The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurimandina3025, 2022-05-22 19:54:25

ctdn

ctdn

Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Melayu di Australia:
Kesempatan dalam Kesusahan

memperkenalkan bahasa dan budaya Melayu secara luas dalam masyarakat
Australia.
Dalam memikirkan masalah yang dihadapi dalam pengajaran dan pembelajaran
bahsa Melayu/Indonesia di Australia, beberapa hal sudah diakui oleh para guru dan
pakar bahasa sebagai inti persoalan. Hal ini termasuk: kebijakan pendidikan yang
menjamin pelajar dapat memilih mata pelajaran yang akan diambil; identiti pelajar itu
sendiri yang hampir semuanya tidak berasal dari budaya/etnis Melayu; jumlah guru
yang ada serta latar belakang dan kemampuan mereka; tidak adanya organisasi
profesi bagi guru bahasa Indonesia dan kurangnya sumber rujukan dan bahan ajar
yang lengkap dan terpercaya; dan pandangan masyarakat yang umumnya
berdasarkan berita buruk dan masalah antara Indonesia dan Australia (Kohler dan
Mahnken, 2010).

KESIMPULAN

Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilakukan dari luar sistem pendidikan Australia
untuk menunjang dan memperbaiki pengarajaran dan pembelajaran bahasa
Melayu/Indonesia karena masalah terbesar tumbuh dari struktur dan pandangan
masyarakat sendiri. Jadi kemungkinan satu-satunya adalah memperkenalkan apa
yang dapat ditawarkan tempat di dunia Melayu selain Indonesia serta ragam bahasa
Melayu selain bahasa Indonesia. Pendekatan radikal ini susah diterapkan tapi akan
sangat dibantu oleh teknologi yang semakin berkembang.

Dalam hal ini pendekatan yang berpusat pada Malaysia, bahasa dan budayanya yang
paling masuk akal karena dipandang jauh berbeda dengan Indonesia oleh orang
Australia seperti dibicarakan di atas. Selain itu sikap terhadap bahasa Malaysia jauh
berbeda pula. Hal ini kelihatan sekali dalam bahan ajar dan sumber rujukan yang
tersedia di internet. Sebagai contoh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) menyediakan
berbagai sumber berupa kamus, database, kertas diskusi dan kebijakan yang bisa
dilihat langsung oleh pengguna internet dan sebagiannya dapat dibeli dalam bentuk
hard copy. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (DPK) Indonesia menyediakan
Kamus Besar dalam bentuk online maupun hard copy yang merupakan sumber yang
sangat berguna tapi hanya bagi orang yang lancar sekali berbahasa Indonesia karena
tidak ada versi bahasa Inggrisnya. DBP menerbitkan berbagai kamus termasuk kamus
bahasa Inggris-Melayu dan Melayu-Inggris yang dianggap sangat penting bagi pelajar
yang belum lancar berbahasa. Selain itu versi online surat kabar, majalah dan lain-lain
dari Malaysia umumnya bermutu tanpa banyak masalah teknis yang sering dialami
dengan bahan serupa dari Indonesia.

Jadi walaupun perluasan pemikiran tentang bahasa Melayu di Australia untuk
mencakup ragam Malaysia, bukan Indonesia saja, akan sangat berguna dan
barangkali dapat menolong keadaan pengajaran dan pembelajaran yang sudah
sekarat, secara praktis tidak mudah dilakukan. Tidak adanya guru yang mampu
berbahasa Malaysia menjadi masalah besar; guru bahasa Indonesia yang ada tidak
bisa menggunakan bahan dari Malaysia (bahasa Indonesianya saja sering kurang
fasih). Selain itu para pelajar serta orang tua mereka harus bisa diyakinkan bahwa
bahasa Melayu dalam ragam apapun akan berguna untuk mendapatkan pekerjaan
atau melanjutkan pembelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini belum tentu bisa
dilakukan tapi setidak-tidaknya Malaysia tidak dipandang negatif seperti Indonesia
oleh masyarakat Australia.

Kemungkinan yang paling mungkin berhasil dalam upaya ini adalah kalau adanya
bahan ajar serta sumber rujukan dari Malaysia dapat diperkenalkan di tingkat
universiti, terutama untuk dipakai dalam pelatihan guru baru. Selain itu, organisasi
guru bahasa Indonesia (ASILE = Australian Society of Indonesian Language

Educators) barangkali dapat dilibatkan pula tapi hal ini akan sangat susah. Guru di
Australia umumnya tidak mudah berubah dan cenderung menggunakan pendekatan
dan bahan ajar yang dipakai sejak puluhan tahun yang lalu. Ini salah satu alasan
utama bahasa Indonesia tidak lagi dianggap relevan oleh sebagian besar pelajar dan
mahasiswa Australia.

Jadi pada saat ini yang paling dapat dilakukan adalah mempergunakan kesempatan
yang ada karena fokus New Columbo Plan dari pemerintah Australia yang semakin ke
Malaysia. Kesempatan belajar di Malaysia yang diberikan kepada mahasiswa
Australia hendaknya termasuk bagi mereka yang ingin menjadi guru bahasa Melayu.
Mungkin bisa dilengkapi dengan kesempatan magang di DPB, sekolah, atau lembaga
pendidikan lain. Dengan begini bisa tumbuh suatu generasi guru bahasa Melayu baru
di Australia yang akan mampu merubah sikap masyarakat sehingga pengajaran dan
pembeljaran bahasa Melayu tidak terus terbatas pada bahasa Indonesia saja.

