The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka PARRHESIA

Di situlah demokrasi jadi penting. Sebuah republik bukanlah
sebuah ruang steril. Maka apa boleh buat, yang berbicara tak ha­
nya­para pakar dengan rumus, tapi orang biasa—dengan kesalah­
an-kesalahannya, dengan nafsunya, dengan ketakuta­ nnya. Kita
hidup bersama mereka, dalam dunia mereka.

Tempo, 22 Februari 2004

142 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PRANCIS

YANG suci tampaknya belum surut. Juga ketika mukjizat
menghilang dan Tuhan hanya disebut dari ruang yang
hingar. Dunia memang mengalami Entzauberung—se­
patah kata dari Weber yang terkenal itu, yang menggambarkan
hilangnya tuah dari kehidupan. Modernitas hadir. Tapi tidakkah
modernitas yang sekuler itu juga punya batas?

Prancis: di negeri ini, di mana Islam agama terbesar No. 2,
anak-anak muslimah datang ke sekolah dengan berjilbab. Mereka
tampaknya merawat apa yang sakral. Mungkin petuah­orang tua
tentang tradisi dan harga diri. Mungkin ajaran agama. Mungkin
juga tubuh mereka, hingga perlu diberi tabir dari debu duniawi
dan dari jamahan yang profan. Mungkin sekali ketiga-tiganya.

Tapi apa yang terjadi jika sesuatu yang dianggap suci bentrok­
dengan sesuatu yang dianggap suci? Di Paris, Régis Debray, da­
lam wawancara dengan majalah Lire nomor Februari ini, meng-
ingatkan, ”Kita jangan mencampuradukkan yang suci dengan
yang religius, dan yang religius dengan yang ilahia­ h.” Sebab ba­
nyak­”agama tanpa dewa-dewa dan tanpa Tuhan.”

Dari Debray, suara ini menarik untuk didengar. Dalam umur
64 tahun, ia bertahun-tahun mewakili suara yang kiri, bahkan
rad­ ikal. Ia pernah ikut bergerilya di Amerika Latin­membantu
”Che” Guevara; ia dipenjarakan di Bolivia dari tahun 1967 sam-
pai 1970. Buku pertamanya, Révolution dans la Révolution (1967),
menampakkan rasa kagumnya kepada gerak­an revolusioner. Tapi
yang dilakukan pada umur 27 tak dengan sendirinya berulang ke-
mudian. Saya terkejut ketika membaca Lire: kini Debray­meraya­
kan ”nilai-nilai Amerika”, termasuk soal menghormat bendera di
waktu pagi. ”Saya iri akan orang-orang Amerika dalam hal kesa­
daran warga negara­ (civisme) dan patriotisme mereka, bahkan

Catatan Pinggir 7 143

http://facebook.com/indonesiapustaka PRANCIS

bila kedua hal itu dipakai untuk tujuan-tujuan buruk.”
Debray, kini patriot di abad ke-21, hendak menunjukkan bah-

wa tak ada masyarakat yang tak punya wilayah yang disuci­kan
dan tanpa transendensi. Uni Soviet dulu punya Lenin. Amerika
Ser­ikat punya Washington dan para ”bapa pendiri”. Dan apa ki-
ranya sukma Republik Prancis? Jawab Debray, ”Kita juga punya
satu wilayah seperti itu,” dengan ”pahlawan-pahlawan­besar” se-
perti Danton, seperti Leclerc.

Debray menyebut Leclerc, prajurit legendaris Prancis dalam
Perang Dunia II yang dua kali dipenjarakan Jerman dan dua kali
melarikan diri. Perwira aristokrat ini kemudian bertempur di
padang pasir Afrika. Pasukannya dipuji Churchill karena kebe­
rani­annya dalam peperangan di Tunisia. Leclerc juga yang ikut
merebut kembali Paris dan menerima pernyataan menyerah ten-
tara Jerman dari Jenderal Von Cholitz, 25 Agustus 1944.

Debray menyebut Danton. Tokoh Revolusi Prancis ini pun
orang yang berani, juga ketika ia harus menghadapi kaum revo­
lusioner yang lebih ekstrem yang kemudian memenggal kepala­
nya,­5 April 1794.

Yang pertama, Leclerc, mengisyaratkan pentingnya la patrie,­
tanah air. Yang kedua mengisyaratkan pentingnya la läicité, se-
mangat sekuler. Dalam lakon Georg Buchner, Dantons­ Tod
(”Ma­tinya Danton”), kita dengar tokoh ini berkata bangga: ia
mengingkari adanya kebajikan; ia juga mengingkari adanya dosa.
Baginya, ”Yang ada hanya para epikurian, yang halus dan yang
kasar.”

La patrie dan la läicité di Prancis memang bertaut: Revolusi
Prancis yang memusuhi Gereja itu juga salah satu tonggak awal
lahirnya ”negara nasional”. Tapi tampaknya, seperti di pelbag­ ai
negara modern, kini ada yang terasa kurang. Jika kebajikan dan
dosa tak diakui, dan yang penting adalah kaum ”epikurian” yang
memprioritaskan hari ini, bukankah masih diperlukan jawab:

144 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PRANCIS

apa yang bisa membahagiakan manusia secara bersama-sama di
sebuah dunia yang tak peduli akan akhirat? Apa kebahagiaan
bagi aku dan Tuan? Apa yang bukan?

Jawab untuk itu, konon, akan bisa ditemukan jika ada nilai-
nilai yang jadi fondasi sebuah kebersamaan. Tapi setelah Revo­lusi
Prancis, setelah modernitas dan Entzauberung, politik berlang-
sung dalam kondisi ”pasca-fondasional”. Tak ada konsepsi meta­
fisik­tentang apa yang ”bajik” dan apa yang ”buruk”. Yang ada
han­ ya undang-undang, dan kita tahu: undang-undang lahir dari
perundingan yang tak selamanya bersih.

Tapi apa daya? De-kristen-isasi telah terjadi, kata Debray, tapi
malangnya tak disertai pulihnya kembali makna. Keseimbangan
antara hak dan kewajiban tak ditegakkan lagi—dan di sini saya
kira Debray ingin berbicara tentang hilangnya ”otoritas”. Seperti
yang pernah dibicarakan Hannah Arendt, itu bera­ rti hilangnya
wibawa yang mampu mempengaruhi perilaku dalam polis atau
”madinah” kita, tanpa memaksa, tanpa kekerasan.

Maka Debray pun bicara tentang ”yang suci”, le sacré, suatu
transendensi yang menjaga agar sebuah bangunan sosial tak run-
tuh. Tapi dengan caranya sendiri. Ia berbicara tentang ”suatu li-
ang di dasar”, ”suatu ketidakhadiran fundamental”. Dengan
agak dramatik ia katakan, ”Orang berbaris ke Taman Firdaus
atau orang datang dari surga yang hilang.” Dan dari surga yang
hilang itu, dari la läicité itu, memang ada rasa cemas. Tapi itu juga
”tenaga pendorong kita”.

Dari sinilah ”yang suci” diimbau. Ia terasa hadir dalam kese-
tiaan manusia kepada sesuatu (bagi Debray: tanah air), yang bisa
menyebabkan ia berani mati, juga ketika Tuhan tak diakui. Dari
sini kita tahu kenapa Debray menyebut sekolah sebagai sebuah
sanctuaire, wilayah damai tempat orang berlindung. Sekolah bu-
kan sebuah tempat umum. Seperti tiap komunitas, seperti halnya
gereja atau kuil, sekolah juga memerlukan ”ambang” (les seuils).

Catatan Pinggir 7 145

http://facebook.com/indonesiapustaka PRANCIS

Bila ke masjid orang menanggalkan sepatu, ”kenapa tak begitu
halnya dengan jilbab ketika memasuki sekolah?”

Pertanyaan yang bagus. Tapi ada yang belum dijawab Debray:
benarkah anak-anak muslimah itu datang ke sekolah untuk ber-
lindung? Ataukah untuk mendapatkan sesuatu yang kelak mem-
buat mereka tak perlu proteksi, dengan atau tanpa­yang ”suci”?
Dan bila pun mereka datang berlindung, tak mungkinkah itu
karena mereka takut cedera oleh ketidakb­ ebas­an dan intoleransi,
yang jangan-jangan datang dari mere­ka yang mempersucikan la
patrie?

Tempo, 29 Februari 2004

146 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GRONDSLAG

JAKARTA, menjelang pertengahan 1945, tiga bulan sebelum­
bom atom jatuh di Hiroshima. Sekitar 80 orang hadir di se-
buah pertemuan 10 hari.
Di antara mereka tak ada buruh atau peladang, orang dari
pesantren atau masyarakat adat, dan hampir tak ada perempuan.
Tapi ke-80 orang itu bukan orang yang jauh dari orang ramai. Se-
lama belasan tahun, mereka pernah aktif sebagai ”orang perg­e­
raka­ n” dan bertemu dengan pelbagai lapisan rakyat, atau jadi pe-
jabat, atau ikut aksi untuk kemerdekaan lewat partai dan perhim-
punan. Di antara mereka, ada Sukarno dan Hatta, yang telah jadi
buah bibir sebagai ”Bung Karno” dan ”Bung Hatta”.

Hari-hari itu, tugas mereka—diberikan oleh penguasa Jepang
di Jakarta waktu itu, yang tahu Dai Nippon akan kalah dan me­
re­ka harus meninggalkan kepulauan ini—adalah menyiapkan
lah­ irnya sebuah ”Indonesia” yang ”merdeka”. Tapi apa yang dise-
but ”Indonesia”? Bagaimana keadaan ”merdeka” itu?

Jawab masih kabur. Masih banyak pengertian pokok yang ha­
nya diangankan—dalam arti dikehendaki, dirancang-bentuk,­
tapi disadari atau tidak, hasilnya hanya punya dasar yang tentatif.

Dengan itu mereka berunding. Rapat berlangsung di Gedung
Tyuuoo Sangi-In, tak jauh dari Stasiun Gambir. ”Kita harus­men-
cari persetujuan paham,” kata mereka, seperti kemudian ditiru-
kan Bung Karno.

Maka, pada tanggal 1 Juni, Bung Karno, salah seorang ang­go­
ta­sidang, berbicara tentang perlunya sebuah philosophische grond­
slag. ”Negara Indonesia” yang sedang disiapkan itu butuh sebuah
”dasar filsafat”. Sebab bagi Bung Karno sebuah republik­tak bisa
didirikan ”dengan isi seadanya saja.” Banyak negeri, katanya,
”berdiri di atas suatu Weltanschauung.”

Catatan Pinggir 7 147

http://facebook.com/indonesiapustaka GRONDSLAG

Ia sebutkan contoh lima negeri dan lima ”pandangan dunia”.­
Uni Soviet: Marxisme-Leninisme; Jerman di bawah Hitler: Nazi­
isme; Jepang: Tennoo Koodoo Seishin; Arab Saudi: Islam; Cina:
gagasan Sun Yat Sen dalam ”tiga asas” atau San Min Chu I.

