The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fazila6292, 2021-09-05 09:43:50

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 85

sehingga menjadi petunjuk dan ukuran kebijakan bagi orang
yang meyakininya.

154Tujuh puluh lima persen isi Al-Quran adalah kisah sejarah
para Nabi dan Rasul Allah. Jika kisah sejarah tersebut hanya
dianggap sebagai dongeng orang-orang saleh pada zaman dahulu,
lantas di mana letak uswatun hasanah-nya? Seharusnya, kisah para
Nabi dan Rasul Allah yang ada di dalam Al-Quran itu dijadikan
sebagai contoh sikap akhlaqul karimah bagi orang-orang beriman,
kecuali kesalahan Adam yang memakan buah khuldi dan kekhilafan
Ibrahim yang memohon ampunan untuk bapaknya yang musyrik.

155Aisyah pernah berkata: “Akhlak Rasulullah Muhammad
adalah Al-Quran.” Walaupun hanya berasal dari Aisyah,
pernyataan ini merupakan satu kesimpulan dari orang yang
memahami ucapan suaminya: Innamā bu’itstu liutammima makārimal
akhlāq; sesungguhnya aku diutus untuk mencontohkan akhlak yang
mulia. 156Kata akhlaq berasal dari khuluq; sifat dari Al-Khaliq.
Karenanya, akhlak para Rasul, Nabi, dan orang-orang saleh itu
memiliki sifat uluhiyah atau syahid Allah (bukti dari Rahman Rahim-
nya Allah).

157Kata akhlaq sering diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia menjadi budi pekerti. Penerjemahan ini menimbulkan
kesan yang keliru tentang akhlak para Nabi dan Rasul Allah yang
dikatakan sebagai orang yang bermoral atau berbudi luhur. 158Dari
istilah budi luhur ini juga terbentuk doktrin bahwa pribadi
Rasulullah Muhammad –seperti halnya Budha Gautama, adalah
orang yang antidunia. Bahkan, misi kerasulannya dianggap tidak
berkaitan dengan persoalan sosial, politik, ekonomi, perdata dan
pidana; tidak pernah marah; anti-kekerasan; tidak membeda-
bedakan agama; tak suka memaksa; suka damai, antiperang; dan
lain sebagainya. Itulah potret pribadi (akhlak) Rasulullah
Muhammad menurut angan-angan mayoritas manusia.

159Jika kita mau melihat visi misi kerasulan Muhammad
dengan kacamata wahyu, kita akan melihat dimensi akhlak
Rasulullah Muhammad yang sama sekali berbeda dari pandangan
mata mayoritas manusia. Bentuk konkret dari makārimal akhlāq

Jalan Kebenaran Universal

86 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

dapat dilihat dari perjalanan jihad Rasulullah Muhammad dan para
pengikutnya sejak fase Makkiyah hingga fase Madaniyah selama
hampir 23 tahun. 160Muhammad bukanlah pribadi manusia yang
terlepas dari kedudukannya sebagai Rasul Allah. Muhammad tidak
akan disebut Rasul tanpa adanya sebuah ummat. Jadi, Kerasulan
Muhammad tidak dapat dipisahkan dari statusnya sebagai
pemimpin ummat, Rasulullah Muhammad menyatu dengan
walladzīna ma’ahu; orang-orang yang menyertainya.

161Jika kita ingin menilai perilaku atau akhlak Nabi
Muhammad, kita harus menempatkan posisi kita secara jelas. Fakta
membuktikan bahwa dakwah Nabi Muhammad menimbulkan
gejolak dalam masyarakat Quraisy. 162Bentuk-bentuk gejolak sosial
yang timbul di masyarakat musyrik Mekah selama proses dakwah
dan jihad Rasulullah Muhammad itu berupa:
163a. Terpecahnya persatuan dan kesatuan masyarakat Quraisy.
164b. Terjadinya keributan di Masjidil Haram akibat Nabi

Muhammad, Umar bin Khaththab, Zaid bin Harits, dan
kawan-kawan melakukan dakwah secara sembunyi dan
terang-terangan.
165c. Berontaknya budak-budak Quraisy semodel Bilal bin Rabah,
Zaid bin Harits, dan lain-lain.
166d. Membelotnya orang-orang penting yang merupakan
pimpinan Qabilah seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab,
Utsman bin Affan, dan Hamzah bin Abdul Muththalib
kepada pihak Rasulullah Muhammad.
167e. Gerakan dakwah yang dilakukan secara terselubung dan
sembunyi-sembunyi. Jika ajaran Muhammad itu benar,
mengapa harus sembunyi-sembunyi?
168f. Menghasut warga Mekah untuk ikut eksodus ke luar negeri.
169g. Berusaha memurtadkan orang lain dari agamanya dengan cara
menghujat agama-agama yang dihormati sebagai perekat
persatuan bangsa Arab.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 87

170h. Membuat rumah tangga orang berantakan, suami dan istri
berpisah, saudara sekandung berseteru, budak berlaku kurang
ajar dengan melawan tuan atau majikannya.

171i. Membaiat orang secara diam-diam dan membentuk
kelompok jemaah tanpa izin penguasa Quraisy.

172j. Keluarnya Nabi Muhammad dan orang-orang beriman dari
Mekah dan berkomplot dengan orang-orang Yatsrib.

173k. Pasukan mu’min melakukan penyergapan terhadap misi
dagang Quraisy yang kembali dari Syam serta membunuh
tujuh puluh tentara Mekah di lembah Badar.

174l. Mengangkat dirinya sebagai pemimpin yang berkuasa di
Yatsrib serta mendirikan kekuasaan dengan mengubah nama
Kota Yatsrib menjadi Madinatul Munawwarah, dan
sebagainya.
175Ada benarnya kesimpulan Einstein dengan Hukum

Relativitas-nya, bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran yang
objektif, yang ada hanyalah kebenaran sektarian atau kebenaran
golongan. 176Dalam percaturan politik dunia, misalnya, Amerika
merasa merekalah pelopor demokrasi, tetapi bagi Rusia mereka
adalah imperialis. India mengklaim negaranyalah yang benar,
sementara Pakistan menyatakan India adalah negara penjajah.
Penguasa Orde Baru menyatakan bahwa Pancasila versi P4-lah
yang paling murni, sementara pendukung Soekarno (salah seorang
pencetus Pancasila) menganggap penguasa Orde Baru telah
menyelewengkan Pancasila. 177Dalam dunia agama pun, Katolik
mengklaim dirinya sebagai gembala-gembala Allah di bumi,
sedangkan Martin Luther King memprotesnya dan menuduh
Katolik sebagai Yudas Eskariot-nya Yesus Kristus.

178Dalam konteks lain, sektarian Islam merasa agamanyalah
yang paling benar, sedangkan selain agama Islam dicapnya sebagai
orang kafir. Namun, banyak intelektual Islam tidak mau
mendirikan organisasi politik dengan Islam sebagai dasarnya,
karena ideologi Islam mereka anggap hanyalah “politik aliran
sungai”. Menurut mereka, masih ada ide yang lebih luas dari

Jalan Kebenaran Universal

88 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

paham Islam, yaitu nasionalisme atau paham kebangsaan, atau
yang lebih luas lagi, yaitu humanisme dengan jargon HAM yang
notabene produk negara-negara bangsa.

179Kesan yang dilihat oleh orang-orang yang berjalan di sabīli
thāghūt terhadap sunnah Rasul nampak seperti kedua belas gejolak
sosial di atas. Kondisi sosial masyarakat seperti itulah fakta yang
sesungguhnya terjadi selama Rasulullah Muhammad melaksanakan
misi kerasulannya. 180Orang-orang yang mengaku muslim tetapi
mengabdi pada thaghut berusaha menghapus kesan tersebut
dengan berbagai cara yang apologi, misalnya, memperhalus tafsir
ayat-ayat Al-Quran yang dipandang keras dan berpotensi
menyinggung perasaan dan kepercayaan orang lain dengan cara
yuharrifūna al-kalima ‘an mawādhi’ihi; mengubah perkataan dari
tempat-tempatnya (lihat QS. An-Nisā [4]: 46).

181Pemutarbalikan makna ayat-ayat Al-Quran (nilai-nilai Din
Al-Islam) yang dilakukan oleh para pemuka agama disebabkan
tekanan politik, pertimbangan kedudukan, perasaan,
kekurangpahaman, dan sebagainya. Beberapa contoh
penyelewengan isu yang populer diantaranya; pengertian ulil amri
minkum, emansipasi wanita, program keluarga berencana,
hubungan din dengan politik, hubungan syariat Islam dengan
aqidah, hingga pemaknaan istilah yang paling pokok, yaitu
pengertian din yang disamakan dengan agama.

182Harus diingat bahwa Rasul Allah dan para pengikutnya
hanyalah pelaksana atau aktor dari skenario Al-Quran, dan Allah
adalah Sang Sutradara. Artinya, apa-apa yang dikerjakan oleh
Rasulullah Muhammad dan orang-orang beriman –baik pada fase
Makkiyah maupun fase Madaniyah, adalah berdasarkan wahyu atau
perintah Allah (lihat QS. An-Najm [53]: 3-4). 183Sebagai
pengemban misi penegakan sistem kehidupan Islam (Din Al-
Islam), orang-orang beriman harus berjihad dengan pengorbanan
harta dan jiwa untuk menundukkan sistem kehidupan lainnya di
bawah kekuasaan kaum mu’minin, secara suka maupun terpaksa.
184Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tawbah [9]
ayat 33 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 89

‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ ُ� ۡظ ِه َر ُهۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۦ‬
‫َولَ ۡو َك ِرهَ ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan modal Al-Quran
sebagai konsepsi Din Al-Haqq, agar dimenangkannya Din Al-
Islam atas din-din yang lainnya, walaupun orang yang
mengagungkan selain Allah melakukan perlawanan.

185Makārimal akhlāq bukanlah perilaku manusia yang
membiarkan kekafiran dan kemusyrikan merajalela di mana-mana.
Akhlāqul karīmah adalah sikap orang yang berjuang menegakkan
Islam di muka bumi dengan cara memerangi orang-orang yang
mengkafiri Din Allah. 186Pribadi mu’min adalah pribadi celupan
Allah, bukan celupan suatu bangsa, suku, atau lingkungannya.
Oleh sebab itu, wajar jika mu’min mempunyai ukuran akhlak yang
sangat berbeda dengan orang-orang kafir.

187“Rasulullah Muhammad dan orang-orang yang
bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang yang tidak
menyukai Islam, sebaliknya berkasih sayang sesama mereka.”
Orang yang tidak berada di pihak Muhammad pasti tidak setuju
dengan sikap atau akhlak yang demikian, dan itu adalah wajar.
Yang tidak wajar adalah jika seseorang yang merasa bahwa dirinya
muslim tetapi tidak setuju dengan akhlak yang demikian.

188Dalam ayat lain, dijelaskan bahwa bentuk kesempurnaan
akhlak menurut sunnah Rasul sangat jauh berbeda dengan
deskripsi kaum agamis. Misalnya, dalam kondisi peperangan, Allah,
Tuan Semesta Alam, memerintah pasukan mu’min untuk
melakukan pembunuhan, penawanan, pengepungan, dan
penghadangan terhadap orang-orang yang melawan misi risalah-
Nya. Perbuatan yang dianggap keji oleh sebagian besar manusia
tetapi wajib dilaksanakan oleh orang-orang beriman, karena itu
adalah perintah Allah. 189Renungi Al-Quran surat At-Tawbah [9]
ayat 5 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

90 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

‫َح ۡي ُث َو َجد ُّ� ُمو ُه ۡم‬ �َ ِ��ِ ۡ ‫ٱلۡ ُم‬ ْ‫َفٱ ۡ� ُتلُوا‬ ‫ٱ ۡ ُ� ُر ُم‬ ‫َفإِ َذا ٱ� َسلَ َخ ٱ ۡ�َ ۡش ُه ُر‬
‫تَابُواْ َوأَقَا ُمواْ ٱل َّصلَ ٰو َة‬ ‫َم ۡر َص ٖ�د فَإِن‬ �َّ ُ ‫لَ ُه ۡم‬ ْ‫َوٱ ۡ� ُع ُدوا‬ ‫َو ُخ ُذو ُه ۡم َوٱ ۡح ُ ُ�و ُه ۡم‬

‫م‬ٞ ‫ر َّر ِحي‬ٞ ‫َو َءاتَ ُواْ ٱل َّز َك ٰو َة فَ َخ ُّلواْ َسبِي َل ُه ۡۚم إِ َّن ٱ َّ َ� َ� ُفو‬

“Apabila bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang telah
berlalu, bunuhlah orang-orang yang tidak setuju dengan tegaknya
Islam, yaitu musyrik di mana saja kamu jumpai mereka, tawanlah
mereka, kepunglah mereka dan hadanglah mereka pada setiap
tempat penghadangan. Namun jika mereka mengakui
kesalahannya karena melawan tegaknya Islam, dan mohon
pengampunan, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”

190Itulah akhlak para Nabi dan Rasul Allah, serta orang-
orang beriman, yang berlaku di mana pun dan kapan pun.
Mungkin, sekali lagi mungkin, deskripsi akhlak menurut sunnah
Rasul tidak sesuai dengan gambaran akhlak menurut kaum agamis.
191Sebab, apa yang menurut manusia adalah benar, bisa jadi
menurut Allah adalah salah. Begitu juga sebaliknya, apa yang
menurut manusia salah, bisa jadi benar menurut Allah.

192Gambaran akhlak Rasulullah Muhammad dan para
pengikutnya yang demikian itu dianggap aneh oleh orang awam
dan kaum agamis. Sudah menjadi sunnah Allah, dakwah para Nabi
dan Rasul-Nya bersifat furqan, membuat seseorang barā’ah
(melepas keterikatannya) dari paham kebangsaannya. Orang-orang
beriman –pengikut Rasulullah Muhammad, lebih rela hijrah ke
Habsyi, Afrika, daripada harus hidup dengan nilai-nilai budaya
nenek moyang bangsanya. 193Orang yang berakhlak mulia lebih rela
disiksa oleh kakak kandungnya daripada harus melepas aqidahnya.
Ingatlah kisah Umar bin Khaththab tatkala hendak menghardik
Fatimah, adik perempuannya, dan suaminya disebabkan
keislamannya. Namun, melihat komitmen yang kuat dan sungguh-
sungguh dari adiknya itu, akhirnya Umar bin Khaththab menjadi
yakin bahwa Din Al-Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang
haq, selainnya adalah palsu.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 91

194Kesempurnaan akhlak manusia terwujud ketika seseorang
sanggup hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta sanggup
mengorbankan rasa cintanya kepada orang-orang yang tidak mau
mengakui Islam sebagai satu-satunya sistem hidup ciptaan Allah,
meskipun mereka keluarga, kerabat, atau teman terdekatnya.
Orang-orang yang berakhlak mulia yakin bahwa hanya orang yang
tunduk patuh (muslim) kepada hukum Allah sajalah yang akan
masuk ke dalam jannah Allah. 195Perhatikan firman Allah dalam
Al-Quran surat Al-Mujādilah [58] ayat 22:

‫ََّول�َ ۡو َ ِ� َ�ُدنُ ٓو َقاْ ۡو َٗمءاابَآيُ َءۡؤ ُهِم ُنۡموأَ َنۡو بَِ�ٱ ۡ� َنَّآ�ِ َء َُوهٱ ۡۡم َ�أَۡو ِۡوم ٱإِ ۡخ� َ�ِٰخ َ� ِر ُهيُۡم َوآأَ ُّدۡوو ََنع َِشم ۡ َن� َ� ُهَحاۡٓۚم َّدأُٱْو َ َّ ٰٓ� َ��ِ ََوك َر ُسَكوَت َ ُ�َۥب‬
... ‫ِ� ُق ُلو�ِ ِه ُم ٱ ۡ ِ�ي َ�ٰ َن‬

Dan kamu tidak akan menjumpai satu kaum beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, bersikap kasih sayang kepada orang yang
melakukan perlawanan terhadap Allah dan Rasul-Nya
(Muhammad dan pengikutnya dahulu maupun hari ini),
walaupun mereka itu ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, atau
sanak saudara mereka, itulah orang-orang yang qalbunya telah
dibentuk oleh Allah menjadi iman ...

