulih-
kan kembali kekuasaannya. Pada abad itu pula kemudian Islam
datang, dengan pesan yang mirip.
Setelah Muhammad SAW, mungkin yang layak disebut
adalah Marx. Pada abad ke-19 Marx menggunakan kata Schaher,
yang menurut mereka yang mengerti bahasa Jerman zaman itu
bera rti ”seseorang yang siap mengambil laba dari apa pun dengan
cara yang licik”. Kata itu juga berarti ”riba”. Di sini tampak bahwa
”riba” dan ”laba” (yang dalam kata Arab konon disebut ribh) sa
ngat dekat. Laba, bagi Marx, berasal dari kelebihan hasil dari me
meras tenaga buruh. Ia buah pengisapan. Apalagi dari uang itu
beranak pula uang, melalui bunga. Ketika terhimpun modal, li-
hat, kata Marx, modal itu sebenarnya ”tenaga kerja yang telah
Catatan Pinggir 7 81
http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA
mati” yang, ”bagaikan vampir, hidup hanya dengan cara menye
dot tenaga kerja yang hidup.”
Tapi berangsur-angsur zaman melihat Tuan Kapital bukan la
gi sebagai makhluk asing yang mengerikan. Jika Mao gagal meng
hapuskannya dari sejarah, jika Cina, yang secara resmi masih
disebut ”Republik Rakyat” itu, maju dan makmur secaramenga
gumkan setelah menjadi ”Republik Pasar Besar”, orang pun ber-
sepakat bahwa tentu ada yang keliru dalam cerita vampir di jilid
kedua Das Kapital. Modal—yang menggerakkan pasar dan di
gerakkan oleh pasar, yang memuliakan milikdan menggairah-
kan kebebasan jual beli, yang mempertukarkan dengan giat ba-
rang dan jasa—sekarang terasa lumrah dan sekaligus modern. Ia
ibarat sebuah generator listrik yang hanyaterdengar derunya, tapi
dari sana, lampu warna-warni dan rollercoaster bergerak ramai di
sebuah Pekan Malam.
Getar generator itu kini menyebar praktis ke seluruh muka
bumi. Di mana pun tampaknya tak ada pilihan selain menerima
kekuatannya. Pada akhirnya dialah makna modernitas itu sendi
ri. Apa boleh buat, dunia, dalam kata-kata Fredric Jameson,hi
dupdengan a singular modernity.
Pasti, Dasamuka itu telah berubah rupa. Ia telah menyulap
dirinya dan berbareng dengan itu menyulap banyak hal lain.
Kita tahu, dari Marx, bahwa dengan modal, barang bisa berubah
menjadi komoditas, dan bersama itu memperoleh daya yang bisa
memukau manusia, bagaikan sebuah azimat. Tapi tak hanya itu.
Modal bisa membuat ”riba” berhenti sebagai ”riba”. Seraya meng-
gerakkan pasar, modal membuat perdagangan uang bersaing
sengit, dan para peminjam tak lagi sepenuhnya bergantung pada
seorang rentenir. ”Riba” pun akhirnya diterima sebagai ”ongkos
modal”. Artinya, sesuatu yang bisa dirancang (dan dikontrol) da
lam anggaran.
Dalam mengubah diri itu pula, Tuan Kapital bisa muncul se-
82 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA
bagai Coca-Cola, MTV, atau media Murdoch, suatu kekuatan
yang bergerak memusat dan cenderung menyeragamkan. Tapi ia
juga bisa menyulap diri sebagai pembawa variasi, dari jenis ayam
goreng sampai dengan jenis komputer jinjing.
Dan ia bisa menghilang. Pada saat yang sama, ia menyusup ke
mana-mana. Kini ada yang percaya bahwa zaman kapital sudah
melenyap. Bahkan sebuah masa ”pasca-kapitalis” telah tiba, se-
bab, kata mereka, kini bukan modal yang berkuasa, melainkan
informasi. Dan informasi, dalam zaman netokrasikini, kata me
rek a (mungkin seraya menghitung jutaan warung Internet di pe-
losok bumi), tak pernah tetap berada di satu pusat. Tapi benar
kah?Bisakah netokrasi berkembang tanpa Bill Gates dan para pe
modal sejenisnya? Tidakkah perbedaan kelas di sini juga ditentu-
kan oleh siapa yang memiliki modal yang—meskipun Bourdieu
mungkin akan menyebutnya sebagai ”modal kultural”—bermula
dari basis ekonomi tertentu?
