CHANDRA 180
Pertandingan antar negara ini kebetulan bertempat di
Kampus UCL untuk tahun ini.
Mewakili mahasiswa Indonesia yang ada di
London, bukan perkara mudah bagi Nafisah, mengingat
bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. Karena
Nafisah jarang sekali berpidato memakai bahasa Inggris.
Namun, tampaknya Nafisah tak gentar dan tetap percaya
diri tampil di hadapan ribuan orang.
Lomba pidato ini bertema tentang 'humanity'.
Kemanusiaan yang sedang ramai diperbincangkan
dunia. Euforia penonton yang hadir terlihat antusias
sekali. Terlebih tuan rumah Inggris begitu banyak
dukungan masyarakat dan mahasiswa yang tergabung
menjadi satu.
Mahasiswa Indonesia di Inggris terbilang cukup
banyak. Mahasiswa Indonesia dari Manchester,
Newcastle, dan kota lainnya ikut bergabung di acara ini.
Perwakilan mahasiswa yang ditunjuk pada lomba ini
hanya dua orang saja. Masing-masing mahasiswa dari
berbagai negara pastinya menyiapkan dengan speaker
terbaiknya.
181 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah bersama dengan Fathur ditunjuk untuk
maju mewakiki Indonesia. Bukan tanpa alasan, tapi
karena kepercayaan mahasiswa lainnya. Nafisah
memang memiliki segudang pengalaman dalam bidang
ini. Perlombaan setingkat kabupaten, provinsi bahkan
nasional sudah menjadi hal yang biasa bagi dirinya.
Sementara Fathur, ia adalah anak seorang Bupati
Nanggroe Aceh Darussalam yang kuliah di salah satu
kampus di Manchester. Tentu saja dirinya sudah biasa
melihat ayahnya yang sering berpidato sebagai seorang
pejabat.
Nafisah sedikit minder. Dan agak merasa kurang
yakin dengan dirinya. Tapi begitu pikiran yang ragu
melintas di pikirannya. Ia spontan beristighfar dan
kembali memompa keyakinannya, "Astagfirullah,
bismillah Nafisah kamu harus bisa," ucap Nafisah dalam
batin.
Di panggung ini, Nafisah diuji untuk memilih.
Antara takut dan berani. Mana yang lebih baik.
Keduanya harus ikut terlibat, menemani Nafisah tampil
di atas panggung. Jangan terlalu berani, nantinya keliru.
CHANDRA 182
Dan jangan terlalu takut, nanti tak mampu. Keduanya
harus disimpan pada porsi yang cukup dan stabil.
Berani mengambil keputusan dan mengatakan
kebenaran, apapun itu harus Nafisah katakan. Tak
gentar Nafisah untuk yakin, berbicara tentang hal yang
benar hari ini.
Secara mengejutkan Nafisah akan membawakan
pidato yang berjudul, "Islam Agama Kemanusiaan".
Hatinya yang bersih dan taat ikut ambil bagian dari
perumusan judul itu. Juga keinginan besar Nafisah
untuk mengatakan kebenaran mengenai Islam kepada
semua yang hadir sangat berani.
Hari ini, banyak isu bertebaran di masyarakat
Eropa dan Amerika tentang Agama Islam yang mereka
anggap sebagai teroris. Nafisah ingin menepis isu salah
tersebut. Kebenaran patutlah dibenarkan, karena semua
yang mereka kira itu salah besar, menurut Nafisah.
Acara sudah dimulai sejak beberapa saat tadi.
Beberapa negara seperti Amerika, Belgia, China, Jerman,
dan negara lainnya sudah lebih dulu tampil. Mereka
183 Ciĩa & Cinĩa
membawakan judul yang hampir merujuk pada tujuan
yang sama. Dengan rasa bangga, mereka hampir
kompak menyebut bahwa konflik yang terjadi di
Palestina adalah suatu hal yang wajar. Mereka seolah
bangga dan senang. Hal itu tentu menyakiti beberapa
negara Muslim, termasuk Indonesia. Mahasiswa
Indonesia sempat beberapa kali menyoraki mereka, tapi
karena jumlah mereka yang lebih sedikit menjadi kalah
oleh tepuk tangan mereka yang lebih ramai.
Nafisah tetap sabar mengelus dada, berharap
emosinya tak memengaruhi performanya nanti.
Sekarang giliran Fathur. Dengan jas kebanggaannya ia
mulai berdiri dari kursi di samping Nafisah. Sedikit
tersenyum, menutupi rasa grogi yang khawatir muncul
saat pidato nanti.
“Nafisah, aku duluan, ya. Doakan semoga
lancar,” Fathur meminta didoakan.
"Baik, Fathur. Semangat, yah. Jangan kecewakan
nama Indonesia,” Nafisah menjawab.
CHANDRA 184
“Iya tenang saja,” jawab Fathur sambil
tersenyum.
Para mahasiswa Indonesia mulai bersorak dan
bertepuk tangan. Memberi dukungan terbaik bagi
Fathur yang akan tampil. Nafisah tertawa kecil tanda
dirinya merasa senang. Fathur membawakan pidato
dengan sangat baik. Sesekali Nafisah, menggumam
bangga dan memandang dirinya yang berwibawa.
Kebetulan sekali. Nomor urut Fathur dan Nafisah
persis berurutan. Tandanya Nafisah harus bersiap-siap
karena begitu Fathur selesai pidatonya, berarti giliran
Nafisah.
Di sini panggung inilah keberanian Nafisah
sontak menjadi. Tepat begitu nama Nafisah dipanggil.
Dirinya dengan bangga berdiri dan langsung berjalan
menuju podium. Jalannya yang santun namun tetap
tegap dan terlihat berani. Hijabnya yang panjang
sempurna menutup lekuk tubuhnya. Seketika perhatian
terpusat kepada Nafisah. Hampir semuanya. Nafisah
tetap berjalan tenang menuju panggung.
185 Ciĩa & Cinĩa
Seorang berkebangsaan Amerika berkulit putih
dan berambut pirang seketika berdiri dan mencaci
Nafisah, "Lihatlah. Ada muslim yang mau berpidato.
Tidakah kalian curiga, dia akan membunuh kalian
semua dengan bom yang dibawanya?” ujarnya dengan
lantang.
Suasana sangat ramai. Beberapa orang
mahasiswa Indonesia membela dan menyalahkan
perkataan pria tadi. “Tutup mulutmu! Jangan menuduh
sembarangan,” kata salah satu mahasiswa Indonesia.
“Mana ada orang yang mau membunuh
mengaku?” pria itu kemudian menjawab lagi.
Suasana benar-benar sangat kacau dan tak
kondusif. Walaupun jumlah Mahasiswa Indonesia tak
banyak, namun mereka tetap memberi perlawanan.
Beberapa negara yang mahasiswanya muslim ikut
membela. Hingga mereka mendapatkan tambahan
dukungan.