196Kalimat “kalian tidak akan menjumpai” pada ayat di atas
maksudnya adalah, jika hari ini ada seorang mu’min yang lebih
akrab dan berkasih sayang kepada orang-orang yang tidak jelas
aqidahnya, dan sebaliknya, bersikap keras, kejam, dan sadis kepada
sesama mu’min, maka orang-orang semacam itu bukanlah
golongan Rasulullah Muhammad, dan beliau pasti tidak akan
mengakui mereka sebagai pengikutnya. 197Akhlak “asyiddā-u ‘alal
kuffār, ruhamā-u baynahum; keras terhadap orang-orang kufur dan
berkasih-sayang terhadap sesama mu’min” adalah corak dari
akhlak yang mulia dan sempurna menurut Allah dan Rasul-Nya.
Itulah yang sejatinya disebut akhlāqul karīmah; khuluqin azhīm.

198Akhlak Nabi Ibrahim pada surat Al-Mumtahanah [60]
ayat 4 yang telah dibahas sebelumnya menjadi bukti bahwa akhlak
yang perlu dicontoh adalah akhlak seluruh Nabi dan Rasul Allah

Jalan Kebenaran Universal

92 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

yang dikisahkan dalam Al-Quran, dan kemudian Al-Quran
menjadi akhlak Rasulullah Muhammad. Jadi, akhlak Rasulullah
Muhammad adalah refleksi dari akhlak seluruh Nabi dan Rasul
yang dikisahkan dalam Al-Quran. 199Secara konseptual dapat
dianalogikan bahwa Al-Quran adalah perangkat lunak (software)
akhlak mulia, sedangkan manusia adalah perangkat keras (hardware)
tempat instalasi akhlāqul kārimah. Salah satu asma Allah adalah Al-
Khaliq; Dialah Allah Yang menciptakan segala makhluk. Setiap
makhluk mempunyai khuluq, dan khuluq makhluk disebut akhlaq.

200Sesungguhnya, akhlak yang dimiliki oleh setiap makhluk
itu adalah akhlak Sang Khaliq yang diwahyukan kepadanya.
Artinya, alam semesta dan segenap makhluk di dalamnya dengan
berbagai macam perilakunya menggambarkan akhlak Allah; inilah
yang dimaksud dengan “ayat-ayat Allah”. Dengan memperhatikan
perilaku makhluk yang ada pada alam, kita akan mengenal Allah;
mengenal sunnah (perilaku) Allah. 201Di antara seluruh makhluk
yang ada di alam semesta, hanya ada satu makhluk yang tidak
mewakili akhlak Allah, yaitu orang-orang kafir-musyrik. Orang
kafir-musyrik adalah orang yang tidak mau menjadikan Al-Quran
sebagai akhlak. Orang kafir-musyrik adalah orang yang akhlaknya
dibentuk oleh akhlak setan yang bersifat dasar; ābā wastakbar, sifat
kibrun atau egois dan sombong, sebagaimana Iblis yang merasa
lebih baik dari Adam.

B. AYAT-AYAT ALAM DAN AL-QURAN
1Kesimpulan Al-Quran di dalam surat Al-Fātihah menekankan

kedudukan Allah sebagai Rabb al-’Ālamīn. Allah menamakan dirinya
Rabb sehubungan dengan kedudukannya selaku Pencipta, Pemelihara,
dan Pengatur kehidupan segenap makhluk ciptaan-Nya. Dia
menghidupkan, Dia mematikan, Dia memberikan sumber-sumber
kehidupan, Dia tak pernah lelah dan lengah sedikit pun dalam
mengurus seluruh makhluk-Nya. Dialah Raja yang ditaati oleh seluruh
makhluk-Nya, Dia yang menimpakan azab kepada suatu bangsa yang
dimurkai Nya, Dia memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang
dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang menjatuhkan kekuasaan suatu

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 93

kaum yang dikehendaki-Nya, dan semua makhluk-Nya sedang ber-
tasbih (aktif) melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah yang
diundangkan atas dirinya (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 255).

2Diajarkannya ayat-ayat tersebut memiliki tujuan agar manusia
memahami bahwa di balik fenomena kehidupan ada alam lain, yaitu
alam metafisis yang tidak bisa dilihat dengan mata fisik. Alam
metafisis hanya bisa dilihat (dipahami) dengan mata khusus, yaitu
mata insani, bukan mata hewani. Mata hewani adalah mata biologis;
alat indra untuk mengenal benda-benda materi, sedangkan mata insani
mampu menembus ma’rifat di balik alam materi. Mata insani
kualitasnya lebih tinggi daripada mata hewani. 3Ada tiga macam
perangkat tubuh manusia yang harus ditingkatkan kualitasnya agar ia
tidak zalim. 4Perhatikan penjelasan Allah di dalam Al-Quran surat Al-
A’rāf [7] ayat 179 berikut ini:

‫َبٰٓ��َِّ�َك َ� ۡفَك َقٱ ُۡه�َونۡ ََن�ٰ ِبِم َهبَا ۡلَولَ ُُهه ۡۡمم‬ٞ ‫ن ِّن َّ َ�وٱ�َۡ ِ�ۡ�س َِم ُعس�ولَ َُهن ۡمبِ َهُقآۚلُأُو ْو‬ٞ �ِ ۡ‫لد�ۚأُ ََّذْو�َرَ ۡ�ٰٓ�ُ�نَ�ِاۡب َ ِكِ َ�ُ� َُههو َّنُم َ َنمٱ ۡلبِ ََكَه�ٰثاِ ِف َُٗلو�ل�َو ُه َِّمنۡم َن َءاٱ َذا‬ٞۡ ُّ ُ‫أأَََولََۡ�ضَق‬

Dan sesungguhnya Kami telah menyediakan kehidupan jahannam
untuk mayoritas jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai
qalbu tetapi tidak difungsikan untuk memahami, mereka
mempunyai mata tapi tidak melihat, dan mereka mempunyai telinga
tapi tidak mendengar. Itulah manusia yang kualitasnya sama dengan
hewan ternak, bahkan lebih rendah lagi, yang demikian itu karena
mereka lalai.

5Allah memberi manusia tiga sarana tersebut untuk memahami
makna hakiki dari hidup dan kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan
mendasar tentang hakikat hidup perlu dicari jawabnya: Dari mana
sesungguhnya keberadaan makhluk alam semesta berasal? Siapakah
yang menciptakannya? Untuk apa dan dengan tujuan apa alam
semesta dan manusia ini diciptakan? Bagaimana cara hidup manusia
yang selaras dengan kehidupan universal? Nilai atau ganjaran apa yang
akan diterima manusia tatkala ia berbuat kebajikan dan/atau

Jalan Kebenaran Universal

94 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

kejahatan? Bagaimana cara menghapus dosa manusia? Dan segudang
pertanyaan lainnya.

6Ini adalah masalah-masalah ghaib yang tidak dapat dibuktikan
dengan metode sains dan teknologi. Einstein dan Newton sekalipun,
sebagai begawan ilmiah tidak akan sanggup menjawabnya. Untuk
mencari jawabnya, sudah seharusnya manusia bertanya atau belajar
dari kitab dan sejarah kehidupan orang-orang yang menyatakan
dirinya sebagai Utusan Allah; Utusan Yang Maha Ghaib, yaitu para
Nabi dan Rasul.

7Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa fenomena akwan (alam)
baik makhluk yang ada di langit (benda-benda langit) maupun
makhluk yang ada di bumi, semuanya itu adalah ayat-ayat Allah. Ayat
maknanya adalah bukti (fakta) dari kekuasaan Allah. Artinya, alam
semesta adalah sebuah kerajaan besar yang di dalamnya penuh dengan
aturan atau hukum, dan adanya satu kekuasaan yang mono-loyalitas
yang haq untuk diibadati.

8Fenomena alam dan fenomena kehidupan para Nabi dan
Rasul adalah ayat atau tanda bukti akan Allah sebagai Pengatur,
Penguasa, dan Yang diibadati oleh seluruh makhluk-Nya, dan manusia
sebagai makhluk wajib taat kepada Sang Khaliq. 9Namun sayangnya
manusia itu egois, dia melihat dirinya sudah sempurna dan tidak
butuh isti‘ānah (pertolongan) dari Sang Khaliq. Sesungguhnya tidak
ada cara hidup lain selain manusia menyerahkan dirinya untuk diatur
hanya oleh Allah, Tuan Semesta Alam, melalui Rasul-Nya.

C. AL-FATIHAH SEBAGAI INDUK KITAB
1Secara lughah (bahasa), makna Al-Fātihah adalah Pembuka.

Menurut riwayat, surat Al-Fātihah adalah surat yang pertama kali
diturunkan, walaupun ada juga yang menyatakan bahwa surat ini
adalah surat yang keempat. Dari segi apapun, pendapat tersebut tidak
memiliki alasan kuat. 2Surat ini dinamakan Al-Fātihah karena isi yang
terkandung di dalamnya merupakan ummu; induk atau pokok masalah
dari seluruh surat-surat Al-Quran yang lainnya. Secara struktural, apa
yang dibicarakan di dalam surat Al-Fātihah adalah kunci. Jika

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 95

seseorang ingin memasuki rumah atau suatu ruangan, ia harus
memiliki kunci, tanpanya orang tersebut tidak akan bisa masuk dan
tidak tahu apa yang ada di dalam ruangan itu. Surat Al-Fātihah diawali
dengan ayat Bismillāhi arrahmān arrahīm, yang merupakan ayat inti dari
Al-Fātihah, dan Al-Fātihah adalah intisari Al-Quran.

3Al-Quran adalah tuntunan bagi manusia tentang pengabdian
kepada Allah, tidak ada pengabdian kepada ilah selain Allah. Artinya,
hanya Allah saja yang haq dijadikan Rabb (Pengatur dan Pemelihara),
Malik (Penguasa), dan Ilah (Pusat Pengabdian). Ilah-ilah lain selain
Allah adalah batil, tidak memiliki hak untuk memimpin, berkuasa,
atau diagungkan.

4Uraian isi Al-Quran yang demikian itu disimpulkan dengan
kalimat Bismillāhi arrahmān arrahīm. Mengertilah kita, apa maksud Nabi
Sulaiman tatkala menyurati Ratu Balqis sebagaimana firman Allah
dalam surat An-Naml [27] ayat 30-31 di bawah ini:
�ِ ‫َو ۡ�تُو‬ َّ َ
�َّ َ َ ْ‫َ� ۡع ُلوا‬ �� ٣٠ ‫ٱل َّر ِحي ِم‬ �‫ٱل َّر‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ � ‫�نَّ ُهۥ‬ ‫ُسلَ ۡي َ�ٰ َن‬ ‫ِمن‬ ‫إِنَّ ُهۥ‬

٣١ �َ ‫ُم ۡسلِ ِم‬

Sesungguhnya surat ini, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya:

Bismillāhi arrahmān arrahīm. Bahwa janganlah kamu sekalian

berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri.”

6Menyikapi surat tersebut, Ratu Balqis mengumpulkan para
panglima perang dan menterinya, dan ia mengatakan: “Sesungguhnya,
setiap penguasa apabila menyerbu suatu kota, mereka akan
menghancurkannya dan membuat orang-orang terhormat di kota itu
menjadi hina, demikianlah perlakuan mereka.” (lihat QS. An-Naml
[27]: 34). Pernyataan itu menandakan bahwa Ratu Balqis adalah
penguasa yang paham akan sunnah para Rasul Allah. 7Sudah menjadi
Sunnah Allah, Khilafah yang dibangun oleh para Rasul-Nya adalah
suatu kekuasaan (daulah) yang akan mengalahkan daulah lainnya tanpa
kompromi. Jadi, kalimat Bismillāhi arrahmān arrahīm itu mengandung
makna gerakan Mujahid atau gerakan Hizbullah (Tentara Allah) yang

Jalan Kebenaran Universal

96 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

berjuang berdasarkan isme Allah untuk menegakkan Daulah Allah,
yaitu Kerajaan Allah.

8Dari segi isi, ayat pertama dari surat Al-Fātihah menjelaskan
tentang keutamaan Allah sebagai Ilah yang haq dan pantas untuk
dipuja oleh segenap makhluk-Nya. Kesetimbangan yang terjadi pada
kehidupan alam semesta adalah hasil karya Allah Yang menciptakan
dan mengaturnya. Refleksi atas tafsiran ayat ini adalah kesadaran
manusia –sebagai bagian dari alam semesta, yang tidak memiliki
alternatif lain selain menjadikan Allah sebagai Rabb-nya; mematuhi
segala perintah dan larangan-Nya, yaitu hukum Allah yang termaktub
di dalam Al-Quran sebagai Rububiyah Allah.

9Ayat kedua adalah identifikasi akhlak (sifat) Allah, yaitu
Rahman dan Rahim; dua sifat Allah dalam kedudukannya selaku Rabb
al-‘Ālamīn, Pengatur dan Pemelihara alam semesta. Kedua sifat Allah
ini secara transeden berintegrasi dengan jiwa mu’min, sehingga orang-
orang beriman memiliki akhlak Khaliqnya, yaitu Rahman dan Rahim.

10Makna ayat ketiga, mengacu kepada pernyataan surat Asy-
Syūra [42] ayat 13, Allah memerintah mu’min untuk menegakkan Din
(an-aqimuddīn). Hari tegaknya Din memiliki dua dimensi, yaitu di dunia
dan di akhirat. Setelah kekuasaan Madinah mengalahkan kekuasaan
Mekah –yang dikenal dengan Fathi Makki, Rasulullah Muhammad
melakukan Haji Wada (haji perpisahan). 11Di lembah Bathnul Wady,
Bukit Namirah, dalam Khutbatul Wada’ turunlah ayat terakhir, surat Al-
Māidah [5] ayat 3:

‫ٱ ۡ َ� ۡو َم أَ ۡ� َم ۡل ُت لَ ُ� ۡم ِدي َن ُ� ۡم َو َ� ۡ� َم ۡم ُت َعلَ ۡي ُ� ۡم نِ ۡع َم ِ� َو َر ِضي ُت لَ ُ� ُم‬...
... ۚ‫ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ َم ِدي ٗنا‬

… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu Dinmu, dan
telah Aku cukupkan kepadamu DinKu, dan telah Aku ridai Islam itu
sebagai Din bagimu…

12Momen itulah yang dimaksud dengan yawm ad-dīn, yaitu hari
tegaknya Din Allah, Din Al-Islam. Dalam Daulah Islam, manusia
berlaku sebagai hamba hukum untuk melaksanakan prinsip keadilan
Allah, Tuan Semesta Alam. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 97

kalian penegak-penegak keadilan, saksi-saksi Allah walaupun terhadap
dirimu sendiri” (QS. An-Nisā [4]: 135). Salah satu syarat untuk
menegakkan keadilan (hukum) Allah adalah tersedianya lembaga
kekuasaan hukum, yaitu Kerajaan Allah di muka bumi.

13Ayat keempat surat Al-Fātihah mengisyaratkan kedudukan
Allah sebagai satu-satunya Ilah yang haq untuk diibadati dan dimintai
pertolongan: Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Islam mengajarkan
bahwa yang haq menjadi Ma’būd (Yang diibadati) hanyalah Allah,
sedangkan kedudukan manusia –termasuk Rasul, hanyalah sebagai
‘abid (pengabdi; hamba). Oleh karena itu, keberadaan Ma’būd harus
diikuti oleh adanya ‘abid, yaitu ummat yang berserah diri (ummat
Islam) untuk diatur oleh Allah. 14Menurut ukuran aqidah Islam,
mengabdi kepada selain Allah –seperti mengabdi kepada tanah air,
bangsa, negara, raja, ideologi, dan lain sebagainya, adalah bentuk
kemusyrikan.

