CHANDRA 230
Orangnya sangat ramah, baik dan mengayomi.
Benar saja, kesehariannya menjadi seoang guru bagi
umatnya nampak jelas tergambar pada tingkah polanya
yang dewasa, baik hati, dan santun. Spontan wajah
Nafisah berseri mencambuk dirinya yang telah sdikit
berburuk sangka. Padahal kepada non-Muslim
sekalipun harus tetap menghormati.
“Alhamdulillah. Baik,” jawab Nafisah tak sadar.
“Apa? Alham?”
Tak sadar pada ucapannya. Ternyata Nafisah tak
sengaja bersikap intoleran.
“Maaf, Pak. Maksud saya ... saya baik-baik saja.”
Agak canggung Nafisah berbicara, takut ada hal
buruk yang terjadi selanjutnya. Tapi apapun yang
terjadi, Pak Okta pahlawan baginya atas izin Allah.
“Jadi begini, Pak Okta ini sudah lama saya kenal.
Kebetulan dia juga tahu teman-temanku termasuk kamu
Nafisah yang sering kuceritakan padanya. Tadi, Pak okta
tak sengaja melihat kamu didatangi tiga perempuan tadi
231 Ciĩa & Cinĩa
itu. Pak Okta tahu persis siapa mereka. Dan apa yang
mau mereka lakukan padamu. Kata Pak Okta, dia sudah
sempat berteriak memanggilmu dan melambaikan
tangan padamu, tapi mungkin tadi kamu tak
melihatnya.”
“Astaghfirullohaladzim. Jadi, tadi itu ”
Yahya sambung bercerita,”Karena tahu bahwa
kamu temanku, Pak Okta langsung menelponku.
Kebetulan sekali aku lagi naik taksi dan berada tak jauh
dari tempat Pak Okta. Aku pun langsung menyuruh
taksi untuk menuju tempatnya Pak Okta. Pak okta
langsung naik dan menunjukan kami arah ke mana
kalian akan pergi. Pak Okta sudah tahu betul bahwa
mereka akan membawamu ke tempat itu. Di tengah
perjalanan, Pak Okta sambil menceritakan apa yang
terjadi. Untungnya kami tiba di waktu yang tepat dan
keburu menyelamatkanmu dari mereka.”
Begitulah Yahya menceritakan hal yang terduga
dalam menyelamatkan nyawa serta kehormatan Nafisah.
Jasanya sangat penting bagi Nafisah. Hari itu, hari yang
tak pernah ia duga sebelumnya.
CHANDRA 232
“Makasih banyak ya, Yahya dan Pak Okta. Jika
tak ada kalian mungkin saya sudah masuk ke tempat
itu,” Nafisah berterima kasih pada mereka.
Pak Okta dan Yahya tersenyum. Keduanya sudah
tahu betul bagaimana akhlak baik Nafisah. Pak Okta
sudah tahu banyak tentang jasa-jasa Nafisah bagi orang
orang di sekelilingnya, termasuk ketika menyelamatkan
nenek Angelina.
Sejak dulu Pak Okta ingin tahu tentang Islam.
Perkembangan pesatnya di London membuat ia ingin
banyak tahu. Konon katanya, Islam mengajarkan
perdamaian dan akhlak yang baik. Pak Okta juga ingin
belajar dari Nafisah.
Taksi yang ditumpangi mereka sudah sampai
tepat di depan asrama Nafisah. Amanda dan teman yang
lainnya sedang membersihkan asrama di luar. Nafisah
pun turun, lalu berterima kasih kepada Yahya dan Pak
Okta, juga sopir taksi.
“Nafisah. Ke sini sebentar,” panggil Pak Okta dari
dalam sambil membuka setengah jendela.
233 Ciĩa & Cinĩa
“Ada apa, Pak?”
“Ini alamat gereja saya. Minggu depan tolong
temui saya di alamat ini.”
“Maksudnya,Pak?”
“Buat saya jatuh cinta pada Islam lebih dalam.
Saya pamit dulu ya.”
Sebetulnya Nafisah tak tahu menahu apa
maksudnya. Tapi, apapun itu Nafisah memenuhi
permintaannya.
Nafisah melamun.
“Nafisah. Jangan melamun ayo ke sini. Kami tadi
sudah masak. Kamu lapar, kan?” teriak Amanda dari
jauh.
Nafisah langsung tersadar dan bergegas pergi ke
asrama.
“Iya, Amanda. Aku lagi rindu masakanmu.”
CHANDRA 234
Hidayah Kedua
Lagi, cahaya dalam hati tak datang sendirinya
Berusahalah, agar cahayanya kau raih
Di sini dan kelak nanti di kehidupan yang hakiki
235 Ciĩa & Cinĩa
Toleransi dalam beragama di negeri Ratu
Elizabeth sudah menjadi kewajiban bagi setiap
warganya. Keberagaman ras, suku, warna kulit, dan
agama menjadi bumbu konflik yang rawan terjadi di
sana. Mereka yang intoleran tak jarang menyakiti dan
mem-bully orang yang tak sejalan dengan dirinya.
Penindasan dan pelecehan kerap mengotori
jalanan yang justru secara kasat mata. Kota London
sangatlah bersih dan rapi. Namun, kotoran-kotoran
berwujud niatan dan tingkah kejahatan masih saja
membuat polisi tak bisa istirahat.
Hari ini adalah hari Minggu. Setiap agama punya
hari-hari tertentu yang menjadi hari raya mingguannya.
Seperti, Jumat untuk orang Islam. Dan tepat hari ini,
Minggu bagi umat kristiani.
Seperti biasanya, umat Kristen yang taat bergegas
menuju gereja untuk beribadah. Ibadah mingguan ini
sudah menjadi rutinitas bagi mereka. Tapi, tak
semuanya. Seperti yang lainnya, tak semua umat Kristen
taat. Banyak juga yang mengabaikan harinya untuk
beribadah dengan bermalas-malasan saja di rumah,
atau memilih untuk menghabiskan waktu untuk
CHANDRA 236
sekedar santai. Ada juga yang memilih untuk fokus pada
urusan dunianya merawat bisnis-bisnisnya dengan
tekun. Tanpa peduli akan ibadahnya.
Bagi umat Islam menjaga silaturahmi sangatlah
penting. Kepada sesama muslim, sekalipun kepada non-
Muslim. Berusaha menjadi hamba Allah yang taat dan
menjalankan perintah-Nya. Karena prinsip dari pada
agama Islam itu sendiri adalah sebagai rahmatan lil
‘aalamiin (Rahmat bagi seluruh alam). Maka bisa
diartikan, bahwa kepentingan agama Islam bukan hanya
sekedar masalah ritual ibadah, namun sosial pun jelas
menjadi penerapan.
