CHANDRA 280
orangnya. Hanya cinta dalam diam yang ia kurung
selama ini.
Mencegah pertikaian, Abi Mahmud kemudian
membisik kepada ayah Yahya. Menjelaskan maksud dan
penejelasan agar tak ada yang tahu, kecuali keduanya.
Ayahnya Yahya pun paham, karena ia sudah sangat
dekat dengan Abi Mahmud. Kemudian mereka pamit
untuk pulang, sementara Yahya dengan penuh luka
terpaksa menuruti ayahnya.
“Ada apa, Yah?” tanya Yahya beberapa kali.
Namun ayahnya enggan menjawab dan tak pernah
menjawab.
Abi Mahmud tersenyum dengan khasnya. Sangat
tenang. Nafisah dan Ibunya masih mempertanyakan hal
serupa kepada Abi.
“Nafisah dijodohkan dengan siapa, Abi?” tanya
Nafisah penasaran.
Abi Mahmud tak menjawab, ia langsung beranjak
dari tempat duduknya. Lalu pergi ke pesantren tak jauh
dari sana.
281 Ciĩa & Cinĩa
Penuh misteri dan teka teki. Siapa sebenarnya
laki–laki itu. Apakah sama yang dicintai Nafisah dengan
pria yang dimaksud Abi?
“Bismillahi tawakkaltu ‘alAllahu,” ucap Nafisa
dalam hatinya. Bertawakal dan menyerahkan segalanya
hanya pada-Nya.
CHANDRA 282
Malu Itu
Sebagian dari Iman
Berjalan pada jalan yang curam
Mencari hati yang tenangnya dalam
Percayalah pada yang Maha Kuasa
Dalam hati yang merunduk malu
Di sanalah tempat kemuliaan yang hakiki
Hanya mata yang bersih yang melihatnya
Peliharalah diri, dengan runduk malu
Maka iman terawat, terjaga sempurna dalam hati
283 Ciĩa & Cinĩa
Dalam banyak hal yang terjadi segala benturan
hidup pasti terjadi. Rawan sekali menjatuhkan
kehormatan hanya dengan pola sikap saja. Tak ubah
layaknya hewan, kini banyak manusia tak punya malu
memamerkan kehormatan. Atau mungkin secara
sengaja menjual harga diri. Di mana letak kemuliaanya
sebagai seorang wanita?
Islam mengangkat derajat wanita yang
mempunyai sifat malu yang tinggi. Seperti diam, takut,
dan malu pun ada tempatnya. Terbungkus dan tertata
rapi dalam setiap sudut waktu yang ada. Telah
dikatakan bahwa, “Malu itu sebagian dari iman.”
Keimanan bukan persoalan ibadah dan
kebersihan saja. Namun perihal sikap, akhlak, dan rasa
yang juga menentukan. Tak bisa dipungkiri iman
manusia kadang naik dan kadang turun. Dengan rasa
malu terbungkuslah wanita dari noda hina niatan jahat.
Fatimah Az zahra, misalnya. Anak kesayangan
Rosululoh ini memiliki rasa malu yang luar biasa. Rasa
malunya mengangkat derajatnya sebagai wanita yang
CHANDRA 284
punya harga diri yang tinggi. Para sahabat selevel Abu
Bakar dan Umar bin Khatab pun tertarik dengannya,
meski akhirnya Nabi Muhammad menolak keduanya
dan memilih Ali.
Seorang wanita yang terhormat dalam Islam.
Nafisah membungkus kepribadiannya dengan malu,
membentengi dengan takut, serta menghiasinya dengan
diam. Kecupan cinta kadang mudah ditepis dengan
akhlaknya. Karena Allah menunjukannya pada jalan
yang baik baginya. Tak sembarang cinta singgah di
hatinya.
Dalam mengaplikasikan sifat malu dalam hidup,
tak mudah rasanya untuk membungkusnya secara rapi
dalam perilaku. Sulit dan banyak ujian yan sering kali
memusnahkan sifat mulia tersebut dalam diri. Setiap
kali bertutur kata dengan teman, kerabat, dan siapa
saja, tanpa batasan apapun segalanya terucapkan.
Tanpa malu dan sekotor apapun ucapan yang terucap,
sering kali tak terasa salah dalam hati. Tak ada sedikit
pun getaran iman yang tersentuh.
285 Ciĩa & Cinĩa
Seorang yang beriman adalah seorang yang
pemalu dalam tingkahnya. Malu jika melakukan
pekerjaan yang tak memuaskan, malu jika tak ada
perubahan yang signifikan dalam hidupnya, dan malu
berbuat kemaksiatan keapada Allah dengan sengaja,
padahal Ia selalu menyaksikan setiap perilaku.
Di saat sendiri, tak satu pun orang berada di
sekitaran, saat itulah benar–benar diuji keimanan.
Tanpa malu pada siapapun, sering kali manusia berbuat
maksiat dalam sendirinya. Karena manusia melihat
sekitarnya tak ada siapapun.
Bagi manusia beriman, malu justru menjadi
pagar di saat seperti itu. Walaupun dirinya hanya
sendirian, tapi ia merasa ada Allah Yang Maha Melihat.
Sehingga malu berbuat maksiat, walau dalam keadaan
seperti itu. Malu seolah hadir bak pahlawan tanpa
wujud, ia memagari ganasnya nafsu yang membabi buta.
Tak bisa dipungkiri. Kualitas hidup seorang
muslim haruslah selalu menjadi lebih baik dari
biasanya. Terjaga kehormatan dan martabatnya. Jika
hidup tak menjaga kehormatan, tak perlu letih mengkaji
CHANDRA 286
ilmu-ilmu akhlak untuk disempurnakan. Hiduplah
sesuka hati mengikuti hawa nafsu yang hina dan
membabi buta. Laluu, tunggulah balasan dari-Nya.
Andai manusia tak memiliki malu, boleh jadi kini
bumi dikotori oleh manusia yang tak peduli kehormatan
dan harga diri. Akan ada hitungan jumlah perzinaan
yang banyak, akan ada hitungan jumlah pembunuhan
sangat banyak, atau mungkin manusia tak lagi rapi
menyempurnakan shaf di dalam masjid untuk bersujud
pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak akan ada lagi
manusia yang peduli terhadap kehidupan setelah dunia.