CHANDRA 186
“Muslim is terorist ... muslim is terorist ... muslim
is terorist ...,” gema nyanyian orang-orang Amerika dan
Eropa.
Panitia setempat tak tinggal diam. Mereka
mengimbau kepada semuanya untuk tenang dan
mengikuti acaranya dengan baik dan saling menghargai.
Suasana kemudian seketika kembali normal. Para
mahasiswa kembali duduk dengan normal.
Nafisah yang tengah berdiri di panggilan tetap
tenang. Berharap dirinya bukan penyebab dari keributan
ini. Suasana kembali membaik, panitia mempersilahkan
Nafisah untuk bisa memulai pidatonya.
Assalamualaikum wr.wb.
Dewan juri yang saya hormati,
Pada hadirin semuanya yang saya banggakan
Puji syukur bagi Allah, sholawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW.
187 Ciĩa & Cinĩa
Saya datang dari negara berkembang Indonesia.
Saya adalah seorang muslimah yang taat dan sangat
mencintai perdamaian. Saya selalu diajarkan bagaimana
menghargai perbedaan. Sedari kecil sampai dewasa
seperti sekarang saya tak pernah diajarkan untuk
berbuat jahat, apalagi menghabisi nyawa seseorang.
Saya muslimah, yang selalu diajarkan tentang
pentingnya sebuah perdamaian. Dalam Islam kami selalu
diajarkan tentang berbuat baik, agar terciptanya
kedamaian satu sama lain. Agama kami bernama Islam.
Dalam bahasa Arab artinya selamat, perdamaian, atau
berserah diri. Jadi mana mungkin, agama yang namanya
saja sebuah perdamain, seolah dituduh menghancurkan
perdamaian dunia?
Berbicara tentang kemanusiaan. Maka saya
katakan agama kamilah yang paling
berperikemanusiaan. Kami diajarkan untuk selalu
menyayangi antara sesama manusia, dan melarang
keras pembunuhan. Apakah kalian berani memuduh
kami seorang pembunuh? Jika dalam ajarannya saja,
melarang pembunuhan?
CHANDRA 188
Saya besar dari orang-orang yang menjunjung
tinggi perdamaian. Ayah saya sejak kecil meninggal
hanya karena membela orang yang akan terbunuh.
Beliau memberanikan diri untuk menjadi seorang relawan
di Palestina. Supaya bisa membantu para korban
kekejaman tentara Israil yang membabi buta di Palestina.
Ia terbunuh oleh tentara Israel dan sampai saat ini,
jasadnya tidak ditemukan. Apakah kalian masih ingin
menuduh kami, umat Islam sebagai seorang teroris?
Saya mengikhlaskan semuanya. Semua yang
terjadi saya anggap sebagai takdir Tuhan. Dan saya tetap
berbaik sangka kepada Tuhan. Dan tetap berusaha untuk
tidak membenci siapapun.
Cinta adalah cinta untuk sesama. Dalam ajaran
agama kami, sesosok orang yang sangat mulia akhlaknya
dan selalu mengepankan perdamaian dan kemanusiaan
dalam hidupnya, selalu menjadi panutan kami. Namanya
adalah Muhammad, seorang laki laki yang lahir di kota
Mekkah sebagai seorang Nabi dan utusan Tuhan.
Hidupnya penuh dengan perdamaian dan selalu
189 Ciĩa & Cinĩa
mengedepankan kemanusiaan sebagai visi dari pada
hidupnya.
Jika saya boleh menceritakan salah satu
kisahnya. Beliau dulu, ketika menjalankan hijrah ke kota
Thaif yang kini menjadi negara .... Beliau dan
pengikutnya ditolak, dicaci, diludahi, dilukai, bahkan
hendak akan dibunuh. Sehingga sekujur badanya penuh
denga luka dan kepedihan.
Tapi, apakah kalian tahu semuanya. Ketika beliau
ditemui oleh seorang malaikat dan ditawari sebuah
tawaran. “Jika boleh saya menghantamkan satu gunung
kepada mereka, agar mereka semua mati,” begitu kata
jibril.
Namun, karena Nabi Muhammad adalah orang
yang cinta perdamaian dan sangat mencintai sesama
manusia. Maka ia dengan kebesaran hatinya, menolak
tawaran malaikat itu. Dan memilih untuk mendoakan
mereka supaya mendapat kebaikan.
Teman-teman semuanya ....
CHANDRA 190
Pidato ini semata-mata, bukan hanya sekedar
perlombaan bagi saya. Tapi, panggung ini menjadi
panggung persatuan bagi kita semua. Sudah cukup kita
saling mencela satu sama lain dan saling membenci.
Di mana nilai kemanusiaan itu hadir, jika kita
masih saling melukai hati sesama manusia? Bahkan
masing-masing kita tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi.
Mari kita saling menghargai dan menghormati satu
sama lain tanpa saling mencurigai. Karena saya yakin.
Masing-masing dari kita punya hati nurani dan kebaikan.
Saya juga yakin, kita masih punya banyak persamaan,
lalu mengapa kita masih saja memperdebatkan
perbedaan yang ada di antara kita.
Sudah cukup kita semua berseteru saling
memfitnah dan saling mencaci. Mari sama-sama
mewujudkan perdamaian dunia dan menciptakan
kedamaian dengan mengedepankan nilai-nilai
kemanusiaan di antara kita. Saya tutup pidato saya ini
dengan salah satu kutipan ayat suci umat Islam.
191 Ciĩa & Cinĩa
السالم على من اتبع الهدى
Perdamain hanya bagi orang yang mengikuti petunjuk.
Wassalamualaikum Wr. Wb"
Semua orang seketika tercengang dan terdiam.
Suasana sangat hening seperti di malam hari. Saat itu,
tak ada yang lebih diperhatikan kecuali seorang
perempuan yang berbicara di atas panggung utama.
Semua orang duduk rapi dan tanggah kepalanya melihat
Nafisah. Suaranya begitu lantang, greget, dan sangat
meyakinkan.
Dewan juri pun sampai lupa melihat kertas
nilainya. Lupa mencatat nilai untuk Nafisah karena
khusyuk melihat sekaligus mendengarkan pidatonya.
Setelah selesai dan mengakhiri dengan salam. Nafisah
mulai turun dari panggung tempat duduknya.
Dewan juri mulai menepuk tangannya dengan
pelan. Lalu diikuti oleh semua peserta yang hadir.
Gemuruh orang yang bersorak bahagia sangat jelas
terdengar. Para mahasiswa Indonesia dan muslim
CHANDRA 192
lainnya bergema kencang dengan takbir. Berulang kali,
mereka bertakbir tanpa takutnya.
Mahasiswa Eropa dan Amerika tak mau kembali
membuat ribut dan memilih ikut bertepuk tangan.
Mengapresiasi pidato yang luar biasa tersebut.