Dari tesis inilah Bung Karno pun merangkai ”Pancasila”.
Menarik bahwa tak seorang pun waktu itu yang bertanya kena-
pa grondslag begitu penting. Memang, ”persetujuan paham” per-
lu ada di sebuah negeri dengan isi yang majemuk. Tapi bukankah
”persetujuan paham” bisa dicapai tanpa sebuah ”filsafat” yang
mendasari kehidupan bersama? Tidakkah lebih mustaj­ab bila
seb­ uah negara punya aturan yang memadai buat member­eskan
sengketa dan menjaga kesepakatan? Dengan kata lain: bu­kankah
lebih penting hukum positif ketimbang Weltanschauung?­Jangan
lupa: Swiss dan Brasilia—yang begitu plural penduduknya—tak
punya satu ”filsafat dasar”, tapi kedua­nya tak pernah pecah.
Tapi orang terpesona kepada pidato Bung Karno. Mereka ke-
mudian menjadikannya sebagai Lahirnya Pancasila, sebuah canon­
pemikiran politik Indonesia. Dan orang bertepuk buat grondslag.
Pada masa itu mereka memang biasa mendengarkan semboyan
”Asia untuk bangsa Asia”, dan ingin menampik modernitas yang
gemuruh dari ”Eropa”. Bagi mereka, ”Barat” adalah kehampaan.
Di sana telah hilang pegangan, telah runtuh ”metanarasi” yang
bisa memberi makna yang dihayati bersama, ”telah mati Tuhan”.
Sanusi Pane, penyair yang memuja Hindia dan bersedia bekerja
untuk kantor propaganda Jepang itu, melihat ”Barat” sebagai ”ni-
hilisme”.
Cemas itu memang bergema luas, juga di ”Barat” sendiri. Da­
niel Bell mencatatnya dalam The Cultural Contradictions of Ca­
pital­ism: itulah, ia berkata, salah satu problem modernitas dan
sekularisasi. ”Tuhan telah mati,” kata Bell, berarti ”pertalian so­
sial­telah putus” dan ”masyarakat telah mati.”
Memang seharusnya Tuhan tak patut dianggap hanya sebagai

148 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GRONDSLAG

sang penyangga nilai-nilai. Tapi manusia perlu jawab bagaimana
menemui ajal, mengerti tragedi, memaknai cinta, menanggung
ke­wajiban. Sebuah kebersamaan selalu membutuhkan ”budaya”,
bukan hanya teknik dan teknologi.

Agaknya itulah sebabnya orang menyambut grondslag. Se­
bagai­mana orang terpikat tulisan Mao atau terpukau pemikiran
Sayyid Qutb: ada hasrat mengembalikan ”fondasi”­ke kehidupan
politik. Tuah dan mukjizat Kata telah surut dari dunia. Bersama­
an dengan itu, acuan normatif tentang apa yang baik dan buruk,
penilaian estetik tentang yang indah dan jelek, dan persoalan
kognitif tentang yang benar dan salah telah berkembang di pe­
nget­ahuan yang terpisah-pisah—sebuah gejala modernitas, kata
Max Weber. Dalam kondisi itu, betapa bisa sebuah masyarakat
berg­ erak bersama, tanpa dilecut kekuasaan?

Ternyata tak gampang memecahkan soal ini. Membuat se-
buah grondslag yang bertuah dan bermakna bagi jutaan orang
pada akhirnya merupakan ikhtiar besar ”penyembuhan”. Panca­
sila­dan Maoisme disebarkan dengan indoktrinasi yang bertubi-
tubi.

Dalam hal ini Qutb punya kelebihan: ia bisa menyatakan bah-
wa grondslag yang ditawarkannya adalah ”Islam”. Agama ini telah
menyangga manusia berabad-abad, dengan keyakin­an bahwa ia
datang dari Tuhan.

Namun pada akhirnya ide-ide Qutb—sebuah kritik kepada
modernitas—juga harus bersua dengan kritik lain kepada mo-
dernitas. Gianni Vattimo, pemikir Italia itu, memperkenalkan
makna il pensiero debole, ”pikir yang lemah”. Dengan itu kita bisa
lebih rendah hati dan melihat bahwa ”semua adalah tafsir”. Juga
apa yang dikemukakan Qutb sebagai ”Islam”.

Tak berarti seluruh grondslag perlu dicopot. Apalagi dalam
hal Pancasila, ada yang penting: ia sebuah grondslag dan sekalig­ us
juga perundingan—dan ini tak hanya berlangsung di Gedung

Catatan Pinggir 7 149

http://facebook.com/indonesiapustaka GRONDSLAG

Tyuuoo Sangi-In itu. Di sebuah negeri yang sehat, semangat­ke-
bangsaan tak akan pernah jadi mutlak bila ada semangat lain
yang sah, yakni perikemanusiaan. Di sana kita bisa yakin kepada
kebenaran Tuhan tanpa menghabisi semangat­demokrasi.

Pancasila kini memang dilecehkan. Tapi mungkin karena
pern­ ah mereka membuat Pancasila ”sakti” dan bukan sebuah ne-
gosiasi. Kita lupa: grondslag itu adalah proses manusia dengan il
pensiero debole.

Tempo, 7 Maret 2004

150 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KARBALA

KARBALA dan kematian—berapa kali lagi tragedi dise-
but dalam dua kata itu? Tiap kali terjadi pembunuhan
di sana, kita bertanya, mungkin dengan suara yang tak
bisa keras, apakah meneguhkan kekuasaan, ataukah sebaliknya?

Pembantaian pertama tercatat lebih dari 1.300 tahun yang
lal­u. Daulat Ummayah memperkukuh posisi politiknya seba­
gai­pemegang kekhalifahan Islam dengan membunuh Husain,
cucu Nabi, beserta para pengiringnya pada tahun 680. Sejak itu
para pengikut yang kalah dan terserak-serak membentuk kekuat­
an dengan keyakinan sendiri, dan gerakan Syiah pun lahir. Dan
Karbala, kota kecil di tengah Irak di dekat gurun pasir Suriah,
pun jadi lambang pengorbanan dan kesedihan, ketahana­ n dan
harapan. Juga statemen perbedaan.

Orang Syiah kemudian mendirikan masjid dan makam syu-
hada besarnya di kota itu. Tapi hampir 200 tahun kemudian,­
pada tahun 851, Khalif Al-Mutawakkil menghancurkannya.
Orang Syiah dianiaya lagi. Kian lama kian tampak betapa iman
dan kekuasaan saling menghalalkan. Jika Anda bertanya apa arti
”iman” di sini, jawabnya bergantung pada mereka yang bertindak
atas nama ”iman” itu.

Al-Mutawakkil, yang bertakhta pada tahun 847, oleh sejarah
Syiah digambarkan sebagai ”tiran yang berdarah”. Ada dicerita-
kan bagaimana khalif ini suka dihibur para badut yang mence­
mooh Ali ibn Thalib, menantu Nabi, tokoh yang dipuja­orang
Syi­ah di atas siapa pun selain Rasulullah. Tapi justru itu mung-
kin sang Khalif memandang dirinya sendiri sebagai orang yang
tawakal—seperti tersirat dari namanya—atau penjaga akidah.

Begitulah pasti ia ingin dikenang. Kini orang masih bisa me­
nyaksikan Masjid Al-Mutawakkil yang selesai didirikannya­

Catatan Pinggir 7 151

http://facebook.com/indonesiapustaka KARBALA

pada tahun 852 di Samarra. Masjid terbesar di dunia Islam masa
itu, seluas 239 x 156 meter persegi, juga sebuah karya arsitekt­ur
yang tampak tak ruwet tapi mempesona. Menaranya, dengan tu-
buh tambun dan pucuk setinggi 52 meter, tampak seperti spiral
yang terbentuk dari tangga. Konon Al-Mutaw­ akkil sering me-
naiki tangga itu dengan mengendarai keledai putih dari Mesir—
seakan-akan dalam perjalanan yang khidmat, tapi terhormat,
mendekati Allah.

Sebab ia merasa telah mendekati Allah dengan cara lain: seba­
gaimana ia membangun arsitektur besar dengan bentuk yang
tak meliuk-liuk, ia juga ingin menyusun daulatnya secara lurus
dan rapi. Sejarawan Al-Tabari mencatat bagaimana sang Khalif
menga­ tur ruang hidup di seantero negeri dengan garis yang tegas.
Pa­da tahun 850, diletakkanlah batas yang terang yang memisah-
kan orang Kristen dan Yahudi dari orang Islam. Mereka harus
ber­p­ a­kaian dengan warna tertentu, yakni warna madu. Mere­
ka­harus naik kuda dengan sanggurdi kayu, dan memasang dua
kan­cing di topi. Mereka bukan saja tak boleh­jadi pegawai keraja-
an, membuat makam yang lebih tinggi ketimbang makam mus-
limin pun dilarang.

Meratakan, itulah agaknya garis besar desain yang dipakai.
Gereja dan sinagoge yang didirikan setelah Islam datang harus­
dihancurkan. Sepersepuluh dari luas rumah orang Kristen dan
Yahudi disita. Jika cukup luas, dijadikan masjid atau tempat
umum.

Tak boleh ada yang mencong—dan itu tak hanya mengenai­
bangunan dan kehidupan, tapi juga pemikiran. Maka Al-Muta­­
wakkil membungkam kaum Mu’tazilah—para pemikir yang
bisa dikatakan sebagai pendahulu Aufklärung, bera­ bad-abad se-
belum Eropa merumuskan peran manusia seba­gai­makhluk pe­
nafsir yang mandiri. Bagi kaum Mu’tazilah, Quran adalah
makhl­uk. Kitab itu adalah ciptaan, dan sebab itu tak setara de-

152 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka KARBALA

ngan Tuhan sendiri. Bacaan ini memang mulia, tapi bukan sesu­
atu yang mahasuci dan abadi. Bagi kaum Mu’tazilah, tiap kali
Quran datang kepada kita, ia datang melalui penafsiran kita atau
orang lain—baik orang awam maupun para fuqaha yang pintar
hukum agama. Betapapun indah­dan agungnya, Kalam Ilahi itu
tetap diungkapkan dan dit­erima­dalam bahasa yang terikat ru-
ang dan waktu.

Dalam arti itu kaum Mu’tazilah meneguhkan keyakin­an­bah-
wa tak ada apa pun yang menyamai Tuhan. Juga boleh­dikatakan,
mereka memandang kata dan tafsir mirip dengan­apa yang lebih
dari 1.300 tahun kemudian diutarakan­kaum ”dekonstruksionis”
dan lain-lain: bahwa bahasa bukanlah­ibarat­sebuah pipa lem-
pang, sesuatu yang sepenuhnya trans­paran­dan konsisten. Juga
bahwa sang pembaca, atau pen­dengar,­lebih menentukan makna
kata, apalagi ketika yang berkata-kata tak hadir di hadapannya.
Maka Quran tak akan pernah tertutup di satu kesimpulan.

Namun bagaimana seorang penguasa bisa menerima pikir­
an­macam ini? Bukankah dengan demikian tak ada hukum yang
pasti? Dan tanpa kepastian dan ketunggalan, bagaimana kekua-
saan akan bertopang dan masyarakat didisiplinkan?

Memperkukuh diri dan mendisiplinkan memang hasrat lazim­
penguasa—apalagi yang merasa didukung ketentuan syariah.
Bagi mereka ini, tiap Karbala harus dihancurkan: tiap statemen
perbedaan, tiap lambang dari ”sana” yang meng­ingatk­ an tragedi
akibat kesewenang-wenangan dari ”sini”, harus dihapus.

Apalagi Al-Mutawakkil punya preseden. Dua puluh tahun
seb­ elumnya, kaum Mu’tazilah begitu percaya kepada kebenar­
an mereka sendiri, hingga Khalif Al-Ma’mun, pendukung
Mu’tazilah yang yakin, memaklumkan paham ini sebagai dok-
trin resmi Daulat Ummayah. Orang tak boleh jadi saksi di mah-
kamah, apalagi jadi hakim, jika tak mau menerima prinsip bahwa
Quran adalah makhluk.

Catatan Pinggir 7 153

http://facebook.com/indonesiapustaka KARBALA

Pengganti Al-Ma’mun melanjutkan pemaksaan ini, dengan
lebih keras. Syahdan, seorang alim, Ibn Hanbal namanya, sempat
disiksa dan dipenjarakan. Tapi justru sebab itu ia dianggap orang
ramai sebagai wali dan syuhada—yang tampil dengan­ ajara­ n
yang ketat tentang tafsir dan hukum, seakan sebuah anti­tesis bagi
”pencerahan” Mu’tazilah yang gagal.

Sulit rupanya belajar dari Karbala: bahwa iman bisa dipergu­
nakan untuk mengukuhkan kekuasaan, tapi dari gurun pasir­
Mesopotamia sekalipun, iman juga bisa melahirkan sebuah ke­
kuatan tandingan. Dari tragedi, lahir sejarah lagi.

