The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9

disebut banyak orang Amerika setelah 11 September 2001: ”Ke-
napa mereka membenci kami?”

Sebuah pertanyaan yang wajar—meskipun yang dipersoal­
kan­bukan benci. Sebagaimana yang mungkin berkecamuk di
ke­pala para teroris, yang dipersoalkan adalah mereka dan kami.
Fokus perhatian tak diarahkan untuk mencari jawab kenapa kini
kebencian berkecamuk di pelbagai bagian dunia. Yang jadi obse­si
adalah merumuskan posisi kami dan mereka, mengutarakan ke­
istimewaan kami dan keanehan mereka.

Patriotisme memang sering seperti api lilin di dalam tong:
terang, tapi terkurung. Di Gedung Putih dan Pentagon orang tak
melihat bahwa rasa benci dan teror bukan hanya diderita orang­
Ame­rika. Bahkan ratusan orang asing, terutama Pakist­an,­­yang
jadi buruh di World Trade Center, tewas pada tanggal 11 Septem-
ber yang mengerikan itu. Kata kami hari itu seharusnya berlaku
ba­gi siapa saja, di bagian dunia mana saja, tempat orang-orang
yang tak bersalah dibunuh untuk pernyataa­ n politik. Kata mere­
ka juga tak seharusnya hanya terbatas kepada­yang asing, yang di
luar tapal batas dan tak mengibarkan Bintang-Garis.

Tapi ini memang sebuah masa nasionalisme yang patologis­da­
lam sejarah Amerika. Di Gedung Putih dan di Pentagon, dan­ju­
ga di pelbagai negara bagian, orang kian menebarkan perseteruan
kami dan mereka—dan sebuah benteng raksasa pun ditegakkan,
pintu gerbangnya dijaga ketat, dan menara­pengintainya di­ba­­
ngun­­canggih. Tak selamanya itu berh­ ub­ unga­­ n dengan kesiaga­
an­anti-teror.

Clyde Prestowitz, dalam Rogue Nation, sebuah buku yang­
me­nguliti tendensi AS hari ini untuk menutup diri dari dunia,­
mendaftar perilaku pemerintah Bush. Dengan melihat­diri begi-
tu kuat untuk berdiri sendirian di atas bumi, AS pun menjadik­ an
PBB sasaran olok-olok. Bahkan sebelum Perang Irak dilancarkan
tanpa mengindahkan organisasi bangsa-bangsa itu, pelbagai per-

42 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9

janjian internasional sebenarnya sudah dijauhi—termasuk Kon-
vensi Pengaturan Senjata Kimia, Konvensi Anti-Penyiksaan Ta­
hana­ n, dan Konvensi Internasional Hak Anak. Dan kita semua
tahu AS tak hendak mengakui Mahkamah Pidana Internasional
yang disepakati negara-negara Eropa.

Kita memang bisa memandang semua itu sebagai campur ba­
ur antara paranoia dan ketakaburan. Tapi mungkin ada se­suatu­
yang lain dalam postur ini—postur yang diwakili oleh kaum
Kristen Kanan yang kini amat berpengaruh. Prestowitz mengu­
tip kata-kata Herman Melville, pengarang Moby Dick dari abad
ke-19: ”Kita orang Amerika adalah Bangsa Terpilih yang Khas—
bangsa Israel pada zaman ini.”

Bahasa Melville adalah bahasa Alkitab. Dalam kata-kata itu
terkandung sebuah ”janji” yang akan dipenuhi oleh Tuhan,­janji
tentang sebuah tanah yang kaya susu dan madu dan sebuah kota
yang bersinar di atas bukit. Mungkin semacam surga,­tak jauh
dari yang dibayangkan sang pengkhotbah di tepi jalan Kota New
York....

Saya ingat Regis Debray, ketika cendekiawan terkemuka
Pranc­ is itu membandingkan Eropa dan Amerika. Terbentuk oleh
trad­­ isi Puritanisme Kristen, kata Debray, AS adalah ”sandera dari
se­buah moralitas suci”. AS memandang diri ditakdir­kan untuk
jadi wadah Kebaikan, dengan misi untuk menghancurkan Ke-
durjanaan. ”Percaya kepada Petunjuk Allah,” tulis Debray pula,
”Amerika menjalankan sebuah politik yang pada dasarnya ber­
sifat­theologis.” Dan kuno.

Eropa telah melalui yang kuno itu. Ia telah mengalami buruk­
nya perang yang memakai ”moralitas suci” dan mengikuti­”Pe-
tunjuk Allah” berabad-abad yang lalu. Ia telah menanggungkan
sengketa yang berdasarkan keyakinan absolut, juga dalam Nazi­
isme dan Komunisme. Eropa, kata Debray, ”telah selesai men­ a­
ngisi­hilangnya yang Mutlak”. Bagi Eropa, planet­ini terlampau

Catatan Pinggir 7 43

http://facebook.com/indonesiapustaka 11/9

kompleks untuk diterangkan dengan sebuah ”logika monoteistik
yang biner”—hitam atau putih, mulia atau durjana, kawan atau
lawan.

Saya mencoba mengingat New York 11 September 2001: sang
penginjil, para teroris, imbauan surga, bendera-bendera yang na-
sionalistik, kami dan mereka, hitam dan putih....

Tempo, 14 September 2003

44 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)

DENGAN mata membelalak, dengan teriak, dengan
nama Tuhan dan tangan yang diayunkan, Imam Sa­
mudra­sebenarnya tak mengagetkan. Ia ingin menun-
jukkan bahwa ia tak gentar. Ia juga tak menyesal. Pengadilan
memb­ uktikan ia bersalah telah merancang pembunuhan besar-
besaran yang terjadi di Bali pada Oktober 2002 itu, ketika bom
meledak di sebuah kafe yang padat di Kuta. Hakim memutus-
kan: ia dihukum mati. Tapi hukuman itu akan dijalaninya—be-
gitulah ia percaya—sebagai kesempatan untuk menjadi syuhada.
Ia yakin bahwa Taman Firdaus menantinya.

Syuhada sebenarnya bukan hanya sebuah cerita tentang iman
dan keberanian. Sebagaimana halnya pahlawan, ia petunjuk ten-
tang sebuah masyarakat yang tak berbahagia. Bila orang hanya
jadi berarti sesudah mati, pasti begitu buruknya kehidupan. Keti-
ka orang harus menjalankan dan mengalami­sesuatu yang brutal
karena masa depan yang indah (dalam bentuk sebuah masyara-
kat yang ideal atau sebidang surga yang asyik), pasti ada yang tak
beres dalam masa kini. Maka ”yang-kelak” harus dibayar oleh
”yang-kini” dengan amat mahal, dengan­kematian dan kekejam­
an. Seperti diutarakan oleh dua baris dalam sebuah sajak Bertolt
Brecht:

Ah, kita yang coba membuka tanah
yang ramah
Kita sendiri tak akan ramah
Persoalannya, tentu, apa yang dibayangkan sebagai ”tanah­
yang ramah” itu, sehingga yang ”tak akan ramah”, bahkan yang­
kej­am, harus dilakukan. Bagi Brecht, seorang sosialis, ”tanah” itu

Catatan Pinggir 7 45

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)

pasti bukan Firdaus di akhirat buat diri sang syu­hada­sendiri—­ se-
perti kenikmatan seorang borjuis yang diperoleh setelah ia mena-
namkan modalnya dalam keadaan penuh­ri­siko­pada hari kema-
rin. Dalam cita-cita dan perjuanga­ n politik­umumn­ ya, masyara-
kat masa depan itu adalah sesuatu­yang dalam pelbagai hal lebih­
baik ketimbang masyarakat sekarang—dan dengan demikian,
yang mati, yang mengorbankan diri, hadir merendah, bahkan
menghilang, di tengah-tengah derap­bersama. Itu sebabnya ada
penghormatan istimewa bagi ”pahlawan tak dikenal”.

Adapun Imam Samudra ingin mati syahid dan masuk surga
.... Tapi baiklah kita katakan bahwa ia melakukan dua hal seka-
ligus: menggapai Firdaus yang penuh bidadari itu untuk dirinya
sendiri dan sekaligus menghasilkan sesuatu untuk ”bersama”—
yang agaknya diterjemahkannya sebagai ”umat”. Namun ada
per­bedaan antara para pelaku pengeboman Bali dan para teroris
seperti yang dilukiskan Albert Camus dalam Les Justes. Kedua-
dua­nya memang tak sepenuhnya melakukan kekejaman itu un-
tuk diri mereka sendiri. Tapi bila dalam Les Justes, membunuh se­
orang yang duduk di takhta adalah bagian dari aksi politik, tak
begitu jelas begitukah halnya dalam hal bom di Bali yang mele-
dakkan hampir 200 orang yang tengah bersenang-senang di kafe
itu.

Aksi politik bertujuan merebut kekuasaan—dan itulah yang
ada dalam agenda kaum revolusioner Rusia, tokoh-tokoh dalam
Les Justes. Bom yang diledakkan dan juga para pelaku­nya­hanya
salah satu unsur dalam sebuah strategi. Di kalanga­ n kaum revo­
lusioner itu, ada musuh yang didefinisikan secara jelas: kekua-
saan Tsar dan struktur kekuasaan itu, yang harus dihabisi.

Tapi apa strategi dan apa musuh Imam Samudra? Merebut ke­
kuasaan ”Amerika”?

Tak mudah menjawab itu. Kata ”Amerika” dapat berarti­ba­
nyak: sebuah negeri, atau sebuah bangsa, atau sebuah pe­mer­in­

46 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)

tahan, atau sebuah gaya hidup, mungkin sebuah kebudayaa­ n.
Tak setiap orang Amerika menjalankan ”gaya hidup Ame­rika”,
sebagaimana tak selamanya ”bangsa Amerika” identik­ dengan
”pemerintah Amerika”. Tak jauh berbeda dari itu adalah sebutan
”Zionis”. Seorang ”Zionis” bisa berarti seorang Yahudi,­tapi juga
bisa berarti seorang yang meyakini paham Zionisme. Namun tak
semua orang Yahudi penganut Zionisme, dan tak semua penga-
nut Zionis mempunyai satu paham politik. Maka ”Amerika” se­
ba­gai apa yang akan dikalahkan? ”Zionis” dalam arti apa yang
harus dihabisi?

Kerancuan ini jelas membedakan terorisme di Bali dari sebu­
ah aksi politik. Sebuah aksi politik akan berangkat dari sebuah
kata yang sama tentang musuh, tapi dengan dua pengertia­ n dan
fungsi yang berbeda. Yang pertama adalah pengertian definitif,
untuk merumuskan sasaran secara persis: ”Amerika” secara spesi-
fik berarti, misalnya, ”pemerintah Bush”. Dengan itu ditentukan
pula bagaimana ia dikalahkan, sesuai dengan kondisinya yang
khu­sus, dan dengan cara yang cocok—yang tak selamanya me-
lalui kekerasan. Yang kedua, kata ”Amerika” atau ”Zionis” adalah
pengertian konotatif, mirip dengan stigma, sesuatu yang tak per-
sis, malah mendekati gelap, sebuah kata yang dipakai untuk men-
cari dukungan orang ramai agar sama-sama membenci, memo-
jokkan sang lawan.

