The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by warsinisuharnowo, 2021-11-04 03:25:12

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

Catatan Pinggir 8 by Goenawan Mohamad (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MAGDA

yang menggugah dan mengguncangkan dunia, dan itu bagi Hit-
ler dan suami-istri Goebbels adalah revolusi Nazi.

Tentu, mana yang ”keji”, mana yang ”mulia” tetap tak ter­
jaw­ ab.­ Tapi jangan-jangan memang bukan itu persoalannya.
Jangan-j­angan, yang penting adalah bagaimana untuk tak ter­ke­
sim­ a pada Magda atau Mao, tak terpukau pada yang luar biasa,­
pada rupture dari hidup sehari-hari—sebab yang sehari-hari juga
bagian dari perjalanan kearifan yang belum letih.

Tempo, 24 April 2005

392 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TAKUT

DUNIA bertambah ketakutan: dunia bertambah konser-
vatif. Di Roma, dinding-dinding masih menampakkan
sisa-sisa poster Paus Yohanes Paulus II yang baru mang-
kat, yang membawakan kata-katanya yang terkenal, ”Jangan­ta-
kut.” Tapi kalimat itu akan segera tenggelam, mungkin terhapus.
Kini, di atas takhta yang mewakili posisi yang 2.000 tahun lebih
umurnya itu, penggantinya, Benediktus XVI, paus yang ke-265,
adalah seorang pembesar agama yang memperingatk­ an: ”Kita
bergerak ke arah kediktatoran relativisme.”

Ia cemas. Ia khawatir bila kini manusia ”tak mengenal apa
yang pasti dan hanya membiarkan ego serta hasrat sendiri sebag­ ai
ukuran terakhir”.

Harus saya tambahkan di sini: suaranya bukan satu-satunya­
yang menyatakan rasa waswas. Para pemimpin agama, yang se-
lalu punya kecenderungan untuk jadi penyusun rasa takut, kini
memang risau menyaksikan perubahan yang semakin lama se-
makin cepat dan semakin beraneka ragam. Tak adakah gerangan
yang akan bertahan tinggal, yang layak dirawat dan dibiarkan­
lest­ari? Adakah kini dan nanti ukuran yang mantap untuk kehi­
dupan bersama? Tak ada lagikah yang tak lekang oleh panas, tak
lapuk oleh hujan?

Pertanyaan itu mencerminkan sebuah frustrasi, tapi se­benar­
nya menunjukkan bahwa ternyata ada yang tak lekang dan tak
lapuk, yang bertahan dalam riwayat manusia—dan itu adalah
rasa takut akan nihilisme. Ia tak hanya muncul pada awal abad
ke-21. Ia tak hanya datang dari Benediktus XVI.

Syahdan, pada suatu pagi, seorang datang ke sebuah tempat­
orang ramai bertemu. Ia mengumumkan: ”Tuhan telah mati.­
Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya.” Si pem­bawa­

Catatan Pinggir 7 393

http://facebook.com/indonesiapustaka TAKUT

kabar, tentu saja dianggap ”gila”, membawa sebuah lentera­yang
bernyala. Ia tahu, ”kematian Tuhan” mau tak mau menimbulk­ an
pertanyaan yang mengusik, dalam kegelapan yang semesta,­ke-
tika seakan-akan bumi telah dilepaskan rantai pengikatnya dari
matahari.

Adegan di atas tentu saja saya ambil dari Nietzsche, persisnya
dari Ilmu Ceria (Die fröhliche Wissenschaft) yang terbit pada tahun
1882. Bagi Nietzsche, kematian Tuhan yang dikabarkan oleh
orang ”gila” itu adalah sebuah kejadian dahsyat: akan hancur
arah, terguncang ukuran, jungkir-balik nilai-nilai. ”Ke manakah
kini ia bergerak? Ke manakah kita bergerak? Menjauh dari semua
surya? Tidakkah kita tengah hanyut seakan-akan melalui keti-
adaan yang tanpa batas?”

Kita bayangkan rasa takut akan nihilisme di wajah si pem­bawa­
lentera, tapi ia tak marah. Ia menerima kenyataan­ini: orang akan
selalu menghendaki adanya sumber yang tunggal­dan kekal, tapi
akan selalu gagal menemukannya. Setelah Buddha­tak ada lagi,
tulis Nietzsche, ”Bayang-bayangnya mas­ih­diperlihatkan selama
berabad-abad di sebuah gua.” Setelah Tuhan mati, katanya pula,
hal yang sama akan terjadi.

Nietzsche mengatakan bahwa ”kita masih harus menaklukkan­
bayang-bayang itu”, dan pada hemat saya itu berarti bah­wa ma-
nusia tak bisa membiarkan diri teperdaya oleh ”bayang-bayang”.­
Ia harus mencari, menemukan—dan sebab itu si pembawa kabar
di atas memegangi sebuah lentera yang bernyala:­ia tak menyerah.
Ia siap berjalan dalam gelap.

Dengan demikian ia sebenarnya berangkat dari nol, terbang­
dengan kemerdekaan yang penuh, justru karena tak ada menara­
kontrol, tak ada juga pangkalan untuk kembali, bahkan tak ada
pelabuhan yang sudah dirancang pasti akan dimasuki.

Yang umumnya dicemaskan ialah kemungkinan manusia­
akan tak mampu menggunakan kemerdekaan itu. Kemerd­ ek­ aa­ n

394 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TAKUT

akan melahirkan kekacauan, atau ”relativisme”, anggap­an bahwa­
segala aturan bersifat serba nisbi. Para penguasa agama marah
dan sedih bila tak ada lagi pengakuan akan adan­ ya tradisi dan
akidah. Lihat, kata mereka, itu menara kontrol, itu pangkalan
tempat berangkat dan itu tempat datang!

Kecemasan seperti ini sebenarnya tak mengakui adanya ke-
merdekaan—dan di situlah salahnya.

Kemerdekaan adalah momen di tengah gurun: tak ada ram­
bu, perbatasan yang dijaga, bendera yang ditaati, kesempitan­
yang mengapit. Bila pada saat itu tak ada Tuhan, sebenarnya
yang musnah adalah konsep tentang Tuhan—karena tiap kon-
sep bersifat membekukan, membentuk, seperti membuat patung
dari batu untuk ”menangkap” sebuah sosok. Tentang ini Jean-
Luc Marion, seorang filosof Katolik, berbicara tentang ”pember-
halaan konsep” ketika satu konsep Tuhan ditegakkan.

Agaknya sebab itu Nietzsche berbicara dengan antusias ten-
tang Yesus. Kekuatan iman Yesus adalah karena ia ”hidup dan
me­nolak formula”. Bagi Nietzsche, Yesus tak hendak mempedu-
likan apa yang ”tetap”, sebab ”apa saja yang tetap bersifat mem-
bunuh”. Menjalani hidup baginya merupakan oposisi dari kata,
rumus, hukum, keyakinan, dogma.

Tapi kemudian Yesus tak ada lagi. Gurun diubah jadi kota, de-
ngan rambu-rambu, aturan, dan tentu saja kekuasaan. Yang tak
diakui ialah bahwa semua itu lahir dengan kekerasan, sebagaima-
na tercatat dalam sejarah agama-agama yang melembagakan diri.

Kita ingat bagaimana Sang Inkuisitor Agung dalam Karama­
zov Bersaudara Dostoyewski menyalahkan Yesus. Dalam cerita
Ivan Karamazov ini, Sang Penebus turun ke bumi untuk meng-
halangi kekerasan Gereja kepada mereka yang dianggap menya­
lahi ajaran. Tapi Yesus kalah. Penguasa Gereja itu menangkap-
nya.

”Tuan menghasratkan cinta bebas manusia, agar ia dapat

Catatan Pinggir 7 395

http://facebook.com/indonesiapustaka TAKUT

mengikuti Tuan dengan merdeka,” kata Sang Inkuisitor men­ ge­
cam. ”Sebagai pengganti hukum lama yang tegar, Tuan beri ma-
nusia kesempatan untuk dengan hati bebas menentukan­untuk
diri sendiri apa yang baik dan yang buruk—hanya dengan berpe-
doman citra Tuan.” Bagi Sang Inkuisitor sepuh, Yesus telah me-
letakkan dasar kehancuran Kerajaan-Nya sendiri.­

Maka petinggi Gereja itu takut—seperti Paus pada awal abad
ke-21 takut akan ”relativisme”. Tapi sejarah juga selalu­mencatat
bagaimana orang lain juga takut: ada yang brutal dalam ambisi
kepastian, tertib, dan otoritas.

Tempo, 1 Mei 2005

396 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MULYANA

MULYANA atau bukan Mulyana, tiap orang punya
detik-detik yang genting, ketika harus menentukan
untuk­curang atau tak curang, mencuri atau tak men-
curi. Detik-detik­itu mungkin singkat, tapi itulah saat kebebasan
yang menakj­ubkan.

