CHANDRA 30
“Pak, ini kopinya .....’’ Tiba-tiba Bu kantin
memotong pembicaraan pak guru.
“Oh iya. Terima kasih, Bu,” jawab pak Guru.
“Mengesalkan sekali bu kantin itu, huh,” ucap
batinku. “Dilanjut, Pak,” ucapku bertambah penasaran.
“Oh iya. Jadi gini setelah Nafisah mengikuti
seleksi untuk kuliah luar negeri, alhamdulillah Nafisah
lulus dan berhak mendapatkan beasiswa untuk belajar
di salah satu universitas di London.”
Aku seketika kaget dan tercengang.
“Alhamdulillah, ya Allah. Serius, Pak? Enggak
berbohong, kan?”
“Iya, Nafisah. Buat apa Bapak berbohong.”
“Masyallah, Pak. Saya sangat senang, Pak. Terima
kasih banyak ya, Pak.”
“Iya, persiapkan saja ya. Tapi untuk
pemberangkatannya, Bapak belum bisa memastikan
waktunya. Kita hanya bisa menunggu informasi dari
pihak pemerintah.”
31 Ciĩa & Cinĩa
“Siap, Pak. Insyallah akan Nafisah persiapkan
semuanya,” jawab Nafisah bersemangat.
“Bagus kalau begitu. Bapak sangat bangga
dengan kamu, Nafisah.”
“Oh ... iya, Pak. Sekali lagi terima kasih, Pak.
Sekarang Nafisah sudah boleh keluar, Pak? Sudah,
kan?”
“Oh, iya. Silahkan.”
*****
Hari ini sangat luar biasa, alhamdulillah akhirnya
aku lulus dan bisa kuliah ke London. Apapun
universitasnya aku akan menerima dan insyallah aku
akan belajar dengan baik di sana. Alhamdulillah.
Di samping kabar baik yang kudapatkan hari ini,
ternyata ada juga kabar buruknya. Orang-orang ramai
membicarakan tentang virus. Tapi aku lupa lagi, apa
nama virusnya.
CHANDRA 32
Aku pun penasaran dan mencoba untuk pergi ke
sabakah (tempat internet para santri) untuk mencari
tahu lagi. Ternyata, virus ini sangat mengundang
perhatian dunia. Aku pun kaget. Setelah, melihat banyak
berita yang memberitakan tentang kasus ini. Nama
virusnya adalah virus corona. Katanya virus ini berasal
dari kota Wuhan di China, tepatnya di pasar yang
menjual binatang-binatang yang haram dan tak layak
dimakan oleh manusia.
Tiba-tiba, terdengar suara pengumuman pondok,
“Attention please, for all of the santriwan and santriwati,
please prepare your selves to go to the mosque, it is 5 a
clock.”
Astaghfirullah! Aku hampir lupa. Ini sudah mau
jam 5 sore. Aku harus segera ke asrama.
“Ukhty kam tsamanuhu, la’ibtu nishfu sa’aah
faqot?” tanyaku pada penjaga sabakah.
“Alfain, ukhty,” jawabnya.
“Hadza ... khudzii faqot al baqi ana musta’jilah.”
33 Ciĩa & Cinĩa
******
Untuk terakhir kalinya, Nafisah mencium tangan
ibunya. Tepat pukul tujuh pagi ini, Nafisah pergi
meninggalkan keluarganya. Ia juga berpamitan kepada
seluruh keluarga besarnya. Haru suasana tentulah
menyelimuti suasana pagi itu. Tangisan ibu Nafisah
begitu kencang karena haru. Nafisah pun ikut
meneteskan matanya, meski agak tertahan.
Ia tahu. Ia harus kuat meninggalkan mereka demi
mimpi dan cita-citanya yang harus ia wujudkan. Setelah
sekian lama ia berusaha dan berdoa, supaya dapat
menuntut ilmu di Benua Biru, tepatnya negeri Ratu
Elisabeth.
Di setiap derap langkah kakinya ia resapi. Sambil
mengingat segala perjalanan hidupnya. Khususnya di
masa–masa ia belajar menuntut ilmu. Terutama semasa
belajar di penjara suci pondok pesantren, Daarul Ma’arif
di Ciamis.
Tak mudah memang untuk melupakan segala
kenangan yang terlewati. Suka duka dan pahit manis
CHANDRA 34
kehidupan pesantren yang dilalui bergantian menyapa
ingatan dan sanubari. Semuanya tak mudah dilewatkan.
Teman–temannya sudah menyambut kedatangan
Nafisah untuk berpamitan. Di depan asrama mereka
melambaikan tangan dan berteriak suka ria begitu
senang. Nafisah menyapa balik dengan seyuman
manisnya, sambil sedikit melambaikan tanganya.
Ditemani Zahra dan Bibil, sahabat dekatnya,
mereka berjalan menemui rumah pengasuh pesantren
untuk diberi arahan nasihat, juga ciuman untuk
terakhir kalinya sebelum ke Benua Eropa.
“Nafisah ... cepetan, tuh. Sepertinya, Umi dan Abi
sudah menunggu di rumahnya,” ucap Bibil.
“Sebentar, Bil. Aku belum menyapa semua
teman–teman. Aku pasti akan merindukan mereka
selama di sana.”
“Ayolah. Agak dipercepat.”
“Iya.”
35 Ciĩa & Cinĩa
Bersamaan dengan itu, asrama putera pun
nampak berkumpul ramai. Sama seperti di asrama
puteri, menyapa dua temannya yang juga akan pergi ke
Benua Biru.
Nafisah tak diberi tahu sebelumnya. Pak guru
memang sengaja tak memberitahu bahwa Mudor dan
Yahya, juga lulus ujian kuliah ke luar negeri. Hanya saja
beda universitas dan jurusan.
Suasana suka cita menyelimuti rumah umi dan
abi. Selaku pimpinan, mereka bangga terhadap Nafisah
yang mampu bersaing dengan ratusan bahkan ribuan
calon mahasiswa yang juga mengikuti tahap ujian
seleksi. Dan, alhamdulillah Nafisah beruntung. Karena
lulus ujian seleksi.
“Assalamu’alaikum, Umi Abi,” serempak Nafisah,
Zahra, dan Bibil.
“Wa’alaikumsalam. Silahkan duduk, Nafisah,”
jawab umi dan abi.
“Alhamdulillah ... hebat kamu, Nafisah. Bisa
sampai di tahap ini,” kata abi dengan senangnya.
CHANDRA 36
“Alhamdulillah, Abi. Ini juga berkat doa,
dukungan, dan ilmu yang Nafisah dapat di pondok ini,”
jawab Nafisah penuh syukur.
Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Mudor,
Yahya, serta beberapa teman yang ikut mengantarkan
mereka datang.
“Assalamu’alaikum,” ucap serempak mereka.
“Wa’alaikumsalam.”
“Silahkan duduk, kalian. Alhamdulillah. Wah ini
juga nih, calon mahasiswa Spanyol yang Abi
banggakan,” sambut abi.
Apa yang ada di pikiran Nafisah saat itu hanya
satu kalimat saja. Ya, perkataan abi seakan
memberitahukan Nafisah, tentang apa yang belum
diketahuinya.
“Apa aku salah dengar?” ucap Nafisah seketika
menjadi lugu dan menutupi keterkejutanya. Untuk
pertama kalinya Nafisah terkejut bukan main. “Apa tadi
Abi bilang?” tanya Nafisah lagi.
37 Ciĩa & Cinĩa
“Masa kamu enggak denger sih, Nafisah. Itu lho
Mudor sama Yahya. Mereka juga diterima kuliah di luar
negeri,” jawab Zahra.
“Kok aku enggak tahu, sih. Emang kamu tahu
dari mana?”
“Tadi kata Ustazah Maryam di kamar, beliau kan
kakaknya Mudor.”
“Ih, kok kamu enggak memberi tahu aku, sih.”
Cemberut Nafisah.
“Kan sekarang kamu udah tahu, kan?
“Ih. Iya, deh.”
Percakapan abi Mahmud dengan gaya yang
khasnya selalu jenaka. Sering kali mengundang gelak
tawa. Semuanya tertawa waktu itu, gurauan abi memang
tak masuk akal. Tetapi, memang tak bisa membuat
semua orang diam, semua tetap saja lepas tertawa.
Namun para santri tentunya hanya tersenyum kecil saja,
mereka tetap menjaga adab dan akhlak di depan Abi.
CHANDRA 38
Semuanya terbawa suasana, kecuali Nafisah.
Sedari tadi ia terlihat melamun seperti ada yang
dipikirkan. abi Mahmud lupa, ia belum menanyakan
Nafisah tentang ibunya.
“Nafisah ... kamu sudah meminta doa ke ibu
kamu belum?” tanya abi tiba-tiba.
Nafisah tak mendengarnya. Ia masih melamun.
Entah apa yang ada di pikirannya.
Sekali lagi abi memanggil, “Nafisah? Nafisah?”
“Hei, Nafisah!” panggil Bibil sambil menepuk
punggung menyadarkannya.
“Eh ... iya. Ada apa?” Nafisah terkejut.
“Itu tadi Abi nanya, lho. Kok kamu enggak jawab,
sih?”
“Oh, iya. Ada apa Abi?”
Abi paham betul dengan sikap Nafisah. Apa yang
ada di pikirannya pun Abi paham. Ia sudah tahu banyak
tentang Nafisah. Tapi, Abi juga tahu dan tak mau
menceritakannya kepada siapapun.
39 Ciĩa & Cinĩa
“Fisah ... kamu sudah izin dan pamit dengan ibu
kamu belum?” tanya abi sekali lagi.
“Oh, iya. Sudah, Abi. Tadi Ibu titip salam buat Abi
dan Umi. Iya, aku baru ingat. Hehe.”
“Tuhkan, ada yang lupa ya. Abi tahu betul Ibu
kamu lho, Nafisah. Ibu kamu kan kalau menitip salam
biasa juga nitip sesuatu,” ujar abi sambil bercanda.
“Astaghfirullohaladzim .... Iya, Abi. Ini dodol
Garut dari ibu. Hampir lupa Nafisah, Abi. Maaf ”
Dodol Garut selalu menjadi bawaan khas dari
Ibunya Nafisah. Manis rasanya, semanis apa yang semua
orang rasakan dalam nikmatnya hidup dalam iman.
Mobil jemputan sudah tiba. Saatnya Nafisah,
Mudor dan Yahya harus pergi ke bandara. Kebetulan
mereka berangkat bersamaan. Ini pertama kalinya bagi
mereka menaiki pesawat terbang. Juga pertama kalinya
akan menginjakan kaki di negeri orang.
Pengalaman baru ini pastinya selalu mereka
ingat. Ini semua tidak akan mudah perjalanannya,
CHANDRA 40
karena sebelumnya mereka banyak belajar menuntut
ilmu di pesantren. Tapi, kali ini akan berbeda. Ini
perkuliahan dan lingkungan yang sangat berbeda. Tidak
hanya dari provinsi Indonesia, tapi dari berbagai negara
di belahan dunia. Ini akan menjadi perjalanan dan
pengalaman indah bagi mereka. Dan tak akan pernah
mereka lupakan.
Udara di Indonesia tentunya panas. Apalagi
ketika mobil mulai memasuki ibu kota Jakarta.
Panasnya Indonesia akan mereka ingat nantinya.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan
hangat antara Nafisah dan Mudor. Nafisah masih
mengingat apa yang dilakukan Mudor dahulu. Mudor
langsung paham saat juga, ia menyadari apa yang
terjadi. Nafisah duduk di kursi depan bersama sang
supir, sedangkan Mudor dan Yahya duduk
bersampingan di belakang.
Pak Tarno adalah sopir yang membawa mereka ke
bandara. Pak Tarno agak heran dengan sikap mereka
yang sangat dingin dan jarang bicara, apalagi
perempuan yang ada di sampingnya adalah Nafisah.
41 Ciĩa & Cinĩa
“Mbak, sehatkan? Kok diam saja dari tadi,” tanya
pak Tarno tiba-tiba.
“Oh, sehat kok, Pak. Ya ... cuma lagi mengantuk
saja. Jadi saya tidur saja, Pak,” jawab Nafisah beralasan.
Tepat ketika mobil keluar dari tol Cipali, HP
Nafisah berbunyi notifikasi. Ia segera menghidupkan HP,
mengetik sandi untuk membuka layar yang terkunci.
Ada sebuah pesan Whatsapp dari seseorang. Tapi,
nomornya asing. Nafisah pun tak tahu ia siapa.
Assalamu’alaikum.
Wa’alaikumsalam.
Apa kabarmu, Nafisah?
Alhamdulillah, baik. Maaf ini siapa?
Oh, syukurlah.
Aku pria yang duduk di samping Yahya.
Deg. Nafisah langsung paham pemilik pesan
Whatsapp tadi. Ternyata dia adalah Mudor. Pesan tadi
adalah pesan Whatsapp pertama di bulan ini. Karena
CHANDRA 42
semenjak kejadian sebulan yang lalu, Nafisah
menghapus kontaknya Mudor. Ia sadar, akhirnya tidak
menjawab lagi pesan Whatsapp dari Mudor.
