The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fazila6292, 2021-09-05 09:43:50

DIN AL-ISLAM | 35

mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar.
َ
‫َو َمن‬ ۚ‫� َ َشآ ُء‬ ‫لِ َمن‬ ‫َ�ٰلِ َك‬ ‫ُدو َن‬ ‫َما‬ ‫َو َ� ۡغ ِف ُر‬ ‫بِهِۦ‬ ‫� ُ ۡ َ� َك‬ ‫أن‬ ‫َ� ۡغفِ ُر‬ َ �َ َّ ‫ٱ‬ ‫إِ َّن‬


‫� ُ ۡ ِ� ۡك بِٱ َّ�ِ َ� َق ۡد َض َّل َض َ�ٰ َ ۢ� بَعِي ًدا‬

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni
dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang
siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka
sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

13Beberapa ayat di atas semakin meyakinkan kita bahwa,
Allah amat benci dan marah besar kepada hamba-hamba-Nya
yang berlaku syirik (musyrik). Lalu apa sesungguhnya wujud dari
kemusyrikan itu?

14Secara bahasa, kata musyrik berarti orang yang mensyarikati;
mempersekutukan; menandingi atau; menduakan Allah. Dengan
demikian, orang tersebut meyakini atau menempatkan sesuatu
atau seseorang sebagai sekutu atau tandingan Allah. Namun,
bagaimana mungkin Allah Yang Maha segalanya dapat ditandingi
oleh selain Dia?

15Untuk menjawabnya, kita harus mengkaji ulang
kedudukan Allah bagi alam semesta termasuk bagi manusia. Surat
Al-Fātihah [1] sebagai Pembuka Al-Quran dan surat An-Nās [114]
sebagai Penutup Al-Quran menjelaskan hal tersebut. 16Setidaknya,
Allah menjelaskan kedudukan diri-Nya dalam tiga fungsi –yang
juga terkait dengan Trilogi Din Al-Islam di atas, sebagai berikut:

17Pertama: Kedudukan Allah sebagai Rabb, baik bagi alam
semesta maupun bagi ummat manusia. Yang dimaksud Allah
sebagai Rabb adalah Dia sebagai Sang Pencipta, Pengatur, dan
Pendidik alam semesta dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya.
Sebagai Rabb, Allah tidak pernah berhenti menjalankan tugas-
Nya dalam mencipta, mengatur, dan mendidik alam semesta,
termasuk ummat manusia di dalamnya. Dia mencipta dan
mengatur semua ciptaan-Nya menurut sistem hidup dan

Jalan Kebenaran Universal

36 | DIN AL-ISLAM

kehidupan yang telah diundangkan-Nya. 18Sebelum Allah
mencipta alam semesta dan ummat manusia, Dia terlebih dahulu
mencipta sistem hukum (Din)-Nya, sehingga tatkala alam semesta
telah dicipta, mereka tunduk patuh (berserah diri) kepada sistem
yang telah diundangkan oleh-Nya kepada masing-masing ciptaan
(makhluk), tidak terkecuali manusia. Inilah fitrah penciptaan bagi
setiap makhluk di alam semesta. 19Perhatikan surat Al-An’ām (6)
ayat 164 berikut ini:
�ِ ۡ‫ُق ۡل أَ َ� ۡ َ� ٱ َّ�ِ َ�ب‬
�‫أُ ُ ّۡخِ� َر َٰ ۚى ۡ� ٖءُ�� َّمَو َ�إِ َ ٰتَ� ۡ�َر ّ�ِِس ُُ�بم ُ ُّ� َّم َۡ�ر ۡف ِج ٍ ُعس إُِ�َّ ۡم‬ ‫َر ّٗ�ا َو ُه َو َر ُّب‬ ‫َعلَ ۡي َهاۚ َو َ� تَ ِز ُر‬
‫ وِ ۡز َر‬ٞ‫َوازِ َرة‬
‫َ� ُينَ ّبِ ُئ ُ�م بِ َما ُكن ُت ۡم �ِيهِ َ ۡ� َتلِ ُفو َن‬

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah,
padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah
seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali
kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabbmulah kamu
kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu
perselisihkan.”

20Berbeda dengan makhluk lainnya di alam ini, manusia
dengan akal pikirannya diberi kebebasan oleh Allah dalam
menentukan sikap pengabdiannya, apakah mereka ingin menjadi
hamba yang iman (mu’min) dan patuh (muslim) atau menjadi
hamba yang kafir zalim (musyrik). Tentu saja setiap pilihan sikap
tersebut memiliki proses dan konsekuensi tersendiri.

21Berbicara kedudukan Allah sebagai Rabb, maka berbicara
tentang rububiyah atau aturan hukum Allah. Satu unsur utama dari
Din (sistem) Allah tentang hidup dan kehidupan adalah Hukum
atau Undang-Undang Allah, baik yang tidak tertulis (hukum-
hukum pada alam) maupun yang tertulis (hukum-hukum pada Al-
Kitab). 22Kumpulan hukum-hukum Allah yang tertulis dalam Al-
Kitab (Taurat, Injil, dan Al-Quran) adalah hukum yang harus
ditegakkan dan dilaksanakan dalam kehidupan ummat manusia.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 37

Hukum Allah harus menjadi hukum positif. Lalu apa
hubungannya dengan kemusyrikan?

23Ketika ummat manusia atau suatu negara bangsa tidak
menjadikan hukum Allah sebagai undang-undang atau hukum
positif, dan mengambil hukum negara-negara bangsa
penjajah/penguasa yang merupakan produk dari pemikiran dan
syahwat manusia sebagai undang-undang atau hukum positif,
maka sesungguhnya mereka atau bangsa itu adalah manusia atau
bangsa yang musyrik. Mereka telah melakukan perbuatan syirik
rububiyah. Mereka telah meyakini, menempatkan, dan menjalankan
hukum penguasa bangsa (thaghut) di samping hukum Allah yang
fitrah dan yang haq untuk ditegakkan. 24Ingat, kebenaran sejati
hanya berasal dari Allah, sehingga hukum di luar hukum-Nya
adalah batil. Oleh karenanya, siapa pun yang memutuskan suatu
perkara bukan menurut hukum Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir, zalim, dan fasiq. 25Perhatikan surat Al-
Māidah [5] ayat 44, 45, dan 47 berikut ini:
ْْ‫رۚ َما َ ۡ�ٱ ۡس ُتُ� ُۡمح ِفبِ َُهظاواْٱ ِم�َّبِنُّيوكِ َنَ�ٰٱ َِّبِ�يٱ َنَّ�أَِ ۡ َسو ََل� ُنمُوواا‬ِٞ‫َُهوٱٗ ۡد�َىۡح َب َاونُُروب‬ ‫إِ َّ�آ أَن َز ۡ�َا ٱ َّ� ۡو َرٮٰ َة �ِي َها‬
‫لِ َّ ِ�ي َن َها ُدواْ َوٱل َّر َّ�ٰنِ ُّيو َن‬
‫ف‬٤‫ٗنَ ُامق‬٤‫ٱوۡٱلۚصاْۡلََفعأَُۡ�َ ْ�ِوَٰم�� َفَِ ٰٓ��ٰنُر�َِِوتوٱَ�َۡ َكَن�َصَ�ن َََّدمُه‬ٞ��ُُِ‫َبِ�َِ�ٱ َّيۡ�ۡ ُ�َۚهُ�ۥآَ ُذۡ�ُ� ِأَََنوشم ََّمُنوَواْٱبِنل َٱمٱ ّآِسَّل�َّ�َّ َّۡۡاأفمَنن ََبَِز َٱسَسلۡ�ل َِّوسبٱِٱٱُِّ�نَّۡخ�َّمُ� ََۡوفٱشبِِۡوَف َۡمأُُ�ِسانُْٓور َوأَٰٓ�ََوون�ٱََِ َۡلحز�َََعكلقِۡ� َ ََ�ۡٱُصهشا ََُّمب‬ٞ‫ببقََِِوَٱعهلَِِ�ۡلَيۦَت�َۡيٗ ۡبنهَِن�َِۚ�ا ُهفَُوشَو ََمَهَعوٱ ََل ۡدنَۡياكٓ ُ� َِّهَفءُۚذَّلا ۡمََۡمرنَفة‬

٤٥ ‫ٱل َّ�ٰلِ ُمو َن‬

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di
dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang
dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang

Jalan Kebenaran Universal

38 | DIN AL-ISLAM

alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka
menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah
kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang
siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan
Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat)
bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata,
hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi,
dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan
(hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus
dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang zalim.

‫ٱَو َّۡ َ�ُ� ۡحَفأُ ْو ُ َ� ٰٓ�ۡم�ِ أَ َكۡه ُ ُله ُمٱ ۡٱِ�ۡل َ�ِٰ�ي ِس ِلُقوبِ ََمنآ أَن َز َل ٱ َّ ُ� �ِي �هِ َو َمن َّل ۡم َ ۡ� ُ�م بِ َمآ أَن َز َل‬

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.
Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
fasiq.

26Hukum atau Undang-Undang Allah bersifat universal dan
tidak pernah berubah. Hukum Allah berlaku bagi segenap ummat
manusia tanpa melihat tempat dan waktu. Hukum Allah adalah
sesuatu yang fitrah bagi kehidupan ummat manusia tanpa melihat
suku, bangsa, warna kulit, dan bahasa. Sangat berbeda dengan
hukum negara-negara bangsa atau hukum hasil konsensus
manusia yang sarat dengan kepentingan pribadi, kelompok,
golongan, atau penguasa/penjajah.

27Hukum buatan manusia bersifat parsial, sesaat, dan
berpihak pada mereka yang berkuasa dan berduit. Hukum atau
Undang-Undang dari suatu negara bangsa hanya untuk
kepentingan pribadi bangsanya atau sekelompok/segolongan dari
bangsa tersebut. Hukum bangsa-bangsa kafir-musyrik tidak akan

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 39

mampu memberi keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan sejati
bagi seluruh rakyatnya.

28Alhasil, masing-masing bangsa atau negara merasa bangga
dengan bangsa atau negaranya masing-masing; tiap-tiap partai dari
suatu negara merasa bangga dengan partainya; tiap-tiap golongan
atau kelompok pun merasa bangga dengan golongan atau
kelompoknya; bahkan, tiap-tiap agama atau mazhab juga merasa
bangga dengan agama dan mazhabnya masing-masing.
29Kehidupan dunia model seperti inilah yang merupakan buah dari
ideologi musyrik; ideologi yang memuja pluralisme; kehidupan
yang anti-tauhid. Inilah bentuk kehidupan musyrik yang penuh
dengan kekufuran, kezaliman, dan kefasiqan. Kalaupun ada dari
mereka yang ingin menggunakan hukum Allah, mereka hanya
mengambil sebagian dan menafikan sebagian lainnya.

30Model kehidupan berbangsa dan bernegara (salah satu
unsur dasarnya adalah undang-undang) yang dibangun oleh sistem
pluralis yang berpartai-partai atau bergolong-golongan saat ini
sesungguhnya adalah bentuk dari kemusyrikan. 31Silakan
renungkan kembali firman Allah tentang bentuk kemusyrikan di
atas dalam surat Ar-Rūm [30] ayat 30-32 berikut ini:
‫قِِد ۡميُم َنِل َيوبِ ِۡج َ�ََه�ۡل َإِِقكَ ۡ�ٱلِهِ َّ ّ ِ�َ�ِۚويٱ َّ�َِ�نُٰلقِو َُه َكحنَِٱوأَي ّٗ�ِِ�فيايۚ ُُمنفِواٱْۡطۡلٱ ََلرق ّيََِّ ُصتم َل َٰٱوو ََة�َّٰ َ�ِو َ ِ�ٱ� َّلَّنتَِ أَ� ُ� َ�ۡو� َنَُط َو�َرا‬٣َ‫أۡب‬٠‫َ�َف‬
�َ ۚ‫ٱ�َّا َس َع َل ۡي َها‬
َ
‫َ� ۡع َل ُمو َن‬ � ‫ٱ�َّا ِس‬

٣١ �َ ِ��ِ ۡ ‫ْ ِم َن ٱلۡ ُم‬
٣٢ ‫ِم َن ٱ َّ ِ�ي َن فَ َّرقُواْ ِدي َن ُه ۡم َو َ�نُواْ ِش َي ٗعاۖ ُ ُّ� ِح ۡز ِۢب بِ َما َ َ�يۡ ِه ۡم فَرِ ُحو َن‬

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah mencipta manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) din yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan
bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah
(musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka

Jalan Kebenaran Universal

40 | DIN AL-ISLAM

dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan
merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

32Sekarang, lihat sekeliling Anda! Jika Anda hidup dalam
lingkungan yang demikian, berarti Anda sedang hidup dalam
kehidupan musyrik. Jika Anda meyakini dan menjalani model
kehidupan seperti di atas, berarti Anda sedang berbuat syirik atau
menjadi seorang musyrik. 33Inilah pandangan Al-Quran tentang
kemusyrikan, suatu dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah.
Selain itu, semua pengabdian atau amal ibadah yang diperbuatnya
tidak akan bernilai di sisi Allah. Di mata Dia, orang-orang yang
musyrik adalah orang-orang yang tidak suci alias najis sehingga
ibadahnya tidak akan pernah diterima oleh-Nya. 34Perhatikan
firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tawbah [9] ayat 28 berikut
ini:

... ‫س‬ٞ َ�َ ‫َ ٰٓ� َ� ُّ� َها ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُن ٓواْ إِ َّ� َما ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang
musyrik itu najis...

35Sekali lagi, orang-orang musyrik itu najis di hadapan
Allah. Najis yang dimaksud bukanlah najis secara fisik yang sering
dibahas dalam mazhab fiqih, melainkan najis secara spiritual
(aqidah). Mereka memiliki kesadaran dan keyakinan (ideologi)
syirik (batil) yang dijadikan landasan dalam berbangsa dan
bernegara, khususnya dalam menjalankan hukum dan undang-
undang (musyrik rububiyah).

36Kedua, kedudukan Allah sebagai Malik (Raja atau
Penguasa). Dia adalah Raja alam semesta, Raja hari kemudian
(maliki yawm ad-dīn), dan Raja ummat manusia (mālik an-nās).

