The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka PROKLAMASI

lalu sedikit ”menangkap” pengalaman yang terus-menerus meng­
alir, berubah, ruwet, silih berganti. Meskipun­demikian, bahasa
tak lantas dibuang, sebab dengan itu—dengan­nama, predikat,
identitas—manusia bisa merapikan penga­ laman, dan tak kalang-
kabut.

Bisa kita bayangkan ketika kata ”Katolik” terdengar pada ma­
lam yang dingin itu: seperti vonis. Tiap vonis menghentikan pro­
ses, memberi batas, tertutup seperti tembok. Pada saat yang sama,
juga sebuah pemisah. ”Siapa yang Katolik, maju ke depan!”—
dan dengan memaklumkan identitas, Samuel pun tak bersama
lagi dengan rekan-rekannya, yang ingin me­lindungi­nya dan tak
dapat dilindunginya.

Tempo, 15 Agustus 2004

242 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MAHARAJA

ADA sebuah dongeng Hans Christian Andersen yang se­
ring­ dikutip sepotong tapi kemudian dilupakan, ten-
tang seorang maharaja yang amat sibuk dengan satu cita-­
cita: berdandan bagus. Yang dipikirkannya hanya bagaimana
berkereta­sepanjang jalan, memperlihatkan pakaian model ter­
akhir.­

Syahdan, dua orang penipu datang menawari sang Maharaja­
seperangkat busana yang lain dari yang lain: terbuat dari kain
yang ditenun dari serat ajaib, begitu halus, hingga hanya dapat di­
lihat oleh mereka yang pintar dan yang layak berkedudukan.

Baginda pun terkesima. Ia berpikir, ”Bila kukenakan pakaia­ n
seperti itu, aku akan tahu siapa saja bawahanku yang tak cocok
menjabat, dan akan dapat kuketahui mana yang pintar dan mana
yang dungu.”

Kedua penipu itu pun mendapat order. Dengan cekatan me­re­
ka memasang alat tenun, dengan giat mereka bekerja. Dana ber­
limpah, tapi tentu saja alat tenun di sanggar itu kosong,­dan ke­­
sibukan mereka cuma pura-pura.

Sang Maharaja sebetulnya ingin datang untuk melihat bagai­
mana rupa bahan yang sedang disiapkan itu. Tapi ia gentar. Ba­
gaimana kalau ternyata tekstil ajaib itu tak tampak di matanya?
Ia akan mengetahui dirinya bodoh dan bukan orang yang layak
bertakhta.

Maka dikirimnya perdana menterinya ke sanggar itu un­tuk­­
mengecek, sambil menguji bagaimana sebenarnya mut­u­­pejabat­
ini. Sang PM pun datang. Kedua penipu itu me­nyambut­nya, dan
dengan petah-lidah menjelaskan betapa cemerlangnya warna nila
di tepi sana dan betapa masih kurang rapinya tenunan di bagian
sini. Sang PM tentu saja tak melihat­apa-apa, tapi ia menyatakan

Catatan Pinggir 7 243

http://facebook.com/indonesiapustaka MAHARAJA

kagum. Ia tak mau ketahuan bahwa­dirinya bodoh.
Hal yang sama terjadi tiap kali Maharaja mengirim utusan.
Syahdan, akhirnya Baginda sendiri bertamu ke sanggar itu.

Tent­u saja ia tak melihat apa-apa. Tapi ia bimbang: jangan-j­angan­
hanya ia sendiri yang tak bisa menikmati kain yang konon­indah
tersebut. Maka, seperti yang lain-lain, ia tak mau mengaku.

Akhirnya, kabar tersiar ke seluruh negeri tentang kain yang
luar biasa itu. Baginda pun bersiap berpawai, dan kedua penipu­
itu dengan khidmat memasangkan busana yang tak ada itu ke tu-
buh Maharaja.

Dengan semarak parade berlangsung. Sang Maharaja telan-
jang bulat, tentu, tapi dengan anggunnya tegak di atas kereta, dan
seluruh khalayak kagum, ”Alangkah cemerlangnya busana beliau
kali ini!” Mereka bertepuk. Hanya seorang anak kecil yang de-
ngan polos mengatakan, ”Hai, Baginda telanjang!”

Di seluruh dunia orang mengutip adegan ini untuk jadi alego-
ri tentang kekuasaan yang memperdaya semua orang dan tentang
kebenaran yang hanya bisa diutarakan oleh yang tak berdosa. Ta­
pi sebenarnya Andersen, seorang pendongeng ulung, membiar-
kan kisahnya tak selesai.

Ia memang bercerita bahwa, setelah mendengar ujar si anak
ke­cil, orang ramai pun sadar. Mereka berteriak, ”Baginda­telan-
jang!” Sang Raja dan para pembesarnya mendengar. Tapi ia de-
ngan cepat memutuskan agar pura-pura besar itu tak batal.­Pawai
terus. Baginda tetap tegak, anggun....

Di sini Andersen berhenti, dan kita bisa melanjutkan. Mung-
kin Baginda berpikir: jika ia terus bersikap seakan-akan ia berbu­
sana, jangan-jangan mereka yang berteriak itu yang akan jadi
ragu akan benarnya penglihatan mereka. Sebab­apakah­kebenar­
an, sebenarnya? Andersen menuliskan dongeng­ini pada tahun
1837. Abad lain yang menjawab, juga abad ini. Tapi mulanya
adalah tahun 1930.

244 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MAHARAJA

Waktu itu rakyat Jerman mendukung Nazi. Goebels, sang
menteri propaganda, menyimpulkan bahwa jika dusta diulang-
ulang, ia akan jadi kebenaran. Pada 1936-38 Stalin menghukum
mati kawan-kawan separtai. Mereka tak bersalah, tapi toh mere­
ka siap mengaku bahwa tuduhan Stalin tentang kejahatan mere­
ka ”benar”.

Jagat pemikiran pun guncang. Orang akhirnya menyimpul­
kan, sebuah tesis dianggap benar karena hubungan kepentinga­ n
dan kekuasaan. Sampai hari ini: Presiden Bush mengu­ bah­alasan­
nya menduduki Irak dan jutaan orang Amerika menga­­ nggap itu
benar, meskipun alasan semula—Saddam menyiap­kan senjata
nuklir—terbukti salah dan Bush tampak telanjang.

Dongeng Andersen jadi cerita masa kini, karena di sana kekua-
saan tak hanya bermula dari laras bedil, tapi dari kata. Para pe-
nipu telah menggunakan kata dengan efektif, seperti iklan televi-
si yang disusun tepat dan disiarkan luas berulang kali.

Tapi tentu saja kata-kata tak bekerja sepihak. Seandainya sang
Raja percaya diri—atau percaya akan hubungan baik antara­mata
dan otaknya—kata yang ampuh sekalipun akan boyak, tanp­ a­
dampak. Namun Andersen datang dari sebuah zaman ketika­ra-
sionalisme sedang menggugat tubuh, termasuk mata, kuping,
dan kemaluan, hingga sang pendongeng terusik. Maka dicemo­
ohnya mereka yang meragukan kemampuan badan dan intuisi
mereka sendiri untuk menangkap kebenaran.

Mungkin karena tak ada lagi kebenaran yang pasti. Dalam
do­ngeng itu, penipu, perdana menteri, raja, orang ramai, saling­
meneguhkan bahwa kebenaran akhirnya keputusan tentang ke-
nyataan. Keputusan itulah yang membentuk kenyataan, yang
membuat yang tak ada menjadi ada. Dengan kata lain: merekalah
sebuah subyek yang penuh dengan kehendak meng­ubah dunia.
Sampai akhirnya ada suara si bocah.

Si bocah adalah pra-subyek: ia belum jadi pusat yang me­

Catatan Pinggir 7 245

http://facebook.com/indonesiapustaka MAHARAJA

ngukuh­kan kontrol dirinya atas dunia—ia membiarkan dunia
yang dilihatnya di tengah jalan tanpa dibingkai tegar. Ia biarkan
dunia yang dilihatnya seakan-akan menari, berbeda tiap kali.

Anak adalah keterbukaan. Dalam Le Petit Prince karya An-
toine de Saint-Exupéry, hanya si anak yang dapat melihat sebuah
gambar siluet bukan gambar sebuah topi, melainkan gajah­yang
ditelan ular sawah. Bagi mereka, kebenaran bukanlah hasil men-
cocokkan dunia dengan akal dalam diri, bukan adaequatio intel­
lectus ad rem. Kebenaran adalah sebuah peristiwa yang sederhana
tapi menakjubkan: ”Hai, Baginda telanjang.” Si bocah mungkin
melihat itu mengasyikkan. Ia belum ingin mengubah dunia.

Tempo, 22 Agustus 2004

246 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KYNISME

SEPASANG sosok pemimpin. Sebuah lagu nasional. Latar­­
yang molek, anak-anak yang sehat, bendera yang berk­ i­
bar.... Iklan, apalagi iklan untuk kampanye presiden, ada­
lah cerita yang tahu bahwa yang tampil hanya impian, dan sebab
itu tak usah dipercaya—tapi sebenarnya juga sebuah mesin pem-
buat kepercayaan.

Paradoks iklan mirip slinder doa dari Tibet. Benda ini bisa
ber­putar seperti gasing di atas tangkai, dan dengan itu kita bisa
berdoa.

Begini caranya. Mula-mula tuliskan doa Anda pada secarik
kertas. Gulung kertas itu, lalu letakkanlah di dalam slinder itu,­
kemudian putar dia. Anda kemudian boleh melamun tentang apa
saja, misalnya tentang Richard Gere, tapi pada saat itu Anda ber-
doa, karena di slinder itu doa Anda telah berjalan....

Tentu saja Anda tahu, putaran kertas itu bukan menuju ke arah
Sang Pengabul. Pikiran Anda tak mempercayai bahwa doa bisa
dijalankan oleh sebuah alat. Tapi laku Anda mempercayainya.­
Bukan, Anda bukan bingung atau terbelah. Tak ada yang ganjil­
di sini.

Sebab kita melakukannya sehari-hari: dari membeli sampo­
sampai dengan mengirim anak ke sekolah, dari naik haji sampai­
dengan menggunakan jasa bank, dari membuat pesta­ per­ka­
winan sampai dengan memilih wakil rakyat di DPR. Siapa bilang
akal kita, juga hati kita, yakin bahwa pesta kawin menyenang-
kan orang, sekolah akan membuat anak bertambah pintar, dan di
DPR keinginan rakyat sama dengan keinginan wakilnya?

Kita hidup dalam zaman yang dikuasai oleh ”Akal Yang Si-
nis” (der Zynischen Vernunft), kata Peter Sloterdijk, dengan­agak
dramatik. Pemikir Jerman mutakhir ini mencoba men­ unjukkan

Catatan Pinggir 7 247

http://facebook.com/indonesiapustaka KYNISME

bahwa ungkapan Marx atas ideologi kini sudah tak berlaku lagi.
Ideologi, menurut Marx, ialah ketika ”orang tak tahu itu, tapi
orang toh melakukan itu.” Ideologi adalah ”kesadar­an palsu”.
Tapi itu pada abad ke-19. Pada zaman kini, dengan iklan dan re-
torika, sebuah kesadaran palsu yang berbeda pun beredar: orang
datang ke kantor polisi melapor bahwa­ia kecuri­an, sementara
tahu betul itu tak akan menyebabkan si pencuri tertangkap dan
barang yang hilang didapatkan kembali. Dengan singkat, ”mere­
ka tahu betul akan hal itu, tapi mereka mengerjakannya juga”.
Dan itulah ”sinisme”.

