CHANDRA 80
Nafisah ingat, di ulang tahunya yang keempat
belas. Kurang lebih sebelum sebelun kematian ayahnya,
ia dihadiahi sajadah cantik ini. Sajadah ini selalu
mengingatkannya kepada almarhum ayahnya. Spontan
setelah mengingat, Nafisah tak lupa mendoakannya.
Ketenangan waktu sepertiga malam ini sangat
sahdu. Nafisah menikmatinya dengan salat malam. Salat
malam yang di-dawam-kannya belum terputus selama
ini.
Nafisah sudah sangat terbiasa terbangun sendiri,
di waktu seperempat malam untuk bermunajat kepada
Allah. Baginya ini adalah sebuah kunci berharga bagi
kehidupannya sejauh ini. Curahan hati, keinginan, dan
doa rajin ia panjatkan di waktu ini.
Kali ini, salat malam Nafisah tak biasa. Salatnya
dihiasi dengan tangisan syukurnya kepada Allah. Jarang
sebelumnya Nafisah berdoa sambil menangis. Tapi kali
ini, ia benar–benar menangis bahagia. Isak tangisnya
terdengar keras sampai membangunkan sebagian
teman–teman asramanya.
81 Ciĩa & Cinĩa
Amanda menghampiri Nafisah lalu memegang
pundaknya, “Nafisah kamu baik baik saja?”
“Aku baik baik saja.”
*****
Di kampus tempat Nafisah belajar, ia menjumpai
banyak mahasiswa asing. Berdasarkan informasi 50%
mahasiswa di United College London (UCL) berasal dari
luar Inggris. Banyak teman-teman baru yang berkenalan
dengannya. Nafisah juga sudah paham, tak semua
mereka muslim. Sangat banyak orang–orang non-
Muslim yang tak berkerudung. Bahkan berpakaian
sangat feminin di UCL. Semua itu, tak membuat Nafisah
malu dengan gaya pakaiannya yang khas dengan gamis
dan jilbab panjangnya.
Di sini Nafisah berpikir akan banyak belajar
tentang toleransi dan sikap menghargai. Toleransi antar
umat beragam khususnya, sangat ia sukai. Dalam Islam
pun demikian, tak boleh seorang muslim menyakiti.
Bahkan, memaksa orang non-Muslim untuk masuk
CHANDRA 82
Islam secara paksa, juga tidak diperbolehkan.
Jangankan memaksa, mengganggu dan merendahkan
pun tidak boleh.
Nafisah sedikit fasih berbahasa Arab juga. Hasil
dari belajarnya di pesantren selama bertahun-tahun.
Kebetulan orang yang berada di bangku belakangnya
terlihat seperti orang Arab. Nafisah mencoba
berkomunikasi dengannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Min aina ji’ti?”
“Ana min Mishr.”
Wanita mesir itu ramah dan cerdas. Nafisah
sedikit menanyakan tentang Al–Azhar padanya.
Universitas tertua di dunia itu, sangat terkenal di
seluruh dunia, yang merupakan kiblat ilmu
pengetahuan agama di dunia, dulu Nafisah sempat
memimpikannya.
83 Ciĩa & Cinĩa
Kelas di kampus UCL itu sangat mewah. Berbeda
dengan tempat belajar di pondok dulu, cukup dengan
hamparan karpet hijau yang sederhana. Dan, ditambah
papan tulis hitam tua dan bertuliskan kapur putih. Tapi
kali ini berbeda, setiap sudut ruangan kelas dihiasi
dengan serba kemewahan. Dinginnya AC, tak biasa
Nafisah rasakan.
Teman–teman sekelilingnya berasal dari manca
negara, warna kulitnya pun berupa–rupa. Mulai hitam
pekat dari Afrika atau pun laki laki korea yang sangat
putih pun juga ada.
Nafisah satu-satunya wanita yang berhijab.
Walau ada wanita Mesir di belakangnya, tapi ia tak
mengenakan hijabnya. Hak itu sama sekali tak ia
hiraukan. Hati kecilnya pun kerap kali merasa syukur.
Nafisah sadar, ia sedang meraih cita menggapai mimpi.
Namun, ia lebih sadar bahwa menggapai surga lebih dari
mimpi dan cita-cita.
Tak lama, datanglah Yahya dengan
berpenampilan yang agak berbeda dan ditemani Alex.
Mereka berjalan, sesekali membungkuk di hadapan
CHANDRA 84
orang-orang. Itulah, kebiasaannya di pesantren dalam
rangka menjaga adab dan kesopanan. Namun agak
aneh, jika hal itu dilakukan di sini. Sesekali orang-orang
memperhatikan tingkah anehnya itu.
“Assalamu’alaikum,” Yahya menyapa.
“Wa’alaikumsalam.”
“Ternyata kita satu kelas ya, Nafisah.”
“Kamu juga di sini?”
“Iyalah. Makanya aku ke sini.”
Nafisah tak menduga sebelumnya. Ternyata ia
satu kelas dengan Yahya. Nafisah agak aneh dengan
penampilan Yahya yang sangat berbeda. Lebih jelasnya
seperti orang Eropa.
“Tumben kamu, Yahya. Pakaian kamu, tuh. Sok
kebarat-baratan,” kata Nafisah.
“Lah iya, dong. Kitakan harus bisa menyesuaikan
dengan lingkungan,” jawab Yahya sambil agak sombong.
85 Ciĩa & Cinĩa
“Banyak gaya kamu, Yahya. Baru saja sehari di
London, sudah berubah drastis,” Nafisah sambil
menyinggung.
“Sudahlah, Nafisah. Sekarangkan kita sudah
beda. Kita sesuaikan saja sama di sini. Aku tetap
menjaga agamaku, kok,” jawab Yahya sambil
meyakinkan Nafisah.
“Iya. Aku paham, kok.”
Pembicaraan mereka berdua tak dicampuri Alex.
Alex tak mau menggangu mereka. Hanya saja, ia sibuk
memperhatikan Nafisah yang begitu mempesona. Pagi
hari Alex yang tak seperti biasanya. Karena untuk
pertama kalinya, pagi ini ia melihat wanita berhijab di
kampusnya.
Nafisah menyadarinya. Ia tahu Alex seringkali
meliriknya dengan lirikan tajam. Sudah dua hari ini
sepertinya Nafisah curiga. Nafisah tak banyak bicara di
depan Alex. Ia pun enggan menyapanya atau memulai
pembicaraan dengannya. Hanya saja Alex yang sering
kali salah tingkah ketika memulai pembicaraan.
