The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka BERBER

lik. Dalam proses perubahan itu, di Madrid dilembagak­ anlah ke-
kerasan terhadap sosok ”Yang Lain” yang ingin dit­am­pik. Orang
”Moor” (Arab, muslim) dan orang ”Yahudi” harus disingkirkan.
Di bawah tilikan Gereja Spanyol yang ber­tangan besi, orang pun
diusut terus-menerus benarkah ia seorang Katolik tulen. Berang-
sur-angsur, proses ini menyidik­juga benarkah seseorang ”bersih
lingkungan”. Agar iman benar-benar murni, asal-usul harus di-
jaga. Maka harus ada limpieza de sangre, kemurnian darah.

Dan sejak itu, orang Spanyol—yang mengirimkan armada­
menyeberangi Atlantik untuk menaklukkan ”orang Moor lain”
entah di mana—membentuk sebuah dunia yang terbagi dua: di
satu sisi, mereka yang sudah Kristen; di sisi lain, yang belum; di
satu sisi, ”Barat”, dan di sisi lain, ”Timur”. Tak diakui lagi bahwa
pada masa Andalusia, Islam, sebagaimana Kristen, adalah ”Ba­
rat”. Sejak itu, dikotomi itu menyebar ke mana-mana. Maka tak
mengherankan bila perjanjian antara Amerika Serikat dan nege­
ri-negeri Berber itu masih mencerminkannya.

Tapi Amerika bukan Spanyol. Ada yang penting dalam trak-
tat itu: agama, meskipun diakui adanya, tak dianggap seba­gai pe­
nentu: ”Pemerintah Amerika Serikat tak dalam arti apa pun di-
dasarkan kepada agama Kristen.”

Memang ini pemerintah yang membuat perjanjian hanya de-
ngan maksud praktis. Sudah beberapa kali kapal AS diserbu ba-
jak laut. Bahkan sudah beberapa kali orang Amerika dibajak dan
dijual sebagai budak, jika dilihat jumlah kisah tentang nasib se-
perti itu yang pernah terbit di Amerika. Pada tahun 1797: The Al­
gerine Captive oleh Royall Tyler. Pada tahun yang sama, sebuah
majalah di Boston, Columbian Orator, memuat sandiwara dua
bab­ ak dengan judul Slaves in Barbary, tentang Amandar, orang
Ve­nezia, yang diperbudak oleh orang Arab.

Di sana ”Islam” dan ”Kristen” juga berulang kali dipakai seba­
gai kategori tunggal dalam pelbagai cerita tentang nasib manu-

192 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka BERBER

sia di bawah perbudakan Berber. Tapi Anouar Majid menuliskan
kesimpulannya: tujuan buku-buku itu bukanlah untuk ”mem-
persetankan (demonization) orang muslim dan Islam, melainkan
konsolidasi nasionalisme Amerika dan pembelaan asas-asas re-
publiken.”

The Algerine Captive, misalnya. Novel ini terbit hanya setahun
sebelum AS mengirim armada untuk menyerang Tripoli, untuk
menghentikan keharusan membayar uang pisungsung (”tribu­
tary”) kepada para penguasa di sana yang terus-menerus meng-
ganggu bahtera dagang Amerika. Dalam novel ini, Updike Un-
derhill, seorang dokter yang tertangkap dan diperbudak di Aljir,
merenung tentang orang-orang muslim: ”Pada keseluruhannya,
tak tampak dalam ajaran agama mereka yang merangsang mere-
ka ke laku imoral, atau menyetujui kekejam­an yang mereka laku-
kan. Baik Al-Quran maupun para ulama mereka tak menghasut­
mereka untuk merampok, memperbudak, menyiksa. Dalam
kitab suci mereka secara jelas dianjurkan orang berbuat amal, ber-
laku adil, dan belas kepada sesama.”

Maka Underhill tak habis mengerti kenapa muslim dan orang
Kristen bermusuhan. ”Jika perintah kitab suci masing-masing
diikuti, kedua belah pihak akan berhenti membenci, mengutuk,
dan menghancurkan yang lain.”

Tapi novel ini juga sebuah catatan bahwa apa pun yang diajar-
kan agama, pada akhirnya ada hal lain yang membentuk perilaku
manusia. Ketika Underhill, yang mengembara berlayar sampai
Kongo, menjadi dokter perdagangan budak, ia dengan benci me-
mandang dirinya sendiri sebagai bagian dari hal yang keji itu.
Pada suatu saat, dianjurkannya beberapa orang budak melarikan
diri. Ketika ketahuan, sang dokter pun ditangkap. Ia ikut jadi bu-
dak.

Tapi ia tahu: sebagaimana di Aljir yang muslim ada manusia­
yang dirantai dan diperlakukan sebagai hewan, begitu pula di

Catatan Pinggir 7 193

http://facebook.com/indonesiapustaka BERBER

Amerika yang Nasrani. Dalam hal ini, Algerine Captive—se­ba­
gaim­ ana agaknya dimaksudkan oleh Anouar Majid—bisa punya­
gema pada tahun 2004, setelah 11 September 2001. Hari ini pun,
di Amerika dan di sekitar Pantai Berber, ”Barat” dan ”Islam”, ber-
sama Tuhan dan Tentara, dibawa-bawa untuk menyelesaikan
pers­oalan manusia. Tapi seperti disaksikan Underhill, banyak
jawaban jadi tunggal dan mutlak, ketika banyak­pertanyaan tak
bisa diam, dan kekejaman terus terjadi.

Tempo, 23 Mei 2004

194 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ZHIVAGO

TIAP akhir Mei diam-diam saya memperingati seorang
penyair yang mencoba menyingkir, ketika politik ber-
niat membangun dunia dengan gegap-gempita, sedang­
kan ia mencoba bicara yang lain, tak percaya bahwa politik dan
sejarah adalah segala-galanya. Tentu saja ia tertabrak. Begitulah
Boris Pasternak meninggal di rumahnya di Peredelkino, 30 kilo-
meter dari Moskow, 30 Mei 1960.

Ia dikutuk pemerintahnya. Kekuasaan yang dibangun oleh
Lenin dan Stalin memutuskan bahwa Pasternak seorang peng-
khianat. Uni Soviet menghendaki tiap warganya bergerak seperti
tentara dalam formasi perang, karena revolusi (umumnya ditulis
dengan ”R”) yang bermula sejak Oktober 1917 belum selesai. Du-
nia masih harus diubah. Dan sejak Stalin memegang kendali, di-
siplin pun diteruskan dengan kian keras: rencana pembanguna­ n
lima tahun sudah dicanangkan, semua orang harus menyingsing­
kan lengan baju, dan para seniman diberi arah.

Pada tahun 1934, Andrey Zhdanov, orang kepercayaan Stalin,
berpidato di Kongres Persatuan Penulis Soviet. Asas yang kemu-
dian disebut sebagai Zhdanovshchina bermula dari sini: para sas-
trawan diharuskan menerapkan doktrin ”Realisme Sosialis”.

Sebenarnya mustahil membikin satu resep bagi karya-karya
sastra—tapi bagaimana para birokrat dan pejabat Partai Komu-
nis mengerti proses kreatif? Bagi mereka, para sastrawan harus­
bertugas dalam rekayasa sosial untuk membentuk ”manusia ba­
ru”. Sebab, kata Zhdanov mengutip Stalin, sastrawan adalah ”in-
sinyur jiwa manusia”.

Tapi jiwa manusia lebih rumit ketimbang semen dan baja, dan
Zhdanovshchina pun akhirnya jadi sebuah mekanisme yang me­
ngen­d­ alikan ekspresi kesusastraan. Penulis satire Mikhail Zosh­

Catatan Pinggir 7 195

http://facebook.com/indonesiapustaka ZHIVAGO

chenko dan penyair Anna Akhmatova—yang menerbitkan kar­
ya-karya yang ”a-politis, individualistis, dan borjuis”—dipecat
dari Persatuan Penulis Soviet. Ketakutan pun menyebar. Apalagi
semua tahu, sebelumnya, penyair Osip Mandelstam dibuang dan
mati, seperti banyak orang ditangkap dan kemudian hilang.

Pasternak juga bimbang dan gentar. Haruskah ia masuk ke
dal­am ikhtiar besar yang mau meringkus segala-galanya, juga ba-
tin, ke dalam proyek ”Revolusi”? Ataukah ia menulis puisi seperti
yang ia lakukan selama itu, dan tak ikut dalam ”Revolusi” itu,
karena baginya ada hal-hal yang lebih segera dan bermakna?

Saya kira pada saat itulah ia menulis Hamlet, sebuah sajak em-
pat bait. Di sini Pasternak memakai tokoh lakon Shakespeare itu
sebagai metafor, ketika harus memilih, to be or not to be, bertin­
dak­ atau tak bertindak, hidup atau mati. Tapi Pasternak juga
meng­gabungkan kebimbangan Hamlet dengan rasa gentar Yesus­
di Taman Getsemani, ketika tahu nasib apa yang menanti. Di
ambang pentas, Hamlet berbisik: ”Jauhkan cawan ini dari diriku,
Abba, bapaku.”

Ia sendirian. Ia seakan-akan noktah yang gamang dalam ke-
luasan sejarah yang sedang bergerak. Di sekitarnya mengepung
orang-orang ”farisyi”, katanya. Dengan kata lain, di sekitarnya
mengepung orang-orang yang merasa paling benar, paling suci,
karena paling patuh kepada akidah agama.

Bagi saya menarik, bahwa Pasternak memilih kiasan Injil un-
tuk situasi hidupnya: tampaknya ia menyamakan Stalinisme de-
ngan sebuah agama yang memperkeras akidah dan memperku-
kuh lembaga. Tentu ia tak bisa masuk ke sana. Sifat religius yang
terungkap lewat puisinya justru menunjukkan bahwa hidup tak
seperti yang diartikan kaum farisyi: hidup itu sendiri mengan­
dung­sesuatu yang suci, meskipun tak tersentuh oleh akidah. In-
jil, demikian tertulis dalam Doktor Zhivago, bukanlah ”petunjuk
dan perintah ethis”. Kristus ”berbicara dalam amsal yang diambil

196 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ZHIVAGO

dari kehidupan”.
Dan kehidupan, bagi Pasternak, adalah sesuatu yang intim

tapi menakjubkan, bergairah meskipun ringkih. Hidup adalah
”adikku perempuan”, seperti dikatakannya dalam sajaknya Sestra
moya-zhizn, yang ”berenang di dunia terang, berlindungkan hu-
jan musim kembang”. Sementara di sana ada ”orang-orang beran-
tai arloji” yang diam-diam kesal dan menggerutu.

Kontras itulah agaknya tema dasar karya-karya Pasternak: di
satu sisi hidup yang dekat, yang mempesona, yang bebas dan tak
terduga-duga; di sisi lain, ada yang patuh, teratur dan berwibawa
(”berantai arloji”). Di antara keduanya, sang penyair telah me-
milih. Karena hidup tak bisa ditaklukkan oleh doktrin, ia, yang
memihak hidup, menampik untuk mengikuti Zhdanovshchina.
Ke­tua Persatuan Penulis Soviet memutuskan: Pasternak harus
dibabat.

Tapi ia diam-diam terus menulis novel itu, Doktor Zhivago,­
kisah tragis seorang dokter di tengah Revolusi yang ganas, se­
orang yang percaya bahwa ada Kristus dan ada kekuatan yang tak
tertandingi dari ”kebenaran yang tak punya senjata”.

Ia setengah berharap setengah tidak bahwa novel itu akan bisa
diterbitkan. Pada 1957, tiba-tiba Doktor Zhivago terbit, dalam
bahasa Rusia, di Italia. Pada 1958, hadiah Nobel diberikan ke-
padanya.

Tak ayal, Pasternak pun jadi obyek Perang Dingin antara ku­
bu Uni Soviet dan kubu ”Barat”. Bagi ”Barat”, ia lambang keti-
dakbebasan kreatif di bawah komunisme. Bagi para pendukung
”Revolusi” di mana-mana, ia layak dibungkam. Bahkan di Indo-
nesia, Pramoedya Ananta Toer, yang juga ingin menerapkan Re-
alisme Sosialis dan mengutip ajaran Zhdanov dengan bersema­
ngat,­menganggap Doktor Zhivago berdosa besar: sebuah ”fitnah”
terhadap Revolusi Oktober.

