The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bekal Perjalanan ke Akhirat - Zaadul Ma'ad

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Sayakacak Habis, 2024-03-25 23:25:57

Bekal Perjalanan ke Akhirat - Zaadul Ma'ad

Bekal Perjalanan ke Akhirat - Zaadul Ma'ad

"Hai Nabi, katakanluh kepada istri-it;rintu. '..tikLt konu sekdlian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka nturiiah supayc kuberikan kepada kalian mut'ah dan aku ceraikon kalian dengan cara yangbaik. Dan, jika kamu sekiian menghendok (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya serto (kesenangon) di negeri akhirat, moko sesungguhn)'a Allah menyediakon bagi siopa yang berbuat haik di antara kuliun pohala yang besar'. " (Al Ahzab:28-29). Aku bertanya. "Apakah aku harus meminta pendapat kepada dua orang tuaku dalam urusan in i? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan RasulNya serta kampung akh irat." Kemudian Aisyah menuturkan. "Lalu para istri beliau mengatakan seperti kukatakan. dan yang demikian itu bukanlah talak." Menurut lbnu Svihan, ada salah seorang diantara mereka l ang memiIih dirinya sendiri, yaitu seorang wanita badui. Menurut Amr bin Syu'aib, dia adalah putri Adh-Dhahhak, _v-'ang kemudian kembali kepada keluarga. Ada yang berpendapat, kemudian wanita itu biasa memunguti kotoran hewan. ser:ry a mengatakan, "Akulah wanita vang menderita." Ada pula yang berpendapat. beliau tidak pernah berjima'dengan wanita itu. 8. Ileberapa Hukum Yang dilurunkan AIIah Berkaitan clengan Apu Yans Dihoramkan Rasulullah Allah befirman. )it, i1...-=tt'1i , &.. Ls: lq ) Jig " Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang AIIah menghaIalkannyo hugimu, kamtr mencari kesen(ingan hat i islri istrimu? Dan, Allah lvlahu Pengampun lagi Maha Penyoyang. Sesungguhnya .4llah telah mewajibkan kepada kamu.sekalian membeba.skon diri dari sumpah kalian. " (At-Tahrim: | -2). Disebutkan di dalam Ash-Shahihain. lsahwa Rasdullah Shallalahu Alaihiwa SalLam minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, yang karena hal inilah Aisyah dan Hafshah merancang tipu daya, sehingga beliau bersabda. "Aku tidak akan minum madu lagi." Dalam lafazh lain disebutkan, "Aku bersumpah." Di dalam Sznan An-nasa'y disebutkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Sfial/allahu Alaihiwa Sol/az mempunyai seorang budak wanita yang dicampurinya. Tapi Aisyah dan Hafshah senantiasa berada di sisi beliau hingga beliau mengharamkan budak wanita itu. Maka kemudian Allah menurunkan ayat di atas. 402 Zadut-Ma'ad


Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Jika seorang laki-laki mengharamkan istrinya, maka itu sama dengan sumpah yang harus ditebusnya." Lalu dia berkata, "Sudah ada contoh yang baik pada diri Rasulullah." Di dalam Jami' At-Tirmidzy disebutkan dari Aisyah R adhiya ahu Anfta, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihiwo Sallan bersumpah karena istri-istribeliau dan mengharamkan, lalu menjadikan apayang beliau haramkan itu menjadi halal dan membayar tebusan untuk sumpah." Al-t-aits bin Sa'd mengabarkan dari Yazid bin Abu Hubaib, dari Abdullah bin Hubairah, dari Qabishah bin Dzu'aib, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit dan Ibnu Umar tentang seseorang ) ang berkata kepada istrinya. "Engkau haram bagiku." Maka kedua-duanya menjawab, "ltu adalah sumpah yang harus dibebaskan." Begitu pula pendapat Ibnu Mas'ud tentang masalah yang sama. DariJarirbin Hazim, dia berkata, "Aku pemah bertanya kepada Nafi', pembantu Ibnu Umar tentang pengharamkan tersebut. apakah itu sama dengan talak? Dia menjawab, "Bukan. Bukankah Rasulullah Shaltatlahu AIaihi wa Sallam pemah mengharamkan budak wanita be liau. Ialu beliau memerintahkan untuk membayar denda untuk pembebasan sumpah dan mengharamkan wanita itu bagi diri beliau?" Di dalam Shahih Al-Bukhary diseburkan dari Sa'id bin Jubair. bahwa dia pernah mendengar Ibnu Abbas berkata. "Jika seseorang mengharamkan istrinya. maka itu tidak membatalkan nikahnya. 'Ielah ada reladan _vang baik pada diri Rasulullah." 9. Suami Yang Menl,uruh PuLang Istrinya ke Tengah Keluargantu Disebutkan di dalatn Shahih Al-Btkhary. bahwa ketika putri Al-Jaun masuk ke tempat R asulullah Shallallahu Alaihi wa Sallan, maka beliau mendekat ke arahnya. Tapi dia berkata. "Aku berlindung dari dirimu." Beliau bersabda. "Engkau telah berlindung dengan sesuatu vang alrat besar. Kalau begitu pulanglah kepada keluargamu." Disebutkan di dalam Ash-Shahihain, bahwa ketika utusan Nabi .S'ft221- Iallahu Alaihi wa Sallam menemui Ka'b bin Malik, maka Ka'b berkata kepada istrinya, "Pulanglah kepada keluargamu." Ada perbedaan pendapattentang hal ini. Ada yang mengatakan, itu sama dengantalak, baik meniatkannya untuktalak maupun tidak meniatkannya seperti itu. lni merupakan pendapat ahli zhahir. Mereka mengatakan, beliau tidak melakukan akad dengan putri Al-Jaun. Beliau hanya mengirim utusan untuk melamarnya. Hal inijuga dikuatkan dalam riwayat Al-Bukhary. Di dalam ShahihMuslim jugadisebutkan dari Sahl bin Sa'd, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar kabar tentang B?tl.a/ Pe.ryZz/aztaz 1",'11./1/2?1 40 I


seorang wanita Arab. Maka beliau mengutus Abu L.isnid, agar wanita itu didatangkan. Ketika sudah tiba, dia ditempatkan di bentang llani Sa'idah, Lalu beliau menemui wanita itu dan mendekatinya. Ketika beliau berbicara dengan wanita yang menundukkan kepalanya itu. dia berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari dirimu." Beliau bersabda, "Rupanya aku telah membuatmu berlindung dari diriku." Orang-orang bertanya kepada wanita itu, 'Tahukah kamu siapa be liau ini?" "Aku tidak tahu," jawabnya. "Beliau adalah Rasulullah, datang kepadamu untuk melamarmu," kata mereka. !\'anita itu berkata, "Kalau begitu aku adalah orang yang paling menderita dari itu." Seurua ini merupakan pengabaran dari satu kisah, berkaitan dengan satu orang wanita dan merupakan satu peristiwa. Jadijelas bahwa beliau belurn mcn ikrhi wanita tersebut. Tapi beliau hanya datang untuk melamarnya.\'1e skipun begitu, Jumhur ulama berpendapat, perkataan semacam ini bisa berarti talakjika memang dimaksudkan untuk talak. 10. Masalah Zhihar, Ketetapan dori Allah dan Makna Ruju' Yang Me n gharus ka n Me m b ay ar Kafar al Allah befirman, " Orang-orangyang menzhihar istrinya di antara kalian (menganggap i.strinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah \ranita yang melahirkan mereka 404 Zadul-Ma'a{l


Dan sesungguhnya mere ka sungguh-sungguh mengucapkon sualu perkataan yang mungkar dan dusta. Don, sesungguhnya Allah Maha Pemaaf Iagi Maha Pengampun. Orang-orung yang menzhihar istri ntereka, kemudian mereka hendakmenarik kembali opu yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, danAllah Maha Mengetahui apa yangkalian kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanyu bercarnpn'. Maka siapayangtidak kuosa (v,ujihlah atu.snya) memberi makun enam pultth orang miskin. Demikianlah supayu kalian beriman kepada ALluh dan Rasul-Nya. Dan, itulah hukum-hukum Allah, dan bagi oreng-(,rung kafr ada siksaan yang amat pedih. " (Al-Mujadilah: 2-4). Disebutkan di dalam As-Sunan dan Al-lvtasanid.bahwa Aus bin AshShamit menzhihar istrinya, Klraulah binti Malik bin Isa'labah, lalu dia itulah yang menyampaikan gugatan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sehubungan dengan zhihar suaminya itu. Dia rnengadu kepada Allah dan mendengar pengaduannya dari atas langit yang tujuh. Dia berkata,,"Wahai Rasulullah. sesungguhnya Aus bin As-Shamit menikahiku selagi aku masih remaja putri yang layak untuk dicintai. Tapi setelah gigi-gigiku copot dan perutku mengendor, dia menyamakan diriku dengan ibunya." Beliau bersabda, "Aku belum bisa memutuskan urusanmu ini sedikit pun.'' Khaulah berkata, "Ya Allah, aku mengadu kepada Engkau." Aisl,ah berkata. "Segala puji bagiAllah yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Khaulah binti Tsa'labah datang untuk mengadu kepada Rasuf ullah Sy'ral/a lluhu Alaihi wa Sal/am. Sementara aku bersembunyi di dalam rumah sambil merekam sebagian perkataannya. Maka kemudian Allah menurunkan avat, 'J--f4 et" '.., ,.i',,- : ' -. ' r! td JJbu Ca--a " Se.sungguhn,a Allah telah mendengar perkataan v)anitayang mengajukan gugaton kepado kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada AIlah. Dan, Allah mendengar soaljawab antara kalian berdua. Sesungguhnya AIIah Maha Mendengar lagi Maha Meliftar. " (Al-Mujadilah: I ). Beliau bersabda, "Hendaklah dia memerdekakan seorang budak wanita." Jir j iirr 8".4r/1 ^p",?;.tlo xa/ x,1 r'.'t,4.i/t t tul


