http://facebook.com/indonesiapustaka SAMAN
tamp ak sejenak dari sebuah rekaman video yang agak kabur.
Jenggotnya panjang, sosoknya seperti jerangkong, pakaiannya se-
perti kostum si Tua Jahat dari dongeng Tolkien. Berbicara de-
ngan yakin dan tenang, ia tunjukkan bahwa gempuran Ameri-
ka—sekian ribu prajurit, sekian ton amunisi, bertubi-tubi selama
tiga tahun—tak mampu membunuhnya. Bak hantu orang Dru-
id, ia hadir di antara ada dan tiada: teknologi yang piawai menam
pilkannya dari dekat, tapi teknologi yang setaraf tak dapat men-
jangkaunya.
Ketakjelasan itulah ciri pokok terorisme kini. Dulu, selama
perang kemerdekaan Aljazair, bila bom meledak di subway atau di
kafe Paris, orang tahu siapa pelakunya dan tujuan apa yang hen-
dak dicapai. Hal yang sama terjadi semasa Perang Vietnam, bila
di satu sudut Kota Saigon mendadak suara gelegar terdengar dan
korban jatuh. Front Nasional Pembebasan Aljazair, seperti Front
Nasional Pembebasan Vietnam (”Vietkong”), adalah organisasi
perjuangan politik, dan teror hanyalah salah satu metodenya.
Tapi ”Al-Qaidah”? Sebuah organisasi besar? Sebuah ”aliran”?
Kini teroris tersebar, tapi tak jelas apa hubungan bom di Ba
li dengan bom di Spanyol, ledakan di Pakistan dengan pembu
nuhan di Mesir. Dan gambarannya kian ruwet setelah penculik
an dan bom bunuh diri berkecamuk di Irak sejak Amerika men-
duduki negeri itu. Apa yang menyatukan aksi yang tersebar itu?
Apa yang membedakannya?
Memang sering dunia diberi tahu motif keagamaan mereka
yang keras. Dunia juga tahu apa yang membuat mereka marah.
Tapi tak pernah jelas bagaimana program politik di balik semua
itu, dan bila mereka anti-Amerika, tak dapat dibayangkan ba
gaimana mereka akan mengalahkan ”Sang Setan Besar”.
Dalam kekaburan itu bahasa mencoba menemukan ekonomi
nya sendiri untuk lebih jernih. Pengertian disederhanak an, kata
dicoba diberi bangunan makna yang ajek. Sebagaimana ”rasa ta-
292 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SAMAN
kut” purba diberi sosok ”gendruwo” atau ”kuntilanak”, juga ”te
ror”abad ke-21 diberi sosok ”Al-Qaidah”. ”Musuh” juga secara
samar-samar diberi wajah ”Islam”, tak peduli apa itu datang dari
Iran, Arab, Inggris, atau Negeri Dongeng.
Dalam pidato yang disiarkan di TV itu, misalnya, tak sepatah
pun saya temukan kata ”muslim” dalam teks Usamah bin Ladin;
ia hanya menyebut Libanon dan Palestina. Tapi laporan Douglas
Jehl dan David Johnston di The New York Times men ulisbahwa
tokoh ”Al-Qaidah” itu berbicara tentang ”muslim securities”. Be-
berapa hari sebelumnya The Boston Globe mengutip seorang Ame
rika yang pernah disandera oleh kaum militan pada tahun awal
Revolusi Iran. Ia menghubungkan penyanderaan di Teheran itu
dengan pembantaian di World Trade Center tahun 2001. ”Saya
tahu mereka akan datang lagi,” katanya—seakan-akan ”mereka”
yang di Iran dua dasawarsa yang lalu sama dengan ”mereka” yang
menghantui Amerika sejak ”11 September”.
Dengan kata lain, berlainan dengan ketika menghadapi ge
raka n komunisme internasional, kini orang Amerika tetap tak ta
hu siapa gerangan musuh itu dan kenapa dan dari mana ia mun-
cul. Bahasa dapat diberi bangunan makna yang ajek, namun
yang ”nyata” tetap luput. Teror tak mudah diringkas. Mambang
dan peri akan tetap gentayangan. Bahkan para perencanadi Pen-
tagon tak tahu kapan perang melawan terorisme akan berakhir,
bagaimana pula kemenangan dan kekalahan dirumuskan dalam
rancangan operasi.
Mungkin ini perang yang akan tak usai. Lingkaran setan de-
ngan mudah terbentuk. Sebab telah tampak betapa mudahnya
mengganggu keseimbangan jiwa orang Amerika, dan betapa mu-
dahnya para politikus mengubah paranoia khalayak ramai jadi
patriotisme dan xenofobia jadi unilateralisme—yang pada gilir
annya akan kian mengucilkan Amerika di dunia. Seregu kecil
orang yang bersedia menghancurkan apa saja yang ”Amerika”
Catatan Pinggir 7 293
http://facebook.com/indonesiapustaka SAMAN
akan dapat memicu semua itu.
Seperti Halloween, di sini pun rasa takut dapat mendatang-
kan hal-hal yang dapat diperdagangkan; senjata, misalnya. Tapi
berbeda dari Halloween, dalam perang melawan terorisme itu
ada kematian, kehancuran, dan kebencian yang berjangkit. Juga
kehilangan perspektif. Orang lupa bahwa lebih besar ketimbang
”Al-Qaidah” adalah ancaman kemiskinan, penyakit menular,
hutan tropis yang habis, air bumi yang terkuras, ozon yang berlu-
bang, dan bumi yang bertambah panas.
Tempo, 14 November 2004
294 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka LIBERALISME
LIBERALISME terguncang hari ini. Pemilihan umum
2004 Amerika Serikat menghukumnya, dan mungkin se-
buah zaman baru di ambang pintu.
Bertahun-tahun lamanya orang Amerika hidup dalam sebuah
tata yang bertolak dari anggapan bahwa, dalam sebuah negeri,
hak adalah sesuatu yang tak dapat ditanggalkan. Hak itu diang-
gap telah lebih dulu ada, dan harus ada, sebelum keputusan nilai
tentang apa yang ”baik” dan ”buruk”, ”patriotik”atau ”tak patri-
otik”, ”dosa” atau ”bersih”, ”pro-Yesus” atau ”anti-Yesus”.
Kini pandangan yang mengutamakan ”hak” itu memang pa
tutcemas. Seorang presiden telah menang dengan dukunga nge-
muruh gerakan Evangelis Kristen. Tak berarti sendi liberalisme
tumb ang. Konstitusi Amerika, yang mengadopsi beberapa pokok
pemikiran liberal, punya mithosnya sendiri.Ia tak mudah untuk
dirombak, kecuali bila suara ”Kristen kanan”yang menakutkan
itu menguasai seluruh perdebatan publik.
Tapi cukup tanda bahwa, setelah November 2004, hak sese
orang dapat dicopot karena ada keputusan nilai tentang ”baik”
dan ”buruk”, ”dosa” dan ”tak dosa”. Dan mudah dik etahui,kepu-
tusan itu bukan sesuatu yang universal. Ia hanya sebuah konsen-
sus si mayoritas yang tak mendengarkan suara yang lain. Ia bah-
kan hanya menimbulkan sebuah soal besar: keadilan.
Keadilan jadi penting, sebab tiap masyarakat terdiri atas anasir
yang beraneka, juga nilai-nilainya. Di tahun 1960-an, di Ameri-
ka Serikat yang menindas mereka, orang-orang Hitam bergerak.
Mereka selama berabad-abad bisu dan tak tampak, tapi sejak itu
hadir dan bicara. Orang Amerika pun sadar bahwa sebuah negeri
akan dirasuki racunnya sendiri bila di tubuhnya ada orang-orang
yang tersembunyi dan tertindas: sekelompok yang berpendapat
Catatan Pinggir 7 295
http://facebook.com/indonesiapustaka LIBERALISME
lain, orang-orang yang tengah tak berdaya untuk berbeda sikap.
Sebab itulah bagi liberalisme—yang kian marak sejak itu—
keadilan bukan sekadar salah satu di antara sederet nilai. Keadil
an adalah nilai yang utama. Dalam kata-kata John Stuart Mill,
pemikir liberalisme abad ke-19, keadilan adalah ”bagian pokok...
bagian yang paling suci dan mengikat, dari semua moralitas”.
Keadilan itu terkait erat dengan kehendak merawat hak orang
seorang. Amerika didirikan dengan keyakinan bahwa hak itu ber
asal dari Tuhan. Atau, bagi pemikiran yang disebutoleh Michael
Sandel sebagai ”liberalisme deontologis”, hak itu ada bersama
laku manusia ketika ia merdeka. Liberalisme ini—yang dimu-
lai dari Kant di abad ke-18—menganggap kemerdekaan manusia
tampak ketika manusia mampu jadi ”subyek pengalaman,” bukan
semata-mata ”obyek pengalaman”, ketika ia dapat melampaui ke-
adaan empiris yang membentuknya dan mengatasi ”mekanisme
alam” dalam dirinya.
Kehadiran ”subyek” itu kian dipertegas dalam sejarah politik.
Revolusi meledak di mana-mana, dan ”hamba” jadi ”warga”, dan
tiap kekuasaan manusia di atas manusia dipandang dengan syak.
Sejak itu, untuk memakai kata-kata Ronald Dworkin, seorang
pemikir liberal terkemuka dewasa ini, hak berperan ”sebagai kar-
tu truf yang dipegang individu-individu”. Akan gagal sebuah
pemerintahan, kata Dworkin, ”bila” lebih menyukai satu konsep
si ketimbang konsepsi lain, baik karena para pejabat menganggap
konsepsi itu secara intrinsiklebih unggul, atau karena ia didu-
kung oleh kelompok yang lebihbanyak dan lebih kuat”.
Dari sini kita tahu kenapa Dworkin menentang keras pilihan
untuk membiarkan Presiden Bush berkuasa kembali. Sebagaima-
na ditulisnya dalam The New York Review of Books menjelang pe-
milihan presiden, November. 2004, ia memperkirakan Bush
akan mendesak agar Konstitusi diubah. Nilai-nilai kaum Evange
lis Kristen akan jadi dasar hukum yang mengatur pernikahan,
296 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka LIBERALISME
penelitian ilmiah, bahkan politik luar negeri.
Bagi Dworkin, yang memasygulkan bukanlah baik atau bu-
ruknya pengaruh itu, melainkan telah terancamnya sebuah Ame
rika yang menampung segala suara, sebuah negeri yang inklusif
dan berdasar keadilan.
Tapi ada yang tampaknya tak terpecahkan oleh para pemikir
liberalisme. Dari mana datangnya ”keadilan”?
Bila ia jatuh dari langit, atau dari ”subyek transendental”, bu-
kankah ia selalu keadilan yang ”mengejawantah”, yang diungkap
kan di sebuah negeri, oleh sejumlah manusia, di sebuah masa, se-
hingga pengalaman manusia ikut menyemai dan membentuk
nya?Bagaimana mungkin sebuah pemerintah, juga sebuah ma-
syarakat, dapat merumuskan ”keadilan” tanpa dipengaruhi
pengalaman hidup masyarakat itu, juga perimbangan kekuatan
yang ada dalam tubuhnya?