Surga atau neraka.
Maka dari itu, Islam selalu menajdi solusi bagi
manusia. Tak hanya dari sebagian kalangan, namun
teruntuk seluruh manusia di bumi.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,
“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar–benarnya
malu.’’
Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Nabi Allah,
kita semua malu dan segala puji milik Allah.”
287 Ciĩa & Cinĩa
Kemudian Nabi Saw kembali bersabda, “Bukan itu
yang dimaksud. Tetapi malu kepada Allah dengan
sebenar–benar malu. Pertama, kamu menjaga kepalamu
dan apa yang ada di sekitar kepalamu. Dan kau jaga
perutmu dan apa yang masuk ke dalam perutmu. Kau
mengingat kematian serta kebinasaan. Barangsiapa yang
menginginkan akhirat, hendaknya dia meninggalkan
perhiasan dunia. Barangsiapa yang sanggup melakukan
hal itu, maka dia telah malu keada Allah subhanahu
wata’ala dengan sebenar–benar malu.” (H.R Tirmidzi)
Tentunya, tak seharusnya kita memahami malu
hanya sekedar sifat dan sikap. Lebih dari itu. Ternyata
dalam malu kita dibawa kepada kehidupan yang amat
berharga dan terjaga. Sederhananya, dengan malu
seharusnya kita menjaga pandangan terhadap lawan
jenis, senantiasa memperhatikan setiap makanan yang
masuk ke dalam perut kita, senantiasa ingat pada ajal
kematian, dan tidak silau terhadap dunia tentang
perhiasannya yang terang.
Dengan demikian, malu yang ada dalam diri kita
merupakan malu yang sebenar–benarnya. Bukan hanya
CHANDRA 288
sekilas sifat dan sikap pengakuan saja, namun perilaku
yang nyata terbentuk dalam karakter diri.
Dengan alasan apapun, hidup adalah melakukan
yang terbaik kepada sesama manusia dan Pencipta.
Tentang seberapa besar bukti bahwa kita adalah
manusia yang terhormat dan menjaga harga diri. Meski
sering kali menjadi hina karena dosa, tak membuat kita
menyerah untuk kembali bangkit memperbaiki diri
menjadi lebih dari sekedar manusia pada umumnya.
Berikanlah yang terbaik untuk Allah, kelak Allah akan
memberikan kita yang terbaik pula.
******
289 Ciĩa & Cinĩa
Alhambra
Nyatanya, cahaya dulu bersinar di tanah biru
Bukti megah istananya indah
Disela menikmati, cinta bermula di tanah ini.
Cinta yang tak lagi tumbuh karena dekat
Cinta yang tak lagi pikir akan materi
Dalam diam, tumbuh indah cintanya.
Alhambra, kaulah tempatnya.
CHANDRA 290
Kebanyakan orang mungkin mengartikan cinta
itu kedekatan. Namun jauh dari itu, cinta tak mesti kuat
dengan jarak. Jauh pun lekatnya kuat sampai menelisik
dalam pada rongga jiwa dan raga.
Tetaplah cinta namanya, jika dua hati berjauhan,
bahkan melintasi negeri nan jauh di sana. Karena kisah
cinta ini, tentang seberapa kuat mempertahankan rasa
walau raga tak membersamai. Kata tak saling berbicara
atau sapa tak saling berseteru.
Mungkin saja rasa disembunyikan dalam diam.
Kemudian dibalut dengan takut sampai akhirnya
dibungkus dengan malu, sampai tak terlihat bekasnya.
Tidak, sama sekali. Namun cahayalah yang membuatnya
mampu melihatnya, walau balutan itu sangat tebal.
Tidakkah kau yakin bahwa kekuatan cahaya cinta
merubuhkan semuanya?
Tak sedikit pun ada pengkhianatan. Yang pasti
mengandung pelajaran dan pengajaran dari kisahnya.
Atau mungkin saling menjaga satu sama lain, sampai
akhirnya Sang Kuasa menemukannya dalam keadaan
suci dan utuh dengan cinta yang abadi.
291 Ciĩa & Cinĩa
Tentang dua hati yang sebelumnya saling akrab
dan menyapa, lalu jarak memaksanya menempuh
pendidikan yang berbeda. Ilmu yang berbeda, juga
tempat yang berbeda. Namun satu dalam ikatan
cintanya.
*****
Istana Alhambra. Mudor tengah asyik menikmati
keindahan bangunan peninggalan kerajaan Islam di
Spanyol itu. Alhambra. Kata ini berasal dari bahasa arab
yang berarti “merah”. Bangunan ini awalnya berwarna
serba putih, namun karena terus tersinari oleh
matahari, maka warnanya berubah menjadi kemerah-
merahan. Dulunya, Istana Alhambra ini menjadi rumah
bagi pangeran Spanyol hingga tahun 1492. Ketika
monarki Katolik menaklukan Dinasti Nasryd. Bangunan
Alhambra ini terletak di pegunungan Al-Sabika, berada
di pinggir Granada arah tenggara. Sehingga letaknya
sangat strategis karena berada di dataran tinggi.
CHANDRA 292
Istana dengan panjang 750 M dan lebar 205 M
itu, hampir seluruhnya ditelusuri oleh Mudor. Sambil
mengingat kenangan-kenangannya selama di negeri
Matador itu, ia terus mentafakuri dan bermuhasabah
betapa besarnya keagungan Allah dengan istana yang
megah ini.
Dahulunya istana ini difungsikan oleh kerajaan
Islam, bisa dilihat dengan corak-corak bangunan
bertuliskan kalimat-kalimat Ilahi dengan gaya kaligrafi
yang indah. Sangat indah sekali. Mudor sangat
menyayangkan keruntuhan Islam di negeri ini. Andai
saja Islam tidak runtuh pada waktu itu, mungkin selama
di Spanyol ia bisa merasakan persaudaraan Islam yang
indah seperti yang ia rasakan di tanah air.
Istana Alhambra ini, pertama kali diketahui
keberadaanya yaitu pada masa kepemimpinan Abdullah
ibn Muhammad. Bertepatan saat terjadinya perang
antara Muladives dengan Arab. Pada masa kekuasaan
Perancis di Spanyol, ternyata Alhambra sempat
dihancurkan. Tapi alhamdulillah bangunan itu
dibangun kembali pada abad ke–19 demi menjaga
293 Ciĩa & Cinĩa
peninggalan sejarah Islam yang sangat berharga bagi
dunia Islam khususnya.
