CHANDRA
&
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta
Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan
hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan
Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak
Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya
untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk
kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;
iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk
keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang
telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan
ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau
produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku
Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak
ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i
untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta
atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi
Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c,
huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
Cita & Cinta
CHANDRA
Cetakan pertama, September 2020
Editor : Allychia Ayesha
Desain Sampul : Rafiqi A’azzul Akrom
Tata letak : Rofik Hariyadi
xx + 346 Halaman, 14,8 cm x 21 cm
ISBN ; 978-623-6727-02-7
Hak cipta 2020, Pada Penulis
Copyright © 2020 by RFM PRAMEDIA
All Right Reserved
Isi di luar tanggung jawab percetakan
PENERBIT RFM PRAMEDIA
(Grup Penerbitan CV. RFM PRAMEDIA JEMBER)
Jl. PTPN XII Gunung Gambir, Darungan, Jatiroto Lor,
Sumberbaru, Jember; 68156
Anggota IKAPI : 246/JTI/2020
Hp: +6282228327580
Instagram: Rofsikaha_media
Website: www.rfmpramedia.com
Daftar Isi ................................................................................ iv
Prolog...........................................................................................vi
Kata Pengantar .................................................................... ix
Pondokku .............................................................................. xi
Lunturnya Kepercayaan............................................... 1
Untuk Pertama Kalinya ................................................. 56
Hidayah Pertama.......................................................... 89
Syahadat Pertama ......................................................... 105
Lamaran Pertama.......................................................... 129
Diam Itu Lebih Baik..................................................150
Sekeping Emas dalam Diam..................................161
Takut Adalah Keberanian Untuk
Mempertahankan....................................................... 168
Speech Competition .......................................................... 178
Takut Berarti Menjaga................................................ 209
Hidayah Kedua............................................................234
Syahadat Kedua..........................................................253
iv
Lamaran Kedua ..........................................................263
Malu Itu Sebagian dari Iman ................................282
Alhambra ...........................................................................289
Pernikahan dari Langit............................................299
Janji Suci ...................................................................... 313
Cita dan Cinta..............................................................328
Biodata Penulis ....................................................................339
Testimoni ...........................................................................341
v
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt.
Shalawat beserta salam selamanya tercurah limpahkan
kepada Junjunan kita Nabi Muhammad SAW.
Saya sangat bersyukur sekali mendengar salah
satu anak didik saya mampu merampungkan satu buah
buku novel yang inspiratif. Tak mudah, usianya yang
masih berumur 17 tahun menunjukan bahwa ia
bersemangat untuk menciptakan masa mudanya yang
cemerlang. Di sela kesibukanya menjadi santri di
pondok, ternyata ia sempat sempatnya membuat karya
yang luar biasa ini. Saya senang dan turut
mengapresiasi karya ini.
Cita & Cinta adalah kado termanis yang saya
terima, menurutnya Novel ini adalah hadiah bagi ulang
tahun pondok pesantren yang ke – 10. Betapa hati saya
sangat senang, ternyata niatan dan tekadnya untuk
pondok ini begitu besar. Hal ini tentu harus menjadi
contoh bagi santri santri saya yang lainya, supaya bisa
menjadi pemuda pemudi yang kreatif dan penuh
inspiratif. Saya berharap besar Chandra ini tidak puas
dengan karya yang pertamanya ini, dan akan terus dan
selalu membuat karya karya hebat lainya.
vi
Menulis sebuah buku adalah hal yang heat bagi
siapapun yang melakukanya. Saya sendiri Alhamdulillah
telah menulis beberapa buku, yang dianataranya adalah
“Membangun Madrasah Unggul berdaya saing” terbitan
Pustaka Al kasyaf Bandung pada tahun 2012. Saya pun
ikut merasakan bagaimana bahagianya ketika karya
yang dkita tulis sendiri bisa terbit dan dibaca oleh orang
lain. Ini pengalaman luar biasa bagi penulis, yang sedang
memulai karir kepenulisanya, kiranya Abi hanya bisa
berdo’a dan berharap ananda Chandra bisa terus
berkarya dengan karya yang lebih baik lagi.
Novel Cita & Cinta ini sangat inspiratif dan
menggugah hati dan jiwa agar menajdi lebih baik.
Khususnya bagi para santri, umumnya bagi masyarakat
muslim. Sebuah kisah seorang santriwati pe,ilik cinta
dan cita yang tinggi, ditengah keterbatasanya namun ia
mampu melanglangbuana hingga ke negeri Ratu
Elisabet. Menempuh pendidikan di Eropa sekaligus
menjadi Agen muslim di sana. Betapa hebatnya sosok
Nafisah andai hadir di Dunia nyata. Karena, sudah
sepatutnya kini Para Santri dan Santriwati bisa tembus
sekolah ke Eropa. Mudah mudahan Santri Abi pun ada
yang bisa seperti Nafisah Az Zahra ini.
Hidup ini tenang Cita & Cinta. Bagaimana kita
bisa mencintai sesuatau dengan tulus sepenuh hati, dan
bagaimana pula bisa bercita cita tinggi menggapai segala
mimpi mimpi untuk mencapai Rhido Ilahi. Novel ini
segara akan menuntun kalian para pembaca agar bisa
vii
memiliki cita – cita yang tinggi dan senantiasa yakin
sepenuh hati kalian akan meraihnya.
Terakhir Abi menyampaikan terima kasih kepada
Ananda Chandra, dan Abi do’akan semoga karya ini
menjadi inspirasi dan memberi perubahan bagi siapapun
pembacanya. Untuk Ananda Chandra semoga semakin
produktif dan lebih semangat lagi dalam menciptakan
karya – karya selanjutnya.
Sekian dan terima kasih, Semoga Alaah
merahmati dan memberi kita semua kasih sayangnya.
Aamiin.
Dr.KH.Kusoy Fadiliyah M.si
(Pimpinan Pondok pesantren Daarul Ma’arif dan
Inspektur Wilayah 1 Kementrian Agama)
viii
Segala pujian hanya milik Allah, Tuhan Semesta
Alam yang memberikan kekuatan. Termasuk kekuatan
kepada saya sehingga mampu merampungkan buku ini.
Shalawat serta salam selamanya terlimpah curahkan
kepada Nabi Muhammad SAW.