Menakjubkan dan sekaligus membuat gentar: kebebasan itu
sunyi dan penuh risiko. Tapi bagaimanapun ia menandai sebuah
otonomi, mengisyaratkan sebuah posisi: manusia bukanlah­se-
buah kapal keruk. Sebuah kapal keruk, yang digerak­kan se­
penuhnya oleh pelaku di luar dirinya, tak akan bisa dituntut­per-
tanggungjawaban, tak dapat pula diberi penghormat­an. Tak ada
mesin yang patut dibui dan layak diberi medali.

Memang bisa dikatakan, keputusan seseorang, Mulyana atau
bukan Mulyana, disebabkan oleh wataknya, dan watak adalah
akibat warisan genetik orang tua serta pengaruh sekitar yang
mem­bekas.

Namun dapatkah semua hal diterangkan dengan garis lurus­
sebab-dan-akibat itu? Ketika saya memutuskan bertindak A, dan
bukan B, saya sebenarnya tak tahu persis adakah hal itu karena
nenek moyang saya Ken Arok, atau karena tubuh saya gemuk,
atau karena saya berbakat main akordeon dan dibesarkan di
Cepu. Siapa yang dapat memastikan bahwa sebab X, Y, Z akan
berakibat pada laku A dan bukan B?

Pada akhirnya, inilah yang saya tahu: saya adalah pelaku.
Mul­yana atau bukan, pada saat-saat saya harus memilih apa yang
”baik” dan ”buruk”, saya bukanlah sebuah akibat. Ada dalam hi­
dup saya yang dapat dijelaskan dengan sebab-dan-akibat, namun
ada yang tidak. Tak seluruh diri saya digerakkan oleh keniscaya­
an. Kita sehari-hari menempuh hidup dengan Das Sein, meng­

Catatan Pinggir 7 397

http://facebook.com/indonesiapustaka MULYANA

ikuti­”apa-yang-ada-kini”; tapi juga kita coba menjalankan Das
Sollen, ”yang-seharusnya”. Kant mengatak­ an: kita memiliki ”ke-
merdekaan transendental”.

Kemerdekaan itulah yang membuat manusia sebuah makh-
luk yang belum selesai.

Ada sepotong kalimat yang pernah mengharukan abad ke-
20: ”Saya percaya, manusia pada dasarnya baik.” Anne Frank me­
nuliskan itu di antara ribuan baris catatan hariannya, ketika ga-
dis kecil Yahudi itu bersembunyi ketakutan selama dua tahun,­
sebelum akhirnya orang Nazi menangkapnya beserta seluruh ke-
luarganya dan memasukkannya ke kamp konsentrasi Bergen-
Belsen, tempat ia mati pada akhir musim dingin 1945. Kata-kata
itu memberikan harap pada zaman yang gelap. Tapi sebenarnya
tak sepenuhnya tepat.

Bukan karena manusia ”pada dasarnya buruk”. Tapi karena­
kit­­a tak dapat merumuskan satu sifat apa pun tentang manusia­
de­ngan kata-kata ”pada dasarnya”. Seseorang jadi pahlawan atau
baj­ingan bukan karena ”esensi”. Saya tak pernah percaya ada
”pah­lawan” atau ”bajingan”; yang ada hanyalah ”laku/momen
kep­­ ahlawanan” atau ”laku/momen kebajinganan”. Kedua­nya
adal­ah ”eksistensi”, yang datang dari pilihan dan perbuatan.

Sebab itulah pilihan untuk berbuat baik—menolak untuk­ko-
rupsi, misalnya—adalah sebuah langkah yang tiap kali mengha-
rukan dan mengagumkan: ia tak dilakukan sebagai kelaziman,
atau sebagai sesuatu yang niscaya dan tak terelakkan. Ia dilaku-
kan sebagai semacam ”penciptaan”. Ia dilakukan bukan untuk
me­nuruti perintah dari ”dia” atau ”mereka”, dari hukum Tuhan
atau manusia. Perbuatan baik itu dilakukan secara ”spontan”, se-
bab langsung ia dilihat sebagai ”wajib”.

Dalam sebuah kisah kecil Mahabharata, Urinara me­lindungi­
seekor unggas yang nyaris tewas. Seekor elang besar mengejar
untuk memangsanya. Urinara tak kenal unggas yang ketakutan

398 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MULYANA

itu, tapi ia tahu ia tak dapat membiarkan keangkaramurkaan itu
terjadi. Ditawarkannya dirinya, jasadnya, untuk jadi makanan
pengganti. Si elang pun menerima tawaran itu, dan mulailah ia
memakan sedikit demi sedikit tubuh sang penolong....

Bagi Urinara, keputusannya adalah sebuah ”kewajiban”. Ia
melakukannya bukan karena ia senang, bukan karena janji surga,
melainkan karena ia sadar itulah yang ”baik”, yang ”bajik”, dan
tak ada hubungan antara kebajikan dan rasa bahagia. Kebajikan
itu ia anggap sebagai sesuatu yang ”seharusnya”, dan ini berlaku
universal: harus dilakukan oleh siapa saja, juga oleh dirinya.

Tapi ”kewajiban” itu, pada saat yang sama, juga dipilih de-
ngan bebas—bebas dari pamrih apalagi paksaan. Memang se-
buah paradoks: bagaimana sebuah ”kebebasan” menjalankan
”kew­ ajiban”? Apa arti ”otonomi” di sini?

Kant mencoba menjelaskan paradoks itu dengan susah payah.
Tapi saya kira ada jawaban yang sederhana: yang ”wajib” itu terse-
dia untuk dipilih secara bebas sebab ia memenuhi sebuah gagas-
an tentang apa yang ”universal”, yang diterima semua orang yang
bera­ kal budi.

Tentu saja yang ”universal” itu tak pernah hadir sebagai tata
tertib yang jelas dan selesai. Manusia mempersoalkannya ber­
abad-abad, selalu dalam keadaan setengah gelap. Juga bagi Uri­
nara. Malah mungkin ia tak berpikir, dapatkah tindakan yang
dilakukannya jadi norma yang berlaku bagi orang lain sebagai
”imperatif yang kategoris”. Yang pasti ia tak berbuat untuk jadi
teladan. Namun di situ justru kebajikannya menakjubkan.

Tapi tak hanya Urinara. Syahdan, di sebuah tembok di Kota
Kaliningrad yang dulu bernama Köningsberg, tak jauh dari
makam Kant yang merapat di dinding katedral kota itu, ada se-
buah kutipan terkenal dari sang filosof, dipahat dalam bahasa­Jer-
man dan Rusia. Terjemahan bebasnya: ”Dua hal memenuhi pi­
kir­anku dengan rasa takjub dan terkesima: angkasa yang penuh

Catatan Pinggir 7 399

http://facebook.com/indonesiapustaka MULYANA

bintang di atas sana dan hukum moral nun dalam diri manusia”.
Dua hal—dan di situ tampak keterbatasan manusia tapi juga

kelebihannya. Di tengah alam semesta, ia hanya satu di antara
bermiliar-miliar noktah; ia begitu terbatas, begitu tak mampu
untuk mengetahui semuanya. Tapi dalam posisi itu, ia toh dapat,
bila ia mau, menciptakan sesuatu yang baik bagi sesamanya.

Maka alangkah nistanya, jika Mulyana atau bukan Mul­yana­
ternyata memilih mala, memilih evil—dan berpaling dari hal
yang menakjubkan itu.

Tempo, 8 Mei 2005

400 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MUNIR

DALAM hidup, juga dalam mati, Munir berjasa besar: ia
menunjukkan bahwa ada mala di antara kita. ”Mala”
(dari mana kata seperti ”malapetaka” berasal) punya
akar dalam bahasa Sanskerta. Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Balai Pustaka, 1976) menyebut akar itu: mala berarti ”kotor; ce-
mar; noda; penyakit”. Kata itu mencakup apa yang menyengsara-
kan, jahat, durjana, atau busuk. Yang terakhir ini membuat kata
mala juga sama dengan ”danur”, air bangkai yang telah berbau
men­jijikkan.

Bahasa Inggris punya kata yang agak sepadan: evil. Berasal­dari
bahasa Inggris kuno, yfel, ia berarti ”berdosa”, ”keji”, ”menim­
bulkan rasa tak enak atau rasa muak”, ”busuk”, ”menimbulkan­
celaka”. Sebagai kata benda—yang menurut kamus Merriam-
Webster mulai digunakan sebelum abad ke-12—evil menandai
”penderitaan”, ”kemalangan”, dan ”kejahatan”. Juga sesuatu yang
menimbulkan duka dan kepedihan.

Pernah ada zaman ketika evil adalah sesuatu yang gelap dan
gai­b. Susan Neiman, yang menulis Evil in Modern Thought, me­
ngemukakan bahwa pada abad ke-18, kata evil mencakup baik
perbuatan kejam manusia maupun kejadian alam yang membuat
orang sengsara. Pada masa itu, tsunami yang nyaris menghabisi
Kota Lisbon pada tahun 1755 dianggap sebagai evil.