Hidup adalah perjalanan. Ke manapun arahnya
kita pergi dan melangkah jauh dari negeri kelahiran,
maka tetaplah syukuri. Perjalanan mencari ilmu dan
berdakwah harus menjadi pegangan.
Terlebih Mudor adalah anak pesantren, ilmu
agamanya tak diragukan lagi. Walaupun berasal dari
keluarga miskin, tak membuat dirinya putus asa untuk
pergi melanglang buana ke negeri orang nan jauh di
sana. Yakinlah, di saat kita meniatkan hal yang baik
jarak sejauh manapun harus kita tempuh.
Selama kurang lebih lima tahun berada di negeri
orang, membuatnya lupa banyak hal. Termasuk
cintanya. Kabar dua orang lelaki yang melamar pujaan
hatinya, sempat meremukkan hati dan jiwanya. Tak ada
harapan lagi.
Dua tahun lalu, laki–laki asal berdarah Inggris
Indonesia jatuh hati kepada wanita itu, sampai nekat
pergi jauh ke tanah air untuk menemui orang tuanya.
CHANDRA 294
Saat itu juga Mudor sangat kecewa. Namun, saat Yahya
kembali mengabari bahwa Abi Mahmud menolak
lamaran laki-laki itu, seakan membuka harapan baru
baginya.
Tapi dua hari yang kemudian, sahabat Mudor
sendiri yang melamar wanita itu. Membuatnya lemah tak
berdaya menghadapi semua ini. Sampai saat ini Mudor
belum tahu jawabannya. Ia hanya tahu, Yahya
merupakan orang yang kaya raya dan sangat cocok
dengan wanita itu. Besar kemungkinan mereka saling
mencintai.
Hati tak mampu membohongi, berat rasanya bagi
Mudor untuk menerima semua ini. Tapi, bagaimanapun
juga ia harus pulang. Kembali ke tanah air dan
melanjutkan hidupnya.
“Mudor, kenapa kamu bengong?” ujar Syauqy,
teman dekatnya asal Maroko.
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya agak pusing,”
jawab Mudor beralasan.
295 Ciĩa & Cinĩa
Komunitas muslim di Spanyol terbilang cukup
banyak. Sebagai muslim Mudor pun ikut bergabung
dengan mereka. Ia dianggap sebagai guru di sana.
Ilmunya sangat mumpuni dan hebat. Dan, ia sangat
disegani oleh muslim di sana.
Seperti Nafisah, Mudor juga pernah memualafkan
dua orang mahasiswa beragam Katolik secara
bersamaan. Ketika di kampus, saat ia menjadi
pembicara dalam salah satu seminar. Ia menceritakan
tentang kemulian akhlak Fatimah Az-zahra di hadapan
mahasiswa kampus. Mereka berdua menemuinya seusai
acara dan memintanya untuk membimbingnya masuk
agama Islam.
Mudor juga sering sekali diminta menjadi
penceramah di masjid setempat. Ia dipercaya langsung
oleh Imam. Ketika Imam berhalangan hadir mengisi
ceramah, maka Mudor menggantikannya. Imamnya
sendiri yang memintanya.
Mudor selalu menjalankan amanahnya dengan
baik dan tak pernah sekalipun mengecewakan Imam dan
CHANDRA 296
masyarakat muslim setempat. Sehingga Mudor sangat
dikenal di kalangan muslim Spanyol.
Hal ini membuat ia mendapat banyak perhatian.
Komunitas muslim setempat sering kali memberikan
upah berupa uang atau kebutuhan lainnya. Ia sangat
dihormati dan disegani. Sehingga ketika mereka
mendengar bahwa Mudor akan pulang ke Indonesia,
mereka pun sedih.
Esoknya, Mudor bersiap berkemas membereskan
seluruh barang-barangnya. Diantar oleh mobil
temannya, Mudor menuju ke bandara. Mudor diantar
oleh lima orang, termasuk Imam yang sering kali
dibantunya. Mereka sudah seperti keluarga, sangat
sedih ketika harus merelakan Mudor pergi.
“Saya harus pulang, Imam. Terima kasih banyak
telah membantu selama saya belajar di sini,” ucap
Mudor.
“Pulanglah, Nak. Berikan raga untuk negerimu.
Tapi, ingatlah jasa– jasa dan ilmumu akan selalu kami
297 Ciĩa & Cinĩa
ingat di sini. Kabari kami jika kau sudah sampai ke
tempat tinggalmu,” jawab Imam.
“Kami tidak akan pernah melupakanmu,” ucap
mereka dengan berbahasa Spanyol.
Akhirnya, Mudor pergi meninggalkan negeri
Matador. Dengan segenap luka yang mendalam,
terpaksa ia harus menerima apapun yang terjadi. Dua
hal yang kini tengah ia sedihkan. Pertama, kepergiannya
meninggalkan saudara–saudaranya di spanyol. Kedua,
kabar tentang lamaran Yahya. Perjalanan udara nampak
tidak tenang dan membuat kekhawatiran.
Di tengah perjalanan, ada sepucuk pesan sampai
ke handphone Mudor. Suara notifikasinya
membangunkan Mudor dari tidurnya. Pesan itu datang
dari abi Mahmud. Mudor terkejut, tak biasanya Mudor
mendapat pesan dari Abi.
Assalamu’aliakum.
Nak Mudor, Abi dengar hari ini kau pulang ke
tanah air. Bergembiralah, Nak. Ada suatu hal yang akan
CHANDRA 298
Abi kabarkan, Bapak Ibumu sudah setuju. Ini tentang
masa depanmu. Berkeluargalah seperti keluarga Ali dan
Fatimah, Nak. Jagalah dia.
Wassalamu’alaikum.
Pesan itu mengejutkan Mudor. Ia yang tadinya
terlelap ngantuk, seketika kaget dan tersadar membuka
mata dengan lebarnya. Tak paham. Pesan yang dikirim
abi membuatnya bingung, ia penasaran tak sabar ingin
pulang. Masa depan apa? Berkeluarga dengan siapa?
