The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fazila6292, 2021-09-05 09:43:50

JALAN
KEBENARAN
UNIVERSAL

Disusun oleh Tim Penyusun

© 2015
Tata Letak

Lingga Dewa

Ilustrasi Sampul

Yusra Gabriel Aditama

Cetakan Pertama Desember 2015

Dialah Allah yang mengutus kepada kaum yang ummi (buta wahyu)
seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya
mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum

yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Khusus Untuk para PENCARI KEBENARAN sejati





kata pengantar

Manusia adalah makhluk pencari kebenaran, karena manusia
adalah makhluk ciptaan Allah yang paling canggih (terbaik) dengan
institusi akal yang dimilikinya dan yang menjadi pembeda dari makhluk-
makhluk lainnya di muka bumi. Institusi akal manusia dapat berfungsi
dengan maksimal apabila mendapat bantuan dari indra pendengaran dan
penglihatan. Tiga institusi tersebut harus difungsikan oleh manusia agar
mereka dapat mencari kebenaran sejati dan meningkatkan derajatnya di
hadapan Sang Pencipta. Jika tidak, maka derajat manusia akan setara
dengan binatang ternak dan anjing, bahkan lebih hina dari kera dan babi,
serta makhluk melata sekalipun.

Namun demikian, apa yang harus menjadi objek dari pencarian
kebenaran sejati oleh manusia? Tentu saja yang harus menjadi objek dari
akal pikiran manusia dalam mencari kebenaran sejati adalah sumber dan
wujud dari kebenaran sejati itu sendiri. Silakan perhatikan firman Allah
dalam Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 176-179 berikut ini:
َۡ �َ َ ‫أَ ۡخ‬
‫َك َم َث ِل‬ ‫َ� َم َثلُ ُهۥ‬ ‫َه َوٮٰ ُۚه‬ ‫َوٱ َّ� َب َع‬ ‫ٱ�� ِض‬ َ ‫بِ َها َو َ�ٰ ِك َّن ُه ٓۥ‬ ‫َولَ ۡو ِش ۡئ َنالَ َر َ� ۡع َ�ٰ ُه‬
ْ‫َك َّذبُوا‬ �ِ‫إ‬ ‫َعلَ ۡيهِ يَ ۡل َه ۡث‬ ‫ٱ ۡل َ�ۡ ِب إِن َ ۡ� ِم ۡل‬
‫يَ ۡل َه �ث َّ�ٰلِ َك َم َث ُل ٱ ۡل َق ۡو ِم ٱ َّ ِ�ي َن‬ ‫أَ ۡو َ� ۡ ُ� ۡك ُه‬
ْ‫ َسآ َء َم َث ً� ٱ ۡل َق ۡو ُم ٱ َّ ِ�ي َن َك َّذبُوا‬١٧٦ ‫� َ�ٰتِ َناۚ فَٱ ۡق ُص ِص ٱ ۡل َق َص َص َل َع َّل ُه ۡم َ� َت َف َّك ُرو َن‬
‫ َمن َ� ۡه ِد ٱ َّ ُ� َ� ُه َو ٱلۡ ُم ۡه َت ِدي� َو َمن يُ ۡضلِ ۡل‬١٧٧ ‫� َ�ٰتِ َنا َوأَن ُف َس ُه ۡم َ�نُواْ َ� ۡظلِ ُمو َن‬
‫لَ ُه ۡم‬ ‫َوٱ ۡ ِ�� ِ �س‬ ‫ن ۡ ِ� َّ ِّ�ن‬ٞ ‫م ِّم َءاَن َذاٱ‬١ۡ �٧�‫ُٗه‬٩َ‫ق� َ ٰۡٓ�دَّ�ِ� َذ َ َُ�كر ۡ�ۡبنَ ُهاِ ُم ُ� ِٱوَ�ۡل َهََن�َّٰنفِبَِملَُهاو َك َ َثنِول‬ٞ‫أَ ُّلَۡۚ�وأُُلَ َْو‬١‫ض‬٧َ ‫ۡم‬٨َ‫ب�ِ َكَّ َك� َك َ�ٱُه ۡۡف ُم�ََقنۡ ُهٱَ ۡل�ٰو ِمََن�ٰبَبِِۡ َله ُا� ُهو َوۡمَلَن ُهأ‬ٞ�ِٰٓ�َ �ٰٓ‫أُقَُف ْأوُُل َْوو‬
ۚٓ‫بِ َها‬ ‫� َ ۡس َم ُعو َن‬

i

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya
seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika
kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-
ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang
mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka
merekalah orang-orang yang merugi Dan sesungguhnya Kami jadikan
untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Dari beberapa ayat di atas sudah sangat jelas bahwa manusia tanpa
wahyu Allah akan menjadi makhluk yang hina dan hanya akan menjadi
manusia yang zalim lagi sesat. Merekalah yang menjadi penghuni dari
masyarakat jahannam, masyarakat yang saling menindas dan
memperbudak satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan jahannam,
yang satu dengan yang lainnya saling bermusuhan dan saling merusak,
hanya karena berebut materi, kekuasaan, dan kesenangan sesaat. Jika
bukan karena wahyu Allah, ummat manusia tidak akan mendapat
petunjuk jalan kebenaran dan keluar dari kehidupan jahannam kepada
kehidupan jannah.

Harus disadari, bahwa Allah itu Maha Hidup Yang Menghidupkan.
Dia tidak pernah berhenti mencipta dan tidak pernah lalai dari tugas dan
tanggung jawab-Nya sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pendidik alam
semesta. Allah tidak pernah berhenti berfirman. Sesungguhnya, setiap
saat Dia berkata-kata kepada manusia, baik secara langsung maupun tidak
langsung, secara fisik maupun spiritual.

ii

Alam semesta adalah maha karya dari Allah yang sekaligus menjadi
“Kitab Besar” dari-Nya untuk ummat manusia. Dia mencipta alam
semesta di atas prinsip kebenaran, sehingga manusia tidak akan
menemukan sedikit pun cacat atau kebatilan dalam ciptaan-Nya. Tidak
ada satu pun ciptaan Dia yang batil di alam ini. Alam semesta adalah
wujud dari Kebenaran Allah, sehingga ketika manusia mau merenungi
dan mengkaji makhluk yang ada di alam ini, niscaya dia akan menemukan
kebenaran. Alam adalah ilmu Allah yang materiel; sehingga ilmu Allah
atau kebenaran itu ada pada alam. Alam adalah ayat-ayat Allah atau
firman Allah yang harus “dibaca” dan dikaji oleh manusia untuk dapat
mengenal Allah dan menemukan kebenaran. Alam harus dapat dijadikan
sebagai alat ukur dari kebenaran. Jika Anda memiliki kesadaran atau
keyakinan yang bertentangan dengan (kebenaran) alam, maka ajaran dan
keyakinan Anda itu batil (salah). Jadi, bagi orang-orang yang beriman dan
senantiasa berpikir akan ciptaan Allah, Dia senantiasa berkata-kata
(berdialog) atau berfirman dengan mereka melalui alam.

Selain berbicara (berfirman) kepada manusia melalui alam, Allah
juga senantiasa berkomunikasi melalui wahyu yang disampaikan melalui
Utusan (Rasul)-Nya. Rasul adalah manusia pilihan Allah yang bertugas
sebagai “Mulut Tuan” atau “Juru Bicara” Dia di muka bumi dalam
menyampaikan dan menjelaskan segala kehendak, rencana, dan perintah-
Nya bagi ummat manusia. Firman-firman Allah yang disampaikan melalui
Rasul-Nya tersebut selanjutnya ditulis dan dibukukan dalam satu Kitab
Suci, seperti Kitab Al-Quran. Dengan demikian, Al-Quran adalah
kumpulan firman (wahyu) atau kalam Allah yang disampaikan oleh
Rasulullah Muhammad kepada ummat manusia.

Al-Quran adalah Kitab Petunjuk untuk mengetahui segala
kehendak, rencana, dan perintah Allah untuk manusia di muka bumi. Al-
Quran adalah petunjuk jalan kebenaran bagi manusia untuk dapat
mengenal dengan benar dan pasti siapa Allah, Sang Pencipta dirinya. Al-
Quran juga sebagai Kitab Petunjuk tentang bagaimana caranya
membangun suatu tatanan kehidupan masyarakat bangsa manusia
menjadi kehidupan surgawi, yakni suatu tatanan kehidupan dunia yang
setimbang, harmonis, teratur, dan penuh dengan kedamaian serta saling
menyejahterakan seperti halnya kehidupan surgawi yang ada di alam

iii

semesta. Membumikan Kerajaan Allah (kehidupan surgawi) yang ada
pada alam semesta ke dalam kehidupan sosial ummat manusia adalah
misi setiap Rasul Allah dan orang-orang beriman yang menyertainya.

Jika Anda adalah pencari Kebenaran Sejati, Anda harus kembali
kepada sumber dari segala sumber kebenaran, yakni Allah Yang Maha
Benar. Wujud dari kebenaran Allah ada pada alam dan pada firman-
firman-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci. Dengan demikian, objek yang
harus dikaji oleh manusia adalah alam semesta (ayat-ayat Allah yang ada
di alam) dan firman-firman Allah (ayat-ayat Allah yang tertulis di dalam
Kitab-Kitab-Nya).

Sebagai contoh, “Kenapa Allah mencipta manusia atau untuk apa
manusia dicipta oleh-Nya?”. Untuk mencari kebenaran dari jawaban
pertanyaan tersebut, Anda harus mencarinya pada alam atau pada firman-
firman-Nya. Dengan memaksimalkan fungsi akal pikiran, pendengaran,
dan penglihatan, maka akan membantu Anda menemukan jawabannya.
Adakah jawaban Allah dalam Al-Quran tentang pertanyaan tersebut?
Ada. Jawabannya terdapat dalam surat Adz-Dzāriyāt [51] ayat 56 yang
berbunyi:
‫َوٱ ۡ ِ�� َس‬ ‫ٱ ۡ ِ� َّن‬
‫ِ�َ ۡع ُب ُدو ِن‬ َّ ‫َخلَ ۡق ُت‬ ‫َو َما‬
�ِ‫إ‬

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.

Ayat ini dengan tegas menjawab, bahwa tujuan dari penciptaan
manusia adalah untuk mengabdi (bukan menyembah) kepada Allah;
menjadi abdi Allah; hamba dari Sang Tuan, Sang Pencipta dirinya. Setiap
dakwah para pembawa risalah Allah selalu mengajak ummat manusia
untuk kembali kepada fitrah dirinya yang sejati, yakni menjadi “hamba”
dari Allah, Sang Tuan Semesta Alam, Raja sejati ummat manusia.

Sebagai seorang makhluk (hamba), sudah sejatinya manusia
mengabdi atau menghambakan dirinya (tunduk dan patuh) hanya kepada
Sang Pencipta dirinya, bukan mengabdi kepada tuan-tuan atau raja-raja
dunia selain Dia. Dengan kata lain, setiap manusia (hamba) harus mampu
meninggalkan segala bentuk pengabdian atau penghambaan (bukan
penyembahan) kepada tuan-tuan atau raja-raja dunia lainnya selain Allah,

iv

Sang Tuan Semesta Alam, Raja sejati ummat manusia. Inilah sistem
pengabdian yang hak dan fitrah bagi manusia. Inilah esensi dari tujuan
penciptaan manusia.

Ketika manusia gagal memahami eksistensi dirinya sebagai hamba
Allah dan menjadi hamba dari tuan-tuan selain Dia, maka dia menjadi
manusia yang merugi. Pada dasarnya manusia itu akan berada dalam
kerugian hingga dia menjadi hamba yang sejati, yakni menjadi manusia
yang beriman dan melaksanakan segala perintah-Nya. Hamba sejati hanya
mengabdi kepada satu ilah, yaitu Allah. Gambaran dari manusia yang
terbebas dari kerugian dapat dilihat dalam surat Al-'Ashr [103] ayat 1-3
berikut ini:
‫ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن‬
‫ٱل َّ�ٰلِ َ�ٰ ِت‬ ْ‫َو َع ِم ُلوا‬ ْ‫َءا َم ُنوا‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ َّ ٢ �ٍ ۡ ‫لَ ِ� ُخ‬ ْ‫َوتَ َوا َص ۡوا‬ ‫ إِ َّن‬١ �ِ ۡ ‫َوٱ ۡل َع‬
�ِ‫إ‬ ٣ ِ�ۡ ‫بِٱل َّص‬ ‫بِٱ ۡ َ� ِّق‬ ْ‫َوتَ َوا َص ۡوا‬

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati
supaya menetapi kesabaran.