37Allah adalah Rabb al-‘ālamīn (Rabb alam semesta),
sehingga Dia pun menjadi Raja alam semesta. Kerajaan-Nya
meliputi langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di
antara keduanya. Itulah wilayah dari kekuasaan Allah, termasuk
bumi tempat manusia berdiam dan beraktivitas. Sangatlah logis
jika seluruh makhluk yang ada di dalam Kerajaan Allah tunduk
patuh (aslama) kepada Kekuasaan, Hukum, dan Undang-Undang

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 41

Allah. Dialah Sang Pemilik tunggal yang sejati dari seluruh
kekayaan yang ada di alam semesta. Dia tidak memiliki sekutu
dalam menguasai Kerajaan-Nya. 38Perhatikan firman-Nya dalam
surat Al-Isrā' [17] ayat 111 berikut ini:
‫ٱ ۡ َ� ۡم ُد‬
‫ٱلۡ ُم ۡل ِك‬ �ِ ‫ك‬ٞ ��ِ َ ‫َّ ُ�ۥ‬ ‫يَ ُ�ن‬ ‫َولَ ۡم‬ ‫َو َ ٗ�ا‬ ‫َ� َّت ِخ ۡذ‬ ‫لَ ۡم‬ َّ ِ�َّ ِ ‫َوقُ ِل‬
‫ٱ ِ�ي‬

�ۢ�َ ِ‫� ِّم َن ٱ ُّ� ّ ِل ۖ َو َ� ِّ ۡ� ُه تَ ۡ�ب‬ّٞ ِ ‫َولَ ۡم يَ ُ�ن َّ ُ�ۥ َو‬

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai
anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia
pun tidaklah hina yang memerlukan penolong, dan agungkanlah
Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”

39Perhatikan pula surat Al-Furqān [25] ayat 2:
‫َوٱ ۡ�َ� ِض‬
‫َّ ُ�ۥ‬ ‫يَ ُ�ن‬ ‫َولَ ۡم‬ ‫َو َ ٗ�ا‬ ‫َ� َّت ِخ ۡذ‬ ‫َولَ ۡم‬ ‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ ‫ُم ۡل ُك‬ ‫َ ُ�ۥ‬ َّ
‫ٱ ِ�ي‬

�‫ك ِ� ٱلۡ ُم ۡل ِك َو َخ َل َق ُ َّ� َ ۡ�ءٖ َ� َق َّد َر ُهۥ َ� ۡق ِدي ٗر‬ٞ ��ِ َ

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia
tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam
kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan
Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

40Tidak boleh ada satu pun makhluk yang menjadi pemilik
atau raja dari makhluk lainnya. Semua makhluk (termasuk
manusia) harus tunduk pada kekuasaan Sang Pemilik, Raja Langit
dan Bumi. Ketika seluruh makhluk di alam semesta dan ummat
manusia hidup sesuai dengan apa yang menjadi titah dan
kehendak-Nya, maka kehidupan alam semesta dan alam sosial
manusia akan dipenuhi keberkahan, yakni kehidupan yang
harmonis, adil, damai, dan sejahtera. 41Itulah kehidupan jannah;
kehidupan surgawi yang diidamkan oleh semua manusia berakal
dan beriman. Langit dan bumi beserta isinya akan menjadi sumber
berkat bagi kehidupan ummat manusia. 42Penegasan ini dapat
dilihat dalam surat Al-A’rāf [7] ayat 96 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

42 | DIN AL-ISLAM

‫ََووٱلَ ۡ ۡو َ��أَ َِّنضأَ َۡهو ََ�ٰل ٱ ۡلِ� ُق َنر َٰٓكى َّذ َءبُاوَماْ ُنفَوأاَْ ََخوٱ ۡذَّ� ََق�ٰ ُۡوهاْملَبَِف ََمتا ۡح ََن�انُواَْعيَلَ ۡي ِه ۡ�م ِبسَ ُبَرو ََن�ٰ ٖت ِّم َن ٱل َّس َمآ ِء‬

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-
ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.

43Kehidupan jannah penuh berkat tersebut akan berubah
menjadi kehidupan neraka yang penuh dengan kutuk (ghadhab)
Allah manakala manusia tidak lagi beriman atau berlaku syirik
kepada kekuasaan-Nya.

44Dalam sistem (Din) Allah yang murni, unsur utama yang
harus ada untuk dapat menegakkan Hukum dan Undang-Undang
Allah adalah aparat penguasa (Khilafah) yang akan menjadi
penegak Din Allah. Hukum dan Undang-Undang Allah (sistem
rububiyah) tidak akan dapat ditegakkan dalam kehidupan manusia
manakala tidak ada penguasa atau pemerintah (penegak hukum).
Hukum dan undang-undang yang ditegakkan adalah dari Allah,
maka kekuasaan (Khilafah) yang akan menegakkan rububiyah-Nya
pun harus berasal dari Dia. 45Khilafah Allah (Kerajaan Allah) yang
dipimpin oleh seorang Rasul –dan selanjutnya dipegang oleh
seorang Khalifah Rasul (pengganti Rasul), adalah anugerah
langsung dari Tuan Semesta Alam, bukan pemberian dari
penguasa bangsa-bangsa dunia.

46Jadi, seorang Khalifah dalam Din Al-Islam hakikatnya
adalah pengganti atau wakil Allah dalam menjalankan kekuasaan-
Nya di muka bumi. Khalifah Allah bertugas untuk mengatur
sistem kehidupan ummat manusia agar tetap berjalan dengan
harmonis, adil, damai, dan sejahtera, seperti pada kehidupan
makhluk lainnya di alam semesta sebagai bagian dari Kerajaan
Allah.

47Sekali lagi, Rububiyah (hukum dan undang-undang) Allah
tidak akan pernah tegak tanpa adanya Mulkiyah (kekuasaan;

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 43

penguasa) Allah. Dengan demikian, adanya Khilafah dalam Din
Al-Islam adalah sesuatu yang wajib (mutlak) adanya. Tanpa
adanya Khalifah (pemimpin; penguasa) dari Kerajaan Allah di
dunia, ummat manusia akan hidup dan tunduk pada kekuasaan
tirani zalim (thaghut). 48Inilah yang disebut dengan musyrik
mulkiyah; syirik terhadap Kekuasaan (Kerajaan) Allah, khususnya
dalam kehidupan manusia (berbangsa dan bernegara).

49Para penguasa dari negara-negara bangsa (raja atau
presiden) di muka bumi ini telah menjadi tandingan (andād) Allah
dalam mengatur dan menguasai manusia. Di pihak lain, ummat
manusia telah memilih dan menjadikan para raja dan presiden
sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas negara bangsa masing-
masing, sama seperti Fir’aun (Ramses II) di zaman Nabi Musa,
inilah wujud dari kemusyrikan. 50Hukum dan undang-undang yang
mereka buat didasari oleh ideologi yang syirik dan para pemimpin
yang mereka pilih pun dari sistem kekuasaan (politik) yang syirik.
Wajar jika keharmonisan, keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan
sejati nan merata bagi semua lapisan rakyat dan alam sekitarnya
tak kunjung nyata. Semuanya hanya menjadi impian dan janji-janji
politik kosong dari para penguasa atau calon penguasa.

51Ketiga, kedudukan Allah sebagai Al-Ma’bud atau Ilah
bagi manusia (ilāh an-nās). Dalam surat Al-Fātihah [1] ayat 5
dikatakan, “Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-
Mu kami meminta pertolongan.”

52Secara bahasa, kata al-ma’bud berarti Yang diabdi; Yang
ditaati; Yang dipatuhi. Sedangkan kata ilah berarti tuhan atau tuan,
yakni sesuatu yang dicintai; sesuatu yang dikagumi; atau sesuatu
yang ditaati keinginannya. 53Sehingga, dalam hidup dan kehidupan
ini ada banyak hal yang dapat menjadi ilah atau tuan bagi manusia
di samping Allah, Tuan YME, termasuk ber-ilah (bertuan) kepada
hawa nafsu pribadinya. Artinya, manusia menjadi budak dari
keinginan nafsu pribadinya. 54Perhatikan, misalnya, pernyataan Al-
Quran surat Al-Furqān [25] ayat 43-44 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

44 | DIN AL-ISLAM

‫أَ ۡم‬ ٤٣ �ً ‫َع َل ۡيهِ َو�ِي‬ ‫أَ َم َّن ِنأَ ٱ َّۡ� َ� َ ََذ� ُهإِۡمَ�ٰ�ََه ُۡهسۥ َم ُع َهو َو َنٮٰ ُهأَ ۡوأَفََ�أَ ۡعن ِق َلُتو َتَۚن إِ ُۡ�نو ُهُن ۡم‬ ‫أَ َر َءيۡ َت‬
‫ُه ۡم‬ ‫بَ ۡل‬ ‫َكٱ ۡ َ�نۡ َ�ٰ ِم‬ َّ ‫َ ۡ� َس ُب‬
�ِ‫إ‬ ٤٤ �ً ‫أَ َض ُّل َسبِي‬

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuannya. Maka apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa
kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu
tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

55Perhatikan pula surat Al-Jātsiyah [45] ayat 23: ‫أَفَ َر َءيۡ َت‬
�ُ‫َوَم َِجن َعٱَلَّ�َ َذَ َإِٰ�َ�ٰ َهبَ ُه َۥ ِ� َههِ َۦوٮٰ ُه ِغ َوأََ ٰ� َ َوض ٗة َّل ُه َ�ٱ َم َّن‬ ‫َو َق ۡلبِهِۦ‬
‫َ َ ٰ� ِع ۡل ٖ� َو َخ َت َم َ َ ٰ� َس ۡم ِعهِۦ‬ ‫تَ َذ َّك ُرو َن‬
�َ ‫َ� ۡه ِديهِ ِم ۢن َ� ۡع ِد ٱ َّ�ِۚ أَ َف‬

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuannya dan Allah membiarkannya
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan akal pikirannya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran?

56Lā ilāha illā Allāh; tuan yang berhak untuk ditaati segala
kehendak dan perintah-Nya oleh manusia hanyalah kehendak dan
perintah Allah, Tuan Semesta Alam. Inilah yang juga disebut
tauhid uluhiyah. 57Jika dalam kehidupan ini Anda masih memiliki
kecintaan yang melebihi kecintaan Anda kepada Allah dan Rasul-
Nya, Anda memiliki keinginan selain keinginan yang diridai oleh-
Nya, Anda memiliki ketaatan selain kepada kekuasaan-Nya,
berarti Anda telah melakukan kemusyrikan, musyrik uluhiyah.

58Hubungan antara Allah dan manusia adalah hubungan
Yang diabdi (Ilah atau Al-Ma’bud) dengan yang mengabdi (hamba
atau budak). Sebagai hamba, sudah sepantasnya manusia

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 45

menganut pengabdian tunggal, yakni hanya mengabdi (taat)
kepada Sang Tuan Yang Esa, Dia Yang mencipta, mengatur, dan
menguasai alam semesta. Inilah fitrah hidup dari manusia yang
telah menyadari hakikat dirinya sebagai hamba. Dalam setiap misi
dakwahnya, para Nabi dan Rasul Allah selalu mengajak dan
mengingatkan manusia untuk kembali kepada garis fitrahnya,
yakni menjadi hamba yang menegakkan tauhid uluhiyah.
59Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Anbiyā' [21]
ayat 25 di bawah ini:
۠‫َ�نَا‬ ‫َ�نَّ ُهۥ‬ ‫أَ ۡر َس ۡل َنا‬
ٓ�َّ ِ‫إ‬ ‫إِ َ�ٰ َه‬ ٓ�َ ِ‫إِ َ ۡ�ه‬ �ٓ ِ ‫نُو‬ َّ ‫َّر ُسو ٍل‬ ‫ِمن‬ ‫َ� ۡبلِ َك‬ ‫ِمن‬ ٓ‫َو َما‬
�ِ‫إ‬

‫َفٱ ۡ� ُب ُدو ِن‬

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada
Tuan (yang hak) melainkan Aku, maka abdilah olehmu sekalian
akan Aku.”

60Sebelumnya sudah dijelaskan tentang dua unsur utama
dari sistem Allah (Din Al-Islam) –yakni unsur rububiyah (hukum
dan undang-undang) dan unsur mulkiyah (penguasa; pemerintah;
penegak hukum), maka unsur ketiga yang harus ada dalam
menegakkan Din Al-Islam secara totalitas (kāffah) adalah unsur
uluhiyah, yakni masyarakat atau warga atau ummat yang siap
tunduk patuh (taat) kepada Hukum dan Undang-Undang Allah
yang dikawal oleh penguasa (pemerintah). 61Dengan demikian, tiga
unsur utama yang harus ada dalam penegakan Din Al-Islam secara
sempurna adalah: Hukum atau Undang-Undang Allah; Khalifah
Allah (penguasa atau pemerintah); dan rakyat atau ummat yang
akan mematuhi Hukum atau Undang-Undang Allah. Di samping
tiga unsur tersebut, satu unsur pelengkap yang juga harus ada
adalah wilayah hukum atau wilayah kekuasaan dari Khilafah Allah
tersebut (Darussalam atau Madinah).

62Bagaimanapun, manusia harus berfungsi sesuai dengan
keinginan dari Sang Penciptanya. Ketika manusia berfungsi di luar
yang diinginkan oleh Sang Pencipta, maka dia telah menjadi
makhluk yang batil atau musyrik, menjadi makhluk yang

Jalan Kebenaran Universal

46 | DIN AL-ISLAM

dikehendaki oleh keinginan ilah yang lain selain Allah. 63Tauhid
uluhiyah menghendaki adanya ketaatan (pengabdian) tunggal hanya
kepada-Nya. Inilah yang juga selalu diingatkan oleh para Nabi dan
Rasul Allah. 64Hal ini dapat dilihat dari beberapa firman Allah
berikut ini:
• 65Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 133:

‫أَ ۡم ُكن ُت ۡم ُش َه َدآ َء إِ ۡذ َح َ َ� َ� ۡع ُقو َب ٱلۡ َم ۡو ُت إِ ۡذ قَا َل ِ�َنِيهِ َما َ� ۡع ُب ُدو َن ِم ۢن‬
‫َ� ۡع ِدي� قَالُواْ َ� ۡع ُب ُد إِ َ�ٰ َه َك � َ�ٰ َه َءابَآ�ِ َك إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم � ۡس َ�ٰ ِعي َل � ۡس َ�ٰ َق إِ َ�ٰ ٗها‬

‫َ�ٰ ِح ٗدا َو َ ۡ� ُن َ ُ�ۥ ُم ۡسلِ ُمو َن‬

Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda)
maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu
abdi sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan mengabdi
kepada Tuanmu dan Tuan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail
dan Ishak, (yaitu) Tuan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya.”

• 66Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 36:

‫ٱَوَوٱٱَّبۡلۡ َ�َِمن ََوٱلَٰ��َّسِك�بُِيِۡ� ِلِ� َُ�وَٱوو َامْ ۡا َ�بِا َمهِرِ َلۦ َذِكَش ۡۡيتٗٔ�اٱَ�ۖ ۡليۡ ََُوق�ٰ�ِۡرُنٱ َۡل ٰ�َ�ُٰ�ِ ََ�ۡومۗٱيۡإِِۡنَ�َّناإِٱرِ ۡح َّٱ ََ� ٰ�ۡ ُ�َٗن ُنا� َُِوب��ِِ ِذَُّوٱبلي ََّمٱص ۡلان ُق ِحَۡر� َ َِٰ�بن‬ ْ‫َوٱ ۡ� ُب ُدوا‬
�ٰ َ ٰ�َ َ�ۡ ‫َوٱ‬
‫بِٱ ۡ َ�� ِب‬
‫ُ ۡ� َتا ٗ� َف ُخو ًرا‬

Abdilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 47

• 67Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 59:

‫لَ َق ۡد أَ ۡر َس ۡل َنا نُو ًحا إِ َ ٰ� قَ ۡو ِمهِۦ َ� َقا َل َ�ٰ َق ۡو ِم ٱ ۡ� ُب ُدواْ ٱ َّ َ� َما َل ُ�م ِّم ۡن إِ َ�ٰ ٍه‬
�ٖ ‫َ� ۡ ُ�هُ ٓۥ إِ ِّ ٓ� أَ َخا ُف َع َل ۡي ُ� ۡم َع َذا َب يَ ۡو ٍ� َع ِظي‬

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu
ia berkata: “Wahai kaumku, abdilah Allah, sekali-kali tak ada
Tuan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak
mengabdi kepada Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari
yang besar.”

• 68Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 65:

‫� َ ٰ� َ� ٍد أَ َخا ُه ۡم ُهو ٗد�ۚ َقا َل َ�ٰ َق ۡو ِم ٱ ۡ� ُب ُدواْ ٱ َّ َ� َما َل ُ�م ِّم ۡن إِ َ�ٰ ٍه َ� ۡ ُ� ُهۚ ٓۥ‬
‫أَفَ َ� َ� َّت ُقو َن‬

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka,
Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, abdilah Allah, sekali-kali tidak
ada Tuan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak
bertaqwa kepada-Nya?”

