CHANDRA 130
Di samping itu, Alex tengah bersiap di Indonesia,
sehabis mengikuti acara keluarganya di Yogyakarta.
Dengan budaya Jawa yang khas Yogya tetap menjadi
tempat yang exotic.
Malioboro ramai dikunjungi orang–orang, dengan
harga barang-barangnya yang terkenal murah. Hal itu
menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang
ada.
Alex tak mau melewatkan kesempatan. Ia diantar
becak, dari rumahnya menuju pasar Malioboro. Alex
melihat banyak para pedagang kaki lima yang berjajaran
di pinggir jalan. Inilah negeri Indonesia, meski ia tak
seutuhnya orang Indonesia tapi ia bersyukur terlahir di
Indonesia dan memiliki ibu berdarah Indonesia.
Sambil mengingat–ingat masa kecilnya dulu di
Yogyakarta. Ketika masa SD, SMP, dan SMA sebelum
akhirnya melanjutkan kuliahnya di UCL Inggris, di
tempat ayahnya.
Alex tentu fasih berbahasa Indonesia dan Jawa.
Bertahun-tahun semasa kecilnya di tanah Jawa ini
131 Ciĩa & Cinĩa
membuatnya fasih berbahasa Indonesia dan jawa. Pria
kelahiran Indonesia seperti bule ini sangat lucu ketika
berbicara bahasa Jawa.
“Sudah sampai, Mas,” Sahut tukang becak.
“Have we arrived? It’s, so past” jawab Alex tak
sadar.
“Maaf, Mas. Enggak ngerti.”
“Astaghfirullah. Maksud saya ini sudah sampai,
kok cepat sekali?” Alex mulai sadar.
“Iya, Mas. Itu pasar Malioboronya.”
“Oh, iya. Terima kasih, Mas.”
Tak sadar bahwa dirinya sedang di Indonesia
membuatnya lupa menggunkan bahasa. Dan juga lupa
satu hal yang menjadi kewajibannya, sebelum pergi dari
tukang becak itu.
“Mas … mas …. Maaf bayar dulu,” tukang becak
memanggil.
CHANDRA 132
“Astaghfirullah. Iya, Pak. Maaf, saya lupa. Ambil
saja kembaliannya,” jawab Alex.
“Terima kasih banyak, Mas.”
Sudah menjadi lumrah di kalangan masyarakat.
Siapapun yang berkunjung ke Malioboro akan banyak
mengahadapi para penjual yang cerewet menawarkan
dagangannya.
Begitupun Alex, begitu turun dari becak banyak
pedagang asongan yang langsung menyambar di
depannya dengan bermacam–macam menawarkan
dagangan.
Ada yang menawarkan topi karena mungkin
mereka tahu Yogyakarta itu panas. Ada juga yang
langsung menawarkan moci makanan yang khas ditemui
di Malioboro. Dan pedagang lainnya dengan berbagai
keunikannya. Pantas saja jika banyak orang
menggantungkan hidupnya untuk berjualan di pasar ini,
suasana sangat ramai hampir setiap hari. Baik di hari
libur ataupun hari biasa.
133 Ciĩa & Cinĩa
Para pedagang yang ramai hampir saja
melupakan tujuan utamanya Alex, sangat asyik sekali
memang Ales ketika berada di tengah pasar Malioboro.
“Astaghfirullah. Aku kan ke pasar mau beli
makanan buat nanti diberikan ke Ibunya Nafisah di
Ciamis,” ujar Alex dalam batin.
Akhirnya, Alex memutuskan untuk langsung
masuk ke dalam pasar dan memilih–milih makanan yang
cocok untuk ia bawa. Hampir di setiap juru pasar
menjual Bakpia. Memang itulah makanan yang
semestinya dibawa oleh siapapun yang sudah
mengunjungi Malioboro, begitupun Alex.
“Bakpianya berapa, Mas?”
“Kamu mau yang mana? Pilih saja harganya
bervariasi,” jawab penjual.
“Yang original saja, Pak. Kayaknya ini enak.”
“Oh, yang itu harganya 35 ribu rupiah
perbungkusnya. Mau ambil berapa, Mas?”
CHANDRA 134
“Ambil saja tiga, Mas. Jadi 105 ribu ya, Mas?”
tanya Alex
“Oh, enggak. Kalau beli tiga bisa jadi 90 ribu kok,
Mas.”
“Oh, gitu. Ya baik, Mas. Ini uangnya.”
Ada banyak pandangan orang tentang pasar
Malioboro ini, sebagian orang Indonesia kebanyakan
penjual di sana penipu, mereka tak jarang menipu
penjual dengan kemasana yang tidak sesuai. Atau pun
menaikan harga dengan harga yang luar biasa tingginya.
Tapi sepertinya tidak dengan penjual yang tadi, Alex
sepertinya beruntung membeli di tempat itu.
Tak banyak yang Alex beli di pasar itu, hanya
beberapa bungkus Bakpia Patok dan makanan lainnya.
Ia rasa ini cukup untuk menjadi bawaan ke rumah
Nafisah. Ini bukan sebagai sogokan atau rayuan apapun,
ini sebagai sebuah sikap bagaimana menjadi seorang
tamu yang baik.
Tentulah Alex sangat berpendidikan, masih ingat
budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia yang
135 Ciĩa & Cinĩa
diajarkan orangtuanya dulu saat masih kanak kanak.
Tentang bagaimana sikap yang baik menjadi seorang
penjamu ataupun tamu. Indonesia kental dengan
keramahtamahan penduduknya. Hampir semua orang
berkata begitu. Indonesia tak seperti Eropa yang
mungkin terasa sangat berbeda.
Terdapat banyak campur tangan ajaran syariat
Islam yang menjadi adat di Indonesia, hampir semuanya.
Tak heran negeri yang menjadi negara dengan jumlah
umat islam terbanyak di dunia ini, terdapat banyak
ajaran Islam di setiap budayanya.
Stasiun Tugu Yogyakarta, menjadi tempat
selanjutnya yang ia datangi. Jaraknya hanya kurang
lebih 300 m dari pasar Malioboro. Cukup dengan
berjalan kaki, ia pun bisa sampai.
Arsitektuk bangunan Stasiun ini seperti stasiun
lainnya yang khas seperti bangunan Eropa. Jendelanya
tinggi dan lebar serta pintunya yang amat besar tak jauh
berbeda dengan bangunan di Eropa.