Perhatikan pula peringatan Allah dalam surat At-Tīn [95] ayat 4-6
berikut ini:
‫أَ ۡس َف َل‬ ‫ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن ِ ٓ� أَ ۡح َس ِن‬
َّ ٥ �َ ِ‫َ ٰ�فِل‬ ٦ ‫َر َد ۡد َ�ٰ ُه‬ �ُ‫ َ�ُ� ۡ َّم‬٤‫فَ َ�لَۡق ُهوِ ۡم� ٖأَ� ۡج ٌر‬ ‫َو َع ِملُواْ ٱل َّ�ٰلِ َ�ٰ ِت‬ ‫لَ َق ۡد َخ َل ۡق َنا‬
�ِ‫إ‬ ‫َم ۡم ُنو ٖن‬ ْ‫ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنوا‬

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka ganjaran yang tiada putus-
putusnya.

Namun demikian, dalam kehidupan manusia yang sekuler ini, kata
mengabdi sering diganti dengan kata menyembah, sehingga terjadi
penyimpangan makna dan tata ritual, yang sering disebut dengan istilah
ibadah.

v

Kata ibadah berasal dari kata bahasa Arab, yakni kata ‘abada-ya’budu-
‘ibadah, yang berarti mengabdi, menghambakan diri, merendahkan diri, dan
tunduk. Jadi, ibadah adalah wujud pengabdian seseorang kepada Allah
menurut tata aturan tertentu. Yang pasti, tujuan penciptaan manusia
adalah agar mereka senantiasa mengabdi, menghambakan diri, tunduk
patuh hanya kepada sistem hukum Allah, bukan sebatas menyembah-
Nya.

Faktanya, manusia masih menjadi hamba dari hawa nafsunya.
Hanya lantaran ingin memenuhi keinginan dan kebutuhan hawa
nafsunya, manusia bersedia menjadi budak hawa nafsunya. Bahkan
manusia bersedia diperbudak oleh manusia-manusia lainnya yang lebih
kuat, lebih pintar, lebih kaya, atau yang lebih berkuasa demi memenuhi
keinginan dan kebutuhan nafsunya. Inilah perbudakan modern yang
terjadi hari ini. Manusia beriman adalah manusia sejati yang merdeka dari
segala bentuk perbudakan, mengabdi hanya kepada Sang Pencipta
dirinya. Untuk itu, janganlah menjadi orang-orang yang musyrik, dimana
Allah hanya disembah dan dipuja-puji, namun Anda taatnya kepada
aturan dan kekuasaan manusia.

Karena penyimpangan arti kata ibadah tersebut, dari pengabdian;
penghambaan diri kepada penyembahan, mengakibatkan penyimpangan
aqidah dan ibadah manusia kepada Allah. Kaum agamis akhirnya terjebak
pada kegiatan ibadah ritual semata dan sudah merasa cukup dengan
ibadah ritual tersebut, bahkan sudah merasa dirinya sebagai manusia
paling suci dan paling benar. Tidak terkecuali dalam terjemah Al-Quran
yang menggunakan kata menyembah, bukan mengabdi. Bukankah Allah
meminta manusia untuk menghambakan diri atau mengabdi (tunduk
patuh) kepada-Nya, bukan untuk menyembah-Nya?

Mengabdi kepada Allah tentu saja bukan sebatas mengerjakan tata
ritual (ibadah ritus) semata, tetapi esensi ibadah adalah kesanggupan
seorang mu’min untuk berkorban harta dan dirinya dalam mewujudkan
apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah pada kehidupan manusia.
Beribadah seperti yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul
Allah.

vi

Agar manusia dapat beribadah, tunduk patuh secara benar kepada-
Nya, Dia mengajarkan wahyu-Nya kepada manusia yang berisi sistem
hukum universal sebagai pedoman dalam hidup dan kehidupannya
melalui perantaraan seorang manusia utusan (Rasul)-Nya. Saat seseorang
sudah menyadari fitrah dirinya sebagai hamba, maka dia tidak akan
memiliki tuan-tuan selain Allah dan juga tidak akan menjadikan dirinya
sebagai “tuan” atas dirinya dan manusia lainnya.

Kesimpulannya, jati diri aku sebagai manusia adalah hamba, bukan
tuan. Aku adalah makhluk, aku adalah hamba Allah. Untuk itu, aku hanya
pantas diperhamba (diperbudak) oleh Dia, Tuan sejati ummat manusia.
Aku tidak boleh diperhamba atau diperbudak oleh siapa pun dan oleh
apa pun termasuk oleh nafsu diriku sendiri. Aku harus menjadi hamba-
Nya yang sejati, yakni manusia yang senantiasa mengabdi (tunduk patuh)
hanya kepada kehendak dan rencana Sang Pencipta agar aku mendapat
rida-Nya dan menjadi manusia berkat bagi semesta alam.

Buku yang ada di tangan Anda ini adalah buku yang disusun
sebagai bacaan khusus spiritual “Jalan Kebenaran Universal” bagi para
Pencari Kebenaran Sejati. Buku ini hanya diberikan khusus kepada
mereka yang telah menyadari hakikat dari dirinya sebagai manusia pilihan;
manusia yang telah menyadari hakikat dirinya dan kembali kepada fitrah
dirinya sebagai hamba Allah.

Buku ini disusun dalam beberapa bab dengan materi keilmuan
tersendiri dan saling terkait dengan bab-bab lainnya. Untuk
mempermudah dalam membaca dan mengkaji materi keilmuan di
dalamnya, maka dibuat penomoran pada setiap paragraf dan kalimat-
kalimat yang mengandung paham atau aksioma tertentu untuk
mengingatnya.

Bacaan khusus ini harus menjadi sarana dalam meningkatkan
keilmuan akan wahyu Allah sebagai wujud dari kebenaran-Nya dan
meningkatkan kualitas spiritual Anda menjadi manusia-manusia yang
telah mengenal dan “melihat (menyaksikan)” Dia, agar Dia dapat berdiam
di dalam diri Anda, sehingga apa yang menjadi kehendak dan rencana Dia
telah menyatu dalam diri Anda. Akhirnya, Anda mampu menjadi potret
dari-Nya dan memiliki karakter yang sama dengan karakter Dia. Anda
harus dapat menjadi saksi Allah bagi segenap ummat manusia.

vii

Hari ini, Anda ibarat kepompong. Namun, setelah mengikuti
pendidikan khusus spiritual ini, Anda akan keluar menjadi kupu-kupu
yang siap terbang menebar rahmat bagi semesta alam.

Segala Puji Bagi Allah, Tuan Semesta Alam.
Bumi Allah, Desember 2015

Tim Penyusun

viii

daftar isi

Kata Pengantar

BAB I din al-Islam

A. Din Bukan Agama _1
B. Islam Sebagai Sistem Kepatuhan _7
C. Semua Nabi Adalah Muslim _12
D. Dasar-Dasar Din Al-Islam _21
_21
1. Trilogi Din Sebagai Miqdarul Haqq _22
2. Ma’rifat Ushuluddin _28
3. Hubungan Din dengan Wilayah _31
E. Kemusyrikan
_51
BAB II al-quran sebagai kitab petunjuk _56
_57
A. Dimensi dan Fungsi Al-Quran _59
_59
1. Al-Quran Sebagai Hudan _67
2. Al-Quran Sebagai Bayyinat Min Al-Huda _69
3. Al-Quran Sebagai Al-Furqan _73
4. Al-Quran Sebagai Al-Dzikru _76
5. Al-Quran Sebagai Al-Kitab _79
6. Al-Quran Sebagai Ruh dan Nur
7. Al-Quran Sebagai Al-Haqq _81
8. Al-Quran Sebagai Mushaddiq _92
9. Al-Quran Sebagai Syifa dan Rahmat _94
10. Al-Quran Sebagai Akhlaq
ix
B. Ayat-Ayat Alam dan Al-Quran

C. Al-Fatihah Sebagai Induk Kitab

D. Al-Quran Sebagai Kitab Sejarah _99
E. Memahami Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah _107

BAB III millah abraham sebagai jalan kebenaran

tuan semesta alam _123
_135
A. Apa Itu Millah Abraham? _147
B. Figur Sentral Abraham _160
C. Millah Abraham Sebagai Jalan Kebenaran _164
D. Millah Abraham Bukan Sinkretisme _171
E. Nabi Muhammad Pengikut Millah Abraham _171
F. Dasar-Dasar Ajaran Millah Abraham _190
_202
1. Keimanan (Aqidah) _221
2. Pengabdian (Ibadah)
3. Hukum (Syariat)
4. Kekuasaan (Khilafah)

BAB IV sunnatullah sebagai tradisi tuan semesta alam

A. Sunnatullah Penciptaan _235
_241
1. Enam Tahapan Penciptaan (Sittati Ayyam) _257
2. Hukum Ajal Manusia _260
_260
B. Sunnatullah Penegakan Khilafah (Kerajaan Allah)
_269
1. Qiyamah: Kebangkitan Ummat Islam _279
2. Tradisi Rasul Allah dalam Penegakan _284
_286
Kerajaan Allah _292
3. Kejadian dan Kebangkitan Ummat Islam _295
_300
C. Sunnatullah Peradaban Dunia

1. Adam Bukan Manusia Pertama
2. Bahtera Nuh
3. Peradaban Bani Israel

a. Rasulullah Musa (Moses)

x

b. Rasulullah Isa Al-Masih (Yesus Kristus) _325
4. Peradaban Bani Ismail (Rasulullah Muhammad) _363
5. Nubuat Al-Quran Tentang
_377
Rasul Setelah Muhammad _388
D. Gambar Siklus Pergumulan Peradaban Dunia

xi



DIN AL-ISLAM | 1

BAB I

din al-islam

A. DIN BUKAN AGAMA
1Dalam beberapa forum diskusi ilmiah, persoalan

“Universalitas Islam” sering menjadi fokus bahasan dengan
berbagai macam perdebatan di dalamnya. Karenanya, mari kita
mengkaji satu hal dasar terkait Islam, yakni Islam sebagai Din
Allah. Apakah sesungguhnya Din Al-Islam itu? Apakah Din Al-
Islam itu hanya sebuah agama atau sesuatu yang jauh lebih luas
dari sebatas agama? Ada yang mengatakan Islam itu sudah
paripurna dan ada juga yang berpendapat berbeda. Kenapa hal ini
menjadi penting untuk dikaji? Karena, cara pandang yang keliru
terhadap Din Al-Islam akan berakibat pada sikap hidup seseorang
terhadap Islam, baik secara pribadi, sosial, maupun dalam hal
berbangsa dan bernegara (politik).

2Ada beberapa doktrin tentang Islam yang sering terdengar
di tengah masyarakat. Di antaranya, Islam adalah agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad dan menjadi agama terakhir.
Sebelum beliau, Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya dengan agama
yang berbeda-beda. Agama Islam adalah agama terakhir yang
paling sempurna dibandingkan dengan agama-agama sebelumnya,
dan seterusnya.

Jalan Kebenaran Universal

2 | DIN AL-ISLAM

3Sebelum kita mengkaji tentang Din Al-Islam, apakah
sebagai suatu agama atau tidak sama dengan agama, ada baiknya
kita kaji kembali doktrin spiritual di atas. Apakah doktrin tersebut
benar atau salah? Apakah paham tersebut memiliki dasar wahyu
(Al-Quran) atau hanya sebatas doktrin ashabiyah (fanatisme
golongan) yang turun temurun?

4Dalam berbagai kitab terjemah Al-Quran, kata din paling
sering diterjemahkan dengan agama. Padahal, agama adalah kata
yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti, a berarti tidak,
dan gama berarti kacau. Jadi, agama adalah sesuatu yang tidak
kacau. Paham ini muncul karena mereka yang beragama hidup
sesuai tata aturan, maka pasti akan hidup teratur dan tidak kacau.
Namun, dalam realita kehidupan, kekacauan justru dilakukan oleh
mereka yang mengaku beragama.

5Namun demikian, diakui bahwa belum ada satu definisi
yang disepakati oleh semua kalangan tentang pengertian agama.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menulis, agama adalah
ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan
peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah
yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia
serta lingkungannya. Dengan pengertian ini, maka semua yang
disebut agama, termasuk Islam, adalah sama dan sederajat. Untuk
itu, para pemeluknya harus saling menghormati dan toleran.
6Inilah pandangan mayoritas manusia saat ini terhadap Din Al-
Islam, mereka melihatnya sebagai sebuah agama yang hanya
mengurusi persoalan keimanan dan peribadatan. Kalaupun
berbicara soal hubungan antarsesama manusia, itu hanya sebatas
persoalan moral dan muamalah (hubungan sosial) di bidang
umum, seperti berbuat baik dan urusan halal haram. Bahkan
dalam sebuah negara sekuler, agama bukanlah termasuk urusan
negara.