Pasternak tak bisa melawan. Semua karyanya dihentikan ber­

Catatan Pinggir 7 197

http://facebook.com/indonesiapustaka ZHIVAGO

edar. Ia kehilangan mata pencaharian. Dan tak mungkin ia akan
diizinkan datang ke Stockholm untuk menerima hadiah kehor-
matan itu. Pada 1960 ia, yang menderita kanker paru-paru, me-
ninggal.

Tapi bisakah ia memilih Sejarah dan Akidah, dan bukan pui-
si? Tentu tidak. Sebab puisilah yang menyambut hidup, dengan
gerak kecil-kecilan yang intens. Sebab puisi adalah

Siul yang jadi matang di saat sekejap
Kertak suara es di angin kedap
Malam yang mengubah hijau jadi beku
Duel suara bulbul dalam lagu

Tempo, 30 Mei 2004

198 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka LISAN

SEANDAINYA tak ada TV, seandainya ucapan tercetak
di­tiap berita pagi, dan kampanye politik tak diutarakan
lisan....
Tapi, apa boleh buat, kini telah datang zaman lisan baru, de-
ngan teknologi kata yang mutakhir itu: radio, telepon, televisi.
Haruskah kita siap untuk kembali mengakui ini: ”suara­yang ter-
dengar akan lenyap, tapi huruf yang tertulis akan men­ etap”, se-
perti kata sebuah pepatah Latin? Jangan-jangan orang omong un-
tuk segera dilupakan, seperti suara PKB yang dulu menghantam
Golkar dan kini tidak, karena statemen kemarin dengan mudah
jadi dusta dalam pidato hari ini.

Tapi mungkin tidak. Jika kita percaya akan optimisme Walter­
Ong dalam The Presence of the Word, dunia lisan baru itu tak akan
sepenuhnya sama dengan dunia lisan sebelum tulisan ditemu-
kan, huruf dipastikan, dan mesin cetak dipergunakan.

Bagaimana gerangan rupa dunia seperti itu, sebelum ada alif-
ba-ta dan ha-na-ca-ra-ka, tak mudah kita memperkirakannya.
Sebab, manusia telah memakai tulisan sejak tahun 3500 sebelum
Masehi di wilayah Summeria, lima abad kemudian di Mesir dan
India, dan 15 abad kemudian di Cina. Tapi mungkin kita bisa
mengingat bagaimana kakek-nenek kita yang buta huruf hidup
dan bekerja.

Bagi mereka, kata adalah ”peristiwa”, tulis Walter Ong. Bagi
mereka, kata hanya bunyi: ia berwujud tak tampak; ia ber­wujud
justru setelah menghilang. Tanpa tulisan, kata selalu bagian dari
sekarang—bukan tadi, bukan nanti. Jika kata itu menyimpan
informasi, informasi itu baru bisa dipakai kembali­setelah ada
yang menghafal. Demikianlah keterangan tentang yang pernah
dilakukan manusia pun dirawat dalam syair, pantun, dongeng,

Catatan Pinggir 7 199

http://facebook.com/indonesiapustaka LISAN

yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,
oleh para empu, pujangga, dan pemangku adat. Kebenaran pada
akhirnya bergantung pada sebuah kehadiran.

Di sana, kuping yang mendengar lebih penting ketimbang
mat­a yang melihat. Dengan jelas Ong membedakan kedua indra­
manusia itu dan pengaruhnya bagi cara kita memandang dunia.­
Lewat mata, manusia mencapai dunia dalam bentuk ruang, dan­
ruang itu terdiri dari permukaan. Tapi mata kita tak akan me­
nangkap seluruh permukaan. Ia hanya mencapai yang ada di de-
pan kita. Mata tak menjangkau dunia secara serentak, melainkan
sebidang demi sebidang: kadang. Penglihatan cenderung memi-
lah-milah.

Kuping kita bekerja secara berbeda. Kapan saja, aku bukan
hanya mendengar apa yang di hadapanku, melainkan serentak di
belakangku, atau dari arah mana saja. Sebab itu, menurut Ong,
mereka yang hidupnya dibentuk oleh sintesis pendengara­ n tak ja-
rang punya kecemasan tersendiri. Ada kesenjangan antara dunia
bunyi dan dunia penampakan: dengan kupingku, aku tahu begi-
tu banyak hal terjadi secara serentak, tapi dengan mataku aku tak
mungkin melihatnya sekaligus. Tak mudah untuk memilah-mi-
lah atau menganalisis, dan sebab itu tak gampang mengelolanya.

Dari sini Ong menyebut sebuah sindrom yang tak jarang
menjangkiti mereka yang hidup dalam ”budaya dengar”. Pelba­
gai penelitian menyimpulkan bahwa di kalangan itu sering ter-
jadi rasa cemas, takut, dan sikap tengkar yang kacau-balau, yang
akhirnya meledak. Orang-orang Skandinavia dan Asia Tengga­
ra yang buta huruf meletupkan itu dalam amuk. Sebab, tanpa­
tulisan, manusia cenderung menyelesaikan problem­ menurut
tra­disi puaknya. Tak ada analisis pribadi. Di sana orang hidup
dalam ”budaya malu”, yang melembagakan desakan kolektif agar
orang sama-sama mematuhi satu pola perilaku. Ada tekanan
perkauman yang kadang menyesakkan.

200 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka LISAN

Itulah yang tak terjadi dalam budaya tulis. ”Dengan tulis­an,”
kata Ong, ”individu... jadi sadar tentang dirinya sendiri, bahwa
ia mampu berpikir sendiri.” Membaca teks mendorong orang
menjauhkan dunia pikirannya dari kelompok. ”Buku,” kata Ong
pula, ”memisahkan sang pembaca dari puaknya.”

Sang pembaca bukannya tak punya rasa cemas. Dunia kata-­
katanya bukan saja jauh dari habitat percakapan yang nyata, tapi
juga tak seluruhnya cocok dengan habitat itu. Ada yang beku di
sana, ada yang terhenti dalam waktu. Huruf pun se­ring dikaitkan
dengan kematian. Ong, seorang pastor Jesuit,­me­n­ gutip­dari Injil
surat Paulus untuk orang Korintha: ”huruf­mematikan, tapi roh
memberi hidup.” Sang pembaca pun se­ring kesunyian, mandek
dan bersikeras, meskipun tak men­ g­amuk.­

Tapi di mana sang pembaca kini? Ia nyaris tersingkir bersama
huruf—di radio, telepon, dan televisi. Sebuah budaya lisan baru
tiba. Tapi Ong menunjukkan: kali ini beda. Huruf tak sepenuh-
nya punah. Mereka datang di Internet dan sandek, di laptop dan
telepon genggam. Kini kita hidup dalam sebuah gabungan yang
membingungkan, tapi mengasyikkan.

Ong menyambut hangat dunia baru ini. Ia tunjukkan bahwa
berbeda dengan yang lama, kini kata jadi ”terbuka”. Tekn­ ologi
media komunikasi telah mengubahnya. Bunyi dan suara pun
berp­ eran kembali, dan melibatkan manusia ke dalam ”kini”, tapi
tak hanya itu: apa yang ”lalu” dapat kita gali kembali. Abad ke-21
punya keajaiban kecil: sebuah gudang gigantis yang mengawet-
kan informasi seluruh dunia kini bisa ditelisik cepat dan tepat de-
ngan Google.

Maka di satu sisi orang pun terlibat langsung dalam peristiwa,
dan kita bisa bicara akrab atau berapi-api kepada mereka. Tapi
sang pendengar, yang sekaligus penonton, bisa mengambil jarak.
Ia juga bisa menyahut. Sang pembawa kata yang hadir tak punya
aura dan otoritas yang mutlak lagi.

Catatan Pinggir 7 201

http://facebook.com/indonesiapustaka LISAN

Sementara itu, huruf yang konon mematikan, juga kitab yang
tamat, tak pula mampu menghentikan percakapan. Ajar dan ujar
yang dihafal dan hukum yang dibukukan selalu bisa dipikirkan
lagi dan digugat kembali. Keterbukaan sulit dit­ampik­dari sini.

Tapi, tentu, Ong tak menyebut bahwa televisi dan komputer,­
seperti halnya buku dan koran, masih jauh dari sebuah dunia di
mana yang lisan dan tulisan dibungkam, mungkin oleh keke­ras­
an, mungkin oleh kemiskinan. Meskipun saya, seperti dia, ingin­
punya optimisme. Sekali-sekali.

Tempo, 6 Juni 2004

202 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SI ANJING

SEORANG teman menjelaskan kepada saya kenapa ia tak
ingin jadi presiden. ”Karena si Anjing,” katanya. Ia meng­­
aku­­ini sebuah jawaban yang congkak, karena sebenarnya
ia ingin mengatakan bahwa ia pernah membaca tentang Dioge­
nes, orang Sinop, yang lahir di kota di pantai Laut Hitam itu pada
sekitar tahun 412 sebelum Masehi.

Diogenes adalah sebuah legenda tersendiri. Aristoteles me-
manggilnya ”si Anjing”, atau, dalam bahasa Yunani, ”Kyon”. Filo­
sof­yang aneh ini, yang hampir 30 tahun lebih tua ketimbang
Aris­toteles, tak berkeberatan. Pandangan hidupnya memang bisa
membuat ia dimaki.

Ia seorang penampik yang radikal. Ia memilih untuk tak
punya­apa pun. Ambisinya yang terbesar adalah untuk tak punya­
ambisi. Anak bankir dari wilayah Ionia ini (si ayah diketahui me-
malsukan uang dan diharuskan meninggalkan Sinop) akhirnya
jadi seorang yang hidup seperti pertapa. Ditolaknya kekayaan
dan tak diharapkannya penghargaan orang lain. Yang pokok, ba­
ginya, adalah auterkeia, ”swasembada”.

Setiap hari ia berjubah kasar, bertongkat, dan membawa­kan-
tong. Ia hidup dari derma sedapatnya. Bila ia minta makanan ke-
pada seseorang, ia selalu bertanya adakah orang itu telah membe­
rik­ an sesuatu kepada orang lain; bila belum, ia akan meminta
agar dirinya janganlah jadi penerima terakhir.

Kenikmatan hidup dijauhinya dengan ekstrem: ia akan bergu­
lung di pasir yang terik di musim panas dan memeluk patung
yang tertutupi salju di musim dingin. Terkadang ia tinggal di se-
buah bilik kecil yang disediakan salah seorang temannya, atau,
bila itu tak ada, ia akan tidur di pendapa Kuil Zeus di Athena atau
di dalam pithos, bak besar di Metroum, kuil ibu dewa-dewa.

Catatan Pinggir 7 203

http://facebook.com/indonesiapustaka SI ANJING

Ada yang melihat persamaan antara perilaku Diogenes dan­
ajara­­ n Kristen dan Buddhisme: memandang hidup dengan­
meng­ambil jarak dari hidup itu. Dalam salah satu kuliah filsafat
di Collège de France di tahun 1984, Michel Foucault me­nyebut
Diogenes sebagai pelopor gerakan yang menjadikan hidup seba­
gai ”lain”. Mungkin, kata Foucault, tema ini ikut membuka pintu­
bagi berkembangnya pandangan zuhud agama Kristen kemudi-
an.

Tapi sudah tentu ada beda antara Buddha, Yesus, dan Dio­ge­
nes. Si Anjing menyalak keras dan bisa menggigit. Menurut seba-
gian orang, dari sanalah asal-usul kata ”sinis” yang kita pakai hari
ini. ”Sinisisme” (cynicism dalam bahasa Inggris) berasal dari ba-
hasa Latin cynicus, terjemahan atas kata Yunani kynikos, ”seperti
anjing”. Dari laku para pengikut Diogenes kemudian—yang me-
nyebalkan banyak orang—kata itu akhirn­ ya jadi penanda sikap
yang hanya mau melihat cacat manusia, bukan budi baiknya.