Nafisah dengan santunnya tetap duduk rapi di
kursi, tanpa sedikit pun merasa sombong dan bangga.
Peserta lain yang duduk dekat Nafisah berusaha
mendekatinya dan bergantian memberikan pujian.
“Hebat kamu, Nafisah. Jarang sekali orang berani
berpidato sepertimu tadi,” Fathur memuji Nafisah.
“Terima kasih, Fathur,” jawab Nafisah singkat.
Keberanian Nafisah sempurna membuat rasa
penyesalan yang mendalam bagi Alex. Yang juga hadir
tepat duduk paling depan panggung. Yahya terlihat
berbangga, mengatakan bahwa dirinya teman dekatnya
Nafisah kepada teman-temannya.
Seperti sejuknya embun. Begitu sikap Nafisah,
tak banyak berkata dan memilih tenang dengan
193 Ciĩa & Cinĩa
diamnya. Dengan senyum manisnya, ia tetap membalas
orang orang yang terlihat mencari muka di hadapannya,
berharap bisa disapa.
Acara terus dilanjutkan. Semua peserta
mengikuti dengan seksama pidato pidato selanjutnya.
Berbeda dengan penonton. Satu persatu mereka pergi,
karena mungkin ada hal kepentingan yang harus mereka
lakukan. Sampai di penghujung acara, semua peserta
dan penonton bubar meninggalkan kampus UCL.
Nafisah ikut bangkit dari duduknya. Ia kemudian
menemui Amanda, sahabatnya yang sejak awal sabar
menunggu Nafisah.
“Pidato kamu tadi bagus banget, Nafisah. Aku
yakin banget, tahun ini kamu dapat penghargaan juara
1. Mengalahkan mereka yang pidato cuma bisa
menghina dan menghujat agama Islam saja,” Amanda
memuji Nafisah.
“Ah ... kamu emang pandai bikin orang senang,
Mand.”
CHANDRA 194
“Aku serius. Sumpah, enggak ada pidato yang
bikin tegang dan banyak diperhatikan orang selain
pidato kamu tadi,” Amanda meyakinkan.
“Ya, Alhamdulillah kalau, gitu. Aku cuma, pidato
biasa saja menurutku. Sambil mengingat-ingat gerakan
sama intonasi yang dulu diajarkan ustazahku di
pondok,” Nafisah berendah hati.
“Oh, jadi kamu suka ikut lomba pidato juga di
pondok dulu?” Amanda penasaran.
"Iya, Alhamdulillah. Beberapa kali.”
“Sering juara?”
“Ya, begitulah. Alhamdulillah, aku sempat dapat
beberapa penghargaan.”
“Masyallah, hebat sekali kamu, Nafisah. Pantas
saja tadi kamu sudah sangat pandai berpidato. Tak salah
aku punya temen seperti kamu,” Amanda memuji –muji.
195 Ciĩa & Cinĩa
“Kamu bisa saja, Amanda. Aku juga bersyukur
banget punya temen cerewet kaya kamu. Lumayanlah,
buat suasana agak ramai.”
“Benar sekali kamu, Nafisah. Tapi sepertinya
kamu menyindirku.”
“Hahaha. Sudahlah lupakan, Amanda. Aku hanya
bercanda.”
“Kamu emang ya, dasar. Enggak jadi aku puji
kamu.”
“Iya iya. Enggak apa-apa. Jangan marah cerewet.”
Nafisah bergurau bercanda.
Rekapitulasi hasil hitungan penilaian
perlombaan. Baru akan diumumkan keesokan harinya.
Mengingat begitu banyaknya peserta yang mengikuti
perlombaan dari berbagai negara.
Para pelajar Indonesia yang terhimpun dalam
organisasi PPI London, tak hentinya membicarakan
penampilan Nafisah kemarin. Pujian demi pujian lirih
CHANDRA 196
datang silih berganti. Nafisah menyikapinya dengan
tetap rendah hati dan tersenyum saja.
Pagi ini. Hasil pengumuman kejuaraan akan
diumumkan secara terbuka di panggung yang sama.
Waktu demi waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya
tiba. Satu jam sebelum pengumuman dimulai Nafisah
dan teman-temannya sudah dengan rapi mengisi tempat
duduk.
Sebenarnya ini bukan hal yang aneh. Orang
orang Eropa terkenal disiplin dan sangat menghargai
waktu. Waktu adalah hal yang berharga, tak satu pun
manusia yang mampu mengulang waktu kembali.
Nafisah membetulkan duduknya sampai benar
benar rapi. Merapikan kerudung panjang dan ciputnya
yang menambah keanggunannya. Aneh memang orang
melihatnya. Menutup rapat seluruh tubuh dan
kepalanya dengan sangat rapat. Di tengah orang-orang
yang dengan tidak malunya berpakaian ala Eropa yang
sudah menjadi kebiasaan. Rok pendek atau jeans yang
dikenakan hampir seluruh wanita di London. Namun tak
197 Ciĩa & Cinĩa
membuat Nafisah malu dan takut. Justru ia merasa
lebih aman dan nyaman dengan apa yang dikenakannya.
Bukannya Nafisah tidak takut. Nafisah juga
takut, tapi takut pada perbuatan perbuatan yang
melanggar dan menyalahi hukum hukum agama.
Master Of Ceremony (MC) terlihat menuju ke arah
podium. Dengan mengambil MIC wireless-nya mereka
membetulkan posisi berdirinya agar terlihat lebih
berwibawa.
Dua orang wanita yang menjadi MC lihai
berbicara dan menghibur terlebih dahulu audiens yang
hadir dengan sedikit gurau dan leluconnya.
Sebagian tertawa keras. Sebagian lagi diam dan
bersikap dingin seperti salju. Tak ada yang lebih tegang
saat itu dari pada para peserta lomba. Tanpa terkecuali
Nafisah. Sesekali ia menggigit jari dan bermuka tegang.
Walaupun pengalamannya sudah sangat banyak ketika
di Indonesia. Tak membuat ia berhasil mengalahkan
ketegangannya di panggung Internasional itu.
CHANDRA 198
“Kamu kelihatannya tegang banget, Nafisah. Ada
apa?” tanya Fathur yang duduk di sampingnya.
“Aku kelihatan tegang ya?” Nafisah menanyakan
balik.
“Lah, iya. Maka dari itu aku tanya.”
"Enggak. Ini aku cuma agak pucat saja. Masuk
angin semalam" Nafisah berasalasan dan
menyembunyikan ketegangannya.
MC mulai mengumumkan hasil kejuaraan.
Sebelumnya mereka memberi kesaksian dan pernyataan
bahwa penilaian mutlak diberikan oleh juri tanpa ada
campur tangan pihak manapun. Waktu yang ditunggu-
tunggu tiba.
Semua peserta benar benar serius dan sangat
menginginkan kejuaraan yang bergengsi ini. Nafisah
agak ragu. Ia tak berharap mendapatkan juara pertama.