Tidak kurang dari satu jam lagi, mereka akan
sampai di Bandara Soekarno-Hatta, terlihat dari jauh
beberapa pesawat dari perusahaan-perusahaan ternama
di dunia bergantian untuk landing dan take off. Nafisah
melihat jarinya, ternyata sudah lebih dari lima ribu
kalimat zikir yang dari tadi ia baca. Alat penghitung
zikirnya pun sedikit dibasahi keringat Nafisah, wajarlah
Indonesia memang panas.
“Mas ... mas .... Ayo bangun, Mas. Sebentar lagi
kita sampai,” kata pak Tarno.
Rupanya mereka sangat nyaman. Membuat
mereka tertidur. Suara pak Tarno pun tak mereka
dengarkan. Mereka tetap saja tidur. Nafisah berinisiatif
menelpon Mudor, agar Handphone-nya berdering.
Suara Handphone Mudor benar berdering. Yahya
pun terbangun.
43 Ciĩa & Cinĩa
“Mudor ... Mudor .... Tuh Handphone-mu
berbunyi,” kata Yahya membangunkan Mudor.
“Siapa sih yang menelpon? Ganggu saja,” kata
Mudor.
Panggilan masuk dari Nafisah Az–zahra -Baru saja-
Mudor lalu menghidupkan Handphone-nya, saat
itu pula nada deringnya pun berhenti. Mudor
membacanya, ia tahu siapa yang menelponnya. Ia
langsung menanyakannya.
Ada apa Nafisah?
Enggak, kok. Aku cuma bangunin kamu saja.
Kasihan Pak Tarno dari tadi manggil–manggil.
Tapi, kamunya enggak bangun–bangun.
Oh, hehe. Iya makasih, Nafisah.
Pertama kalinya Nafisah yang pertama mengirim
pesan untuk sebulan terakhir ini. Tapi, pesan itu cukup
menghibur. Bahkan, menyenangkan hati Mudor.
CHANDRA 44
“Alhamdulillah, hehehe, ada untungnya ya susah
bangun tidur. Diperhatiin Nafisah,” kata Mudor dalam
hati.
Nafisah pandai merangkai kata. Ia mahir dalam
membuat puisi dan tulisan-tulisan lainnya. Hampir
setiap hari ia rajin menulis untuk mengisi waktunya. Di
saat orang lain sibuk berdebat dan banyak bicara, ia
lebih senang menulis mencurahkan isi hati dalam
tulisan. Ya, ia lebih suka menulis daripada langsung
berbicara. Ia terlalu takut menuai kontra dan takut
melukai orang lain. Tidak kurang dari sepuluh menit, ia
dapat merangkai kata begitu banyak, namun kali ia
menulisnya di ponsel. Kemudian ia mempostingnya di
Instagram.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarakaatuh
Segala puji bagi Allah, shalawat beserta salam
semoga selamanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad
Saw.
Hallo, Guys. Kali ini, aku seneng banget. Hari ini
insyallah aku akan terbang ke negeri orang. Negeri yang
45 Ciĩa & Cinĩa
sedari dulu aku impikan London, Inggris. Tentunya untuk
menimba ilmu di sana. Insyallah Nafisaha mau ngambil
Jurusan Ilmu Arsitektur di United College, London.
Aku ingin mengambil banyak pelajaran di sana,
meski mayoritas penduduknya bukan muslim, tapi bagiku
itu tidak masalah. Aku tetap yakin di manapun aku
berada, jika aku tetap berpegang kepada agama Allah,
maka Ia akan menjaga dan melindungiku.
Jangan khawatir, aku ingat kok pesan–pesan dulu
yang diajarkan ustaz/ustazah di pondok, bahwa di
manapun kita harus bisa menjadi cahaya. Cahaya
penerang bagi siapapun yang ada di sekeliling kita.
Semoga aja aku nantinya bisa mengenalkan Islam
kepada penduduk sana yang belum tahu lebih jauh
tentang Islam.
Hai teman-teman, ini semua tentang sebuah
mimpi. Mimpi yang dari dulu, aku tulis tepat halaman
pertama buku diary-ku. Buku yang aku beli seharga
sepuluh ribu di koperasi pondok.
CHANDRA 46
Kala itu aku terinspirasi oleh Abi. Aku ingat setiap
bakda shubuh Abi selalu mengumpulkan semua
santriwan dan santriwati di masjid. Aku sangat mengenal
gaya bicara yang khas. Semangat, ambisius, jelas, dan
penuh hikmah. Abi selalu menuntut kepada kita untuk
bercita-cita tinggi, karena bagaimanapun cita–cita itu
tidak ada batasan, setinggi apapun sebesar apapun itu.
“Bermimpilah setinggi langit. Jikapun kau jatuh,
kau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Teman–teman segitu dulu. Ya ... lebih lengkapnya
nanti akan kutuliskan di Wattpad. Mungkin seminggu ini,
akan aku selesaikan tulisannya. Tunggu saja ya ....
Doakan juga kami. Supaya kami bisa selamat
sampai tujuan, selau sehat, dan bisa belajar dengan baik
di sana. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum.
#Ikhtirooqaafaq #MenembusCakrawala #Nafisah
#Muslimah#Hijrah #Hijabtraveller #SantriPPdm #Elbas
official.id. #Elbascommunity # London
47 Ciĩa & Cinĩa
Postingan Nafisah ini benar–benar menjadi pusat
perhatian netizen. Baru saja 5 menit postingan sudah
mendapat lebih dari seratus like, ditambah komentar,
komentar positif berupa dukungan dari teman–
temannya. Tiba–tiba Nafisah di DM via instagram,
“Assalamu’alaikum”
Wa’alaikumsalam
Semoga sukses, Nafisah.
Oh, iya. Makasih
Sama–sama
Salam. Aku, pangeranmu ....
Yahya rupanya, yang mengirim pesan lewat
Instagram. Ia memang terkenal sangat berani dan
terbuka. Ia selalu terang-terangan dalam apapun.
Termasuk dalam urusan cinta.
CHANDRA 48
Ada yang aneh di ujung pesan yang dikirim
Yahya. Nafisah tak begitu paham dengan maksud kata
itu. Ia bingung dan tak mengerti, tapi Nafisah tak
menganggapnya serius. Ia kira ini hanya sedikit pujian
biasa.
“’Aku pangeranmu’. Apa ya maksudnya Yahya?