Orang memang belum tahu perihal lempeng tektonik dan ke­
rak bumi; seismologi baru mencapai telaah itu berpuluh-puluh
tahun kemudian. Bencana Lisbon memukau para pemikir Eropa
karena alam tampak cacat secara menakutkan dan tak disangka-
sangka. ”Pemakaian kata Lisbon pada abad ke-18”, tulis Nieman,
”sama dengan pemakaian kata Auschwitz hari ini.” Sebab di sana
sesuatu yang dahsyat terjadi: ”runtuhnya rasa percaya yang paling

Catatan Pinggir 7 401

http://facebook.com/indonesiapustaka MUNIR

asasi kepada dunia”, dan itu berarti guncangnya ”dasar yang me-
mungkinkan peradaban”.

Tapi abad ke-20 mengajari kita bahwa ”rasa percaya yang pa­
ling­asasi kepada dunia” runtuh bukan karena bencana alam. Ada
mala atau evil yang berbeda sama sekali, dan Auschwitz adalah
contohnya. Di kamp konsentrasi yang didirikan Nazi itu, sejum-
lah manusia berhasil membinasakan jutaan orang Yahudi, orang
Tsigana, orang homoseksual, serta para tahanan politik, antara
lain dengan membariskan mereka, seperti ternak yang telanjang,
berjalan rapi ke dalam kamar gas beracun.

Apa yang bisa dijelaskan? Dari Auschwitz tak lahir ilmu pe­
nge­tahuan seperti seismologi, yang mencerminkan hasrat dan
kapasitas manusia untuk mengerti sebab kesengsaraan yang ter-
jadi. Dari Auschwitz kita seakan-akan kemekmek terus-menerus:
mungkinkah kita menyusun sebuah ”seismologi” kekejaman?
Neiman menjawab, tidak. Tak akan ada ilmu yang akan menjelas-
kan mala yang seperti itu. Bahkan ia juga tak menganggap akan
ada penjelasan metafisik dan theologis yang memadai.

Memang pernah orang menenteramkan diri dengan me­nga­
tak­ an bahwa mala itu desain Tuhan. Dengan kata lain, tiap ke­
seng­saraan manusia atau kebusukannya dianggap sebagai bagian
iradah-Nya.

Tapi coba kita ingat orang-orang yang dianiaya di kamar gas
itu, atau kita ingat Munir ketika ia tergeletak kesakitan karena ra-
cun menyerang tubuhnya. Bisakah kita katakan kedurjana­an itu
adalah bagian dari rencana Illahi?

”Tuhan kita terlalu pengasih, terlalu adil, dan terlalu pemurah
untuk melakukan hal itu kepada hamba-Nya”. Pada abad ke-8,
seorang alim dari Basra, Al-Hassan al-Basri, mengucapkan kata-­
kata itu: baginya, sebagaimana bagi para pemikir Muktazillah
umumnya pada zaman itu, bila kita letakkan segala hal, juga ma-
lapetaka dan kebengisan, ke dalam kehendak Tuhan, itu sama

402 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka MUNIR

artinya dengan kita bayangkan Tuhan sebag­ ai sumber kezalim­
an. Itu juga sama artinya dengan membersihkan manusia dari
pertanggungjawaban. Manusia adalah makhluk yang merdeka,
kata para pemikir muslim abad ke-8 itu.

Kini kita juga tak dapat mengatakan mereka yang memasuk-
kan racun ke tubuh Munir hanyalah para pelaksana yang dige­
rakkan tapi tak diberi tahu oleh Sang Perancang. Sebab, jika de­
mi­kian, bagaimana kita akan berbicara tentang keadila­ n dan
kekejian di antara kita?

Itu sebabnya Munir jadi seorang aktivis. Ia hendak membuat
mala sesuatu yang gelap namun tak gaib. Bau bacin bangkai itu
tak datang dari langit, dan sebab itu harus disingkirkan. Tak ada
kehidupan sosial yang dapat bertahan dengan itu.

Namun ia dibunuh. Ia belum selesai bekerja. Yang ternyata­
kemudian terjadi ialah bahwa pada titik ketika ia terputus, ia se-
benarnya kembali mengingatkan: ternyata mala sebusuk itu da­
pat tumbuh dalam sebuah kehidupan bersama. Dan kini kita ha-
rus berpikir, dapatkah kedurjanaan itu diterangkan.

Kita bisa mengingat Hannah Arndt, yang akan bilang: ”Tentu
dapat.” Ia telah menyimak sang algojo, Adolf Eichmann, ketika
laki-laki Jerman yang mengatur pembantaian itu duduk di kursi
mahkamah Israel. Yang dilihat Arndt ternyata bukanlah sesosok
monster, melainkan seorang yang lumrah, pejabat yang ambisius
dalam mesin yang bengis, dan sekaligus seorang manusia yang
tak punya lagi perasaan. Bagi Arndt, mala yang terjadi bukanlah
hasil kekejian luar biasa manusia; sang algojo justru mencermin­
kan­the banality of evil.

Arndt, yang melihat totalitarianisme sebagai kengerian abad
ke-20, akan menunjukkan sifat banal itu terjadi ketika manusia
hanya melihat diri sebagai bagian dari sebuah cita-cita, gairah,
juga kebencian yang total, yang menemukan bentuknya dalam
Negara yang kekuasaannya mencakup ke semua sudut. Dapat-

Catatan Pinggir 7 403

http://facebook.com/indonesiapustaka MUNIR

kah kita katakan ada kebanalan yang sama pada pembunuhan
Munir?

Saya memang membayangkan para petugas yang bersedia
memb­ unuh. Tapi Indonesia pada tahun 2004 bukanlah Jerman
tahun 1930-an: kini, di sini, tak ada cita-cita, gairah­atau­keben-
cian tunggal dan menyeluruh yang membuat totalitariani­sme
be­kerja. Yang ada hanya sisa-sisa kebuasan yang ingin memper-
tahankan diri dalam sistem. Munir gugur dan ia mengingatkan,
mala di antara kita bukanlah mala pada tiap kita.

Tapi kemudian kita harus bisa menuding siapa sang durjana.

Tempo, 15 Mei 2005

404 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GUANTANAMO

GUANTANAMO adalah tempat gelap sejenis nihilisme.
Di koloni hukuman yang dibangun di teluk tenggara
Kuba yang dikuasai Amerika itu, orang disekap. Banyak­
di antaran­ ya telah dikucilkan di sana lebih dari tiga tahun, tanpa
dituduh, tanpa dapat bantuan pengacara, tanpa harapan akan be-
bas.

Berapa di antara mereka yang teroris, tak jelas. Atau justru
itul­ah yang dipersoalkan dunia—yang menyebabkan tahanan
di Guantanamo itu sebuah problem hukum di antara bangsa-­
bangsa. Ketakjelasan itu pulalah yang dicoba dipecahkan di sel-
sel­yang sempit itu—yang menyebabkan AS mengerahkan para
interogatornya dengan tak sabar, hingga mereka pun bekerja de-
ngan segala daya untuk mengorek pengakuan dan informasi,
dengan harapan terorisme abad ke-21 akan dapat dihabisi, dan
orang Amerika akan hidup tenang kembali, bebas, sukses, mak-
mur, meneruskan peradaban....

”Kami bertindak atas dasar apa yang kami kenali sebagai ber-
guna.”

Semboyan ini tak ditulis di tembok Guantanamo. Kalimat­itu
diutarakan jauh dari sana, oleh Bazarov, tokoh nihilis dalam no­
vel­Turgenev terkenal, Ayah dan Putra.

Kalimat yang lain adalah, ”Mula-mula, tanahnya harus diber-
sihkan dulu.”

Bazarov memang jauh dari Guantanamo, tapi ucapannya me­
nandai apa yang terjadi: ketika orang bertindak atas dasar ”guna”,
tahukah ia bahwa ”guna” tak pernah satu dan selesai? Acap kali
”guna” seakan-akan pasti dan jelas, dan ukuran lain pun dihan-
curkan. Di situ kalimat kedua yang destruktif dari sang nihilis
bergema: ”Tanahnya harus dibersihkan dulu.”

Catatan Pinggir 7 405

http://facebook.com/indonesiapustaka GUANTANAMO

Erik Saar, seorang sersan penerjemah bahasa Arab, selama
enam bulan sejak Desember 2002 sampai dengan Juni 2003 ber-
tugas di koloni itu, tempat 550 tahanan yang umumnya orang
musl­im disekap. Ia menyaksikan bagaimana pengusuta­ n dilaku­
kan di Guantanamo, dan ia menyaksikannya dengan jijik. Dalam
Inside the Wire, bukunya yang diterbitkan Penguin baru-baru ini,
ia kisahkan itu semua. Dari wawancaranya dengan BBC dan CBS
pekan lalu kita dapat susun satu adegan seperti ini:

Tahanan itu seorang Saudi yang ditangkap setelah ia masuk
sekolah penerbangan di Amerika. Hari itu ia dikeluarkan dari sel­
nya dan dimasukkan ke ruang interogasi. Seorang petugas pe­
rempuan tampil.

