The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fazila6292, 2021-09-05 09:43:50

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 235

BAB IV

Sunnatullah
sebagai tradisi
tuan semesta alam

A. SUNNATULLAH PENCIPTAAN
1Sunnatullah adalah hukum-hukum yang bersifat baku dan

pasti yang berlaku bagi hidup dan kehidupan seluruh makhluk di
alam semesta. Bentuk hukum tersebut merupakan ketentuan-
ketentuan yang mengatur perkembangan sejarah, sosial,
psikologis, dan hukum jatuh bangunnya suatu bangsa dan
peradaban (haq dan batil). Dengan demikian, sunnatullah berlaku
tidak hanya pada kehidupan alam semesta, tetapi juga pada
kehidupan alam sosial ummat manusia. 2Hal ini biasanya
digambarkan dalam kisah-kisah Al-Quran –yang diungkap dalam
bahasa hikmah, sebagai penegasan bahwa hukum-hukum ini
berlaku untuk keseluruhan ummat manusia dan harus dijadikan
contoh yang jelas demi menelusuri peradaban (mengisi jagad raya
sebagai tugas kekhalifahan manusia), sekaligus sebagai
pembimbing ummat manusia.

3Umumnya, para ilmuwan lebih banyak mengkaji persoalan
sunnatullah (hukum-hukum atau tradisi Allah) pada alam semesta,
tetapi melupakan sunnatullah yang berlaku pada kehidupan sosial

Jalan Kebenaran Universal

236 | SUNNATULLAH

ummat manusia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengkaji
hukum-hukum atau tradisi Allah pada hidup dan kehidupan
manusia yang telah berlangsung puluhan ribu tahun, untuk
dijadikan pelajaran penting dan berharga di dalam menyongsong
suksesi peradaban dunia, kebangkitan Madinah kedua. 4Di
samping itu, kita ingin menegaskan ulang bahwa bentuk ke-Maha
Kuasa-an Allah terletak pada proses sunnatullah penciptaan yang
tak pernah berubah dan berganti –sebagai hukum hidup dan
kehidupan. Dengan kata lain, pembahasan ini dimaksudkan
sebagai upaya purifikasi (pemurnian) terhadap doktrin
keberagamaan ummat hari ini, khususnya tentang sunnatullah
kehidupan manusia.

5Surat Al-Fātihah sebagai induk kitab Al-Quran terlebih
dahulu menampilkan sosok Allah sebagai Rabb dari alam semesta.
Karenanya, segala bentuk pujian sudah selayaknya dimonopoli
oleh-Nya. Allah menyebut diri-Nya Rabb dalam kapasitas-Nya
sebagai Sang Pencipta, Pengatur, Pemelihara, dan Pendidik
seluruh makhluk yang ada di alam. 6Refleksi dari memahami ayat
ini adalah kesadaran manusia sebagai salah satu makhluk di alam
semesta yang tidak memiliki alternatif lain selain menjadikan Dia
sebagai Rabb dengan mematuhi segala perintah dan larangan-Nya
yang termaktub dalam Al-Quran, sebagai rububiyah (aturan;
hukum) Allah.

7Berdasar pada prinsip perencanaan yang paripurna, maka
sebelum Allah mencipta alam semesta beserta isinya, terlebih
dahulu Dia mencipta din (sistem; hukum) hidup dan kehidupan
bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya, baik hukum yang berlaku pada
alam maupun hukum yang berlaku bagi ummat manusia –dengan
Kitab Suci, sehingga kehidupan alam ini tetap berada dalam
kehidupan yang penuh berkah, sunyi dari kekacauan dan
ketidakteraturan hidup. 8Hal ini berbeda dengan manusia yang
tidak mampu membuat perencanaan paripurna ke depan, sehingga
mereka membuat aturan atau hukum sesuai seleranya dan hanya
sebatas respon temporal dari akibat perilaku negatif yang muncul
di tengah kehidupannya. Karenanya, tatkala manusia membuat
aturan atau hukum yang tidak didasarkan atas petunjuk Ilahi

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 237

(wahyu), maka keadilan sejati, keharmonisan, dan kesejahteraan
hidup hanya akan menjadi angan-angan belaka.

9Allah mengatur alam semesta ini dengan hukum
kehidupan yang pasti di atas sifat Rahman dan Rahim-Nya. Untuk
membuktikannya, Dia menyampaikannya kepada manusia dalam
bahasa alam (ayat kauniyah) yang dapat dapat dilihat langsung
secara indrawi, dan dalam bahasa hikmah (ayat qauliyah) dalam Al-
Quran. 10Dengan demikian, alam semesta ini merupakan Kitab
Besar Allah yang diperuntukkan bagi manusia. Tentu saja, ia akan
dapat dibaca hanya bagi mereka yang memaksimalkan akalnya.
Bukankah alam semesta beserta isinya ini diciptakan untuk
melayani manusia, agar dapat hidup dalam kedamaian dan
kesejahteraan (Darussalam atau Jerusalem dalam bahasa Ibrani).

11Sunnatullah dibangun dari kata sunnah dan Allāh.
Sunnatullah adalah suatu hukum Allah yang berproses dalam
kehidupan alam dan manusia yang bersifat pasti, berlangsung
sepanjang masa tanpa mengalami perubahan, pergantian, atau
penyimpangan. Oleh karenanya, sunnatullah juga dapat dimaknai
dengan tradisi Allah, Tuan Semesta Alam. 12Dalam proses
penciptaannya, Allah selalu menetapkan ketentuan-ketentuan khas
bagi setiap makhluk-Nya. Besi, misalnya, memiliki ciri padat dan
keras, tenggelam bila dimasukkan ke air, melunak bila dipanaskan
dan baru bisa menguap bila dipanaskan dalam suhu amat tinggi,
mampu bereaksi dengan oksigen membentuk oksida besi sehingga
membuat bahan besi menjadi rapuh bila berhubungan dengan
udara –yang dikenal dengan karat. Begitu pula sifat khas yang ada
pada tanah, air, api, udara, manusia, pohon, dan makhluk lainnya.
Sunnatullah itu sudah ada sebelum wahyu Allah diajarkan kepada
manusia, bahkan sebelum manusia diciptakan.

13Sayangnya, kajian tentang sunnatullah hari ini lebih
terfokus pada sunnatullah kehidupan alam (makro sistem) tetapi
tidak mengkajinya dalam kaitan sunnatullah dengan siklus
peradaban kehidupan manusia. Padahal, tidak kurang dari 16 ayat
yang secara langsung berbicara soal ini dalam bentuk kata
sunnatullāh; sunanun; sunnat al-awwalīn. Belum lagi ayat-ayat yang

Jalan Kebenaran Universal

238 | SUNNATULLAH

diungkap dalam bahasa hikmah (matsal wa ramza) lewat kisah-kisah
para Nabi dan Rasul Allah serta bangsa-bangsa kafir-zalim.
Misalnya saja kasus Bani Israel yang digambarkan dalam surat Al-
Isrā’ [17] ayat 4-8.

14Dalam sejarah Islam, zaman klasik (tahun 650-1250 M)
adalah zaman keemasan dunia Islam yang memiliki metode
berpikir rasional, ilmiah, dan filosofis. Pada zaman klasik
berkembang teologi sunnatullah. 15Ciri-ciri teologi sunnatullah
adalah: 1). Kedudukan akal yang tinggi; 2). Kebebasan manusia
dalam kemauan dan perbuatan; 3). Kebebasan berpikir hanya
diikat oleh ajaran-ajaran dasar Al-Quran dan sunnah; 4). Percaya
adanya sunnatullah dan hukum kausalitas; 5). Mengambil makna
metaforis dari teks wahyu; dan 6). Dinamika dalam sikap dan
berpikir.

16Kaum agamis Islam selalu berpikir bahwa tidak ada satu
pun golongan manusia yang lebih unggul dan sanggup
mengalahkan mereka. Selama berabad-abad orang-orang Islam
Arab betul-betul memahami adagium dalam bahasa Arab, Al-
Islāmu ya’lū walā yu’lā ‘alayhi; Islam adalah unggul dan tak
terungguli oleh yang lain. Ironinya, hingga kini adagium ini masih
terpatri dalam qalbu “ummat Islam” yang dimotori oleh para da’i,
sehingga merasa dirinya masih menjadi ummat yang terunggul –
satu hal yang sangat kontra dengan fakta kehidupan yang mereka
jalani. Salah satu penyebab hal ini terjadi karena ketidakmampuan
mereka melihat sunnatullah pada kehidupan manusia.

17Al-Quran sebenarnya sudah mengisyaratkan fungsi dirinya
sebagi hudan lil muttaqīn, akan tetapi hal ini belum disadari banyak
orang. Kata muttaqīn artinya orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-
orang yang mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya dalam konteks tegaknya hukum atau syariat Allah
dalam kehidupan antar manusia. 18Untuk itu dibutuhkan sarana
hukum, yaitu kekuasaan hukum dalam suatu wilayah. Jika sarana
itu tidak ada, berarti Hukum Allah tidak dapat ditegakkan dan itu
berarti manusia belum dapat mengabdi kepada Allah secara
sempurna.

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 239

19Kata muslim dalam arti yang sempit adalah orang yang
berserah diri kepada kekuasaan yang memberlakukan Hukum
Allah di muka bumi. Jika tidak ada kekuasaan yang
memberlakukan Hukum Allah, ummat Islam tidak bisa beribadah
(mengabdi), sedangkan Allah sudah menyatakan dalam Al-Quran
surat Adz-Dzāriyāt [51] ayat 56 bahwa, “Dan tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.”

20Secara alegoris, hal ini tergambar dalam ritual ibadah
shalat. Untuk melaksanakan ibadah shalat dibutuhkan masjid
sebagai tempat sujud. Jadi, keberadaan masjid merupakan suatu
keharusan. 21Jika kita uraikan lebih rinci, untuk dapat beribadah
dengan benar dibutuhkan empat syarat, yaitu:
22a. Jemaah shalat;

Jemaah shalat terdiri dari imam dan ma’mum.
23b. Masjid sebagai Bait Allah;

Masjid adalah tempat suci, artinya orang-orang musyrik tidak
diperkenankan berada di dalamnya.
24c. Bacaan shalat;
Di dalam masjid tidak boleh ada bacaan lain selain Al-Quran.
Jika orang beribadah kepada Allah tetapi bacaannya bukan
Al-Quran, maka ibadahnya batal atau tidak diterima.
25d. Tanah tempat berdirinya masjid;
Tidak mungkin suatu masjid dapat berdiri jika tidak ada
sebidang tanah yang bebas, terbuka, dan tidak ada bangunan
lain di atasnya.

26Ini merupakan pelajaran atau contoh konkret agar kita
dapat memahami dan melakukan hakikat ibadah. Tugas seorang
Rasul yang utama adalah menegakkan Din Al-Islam, yaitu tata
cara dalam kehidupan yang menyerahkan diri kepada Allah, Tuan
Semesta Alam. Sebagaimana syarat ibadah ritual di atas, untuk
dapat menegakkan Din Al-Islam sebagai sarana ibadah kepada
Allah pun dibutuhkan empat sarana, yaitu:

27Pertama, ummat atau jemaah orang-orang beriman yang
berfungsi sebagai penegak Din Allah atau disebut dalam Al-Quran

Jalan Kebenaran Universal

240 | SUNNATULLAH

sebagai anshārullah; pembela atau penolong Allah dalam
menegakkan Din-Nya. Untuk itu, dalam setiap misi risalah
dilakukan program da’wah; talwiyah atau rekrutmen untuk
membentuk suatu ummat.

28Kedua, kekuasaan atau struktur kepemimpinan yang
diwujudkan dalam bentuk penataan struktur ummat; shāffan ka-
annahum bunyānun marshūsh.

29Ketiga, menetapkan undang-undang yang mengatur
masalah syura, imamah, dan mahkamah, serta ditetapkannya
undang-undang tentang hukum perang, hukum perkawinan,
hukum waris, hukum pidana, hukum perdata, dan aspek hukum
lainnya.

30Keempat, untuk mewujudkan ketiga sarana ibadah tersebut
di atas, dibutuhkan baldah thayyibah; tempat atau wilayah yang
bebas dari tekanan politik kafir-musyrik. Islam adalah din yang
bersifat furqan (berbeda dengan din apapun dan tidak bisa
kompromi dengan pihak mana pun). Oleh sebab itu, hijrah
teritorial (untuk mencari wilayah tersebut) menjadi salah satu
prinsip jihad.

31Dalam hal ini, perlu diingat bahwa apa yang dilakukan
oleh para Rasul Allah dan para pengikutnya adalah suatu
perjalanan jihad yang berada langsung di bawah komando Allah,
bukan program pribadi. 32Sikap orang-orang beriman terhadap
perintah Allah hanyalah sami’nā wa atha’nā; kami paham dan kami
laksanakan. Jadi pada hakikatnya, Allah adalah Sang Sutradara
yang membimbing dan mengarahkan perjuangan para Nabi dan
Rasul-Nya serta orang-orang yang bersamanya, dalam
menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi. 33Inilah yang
dimaksud pernyataan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shāff [61]
ayat 9:

‫ُه َو ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ بِٱلۡ ُه َد ٰى َو ِدي ِن ٱ ۡ َ� ِّق ِ�ُ ۡظ ِه َر ُهۥ َ َ� ٱ ِّ�ي ِن ُ�ِّهِۦ‬
‫َولَ ۡو َك ِرهَ ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن‬

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 241

Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan
membawa petunjuk dan din yang haq untuk dimenangkan atas
din-din yang ada di bumi, walaupun orang-orang musyrik
benci.