Tapi politik menghilang ketika sebutan yang konotatif men-
jadi sepenuhnya pengertian definitif, dan jihad muncul. Dalam
sebuah ”perang suci”, sang Setan tak pernah jelas sosokn­ ya. Tak
pula ia bertahan di satu tempat, di suatu waktu. Sebuah ”perang
suci” tak punya patokan yang jelas, bagaimana dan bila ”pihak
sini” menang dan ”pihak sana” kalah. Yang berlaku bukan ”tu-
juan menghalalkan cara”, sebab ”tujuan” itu tak dirumuskan.
Akhirnya ”cara” itu jadi tujuan. Perang itu berkecamuk kapan
saja, di mana saja. Ia seakan-akan di luar ruang dan waktu. Ia bu-

Catatan Pinggir 7 47

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (1)

kan sebuah praxis. Ia sebuah langkah kosmis.
Perang di luar sejarah itukah yang hendak dilancarkan Imam

Samudra—dan sebab itu tak perlu dipikirkan kapan Amerika ka-
lah, bagaimana Amerika kalah? Jika demikian, yang utama bu-
kanlah ”membuka tanah yang ramah” seperti disebutkan dalam
sajak Brecht. Yang utama adalah pensucian diri terus-menerus.
Persekutuan dengan orang lain pun tak perlu. Maka politik pun
dinafikan, rembukan, rundingan, dan komunikasi, dianggap tak
penting—dan hidup, sebenarnya, kian menjadi mustahil.

Tempo, 21 September 2003

48 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH

MAYORITAS dengan mudah menang, tapi dengan mu-
dah pula membeku, dan kemudian mencekik. ”Mu-
suh paling berbahaya bagi kebenaran dan kebebasan,”
kata Dr. Stockman dalam Musuh Masyarakat, ”adalah mayoritas
yang kompak.”

Saya kira bukan kebetulan bila karya Henrik Ibsen dari tahun
1882 ini dipentaskan sekarang oleh Actors Unlimited­dari Ban­
dung,­ketika reformasi politik Indonesia berubah masam,­ketika
orang menemukan bahwa suara terbanyak ter­nyata hanya­mela-
hirkan Megawati dan Hamzah Haz. Ditulis oleh Ibsen dengan
luar biasa cepat, Musuh Masyarakat (En folkefiende) memang be-
rangkat dengan niat berpolemik. Ia melawan­suara yang di akhir
abad ke-19 itu berkumandang di Eropa,­bahwa demokrasi, opini
publik, dan moderasi adalah hal-hal yang harus dimuliakan.

”Saya seorang aristokrat,” tulis Ibsen. Aristokrasi berarti­pe­
nam­pikan suara yang datang dari bawah. Dalam Musuh Masya­
rakat, penampikan itu tampak bahkan dalam bangunan­lakon
ini. Ibsen menampilkan Dr. Stockman, seorang pejabat­kesehat-
an yang terpelajar, lurus hati, dan berani. Ia dengan berapi-api
mengatakan, ”Saya di pihak yang benar,” di hadapan­orang ramai­
yang menentangnya—dan tak secercah pun argumen mereka
mempengaruhi posisinya.

Ia kukuh sebab ia merasa punya bukti. Dokter ini menemukan­
bahwa air pemandian di kota pantai di selatan Norwegia itu, tem-
pat ratusan pendatang berkunjung untuk berobat—­ dan menja-
dikannya ”urat nadi” kehidupan penduduk—ternyata­men­ gan­
dung­insuforia yang berbahaya. Di sini Ibsen­tak hanya menam­
pilkan Stockman yang teguh, bahkan tegar. Ibsen juga tak mem-
beri kesempatan cukup kepada suara lain untuk beroleh nilai.

Catatan Pinggir 7 49

http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH

Dalam lakon ini, sang wali kota tampak sebagai seorang politi-
kus yang hanya memikirkan sumber hidup­kota. Sang wartawan,
Hovstad, akhirnya hanya mengutamakan para pelanggan koran-
nya, wakil ”opini publik” itu. Sang pengusaha, Aslaksen, cuma
mem­pertahankan milik, dan ketika ia mengimbau perlunya ”mo­
derasi”, ia adalah suara borjuis kecil yang takut akan segala yang
ekstrem. Seluruh warga kota tampak sebagai kawanan: tak jauh
dari hitungan laba dan rugi, mereka membeku, tak berani untuk
berubah, berbeda. Mereka bungkam suara yang bebas, juga suara
mereka sendiri.

Dengan kata lain, sang pengarang—ingat, ia seorang ”aris-
tokrat”—hadir ibarat Tuhan yang tak bahagia. Stockman ada­
lah­rasulnya yang menyodorkan kebenaran yang tak bisa dikom-
promikan. Mungkin itu sebabnya lakon ini kurang ter­asa­sebuah
proses; ia terasa sebagai sebuah percakapan yang di­bebani dan di­
kendalikan oleh sebuah ide (atau keyakinan, atau amarah) besar
yang tunggal. Ide tunggal itu—bahwa mayoritas adalah musuh
kebenaran dan kebebasan—begitu­menguasai­cerita, hingga la-
kon ini, yang sepenuhnya berpusat­dalam kata-kata Stockman,­
akhirnya tak mempersoalk­ an benar atau tidaknya pencemaran
terjadi di air pemandian. Yang jadi fokus: keteguhan hati Pak
Dok­ter, yang di akhir lakon berkata, ”Orang terkuat di dunia
ada­lah ia yang tegak sendirian.”

Sebenarnya aneh. Teater, berbeda dengan pamflet, bukan se-
buah suara seorang yang tegak sendirian. Teater tak hidup dari sa­
tu sisi. Teater adalah tempat di mana bahkan suara dan titah sang
pujangga (kita ingat kata author membentuk authority) tak hadir
mutlak. Bahkan dalam bentuk monolog sekalipun, sebuah pe-
mentasan yang berhasil tak akan bergerak di garis lempang yang
membatasi lakon, yang menutup kemungkinan tumbuhnya hal-
hal yang tiap kali bisa berbeda. Sebab teater, seperti demokrasi,
bukan sebuah arena tempat perbedaa­ n dikalahkan sejak layar di­

50 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH

buka. Teater, seperti demokrasi, tak dibangun dari sebuah kenya­
taan hidup yang jernih dan jelas.

Saya kira di situ letak kesalahan Ibsen, sang ”aristokrat”.­Rasul­
nya, Stockman, berangkat dari hasil penelitian labo­ratorium.­
Kon­klusinya: ada sesuatu yang beracun dalam air pemandian.
Tak lama kemudian ia menyimpulkan bahwa ada insuforia yang
lain: bahwa massa, mayoritas yang kompak itu, ”meracuni sum-
ber kehidupan moral kita dan menjangkiti tanah tempat kita ber­
diri.”

Artinya, dengan satu analogi mendadak, Stockman menyeja-
jarkan air pemandian dengan kehidupan moral—seakan­-akan
kehidupan moral pun dapat ditilik dari luar, dingin, dari mik-
roskop, dengan konsistensi ilmu-pasti. Pangkal tolak­nya adalah
rasio, yang ia kira mampu membaca dan menguasai­alam dan hi­
dup.­Ia seorang Descartes baru—seorang yang menganggap ke-
hidupan bersama seharusnya dibangun den­ gan­ sebuah desain
yang sadar. Seorang Descartes yakin bahwa­sebuah kota memer-
lukan bimbingan seorang perekayasa­yang pintar, ulung, dan per-
kasa. Baginya, hidup seharusnya tak membiarkan hal yang tak
ter­duga-duga muncul dan mengganggu desain besar itu—seperti
sang pemabuk yang bersuara ganjil di tengah para peserta rapat
umum yang berderap seia-sekata.

Apa beda, kemudian, antara si Descartes baru dan mereka
yang seia-sekata itu? Apa beda antara Stockman dan ”mayoritas­
kompak” yang dimusuhi dan memusuhinya? Sang dokter me-
mang tampak sebagai subyek yang seakan-akan tanpa sejarah,
tanp­ a badan, tanpa kepentingan, yang melahirkan dan jadi fon-
dasi bagi dirinya sendiri. Sementara itu, para warga kota seakan-­
akan terapung-apung, hanya mewakili naluri untuk menyela­
mat­kan perut dan properti.

Tapi sebenarnya beda itu tak amat jauh. Keduanya posisi­yang
satu ”ya”, satu ”kata”. Yang menonjol dari ”mayoritas­yang­kom-

Catatan Pinggir 7 51

http://facebook.com/indonesiapustaka MUSUH

pak” adalah sifatnya yang ”kompak”. Keduanya mengh­ en­daki
hid­ up yang bisa dimanipulasi dan dikuasai, menampik yang tak
ajek dan tak pasti.

Dalam arti tertentu, itulah sikap anti-teater dan anti-demo­
krasi. Tentu saja jika demokrasi, seperti teater, sebenarnya bukan­
lah proses untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk
meng­hadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan se­
dih, terkadang dengan ketawa.

Tempo, 28 September 2003

52 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAID

KABAR tentang Edward Said meninggal saya baca di se-
baris sandek. Kalimat itu muncul di layar telepon geng-
gam ketika saya tengah duduk di depan sebuah lampu
meja yang penyungginya terbuat dari batu berukirkan dua sosok
penari: sebuah nukilan Borbudur.

Kabar datang, pergi, informasi melintas cepat-cepat. Mung­
kin­­sebab itulah orang membangun monumen. Memahat­ada­
lah­mengingat. Atau sebaliknya: sejarah ingin dipahat, ditulis­
kan dengan huruf kapital ”S”, tapi segala yang datang dan pergi
tak bisa disusun dalam kronologi dan tema besar. Mereka terus
mengerumuni kita, merasuki kita. Dan Sejarah pun seakan-akan
mengunjal napas, capek dan gaek, di hadapa­ n kini. Kini itu tak
kunj­ung berhenti. Yang terpeluk oleh Sejarah hanya segala yang
telah lewat, reruntuhan.

”The sigh of History rises over ruins...”
Edward Said meninggal, dan aneh bahwa saya teringat po­
tong­an kalimat Derek Walcott itu. Sang penyair Karibia­tengah­
melukiskan sebuah sore di sebuah dusun Trinidad ketika orang-
orang keturunan India mempertunjukkan satu versi­Ramayana di
lapangan desa. Bendera warna-warni berkibar, bocah-bocah ber-
pakaian merah dan hitam mengarahkan panah­mereka ke cahaya­
setelah siang, dan di arah sana tampak dua bangunan bambu,­ba­
gian dari patung dewa yang nanti akan dibakar. Para penabuh
tabla telah menyalakan api. Langit­mulai gelap. Burung-burung
ibis yang kemerahan terbang pulang.
Di lapangan itu, para aktor Ramayana di dusun Trinidad
itu­­bukan hendak menegakkan kembali masa lampau. Mereka

Catatan Pinggir 7 53

http://facebook.com/indonesiapustaka SAID

hanya ingin bermain, menjalankan ritus. Lanskap itu sebuah la-
pangan yang hidup dan hiruk. Kejadian itu bukan wakil sebuah
”periode”. Ia bukan secuil contoh dari satu ”zaman”. Di sini, di
ma­na-mana, suara Sejarah luruh. The sigh of History dissolves....

Tapi bila Sejarah sebenarnya tak mampu menyusun peta wak-
tu, sebagaimana geografi tak bisa menyusun peta bumi dan peng­
huni—karena hal-hal itu selalu berubah, karena­variasi­mereka­
tak tepermanai—dengan cara apakah kita mampu membaca­
garis hidup dan memahami dunia? Yang pasti, kita tak akan bis­a
membacanya utuh. Mengetahui adalah menguasai,­tapi itu ikh­
tiar yang tak kunjung sampai. Sebab itulah cerita pengetahuan
adalah cerita mobilisasi sehimpun lembaga, teknologi, dan mo­
dal.­Pengetahuan pun berbaur dengan kekuasaan. Pengetahuan
menj­adi kekuasaan.