”Seraya ia berdiri di depan tahanan itu, ia pelan-pelan mulai
membuka kancing baju seragam tentaranya,” kisah Saar. Di balik­
blouse tentara itu ada kaus cokelat yang ketat. Perempuan itu pun
menyentuh payudaranya sendiri, dan berkata kepada si Saudi,
”Tak sukakah kamu susu montok Amerika?”

Bagi Saar, itu berarti sang petugas itu ingin membangun rin­
tangan antara si tahanan dan keyakinan agamanya, dan jika ia
de­ngan satu cara berhasil merangsangnya secara seksual,­si tahan-
an akan merasa tak suci lagi secara Islam, dan ia tak akan mampu
berdoa dan menghadap Tuhannya untuk memperoleh kekuatan.
Jika demikian, esok mungkin ia akan mulai mau mengikuti ke-
hendak si interogator dan bersedia bicara.

Tapi tahanan itu tetap membisu. Maka, kata Saar, sang pet­u­
gas melangkah lebih jauh. Ia buka kancing pantalonnya, dan me-
masukkan tangannya ke dalam celana itu seraya berjalan menge­
lil­ingi si tahanan. Rupanya ia menggunakan tinta merah untuk
memberi kesan ia membasahi jari-jarinya dengan darah menstru-
asi. Cairan itu pun dioleskannya ke tubuh sang tahanan. ”Aku
sekarang benar-benar sedang datang bulan, dan aku menyentuh
kamu. Apakah ini menyenangkan Tuhanmu? Apakah ini menye­

406 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka GUANTANAMO

nangkan Allah?”
Ketika sang tahanan tampak marah dan mencoba menying­

kir, sang petugas perempuan pun mengoleskan ”darah” itu ke
mu­ka laki-laki itu, seraya berkata: ”Ayo, suka apa tidak?”

Akhirnya dibawanya tahanan itu kembali ke sel, dengan pe­
san: ”Coba bersembahyang malam ini sementara tak akan ada air
di sel kamu.” Artinya, kata Saar, keran ke dalam sel itu akan di-
matikan, dan dalam dugaan si interogator—yang menduga bah-
wa satu-satunya cara berwudu adalah dengan air—si tahanan tak
akan dapat bersembahyang karena tak bisa membersihkan diri.

Saar menyaksikan semua itu dan menerjemahkan semua kata-­
kata itu. Ia tahu bahwa si tahanan adalah seorang yang ber­bahaya
(”Saya harap ia selamanya disekap,” kata Saar), tapi selama ber­
ada di kamar itu ia, meskipun hanya jadi penerjemah, merasa di­
ri ”kotor dan menjijikkan”. Ia juga melihat, ”guna” yang diharap-
kan dari interogasi macam itu akhirnya tak tampak: sang tahanan­
tetap diam, justru karena ia tak dianggap punya kehormatan.

Maka bukan sesuatu yang mengejutkan, jika—seperti di-
bongkar oleh mingguan Newsweek—dalam suatu interogasi,­
si­petugas membuang Quran ke dalam lubang kakus. Seluruh
kamp Guantanamo adalah pembuangan harapan ke dalam lu-
bang kakus: harapan bahwa peradaban bisa dibangun bukan
de­ngan penghancuran apa yang ada sekarang (”tanahnya harus
dibersihkan dulu”), apalagi penghancuran nilai-nilai yang sejauh
ini dianggap adil.

Memang ada yang bilang, kita harus menghancurkan nilai-
nilai itu, bagian dari apa yang ada kini, yang ”is”, agar kita dapat
mencapai apa yang ”ought”. Dengan kata lain, kita harus mem-
bersihkan tanah hari ini untuk mencapai apa-yang-seharusnya
nanti. Tapi itu adalah kepongahan sang nihilis. Sejarah adalah
usaha dari ”is” mencapai ”ought” yang tak pernah berhenti.

Tentu kita bisa katakan, bahwa Konvensi Jenewa yang mem­

Catatan Pinggir 7 407

http://facebook.com/indonesiapustaka GUANTANAMO

perlakukan dengan baik mereka yang kalah berperang adalah
sesuatu yang bikin repot dan ketinggalan zaman. Tapi setidaknya
dari konvensi itu tampak isyarat, bahwa ada yang ethis dalam
hidup manusia, yang betapapun tak jelas, dapat mendorong ke-
sepakatan kita untuk tak biadab.

Di Guantanamo, para penguasa di Amerika mengabaikan
isyar­at itu. Benih penghancuran mereka tanam. Yang jahiliyah
bu­kanlah hanya karena Quran dimasukkan ke dalam kakus, tapi
sesuatu yang lebih destruktif, yang sebenarnya telah ada di sana
sebelum itu

Tempo, 22 Mei 2005

408 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka Waiçak

DI tengah hutan, dalam perjalanannya berburu, Raja
Dus­­yant­a melihat Sakuntala untuk pertama kalinya.
Gadis dari pertapaan ini begitu mempesonanya hing-
ga—seperti digambarkan dalam lakon Sakuntala karya Kalidasa
pada abad ke-5—baginda pun gagap:

Seperti panji sutra Cina yang terkena angin
Tubuhku bergetar, antara ragu dan ingin
Kata ”sutra Cina” dalam kiasan Kalidasa itu menunjukkan
bag­ aimana pada abad ke-5 barang-barang dari negeri tetangga
yang menyebut diri ”Kerajaan Langit” itu punya daya pikatnya
send­ iri. Dalam kesusastraan Sanskerta memang banyak ditemu-
kan kata ”Cina” dalam hubungannya dengan segala yang elok:
cinaka, berarti ”kamper”, cinamsuka, berarti ”sutra”, cinarajaput­
ra, ”buah pir yang lezat”.
Saya peroleh contoh itu dari sebuah esai Amartya Sen da­lam­
The New York Review of Books 2 Desember 2004. Bagi saya itu ber­
arti peradaban bergerak dengan benda-benda kecil, hal-hal yang
tak selamanya sakral dalam hidup sehari-hari. Orang yang meli-
hat peradaban hanya sebagai ekspresi satuan-satuan besar dengan
merek ”Barat”, ”Islam”, atau ”India” mengabaikan yang sebenar­
nya terjadi. Amartya Sen benar ketika ia menyalahkan kecende­
rungan seperti yang tampak pada Samuel Huntington: ”kecen-
derungan... untuk memahami bangsa-bangsa terutama melalui
agama mereka”.
Jika kita simak sejarah, memang tak tepat untuk menganggap
peradaban yang berkembang di India selama berabad-abad seba­
gai ”peradaban Hindu” sebagaimana hendak ditegaskan kaum

Catatan Pinggir 7 409

http://facebook.com/indonesiapustaka Waiçak

nasionalis kanan di Gujarat. Bagaimana mungkin orang meng­
anggap Taj Mahal sebuah benda cantik bukan-India?

Demikian pula mengatakan bahwa dasar peradaban ”Erop­ a”
adalah ”Kristen” sama artinya dengan mengabaikan ke­nyataa­ n
bahwa Yunani, yang sering dikatakan sebagai sendi­peradaban
”Barat”, adalah sebuah dunia ”pagan”, yang juga menerima pel-
bagai anasir yang pernah tumbuh nun di ”Timur,” di khazanah
Sumeria, di tebing Tigris dan Eufrat, atau di sekitar Teluk Persia.

Peradaban memang bukan Taman Mini Internasional. Per­
adaba­ n ”Barat” tak mandek di satu anjungan. Ia menjalar ke selu-
ruh dunia karena ia siap menerima campuran dari mana pun, bu-
kan karena kemenangan politik semata-mata.

Sama halnya dengan yang disebut ”peradaban Islam”. Apa
yang berkembang di dunia orang muslim—misalnya pada abad
ke-9 sampai ke-13 di Irak dan Spanyol, dalam bentuk ilmu penge­
tahuan, filsafat, dan kesusastraan—sebenarnya bukanlah eksklu-
sif ”Islam”. Hampir semuanya hasil susunan baru dari anasir yang
da­tang dari jauh dan dekat. Itu juga sebabnya ia mudah diterima
di lingkungan lain. Karya Ibnu Rushd, sang penafsir Aristote­
les,­punya jejak dalam pemikiran Thomas Aquinas yang Kato-
lik. Bahkan karya Al-Ghazali, orang yang dijuluki hujjat al-Islam
(”bukti Islam”), meninggalkan gema pada pemikiran Descartes.
Predikat ”Islam” dalam peradaban pada akhirnya justru menan-
dai sesuatu yang tak tertutup di sebuah ajaran.

