The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Novel ini di persembahkan oleh santri Pondok Pesantren Daarul Ma'arif dan Juga Siswa MA eL-Bas.

suskes terus santriku bangga menjadi santri

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Heri Herdianto, 2021-07-29 03:14:48

CITA & CINTA

Novel ini di persembahkan oleh santri Pondok Pesantren Daarul Ma'arif dan Juga Siswa MA eL-Bas.

suskes terus santriku bangga menjadi santri

CHANDRA 330

Antara mana yang paling penting dari keduanya,
maka pilihannya ada pada diri kita masing-masing.
Tergantung sisi mana dulu yang paling penting menurut
kita. Keduanya sama pentingnya, sama–sama
berpengaruh pada kehidupan kita, perasaan dan
sebagian besar kehidupan.

Jika gagal dalam bercita–cita, mungkin saja
banyak pengaruh buruk pada karir kita. Begitupun jika
gagal dalam mencintai, tak jarang hati perasaan dan
semangat hidup acap kali menjadi korbannya.

Dalam kondisi apapun, situasi seburuk apapun
sekacau apapun, sudah selayaknya kita harus tetap
berpegang pada agama Islam. Karena itulah yang justru
mengatur hidup kita dalam segala sisi agar berjalan baik.
Karena Islam juga cahaya bagi dunia. Siapapun yang
yang berpegang erat padanya, akan tetap menjadi
sorotan cahaya yang terang walaupun berada di tempat
tergelap.

Pada akhirnya, hidup yang dijalani akan tetap
pada kebahagiaan, selama kita berpegang pada agama
keselamatan. Walau pendidikannya dari bilik pondok

331 Ciĩa & Cinĩa

pesanren, tak menjadi halangan untuk terbang setinggi
mungkin meraih cita yang tinggi dan menempuh cinta
yang suci.

*****

Untuk pertama kalinya, Nafisah menginjakan
kaki di tanah Alhambra bersama suaminya. Teman
bermainnya dulu. Nampak senang dan riang berseri
terpasang indah pada raut wajahnya. Kebahagian yang
tak henti dirasakanya terpancar indah pada hati Nafisah.
Tak hentinya bersyukur atas apa yang terjadi padanya.

Setelah cita–citanya sempurna tercapai untuk
menjadi sarjana Arsitektur di UCL, tak lama kemudian
ia menemukan cintanya yang menjadi pelengkap
kebahagiaannya.

Melalui perjalanan panjang yang tak pernah ia
duga sebelumnya. Berbekal ketaatanya pada abi
Mahmud, akhirnya menemukan cinta yang sejujurnya ia
cintai. Dua laki-laki yang sebelumnya juga
mencintainya, bahkan berani melamarnya, sebenarnya

CHANDRA 332

tak kalah kaya dan tampan. Tanpa alasan apapun Abi
menolaknya untuk Nafisah. Karena beliau seolah tahu
isi hatinya. Walau dalam hati Nafisah sebenarnya
mengiyakan bersedia, namun sejujurnya dalam lubuk
hati ada ganjalan cinta yang terpaksa. Jika terjadi. Tapi,
akhirnya Mudorlah yang menjadi pendampingnya.

Di sekitaran bangunan istana Alhambra, Nafisah
menelusuri setiap tempat. Ditemani suaminya yang
sudah beberapa kali datang ke tempat ini. Ia sudah hafal
betul semua tempat yang ada. Sambil berpegangan
tangan. Mereka telah sah menjadi pasangan halal.

“Nafisah?”

“Iya, Mas.”

Ada penggalan kisah singkat Mudor dulu selama
menempuh pendidikan di Spanyol. Tentang hidup, cinta,
dan cita–citanya. Di samping Nafisah, ia akan jujur
menceritakannya. Terutama, tentang cinta itu, yang
entah kapan bermula, yang pasti ketika itu ia selalu
mengingatnya ketika sedang di Alhambra.

333 Ciĩa & Cinĩa

“Asalkan kamu tahu, Sayang. Di tempat inilah
dulu, aku menemukan cinta. Padahal sebelumnya aku
tak penah mau berbicara tentang cinta,” ujar Mudor.