15Sikap istianah (memohon pertolongan kepada Allah) adalah
salah satu hal yang membedakan mu’min dengan kafir. Pada batas
maksimal kemampuan manusia, mu’min masih mempunyai harapan
datangnya pertolongan dari Allah. 16Ada tiga bentuk konkret
pertolongan Allah bagi orang-orang yang berlindung kepada-Nya,
yaitu:

17Pertama, diturunkannya Al-Kitab sebagai petunjuk, ilmu, dan
furqan, dengannya seseorang dapat membedakan yang haq dan yang
batil; sabīlillāh dan sabīlithāghūt.

18Kedua, dilimpahkannya sebagian kekuasaan-Nya kepada
orang-orang beriman (delegation of authority). Dengan pendelegasian
kekuasaan, Hukum Allah dapat diterapkan secara praktis dalam
kehidupan dunia ini sebagai bentuk konkret pengabdian kepada Allah,
Tuan Semesta Alam.

19Ketiga, dijadikannya ummat Islam itu sebagai ummat yang
tauhid (bersatu) sebagai kekuatan penolong dalam segala aspek
kehidupan.

Jalan Kebenaran Universal

98 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

20Inilah tiga unsur yang saling berkaitan dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tiga unsur
inilah yang disebut Din Al-Islam.

21Persoalan yang dihadapi kaum agamis Islam dunia sekarang
ini adalah bagaimana mewujudkan idealisme Din Al-Islam sebagai
sebuah Jalan Kebenaran. Harapan itu secara eksplisit dinyatakan
dalam ayat kelima surat Al-Fātihah: “Tunjukkan kepada kami shirāthal
mustaqīm; jalan yang lurus; Jalan Kebenaran.”

22Shirāthal mustaqīm adalah konsepsional yang wujud konkretnya
termaktub dalam ayat keenam, yaitu “Jalan hidup yang pernah
ditempuh oleh orang-orang yang terdahulu yang telah mendapat
ni’mat dan berkah dari Allah.” 23Perhatikan firman Allah dalam Al-
Quran surat An-Nisā [4] ayat 69 berikut ini:
‫ََووٱ َلم ِّنص ّيُِدي ِطقِ ِع َٱ� ََّوٱَ�ل َُّوشٱلَه َّرَد ُآس ِءو َ َلوٱل َفأَُّ ْو�ٰ َلِٰٓ��ِِح َكَ�ۚ َمَو َعَح ٱ ُ َّس ِ� َين َأُن ْو ََ� ٰٓ�ۡ��َِع ََمك‬
‫ٱ�َّبِ ِّ ۧ� َن‬ ‫ِّم َن‬ ‫ٱ َّ ُ� َع َل ۡي ِهم‬
‫َر�ِي ٗقا‬

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasulnya, mereka itu
adalah orang-orang yang sederajat dengan orang-orang yang telah
diberi ni’mat dan berkah Allah atas mereka yaitu: para Nabi,
Shiddiqin (orang-orang yang benar), Pahlawan Islam, dan Shalihin.
Alangkah baiknya menjadi teman-teman mereka.

24Futuh Mekah merupakan sasaran jangka pendek ummat Islam
melaksanakan misi Khalīfah fil Ardh-Nya. “Pada hari ini Aku
sempurnakan Din kalian, Aku cukupkan atas kalian Din-Ku dan Aku
rida Islam sebagai tatanan hidup kalian,” demikianlah penegasan Allah
yang terakhir kepada kaum Muslimin di Bukit Namirah saat Haji
Wada.

25Keberhasilan Rasulullah Muhammad dalam mencapai
mardhātillāh (rida Allah) diperoleh melalui fase-fase jihad yang
dilakukan secara sistematis. Tahap demi tahap, fase-fase jihad itu
ditempuh thabaqan ‘an thabaqin (berlapis atau bertingkat). Rasulullah
Muhammad membina kekuatan yang demikian itu dimulai dari
seorang diri (min nafsin wāhidah), kemudian dakwah kepada keluarga,
para sahabat, sanak saudara, serta orang-orang yang datang

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 99

kepadanya, demikian dakwah itu terus berjalan. 26Langkah-langkah ini
adalah sunnah atau uswah yang juga harus dilakukan oleh para
mujahid yang ingin mengabdikan hidupnya untuk mencari mardhātillāh
(rida Allah). Hanya dengan cara inilah ibadah seorang hamba akan
diterima oleh Allah –Sang Tuan, di dunia dan di akhirat.

27Allah tidak selalu menerima dan meridai pengabdian hamba-
hamba-Nya. Janganlah mengira bahwa Abu Jahal, Abu Lahab, dan
Abu Thalib tidak berusaha mengabdi kepada Allah, Sang Pencipta
alam semesta. Keengganan mereka mengikuti seruan Rasulullah
Muhammad justru karena mereka merasa lebih beriman, lebih saleh,
dan lebih tahu soal agama Nabi Ibrahim. 28Mereka –kaum musyrik
Mekah, adalah orang-orang yang percaya adanya Allah, melakukan
ritual shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, berzakat, dan rajin
melaksanakan thawaf di Baitullah, tetapi semua ibadahnya ditolak oleh-
Nya, bahkan murka Allah atas mereka disebabkan kesesatannya.
Mengapa demikian? 29Karena cara hidup mereka yang mendua (syirik),
sebagaimana ditegaskan Allah melalui Al-Quran surat An-Nisā [4]
ayat 60: “Mereka mengaku beriman tapi mematuhi atau berhukum
kepada hukum thaghut; produk akal manusia yang bersumber dari
nafsu demi kepentingan pribadi, golongan, atau bangsa.”

30Cara hidup syirik –menduakan Allah, yang demikian itu
sangat dimurkai (di-ghadhab) oleh-Nya, karena manusia mengikuti
khuthuwah syaithān (langkah-langkah; program-program setan atau
musuh Allah) yang hanya akan membawa mereka kepada kesesatan
yang amat jauh, sehingga tidak mungkin lagi kembali kepada garis
fitrahnya.

D. AL-QURAN SEBAGAI KITAB SEJARAH
1Dalam hal ini para ahli berbeda pendapat, ada yang

mengatakan bahwa Al-Quran itu bukan Kitab Sejarah dan ada yang
berpendapat sebaliknya. Pembahasan ini bukan ingin menyamakan
Al-Quran dengan buku sejarah yang ada, melainkan mengajak kita
untuk mengkaji dan merenungi ayat-ayat yang berisi tentang sejarah
(sunnah) yang terjadi pada ummat terdahulu.

Jalan Kebenaran Universal

100 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

2Diyakini bahwa Al-Quran adalah wahyu yang jelas kebenaran
informasinya dari Allah, berbeda dengan buku-buku sejarah yang
ditulis oleh manusia, bersifat subjektif dan masih diperdebatkan
kebenarannya. 3Jika isi Al-Quran dibedah, akan ditemukan sekitar dua
per tiga isinya berbicara tentang kisah ummat terdahulu dan kisah
perjalanan perjuangan Nabi Muhammad. Dengan kata lain, Al-Quran
berisi tentang sejarah ummat terdahulu, dari Nabi Adam hingga Nabi
Isa, dan juga sejarah di masa Nabi Muhammad. Namun demikian,
pada saat Nabi Muhammad menceritakan kisah-kisah para Nabi dan
Rasul Allah beserta kaumnya, seringkali informasi ilahiah (wahyu)
tersebut dijadikan bahan tertawaan oleh orang-orang kafir-musyrik.
4Mereka menganggap apa yang disampaikan oleh beliau (Al-Quran)
hanyalah sebuah dongeng belaka dan tidak mempunyai manfaat
sedikit pun bagi keimanan dan kehidupan mereka, karenanya mereka
tetap saja menyombongkan diri dan berbuat dosa (syirik). Orang-
orang kafir tidak mengimani kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah
serta orang-orang yang menentangnya sebagai sunnah (tradisi) yang
akan terulang pada diri mereka.

5Jika seseorang menganggap bahwa kisah sejarah para Nabi dan
Rasul Allah hanyalah bernilai dongeng atau legenda yang dipenuhi
bumbu irasionalitas, sama halnya ia mengkafiri dua per tiga isi Al-
Quran. Sikap yang demikian itu sama dengan sikap orang kafir yang
menyatakan bahwa Al-Quran adalah dongeng orang-orang terdahulu.
Di antara mereka, ada orang-orang yang mau mendengarkan bacaan
Al-Quran, akan tetapi (karena qalbunya dengki kepadamu) Kami
sempitkan kesadaran mereka agar mereka tidak memahami ayat-ayat
Al-Quran.

6Kemampuan mendengar orang-orang kafir pun Allah
lumpuhkan, dan seandainya mereka melihat fakta kebenaran dari
perkataanmu, mereka tidak akan membenarkan perkataanmu sampai
mereka datang kepadamu untuk berargumentasi. 7Kekufuran dan
kesombongan orang-orang kafir-musyrik tersebut ditegaskan dalam
Al-Quran, misalnya, dalam surat Al-An’ām [6] ayat 25 berikut ini:
َ ‫أَ ِ� َّن ًة‬
‫َءا َذانِ ِه ۡم‬ �ٓ ِ ‫َو‬ ‫َ� ۡف َق ُهو ُه‬ ‫أن‬ ‫ُق ُلو�ِ ِه ۡم‬ �ٰ َ َ ‫َو َج َع ۡل َنا‬ ۖ‫إِ َ ۡ� َك‬ ‫� َ ۡس َت ِم ُع‬ ‫َّمن‬ ‫َو ِم ۡن ُهم‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 101

‫َ� ُقو ُل‬ ‫يُ َ�ٰ ِدلُونَ َك‬ ‫َجآ ُءو َك‬ ‫إِ َذا‬ �ٰٓ َّ �َ‫ْإِ ُ ۡنَّ� َ�ٰ َءاَذيَآةٖإِ َّ َّ ٓ��أَ َيُ ٰ�ۡؤ ِِمط ُن ُو�اْٱ ۡبِ َ�َهاَّوۖلِ َح‬ ‫َو ۡق ٗر ۚ� �ن يَ َر ۡوا‬
ْ‫ٱ َّ ِ�ي َن َ� َف ُر ٓوا‬

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu,
padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas qalbu mereka
(sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan)
sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda
(kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga
apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-
orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan
orang-orang dahulu.”

8Perhatikan pula surat Al-Anfāl [8] ayat 31:

ٓ‫إِ َّ��ٓ َذاأَ َُ� ٰ� ۡت َِط ٰ� ُ� َعٱ َۡل ۡيَ� َِّهولِۡم َ َء�ا َ�ٰ ُت َنا َقالُواْ قَ ۡد َس ِم ۡع َنا لَ ۡو � َ َشآ ُء لَ ُق ۡل َنا ِم ۡث َل َ�ٰ َذآ إِ ۡن َ�ٰ َذا‬

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka
berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang
seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat
membacakan yang seperti ini, (Al-Quran) ini tidak lain hanyalah
dongeng-dongengan orang-orang dahulu.”

9Sikap orang-orang musyrik Arab tersebut sesungguhnya
hanyalah pengulangan sejarah dari orang-orang musyrik pada setiap
kedatangan Rasul Allah. 10Misalnya, sikap orang-orang musyrik Mesir
yang menghina dakwah Nabi Musa yang tertuang dalam surat Al-
Qashash [28] ayat 36:
‫ُّم ۡف َ ٗ�ى‬ َّ ٓ‫َ�ٰ َذا‬ ْ‫َقالُوا‬ ‫َف َسلَ ِمَّم ۡاع َنا َجبِآَ�َٰء َذُهام ِ ٓ� ُّم َءوا َبَآ ٰ�ِ� َنا ٱ�ۡ َ��َٰتَِّو َنلِا َ�َ� ّيِ َ�ٰ ٖت‬
‫َو َما‬ ‫ر‬ٞ ‫ِس ۡح‬ �ِ‫إ‬ ‫َما‬

Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa)
mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata: “Ini tidak lain
hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar
(seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu.”

Jalan Kebenaran Universal

102 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

11Lalu bagaimana sikap kita terhadap sejarah atau kisah-kisah
ummat terdahulu yang begitu banyak di dalam Al-Quran? Apakah
kisah-kisah mereka menjadi pembelajaran? Apakah sejarah para Nabi
dan Rasul Allah tersebut mampu menambah keyakinan kita? Atau kita
pun menilainya sebagai dongeng semata?

12Sebagai manusia beriman, sudah seharusnya kita berpikir dan
merenungi sejarah ummat terdahulu. Untuk apa Allah mewahyukan
kisah-kisah ummat terdahulu kepada Nabi Muhammad dan apa
faedahnya untuk ummat manusia hari ini? Mari kita renungi bersama!

13Pertama: Al-Quran adalah Kitab Petunjuk, sehingga tidak
ada satu pun ayat di dalamnya yang tidak mengandung nilai petunjuk.
Semua kisah di dalam Al-Quran adalah kisah sejarah yang bersifat
faktual, informatif, dan tentu saja dapat dijadikan pedoman atau
petunjuk hidup.

14Di dalam surat Al-Fātihah ditegaskan adanya dua jalan yang
menjadi pilihan manusia, yaitu jalan yang lurus (jalan kebenaran) yang
merupakan jalan orang-orang terdahulu yang telah mendapat ni’mat
(tegaknya Din Al-Islam) dari Allah dan jalan yang sesat yang dimurkai
oleh-Nya. 15Jika kita bedah lebih jauh isi kisah-kisah Al-Quran, maka
sesungguhnya ia menceritakan dua hal di atas:
16a. Kisah tentang para Nabi dan Rasul Allah beserta orang-orang

beriman di zaman dahulu yang ditimpa berbagai macam ujian
(musibah) keimanan hingga mereka mendapat ni’mat dari Allah,
yakni kehidupan surgawi (jannah) di bawah satu kekuasaan
(khilafah). Inilah anugerah yang Dia berikan kepada mereka yang
beriman dan beramal saleh pada zamannya masing-masing.
Mereka adalah orang-orang yang berjalan pada jalan Allah di
bawah pimpinan para Nabi dan Rasul Allah dengan berbagai
macam tantangan dan rintangannya, mulai dari fase dakwah
kepada bangsanya, fase hijrah (eksodus) dari kampung
halamannya, fase jihad (berperang) melawan serangan penguasa
zalim dan pasukan kafir musyrik, hingga mereka diberi
kemenangan dan kekuasaan politik (khilafah) oleh Allah Yang
Maha Kuasa. 17Silakan renungi surat An-Nūr [24] ayat 55:

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 103

�ِ ‫َو َع َد ٱ َّ ُ� ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ ِمن ُ� ۡم َو َع ِم ُلواْ ٱل َّ�ٰلِ َ�ٰ ِت لَ َي ۡس َت ۡخلِ َف َّن ُه ۡم‬
َّ ‫لَ ُه ۡم‬ �‫لٱَ ُۡه َ�َۡم�� َف َِوَر َض ُ�َ� َب ۡعَكِّدََدمَا�َّ َُ�هٱٰلِ ۡمس َ َتكِّم ۡخَف ۢنأُلَ َْو َ� َ ٰۡٓع�ف�ِِدٱ ََّكِ� َيخ ُۡهَونفُِم ِه ِمٱ ۡمۡلنَأَ�ٰ َۡ�م ِٗۡبسناُۚلِق ِهوَ� ۡمَۡعن ُب َوُدَ ُ�ونََم ِ ِّك� َ ََّن‬
�ٰ َ َ‫ٱ ۡرت‬ ‫ٱ ِ�ي‬ ‫ِدي َن ُه ُم‬

‫� ُ ۡ ِ� ُ�و َن ِ� َش ۡ ٗ�ٔاۚ َو َمن‬

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka din yang
telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
(keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentosa. Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa
yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-
orang yang fasiq.