Jika dilihat demikian, Tuan Kapital memang bisa tampak ga
gah dan berubah-ubah dengan cerah. Ia bahkan bisa menampil-
kan diri sebagai pembebas. Penelaah kebudayaan populer Ars
wendo Atmowiloto baru-baru ini memperkenalkan satu diko-
tomi yang menarik: ada ”siaga” dan ada ”niaga”. Yang pertama
adalah kecenderungan kekuatan politik untuk menutup diri se-
raya curiga kepada yang ”luar”. Yang kedua adalah kecenderung
an perdagangan untuk membangun pasar yang terbuka. Sebab
pasar adalah tempat orang asing atau bukan asingbertemu, yang,
untuk kepentingan mereka sendiri, menjaga agar pertemuan itu
bukan sebuah konflik. Pada abad ke-18 orang Prancis menyebut-
nya sebagai un commerce doux.
Hari ini, memang lebih dipujikan untuk merayakan nia
ga ketimbang siaga—dan saya kira itulah maksud dikotomi
Arsw endo. Tapi tentu saja orang bisa mencatat bahwa niaga bi
samembawa siaga: perang dagang bisa menjadi perang senjata.
Catatan Pinggir 7 83
http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA
Perebutan wilayah di Nusantara antara Inggris dan Belanda
adalah contohnya, dan tak salah jika Marx pernah mencemooh
pengertian doux commerce itu. Kini, kalaupun perang macam itu
tampak mustahil, ada yang tak mustahil: dalam siaga terdapat
niaga. Pertumbuhan ekonomi AS belum lama ini, misalnya, ba
nyakdisumbang oleh perang, dengan segala perabot dan persiap
annya.
Dengan kata lain, Tuan Kapital memang tak selamanya mem-
bujuk manusia untuk menarikan dansa macabre. Tapi ia, yang
ada di siang, ada di malam, memang bisa mencemaskan kita.
Tempo, 23 November 2003
84 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH
ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Ma
ka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbatas-
kan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita
dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka menge-
cam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tu-
han sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bon-
sai. Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena dile
takkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi se-
benarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembah
an yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.
Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.
Di hadapan Fir’aun, begitulah dikisahkan, Musa memberija-
wab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, ”Dan
apakah Tuhan alam dunia itu?” Pertanyaan itu, ”Ma rabbu al-
alam ina?”, cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban
Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengatakan bah-
wa ”Tuhan” adalah ”Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari
segala yang ada di antaranya.”
Musa tak memberikan sebuah definisi, sebab Tuhan yang di
definisikan sama halnya dengan Tuhan yang dibatasi, rapat-rapat,
dalam bahasa. Jawaban Musa sebenarnya sebuah deskripsi—atau
lebih tepat, sebuah penggambaran yang tak berakhir di satu ke
simpulan. Kita bisa menafsirkannya sebagai usaha untuk menun-
jukkan, dengan kiasan, bahwa Tuhan adalah keagungan yang
hadir di ufuk Timur, di mana cahaya bersinar, dan juga di arah
Barat, tempat gelap berangkat. Dengan kata lain: Tuhan adalah
Rabb-i—”pemilik”, ”tuan”, dan ”pengasuh”—dari segalan ya,
dari yang tampak dan tak tampak, dari yang bersama terang dan
yang menemui kelam.
Catatan Pinggir 7 85
http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH
Itu sebabnya Ia ”esa”. Di sini, ”esa”—yang dalam bahasa In-
donesia ditambahi dengan kata ”maha”—berbeda dari ”satu”.
”Satu” adalah sebuah bilangan, sementara yang ilahiah tak dapat
dihitung. Ia bukan seperti bulan dan matahari.