BIBLIOGRAFI

Bland, B. 2021. Building Stronger Australia-Indonesia Ties. The Interpreter. The Lowy

Institute 28 Jun 2021.

Carey, A. 2021. Indonesian Language Studies ‘at Risk’ as Schools Spurn Asian
Neighbour. The Age 12 November 2021.

Connors, F. 2020. English the ‘Lingua Franca of Asia’, says Howard. Australian
Financial Review 20 November 2020.

Curry, H. 2021a. Creativity and Crisis: Teaching Indonesian in Australian Schools. The
Mandarin 20 Mei 2021. https://www.themandarin.com.au/157440-creativity-and-

crisis-teaching-indonesian-in-australian-schools/ akses pada 7 Mei 2022.
Curry, H. 2021b. Indonesian Matters in Our Schools. Pursuit 9 Des 2021.

Graham, D. 2021. Why Bother? Everyone Speaks English. Australian Institute of

International Affairs. https://www.internationalaffairs.org.au/australianoutlook/why-

bother-everyone-speaks-english/ akses pada 7 Mei 2022.
Kohler, M. 2021. A Contemporary Rationale for Indonesian Language and Culture

Studies in Australian Schools. Canberra: Asia Education Foundation.
Kohler, M. dan Mahnken, P. 2010. The Current State of Indonesian Language

Education in Australian Schools. Canberra: Australian Government Department of

Education, Employment and Workplace Relations.

Liddicoat, A. J., Scarino, A., & Kohler, M. (2018). The impact of school structures and

cultures on change in teaching and learning: the case of languages. Curriculum

Perspectives, 38(1), 3-13.

Lowy Institute. 2021. Asia Power Index.

https://power.lowyinstitute.org/compare/?countries=malaysia,indonesia akses

pada 7 Mei 2022.
Maslen, G. 2022. Malaysia in Bid to Encourage Aussie Students to Return. University

World News 6 April 2022.

Williams, E. 2021. Can Australia’s Declining Indonesia Literacy Survive COVID19

Cuts? University of Melbourne 28 September 2021.

https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/can-australias-declining-indonesia-

literacy-survive-covid-19-

cuts/#:~:text=In%20fact%2C%20from%20next%20year,down%20from%2022%20

in%201992 akses pada 7 Mei 2022.

5

Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

BAHASA MELAYU ALAT BERCERITA

Zakaria Ali1
([email protected])

Malaysia

PENGENALAN

Buat seketika, kita anggap bahasa Melayu itu sebagai karya seni. Untuk menghasilkan
karya seni, kita perlukan peraturan yang dipersetujui oleh pengamalnya. Peraturan itu
ialah adanya sintaks dalam susunan bahasa, dan adanya perspektif dalam ciptaan
seni visual. Di sini kita sembang-sembang tentang kaitan antara bahasa yang verbal
dan lukisan yang visual itu dengan memakai analogy untuk menghargai fungsinya
masing-masing. Sintaks dan perspektif itu menjamin terjelmanya pengertian/sense.

Kita tinjau selangkah lagi, bahawa bahasa itu sebagai alat sama seperti cat, pensil,
kanvas, berus, kertas, minyak linseed, minyak turpentine. Ini adalah bahan seniman
pakai untuk, katakan, melukis sebuah potrait. Maka ada faedahnya jika kita tinjau,
sekilas pandang, pada contoh-contoh awal bagaimana bahasa itu digunakan untuk
menerangkan perkara-perkara yang pengguna bahasa Melayu itu/native speakers kira
penting. Dengan menggunakan peralatan saintifik canggih dalam makmal bila kita kaji
usia bahan-bahan lukisan Renaissance, umpamanya. Maka kita boleh pastikan
berapa lapis cat yang telah digunakan, dari mana asal pigment yang organik dan
mineral yang dibancuh, jenis jalur benang yang menyulami kanvesnya itu. Inilah
analog bila kita tahu asal usul suku kata maka kita merasa lebih sebati dengan bahasa
Melayu yang bersuara di dalam mimpi kita, menyusun maklumat yang akal kita tapis.

ISU KAJIAN

Kedua-dua bidang ini, seni dan bahasa, bertugas memulakan gerak ke arah
penghayatan. Apa yang kita hayati itu kita nyatakan kembali melalui perspektif sendiri,
terhasil dari pengalaman, renungan, timpal balik idea-idea yang mengganggu dan juga
mendorong kita. Khazanah pertumbuhan bahasa memulanya tradisi visual dan tradisi
sastera yang saling terang menerangi antara satu sama lain, menjalin naratif tentang
pengalaman kolektif kita sebagai satu bangsa.

Kita bayangkan bahasa Melayu awal-awalan itu sebagai sejumlah sebutan yang ada
di dalamnya kata nama, kata kerja, kata sifat. Masing-masing mempunyai peranan
untuk mengekalkan commonsense, logic, yang memudahkan orang memahami malah
menakluki alam di sekitarnya. Manusia memahami dirinya melalui bahasa yang
sudah diconvetionalized/ dipiawaikan. Kita memahami orang lain melalui bahasa yang
sintaksnya itu ditentukan oleh hati nuraninya sendiri, mengikut apa yang masyarakat
kira baik dan berfaedah.