CHANDRA 86
“Nafisah, kamu hebat ya,” kata Alex sambil agak
grogi.
“Maksudnya?” tanya Nafisah.
“Iya, kamu hebat. Kamu sendirian lho yang pakai
hijab di kampus ini. Empat tahun aku di sini belum
pernah melihat mahasiswi berhijab. Dan ini pertama
kalinya,” Alex sambil memujinya.
“Oh, iya ini sudah biasa, kok. Memang sudah
kewajibanku mempertahankan hijab di manapun dan
kapanpun,” jelas Nafisah.
Alex semakin jatuh hati pada Nafisah. Nafisah
adalah wanita pertama yang meluluhkan hati Alex
selama di London ini. Alex sambil melamun, ia menghalu
supaya Nafisah bisa menjadi pasangan hidupnya. “Ini
perempuan, subhanallah banget ya. Papah sama
mamahku pasti setuju kalau aku menikahinya. Tahun
depan kan aku lulus, semoga aja Nafisah mau menikah
denganku,” Alex melamun sangat lama.
“Lex? Lex? Lex?” panggil Yahya.
87 Ciĩa & Cinĩa
“Kenapa dengan Alex?” tanya Nafisah.
“Enggak tahu, tuh. Coba kamu panggil,” suruh
Yahya.
“Alex? Kamu kenapa?” tanya Nafisah.
Alex langsung tersadar mendengar suara Nafisah
yang memanggil namanya. Ia seperti tak sadar selama
kurang lebih semenit lamanya, melamun. Alex berusaha
menyembunyikan dulu rahasia cintanya, ia tak mau
Nafisah mengetahui dulu isi hatinya.
“Oh, aku enggak apa-apa, kok. Aku agak pusing
saja sedikit. Aku lupa belum minum obat,” jawab Alex
beralasan.
“Oh. Emang kamu sakit, ya?” tanya Nafisah.
“Eh, enggak sih aku biasa saja”
“Terus?”
“Eh enggak tahu, deh. Aku ke belakang dulu.
Assalamualaikum,” Alex sambil terburu buru keluar
kelas.
CHANDRA 88
Sikap Alex yang agak aneh membuat Yahya
menduga-duga. Nafisah sudah lebih dulu menduga.
Nafisah menyikapinya dengan baik dan dingin, tapi ia
tidak terlalu merasa dan merasa menjadi idaman. Ia
paham bagaimana sebaiknya seorang muslimah dalam
bersikap. Kecurigaan Yahya membuat ia bertanya–tanya
tentang apa yang terjadi.
“Kenapa sih sikapnya Bang Alex kaya gitu?” tanya
Yahya sambil memancing.
“Enggak tahu, tuh,” jawab sederhana Nafisah.
“Tapi, kamu tadi lihat enggak, kalau Alex lihatin
kamu terus?”
“Iya, mungkin.”
“Jangan–jangan ”
“Apa sih Yahya. Sudah, ah. Sana kamu duduk di
kursimu.” Nafisah mengalihkan perhatian.
Cinta tak selamanya dapat diterima. Kadang cinta
menjadi ujian. Sama ketika halnya dia yang mendekati,
ternyata bukan orang yang ada di hati.
89 Ciĩa & Cinĩa
Hidayah
Pertama
Dalam nada alunan suci cahaya Ilahi
Terpandang hidayah menelisik pada rongganya
Kapanpun, di manapun, pada siapapun
Jika “kun fayakun” syahdu
Hatinya terang, pikiranya jernih. Menerima.
Bukankah cahaya itu terang?
Tentu, dalam kegelapan sekalipun. Cahaya tetap
terang.
Inilah agama keberserahdirian
CHANDRA 90
GB
London tengah musim salju kala itu. Dinginnya
es membuat Nafisah terpaksa harus menggunakan dua
jaket sekaligus. Berjalan sambil memutari taman sambil
bermain-main bersama Amanda dan kawan–kawan
lainnya. Nafisah kini sudah sangat hafal tempat–tempat
pernting setempat. Bagaimana tidak, ini sudah tahun
ketiga Nafisah berada di ibu kota negeri Ratu Elisabeth.
Amanda seperti biasanya dia sangat riang
gembira. Tingkahnya seperti anak usia belasan. Baginya,
bermain salju sudah seperti bermain tanah di kampung
halamannya sendiri. Nafisah tak terlalu aktif dan banyak
bicara. Sudah menjadi ciri khasnya, ia lebih banyak
diam dan pemalu.
Malu? Kali ini Nafisah menyimpan rasa malu yang
besar. Malu kepada Sang Maha Kuasa. Malu yang ia
91 Ciĩa & Cinĩa
taruh pada tempatnya. Seperti halnya menaruh mutiara
dalam kerang.
“Betapa banyak sampai saat ini, nikmat–nikmat
yang telah Kau berikan kepada hamba. Hamba malu
hamba malu, hamba malu. Syukurku tak cukup baik
untuk berterima kasih padamu, Wahai Tuhan-ku. Ibadah–
ibdahaku tak seberapa jika kutukarkan dengan semua
nikmat dan rahmat-Mu. Bahkan, aku masih bingung
dengan jumlah amal–amalku yang sering kali hamba
lalaikan. Jikapun hamba melakukan kadang aku tak
tahan untuk memberitahukan orang.”
Nanti aku teruskan ....
“Ya Allah, aku malu.”
Seperti biasanya, Nafisah suka membuat cerita
dan ungkapan hatinya dengan ungkapan yang pendek di
Instagram. Kemudian melanjutkanya nanti di Wattpad.
Ia ingin mengundang pembacanya, agar dialihkan
mengunjungi Wattpadnya.
“Nafisah ... sini, deh! Diam mulu!” panggil
Amanda.
CHANDRA 92
“Ada apa, Amanda? Aku segera ke sana!”
“Lihat deh nenek-nenek pengemis itu! Itu yang
depan toko sepatu.”
“Yang mana, Amanda? Enggak kelihatan.”
“Itu lho yang lagi duduk di pojokan toko. Kasian
banget tahu.”