Maka bagi Sloterdijk, kritik kaum Marxis terhadap ideologi­
tak mempan lagi. Kritik Marxis bermaksud membuka kedok,
misalnya bahwa kepercayaan agama atau cita-cita demokrasi
politik sebetulnya hanyalah hasil kepentingan sebuah kelas. Tapi
pada masa pasca-Marxis, topeng itu sudah diketahui sebagai to-
peng. Mau diapakan? Akal yang sinis adalah sebuah ”kesadaran
palsu” tapi yang ”tercerahkan” (aufgeklärt). Dengan kata lain, ke-
palsuan itu kita akui. Kita tahu yang disebut ”keadilan” dan ”ke-
benaran” itu sebenarnya sesuatu yang menyembunyikan kepen­
tinga­ n mereka yang beruang atau berkuasa—tapi seakan-akan
secara otomatis orang tetap menghadap bapak hakim, menyewa
pengacara, dan mau menanti berhari-hari.

Analisa Sloterdijk dapat mengena untuk menggambarkan
pro­ses peradilan di Indonesia kini, tapi ia sebetulnya berbicara­
tentang mereka yang hidup di negeri yang rapi dan mapan. Yang
menarik: kerapian dan kemapanan itu terkait dengan rasa lelah,
ennui. Sebab masyarakat tak kaget lagi dengan politik, ketika niat
dan janji akan perbaikan sudah jadi rutin, dan kekecewaan telah
jadi akrab.

Dengan kata lain ketika demokrasi liberal sudah mirip, dalam
kiasan Baudrillard, ”menopause”. Di masyarakat yang masih la­
par akan harap seperti Indonesia, yang masih hangat dengan ke-

248 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KYNISME

percayaan bahwa zaman baru akan datang dan lembaga yang
mandek akan disegarkan, tersirat sebuah sikap yang naif tapi
membuat gelora hidup. Lama-kelamaan bisakah kenaifan itu
bertahan?

Jika kita saksikan ennui yang digambarkan Sloterdijk,­jawab­­
nya adalah ”tidak”. Kesadaran palsu, tapi yang tercerahkan,­akan
datang melalui informasi dan pendidikan—sebuah ”pendidik­
an dalam disilusi”. Orang tahu bahwa akhirn­ ya, seperti disebut
dalam Opera Tiga Gobang Bertolt Brecht, tak banyak bedanya an-
tara ”merampok bank” dan ”membuka usaha bank”. Orang akan
tahu bagaimana sebenarnya hidup diputar-putar, tapi tak tahu
bagaimana menampiknya.

Hanya hasrat untuk hidup terus yang mendorong orang buat
menerima hubungan dan lembaga yang sudah ada, hal-hal yang
sebetulnya nilainya meragukan. Dengan kata lain, ilusi diperlu-
kan, dan ”kebenaran” mungkin hanya kesepakata­ n sosial dalam
berkhayal. Lihatlah mata uang. Kita tahu kertas itu dengan gam-
pang dapat kita robek dan bakar, tapi kita menerimanya sebagai
sesuatu yang senilai dengan jerih payah kita. Jerih payah kita pun
sudah disunglap, menjadi sesuatu yang bukan lagi pikiran dan
keringat, melainkan sesuatu yang nyaris abstrak, dapat diukur
dan dipertukarkan—misalnya dengan sekotak cokelat.

Tentu saja, ilusi tak dapat selama-lamanya mencengkeram,
betapapun kita membutuhkannya. Tak jarang orang akan mela­
wannya dan menertawainya. Dalam perlawan­an itu, dalam ke­ta­
wa, dan dalam sikap menampik, kita—kata Sloterdijk—memi­lih
Kynismus, bukan Zynismus. Dengan ”kynisme”, yang tecermin­
dal­am cemooh di tepi-tepi jalan atau satire di pentas kabaret dan
dagelan, orang seakan-akan mencubit­ dirin­ ya sendiri, untuk
mengi­ngatkan bahwa ada yang tertindas sebenarnya dalam ”pen­
did­ ikan dalam disilusi” selama ini.

Namun, saya ragu ”kynisme” akan membebaskan kita.

Catatan Pinggir 7 249

http://facebook.com/indonesiapustaka KYNISME

Mung­k­ in ia hanya candu bagi rakyat. Ketawa itu sehat, tapi juga­
bis­­a congkak. Bukankah dengan mengatakan, seraya­ ketawa­
meng­e­ jek, misalnya bahwa ”elite hanya mengibuli rak­yat”, kita
seben­ arn­ ya cuma mau kelihatan lebih pintar dari rakyat?

Maka agaknya diperlukan sesuatu yang lain, mungkin pe­
ngorban­an diri, agar manusia bisa menemukan keluhuran kem-
bali. Dengan itu orang akan menyaksikan sesuatu yang mengatasi­
yang rutin, buntu, dan tak sinis. Kita ingat, sebelum momen yang
agung itu digantikan mesin kepercayaan, itulah yang terjadi, bu-
kan?

Tempo, 29 Agustus 2004

250 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka FANTASI

DI tiap masyarakat yang ramai, selalu ada mereka yang
tak tampak. ”Saya tak tampak,” tulis Ralph Ellison,
”hanya karena orang tak mau melihat saya.”
Ia berbicara sebagai orang hitam di Amerika pada tahun
1950-an. Novelnya, Invisible Man, menggambarkan masyara-
kat Amerika yang memisahkan orang hitam dari orang putih­
dari tempat yang paling eksklusif, misalnya klub pencinta bridge,
hingga di tempat yang paling umum, misalnya sekolah, ruang
tunggu, bus kota.

Jika masa lalu itu direnungkan kini, mungkin kita akan heran,
kaget, dan ngeri, mengetahui bahwa manusia pernah bisa men-
jalankan kebijakan yang sekeji itu. Dan itu terjadi di sebuah de-
mokrasi, belum setengah abad yang lalu, setelah dik­ etahui­beta-
pa mengerikannya di Jerman, di bawah Nazi, ribua­ n orang, juga
anak kecil, harus ”tak tampak” lagi, dan sebab itu harus masuk
ka­mar gas, semata-mata lantaran mereka terbilang manusia yang
berbeda, yakni Yahudi. Kenapa hal itu mungkin?

Mungkin karena ketakutan, mungkin kecemburuan, mung­
kin kecongkakan—tapi mungkin sesuatu yang lain: karena fan-
tasi, kata Slavoj Zizek mengingatkan. Pemikir dari Slovenia ini
saya kira layak didengar, sebab ia menjelaskan rasisme dari sebab
yang lebih mendasar ketimbang sekadar soal pembagian kue eko-
nomi dan politik. Zizek mengikuti Lacan—ia selalu mengikuti
guru psikoanalisis Prancis itu—dan ia menghadapkan kita pada
diri kita sendiri yang merasa tak bersalah.

Fantasi lahir karena kita kehilangan. Kita kehilangan karena­
kita hidup, mengenal dunia, menentukan pilihan, hanya­melalui
bahasa, yang menetapkan nama, mengidentifikasi, membuat ka­
teg­ ori, hukum, norma, ukuran—singkatnya me­negakk­ an se-

Catatan Pinggir 7 251

http://facebook.com/indonesiapustaka FANTASI

buah tata simbolik. Tapi ada yang tak sepenuhnya bisa dibaha-
sakan, ada yang tak tertangkap dalam tata simbolik. ”Kata-kata
gagal,” kata Lacan. Seraya berbahasa kita tahu bahwa bahasa ha­
nya­memenggal ”The Real”, kata Zizek.

Fantasi terbit untuk menebus trauma dari pemenggalan itu. Ia
ingin memulihkan keutuhan. Kita pun memerlukannya: ia me­
nopang diriku dalam memahami dunia yang riuh-rendah dan
begitu luas dan dalam. Galileo meyakinkan bahwa bumi bukan­
lah pusat alam semesta, tapi orang-orang salih di dusun Italia
mungkin membutuhkan keyakinan yang datang dari Kitab Suci
bahwa tidaklah demikian halnya.

Fantasi itu dapat diibaratkan sebagai sebuah jendela, dari
mana kita meninjau tempat lain, orang lain, seperti tingkap di
apartemen si fotograf cacat dalam film Hitchcock Rear Window.
Di jendela itu kita bisa memilih posisi. Salah satu posisi adalah
menafikan yang ada di sana dan mengubahnya jadi tak tampak.

Tapi kenapa dengan fantasi itu, sebuah posisi dipilih dan se-
buah masyarakat menolak untuk melihat salah satu unsurnya
sendiri? Saya kira karena kita tahu bahwa diri kita adalah subyek­
yang sebenarnya tak meyakinkan. Kita memandang diri melalui
cermin, tapi kita harus berasumsi bahwa cermin itu ”benar”. Tapi
pernahkah kita pasti? Maka dengan bahasa-lah, dengan nama,
kita mengukuhkan diri. Kita menyebut diri ”pribumi” atau
”Tionghoa”, tapi kita tak akan pernah yakin apa sebenarnya arti
kata itu. Untuk mendapatkan makna kata ”kucing” kita membu-
tuhkan ”yang bukan kucing”.

Mungkin sebab itu, kata Zizek, fantasi muncul dalam sebuah
kontradiksi. Di satu pihak, ia memenuhi perannya untuk me­
nebus sesuatu yang hilang ketika ia, dengan tata simbolik, hen-
dak memahami yang nyata. Maka orang pun berkhayal tentang
sebuah masyarakat yang utuh, selaras, serasi, rapi—seperti fan-
tasi Orde Baru tentang ”jati diri Indonesia” dan fantasi Nazi ten-

252 Catatan Pinggir 7

FANTASI

tang Volksgemeinschaft. Di lain pihak, orang tahu bahwa kenyata-
an sosial mustahil untuk bisa seindah itu. Maka sebuah fantasi
lain muncul: ada orang lain yang datang mengganggu.
Di Amerika Serikat, orang putih ingin orang hitam tak tam-
pak mungkin karena orang hitam, yang miskin, yang dekil dan
dianiaya, mengganggu hati nurani orang putih yang merasa ber-
salah. Di Arab Saudi, perempuan tak diizinkan menyetir­mobil
dan di muka umum harus mengenakan pakaian hitam yang ter-
tutup brukut, karena lelaki, yang jadi raja, polisi, dan ulama, ta-
kut dengan pikiran erotik di kepala sendiri—sama halnya bila ba­
pak pengkhotbah cemas melihat adegan ciuman di sebuah film.
Ada pelbagai cara untuk membuat orang lain ”tak tampak”,
antara lain mula-mula dengan memasukkannya ke dalam kotak
atau kandang, diberi label, dan dikunci pintunya. Di Malay­sia,
Singapura, dan Indonesia, program pengkotakan itu mengambil
bentuk yang beragam. Di Indonesia, huruf Cina dilarang Orde
Baru, begitu juga barongsai dan wayang po-te-hi. Di Malaysia
dan Singapura, tak terasa ada yang dibuat ”tak tampak”. Tapi ko-
tak itu dikukuhkan. Seakan-akan tampak sebagai ”saling meng-
hormati” perbedaan, yang sebenarnya terjadi adalah upaya un-
tuk saling menutup pintu—sebuah wujud, jika kita pakai analisis
Zizek, ”rasisme postmodern”.
Tapi bagaimana membuat yang tak tampak menjadi kelihatan,­
dan percakapan dimulai? Zizek menyebut peran ”negara”,­karena­
baginya kelompok di luar negara tak jarang hanya melanjutkan
rasisme, terkadang dengan kekerasan. Tapi ”negara” tak serta-
merta bisa dianggap netral dari pengaruh di luarnya. Mengha-
http://facebook.com/indonesiapustaka dapi kritik semacam ini, Zizek memang tak banyak menawarkan
pemecahan soal. Salah satu sarannya adalah ”melintas-tembus
fantasi”, ”traverse the fantasy”, sampai akhirnya mengetahui bah-
wa ”Cina”, ”Melayu”, ”Arab” adalah sosok fantasi belaka. Seperti
kata Lacan, ”kata-kata gagal.”
Tempo, 5 September 2004

Catatan Pinggir 7 253

http://facebook.com/indonesiapustaka

254 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka BESLAN

MAKIN lama saya makin tak tahu apa artinya ”menge-
tahui”. Terutama sekarang. Seakan-akan saya tengah
berlari di sebuah maraton, tapi bukan berlomba de-
ngan pelari lain, melainkan dengan kecepatan itu sendiri.