Dalam Islam, berbuat baik itu kepada siapa saja,
tolong menolong pun begitu maksudnya. Tak pandang
warna kulit, atau kebangsaan apalagi agama. Siapapun
yang membutuhkan pertolongan, atas nama
kemanusiaan mestilah bersama kita bantu. Sudah
menjadi dasar bagi kita sebagai makhluk sosial, bahwa
kita tak bisa hidup hanya sendiri saja, tanpa bantuan
dari orang lain.
*****
237 Ciĩa & Cinĩa
Hari Minggu. Inilah hari suci bagi orang-orang
Nasrani. Pergi ke gereja, merupakan rutinitas bagi
mereka. Tanpa terkecuali. Sebagaimana manusia, tak
semuanya baik, tak semuanya mau mendengarkan,
intinya tak semua taat. Banyak juga yang begitu
membuka mata, matahari sudah naik agak tinggi.
Bermalas-malasan, mungkin karena lelah di malam
harinya, karena kebanyakan dari mereka senang sekali
bepergian di malam minggu bersama pasangannya.
Entahlah, apa yang mereka lakukan. Mungkin hanya
bermain di pusat kota. Atau lebih seru dari itu? Entah.
Sepatu sport yang ia beli dua tahun lalu ternyata
masih bagus. Warnanya agak variatif dan menceriakan.
Memang seperti kekanak-kanakan, tapi tidak apa-apa,
hanya itu yang Nafisah punya. Tak mungkin ia
meminjam pada temannya, mereka memakainya juga
secara bersamaan.
Amanda melamun. Agak lama, sambil
memperhatikan Nafisah yang sedang sibuk
membersihkan sepatu lamanya itu. Amanda masih
melamun, entah berapa lama.
CHANDRA 238
“Amanda! Agak cepatlah kau bergerak, Ayo ambil
sepatumu!” ujar Nafisah bernada tinggi. Amanda pun
menghentikan lamunannya spontan. Sejak Nafisah
memerintahkannya untuk bergegas. Tapi, Amanda
masih menyimpan tanda tanya dalam hatinya. Ada apa?
Keduanya sudah siap. Seperti biasa mereka suka
sekali pergi berdua. Seperti pasangan memang, meski
sampai saat ini keduanya belum juga menemukan
pasangan hidupnya.
Bagi Nafisah sudah ada yang berani ingin
memilikinya, sayangnya gagal. Ucapan Abi Mahmud
masih menjadi misteri. Sesekali pertanyaan muncul
dalam awang pikiran Nafisah, spontan tak peduli
memilih untuk pasrah dan menuruti, apapun dan
siapapun. Meski ada satu nama dalam hati.
“Aku enggak habis pikir. Kenapa kamu tiba-tiba
mengajakku berolahraga pagi di hari Minggu? Bagi orang
lain memang biasa, tapi tidak bagimu. Jumat. Ya
biasanya kau berolahraga di hari Jumat,” tanya Amanda.
239 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah tak langsung menjawabnya. Mencari
jawaban yang lebih tepat, meski tak ada alasan apapun.
“Fisah?”
“Eh, enggak apa-apa, kok. Enggak ada apa-apa,
pengin saja.”
Tak ada alasan apapun memang yang
diceritakan. Hanya saja ada satu rasa penasaran bagi
Nafisah. Pendeta yang pernah membantunya dulu, ingin
sekali Nafisah menemuinya sebagai tanda terima
kasihnya. Meski di gereja, tapi ini satu-satunya cara
untuk menemuinya. Mengingat dulu ia pergi, tanpa
memberitahuku apapun tentang dirinya.
“Gereja.”
Nafisah spontan bicara, setelah menyusun
rencana kegiatannya sendiri dalam pikiran.
“Maksudmu?” Amanda kebingungan.
Tak sengaja memang Nafisah mengatakannya.
Dan, tak sadar Amanda di sampingnya yang lugu dan
CHANDRA 240
tak tahu apa-apa tentang yang ada dalam pikiran
Nafisah. Nafisah tak menjawab, tertawa kecil saja.
“Kita mau pergi ke gereja?”
Amanda lugu. Biasa memang dirinya berkata
ceplas-ceplos, dan menebak apa yang dilakuakn Nafisah.
Sering kalinya keliru, tapi benar untuk kali ini.
Nafisah mengangguk, memberi tanda ucapannya
tak keliru. Tapi tak ia lanjutkan dengan kemudian
menjelaskan maksud dan tujuannya. Membingungkan
bagi Amanda memang. Meski sudah berkali-kali Amanda
mempertanyakan. Simpel Nafisah menjawabnya, tanpa
menjelaskan.
“Kau sudah gila, Nafisah? Kita mau apa?”
Nafisah semakin enggan menjelaskan. Amanda
semakin ngawur dalam berkomentar. Cerewet memang.
“Sudah ikuti saja aku. Nanti kau tahu.”
Kali ini Nafisah menjawab dengan kalimat agak
panjang. Spontan menghentikan bicara Amanda. Agak
marah memang, meski tak biasa Nafisah melakukannya.
241 Ciĩa & Cinĩa
Sekitar lima belas menit mereka berdua jogging.
Cuaca masih sangat dingin, meski jaket tebal keduanya
mencoba menghentikan. Tetap saja dingin. Orang-orang
pun demikian, kebanyakan mereka membawa syal dan
mengulungkannya di leher lalu memakai kupluk tebal di
atas kepala. Sarung tangannya juga tidak lupa.
Ada banyak hal yang menarik tentang London.
Orang-orang berkulit hitam misalnya. Kebanyakan
nenek moyangnya adalah imigran dari Afrika atau
Maroko. Paling menarik adalah jubah dan peci yang
mereka kenakan mencirikan kesalehan mereka.
Setengahnya dari muslim di sini kulitnya seperti mereka.
Meski banyak yang mempermasalahkan dengan kulit
mereka. Tapi mereka tetap hebat dan sabar dalam
menghadapinya.
Inggris juga terkenal dengan dunia olahraga
sepak bolanya. Konon dari negeri inilah sepak bola
terlahir. Liga primer Inggris sering menjadi sorotan dunia
dengan penampilan apik dari klub-klub besar yang
terkenal di Inggris. Chelsea, Liverpol dan Arsenal dua
klub yang bermarkas di London itu juga merupakan klub
CHANDRA 242
besar yang sering diperhitungkan. Tak jarang di
Indonesia pun anak-anak, pemuda, hingga orang tua
pun mengenakan jersey seperti mereka.