1. Enam Tahapan Penciptaan (Sittati Ayyam)
34Dalam bab ini, uraian difokuskan pada sunnatullah

(Tradisi Tuan Semesta Alam) mengenai penciptaan yang selalu
berlangsung dalam enam tahapan (yaum), dalam bahasa Al-Quran
disebut sittati ayyām. Sunnah penciptaan yang berlangsung dalam
enam tahapan itu tidak boleh dilanggar. 35Setiap ayat yang
diturunkan pada suatu tahapan bertujuan untuk menciptakan satu
kondisi guna memasuki tahap berikutnya. Artinya, jika
perkembangan pada suatu fase belum tercapai, dilarang melompat
atau melanjutkan ke fase berikutnya. Jika hal ini dilanggar, maka
akan terjadi musibah yang berakibat fatal bagi tercapainya tujuan
akhir.

36Ada dua proses penciptaan (melalui enam tahapan) yang
dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Kitab, yaitu proses penciptaan
alam semesta (tatanan langit dan bumi serta apa-apa yang ada
pada keduanya) dan proses penciptaan manusia. Di dalam Kitab
Kejadian maupun di dalam Al-Quran secara jelas diuraikan proses
penciptaan berlangsung dari masa ke masa (hari ke hari), dari
keadaan yang belum sempurna menuju kepada kesempurnaannya.

Penciptaan Alam Semesta

37Simak beberapa firman Allah dalam Taurat dan Al-Quran
mengenai proses penciptaan alam semesta, sebagai berikut:

• 38Al-Quran surat As-Sajadah [32] ayat 4:
�ٖ ‫َ�يَّا‬ ‫َوٱ ۡ�َ� َض‬
‫ُ� َّم‬ ‫ِس َّت ِة‬ �ِ ‫بَ ۡي َن ُه َما‬ ‫َو َما‬ ‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ ‫َخلَ َق‬ َّ �ُ َّ ‫ٱ‬
‫ٱ ِ�ي‬
�َ َ‫ٱ ۡس َت َو ٰى َ َ� ٱ ۡل َع ۡر ِ �ش َما َل ُ�م ِّمن ُدونِهِۦ ِمن َو ِ ّٖ� َو َ� َش ِفي ٍ �ع أَف‬
‫َ� َت َذ َّك ُرو َن‬

Jalan Kebenaran Universal

242 | SUNNATULLAH

Allahlah yang menciptakan tatanan langit bumi dan apa yang
ada di antara keduanya dalam enam periode, kemudian Dia
bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu sekalian
penolong selain Dia. Dan tidak juga akan ada pengecualian,
apakah kamu tidak memperhatikan?

• 39Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 54:
�ٖ ‫َ�يَّا‬ ‫َوٱ ۡ َ�� َض‬
‫ُ� َّم‬ ِ‫ِس َّتة‬ �ِ ‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ ‫َخ َل َق‬ َّ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َر َّ� ُ� ُم‬ ‫إِ َّن‬
‫ٱ ِ�ي‬
‫ٱ ۡس َت َو ٰى َ َ� ٱ ۡل َع ۡر ِ �ش ُ� ۡغ ِ� ٱ َّ ۡ� َل ٱ�َّ َها َر َ� ۡط ُل ُب ُهۥ َحثِي ٗثا َوٱل َّش ۡم َس‬
�ُ َّ ‫َوٱ ۡل َق َم َر َوٱ ُ�ّ ُجو َم ُم َس َّخ َ�ٰ ِۢت بِأَ ۡم ِرهِۗۦٓ َ� َ� َ ُ� ٱ ۡ َ� ۡل ُق َوٱ ۡ َ� ۡم ُرۗ َ� َبا َر َك ٱ‬
�َ ‫َر ُّب ٱ ۡل َ�ٰ َل ِم‬

Sesungguhnya pemelihara kamu adalah Allah yang
menciptakan tatanan langit dan bumi dalam enam periode,
kemudian Dia menduduki Arsy. Dia menutup malam dengan
siang secara silih berganti terus menerus, dan Dia menciptakan
matahari, bulan, dan bintang untuk melayani kamu atas
perintah-Nya. Ingatlah, bahwa mencipta dan memerintah
adalah hak mutlak Allah. Maha Berkah Allah, Pemelihara
seluruh alam.

• 40Al-Quran surat Yūnus [10] ayat 3:
�ٖ ‫َ�يَّا‬ ‫َوٱ ۡ�َ� َض‬
‫ُ� َّم‬ ‫ِس َّت ِة‬ �ِ ‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ ‫َخلَ َق‬ َّ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َر َّ� ُ� ُم‬ ‫إِ َّن‬
َّ ۖ‫ٱ ۡ�َ ۡم َر‬ ‫ٱ ِ�ي‬
�ِ‫إ‬ �َ َ
‫إِ ۡذنِهِۚۦ‬ ‫َ� ۡع ِد‬ ‫ِم ۢن‬ ‫َشفِي ٍع‬ ‫ِمن‬ ‫َما‬ ‫يُ َدبِّ ُر‬ �‫ٱ ۡل َع ۡر ِش‬ ‫ٱ ۡس َت َو ٰى‬
‫َ�ٰلِ ُ� ُم ٱ َّ ُ� َر ُّ� ُ� ۡم فَٱ ۡ� ُب ُدو ُهۚ أَ َف َ� تَ َذ َّك ُرو َن‬

Sesungguhnya pemelihara kamu adalah Allah, yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam periode, kemudian
Dia menduduki Arsy, untuk mengatur urusan (makhluk-Nya)
tidak ada pengecualian, melainkan setelah mendapat izin-Nya.
Yang demikian itulah Allah, Rabb kamu, maka mengabdilah
kalian kepada-Nya. Apakah kamu tidak memikirkannya?

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 243

• 41Al-Quran surat Al-Furqān [25] ayat 59:
�ٖ ‫َ�يَّا‬ ‫َوٱ ۡ�َ� َض‬
‫ٱ ۡس َت َو ٰى‬ ‫ُ� َّم‬ ‫ِس َّت ِة‬ �ِ ‫بَ ۡي َن ُه َما‬ ‫َو َما‬ ‫ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬ ‫َخ َل َق‬ َّ
‫ٱ ِ�ي‬

��ٗ ِ‫َ َ� ٱ ۡل َع ۡر ِ �ش ٱل َّر ۡح َ�ٰ ُن فَ ۡ َٔ� ۡل بِهِۦ َخب‬

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di
antaranya, dalam enam periode, kemudian menduduki Arsy,
itulah Ar-Rahman, bertanyalah tentang itu kepada pembawa
berita (Nabi).

• 42Al-Quran surat Qāf [50] ayat 38:

‫َولَ َق ۡد َخ َل ۡق َنا ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت َوٱ ۡ َ�� َض َو َما بَ ۡي َن ُه َما ِ� ِس َّتةِ َ�يَّا ٖ� َو َما َم َّس َنا‬
‫ِمن ُّل ُغو ٖب‬

Dan sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada di antaranya dalam enam periode dan Kami tidak
pernah merasa letih karenanya.

• 43Kitab Kejadian 1 ayat 26-30:

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak
dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang
merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu
menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah
memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:
“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan
taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-
burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi.” Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan
kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh
bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah
akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di
bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di
bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan
hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. Maka

Jalan Kebenaran Universal

244 | SUNNATULLAH

Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat
baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah “hari keenam”.

• 44Kitab Kejadian 2 ayat 1-3:

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan
yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari
segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah
memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada
hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang
telah dibuat Nya itu.

45Secara rasional, Allah mewujudkan proses penciptaan
alam semesta dalam enam tahapan, dan pada hari ketujuh (hari
Sabath) seluruh alam semesta mencapai kesempurnaannya. Pada
masa atau hari ketujuh –ketika alam semesta sudah sempurna;
sistem Allah telah hidup dan berproses secara pasti dan dalam
kondisi mīzān (setimbang). 46Pada hari Sabath, Sang Pencipta,
Tuan Semesta Alam, beristirahat dari segala pekerjaan penciptaan
yang telah dipurnakan-Nya. Kondisi ini di dalam Al-Quran
dikatakan, “kemudian Allah duduk (bersemayam) di Arsy-Nya”.

47Semua ayat Allah yang menceritakan proses penciptaan
alam merupakan konstribusi ilmiah bagi manusia yang intelektual
(ilmuwan). Kemajuan di bidang sains dan teknologi disebabkan
oleh implementasi hukum-hukum yang berlaku pada alam.
48Sesungguhnya, alam semesta adalah Kitab Besar bagi manusia.
Kepandaian manusia –yang pada waktu lahir tidak mengetahui
sesuatu apapun, diperoleh dari pengajaran ilmu Allah melalui alam
semesta sebagai kalam Allah. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi
manusia untuk tidak mau tunduk patuh kepada Allah, Tuan
Semesta Alam.

49Sebagai Kitab Petunjuk bagi manusia yang ingin
mengabdi kepada Allah, proses penciptaan alam semesta di dalam
Al-Quran merupakan pelajaran atau ilmu dalam hal pengabdian;
keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Prinsip-prinsip ilmu yang
bekerja pada alam adalah haq, wajib diaktualisasikan ke dalam

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 245

kehidupan ummat manusia. 50Beberapa prinsip Al-Haqq itu bisa
dirumuskan sebagai berikut:

1) Prinsip Tujuan, Perencanaan, dan Pelaksanaan

51Setiap amal perbuatan harus selalu didasari oleh ilmu,
dan dengan ilmu itulah dirumuskan tentang tujuan serta cara-
cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pelaksanaan dilakukan
setelah seluruh perencanaan dan tahapan-tahapannya selesai
dirumuskan. Secara prinsip, pelaksanaan tidak boleh
menyimpang dari perencanaan yang sudah ditetapkan.
52Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Yā Sīn [36]
ayat 82 berikut ini:
َ ‫أَ َرا َد‬ ‫أَ ۡم ُر ُه ٓۥ‬
‫َ� َي ُكو ُن‬ ‫ُ�ن‬ ‫َ ُ�ۥ‬ ‫َ� ُقو َل‬ ‫أن‬ ‫َش ۡ ً�ٔا‬ ٓ‫إِ َذا‬ ٓ‫إِ َّ� َما‬

Sesungguhnya perintah-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu
Dia berkata: kun fayakūn.

53Ayat ini sering disalahpahami sebagai fenomena sihir
atau sulap; abra ka dabra... sim salabim. Landasan
kesalahpahaman penafsiran ayat di atas adalah ilmu mantiq
(logika) yang tidak faktual seperti ini: Jika Allah ingin
menciptakan sesuatu, maka Dia tidak akan bersusah payah
seperti manusia. Karena Allah Maha Kuasa, ketika Dia
menghendaki sesuatu cukuplah Dia berkata: “Kun fayakūn; jadi,
maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya itu”. Begitu jalan
pemikiran mereka. 54Inilah salah satu doktrin agama yang
membunuh pola pikir ummat Islam dan menyebabkan
keruntuhan kekuasaan Islam.

55Perhatikan ayat-ayat yang menyangkut proses
penciptaan alam semesta tersebut di atas, cukup jelas
dinyatakan bahwa penciptaan alam semesta dilakukan dalam
enam periode. Satu periode lamanya dapat mencapai 50.000
tahun menurut kalender bumi (cerdasi QS. Al-Ma'ārij [70]: 4).
56Kun fayakūn tidak harus ditafsirkan dengan sim salabim, tetapi
justru penekanan ayat itu adalah setiap kehendak Allah itu
pasti terwujud setelah melalui proses fa sababiyah. Seandainya

Jalan Kebenaran Universal

246 | SUNNATULLAH

kita bertanya kepada orang yang berpaham sim salabim,
siapakah yang menciptakan manusia? “Allah”, jawabnya.
Berapa lamakah Allah mencipta manusia di dalam kandungan?
“Sembilan bulan”, jawabnya lagi. Jelaslah, jawabannya
bertentangan dengan doktrin sim salabim yang ia yakini.

2) Prinsip Kesepasangan

57Perhatikan pernyataan Allah dalam Al-Quran surat Yā
Sīn [36] ayat 36:
‫أَن ُف ِس ِه ۡم‬ ‫ٱ ۡ�َ� ُض‬ ‫ٱ ۡ�َ ۡز َ�ٰ َج‬
‫َو ِم ۡن‬ ‫تُ�بِ ُت‬ ‫ِم َّما‬ ‫ُ�َّ َها‬ ‫َخلَ َق‬ َّ ‫ُس ۡب َ�ٰ َن‬
‫ٱ ِ�ي‬

‫َ� ۡعلَ ُمو َن‬ َ ‫َو ِم َّما‬


Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan
berpasangan, yaitu apa-apa yang tumbuh dari bumi,
kehidupan mereka sendiri, dan segala sesuatu yang mereka
tidak ketahui.

58Kesepasangan (azwāj) tidak selalu bermakna dua
unsur, namun yang pasti lebih dari satu. Kesepasangan itu
misalnya: Komponen-eksponen, negatif-positif, malam-siang,
gelap-terang, kafir-mu’min, dan lain sebagainya. Azwāj
merupakan istilah Al-Quran dalam menerangkan sesuatu yang
hidup dalam sebuah kelompok atau komunitas yang terikat
suatu aturan bersama yang harus ditaati oleh semua komponen
komunitas tersebut. Bumi –bahkan alam semesta, secara
keseluruhan merupakan azwāj.

3) Prinsip Stuktural

59Prinsip stuktural (thibāqān) dinyatakan di dalam Al-
Quran surat Al-Mulk [67] ayat 3:

‫ِمن‬ �‫ٱل َّر‬ ‫َخ ۡل ِق‬ �ِ ‫تَ َر ٰى‬ ‫َّما‬ ۖ‫ِط َبا ٗ�ا‬ ‫َس َ�ٰ َ�ٰ ٖت‬ ‫َس ۡب َع‬ ‫َخلَ َق‬ َّ
‫ٱ ِ�ي‬

ٖ‫تَ َ�ٰ ُو ٖت� فَٱ ۡر ِج ِع ٱ ۡ َ� َ َ� َه ۡل تَ َر ٰى ِمن ُ� ُطور‬

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 247

Dialah Allah yang telah menciptakan tujuh struktur angkasa
secara bertingkat, tidaklah sekali-kali kamu melihat pada
hasil ciptaan Ar-Rahman itu kacau. Teliti secara berulang,
adakah sesuatu yang tidak beres?