18b. Kisah para penguasa kafir dan bangsanya yang musyrik dan
menentang misi risalah Allah yang disampaikan oleh para Nabi
dan Rasul-Nya. Kisah ummat terdahulu yang berjalan pada jalan
kesesatan (jalan setan) yang menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya,
hingga pada saatnya tiba, Dia mengirimkan azab kepada mereka
yang kafir, zalim, dan musyrik tersebut. Setidaknya ada dua puluh
lima Nabi dan Rasul Allah yang dikisahkan di dalam Al-Quran
beserta penentangnya, mulai dari kisah Iblis beserta kaumnya
yang menentang kekuasaan Nabi Adam hingga kisah Bani Israel
dan penguasa Romawi yang menentang misi risalah-Nya yang
dibawa oleh Nabi Isa. Kisah para Nabi dan penentangnya di
dalam Al-Quran tersebut adalah sejarah yang telah terjadi di
zaman dahulu, bukan kisah dongeng atau khayalan belaka.
19Kedua: Al-Quran adalah ilmu (nur) Allah yang harus menjadi

sumber penerang dan sumber ilmu. Tentu saja semua kisah yang ada
di dalam Al-Quran, baik yang berjalan pada jalan kebenaran maupun
yang berjalan pada jalan kesesatan, mengandung nilai penerang atau
pelajaran bagi mereka yang iman kepada Al-Quran. Tiap-tiap kisah

Jalan Kebenaran Universal

104 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

mereka memiliki nilai dan pelajaran tersendiri bagi Nabi Muhammad,
yang seharusnya juga menjadi pelajaran dan teladan bagi generasi
orang-orang beriman di zaman ini. 20Penegasan ini dapat dilihat dalam
surat Yūsuf [12] ayat 111 di bawah ini:
‫ ّ ِ ُ� ْو ِ� ٱ ۡ َ� ۡل َ�ٰ ِ�ب َما َ� َن َح ِدي ٗثا ُ� ۡف َ َ� ٰى َو َ�ٰ ِ�ن‬ٞ‫َل َق ۡد َ� َن ِ� َق َص ِص ِه ۡم ِع ۡ َ�ة‬
‫يُ ۡؤ ِم ُنو َن‬ �ٖ ‫ّلِ َق ۡو‬ ‫َو َر ۡ َ� ٗة‬ ‫َ ۡ� ٖء‬ �ِّ ُ ‫َو َ� ۡف ِصي َل‬ َّ
‫َو ُه ٗدى‬ ِ‫يَ َديۡه‬ �َ ۡ �َ ‫ٱ ِ�ي‬ ‫تَ ۡص ِدي َق‬

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita
yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk
dan rahmat bagi kaum yang beriman.

21Pertanyaan selanjutnya dari penjelasan di atas adalah, “Apa
nilai atau pelajaran utama yang dapat diambil dari kisah-kisah para
Nabi dan Rasul Allah di dalam Al-Quran?” Untuk menjawabnya,
harus dikembalikan dahulu pada satu pertanyaan dasar, “Apa yang
menjadi tugas pokok dari Rasulullah Muhammad?” 22Tentu saja tugas
pokok beliau sama dengan para Rasul Allah sebelumnya, yakni:

23Pertama, tugas pokok awal Rasul Allah adalah mengembalikan
manusia kepada fitrahnya yang sejati sebagai hamba dan
meninggalkan segala bentuk kemusyrikan. Dalam bahasa lain,
menjadikan manusia sebagai hamba beriman yang bertauhid.
24Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Anbiyā' [21] ayat
25 berikut ini:
۠‫َ�نَا‬ ‫َ�نَّ ُهۥ‬ ‫أَ ۡر َس ۡل َنا‬
ٓ�َّ ِ‫إ‬ ‫إِ َ�ٰ َه‬ ٓ�َ ِ‫إِ َ ۡ�ه‬ �ٓ ِ ‫نُو‬ َّ ‫َّر ُسو ٍل‬ ‫ِمن‬ ‫َ� ۡبلِ َك‬ ‫ِمن‬ ٓ‫َو َما‬
�ِ‫إ‬

‫َفٱ ۡ� ُب ُدو ِن‬

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada tuan
(yang hak) melainkan Aku, maka abdilah olehmu sekalian akan
Aku.”

25Perhatikan pula surat An-Nahl [16] ayat 36:
َ ٖ‫أُ َّمة‬
‫َف ِم ۡن ُهم‬ ۖ‫ٱل َّ ٰ� ُغو َت‬ ْ‫َوٱ ۡج َتنِ ُبوا‬ �َ َّ ‫ٱ‬ ْ‫ٱ ۡ� ُب ُدوا‬ ‫أ ِن‬ �ً ‫َّر ُسو‬ �ِّ ُ �ِ ‫َ� َع ۡث َنا‬ ‫َو َل َق ۡد‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 105

ْ ‫فَٱن ُظ ُروا‬ َۡ �ِ ْ ‫َف ِس ُ�وا‬ ۚ ‫ٱل َّض َ�ٰ َل ُة‬ ِ‫َعلَ ۡيه‬ ‫َح َّق ۡت‬ ‫َّم ۡن‬ ‫َو ِم ۡن ُهم‬ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َه َدى‬ ‫َّم ۡن‬
‫ٱ�� ِض‬

�َ ِ�‫َك ۡي َف َ� َن َ�ٰقِ َب ُة ٱلۡ ُم َك ِّذ‬

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat
(untuk menyerukan): “Abdilah Allah (saja), dan jauhilah thaghut
itu,” maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang
telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasul-rasul).

26Jadi, visi awal seorang Rasul Allah adalah membebaskan
manusia dari perbudakan, yakni melepaskan manusia dari segala
bentuk perbudakan (kemusyrikan), mulai dari perbudakan manusia
oleh hawa nafsunya, perbudakan manusia oleh manusia lainnya,
hingga perbudakan negara bangsa oleh negara bangsa lainnya.

27Dalam kehidupan ini, manusia selalu tidak sadar jika dirinya
sedang diperbudak dan dijajah. Apa yang manusia lakukan sehari-hari
sesungguhnya dalam rangka memenuhi tuntutan atau keinginan hawa
nafsu belaka, sehingga manusia menjadi budak hawa nafsunya.
Miliaran manusia bersedia diperbudak oleh manusia lainnya, demi
memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsunya hanya karena
orang lain tersebut lebih pintar, lebih kuat, lebih kaya, atau lebih
berkuasa dari dirinya. 28Dalam skala yang lebih besar, suatu negara
bersedia menjadi boneka atau budak dari negara lainnya demi
memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsu dari penguasa
(pemimpin) negaranya. Inilah jenis perbudakan yang harus dibebaskan
oleh setiap Rasul Allah; perbudakan individu, perbudakan sosial, dan
perbudakan negara-negara bangsa.

29Kedua, tugas pokok akhir dari setiap Rasul Allah adalah
menegakkan sistem hukum (din) Allah dalam kehidupan manusia.
Dalam bahasa lain, memenangkan Din Allah yang haq di atas semua
jenis din buatan manusia. 30Perhatikan penegasan akan visi Rasul
Allah tersebut dalam Al-Quran surat At-Tawbah [9] ayat 33 berikut
ini:

Jalan Kebenaran Universal

106 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ ُ� ۡظ ِه َر ُهۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۦ َولَ ۡو‬
‫َك ِر َه ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk
dan din yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala din,
walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

31Perhatikan pula surat surat Al-Fath [48] ayat 28:

�ٰ َ �َ ‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ�ُ ۡظ ِه َرهُۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۚۦ َو‬
‫بِٱ َّ�ِ َش ِهي ٗدا‬

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan
din yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua din. Dan
cukuplah Allah sebagai saksi.

32Demikian pula surat Ash-Shāff [61] ayat 9:

‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ ُ� ۡظ ِه َر ُهۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۦ َولَ ۡو‬
‫َكرِهَ ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk
dan din yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala din,
walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

33Kesimpulannya, visi para Rasul Allah adalah menegakkan
sistem hukum Allah (Din Al-Haqq; Din Al-Islam) dalam kehidupan
manusia. Tentu saja, sistem hukum Allah dapat ditegakkan apabila
Rasul Allah telah memiliki Khilafah politik, yakni Dār al-Salām
(Darussalam; Negeri Kedamaian) sebagai wilayah dari kekuasaan
Allah.

34Dengan demikian, kisah para Rasul Allah di dalam Al-Quran
sesungguhnya adalah kisah tentang perjuangan mereka dalam
menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi. Inilah pelajaran utama di
balik kisah-kisah tersebut.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 107

E. MEMAHAMI AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

1Perbedaan mendasar dalam membaca ayat-ayat Al-Quran
dengan bacaan lainnya adalah adanya tuntutan kepada si pembaca
untuk memahami apa yang dibacanya dan selanjutnya diaplikasikan
dalam kehidupannya sehari-hari. Berbeda dengan bacaan lainnya yang
tidak menuntut apapun. Jika Anda membaca ayat-ayat Allah dan
belum dapat memahaminya, ia belum bisa menjadi petunjuk bagi
hidup Anda. Jika Anda sudah membaca dan memahaminya, maka
Anda harus melaksanakannya. Pertanyaannya adalah, “Dari mana kita
harus memulai membaca dan memahami ayat-ayat Al-Quran? Begitu
banyak perintah dan larangan dalam Al-Quran, lalu ayat mana yang
lebih dahulu harus kita kerjakan?” 2Manusia tidak akan sanggup
mengerjakan semua perintah dan larangan-Nya sekaligus, dan untuk
itulah ayat-ayat Al-Quran diturunkan dan dibacakan oleh Rasulullah
Muhammad kepada ummatnya secara berangsur-angsur.

3Para ulama sepakat bahwa periodisasi turunnya ayat-ayat Al-
Quran dibagi dalam dua periode, yakni periode Makkiyah dan periode
Madaniyah. Namun, mereka berbeda pendapat soal apa yang
dimaksud ayat-ayat Makkiyah dan apa yang dimaksud ayat-ayat
Madaniyah itu.

4Seharusnya orang menyadari bahwa Al-Quran adalah petunjuk
atau pedoman tentang cara menegakkan kembali Din Allah atau
sistem pengabdian kepada-Nya secara sistematis. Lalu nilai apa yang
dapat dijadikan pelajaran dan petunjuk dari periodisasi tersebut,
khususnya dalam misi penegakan kembali Din Al-Islam di muka
bumi? 5Perhatikan penjelasan Al-Quran surat Al-Furqān [25] ayat 32-
33 berikut ini:

‫ِ�ُثَ ّبِ َت‬ ‫َعلَ َۡيو َهِ�ٱ ۡليَ ُقۡ� ۡتُر َوءانَ ُنَك ُبِۡ� َمَل َثٗة ٍل َ�ٰإِ َِّح�َد ٗةۚ ِج َك ۡئ ََ�ٰ�لِٰ ََكك‬٣٢‫لَتَۡو ۡرَ�ِ�ي ٗنُ ّ�ِز َل‬ ْ‫َوقَا َل ٱ َّ ِ�ي َن َ� َف ُروا‬
‫بِٱ ۡ َ� ِّق‬ ‫ ُه‬٣ٰ�َ٣‫بَِوأَهِۦۡح َفُس َؤَان َد َ� َۡفكۖ ِس َو ًَر�اتَّ ۡل‬

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Quran itu tidak
diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami
perkuat akal pikiranmu dengannya dan Kami membacanya secara

Jalan Kebenaran Universal

108 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang
kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami
datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik
penjelasannya.

6Dalam setiap perjuangannya, para Rasul Allah selalu mendapat
bimbingan wahyu dari-Nya. Fase perjuangan iman, hijrah, dan jihad
dilakukan sesuai dengan periodisasi turunnya wahyu atau firman
Allah. Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad, periodisasi ini
dikenal dengan periode Makkiyah dan Madaniyah.

7Periode Makkiyah adalah periode dakwah pada saat Nabi
Muhammad masih berada dalam wilayah kekuasaan hukum jahiliyah
Bangsa Mekah atau periode turunnya wahyu sebelum hijrah (kondisi
zhulumat; layl; gelap).

8Periode Madaniyah adalah periode ketika ayat atau firman
yang diinstruksikan pada kondisi Nabi Muhammad dan pengikutnya
telah berada di luar wilayah kekuasaan hukum jahiliyah Bangsa Mekah
(kondisi nūr; nahar; terang) atau periode turunnya wahyu setelah
eksodus (hijrah). Pada saat Rasulullah menguasai Yatsrib berarti beliau
sudah memiliki teritorial hukum sendiri yang terbebas dari kekuasaan
Abu Jahal. 9Dengan adanya status-quo inilah, Allah menginstruksikan
ayat-ayat hukum seperti perintah shalat, zakat, puasa, haji, perang
melawan orang kafir, hukum kisas, hukum zina, hukum potong
tangan bagi pencuri, hukum nikah, hukum riba, dan lainnya. Semua
ayat hukum, Allah turunkan (perintahkan) pada kondisi Madaniyah
bukan pada kondisi Makkiyah.

10Allah, Rabb Semesta Alam, Yang Maha Bijaksana, tidak akan
memerintahkan sebuah aturan hukum-Nya untuk ditegakkan
manakala hamba-hamba-Nya masih terikat dengan aturan hukum
jahiliyah atau hukum bangsa-bangsa kafir-musyrik (thaghut). Hukum
Allah selalu bertolak belakang dengan hukum buatan manusia atau
negara-negara bangsa. 11Hal ini dipertegas melalui pernyataan Allah
dalam Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 50 berikut ini:

‫أَفَ ُح ۡ� َم ٱ ۡل َ�ٰ ِهلِ َّي ِة َ� ۡب ُغو َ ۚن َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن ِم َن ٱ َّ�ِ ُح ۡك ٗما ّلِ َق ۡو ٖ� يُوقِ ُنو َن‬

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 109

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang
yang yakin?”

12Aplikasi penegakan hukum Allah sangat tergantung kepada
teritorial yang harus dimiliki oleh sebuah ummat yang ingin
mewujudkannya. Dengan kata lain, berbicara ayat-ayat Makkiyah dan
Madaniyah bukanlah persoalan di mana lokasi wahyu Allah
diturunkan, melainkan tentang kondisi pada saat ayat tersebut
diwahyukan atau diajarkan oleh Allah. 13Kesimpulannya, ayat-ayat
Makkiyah adalah ayat-ayat yang diwahyukan (diturunkan) sebelum
Rasulullah Muhammad hijrah, dan ayat-ayat Madaniyah adalah ayat-
ayat yang diwahyukan (diturunkan) pasca Rasulullah Muhammad
hijrah, meskipun ayat itu turunnya di Mekah, seperti surat An-Nashr
[110].