CHANDRA 136
Tak perlu heran, karena bangunan–bangunan ini
tentunya dibangun pada masa penjajahan Belanda di
Indonesia. Maka tidak aneh, jika bangunan zaman
dahulu sangat khas dengan arsitektur gaya Eropa.
Tak lama kereta pun tiba, Alex memilih eksekutif
agar perjalanannya lebih cepat dan nyaman.
“Akhirnya, aku sampai juga di Ciamis.”
Beberapa lama kemudian, akhirnya Alex untuk
pertama kalinya tiba di Kabupaten Ciamis. Semasa
hidupnya, inilah pertama kali ia menginjakan kaki di
Ciamis.
Alex tak ingin buang–buang waktu, ia langsung
memesan Grab untuk diantar ke tempat yang dituju.
Mudahnya akses saat ini, semuanya menjadi lebih cepat,
hingga berselang lima menit pun Grab pun datang siap
mengantar Alex ke rumahnya Nafisah.
Selama perjalanan di Ciamis, ia tak melewatkan
momen ini. Sambil diboncengkan tukang Grab, ia
sesekali memotret keadaan di Ciamis, termasuk tempat–
tempat yang eksotis yang ada di Ciamis. Seperti Taman
137 Ciĩa & Cinĩa
kota Reflesia. Alun–alun yang menjadi pusat kota ini
setiap harinya ramai dikunjungi orang–orang. Mereka
kebanyakan pergi dengan pasangannya, entah pasangan
yang halal ataupun hanya sekedar pacaran. Tak jarang
juga satu keluarga datang ke alun–alun ini hanya untuk
berekreasi.
Alex juga melihat Masjid Agung Ciamis. Letaknya
tak jauh dari alun–alun. Alex melihat sebuah keindahan
yang mewah saat itu, kemegahan masjidnya sangat
indah. Masjid dengan khas warna hijau tuanya itu
terlihat agung. Siapapun yang melihatnya, dapat juga
merasakan betapa besarnya keagungan Sang Pencipta.
Tibalah Alex tepat di depan rumahnya Nafisah.
Rumahnya Nafisah tak terlalu mewah dan besar.
Sederhana saja seperti rumah pada umumnya.
Abi Mahmud dan ibunya Nafisah sudah tahu
sebelumnya mengenai kedatangan sosok pria yang akan
datang melamar Nafisah. Yahya tentu yang
memberitahukannya, Nafisahnya pun ikut
mengetahuinya. Yahya mengabari hal itu dengan sangat
berat di hatinya, tapi itulah yang seharusnya ia lakukan.
CHANDRA 138
Sikap taat dan patuh ditunjukan Nafisah saat itu.
Saat Nafisah ditanya balik melalui telpon, mengenai pria
yang akan melamarnya, Nafisah memberikan
sepenuhnya keputusan kepada ibunya dan abi Mahmud
selaku paman sekaligus kyai di pondoknya.
Rasa cinta dan suka, serta keikhlasan dan rida
yang menjadi syarat pernikahan, semuanya Nafisah
berikan kepada keputusan yang diberkan ibu dan abi
Mahmud, karena menurutnya ketaatan adalah
segalanya. Nafisah akan selalu mencintai siapapun yang
dipilihkan ibu dan kyai untuknya.
“Assalamu’alaikum,” Alex mengucap salam, “Tok
... tok ... tok ... Assalamu’aliakum.”
Dua kali ucapan salamnya tak ada jawaban dari
dalam rumah. Ia pun mengetuk untuk ketiga kalinya,
“Tok ... tok ... tok. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Rupanya jawaban salam tak berasal dari dalam
rumah, jawaban salam itu ternyata dari orang–orang
yang ada di belakangnya Alex.
139 Ciĩa & Cinĩa
Waktu yang tepat, abi Mahmud, ibunya Nafisah
dan beberapa teman–temannya Nafisah yang ada di
belakang. Kebetulan sekali mereka baru saja membahas
perihal pria dari Inggris yang akan melamar Nafisah.
Detak jantung Alex seketika kencang berdetak.
Kaku dan grogi pastinya melihat segerombolan orang
yang ada di belakangnya.
“Adek yang namanya Alex?” tanya abi Mahmud.
Alex pastinya terkejut bukan main, ia heran
kenapa mereka tahu namanya.
“Kok mereka tahu namaku, sih siapa ya?” Alex
dalam batin.
“Oh, iya ... iya. Nama saya Alex,” jawab Alex.
Abi Mahmud dan ibu Nafisah saling memandang.
Rupanya berita lamaran itu benar dan sangat cepat.
“Oh, ini Nak Alex rupanya. Perkenalan nama saya
Mahmud dan ini Ibunya Nafisah. Dan mereka teman–
temannya Nafisah, kebetulan sekali kita bisa bertemu
secara bersamaan seperti ini,” jawab abi Mahmud.
CHANDRA 140
Alex terkejut, rupanya secara tidak sengaja, ia
langsung bertemu dengan orang–orang terdekatnya
Nafisah. Terutama abi Mahmud dan ibunya.
Alex langsung dipersilahkan masuk dengan
ramahnya. Ia kemudian masuk didahului oleh ibu
Nafisah dan abi Mahmud, kebetulan pintunya terkunci.
Dan pintu dibuka terlebih dahulu oleh ibunya Nafisah.
Layaknya tamu Alex diperlakukan seperti raja dan
sangat dihormati.
Sepertinya sudah adat jika tamu dijamu dengan
makanan makanan khas daerah. Begitupun yang ada di
Ciamis. Ia disuguhi beberapa makanan khas orang–
orang Sunda seperti ranginang, galendo, dan lainnya.
Jarang memang ia temukan, awalnya ia merasa
tak suka. Tapi, ia tahu bahwa dalam agama selalu
diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai. Ia
pun dipersilahkan mencicipinya terlebih dahulu oleh
ibunya Nafisah.
141 Ciĩa & Cinĩa
“Nak, silahkan minum dan makan dulu. Ibu tahu
pasti nak Alex capek, kan? Habis perjalanan jauh dari
Yogyakarta,” Ibunya Nafisah mempersilahkan.
“Iya, Bu. Terima kasih. Tapi, Alex sudah kenyang
kok, Bu,” Alex beralasan.
Padahal Alex sejak tadi belum makan. Terakhir
kali ia makan ketika acara keluarganya di Yogyakarta.