• 69Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 73:

‫� َ ٰ� َ� ُمو َد أَ َخا ُه ۡم َ�ٰلِ ٗحاۚ َقا َل َ�ٰ َق ۡو ِم ٱ ۡ� ُب ُدواْ ٱ َّ َ� َما َل ُ�م ِّم ۡن إِ َ�ٰ ٍه‬
ۖ ‫ َّ ِّم�ِۖن َو َ َّر� ّ�ِ َ� َم ُ� ُّ ۡسمۖو َهَا�ٰ ِ�ذ ِهُِسۦ ٓونَٖءا َق َ� ُةَيأۡٱ ُخ َّ َذ�ِ لَ ُ� ۡم ُ� ۡمَع َذ َءاايٌَ ٗبة‬ٞ‫مُر�هُۖوۥ َها َقتَۡدأۡ َُج�آۡ َءلتۡ ِ ٓ� ُ�أَم� ِبَ ّيِض َن ٱة‬ُٞ ۡ‫أَفَ َِ� َ�ذ‬

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara
mereka, Saleh. Ia berkata: “Hai kaumku, abdilah Allah, sekali-
kali tidak ada Tuan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah
datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina
Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di
bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan
gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan
yang pedih.”

Jalan Kebenaran Universal

48 | DIN AL-ISLAM

• 70Al-Quran surat Al-Ankabūt [29] ayat 16:

‫ َّل ُ� ۡم إِن‬ٞ�ۡ ‫�بۡ َ�ٰهِي َم إِ ۡذ قَا َل لِ َق ۡو ِمهِ ٱ ۡ� ُب ُدواْ ٱ َّ َ� َوٱ َّ� ُقوهُۖ َ�ٰلِ ُ� ۡم َخ‬
‫ُكن ُت ۡم َ� ۡع َل ُمو َن‬

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya:
“Abdilah olehmu Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Yang
demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

• 71Al-Quran surat Az-Zumar [39] ayat 11:

‫ُق ۡل إِ ِّ ٓ� أُ ِم ۡر ُت أَ ۡن أَ ۡ� ُب َد ٱ َّ َ� ُ ۡ�لِ ٗصا َّ ُ� ٱ ِّ�ي َن‬

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya
mengabdi kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-
Nya dalam (menjalankan) din.”

72Sudah semakin jelas dan tegas apa dan bagaimana bentuk
kemusyrikan yang sesungguhnya. Sesuatu yang teramat penting
bagi kehidupan kita, tetapi sayangnya luput dari kesadaran
kebanyakan manusia. Seandainya saat ini kita hidup di tengah-
tengah kehidupan negara bangsa dan dunia yang musyrik, yang
kafir kepada hukum Allah, lalu apa yang semestinya kita perbuat?
Duduk diam dan pasrah terhadap kondisi yang ada atau
melakukan teror dan makar kepada penguasa? TIDAK.

73Dalam kondisi malam (zhulumat) seperti saat ini, hal yang
mesti kita selamatkan dan luruskan terlebih dahulu adalah aqidah
(keimanan) kita. Bagaimanapun, pondasi (dasar) dari bangunan
Din Al-Islam adalah aqidah (iman) kepada-Nya. Tauhid rububiyah,
tauhid mulkiyah, dan tauhid uluhiyah harus betul-betul suci dalam
keimanan diri kita, minimal dalam kesadaran qalbu. Inilah level
iman yang terendah yang dapat dilakukan.

74Hal yang menjadi dasar penilaian dari Allah adalah iman
seseorang. Allah tidak akan membebani manusia sesuatu yang
belum pantas atau belum saatnya untuk dilaksanakan. Setiap
perintah atau hukum Allah selalu terikat dengan ruang dan waktu.

Jalan Kebenaran Universal

DIN AL-ISLAM | 49

75Memaksakan sesuatu yang bukan pada tempatnya atau
memaksakan melakukan sesuatu yang belum pada waktunya
hanya akan menimbulkan kerusakan dan kezaliman.

76Meskipun kita hidup di tengah-tengah kondisi dan
lingkungan masyarakat bangsa yang musyrik, bukan berarti kita
harus turut larut dalam kemusyrikan. 77Ingat! Musyrik adalah najis,
maka segala ajaran yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang najis
dan menajiskan. Sekuat mungkin segala bentuk kemusyrikan yang
sudah dijelaskan di atas harus dapat dihindari dan ditinggalkan,
khususnya secara aqidah (spiritual). Adapun secara praktik,
khususnya dalam hal hukum, semua warga negara harus tunduk
pada aturan hukum penguasa atau hukum positif.

78Kiranya kesadaran qalbu Anda sudah tercerahkan oleh
pemikiran dan renungan di atas dan membuat mata Anda bisa
melihat mana kehidupan yang haq (suci) dan mana kehidupan
yang batil (najis), dan dapat membedakan antara keimanan dan
kemusyrikan. 79Jauhilah kemusyrikan itu, karena syirik adalah dosa
besar yang tidak akan diampuni oleh-Nya. Bersihkan diri Anda
dari kenajisan ideologi musyrik dan jangan biarkan diri Anda
menjadi orang-orang tunaspiritual. Waspadalah!

Jalan Kebenaran Universal



AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 51

BAB II

al-quran sebagai
kitab petunjuk

A. DIMENSI DAN FUNGSI AL-QURAN
1Salah satu sumber kebenaran Ilahi adalah wahyu Al-Quran.

Kita patut bersyukur kepada para sahabat Rasulullah Muhammad
yang telah berhasil menyusun Al-Quran yang kini menjadi kitab yang
paling banyak dibaca manusia, bahkan dihafalkan. Meski demikian,
kemampuan membaca dan menghafal Al-Quran tidak berkaitan
langsung dengan kedamaian dan kesejahteraan ummat manusia dan
alam sekitarnya. 2Hari ini, tradisi membaca atau mempelajari Kitab Al-
Quran umumnya hanya dijadikan pengetahuan dan sumber mendapat
pahala dan imbalan materi belaka. Sesuatu yang berbeda dari maksud
dan tujuan Allah mewahyukan Al-Quran kepada manusia melalui
Rasulullah Muhammad.

3Dengan kata lain, ummat manusia atau mayoritas ummat
Islam belum mampu bersikap secara benar terhadap Al-Quran,
sehingga betul-betul dapat menjadi Kitab Petunjuk dalam hidup dan
kehidupan manusia. Fenomena yang terlihat saat ini adalah Kitab Al-
Quran dan kitab-kitab tafsirnya yang beredar di tengah masyarakat
belum mampu membangkitkan minat manusia untuk menjadikan Al-
Quran sebagai Kitab yang hidup, Kitab Petunjuk yang dipandang
sebagai wahyu instruksional Allah yang aktual bagi mereka yang

Jalan Kebenaran Universal

52 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

membacanya. Lagi-lagi yang menjadi niat si pembaca hanyalah hasrat
untuk mendapat pahala. Selebihnya, manusia membaca Al-Quran tak
ubahnya dengan membaca sebuah buku dongeng atau fiksi, sesuatu
yang tidak bisa diterapkan dalam keseharian hidupnya.

4Secara bahasa, kata qur’an berarti bacaan yang berasal dari kata
dasar qara’a; membaca. Kata Al-Quran sendiri berbentuk mashdar (kata
benda) dalam arti isim maf’ul (objek; yang dikenakan sasaran) yakni
maqru’ (yang dibaca). 5Sedangkan secara definitif, Al-Quran dimaknai
dengan Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam
bahasa Arab yang tertulis dalam satu mushaf dimulai dengan surat Al-
Fātihah [1] dan diakhiri dengan surat An-Nās [114].

6Al-Quran bukanlah satu kitab yang diturunkan sekaligus
kepada Nabi Muhammad dalam bentuk tertulis di atas kertas,
melainkan suatu himpunan informasi Allah (wahyu) atau firman yang
diturunkan secara berangsur-angsur dalam bahasa Arab yang terurai
secara jelas (qur’ānan ‘arabiyyan) selama hampir 23 tahun. 7Wahyu
tersebut disampaikan dan dibacakan oleh Nabi Muhammad,
kemudian dihafalkan dan ditulis oleh para sahabatnya. Hafalan dan
tulisan tersebut selanjutnya dikumpulkan dan disusun dalam satu
mushaf Al-Quran pada masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman bin
Affan. Susunan Al-Quran yang ada saat ini diyakini disusun sesuai
dengan arahan langsung dari Rasulullah Muhammad.

8Dalam bentuknya yang terlihat saat ini, Kitab Al-Quran terdiri
atas 30 juz (bagian), 114 surat, 6.236 ayat dengan 77.439 kosakata, dan
323.015 jumlah hurufnya. Al-Quran berisi tentang masalah keimanan
(aqidah), peraturan-peraturan hukum yang mengatur tingkah laku dan
tata hidup dan kehidupan manusia, baik secara personal maupun
sosial, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, dan persoalan hidup yang haq
dan yang batil.

9Adapun mengenai cara Allah berkomunikasi (mewahyukan
sesuatu) kepada manusia, dijelaskan dalam Al-Quran surat Asy-Syūra
[42] ayat 51 dengan tiga cara:
‫أَ ۡو‬ ‫أَ ۡو‬ َ
‫يُ ۡر ِس َل‬ ‫ِح َجا ٍب‬ ‫َو َرآ ِٕي‬ ‫ِمن‬ ‫َو ۡح ًيا‬ َّ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫يُ َ� ّلِ َم ُه‬ ‫أن‬ �ٍ َ َ‫لِب‬ ‫َ� َن‬ ‫َو َما‬
�ِ‫إ‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 53

‫م‬ٞ ‫َر ُسو ٗ� َ� ُيو ِ َ� �ِإِ ۡذنِهِۦ َما � َ َشآ ُءۚ إِنَّ ُهۥ َ ِ ٌّ� َح ِكي‬

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-
kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang
tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan
kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

10Ayat ini menegaskan bahwa ada tiga bentuk komunikasi
verbal Allah kepada manusia yaitu, perantaraan wahyu (wahyān),
berbicara dari balik tabir (min warā‘i hijābin), dan mengirim utusan
(yursila rasūlan).

11Dari segi periodisasi turunnya wahyu, Al-Quran dibagi
menjadi ayat-ayat Makkiyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan sebelum
Rasulullah Muhammad hijrah, dan ayat-ayat Madaniyah, yaitu ayat-
ayat yang diturunkan setelah beliau hijrah. Dari jenis ayatnya, Allah
membagi ayat-ayat Al-Quran menjadi ayat muhkamat (ayat-ayat yang
terkait dengan masalah hukum) dan ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat
metaforis; alegoris; perumpamaan). 12Meskipun bahasa yang
digunakan dalam Al-Quran adalah bahasa Arab, tidak berarti semua
ayat dapat serta merta dimengerti dan dipahami seluruhnya secara
benar oleh masyarakat Arab atau mayoritas ummat Islam. Hal ini
karena bahasa Al-Quran adalah bahasa wahyu yang suci, sehingga
tidak semua manusia dapat memahaminya. Selain itu, penggunaan
bahasa Arab dalam pergaulan sosial terus mengalami perkembangan.

13Esensi Wahyu Allah sesungguhnya bukan rangkaian huruf
dan kalimat yang tertulis dalam Al-Quran. Apa yang diwahyukan atau
diajarkan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya sesungguhnya adalah
ilmu yang merupakan bagian kecil dari ilmu Allah yang maha luas.

14Ilmu yang diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul Allah
adalah ilmu yang bersifat khusus, sesuai dengan kepentingan tugas
kerasulannya. 15Perhatikan pernyataan Allah mengenai hal itu di dalam
Al-Quran surat Ar-Rūm [30] ayat 30 berikut ini:
‫فَأَقِ ۡم‬
‫َ� ۡب ِدي َل‬ َ ۚ‫َع َل ۡي َها‬ ‫ٱ�َّا َس‬ ‫َ� َط َر‬ َّ ِ�َّ ‫ٱ‬ ‫فِ ۡط َر َت‬ ۚ‫َحنِي ٗفا‬ ‫لِ ّ ِ�ي ِن‬ ‫َو ۡج َه َك‬
� �ِ ‫ٱل‬

Jalan Kebenaran Universal

54 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

‫َ� ۡع َل ُمو َن‬ َ ‫ٱ�َّا ِس‬ �َ َ �ۡ َ‫أ‬ ‫َو َ�ٰ ِ� َّن‬ ‫ٱ ۡل َق ّيِ ُم‬ ‫ٱ ِّ�ي ُن‬ ‫َ�ٰلِ َك‬ ِۚ�َّ ‫ٱ‬ ‫ِ َ� ۡل ِق‬


Maka hadapkanlah wajahmu kepada Din itu dengan lurus, itu adalah
Din ciptaan Allah yang menciptakan manusia selaras dengan Din
itu, tak pernah ada perubahan apapun pada ciptaan Allah, itulah
sistem kehidupan yang benar, tapi sebagian besar ummat manusia
tidak mengetahuinya.

16Perhatikan pula surat Asy-Syūra [42] ayat 52:
ۚ‫أَ ۡو َح ۡي َنآ إِ َ ۡ� َك ُرو ٗحا ِّم ۡن أَ ۡم ِرنَا‬
�َ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ ُب َو‬ ‫تَ ۡدرِي َما‬ ‫َما ُكن َت‬ ‫َو َ�ٰ ِ�ن َج َع ۡل َ�ٰ ُه نُو ٗر� َّ� ۡه ِدي‬ ‫َو َ� َ�ٰلِ َك‬
‫ِع َبادِنَاۚ �نَّ َك‬ ‫� َّ َشآ ُء ِم ۡن‬ ‫بِهِۦ َمن‬ ‫ٱ ۡ ِ�ي َ�ٰ ُن‬

�ٖ ‫َ َ� ۡه ِد ٓي إِ َ ٰ� ِص َ�ٰ ٖط ُّم ۡس َت ِقي‬

Dan demikianlah Kami ajarkan (wahyukan) kepada engkau energi
kehidupan atas perintah Kami, padahal sebelum itu kamu tidak
memahami hukum begitu juga tentang iman, tetapi kemudian Kami
fungsikan kesadaran iman itu menjadi penerang qalbu, dengan itulah
Kami membimbing bagi siapa yang Kami berkenan atasnya.

17Pada saat surat Al-‘Alaq [96] diturunkan, Nabi Muhammad
diperintahkan untuk membaca, tapi beliau menjawab: “Aku tidak
dapat membaca,” kemudian Jibril melanjutkan perintah baca itu,
“Bacalah dengan nama Rabbmu.” 18Bagaimanakah sebenarnya inti
persoalan dari peristiwa tersebut? Benarkah Nabi Muhammad
diperintahkan untuk membaca dalam arti membunyikan rangkaian
huruf? Apakah pada saat itu Jibril membawa lembaran tulisan?
Bukankah wahyu Allah la shautin wa lā harfin; bukan suara dan bukan
huruf? Dan masih banyak lagi yang harus dikritisi dalam kisah
tersebut.