Liberalisme akan sulit menjawab ini. Maka sulit pula ia meng-
hadapi pertikaian nilai moral, nilai yang mungkin tak datang
dari langit, tapi dihayati bukan sebagai konflik kepentingan yang
dapat dirundingkan dalam proses penyelesaian praktis di bumi.
Kaum Evangelis Kristen, misalnya, menampik pernikahan antar-
orang gay, tapi kaum homoseksual menggugat: jika pernikah-
an dianggap sesuatu yang bagus, kenapa mereka tak boleh men-
jalaninya? Kaum Evangelis mengh endakipemerintah AS mendu-
kung tindakan Ariel Sharonterhadap orang Palestina; bagi mere
ka itu sesuai dengan ramala n Alkitab. Tapi orang lain menilai
ketidakadilan itu mengancam perdamaian. Bagaimana liberal
isme menghadapi konflik macam itu—yang berangkat dari dua
dunia yang berbeda, dan bertujuan ke hidup yang berbeda?
Ketika ”nilai moral” justru jadi sumber ketegangan sosial
Amerika, liberalisme pun oleng. Tampaknya memang ada kele
mahan liberalisme. Ia menganggap ”keadilan” nilai utama,tapi
ia melihatnya sebagai sesuatu yang telah ada dan selesai. Tapi
Catatan Pinggir 7 297
http://facebook.com/indonesiapustaka LIBERALISME
bagaimana mungkin? ”Keadilan” itu seperti kolong: ia ”ada” tapi
ia ”tak ada”. Ia ada karena merupakan lawan dari ketidakadilan,
tapi maknanya belum terisi, meskipun terasa meluap-luap. Se-
buah ”penanda yang kosong”, kata Laclau.
Perjuangan politik yang tak henti-hentinya menunjukkan
bahwa ”keadilan” meminta untuk tak dibiarkan hampa—dan
demikianlah sejarah terjadi.
Tempo, 21 November 2004
298 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka YAKIN
KOTA kecil berpenduduk 17 ribu itu menyambut kun
jungan presiden mereka: Tuan Bush ternyata bersedia
berk unjung. Bagi warga Poplar Bluff, Missouri, hari itu
menggetarkan. Seorang laki-laki setengah baya berpidato: ”Ame
rika Serikat negeri terhebat di dunia. Presiden Bush presid en ter-
hebat yang pernah saya ketahui. Saya cinta presiden saya. Saya
cinta negeri saya. Saya cinta Yesus Kristus.”
Yesus, Amerika Serikat, Bush. Mungkin bukan sebuah tri-
tunggal baru. Tapi mengapa tidak? Dalam sebuah reportase di
The New York Times Magazine 17 Oktober 2004, dengan anekdot
itu Ron Suskind menunjukkan gejala yang sedang merundung
AS: 42 persen orang merasa diri ”evangelis” dan ”dilahirkan kem
bali” sebagai orang Kristen; di atas mereka, seorang presiden yang
menyandarkan keputusannya lebih kepada ”iman” ketimbang
”fakta”. ”Inilah buat pertama kalinya saya merasa Tuhan ada di
Gedung Putih,” kata Gary Walby, seorang pensiunan jauhari in-
tan di Kota Destin, Florida.
Dan itulah yang, dalam kata-kata Suskind, membuat kepresi
denan Bush ”radikal”: sang presiden memiliki kepastian ”yang
melebihi kewajaran, yang diresapi oleh iman”.
Harus dicatat: tak semua orang Kristen mengamini posisi itu.
Iman (seperti juga tanpa iman) membawa orang ke arah yang ber-
beda-beda. Seorang pastor yang bekerja dengan orang miskin
di Austin, Texas, berkata kepada Suskind: ”Iman yang nyata...
membawa kita ke arah perenungan yang lebih dalam, dan bukan-
nya... ke arah... kepastian yang gampang.”
Tapi bukankah sudah lama orang hidup dengan sikap tak per-
caya, atau setengah percaya, atau tak peduli benarkah Tuhan ter-
libat dalam keruwetan manusia sehari-hari, dan sebabitu ada ke
Catatan Pinggir 7 299
http://facebook.com/indonesiapustaka YAKIN
rinduan kepada iman yang lempang? Dan mana mungkin sebuah
mesin kekuasaan dapat dijalankan tanpa ”kepastian yang gam-
pang”? Tiap mesin menghendaki garis lurus, sempit dan ringkas.
Benar, namun hanya dalam kiasan kekuasaan manusiadapat
disebut sebagai ”mesin”. Bahkan birokrasi yang palingrasional se-
lalu terancam kemustahilan. Kekuasaan man usiaadalah kekua-
saan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnyadipahaminya
sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, ma-
syarakat yang tak pernah selesaiterbentuk, semesta hidup yang
tak kunjung tertangkap oleh dalil.
Kian lama zaman kian mengungkapkan kemustahilan itu.
Anthony Giddens jadi menonjol dalam percaturan sosiologi kare-
na ia dapat merumuskan keadaan itu dengan sepatah kata kun-
ci: ”risiko”—yang baginya mendasari perikehidupan (”budaya”)
hari ini. Bahkan kian mengerikan kecelakaan yang mungkin ber-
langsung, kata Giddens, kian tak cukup penga laman kita perihal
risiko yang bakal ditanggung. Begitulah maka pelbagai guncang
an terjadi dan kita terlambat: krisis moneter, wabah AIDS, ”11
September”, lapisan ozon yang bertambah cepat rusak.
Di hadapan itu semua, tak dapat saya bayangkan Tuan Bush—
atau siapa saja yang mengira bahwa mereka ”bersamaTuhan”—
akan mampu menghilangkan sebuah dunia yang tak dapat dipre-
diksi dan bergerak seperti kuda liar. Jadi apa arti kepastian? Iman,
sebagaimana juga tanpa-iman, memang dapat menumbuhkan
ilusi yang bukan-bukan tentang ”aku” sebagai subyek yang mam-
pu memesan masa depan. Tapi Tuhantak ada di Gedung Putih.
Gary Walby, sang jauhari tua itu, keliru. Tuhan tak berdiam di
mana saja manusia duduk di takhta, dalam segala jenisnya.
Sebab tiap kekuasaan, kafir atau bukan, di Amerika atau di
Indonesia, di Kremlin atau di Vatikan, di Jenewa di bawah Cal-
vin di abad ke-17 atau di Arab Saudi di abad ke-20, mengandung
lubang hitam: kekerasan, bahkan kebuasan, atau setidakn ya cela
300 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka YAKIN
yang serius, menyedot kuat manusia. Buku sejarah penuh dengan
kisah itu. Negara adalah bangunan yang tegak dengan pemban-
taian, penindasan, penyingkiran, atau pembungkaman. Tapi se-
lamanya akhirnya meleset.
Juga ambisi dan 1.001 salah tindak. Sebuah negeri selalu di
rundung percaturan politik. Proses itu mau tak mau mengandung
sikap bermusuhan, setidaknya iri, bahkan benci,galak, dan naik
pitam—sesuatu yang agaknya dilupakan para pengikut Haber-
mas—sebab ketimpangan kekuasaan selalu ada, juga perebutan
untuk mendapatkannya, dan ”konsensusrasional” tak selamanya
tercapai. Sejak generasi pertama manusia setelah Nabi Adam,
sampai dengan generasi manusia dalam pemilihan umum di ta-
hun 2004, kita menyaksikan pola itu.
Pola itu menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, bahwa
dengan atau tanpa iradah Tuhan, pergulatan kekuasaan berpro
ses dalam dan dengan tubuh manusia, dengan dan dalam baha
sanya, akal dan syahwatnya, niat baik dan pamrihnya. Kedua,
proses itu pada akhirnya sebuah proses pengambilan keputusan.
Dalam bahasa Indonesia, kata itu, yang juga disebut ”memu-
tuskan”, mengandung kata dasar ”putus”: sesuatu yang traumatis.
Memang ada pengambilan keputusan berdasarkan analisis dan
forkas. Tapi itu sebenarnya bukan ”memutuskan”, melainkan
”mengikuti”. Saya kira Kierkegaard, pemikir yang saleh tapi ter-
kadang aneh itu, benar ketika ia mengatakan bahwa saat manusia
memutuskan adalah ”saat kegilaan”.
Bukan karena manusia ngawur, tapi karena ketika ia menga
tak an bahwa ia ”yakin” akan hal yang ia putuskan, sebenarnya ia
berhenti memperhatikan yang tak terduga, yang lain, yang tak
tertangkap. Saat itu ”gila” karena ia meloncat ke dalam ketidak-
pastian. Ia subyek dari keputusannya, tapi juga obyek yang diben-
tuk oleh keputusan itu. Mustahil baginya untuk tahu betul apa
sebenarnya kehendak-Nya. Maka manusia pun gentar dengan
Catatan Pinggir 7 301
http://facebook.com/indonesiapustaka YAKIN
pelbagai cara dan berdoa dengan pelbagai cara.
Menarik bahwa Bush juga gemar berdoa. Tapi di Gedung Pu-
tih, benarkah doa presiden yang ”terhebat” dari negeri yang ”ter-
hebat” itu—untuk memakai penilaian orang di Poplar Bluff—
berarti sebuah pengakuan akan ketidakhebatan? Ataukah hanya
Amir Hamzah yang bersedia bertanya: ”Tuhanku apatah kekal?”
Tempo, 28 November 2004
302 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KEJADIAN
TIDAKKAH kita akan bosan? Demokrasi tanpa mukjizat.
Bila ”akhir sejarah” adalah sebuah keadaan hidup ketika
manusia menerima kemerdekaan dirinya sebagai sesuatu
yang normal, tak akan perlu sedu sedan lagi: marah dan kesedih
an kita bawa sendiri, sendiri—atau kita letakkan di ruang ter-
batas. Huru-hara tak dibutuhkan. Ketika kita tahu bahwa revo
lusi pada akhirnya akan berakhir—dan kita mendapatkan cara
merdeka yang lebih murah—buat apa perubahan yang meng-
guncang kita dari bulu kaki sampai ke ulu hati? Kita pun akan
membuat prosedur, juga untuk berteriak.
Kini pun, di jalanan tak ada teriak. Orang berdesak-desak.
Dari jendela bus, masing-masing memandang ke luar, tak sabar,
atau tidur dan menyerah ke dalam kemacetan rutin, dan berbisik,
(mengingatkan kita akan lakon Utuy Tatang Sontani), ”Sayang
ada orang lain ....”