14Tiga tahapan perjuangan para Rasul Allah, yakni tahap iman,
hijrah, dan jihad, menjadi contoh terbaik yang harus diteladani oleh
orang-orang beriman dalam proses penegakan Din Al-Islam. Setiap
Rasul Allah, mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga
Muhammad menapaktilasi prinsip-prinsip perjuangan tersebut dalam
mewujudkan tegaknya hukum Allah di muka bumi. 15Setiap Rasul
tersebut membawa visi, misi, dan program kerja yang sama untuk
memenangkan Din Al-Islam di atas segala ideologi bangsa-bangsa
pada setiap zamannya masing-masing. Tentu saja periodisasi
perjuangan mereka juga terbagi atas dua kondisi, Makkiyah (sebuah
nilai kehidupan kegelapan) dan Madaniyah (sebuah nilai kehidupan
sinar terang). Mereka “diperjalankan” oleh Rabb semesta alam dari
alam kegelapan menuju alam terang penuh dengan ilmu Allah yang
ilmiah. 16Perhatikan firman Allah surat Al-Baqarah [2] ayat 257 berikut
ini:

ْ‫َ� َف ُر ٓوا‬ ‫ٱٱ َّل ِ�َّي�ٰ َُغنو َءُات َم ُن ُوۡ�اْرِ ُُج ۡ�ورَِ� ُُهج ُهمم ِّم َِّمن َنٱ ٱ�ُّلو ُّظرِلُ إَِ�َٰ� ِتٱلإِ ُّ َظ�لُ َٱ�ٰ�ُّ ِ�تورِ�أُ ْو َوَٱ ٰٓ�َّ�ِ ِ�ي َكَن‬ ‫أٱَ ۡو َّ ِ ُ�َ�آ ُؤَو ُهِ ُّ�ُم‬
‫أَ ۡص َ�ٰ ُب‬

‫ٱ�َّارِ� ُه ۡم �ِي َها َ�ٰ ِ ُ�و َن‬

Jalan Kebenaran Universal

110 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-
orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang
mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

17Dengan demikian, sangatlah wajar jika hari ini ada komunitas
atau kumpulan manusia yang ingin meneladani dan mencontoh
metodologi perjuangan para Rasul Allah dalam menegakkan Din Al-
Islam, mereka akan mendapat tantangan dan hambatan yang hebat
dari bangsanya karena hal ini merupakan sebuah tradisi yang pasti
berulang. 18Allah sedang memperjalankan hamba-hamba-Nya yang
berjuang dalam tradisi para Rasul-Nya untuk menghadapi orang-orang
atau bangsanya yang hidup tidak berdasar sistem hukum dari Dia,
sebagaimana dahulu Dia telah mengisahkan pergumulan peradaban
antara Adam dan Iblis, Nuh dengan Kana’an, Ibrahim dengan
Namrud, Musa dengan Fir’aun, Isa dengan Pilatus dan Herodes,
maupun Muhammad dengan Abu Jahal dan musyrik Mekah. 19Semua
kisah perjalanan dari awal sampai akhir perjuangan para Rasul tersebut
telah dikisahkan dengan indah dalam Kitab-kitab Suci yang
menunjukkan sebuah akhir kemenangan dari para Pembawa Risalah
Allah yang ditandai dengan tegaknya kekuasaan (khilafah)-Nya di
muka bumi.

20Tentu saja, untuk bisa menjiwai dan menapaktilasi periodisasi
perjuangan Makkiyah dan Madaniyah, terlebih dahulu harus mengenal
dan memahami sejarah para Rasul Allah. Dengan mengetahui sejarah
mereka, maka setiap manusia akan bisa membaca deskripsi situasi
pada zaman yang lalu, kemudian membandingkan dengan deskripsi
situasi pada masa kini, sehingga dapat diketahui relevansi peristiwa
masa lalu dengan kejadian pada masa sekarang ini. 21Kemampuan
“membaca zaman” inilah yang akan menjadi kunci bagi kesuksesan
perjuangan masa kini berdasarkan contoh-contoh suri teladan dari
para Pembawa Risalah-Nya.

22Sebagaimana kemampuan Rasulullah Muhammad dalam
“membaca zaman”, sehingga beliau bisa memosisikan diri dalam
berjuang sesuai dengan kondisi Makkiyah maupun Madaniyah.
Meskipun perintah iqra’ (bacalah) turun kepada Nabi Muhammad,

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 111

bukan berarti perintah itu hanya berlaku untuk beliau. 23Kedudukan
Rasulullah Muhammad adalah manusia contoh atau uswah bagi seluruh
manusia yang mengimaninya dalam mengaktualisasikan firman Allah,
termasuk mereka yang hidup setelahnya. Tugas orang-orang beriman
adalah meneruskan misi risalah-Nya dan mengikuti sunnah Rasulullah
Muhammad dalam menjalankan tugasnya untuk menegakkan Din Al-
Islam sebagai fitrahnya manusia. 24Mencontoh sunnah Rasul berarti
mencontoh segala aplikasi hidup beliau mulai dari iqra’ pada kondisi
Makkiyah hingga fase al-yauma pada kondisi Madaniyah. Jika
kemudian ada kumpulan manusia yang ingin mencontoh sunnah
Rasulullah Muhammad, seharusnya mereka mendapat dukungan
selama tidak melanggar hukum positif.

25Oleh sebab itu, marilah kita semua “membaca” realitas hidup
dan kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia ini dengan mata yang
jernih berdasarkan ajaran atau isme Allah. Lihatlah krisis multidimensi
lintas bangsa dan benua yang tidak lama lagi akan mencapai suatu titik
nadir kezalimannya. 26Kehidupan dunia hari ini telah kembali kepada
kondisi jahiliyah sehingga telah nampak kerusakan di darat dan di laut
di belahan bumi ini. Sudah saatnya kita harus mengembalikan sistem
hidup dan kehidupan ini kepada sistem yang fitrah, jalan kebenaran
sejati yang pernah diperjuangkan oleh para Rasul Allah, walaupun
akan menerima konsekuensi yang sama dengan tradisi para Rasul
Allah dahulu, yaitu dihina, difitnah, diboikot, dimusuhi, diperangi
bahkan diusir oleh bangsanya sendiri. 27Hal ini adalah tradisi Allah
(sunnatullah) yang tidak pernah berubah dalam setiap gerakan
penegakan Din Al-Islam, sebagaimana pernyataan Allah dalam Al-
Quran surat Ibrāhīm [14] ayat 13 berikut ini:
‫أَ ۡو‬ ٓ‫أَ� ِض َنا‬
ۖ ‫ِم َّلتِ َنا‬ �ِ ‫َ َ� ُعو ُد َّن‬ ‫ِّم ۡن‬ ‫َ� َف ُرواْ لِ ُر ُسلِ ِه ۡم َ�ُ ۡخ ِر َج َّن ُ�م‬ ‫َو َقا َل ٱ َّ ِ�ي َن‬
�َ ‫َر ُّ� ُه ۡم َ�ُ ۡهلِ َ� َّن ٱل َّ�ٰلِ ِم‬ ‫فَأَ ۡو َ ٰٓ� إِ َ ۡ� ِه ۡم‬

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami
sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu
kembali kepada agama kami.” Maka Rabb mereka mewahyukan
kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang
zalim itu.”

Jalan Kebenaran Universal

112 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

28Jika hal ini terjadi, menjadi pertanda bahwa negeri dari bangsa
yang mengusir itu akan diberikan kepada para muhajir yang diusir,
sebagaimana dinyatakan selanjutnya dalam surat Ibrāhīm [14] ayat 14
berikut ini:

‫َو َلنُ ۡس ِك َن َّن ُ� ُم ٱ ۡ َ�� َض ِم ۢن َ� ۡع ِدهِ ۡۚم َ�ٰلِ َك لِ َم ۡن َخا َف َم َقا ِ� َو َخا َف َو ِ�ي ِد‬

Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu
sesudah mereka (dibinasakan). Yang demikian itu (adalah untuk)
orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang
takut kepada ancaman-Ku.

29Selanjutnya, ada satu hal mendasar yang harus dipahami
terkait kondisi dunia hari ini, yaitu pemaknaan apakah hari ini
termasuk kondisi Makkiyah (malam) atau kondisi Madaniyah (siang).
Paham ini sangat penting, karena jika kita salah dalam menilai zaman
akan berakibat salah pula dalam melaksanakan aktivitas pengabdian.
30Jika kondisi hari ini sudah kembali kepada kondisi Makkiyah,
aktivitas pengabdian harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.
Jika hari ini masih dalam kondisi Madaniyah, berarti aktivitas
pengabdian harus sesuai dengan kondisi Madaniyah, yakni ummat
Islam wajib memberlakukan semua aturan hukum Allah yang ada
dalam Al-Quran tanpa terkecuali (secara kāffah) di dalam satu wilayah
kekuasaan Islam (Khilafah Islam).

31Mayoritas ummat Islam dan ulama menilai bahwa kondisi saat
ini adalah kondisi Madaniyah dan akan tetap pada kondisi Madaniyah
untuk selamanya, karena Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah
Muhammad telah sempurna sejak empat belas abad yang lalu dan
akan selamanya sempurna hingga akhir kehidupan. Mereka memaknai
hal ini berdasarkan surat Al-Māidah [5] ayat 3: “Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu dinmu dan telah Ku-cukupkan
kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi din bagimu.”
32Para ulama beranggapan bahwa Din Al-Islam telah sempurna dan
tegak untuk selama-lamanya. Namun sesungguhnya, pandangan ini
sangat bertolak belakang dengan fakta ummat Islam saat ini dan
sunnatullah (tradisi Allah) yang selalu mempergilirkan antara
kekuasaan haq dengan kekuasaan batil dan telah menetapkan hukum
ajal kekuasaan setiap bangsa.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 113

33Oleh sebab itu, tesis yang mengatakan bahwa saat ini Din Al-
Islam sudah tegak dan tetap tegak di muka bumi harus diuji kembali
dengan kebenaran mutlak, yaitu wahyu Allah. Sehingga, akan
diketahui benar dan salahnya tesis tersebut. Apa bukti bahwa Din Al-
Islam masih sempurna hingga saat ini? Di mana pusat eksistensi
Khilafah Islam sebagai pelaksana hukum-Nya di muka bumi ini?
Jawabannya: Tidak ada. 34Sejarah mencatat bahwa Khilafah Islam
yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad dan para sahabat sudah
runtuh sejak kemenangan Hulagu Khan atas Khilafah Abbasiyah di
tahun 1258 M. Meskipun setelahnya muncul Dinasti Fatimiyah di
Mesir dan Dinasti Utsmaniyah di Turki hingga tahun 1924 M, akan
tetapi mereka bukanlah estafeta bangunan Khilafah yang dibangun
oleh Rasulullah Muhammad. 35Dinasti Fatimiyah maupun Utsmaniyah
hanyalah kerajaan-kerajaan kecil yang bersifat lokal kebangsaan, bukan
khilafah fil ardh yang bersifat universal. Bahkan, fakta sejarah
mengungkapkan bahwa Kesultanan Turki Utsmani adalah hasil
persekongkolan antara Jengis Khan (Mongol) dengan Turki yang
menyelusup ke lingkaran kekuasaan Khalifah Al-Musta’shim Billah.

36Ummat Islam salah dalam membaca kondisi saat ini sebagai
kondisi Madaniyah (Islam sudah dan akan tetap sempurna), karenanya
semua ayat hukum di dalam Al-Quran dinyatakan tetap berlaku.
Sehingga, manakala ada seseorang atau sekelompok orang yang
menyatakan bahwa ayat Madaniyah belum berlaku, ia akan dikatakan
sebagai aliran sesat. 37Ironinya, ketika ada sekelompok muslim lain di
luar mereka melakukan tindakan kekerasan atas nama agama Islam –
seperti terorisme atau perang melawan orang kafir (semacam ISIS:
Islamic State of Iraq and Syria), karena kesamaan pola pikir dan
beranggapan bahwa Islam sudah sempurna sehingga semua ayat
Madaniyah –termasuk ayat perang tetap berlaku, mereka disebut
sebagai Islam ekstrem, Islam fundamentalis, dan sebutan lainnya.
Bukankah para teroris dan kelompok ISIS juga merujuk pada perintah
Allah dalam Al-Quran tentang kewajiban memerangi orang-orang
kafir? Begitu pula dengan perintah Allah tentang kewajiban
melaksanakan hukum kisas, hukum rajam, hukum potong tangan, dan
hukum-hukum lainnya.

Jalan Kebenaran Universal

114 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

38Jika Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 216 memerintahkan
orang beriman untuk berperang, kenapa para ulama dan kaum agamis
Islam hari ini tidak mewajibkannya? Kenapa orang-orang yang
memerangi kekuasaan negara kafir dikatakan teroris padahal mereka
juga berpijak pada ayat Allah? Bukankah pola pikir teroris tersebut
sama dengan pola pikir ulama di atas, yaitu sama-sama berkeyakinan
bahwa ayat-ayat Madaniyah masih berlaku dan wajib hukumnya?
Dengan kata lain, penyebab suburnya gerakan terorisme dan
radikalisme di dunia ini adalah kesalahan dalam membaca kondisi
zaman.

39Oleh sebab itu, untuk menghilangkan gerakan terorisme dan
radikalisme di muka bumi ini harus dilakukan dengan meninggalkan
jauh-jauh pola pikir mainstream dan pola pikir para teroris yang
menyatakan bahwa ayat-ayat Madaniyah (termasuk ayat perang) masih
berlaku dan wajib dilaksanakan. 40Kembalilah kepada pola pikir
wahyu, pembinaan ummat harus dimulai dari fase awal Makkiyah atau
fase penanaman iman (aqidah) yang akan menjadi pondasi bagi
pembangunan karakter (akhlak) yang terpuji bagi orang-orang
beriman, bukan dimulai dari pelaksanaan hukum (syariat).
41Keterpurukan dunia Islam hari ini disebabkan oleh persoalan aqidah,
bukan persoalan syariat. Ibarat sebuah pohon, penyebab
ketidaksuburan dan sakitnya suatu tanaman sehingga tidak
menghasilkan buah yang baik, bahkan mati, bukan karena batangnya,
melainkan karena akarnya yang rusak. Iman adalah akar (pondasi) bagi
kehidupan setiap manusia beriman. 42Perhatikan perumpamaan dari
firman Allah dalam surat Ibrāhīm [14] ayat 24-26 berikut ini:
‫ت‬ٞ ِ‫أَ ۡصلُ َها ثَاب‬ ‫َ�لَ ۡم تَ َر‬
�ُ َّ ‫َو َ� ۡ ِ� ُب ٱ‬ ‫َط ّيِ َب ٍة‬ ٖ�‫َط ّيِ َب ٗة َك َش َج َر‬ ‫َك ۡي َف َ َ� َب ٱ َّ ُ� َم َث ٗ� َ�ِ َم ٗة‬ ‫َوفَ ۡر ُ� َها‬
ۗ‫َر ّ�ِ َها‬ ‫ُ َّ� ِحي� �ِإِ ۡذ ِن‬ ‫ تُ ۡؤ ِ ٓ� أُ ُ�لَ َها‬٢٤ ِ‫ِ� ٱل َّس َمآء‬ ‫ٱ ۡ َ� ۡم َثا َل‬
�ٍ ‫َك َش َج َر‬ ‫َ�ِ َم ٍة‬ ‫ َو َم َث ُل‬٢٥ ‫لِل َّنا ِس لَ َع َّل ُه ۡم َ� َت َذ َّك ُرو َن‬ ‫ٱ ۡج ُت َّث ۡت‬
‫َخبِي َث ٍة‬ ‫َخبِي َث ٖة‬ َۡ
ٖ‫قَ َرار‬ ‫لَ َها‬ ‫ٱ�� ِض‬ ‫َف ۡو ِق‬
٢٦ ‫ِمن‬ ‫َما‬ ‫ِمن‬

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 115

teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka
selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon
yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan
bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

43Akar (aslun) adalah perumpamaan dari aqidah atau iman,
sedangkan batang (far’un) adalah perumpamaan dari syariat atau
ibadah, dan buah (ukul) adalah perumpamaan dari amaliyah atau
muamalah ummat. Pohon yang baik ditandai oleh akar (aqidah) yang
baik, bukan oleh batang (syariat). 44Jadi, perjuangan untuk
menegakkan sistem pengabdian kepada Allah harus dimulai dengan
dakwah dan pembinaan (aqidah), bukan dengan pelaksanaan syariat.

45Jika para ulama dan kaum agamis Islam memandang kondisi
hari ini adalah kondisi Madaniyah sehingga hukum-Nya wajib
dilaksanakan, pertanyaannya, “Meskipun di dalam ayat Al-Quran
terdapat perintah perang, kisas, rajam bagi pezina, potong tangan bagi
pencuri, keharaman riba, dan lainnya, kenapa perintah-perintah
tersebut tidak dilaksanakan oleh ummat Islam? Kenapa ulama Islam
membiarkan ayat-ayat hukum Allah tidak diberlakukan dan tidak
ditegakkan di kehidupan ini?” Alasan dan jawaban mereka pasti klasik,
“Karena negara ini bukan negara Islam, dan yang berlaku adalah
hukum bangsa (konsensus manusia) bukan hukum Allah, Rabb
Semesta Alam.” Pertanyaan selanjutnya, “Kapan para ulama dan
ummat Islam Indonesia akan memberlakukan hukum Allah secara
kāffah?”