19Untuk memecahkan masalah ini diperlukan wawasan baru
yang proporsional. Perintah untuk membaca tidak selalu berarti
membaca tulisan di atas kertas. Untuk memahami apa yang harus
dibaca, perhatikan jawaban Nabi Muhammad: mā ana bi qāri (aku tidak
dapat membaca). Dalam Al-Quran, Muhammad disebut sebagai
nabiyyil ummi karena beliau tidak paham Al-Kitab, bukan karena buta
huruf. 20Perhatikan Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 78 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 55

‫َ� ُظ ُّنو َن‬ َّ ‫ُه ۡم‬ ‫� ۡن‬ �َّ ِ ‫أَ َما‬ ٓ�َّ ِ‫إ‬ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬ ‫َ� ۡع َل ُمو َن‬ َ ‫أُ ِّم ُّيو َن‬ ‫َو ِم ۡن ُه ۡم‬
�ِ‫إ‬ �

Dan sebagian dari mereka itu ummi, tidak mengetahui kitab selain

hanya mengira-ngira saja, dan sungguh mereka itu tidak memahami

kitab selain hanya menduga-duga saja.

21Bangsa Arab merupakan salah satu bangsa di dunia yang
memiliki kebudayaan yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari tingginya
nilai sastra mereka. Ketika suatu bangsa cukup peduli pada nilai-nilai
sastra, bisa dikatakan bangsa itu memiliki sistem pendidikan yang
baik. Allah, Tuan Semesta Alam, membangkitkan seorang Rasul dari
kualitas bangsa Arab yang demikian itu, tetapi bangsa Arab –yang
terkenal dengan sastranya itu, disebut sebagai bangsa yang ummi (tidak
paham kitab). 22Jadi, pengertian ummi yang dimaksud adalah tidak
memahami makna Kitab-Kitab Allah, bukan tidak tahu baca-tulis
(buta huruf). Kemampuan seseorang dalam membaca tulisan tidak
menjamin orang tersebut mengerti apa yang dibacanya. Sebagaimana
halnya Al-Quran yang banyak dibaca orang, tetapi sedikit yang
memahami maknanya. Dalam konteks inilah suatu kaum disebut
ummi. 23Selanjutnya, perhatikan pernyataan ayat Al-Quran surat Al-
Jumu'ah [62] ayat 2 di bawah ini:
‫ٱ ۡ ُ� ِّم ِّ ۧ� َن‬
‫َو ُ� َز ّ�ِي ِه ۡم‬ ‫َءا َ�ٰتِهِۦ‬ ‫َعلَ ۡي ِه ۡم‬ ْ‫َ� ۡت ُلوا‬ ‫ِّم ۡن ُه ۡم‬ �ٗ ‫َر ُسو‬ �ِ ‫َ� َع َث‬ َّ ‫ُه َو‬
‫ٱ ِ�ي‬
�ٖ ِ‫َو ُ� َع ّلِ ُم ُه ُم ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ�ِ ۡك َم َة �ن َ�نُواْ ِمن َ� ۡب ُل لَ ِ� َض َ�ٰ ٖل ُّمب‬

Dialah Allah yang membangkitkan dari bangsa yang ummi seorang
Rasul dari mereka sendiri, yang mengajarkan kepada mereka ayat-

ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka

kitab dan kebijaksanaan, padahal sebelumnya mereka jelas-jelas
sesat.

24Sebelum mendapat bimbingan dari Allah, Muhammad
termasuk ke dalam golongan orang yang dhāllan (sesat). Sebagaimana
firman Allah dalam Al-Quran, “Aku jumpai kamu dalam keadaan
dhāllan” (QS. Adh-Dhuhā [93]: 7). Sesat yang dimaksud adalah tidak
memahami Kitab-Kitab Allah; tidak mengetahui jalan menuju
mardhātillāh (rida Allah). 25Muhammad melihat banyak orang

Jalan Kebenaran Universal

56 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

melakukan shaum (puasa), tetapi keserakahan menjadi karakter
hidupnya. Beliau melihat banyak orang melaksanakan shalat tapi
pengagungan terhadap budaya nenek moyang –yang dilambangkan
dengan berhala, terus berjalan. Beliau juga melihat banyak orang
menyebut nama Allah dan menyembah Allah di kanisah, di gereja, dan
di samping Ka’bah, tetapi nilainya hanya kegiatan ritus spiritual
belaka. Mereka menyatakan beriman kepada Kitab-Kitab Allah, tetapi
tak satu pun hukum Allah yang ada dalam kitab itu ditegakkan dalam
kehidupan sosial kenegaraan. 26Inilah latar belakang kehidupan sosial
masyarakat yang dihadapi Muhammad dan menyebabkan ia ber-
tahanuts di tempat yang sunyi (Gua Hira).

27Kembali kepada surat Al-'Alaq [96] tentang perintah Jibril
kepada Muhammad Iqra’ bi ismi Rabbika. Dari uraian di atas, bisa
dipahami bahwa apa yang tidak dapat dibaca oleh Muhammad dapat
diselesaikan dengan isme Rabbmu, Allah. Maksud kalimat bi ismi
Rabbika adalah Bismillāhi ar-rahmān ar-rahīm; simpul (intisari) dari
seluruh ajaran Allah, Tuan Semesta Alam, yang ada di dalam Al-
Quran.

28Dengan kata lain, Muhammad diperintahkan Allah untuk
mengubah perilaku masyarakat dunia yang jahiliyah menjadi perilaku
nūr dengan metode wahyu, yaitu isme Rabb atau Al-Quran. Pahamlah
Muhammad, bahwa dirinya telah mendapat tugas kenabian dari Allah,
dan tugas berat inilah yang menyebabkan dirinya diliputi rasa
ketidakmampuan dan bercampur rasa cemas (alladzī anqadha dlahrak;
yang memberatkan punggungmu, QS. Alam Nasyrah [94]: 3).

29Untuk mengetahui lebih jauh dimensi dan fungsi Al-Quran
sebagai Kitab Petunjuk, mari kita perhatikan uraian mengenai
beberapa dimensi dan fungsi Al-Quran berikut ini:

1. Al-Quran Sebagai Hudan (Petunjuk)
30Secara prinsip, Al-Quran berfungsi sebagai Kitab Petunjuk

bagi ummat manusia (hudan lin nās) pada umumnya, dan bagi
orang-orang yang bertaqwa (hudan lil muttaqīn) pada khususnya.
Sehingga, memahami maksud yang tersurat dan tersirat dari ayat-
ayat Al-Quran adalah sebuah keniscayaan. Tanpa memahami

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 57

isinya, manusia tidak dapat mengikuti dan menjalani petunjuk Al-
Quran. 31Penegasan akan fungsi tersebut tertuang dalam surat Al-
Baqarah [2] ayat 185 berikut ini:

‫ َش ۡه ُر َر َم َضا َن ٱ َّ ِ� ٓي أُنزِ َل �ِيهِ ٱ ۡل ُق ۡر َءا ُن ُه ٗدى ّلِل َّنا ِس َو َ� ّيِ َ�ٰ ٖت ِّم َن‬...
... ‫ٱلۡ ُه َد ٰى َوٱ ۡل ُف ۡر َقا ِ�ن‬

… Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-
Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang
batil)…

32Ayat di atas dengan tegas menyatakan fungsi Al-Quran
sebagai petunjuk bagi manusia (hudan lin nās) dan sekaligus
menjelaskan mengenai petunjuk ayat itu (bayyinat minal hudā).
Maksudnya, di samping ayat-ayat Al-Quran berfungsi sebagai
petunjuk (hudan), ayat-ayat tersebut juga seringkali menjelaskan
atau menafsirkan maksud dari ayat-ayat (petunjuk) lainnya.
33Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran menafsirkan ayat-ayat
lainnya (tafsir al-āyāt bil āyāt). Jadi, Al-Quran terkadang menafsirkan
dirinya sendiri. Selain itu, petunjuk ayat-ayat Al-Quran dijelaskan
Allah melalui ayat-ayat tentang kisah para Nabi dan Rasul-Nya.
2. Al-Quran Sebagai Bayyināt Min Al-Hudā (Penggenapan
Petunjuk)

34Kata bayyinat artinya fakta atau bukti. Bayyināt minal hudā
artinya pembuktian dari ilmu atau aktualisasi konseptual. Wujud
mem-bayyināt-kan hudā adalah praktik. 35Tugas para Rasul Allah
adalah mem-bayyināt-kan hudā; membuktikan wahyu itu menjadi
kenyataan. Al-Quran diyakini banyak orang sebagai suatu
kebenaran, tetapi baru sebatas teori (normatif) yang akan menjadi
pertentangan hebat manakala para Ahli Kitab atau Ahli Al-Quran
diajak serta untuk mem-bayyināt-kan dengan beruswah kepada
sunnah para Rasul.

36Kisah para Rasul berikut para penentangnya merupakan
bayyinat (penjelasan; bukti) dari petunjuk ayat-ayat lainnya. Dengan

Jalan Kebenaran Universal

58 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

demikian, saat manusia sudah mampu memahami petunjuk dari
ayat-ayat tersebut barulah kemudian Al-Quran dapat berfungsi
sebagai Al-Furqan (Pembeda) antara yang haq dan yang batil.
Untuk membedakan mana yang haq dan mana yang batil silakan
cari petunjuknya dalam Al-Quran. Artinya, untuk mengetahui
apakah sesuatu itu haq atau batil, silakan cari jawabannya dalam
Al-Quran.

37Sebagai Kitab Petunjuk, sejatinya Al-Quran adalah kitab
yang jelas dengan susunan bahasa yang indah dan jelas, sehingga
Al-Quran mudah untuk dipahami tanpa membutuhkan penafsiran
yang berbelit-belit. 38Perhatikan Al-Quran surat Maryam [19] ayat
97 berikut ini:

‫َفإِ َّ� َما � َ َّ ۡ� َ�ٰ ُه بِلِ َسانِ َك ِ ُ� َب ِّ َ� بِهِ ٱلۡ ُم َّتقِ َ� َوتُن ِذ َر بِهِۦ قَ ۡو ٗما ُّ ّٗ�ا‬

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu dengan
bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-
Quran itu kepada orang-orang yang bertaqwa, dan agar kamu
memberi peringatan dengannya kepada kaum yang
membangkang.

39Perhatikan pula surat Al-Qamar [54] ayat 17:

‫َو َل َق ۡد � َ َّ ۡ�نَا ٱ ۡل ُق ۡر َءا َن لِ ِّ� ۡك ِر َ� َه ۡل ِمن ُّم َّدكِ ٖر‬

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

40Satu hal yang perlu diingatkan ulang, Al-Quran akan dapat
menjadi Kitab Petunjuk dalam kehidupan ini tatkala seseorang
telah meninggalkan keyakinan dan komunitasnya yang musyrik
(najis) dan masuk ke dalam komunitas mu’min. 41Komunitas
orang-orang beriman adalah sekumpulan orang-orang yang telah
berjanji untuk menegakkan aktivitas pengabdian hanya kepada
Allah dan menjaga dirinya dari hal-hal yang najis, jauh dari
pengaruh bahaya syirik, dan yakin akan hasil akhir dari setiap amal
perbuatannya.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 59

3. Al-Quran Sebagai Al-Furqan (Pembeda)
42Al-Quran dalam dimensi furqan adalah terbelahnya

ummat manusia ke dalam dua ashhāb; dua komunitas, yaitu
kelompok yang berada pada Sabilillah dan kelompok yang berada
pada Sabilithaghut. Kelompok Sabilillah adalah mereka yang
tergabung dalam satu komunitas yang diikat oleh tauhid, yaitu
satunya Rabb, satunya Malik, dan satunya Ilah, yaitu Allah. Satunya
Rabb berarti satunya Rububiyah, satunya Malik berarti satunya
Mulkiyah, dan satunya Ilah berarti satunya Uluhiyah. 43Contoh
konkretnya adalah komunitas Mekah dan komunitas Madinah.
Dengan dzahir-nya Al-Quran dalam bentuk komunitas Mekah dan
Madinah, maka orang dapat membedakan mana yang haq dan
mana pula yang batil, mana yang Sabilillah dan mana Sabilithaghut,
mana aliran sesat dan mana aliran benar, mana ahlu jannah dan
mana ahlu nār.

4. Al-Quran Sebagai Al-Dzikru (Pengingat)

44Al-Dzikru adalah nama lain dari Al-Quran. Al-Quran
disebut Al-Dzikru karena salah satu fungsinya adalah sebagai alat
untuk membuat orang menjadi ingat, atau membuat orang sadar.
Para penerjemah Al-Quran kurang bijak dalam mengalihbahasakan
Al-Dzikru dengan kata peringatan. Kata peringatan mengandung
makna ancaman atau sesuatu yang membuat orang jadi ingat atau
sadar. 45Rasulullah Muhammad adalah pemberi ingat atau orang
yang memberi ingat kepada ummatnya apabila salah seorang dari
mereka condong untuk melanggar hudud atau hukum Allah.
46Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Ghāsyiyah [88]
ayat 21 berikut ini:
‫ر‬ٞ ِ‫َف َذ ّكِ ۡر إِ َّ� َمآ أَن َت ُم َذ ّك‬

Ingatlah, sesungguhnya engkau adalah orang yang memberi
ingat.

47Memberi ingat bertujuan agar orang menyadari akan
kesalahannya. Dengan adanya pemberi ingat, orang akan terhindar
dari perbuatan salah yang akan membahayakan dan merugikan
dirinya. Inilah tugas para Nabi dan Rasul Allah, sebagai

Jalan Kebenaran Universal

60 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

pembimbing, pengasuh, atau ra’in (gembala). Rasul mengingatkan
ummatnya dengan norma-norma (firman) atau Rububiyah Allah
dalam melaksanakan sifat Rahman Rahim-Nya selaku Rabb dari
manusia. Dalam konteks inilah Al-Quran itu disebut sebagai Al-
Dzikru.

48Secara garis besar isi Al-Quran dapat dibagi menjadi dua,
yaitu perintah dan larangan. Melaksanakan perintah Allah akan
berakibat positif bagi manusia di dalam perjalanan hidupnya
menuju tujuan akhir yang diridai Allah, yakni khusnul khatimah.
Meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah adalah bentuk langkah
preventif manusia agar tidak tergelincir dari Shirāthal Mustaqīm
(Jalan Kebenaran) sebagai fitrah penciptaan dirinya.

49Untuk melaksanakan apa-apa yang diperintah Allah,
manusia harus selalu ingat (sadar) akan perintah-perintah-Nya.
Manusia tidak mungkin sadar jika ia tidak memahami atau tidak
mengerti akan apa yang diperintahkan kepadanya. Perintah-
perintah Allah ada dalam Al-Quran, maka memahami dan
mengarsipkan ayat-ayat Al-Quran di dalam qalbu (pusat kesadaran)
menjadi kewajiban bagi setiap mu’min dan muslim. 50Untuk
menjadikan Al-Quran sebagai dzikrun (kesadaran), ada empat
langkah yang harus dilakukan, yaitu:

a) Tadarrus

51Dalam bahasa Arab, kata tadarrus berasal dari kata darrasa
yang berarti pelajaran. Jadi, Al-Quran adalah pelajaran yang harus
dipelajari. Langkah tadarrus adalah langkah mempelajari Al-Quran
secara muhsin (seksama), tidak seperti kegiatan tadarrus yang
dilakukan oleh mayoritas ummat Islam saat ini, yakni membaca Al-
Quran sebanyak-banyaknya dengan mitos mendapat pahala dan
berkah. 52Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat 'Ali-
Imrān [3] ayat 79:
‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ ُ� ۡ� َم َوٱ ّ�ُ ُب َّو َة ُ� َّم َ� ُقو َل لِل َّنا ِس‬ َ
‫ٱ َّ�ِ َو َ�ٰ ِ�ن ُكونُواْ َر َّ�ٰنِ ِّ ۧ� َن بِ َما ُكن ُت ۡم‬ �ُ َّ ‫يُ ۡؤ�ِ َي ُه ٱ‬ ‫أن‬ �ٍ َ َ‫لِب‬ ‫َما َ� َن‬
‫ِمن ُدو ِن‬ ّ ‫ِع َبا ٗدا‬ ْ‫ُكونُوا‬
�ِ

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 61

‫ُ� َع ّلِ ُمو َن ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َو�ِ َما ُكن ُت ۡم تَ ۡد ُر ُسو َن‬

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan
kepadanya Al-Kitab, Hikmah, dan Nubuah, lalu dia berkata
kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi pengabdi-
pengabdiku bukan pengabdi Allah.” Akan tetapi (dia berkata):
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu
selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap
mempelajarinya.”

b) Tafakkur

53Tafakkur adakah aktivitas psikis atau jiwa manusia tentang
suatu masalah atau fenomena alam untuk mengambil satu
kesimpulan yang baru sebagai sintesa dari hasil pengamatan atau
penelitian. Hukum Gravitasi Newton, misalnya, adalah hasil
berpikir dari sebuah peristiwa –yang biasa menurut orang awam,
yaitu jatuhnya buah apel dari pohonnya. Bagi Newton, peristiwa
tersebut mengusik naluri berpikirnya, mengapa buah apel yang
jatuh dari pohonnya selalu menuju ke bawah, bukan ke atas? Ada
hubungan apa antara bumi dengan buah apel? Dan pertanyaan
ilmiah lainnya.