7Dari beberapa pengertian agama yang dikemukakan oleh
para ahli –dengan sudut pandang masing-masing, mereka
memberi beberapa ciri dari agama, yaitu: 1) Memiliki tata ritual; 2)
Memiliki doa, pujian, nyanyian, tarian, sesaji, dan kurban; 3)

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 3

Meyakini adanya kekuatan gaib yang supernatural; dan 4) Ada
figur tertentu yang dipercaya dapat berhubungan dengan makhluk
atau kekuatan gaib. 8Dari ciri-ciri tersebut, kemudian para ahli
membagi agama menjadi agama bumi dan agama langit (samawi)
atau terkadang disebut juga dengan agama wahyu. Islam
dikategorikan sebagai agama samawi, sama halnya dengan agama
Yahudi dan Kristen. Itulah sebabnya, kelompok sekuler dan
pluralistik menyamakan posisi Din Al-Islam dengan agama-agama
lainnya. 9Padahal secara historis-teologis, Din Al-Islam adalah
sesuatu yang murni ciptaan Allah, sedangkan agama-agama, baik
yang disebut agama bumi maupun agama-agama samawi, adalah
hasil dari ciptaan dan campur tangan manusia. Untuk itu tidak
tepat jika Din Al-Islam dimaknai dengan agama Islam dan
disamakan dengan agama lainnya.

10Merujuk pada kitab Al-Quran, sangat jelas dan tegas
dikatakan bahwa Din Al-Islam adalah suatu sistem yang mengatur
berbagai aspek kehidupan manusia, bukan hanya sebatas masalah
keyakinan dan peribadatan (ibadah ritual) semata. Din Al-Islam
mengatur mulai dari masalah moralitas dan hukum, hingga
persoalan politik, sosial, dan ekonomi. 11Mempersempit makna
Din Al-Islam menjadi agama Islam, berarti mengubah esensi dan
fungsi dari din ciptaan Allah. Akibatnya, manusia akan berpikir
sekuler, memisahkan persoalan hubungan manusia dengan Allah
(agama) dengan persoalan hubungan manusia dengan manusia
lainnya (sosial politik).

12Orang-orang kafir-musyrik memandang agama dan negara
sebagai dua hal yang berbeda. Menurut mereka, agama tidak
bicara soal negara, sebaliknya agama harus tunduk pada kekuasaan
negara. Negaralah yang mengatur persoalan agama. Katanya lagi,
Allah hanya berkuasa pada kehidupan alam semesta (Raja alam
semesta) dan kehidupan setelah mati (akhirat), tetapi Dia tidak
berkuasa pada kehidupan sosial politik ummat manusia di dunia.
Akhirnya, yang dipatuhi dan ditaati oleh manusia sekuler adalah
manusia-manusia lainnya yang berposisi (dan memosisikan
dirinya) sebagai penguasa, pemimpin, raja, presiden, atau tuan
manusia. Inilah sesungguhnya model kehidupan musyrik.

Jalan Kebenaran Universal

4 | DIN AL-ISLAM

13Mereka yang berpaham sekuler dan pluralistik akan
melihat Din Al-Islam hanya sebatas agama, sehingga Din Al-Islam
berada dan tunduk di bawah ideologi suatu negara bangsa. Mereka
menganggap Din Al-Islam dan penganutnya harus tunduk dan
menyesuaikan diri dengan ideologi negara yang telah menjadi
kesepakatan bersama rakyat dan mengatasnamakan bangsa.
Mereka sangat anti dan fobia terhadap paham-paham Islam yang
antisekuler dan antipluralistik, padahal Din Al-Islam selalu
berprinsip tauhid dengan ajarannya yang universal. 14Din Al-Islam
adalah milik Allah, bukan milik sekelompok manusia atau milik
suatu negara bangsa, sudah seharusnya ia berada di atas segala
ideologi bangsa-bangsa dunia buatan manusia. Sudah menjadi
fitrahnya, ummat manusia hidup diatur oleh Din Al-Islam milik
Allah, bukan sebaliknya.

15Di pihak lain, ada beberapa kelompok manusia yang
mengaku sebagai muslim, tetapi seringkali melakukan tindakan
yang melanggar hukum penguasa dengan mengatasnamakan
“agama Islam”. Predikat Islam fundametalis, Islam ekstrem, atau
Islam radikal seringkali menjadi label bagi mereka. Akibatnya,
kelompok agamis dan sekuler semakin anti dan fobia kepada
(gerakan) Islam. Padahal, mereka yang dikatakan ekstremis atau
radikal hanya menjalankan paham dan keyakinan agamanya, suatu
sikap yang sepatutnya dimiliki oleh setiap orang yang yakin
dengan ideologinya. 16Namun demikian, tindakan mereka adalah
sesuatu yang melanggar hukum penguasa dan perbuatan yang
salah kaprah atau gagal paham terhadap Din Al-Islam. Mereka salah
dalam memahami ayat-ayat Al-Quran dan salah dalam
menerapkan kontekstualisasi ayat-ayat tersebut –pada kondisi
seperti apa ayat-ayat tersebut diturunkan dan dilaksanakan oleh
Rasulullah Muhammad. Mereka selalu berbicara soal “merebut
kekuasaan” bangsa-bangsa kafir, padahal masalah kekuasaan
adalah hak prerogatif Allah. Kepada siapa kekuasaan itu diberikan
dan kekuasaan siapa yang akan dicabut-Nya adalah hak Dia.
17Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3]
ayat 26 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 5

‫ِم َّمن‬ ‫ٱلۡ ُم ۡل َك‬ ‫َمن � َ َشآ ُء َوتَ�ِ ُع‬ ‫ُق ِل ٱل َّل ُه َّم َ�ٰلِ َك ٱلۡ ُم ۡل ِك تُ ۡؤ ِ� ٱلۡ ُم ۡل َك‬
‫َ ۡ� ٖء‬ �ِّ ُ �ٰ َ َ ‫�ِ َي ِد َك ٱ ۡ َ� ۡ ُ�ۖ إِنَّ َك‬ ۖ‫� َ َشآ ُء َوتُعِ ُّز َمن � َ َشآ ُء َوتُ ِذ ُّل َمن � َ َشآ ُء‬

‫ر‬ٞ ‫قَ ِدي‬

Katakanlah: “Wahai Tuan Yang mempunyai kerajaan, Engkau
berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu.”

18Dengan demikian, dua hal mendasar yang harus segera
diluruskan dari paham atau doktrin spiritual kaum agamis
(Arabisme) saat ini adalah:

19Pertama, meluruskan makna Din Al-Islam sebagai sistem
Allah yang mengatur hidup dan kehidupan setiap makhluk di alam
semesta, khususnya ummat manusia, baik dalam hubungannya
dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, maupun dengan
alam sekitarnya. 20Din Al-Islam adalah sistem yang bersifat
universal, berbeda dengan agama yang hanya mengatur tata
peribadatan dan keyakinan manusia. Din Al-Islam merupakan
sistem yang fitrah bagi setiap makhluk-Nya, khususnya ummat
manusia. Untuk itu, Din Al-Islam mengatur seluruh aspek
kehidupan manusia di muka bumi ini, meski tidak seluruhnya
diatur secara detil dalam Kitab Al-Quran. 21Perhatikan Al-Quran
surat 'Ali-Imrān [3] ayat 83-85:

‫ ََّرَوقُّ�َ�ِٰۡ ُ�ِهَلقٓۥۡم َءأاَ ََوَۡمسَ��َّن َلۡاع َُمقُ�بِٱَوف َمَّرَِّبُ�ِنق َوَِو ََٱ�م�ۡۡآ َ�َأٱُ� ۡلنس َبَِّزأَساَلََحِ�ٰطَٖ�دَٰعلَ َِوۡيتِّمََنم ۡناآ َُوهٱ َۡوۡمأُ َمَ�وا�ٓ َِوأَُِ�نَ ۡ�ضِز َُُمنل َوط َََۡو ُ�َٗ ٰٰٓ���ۥ‬٨‫نۡس‬٣َ‫أإَََِووبَۡ�َ�َِع�َٰغۡير ۡهِٗهََ�يا َمٰ�ِد�ي َ َِۡ�ون�ٱهِۡسٱ�َّيَُبِ َّ�ٰۡرُّي�ِعِ َوجي ََُعَ�نل ۡبو ُغَنِمو�ن‬

Jalan Kebenaran Universal

6 | DIN AL-ISLAM

�ِ ‫ َو َمن يَ ۡب َت ِغ َ� ۡ َ� ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ ِم ِدي ٗنا َف َلن ُ� ۡق َب َل ِم ۡن ُه َو ُه َو‬٨٤ ‫ُم ۡسلِ ُمو َن‬
٨٥ ‫ٱ� ِخ َرةِ ِم َن ٱ ۡل َ�ٰ ِ ِ�� َن‬

Maka apakah mereka mencari din yang lain dari Din Allah,
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di
langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan
hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. Katakanlah:
“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan
kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail,
Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada
Musa, Isa, dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya
kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” Barang siapa
mencari din selain Din Al-Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (din itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk
orang-orang yang rugi.

22Perhatikan pula surat Ar-Rūm [30] ayat 30: ‫َفأَقِ ۡم َو ۡج َه َك‬
�‫َوٱ َ�َّٰ�ِ ِ�ٱ َّلَّن ِأَ� َۡ�� ََط َ�َرٱ ٱ�َّا�َّاِ َسس َ� َعَ� َلۡع ۡيلَ َه ُماۚو َ َن‬ ‫لِ ّ ِ�ي ِن َحنِي ٗفاۚ فِ ۡط َر َت‬ ‫َ� ۡب ِدي َل ِ َ� ۡل ِق‬
‫ٱ َّ�ِۚ َ�ٰلِ َك ٱ ِّ�ي ُن ٱ ۡل َق ّيِ ُم‬

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Din Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) din yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.

23Orang-orang yang cerdas (ulul albab) akan dengan mudah
menangkap dan memahami isyarat atau simbol-simbol wahyu
dalam Al-Quran, dan dapat melihat betapa lengkapnya ajaran dan
aturan yang telah Allah wahyukan dan syariatkan kepada para
Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Tegasnya, Din Al-Islam
adalah din fitrah yang mengatur seluruh aspek kehidupan
manusia, baik secara pribadi, keluarga, maupun sosial; mulai dari
hukum aqidah, syariat, sosial, ekonomi, hingga persoalan politik
(kekuasaan). 24Jika hari ini, banyak ahli yang mengatakan bahwa
Din Al-Islam tidak mengatur masalah kekuasaan politik (khilafah),

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 7

itu karena mereka telah diracuni oleh pikiran atau paham sekuler
pluralistik, sehingga tidak mampu memahami firman (nur) Al-
Quran secara benar dan melihat sejarah peradaban Khilafah Allah
(sejak era Rasulullah Muhammad di Madinah tahun 634 M hingga
Khilafah Abbasiyah di Bagdad tahun 1258 M), yang menjadi
penguasa dunia sekitar 700 tahun lamanya.

25Kedua, meluruskan tafsiran dan paham para kelompok
Islam radikal dan fundamentalis akan ayat-ayat Allah untuk
dikontekstualisasikan dalam kondisi kekinian, sehingga tidak
mencederai kesucian Din Al-Islam dan sekaligus tetap dapat
melaksanakan perintah Allah dengan benar dan sempurna.
26Bagaimanapun, semua ayat-ayat hukum atau ayat-ayat yang
bersifat “perintah” diturunkan (diwahyukan) Allah kepada
Rasulullah Muhammad dalam situasi dan kondisi sosial politik
tertentu. Sebagai contoh, Allah tidak akan memberikan izin
kepada orang-orang beriman untuk memerangi penguasa kafir-
musyrik jika mereka tidak diperangi dan sudah terdesak oleh
situasi yang ada pada saat itu, sehingga perang adalah jalan terbaik
untuk mempertahankan keyakinan dan membela diri mereka,
sekaligus menjadi alat Allah untuk membinasakan kebatilan dan
kezaliman.

27Dari seluruh pengertian yang telah dikemukakan di atas,
semakin jelas bahwa din tidaklah sama dengan agama dan tidak
tepat bila diterjemahkan dengan agama. Jadi, Din Al-Islam
bukanlah agama Islam. 28Din adalah sebuah sistem yang mengatur
hidup dan kehidupan seluruh makhluk yang ada di alam semesta,
khususnya bagi ummat manusia untuk memperoleh kebahagiaan,
kedamaian, dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

B. ISLAM SEBAGAI SISTEM KEPATUHAN
1Secara bahasa, kata muslim adalah bahasa Arab yang berasal

dari kata dasar aslama – yuslimu – islāman wa muslimun, yang berarti
kepatuhan, ketundukan, kepasrahan. Kata muslim adalah bentuk isim
fa’il (keterangan pelaku) yang berarti siapa pun yang tunduk patuh
dan berserah diri. 2Tentu saja yang dimaksud dengan muslim dalam

Jalan Kebenaran Universal

8 | DIN AL-ISLAM

kaitannya dengan Allah, Sang Pencipta alam semesta, adalah
setiap makhluk yang tunduk patuh (taat) pada sistem hukum yang
telah ditetapkan oleh Allah pada alam semesta dan pada alam
sosial manusia. Sehingga, predikat muslim berlaku kepada setiap
makhluk ciptaan Allah, tidak terbatas hanya kepada manusia.
3Makna Din Al-Islam (umumnya diartikan dengan agama Islam)
adalah sebuah sistem kepatuhan makhluk kepada Sang
Penciptanya, baik kepatuhan kepada sistem hukum Dia yang
berlaku pada alam semesta maupun sistem hukum Dia yang
berlaku pada alam sosial manusia.