“Makan enggak ya? Perutku sebenarnya laper
banget, tapi ini makanan apa ya?” ujar Alex dalam batin.
“Ayo, Nak Alex. Jangan malu–malu. Dimakan saja
dulu, makanannya enak, kok,” ibu membujuk.
Kemudian Alex mulai mencicipi makanan seperti
beras kering berbentuk lingkaran, tapi rasanya renyah
dan gurih (ranginang).
“Em, ternyata makananya enak juga. Enggak
beda jauh sama makanan makanan Eropa rasanya.”
“Iyalah, Nak Alex. Makanan Indonesia tak kalah
enaknya sama makanan Eropa. Toh dibuatnya sama kok
sama manusia,” jawab ibu.
CHANDRA 142
Ibunya Nafisah dan Alex seketika menjadi sangat
dekat dan akrab. Pria berdarah Indonesia Inggris itu
dianggap lucu oleh ibunya Nafisah, karena terlihat
begitu sungkan untuk memakan makanan khas Sunda
kesukaannya Nafisah.
“Kamu harus tahu Alex, ini semua adalah
makanan–makanan kesukaannya Nafisah. Jadi kamu
harus belajar menyukai makanannya,” Ibu mencoba
menyindir Alex.
Alex pun langsung dengan lahapnya mencicipi
makanan khas Sunda lainnya, mengingat apa yang
diucapkan ibu itu benar.
Seusai makan, Alex merasa bertenaga dan
kenyang. Ia pun langsung membicarakan maksud
perihal kedatangannya ke rumahnya Nafisah.
“Ibu, kalau boleh tahu ibu namanya siapa?” Alex
menanyakan lebih dulu nama ibunya Nafisah.
“Nama ibu Siti Az-Zahra, panggil saja Ibu Zahra.
Sama seperti nama sahabatnya Nafisah yang duduk di
belakang ibu ini,” jawab Ibunya Nafisah
143 Ciĩa & Cinĩa
“Hai, Assalamu’alaikum, Alex,” Zahra menyapa
Alex.
“Wa’alaimusalam, Hello.”
Zahra memandang Alex berbeda. Ia terlihat
senyum senyum sendiri dan salah tingkah ketika
sapaanya dibalas oleh pria bule ganteng, Alex. Bibil yang
ada di sampingnya pun merasa sebal dan mencoba
menarik perhatian Alex, karena iri oleh Zahra.
“Itu juga temanya Nafisah? Siapa namanya?” Alex
bertanya sambil menunjuk ke arah sampingnya Zahra.
“Namaku Nabila, biasa dipanggil Bibil, Mas.” Bibil
salah tingkah juga.
Alex kembali mencoba serius dengan maksud dan
niat awalnya. Seperti Ujian Semester, begitulah
ketegangan yang Alex rasakan. Sesekali ia menarik nafas
dan menenangkan diri mencari kondisi tepat
membicarakan hal yang serius ini.
“Mohon maaf Bu Zahra, Abi Mahmud, dan
lainnya, mungkin kalian semua sudah tahu sebelumnya,
CHANDRA 144
kedatangan Alex di sini ingin membicarakan perihal hal
yang serius yang mungkin penting bagi kehidupan Alex.”
Suasana tersontak tegang dan seketika tegang.
Alex masih berusaha mencari ketenangan dan mencari
bahasa tepat yang pantas untuk dibicarakannya.
Kemudian Ibu Zahra, Abi Mahmud dan teman–temannya
saling melihat satu sama lain dengan rahasia yang
disembunyikannya. Mereka semua sudah
membicarakannya sebelumnya, tepat beberapa saat
sebelum Alex berada di depan pintu rumah tadi.
Jawaban yang menjadi penentu itu berada di
mulutnya abi Mahmud. Beliau yang akan menjawab
lamaran dari Alex. Sambil menilai dan memperhatikan
Alex, sekaligus gaya humornya. Abi Mahmud masih
menunggu perkataan Alex yang menuju pada
lamarannya.
Suasana tegang itu terus berlanjut, Alex mulai
bercucuran keringat dan membasahi sebagian bajunya.
Hal itu terlihat oleh Bibil, yang kemudian ia tersenyum
sendiri sambil menutupi. Alex mencoba melanjutkan
dengan beraninya.
145 Ciĩa & Cinĩa
“Alex sudah lama kenal sama Nafisah. Sudah dua
tahun ini semenjak dulu ketika pertama kalinya Alex
bertemu Nafisah di Masjid Baitul Futuh di London. Jujur
Alex selalu takjub dan kagum dengan sosok Nafisah.
Mungkin hari ini waktu yang tepat, hari ini saatnya Alex
benar–benar serius kepada Nafisah. Alex mencintai
Nafisah, untuk itu saat ini Alex mau melamar Nafisah
untuk menjadi calon istri Alex.”
Keberanian Alex dinilai hebat oleh keluarga,
terutama abi Mahmud yang terlihat sejak tadi tersenyum
seperi bahagia. Bibil dan Zahra masing–masing saling
berpegangan tangan karena terbawa perasaan romantis.
Suasana tegang, Alex semakin tak sabar menunggu
jawaban dari abi Mahmud. Abi Mahmud mulai
melontarkan kata.
“Nak Alex, kami sangat senang bisa kedatangan
Nak Alex di rumah ini. Kami sangat bahagia dan
terkagum dengan keberanian Alex untuk melamar Anak
kami, Nafisah Az-Zahra.”
Beberapa kalimat positif yang dilontarkan abi
Mahmud terdengar seperti menyenangkan Alex. Alex
CHANDRA 146
seperti terbunga–bunga bahagia. Menenangkan dirinya,
ia menyeruput beberapa tegukan teh yang disuguhkan.
Semua memperhatikan, tak terkecuali Ibu Zahra
yang sepenuhnya menyerahkan semua ini kepada abi
Mahmud, selaku adik kandung almarhum ayahnya
Nafisah. Ibu Zahra tak sedikitpun tahu menahu tentang
jawabannya abi Mahmud. Tapi semua mengira dengan
ucapannya itu seperti akan menerima lamarannya Alex.
“Tapi ”
Cair berubah menjadi padat. Cerah berubah
menjadi mendung. dingin berubah menjadi panas.
Semua terkejut ketika abi Mahmud meneruskan
jawabannya.
“Tapi apa?”