Tugas kita hidup di dunia tak lain adalah sebagai
seorang khalifah di muka bumi. Berdampingan dengan
cita untuk hidup lebih semangat, kemudian menyelami
cinta agar hidup menjadi lebih indah, yaitu dengan cinta
Ilahi.
Santri adalah cahaya bagi umat manusia.
Tidaklah mudah menjadi cahaya. Ada banyak tahapan
yang harus dilalui agar bisa menjadi cahaya yang
sempurna. Setelahnya, kita akan terlepas pada dunia
yang bebas. Mencari jalan untuk meraih cita dan impian.
Serta mencari kekasih impian utuk menjadi pendamping
dalam kehidupan.
ix
Menjadi cahaya di Benua Biru. Hidup sebagai
minoritas dalam negara berkembang, harus bersaing
dengan para penuntut ilmu dari berbagai belahan dunia.
Di sini, bersama kita akan belajar. Menjadi
seorang cahaya bagi kegelapan. Mengajak orang lain
untuk bisa menyentuh agama penuh keberserahdirian
yaitu Islam.
x
Hidup adalah untuk terus belajar dan menjadi
pembelajar. Sampai kapanpun dan di manapun kita
berada. Sejenak merenungi waktu demi waktu yang
berlalu demikian cepatnya, membuat saya tertuntut
untuk melewati hidup tidak dengan biasanya, artinya
harus membekas suatu kesan hidup bagi orang lain.
Setiap orang mempunyai kisah cerita hidup masing-
masing, pun diri saya. Sayang jika halnya terlewatkan
begitu saja tanpa mau berbagi kepada oang lain.
Kata demi kata yang terangkai dalam buku ini,
tentunya saya buat dengan rasa cinta yang mendalam.
Tentang apapun yang dimaksud dalam hal ini. Tak
sebentar memang dalam prosesnya. Namun, insyallah
akan menjadi sebuah buku yang amat berharga bagi
saya ini.
Akan ada banyak hikmah dan pelajaran dalam
buku ini, bersama kita nikmati untuk menjadi seorang
xi
pribadi yang lebih baik lagi. Terkhususnya bagi seorang
santri yang siang malam kehidupannya di dalam
pondok. Salah satu pesannya, bahwa mimpi yang tinggi
itu berhak dimiliki siapapun. Menjadi seorang santri tak
membuat kita menyerah untuk percaya kepada diri
sendiri.
Kisah dalam buku ini, saya ambil dari mimpi yang
diceritakan oleh salah satu anak didik di pesantren.
Sebuah pesantren yang saat ini juga saya tempati. Ia
berada di dusun bernama Ciwahangan. Bernama
Pondok Pesantren Daarul Ma’arif yang tahun ini genap
berusia 10 tahun.
Dengan segala syukur, saya dedikasikan buku ini
sebagai hadiah dari kami. Di ulang tahun pondok
pesantren ini yang ke-10. Dengan harapan, buku ini bisa
menjadi sebuah motivasi yang menggugah hati.
Khususnya bagi santri yang ada di pondok pesantren
dan umumnya bagi semuanya.
Novel pertama yang saya susun ini, menjadi
harapan awal untuk lahirnya novel–novel saya
selanjutnya. Amin. Tentunya saya yakin masih banyak
xii
kesalahan–kesalahan yang masih harus diperbaiki
kedepannya.
Teruntuk pembaca, selamat belajar, selamat
bermimpi, selamat memperjuangkan mimpi dan cita–cita
kalian. Satu lagi, selamat menemukan cinta Ilahi.
Semoga keberkahan dan lindungan Allah selamanya
membersamai kita semua. Amin.
Kisah Cinta Ali dan Fatimah
Agar hidup mengarah kepada hal yang baik,
sebaiknya kita selalu mengamati dan membaca tentang
kisah–kisah teladan sahabat. Karena mereka adalah
orang–orang yang langsung hidup sezaman dengan Nabi
Muhammad SAW. Sehingga, menjadikan kehidupan
mereka penuh contoh dan teladan yang baik. Tak bias
dipungkiri, hidup kita kini, berada di zaman yang jauh
sekali seperti di zaman nabi.
Walaupun kita hidup tak bersama nabi,
setidaknya kini kita tetap menjaga agama dan ilmu yang
diwariskannya. Di zaman yang penuh dengan fitnah, tak
xiii
membuat kita lupa dan terbawa oleh arus global yang
hidup tanpa dibatasi apapun. Paling tidak, ajaran-
ajarannya masih kita pegang erat agar jalan hidup yang
kita lalui berada pada koridor yang benar, walau tak
sepenuhnya sesuai dengan Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, ada juga kisah–kisah sahabat di zaman
nabi yang juga memberi teladan baik bagi kita. Kisah–
kisahnya bak permata indah dan sangat berharga.
Setiap teladannya dapat memberi nasihat sekaligus
ilmu. Memang tak tersajikan langsung dengan
pengetahuan, tetapi dengan sikap dan perilakunya
secara tidak langsung mengajari kita tentang banyak
hal.
Terutama tentang kisah cinta. Cinta pada zaman
ini telah diperalat untuk hal–hal yang tak diperbolehkan
oleh agama. Geriknya menggelitik hati tersindir atas
perilaku yang kini jauh akan kesuciannya. Sangat
berbeda jauh dengan kisah yang telah diperankan oleh
sahabat. Kisah mereka penuh hikmah dan ilmu.
Maka, kisah cinta kita sebaiknya meneladani
cinta-cinta suci para sahabat. Lalu, kita
xiv
implementasikan di zaman kita saat ini. Pada akhirnya,
memang cinta sucilah yang dicari kebanyakan orang.
Walau tak jarang juga, mereka harus melewati cinta–
cinta palsu sebelumnya. Tapi kita harus yakin, bahwa
pada setiap hati manusia terdapat keinginan untuk
meraih hal–hal yang baik, termasuk dalam urusan cinta
sejati.
******
Memaksa mulut bercerita tentang cinta yang
perlu diteladani. Sebuah kisah dalam dunia islam yang
tak asing lagi kita mendengar. Yaitu kisah cinta Ali bin
Abi Thalib dan Fatimah Az-zahra. Cinta dalam diam.