Diogenes sendiri tak demikian. Tapi ucapan-ucapannya me-
mang ketus. Niatnya adalah memprovokasi orang untuk ber­tu­
kar pikiran. Ia mencegah mereka pasif. Ia bukan saudagar kata-
kata bagus yang bisa membuat hadirin tenang dan senang. Bah-
kan ia bisa kurang-ajar: konon ia tak ragu untuk berak dan mas-
turbasi di depan orang, sebagai sebuah ekspresi ”tak-ada-rasa-ma-
lu” (anaideia). Mungkin baginya ”malu” adalah bagian dari keti-
dakbebasan.

Memang ada sikap angkuh di situ. Plato benar. Pada suatu hari
Diogenes menginjak-injak permadani miliknya, sambil berujar:
”Lihat, kuinjak-injak sikap jumawa Plato.” Plato pun menyahut:
”Ya, Diogenes—dengan sikap jumawa yang lain.”

Tapi sikap jumawa itu berkait dengan kemerdekaan diri. Kita
ingat kisah yang termasyhur ini: pada suatu hari Iskandar Agung
datang ke tempat si Anjing berbaring seraya berjemur. Orang
ku­at dari Makedonia ini memperkenalkan diri: ”Aku, Iskandar

204 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SI ANJING

Agung.” Sang filosof menjawab: ”Aku, Diogenes, si Anjing.” Ia
acuh tak acuh. Kepada Iskandar ia pun berkata, kasar: ”Jangan
berdiri di situ, menghalangi matahari.”

Kisah ini agaknya cuma bagian dari sebuah fantasi, tapi yang
penting ialah gambaran tentang hubungan kekuasaan yang tiba-
tiba ternyata problematik. Foucault menguraikannya­dengan ce-
merlang berdasarkan risalah yang dituturkan oleh Dio Prusaeus,
seorang filosof yang dalam pembuangan selama 14 tahun meng­
ikuti­jalan kaum Sinis, mengembara miskin di dekat Laut Hitam,
hampir dua milenium yang lampau.

Dalam risalah Dio Prusaeus, status Iskandar dan Diogenes di­
gambarkan sebagai sebuah paradoks: si Anjing yang tak punya
apa-apa justru lebih tinggi tarafnya. Sebab Iskandar adalah se-
buah kekurangan: ia butuh kekuasaan, dan dengan itu perlu pa-
sukan, kekayaan, dan juga kesediaan rakyat Makedonia untuk
patuh. Sebaliknya Diogenes: ia sudah dalam tahap auterkeia.

Tentu saja Iskandar mampu membinasakan Diogenes yang
kurang ajar itu. Tapi si Anjing menghadirkan sebuah dilema, keti-
ka ia berkata: ”Kau punya kemampuan dan sanksi hukum untuk
membunuhku. Tapi cukup beranikah kamu untuk mendengar­
kan apa yang benar dari mulutku, atau kau pengecut?”

Di sini sebuah ”permainan parrhesiastik”, di mana kemer­de­
kaa­ n bicara berlangsung, dijalankan dengan penuh risiko. Tapi
pada akhirnya tampak, kekuasaan sang raja bukanlah satu-satu­
nya kekuasaan. Ada kekuasaan ala Diogenes—sebuah titik nol
dalam bak kosong yang mengandung kekuatan tersendiri.

Itu sebabnya teman saya tak ingin jadi presiden. Meskipun ia
tak menjalani hidup zuhud seperti kaum Sinis, ia tahu ada ukur­
an tentang kekuasaan-dan-kekuatan yang berbeda-beda yang ha-
rus diakui dalam hidup masyarakat.

Ia kembali bercerita tentang si Anjing. Pada suatu hari, di se-
buah pertandingan atletik dan lomba kuda, Diogenes datang un-

Catatan Pinggir 7 205

http://facebook.com/indonesiapustaka SI ANJING

tuk meletakkan mahkota pemenang di kepalanya sendiri.­Ketika
ia hendak diusir, ia menjelaskan bahwa ia melakukan itu karena
ia telah berhasil memenangi sebuah ”lomba”: ia telah mengatasi
kemiskinan, pengasingan, dan putus asa. Bukan­kah hal itu le­
bih­sulit ketimbang melempar cakram, bertanding­gulat, dan lari
cepat?

Membuat kekuasaan dan ukurannya jadi beragam—dan me­
nunjukkan bahwa kekuasaan itu bisa hinggap di mana-mana—
itulah sebenarnya yang dicapai Diogenes. Mungkin karena me-
nyadari hal ini konon Iskandar pernah berkata: ”Seandainya aku
bukan Iskandar, aku ingin jadi Diogenes.”

Tempo, 13 Juni 2004

206 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TROYA

PERANG itu berlangsung 10 tahun lamanya. Seribu ka-
pal dan 100 ribu prajurit dikerahkan, dan Troya, sebuah
kota kerajaan yang dulu konon terletak di ujung barat
laut Turki, digepuk. Korban pun jatuh bertumpuk-tumpuk, para
pendekar gugur. Dalam wiracarita yang termasyhur ini, medan
tempur terlukis bengis:

”Idomeneus menusuk Erymas, lurus menerobos mulut: ujung
tombak logam itu tembus ke dekat otak, menggrowak, membelah­
tengkorak yang berkilau keringat—gigi pun berhamburan, da-
rah muncrat, menutupi kedua mata hingga kelopak, mengucur di
liang hidung, dan bibir itu terkuak....”

Untuk apa kebuasan itu? Menurut kisah Homeros, seorang
pen­ yair buta yang konon hidup 2.850 tahun yang lalu, Perang
Troya terjadi karena Agamemnon, raja orang Achaea, hendak
mer­ebut kembali istri adiknya yang diculik. Senjata pun dihunus
karena sang penculik adalah seorang pangeran dari negeri lain.
Seperti Ramayana: mengasyikkan tapi tak masuk akal.

Terutama bagi penulis sejarah. Herodotus, sejarawan yang hi­
dup pada abad ke-5 sebelum Masehi, meragukan motif pembe-
basan istri itu. Maka wajar bila zaman ini, di tengah Perang­Irak
yang lancung alasannya, film Troy yang disutradarai Wolfgang
Pe­tersen menyodorkan penjelasan yang lebih bisa dimengerti
abad ke-21. Hektor, pangeran dan pendekar perang dari Troya
itu, berkata, menurut skenario David Benioff: ”Ini perkara kekua-
saan, bukan cinta.”

Kedua hal itu sebetulnya tak berbeda, bila ”cinta” berarti­”me­
miliki”. Dan pada zaman ketika ”memiliki” (kata lain untuk ”me­
nguasai”) jadi penting, ketika perempuan hanya­pelengkap, alas­
an Agamemnon untuk berperang habis-habis­an bisa merupakan

Catatan Pinggir 7 207

http://facebook.com/indonesiapustaka TROYA

kombinasi antara ”wanita” dan ”takhta”.­Benar bahwa Helena,
iparn­ ya, diculik oleh Paris dan dibawa ke Troya. Tapi benar pula
bahwa soalnya menyangkut gengsi dan kekukuhan sebuah kera-
jaan.

Saya kira itu sebabnya Jean Giraudoux menuliskan lakonnya,
Perang Troya Tak Akan Meletus (La Guerre de Troie n’aura pas lieu)
dengan cemooh, dan ketika Arifin C. Noer mementas­kannya di
Taman Ismail Marzuki 30 tahun yang lalu, ia menyelipkan logat
orang Tegal dalam dialog, untuk meledek. Dalam Babak ke-2,
Hektor yang tak menghendaki perang memanggil seorang pakar­
hukum internasional, Busiris. Orang ini menguraikan dasar-da­
sar legal untuk berperang melawan­orang Achaea yang telah siaga
di laut itu. Tapi Hektor, yang melihat betapa gampangnya orang
menemukan dalih untuk­ berperang, berhasil menekan Busiris
agar memakai dalih yang sama untuk tidak berperang. ”Kita ha-
rus cepat-cepat menutup­semua pintu peperangan, dengan segala
gembok, segala palang,” katanya.

Menarik bahwa dalam lakon ini Hektor melihat perang seba­
gai sesuatu yang datang dari luar. Tapi ”luar” itu baginya bukan
balatentara bangsa Achaea itu. Ia bahkan tak hendak menutup
ger­bang kota untuk mereka. Yang ingin ditampiknya adalah ben-
cana bagi yang tak bersalah.

Akhirnya kita tahu, Hektor tak bisa mencegah bencana itu.
Dalam penuturan Homeros, Hektor akhirnya ikut bertempur. Ia
maju dengan gagah, meskipun ia tahu Troya akan jatuh dan ia
akan gugur. Dan tatkala akhirnya kota itu bobol, dan pasukan­
Yunani masuk, yang tak bersalah memang jadi korban: putra
Hektor, Astyanax, dilemparkan pasukan yang menang itu ke
din­ding. Bayi itu mati.

Tapi pangeran Troya itu benar: perang tak datang dari dalam
dan dari 1.000 kapal Yunani. Dalam kisah Homeros, perang itu
datang dari atas—dari para dewa.

208 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TROYA

Dalam cerita kuno ini, Kahyangan adalah Olimpus yang si-
buk: para dewa dengan bernafsu menyeret manusia ke dalam ke-
buasan yang sebenarnya tak mereka inginkan. Raja Priam­dari
Troya tahu itu. Ia memandang sedih Helena yang di­tuduh­jadi
biang perkara, dan berkata, ”Anakku, aku tak men­ yalahkanm­ u.
Para dewalah yang harus disalahkan. Merekalah yang menyebab-
kan perang yang mengerikan ini.”

Mungkin terlampau gampang menyalahkan para dewa, tapi
di bagian ketiga wiracarita Homeros, memang inilah yang ter-
jadi: setelah bertahun-tahun kedua kubu berkelahi tanpa­kalah­
dan menang, mereka pun bersepakat menyelesaikan per­soalan
dengan cara yang lebih hemat dan adil: Paris, yang menculik He­
lena, akan berduel dengan Menelues, sang suami,­adik Raja Aga­
memnon. Siapa yang menang akan berhak menyunting­perem-
puan jelita itu, dan setelah itu perang akan ditutup.

Tapi ternyata dewa dan dewi di Olimpus tak menghendaki
perdamaian....

Bagi Dewi Afrodita, yang mencintai Paris yang tampan, laki-­
laki itu harus ditolong di saat ia nyaris terbunuh. Bagi Hera, istri
Zeus, pokoknya Troya harus hancur. Zeus akhirn­ ya mengalah:
bap­ ak para dewa ini menyetujui Troya binasa, karena­Hera kelak
akan merelakan kota-kota kesayangannya, antara lain Argos dan
Sparta, terbasmi. Dengan hasutan para dewa, kedua kubu pun se­
gera saling membunuh kembali. Kekejaman berkobar, dan Troya
hancur.

Saya tak tahu bagaimana dengan imajinasi seperti itu agama
bisa menyusun argumennya. Tapi mungkin tiga milenia yang lalu
kisah Homeros adalah awal kesadaran akan absurditas hidup dan
ambivalensi iman: manusia percaya adanya dewa yang berkuasa,
tapi dengan itu manusia harus menanggungkan nasib sebagai ke-
tentuan Langit. Dalam kondisi semuram itu, apa kiranya yang
membuat hidup berharga?

Catatan Pinggir 7 209

http://facebook.com/indonesiapustaka TROYA

Saya kira jawabnya muncul di bagian akhir cerita: malam itu
Priam, ayah Hektor, datang dari Troya tanpa pengawal ke kemah
musuh. Ia menemui Akhilles yang telah membunuh Hektor dan
dengan bengis menyeret jasadnya berkeliling dengan kereta pe­
rang.­Priam ingin mengambil jenazah anaknya.

Akhilles tersentuh melihat pak tua yang kehilangan itu, dan
ser­aya mencoba menahan tangis, ia menyilakan tamunya duduk.
”Para dewa yang kekal tak peduli,” katanya, ”tapi nasib yang me­
re­ka timpakan kepada manusia penuh dengan tragedi.” Suara itu
akrab.