Khaulah rnenjarvab, "Dia trdak sangg,ip " Beliau bersabda, "Hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut. " Khaulah berkata, "Wahai Rasulullah, dia sudah lanjut usia. Dia tidak kuat puasa." Beliau bersabda, "Hendaklah dia mernberi makan enam puluh orang miskin." Khaulah menjawab, "Dia tidak mempunyai sesuatu pun untuk dishadaqahkan." Aisyah menuturkan, "Pada saat itu pula beliau rnendapatkan sekeranjang korma. Maka kukatakan, "Wahai Rasulullah. aku akan membantunyadengan sekeranjang korma yang lain." Beliau bersabda, "Engkau telah berbuat yang baik. Maka berikanlah ini kepada enam puluh orang m iskin dan kembalilah kepadanak pamanrnu." Maksudnya suami Khaulah. Di dalam,4s-Sunari disebutkan bahwa Salamah bin Shakhr Al-Bayadhy rnenzhihar istrinya pada waktu bulan Ramadhan. Pada suatu malarn dia mencampuri istrinya sebelurl sempat menebusnya. Maka Nabi Sftallolkthu Alaihi wa Sallam bertanya. "Apakah engkau melakukannya wahai Salamah?" Dia men jawab. "Mema;rg aku nrelakukannya hingga dua kali wahai Rasulullah, dan aku sabartelhadap hukum Allah. Maka hukumilah aku seperti apa yang diperintahkan Allah kepada engkau." ''N4erdekakanlah seorang budak wanrta," sabda beliau. Dia berkata, "Demi yang mengutus engkau sebagai nabi dengan membawa kebenaran. aku tidak mempunyai seorang budak kecualidia." Beliau bersabda, "Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut." Dia bertanya, "Apakah aku tidak mempunyai plihan lain selain puasa?" Beliau bersabda. "Kalau begitu berikan makanan berupa satu takar korma kepada enam puluh orang miskin." Dia berkata, ''Demi yang mengutusmu dengan membawa kebenaran. Sudah dua hari ini kami tidak mempunyai makanan." Beliau bersabda, "Kalau begitu temuilah seseorang yang seharusnvamengeluarkan shadaqah dari Bani Zuraiq. suruhlah agar dia menyerahkanshadaqahnya kepadamu, lalu berilah makanan kepada enam puluh orang miskin dari korma dan makanlah sisanya bersama keluargamu.'' Salamah menuturkan, "Maka aku segera menemui kaumku, serala kukatakan kepada mereka, 'Aku mendapatkan kesempitan dan pendapat yang buruk dari kalian, dan kudapatkan kelapangan dan pendapat yang baik dari Rasulullah .9ftallaLLahu Alaihi wa Sallam. Beliau telah memerintahkankepadakuntuk mendapatkan shadaqah kalian." 406 Zadul'Ma'ad


Yang demikian ini membatalkan kebiasaan semasa Jahiliyah dan pada permulaan Islam, yang menganggap zhihar sama dengan talak, padahal tidak sama dengan talak. I l. Masalah lla' Disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhary, dari Anas, dia berkata, "Rasulullah meng-i/a ' istri-istri beliau. Karenasaat itu kakibeliau bengkak, maka beliau menetap di kamar beliau selama dua puluh sembilan hari. Kemudian beliau turun. Mereka (para shahabat) berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah engkau meng-l/a ' selama sebulan?" Beliau menjawab. "Sebulan itu ada yang dua puluh sembilan hari." Allah telah befirman tentans l/a ' ini. ' ;!l " Kepada orang-orangyang meng-iLa' istrinya, diberi tangguh empat bulan (lamanya.1. Kemudianjika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesunggtthnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. " (Al-Baqarah:226\. Pengertian /a ' menurut bahasa ialah penolakan yang disertai sumpah_ Sedangkan menurut ketetapan syariat ialah tidak mau berkumpul dengan istri yang disertai sumpah. Allah telah menetapkan jangka waktu empat bulan, yangkarena ila'itu mereka dilarang berkumpuldengan istri. Jika sudah lewat empat bulan, maka mereka harus membayartebusantaukah mentalak istri. Ada riwayat yang masyhur dari AIi bin Abu Thalib dan Ibnu Abbas. bahwa i/c'itu diucapkan karena dalam keadaan marah dan tidak ridha, sepeni yang terjadi pada diri Rasulullah Sftal/a llahu Alaihi wa Sal/az terhadap istri-istri beliau. Pendapat Jumhur sejalan dengan apa yang disebutkan di dalam AlQur'an. I2. Masalah Li'an Allah befirman. ..,i,.,'"i-'..? f+Jt -.t g-!- ,-.tl .;l-trJl ';sr.-i' " '. "ai 6t J'4-'A k l : "St r'1i'j ;.;. i.,rt') J) l+te 4Xl l-t9 I r-L r a--.a\*)l ) . .,,-i, , ...'- .. , ,i. i,. .J!)DJI erJ JU Jl a-Le q.tlt . -.'. a, i r--.49 Jl B"lalPe0i anan lz 4l/12:/a/ 407


" Dan, orang-orangtong menuduh isfrinyo (herzina). paduhal ntereka tidak ada mempunyai saksi-sak.si.se laindiri mereka sendiri, maku persaksian orang itu ialah enpot kali bersumpah dengan nama Allah. sesungguhnya dia adalah terntasuk orang-orang yang bencn'. Dctn (sumpah) yang kelima. bahv,a laknat Allah atas dirinya,jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpohnya emput kali atas namaAllah, se.sungguhnya suaminya ilu bcnar-benor termasuk orang-orang fang dusta. dan (suntpuh) yongke Iimu, buhu,a laknut.4llah otas diriny,a.jiku tuomin.l a itu termasuk orong-orangyang benar. " (An-Nur: 6-9) Disebutkan di dalam Ash-Shohihain. darihadits Sahlbin Sa'd, bahua llrvaimir AI-A.ilanl berkata kepada Ashim bin Ad1, "Apa pendapatmu jika seorang laki-laki menganggap istrinya berbuat serong dengan laki-laki Iain. apakah dia harus membunuh laki-lakitu atau apa yang harus dia perbuat? Lebih baik tanyakan hal ini kepada Rasulullah." Maka Ashim menanyakannya kepada beliau. Tapi tampaknya beliau kurang suka dengan masalah seperti itu dan bahkan mencelanya. Maka apa l ang didengarnya dari beliau ini merupakan beban bagi Ashim. Kemudian ganti Uwaimiryang menanyakan masalah ini kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau bersabda. "Telah turun ayat tentang dirimu dan istrimu. Maka pergilah dan suruhlah istrimu datang ke sini." Setelah datang. keduanya saling me-li'an di hadapan beliau. Setelah mereda Uwaimir berkata. "Aku berdusta terhadap dirinya wahai Rasulullah .jika aku telah ruju' dengannya." Pasalnya, d ia telah mentalak tiga terhadap istrinya sebelum dia mendapat suatu perintah dari beliau. Menurut Az-Zuhry, memang pada waktu itu lagi banyak orang yang me-li'an. Saat itu istri Uwaimir sedang hamil. dan anaknya dinisbatkan kepada pihak ibu. Tapi kemudian ada ketetapan As-Sunnah, bah*'a anakn,va menjadi ahli waris Umaimir, sebagaimana yng juga ditetapkan Allah. Dalam suatu lafazh disebutkan. "I-alu keduanya saling me-/i'ar di dalam masjid. Maka beliau memisahkan diantara keduanya, lalu beliau bersabda, "ltu sama dengan perpisahan diantara suamistri yang saling meli'an. Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari hadits lbnu Umar. bahwa Fulan bin Fulan berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapat engkauj ika salah seorang di antara kami mendapati istrinya berbuat serong? Apa yang harus dia perbuat? Jika dia bicara, tentu dia akan bicara masalah yang besar, dan jika diam, diamnya pun seperti itu pula." 408 zadut-Maad :Y:t J\ :y


Beliau hanya diam dan sama sekali tidak menjawabnya. Beberapa lama kemudian Fulan bin Fulan tersebut menemui beliau lagi seraya berkaia, "Apa yang kutanyakan ini telah menimpa diriku." Maka Allah menurunkan ayat di atas, lalu beliau membacakannya di hadapan orang itu dan mengingatkannya, bahwa siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat. Orang itu berkata, ,,Tidak. Demiyang mengurus eng_ kau dengan membawa kebenaran, aku tidak dusta tentang istriku... Kemudian istrinya dipanggil, lalu beliau memperingatkannya bahwa siksa di dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat. Maka sang istri berkata, "Tidak. Demi yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, dialah yang berdusta." Beliau mulaimemproses orang itu dan memintanya bersumpah dengan menvebut namaAllah empat kali, bahwa dia termasuk orang_orang yang benar (tidak berdusta). Sedangkan yang kelima kalinya dia siap menerima laknat Allah j ika termasuk orang-orang 1 ang berdusta. Kemudian istri orang itu disuruh melakukan hal yang sama. Setelah itu beliau memisahkan keduanya. Di dalam Ash-Shahihain dise5utkan dari Ibnu Umar pula, bahwa Rasulullah Sftal/allahu Alaihiwa Sal/az bersabda kepada dua orang suami istri yang saling melemparkan tuduhan,'.Hisab kalian di hadapan Allah, bahwa salah seorang di antara kalian adalah pendusta. dan setelah itu engkau tidak lagi memilikisrrimu." Orang itu bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimanadengan hartaku?" Beliau menjawab, "Tidak ada hartamu. Jika tuduhanmu benar terhadaD dirinya, maka harta itumenjadi miliknya, karena engkautelah menghalalkan kemaluannya. Jika engkau dusta terhadap dirinya, maka harta itu lebih iauh lagi dari dirimu." Dalam rirvayat lain disebutkan, bahwa beliau memisahkan suamistri l ang saling melemparkan tuduhan. scra) a benanya, ', Demi A llah, salah se_ orang di antara kalian berdua adalah pendusta. Tidak adakah di antara kalian yang bertaubat?" Dalam riwayat lain disebutkan, bahu,a beliau menyerahkan anak ke_ pada ibunya. Masih banyak riwayat-riwayat lain yang serupa dengan rrrvayar ini, dan semuanya shahih. Dari sini dapat diambil beberapa keterapan hukum Nabarvy, di antaranya: I . Zl'ar bisa muncul daripihak suamistri, baik sama-sama Muslinr maunun sama-sama kafir, orang yang baik maupun buruk, dibatasi dengan adanl,a tuduhan maupun tidak. Di antara gambaran /i ar itu sendiri. semacam seorang suanti vanu me nu_ duh istrinya berbuar scrong dengan laki-laki lain. Maka Allah menielaskan ir(4u/Pe.4/?i/a.ra7t,lz.jlh/ml 409