Tempo, 14 Maret 2004

154 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka AGAMA

PADA tahun 1930-an, penyair Amir Hamzah pergi ke Pu­
lau­Bali, bersua dengan seorang perempuan yang mem­ u­
kaunya, dan menulis:
Hatiku yang terus hendak mengembara ini membawa daku ke
tempat yang dikutuk oleh segala kitab suci di dunia, tapi engkau, ha­
tik­ u, berkitab sendiri, tiada sudi mendengarkan kitab lain.

Siapa akan menyangka baris-baris itu datang dari Amir Ham­
zah? Penyair ini, seorang aristokrat Melayu, kita kenal­ lewat­
puisinya yang intens tentang Tuhan dan himpunan terjemaha­ n­
nya yang seakan-akan tak menengok ke ”Barat”: Setanggi­Timur.
Juga potretnya: pecinya rapi, parasnya alim dan bersih. Tak akan
terduga bahwa Amir adalah sebuah keresah­an untuk ”terus hen-
dak mengembara,” begitu binal, bandel, dan berontak. Tak ga­
mang memasuki tempat terkutuk. Tak sudi mendengarkan­”se-
gala kitab suci.”

Penyair yang menakjubkan biasanya memang penyair yang
tak jinak. Horatius, penulis puisi liris terkemuka di Roma abad
ke-7 sebelum Masehi, berseru, ”Sapere aude!” Beranilah menggu­
nakan pengertian sendiri! Puisi yang hanya mengulang kaji
akan mati sebelum sampai. Bagi Horatius, pada awalnya adalah
mandiri.

Amir Hamzah hidup beratus tahun setelah itu, pada abad ke-
20 yang rusuh. Ia bagian dari modernitas. Ia manusia­dari masa
tatkala kemandirian dinyatakan sebagai tanda ”Pencerah­an”.

Tanda itu dicantumkan oleh Kant, ketika pemikir ter­masy­
hur­ ini menjawab pertanyaan berkala Berlinische Monatschrift
pada bulan November 1784. Pencerahan, kata Kant, adalah pem-

Catatan Pinggir 7 155

http://facebook.com/indonesiapustaka AGAMA

bebasan diri manusia dari selbst verschuldeten Unmündigkeit, dari
ketergantungan pada bimbingan orang lain—ke­tidak­dewasaan
yang ditumbuhkan manusia sendiri dalam diri­nya. Untuk jadi
dewasa, sapere aude! Manusia ”Pencerahan” adalah manusia yang
”berkitab sendiri.”

Para penulis sejarah Eropa kemudian mengaitkan zaman
”Pen­cerahan” dengan awal maraknya sekularisme, semangat
yang menyambut sekularisasi kehidupan. Sekularisasi tentu tak
hanya bertolak dari rumusan Kant. Pemikir ini memang­terkenal
dengan thesisnya bahwa dalam diri manusia­sendiri­ada kapasitas
untuk menyelesaikan masalah ethis, tanpa­”segala­kitab suci di
dunia.” Tapi Kant bukan orang yang memulai gairah modernitas.
Di masanya, bintang tak lagi menentukan nasib, ikon Kristus tak
lagi keramat, hantu habis, vampir tergusur, malaikat sirna. Tu-
han tentu saja masih dipercaya, tapi Ia telah jadi sebuah konsep,
misalnya sebagai ”Sebab Pertama dari Yang Pertama.” ”Gerhana
Tuhan,” kata Martin Buber, telah mulai.

Tentang sejarah yang seperti itulah lahir teori tentang ”seku-
larisasi”. Teori ini adalah teori tentang perubahan masyarakat.
Menurut telaah Max Weber yang termasyhur, peru­ bahan itu ber-
mula ketika rasionalitas kian membentuk cara manusia melihat
hidup dan mengambil keputusan. Masyarakat tak lagi hanya ber-
sandar pada iman. Ajaran agama, dengan wibawa Tuhan sekali-
pun, tak selalu memadai untuk menyelesaikan soal hidup yang
kian kompleks. Perang dan perdaganga­ n telah melahirkan pelba­
gai benda, teknik, keahlian, dan perilaku yang baru.

Di tengah kompleksitas ini, elite keagamaan pun susut wib­ a­
wanya, ketika mereka tak sepenuhnya siap menjawab. Timbul­
lah lembaga dan lingkaran lain yang mandiri. Ilmu tak bisa lagi
mengikuti doktrin Gereja, seni tak lagi hanya me­layani­ yang
sakral, dan penilaian tentang yang ”jangan” dan yang ”harus”
makin berjarak dari titah Tuhan, meskipun tak dengan sendiri­

156 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka AGAMA

nya menampiknya.
Matikah agama sejak itu? Akan lenyapkah pesonanya ketika

manusia berani mengembara bahkan ke ”tempat yang dikutuk
segala kitab”?

Ada yang menjawab: pasti. Dekat ke pertengahan abad ke-
19 Auguste Comte menuliskan teorinya bahwa tiap masyarakat­
akan meninggalkan ”keadaan theologis” dan akhirnya masuk ke
”keadaan ilmiah dan positif”. Menjelang akhir abad ke-19 Marx
dan Engels yakin revolusi sosial akan menghapuskan agama,
”candu” bagi kelas buruh itu. Di paruh kedua abad ke-20, Peter
Berger memperkirakan pada abad ke-21 kehidupan sekuler akan
begitu meluas, hingga orang beragama pun terpencil. Nasib si
mukmin, katanya, akan seperti nasib ”seorang ahli astrologi dari
Tibet yang tinggal di sebuah kampus di Amerika”: ganjil, mung-
kin menarik, dan bingung.

Kini abad ke-21, dan kita tahu Berger dan lain-lain salah.
Agama tak mati-mati. Teori sekularisasi secara telak telah terban-
tah. Teman saya, Luthfie Assyaukani, memberi saya sejumlah ri-
salah yang kini menyesali teori itu. Rodney Stark, pakar­sosiolo-
gi agama itu, menyerukan agar ”doktrin sekularisasi” dikubur.
Pada tahun 1997 Peter Berger sendiri mengakui kekeliruannya:
ternyata dunia tak berubah jadi sekuler, ternyata agama tampil
lebih lantang.

Tapi jika teori sekularisasi mati, mati jugakah proses sekular-
isasi? Akan terhalaukah sekularisme, pandangan yang menjun-
jung surutnya peran agama dalam kehidupan sosial? Saya kira ti-
dak; ia hanya berubah kulit, atau muncul di sela-sela retakan so-
sial zaman ini. Dalam sebuah esai pada tahun 1980, From Secu­
larity to World Religions, Berger menunjukkan dinam­ ika lain di
masa kini: pluralisme. ”Kepastian subyektif” (subjective certainty)­
dalam beragama tak ditopang lagi oleh satu kesatuan sosial yang
padu sebagai penyangga. Dunia kini bak sebuah bazar. Ada pelba­

Catatan Pinggir 7 157

http://facebook.com/indonesiapustaka AGAMA

gai ekspresi iman, aneka agama, dan masing-masing bisa tampak
bagaikan ”satu intan dua cahaya,” untuk memakai kiasan Amir
Hamzah di sajak lain. Yang ada bukan sepasukan ”jahiliah” yang
utuh menghadapi sepasukan ”mukminin” yang tunggal. Kere-
takan, atau beda, di mana-mana tampak. Meskipun orang me­
ngat­akan kini kita hidup di masa ”pasca-sekuler”, agama tetap
tak mampu sepenuhnya membentuk tafsir kita tentang dunia.

Apa boleh buat. Sudah agak lama bermacam ragam Amir
Hamzah mengembara, menjajal wilayah asing, bertanya, dan
ber­bisik kepada Tuhan (Tuhan yang tak bisa lagi memaksakan
Kata-Nya): Mangsa aku dalam cakar-Mu, bertukar tangkap de­
ngan lepas....

Tempo, 21 Maret 2004

158 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka HIPERBORIA

PADA hari-hari pemilihan umum, politik seakan-akan
ha­n­ ya­ sebuah kerinduan mendapatkan pemimpin. Di­
sad­ ari­atau tidak, dalam gambar tokoh yang dipasang,
da­lam percakapan tentang ”siapa” (dan bukan ”apa”) yang akan
menang, ada sesuatu yang purba: sesuatu yang datang dari sebuah
zaman ketika raja dan brahmana dianggap punya­kemampua­ n
agung untuk membuat sebuah negeri menjadi ”panjang punjung”,
luas dan luhur, bak deskripsi para dalang wayang kulit.

Lebih tua dari lukisan para dalang Jawa adalah paradigma Pla-
tonis tentang negeri atau polis yang ideal—konon diilhami­oleh
kerajaan Mesir purba—tentang perlunya ”filosof-raja”, pandhita-­
ratu, memimpin masyarakat. Saya tak tahu sejauh mana pada
masa silam itu orang membaca Republik karya Plato, tapi ber­
abad-abad lamanya jarak antara ”raja” dan ”Tuhan” sangat dekat,
seakan-akan baginda yang bertakhta itu juga mendapatkan ke-
arifan dari surga. Seakan-akan tak sembarang orang bisa duduk
di puncak, sebab hak itu datang dari Ilahi. Agaknya mithos me-
mang harus dibangun untuk melupakan­kemungkinan bahwa
kekuasaan sebenarnya datang secara kasar, dari ujung pedang.
Pada abad ke-20, Mao Zedong, seorang Marxis, membongkar
mithos itu dengan mengatakan bahwa kekuasaan lahir dari laras
bedil.

Mao memang menandai sebuah zaman runtuhnya ideologi­
yang mempercayai bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang alami­
ah. Demokrasi telah datang. Isyarat pertama yang dramatis
adalah sebuah adegan di Whitehall, London, 30 Januari 1649:
hari itu Raja Charles dipenggal oleh kekuatan yang dikerahkan
Parlemen untuk melawan, dipimpin oleh Oliver Cromwell. Lebih­
termasyhur lagi ke seluruh dunia tentu saja dari Revolusi Pran-

Catatan Pinggir 7 159

http://facebook.com/indonesiapustaka HIPERBORIA

cis, ketika Louis XVI ditebas lehernya pada 21 Januari 1793 oleh
kaum revolusioner.

Simbol itu bisa dibaca lebih jauh: sang kepala dilenyapkan.
Tinggal badan, lengan yang menanam padi dan gandum, tangan­
yang menembakkan panah dalam perburuan, kaki yang menem-
puh jalan dan menyeberangi sungai ....

Meskipun demikian, politik ternyata tak berhenti-henti me­
rindukan kepala. Kekuasaan Cromwell nyaris dikukuhkan se-
bagai kerajaan. Ia menolak. Tapi setelah ia meninggal pada
1658, Inggris kembali menjadi kerajaan. Tak jauh berbeda dari
itu adalah Prancis: Napoleon, seorang opsir yang pintar, akhir­
nya­jadi Maharaja, dan revolusi yang bersemboyan ”kebebasan,
kesetaraan, persaudaraan” dikhianati. Konon mendengar kabar
itu, Beethoven, yang baru selesai menggubah karya musik untuk
sang opsir revolusi, merobek-robek komposisi yang baru dicipta­
kannya.

Beethoven boleh marah, tapi tampaknya ada kecenderunga­ n
yang laten dalam diri manusia yang memasang ”kepala” sebagai
pangkal dari segalanya. Angan-angan ini juga jadi bagian sentral
dalam buah pikiran modern. ”Kepala” di dalam pengertian ini
sama dengan ”subyek” yang kukuh dan utuh, serba tahu, pasti
de­ngan satu hal: dirinya sendiri. Cogito, ergo sum.

Saya agak terkejut ketika mengetahui bahwa bahkan pikir­an
seperti itu juga terkandung dalam pemikiran Lenin yang atheis
di satu sisi dan di dalam pemikiran Sayyid Qutb yang islamis­di
sisi lain.