46Kesalahan dalam membaca zaman, membaca kondisi sosial
politik ummat manusia, akan menyebabkan kesalahan dalam
memahami dan menerapkan firman-firman Allah. Ayat-ayat Al-Quran
harus dibaca dan diterapkan sesuai dengan kondisi zaman.
47Memaksakan melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan
waktunya hanya akan menghasilkan sesuatu yang batil dan merusak.
Mengerjakan sesuatu yang belum waktunya adalah perbuatan tergesa-
gesa dan itu adalah perbuatan setan karena tidak sesuai dengan
tuntunan wahyu Allah dan sunnah para Rasul-Nya. 48Dengan kata
lain, memaksakan penerapan ayat-ayat hukum (ayat-ayat Madaniyah)

Jalan Kebenaran Universal

116 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

pada kondisi Makkiyah adalah perbuatan setan yang batil dan
merusak. Mewajibkan pelaksanaan syariah pada masa atau yaum
Makkiyah adalah refleksi dari “nafsu kekuasaan politik”, dan hal itu
adalah perbuatan setan yang terkutuk. 49Perhatikan firman Allah
dalam Al-Quran surat Thāhā [20] ayat 114 berikut ini:
َ ‫ٱ ۡ َ� ُّق‬
‫إِ َ ۡ� َك‬ �ٰٓ َ ‫ُ� ۡق‬ ‫أن‬ ‫َ� ۡب ِل‬ ‫ِمن‬ ‫بِٱ ۡل ُق ۡر َءا ِن‬ ‫َ� ۡع َج ۡل‬ �َ ‫ۗ َو‬ ‫ٱلۡ َملِ ُك‬ �ُ َّ ‫ٱ‬ �َ ٰ�َ ‫َ� َت‬

‫َو ۡح ُي ُهۖۥ َو ُقل َّر ِّب زِ ۡد ِ� ِع ۡل ٗما‬
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan
janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya
Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

50Orang-orang beriman tidak akan pernah memaksakan
mengerjakan sesuatu yang belum waktunya untuk dilaksanakan,
apalagi melakukan tindakan teror atau makar terhadap penguasa
bangsa seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam radikal
dan ISIS (NIIS). Terlebih lagi, kekuasaan negara-negara bangsa
memiliki masa ajalnya (kematian dan kehancuran) masing-masing
yang telah ditetapkan oleh Allah. 51Jika ajal kekuasaan negara-negara
bangsa kafir-musyrik itu sudah tiba, maka waktunya tidak bisa
dimajukan atau dimundurkan barang sesaat pun. Setiap kekuasaan
bangsa yang pernah lahir akan tiba pada masa kematiannya.
52Perhatikan Ruhul Qudus surat Al-A’rāf [7] ayat 34:
‫� َ ۡس َتأۡ ِخ ُرو َن‬ ‫أَ َج ُل ُه ۡم‬ ‫ل‬ٞ ‫أَ َج‬ ‫أُ َّم ٍة‬
‫� َ ۡس َت ۡق ِد ُمو َن‬ �َ ‫َو‬ ‫َسا َع ٗة‬ َ ‫َجآ َء‬ ‫ۖ َفإِ َذا‬ �ِّ ُ ِ‫َول‬


Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila telah
datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

53Dengan persoalan tersebut di atas, nampak semakin jelas
kebenaran atas situasi dan kondisi pada kehidupan dunia sekarang ini,
Makkiyah atau Madaniyah. Kita bisa melihat dan membuktikan
apakah hari ini kondisi Makkiyah atau Madaniyah dari eksistensi
kekuasaan hukum yang berlaku di negara-negara bangsa atau dunia
ini. Pertanyaannya, “Apakah dunia hari ini dikuasai oleh hukum Allah
atau hukum syahwat buatan manusia penjajah?” 54Setiap manusia

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 117

diperintah oleh Allah untuk memperhatikan kondisi dunia hari ini
agar tidak menjadi manusia yang mempersekutukan Allah,
sebagaimana pernyataan Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 60 berikut
ini:
‫أُأُن ِمزِ َُرلٓواْإِ َأَۡ�ن َكيَ َو َم ۡا�ٓ ُفأُ ُنر ِزواَْل‬ ٓ‫ٱَي�ُللَرِ َّۡم�ش ُۡيتدَ ََرو�ٰ َإِنُنَ�أَأَ ٱنن َّ ِ�يَُ�ي َت ِ َضن َحَّلايَُه ۡزَكۡم ُُ�م ُٓومَاْضو َ�إَِٰنََ ۢ��َ� َّ�بَٱ ُهلعِ َّۡيم ٰٗ�د ُاَءغاو َم ُنِتواْ َوبَِق َم ۡاد‬
‫َ� ۡبلِ َك‬ ‫ِمن‬
‫َو ُ� ِر� ُد‬ ‫بِهِۖۦ‬

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka
(dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

55Ingat! Eksistensi hukum Allah membutuhkan tiga unsur
dasar, yaitu hukum atau undang-undang, aparat penegak hukum, dan
ummat yang akan tunduk patuh kepada hukum yang diberlakukan.
Ketiga unsur ini tidak akan berarti jika tidak memiliki wilayah atau
teritorial hukum (dār). Itulah kenapa dahulu Rasulullah Muhammad
diberikan Yatsrib oleh Allah, dan karena keberhasilannya menjalankan
misi risalah-Nya, maka nama Yatsrib diubah menjadi Al-Madinah Al-
Munawarah (Kota Terang Allah; Pusat Peradaban Dunia), yakni
tempat yang menjadi wilayah berlakunya hukum Allah.

56Rasulullah Muhammad mencapai kemenangan dan
kesempurnaan menegakkan Din Al-Islam setelah orang-orang kafir
telah putus asa melawan pasukannya. Hal ini diterangkan oleh Allah
pada penggalan ayat 3 surat Al-Māidah berikut ini, “Pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) dinmu, sebab
itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dinmu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi din
bagimu.” Tentu saja kata al-yauma; pada hari ini (saat Haji Wada’ di
tahun 10 H) menunjuk pada konteks waktu saat ayat tersebut
diturunkan.

Jalan Kebenaran Universal

118 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

57Pertanyaannya, “Apakah hari ini orang-orang kafir-musyrik
penguasa jahiliyah telah putus asa mengalahkan Din Al-Islam atau
malah sebaliknya?” Samakah kondisi ummat Islam di bawah komando
Nabi Muhammad pada tahun 10 Hijriyah dahulu dengan kondisi
ummat Islam hari ini? Jelas, tidaklah sama.

58Kala itu, Din Al-Islam dikatakan sempurna karena Rasulullah
Muhammad sudah memiliki kekuasaan wilayah hukum yang merdeka
dan diperkuat oleh kekuatan militer dengan bala tentara yang telah
berhasil memukul mundur pasukan Romawi dan Persia saat perang
Mu’tah dan Tabuk, sehingga mereka tumbuh dan berkembang
menjadi bangsa yang disegani oleh dunia saat itu. 59Sejarah dunia
mencatat bahwa semua Rasul Allah masih meninggalkan jejak
kekuasaan pada zamannya masing-masing. Siapa yang mampu
menafikan kekuasaan Khilafah yang dibangun oleh Nabi Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad? Mereka semua gemilang dalam
berjuang mengeluarkan bangsanya dari kondisi kegelapan, dijajah oleh
penguasa jahiliyah (zhulumat) menuju suatu kondisi terang benderang,
hidup berdasar ilmu (nūr) Allah. Inilah kondisi yang disebut dengan
kondisi berkat atau kondisi ni’mat.

60Kehidupan sebuah ummat akan mendapat BERKAT jika
menaati segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya,
kehidupan ummat yang mendapat KUTUK disebabkan tidak menaati
kehendak dan perintah Allah, Tuan Semesta Alam. Orang-orang yang
beriman akan mendapat berkat dan orang-orang kafir-musyrik akan
mendapat kutuk (gambaran kondisi berkat dan kutuk tertulis dengan
jelas dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 28 ayat 1-48).

61Gambaran sejarah kehidupan berkat dan kutuk tersebut dapat
digunakan sebagai alat membaca atau memotret dunia saat ini, apakah
sedang mendapat berkat atau kutuk, sedang dalam kondisi beriman
atau musyrik, ataupun sedang berjalan pada jalan kebenaran
sebagaimana contoh para Rasul atau sedang hidup pada jalan
kesesatan sebagaimana musuh para Rasul. 62Firman Allah dalam Al-
Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 96-99 di bawah ini juga mengajak
ummat Islam dunia untuk berpikir akan kondisinya pada hari ini.

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 119

ِ�ِ‫َمل ُأَِّمنٱفَ َۡلأَنَمُقِم َٱۡرَكلن َرَّٰٓىسأَٱ َمۡأهَآَُّنلء‬٩ُ ‫ٖۡهأۡت‬٦َ‫ َۡير ِهأَٱۡ�َوم َّ ِسأ�َِۚبَ ُب َِمرفَو َ َنَنَ��ٰأَي‬٩َ‫ ۡكيَل‬٧‫أَلَبِنَََففَامٓأََت�اِ ِمُمُۡنح َو َنو�ااَْنُنوَامْ َع‬ ْ‫َولَ ۡو أَ َّن أَ ۡه َل ٱ ۡل ُق َر ٰٓى َءا َم ُنواْ َوٱ َّ� َق ۡوا‬
‫َوٱ ۡ�َ� ِض َو َ�ٰ ِ�ن َك َّذبُواْ َفأَ َخ ۡذ َ�ٰ ُهم‬
‫بَأۡ ُس َنا‬ ‫يَأۡ�ِ َي ُهم‬ َ
‫َو ُه ۡم‬ ‫بَ َ�ٰ ٗتا‬ ‫أن‬ ‫ٱ ۡل ُق َر ٰٓى‬
٩٨ ‫يَأۡ�ِ َي ُهم بَأۡ ُس َنا ُض ٗ� َو ُه ۡم يَ ۡل َع ُبو َن‬
َّ
٩٩ ‫ٱ ۡل َ�ٰ ِ ُ�و َن‬ ‫ٱ ۡل َق ۡو ُم‬ �ِ‫إ‬

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka
Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah
penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan
Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari
sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah
mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?
Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang
yang merugi.

63Renungan atas firman Allah tersebut di atas menjadi sangat
penting untuk melihat kondisi ummat Islam di dunia saat ini, sehingga
kita akan lebih jernih memaknai esensi kondisi Makkiyah ataupun
Madaniyah. Apabila kita melihat kondisi dunia saat ini secara jujur,
harus diakui bahwa bangsa-bangsa di dunia sedang mengalami krisis
multidimensi yang sangat akut. 64Beberapa waktu belakangan ini kita
ditunjukkan bagaimana kebiadaban dari perilaku kejahatan:
pembunuhan, penipuan, korupsi, kejahatan seksual, kerusakan akhlak
para pemimpin bangsa, pelanggaran HAM, narkoba, dan perusakan
serta perang antarbangsa: krisis di Timur Tengah yang terus berlanjut,
krisis di semenanjung Korea dan Laut China Selatan, kerajaan
melawan kerajaan, terorisme, ISIS, dan banyak lagi kerusakan dan
kejahatan dari sektor kehidupan lainnya.

65Sejarah konflik global lintas bangsa dan benua telah memberi
bukti akan kerusakan maha dahsyat ummat manusia sebagaimana

Jalan Kebenaran Universal

120 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

catatan peristiwa dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Semua
itu terjadi karena hawa nafsu manusia yang ingin menguasai manusia
lainnya, dan nafsu politik para pemimpin bangsa untuk memperbudak
bangsa-bangsa lainnya. 66Pada milenium ketiga ini, indikasi situasi
tersebut juga sedang bermunculan ketika antarbangsa saling menjajah,
mengintervensi, dan menginvasi bangsa lainnya, baik yang ada di
negara-negara muslim maupun non-muslim di dunia. Bahkan lebih
parah lagi, sesama negara muslim pun saling berperang atau saling
boikot untuk memperebutkan hegemoni (dominasi; pengaruh
kepemimpinan) dan kepentingan ekonomi politik sesaat, sehingga
berakibat carut-marut dan kesengsaraan ummat manusia dalam skala
global.

67Contoh konkret perang saudara di dalam internal negara-
negara muslim hari ini adalah perang antara Arab Saudi melawan
Yaman, pemerintah Iraq dan Suriah melawan pemberontak ISIS,
perseteruan Iraq dengan Iran, Israel melawan Palestina, dan konflik-
konflik lainnya yang telah meluluhlantakkan peradaban dan
menyebabkan ratusan ribu bahkan jutaan manusia tidak berdosa
menjadi korban. Selain itu, kegagalan Arab Spring (revolusi Arab;
musim semi Arab) pada negara-negara muslim di Timur Tengah
seperti Tunisia, Mesir, Libya, dan negara lainnya berakibat konflik
berdarah yang berkepanjangan, karena mereka melakukan revolusi
massa melalui gelombang demokratisasi tanpa adanya kesadaran
bersama dalam ide (fikrah) dan metode (thariqah) yang sesuai dengan
sunnah Rasul-Nya.

68Lebih mengherankan lagi, hari ini negara-negara muslim
justru bersekutu dengan negara-negara non-muslim dalam aliansi blok
Barat maupun blok Timur guna berebut hegemoni sehingga
berpotensi menyebabkan friksi dan ketegangan yang berakhir dengan
peperangan antarbangsa di muka bumi. Di tengah konflik antarnegara
tersebut, ketegangan terjadi di sejumlah titik panas di beberapa lokasi
dunia, ketegangan dunia akibat program nuklir Korea Utara, termasuk
keterlibatan Indonesia dalam sengketa Laut China Selatan, yang tidak
menutup kemungkinan akan memicu terjadinya Perang Dunia III.
69Hal itu bisa saja terjadi manakala para pemimpin bangsa di dunia ini
lebih mengedepankan nafsu syahwat atau isme bangsanya masing-

Jalan Kebenaran Universal

AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK | 121

masing, baik sosialisme-komunisme maupun liberalisme-kapitalisme,
bahkan anarkisme-terorisme, yang menjadi anti-tesis (lawan) dari isme
Sang Pencipta, yaitu isme Kasih dan Sayang Allah (Ar-Rahman dan Ar-
Rahim).

70Dengan melihat data dan fakta kondisi dunia saat ini, serta
membandingkan dengan deskripsi situasi berkat dan kutuk dari ayat-
ayat Allah di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa dunia saat ini
sedang berada dalam kondisi kutuk. Pertanyaan yang harus dijawab
secara jujur oleh stake-holder, penguasa negeri ataupun ulama lintas
agama hari ini adalah, “Apakah kondisi dunia (ummat Islam) tersebut
dalam kondisi berkat atau kutuk? 71Jika sudah bisa menjawabnya,
maka kita akan kembali menemukan esensi kondisi bahwa dunia dan
bangsa ini sedang “beriman” atau “musyrik” kepada Allah, Rabb
semesta alam. Iqra’! silakan masing-masing dari kita “membaca”
kondisi tersebut.

72Atas dasar konsepsi pelajaran dari firman-firman Allah dan
“membaca” kondisi kehidupan hari ini, maka dapat dinilai bahwa
kehidupan bangsa-bangsa di dunia sedang berada dalam kegelapan.
Pertanyaannya, “Apakah salah jika ada sekelompok manusia beriman
mengambil sikap dan berjuang untuk mengubah kondisi kegelapan;
jahiliyah (zhulumat; kutuk; darul bawar) menjadi kehidupan yang terang
(nur; berkat; darussalam) dengan mencontoh sunnah para Rasul yang
telah mendapatkan ni’mat Jalan Kebenaran dari Allah? Apakah salah
jika mereka memulai kembali misi risalah-Nya dengan menerapkan
prinsip-prinsip dakwah dalam kondisi Makkiyah menuju kepada
kondisi Madaniyah?”