Di saat seperti ini hidup pun terasa berarti kembali, berpijar
kemb­ ali, karena manusia berjabat tangan dan Kahyangan ter­
diam.­

Tempo, 20 Juni 2004

210 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TERTAWA

KETIKA hasrat berkuasa jadi lumrah, kebutuhan akan
tert­awa jadi penting. Ambisi bukanlah suatu hal yang
buruk, namun sempit. Kehendak untuk jadi pemenang
pemiliha­ n presiden pada dasarnya sama dengan tekad jadi peme-
gang Piala Eropa. Dalam motif itu, sebuah lapangan direduksi-
kan jadi arena antara ”kita” dan ”mereka”. Arah hanya satu.

Humor bisa menghentikan penyempitan itu. Yang jenaka
mengg­ uncang konsentrasi, mengacau fokus, dan memperluas hi­
dup dengan menampilkan yang ganjil dan terjungkir balik.

Misalnya lelucon ini:
Calon Presiden X datang ke sebuah daerah miskin di Pulau B.
Di hadapan sekitar 700 penghuni, sang calon berpidato.
”Saudara-saudara,” katanya, ”akan saya bangun instalasi air
bersih untuk desa ini!”
Penduduk mula-mula diam. Tiba-tiba seorang berteriak,
”Hoya! ”
Segera, semua warga juga berseru, ”Hoya! Hoya!”
Pak Calon tak tahu apa arti kata yang diteriakkan dalam ba-
hasa lokal itu, tapi ia lihat orang pada tersenyum. Ia pun kembali
bergelora.
”Kelak, jika saya menang,” katanya lagi keras, ”akan saya ke-
luarkan keputusan bahwa rakyat Pulau B tak perlu bayar pajak!’
”Hoya! Hoya!”
”Meskipun begitu, Saudara-saudara, sekolah akan tetap di­
bangun!”
”Hoya! Hoya!”
Pidato kampanye pun selesai. Sang Calon berkeliling melihat-
lihat rumah kumuh dan ladang kering di dusun yang miskin dan
kotor itu. Di sebuah sudut ia nyaris terperosok. Seorang desa ber-

Catatan Pinggir 7 211

http://facebook.com/indonesiapustaka TERTAWA

kata, ”Awas, Pak, jangan sampai menginjak hoya”—dan ditun-
juknya seonggok tahi.

Realitas seakan-akan ambyar dalam peristiwa itu. Citra
umum seorang calon presiden tiba-tiba bukan lagi sesuatu yang
su­dah bulat. Umumnya ia dianggap pintar dan cerdik. Tapi di
sana ia terkecoh oleh rakyat di dusun miskin yang galibn­ ya diba­
yangk­ an sebagai ”terkebelakang”.

Ada satu lelucon lain. Calon Presiden Z datang ke sebuah­per­
temuan di kawasan baru di luar Bogor. Penduduk berk­ umpul­di
sebuah gelanggang olahraga, dan Pak Calon ber­pidato­tentang
perlunya pembaruan akhlak. Setelah itu, ia mend­­ atangi­orang ra-
mai untuk bersalaman.

Tiba-tiba seorang perempuan mendekat. Ia tersenyum. Pak Z
pun membalas senyum itu dengan ramah. Ia ulurkan tangann­ ya:
”Terima kasih, Bu. Ibu kelak akan memilih saya, kan?”

”Lo, tentu, dong,” sahut perempuan itu, ”Kan, saya istrimu
yang pertama!”

Kisah ini diarahkan ke seseorang yang dikenal beristri banyak,­
tentu. Humor memang bisa seperti agresi. Thomas­Hobbes, yang
mem­ andang manusia dengan muram, menyatak­ an bahwa kita
me­nertawai orang lain karena kita merasa hebat dan orang lain
ki­ta anggap cacat. Seseorang yang menyusun teori tentang hu-
mor juga mengatakan bahwa lelucon adalah hasil evolusi dari
sua­ra aum dalam duel rimba raya.

Tapi ada lelucon yang tak menertawai orang lain, me­lain­kan
dir­i sendiri. Dalam humor jenis ini hidup seakan-akan tak pu-
nya ketegangan. Ketika ”agresi” diarahkan ke diri sendiri,­kon-
flik adalah sesuatu yang mubazir. Tapi bagaimana­hidup berubah
tanpa konflik? Maka ada yang mengatakan, humor bersifat kon-
servatif.

Ada benarnya. Dalam film Indonesia lama, sebagai kel­anjut­an­
dari tonil populer tahun 1920-an, adegan kocak yang lazim ada­

212 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TERTAWA

lah ketika muncul jongos dan babu. Kedua anggota kelas bawah
ini menampilkan diri begitu udik dan tolol. Merek­ a diadakan un-
tuk sebuah kontras bagi sosok sang majikan yang serba ganteng,­
cantik, berhasil. Di sini tata sosial yang timpang, antara si juragan
yang menang dan si abdi yang takluk, diperkuat.

Tapi tak semua lelucon jongos-babu memperkukuh apa yang
mapan, meskipun sepintas memang tampak begitu. Saya ingat
Sri­mulat.

Sejarah kelompok ini adalah sejarah orang-orang yang me­
ne­r­obos tata sosial dan kategorinya. Jika kita ikuti buku Teguh
Sri­mul­at yang disusun Herry Gendut Janarto (terbit pada tahun
1990), sang pendiri kelompok lawak itu lahir dengan nama Raden
Ajeng Srimulat. Ia putri Wedana Bekonang, Surakarta. Anak we-
dana ini tak cuma gemuk dan cantik; ia juga pintar menembang
macapat, dan suaranya merdu. Di rumah orang tuanya, kesenian
Jawa adalah bagian hidup sehari-hari.

Tapi Srimulat melarikan diri. Kehidupan rumah orang tua­
nya­menyesakkan dia setelah ibunya meninggal. Ia mendapatkan
ibu tiri yang tak menyetujui gadis itu meneruskan sekolah. Ia di­
pingit.­Ia minggat.

Dalam pelarian ini ia bergerak terus. Rangkaian hidupnya la­
yak untuk bahan novel yang bagus: ia bergabung dengan rom-
bongan seorang dalang, lalu sebuah grup ketoprak yang main di
alun-alun kota, lalu sebuah paguyuban wayang orang yang di­
pimp­ in seorang perempuan yang juga memimpin orkes yang
memainkan lagu keroncong, dan akhirnya berkelana dari pasar
malam ke pasar malam.

Di panggung yang mengembara itu ia berjumpa dengan Te­
guh.­Pemuda yang 18 tahun lebih muda ini kemudian jadi suami­
nya, dan kemudian mengabadikan nama Srimulat dalam sebuah
kelompok komedi yang sukses.

Teguh adalah anak Kho Swie Hien dari Kampung Bareng,

Catatan Pinggir 7 213

http://facebook.com/indonesiapustaka TERTAWA

Klaten, yang dibesarkan oleh Go Bok Kwie, seorang buruh per-
cetakan, dan istrinya, Ginem. Dari latar yang miskin ini ternyata
ia tumbuh jadi seorang pemain musik berbakat, antara­lain ber-
kat Pak Wiro, tetangganya, seorang pembuat gitar.

Tapi lebih dari itu, seperti Srimulat, Teguh juga orang yang
menerobos tata masyarakat kolonial. Sementara Srimulat tak ter-
jerat dalam kategori kelas, Teguh tak terjebak dalam kategori ras.
Bukan kebetulan mereka betah di dunia seni hiburan. Sudah
lama, apalagi pada masa menjelang runtuhnya kolonialisme di
awal 1940-an, dunia ini bebas dari desain kekuasaan Hindia-Be-
landa yang merumuskan identitas dengan dasar asal-usul.

Itu mungkin sebabnya lelucon Srimulat dalam adegan abdi-­
ma­jikan tak sama dengan klise dalam tonil tahun 1920-an. Si ju-
ragan bisa tampak bodoh dan sebaliknya si pembantu cerdik. Po-
sisi berubah tak putus-putusnya. Martabat dan identitas bera­ da
da­lam chaos. Semua bisa ditertawai, semua bisa menertawai—se-
buah situasi carnavalesque yang meneruskan kerinduan demokra-
si.

Tempo, 27 Juni 2004

214 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TEPI

DI sekitar Bagdad, siapa yang berdosa? Rasa bersalah
telah jadi muskil. Kini tiap hari orang dibunuh, tapi
tiap jam selalu ada dalih untuk membunuh.
Sekelompok gerilyawan memenggal kepala Kim Sun-il, orang
Korea yang mereka sandera. Tubuhnya ditinggalkan di antara
Bagdad dan Kota Fallujah. Dunia mengutuk. Tapi para gerilya-
wan itu akan mengatakan: ”Benar, Kim tak berdosa, tapi pem­ e­
rin­tah Republik Korea?”

Mereka akan mengatakan bahwa yang berkuasa di Seoul se­
sungg­ uhnya dapat membebaskan warga negara Korea itu. Tapi
tind­ akan itu tak mereka pilih. Sang presiden lebih perlu mendu-
kung Amerika—dan kian terlibat dengan sesuatu yang kotor:
menyerang Irak secara tak sah dan mendudukinya sampai hari
ini.

Tapi Presiden Republik Korea pasti punya jawab: Kim ada­
lah­sesuatu yang bisa disebut ”korban” (victim) dan juga ”kurban”­
(sacrifice). Ia biarkan Kim terbunuh agar lebih banyak­orang se-
lamat. Republiknya selama ini dilindungi kekuatan Amerika Se­
rikat, dan sebab itu hubungan dengan negeri itu harus dirawat.
Juga dari Seoul hendak ditunjukkan betapa sia-sianya siasat ger-
tak para gerilyawan. Jika hari ini tak ada yang takut kepada mere­
ka, mereka akhirnya akan berhenti menyandera.

Maka siapa yang benar, siapa berdosa? Ataukah di sini berke-
camuk sebuah kekacauan batas dalam nilai? Mungkin justru se-
baliknya.

Kini Irak adalah tanah berdarah yang terbelah tegas. Tiap
konflik seperti ini memang mengubah ruang jadi sebuah dunia
Mani: sebuah pergulatan antara dua kubu, yang diterjemahkan
sebagai perang antara Gelap dan Terang. Pergulatan itu kini tak

Catatan Pinggir 7 215

http://facebook.com/indonesiapustaka TEPI

ada dalam batin. Ketika aku bertikai tajam dengan dia, perang
itu keluar dari diri, dan akulah sepenuhnya mewakili Terang, dia
Gelap.

Maka jika banyak yang hilang di Irak kini, salah satu yang
penting adalah rasa tragis. ”Rasa” di sini berarti kesadaran yang
merasuk ke hati. Yang tragis timbul ketika kita menyadari posi­
si manusia di tengah Terang dan Gelap—sebuah posisi yang
genting.

Izinkan saya bicara panjang tentang ini. Saya ingat Milan
Kun­dera pernah mengutarakan kembali apa yang konon dikata­
kan Hegel: ”Bersalah, itulah kelebihan karakter tragis yang
agung.” Ia benar, meskipun tak sepenuhnya meyakinkan.

Ia membawa kita ke dalam Antigone, karya Sophokles yang
termasyhur itu, yang di Indonesia, 30 tahun yang lalu, dipentas-
kan Bengkel Teater Rendra dengan mempesona. Dalam kisah
ini, Antigone, putri Oedipus yang membuang diri dari takhta
Thebes itu, menyaksikan bagaimana kedua adiknya saling­mem-
bunuh. Keduanya gugur.

Kreon, Raja Thebes yang baru, melarang salah satu di antara­
pa­ngeran yang tewas itu dikuburkan. Mendengar ini, Antigone­
menentang sekuat tenaga. Diam-diam dimakamkannya tubuh
yang dihinakan sebagai pengkhianat itu. Menget­ahui ini Kreon
pun menghukum mati perempuan muda itu.

Dalam tafsir Kundera, baik Kreon—yang hendak menjaga­
ketertiban hukum Thebes—maupun Antigone, yang tergerak­
untuk melawan ketertiban itu karena hukum Kreon melawan
rasa keadilan dan aturan dewa-dewa, tampil bukan sebagai Te­
rang kontra Gelap. Keduanya bersalah, tapi juga tak bersalah.
Yang penting ialah pengakuan, bahwa ada dosa di kedua belah
sisi. Hanya dengan mengakui dosa itu, sebuah karakter menjadi
karakter agung dan berbaik kembali pun jadi mungkin.