Kok tiba–tiba nge-DM kaya gini, sih? Ah enggak usah
dipikirkan. Mungkin ini hanya main–main saja,” ucap
Nafisah dalam hati.
“Ayo, Mbak. Sudah sampai,” ucap Pak Tarno.
“Oh iya, Pak. Kita turun ya, Pak. Terima kasih,”
jawab Nafisah.
“Iya sama–sama.”
Bandara memang sangat bising. Tak betah
sepertinya jika rumah dekat bandara. Sangat berisik
dengan suara pesawat yang saling bergantian naik dan
mendarat. Tapi, bagi Nafisah, Mudor, dan Yahya. Mereka
tentu tak mempedulikanya. Justru mereka sangat
senang.
49 Ciĩa & Cinĩa
Pertama kalinya mereka menginjakan kaki di
bandara itu. Tak lama lagi pesawat yang akan mereka
tumpangi akan berangkat. Mereka pun bergegas dan
bersiap–siap mengecek barang–barang dan
perlengkapan lainnya.
Seperti biasanya, Nafisah sangat santun.
Pembicaraannya pun terasa hangat ketika ia beberapa
kali berbicara dengan Yahya. Tapi. tak sekalipun dengan
Mudor. Nafisah masih mempertahankannya.
“Masyallah. Seneng banget, nih ...,” ucap Nafisah.
“Cie ... yang mau ke luar negeri,” sambung Yahya.
“Alhamdulillah, ya. Eh, ayo cepat. Biar enggak
terlambat.”
“Iya. Ayo. Ayo,” jawab Yahya.
Di ketinggian entah berapa meter, Nafisah
melihat ke arah jendela pesawat. Melihat indahnya
pemandangan yang terlihat. Ia tak percaya. Ternyata, ia
ini sedang terbang di dalam pesawat. Persis dengan
mimpinya dulu. Bahwa suatu saat ia ingin menaiki
pesawat terbang.
CHANDRA 50
Sambil menunggu, Nafisah tak pernah lupa
untuk zikir dan berdoa. Termasuk menulis beberapa
kata di bukunya. Sambil mensyukuri segalanya, ia
mencoba mengingat–ingat kisah perjalanannya dari
dulu.
Ia hanya ingin lebih bersyukur dengan apa yang
didapat kini. Ia percaya bahwa semua ini berawal dari
sebuah mimpi. Meski tak mudah memperjuangkannya.
Namun, ia yakin bahwa segalanya harus disyukuri. Ia
tak pernah lupa untuk bersyukur dengan segala
pencapainnya hingga saat ini.
Sebagaimana janjinya tadi, ia akan
menyelesaikan tulisan yang ia posting di Instagram. Dan
ia akan melanjutkanya di Wattpad. Inilah hobinya.
Saking senangnya dengan menulis. Tak cukup hanya
hitungan menit saja, ketika ia menulis. Yang paling
pasti, Nafisah selalu menulis dalam waktu hitungan jam.
Lama? Tentu sangat lama. Tapi, ini sangat
mengasyikkan bagi seorang Nafisah.
51 Ciĩa & Cinĩa
Tulisan Dari Langit
Untuk kalian yang punya banyak mimpi,
berdoalah! Allah akan mewujudkannya.
Semuanya berawal dari mimpi.
Ada banyak orang di dunia ini yang sangat
menginginkan sebuah impian dan cita–cita. Tapi, tak
banyak orang yang berani bertanggungjawab. Dengan
impian dan cita–citanya. Kebanyakan mereka hanya mau
saja. Tapi, tak mau bersibaku mewujudkannya.
Siapapun kalian berusahalah untuk bermimpi.
Buatlah rencana kehidupanmu yang indah. Karena
manusia hanya bisa berpikir. Biarkan urusan Allah dalam
mewujudkannya.
Jangan pernah takut dan ragu, seberapa banyak
kekurangan yang ada pada diri kalian. Tetaplah untuk
yakin bahwa kalian berhak bermimpi. Siapa saja punya
hak dalam bermimpi tinggi. Tidak harus mereka yang
terlahir dari orang-orang pejabat tinggi atau mempunyai
CHANDRA 52
kedudukan tinggi, tidak! Tentu, walaupun kalian hanya
terlahir dari orang tua yang tak mampu. Tapi, ingatlah
kehidupan seseorang tidak tergantung pada siapa orang
tuanya.
Seperti yang dikatakan, “Laisalfata man yaquulu
haadza abii lakinna al fata man yaquulu haa anaadzaa.”
Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah
ayahku. Tapi, seorang pemuda ialah yang mengatakan
inilah diriku.
Maka, jangan pernah terlalu memikirkan siapa
orang tua kita. Terpenting seberapa keras kita telah
berjuang dalam mewujudkan mimpi–mimpi kita.
Mimpi itu gratis.
Ingat, mimpi tidak pernah dijual belikan. Tak ada
tarif khusus bagi orang–orang yang mau bermimpi dan
bercita–cita. Maka, jangan pernah terlewatkan untuk
ambil bagian mengambil jatah mimpi yang gratis itu.
Bagi kalian yang berpikiran tentang ekonomi.
Ingatlah Allah yang Maha Kaya. Kekayaan Allah tak
terhitung jumlahnya, sangat tidak terbatas. Seluruh alam
53 Ciĩa & Cinĩa
semesta ini milik Allah, Dialah yang Maha Kaya. Lantas
apa yang sebenarnya kita khawatirkan?
Jadikanlah tangan dan mulut kita selalu rajin
berdoa dan memohon kepada-Nya. Malulah jika halnya
kalian khawatir dengan masalah rezeki. Karena Allah
sendirilah yang sudah menjamin rezeki kita selama hidup
di dunia ini.
“Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi,
melakinkan di jamin Allah rezekinya.”( QS Hud :6).
Kita harus selalu berkeyakinan pada-Nya.
Menggantungkan hidup ini hanya pada-Nya.
Kita ini hanya sebagai hamba yang berkewajiban
untuk taat dan patuh kepada perintah-Nya. Menjauhi
segala laranga-Nya, dan selalu senantiasa mengajak
orang–orang kepada jalan-Nya.
Takut akan masalah rezeki adalah sebuah
kesalahan. Selagi kita masih senantiasa selalu
menghamba kepada Dzat yang Maha Kaya, jangan
pernah takut.
CHANDRA 54
“Bagaimana aku bisa takut akan kefakiran,
sedangkan aku hamba Allah yang Maha Kaya.”
Maka, jangan pernah kita harus mematahkan
mimpi–mimpi kita, hanya karena urusan ekonomi.
Ingatlah selalu pada-Nya. Iya, Dialah yang Maha Kaya.