4Sistem hukum Allah yang ada pada alam semesta sifatnya
tidak tertulis dan berlaku secara alamiah pada kehidupan alam ini,
sedangkan sistem Hukum Allah yang berlaku pada alam sosial
manusia sifatnya tertulis dan tersusun dalam Al-Kitab sebagai
kumpulan wahyu instruksional Allah yang disampaikan melalui
Rasul-Nya, seperti Kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran.

5Jika demikian, setiap makhluk yang tunduk patuh kepada
sistem hukum Allah disebut muslim. Matahari, bulan, bintang,
bumi, dan semua makhluk yang ada di bumi adalah muslim, yakni
hamba Allah yang tunduk patuh.

6Salah satu kesalahan dasar ummat manusia dalam
memandang Din Al-Islam adalah karena mereka menyikapi Islam
hanya sebatas agama dan identitas budaya. Sehingga, Islam
dimaknai sebagai sebuah tradisi budaya dengan tata ritual
tersendiri yang merujuk pada tradisi Islam Arab yang selalu
menahbiskan diri sebagai generasi pelanjut dari Rasulullah
Muhammad.

7Mereka tidak melihat Din Al-Islam sebagai satu sistem
kepatuhan hidup dan kehidupan yang berlaku pada alam makro
dan alam mikro. Sehingga, dalam kehidupannya, banyak dari
kaum agamis yang selalu melepaskan diri dari kehidupan alam,
menjauh dari ilmu alam, merusak alam, dan selalu menyalahkan
alam dalam setiap bencana yang menimpa ummat manusia.
Mereka tidak sadar bahwa kehidupan manusia sangat tergantung
pada kehidupan alam. 8Siapa pun yang melanggar hukum yang ada

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 9

pada alam, dia harus siap menerima akibat dari perbuatannya,
karena alam tidak pernah melihat identitas sosial, budaya, atau
kelompok seseorang. Alam dengan sistem hukum yang telah
mengatur dirinya akan berproses secara alami untuk tetap berada
pada titik kesetimbangannya, dan demikianlah agar alam tetap
dapat mengabdi kepada Allah dengan cara melayani kehidupan
ummat manusia tanpa henti. 9Untuk itu, tidak ada satu pun
makhluk di alam semesta yang tidak tunduk patuh (aslama) kepada
Din Allah. Seandainya makhluk yang ada di alam ini menjadi
makhluk yang kafir (menolak perintah Allah; ingkar kepada
hukum Allah), niscaya kehidupan di alam semesta ini akan kacau,
bahkan binasa.

10Merujuk pada Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 83-85,
sudah sangat jelas bahwa, pertama, makhluk selain manusia yang
ada di alam semesta adalah makhluk yang senantiasa tunduk patuh
(aslama) kepada sistem hukum (Din) Allah, dan hanya manusialah
yang masih mencari dan tunduk patuh kepada sistem hukum (din)
yang bukan dari Allah, yakni sistem hukum buatan reka syahwat
manusia yang sok pintar dan sok berkuasa. 11Dengan demikian,
satu-satunya makhluk yang memiliki potensi menjadi makhluk
yang kafir adalah manusia. Sehingga, cerita dalam Alkitab dan Al-
Quran tentang Iblis dan setan yang kufur kepada perintah Allah
adalah cerita tentang manusia-manusia yang membangkang dan
menolak perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan cerita makhluk
halus seperti gambaran kaum agamis.

12Kedua, predikat muslim tidak hanya dialamatkan kepada
mereka yang mengikuti risalah Allah yang dibawa oleh Rasulullah
Muhammad, tetapi juga kepada para pengikut seluruh Nabi dan
Rasul Allah sebelumnya. Kenapa demikian? Karena seluruh Nabi
dan Rasul Allah adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).
Mereka diajarkan dan diwahyukan din yang sama oleh Allah, yakni
satu-satunya din ciptaan Allah yang fitrah bagi segenap manusia di
sepanjang zaman, yakni Din Al-Islam. 13Peradaban ummat
manusia dalam sejarah perjalanannya hanya memiliki dua jenis
peradaban, yakni peradaban langit (peradaban Islam) yang
dibangun atas dasar isme-isme Allah dan peradaban bumi

Jalan Kebenaran Universal

10 | DIN AL-ISLAM

(peradaban kafir-musyrik) yang dibangun atas dasar isme-isme
buatan manusia yang umumnya bermuara pada kapitalisme dan
sosialisme.

14Sekarang kita sudah bisa memahami makna Din Al-Islam
dan Muslim yang sejati, bukan dalam ruang dan makna yang
sempit seperti dipahami mayoritas manusia saat ini. Jika ada
pertanyaan: “Apakah Anda seorang muslim?” pertanyaan ini bisa
kita urai menjadi: “Apakah Anda seorang yang tunduk patuh
kepada sistem hukum Allah?” Sehingga, Anda akan lebih mudah
untuk menjawabnya, karena kita sudah sepakat bahwa makna
muslim bukanlah sebatas identitas sosial.

15Menjadi seorang muslim bukanlah suatu pernyataan lisan:
“Benar, saya seorang muslim”, atau berupa keterangan tertulis
dalam kartu identitas, melainkan merupakan sikap hidup yang
harus nyata dalam kehidupan keseharian kita. Seorang muslim
adalah orang yang patuh dalam menjalankan sistem hukum Allah
dalam segenap lini kehidupannya secara menyeluruh (kāffah); tidak
parsial dan tidak memilah-milih hukum-Nya.

16Di sinilah letak akar permasalahannya, untuk dapat
menjalankan hukum Allah secara totalitas, dibutuhkan minimal
empat syarat utama; pertama, aturan hukum Allah yang sudah
tertulis di dalam Al-Kitab, Al-Quran; kedua, penguasa yang akan
menegakkan hukum Allah secara totalitas yang hanya bisa
terwujud jika yang berkuasa adalah kekuasaan (Khilafah) Allah,
bukan negara bangsa; ketiga, warga yang siap tunduk patuh
(muslim) kepada hukum Allah yang dikawal oleh para penegak
hukum Allah; dan keempat, wilayah (teritorial) tempat hukum
Allah akan dilaksanakan. 17Inilah empat syarat dasar untuk dapat
menjadikan hukum Allah sebagai hukum positif.

18Secara faktual, baik di dunia pada umumnya maupun di
Nusantara pada khususnya, hukum yang berlaku adalah hukum
negara-negara bangsa buatan manusia, bukan hukum Allah,
karena hari ini belum ada Khilafah Allah di muka bumi.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 11

19Negara Republik Indonesia, misalnya, meski diakui
sebagai negara dengan penduduk yang beragama Islam terbesar di
dunia, akan tetapi ideologi yang menjadi asas negara adalah
Pancasila dan hukum positifnya adalah hukum-hukum warisan
penjajah Belanda yang sudah pasti merujuk kepada hukum
Romawi (musuh para Nabi dan Rasul Allah). Dengan demikian,
Negara Republik Indonesia tidak bisa menjadi negara agama
(negara Islam), dan oleh karenanya tidak boleh menegakkan atau
mewajibkan syariat Allah secara totalitas di negara Pancasila ini.
20Dengan demikian, “selama negara bangsa masih eksis, maka selama
itu pula sistem hukum Allah tidak dapat dijalankan secara utuh dan
sempurna, dan oleh karenanya tidak akan pernah ada komunitas yang
dapat disebut sebagai ummat Islam (kaum muslimin)”.

21Sampai saat ini belum ada orang yang dapat disebut
sebagai seorang muslim yang sejati. Syarat-syarat yang dibutuhkan
untuk menjadikan seseorang sebagai muslim sejati belumlah
sempurna. Islam yang terlihat saat ini adalah Islam budaya yang
sudah menyimpang dari keasliannya. 22Namun, setidaknya kita
sudah memiliki niat dan tekad kuat untuk menjadi muslim sejati
dengan terus mempelajari dan memahami firman Allah, serta
menjaga keimanan dan moralitas kita dari isme-isme atau ideologi
bangsa-bangsa yang dapat menajiskan kesadaran kita.

23Kondisi hari ini belum memungkinkan kita untuk
menjalankan hukum Allah secara sempurna, karena Dia sendiri
yang belum mengizinkan dan meridai hukum-Nya tegak di negeri
ini dan di dunia hari ini. Kita berharap, di hari esok, Allah
memberi izin dan rida-Nya kepada negeri ini menjadi “Negeri
tempat hukum Allah ditegakkan secara sempurna”, sehingga kita
pun dapat menjadi muslim sejati tanpa perlu melakukan teror
ataupun makar.

24Apakah kita berdosa jika tidak menjalankan syariat Allah
secara totalitas dalam kondisi dunia yang gelap seperti saat ini?
Tentu saja tidak berdosa, karena Allah tidak akan pernah
memaksakan hukum-Nya ditegakkan pada bangsa yang bukan
wilayah Khilafah Allah. Allah tidak akan pernah memaksa kita

Jalan Kebenaran Universal

12 | DIN AL-ISLAM

untuk dapat melihat matahari dalam kondisi malam. 25Dalam
kondisi malam atau zaman jahiliyah seperti saat ini, ada dua hal
yang dapat kita lakukan:

26Pertama, terus melakukan pembinaan dan penguatan
aqidah, khususnya keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan
cara menjauhkan diri dari segala bentuk ilah (tuan) yang dapat
memperbudak keinginan dan pikiran kita dalam kehidupan ini. Lā
ilāha illā Allāh; jangan ada kepatuhan, ketaatan, pengabdian, dan
kecintaan dalam diri kita selain hanya kepada Allah, Pusat
pengabdian seluruh makhluk di alam semesta.

27Kedua, sembari terus melakukan pembinaan aqidah, kita
harus tetap bersabar dan bertawakkal kepada Allah dalam menanti
terbitnya fajar. Harus diyakini bahwa kondisi malam tidak akan
selamanya malam, dia akan berganti menjadi kondisi siang yang
diawali dengan datangnya Sang Fajar. 28Kondisi peradaban dunia
yang sedang dikuasai oleh penguasa bangsa-bangsa (kuasa
kegelapan) saat ini akan berganti dengan kondisi peradaban dunia
yang akan dikuasai oleh Kekuasaan Allah (Kerajaan
Allah/Khilafah Islam). Hal ini adalah sebuah keniscayaan dan
pasti akan terjadi, seperti kepastian silih bergantinya malam dan
siang dalam kehidupan alam semesta. Hanya saja, kapan waktu
terbitnya Sang Fajar atau tegaknya Khilafah Allah, tidak seorang
pun yang diberitahu oleh-Nya. Kita hanya bisa mengimaninya dan
melihat tanda-tandanya saja. Bersabarlah!

C. SEMUA NABI ADALAH MUSLIM
1Islam adalah sebutan dari Din Allah yang memuat

seperangkat sistem dan aturan hukum yang dijadikan sebagai
landasan pengabdian setiap makhluk kepada-Nya. Sehingga, Din
Al-Islam berarti sebuah sistem yang mengatur kepatuhan setiap
makhluk kepada Allah, Rabb Semesta Alam.

2Jika dikhususkan kepada manusia, Din Al-Islam adalah
sistem kepatuhan dan ketaatan manusia (muslim) kepada hukum
Allah yang diwahyukan kepada setiap Nabi dan Rasul yang diutus-

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 13

Nya pada setiap bangsa dan zaman yang berbeda-beda sepanjang
sejarah peradaban manusia. Sejak dahulu, kini, dan masa datang,
Din Al-Islam tidak pernah berubah dan berganti. 3Inilah makna
muslim secara substansial, bukan makna formal dan identitas sosial
yang hanya dialamatkan kepada mereka yang beragama Islam
generasi pengikut Nabi Muhammad, karena istilah Islam dan
Muslim sudah ada jauh sebelum kenabian Muhammad.