Orang lain tentu tak akan musnah. Kelangkaan, dari mana
ekonomi lahir, akan tetap ada. Kita tetap harus berbagi. Tapi kita
akan enggan berkelahi habis-habisan untuk mengubah distribusi
itu. Di ”akhir sejarah”, kapitalisme telah diterima sebagai sesuatu
yang tak terelakkan. Manusia tak perlu membuat tangan gigan-
tis sendiri. Ada ”tangan yang tak terlihat” yang mengatur benda,
jasa, kekayaan, kesenangan.
Tentu, kita tak akan jadi mesin otomat yang bangun tidur, be
kerja, makan, ngobrol dengan tetangga atau nonton TV dan sebe
narnya hampa. Kita masih bisa tergugah melihat kesewenang-
wen angan (misalnya di berita malam atau sinetron). Kita masih
bisa bergabung dalam keranjingan Persebaya atau Manchester
United dan datang ke konser Slank. Kita masih bertarung habis-
habisan dalam turnamen taekwondo. Kita masih mencoba me
Catatan Pinggir 7 303
http://facebook.com/indonesiapustaka KEJADIAN
nang dalam festival tari, di pasar saham atau di laboratorium
yang mencari obat baru untuk rambut rontok.
Tapi itu semua adalah gairah dalam sebuah tertib. Ukuran
dan juri disepakati—mirip kehidupan politik di atas kita. Dan
kita akan menyebutnya ”zaman normal”.
Mungkin membosankan. Sebab tidakkah terasa ada sesuatu
yang kurang, sebuah defisit yang tak bisa kita hitung? Di negeridi
mana demokrasi-tanpa-mukjizat telah berlangsung lama, orang
mulai melihat ada sesuatu yang ”salah” dalam gerak-tanpa-keha-
ruan ini. Orang pun bicara, dengan setengah mencemooh, ten-
tang ”republik prosedural”.
Dan orang pun mulai menyidik bahwa batas antara yang
”norm al” dan ”abnormal” sebenarnya semu. Seperti halnya jiwa
manusia sendiri: normalitas adalah sesuatu yang mengand ung
luka dan lupa. Dalam keteraturan hari ini kita bukan saja mele
takkan khaos dan ketidakpastian di hari kemarin. Kita juga tak
mengakui ada represi pada jam ini juga di satu sudut kota. Seperti
lotere: prosedur yang teratur untuk menentukan pemenang sebe
narnya justru bagian dari ritual untuk terkejut, sebuah upacara
ketidakpastian. Probabilitas dapat diperkirakan oleh statistik.
Tap i para pakar tahu hasilnya selalu men gandung deviasi.
Maka tatkala ”politik” jadi prosedur, orang memang patut
bertanya: tidakkah ini hanya ilusi? Begitu gampangkah proses
membuat prosedur itu diterima sebagai prosedur? Tidakkah pada
mulanya ada isi, yang bermakna, yang menyangkut ”keadilan”,
”kebebasan”, dan ”kebenaran”, hal-hal yang sebenarnya begitu
penting bagi kelanjutan hidup (di) sebuah negeri?
Di Indonesia, tahun ini, kita memang belum lupa bahwada
lam ”politik” (sebagai prosedur), sebenarnya terkandung ”keja
dia n”. Ketika Alain Badiou menyebut ”l’ événement” dalam seja
rah—misalnya Revolusi Prancis—argumen filosof itu kita terima
sebagai pengingat bahwa memang ada yang gerowong dalam tiap
304 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KEJADIAN
ketertiban. Ke sana masuk sebuah gebrakan yang mengguncang
keadaan (atau tata) yang ada. Otoritas dan kepatuhan berdiri, ta
pi dalam situasi itu sebenarnya berlangsung juga sesuatu yang su
wung—kosong tapi penuh dengan entah—sesuatu yang sarat de-
ngan inkonsistensi tapi tak (hendak) diketahui. Ketika huru-hara
meledak, bagaikan sebuah mukjizat transformasi pun terjadi.
Para pelakunya menyebutnya ”Revolusi”. Melalui ”intervensi taf
sir” itu, sang ”Kejadian” jadi ”Kebenaran”—sesuatu yang univer-
sal.
Politik sebenarnya mengandung cita-cita ke arah yang univer-
sal itu. Kini hal itu jadi penting, sebab kita hidup dalam masa
yang bertanya: jangan-jangan yang ”universal” sebenarnya sesu
atu yang hanya dicekokkan ke kepala kita oleh suara yang paling
kuat. Dengan kata lain, kita hidup tanpa pegangan bersama yang
mantap. Sang ”Kejadian” adalah yang memantapkan apa yang
tak mantap.
Tapi tidakkah Badiou sebetulnya sebuah suara nostalgia, keti
ka politik terasa begitu-begitu saja dalam ”republik prosedural”?
Sebenarnya ia memang menghendaki ”mukjizat”: teorin ya bukan
hanya satu deskripsi, tapi acuan untuk membuat sebuah langkah
besar, yakni sebuah Keputusan di tengah hal yang tak dapat dipu-
tuskan, dalam ketidakmantapan nilai-nilai. Dari Keputusan itu
akan hidup kembali persoalan ”keadilan” dan ”kemerdekaan”
yang kita simpan di bawah kasur prosedur.
Namun acuan Badiou masih membuat saya waswas: Keputus
an dalam ketidakmantapan itu juga pada dasarnya hanya ”prose-
dur”, meskipun dramatis. Tidakkah ”intervensi tafsir” dapat
membuat kekerasan dari siapa pun jadi Kebenaran—juga dari
Hitler? Saya bayangkan seorang Jerman yang pada tahun 1930-
an menonton film Leni Riefenstahl, Triumph des Willens. Di sana
tampak rapat akbar Partai Nazi di Nürnberg pada tahun 1934—
parade yang dahsyat, ribuan barisan dalam desain yang agung. Ia
Catatan Pinggir 7 305
http://facebook.com/indonesiapustaka KEJADIAN
akan mudah dengan yakin menyatakan, ”Inilah Kejadian! Inilah
Kebenaran!”
Artinya masih ada yang kosong dan menakutkan, bukan
membosankan atau tidak. Soalnya kemudian kapan politik mem-
beri isi dan prosedur hanya menjadi bentuk? Sekarang juga, saya
kira. Bahkan di ”akhir sejarah” isi itu, makna itu, masih meng
imbau— selama di luar pintu itu ada seorang yang tergeletak,
lapar, luka, dan kita tak berpaling.
Tempo, 5 Desember 2004
306 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka VAN GOGH
BAGAIMANA kita bisa bicara tentang Mohammad B.?
Pada suatu hari di bulan November 2004 yang dingin, ia
membunuh Theo Van Gogh dengan tenang dan brutaldi
sebuah jalan di Amsterdam. Ketika seniman film itu bersepeda,
Mohammad B. menghadangnya, dan menembakkan pistolnya
delapan kali. Terkena lutut, Van Gogh terjerembap. Ia diseret.
Dalam keadaan luka itu ia memandang orang yang menemb ak
nya dan mencoba berbicara. Tapi Mohammad B. tak menyahut.
Dengan mantap tenggorokan Van Gogh dipotongnya, hampir
putus. Setelah itu, satu statemen lima halaman dip asangke tubuh
Van Gogh, direkatkan dengan sebilah pisau yang menghunjam
sampai tangkai ke jantung si mati.
Kesimpulan sementara: Mohammad B. membunuh karena
Van Gogh dianggapnya menghina Islam. Delapan minggu sebe
lumn ya film Submission diputar di TV. Kata orang yang telah me-
lihatnya, salah satu adegan menunjukkan ayat-ayat Quran tertu
lisdi atas tubuh perempuan-perempuan yang mengenakan pa
kaia n menerawang, dengan buah dada tampak. Ayat-ayat itu ko
non menyebut perkenan Allah bagi laki-laki untuk memukul
istrin ya. Wajah perempuan-perempuan dalam film bikinan Van
Gogh itu tampak bengap, runyam.
Di belakang ide film itu adalah Ayaan Hirsi Ali, seorang pe
rempuan kelahiran Somalia, anggota parlemen Belanda.Ayaa n
Hirsi ingin menggambarkan perlakuan buruk Islam terhadap pe
rempuan. Ia pernah menggambarkan riwayat hidupnya sebagai
seorang anak yang meninggalkan Somalia dalam umur 6 tahun,
lalu hidup di Arab Saudi, Etiopia, dan Kenya. Menjelang umur
20 tahun, orang tuanya menyuruhnya menikah dengan laki-laki
yang tak dipilihnya sendiri. Ia harus menyusul calon suaminya di
Catatan Pinggir 7 307
http://facebook.com/indonesiapustaka VAN GOGH
Kanada, tapi di tengah perjalanan ia berhenti di Jerman, lalu naik
kereta api ke Belanda. Di sinilah ia belajar, berhasil, masuk ke ke-
hidupan politik, dan bergabung dengan Partai Liberal.
Setelah Van Gogh terbunuh, Ayaan Hirsi tak tampak lagi di
depan umum, dan Belanda tercekam dengan apa yang selaluter-
jadi setelah kekerasan: benci yang menular. Sekolah muslim dan
masjid dicoba dibakar, dan satu juta orang Islam di antara 16 juta
penduduk Belanda harus berhadapan dengan soal mendasar ten-
tang hidup di sebuah dunia yang mereka pilih, yang juga sebuah
dunia tempat seorang Van Gogh punya kemerdekaan untuk ber-
bicara dengan cara menghina apa yang amat berharga, bahkan
suci, di hati mereka.
Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Dia me-
wakili perilaku Islam, kata sebagian orang. Bukankah pembu
nuhan sudah terjadi sejak zaman Nabi, bila ada orang yang diang-
gap berbahaya bagi agama? Bukankah hal yang sama berlanjut
terus sampai abad ke-20? Satu daftar dapat dibuat: pada 1947, se
orang pengacara Iran, Ahamd Kasravi, harus mati karenatud uh
anseperti itu. Empat tahun kemudian, kelompok radikalyang
sama membunuh Perdana Menteri Haji Ali Razmara. Di Me
sir, Farag Foda, penulis Al-hakika al-gha’ iba (The Missing Truth),
yang menganjurkan sekularisme, dibunuh dalam umur 47 tahun.
Pada 1993, Tahar Djaout, seorang novelis Aljazair, diserang dan
tewas. Pada 1994 novelis Naguib Mahfouz, pemenang Hadiah
Nobel, ditikam. Dan kita ingatSalman Rushdie yang ”dijatuhi
hukuman mati” (tentu tanpapengadilan) oleh Ayatullah Kho-
meini, dan Rushdie harus bersembunyi bertahun-tahun, sampai
akhirnya penguasa Iran mencabut fatwa itu.
Tidak, kata yang membantah, Mohammad B. tak mewakili
Islam. Memang untuk berbuat kejam (”keras”), orang selalu da
pat mengutip Quran dan hadis. Itu yang dilakukan oleh mereka
yang membunuh Kaswavi dan mencoba menghabisi Salman
308 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka VAN GOGH
Rushd ie. Tapi kenyataan tetap: sebagian besar muslim tak per-
nah membunuh atas nama agama mereka. Bahkan dari seluruh
penduduk muslim Belanda, kata sebuah sumber di Dinas Ra-
hasia, hanya 150 orang yang dapat dikategorikan ”radikal” dan
mendekati ”teroris”.