Lihat, saya bisa memperoleh informasi beberapa menit saja
setelah sebuah peristiwa terjadi, seperti kali ini, ketika sekitar 250
orang tewas kena ledakan dan tembakan di sebuah kota di Rusia
Selatan itu—ya, nun di sebuah kota yang tak pernah saya dengar­
sebelumnya, di sebuah wilayah yang disebut Republik Ossetia
Utara, bagian dari Rusia, sebuah negeri yang begitu jauh tapi ti-
ba-tiba memergoki kita dengan kengerian, kebuasan, setelah se-
jumlah orang militan yang bersenjata memasuki sekolah itu, me-
nyandera anak-anak, guru, orang tua, memasang ranjau....

Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan? Begitu putus asa­­
kah mereka hingga mereka bersedia mati dengan bom meledak di
tubuh mereka, seraya menantang serbuan pasukan komando Ru-
sia, seraya membunuhi anak-anak, ya, anak-anak?

Kecepatan telah mengejar saya—satelit berputar, radio beker-
ja, televisi bekerja, Internet bekerja—dan sebab itu jarak jadi
jauh. Paradoks ini juga paradoks tentang ”tahu”. Duduk di depan
komputer, saya tahu bahwa pada akhirnya banyak hal yang tak
saya ketahui. Kecepatan bukannya menciutkan jarak, melainkan
justru memelarkan jarak.

”Jarak” itu bukan jarak geografis, melainkan jarak antara ba-
gian dalam diri saya yang berisi data—dengan segala detail yang
mungkin—dan bagian dalam diri saya yang mengolah data itu.
Apa sebenarnya yang menyebabkan orang Chechnya mau mem-
bunuh siapa saja dan di mana saja? Bagian diri saya yang menyim-
pan data—dengan bantuan Google, tentu—akan mengeluarkan

Catatan Pinggir 7 255

http://facebook.com/indonesiapustaka BESLAN

fakta geografis, sejarah, ekonomi, dan entah apa lagi, dan akan
men­ yebut nama Shamil Basayev, atau bahkan ”Magomed ’Ma-
gas’ Yevloyev”, dan seterusnya. Tapi ada jurang yang menganga
antara semua itu dan apa yang dapat saya ketahui tentang orang-
orang di Beslan itu, yang siap menyiapkan ranjau untuk meledak­
kan ratusan anak-anak.

Hak menentukan nasib sendiri orang Chechnya yang di­
tampik­Kremlin? Semangat Islam ala Al-Qaidah? Tiba-tiba saya
sadar bahwa ”Chechnya”, ”Islam”, dan seterusnya begitu membi­
ngungk­ an: ”Chechnya” berarti anti-Rusia bagi Shamil Basayev,
tapi mungkin tidak bagi Mufti Akhmad Kadirov. Betapa sulitnya
identitas distabilkan untuk sebuah kelompok manusia, bahkan
untuk diri sendiri pun.

Dan betapa mudahnya kata berbunyi. Akhirnya saya hanya­
tah­ u tentang dunia melalui kata (”Chechnya”, ”Rusia”, ”Islam”,­
”teroris”) yang tak saya buat sendiri, melainkan ditentukan oleh
orang lain, disepakati, entah di mana dan bagaimana. Ada se­
orang filosof yang mengatakan kita hidup dalam ”penjara baha­
sa”, dan jangan-jangan dia benar. Kini saya merasa­kannya: saya
tak pernah dapat keluar dari kata ”Chechnya” sebagai penanda­
negeri di gigir utara Pegunungan Kaukasus itu, dan kalaupun
saya mengganti penanda itu dengan ”Belgedes”, saya tetap tahu
bahwa yang ditandai dengan kata itu adalah ”kenyataan” yang
akhirnya juga hanya bisa dimengerti dalam kerangka bahasa:
”Belgedes terletak di antara republik X dan republik Z, pendu­
duknya beragama Islam”—semua itu batasan simbolis yang di-
amini ramai-ramai.

Meskipun simbol itu jangan-jangan ibarat kotak—dan ja­
ngan-­j­angan tak sama isinya. Wittgenstein punya catatan yang
terkenal tentang ini, dan biarlah saya sadur seenak saya: ”Kat­a­
kanl­ah tiap orang punya sebuah kotak dengan sesuatu di dalam-
nya: kita sebut sesuatu itu ”kupu-kupu”. Tapi sebetulnya tak ada

256 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka BESLAN

orang yang dapat mengecek apa isi kotak orang lain. Tiap orang
yang bilang ia tahu apa itu ”kupu-kupu” mengatak­ annya dengan
melihat kupu-kupunya sendiri. Bagaimana kalau ada yang berbe-
da? Bagaimana kalau satu-satunya isi dalam kotak itu berubah?”

Ada pepatah Melayu yang terkenal, yang berbunyi, ”Kepala
sama berbulu, pendapat berlainan”, dan kita juga bisa membuat­
pepatah baru, ”Kata sama-sama berbunyi, tapi maknanya....”­­
Sa­ya tak ingin meneruskan pepatah baru ini. Sebab ada sesuatu
dalam bahasa yang membuatnya terdorong mengklaim bahwa
pada akhirnya ”makna” itu berlaku universal, atau setidaknya
mapan, dan bahwa sebuah kata mewakili sebuah ”kenyataan”.
Kalau tidak, bukankah manusia akan hidup­dalam kekacauan?

Tapi saya tak pernah bisa membayangkan, bagaimana kita
berbicara tanpa kekacauan kini, ketika di Beslan anak-anak dile­
takkan di tengah ajang pembantaian. Saya ingat cerita tentang
seorang perempuan tua di musim yang sangat dingin di Lenin-
grad, berdiri dalam antrean yang amat panjang untuk menjenguk
anaknya di penjara. Dengan parasnya yang sudah membiru itu ia
berbisik kepada penyair Anna Akhmatova yang ada di dekatnya:
”Dapatkah kau lukiskan ini?” Sang penyair diam.

Bukankah itu juga yang dimaksudkan Adorno dengan sedikit
dramatis, bahwa setelah Auschwitz—tempat ribuan anak-anak
juga dibunuh oleh Hitler—tak ada lagi puisi bisa ditulis?

Kepedihan, juga kebuasan, merasuk jauh di dalam diri kita
dari masa ke masa. Saya tak tahu bagaimana semua itu bisa di-
rumuskan ke dalam sesuatu yang stabil dan sama di mana saja.
Tapi Internet bekerja terus, radio bekerja terus, juga TV, dan ber­
asumsi bahwa dunia perlu tahu tentang 200 sekian yang mati di
Beslan, 12 orang Nepal yang dibunuh di Irak, medali emas untuk
Taufik, harga minyak dan kurs dolar, iklan mobil bekas, daftar­
dokter jaga, ”terorisme”, perjuangan untuk ”keadilan”.... Kata
pun bergegas, saya terengah-engah, dan kian sulit untuk tahu apa

Catatan Pinggir 7 257

http://facebook.com/indonesiapustaka BESLAN

artinya ”mengetahui”—kecuali dengan bahasa dan posisi kita,
dengan hasrat dan ketakutan kita.

Maka ada yang bilang, mari duduk diam, dan ikhlas bah-
wa kita tak akan tahu. Tapi sampai kapan? Tidakkah ada yang
murung di sini—terutama ketika ada orang yang bersedia mem-
bunuh anak-anak agar kehadiran dan niatnya diketahui dunia.

Tempo, 12 September 2004

258 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004

—sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati,
yang ditinggalkan ayah mereka.

KELAK, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin­
baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh
seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu
meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum
mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi
muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di se-
buah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh,
dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam
doa: ”Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini,
biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menang-
kap gelap.”

Ayahmu, Alief, seperti kami semua, tak takut akan gelap. Tapi
ia cemas akan kelam. Gelap adalah bagian dari hidup. Kelam ada­
lah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak.
Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.

Dengan tubuhnya yang ringkih, Diva, ayahmu tak hendak
membiarkan kelam itu berkuasa. Seakan-akan tiap senjakala ia
melihat di langit tanah airnya ada awan yang bergerak dan di
dalamnya ada empat penunggang kuda yang menyeberangi ufuk.
Ia tahu bagaimana mereka disebut. Yang pertama bernama Ke-
kerasan, yang kedua Ketidakadilan, yang ketiga Kes­erakah­an,
dan yang keempat Kebencian.

Seperti kami semua, ia juga gentar melihat semua itu. Tapi ia
melawan.

Di negeri yang sebenarnya tak hendak ditinggalkannya ini,
Nak, tak semua orang melawan. Bahkan di masa kami tak sedikit

Catatan Pinggir 7 259

http://facebook.com/indonesiapustaka JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004

yang menyambut Empat Penunggang Kuda itu, sambil­berkata,
”Kita tak bisa bertahan, kita tak usah menentang mereka,­hidup­
toh hanya sebuah rumah gadai yang besar.” Dan seraya berujar
demikian, mereka pun menggadaikan bagian dari diri mereka
yang baik.

Orang-orang itu yakin, dari perolehan gadai itu mereka akan
mencapai yang mereka hasratkan. Sepuluh tahun yang akan da­
tang kalian mungkin masih akan menyaksikan hasrat itu. Terka­
dang tandanya adalah rumah besar, mobil menakj­ubkan, pang­
kat dan kemasyhuran yang menjulang tinggi. Terkadang hasrat
kekuasaan itu bercirikan panji-panji kemenangan yang berki-
bar—yang ditancapkan di atas tubuh luka orang-orang yang le-
mah.

Ya, ayah kalian melawan semua itu—Empat Penunggang Ku­
da yang menakutkan itu, hasrat kekuasaan itu, juga ketika­hasrat­
itu mendekat ke dalam dirinya sendiri—dengan jihad yang sebe­
narnya sunyi. Seperti anak manusia di padang gurun. Ia tak me­
ngen­ akan sabuk seorang samseng, ia tak memasang insinye se­
orang kampiun. Ia naik motor di tengah-tengah­ orang ramai,
dan­­bersama-sama mereka menanggungkan polusi, risiko kec­ e­
lakaan, kesewenang-wenangan kendaraan besar, dan ketidakpas-
tian hukum dari tikungan ke tikungan. Mungkin karena ia tahu
bahwa di jalan itu, dalam kesunyian masing-masing, dengan fan-
tasi dan arah yang tak selamanya sama, manusia pada akhirnya
set­ara, dekat dengan debu.

Alief, Diva, kini ayah kalian tak akan tampak di jalan itu.
Ada yang terasa kosong di sana. Jika kami menangis, itu karena
tiba-­tiba kami merasa ada sebuah batu penunjang yang tanggal.
Sepanjang hidupnya yang muda, Munir, ayahmu, menopang se-
buah ikhtiar bersama yang keras dan sulit agar kita semua bisa
men­ yambut manusia, bukan sebagai ide tentang makhluk yang
luhur dan mantap, tapi justru sebagai ketidak­pastian.