bagaimana cara menyelesaikannya. Dalam /i az inr terkun.rpril dua siiai: Sumpah dan kesaksian. Allah menyebutkan kesaksian dan Rasulullah Shallallahu Alaihi v,a Sallam menyebutnya sumpah. 2. Rasulullah 5.llallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan hukum dalam masalah /i 'an berdasarkan wahyu dan seperti yang ditunjukkan Allah, bukan menurut pemikiran beliau sendiri. Beliau tidak membuat keputusan huknm tenlang li'an sehingga turun wahyu dan ayat Al-Qur'an 3. Ii ar diiakukan di hadapan pemimpin atau wakilnya, dan tidak dilakukan di hadapan rak),at [riasatau orang arvam, sebagaimana pemimpinlalr yang berhak membuat keputusan di antara keduanya. 4. Ada baiknyajikali'unitu dilakukan di hadapan orang banyak sehingga mereka bisa menjadi saksi, karena begitulah yang dilakukan para shahabat. 5. Orang l ang saling me-li'an dalam posisi berdiri, lalu keduanya diminta untuk bersumpah empat kali atas nama Allah dengan posisi berdiri pula. 6. Yang pertama kali bersumpah adalah pihak suami dan bukan pihak istri. 7. Masing-masing suamistri yang saling me-/l ar harus diberi peringatan dan ancaman tentang siksa dunia dan akhirat. 8. Kehamilanistri dianggap tidak ada karena adanya /l 'an, sehingga suami tidak bisa lagi mempermasalahkannya. Berarti nasab anak dinisbatkan kepada pihak ibu. 13. Pengakuan Anak dari Zina dan Pengangkatannyo Sebagai Ahli Waris Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya, darihadits Ibnu Abbas, dia berkata. "Ras ulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidak ada perzinaan dalam Islam. Siapa yang berzinapadazaman Jahiliyah, maka anak dari zina itu termasukerabatnya, dan siapa yang mengakui seorang anak tanpa adanya jima', maka dia tidak bisa mewarisi dan mewariskan'." Nabi Shallallahu Alaihi v,a Sallam menghapus perzinaan dalam Islam, tidak mengakui hubunganasab dengan hasil zina, memaafkan zina semasa Jahiliyah dan mengaitkan nasab anak dari zina itu kepadanya. Ada beberepa orang semasa Jahiliyah mempunyai beberapa budak wanita yang digilir. Jika ada seorang budak milik salah seorang di antara mereka, meskipun budak itujuga berjima' dengan lelaki lain, maka anaknya diakui oleh tuannyatau bisajuga diakui orang lain yang berjima' dengannya Sehingga sering timbul perselisihan dalam masalah ini, hinggadatang Islam. lalu Rasulullah menetapkan bahwa anak itu menjadi milik tuannya. 11. Beberapa Lelaki Yang Menyetubuhi Seorang l(anita Pada Satu Mosa Suci Abu Daud dan An-Nasa'y meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Al4l 0 Zodul-,Va'od


Khalil, dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ',Ketika aku sedang duduk di dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba{iba muncul seorang laki-laki dari penduduk Yaman. Lalu dia bercerita, .,Ada tiga orang dari penduduk Yaman yang mengadu kepada Ali. Mereka memperebutkan seorang anak di hadapan AIi. Pasalnya mereka telah menyetubuhi wanita itu pada satu masa sucinya. Maka Ali berkata, "Kalian adalah sekutu yang saling berselisih. Aku akan mengundi diantara kalian. Siapayang mendapat undian, maka anak tersebut menjadi miliknya. dan dia harus membayar dua pertiga nilai tebusan kepada dua orang lainnya." Maka Ali melakukan undian dan memberikan anak tersebut kepada orang yang berhasil menang dalam undian itu." Mendengar penuturannya itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum, hingga terlihat gigi geraham atau gigi seri beliau. Dalam hal ini ada dua masalah pokok, yaitu mengundi untuk menetapkan keturunan, dan keharusan membayar dua pertiga tebusan anak kepada dua pesaingnya. Undian memang bisa digunakan apabila sudah tidak ada lagi penguat selain itu. 15. Siapakah Yang Lebih Berhak Mengasuh Anak? Abu Daud meriu,ayatkan di dalam Sunan-nya dari hadits Amr bin Syu'aib, dari ayahnya. dari kakeknya Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa ada seorang wanita berkata, "Wahai Rasulullah. ini adalah anak yang dulu kukandung. kususui danjuga kuasuh di dalam bilikku. Kemudian ayahnya rnenceraikan aku dan dia ingin mengambilnya dari sisiku." Rasululfah Sftal/a llahuAlaihi wa Sallambersabda."Engkau lebih berhak terhadap anak itu selagi engkau tidak menikah lagi dengan laki-laki lain." Di dalam A.sh-Shahihain disebutkan dari hadits Al-Bara' bin Azib. bahwa putri Hamzah diperebutkan Ali dan Ja'far serta Zaid. Ali berkata, "Aku lebih berhak terhadap dirinya. karena dia putri pamanku." Ja'far berkata, "Putri paman dan bibiku dari pihak ibu harus ada dalam pengasuhanku." Zaid berkata, "Dia adalah putri saudaraku." Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan anak itu ada dalam pengasuhan bibinya dari pihak ibu, seraya bersabda. "Bibi sama kedudukannya dengan ibu." Alus-Sunan meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan seorang anak untuk memilih ayah atau ibunya." Diriwayatkan pula bahwa ada seorang wanita yang datang rnenemLri beliau, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, suamiku ingin pcr..'i sambilmenrBdlz/ ?"1Alavax l"r!h/2lmt 4l I bawa anakku."


Beliau bersabda. ''Beri kesempatan kepada anak itu." Sang suami berkata, "Siapa yang akan membuat perkara denganku tentang anakku?" Beliau bersabda kepada anak itu, "lni adalah ayahmu dan itu ibumu. Sekarang peganglah tangan salah seorang di antara mereka berdua yang engkau kehendaki." Karena anak itu meraih tangan ibunya, maka dia diserahkan kepada ibunya. Di dalam Sunan An-Nasa'y disebutkan dari Abdul-Humaid bin Salamah Al-Anshary. dari ayahnya. dari kakeknva. bahwa kakeknya masuk Islam. namun istrinya menolak masuk Islam. Maka dia datang sambil membawa anaknyayang masih kecildan belurn baligh. Nabi Shallallahu Alaihi wo .Snl/nrr mendudukan ayah dan ibu anak secara berdampingan. lalu menyuruh anak itu untuk memilih salah seorang di antara mereka berdua. Beliau bersabda. "Ya Allah. berikanlah petunjukepadaanak itu." Makadia menghampiri avahnya. Abu Daud meriwayatkan dari Abdul-Humaid, dia berkata, "Kakekku Rafi' bin Sinan mengabarkan bahwa dia masuk Islam, dan istrinya menolak masuk Isf am. Maka istrinya menemui Rasulullah Sftc llallahu AIaihi wa Sal- /an, seraya berkata, ''lni adalah putriku yang baru saja disapih.'' Rafi' menyahut, "Dia adalah putriku." Maka beliau menyuruh Rafi' duduk di satu sisi, dan menyuruh istrinya duduk di sisi lain. lalu anak putri itu duduk di antara mereka berdua. kemudian beliau bersabda kepada mereka berdua, "Panggillah anak itu.'' Ketika anak itu menengok ke arah ibunya, beliau bersabda, "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada anak itu." Maka kemudian dia menoleh ke arah ayahnya, sehingga dialah yang berhak mendapatkannya. Hadits yang pertama dijadikan dalil untuk menetapkan keputusan dengan mengabaikan pihak yang tidak hadir. Sebabdidalam hadits ini tidak disebutkan kehadiran ayah atau penentangannya. Wanita itu datang untuk rneminta latwa. Maka beliau menetapkan keputusan berdasarkan keterangannya. Hadits inijuga menunjukkan, bahwajika avah ibu becerai. sementara mereka mempunyai anak kecil. maka ibu lebih berhak terhadap anaknya daripada ayah. selagi tidak ada hal-hal yang bisa menghambat penyerahan anak itu kepada ibunya ataujika anak belum bisa menentukan pilihannl'a. Keputusan ini tidak ada yang mempennasalahkannya. Seperti ini pula kcputusan 1'ang diambil Abu Bakardalam perkaranya Umar bin Al-Khaththab. dan tak seorang pun yang menentangnya. Begitu pula yang ditetapkan Unrar ketika mcnjadikhalifah. 412 Zadti-.lh'rrd


Perwalian terhadap anak itu ada duajenis. Satujenis pihak ayah mendapatkan prioritas daripada pihak ibu. Hal ini berkaitan dengan perwalian harta dan pemikahan. Satujenis lagi yang lebih memprioritaskan pihak ibu daripada ayah, yaitu perwalian pengasuhan dan penyusuan. Hal ini dimaksudkan untuk kemaslahatan anak. Karena ibu lebih mengetahuitentang mendidik anak, lebih mampu melaksanakannya, lebih sabar, Iembut dan lebih banyak kesempatannya, maka pengasuhan yang kedua ini diserahkan kepada ibu. Tapi karena laki-laki lebih sanggup mendatangkan kemaslahatan bagi anak dan lebih mampu menjaga masalah persetubuhan, maka pengasuhan berikulnya diserahkan kepada pihak ayah. Sabda beliau. "Engkau lebih berhak terhadap anak itu selagi engkau tidak menikah lagi dengan laki-laki lain", terkandung dalil bahwa pengasuhan ada di pihak ibu. Tapi keputusan beliau menyerahkan pengasuhan anak kepada ibu, bukan berarti menunjukkan keumuman keputusan serupa untuk semua ibu, sehingga setiap anak harus diserahkan kepadanya. Jika ibunya wanita kafir, pelacur, fasik, musafir atau budak, maka tidak bolen mengacu kepada keputusan ini. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi orang yang diserahi pengasuhan anak. Di antaranyadalah kesamaan dalam agama. Sebab tidak ada hak pengasuhan bagi orang kafir terhadap orang Muslim, yang didasarkan dua alasan: - Pengasuh tentu ingin mendidik anak kecil sesuai dengan agamanya dan membesarkannya dengan ajaran agamanya- Maka setelah besar ia akan sulit meninggalkan ajaran agama itu. Sebab anak itu sudah dirubah dari fitrah yang diciptakan Allah kepada hamba-hamba-Nya. sehingga sulit untuk dikembalikan lagi. sebagaimana sbda beliau. "setiap anakdilahirkan di atas fitrah. lalu kedua oarang tuanya menjadikannya memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi." - Allah telah memutuskan uluran pertolongan di antara orang-orang Muslim dan kafir, menjadikan orang-orang Muslim sebagai penolong bagi sebagian yang lain, dan orang-orang kafir sebagai penolong bagi sebagian yang lain. Sementara pengasuhan merupakan bentuk uluran pertolongan yang paling kuat. Karena itu Dia memutus pengasuhan di antara kedua belah pihak Ada yang berpendapat. anak tidak perlu diberi kesempatan untuk menetapkan pilihannya di antara ayah atau ibu. Dalil yang digunakan adalah sabda beliau, "Engkau lebih berhadap anak itu". Sebabjika anak disuruh memilih, maka ibu tidak berhak atas anak kecualijika anak memilih dirinya, sebagaimana ayah tidak berhak terhadap anak kecualij ika dia nremilihnya. Banyak pendapat tentang hal ini. Di antaranya pendapat Al-Lairs bin Sa'd, bahwa ibu lebih berhak terhadap anak hingga ia mencapai umur delapan tahun. Jika anak putli, hingga rnr'ncrpai baligh. Setelah itu ayah lebih berhak B?lz1 Pef/t412.naz l" /h/?27o1 413