“Benarkah? Apa yang Mas ingat ketika
menemukan cinta itu?” tanya Nafisah tersenyum.

“Wanita itu yang enggan sedikitpun bebicara
denganku. Karena sebuah kesalahanku.”

Nafisah sebenarnya tahu maksudnya. Hanya saja
pura–pura lupa, mendinginkan suasana saja,
membuatnya lebih romantis dan humoris. Nafisah
tersinggung dengan pernyataannya. Peristiwa dulu yang
disinggung Nafisah, membuatnya teringat masa masa
ketika di pondok dulu.

“Oh, siapa itu?” Nafisah sambil senyum
mengkode.

“Tapi, ternyata wanita itu ditakdirkan menjadi
pasangan halalku,” jawab Mudor.

Romantisme hadir di tengah mereka. Keduanya
spontan saling berpelukan hangat. Di tengah keramain

CHANDRA 334

para wisatawan asing. Alhambra, istana peninggalan
kerajaan muslim di masanya menjadi saksi bisu antara
cinta keduanya. Semakin erat Nafisah memegang
pelukan kepada suaminya, karena besarnya cintanya.

Terlalu asyik bermain, keduanya lupa bahwa sore
ini mereka sudah ditunggu oleh Imam dan komunitas
muslim lainya di Masjid Granada. Untungnya, Mudor
teringat setelah melihat telepon genggamnya. Mereka
pergi dengan kendaraan umum setempat, jaraknya
lumayan jauh dan menghabiskan yang cukup lama.

Setelah beberapa lama di perjalanan, mereka pun
sampai. Imam dan yang lainnya sudah menunggu
kedatangan mereka. Meski hanya baru beberapa
minggu, tapi rasanya Imam sangat merindukan
kehadiran sosok Mudor di tempatnya.

Di sebuah aula tempat perkumpulan mereka,
Mudor dipersilahkan maju kedepan. Ia diminta berbicara
di hadapan mereka semua. Kalimat demi kalimat
hikmah yang sangat dirindukan mereka. Tapi, Mudor
tampil dengan lebih beda kali ini. Ia terlihat lebih
bahagia dari sebelumnya. Ia maju tak sendirian, tanpa

335 Ciĩa & Cinĩa

konfirmasi ia menggandeng istrinya untuk
menemaninya maju ke depan. Nafisah menurut. Dengan
bahagianya mereka berdua berdiri di hadapan
Komunitas Muslim di Granada. Mudor mengenalkan
istrinya, Nafisah.

Suasana terbawa auro romantisme yang dalam.
Mudor dan Nafisah tak lepas bergandengan tangan,
pasangan yang indah. Membawakan suasana lebih
berbeda dari biasanya. Dengan percaya dirinya Mudor
berbicara lantang di hadapan semuanya. Bahwa kisah
hikmah yang diajarkanya selama ini, terletak pada diri
Nafisah, istrinya sendiri.

“Selama saya bertausiah di hadapan kalian
semua. Hal yang paling banyak saya sampaikan adalah
tentang akhlak Islam. Terkadang yang kita tak pandai
meletakannya. Terlebih, ketika kita tinggal di Eropa,
yang kental akan pergaulan bebas. Diam, takut, dan
malu itulah akhlak yang sering saya sampaikan. Dengan
tiga akhlak itu, kita akan menjadi muslim yang terjaga
walaupun hidup di tengah masyarakat Eropa ini. Tiga

CHANDRA 336

cahaya ini, akan menjadi penerang bagi kehidupan kita,”
panjang Mudor memulai pembicaraanya.

Semua yang hadir nampak bahagia karena
kembali bisa mendengarkan nasihat–nasihat dari Mudor
kembali. Kata–katanya lembut menusuk dan
menyinggung agar menjadi lebih baik. Tetesan air mata
Imam tak terbendung mengalir perlahan. Karena haru.
Bangga dengan Mudor selama ini.