Dengan demikian penutur bahasa itu boleh mengolah apa yang dia alami menjadi satu
susunan ayat yang lambat laun membentuk tradisi kelompoknya, bercabang ke

1Dr. Zakaria Ali ialah mantan Professor Sejarah Seni, Universiti Pendidikan Sultan Idris. Kini Independent
Scholar, menulis dan melukis sepenuh masa.

Bahasa Melayu Alat Bercerita

bahasa tempatan, ke bahasa daerah yang banyak ragam dan bunyinya. Maka
sebatilah cara kita berfikir dan penyuaraan buah fikiran kita itu mendasari maruah kita.
Maruah itu adalah suatu pupukan nilai yang berterusan yang kita kongsi dan
perturunkan ke anak cucu.

Dengan adanya root words/kata-kata akar ini maka bahasa itu bolehlah mengolah
benda-benda yang nampak dan yang tidak nampak, yang jelas dan yang kabur, yang
nyata dan yang abstrak, soal-soal matematikal, spiritual, metaphysical. Bahasa
Melayu itu meminjam banyak istilah Sanskrit, kadar peratus yang tinggi: angkara,
aniaya, bicara, binasa, buana, budi, cipta, curiga, derita, derhaka, harta, hina, ketika,
laksana, malapetaka, mulia, nista, niscaya, panitia, pujangga, pusaka, pusara,
rahasia, rupa, sangka, sengsara, suka, tatacara, umpama, usia, warga, wira sudah
mendarah daging dengan bahasa kita. menggambarkan keadaan dalaman jiwa,
masuk ke rongga batin, menjadi a state of being.

J. G. de Casparis dalam kajiannya Indonesian Palaeography (Casparis: 1975) telah
menghurai sejumlah tulisan yang dipahat di atas batu, atau diguris ke atas kepingan
logam, sehingga kita boleh merumuskan bahawa apa yang kita kenal sebagai bahasa
Melayu sekarang ini adalah bersumber dari bahasa Sanskrit dan Jawa Kuno. Dalam
kajiannya itu, J.G. de Casparis menurunkan transkripsi tulisan-tulisan tersebut tanpa
memberi maknanya.

Transcription tanpa translation adalah sia-sia, macam burung kakak tua yang melatah
di jendela. Betapa ruginya kita yang tidak bersekolah aliran Arab mengaji al-Quran
tanpa menengok makna ayat dalam bahasa Melayu atau Inggeris berbaris di sebelah
bawahnya.

Inskipi Srivijaya empat baris sembilan belas perkataan di Talang Tuwo dekat
Palembang bertarikh 684 A.D itu memakai skrip Pallava kita sudah dapat lihat tunas-
tunas bunyi bahasa Melayu: rupa dan rajin (Casparis: 88). Dorongan untuk meminjam
itu ialah adanya keperluan berbuat demikian. Tekaan kita ialah sukukata Melayu itu
diperlukan untuk menyampaikan sesuatu utusan yang tidak mampu disampaikan oleh
bahasa lain. Tanpa rupa dan rajin sebagai pelengkap maka inskripsi ini mungkin
tergantung dan janggal.

Jelas, pinjam meminjam itu adalah laluan dua hala, saling agih mengagih, bukan saja
dengan bahasa Jawa tetapi juga dengan bahasa-bahasa Minangkabau, Acheh,
Sulawesi. Hal ini kita faham sebab sejak dulu, manusia Nusantara itu berdagang,
bercampur, berkahwin, memperkaya ruang pemikiran, meniru lenggang, menukar
lenggok.

Konsep ketuhanan yang dibawa masuk oleh Islam menambah vokabulari bahasa
Melayu seperti yang terpahat pada Batu Bersurat Terengganu (al-Attas: 1970).
Kecantikan yang terdapat pada teks ini ialah betapa bahasa Melayu itu telah
menyalurkan dua aliran pemikiran menjadi suatu kepaduan yang seimbang. Fahaman
Hindu yang terdahulu seperti yang tertera pada ungkapan Dewata Mulia Raya,
mandalika, tamra Raja Manda, disatuayatkan dengan Rasul allahu alai wassalam.

Tarikhnya pula ikut hitungan Islam: Jumaat di bulan Rejab di tahun saratan
disasanakala. Baginda RasululLah telah lalu tujuh ratus dua. Dalam Batu Bersurat
Terengganu itu kita perhatikan senarai salahlaku dan denda yang dikenakan ke atas
pesalah, sama ada bujang, atau sudah beristeri (Zakaria: 55-59). Agak ngeri bila kita
diberitahu tentang salahlaku seksual. Perhatikan:

Simposium Pengantarabangsan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

Keenam derma barang
Orang berbuat bala cara laki-laki perempuan satitah
Dewata Mulia Raya jika merdeka bujang palu.
Seratus ratun jika merdeka beristeri.
Atawa perempuan bersuami ditanam hinggakan

Jika pesalah single maka dendanya dipalu, atau dirotan. Bilangannya tidak disebut
tetapi jika dia sudah berkahwin kena seratus sebatan. Jika si isteri curang, maka dia
ditanam setakat pinggang, direjam. Yang tersirat ialah, jika suami curang, dia juga
ditanam setakat pinggang, direjam.