Baru-baru ini, Inggris sedang dihebohkan dengan
kehadiran salah seoang pesepak bola muslim asal negeri
Kinanah Mesir. Mohammad Salah bersama klubnya
Liverpool yang berhasil melambungkan namanya dan
menjadi idola banyak orang. Lihai memang dalam
mengolah si kulit bundar. Membuat banyak pujian
datang padanya.
Ternyata, permainannya tak hanya sebagai
tontonan saja. Lebih dari itu adalah dakwah Islamnya.
Hari ini, banyak cara untuk mengenalkan Islam kepada
dunia. Olahraga salah satunya. Ketika usia mencetak gol
ke gawang lawan, salah satu pemain dengan
kerendahhatiannya spontan sujud. Bersyukur semata-
semata semuanya terjadi ataas kehendak Allah.
Sikapnya brilian menjadi kebanggan bagi berbagai
lapisan masyarakat. Terutama pendukung Liverpool dan
umat Islam seluruh dunia. Sampai–sampai penonton
pun membuat sebuah nyanyian.
243 Ciĩa & Cinĩa
Ada banyak lagi tentang hal menarik di negeri ini.
Khususnya tentang agama Islam yang mungkin banyak
orang tak mengetahuinya.
*****
Sudah sangat jauh kaki melangkah. Amanda
mengeluh karena kakinya yang sudah pegal berjalan
sejak tadi. Nafisah menanggapinya santai saja. Jaraknya
tak jauh lagi, mungkin beberapa puluh meter lagi sampai
ke alamatnya.
Tak lama pun ucapan Nafisah benar. Dari
kejauhan mereka sudah melihat patung salib di atas
bangunan. Bangunannya sangat megah dan tinggi, khas
dengan gaya bangunan Eropa. Di parkirannya,
kendaraan-kendaraan para jemaat banyak berjejeran
rapi. Tak lama, kemudian puluhan orang berpakaian
rapi keluar dari gereja itu. Tepat sekali, Nafisah dan
Amanda datang di waktu yang tepat. Acara mingguan
orang–orang Nasrani sudah selesai. Menandakan
Nafisah bisa bertemu dengan Pak Okta.
CHANDRA 244
Semakin dekat keduanya berjalan ke arah gereja.
Ada banyak penjaga serta petugas keamanan yang
menjaga di sekitaran gereja. Wajah mereka tertatap tak
sedap, tanda ada yang tak disukai. Nafisah
memperhatikannya mencoba memeriksa apa yang salah
pada dirinya dan Amanda. Mereka mendekati Nafisah
dan Amanda bermuka garang.
Nafisah ketakutan, Amanda apalagi. Nafisah baru
sadar seketika. Ia berada dikawasan non-Muslim.
Sementara hijab syarinya terpasang rapi di kepalanya.
Nafisah rasa itulah penyebabnya. Rasa risih seketika
pergi jika itu yang dipermasalahkannya. Tak takut,
bahkan siap memberi argumen.
Petugas keamanan sangat garang dan berwajah
kejam. Tak tanggung–tanggung, mereka langsung
menghina, mencerca, dan merendahkan mereka berdua.
Hijabnya sangat mengganggu mereka, mereka sepertinya
tak mau menerima umat beragama kecuali seperti
mereka.
Nafisah tak gentar meski mereka semua masing–
masing memegang alat pemukul. Nafisah tetap berani
245 Ciĩa & Cinĩa
dan berterus terang kepada mereka tentang maksud dan
tujuannya datang ke sini.
“Maaf, Tuan. Kami mau bertemu dengan Bapak
Okta.”
Tegas Nafisah menguarakan maksudnya. Tak
ragu. Petugas keamanan tertawa. Tak percaya. Bahkan
mereka mengolok-olok dan mempermainkan.
“Bertemu Pak Okta? Siapa kalian, berani
beraninya menyebut ingin bertemu Pendeta kami.”
Jawaban mereka arogan, tak enak didengar
seperti tak ada sedikit pun prasangka baik pada Nafisah
dan Amanda. Nafisah bersiku keras meyakinkan mereka
dengan berbagai cara. Tetap saja, mereka
menganggapnya hanya sebuah lelucon.
Lama kemudian mereka pun geram karena
Nafisah dan Amanda tak kunjung beranjak dari
tempatnya untuk pergi. Mereka pun terbakar emosi,
berniat melukai Nafisah. Kepalan tangan mereka mulai
erat, lalu memukulkannya ke tangan satunya lagi,
seperti orang yang ingin berkelahi.
CHANDRA 246
Tongkat pun mereka angkat ke atas dan
melayangkannya ke arah Nafisah. Nafisah siap-siap
melindungi kepalanya dengan kedua tanganya sambil
meringgis.
“Stop! Jangan sakiti mereka! Kembali kalian ke
posko jaga! Biarkan mereka!”
Pak Okta datang di waktu yang tepat. Tepat
tongkat tak sempat sedikit pun menyentuh tubuh
Nafisah. Mereka langsung menghentikannya karena
intruksi dari Pak Okta.
Pak Okta adalah orang yang didengar. Mereka
semua adalah bawahannya. Tak mungkin menantang
perkataan Pak Okta. Tak butuh waktu lama mereka pun
langsung kembali ke tempatnya
Pak Okta melambaikan tangan kepada mereka.
Nafisah membalasnya sambil tersenyum. Amanda kaget,
dikira Nafisah belum mengenalinya. Mereka disambut
baik oleh Pak Okta, lalu menanyakan kabar kepada
Nafisah, begitu pun Nafisah kepada Pak Okta. Tak lupa,
247 Ciĩa & Cinĩa
Nafisah juga mengenalkan Amanda yang menemaninya
untuk memenuhi permintaan Pak Okta.
“Maaf, Pak. Saya belum terlalu paham. Apa
maksud bapak, ‘mengenalkan Islam’ kepada Bapak?”
Langsung tertuju pada maksud awalnya. Nafisah
memang belum paham apa yang akan dilakukannya hari
ini. Ia hanya diminta memenuhi permintaan dan
memenuhinya. Tak lebih, ditambah catatan kegiatan
yang kosong setelahnya. Karena tak tahu apa yang
dimaksud Pak Okta.
“Mari ikut saya.”
Tak banyak basa basi, begitu pun Pak Okta. Ia
langsung mengajak mereka ke ruangannya. Di dalam
gereja itu ada ruangan khusus untuk pendeta. Tak
sembarangan orang boleh masuk. Nafisah dan Amanda
diajak masuk tempat itu.