Dikisahkan, bahwa dulu di zaman nabi ada sebuah
kisah cinta yang penuh teladan. Kisah cinta antara anak
perempuan nabi, yaitu Fatimah Az–Zahra dengan
sahabat Ali bin Abi Thalib.
Fatimah Az-Zahra merupakan anak perempuan
Nabi Muhammad Saw yang sangat pemalu. Saking
pemalunya, pernah di suatu hari, ia melihat jenazah
yang dibungkus kain kafan dan terlihat lekuk tubuhnya.
Lalu Fatimah membayangkan, betapa malunya jika ia
xv
nanti yang meninggal dan orang–orang dapat melihat
lekuk tubuhnya. Ya, begitulah sifat pemalu seorang
Fatimah, dalam hal seperti itu dirinya masih sempat
berpikir tentang malu.
Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib merupakan seorang
sahabat yang cerdas. Ia merupakan salah satu dari
Assabiqunal awwalun dari kalangan anak kecil.
Kecerdasan Ali tak diragukan lagi, ia sangat cerdas dan
memiliki jiwa yang ksatria. Walau terlahir dari orang
miskin, tak membuatnya ragu untuk meminang dan
menikahi Fatimah Az-Zahra.
Saat cinta Ali pada Fatimah bergejolak, tiba–tiba
berita buruk terdengar. Sahabat Abu Bakar yang
merupakan sahabat dekat nabi yang kaya kaya
diberitakan akan melamar Fatimah.
Ali yang mendengarnya tentu merasa sakit hati.
Karena hanya mampu merawat cintanya dalam diam
dan tak bersuara berani mengungkapkan. Ali tak
berdaya, jika dibandingkan Abu Bakar, seorang sahabat
yang kaya raya dan punya kedudukan yang baik.
xvi
Tapi, alangkah senangnya ketika ia diberitahu
bahwa ternyata Nabi Muhammad tidak menerima
lamaran dari Abu Bakar. Seketika harapan Ali kembali
terbuka, kemudian percaya diri meminang Fatimah.
Baru saja membuka harapan, ternyata harapan
kembali tertutup. Karena kali ini, sahabat Umar bin
Khatab yang mendatangi rumah Nabi untuk melamar
Fatimah.
Apa boleh buat Ali semakin tidak percaya diri.
Laki–laki segagah Umar tak mungkin tidak disukai
perempuan, termasuk Fatimah. Ali merasa harapannya
kini benar-benar musnah untuk bisa beristrikan
Fatimah Az-Zahra. Namun, jika Allah sudah
berkehendak apapun bisa terjadi. Untuk kedua kalinya
Nabi Muhammad SAW menolak lamaran laki–laki yang
melamar Fatimah.
Setelah Abu bakar kemudian Umar bin Khatab
yang mencoba melamar Fatimah, tapi ternyata
semuanya tertolak. Ali berpikir, mungkin inilah saatnya.
Tapi Ali ragu, apakah ia akan diterima oleh Nabi. Ali
bepikir bahwa orang semulia Abu bakar dan segagah
xvii
Umar bin Khatab saja tidak diterima oleh Nabi, apalagi
dirinya yang miskin dan tak mempunyai apa–apa.
Tapi, cinta tetaplah cinta. Dalam hati mereka
berdua ternyata saling mendoakan dan berharap
menjadi sepasang kasih. Hanya dalam diam mereka
berdua menikmati cinta itu. Walau cinta terungkap
dalam diam tanpa kata, namun kekuatannya kuat bak
ombak yang bergejolak. Cinta itu suci dan tulus,
membuat malaikat yang melihatnya terpana akan
kebesaran cinta antara keduanya. Allah pun
menikahkanya dari langit.
Tak ada angin, tak ada hujan, Ali yang tengah
ragu tiba–tiba dipanggil oleh Nabi Muhammad SAW. Ali
terkejut dan segera menuruti perintah Nabi. Nabi
langsung menanyakan tentang perasaannya kepada
Fatimah Az-Zahra. Ia tak percaya, seolah yang terjadi
hanyalah sebuah mimpi. Kemudian, ia jujur bahwa
dirinya memang benar sangat mencintai Fatimah.
Akhirnya, nabi menyetujui dan berniat
menikahkan mereka berdua. Tapi, lagi-lagi Ali tak punya
harta untuk membayar mahar Fatimah. Ali hanya
xviii
memiliki senjata dan baju perang yang merupakan harta
terakhirnya. Alhamdulillah, tak masalah bagi nabi.
Akhirnya, nabi menyuruh Ali untuk menjadikan baju
perangnya sebagai Mahar. Dan, mereka berdua pun
akhirnya menikah.
Sebelum akad keduanya berlangsung,
sebenarnya Allah telah lebih dulu menikahkan mereka
dari langit. Inilah cinta yang terucap diam hanya dalam
doa kepada Rabbnya. Sebuah kesucian cinta yang
menggumpal di dalam dua hati. Lalu, menghasilkan
kekuatan yang luar biasa.
Berlogika dengan cinta memang sulit. Tetapi,
apakah kita akan menyerah untuk mencari cinta sejati
yang diridoi? Dan, bolehkah kita merasakan kekuatan
cinta? Tentu boleh, namun sudah menjadi kewajiban
kita untuk menjaga alur cinta kita. Pastikan ia tetap di
jalan yang Allah ridai. Karena cinta akan mengikat hati
dan diri untuk selalu bersama dan melakukan apa saja
demi cinta.
Pada Nafisah dan Mudor, kita akan menemukan
sebuah kisah yang serupa terbingkai elok di zaman ini.
xix
Di langit Eropa, kisah cintanya serupa walaupun tak
sempurna sama. Kita akan menyelam dan tenggelam
dalam kisah yang luar biasa. Kisah tentang meraih cita
dan menemukan cinta. Cerita cinta dalam diam Ali dan
Fatimah, akan tetap kita rasakan dalam kisahnya
Nafisah dan Mudor masa kini.
Melalui kisah seorang santriwati, Nafisah,
baknya kisah Fatimah Az-Zahra yang akan tersajikan
secara nyata di langit Eropa. Terpisah jarak jauh dengan
Ali, namun cinta tetaplah cinta.