Ia bukan juga Tuhan dalam Also Sprach Zarathustra: Tuhan
yang digambarkan Nietzsche sebagai sosok ”tua berjanggut mu-
ram” yang ”cemburu” dan berkata, ”Hanya ada satu Tuhan! Ka-
lian tak boleh punya tuhan lain selain aku!” Dalam Zarathustra,
setelah pernyataan itu diucapkan, tuhan-tuhan lain pun mati—
bukan karena dibinasakan, tapi karena tertawa geli.
Bagi saya, karikatur Nietzsche ini tak bisa menangkap sikap
mereka yang hanif, yang percaya bahwa Ilahi adalah tunggal.
Kaum monotheis tak datang untuk mengurangi jumlah. Mere
ka tak hendak meringkas persoalan. Justru sebaliknya. Yang
Maha-agung adalah tunggal karena Ia begitu akbar dan sulit
diutarakan. Ia adalah dasar dan juga sumber dari sebuah daya
yang menggetarkan—sebuah daya yang menyebabkan segala hal
muncul ke dalam terang, ”ada”.
Siapa saja yang tergetar oleh daya itu, dan mencoba menyebut
sumber yang ada di baliknya dengan sebuah nama, dengan se-
buah kata, ia akan merasa tak sanggup. Chairil Anwar mengeluh
dalam sebuah sajak yang ia beri nama Doa: ”Betapa susah sung-
guh, mengingat Kau penuh seluruh.”
”Kau” yang ”penuh seluruh” itu tak mungkin Tuhan yang di-
perkecil. Ibn ’Arabi, sufi dan pemikir besar Spanyol pada abad ke-
12, menyebutnya sebagai ”Yang Mutlak” (haqq). Artinya, ”yang
paling tak dapat ditentukan dari semua yang tak dapat ditentu-
kan,” ”ankar al-nakirat.” Ia gaib segaib-gaibnya, Ia ”yang paling
tak dapat diketahui dari semua yang tak diketahui.”
Ia tak dapat diketahui karena Ia melampaui semua kualifikasi
yang berlaku di dunia manusia.
Tapi manusia sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Ka
86 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH
dang-kadang mereka perlakukan Tuhan sebagai penguasa dalam
sebuah wilayah, raja dengan batas tegar. Kini banyak yang mengi
ra bahwa ketika Quran turun dan menyebut nama itu, ”Allah”,
Islam hendak memperkenalkan sesosok tuhan lagi ke dalam pan
theon yang telah sesak.
Seakan-akan ”Allah” bukanlah nama yang dipakai oleh orang
Arab di zaman pra-Islam, baik yang jahiliyah maupunyang ha
nif, baik yang politheistis maupun yang Kristen. Seakan-akan
”Allah”semata-mata Tuhan-orang-Islam yang bertakhta di se-
buah kerajaan yang beradat-istiadat tersendiri.”Tuhan mereka
berbeda dengan Tuhan kami,” kata kaum Fundamentalis Kristen
yang melihat dunia Islam dengan waswas. Seakan-akan Tuhan-
orang-Kristen, Tuhan-orang-Yahudi,dan sederet tuhan yang la
in, bersaing—persis seperti Tuhan yang cemburu dalam sajak
Zarathustra.
Mungkin sebab itu para rasul perlu datang lagi. Tapi bisa
kah?Saya coba renungkan lagi Fusus al-Hikam (ditulis pada ta-
hun 1229), melalui Sufism and Taoism, uraian yang tekun dan te
rang dari Toshihiko Izutsu, ilmuwan Jepang yang jadi penafsir
utama Ibn ’Arabi. Saya kini kian tahu kenapa Tuhan adalah Yang
Mutlak. Tapi kita agaknya hidup di dunia yang dikuasai oleh ahl
’aql wa-taqyid wa-hasr, mereka yang mendekati Yang Gaib seraya
”mengikat, membatasi, dan mengekang.” Tuhan pun diperkecil.
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.
Tuhan yang seperti itu hadir di mana-mana, tapi seakan-akan
variasi dari sebuah patung polisi lalu lintas: sesosok berhala di tepi
jalan, untuk mengingatkan, menakut-nakuti, mengawasi. Tuhan
bukan lagi sumber dari ”rahmah al-imtinan” yang dilukiskan Ibn
’Arabi: rahmat yang menjangkau siapa saja dan apa saja tanpa
mengharapkan apa saja—rahmat yang bahkan bukan sebagai pa-
hala bagi mereka yang berbuat baik.