Nafisah tetap waspada dan tetap berpegang
teguh pada akidahnya. Tak goyah meski berjejeran
patung-patung salib di sekitaran gereja. Ia mencoba
menghormati Pak Okta karena sempat menolongnya.
CHANDRA 248
Tapi, Nafisah yakin ada hal baik disini. Sepertinya kali
ini benar, Pak Okta ini tak seperti tiga wanita itu. Ini jauh
lebih baik. Terlihat dari sikap dan akhlaknya yang baik.
Mereka masuk ke ruangan itu. Tempat tinggal
pendeta, tempat suci bagi mereka. Banyak sekali hal hal
berbau agam kristen di sana. Tapi, di atas meja terlihat
beberapa buku buku Islam yang terjejer rapih.
“Itu buku-buku bapak?” tanya Nafisah sambil
menunjuk pada buku Islam di atas meja.
”Iya betul. Itu buku-buku saya,” jawabnya.
Nafisah bingung. Tak paham apa yang
sebenarnya terjadi dan apa maksud Pak Okta ini. Dia
adalah seorang pendeta, namun bagaimana bisa seorang
pendeta di atas mejanya terdapat banyak buku buku
Islam seperti tata cara ibadah, salat, dan lain
sebagainya?
“Apa sebenarnya maksud, Bapak? Nafisah tak
paham, Pak?” Tanya Nafisah tak sabar. Karena begitu
banyak hal-hal yang membingungkannya.
249 Ciĩa & Cinĩa
Sambil tersenyum manis, Pak Okta menghela
Nafas untuk kemudian menceritakan maksud
sebenarnya.
“Asal kamu tahu, Nafisah. Sebenarnya saya
sudah lama mengenal Islam. Dan ada sedikit
ketertarikan saya pada Islam. Sehingga sengaja saya
membeli dan membaca buku-buku ini untuk
mempelajarinya. Tak banyak memang yang saya ketahui
tentang agama ini. Yang jelas jujur, saya baru benar-
benar jatuh cinta pada Islam, setelah saya banyak tahu
tentang kamu, Nafisah. Kebaikan kamu pada nenek
Angelina adalah awal saya mulai jatuh cinta pada Islam.
Pidato kamu di kampus itu, menambah setengah cinta
saya pada agama ini. Dan terakhir, ketulusan kamu
mengajari orang orang walaupun mereka bersikap buruk
padamu, seperti apa yang dilakukan ketiga wanita itu
padamu, menyempurnakan kecintaan saya pada Islam.”
Beliau menghela napas sebentar.
“Nafisah, saya ingin bersyahadat. Tolong temani
saya dan bimbing saya untuk mengucapkan dua kalimat
syahadat untuk kemudian saya menjadi bagian dari
CHANDRA 250
agama yang damai ini. Kesediaan kamu memenuhi
permintaan saya minggu lalu, sudah lebih dari sekedar
mengajari saya tentang Islam. Kuatnya komitmen kamu
pada janji yag kau ikrarkan, sudah menjadi lebih dari
sekedar yakin kepadamu.”
“Saya ingin bergabung ke dalam agama yang
penuh keberserahdirian. Bantu dan bimbing saya.”
Tak disangka. Cerita yang diutarakan Pak Okta
mengejutkan Nafisah. Senang menyatu dengan
bersyukur. Segala kebaikan Nafisah secara diam-diam
ternyata menjadi dakwah bagi siapapun yang mata
hatinya terbuka. Tak pandang bulu hidayah
menghampiri. Karena hidayah mutlak Allah yang
berikan. Kebaikan Nafisah telah menjadi mata air dan
jalan kebenaran bagi Pak Okta. Tanpa disadari, tanpa
disengaja.
Posisi pak Okta sebagai seorang pendeta kini,
sempat ditakutkan Nafisah akan dampaknya. Bukan
apa-apa, ini demi keselamatan pak okta. Walaupun niat
Pak Okta sangat baik, tapi ia juga harus hati hati.
251 Ciĩa & Cinĩa
Ditakutkan ada hal yang tak diinginkan terjadi pada pak
Okta.
“Apa Umat kristen lainya tak akan kecewa atau
melukai Bapak? Jika bapak langsung bersyahadat
secara terang-terangan?” tanya Nafisah khawatir.
“Itu urusan saya, Nafisah. Saya sudah sangat
yakin Allah pasti melindungi bagi hamba-Nya yang mau
berserah diri kepada-Nya,” jawab Pak Okta dengan
mantap.
Pak Okta sudah sangat mantap dengan tekadnya
menjadi muslim. Nafisah dan Amanda serta teman
muslim lainnya tentu bersiap mempersiapkan proses
bersejarah itu.
Masjid Baitul Futuh kembali diusulkan Nafisah
untuk menjalankan proses itu. Alex dan komunitas
muslim lainnya di sana pasti akan menyambut baik
semua ini.
“Kapan Bapak mau bersyahadat?” tanya Nafisah.
“Secepatnya.”
CHANDRA 252
Pak Okta menyatakan kebersediannya menjadi
muslim di hari Minggu. Hari ini. Hari yang dianggap suci
bagi umat Kristen. Maka, Nafisah sepakat memilih hari
Jumat untuk menjadi waktu yang tepat untuk proses ini.
Pak Okta menyetujuinya, sekitar 5 hari lagi ia hitung
cukup untuk bisa mengurusi surat pengunduran dirinya
sebagai pendeta di gereja ini.
“Terima kasih, Pak. Saya sangat senang
mendengar semua ini.”
“Terima kasih juga. Saya lebih senang kamu bisa
datang hari ini.”
253 Ciĩa & Cinĩa
Syahadat Kedua
Tak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup
Kecuali apa yang membuat orang lain teduh dalam
bahagia
Bahagia terbinar cahayanya.
GB
CHANDRA 254
Wibawa kemeja terasa Pak Okta luluh dan rapuh.
Biasanya berdasi panjang serta jas yang digunakannya.
Dan, sekarang sangat berbeda. Koko putih dan peci ia
gunakan dengan rendah hatinya. Hatinya suci, bersih,
dan suci. Siap sepenuhnya berserah diri hanya kepada
Allah atas keputusannya yang luar biasa.
Di samping kanan pak Okta, Nafisah duduk
seorang diri. Keanggunannya menebar kedamaian, juga
cahaya bagi hati jiwa pak Okta. Kebaikannya sampai
saat ini menjadi perantara hidayah.
Tak satu pun pihak keluarga menemani acara ini.