“Tapi mohon maaf, Nak Alex. Kami tak bisa
menerima lamaranya, Nak Alex.”
Hati kecilnya seketika kecewa, Alex menelan pil
pahit hari ini. Hatinya bergejolak panas, ia sedikit tak
terima dengan penolakan ini.
147 Ciĩa & Cinĩa
“Lho, Maaf. Tapi, kenapa Abi? Apa yang kurang
dari saya? Saya kurang kaya? Saya kurang tampan?
Kenapa Abi?” Alex tak kuasa menahan kekecewaan
hingga tak sengaja berlagak takabur dan seolah
merendahkan martabat dan dirinya.
“Nak Alex, mohon maaf. Nafisah belum bisa kami
nikahkan untuk saat ini. Ia masih harus fokus belajar
saat ini. Takutnya kuliahnya terganggu. Lagi pula,
Insyaallah. Nafisah akan kami jodohkan dengan seorang
laki-laki lain suatu saat nanti.”
Ibu zahra dan teman–teman Nafisah sama sekali
belum tahu tentang semua ini. Mereka kebingungan dan
seolah percaya, abi Mahmud menolak lamaran pria
tampan kaya raya seperti Alex.
Tapi Alex mulai sadar dan menerima. Ia mulai
paham dan bijaksana, Alex bukan pria yang brutal dan
nakal. Ia seorang muslim keturunan Inggris yang taat.
Hanya saja tadi terbawa oleh suasana kekecewaan yang
pada akhirnya berlagak sombong.
CHANDRA 148
“Kalau begitu, terima kasih sudah menerima Alex
bertamu ke rumah ini, Abi. Mohon maaf jika
mengganggu,” Alex menerima dengan sabar dan Ikhlas.
“Jangan kecewa, Alex. Allah memang sudah
merencanakan segalanya. Kamu yang yakin saja suatu
saat nanti insyallah Allah pertemukan jodoh kamu,” Abi
Mahmud menasihati.
“Iya terima kasih, Abi. Nah ini saya habis dari
Yogyakarta. Ini ada sedikit bingkisan. Tolong diterima ya,
Ibu Zahra, Abi.”
“Lho kok repot–repot seperti ini, Nak Alex.”
“Enggak kok, Bu. Ini sengaja Alex beli buat ke
sini.”
Alex tetap tegar dan kuat meski lamaranya
ditolak. Ia tetap bersikap baik dan menerima dengan
ikhlas. Setidaknya tadi, ia telah bertemu keluarganya
Nafisah. Dan dua orang sahabat Nafisah yang
menurutnya tak jauh cantiknya dari Nafisah. Nabila, ya
itu yang paling memperhatikannya.
149 Ciĩa & Cinĩa
Sebuah jalan memang tak selamanya lurus dan
mulus. Ada hal yang harus seyogyanya kita persiapkan
di kala yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Sikap
baik menerima dan lapang dada dicontohkan baik oleh
Alex.
Tapi ada hal yang masih menjadi misteri, siapa
laki-laki yang dimaksud oleh abi Mahmud dan akan
dijodohkan dengan Nafisah?
Hal ini masih dirahasiakan, termasuk Ibu Zahra
dan temannya tak satu pun ada yang mengetahuinya.
Hari menjelang sore, abi harus kembali ke pondok
dengan para santrinya.
CHANDRA 150
Diam
Itu Lebih Baik
Kata tak selamanya bemakna
Kadang bisu lebih berteriak dari teriak itu sendiri
Maknanya, ingat pada makna
Kuantitas lebih sering dipandang
Kualitas dilupakan, benarkah?
Seribu kata tak ada gunanya
Satu kata lebih dari sekedar seribu makna
Bermaknalah…Buka hatimu, bukan mulutmu
151 Ciĩa & Cinĩa
GB
Nafisah sedang asyik-asyiknya menulis cerita di
meja belajar kamarnya. Pengalaman dan masa-masa
indahnya ia tuliskan di buku diary-nya mengisi
kekosongan waktu. Nenek Angelina yang berada di
belakangnya sedang membaca Al-Qur’an untuk pertama
kalinya. Walaupun terbata–bata tak lancar. Tapi
keseriusan sang nenek patut diacungi jempol, sesekali ia
menanyakan ayat yang sulit kepada Nafisah.
Sedangkan, di luar sedang ramai–ramainya kota
London dikunjungi turis-turis manca negara. Hitam
putih kulit mereka menunjukan keberagaman yang
indah, namun tepat saling menghormati. Tak ada tanda-
tanda yang menakutkan, seperti terjadinya pengeboman
di London dulu yang menewaskan banyak orang.
Kumandang azan yang merdu di masjid–masjid
Inggris baru–baru ini dibolehkan. Semakin menambah
CHANDRA 152
suasana Islam yang harmonis dan penuh dengan
kedamaian. Rata–rata mereka adalah orang–orang Afrika
berkulit hitam dari negara muslim Afrika.
Azannya sungguh enak didengar. Orang–orang
setempat sibuk menyalakan ponselnya dan mengambil
gambar juga memvidio hal yang jarang sekali terjadi di
sini.
“Nafisah, handphone-mu berbunyi. Ada yang
menelpon sepertinya,” ucap Nenek.
“Baik, Nek. Siapa ya, Nek. Kok tumben ada yang
menelpon.”
“Nenek tidak tahu. Coba angkat.”
“Ibu, Nek. Ibu Nafisah di Indonesia,” ujar Nafisah
senangnya.
“Alhamdulillah, cepat angkat mungkin ibumu
rindu padamu, Nafisah.”
Nafisah tak mengira sedikit pun tentang lamaran
Alex. Ia kira Ibu memang hanya ingin menayakan kabar
153 Ciĩa & Cinĩa
dan memberi nasihat padanya yang sering ibunya
lakukan setiap bulan.
“Halo, Ibu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusalam, Nafisah. Sehat? Bagaimana
kabarnya?”
“Alhamdulillah, Bu”
“Nenek Angelina bagaimana, dia sehat?” Ibu
menanyakan nenek Angelina.
“Nek. Ibu menanyakan Nenek,” ujar Nafisah
kepada nenek.
“Bilang saja ibu baik-baik saja,” jawab Nenek.
Perihal nenek Angelina yang Nafisah asuh dan ia
bimbing mempelajari Islam, sudah semuanya Nafisah
ceritakan kepada ibunya. Memang semuanya tak
terlepas dari amanat dan nasihat–nasihat baik sang ibu.