299 Ciĩa & Cinĩa
Pernikahan
di Langit
Pada akhirnya, tak sekedar makhluk bumi
bersaksi
Kuatnya cinta mencemburui langit dan
penghuninya
Karena lagi, cinta tetaplah cinta
Dalam kadar cemburu kadang menghempas
Namun jalan perlahan ditunjukan
Cinta yang suci, kuat, dan abadi.
Langit pun bergetar, akan kuatnya cinta
CHANDRA 300
Ketika dua hati merasakan cinta yang sama.
Memiliki komitmen kuat dalam mempertahankan
cintanya, maka Tuhan pasti menyetujuinya.
Mempertahankan rasa tidaklah mudah, apalagi harus
berjauhan jutaan kilometer, suaranya pun jarang atau
bahkan tak pernah didengar.
Dua raga dalam dunia berbeda, kebiasaan dan
pola kehidupan berbeda. Namun, punya satu misi yang
sama di tanah Eropa. Hidup adalah untuk menjadi
cahaya bagi kegelapan, menjadi perantara hidayah, dan
mengajak orang pada cahaya Islam yang sebenarnya.
Walau Allah tak biarkan mereka bertemu dalam
watu yang lama atau sekedar menegur sapa lewat suara.
Tapi, tak sedikit pun rapuh rasa cintanya. Entah kapan
cinta itu bermula, walau pada awalnya keduanya
berseteru bagai dua orng asing yang tak pernah saling
mengenal.
Berlandaskan ilmu, dihiasi akhlak dan perilaku
yang baik, raga mereka berdua sama-sama suci tak
sekalipun tersentuh noda nafsu kemaksiatan. Keduanya
saling menjaga, saling menghargai walaupun tak ada
301 Ciĩa & Cinĩa
ikatan atau janji apapun. Dengan kesadaran masing–
masing karena bekal agama yang mumpuni,
membuatnya peka tentang hidup yang teramat penting
untuk dijaga.
Seperti Ali bin Abi thalib dengan Fatimah Az
zahra, dua insan yang sama-sama menekuni ilmu.
Bermula dari kisah kecil sebagai seorang teman biasa,
kemudian beranjak dewasa sampai mengetahui dan
paham tentang aturan Ilahi. Dengan bekal taatnya
keduanya kemudian saling malu dengan lumuran dosa,
karena telah mukallaf dan terbebani akan syariat.
Tanpa kesengajaan cinta tambuh di hati
keduanya. Mekar bagai bunga yang harum akan aroma.
Walau ada dua tangan yang mencoba menjadi lebah
untuk hinggap, namun Allah tetap izinkan lebah ketiga
yang memilikinya. Itulah kekuasaan Allah.
Abu Bakar dengan kekayaanya tak mampu
membuat Nabi Muhammad menerima lamarannya,
walaupun sahabat dekatnya sendiri. Bahkan laki-laki
segagah Umar nan perkasa itu, juga tak meluluhkan hati
Nabi untuk kemudian menerima lamaran.
CHANDRA 302
Bukan berarti mereka tidak baik. Namun, Nabi
sudah lebih dulu tahu, bahwa kesucian cinta antara
keduanya telah lebih dulu membuat takdir Allah datang
menyapa. Tanpa diketahui sebelumnya, Ternyata Allah
yang telah lebih dulu menikahkannya di langit. Nabi
tahu akan cinta keduanya, Allah lebih tahu lalu
menakdirkan keduanya bersatu dalam ikatan suci.
*****
Di rumah Mudor, keluarga nampak senang
gembira menyambut anak kesayanganya. Walau dalam
rumah panggung yang sederhana, tapi suasana nampak
mewah dengan kehadiran Mudor dengan gelar
sarjananya. Mudor berhasil membuktikan kepada
seluruh keluarganya. Sukses milik mereka yang mau
berjuang dan sungguh–sungguh. Walaupun itu keluaran
dari pondok pesantren.
Dalam anggapan sebagian orang sempat berpikir
bahwa anak pesantren tak mungkin sukses, tak
mungkin berhasil. Itu semua omong kosong saja. Mereka
yang mengatakan justru tak tahu apa yang diajarkan
kepada santri di pondok pesantren. Sehingga santri–
303 Ciĩa & Cinĩa
santri punya banyak keahlian dan kelebihan dalam
hidupnya.
Mudor, santri yang sholeh dan selalu taat aturan
dulu ketika di pondoknya. Hasilnya nampak jelas
tergurat dalam perilaku baiknya. Harum, kebaikannya
semerbak mengharumi siapapun yang mengenalnya.
Ilmu adalah kebutuhanya sehari–hari. Jika tiada
ilmu yang diperolehnya sampai ia menutup mata menuju
tidur, ketika itulah dia sangat menyesali hidupnya. Tak
bisa dirinya menutup mata, kecuali sudah ada ilmu yang
didapatnya dari sudut manapun.
Pertama kalinya lagi, sejak beberapa tahun lalu
tanpa kehadirannya. Seisi rumah bahagia sekali. Ya,
seperti tak ada lagi hari bahagia selain hari itu. Ibu,
bapaknya bangga, paman, bibi, serta kerabat tetangga
lainnya silih berganti memeluk dan menyalami Mudor.
Adiknya yang masih kecil agak asing, mungkin karena
lama tak berjumpa. Mudor tak hentinya tersenyum
bahagia, mensyukuri semua kebahagian yang hadir
pada hari itu.
CHANDRA 304
“Ibu bangga, Nak. Akhirnya kamu bisa sukses
kuliah di Eropa.”
Sambil meringgis nangis memeluk. Kalimat
terucap dengan gagap karena begitu senangnya. Mudor
tahu, akan ada banyak orang lagi yang ucap demikian.
Tapi ibunya yang pertama kali mengucapkan selamat
padanya. Ia tetap rendah hati.
“Ini semua berkat doa dan dorongan dari Ibu.
Terima kasih, Ibu. Berkat Ibu Mudor bisa mencapai
semua ini. Mudor enggak tahu apa yang bisa membalas
semua jasa Ibu.”
Rendah hatinya Mudor menanggapi ibunya. Pria
yang nampak gagah dan kuat itu, luluh lemah di
hadapan ibunya. Bagaimanapun ibu sudah berjasa
baginya, hormat dan taat adala suatu keharusan.