Pak Okta datang seorang diri dengan menaiki angkutan
umum. Segala kemewahannya telah dirampas dan
dikembalikan. Pak Okta ingin kembali, benar-benar
kembali kejalan-Nya.
Ada ketakutan yang besar pada diri Pak Okta
sampai saat ini. Takut akan gelimang hartanya kini sia-
sia saja. Kelak hisab dan pertanggungjawabanya berat.
Itulah sedikit ajaran Islam yang telah ia pelajari diam-
diam di ruangan pribadinya.
255 Ciĩa & Cinĩa
Harta, jabatan, kekayaan bukan segalanya.
Semua hanya titipan Allah saja. Dan bisa Allah ambil
kapan saja dengan cara apapun. Ketakutan Pak Okta
akan siksa-siksa akhirat memberanikan dirinya melepas
semua harta kekayaannya yang ia peroleh dari hasil
pekerjaannya sebagai pendeta berpuluh-puluh tahun.
Jika dijumlahkan, mungkin saja bisa membeli satu
pulau.
Kini, ia tinggal sendiri saja. Keluarga, rekan,
teman, dan saudara-saudaranya sudah pasti
membencinya. Untung saja ketakutannya pada Allah
lebih besar daripada kebencian mereka. Tak ada nikmat
yang paling hebat saat itu, kecuali nikmat ketakutannya
pada Allah. Itulah mengapa, sekuat itulah Pak Okta
mempertahankan niat baiknya. Setelah beberapa lama
ini ia dikenalkan dengan Islam melalui akhlak dan
kebaikan wanita yang di sampingnya kini.
“Pak Okta, sudah siap?”
“Siap, Pak.”
“Bisa kita mulai?”
CHANDRA 256
“Tentu. Mari kita mulai.”
Seperti biasanya. Antusias muslim di London
sangat solid. Komunitas muslim berbondong ikut
menyambut saudaranya yang baru. Jumlahnya hampir
sama banyaknya ketika nenek Angelina bersyahadat
dulu. Tapi, seperti sekarang lebih banyak. Karena
mereka tahu yang bersyahdat kini bukanlah orang biasa.
Ia adalah mantan pendeta.
Masjid Baitul Futuh kembali ramai. Memang hari
hari biasa pun ramai. Dan, hari ini sedikit bertambah
ramai. Media setempat ikut datang dan hadir meliput
proses ini. Topik ini akan menjadi ramai dibicarakan
masyarakat London. Bahkan mungkin dunia.
Pak Okta membetulkan duduknya agar nyaman.
Imam yang membimbingnya memulai dengan membaca
basmallah.
(Syahadat berbahsa arab)
Kecerdasan pak Okta tak membuatnya kesulitan
mengulangi perkataan Imam dengan bahasa arab. Imam
melanjutkannya dengan bahasa Inggris.
257 Ciĩa & Cinĩa
“I bear witness that there is no god but Allah, and
i ..... ”
“Alhamdulillah.”
Serempak jamaah mensyukurinya. Pak Okta
spontan bersujud di tempat, tanda syukur akan
keislamannya. Nafisah mengangkat kedua tangannya
sambil memejamkan mata dan berdoa untuk keislaman
Pak Okta. Sudah bersih kini pak Okta, tak ada dosa,
seperti orang yang baaru saja lahir. Keberserahdiriannya
adalah membuatnya menjadi orang yang mulia di mata
Allah.
“Selamat datang di agama yang penuh
keberserahdirian, Pak,” ucap Nafisah.
“Terima kasih. Saya senang bisa mengenal akhlak
dan kebaikanmu. Sehingga menjadikan saya mengenal
Islam walau hanya dari lisan temanmu,” jawab Pak Okta.
Satu demi satu jamaah yang hadir mendatangi
Pak Okta. Setiap pelukan hangat adalah saudara
baginya. Ia tak lagi merasa kesepian, meski ditinggal
orang–orang terdekatnya beberapa hari yang lalu.
CHANDRA 258
Tangisan adalah ketulusannya memeluk Islam karena
ketakutan dan diam diam mengenal.
*****
Tak ada jalan yang paling indah kecuali jalan
keislaman. Tak ada lagi persaudaraan yang indah
kecuali persaudaraan sesama muslim. Di manapun,
Islam tetap solid dalam berdiri pada satu komitmen.
Kesaksian syahadat yang menyatakan percaya akan
Allah SWT, Tuhan semesta alam, disambung kesaksian
Nabi Muhammad SAW sebagai nabi seluruh alam adalah
kesaksian yang mempersatukan seluruh umat Islam di
dunia.
Jika langkah untuk mualaf bagi para non-Muslim
itu berat artinya belum ada hidayah yang datang.
Hidayah itu dijemput, kemudian Allah yang
menakdirkanya datang. Ketakutan ditinggal keluarga,
teman dan lainnya, tak lebih baik dari ketakutan kepada
Allah. Manusia sedikit demi sedikit bisa rela dengan
bertahap, tetapi jika Allah sudah tidak rela dan rida akan
259 Ciĩa & Cinĩa
hidup seseorang, maka siksaan akhirat menjadi
penantian.
Di belahan Eropa dan Amerika, perkembangan
Islam sangat pesat. Banyak faktor–faktor yang membuat
hati mereka tersentuh oleh agama yang damai ini.
Peristiwa yang terjadi kepada Pak Okta juga telah banyak
terjadi. Karena Islam datang dengan akhlak. Dan,
digunakan untuk menyempurnakan akhlak manusia
menjadi lebih baik.
“Sesunggunya aku diutus hanya untuk
menyempurnakan akhlak.”
Begitulah pernyataan Nabi Muhammad SAW
dalam perkataannya. Akhlak menjadi prioritas dan
perhatian penting dalam setiap pendidikan. Inilah
mengapa para ulama lebih mengedepankan akhak
daripada pengetahuan.
“Adab di atas ilmu”
Adab lebih berharga daripada ilmu. Itulah
mengapa pak Okta tersentuh hatinya oleh akhlak.
Akhlak keislaman yang baik yang diperankan oleh
CHANDRA 260
Nafisah. Wanita pendiam yang rapi menata akhlak dan
perilakunya. Diam pada saatnya, berbicara di saat yang
tepat. Itupun baik dan bermanfaat. Takut pada
bagiannya, berani pun muncul di saat yang tepat saat
memikul kewajiban sebagai muslimah.
Tak mudah menata sikap dan perilaku sesuai
pada porsinya. Tak kelebihan dan tidak kekurangan.
Itulah yang Nafisah perankan. Menata sikap dengan rapi
sesuai pada tempatnya.