Kita mengerti bahawa bahasa Melayu yang diukir atau dipahat di atas permukaan yang
keras seperti batu granit semestinya rengkas, to the point. Pahatan ini adalah hasil
dari besi yang runcing, dan pemukul yang dihayun konsisten supaya saiz gurisan itu
sama rata. Susunan ayat-ayat itu lurus menyarankan ada tulisan tangan atas kertas
yang ditiru.

Isinya sudah disusun, ruang sudah diukur, dibelah bagi, dielak membazir. Ada kata
nama, kita kerja, dan kata sifat, lengkap. Makna terutus secara berlapik, secara kias,
secara direct. Maka dari segi isi dan bentuk, Batu Bersurat Terengganu itu mencapai
taraf seni yang tinggi kualitinya sebab di dalam pengukirannya itu ada peranan
perkiraan, ada perancangan, dan keakuran pada audience yang perseptif kepada
nuansa hukum hakam.

Abad ke 15 bahasa Melayu itu sampai ke moment klasikalnya, bertaraf lingua franca,
pedagang terpaksa belajar, mahu tidak mahu, belajar untung, tidak berlajar rugi. Tome
Pires mencatit ada 84 bahasa (Cortesao: 83) yang bertempik berteriak di Melaka, satu
kokofoni bingit yang ditenteramkan oleh bahasa Melayu yang lembut, tegas dan lurus.
Tome Pires juga menyenaraikan pedagang dari Kaherah, Mekah, Aden, Ormuz, Parsi,
Turkaman, Armenian yang Kristian, Gujarat, Goa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu,
Kedah, Pahang, Patani, Kambuchia, Champa, China, Brunei, Bangka, Maluku,
Madura, Java, Menangkabau, Siak, Pasai, Maldives (Cartesoa: 83).

Dalam Ma Huan Ying-yai Sheng-lan Chiao-chu (Mills: 109) ada disebuat bahawa
Sultan telah membina dua puluh jambatan dengan gedung-gedung pavilion merintangi
Sungai Melaka untuk kegunaan menjual, membeli, menawar, bercengarama.
Kita juga bertanya tentang kualiti penggunaan bahasa kita ketika itu. Ada atau tidak
satu standard Malay? Yakni, bahasa yang diboleh difaham bila ditutur antara native
speakers dan foreigners.

Ada. Kita perhatikan kualiti bahasa dalam Hikayat Raja2 Pasai (Hill: 1960). Betapa
tinggi adabnya, halus sebutannya, dan lancar naratifnya. Dalam episode Puteri Betung
dan Merah Gajah, suami isteri, yang melahirkan Merah Silu yang akan menukar
namanya kepada Malikus Salleh. Dalam sejarah Seni Islam Nusantara, makam
Malikus Salleh di Loksumaweh berbentuk nesan bersayap bertarikh 1292 A.D itu
menunjukkan bahawa cerita-cerita mengenai raja-raja Melayu purba mempunyai asas
dalam faktar sejarah walaupun diselubungi rangkaian dongeng.

Selepas Merah Silu, lahir pula Merah Hasum yang mempunyai sehelai rambut emas
di tengah kepalanya. Ayahnya Merah Gajah mahu caput rambut emas itu tetapi Merah
Hasum beri amaran jika ayahnya berbuat demikian mereka akan berpisah ke dua
alam yang berbeza. Degil, Merah Gajah gatal tangan, dan cabut juga rambut mas itu
semasa Merah Hasum sedang tidur. Serta merta Merah Hasum pun ghaib. Merah
Gajah pun dibunuh.

Bahasa Melayu Alat Bercerita

Apakah yang ingin disampaikan pengarang Hikayat Raja-Raja Pasai? Dia secara
tersirat ingin mengingatkan raja-raja supaya jangan tamak. Jangan ambil harta yang
haram. Jangan perlekehkan rayuan yang menjamin kesejahteraan Harta yang dicuri
itu bukan besar atau banyak pun. Hanya sehelai rambut. Milik orang lain, hatta
anakmu sendiri sekali pun, mesti dihormati, tunjuk amanah.

Sejarah Melayu pula menyentuh isu dendam, maruah, daulat seperti yang terdapat
pada bab terakhir (Winstedt: 225-226). Sang Setia mendendami ketua Orang Asli
Pateh Ludang yang telah menyalahinya tetapi tidak disebut apa. Pateh Ludang lari
bersembunyi di Pahang. Kebetulan, ketika itu Raja Pahang mangkat diganti oleh
saudaranya Raja Jainad. Maka Raja Jainad pun berlayar ke Sayong, Johore, dikayuh
oleh Pateh Ludang dan suku kaumnya untuk memohon pengistirafan. Semasa sibuk
di singgahsana di mana Sultan Alauddin Ri’ayat Syah menganugerah gelaran Sultan
Muzaffar Syah kepada Raja Jainad, Sang Setia sempat menyelit masuk ke perahu
dan menyerang Pateh Ludang yang tidak bersenjata sebab tersalah sangka bahawa
Raja Jainad itu akan protect dia.