Itu sebabnya Kundera mencemooh versi Antigone yang pernah

216 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TEPI

dilihatnya di Praha, ketika Partai Komunis berkuasa di Cekoslo-
vakia. Menurut ajaran resmi ”realisme sosialis”, kelompok teater
waktu itu mementaskan Antigone sebagai teladan ”hero positif”
Komunisme—sepenuhnya kebaikan—melawan Kreon, ”si ja-
hat” Fascisme.

Betapa menyesakkan, betapa dangkal. Jika kita lepaskan kon-
flik manusia dari penafsiran sebagai perang antara kebaik­an dan
kejahanaman, kata Kundera, dan jika kita pahami seng­keta itu
dalam sorotan tragedi, akan tampak betapa nisbi­nya kebenaran
manusia. Akan tampak pula ”keperluan untuk bersikap adil ke-
pada musuh”.

Kundera benar, tapi tesisnya berlaku terbatas. Di luar karya
Sophokles, sebenarnya tak banyak tragedi yang mengisahkan rasa
berdosa. Hamlet dan Raja Lear dalam lakon Shakespeare mati
menyedihkan, mungkin bersalah, tapi yang menyentuh kita bu-
kan itu. Sebab itu saya punya tesis lain. Bagi saya, ”berdosa” bu-
kanlah inti ”rasa tragis”. Intinya adalah kesadaran tentang ”tepi”.

”Tepi” bukanlah ”batas”. Kata ini tak berkaitan dengan ke­
terb­­ atasan. ”Tepi” mengandung sesuatu yang sepi, juga men­ un­
jukkan keadaan genting sebab siapa pun akan sendirian ketika
ada pelbagai sisi yang dihadapi, ketika seseorang tak bera­ da di
satu pusat yang mantap. Bukan saja karena Terang dan Gelap ada
di mana-mana, tapi juga karena kedua-duanya mengandung ba-
haya.

Pernah saya temukan sebuah kutipan, yang selalu saya ingat,­
ko­non dari Nelson Mandela, yang mengatakan bahwa yang perlu
kita takuti bukanlah Gelap diri kita (”our darkness”) melainkan
justru Terang diri kita (”our light”).

Bagi saya kutipan itu menarik dan mengagumkan. Mandela,
tentu saja, tak akan masuk kategori Gelap di buku sejarah. Ber-
tahun-tahun ia disekap oleh pemerintahan kulit putih Afrika Se-
latan yang dikecam dunia. Ia bisa dengan mudah­menyatakan

Catatan Pinggir 7 217

http://facebook.com/indonesiapustaka TEPI

dirinya benar dan lawannya 100 persen berdosa, tapi ia sadar be-
tapa berbahayanya sikap seperti itu. Angkuh karena benar akan
menghilangkan ”rasa tragis”, dan tanpa rasa ini, seseorang akan
merasa berdiri di pusat. Kesewenang-wenangan akan terjadi. Ju­
ga atas nama kebenaran.

Irak kini adalah akibat dari kesewenang-wenangan itu. Irak
adalah hasil sebuah kekuasaan besar yang meringkus peta dunia­
hanya dalam konflik antara Terang dan Gelap, antara Axis of
Goodness dan Axis of Evil. Kekerasan dimulai dari Washington
dan London, dari Bush dan Blair, yang seraya mengira di dekat
Tuhan, tak merasa bahwa sebenarnya mereka juga ber­ada­di tepi.
Maka di sekitar Bagdad kini rasa berdosa pun jadi muskil, dan
para pembunuh hadir.

Tempo, 4 Juli 2004

218 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TANGGULSARI

PADA suatu malam, demokrasi datang ke lapangan bad-
minton itu.
Waktu: hari Ahad malam, 27 Juni 2004.
Tempat: sebuah lapangan bulu tangkis di Kampung Tanggul-
sari, Desa Kadipiro, Surakarta.

Perlengkapan: Lampu. Meja. Kursi. Kertas. Sejumlah drum
oli yang ditegakkan.

Ratusan warga hadir. Sebuah acara yang mungkin belum ada
duanya dalam sejarah Indonesia dibuka: ”Warga RT Mencari
Presiden. Uji Layak Capres.”

Tentu, Megawati tak muncul di sana. Juga para calon presiden­
yang lain. Acara itu dimulai sonder instruksi. Sebagaimana dila­
porkan Koran Tempo, penggagasnya penduduk Tanggulsari sen­
di­ri. Mungkin demokrasi memang sudah menjalar ke sana. Tapi
mungkin juga sebaliknya: demokrasi 2004 justru datang dari
kerinduan orang di kampung untuk boleh bersua­ra, boleh me-
nentukan, boleh mencoba—dan boleh asyik.

Di lapangan badminton itu seorang ”calon presiden” langsung
di-”uji layak”—sepasang kata yang lebih gamblang ket­imbang fit
and proper test. Bentuknya: sebuah perdebatan terbuka. Yang ber-
tanding adalah ”tim sukses Wiranto”, ”tim sukses Yudhoyono”,
dan ”tim sukses Amien Rais. Adapun ”tim sukses Megawati” dan
”Hamzah Haz” dikabarkan tak hadir. Mereka tak datang dari ja­
uh. Semuanya para tetangga.

Tiap ”tim sukses” muncul dalam sosok seseorang yang ber­di­
ri di podium darurat yang dibuat dari drum oli itu. Dua orang
pria (masing-masing ”mewakili” Wiranto dan Yudhoyono) dan
seorang perempuan (”mewakili” Amien Rais) men­ g­urai­kan pro­
gram calon presiden mereka. Masing-masing bicara 10 menit.­Ke-

Catatan Pinggir 7 219

http://facebook.com/indonesiapustaka TANGGULSARI

mudian, mengikuti model yang mereka lihat di televisi, para pem-
bicara harus menjawab pertanyaan tiga anggota panel: seorang
ibu rumah tangga, seorang pegawai negeri sipil, dan seorang bu-
ruh pabrik.

Yang hadir juga diberi kesempatan bertanya. Orang pun bere-
but mengacungkan jari untuk mengemukakan persoalan mereka
sehari-hari. Lebih dari acara di TV, debat di Tanggulsari itu ber-
langsung hampir empat jam, tanpa iklan.

Setelah uji coba usai, sebuah pemungutan suara menyusul. Pa­
nitia membagi kertas pemilih yang harus dicoblos hadirin. Hasil-
nya dihitung. Siti Nur Zulaikhah, ”mewakili” pasangan Amien-
Siswono, dapat 34 suara dan dinyatakan menang.

Tapi baginya tak ada kembang yang harum dan piala yang
mengkilap. Siti Nur Zulaikhah harus duduk di kursi yang dise-
diakan—sebuah kursi rusak. Kata Haristanto, yang ikut me­nyi­
ap­kan acara ini: itulah sebuah pesan bahwa ”jabatan presid­ en bu-
kan kursi empuk”. Dan wartawan Koran Tempo pun menutup la­
porannya dengan satu catatan: ”Mereka yang kalah tidak protes.
Mereka yang menang harus duduk di kursi rusak.”

Saya tersenyum, saya kagum, dan saya bertanya dalam hati:
apa gerangan yang akan dikatakan para pendukung ”demo­krasi
terpimpin” tentang acara di lapangan bulu tangkis kampung
itu? ”Demokrasi terpimpin” dilaksanakan Bung Karno­di antara
1958 dan 1965. Idenya kurang-lebih meneruskan teori Ki Hajar
Dewantara, seorang aristokrat dari Yogya yang akhir­nya jadi pe-
mikir pendidikan. Ki Hajar menganggap ”rakyat” ibarat anak-
anak yang perlu diajari dan dipimpin—entah sampai kapan.

Apa pula yang akan dikatakan pendekar ”Orde Baru”, yang
menganggap ”politik” harus disetop di desa-desa? Mereka ini be-
rangkat dari asumsi bahwa di dusun, ”rakyat” hidup rukun dan
selaras, tanpa ketegangan—mengikuti mitos para pelukis ”Hin-
dia Molek” di zaman kolonial, bahwa ”Hindia Belanda” adalah

220 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TANGGULSARI

sederet gunung biru, sebentang sawah kuning, seutas jalanan te­
duh, sebuah tanah jajahan yang anteng.

Atau hidup masyarakat yang ”asli” dibayangkan laksana se-
regu pemain gamelan—sebuah alegori yang dipakai oleh Dr. Su-
tomo, pemikir politik yang konservatif di tahun 1930-an, untuk­
menunjukkan bahwa di ”masyarakat Indonesia”, orang bisa pu-
nya peran yang berbeda, tapi tak ada konflik. Jika dengan setia­
mereka menyuarakan ”bunyi” masing-masing, ses­ua­ tu yang la­
ras, lancer, dan merdu pun pasti akan jadi. Bersaing­itu berbaha-
ya, bersaing itu asing.

Dengan argumen macam itulah ”Orde Baru” ingin ”melin­
dungi” pedesaan Indonesia dari ”bahaya” yang ditebarkan dari
”luar”. Paternalisme pun bersenyawa dengan paranoia. Partai po­
litik dicurigai sebagai pembawa sengketa ke kancah ”rakyat”.­Ma­
ka, dipraktekkanlah gagasan ”massa mengambang” atau (se­ring
di­sebut dengan bahasa Inggris) floating mass. Dalam konsep ini,
”rakyat” tak diperkenankan terpaut tetap pada satu partai. Se­
men­tara itu, dengan tipu muslihat, alasan sok-ilmiah, dan ter­or,­
Golk­ ar dimaklumkan bukan sebagai partai politik, meskipun­si­
ap menang pemilu. Dalam sistem ”Orde Baru”, Golkar ada­lah se-
jenis makhluk siluman.

Sejak 1999 orang Indonesia sadar bahwa semua itu keliru—
baik Ki Hajar maupun Golkar. Perbedaan partai, perbedaan pi­
liha­ n pemimpin, bisa berlangsung tak berbahaya jika proses itu
bebas, adil, terbuka. Di lapangan badminton Tanggulsari, sesu­
atu yang universal—tak hanya ”Barat”—berlaku.

Tapi, pada saat yang sama, satu hal lain bisa disimpulkan:
kin­­ i tak seorang pun dapat berkata, ”Pada hakikatnya, rakyat­
adalah....” ”Rakyat” bukanlah makhluk mitologis. Tak ada satu
”hakikat”­yang pas untuk kapan saja dan di mana saja. ”Rakyat
adalah kita...,” tulis penyair Hartoyo Andangjaya. ”Kita” bukan-
lah ”aku”. Perbedaan adalah niscaya.

Catatan Pinggir 7 221

http://facebook.com/indonesiapustaka TANGGULSARI

Oleh sang penyair, ”kita” juga ditampilkan dalam ”kerja”.
Artinya dalam proses, dalam sejarah, dengan perubahan yang tak
terlarai. ”Rakyat” selalu luput dari teori yang terakhir.

Mungkin itu sebabnya demokrasi perlu: tak ada teori ter­akhir­­
tent­ang ”rakyat” dan manusia. Maka kita harus mampu meng­
akui kesalahan konsep dan penilaian sendiri—juga ketika kita
jadi ”rakyat” yang memilih, juga ketika kita jadi ”pemimpin”
yang dipilih.

Dengan kata lain, demokrasi berangkat dari alegori Tanggul­
sari: siapa pun duduk di kursi rusak, siapa pun tak sempurna, sia-
pa pun mesti sementara, seperti sebuah pementasan yang siap di­
tertawai—juga oleh diri sendiri.

Tempo, 11 Juli 2004

222 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RAMALAN

DI Indonesia, kata sebuah ramalan, demokrasi tak akan ber-
tahan. Dalam The Future of Freedom, Fareed Zakaria menu-
lis, ”Indonesia... bukanlah sebuah calon ideal untuk demokrasi.”

Zakaria adalah editor Newsweek International yang dari kan-
tornya yang tinggi di New York memandang reformasi Indonesia
sebagai langkah yang salah. Pada tahun 1998, IMF dan pemerin­
tah AS seharusnya tak mendesakkan reformasi­ perekonomian­
untuk mengatasi krisis moneter waktu itu. Desakan itu, kata
Zak­ aria, membantu hancurnya legitimasi pemerintah Soeharto
hingga ia jatuh.