Bertahun-tahun Edward Said dikenal dengan premis á la Fou-
cault itu, dan dengan itulah karya besarnya, Orientalism, selalu­
diperbincangkan. Mungkin karena ia sebuah polemik yang di­
tembakkan ketika imperialisme dibongkar: sebuah serangan ke
sejumlah besar karya para ilmuwan, pemikir, dan penulis di Ero-
pa. Mereka ini bagian dari usaha kolonialisme, kata Said. Mereka
menghadapi lanskap yang hidup dan hiruk di luar lingkup mere­
ka, dan mereka meringkas dan meringkus; mereka membentuk
sebuah Sejarah. Di bungkusnya mereka capkan label ”Timur”
dan ”Barat”. Walhasil, ”Timur” adalah sebuah sistem pelukisan
tentang sebuah dunia ”lain” yang oleh kekuatan politik diberi
rangka tertentu untuk disajikan untuk disiasati orang di ”Barat”.

Dengan semangat polemis yang sama Said juga menunjukkan
bahwa ”Eropa” memang butuh satu sosok yang berbeda agar ia
bi­sa memperjelas identitasnya sendiri. Maka ”Eropa” pun mem-
bentuk sebuah Sejarah dan Peta yang secara esensial lain, bahkan
berlawanan. Tentu saja bagi Said, ”esensialisme” ini sewenang-
we­nang. Dalam edisi 1995 dari buku terkenalnya itu ia mengu­

54 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAID

tuk tiap ”usaha untuk memaksa kebudayaan dan orang-orang ke
dalam jenis dan esensi yang terpisah dan beda.” Sebab, katanya,
”posisi palsu ini menyembunyikan peru­ bahan sejarah.”

”Palsu”—dengan hasil yang salah. ”Pertimbangkan, besar­
nya­Asia yang direduksi jadi fragmen-fragmen ini...,” tulis Derek
Walcott, yang juga tak percaya bahwa Sejarah bisa ditulis bahkan
tentang serpihan Ramayana di dusun Trinidad itu. Dari Said kita
juga belajar bahwa semua gambaran tentang ”Asia”, sebagai dis­
course, selalu diwarnai oleh bahasa, budaya, institusi, dan suasana­
politik si orang yang membuat gambar. Semuanya bukan ”ke-
benaran”.

Begitulah, Said adalah sebuah kritik. Tapi sebagaimana­ la­
zimnya sebuah polemik, Orientalism kadang terlalu bersemangat
menembak, dan meleset. Ia lupa bahwa hubungan antara penge-
tahuan dan kekuasaan tak hanya terbatas dalam discourse yang
topang-menopang dengan imperialisme ke dunia ”­ Timur”. Hei-
degger, sebelum Foucault, telah memaparkan bahwa sejak masa
Sok­ rates dan Plato di Yunani, cara manusia (Eropa) berpikir telah
mengarah ke meringkus dan meringkas dunia di luar dirinya—
dan tendensi ini diperkeras oleh penerjemahan konsep Yunani
lama oleh semangat imperial Romawi.

Cara berpikir itu tak ayal merasuki gambaran Said sendiri ten-
tang para ”Orientalis”. Ia membangun satu Sejarah dari sebuah
lapangan pemikiran yang hidup dan hiruk. Ia tak memberi ke-
mungkinan sesuatu yang berbeda, bahwa di Eropa, ”Timur” tak
selamanya dilukiskan sebagai sesuatu yang harus­ dijajah agar
beradab—misalnya ketika Voltaire di pertengaha­ n abad ke-18
memuji Islam dan mengejek Gereja Katolik. Said begitu berapi-
api mengecam pengetahuan ”Barat” tentang ”Timur” sehingga ia
(dan juga para pengagumnya) sering tak hendak melihat kesalah­
an pengetahuan ”Timur” tentang dirinya sendiri.

Tapi di situ pula Said menyiratkan kepedihan: menghadapi­

Catatan Pinggir 7 55

http://facebook.com/indonesiapustaka SAID

kekuasaan yang bertaut dengan pengetahuan, menghadapi sen-
jata, harta, dan kata-kata yang begitu kuat dan menaklukkan, ia
berangkat untuk membebaskan. Bukan kebetulan ia seorang Pa­
les­tina.

Tapi kini ia meninggal, dan seorang teman mengirim­seba­
ris sandek: ”Kenapa saya sedih?” Kenapa kita sedih? Mung­kin­
karena hati kita adalah Palestina, jawab saya, pernah me­rasa­kan
bagaimana diringkas, diringkus, dan dibungkam di dunia.

Tempo, 5 Oktober 2003

56 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH

TUAN bertanya tidakkah saya takut akan kehilangan
rum­­ ah. Seperti biasa saya punya jawab yang panjang,
membingungkan, dan tak menarik. Sebab saya ingat
akan sebuah sajak Chairil Anwar tentang rumah dan tak be-
rumah—tentang kepastian dan ketidakpastian:

Banyak gores belum terputus saja
Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya
Langit bersih-cerah dan purnama raya...
Sudah itu tempatku tak tentu di mana
Ada kontras yang langsung dalam sajak itu. Rumah yang rapi
dan terang itu adalah kelanjutan dari sebuah riwayat dan sekali­
gus harapan yang tak bisa dipenggal—salah satu dari ”gores
[yang] belum terputus”. Tapi pada saat yang sama, di dalam­nya
ada yang tak permanen. Perubahan yang drastis, per­pindahan
yang tak menentu, juga keresahan dan kepergi­an, akan datang
menyusul: ”Sudah itu tempatku tak tentu di mana”.
Rasanya tak kita dengar sebuah keluh dan sesal dalam baris
terakhir Chairil Anwar itu. Bagi si ”aku” dalam puisi itu, ke­tidak­
tentuan adalah sesuatu yang tak tersingkirkan, juga bila ia ber­
ada dalam sebuah ruang dengan riwayat yang intim dan panjang.­
Sajak ini mengakui bahwa dalam ketenteraman itu selalu ada
yang lain, yang bukan-ketenteraman. ”Satu rumah kecil putih de­
ngan lampu merah muda” itu memang sebuah kosmos alit yang
utuh, tapi di dalamnya selalu terkandung khaos yang tak tampak.
”Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran”, tulis Chairil
da­lam bait berikutnya. Dan pada akhirnya kita pun terban, seper­

Catatan Pinggir 7 57

http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH

ti diembus angin, ”tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!?”.
Tuan bertanya tidakkah saya takut akan kehilangan rumah.

Saya cenderung bertanya kembali dengan pertanyaan panjang
yang tak menarik: apa yang kini tersisa dari lokalitas dan stabil­itas
yang pernah ada dahulu? Tuan lihat: kini begitu banyak orang di-
gusur, begitu banyak orang mengungsi. Saya sering dengar­ajaran
yang mengibaratkan manusia sebagai tanaman: punya petak, pu-
nya letak, punya akar. ”Akar” jadi hal yang mustahak. Seorang
penulis pernah mengutip Heidegger yang bertanya, ”Masih ada-
kah rumah yang memupuk akar, di mana manusia selamanya
berdiri... dalam keadaan bodenständig?”

Heidegger: pemikir ini dengan nostalgia seorang Jerman tua­
bisa dengan terharu bicara tentang sebuah rumah petani abad ke-
19 di Hutan Hitam di dekat Freibourg. Ia memang salah satu sua­
ra abad ke-20 yang menyaksikan teknologi dengan­cemas, salah
satu kritik murung Eropa yang letih oleh kemajuan. Dalam ce-
ramah memperingati 175 tahun kelahiran komponis Conradin
Kreutzer, Heidegger menunjuk bahwa­ teknologi secara hakiki
mengancam ”keberakaran manusia di hari ini”. Di tempat lain di
masa lain, Gaston Bachelard juga menyesali­perkembangan Paris
yang mengubah ruang jadi mandul: di kota itu, kata penulis La
poétique de l’espace ini, ”rumah tinggal telah jadi sekadar horizon-
talitas”.

Namun kritik kepada modernitas—dalam arti dorongan me­
naklukkan alam dan menjadikannya ruang tanpa kedalama­ n—
tak sepenuhnya menjawab, benarkah ”akar” begitu sent­ral­dalam
hidup manusia. Tidakkah teknologi memberikan sesuatu yang
lain, yakni kemerdekaan?

Dalam hal ini Chairil Anwar bisa mengejutkan dan sekaligus
fasih. Dalam sebuah sajaknya yang lain ia—merasa ter­impit di se-
buah ruang yang pasti—menyatakan sebuah alternatif:

58 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH

Kita terapit, cintaku
—mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak—
Mari kita kepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
—the only possible non-stop flight
Terbang dan mengarungi samudra dengan kapal udara mau-
pun laut, menjelajah dengan Internet yang tak bertempat,­semua
itu dimungkinkan oleh teknologi—dan manusia pun bebas
membuat ”jiwa” jadi ”merpati” yang tak ”terapit” dan ”me­ngecil
diri”. Kita pun mengarungi keluasan tak henti-henti,­tak takut
bila akhirnya kita tak ”mendapat”. Dan rumah pun jadi bagian
dari mobilitas, dan arsitektur tak lagi merancang kastil yang
gelap berat, melainkan konstruksi yang ringan bagaikan kemah
musafir. Atau gubuk para gelandangan dan bedeng para peng­
ungsi.
Rumah petani di Hutan Hitam itu akhirnya hanya dalam ke-
nangan. Tapi nostalgia memang sebuah paradoks. Ia mendekat-
kan kita dengan apa yang tak lagi dekat. Mungkin karena hidup
bukanlah sepenuhnya kehadiran, melainkan juga ketidakhadir­
an? Rumah—meskipun bukan sebuah puri yang angker—bisa
merupakan kehadiran yang membatasi. Tapi bahkan dengan ke-
cenderungannya yang konservatif pun Heidegger melihat peran­
perbatasan sebagai sebuah awal. ”Sebuah perbatasan bukanlah­
suatu tempat di mana sesuatu berhenti,” katanya dalam sebuah
ceramah untuk satu simposium tentang ”manusia dan ruang”
pada tahun 1951. Sebuah perbatasan, katanya, ”Adalah dari ma­
na sesuatu memulai geraknya untuk hadir.” Dengan kata lain, ke-
merdekaan itu ada justru di antara ketidakmerdekaan.
Maka apa arti sebuah rumah, sebenarnya? Sebuah ruang hi­

Catatan Pinggir 7 59

http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH

dup­di mana ada kemerdekaan. Ketika rumah kehilangan sifat-
nya itu, ia pun jadi sesuatu yang lain—mungkin sepetak bumi
berpasir hisap yang menyedot kita ke kematian. Sebab itu rumah
(juga tanah air dan tiap ruang tempat kita mempertautkan diri)
adalah sebuah ekspresi dan sekaligus sebuah rekaman perjalanan
penjelajahan. ”Rumahku dari unggun-timbun sajak,” kata sebaris
sajak seorang penyair Belanda yang disa­dur Chairil Anwar.

Pada akhirnya, paradoks itu memang tak terelakkan. Manusia­
berdiri bertaut dengan bumi, selalu dalam bodenständig, tapi kita
tak mungkin terjebak di dalam pot dan petak tanah. Tak meng­
her­ankan bila—meskipun ia menakutkan rusaknya ”akar”—
Heidegger juga mengutip penyair Johann Peter Hebel:­ ”Kita
tanaman, yang... harus bangkit dengan akarnya, dari bumi, jika
ingin­berbunga di udara terbuka...”.

Takutkah saya kehilangan rumah? Bukankah kita akan selalu
kehilangan rumah?

Tempo, 12 Oktober 2003

60 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR

DUA gelegar mengagetkan seperti petir—api murub—
asap hitam membubung—pekik berpuluh-puluh sua­
ra­kesakitan yang serentak.... Kebuasan itu memang bi­
sa tampak seperti sebuah spectacle, baik di New York pada tahun
2001 maupun di Bali pada tahun 2002.

Kita seakan-akan menyaksikan lukisan Hutan Terbakar Ra­
den Saleh dalam tiga dimensi, atau satu adegan opera Götterdäm­
merung karya Wagner. Mungkin sebab itu, ketika dua pesawat
Boeing 767 ditabrakkan para teroris ke Menara Kembar di New
York, dan bangunan kukuh itu runtuh, dan 3.000 mati, Stock-
hausen, komponis Jerman terkenal itu, berucap, ”Itulah karya se­
ni terbesar untuk seluruh kosmos.”