Contoh terbaik adalah sumbangan Al-Khwarizmi, pustaka­
wan Istana Khalif al-Ma’mun di Bagdad abad ke-9, orang perta­
ma yang memperkenalkan kata al jabr. Risalah orang muslim asal
Uzbekistan ini ditulis berdasarkan sebuah karya Hindi. Pene­
muannya, kini dikenal sebagai logaritma, bergaung di seluruh
Eropa.

Dan itulah peradaban: bukan ”Hindu”, ”Islam”, atau ”Kris­
ten”,­melainkan logaritma, juga sutra, sastra, juga senjata—hal-

410 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka Waiçak

hal yang menyebar bukan karena di dasarnya berdiam ”kebenar­
an”, tapi karena kebutuhan melintasi batas.

Pelintas batas yang terutama adalah perdagangan. Sebab per­
dagangan dan ruang ternyata saling menumbuhkan. Itu sebab-
nya ada penjelajahan, pemetaan, dan kolonialisme. Perdagang­
an pula, seperti disimpulkan Amartya Sen, yang mulai menghu­
bungkan Cina dan India. Buddhisme tak merintisnya.

Maka dalam hal peradaban, pada mulanya bukanlah Kata.
Jika ada yang jadi ”bapak segala hal ihwal”, itu bukanlah perang,­
sebagaimana dikatakan Herodotus hampir 500 tahun sebelum
Masehi. Tenaga itu bernama perdagangan.

Perdagangan bahkan membuat mesiu yang ditemukan di
Ci­na pada abad ke-10 jadi unsur penting persenjataan di Erop­ a
pada abad ke-14. Bedil tak diciptakan di Cina sendiri, sebab di
sini komersialisasi kekerasan tak terjadi, karena tentara sepenuh-
nya di bawah kekuasaan Maharaja Langit. Sebaliknya di Eropa
berkembang bengkel-bengkel senjata. Di Italia, pelbagai kelom-
pok condottieri, tentara sewaan, bersaing dalam meningkatkan
mutu ”pelayanan”, dan senjata yang ampuh pun­dikembangkan.
Komersialisasi kekerasan pun melahirkan inovasi pembunuhan.

Tapi tak semuanya berdarah: kalkulasi laba rugi, ukuran berat
dan jarak, penelaahan flora dan fauna, semua itu tak akan tum-
buh pesat seandainya tak ada kebutuhan untuk menggunakan
ses­uatu dan memperjualbelikan sesuatu.

Tak berarti peradaban sepenuhnya dibentuk oleh dorongan
komersial. Mudah ditunjukkan bahwa dorongan komersial itu
sendiri akibat kebutuhan lain. Tapi jelas, begitu banyak dan be-
gitu deras hal-hal di luar iman, ide, dan ideologi, yang memben-
tuk hidup.

Contoh dalam sejarah hubungan India dan Cina, sebagai­
mana diperlihatkan Amartya Sen, layak diingat. Setelah dibuka
para saudagar, hubungan kedua wilayah itu memang diperkuat

Catatan Pinggir 7 411

http://facebook.com/indonesiapustaka Waiçak

para rohaniwan. Buddhisme berada di pusat lalu lintas manusia
dan gagasan pada zaman itu.

Tapi iman dan ajaran tak pernah hidup sendirian. Ke­simpul­
an Sen, ”pengaruh yang lebih luas dari Buddhisme tak hanya­ter-
batas pada agama”. Dampaknya yang ”sekuler” menyentuh ilmu,
matematika, sastra, linguistik, arsitektur, pengo­ batan. Sebalik­
nya yang ”sekuler” hadir dalam tafsir—sesuatu yang juga terjadi
dalam agama lain. Itulah sebabnya kesucian Waiçak yang satu
tak membuat Buddhisme jadi satu.

Tapi tak ada yang harus disesali. Dampak dan pengaruh
adalah tema utama peradaban—gerak hidup dengan benda-ben-
da kecil, hal-hal yang tak selamanya suci.

Tempo, 29 Mei 2005

412 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka CILIWUNG

DI tebing Ciliwung yang busuk dan rusak, terkadang ada
burung, terkadang kupu-kupu. Warna-warna yang tak
diacuhkan.
Inikah sebenarnya yang membuat kita percaya, atau tak per-
caya, bahwa dunia menakutkan & menyedihkan, atau sebaliknya
mempesona & beres, sebab ada desain yang pandai di balik semua
ini?

Ciliwung seperti terkutuk: sampah plastik, sisa busa detergen,­
kejorokan manusia, gulma yang menyumbat—tanda ketak­pe­
dulian atau putus asa, atau simptom pertama sebuah kota yang
tak becus, bukti ketidakmampuan, atau gejala terakhir sebuah
masyarakat yang hanya bisa mencemooh diri sendiri.

Tapi burung itu, rama-rama itu hinggap. Makhluk-makhluk
kecil yang tak dipedulikan lagi tapi sebenarnya menyimpan se­
jum­lah tanda: lihat, ajaib. Para pengamat burung dan kolektor
kupu-kupu akan dapat menyebutkan, betapa ramai ragam warna
bulu dan corak hiasan sayap hewan-hewan itu, hingga kita acap
kali termenung: apa gerangan daya agung yang mendesain ke-
anekaragaman yang renik dan cantik itu?

Orang-orang alim akan menyebut semua itu tanda ke­piawai­
an­Tuhan yang tak tepermanai, dan mengutip Ihya Ulum al-Din
Al-Ghazali: ”... kita tak akan mampu, meskipun kalau kita ingin,­
untuk menyebutkan semua keajaiban dalam seekor tungau, se­
ekor semut, seekor lebah, atau seekor laba-laba.”

Yang ”paling melata menjelaskan yang paling luhur,” kata
al-Ghazali, dan dengan rasa syukur yang besar orang pun akan
berkata: Tuhan begitu baik, bahkan unggas dan serangga bisa
me­nunjukkan alam semesta ini beres. Allah menciptakannya
demikian. Dalam kalimat Al-Ghazali yang optimistis pula, ”Tak

Catatan Pinggir 7 413

http://facebook.com/indonesiapustaka CILIWUNG

ada, dalam deretan apa yang mungkin, sesuatu yang lebih bagus
dan menakjubkan seperti yang ada ini.”

Tapi di Ciliwung yang busuk, sesuatu mencegat: kita hidup­
dengan sesuatu yang jahat. Katakanlah itu korupsi, yang mengge­
rogoti kepentingan dan milik publik, hingga sungai, taman, hu-
tan, udara, jalan, sekolah, museum, rumah sakit, dan entah apa
lagi, hancur pelan-pelan. Korupsi adalah durjana, korupsi adalah
mala. Bagaimana mungkin durjana dan mala itu memungkinkan­
kita berkata, puji Tuhan? Bagaimana mungkin ada desain yang
pandai di balik dunia yang ”bagus dan menakjubkan” ini?

Tapi hampir tiap zaman ada orang yang berbicara tentang de-
sain itu dan memilih sikap tawakal. Mereka percaya keb­ uruk­an
punya peran justru untuk menangkal keburukan. Pada tahun
280-206 sebelum Masehi, hidup seorang pemikir Yunani berna-
ma Chrysippus, seorang penganut paham Stoisi­sme, yang berka-
ta, ”Hewan yang buas ada untuk menguji­ke­kuatan manusia; ta­
ring­berbisa sang ular ada untuk jadi obat; tikus-tikus mengajari
kita gerak yang trengginas, dan kep­ inding­membuat kita tak ter-
tidur terlampau lama.”

Pada abad ke-11 di dunia Islam ada Al-Ghazali, dan pada
abad ke-18 di dunia Kristen ada Leibnitz, yang mengabarkan op­
timisme: di dunia yang tampak tak sempurna ini tersembunyi­
berkah, atau alasan yang cukup kenapa cacat dan mala hadir da­
lam hidup kita.

Tentu saja datang para peragu. Pada abad ke-18 Eropa pula,
Voltaire menulis novel Candide untuk habis-habisan mencemooh
optimisme itu, mengolok-olok keyakinan adanya ”alasan yang
cu­kup” itu: Pada suatu hari, tokohnya, Pangloss, sang Optimis,
terkena raja singa. Tubuhnya penuh kudis, matanya menceruk
karena kurus-kering, mulutnya mencong, giginya hitam seperti
gambir keroak.

Kenapa semua itu terjadi, tanya Candide. Perbuatan Setank­ ah

414 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka CILIWUNG

ini? Sang Optimis menjawab: Ah, bukan! Sifilis itu sesua­tu yang
tak dapat dielakkan. Ia dibawa ke Eropa oleh para awak kapal Co-
lumbus dari perlawatannya ke Amerika. Seandainya­mereka tak
ke sana dan kembali, Eropa tak akan mengenal rasanya cokelat.