Kita akan menyelam dan tenggelam. Belajar
tentang kisah di masa lalu, namun kita akan
menemukanya kini. Di zaman ini.
xx
1 Ciĩa & Cinĩa
Lunturnya
Kepercayaan
Pada Nabi Muhammad, putra Abdullah yang
terpercaya
Bilamana hati gelapnya pekat bak angkasa
Sudikah mulut berkata dalam ranah yang baik?
Atau
Sekedar orang menyimpan satu kata saja pada
kita ‘Percaya’
Tak lebih dari itu.
Lalu menengok belakang dalam gundah sesal
Sudahlah…
CHANDRA 2
Semuanya telah terjadi, sudah terlanjur terkepung
benci. Tapi, masih adakah kata percaya dalam
hatinya walau sekata?
Pagi hari selalu diawali dengan sebuah kisah
berarti dan menarik. Namun, sepertinya pagi itu tak
cukup bersahabat bagi dua orang yang telah lama
berkawan ini. Nafisah Az-zahra dan Muhammad Mudor
Ali, dua insan dalam satu pesantren ini.
Mereka tampak saling memalingkan muka dan
enggan saling menyapa rasa. Ini semua bermula dari
tingkah Mudor yang sengaja mempermalukan Zahra di
depan semua temannya tadi pagi. Tanpa rasa bersalah
sedikitpun Mudor lihai merangkai kata dan
memanipulasi fakta menjadi sebuah cerita yang jenaka.
Lalu berhasil membuat suasana pecah penuh gelak
tawa.
“Eh, teman–teman dengar sini, ada Nafisah tuh.
Kucel banget dia. Belum mandi dia kayanya,” ujar Mudor
tiba-tiba.
3 Ciĩa & Cinĩa
Watak Nafisah yang pendiam ibarat sebuah
bongkahan emas yang terjaga, perkataan Mudor tak
sedikit pun mengusik kenyamanannya yang sedang
khusyuk membaca, hanya muka kesal saja yang
tergambar di muka Nafisah. Terlihat begitu kuat
menahan luka perkataan Mudor, Nafisah pun pergi
dengan menunduk, Mudor menyambung perkataannya.
“Hahahahaha, pergi sana Nafisah. Engggak usah
balik lagi saja.”
Gemetar suasana yang gemuruh membisingkan
suasana, membuat Zahra angkat bicara. Zahra, wanita
tangguh dan cerdas ini, menentang keras perkataan
Mudor yang menghina Nafisah.
“eh, eh, jangan sembarangan ya kamu Mudor
kalau bicara. Aku teman sekamarnya Nafisah. Aku
melihat sendiri dia paling cepat bangunnya. Jam tiga
dini hari rambutnya udah basah dan langsung bergegas
sholat tahajud. Bukan kaya kamu yang pemalas dan
jarang tahajud. Paling-paling, kamu nanti digundul
sama ustaz, karena kebanyakan melanggar aturan
pondok,” ujar Zahra dengan sengit, membela Nafisah.
CHANDRA 4
“Hahahahaha,” gelak tawa semua orang.
Membuat Mudor malu dan tersinggung. Akhirnya, ia
memotong dan membantah pernyataan Zahra
“Eh eh eh, Zahra. Kata siapa kamu?” potong
Mudor.
“Udah Mudor mengaku saja, Ente. Jangan
kebanyakan alasan, deh. Ngaku saja,” Zahra menciduk
Mudor.
Zahra berhasil mengelabui dan membalikkan
suasana. Sempurna membuat Mudor bersimpuh malu
menahan pilu yang membekas dalam benak dada.
Zahra bukan orang biasa, bukan pula orang luar
biasa, tapi dia hanya memiliki kebiasaan yang luar biasa
dan tak biasa dilakukan oleh orang–orang biasa. Ia
adalah wanita tangguh berdarah sunda, teman dekat
Nafisah. Kedekatan mereka tak lagi dapat dipisahkan,
karena sejak bangku TK mereka bersama dan belajar
mengenal luasnya dunia. Akhirnya, sekarang mereka
berdua tumbuh menjadi sosok luar biasa.
5 Ciĩa & Cinĩa
Begitu juga Mudor, dia adalah orang yang cerdas
dan pandai. Usianya masih muda belia, namun
kecerdasaan dan kedewasaannya selalu mendapatkan
pujian dari para ustaz. Tapi, sepertinya pagi tadi Mudor
tidak sedang baik. Sehingga mempermalukan teman
perempuannya sendiri di depan teman–temannya.
Kejadian itu tentu menyakiti Nafisah. Pagi tadi
adalah awal dari kerusakan hubungan pertemanan
mereka berdua. Kekhilafan Mudor walau hanya sedikit
saja, benar-benar membuat air menjadi batu. Nafisah
yang biasanya membalas sapaan Mudor nampaknya tak
akan pernah terdengar lagi. Nafisah sudah terlanjur
tersakiti dan terlukai, sapaan Mudor pun tak kunjung
menerima jawaban sedikit pun.
Mudor benar–benar sangat merasa bersalah kala
itu. Dia hanya berniat bercanda saja sebenarnya.
Namun, akhirnya dia menyadari, jika itu memang benar–
benar berlebihan.
Dalam hati ia hanya berkata, “Ya Allah ... kenapa ya tadi
saya bisa bercanda kaya gitu? Apa ini karena saya yang
CHANDRA 6
belum bisa mengendalikan diri? Atau ... memang saya
belum bisa jadi orang yang baik?”
Lamunan panjang Mudor tak ia sadari. Matanya
yang terus memandang langit hampir lima menit
lamanya tak berubah. Mudor lanjut berkata dalam hati,
“Saya masih belum paham. Apa sebenarnya yang terjadi?
Apakah diri ini yang banyak bercanda? Atau tadi adalah
bentuk rasa?Eh, ngaco kamu Mudor! Kok ke arah sana
sih, mikirnya. Sadar Mudor sadar! Dia tuh anaknya
Kyai.”
Entah hal apa yang merasuki Mudor. Malam itu
benar–benar malam yang terlihat berbeda. Sang bulan
pun ikut menyambut malam dengan sinar indahnya. Di
sudut yang berbeda Nafisah pun sama menyesalkan apa
yang terjadi pagi tadi. Akhirnya, ia menuliskan sebuah
surat di buku diary yang selalu dibawanya ke sekolah.