Inilah yang dikenangnya tentang ”Orde Baru”: ”Soeharto
men­jalankan sebuah rezim yang cacat tapi yang dapat mencapai­
ketertiban, pemerintahan yang sekuler, dan liberalisasi­ ekono-
mi—sebuah kombinasi yang mengesankan di Dunia Ketiga.”

Sebuah aplaus—meskipun kini percuma dan tak meyakinkan.­
Tapi bagaimanapun dalam membahas tendensi demokrasi di du-
nia kini, dan kemungkinan rusaknya kemerdekaan dalam proses
itu, The Future of Freedom memukau dan Zakaria cemerlang.

Namun di situ pula ia bisa selip. Kecemerlangan pikirannya
sering membungkus kesimpulan yang terlalu tangkas. Pikirannya­
seperti sinar laser: tajam, gemilang, tapi sempit.

Ia sempit, mungkin karena ia seorang Amerika yang tinggal di
Amerika. Seperti banyak analis Amerika, dalam pandangannya
ada asumsi diam-diam bahwa dunia hanya sedaun kelor: pelbagai
hal di atasnya akan terguncang bila Amerika mengangkat keling-
king. Narsisisme Amerika ini sebuah sindrom yang sulit disem-
buhkan—dan mungkin itu sebabnya Zakaria melihat perubah-
an di Indonesia pada tahun 1998 seba­gai akibat langsung tuntut­
an IMF dan pemerintah AS.

Catatan Pinggir 7 223

http://facebook.com/indonesiapustaka RAMALAN

Terlalu cepat ia melihat. Begitu cepat hingga ia tak melihat­ka-
limatnya sendiri di halaman 154. Di sana Zakaria berbicara ten-
tang ”politik kemarahan”. ”Politik kemarahan,” tulisnya, bersifat
lokal. Bila dunia Arab marah kepada sebuah keadaan (dan tentu-
nya juga bila orang Indonesia marah kepada represi­”Orde Baru”),
itu tak ada hubungannya dengan ”kebijakan luar negeri Amerika
Serikat yang imperial.”

Pada akhirnya memang hasrat dan daya imperial Amerika­
adal­ah satu hal, dan kerumitan dunia adalah hal lain. Lihat saja
ke­konyolan para penggagas ”The Project of the New American­
Cen­tury” yang kini dengan pongah berkutat di Pentagon. Mere­
ka ingin mengukuhkan supremasi Amerika di dunia, tapi apa
yang terjadi? Di Fallujah, impian itu dihantam bom.

Sayangnya Zakaria (sekali lagi: terlalu cepat berpikir) lupa
akan­ kenyataan seperti itu—sebagaimana ia lupa argumennya
sendiri. Sementara ia memuji Soeharto di halaman 118, ia meli-
hat cacat kekuasaannya di halaman 117: pemerintahan Soeharto,
tulis Zakaria, ”kekurangan institusi politik yang diterima sah.”
Soeharto ”mengelola negerinya melalui sebuah kelompok kecil­
orang istana, sedikit sekali memperhatikan perlunya pemba­
ngun­a­ n lembaga.”

Tanpa institusi politik yang diterima sah, bagaimana sebuah
rezim bisa bertahan dalam krisis yang dahsyat? Jatuhnya Soehar-
to pada tahun 1998 adalah akibat dari sebuah keadaan di mana
dalam dirinyalah kekuasaan terpusat—juga kesalaha­ n-kesalahan
kekuasaan itu. Ketika di sebuah sore yang panas tahun itu, di
depan para mahasiswa yang menduduki kompleks DPR, saya
ber­bicara dengan gugup bahwa turunnya Soeharto adalah pra-
syarat bagi reformasi, alasan itulah yang ada di balik kepala saya.
Agaknya juga di hati para demonstran.

Reformasi dipekikkan karena kita ingin menyelamatkan­Re-
publik dari serangkaian institusi yang pura-pura, dari sebuah tata

224 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka RAMALAN

yang identik dengan takhta. Sebab itu reformasi adalah untuk
membangun stabilitas.

Zakaria menulis bahwa setelah 1998 yang muncul di Indone-
sia adalah sebuah ketidakstabilan. Harus dicatat: ia menulis sebe-
lum tahun 2003—dan tentu tak menyaksikan apa yang terjadi
pada tahun 2004. Melihat pemilihan 2004, saya mulai tak per-
caya bahwa Indonesia bukan ”calon ideal demokrasi.”

Zakaria memang punya alasan kenapa ia tak melihat demo­
krasi Indonesia akan berhasil. Ada tiga.

Pertama, dari semua negeri Asia Timur, Indonesia paling ber-
gantung pada sumber alam. Sebab itu negeri ini tak gampang ter­
desak untuk membuka pintu ekonominya kepada tuntutan luar.
Alasan ini bisa benar seandainya Zakaria menyamakan Indone-
sia dengan Arab Saudi, atau berbicara tentang tahun 1980-an, ke-
tika pendapatan minyak negara begitu domi­nan dalam ekonomi
Indonesia. Tapi bukankah setelah minyak tak lagi ”brol”, setelah
proteksionisme hanya membuat ekonomi boros dan korup, Indo-
nesia pun masuk ke dalam kegandrungan deregulasi dan pintu
yang terbuka ke ekonomi global?

Kedua, Indonesia tak punya cukup lembaga politik yang pu-
nya legitimasi. Zakaria benar, tapi jalan berpikirnya terputar: le-
gitimasi itu justru hanya bisa dibangun dari demokrasi.­

Ketiga, mustahil mencoba demokratisasi pada taraf pen­da­
patan per kepala yang rendah, sekitar US$ 2.650. Eksperimen
itu tak akan lama umurnya, katanya, mungkin sekitar 18 tahun.
Tentang ini, kita tak tahu: terlalu pagi untuk menilai benarkah
aritmetik demokrasi itu.

Lagi pula tidakkah demokrasi bisa menguat bersama naik­
nya kekayaan penduduk dan bisa berkembang bersama mekar­nya
harapan untuk sejahtera?

Mungkin Zakaria akan berkata, ”Ah, saya ragu.”
Nun jauh di sana, di tengah genderang perang Bush yang me-

Catatan Pinggir 7 225

http://facebook.com/indonesiapustaka RAMALAN

mandang dunia Islam dengan waswas, memang mudah untuk
memandang negeri muslim terbesar ini dengan ragu. ”Sistem
politik yang baru terbuka [di Indonesia]... telah menghamburkan­
ke luar kaum fundamentalis Islam,” tulis Zakaria. ”Di sebuah
negeri yang tak punya bahasa politik yang memadai, [orang]
mengutarakan sebuah wacana yang sangat dikenal—wacana ke-
agamaan.”

Pemilu 1999, Pemilu 2004: rasanya orang Indonesia telah
membuktikan diri punya cerita yang lebih ramai dan bermutu
ke­timbang mimpi buruk Amerika. Meskipun kini masih terlalu­
dini untuk tahu, benarkah saya berharap, atau menggantang
asap.

Tempo, 18 Juli 2004

226 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KARNAVAL

ADA negeri yang berubah dari karnaval jadi pentas, dan
ada yang dari pentas jadi karnaval. Saya cemas untuk
hidup­di salah satu di antaranya.
Karnaval kini telah jadi sebuah konsep, yang tiap kali diu­ cap­
kan akan menyebabkan kita menengok ke gambaran­yang disaji­
kan Mikhail Bakhtin. Pemikir dan teoretikus kebudaya­an­dari
Rusia ini selalu membersitkan antusiasme jika ia ber­bicara­ten-
tang hal yang jadi pokok tesisnya ini.

”Karnaval,” tulis Bakhtin, ”tak mengenal lampu sorot.” De-
ngan kata lain, ia tak membedakan mana yang aktor dan mana
yang penonton. Ia bukan pentas. Ia bukan pertunjukan.­Sebab­
da­lam karnaval, tiap orang ikut serta. Karnaval merangkum­se­
muanya. Selama ia berlangsung, tak ada kehidupan di luar­nya.
”Selama masa karnaval, hidup tunduk kepada hukum­karnaval
itu,” kata Bakhtin, dan itu adalah ”dalil kemerdekaannya sendi­
ri.” Ada semangat ”universal”, yang berlaku untuk siapa saja, di
mana berlangsung ”kehidupan kembali dan pembaruan kembali
dunia, yang diikuti semua.”

Sangat memikat, kedengarannya—juga bila imajinasi ten-
tang karnaval diterapkan ke dunia politik. Di sana kita bisa mene­
mukan yang mirip dengan ”rame-rame patah cengke”, sebuah
ekspresi yang bagus yang diambil dari sebuah nyanyian Maluku
yang telah agak dilupakan.

Tapi lebih dari sekadar ”rame-rame”, ada sesuatu yang lebih­
berarti dalam karnaval sebagai paradigma: dalam proses itu, yang
lumer bukan saja batas yang biasa memisahkan pentas dari pe-
nonton, tapi juga batas yang final tentang apa pun. Pangk­ at, pri-
vilese, norma, larangan, semua diabaikan. Karnaval ”tak bersa-
habat dengan semua yang dikekalkan dan dilengkapkan,” kata

Catatan Pinggir 7 227

http://facebook.com/indonesiapustaka K A RN AVA L

Bakhtin.
Dengan itu bisa kita bayangkan euforia penuh dari rakyat, pa­

ra demos yang berkeringat, dengan bau yang beragam dan gerak
seenaknya berjingkrakan. Sama rata, sama rasa.

Sangat memikat, tapi bisakah kita hidup dalam sebuah negeri­
yang seperti itu? Tidak, saya akan menjawab. Tidak, ham­pir se­
mua pemilih dalam Pemilu 2004 akan menjawab. Sebab bagi me­
reka, demokrasi justru sebuah usaha untuk men­ emu­kan yang sta-
bil: sebuah pemerintah yang didukung luas dan yang menjaga
hukum.

Tapi memang ada yang kurang bergairah bila kita bayang-
kan sebuah kehidupan politik yang bagaikan pentas—tentu saja
dalam bentuk sebuah panggung di gedung teater gaya baroque
di sebuah kota Eropa yang tua. Para aktor menjalankan peran
yang sudah ditetapkan. Mereka mengucapkan kata-kata yang
sud­ ah ditulis. Kita pun tak bisa berteriak, sebelum layar turun,
agar tokoh yang buruk turun saja. Dalam pelbagai bentuknya,
kehidupan politik seperti itu pada akhirnya bertumpu pada ben-
tuk, pada prosedur formal—nun di seberang prosenium, tempat
lampu sorot menentukan mana yang sedang jadi fokus dan mana
yang berdiri di latar belakang.

Bakhtin, yang lulus dari Universitas St. Petersburg pada tahun
1918, memulai kariernya sebagai teoretikus bahasa dan penelaah
sastra dalam masa Stalin berkuasa. Dengan kata lain, ketika re­
vo­lusi yang meletus pada tahun 1917 sudah digantikan elannya
oleh sebuah birokrasi yang mantap dan langkah yang berderap
dikendalikan Partai. Dalam kontrol itu, di bawah kaca sorot sen-
sor, Bakhtin menulis tesis-tesisnya dengan nama lain. Itu pun tak
menyelamatkannya, akhirnya. Pada tahun 1929 ia ditangkap dan
dibuang ke wilayah Kazakh.

Dari sini agaknya kita tahu betapa karnaval—dan bukan pa-
rade—merupakan model yang dirindukannya. Tapi dari sini bu-

228 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka K A RN AVA L

kan hanya ketertiban Stalinis yang dinafikan. Di luar Soviet,­ter-
utama justru setelah Bakhtin meninggal pada tahun 1975, datang
para pengagum, khususnya mereka yang mempertanyakan kem-
bali pola kehidupan modern, dengan label ”pasca-modernis” atau
tidak. Hidup di bagian dunia di mana ”negara” adalah tauladan
kerapian tersendiri, di mana proses demokrasi hanya menghasil­
kan­kompromi yang selalu memilih ”jalan-tengah”, politik seba­
gai buah modernitas seakan-akan membenarkan ramalan Max
We­ber yang termasyhur: sebuah ”kandang besi”.