Tapi orang marah mendengarnya. Teror sebagai karya seni,
korb­­ an sebagai tontonan, para pembunuh sejajar dengan para je­­
ni­us? Stockhausen dikecam; sejak itu ia tutup mulut. Tapi sa­lah­
kah­­sang komponis untuk mengatakan demikian, di zaman ke-
tika setiap benda, setiap tindak, dapat dinyatakan sebag­ ai ”seni”?
Pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp meng­ikut­sertakan
sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di
New York. Sebuah ”revolusi” pun terjadi. Pada tahun 2001 se-
harusnya tak mengejutkan lagi jika Stockhausen membaptiskan
penghancuran Menara Kembar sebagai sebuah ”karya seni”.

Apa gerangan ”seni” dan apa gerangan yang bukan? Di mu­
seum­seni rupa Tate Modern, London, ada sebuah karya Paul Mc-
Carthy, Rocky (1976). Karya itu sebuah rekaman video: si seniman­
telanjang, memasang sarung tinju, wajahnya ditutup­topeng bi-
natang; seraya seakan-akan menyerang memukul,­ia meninju tu-
buhnya sendiri. Kini orang bisa menunjukkan­inilah beda antara
McCarthy dan seorang Palestina yang meledak­kan dirinya sendi­

Catatan Pinggir 7 61

http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR

ri: Rocky diletakkan di Tate Modern karena ia dinyatakan seba­
gai ”seni” dan dibuat oleh seorang seniman.

Itulah hasil sampingan ”revolusi” Duchamp: berseni atau ti-
daknya X tak lagi ditentukan oleh indah atau tidaknya X, me-
lainkan sepenuhnya oleh sebuah fatwa. Bagaimana X menyentuh­
hati para penikmat atau pengamat, tak lagi penting. Hubungan
antara X dan penikmat bahkan praktis tak dibicarakan. Sang se­
niman adalah Sang Penentu. Beberapa tahun­yang lalu Danarto­
memasang sebuah kanvas kosong, putih, di sebuah pameran Ta-
man Ismail Marzuki. Karena ia seorang Danarto—waktu itu ia
telah diakui sebagai sastrawan yang memulai penulisan ”realisme
magis” di Indonesia dan juga seorang pelukis—kita pun diyakin­
kan bahwa kanvas kosong itu sesuatu yang punya potensi untuk
menyentuh hati dan menimbulkan permenungan, misalnya ten-
tang ”sepi” dan ”ketiadaa­ n”.

Dengan begitu sang seniman diletakkan dalam posisi dengan­
fondasi kukuh. Tapi sebenarnya itu hanyalah separuh cerita.
Separuh lainnya menunjukkan bahwa posisi itu didapatnya juga
karena ada pusat kesenian, atau sebuah galeri ternama, atau kare-
na seorang kurator yang johari dan sejumlah kritikus yang menu­
lis di media tenar. Diakui atau tidak, sang seniman adalah sebuah
tokoh yang ditopang oleh institusi dan geografi yang ”tepat”. Se-
andainya Danarto menggantungkan pigura kosongnya di pojok­
stasiun bus, orang mungkin akan memakainya untuk tempat
pengumuman ”Awas Copet!”

Seperti Danarto, Stockhausen punya otoritas, Stockhausen
bis­a dibungkam, atau jadi lucu, tapi bagaimanapun, sebuah fat-
wa tetap krusial. Gelegar dan kebuasan yang spektakuler 11 Sep-
tember 2001 itu memang bisa dianggap bukan ”karya seni”, se-
bab Muhammad Atta dan kawan-kawannya tak menyatakan diri
mereka seniman dan tak hendak mempersembahkan teror itu se-
bagai sebuah performance. Tapi pentingkah niat mereka? Harold­

62 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR

Rosenberg, kritikus seni rupa untuk The New Yorker, pernah me­
ngatakan bahwa sepotong kayu yang diketemukan di pesisir bisa
saja jadi ”seni”.

Dengan kata lain, selama sebuah otoritas membaptiskan sesu­
atu sebagai ”seni” atau ”seni modern”—sepotong kayu di pasir,
sebuah jembatan yang dibungkus terpal, sebuah piano yang di-
rusak, mungkin juga sebuah gedung yang dihancurkan—semua­
nya­bisa dikeramatkan dalam wacana kesenian.

Memang di situ tampak ada otoritas yang begitu kuasa, hingga­
bisa memfatwakan X jadi Y begitu saja. Tapi yang mer­isau­kan bu-
kan itu. Yang merisaukan juga bukan anarki dalam menilai. Su-
san Buck-Morss, dalam Thinking Past Terror: Islamism and Criti­
cal Theory on the Left (Verso, 2003), dengan tepat menunjukkan
ada yang lebih mencemaskan: pembenaran ”ontologis”.

Pembenaran ontologis adalah yang mengatakan, ”Karena X
ada di Taman Ismail Marzuki, maka X sebuah karya seni.” Ini
berbeda dengan pembenaran ”epistemologis”, yang mengatak­ an,
”Karena X adalah sebuah karya seni, maka ia ada di Taman Is-
mail Marzuki.”

Pembenaran ontologis juga bisa kita temukan dalam pernyata-
an ini: ”Karena AS negeri yang beradab, ia menghormati­hak asasi­
manusia.” Pembenaran epistemologis: ”Karena AS menghormati
hak asasi manusia, ia sebuah negeri yang ber­adab.”­

Dalam pembenaran ontologis, apa pun yang dilakukan AS,
kar­ena negeri ini menurut definsinya ”beradab”, tak akan me­
langg­­ ar hak asasi. Sebaliknya dalam pembenaran epistemolo­gis,
mas­ih ada kemungkinan untuk dipersoalkan, benarkah AS se­
buah­­negeri yang beradab.

Sama halnya dengan perkara lain: ”Karena aku berjihad, ma­
ka­jalanku secara definisi suci.” Ini berbeda dengan pernyataan
ini: ”Karena yang kujalankan sesuatu yang suci, maka aku berji-
had.” Statemen terakhir ini membuka diri untuk ditelaah, benar­

Catatan Pinggir 7 63

http://facebook.com/indonesiapustaka GELEGAR

kah yang kujalankan ”sesuatu yang suci.”
Pembenaran epistemologis memang mengandung ke­terb­­ uka­­­

an, pertanyaan, dan sikap kritis—juga kepada diri send­ iri.­Pem-
benaran ontologis tidak. Dan agaknya itulah yang berlangsung
ketika ”aku” berilusi bahwa ”aku”-lah yang punya­fondasi untuk
me­nentukan yang indah dan tak indah, yang suci dan tak suci.
Dar­i sini apa pun akan tampak sah, juga kek­ ejaman, gelegar bom,
jerit kematian....

Tempo, 19 Oktober 2003

64 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI

KORUPSI adalah korupsi karena sebuah garis batas. Kita
ingat­Si Mamad. Ia mengambil setumpuk kertas milik
kan­tor yang kemudian dijualnya—dan ia merasa ber-
salah. Rasa bersalah itu begitu kencang mengganggu pegawai ke-
cil ini, hingga ia menggelikan dan sekaligus mengenaskan, dan
sebab itulah film Sjumandjaja dari tahun 1973 ini, yang diolah­
dari sebuah cerita Ant­on Chekov pada abad ke-19, jadi satu kisah
men­ arik. Ia tak me­maparkan kejahatan, melainkan kesadaran.
Mamad, dengan baju dinasnya yang kuno dan kereta anginnya
yang tua, sadar bahw­ a ada sebuah garis batas yang telah dirusak­
nya, dan tindak itu adalah korupsi.

Tapi dari mana datangnya garis itu, sebenarnya?
Di permukaan, ia bermula dari perbedaan antara konsep
”mi­lik sendiri” dan ”milik orang banyak”. Dalam bentuk­nya­
yang terburuk, milik ”orang banyak” itu adalah milik ”publik”.­
Seorang koruptor bukan seorang pencopet yang mencuri dompet­
milik orang seorang. Namun benarkah Si Mamad (dalam cerita
aslinya ia bekerja di sebuah kementerian) merasa bersalah karena
men­ yadari ia korupsi?
Mungkin tidak. Ada pendapat, pengertian ”publik” adalah
bagian dari kesadaran modern. Di dunia tradisional, demikian­
dikatakan, tak ada garis batas antara yang ”negara” dan yang ”pri­
badi”, sejajar dengan tak ada garis batas antara yang ”publik” dan
yang bukan. Ketika Bupati Lebak dalam novel Max Havelaar me-
minta rakyat memberikan persembahan bagi diri­nya, Havelaar,
asisten residen Belanda itu, mendakwanya ”korupsi”. Tapi benar­
kah? Ada yang membela bahwa sang Bupati (seperti Raja Louis
XIV yang menyatakan l’ état c’est moi) memang sejak dulu meng­
anggap Lebak, juga rakyat dan upeti mereka, adalah bagian dari

Catatan Pinggir 7 65

http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI

miliknya, bahkan dirinya.
Dengan kata lain, Havelaar yang berapi-api itu memakai se-

buah dalil ”modern” ke sebuah dunia ”pra-modern”. Ia meleset.
Namun saya mengerti kenapa Si Mamad merasa bersalah­dan

Ha­velaar marah. Bukan sebab kesadaran ”modern” rasan­ ya,­tapi
karena di situ ada sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, yakni
soal ”adil” dan ”tak adil”—ihwal yang telah mer­isau­kan manusia­
sejak sebelum datang negara modern dengan legislasinya. Saya
kira dari situlah lahirnya garis batas yang saya sebut tadi.

Korupsi dianggap salah karena ia ”tak adil”: perbuatan itu
meng­hasilkan sesuatu yang berlebihan—uang, kekuasaan, nama
baik, juga kekejaman—yang secara berlebihan pula merugikan
orang lain yang sedang ada dalam status dan posisi lain. Maka bi­
sa dimengerti kenapa bukan cuma Havelaar yang marah. Sepert­i
ditulis sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam karyanya yang ter-
kenal tentang pemberontakan petani Banten­ pada abad ke-19,
orang-orang udik itu pun melawan, seraya berharap datangnya
”Rat­u Adil”.

Angan-angan atau bukan, ratu yang adil tak selamanya diang-
gap berasal dari seberang samudra dongeng. Dulu saya per­nah­
membaca satu fragmen sejarah Jawa Tengah abad ke-7, tentang­
Ratu Sima yang melarang orang mengganggu barang yang bukan­
miliknya. Syahdan, suatu hari seorang pangeran melihat sekan-
tong emas di jalan. Ia menyepaknya. Baginda Ratu pun menghu­
kum anak kandungnya itu. Dongeng atau bukan dongeng, ceri-
ta ini mencerminkan hasrat untuk yang ”adil”: di sana hukum
berlaku bagi siapa saja, dan ada penangkalan terhadap ”nepotis­
me”—biarpun ini abad ke-7.

Kemudian lahir negara modern. Juga di Indonesia. Negara­
mod­ ern sesungguhnya adalah sebuah bangunan yang berusaha­
agar soal ”adil” dan ”tak adil” tidak diputuskan hanya karena
kebetulan dan karena nasib. Seperti dibayangkan Hegel (dari

66 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI

Ero­pa yang dirundung perang dan persengketaan), ”Negara”
(dieja dengan ”N”) berarti Negara Rasional, yang mengelola ke-
bersamaan tanpa anarki ataupun tirani. Di sana hukum di­patuhi­
sebagai pengejawantahan akal budi yang universal, bukan karena­
dorongan nafsu dan kepentingan tertentu. Di sana birokrasi di­
gambarkan sebagai struktur yang ajek dan meng­ikuti­nalar.