260 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004

Ayahmu, Diva, senantiasa berhubungan dengan mereka yang
tak kuat dan dianiaya; ia tahu benar tentang ketidakpastian itu.
Apa yang disebut sebagai ”hak asasi manusia” baginya penting
karena manusia selalu mengandung makna yang tak bisa dipu-
tuskan saat ini.

Ada memang yang ingin memutuskan makna itu dengan
meng­gedruk tanah: mereka yang menguasai lembaga, senjata,­
dan kata-kata sering merasa dapat memaksakan makna dengan
kepastian yang kekal kepada yang lain. Julukan pun diberikan
untuk menyanjung atau menista, label dipasang untuk mengon-
trol, seperti ketika mereka masukkan para tahanan ke dalam go­
longan ”A”, ”B”, dan ”C” dan menjatuhkan hukuman. Juga mere­
ka yang merasa diri menguasai kebenaran gemar meringkas se-
seorang ke dalam arti ”kafir”, ”beriman”, ”murtad”, ”Islamis”,
”fundamentalis”, ”kontra-revolusioner”, ”Orde Baru”, ”ekstrem
kiri”—dan dengan itu membekukan kemungkinan apa pun
yang berbeda dari dalam diri manusia.

Ayah kalian terus-menerus melawan kekerasan itu, ketidak­
adilan itu. Tak pernah terdengar ia merasa letih. Mungkin sebab
ia tahu, di tanah air ini harapan sering luput dari peganga­ n, dan
ia ingin memungutnya kembali cepat-cepat, seakan-akan berse-
ru, ”Jangan kita jatuh ke dalam kelam!”

Tapi akhirnya tiap jihad akan berhenti, Alief. Mungkin kare-
na tiap syuhada yang hilang akan bisa jadi pengingat betapa ting­
gi nilai seorang yang baik.

Apa arti seorang yang baik? Arti seorang yang baik, Diva,
adalah Munir, ayahmu. Kemarin seorang teman berkata, jika Tu-
han Maha-Adil, Ia akan meletakkan Munir di surga. Yang pasti,
ayahmu memang telah menunjukkan bahwa surga itu mungkin.

Adapun surga, Alief dan Diva, adalah waktu dan arah ke­
mana manusia menjadi luhur. Dari bumi ia terangkat ke langit,­
berada di samping Tuhan, demikianlah kiasannya, ketika diberi-

Catatan Pinggir 7 261

http://facebook.com/indonesiapustaka JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004

kannya sesuatu yang paling baik dari dirinya—juga nyawanya—
kepada mereka yang lemah, yang dihinakan, yang ketakutan,
yang membutuhkan. Diatasinya jasadnya yang terbatas, karena ia
ingin mereka berbahagia.

Maka bertahun-tahun setelah hari ini, aku ingin kalimat ini
tetap bertahan buat kalian: ayahmu, syuhada itu, telah memberi-
kan yang paling baik dari dirinya. Itu sebabnya kami berkab­ ung,
karena kami gentar bahwa tak seorang pun akan bisa mengganti­
kannya. Tapi tak ada pilihan, Alief dan Diva. Kami, seperti ka-
lian kelak, tak ingin jatuh ke dalam kelam.

Tempo, 19 September 2004

262 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PENGEBOM

PADA tubuh yang berkeping-keping setelah bom mele-
dak, pada kepala yang copot berdarah di tepi jalan itu,
apa sebenarnya yang hendak diungkapkan? Pesan apa?
Mungkin protes, mungkin keinginan untuk unjuk kemampuan.
Tapi makin lama makin terasa bahwa terorisme adalah sebuah
langkah bengis di jalan yang tak ada ujung. Semenjak 900 ta-
hun lamanya cara kekerasan itu dipilih sebagai metode perjuang­
an politik, tapi tiap kali ia tak maju jauh dari sana. Kaum Hash-
shâshîn memulainya di bukit-bukit Iran di Alamut di abad ke-11,
kaum anarkis mencobanya di Eropa di akhir abad ke-19, tapi apa
hasilnya?

Pertanyaan itu cepat atau lambat akan merundung mereka­
yang meledakkan bom di Bali dan Jakarta. Bagaimanakah mere­
ka menilai keberhasilan dan kegagalan kerja mereka? Menghi-
tung jumlah ”musuh” yang mati? Ketakutan yang men­c­ ekam?
Tapi ketakutan yang bagaimana? Ketakutan siapa?­Untuk apa?

Dari balik asap dan destruksi hari itu, satu hal bisa dis­imp­ ul­
kan: mereka tak bisa disamakan dengan para pengebom bun­ uh
di­ri Palestina. Para pelaku teror di wilayah yang kini diperintah
Ariel Sharon itu membunuhi warga negara Israel, dengan perhi-
tungan yang buas dengan dasar dendam dan aritmetika: makin
berkurang orang Israel, yang bisa dianggap sebagai calon prajurit
musuh dan pendukung sebuah kekuasaan yang tak adil, makin
baik bagi orang Palestina. Akhirnya jumlah-lah yang akan me-
nentukan dalam keadaan desak-mendesak di tanah yang dipere-
butkan itu. Dengan kata lain, terorisme di Palestina masih meru-
pakan satu variasi lain dari tema yang dulu: perjuangan pembe-
basan nasional.

Ikhtiar menegakkan negara sendiri itu berawal empat­dasa­

Catatan Pinggir 7 263

http://facebook.com/indonesiapustaka PENGEBOM

warsa yang lalu. Tapi si Palestina adalah tinju yang lemah,­dan si
Israel, dengan bantuan AS, tinju yang jauh lebih kuat. Dalam ke-
adaan asimetri itulah terorisme dipilih sebagai metode—mem-
bunuh dan mencederai siapa saja, juga orang yang tak bersalah,
agar efeknya meluas dan tujuan politik tercapai.

Metode itu, yang dimulai pada 1968, ditinggalkan Front Rak­
yat Pembebasan Palestina empat tahun kemudian karena­tak ada
hasilnya. Bila siasat itu kini diteruskan dengan cara yang lebih
me­ngerikan oleh Hamas, dasarnya tak berubah: seperti IRA di
Irlandia yang meledakkan bom di pelbagai tempat umum di Ing-
gris di tahun 1970-an, seperti yang dilakukan gerilyawan Chech-
nya hari-hari ini di bawah kekuasaan Rusia, terorisme itu tetap se-
buah laku politik, meskipun dengan cara yang amat brutal.

Laku politik bukanlah ibadat. Di sinilah terorisme ala Hamas­
berbeda coraknya dengan terorisme ala Imam Sa­mudra.­Para pe­
ngebom di Bali dan Jakarta memperlakukan kekerasan sebagai
penyucian. Teriakannya keras menghujat ”Amerika”, tapi kata
”Amerika” itu tak mengacu ke sebuah banguna­ n kekuasaan di
su­atu ruang dan waktu. Kata itu telah jadi simbol sesuatu yang
dekat dengan Roh Jahat. Perang itu jihad semesta. Dalam pergu-
latan kosmis ini kemenangan tak ditandai oleh lahirnya sebuah
realitas politik baru yang menggantikan realitas politik lama.
Pergulatan itu takdis. Kemenangan ditandai mati syahid.

Artinya, aksi teror dilakukan dengan asumsi bahwa sang te­
rori­s­ akan gagal di dunia. Terornya tak dimaksudkan untuk­
meng­u­ bah keadaan asimetri dalam besarnya kekuatan dan pe­
nga­ruh. Bahkan bom-bom yang meledak jauh dari pusat kekua-
saan sang musuh—seakan-akan tembakan dari jarak yang tak bi­
sa menjangkau—dapat dilihat sebagai sebuah pe­negasa­ n atas ke­
tidakseimbangan yang berlaku: sang teroris akan tampak ga­gah­
berani menghadapi Raksasa Jalud. Ia tak membayangkan Ame­
rika akan takluk.

264 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PENGEBOM

Bahkan ia sebenarnya tak peduli bila negeri itu akan ber­
tambah­kuat, ibarat tubuh yang menghimpun antibodi setelah
lolos dari serangan penyakit berulang kali. Bukan prioritas sang
teroris melihat Amerika lenyap. Ketika dunia tak kunjung jadi
suci, akhirnya yang penting bagaimana sang teroris sendiri akan
bisa jadi suci, dalam kematian.

Itu sebabnya terorisme seperti ini berbeda dengan gerakan mi­
lenarianisme revolusioner yang percaya bahwa pada suatu hari
dunia akan jadi berubah oleh datangnya Keadilan. Bahkan ada
tendensi anti-politik dalam teror di Bali dan di Jakarta: ada sikap
mengabaikan kebersamaan, tak ada niat membujuk, sebab bukan
dukungan orang ramai yang tampaknya hendak diperoleh.

Tak berarti kaum teroris ini tak membutuhkan orang lain.
Tak ada pengertian ”suci” dan ”syahid” tanpa orang lain menye­
tujui pengertian itu. Seorang martir menjadi martir karena­ada
dasar nilai yang diasumsikan telah diakui secara sosial. Apalagi
sang teroris harus punya pembenaran atas kematian orang-orang
yang tak bersalah, orang yang sebenarnya bukan musuh, ketika
bom itu meledak.

Untuk itu beberapa pengertian dipatok: ”keadilan” dan ”kesu­
cian”, yang sebenarnya selalu bisa ditafsirkan dari tiap sudut pan-
dang dan kepentingan, dikancing ketat pemaknaannya, diberi
point de capiton—dan sebuah ideologi terbentuk, kadang-kadang
disebut ”agama”.

Dengan itulah sang teroris memperoleh keyakinan akan misi
dan martabat diri mereka di zaman ini, ketika keyakina­ n lama
kena guncang, ketika ajaran lama megap-megap tertimbun ri-
buan kata dan makna yang bergerak cepat, berubah cepat.

Dilihat secara demikian, terorisme adalah sebuah usaha untuk­
tidak tenggelam. Ia mencoba ikut dalam perebutan hegemoni un-
tuk menegakkan patokan pengertian dalam wacana masa kini. Ia
membutuhkan pengakuan terhadap kebenaran sudut pandang-

Catatan Pinggir 7 265

http://facebook.com/indonesiapustaka PENGEBOM

nya. Tapi untuk itu ia sebenarnya memerlukan bahasa, daya pe­
ngar­uh ide-ide, bukan hanya suara bom dan jerit kematian. Se-
bab pada tubuh yang berkeping-keping, pada kepala yang meng­
gel­inding lepas di tepi jalan itu, apa sebenarn­ ya yang hendak di-
ungkapkan? Pesan apa yang dapat disampaikan?

Hanya sebuah jalan yang tak ada ujung, yang juga sebenar­nya
jalan buntu.

Tempo, 26 September 2004

266 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SOSOK

POLITIK berubah ketika buah pikiran jadi gambar hi­
dup.­Politik berubah ketika seorang pemimpin menjelma­
jadi bintang yang dipasarkan. Televisi—yang senantiasa
terdorong untuk cepat memikat secara visual, yang bekerja de-
ngan waktu siar yang sesak dikepung iklan—telah membuat
orang ramai tak punya kesempatan (atau kesabaran) untuk mem-
perhatikan gagasan yang disajikan oleh seorang tokoh politik.
Pendek kata, ”siapa” mendahului ”apa”. Bahkan ”siapa” tumbuh
tanpa­”apa”. Seakan-akan kita menghadapi satu subyek yang bisa
berdiri tanpa predikat.

”Subyek” semacam itu dengan sendirinya sosok yang genting:­
ia tergantung-gantung tak bertangan, tak berkaki. Ia dibentuk
dari yang ditampilkan oleh kamera itu: patrapnya berbicara,
caran­ ya berjalan, dedeg tubuhnya, raut muka dan nada suaranya
ketika mengucapkan kalimat—dan kita tak peduli apakah ia ber-
cakap tentang pendidikan atau tentang empek-empek, tak amat
peduli sejauh mana isi kalimatnya benar. Pada akhirnya ia seperti
banyak hal yang tampil di layar itu: sebuah fantasi.