Mudor melanjutkan, “Dan pada akhirnya, tiga cahaya
nasihat yang saya sampaikan telah temukan dalam
bentuk wujud seorang wanita. Diamnya adalah
sebongkah emas, takutnya adalah tanda iman, dan
malunya adalah kehormatan baginya. Sangat rapi
wanita ini menata tiga hal ini dengan porsi yang cukup.
Dia adalah wanita yang saya nikahi beberapa hari lalu,
Nafisah Az-Zahra,” kata Mudor.

Sorak dan tepuk tangan semuanya meramaikan
suasana. Hangat dan penuh kebahagiaan dicampur
haru menyempurnakan. Isak tangis sebagian mereka
megikuti, karena haru mendengar cerita dua insan yang

337 Ciĩa & Cinĩa

tak sempurna namun memberikan cahaya bersatu
dalam ikatan suci.

Nafisah memandang wajah suaminya, menatap
lama sambil senyumanya mengikuti. Mudor membalas
juga senyuman itu dengan manis. Nafisah kemudian
mengarahkan wajahnya ke arah jamaah. Lalu
mengatakan sesuatu, “Saya beruntung dinikahi oleh
laki-laki yang bertahun-tahun telah mengajari kalian di
mimbar ini,” ujar Nafisah.

“Saya juga tak kalah beruntungnya. Bisa
menikahi wanita yang menjadi cahaya di negeri Ratu
Elizabeth, Mudor kembali menjawabnya.

Jamaah semakin terbawa arus suasana bahagia
bercampur haru. Imam juga ikut meneteskan air mata
haru bahagia sambil bertepuk tangan kecil.

Hari ini, ada kisah kesan hebat di langit biru.
Tentang dua cahaya yang bersinar terang menerangi
bersatu padu menjadi satu. Antara cinta suci dan cita-
cita tinggi meyatukannya meski tak dalam jarak yang
berdekatan.

CHANDRA 338

“Sayang, kamu cahaya yang baru dalam
hidupku.”

“Kamu juga, Mas. Kamu juga cahaya dalam
hidupku.”

Bernama lengkap Chandra

Nurpadillah Ia lahir di

Ciamis 10 Juni 2003. Putra

bungsu dari empat

bersaudara ini, kini sedang

menempuh pedidikan di

pondok pesantren Daarul

Ma’arif Ciamis. Di usianya

yang masih muda, ia

berusaha untuk bisa sukses

semuda mungkin. Dengan

kemampuanya, ia yakin bahwa tidak ada hal yang tidak

mungkin Di dunia kepenulisan, ia sudah tak asing lagi.

Ia sudah suka menulis sejak bangku SD. Beberapa

lomba menulis sudah ia ikuti, diantaranya ia pernah

menjadi 100 penulis terpilih lomba cipta puisi bersama

eyang sapardi, juara 3 lomba karya tulis ilmiah Pojok

Baca El Bas, dan lainnya. Selain itu, kini ia aktif menulis

di Buletin Elbas. Sebagai penggagas, ia mengajak teman
lainnya yang juga hobi menulis untuk ikut bergabung. Ia
juga kini sebagai ketua di Sahabat Pena Elbas di
pesantren.

Selain itu, ia pernah belajar bersama Dr. Geovani
van Rega, seorang tokoh literasi Nasional dan penulis. Ia
sengaja datang ke kediamannya di Pesantren Al Kasyaf,
Bandung untuk belajar menulis atas dasar kemauannya.

Sejak kecil ia memang senang belajar, tak heran
jika banyak prestasi membanggakan pernah diraihnya.
Walau kini ia masih duduk di bangku SMA sebagai
seorang santri. Tak membuatnya terbatasi untuk bisa
berkarya dan bermanfaat sedini mungkin.