Zygmunt Bauman menulis Modernity and Ambivalence dan
menunjukkan betapa mengungkungnya kehidupan politik­mo­
dern.­”Perilaku yang menunjukkan ciri modern,” tulis Bauman,
”substansi politik modern, intelek modern, kehidupan modern,
adalah ikhtiar untuk menghabisi ambivalensi: sebuah ikhtiar un-
tuk memberikan definisi yang persis—dan menekan serta meng-
hapus setiap hal yang tak dapat dan tak hendak di­definisikan se-
cara persis. Perilaku modern bukanlah ditujukan untuk menak­
lukkan tanah asing, tapi mengisi titik-titik kosong dalam com­
pleat mappa mundi.”

Siapa yang sering mengikuti kritik kepada modernitas­akan
menganggap analisis Bauman mulai usang, dan seperti­acap­­kali
terjadi di kalangan ”pasca-modernis”, ia tergoda oleh hiper­b­ ol.
Dalam arti yang sama, karnaval ala Bakhtin adalah juga sebuah
hiperbol. Atau lebih tepat barangkali: sebuah utopia.­Seperti la­
yakn­ ya setiap gambaran yang utopistis, perann­ ya adalah sebagai
penampikan. Juga, sebagai awal pencarian piliha­ n-pilihan lain
yang baru.

Tapi memang di setiap periode, ada saat-saat di mana diperlu­
kan sebuah karnaval. Politik, sementara tetap berada sebagai pen-
tas, beberapa saat perlu berubah menjadi ketoprak humor—se-
buah bentuk baru dari teater yang formal dan tak mengejutkan
lagi. Dalam ketoprak humor, yang tampak menggelikan adalah

Catatan Pinggir 7 229

http://facebook.com/indonesiapustaka K A RN AVA L

justru mereka yang saat itu begitu bersungguh-sungguh dan tak
henti-hentinya ingin ”berarti”.

Itulah yang terjadi dalam acuan Stalinis. Itu pula yang terjadi
dalam acuan ”Orde Baru”. Maka demokrasi penting: ia bukan
se­buah kisah para pahlawan dalam perang yang panjang, yang
ber­lengan besar dan tak bisa menertawai dunia dan diri sendiri.
Mungk­ in sebab itu karnaval menawarkan keta­wa—ketawa yang
tak mencemooh orang lain agar bisa merasa diri lebih tinggi.

Tempo, 25 Juli 2004

230 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka DARAH

SERING saya ingat anak-anak yang bernyanyi di halaman
sebuah sekolah yang tak jauh dari danau. Pagi itu bersih.
Lagu itu sudah biasa saya dengar di mana-mana, tapi pada
saat macam itu terasa menggetarkan, mungkin karena tempat
di dekat Danau Tamblingan itu sunyi, di ujung hutan, rindang
oleh pohon yang lebat dan rimbun seperti rahasia. Atau mungkin
karena di sudut itu, saya sempat merenung.

Melodi itu bersahaja dan kata-kata itu bukan puisi yang ce-
merlang. Tanah airku, demikian paduan suara itu terdengar, tak
bisa kulupakan, juga dalam pengembaraan yang jauh.

Dari sekolah dusun itu mungkin tak ada anak yang pernah
jauh berjalan. Tapi agaknya mereka bisa membayangkan, dari ke­
teduhan Bali Utara itu, bahwa ada sebuah negeri yang senantiasa
melekat pada diri—sebuah negeri yang bukan hanya­sebuah tem-
pat di peta bumi.

Ada sebentuk nyanyian lain yang dilagukan hampir setiap
orang Indonesia sejak kecil. Di sana disebut negeri ini sebagai­
”tempat lahir”, ”tempat berlindung di hari tua”, dan ”tempat
akhir­menutup mata”. Tapi kita tahu ”tempat” di kalimat itu juga
berarti tanah ”tumpah darah”.

”Darah” selalu menerbitkan imaji yang dramatis, apalagi­da-
rah yang ”tumpah”. Kata itu dekat dengan nyawa dan tubuh.­
”Dar­ah” yang tumpah berasosiasi dengan luka, sengsara,­risiko,
bahaya, dan sengketa.

Ada beda antara sebuah negeri sebagai sebuah ”tempat” dan­
sebuah negeri sebagai sebuah pengalaman khusus yang me­libat­
kan ”nyawa”, ”tubuh”, ”luka”, ”bahaya”, dan ”sengketa”. Dari
per­bedaan itu kita akan lebih mengerti mengapa sebuah negeri
bisa begitu berarti bagi diri kita. Sebab politik, dalam arti pros-

Catatan Pinggir 7 231

http://facebook.com/indonesiapustaka DARAH

es, prosedur, dan prasarana mengatur kehidupan bersama di se-
buah negeri, tak selamanya hanya bersangkutan dengan negosiasi
di sekitar ruang dan bahan (”tanah” dan ”air”), tapi juga dengan
trauma.

Hampir semua negeri mempunyai trauma, meskipun tak sela-
manya diakui atau diingat lagi. Yang sulit melupakannya adalah
orang Indonesia, Spanyol, atau Afrika Selatan. Mereka,­ lebih
dari orang Singapura atau Abu Dhabi, akan mengerti mengapa
sebuah negeri disebut ”tumpah darah”. Tanah itu sebuah arena
publik yang pernah mengalami luka dan melihat diri sendiri tak
bisa diterangkan bahkan oleh seorang Habermas.

Dengan darah yang pernah tumpah kemarin, bagaimana kita
bayangkan arena publik ini sebagai ”demokrasi rembukan” (de­
liberative democracy) yang menggunakan nalar untuk mencapai
kemufakatan? Demokrasi Habermas hanya akan tampak seperti
sebuah ruang sidang yang bersih dan rapi, jauh dari jalanan yang
dihambat lubang dan reruntukan. Dengan bekas luka yang ma-
sih nyeri, tiap rembukan akan dilihat seba­gai sekadar siasat. Tak
banyak orang percaya bahwa yang kuat dan korup membutuh-
kan rasionalitas. Posisi si lemah tak selamanya bisa diutarakan de-
ngan nalar. Negara tak selamanya bisa dipercaya.

Habermas menyadari ini dan menunjukkan peran civil society­
sebagai wali penjaga agar ”demokrasi rembukan” bisa berjalan
baik dan benar. Harus ada pelbagai perkumpulan masyarakat
yang menolak diatur oleh pasar dan dikungkung oleh Nega­ra.
Itul­ah inti civil society atau ”masyarakat madani”.

Tapi bisa yakinkah kita bahwa ”masyarakat madani” akan
bisa mendukung rasionalitas? Bisakah ia berada di posisi yang tak
akan berat sebelah ketika konflik terbit?

Terus terang, saya tak pandai memahami Habermas. Bagi sa­
ya ia begitu yakin akan terjadinya konsensus, berkat laku komu-
nikatif, berkat rasionalitas yang tak egosentris. Mungkin ia tak

232 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka DARAH

pernah membayangkan sebuah negeri sebagai ”tumpah darah”.
Dalam bahasanya, ”negeri [kelahiran]” memang berarti Vater­
land, ”tanah bapak”. Bukan ”tanah ibu”, bukan ”ibu pertiwi”
yang merasakan sakit dan cemas ketika si orok dilahirkan.

Dengan metafor ”bapak”, yang terbayang adalah rasa terlin­
dung, tanpa kekhawatiran. Dengan bayangan ”bapak”, seng­k­ e­
ta insya Allah akan dikelola hingga terpecahkan. Bahkan­konflik­
hanya akan tampak sebagai lintasan peristiwa di luar proses, se­
macam aksiden di arena publik.

Tapi mungkin karena Habermas hidup di Eropa, tempat poli-
tik dan demokrasi begitu rapi dan mudah ditebak hingga terasa­
kehilangan élan. Di Indonesia, saya selalu ingat akan ”darah”
yang ”tumpah” dalam kelahiran, perjalanan, dan kematian. Di
sini orang hidup dengan risiko, bahaya, sengsara, tapi juga gairah
dan pathos. Di sini konflik bukanlah sesuatu di luar proses, bukan
”kecelakaan”.

Maka orang pun bermimpi tinggi tapi juga kecewa berat.­Tapi
tidakkah dengan begitu demokrasi penting? Saya men­coba­bi-
lang ”ya” dan jadi pragmatis. Richard Rorty mengatak­ an bahwa
agenda dan laku politik adalah persoalan ”pembaruan yang prag-
matis, jangka pendek, dan kompromi”. Bagaimana dengan mim-
pi dan gelora hati? ”Saya akan menyimpan radikal­isme dan pathos
untuk saat-saat privat,” kata Rorty, tapi akan ”tetap jadi reformis
dan pragmatis bila saya harus berurusan dengan orang lain.”

Persoalannya, bagaimana membatasi saat yang privat dengan­
komitmen politik, di sebuah masyarakat di mana teror dan pe­
ngekangan bisa merasuk ke dalam lubuk pikiran yang sendiri.
Demokrasi memang sebuah proses politik dengan ker­endah­
an­hati. Demokrasi ada karena kita tahu betapa terbatasn­ ya diri,
hingga keputusan jangka pendek dan kompromi pun jadi pilihan
yang arif.

Tapi apakah itu berarti kita tak perlu mengakui ada hal-hal­

Catatan Pinggir 7 233

http://facebook.com/indonesiapustaka DARAH

yang sebenarnya tak terselesaikan, misalnya ”keadilan”—dan se-
bab itu keputusan jangka pendek dan kompromi selalu mengan­
dung­cacat? Tidakkah kita harus selalu ingat bahwa ada hal-hal
yang retak dan runtuh dan darah yang mungkin tumpah­ketika
konsensus dibulatkan?

Saya dengarkan terus nyanyian di tepi hutan itu. Mungkin
saya salah. Mungkin di dalamnya ada kata ”terkenang sayu”.

Tempo, 1 Agustus 2004

234 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAKSI

DEMOKRASI bisa berangkat dari keramaian, tapi juga
bisa dari kesunyian. Ketika orang Yunani berbicara ten-
tang demos, yang dibayangkan adalah sesuatu yang ja-
mak, se­bagai­mana halnya kata ”rakyat” tak pernah sebuah kon­
sep­tentang makhluk yang tunggal. Maka orang pun selalu me­
ngai­tkan demokrasi dengan orang ramai, acap kali riuh-ren-
dah—tak jauh dari kata ”demonstrasi”.

Tapi ada yang salah rasanya ketika pemilihan umum disebut
sebagai ”pesta demokrasi”. Pesta adalah kemeriahan, acap kali ka­
rena ada sesuatu yang telah dicapai, acap kali dengan sikap melu-
pakan ihwal yang berat dan pedih. Pemilihan umum, sebaliknya,
jauh dari lupa dan kegirangan berprestasi.

Tapi kita ingat bahwa ”pesta demokrasi” adalah metafora un-
tuk pemilihan umum yang diciptakan pada masa ”Orde Baru”—
sebuah masa ketika kompetisi kekuasaan telah dipermak jadi se-
perti parade ondel-ondel: suatu kemeriahan yang tak teramat
serius, dengan topeng-topeng besar yang itu-itu juga, yang ber-
jalan tapi tak bisa banyak gerak. Meskipun tetap menarik karena
ramai-ramai.

Dan kita tahu, dalam sebuah rezim yang mengutamakan ke-
amanan dan ketertiban, ramai-ramai itu diharapkan seperti re­
sep­si perkawinan kelas atas di Jakarta: tak ada humor, tak ada
spontanitas, yang ada hanyalah jumlah, formalitas, pameran
orang mampu.

Maka dari metafora seperti itu kita sering lupa bahwa salah
satu momen penting dalam kehidupan demokrasi bukanlah ra-
mai-ramai, juga bukan macam tontonan topeng yang tak bervari-
asi. Pada saat pemilihan umum, justru yang sebaliknya yang ter-
jadi: kesendirian, mungkin kesunyian. Di depan kotak suara, saya

Catatan Pinggir 7 235

http://facebook.com/indonesiapustaka SAKSI

tak bisa meminta bantuan teman dan keluarga saya. Saya juga tak
bisa digantikan—meskipun akhirnya saya hanya akan diperlaku-
kan sebagai angka. Pada saat itu saya tak bisa untuk tak merdeka,
sebab memilih apa pun adalah laku kemerdekaan—juga ketika
memilih untuk tak memilih. Di ruang tertutup di TPS, yang ter-
dengar adalah diktum: ”Manusia dihukum untuk merdeka”.