Jangankan memberikan bekal untuk mewujudkan mimpi
kalian, menghidupi seluruh makhluk hidup yang ada di
dunia adalah perkara yang biasa saja bagi-Nya.
Mimpi itu Indah, seindah langi dunia yang
kupandang kini.
Tak terbayangkan, betapa indahnya kehidupan
ini. Aku bukanlah orang yang yang kaya. Aku pun bukan
orang yang punya. Tapi aku hanya memegang yakin,
bahwa Allah itu mampu dan kuasa atas segala halnya.
Indahnya mimpi ini, memang sudah seharusnya
kusyukuri. Ada banyak cerita dibalik mimpi-mimpi yang
sekian lama kutulis dalm buku diary-ku. Indahnya
berhalusinasi saat itu, ternyata saat ini juga sedang
kualami.
55 Ciĩa & Cinĩa
Indahnya mimpi itu, kini menjadi nyata bukan
mimpi dalam tidur lelapku. Setiap kali kumenjaga mimpi-
mimpi ini, aku selalu mengeja kata doa yang kupanjatkan
kepada Sang Maha Kuasa. Hari ini, sebagiannya
terjawab. Apa yang kubisikan dalam doaku dulu. Tuhan
mendengar dan mengabulkannya. Meski tak semuanya,
belum. Ya, mungkin belum semuanya.
Hari ini, di atas pesawat terbang ini, aku hanya
ingin memberikan tiga bintangku dari atas lanit ini.
Tentang apa yang kutahu tentang mimpi, sehingga
mengantarkanku hingga ke langit Eropa.
Pesan dari langit ini untuk kalian, dariku Nafisah.
Ingatlah mulutmu boleh diam. Namun, mimpi–mimpimu
jangan sampai terdiam, mimpimu harus terus
menggelutuk berbicara bahkan berteriak.
Pesan mimpi dari langit,
Nafisah Az-zahra
CHANDRA 56
Untuk
Pertama Kalinya
57 Ciĩa & Cinĩa
Dulu sekali, hanya dalam secarik kertas, bintang
itu tercatat
Dulu juga, hanya pada kata bernada ragu bintang
itu terucap
Masa itu, hanya dalam tatapan mata di langit,
bintang itu terpandang.
Sekarang, bintang itu terkepal erat dalam
genggaman nyata
Sekarang juga, bintang itu menggeliat teriak
percaya diri dalam dengar
Saat ini, bintang itu jelas di depan tatapan mata
Aku cinta tanah air dan beta, juga keluargaku di
dalamnya
Tapi, aku punya bintang yang mesti kuraih
Ragaku kini akan terbang di Benua Biru
Namun percayalah, hatiku terikat kuat di bumi
pertiwi
CHANDRA 58
Waktu fajar, tepatnya ketika azan subuh
dikumandangkan. Nafisah dan Yahya pertama kalinya
menginjakan kaki di London. Negeri yang minoritas
muslim ini, ternyata sangat ramah dengan Islam.
Sedangkan Mudor menginjak kaki di Granada, Spanyol.
Perkembangan Islam di Inggris ternyata sangat
pesat, terbukti dengan berdirinya 423 masjid baru di
Kota London. Dan, tahun 2020 diperkirakan jumlah
umat muslim yang melaksanakan salat di masjid
mencapai 683 jamaah. Lalu, ditambah lagi, data
menunjukan bahwa umat Islam di Inggris bertambah
hingga 1 juta orang.
Megahnya Masjid Baitul Futuh, menjadi tempat
persinggahan sementara bagi mereka berdua. Sambil
melaksanakan salat subuh di masjid, Nafisah terlihat
membaca ayat–ayat suci Al-Qur’an. Ia mengulang
hafalan–hafalannya yang sudah sampai setengah Al-
Qur’an.
Suasana subuh yang segar dan dingin, memang
indah. Apalagi jika waktu itu digunakan untuk membaca
ayat-ayat suci. Banyak ustaz yang mengatakan, bahwa
59 Ciĩa & Cinĩa
waktu subuh adalah waktu yang bagus untuk
menanbah hafalan.
Berbeda dengan Yahya, ia terlihat sangat
mengantuk. Usai salat subuh, Yahya malah berbaring
melentangkan badan di atas sajadah. Ia pun tertidur
lelap, karena tidur waktu subuh katanya nikmat.
“Assalamu’alaikum. You may not sleep on the
mosque, Brother,” kata salah satu jamaah.
“Wa’alaikumsalam. Okay, i’m sorry. I’m so sleepy
now,” jawab Yahya
“If you want to sleep, you may take a rest on the
rest room. I will pick you up if you want.”
“Oh, no thanks. I think i can open my eyes now,”
jawab Yahya sambil beralasan.
“Okay, it’s better.”
“Okay, wait what’s your name?”
“My name is Muhammad Umar Alex.”
CHANDRA 60
Mendengar nama itu, Yahya merasa namanya
seperti nama orang Indonesia. Yahya mencoba
menanyakannya.
“Are you Indonesian?”
“Yes i was be born in Yogyakarta. But since four
years ago, i was living in London.”
“So you can speak Indonesia.”
“Ya, tentu,” jawab Alex.
Baru di hari pertama, Yahya sudah mendapat
teman baru. Setelah itu mereka melanjutkan
perbincangannya. Satu jam lamanya mereka berbincang
dan saling menceritakan diri mereka satu sama lain.
Alex adalah Mahasiswa United College London
(UCL). Ini tahun terakhir ia menyelesaikan kuliah S1-
nya. Kedua orang tuanya tinggal di Yogyakarta,
Indonesia.
Ayahnya berdarah Inggris, ia jatuh cinta pada
wanita Yogyakarta, ketika ia sedang berlibur di Candi
Borobudur dan akhirnya menikah dengannya. Lahirlah
61 Ciĩa & Cinĩa
Alex dari pasangan keduanya. Mereka dari keluarga
muslim. Ayahnya Alex dulunya salah satu pengurus
Masjid Baitul Futuh ini. Sehingga, Alex pun kini sambil
berkuliah, juga mengikuti jejak ayahnya dulu.
Yahya melupakan Nafisah. Ia tak sadar satu jam
lamanya, ia telah berbincang dengan Alex.
“Astaghfirullohal’aadziim. Aku lupa kasih tahu
Nafisah,” ucap Yahya dalam hati, “Alex tunggu dulu ya.
Aku mau memanggil temanku dulu, ya.”
“Oh, iya silahkan. Aku tunggu di sini, ya,” jawab
Alex dengan berbahasa Indonesia.