Marx memang kemudian menunjukkan bahwa Hegel hanya­
menutup-nutupi fiil yang buruk. Bagi Marx, ”Negara” adalah se­
suatu yang menindas. Baru ketika tak ada lagi kelas sosial yang
punya kebutuhan untuk represif, Negara akan lingsir. Tapi seper­
ti Hegel, Marx membayangkan Negara sebagai suatu kehadiran,
utuh, kompak, bergeming—seakan-akan tak akan pernah ter-
jadi saling terobos antara yang ”Negara” dan yang ”bukan-Nega­
ra”, antara yang ”publik” dan yang ”privat”. Hegel dan Marx tak
membayangkan Negara sebagai sesuatu yang tak kunjung selesai.

Seandainya mereka melihat Indonesia sekarang....
Di negeri ini, Negara adalah sebuah paradoks: ia represif dan
sekaligus rentan, cerewet dan sekaligus ceroboh. Polisi­yang de-
ngan rajin menyetop sopir yang dianggap melanggar aturan Ne­
ga­ra adalah juga polisi yang siap menerima sogok. Birokrasi­yang
dengan produktif mengeluarkan regulasi adalah juga biro­k­ rasi
yang mengharap agar peraturan pemerint­ah sering dilanggar,
dan dengan itu si pelanggar akan membayar.
Dengan kata lain, korupsi bukanlah tanda bahwa Negara­kuat
dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi—tapi yang se­
ling­kuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagang-
kan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya­merepotkan,
tapi tanpa kewibawaan. Keadilan yang dikelola­oleh kejaksaan
dan kehakiman bisa dibeli dengan harga tertentu,­maka ia ber-
peran tapi tak menjadi keadilan. Kekerasan yang dimonopoli
Negara, dan dipegang oleh polisi dan tentara,­bisa jadi komoditas
seperti jasa tukang pijat, ketika seorang marinir bisa disewa un-

Catatan Pinggir 7 67

http://facebook.com/indonesiapustaka KORUPSI

tuk membunuh dan seorang anggota Kopassus bisa dibayar un-
tuk jadi bodyguard.

Berangsur-angsur, korupsi, yang melintasi sebuah garis batas,
berakhir jadi cerita hantu. Hantu itu bernama ”Negara Kesatuan
Republik Indonesia”—sesuatu yang sebenarnya bukan 100 per­
sen­”Negara”, bukan pula ”kesatuan”, sesuatu antara ada dan tia-
da, seram dan tak menentu.

Tempo, 26 Oktober 2003

68 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK

TERKADANG modernitas datang di sebuah dunia yang
tak terduga. Terkadang tak jelas dari luar ataukah dari
dalam ia muncul. Kita dengar kisah Djasi’ah, misalnya.
Ia tokoh utama dalam Emak, memoar yang ditulis Daoed Joe­
soef tentang ibunya yang dikenangnya dengan penuh rasa cinta­
itu. Perempuan ini datang dari keluarga petani di Suma­tera
Utara, dan menikah dengan Moehammad Joesoef, se­orang peng­
usaha susu lembu yang juga berladang.

Pasangan suami-istri itu buta huruf Latin. Berakar di ling-
kungan Nahdlatul Ulama, keluarga itu membesarkan kelima­
anaknya dengan ritual Islam yang lazim. Tradisi tak boleh di­abai­
kan. Nasihat Djasi’ah kepada anaknya: ”Kau harus berlaku seba­
gai batang air...”. Sebab, sekalipun sungai itu tetap terus mengalir
ke muara dan semakin menjauhi mata airnya, ”ia tidak pernah
me­mutuskan diri barang sedetik dari sumbernya itu...”.

Dengan kata lain, antara muara dan sumber, antara arah dan
asal, tak jatuh bayang-bayang. Tapi kita kemudian tahu bahwa
ada bayang-bayang lain di kampung di tepi Kota Medan­ itu,
dalam empat dasawarsa pertama abad ke-20 itu, ketika hutan
masih rimbun dan sungai masih bersih. Di sana, dunia modern
tampak tumbuh tak terduga.

Djasi’ah adalah bagian dari yang tak terduga itu. Ia punya­lima
anak, tiga di antaranya perempuan, dan di antara anakn­ ya yang
lelaki adalah Daoed Joesoef (dibaca ”Daud Yusuf”), orang Indo-
nesia pertama yang mendapat gelar Doctorat d’Etat dengan sebut­
an­cum laude pula, dari Universitas Sorbonne, Prancis. Daoed
Joe­s­oef sadar: ia telah bisa melintasi dunia kampung di Medan itu
dan masuk ke kancah akademi di Eropa Barat karena ia adalah
ba­gian dari kehidupan baru yang dibangun oleh seorang emak

Catatan Pinggir 7 69

http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK

yang menakjubkan.
Djasi’ah digambarankannya sebagai seorang perempuan yang

”bertubuh langsing semampai”, ”berambut ikal dan panjang”,
ber­kulit bersih yang terawat. Tapi perempuan ini juga seorang
yang, dalam ke-20 bab buku ini, merupakan bagian dari argu-
men tentang pelbagai persoalan hidup: pendidikan, lingkungan,
agama dan masyarakat, ilmu pengetahuan.

Mungkin dengan demikian ia kedengaran terlampau me­
nak­jubkan. Tapi rasanya bukan hanya imajinasi pengarang ke-
tika dikisahkan bagaimana perempuan ini berani menentang
apa yang dianggap lazim dan baik oleh masyarakat sekitarnya.
Djasi’ah belajar naik sepeda. Dengan demikian ia jadi perem-
puan pertama di kampung itu yang berperilaku demikian, seraya
mengenakan serual (dan bukan kain) panjang.

Ia tahu orang akan bergunjing sebab itu, tapi ia tak peduli.
Ia tetap naik sepeda, seperti ia tetap mempertahankan anaknya
yang perempuan bersekolah di Meisjes Vervolgschool. Si Daoed­
juga dikirimnya ke ”sekolah Belanda”, yang oleh orang kampung
disebut ”sekolah kafir”.

Djasi’ah memang tak terduga-duga, tapi dunia modern­
datang kepadanya tak hanya dalam bentuk sepeda, atau tonil dari
Betawi, atau topi baret. Dunia itu juga tak datang dalam sebuah
ruang yang kosong. Sebab di sana terbentang sebuah masyarakat
kolonial yang tegang. Di sana telah hadir Soelaiman,­yang kemu-
dian dibuang ke Digul oleh pemerintah, dan Mas Singgih, yang
bekerja diam-diam di kalangan kuli perkebunan untuk mence-
tuskan perjuangan politik.

Kolonialisme sering membawa hal-hal yang tak diniatkan-
nya sendiri. Sang penjajah hendak menetapkan posisi si terjajah
di dalam dunia dan sejarah yang terpisah—yang satu ”Barat” dan
yang lain ”Timur”, yang satu ”modern” dan yang lain ”tradisio­
nal”,­yang satu ”maju” yang lain ”asli”. Terkadang kategori itu

70 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK

me­lekat, tapi tak jarang si terjajah merasa terancam, terjepit, dan
ia pun menerobos keterpisahan itu.

Hasilnya adalah sebuah mimicry, seperti ketika bunglon
meng­u­ bah warna tubuhnya mengikuti latar tempatnya me­nem­
pel.­Si bunglon ingin selamat. Orang bisa mencemoohnya, tapi
pa­da saat itu, yang menyamar sebenarnya yang membebas­kan di­
ri.

Modernitas sebagai mimicry itulah mungkin yang mendorong
Soelaiman menempuh jalan ”Belanda” dengan belajar tata buku
dan hitung dagang dan bahasa Belanda serta Inggris. Seperti
Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer:
seorang perempuan yang menerobos batas gender, kelas, warna
kulit, dan menyamakan diri setaraf dengan sang Tuan.

Djasi’ah bukan Nyai Ontosoroh. Dunianya—sebagaima-
na dikenang oleh seorang anak—tak memantulkan ketegangan
masyarakat kolonial seperti yang digambarkan Bumi Manusia.
Kampung itu teramat damai, rumah terasa teramat rukun, ke-
bun, bunga, tetangga dan hutan terasa sebagai bagian dari sebuah
harmoni agung—sebuah gambaran idyllic yang hanya bisa di-
tangkap oleh nostalgia.

Tapi Emak juga tampaknya bisa menangkap modernitas se-
bagai mimicry—meskipun kiasan batang air yang saya kutip di
atas tetap melekat pada dirinya. Dengan itu, baginya modernitas
tampak tumbuh dari dalam, tanpa konflik, bukan dari luar, dari
”Barat”.

Di keluarga Joesoef yang salih itu, Islam dan ritualnya me-
mang tak menjadi lekang. Di sini agama dihayati sebagai akal,
dan sebab itu bisa menangkap apa yang universal. Dengan akal,
Djasi’ah, seorang perempuan tak terpelajar di kampung Kota
Medan pada awal abad ke-20, bisa menyimpulkan hal yang sama
dengan yang disimpulkan seorang filosof Jerman abad ke-19.

Kenapa tidak? Kini orang masih belum capek bergumam ten-

Catatan Pinggir 7 71

http://facebook.com/indonesiapustaka EMAK

tang ”bentrok peradaban” seraya bimbang, mungkinkah ada
sesuatu yang ”universal” di percakapan kita—sesuatu yang bisa
menjangkau orang lain di mana saja, siapa saja. Dewasa ini, de-
ngan semangat ”bentrok peradaban”, bahkan agama diangkat
bukan sebagai salam, tapi sebagai perisai untuk menutup diri.

Pada saat seperti ini, tak ada salahnya kita ingat Emak yang
pandai memasak. Dari arah dapurnya ia menemukan kiasan lain.
Baginya, lebih baik agama ibarat garam: meresap, menyebar, dan
memberikan manfaat di mana-mana, tanpa kelihatan.

Tempo, 2 November 2003

72 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KAYA

DI kampung saya semasa kecil, kami sering menghabis-
kan jam-jam menjelang berbuka puasa di sebuah mas-
jid di dekat sungai. Di ruang kiri ada orang dewasa yang
mengajarkan membaca Quran, dan di sela-sela itu beberapa­me-
nit kami menembangkan lagu yang sering disebut sebagai ”puji-
pujian” bagi Tuhan.

Pada dasarnya nyanyian itu hanya bentuk hafalan dari sejum-
lah diktum dan petuah. Saya ingat satu baris yang agak ganjil, da­
lam bahasa Jawa:

Ing donya sugih dosa
Ing akerat dipun siksa
Setelah agak dewasa kami tahu bahwa kedua kalimat itu ku­
rang-l­ebih berarti ”siapa yang penuh dosa di dunia, di akhirat­ia­
akan disiksa.” Tapi waktu itu, seperti galibnya anak-anak, ka­
mi tak semuanya paham kata-kata yang kami lagukan, dan ter-
istimewa kalimat itu membingungkan: dalam melodinya, ada­
pause sejenak antara kata ”sugih” dan ”dosa”. Tentang itu, se­
orang teman yang lebih tua dan lebih lanjut bacaan Quran-nya
me­ngatakan bahwa arti kedua baris itu adalah ”barang siapa­yang
kaya di dunia” (ing ndonya, sugih), ia akan menanggung ”dosa”
(dosa) dan kelak akan disiksa di neraka.
Kami tak membantahnya, mungkin juga karena teman ini­
datang dari sebuah rumah dengan lantai tanah, dinding anyam­
an­bambu, tiang yang sudah aus, dan ruang dalam yang gelap.
Kini saya dapat membayangkan bagaimana dia harus mampu
mendapatkan argumen bagi keadaan dirinya, bagi nasib­nya, se-
bagai seorang anak keluarga yang melarat sejak kakek­-neneknya.