terhadap anak. Menurut Al-Hasan bin Hayi, ibu lebih berhak terhadap anak putri hingga payudaranya mulai tumbuh, dan lebih berhak terhadap anak lakilaki hingga baligh. Setelah itu anak diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya, baik laki-laki maupun wanita. Di sini ada ijtihad dalam menetapkan pilihan di antara ayah dan ibu bagi anak putri, dengan pertimbangan bahwa ibu lebih dekat dengan anak dan mana yang lebih bermaslahat bagi anak. Abu Hanifah, Malik dan Ahnrad dalam salah satu riwayat darinya. lebih cenderung kepada ibu. dan inilah yang didukung dalil. Tapi pendapat Ahmad yang lebih masyhur dan rekanrekannya, cenderung kepada ayah. Orang yang lebih cenderung kepada ibu berpendapat, bahwa ayah lebih banyak disibukkan oleh pekerjaan mencari penghidupan, lebih sering keluar rumah dan bertemu dengan orang-orang. Sementara ibu lebih banyak berada di dalam rumah. Sehingga anak putri yang diasuh ibu lebih terjaga dan terpelihara. matanya senantiasa bisa mengawasinya. Hal ini berbeda dengan ayah yang waktunya lebih banyak berada di luar rumah. Apalagi anak perlu mendapat pendidikan yang berkaitan dengan kewanitaan. yang harus mengurus berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Yang demikian ini hanya bisa dilakukan kaum wanita, bukan kaum laki-laki. Sementara yan-e cenderung kepada ayah mengatakan bahwa kaum iaki-laki lebih cemburu terhadap anak putrinya daripada kecemburuan ibu. Berapa banyak ibu yangjustru membantu putrinya untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya, yang membuatnya tidak bisa memerankan pikirannya secara sehat hingga mudah tertipu. Keadaan ini berbeda dengan ayah. Atas dasar seperti inilah yang berhak menikahkan anak putri adalah ayah, bukan ibu. Di antara kebaikan syariat Islam, bahwa anak putri harus tetap berada bersama ibunya selagi dia masih membutuhkan pengasuhan dan pendidikan. Jika sudah mencapai baligh dan layak dan mulai tumbuh dewasa, maka dia harus berada dalam pengasuhan ayah, yang Iebih mampu melindungi dirinya dan mendatangkan kemaslahatan baginya. Saya pemah mendengar Syaikh kami bercerita, ada seorang ayah dan ibu yang berebut anak di hadapan hakim. Lalu hakim memberinya kesempatan kepada anak itu untuk menentukan pilihannya. Ternyata dia memilih ayahnya. Tetapi sang ibu protes, dengan berkata, "Tolong tanyakan kepada anak itu, apa alasannya dia memilih ayahnya?" Ketika ditanya, dia menjawab. "Karena setiap hari ibu mengirimku untuk belajar menulis, sementara pak guru suka memukuliku. Sementara ayah membiarkan aku bebas bermain bersamanak-anak lain." Karena alasan anak tersebut, akhirnya hakim memutuskan untuk menyerahkannya kepada ibu, sambil berkata. "Engkau lebih berhak terhadap anak ini." 414 Zadul-Ma'ad


Tentang kisah putri Hamzah, yang kemudian menjadi rebutan antara Ali, Zaid dan Ja'far, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi v'a Sallammenyerahkan pengasuhannya kepada Ja'far, karena bibi anak itu adalah istri Ja'far, kerabat yangpaling dekatdengannya, sehingga Alidan Zaidjuga lapang dada menerima keputusan beliau ini. 16. Naftah Yang Harus Diherikan kepada Istri Rasulullah Slral/a llahu Alaihi wa Sallam tidak pemah mematok berapa nilainya dan tidak riwayat yang mengarah kepada nilai nafkah. Beliau hanya menyebutkan penyerahan nafkah kepada istri dengan cara yang ma'ruf, menurut kelaikan. Disebutkan di dalam,Slaftllr Muslim, bahwa beliau menyampaikan pidato sewaktu hajiwada', yang saat itu dihadiri orang dalam jumlah yang melimpah ruah, kira-kira delapan puluh tiga hari sebelum kematian beliau. Di dalam pidatonya itu beliau bersabda, ,,1i,.",. i,,-:,./! ", ,:'.'i.2'.,'. ,.',, ":ll!.nt . dJr !L! _-a;^,j;l ,silj et--il ; 4-lJr i*rjE . t,.i. t tl.,'-. c,5 ,2,;.'o i;. ',,. -',,. , ,. ': ./Sf), Je/+ ) _rPj; r"+ic.r,uJ 9r,9 Jrd*J/ "Bnrtok oloh kepada A!tah ,loto^ ururo, wanita, karena kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan kalian menghalalkan kemaluannya dengan kalimat Allah. Mereka berhak mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian secara layak. " Disebutkan di dal am Ash-Shahihain, bahwa Hindun, istri Abu Sufyan berkata kepada beliau, "Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir. Dia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku besertanakku selain dari apa yang kuambil dari hartanya, sementara dia tidak mengetahuinya.'' Maka beliau bersabda, "Ambillah apa yang cukup bagimu dan anakmu dengan cara yang layak." Abu Daud meriwayatkan didalam Sunan-nya, darihadits Hakim bin Mu'awiyah, dari ayahnya. Mu'awiyah Radhiyal Lahu Anhu, diaberkata," Aku pemah menemui R asulullah Shollallahu Alaihi wa Sallan, seraya kukatakan, "Wahai Rasulullah. apa pendapat engkau tentang istri-istri kami?" Beliau menjawab, "Berilah mereka makan sama dengan apa yang kalian makan, berilah mereka pakaian sama dengan apa yang kalian kenakan, janganlah kalian memukul wajah mereka danjanganlah kalian nremburukburukkan mereka atas nama Allah." Keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam ini sama dengan yang disebutkan di dalam Kitab Allah, Ba4alP"U?zlonanla,4,4tAz:/al 415


.>':F\ G;;.*';'i :fr;t 1;, ^sw")t"Paro ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan, kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang mo'ruf. " (Al-Baqarah:233). Nal:i Shallallahu Alaihi wa Sollammenyamakan keharusan bagi suami untuk memberikanafkah antara istri dan pembantu, tanpa menyebutkan nilainya, dan hal ini harus dilakukan dengan cara yang ma'rufatau layak. Maka beliau bersabda, "Budak yang dimiliki mendapatkan makanan dan pakaian darinya dengan cara vang ma'ruf." Beliaujuga bersabda tentang budak-budak yang dimiliki, "Berilah mereka makanan seperti apa yang kalian makan dan berilah mereka pakaian seperti yang kalian kenakan." Ada beberapa pendapat tentang ukuran makan yang harus diberikan setiap harinya. Tapi menurut Jumhur, tak satu pun riwayat dari para shahabat vang menetapkan nilai nafkah kepada istri, tidak satu mudd dan tidak pula satu ri1l1. Menurut lbnu Mas'ud, makanan untuk kelas pertengahan ialah roti dan minvak samin. roti dan minyak, atau rotidan daging. Menurut lbnu Umar. ukuran pcrtengahan makanan yang diberikan suami kepada keluarganl'a ilah roti dan sustr, roti dan minyak. roti dan minyak samin. Makanan paling baik ialah roti dan daging. IJkuran makanan ini tidak bisa diukur dengan makanan yang diberikan kepada orang-orang miskin ketika membayar kafarat atau tebusan sumpah atau lain-lainnya. Di dalam hadits Hindun terkandung dalilbahwa seseorang boleh menceritakan orang Iain vang berhutang kepadanya. ketika dia mengadukan permasalahannya. dan itu bukan ghibah. Yang serupa dengan ini ialah perkataan seseorang ketika beperkara dengan orang lain. "Wahai Rasulullah. dia adalah orang yang nakal. tidak peduli terhadap sumpah yang telah diucapkannya." Di sinijuga terkandung dalil bahwa hanya ayahlah yang berkewajiban memberikanafkah bagi anak-anaknya. Kewajiban ini bukan merupakan persekutuan dengan ibu. Ini merupakan ijma' ulama. Di dalamnyajuga terkandung dalil, bahwa nafkah bagi istri dan kerabat harus memenuhi kecukupan dan secara ma'rufatau layak. Siapa yang berhak mendapat na{kah. boleh mengambil harta suami secara langsung, jika suami menahan pemberian nafkah kepadanya dan kepada siapa pun yang seharusnya menerima nafkah ltu. I7 . Rasulullah Memberi Peluang kepada Istri untuk Meninggalkan Suami Yong Tidok Mampu Memberi NaJkah Al-Bukhary meriwayatkan didalam Shahih-nya. darihadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata. "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda416 Zadul,-Mdad


t'j c u:t;t S;'i "shadaqah yang paling utama ialah meningalkan kekayoan. " Dalam lafazh lain disebutkan. "Yang berasal dari orang kaya, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. dan mulailah dari orang yang ada dalam tanggunganmu." Istri bisa berkata, "Berilah aku makan atau engkau harus menceraikan aku." Budak bisa berkata, "Berilah aku makan dan pekerjakanlahku." Anak bisa berkata. "Berilah aku makan. lalu kepada siapa engkau akan menyerahkan aku?" Orang-orang bertanya, "Apakah engkau mendengaryang demikian itu dari Rasulullah?" Dia menjawab, "Tidak, tetapi ini berasal dari perbendaharaan Abu Hurairah sendiri." An-Nasa'y juga menyebutkan hadits seperti ini, yang di dalamnya beliau bersabda. "Dan mulailah dari orang yang ada dalam tanggunganmu." Ada yang bertanya, "Siapakah yang ada dalam tanggunganku wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "lstrimu, yang berkata, 'Berilah aku makan. Jika tidak. maka ceraikanlah aku. Pembantumu berkata, 'Berilah aku makan dan pekerjakanlah aku'. Anakmu berkata, 'Berilah aku makan, lalu kepada siapa engkau membiarkan aku?"' Para fuqaha saling berbeda pendapat tentang hukum masalah ini, yang tecermin dalam beberapa pendapat, di antaranya: l. Suamibisa dipaksa untuk memberi nafkah atau menceraikan istrinya. Pendapat inidiriwayatkan dariYahya bin Sa'id Al-Anshary dan Ibnul-Musayyab. 2. Hakim harus memutuskan agarsuami menceraikan istrinya. Ini merupakan pendapat Malik. Tapi dia diberi tempo selama satu bulan atau sekitar itu. lika de adline sudah terlewati dan istri dalam keadaan haid, maka harus ditunggu sampai ia suci. Ada dua pendapat dari Asy-Syafi'y. Pertama, istri diberi kebebasan untuk memiliki. Jika menghendaki, dia bisa tetap bertahan hidup dengan suami, lalu nafkah yang seharusnya diserahkan kepada istri menjadi semacam hutang yang harus diserahkan kepada istri. Kedua, istri tidak harus meminta cerai, tapi suami memberi kesempatan kepada istri untuk berusaha sendiri. 18. SuaniTidak Berkewajiban Memberi NaJkah danTempat Tinggal kepada Istri Yang Ditalak Tiga Muslim meriwayatkan di dalam Sft ahih-nyadatiFathimah binti Qais' bahwaAbu Amrbin Hafsh mentalaknya dengan talaktiga, lalu dia pergi. Dia . ; -t'.lrlP.U?Ia//(/ /,2,11/t/ru1 417