4) Prinsip Kesetimbangan

60Kesetimbangan (mīzān) bermakna bahwa segala
sesuatu diciptakan berdasarkan ukuran dan ditempatkan pada
struktur yang sesuai dengan kadar dirinya. 61Prinsip
Kesetimbangan dinyatakan di dalam surat Ar-Rahmān [55]
ayat 1-9 berikut ini:
٤ ‫ َع َّل َم ُه ٱ ۡ�َ َيا َن‬٣ ‫ َخ َل َق ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن‬٢ ‫ َع َّل َم ٱ ۡل ُق ۡر َءا َن‬١ ‫ٱل َّر ۡح َ�ٰ ُن‬
‫َوٱل َّش َج ُر � َ ۡس ُج َدا ِن‬ ٥ ‫َوٱ ۡل َق َم ُر ِ ُ� ۡس َبا ٖن‬ ‫ٱل َّش ۡم ُس‬
٦ ‫َ� ۡط َغ ۡواْ ِ� ٱلۡ ِم َ�ا ِن‬ ‫َوٱ�َّ ۡج ُم‬ ‫َر َ� َع َها َو َو َض َع ٱلۡ ِم َ�ا َن‬ ‫َوٱل َّس َمآ َء‬
٨ َّ َ
�� ٧
٩ ‫َوأَ�ِي ُمواْ ٱلۡ َو ۡز َن بِٱ ۡلقِ ۡس ِط َو َ� ُ ۡ� ِ ُ�واْ ٱلۡ ِم َ�ا َن‬

Ar-Rahman. Dia yang mengajarkan Al-Quran. Yang
menciptakan manusia. Mengajarkan kepada manusia itu
dengan Al-Bayyan (benda-benda yang konkrit). Bahwa
matahari itu bergerak menurut perhitungan. Bintang
gemintang serta seluruh tetumbuhan taat pada maqadir Allah
(fungsi dan tugasnya). Dan benda-benda di angkasa
disusun dan ditempatkan secara berkesetimbangan.
Janganlah kamu langgar prinsip kesetimbangan itu.
Tegakkanlah kesetimbangan (keadilan) itu secara pas dan
jangan menguranginya sedikit pun.

62Ayat-ayat tersebut di atas adalah pelajaran dari Allah
bagi manusia tentang prinsip-prinsip penciptaan. Sasaran
utamanya adalah agar manusia mampu menciptakan sebuah
ummat yang tauhid dalam penegakan kekuasaan (daulah) Allah.
Jika manusia ingin hidup damai, adil, dan sejahtera, mereka
harus mengaplikasikan sunnatullah dalam kehidupan sosial dan
sistem kekuasaan, yaitu Kerajaan Allah di muka bumi.
63Banyak di antara para orientalis yang menyatakan bahwa

Jalan Kebenaran Universal

248 | SUNNATULLAH

Islam dan Al-Quran tidak berhubungan dengan masalah
kekuasaan (khilafah). Pendapat manusia seperti inilah yang
sejatinya Allah sebut sebagai orang yang melihat tapi buta,
mendengar tapi tuli; summun bukmun ‘umyun fahum lā yarji’ūn;
tuli, bisu, dan buta, oleh sebab itu tidak ada jalan kembali
kepada fitrahnya, yaitu Din Al-Islam.

64Rasul Allah adalah suri teladan bagi manusia, karena ia
mampu memahami isyarat wahyu yang berada di balik cerita
(qashash) tentang penciptaan alam itu. Al-Quran adalah kebenaran
yang hakiki, maka prinsip-prinsip itu harus diaplikasikan dalam
jihadnya dari sejak periode Makkiyah hingga sempurnanya
bangunan Islam sebagai daulah yang kuat dan aman. 65Secara rinci,
proses penciptaan langit dan bumi diuraikan dalam Al-Quran
surat Fushshilat [41] ayat 9-12 di bawah ini:
‫ٱ ۡ�َ� َض‬ ‫أَُقن ۡ َلدا ٗأَد��ِۚ َّن َ�ٰلِ ُ� َ ۡكم‬
‫يَ ۡو َم ۡ ِ� َو َ ۡ� َعلُو َن َ ُ� ٓۥ‬ �ِ ‫َخلَ َق‬ َّ ‫َ َ� ۡ� ُف ُرو َن‬
‫ِمن َف ۡوقِ َها َو َ�ٰ َر َك �ِي َها‬ ‫بِٱ ِ�ي‬
�َ ِ ٰ�َ ‫ َو َج َع َل �ِي َها َر‬٩ �َ ‫َر ُّب ٱ ۡل َ�ٰلَ ِم‬
َ ��ًَ ‫َ� َيَّولاِ ۡ ٖ� َ�� َسِ َوآض ٗءٱئّۡلِتِل َي َّاسآ َ�ِطلِۡو‬ ‫َو َق َّد َر �ِي َهآ أَ ۡق َ�ٰ َ� َها ِ ٓ� أَ ۡر َ� َع ِة‬
�ِ‫إ‬ ‫ٱ ۡس َت َو ٰٓى‬ ‫ُ� َّم‬ ١٠ ‫ن َ� َقا َل لَ َها‬ٞ ‫ٱل َّس َمآ ِء َو ِ َ� ُد َخا‬
‫أَ ۡو َك ۡر ٗها قَا َ َ�آ َ�تَ ۡي َنا‬
‫َوأَ ۡو َ ٰ� ِ� ُ ِّ� َس َمآ ٍء‬
‫َ�ٰلِ َك َ� ۡق ِدي ُر ٱ ۡل َع ِز� ِز‬ �ِ ۡ ‫َس َ�ٰ َوا ٖت ِ� يَ ۡو َم‬ ‫َس ۡب َع‬ ‫َّنا َ�ٱَقل ََّسضٮَٰمآُه َءَّن‬١�َّ ١‫أََطۡمآَر�ِ َهعِاۚ َ� َو َز‬
ۚ‫بِ َم َ�ٰبِي َح َو ِح ۡف ٗظا‬ ‫ٱ ُّ� ۡ� َيا‬

١٢ ‫ٱ ۡل َعلِي ِم‬

Katakanlah, “Apakah kalian sungguh tidak mau taat kepada
yang menciptakan bumi dalam dua periode dan kamu membuat
saingan bagi-Nya?” Itulah pengatur (pemelihara) kehidupan
semesta alam. Kemudian dijadikannya di atas bumi itu
gunung-gunung, kemudian diturunkannya keberkahan (air),
kemudian Dia menentukan kadar makanan bagi makhluk yang
ada di bumi dalam empat periode, sebagai persediaan bagi yang
membutuhkannya. Kemudian Dia menuju ke langit yang
masih dalam bentuk dukhān, kemudian Dia berkata kepada

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 249

keduanya, “Kemarilah kalian berdua dengan suka rela ataupun
terpaksa!”, keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka
rela.” Kemudian Dia menetapkan tujuh struktur langit dalam
dua periode dan mewahyukan kepada tiap-tiap struktur langit
akan urusannya masing-masing. Dan Kami menghiasi langit
yang terdekat dari bumi dengan mashābīh yang berfungsi sebagai
penjaga. Yang demikian itu adalah takdir (ketentuan) dari yang
Maha Gagah lagi Maha Mengetahui.”

66Inilah cara Allah menjelaskan proses penciptaan alam
semesta dengan gaya bahasa yang disebut Ahsanul Hadits (lihat
QS. Az-Zumar [39]: 23), yaitu suatu fenomena alam yang
disajikan dalam bentuk cerita, suatu bentuk ayat mutasyabihat
yang harus di-ta’wil maksud sesungguhnya (QS. ‘Ali-Imrān [3]: 7).
67Nabi Muhammad adalah salah seorang manusia yang diberi
kemampuan untuk memahami makna awal atau men-ta’wil ayat-
ayat mutasyabihat, sehingga paham tersebut menjadi ilmu dalam
melaksanakan tugasnya mengorganisir orang-orang yang beriman
dalam sebuah komunitas yang mampu mewujudkan kehidupan
adil, damai, dan sejahtera.

Penciptaan Manusia

68Proses penciptaan kedua –yang juga berlangsung dalam
enam periode, adalah penciptaan manusia. Allah menyatakan
bahwa manusia dicipta dari tanah. Secara biologis, sperma yang
dihasilkan oleh seorang laki-laki berasal dari saripati makanan
yang dikonsumsinya, dan semua makanan yang dikonsumsi oleh
manusia (tumbuhan dan hewan) pada dasarnya berasal dan
tumbuh dari tanah (turab). Itulah mengapa manusia juga dikatakan
dicipta dari tanah. 69Penegasan ini dapat dilihat dalam Al-Quran
surat Al-Kahfi [18] ayat 37 di bawah ini:
‫أَ َ� َف ۡر َت‬
‫ُ� َّم‬ ‫تُ َرا ٖب‬ ‫ِمن‬ ‫َخ َل َق َك‬ َّ ‫ُ َ�اوِ ُر ُه ٓۥ‬ ‫َو ُه َو‬ ‫َصا ِح ُب ُهۥ‬ ‫َ ُ�ۥ‬ ‫قَا َل‬
‫بِٱ ِ�ي‬
�ٗ ‫ِمن ُّ� ۡط َفةٖ ُ� َّم َس َّوٮٰ َك َر ُج‬

Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya -sedang dia
bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuan)

Jalan Kebenaran Universal

250 | SUNNATULLAH

yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air
mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang
sempurna?”

70Perhatikan pula surat Fāthir [35] ayat 11:

‫ َِمج َعن َل ُّم َُع� َّمۡمرٖأَ ۡزَوَ َ�ٰ�ٗجايُۚن َوَق َم ُاصَ ۡ� ِِمم ُۡنل‬ٞ�‫َوِمُٱ� ۡ ُنمَّ ُِر�أُهِنۦٓ ََخ ٰإِ�َلَّ َق� َو َِ��ُ�متَكِ ََِّم�ٰض ُنعٍ �بتُإِإََِّرا َّ�ن ٖببَِ�ٰلِعُِ� ۡل ََّمِمكهِۚ ِم َۦ َن� َو ُّ�ٱَم ۡاطَّ َف�ُِ� ٖة�ََع َُّ�ِمس َُّمر‬

Dan Allah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari air
mani, kemudian Dia menjadikan kalian berpasangan (laki-laki
dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun
mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan
sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur
seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh
Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah
mudah.

71Tahapan penciptaan manusia di dalam kandungan ibu
tersebut adalah sesuatu yang alami dan pasti sifatnya, sehingga
tidak ada satu pun makhluk yang bernama manusia yang tidak
melalui proses kun fayakūn tersebut. Inilah tradisi Allah yang
berlaku pada proses penciptaan manusia, yang tidak pernah
berubah dan berganti. 72Jadi, peristiwa kun fayakūn pada
penciptaan manusia terjadi selama kurang lebih sembilan bulan
dalam perut ibunya, bukan proses penciptaan yang sesaat (sim
salabim). 73Proses tersebut (tahap penciptaan manusia) juga
ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Mu’minūn [23] ayat 12-14:
‫ ُ� َّم َج َع ۡل َ�ٰ ُه ُ� ۡط َف ٗة‬١٢ �ٖ ‫َو َل َق ۡد َخ َل ۡق َنا ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن ِمن ُس َ�ٰ َل ٖة ِّمن ِط‬
ٖ‫ِ� َق َرار‬ ‫فَ َخلَ ۡق َنا ٱ ۡل َع َل َق َة ُم ۡض َغ ٗة‬ ‫ ُ� َّم َخلَ ۡق َنا ٱ ُّ� ۡط َف َة َع َل َق ٗة‬١٣ �ٖ ‫َّم ِك‬
‫َف َخ َل ۡق َنا‬ ۚ ‫ُ� َّم أَ� َشأۡ َ�ٰ ُه َخ ۡل ًقا َءا َخ َر‬ ‫ٱلۡ ُم ۡض َغ َة ِع َ�ٰ ٗما فَ َك َس ۡونَا ٱ ۡلعِ َ�ٰ َم َ ۡ� ٗما‬
‫َ� َت َبا َر َك‬ ١٤ �َ ِ‫ٱ َّ ُ� أَ ۡح َس ُن ٱ ۡل َ�ٰلِق‬

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 251

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah
Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

74Saat Al-Quran menjelaskan tentang proses penciptaan
manusia (kadang menggunakan istilah al-insan atau istilah basyar),
ada kalanya disebut secara parsial dan ada kalanya disebut secara
berurutan, tahap demi tahap. Ketika melihat ayat-ayat yang
menjelaskannya secara parsial, maka akan terkesan kontradiktif.
Namun sesungguhnya, tidaklah bertentangan. Misalnya, Allah
menyebut manusia tercipta dari ‘alaq, tercipta dari tanah, tercipta
dari air yang menjijikkan, atau tercipta dari saripati tanah. 75Kalau
kita mau mengurai keempat istilah tersebut, sesungguhnya istilah
itu merupakan satu mata rantai proses penciptaan yang
berkesinambungan. Tanah adalah tempat tumbuhan dan hewan
hidup serta berdiam. Kemudian, tanaman, buah-buahan, dan
hewan –yang di dalamnya mengandung saripati tanah, dimakan
oleh manusia. Selanjutnya, makanan tersebut diolah oleh tubuh
manusia laki-laki menjadi sperma (mani) yang terlihat menjijikkan.
76Saat hubungan suami-istri terjadi, sperma tersebut dipancarkan
ke dalam rahim untuk membuahi ovum, hingga terjadilah proses
‘alaqah (proses bertemunya sel sperma dan sel ovum yang
akhirnya tumbuh dan berkembang di dinding rahim). Ketika sel
sperma tidak berhasil membuahi ovum, maka kehamilan tidak
terjadi dan proses penciptaan manusia biologis juga gagal.
Sungguh proses penciptaan yang sangat ilmiah dan alamiah serta
tidak bertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya.