Catatan Pinggir 7 73

http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA

Sementara ia taat beribadat. Atau ia merasa­kan ada sesuatu yang
tak adil bila para pedagang di antara te­tang­ga kami, dengan peka­
rangan luas, toko lengkap, rumah besar, dan pakaian bagus, bisa
hidup menikmati kehidupan dunia sekarang dan, insya Allah,­
juga kehidupan akhirat nanti.

Atau mungkin ada sebab lain. Jauh di lubuk tiap sikap religi-
us, yang juga menyangkut sikap ethis, selalu ada tendensi zuhud
yang melihat keduniawian sebagai cela. Pada umumnya orang Is-
lam di sekitar saya tak punya anggapan semacam itu. Tapi kami
se­lamanya ingat bahwa Nabi, yang datang dari keluarga tak ber-
punya, meskipun kemudian menikah dengan seorang wanita
bera­ da, sering pergi menjauhi Mekah yang komersial itu dan ber-
takhanus di Gua Hira. Mencari kekaya­an dapat menyesatkan,
dan contoh terburuk adalah mem­bunga­kan uang dalam riba—
satu hal yang jauh sebelum Islam juga telah dicela oleh ulama Ya-
hudi dan Gereja Kristen.

Di masa kecil di Jawa Tengah itu, ada unsur lain. Di sini, para
ningr­at memandang rendah wong ati saudagar, seperti disebut
dalam syair Wulangreh. Ini hampir tak ada bedanya dengan sikap
kaum mandarin di Cina, yang menunjukkan keunggulan kelas
sosial mereka dengan budi pekerti yang halus dan tangan lentik
yang terawat. Mereka ini, sebagaimana para samurai Jepang yang
anggun dan penuh dekorum, menganggap para pedagang ha­
nya­sejumlah makhluk kasar, licin, dan loba. Dan sebagaimana
dalam susunan kasta di India, kaum waisya dianggap lebih ren-
dah ketimbang kaum brahmana dan kesatria, di zaman Yunani
kuno Aristoteles juga menganggap bahwa warga sebaiknya tak
mengikuti cara ”yang vulgar dan kaum pedagang.” Ia memper­
ingatk­ an orang akan bahaya pleonexia, tamak dan berlebihan.

Si kaya, dengan harta benda yang bertimbun melalui perda-
gangan, memang tak selalu diterima dengan nyaman di sepan-
jang sejarah. Seperti Yesus yang mengatakan bahwa lebih gam-

74 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA

pang bagi seekor unta untuk masuk ke liang jarum ketimbang
seorang kaya memasuki kerajaan Tuhan, teman saya di masjid
kampung dulu juga percaya bahwa ”sugih [kuwi] dosa.”

Tapi sejarah berjalan dengan harta bertimbun. Pada akhirn­ ya,
lambat laun, sikap religius dan ethis menyesuaikan diri dengan
pelbagai tendensi pleonexia itu. Gereja Lutheran yang tetap mela-
rang riba sampai tahun 1139 dan Geraja Katolik yang­menegas-
kan ajaran yang sama sampai tahun 1745 harus­menghadapi ke-
nyataan yang diungkapkan secara lucu oleh seorang penulis Italia
abad ke-14: ”Mereka yang menjalankan riba masuk neraka, mere­
ka yang gagal menjalankan riba masuk ke kemiskinan.”

Sebuah buku yang terbit tahun lalu, The Mind and the Mar­
ket, yang ditulis dengan bahasa yang terang oleh Jerry Z. Muller,
merekam perubahan sikap dan pemikiran Eropa tentang ”kapi-
talisme” dalam sejarah yang panjang itu. Buku ini adalah sebuah
kombinasi antara sejarah yang penuh anekdot dan sebuah argu-
men. Dari dalamnya kita bisa tahu bagaimana­Voltaire bukan saja
pintar memainkan uangnya, terkadang dengan cara curang, dan
men­jadi cendekiawan terkaya Eropa pada abad ke-18. Kita juga
tahu bagaimana Adam Smith, pe­ngan­jur ”masyarakat komersial”
yang kemudian disebut ”kapitalisme” itu, meninggal pada tahun
1790 dengan milik yang minim karena telah mendermakan selu-
ruh hartanya dengan diam-diam.

Juga kita tahu bagaimana orang-orang Yahudi Eropa, yang
oleh Gereja dilarang memiliki tanah, dan oleh gilda-gilda pertu-
kangan dan keahlian disingkirkan (karena mereka bukan Kris-
ten), pada akhirnya harus menjadi kaum pedagang dan bankir—
dan justru sebab itu memperoleh stigma sebagai tukang riba yang
dibenci. Dari Muller kita juga menemukan semacam sebuah plei-
doi bagi kapitalisme, atau setidaknya sebuah sikap yang meneri-
ma bahwa kapitalisme akan bersama kita untuk waktu yang pan-
jang, dan bahwa para saudagar dan pencari harta akan mengeru-

Catatan Pinggir 7 75

http://facebook.com/indonesiapustaka K AYA

muni sejarah sampai entah kapan.
Tak semua akibatnya buruk. Tak semuanya berupa dosa. Bah-

kan mungkin garis demarkasi antara yang ”dosa” dan ”bukan”­
telah luruh, perbatasan antara yang ”suci” dan ”tak suci” akhir­
nya cair. Melalui distribusi dan teknologi, khotbah­dan dakwah,
gereja dan kuil, buku sufi dan risalah radikal, pelan atau cepat
berkait dengan apa yang juga bergelimang di jalanan dengan ke­
rin­ gat orang jujur, kelicikan para penipu, penjudi, pelacur, pen-
curi—dengan kata lain, uang, modal, pasar, dan dunia yang tak
putus-putusnya resah.

Tempo, 9 November 2003

76 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON

SIAPA yang pernah menanam pohon akan tahu bahwa
yang tumbuh bukan hanya sebuah batang dalam ruang,
tapi juga sebentuk tanda dalam waktu. Berapa ratus ta-
hun terhimpun dalam hutan yang masih utuh di sekeliling Da-
nau Tamblingan? Ribuan pokok tua dan muda saling merapat,
jalin-menjalin bersama perdu, carang dan sulur; sekitar pun tam-
bah rimbun oleh gugus-gugus pakis yang entah sejak kapan me­
nyemb­ unyikan jalan setapak.

Senja itu saya berjalan di sana, di tepi telaga di perbukita­ n­­Bali
Utara itu, menembus semak, entah berapa kilometer, dalam ke-
sepian yang hanya terusik oleh bunyi langkah sendir­i. Jauh di
timur, di tepi danau, tampak sebuah puri kecil yang nyaris ter-
lindung. Di saat itu, di separuh gelap yang hijau itu, yang kekal
hadir. Keabadian bergerak. Tiap detik seakan-akan menyelinap
menyatu dalam klorofil daun damar. Abad seakan-­akan bergetar
di ruas batang trembesi.

Mungkin sebab itu, ketika hutan ditebang, waktu pun ber­­
ubah.­Bagaikan sepetak tanah yang gundul, di mana jalan­akan
direntang dan pasar akan dibangun, waktu pun ter­hantar,­datar,
siap diukur. Tamasya itu—hutan yang hilang, waktu yang diram-
pat—tak lagi punya tuah. Ia hanya punya harga. Ia hanya punya
guna. Tiap jengkal telah tercampak, menyerah ke dalam reng-
kuhan kalkulasi manusia. Waktu yang menakjubkan, juga ”puak
yang perkasa dan damai” itu—ungkap­an Marcel Proust tentang
pohon-pohon—pun punah, tak akan dilahirkan kembali.­

Hutan, saya kira, adalah wilayah penghabisan di mana Ke­
gaiba­ n masih belum hilang, di mana Misteri belum dipetakan.
Itu sebabnya, dulu, raja-raja yang uzur dan tua menyingkir ke
dalamnya sebagai pertapa, untuk—seperti Destarastra, dis­ertai­

Catatan Pinggir 7 77

http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON

Gandari dan Kunthi dalam bagian terakhir Mahabharata—me­
nantikan mati. Para penguasa yang mengubah diri jadi resi itu tak
lagi berniat menaklukkan dunia. Mereka datang ke rimba mene-
mui kembali pohon-pohon (seraya mengenakan pakaian dari ku-
lit kayu dan anyaman gelagah), dan berharap untuk dapat bertaut
lagi dengan Kegaiban yang dulu mereka lupakan.

Berapa lama gerangan Kegaiban itu dilupakan, sehingga
tuah alam sirna? Hilangnya pesona dunia, the disenchantment of
the world, bermula ketika datang ”modernitas”—itulah yang di-
katakan dalam risalah termasyhur Max Weber. Tapi mungkin
lupa dan lenyap itu jauh lebih tua ketimbang abad ke-17 Eropa.
Bagi saya, lupa itu bisa datang kapan saja, ketika manusia melihat
dunia hanya sebagai sehimpunan obyek yang siap dalam jang-
kauannya, untuk disimpulkan dalam ”pengetahuan” atau untuk
diutak-atik sebagai alat. Pada saat itu, manusia pun lupa, bahwa ia
pernah terpesona oleh apa yang disebut dalam filsafat Jawa seba­
gai sangkan paraning dumadi, ”asal dan bakal apa yang ada, yang
men-jadi”. Pada saat itu, manusia yang lupa juga tak lagi tersen-
tuh oleh apa yang disebut orang-orang tasawuf sebagai wujud.

Pada saat itu manusia sibuk dengan apa yang tampak dan ter­
dengar, dengan segala yang dapat diraba dan dicium, dengan
apa yang ada yang di hadapannya—dan ia pun abai bahwa­”ada”
(wujud) adalah sesuatu yang ajaib, sebenarnya: Kenapa kok ada
”ada”? Kenapa bukan ”tidak ada” saja?

Pertanyaan itu mengusik, tapi bukan sebuah pengusik. Ia se-
benarnya sebuah getar yang menggugah. Dan di gua pertapaan
yang dilindungi pohon-pohon, ”puak yang perkasa dan damai”,­
getar yang menggugah tapi telah dilupakan itu hendak ditebus
kembali. Dengan diam, sunyi, rela, melepas hasrat. Dengan,
dalam kata-kata penyair Wordsworth, ”kepasifan yang arif”.

Di sanalah ruang yang statis itu bertaut dengan waktu yang
ber­lalu. Sang pertapa membiarkan, mempersilakan, apa saja

78 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON

yang di luar egonya untuk merayakan wujud. Ia tak mengalah­
kan waktu. Ia tak membabatnya hingga datar, rata, terukur, se-
perti sang pembangun yang menjarah hutan. Sang pertapa, raja
yang telah jadi resi itu, tak lagi hendak menentukan. Ia di­t­entu­
kan. ”Lalu waktu, bukan giliranku...,” kata salah satu puisi medi-
tatif Amir Hamzah. Sang resi mencoba meresapkan­betapa abad
membentuk batang, tahun menyambung dahan,­dan, di dekat
ka­kinya, embun menyusun jaring lembut di antara rumput dan
daun putri malu. Ia kini bahkan merasakan bahwa basah adalah
momen dari air yang terus-menerus bergerak, entah dari mana,
entah ke mana. Mungkin dalam kekekalan.

Konon, seorang sufi akan menyebut bahwa pada saat itulah­
ia­menemukan tajall?, manifestasi-diri Yang Maha Gaib. Ia akan
teringat akan sebuah Hadis, bahwa Tuhan menyembunyikan
diri-Nya ”di balik tujuh puluh ribu cadar cahaya dan kegelapan”.
Ia akan langsung merasakan betapa benar dan indahnya kalimat
itu: kedua anasir dalam cadar itu hadir, dan yang gelap tak akan
menyingkirkan yang terang, juga sebaliknya.