Bagi pemikiran Lenin (dalam risalah pendeknya, Apa yang
Mesti Dilakukan?), revolusi tak akan datang secara spontan. Prole-
tariat—tangan yang memutar roda mesin dan memalu besi—ha-
rus digerakkan oleh kepala yang ”sadar” akan dirinya,­persisnya
oleh Partai yang dipimpin oleh kaum revolusioner profesional.­
Bagi Qutb, seperti ditulisnya dalam Ma’alim fi’ l Tariq (”Tonggak-

160 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka HIPERBORIA

Tonggak Perjalanan”), perjalanan menuju­masyarakat yang isla-
mi harus dirintis dan dijaga oleh para ”pelopor”, yang tahu tong-
gak-tonggak sepanjang jalan menuju tujuan. Ia harus ”mengenali
tempat awal, sifat dasar, tanggung jawab, dan tujuan terakhir per-
jalanan panjang ini.”

Dengan kata lain, ”sadar” dan ”mengetahui” adalah pokok.
Teo­ ri jadi pangkal dan praksis hanya menurutinya. Seakan-akan­
”aku berpikir, maka aku ada” tak pernah bisa dikalahkan dengan
argumen bahwa ”aku ada, maka aku berpikir.” Seakan-a­ kan­
subyek (yang berpikir itu) menentukan ”ada”, memb­ entuk­dan
meng­u­ bah dunia yang di luar. Seakan-akan ”me­nge­t­ahui” begitu
menentukan hingga tak perlu dihiraukan ada ”dunia-kehidup­
an”, Lebenswelt, yang acap kali tak terumuskan.

Persoalannya, ”dunia-kehidupan” itu begitu centang-pere-
nang: ada alam yang tak dapat diduga, ada tubuh yang punya­
naf­su, ada bawah-sadar, ada emosi yang berubah-ubah, ada per-
bedaan yang tak tepermanai, ada pergantian yang menga­ lir terus.
Khaos, kata Nietzsche dengan bersemangat—”ada” adalah ”kha-
os”. Dunia, kata Nietzsche, adalah ”sebuah mons­ter energi, tanpa
awal dan tanpa akhir.”

Politik tampaknya tak akan dapat berlangsung, untuk meng-
hasilkan kemaslahatan bersama, jika manusia bertolak dari ”mon-
ster energi” ini. Diperlukan kendali atas khaos, di­butuh­kan ske-
matisasi terhadap Lebenswelt yang centang-perenang. Itu sebab-
nya bahkan Nietzsche sendiri menawarkan satu paradigma­mirip
Plato: ”manusia Hiperboria”. Manusia jenis ini sekaligus pemikir
dan pembuat undang-undang. ”Filosof sejati adalah panglima
dan legislator,” katanya dengan gagah. Mereka akan menentukan
”Ke Mana” dan ”Untuk Apa” manusia. Dengan ”kehendak un-
tuk berkuasa”, dunia akan dapat ditata.

Tapi tidakkah dengan ”subyek” yang begitu kuat berniat—­
”manusia Hiperboria” Nietzsche, kaum ”revolusioner” Lenin,

Catatan Pinggir 7 161

http://facebook.com/indonesiapustaka HIPERBORIA

para ”pelopor” Qutb—politik akan melahirkan harap­an yang
terlalu melambung? Tidakkah Tuhan seakan-akan telah diganti-
kan peran-Nya dalam menentukan nasib? Sejarah menunjukkan
bahwa politik yang hanya mencari pemimpin, mengandalkan
”subyek” yang seakan-akan utuh, akan ber­akhir­dengan harapan
yang guncang. Mungkin ada cara lain melihat: politik adalah se­
su­atu yang perlu tapi sayu: satu proses bersaing dan berunding,
untuk mengatasi kekecewaan sejarah.

Tempo, 28 Maret 2004

162 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka LA MEZQUITA

Cordoba, sayup-sayup sampai
—Federico Garcia Lorca

PADA suatu hari di tahun 1152, Ibn Rushd dipanggil
menghadap Amir Abu Yaqub Yusuf di Marrakesh, ibu
kota Maroko waktu itu. Ia tak tahu kenapa. Ketika itu
umurnya baru 27. Tapi ia memang istimewa: ia lahir serta tum-
buh di Cordoba, pusat kecerdasan di Eropa pada abad ke-12, dan
ia dibesarkan di keluarga yang terpelajar....

Maka ke Marrakesh ia datang. Di ruang dalam istana, di­lihat­
nya Baginda sedang berdua dengan Ibn Tufail, filosof dan penga­
rang Hayy ibn Yaqzan, sebuah fiksi alegoris yang ber­abad-abad
kemudian dianggap mengilhami Robinson Crusoe. Ibn Tufail juga
gurunya di bidang filsafat. Hari itu rupanya dia ingin memperke-
nalkan Ibn Rushd.

Tak disangka, sang Amir memulai perkenalan dengan bert­a­
nya,­”Bagaimana pendapat para filosof tentang surga? Abadikah,
dan adakah awalnya?”

Ibn Rushd terenyak. ”Aku tercekam rasa takut,” katanya me­
nge­nang, ”Aku bingung.”

Mungkin sadar ia membuat gentar pemuda itu, Baginda pun
berpaling ke Ibn Tufail. Segera diskusi berkembang, dengan ku­
tipa­ n yang tangkas dari karya Plato, Aristoteles, dan para pakar­
theologi muslim. Ibn Rushd merasa betah. Apalagi sang Amir
men­ gagumi kecerdasannya. Abu Yaqub pula yang kemudian
mengangkatnya jadi dokter istana.

Dari sini disusunnya sebuah ensiklopedia, Kitab Al-Kulliyat
fi-l­­-t­ibb, yang kemudian, dalam versi Latin, berpengaruh di seko-
lah kedokteran di seluruh Eropa. Ia memperkenalkan fungsi reti­

Catatan Pinggir 7 163

http://facebook.com/indonesiapustaka LA MEZQUITA

na. Ia tunjukkan bahwa pasien jadi kebal bila sembuh dari ca-
car—satu kesimpulan yang sampai kini berguna untuk imunisa-
si.

Tapi ia juga mendapat tugas yang—meskipun kemudian­
membuat namanya dikenang—amat tak gampang: menulis­taf­
sir karya Aristoteles. Bagaimana filsafat seorang Yunani yang tak
bertuhan bisa bertemu dengan kaidah agama pada abad ke-12?
Soal ini merupakan tema pokok ketegangan pemikiran zaman
itu, ketika tafsir Ibn Rushd bergema di pusat-pusat kajian di Ero-
pa: filsafat terbentur akidah.

Ibn Rushd sebenarnya mencoba menemukan jalan tengah.
Ta­pi ia hanya berhasil dalam buku. Di kancah kekuasaan ia ga-
gal. Ketika Abu Yaqub digantikan Al-Mansur pada tahun 1184,
ia tersisih. Ia dibuang ke Lucena. Begitu banyak tuduhan ia telah
lepas dari ajaran Islam. Di Sevilla buku-buku filsafatn­ ya dibakar.
Hanya yang mengenai kedokteran dibebaskan.

Sudah sejak itu agaknya berlaku anggapan bahwa ilmu ber­ada
di kategori yang jauh dari filsafat. Memang, ilmu menghadapi
problem seperti pisau menghadapi buah: mengupas,­membelah,
dan mengurai, sedangkan filsafat bergulat di dalam masalah se-
perti seseorang yang terjun ke dalam jeram. Tapi ada yang mem-
persamakan keduanya—dan itu sebabnya Ibnu Rushd seorang
ilmuwan besar: ia berani meletakkan keyakinan dan praduganya­
sendiri di dalam kurung, untuk sementara atau selamanya. Di
tiap tahap ilmu, di tiap saat filsafat, meragukan dan bertanya
adalah niscaya.

Bukan untuk mengada-ada. Yang bertanya tentang tubuh
dan penyakitnya akhirnya toh akan tersangkut ke masalah roh
dan jasad. Yang bertanya abadi atau tidaknya surga mau tak mau
akan terlibat dalam masalah bagaimana manusia harus bersikap.
Jika surga tak kekal, apa sebenarnya makna pahala? Apa pula arti
dosa?

164 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka LA MEZQUITA

Pertanyaan macam itu tak selalu bisa dihalau, bahkan dari
masjid sekalipun. Siapa yang mencegahnya akan mirip seorang
juru mudi yang ngeri ketika biduknya terguncang topan, tapi me-
milih tidur. Tidur, mungkin mimpi.

Sampai kapan? Ketika kepada orang dianjurkan ”carilah­ilmu
bahkan sampai ke Negeri Cina,” ketika itu pula ada asumsi bahwa­
ada yang ”baik” di sebuah negeri yang begitu jauh dan begitu ber-
beda. Tapi kenapa ”baik”? Apa arti ”baik”? Menolak untuk me-
masuki renungan tentang itu sama halnya dengan menampik un-
tuk mencari ilmu. Sebab ilmu dimulai dari pertanyaan dan ber-
lanjut dalam petualangan. Sampai ke Negeri Cina sekalipun.

Tapi di Sevilla, buku Ibn Rushd dibakar, filsafat ditakuti.­
Sampai sekarang pun pembakaran itu belum usai agaknya.
Sayyid­Qutb, yang menghasratkan Islam kembali berkibar di bi-
dang ilmu, mencegah orang memasuki filsafat—dan tentu saja
lupa bahwa di Cordoba dulu orang akan mengabaikan sikap yang
demikian.

Tapi Cordoba tak selamanya bersinar. Pada tahun 1236, Fer-
dinand III merebutnya dan menjadikannya bagian dari Spanyol
yang Katolik. Sebuah benteng diubah jadi kantor Inkuisisi Ge-
reja yang ganas: dari sinilah diputuskan orang dihukum bakar
bila imannya dicurigai ”cemar”. Yang tak murni, yang ”asing”, di-
basmi.

Pernah saya berkunjung ke bangunan-bangunan tua di tepi
Sungai Guadalquivir itu. Seperti laiknya turis, saya masuk ke la
mezquita, masjid besar yang mulai didirikan pada abad ke-8 itu.
Sejak 1236, ia tentu saja sudah berubah jadi katedral. Kuno tapi
kekar (100 tahun lebih tua ketimbang Borobudur), impresif tapi
murung, di dalamnya ratusan tiang berjajar bagaikan pohon hu-
tan, menyangga lengkung merah pualam. Tapi agak ke tengah,
barisan itu tiba-tiba terhenti. Ada ruang yang dib­ angun­untuk
ambulatori dengan atap kubah.

Catatan Pinggir 7 165

http://facebook.com/indonesiapustaka LA MEZQUITA

Sedikit tergetar saya melihat itu. Sesuatu telah dipatahkan. Di
sebuah sisi masih tampak bekas mihrab, dengan tepi yang ber-
tatahkan kaligrafi Arab: barisan renik kalimat syahadat. Lebih
separuhnya telah dibusak, lenyap. Tak jauh dari sana: patung
Kristus.

Kekerasan telah terjadi di sini, pasti: keindahan dan iman
yang lama dihapus oleh keyakinan baru. Tapi bukankah yang di-
lakukan Ferdinand III terhadap masjid Cordoba tak berbeda­de-
ngan yang dilakukan Amir al-Mansur yang membakar karya fil-
safat di Sevilla?

Hanya kuasa dan iman yang tegar yang tega berbuat demi­
kian: yang tak sama dengan dirinya, biarpun indah dan bera­ rti,
harus ditiadakan. Yang renik dan kompleks, biarpun memukau,
bisa mengganggu kesalihan yang lurus. Mereka harus dibabat.

Sejak itu Cordoba senyap. Dan kita yang datang dari jauh
tahu: tak akan sampai kita ke Cordoba yang dahulu.

Tempo, 4 April 2004

166 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PASSION

DARAH di mana-mana. Jangat itu, di bagian pinggang,
koyak-koyak oleh pukulan cambuk bertembilang. Se­
pasang mata itu hampir tertutup oleh cairan kental dari
luka. Kedua telapak tangan itu memuncratkan darah ketika di-
pantek dengan paku besi pada kayu salib ....