Kenapa kita tak melihat Mohammad B. sebagai seseorang de
ngan keputusannya sendiri yang sunyi? Kenapa perkaranyatak
hanya dibatasi sebagai perkara kriminal, dan bukan perk ara
”kultural”? Kenapa sumbernya ditarik jauh ke ajaran Islam? Bu-
kankah ajaran Islam selalu bersifat tafsir orang, dan dari sana da
pat lahir pembantaian tapi juga perdamaian? Bukankah hal yang
sama berlaku untuk agama Yahudi dan Kristen juga dalam se-
jarah Eropa—yang menyebabkan orang bisa mengeluh: alangkah
membingungkannya Sabda Tuhan?
Tak kalah membingungkan adalah kata-kata manusia. Per
soala n sebuah negeri yang dihuni oleh beragam orang dengan be-
ragam iman ialah ketika ”multikulturalisme” jadi kebijakan pub-
lik. Kebijakan ini akan bergantung pada bagaimana ”kultur” di-
petakan dan bagaimana ”identitas” diresmikan. Orang cende
runglupa bahwa ”identitas” tak pernah ada dalam hiduporang
seo rang. Label ”Islam” tak sepenuhnya mencakup (dan mengua-
sai) kita. Kita tak akan pernah bisa tahu benark ah Mohammad B.
seorang ”Islam”, meskipun ia menyebut diri demikian, sebab kita
sebenarnya tak ada jaminan seluruh dirinya mencerminkan ”Is-
lam”—sebab tak ada ”Islam” yang membentuk para pemeluknya
bagaikan sebuah cetakan yang sudah siap.
Bagaimana kita bicara tentang Mohammad B.? Kita belum
tahu apa sebenarnya yang dicarinya. Adakah pembunuhan pada
hari itu cara dia menunjukkan sebuah jalan buntu, ketika dialog
macet—ia tak akan dapat mengubah Van Gogh dari sikapnya
yang menghina itu? Bahwa argumentasi pada akhirnya ditentu-
kan oleh mana yang kuat, dan sebab itu Van Gogh dapat menyi
Catatan Pinggir 7 309
http://facebook.com/indonesiapustaka VAN GOGH
arkan filmnya dan Ayaan Hirsi dapat mempunyai forum untuk
menyampaikan kecamannya?
Mungkin akhirnya Muhammad B. berkesimpulan, yang kuat
adalah yang dapat membisukan yang lain—dan satu juta muslim
itu pada akhirnya toh tak berdaya. Tapi mungkin ia tak tahu atau
tak peduli: jika kekuatan berarti pembunuhan, tak akan ada ne
geri yang dapat menjadi negeri, dan yang ada hanya jutaan bang-
kai.
Tempo, 12 Desember 2004
310 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MATI
PADA suatu sore tahun 1947, ayah saya dieksekusi oleh pa-
sukan Belanda yang menduduki kota kami. Saya, anak
terkecil, tak diperkenankan melihat jasadnya. Tapi ke-
mudian Ibu bercerita bahwa ada tiga butir peluru yang ditembak-
kan ke kepala Bapak.
Keluarga kami tak pernah tahu kenapa ia dihukum mati. Tak
ada pengadilan pada hari-hari itu. Pasukan Belanda barusaja me
rebut kota kami, malamnya seorang gerilyawan melemparkan
gran at ke markas mereka dan membunuh entah berapa orang
serd adu, dan Bapak mungkin berkaitan dengan itu semua, tapi
mungkin tidak. Barangkali ia—yang dibuang ke Digul beberapa
belas tahun sebelumnya setelah pemberontakan gerakan kiri
yang gagal pada 1927—sudah ada dalam daftar orang yang tak
dikehendaki.
Sejak itu saya tahu, kekerasan dan kematian terjadi ketika ada
orang yang tak dikehendaki dan sebuah kekuasaan jadi cemas.
Pada 1965-1966 berpuluh-puluh ribu orang dibunuhketika In-
donesia cemas—sebuah perasaan yang makin akut karenawaktu
itu tak jelas siapa gerangan ”Indonesia” yang cemas itu. Tiap ka
li masyarakat guyah, tiap kali sesuatu yang dapat dijunjung di
tegakkan, dan tiap kali ada yang harus disingkirkan. Memba
ngunadalah menghancurkan. Dalam takhayul di kota saya di
pantai utara Jawa, harus ada kepala yang dipotong ketika orang
memb uat jembatan. Mungkin itu juga yang tersirat dalam legen
da tentang Roma yang termasyhur itu: di bukit tempat kota itu
didirikan, Romulus membunuh saudara kandungnya, Remus,
sebelum tata dan tertib lahir.
Itu sebabnya orang menghukum mati orang lain, bila ia ada
dalam daftar yang tak dikehendaki. Si ”bersalah”, si ”ganjil”, tak
Catatan Pinggir 7 311
http://facebook.com/indonesiapustaka MATI
hanya harus diubah dalam sikap. Tubuhnya harus ditiadakan.
Semangat totaliter (Stalin dalam Revolusi Rusia, Mao dalam
Rev olusi Cina, dan Khomeini dalam Revolusi Iran) selalu ingin
menciptakan ”manusia baru”. Maka orang dijejalidoktrin, diolah
lewat proses ”transformasi pikiran”. Stalin mengerahkan seniman
untuk mempraktekkan ”realisme sosialis”, sebab mereka adalah
”insinyur jiwa manusia”. Mao mendera rakyat Cina untuk meng-
hafal ”Buku Merah”. Khomeini mengontrol pikiran orang ramai
dengan fatwa, titah Tuhan, dan sabda Nabi. Tapi pada saat yang
sama, orang juga dibunuh. Bangkai yang tergolek di lapangan
eksekusi adalah tanda terakhirbahwa tubuh mempunyai arti.
Tubuh pada akhirnya memang bagian sentral kehidupan poli-
tik. Pada 1995 Agamben menulis Homo Sacer: Sovereign Power
and Bare Life, dan salah satu tesisnya ialah tubuh hadir memben-
tuk kehidupan politik. Bios, kehidupan politik, memasukkan ke
dalam dirinya zoe, kehidupan alami manusia. Ingat, katanya, de-
mokrasi Eropa dimulai dengan habeas corpus: perintah mahka-
mah untuk menghadirkan orang yang ditahan ke depan hakim,
agar dapat ditentukan sah atau tidakn ya penahanan. Dalam arti-
nya yang harfiah, habeas corpus adalah ”Anda dapat mendapatkan
tubuh itu”.
Tapi masuknya tubuh ke kehidupan politik juga telah me-
nyebabkan pelbagai horor. Kita tahu yang iblis dalam rasialisme.
Yang dibinasakan, disingkirkan, dan ditindas bukanlah mereka
yang jahat. Penolakan berpangkal pada kulit, bentuk hidung, je-
nis rambut, dan segala pembawaan yang tak dapat dipilih dalam
kandungan sang ibu.
Juga hukuman mati: yang dihabisi bukan perbuatan, tapi ker-
ja jantung, limfa, paru, dan otak. Adorno benar: sejak Ausch
witz, rasa takut akan mati berarti rasa takut akan yang lebih bu-
ruk ketimbang mati. Di kamp konsentrasi, kamar gas, dan di
saat eksekusi yang ditetapkan Negara untuk mengurangi jumlah
312 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka MATI
perusuh, yang terjadi bukan saja rasa sakit jasmani bagi indivi-
du, tapi rasa sakit yang dihadapi seseorang ketika ”individualitas
nyaris punah”.
Saya ingat Bapak. Saya tak pernah tahu mereka tutupikah ma
tanya di depan regu tembak sore itu dengan sepotong kain. Ke
kuasaan yang beradab melakukan hal itu—tapi juga di sini kisah
peradaban adalah kisah kebiadaban. Kain yang menutupi mata
itu juga menutupi sesuatu yang penting dalam wajah manusia.
Praktis ia menutupi seluruh wajah. Artinya: ia membungkus apa
yang ”lain” agar tampak jadi ”sama”. Hukuman mati adalah seje-
nis materialisme yang ganas dan menipu dirin ya sendiri. Ia meng-
hormati yang jasmani tapi pada saat yang sama menghilangk an
yang berarti, dan beragam, dari yang jasmani.
Tapi tak hanya di depan regu tembak hal itu terjadi. Yang jas-
mani secara tak kentara kian menggusur ”individualitas yang
nyaris punah” ketika kelaparan, kekurangan tempat,kekuranga n
air, menjarah sebuah wilayah yang padat. Mungkinitu sebabnya
di negeri-negeri miskin, orang tak menggugat hukuman mati se-
bagai sesuatu yang keji. Di sini, yang lebih buruk ketimbang mati
adalah hidup yang rudin, terjepit, dan sekarat. Tak mengheran
kanbila dari sini ada suara yang menggugat: gerakan anti-hu
kuma n-mati yang kita dengar sekarang adalah tanda keberlim-
pahan Eropa.
Eropa memang punya banyak keberlimpahan—di antaranya
sejarah yang bengis dan penuh kesalahan. Sering kita lupakan
bahwa Kant, yang jauh pada abad ke-18 telah memberikan dasar
filsafat yang kini dipakai untuk perjuangan hak asasi manusia—
yang bicara bahwa ”kemanusiaan” bukanlah cuma alat, tapi tu-
juan—adalah orang yang setuju hukuman mati bagi para pem-
bunuh. Ia, yang seumur hidup tak pernah pergi keluar dari Könis-
berg, kota kecilnya di Prusia Timur, memang orang yang gentar
akan kekacauan.
Catatan Pinggir 7 313
http://facebook.com/indonesiapustaka MATI
Tapi mungkin kita tahu kenapa. Bahkan dalam pikirannya
yang luhur itu Kant lebih bicara tentang ”kemanusiaan”, atau
”manusia”, ketimbang tentang subyek-subyek yang empiris,yang
hidup dalam pengalaman sejarah. ”Manusia”: sesuatu yang abs
trak. Dalam abstraksi itu, manusia—tanpa tubuh, tanpa per
ubahan—akan punah seluruhnya ditelan bios, dic engk eram ke-
hidupan politik.
Sejak itu, kita tahu kekerasan dan kematian bermula dengan
segala bentuknya. Dengan tiga butir peluru Eropa menembus ke-
palanya, ayah saya hanya sebuah contoh.
Tempo, 19 Desember 2004
314 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka JASIH
JASIH mati membakar diri, dan kita bersalah. Kita harus
mengaku .... Kita mungkin ikut membunuhnya, atau kita
berdiri di kamar kita dengan dosa sejenis itu, karena kita
sampai tak tahu bahwa ada ibu berumur 39 tahun yang begi-
tu berputus asa hingga ia menghabisi nyawanya sendiri dan nya-
wa Galuh, anaknya yang berumur 4 tahun, yang terserang kan
kerotak dan tak ada lagi biaya untuk mengobatinya. Kita bersa
lah karena Jasih begitu miskin utangnya yang lima juta rupiah
kep ada para tetangga itu begitu menekan dan kita selama ini ing-
kar. Kita tak pernah menengok. Kita tak pernah ingat.