77Perhatikan maksud istilah delapan pasangan dan tiga
kegelapan dalam Al-Quran surat Az-Zumar [39] ayat 6 berikut ini:

‫َخ َل َق ُ�م ِّمن َّ� ۡف ٖس َ�ٰ ِح َدةٖ ُ� َّم َج َع َل ِم ۡن َها َز ۡو َج َها َوأَن َز َل لَ ُ�م ِّم َن‬

Jalan Kebenaran Universal

252 | SUNNATULLAH

‫ٱ ۡ َ�نۡ َ�ٰ ِم ثَ َ�ٰنِ َي َة أَ ۡز َ�ٰ ٖ �ج َ ۡ�لُ ُق ُ� ۡم ِ� ُ� ُطو ِن أُ َّم َ�ٰتِ ُ� ۡم َخ ۡل ٗقا ِّم ۢن َ� ۡع ِد‬
َّ ‫إِ َ�ٰ َه‬ ٓ�َ ۖ‫ٱلۡ ُم ۡل ُك‬ �ُ َ ‫ثَ َ�ٰ ٖ �ث‬ ‫فَ ََخ� ۡلَّ ٰ�ٖقتُ ِۡ� َ�فُُظو ُل َ َن�ٰ ٖت‬
ۖ‫ُه َو‬ �ِ‫إ‬ ‫َر ُّ� ُ� ۡم‬ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َ�ٰلِ ُ� ُم‬

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan
daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu “delapan
ekor yang berpasangan dari binatang ternak”. Dia menjadikan
kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam “tiga
kegelapan”. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Rabb
kamu, Tuan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuan selain
Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

78Mayoritas ahli menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan
wa anzala lakum min al-an’ām tsamāniyata azwāj adalah Allah
menurunkan “delapan pasang binatang ternak”. Sebuah
penafsiran yang tekstual dan dangkal karena hal itu tidak terkait
sedikit pun dengan proses penciptaan manusia. Bagaimana
mungkin binatang ternak diturunkan kepada manusia? Dari mana
binatang ternak tersebut diturunkan? Sesuatu yang irrasional.

79Secara biologis, tubuh manusia pada dasarnya sama
dengan binatang. Perbedaannya hanya terletak pada akal
pikirannya yang menjadi sub-struktur utama dari tubuh manusia.
Tubuh manusia terdiri dari delapan sistem atau sub-struktur
biologis. Delapan sistem tubuh tersebut kemudian disusun
sebagai satu kesatuan pasangan (tim) dalam tubuh manusia, yang
sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Delapan sub-sistem
biologis itulah yang disebut dengan delapan pasang binatang ternak
dalam ayat di atas. 80Secara ilmiah, delapan sub-sistem biologis
dalam tubuh manusia itu adalah:

1. Sistem Persarafan (Nerve System), yakni otak (pusat) dan saraf
(tepi).

2. Sistem Perototan (Muscle System), yakni otot dan urat.
3. Sistem Peredaran Darah (Cardio System), yakni jantung, paru,

pembuluh darah, dan ginjal.

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 253

4. Sistem Reproduksi (Regenerative System), yakni alat reproduksi
dan rahim bagi perempuan.

5. Sistem Antibodi (Glandula System), yakni sistem keamanan
dalam tubuh, seperti kelenjar limpa.

6. Sistem Pertulangan (Bone System), yakni tulang dan tulang
rawan.

7. Sistem Metabolisme (Metabolic System), yakni gigi geligi, saluran
cerna, pengolahan hingga pembuangan.

8. Sistem Indrawi (Sensoric System).
81Kedelapan sub-sistem biologis tersebut telah Allah

ciptakan sejak manusia masih dalam kandungan ibu, tahap demi
tahap. Tiga tahapan penciptaan dalam kandungan ibu itulah yang
disebut dengan tiga kegelapan, yakni nuthfah (setetes mani),
kemudian menjadi ‘alaqah (proses pembuahan sel sperma dan sel
telur, yang selanjutnya membelah menjadi miliaran sel), kemudian
menjadi segumpal daging yang sempurna (mudhgah) hingga siap
untuk dilahirkan.

82Secara ilmu pengetahuan, proses kejadian manusia
menurut embriologi terbagi dalam tiga periode, yakni:
83Pertama: Periode Zigot (Germinal Stage): periode terjadinya
pembuahan (fertilisasi) antara sel sperma dan sel telur hingga
membentuk zigot, yang selanjutnya membelah menjadi dua,
empat, delapan, hingga miliaran sel. Selama masa pembuahan
terjadi, zigot bergerak menuju kantong kehamilan kemudian
masuk dan melekat di dinding rahim. Proses ini juga disebut
dengan implantasi.
84Kedua: Periode Embrionik (Embrionic Stage): yakni masa
pembentukan organ-organ. Terkadang ada organ yang sempurna
dan ada juga yang tidak sempurna pembentukannya. Bahkan
terkadang juga terjadi keguguran jika hasil pembelahan zigot tidak
tumbuh dan berkembang secara sempurna pada dinding rahim.
Pada tahap ini, sistem dan organ dasar bayi mulai terbentuk dari
susunan sel, seperti wajah, tangan, dan kaki.

Jalan Kebenaran Universal

254 | SUNNATULLAH

85Ketiga: Periode Janin (Fetus Stage): yakni periode perkembangan
dan penyempurnaan dari organ-organ tubuh janin yang terjadi
secara bertahap hingga siap untuk dilahirkan. Pada periode fetus
ini, berlangsung sekitar 30 minggu, mulai minggu ke delapan
kehamilan sampai saat kelahiran. Pada tahap ini, tangan, wajah,
dan kaki sudah mulai terlihat bentuknya. Selain itu, otak juga telah
terbentuk dan mulai lebih kompleks dalam beberapa bulan.

86Proses tiga tahapan atau tiga kegelapan ini dapat pula
dilihat dalam Al-Quran surat Al-Hajj [22] ayat 5 sebagai berikut:
‫َ ٰٓ� َ� ُّ� َها ٱ َّ�ا ُس إِن ُكن ُت ۡم ِ� َر ۡ� ٖب ِّم َن ٱ ۡ�َ ۡع ِث فَإِنَّا َخ َل ۡق َ�ٰ ُ�م ِّمن تُ َرا ٖب‬
�َ ِّ َ‫ِّ�ُب‬ �ٰٓ‫َلُُ�� ََّّمم ُ� ِِم�َۡۚم ۡبن ُلَو ُُّغن�ُ ٓۡوِقاطْ ُّرَفأَ ٖةُِش� ُ�َّدٱَّمۡ�َ ُِم�ۡر ۡۡمَۖنحا َِومَع ِم َلنَمَقاةٖ� َُ� َُ�شم َّامٓ ُءَّم ِمإِنَنٰٓ� ُ� ُّأََتم َوَۡجضَّ ٰٖ�َلغ ٖة َُّوم ِمَُّنسَ� َّّٗل َق�ُ� ٖة ُم� ََّمو َّمَ� ُ ۡنۡ��ِ ِريُ َُجُر َ�ُّد َّل ُإَِ�ق َ ٖۡةم‬
�ٗ ‫ِط ۡف‬ ‫ٱ ۡ�َ� َض َها ِم َد ٗة‬ ‫َلِعلَ َكۡي ۡيَه َا�ٱلۡ ََ�مآۡع َءلَ َٱم ۡه َِم َّ� ۢن ۡت َ� َۡوع َرِد َ� ۡ ِعت ۡل َوٖأَ�� َب ََتش ۡ ۡ ٗ�ٔتاۚ ِم َونتَ َر ُ ِّ�ى‬ ِ‫أٱَنۡل َُزع ۡ ُم�َار‬
‫أَ ۡر َذ ِل‬ ‫َز ۡو� بَ ِهي ٖج‬
ٓ‫فَإِ َذا‬

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan,
maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan
kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di
antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu
yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan
menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 255

87Ayat ini menegaskan tiga tahapan atau tiga masa
kegelapan dari proses penciptaan manusia dalam rahim ibu
sebelum dikeluarkan atau dilahirkan sebagai bayi (kelahiran
biologis). Selanjutnya, terus mengalami pertumbuhan dan
perkembangan secara fisik dan mental hingga mencapai umur
dewasa. 88Penegasan yang sama juga disebut dalam Al-Quran
surat Al-Mu’min [40] ayat 67 berikut ini:

‫ُ� َّم‬ ‫ُ�ُُه َتۡ� َوَورِ َّ ُٰجٱ� َّ ِ�ِم ُ�نيۡم َ� ۡبِط َخُۡفلَل ٗۖ َقَو� ِ�َُ� ُۡب�َّملُم ُغِ َ� ٓو ۡباِّْملُأَ ُغن َجٓواْٗتُأَ�َراُشُّم َّٖدبَس ّٗ ُُ���َّمۡم َو ُ�َل ِمََّمع َّلن ِ َ� ُّ�ُُ�ك ۡ ۡطومنَُف َ�و ٖةاْۡع ِقُشُ�ُل ُيَّموو َ ٗنخ ِماۚ ۡنَو ِمن َع َل َُ�ق ٖةم‬
‫َّمن‬

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari
setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian
dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu
dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),
kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara
kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat
demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan
supaya kamu memahami(nya).

89Secara umum, proses kehamilan seorang perempuan juga
dibagi dalam tiga trimester. Trimester pertama, umur kandungan
nol hari sampai 14 minggu. Trimester kedua, umur kandungan 14
sampai 30 minggu, dan trimester ketiga, umur kandungan 30
sampai lahir (38-42 minggu). 90Al-Quran memberi isyarat bahwa
umur kandungan itu minimal selama enam bulan, seperti yang
diterangkan dalam surat Al-Ahqāf [46] ayat 15:
‫إِ ۡح َ ٰ� ًناۖ َ َ�لَ ۡت ُه أُ ُّم ُهۥ ُك ۡر ٗها َو َو َض َع ۡت ُه ُك ۡر ٗها‬
ۖ ‫َش ۡه ًر�ۚ َح َّ ٰٓ� إِ َذا بَلَ َغ أَ ُش َّدهُۥ َو َ� َل َغ أَ ۡر َ�عِ َ� َس َن ٗة‬ ِ‫بِ َ�ٰ ِ َ�يۡه‬ ‫ٱ ۡ ِ�� َ ٰ� َن‬ ‫َو َو َّص ۡي َنا‬
‫ثَ َ�ٰ ُثو َن‬ ‫َوفِ َ�ٰ ُل ُهۥ‬ ‫َو َ ۡ� ُل ُهۥ‬
‫َقا َل َر ِّب أَ ۡوزِ ۡع ِ ٓ� أَ ۡن أَ ۡش ُك َر نِ ۡع َم َت َك ٱ َّل ِ ٓ� َ� ۡ� َع ۡم َت َ َ َّ� َو َ َ ٰ� َ�ٰ ِ َ� َّي َوأَ ۡن‬

Jalan Kebenaran Universal

256 | SUNNATULLAH

‫أَ ۡ� َم َل َ�ٰلِ ٗحا تَ ۡر َضٮٰ ُه َوأَ ۡصلِ ۡح ِ� ِ� ُذ ّرِ َّ� ِ ٓ�� إِ ِّ� ُ� ۡب ُت إِ َ ۡ� َك � ِّ� ِم َن‬
�َ ‫ٱلۡ ُم ۡسلِ ِم‬

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada
dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdoa: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk
mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku
dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal
yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku
dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya
aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang berserah diri.”

91Ada dua informasi penting yang diterangkan ayat di atas,
pertama: masa mengandung (hamil) dan menyapih (putus
menyusui) bagi seorang ibu adalah tiga puluh bulan. Pada ayat
yang lain diterangkan bahwa masa menyusui yang ideal bagi
seorang ibu itu adalah dua tahun penuh (dua puluh empat bulan).
92Silakan perhatikan Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 233 di
bawah ini:
َ ‫أَ َرا َد‬ ‫أَ ۡو َ�ٰ َد ُه َّن‬
ۚ ‫ٱل َّر َضا َع َة‬ ‫يُتِ َّم‬ ‫أن‬ ‫لِ َم ۡن‬ ��ِ ۡ َ‫َ� ِمل‬ �ِ ۡ ‫َح ۡو َل‬ ‫يُ ۡر ِض ۡع َن‬ ‫َوٱ ۡل َ�ٰلِ َ�ٰ ُت‬

َّ ‫َ� ۡف ٌس‬ ‫تُ َ� َّل ُف‬ �َ ‫بِٱلۡ َم ۡع ُرو ِ �ف‬ ‫َو�ِ ۡس َو ُ� ُه َّن‬ ‫رِ ۡز ُ� ُه َّن‬ ‫َ ُ�ۥ‬ ‫ٱلۡ َم ۡولُو ِد‬ �َ َ ‫َو‬
�ِ‫إ‬
‫َما َُّج ُ� َنَوۥا� َ ََبِحش َوا َُوَعِ�رٖهلَِۚ ۡيۦفَ ََو ُ��َ َۡم� ُإجِ َنٱَذلااۡ َو َاحَسرِ َّل َِۡعمث َلُت ۡيمِم ِهۡث ََُّممالا‬ٞ‫َُو�ٰ�لِۡس ۡنََعكَۗأَهاَۚرَفإدَِ ُّ�ۡ�ن ۡمتُأَأَ َرَانض َدآ�ا ََّر ۡفسِ ََ�َٰ ۡ�صِ َا�ِ ًُةض ۢ�ُعبِ ٓوَاوَْعَأَ ِ� ۡنو َهَ�ٰاتَ ََدراَو َ ٖ�ُ�ض ۡمَم ِّمۡوفَلۡنَُ ُوه�د‬
ۗ
ٓ

ٞ�‫َءاتَ ۡي ُتم بِٱلۡ َم ۡع ُرو ِ �ف َوٱ َّ� ُقواْ ٱ َّ َ� َوٱ ۡعلَ ُم ٓواْ أَ َّن ٱ َّ َ� بِ َما َ� ۡع َملُو َن بَ ِص‬

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua
tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan
penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 257

kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah
karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas
keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang
lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada
Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.