Bukannya tidak yakin dan percaya diri. Namun ia lebih
merendah hati, terhadap yang lainnya.
199 Ciĩa & Cinĩa
“Selamat pagi semuanya. Kali ini kami sebagai
Master of Ceremony (MC) akan segera mengumumkan
hasil kejuaraan 'speech competition' antar mahasiswa
seluruh dunia. Untuk juara ketiga, diraih oleh Ahmeed
Syam dari Pakistan”
Semua orang bertepuk tangan dan mengapresiasi
mahasiswa tersebut. Membuat suasana lebih tegang dan
sengit. Pria kelahiran Pakistan itu tak salah
mendapatkan penghargaan tersebut. Terlebih
banyaknya para ulama pembicara hebat dunia yang lahir
di negara Pakistan itu.
Ketegangan Nafisah bertambah. Ia kira namanya
yang akan terpanggil. Ternyata bukan. MC kemudian
melanjutkan pengumuman hasil kejuaraannya.
"Untuk juara kedua atau Runner up 'speech
competition' antar mahasiswa seluruh dunia diraih oleh
Fathur Ash Shidqi dari Indonesia."
Sorak ramai PPI Indonesia sangat antusias
menyambut kemenangan Fathur sebagai Runner-Up
kejuaraan ini. Pengumuman juara 3 dan 2 sudah
CHANDRA 200
diumumkan. Nama Nafisah tak kunjung disebut sebagai
juara. Terlebih rekan satu negaranya Fathur sudah lebih
dulu mendapat kejuaraan, membuat Nafisah benar-
benar pesimis dan putus harapan.
“Selamat ya, Fathur! Kamu memang pantas
mendapatkan penghargaan itu,” Nafisah bernada lemah,
sambil tersenyum terpaksa.
“Terima kasih banyak. Pidato kamu juga hebat,
Nafisah,” jawab Fathur.
Fathur mulai berjalan menuju podium. Panggung
utama yang megah dan terlihat istimewa bagi semua
peserta. Panggung yang diimpikan semua peserta untuk
bisa berdiri di sana sambil menerima piala penghargaan
yang membanggakan.
Berdiri gagah Fathur di atas podium sontak
membuat Nafisah tertunduk cemburu. Sambil menahan
sedih dan pesimis, Nafisah bersikap seperti acuh tak
peduli. Padahal raga, hati, dan jiwanya berharap penuh
bisa berdiri di atas podium itu.
201 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah semakin tak yakin dengan dirinya. Ia
merasa gagal dan mengecewakan teman-temannya,
sekaligus negaranya. Ia sesekali melirik ke arah teman-
temannya yang dari kemarin tak henti-hentinya memuji
penampilannya. Jiwa yang yakin tiba-tiba rapuh menjadi
ragu. Bahkan hancur melebur.
Kemudian MC kembali melanjutkan
pengumuman terakhir. Penentu kemenangan. Siapa
yang akan mendapatkan piala paling membanggakan.
Menjadi juara pada kejuaraan yang sangat bergengsi ini.
Semua peserta penuh harap. Sebagian mereka
menggenggam kedua tangannya sambil menunduk dan
berdoa. Sebagian lainnya memilih memperhatikan
penuh MC. Berharap namanya yang akan disebut
selanjutnya.
Tapi Nafisah begitu putus harap dan pesimis. Ia
memilih untuk menyerahkan segalanya kepada Allah.
Dan memberinya yang terbaik. Ia tak berharap penuh
namanya disebut sebagai juara 1 dan mendapatkan
penghargaan terbaik. Sebab rekan satu negaranya
sudah lebih dulu mendapat penghargaan, tak mungkin
CHANDRA 202
2 peserta dari satu negara bisa mendapatkan
penghargaan, menurutnya.
Ia hanya pasrah dan berharap yang terbaik.
Apapun dan bagaimanapun yang terjadi. MC benar
benar melanjutkan dan membawakan suasana yang
sangat tegang.
“Saatnya pengumuman yang paling dinanti tiba.
Siapakah yang akan mendapatkan penghargaan sebagai
juara 1 'speech competition' antar mahasiswa sedunia
tahun ini?
“Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai dan
pertimbangan seluruh dewan juri. Telah diputuskan
bahwa Juara 1 'speech competition' mahasiswa antar
negara seluruh dunia, diraih oleh ”
MC sengaja menjeda perkataanya dan membuat
seluruh peserta sempurna tegang. Hampir dari mereka
menutup mata dan dengan seriusnya berdoa. MC mulai
menarik napas. Menyiapkan suara terbaiknya untuk
menyebut nama sang juara.
“NAFISAH AZZAHRA dari Indonesia........”
203 Ciĩa & Cinĩa
Tak ada euforia yang paling spektakuler dan
ramai saat itu, selain apa yang ada di sekitar kampus
UCL. Tak ada kepercayaan yang perlu lagi dipercayai
selain ketidakpercayaan Nafisah tentang apa yang
dikatakan MC tadi. Seluruh tubuh Nafisah tercium bau
syukur yang dalam. Buah dari takut dan keberanian
yang lihai ia terapkan. Sujud syukurnya spontan ia
lakukan di dekat tempat duduknya. Meski sempit, ia tak
mau kufur dan terlalu berbangga dengan semua ini.
Satu persatu peserta lainnya memeluk haru. Baik
muslim ataupun non-Muslim seolah tak peduli. Tak ada
yang lebih bangga daripada teman-teman serta para
pendukung Nafisah yang sedari tadi benar-benar yakin,
bahwa Nafisah akan mendapatkan hal itu.
Tangis haru Amanda memulai tangisan teman
teman lainnya. Mahasiswa PPI yang tergabung saling
berpelukan satu sama lain. Mengekspresikan
kebanggaan dan kesenangan yang nyata. Melalui
seorang wanita mulia dan berani seperti seorang Nafisah.
MC mempersilahkan Nafisah naik ke atas
panggung. Nafisah dengan anggunnya mulai
CHANDRA 204
menghitung langkah. Langkahnya yang perlahan sambil
agak menunduk, mencirikan dirinya yang penuh
kerendahan hati. Penyuara kedamaian, serta penjaga
hubungan antar sesama yang menjaga nilai
kemanusiaan nampak sempurna diterapkannya. Apa
yang dikatakan dalam pidatonya selaras dengan polah
tingkah perilakunya. Tak satu pun peserta yang ia
rendahkan bahkan dicaci.
Dengan anggun dan bangga seolah tidak percaya.
Perempuan itu benar-benar berdiri di atas podium yang
diimpikan banyak orang. Semua juru tersenyum
pertanda bangga dan mengapresiasi. Tepuk tangan yang
khas dari semuanya tak henti-hentinya menyambut
kemenangan yang nyata diraih oleh wanita muslim
berhijab panjang asal Indonesia.