Pangloss dan banyak orang lain dapat menjungkir-balikkan
jalan pikirannya sendiri untuk bisa tetap berpikir positif. Tapi
mungkin juga optimisme sebenarnya datang dari bingung, se-
perti ketika kita melihat Ciliwung dan alam yang hancur oleh
ketamakan manusia. Maka ada kebutuhan untuk secara mental­
mengatasi kebingungan melihat mala meruyak dan kerusak­an
seakan-akan tak bisa diatasi. Optimisme mungkin hanya­ cara
untuk menemukan metode di dalam kegilaan yang sedang berke-
camuk. Kita tak hendak ikut gila.

Jika orang bicara tentang ”berkah”, juga di balik Ciliwung
yang hancur, perlukah begitu panjang dan luas penderitaan itu?
Kenapa Tuhan tak menciptakan dunia di mana yang buruk tak
dip­ erlukan sama sekali? Berarti, Tuhan memilih untuk terikat
kepada satu desain, dan bila Al-Ghazali menyebut bahwa musta-
hil ada sesuatu ”yang lebih bagus dan menakjubkan seperti yang
ada ini”, tidakkah itu berarti tak ada kuasa Tuhan mengatasi
yang mustahil?

Bertahun-tahun lamanya pendirian Al-Ghazali ini memang
digugat oleh para ulama, seperti direkam dengan bagus oleh Eric
L. Ormsby dalam Theodicy in Islamic Thought: The Dispute over
al-Ghazali’s ’Best of All Possible Worlds’. Sebab tak gampang me-
mang menjawab, seraya merenungkan Ciliwung dan burung-bu-
rung, apa sebabnya ada hal-hal yang menyengsarakan di samping
hal-hal yang patut disyukuri.

Problemnya akan mudah bila kita penganut Zoroasterian,
yang percaya bahwa roh suci, Spenta Mainyu, adalah saudara
kembar roh jahat, Angra Mainyu. Tapi kaum monotheis tak hen-
dak mempercayai dwitunggal itu—dan harus menjawab kenapa

Catatan Pinggir 7 415

http://facebook.com/indonesiapustaka CILIWUNG

Tuhan yang mahabaik dan sekaligus mahakuasa membuat dunia
yang cacat.

Ah, kita tak dapat menuntut Tuhan, kata sebagian orang, un­
tuk mengikuti ukuran ”baik”, ”buruk”, ”adil”, dan ”zalim” yang
dipakai manusia. Dalam Alkitab, Tuhan membuat Ayub sengs­a­
ra habis-habisan tanpa sebab, tanpa salah. Membayangkan Tu­
han­­mengikuti ukuran keadilan dan rasio manusia ber­arti me­
ngu­r­ angi­kuasa-Nya.

Tapi jika demikian, mungkin benar: manusia penentu ukur­
ann­ ya sendiri—dan harus bergulat dalam syukur atau cemas, di
tengah kebobrokan seperti di Ciliwung dan indahnya bulu sayap
burung-burung.

Meskipun ia sering tak berani.

Tempo, 5 Juni 2005

416 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka EROPA

DARI menara lonceng setinggi 100 meter di Balai Pasar,­
tanda waktu berkeloneng di udara Bruges tiap 30 me-
nit. Dulu, di kota ini tengara jam adalah potongan
melodi Eine kleine Nachtmusik. Kini melodi lain yang terdengar,
bukan Mozart, mungkin bukan dari abad ke-18. Tapi kota yang
dulu tampak kusam sekarang kian seperti museum yang apik—
indikasi bahwa sejarah yang rumit berliku kian ditata dan dirapi-
kan, seperti jalanan batu, kanal, dan jembatan-jembatan itu.

Empat puluh tahun yang lalu saya mengenal ”Eropa” pertama
kalinya di Bruges ini—kota dengan penghuni 100 ribu yang ke-
mudian, pada tahun 2002, dijuluki ”ibu kota budaya” Eropa. Di
Jalan Dyver, di seberang kanal dan deretan rumah tua, ada Col-
lège d’Europe. Di situ para mahasiswa hampir tiap hari mende­
ngar­kan para guru besar membahas soal-soal di sekitar ”ide Ero-
pa”, sebuah ide yang datang dari sejarah yang rumit berliku, yang
seperti sejarah Bruges, dicoba ditata dan dirapikan.

Salah satu sang penata sejarah adalah rektor pertama seko-
lah tinggi itu, Henri Brugman. Ia bukan hanya seorang akade-
misi yang ulung. Ia juga seorang aktivis yang yakin. ”Eropa” ba­
gin­­ ya adalah penanda sebuah satuan budaya yang menurut seja­
rah mengatasi batas-batas nasional di daratan itu. ”Eropa”, bagi
Brugman, adalah seperti mantra yang membawa harapan perda-
maian. Baginya, ”negara-bangsa”—seperti terbukti dari Perang­
Dunia I dan II—adalah kekuatan yang menebarkan perang.
”Ero­pa”, sebuah bangunan supra-nasional, harus lahir.

”Selama dogma tentang kedaulatan nasional yang suci itu
tak dibuang,” begitulah ia berpidato di depan Kongres Erop­ a di
Den Haag pada 7 Mei 1948, 12 tahun sebelum Collège­d’Europe
didirikan, ”... tak ada yang akan terjadi [dalam usaha ke arah per-

Catatan Pinggir 7 417

http://facebook.com/indonesiapustaka EROPA

damaian dunia].”
Di asrama yang terletak di St. Jakobstraat 41 (kini telah ber­

ubah jadi Best Western Premier Hotel Navarra), tempat sang Rek-
tor tinggal bersama para mahasiswa, makan siang tak pernah ko-
song. Brugman akan duduk di sudut. Ia terkadang ditemani satu-
dua tamu dan lebih sering dengan beberapa mahasiswa. Dia akan
berbicara panjang, dalam bahasa Prancis atau Inggris yang tanpa
cacat, menunjukkan pengetahuan dan pengalamannya yang ka­
ya terutama tentang masa lampau. Ia memang anak yang setia da­
ri sejarah pemikiran Eropa. Ia memulai tradisi Collège itu untuk
membuka tiap tahun ajaran dengan satu kuliah umum tentang
buah pikiran seorang filosof atau seorang negarawan ”Eropa”.
Kuliah umum itu menyusul setelah ia mem-”baptis” tiap generasi
mah­ asiswa dengan nama tokoh itu.

Pada tahun 1965 itu, saya termasuk dalam angkatan yang
mem­bawa nama ”Thomas More”, penulis Utopia, sebuah kritik
da­lam bentuk satire terhadap keadaan Inggris pada abad ke-16
dan juga sebuah kandungan cita-cita.

Adakah Brugman melihat Utopia pada gagasan tentang ”Ero­
pa”? Adakah ”Eropa”-nya sebuah kritik? Atau cita-cita yang tak
akan tercapai? Saya tak ingat. Yang saya ingat pada tahun 1965 itu
”Eropa” baru berbentuk ”Pasar Bersama”. Tapi orang tahu bahwa
”pasar” itu awal sebuah desain yang besar. Jean Monnet mem­
bangun­”Kerja Sama Batu Bara & Baja Eropa” pada awal 1950-an
sebagai kombinasi antara harapan yang muluk dan pragmatisme
yang rendah hati: Jerman dengan Prancis yang bertahun-tahun
lamanya bermusuhan dipertalikan dalam satu usaha ekonomi,
tapi dengan keyakinan akan tumbuhnya sesuatu yang lebih. ”Tak
sedikit pun saya ragu,” kata Monnet, ”proses penyatuan Eropa ini
kelak akan membawa kita ke satu jenis Negara Eropa Serikat—
tapi saya tak ingin membayangkan sebuah struktur politik.”

Monnet sadar: tiap diskusi tentang bagaimana ”struktur poli-

418 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka EROPA

tik” Eropa yang sedang dibangun itu akan menimbulkan perti-
kaian. Ia pun menunggu.

Pada tahun 1979 ia meninggal. Sementara itu ”Kerja Sama
Batu Bara & Baja” telah berubah jadi ”Pasar Bersama”, dan ”Pasar­
Bersama” jadi ”Uni Eropa”. Di daratan antara Nederland dan Re-
publik Cek, tapal batas nasional praktis lenyap, kantor imigrasi
dan bea-cukai telah dibongkar, dan mata uang euro beredar. Tapi
”Negara Eropa Serikat” tak kunjung terbentuk, dalam jenis apa
pun.

Ketika pekan lalu lewat referendum rakyat Prancis dan Belan­
da menolak rancangan konstitusi Eropa, orang pun bertanya: ti-
dakkah ”Eropa” digugat oleh legendanya sendiri? Bukankah le­
gend­ a, juga mitologi, yang sarat dengan ambiguitas dan anasir
bawah-sadar manusia, membuat sejarah tak mudah ditata dan di-
rapikan, juga oleh para ”Eurokrat”?