Nafisah selalu ingat dan taat kepada ibunya, termasuk
berbuat kepada non-Muslim sekalipun selalu
diamanahkan ibunya. Dan, hal itu yang Nafisah lakukan
kepada nenek Angelina.
CHANDRA 154
“Nafisah, Ibu hanya ingin memberitahumu satu
hal penting, Nak,” ucap ibu agak sedih.
“Ada apa, Bu? Kok Ibu agak bersedih?” tanya
Nafisah.
“Ibu mohon maaf sebelumnya, Nafisah. Abi
Mahmud menolak lamaran Alex.”
“Ibu tak perlu meminta maaf, Bu. Nafisah tidak
apa–apa, Bu. Masalah calon suami Nafisah nanti,
Nafisah nurut bagaimana Abi Mahmud sama ibu saja,
siapapun itu, Bu,” jawab Nafisah santun.
“Tapi ...”
“Tapi apa, Bu?”
“Abi Mahmud mengatakan bahwa ia sudah mau
menjodohkan kamu sama seseorang. Dan ibu pun tidak
pernah dikasih tahu siapa orangnya.”
“Syukur kalo gitu, Bu. Abi Mahmud kan adiknya
ayah. Beliau juga kyainya Nafisah di pondok. Insyallah
beliau pasti tahu siapa yang baik buat Nafisah, Bu.”
155 Ciĩa & Cinĩa
“Iya, kalau begitu kamu sehat-sehat di sana ya,
Nak. Wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Ibu.”
Tentang pria yang dimaksud oleh abi Mahmud,
Nafisah tak terlalu memikirkan dan penasaran dengan
jawabannya. Ia hanya mendiami sambil lirih berdoa
siang dan malam agar pria yang dimaksud itu adalah
pria yang baik. Ia yang mampu membahagiakannya dan
senantiasa menjadi imam yang baik bagi dirinya dan
anak–anaknya kelak.
Mulut Nafisah terkunci rapat saat nenek Angelina
menanyakan apa yang sedang Nafisah alami. Tentang
apapun dan siapapun yang mengusik hidup Nafisah tak
sedikitpun ia ceritakan kepada Nenek, khawatir proses
mempelajari dan mendalami agamanya terganggu.
Sebenarnya, ada hati yang sedikit kecewa dan
terluka. Namun wanita ini tetap kuat pada taat,
berbohong tentang perasaan sebenarnya. Menutup
mulut rapat–rapat dan memilih tak banyak bicara
kepada siapapun, begitulah Nafisah.
CHANDRA 156
Ada sesosok pria di hatinya. Hingga kini masih
sempurna terjaga dalam cintanya. Pria yang juga dulu
suka mengajarinya tentang masa–masa kecil yang penuh
dengan pelajaran dan hikmah. Sayang, Nafisah tetap
menutup rapat tentang apapun dan siapapun demi
patuh kepada kyai dan orang tuanya.
“Kelihatannya kamu sedih. Ada apa, Nafisah?
Ceritakanlah pada nenek,” ucap nenek membujuk.
“Tidak, Nek. Semuanya baik–baik saja,” Nafisah
menyembunyikan.
Hati memang tak bisa membohongi, begitupun
rasa cinta. Seseorang boleh menentukan menikah
dengan siapa, tapi tak satu pun orang yang bisa
menentukan cintanya untuk siapa.
Tentang rasa cinta yang tak mungkin
diungkapkan oleh seorang wanita, Nafisah mengakui
dirinya tak seperti Khadijah, yang menyatakan cintanya
langsung kepada sosok Nabi Muhammad SAW secara
langsung. Ia ingin seperti Fatimah Az-Zahra yang cukup
157 Ciĩa & Cinĩa
mencintai dalam diam. Walau kadang hati harus selalu
menahan dan menerima.
Sebenarnya, Nafisah tak pernah mencintai Alex.
Pria tampan yang melamarnya beberapa hari yang lalu.
Ia memang kaya, tampan, dan baik. Peran serta
kontribusinya untuk muslim di London sangat besar, tak
sedikit juga harta dan tenaganya yang ia relakan untuk
umat muslim di London ini.
Namun apalah cinta tak dapat dipaksa, mungkin
inilah alasan juga mengapa abi Mahmud tak
menerimanya. Walaupun Nafisah tak pernah sekalipun
mengatakan tentang ketidaksukaannya kepada Alex, ia
yang memberikan sepenuhnya jawaban kepada abi
Mahmud.
Tapi inilah yang Allah rencanakan, Allah tahu
hati seorang hamba. Walaupun mulutnya berkata
berbeda, semua ini karena-Nya. Skenario-Nya memang
selalu indah.
Untuk mencurahkan isi hatinya, Nafisah pun
menulis.
CHANDRA 158
London, 23 Mei 2030
Tentang pria bernama Alex, Aku
menyebutnya Abu Bakar Ash Shidiq
Aku mengingat–ingat. ternyata dirinya penuh kebenaran
dan selalu membenarkan. Jiwanya tenang dan penuh
kedamaian. Teringat sosok sahabat Nabi termasuk
Assabiqunal awwaluun bernama Abu bakar Ash Shidiq,
seperti dirinya. Besarnya pengorbanannya pada umat
Islam di London. Sesekali ia menepis isu tentang
terorisme, tuduhan kepada Islam. Namun keberaniannya,
mengatakan yang sebenarnya.
Kudengar pria hebat itu menyukaiku, mencintaiku.
Benarkah? Aku bertanya pada diri sendiri, wanita lemah
sepertiku, pantaskah dicintai oleh laki laki hebat itu. Aku
tak habis pikir, mengapa itu terjadi?
Di London Bridge, Yahya yang memberitahuku
semuanya. Yahya yang keras itu sempat bertengkar
denganku saat itu. Hingga saat ini, aku tak pernah paham
159 Ciĩa & Cinĩa
tentang alasannya itu. Dia marah. Dia juga bermuka
masam. Aku tak menemukan jawabannya.