Tergesa–gesa Yahya masuk masjid bagian
belakang, tempat para perempuan. Ia khawatir Nafisah
telah menunggu lama. Terlihat tampang mukanya yang
menyesal dan khawatir sejak memasuki pintu masjid.
Apa yang Yahya pikir itu salah. Ternyata Nafisah
masih sedang membaca Al-Qur’an. Posisi duduknya tak
berubah, ia masih memegang ayat suci Al-qur’an dan
mengulang–ulang hafalan. Ini memang kebiasaannya
dulu ketika di pondok. Nafisah susah sekali melepas ayat
CHANDRA 62
sucinya kalau sudah mengaji. Dia tak akan ingat apa–
apa lagi. Al-Qur’an sudah seperti sahabat dekatnya, ia
tak mau jauh–jauh darinya. Yahya pun mencoba
memanggil Nafisah.
“Nafisah ... Nafisah ... ayo sudah pagi, nih,”
panggil Yahya sambil menunjuk–nunjuk jam tangannya.
“Iya, Yahya. Tunggu.”
Nafisah sambil melepas mukena dan
membereskan barang–barangnya. Yahya tetap
menunggu di pintu belakang masjid dengan tegaknya.
“Mau aku bantuin enggak?”
“Enggak, makasih. Bisa sendiri, kok.”
Mereka berdua berjalan menghampiri Alex di
ruangan khusus tempat istirahat. Yahya sambil
bercerita teman baru yang ia temui tadi pagi.
“Nafisah ... aku mau kenalin kamu sama teman
baruku.”
“Cepet banget punya kenalan. Siapa emang?
ketemu di mana?”
63 Ciĩa & Cinĩa
“Iya, dong. Tadi dia membangunkanku ketika
tiduran di masjid. Katanya enggak boleh tidur di masjid
itu.”
“Iyalah. Ngapain tidur di masjid. Kenapa enggak
mengaji?”
“Soalnya ngantuk, Fisah. Oh iya, dia tuh orang
Indonesia. Nanti deh aku ceritain lebih banyak lagi.”
“Iya, iya. Terserah kamu saja.”
Yahya dan Nafisah memang sudah sangat akrab
sejak dulu. Begitupun dengan Mudor. Bahkan
sebenarnya, Nafisah lebih dekat dengan Mudor daripada
Yahya. Tapi, karena peristiwa bulan lalu, Nafisah
berubah drastis.
“Eh, iya. Mudor sudah nyampe belum ya ke
Granada?” tanya Yahya.
“Enggak tahu,” jawab Nafisah cuek.
“Aku telpon, deh. Ya?”
CHANDRA 64
“Enggak usah. Nanti saja, Yahya. Oh iya, katanya
kamu mau ngenalin teman baru kamu,” Nafisah
mengalihkan pembicaraan.
“Iya, iya kalo gitu. Tuh, orangnya.”
Sedikit ada bau-bau cinta di sini. Pertama kalinya
Alex melihat Nafisah wanita yang cantik dan anggun.
Sepertinya, Alex mulai tertarik kepada Nafisah.
Pandangan pertamanya menusuk hingga dalam hati.
Dan tumbuhlah rasa cinta Alex kepada Nafisah.
Alex terus memperhatikan dan pandangannya
tajam kepada Nafisah. Nafisah pun sadar akan
pandangannya, ia pun berhati–hati dan memilih untuk
menundukkan kepalanya. Nafisah wanita yang
terhormat. Tak sembarang pria diajak bicara. Ia paham
bahwa ini bukan negara muslim. Ia harus tetap berhati–
hati dalam memilih orang.
Nafisah ingat pesan Abi, bahwa kita tidak boleh
bersuuzan kepada siapapun. Tapi, kita harus tetap
waspada dan hati–hati kepada orang yang baru kenal.
Maka tak sedikit pun Nafisah berburuk sangka, ia hanya
65 Ciĩa & Cinĩa
mencoba menjaga diri dan berhati-hati. Yahya tentu
paham tentang sikapnya Nafisah, Yahya pun tak
sembarang asal bicara dan mengenalkan Nafisah dengan
sembarang orang.
“Hai, ayo duduk sini, Yahya,” sambut Alex.
“Iya, Alex,” jawab Yahya.
“Ini teman perempuan kamu, Yahya?”
“Iya, Alex. Namanya Nafisah.”
“Oh, Nafisah. Hai, Nafisah. Perkenalkan nama
saya Alex.” Dengan terpana, secara tidak sadar Alex
mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan
Nafisah.
“Iya, nama saya Nafisah,” jawab Nafisah lembut
dengan tangan tertutup rapat. Cara wanita muslimah
berkenalan dengan lawan jenisnya. Tentu, ia menolak
jabatan tangan dengan Alex.
“Oh iya. Maaf. Saya khilaf,” ucap Alex sembari
menarik kembali tangannya.
CHANDRA 66
Mereka diajak sarapan bersama oleh Alex.
Rupanya, Alex orang baik dan kaya. Mereka sarapan di
salah satu restoran halal di kota London.
Setelah sarapan, Alex pun mengantarkan mereka
berdua menuju alamat asrama, tempat tinggal
mahasiswa Indonesia dengan mobil kerennya. Dalam
perjalanan, Alex memperkenalkan tempat–tempat
penting di London.
Tak lupa, ia pun memperlihatkan masjid–masjid
dan kampus, tempat mereka belajar nantinya. Dari
kejauhan mereka melihat megahnya kampus United
College London (UCL). Tentu, ini pertama kalinya bagi
mereka. Terlihat raut wajah senyum bahagia Nafisah.
Menjadikan ia tak berhenti tersenyum gembira.
Sambil memperhatikan Nafisah, Alex merasa
sangat senang. Beberapa kali Alex melirik dan melihat ke
wajah Nafisah yang cantik. Menurutnya senyumnya
sangat manis sekali. Apalagi kalau ia sedang tertawa
kecil, itu membuatnya Alex semakin terpesona dan jatuh
cinta kepada Nafisah.
67 Ciĩa & Cinĩa
“Kalo masjid terbesar London di mana?” tanya
Nafisah kepda Alex.
“Eh, iya?” Alex salah tingkah.
“Masjid terbesar London di mana?” Nafisah
mengulang pertanyaan.
“Oh, namanya East London Mosque. Jaraknya
agak jauh dari sini.”
“Berapa jam kira kira?” tanya Nafisah kedua
kalinya.
“Kisaran 45 menit mungkin.”