*****
Sahabat lamanya, tak lupa memberi ucapan
selamat. Yahya benar–benar senang menyambut
temannya berstatus agama yang sama denganya kini.
Tak hanya dalam identitas, dalam keseharian dan
sebagainya ia benar-benar berpindah pada Islam.
Usianya mungkin jauh berbeda, namun kedekatan
mereka begitu dekat. Hampir setiap Minggunya mereka
bertemu, bercerita, bertukar pikiran, dan tak jarang
261 Ciĩa & Cinĩa
Yahya meminta bantuan tugas kuliahnya kepada pak
Okta.
Setiap kali Yahya mendatanginya, Yahya kerap
kali ditahan beberapa saat untuk bercerita tentang
Nafisah. Ia tahu, Nafisa sahabatnya dari Indonesia. Tak
mungkin Pak Okta menanyakannya karena suka. Jika
benar, pastilah membuat Yahya cemburu. Ternyata, Pak
Okta hanya menanyakan perihal keseharian dan
kebaikannya. Itulah yang membuatnya jatuh cinta pada
islam.
Di saat yang bersamaan, ternyata ada juga yang
jatuh cinta. Bukan Pak Okta pastinya. Sejak Alex
melamar Nafisah, Yahya sudah sangat lama menyukai
Nafisah. Hampir saja memutuskan harapannya untuk
memiliki Nafisah. Dan, tidak diterima Alex oleh Abi
Mahmud, membuka harapan sekaligus kepercayadirian
Yahya kembali. Karena Yahya sudah sangat kenal
dengan Abi Mahmud.
Cinta tak dapat dipaksa. Iya, cinta harus cepat
diutarakan dan diungkapkan. Keseriusan dalam cinta
menyenangkan keduanya. Ada niatan baik di hati Yahya.
CHANDRA 262
Niatan yang sama diniatkan oleh Alex dulu, ketika
puncak-puncaknya jatuh cinta kepada Nafisah.
263 Ciĩa & Cinĩa
Lamaran Kedua
Lagi lagi, cinta adalah cinta
Allah saja yang menghendaki
Manusia hanya berencana
GB
CHANDRA 264
Topi wisuda Nafisah, Yahya, dan teman
seangkatan dipakai rapi di masing-masing kepala
mereka. Tercapai sudah cita-cita Nafisah sejak dulu.
Menjadi sarjana jurusan arsitektur di kampus ternama
di dunia. United College London menjadi saksi bisu
perjuangan Nafisah dalam menggapai mimpinya menjadi
arsitek.
London Bridge, serta tempat-tempat eksotis
lainnya di kota London akan menjadi gumpalan
kenangan berarti bagi Nafisah. Semuanya teramat
menyenangkan dan banyak memberi pelajaran.
Waktunya pulang. Tanah air telah begitu
merindukannya. Begitupun Nafisah yang sudah sangat
rindu dengan Indonesia. Suasana pesantren khususnya.
Lama tak dirasakanya, Nafisah begitu ingin kembali
mengalami kembali serba-serbi keseruan menjadi santri.
Begitulah perjanjiannya dengan yayasan. Setelah
selesai menempuh pendidikannya di London, ia harus
kembali tinggal di pesantren. Tak lagi menjadi santri,
tapi menjadi guru bagi adik kelasnya dulu. Tugasnya
adalah berbagi pengalaman dan memberi semangat adik
265 Ciĩa & Cinĩa
kelas lainnya untuk lebih bangkit. Seperti dirinya dulu.
Berani bermimpi dan bangkit dari segala keterpurukan
untuk bisa meraih cita–cita setinggi mungkin.
Puncaknya dulu ketika di bangku SMP, ayahnya
meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sehingga
ibunya harus banting tulang memenuhi keperluan
keluarga. Untungnya, Abi Mahmud, adik dari ayah yang
sangat baik, karenanya Nafisah bisa banyak belajar di
penjara suci. Dari sanalah kebangkitan pada dirinya
bangkit. Nafisah tak lagi percaya akan
ketidakmungkinan, semuanya mungkin terjadi asalkan
kita mau berusaha dengan maksimal.
Kata ustaz,
“Man jadda wajada. Barang siapa yang bersungguh-
sungguh pasti berhasil.”
Itulah kata-kata yang membuatnya kini yakin. Bahwa
dengan kesungguhanlah apapun bisa dicapai.
CHANDRA 266
Kata ustaz juga,
“Man shobaro dzofiro. Barang siapa yang
bersabar ia akan beruntung.”
Dan, itulah kata kata yang membuatnya sampai
kini terus sabar dengan proses yang dijalaninya, hingga
sampai pada keberuntungan yang Allah berikan
padanya.
Kata ustadz juga,
“Man saaro ‘ala dzarbi washola. Barang siapa
yang berjalan di atas jalanya pasti sampai.”
Kata yang membuatnya kini terus konsisten pada
arah dan tujuanya, tanpa berubah-ubah.
Pendidikan pesantren yang diampunya dulu,
sangat memberi perubahan bagi hidupnya untuk terus
bangkit dan berubah.
*****
Ijazah, penghargaan, dan banyak ilmu kini telah
Nafisah dapatkan. Ia memutuskan untuk cepat pulang
ke tanah air karena kerinduannya.
267 Ciĩa & Cinĩa
Yahya pun pulang bersama Nafisah. Mereka
berdua akan pulang menjadi sosok yang ditunggu-
tunggu oleh santri santri di pondok. Dulu mereka
berangkat dari tanah air bertiga dengan Mudor Ali.
Mudor baru bisa pulang sebulan lagi, karena masih ada
beberapa hal yang harus diselesaikanya terkait
perkuliahan di Granada, Spanyol.
Bagi Yahya, ini adalah kesempatan emas. Telah
lama Yahya menyimpan rasa cinta pada Nafisah.
Harapannya, ia akan melamar Nafisah seminggu setelah
mereka sampai di Indonesia. Dengan penuh percaya diri
Yahya merasa dirinya akan diterima olehnya.
“Pasti, pasti aku akan menjadi suaminya wanita
itu, Nafisah Az zahra,” ucap Yahya dalam hati.
Nafisah berkemas membereskan seluruh barang
bawaanya selama ini. Dua koper penuh semua barang
yang ia bawa. Ditambah satu tas selendang yang
dibawanya. Sebelum ia pergi ke Bandara, Ia pamit
kepada orang–orang yang sempat dikenalnya selama di
London. Nenek Angelina dan Pak Okta terutama.
CHANDRA 268
Beberapa menit sebelum ia berangkat berniat
menemui mereka. Ternyata mereka berdua telah lebih
dulu datang di depan asramanya.