Di sana terlihat jelas seorang nenek tua yang
sedang menghitung uang recehannya. Di depannya
terlihat beberapa lembar newspaper yang mungkin
dijualnya. Mukanya begitu pucat dan sangat kelelahan,
sudah pasti ia adalah seorang penjual koran yang sedang
menghitung penghasilannya.
Tapi, wajahnya begitu indah berseri. Lekuk
senyuman manisnya tergambar indah di wajahnya.
Sesekali dia terlihat mengepalkan kedua tangannya
sambil menunduk dan menutup mata. Persis seperti
berdoanya orang-orang Kristian.
93 Ciĩa & Cinĩa
“Dia kayanya seorang Kristen, deh. Ayo, ah.
Enggak usah dikasihani. Biarkan saja. Ayo kita pulang,”
kata Amanda mengejutkan lamunan Nafisah.
“Tunggu dulu,” kata Nafisah.
Perlahan Nafisah melangkah mendekati Nenek
tua itu. Nafisah berniat menemui dan ingin berbicara
dengannya. Ia berjalan meninggalkan Amanda di
tempatnya. Amanda terkejut. Dan heran dengan sikap
temannya tersebut.
“Nafisah! Kamu mau ke mana, sih. Ada-ada saja,”
panggil Amanda.
“Kalo enggak mau ikut, enggak apa-apa. Aku mau
menemui nenek itu,” jawab Nafisah.
“Tapi ... Nafisah.....”
“Kalo kamu enggak mau, kamu boleh duluan ke
asrama Amanda,” jawab Nafisah.
Nafisah dengan beraninya, sendirian menemui
nenek tua itu. Amanda terpaksa pulang duluan ke
asrama. Karena ia tak begitu suka dengan nenek
CHANDRA 94
beragama Kristen itu. Suasana salju tampak
menyelimuti kasih sayang dari seorang Nafisah. Nafisah
membantu nenek tanpa pandang bulu.
“Exusme, Madam?” Nafisah menyapa.
“Who are you,” sang nenek menjawab ketakutan.
Tampak dekat ternyata nenek itu seperti orang
Indonesia. Mukanya tak jauh berbeda dengan nenek-
nenek, tetangga Nafisah di Indonesia. Mukanya yang
manis, persis seperti dari suku Batak. Ubannya yang
banyak serta wajahnya yang keriput mengingatkannya
pada almarhumah neneknya di Indonesia.
“Nenek orang Indonesia, ya?” tanya Nafisah.
“Why are you know?!” tanya sang nenek
membentak seperti tidak menyukainya.
“Ibu seperti orang Indonesia,” jawab Nafisah
lembut.
“Siapa kamu? Kamu muslimah! Jangan dekati
saya! Kamu teroris!” sang nenek sambil marah dan agak
ketakutan.
95 Ciĩa & Cinĩa
“Saya memang muslimah, Nek. Tapi, saya bukan
teroris,” jawab Nafisah dengan lembut dan sabar.
Memang masih banyak sekali orang–orang
setempat yang tidak suka dengan Islam. Di samping
perkembangan Islam di Inggris yang pesat, ternyata
perlawanan serta tuduhan sebagai terorisme belum
sepenuhnya terselesaikan.
Nenek ini ternyata salah satu korban terorisme di
ibu kota London. Ia adalah warga negara Indonesia dari
kota Bandung yang menikah dengan pria keturunan
Inggris. Tiga tahun lalu, ia sedang berlibur di area
London Bridge bersama suami dan anak–anaknya.
Dalam kejadian itu, suami, kedua anak, beserta
cucunya yang masih kecil meninggal di tempat.
Sedangkan, dirinya hanya terluka ringan saja. Karena
saat itu posisinya berada agak jauh dari tempat suami
dan anak-anaknya.
Isu yang beredar bahwa teroris atau pelaku
pengeboman berasal dari Timur Tengah, yang diklaim
adalah seorang muslim. Sejak itulah, nenek ini
CHANDRA 96
membenci Islam dan sangat anti dengan Islam. Karena
kejadian itu, telah menewaskan suami, anak–anak, dan
cucunya.
Namanya Madam Angelina. Usianya di atas empat
puluh tahun. Wanita Kristen yang sebelumnya sangat
baik dan penyayang. Namun, kini seperti agak stress dan
depresi. Kesehariannya menjual koran–koran di pinggir
jalanan. Dan, ia tak mempunyai tempat tinggal yang
tetap.
“Nenek, tinggal di mana?” tanya Nafisah.
“Nenek tidak punya tempat tinggal, Dik,” ujar
nenek sambil menunduk.
“Lalu setiap hari nenek tidur di mana?”
“Nenek suka tidur di pelataran–pelataran toko
atau di kolong jembatan,” jawab sang nenek agak sedih.
Hati Nafisah mengerut tersentuh. Hatinya
terketuk dan sangat sedih mendengar ucapan nenek itu.
Tanpa ragu, Nafisah menawarkan Nenek itu untuk
tinggal di asramanya, bersama teman–teman lainnya.
97 Ciĩa & Cinĩa
“Nek, kalau mau, nenek boleh kok tinggal di
tempat saya,” Nafisah menawarkan dengan lembut.
“Tidak. Nenek malu. Nenek lebih baik tinggal di
jalanan seperti ini,” jawab Nenek bersedih.
“Tapi, Nek. Saya enggak keberatan, kok. Saya
enggak tega melihat nenek seperti ini. Saya merasa malu
kepada Tuhan saya. Jika menelantarkan Nenek seperti
ini. Nenek mau, ya?” Nafisah agak membujuk malu.
“Tapi ..., Dik?”
“Sudah, Nek. Nenek tidak usah khawatir. Aku
punya sedikit tabungan kok buat keperluan Nenek nanti.
Nenek tidak usah jualan koran lagi. Nenek seharusnya
sudah istirahat,” Nafisah meyakinkan sang nenek.
Akhirnya, nenek Angelina mau menerima
tawaran Nafisah, seorang bidadari dunia ini. Sambil
menangis keduanya salang memeluk haru. Nenek tak
kuasa menahan haru, begitupun Nafisah yang tak tega
meningglkanya sendirian di jalanan. Suasana salju
semakin mendinginkan suasana mereka.
CHANDRA 98
“Dik, kamu sangat baik sekali. Nenek enggak
tahu harus bilang apa. Terima kasih banyak,” sang
Nenek berterima kasih sambil menangis.