Piala yang berhak didapatkan Nafisah dan
diberikan langsung oleh Bapak Rektor UCL. Penyerahan
yang luar biasa. Moment yang begitu diidam-idamkan
oleh semua Mahasiswa UCl mendapat penghargaan
langsung dari Rektor. Dengan pelan rektor menyerahkan
205 Ciĩa & Cinĩa
piala kebanggaan kepada Nafisah. Nafisah menerimanya
dengan baik.
“Congratulation! Nafisah. I'm proud of you,” ucap
pak Rektor.
“Alhamdulillah. Thank you very much. It's all from
God. And feel very great full,” jawab Nafisah.
“You're a obedient muslim. May your God bless
you,” pak Rektor sambil mendongakkan.
“Amin. Thank you.”
Nafisah, Fathur, dan Ahmeed ketiganya turun
dari podium. Seorang wanita dan dua pria yang sangat
beruntung pagi itu. Tapi kedua laki-laki itu tak lebih
beruntung dari pada Nafisah, yang justru mendapat
penghargaan sebagai juara pertama. Ketiganya tetap
saling memberi selamat. Fathur rekan senegaranya
merasa sangat bangga bisa kenal dengan sosok
perempuan yang luar biasa, seperti Nafisah. Ahmeed
yang juga seorang muslim asal Pakistan tak ketinggalan
memberi selamat kepada keduanya.
CHANDRA 206
“Mabruuk a'lannajah,” Ahmeed mengucapkan
selamat berbahasa Arab.
“Syukron lak,” jawab Nafisah yang juga pandai
berbahasa Arab.
Fathur yang tak paham apa yang dibicarakan
keduanya memilih untuk tertawa dan menyambung
dengan bahasa Inggris
“Both of you are the great People. Saya senang
bisa bertemu kalian berdua di sini,” Alex menyambung.
“Alhamdulillah,” Nafisah mengawali dengan
syukur.
“Alhamdulillah,” Ahmeed kemudian ikut
bersyukur.
“Alhamdulillah,” syukur mereka sempurna ketika
Fathur ikut berhamdalah.
Ketiganya kemudian berpisah menemui
temannya masing-masing. Ahmeed disambut oleh
kawanya-kawannya yang perawakan tinggi besar seperti
orang-orang Arab dari negaranya.
207 Ciĩa & Cinĩa
Sedangkan, Fathur dan Nafisah ditemui teman--
teman Mahasiswa PPI-nya. Mereka disambut haru dan
bangga. Memboyong juara 1 dan 2 sekaligus kejuaraan
lomba pidato yang sangat bergengsi di dunia Mahasiswa
Inggris. Semuanya kemudian menyanyikan lagu
kebangsaan Indonesia Raya sebagai tanda
penghormatan dan kebanggaan yang baru saja diraih
oleh dua pelajar Indonesia.
Seusainya, Nafisah ditemui Amanda dan Yahya.
Mereka agak berlari dan terburu-buru. Berlomba
mengucapkan selamat kepada Nafisah. Amanda
memeluk dengan hangat, sedangkan Yahya hanya
menelungkupkan tangan dari agak kejauhan. Rupanya
mereka tidak hanya berdua. Di belakangnya disusul oleh
Alex yang juga ikut menghampiri Nafisah. Dengan sikap
dinginnya, ia juga memberi ucapan selamat. Dihiasi
dengan senyuman beratnya Alex.
“Selamat ya. Kamu wanita hebat. Aku bangga,”
ucap Alex pelan.
“Terima kasih. Alhamdulillah,” jawab Nafisah
singkat.
CHANDRA 208
Nafisah kemudian pulang ke asrama. Dengan
kebanggaan mengukir prestasi gemilang. Ia pulang
dengan membawa banyak pujian dari orang. Tapi, hanya
satu saja yang selama ini ia pegang dalam meraih
pencapaian demi pencapaian. Teruslah belajar, karena
di atas langit pasti ada langit.
209 Ciĩa & Cinĩa
Takut
Berarti Menjaga
Terbalut kisah hidup yang fana
Ternyata hidup tak lebih hanya sandiwara
Kadang rasa manis pahit terasa. Dusta
Balutlah diri dengan perisai
Sederhana saja, jangan berani melanggar
Aturan Tuhan yang dalam tatanan rapi
Menungganginya adalah keselamatan.
CHANDRA 210
Ada banyak ejaan dalam kehidupan. Hingga saat
ini, masih selalu dieja oleh semua orang. Mengeja satu
persatu langkah kehidupan. Memperbaiki satu demi
satu sikap dalam hidup. Hanya karena satu alasan.
Menjadi lebih baik lagi. Dalam hadis Nabi dikatakan,
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin,
maka ia termasuk orang yang beruntung. Jika hari ini
sama saja dengan hari kemarin, maka ia termasuk
orang orang yang merugi. Dan jika hari ini lebih buruk
dari hari kemarin, maka ia termasuk orang orang yang
celaka.”
Begitulah yang dikatakan oleh Nabi kita. Seorang
manusia yang membawa berita baik untuk umat
manusia.
` Hidup adalah satu tantangan. Melewati satu
persatu dinding persoalan hidup hanya untuk hidup
lebih bahagia. Diperlukan berani untuk menghadapi
semua tantangan yang ada. Keberanian yang utuh
seseorang, akan mengalahkan sebesar apapun
tantangan yang ada di depan mata. Karena, berani
adalah kekuatan. Berani adalah menghempas segala
211 Ciĩa & Cinĩa
bentuk kotoran takut yang hanya membuat manusia tak
melakukan perubahan.
Tapi ada kalanya. Berani pun menjadi tumpul.
Tak tajam lagi layak pedang yang tak terasah. Ada waktu
dan tempat tertentu, takut lebih dibutuhkan daripada
berani. Takut lebih baik dari pada berani.
Ketika batasan-batasan hidup telah jelas
dituliskan oleh Allah dalam kitab-Nya. Melalui
serangkaian kalimat-kalimat suci Al-Qur'anul Karim.
Makna yang terkandung di dalamnya, tidak hanya untuk
satu manusia. Tapi, untuk seluruh manusia. Dengannya
hidup menjadi lebih baik tertata rapi. Hidup menjadi
lebih hidup dengan penghidupan-Nya.
Umpamanya singa sang raja hutan, Setiap hewan
takut dengan keganasannya. Keberaniannya sebagai
seorang raja, tak satu pun hewan yang meragukan.
Hewan apapun yang ada, bisa ia mangsa dan dijadikan
jasad terkapar mati.
Namun ketahuilah, bahwa seekor singa yang
berani pun bisa lumpuh keberaniannya. Hanya dengan
CHANDRA 212
satu aturan pemilik yang menjinakkannya. Semisal,
singa tak lagi berani memangsa kancil. Ketika ia tahu,
bahwa kancil itu sahabatnya. Singa tak lagi mampu
menghabisi tikus, ketika ia tahu bahwa tikus itu yang
pernah membantunya di saat dulu ia kesulitan dan
lemah.