“Assalamu’alaikum,” terdengar dari balik pintu
asramanya.
Nenek Angelina dan Pak okta dipersilahkan
masuk.
“Baru saja Nafisah mau datang ke tempat Pak
Okta dan Nenek,” ucap Nafisah
“Ada yang mengabari saya kemarin. Bahwa hari
ini kau akan pulang ke Indonesia. Maka, kami berdua
memutuskan untuk datang bersama hari ini,” ujar Pak
Okta.
“Nafisah, kamu sudah menjadi alasan kami
berdua merasakan kedamain dengan agama yang diajari
olehmu. Kami merasa sangat kehilangan atas
kepergianmu. Kami semua tak akan pernah lupa dengan
jasa-jasamu selama di sini. Semuanya akan selalu kami
ingat. Terima kasih banyak, Nafisah,” sambung Nenek
Angelina.
269 Ciĩa & Cinĩa
“Benar sekali apa yang dikatakan Nenek
Angelina,” sambung lagi Pak Okta.
Dengan wajah sedikit menunduk malu, Nafisah
tersenyum manis. Bukan lagak sombong dan merasa
berjasa yang diperankan Nafisah, melainkan sifat
pemalu dan rendah hatinya.
“Tidak usah berlebihan, Nek, pak. Ini semua
sudah atas ketentuan Allah. Saya hanya menjadi
perantara saja,” jawab Nafisah sambil tersenyum dan
rendah hati.
Kesedihan mendalam tentu dirasakan nenek
Angelina. Isak tangis menghiasi suasana walau masih
pagi. Spontan nenek Angelina memeluk erat Nafisah.
Sambil menangis membasahi kerudung panjang yang
dikenakan Nafisah. Nafisah pun tak tahan, ia ikut
menangis bersedih. Sempurna tumpah ruah kesedihan
terjadi pagi itu. Pak Okta juga ikut berlinang air mata
walau dari jarak agak jauh.
CHANDRA 270
“Kamu ... adalah ... cahaya ... bagi ... kehidupan
... nenek,” ucap nenek sambil menangis berlinang air
mata.
Nafisah semakin keras mengucurkan air mata.
Nenek Angelina Sudah ia anggap sebagai orang tuanya
selama di London.
Tak lama, suara mobil terdengar dari luar.
Kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang.
Yahya membuka pintu dengan lebar yang sebelumnya
sudah terbuka sedikit. Dengan pakaian yang rapi,
ditutupi jaket tebal dan kupluk seperti akan melakukan
perjalanan jauh. Spontan Nenek Angelina melepas
pelukannya. Yahya datang di waktu yang tepat setelah
nenek Angelina dan Pak Okta menemui Nafisah. Yahya
ikut menyusul pamit kepada keduanya.
Taksi yang akan mengantar mereka berdua
menuju bandara sudah menunggu. Tanda Nafisah harus
pergi dan mengangkut koper-kopernya ke bagasi mobil.
Mereka pun masuk ke mobil dan meninggalkan asrama
sambil melambaikan tangan nenek Angelina dan Pak
Okta.
271 Ciĩa & Cinĩa
“We will never forget you, Nafisah,” ucap Nenek
Angelina dari luar mobil.
“You’re like the light on our life!” sambung Pak
Okta berteriak juga sambil melambaikan tangan.
“May peace be upon you.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah beberapa lama, tibalah mereka berdua di
Heathrow Air port. Bersama para penumpang lain,
mereka menunggu waktu keberangkatannya. Bandara
paling sibuk di Benua Biru itu ramai didatangi para
imigran dari berbagai bangsa di dunia.
Setelah hampir seharian melakukan perjalanan
udara, akhirnya sampai juga di tanah air. Bandara
Internasional Soekarno Hatta menjadi tanah pertama
yang mereka injak di Indonesia. Ya, setelah beberapa
lama meninggalkan tanah air. Usai sudah perjalanannya
mencari ilmu di negeri Ratu Elizabeth.
CHANDRA 272
Sekarang, saatnya mengabdikan diri di negeri
sendiri. Di sebuah lembaga yang sudah mengikatkan
janji kepadanya dulu atau siapapun yang membutuhkan
keilmuwannya.
Keluarganya sudah menunggu di Bandara,
menunggu kehadiran cahayanya. Nafisah Az zahra,
datang dengan cahayanya. Ibunya Nafisah melirik-lirik
memeriksa satu persatu penumpang yang baru saja
turun dari pesawat beberapa menit yang lalu. Setelah
beberapa lama mencari anaknya, ia tak kunjung
menemukanya. Sesekali ia menanyakan kepada abi
Mahmud yang juga mengantarnya, kenapa anaknya tak
terlihat dari tadi.
Dari kejauhan, ada seseorang yang melambaikan
tangan ke arahnya. Namun, mukanya tak jelas terhalang
lalu lalang para penumpang lainnya. Ramai.
“Ibu!” teriak Nafisah.
Ibu baru tersadar. Itulah anaknya yang dari tadi
dicarinya. Keduanya kemudian saling berlari kecil
mendekati. Ibu yang lama ditinggal anaknya belajar jauh
273 Ciĩa & Cinĩa
nan di sana, akhirnya kembali bisa merasakan
pelukanya. Begitupun, anak yang beberapa tahun ini
hanya bisa mendengar suaranya lewat handphone, hari
ini kembali bisa memandang wajahnya.
Tumpah ruah haru pun jatuh. Tak kuasa,
kekuatan kasih sayang antara ibu dan anak ini sangat
kuat. Orang di sekitar banyak yang melihat adegan haru
tersebut. Nafisah tak peduli, yang terpenting ia masih
bisa merasakan hangatnya pelukan ibunya. Nafisah
sangat rindu.
Di temani Yahya. Yahya kemudian bersalaman
pada abi Mahmud, juga berpelukan. Tak terlalu istimewa
biasa saja. Laki–laki tak biasa menangis haru karena
kerinduan. Biasa saja. Tapi, Yahya sedikit memberi
perhatian lebih kepada abi. Menanyakan kabar, dan
lainya. Seperti ada maunya. abi menghargai dan
menanyakan balik tentang kuliahnya di Inggris.
Bibil dan Zahra juga hadir di sana. Kebetulan lagi
cuti kerja, mereka menyempatkan ikut menyambut
kedatangan sahabat dekatnya itu. Nafisah melihat
keduanya. Kemudian melepas pelukan dari ibunya dan
CHANDRA 274
berpindah pelukan pada kedua sahabatnya. Senang
sekali, haru dan bahagia terasa. Bibil sampai berteriak
sangat kencang mengekspresikan kegembiraannya.