“Iya, Nek. Sama-sama. Atas nama kemanusiaan
sudah seharusnya saya berlaku seperti ini,” jawab
Nafisah sambil menghargai kepercayaan.
Selepas itu, Nafisah membawanya ke asrama.
Nenek tinggal berdua bersamanya di kamar pribadi
Nafisah. Setiap mahasiswa di sana memang semuanya
memiliki kamar pribadi. Meski tak luas tapi sepertinya
cukup untuk ditinggali bersama nenek Angelina.
Kebetulan semua mahasiswi di asrama semuanya
beragama Islam. Mereka tergabung sebagai Komunitas
Muslim di London. Semuanya menerima kedatangan
nenek Angelina dengan baik. Ia disambut dan
diperlakukan seperti seorang saudara. Hanya Amanda
saja yan agak kesal dan kurang menerima. Tapi tenang
saja, akhirnya setelah Nafisah menjelaskan pada
Amanda, akhirnya Amanda pun paham.
99 Ciĩa & Cinĩa
Tak sedikit pun mereka mengganggu dan
mengusik kepercayaan nenek Angelina. Tidak ada
sedikit pun kekerasan dan paksaan yang dilakukan
mereka kepada nenek Angelina. Apalagi Nafisah yang
sudah memperlakukanya seperti neneknya sendiri.
Nafisah ingat amanah, pesan, dan amanat ustaz–
ustazah di pondok. Dan yang paling penting perkataan
abi Mahmud yang menasihatinya dengan lembut dan
sangat baik, bahwa tidak ada paksaan dalam Islam.
Islam selalu mengajarkan berbuat kepada siapapun,
baik dia seorang muslim atau non-Muslim. Bahkan kita
tidak boleh mengajaknya masuk Islam dengan cara
paksaan dan kasar.
Selagi akidah dan agama kita, tidak mereka
ganggu, siapapun orangnya jika ia sedang kesulitan,
maka seorang muslim wajib menolongnya. Tolong
menolong atau ta’awun sangat ditekankan dalam Islam.
Karena sebagai seorang manusia sosial, kita mestilah
saling menolong satu sama lain dalam kebaikan. Selagi
tidak mengganggu akidah dan kepercayaan kita.
“Nek, kita makan dulu!” panggil Nafisah.
CHANDRA 100
“Iya, terima kasih. Nanti Nenek menyusul,” jawab
sang nenek.
Setiap hari sang nenek diperlakukan dengan cara
yang sangat baik. Etika serta sikap Nafisah yang sangat
baik, membuat Nenek terkagum dan bangga. Nenek
Angelina merasa malu dan sungkan. Ia merasa tak enak
dengan Nafisah, Nenek merasa bersalah karena dulu
pernah bersikap kurang baik terhadapnya.
“Nafisah!” panggil Nenek Angelina.
“Iya, Nek. Ada apa?”
“Nenek, mau bicara”
“Kenapa, Nek. Ada apa?”
Nenek Angelina terlihat agak sedih dan sedikit
mengeluarkan air mata. Ia ingin meminta maaf dan
sangat berterima kasih kepada Nafisah yang selama ini
memperlakukannya dengan sangat baik.
“Nafisah, kenapa kamu begitu baik sekali kepada
Nenek?” tanya nenek sambil agak menangis.
101 Ciĩa & Cinĩa
“Nek, Agama kami mengajarkan untuk berbuat
baik kepada siapapun. Bahkan terhadap non-Muslim
sekalipun,” jawab Nafisah lembut.
“Memangnya, begitu ya ajaran agama kamu?”
tanya nenek sambil malu.
“Iya begitu, Nek. Bukan hanya itu, agama kami
selalu mengajarkan kedamaian dan sikap toleransi
kepada siapapun. Dan semua itu sudah dicontohkan
oleh Nabi kami,” jelas Nafisah.
Nenek menangis sangat kencang. Ia meminta
maaf dan merasa menyesal dengan sikapnya yang tidak
baik. Selama ini matanya tertutup rapat dengan
gelapnya kebencian dan prasangka buruk. Agama yang
selama ini ia anggap sebagai agama kekerasan, agama
terorisme, ternyata merupakan sebuah agama yang
sangat indah dan penuh kedamaian.
Hati nenek terketuk. Dan sangat ingin merasakan
kedamaian yang diajarkan Islam. Tapi, ia belum
sepenuhnya yakin. Ia belum mau bersyahadat. Ia ingin
sedikit demi sedikit mempelajari Islam dengan Nafisah.
CHANDRA 102
“Nafisah, maukah kamu mengajarkan Islam
kepada Nenek?” tanya nenek dengan tulus hati.
Nafisah agak terkejut dan tidak percaya,
“Insyallah, Nek. Nafisah akan selalu siap menemani
Nenek untuk belajar agama penuh kedamaian ini,” jawab
Nafisah dengan senang hati.
Seketika London berubah menjadi cerah.
Suasana haru keduanya memecahkan suasana hati
yang pekat dengan dengki. Persis seperti sorotan sinar
matahari, hati sang nenek tercahayai oleh cahaya agama
yang indah dan penuh kedamaian.
Setiap hari, nenek tak lepas dengan buku
panduan membaca ayat suci. Jika di Indonesia seperti
buku IQRO’. Nenek mendapatkannya dari Nafisah yang
telah ia sudah mempersiapkannya dari Indonesia. Dulu
ia sengaja membawanya, karena ia yakin bahwa orang–
orang Eropa pasti ada yang yang ingin memperlajari Al-
Qur’an. Dan inilah salah salah satu buku perantaranya,
buku IQRO’.
103 Ciĩa & Cinĩa
“A ... a ... a.”
“Ba ... ba ... ba.”
“Ta ... ta ... ta.”
Walaupun sudah tua renta, sang nenek tetap
semangat mempelajarinya. Seperti dulu ketika
mudanya, saat sang Nenek dengan lihainya
memecahkan masalah masalah matematika.
Di samping itu, nenek juga membaca buku–buku
dasar tentang agama Islam, yang juga dibawa oleh
Nafisah. Buku sewaktu belajar di pondoknya dulu.
Bukunya sudah tua dan agak lecek. Terlihat bekas
coretan–coretan pena logatan Nafisah di buku. Nenek
Angelina pun sesekali kesulitan membacanya dan
berulang kali bertanya kepada Nafisah. Nafisah tertawa
kecil sambil mengingat kenangan belajarnya di pondok
dulu.