Sultan Muzaffar Syah amat murka, ingin segera pulang ke Pahang setelah diberitahu
Sang Setia telah membunuh Pateh Ludang. Sultan Alauddin Ri’ayat Syah suruh
Laksamana tangkap dan ikat Sang Setia. Sang Setia enggan buka pintu rumahnya,
atas alasan bahawa Laksamana itu hanya mahu menangkap dan mengikatnya. Jika
Laksamana ingin masuk untuk membunuhnya maka Sang Setia sedia membuka pintu.
Sang Setia berlagak samseng, berani mati, hulubalang sejati.

Ucapan yang sukar kita lupa ialah bila Sang Setia berkata: “ Jika Laksamana dititahkan
masuk membunuh hamba, hamba akan terima masuk; jikalau akan mengikat hamba,
tiada hamba terima masuk. Yang titah itu hamba junjung tapi akan Laksamana hamba
lawan! Tidak pernah hulubalang mengikat sama hulubalang. “ (Winstedt: 224).

Sultan Alauddin Ri’ayat Shah pun menghantar Bendaharanya pergi ikat Sang Setia
dan bawa dia ke instana. Sang Setia sempat berbisik kepada pengawalnya supaya
ikat kendur, dan kenyit mata pada penjaga berdiri dekat supaya kerisnya Sang Setia
boleh capai, sekiranya pelawat-pelawat Pahang itu tunjuk perangai dia akan
menyerang amuk.

Sang Setia pun dibawa mengadap Sultan Muzaffar Syah untuk tindakan selanjutnya.
Dia diberi kebenaran jatuh hukum hukum apa saja kepada Sang Setia. Tapi Sultan
Muzaffar Syah diam, tidak berbuat apa-apa, sehingga Bendaharanya itu merasa pelik
dan keliru. Maka Bendahara pun lepaskan Sang Setia sebab tuannya Sultan Muzaffar
Shah itu kaku, bisu, diam. Sultan yang pengecut.

Akhirnya Sultan Muzaffar Syah pun bersuara tikus bahawa dia merasa dirinya hamba
kepada Sultan Johor yang telah menaikkan darjatnya dengan gelaran Sultan Muzaffar
Syah. Dia enggan derhaka terhadap pemberi anugerah itu. Dia tidak berani
menghukum Sang Setia, membalas dendam, nyawa ganti nyawa. Malah, untuk
membawa pulang kumpulan orang Asli yang mengayuhnya ke Sayong itu Sultan
Muzaffar Syah meminta kebenaran daripada Sultan Johor, padahal orang-orang Asli
itulah yang mendayung dia dari Pahang. Adakah ini bererti dia seorang spineless
leader yang buta pada keadilan? Atau adakah ini bererti memang sejak dahulu lagi
orang Melayu pandang hina pada Orang Asli? Nyawa Orang Asli itu nyawa katak,
tidak perlu dituntut ganti?

Simposium Pengantarabangsan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

PENUTUP

Dengan menutup cerita ini di sini, pengarang Sejarah Melayu berharap pembacanya
insaf dan dapat pengajaran. Sambil pembaca terhibur dengan kesah-kesah yang
tersurat, ada pengertian sindiran dan teguran yang tersembunyi di sebaliknya.
Saya merumuskan bahawa pengarang Sejarah Melayu menjemput pembacanya
menikmati satu siri adegan yang epik yang tersurat itu, sambil menyimpan maksud
yang berbagai yang tersirat itu. Kita tahu bahawa keluarga atasan istana yang boleh
membaca mungkin tidak ramai. Yang rajin membaca pula terlalu bengap untuk
menangkap makna yang tersembunyi, makna yang berlapik, mankna yang menusuk.
Kualiti pengajaran itu terlalu kabur untuk dilayan.

Bila sang Sultan di saat-saat sebelum mangkat diberi peluang untuk memberi khutbah
tentang hidup dunia yang fana dan akhirat yang abadi, maka berkhutbahlah dia
panjang lebar. Ini adalah satu literary strategy untuk menutupi kritikan yang bersepah-
sepah dan terselit-selit itu.

Manuskrip asal Sejarah Melayu ini tiada tanda nokhtar, koma, muka surat, peranggan,
pasti merimaskan sesiapa saja yang cuba membaca. Perhatian pembaca itu akan
terpesong pada lakaran dekorasi bunga-bungaan berwarna hitam, merah, coklat dan
biru menghiasi permukaan surat.

Bahasa kita itu boleh saja merakam watak yang zalim, kejam, setia, bodoh dan
derhaka. Niat di belakang ialah kita ubah kelakuan, menjadi baik. Bahasa Melayu itu
liat, boleh mengolah tema silam yang mythic dan juga kejadian seharian yang konkrit.
Kita semua menanti terhasilkan novel setaraf dengan novel Garcia Marquez Cien
Anos de Soledad/ One Hundred Years of Solitude asal saja kita kekal pupuk suasana
ilmu yang selalu bertanya dan menyoal diri.

BIBLIOGRAFI

Armando Cortesao (Ed and trans), 1944. The Suma Oriental of Tome Pires. 2 Volunes.
London: The Hakluyt Society.

A.H. Hill (ed), 1975. Hikayat Raja-Raja Pasai. JMBRAS, Vol. XXXIII, Part 2, June 1960
G. de Casparis, 1975. Indonesian Palaeography, A History of Writing in Indonesia from

the Beginnings to Circa A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill.
Mills, S.V. (ed and trans), 1970. Ma Huan Yang-Yai Sheng Lan. London: The Hakluyt

Society.
R.O. Winstedt (ed.), 1938. The Malay Annals or Sejarah Melayu. Journal Malayan

Branch of Royal Asiatic Society , Vo. XVI, Part 111.
Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1970. The Correct Date of the Trengganu Iscription.