Akun Media Sosial:

Instagaram : @chandra_nurpadillah

Facebook : Chandra Nurfa

WhatsApp 085603544749

Surel : [email protected]

“Penulis merangkai kata demi kata dengan Indah.
Walaupun penulis masih tinggal di pesantren, namun
penulis mampu membuat buku menjadi tidak monoton,
bosan dan jenuh. Ada banyak inspirasi yang dapat
menggugah hati dan jiwa agar menjadi pribadi yang lebih
baik lagi. Melalui tokoh utama bernama Nafisah Az Zahra,
dalam buku ini kita akan belajar banyak hal tentang
akhlak yang sering kali kita lupakan. Lupa bagaimana
cara menempatkanya. Para Muda – mudi muslim wajib
memiliki buku ini agar menjadi lebih baik”

Dr, KH.Kusoy Fadiliyah M.si – Pimpinan Ponpes
Daarul Maarif dan Inspektur Wilayah 1 kementrian
Agama RI

“Buku ini adalah jendela bagi penuntut ilmu
muslim dan muslimah, agar kita dapat menjalani hidup
menjadi lebih baik. Cita dan Cinta tak bisa dipisahkan,

dalam buku ini Cita dan Cinta akan dipadukan dalam
satu cerita yang menarik. Berlatar belakang seorang
santri, Nafisah menjadi Cahaya di Langit Eropa dan
Menjadi Inspirator islam bagi banyak orang di Benua Biru
Eropa”

Muhammad Kamal Ihsan – Penulis Novel 5 titik 1
koma dan ¼ dan peraih penghargaan Islamic Book
Fair JCC awards 2020

“Cita dan Cinta adalah kisah yang menunjukan
bahwa bagi muslim menjaga izah adalah
keniscayaan,termasuk di negeri ratu Elizabeth. Nafisah
membuktikan bahwa santriwati seperti dirinya mampu
membawa perubahan walaupun stigma terori melekat
pada dirinya. Cerita yang menggugah hati”
Mia Chuzaimiah – Penulis Novel Wedding Agreement

“Tak mudah membuat karya novel seperti ini,
apalagi penulis masih duduk di bangku MA. Buku ini

layak dibaca oleh siapapun yang ingin banyak mengambil
hikmah dan pelajaran dalam hidup. Melalui tokoh
santriwatai bernama Nafisah kita akan belajar perihal
bagaimana memposisikan diri sebagai pendiam, pemalu,
dan penakut yang baik sesuai tuntunan agama. Dengan
meraih cita yang tinggi serta mempertahankan cinta yang
suci, aka nada kisah menarik yang menjadikan suasana
menjadi lebih hangat”

Dr.H. Tatang Ibrahim – Penulis – Dosen UIN Sunan
Gunung Jati Bandung

“Kisah Cinta selalu menjadi tema menarik untuk
ditampilkan.Tentunya sepanjang hidup kita pernah
merasakan Cinta. Cinta melambangkan pengharapan,
pengorbanan, rasa suka dan duka. Buku ini cocokuntuk
semua kalangan terutama muda mudi yang sedang
mencari cinta”

Mr.Fahrid Mudori – Ketua Ikatan Mahasiswa Muslim
Yangzhou China.

“Bagi saya Novel ini adalah angin sejuk bagi kaum
muda yang kerap dilanda ‘quarter life cyrisis’. Saya
membayangkan novel ini seakan berseru dan membawa
kabar baik “Hai Muda – mudi kalian bisa menjadi sosok
Nafisah versi kalian masing – masing. Yang tak patah
arang menjemput sukses dalam cita maupun cinta. Pun,
tak pernah lekang oleh keterkaitan hukum syara dalam
memikat keduanya”, demikian kiranya.

Selamat untuk penulis. Karyanya begitu
inspiratif,edukatif, lagi kreatif. Pun,syaerat akan makna
kemanusiaan dan keislaman”

Salma Azizah Dzakiyyunisa – Pimpinan Umum
Manggala, Editor Al Azhar University Guide book, ESI
(Egypt Student Information),2020

“Pesan dan kesan yang terkandung dalam buku ini,
setidaknya ikut merajut jejaring moral dan sosial para
pembacanya. Sumbangsi yang nyata terhadap tumbuh
dan berkembangnya karakter bangsa ditengah maraknya
berbagai informasi. Tokoh fiktif Nafisah dan Mudor

kiranya berdaya aktif dalam merubah dan memperbaiki
sikap bercita dan mencinta”

Drs.KH. Suyono M.si – Ulama , Tokoh Masyarakat


Click to View FlipBook Version