Sejak tinggal bersama nenek Angelina, Nafisah
sering sibuk di dalam kamar. Nafisah yang biasanya
membantu teman–temannya mengerjakan tugas, kini
jarang dilakukannya. Teman–temanya yang sering kali di
CHANDRA 104
ajari Nafisah kini kesulitan dalam mengerjakan
tugasnya. Sesekali mereka mengintip dan ingin
mengetuk pintu kamarnya Nafisah, tapi mereka merasa
tak enak, karena terdengar suaranya sedang belajar
bersama nenek Angelina.
105 Ciĩa & Cinĩa
Syahadat
Pertama
Nafisah seperti biasanya terbangun pagi–pagi
sekali. Melaksanakan salat tahajud dan salat sunah
lainnya. Hening suasananya sangat menentramkan.
Waktu yang tepat untuk mencurahkan segala masalah
kehidupan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Kali ini, Nafisah bangun terlalu pagi. Biasanya
begitu dirinya selesai salat malam, azan subuh langsung
berkumandang. Namun kali ini tidak, masih ada waktu
yang tersisa menjelang azan subuh. Nafisah
memanfaatkannya dengan membaca ayat suci Al-
Qur’an.
Suaranya sangat lembut dan enak didengar,
membuat nenek Angelina terbangun dari tidurnya.
CHANDRA 106
Jarang sekali nenek Angelina terbangun di waktu seperti
ini. Paling hanya beberapa kali saja, ketika hari minggu
ia harus pergi pagi ke geraja.
Suasana tenang dan tentram dirasakan nenek
Angelina. Hidupnya seketika berubah ke dunia yang
damai. Ia merasakan kedamaian yang selama ini ia cari
telah ditemukan.
Hidayah turun dengan tepat kepada nenek yang
baik hati ini. Nenek tak kuasa menahan tangis. Ia sudah
merasa sangat yakin bahwa dirinya harus bersyahadat.
Isak tangis Nenek didengar Nafisah, Nafisah pun segera
beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Nenek
Angelina yang sedang di tempat tidur. Nafisah terburu–
buru dan khawatir.
“Nek, Nenek bangun? Nenek kenapa nangis?”
tanya Nafisah sambil khawatir.
Nenek Angelina tak mengatakan apapun. Ia ingin
melanjutkan tangisnya. Akhirnya, semakin kencang dan
haru. Nafisah berulang kali memanggil nenek, tapi nenek
Angelina tetap tak berbicara apapun.
107 Ciĩa & Cinĩa
“Nek ... Nek ... Nenek, kenapa?” Nafisah sangat
khawatir.
Seketika nenek berhenti menangis. Ia terdiam
sejenak sambil menunduk dan sesekali menutup mata
dan mengangguk. Nafisah ikut terdiam, dan
membiarkan Nenek menghentikan tangisnya. Nafisah
bergegas mengambil tisu dan memberikannya kepada
Nenek.
Nenek kemudian memegang tangan Nafisah,
sambil mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan
bagi Nafisah.
“Nafisah ... antarkan Nenek ke masjid pagi ini ...
Nenek mau masuk Islam,” ucap Nenek perlahan.
Sejenak Nafisah agak kaget dengan perkataan
nenek Angelina. Tapi, Nafisah bahagia luar biasa saat
itu. Ia sangat bersyukur, akhirnya nenek Angelina mau
bersyahadat setelah beberapa lama ini mulai
mempelajari Islam.
CHANDRA 108
“Baik, Nek. Hari ini Nafisah tidak akan ke kampus
dulu. Nafisah akan mendampingi Nenek ke Masjid,” ucap
Nafisah penuh syukur.
Nafisah ingat dengan Alex salah satu pengurus
masjid Baitul Futuh. Mungkin dia bisa membantu untuk
bisa menuntun nenek Angelina bersyahadat secara
resmi di masjid yang megah itu.
Pagi hari yang indah, langit London ikut
menyambut nenek Angelina untuk bersyahadat. Nafisah,
nenek Angelina dan ditemani Amanda pergi ke Masjid
Baitul Futuh. Sebelumnya ia juga sudah menghubungi
Yahya untuk ikut datang. Asramanya tak jauh dari
asrama Nafisah.Yahya akan menyusul bersama
beberapa temannya.
Mereka tiba tepat jam delapan seperempat pagi,
waktu duha yang sejuk dan dingin. Umar Alex dan
beberapa imam besar masjid sudah mempersiapkan
segalanya. Proses syahadatnya akan digelar di dalam
masjid.
109 Ciĩa & Cinĩa
Mereka disambut dengan sangat baik oleh
segenap umat muslim yang ada di masjid Baitul Futuh.
Banyak juga masyarakat London yang beragama Islam
ikut menyambut dan menyaksikan proses syahadatnya
nenek Angelina.
Untungnya Yahya dan beberapa temannya tidak
terlambat. Mereka datang sebelum acara dimulai.
Nafisah sudah menceritakan segalanya kepada Yahya
sebelumnya. Menurut Yahya ini adalah hal yang luar
biasa.
“Assalamu’alaikum, Nafisah,” sapa Yahya.
“Wa’alaikumsalam, Yahya. Untung saja kamu
enggak terlambat,” jawab Nafisah.
“Iya, alhamdulillah. Hebat sekali kamu, Nafisah.
Kamu bisa membuat seseorang bisa masuk Islam,”
Yahya memuji.
“Ah, biasa saja, kok. Itu emang sudah takdir
Allah,” Nafisah merendah hati.
CHANDRA 110
“Ah, kamu. Enggak mungkin seseorang bisa
masuk Islam tanpa sebab,” ujar Yahya.
“Nafisah ini orang baik sekali. Nenek masuk Islam
ini karena melihat segala kebaikan yang dilakukan
Nafisah pada Nenek. Nenek beruntung bisa bertemu
dengan sahabatmu ini, Dik,” Nenek Angelina tiba-tiba
memotong percakapan mereka.
Nafisah tak mau berbangga. Ia tetap menjaga
hatinya yang suci dan tak mau sedikitpun mengatakan
hal baik dalam dirinya.
“Eh, ayo kita masuk. Itu orang–orang sudah pada
menunggu di dalam, lho. Ayo, Nek, Yahya,” Nafisah
mengalihkan perhatian.
Acara digelar dengan sedikit formal. Dihadiri
beberapa tokoh muslim dan imam masjid yang lainnya.