Begitukah sengsara Yesus seharusnya ditampilkan? Saya me-
nonton The Passion of the Christ di sebuah gedung bioskop yang
khidmat tanpa mengunyah brondong jagung. Saya menyaksikan
sebuah pornografi penyiksaan.

Pornografi adalah suatu bentuk ekspresi yang menerobos apa
yang selama ini tak dianggap pantas: menggambarkan tubuh ma­
nusia dengan maksud menimbulkan rangsangan yang optim­ al.
Sebab itu, dalam pornografi, bagian badan manusia diurai­de-
ngan bergairah, dan detail sama pentingnya dengan totalitas—­
sebuah totalitas yang hampir sepenuhnya tampak sebagai sebuah
peristiwa badan.

Dalam The Passion of the Christ, film karya Mel Gibson itu,
apa yang selama ini tak lazim justru dibentangkan dengan berse­
mangat di layar putih. Film ini menerobos tabu dalam hal ini.
Tradisi gambar klasik penyaliban umumnya terasa bersih—se­
akan-a­ kan bersih berarti suci—hampir selalu tampak tanpa da-
rah, tanpa gerak. Pada ikon-ikon kuno terasa sikap orang Kristen
lama yang menganggap penyaliban lebih sebagai perjalanan ro-
hani menuju kemenangan. Satu kekecualian yang tak terduga-
duga tampak pada karya Hans Holbein Muda dari tahun 1521:
tubuh Yesus terbaring kurus, luka, sendirian, dengan mata masih
terbuka kesakitan—sebuah gambaran ke­sengsaraa­ n badan yang
begitu mencekam hingga Dostoyewski, dalam novel terkenalnya,
Idiot, menyebut lukisan itu sebag­ ai sesuatu yang bisa menggun-

Catatan Pinggir 7 167

http://facebook.com/indonesiapustaka PASSION

cangkan iman.
Tapi bahkan karya Holbein tak menampilkan jasad yang ber­

lumur darah, dan luka itu menakutkan justru karena seperti mem-
bisu. Karya yang lebih modern juga tak hendak memekikkan­apa
yang memang brutal dalam tiap penyaliban. Kanvas Rouault dari
tahun 1930-an tentang sengsara Kristus, misalnya, berhasil me-
nampilkan suasana misterius dan muram—dengan penggunaan
teknik ”impasto” dan garis luar yang tebal—tapi tak terasa ada
tubuh di sana; yang hadir hampir sepenuhnya puisi spiritual.

Seakan-akan di kalangan Kristen masih berlaku kata-kata­
Goethe: ”Kita tutupi dengan cadar penderitaan Kristus, semata-­
mata karena kita menghormatinya begitu dalam.”

Tapi pada tahun 2004, Mel Gibson merobek cadar itu. Apa
yang pernah digambarkan satu naskah kuno Gereja Syria­tak ter-
dapat lagi di dalam The Passion of the Christ-nya: ”Hari menjadi
gelap sebab mereka sedang membantai Tuhan, yang ditelanjangi
di atas pohon.” Golgotha dalam film Gibson penuh dengan close-
up di bawah sinar matahari. Ia ingin agar gambaran yang dicapai­
nya ”realistis” dalam memaparkan kesakitan Yesus—dan ”realis-
tis”, dalam tradisi Hollywood, adalah sesuatu yang terang bende­
rang, dapat dilihat dengan mata telanjang.

Tapi sebagaimana ”realisme” iklan, tak ada yang datar di sini.
Yang lebih terasa bukanlah ”realisme” sehari-hari, sebab tampak
be­nar hasrat untuk memukau, meyakinkan. Salah satu adegan
yang paling brutal dalam film ini—lebih brutal dari film Si Pi­
tung, yang pada satu saat menggambarkan mata yang dicongkel
dengan satu pukulan silat—adalah pemaparan panjang ketika
Yesus diikat di sebuah tonggak dan dihajar oleh dua aljogo Roma­
wi dengan pecut kayu dan cambuk yang ujungnya bertembilang­
besi. Daging di pinggang kelihatan terkelupas dalam darah, te­
renggut. Yesus mengaduh. Kedua penyiksa itu tertawa puas: sa-
disme dalam bentuknya yang paling­terbuka.

168 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka PASSION

Saya bukan orang Kristen, dan saya tak merasa memperoleh
apa pun dari sensasi itu. Dari The Passion of the Christ saya tak bisa
mendapatkan pengertian, kenapa—setelah hukuman yang luar
biasa bengisnya itu—dosa manusia menjadi tertebus. Saya lebih
cenderung memahami pendapat René Girard ketika ia menge-
mukakan bahwa kepercayaan tentang upacara korban sebagai ja-
lan agar manusia selamat adalah justru sebuah kepercayaan pra-
Kristen. Bukankah itu juga yang diyakini pada masa Inca purba,
ketika mereka menyembelih korban manusia ke hadapan dewa-
dewa? Bagi Girard, cerita kesengsaraan Yesus justru perubahan
radikal dari keyakinan seperti itu. Passio Christi adalah awal se-
buah era ketika sejarah manusia tak dilihat dari kacamata mereka
yang menang dan selamat, melainkan dari ia yang disiksa: para
budak yang membangun piramida, kaum jelata yang menjalani
rodi bagi jalan Daendels pada abad ke-19 di Jawa, para tahanan
yang tak bersalah yang menyebabkan sebuah masyarakat ”aman
dan terkendali”.

Mungkin itu sebenarnya yang bisa dicapai oleh The Passion of
the Christ. Film dimulai dengan adegan malam di Kebun Geth-
semani: Yesus dalam keadaan ketakutan, berdoa sendiri­an dalam
gelap, karena ia tahu nasib apa yang menantinya. Ia mencoba me-
nolak nasib itu: ia memohon kepada Tuhan agar ia dibebaskan
dari tugas. Tuhan tak berkenan, sebagaimana Tuhan tak mele­
pasnya dari salib.

Namun jika semua ini iradat Tuhan, haruskah via dolorosa­itu,
jalan kesengsaraan itu, tak putus-putusnya penuh kekejam­a­ n?
Film Mel Gibson pada akhirnya terasa sebagai sebuah hip­ er­bol.
Semuanya dilebih-lebihkan, sampai tingkat yang mer­aguk­ an: ke-
napa Yesus, seseorang yang dihukum bukan karena­berbuat ke-
jam, diperlakukan jauh lebih sadistis ketimbang para penjahat
yang juga disalibkan bersamanya di siang hari itu? Dalam film
Mel Gibson, tubuh para bajingan itu tampak tak bergelimang da-

Catatan Pinggir 7 169

http://facebook.com/indonesiapustaka PASSION

rah tak terbalut debu, tak ada tanda mereka telah didera sebelum
dikirim ke Golgotha.

Hiperbol memang diperlukan, tapi jika efek yang diharap-
kan terjadi. Di sekitar kesengsaraan yang luar biasa itu, tak tera­sa­­
oleh saya sesuatu bergetar—ada orang ramai, ada beberapa sosok
orang yang jatuh hati, tapi The Passion of the Christ sedikit seka-
li mengantar kita kepada cerita lain dari Yesus: bagaimana laku
yang begitu menggugah, yang dirumuskan dengan satu kata,
”Cinta”, lebih besar ketimbang ”Sakit”.

Tempo, 11 April 2004

170 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (2)

SEANDAINYA sebuah komunitas ibarat sebuah kabilah,
seorang pemimpin yang teguh memang diperlukan. Se-
buah kabilah yang bergerak dari tempat ke tempat memer-
lukan arah yang jelas, patokan dan panutan tertentu, sehingga
tak tercerai-berai. Tapi persoalannya: tepatkah ibarat itu?

Tepat—jika kita berbicara tentang sehimpun puak di gurun
pasir, yang hidup di ruang yang seakan-akan kosong, begitu luas,
begitu tunggal, sehingga, seperti dirangkul langit, ia seolah-­olah
tak pernah disentuh oleh sejarah.

Tapi kita tahu tak semua komunitas manusia seperti itu. Ada
yang menetap dan kepergok dengan kota-kota yang riuh, ada
yang tinggal di bawah gunung berapi yang tak menentu dan su­
ngai­deras yang berkelok.

Dengan kata lain, tak semua orang bisa membayangkan ko-
munitasnya sebagai ”kabilah” yang berjalan di sebuah gurun.
Bahk­ an kiasan ”kabilah”, yang mendasari pemikiran politik Is-
lam pada abad-abad pertama setelah Nabi, sebenarnya tak persis­
bisa berlaku lagi ketika kehidupan puak yang berasal dari masya­
rakat Arabia utara itu berubah menjadi kehidupan ”negeri”, bah-
kan ”imperium”. Islam akhirnya toh mengambil tempat di tamas­
ya­yang tak lagi mempunyai keangkeran tunggal padang pasir.

Memang buat sekitar dua abad setelah Islam tegak memben-
tuk sebuah komunitas di Yathrib (”Madinah”), masih dom­ inan
”pemikiran politik” dengan ”tradisi kesukuan” itu. Nabi Mu-
hammad sebenarnya berhasil mengatasi itu. Tapi ada ciri yang
berlanjut. Patricia Crone, dalam God’s Rule (diterbitkan oleh Co-
lumbia University Press tahun ini), dengan cukup lengkap me­
nul­is sejarah pemikiran politik Islam selama enam abad pertama­
atau masa ”Tengah” (medieval) itu. Ia menyebut­satu ciri yang

Catatan Pinggir 7 171

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (2)

utama: bagi tradisi ini, di dalam diri seorang imam bisa ditemu­
kan sekaligus kebenaran dan kekuasaan. Dalam dirinya, yang re-
ligius dan yang politis bertaut. Imam inilah yang memberi wujud
legal kepada umat. Imam itu pula yang menunjukkan jalan ”ka­
bilah”. Teladannya adalah Musa, pemimpin orang Yahudi yang
mem­bimbing mereka dengan hukum dan petunjuk ke tanah
yang dijanjikan. Musa adalah ”nabi paradigmatik dalam Quran,”
kata Crone, dan Muhammad, disadari atau tidak, adalah ”Musa
baru”.

Sebab itu seorang imam bukan saja ada di depan; ia juga ada di
awal. ”Tanpa dia,” tulis Crone, ”tak ada kabilah, hanya para pe-
jalan yang tercerai-berai.” Seorang imam adalah ”seseorang yang
harus ditiru.”

Dalam pemikiran zaman itu, seorang imam berbeda dengan
seorang malik. Dalam tradisi suku-suku Arab, sebagaim­ ana juga
dalam sejarah bangsa Yahudi yang direkam Perjanji­an Lama, ada
kecurigaan besar terhadap posisi kepemimpinan seorang raja.
Crone mengutip seorang penyair pra-Islam yang dengan bangga­
ingin bercerita tentang ”hari yang panjang dan berjaya ketika
kami memberontak raja-raja dan tak hendak mengabdi kepada
mereka.”

Dalam khazanah Islam, sikap yang tak serta-merta memper-
cayai ”raja” itu berlanjut. Dalam Surah An-Naml ayat 34 ada satu
kalimat, diucapkan oleh seorang ratu, bahwa raja-raja,­bila mere­
ka memasuki sebuah negeri, akan merusak negeri itu; mereka
pula yang membuat orang yang luhur budi menjadi keji. Maka
ketika Umar diangkat menjadi khalifah, inilah yang konon di-
katakannya: ”Aku bukanlah seorang raja yang akan memperbu-
dak kalian, aku hanya hamba Tuhan yang telah ditawari keper-
cayaan.” Ada satu kisah ketika pasukan muslim menang perang
di Spanyol. Mereka berteriak kecewa­ketika mendengar bahwa
seorang putra pemimpin mereka mengenakan mahkota: ”Dia

172 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (2)

telah jadi Kristen!” seru mereka.
Tapi tak berarti mereka memilih demokrasi. Sikap anti-­raja

itu tumbuh, seperti ditunjukkan oleh Crone, dari keada­an tak
adanya ”negara”. Tradisi mereka tak menghendaki kemerdekaan
orang per orang untuk lepas dari adat dan keingin­an komunitas.
Meskipun demikian, pada masa Bani Umma­yah, desakan dari
bawah agar sang khalif lebih mendengarkan keluhan rakyat, agar
ada rembukan dan pembagian yang adil dari perolehan kekaya­
an, terjadi tak henti-henti. Dari masa ini bahkan tumbuh gerak­
an oposisi yang dengan darah dan besi menyatakan pendirian.
Bagi mereka, tak ada ”imam agung” di atas takhta, sepanjang
tak ada yang layak menggabungkan kepemimpinan politik dan
agama dalam dirinya.