“Tuk ... tuk ... tuk ... assalamu’alaikum.”
Esoknya. Ada tamu yang mengetuk pintu depan.
Mudor yang tengah membereskan kamar tidurnya itu,
kemudian meinggalkan kamar untuk membuka pintu.
305 Ciĩa & Cinĩa
“Wa’alikumsalam. Iya, tunggu sebentar.”
Dengan kaos polos dan celana kain yang
dipakainya. Mudor membuka pintu dan menerima tamu
yang datang. Mudor kaget, ternyata tamu itu adalah abi
Mahmud, Kyainya di pondok.
“Assalamu’alaikum, Kyai. Lho kok repot–repot ke
rumah saya, Kyai. Padahal sore ini saya berniat datang
ke rumah Kyai,” ujar Mudor agak malu menghadap
kyainya.
“Wa’alikumsalam. Tak apa–apa, Nak. Abi tak
sabar ingin ketemu kamu, Mudor,” jawab Abi dengan
bahagianya.
Mudor yang berniat datang ke pesantren sore ini,
ternyata rencana yang salah. Abi lebih dulu
mendatanginya. Ada hal penting yang sepertinya sudah
tak sabar ingin disampaikan oleh Abi.
“Mana Ibu dan Bapakmu, Mudor?” tanya Abi.
‘‘Ada, Bi. Sebentar saya panggilkan dulu.”
CHANDRA 306
Abi dan bapaknya Mudor bertemu, seperti sudah
sangat akrab sekali. Sangat akrab dan dekat, humor Abi
Mahmud sesekali membuat Mudor geli walau hanya
mendengarnya dari jauh.
Keduanya duduk di kursi depan. Sajian makanan
yang tersaji di meja hanya sedikit. Mudor bergegas
menambahnya lagi, sekaligus membawakan air minum.
“Mudor. Duduk sini,” ujar bapaknya.
“Ada apa, Pak?” jawab Mudor sambil duduk.
Keduanya menatap Mudor. Seperti ada hal yang
penting.
“Kapan, Mudor?” ujar Abi.
“Maaf. Maksudnya, Abi?”
Abi bertanya sesuatu yang tak dipahami Mudor.
Bapak mudor yang paham, ketawa kecil sambil menepuk
pundaknya. Mudor tak tahu, bahwa selama ini mereka
berdua sudah membicarakan perihal pernikahannya.
Selama Mudor di Spanyol, Abi telah bercerita banyak
307 Ciĩa & Cinĩa
kepada bapak Mudor tentang semua rahasia–rahasia
yang ada.
“Lebih cepat. Lebih baik.”
Bapak Mudor sambung berbicara. Kalimatnya
semakin tak membuatnya berseri. Bingung dan lugu.
Obrolan khas para orang tua tak bisa ditebaknya. Seperti
ada aroma–aroma perjodohan, namun Mudor tak mau
mengarah ke sana. Mudor lebih memilih diam, dan
mengiyakan saja semuanya.
Sekilas terpintas perjodohan dalam pikirannya.
Seketika dirinya ingat kepada wanita itu. Ia ingat dengan
cintanya yang masih awet membekas dalam hatinya.
Tapi, menurutnya ia telah kehilngan harapan,
sahabatnya sendiri sudah lebih dulu mendapatkannya.
Ia tahu Abi mahmud adalah pamannya. Tapi, tak
mungkin rasanya membahas hal itu. Apalagi
menanyakan lamaran Yahya. Mudor kemudian
memasang muka sedih teringat hal itu. Cintanya yang
keburu diambil orang, sahabatnya sendiri.
CHANDRA 308
“Lho ... lho ... lho, kok yang mau nikah mukanya
sedih gitu?”
“Nikah?”
Mendengar kata menikah seperti hal yang luar
biasa aneh di telinga Mudor. Spontan ia langsung
menanggapi perkataan Abi. Mudor yang tak percaya
merasakan rasa senang sekaligus kecewa.
“Ada-ada saja, Abi. Boro–boro nikah, punya calon
aja belum,” ujar Mudor.
Abi tersenyum. Memainkan dulu suasana. Seperti
sudah tahu banyak hal, apa yang akan terjadi
selanjutnya. Bagi Mudor, nikah waktu dekat ini
hanyalah sebuah lelucon saja. Alasannya, ia baru saja
patah hati karena wanita yang dicintainya dilamar
sahabatnya sendiri. Kedua, ia belum ada pasangan atau
calon istri untuk dinikahinya. Dan yang paling penting,
ia tak ada lagi uang untuk bisa membuat acara
pernikahan.
309 Ciĩa & Cinĩa
Mudor menunduk saja, berharap Allah berikan
kemudahan dan keikhlasan untuk menerima apapun
yang akan terjadi.
“Kamu harus tahu, wanita itu sudah dilamar dua
kali. Dan, Abi sendiri yang menolaknya. Karena Abi akan
menikahkannya denganmu, Mudor,” ujar Abi Mahmud.
Mudor langsung menatap Abi Mahmud.
Memastikan bahwa dirinya tidak sedang bergurau.
Kemudian mengepalkan kedua tangannya, seperti
berharap keajaiban akan datang.
“Maksud, Abi? Wanita itu siapa?” tanya Mudor.
“Minggu lalu, Abi menolak lamaran Yahya dan
keluarganya. Nafisah akan menjadi istri kamu. Jika kau
bersedia, Mudor,” ujar Abi.
Kembang api yang indah nan ceria, menari indah
dalam diri Mudor. Sangat senang sekali, Mudor sampai
menggigit jarinya tanda bahagia. Tak terlalu histeris,
karena ada Abi dan Bapaknya yang mesti dihormatinya.
CHANDRA 310
Seakan tak percaya, pintu yang telah tertutup
rapat ternyata terkunci sementara. Apa yang terjadi,
sama persis dengan apa yang diinginkan Mudor
semenjak dulu.
“Saya bersedia, Abi. Tapi apa Nafisah mau
menikah dengan saya?” tanya Mudor ragu.
“Nafisah orangnya taat. Ia akan menuruti apa
yang Abi sarankan. Karena juga, Abi tahu kamulah yang
dicintainya sejak dulu. Abi tahu itu, kalian berdua
pantas. Nikahilah ia segera,” ujar Abi.