Derap langkah yang berarti bagi kita. Adalah
langkah demi langkah menuju jalan yang diridai. Hanya
untuk mendapatkan satu maksud dan tujuan.
Mempersembahkan sikap terbaik kepada Tuhan. Karena
semuanya tahu, bahwa ialah Sang Maha Melihat.
Membuahkan sikap yang baik tidaklah mudah. Meski
semua orang tahu, semuanya butuh proses. Tapi,
salahkah jika proses itu kita perlihatkan dengan sangat
baik?
Masih teringat dengan pujian-pujian halus atas
kemenangan yang diraihnya, Nafisah mencoba untuk
lebih menenangkan diri dan berusaha menjadi hamba
yang tidak sombong dan lebih bersyukur lagi.
Sambil mengingat satu persatu kalimat kalimat
pujian itu, di saat itu pula ia membandingkan dan
213 Ciĩa & Cinĩa
bertanya-tanya, “Pantaskah diri ini menerima semua itu?.
Aku hanyalah seorang wanita yang sejak lama yatim dan
sederhana. Sekolah di sini pun dengan beasiswa,”
ucapnya pada diri sendiri.
Sambil setengah ragu dan percaya, ia menyikapi
semua ini dengan penuh rendah hati dan sadar diri.
Namun siapa sangka, sejak dulu Nafisah sudah dididik
dan diajari untuk bisa menembus cakrawala impiannya.
Semua keterbatasan dan kekurangan yang disebut tadi,
sebetulnya sudah lama ia tak peduli. Namun baginya
penting juga untuk merendahkan diri di hadapan Yang
Maha Kuasa.
Pagi ini Nafisah mencoba berjalan sendiri. Benar-
benar sendiri, tanpa ditemani Nafisah atau Yahya. Ia
hanya ingin akrab dengan kesendirian saat ini. Dan
mencoba menghitung-hitung kenikmatan yang ia
dapatkan sejauh ini.
Penghargaan Minggu lalu yang ia raih, bagi
kebanyakan orang itu adalah kenikmatan yang luar
biasa dan sangat diinginkan kebanyakan orang. Tidak
dengan dengan Nafisah. Baginya semua itu adalah hal
CHANDRA 214
biasa, bahkan mungkin bisa menjadi hina apabila kita
salah menyikapinya dengan berlagak sombong.
Hari ini ia berusaha sekuat tenaga untuk mencari
ketenangan jiwa dan raga. Ia ingin beribadah dengan
tenang dan nyanan. Mengulang-ulang kembali hafalan
Qur'annya yang sejak lama ini jarang ia lakukan. Karena
sibuk mempersiapkan lomba pidato minggu lalu.
Waktu libur kampus yang kosong sengaja ia
pakai. Karena memang setiap tahunnya, setelah ada
kegiatan penting pasti ada liburan. Liburan inilah yang
diharapkan oleh para mahasiswa.
Ketika berjalan keluar asrama, tak sedikit pula
mahasiswa yang ditemuinya. Tak jarang mereka saling
menyapa dengan Nafisah dan tak bosan menjuluki
Nafisah sebagai "The Great Speaker". Karena
penampilannya yang memukau di Minggu lalu.
Penampilan yang mampu mengantarkannya ke tangga
juara.
Ada juga yang mau mengajak Nafisah berjalan-
jalan dan mencoba akrab dengannya. Tapi, Nafisah
215 Ciĩa & Cinĩa
menolak dan lebih memilih merawat niat awalnya. Ya, ia
lebih senang memuroja'ah hafalan-hafalan Qur'annya di
masjid.
Tapi, hal yang mengejutkan pun tiba. Tak
disangka, Nafisah ditemui oleh sekumpulan orang-orang
tak dikenalnya. Wanita dengan dandanan ala Eropa,
mengenakan baju yang agak terbuka. Sepertinya mereka
juga adalah Mahasiswi UCL, karena mereka mengenali
Nafisah dan mengaku melihat dirinya minggu lalu di
panggung kejuaraan.
“Halo! Apakah kamu Nafisah?” tanya salah
seorang dari mereka.
“Iya benar saya Nafisah. Ada apa? Kalian siapa?”
Jawab Nafisah sambil balik bertanya.
“Kamu pasti tak mengenal kita. Tapi jujur saja,
tak ada satu pun dari kami yang tidak mengenalmu
Nafisah,” kata orang tadi.
Salah seorang yang lain dari mereka
menyambung perkataan temannya, “Perkenalkan,
Nafisah. Kami para Mahasiswi dari German. Kemarin
CHANDRA 216
kami mendengar pidatomu tentang ‘Kemanusiaan dalam
Islam’ yang sangat baik. Kami sangat terkagum dan
penasaran. Maukah kamu ikut dengan kami? Tolong
ajari kami sedikit tentang Islam.”
Nafisah yang mendengarnya terdiam sejenak,
sambil mempertimbangkan. Memang awalnya ia mau
pergi ke masjid terdekat, tapi kiranya ia berpikir. Ada
orang yang ingin belajar tentang Islam, “Masa aku
enggak mau mengajarinya?” ujarnya dalam hati.
“Sebentar, tapi kita mau pergi ke mana?" tanya
Nafisah.
Mereka bertiga berkumpul sebentar dan
berbicara secara sembunyi. Nafisah tak mendengarnya
dan tak mau mendengarkan ucapan yang dirahasiakan.
Nafisah tetap berbaik sangka pada mereka. Tapi entah
apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga.
“Kita mau ajak kamu ke asrama kami. Jaraknya
sekitar 1 jam dari sini ke arah barat,” ujar salah saru
dari mereka.
217 Ciĩa & Cinĩa
“Iya, Nafisah. enggak jauh, kok. Nanti pulangnya
kami akan antar lagi ke asramamu,” sambung teman
yang lainnya.
Nafisah selalu bersemangat untuk mengajarkan
ilmu agama kepada siapapun dan kapanpun. Maka ia
tidak bisa menolak ajakan dari ketiga wanita itu. Nafisah
kemudian mengangguk tanda setuju dan mau bersama
mereka. Mereka tentu senang dan berterima kasih
kepada Nafisah.
Tapi anehnya, salah satu dari mereka ada yang
tersenyum kegirangan, lalu memberi kode dengan
mengangkat alis kepada teman lainnya. Pertanda tidak
baik. Nafisah lalu diajak masuk ke mobil mewah, milik
salah satu dari mereka.
Nafisah dipersilahkan dan duduk di kursi depan,
tanda menghormati. Lainnya duduk di belakang dan
yang satu menyetir di depan dengan Nafisah. Sopir mulai
menginjak gasnya untuk bisa melaju.
Dua orang di belakang seperti tersenyum-senyum
tanda gembira. Yang satu di depan juga tersenyum
CHANDRA 218
sambil melihat spion atas untuk melihat dua temannya
di belakang yang juga tersenyum.