4Semua Nabi dan Rasul Allah adalah seorang muslim yang
menjadikan Din Al-Islam sebagai sistem yang mengatur hidup
dan kehidupan ummat manusia. Tidak ada Nabi dan Rasul Allah
yang tidak ber-Din Al-Islam atau non-muslim, semuanya adalah
muslim. Al-Quran, misalnya, menyebut Nabi Ibrahim dan anak
cucunya dengan sebutan muslimūn (jamak dari kata muslim) yang
berarti orang-orang yang tunduk patuh; berserah diri. 5Silakan
perhatikan penegasan Allah dalam beberapa ayat di bawah ini:

• 6Nabi Ibrahim dan anak cucunya adalah orang-orang muslim
seperti ditegaskan dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 128 dan ayat
131-133:
‫َوأَرِنَا‬ ‫َُمعلَۡسۡي َنلِآَۖمإِۡنَّ ِ� َكلَأَنَك َت َوٱ ِم َّ� َّنوا ُ ُذب ّرِٱ َّل� َّتِر َناِحٓي ُأُم َّم ٗة‬
‫َّل َك‬ ‫ُّم ۡسلِ َم ٗة‬ ‫َر َّ� َنا َوٱ ۡج َع ۡل َنا‬
‫َم َنا ِس َك َنا َوتُ ۡب‬

Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk
patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami
ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah
kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan
terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
ٓ‫ َو َو َّ ٰ� بِ َها‬١٣١ �َ ‫إِ ۡذ قَا َل َ ُ�ۥ َر ُّ� ُه ٓۥ أَ ۡسلِ ۡمۖ قَا َل أَ ۡس َل ۡم ُت لِ َر ِّب ٱ ۡل َ�ٰ َل ِم‬
�َ َ‫ٱ َّ َ� ٱ ۡص َط َ ٰ� َل ُ� ُم ٱ ِّ�ي َن ف‬
‫َ� ُمو ُ� َّن‬ ‫ُش َه َدآ َء إِ ۡذ َح َ َ� َ� ۡع ُقو َب ٱلۡ َم ۡو ُت‬ ‫أََ�ٰۡمَب ِ َُّك�ن ُتإِ َّۡمن‬ ١‫ب‬٣ُ ٢‫إإِِ َّبۡ َ��ٰ َِوأَ�ۧن ُمُتمبَنِ ُّميهِۡسلَِو َُم� ۡوع ُقَنو‬
‫إِ ۡذ َقا َل‬

Jalan Kebenaran Universal

14 | DIN AL-ISLAM

‫ِ�َنِيهِ َما َ� ۡع ُب ُدو َن ِم ۢن َ� ۡع ِدي� قَالُواْ َ� ۡع ُب ُد إِ َ�ٰ َه َك � َ�ٰ َه َءابَآ�ِ َك إِبۡ َ�ٰ ِ�ۧ َم‬
١٣٣ ‫� ۡس َ�ٰعِي َل � ۡس َ�ٰ َق إِ َ�ٰ ٗها َ�ٰ ِح ٗدا َو َ ۡ� ُن َ ُ�ۥ ُم ۡسلِ ُمو َن‬

Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!”
Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta
alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai
anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih din ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim
(tunduk patuh).” Adakah kamu hadir ketika Yakub
kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-
anaknya: “Apa yang kamu abdi sepeninggalku?” Mereka
menjawab: “Kami akan mengabdi Tuanmu dan Tuan nenek
moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuan Yang Maha
Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

• 7Predikat muslim kepada kaum Nabi Luth dalam surat Adz-
Dzāriyāt [51] ayat 35-36:

‫ َ� َما َو َج ۡدنَا �ِي َها َ� ۡ َ� َ� ۡي ٖت‬٣٥ �َ ِ‫َفأَ ۡخ َر ۡج َنا َمن َ� َن �ِي َها ِم َن ٱلۡ ُم ۡؤ ِمن‬
�َ ‫ِّم َن ٱلۡ ُم ۡسلِ ِم‬

Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada
di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu,
kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.

• 8Pengakuan Nabi Yusuf putra Nabi Yakub dalam doanya
untuk menjadi seorang muslim selama hidupnya, seperti
tertulis dalam surat Yūsuf [12] ayat 101:

�‫ٱ َرل َِّّسب َ�ٰ َقَ�ٰ ۡد ِت َء َاوٱتَ ۡۡي َ�َت� ِ ِ�ض ِمأَنَن َتٱلۡ َُوم ِۡل ِّ� ِۦك ِ�َوٱَع َّلُّ� ۡمۡ� َتَياِ�َوٱ ِم� ِنخ َرتةَِ�أۡتَوِ َو� َّف ِ ِل�ٱ ُۡم َ� ۡ َسحلاِ ِٗدميا َِو�ثَ� ۡفَ�ِاۡق ِطِ َر‬
�َ ‫بِٱل َّ�ٰلِ ِح‬

Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan
kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 15

sebagian tabir mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah
aku dalam keadaan muslim (tunduk patuh) dan gabungkanlah
aku dengan orang-orang yang saleh.

• 9Penegasan Nabi Musa kepada kaumnya untuk menjadi
muslim yang sejati, seperti tertuang dalam surat Yūnus [10]
ayat 84:

‫َوقَا َل ُمو َ ٰ� َ�ٰ َق ۡو ِم إِن ُكن ُت ۡم َءا َمن ُتم بِٱ َّ�ِ َ� َعلَ ۡيهِ تَ َو َّ�ُ ٓواْ إِن ُكن ُتم‬
�َ ‫ُّم ۡسلِ ِم‬

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah,
maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar
orang yang berserah diri.”

• 10Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam surat An-Naml
[27] ayat 42:

‫فَ َل َّما َجآ َء ۡت �ِي َل أَ َ�ٰ َك َذا َع ۡر ُش ِ�ك قَالَ ۡت َك َ�نَّ ُهۥ ُه َوۚ َوأُوتِي َنا ٱ ۡلعِ ۡل َم ِمن‬
�َ ‫َ� ۡبلِ َها َو ُ� َّنا ُم ۡسلِ ِم‬

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa
inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana
ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan
kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

• 11Penamaan muslim juga diberikan Allah kepada Nabi Isa dan
para pengikutnya, seperti tertera dalam surat 'Ali-Imrān [3]
ayat 52 dan surat Al-Māidah [5] ayat 111:
�‫بِأََ�ننَّا َص ُامرِۡس ٓلِي ُم إِو َ َن‬ ‫فَلَ َّمآ أَ َح َّس ِعي َ ٰ� ِم ۡن ُه ُم‬
‫قَا َل‬ ِۖ�َّ ‫ٱ‬ ‫ٱ ۡل ُ� ۡف َر َقا َل َم ۡن‬ ِ�َّ ‫ٱ ۡ َ� َوارِ ُّ�و َن َ ۡ� ُن أَن َصا ُر ٱ‬
‫َءا َم َّنا بِٱ َّ�ِ َوٱ ۡش َه ۡد‬

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrael)
berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-
penolongku untuk (menegakkan din) Allah?” Para hawariyyin
(sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-

Jalan Kebenaran Universal

16 | DIN AL-ISLAM

penolong (din) Allah, kami beriman kepada Allah; dan
saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah diri.”
‫أَ ۡن‬ ‫ٱ ۡ َ� َوارِ ّ ِ�ۧ َن‬ ‫أَ ۡو َح ۡي ُت‬
‫َوٱ ۡش َه ۡد‬ ‫َءا َم َّنا‬ ْ‫قَالُ ٓوا‬ �ِ ‫َو�ِ َر ُسو‬ �ِ ْ‫َءا ِم ُنوا‬ َ ‫� ۡذ‬
�ِ‫إ‬
‫بِ َ� َّ� َنا ُم ۡسلِ ُمو َن‬

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang
setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”.
Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai
Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
tunduk patuh (kepada seruanmu).”

• 12Penamaan muslim sudah ada sejak zaman dahulu dan juga
pada generasi Nabi Muhammad sama seperti ditegaskan dalam
surat Al-Hajj [22] ayat 78:

ۖ‫ٱٱََوو ّ�َِِّ� َا�ي�ٰ ِِِهن �سَُد�ٰ ِموََفاذْۡاأنَ�ِِي�َِح�َُمَرٱوُكاَّْٖ�جو�ِٱلَِّنم ََّّل َحصَٱة َّلَلقأََّٰور�َِةُسي ِجوَوَُه َءلاُا�تُدِۡمهِۚو َاْإشۦِبۡ ِهٱَل�يُٰه ًَّزَهِودايَكٱَٰۚموةََۡجع ُهَتلَ ََبَووۡيٱٮٰ َۡ�س َُت�َُّم� ۡٮمِٰۡمص ُم ََُوو�وتَاَْمُمابِٱ ُٱلۡ� َُجموَّنَُعۡ�ِسَواْللِ ُهِم َوَُعش َلََ�ه َۡيم َ ۡدوِمآَل َُءٮن�ٰ ۡمَ� َُۡب� َُِ ۡل��م‬
�ُ ‫َفنِ ۡع َم ٱلۡ َم ۡو َ ٰ� َونِ ۡع َم ٱ�َّ ِص‬

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali
tidak menjadikan untuk kamu dalam din suatu kesempitan.
(Ikutilah) millah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah
menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan
(begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi
saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu,
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

13Dari penjelasan dan penegasan beberapa firman Allah di
atas, maka gugurlah doktrin yang mengatakan bahwa Islam adalah

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 17

din terakhir dan paling sempurna yang dibawa oleh Nabi
Muhammad yang berbeda dengan din para Nabi dan Rasul Allah
sebelumnya. Gugur pula doktrin yang mengatakan bahwa ummat
muslim adalah ummat yang beriman kepada Rasulullah
Muhammad saja, selain itu adalah non-muslim.

14Demikian pula gugurlah doktrin yang mengatakan bahwa
setiap Rasul Allah membawa ajaran yang baru dan berbeda
dengan apa yang dibawa oleh para Rasul Allah sebelumnya.
Termasuk dengan syariat (hukum) yang dikerjakan oleh mereka
adalah syariat yang berbeda antara satu rasul dengan yang lainnya.

15Secara prinsip, hukum Allah adalah satu sistem aturan
hukum yang di dalamnya terhimpun seluruh aspek yang mengatur
kehidupan manusia, baik hubungannya dengan Allah, Sang
Pencipta manusia, maupun hubungan antara sesama manusia dan
hubungannya dengan alam sekitarnya.

16Keberadaan hukum Allah dalam Kitab Suci (Taurat, Injil,
dan Al-Quran) yang disyariatkan-Nya harus dipahami sebagai satu
mata rantai misi risalah Allah yang berkesinambungan dan tak
perlu dipertentangkan. 17Renungkan firman Allah dalam surat
Asy-Syūra [42] ayat 13 berikut ini:
ْ‫َوَو ِعَّي ٰ َ� ٰٓبِ�ۖهِأَۦ ۡننُأَو�ِٗحيا ُموَاوْٱ َّٱ ِ� ِّ� ٓيي َنأَ ۡوَو ََح�ۡي َناَ�ٓ َتإَِف َ َّۡ�ر ُق َوكا‬
‫َو َما‬ ‫َ َ� َع لَ ُ�م ِّم َن ٱ ِّ�ي ِن َما‬
ِ‫�ِي �ه‬ �ٰ َ ‫َو َّص ۡي َنا بِهِ ٓۦ إِبۡ َ�ٰهِي َم َو ُمو‬
‫َك ُ َ� َ َ� ٱلۡ ُم ۡ ِ��ِ َ� َما تَ ۡد ُعو ُه ۡم إِ َ ۡ� �هِ ٱ َّ ُ� َ ۡ� َت ِ ٓ� إِ َ ۡ�هِ َمن � َ َشآ ُء َو َ� ۡه ِد ٓي‬
‫إِ َ ۡ�هِ َمن يُنِي ُب‬

Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang din apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah din dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi
orang-orang musyrik din yang kamu seru mereka kepadanya.
Allah menarik kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan

Jalan Kebenaran Universal

18 | DIN AL-ISLAM

memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya).

18Dari penjelasan di atas, jelas sekali bahwa istilah muslim
bukanlah istilah eksklusif bagi generasi Rasulullah Muhammad
semata, tetapi juga kepada seluruh Nabi dan Rasul Allah
sebelumnya. 19Untuk itulah, setiap orang beriman tidak boleh
membeda-bedakan keimanannya kepada para Rasul dan Kitab-
kitab-Nya seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-
Baqarah [2] ayat 136 berikut ini:

�‫ٱقُ�و�َّلُۡبِسٓوُّياْ َو�ٰ ََءنَاق َمِم َّن َاون َ� َّۡبرعِ ّٱ�ُِق ِه َّو ۡم�َِبَ َ�و ََموُ�ٱآَۡف َّ�ِرأُ ۡنُسقزَِباَ َ�ل ِۡطَإِ� َأَۡ� َوَن ََامحآ ٖد َوأَُِّمموۡانٓ ُِه َ�أُۡمنزَُِومَلَو ۡ� َإُِنَٰ� ٰٓ�َ ُ� َۥإِوبۡ ِعَُم�ٰي َِۡس�ۧلِ َٰمُ�مو ََون� َمۡسآ َ�ٰأُ ِعوي َِ َل‬

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada
Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak
cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, dan Isa serta apa
yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Rabbnya. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami
hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

20Begitu pula penegasan Allah dalam Al-Quran surat 'Ali-
Imrān [3] ayat 84-85 sebagai berikut:

�‫�ٰٰ� َهِويَمَو َٱمن ّ�َيبَِ�ُّبۡي َتۡوس ِغََن�ٰ ِعَ�ِمي ۡ َ َلن‬٨َ ۡ‫َب‬٤ِ‫ُقَّر�ّۡ�ِل ِۡهس ۡم ََءا�َٰ َمَ�قَّناُ� ََوفبَ�ِّرِٱۡع ُ ُقَّق�ِو َ� َۡبََو� َم َاأَوٓٱ َۡحأُ�َن ٖدۡسِز َبَ ِّمال ۡن ُِهط َعۡم َلَو ۡيَوَمَنآَا ۡ�أُ ُ َنوو َمِ َآَ�ُ�ۥأُُمن ُموِز ََۡسل ٰلِ� ُم َ َوَو ٰٓ�َِعنيإ‬
٨٥ ‫ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ ِم ِدي ٗنا َفلَن ُ� ۡق َب َل ِم ۡن ُه َو ُه َو ِ� ٱ� ِخ َرةِ ِم َن ٱ ۡل َ�ٰ ِ ِ�� َن‬

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa
yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada
Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang
diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Rabb mereka.
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 19

dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” Barang
siapa mencari din selain Din Islam, maka sekali-kali tidaklah
akan diterima (din itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk
orang-orang yang rugi.