Sebab sang sufi adalah manusia yang dulu ibarat raja, atau se-
buah subyek yang imperial, yang ingin mengendalikan dunia di
luar dirinya dan sebab itu tak hendak membiarkan hal-hal yang
gelap hadir. Kini, sebagai resi yang pasif tapi arif, ia bersyukur,
bahwa kegelapan itu juga bagian dari rahmah. Sebab, sebagaima-
na dikatakan dalam Hadis pula, seandainya Tuhan menanggal-
kan semua cadar, cahaya yang menyemburat dari Paras-Nya akan
serta-merta ”menghancurkan penglihatan makhluk mana saja
yang berani menatap”.

Mungkin tajall? itulah Lichtung—kata yang dipilih Heideg­
ger, ketika Ada (Sein) menyatakan diri, ketika Yang Gaib menge-
jawantah. Lichtung, dalam deskripsi George Steiner, penafsir
Heid­ egger, adalah ”seperti cahaya yang bergerak di sekitar obyek-
obyek dalam hutan yang gelap, meskipun kita tak tahu dari mana

Catatan Pinggir 7 79

http://facebook.com/indonesiapustaka POHON-POHON

sumbernya”.
Hutan gelap, rimba purba, tapi yang terkadang menghadir-

kan cahaya yang mempesona tanpa jelas sumbernya—mungkin
itulah kiasan yang baik hari ini: kerinduan manusia kepada tiap
getaran dari Kekekalan Yang Maha Gaib, sekaligus Yang Maha
Indah, di mana hidup adalah pohon-pohon lebat yang mensyu-
kuri matahari. Tapi kita menebangnya, kita menghancurkannya,
dan nihilisme yang menakutkan itu pun mulai.

Tempo, 16 November 2003

80 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA

TUAN Kapital menarikan dansa macabre.... Gambaran
Marx yang muram, tentang modal yang membujuk ma-
nusia berjoget mengiringi Maut, kini tampak seperti lu­
kisan yang ditemukan kembali di seberkas naskah kuno. Tuan
Kapital kini tampil lain. Mungkin ia seperti Dasamuka dalam
cerita wayang: selalu mampu menjelma dengan wajah yang baru,
tak kunjung mati. Ia bahkan bisa menghilang.

Dulu ia satu metamorfosis dari riba, uang yang lahir dari
uang. Kita tahu bahwa perbuatan menganakkan uang itu di­nis­
tak­ an ramai-ramai dari zaman ke zaman. Devarim, kitab yang
mem­ aklumkan ulangan undang-undang Musa, yang konon di­
susun pada abad ke-7 sebelum Masehi, melarang orang Yahudi­
menarik bunga dari pinjaman kepada ”saudara”-nya. Empat abad
kemudian Aristoteles menegaskan bahwa riba memang layak
di­benci. Delapan ratus lima puluh tahun setelah itu, di sekitar
abad ke-6 Masehi, Uskup Jakob dari Saroug, di Suriah, menulis
bahwa bunga (rebitha) adalah hasil siasat Setan untuk memulih-
kan kembali kekuasaannya. Pada abad itu pula kemudian Islam
datang, dengan pesan yang mirip.

Setelah Muhammad SAW, mungkin yang layak disebut
adalah Marx. Pada abad ke-19 Marx menggunakan kata Schaher,
yang menurut mereka yang mengerti bahasa Jerman zaman itu
bera­ rti ”seseorang yang siap mengambil laba dari apa pun dengan
cara yang licik”. Kata itu juga berarti ”riba”. Di sini tampak bahwa­
”riba” dan ”laba” (yang dalam kata Arab konon disebut ribh) sa­
ngat dekat. Laba, bagi Marx, berasal dari kelebihan hasil dari me­
meras tenaga buruh. Ia buah pengisapan. Apalagi dari uang itu
beranak pula uang, melalui bunga. Ketika terhimpun modal, li-
hat, kata Marx, modal itu sebenarnya ”tenaga kerja yang telah

Catatan Pinggir 7 81

http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA

mati” yang, ”bagaikan vampir, hidup hanya dengan cara menye­
dot tenaga kerja yang hidup.”

Tapi berangsur-angsur zaman melihat Tuan Kapital bukan la­
gi sebagai makhluk asing yang mengerikan. Jika Mao gagal meng­
hapuskannya dari sejarah, jika Cina, yang secara resmi masih
disebut ”Republik Rakyat” itu, maju dan makmur secara­menga­
gumkan setelah menjadi ”Republik Pasar Besar”, orang pun ber-
sepakat bahwa tentu ada yang keliru dalam cerita vampir di jilid
kedua Das Kapital. Modal—yang menggerakkan pasar dan di­
ger­akkan oleh pasar, yang memuliakan milik­dan menggairah-
kan kebebasan jual beli, yang mempertukarkan dengan giat ba-
rang dan jasa—sekarang terasa lumrah dan sekaligus modern. Ia
ibarat sebuah generator listrik yang hanya­terdengar derunya, tapi
dari sana, lampu warna-warni dan roller­coaster bergerak ramai di
sebuah Pekan Malam.

Getar generator itu kini menyebar praktis ke seluruh muka
bu­mi. Di mana pun tampaknya tak ada pilihan selain menerima
kekuatannya. Pada akhirnya dialah makna modernitas itu sendi­
ri. Apa boleh buat, dunia, dalam kata-kata Fredric Jameson,­hi­
dup­dengan a singular modernity.

Pasti, Dasamuka itu telah berubah rupa. Ia telah menyulap
dir­inya dan berbareng dengan itu menyulap banyak­ hal lain.
Kita tahu, dari Marx, bahwa dengan modal, barang bisa berubah
menjadi komoditas, dan bersama itu memperoleh daya yang bisa
memukau manusia, bagaikan sebuah azimat. Tapi tak hanya itu.
Modal bisa membuat ”riba” berhenti sebagai ”riba”. Seraya meng-
gerakkan pasar, modal membuat perdagangan uang bersaing
sengit, dan para peminjam tak lagi sepenuhnya bergantung pada
seorang rentenir. ”Riba” pun akhirnya diterima sebagai ”ongkos
modal”. Artinya, sesu­a­tu yang bisa dirancang (dan dikontrol) da­
lam anggaran.

Dalam mengubah diri itu pula, Tuan Kapital bisa muncul se-

82 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA

bagai Coca-Cola, MTV, atau media Murdoch, suatu kekuat­an
yang bergerak memusat dan cenderung menyeragamkan. Tapi ia
juga bisa menyulap diri sebagai pembawa variasi, dari jenis ayam
goreng sampai dengan jenis komputer jinjing.

Dan ia bisa menghilang. Pada saat yang sama, ia menyusup ke
mana-mana. Kini ada yang percaya bahwa zaman kapital sudah
melenyap. Bahkan sebuah masa ”pasca-kapitalis” telah tiba, se-
bab, kata mereka, kini bukan modal yang berkuasa, melainkan­
informasi. Dan informasi, dalam zaman netokrasi­kini, kata me­
rek­ a (mungkin seraya menghitung jutaan warung Internet di pe-
losok bumi), tak pernah tetap berada di satu pusat. Tapi benar­
kah?­Bisakah netokrasi berkembang tanpa Bill Gates dan para pe­
modal sejenisnya? Tidakkah perbedaan kelas di sini juga ditentu-
kan oleh siapa yang memiliki modal yang—meskipun Bourdieu
mungkin akan menyebutnya seba­gai ”modal kultural”—bermula­
dari basis ekonomi tertentu?

Jika dilihat demikian, Tuan Kapital memang bisa tampak ga­
gah dan berubah-ubah dengan cerah. Ia bahkan bisa menampil-
kan diri sebagai pembebas. Penelaah kebudayaan popul­er Ars­
wen­do Atmowiloto baru-baru ini memperkenalkan satu diko-
tomi yang menarik: ada ”siaga” dan ada ”niaga”. Yang pertama
ada­lah kecenderungan kekuatan politik untuk menutup diri se-
raya curiga kepada yang ”luar”. Yang kedua adalah kecenderung­
an perdagangan untuk membangun pasar yang terbuka. Sebab
pasar adalah tempat orang asing atau bukan asing­bertemu, yang,
untuk kepentingan mereka sendiri, menjaga agar pertemuan itu
bukan sebuah konflik. Pada abad ke-18 orang Prancis menyebut-
nya sebagai un commerce doux.

Hari ini, memang lebih dipujikan untuk merayakan nia­
ga ketimbang siaga—dan saya kira itulah maksud dikotomi­
Ars­w­ endo. Tapi tentu saja orang bisa mencatat bahwa niaga bi­
sa­membawa siaga: perang dagang bisa menjadi perang senjata.­

Catatan Pinggir 7 83

http://facebook.com/indonesiapustaka RIBA

Perebutan wilayah di Nusantara antara Inggris dan Belanda­
adalah contohnya, dan tak salah jika Marx pernah mencemooh
pengertian doux commerce itu. Kini, kalaupun perang macam itu
tampak mustahil, ada yang tak mustahil: dalam siaga terdapat
nia­ga. Pertumbuhan ekonomi AS belum lama ini, misalnya, ba­
nyak­disumbang oleh perang, dengan segala perabot dan persiap­
annya.

Dengan kata lain, Tuan Kapital memang tak selamanya mem-
bujuk manusia untuk menarikan dansa macabre. Tapi ia, yang
ada di siang, ada di malam, memang bisa mencemaskan kita.

Tempo, 23 November 2003

84 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH

ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Ma­
ka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbatas-
kan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita
dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka menge-
cam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tu-
han sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bon-
sai. Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena dile­
takkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi se-
benarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembah­
an yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.

Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.
Di hadapan Fir’aun, begitulah dikisahkan, Musa memberi­ja-
wab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, ”Dan
apakah Tuhan alam dunia itu?” Pertanyaan itu, ”Ma rabbu al-
alam­ ina?”, cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban
Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengata­kan bah-
wa ”Tuhan” adalah ”Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari
segala yang ada di antaranya.”
Musa tak memberikan sebuah definisi, sebab Tuhan yang di­
definisikan sama halnya dengan Tuhan yang dibatasi, rapat-rapat,­
dalam bahasa. Jawaban Musa sebenarnya sebuah deskripsi—atau
lebih tepat, sebuah penggambaran yang tak berakhir di satu ke­
sim­pulan. Kita bisa menafsirkannya seba­gai usaha untuk menun-
jukkan, dengan kiasan, bahwa Tuhan adalah keagungan yang
hadir di ufuk Timur, di mana cahaya bersinar, dan juga di arah
Barat, tempat gelap berangkat. Dengan kata lain: Tuhan adalah
Rabb-i—”pemilik”, ”tuan”, dan ”pengasuh”—dari segalan­ ya,
da­ri yang tampak dan tak tampak, dari yang bersama terang dan
yang menemui kelam.

Catatan Pinggir 7 85

http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH

Itu sebabnya Ia ”esa”. Di sini, ”esa”—yang dalam bahasa In-
donesia ditambahi dengan kata ”maha”—berbeda dari ”satu”.
”Satu” adalah sebuah bilangan, sementara yang ilahiah tak dapat
dihitung. Ia bukan seperti bulan dan matahari.

Ia bukan juga Tuhan dalam Also Sprach Zarathustra: Tuhan
yang digambarkan Nietzsche sebagai sosok ”tua berjanggut mu-
ram” yang ”cemburu” dan berkata, ”Hanya ada satu Tuhan! Ka-
lian tak boleh punya tuhan lain selain aku!” Dalam Zarathustra,
setelah pernyataan itu diucapkan, tuhan-tuhan lain pun mati—
bukan karena dibinasakan, tapi karena tertawa geli.