54Kemampuan berpikir manusia merupakan satu anugerah
dari Allah agar ia dapat mengenal Rabbnya. Sesungguhnya,
mengerahkan kemampuan berpikir secara maksimal –terhadap
akwan ataupun alam semesta, adalah salah satu cara untuk
memantapkan keimanan kepada Allah. 55Keimanan yang dimaksud
adalah bahwa yang benar-benar haq, yaitu Din Al-Islam, berasal
dari Allah, Tuan Semesta Alam. Selain Din Al-Islam, nilainya
adalah kebatilan (famāza ba’dal haq illā dhalālah). 56Perhatikan surat
'Ali-Imrān [3] ayat 190-192 berikut ini:
�ِ ‫َوٱ ۡختِ َ�ٰ ِف ٱ َّ ۡ� ِل َوٱ�َّ َهارِ � َ�ٰ ٖت ّ ِ ُ� ْو‬ ‫َوٱ ۡ َ�� ِض‬ ‫ٱل ٱَّسَّ َِ��ٰي َ�َٰن ِت‬١٩‫ِق‬٠‫إٱِ ۡ َّنَ� ۡل َِ�ٰ� ِب َخ ۡل‬
‫َو ُ� ُعو ٗدا َو َ َ ٰ� ُج ُنو�ِ ِه ۡم‬ ‫ٱ َّ َ� قِ َ�ٰ ٗما‬ ‫يَ ۡذ ُك ُرو َن‬
�ٗ ‫َما َخلَ ۡق َت َ�ٰ َذا َ�ٰ ِط‬ ‫َوٱ ۡ�َ� ِض َر َّ� َنا‬
‫َو َ� َت َف َّك ُرو َن ِ� َخ ۡل ِق ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬

Jalan Kebenaran Universal

62 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

‫َ� َق ۡد‬ ‫ٱ�َّا َر‬ ‫تُ ۡد ِخ ِل‬ ‫َمن‬ ‫إِنَّ َك‬ ٓ‫َر َّ� َنا‬ ١ٖ‫ر‬٩‫ا‬١‫أَ ُس ۡخۡب َز َۡ��َٰت َن ُهۖۥَك َو َمفَاقِلَنِال َّ�ٰ َعلِ َِمذا َ َ�ب ِمٱۡن�َّأَانرِ َص‬
١٩٢

Sesungguhnya dalam proses penciptaan benda-benda angkasa
dan kehidupan di bumi, rotasi malam dan siang adalah fakta-
fakta (dari ke-Maha Kuasa-an Allah), bagi para intelektual,
yaitu intelektual yang sadar akan tugasnya sebagai hamba Allah
setiap saat, pada waktu berdiri, duduk, maupun berbaring selalu
berpikir tentang proses penciptaan langit dan bumi (dia sampai
pada kesimpulan dan berkata): “Wahai Pencipta dan
Pembimbing hidup kami, tidak ada kesalahan dari segala yang
Engkau ciptakan (termasuk Din Al-Islam) Maha Suci Engkau
dari kesalahan, selamatkan kami dari bencana kehidupan
Neraka.” Wahai Pembimbing hidup kami, siapa saja yang
Engkau masukkan ke dalam kehidupan Neraka (karena
kebodohannya) sungguh Engkau telah hinakan dia, dan tidak
akan ada kekuatan yang akan menolong orang yang bodoh itu
dari azab Neraka.

57Al-Quran –yang hanya bagian kecil dari ayat-ayat Allah,
hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang mau berpikir.
Orang-orang yang tidak menggunakan potensi berpikirnya tidak
akan mungkin memahami wahyu Allah. Allah dan Rasul-Nya
menyamakan orang yang tidak paham Al-Quran seperti orang
buta. 58Renungi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-An’ām [6]
ayat 50 di bawah ini:
ۚ‫يَُخو َز َآ�ِٰٓ�ُنإِٱ َ َّ�َّۚ�ِقُ َۡولَ�ٓ َهأَ ۡ ۡلعلَ� َ ُم ۡسٱ َتۡلوَِغ ۡيي َبٱ ۡ َوَ� َ ۡ��ٓ َأَ ٰقُ�و َُولٱ ۡ َلَ� ِص ُ� ُۡ�م‬ ‫ُقل َّ�ٓ أَقُو ُل َل ُ� ۡم ِعن ِدي‬
َّ ‫أإَِفَِّ َ�� َم َ�لَ َت َفٌكۖ َّكإُِر ۡنو َ َ�نتَّبِ ُع‬
‫َما‬ �ِ‫إ‬

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa
perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan
kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Sesungguhnya aku
hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakan:

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 63

“Samakah orang yang buta dengan orang yang melihat, Apakah
kalian tidak memikirkannya?”

59Dalam menjelaskan fakta-fakta kehidupan ummat
manusia, Al-Quran banyak menggunakan ayat-ayat kauniyah (alam)
sebagai amsal (perumpamaan). Ayat-ayat mutasyabihat hanya bisa
dipahami maksudnya (i’tibar) bagi orang yang mau berpikir.
60Dengan begitu indahnya, Al-Quran mengumpamakan kehidupan
suatu bangsa yang tidak berdasarkan kepada Din Al-Islam seperti
sunnatullah yang berlaku pada alam, sebagaimana tertera pada
surat Yūnus [10] ayat 24:

‫إٱِ َّۡ� َ�َم�ا ِ َمض َث ُلِم َّمٱا ۡ َ�يَأَيۡ ٰوةِ ُ�ٱ ُلُّ� ۡ�ٱ َيا�َّا َُكسَمآ ٍَءوٱ ۡأَن�َنَۡز َۡل�ٰ َ ُ�ٰم ُه َح ِم َّ َ ٰٓن� ٱإِل َذ َّآس َأَمآ َخِء َذ َفٱِت ۡخٱَت ۡلَ َ� َ�ط ُ بِضهِۦُز ۡخَ� َُبراَ� َُهتا‬
�‫َوٱ َّز َّ� َن ۡت َو َظ َّن أَ ۡهلُ َهآ َ� َّ� ُه ۡم َ�ٰ ِد ُرو َن َع َل ۡي َهآ َ�تَٮٰ َهآ أَ ۡم ُرنَا َ ۡ� ً� أَ ۡو َ� َها ٗر‬
�ٖ ‫َف َج َع ۡل َ�ٰ َها َح ِصي ٗدا َكأَن َّل ۡم َ� ۡغ َن بِٱ ۡ�َ ۡم ِ �س َك َ�ٰلِ َك ُ� َف ِّص ُل ٱ� َ�ٰ ِت لِ َق ۡو‬

‫َ� َت َف َّك ُرو َن‬

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan yang berdasarkan
materialistis itu bagaikan air yang Kami turunkan dari langit,
yang dengan air itu tumbuhlah berbagai macam tumbuhan di
bumi, sebagai makanan manusia dan binatang ternak. Sampai
pada suatu saat ketika bumi sudah mencapai puncak
keindahannya dengan segala kemegahannya, dan pemiliknya
mengira bahwa mereka akan melakukan panen besar, tiba-tiba
datanglah ketentuan Kami pada waktu malam atau siang hari,
dan Kami jadikan kebun-kebun itu seperti dipangkas habis tanpa
bekas, seolah-olah kemarin tidak ada tetumbuhan apapun.
Demikian Kami jelaskan tentang kepastian hukum Kami bagi
bangsa yang mau berpikir.

61Kunci untuk bisa memahami makna hakiki dari cerita
alegoris ini sangatlah bergantung kepada kemampuan seseorang
dalam menggunakan daya nalarnya, seperti apa yang ditekankan
dalam penutup cerita tersebut. Jadi, kegiatan tafakkur mutlak
diperlukan. Yang harus diingat, ayat tersebut adalah ayat amsal
atau permisalan tentang suatu model kehidupan yang disebut

Jalan Kebenaran Universal

64 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

hayātid dunyā. 62Istilah ini juga dapat kita jumpai dalam Al-Quran di
antaranya surat 'Ali-Imrān [3] ayat 14, Al-Baqarah [2] ayat 212,
'Ali-Imrān [3] ayat 185, Al-An’ām [6] ayat 70, Muhammad [47] ayat
36-38, Al-Hadīd [57] ayat 20, dan lain sebagainya.
ِ‫ََووٱٱ ۡل َۡقَ� َ ۡر�ٰ ِِط�ث ِ� َ�ٰلٱِلۡ َُمك َقنَم َ َط�ٰ َر ُةع‬ �َ ِ‫ُح ُّب ٱل َّش َه َ�ٰ ِت ِم َن ٱل ّنِ َسآ ِء َوٱ ۡ�َن‬
‫َوٱ ۡل ِف َّض ِة َوٱ ۡ َ� ۡي ِل ٱلۡ ُم َس َّو َم ِة َوٱ ۡ َ�نۡ َ�ٰ ِم‬ ‫ُز ّ�ِ َن لِل َّنا ِس‬
‫ِم َن ٱ َّ� َه ِب‬
‫ٱ ۡ َ� َي ٰوةِ ٱ ُّ� ۡ� َياۖ َوٱ َّ ُ� ِعن َدهُۥ ُح ۡس ُن ٱ ۡل َ َ�ٔا ِب‬

Ditampakkan indah atas manusia akan kecintaan terhadap
syahwat, yaitu: seks, keturunan, barang-barang yang berharga
berupa emas (uang), perak (barang-barang antik), alat
transportasi mewah, binatang ternak serta tanah perkebunan
yang luas, itu adalah kesenangan kehidupan rendah, dan cara
hidup yang ada di sisi Allah itulah tujuan hidup yang baik.

63Dari surat 'Ali-Imrān [3] ayat 14 di atas, cukup jelas bahwa
yang dimaksud dengan hayātid dunyā bukanlah kehidupan di dunia,
melainkan model kehidupan rendah yang hanya untuk memuaskan
tiga syahwat dasar (nafsu biologis) manusia, yaitu seks; ekonomi;
dan kehormatan (jabatan). Ketiga faktor inilah yang menjadi
lambang status sosial dalam kehidupan dunia modern dewasa ini.
Dalam bahasa populer, kehidupan model demikian sering disebut
sebagai konsumerisme atau materialistis. 64Jadi, ayat yang disajikan
dalam bentuk amsal tersebut di atas sebenarnya merupakan
peringatan Allah kepada manusia tentang bencana yang akan
menimpa suatu bangsa atau ummat manusia secara keseluruhan
sebagai akibat dari penerapan sistem kehidupan materialistis, yaitu
suatu sistem yang menempatkan ekonomi sebagai tujuan
pembangunan.

65Melihat fakta yang terjadi dewasa ini, adanya resesi
ekonomi dunia menunjukkan bahwa apa yang dinubuahkan Allah
adalah benar adanya. Untuk itu kita nyatakan: Shadaqallāhul ‘aliyul
azhīm, Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung (atas
segala firman-Nya).

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 65

c) Tadabbur

66Jika tafakkur adalah penggunaan akal pikiran agar manusia
memahami apa yang diuraikan Al-Quran, tadabbur mengandung
makna yang lebih dalam lagi, yaitu merenung. Merenung adalah
aktivitas jiwa spiritual yang dilakukan dengan cara membolak-
balikkan persoalan, sehingga dicapai satu kesimpulan yang bersifat
mutlak dan amat berpengaruh terhadap jiwa seseorang. 67Istilah
tadabbur berasal dari kata dabbara yang berarti mengurus,
sebagaimana penjelasan Al-Quran pada surat As-Sajadah [32] ayat
5 berikut ini:
َۡ ِ‫ٱ ۡ�َ ۡم َر ِم َن ٱل َّس َمآء‬
‫ِم ۡق َدا ُر ُه ٓۥ‬ ‫َ� َن‬ �ٖ ‫يَ ۡو‬ �ِ ِ‫إِ َ ۡ�ه‬ ‫َ� ۡع ُر ُج‬ ‫ُ� َّم‬ ‫ٱ�� ِض‬ َ ‫َس َن ٖة ِّم َّما َ� ُع ُّدو َن‬ ‫َي�ُ ۡلَد َبِّ ُرف‬
�ِ‫إ‬

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu
naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah
seribu tahun menurut perhitunganmu.

68Perhatikan pula surat An-Nisā [4] ayat 82:

ِ‫أَ َف َ� َ� َت َدبَّ ُرو َن ٱ ۡل ُق ۡر َءا َ ۚن َولَ ۡو َ� َن ِم ۡن ِعن ِد َ� ۡ ِ� ٱ َّ�ِ لَ َو َج ُدواْ �ِيه‬
��ٗ ِ‫ٱ ۡختِ َ�ٰ ٗفا َكث‬

Apakah mereka tidak bertadabbur terhadap Al-Quran? Jikalau
kiranya Al-Quran itu bukan dari Allah, tentulah mereka akan
mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.

69Dari pernyataan kedua ayat di atas, dapat disimpulkan
bahwa manusia diminta untuk merenungi ayat-ayat Al-Quran
(setidaknya ada 6.236 ayat) yang tidak ada satupun ayat yang
kontradiktif satu sama lain, baik dari segi isi, redaksional, maupun
tata bahasanya. 70Dari segi isi, perlu diingat kembali bahwa Al-
Quran diturunkan secara bertahap sesuai dengan fase-fase jihad
yang sangat berbeda-beda situasi dan kondisinya, tetapi apa yang
diungkapkan –baik dalam kondisi tertekan maupun aman, tetaplah
sama.

Jalan Kebenaran Universal

66 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

71Semua ayat Al-Quran yang menguraikan fenomena alam
adalah benar (ilmiah). Seandainya ayat tersebut adalah hawa
(pikiran pribadi) Rasulullah Muhammad, bagaimana mungkin,
misalnya, beliau mampu menguraikan masalah embriologi dan
proses perkembangan janin yang dimulai sejak thin (tanah) dan
nuthfah (air mani), padahal masalah tersebut baru terungkap secara
ilmiah beberapa ratus tahun pasca Muhammad. 72Kebenaran Al-
Quran bersifat mutlak dan tak ada keraguan sedikit pun di
dalamnya, karena ia berasal dari Yang Maha Benar. 73Simak firman
Allah dalam Al-Quran surat Al-Hijr [15] ayat 9 berikut ini:

‫إِنَّا َ ۡ� ُن نَ َّز ۡ�َا ٱ ِّ� ۡك َر �نَّا َ ُ�ۥ لَ َ ٰ� ِف ُظو َن‬

Sesungguhya Kamilah yang telah menurunkan Al-Dzikru, dan
sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.