Mudor tak mengira bahwa ternyata selama ini
wanita itu juga mencintainya. Kiranya, selama ini ia
bertepuk sebelah tangan. Ternyata tangan itu ada, tetapi
malu–malu untuk ikut menepuk. Nafisah juga mencintai
Mudor.
“Tapi ... tapi Mudor tak punya banyak uang, Abi,”
ujar Mudor dengan pesimis.
“Nak, jangan khawatir! Masalah biaya pernikahan
kamu, biar pondok yang tanggung. Abi sama Bapak
311 Ciĩa & Cinĩa
kamu sudah bicarakan ini, jika kamu bersedia,” ujar Abi
serius.
Sebenarnya, tak ada sedikit pun masalah yang
dialami Mudor. Mudor sudah tahu, jika menikah dibiayai
oleh pondok, pasti harus mengabdi di pondok bertahun-
tahun. Tak masalah. Bagi Mudor, pondoknya ini sudah
sangat berjasa baginya. Hidup dan matinyapun harus ia
wakafkan. Nafisah adalah dzuriyah pondok. Ia pasti
akan menjadi pewaris dari pamannya nanti untuk bisa
mengelola pondok ini kedepannya.
“Baik, Bi. Mudor siap menikahi Nafisah,” ucap
Mudor dengan yakin.
Akhirnya, keinginan Mudor selama ini tak lama
lagi terkabul. Walaupun terakhir kalinya Mudor dan
Nafisah sedang dalam hubungan yang tidak baik, tapi
mereka masih saling mencintai.
Sudah bertahun–tahun Mudor tak lagi
melihatnya dengan jilbab panjangnya. Wanita yang
semasa kecilnya juga teman mainnya, tak lama lagi akan
menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya.
CHANDRA 312
“Kapan pernikahan kami digelar?” tanya Mudor.
“Jumat besok.”
Di hari yang suci, dua insan yang sama–sama
mencintai kesucian akan mengikrarkan janji suci.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.”
313 Ciĩa & Cinĩa
Juga, pada akhirnya
Giliran makhluk bumi bersuka akan cinta Ilahi
Antara dua hati yang sama suci dan bersih cintanya
Perlu disyukuri, semua ini indah terjadi
Janji suci
CHANDRA 314
Para santri memenuhi halaman pondok. Koko
putih serta peci hitam rapi dikenakan para santriwan.
Baju putih dan rok hitam, serta kerudung putih pun
sama dikenakan para santriwati. Berjajar rapi dengan
pakaian tertutup ala santri. Mereka bersiap untuk
menyaksikan suatu acara yang dinanti.
Pernikahan, tamu undangan nampak hadir juga
dengan kebaya dan batik. Di meja khusus mereka
dipersilahkan untuk duduk dan sekedar mencicipi
makanan makanan yang ada.
Tak terlalu mewah pernikahan digelar. Hanya
hiasan-hiasan sederhana, serta hidangan makanan
seperti pada umumnya. Tapi, yang menjadi daya
tariknya, keduanya adalah calon tokoh pemimpin.
Terlihat dari prestasi serta pendidikan keduanya yang
merupakan lulusan Benua Biru. Ribuan santri yang
hadir, menghiasi acara agar menjadi lebih berkah.
Bagaimana tidak, setiap doanya adalah senjata.
Di pelaminan. Mudor nampak gagah dengan
jubah sekaligus jas yanag dikenakannya. Dengan sorban
yang diikat di kepalanya, Mudor percaya diri ketika
315 Ciĩa & Cinĩa
hendak melaksanakan akad. Pakaian serba putihnya
menjadi pusat perhatian para santriwati. Parasnya
tampan bersih dan santun membuat para santriwati
terbawa perasaan seolah cemburu.
Ibu dan bapaknya duduk di dekatnya. Penghulu,
wali, dan saksi sudah bersiap melangsungkan akad
pernikahan. Mudor berkeringat banyak. Ada perasaan
gugup serta kesenangan luar biasa hari ini. Untung saja
disediakan tisu. Pengatur acara sudah lebih dulu paham
kebutuhan mempelai pria ketika hendak melaksanakan
akad. Mudor mengambil beberapa tisu untuk mengusap
wajahnya.
“Baik. Mari kita mulai.”
Mudor langsung membetulkan duduknya. Lalu
kembali mengulang hafalan kalimat yang mesti
diucapnya. Yaitu tentang janji suci.
“Saya nikahkan anda dengan anakku Nafisah Az-
zahra, dengan seperangkat alat salat dan kitab dibayar
tunai,” ucap Abi Mahmud dengan yakin.
CHANDRA 316
“Saya terima nikahnya Fatimah Az-zahra dengan
maskawin tersebut dibayar tunai,” jawab Mudor dengan
lancarnya.
Saksi menyatakan akadnya sah.
“Sah?”
“Sah.”
Semua orang mengangkat kedua tangannya dan
mendoakan mereka berdua. Termasuk para santri pun
ikut ramai medoakan. Sesekali menggema takbir dengan
lantangnya beberapa kali. Seperti ada kemenangan yan
terjadi begitu membahagiakan.
“Takbir!”
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahua Akbar!”
teriakan lantang.
Nafisah Az-zahra, ia datang diantar ibunya dari
pintu rumah Abi Mahmud. Untuk pertama kalinya,
Mudor kembali memandang wajahnya Nafisah. Jika dulu
hanya sebatas teman bermain, sekarang sudah menjadi
pasangan hidup halal yang menemaninya bermain
317 Ciĩa & Cinĩa
kapanpun. Gaun pengantin yang panjang dikenakan
Nafisah sungguh anggun. Berjalan bagaikan seorang
bidadari, Mudor yang melihatnya amat bersyukur luar
biasa. Santri yang hadir bersorak. Nafisah semakin
mendekat ke dekat suaminya.
Keduanya nampak malu–malu untuk saling
berhadapan. Tak kuasa sepertinya tak biasa. Nafisah
menunduk malu sambil tersenyum senyum. Dulu
mereka terpisah dalam hubungan yang tidak baik dalam
pertemanan, bahkan sebelum masing–masing keduanya
pergi kuliah ke Eropa. Tak sekalipun berbicara atau
saling menyapa dalam kata. Mungkin dalam doa,
sehingga mengantarkan keduanya sampai pada fase
sekarang ini.