mengutus wakilnya untuk menemui Fathimah binti Qai.; samirii nrenvcrahkan gandum. Tapi ada sikap Fathimah yang membuatnya mareh, sehingga dia berkata, "DemiAllah, engkau tidak berhak mendapat apa pun dari kami." Maka Fathimah binti Qais menemuiNabi Shallallahu Alaihi wo Sal- /alz dan menceritakan masalah ini danjuga perkataannya itu. Maka beliau bersabda, "Memang engkau tidak mendapatkan nafkah darinya." Lalu beliau menempatkan Fathimah di rumah Ummu Syarik. Tapi kemudian beliau bersabda, "Dia adalah seorang wanita yang pernah menjadi istri beberapa shahabatku. Habiskanlah masa iddahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum. Dia adalah orang buta. sehingga engkau bisa melepas bajumu. Jika masa iddahmu sudah habis, beritahukan kepadaku." Fathimah bin Qais menuturkan, "Ketika masa iddahku sudah habis, maka aku memberitahukan kepada beliau, bahwa Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm bermaksud melarnarku. Beliau bersabda, "Tentang Abu Jahm, dia tidak mampu meletakkan tongkatnya di atas pundak. Sedangkan Mu'awiyah adalah orang miskin yang tidak mempunyai harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid." Pada mulanya aku tidak mau. Tapi setelah beliau mendesak, aku pun mau menikah dengan Usamah dan Allah pun mendatangkan kebaikan yang banyak kepadanya, sehinggaku merasa senang." Disebutkan pula darinya, bahwa dia ditalak suaminya semasa Rastlullah Shallollahu Alaihi wa Sallam. Saat itu dia mendapat nafkah yang sedikit sekali. Maka dia berkata, "Aku akan melaporkan hal ini kepada beliau. Kalau memang aku berhak mendapatkan nafkah, maka aku akan mengambil yang mencukupi kebutuhanku. Jika aku tidak mendapatkan nafkah, maka aku tidak akan mengambilnya sedikit pun." Ketika dia menceritakan masalahnya, maka beliau bersabda, "Tidak ada nafkah bagimu." Masih dalam kisah yang sama, bahwa Abu Hafsh mentalaknya dengan talak tiga. Setelah itu Abu Hafsh pergi ke Yaman. Keluarga Abu Hafsh berkata kepadanya, "Kami tidak berkewajiban memberimu nafkah." Khalid bin Al-Walid beserta beberapa orang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di rumah Maimunah. Mereka berkata. "Sesungguhnya Abu Hafsh mentalak istrinya dengan talak tiga. Apakah istrinya itu berhak mendapat nafkah?" Beliau menjawab. "Dia tidak mendapat nafkah tapi masa iddah tetap berlaku baginya." Kemudian beliau mengirim utusan untuk menyampaikan pesan, "Janganlah engkau mengambil keputusan tentang dirimu tanpa memberitahukan kepadaku." Beliau memerintahkannya untuk pindah ke rumah Ummu Syarik. Tapi kemudian dia dipindahkan lagi ke rumah lbnu Ummi Maktum yang buta. 41 8 Zadli-lfa'ad


Setelah masa iddahnya sudah habis, beliau menikahkannya dengan Usamah bin Zaid bin Haritsah. Di dalarn Shahih diriwayatkan dari Asy-Sya'by, dia berkata, ,,Aku menemui Fathimah binti Qais untuk menanyakan keputusan Rasulullah Shallallahu AIaihi wa Sallambagi dirinya. Maka dia menjawab, "suamiku telah mentalakku dengan talak tiga. Lalu aku mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi y'o Sallam tentang nafkah dan tempat tinggal. Ternyata beliau memutuskan untuk tidak memberikan nalkah dan tempat tinggal bagiku, dan beliau memerintahkan agaraku menghabiskan masa iddahku di rumah Ibnu Ummi Maktum." Masih ada beberapa riwayat lain yang menggambarkan kisah ini dan keputusan yang diambil Nat:i Shallallahu Alaihi wa Sallan, yang sesuai dengan hukum di dalam Kitab Allah, -- i 'ci'' ''" ''j6;c)t"-:aur;r r-ir c)il t.__.4:-t ) ,ri;.*..P-y , :e: L-<:lU J.\t-1" 1',. a. ,, , r -i. o)' "2' ( ,-.'r r),orrj e\:., o ' ! ,: ,i .ff"to Jl ,---\J.) 4lJ ,. . JJ . tt. (. ".i. ,'.,: ,' ,a ..,,'. .,.'. , t.1,. t,.l o. .i t. , . Jr#* Jf{ ,)L_g .'_.,-' +) J+ irJ>lt 4ljr Jd +;JJ' U 4-ij ,',.: , .. r,2, 'i,, .,.. .,tu :O- Jt>r dirr J'r-* " Hai Nabi, apabila kamu menceraifutn istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadopi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu.terta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu ke luarkan mereka dari runah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke Luar kecuali kalau mereka mengerj akan perbuatan kej i yang terang. Itulah hukumhukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Koni tidak mengetahui barangkali Allah mengodukan sesudah itu.suatu halt,ung huru. Alt,tbilu merc ku Ielalt me nd, k,tt t tl;hir B(4r/1P.t/1r1o//./r 1.",1,4 //?i.// .+ I9


iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau Iepaskanlah mereka dengan baik atau lepaskanlah merekodenygn baik dan persuksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian dan hen' daklah kalian tegakkan kesaksian itu kare na Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscoya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah )tang tioda disangka-sanp;kanyu. Dan, barangsiapa yang herlawakal kepada Alluh. niscala Allah akan mencukupkan (kepcrluan)nya. Sesungguhnl a .1lluh melaksonakan ttrusan (yang dikehendaki)-Nyu. Sesungguhnyu /llah telah nengadakon ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. " (.Ath-Thalaq: l-3). Allah memerintahkan para suarni, bahwa jika masa iddah istri sudah hampir habis. maka hcndaklah mereka ruju' atau melepaskannl'a. Pada masa itu mereka tidak boleh mengusir istri dari rumah mereka dan istri tidak troleh keluar dari rumah. Berarti siapa yang tidak ada peluang untuk ruju' setelah talak, boleh rnengeluarkannya dari rumah. Allah telah menetapkan beberapa hukum bagi istri-isri yang ditalak. yang saling kait-mengait dan tidak bisa dipisah-pisahkan antarayang satu dengan Iainnya. Hukurn-hukum ini ialah: - Suami tidak boleh mengeluarkan istri ;-ang ditalak dari rumahnya. - Para istri yang ditalak tidak boleh kcluar dari runrah. - Para istri bisa diruju' dengan cara yang ma'rufsebelum habis masa iddahnya. atau melepasnva dengan cara y ang baik. - Dipersaksikan orang-orang yang adil. I 9. Masal ah- ma.gala h P e nyu,suan Disebutkan di dalam A.sh-Shahihain dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha. dari Rasulullah Sy'ral/allahu Alaihi va Sallam,l:eliau bersabda, :,'i,':, ": .;:Uit 6*; U 77; aet;rt' ';i "sesungguhnya penyusuan itu menjadikan haram apa yang haram pada anak. " Disebutkan pula dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma' bahrva Nabi Shattatlahu Ataihi wa Sallam pernah ditawari agar menikahi putri Hamzah. 'Iapi beliau bersabda, "Dia tidak halal bagiku, karena dia putrisaudaraku dari penyusuan. Apa yang haram karena hubungan keluarga juga haram bagi hubungan penyusuan." Disebutkan didalam,gahllz Muslim. dari Aisyah Rad& iyallahuAnha. dari Rasululfah S'i allallahu Alaihi wa Sallam,l:eliau bersabda. ' j|aAt ^;J\ ?)"r tJ 420 Zadul-Mo'ld


"Tidak haramjika honya satu atau dua kali sedotan.', Dalam riwayat lain disebutkan, .,Tidak haram iika satu atau dua kali hisapan." Dalam lafazh lain disebutkan, ada seseorang bertanya kepada beliau, ''1\'ahai Rasulullah, apakah sekali menyusujuga haram?', Beliau menjawab. ''l idak. ' Dirir.vayatkan pula dari Aisy ah, bahr.v aNabi Sha a ahu Ataihi u.o Sal_ /an bersabda. "Penvusuan itu hanya yang berupa meminum air susu... Disebutkan didalam Jami At-T irnidz;,. dari lJmmu Salarnah Rarl/rrvallahu Anha, bahwa Rasulullah Sfutllatlahu rltaihi y,tt Sallant bersabda. +tb')\'.r. i'.;-l "Tidok diharamkan karena pen_yusuan kecuali yang mengenyangkan u.sus karena menyedot dari parudara dan dilakukan sebelum ma.sa menyapih. " Disebutkan di dalam Sunan Ad-Daruquthny dengan isnad yang shahih, dariIbnu Abbas, dia memarfu'kannya, "Tidak ada hukum penvusuan kecuali yang berjalan selama dua tahun Disebutkan di dalam Sunan A6u Daud, dari hadits Ibnu Mas.ud. dia memarfu'kannya, "Tidak diharamkan karena penyusuan kecuali yang me_ numbuhkan daging dan mengeraskan tulang." Hadits-hadits ini mengandung beberapa hukum yang berkaitan dengan penyusuan. Sebagian disepakati para ulama dan sebagian lain diperselisih_ kan, di antaranya: L Sabda beliau. "Sesungguhnya penyusuan itu menjadikan haram apayang haram pada anak", sudah disepakati seluruh umat. 2. Menyusu dengan sekali atau dua kali sedotan tidak mensharamkan. Batas minimalnyadalah Iima kali sedoran sepeni yang diseb-utkan di dalarn riwayat Muslim dan Abu Daud. Tapi ada ulama salafdan khalafyang meng_ haramkan karena penyusuan, sedikit maupun banyak. pendapat ini dirrwa_ yatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Sa'id bin Al-Musayyab, Al-flaian, eatadah. Az-Zuhry, AI-Auza'y, Malik, Abu Hanifah dan lain_lainnya. Golon_ean lain berpendapat. minimal Iima kalisedotan atau hisapan. Inimerupaxan pendapat Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Az-Zubair, Atha', Tiaqus dan lain-lainnya. Golongan yang pertama bcralasan, selagi sudah ada sebutan penyusuan, maka semua hukum lang berkaitan de-ngan penyusuan sudah berlaku. Sedangkan golongan kedua berhujjah dengan hadits vans ada. 8.,421?./Jzz/.a./.o.//lp.ll/zinl 12,