“Aku kecewa. Kenapa Mudor berbuat demikain?
Aku tahu dia anak yang baik, tapi ada apa denganya pagi
itu? Keterlaluan. Dia secara sengaja menyakitiku, tak
kusangka sebelumnya. Aku hanya heran dan tidak biasa
saja dengan tingkah Mudor pagi tadi. Kuharap dia baik–
7 Ciĩa & Cinĩa
baik saja. Tetapi jujur saja, mulai malam ini aku tak
akan mau berbicara dengannya lagi. Kuharap ini hanya
benci biasa. Karena cinta ini utuh. Ya, walau hanya
bersemayam dalam diam.”
Benar saja, Nafisah tak menyangka dengan
tingkah Mudor tadi. Ia nampaknya kecewa bercampur
heran dengan tingkah Mudor. Mudor yang biasanya
menjadi teman dan sahabat Nafisah saat di sekolah kini
tak ada lagi.
Suasana masih pecah memanas, Mudor pun
bingung dengan sikapnya tadi pagi. Ia mencoba
memikirkannya berulang kali dan mencari tahu apa
yang terjadi dengan dirinya. Ia sebenarnya hanya ingin
menghibur dan memecahkan suasana kelas tadi.
Namun, semua itu berlebihan dan tanpa belas kasihan.
Atas dampak malu ditertawakan oleh teman sekelas,
membuat suasana semakin memburuk.
CHANDRA 8
Nafisah, Si Gadis Emas
Aku tak pernah bisa membayangkan dengan
kehidupan yang kualami. Aku hanya mengikuti skenario
hidup Tuhan yang kuanggap begitu indah. Tak banyak
yang kukeluhkan dalam hidup ini, kecuali apa yang
membuatku jauh dari Allah.
Aku hanya gadis desa yang hidup di tanah sunda.
Lalu, sebagai salah satu penuntut ilmu di penjara suci
ini, pesantren. Hidup ini begitu indah bagiku, meski
harus terlalu banyak ujian yang kuhadapi. Ayahku yang
menjadi tulang punggung keluarga harus lebih dulu
pergi meninggalkan dunia. Di saat aku masih usia SMP.
Tapi, aku tak percaya dengan kata menyerah dan sedih.
Aku tetap tegar dan berusaha kuat dengan segala cobaan
kehidupan.
Alhamdulillah, akhirnya aku dititipkan ibu ke Abi
Mahmud dan Umi Salamah di pondok ini. Abi Mahmud
adalah adik ayah kandungku. Paras mukanya tak beda
jauh dengan ayahku. Begitu juga dengan sikap dan
9 Ciĩa & Cinĩa
keramahannya. Hampir sama dengan ayah. Mereka
berdua sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri.
Sementara ibuku memilih untuk tetap tinggal di
rumah bersama adik–adik. Keluarga kami sederhana,
tapi alhamdulillah kami sangat bahagia.
Waktu prime time tetap menjadi waktu idolaku.
Aku selalu berusaha bangun lebih awal dari teman–
teman, mengingat waktu ini begitu dahsyat. Dengan
keutamaannya, aku dapat memanjatkan banyak doa
dan meminta yang terbaik bagi kehidupan ini.
Udara di kampung ini dinginnya bukan main.
Jaket tebal yang kukenakan tak cukup kuat menahan
dinginnya udara. Meski sudah sepanjang waktu udara
ini menerpa, tapi pagi ini benar-benar membuatku
menggigil.
Aku terus memanjatkan doa seusai tahajud. Pinta
yang utama adalah tentang mimpi besarku tentang
sebuah negeri yang selama ini kuimpikan. Sebuah Ibu
kota negeri Ratu Elisabeth yang teranggap sebagai kota
CHANDRA 10
terindah bagiku. Dan, aku terus meminta agar suatu
saat berada di tengah–tengah kota itu.
Tak lupa juga, doa kupanjatkan agar aku bisa
lulus dan mendapat nilai terbaik di Ujian Nasional. Dan,
bertepatan hari ini adalah hari pertama.
*****
Benar saja, kamar mandi asrama terlihat penuh
dan sangat panjang antrian. Untung saja aku dan Zahra
sudah mandi lebih awal sejak sebelum subuh tadi.
“Eh, Zahra. Lihat di kamar mandi panjang banget
antriannya.”
“Benar-benar alhamdulillah ya tadi kita bisa
mandi duluan. Jadi, kita sekarang punya waktu luang
untuk mengulang pelajaran. Biar UN hari ini bisa
berjalan lancar,” jawab Zahra
11 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah menyambung bicara.
“Iya iya ... apalagi sekarang pelajaran Bahasa
Indonesia lagi. Kita harus banyak menghafal struktur-
struktur teks. Biasanya suka muncul, deh.”
“Ah, tenang aja. Aku sudah hafal semua, kok. Aku
memang suka pelajaran ini. Sampai-sampai aku enggak
ada materi yang terlewat. Jadi, semuanya sudah aku
pelajari.”
“Subhanallah. Kalau aku sih, jujur saja ya,
kurang suka pelajaran Bahasa Indonesia. Kamu kan
tahu biasanya aku di kelas bertanya ke Mudor kalau
ngerjain tugas bahasa Indonesia.”
“Cie, kamu masih ingat saja sama Mudor. Berarti
kemarin sebenarnya kamu enggak marah, ya?”
“Apaan sih. Sudah, ah. Jangan membahas itu
lagi. Pokoknya aku enggak mau ngomong lagi sama si
Mudor itu. Kemarin, aku benar–benar marah dan kecewa
sama dia.”
CHANDRA 12
“Jangan terlalu membenci, lho. Lama–lama jadi
cinta, lho.”
“Sudah-sudah, ah. Ayo, kita berangkat ke
sekolah. Nanti telat lagi.”
*****
Obrolan dengan Zahra tadi pagi, sedikit membuat
konsentrasiku ujian akhir hari ini terganggu. Topik
obrolan yang terakhir itu, berulang kali aku ingat. Entah
ada apa tentang hal itu. Tapi, perkara itu benar-benar
menyita pikiranku hari ini.