Saya tak hanya bicara tentang Indonesia. Di akhir Juli 2004, di
The New York Times, Paul Krugman menulis—dan saya rasa­kan
ada frustrasi dalam prosanya—tentang ”triumph of the trivial”. Ia
berbicara bagaimana menyesatkannya isi dan arus informasi­ten-
tang kampanye dua calon presiden Amerika Serikat tahun ini:
sang calon jadi selebritas. Dari ”berita TV”, kata Krugman, ”kita
pun tahu tentang potongan rambut Tuan Kerry, dan bukan ga­
gas­a­ nnya di bidang kesehatan. Kita tahu tentang cara George
Bush menyisir, dan bukan kebijakan lingkungannya.”

Tentu tak dapat dikatakan bahwa medium itulah yang mem-
buat pesan politik hanya berisi tetek-bengek. Di balik­kekuatan

Catatan Pinggir 7 267

http://facebook.com/indonesiapustaka SOSOK

medium audio-visual itu ada sebuah daya lain: men­ ang­nya se-
buah ideologi yang mengobarkan semangat pasar.­

Memang, sejak zaman Yunani kuno, politikus selalu tampil
sebagai persona—sosok yang mengatur diri untuk main di pang-
gung sandiwara. Tapi di abad ke-21 kita menemukan yang le­
bih­­jauh: kini sosok yang muncul di mimbar itu sepenuhnya di­
bentuk­untuk memenuhi hasrat para calon pelanggan. Subyek
yang genting itu mencapai titik ekstremnya: ia sosok yang jadi
produk, subyek yang jadi obyek, tokoh yang jadi toko.

Harus diakui, politikus sebagai persona jarang berusaha un-
tuk selalu tulus berbicara. Kebenaran akhirnya adalah perkara­
ke­masa­ n.­Tapi di abad ke-21 ini, kemasan itu disesuaikan dengan
kehidupan sosial yang digambarkan lebih sebagai sebuah shop­
ping mall. Di sini perbedaan dibentuk sebagai deret yang ”sintag-
matik”, ibarat kiosk-kiosk yang tak hendak saling menggantikan.
Bukan arena perjuangan.

Demikianlah konflik seakan-akan absen, dan yang tergambar­
adalah segmen pasar yang beraneka. Melayani sebanyak-banyak­
nya konsumen, sang calon pemimpin pun harus mampu mene­
mui—tapi sekaligus melintasi—tiap segmen yang masing-ma­
sing­khas itu. Tak mengherankan bila pesan yang disampaikan-
nya tak pernah persis dan konsisten: selalu ada sudut yang licin
buat meluncur berpindah posisi.

Maka kian lama kian akan diketahui—tapi tak dipedulikan
benar—bahwa seorang tokoh terbentuk bukan karena fi’ il-nya
yang sejati. Sang tokoh adakah hasil bentukan. Ia hanya­kita kenal
melalui perantaraan media. Seperti telah disebutkan, ”realitas”-
nya sebenarnya fantasi; ia tersusun dari hasrat orang banyak dan
juga membentuk hasrat orang banyak.

Maka tak mengejutkan bila kini berjuta-juta calon pemilih di
Amerika Serikat tetap hendak menjunjung George W. Bush terus
di Gedung Putih, biarpun pelbagai temuan menunjukkan bah-

268 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SOSOK

wa presiden itu telah melibatkan negeri ke dalam perang­dengan
alasan yang salah, bahwa ia gagal mengurangi terorisme di dunia
dan pengangguran di dalam negeri, bahwa Amerika yang dipim-
pinnya makin dirundung paranoia dan retak di dalam....

Agaknya, di sana wabah fantasi begitu meluas, hingga daftar
kesalahan Bush itu pun hanya diterima sebagai salah satu versi
fantasi—sementara ada fantasi lain: Bush-lah yang akan mampu
melindungi rakyat. Ketika kian gencar gerak media audio-visual­
dan makin kuat ideologi yang mengibarkan pasar, kian jelas pula
bahwa ”kebenaran” bukanlah urusan Tuhan dan keabadian.
”Keb­ enaran” harus diterima sebagai sesuatu yang mungkin dan
tak stabil.

Memang ada kaum fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam,
atau sekuler yang meyakini dan memasarkan ”kebenaran” yang
teg­ uh. Mereka yakin itulah yang dapat mendasari kehidupan
bersama. Tapi sementara tiap Minggu para pengkhotbah berseru,­
tiap hari Presiden Bush membaca Injil, bagaimana­semua orang
dapat yakin? Seorang pemikir pragmatis seperti Richard Rorty—
seraya mensyukuri kehidupan demokrasi Amerika—akan me­
nunj­ukkan bahwa manusia tak membutuhkan ”prinsip ethis
yang luhur”. Metafisika harus ditonjok. Soal keadilan, misalnya,
tak usah diganduli filsafat, sebab keadilan dapat dicapai dengan
”muddling through”—seperti ketika­hakim memutuskan perkara
yang sulit: ia cari celah, kadang salah, tapi ia terus memperbaiki
yang dianggap keliru.

Adakah bagi Rorty hidup hanya sebuah pasar malam? Ia, yang
bukan Marxis, memang tak melihat sebuah negeri seba­gai sebuah
pergulatan wacana untuk memperoleh hegemoni. Ia tak melihat,
seperti Ernesto Laclau, bahwa dengan hegemonilah ”kebenaran”
dan ”keadilan” diberi makna.

Ia juga tak melihat sosok sang pemimpin sebagai bendera bagi
sebuah barisan, yang kadang-kadang terdiri atas kawan baru dan

Catatan Pinggir 7 269

http://facebook.com/indonesiapustaka SOSOK

musuh lama....
Memang terasa keras. Tapi justru dengan itu kita dapat meli-

hat bahwa tiap kali satu bangunan politik baru berdiri, selalu­ada
yang luka dan tersingkir—dan sebab itu tak ada ilusi tentang har-
moni, malah timbul kerendahan hati. Maka tiap kali seorang pe-
mimpin datang, sajak Chairil Anwar ini patut­dibacak­ an: ”Telah
lahir seorang besar, dan tenggelam beratus ribu/Keduanya harus di­
catet, keduanya dapat tempat.”

Tempo, 3 Oktober 2004

270 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 1965

TENTANG pembantaian itu, tentang ribuan orang Indo-
nesia yang dibunuh pada tahun 1965-1966 itu, pernah-
kah kita bisa bicara dengan pikiran terang? Mungkin be-
lum. Mungkin tak akan.

Tak mudah menentukan di titik mana cerita ini harus dibuka.­
Ada yang memulainya pada malam antara 30 September dan 1
Oktober itu, ketika sejumlah perwira tinggi Angkata­ n Darat di-
tangkap oleh sepasukan tentara dan kemudian dibunuh di hutan­
karet agak di luar pusat Kota Jakarta. Orang bisa mengatakan da­
ri sinilah kekerasan berjangkit. Partai Komunis Indonesia diang-
gap sebagai penggerak pembunuhan awal itu. Maka dengan den-
dam dan ketakutan, seperti digambarkan dalam buku Herma­
wan­ Sulistyo, Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian
Massal yang Terlupakan (1965-1966), militer dan bukan-militer
pun membantai beribu-ribu­orang anggota PKI atau yang diang-
gap anggota PKI. Teror pun berkecamuk—dan sebuah pemerin-
tahan baru ditegakkan.

Mengapa itu semua bisa terjadi? Pertanyaan ini segera bisa di­
bantah dengan: mengapa tidak? Kebuasan bukan barang asing­
dalam sejarah, dan yang pasti bukan dalam sejarah di kepulauan
ini. Pada abad ke-17 di Mataram, tercatat Amangkurat I membi-
nasakan 3.000 ulama yang dihimpun di alun-alun dalam waktu
setengah jam.

Bukan karena orang Indonesia tak mampu mengendalikan
keb­­ engisannya sendiri, seperti ujar para analis murahan yang me-
makai kata Melayu ”amok” sebagai penjelasan. Orang Indonesia­
juga makhluk yang merayap dalam sejarah—dan sejarah itu
adalah sebuah perjalanan yang menakutkan. Kekerasan pada ta-
hun 1965-1966 itu tak datang mendadak.

Catatan Pinggir 7 271

http://facebook.com/indonesiapustaka 1965

Awalnya dapat ditarik jauh ke masa sebelumnya. Mungkin se-
jak 1945: Indonesia mencoba berdiri sebagai republik­yang mer­
deka, tapi dunia pascakolonial bukanlah sebuah lingkungan yang
ramah. Hanya setahun setelah proklamasi kemerdekaan, datang
aksi militer Belanda yang tak ingin kehilangan kekuasaan­nya di
sini. Perang mempertahankan kemerdekaan tak dapat dielakkan.­
Hampir berbareng dengan itu, berkecamuk gerilya Darul Islam
dari hutan-hutan Jawa Barat. Dari luar, Perang Dingin antara
”blok kapitalis” dan ”blok komunis” menularkan ketegangannya.­
Bergaung pula suara bersemangat dan teriak kesakitan negeri
yang baru merdeka dan mencoba merdeka di tempat lain di Asia
dan Afrika.

Gabungan semua itu menyebabkan sebuah dasawarsa yang
tam­pak ”normal”, yang berakhir pada tahun 1958, sebenarnya
men­ yimpan sesuatu yang ”tak normal”. Dalam masa itu Indone­
sia, dengan sebuah demokrasi parlementer, berniat mengelola
kon­flik dan persaingan lewat partai, lembaga perwakilan rakyat,
dan peradilan. Dengan kata lain, sebuah sistem yang ingin ter­
atur­tapi tetap terbuka, ketika pers bebas, partai bebas, dan ha-
kim-hakim mandiri.

Tapi tentara tak menyukainya, terutama karena demokrasi­ini
meletakkan mereka di bawah kekuasaan sipil. Apalagi­sistem ini
selalu mudah dianggap sebagai kegaduhan yang meretakkan per-
satuan, sebuah mekanisme yang tak bekerja efektif, sebuah struk-
tur yang ”meniru Barat”.

Di antara yang menentang demokrasi ”Barat” ini adalah Presi­
den Sukarno. Maka ketika sistem demokrasi parlementer itu tak
mampu mengatasi pembangkangan bersenjata sejumlah kolonel
(yang dibantu CIA), Indonesia menempuh jalan radikal. Bung
Karno membubarkan parlemen yang pada tahun 1955 dipilih
rakyat dengan penuh harap. Ia juga mengharamkan partai poli-
tik yang dianggap menentangnya: pers diberangus.

272 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka 1965

Pada tahun 1958 ”demokrasi terpimpin” pun berlaku, dengan­
Su­karno di pucuk. ”Ekonomi terpimpin” juga diperkenalkan,
per­u­ sahaan asing diambil alih dan dikendalikan tentara dan bi­
rok­­ rat, yang akhirnya memimpin pelbagai bidang usaha (hingga­
hari ini). Di mana-mana, suasana ”revolusi” dicanangkan untuk­
mencapai cita-cita dahsyat ”sosialisme Indonesia”. Dan sebag­ ai­­
lazimnya ”revolusi”, permusuhan pun dijadikan ajaran: ada ”ka­
wan” dan ”lawan”, ada kaum ”progresif revolusioner” dan ”kon­
tra­revolusioner”. Ketika Perang Dingin­kian memanas di Asia—
ke­tika AS kian terpojok di Vietnam dan ”komunistofobia”­me-
nyebar ke mana-mana—suasana permusuhan itu menebarkan­
sa­ling curiga yang menajam di Indonesia.