Malapetaka itu tak dapat kita cegah, dan kita bersalah. Jasih
tak hidup di negeri yang jauh. Ia mati tak di tempat yang jauh. Ke
jadian itu, di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja, JakartaUtara,
pada pertengahan Desember 2004. Artinya, bukan masa lalu.
Artinya, sebenarnya terjangkau dari tempat saya. Juga terjangkau
dari tempat Anda. Lagoa bukan di seberang lautan dan di ba-
lik benua. Kecamatan itu hanya beberap a puluh kilometer saja
dari orang-orang (mungkin teman-teman kita) yang baru mem
beli sebuah apartemen di Paris, menikahkan anak di Convention
Hall Jakarta, memberi kado istri dengan berlian 500 juta, menyo
gok rekanan dengan 3 miliar, menyumbangkan uang untuk gere
ja sebesar 70 juta, naik haji ketiga kalinya seraya mentraktir 10
orang teman ke Mekah, berjudi di London sampai kalah1.000
pound sterling, atau hanya menyimpan uang beberapa miliardi
bank seraya menunggui bunga sekian persen. Daftar itu bisa di-
perpanjang. Dan bersama itu, kesalahan kita kian jelas.
Tuan akan berkata, tentu, ”Ah, tidak jelas!” Tuan akan ber
tanya kenapa Tuan disangkutkan ke dalam ”salah”. Maaf, be
ribu-ribu maaf. Saya punya bahasa yang kasar kali ini: jika kita
Catatan Pinggir 7 315
http://facebook.com/indonesiapustaka JASIH
(Tuan dan saya) tidak tahu, jika kita (Tuan dan saya) tidakmerasa
bersalah karena kematian di Lagoa itu, jika kita merasatak ber
urusandengan Jasih dan Galuh yang putus asa, itu berarti kita
dungu atau tak punya hati. Tuan tahu bahwa sebuah kota, sebuah
negeri, bukanlah tempat yang selama-lamanya longgar, dengan
kekayaan yang berlimpah-ruah. Tak ada bagian dunia yang be-
bas dari kelangkaan dan kekurangan;itulah sebabnya ekonomi
terjadi: orang berproduksi terus, tukar-menukar tak henti-henti.
Dan jika kita berbicara tentang Indonesia, kita akan lebih tahu
apa artinya kelangkaan dan kekurangan itu. Bahkan kita akan
tahu apa yang ada di balikn ya: kekayaan yang begitu timpang,
kesempatan yang begituselisih. Dari sini Tuan tahu apa yang me-
nyebabkan tak ada pengobatan yang murah bagi Galuh. Inilah
daftarnya, meskipun tak lengkap: karena dokter-dokter yang tak
pernah mengulurkan bantuan ke rumah orang miskin, karena
industriawan obat yang hanya memikirkan the bottom line, kare-
na pejabat Departemen Kesehatan yang mencolong dana buat pe
layananmedis dan pencegahan penyakit di kampung-kampung,
karenawartawan-wartawan (rekan-rekan saya) yang menerima
suap dari dokter, industriawan obat atau pejabat dan sebab itu la-
lai untuk menceritakan putus asa di kekumuhan itu kepada pub-
lik, juga karena para wakil rakyat yang setelah beranjangsana ke
luar negeri dengan uang ribuan dolar tak menegur kepala daerah
yang tak banyak berbuat. Tuan dan saya tambah bersalah bila
Tuan dan saya tak tahu itu apalagi berpura-pura tidak tahu itu.
Tuan bersalah, tapi harus saya tambahkan memang: kesalahan
Tuan lebih kecil sedikit ketimbang dosa saya, yang menulis tu-
lisan ini dan sudah terlambat, yang menulis dan mendapatkan
nama, yang ingin menangis untuk Jasih dan Galuh tapi kemudi-
an merasa bahwa saya juga yang akhirnya mendapatkan manfaat,
juga dari tangis itu. Jasih, Galuh, dan kakaknya, Galang, yang lu-
ka-luka, dan Mahfud, bapak anak-anak itu, yang kehilangan se-
316 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka JASIH
gala yang berarti baginya, tetap tak tertolong. Miskin. Berutang.
Hari-hari yang sudah cacat.
Mereka itu yang benar mengalami: kota begini sempit. Tiap
jengkal yang kita miliki berarti tiap jengkal yang tak dimiliki
orang lain. Saya kira itulah yang traumatis dalam sebuah masya
rakat apalagi masyarakat ini. Ada seorang yang mengatakan
bahwa pada saat seseorang memaklumkan, ”Inilah tempatku di
bawah cahaya matahari,” itulah bermula perebutan tak sah se-
luruh muka bumi. ”Kematian orang lain memanggilku untuk
ditan yai,” kata Emmanuel Levinas, ”seakan-akan, karena sikap
acuh tak acuh yang mungkin aku ambil kelak, aku bersekongkol
dengan kematian yang dihadapkan kepada orang lain, kematian
yang tak dapat diketahuinya.”
Jasih, saya tak berharap saya layak kamu maafkan.
Tempo, 26 Desember 2004
Catatan Pinggir 7 317
http://facebook.com/indonesiapustaka
318 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka
2005
Catatan Pinggir 7 319
http://facebook.com/indonesiapustaka
320 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
KALENDER selalu sampai di lembar terakhir, kita selalu
tiba di pangkal pertanyaan: benarkah harapan mung-
kin? Tiap Desember orang memperkirakan dan meran-
cang. Mereka sebenarnya bertanya. Tahun 2005 suram? Pertum-
buhan di atas 5 persen? Akan ada teror baru?
Statistik dan astrologi memberi jawaban yang selalu siap un-
tuk cacat. Tiap ramalan adalah orakel. Tapi kita memasukitiap
tah un baru (pesta yang seru, trompet kertas yang dipekikkan di
jalan-jalan, atau doa seorang diri di kamar sempit) dalam sebuah
sikap yang tak selamanya diucapkan: hidup tak pernah indah, se-
benarnya, tapi berharga.
Memang ada orang yang membuat diri jadi peledak agar han-
cur apa yang dilihatnya sebagai musuh yang jahat, ada Jasih dari
Kelurahan Lagoa yang membakar diri dan anak-anaknya karena
merasa habis dalam kemelaratan, tapi mungkin justru itu juga
isyarat: bagi si pengebom-bunuh-diri, hidup begitu berharga
hingga kematiannya adalah pemberian yang paling luhur bagi
sebuah tujuan agung; bagi Jasih, hidup begitu berharga hingga
penderitaan tak patut melekat di dalamnya.
Di dunia yang berjejal-jejal, yang kumuh, korup, bengis, dan
tak adil—yang tiap hari kita alami dengan mata nyalang di jalan-
jalan Jakarta—orang toh tetap tak memutuskan, ”Ah, tak perlu
hari esok.” Orang akan tetap bangun tidur, membersihkan pela-
taran, atau jogging, atau mendengarkan kuliah subuh, terus me
lakukan hal-hal yang dilakukan kemarin dan akan dilakukan
nanti. Rasa putus asa yang radikal tak bisa memikat orang ramai.
Sampai hari ini belum pernah ada sebuah masyarakat yang ber-
duyun-duyun seperti lemming menenggelamkan diri di laut.
Dengan kata lain, orang ber-harap, meskipun mungkin tidak
Catatan Pinggir 7 321
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
meng-harap. Ada sebaris kata-kata yang bagus dari VaclavHavel,
ketika ia masih seorang sastrawan yang menarik, tentang beda
mend asar antara ”harapan” dan ”optimisme”. Harapan, kata Ha
vel, ”bukanlah keyakinan bahwa hal-ihwalakan berjalan baik,
melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong
kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya”.
Havel tak menguraikan bagaimana halnya optimisme. Tapi
dapat ditarik kesimpulan di sini: optimisme adalah keyakin
an yang kurang-lebih utuh dan konsisten tentang masa depan.
Mungkin sebab itu optimisme mengandung sikap yang gagah,
tapi itu juga dapat berarti jumawa, dan itu berarti pongah.Sebab
sebenarnya tak ada kemampuan dalam diri manusia yang sec a
ra konsisten dan utuh menangkap (tak hanya memperkirakan)
”apa-yang-akan-datang”. Bahkan juga ”apa-yang-lalu” dan
”yang-kini” tak dapat sepenuhnya diketahui dan dijadikan dasar
bagi tindakan. Optimisme adalah ibarat iklan rumah yang akan
dijual: selalu dengan cahaya terang-benderang, tapi selalu cende
rung menyenangkan calon pembeli, maka ditambah ilusi, juga
dusta, biarpun sedikit.
Maka ada beda yang jauh antara ber-harap dan meng-harap.
Ber-harap adalah berada dalam harapan yang sudah ada. Di sini
harapan bukanlah sesuatu yang disengaja dan diniatkan. Dalam
ber-harap tersirat sikap yang lebih rendah hati menghadapi ruang
dan waktu. Orang Islam menghubungkannya dengan tawakal.
Sebuah konsep yang unik, sebab di situ sekaligus termaktub dua
kecenderungan yang sebenarnya bertentangan: ”pasrah” dan
”tekad”.
Dalam khazanah agama, tawakal merekatkan kedua kecende
rungan itu dalam ”iman”. Jika kita perhatikan benar, agama me-
mang meletakkan ”harapan” di pusat dirinya. Iman menghibur,
meskipun sukar, meskipun sunyi. Kita diberi tahu bahwa hidup
sebenarnya abadi, dan yang kekal akan datang setelah kematian.
322 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
Kita diberi tahu tentang Taman Firdaus, atau pencapaian rohani
yang akhirnya berarti kebebasan dari kesengsaraan dunia. Bagi
agama, tanpa iman, harapan mustahil.
Di abad ke-13 Thomas Aquinas menjelaskan kenapa. Ia me
ngatakan bahwa harapan harus dibedakan dari ”hasrat”, karena
harapan adalah ”muskil” (dan hasrat tidak demikian);harapa n
juga harus dibedakan dari putus asa, karena ia ”mungkin”. Ber
gerak bolak-balik dan timbul-tenggelam antara ”muskil” dan
”mungkin” itu, harapan membutuhkan Tuhan. ”Tak ada orang
yang mampu sendirian menangkap kebaikan luhur dari kehidup
an abadi; ia perlu bantuan ilahi,” begitulah kata Santo Thomas.
Maka ada satu hal yang berlipat dua: ”kehidupan abadi ke mana
kita berharap, dan bantuan ilahi dengan apa kita berharap”.