Kuala Lumpur: Muzium Negaram
Zakaria Ali, 1994. Islamic Art in Southeast Asia 830-750 A.D. Kuala Lumpur: Dewan

Bahasa dan Pustaka,
15 May 2022
Diamond Creeks

Simposium Pengantarabangsaan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

BAHASA MELAYU DAN PENGUKUHAN MELALUI
UNDANG-UNDANG

Sidek Saniff & Izan Sidek
[email protected]
Singapura

Abstrak

Republik Singapura dikenali sebagai sebuah negara sekular yang majmuk. Berbilang bangsa
dan agama. Golongan orang Melayu merupakan 13.2% jumlah penduduk Singapura
berbanding dengan 74.2% golongan orang Cina. Walau bagaimanapun, Pemerintah Singapura
mengiktiraf bahasa Melayu sebagai Bahasa Kebangsaan bagi negara sekular ini. Keputusan
ini dibuat bukan sahaja kerana orang Melayu merupakan orang asli tanah air Singapura tetapi
Pemerintahnya akur bahawasanya bahasa Melayu penting di rantau ini. Pengiktirafan tersebut
termaktub dalam Perlembagaan negara Republik Singapura. Bukan tercatat di bawah undang-
undang biasa semata. Dalam sebuah negara di mana orang-orang Melayu merupakan kaum
minoriti. Beberapa dasar Pemerintah serta inisiatif-inisiatifnya diperkenalkan dengan tujuan
untuk mengukuhkan penggunaan bahasa Melayu di Singapura. Sokongan padu yang diberikan
oleh Pemerintah Singapura dalam hal ini dialu-alukan masyarakat Melayu. Para pemimpin
Melayu dari parti Pemerintah diberikan ‘blank cheque’ atau kuasa penuh untuk melakar hala
tuju demi mengukuhkan bahasa Melayu. Bahasa Melayu adalah salah satu bahasa dunia
yang penting. Sama seperti bahasa lain yang maju, penutur dan pengguna bahasa Melayu
akan lebih ramai daripada bangsa Melayu itu sendiri. Ianya dituturkan oleh lebih 220 juta
manusia. (Sidek Saniff, Paradigma Melayu Singapura, 2010, m/s 101)

Kata Kunci: Bahasa Melayu, pengukuhan undang-undang, Singapura

Petikan

The Constitution is regarded as the supreme law of a nation. The Constitution of the
Republic of Singapore contains the following Articles:

GENERAL PROVISIONS

Minorities and special position of Malays

152. (1) It shall be the responsibility of the Government constantly to care for the
interests of the racial and religious minorities in Singapore.

(2) The Government shall exercise its functions in such manner as to recognise the
special position of the Malays, who are the indigenous people of Singapore, and
accordingly it shall be the responsibility of the Government to protect, safeguard,
support, foster and promote their political, educational, religious, economic, social
and cultural interests and the Malay language.

Muslim religion

153. The Legislature shall by law make provision for regulating Muslim religious
affairs and for constituting a Council to advise the President in matters relating to the
Muslim religion.

1

Bahasa Melayu Dan Pengukuhan Melalui Undang-Undang

Official languages and national language

153A. (1) Malay, Mandarin, Tamil and English shall be the 4 official languages in
Singapore.

(2) The national language shall be the Malay language and shall be in the Roman
script:

Provided that —

(a) no person shall be prohibited or prevented from using or from teaching
or learning any other language; and

(b) nothing in this Article shall prejudice the right of the Government to
preserve and sustain the use and study of the language of any other
community in Singapore.

PENGENALAN

Dari saat Singapura mencapai kemerdakaan pada Ogos 1965, kedudukan bahasa
Melayu telah terjamin dengan pengiktirafannya sebagai Bahasa Kebangsaan bagi
negara sekular, yang berbilang bangsa ini. Termaktub dalam Perlembagaan negara
Republik Singapura. Bukan tercatat di bawah undang-undang biasa. Dalam sebuah
negara di mana orang-orang Melayu merupakan kaum minoriti. Hanya 13.2%
penduduknya sekarang. Sekitar 16% semasa kemerdekaan. Diterima oleh sebuah
Pemerintah yang majoriti ahli-ahlinya terdiri daripada golongan berbangsa Cina.
Bahasa Melayu sebagai Bahasa Kebangsaan tetap kekal hingga kini, hampir 57 tahun
selepas kemerdekaan.

Selain dari itu, lagu kebangsaan negara Singapura juga dalam bahasa Melayu. Kanak-
kanak belajar menyanyi lagu kebangsaan apabila menjejak masuk ke sekolah rendah
pada usia 7 tahun. Kanak-kanak Cina, India dan Serani semuanya akan terdedah
kepada bahasa Melayu pada usia mereka yang masih kecil.