93Perhatikan pula Al-Quran surat Luqmān [31] ayat 14:

�ِ ۡ ‫أََو َِنو ٱَّص ۡ ۡيش َناُك ۡٱر ۡ ِِ��� َ َٰو�لِ َ َن�ٰ ِبَِ�َ�يٰۡ ِ ََ�كيۡهِإِ َ َّ�َ َ�ٱلَلۡ ۡتَم ُه ِصأُ ُّم ُ�ُهۥ َو ۡه ًنا َ َ ٰ� َو ۡه ٖن َوفِ َ�ٰلُ ُهۥ ِ� َ� َم‬

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.

94Dengan demikian, jika total tiga puluh bulan dikurangi
masa menyusui, dua puluh empat bulan, maka masa mengandung
seorang ibu minimal selama enam bulan atau masuk umur bulan
ketujuh.

2. Hukum Ajal Manusia
95Setiap manusia akan melalui tahapan kelahiran dan

umumnya tumbuh berkembang hingga dewasa secara biologis.
Demikian halnya dengan suatu peradaban kekuasaan (Khilafah)
yang juga diawali dengan tahapan kelahiran suatu ummat dan
bangkit menjadi penguasa dunia. Namun demikian, perjalanan
kehidupan manusia akan terus berlanjut hingga suatu masa ia akan
sampai pada ajal kematiannya. 96Tidak ada satu pun manusia yang
hidup abadi, karena sudah menjadi ketetapan Dia, bahwa setiap
nafs (jiwa) pasti akan mati. Hidup dan mati adalah kesepasangan,

Jalan Kebenaran Universal

258 | SUNNATULLAH

begitu halnya dengan kelahiran dan kematian. Setiap kelahiran
manusia pasti akan berproses menuju kematiannya. Ini adalah
keniscayaan dari-Nya. Hanya saja Dia merahasiakan kapan tibanya
ajal seorang manusia.

97Sunnatullah (terkait kelahiran dan kematian) tersebut
berlaku bagi setiap manusia di mana pun dan kapan pun. Lalu
bagaimana dengan doktrin agamis yang mengatakan Nabi Isa
(Yesus) tidak meninggal dan sekarang sedang berada di atas langit
duduk di samping Allah? 98Untuk menjawabnya, silakan cerdasi
firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Anbiyā' [21] ayat 34-35
berikut ini:
‫ٱ ۡ ُ� ۡ َ�ۖ أَ َفإِيْن‬
�ُّ ُ ٣٤ ‫َ� ُه ُم ٱ ۡل َ�ٰ ِ ُ�و َن‬ ‫ِّم َّت‬ �ِ ۡ �َ ۡ ‫بِٱل َّ ِّ� َوٱ‬ ‫َو َما َج َع ۡل َنا لِبَ َ ٖ� ِّمن َ� ۡبلِ َك‬
٣٥ ‫ۖ� َ ۡ� َنا تُ ۡر َج ُعو َن‬ ‫فِ ۡت َن ٗة‬ ‫َ� ۡف ٖس َذآ�ِ َق ُة ٱلۡ َم ۡو ِ�ت َو َ� ۡب ُلو ُ�م‬

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun
sebelum kamu; maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan
kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu
dikembalikan.

99Firman Allah di atas ingin menegaskan bahwa tidak ada
satu pun manusia yang abadi atau tidak menemui kematiannya.
Sebagai bukti, jika Rasulullah Muhammad saja (akan) menemui
ajalnya, tentu saja bagi Nabi Isa juga berlaku hal yang sama.
Bahkan, Allah menegaskan kembali, bahwa “Tiap-tiap yang
berjiwa akan mati”. Ayat ini sekaligus ingin menyudahi sengketa
teologis di tengah ummat beragama tentang kematian biologis dari
Nabi Isa, meskipun Alkitab dan Al-Quran tidak menyebut kapan
kematiannya. 100Isyarat akan kematian Nabi Isa juga dapat
dipahami dari firman-Nya dalam surat Al-Māidah [5] ayat 117:
َ �ِ َ‫أَ َم ۡرت‬
‫َو ُ�ن ُت‬ ‫أََرن ِّ�َت َوٱلَر َّرَّ��ِي ُ�َ ۡبۚم‬ �َ َّ ‫ٱ‬ ْ‫ٱ ۡ� ُب ُدوا‬ ‫أ ِن‬ ‫بِهِ ٓۦ‬ ٓ‫َما‬ َّ ‫لَ ُه ۡم‬ ‫قُ ۡل ُت‬ ‫َما‬
‫َع َل ۡي ِه ۡۚم‬ �ِ‫إ‬
‫ُد ۡم ُت �ِي ِه ۡمۖ فَ َل َّما تَ َو َّ� ۡيتَ ِ� ُكن َت‬ ‫َع َل ۡي ِه ۡم َش ِهي ٗدا َّما‬

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 259

‫َوأَن َت َ َ ٰ� ُ ِّ� َ ۡ� ٖء َش ِهي ٌد‬

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang
Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Abdilah
Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi
terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka
setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala
sesuatu.

101Dalam dunia agamis, hanya kematian Nabi Isa yang
masih menjadi sengketa. Namun jika merujuk pada beberapa ayat
di atas dan sunnatullah yang berlaku pada kehidupan setiap
manusia, maka tentu saja sengketa tersebut tidak perlu
diperpanjang lagi.

102Dalam kehidupan, setiap nafs manusia memiliki ajal.
Kenapa dikatakan nafs? Karena yang menggerakkan diri manusia
dalam kehidupan ini adalah nafs-nya. Nafs yang menjadi sumber
kekuatan yang menggerakkan organ biologis manusia sekaligus
yang memerintahkan manusia untuk mencari kebutuhan fisik
biologis dan ruh spiritualnya. Jadi, manusia hidup karena memiliki
nafs. 103Beberapa ayat Al-Quran yang mempertegas hal tentang ajal
nafs manusia, di antaranya:

• 104Al-Quran surat ‘Ali-Imrān [3] ayat 185:
‫أُ ُجو َر ُ� ۡم يَ ۡو َم ٱ ۡلقِ َ�ٰ َمةِ� َ� َمن ُز ۡحزِ َح‬
ِ‫ٱ ۡل ُغ ُرور‬ ‫َم َ�ٰ ُع‬ َّ ٓ‫ٱ ُّ� ۡ� َيا‬ ‫ٱ ۡ َ� َي ٰو ُة‬ ‫� َّ� َما تُ َو َّف ۡو َن‬ ‫َوَذأُآ ۡ�دِ َق ِخُة َلٱلۡٱ َم ۡۡو َ� َّنِ�تَة‬ ‫ُ ُّ� َ� ۡف ٖس‬
�ِ‫إ‬ ‫َ� َق ۡد َفا َزۗ َو َما‬ ِ‫َع ِن ٱ�َّار‬

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan ganjaranmu. Barang
siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak
lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

• 105Al-Quran surat Al-Ankabūt [29] ayat 57:

‫ُ ُّ� َ� ۡف ٖس َذآ�ِ َق ُة ٱلۡ َم ۡو ِت� ُ� َّم إِ َ ۡ� َنا تُ ۡر َج ُعو َن‬

Jalan Kebenaran Universal

260 | SUNNATULLAH

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian
hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

• 106Al-Quran surat Al-Munāfiqūn [63] ayat 11:

‫َو َلن يُ َؤ ِّخ َر ٱ َّ ُ� َ� ۡف ًسا إِ َذا َجآ َء أَ َج ُل َهاۚ َوٱ َّ ُ� َخبِ ُ�ۢ بِ َما َ� ۡع َملُو َن‬

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian)
seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah
Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

107Dari beberapa penegasan ayat di atas, sangat jelas bahwa
ajal (batas umur) manusia atau kematian adalah proses akhir dari
perjalanan kehidupan biologis setiap manusia di muka bumi,
tanpa terkecuali. Baik mereka yang mu’min-muslim maupun
mereka yang kafir-musyrik, seluruhnya akan mengalami kematian
biologis. 108Namun, kelahiran rohani (spiritual) atau kelahiran
kedua hanya dialami oleh mereka yang telah mengikat perjanjian
setia menjadi manusia yang beriman (mu’min) kepada Allah, Sang
Tuan Sejati ummat manusia. Idealnya, kematian biologis manusia
mu’min sekaligus menjadi kematian rohaninya dan selanjutnya ruh
qudus yang berdiam dalam kesadaran seorang mu’min selama
hidupnya akan kembali kepada Sang Pemilik Ruh Qudus.

109Tegasnya, proses tahapan kelahiran biologis manusia
sejatinya diikuti dengan tahapan kelahiran rohani dan akan terus
berproses menuju ajal kematiannya. Dalam kehidupan manusia,
ada manusia yang wafat sebelum mencapai umur dewasa, ada
yang wafat saat telah mencapai umur dewasa, ada yang sampai
pada umur tua, dan ada juga yang wafat pada usia senja (pikun).
Demikianlah tradisi Allah (sunnatullah) pada ajal manusia.

B. SUNNATULLAH PENEGAKAN KHILAFAH (KERAJAAN
ALLAH)
1. Qiyamah; Kebangkitan Ummat Islam
1Dalam menyadarkan manusia tentang akan terjadinya hari
kebangkitan atau yaum al-qiyāmah, Allah selalu menggunakan
kemampuan-Nya dalam menghidupkan yang mati dan mematikan

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 261

yang hidup (QS. Ar-Rūm [30]: 19). 2Istilah yaum al-qiyāmah dalam
Al-Quran mengandung dua makna, yaitu kebangkitan ummat dan
kebangkitan manusia setelah mati.

3Paham manusia terkait istilah kiamat (qiyāmah) sekarang ini
sudah salah kaprah, terjadi pergeseran makna yang begitu jauh
berbeda dari makna asalnya. Kiamat dalam Bahasa Indonesia dan
paham agamis diartikan dengan kehancuran, sedangkan qiyāmah
dalam bahasa Al-Quran berarti kebangkitan. 4Untuk itu mari kita
perhatikan beberapa ayat Al-Quran tentang qiyāmah (dalam ayat
lain dikatakan ba’ats; kebangkitan) dalam konteks kebangkitan
Ummat Islam, yakni Kekuasaan atau Daulah Islam.

• 5Al-Quran s‫ۦ‬uِ‫ه‬rِ‫ت‬aٰ�َ t‫ َءا‬A‫ۡم‬l-‫ ِه‬J‫ ۡي‬uَ‫ل‬m‫ َع‬uْ‫’وا‬a‫ت ُل‬hۡ �َ [‫ۡم‬6‫ُه‬2‫ ِّم]ۡن‬a�yaٗ ‫و‬t‫ ُس‬2‫ َر‬: ‫ٱ ۡ ُ� ِّم ِّ ۧ� َن‬ ‫َ� َع َث‬ َّ ‫ُه َو‬
‫ٱ ِ�ي‬
‫َو ُ� َز ّ�ِي ِه ۡم‬ �ِ
�ٖ ِ‫َو ُ� َع ّلِ ُم ُه ُم ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ�ِ ۡك َم َة �ن َ�نُواْ ِمن َ� ۡب ُل َل ِ� َض َ�ٰ ٖل ُّمب‬

Dialah Allah yang membangkitkan Rasul dari bangsa yang
ummi dari bangsa itu sendiri, yang mengajarkan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, mengajarkan kepada
mereka kitab dan kebijaksanaan, sungguh sebelumnya mereka
berada pada jalan yang sesat.

• 6Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 14: ‫قَا َل أَن ِظ ۡر ِ ٓ� إِ َ ٰ� يَ ۡو ِم ُ� ۡب َع ُثو َن‬

Iblis menjawab: “Berilah kesempatan kepadaku sampai hari
mereka dibangkitkan.”

7Kata Iblis disematkan kepada manusia-manusia yang
merasa lebih mulia, sehingga tidak mau tunduk (sujud) kepada
manusia pilihan (Nabi Adam) yang dijadikan wakil (khalifah)
Allah di bumi. Sebuah sifat yang juga dimiliki oleh Abu Jahal pada
zaman Nabi Muhammad. Selama kekuasaan Mekah (kafir-
musyrik) masih ada, ancaman dan tindak kekerasan bagi orang-
orang beriman akan selalu datang silih berganti. Namun, tatkala
Rasulullah Muhammad dan para pengikutnya berhasil

Jalan Kebenaran Universal

262 | SUNNATULLAH

menundukkan Mekah –dan tegaknya Madinah, pasukan Iblis tidak
lagi mempunyai daya untuk menipu orang-orang beriman.

8Istilah ba’ats atau qiyāmah artinya bangkit atau tegaknya
Kerajaan Allah di muka bumi, yaitu Madinah Al-Munawarah.
Kebangkitan Madinah menandakan hancurnya kekuasaan Mekah.
Bagi mu’min, qiyāmah adalah kebangkitan, yakni kemenangan
Madinah dan kegembiraan bagi orang-orang beriman. Sebaliknya,
bagi orang-orang kafir, qiyāmah merupakan kesedihan dan
kehancuran. Jadi, arti qiyāmah sangat tergantung dari konteks
kalimat dan sudut pandang orang yang melihatnya. 9Simak Al-
Quran surat Az-Zumar [39] ayat 67 berikut ini:

‫َو َما قَ َد ُرواْ ٱ َّ َ� َح َّق قَ ۡدرِهِۦ َوٱ ۡ�َ� ُض َ�ِي ٗعا َ� ۡب َض ُت ُهۥ يَ ۡو َم ٱ ۡل ِق َ�ٰ َم ِة‬
‫َوٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ُت َم ۡطوِ َّ�ٰ ُ ۢت �ِ َي ِمينِهِۚۦ ُس ۡب َ�ٰ َن ُهۥ َوتَ َ�ٰ َ ٰ� َ� َّما � ُ ۡ ِ� ُ�و َن‬

Dan mereka (orang-orang yang menolak Islam) tidak
memuliakan Allah dengan sebenar-benarnya kemuliaan, dan
bumi (manusia) seluruhnya berada di tangan Allah pada hari
kebangkitan, dan langit (pemimpin-pemimpin Mekah) digulung
dengan tangan kanannya (Ashhābul Yamīn; golongan kanan;
ummat Islam), Maha suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa
yang mereka jadikan sekutu.