3. Penyusuan yang berkaitan dengan pengharaman ialah yang dilakukan sebelum masa menyapih dan pada masa menyusui sebagaimana lzimnya. Namun masalah ini diperselisihkan para ulama. Tapidisebutkannya masa dua tahun di dalam satu riwayat, dianggap mansukh. 20. Masalah lddah Masalah iddah ini telah dijelaskan AIIah secara lengkap dan rinci di dalam Kitab-Nya, yang semuanya sudah terhimpun di sana. Allah menyebutkan empat jenis rddal: | . Iddah-nyawanita ham il ialah sampai dia rnelah irkan ba1 in1a, baik dia ditalak dengan talak 6rz'rn maupun raj'i,baik suami masih hidup atau sudah mati. Firman-Nya. "Dan, wanita-wanitayang hamil, wahu iddah mereka itu ialah sampai nt': re ka me Iah irkan kandungannya. " (Ath-Thalaq :4). Di dalam ayat ini terkandung tiga macam keumuman: Pertama, keunrriman ob1'ck yang dikabarkan, yaitu wanita-wanita yang hamil, yang bcrarti berfaku untuk semuanya. Kedua, keumuman waktu iddah, yang menjadikan seluruh waktu hamil seb agai masa iddoh.Ketiga, pemyataan dan jawaban pernyataan sama-sama diketahui secara jelas. Berarti jawaban pernyataan membatasi pernyataan. Maka wanita hamil yang suaminva mati, masa iddah-nya luga seluruh masa hamilnya itu. 2. Iddah-nyawanita yang ditalak pada saat haid, yaitu tigaquru'(bisa berarti suci atau haid). sebagaimana firman-Nya, ,!:;,i: o '..i .o,.'.' .'-ti ,i.. .:J f ** V".ia.t;r:)1 .'\;t ) "Wanila-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. " (Al-Baqarah: 228). 3. Iddah-nyawanita yang tidak haid saat ditalak. Adapun wanita yang masih kecil sehingga belum haid, atau wanita tua yang sudah tidak haid lagi. telah diielaskan Allah. ajrX:jir,j -:;',t !t 5;L;. |a _a-a)r _1 _,-t j.\JJt j l/ ! / I . l " Dan, wanito-wanita yang sudah tidak haid lagi di antara wanitav'anita kalian,jika kalian ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu pula wanita-wanita yang 422 zadul-f,[a'ad tt' o ir , ,to i , d t^.t Ul CTUJIJ


tidak haid. " (Ath-Thalaq: 4). 4. Wanita yang ditinggal mati suaminya. Allah telah menjelaskan masa iddah-nva. .lbj " Orang-orangyang meninggal dunia di antara futlian fungan meninggolkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menonggguhkan dirinyt empat bulan sepuluh hari. " (Al-Baqarah: 234). Hal ini berlaku bagi wanita yang sudah dicampuri maupun belum, yang muda maupun yang tua, tapi tidak termasuk wanita yang hamil. Ada perbedaan pendapat tentang qr.rr, ', apakah artinya haid atau sucii) Menurut para pemuka shahabat, artinya haid. Ini rnerupakan pendapat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas'ud. Abu Musa. Ubadah bin Ash-Shamit, Abud-Darda', Ibnu Abbas, Mu'adz bin Jabal dn lain-lainnya. Tapi ada pula yang mengartikannya suci, Ini merupakan pendapat Aisyah UmmulMukminin, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Ada beberapa perkara yang harus dihindari wanita yang berada pada masa iddah. sebagaimana yng disebutkan raslz dan bukan menurut pendapat-pendapat yang sama sekali tidak ada dalilnya, yaitu: 1. Memakai wewangian, yane didasarkan kepada hadits shahih dari beliau. "Janganlah dia memakai wewangian." Hukum memakainya adalah haram bagi wanita yang berada pada masa iddah. 2. Tidak boleh memakai hiasan di tubuh, seperti celak, bedak dan lain-lainnya dari macam-macam berhias. 3. Tidak boleh memakai hiasan pakaian. seperti pakaian yang dicelup dengan warna tenentu. Hukum-hukum Yang Berkaitan dengan Jual Beli l. Hal-hal Yang Tidak Boleh Diperjualbelikan Disebutkan di dalam Ash-shahihain dari Jabir bin A5ddlah Radhiyallohu Anhuma, bahwa dia pernah mendengar Nabi Siallalluhu Alaihi wa Sallambersabda. ,c>Jl ^--J a;- 4J*,r a.lj I I e , , " -, a lt,' t-J L.49 tL:-, Ul I 'l)-' \ rr, 't t - -t, - t - 9\ J;r-1-t-s n-t ,4.4r// P"/:/hla//at le .J.|lurt -iI-


'1' ' e) ',tzt.',,'":' i ,,."", . c-., IJD te ojl'q F "J* t$'f". (j)e " Se sungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan meniual khumr' bangkai. babi dan patung.' Ada yang bertanya, "Il'ahai Rasululloh' apa pendapat cngkdu lentang lemok hev'ctnyung sttdah mati (menjadi bangkui). vang biso digunakun untuk mengecut kapal dan menrinyaki kulit serta buryuk or ng.\)ang menggunakunnya se bagai ninl'ak lampu:'" Beliau mtniuu,ab. 'l-idak boleh. Itu atlalah haram. " Kemudian saat itu pulu Rusulullah ShaLIalLahu Alaihi u'a Sailarn bersabda, " Allah mcntusuhi orang-orung Yahudi, karena ALIah teloh mengharamkan lemakheu'anyang sudah mati (tntuk dikonsumsi), tapi mereka mengo' lahn-r-a kemudian menjualnya, sehingga mereka mengambil dari harganya. " Di dalam Ash-Shahihain 1uga disebutkan dari Ibnu Abbas, dia berkata. "Umar mendengar kabar bahwa Samurah menjual khamr. Maka dia berkata, "Af lah memusuhi Sarnurah. Tidakkah diatahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi va Sallam pernah bersabda, "Allah melaknat orang-orang Yahudi, karena lemak diliaramkan atas mereka. tapi mereka mengolahnya llu menj ua lnya." Al-Flakim dan Al-Baihaqy menyandarkan hadits ini kepada lbnu Abbas, yang di dalamnya ada tambahan lain, dengan lafazh"'Dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Rasulullah Sfta llallahu AlaihiwaSrzl/am berada diMasjidil-Haram. Beliau menengadah ke arah langit, lalu tersenyum' seraya bersabda, "Allah melaknat orang-orang Yahudi. Allah melaknat orang-orang Yahudi. Allah melaknat orang-orang Yahudi Sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak kepada mereka, tapimereka menjualnya dan mengambil harganya. Sesungguhnya Allah mengharamkan memakan sesuatu kepada suatu kaum, danjuga mengharamkan harganya kepada mereka " Di dalam Ash-Shahihain darihaditsAbu Hurairah Radft iyallahu Anhu, juga disebutkan seperti hadits di atas, dan ada tambahannya, "Sesungguhnyajika Allah mengharamkan memakan sesuatu, maka Dia juga mengharamkanharganya." Ungkapan kalimat dalam hadits ini mengandung pengharamkan tiga j en is: - Minuman yang merusak akal. - Makanan yang merusak tabiat dan memakan hal-hal yang kotor' - Pandangan mata yang merusak agama dan menimbulkan cobaan serta sytrik. 424 Zadzd-Ma'ad \-^ .9* 4-l_p 4_.ljl


Pengharaman ini mengandung penjagaan terhadap akal, hati dan agama. Untuk dapat memahami batasan sabda-sabda beliau, kandungannya, kalirnat-kalimatnya dn segala keumumannya, ta'wil lafazh dan maknan_va, merupakan pemahaman yang spesifik tentang Allah dan Rasul-Nya. yang porsinya berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Tapi Allah menganugerahkannya kepada siapa pun I ang dikehendaki-Nya. Pcngharaman menjual khamr berartipengharanran menjual baranq apa pun vang memabukkan, yangjenisnya cair maupun padat, diperas maupun dimasak, termasuk pula perasan anggur, korma, gandum, madu dan apa pun yang memabukkan dan mengguncangkan hati yang tenang. Semua ini termasuk kategori khamr yang dilarang N abi ShalLallahu Alaihi wa Sallam secara jelas dan garnblang, "Segala yang memabukkan adalah khamr." Ada riwayat yang shahih dari para shahabat, yaitu orang-orang I ang paling mengetahui maksud perkataan beliau dan rnaknanya, bahrva lrang disehut khamr adalah yang mclalaikan dan rnerubah akal dari keasliann.,'a Jadi semuajenis di atas masuk dalanr istilah khamr. I'idak bolch mengeluarkan sebagian dari jenis ini dengan mengalihkan namanya. sebagainrana larangan mengeluarkan sebagian dari jenis-jenis barang yang memabukkan dari istilah khamr. Dalam hal ini ada dua catatan yang harus diwaspadai: - Mengeluarkan dariperkataan beliau apa yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalamnya. - Ditetapkannya suatu hukum vang berbeda dengan hukum beliau. dengan merubah laf'azh-lalazh dari pembawa svariat dan makna-maknanva. Artinya..iika seseorang menamakan suatu jenis tidak seperti nama yang diberikan pembawa syariat, maka hukumnva menjadiberbeda. lalu dia menetapkan hukum lain. Nabi Slal/a/lahtt ALaihi v,a Sal/an sudah menvadari bahwa di antara umatnya akan ada yang mendapat cobaan sepertini. sebagaimana sbda beliau. "Benar-benar akan muncul orang-orang ) ang meminum khamr, dengan menamakannya bukan khamr." Maka beliau membuat ketetapan 1-ang bersifat universal dan umum. tidak mengambang dan tidak pula mengundang interpretasi, dengan bersabda, "Semua yang memabukkan adalah khamr." Tentang pengharamkan bangkai, termasuk segalajenis bangkai, baik yang mati karena lepas hidungnyatau karena disembelih dengan cara yang tidak sah, termasuk pula semua bagian dari organ tubuhnya. Karena itu sebagian shahabat masih ada yang menganggap rumit masalah pengharaman menjualemak. Padahal lemak itu sangat bermanfaat. M akaNabi Shallollahu Alaihi wa Sctllam mengabarkan bahwa Iemak itu haram, meskipun ia bisa dimanfaatkan. Ini menjadi topik yang diperdebatkan manusia. karena perbedaan mereka dalam mcmahami maksLrd perkataan beliau. r'aitu. ' Tidak. ia haram." /i4ri'I Plf t;'//// t( I /,z',J,4 1 t t ur