Sejak itu sebenarnya benih kekerasan tumbuh subur. Pelba­gai­­
organisasi dilarang, puluhan koran dibredel, orang-orang dipen-
jarakan tanpa diadili. Apa saja yang dinilai ”kontrarevol­usioner”
dihajar. Retorika diberi aksen imperatif yang galak dan kekerasan
jadi penanda utama (”Ganyang!” adalah kata yang paling berge-
ma). Semua kekuatan politik, apalagi PKI, mengobarkan suasana­
”revolusioner” itu. Propaganda yang berapi-api bersipongang,
dan hampir tiap kelompok politik me­ngerahkan pemuda berpa­
kaia­ n seragam dengan tampang siap tempur.

Akhirnya, sebuah ledakan. Itulah yang terjadi pada tanggal
30 September 1965. Orang terus berdebat, siapa yang menarik
picu: CIA? RRC? Yang agaknya belum dilihat adalah bahwa api
”revolusioner” itu pada akhirnya dapat dipakai untuk membasmi­
siapa saja. Para jenderal yang malam itu dibabat semuanya di-
tuduh ”kontrarevolusioner”. Tapi ketika pada awal Oktober 1965
Mayjen Soeharto membalas, ia juga menyatakan para pembunuh
itu ”kontrarevolusioner”. Dengan atau tanpa CIA dan RRC, ”re­
vo­lusi” Indonesia telah siap memakan anak-anaknya sendiri.

Tak berarti dosa 40 tahun yang lalu itu sebuah kutuk bersama.­
Ada algojo yang menyembelih, menyiksa, mengurung orang

Catatan Pinggir 7 273

http://facebook.com/indonesiapustaka 1965

yang tak bersalah selama bertahun-tahun: mereka­itu pelaku ke-
jahatan besar. Tapi kejahatan itu jadi seperti perkara­ringan, sejak
”membabat” adalah aksi yang sah dalam menc­ apai­cita-cita besar,
komunis ataupun antikomunis.

Maka ikut bersalah pula mereka yang waktu itu menguasai
bahasa dan posisi, bila mereka tak bertanya: tak pernah salahkah­
cita-cita? Tak adakah batasnya? Bukankah batas itu tersimpul
dalam hidup yang berharga sehari-hari?

Tempo, 10 Oktober 2004

274 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka INFEKSI

ADA sebuah infeksi, bernama kekerasan. Umurnya pan-
jang.
Ia mungkin telah lama di kesadaran kita, datang dari
adeg­ an perang Bharata ketika Bima bukan saja membunuh Dur-
sasana, tapi juga mereguk darah bangsawan Kurawa yang dulu
mencoba memerkosa Drupadi itu. Atau dari Perjanjian Lama, ke­
tika berlaku doktrin ”satu mata dibalas satu mata”. Atau dari den­
dam Electra yang getir dalam lakon Sophocles dan Euripides­pada
zaman Yunani kuno. Atau apa yang dialami Eropa pada abad ke-
17: orang Katolik dan Protestan saling membunuh selama­30 ta-
hun. Atau sejarah Islam, setelah Khalif kedua dibunuh, kemudi-
an Khalif berikutnya, dan berikutnya....

Sampai abad ke-21 ini, infeksi itu terus bercabul: Israel, Pal­es­
tina, Irak, Chechen, Rusia, Amerika.... Koreng luka itu berjang-
kit beserta kumannya. Kekerasan menular—dengan penularan
yang dikemas ”atas-nama-keadilan”.

Tapi jika kekerasan yang satu diulangi yang lain, apa yang ha-
rus dilakukan? Jawabnya mungkin sebuah kekerasan lagi. Se­
tidak­nya jika kita percaya kepada teori René Girard. Pada zaman
dulu orang menyembelih korban. Dengan memungut seseorang
lain untuk dipersembahkan kepada dewa, orang pun percaya,
kata Girard, bahwa ”perdamaian yang mukjizat” akan tiba.

Untuk mengukuhkan teori itu adat orang Aztecs sering di­
pakai­sebagai contoh. Sebuah ensiklopedia mencatat bahwa sebe-
lum abad ke-16, bangsa tua di Meksiko itu membunuh sampai 20
ribu manusia setahun sebagai persembahan bagi Dewa Matahari.
Ini bukan pembantaian massal. Orang yang pernah menyaksi-
kannya bercerita bahwa upacara itu tertib: sang korban—seorang
yang tak bersalah, konon juga perawan sunti—digiring ke pu­

Catatan Pinggir 7 275

http://facebook.com/indonesiapustaka INFEKSI

cuk­ piramida, dibaringkan, dadanya dirobek, dan jantungnya
dir­enggutkan. Lalu sebotol minyak bakar diletakkan di rongga
dada yang menganga itu, dan di situ api dinyalakan. Dari nyala
itu disulutlah sebuah suluh, yang kemudian menyulut obor yang
lain, dan yang lain, sambung-menyambung ke seluruh wilayah.

Saya tak sepenuhnya yakin akan teori Girard yang mer­ingkas­
sejarah manusia sebagai digerakkan oleh ”hasrat mimetik” atau
dorongan meniru. Saya juga ragu benarkah agar balas-membalas
berhenti sebuah masyarakat perlu sebuah ”mekanisme kambing
hitam”, dengan membuat pihak yang tak bersalah dan/atau le-
mah sebagai domba sembelihan. Tapi agaknya jelas bahwa siapa
pun yang ngeri menyaksikan infeksi itu menjalar akan harus me-
nyetopnya. Kalau perlu dengan menyelubunginya.

Pengadilan adalah sebuah metode untuk itu. Lembaga ini
mengambil alih kehendak membalas dendam dari pihak yang di-
cederai. Tapi dengan sesuatu yang berbeda: di lembaga itu pem-
balasan tak lagi dilakukan oleh pihak yang pernah jadi kor­ban.
Hukuman akan jatuh, mungkin seseorang akan digantung, tapi
pihak yang jadi pesakitan diharapkan tak akan lagi menghantam
balik. Sebab sang hakimlah yang memutus­kan, sang hakim yang
dianggap ”di luar dan atas” konflik. Pada saat itu, mana yang adil
dan tak adil ditentukan oleh ukur­an yang dianggap telah diteri-
ma umum, baik oleh yang menghantam maupun oleh yang di-
hantam.

Tapi bagaimana ukuran ”keadilan” itu disusun? Bagaimana­
disekap 4 tahun dalam penjara merupakan balasan yang setimp­ al
untuk, misalnya, perbuatan ”X” yang mencederai saya dengan
pu­kulan karate? Mungkinkah rasa sakit hati ”Y” dapat diim­
bangi­dengan denda Rp 250 ribu?

Pada akhirnya undang-undang memang harus selalu meng­
akui kegagalannya sendiri dalam memenuhi niat. Niat itu keadil­
an, namun keadilan mustahil mendapatkan bentuk yang pasti.

276 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka INFEKSI

Undang-undang selamanya berisi kekuatan yang hanya menco-
ba. Sebagaimana sebuah puisi tak bisa disimpulkan dengan ben-
tuk parafrasa dalam prosa, begitu juga rasa sakit hati, rasa ke-
hilangan, dan rasa kepedihan fisik: hal-hal yang diderita seorang
korban itu tak mungkin secara memadai disepadank­ an­dengan
angka tahun dan jumlah rupiah.

Dilihat demikian, lembaga peradilan adalah sebuah harap­an
dan juga sebuah kemustahilan, meskipun kemustahilan itu di-
perlukan. Ia juga sebuah hasil paksaan halus. Paksaan itu bertu-
juan agar peran dan bobot dirinya diterima dan diyakini orang
pada umumnya bahwa pengadilanlah wilayah yang terbebas dari
kepentingan sepihak.

Tentu saja di sini tampak ia adalah bagian ”aparat ideologi”
Negara, jika kita pakai kategorisasi Althusser: pengadilan bukan
alat penggebuk seperti polisi dan tentara, tapi ia juga berperan
me­ngendalikan agar kehidupan sosial, biarpun cacat dan rapuh,
tetap utuh.

”Utuh” itu juga sebuah kemustahilan, sebetulnya. Pada za-
man ketika masyarakat (atau ”bangsa” atau ”rakyat”) dibicara­kan
sebagai sebuah Gestalt, sebuah bentuk utuh, kita sering alpa bah-
wa tiap bentuk menegakkan batas, dan ada anasir­yang rontok.
Maka pada zaman ini pula para pemikir teori politik—Giorgio
Agamben, Chantal Mouffe, dan lain-lain yang ada dalam kesa­
dara­­ n ”dekonstruksi”—tampak amat peka memandang ke po-
sisi mereka yang dilumpuhkan. Bagi Mouffe, antagonisme tak
per­nah lepas dari ”the political”. Bagi Agamben, bentuk asali hu­
bunga­ n politik adalah ”pelarangan”. Tiap kota berdiri dan pagar
dib­ angun, selalu akan ada pengungsi, orang buangan, homo sacer
yang bisa dengan mudah disingkirkan.

Indonesia punya sejarah dengan horor dan homo sacer itu:
pemb­­ antaian manusia pada tahun 1965-66 dan pembunuhan
”pen­ embak misterius” pada akhir tahun 1980-an. Sejarah kita

Catatan Pinggir 7 277

http://facebook.com/indonesiapustaka INFEKSI

tak semulus Singapura atau Pondok Indah. Tapi justru karena itu
kita bisa lebih bisa mengerti bahwa ”keutuhan”, ”konsensus”, dan
”rekonsiliasi” (atau ”konsiliasi”, kata Presiden Susilo Bambang
Yud­ hoyono) tak selamanya berlangsung karena nalar­yang mam-
pu melahirkan argumen yang baik. Di tiap momen mufakat, ada
selalu latar yang gelap dan bayangan yang bisa memukau, dan in-
feksi yang tersembunyi.

Kemudian bagaimana kita menerima ini: bahwa melalui luka
dan dosa, demokrasi bisa dewasa.

Tempo, 17 Oktober 2004

278 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAYU

Seseorang pernah mengatakan ia ”sentimentil”, dan ia
sendiri mengakui itu ”benar”. Tapi saya tak yakin. Sampai­
ia meninggal karena kanker pankreas di Paris pekan lalu
dalam umur 74, Jacques Derrida adalah pemikir yang bicara bu-
kan lantaran ia mudah terharu. Bahasanya tak mendayu-dayu,
bahkan kerap kali rumit. Pandangannya tak terasa murung. Ti-
dak, ia bukan pemikir yang ”sentimentil”. Derrida adalah suara
yang sayu.

Ia memang hidup di zaman ketika usaha untuk menjelaskan
dunia kian terasa tak mungkin lepas dari haribaan bahasa, dan
tak kunjung selesai pula. Ia hidup di zaman yang belum juga me­
mecahkan lika-liku keadilan, belum menemukan cara ke pemb­ e­
basan.

Ia juga hidup di zaman ketika makin disadari manusia ternya-
ta tak berdaulat dan tegak utuh bertopang pada nalar yang te­rang-
benderang. Di depan psikoanalisis Freud dan Lacan, tampak­ada
yang lain di samping itu: segumpal nafsu, syahwat atau bukan,
bawah-sadar dan tubuh, dan kaitan yang rumit dengan dunia lu­
ar, sering berupa percaturan kekuasaan.

Tapi tak hanya di situ manusia bersua dengan ”yang-lain” da­
lam dirinya. Derrida bahkan menunjukkan, bahwa bahasa, yang
membuat manusia berhubungan dengan dunia, tak selamanya­
dapat dibariskan seperti pramuka yang rapi oleh sang subyek.
Bagi Derrida, makna kata tak berjalan lewat lorong yang lurus
dari pikiranku, ke pikiranmu. Lorong lurus itu tak pernah ada.
Makna dapat saja muncul macam-macam.