Katanya juga, Alex memberanikan diri datang
langsung menemui ibuku dan abi Mahmud guruku di
pondok. Ayah kandungku lebih dulu pergi menghadap
Allah di usiaku yang ke-13, saat masih duduk di kelas 2
sekolah mengah pertama. Jadinya, tak ada ayahku yang
mungkin akan langsung menerima pria itu. Namun Abi
Mahmud saudara sekandung ayahku yang
memutuskanNya. Ia menolaknya, sesuai keinginanku
tanpa aku meminta kepada abi Mahmud. Ini kata hati,
yang mungkin Allah dengar dan paham, sehingga
mewujudkan kata hati ini.
Alasan abi Mahmud menolaknya katanya karena
ia sudah mempersiapkan pria untuku. Tak satu orang pun
tahu, kecuali abi Mahmud dan Allah yang Maha Tahu.
Jika boleh aku mengira pria itu tidak jauh dari dua orang
yang aku kenal. Satu pria yang sejak dulu aku
mencintainya, satu lagi pria yang setiap hari kubertemu
dengaNnya. Entahlah, biarlah Allah yang mengatur
semuanya.
CHANDRA 160
Aku hanya mampu berdoa, mengungkapkan isi
hatiku kepada Sang Maha Kuasa. Semoga ia
menghendaki hal yang sama seperti hari hari yang dulu.
Mewujudkan kata hatiku, tanpa harus aku mengatakan
dengan suaraku kepada orang–orang. Karena, hanya
diam kini yang bisa kuandalkan. Berharap semuanya
akan indah.
161 Ciĩa & Cinĩa
Sekeping
Emas Dalam Diam
Ketika yang diburu olehnya adalah yang berharga,
ingatlah yang banyak diburu tak selamanya
berharga.
Kembali lagi, apa yang kau cari?
GB
CHANDRA 162
Diam adalah emas, begitulah yang sering orang
katakan. Ada makna penting dalam diam, bahkan
rahasia kehidupan yang tak banyak kita temukan. Sulit
memang, mulut ini untuk tak menahan ucapan. Kadang
kala bau nafsu yang mendorong untuk keji dalam kata
dan ucapan.
Diamku dalam kata. Namun, percayalah aku
bersua bahkan berteriak dalam mimpi dan impian.
Begitulah Nafisah, baginya kata–kata itu menentukan
sikap. Bahkan, menjadi penilaian orang tentang
bagaimana perilakunya.
Kadang orang punya banyak argumentasi dalam
pikirannya. Ia melupakan semuanya sampai lupa titik
dan komanya, bahkan lupa menghargai bahwa di
sebelah kanan kita pun ada orang yang ingin berbicara.
Dalam hidup, kita melewati banyak masa dan waktu.
Akankah selama itu kita bercubir? Tentulah, tidak.
163 Ciĩa & Cinĩa
“Sesungguhnya diammu di hadapan orang bodoh akan
menambah kebijaksanaanmu. Dan diammu di hadapan
ulama akan menambah ilmumu.”
( Hasan Al bashri)
Ada kebijakan dalam diam. Karenanya derajat
orang di mata Tuhan bisa bertambah. Sesibuk apa kita
dalam mencari dan melatih kebijaksanaan, ternyata ada
caranya yang sederhana. Apa? Tutuplah mulutmu di
hadapan orang bodoh. Itulah alasan mengapa Nafisah
begitu bijaksana, mulutnya selalu kering, basah pun
karena minum segelas Aqua yang ia beli di kantin
pesantren.
Percayalah, bahwa mulutmu yang kering bukan
karena dehidrasi, juga karena kamu pandai menghemat
kata untuk nantinya kau gunakan di waktu yang tepat.
Sering rasanya, ketika sang guru menerangkan di
depan kelas, sedikit kesalahanyapun kita komentari,
bahkan sikapnya pun tak disukai. Lalu bagaimana
dengan ilmu yang kita dapat dariya? Cukup dengarkan
dan perhatikan yang ia sampaikan. Niscaya wawasan
CHANDRA 164
dan keilmuwan akan kita dapatkan. Dahaga ilmu begitu
dahsyat, itulah mengapa jutaan manusia tak lelah
mencari ilmu.
Terdiam juga bermakna kita tahu. Orang yang
mencibir banyak bicara, tandanya mereka belum tahu,
atau sok tahu. Kadang di manapun kita, ketika kita
mempertahankan kata demi kita, katalah yang datang
kepada kita dengan hujatan yang menyakitkan, sebagian
menganggap bodoh, sebagiannya menganggap speecless
(kehabisan kata-kata) dan sebagian lain mengatakan
hanya hiasan dan tak berguna.
Namun, sebenarnya tentu tidak begitu. Hanya
merekalah yang berkata demikian yang tak paham,
betapa berharganya diam. Diam di saat orang lain
sekelilingnya, berucap layaknya tak bertuhan.
Berkata ada porsinya. Namun, beretika tiada
waktu yang menghentikannya. Segala sudut kehidupan
dengan etika atau akhlak, tak banyak bicara adalah
salah satunya.
165 Ciĩa & Cinĩa
“Sometimes quite people really do have a lot to say. They
are just being careful about who they open up to.”
(Susan Gele)
Sebetulnya orang yang menjaga mulut dari kata,
ia punya banyak kata untuk diucapkan. Bahkan kalimat
untuk diungkapkan. Namun ia paham, bahwa banyak
kata itu tiada guna. Bahkan, sering hanya basa basi saja.
Jika kata itu baik dan berharga tentulah tidak.
Kita bisa melihat orang yang berdakwah, misalnya. Kata,
bahkan kalimat ia ucapkan sebegitu banyaknya dalam
hitungan menit saja, tapi karena memang itulah
kewajibanya. Perkataannya bukan sembarang namun
mengandung hikmah dan banyak pelajaran yang berarti
dan bermanfaat.
Betapa indah menyembunyikan hidup, meski
banyak orang yang berkata bangga tentang kehidupan
mereka. Allah menciptakan mulut tentu bukan untuk
menyakiti, melainkan menyenangi. Menyambungkan
nasihat–nasihat yang baik dari orang baik.
CHANDRA 166
Hati–hati dalam mencari pilihan kata.
Ucapkanlah yang baik saja, jika tidak diamlah. Penting
tentunya bagi kita untuk menyadari, bahwa diam adalah
sebuah pilihan, jika kita tak punya kata baik untuk di
ucapkan. Nafisah akan mengajarkan, betapa pandainya
ia bersembunyi dan menyembunyikan segalanya dalam
diam, cinta salah satunya.