Tapi mungkinkah ada seseorang yang seperti itu, setelah
Nabi? Persoalan inilah yang menghantui pemikiran politik Islam
terus-menerus hingga sekarang. Terutama ketika metafora ”kabi-
lah” tak bisa dihayati lagi. Lebih banyak orang Islam­yang hidup
dengan alam yang berbeda dari jazirah Arabia. Ada yang meng-
huni tepi sawah dan ladang, tinggal di bawah ker­­ajaa­ n-kerajaan
tua yang menceritakan awal dan akhir para raja. Lanskap itu, dan
perubahan politik dari zaman ke zaman itu, adalah petunjuk be-
tapa tak ajeknya hidup dalam drama ruang dan waktu.

Maka menarik untuk membaca, dari buku Crone, jawaban
yang ditawarkan Al-Asamm, seorang pemikir dari Basra, Irak,
pada abad ke-9. Seorang imam, bagi Al-Asamm, adalah seseo­ rang
yang kepemimpinannya diterima secara mufakat oleh komuni-
tas. Tapi ketika komunitas jadi begitu besar dan tak semuanya
berperangai luhur, bagaimana menciptakan satu konsensus yang
meyakinkan? Sejarah Islam menunjukkan betapa mustahilnya
mencapai suara bulat seperti itu.

Maka Al-Asamm berpendapat bahwa kaum muslimin bisa
saja memiliki beberapa imam di beragam tempat pada saat yang

Catatan Pinggir 7 173

http://facebook.com/indonesiapustaka IMAM (2)

sama. Tak mungkin lagi kekhalifahan yang tunggal. Pemikir
yang meninggal pada tahun 817 ini memang termasuk kaum
Muktazillah yang menganggap bahwa ke-imam-an adalah kon-
vensi manusia semata. Dari mereka ini pula datang pendapat
bahwa sebagaimana otoritas seorang imam dalam salat bersama,
otoritas pemimpin sebuah komunitas juga harus berakhir begitu
ia menjalankan satu tugas.

Lebih dari sembilan abad kemudian, Amerika memilih cara
yang seperti ditawarkan orang Irak itu. Lebih dari satu milenium
kemudian, Indonesia.

Tempo, 18 April 2004

174 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGGREK

SAYA berdiri di bawah surya pukul 9 yang menyenangkan
di sebuah pagi di tahun 1962. Pori-pori kulit serasa berge-
tar, ultraviolet matahari meresap. Saya sendirian. Tapi bu-
rung-burung gereja sibuk bergantian hinggap di pelataran. Dari
pohon tepi jalan, bayang-bayang juga turun menyentuh tanah.

Apa gerangan arti burung-burung, hangat pukul 9, pohon­
yang rindang? Di tahun 1960-an itu saya telah melupakan perta­
nya­an macam itu. Bangun pagi, berjalan siang, dan tidur malam
saya tak menyadari bahwa ada nilai tersendiri dalam hal ihwal
yang cuma melintas, tak pasti, dan sepele. Waktu itu Indonesia
adal­ah arena kata-kata yang membahana: ”Revolusi”, ”Sosialisme
Indonesia”, ”Dunia Baru”—semuanya dengan huruf kapital,­
semuanya dengan pekik, poster, dan pengeras suara, semuanya
menggugah, menerobos jiwa.

Saya memandang kembali ke burung-burung itu. Tiba-tiba sa­
ya sadar sebelumnya tak pernah saya terkesima akan hal yang se-
benarnya ”dahsyat” tapi tersisih: warna bulu yang menakjubkan­
itu, sepasang mata yang seperti merjan jernih itu, sayap yang ser-
ba sanggup itu. Sebagai umumnya orang muda waktu itu, saya
tak punya waktu buat tetek bengek. Kami hanya menyimak soal-
soal besar agar dunia jadi lebih adil di masa depan. Tapi haruskah
pesona kecil di pelataran sepi dicampakkan?

Sejak itu saya pun berusaha memasuki sebuah dunia bahasa­
yang lain—bahasa yang tak sarat dengan ide-ide yang merasa­ke­
kal dan kata benda abstrak. Saya membaca kembali puisi tentang
cuaca, ranting, rama-rama, dan hal-hal fana lain yang anehnya
membuat hidup berarti dan kita bersyukur.

Maka saya bisa mengerti jika ada orang yang akhirnya memi­
lih anggrek hutan. Di tahun 1999, buku Richard Rorty, Philoso­

Catatan Pinggir 7 175

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGGREK

phy and Social Hope, diterbitkan Penguin. Salah satu esain­ ya,
yang bersifat otobiografis, mengutarakan pilihan antara­anggrek
hutan dan gagasan revolusi—yang akhirnya menampilkan Rorty
se­bagai pembawa suara pragmatisme baru dalam filsafat.

Rorty dibesarkan dalam keluarga dengan cita-cita sosial­isme
yang kuat. Kakeknya, Walter Rauschenbusch, adalah seorang
pastor di Kota New York dan pemikir Kristen terkenal. Terpenga­
ruh oleh gerakan Anabaptist di Jerman di abad ke-16, ia ingin
me­negaskan cita-cita sosial ajaran Yesus dan sikap mandiri dari
gereja serta dogmanya.

Ibu Rorty, Winifred, dan suaminya, James Rorty, punya se-
mangat yang sama tapi di kancah lain: masuk ke kalangan kiri.
Setidaknya dalam satu masa, mereka lebih mencintai­Trotsky ke­
timbang Kristus. Ketika Richard yang lahir di tahun 1931 itu
masih bocah, ke rumahnya sering datang bertamu filosof Sid-
ney Hook, kritikus sastra Leonard Trilling—dua cendekia­wan
progresif masa itu—dan sekretaris Trotsky yang hidup bersama
ke­luarg­ a Rorty dengan nama samaran. Tak meng­heran­kan bila
bagi Richard kecil, semua orang baik pasti sosial­is.

Tapi ia juga mencintai kembang anggrek liar yang tumbuh di
pegunungan. Soalnya: patutkah ia memiliki kegairahan pribadi
kepada dunia flora, sementara dunia manusia penuh pen­deritaan?
Tidakkah anggrek hanya akan mengganggu, ketika perhatian
harus dikerahkan untuk menjadikan hidup lebih­adil, seperti di-
rancang sosialisme?

Tapi pemuda yang sejak umur 12 tahun itu tahu akan perlu­
nya­keadilan tahu pula bahwa kaum sosialis, dengan tekad tung-
gal itu, bisa mengabaikan apa yang berarti di hari ini. Bukan­ha­
nya­kembang hutan, tapi juga hidup manusia. Ia tahu bahwa­Sta­
lin menghendaki Trotsky dibunuh. Dan Trotsky memang akhir­­
nya tewas dikampak. Ia mungkin juga tahu bahwa­Trotsky sen­
diri,­tatkala masih seorang tokoh biro politik­Partai Komunis di

176 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGGREK

bawah Lenin, tega untuk mengerahkan tentara guna menghan­
curkan satu perlawanan para kelasi di Konrad—mereka yang
ikut dalam Revolusi Oktober tapi merasa tak diperlakukan adil.

Walhasil, asas besar bisa begitu dahsyat hingga sampai hati
menghantam tangan yang menadah dan mulut yang senyum.

Sebab itulah antara anggrek dan Trotsky, Rorty akhirnya me-
milih yang pertama. Ia menjauh dari segala macam rencana besar
dan ”Teori Tinggi”. Ia bahkan menurunkan status filsafat­sebagai
sumber dan dasar pengetahuan. Ia lebih mendekat kepada karya-
karya sastra, di mana kembang anggrek dan wajah­yang konkret
rancak hadir, di mana bahasa­menangkap ke­ragam­an yang asyik,
dan di mana keputusan benar atau salah tak datang tegar. Kita
harus punya ironi dalam diri, suatu private irony, kata Rorty. Kita
harus mampu meragukan benarkah khazanah kita merupakan
sesuatu yang sudah final, dan memandang kebenaran kata-kata
kita sendiri dengan ringan hati.

Tak berarti, dengan dunia privat yang menyimpan ironi itu,
kita tertutup dari dunia bersama. Antara yang privat dan yang
publik tak bisa saling menjajah, kata Rorty. Yang menyatukan
kita dengan yang lain bukanlah ”teori” revolusi, prinsip filsafat,
moral atau agama. Yang menyatukan kita adalah kemampuan
unt­uk berbagi rasa sedih, sakit, dan miskin. Cinta akan bertaut
dengan keadilan jika di satu pihak gairah kepada kembang ang-
grek bisa berlanjut, dan di lain pihak kekejaman ditampik. Tapi
hidup harus diperbaiki dengan ”pragmatisme sosial”, bukan de-
ngan satu ”kebenaran”. ”Kebenaran” hanya tecermin dalam suk­
ses­kita mengurangi sengsara, ketegangan, dan kebengisan.

Tentu, untuk itu perlu sebuah lingkungan yang demokratis.­
Yang saya belum tahu dari Rorty ialah bagaimana membangun­
sebuah dunia yang ”global, kosmopolitan, demokratik, bersema­
ngat kesetaraan, tanpa kelas, tanpa kasta” dari nol, bila tak ada
asas ”kebenaran” tertentu. Rorty menganggap apa yang dica-

Catatan Pinggir 7 177

http://facebook.com/indonesiapustaka ANGGREK

pai Amerika Serikat sebuah bukti bahwa kemungkinan ke du-
nia seperti itu terbuka tanpa melalui teori, melainkan praxis. Tapi
orang di luar Amerika, katakanlah di Palestina, akan ragu: benar­
kah sengsara dan kekejaman senantiasa bisa dihindari bila kearif­
an adalah bagian dari politik, yang dibentuk oleh pasar dan jum-
lah suara terbesar?

Tempo, 25 April 2004

178 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SPION

ORANG yang 18 tahun lamanya dipenjara itu—12 ta-
hun di antaranya ia disekap dalam isolasi—menulis sa-
jak, ditujukan kepada dirinya sendiri:
Ya, kau.
Kaulah agen rahasia rakyat. Kaulah mata bangsa.
Bung Spion, ceritakan apa yang kau lihat. Ceritakan apa yang
disembunyikan
Orang-orang dalam itu, mereka yang pintar, ceritakan apa
yang mereka
Sembunyikan....
Sang terpidana itu memanggil dirinya ”Bung Spion”. Ia meng­
aku ia seorang mata-mata, tapi ia menjalankan tugas itu bukan
untuk sebuah negeri musuh. Ia seorang ”agen rahasia rakyat”.­Ia
sepasang ”mata bangsa”.

Tapi benarkah demikian? Pada akhir September 1986, ia,
Mor­dechai Vanunu, warga negara Israel, diculik oleh Mossad, di-
nas rahasia negeri itu, setelah ia ditipu agar datang ke Roma dari
London. Ia dibius, diringkus, dan dibawa diam-diam dengan ka-
pal laut kembali ke tanah airnya. Ia diadili secara rahasia, dan se-
tahun kemudian dijatuhi hukuman 20 tahun, yang kemudian di-
potong dua tahun. Ia dianggap bersalah karena ia, seorang juru
teknik nuklir, dengan sengaja membongkar rahasia, mencerita-
kan kepada dunia luar apa yang dilihatnya di tempatnya bekerja:
bahwa Israel punya segudang senjata nuklir, disiapkan di Dimo-
na, di Gurun Nejev.