Orang–orang muslim di London sudah seperti keluarga.
Mereka tak mau ketinggalan ikut menyambut siapapun
yang akan menjadi saudara barunya.
111 Ciĩa & Cinĩa
Berbagai media bedatangan ikut meliput prosesi
ini. Alex diam–diam menghubungi pihak media supaya
bisa menyebarluaskan informasi ini ke seluruh dunia.
Nafisah dan nenek Angekina terkejut dan
bingung. Begitu banyaknya orang–orang Islam yang
hadir di sini. Padahal Nafisah hanya menginformasikan
kepada Alex tadi waktu subuh, tapi acaranya seperti
telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Semua orang begitu gembira. Nenek Angelina
dengan pakaian layaknya muslimah menjadi pusat
perhatian. Pertama kalinya, nenek mengenakan
kerudung, Dulu ia sering berpikir buruk dan bahkan
menghujat para muslimah yang mengenakan hijab.
Menurutnya, mereka bodoh dan tak masuk akal. Hari ini
ia merasakan sendiri begitu nyamannya mengenakan
pakaian serba tertutup. Ia merasa terlindungi.
Nafisah selalu di samping nenek Angelina. Seperti
biasa, ia mengenakan pakaian muslimah dengan hijab
panjangnya. Parasnya selalu cantik dan manis, seperti
biasa Alex sesekali menatap wajah Nafisah. Nafisah juga
tersadar, tapi Nafisah sesekali menunduk.
CHANDRA 112
Acara dimulai, diawali dengan sambutan imam
masjid sekaligus pemimpin umat Islam di kota London.
Ia menyampaikan kesenangannya pada hari ini. Karena,
di tengah minoritas muslin yang ada di Inggris, suatu
keistimewaan jika ada seorang Kristen yang mau
mengucapkan syahadat dan masuk Islam. Beliau
mengatakan kebahagiaannya dan akan menyambut
serta melayani Nenek Angelina untuk lebih mengenal
Islam lebih dalam lagi.
Tak lupa beliau juga memberikan apresiasi
setinggi-tingginya kepada Nafisah, yang menurutnya
menjadi orang yang penting atas masuk Islamnya Nenek
Angelina.
Nenek kemudian berdiri dan membenarkan
ucapan Imam. Kemudian ia sedikit menceritakan
kisahnya mengenai kebaikan Nafisah yang selama ini
telah membimbingnya untuk mempelajari Islam. Ia
mengaku bahwa dulu dirinya hanya seorang
gelandangan penjual koran. Namun, akhirnya ia dibawa
oleh seorang malaikat berwujud manusia bernama
Nafisah dan memperlakukannya sebagaimana
113 Ciĩa & Cinĩa
keluarganya sendiri. Padahal mereka tidak pernah saling
mengenal sebelumnya.
“Takbir. Allahu Akbar!”
“Takbir. Allahu Akbar!”
“Takbir. Allahu Akbar!”
Imam kemudian mengucapkan tiga kali takbir.
Sebagai rasa pengagungan kepada Allah yang telah
memberikan hidayah kepada Nenek Angelina melalui
seorang Nafisah, yang disebut olehnya Malaikat
berwujud manusia.
Mendengar hal itu, Alex semakin jatuh hati
kepada wanita ini. Nafisah Az-Zahra mengingatkanya
kepada Fatimah Az-Zahra. Puteri Nabi yang sangat
terjaga akhlaknya. Sampai Alex berpikiran dan berniat
untuk melamar Nafisah dalam waktu dekat ini.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba,
dengan dibimbing oleh seorang Imam, Nenek dituntun
untuk bersyahadat.
CHANDRA 114
“Asyhadu alla ilaaha illAllahu wa ashhadu anna
muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu”
“I bear witness that there is no god except Allah,
and i bear witness that Muhammad is the mesengger of
Allah”
Alhamdulillah, hari ini adalah hari yang berkesan
bagi umat muslim di Inggris. Khususnya bagi Nenek
Angelina begitu juga bagi Nafisah. Betapa gembiranya
semua orang di mesjid sana, tak henti hentinya Nenek
Angelina mendapat ucapan selamat dari muslim-
muslimah di London. Para muslimah di sana bergantian
memeluk Nenek dan Nafisah dengan pelukan hangat
bagaikan seorang saudari mereka sendiri.
Suasana haru tak dapat ditahankan lagi, suasana
tangis kebahagiaan sempurna terjadi pagi itu. Acara
ditutup dengan doa yang langsung dipimpin oleh Imam.
Beberapa media sibuk mendokumentasikan
peristiwa tersebut. Nenek Angelina dan Nafisah kerap
didatangi media untuk diwawancarai. Nenek
mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang bisa
115 Ciĩa & Cinĩa
menjadi bagian dari umat Islam. Dan ia berharap, akan
banyak lagi orang yang bersyahadat dan masuk Islam di
dunia khususnya di kota London ini.
Nenek juga tak lupa mengatakan kepada media
bahwa dirinya telah dipertemukan dengan seorang
muslimah, orang Indonesia yang telah banyak mengajari
dan berbuat baik kepadanya. Padahal, dulunya nenek
adalah seorang Kristen, yang berbeda agama dengan
Nafisah.
Peristiwa itu sangat berkesan dan bersejarah bagi
kehidupan nenek. Tapi jujur saja, bahwa sejarah inilah
yang paling berkesan. Karena kali ini merupakan
kehidupan baru yang menentukan baik buruknya
perjalanan kehidupan nenek nantinya.
Melihat semuanya sudah terjadi, Alex berusaha
mencari kesempatan. Kesempatan yang ia harap dalam
kesempitan, ia ingin meyakinkan bahwa pandangan
pertamanya dulu adalah cinta. Cinta yang ingin ia
lanjutkan ke jenjang pernikahan, karena baginya
pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral dan
menentukan.
CHANDRA 116
Alex agak ragu sebenarnya. Tapi, ia memutuskan
berusaha untuk menjadi lelaki yang bijak. Ia
membatalkan niatnya dan mencari langkah yang lebih
bijak.
“Aku harus menghubungi ayahnya langsung. Iya,
benar,” ujar Alex dalam batin.
Alex berusaha menghentikan Yahya yang tengah
berjalan dan mau masuk mobil unuk pulang. Namun,
suara Alex yang keras dan terlihat sangat serius
membuat Yahya menghentikan langkahnya.