74Implementasi mengingat Allah dapat beragam jenisnya,
tergantung masalah yang dihadapi manusia. Ketika manusia akan
mengambil sebuah keputusan, mengingat Allah diimplementasikan
dalam bentuk mengingat ajaran Allah yang menyangkut
permasalahan yang dihadapinya. Seorang hakim yang akan
memutuskan perkara menerapkannya (mengingat Allah) dengan
mengingat ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan kasus
yang sedang dihadapinya.

75Ada beberapa praktik zikir yang biasa dilakukan dalam
budaya agamis Islam, seperti takbir, tahmid, dan tahlil. Kata-kata
takbir yang dilakukan dengan menyebut asma (nama-nama) Allah
itu secara psikologi sangat berpengaruh, baik bagi orang yang
menyebutnya maupun orang yang mendengarnya. Dalam sebuah
medan pertempuran, zikir dengan kalimat takbir; Allāhu Akbar,
yang diucapkan dengan lantang akan membangkitkan semangat
dan keberanian yang luar biasa bagi pasukan mu’min, dan
sebaliknya akan membuat gentar pasukan kafir.

d) Tasyakkur
76Secara lughah (bahasa), kata tasyakkur berasal dari kata

syakkara-yusyakkiru-tasyakkur atau syukur. Al-Quran merupakan

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 67

bentuk Rahim Allah kepada manusia, di dalamnya dijelaskan
tentang sistem kehidupan yang diridai Allah, atau yang disebut
dengan Din Allah. Oleh karena itu, untuk mewujudkan rasa syukur
kita kepada Allah –sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita harus
memahami petunjuk-Nya. 77Secara universal petunjuk Allah dapat
dipahami pada alam (akwan) atau materi organis biologis.
Perhatikan alam semesta ini, apakah ada kesemrawutan (tafāwut) di
dalamnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, Allah memerintah
manusia untuk mengkaji secara berulang-ulang tentang
kesempurnaan penciptaan alam semesta. Alam semesta dapat
berjalan dengan sempurna dan setimbang karena mengikuti aturan
Sang Pencipta.

78Allah mewahyukan mushaf Al-Quran agar manusia
memahami perintah atau petunjuk-Nya. Allah sangat membenci
orang-orang yang tidak mensyukuri Din-Nya. 79Perhatikan firman-
Nya dalam surat Ibrāhīm [14] ayat 7:

‫� ۡذ تَأَ َّذ َن َر ُّ� ُ� ۡم َل�ِن َش َك ۡر ُ� ۡم َ َ�زِ� َدنَّ ُ� ۡمۖ َولَ�ِن َ� َف ۡر ُ� ۡم إِ َّن‬
‫د‬ٞ ‫َع َذا ِ� لَ َش ِدي‬

Jika kamu bersyukur maka akan Aku tambah din-Ku kepadamu,
dan jika kamu kufur maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

80Oleh karena itu, Al-Quran bisa dipahami jika manusia
mengerti bahwa satu-satunya jalan agar terhindar dari azab Allah
adalah dengan mengikuti petunjuk yang ada di dalam Al-Quran.

5. Al-Quran Sebagai Al-Kitab

81Fungsi Al-Quran sebagai Al-Kitab adalah Al-Quran
sebagai sumber dari segala sumber hukum dan undang-undang
dalam kehidupan orang-orang beriman dapat dilihat dari beberapa
ayat berikut ini:

• 82Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 2:

�َ ‫ّلِ ۡل ُم َّت ِق‬ ‫ُه ٗدى‬ ِ‫�ِي �ه‬ ‫َر ۡ� َ ۛب‬ َ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ ُب‬ ‫َ�ٰلِ َك‬


Jalan Kebenaran Universal

68 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa.

83Al-Kitab adalah kumpulan hukum atau ketetapan-
ketetapan Allah yang ada di dalam Al-Quran yang harus dijadikan
pedoman dan petunjuk bagi orang yang taat hukum (bertaqwa).
Konstitusi dan segala peraturan yang dibuat oleh orang-orang
beriman harus didasari oleh ketentuan-ketentuan Allah dalam Al-
Quran, mulai dari masalah aqidah, sosial, ekonomi, hukum, politik,
dan yang lainnya. Jika seseorang memiliki keraguan akan
kebenaran Al-Kitab, gugurlah keimanannya.
• 84Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 49-50:

‫�ن‬٤ُ َّ٩َ‫أأَََ�َوفَأَۡفنتُِِنح ُنيُوٱ َِۡ�كۡصح َيم َبَ�ٱ ُهُۡل� ۢنممَ�َٰ�ببَِِۡهع َبۡيلِ َِۡنعَّي ُهةِضِم َ�ضَم ۡبآبُِغ َأمَُذواننُٓ ََزوۚنأََ�ِنل َِهوَزٱَۡممَۗلَّۡن ُ�ٱأَ�إِ َََّّۡحنُۡ�� َس َ َكوَُۖكنَثِفَ�إِِم ٗ� َت�َننتَّتٱَبِ َِّموَّۡع َّل َ�ِنۡوأَاْ ۡهُٱحَف َوٱا�َّٓۡكاَۡءعٗمِلَُها ۡسمۡمّلِ ََ�ق َلََّ�ۡووٱَ َم�ٰٖ�اۡح ِيُسيَُذُوقرِقِۡرو�ُن ُه َُودنۡم َٱنأ‬

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu
terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari
sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka
berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-
dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah
orang-orang yang fasiq. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.

85Sangat tegas dinyatakan bahwa Al-Quran adalah Kitab
Undang-Undang Allah yang harus dijadikan rujukan dan landasan
di dalam memutuskan perkara di antara ummat muslim. Bukan
sebaliknya, menjadikan hukum jahiliyah sebagai hukum positif bagi
ummat muslim. Untuk itulah dibutuhkan adanya kekuasaan

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 69

(Khilafah) Allah yang akan menegakkan hukum Allah tersebut.
86Jika ummat manusia atau orang-orang beriman tidak menjadikan
Al-Kitab sebagai sumber hukum dalam memutuskan perkara
mereka, maka mereka itulah orang-orang yang disebut kafir, zalim,
dan fasiq.
6. Al-Quran Sebagai Ruh dan Nur

87Rūh adalah sesuatu yang menghidupkan, dan nūr adalah
sesuatu yang menerangi. Al-Quran sebagai wahyu adalah Ruh
Allah yang dapat menghidupkan qalbu manusia dari kematiannya
atau ketidaksadarannya akan nilai-nilai kebenaran sejati. Demikian
pula Al-Quran sebagai wahyu adalah nur Allah yang dapat
menerangi penglihatan dan pemikiran manusia sehingga semuanya
menjadi jelas, mana yang haq dan mana yang batil, mana yang
harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.

88Anda mungkin belum menyadari, bahwa pasangan sejati
dan fitrah bagi qalbu (akal pikiran) manusia adalah wahyu (Ruhul
Qudus). Esensi manusia bukan terletak pada fisik jasmaninya,
melainkan pada apa yang berada dalam kesadaran qalbunya. Setiap
aktivitas manusia didorong dan diperintah oleh ruh yang ada di
dalam kesadaran qalbunya. Manusia tidak akan mungkin
melakukan sesuatu yang tidak ada dalam kesadaran akal pikirannya.
89Ketika seseorang tidak memiliki ruh Allah (Ruhul Qudus; wahyu)
dalam kesadarannya, di mata Allah dia adalah mayat yang berjalan;
manusia yang mati secara spiritual. Dia akan hidup manakala ruh
Allah masuk dan berdiam menjadi daya gerak dalam qalbunya.

90Penegasan tentang wahyu Al-Quran sebagai Nur Allah
dapat direnungkan dari beberapa ayat, di antaranya:
• 91Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 122:

‫أَ َو َمن َ� َن َم ۡي ٗتا َفأَ ۡح َي ۡي َ�ٰ ُه َو َج َع ۡل َنا َ ُ�ۥ نُو ٗر� َ� ۡم ِ� بِهِۦ ِ� ٱ�َّا ِس َك َمن‬
ْ‫َّم َثلُ ُهۥ ِ� ٱل ُّظلُ َ�ٰ ِت َل ۡي َس ِ َ�ارِ ٖج ِّم ۡن َهاۚ َك َ�ٰلِ َك ُز ّ�ِ َن لِ ۡل َ�ٰ ِف ِر� َن َما َ�نُوا‬

‫َ� ۡع َم ُلو َن‬

Jalan Kebenaran Universal

70 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami
hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya
berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari
padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

92Ayat ini tidak bicara soal menghidupkan mereka yang mati
secara fisik, karena hal itu tidak pernah terjadi alias mustahil.
Namun, yang dihidupkan adalah kesadaran ideologi spiritual
seseorang oleh Allah melalui orang-orang yang menyampaikan ruh
Allah (firman) kepadanya. Selanjutnya, ketika mereka sudah
bangkit dari kematian spiritualnya, maka wahyu Allah tersebut
akan menjadi Nur Allah dalam dirinya. Qalbunya akan disinari
oleh wahyu Allah sebagai penerang hidupnya. Meskipun dia berada
dalam kehidupan yang gelap (zhulumat; musyrik), dia masih dapat
berjalan di tengah masyarakat manusia yang telah mati akal
budinya.
• 93Al-Quran surat Al-Isrā' [17] ayat 85-86:

‫ َع َِون َل�ِٱل ُّنرو ِشِح�ۡئ َناُق ِلَ�َٱ ۡلذ ُّرَه َو َّ ُ�ح بِٱِم َّ ۡ ِ�ن ٓأَي ۡمأَرِ ۡو ََرح ّۡيِ َن�آ َوإِ ََم ۡ�آ َأُكوتِ ُ�ي َُّتمم َ� ِّم ََن ِ� ٱُد ۡل لِعَ ۡل َ ِمك‬٨٥‫إَِوَّ� َ� ۡ قََ�ٔلُِليو ٗنَ� َك‬
�ً ‫بِهِۦ َعلَ ۡي َنا َو�ِي‬

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah:
“Ruh itu termasuk perintah Rabbku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit.” Dan sesungguhnya jika Kami
menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak
akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami.

94Yang dimaksud dengan kata ar-rūh pada ayat di atas
bukanlah roh (nyawa) melainkan ruh (Ruhul Qudus; wahyu) Allah.
Mereka yang bertanya kepada Nabi Muhammad adalah para Ahli
Kitab (Taurat dan Injil), karena di dalam Alkitab juga banyak
bercerita tentang ruh Allah (Ruh Qudus). Jawaban Nabi

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 71

Muhammad adalah: “Ruh itu adalah termasuk perintah Rabbku
dan tidaklah kalian (Ahli Kitab) diberi pengetahuan (akan Ruh
Qudus) melainkan hanya sedikit.” 95Para Ahli Kitab di zaman Nabi
Muhammad tidak lagi memahami dengan benar maksud dari
firman (ruh) Allah yang ada di dalam Taurat dan Injil. Pada saat
ayat di atas diturunkan, ajaran dalam Alkitab sudah banyak
diredusir maknanya oleh tangan-tangan jahil, isinya tidak lagi ruh
atau wahyu Allah, melainkan sedikit saja. Benarlah, bahwa Ahli
Kitab memang tidak memahami wahyu, kecuali sedikit.

96Sebaliknya, Nabi Muhammad telah banyak diwahyukan
(diajarkan) ruh (wahyu) Allah dibanding para Ahli Kitab yang
bertanya kepadanya. Kenapa demikian? Karena ruh Allah yang
telah diwahyukan ke dalam qalbu manusia dapat dicabut atau
dilenyapkan oleh Sang Pemilik ruh (wahyu). Inilah yang dimaksud
pada ayat 86 di atas sebagai penjelasan lanjutan dari ayat
sebelumnya.

97Kata wahiy atau wahyu makna asalnya berarti pelajaran; kata
lain dari ilmu yang biasa dipelajari oleh manusia. Ilmu adalah ruh
manusia yang paling asasi, dengan ilmu-Nya manusia dapat hidup
dan membuat peradaban. Dalam konteks inilah Nabi Muhammad
menjawab masalah ruh yang ditanyakan para Ahli Kitab.
98Selanjutnya, dalam arti itu pulalah makna istilah ruh atau Ruhul
Qudus yang termaktub di dalam ayat-ayat yang lain (lihat QS. Al-
Hijr [15]: 29, Al-Ma'ārij [70]: 4, Al-Qadr [97]: 4, dan sebagainya).

99Di samping menjadi ruh bagi manusia, wahyu Allah juga
menjadi nur atau cahaya yang menerangi pikiran dan langkah
manusia, seperti sudah digambarkan pada surat Al-An’ām [6] ayat
122 sebelumnya. Allah Yang menerangi langit dan bumi, maka Dia
pula yang dapat menerangi qalbu manusia dengan cahaya-Nya.

100Namun demikian, Al-Quran baru dapat berfungsi sebagai
Nur Allah, menyala dan menjadi penerang manakala dinyalakan
dengan syajarah thayyibah, yakni pohon-pohon zaitun (yang menjadi
sumber minyak zaitun) yang tumbuh bukan di Barat dan bukan di
Timur, melainkan di Jazirah Arab (Timur Tengah). 101Artinya,
seseorang baru akan mengerti makna ayat-ayat Al-Quran manakala

Jalan Kebenaran Universal

72 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

ditafsirkan dengan sunnah para Rasul Allah yang hidup di daerah
Timur Tengah yang dikisahkan dalam Alkitab dan Al-Quran.

102Dalam hal ini, Rasulullah Muhammad adalah Rasul yang
telah merangkum semua sunnah para Rasul Allah sebelumnya yang
kemudian diaplikasikan dalam perjalanan dakwah dan jihadnya,
tahap demi tahap, langkah demi langkah, sesuai dengan tuntunan
wahyu yang diajarkan kepadanya. 103Sunnah Rasul hakikatnya
adalah penerapan wahyu Allah yang diturunkan secara berangsur-
angsur kepada Rasulullah Muhammad dari iqra’ (fase Makkiyah)
hingga al-yauma akmaltu lakum (fase Madaniyah). Wahyu Allah yang
diajarkan kepada Rasulullah Muhammad penuh dengan prinsip-
prinsip dakwah dan jihad dalam memperjuangkan tegaknya Din
Al-Islam dalam satu Khilafah (kekuasaan) Allah sebagai sistem
hukum yang berlaku dalam semua sektor kehidupan manusia di
muka bumi (rahmatan lil ‘ālamīn).

104Demikianlah nilai dan hasil yang akan diperoleh manusia
manakala berhasil menjadikan Al-Quran sebagai Ruh dan Nur
dalam diri dan kehidupannya. 105Gambaran indah lainnya tentang
hal ini dapat dilihat dalam Al-Quran surat Asy-Syūra [42] ayat 52-
53 berikut ini:
�َ ‫َو َ� َ�ٰلِ َك أَ ۡو َح ۡي َنآ إِ َ ۡ� َك ُرو ٗحا ِّم ۡن أَ ۡم ِرنَاۚ َما ُكن َت تَ ۡدرِي َما ٱ ۡل ِك َ�ٰ ُب َو‬
‫ٱ ۡ ِ�ي َ�ٰ ُن َو َ�ٰ ِ�ن َج َع ۡل َ�ٰ ُه نُو ٗر� َّ� ۡه ِدي بِهِۦ َمن � َّ َشآ ُء ِم ۡن ِع َبادِنَاۚ �نَّ َك‬
‫َ ُ�ۥ‬ َّ �ٰ َ ِ‫إ‬ ‫َ�َ ۡه ِد ٓي‬
‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ �ِ ‫َما‬ ‫ٱ ِ�ي‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ ‫ِص َ�ٰ ِط‬ ٥٢ �ٖ ‫ُّم ۡس َتقِي‬ ‫ِص َ�ٰ ٖط‬
‫ٱ ۡ ُ� ُمو ُر‬ ٓ�َ �َ َۡ
٥٣ �ُ ‫تَ ِص‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ َ ‫ٱ�� ِ �ض‬ �ِ ‫َو َما‬
�ِ‫إ‬

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-
Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Quran) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran
itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami
kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya
kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus,
(yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 73

langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-
lah kembali semua urusan.