Spontan orang di sekitar meliriknya. Bibil menyadarinya
dan sedikit malu.
“Sekarangkan udah sarjana. Tinggal nikah, dong.
Kapan, nih?” tanya Bibil sambil melirik ke Yahya.
Nafisah tersenyum .
“Apaan, sih,” jawab Nafisah.
“Secepatnya, Insyallah,” sambung Yahya
peracaya diri tanpa konfirmasi.
Abi tersenyum agak gembira. Ibunya Nafisah pun
ikut tersenyum. Kemudian menyimpulkan senyumnya
abi Mahmud tanda setuju. Benarkah Yahya laki-laki
yang dimaksud Abi Mahmud?
“Cie ... cie ... cocok ya dua sarjana dari UCL.
Sukses deh kayanya rumah tangganya,” ujar Zahra.
Nafisah biasa saja. Tak ada rasa apapun yang
diutarakanya kepada Yahya, kecuali hanya sebatas
275 Ciĩa & Cinĩa
teman. Hanya dia yang Nafisah cintai selama ini. Sekuat
ini dan sejauh ini.
Di pondok. Mereka berdua disambut sangat
antusias. Seperti sepasang kekasih di hari paling
bahagia. Yahya membayangkan mungkin seramai ini
pernikahannya nanti dengan wanita di sampingnya.
Mungkin, tapi tak tahu.
Sambutan hangat Asatidz dan asatidzah
menuaikan kerinduan mendalam antar guru dan murid.
Nafisah spontan menyalami satu persatu ustadzah saat
itu. Sangat ta’dzim dan homat. Tidak pernah berubah
sikapnya dari dulu. Ia sangat merendah di hadapan
guru. Walapun dirinya sudah menyabet gelar sarjana di
kampus ternama dunia.
Sesuai rencananya. Yahya ingin melamar Nafisah
tak butuh waktu lama. Sudah hampir seminggu berada
di tanah air. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat bagi
Yahya.
Yahya berasal dari keluarga ternama. Kedua
orang tuanya merupakan orang yang berada. Walau
CHANDRA 276
dulunya seorang pemabuk dan fighter yang kuat, tapi
semenjak menginjakan kakinya pesantren ia menjadi
singa bagi pesantren. Tubuhnya yang kuat dan berbadan
besar dan gagah layaknya Umar bin Khatab. Ketika di
pondok dulu, ia menjadi salah satu anggota bidang
keamanan yang sangat di takuti santri lainya.
Yahya menceritakan semuanya kepada ayah dan
ibunya. Niatnya meminang wanita itu sudah terpendam
sejak lama. Entah kapan cinta itu mulai tumbuh di
hatinya. Padahal dulu mereka hanya teman biasa.
Mungkin karena Yahya selalu bersama Nafisah dari
mulai di pondok, sampai kuliahnya di London.
“Bagaimana menurut ayah sama Ibu?”
Yahya tergesa menanyakan persetujuan dari
orang tuanya, cintalah penyebabnya.
“Ayah setuju saja. Asalkan wanita itu bisa
menjadi pasangan yang baik bagimu, Nak,” ucap ayah.
Yahya lega, ayah memang selalu mendukung
apapun yang diinginkan Yahya.
277 Ciĩa & Cinĩa
“Bagaimana dengan ibu?”
“Nak ” ujar Ibunya Yahya.
Yahya agak khawatir ada yang tidak beres.
Sesekali memang Ibu suka mengkritik kemauan Yahya.
Apakah hal serupa akan terjadi waktu ini?
“Iya, Bu. Tolong, Bu. Bukankah menikah itu
sunah Nabi?” tanya Yahya.
“Bukan begitu. Jangan ”
“Jangan apa, Bu?” Yahya memotong.
“Maksud ibu, jangan pernah kecewakan calon
istrimu itu. Nikahi ia segera,” ucap Ibu.
Yahya seperti pedagang yang mendapat
keuntungan banyak. Sangat senang sekali hari itu.
Langkahnya mendapatkan Nafisah tinggal beberapa
langkah lagi. Mereka pun cepat mengambil keputusan.
Tiga hari lagi mereka sekeluarga akan mendatangi
rumah Nafisah untuk melamarnya.
Tepat sepuluh hari setelah kedatanganya dari
luar negeri. Yahya langsung menghubungi abi Mahmud.
CHANDRA 278
Mengabarkan bahwa dirinya akan datang bersama
keluarga.
“Saya akan melamar Nafisah” adalah kalimat
yang tak diharapkan Abi, ketika tadi Ia ditelpon oleh
Yahya.
Yahya telah berpakaian rapih. Ayah dan Ibunya
masing–masing di sebelah kiri dan kanannya. Cukup
banyak bekal makanan yang dibawa. Parsel buah-
buahan, misalnya. Yahya percaya diri, Wanita itu akan
menjadi kekasihnya.
Sementara, keluarga Nafisah sudah
mempersiapkan kedatangannya. Nafisah pun
mengetahuinya, tapi jawaban terbaik ada pada lisan Abi
Mahmud. Bagaimanapun juga, ia Paman sekaligus orang
tua kedua setelah Ayahnya. Dan, juga merupakan
kyainya di Pondok. Abi Mahmud telah mempersiapkan
jawaban terbaik bagi Nafisah pun Yahya.
“Silahkan duduk,” abi Mahmud menjamu.
279 Ciĩa & Cinĩa
Keluarga Yahya sangat terhormat dan kaya.
Makanan yang disajikan pun agak lebih mewah dari
biasanya.
Tak banyak membuang waktu, Yahya dan
keluarga mengutarakan maksud dan kedatangannya.
Berwibawa dan meyakinkan. Abi Mahmdu tertunduk
dan senyum–senyum ringan. Nafisah dan Ibunya Nafisah
menunggu jawaban Abi Mahmud, karena hanya dia yang
berhak menentukan pasangan bagi Nafisah.
“Mohon Maaf sebelumnya. Nafisah sudah kami
jodohkan dengan laki-laki lain. Saya mempersilahkan
bapak dan ibu datang hanya untuk sekedar silaturahmi.
Tapi, untuk masalah menikahi Nafisah, mohon maaf
mungkin Ibu bapak bisa memahami,” jawab Abi
Mahmud mengejutkan.
Tak ada yang paham dari perkataan Abi Mahmud.
Termasuk Nafisah dan Ibunya.
“Benar. Aku sudah dijodohkan? Tapi, dengan
siapa?” pertanyaan Nafisah dalam hati. Sambil
mengingat laki–laki yang ia cintai. Nafisah tak yakin ia