10Kata mereka dimaknai sebagai orang-orang yang menolak
(Din) Islam, yaitu penduduk Mekah. Kata kafir disematkan kepada
orang-orang musyrik Mekah yang memerangi orang-orang
beriman dan berjihad menegakkan Islam dengan pusat
pemerintahannya di Madinah.

11Istilah ardh (bumi) maksudnya adalah sekumpulan
manusia yang mendukung perjuangan Rasulullah Muhammad,
baik yang ada di Yatsrib maupun di Mekah, semuanya sudah
berada di tangan Allah dan Rasul-Nya. 12Istilah “tangan kanan
Allah” tentu saja bukan berarti Allah memiliki organ tubuh
berupa tangan, melainkan ungkapan simbolik dari “kekuasaan
Allah”. 13Orang-orang beriman yang menjadi anshārullah; pembela-
pembela Allah, disebut sebagai ashhābul yamīn (QS. Al-Wāqi'ah

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 263

[56] ayat 27, 38, 39, dan 40). Tsullatun minal awwalīn; segolongan
besar orang-orang terdahulu (ayat 39) maksudnya adalah
mayoritas pendukung Nabi dalam periode awal Makkiyah. Dan
tsullatun minal ākhirīn; segolongan besar orang-orang kemudian
(ayat 40) adalah pendukung Nabi yang merupakan mayoritas dari
periode Madaniyah.

14Surat Al-Wāqi'ah [56] termasuk surat yang diturunkan
pada fase Makkiyah, masa ketika kaum mu’min sedang ditindas
habis-habisan. Namun, Allah hendak memberikan informasi
tentang nasib orang-orang beriman pada periode akhir
(Madaniyah), yaitu kemenangan yang akan diraih oleh orang-
orang beriman. Jika orang-orang beriman yakin akan janji Allah,
maka berita gembira (mubasyirin) itu akan menjadi ruh (semangat)
yang amat dahsyat bagi perjuangan mujahid.

15Ardh (bumi) adalah bentuk amsal dari masyarakat yang
dipimpin, dan samāwāt (langit) adalah simbol atau amsal dari para
pemimpin yang berada di atas. Jika bumi –sebagai pijakan langit,
sudah berganti menjadi bumi yang lain, maka langit akan runtuh.
Demikianlah yang akan terjadi ketika ummat Islam; kekuasaan
Islam; dan Hukum Islam sudah bangkit atau qiyām pada ibu kota
yang terkenal dengan istilah Futuh Mekah itu. 16Perhatikan firman
Allah dalam Al-Quran surat Ibrāhīm [14] ayat 48:
َۡ ‫ٱ ۡ َ�� ُض‬
ِ‫ٱ ۡل َق َّهار‬ ‫ٱ ۡل َ�ٰ ِح ِد‬ ِ�َّ ِ ْ ‫َو َ� َر ُزوا‬ ۖ‫َوٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ُت‬ ‫ٱ�� ِض‬ �َ ۡ �َ ‫ُ� َب َّد ُل‬ ‫يَ ۡو َم‬

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain
dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya berkumpul
menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

17Perhatikan pula surat Az-Zumar [39] ayat 68:
َۡ
‫َشآ َء‬ ‫َمن‬ َّ ‫ٱ�� ِض‬ �ِ ‫ِ� ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت َو َمن‬ ‫َمن‬ ‫فَ َصعِ َق‬ ِ‫َونُ ِف َخ ِ� ٱل ُّصور‬
�ِ‫إ‬ ‫م يَن ُظ ُرو َن‬ٞ ‫ُه ۡم �ِ َيا‬ ‫َفإِ َذا‬ ‫أُ ۡخ َر ٰى‬ ِ‫ٱ َّ ُ�ۖ ُ� َّم نُ ِف َخ �ِيه‬

Dan ditiuplah terompet, maka pingsanlah siapa-siapa yang
berada di langit dan juga siapa-siapa yang ada di bumi, kecuali

Jalan Kebenaran Universal

264 | SUNNATULLAH

orang yang dikehendaki oleh Allah. Maka tatkala tiupan
terompet yang kedua, tiba-tiba mereka berdiri menanti.

18Sebelum pasukan mujahid yang berada di bawah
komando Allah dan Rasul-Nya masuk dan merebut Ibu Kota
Mekah, mereka terlebih dahulu mengatur strategi. Kedatangan
tentara Islam yang berjumlah 12.000 orang dengan peralatan
canggih (pada saat itu), membuat mata orang-orang Mekah
terbelalak dan merasa takut (sha’iqa; pingsan) menyadari bahwa
Tentara Islam akan menuntut balas atas perlakuan jahat mereka
selama ini. Sejak saat itu, warga Mekah maupun pemimpinnya
tidak berdaya bagaikan orang mati (menyerah). 19Tiupan terompet
yang kedua adalah ultimatum Rasulullah Muhammad kepada
warga musyrik Mekah untuk menyerah tanpa melawan. Amnesti
itu diberikan dalam waktu empat bulan (QS. At-Tawbah [9]: 1-4).
Menyikapi ultimatum Rasulullah Muhammad, sebagian besar
warga Mekah melapor kepada pasukan mu’min, kemudian mereka
dikumpulkan di lapangan untuk menunggu hisab (keputusan
pengadilan Rasulullah). Adapun orang-orang yang mendapat
pengecualian adalah mereka yang sudah membuat perjanjian
terlebih dahulu terhadap Rasulullah Muhammad dan mereka tidak
pernah berbuat jahat terhadap orang-orang Madinah. 20Simak
firman Allah selanjutnya dalam Al-Quran surat Az-Zumar [39]
ayat 69:
‫َوأَ ۡ َ� َق ِت ٱ ۡ�َ� ُض بِ ُنورِ َر ّ�ِ َها َو ُو ِض َع ٱ ۡل ِك َ�ٰ ُب َو ِجاْ ٓي َء بِٱ�َّبِ ِّ�ۧ َن‬
‫ُ� ۡظ َل ُمو َن‬ َ ‫بِٱ ۡ َ� ِّق‬ �َ ِ ‫َو ُق‬ ‫َوٱل ُّش َه َدآ ِء‬
� ‫َو ُه ۡم‬ ‫بَ ۡي َن ُهم‬

Dan bumi akan bersinar dengan cahaya Rabbnya dan diletakkan
kitab, kemudian datanglah para Nabi dan para saksi dan
diputuskanlah perkara mereka dengan adil (di Mahkamah
Madinah), dan mereka tidak akan dizalimi.

21Setelah Futuh Mekah, dunia kembali terang dengan
adanya cahaya Allah, yaitu Madinah Al-Munawarah; Khilafah
Allah; Kerajaan Allah yang cemerlang. Sejak saat itu, corak
peradaban dunia berubah total –ke arah yang lebih baik. Ideologi
manusia yang dikemas dalam budaya nasional bangsa-bangsa

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 265

sedikit demi sedikit memudar. Paganisme, kepercayaan terhadap
berhala, takhayul, dan legenda orang-orang sakti atau suci –yang
diciptakan oleh raja-raja feodal untuk mendukung legitimasi
kekuasaan mereka, pun runtuh.

22Sudah menjadi kebiasaan para penguasa dunia untuk
menarik simpati dan dukungan massal manusia terhadap suatu
dinasti kekuasaan, secara sistematis mereka menciptakan berbagai
bentuk mitos (seperti titisan dewa, anak dewa, orang sakti, benda-
benda keramat, kata-kata bertuah, silsilah, dan lain sebagainya).
23Dengan bersinarnya Cahaya Allah, dunia yang semula gelap
menjadi terang dan semua kepalsuan terbongkar. Dalam bahasa
Al-Quran dikatakan bahwa berhala-berhala itu runtuh ketika Nabi
Muhammad masuk ke dalam Bait Allah setelah jatuhnya Mekah
ke tangan tentara Islam. 24Sembari membersihkan gambar dan
berbagai atribut keagamaan dan kepercayaan suku-suku yang
bergabung dalam Hilful Fudhul (lembaga persatuan nasionalis
Arab) yang ada di dinding Ka’bah, Rasulullah Muhammad berseru
sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Isrā' [17] ayat
81 berikut ini:

‫َوقُ ۡل َجآ َء ٱ ۡ َ� ُّق َو َز َه َق ٱ ۡل َ�ٰ ِط ُل ۚإِ َّن ٱ ۡل َ�ٰ ِط َل َ� َن َز ُهو ٗقا‬

Apabila datang yang haq maka sirnalah kebatilan, karena yang
batil itu hanyalah tipu daya.

25Sejak periode Makkiyah, orang-orang beriman sudah
diajari oleh Nabi Muhammad untuk masuk ke dalam jemaah dan
pada shaff tertentu, bahkan tidak ada seorang pun dalam jemaah
yang lepas dari perhatian warga jemaah lainnya. Setelah hijrah,
setiap seorang Muhajir dipasangkan (dipersaudarakan) dengan
seorang Anshar. Kedua orang yang dipasangkan tersebut harus
saling tolong-menolong antara satu dengan lainnya, bahkan Nabi
memberi tolok ukur bahwa tidaklah termasuk orang beriman
sampai dia benar-benar menyayangi saudaranya seperti
menyayangi dirinya sendiri. 26Begitu lekatnya persaudaraan mereka
sehingga setiap orang dapat diketahui segala amal perbuatannya.
Karenanya, setelah kemenangan Mekah, tidak sulit bagi Rasulullah

Jalan Kebenaran Universal

266 | SUNNATULLAH

Muhammad untuk mengetahui jasa-jasa orang-orang beriman
kepada tegaknya Kekuasaan Islam kala itu. 27Perhatikan firman
Allah dalam Al-Quran surat Az-Zumar [39] ayat 70-72 berikut ini:
‫أَ ۡع َل ُم بِ َما‬
‫ َو ِسي َق ٱ َّ ِ�ي َن‬٧٠ ‫َ� ۡف َع ُلو َن‬ ‫َجآ ُءو َها‬ ‫َّما َع ِملَ ۡت َو ُه َو‬ ‫َ� ۡف ٖس‬ �ُّ ُ ‫َو ُو ّ�ِ َي ۡت‬
‫ُفتِ َح ۡت َ�بۡ َ�ٰ ُ� َها َو َقا َل لَ ُه ۡم‬ ‫ُز َم ًر�ۖ َح َّ ٰٓ� إِ َذا‬ ‫َج َه َّن َم‬ �ٰ َ ِ‫إ‬ ْ‫َ� َف ُر ٓوا‬
‫ل ِّمن ُ� ۡم َ� ۡت ُلو َن َع َل ۡي ُ� ۡم َءا َ�ٰ ِت َر ّ�ِ ُ� ۡم‬ٞ ‫َخ َز َ� ُت َهآ َ�لَ ۡم يَأۡتِ ُ� ۡم ُر ُس‬
‫َو ُ�ن ِذ ُرونَ ُ� ۡم لِ َقآ َء يَ ۡو ِم ُ� ۡم َ�ٰ َذ�ۚ قَالُواْ بَ َ ٰ� َو َ�ٰ ِ� ۡن َح َّق ۡت َ�ِ َم ُة‬
ۖ‫ �ِي َل ٱ ۡد ُخ ُل ٓواْ َ�بۡ َ�ٰ َب َج َه َّن َم َ�ٰ ِ ِ�ي َن �ِي َها‬٧١ ‫ٱ ۡل َع َذا ِب َ َ� ٱ ۡل َ�ٰ ِفرِ� َن‬
٧٢ ‫فَبِ ۡئ َس َم ۡث َوى ٱلۡ ُم َت َك ِّ ِ�� َن‬

Tiap-tiap orang dibayar penuh sesuai dengan jasa yang telah
diberikan karena Allah dan Rasul-Nya memahami benar apa
yang dilakukan (oleh para mujahid itu). Dan orang-orang yang
memusuhi revolusi Islam itu digiring ke neraka secara
berkelompok, sampai tatkala mereka tiba di sana, dibukalah
pintu-pintunya dan penjaganya bertanya: “Tidakkah telah
datang Rasul-Rasul kepadamu dari bangsamu sendiri dan
membacakan ayat-ayat Rabb kamu dan juga memberi
peringatan tentang hari pertemuanmu dengan hari ini?” Mereka
berkata: “Ya, tetapi benar keputusan hukuman telah diputuskan
untuk mereka.” Dikatakan kepada mereka: “Masukilah pintu-
pintu jahannam itu dan tinggallah kamu di sana. Sungguh buruk
sekali tempat tinggal manusia-manusia yang sombong.”

28Ummat Islam bukanlah ummat pendendam dan bukan
pula ummat yang suka memaksa. Mutakabbir (orang-orang yang
sombong) ditempatkan dalam kondisi yang buruk bukan karena
keinginan Allah dan Rasul-Nya. Sejak awal, orang-orang beriman
sudah memberi peringatan kepada mereka dengan cara yang
sangat halus. Walaupun Rasul Allah dan para pengikutnya
bermaksud menolong dan menyelamatkan orang-orang yang
sombong (kafir-musyrik) dari azab Allah, orang-orang beriman
justru diteror, dicaci maki, difitnah, dan diembargo, bahkan ada

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 267

yang dibunuh. Namun, orang-orang beriman tidak membalas
perbuatan keji mereka.