Arahan-arahan dalam kumpulan seragam seperti polis dan tentera dilaungkan dalam
bahasa Melayu. Anak-anak lelaki warga Singapura harus melalui Perkhidmatan
Negara selama dua tahun selepas meninggalkan bangku sekolah. Kira-kira antara
usia 18 dan 20 tahun, mengikut pencapaian mereka masing-masing dalam bidang
pelajaran. Yang bukan bangsa Melayu harus memahami bahasa Melayu supaya dapat
mengikut arahan-arahan yang dilontarkan oleh pegawai-pegawai yang berpangkat
lebih tinggi semasa perbarisan dan sebagainya. Kalau tidak, huru-hara dibuatnya.

Ketiga-tiga Perdana Menteri Singapura fasih dalam bahasa Melayu. Dari Encik Lee
Kuan Yew, Encik Goh Chok Tong dan Encik Lee Hsien Loong sekarang ini. Mereka
selesa menggunakan bahasa Melayu termasuk apabila menyampaikan taklimat di
majlis-majlis rasmi dan juga apabila memberikan amanat kepada seluruh negara
semasa menyambut Hari Kemerdekaan, Rapat Umum tahunan serta semasa
berkempen di pilihan raya. Ramai juga para menteri yang bukan berbangsa Melayu
tetapi mahir bertutur dan berucap dalam bahasa Melayu.

Perkara-perkara yang telah saya sebutkan sebelum ini adalah untuk menekankan
peranan bahasa Melayu dalam konteks sebuah negara majmuk di mana orang
Melayunya merupakan kaum minoriti.

Simposium Pengantarabangsan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

ISU KAJIAN

Pemerintah Singapura senantiasa bersikap terbuka terhadap saranan membina demi
memajukan bahasa Melayu. Mentelah lagi bahasa Melayu merupakan Bahasa
Kebangsaan dan juga bahasa penting di rantau ini. Oleh itu, banyak dasar-dasar
Pemerintah serta inisiatif-inisiatif diambil untuk memperkukuhkan bahasa Melayu di
Singapura. Saya akan berkongsi beberapa dasar-dasar dan inisiatif-inisiatif tersebut
yang telah dikeluarkan selama ini. Khususnya semasa saya berkecimpung dalam
arena politik sepanjang 25 tahun sebelum mengundur diri pada tahun 2001.

Guru bak lilin – menerangi keliling walau membakar diri. (Sidek Saniff, Langkah Liku,
Selayang Kenangan, 2018, m/s 98). Dalam apa-apa bidang pengajian, perlu adanya
guru-guru yang berilmu dan bertauliah untuk menyampaikan ilmu secara tersusun
serta penggunaan metodologi yang wajar. Pada awal tahun ’90-an, ramai guru-guru
Bahasa Melayu tidak mempunyai kelulusan ijazah sarjana muda. Setakat sijil GCE
peringkat ‘O’ atau ‘A’ sahaja. Pada waktu itu saya ke Kementerian Pendidikan sebagai
Setiausaha Parlimen selepas beberapa tahun di Kementerian Perdagangan dan
Perindustrian.

Sebagai mantan guru yang cuba mengejar ijazah setelah bekerja sebagai external
student Universiti London, saya memahami sangat kepentingan kertas segulung yang
digenggam untuk kejayaan atau pencapaian yang lebih tinggi. [Bila saya mula
pengajian saya, saya dan isteri sudah mempunyai tiga cahaya mata. Tamat pengajian,
tambah seorang lagi!]

Dari pengalaman yang penuh cabaran itu, maka tercetus idea untuk menghantar
sebilangan guru-guru Bahasa Melayu ke Universiti Malaya (UM) di bawah satu skim
khas dari awal tahun ’90-an. Saya telah membincangkan hal ini dengan Menteri
Pendidikan Malaysia pada waktu, Dato’ Sulaiman Daud. Ramai guru-guru Bahasa
Melayu di Singapura mengambil peluang untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat
sarjana muda (BA) di UM. Skim ini memastikan mutu para guru Bahasa Melayu
supaya dapat menyampaikan suatu sistem pembelajaran yang lebih berkesan.
Sekaligus memastikan pengukuhan bahasa Melayu di kalangan para pengguna dari
mereka di bangku sekolah lagi.

Kemajuan pesat yang dicapai oleh Singapura yang bermula dari akhir tahun ’90-an
memperlihatkan peningkatan taraf sosio-ekonomi masarakat Melayu juga. Dengan
dorongan para ibubapa yang lebih berjaya dan berpendidikan tinggi termasuk para
guru Melayu, lebih ramai anak-anak mereka berjaya melayakkan diri di universiti
setempat yang menawarkan pengajian Bahasa Melayu. Segelintir dari mereka
berkemampuan untuk menghantar anak-anak mereka ke luar negara juga. Ke
Amerika, United Kingdom, Australia dan sebagainya dalam pelbagai jurusan.
Pencapaian masayarakat Melayu yang memberangsangkan ini bermakna jumlah
guru-guru Bahasa Melayu yang ke UM mula berkurangan. Tambahan pula, Institut
Pendidikan Kebangsaan Singapura (NIE) mula memperkenalkan kursus
BA(Ed)(Malay Language Specialisation) bagi para guru pelatih. Setelah itu sebuah
universiti setempat, Universiti Sains Sosial Singapura (SUSS) menawarkan kursus BA
Bahasa dan Kesusasteraan Melayu.