Apakah perkataan beliau ini tertuju kepada penjualannya atau tenuju kepada perbuatan yang mereka tanyakan? Menurut Syaikh, hal itu tertuju kepada penjualannya. Sebab ketika beliau mengabarkan bahu'a Allah mengharamkan menjual bangkai. mereka berkata, "Sesungguhnya lemaknya banyak rnanfaatnya." Artinya, apakah dengan begitu boleh menjualnya? Beliau menjawab, "Tidak, ia adalah haram." Jadi scakan-akan mereka mencari pengkhususan lemak dari bagian bangkai yang diperbolchkan, sebagaimana AI-Abbas yang meminta pcnSkhususan pohon idzkhir l ang bolch dipotong di tanah suci. Yang pasti' lemak bangkai iru hararn dan menjualnyajuga haram. Yang termasuk dalam pengharaman menjual bangkai ialah menjual bagian-bagiannl'a selagi masih hidup, lalu lepas ketika mati, seperti daging' lemak dan urat. Tapitidak termasuk bulu-bulunya, karena bulu tidak termasuk bangkai. Menurut para ulama, bulu bangkai hewan tetap suci selagi hcwannya suci. Inimerupakan pendapat para imam. selain Asy-Syafi'y' yang menganggapnya nj is. Jika ada yang bertanya. "Apakah pengharaman menj ual bangkaij uga termasuk pengharaman menjual tulang. tanduk dan kulitnya setelah disamak, karena keumuman istilah bangkai?'' Dapat dijawab sebagai berikut: Yang diharamkan untuk dijual dari bangkai itu ialah yang tiiharamkan untuk dimakan dan dipergunakan. sepcrti 1'ang diisyaratkan Rasulullah ,Shaila lLcthu Alaihi v'a Str/1arn. "Sesunggulrn; it jika Allah mengharamkan sesuatu, maka Dia mengharamkan harganya " Adapun kulityang sudah disamak menjadi bencia yang suci. yang bisa dimanfaatkan untukpakaian danalas atau manfaat lainnya. Berartitidak dilarang dan boleh dijual. Menurut Asy-Syafi'y. hal itu tidak boleh. Sementara rekan-rekannya sling berbeda pendapat tentang hal ini. Pengharaman babi berlaku untuk keseluruhan dan semua bagiannya yang tampak maupun yang tersembunyi Perhatikan bagaimana disebutkannya daging. yang mengisyaratkan pengharaman memakannya. karena mayoritas bagian pada babi adalah dagingnya Disebutkannya daging merupakan peringatan tentang memakannya, tidak seperti pcngharaman barang yang iisebutkan sebelumnya, dan berbeda dengan buruan. Maka tidak dikatakan' "Diharamkan atas kalian daging buruan". Tapi yang diharamkan adalah buruan itu sendiri, yang berarti memakan dan membunuhnya Atas dasar inilah maka ketika diharamkan penj ualan bagi, disebutkan secara keseluruhan dan tak ada pengkhususan pada dagingnya, yang berarti berlaku untuk keadaannya seperli apa pun. hidup maupun mati. Tentang pengharaman menj ual patung, dapat disimpulkan dari pengharaman menjual segala alat yang digunakan untuk kemusyrikan, apa pun bentuk dan.ienisnya, entah berupa patung' berhalatau salib, atau buku-buku yangberisi kemusyrikan dan penyembahan kepada selain A llah Semua ini 426 Zo.d,ul-.1[a'ad


harus dihilangkan dan dimusnahkan. Menjual barang-barang itu sama dengan membuka peluang untuk menggunakamya, yang berarti lebih layak diharamkan penjuafannya daripada barang-barang lain. Nabi Shallallahu Alaihi u'a Sa//an menyebutkannya di bagian paling akhir, bukan karena permasalahannya yang dianggap enteng. tetapi merupakan penahapan dari yang ringan kepada yang lebih berat. Khamr lebih baik keadaannya daripada bangkai. Allah tidak menetapkan hukuman bagi orang yang memanfaatkan bangkai. tapi cukup dengan larangan, karena tabiat manusia sudah merasaj ijik kepadanya. Berbeda dengan kharrr dan babi yang lebih keras larangannva daripada bangkai. Karena itu Allah menyendirikan hukum babi dengan sebutan kotor. sebaeaimana fi rman-Nva. " Katakanlah, 'Tiadalah aku peroleh dalam wahyuyang div,ahyukan kepadaku. .sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecauli kalau makanan itu bongkai atau darahyang mengalit' atutt daging babi, knrena sesungguhnya io kotor. " (Al-An'am: 145 ). Meskipun kata ganti pada kata fainnahl kembali kepada tiga baran-e ini. karena pertimbangan lafazh "Yang diharamkan". tapi ada semacam p.- nguatan yang dikhususkan kepada daging babi. Sabda Rasulullah Shallullahu Alaihi wa Sallam."Sesungguhnya j ika Allah mengharamkan sesuatu atau mengharamkan memakan sesuatu, maka Diajuga mengharamkan harganya", bisa dimaksudkan dua hal: - Barang dan pemanfaatannya hram secara keseluruhan, seperti khamr. bangkai, darah, babi dan alat-alat kemusyrikan. Harga dari barang-barang ini haram. bagaimana pun bentuknya. - Boleh dimanfaatkan sclagi tidak dimakan. seperti kulit bangkai I ang sudah disamak dan keledai piaraan atau pun baghal yang dagingny'a tidak boleh dimakan. Yang demikian ini tidak termasuk dalam pengertian hadits ini. Karena y ang dimaksudkan ialah yang haram secara mutlak. Tapi ada jugayang berpendapat, yang demikian inijugatermasuk didalam pengertian hadits ini, yang pengharaman harganya berlakujika ia dijual untuk manfaat yang juga diharamkan. Jika baghal dan keledai piaraan dijual untuk keperluan makan, maka harganya haram. Jika dijual untuk kendaraan, maka harganya halal. 2. Hasil Penjualan Anjing dan Kucing Disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari Abu Mas'ud, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi v,a Sallan melarang hasil penjualan anjing, upah .Ratzt/Peryi:t/azall.?.4lh?,y11 427


dari melacur dan upah untuk dLrkun. Di dalam Safti& N'luslim disebutkan dari Abuz-Zubair, ciia berkaia, "Aku bertanya kepada Jabirtentang hasil penjualan anjing dan kucing. Maka dia menjawab, "N abi ShullalldhuAluihiwa SaLlammelarang yang demikian itu." Di dalam Shahihlvluslim juga disebutkan darihadits Rafi' bin Khudal. dari Rasulullah Sllallallahtt AIaihi v,u Sallant. beliau bersabda. "Sehuruk-buruk penghusilan adalah upah dari melacur. hasil penjualttn unjing &tn penghasilan para tukang membektm.' Di dalam Sanair Abu Daud disebutkan dari Abuz-Zubair. bahwaNabi Shallalluhu .llaihi ta Sialknt melarang hasil pen]ualan anjing dan kucing. Di dalam hadits-hadits ini terkandung empat masalah: 1 . Pengharaman menjual anj ing. baik l ang kecil maupun 1'ang besar. untuk berburu, penunjuk.jalan maupun mengolah tanah. Ini merupakan pendapat para fuqaha ahli hadits. Tapi rekan-rekan Abu Hanifah memperbolehkan meniual anjing dan menrakan hasil peniualannya. Al-Qadhy AbdulWahhab berkata. "Rekan-rckan saling berbeda pendapat tentang menjual anjing yang pemanfaatan anjing itu diperbolehkan. Yang lain ada yang memakruhkann-v. a dan yang lain Iagi mengharamkannya." Ada l ang berpendapat,pabila pemanlaatan sesuatu hukumnya haram, maka penj ualannyaj uga haram. Jadi hukum penjualannya mengikuti hukum barang dan pemanfaatannya atau gambarannl'a secara umum, apalagi j ika ada pencampuran antara yang halal dan yang haram. Atas dasar inilah muncul masalah tentang menjual anjing untuk berburu. Sebab ternyatanj ing memiliki manlaat yang tidak scdikit. Dalam hal ini berbagai manfaatnya bisa dikumpulkan. lalu ditimbang. Anjing yang manfaatnya lebih banyak bersifat haram. maka ia harus dilarang. Jika sebaliknya, maka ia diperbolehkan. Anjing buruan termasuk pengecualian dari larangan beliau menjual anjing, sebagaimana yang diriwayatkan At-Tirmidzy. dari hadits Jabir, bahwa Nabi S&c/lallahu AIaihi wa Sa//azz melarang hasil penjualan anj ing kecuali anj ing buruan.'' Tapi alasan pengecualian ii tidak kuat, sebab hadits-hadits dari beliau tentang pengecualian anj ing buruan tidak shahih. 2. Pengharaman menjual kucing, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih dari Jabir bin Abdullah. bahwa dia memakuhkan hasil penjualan kuc ing. Sementara tk seorang pun shahabat yang berlainan pendapat dengannya mengenai hal ini. Fatwa ini pula yang menjadi pilihan Umar bin Abdul-Aziz. 428 zadut-ttT'ad


3. Upah dari melacur, atau penghasilan yang diterima wanita yang melacurkan diri, entah wanita merdeka maupun budak. Beliau menetapkan hukum, bahwa hal itu amat kotor dan keji. Apalagi yang biasa melacur pada zaman beliau adalah wanita-wanita budak. Karena itu Hindun bertanya saat baiat, "Apakah wanita merdeka itu ada yang melacurkan diri?" 4. Upah praktik perdukunan. Abu Umar bin Abdul-Barr mengatakan, bahwa yang demikian initermasuk memakan harta dengan cara yang batil. Pengharaman upah praktik perdukunan merupakan peringatan tentang pengharaman upah ahli nujum, peramal nasib dan pengundi serta membaca peruntungan masa depan yang termasuk masalah gaib. Maka Rasululiah Shallallahu Aloihi v,a Sallam melarang mendatangi dukun, "Barangsiapa mendatangi dukun dan dia mempercayai apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." Tidak dapat diragukan, banyak orang yang percaya dan meyakini apa yang dikatakan para dukun dan tukang ramal, apalagi orang-orang yang lemah akalnya, orang-orang yang bodoh, para wanita, orang-orang baduidan mereka yang tidak mengetahui hakikat iman. Mereka inilah yang biasa meminta saran dan nasihat dari para dukun, lalu mereka berbaik sangka kepada dukun, sekalipun sebenamya dukun itu musyrik kepada Allah secara terang-terangan. Hal ini terjadi. karena mereka tidak mengetahui petunjuk yang disampaikan Allah kepadaRasul-Nya dn tidak mengenal agama yang benar serta lurus. Maka firman Allah. " Dan, barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah. tiodalah dia mempunyai cahaya seditlrpzn. " (An-Nur: 40). Para shahabat berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,"Para dtkun itu terkadang mengabarkan sesuatu kepada kami, dan ternyata benar-benar terjadi seperti yang mereka katakan." Maka beliau memberitahukan bahwa I ang demikian itu termasukiat syetan, yang menyampaikan perkataan 1'ang sebenarnya kepada para dukun itu, padahal sebenarnya mereka menambah seratus macam kedustaan, lalu mereka membenarkan hanya dengan satu perkataan itu. 5. Buruknya mencari mata pencaharian dari praktik berbekam. Tapi dokter dan orang yang biasa mencelaki orang lain tidak termasuk dalam hukum ini. Sementara ada riwayat yang shahih. bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah meminta orang lain untuk membekam beliau, dan beliau juga memberikan upah kepadanya, hingga banyak fuqaha yang kesulitan mengompromikan dua riwayat ini. lalu rhereka mengira bahwa 4ela/ Pe. rytt/anan lz,llrtz:ml 429