Syahdan, kata mitologi, dahulu di Phoenicia hidup seorang
putri. Matanya besar bersinar-sinar (europos konon berarti ”ber-
mata besar” atau ”berpandangan jauh”). Terkesima, Dewa Zeus
pun mengubah dirinya jadi lembu jantan. Ia menangkap sang
putr­i dan dibawanya Eropa ke Kreta. Tapi lima saudara lelaki
sang putri pergi mencari si adik yang hilang. Di tiap sudut dunia
merek­ a bertanya, ”Di manakah Eropa?”

Tak ada yang tahu. Cadmos, salah satu dari saudara lelaki
itu, pun tiba di Delphi. Ia bertanya kepada orakel, dan inilah ja-
wab yang didapat: ”Kau tak akan menemukannya. Tapi ikutilah
seekor lembu, doronglah ia tanpa henti. Di tempat ia berhenti,
kau dirikanlah sebuah kota.”

Tampaknya ”Eropa” tak akan ketemu jika ia dicari dengan
nostalgia, rasa rindu pada si upik yang jadi bagian dari hidup­
yang dulu. Eropa ada selalu sebagai konstruksi baru. Apalagi
masa lampau itu tak pernah serapi jalan dan kanal Kota Bruges.
Kita tak usah percaya John Laughland, yang menulis The Tainted

Catatan Pinggir 7 419

http://facebook.com/indonesiapustaka EROPA

Source: The undemocratic origin of European Idea, bahwa gagasan
persatuan Eropa bermula di kalangan Nazi dan Fascist. Tapi seti-
daknya benar: ada banyak mula, ada banyak ”Eropa”, dan itulah
yang sering dilupakan.

Juga oleh Brugman, ketika ia bicara tentang ”kesatuan buda­
ya”, sebuah identitas yang berintikan warisan Yunani-Yahudi-
Kris­tiani.

Bukankah konon identitas itu ibarat bawang: sesuatu yang
tampak utuh, tapi jika dibuka, yang ada hanyalah lapisan kulit
demi lapisan kulit, tanpa inti?

Tempo, 12 Juni 2005

420 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TURKI

KETIKA Ka dibunuh di sebuah jalanan Frankfurt, siapa­
kah­dia sebenarnya? Seorang pengkhianat, atau seorang
yang bersalah hanya karena ia tak jelas, juga bagi dirinya
send­ iri?­Ataukah seorang korban dari konflik yang melukai Turki
bertahun-tahun—karena kata ”sekuler” dan ”Islam” begitu pa-
nas dan eksplosif dan begitu banyak orang terkoyak?

Tapi baiklah saya perkenalkan dulu siapa Ka. Ia lelaki jang-
kung berumur 42 tahun yang pemalu, belum menikah, dan me­
nul­is puisi. Nama sebenarnya Kerim Alakusoglu, tapi sejak di
sekolah ia menolak dipanggil demikian. Ia tokoh utama novel­
Orhan Pamuk Kar (dalam versi Inggris, Snow), seorang yang,
kata sang empunya cerita, hidup 12 tahun lamanya di Jerman dan
pada suatu hari kembali ke Istanbul ketika ibunya meninggal.
Dari Istanbul, ia memutuskan pergi ke Kars.

Tak jelas betul sebenarnya, juga bagi dirinya sendiri, apa yang
mendorongnya ke kota udik dan melarat di timur laut di perba-
tasan dengan Armenia itu. Ia, yang dibesarkan di Istanbul­di ke-
luarga yang tak kenal kemiskinan, mungkin berniat pergi ”untuk
memberanikan diri memasuki dunia lain nun di sana”.

Atau mungkinkah ia ke Kars untuk menemui kembali Ipek,
teman kuliahnya yang cantik, yang pulang ke kampung halaman,
menikah dan kemudian bercerai dari suaminya? Ia malu meng­
akui ini. Ia punya alasan lain yang dikemukakannya ke semua
orang: ia datang untuk menulis tentang sebuah peristiwa ganjil,
yakni sejumlah gadis Kars yang secara berturut-turut bunuh diri
di kota itu. Ia menulis untuk harian Republik.

Di awal novel, kita ikuti ia naik bus pada suatu petang yang
kian putih. Salju tak berhenti-hentinya turun sampai menjelang
novel berakhir, sampai semua jalan Kars tertutup­ olehnya. Di

Catatan Pinggir 7 421

http://facebook.com/indonesiapustaka TURKI

kota berpenghuni 80 ribu yang terjepit itu Ka me­nemui­banyak
orang, tempat ia bertanya atau menjawab, takut atau berharap.
Kars adalah tuas dalam hidupnya, antara yang lama dan yang
baru.

Seperti disebut di awal, ia mati di negeri asing. Ia juga mati
praktis tanpa konklusi, tak jelas dibunuh oleh siapa. Bahkan di
bagian penutup novel ini perannya digantikan oleh sang pen­ ga­
rang,­Orhan, yang ingin menulis tentang mendiang penyair saha-
batnya itu. Sementara itu hidup berlangsung terus di Kars dengan
kenangan yang terpotong-potong tentang kunjungan pada hari-
hari bersalju itu.

Akhirnya Kars, dan bukan Ka, yang bergaung kembali ketika
novel tamat. Yang membekas di ingatan kita bukanlah biografi
se­orang tokoh, tapi riwayat sebuah Turki di perbatasa­ n—sebuah
perbatasan antarnegeri, juga antarsejarah dan pelbagai harapan
besar. Setidaknya sebuah Turki pada awal tahun 1990-an. ”Di
Kars,” kata Orhan Pamuk dalam sebuah wawanc­ ara, ”kita secara
harfiah dapat merasakan kesedihan yang timbul karena jadi ba-
gian dari Eropa dan sekaligus dari kehidupan bukan-Eropa yang
keras dan pas-pasan.”

Di celah dan di bawah kontradiksi yang menyedihkan itu
anom­ ali jadi yang lumrah, hal yang luar biasa seakan-akan sesu­
atu yang wajar—dan Orhan Pamuk mengisahkan semua ini de-
ngan kalimat yang datar, semacam lelucon yang kering dan gelap:
di sini terbit sebuah koran lokal yang dapat menuliskan satu beri-
ta sebelum peristiwanya terjadi, termasuk terbunuhnya aktor Su-
nay di pentas. Di sini sejumlah anak perempuan berjilbab tiba-
tiba bunuh diri berturut-turut, tapi orang tak pasti kenapa. Di
sini seorang direktur lembaga pendidika­ n yang ”sekuler”—yang
melarang murid-murid memakai jilbab—merekam percakapan
terakhirnya dengan pembunuhnya, seorang ”Islamis”. Di sini se-
buah kudeta militer dan pembantaian berlangsung seakan-akan

422 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka TURKI

bagian dari sebuah pertunjukan yang mementaskan lakon ”Ta-
nah Airku atau Jilbabku”. Di sini bersembunyi seorang buron
yang dianggap berbahaya, tapi pertemuannya dengan Ka di tem-
pat rahasia ia tutup dengan hikayat tentang pendekar perang ber-
nama Rüstem.

Di Kars, di antara fiksi dan fakta, realitas dan imajinasi, hidup­
menutupi luka-lukanya. Kekerasan dan kematian terjadi seakan-­
akan bagian dari sejarah yang diimlakkan dari jauh, dan tiap
nas­ib seperti seserpih salju yang melayang. Akhirn­ ya salju hadir
seakan-akan sebuah perumpamaan bagi hidup­kota yang miskin
itu, kota yang berharap antara semangat­”sekuler”­Attaturk dan
semangat ”Islamis” yang melawannya: salju ada­lah warna putih
yang mengandung janji untuk tak bernoda, tapi tak seterusnya
bisa; bahkan ia jadi kebekuan yang akhir­nya memblokir semua
jalan.

Walhasil, nada dasar kisah Orhan Pamuk adalah hüzün, kata
Turki untuk ”melankoli”. Kalimat penghabisan Snow berb­­ unyi:
”Seraya memandangi salju terakhir yang menutupi­atap-a­ tap ru­
mah dan pita asap tipis yang bergetar naik dari cerobong pabrik
yang patah, aku mulai menangis.”

Adakah itu berarti, di Kars, di Turki, juga setelah salju cair, ja-
lan tetap buntu? Mungkin. Melankoli itu berlanjut dalam buku
Orhan Pamuk yang kemudian, serangkai potret tentang Istanbul
yang dikenalnya sejak anak-anak. Di sana ia menulis:­”Terpukau
keindahan kota ini dan Selat Bosphorus, orang akan diingatkan
akan perbedaan hidupnya sendiri yang papa di hari ini dengan
kejayaan yang membahagiakan di masa lampau.”