Nafisah melirik ke arah luar jendela. Ia melihat
seseorang duduk seperti memperhatikan dan melihatnya
sejak tadi. Seseorang itu terlihat bermuka sedih, Nafisah
heran dan tak tahu apa yang dipikirkan bapak itu.
Setelah, beberapa lama dan agak menjauh, laki-laki itu
berteriak kencang sambil melihat fokus ke arahnya.
“Be carefull, ooo kind women!” teriaknya.
Nafisah mendengarnya jelas. Tapi ia tetap tak
paham apa maksudnya. Yang ia tahu kini, hanyalah
bahwa ia bersama dengan ketiga wanita yang berniat
baik, ingin belajar Islam bersamanya. Sesuai yang
mereka minta tadi.
Dengan kesucian hatinya, Nafisah tetap
mempertahankan kebersihan hati. Ia tak berani
berburuk sangka bahkan mencurigai mereka, dengan
alasan apapun. Nafisah hanya mencekal kata waspada
dalam hatinya, bahwa apapun yang terjadi ia yakini
219 Ciĩa & Cinĩa
bahwa niatnya baik dan Allah akan membalasnya
dengan kebaikan pula.
Setelah beberapa menit mereka melaju dengan
mobil itu, Nafisah sama sekali tak mengenali jalur dan
jalan yang ditempuh. Pertama kalinya Nafisah melewati
jalur yang ia lihat terlihat sepi. Dengan rasa penasaran,
kali ini Nafisah merasa perlu untuk bertanya. Karena,
sejak dari tadi Nafisah merasakan hal berbeda dengan
jalur dan jalan yang dilaluinya.
“Sebenarnya kita mau pergi ke mana? Asrama
kalian jauh ya?” Nafisah bertanya dengan ramah.
Mereka terlihat saling melirik satu sama lain,
seperti ada yang disembunyikan.
“Oh iya, Nafisah. Kebetulan asrama kami agak
jauh. Tapi tenang saja sebentar lagi kita akan sampai,”
ujar wanita yang sedang menyetir mobil.
“Tapi kok aku baru tahu ya, jalan sini.
Sebelumnya jujur saja, aku belum pernah lewat sini.
Dan juga kenapa ya jalananya terlihat sangat sepi?”
Nafisah kembali bertanya.
CHANDRA 220
“Begitu ya? Kebetulan kalo begitu. Sambil kamu
belajar menghafal jalanan-jalanan di London sini. Ini
memang jalananya sepi. Mungkin karena jalannya
banyak hantu,” jawab wanita itu sambil beralasan.
Temanya yang di belakang tak kuasa menahan
tawa. Begitupun teman yang di sampingnya. Mereka
tertawa-tawa seperti ada lagak lucu yang ia lihat.
“Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu ya?” tanya
Nafisah.
Sepertinya perjalanan sudah selesai, mereka
sudah sampai ke lokasi yang dituju. Tempatnya begitu
sepi dan jarang sekali ada orang. Hanya terlihat
beberapa lelaki dengan mencekik botol minuman keras
dengan mata merahnya. Tempat sampah yang
berserakan tidak rapi di pinggir jalan menambah
suasana tak bersahabat, tak jarang tikus kecil berlarian
di sekitaran mereka.
“Kita sudah sampai? Di mana kita? Asrama kalian
masa seperti ini?” Nafisah bertanya kebingungan.
221 Ciĩa & Cinĩa
Tak satu pun dari mereka yang mau mendengar
dan menjawab pertanyaan Nafisah. Mereka acuh dan
berpandangan sinis terhadap Nafisah. Suasana tak baik
mulai dirasakan Nafisah. Kali ini, ia merasa boleh untuk
mencurigai apa yang ada.
Kejadian aneh dan tak biasa sejak tadi, membawa
Nafisah ke tempat yang sama sekali tak ia kenali selama
ini. Tadinya Nafisah membayangkan suasana yang
menyenangkan dengan belajar ilmu agama Islam. Ia
sudah sangat senang dan bersyukur sejak tadi. Tapi,
semua itu seakan termakan rapuh oleh kejadian-
kejadian aneh yang ia lihat sampai saat ini.
Rupanya mereka membawa Nafisah ke ruangan
gelap penuh misteri dan rahasia. Wanita berjilbab itu
ketakutan. Ia tak biasa melihat suasana seburuk ini.
"Tempat apa ini?” tanya Nafisah,
“Ini tempat spesial buat kamu, Nafisah,” jawab
salah satu dari mereka. Dua yang lain mentertawakan.
“Maksud kalian apa?”
CHANDRA 222
“Ikuti saja kami, Nafisah. Kamu akan baik-baik
saja.”
Dengan langkah pasti Nafisah memilih untuk ikut
dan mengikuti kemauan mereka. Pintu yang agak kotor
seperti tak pernah diurusi itu, ia lewati dengan pasti.
Hatinya bertanya-tanya, “Kenapa ruangannya begitu
gelap?”
Tiba-tiba datang seorang berbaju hitam penuh
dengan tato serta memakai rantai di celananya. Sambil
mencekik botol besar, ia terlihat Ling Ling tak sadar,
menyenggol Nafisah dari belakang. Nafisah terkejut,
sekaligus merasa aneh dan penasaran.
“Tempat apa sebenarnya ini?” ucapnya dalam
hati.
Semakin jauh Nafisah masuk ke dalam, semakin
ia mendengar suara yang bising. Seperti suara DJ dan
musik musik barat, biasa diputar di pesta-pesta. Suara
itu semakin keras terdengar olehnya. Ternyata masih
ada satu pintu lagi, tapi pintu kali ini terlihat bagus dan
bersih. Berbeda dengan pintu yang tua dan terlihat kotor
223 Ciĩa & Cinĩa
tadi. Ia mencurigai sumber suara musik itu berasal dari
dalam pintu itu. Ya, Nafisah semakin yakin karena
mendengarnya begitu jelas. Ketiga wanita yang mengajak
Nafisah dari tadi bersikap biasa saja.
“Kita kan mau belajar agama, tapi kenapa kita
masuk ke ruangan ini? Saya seperti mendengar suara
musik yang keras dari dalam sini. Tidak mungkin kita
masuk dan belajar di dalam sana,” ujar Nafisah kepada
ketiga wanita di sampingnya.
Lagi lagi, tak satu pun dari mereka yang
menanggapi Nafisah. Hanya lirikan dan reaksi kecil yang
mereka tunjukkan. Nafisah tetap menjaga prasangka
baik, diselimuti waspada yang tetap ia tak reaksikan,
takut mereka tersinggung.
Benar saja, hanya ada satu pintu lagi di sana.
Pintu yang terdengar suara bising musik DJ seperti ada
pesta. Nafisah menghentikan langkahnya. Ketiga wanita
itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa sadar bahwa
Nafisah mengikutinya lagi.