106Sekali lagi, ruh bukanlah roh (nyawa). Ruh adalah sesuatu
yang diwahyukan oleh Allah, Sang Pemilik ruh. Ruh adalah wahyu
Allah yang menghidupkan dan akan menjadi cahaya bagi hamba-
hamba-Nya yang beriman dan menjadi petunjuk dalam berjalan di
atas jalan yang lurus, Jalan Kebenaran Allah, Pemilik langit dan
bumi. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa menjadi
manusia beriman yang sebenarnya manakala dia belum memahami
wahyu Al-Quran, memahami esensi makna dari ayat-ayat yang
tersurat. Begitu pula seseorang tidak akan dapat berjalan pada Jalan
Kebenaran manakala tidak diberi petunjuk cahaya dari Allah, Sang
Pemilik nur.

7. Al-Quran Sebagai Al-Haqq (Sumber Kebenaran)

107Sejak awal turunnya wahyu Al-Quran, Allah sudah
memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan ummat manusia
untuk membaca ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta dan yang
ada pada alam sosial manusia (ayat-ayat kauniyah), dan membaca
ayat-ayat yang difirmankan oleh-Nya (ayat-ayat qauliyah).

108Kenapa harus membaca? Karena dengan membaca
(mengkaji dan meneliti) ayat-ayat Allah, maka manusia akan
mampu mengenal Sang Pencipta dan mendapatkan kebenaran.
Kebenaran Sejati berasal dari Rabb Yang Maha Benar. Alam
semesta dan wahyu Allah merupakan wujud kebenaran Dia. Siapa
pun yang mau mengkaji dan mengamati alam semesta dan diri
manusia, dia akan menemukan kebenaran. 109Hal ini Allah tegaskan
dalam Al-Quran surat Fushshilat [41] ayat 53 berikut ini:
‫ۗأَ َو‬ ‫ٱ ۡ َ� ُّق‬ ‫َ�نَّ ُه‬ ‫بِ َءَرا ّ�َِ�ٰتَِكَنا َ�نَّ ِ ُه�ۥٱ َ�َ َٰف�ا ُِقِّ� َو َِ ٓ� ۡ�أَنٖء ُف َش ِس ِه ِهي ٌۡمد‬
‫لَ ۡم‬ ‫لَ ُه ۡم‬ �َ َّ ‫يَتَ َب‬ �ٰ َّ ‫َح‬ ‫َس ُ ِ�� ِه ۡم‬
‫يَ ۡ� ِف‬

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah

Jalan Kebenaran Universal

74 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Rabbmu menjadi
saksi atas segala sesuatu?

110Al-Quran sebagai sumber kebenaran dapat dipahami dari

firman Allah dalam surat Al-Ba‫َن‬q�aِ�rَ a‫ ۡم‬h‫ٱ[لۡ ُم‬2‫ِم َ]ن‬ay‫ن‬aَّ t�َ ‫و‬1�ُ47َ‫ت‬b�eَ r‫ َف‬ik‫َك‬uِt�ّ ‫َّر‬in‫ن‬i:‫ٱ ۡ َ� ُّق ِم‬

Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali
kamu termasuk orang-orang yang ragu

111Wahyu adalah ilmu Allah yang difirmankan, dan alam
semesta adalah ilmu Allah yang faktual. Alam semesta dan wahyu
Al-Quran merupakan sumber dari ilmu; sumber kebenaran. Oleh
karena itu, wahyu dan alam semesta tidak mungkin bertentangan
kebenarannya. Keduanya menjadi barometer kebenaran Ilahi.
Tugas manusia beriman (berakal) adalah mengkaji dan meneliti
terus menerus sumber ilmu tersebut.

112Begitu banyak informasi yang manusia dapatkan dari
wahyu Al-Quran yang terkait dengan ilmu pengetahuan yang terus
mengalami perkembangan. Meski demikian, informasi wahyu
selalu benar dan menjadi rujukan ilmu pengetahuan. Tidak heran
jika Allah senantiasa meminta manusia untuk terus berpikir dan
merenung, serta menghargai mereka yang berilmu (menggunakan
akal pikirannya). Sebaliknya, Allah begitu benci kepada manusia
yang tidak mau berpikir dan memaksimalkan akal pikirannya.

113Contoh fungsi Al-Quran sebagai sumber kebenaran dan
ilmu pengetahuan dapat dilihat dari beberapa ayat di bawah ini.
Misalnya, pengetahuan tentang proses penciptaan manusia,
padahal saat itu ilmu kedokteran belumlah secanggih saat ini.
114Namun, Allah telah menginformasikannya dalam surat Al-
Mu’minūn [23] ayat 12-14 berikut ini:
ٖ‫ ُ� َّم َج َع ۡل َ�ٰ ُه ُ� ۡط َف ٗة ِ� قَ َرار‬١٢ �ٖ ‫َولَ َق ۡد َخ َل ۡق َنا ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن ِمن ُس َ�ٰ َل ٖة ِّمن ِط‬
‫َف َخلَ ۡق َنا‬ ‫فَ َخ َل ۡق َنا ٱ ۡل َع َل َق َة ُم ۡض َغ ٗة‬ ‫َخ َل ۡق َنا ٱ ُ�ّ ۡط َف َة َع َل َق ٗة‬ ‫ ُ� َّم‬١٣ �ٖ ‫َّم ِك‬
‫َ� َت َبا َر َك‬ ۚ‫ُ� َّم أَ� َشأۡ َ�ٰ ُه َخ ۡل ًقا َءا َخ َر‬ ‫َف َك َس ۡونَا ٱ ۡل ِع َ�ٰ َم َ ۡ� ٗما‬ ‫ٱلۡ ُم ۡض َغ َة ِع َ�ٰ ٗما‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 75

١٤ �َ ِ‫ٱ َّ ُ� أَ ۡح َس ُن ٱ ۡل َ�ٰلِق‬

Dan sesungguhnya Kami telah mencipta manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati
itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci
Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

115Begitu pula dengan sistem (din) yang haq yang telah
diciptakan-Nya, manusia dapat melakukan perhitungan
penanggalan Syamsiah dan Qamariah dari peredaran matahari dan
bulan seperti diinformasikan dalam surat Yūnus [10] ayat 5:

ْ‫ِ َ� ۡعلَ ُموا‬ ‫َم َنازِ َل‬ ‫َوقَ َّد َر ُهۥ‬ �‫نُو ٗر‬ ‫َوٱ ۡل َق َم َر‬ ‫ِض َيآ ٗء‬ ‫ٱل َّش ۡم َس‬ ‫َج َع َل‬ َّ ‫ُه َو‬
‫بِٱ ۡ َ� ِّ �ق‬ ‫َوٱ ۡ�ِ َسا َ ۚب‬ ‫ٱ ِ�ي‬
َّ
‫ٱ� َ�ٰ ِت‬ ‫ُ� َف ِّص ُل‬ �ِ‫إ‬ ‫َ�ٰلِ َك‬ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َخلَ َق‬ ‫َما‬ �َ ِ‫ٱل ِّسن‬ ‫َع َد َد‬

‫لِ َق ۡو ٖ� َ� ۡعلَ ُمو َن‬

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya
dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi
perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun
dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-
tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

116Selain itu, para ahli awalnya berpendapat bahwa matahari
tidak beredar (tetap di tempat) dan hanya bumilah yang beredar di
sekeliling matahari. 117Namun, Al-Quran menyatakan bahwa
matahari juga berjalan (beredar), seperti yang ditegaskan dalam
surat Yā Sīn [36] ayat 38 berikut ini:

‫َوٱل َّش ۡم ُس َ ۡ�رِي لِ ُم ۡس َت َق ّٖر لَّ َهاۚ َ�ٰلِ َك َ� ۡق ِدي ُر ٱ ۡل َعزِ� ِز ٱ ۡل َعلِي ِم‬

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah
ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Jalan Kebenaran Universal

76 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

118Demikianlah beberapa ayat yang terkait langsung dengan
ilmu pengetahuan. Masih banyak lagi cabang ilmu pengetahuan
yang dapat dikaji dari Al-Quran dan tentu saja dari alam semesta
sebagai objek dari wahyu itu sendiri. Bahkan, Allah menantang
manusia untuk senantiasa mengkaji dan mengembangkan ilmu
pengetahuan lewat observasi pada alam. 119Alam sebagai sumber
ilmu tidak akan pernah habis untuk diteliti dan pengetahuan
manusia terhadap alam (makro dan mikro) akan terus berkembang
mengikuti kemajuan zaman dan teknologi. 120Silakan renungi
firman Allah dalam Al-Quran surat Luqmān [31] ayat 27 berikut
ini:
‫م‬ٞ ٰ�َ ‫أَ ۡق‬ َۡ ‫َ� َّ� َما‬
‫َس ۡب َع ُة‬ ‫َ� ۡع ِدهِۦ‬ ‫ِم ۢن‬ ‫َ� ُم ُّد ُهۥ‬ ‫َوٱ ۡ َ� ۡح ُر‬ �ٍ ‫َش َج َر‬ ‫ِمن‬ ‫ٱ�� ِض‬ �ِ ‫َولَ ۡو‬
‫م‬ٞ ‫َ� ۡ ُ� ٖر َّما نَ ِف َد ۡت َ�ِ َ�ٰ ُت ٱ َّ�ِۚ إِ َّن ٱ َّ َ� َعزِ� ٌز َح ِكي‬

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah
(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.

121Ilmu pengetahuan tidak akan pernah mengalami
kemunduran, dia akan terus mengalami perkembangan dan
kemajuan dari masa ke masa. Inilah rahmat dari ilmu Allah yang
selalu menghiasi kehidupan ummat manusia.

122Satu hal yang perlu diingat, meskipun ilmu pengetahuan
akan terus berkembang, tetapi sistem hukum (din) Allah yang
mengatur hidup dan kehidupan alam semesta dan ummat manusia
tidak akan pernah berubah dan berganti (simak kembali QS. Ar-
Rūm [30]: 30)

8. Al-Quran Sebagai Mushaddiq (Pembenar dan Pelurus)
123Salah satu fungsi utama dari Kitab Al-Quran adalah

sebagai mushaddiq, yakni pembenar dan pelurus Kitab-Kitab
sebelumnya (Taurat dan Injil). Al-Quran sebagai pembenar atau
membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dimaksudkan untuk

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 77

mempertegas dan memperkuat informasi kewahyuan yang ada di
dalam Taurat dan Injil. 124Hal ini dapat dimaklumi karena misi
risalah yang diemban oleh Rasulullah Muhammad adalah misi
risalah yang sama dengan apa yang diemban oleh Rasulullah Musa
dan Rasulullah Isa. Mereka adalah para Utusan Allah yang
mendapat tugas kerasulan yang sama meski berbeda tempat dan
zaman. Mereka hanyalah manusia-manusia pilihan Allah untuk
memegang tongkat estafet misi risalah-Nya. Dengan demikian,
logis jika Kitab yang datang kemudian selalu membenarkan isi
Kitab sebelumnya.

125Di samping berfungsi sebagai pembenar atau
membenarkan kitab-kitab sebelumnya, Al-Quran sebagai mushaddiq
juga berfungsi sebagai pelurus atau meluruskan hal-hal yang telah
disimpangkan atau yang salah dari Kitab-kitab sebelumnya.
126Kenapa demikian? Karena kitab tersebut ditulis oleh manusia
dan mereka telah melakukan banyak perubahan dan
penyimpangan dari Taurat dan Injil yang asli. Kitab Taurat yang
dikenal saat ini adalah kitab yang ditulis dan disusun jauh setelah
Nabi Musa wafat (di zaman Nabi Ezra). Demikian halnya dengan
Injil yang dikenal saat ini adalah kitab yang ditulis jauh setelah
Nabi Isa wafat.

127Perlu diingat bahwa tidak ada Rasul Allah yang menulis
wahyu atau kitabnya sendiri. Semua kitab ditulis dan disusun
setelah mereka wafat. Selain itu, faktor penguasa dan musuh-
musuh Allah dan Rasul-Nya yang masih menaruh dendam juga
turut berperan di dalam mengubah kitab yang ada dan sepakat
menyatakan bahwa kitab yang mereka buat adalah karya orisinal
dari Sang Pemilik Ruhul Qudus. 128Allah tidak perlu menurunkan
wahyu Al-Quran manakala tulisan wahyu yang ada di dalam Kitab
Taurat dan Injil saat ini masih orisinal. Untuk itulah, Al-Quran
juga berfungsi untuk meluruskan atau menjadi pelurus dari apa
yang sengaja dibengkokkan oleh para penguasa dan Ahli Kitab.
129Penegasan mengenai fungsi Al-Quran sebagai mushaddiq dapat
dilihat dalam ayat-ayat berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

78 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

• 130Al-Quran surat ‘Ali-Imrān [3] ayat 3:

‫نَ َّز َل َعلَ ۡي َك ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب بِٱ ۡ َ� ِّق ُم َص ِّد ٗقا لِّ َما َ� ۡ َ� يَ َديۡهِ َوأَن َز َل ٱ َّ� ۡو َرٮٰ َة‬
‫َوٱ ۡ ِ� ِ�ي َل‬

Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan
sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan
sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.

• 131Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 97:

‫ُق ۡل َمن َ� َن َع ُد ّٗو� ّلِـ ِج ۡ ِ�� َل فَإِنَّ ُهۥ نَ َّز َ ُ�ۥ َ َ ٰ� قَ ۡلبِ َك �ِإِ ۡذ ِن ٱ َّ�ِ ُم َص ِّد ٗقا‬
�َ ِ‫لِّ َما َ� ۡ َ� يَ َديۡهِ َو ُه ٗدى َو�ُ ۡ َ� ٰى لِ ۡل ُم ۡؤ ِمن‬

Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka
Jibril itu telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam qalbumu
dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi
orang-orang yang beriman.”

• 132Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 48: ‫َوأَن َز ۡ�َآ إِ َ ۡ� َك ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬
‫بِٱ ۡ َ� ِّق‬ ‫َو ُم َه ۡي ِم ًنا َع َل ۡيهِ� فَٱ ۡح ُ�م‬
‫أَ ِمۡه ََونآ َءٱ ُهۡل ۡم ِك َ�َٰ� َّمِبا‬ ِ‫يَ َديۡه‬ �َ ۡ �َ ‫لِّ َما‬ ‫ُم َص ِّد ٗقا‬ ‫بَ ۡي َن ُهم‬ ‫َجآ َء َك ِم َن ٱ ۡ َ� ِّ �ق‬
‫تَتَّبِ ۡع‬ �َ ‫ٱ َّ ُ�ۖ َو‬ ‫بِ َمآ أَن َز َل‬

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu
kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran
yang telah datang kepadamu.