*****
Sepulang ujian, kami semua masih berkumpul di
kelas. Pak guru sengaja mengumpulkan kami di kelas
untuk membahas perihal kelanjutan sekolah kami,
setelah lulus. Anak–anak terlihat bermuka masam dan
letih tak bersemangat. Masih teringat soal–soal ujian
yang begitu menyulitkan dan menyita pikiran.
13 Ciĩa & Cinĩa
Aku hanya diam dan mencoba terus
bersemangat, ketika semua orang mengobrolkan ujian
barusan. Aku hanya terdiam sendiri sambil mensyukuri
nikmat Allah yang telah diberikan hari ini. Bagiku ujian
kali ini tak begitu sulit. Karena soalnya sesuai dengan
apa yang telah diajarkan pak guru selama tiga tahun ini.
Sambil memegang buku aku pun diam menghening
khusyuk membaca buku. Bersiap untuk pelajaran esok
hari.
“Selamat siang anak–anak, bagaimana ujian hari
ini? Mudah, kan?” Pak guru memulai pembicaraan
dengan sapaan hangat dan pertanyaannya yang
mengesalkan.
“Siang, Pak. Alhamdulillah susah, Pak,” jawab
serempak.
“Alhamdulillah. Walaupun susah, tapi Bapak
yakin kalian pasti bisa.”
Aku sangat suka dengan sikap pak guru yang
ceria dan banyak memperhatikan murid-muridnya.
CHANDRA 14
Terlebih lagi gaya bicaranya yang mudah untuk
dipahami dan asyik.
“Bapak kali ini hanya ingin menanyakan perihal
kelanjutan pendidikan kalian. Setelah dari sekolah ini.
Sekarang, silahkan isi kertas yang bapak bagikan. Dan
jawablah sesuai keinginan masing–masing tanpa ragu.”
Suasana tiba–tiba ramai tiada diam. Kecuali
diriku yang tetap memilih diam dan tak banyak bicara.
Hampir seluruh teman–temanku saling menanyakan
perihal kelanjutan mereka setelah lulus nanti. Meski
kelulusan belum menjadi kepastian. Tapi mereka seolah
serius dan yakin dengan pilihan yang mereka pilih.
Bagiku sendiri tak perlu banyak berharap akan
hal ini. Aku bukan orang yang ambisius. Apapun takdir
yang Allah berikan, tentu aku terima dan kujalankan
sebaik mungkin.
“Nafisah. Nafisah. Kira–kira aku lebih baik kuliah
apa langsung bekerja saja, ya?” tanya Bibil sahabat
dekat Nafisah.
15 Ciĩa & Cinĩa
“Ya, itu terserah kamu. Kamu lebih
mementingkan pendidikan kamu atau karir kamu. Atau,
langsung menikah saja juga boleh, kok,” jawab Nafisah
sambil tersenyum.
“Ah, enggak enggak. Bibil enggak mau langsung
menikah, ah. Sepertinya kuliah lebih baik deh.”
“Iya, Bil. Lebih baik kuliah dulu saja deh. Dulu
kan kamu pernah bilang, kamu mau lanjut sekolah ke
Al- Azhar Mesir. Bahasa Arab kamu juga bagus, kok.
Insyallah bisa lulus.”
“Iya. Tapi ... gimana ya? Enggak ada teman gitu,
Na. Sepertinya kebanyakan teman-teman kita akan
melanjutkan kuliah di Indonesia, deh. Sama kamu saja
ya, Na. Kita daftar bareng ke Al–Azhar.”
“Jangan buru–buru gitu, Bil. Aku belum tahu, ah.
Aku mau fokus UN dulu saja.”
*****
CHANDRA 16
Bibil memang sahabatku. Tapi, bukan berarti apa
yang dia mau harus aku turuti. Negeri Kinanah sempat
menjadi tujuanku. Karena sejarah Islam yang hadir
membekas di tanah Kinanah. Gagahnya piramida
memang indah.
Apalagi Universitas Al-azhar, Kairo. Ia terlihat
begitu megah nan agung. Sebuah universitas tertua di
dunia itu banyak disinggahi mahasiswa Indonesia.
Tokoh-tokoh penting seperti Habiburrahmah El-Shirozy,
Ustaz Abdul Somad, dan Ustaz Adi hidayat merupakan
tokoh–tokoh luar biasa yang berasal dari Al-Azhar. Aku
pun sempat kagum ketika beberapa anak dari pondokku
berhasil lulus dan melanjutkan kuliah ke sana.
Kemegahan Al-Azhar sayangnya kini tak menarik
keinginanku. Entah mengapa dan kenapa yang
terpenting aku ingin sesuatu yang berbeda. Mungkin ibu
kota negeri Ratu Elisabeth akan menjadi kota
selanjutmnya, untuk menjadi saksi kehidupanku yang
diam. Aku pun menulis di kertas itu salah satu
universitas terkemuka di kota London.
17 Ciĩa & Cinĩa
“Pak. Pak. Aku sudah menulis di kertas ini.”
“oh, ya? Ke mana kamu mau melanjutkan
sekolahmu?” tanya pak guru.
“Insyallah, Pak. Jika Allah menghendaki Nafisah
mau ke London, Pak,” jawabku dengan yakin.
“Sungguh? Bapak yakin kamu bisa mewujudkan
mimpi untuk kuliah di London. Bapak tak sedikit pun
meragukan kemampuan kamu, Nafisah,” tegas pak
guru.
“Mohon doanya saja ya, Pak. Semoga tahun
depan Nafisah bisa benar–benar bisa belajar di kota
London,” jawabku.
“Amin. Amin ... itu pasti, kok,” pak guru
mengaminkan beberapa kali.
Tak ada alasan yang lebih tepat, tentang
keinginanku untuk pergi ke negeri Ratu Elisabeth
kecuali karena alasan yang selama ini tersimpan dalam
pikirannku. Tinggal di negeri yang mayoritas non-
CHANDRA 18
Muslim adalah tantangan besar bagi hidupku untuk bisa
berdakwah.
Perempuan muslimah sepertiku memang jarang,
yang berani hidup di tengah masyarakat yang mayoritas
non-Muslim. Inggris adalah salah satu negara di Eropa.
Kudengar saat ini, pertumbuhan Islam di Inggris cukup
pesat. Dan, aku pun tak mau kalah untuk bisa ambil
bagian dalam berdakwah. Mengajak orang–orang untuk
mualaf dan mengenalkan indahnya agama Islam, yang
merupakan rahmatan lil’alamiin.