Sebab di tiap saat, bahasa—yang terdiri atas untaian ”penan­
da”, yakni paduan bunyi vokal dan konsonan—punya dinamika­
nya sendiri. Tiap penanda memproduksikan makna karena ia­

Catatan Pinggir 7 279

http://facebook.com/indonesiapustaka SAYU

bergerak dalam lalulintas penanda yang berlain-lainan. Seba­gai­
mana seseorang disebut ”abang” karena ada seseorang yang dise-
but ”adik”, sepatah kata menjadi berarti karena kata yang la­in.
Dalam bahasa Indonesia ada kata ”kolong”. Kita tahu ”kol­ong”
tak pernah hadir sendiri di ruang mana pun. Sebentuk bu­nyi­vo-
kal dan konsonan mengandung arti ”kolong” karena dalam diri
pe­nanda itu ada jejak kata lain, yang berarti ”meja”, atau ”kak­ i
meja”, dan ”lantai”.

”Kolong” dapat kita identifikasikan, tapi tampak: tak ada
ident­itas yang tanpa jejak ”yang-lain”. Tiap ”kesatuan”, sebuah
totalitas, senantiasa jadi demikian justru karena ada tilas, mung-
kin gema, dari apa yang bukan bagian kesatuan itu. Maka tak
ada identitas—sebagai sesuatu yang utuh dan total—yang lahir
secara alamiah. Tak ada identitas yang lahir dari asal-usul yang
esa dan suci murni.

Ketika Derrida berbicara tentang ”dekonstruksi”, pandang­
an tentang ”yang-lain” itulah yang tersirat. Kata ”dekonstruksi”
memang kemudian diartikan sebagai metode penafsiran sebuah
teks. Tapi sebenarnya bukan cuma itu. Dekonstruksi membong-
kar apa yang tampaknya utuh karena tahu ada yang-lain yang di­
tenggelamkan di sana. Ia sangat terkait dengan sesuatu yang etis
dan politikal. ”Dekonstruksi adalah keadilan,” kata Derrida.

Sebab sungguh tak adil untuk menampik mereka yang ter­cecer­
dan terbungkam ketika kesatuan dibentuk. Akan bertambah­tak
adil bila kesatuan/identitas itu dianggap abadi. Kesatuan/identi-
tas yang bergeming adalah sebuah kekerasan. Ia mengetam siapa
saja, juga diri sendiri.

Maka masalah keadilan pada akhirnya adalah masalah pem-
bebasan. Dalam hal ini Derrida berdiri dalam tradisi yang sama
dengan Marx. ”Emansipasi,” katanya dalam sebuah simposium
di Paris di tahun 1993, ”... jadi persoalan yang luas hari ini.” Lalu
katanya pula: ”Harus saya katakan saya tak bisa berlaku toleran

280 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAYU

kepada mereka... yang bersikap ironis dalam memandang wacana
besar emansipasi.”

Suara tajam ini agaknya ia tujukan kepada pemikir liberal se-
perti Richard Rorty, yang cenderung melihat Derrida sebagai se­
orang ”ironis”. Umumnya orang memang akan menduga begitu­
bi­la membaca karya-karyanya, Glas, misalnya, yang seperti
main-main mengambil jarak dari sebuah keyakinan yang serius.

Mungkin itu sebabnya Rorty memasukkan Derrida ke dalam
golongan pemikir yang karyanya ”untuk memenuhi tujuan pri­
vat”. Pengaruhnya secara politik akan tak berarti atau amat tak
langsung. Dalam pandangan Rorty, Derrida berbeda dari filosof
seperti John Stuart Mill atau John Rawls (tentunya juga Marx)
yang berpikir untuk ”tujuan publik”.

Tapi begitu jelaskah batas yang ”privat” dan yang ”publik”
dalam Derrida? Bagi Derrida sendiri, yang hendak ia kemuka­
kan bukanlah sesuatu yang menghindari arena publik. Yang di­
kemukakannya adalah ”yang-rahasia”. Baginya, ”yang-rahasia”­
ada di sebuah zona yang tak dapat disentuh yang berkuasa­bah-
kan dalam sistem totaliter sekalipun. Tapi justru dengan meng­
akui ”yang-rahasia”, dan menghargainya, akan terbukalah wi­
layah publik itu bagi ”yang-lain”.

Di sini Derrida bicara tentang demokrasi. Bagi Derrida, de-
mokrasi mati bila ”yang rahasia” diletakkan semata-mata sebagai
persoalan privat.

Dengan kata lain, demokrasi adalah sebuah usaha dari ”yang-
rahasia” untuk membebaskan diri dari sebuah bangunan politik
yang mau merengkuhnya—seperti ketika Stalin menginjak sajak
Pasternak dan gereja atau ulama mengusut kemurnian doa. Di
situ, yang-rahasia dihabisi. Di situ, yang-rahasia adalah yang-lain
yang lemah. Di situ, ia yang dicampakkan.

Demokrasi-lah yang menyambutnya. Itulah l’ hospitalité: pin-
tu yang dibukakan oleh si empunya rumah bagi yang kalah dan

Catatan Pinggir 7 281

http://facebook.com/indonesiapustaka SAYU

terbuang.
Tak berarti si empunya rumah sebuah subyek yang mampu

dan otonom seperti manusia Pencerahan dalam gagasan Kant. Ia
justru subyek yang lulut pada titah. Tapi titah itu tak berasal dari
Yang Mahakuasa. Titah itu justru yang memanggil kita dari ia
yang dilukai, dihina, tak berdaya, dan ditinggalkan.

Memang tampak mustahil kuasa seperti itu akan mengubah
dunia. Tapi Derrida tak bicara tentang utopia, melainkan ”ke-
messiah-an”, sebuah janji di hari ini—hari yang selalu tak leng-
kap—bahwa la démocratie à venir, bahwa demokrasi selalu ”akan
datang”.

Di sini sang filosoflah yang menggetarkan kita. Suaranya
sayu.­

Tempo, 24 Oktober 2004

282 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PULUNG

DI masa lalu orang sering melihat harapan. Bentuknya
pul­ung: seberkas cahaya yang jatuh dari langit di malam
hari, isyarat bahwa seseorang telah dipilih untuk­punya
kelebih­an, dan dengan itu mengatasi dunia yang ruwet.

Dengan kata lain, harapan adalah sesuatu yang luar biasa. Itu
juga yang sampai sekarang terjadi. Pulung memang tak tampak
turun di Cikeas, di bubungan rumah Presiden Indonesia yang
baru. Tapi di Cikeas dan di luarnya, tiap kali kita ”meng-harap”
kita selalu ”ber-harap”. Kita melakukan sesuatu untuk mengada-
kan harap, tapi pada saat yang sama kita bersikap bahwa kita ber­
ada dalam keadaan sudah mempunyainya (tersirat dari awalan
”ber”). Artinya, ada sebuah loncatan ajaib antara belum dan sudah
ada. Harap seakan-akan tercipta dari ketiadaan, datang dari crea­
tio ex nihilo.

Tapi ”harap” disebut juga ”harap-an”. Dalam bahasa Indon­ e­
sia, akhiran ”an” (seperti dalam ”temu-an”, ”minum-an”, ”pakai-
an”) menunjukkan sesuatu yang ada setelah sebuah laku. Pulung
itu sebenarnya bukan datang dari ketiadaan. Cahaya yang luar
biasa itu tak akan tampak seandainya orang tak menantikannya
dengan cemas, dengan doa dan tirakat. Apa yang kelihatannya
creatio ex nihilo pada hakikatnya sebuah hasil ikhtiar.

Dan itu tak hanya terjadi dalam pengalaman Indonesia. Di
Rusia, Nadezhda Mandelstam menulis sebuah memoar tebal,
yang kemudian dalam bahasa Inggris disebut Hope Against Hope.
Ia melukiskan suasana putus asa setelah suaminya, penyair Osip
Mandelstam, dibuang dan tak pernah kembali. Osip adalah kor­
ban yang dibabat karena puisinya tak meng­ikuti­doktrin ”real-
isme sosialis”, juga karena ia dianggap menghina Stalin, setelah
menulis sebuah epigram tentang seorang penguasa pembunuh

Catatan Pinggir 7 283

http://facebook.com/indonesiapustaka PULUNG

yang berjari seperti cacing dan berkumis bak kecoak.
Selama tujuh tahun, sampai dikabarkan Osip mati di pem-

buangan, Nadezhda menunggu—seperti beribu-ribu orang lain
yang sanak keluarganya ditangkap dan tak pulang.

Di tahun 1930-an itu Stalin memang memenjarakan siapa
saj­a yang dituduh ”kontrarevolusioner”. Umum tahu dan ber-
bisik-bisik bahwa orang-orang yang tak bersalah telah dibuang
atau ditembak mati. Dalam ketakutan, ribuan orang melakukan­
semacam doa yang ganjil: mereka menulis surat. Alamatnya para
pejabat yang umumnya jauh tak terjangkau. ”Siapa di antara ka­
mi yang tak pernah menulis surat ke para penguasa luhur, yang
dialamatkan ke nama yang kukuh berkilau bagai logam? Dan apa
isi surat itu selain meminta mukjizat?”

Mukjizat hampir tak pernah datang. Tapi toh doa yang ganjil
itu, tirakat yang menulis dengan tangan gemetar itu, cukup­un-
tuk menemani hidup yang kehilangan. Seakan-akan tiap orang
berkata, ”Aku berharap, maka aku ada.”

Sejak zaman purba manusia memang tak gentar masuk ke
rim­ba meskipun begitu banyak bencana menanti. Optimisme
itul­ah yang diwariskan di dalam genos generasi selanjutnya. Dari
itu agaknya kita tahu, seperti kata Lionel Tiger yang menulis se-
buah buku tentang ”biologi harapan”, bahwa manusia adalah ”se-
jenis hewan dengan bakat besar... untuk berharap”, an animal
with a gorgeous genius for hope.

Kita memang tak bisa lepas dari berharap. Percaya pada surga
di langit dan surga di bumi adalah bagian kesadaran yang mem-
buat sejarah berubah. Memang, abad ini datang dengan sikap
ragu. Orang mulai melihat bahwa utopianisme adalah campuran
amarah, angan-angan, dan sikap angkuh. Marxisme-Leninisme,
sumber inspirasi yang begitu kuat, ternyata gagal di abad ke-20.
Tapi optimisme baru muncul, dan kita dengar Francis Fukuyama
memaklumkan rasa syukur bahwa kita telah tiba di akhir sejarah:

284 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PULUNG

ekonomi pasar ternyata tak bisa dikalahkan, demokrasi liberal
ternyata menang di mana-mana.

Tapi bukankah itu juga ketakaburan? Di ”akhir sejarah”, ma-
nusia menghadapi soal yang timbul ketika kelak dua miliar­lebih­
manusia di Cina dan India memasuki ekonomi pasar seperti di­
samb­ ut Fukuyama—dengan dinamika yang dilecut oleh hasrat
berjuta-juta orang untuk makan, bermobil, bepergian sepuas-
puasn­ ya. Siapkah alam untuk itu? Seorang pengkritik Fukuya­
ma, Perry Anderson, memperkirakan dengan muram, seperti na­
bi Alkitab memperingatkan tamaknya kota-kota: bila gelombang
konsumsi itu terus, ”separuh dari spesies manusia akan mesti pu-
nah”. Yang lemah juga yang akhirn­ ya harus tenggelam.

Kita yang tak sampai hati akan berkata, ”Mari kita berikhtiar
meminta pulung jatuh lagi!”