• 133Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 92: ‫أَن َز ۡل َ�ٰ ُه‬
‫أُ َّم‬
‫ٱ ۡل ُق َر ٰى‬ ‫َو ِ�ُن ِذ َر‬ ِ‫يَ َديۡه‬ �َ ۡ �َ َّ ‫ُّم َص ِّد ُق‬ ‫ك‬ٞ ‫ُم َبا َر‬ ‫كِ َ�ٰ ٌب‬ ‫َو َ�ٰ َذا‬
‫ٱ ِ�ي‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 79

‫َو َم ۡن َح ۡولَ َهاۚ َوٱ َّ ِ�ي َن يُ ۡؤ ِم ُنو َن بِٱ� ِخ َرةِ يُ ۡؤ ِم ُنو َن بِهِۖۦ َو ُه ۡم َ َ ٰ� َص َ�تِ ِه ۡم‬
‫ُ�َافِ ُظو َن‬

Dan ini (Al-Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang
diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan)
sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada
(penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar
lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya
kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Quran) dan
mereka selalu memelihara shalatnya.

• 134Al-Quran surat Fāthir [35] ayat 31:

‫َوٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡو َح ۡي َنآ إِ َ ۡ� َك ِم َن ٱ ۡل ِك َ�ٰ ِب ُه َو ٱ ۡ َ� ُّق ُم َص ِّد ٗقا لِّ َما َ� ۡ َ� يَ َديۡهِ� إِ َّن‬
ٞ�‫ٱ َّ َ� بِ ِع َبادِهِۦ َ َ�بِ ُ�ۢ بَ ِص‬

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab
(Al-Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab
yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

9. Al-Quran Sebagai Syifa dan Rahmat

135Penegasan Al-Quran sebagai syifa (obat penawar) dan
rahmat bagi orang-orang beriman terdapat dalam surat Al-Isrā'
[17] ayat 82 berikut ini:

�َ ‫ ّلِ ۡل ُم ۡؤ ِمنِ َ� َو َ� يَ ِز� ُد ٱل َّ�ٰلِ ِم‬ٞ‫ َو َر ۡ َ�ة‬ٞ‫َو ُ� َ ّ�ِ ُل ِم َن ٱ ۡل ُق ۡر َءا ِن َما ُه َو ِش َفآء‬
�‫َخ َسا ٗر‬ َّ
�ِ‫إ‬

Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian.

136Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi fisik
materiel dan dimensi mental spiritual. Tentu saja yang dapat
disembuhkan oleh Al-Quran bukanlah penyakit fisik manusia

Jalan Kebenaran Universal

80 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

melainkan penyakit mental spiritual (rohani) manusia. Jika dalam
keseharian banyak orang menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk
menyembuhkan penyakit fisik manusia, sesungguhnya hal itu salah
kaprah dan perbuatan zalim.

137Penyakit rohani yang paling ganas dan dapat
menggerogoti kesadaran manusia adalah penyakit syirik. Penyakit
syirik menjadikan manusia sebagai hamba yang najis dan
menajiskan. Musyrik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni
oleh Allah. Musyrik bagaikan penyakit kusta yang tidak dapat
disembuhkan. 138Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan
penyakit syirik adalah Ruhul Qudus (Ruh Suci) yang berasal dari
Yang Maha Suci. Itulah firman Allah (wahyu Al-Quran) yang harus
dikonsumsi oleh rohani manusia. Dengan peringatan dan ancaman
Al-Quran tentang kemusyrikan, seseorang akan menjadi sadar
(sembuh) dan siap menjadi hamba Allah yang sejati, tidak lagi
berlaku syirik kepada-Nya.

139Syirik adalah biang dari segala penyakit dan kejahatan
manusia. Ketika seseorang tidak takut akan azab dan murka Allah,
dia akan berani melakukan pelanggaran dan kejahatan apapun.
Sebaliknya, ketika seseorang sudah kembali menyadari jati dirinya
sebagai hamba dari-Nya, dia tidak akan berani melakukan
pelanggaran dan kejahatan apapun dalam hidupnya. Ia selalu
menjadi hamba yang taat pada kehendak dan perintah Tuannya.
140Kapan pun dan di mana pun, ia selalu menghadirkan Allah
dalam diri dan kehidupannya. Ia selalu bersama Allah, dan Dia
senantiasa bersamanya. Artinya, Allah telah bersemayam dalam
‘arsy atau qalbu dirinya, sehingga Dia sangat dekat dengan urat
nadinya.

141Penyakit syirik itulah yang disembuhkan oleh Rasulullah
Muhammad dengan ayat-ayat Al-Quran. Bukan dengan cara
meminumkan tulisan ayat-ayat Al-Quran kepada manusia,
melainkan dengan menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Al-
Quran kepada manusia yang musyrik tersebut. 142Jika Ruhul Qudus
disemayamkan dalam kesadaran (shudur) manusia, dia akan mampu
membersihkan penyakit-penyakit yang ada dalam qalbunya; ia akan

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 81

menjadi manusia berkat yang membawa rahmat bagi alam
sekitarnya. Jika Al-Quran sudah menjadi Kitab Petunjuk, ia akan
mampu menyembuhkan moral bejat manusia. Seandainya ayat-ayat
Al-Quran dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan
manusia, niscaya kehidupan manusia akan penuh dengan rahmat
(kasih sayang) dari Allah.

143Wajar jika dikatakan bahwa diutusnya seorang Rasul Allah
adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Hanya melalui
Rasul-Nya, Allah menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia.
Melalui Rasul-Nya pula, Dia memberi peringatan dan berita
gembira kepada manusia. Dan yang selalu disampaikan oleh para
Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah ayat-ayat Allah.

144Al-Quran merupakan rahmat Allah bagi orang-orang
beriman. Namun, bagi mereka yang zalim (musyrik), Al-Quran
tidak akan menjadi obat penawar dan rahmat, melainkan hanyalah
kerugian. 145Meskipun orang-orang musyrik membaca dan
mengkaji Al-Quran, tetapi tidak akan menjadi petunjuk dalam
hidupnya. Mereka tidak ingin mengamalkan perintah dan petunjuk
Al-Quran secara menyeluruh dalam kehidupannya. Mereka hanya
mengamalkan ayat-ayat yang menurutnya ringan dan
menguntungkan bagi diri dan kelompoknya. Mereka pandai
memikulkan beban kepada ummat atau orang lain, tetapi mereka
sendiri enggan untuk memikul perintah Allah dan Rasul-Nya.
Itulah wajah orang-orang musyrik, orang-orang yang zalim
terhadap dirinya.
10. Al-Quran Sebagai Akhlaq

146Potret kepribadian (akhlaq; akhlak) Rasulullah
Muhammad merupakan masalah yang amat penting untuk
dipahami oleh setiap mu’min. Mengapa demikian? 147Cermati
penegasan Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzāb [33] ayat 21:

‫ لِّ َمن َ� َن يَ ۡر ُجواْ ٱ َّ َ� َوٱ ۡ�َ ۡو َم‬ٞ‫َّل َق ۡد َ� َن َل ُ� ۡم ِ� َر ُسو ِل ٱ َّ�ِ أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
��ٗ ِ‫ٱ� ِخ َر َو َذ َك َر ٱ َّ َ� َكث‬

Jalan Kebenaran Universal

82 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat
Allah.

148Perhatikan pula surat Al-Mumtahanah [60] ayat 4-6:
‫ ِ ٓ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َوٱ َّ ِ�ي َن َم َع ُه ٓۥ إِ ۡذ َقالُواْ لِ َق ۡو ِم ِه ۡم‬ٞ‫قَ ۡد َ�نَ ۡت لَ ُ� ۡم أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
‫ َ ۡكؤٱَر ِم َّ� َُّنِمَن�ِوا َاْن َبِ�ٱٱ ََّ�ََّ َۡ��فِ�ِ َۡعر َنوَۡلِماَنۡحانبَِدفِهُ َۡت ٓۥَنُ�ۡٗإِة� َّۡم ٖءّلِ�� َّ َوََّقِر� َ� ۡيَّ�و َََندَلاان‬٤ُ‫إإِِبَنبََّۡعۡياََنلَ�ٰ َنۡيبُهِا َيَر َكوَم�َ�تَ ُۡيؤَِاوَْن َ�َّ�ۡ�ِ َِمني ُان�هِ ُم َ�ٱُ�ََ�ۡل ۡ�ۡۡمَعس ََتَ�كَٰۡوغَو َ�ِفِمُةنَ ََّرمۡبَوا َنٱَّناۡ ََ��لَۡۡغع� ُبََ َكۡ�ُضدآ َوَوُءك ََمنَ�ٱآلبَۡ َأمًَِمد ۡام ِنلصِ َح ُُُ�دَّك ٰو�لَ ِنت‬
٥ ‫أَن َت ٱ ۡل َع ِز� ُز ٱ ۡ َ� ِكي ُم‬ ‫َ� َف ُرواْ َوٱ ۡغ ِف ۡر َ�َا‬
‫َ� َن لَ ُ� ۡم‬ ‫لَ َق ۡد‬ ۚ‫يَ ۡر ُجواْ ٱ َّ َ� َوٱ ۡ�َ ۡو َم ٱ� ِخ َر‬ ‫ٓۖ إِنَّ َك‬ ‫َر َّ� َنا‬ ٞ‫�ِي ِه ۡم أُ ۡس َوةٌ َح َس َنة‬
‫َ� َت َو َّل فَإِ َّن‬ ‫َو َمن‬ ‫َ� َن‬ ‫لِّ َمن‬
٦ ‫ٱ َّ َ� ُه َو ٱ ۡل َغ ِ ُّ� ٱ ۡ َ� ِمي ُد‬

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada
Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika
mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu abdi
selain Allah, kami mengingkarimu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan
Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan
memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak
sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya
Rabb kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan
hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada
Engkaulah kami kembali.” “Ya Rabb kami, janganlah Engkau
jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan
ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Sesungguhnya pada
mereka itu (Ibrahim dan ummatnya) ada teladan yang baik

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 83

bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap Allah dan
Hari Kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka
sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

149Begitu pula penegasan Allah dalam Al-Quran surat Al-
Fath [48] ayat 29 berikut ini:
‫د َّر ُسو ُل ٱ َّ�ِۚ َوٱ َّ ِ�ي َن َم َع ُه ٓۥ أَ ِش َّدآ ُء َ َ� ٱ ۡل ُك َّفارِ ُر َ َ�آ ُء بَ ۡي َن ُه ۡمۖ تَ َرٮٰ ُه ۡم‬ٞ ‫ُّ َ� َّم‬
‫ََوو َمرِ َث ُۡلض ُهَ�ٰ ۡٗنماۖ ِ�ِسيٱ َۡم ِا� ُه ِ� ۡمي ِ ِل� َك ُو َز ُجۡروٍعهِ ِهأَمۡخ َّرِم َۡنج‬ �ٗ ‫يَبۡ َت ُغو َن فَ ۡض‬ ‫ُر َّك ٗعا ُس َّج ٗدا‬
ِ�َّ ‫ِّم َن ٱ‬ �ِ ‫َ�ٰلِ َك َم َث ُل ُه ۡم‬ �‫َ�ثَرِ ٱل ُّس ُجو ِد‬
�‫ٱ َّ� ۡو َرٮٰ ِة‬
‫َش ۡ َ�ٔ ُهۥ َ َ�ٔا َز َرهُۥ فَٱ ۡس َت ۡغلَ َظ َفٱ ۡس َت َو ٰى َ َ ٰ� ُسوقِهِۦ ُ� ۡع ِج ُب ٱل ُّز َّرا َع ِ َ�غِي َظ‬
‫بَِوأَِه ُۡمج ًرٱا ۡل َُعك َّفِظاي َر َۗمۢ� َو َع َد ٱ َّ ُ� ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ َو َع ِم ُلواْ ٱل َّ�ٰلِ َ�ٰ ِت ِم ۡن ُهم َّم ۡغفِ َر ٗة‬

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang
bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir,
tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’
dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman
itu menyenangkan penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan
ganjaran yang besar.

150Ada hal yang menarik dari pernyataan Al-Quran surat Al-
Mumtahanah [60] ayat 4 dan Al-Fath [48] ayat 29, karena pribadi
yang ditunjuk oleh kedua ayat tersebut berbeda, yaitu Ibrahim dan
Muhammad. Kebanyakan orang (ummat Islam) beranggapan
bahwa istilah Rasul hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad,
dengan kata lain Nabi atau Rasul ummat Islam hanyalah Nabi

Jalan Kebenaran Universal

84 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

Muhammad. Aqidah seperti ini adalah keliru dan merupakan
kesalahan yang sangat mendasar. 151Secara tersirat maupun tersurat,
Al-Quran tidak mengajarkan aqidah yang demikian, bahkan secara
khusus orang-orang yang beriman kepada Allah dilarang
melakukan diskriminasi yang demikian. 152Perhatikan firman Allah
dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 285 berikut ini:
‫ََءوَسا َم َِمم َ ٰۡٓع�َنَ�نِا َٱكلَوتِأََّرهَِ ُطسۦ ۡعو َنُ َالوۖ ُ� ُتُبِ�بَِۡمفهِآَرۦانَأُن ََو ِزك َُرلَُرس َّ�لِإَِن َهِا ۡ�ۦهِ� ََ ۡ��ِم َنُك� َفٱلَّّۡرِر َّ�مُِقهِ ِۦص َ� ُۡ�َو َٱ�لۡ ُمأَۡؤ َِمح ُن ٖدو َ ۚنِّمنُ ٌّ� ُّر ُس َءالِ َهمِۚۦَن‬
ِ�َّ ‫بِٱ‬
ْ‫َو َقالُوا‬

Rasul telah meyakini bahwa apa yang telah diwahyukan
kepadanya dari Pembimbing hidupnya, demikian juga para
mu’min, semuanya yakin kepada Allah, kepada malaikat-malaikat
Nya, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya. Mereka menyatakan:
“Kami tidak membeda-bedakan Rasul yang satu dengan Rasul
yang lain.” Sikap mereka terhadap perintah Rasul-Rasul itu
adalah sama, “Kami mendengar dan kami siap mengerjakan,
Wahai pelindung kami, ampunilah kami dan kepada rida-Mu-lah
tujuan hidup kami.”

153Bagi seorang mu’min, seluruh Nabi dan Rasul Allah yang
termaktub dalam Al-Quran –yang disebut Ahsanul Hadīts atau
Ahsanul Qashash, wajib hukumnya dijadikan ibrah (pelajaran),
sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Yūsuf [12] ayat
111 di bawah ini:
‫ ّ ِ ُ� ْو ِ� ٱ ۡ�َ ۡل َ�ٰ ِ�ب َما َ� َن َح ِدي ٗثا ُ� ۡف َ َ� ٰى‬ٞ‫لَ َق ۡد َ� َن ِ� قَ َص ِص ِه ۡم ِع ۡ َ�ة‬
‫َو َر ۡ َ� ٗة‬ ‫َو ُه ٗدى‬ ٖ‫َ ۡ�ء‬ �ِّ ُ ‫َو َ� ۡف ِصي َل‬ َّ ‫تَ ۡص ِدي َق‬ ‫َو َ�ٰ ِ�ن‬
ِ‫يَ َديۡه‬ �َ ۡ �َ ‫ٱ ِ�ي‬

‫ّلِ َق ۡو ٖ� يُ ۡؤ ِم ُنو َن‬

Sesungguhnya kisah-kisah yang ada di dalam Al-Quran itu
mengandung pelajaran bagi orang-orang yang punya pikiran. Itu
bukanlah sekadar cerita dongeng, tetapi kisah itu disajikan dalam
rangka meluruskan sejarah para Nabi dan Rasul yang ada dalam
Kitab-Kitab mereka, serta menjelaskan segala persoalan,

Jalan Kebenaran Universal


Click to View FlipBook Version