Ia sejak itu tak dimaafkan. Ketika ia akhirnya keluar dari Pen-
jara Shikma di Ashkelon pada 21 April yang lalu, Shimon Peres,

Catatan Pinggir 7 179

http://facebook.com/indonesiapustaka SPION

tokoh Israel yang sering dikaitkan dengan gagasan ”perdamaian”,
masih menganggap Vanunu telah ”mengkhianati bangsanya”.

Harian Haaretz membuat satu survei pendapat, dan men­ yim­
pulk­ an: hampir separuh khalayak Israel tak setuju Vanunu dibe-
baskan sekarang. Hampir seperempat dari mereka­bahkan me­
nga­takan agar Vanunu tak usah dilepas sama sekali. Departemen
Pertahanan Israel menganggap orang yang telah menjalani hu-
kuman ini tetap sebuah ”ancaman keamanan”. Catatan harian
Van­ unu di tahanan, katanya, menguraikan secara rinci keadaan
tempatnya dulu bekerja di lokasi rahasia di Gurun Nejev. Para
pet­ugas telah menyita catatan itu, tapi gudang ingatan Vanunu
masih utuh. Ia masih bisa mengungkapkannya lagi kepada du-
nia. Maka kata Menteri Kehakiman Israel, ”Dia akan tetap kami
awasi.”

Vanunu, dengan kata lain, adalah musuh. Ia tak bisa seb­ enar­
nya­mengklaim bahwa ia sepasang ”mata bangsa”. ”Bangsa” yang
dul­u merupakan bagian hidup orang Yahudi kelahir­an Maroko
ini telah menolaknya. Orang Israel ternyata begitu­ cemas dan
mar­­ah, hingga mereka menghalalkan perbuatan keji yang dila­
kuk­­ an untuk menyekap Vanunu—dari melanggar kedaulatan
ne­g­ eri lain dengan menculik juru teknik nuklir itu di Italia, sam-
pai pada tak membebaskan penuh sese­orang yang sehar­usnya su­
dah­merdeka.

Bagi Vanunu sendiri, tali itu akhirnya putus. Sejak tahun-ta-
hun awal masa hukumannya ia telah tak merasa lagi bagian dari
Israel. Ia mencoba menyesuaikan diri dengan ruang 3 x 2 meter­
itu, dan menjalankan ”hidup dalam kubur”. Dengan amarah­
yang tersimpan. Dalam sepucuk suratnya yang ia tulis dari sel, 10
tahun setelah ia disekap, ia mengatakan, ”Banyak hal bersah­ a­ja
yang aku tak ingat lagi dalam kehidupan tembok semen yang sa­
ngat­biadab, brutal, dan kejam ini. Aku di penjara seperti seorang
sandera, sebab mereka menculikku. [Tapi] aku harus lebih­kuat

180 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka SPION

dan yakin, seperti tahun pertama dulu. Jalan terus, dan tak tun-
duk kepada kekuasaan yang kotor....”

Di halaman Penjara Shikma, ketika ia dikeluarkan dari sel pa­
da pukul 11 itu, ia memang tak tunduk. Ia disambut para simpa-
tisannya, sebagian orang Inggris dan Amerika, para aktivis anti-
senjata nuklir dan pendukung hak asasi. Tapi tak jauh dari sana,
ada beberapa ratus orang Israel mencerca. Vanunu tetap berge­
ming­”Kepada semua mereka yang menyebut saya pengkhianat,”
katanya, ”saya bangga dan bahagia atas apa yang dulu saya laku-
kan.”

Ia menolak berbahasa Ibrani. Ia memilih bahasa Inggris. Ia
meninggalkan agama Yahudi. Ia masuk Kristen.

Apa arti sebuah ikatan—dan juga ingatan—jika asal dan latar
belakang hanya berarti sebuah aliansi dusta, ketidakadil­an, dan
destruksi? Persoalan ini bukan baru, tentu.

Begitu keluar dari sel, Vanunu langsung menuju ke gereja, ke
tempat imannya yang baru. Mungkin ia ingat: sekitar 2.000 ta-
hun yang lalu di tanah Palestina itu Yesus juga dilempari batu
di tanah kelahirannya sendiri. Kini, ketika Vanunu tampak me-
langkah ke luar halaman bui, orang-orang Israel yang memben­
cinya berteriak, ”Mati bagi dia!” seperti 2.000 tahun yang lalu
orang-orang Yahudi berteriak, ke arah rabi yang telah disiksa itu,
”Salibkan dia!”

Pada momen seperti itu kesetiaan kepada kaum sendiri akan
sama artinya dengan kebengisan kepada apa yang berharga di luar
kaum sendiri. Tapi ada yang lebih luhur ketimbang puak. Ketika
pada Oktober 1986 Vanunu datang ke London untuk mengung-
kapkan kepada The Sunday Times bahwa Israel memang meng-
himpun senjata nuklir, ia terdorong oleh sebuah keyakinan: Isra-
el, seperti negara mana pun, tak boleh mempersiapkan kekuatan
yang mengancam kehidupan itu.

Apalagi sebenarnya kekuatan itu sia-sia. Bom nuklir Israel tak

Catatan Pinggir 7 181

http://facebook.com/indonesiapustaka SPION

akan berguna menghadapi bom bunuh diri, sebagaimana Ameri-
ka Serikat tak bisa mengalahkan Vietnam dan Uni Soviet tak bisa
menjinakkan Afganistan. Keamanan, akhirnya, bukanlah soal
per­senjataan yang piawai.

Ada sesuatu yang tak kalah penting: tiadanya sikap sewenang-
wenang. Pada zaman ketika Bush dan Blair menggebuk Irak yang
ternyata tak punya senjata nuklir, tapi membiarkan dan mendu-
kung Israel yang memilikinya, yang sewenang-wenang menang.
Siapa kuat, dapat. Siapa memaksa, bisa. Siapa brutal, halal.

Maka dunia pun jadi padang pembantaian, dan manusia wa-
dah kekejian. Sampai ketika kita teringat Vanunu. Dengan 18 ta-
hun di penjara dan dengan jiwa yang tak terpatahkan, ia praktis
menebus kembali kemampuan kita untuk melepaskan diri dari
penghancuran.

Tempo, 2 Mei 2004

182 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka AMBON

SEORANG teman mengingatkan saya akan sepotong se-
jarah kekerasan di Maluku. Pada tahun 1950-an, Republik­
Indonesia mengirim sepasukan tentara untuk mengh­ ent­i­
kan pemberontakan RMS di Ambon. Dalam pertempuran yang
terjadi, komandan pasukan khusus TNI tertembak. Ia gugur.
Na­manya Slamet Riyadi. Ia seorang Katolik.

Fakta itu perlu saya sebut sekarang. Hari-hari ini, di Ambon
orang-orang menghidupkan kembali pekik dan bendera ”Re­pu­
blik­Maluku Selatan” dan sejumlah orang lokal menentangnya,
dan konflik yang untuk beberapa bulan mereda pun meledak
kemb­ ali. Tak perlu banyak waktu, label ”Kristen” pun dipasang
pada orang-orang RMS dan ”Islam” pada para penentangnya. Se-
andainya Slamet Riyadi masih hidup....

Kini kita tahu betapa berubah sudah Indonesia menjelang
umurnya yang ke-60: agama kian sering dipakai untuk menjelas-
kan hal ihwal publik. Agama dianggap jadi latar konflik Maluku,
perjuangan di Palestina, ”benturan peradaban”, terorisme, bah­
kan­kemiskinan Dunia Ketiga. Pada saat yang sama, agama jadi
dalih perbuatan baik atau buruk, sumber identitas, dan bendera
kesetiaan yang berkibar tinggi.

Semua itu agaknya bertolak dari asumsi yang sebetulnya me­
rag­ ukan: bahwa antara agama dan sebuah subyek (”aku” atau
”kam­ i”) yang memeluk agama itu, ada korespondensi yang lurus­
dan lengkap. Dianggap bahwa karena aku menegaskan diriku
”Islam”, segala yang kulakukan dengan sendirinya­merupakan­
eks­presi Islam. Tak pernah dipikirkan kembali bahwa dalam
kata-kata ”aku Islam” terkandung ”aku” yang tak pernah kekal,
kompak, dan kukuh, dan juga ”Islam” yang tak pernah persis,
pasti, dan permanen.

Catatan Pinggir 7 183

http://facebook.com/indonesiapustaka AMBON

Saya bayangkan Overste Slamet Riyadi beberapa saat sebelum
ia mengembuskan napas penghabisan. Adakah ia melihat dirinya­
dan berkata ”aku, Katolik?” Katakanlah, ya. Tapi ”aku” mengan­
dung seribu makna: ”aku” yang ”sekadar aparat” tapi bisa juga
”aku” yang ”patriot” dan yakin. Juga ”Katolik”. Apa maknanya
tak pernah dapat dirumuskan dengan lekas selekas menuliskan
identitas di KTP. Apalagi proses antara jadi ”aku” dan jadi ”Kato-
lik” (atau ”Islam”, atau ”Ambon”, atau ”Jerman”) bukanlah proses
yang meluncur seperti air dalam dua bejana yang berhubungan.

Pada zaman ini, setelah Freud, setelah yang lain-lain, kita ta­hu
bahwa jiwa dan hati seseorang bukanlah sebuah bejana yang jer­
nih, berisi rapi jutaan fakta yang masuk lancar melalui indra dan
akal budi. Yang ada hanya belantara kusut yang dikait-kaitkan
oleh bahasa, dunia verbal yang tak selamanya­terang dan lem­
pang.­Dalam keadaan itu, subyek menjadi proses­yang tak kun­
jung­tunggal. Bahkan ajaran agama, filsafat, dan doktrin kebe­
nar­a­ n apa pun tak tampak sebagai peng­atur­dan pencuci keru­
wet­an itu.

Farid Esack, ulama-cendekiawan Islam dari Afrika Selatan,
mengakui hal itu dengan jujur dan memukau. Sebagai muslim,
kat­anya, ia selalu mencari ilham dan petunjuk (atau mungkin
pengh­ alalan) dari Quran selama ia mencoba memecahk­ an per-
soalan yang dihadapinya. ”Saya dapat menggunakan Islam dan
kitabnya, Quran, untuk memperkuat semua praduga saya, atau
menyisihkannya, atau memberinya bentuk baru.” Tapi ada se-
buah kejadian dalam sejarah yang memberinya kearifan.

Dalam Perang Siffin, musuh ’Ali Ibn Abi Talib, kemenakan
Nabi, meminta agar pertikaian diselesaikan dengan mengguna­
kan­Quran sebagai sebuah penengah. Dilema Ali mencerminkan
apa yang dihadapi banyak orang muslim:

”Ketika Mu’awiyah mengundangku ke hadapan Quran un-
tuk memberikan keputusan, aku tak dapat memalingkan wajah­

184 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka AMBON

ku dari Kitab Allah itu. Tuhan telah menyatakan bahwa ’jika
kalian bertikai tentang soal apa pun, rujuklah Allah dan Rasul-
Nya.’ [Tapi] ini Quran, tertulis dalam garis yang lurus, dijepit an-
tara dua papan penjilid. Ia tak bicara dengan lidah; ia membutuh-
kan penafsir, dan penafsir adalah manusia.”

Dalam kata-kata Farid Esack, ”penafsir adalah orang-orang
yang datang dengan bawaan yang tak terelakkan dari kondisi­
ma­nusia.” Bacaan kita atas Quran atau warisan keagamaan kita
mau tak mau ditandai oleh sifat bawaan itu, oleh ”frustrasi dan
harapan” kita.