Ketika hendak memgang tangan Nafisah, Mudor
seperti malu–malu begitupun Nafisah. Hampir saja
saling bersentuhan, spontan kembali keduanya menarik
tanganya kembali, lalu tersenyum.
“Anaa uhibbuki, saya suamimu sekarang,
Nafisah,” ujar Mudor pelan.
CHANDRA 318
“Wa anaa uhibbuka. Saya juga istrimu kini,”
jawab Nafisah pelan juga.
Akhirnya mereka berpegang tangan mesra untuk
pertama kalinya. Sorak yang hadir kencang
meramaikan. Tak cukup sampai di sana, Mudor
kemudian mencium kening Nafisah. Sorak orang-orang
yang hadir bertambah ramai, termasuk para santriwati.
Nafisah tersenyum bahagia juga. Ada banyak hal
yang sebenarnya ingin diceritakan Nafisah sampai
akhirnya kini ia berada di sampingnya. Tentang cinta
yang sejujurnya sampai menolak segala cinta yang
hanya karena ingin menyenangkan Abi Mahmud.
Sampai akhirnya, kejujuran cinta tersebut membawanya
kini sampai. Sampai pada benar–benar cintanya yang
sejujurnya.
“Mas, maukah kau bacakan surah Ar–Rahman,
dulu aku terkagum ketika kau sering membacanya di
masjid,” kata Nafisah.
Mudor tersenyum, kemudian menyentuh hidung
Nafisah dengan mesranya.
319 Ciĩa & Cinĩa
“Ternyata kamu suka dengerin, ya?” tanya Mudor.
Mudor kemudian meminta MC dari pengatur
acara. Semua terkaget penasaran apa yang akan
dilakukan Mudor.
“Ar-rohman............ ”
Seperempat jam lamanya Mudor membacakanya
untuk istrinya. Istrinya tenang dan teduh tepat di
sampingnya. Sementara, semua yang hadir termasuk
santri terbawa emosi suasana yang roamantis. Tak
jarang, mereka mencengkeram kerudung temennya
tanda terbawa perasaan.
Sempurna kebahagian Mudor dan Nafisah hari
ini. Tak menyangka keduanya bisa sampai berujung di
pelaminan. Selama ini, Nafisah menyimpan cintanya
dalam diam. Tak ia sebut pujaan hatinya kepada
siapapun, kecuali pada Allah saja, melalui doa-doanya.
Melewati banyak misteri di balik perkataan Abi Mahmud.
Ternyata laki-laki yang dimaksud adalah pujaan hatinya
sendiri.
CHANDRA 320
Bagi Mudor, ini juga keberuntungan baginya.
Walaupun harus menerima dua pil pahit, ketika ia tahu
bahwa Nafisah dilamar oleh dua orang sebelumnya.
Sempat putus asa, namun Allah datangkan dengan
mudahnya semua itu. Wanita itu di sampingnya kini,
menjadi istrinya.
Notifikasi Handphone Nafisah dan Mudor
berbunyi bersamaan. Nafisah membuka pesan yang
masuk. Begitupun Mudor.
“Assalamu’alaikum. Saya dengar hari ini kau
menikah. Selamat menempuh hidup baru, Cahayaku.
Nenek yakin, suamimu sama baiknya sepertimu,” pesan
dari nenek Angelina.
“Assalamu’alaikum. Apa kabar Nafisah? Saya
mendengar kabar bahwa kau menikah hari ini. Selamat!
Semoga kebaikanmu sama baiknya dengan suamimu.
Bapak yakin itu,” pesan dari Pak Okta.
Nafisah kemudian membalas satu persatu
ucapan selamat dari keduanya itu.
321 Ciĩa & Cinĩa
Mudor juga mendapat pesan dari teman–
temannya. Mudor memilih membukanya nanti.
Keduanya tinggal di rumah Nafisah untuk
sementara. Pengantin baru itu nampak berbahagia
sepanjang hari. Esoknya, mereka menemui Abi. Abi yang
memintanya sejak hari pernikahan. Cinta ini, tak lain
ada sangkut pautnya dari abi Mahmud. Ada satu rahasia
penting yang mesti diketahui oleh Nafisah dan Mudor.
Mudor dan Nafisah tiba di rumah abi. Mereka
dijamu dengan baik layaknya tamu. Umi menyapa
dengan ramah tamahnya.
“Abi sudah menunggu di ruang tamu,” ujar umi.
“Oh, iya. Terima kasih, Umi. Kami izin masuk.”
“Silahkan”
Rangkaian kebahagian tertata indah hari hari ini.
Abi Mahmud dengan memasang muka ceria menyambut
mereka berdua. Abi mempersilahkan duduk, Mudor dan
Nafisah kemudian duduk dengan rapi.
CHANDRA 322
Ada rahasia penting yang mesti disampaikan abi
kepada Mudor. Tentang wasia ayahnya Nafisah.
“Sebenarnya, Nafisah. Ayahmu pernah berwasiat
kepada Abi dulu,” ujar Abi.
“Apa? Wasiat apa, Bi? Kenapa Abi belum pernah
cerita sama Nafisah?” tanya Nafisah penasaran.
“Bagini ceritanya.”
Lalu, abi Mahmud tanpa basa–basi langsung
memberi tahu tujuan memanggil mereka. Ada kisah
tentang ayah Nafisah yang belum pernah diceritakan
sama sekali oleh abi Mahmud. Nafisah dan suaminya
mendengarkan dengan baik.
“Dulu, ketika ayah kamu masih hidup. Beliau
adalah yang sangat baik, juga dermawan. Sering kali
ayahmu memberi bantuan dana untuk pembangunan
pesantren ini. Dia kakak yang baik bagi Abi. Pada suatu
hari, ia jatuh sakit. Sakit yang dialaminya begitu serius
sehingga harus dirawat di rumah sakit, Nafisah juga
tahu hal ini.”
323 Ciĩa & Cinĩa
“Tapi, di sela-sela pertemuan Abi dengan
Ayahmu, beliau seperti tahu bahwa umurnya tak lama
lagi. Ayahmu kemudian berkata, ‘Mud. Kau jaga anakku,
Nafisah ya. Aku titip ia di pesantrenmu. Jadikan ia anak
yang baik, agar bisa mendoakanku nantinya. Dan juga,
pilihkan laki–laki terbaik untuk Nafisah. Supaya ia bisa
mendapat pasangan hidup yang baik.’