Tapi ”merdeka” dalam diktum Sartre yang termasyhur itu­tak
menggambarkan seluruh situasi. Pada tahun 1950-an ucap­an itu
merupakan bagian dari keyakinan humanisme se­orang ”eksisten-
sialis”—keyakinan bahwa Tuhan telah mati, dan manusia berdiri
sendiri, tanpa hakikat atau esensi yang dit­entukan sebelum ia
ada. Dalam keadaan tanpa esensi itu, manusia­membentuk diri­
nya sendiri. Tanpa esensi, yang ada adalah eksistensi. Ia bagaikan
seorang anak yatim piatu yang tak putus-putusnya berikhtiar.
Ada yang heroik dalam citra itu—dengan sebersit gundah-gula-
na, l’angoisse.

Tapi l’angoisse dalam filsafat kemerdekaan Sartre tak membuat­
manusia menemui dunia, atau hal-ihwal di luar kesadaran­nya,
dengan takjub tapi rela. Ia malah menghimpun tekad, mengukur
kekuatan.

Mungkin tradisi humanisme yang membuat Sartre melihat­
hu­bungan manusia dengan dunia sebagai hubungan yang ber­
tolak­dari posisi ”subyek”. Dari posisi itu, seperti yang ada dalam
pemikiran Descartes, kehadiran ”yang-lain” di luar kesadaran
bersifat tentatif. Tatap-menatap antar-”subyek” pun mer­upakan
ket­egangan: tatapan adalah mempersoalkan. Kita ingat apa yang
dikatakan seorang tokoh dalam lakon Sartre­yang terkenal, Pintu
Tertutup, yang dipentaskan Akademi Teater Nasional di Jakarta
pada 1956: ”Neraka adalah orang lain”.

Memang Sartre bisa menyambut kesadaran sebagai ”kami”,
ter­utama ketika ia mencoba menerima Marxisme dan bersuar­a
sebagai aktivis politik. Tapi ”kami”-nya tak lain dari ”aku” dalam

236 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAKSI

bentuk jamak. Ia tak mengenal ”kita”. Pada mula dan akhirnya
adalah subyek, yang kukuh biarpun gundah.

Dalam keadaan seperti itu, kukuh, manusia tampil terpisah
sebagai pusat semesta. Ia tak mengenal saat-saat terkesima oleh
Hidup, gentar, tersentuh, terpaut, akrab tapi hormat dalam Hi­
dup.­ Ia tak memandang dirinya, seperti dikatakan Heidegger
dalam kritiknya kepada Sartre, sebagai ”gembala Ada”, bukan
”penguasa Ada”, bukan sang Tiran yang berkenan memasang ke-
hidupan sebagai ”obyek”.

”Gembala” mungkin kiasan yang kurang tepat, sebab se­orang
gembala adalah juga seorang pengarah jalan, sosok yang lebih
”tahu”. Saya cenderung mengatakan manusia adalah saksi.

Sebab ia memang tak putus-putusnya memberikan kesaksia­ n,
tentang Hidup, tentang Ada, dan mungkin tentang kea­­ ngkuh­an
atau kegundah-gulanaan diri dan sesamanya. Kesaksia­ n bukan-
lah menyatakan sesuatu dengan bukti yang bisa di­verifi­kasi. Ke-
saksian bukanlah perkara ”pengetahuan”. Kesaksian, seperti di-
katakan Derrida, justru akan kehilangan­nilainya­sebagai kesak-
sian jika ia bertelekan pada bukti, atau bertolak dari harapan bah-
wa sang saksi tahu persis, benar mutlak. Yang terpenting dalam
hal seorang saksi ialah bahwa ia telah menyaksikan, dan ia me-
minta agar dipercaya. Ia bisa salah, tapi ia tak tergantikan. Seperti
tersirat dalam sebuah sajak Paul Celan:

Tak seorang pun
bersaksi untuk
sang saksi.
Bila ketiga baris itu (yang ditafsirkan oleh Derrida dengan
agak berputar-putar) mengimbau agar kita mengingat akan ga-
watnya posisi manusia sebagai saksi, dengan sajak itu kita akan
mem­ andang kemerdekaan manusia secara lain. Ketika manusia

Catatan Pinggir 7 237

http://facebook.com/indonesiapustaka SAKSI

bertindak sebagai makhluk yang merdeka, ia bukan penakluk. Ia
tahu apa artinya dipercaya, dan ia tahu ia sebuah risiko.

Dalam posisi itulah ia berdiri di depan kotak suara, di kamar
TPS yang tertutup, sendirian. Ia merdeka, tapi ia memandang­
dirin­ ya sebagai seorang yang memberi mandat, dan dengan de­
mikian ia seorang saksi, kini dan nanti. Ia juga memandang diri
orang yang dipilihnya tak jauh dari dirinya: seorang yang akan
bertugas, dan bukan penakluk, tahu apa artinya dipercaya, dan
tahu bahwa dirinya bukanlah jaminan, tapi sebuah bahan harap­
an.

Tempo, 8 Agustus 2004

238 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PROKLAMASI

PADA suatu malam di bulan Januari 1976, di Irlandia­
Utara, sebuah minibus disetop seregu orang bertopeng
dan bersenjata. Para penumpangnya, buruh yang baru
pul­ang dari pabrik, tahu bahwa sesuatu yang mengerikan akan
terjadi. Di negeri itu berlangsung saling bunuh antara milisi­
Katolik dan milisi Protestan, dan pembantaian pun akhirnya
menghantam siapa saja—juga rombongan buruh itu.

Mereka dipaksa turun dari minibus. Di tepi jalan, satu demi
satu mereka dideretkan berdiri berjajar. Para algojo sudah siap, se-
napan otomatis telah dikokang.

Salah seorang dari orang bertopeng itu pun berkata, ”Siapa
yang Katolik, maju ke depan.”

Kebetulan para buruh itu semuanya Protestan, kecuali satu
orang. Dengan ketakutan, orang ini mengikuti perintah. Tapi di
malam gelap itu, sejenak, selintas, rekannya yang berdiri di se-
belahnya memegang tangannya, seperti memberinya isyarat agar
jangan, jangan ia menunjukkan diri, seakan-akan ia berkata,
”Kami semua tak akan mengkhianatimu, tak akan ada yang tahu
apa agamamu.”

Tapi orang itu sudah telanjur melangkah. Semua sudah meli-
hat. Langkah kecil itu, apa boleh buat, sudah sebuah proklamasi.
Ia pun maju menjemput Maut.

Tembakan terdengar. Tapi ia terkejut. Tak ada peluru yang
men­ genainya. Ternyata yang jadi sasaran pembantaian adalah
mer­eka yang di sana, yang tak melangkah ke depan, yang bukan
Katolik, termasuk rekan yang tadi mencoba memberinya­isyarat,
”jangan, jangan kamu menunjukkan diri”. Peluru menghajar, tu-
buh-tubuh itu roboh, tewas. Pembunuh bertopeng itu ternyata
bukan milisi Protestan. Mereka gerilyawan Katolik.

Catatan Pinggir 7 239

http://facebook.com/indonesiapustaka PROKLAMASI

Insiden ini, yang benar-benar terjadi, dikisahkan oleh Seamus
Heaney, dalam pidatonya ketika sastrawan Irlandia itu menerima
Hadiah Nobel pada tahun 1995. Agaknya Heaney­hendak ber-
tanya bagaimana ia, seorang penyair pada zaman ini, berhadapan
dengan sejarah, yang bagi Heaney sama dengan­”rumah jagal”.

Tapi apa yang bisa dilakukan seorang penyair? Jawabannya
pasti berhubungan dengan kata—predikat, penanda, identifika-
si. Dari pembantaian di musim dingin itu kita bisa bertanya, ke-
napa gerangan orang perlu memilih definisi diri.

Katakanlah orang dalam cerita ini bernama Samuel. Sea­ ndai­
nya­saat tak begitu genting, mungkin ia akan sejenak berpikir,
apa sebenarnya arti proklamasi langkah kecil itu: apa arti predikat­
”Katolik” itu bagi dirinya? Imannya yang kadang-kadang tak
jelas? Keterpautannya dengan satu kaum semata-mata karena ia
dilahirkan di kancah kaum itu? Ataukah ”Katolik” di situ hanya
tanda seleksi, dan dengan demikian artinya ”bukan Protestan”,
karena peluru menghendaki sasaran yang persis? Ataukah itu ber­
arti Samuel seseorang yang serta-merta ”tak bersalah”?

Tak seorang pun bisa tahu mengapa manusia tak pernah­bisa
bebas dari impuls untuk meringkas arti yang berbeda-­beda itu
jadi sebuah identitas yang satu dan kompak. Sebuah cerita miste­
rius dalam Perjanjian Lama berkisah tentang dua sosok yang ber­
kelahi habis-habisan sepanjang malam. Tak ada­yang menang.
Adegan pun berakhir dengan memberikan­nama. ”Kaulah Isra-
el,” kata yang satu kepada yang lain, lawann­ ya. Seakan-akan, de-
ngan memberikan nama, sebuah titik­final dicapai, dan satu ta-
hap baru mulai. Nama memang bisa menghenti­kan ketidakpas-
tian dan kekaburan yang mer­un­dung­terus-menerus. Seperti hal-
nya KTP dan SIM, tanda res­mi­pencegah kekaburan.

Tapi setelah kekaburan hilang, belum tentu ada perdamaian.­­
Sebuah kata memang lahir dari kebersamaan: ketika para pem­
bun­ uh itu memakai kata ”Katolik”, mereka berasumsi­ bahwa

240 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PROKLAMASI

yang dimaksudkan dengan predikat itu (dari kata praedicare,
”men­ yatakan secara publik”) sama artinya bagi orang ramai, ter-
masuk para buruh yang dideretkan di tepi jalan itu. Di ambang
pintu kebengisan sekalipun, tiap kata tetap mengundang keper-
cayaan bahwa ada makna yang bisa didukung bersama-sama.

Tapi kita tak mungkin lupa, ia juga mengandung kekerasan.
Ada sebuah sajak Heaney yang dua barisnya mengingatkan hal
itu:

Between my finger and my thumb
The squat pen rests; snug as a gun.
Pena yang pendek kekar itu bersandar santai antara telunjuk
dan jempol, seperti pistol....
Ya, kata tak hanya dituliskan rupanya, tapi juga bisa ditem-
bakkan. Tentu saja harus diingat bahwa sebuah pistol bisa mem-
bunuh tapi juga bisa memberikan aba-aba untuk berlomba. Kata
dan makna seakan-akan berkaitan dengan luka dan lari. Sebuah
kata yang memasangkan identitas adalah ibarat sebuah jerat. Ke-
tika seseorang disebut atau menyebut diri ”Katolik”, atau ”Mus-
lim”, atau ”Yahudi”, ia masuk ke dalam sebuah kategori. Ia seper­
ti­macan terperangkap. Mungkin ia masih bisa melepaskan diri.
Tapi tiap predikat selalu punya bekas luka, meskipun ia terus ber-
lari sampai hilang pedih perih. Di tepi jalan di Irlandia Utara itu,
Samuel bergerak dari mati ke hidup. Ia selamat, tapi ia mening-
galkan teman-temannya yang dibantai.
Tentu bisa dikatakan bahwa kata dipakai dengan hasrat untuk
bicara ”benar”. Hari itu Samuel memang tak jadi bunglon untuk­
melindungi diri. Ia memilih jadi ”benar”: apa yang dikatakan
tentang dirinya cocok dengan dirinya.
Tapi bagaimana menguji kecocokan jika ”diri” itu hanya bisa
dihadirkan dalam bahasa? Bahasa selalu berlebihan tapi juga ter-

Catatan Pinggir 7 241


Click to View FlipBook Version