21Bahkan istilah muslim –seperti telah dibahas sebelumnya,
tidak hanya disandarkan kepada manusia semata, tetapi juga
kepada setiap makhluk yang ada di semesta alam ini yang
senantiasa tunduk patuh (aslama) kepada sistem hukum-Nya, baik
secara suka rela maupun terpaksa. 22Perhatikan kembali Al-Quran
surat 'Ali-Imrān [3] ayat 83:

�ٗ ‫أَ َ� َغ ۡ َ� ِدي ِن ٱ َّ�ِ َ� ۡب ُغو َن َو َ ُ� ٓۥ أَ ۡس َل َم َمن ِ� ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت َوٱ ۡ َ�� ِض َط ۡو‬
‫َو َ� ۡر ٗها � َ ۡ�هِ يُ ۡر َج ُعو َن‬

Maka apakah mereka mencari din yang lain dari sistem hukum
Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (aslama) segala apa
yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa
dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

23Ayat di atas, mengandung penegasan Allah bahwa di
antara ummat manusia masih banyak yang lebih condong atau
mencari sistem hidup jahiliyah (yang batil) di luar sistem hidup
yang sudah diberikan oleh Allah, yakni sistem Islam; sistem
kepatuhan kepada-Nya. Ayat tersebut juga ingin mengajak
manusia untuk berpikir dan melihat alam sekitar, dimana semua
makhluk ciptaan-Nya –baik yang di langit maupun yang di bumi,
telah aslama (tunduk patuh; berserah diri; muslim) kepada sistem
ciptaan-Nya yang benar.

24Sudah semakin jelas, bahwa istilah islam atau muslim adalah
sesuatu yang berlaku universal; berlaku kepada siapa saja yang
tunduk patuh (aslama) pada sistem hukum Allah (Din Al-Islam)
sejak zaman dahulu (Adam) hingga kini. Rujukan ayat-ayat di atas
telah membuktikan bahwa di alam semesta ini ada satu din (sistem
hidup dan kehidupan) ciptaan Allah yang berlaku dan ditaati oleh
semua makhluk. 25Sikap tunduk patuh (aslama) –baik secara
sukarela maupun terpaksa, kepada sistem itu menjadikan

Jalan Kebenaran Universal

20 | DIN AL-ISLAM

kehidupan alam ini berjalan secara seimbang dan teratur sesuai
yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Sikap kepatuhan pada
sistem Allah itulah yang disebut dengan Al-Islam, baik yang ada
pada alam semesta maupun yang tertulis dalam Kitab Suci.
Sehingga, pelakunya disebut muslim, baik makhluk yang di alam
maupun ummat manusia.

26Dalam Injil, Yesus (Nabi Isa) mengajarkan tentang sikap
“tunduk patuh” atau “berserah diri”. Dengan kata lain, Yesus pun
mengajarkan sistem tunduk patuh (Din Al-Islam) kepada
kehendak dan perintah Allah, Tuan YME. 27Hal ini dapat dilihat
dari ayat-ayat di bawah ini:

Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuan, Tuan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapaku yang di surga. (Matius 7: 21)

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; aku
menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan
penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku
sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku. (Yohanes
5: 30)

28Sekarang bisa kita pahami mengapa Allah menegaskan
bahwa, sesungguhnya Din (sistem hukum) yang diridai oleh Allah
hanyalah Din Al-Islam (sistem kepatuhan dan kepasrahan kepada
hukum Allah). 29Perhatikan Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 19
berikut ini:
ْ‫أُوتُوا‬ ۗ‫ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ ُم‬
‫ِم ۢن‬ َّ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ ‫ٱ ۡخ َتلَ َف‬ ‫َو َما‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ ‫ِعن َد‬ ‫ٱ ِّ�ي َن‬ ‫إِ َّن‬
�ِ‫إ‬
�َ َّ ‫َ� ۡع ِد َما َجآ َء ُه ُم ٱ ۡلعِ ۡل ُم َ� ۡغ َيۢ� بَ ۡي َن ُه ۡمۗ َو َمن يَ ۡ� ُف ۡر � َ�ٰ ِت ٱ َّ�ِ َفإِ َّن ٱ‬
‫َ ِ�� ُع ٱ ۡ�ِ َسا ِب‬

Sesungguhnya Din (sistem) (yang diridai) di sisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab
kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat
hisab-Nya.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 21

30Dengan demikian, secara praktis makna Din Al-Islam
yang sejati adalah sistem kepatuhan dan ketundukan makhluk
(khususnya manusia) kepada hukum Allah yang diajarkan-Nya
kepada setiap Nabi dan Rasul yang diutus-Nya pada setiap bangsa
yang berbeda-beda sepanjang sejarah manusia, sejak dahulu, kini,
hingga masa datang. 31Din Al-Islam adalah sistem yang tidak
pernah berubah dan berganti, baik dalam hal aqidah (iman)
maupun syariat (hukum).

D. DASAR-DASAR DIN AL-ISLAM
1. Trilogi Din Sebagai Miqdarul Haqq
1Trilogi Din adalah tiga unsur dasar yang menjadi syarat
ilmu tentang Din, yaitu satu sistem kehidupan yang ada di
muka bumi sepanjang sejarah peradaban manusia, baik
mu’min maupun kafir. 2Miqdarul Haqq adalah sudut pandang
ilmuwan (ulama) dalam menentukan sesuatu untuk sampai
pada kesimpulan yang objektif ilmiah (haqqul yaqin) secara
aktual (bayyinat). Dalam hal ini, kita dapat menarik kesimpulan
dari pernyataan Albert Einstein, bahwa segala eksistensi materi
yang ada di alam ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan antara massa, ruang, dan waktu. Sesuatu dapat
dikatakan eksis (berwujud atau tegak) apabila memenuhi ketiga
syarat tersebut.
3Sebagai Al-‘Alim (Yang Maha Berilmu), Allah mencipta
segala makhluk-Nya di atas prinsip dasar mabadi tsalatsa; satu
kesatuan dari tiga kedudukan Allah yang utama, yaitu sebagai
Rabb, Malik, dan Ilah.
4Pertama, Allah sebagai Rabb alam semesta dibuktikan
dalam wujud berlakunya Rububiyah Allah, yakni kekuatan-
kekuatan yang membentuk dan mengendalikan kehidupan
segenap makhluk-Nya di seantero jagat raya ini.
5Kedua, Allah adalah Malik; Penguasa gerak kehidupan
seluruh makhluk-Nya yang hidup dalam naungan kekuasaan-
Nya di seluruh jagat raya sebagai teritorial Kerajaan-Nya.

Jalan Kebenaran Universal

22 | DIN AL-ISLAM

6Dan yang ketiga adalah, Allah sebagai Ilah; Dialah objek
yang diibadati atau pusat pengabdian yang menjadi tujuan dari
segenap aktivitas atau amal perbuatan seluruh makhluk-Nya.

7Dalam kehidupan ummat manusia, aktualisasi Allah
sebagai Pengatur (Rabb) diwujudkan dalam bentuk
menempatkan Rububiyah (hukum) Allah sebagai pengendali
pikir, kata, dan perbuatan manusia. 8Allah sebagai Malik bagi
manusia diejawantahkan dalam wujud diutus-Nya Rasul selaku
pengemban kekuasaan (Khalifah) Allah di bumi. Wujud nyata
kekuasaan Allah yang ditegakkan oleh Rasul itu adalah struktur
kepemimpinan yang disebut mulkiyah atau daulah atau khilafah.
9Dalam kedudukan Allah sebagai Ilah (pusat pengabdian; yang
diibadati), sasarannya kepada ummat yang mempunyai
kekuatan hukum syar’i sebagai Uluhiyah.

10Dengan demikian, Islam yang haq adalah Islam yang
terejawantahkan ke dalam tiga unsur Din tersebut, yaitu
hukum, kekuasaan, dan ummat.

2. Ma’rifat Ushuluddin
11Tugas mu’min yang utama adalah mengaktualisasikan

Din Al-Islam. Menegakkan Din Al-Islam bukan hanya tugas
para Nabi dan Rasul Allah sebagaimana yang dipahami orang
selama ini. Islam adalah fitrahnya manusia sejak awal
keberadaan manusia hingga masa yang akan datang.

12Al-Quran surat Ar-Rūm [30] ayat 30 menyatakan
bahwa Din Al-Islam adalah fitrah manusia. Artinya, manusia
harus menjalani hidup di atas garis fitrah tersebut agar dapat
meningkatkan kualitas dirinya tahap demi tahap menuju tujuan
akhir, yaitu menjadi makhluk rahmatan lil 'ālamīn. 13Berbagai
perintah dan larangan dalam Din Al-Islam bukan untuk
membatasi kebebasan manusia, melainkan untuk menjaga agar
manusia jangan sampai keluar (menyimpang) dari garis
fitrahnya. Penyimpangan terhadap fitrah Allah akan berakibat

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 23

fatal bagi kehidupan ummat manusia, yaitu satu perilaku atau
adab yang mematikan nilai perikemanusiaan yang sejati.

14Penyimpangan garis fitrah membawa ummat manusia
menjadi satu model kehidupan fasad fil ardh; kehidupan free-fight;
kehidupan bebas berkompetisi yang berlandaskan hukum
rimba, yang berkuasa (pemimpin) menindas yang lemah
(rakyat), yang kaya menindas yang miskin. Model kehidupan
yang demikian bukan fitrahnya manusia. Alam materi,
tumbuhan, dan hewan pun tidak menggunakan pola
kehidupan yang demikian. Pantaslah jika Allah
mengidentifikasikan kehidupan free-fight dengan istilah asfala
sāfilin, yaitu satu model kehidupan yang nilainya di bawah
derajat makhluk yang paling rendah.

15Prinsip hidup Din Al-Islam mesti disadari benar oleh
manusia. Manusia diberi kebebasan untuk tinggal dan
mengolah sumber daya di bumi milik Allah, tetapi bukan
kebebasan tanpa batas. Keberadaan manusia di bumi ini ibarat
seseorang yang tinggal dalam suatu negeri, dia diizinkan hidup
selama dia mematuhi undang-undang yang berlaku di negeri
tersebut. Jika manusia melakukan pelanggaran, ia berhak atau
pantas untuk diberi peringatan atau dihukum. Analogi ini logis,
tidak bisa dibantah, dan berlaku universal kapan pun dan di
mana pun.

16Tuntutan yang paling utama dalam Islam adalah
pengakuan manusia bahwa segala sesuatu yang ada di alam
semesta adalah milik Allah, Sang Pencipta alam semesta. Bumi
adalah milik Allah, Dialah yang berhak berkuasa atasnya.
Allahlah Yang menghidupkan dan mematikan segenap
makhluk-Nya, Dia yang menyediakan sumber-sumber rezeki,
dan Dia pula yang mengeluarkan aturan-aturan dalam mencari
rezeki. Allah, Tuan Semesta Alam, yang menciptakan manusia
yang berbeda jenis kelamin, Dia pula yang mensyariatkan
undang-undang pernikahan. Allahlah Yang menciptakan
manusia, Dia pula Yang membuat hukum tentang tata cara
pengabdian manusia kepada-Nya. 17Allah, Tuan Semesta Alam,

Jalan Kebenaran Universal

24 | DIN AL-ISLAM

berkuasa secara mutlak (otoritas tunggal) di bumi ini, Dia
berhak memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Hanya Allah, Sang Pencipta manusia, yang
berhak untuk dipuji dan ditaati segala peraturan-Nya. Intinya,
tak ada pengabdian lain selain kepada-Nya; Lā Ilāha illā Allāh.

18Din Al-Islam adalah din ciptaan Allah. Sunnah
penciptaan-Nya selalu berdasarkan ilmu. Ilmu adalah qadar;
ketentuan-ketentuan yang bersifat eksak (pasti). 19Dalam
pengertian inilah kita memahami Al-Quran surat Fāthir [35]
ayat 1 berikut ini:
‫ر‬ٞ ‫ إِ َّن ٱ َّ َ� َ َ ٰ� ُ ِّ� َ ۡ�ءٖ َق ِدي‬...

… Sesungguhnya Allah menciptakan segala makhluk-Nya
berdasarkan ketentuan yang pasti.

21Perhatikan pula surat Al-Baqarah [2] ayat 115:

‫م‬ٞ ‫ إِ َّن ٱ َّ َ� َ�ٰ ِس ٌع َعلِي‬...