Diam adalah ucapan hati. Meski kata tak
bersuara. Dalam diam sebenarnya ada doa dan kata hati
yang lebih bermakna daripada orang–orang yang
berkata. Diam tak selamanya disalahkan. Diam tak
selamanya dikucilkan. Kadang diam menjadi satu
satunya jalan di saat ucapan-ucapan tak baik ketika
bergumam. Tidakkah kita tahu, bahwa hanya ucapan–
ucapan baik yang boleh kita katakan? Begitulah Allah
menyatakan dalam Al-Qur’an.
Ada banyak hikmah ketika ketika diam. Pertama,
kita tak akan pernah mengatakan hal yang salah, karena
tak satu pun kata yang kita keluarkan. Maka di mana
kesalahanya? Kedua, kita tak akan pernah disalahkan
karena kesalahan. Karena bagaimana orang
167 Ciĩa & Cinĩa
menyalahkan sedang kita tak berbuat salah dengan
perkataan. Dan banyak lagi hikmahnya, ketika halnya
kita mampu melawan nafsu dan keinginan untuk bicara
tidak baik, dan lebih memilih untuk diam walau tidak
diperhitungkan.
CHANDRA 168
Takut
Adalah Keberanian Untuk
Mempertahankan
Sejenak memeriksa
Ternyata, dalam hati tak lebih hanya sekedar
khawatir
Khawatir pada harta yang bertumpuk
Pada raga yang tak sehat lagi
Takhta yang tak lagi diduduki
.
169 Ciĩa & Cinĩa
Khawatir adalah ketika tak lagi khawatir
Pada cintanya yang perlahan terkikis
Beranikah untuk takut kepada-Nya?
GB
Waktu selamanya tentang sebuah perjalanan.
Perjalanan menemukan hal–hal baru, yang mesti kita
ambil pelajaran dan petik setiap hikmahnya. Hidup
harus terus berlanjut dengan atau tanpa alasan. Karena
sejatinya dalam keberanian melanjutkan hidup selalu
berujung pada keberhasilan. Apapun itu.
Tapi tahukah bahwa, antonim dari pada berani,
ternyata juga membawa manusia pada keberhasilan
yang tiada tara nilainya. Keberhasilan dalam sikap,
merasa, dan menaruh hati. Asalkan kita mampu
meletakannya dengan tertata rapi, pada tempat yang
telah disediakan dengan sempurna. Maka hasilnya pun
CHANDRA 170
akan menciptakan sebuah kebahagiaan yang tak ada
tandingannya.
Berani berarti tiada takut. Namun, takut berarti
jauh lebih berani. Misalnya, berani mempertaruhkan
segala macam amarah dan ego untuk sejenak kita
tundukan dan rendahkan di hadapan Sang Maha Kuasa.
Takut tak selamanya buruk.
Takut sesekali hadir menjadi satu sebuah oksigen
pemberi napas kehidupan yang lebih segar. Napas
kehidupan yang terjauh dari kontaminasi maksiat yang
menggelapkan segenap pandangan kehidupan yang
jernih. Maka, takut tak selamanya dilarang. Ada kalanya
waktu memanggilnya untuk segera hadir menyapa, dan
melindungi segenap raga dari babi buta nafsu yang tak
terkendali.
Jika dalam sikap berani kita dituntut untuk tidak
mentakuti apapun, maka dalam takut, kita justru
dituntut untuk lebih berani membelenggu segala amarah
dan nafsu yang menguasai diri. Karena jelas dalam
ajaran Islam, bahwa jihad yang paling utama adalah
melawan hawa nafsu. Takut seolah hadir menjadi
171 Ciĩa & Cinĩa
banteng pertahanan yang kokoh menepis segala lintasan
pikiran yang buruk.
Sebagai seorang manusia biasa, patutlah kita
melakukan kesalahan dan dosa kepada yang Maha
Kuasa atau kepada sesama. Karena tak mungkin semua
itu tiada, kecuali hanya pada diri Baginda Nabi
Muhammad SAW yang terbebas dari dosa.
Dalam setiap langkah hati dan kaki kita, tak
jarang melangkah pada arah yang disalahkan. Jalan
yang mengarah pada jurang kegelapan tanpa kita sadari.
Maka, salah satu jalan untuk kita mencegah langkah
hati dan kaki kita pada arah yang salah, tentulah
dipagari oleh ketakutan pada ancaman serta siksa-Nya
bagi siapapun pelaku kesalahan di dunia.
Setidaknya, dengan adanya besitan rasa takut
dalam hati, terngiang dalam pikiran untuk spontan
sadar dan tidak jadi melakukannya. Maka, selamatlah
diri kita dari pada perilaku yang tidak dibenarkan.
Dengan alasan apapun dan bagaimanapun.
Ketakutan pada perilaku maksiat, tentulah mejadi salah
CHANDRA 172
satu nilai berharga dalam hidup kita dalam membangun
kehidupan yang berjalan dalam jalan syariat agar
terciptanya kehidupan yang lebih diridai oleh-Nya.
Dalam ilmu Tauhid, ada tiga cara agar kita bisa
dengan benar mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Dengan
mengenal, maka kita akan semakin paham dan jelas
arah dan tujuan perjalanan hidup kita di dunia sebagai
seorang khalifah. Tiga hal itu adalah mahabbah (cinta),
khouf (takut), dan roja (berharap). Di dalam tiga hal tadi,
khouf atau rasa takut jelas termaktub sebagai salah satu
cara seorang hamba dalam mengenal Rabb-Nya.
Lebih jelasnya, takut sering kali menjadi alasan
seseorang untuk lebih waspada pada keadaan apapun.
Karena takut seseorang bisa berubah secara spontan
menjadi lebih baik. Karena, di alam sadarnya terdapat
bayangan yang menakutkan dan senantiasa menghantui
pikirannya. Maka, takut jelas dapat merubah karakter
seseorang menjadi lebih hati-hati dalam setiap derap
langkah yang dilaluinya.
Sebagai seorang muslim yang berusaha menjadi
lebih baik. Takut tentulah menjadi salah satu penopang
173 Ciĩa & Cinĩa
hati yang selalu tertatih. Menjadi pagar diri melindungi
setiap niatan yang tidak patut diniatkan.