73Anda punya hak untuk menjawab dan menyikapinya.
Selanjutnya, sebagai hamba yang beriman kepada ketetapan dan
ketentuan dari Allah, maka terhadap apa yang akan terjadi di hari
esok, orang-orang beriman hanya dapat bertawakkal (berserah diri)
kepada-Nya.

74Kiranya kajian dan renungan ini dapat membuka mata
spiritual kita dalam membaca kondisi dunia hari ini, sehingga kita
dapat mengambil sikap yang benar dalam membumikan ayat-ayat Al-
Quran. 75Tidak ada cara yang paling benar kecuali kembali kepada

Jalan Kebenaran Universal

122 | AL-QURAN SEBAGAI KITAB PETUNJUK

sunnah Rasulullah Muhammad, yakni memulai membaca dan
mengamalkan wahyu Allah dari ayat-ayat Makkiyah, yakni ayat-ayat
tentang keimanan (aqidah) seperti yang dilakukan Rasulullah pada fase
awal dakwahnya. 76Teruslah menjadi hamba-Nya yang sejati dan
menjadi aktor penggenap dari ayat-ayat Allah!

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 123

BAB III

millah abraham
sebagai jalan kebenaran

tuan semesta alam

A. APA ITU MILLAH ABRAHAM?
1Mayoritas ahli agama berpendapat dan berkeyakinan bahwa setiap

Rasul Allah membawa agama atau sistem hukum yang baru dan berbeda
–sebagai pengganti dan penyempurna, dari agama atau sistem hukum
yang dibawa Rasul Allah sebelumnya. Menurut mereka, apa yang Allah
wahyukan kepada Nabi Abraham (Ibrahim) berbeda dengan apa yang
diwahyukan-Nya kepada Nabi Musa. Begitupula yang diwahyukan-Nya
kepada Nabi Musa berbeda dengan apa yang diwahyukan-Nya kepada
Nabi Isa Al-Masih, dan begitupula yang diajarkan (diwahyukan)-Nya
kepada Nabi Muhammad adalah ajaran yang berbeda dan lebih sempurna
dari ajaran para Rasul sebelumnya. Kalaupun di antara ajaran para Nabi
dan Rasul Allah memiliki hubungan dan kesamaan, itu hanyalah sebatas
teologis, mereka sama-sama beriman kepada Allah, Tuan Semesta Alam.

2Doktrin agama tersebut tentu saja patut dipertanyakan karena
tidak memiliki dasar kewahyuan yang kuat. Bukankah semua Rasul Allah
diutus dan mendapat tugas yang sama dari-Nya untuk mengembalikan
manusia kepada fitrahnya yang sejati, yakni menjadi hamba dari Allah
Sang Pencipta sebagai satu-satunya Tuan baginya? 3Allah mencipta

Jalan Kebenaran Universal

124 | MILLAH ABRAHAM

manusia dengan maksud tertentu, yakni untuk menjalankan fungsinya
sesuai kehendak dan perintah Sang Pencipta dirinya. 4Setiap Rasul Allah
diutus untuk membawa petunjuk dan sistem hukum yang benar (dīn al-
haqq) di tengah-tengah kehidupan ummat manusia yang zalim dan syirik
akibat mengikuti sistem hidup yang batil, yakni sistem hukum bangsa-
bangsa yang musyrik, sehingga manusia kembali kepada cara hidup yang
benar (fitrah) dan bisa menjalankan fungsinya dengan benar. Untuk itulah
Allah menciptakan sistem atau tata cara hidup dan kehidupan yang benar
bagi makhluk ciptaan-Nya, khususnya bagi manusia.

5Tugas para Rasul Allah itu tertuang dengan jelas dalam Al-Quran
surat Ash-Shāff [61] ayat 9 berikut ini:

َ‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ ُ� ۡظ ِه َرهُۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۦ َولَ ۡو َك ِره‬
‫ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din
yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala din meskipun
orang-orang musyrik membenci.

6Sesungguhnya, semua ajaran dan risalah yang dibawa dan
diperjuangkan oleh para Nabi dan Rasul Allah dari zaman ke zaman
merupakan ajaran yang sama, tidak pernah berganti apalagi berevolusi
(dari yang tidak sempurna menuju yang sempurna). Kesamaan ajaran
tersebut tidak hanya dalam masalah keimanan kepada Allah, Tuan
Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa, tetapi juga dalam masalah hukum
atau syariat dan ibadah.

7Kebenaran sejati berasal dari Allah Yang Maha Benar, dan ciri
dari suatu kebenaran sejati adalah manakala dia tidak pernah berubah dan
berganti hanya karena perubahan waktu dan tempat. Itulah wujud dari
sistem kehidupan yang benar (dīn al-qayyim), yakni Millah Abraham yang
hanif (lurus; murni) yang diemban dan diperjuangkan oleh semua Nabi
dan Rasul Allah sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad dan
generasi Millah Abraham selanjutnya. 8Para Nabi dan Rasul Allah serta
orang-orang shiddiq, orang-orang syahid, dan orang-orang yang shalih
adalah orang-orang yang telah mendapat ni’mat Allah, Tuan Semesta

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 125

Alam, bukan jalan orang-orang yang mendapat murka Allah atau jalan
yang sesat.

9Jalan kebenaran yang mereka lalui dapat ditelusuri dari sejarah
para Nabi dan Rasul Allah sebagaimana dikisahkan dalam Taurat, Injil,
dan Al-Quran. Cara hidup mereka pada dasarnya berpangkal pada sosok
sentral Nabi Abraham, Bapak Para Nabi, yang mengajarkan Millah
Abraham, sistem kehidupan yang benar.

10Millah Abraham tentu saja bukanlah suatu ajaran yang baru, karena
telah menjadi ajaran atau jalan hidup para Nabi dan Rasul Allah,
termasuk Nabi Muhammad. 11Untuk itu, kehadiran generasi Millah
Abraham di Nusantara bukanlah untuk membawa ajaran atau agama
baru, tetapi mewarisi dan meneruskan misi risalah Tuan Semesta Alam
dan ingin mengembalikan manusia agar beriman kepada Din Allah yang
sejati, yakni Millah Abraham yang hanif; Islam Hanif. 12Begitu pula tidak
ada niatan Millah Abraham untuk menodai salah satu agama dari agama-
agama yang diakui dan dianut mayoritas manusia.

13Berikut uraian secara gamblang apa itu Millah Abraham beserta
ajaran-ajaran dasar yang dipahami dan diyakini oleh setiap pengikut atau
generasi Millah Abraham.

Terminologi Millah
14Dari sudut bahasa, secara etimologi, kata millah berasal dari

Bahasa Aram. Aram adalah salah satu suku yang ada di jazirah Arabia.
Kata millah disebut dalam lima belas ayat dalam Al-Quran, sembilan kali
dalam ayat-ayat Makkiyah dan enam kali pada ayat-ayat Madaniyah, dan
dalam berbagai konteks bahasan, yang umumnya berhubungan dengan
para nabi, khususnya Nabi Abraham.

15Kata millah –seperti halnya dengan kata din— adalah sebutan bagi
sesuatu yang telah disyariatkan oleh Allah kepada ummat manusia melalui
para Nabi dan Rasul-Nya agar manusia dapat berhubungan dengan-Nya.
16Dalam istilah bahasa Turki, millet, istilah yang digunakan oleh Turki
Utsmani untuk seluruh agama yang berkembang di wilayahnya. Bahkan
dalam bahasa Turki dan Persia, kata millet sering dipakai dalam pengertian
bangsa, rakyat, atau negara.

Jalan Kebenaran Universal

126 | MILLAH ABRAHAM

17Dalam pemakaiannya, kata millah dalam Al-Quran umumnya
disandarkan pada nabi yang membawanya, seperti millah Abraham,
millah para nabi (Syuaib, Ismail, dan keturunan Ishak), dan millah
Muhammad. 18Kata millah digunakan pada ayat-ayat Makkiyah sebanyak
sembilan kali, tiga di antaranya di-idhāfah-kan (disandarkan) kepada
Abraham (Ibrahim) secara langsung dan enam sisanya di-idhāfah-kan
kepada dhamīr (kata ganti).

19Berkaitan dengan kata millah yang disandarkan langsung kepada
Abraham, setidaknya ada empat alasan utama mengapa beliau memiliki
tempat yang spesial nan mulia di sisi Allah, yakni:

20Pertama, Abraham dianugerahi keistimewaan sebagai kekasih
Allah, terpilih sebagai nabi dan imam, dan banyak kemudian dari
keturunannya yang juga menjadi orang-orang pilihan Allah (Nabi dan
Rasul), baik dari garis keturunan Ishak maupun Ismail.

21Kedua, Abraham adalah salah seorang nabi yang menerima gelar
ulū al-‘azmi.

22Ketiga, Abraham adalah sosok manusia teladan yang mampu
membuktikan kecintaannya hanya kepada Allah, meski harus
meninggalkan orang tua dan bangsanya, bahkan bersedia untuk
mengorbankan anak-anaknya yang dikasihinya.

23Keempat, Abraham adalah akar tunggang dari pokok pohon
Anggur Allah, karenanya semua agama samawi tidak bisa dipisahkan dari
Millah Abraham. Nabi Moses (Musa), Yesus (Isa) dan Muhammad adalah
generasi pelanjut dari misi risalah Millah Abraham yang merupakan Din
Allah, Tuan Semesta Alam, sebagai satu-satunya Jalan Kebenaran Tuan
Semesta Alam; sistem hidup yang benar, fitrahnya manusia.

Terminologi Din
24Al-Quran menyebut kata din dalam berbagai bentuk sebanyak 95

kali dalam 40 surat; 49 kali diulang dalam 25 surat-surat Makkiyah dan 46
kali diulang dalam 15 surat-surat Madaniyah. Sebanyak 65 kali disebut
dalam bentuk kata benda verbal dan 26 kali dalam bentuk kata kepunyaan
(misalnya, dinku dan dinmu), dan hanya tiga kali disebut dalam bentuk kata
kerja.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 127

25Sedangkan secara etimologi, din adalah peraturan Ilahi yang
mengantarkan orang-orang yang berakal sehat, atas kehendak mereka
sendiri menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam bahasa Semit, din
berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab, kata din secara
bahasa berasal dari kata dāna-yadīnu-dīnan; bila ia menyertai, menyerah kepada
dan menaati (seseorang), balasan dan pahala, taat, ketundukan, kekuasaan, dan
paksaan. 26Tafsir lain menyatakan bahwa kata al-dīn secara bahasa
bermakna balasan (al-jazā’), dan juga berarti kepatuhan dan ketundukan yang
menyebabkan diperolehnya balasan. Kata al-dīn juga berarti syariat, yakni
seperangkat beban yang menjadi tanggung jawab hamba kepada Allah.

27Di samping berarti taat, patuh, pembalasan, dan perhitungan, kata dīn
juga berarti millah dan syariat. Penafsiran yang senada juga telah dilakukan
oleh para penafsir era klasik. Makna kata din juga bisa disepadankan
dengan perhitungan, pahala, ‘urf (kebiasaan) dan adat.

28Penafsiran yang lain mengatakan bahwa kata dīn itu memiliki tiga
arti; pertama, kehormatan pemerintah, negara dan kekuasaan; kedua,
ketundukan, kepatuhan, penghambaan, dan penyerahan; dan arti ketiga,
memperhitungkan, mengadili, memberi hukuman atas perbuatan-perbuatan. Jika
dikatakan yaum al-dīn, berarti hari perhitungan atau hari pembalasan atas
perbuatan seseorang, dan jika dikatakan qaum dīn, berarti kaum yang
berserah diri dan taat.

29Untuk melengkapi makna kata dīn di atas, ada baiknya kita lihat
uraian yang menjelaskan bahwa kata dīn sesuai bentuk dan fungsinya
mencakup tiga makna dasar, yaitu:
30a. Dāna–dīnan; berasal dari kata kerja transitif. Kata ini berarti memiliki,

menetapkan, menyiasati, mengatur, memaksa, menghitung, menetapkan
perkara, memberi balasan, dan ganjaran. Dalam makna ini, din lebih
berkonotasi pada arti menguasai dan mengendalikan, yaitu hak dan
wewenang para raja selaku penguasa politik, termasuk kuasa untuk
menghukum, memaksa, dan memberi ganjaran.
31b. Dāna lahū; kata kerja intransitif yang dirangkai dengan huruf lām. Di
sini, kata din berarti merendahkan diri, taat, ibadah, dan wara’ (rendah
hati). Oleh karena itu, kata al-dīn li Allāh mengacu pada makna di
atas, yakni bahwa hukum itu milik Allah atau sikap tunduk patuh

Jalan Kebenaran Universal

128 | MILLAH ABRAHAM

dan merendahkan diri kepada-Nya. Makna kedua ini tidak berbeda
dengan makna yang pertama.
32c. Dāna bi al-Syay’; kata kerja transitif yang dirangkai dengan huruf bā’,
yang berarti mengambil dan menjadikannya sebagai dīn dan mazhab,
yakni cara yang digunakan sebagai teori dan praktik.

33Term lain yang sering digunakan Al-Quran untuk memaknai kata
millah adalah kata dīn, satu istilah yang seringkali digandengkan dengan
kata Islam sebagai nama dari din itu sendiri. 34Kesamaan dan kaitan
makna antara din dan millah ini dapat dilihat dari beberapa ayat Al-Quran
sebagai berikut:
• 35Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 161:

‫ُق ۡل إِنَّ ِ� َه َدٮٰ ِ� َر ِّ ٓ� إِ َ ٰ� ِص َ�ٰ ٖط ُّم ۡس َتقِي ٖ� ِدي ٗنا �ِ َي ٗما ِّم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفاۚ َو َما َ� َن‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫ِم َن ٱلۡ ُم‬

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada
jalan yang lurus, (yaitu) din yang benar; millah Ibrahim yang lurus; dan
Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

36Pada ayat ini dijelaskan dengan tegas, bahwa yang dimaksud oleh
Allah dengan istilah shirāthal mustaqīm (Jalan yang lurus; Jalan Kebenaran)
itu adalah dīn al-qayyim; sistem hidup yang benar, yaitu Millah Ibrahim.
Sekaligus menegaskan bahwa makna kata din adalah sama dengan millah.
Millah Abraham inilah yang kemudian diajarkan pula oleh Allah kepada
Nabi Muhammad.
• 37Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 125:

ۗ‫ن َوٱ َّ� َب َع ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفا‬ٞ ‫َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن ِدي ٗنا ِّم َّم ۡن أَ ۡس َل َم َو ۡج َه ُهۥ ِ َّ�ِ َو ُه َو ُ ۡ� ِس‬
�ٗ ‫َوٱ َّ َ� َذ ٱ َّ ُ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َخلِي‬

Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya (aslama) kepada Allah, sedang dia pun
mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang lurus?
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 129

• 38Al-Quran surat Al-Hajj [22] ayat 78:

‫َعلَ ۡي ُ� ۡم ِ� ٱ ِّ�ي ِن ِم ۡن‬ ‫َو َح ََر�ٰ ٖ ِه�ج ُد ِّمواَّْل َة ِ�أَ�ِٱي َّ�ِ ُ� ۡمَح َّإِقبۡ َ�ٰ ِجهِ َهيا َۚم ِدهِۚ ُهۦ َو ُه ََوس َّمٱٮٰ ۡج َت ُبَ�ٮُٰم ٱلُۡ� ُمۡم ۡسَولَِم ِما َ�َج َع ِم َلن‬
ْ‫َف َ�أَ ۡب�ِ ُيل ُم َوواْ ِ�ٱل ََّ�ٰص ََلذاٰو َة ِ َ� َو َُءكاوتُوَنا‬ ‫ٱل َّر ُسو ُل َش ِهي ًدا َع َل ۡي ُ� ۡم َوتَ ُ�ونُواْ ُش َه َدآ َء َ َ� ٱ�َّا ِ �س‬

�ُ ‫ٱل َّز َك ٰو َة َوٱ ۡ� َت ِص ُمواْ بِٱ َّ�ِ ُه َو َم ۡو َلٮٰ ُ� ۡمۖ َفنِ ۡع َم ٱلۡ َم ۡو َ ٰ� َونِ ۡع َم ٱ�َّ ِص‬

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-
benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) millah orang tuamu
Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim
dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka
Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.