“Ada apa, Alex?” tanya Yahya.
“Eh, maaf banget ya. Sini dulu. Kita duduk santai
saja. Ada hal yang mau saya bicarakan,” kata Alex.
“Apa nih, Lex. Serius banget.”
“Mm, kamu sepondok sama Nafisah, kan?” tanya
Alex.
“Iya. Emang ada apa?”
117 Ciĩa & Cinĩa
Alex agak ragu dan grogi mengatakan bahwa
dirinya ingin melamar Nafisah. Tapi karena kuatnya
keyakinan Alex, ia berhasil mengalahkan keraguanya.
“Aku mau melamar Nafisah.”
Sambil menutup mata dengan yakinnya, Alex
langsung to the point. Ia mengatakan kalimat itu tanpa
kesadaran dan kesengajaannya. Yahya yang berada di
depannya kaget bukan main.
“Apa, Lex? Kamu enggak salah ngomong, kan?”
ucap Yahya sambil terkejut.
Alex seketika sadar, ia tahu apa yang tadi
ucapkan. Tapi, Alex mencoba menjelaskan kepada Yahya
dengan baik-baik.
“Jadi gini, Yahya,” Alex sambil menenangkan
Yahya.
Alex mengatakannya dengan terus terang saja.
Rasa cintanya sudah benar-benar terasa dalam hati.
Sesekali Alex membicarakan kekagumannya kepada
Nafisah.
CHANDRA 118
“Aku menyukai Nafisah sebenarnya sudah lama
sekali, Yahya. Mungkin dua tahun lalu. Ketika pertama
kali aku melihatnya bersamamu,” Alex mengatakannya
terus terang.
“Iya, iya. Aku paham. Apa benar mau secepat ini?
Lagian kan Nafisah masih kuliah, dia baru tiga tahun di
London ini, masih agak lama dia sampai sarjana, Lex,”
Yahya coba menjelaskan.
“Saya tahu, Yahya. Tapi jikapun aku menikahi
Nafisah, aku akan tetap di Inggris. Dan, menemaninya
sampai lulus di sini.”
“Ya sudah, kalau itu mau kamu. Nanti saya kasih
nomornya Ibunya Nafisah, sama Abi, pimpinan
pondoknya Nafisah dulu. Soalnya ayah kandungnya
sudah wafat.”
“Jadi Nafisah anak yatim?” tanya Alex.
“Iya, Lex. Sudah sejak kecil ayahnya wafat. Kalau
bukan karena Nafisah orang yang tangguh, enggak
mungkin sekarang dia bisa sekolah di Inggris seperti
sekarang ini.”
119 Ciĩa & Cinĩa
Alex semakin percaya dengan Nafisah. Cinta
dalam hatinya sudah terlanjur kuat menancap dalam
dada. Akhlak dan sikapnya yang mulia, membuatnya
jatuh pada jurang cintanya Nafisah.
“Ya sudah, berikan aku nomornya Abi sama
ibunya,” ucap Alex dengan yakinnya.
“Iya, Lex. Nanti aku kirim ke kontakmu, ya.”
“Iya. Terima kasih, Yahya.”
“Lex?”
“Apa?”
“Semoga berhasil ya. Ingat! Nafisah bukan
sembarang wanita. Beruntung kamu jika
mendapatkanya,” Yahya memberi semangat.
“Iya, Yahya. Terima kasih ya,” jawab Alex penuh
percaya diri.
Alex penuh percaya diri. Iya sangat yakin
lamarannya akan diterima. Sebelumnya, ia akan
menghubungi mami dan papinya dan meminta restu.
Mereka tentu merestuinya.
CHANDRA 120
Tinggal selangkah bagi Alex untuk mendapatkan
wanita yang diingikannya itu. Sebagai laki–laki yang
baik, ia langsung menghubungi abi, pimpinan pondok
Nafisah dulu. Dan juga merupakan adik dari ayah
kandungnya Nafisah.
Kebetulan sekali, Alex akan pergi ke Indonesia.
Bulan ini ia harus ke Yogyakarta menemui mami dan
papinya di Yogya. Ia harus menghadiri acara pernikahan
kakakya di sana. Ini kesempatan yang bagus bagi Alex
untuk bisa langsung menemui Abi dan ibunya Nafisah
secara langsung. Dan menyatakan lamarannya kepada
Nafisah.
Alex sengaja tak memberitahukan terlebih dahulu
kepada Nafisah. Tapi, beruntungnya Yahya memberikan
informasi mengenai Alex yang akan melamarnya.
121 Ciĩa & Cinĩa
London Bridge
Kampus UCL sedang libur. Biasanya para
mahasiswa menggunakan waktunya untuk berjalan-
jalan di tempat yang indah. Mahasiswa Indonesia pun
tak ingin melewatkanya. Yahya mengajak Nafisah
bertemu di London Bridge ada hal yang perlu
disampaikan oleh Yahya.
London Bridge sedang ramai-ramainya saat itu.
Kebanyakan mereka adalah warga asing yang sedang
berlibur di London. Tak salah, London Bridge memang
tempat yang sudah sangat mendunia. Tak asing lagi
rasanya nama tempat ini di telinga masyarakat
Indonesia salah satunya.
Nafisah ditemani Amanda dan beberapa temanya
berlibur dengan gembira. Tak aneh, Amanda tetap
menjadi orang paling cerewet di antara mahasiswi
Indonesia lainnya.
Ini pertama kalinya bagi Nafisah, secara langsung
menyaksikan keindahannya. Dulu ia hanya tahu di
CHANDRA 122
salah satu gambar mainan monopoli, salah satu
permainan yang sangat familiar di kalangan anak
masyarakat Indonesia.
Ditemani Amanda, Nafisah menuju tempat yang
sudah direncanakan semalam. Yahya ingin bertemu
dengannya. Nafisah juga heran. Menurutnya tak
biasanya Yahya mengajaknya ketemuan. Kalau ada
perlu, biasanya dia hanya memberitahukannya lewat
Whatsapp.
“Nafisah, i’m here!” teriak Yahya.
Ternyata, Yahya sudah lebih dulu berada di
lokasi. Nafisah bergegas menemui Yahya.
“Maaf ya. Sudah lama nunggu, ya?” Nafisah
merendah hati dan meminta maaf.
“Oh, enggak, kok. Biasa saja. Aku juga baru
datang.”