Bagi saya, karikatur Nietzsche ini tak bisa menangkap sikap­
mereka yang hanif, yang percaya bahwa Ilahi adalah tunggal.­
Ka­um monotheis tak datang untuk mengurangi jumlah. Mere­
ka­ tak hendak meringkas persoalan. Justru sebaliknya. Yang
Maha-agung adalah tunggal karena Ia begitu akbar dan sulit
di­utarakan. Ia adalah dasar dan juga sumber dari sebuah daya
yang menggetarkan—sebuah daya yang menyebabkan segala hal
muncul ke dalam terang, ”ada”.

Siapa saja yang tergetar oleh daya itu, dan mencoba menyebut
sumber yang ada di baliknya dengan sebuah nama, dengan se-
buah kata, ia akan merasa tak sanggup. Chairil Anwar mengeluh
dalam sebuah sajak yang ia beri nama Doa: ”Betapa susah sung-
guh, mengingat Kau penuh seluruh.”

”Kau” yang ”penuh seluruh” itu tak mungkin Tuhan yang di-
perkecil. Ibn ’Arabi, sufi dan pemikir besar Spanyol pada abad ke-
12, menyebutnya sebagai ”Yang Mutlak” (haqq). Arti­nya, ”yang
paling tak dapat ditentukan dari semua yang tak dapat ditentu-
kan,” ”ankar al-nakirat.” Ia gaib segaib-gaibnya, Ia ”yang paling
tak dapat diketahui dari semua yang tak diket­ahui.”

Ia tak dapat diketahui karena Ia melampaui semua kualifikasi
yang berlaku di dunia manusia.

Tapi manusia sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Ka­

86 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH

dang-kadang mereka perlakukan Tuhan sebagai penguasa dalam
sebuah wilayah, raja dengan batas tegar. Kini banyak yang mengi­
ra bahwa ketika Quran turun dan menyebut nama itu, ”Allah”,
Islam hendak memperkenalkan sesosok tuhan lagi ke dalam pan­
theon yang telah sesak.

Seakan-akan ”Allah” bukanlah nama yang dipakai oleh orang
Arab di zaman pra-Islam, baik yang jahiliyah maupun­yang ha­
nif, baik yang politheistis maupun yang Kristen. Seakan-­akan
”Allah”­semata-mata Tuhan-orang-Islam yang bertakhta di se-
buah kerajaan yang beradat-istiadat tersendir­i.­”Tuhan mereka
ber­beda dengan Tuhan kami,” kata kaum Fundamentalis Kristen
yang melihat dunia Islam dengan waswas. Seakan-akan Tuhan-
orang-Kristen, Tuhan-orang-Yahudi,­dan sederet tuhan yang la­
in, bersaing—persis seperti Tuhan yang cemburu dalam sajak
Zarathustra.

Mungkin sebab itu para rasul perlu datang lagi. Tapi bisa­
kah?­Saya coba renungkan lagi Fusus al-Hikam (ditulis pada ta-
hun 1229), melalui Sufism and Taoism, uraian yang tekun dan te­
rang dari Toshihiko Izutsu, ilmuwan Jepang yang jadi penafsir
utama Ibn ’Arabi. Saya kini kian tahu kenapa Tuhan adalah Yang
Mutlak. Tapi kita agaknya hidup di dunia yang dikuasai oleh ahl
’aql wa-taqyid wa-hasr, mereka yang mendekati Yang Gaib seraya
”mengikat, membatasi, dan mengekang.” Tuhan pun diperkecil.
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.

Tuhan yang seperti itu hadir di mana-mana, tapi seakan-­akan
variasi dari sebuah patung polisi lalu lintas: sesosok berhala di tepi
jalan, untuk mengingatkan, menakut-nakuti, meng­awasi. Tuhan­
bukan lagi sumber dari ”rahmah al-imtinan” yang dilukiskan Ibn
’Arabi: rahmat yang menjangkau siapa saja dan apa saja tanpa
mengharapkan apa saja—rahmat yang bahkan bukan sebagai pa-
hala bagi mereka yang berbuat baik.

Dengan Tuhan yang tanpa rahmat seperti itu, kita pun hidup

Catatan Pinggir 7 87

http://facebook.com/indonesiapustaka ALLAH

di masa yang ditandai Fehl Gottes: ”gagalnya Tuhan datang,” kata
Heidegger. Meskipun nama-Nya disebut terus-menerus, ”dunia
telah menjadi tanpa penyembuhan, tak suci.” Sebaris sajak Cha­i­
ril­mungkin mengungkapkan hal itu: ”Caya-Mu panas suci/ting-
gal kerlip lilin di malam hari.”

Adakah di sini kita berbicara tentang ”sekularisme”? Saya ki­
ra tidak. Mungkin kita justru berbicara tentang suasana ketika­
”yang suci” telah jadi banal, ketika ”yang kudus” diletakk­ an seba­
gai rutin hidup sehari-hari, dan mengurus tetek-bengeknya. Pada
saat itu memang ”Tuhan” ramai-ramai dip­ asark­ an dan dipamer-
kan. Tapi ia diletakkan di sebuah kotak, seperti seraut pohon
bonsai.

Tempo, 30 November 2003

88 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF

TIAP tahun selalu ada sebuah puasa panjang, dan ke­mu­­
dian­sebuah ritual memaafkan. Saya pernah bersua de­
ngan­seorang alim yang mengatakan, sebagaimana hal-
nya puasa 30 hari pada bulan Ramadan, memaafkan juga dapat
diungkapkan dalam idiom ”mengosongkan diri”. Sekaligus ”pe-
nyucian”.

Ada jalin-menjalin beberapa kata dan makna di sini. ”Ko-
song” (dalam ”mengosongkan”) berarti tanpa isi: sesuatu yang se­
penuhnya negatif. Mungkin sebab itu ada seorang penyair Jawa
abad ke-19 yang memilih memakai kata suwung, yang lebih­ber­
asosiasi dengan ”hampa” dan ”lengang”, dan juga dekat dengan
kata sawung, sebuah sinonim dari kata ”jawab” (disawung, dalam
Baoesastra Jawa yang disusun W.J.S. Poerwadarminta pada tahun
1939, sama dengan ”dijawab”). Tak mengherankan bila Rangga­
warsita, penyair itu, mengungkapkannya dalam sebuah para-
doks: suwung nanging sakjatining isi, ”kosong tapi pada hakikat-
nya berisi”. Ia menggambarkan suatu sikap meditatif.

Dalam pada itu, ”penyucian” dalam bahasa Indonesia me­
ngan­d­ ung dua patah kata Melayu, ”cuci” dan ”suci”. Dua patah­
kat­a yang berdekatan bunyi itu mengingatkan kita bahwa yang
ber­sih dan yang kudus terkait karib, bahwa yang sakral ada hu­
bungannya dengan yang tak cemar. Ketika kita memb­ ayang­kan
berpuasa dan memaafkan sebagai ”penyucian diri”, kita meman-
dangnya sebagai sebuah pembebasan dari subyek yang bergeli­
mang lemak dan Lumpur dunia, dan dalam proses itu, ia pun
”penuh”, ”mapan”, dan ”kenyang”.

Sebuah subyek yang menggelembung, mapan, dan penuh
adal­ah sebuah subyek yang tak hendak menerima lagi apa yang
datang dari luar dirinya. Ia tak akan lagi menyambut yang lain.­

Catatan Pinggir 7 89

http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF

Ia bukan aku yang suwung yang menghendaki dan merindukan­
sawung. Ia tak menghendaki respons. Ia merasa sudah padat-­
jawab. Jika ia memberikan maaf kepada orang lain, bagi­nya itu
sama artinya dengan memberikan derma, dan bukan justru kare-
na ia merasa menerima kemurahan hati dari Hidup.

Ia tak menyadari bahwa Hidup menghadirkan sesuatu yang
lebih kaya ketimbang sebuah Aku yang soliter, lebih beragam ke­
timbang satu subyek yang dipenuhi diri sendiri dan memandang
dunia sebagai koloni yang bisa ia taklukkan dan ia bentuk sesuai
dengan desainnya.

Untuk melepaskan diri dari Aku yang seperti itu, kita bisa me-
lihat ke satu konsep yang jauh dari cogito ergo sum, yakni konsep
dalam sebuah bahasa Afrika Selatan: ubantu. Seorang yang mem-
punyai ubantu adalah seorang yang terbuka dan dapat dijelang
oleh yang lain, meneguhkan yang lain, tak merasa terancam oleh
yang lain; ia merasa jadi bagian dari sebuah dunia yang asyik, ra-
mai, dan banyak memberi. Dengan gambaran manusia yang ber-
ubantu itulah Desmond Tutu, rohaniw­ an arif yang muncul dari
kekejaman apartheid itu, berbicara tentang permaafan—dan me-
mang cerita yang mengagumkan tentang puasa dan permaafan
pada kurun waktu ini adalah cerita Afrika Selatan, cerita Nelson
Mandela.

Mandela dipenjarakan selama 27 tahun oleh pemerintah kulit
putih di Afrika Selatan, ketika kaum kulit hitam dipaksa­hidup di
bawah represi dan penghinaan serta dibungkam dengan teror, pe-
nyiksaan, pembunuhan. Selama itu, selama dalam tahanan yang
praktis tak pernah diketahui dunia itu, Mandela dipaksa bekerja
rodi hingga matanya rusak. Dalam arti tertentu ia berpuasa. Tapi
agaknya puasanya yang lebih­besar datang berangsur-angsur—
yakni ketika pelan-pelan ia mengosongkan diri, mengempiskan
ego, dari keangkuhan yang mengatakan, ”akulah sang korban;
aku berhak membalas dendam”.

90 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MAAF

Ketika pada tahun 1963 ia ditangkap, ia seorang pemimpin
gerakan pembebasan yang percaya bahwa perlawanan bersenjata
itu sesuatu yang niscaya. Agaknya tak ada yang bisa menyal­ahkan
dia sepenuhnya jika ia berpikir demikian; dendam bisa memberi-
kan kekuatan, dan dendam juga bisa berbicara tentang keadilan.
Tapi ketika pada tahun 1990 Mandela dilepas, ia sudah berubah
oleh sebuah puasa (mungkin juga bisa dilihat sebagai ”jihad”)
yang lebih besar. ”Aku tahu bahwa orang mengharapkan aku me-
nyimpan amarah kepada orang kulit putih,” katanya. ”Tapi aku
tak punya rasa itu sedikit pun.”

Dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom, ia menyebut­
bahwa salah satu yang sangat disesalinya ialah bahwa ketika ia di­
bebaskan, ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal secara se­
patutnya kepada para petugas penjara. Tak aneh. Sebab, bagi­nya
mereka juga bagian dari sistem yang membuat orang jadi ”tawan­
an kebencian” yang ”dikunci di balik jeruji prasangka dan pikir­
an sempit”. Saat ia jadi bebas, dan bersyukur, ia juga ingin agar
mereka, dan siapa pun, lepas dari penjara yang seperti itu. ”Aku
ingin Afrika Selatan melihat bahwa aku mencintai musuh-mu-
suhku, sementara aku membenci sistem yang menyebabkan kita
bermusuhan.”

Pada Mandela tampak ada kaitan antara puasa dan maaf, an-
tara mensyukuri kebebasan dan keinginan untuk menyebarkan
keadaan bersyukur itu kepada siapa saja. Tentu, ia seorang pe-
mimpin politik yang berniat dan bertugas membangun Afrika
Selatan, negeri yang dengan jerih dan sakit diperjuangkannya
itu; sebab itu sikapnya memaafkan juga lahir dari sebuah pertim-
bangan pragmatis. Seandainya ia memutuskan untuk membakar
nafsu menuntut balas, seandainya ia tak mencoba jadi lambang
usaha ”kebenaran dan rekonsiliasi”, Afrika Selatan akan jadi gu-
run api dan sungai darah. Bersikap pragmatis tak selamanya tan-
pa nilai. Gandhi juga pernah me­nga­takan, jika tiap orang men-

Catatan Pinggir 7 91


Click to View FlipBook Version