*****
Aku tak mendengar sedikit pun tentang Mudor.
Sejak pagi tadi, nampaknya mataku sibuk mencarinya.
Terlihat kursinya kosong dan tak ada seorang pun yang
mendudukinya. Aku pun penasaran. Walaupun aku
berjanji saat ini untuk tidak lagi berbicara dan
menyapanya, tapi hati ini sungguh tak bisa
membohongi.
19 Ciĩa & Cinĩa
Lalu, aku ingin mencoba untuk menanyakan
keberadaannya kepada Yahya, teman dekat Mudor. Tapi,
aku sedikit malu dan khawatir, jika Yahya memberitahu
Mudor bahwa aku menanyakan kabarnya. Ah, biarlah.
Rasa penasaranku terhadap keberadaan Mudor
tak bisa kutahan lagi. Aku bergegas menemui Yahya dan
mulai mengajukan pertanyaan. Nanti, aku akan bilang
ke Yahya agar tak memberitahu Mudor. Jika aku telah
menanyakan tentangnya.
“Assalamu’alaikum, Yahya.”
“Wa’alaikumsalam. Iya, Nafisah. Ada apa?”
“Emm ... ini ... eeeeeeee ... ar ... ar ... Nafisah mau
nanya, nih. Em, Mudor ke mana ya?” tanyaku sambil
grogi.
“Biasa aja kali bertanyanya. Kok grogi, sih
Nafisah,” jawab Yahya sambil tersenyum.
“Ih, enggak, kok. Cepat jawab Mudor ke mana?”
tanyaku dengan nada tinggi.
CHANDRA 20
“Mau apa emang nanyain Mudor? Mudor saja
yang dicari. Cari yang udah pasti ada saja. Hehe.”
“Ih, apa, sih. Orang Nafisah carinya juga Mudor.
Ke mana sih Mudor?”
“Afwan. Bercanda, kok. Mudor sepertinya murung
terus dari semalam. Dan, sepertinya dia sakit gara–gara
mikirin masalahnya. Tapi, aku juga enggak tahu apa
yang dipikirkan Mudor,” Yahya manjawab lebar.
“Astaghfirullah, jadi Mudor sakit? Kenapa enggak
ngasih tahu Nafisah, sih.”
“Iya, dia sakit. Ya enggak apa-apa, sih. Tapi,
sekarang sudah tahu, kan?”
“Iya, iya. Ya sudah makasih, ya. Eh, tapi Yahya
jangan kasih tahu Mudor, kalau aku nanyain dia.”
“Iya, iya. Siap, Nafisah.”
Kekhawatiran mulai menyelimuti pikiranku.
Tepat ketika sinar matahari mulai meredup menjelang
sore hari, para pedagang pun mulai berkemas. Mereka
membereskan barang–barang dagangannya. Sore hari,
21 Ciĩa & Cinĩa
pertanda juga para santri akan pulang ke asramanya
masing–masing.
Azan asar pun berkumandang indah di masjid
sekolah. Tiba-tiba, aku pun menghentikan langkahku
untuk pulang ke asrama. Seketika itu, aku ingin
menyendiri dan salat asar di masjid sekolah. Aku ingin
berdiam diri dan berzikir sore ini.
Hati telah sempurna dengan kesedihannya. Aku
khawatir, sedih ini mampu melupakanku terhadap
Rabb-ku. Maka, sore ini, akan kuhabiskan waktu di
rumah Allah untuk berzikir dan membaca ayat–ayat suci
Al–Qur’an. Untuk melepas kekhawatiran dan kesedihan
hati yang tengah tenggelam larut dalam pahitnya
kekhawatiran.
“Nafisah ... bangun, Nafisah. Sudah mau magrib.
Kenapa kamu tidur di masjid? Ayo siap-siap ke asrama.
Nanti kamu dihukum karena terlambat ke Masjid.”
“Astaghfirullahal adzim. Aku ketiduran, Zahra?
Maaf ... maaf. Jam berapa sekarang?”
CHANDRA 22
“Lho, kenapa bisa ketiduran di masjid sekolah?
Sekarang udah hampir jam 6 sore. Aku disuruh ustazah
buat nyariin kamu, Nafisah. Karena sore tadi, kamu
enggak ada pas piket sore. Eh, tahunya ada di sini.”
“Aduh, duh, Zahra. Kok kepalaku agak pusing
gini ya?”
“Ada apa, Nafisah? Kenapa kamu?”
“Aku enggak kuat lagi buat bergerak. Enggak
tahu kenapa rasanya pusing banget.”
*****
Lantunan zikir–zikir memuji Allah telah
kulantunkan hampir tiga jam lamanya. Nampaknya
membuatku lelah dan harus tertidur pulas di masjid
sekolah. Sore tadi adalah pertama kali aku merasakan
pusing sedahsyat itu. Tak pernah sebelumnya. Pusing
selepas tidur tadi, tak jelas pandangan yang kulihat.
Hanya bintik–bintik putih dan gambar abstrak saja yang
kulihat di pandangan.
23 Ciĩa & Cinĩa
Qismu Sihah adalah tempatku saat ini. Zahra
yang membawaku ke sini tanpa kusadari. Bersama
teman–teman yang lainnya aku berbaring lemas tak
berdaya. Sakitnya Mudor berhasil mengalihkan
pikiranku terhadapnya.
Ruangan Qismu Sihah ini, cukup memberiku
waktu untuk bertafakur. Ternyata begitu banyak dosa
dan kesalahan yang selama ini kulakukan. Sebagai
muslimah dan hamba Allah, sudah seharusnya lebih
banyak mengabdikan diri pada-Nya.
. Tepat di sampingku, ada salah satu santri yang
mengalami stess berat karena buta akan cinta. Aku tak
mau sepertinya. Aku lebih baik diam–diam dalam
mencintai. Ketimbang jujur mengungkapkannya, lalu
aku sakit hati. Tentu, hal itu sama sekali tak
kuinginkan.
Tak ada satu pun sosok pria yang menduduki hati
sampai saat ini. Cukup Allah yang menduduki dengan
hangat akan indahnya hati ini.