***
Di abad ke-21, orang tetap menghubungkan harapan dan
iman, seperti dulu. Tapi berbeda dengan yang dibayangkan Tho
mas Aquinas: hari ini ”bantuan ilahi” penting, tapi untukagenda
yang berbeda sama sekali. Di abad ke-21 banyak orang tak meli-
hat lagi bahwa harapan sering terbanting-banting bergerak anta-
ra ”muskil” dan ”mungkin”. Yang mereka lihat, harapan tak lagi
sesuatu yang misterius. Banyak orang berada dalam posisi meng-
harap, bukan ber-harap.
Dalam meng-harap aku menghadapi dunia dan masa depan
sebagai sesuatu yang kukehendaki. ”Apa-yang-akan-datang” ku-
tarik ke arahku, dan dengan itu kuketahui dan kukuasai. Iman
dan harapan di sini bertumpu pada subyektivitas yang kuat: aku
melangkah ke masa depan karena sebuah kehendak, dengan ke
sad aran yang utuh karena sebuah niat, dengan langkah yang ter-
atur dan efektif karena akal. Tuhan bersamaku: Ia membuat ke-
hendak, niat, dan akalku menjadi bertambah dahsyat. Tuhan
bersamaku: Ia hadir bukan untuk mengingatkan kelemahanku,
melainkan untuk membuatku, sebagai subyek, mengatasi bagian
Catatan Pinggir 7 323
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
diriku yang tak hendak ikut titah sang subyek—misalnya tubuh-
ku.
Subyektivitas yang kuat itu yang membentuk dunia modern,
sampai hari ini. Modernitas adalah optimisme. Dengan kehen-
dak yang kukuh, kesadaran yang stabil, dan akal yang tajam,
kemajuan pun menderu laju. Dari deru itu bangkitlah sebuah
masyarakat yang bagaikan penenung dapat menyulap tanah
dan air jadi sumber produksi yang perkasa. Di Eropa, tempat la-
hir modernitas ini, dalam waktu yang tak sampai seratus tahun
telah lahir ”kekuatan produktif yang lebih pejal dan lebihkolosal
ketimbang yang himpunan hasil karya seluruh generasi sebelum-
nya”. Kata-kata ini, datang dari Marx dan Engelsdalam ”Mani-
festo Komunis”, menggambarkan betapa gemuruhnya kemajuan
manusia semenjak sejarah baru ini, yang pada dasarnya sejarah
yang dipelopori kaum borjuasi. Yang tak disangka Marx dan
Engelsialah bahwakaum ini sampai hari ini tetap jadi penggerak
optimisme.
Memang ada yang membuat kita risau dalam proses itu. Ada
yang menggambarkan zaman modern yang menang ini telah
membentangkan jalan yang bersinar-sinar, tapi tiap cahayanya
menyembunyikan malapetaka. Para cendekiawan, para pemuda
progresif, para rohaniwan prihatin dan entah siapa lagi telah ber-
ulang-ulang mengecam kemajuan borjuis itu, dan mengutuk
Tuan Modal sebagai sesuatu yang jahat. Teriakan itu masih keras,
tapi belum ada juga yang tahu bagaimana menghentikan kapital-
isme. Marx, Lenin, Mao pernah mencobanya, dan pernah sosial
isme merupakan cara orang meng-harap. Sosialisme adalah op-
timisme. Tapi kemudian kita tahu ia gagal. Yang pandai meren-
canakan pembagian kue yang sama-rata tak dengan sendirinya
pandai membuat kue yang cukup.
Maka apa yang tinggal, setelah tiap kali halaman terakhir ka
lender kita robek? Mungkin harapan dan iman dalam versiabad
324 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
ke-21. Dengan kata lain, yang akan hadir adalah aku yang me-
mandang ”yang-akan-datang” dengan mantap, sebab aku adalah
subyek yang terbangun oleh kehendak, niat, dan akal yang ber-
tambah dahsyat karena aku punya kepastian—yakni kepasti
an yang diberikan agama. Persoalan yang akan timbul ialah ba
gaimana subyek-plus-iman yang menganggap diri dahsyat itu
akan terhindar dari ilusi optimisme.
Ada satu sajak menarik dari Iqbal yang menggambarkan dia
log antara Tuhan dan manusia. Kita tahu bahwa Iqbal perca
ya, manusia adalah Khalifah Tuhan di atas bumi, dengan ”ke-
merdekaan ego-insani” yang didapatnya dari sang Pencipta.
Syahdan, manusia berkata, dengan bangga:
Kau buat malam, aku buat lampu
Kau buat lempung, aku bentuk cupu
Tapi dalam sajak Iqbal itu pula Tuhan menjawab, mengingat-
kan manusia akan sisinya yang menakutkan:
Dari bumi kusediakan baja sentosa
Tapi kau menjadikannya pedang dan senjata
Baris-baris terakhir itu adalah kritik kepada modernitas, tentu
saja. Tapi bukan hanya modernitas yang ”kufur”. Siapasaja ma-
nusia yang mengerahkan diri untuk mengalahkan, menjinakkan
apa saja yang di luar dirinya—malam, lempung, baja—pada
akhirnya menobatkan diri sebagai maharaja alam: sang Khalifah
menjadi berhala yang terasing.
Salah satu kekeliruan subyektivitas yang demikian perkasa
ialah tak melihat bahwa harapan punya sisi lain, yakni”muskil”.
Kepastian tak pernah ada. Manusia, juga bila ia seorang ”pelo-
por” dalam pengertian Sayyid Qutb—yang dianggap dapat men-
Catatan Pinggir 7 325
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
jaga arah perjalanan orang beriman ke masa depan yang bukan
jahiliyah—adalah makhluk dengan tubuh dan sejarah yang tak
terduga. Ia bertindak, dan menjadi subyek, karena ia kurang.
Orang-orang alim, termasuk Thomas Aquinas, menyangka
bahw a yang kurang akan dipenuhi dan yang tak terduga akan
dapat ditertibkan dan harapan akan beres dalam bimbingan
ilahi.Tapi ini abad ke-21: Tuhan tak tampak. Kita tak pernahta
hu adakah Ia sedang ”membimbing” atau kita saja yang meng
khay alkan-Nya. Tuhan, yang bahkan tak dapat dipikirk an, ha
nyadatang meyakinkan kita di saat kita menemukan bay ang-ba
yang-Nya—hanya bayang-bayang-Nya—dalam diri manusia
yang kita temui sehari-hari. Itulah tanda bahwa man usia niscaya
mulia, tapi dalam hidupnya dalam sejarah, kem uliaan adalah se
sua tu yang mustahil.
Optimisme mengabaikan ini, tapi harapan tidak: manusia
adalah makhluk yang genting.
***
Takut akan kecewa, kita memainkan ironi. Begitu banyak
cita-cita gagal, maka lebih baik menerima apa yang sementara.
Yang penting kita tak berdusta pada diri sendiri bahwa kita me-
mang menyukai manusia, kebersamaannya, dan lingkungannya.
Kita tak mungkin akan angkat tangan bila malapetaka terjadi
pada semua itu. Kita tak putus asa bahwa ada yang diperbaiki—
meskipun kita tak akan sepenuhnya tahu, apa arti ”baik” yang
tersimpan dalam pengertian ”diper-baik-i” itu. Sebab ukuran be-
ragam, silih berganti. Bahkan titah Tuhan tak selamanya jelas;
para orang pandai menulis beribu-ribu buku untuk menafsirkan-
nya.
Tapi tahun 2005 datang, kalender telah dirobek, dan begitu
banyak hal yang kita tahu tidak beres. Ironi saja tak akan mem-
buat kita melangkah. Berpegang pada yang sementara dan titah
kebaikan yang tak jelas, kita toh tetap memilih laku. Kita tak
326 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TERANG, GELAP, HARAP
meng-harap. Kita ber-harap. Tanpa optimisme. Tapi kita tahu
bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap, terang tak pernah
sepenuhnya membuat siang. Di dalam celah itulah agaknya ha
rapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita jika
kita tak melepaskannya.
Tempo, 2 Januari 2005
Catatan Pinggir 7 327
http://facebook.com/indonesiapustaka
328 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TSUNAMI
ANTARA pukul 9 dan 10 pagi 1 November 1755 itu, ker
tas-k ertas bergetar di atas meja seorang penghuni Kota
Lisbon. Tak lama kemudian suara gemeretak terdengar.
Tiba-tiba lantai atas ambruk. Perempuan itu pun lari keluar,
dengannapas nyaris tercekik oleh debu puing yang tersembur
dari mana-mana. Kota hancur. Teriakan terdengar dari pelbag ai
sudut. Ia lihat para padri berdoa dan gereja-gereja mulai runtuh.
Dalam tempo enam menit, 30 gereja ambruk. Tapi sesuatu
men yusul. ”Laut datang!” terdengar orang memekik.
Gulungan gelombang setinggi enam meter menggodam kota
di tepi pantai itu dengan ganas: gempa melontarkan tsunami ke
daratan. Ketika kemudian air kembali ke laut, ribuan bangkai
tamp ak terapung, terangkut, lenyap. Kemudian bumi tak ber-
guncang lagi, tapi api terbit. Lisbon—salah satu permataEro-
pa—terbakar selama lima hari. Seluruh bencana menewaskan
puluhan, mungkin sampai 50 ribu. ”Apa yang harus dilakukan,
wahai, makhluk fana?”
Pertanyaan itu bergetar dalam sajak Voltaire tentang gempa
di Lisbon itu dan merobek dunia pemikiran abad ke-18. Pesimis-
menya mencekam, meskipun pesimisme itu sebenarnya bagian
dari kritiknya terhadap filsafat yang percaya bahwa Tuhan mem-
beri manusia ”dunia yang terbaik dari yang mungkin ada”. Itulah
filsafat Leibniz: alam semesta adalah harmoni yang didesain Tu-
han. Tapi, tulis Voltaire: ”Leibniz tak dapat mengatakan padaku
kenapa/Di dunia yang diatur oleh hukum yang paling arif ini/
kekacauan tak kunjung berhenti/Dan bencana terus/dan kenik-
matan yang sia-sia bercampur nestapa”.
Agaknya bagi Voltaire tak mungkin hal-ihwal hidup dijelas-
kan dengan Tuhan sebagai Sebab Utama. Tidakkah Ia seharus
Catatan Pinggir 7 329
http://facebook.com/indonesiapustaka TSUNAMI
nya berada di atas hukum sebab-akibat? Dalam gempa Lisbon
itu, misalnya: kenapa Tuhan meluluh-lantakkan sebuah kota
Katolik, di suatu hari suci, pada jam ketika hampir semua umat
mengikuti misa? Dan kenapa rumah Sebatiao de Carvalho e
Melo, menteri yang anti-Jesuit itu, tak tersentuh—sementara se
orang padri Jesuit mengatakan bahwa gempa bumi dan tsunami
itu sebuah hukuman Tuhan kepada orang jahat yang jadi mak-
mur di Kota Lisbon?