East London Mosque atau London Muslim Centre
adalah masjid terbesar di kota London. Masjid ini bisa
menampung hingga 7000 jamaah. Masjid ini didirikan
tahun 1910 oleh London Mosque Fund. Dan, didukung
oleh tokoh muslim terkemuka. Seperti Syeed Ameer Ali,
Firoz Khan Noon, dan Aga Khan. Serta rekan–rekan
Inggris yang simpatik.
Masjid Eart London, ternyata juga sangat terbuka
bagi umat non-Muslim yang ingin belajar memahami
CHANDRA 68
Islam yang baik. Masjid ini terletak di Tower Hamlets.
Yaitu antara Whitechapel dan Aldgate London. Masjid ini
di desain oleh Jhon Gill Associates.
Ujian Cinta Nafisah
Cuaca yang berbeda selalu menjadi masalah,
setiap kali pergi ke tempat yang pertama kali dikunjungi.
Sudah menjadi hal utama memang, karena iklim di
setiap negara itu berbeda. Hampir tak bisa bergerak
sepertinya badanku. Ketika dipaksa harus menahan
dinginnya London. Jaket mantel yang baru kubeli
bulunya pun ikut merinding. Apalagi orang yang
mengenakannya, sangat dingin. Ya, dingin sekali.
Asrama baruku ini sangat strategis. Tepat di
tengah pusat kota keramaian banyak orang. Asrama
yang dimiliki pemerintah Indonesia ini luas dan nyaman.
Aku pun juga suka dengan sikap bapak Kedutaan
Indonesia di Inggris, katanya sih orang Yogyakarta.
Memang sangat jelas dari gaya bicaranya yang khas
seperti orang Jawa.
69 Ciĩa & Cinĩa
Teringat dengan daerah Jawa di Indonesia, dulu
aku pernah beberapa bulan tinggal di kampung Inggris,
Pare, Kediri. Bersama sahabat-sahabatku Zahra dan
Bibil. Ketika itu aku mengambil jurusan bahasa Inggris
di Basic English Course (BEC). Kursusan yang pertama
kali ada di kampung Inggris itu.
Berasa mimpi ya, dulu aku tinggal di kampung
Inggris, Pare. Alhamdulillah sekarang aku tinggal di
negara Ingris beneran. Rasanya sangat bersyukur. Allah
sampai saat ini masih terus banyak memberiku banyak
kenikmatan.
Pagi ini aku berkenalan dengan Mahasiswa
Indonesia juga. Namanya Amanda Putri Karlina. Dia
teman sekamarku. Sepertinya dia akan menjadi teman
dekatku selama di sini.
“Amanda! Sini.”
“Iya. Ada apa?”
“Main keluar, yuk!”
CHANDRA 70
“Mau apa? Aku belum terlalu mengenal tempat
tempat di sini.”
“Ya karena itu, ayo kita keluar. Biar kita tahu.”
Hari pertama di sini, sepertinya akan kugunakan
untuk jalan–jalan. Ditemani sahabat baruku, Amanda.
Kota London ini luas sekali. Makanya aku harus
mencoba untuk mengetahui banyak tentangnya.
Amanda orangnya sangat ceria, dia sangat mudah
tersenyum, dan tertawa. Asyik orangnya. Baru saja aku
berkenalan denganya pagi tadi, serasa udah kenal lama.
Baju yang dikenakannya seperti batik khas tanah
Sunda. Aku lupa, belum menanyakan asal kelahirannya.
“Itu batik yang kamu pakai, motifnya khas
Sunda, kan? Kamu orang Sunda?”
“Oh, ini. Ini batik hadiah saudaraku dulu. Bukan,
aku orang Aceh.”
“Oh, Aceh. Ya, kalau gitu bisa bernyanyi Bungong
Jempa, kan?”
71 Ciĩa & Cinĩa
“Itu memang lagu khas daerah Aceh. Tapi aku
tidak suka bernyanyi. Jadi aku belum hafal.”
“Oh, harusnya kamu hafal.”
Tepat di pinggir jalan tempat mereka berjalan.
Tiba–tiba berhenti sebuah mobil mewah di dekat mereka.
Nafisah mengenalinya, tapi ia agak lupa.
“Kayaknya aku pernah melihat mobil ini. Tapi
,kapan ya?” kata Nafisah dalam hati.
Tak lama turunlah seorang pria dari mobil
dengan mengenakan kemeja merah dan celana jeans.
Pria itu menghampiri mereka berdua, ternyata dia
adalah Alex.
“Nafisah, mau ke mana?” tanya Alex.
“Aku lagi jalan jalan aja sama temanku,” jawab
Nafisah.
“Lho kamu sudah kenal dia?” Amanda memotong.
“Iya. Aku ...,” jawab Nafisah.
CHANDRA 72
“Tadi pagi kita sudah ketemu di Masjid Baitul
Futuh,” Alex menyerobot pembicaraan.
Paras Alex sangat tampan layaknya pria Eropa. Ia
sangat rapi dan gagah, wanita manapun pasti sangat
terpesona olehnya. Tapi, bagi Nafisah sama sekali tak
melihat hal menarik pada diri Alex. Alex terus
memperhatikan Nafisah. Berharap ia ditanyakan
kabarnya, tapi sayang justru sebaliknya. Nafisah sangat
cuek. Ia hanya diam saja dari tadi. Amanda yang malah
terpesona oleh Alex, berulang kali ia bertanya kepada
Alex, Amanda sepertinya suka.
“Alex, perkenalkan nama saya Amanda.”
“Nama saya Muhammad Umar Alex, pangil saja
Alex”
“Itu mobil kamu, ya? Bagus banget.”
Sebenarnya Alex tak mengharapkan lontaran
pertanyaan Amanda. Alex sebenarnya ingin dekat
dengan Nafisah. Tapi, Nafisah terlihat sangat cuek dan
susah diajak bicara.
73 Ciĩa & Cinĩa
Tingkah Alex seolah memberi tanda mencuri
perhatian Nafisah dengan sesekali, menanyakan kabar
Nafisah. Tapi, tutur kata Nafisah tak layaknya Amanda
yang ceplas ceplos.
Terlihat ramainya jalanan, menjadi kesempatan
untuk Alex supaya mengajak Nafisah jalan–jalan.
Biasanya sore hari cocok digunakan untuk menikmati
senja. Alex sedikit menyesalkan kehadiran Amanda
bersama Nafisah.
“Kenapa harus ada si Amanda, sih” ucap Alex di
dalam hati.
Alex terlihat salah tingkah di depan Nafisah.
Nafisah menyikapinya dengan tenang dan dingin saja.
Nafisah paham, Alex mencoba mengajak mereka untuk
ditemani jalan–jalan menggunakan mobilnya. Berharap
Alex bisa lebih dekat dengannya.