“Ada apa emang, tumben banget kamu ngajak
aku ke sini?” tanya Nafisah berlagak ceria.
123 Ciĩa & Cinĩa
Yanya menunduk malu seperti cemburu. Ia
seperti yang ingin menyampaikan sesuatu yang terpahit
sepanjang masa.
“Ini perihal urusanmu, Nafisah” Yahya bernada
dingin.
“Urusan apa? Aku rasa sejauh ini aku enggak
punya urusan sama kamu,” Nafisah bingung.
“Alex, Nafisah!”
“Ada apa dengan Alex?”
“Kamu tuh paham enggak sih, selama ini sikap
Alex sama kamu?” tanya Yahya dengan sedikit marah.
“Kenapa? Alex orang baik dan dia selalu
membantu kita, iya kan?”
“Asal kamu tahu, Nafisah. Alex suka sama
kamu. Dan ia akan melamar kamu,” Yahya bernada
kasar.
“Iya memang selama ini aku tahu sikapnya. Tapi,
benarkah ia melamar aku? Terus kenapa kamu mesti
marah sama aku?” Nafisah terpancing emosi.
CHANDRA 124
Suasana London Bridge seketika menegangkan
oleh sedikit drama yang dimainkan oleh Yahya dan
Nafisah. Amanda dan teman–teman Yahya hanya
terdiam dan pura–pura tidak tahu. Menghormati
pembicaraan mereka.
Yahya mengakui dirinya terlalu berlebihan. Ia
hanya terbawa emosi. Karena Alex mau melamarnya,
selama ini ternyata Yahya diam–diam menyimpan rasa
pada Nafisah. Namun sudahlah, Alex sudah lebih dulu.
“Maaf, aku sedikit emosi,” Yahya tersadar.
“Iya. Tapi ….”
“Dan, sekarang Alex ada di Indonesia dan ia akan
menemui Ibu dan Abi Mahmud untuk melamar kamu,”
Yahya memotong.
Nafisah seketika memalingkan muka dari Yahya.
Terlihat mukanya sedikit memerah dan agak cemberut.
“Yahya, kenapa kamu baru kasih tahu ini
sekarang?” tanya Nafisah.
125 Ciĩa & Cinĩa
“Ya … aku cuma ingin, ini terasa lebih spesial saja
buat kamu Nafisah. Kalau aku memberiahumu lewat
Whattap ini enggak berkesan bagi kamu,” Yahya
beralasan.
“Lalu kenapa kamu tadi seperti marah sama
aku?”
“Maaf,” ujar Yahya menyembunyikan
cemburunya.
Seketika menjadi hening, Yahya dan Nafisah
masing masing terdiam. Amanda menyabarkan Nafisah
yang tengah sedih. Yahya hanya menunduk menutupi
kecemburuannya.
“Aku cuma ingin kamu bahagia. Bagaimanapun
caranya,” Yahya sembari matanya memerah.
Apa jadinya, jika wanita yang disukai ternyata
diam-diam orang lain juga menyukainya. Dan bahkan, ia
lebih dulu melamarnya. Begitulah yang dirasakan oleh
Yahya terhadap Nafisah dan Alex. Namun Yahya bukan
laki-laki biasa, ia pria berilmu dan beragama. Sikap dan
CHANDRA 126
semangat hidupnya tetap hidup sebagai pencari ilmu.
Hanya saja ia terkaget oleh cepatnya keputusan Alex.
Yahya pandai menyembunyikan sesuatu, bahkan
menyembunyikan cinta pun, ia sudah biasa. Kali ini ia
juga menyembunyikan kecemburuannya kepada
Nafisah. Yahya cepat tersadar dan menguatkan dirinya,
lalu bersikap manis kepada Nafisah, seolah tak terjadi
apa–apa.
“Nafisah, kamu lucu kalau lagi cemberut,” Yahya
bergurau.
“Apaan sih, Yanya,” Nafisah tersenyum kecil.
“Iya, serius. Beneran, hidungmu kaya merah,
kaya jambu air.”
“Ih, Yahya. Awas ya kamu,” Nafisah tersenyum
lebar.
Pandai Yahya mengubah suasana kelam tegang
menjadi gelak tawa. Keduanya kini terpasang muka yang
indah dan seri, terutama Nafisah. Wajahnya yang cantik
dan mempesona pantas menarik kecintaan Yahya.
127 Ciĩa & Cinĩa
Dihiasi pakaiannya yang tertutup dan anggun,
sempurna layak bidadari dunia.
“Jadi, gimana, nih? Diterima enggak Alex. Kita
udah siap, lho. Bantu-bantu pernikahannya,” Yahya
pura-pura bergembira.
“Ya, Nafisah sih nurutin Ibu sama Abi Mahmud
saja. Kalau mereka menerima, ya insyaallah Nafisah
nurut. Kalau enggak, ya enggak apa-apa.”
“Beneran nih, kamu Nafisah?”
“Iya ih, Insyaallah. Nafisah nurutin Ibu sama Abi
Mahmud saja. Tapi, kalau dilihat–lihat Alex ganteng
juga, sih. Iya enggak sih, Amanda?” Nafisah memuji Alex.
Yahya tentu terkejut bukan main, mukanya
memerah, hatinya berdebar. Lagi-lagi, Yahya berusaha
menutupi.
“Iya, bener banget, Nafisah. Alex tuh ganteng
banget. Dia tuh kaya bule. Kamu sangat beruntung,
Nafisah,” jawab Amanda.
“Huk … huk,” Yahya pura-pura batuk.
CHANDRA 128
“Kenapa kamu Yahya? Kamu sakit,” Nafisah
memberi perhatian.
“Oh, enggak, kok. Maksudku, iya Alex memang
ganteng. Beneran ganteng banget, baik lagi,” Yahya berat
berbicara.
129 Ciĩa & Cinĩa
Lamaran
Pertama
Kala cinta bertepuk, hati pun mengiringi
Langkah pun kuat tanda mampu menapaki
Melintasi negeri, jarak nan jauh di sana.
Cinta tetaplah cinta
Ironi, tak semua cinta setuju
Bagaimana rasanya andai cinta yang bersemi tak jadi?
Begitulah cinta. Kita harus belajar, dan mempelajarinya.
Karena, nyatanya gelimang harta pun takluk
Sekali lagi, cinta tetaplah cinta