Hukuman Tuhan bagi umat Katolik? Tapi mereka tak sendi
rian jadi korban. Gempa hari itu juga mengguncang pantai lain
di seberang dan menghancurkan Masjid Al-Mansur di Rabat.
Beberapa pendeta Protestan yang bersyukur karena Tuhan ter-
bukti marah kepada Roma segera harus tutup mulut. Delapan
belas hari setelah malapetaka Lisbon, sebuah gempa lain meng-
hancurkan 1.500 rumah orang Protestan di Boston, Amerika.
Akan berkatakah Tuan, di depan ribuan korban:
”Balasan Tuhan jadi: mereka bayar dosa dengan mati?”
Dengan kata lain, satu hal harus dilihat: yang disebut ”desain
Tuhan” hanyalah konstruksi manusia—lengkap dengan hasrat
dan kesumat manusia pula. Tapi bisakah Voltaire dari sini me-
nyimpulkan bahwa hidup tak ada hubungannya dengan kebaik
an? ”Alam, dan hewan, dan manusia—semua dalam keadaan pe
rang,”begitulah di sajaknya tertulis. Mari kita akui: kekejian ber-
jalan tegak di atas bumi.”
Mungkin kalimat itu bagian dari sebuah gaya polemik. Pe
simisme Voltaire toh tak menyebabkan ia menolak manusia dan
menampik hidup. Ia tak bunuh diri. Ia hanya mencemooh opti-
misme abad ke-18, ketika rasionalisme meyakinkan diri dengan
ilmu dan kawin campur dengan iman. Cemooh inilah yang ke-
mudian dipertegasnya dengan novel Candide yang asyik dan lucu
330 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka TSUNAMI
itu, yang kelak berkaitan dengan kritiknya kepada ajaran Kristen.
Ada yang mengatakan novel itu menjawab Rousseau, filsuf se-
generasinya, yang mempersoalkan pesimisme itu dalam sepucuk
surat bertanggal 18 Agustus 1756. Bagi Rousseau, manusia tak
seburuk itu pada dasarnya. Sejak nenek moyang, manusia punya
dua ciri: amour de soi, dorongan untuk mempertahankan hidup
sendiri, dan pitié, perasaan belas kepada sesamayang menderita.
Sifat manusia memburuk ketika ia terlibat dalam pelembagaan
milik pribadi, perdagangan, dan hal-hal lain yang terutama tam-
pak di masyarakat kota, pusat peradaban. Dan itulah penjelasan-
nya tentang bencana Lisbon: kesalahan harus ditimpakan kepada
manusia di kota besar itu sendiri. Seandainya mereka tak berjejal-
jejal berebut kapling, seandainya mereka tak sibuk dengan milik
mereka, bencana itu tak akan begitu besar makan korban.
Voltaire tak menjawab, dan Rousseau mengeluh: ”Saya ajak
dia berfilsafat, tapi dia mengolok-olok.” Tapi sebenarnya ada sa
tu bagian yang serius dalam novel Candide—justru di kalimat
pendek terakhir. Ketika Candide sedang di kebun, dan si Optimis
Pangloss datang dan menguraikan bahwa ”dunia ini adalah yang
terbaik dari yang mungkin ada”, Candide pun menjawab. ”Ba-
gus, bagus, tapi kebun kita harus diolah.” Dengan kata lain: kerja
atau praxis akan membantah klaim tiap pandangan dunia yang
mencoba menjelaskan hidup secara menyeluruh. Agama dan fil-
safat—dengan optimisme atau tidak—bisa menyenangkan, tapi
kemudian terbatas.
Mungkin ada yang pernah bicara tentang Voltaire sang prag-
matis. Tampaknya baginya ”pemikiran” lebih pentingketimbang
”filsafat”, dan Voltaire adalah kritik yang terus-menerus-dengan
gelora hati, kalimat kocak, pikiran tangkas,dan main-main. Ia
mengatakan ”Aku menghormati Tuhan,tapi aku mencintai ma-
nusia”: kita tahu ia memilih dekat denganyang konkret, meski
punia tak mengingkari ada yang lain dari yang konkret.
Catatan Pinggir 7 331
http://facebook.com/indonesiapustaka TSUNAMI
Justru sebab itu ia tergugah oleh kesengsaraan manusia dan
tahu ada hal yang tak terjelaskan dengan satu Sebab Besar. Maka
biarkan Voltaire bicara kepada kita kini. Banyak benar kebuasan
alam dan manusia yang tak terduga-duga, sejak tsunami Lisbon
1755 sampai dengan tsunami Aceh 2004, dan di situ apa artinya
”mengetahui”? Dalam sajaknya Voltaire mengingatkan bahwa
ada momen dalam hidup ketika kita niscaya ”sumarah, memuja,
berharap, dan mati”—se soumettre, adorer, espérer, et mourir.
Tempo, 16 Januari 2005
332 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BALSAM
PEREMPUAN itu digantung sepanjang malam di sebuah
pohon. Hampir seharian opsir itu menginterogasin ya dan
tak berhasil mendapatkan sepatah pengakuan apa pun.
Perempuan setengah baya itu, seorang anggota SOBSI,selama
beberap a jam telah ditelanjangi dan dipukuli di depan para ta
hanan lain, tapi ia tetap diam, dan ketika hari menjelang malam
ia digantung. Tangannya diikat ke pohon, kakinya terjuntai ham-
pir menyentuh tanah. Ia merasakan kesakitan yang amat sangat.
Malam itu Sri Ambar pasti tak tahu bahwa itu belum siksa
anyang paling mengerikan yang akan dialaminya. Beberapa hari
kemudian, setelah di depan para tahanan lain ia ditelanjangi lagi
dan dipukuli berkali-kali, atas perintah sang opsir TNI pantat
kiri Ambar ditusuk dengan sebilah pisau komando. Ketika ia te
tap tak mengaku, pantat kanannya dicubles. Ia jatuh pingsan ka
rena begitu banyak darah keluar.
Malam itu ia belum tahu semua itu akan terjadi. Tergantung
kedinginan di pohon itu, yang diingatnya hanya ini: ketika tak
ada seorang tentara pun tampak di halaman tengah kamp itu,
seo rang pegawai sipil yang sudah tua datang mengendap-endap
mendekatinya. Ia membawa secangkir teh manis panas, dan dito-
longnya Ambar minum. Lalu pak tua itu mengambil dari dalam
sakunya sebotol kecil balsam, yang diusapkannya ke tubuh yang
tergantung itu. ”Maaf, saya menyentuhmu,” ujarnya berbisik.
Apa gerangan yang mendorongnya berbuat demikian? Tak se
orang pun menyuruhnya. Ia mempertaruhkan keselamatan diri
nya. Ia hanya seorang pegawai sipil di tengah kamp yang dikuasai
para interogator militer yang ganas, di masa ketika ribuan orang
ditangkap dan dibunuh hanya karena diduga jadi pendukung
PKI. Bila ia ketahuan menolong tahanan politik seperti yang di-
Catatan Pinggir 7 333
http://facebook.com/indonesiapustaka BALSAM
lakukannya itu, ia pasti akan disiksa. Apa yang menggerakkan
hatinya, padahal tak dikenalnya Ambar, dan tak ada yang akan
memberinya upah dan pujian?
Buku Carmel Budiardjo, Bertahan Hidup di Gulag Indonesia,
mengisahkan semua itu, tanpa menanyakan dan menjawab per-
tanyaan apa pun, dan memang buku ini bertugas merekam peris-
tiwa yang mengerikan pada tahun 1960-an itu. Tapi adegan di
rumah penyiksaan di Jalan Gunung Sahari, Jakarta, itu tetap
mengusik hati. Sejarah Indonesia punya noda hitam yang sampai
hari ini tak diakui: ternyata di antara kita ada yang tega untuk
jadi amat jahat, bukan pada saat mereka menggarong, tapi pada
saat merasa berbuat baik.
Para interogator di kamp itu mungkin bisa tidur nyenyak se
telah menghalalkan kebiadaban mereka sendiri dengan mengata
kan, ”Ini untuk Republik kita.” Para komandan kamp itu mung-
kin bisa makan malam dengan anak dan istri setelah 24 jam me
reka mengelola kebengisan, karena mereka yakin bahwa mereka
tengah membereskan ”orang komunis yang tak bertuhan itu”.
Mereka menyediakan buku agama untuk para tapol,menyuruh
orang-orang yang dikurung itu beribadat—seraya sampai hati
menelanjangi si tak-berdaya untuk dinista dan dicederai, dipu-
kuli payudaranya, digigit kupingnya sampai putus, disiksa anak-
anaknya di depan mata sang ibu, disetrum kemaluannya, dicabut
kukunya dengan tang....
Tuhan, agama, tanah air—saya tak tahu lagi apa hubunga n
semua itu dengan kedurjanaan di satu pihak dan perbuata n mu-
lia di lain pihak. Si petugas tua di rumah siksa di Jalan Gunung
Sahari itu mungkin seorang yang saleh: akankah ia masuk sur-
ga karena mencoba mengurangi rasa sakit seorang perempuan
yang dianiaya? Atau ke neraka, karena menolong seorang atheis?
Berpikirkah ia tentang surga dan neraka, atau hanya inilah yang
mendorong hatinya: ”Aku harus lakukan ini untuk seseorang
334 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka BALSAM
yang kesakitan, aku harus lakukan ini...”?
Kesewenang-wenangan manusia sangat merisaukan, teruta
majika dilakukan oleh orang-orang dekat kita, atas nama ”ke-
baikan”. Tapi di sisi lain ada sesuatu yang selalu membuat kita
takjub: ”bintang-bintang di angkasa raya dan hukum moraldi
dalam hati”.
Kata-kata Kant dari abad ke-18 ini berbicara tentang kenyata-
an sehari-hari yang sebenarnya ajaib: begitu kecilnya tubuh dan
tempat manusia di alam semesta, tapi begitu kuatnya ”hukum
moral” yang tersimpul dalam dirinya, yang membuat manusia de-
ngan ikhlas menolong dan menjabat tangan sesama, dan menja
lankan ”keharusan kategoris” seperti yang dilakukan pak tua itu:
mempertaruhkan keselamatan diri untuk membawa segelas teh
kepada seorang perempuan yang tergantung sepanjang malam,
tanpa bertanya kenapa ia dihukum, percayakah ia kepada Allah,
atau dari mana ia berasal.
Hari ini saya teringat itu semua, ketika orang ramai menyebut
Tuhan dan Islam—terkadang untuk menyejukkan hati, terka
dang untuk mencurigai—tapi lupa, jangan-jangan yang penting
adalah ”hukum moral di dalam hati”. Ribuan orang mati di
Aceh, bencana alam itu begitu dahsyat, dan dunia terkejut. Dari
hampir tiap sudut Indonesia, juga dari hampir setiap pojok bumi,
dari Kuwait sampai Timor Leste, dari Meksiko sampai Tokyo,
orang menghimpun bantuan. Beratus-ratusmanusia—bersera-
gam atau tidak, beragama atau tidak, punya dosa atau tidak—
datang untuk meringankan penderitaan. Seorang tentara Ameri-
ka berkata, ia lebih senang bekerja menolong Aceh ketimbang
berperang di Bagdad; seorang sopir taksi di Finlandia tiba-tiba
menghentikan mobilnya untuk mengheningkan cipta; sejumlah
perempuan Prancis tiba dari Paris untuk mengangkut jenazah
yang membusuk di pojok-pojok Aceh. Apa yang menggerakkan
hati mereka?