Jangan-jangan benar: dunia perlu bertirakat, berpuasa—ta­
pi bukan puasa seperti yang diramaikan iklan sebagai sejum-
lah siang yang mempersiapkan jamuan besar. Juga, bukan puasa
dalam pengertian ahli fikih yang hanya mengukur kesalihan de-
ngan jarum jam. Puasa yang akan menyelamatkan kita adalah
pu­asa yang terus-menerus, tak siang tak malam, untuk menghen­
tikan hasrat sebelum kenyang, hingga ”kenyang” sama artinya
dengan hasrat yang berhenti. Pada saat yang sama, puasa itu bu-
kan untuk surga yang disiapkan untuk diri sendiri.

Tapi kita juga mafhum: pesan macam itu tak akan memikat
banyak orang. Banyak orang akan menampik surga yang tak ber-
sungai susu dan dihuni bidadari berpuluh ribu.

Tapi bukankah manusia bisa mulia ketika ia bukan hanya he-
wan yang pintar berharap, tapi makhluk pembawa harapan, saat
ia memberikan dirinya untuk yang lain yang butuh?

Saya ingat adegan penutup novel Grapes of Wrath John Stein-
beck: Rose of Sharon, gadis sulung keluarga Joad yang miskin
dan malang, melahirkan bayi ketika air bah menghantam. Sisa

Catatan Pinggir 7 285

http://facebook.com/indonesiapustaka PULUNG

ke­luarga itu pun naik ke tanah yang lebih tinggi, dan masuk­ke
sebuah gubuk. Seorang anak tampak sendiri bersama ayah yang
terhampar hampir mati kelaparan. Rose juga lapar, ia juga tak pu-
nya apa-apa. Tapi gadis yang dulu acuh tak acuh itu membung-
kuk bagi si sakit. Dengan air teteknya ia coba selamatkan orang
yang tak dikenalnya itu, dan saya ingat kisah muram itu ber­akhir
dengan senyum

Tempo, 31 Oktober 2004

286 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka NOVEMBER

NOVEMBER mungkin awal musim dingin harapan kita,
jika 2004 adalah tahun penentuan Amerika. Negeri­
itu telah jadi begitu penting, hingga ia kini hadir seba­
gai­pusat yang membuat kita cemas. Hidup beribu-ribu mil dari
Amer­ika­Serikat, kita memandang ke sana dengan waswas: apa
yang akan terjadi pada November ini bila ternyata sebagian­besar
orang Amerika mendukung terus kekuasaan Presiden Bush?

Kita tak berhak memilih, tapi kita juga akan terenyak. Kita
ba­gian dari negeri lain, tapi kita akan kecewa, marah, dan ber­
tanya­kepada jutaan pemilih dari Hawaii sampai dengan Alaska
itu: apa sebenarnya yang terjadi dengan diri Tuan-tuan?

Kita tahu, ”11 September” telah tumbuh jadi kata yang menan-
dai korban dan ketakutan, setelah ribuan orang tak bers­alah ter-
bunuh oleh terorisme. Kita mengerti ada amarah dan dendam
da­lam kata itu, karena selama bertahun-tahun ribua­ n orang di
bagian dunia lain juga binasa oleh kesewenang-wenangan yang
sama. Tapi kita masygul kenapa hal itu tak men­ yebabkan orang
Ame­rika merasa jadi bagian yang senasib­dengan orang lain; ke-
napa yang muncul adalah sikap angkuh ke seluruh dunia? Sikap
angkuh yang menyebabkan Irak di­serbu­meskipun tanpa alasan
yang sah, dan ribuan manusia, juga anak-anak, mati? Benarkah
hal itu menyebabkan orang Amerika jadi aman di mana-mana?
Kenapa tak dilihat betapa wabah kekerasan justru berjangkit?

Jika Bush dapat mandat kembali dan ia terus, semua itu tak
akan terjawab. Dan kita akan tetap heran, karena di Amerika sen­
diri pertanyaan itu menyebabkan negeri itu praktis terbelah. Pe­
rang,­paranoia dan retorika yang pantang mundur menjalar ke
mana-mana. Dari Gedung Putih dan Pentagon sebuah kehidup­
an politik yang enggan berkompromi telah lahir.

Catatan Pinggir 7 287

http://facebook.com/indonesiapustaka NOVEMBER

Kenapa? Barangkali karena Tuhan dan kemenangan.
Setelah Perang Dingin usai, dan Amerika keluar unggul, tam-
paknya hanya satu kesimpulan yang dipegang: Tuhan memilih­
Amerika dalam sejarah. Tuhan memberinya kekuatan yang me­
nakjubkan. Dari sana lahir kekuasaan, dan kekuasaan itu tak
memb­ utuhkan negosiasi, apalagi persetujuan orang lain. Politik
bukan lagi dilakukan dengan kemungkinan melihat kesalahan
diri sendiri, dan sebab itu memungkinkan kompromi. Politik, ke
dalam dan ke luar negeri, adalah imperialisme. Beda berarti ben-
ci, kemenangan berarti penaklukan.
Belum pernah rasanya Amerika terpecah semendalam seperti
sekarang sejak perang di Vietnam 40 tahun yang lalu.
Dengan itu pula kita memang tahu, tak semua orang Amer­i­
ka memilih kembali Bush. Keputusan sebuah bangsa memang
bukan berarti tanda final sebuah konsensus. Pemilih­an umum
adalah sebuah mesin yang kompleks dengan hasil yang bersahaja:
seperti snapshot. Apa yang tampak sebenarnya menyembunyikan
apa yang merupakan proses—ada kemarin,­kini, dan esok, de-
ngan kemungkinan yang lain-lain. Pada akhirn­ ya, sebuah mufa­
kat politik adalah sebuah bentuk hegemoni—satu corak menga­
lahkan dan menguasai yang lain—tapi tiap hegemoni selalu
bersifat sementara.
Kita sadar akan semua itu. Tak semua orang Amerika bisa di-
anggap bersalah. Ada ratusan ribu orang Amerika yang dengan
sep­ enuh hati mencegah Bush jadi pilihan bangsa itu lagi. Tapi
pada saat yang sama kita juga dapat bertanya, setelah November
2004, apa yang akan jadi sikap mereka yang kalah karena tak me-
milih Bush?
Demokrasi yang telah berjalan berpuluh tahun memang
memb­ utuhkan dekorum: si kalah harus mengakui kekalahannya,­
seperti dalam sebuah turnamen tenis. Jika ia kalah, John Kerry
akan melakukan itu. Dalam dekorum ini tersirat pandangan,

288 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka NOVEMBER

bahwa pemilihan umum adalah mesin yang berjalan rutin, net­
ral, tanpa didahului penilaian bahwa hasilnya akan ”baik” atau
”buruk” bagi manusia.

Lambat-laun orang pun menganggap bahwa, dalam proses
politik, yang ”baik” dan ”buruk” itu soal sementara, tak harus­di-
cantolkan kepada nilai-nilai yang kekal, tak usah dipegang habis-
habisan. Perbedaan, kompetisi, dan sengketa telah dijinakk­ an.
Akhirnya semua itu dianggap hanya soal pilihan. Pilihan itu, se-
perti di AS kini, dilambangkan dalam sosok dua tokoh. Kedua­
nya­tak dimaksudkan sebagai tauladan kesempurnaan. Demo­
krasi bertolak dari pandangan bahwa tak satu pihak pun yang
tanpa dosa.

Tapi apa yang terjadi jika politik telah cenderung melihat yang
lain berdosa—khususnya kepada Tuhan dan tanah air? Bagaima-
na jika masyarakat telah terbelah karena apa yang ”baik” dan ”bu­
ruk” begitu menajam dan begitu mendalam? Bisakah yang ka­lah
akan mengatakan bahwa semua ini hanya sebuah pertandinga­ n
yang rutin dan normal?

Tapi tahun 2004 adalah tahun Amerika: kini di sanalah diper­
taruhkan hal-hal yang bukan sekadar soal bagaimana pertum-
buhan ekonomi diperbaiki, perang diselesaikan, dan pendidikan
disebarkan. Yang kini dipertaruhkan adalah hal-hal yang akan
punya efek ke seluruh dunia bagi masa depan demokrasi: sejauh
manakah kebebasan boleh dilindas untuk membuat orang mera-
sa aman? Bolehkah hukum berlaku berbeda bagi orang asing dan
pihak musuh? Benarkah Amerika sebuah keistimewaan dengan
berkat Tuhan, dan sebab itu imperialismenya justru sebuah tau-
ladan? Dapatkah manusia mengklaim posisi seperti itu, dan men-
jadikan Tuhan (dalam versi yang ada di kepalanya) sebagai hakim
di tengah bumi yang majemuk?

Pemerintahan Bush mewakili mereka yang dengan yakin
menjawab ”ya”—dan yang ingin mengubah dunia dengan sua­

Catatan Pinggir 7 289

http://facebook.com/indonesiapustaka NOVEMBER

ra­”ya” itu.
Maka, jika Bush dipilih kembali, November ini, sebuah mu­

sim dingin yang muram akan bermula: matahari tak akan bersi­
nar lagi bagi mereka yang percaya bahwa demokrasi bukanlah
sesuatu yang mengkhawatirkan, karena demokrasi mengandung
sikap yang lebih rendah hati, karena demokrasi mengakui bahwa
yang berperan adalah orang dan agenda yang tak pernah sempur­
na.

Bahwa kini demokrasi di Amerika—yang telah dua ratus ta-
hun umurnya—membuat kita begitu cemas, itu sendiri sesuat­u
yang membuat kita cemas.

Tempo, 7 November 2004

290 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SAMAN

SAMAN adalah sebuah teror purba. Pada abad ke-2 orang
Druid percaya bahwa dialah yang dipertuan di dunia ke-
matian, yang tiap 31 Oktober malam akan mendatangkan
barisan roh jahat. Penduduk wilayah Gaulia dan kepulauan Bri-
tania akan menunggu saat itu dengan gentar. Konon pada malam
itulah para arwah akan datang mengetuk pintu rumah yang per-
nah mereka huni.

Ketakutan kolektif ini melahirkan upacara—sebuah upaya­
melunakkan hati para demit yang melahirkan ”pesta” Hallo­ween.­

Ritual lama itu terus. Bukan karena takhayul masih kuat, tapi
karena manusia tampaknya menggemari rasa takutnya­sendiri.
Ce­rita hantu gampang laku dan kecemasan mudah­disebarluas­
kan.­Kini ”horor” itu bahkan jadi bagian dari indus­tri budaya.
Pel­bagai benda dan jasa beredar di toko dan kaki lima dunia:
kedok­setan, jubah Drakula, pesta dalam gelap, novel Stephen
King....

Di Amerika Serikat, tahun 2004, pemasaran setan-setanan 31
Oktober itu dapat menjelaskan kenapa ketakutan pasca-11 Sep-
tember berlanjut terus. Dalam persaingan sengit dua calon presi­
den, ketakutan kolektif itu (”Awas teror!”) diolah dengan kampa-
nye yang panjang dan dana terbesar dalam sejarah: $ 550 juta di-
habiskan untuk iklan di TV.

Betapa kebetulan, tapi betapa cocok, ketika Usamah bin Ladin
mendadak muncul 48 jam sebelum Halloween. Pemimpin ”Al-
Qai­dah” yang menyatakan diri sebagai pengatur penghancura­ n
ke Menara Kembar itu menyiarkan statemennya. Berbicara da­
ri­sebuah waktu yang tak jelas dan tempat yang entah di mana,
ia­memang personifikasi teror yang pantas bagi orang Amerika:­
Usamah adalah Saman yang dipertuan­di dunia kematian, yang

Catatan Pinggir 7 291


Click to View FlipBook Version