Pertanyaannya kemudian: di mana kebenaran dan keadilan?­
Dalam konflik, dalam suasana amarah, kedua pengertian itu
menc­ erminkan impian kita tapi juga ketidakberdayaan kita.
Agama memang sering memberi kita bayangan kepasti­an yang
absolut tentang kebenaran dan keadilan, tapi seperti dikatakan
Far­­id Esack di atas, pada akhirnya ajaran membutuhkan penafsir,
dan penafsir adalah manusia. Kebenaran dan keadilan mau tak
mau dirumuskan berdasarkan ”bawaan” sejarah seseorang.

Tak berarti, kata Farid Esack, sebuah ”aku” tak punya­key­­ a­
kin­a­ n. ”Tentu saja saya punya keyakinan,” katanya. Keyakin­an
itu dipegangnya dengan bergelora, dan bahkan ia pernah mende­
rita karena itu. ”Tapi, aku tak akan dapat melangkahi orang lain
... bahwa hanya keyakinanku yang penting.­Sementara aku dapat
dan memang memperoleh keyakinanku dari Quran, aku tak lagi
dapat mengabaikan sifat pluralistik dunia tempat kita hidup. Aku
harus menemukan satu ukuran untuk menentukan apa yang be­
tul­dan tak betul, adil dan tak adil, prasangkak­ u dan kecende­
rung­ank­ u. Aku tak dapat lagi mengimbau kepada apa yang sema-
ta-mata hanya milik komunitasku.”

Jika kita baca risalah seperti ini, memang dunia bisa tetap be-
ragam dan selalu damai. Persoalannya ialah bahwa tak semua
orang seperti Farid Esack. Sesuai dengan argumennya, tak semua

Catatan Pinggir 7 185

http://facebook.com/indonesiapustaka AMBON

petuah agama mengungkapkan sikap terbuka kepada keterbatas­
an manusia dalam menafsir ajaran Tuhan; dengan kata lain, tak
semua seperti yang kita temui dalam ucap­an ’Ali Ibn Abi Talib.

Juga tak semua kata-kata suci mengandung suara sejuk; tak ja-
rang ada yang bisa dengan gampang ditafsirkan sebagai pedoman
untuk menampik toleransi. Maka agama, ketika di­pakai­untuk
menjelaskan hal ihwal, datang kepada kita dan membuat kita ter-
hibur, tapi juga menjadi ganas.

Tempo, 9 Mei 2004

186 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ABU GHURAIB

TAK ada yang ganjil sebenarnya yang terjadi di Penjara­
Abu Ghuraib, Bagdad: di bui tempat prajurit Irak yang
kalah perang disekap, yang menang dan yang kuat me­
rayakan kekuasaannya, dengan riang, dengan brutal, di atas tu-
buh yang tak lagi berdaya.

Mari kita simak foto yang kini tersebar di seluruh dunia itu.
Foto pertama: seorang tawanan perang Irak telanjang bulat­mela­
ta di tanah, dengan leher yang diikat seutas kendali. Seorang pra-
jurit perempuan Amerika dari Kompi 372 Polisi Militer meme-
gang ujung kendali itu, seakan-akan sedang menyeret binatang
aneh. Foto kedua: beberapa tawanan, dicopot­seluruh­pakaian-
nya, disusun bertimbun seperti ban mobil­bekas,­dan dipotret.
Laporan tertulis menyatakan bahkan ada tahanan yang dipaksa
masturbasi di depan para tahanan lain....

Apa boleh buat. Perang telah terjadi di Irak, dan perang pada
akhirnya memang kebrutalan yang dihalalkan, yang melahirkan­
si kalah dan si menang. Perang adalah sebuah pertaruhan di
mana, dalam bentuknya yang ekstrem, si menang berarti hidup
dan si kalah mati. Para tahanan Irak di Penjara Abu Ghuraib itu
adalah makhluk yang bisa dianggap sebagai ban bekas atau he-
wan jeratan. Sebagaimana manusia ”mati”, mereka bisa berbuat
apa?

Pertanyaan itu bisa juga diarahkan ke luar Abu Ghuraib. Pe­
rang­Irak seluruhnya adalah sebuah statemen bahwa berjuta-juta­
manusia di dunia telah dipergoki dengan pertanyaan: mereka bisa
berbuat apa? Tatkala negeri dengan persenjataan paling dahsyat
di muka bumi itu berniat menaklukkan Bagdad, kehendaknya
pun jadi, meskipun jutaan manusia menentangnya. Amerika tak
perlu menjelaskan alasannya. Ia tak perlu minta maaf ketika alas­

Catatan Pinggir 7 187

http://facebook.com/indonesiapustaka ABU GHURAIB

ann­ ya ternyata keliru. Ia tak perlu mempertanggungjawabkan
gempuran senjatanya ke Irak, dan kerusakan dan kematian yang
terjadi, kepada siapa pun, kecuali kepada dirinya sendiri.

Ia tak perlu takut. Sebab, siapa diri sendiri itu? Sebuah wajah­
yang hampir sepenuhnya demam oleh patriotisme. Sering demam
itu tak jelas lagi batasnya dengan ”jingoisme”, ketika rakyat­tam-
pak menghargai prestasi perang (war records) dan bukan prestasi­
perd­ amaian (peace records) para pemimpin. Mereka bertepuk ta­
ngan melihat Presiden Bush muncul dalam baju pilot pesawat
tempur....

Patriotisme, apalagi ”jingoisme”, adalah langkah pertama me­
nyisihkan orang lain. Dari sini juga datang ”kekecualianisme”.
Kata American exceptionalism memang diperkenalkan oleh Alexis­
de Tocqueville pada pertengahan abad ke-19, tapi kini ia mene-
mukan ekspresinya yang lain: apa yang dianggap pantas dan tak
pantas, yang berlaku untuk masyarakat internasional, tak harus
diakui oleh Amerika Serikat. Di Abu Ghu­raib seorang prajurit
yang terlibat dalam penyiksaan tahanan mengaku tak pernah di-
ajari aturan Konvensi Jenewa.

Tapi bukan cuma itu yang diabaikan. Sebelum di Abu Ghu­
raib, Amerika telah menampik ikut bergabung dalam Mahkamah­
Pidana Internasional. Ia juga menolak menandatangani perjanji-
an larangan pemakaian ranjau darat yang diikuti oleh 137 negeri;
ia tak mau ikut dalam kesepakatan internasional mengenai sen-
jata biologis yang diratifikasi oleh 413 negeri.

Negeri ini ingin, dan memang bisa, menentukan bahwa diri­
nya adalah sebuah kecuali. Makin lama ia makin membenar-
kan kata-kata Carl Schmidt, pemikir Nazi itu: ”Yang berdaulat
adalah ia yang menentukan kekecualian.”

Kekecualian berarti kebebasan penuh. Tapi kebebasan itu un-
tuk diri sendiri—bukan untuk yang lain.

Betapa aneh, sebenarnya, jika itulah yang terjadi. Sebab,­

188 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka ABU GHURAIB

Amerika Serikat, sebuah negeri yang berdiri dengan sebuah ide
yang justru tak menghendaki ada ”kecuali”—sebuah ide dengan
semangat universalis, yakni menjunjung hak untuk merdeka bagi
semua orang, bagi semua bangsa. Saya ingat pada tahun 1955.
Ket­ika membuka Konferensi Asia-Afrika, Bung Karno mengutip
sebuah sajak Longfellow tentang Paul Revere—seorang pejuang
yang naik kuda tengah malam untuk­membangunkan bangsanya
agar siap berperang untuk kemerdekaan. Sejarah Amerika Seri-
kat seakan-akan sejarah kita semua.

Kini betapa jauh, betapa ganjil. Semangat universalis yang
ingin membuat Amerika Serikat bagian dari sebuah dunia yang
merdeka sekarang justru bertaut dengan semangat yang ingin
membuat negeri itu berada di luar—bahkan bila perlu dengan
mengorbankan kemerdekaan yang universal, sebab kini pun, atas
nama patriotisme, ada niat menghalalkan sensor dan tak mema-
tuhi asas peradilan yang bebas.

Tapi memang begitulah agaknya nasib ketiga revolusi besar
dalam sejarah. Revolusi Prancis akhirnya melahirkan kediktator­
an, dan setelah itu: supremasi Prancis. Revolusi Rusia pada gilir­
annya melahirkan Stalin, dan dengan Stalin, ”internasionalisme”
akhirnya hanya wadah pengaruh Rusia. Revol­usi Amerika juga
tak berbeda jauh dari nasib pola tragis itu: ia yang ingin menjang-
kau dunia akhirnya mendekam di diri sendiri.

Mungkin karena pada mulanya adalah niat. Ketika sejara­wan­
Hobswan mengatakan bahwa, bagi orang Prancis, pembebasan
negeri mereka ”hanyalah cicilan pertama dari kem­ enanga­­ n uni-
versal kebebasan”, ia sebenarnya menunjukkan paradoks ketiga
revolusi besar dalam sejarah. Ketiga-tigan­ ya bertolak dari niat
mengubah dunia. Ketiga-tiganya men­ gandung­satu subyek yang
berniat, dan ada niat yang berhasil. Dari sini, ada sebuah model
awal.

Berangsur-angsur, sang subyek pun identik dengan pusat dan

Catatan Pinggir 7 189

http://facebook.com/indonesiapustaka ABU GHURAIB

tauladan. Dalam sejarah Amerika, persepsi diri sebagai tauladan
ini bergelimang dengan apa yang mutlak, yang luhur, dan yang
sukses. ”Agama Kristen, demokrasi, Amerikanisme, bahasa dan
budaya Inggris, pertumbuhan industri dan ilmu, institusi-insti-
tusi Amerika—semua ini campur-aduk dan kacau-balau,” tu-
lis H. Richard Niebuhr dalam The Kingdom of God in America.
Dalam campur-aduk itu, Amerika Serikat tetap ingin sebagai se-
buah kecuali. Terkadang ia mengagumkan, terkadang menggeli­
kan, terkadang menakutkan.

Tempo, 16 Mei 2004

190 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka BERBER

BAJAK laut menghantui setiap kapal niaga yang melintasi­
Laut Tengah dan Atlantik pada abad ke-18. Berpusat di
negeri-negeri di sepanjang Pantai Berber, para perompak
lanun itu akan menyerbu bahtera, merampas barangnya, dan me­
nangk­ ap orang-orang Eropa yang ada di dalamnya dan men­jadi­
kan mereka budak belian.

Sejak menjelang akhir abad itu, Amerika Serikat kian ikut ce-
mas dengan ancaman itu. Maka pada tahun 1797 sebuah perjan-
jian ditandatangani dengan Maroko, Aljir, Tripoli, dan Tunis.

Dalam traktat itu tercantum kalimat yang aneh. Di sana di­
sebut perkara ”Islam” dan ”Kristen”, seakan-akan soal bajak la­
ut­­dan uang tebusan itu soal permusuhan agama: ”Pemerin­tah­­
Amerika Serikat tak dalam arti apa pun didasarkan kepada­agama
Kristen,” demikian salah satu kalimat dalam perjanjia­ n itu, dan
”ia tak dengan sendirinya mempunyai watak per­musuhan­terha-
dap hukum, agama, dan ketenangan kaum muslimin.” Negara-
negara bagian Amerika, demikian tercantum dalam naskah, ”tak
pernah memasuki perang atau laku tak bersahabat dengan bang-
sa Islam [’Mehomitan’] mana pun.”

Kita lihat: ada paradoks dalam alinea itu. Di sana agama dise-
but-sebut tapi juga disangkal. Kita tahu sebabnya: waktu itu, se-
perti hari ini, zaman belum terlepas dari masa ”pasca-Andalusia”.
Inilah masa yang disebut oleh Anouar Majid, guru besar jurusan
sastra Inggris di The University of New England, dalam bukunya
yang baru, Freedom and Orthodoxy, sebagai masa ketika ”Barat”
memisahkan diri dari kebersamaan umat manusia—dan mulai
menaklukkan yang bukan dirinya.

Yang hendak ditunjukkan Majid adalah peta bumi setelah Is-
lam, yang berpusat di Andalusia, terusir, dan Spanyol jadi Kato-

Catatan Pinggir 7 191


Click to View FlipBook Version