Dengan Tuhan yang tanpa rahmat seperti itu, kita pun hidup
Catatan Pinggir 7 87
http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH
di masa yang ditandai Fehl Gottes: ”gagalnya Tuhan datang,” kata
Heidegger. Meskipun nama-Nya disebut terus-menerus, ”dunia
telah menjadi tanpa penyembuhan, tak suci.” Sebaris sajak Chai
rilmungkin mengungkapkan hal itu: ”Caya-Mu panas suci/ting-
gal kerlip lilin di malam hari.”
Adakah di sini kita berbicara tentang ”sekularisme”? Saya ki
ra tidak. Mungkin kita justru berbicara tentang suasana ketika
”yang suci” telah jadi banal, ketika ”yang kudus” diletakk an seba
gai rutin hidup sehari-hari, dan mengurus tetek-bengeknya. Pada
saat itu memang ”Tuhan” ramai-ramai dip asark an dan dipamer-
kan. Tapi ia diletakkan di sebuah kotak, seperti seraut pohon
bonsai.
Tempo, 30 November 2003
88 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF
TIAP tahun selalu ada sebuah puasa panjang, dan kemu
diansebuah ritual memaafkan. Saya pernah bersua de
nganseorang alim yang mengatakan, sebagaimana hal-
nya puasa 30 hari pada bulan Ramadan, memaafkan juga dapat
diungkapkan dalam idiom ”mengosongkan diri”. Sekaligus ”pe-
nyucian”.
Ada jalin-menjalin beberapa kata dan makna di sini. ”Ko-
song” (dalam ”mengosongkan”) berarti tanpa isi: sesuatu yang se
penuhnya negatif. Mungkin sebab itu ada seorang penyair Jawa
abad ke-19 yang memilih memakai kata suwung, yang lebihber
asosiasi dengan ”hampa” dan ”lengang”, dan juga dekat dengan
kata sawung, sebuah sinonim dari kata ”jawab” (disawung, dalam
Baoesastra Jawa yang disusun W.J.S. Poerwadarminta pada tahun
1939, sama dengan ”dijawab”). Tak mengherankan bila Rangga
warsita, penyair itu, mengungkapkannya dalam sebuah para-
doks: suwung nanging sakjatining isi, ”kosong tapi pada hakikat-
nya berisi”. Ia menggambarkan suatu sikap meditatif.
Dalam pada itu, ”penyucian” dalam bahasa Indonesia me
ngand ung dua patah kata Melayu, ”cuci” dan ”suci”. Dua patah
kata yang berdekatan bunyi itu mengingatkan kita bahwa yang
bersih dan yang kudus terkait karib, bahwa yang sakral ada hu
bungannya dengan yang tak cemar. Ketika kita memb ayangkan
berpuasa dan memaafkan sebagai ”penyucian diri”, kita meman-
dangnya sebagai sebuah pembebasan dari subyek yang bergeli
mang lemak dan Lumpur dunia, dan dalam proses itu, ia pun
”penuh”, ”mapan”, dan ”kenyang”.
Sebuah subyek yang menggelembung, mapan, dan penuh
adalah sebuah subyek yang tak hendak menerima lagi apa yang
datang dari luar dirinya. Ia tak akan lagi menyambut yang lain.
Catatan Pinggir 7 89
http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF
Ia bukan aku yang suwung yang menghendaki dan merindukan
sawung. Ia tak menghendaki respons. Ia merasa sudah padat-
jawab. Jika ia memberikan maaf kepada orang lain, baginya itu
sama artinya dengan memberikan derma, dan bukan justru kare-
na ia merasa menerima kemurahan hati dari Hidup.
Ia tak menyadari bahwa Hidup menghadirkan sesuatu yang
lebih kaya ketimbang sebuah Aku yang soliter, lebih beragam ke
timbang satu subyek yang dipenuhi diri sendiri dan memandang
dunia sebagai koloni yang bisa ia taklukkan dan ia bentuk sesuai
dengan desainnya.