Catatan Pinggir 7 335
http://facebook.com/indonesiapustaka BALSAM
Pasti ada pamrih, kata sebagian orang. Mungkin. Tapi bag ai
mana kita menduga pamrih? Sejauh mana kita tak memproyeksi-
kan dengki dan pamrih kita sendiri kepada orang lain ketika ber-
kata, ”Awas, ada pamrih”? Tak akan ada jawab, selain mengira-
ngira. Sebab itu, di tengah kesakitannya yang sangat, Sri Ambar
tak bertanya kenapa. Ia hanya tahu laki-laki itu menggosokkan
balsam ke tubuhnya dengan lembut, dan berbisik, ”Maaf, saya
menyentuhmu”—sebuah sikap hormat, bukan hanya belas.
Tempo, 23 Januari 2005
336 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KOTAK HITAM
KETIKA berpuluh ribu orang tewas dan beratus ribu ke-
hilangan, ketika gempa dan gelombang pasang meng-
hancurkan mendadak kehidupan, kita pun bertanya:
kenapa?
Ada berpuluh-puluh ”kenapa”, sebab kata itu mempunyai
bermacam-macam endapan, berasal dari bermacam-macam za-
man, dan tiap kali bergeser. Ketika yang terjadi adalah seb uahke-
celakaan kapal terbang, di balik ”kenapa” itu tersimpan ingatan
tentang malapetaka yang mirip yang pernah dijelaskan dengan
mengulas kesalahan teknis atau kekeliruan manusia di belakang
mesin. Maka ”kenapa” akan mengarah kesebuah kotak hitam
yang merekam keadaan terakhir dalam kokpit pilot. Para pakar
akan menganalisisnya atau menghitung berat kapal, gerak sayap,
kencangnya angin, dan hal-hal lain yang tak berkaitan dengan
kegaiban.
Tapi ketika berpuluh ribu orang tewas, ketika gempa dan ge
lombang pasang menghancurkan dusun, pantai, dan kota, ada
”kotak hitam” yang lebih hitam yang dicari. Sebab endapan di
balik ”kenapa” yang terucapkan saat itu terdiri atas lapisan-lapis
an zaman dahulu, tatkala nenek moyang kita masih hidupde
nganrasa ngeri, terkesima, dan bingung mendengarpetir yang
men yambar pohon tinggi, membakar hutan, dan membinasakan
manusia. Syahdan, mereka lari bersembunyi ke gua-gua. Tapi
mereka tetap gentar.
Mereka, yang hidup berabad-abad sebelum Benjamin Frank-
lin menemukan penangkal petir di tahun 1752, tak tahu bagaima-
na menghindarkan sergapan dari langit itu. Lalu penjelasan pun
mulai dicari, dan ”kenapa” mulai dijawab: dengan mithologi. Su
ku Yeruba dari Afrika kemudian menyebut Shango dalam mitho
Catatan Pinggir 7 337
http://facebook.com/indonesiapustaka KOTAK HITAM
logi mereka sebagai dewa guntur, dan orang Yunani menyebut
Zeus. Mungkin sebab itu Vico, pemikir Italia di abad ke-18 itu,
menggambarkan sejarah peradaba n bermula ketika jeri menjadi
puisi, ketika ketakutan manusia purba akan alam yang ganas dan
tak terduga melahirkan para penyair theologi pertama.
Mungkin theologi pertama itulah ”penaklukan” alam yang
paling awal, sebelum ilmu-ilmu alam dijadikan pegangan. Mung-
kin dewa-dewa itu sejenis teknologi penenang. Satu-satunya cara
manusia di masa itu untuk memahami apa yang tersembunyi dan
tak mampu diketahuinya, satu-satunya cara untuk divinari (dari
mana kata divinity berasal), hanyalah dengan membayangkan se-
buah kehidupan yang seperti mereka kenal: kehidupan mereka
sendiri.
Diakui atau tidak, di balik kata ”kenapa”, setelah tsunamibe-
sar melabrak Aceh di akhir 2004, bersembunyi endapan ”kenapa”
yang purba, dan ketika seseorang mengatakan bahwa bencana
alam itu hukuman Tuhan, ia sebenarnya mengulang tema ”pe-
nyair theologi pertama”. Tapi dengan sebuah perbedaan penting.
Agama-agama politheis tak punya persoalan yang pelik de-
ngan menjawab ”kenapa”, sebab Zeus dan Shango tak sendirian
di langit. Betapapun besar kuasa Zeus, ia menjadi nisbidengan
hadir dan berperannya dewa-dewa lain. Di Olympus, Dewa
Guntur yang membuat jeri itu ada bersama Dewa Cinta,Dewa
Anggur, Dewa Perdagangan, dan entah apa lagi, dan mereka tak
selamanya tunduk kepadanya. Mithologi Yunani bahkan me-
mungkinkan Promotheus, yang bukan dewa, memperdaya Zeus
dan mencuri api dari Langit untuk diberikan kepada manusia
Juga dewa-dewa dalam wayang kulit tak jauh posisinya dari
sana. Batara Guru ada di Kahyangan bersama Wishnu, Narada,
Kamajaya, Bayu, Durga, dan lain-lain. Berdiri dengan anggun
dan tampan di atas tubuh lembu Nandi, Batara yang palingter-
hormat itu diceluk sebagai ”Adik” oleh Narada.Ia juga punya ke-
338 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka KOTAK HITAM
mampuan untuk berahi dan tak peduli, salah dan kalah. Raksasa
Niwatakawaca dapat menyerbu tempat dewa-d ewa itu bertakh-
ta, bahkan wayang memungkinkan sebuah komedi dalam lakon
Taliputra, ketika Petruk, hamba yang buruk dan hina itu, meng
ambil alih kerajaan langit.
Politheisme itu tak memerlukan theodise. Ketika di awal abad
ke-18 Leibniz memperkenalkan kata ini melalui bahasaPrancis
(the´ odice´ e secara harfiah berarti ”keadilan Tuhan”),saya kira
karena ia harus menjelaskan satu Tuhan yang semp urnadalam se-
gala hal—tapi telah menciptakan sebuah dunia yang malang dan
berantakan dan hidup manusia tak putus-p utusnya dirundung
durjana dan kekejian. Begitu banyak ”kenapa” yang harus di
jawab. Begitu banyak kehendak Tuhan yang butuh dijelaskan
dan perlu pembelaan.
Tapi di sini sebuah paradoks tak dapat dielakkan. Theodise
pada dasarnya mirip dengan ”teknologi penenteram” manusia
purba: kita membayangkan sesuatu berdasarkan pengalaman
diri sendiri. Maka Tuhan dalam pengertian Leibniz adalah Tu-
han yang seperti makhluknya. Ketika ia mendasarkan theodise
nya dengan sebuah aksioma yang disebutnya ”Asas tentang Alas
an yang Cukup”, ia membuat Tuhan sebagai sebuah kekuatan
yang tunduk kepada raison (kata ini bisa berarti ”alasan” dan juga
”nalar” atau ”akal”). Tapi bagi saya tak jelas, kenapa Tuhan harus
juga tunduk seperti itu? Kita tahu bahwa nalar adalah makhluk
tapi kita tak tahu kenapa Tuhan harus terikat oleh makhluk-Nya
ini.
Persoalannya, tanpa Tuhan yang berdasarkan raison, manusia
akan hidup tanpa perasaan tenang. Jika Tuhan tak adil, kita tak
akan terhibur dari dunia yang tak adil ini. Kita harus selalu mene
mukan kotak hitam itu, penjelasan kenapa manusia harus men
derita sampai Kiamat, saat keadilan sejati dimaklumkan.
Tapi bagaimana kalau kotak hitam itu tak pernah ditemukan?
Catatan Pinggir 7 339
http://facebook.com/indonesiapustaka KOTAK HITAM
Tentang tsunami itu, mungkin kita akan cukup puas dengan
penjelasan sejumlah pakar geologi. Tapi tentang kenapa anak-
anak itu yang harus cacat dan mati, dan bukan para jenderal yang
membangun istana dengan perang dan kejahatan, bukan pula
para pengkhotbah yang mengutuk ”Azab!” di atas mereka yang
sengsara, kita mungkin tak bisa lain: kita harus lebih adil dan le
bihpengasih ketimbang Tuhan yang mereka bela.
Tempo, 30 Januari 2005
340 Catatan Pinggir 7
http://facebook.com/indonesiapustaka SURAT KEPADA SEORANG TEMAN
YANG MENCEMOOH INDONESIA
INDONESIA tak akan pernah lahir baru dalam satu kuar-
tal. Jika Bung berpikir bahwa sebuah perubahan yang besar
akan terjadi dalam waktu 100 hari, inilah yang harus saya
bisikkan kepada Bung: angka ”100” di sini mirip dengan ”1001
malam” atau ”langit ketujuh”: bilangan yang lebih bersifat retoris
ketimbang matematis. Kita tak dapat menggunakannya sebagai
mistar pengukur. Kita hanya dapat memperlakukannya sebagai
pembangkit imajinasi.
Tapi Bung jangan menganggap bahwa sesuatu yang retoris
adalah sesuatu yang tak bersungguh-sungguh. Imajinasi bukan-
lah bagian dari khayal kecil. Maka ketika pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (”SBY”) berkata akan men unjukkan
sebuah prestasi dalam waktu ”100 hari”, Bung dan saya tak perlu
berpikir tentang sesuatu yang akan tiba cepat, tapi kita siap untuk
menyaksikan sesuatu yang berarti.
Sesuatu yang berarti itu adalah harapan. ”Harapan” di Indo
nesia dewasa ini artinya bersahaja tapi tak dapat didefinisikan.
Ia hanya dapat dimaknai sebagai lawan kata dari sinisme. Mem-
punyai harapan adalah tidak bersikap serta-merta mencem ooh
dan berburuk sangka kepada apa saja dalam kehidupan bersama.
”Harapan” juga lawan kata dari apati, sikap yang tak peduli lagi
terhadap apa pun yang dilakukan bagi kepentingan publik.
Pemerintahan ini sebenarnya lahir dari harapan sebagai lawan
kata sinisme dan apati. Bung tahu, kan, Presiden yang sekarang
duduk di Istana karena ia dipilih dengan puluhan juta suara yang
bersemangat. Harus saya katakan bahwa optimisme rakyatber
adadalam dosis yang tak berlebihan tapi memadai: mereka me-
milih ”SBY” karena percaya bahwa perubahan—bukan mukjizat,
Catatan Pinggir 7 341