29Pasca Futuh Mekah, apa yang diperingatkan Allah melalui
Rasul-Nya menjadi kenyataan, dan itu adalah akibat perbuatan
mereka sendiri. Tidak seharusnya manusia mengatakan bahwa
Islam mengajarkan balas dendam, karena dalam hal ini Allah dan
Rasul-Nya hanya memberikan kehidupan jahannam kepada
orang-orang sombong yang menghendakinya. 30Adapun orang-
orang beriman mendapatkan tempat sesuai dengan apa yang telah
mereka perbuat, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat
Az-Zumar [39] ayat 73 di bawah ini:
‫ٱ ۡ َ� َّنةِ ُز َم ًر�ۖ َح َّ ٰٓ� إِ َذا َجآ ُءو َها َو ُفتِ َح ۡت‬
‫َع َل ۡي ُ� ۡم ِط ۡب ُت ۡم َفٱ ۡد ُخ ُلو َها َ�ٰ ِ ِ�ي َن‬ َ ‫َر َّ� ُه ۡم‬ ْ‫ٱ َّ� َق ۡوا‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ ‫َو ِسي َق‬
�ِ‫إ‬ ‫َ�بۡ َ�ٰ ُ� َها‬
‫َو َقا َل لَ ُه ۡم َخ َز َ� ُت َها َس َ�ٰ ٌم‬

Dan orang-orang yang patuh kepada Allah dan Rasul-Nya
secara berkelompok diberikan tempat di taman kehidupan
indah, maka tatkala mereka sampai, dengan segala hormat
dibukakan pintu-pintunya, dan dikatakan kepada mereka:
“Selamat atas kamu semua, berbahagialah dan masuklah kalian
ke dalamnya untuk bertinggal.”

31Hari kemenangan Rasul Allah atas Mekah menandai tegak
atau bangkitnya (yaum al-qiyāmah) Kerajaan Allah; Madinah al-
Munawarah. Wajar apabila terdapat perbedaan perlakuan dan
derajat bagi pihak yang memenangi peperangan dan bagi pihak
yang kalah perang. 32Sesuai hukum perang, setelah peperangan
antara kedua pihak usai, pihak yang menang akan mengadili
dan/atau mengeksekusi pihak yang kalah dan para penjahat
perang. Bagi mereka yang taslim (tunduk patuh; menyerah)
sebelum batas waktu amnesti habis, dipersilakan kepada mereka
untuk menjadi penghuni jannah Allah tetapi tidak memiliki hak
yang sama dengan orang-orang yang sejak awal mendukung
perjuangan para mujahid. 33Allah dan Rasul-Nya tidak memaksa
mereka untuk meninggalkan din (agama) mereka yang lama. Di
hadapan hukum, mereka diperlakukan secara adil, bahkan para
kafir dzimni tidak diwajibkan untuk ikut dalam dinas militer. Yang

Jalan Kebenaran Universal

268 | SUNNATULLAH

menjadi tuntutan atas mereka adalah, jadilah warga Kerajaan Allah
yang baik, patuh kepada hukum yang berlaku dalam Kerajaan
Allah. 34Selanjutnya, simak firman Allah dalam Al-Quran surat
Az-Zumar [39] ayat 74-75:
‫ٱ ۡ َ� َّن ِة‬ ُ‫نَتَ َب َّوأ‬ ‫ٱ ۡ َ�� َض‬ ‫َوأَ ۡو َر َ� َنا‬ ‫ٱ ۡ َ� ۡم ُد‬
‫ِم َن‬ ‫َو ۡع َدهُۥ‬ ‫َص َد َ� َنا‬ َّ ِ�َّ ِ ْ‫َوقَالُوا‬
‫ٱ ِ�ي‬
‫ َوتَ َرى ٱلۡ َم َ ٰٓ��ِ َك َة َحآ ّفِ َ� ِم ۡن َح ۡو ِل‬٧٤ �َ ِ‫َح ۡي ُث � َ َشآ ُءۖ َفنِ ۡع َم أَ ۡج ُر ٱ ۡل َ�ٰ ِمل‬
‫ٱ ۡل َع ۡر ِش � ُ َس ّبِ ُحو َن ِ�َ ۡم ِد َر ّ�ِ ِه ۡۚم َو ُق ِ َ� بَ ۡي َن ُهم بِٱ ۡ َ� ِّ �ق َو�ِي َل ٱ ۡ َ� ۡم ُد ِ َّ�ِ َر ِّب‬
٧٥ �َ ‫ٱ ۡل َ�ٰ َل ِم‬

Para penghuni jannah Allah itu berkata: “Segala puji hanya
kepada Allah yang telah menepati janji, yaitu yang mewariskan
kepada kami bumi ini sebagai taman/kebun yang dapat kami
tempati di manapun kami mau.” Sungguh ni’mat ganjaran yang
diberikan Allah kepada para pejuang. Dan kamu melihat para
hamba Allah itu sibuk mengurus Kerajaan Allah sambil
melaksanakan tugas suci dari Rabb mereka. Dan segalanya
diatur dengan aturan yang benar, dan mereka berkata: “Segala
puji hanya untuk Allah, Pemelihara seluruh alam.”\

35Demikianlah cara Allah, Tuan Semesta Alam,
mengajarkan ilmu tentang prinsip-prinsip penciptaan satu
komunitas ummat manusia melalui bahasa akwan (alam). Dalam
sebuah komunitas manusia, ada komponen yang berfungsi sebagai
“bumi” dan sebagai “langit”. 36Agar menjadi sebuah kebun atau
taman yang indah, bumi yang gersang (mati) harus disiram air dari
langit. Anginlah yang menggiring air yang ada di langit ke tempat
yang tandus atas perintah Rabbnya. Tatkala kadar awan sudah
sarat dengan air, turunlah hujan dan menyiram bumi yang mati –
tetapi mengandung unsur tanah yang baik, kemudian tumbuhlah
berbagai macam tanaman. 37Perhatikan firman Allah dalam Al-
A’rāf [7] ayat 57 yang berbunyi:
‫َفَرأَۡ َ�ۡختِ َرهِۖ ۡۦج َنا َحبَِّهِٰٓ�ۦإِ َذِمآنأَقَ َُّل ِّ� ۡتٱ�ََّس َم ََح�ٰا ٗ�ِ �ات‬
‫يَ َد ۡي‬ �َ ۡ �َ �ۢ�َ ۡ ُ� ‫ٱل ّرِ َ�ٰ َح‬ ‫يُ ۡر ِس ُل‬ َّ ‫َو ُه َو‬
‫ٱلۡ َمآ َء‬ ِ‫فَأَن َز ۡ�َا بِه‬ ‫َّم ّيِ ٖت‬ ‫ٱ ِ�ي‬

�ٖ َ �َ ِ ‫ثِ َقا ٗ� ُس ۡق َ�ٰ ُه‬

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 269

‫َك َ�ٰلِ َك ُ ۡ� ِر ُج ٱلۡ َم ۡو َ ٰ� لَ َع َّل ُ� ۡم تَ َذ َّك ُرو َن‬

Dialah Allah yang mengutus angin yang menghembuskan
informasi gembira akan kedatangan rahmat-Nya, hingga tatkala
angin yang meniupkan awan itu sarat dengan kadar air, Kami
arahkan ke tanah yang gersang lalu Kami turunkan air di sana,
kemudian Kami keluarkan dari tanah itu berbagai macam
pohon buah-buahan. Demikianlah Kami menghidupkan yang
mati agar kalian menyadarinya.

38Penjelasan fragmentasi ayat tersebut di atas terkait
kehidupan ummat manusia, penjelasannya demikian: Dialah Allah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa wahyu sebagai berita
gembira bagi manusia. Tatkala Rasul (Pembawa wahyu) itu sudah
sarat dengan wahyu, diajarkannyalah kepada bangsa yang mati
(bangsa yang sesat; dhalalah, jahiliyah; ummi). Dari kaum yang
demikian itu lahirlah satu masyarakat yang beradab, yaitu bangsa
yang hidup berdasarkan hukum Allah (masyarakat madani).

2. Tradisi Rasul Allah dalam Penegakan Kerajaan Allah
39Hal penting yang harus selalu kita ingat bahwa setiap

kebangkitan seorang Rasul atau setiap kali diutusnya seorang
Rasul oleh Allah ke muka bumi adalah masa-masa yang sangat
berat bagi penduduk bumi. Dibangkitkan-Nya seorang Rasul pada
setiap kaum pada zamannya bertugas sebagai mubāsyirīn wal
mundzirīn; pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
40Jelasnya, Rasul Allah bertugas untuk menghibur atau memberi
kabar gembira kepada ummat manusia yang mengimani berita-
berita gaib di satu sisi, dan memberi peringatan keras kepada
orang-orang yang tidak mengimani berita-berita gaib di sisi
lainnya.

41Dibangkitkan-Nya seorang Rasul –sebelum Allah
menjatuhkan azab-Nya kepada suatu bangsa yang sudah sejak
lama berlaku zalim, dimaksudkan untuk memberikan waktu
kepada manusia untuk bertobat dan kembali kepada Jalan
Kebenaran. Allah tidak membiarkan begitu saja kezaliman yang

Jalan Kebenaran Universal

270 | SUNNATULLAH

dilakukan oleh suatu bangsa. Namun, sebelum sa’ah yang telah
ditentukan-Nya tiba, Allah tidak akan menjatuhkan azab-Nya.

42Mereka yang sadar atas kezalimannya akan diampuni
segala kesalahannya. Apabila sampai batas waktu yang telah
ditetapkan melalui Rasul-Nya, tetapi mereka belum menyatakan
keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka bangsa atau
kekuasaan yang zalim itu akan ditenggelamkan oleh Allah.

43Hari ini, kondisi mereka yang menyebut dirinya ummat
Islam sangat jauh tertinggal dari bangsa-bangsa non-muslim.
Namun, hal tersebut bukanlah untuk disesali secara berlebihan
sehingga kita kehilangan semangat dan kemampuan untuk
mewujudkan peradaban Islam; rahmat bagi semesta alam.
Kemunduran peradaban dunia Islam tidak terlepas dari wujud
operasi sunnatullah; pergantian atau pergiliran kekuasaan dari
kekuasaan batil kepada kekuasaan haq. 44Di antara unsur penting
hukum kehidupan ialah:

45Pertama, adanya prinsip ajal; batas waktu. Perhatikan Al-
Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 34:
‫� َ ْس َتأْ ِخ ُرو َن‬ ‫أَ َج ُل ُه ْم‬ ‫أَ َج ٌل‬ ‫أُ َّم ٍة‬
‫� َ ْس َت ْق ِد ُمو َن‬ �َ ‫َو‬ ‫َسا َع ًة‬ َ ‫َجا َء‬ ‫فَإِ َذا‬ �ِّ ُ ِ‫َول‬


Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah
datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

46Kedua, unsur penting lainnya adalah prinsip azwaj;
kesepasangan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat
Yā Sīn [36] ayat 36:
‫َ� ْ� ُف ِس ِه ْم‬ ‫ا ْ�َ ْر ُض‬ ‫ا ْ َ� ْز َوا َج‬
‫َو ِم ْن‬ ‫تُنْبِ ُت‬ ‫ِم َّما‬ ‫ُ�َّ َها‬ ‫َخ َل َق‬ َّ ‫ُسبْ َحا َن‬
‫ا ِ�ي‬

‫َ� ْعلَ ُمو َن‬ َ ‫َو ِم َّما‬


Maha Suci Tuan yang telah menciptakan pasangan-pasangan
semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 271

47Dan ketiga, prinsip mudawalah; pergiliran. Simak Al-Quran
surat 'Ali-Imrān [3] ayat 140:

�َ ْ �َ ‫َ� ْم َس ْس ُ� ْم قَ ْر ٌح َ� َق ْد َم َّس الْ َق ْو َم قَ ْر ٌح ِمثْلُ ُه َوتِلْ َك ا ْ َ�يَّا ُم نُ َداوِلُ َها‬
‫ا�َّا ِس َو ِ َ� ْع َل َم ا َّ ُ� ا َّ ِ�ي َن َءا َم ُنوا‬

Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir)
itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan
kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar
mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan
orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) .

48Prinsip mudawalah adalah prinsip yang menggariskan
bahwa nasib ummat manusia; tinggi dan rendah, berkuasa dan
dijajah, terjadi secara bergilir antara mereka sesuai batas waktu
yang telah ditentukan oleh Allah, sehingga suatu bangsa atau
ummat ada kalanya berada di atas dan juga ada kalanya berada di
bawah.

49Al-Quran sudah membentangkan berbagai fakta
pergiliran nasib ummat manusia sejak zaman Nabi Adam hingga
Nabi Muhammad –dan kita hari ini, yang tecermin lewat kisah-
kisah dalam Al-Kitab; Taurat, Injil, dan Al-Quran, sebagai sumber
kesaksian sejarah. Artinya, Kitab-Kitab Allah merupakan
kesaksian sejarah yang sebenarnya bagi ummat Islam –juga bagi
perjalanan panjang ras manusia. Seluruh kisah sejarah para Nabi
dan Rasul Allah serta orang-orang yang melawannya patut
dijadikan cermin bagi orang orang beriman hari ini.

50Kisah para Nabi dan Rasul dalam Kitab-Kitab Allah
merupakan pembahasan sejarah peradaban yang luas dan
mendalam, kisah masa lalu manusia yang nyata. Kitab Suci
mengisahkan bangsa-bangsa yang pernah jaya pada masa lalu,
sekaligus memberikan gambaran berbagai penyebab kejatuhannya.
51Melihat ke masa lalu adalah keniscayaan, baik yang berhubungan
dengan kita maupun kemanusiaan secara umum. Selanjutnya kita
menggunakan akal dalam memperkaya cakrawala pemikiran dan
membuka pandangan kita. Mata fisik dan batin harus kita buka

Jalan Kebenaran Universal

272 | SUNNATULLAH

lebar-lebar melalui perspektif Kitab Suci dan ilmu sejarah yang
telah terbukti kesahihannya. Kita wajib memahaminya sebagai
pelaksanaan perintah dan penugasan (taklif) dari Allah Sang
Pengatur hidup dan kehidupan.