Untuk melepaskan diri dari Aku yang seperti itu, kita bisa me-
lihat ke satu konsep yang jauh dari cogito ergo sum, yakni konsep
dalam sebuah bahasa Afrika Selatan: ubantu. Seorang yang mem-
punyai ubantu adalah seorang yang terbuka dan dapat dijelang
oleh yang lain, meneguhkan yang lain, tak merasa terancam oleh
yang lain; ia merasa jadi bagian dari sebuah dunia yang asyik, ra-
mai, dan banyak memberi. Dengan gambaran manusia yang ber-
ubantu itulah Desmond Tutu, rohaniw an arif yang muncul dari
kekejaman apartheid itu, berbicara tentang permaafan—dan me-
mang cerita yang mengagumkan tentang puasa dan permaafan
pada kurun waktu ini adalah cerita Afrika Selatan, cerita Nelson
Mandela.
Mandela dipenjarakan selama 27 tahun oleh pemerintah kulit
putih di Afrika Selatan, ketika kaum kulit hitam dipaksahidup di
bawah represi dan penghinaan serta dibungkam dengan teror, pe-
nyiksaan, pembunuhan. Selama itu, selama dalam tahanan yang
praktis tak pernah diketahui dunia itu, Mandela dipaksa bekerja
rodi hingga matanya rusak. Dalam arti tertentu ia berpuasa. Tapi
agaknya puasanya yang lebihbesar datang berangsur-angsur—
yakni ketika pelan-pelan ia mengosongkan diri, mengempiskan
ego, dari keangkuhan yang mengatakan, ”akulah sang korban;
aku berhak membalas dendam”.
90 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF
Ketika pada tahun 1963 ia ditangkap, ia seorang pemimpin
gerakan pembebasan yang percaya bahwa perlawanan bersenjata
itu sesuatu yang niscaya. Agaknya tak ada yang bisa menyalahkan
dia sepenuhnya jika ia berpikir demikian; dendam bisa memberi-
kan kekuatan, dan dendam juga bisa berbicara tentang keadilan.
Tapi ketika pada tahun 1990 Mandela dilepas, ia sudah berubah
oleh sebuah puasa (mungkin juga bisa dilihat sebagai ”jihad”)
yang lebih besar. ”Aku tahu bahwa orang mengharapkan aku me-
nyimpan amarah kepada orang kulit putih,” katanya. ”Tapi aku
tak punya rasa itu sedikit pun.”
Dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom, ia menyebut
bahwa salah satu yang sangat disesalinya ialah bahwa ketika ia di
bebaskan, ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal secara se
patutnya kepada para petugas penjara. Tak aneh. Sebab, baginya
mereka juga bagian dari sistem yang membuat orang jadi ”tawan
an kebencian” yang ”dikunci di balik jeruji prasangka dan pikir
an sempit”. Saat ia jadi bebas, dan bersyukur, ia juga ingin agar
mereka, dan siapa pun, lepas dari penjara yang seperti itu. ”Aku
ingin Afrika Selatan melihat bahwa aku mencintai musuh-mu-
suhku, sementara aku membenci sistem yang menyebabkan kita
bermusuhan.”
Pada Mandela tampak ada kaitan antara puasa dan maaf, an-
tara mensyukuri kebebasan dan keinginan untuk menyebarkan
keadaan bersyukur itu kepada siapa saja. Tentu, ia seorang pe-
mimpin politik yang berniat dan bertugas membangun Afrika
Selatan, negeri yang dengan jerih dan sakit diperjuangkannya
itu; sebab itu sikapnya memaafkan juga lahir dari sebuah pertim-
bangan pragmatis. Seandainya ia memutuskan untuk membakar
nafsu menuntut balas, seandainya ia tak mencoba jadi lambang
usaha ”kebenaran dan rekonsiliasi”, Afrika Selatan akan jadi gu-
run api dan sungai darah. Bersikap pragmatis tak selamanya tan-
pa nilai. Gandhi juga pernah mengatakan, jika tiap orang men-
Catatan Pinggir 7 91