… Sesungguhnya Allah Maha Luas ilmu-Nya.

20Dari aksioma ini dapat diambil sebuah pelajaran
bahwa, Din Al-Islam dapat dipahami menggunakan ilmu.
Pengetahuan tentang Islam sebagai satu sistem yang ilmiah
disebut ma’rifat ushuludin; ajaran tentang dasar-dasar din. Agar
mudah dalam memahaminya, Allah menyederhanakan-nya
dalam bentuk amsal atau contoh konkret. 21Perhatikan firman
Allah dalam Al-Quran surat Ibrāhīm [14] ayat 24-26:

ۗ‫ااة‬٢ٍ ‫مََهه‬٦َِ�ُ‫ا� َطَِمو ّيِ�َِمَبإِن َث ٍۡةذ َُقلَِأنَرا ۡرَٖصَر�ِ ّل‬٢‫ي�َٖه‬٥َ‫ۡست�تُ َلِۡمؤََع�ِِنَّلٓ�َم ُهَفٗةأُۡۡمو َِقطَ�ُّ�يَِتٱ َبلَۡ َٗذَةهَ��اَّك َُِرك ُوضََّش� َنَم َجا َِرحل‬٢ٗ ‫َِث‬٤‫تَثَت ِ�َرٖة َُوب َفَكَك ۡرۡيَٱشَُ�َّ ََهجُف�اَر ٍ�ٱ َِۡ�َ�ََ�خۡمبٱََِثليبا َثََّسلٱٍة َم َّٱالُِٓ�لِءۡجَّن ُتاَم َّث‬ٞ ‫َث�ََولاََخَ�بِۡمبِ ۡي‬

Apakah kalian tidak memahami tentang bagaimana Allah
mencontohkan kalimat yang baik (kalimah thayyibah) itu

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 25

dengan sebuah pohon yang baik, pohon yang baik itu adalah
pohon yang akarnya kukuh, batangnya lurus ke angkasa,
dan menghasilkan buah pada setiap musimnya, dengan
seizin Rabbnya. Demikian Allah membuat suatu
perumpamaan untuk manusia. Diharapkan dengan
perumpamaan itu mereka akan selalu ingat. Dan
perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang
buruk, yaitu pohon yang akarnya mencuat di atas tanah,
sehingga tak dapat berdiri tegak sedikit pun.

22Yang dimaksud dengan kalimah thayyibah adalah satu
sistem pengabdian kepada Allah, yaitu Din Al-Islam. 23Din
yang diumpamakan sebagai pohon itu mempunyai tiga unsur
dasar, yaitu:
1) Aqidah yang berfungsi sebagai akar;
2) Ibadah yang berfungsi sebagai batang; dan
3) Muamalah yang berfungsi sebagai buah.

Aqidah
24Kata Aqidah berasal dari kata ‘aqada yang berarti buhul,

ikatan, atau simpul. Dari kata ini pula berasal istilah ‘aqdun yang
berarti suatu keyakinan yang bulat yang telah menjadi
keyakinan atau ideologi yang mengikat. 25Contoh
penggunaannya dapat dilihat pada Al-Quran surat Al-Falaq
[113] ayat 4:

‫َو ِمن َ ِّ� ٱ َّ� َّ�ٰ َ�ٰ ِت ِ� ٱ ۡل ُع َق ِد‬

Dan daripada akibat buruk yang dihembuskan oleh
penyebar isu ke dalam qalbu yang mantap.

26Qalbu yang mantap adalah qalbu yang telah memilih
keputusan, yaitu iman. 27Perhatikan Al-Quran surat An-Nisā
[4] ayat 33:

‫َوٱ َّ ِ�ي َن َ� َق َد ۡت َ�يۡ َ�ٰ ُن ُ� ۡم َ َ�ٔاتُو ُه ۡم نَ ِصي َب ُه ۡۚم‬

Jalan Kebenaran Universal

26 | DIN AL-ISLAM
Dan orang yang telah melakukan janji setia menjadi orang
yang berada di bawah kekuasaan kamu.

28Pada ayat ini, kata ‘aqadat bermakna istri, yaitu seorang
perempuan yang telah menyatakan ‘aqad. 29Secara khusus,
aqidah dapat disimpulkan sebagai suatu keyakinan terhadap
Din Al-Islam sebagai satu-satunya din yang haq. Keyakinan itu
dibuktikannya dengan syahadat atau persaksian, yakni
pernyataan (ikrar) dalam bentuk sumpah setia kepada Allah
dan Rasul-Nya.

30Kedudukan aqidah dalam misi risalah-Nya bagaikan
akar dari sebuah pohon. Akar yang baik adalah akar yang
menghujam ke dalam bumi. Betapapun kuatnya angin
menghempas batang, pohon akan tetap berdiri di atas
pangkalnya. Sebaliknya, akar yang mencuat di atas permukaan
tanah tidak akan mampu menahan batang yang ditiup angin,
bahkan tidak ada angin pun pohon akan tumbang dengan
sendirinya. Hukum ini juga berlaku untuk setiap pribadi
mu’min ataupun ummat.

31Setiap din pasti memiliki aqidah. Aqidah Din Al-Islam
adalah keyakinan atau keimanan seseorang terhadap kebenaran
Din Al-Islam sebagai satu-satunya din yang diridai Allah. Di
samping aqidah Islam yang haq, banyak orang yang beraqidah
lain, yaitu mereka yang mengatakan bahwa banyak jalan
menuju surga; mereka tidak yakin bahwa Islamlah satu-satunya
yang akan menyelamatkan manusia dunia akhirat. Din Al-
Islam mereka samakan dengan agama, mereka mengatakan
bahwa semua agama itu baik, semua agama itu mengajarkan
kebenaran dan kebaikan. 32Perkataan mereka yang demikian itu
jelas-jelas menentang pernyataan Allah dalam Al-Quran surat
'Ali-Imrān [3] ayat 85 berikut ini:

‫َو َمن يَبۡ َت ِغ َ� ۡ َ� ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ ِم ِدي ٗنا فَ َلن ُ� ۡق َب َل ِم ۡن ُه َو ُه َو ِ� ٱ� ِخ َرةِ ِم َن‬
‫ٱ ۡل َ�ٰ ِ ِ�� َن‬

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 27

Barang siapa yang mencari din selain Islam, maka segala
amal perbuatannya ditolak, dan di akhirat dia termasuk
orang-orang yang merugi.

Ibadah
33Pengertian ibadah menurut Din Al-Islam berbeda

dengan pengertian ibadah menurut agama. Sebagaimana
batang dari sebuah syajarah (pohon) yang tidak dapat
dipisahkan dengan akarnya, ibadah pun tidak dapat dipisahkan
dengan aqidah. Jika akarnya adalah akar kelapa, batangnya
pasti batang kelapa. Sebaliknya, jika batangnya adalah batang
kelapa, akarnya pasti akar kelapa. 34Manusia diamsalkan sebagai
syajarah, sehingga apabila aqidahnya Islam maka ibadahnya
adalah Islam, dan apabila ibadahnya Islam maka aqidahnya
adalah Islam. Kesimpulannya, jika seseorang menyatakan
bahwa aqidahnya Islam tetapi ibadahnya bukan untuk
memenangkan Din Al-Islam, maka orang tersebut bernilai
batil (barang palsu). Dikatakan palsu karena tidak ada pohon
kelapa berakar durian.

35Ibadah adalah proses untuk menghasilkan amal saleh,
sebagaimana sebatang pohon dengan semua ranting dan daun
yang berproses untuk menghasilkan buah. Jika pohonnya
pohon kelapa, maka hasilnya pasti buah kelapa, tidak boleh
tidak. Seseorang yang melakukan aktivitas berdasarkan Islam,
pasti hasilnya adalah amal saleh, yaitu amal perbuatan yang
diterima atau diridai oleh Allah.
Muamalah

36Muamalah adalah hasil dari aqidah dan ibadah. Makin
kukuh akar dari sebuah pohon, maka semakin tinggi dan subur
batang serta rantingnya. Jaminannya adalah keluarnya buah
pada setiap musimnya.

37Sebuah pohon tidak akan berdiri tegak –bahkan tidak
dapat hidup, tanpa adanya tanah (ardh). Tanah adalah media
tanam, sarana yang wajib ketika sebuah pohon akan ditanam.

Jalan Kebenaran Universal

28 | DIN AL-ISLAM

Sama halnya dengan din, wilayah merupakan sarana yang wajib
ada manakala sebuah din akan ditegakkan, meskipun wilayah
atau teritorial bukanlah bagian dari din. Teritorial atau wilayah
tempat tegaknya din disebut madinah.

3. Hubungan Din dengan Wilayah
38Dari uraian tentang ma’rifat ushuluddin atau ilmu

tentang esensi din, dalam konteks konsep teoretis belum
nampak kebutuhan akan perlunya sebuah wilayah. Urgensi
tentang wilayah akan muncul tatkala kita berbicara din dalam
konsep operasional. Berkaitan dengan perumpamaan tentang
sebuah pohon yang baik, jika pohon itu sekadar untuk
dibicarakan atau didiskusikan, keberadaan lahan (tempat
menanam pohon) tidak diperlukan. Namun, manakala orang-
orang ingin melihat pohon yang ramai dibicarakan karena
buahnya yang manis, timbullah persoalan baru, yaitu
kebutuhan lahan tempat pohon itu akan ditanam.

39Dengan sangat indah dan sederhana, Allah
mengumpamakan kalimah thayyibah itu dengan perumpamaan
pohon yang baik (QS. Ibrāhīm [14]: 24-26). Para ulama
sepakat memaknai kalimah thayyibah dengan kalimat Lā ilāha illā
Allāh, Muhammad Rasūlullāh, yakni satu sistem pengabdian
tauhid ketika manusia tidak menghambakan dirinya kepada
selain Allah sebagaimana dibuktikan oleh Rasulullah
Muhammad dan para pengikutnya di Madinah Al-Munawarah,
pada periode empat belas abad yang silam.

40Sampai saat ini tidak banyak pemikir Islam yang
mengungkap latar belakang peristiwa hijrahnya kaum mu’min
ke Habsyi, Thaif, dan Yatsrib. Jika Muhammad hanya
menyebarkan agama –dalam batasan arti kepercayaan terhadap
masalah akhirat; neraka dan surga, melalui aktivitas kejiwaan
yang bersifat pribadi, mengapa para penguasa Mekah begitu
marahnya kepada Rasulullah Muhammad dan para
pengikutnya? Kaum mu’min eksodus ke Yatsrib bukan karena
mereka dilarang shalat, membaca Al-Quran (wahyu yang sudah

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 29

diajarkan Muhammad), dan aktivitas keagamaan lainnya.
41Rasulullah Muhammad dan para pengikutnya hijrah ke
Yatsrib dalam rangka menyelamatkan aqidahnya dan mencari
basic territorial sebagai tempat dibumikannya sistem langit (Din
Allah). 42Selama tidak ada ruang bagi tegaknya Din Al-Islam di
bumi ini, selama itu pula manusia akan terpenjara oleh
kehidupan jahiliyah, penyembahan, dan paganisme sebagai
puncak kebodohan alam pikir manusia.

43Hijrahnya Rasulullah Muhammad terjadi pada satu
kondisi ketika para penguasa Mekah menolak digantinya
sistem hukum yang berlaku dalam kekuasaan Quraisy dengan
sistem hukum yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad.
Menurut jalan pikiran Abu Jahal, suatu kebohongan besar jika
ada seorang manusia yang mengklaim dirinya sebagai
pembawa risalah Din Allah.

44Rububiyah atau hukum Allah adalah masalah yang
mendasar dalam Din Al-Islam. Ia tak ubahnya akar dari sebuah
pohon. Bagaimana mungkin sebuah hukum dapat ditegakkan
jika tidak ada kekuasaan hukum? Hukum adalah sesuatu yang
fitrah bagi manusia. Kita tidak bisa membayangkan jika
kehidupan manusia berjalan tanpa hukum. 45Jika aksioma ini
dapat diterima, muncul masalah baru, “Dapatkah hukum
ditegakkan untuk menyelesaikan segala urusan manusia jika
tidak ditopang oleh suatu kekuasaan hukum?” Jawabannya:
“Tidak.” 46Jika demikian, hubungan antara hukum dan
kekuasaan hukum adalah mutlak, tidak bisa dipisahkan.
Hubungan antara hukum dan kekuasaan hukum ibarat pohon
dengan akarnya. Tak ada artinya akar tanpa batang, dan tak ada
artinya batang tanpa akar.