Tapi masa lalu itu tak bisa diulangi, betapapun kerasnya niat
mereka yang ingin melikuidasi Turki modern yang dibawa oleh
Kemal Attaturk. Sementara itu masa depan—jika itu bera­ rti
”Ero­pa”—kian terasa menyakitkan: ia sebuah hasrat yang di Ero­
pa sendiri ditampik. Sebagian dari orang Prancis dan Belanda

Catatan Pinggir 7 423

http://facebook.com/indonesiapustaka TURKI

yang berkata ”Tak!” kepada rancangan konstitusi Eropa adalah
mereka yang juga berkata ”Tak!” kepada kemungkinan Turki
masuk ke perserikatan negeri-negeri yang lazim disebut ”Barat”
itu.

Mungkin Blue benar, atau separuhnya benar. Si radikal yang
dulu hidup di Jerman dan kemudian mati ditembak tentara di
Kars itu berkata kepada Ka: ”Sering kali bukan orang Eropa
yang meremehkan kita. Yang terjadi ketika kita menatap mereka
adalah kita yang meremehkan diri sendiri.”

Tempo, 19 Juni 2005

424 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka JACKO

MICHAEL Jackson adalah sebuah kesepian. Pada suatu
hari, ketika umurnya menjelang 30 tahun, ia meng­
ubah warna kulitnya yang gelap jadi hampir sepucat­
langsat, hidungn­ ya yang pesek jadi mirip gading diraut, dan ram-
butnya yang kribo jadi bak mayang terurai. Lihat, kata orang
yang kesal, si negro itu menampik asal-usulnya! Ia malu akan ciri
rasnya sendiri!

Mereka tak bertanya kenapa, mereka merasa tahu kenapa. Ka­
ta mereka Michael ingin jadi kejora yang paling bekerl­ap. Ia ber-
solek habis-habisan. Wajah itu jadi topeng, tubuh itu jadi man­ e­
kin di etalase. Tapi itu semua hasil kemasan yang dic­ ocok­kan de-
ngan selera kecantikan orang putih, karena­mere­kalah yang sejak
berabad-abad menentukan—berkat penakluk­an di masa lalu dan
media massa di masa kini—apa yang ”bagus” atau ”tak bagus”­di
dunia.

Tapi sebaliknya bisa dikatakan: bukankah Michael Jackson­
yang membuat dirinya sebuah boneka yang siap bagi mereka­
yang ingin menontonnya terus-menerus? Ia seorang pesulap. Ti­
ap pesulap tahu, di depan khalayak ia berdusta, karena dusta itu
meng­asyikkan hadirin. Di situlah Michael tak sekadar sebuah
ma­n­ ekin. Ia subyek yang bermain.

Memang subyek itu akhirnya tak kentara, sebab trans­formasi­
itu tak kunjung berhenti. Michael mengenakan topeng sampai le­
pas panggung. Tapi apa boleh buat: ia penyanyi yang jadi selebri­
tas: tiap saat adalah sebuah pertunjukan, tiap jengkal tanah se-
buah pentas, tiap posisi sebuah pose.

Ia memang tampak tak ”alamiah” dan ganjil. Tapi bukan­kah
just­ru itu tanda ia melebur diri jadi bagian hasrat orang ramai?

Sebenarnya ia juga seperti kita. Atau tiap kita adalah Michael­

Catatan Pinggir 7 425

http://facebook.com/indonesiapustaka JACKO

Jackson: aku sebagai seonggok kecemasan. Ketika aku becermin­
atau melihat pasfoto dalam KTP-ku, tampak sebuah sosok. Ku­
sepakati sosok itu diriku. Tapi cermin itu, juga pasfoto KTP itu,
se­betulnya sebuah medium permufakatan sosial. Di baliknya ada
masyarakat, kekuasaan, juga hukum: sebungkah pihak ”Sana”
yang memberi diriku, di ”sini”, sebuah stabilitas, sebuah nama,
sebuah identitas.

Tapi aku tahu cermin itu, pasfoto KTP dan kesepakatan itu,
se­benarnya tak menunjukkan aku seutuhnya. Dengan bercermin
sesungguhnya aku jadi bagian dari ”Sana” yang hanya­melihat di­
riku dari luar pada suatu saat. Yang selalu luput­dalam identifikasi­
itu adalah ”aku” yang tak tampil pada saat itu. Maka di depan
cerm­ in terkadang aku cemas kalau-kalau tak memenuhi ukuran
”Sana”, terkadang aku juga cemas kalau-­kalau ”Sana” menakluk-
kan aku sepenuhnya.

Tapi di teater yang tak berbatas, Michael Jackson (berbeda da­
ri kita) berkaca tak henti-henti. Di mana sebenarnya, dan seha-
rusnya, dirinya?

Saya kira ia sadar: ia orang hitam, bagian dari ras yang diang-
gap nista. Maka ia jadikan dirinya topeng, sengaja atau tidak, se­
bagai cara menunjukkan bahwa cermin yang dipasang pihak ”Sa­
na” yang memberinya identitas itu telah menjepit­diri­n­ ya. Ia tak
mau. ”I am not going to spend/My life being a color,”­begitulah seba­
ris syair rap dari Black or White.

Bahkan dalam lirik They Don’t Care About Us, protes itu ta-
jam: di Amerika, tanah kelahirannya, ia capek jadi korban yang
selalu dipermalukan:

I’m tired of bein’ the victim of shame
They’re throwing me in a class with a bad name
I can’t believe this is the land from which I came

426 Catatan Pinggir 7

http://facebook.com/indonesiapustaka JACKO

Mungkin sebab itu pula, seluruh hidupnya adalah kisah mele­
paskan diri.

Ia melepaskan diri dari citra lelaki ”negro” yang tersebar ke se-
luruh dunia sejak si budak Mandingo sampai si petinju Mike Ty-
son: otot jantan yang brutal, obyek fantasi seks, sumber rasa ngeri
dan iri. Michael Jackson justru tampil bak Arjuna dalam wayang
Jawa: lelaki yang semampai, lembut, ”feminin”, meskipun pada
Michael, itu berarti kesepian.

Ada paradoks dalam kesepian itu. Di satu pihak ia ingin mem-
bentuk ceritanya sendiri (dalam Scream yang menjeritkan ke­ti­
dak­a­ dilan Michael berkata ketus: ”Tired of you tellin’ the story your
way”). Tapi, seperti tadi dikatakan, ia juga pesulap­yang ingin
membuat dirinya jadi bagian keasyikan orang ramai. Ia ”pembe-
da”, dalam arti ia membuat perbedaan jadi tampak; tapi ia juga—
jika kita pakai kata Jawa beda di sini—meng­usik, berseloroh, me-
narik-ulur orang lain.

Namun sesuatu hilang dalam proses ”beda” itu: Michael—­
makhluk showbiz yang sejak umur enam tahun selalu me­relakan
dir­i jadi sebuah konstruksi pasar—tak pernah punya­dunia di
mana ia bergerak polos, ”alamiah”. Ia tak punya masa kanak se-
perti kita. Ia bukan seperti si Wendy dan adik-adiknya dalam The
Adventures of Peter Pan. Ia kehilangan masa itu. Kita baca sebait
liriknya:

Have you seen my childhood?
I’m searching for the world that I come from
Masa kanak yang hilang itu selalu ia cari, tapi ia tahu tak se­
orang pun memahaminya. Orang melihatnya sebagai kelakuan
eksentrik:
They view it as such strange eccentricities...

Catatan Pinggir 7 427

http://facebook.com/indonesiapustaka JACKO

’Cause I keep kidding around
Like a child
Demikianlah ketika di usia hampir 40 ia terus bermain dan
ti­dur bersama anak-anak di estate-nya yang ia sebut ”Neverland”
seperti dunia Peter Pan, orang pun mengejeknya sebagai ”Wacko
Jacko”. Orang berteriak: awas, ia pedofiliak!
Ia terbukti tak bersalah. Tapi ia tetap sebuah kesepian. Ia gagal­
melepaskan diri dari sebuah dunia yang menentukan bahwa jadi
”dewasa” adalah jadi ”normal” dan lurus, hingga mudah bagi
pro­ses produksi yang digerakkan modal, seperti kayu yang dike­
tam.
Dengan kata lain, ia tak bebas dari dunia yang ditakutkan Pe-
ter Pan.
Di penutup yang sedih dari cerita J.M. Berrie itu, Peter—
makhluk yang datang sebagai khayal anak-anak itu—menolak­
bersekolah, kerja di kantor, dan jadi ”laki-laki”. Malam itu ia li-
hat Wendy jadi dewasa dan tak bisa lagi terbang mengikutinya. Ia
dapatkan Michael, si adik, sudah besar dan lupa akan petualang­
an mereka bersama dalam dongeng. Dengan sayu Peter Pan pun
berkata, sebelum lenyap: ”Halo, Wendy, selamat tinggal.”

Tempo, 26 Juni 2005

428 Catatan Pinggir 7


Click to View FlipBook Version