• 39Pernyataan Nabi Yusuf yang mengikuti Millah Ibrahim sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Quran surat Yūsuf [12] ayat 38:
َ
‫َ�ٰلِ َك‬ �ٖ‫َ ۡ�ء‬ ‫ِمن‬ ِ�َّ ‫بِٱ‬ ‫� ُّ ۡ ِ� َك‬ ‫أن‬ ٓ ‫َ�َا‬ ‫َإِوبۡ َ َ�َٰ�هِيٱ َم�َّا ِ�سۡس َوَ َ��ٰٰ َق ِ� َو ََّ�ن ۡعأَ ُقو ۡ�َ َۚب َ� َمٱا�َّ َا� ِ َنس‬ ‫َوٱ َّ� َب ۡع ُت ِم َّل َة َءابَآءِ ٓي‬
َ ‫ِمن َف ۡض ِل ٱ َّ�ِ َع َل ۡي َنا‬
‫� َ ۡش ُك ُرو َن‬ �

Dan aku mengikuti millah Bapak-bapakku, yaitu millah Ibrahim, Ishak,
dan Yakub. Tiadalah patut bagi kami mempersekutukan Allah dengan
sesuatu pun. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah kepada kami
dan kepada semua manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak
mensyukuri.

40Beberapa ayat di atas dengan tegas mengaitkan dan menyamakan
antara makna kata din dan millah, bahkan mempertegas pula kedudukan
Millah Abraham sebagai millah generasi spiritual Abraham selanjutnya,
termasuk Nabi Yusuf, Nabi Muhammad, dan para pengikutnya. 41Dengan
kata lain, semua Rasul Allah itu membawa ajaran yang sama, yaitu apa
yang disebut oleh Al-Quran dengan Millah Ibrahim atau Millah Abraham.
Semua nabi keturunan Abraham (khususnya Rasulullah Musa, Isa Al-

Jalan Kebenaran Universal

130 | MILLAH ABRAHAM

Masih, dan Rasulullah Muhammad) mengikuti dan membawa paham
keagamaan yang sama, yakni Millah Abraham. Berbeda dengan paham
mayoritas agamis yang berasumsi bahwa masing-masing Nabi dan Rasul
Allah membawa ajaran atau agama yang berbeda satu dengan lainnya.

42Adapun dalam penggunaannya, kata millah tidak disandarkan
kepada Allah (millah Allah), tetapi lebih sering dinisbatkan kepada
Abraham. Hal ini karena Abraham adalah nabi yang disepakati
keutamaan dan kebenaran din-nya, baik oleh musyrik Mekah maupun
Ahli Kitab. Bahkan, orang-orang Quraisy dan etnis Arab lainnya
menyebut diri mereka sebagai pengikut Millah Abraham.

43Berbeda dengan kata millah, kata din sering disandarkan pada
Allah (Din Allah). Kata din disandarkan menjadi Din Allah karena
melihat Dia sebagai Pemilik dan sumber dari din tersebut. Karena itu,
Allah disebut juga al-Dayyān (sumber dan Yang memerintahkan hukum).
Bila kata dīn disandarkan kepada penganutnya, seperti kata dīnīy (dinku)
atau dīnukum (din kalian), maka hal itu didasarkan pada ketaatan dan
ketundukan dari si penganut.

44Dari kata din juga dibentuk kata madinah yang berarti tempat
ketaatan; tempat hukum Allah diberlakukan. Kota Yatsrib disebut
Madinah karena di sanalah tempat ditegakkannya ketaatan kepada hukum
Allah melalui sarana kekuasan politik di bawah pimpinan Nabi
Muhammad sebagai Khalifatullah (pewaris dan pemegang mandat
Kekuasaan Allah) di muka bumi. Sehingga, Yatsrib menjadi pusat
mercusuar dunia (Madinah Al-Munawwarah; Kota Terang Allah) yang
pada akhirnya menjadi bangsa di atas segala bangsa sebagaimana
Yerusalem menjadi Kota Terang Allah pada zaman Nabi Musa dan Nabi
Isa.

Terminologi Syariat
45Selain kata din, kata yang juga berkaitan dengan kata millah adalah

kata syariat (hukum). Kata syariat berasal dari kata dasar syara’a yang
berarti datang; sumber air yang mengalir; jalan menuju mata air untuk
mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan.

46Kata al-syariat, al-syar’u atau al-syir’ah berarti sesuatu yang dipilih
dan dijelaskan Tuan Semesta Alam yang berasal dari din untuk hamba-

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 131

Nya. Kata-kata tersebut digunakan dalam makna metode Ilahiah atau
hukum-hukum Allah. 47Kata syariat telah digunakan dalam bahasa Arab
sebelum turunnya Al-Quran. Bahkan, kata yang semakna dengannya
sudah ada di dalam Taurat dan Injil.

48Kata syariat memiliki makna yang sama dengan kata din karena ia
menyerupai mata air, di mana masing-masing dari keduanya merupakan
sumber kehidupan. Kata al-syariat dan al-syir’ah juga ditafsirkan sebagai din
(millah). 49Sedangkan beberapa ahli lainnya membedakan makna syariat
dengan din, mereka berpendapat bahwa syariat adalah kewajiban ilahi
yang harus dijalankan, sedangkan din adalah pokok-pokok keimanan
seperti keimanan kepada Allah dan Hari Akhir.

50Makna syariat dalam arti luas adalah keseluruhan ketentuan din
yang mengatur tingkah laku, ucapan, dan kepercayaan manusia. Dengan
kata lain, syariat adalah ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Allah yang
dijelaskan oleh para Rasul-Nya tentang tata aturan hidup dan kehidupan
manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Namun, dalam perkembangannya, kata syariat terkadang digunakan untuk
merujuk kepada aspek hukum dari agama Islam dan terkadang juga
dipakai untuk menyebut aspek hukum dan agama Islam sekaligus.

51Secara teknis, syariat merupakan seperangkat hukum Ilahi yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama
manusia dalam kehidupan sosial, dan manusia dengan benda dan alam
sekitarnya. Hukum Ilahi yang mengatur tata hubungan itu berupa kaidah
ibadah dalam arti khusus (ibadah murni), yang mengatur tata cara dan
ritual pengabdian manusia kepada Allah, dan kaidah muamalah yang
mengatur relasi manusia dengan manusia lainnya atau dengan benda
dalam kehidupan sosial. Dari sini kemudian berkembang dalam kajian
fikih yang disederhanakan menjadi dua bagian, fikih ibadah dan fikih
muamalah.

52Hubungan makna dari kata din (millah) dengan syariat (hukum)
Allah dapat dilihat dari beberapa ayat Al-Quran, di antaranya pada surat
Al-Māidah [5] ayat 48:

�ِ‫َوأَن َز ۡ�َآ إِ َ ۡ� َك ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب بِٱ ۡ َ� ِّق ُم َص ِّد ٗقا لِّ َما َ� ۡ َ� يَ َديۡهِ ِم َن ٱ ۡل ِك َ�ٰ ِب َو ُم َه ۡي ِم ًنا َع َل ۡيه‬

Jalan Kebenaran Universal

132 | MILLAH ABRAHAM

�ّٖ ُ ِ‫ِم َن ٱ ۡ َ� ِّ �ق ل‬ ‫ِبِ َۡم�آ َعأَٗةن َز َوَلِم ۡنٱ َهاَّ ُٗ�ۖجاۚ َو ََول�َ ۡوتَ َتّ َبِشاۡٓع َءأَٱۡه ََّوآُ� َء ُه َ َۡ�م َع َل َ� َّماُ� ۡم َجأُآ َّمَء ٗةَك‬ ‫َفٱ ۡح ُ�م بَ ۡي َن ُهم‬
‫َ�ٰ ِح َد ٗة َو َ�ٰ ِ�ن‬ ‫ٱ ۡ َ� ۡي َ�ٰ ِ �ت‬ ‫َج َع ۡل َنا ِمن ُ� ۡم‬

‫َ ِ�ي ٗعا‬ ‫َم ۡر ِج ُع ُ� ۡم‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ َ ْ‫َفٱ ۡستَبِ ُقوا‬ ۖ‫َءاتَٮٰ ُ� ۡم‬ ٓ‫َما‬ �ِ ‫ِّ َ� ۡب ُل َو ُ� ۡم‬
�ِ‫إ‬
‫َ� ُينَ ّبِ ُئ ُ�م بِ َما ُكن ُت ۡم �ِيهِ َ ۡ� َتلِ ُفو َن‬

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa
kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain
itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap
ummat di antara kamu, Kami berikan hukum (syariat) dan jalan yang
terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu
ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-
Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya
kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya
kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

53Selanjutnya pada surat Al-Jātsiyah [45] ayat 18:
‫أَ ۡه َوآ َء‬ ‫ٱ ۡ َ� ۡم ِر‬
‫َ� ۡعلَ ُمو َن‬ َ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ ‫تَتَّبِ ۡع‬ �َ ‫َو‬ ‫َفٱتَّبِ ۡع َها‬ ‫ِّم َن‬ ‫َ ِ�� َع ٖة‬ �ٰ َ َ ‫َج َع ۡل َ�ٰ َك‬ ‫ُ� َّم‬


Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (hukum) dari
urusan (din itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

54Demikian pula penegasan Allah dalam surat Asy-Syūra [42] ayat
13 berikut ini:
‫َوٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡو َح ۡي َنآ إِ َ ۡ� َك‬
‫َو َما َو َّص ۡي َنا بِهِ ٓۦ‬ �َ ُ ‫َو َ� َ� َت َف َّر ُقواْ �ِي �هِ َك‬ ‫إِ َبۡ َ َ�ٰ�هِ َعي َملَ َو ُُ�موم َ ِّم ٰ� َن َوٱ ِع ِّ�يي َ ِن ٰٓ�ۖ َمأَا ۡنَوأََّ�ِ ٰي� ُمبِواْهِۦٱ نُِّ�يو َٗحنا‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫َ َ� ٱلۡ ُم‬ ‫َما تَ ۡد ُعو ُه ۡم إِ َ ۡ� �هِ ٱ َّ ُ� َ ۡ� َت ِ ٓ� إِ َ ۡ�هِ َمن � َ َشآ ُء َو َ� ۡه ِد ٓي إِ َ ۡ�هِ َمن يُنِي ُب‬

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang din apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 133

dan Isa yaitu: Tegakkanlah din (syariat; hukum) dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din
yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada din itu orang
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang
yang kembali (kepada-Nya).

55Jika ketiga ayat ini dihubungkan, terlihat bahwa syariat itu
sesungguhnya bersifat tetap (konstan) di sepanjang zaman, atau dalam
bahasa lain, syariat-syariat umum tidak berubah dengan perubahan zaman
dan terus menjadi aturan ummat hingga akhir zaman. Demikian halnya
dalam nilai-nilai pokok (prinsip-prinsip dasar) hukum Tuan Semesta
Alam yang bersifat universal, misalnya nilai-nilai kebenaran dan keadilan
ataupun nilai-nilai kebatilan dan aniaya.

56Pada surat Asy-Syūra [42] ayat 13 di atas, ditegaskan kembali
bahwa din (syariat; sistem hukum) yang diwasiatkan (diwahyukan;
diajarkan) oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah din (millah; syariat)
yang dahulu telah disyariatkan-Nya kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa,
dan Isa. 57Perintah dasar kepada mereka pun sama, yakni tegakkan din
(sistem hukum ciptaan Allah). Wujud dari tegaknya Din Allah tersebut
adalah tegaknya atau berlakunya hukum Allah, Tuan Semesta Alam,
dalam kehidupan manusia.

58Dari beberapa uraian makna dari din dan syariat di atas, dapat
disimpulkan bahwa makna pokok (primary meaning) kata din dan syariat itu
bermuara pada (kepatuhan) hukum, yakni aturan Allah yang harus ditaati,
manusia dituntut untuk mampu tunduk patuh, berserah diri hanya kepada
Allah, Tuan Semesta Alam. 59Dengan kata lain, ada hubungan timbal
balik antara kedua pihak, yakni Allah sebagai Penguasa yang memiliki
otoritas atau pihak yang memiliki unsur perintah, kekuasaan dan hukum,
dan pihak manusia (hamba) atau rakyat sebagai pihak yang padanya
terdapat sikap berserah diri, tunduk dan patuh (taat). Unsur yang
menghubungkan kedua pihak itulah yang disebut undang-undang atau
hukum. Inilah hubungan sejati antara Allah sebagai Tuan dan ummat
manusia sebagai hamba.

60Tegasnya, antara makna kata millah, din, dan syariat adalah sama
dan saling terkait. Dengan kata lain, inti dari sistem hukum Tuan Semesta
Alam (Din Allah) yang disyariatkan-Nya kepada setiap Rasul adalah sama

Jalan Kebenaran Universal

134 | MILLAH ABRAHAM

dan satu yang merupakan fitrah manusia. Bukankah sifat fitrah setiap
manusia selalu sama dari zaman ke zaman; siapa pun, kapan pun, dan di
mana pun?

61Demikian halnya dengan Islam yang bukanlah sebuah sekte atau
agama etnis tertentu. Islam adalah sebuah sikap hidup untuk tunduk
patuh (aslama) kepada satu sistem (din). Din Al-Islam adalah suatu sistem
hukum yang bersifat universal bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya, yang
diajarkan Allah kepada setiap Rasul-Nya dan wujud dari Jalan Kebenaran
yang diwahyukan-Nya. 62Esensinya, Din Al-Islam berdasar pada
kesadaran akan kehendak dan rencana Tuan Semesta Alam serta sikap
tunduk patuh secara suka rela atau terpaksa kepada sistem hukum-Nya.

63Allah sebagai Raja alam semesta tidak pernah menurunkan atau
mengajarkan apalagi memerintahkan sistem hukum yang berbeda untuk
setiap Rasul-Nya. Meskipun mereka diutus pada zaman, bangsa (tempat),
dan bahasa yang berbeda, bukan berarti Allah mengajarkan atau
memerintahkan sistem hukum yang berbeda. 64Dengan kata lain, millah
atau din atau syariat dari semua Nabi dan Rasul Allah adalah sama dan
satu, yakni Din Al-Islam; Millah Abraham yang hanif.

65Lalu mengapa mayoritas ahli masih membeda-bedakan syariat
para Rasul Allah? Mengapa Dia Yang Maha Mengetahui seluk-beluk
manusia harus bekerja berulang kali untuk merevisi dan
mengamandemen syariat-Nya setiap kali Dia mengutus rasul yang baru
pada setiap zaman? Lalu bagaimana dengan manusia yang hidup pada
abad-abad mendatang dengan zaman yang semakin berkembang dari 14
abad yang lalu? Suatu pekerjaan yang tidak pantas bagi-Nya yang Maha
Mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa kini, esok, dan masa
datang.

66Hal ini disebabkan oleh, pertama, tafsir kebencian dan klaim
absolutisme masing-masing agama dan etnis yang masih melatarbelakangi
doktrin mereka. Kedua, pengaruh dari teori evolusi agama yang
mengatakan bahwa perkembangan agama itu berevolusi sama dengan
teori evolusi manusia. Dan ketiga, penafsiran tekstual atas surat Al-
Māidah [5] ayat 48: “…Untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami
berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang…”. Ayat tersebut

Jalan Kebenaran Universal


Click to View FlipBook Version