Pagar inilah yang senantiasa menjaga kita dari
jeratan bisikan setan akan ajakan keburukannya. Maka,
tanpa adanya rasa takut pada Yang Maha Kuasa,
apapun akan mudah masuk dalam tingkah dan pola
kehidupan yang negatif. Tanpa batasan, tanpa
kewaspadaan, dan tanpa kehati–hatian. Sehingga hal
yang dibenci oleh Tuhan sekalipun, boleh jadi telah
menjadi kebiasaan tanpa disadari.
Tiada takut yang perlu ditakuti, bahkan
dikhawatirkan. Karena sejatinya takut bisa membuatmu
lebih beriman, atau menjadi lebih taat pada perintah
Tuhan. Takut juga tak menakutkan, sesekali bisa
menjadi obat atau penenang diri yang terlalu berani
melakukan hal yang salah. Kekeliruan dan kesalahan
dalam menakuti sesuatu, berujung kepada hal yang
buntu. Membuatmu lebih leluasa dan tak merasa
bersalah pada peradilan Tuhan.
Seperti para ulama, misalnya. Ketakutan mereka
kepada Allah sungguh luar biasa. Takut perintah-Nya
CHANDRA 174
yang tak terlaksana, takut cinta-Nya terbagi dua,
bahkan takut pada jurang kemaksiatan yang keruh dan
gelap. Tapi lihat keberanianya dalam menegakan
kebenaran, segala apapun dikorbankannya. Karena
mereka mendengar janji-janji suci Tuhan. Yaitu tentang
kebahagiaan dan ujung yang manis bila mana ikhlas dan
tulus dalam berkorban di jalan-Nya.
Tentang sebuah kerinduan pada cintanya dan
rahmatnya. Takut ada tempatnya. Tak mudah memang
menyimpan takut dengan rapi dan teratur, tak jauh
berbeda dengan membuang sampah. Hampir di setiap
penjuru kota disediakan tempat sampah, tapi inilah
kesadaran dan ketaatan, tak banyak orang yang mampu
dan berhasil melewati fasenya. Buktinya, petugas
kebersihan masih saja sibuk setiap harinya
membereskan dan memungut sampah sampah kota
yang berserakan.
Mengambil hikmah dan pelajaran. Takut pun bisa
seperti menjadi mata pelajaran. Bila kita dalami dan
benar-benar mempelajari, akan timbul rasa dan peduli
175 Ciĩa & Cinĩa
pada diri. Bahkan orang lain sekalipun mereka yang
membenci.
Takut tak seperti mencintai. Takut lebih
sempurna dari sekedar mencinta. Karena sejatinya cinta
tak hanya tentang sebuah keinginan memiliki dan
bertemu. Namun yang paling penting tentang sebuah
ketakutan untuk kehilangan.
Mengenal takut lebih dalam tak seburuk yang
terlintas dalam satu sudut pandang. Kadang orang-
orang keliru dengan terlalu percaya pada satu sudut
pandang. Namun kebanyakan mereka lupa, bahwa
sudut pandang bisa berubah dan menghasilkan
kesimpulan yang lebih indah.
Hidup akan lebih nyaman dengan iman dan cinta.
Namun jika takut tertinggalkan, bagaikan menutup
pintu tak menutup jendela. Tak sempurna. Kecintaan
dan kepercayaan tak sempurna tanpa takut akan
meninggalkan syarat kecintaan.
Terkadang menilai orang dengan seberapa
cintanya dan seberapa yakinnya. Namun, mereka
CHANDRA 176
kebanyakan lupa. Takut pun ada seberapanya dan ada
perhitungannya yang tak bisa diperhitungkan. Seberapa
takut kita kehilangan cinta Allah?
Cinta Allah adalah cinta terbaik yang pernah ada.
Cinta pada manusia semu, kadang samar tak jelas. Tapi,
jikalau cinta Allah sudah terikat rapat tak sedikit pun
keraguan muncul dalam hati akan kebenarannya.
Takutlah kehilangan cinta-Nya dan rahmat-Nya. Cinta
tanpa kasih dan sayang-Nya, tak akan sempurna
memberi kehangatan yang nyaman dan penuh
kebahagiaan.
Mulai sekarang, Teman. Atau tidak pun semoga
nantinya sadar. Takut mesti ditanamkan, namun
dengan benar penempatan. Takut dapat menemani
kehidupan kita menjadi lebih baik. Sesuai dengan
tuntutan kehidupan yang Nabi Muhammad SAW
ajarkan. Hidup haruslah lebih baik dari diri kita
sebelumnya, bukan merasa lebih baik dari orang lain
yang di bawah kita.
Seksama kita sadar dan kembali menyusun
istana hidup kita yang lebih baik. Dengan menaruh satu
177 Ciĩa & Cinĩa
pondasi hidup yang menjadikan hidup kita lebih kokoh.
Kuat pada iman dan ketaatan dengan ketakutan pada
hilangnya pondasi pondasi hidup lainnya.
Ketakutan juga bukan takut karena Allah tak
hadir dengan pertolongan-Nya. Justru takut, karena
perintah-Nya tak sempurna kita kerjakan, hingga relung
kehidupan. Maka, mari menjadi lebih taat dan kembali
mengoreksi kehidupan yang ada. Untuk lebih baik dari
sebelumnya.
CHANDRA 178
Speech Competition
Jika kata yang kuat mampu menggeliat dalam
antara kedua rongga mulut, terimalah
Lalu, akuilah kebenarannya
Dalam kaidah waktu tertentu, rongga mulut gatal
untuk teriak mengeliat.
Beranilah dalam porsinya, takutlah pun pada
porsinya
GB
179 Ciĩa & Cinĩa
Segelintir khawatir kerap diselimuti ragu. Bagai
angin, kepercayaan, dan keberanian entah ke mana
arahnya. Berani harus, takut pun perlu. Pada kondisi
tertentu. Lahirnya cinta jika bukan karena takut
kehilangan, cinta tak akan utuh dan berlama. Begitupun
tanpa takut, kesuksesan apapun tak akan berhasil.
Maka kobaran semangat serta urat keyakinan harus
tetap dinyalakan.
Pagi ini, bukan hari biasa. Kampus UCL terhias
indah dengan panggung mewah dan megah. Terbilang
ribuan orang memenuhi area kampus yang megah.
Sekilas Nafisah kaget dan khawatir, ketika melihat
banyaknya manusia. Mengingat hari inilah dirinya
tampil sebagai peserta pada acara 'speech competition'
ini.
Acara ini digelar setiap tahunnya. Terbuka umum
untuk para mahasiswa dari berbagai belahan dunia.