“Eh, kalian kalau mau jalan–jalan sama aku saja
pakai mobil. Kebetulan aku juga belum makan sore,
nih,” ujar Alex.
“Mm, gimana ya, tapi ”
CHANDRA 74
“Oh, ayo ayo. Kita mau, kok. Sepertinya kita juga
lapar, nih. Iya kan, Nafisah?” Amanda memotong.
“Tapi, kan ”
“Sudah. Ayo.” Amanda sambil menarik tangan
Nafisah untuk masuk dalam mobilnya Alex.
Alex membukakan pintu untuk Nafisah. Tapi
dengan geer-nya Amanda merasa Alex membukakan
pintu untuknya.
“Silahkan ”
“Terima kasih, Alex. Repot repot.” Amanda sambil
tertawa kecil.
Kurang lebihnya dua jam mereka jalan–jalan
keluar. Nafisah terlihat sangat kelelahan, mukanya
pucat dan terlihat sangat capek. Tapi, tidak dengan
Amanda, ia terlihat masih segar dan riang sepanjang
perjalanan. Karena kesenangannya bisa jalan-jalan
dengan Alex.
Menjelang waktu magrib, kira–kira seperempat
jam lagi menuju azan magrib, Alex mengantarkan
75 Ciĩa & Cinĩa
mereka berdua tepat di parkiran asrama tempat mereka
tinggal.
Jalanan telihat mulai sepi, mengingat matahari
mulai terbenam, orang–orang mulai memasuki
rumahnya masina–masing. Mesjid di dekat asrama
Nafisah sangat rama. Berada kurang lebih dua puluh
meter jarakmya dari asrama, membuatnya bisa melihat
jamaah yang ramai berdatangan ke masjid.
Benar saja, perkembangan Islam di Inggris sangat
luar biasa. Antusias umat Islam di sini sangat tinggi dan
ramai. Ditambah toleransi yang menjadi pelengkap
suasana antar umat beragama di negeri ini, membuat
Nafisah semakin yakin bahwa suatu saat Islam akan
kembali berjaya di benua Eropa.
Alex turun dari mobil, seperti biasa ia
membukakan pintu dengan ramahnya untuk mereka.
Seperti biasa juga, Amanda yang merasa sudah
diperhatikan oleh Alex. Padahal tidak, justru
kehadirannya agak sesalkan. Nafisah tampak lelah dan
loyo. Kali ini, Alex memberikan sesuatu kepada Nafisah.
CHANDRA 76
“Nafisah. Ini untukmu. Ambilah.”
“Apa ini?”
“Cuma sekedar boneka panda. Inggris sangat
dingin mungkin boneka ini bisa menghangatkanmu di
waktu malam.”
“Oh, iya. Terima kasih ya.”
Amanda yang menyaksikan hal itu ikut cemburu.
Tak tertahankan, sampai akhirnya Amanda pun ikut
berbicara.
“Masa yang dikasih Nafisah doang, sih. Aku
enggak?” tanya Amanda.
“Oh, iya. Lupa. Ini juga ada untukmu. Sepertinya
ketinggalan di kursi. Amanda coba ambil.”
“Oh, ini? Kok boneka buaya, sih. Enggak kaya
punya Nafisah, lucu.”
“Ya, aku kan mikir juga. Buat siapa boneka itu. Ya
aku sesuaikan saja.”
“Ya sudah, deh. Terima kasih.”
77 Ciĩa & Cinĩa
******
Hari-hari nampak menyenangkan bagi Nafisah.
Tak henti–hentinya ia mengucapkan dan mengingat
syukur atas semua ini. Sadar akan jarak yang jauh dari
saudara dan orang tua, kini Nafisah mulai belajar untuk
hidup mandiri dan lebih kuat lagi. Cita–citanya menjadi
Arsitek harus terwujud. Ia tidak ingin mengecewakan
dirinya sendiri yang sudah bermimpi sejak dulu.
Di samping itu pun, Nafisah sangat hobi menulis.
Sudah kebiasaannya menulis satu sampai dua halaman
perharinya di buku diary-nya. Ia akan terus mencatat
perjalanan–perjalanan penting dalam hidupnya.
Teringat perkataan ustaz–ustazahnya ketika di
pondok. Bahwa dengan menulis, kita akan terus hidup.
Meski suatu saat jiwa dan raga kita sudah tiada. Tulisan-
tulisan kita yang akan terus dibaca oleh orang lain,
meski penulisnya sudah tiada.
Nafisah sedang membaca buku. Sambil duduk di
atas kasur empuk baru, kemudian ia menulis. Buku
CHANDRA 78
diary yang baru. Ia membelinya tadi ketika mampir di
toko buku bersama Alex dan Amanda. Nafisah sedang
mengungkapkan isi hatinya dengan puisi. Ia menulis
puisi, kurang lebih lima bait banyaknya.
Malam yang sunyi ini sangat dingin. Benar kata
Alex tadi, untungnya tadi dibelikan boneka ini.
Bonekanya pun lucu dan Nafisah menyukainya.
Menjelang tidur Nafisah memeluk boneka
pandanya. Menghangatkan dan sangat nyaman. Tak
lama Nafisah menerima notifikasi di HP-nya. Sebuah
pesan yang masuk dengan nomor asing, Nafisah tak
mengenalnya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Gimana kabarnya, Nafisah?”
“Alhamdulillah. Maaf ini siapa?”
Setelah itu, nomor itu tak membalas lagi. Padahal
sudah terbaca. Nafisah tak mau banyak memikirkan
nomor baru itu. Nafisah sudah sangat sering menerima
79 Ciĩa & Cinĩa
pesan dari nomor asing seperti itu. Dan ia selalu
membalas seperlunya saja. Tak pernah ia sendiri yang
sengaja menghubungi nomor baru itu.
Esoknya, Nafisah terbangun dari tidurnya. Satu
jam sebelum waktu azan tiba. Nafisah beranjak dari
tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk
mengambil air wudu. Teman-teman asramanya masih
tertidur pulas. Mereka semalaman suntuk beres-beres
asrama hingga telat tidur. Karena sebagian mereka
terlambat datang ke asrama. Nafisah berjalan agak hati–
hati. Khawatir ada temannya yang terbangun.
Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Nafisah.
“Alex ... kamu ganteng banget sih, Ih..... ”
Nafisah mudah menebaknya, “Ini pasti Amanda.
Huh, baru pertama ketemu udah kaya gini.”
Sepulang berwudu, Nafisah menggelar sajadah
kesayangannya. Sajadah berwarna pink yang
dihadiahkan almarhum ayahnya dulu.