Langkah selanjutnya untuk memertabatkan Bahasa Melayu ini cendekiawan Melayu
dan pertubuhan Melayu bersama-sama Kementerian Pendidikan telah menyarankan

3

Bahasa Melayu Dan Pengukuhan Melalui Undang-Undang

konsep penting bahasa iaitu Bahasa Baku agar kesemua negara yang menggunakan
Bahasa ini sekata pengendaliannya. Dan kami yakin langkah itu akan menjadi impetus
di persada dunia.

Alhamdulillah, pakar-pakar Bahasa khususnya dari Malaysia, Indonesia, Singapura
kesemuanya AKUR. Tertempahlah sejarah murni Bahasa ini dengan tinta masnya.

Kami memperkenalkan Bulan Bahasa pada tahun 1988 dengan tujuan untuk
menggalakkan masyarakat Melayu menggunakan bahasa ibunda dalam kehidupan
seharian mereka. Bulan Bahasa creates various activities to promote and instil greater
confidence in, and mastery of, the Malay Language. Thanks to the Government’s
policy on Bilingualism, its active promotion of it and its sponsorship, language and
literary activities do well in Singapore. (Sidek Saniff, Life Reflections at Eighty, 2018,
m/s 162).

BuIan Bahasa merupakan satu inisiatif Majlis Bahasa Melayu Singapura (MBMS).
Saya amat bangga dan besyukur sangat dengan Jawatankuasa Bulan Bahasa yang
saya pengerusikan itu kerana ahili-ahlinya terdiri daripada para individu yang bukan
hanya berkaliber tetapi mereka juga mempunyai hasrat yang murni untuk melihat
penggunaan bahasa Melayu berleluasa.

Kami juga memperkenalkan gerbang lelaman MBMS – www.bahasawan.org –
sebagai satu wadah untuk para pelajar, pendidik dan penulis khasnya serta
masyarakat pengguna yang lain berinteraksi dalam bahasa Melayu. (Sidek Saniff,
Paradigma Melayu Singapura, 2010, m/s 39)

KESIMPULAN

1. Generasi Demi Generasi, pusaka penting ini, BAHASA MELAYU, telah
dipusakai oleh kita, BANGSA MELAYU, pewaris mutlaknya dengan segala kesedaran,
keinsafan, pengurbanan Darah dan Airmata pejuangnya dari segenap lapisan
masyarakat.
2. Mereka telah melunaskannya sehingga wujud semacam kerapian terutama
Pendita Za’aba dan mereka yang sezamannya.
3. Pun, peranan Kongres Demi Kongres sehingga terwujudnya Dewan Bahasa dan
Pustaka yang telah menyemarakkan perkembangannya di Malaysia ini tanpa
meninggalkan peranan Singapura dengan permulaan keputusan pemerintah
mewujudkan Jawatankuasa Ejaan Bahasa Melayu yang kemudian dilebarluaskan
ruanglingkup usahanya sehingga terwujud Majlis Bahasa Melayu Singapura.
4. Kesedaran Kemerdekaan Negara tidak terlepas dengan peranan bahasa
terutama Bahasa Ibundanya. Lalu termaktublah Bahasa ini sebagai Bahasa Rasmi
Negara. Khususnya di Malaysia dan Singapura apatah lagi Indonesia.
5. Semangat kerja sama kerantauan telah berakhir dengan kerjasama yang kental
dengan terbetuknya MABIMS - Majlis Bahasa Melayu Indonesia, Malaysia dan Brunei
Darussalam yang akhirnya dilengkapi oleh kehadiran Singapura.
6. Klimaksnya adalah BAHASA BAKU termasuk SEBUTANNYA, SEBUTAN BAKU
seperti yang sedang kita lakukan ini.
7. Arah tujunya kita harap penerimaan istilah BAHASA MELAYU itu sendiri. Bukan
Bahasa Malaysia atau Bahasa Indonesia. Atau istilah seiras lainnya. InsyaAllah
JAGAT akan menerimanya dan menganggapnya selaku keputusan intelektual yang
positif, BAHASA MELAYU yang keramat ini yang kemudian barulah wujud istilah
Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia. Kini saya kira ia perlu dinobatkan kembali:
Bahasa Melayu, Rumpun Melayu, Melayu Nusantara...lalu Jambi, Demak, Riau,
Lingga…tersambut dan terhayat kekentalan dan kewujudannya.

Simposium Pengantarabangsan Bahasa Melayu
22-24 Mei 2022/Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur

8. Adalah penting kita tentukan pula sejauh mana ekonomi memainkan
peranannya dalam era kemajuan mata benda ini. Kita telah sedia ada suku bilion
penuturnya. Tugas selanjutnya bagaimana unsur perniagaan disebatikan dengan
Bahasa kita ini agar semakin berkembang kepada manusia dunia seluruhnya. Dalam
hal ini pertemuan di peringkat antara bangsa perlu dilakukan dengan agak kerap dan
bersistematik sekali oleh pendokong individu yang masyhur dan negara unggul yang
ulung.

Sekian, terima kasih.

Sidek Saniff
Tampines, Singapura
15 Mei 2022

Kompilasi kertas kerja ini berupa draf awal
daripada pembentang dan akan
dikemaskinikan kembali dari aspek kandungan
serta bahasa selepas persidangan untuk
dicetak dalam bentuk buku yang lengkap.
Pihak kami tidak bertanggungjawab atas
sebarang isu yang timbul berkaitan hak cipta
dalam kompilasi kertas kerja ini.


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Potch
Next Book
ZAHRAN