“Ucapan ayahmu itu membuat Abi merasa sangat
bertanggung jawab. Apalagi untuk memilihkan laki-laki
terbaik untukmu, Nafisah.”
“Mudor. Yah. Abi melihat ada cahaya yang sama
pada dirimu, Nafisah. Kau terlalu bercahaya. Dan,
cahayamu akan lebih terang bersama Mudor.”
“Sejak dulu Mudor selalu menjadi kepercayaan
Abi. Sikap yang baik, cerdas di sekolah, dan pantas
menjadi suami Nafisah menurut Abi. Berbahagialah
kalian berdua, kalian adalah pasangan yang hebat. Bagi
Abi, titip pesantren ini nantinya. Abi tak lama lagi akan
pulang seperti Ayahmu Nafisah.”
CHANDRA 324
“Abi senang. Akhirnya kalian berdua menikah.
Dengan begitu Abi telah melaksanakan wasiat ayahmu.”
Cerita panjang abi membuat Nafisah dan Mudor
akhirnya tahu. Dan semakin yakin antara cinta
keduanya. Tak salah. Cinta ini benar–benar tepat.
Semuanya Ternyata sudah dalam skenario Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Tak ada satu pun sesuatu yang terjadi di dunia
ini kecuali atas izin Allah. Sekali pun hanya dedaunan
yang jatuh dari pohon. Semua terencana indah, Allah
pasti menakdirkan keindahan bagi hamba-Nya yang
memiliki keindahan dalam sikap.
Nafisah dan Mudor adalah penikmat Takdir Allah.
Tanpa banyak keluh kesah mereka menjalani hidup
dengan penuh keberserahdirian.
Saku celana Mudor bergetar. Ada pesan singkat
yang masuk, notifikasinya terdengar jelas. Mudor
kemudian membuka Handphone-nya.
“Assalamu’laikum, Mudor. Kudengar kemarin kau
menikah? Selamat ya. Jika kau mau datanglah kembali
325 Ciĩa & Cinĩa
ke Granada. Perkenalkanlah istri barumu itu, pasti sama
baiknya denganmu. Orang–orang muslim di sini juga
merindukanmu. Datanglah, nanti kukirim uang untuk
tiketmu. Ini sebagai hadiah bagimu, yang telah banyak
membantu kami. Nikmatilah liburanmu ke Alhambra,
bersama istrimu.”
Echas de menos la Alhambra?
Pesan datang dari Imam yang dulu meminta
Mudor untuk mengisi ceramah di masjid. Sepertinya
baru beberapa hari mereka masih merindukan Mudor.
Tak salah, ternyata jasa Mudor membekas di tanah
Granada. Mudor tentu tak bisa menolak, ia kemudian
memberitahu Nafisah, istrinya. Juga Abi Mahmud.
“Abi ... kami minta izin. Beberapa hari ini, kami
mau berlibur ke Spanyol, boleh?” ujar Mudor.
Abi yang tahu tentang cerita Mudor di Spanyol,
sudah mengira pasti mereka ingin berjumpa dengan
Mudor.
“Pasti mereka ingin mendengar kata-kata
hikmahmu lagi. Kamu benar-benar hebat, Mudor.
CHANDRA 326
Berangkatlah! Ajak istrimu. Jangan pernah menolak
undangan orang–orang muslim di Eropa sana.
Senangkan mereka,” ujar Abi Mahmud.
Nafisah beruntung sekali. Beristrikan laki-laki
yang luar biasa, namun tetap rendah hati. Mereka
kemudian merencanakan keberangkatannya. Mungkin
sekitar seminggu lagi. Karena mereka baru saja
menikah. Ditakutkan masih ada saudara–saudara yang
ingin bersilahturahmi.
Mudor dan Nafisah kemudian pamit pulang ke
rumah. Kedatangannya ke rumah abi tak sia-sia,
akhirnya ia menyadari dan tahu bahwa cintanya ini
merupakan cinta yang diridai.
Betapa pedulinya ayah Nafisah. Nafisah jadi ingat
pada ayanya. Ayahnya yang dulu sering mengajarinya
banyak hal tentang akhlak seorang perempuan. Ayah
dulu pernah bilang, bahwa wanita itu mutiara. Harus
dijaga dan terpelihara. Termasuk agar dirinya menjadi
muslimah yang punya sifat malu. Malu pada porsi
tertentu, agar hidupnya penuh kerendahdirian. Nabi
juga pernah berkata bahwa, “Setiap agama itu punya
327 Ciĩa & Cinĩa
akhlak. Dan malu adalah inti dari akhlak seorang
muslim.”
CHANDRA 328
Cita & Cinta
Kembali, sejenak menepaki diri sebelum pada
akhir
Hidup tentang tujuan dan mimpi
Cinta yang mengikat, serta cita yang mengangkasa
Bermula dari secarik kertas malu
Akhirnya bersemi dalam mulia
Bercintalah dengan suci
Bercitalah dengan tinggi
329 Ciĩa & Cinĩa
Sekeping emas kebahagian mewah tertumpah
ruah. Pada kehidupan yang bahkan mungkin tak pernah
terbayangkan. Kadang hidup terasa hambar, mungkin
karena tidak dinikmati prosesnya. Kadang juga hidup
terasa pahit, karena tak ada pada koridor taat. Namun,
percayalah kehidupan yang kita jalani terasa nikmat,
karena di bawah koridor ketaatan pada Allah, guru, dan
orang tua.
Genggaman cita yang kemudian terbentur oleh
balutan cinta. Cita butuh cinta, begitupun cinta butuh
cita–cita. Kehidupan ini separuhnya tentang mencintai
dan mencita. Mencintai cita–cita yang lama kita
usahakan. Dan kemudian bercita–cita mencintai kekasih
yang diinginkan.
Setiap kali manusia sedang fokus pada
perjalanannya meraih cita. Kadang di tengah terhempas
mabuk cinta. Itulah mengapa kebanyakan orang tak
berhasil dalam masalah cita-cita dan cinta. Karena jika
tidak di bawah alunan syari’at dan tuntunan sesuai
ajaran, semua akan sia-sia dan tak terlaksana.