47Ajaran Islam yang menyangkut masalah aqidah
(keimanan), ibadah (pengamalan), dan muamalah (hasil
pengamalan), tidak akan ada artinya bagi terciptanya keadilan,
kemakmuran, dan kedamaian kehidupan ummat manusia di
bumi ini jika tanpa adanya aktualisasi secara menyeluruh.
48Hukum sebagai unsur pokok dari Islam tidak bisa dirasakan

Jalan Kebenaran Universal

30 | DIN AL-ISLAM

ni’mat (manfaat)-nya tanpa adanya penegak hukum, yaitu
kekuasaan. Tidaklah mungkin terwujud sebuah ummat
rahmatan lil 'ālamīn jika ummat Islam tidak memiliki sulthān
(kekuasaan) untuk mengatur dirinya secara kāffah. 48Perhatikan
firman Allah dalam Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 135:
�ٰٓ َ َ ‫َ ٰٓ� َ� ُّ� َها ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ ُكونُواْ َق َّ�ٰ ِم َ� بِٱ ۡلقِ ۡس ِط ُش َه َدآ َء ِ َّ�ِ َولَ ۡو‬
�ُ َّ ‫َفقِ ٗ�� فَٱ‬ ‫أَ ۡو‬ ‫َغنِ ًّيا‬ ‫ٱتَۡلتََّ�ٰبِ ِ َُع�يۡواْ ِنٱلۡ ََهوٱ َوۡ�َ ٰٓۡقى َرأَ�ِن َ�ۚ َ� ۡإعِ ِدنلُ ۚويَاْ ُ�� ۡنن‬ َ ‫أَن ُف ِس ُ� ۡم‬
‫ُ� ۡع ِر ُضواْ فَإِ َّن‬ ‫أَ ۡو‬ ْ‫تَ ۡل ُو ٓۥا‬ ِ‫أو‬ ۖ‫أَ ۡو َ ٰ� بِ ِه َما‬
�َ ‫َف‬

��ٗ ِ‫ٱ َّ َ� َ� َن بِ َما َ� ۡع َم ُلو َن َخب‬

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena
Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu, bapak, dan
kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah
lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari
kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau
enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah
Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

49Jika Trilogi Din Al-Islam sudah bisa diterima sebagai
tolok ukur kebenaran, kemudian di manakah Din Al-Islam
akan ditegakkan? Inilah masalah yang melatarbelakangi
hijrahnya Rasulullah Muhammad dan para pengikutnya ke
Yatsrib; satu wilayah yang vakum kekuasaan. 50Din Al-Islam –
ibarat syajarah, tidak akan bisa tumbuh dan berkembang secara
baik dan benar tanpa adanya baldah thayyibah (tanah yang
subur); sarana yang mutlak bagi zar’in akhraja sath’ahu (tanaman
yang mengeluarkan tunasnya). 51Mari kita perhatikan surat Al-
Fath [48] ayat 29 berikut ini:

ۖ‫د َّر ُسو ُل ٱ َّ�ِۚ َوٱ َّ ِ�ي َن َم َع ُه ٓۥ أَ ِش َّدآ ُء َ َ� ٱ ۡل ُك َّفارِ ُر َ َ�آ ُء بَ ۡي َن ُه ۡم‬ٞ ‫ُّ َ� َّم‬
�ِ ‫تَ َرٮٰ ُه ۡم ُر َّك ٗعا ُس َّج ٗدا يَبۡ َت ُغو َن َف ۡض ٗ� ِّم َن ٱ َّ�ِ َورِ ۡض َ�ٰ ٗناۖ ِسي َما ُه ۡم‬

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 31

�ِ ‫ِ� ٱ َّ� ۡو َرٮٰةِ� َو َم َث ُل ُه ۡم‬ ‫َكِّم َزۡنۡر ٍ َ�عثَرِأَ ۡخٱلَر ُّسَج ُج َوشدِ�ۡ َٔ� َ�ُٰهلِۥ َك َ َٔ�اَم ََثز ُلَر ُهُهۥۡم‬ ‫ُو ُجوهِ ِهم‬
�ٰ َ َ ‫َفٱ ۡس َت ۡغلَ َظ َفٱ ۡس َت َو ٰى‬ ۡ

‫ٱ ِ� ِ�ي ِل‬
ْ‫َوُس َعوقِِمهُلِۦواْ ُ�ٱلۡع َّ ِج�ٰلُِب َ�ٰٱل ُِّزت َّرا ِم َۡنع ُه ِمَ� ِغ َّمي ۡغَفِظ َربٗةِ ِه َوُمأَ ٱۡج ۡل ًرا ُك َّفَعا َِرظۗي َوَمۢ َ�ع َد ٱ َّ ُ� ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنوا‬

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka
ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas
pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-
penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan
pahala yang besar.

52Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwa tolok ukur
kesempurnaan tegaknya sebuah din adalah adanya makān
(sarana atau tempat) dalam bentuk wilayah atau teritorial
(Madinah).

E. KEMUSYRIKAN
1Dalam kaitannya dengan Trilogi Din Al-Islam, ada satu hal

yang sangat penting dalam kehidupan ini, tetapi seringkali tidak
disadari atau dihiraukan oleh manusia. Padahal, jika esensi dan
praktik persoalan ini mampu dipahami dengan benar,
sesungguhnya kehidupan ummat manusia saat ini akan damai dan
sejahtera, baik secara moral spiritual maupun fisik materiel.
Apakah persoalan yang amat penting dan dasar tersebut?

Jalan Kebenaran Universal

32 | DIN AL-ISLAM

Persoalan tentang kemusyrikan. Lalu apa sesungguhnya musyrik
itu?

2Dalam tradisi dan doktrin agamis, kata musyrik dimaknai
dengan menduakan atau mempersekutukan Allah. Bentuk dari
kemusyrikan itu seperti; menyembah atau menuahkan sesuatu
(misalnya; pohon besar, patung, batu, kuburan, benda keramat,
jimat, dan semacamnya), meminta pertolongan kepada “orang
pintar” (dukun), mempercayai khurafat (dinamisme dan
animisme), dan semacamnya. Itulah bentuk-bentuk kemusyrikan
yang diajarkan dalam tradisi dan doktrin agamis.

3Jika kita mau merenungi, sesungguhnya semua aktivitas
kemusyrikan yang disebutkan di atas hanya akan dilakukan oleh
orang-orang bodoh, penakut, dan tidak memiliki kepercayaan diri
untuk menghadapi kehidupan ini. Aktivitas-aktivitas mistis
sesungguhnya tidak berkaitan langsung kepada Allah yang haq
untuk diabdi, yakni ditaati segala kehendak dan perintah-Nya.
4Tanpa menggunakan dasar wahyu (firman Allah) pun, aktivitas-
aktivitas mistis tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa diterima
oleh akal sehat. Sehingga, seluruh aktivitas yang dikategorikan
perbuatan syirik di atas dalam tradisi dan doktrin agamis adalah
kebodohan sosial-spiritual belaka yang tidak membuat Allah
cemburu dan marah, atau masih berupa kemusyrikan kecil semata.
5Kemusyrikan yang sesungguhnya akan membuat Dia cemburu
dan marah besar, karena kemusyrikan itu adalah kezaliman yang
amat besar. Wajar jika Allah mengingatkan secara tegas mengenai
bahaya kemusyrikan melalui beberapa ayat Al-Quran di bawah ini:
• 6Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 88:

‫َ�ٰلِ َك ُه َدى ٱ َّ�ِ َ� ۡه ِدي بِهِۦ َمن � َ َشآ ُء ِم ۡن ِع َبا ِدهِۚۦ َولَ ۡو أَ ۡ َ� ُ�واْ َ َ�بِ َط‬
‫َ� ۡن ُهم َّما َ�نُواْ َ� ۡع َملُو َن‬

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-
Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya
lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 33

• 7Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 36:
‫ٱَوَوٱٱَّبۡلۡ َ�َِمن ََوٱلَٰ��َّسِك�بُِيِۡ� ِلِ� َُ�وَٱوو َامْ ۡا َ�بِا َمهِرِلَۦ َذِكَش ۡۡيتٗٔ�اٱَ�ۖ ۡليۡ ََُوق�ٰ�ِۡرُنٱ َۡل ٰ�َ�ُٰ�ِ ََ�ۡومۗٱيۡإِِۡنَ�َّناإِٱرِ ۡح َّٱ ََ� ٰ�ۡ ُ�َٗن ُنا� َُِوب��ِِ ِذَُّوٱبلي ََّمٱص ۡلان ُق ِحَۡر� َ َِٰ�بن‬ ْ‫َوٱ ۡ� ُب ُدوا‬
�ٰ َ ٰ�َ َ�ۡ ‫َوٱ‬
‫بِٱ ۡ َ�� ِب‬
‫ُ ۡ� َتا ٗ� َف ُخو ًرا‬

Abdilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri.

• 8Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 72:
‫َل َق ۡد َ� َف َر ٱ َّ ِ�ي َن َقالُ ٓواْ إِ َّن ٱ َّ َ� ُه َو ٱلۡ َم ِسي ُح ٱ ۡ� ُن َم ۡر َ� َمۖ َو َقا َل ٱلۡ َم ِسي ُح‬
ِ�َّ ‫ٱٱ ۡ�ۡ َ�ُب َّن ُدَةواَْو َمٱأۡ ََّو َٮ�ٰ ُه َرٱ ِّ�َّ�ا ُرَوۖ ََرو َّ�َما لُِ�ل ۡمَّۖ�ٰإِلِنَّ ِمُهۥ َ� َم ِمنۡن� ُأَنۡ َ ِ�ص ۡاكرٖبِٱ‬
‫َ� َق ۡد‬ ‫إِ ۡس َ�ٰٓ ِءي َل‬ �ٓ ِ ‫َ�ٰ َب‬
ِ‫ٱ َّ ُ� َعلَ ۡيه‬ ‫َح َّر َم‬

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
“Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam,” padahal
Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, abdilah Allah
Rabbku dan Rabbmu.” Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.

• 9Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 151:
‫َو ََح� َّر َمَ� ۡق ُتَرلُُّ� ٓواْ ُ�أَ ۡۡمو َ�ٰ َدَع َل ۡي ُ�م ُ� ّۡمِۖم ۡن َ� َّإِ� ۡم َ��ُٰ ٖۡق ِ� ُ�َّ ۡ�واْ ُن‬ ‫َ�تۡ ُل َما‬ ْ‫قُ ۡل َ� َعالَ ۡوا‬
ۖ‫بِهِۦ َش ۡ ٗٔ�ا‬ ۖ‫إِ ۡح َ ٰ� ٗنا‬ ‫َو�ِٱ ۡل َ�ٰ ِ َ�يۡ ِن‬
‫نَ ۡر ُز ُق ُ� ۡم‬

ْ‫�يَّا ُه ۡمۖ َو َ� َ� ۡق َر ُ�واْ ٱ ۡل َف َ�ٰ ِح َش َما َظ َه َر ِم ۡن َها َو َما َ� َط َنۖ َو َ� َ� ۡق ُت ُلوا‬

Jalan Kebenaran Universal

34 | DIN AL-ISLAM

‫لَ َع َّل ُ� ۡم‬ ‫بِهِۦ‬ ‫َو َّصٮٰ ُ�م‬ ‫َ�ٰلِ ُ� ۡم‬ ‫بِٱ ۡ َ� ِّ �ق‬ َّ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َح َّر َم‬ �ِ ‫ٱ َّل‬ ‫ٱ�َّ ۡف َس‬
�ِ‫إ‬
‫َ� ۡع ِق ُلو َن‬

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas
kamu oleh Rabbmu yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan
sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu
bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena
takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan
kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-
perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan
kepadamu supaya kamu memahaminya.

10Begitu pula wasiat Luqman kepada anaknya, untuk
menjauhi kemusyrikan yang diabadikan dalam surat Luqmān [31]
ayat 13 berikut ini:

‫ٱل ِّ ۡ� َك‬ ‫إِ َّن‬ ِۖ�َّ ‫بِٱ‬ ‫� ُ ۡ ِ� ۡك‬ َ �َّ َ ‫َ�ٰ ُب‬ ‫يَ ِع ُظ ُهۥ‬ ‫َو ُه َو‬ ‫ِ�بۡنِهِۦ‬ ‫ُل ۡق َ�ٰ ُن‬ ‫َقا َل‬ ‫� ۡذ‬


‫م‬ٞ ‫لَ ُظ ۡل ٌم َع ِظي‬

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu
ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

11Kemusyrikan adalah kezaliman dan dosa yang besar,
sehingga Allah tidak akan mengampuni dosa syirik seseorang
hingga dia kembali bertauhid hanya kepada-Nya. 12Penegasan ini
difirmankan dalam surat An-Nisā [4] ayat 48 dan 116 berikut ini:
َ
‫َو َمن‬ ۚ‫� َ َشآ ُء‬ ‫لِ َمن‬ ‫َ�ٰلِ َك‬ ‫ُدو َن‬ ‫َما‬ ‫َو َ� ۡغ ِف ُر‬ ‫بِهِۦ‬ ‫� ُ ۡ َ� َك‬ ‫أن‬ ‫َ� ۡغ ِف ُر‬ َ �َ َّ ‫ٱ‬ ‫إِ َّن‬


‫� ُ ۡ ِ� ۡك بِٱ َّ�ِ َ� َق ِد ٱ ۡ� َ َ� ٰٓى إِ ۡ� ًما َع ِظي ًما‬
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan
Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang

Jalan Kebenaran Universal


Click to View FlipBook Version