larangan mencari mata pencaharian dengan berbekam ini terhapus oletr pemberian upah kepada orang yang membekam beliau. Di antara mereka yang berpendapat sepertiniadalah Ath-Thahawy. Alasannya, hal ini seperti larangan beliau untuk memakan dari hasil penjualan anjing pada saat beliau memerintahkan untuk membunuh semua anjing. Tetapi kemudian menghapusnya dan memberikan rukhshah terhadap anjing buruan. Maka larangan mencari mata pencarian dari berbekam inijuga terhapus oleh tindakan beliau yang memberikan upah kepada tukang membekam. Pendapat in i dapat disanggah sebagaiberikut. bahwa rukhshahterhadap anjing buruan dan anjing untuk menjaga domba disebutkan setelah perintah untuk membunuh serrua anjing. Anjing yang diperbolehkan untuk dimiliki adalah yang diharamkan hasil penjualannya. Anjing selain itu tidak biasa diperj ualbe likan, berbeda dengan anj ing yang boleh dimiliki. Tentang tindakan beliau yang mcmberikan upah kepada tukang membekam, tidak bertentangan dengan sabda beliau, ''lVlata pencaharian tukang berbekanr itu buruk". Sebab beliau tidak bersabda. "N1emberinla upah adalah buruk", bahkan memberinya upah adalah wajib, atau sunatatau boleh. dan menerima upah itu tetap buruk bagi tukang berbekam. Keburukannya dinisbatkan dengan mengambil upah membekam. sehingga membekam itu merupakan mata pencahariarr yang buruk, dan tidak harus haram. Belrau menyebut bawang putih dan bau'ang mcrah sebagai makanan yang buruk, tapi memakannya tetap d iperbolehkan. Secara umum dapat dikatakan, buruknya upah membekam seperti makan bawang merah atau putih- Yang pertama keburukan menjadikannya sebagai mata pencaharian dan kedua keburukan memakannya. Lalu apa mata pencaharian yang paling baik? Yang paling baik adalah mata pencaharian dari berniaga dan berdagang. Yang lain-lainnya dalam urutan setelah itu, dengan berbagai macam ragam danjenisnya. 3. Menjual Keturunan Pejantan Di dalam Shahih AlBukhary disebutkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Sftal/allahu Alaihi wa Sal Iam melarangketurunan pejantan. Di dalam Sfta&ih Muslim disebutkan dari Jabir. bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual keturunan hewan pejantan. Hadits yang kedua menafsiri hadits yang pertama, bahwa maksud larangan dalam hadits yang pertamadalah menjualnya atau memasang tarif. I-arangan ini bersifat mutlak. Tapi orang yang memanfaatkan keturunan hewan pejantan, lalu dia memberi sesuatu atau upah kepada pemilik hewan pejantan, tidak diharamkan, sebab dia memberikan hartanya untuk mendapatkan hal yang mubah dan yang dia butuhkan. Diperbolehkannya hl ini sama dengan memanlaatkan orang yang membekam dan memberinya upah. Nabi 430 Zad2rl-Ma'ad


Shallallahu Alaihiv,a Sallammelarang orang yang biasa menarik upah dari keturunan pejantan. 4. Larangan Menjual KelebihanAir Yang Biasa Dimanfaatkan Orang Banyak atau Milik Bersama Di dalam ShahihMuslim disebutkan dari hadits Jabir Rady'r iyallahuAnr. dia berkata, "R asulullah Shallallahu Alaihi wa Sallan melarans meniual kelebihan air." Dalam ri*'ayat lain j uga di dalam S&aftift Muslim disebutkan, dia berkata, "Rasuluf lah Shallallahu Alaihi wa Sallammelarans meniual keturunan hewan pejantan. menjual air dan tanah untuk ditanamil' Di dalam Ash-Shahihain disebutkandari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shollallahu Alaihi wa Sallan bersabda. .iKJr " Kelebihan air tidak boleh dihalangi karena untuk menghalangi tumbuhnya rumput. " Dalam lafazh lain disebutkan, ,,2. t, . o . . lDJr st ze "Janganlah kalian menghalangi kelebihan air karena kalian ingin menghalangi tumbuhnya rumput. " Di dalam Al-lvlusn ad disebutkan dari hadits Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, darikakeknya, dari Nabi Sla llallahu Alaihiwa Sallam,beliaubersabda. -.,--1, -'''i,.: ,i,. ,.'. :2 .,,.: "i ... .99, (5, 4!;2! dJr 4'.i 4-:15 J-:.t )\ 4.V "Barangsiapa menghulongi kelebihan airnya atau kelebihan rumputnya, maka Allah menyhttlangi karunia-Nya pada hari kiamat dari dirinya. " Di dalam Sunan lbnu Majah disebutkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ', t,' It/'t,' .-,;tJlr L[\Jrr eLJl .Fi^] U !:.rt! "Tiga hal yang tidak boleh dihalangi; Air, rerumputan dan api. " Disebutkan pula dari Ibnu Abbas, N abi Shallallahu A laihi wa Sallam 4J ,rL:..-.J 9 tajl L..41 ,L:-J U -.L --, r/ \E - * \:;:J.,it ,J>" ,;t 'J Lzt ^.i .J B"hlP".ryalrzzanlz,4l2t:ml 431


bersabda. '" "'L' ''- "JJ.!, ,?t 7 a* S ,t!lj tD!'_. cL4Jr J9 !)\.! _.e eD i "Ororgn rorg Mrrti. itr rntingt rrrekutu dalam tiga hal. Air, api dan rerwnputan, dan hargonya adalah haram. " Pada dasarnva airdiciptakan Allah sebagai milik bersama bagi manusia dan hewan. Tak seorang pun yang merniliki hak prioritas dari yang lain terhadap air. sekalipun dia berada pahng dekat dengan air itu. Maka Llmar bin Al-Khaththaberkata, "Orang."-ang sedang dalam perjalanan lebih berhak terhadap ail daripada crang yang tinggal dekat dengannva. Sedangkan orang vang sudah niemasukkan air itu ke dalam geriba atau kantongnya, maka tidak terrnasuk air yang d isebutkan di dalam hadits-hadits ini. Hal ini sama saja dengan segala barang yang mubah untuk diambil, seperti kayu bakaryang diambil dari hutan dan dikemasedemikian rupa lalu dijual. Begitu pula rerumputan dan garam. Jika ada yang bertanya, "Seseorang menggali tanah yang menjadi hak miliknya untuk dijadikan sumur. Apakah air sumur itu menjadi miliknya dan diajuga boleh menjualnya, karena air itu sudah melebihi kebutuhan kesehariannya?" Tidak dapatdiragukan bahwa sumur dan aimya menjadi miliknya. Jika sumur itu ada di dalam pekarangan rumahnya. apalagi ada di dalam bangunan rumahnya, maka orang Iain tidak boleh mengambilnya kecuali seizin pemiliknya. Tapijika tidak ada di dalam pekarangan rumahnya, maka mcnurut zhahir hadits-hadits diatas, tidak boleh menjualnya. 5. Larangan Hashat, Gharar, Mulamasah dan Munabadzah Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu AIaihi wa Sallan melarang menj ual dengan hashat dan menjual dengan merahasiakan identitas barang yang dijual. Jual beli dengan ftasiat (kerikil), maksudnya sepertijual beli dengan pilihan atau untung-untungan. Gambarannya, pembeli melempar sebuah kerikil ke beberapa pakaian yang tersedia setelah membayar satu dirham umpamanya. di mana kerikil itujatuh, maka dia berhak atas pakaian itu. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu AIaihi wa Sallctm melarang mulamasah dan munabadzah. Di dalam Shahih Muslirn dijelaskan, 6ahwa mulama.safi artinya, dua orang saling mengusap kain orang lain tanpa boleh melihat dan memperhatikannya. Munabadzah artinya, masing-masing melempar kainnya kepada orang lain tanpa boleh melihat dan memperhatikannya. Jual beli secara gft arar artinya pembeli tidak tahu identitas sesuatu yang hendak dibelinya, atau penjual tidak mau menjelaskan identitas barang 432 Zadu.l.-,lla'ad


yang dijual, seperti menjual hewan yang masih berada di dalam kandungan. Rasuluf lah Sftallalluhu AIuihi va Sallam melaranghal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam A sh-Shahiha in. Menjual barang yang tidaktampak di dalam tanah, seperti ubi, lobak, bawang merah atau lain-lainnya, tidak termasukjual b eli secara gharar.Sebab apa yang tersembunyi di dalam tanah itu bisa diketahui lewat kebiasaan. apalagi olehorangyangmemangsudahahlinya. Apayangtampakdiataspermukaan tanah bisa menggambarkanpa yang tidak tampak di dalam tanah. Kalaupun ada mclesetnya, rraka nilainya hanya sedikit, yang bisa ditolcrir untuk kemaslahatan secara umum, yang biasanya manusia tidak bisa lepas darinla. Yang demikian initidak termasukgftarar yang menimbulkan larangan. Sebab hewan, tempat tinggal atau toko yang disewa selama setahun umpaman1a.juga tidak lepas dari gharar, seperti kematian he*'an selama masa sewa itu, atau rusak dan ambruk bagi rumah. Menjual minyak wangi di dalam wadahnyajuga tidak termasukjual beli secara.qfiar-rzr. Begitu pula makanan yang sudah dikemas di dalam kaleng. Menjual air susu yang masih ada di dalam kantong kelenjar hewan, tidak diperbolehkan menurut rekan-rekan Ahmad. Asy-Syafi',v' dan Abu Hanifah. 'fapi hal ini diperbolehkan j ika nrengikuti penjualan hervannya sekaligus. Jumhur ulama tidak me rnpcrbolchkan mcnl cu akan domba atau sapi atau onta selama jangka *'aktu tertentu untuk diambil air susunva. Tapi Syaikh kami mempcrbolehkannya. Krenayang demikian ini temasuk sewamenye\44. ss0es ,4?Ar2 1 P"qrz /a // a // 1.". 4 l:2 ?. ra 1 http://kampungsunnah.wordpress.com


Click to View FlipBook Version