CHANDRA 224
Salah seorang dari mereka kemudian membuka
pintunya. Nafisah sangat terkejut dan takut. Dengan
muka yang cemas, serta hati yang sedikit khawatir, ia
melihat sekumpulan orang yang sedang berpesta sambil
mencekik botol minuman keras. Ya, tak salah lagi,
baunya sudah sangat tercium jelas.
Sekumpulan orang lainya, terlihat sedang
bermain-main antara satu laki laki dikerumuni banyak
wanita seksi. Pakaiannya benar-benar kelewatan dan tak
pantas untuk dikenakan. Salah satu dari ketiga wanita
itu baru menyadari bahwa Nafisah tak jauh di belakang
mereka, namun masih terlihat.
“Wanita itu di belakang. Tadi ia menghentikan
langkahnya. Dan mengikuti kita lagi,” ujar salah seorang
wanita tadi.
Wanita yang anggun dengan hijab dan pakaian
yang serba tertutup itu tahu. Apa yang harus ia lakukan.
Ia mesti berlari keluar dan menjauhi tempat yang laknat
ini.
225 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah baru menyadari juga, bahwa wanita itu
mulai meliriknya lagi. Nafisah langsung kaget, dan tak
lagi percaya dengan mereka bertiga. Sekuat tenaga
Nafisah lari keluar dari ruangan itu, lorong yang agak
panjang mesti ia lalui agar bisa keluar. Dua wanita
mengejar Nafisah
“Kejar, tangkap wanita muslim itu! Cepat!” ujar
seorang wanita yang tadi membuka pintu,
memerintahkan dua teman lainya, yang sepertinya
adalah pengikutnya.
Mereka kejar-kejaran. Dengan perasaan cemas
dan takut, Nafisah tetap berusaha lari menjauh dari dua
orang yang mengejarnya. Namun sayang, Nafisah
kesulitan berlari. Sehingga dua wanita yang
mengejarnya berhasil mengejar Nafisah, karena larinya
yang kencang. Ada perasaan takut yang amat dalam
dalam hati Nafisah. Bukan takut, pada wanita yang
mengejarnya. Tapi, takut akan terjerumus pada hal hal
yang dilarang oleh Allah. Mengingat ia sadar bahwa ia
sedang di tempat yang jauh dari kata baik.
CHANDRA 226
Kerudung Nafisah kemudian ditarik erat dari
belakang. Nafisah tak mampu terus berlari, takut akan
terlepas hijabnya yang panjang. Ia berhenti walau
akhirnya dapat dikejar oleh dua wanita yang
mengejarnya. Dengan sikap yang keras dan garang,
mereka memegang erat tangan Nafisah dan
membawanya kembali. Tak seperti tadi, yang sangat
ramah tamah memperlakukan Nafisah. Rupanya ini
sebenarnya sebuah jebakan.
“Ayo wanita muslimah. Ikut kami, jangan
melawan!” ucap salah satu wanita yang mengejar
Nafisah tadi.
“Kalian mau apa sebenarnya? Apa maksud
kalian?” Nafisah bertanya dengan nada yang agak tinggi.
“Jangan banyak bicara, ikut saja!” ujarnya
dengan nada menyentak.
Selama ini, sejauh ini. Nafisah selalu berusaha
keras untuk menghindari dan menjauhi perbuatan-
perbuatan keji yang melanggar aturan Allah, apalagi
singgah di tempat pusat terjadinya perbuatan keji itu.
227 Ciĩa & Cinĩa
Takut, benar-benar ketakutan Nafisah. Mukanya
cemas memerah dan sedikit mengeluarkan air mata.
Sambil mengucap istighfar, Nafisah mencoba
melepaskan diri, tapi susah tidak bisa.
“Astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim
astaghfirullahaladzim. Ya Allah ampuni hamba, Ya
Allah,” ucap Nafisah dengan ketakutan yang sangat.
Nafisah tetap berusaha meyakini sepenuh hati, bahwa
Allah tak akan membiarkan hambanya yang terdzholimi.
Kurang lebihnya 5 langkah lagi, Nafisah dengan
dibawa dua wanita itu akan masuk ke pintu tempat yang
keji itu. Wanita yang berdiri di depan pintu itu,
tersenyum tanda yakin dan percaya. Wanita muslimah
itu pasti akan terkejar.
Tak disangka, tiba-tiba seorang laki laki
menerkam mereka dari belakang, kecuali Nafisah. Dua
wanita yang memegang Nafisah tersungkur ke tanah dan
terjatuh keras.
“Bulshit, siapa kamu?” ujar wanita yang terjatuh
tadi.
CHANDRA 228
Semua orang, termasuk yang di dalamnya ikut
terbawa perhatiannya. Melihat jumlahnya yang banyak
lelaki itu memilih untuk langsung lari dan pergi
membawa Nafisah keluar. Rupanya dia tak sendiri, di
belakangnya, juga terdapat pria yang mungkin
memberdayakan pria tersebut.
Mereka pun berlari sangat kencang. Nafisah tak
sempat melihat wajah pria yang menolongnya tersebut.
Tepat di depan ruangan itu, sudah terparkir mobil taksi
yang sudah menunggu. Mereka bertiga pun masuk, dan
supirpun langsung menancap gas, menjauh dari tempat
keji itu.
Nafisah baru menyadari. Ternyata pria yang
menolongnya adalah Yahya, temanya sendiri. Pria yang
satu lagi pun seperti Nafisah kenal. Tapi ia agak lupa,
“Seperti pernah melihat wajahnya. Tapi di mana ya?” ujar
Nafisah dalam hati.
“Bapak yang tadi dijalan itu, kan?” Nafisah
bertanya dan baru menyadari bahwa ia melihatnya tadi
ketika hendak berangkat bersama ketiga perempuan
yang mengajaknya tadi.
229 Ciĩa & Cinĩa
“Iya betul, Nak,” jawab pria itu. Rupanya pria itu
seorang bapak-bapak dari perawakannya ia terlihat
sudah agak lebih tua dari Yahya.
“Dan Yahya? Kenapa kamu bisa tahu aku di
sini?” tanya Nafisah penasaran.
“Bapak itu yang menunjukan aku ke sini.
Namanya Pak Okta.”
Kalung salib tergantung di leher pak Okta.
Sayatan tajam dari wajah Nafisah terkesan buruk
merasa curiga dan aneh. Ternyata Pak Okta adalah
orang penting bagi umatnya. Tapi, bukan umat muslim.
Dia pendeta di salah satu gereja besar di London. Merasa
kurang enak, bagaimanapun pak Okta telah
menyelamatkan Nafisah dari tempat terlaknat itu.
Tiga wanita yang berpura–pura itu, teramat
biadab. Penipu saja, ia ingin mencoba menurunkan
harkat dan martabat seorang wanita terhormat.
“Kamu baik baik saja?” tanya Pak Okta spontan
betanya dengan logat yang khas.