CHANDRA 24
“Assalamu’alaikum, Ukhty? Maa ismuk?”
tanyaku.
“Ismii, Sari,” jawabnya lemas.
“Ayyu paslin anti?”
“anaa fi fasli saabi”
“Oh, kamu sakit apa, Dek?”
“Mmh ...”
“Lho, kok enggak mau jawab. Ada apa?”
Sari tetap terdiam dan tak mau sedikit pun
menceritakan masalah penyakit yang ada pada dirinya.
Ia hanya menunduk dan mengucap istighfar. Wajahnya
yang begitu cantik meski masih kelas tujuh, tapi
badannya terlihat subur dan seperti sudah remaja.
Aku masih menyimpan rasa penasaran Tak
sengaja, aku bertemu haarisah gurfah yaitu ukhty
Aisyah. Aku pun langsung menanyakan hal ini.
“Marhaban, ukhty ... uriid an asal?” tanyaku
bahasa Arab.
25 Ciĩa & Cinĩa
“Marhaban ... madza? Isalii!” jawabnya berbahasa
Arab juga. Tapi, kusambung bertanya dengan bahasa
Indonesia.
“Kalau boleh tahu, Sari kelas tujuh yang di kamar
sampingku, kenapa, ya?”
“Oh, dia itu emang masih kelas tujuh. Tapi,
perawakannya sudah besar. Dia mengalami stress,
karena teringat pacarnya sewaktu SD dulu. Anak zaman
sekarang emang sudah gitu, baru SD juga, sudah pada
bucin.”
“Oh, gitu, ya. Syukron ukhty, informasinya.”
“Afwan.”
Aku tak mau berlama–lama berada di ruangan
ini. Aku tak punya banyak waktu, jika hanya istirahat
saja. Lalu, aku memaksakan diri pergi ke asrama dan
mempersiapkan diri untuk belajar. Karena ujian akhir
masih berjalan, aku harus mendapatkan hasil yang
terbaik.
CHANDRA 26
Menggapai Mimpi, Menembus Cakrawala
Alhamdulillah, kelulusan telah berlalu. Teman-
teman begitu suka cita dan antusias menyambut
kelulusan ini. Bibil yang terkenal dengan cerewetnya, ia
tak berhenti bicara kurang lebih sejak 20 menit yang
lalu. Ia mengungkapkan kesedihannya, sembari emosi
terkesan sedih, terharu akan berpisah dengan teman–
teman yang sudah bersama sejak 6 tahun lalu.
“Alhamdulillah. Ya, Nafisah. Akhirnya sudah
kelulusan. Hari yang ditungga–tunggu tiba juga. Mumet
banget kemarin-kemarin ujian akhir ...,” ucap Bibil
panjang lebar.
“Iya ... iya, Bibil.”
“Nafisah ... Nafisah. Kamu kenapa, sih?
Kelihatannya diam saja dari tadi. Berekspresi, dong.
Sekarang kan kelulusan, harusnya kamu senang.”
“Hm, iya iya,” jawabku santai.
Sudah keratuskalinya teman–temanku
mengatakan begitu. Enggak tahu kenapa, mungkin diam
27 Ciĩa & Cinĩa
adalah hobiku. Mulutku diam, namun cita dan
keinginanku sangat cerewet. Aku terdorong ambisi dan
cita oleh keinginanku. Hampir setiap waktu, kusebut
dan berdoa, agar aku dapat meraihnya.
Diam dalam kata bukan berarti diam dalam
pencapaian. Diam hanyalah ucapanku. Namun, tidak
dengan prestasi dan pencapaianku.
“Fisah ... Fisah ...,” panggil Yahya.
“Iya. Kenapa, Yahya? Ada apa?”
“Kamu dipanggil Pak Guru, tuh.”
“Oh, ya? Ada apa?”
“Enggak tahu. Coba samperin aja dulu!”
“Oh, iya iya. Terima kasih, Yahya.”
“Sama-sama.”
“Ya sudah, Bil. Aku ke kantor dulu, ya. Mau
nemui Pak Guru dulu.”
“Oke. Jangan lama-lama tapi, ya?!”
CHANDRA 28
“Iya.”
“Ada apa, ya? Kok tiba–tiba dipanggil Guru, sih.
Apa kesalahanku, ya? Perasaan kemarin kemarin aku
enggak ngelakuin apa-apa. Ish, apa sih. Penasaran
banget,” gumamku dalam hati.
Perlahan aku melangkah menuju kantor. Dengan
tubuh yang agak gemetar dan deg-degan yang luar biasa,
aku tetap melangkah menemui Pak guru.
“Nafisah.” Tiba-tiba seseorang menepuk
pundakku.
“Astaghfirullohal’adzim.” Aku pun kaget bukan
main. Di kondisi seperti ini, justru Zahra membuatku
jantungan.
“Ih, Zahra bikin kaget saja, sih.”
“Hihihihi. Maaf ... maaf.”
“Kalau bukan karena kamu temanku, sudah aku
tampar kamu.”
“Hihi, jahat banget, sih. Lagian jalan sendiri saja.
Mau ke mana emang?”
29 Ciĩa & Cinĩa
“Enggak apa-apa, ah. Ini aku mau ke kantor.
Katanya dipanggil Pak Guru, sih.”
“Ada apa, tuh? Kok tiba-tiba dipanggil, sih.
Jangan-jangan ... kamu?”
“Ih apa, sih. Sudah ah aku mau lanjut jalan.
Sudah dari tadi kayaknya Pak Guru nungguin, bye.”
“Eh ... eh, Nafisah. Kok buru-buru gitu, sih.”
Aku sengaja meninggalkan Zahra. Aku tak sabar
menemui pak guru. “Ada apa, ya?” Tepat di kursi dekat
pintu, Pak Asep, guru yang memanggilku, sedang duduk
di sana. Nampaknya sudah menunggu dari tadi.
“Assalamu’alaikum, Pak,” salamku.
“Wa’alaikumsalam, Nafisah. Silahkan duduk,”
jawab pak guru. Mempersilahkanku duduk.
“Oh iya, Pak. Terima kasih. Ada apa ya, Bapak
tiba-tiba memanggil, Nafisah?” tanyaku penuh
penasaran.
“Jadi gini, Nafisah kamu .... ”