52Sekarang ini, penilaian sebagian besar orang terhadap
kebenaran begitu sempit dan subjektif. Terbukti dengan masih
adanya anggapan (doktrin) yang keliru, misalnya, bahwa Al-Quran
hanyalah “milik” orang-orang Arab; merekalah yang paling
memahaminya. Doktrin keliru lainnya adalah anggapan bahwa
universalitas Al-Quran belum dimanifestasikan, padahal
sesungguhnya hal itu merupakan kewajiban setiap orang beriman.
53Menggunakan universalitas Al-Quran dengan perspektif
kesukuan dan sektarianisme merupakan kesalahan yang fatal,
terlebih jika diterapkan dalam kondisi pemerintahan yang zalim.

Seputar Doktrin “Nabi dan Rasul Penutup”
54Al-Quran mengisahkan bahwa Bani Israel (pada zaman

Nabi Yusuf) mengatakan tentang tidak akan adanya lagi Nabi dan
Rasul sesudah Yusuf. Karenanya, tatkala Rasulullah Musa datang
400 tahun setelah Yusuf, Bani Israel jelas-jelas menolak
kerasulannya. Mereka menyangka Musa membawa syariat yang
baru, sedangkan Bani Israel selama 400 tahun (hidup berdasarkan
ajaran) terikat kepada Yusuf. Mereka memfigurkan Yusuf sebagai
Nabi dan Rasul Allah, karena mereka terkait dan terikat syahadat
kepada Yusuf: Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Yusuf
Rasūlullāh. 55Oleh sebab itu, ketika Rasulullah Musa berkata: Yā
ayyuhā an-nās, innīy Rasūlullāh ilaykum jamī’an alladzī lahu mulku as-
samāwāti wa al-ardhi; “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai
kerajaan langit dan bumi” (QS. Al-A’rāf [7]: 158), sebagian besar
orang Bani Israel menolaknya meskipun mereka tahu bahwa
perkataan Musa adalah benar adanya. Falammā zāghū azāgha allāhu
qulūbahum, wallāhu lā yahdiy al-qauma al-fāsiqīn, maka tatkala mereka
berpaling Allah memalingkan qalbu mereka, dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq (QS. Ash-Shāff [61]:
5).

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 273

56Alasan penolakan Bani Israel terhadap Musa adalah
karena ia manusia biasa seperti mereka, apalagi Musa dibesarkan
oleh Fir’aun, dan masih banyak orang lain yang lebih alim dari
Musa di kalangan ulama Bani Israel. Pihak yang paling marah dan
yang paling terdepan menghadang kerasulan Musa adalah ulama
Bani Israel dengan doktrinnya: Lā nabiya ba’dahu, Lā Rasūlu
ba’dahu, tidak ada Nabi dan Rasul setelah beliau (Yusuf).
57Perhatikan Al-Quran surat Al-Mu'min [40] ayat 34 berikut ini:

‫َولَ َق ۡد َجآ َء ُ� ۡم يُو ُس ُف ِمن َ� ۡب ُل بِٱ ۡ�َ ّيِ َ�ٰ ِت َ� َما زِ ۡ�ُ ۡم ِ� َش ّٖك ِّم َّما‬
ۚ�ٗ ‫َجآ َء ُ�م بِهِۖۦ َح َّ ٰٓ� إِ َذا َه َل َك ُق ۡل ُت ۡم لَن َ� ۡب َع َث ٱ َّ ُ� ِم ۢن َ� ۡع ِدهِۦ َر ُسو‬

‫ف ُّم ۡرتَا ٌب‬ٞ �ِ ۡ ‫َك َ�ٰلِ َك يُ ِض ُّل ٱ َّ ُ� َم ۡن ُه َو ُم‬

Sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa
keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan
tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika ia
meninggal, kamu berkata: “Allah tidak mengirim seorang Rasul
pun sesudahnya.” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang
yang melampaui batas dan ragu-ragu.

58Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang sesat
adalah orang yang mengatakan tidak ada Rasul Allah setelah
Yusuf. Bagi generasi Millah Abraham, ini adalah dalil yang
menjadi pegangan, bahwa doktrin yang mengatakan berhentinya
risalah Allah dengan tidak diutus-Nya lagi Nabi dan Rasul adalah
sebuah doktrin yang sesat. 59Sebagaimana sesatnya Bani Israel
pada zaman Nabi Yusuf yang berkeyakinan bahwa tidak ada nabi
setelah Yusuf, tetapi nyatanya 400 tahun kemudian Allah
mengutus Musa sebagai Rasul-Nya. Bahkan, setelah Rasulullah
Musa pun Allah masih terus mengutus nabi-nabi Bani Israel.
60Simak firman Allah dalam Al-Quran surat Asy-Syu'arā [26] ayat
192-197 di bawah ini:

‫ َ َ ٰ� قَ ۡلبِ َك‬١٩٣ �ُ ‫ نَ َز َل بِهِ ٱل ُّرو ُح ٱ ۡ َ� ِم‬١٩٢ �َ ‫�نَّ ُهۥ َ َ� ِ�� ُل َر ِّب ٱ ۡل َ�ٰلَ ِم‬
‫ �نَّ ُهۥ لَ ِ� ُز ُ� ِر‬١٩٥ �ٖ ِ‫ بِلِ َسا ٍن َع َر ِ ّٖ� ُّمب‬١٩٤ ‫ِ�َ ُكو َن ِم َن ٱلۡ ُمن ِذرِ� َن‬

Jalan Kebenaran Universal

274 | SUNNATULLAH

١٩٧ ‫إِ ۡس َ�ٰٓءِي َل‬ �ٓ ِ َ‫ب‬ ْ‫ُعلَ َ ٰٓ� ُؤا‬ ‫َ� ۡع َل َم ُهۥ‬ َ ‫َءايَ ًة‬ ‫لَّ ُه ۡم‬ ‫يَ ُ�ن‬ ‫لَ ۡم‬ ‫أَ َو‬ ١٩٦ �َ ِ‫ٱ ۡ َ� َّول‬
‫أن‬

Dan sesungguhnya (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan
oleh Tuan Semesta Alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-
Amin ke dalam qalbumu agar kamu menjadi salah seorang di
antara orang-orang yang memberi peringatan,dengan bahasa
Arab yang jelas. Dan sesungguhnya peringatan itu benar-
benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.Dan
apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para
ulama Bani Israel mengetahuinya.

61Kata ganti hu pada kata innahu (ayat 192), khithab-nya
bukanlah mushaf Al-Quran melainkan wahyu. Harus kita bedakan
antara wahyu dan mushaf Al-Quran. Al-Quran adalah sebuah
redaksi yang mengandung ruh atau wahyu, berupa ilmu, informasi
berita yang diucapkan oleh Nabi. Oleh karena itu, terjemahan
yang tepat untuk ayat 192 adalah: Dan sesungguhnya wahyu ini benar-
benar diturunkan oleh Tuan Semesta Alam.

62Pada ayat 193, yang dimaksud Ruhul Amin adalah Ruhul
Qudus; Ruh Allah; ilmu Allah. Dimensi Allah adalah Ruh-Nya,
sehingga kita dapat memahami ayat 193 dengan benar: yang
menurunkan wahyu itu adalah Ruhul Amin, yaitu Allah.

63Ayat 194 mengatakan bahwa ilmu itu diturunkan ke
dalam qalbu kamu (kata ganti kamu pada waktu itu ditujukan
kepada Muhammad). Ilmu itu diantaranya adalah mengenai sa’ah;
informasi akan terjadinya kehancuran, informasi yang bersifat
ghaib –belum terwujud. Informasi itu diberikan oleh Allah kepada
Muhammad bukan melalui deretan huruf atau kata demi kata,
sebab wahyu itu lā shautin wa lā harfīn; bukan berupa suara, dan
bukan pula huruf. 64Wahyu adalah semacam intuisi psikologi,
bukan dalam bentuk resonansi, namun ia terpatri dalam qalbu
Nabi. Karenanya, terjemahan yang tepat untuk ayat 194 ini adalah:
wahyu itu masuk ke dalam qalbu kamu agar kamu menjadi orang yang
memberi ingat tentang azab Allah dan sa’ah qiyamah (kebangkitan).

65Wahyu Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab yang
jelas (‘arabiyyin mubīn), sebab Al-Quran diturunkan kepada

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 275

Muhammad yang orang Arab. Namun, bahasa wahyu tidaklah
identik dengan bahasa Arab. Bahasa wahyu dapat terasosiasikan
dengan bahasa apapun, tergantung di mana Allah mengutus
Rasul-Nya. Sesungguhnya wahyu yang diucapkan Muhammad
tentang mundzirīn –ancaman dan peringatan tentang azab Allah,
tersebut juga dalam Kitab-Kitab sebelumnya. Itu berarti, Nabi
Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa pun berbicara tentang azab, ajal, dan
sa’ah kebangkitan Din Al-Islam.

66Ayat 197 menjelaskan bahwa sebenarnya Muhammad
berbicara tentang sunnatullah yang sudah terjadi dan akan kembali
terulang. Sunnatullah tentang akan datangnya azab Allah kepada
bangsa-bangsa yang zalim sudah berulang kali terjadi dengan
dengan data-data yang konkret. Namun, apakah Bani Israel masih
memiliki alasan untuk tidak percaya kepada Muhammad? Padahal
Muhammad telah berbicara sejelas-jelasnya kepada para Ahli
Kitab Bani Israel; Yahudi dan Nasrani.
Makna Khātaman Nabiyyīn

67Berabad-abad lamanya manusia didoktrin bahwa tidak
akan ada lagi Nabi setelah Muhammad dengan dalil khātaman
nabiyyīn yang dikutip dari Al-Quran surat Al-Ahzāb [33] ayat 40
berikut ini:

‫َّما َ� َن ُ َ� َّم ٌد َ�بَآ أَ َح ٖد ِّمن ّرِ َجالِ ُ� ۡم َو َ�ٰ ِ�ن َّر ُسو َل ٱ َّ�ِ َو َخا َ� َم‬
‫ٱ�َّبِ ِّ ۧ� َنۗ َو َ� َن ٱ َّ ُ� بِ ُ� ّ ِل َ ۡ� ٍء َعلِي ٗما‬

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki
di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup nabi-
nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

68Dari ayat inilah, mayoritas ulama dan kaum agamis Islam
memahami bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul penutup
dari kehidupan ummat manusia yang terus berlangsung. Sebuah
penafsiran wahyu yang tidak sejalan dengan konteks sejatinya ayat
tersebut diturunkan.

Jalan Kebenaran Universal

276 | SUNNATULLAH

69Untuk memahami istilah khātaman nabiyyīn, kita terlebih
dulu harus memahami pokok permasalahan yang sedang dibahas.
Pokok masalah itu terletak pada surat Al-Ahzāb [33] ayat 37-39
berikut ini:
‫� ۡذ َ� ُقو ُل لِ َّ ِ� ٓي َ� ۡ� َع َم ٱ َّ ُ� َعلَ ۡيهِ َو َ� ۡ� َع ۡم َت َع َل ۡيهِ أَ ۡم ِس ۡك َعلَ ۡي َك َز ۡو َج َك‬
‫د َك ِّم َۡنماَهاٱ ََّو َُ�ط ٗر ُم� ۡب َزِد َّيوهِۡج ََو�ٰ َ َۡ�ك َهَا�لِ َٱ ۡ��َّا َ َ�سيَ َوٱ ُ� َّو ُ� َنأَ ََح َُّ�ق‬ٞ ‫أََوٱنتَّ ِقَ ۡ�ٱ َشَّٮَٰ� ُهۖ َو َف ُ َل ۡ� َّمِا� َق ِ َ� ٰ َ�� ۡف َز ِۡ�س‬
‫ج ِ ٓ� أَ ۡز َ�ٰ ِج أَ ۡد ِ� َيآ�ِ ِه ۡم إِ َذا قَ َض ۡواْ ِم ۡن ُه َّن َو َط ٗر ۚ� َو َ� َن أَ ۡم ُر‬ٞ ‫ٱلۡ ُم ۡؤ ِمنِ َ� َح َر‬
‫�ِي َما َف َر َض ٱ َّ ُ� َ ُ�ۖۥ ُس َّن َة‬ ِ�‫ َخ َّمَلا ۡواْ َ� ِم َنن َ َ�َ ۡب� ُٱل ۚ�َّ َوِ َ ِّ�� َن ِمأَۡنۡم ُر َحٱَر َّٖج‬٣٧‫َِم ۡ�ف ُعٱ َّو ِٗ�ي� َن‬
‫ ٱ َّ ِ�ي َن‬٣٨ ‫قَ َد ٗر� َّم ۡق ُدو ًرا‬ ِ�َّ ‫ٱ‬
َّ ‫أَ َح ًدا‬ ِ�َّ ‫ٱ‬
�ِ‫إ‬
�ٰ َ �َ ‫َو‬ ۗ�َ َّ ‫ٱ‬ ‫َ ۡ� َش ۡو َن‬ �َ ‫َو‬ ‫َو َ� ۡخ َش ۡونَ ُهۥ‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ ‫رِ َ ٰ� َ�ٰ ِت‬ ‫ُ� َب ّلِ ُغو َن‬

٣٩ ‫بِٱ َّ�ِ َح ِسي ٗبا‬

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah
telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah
memberi ni’mat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan
bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di
dalam pikiranmu apa yang Allah akan menyatakannya, dan
kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak
untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri
keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan
kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min
untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila
anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada
istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Tidak ada
suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan
Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai
sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan
adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,
(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah,
mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 277

seorang pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai
Pembuat Perhitungan.

70Tatkala Rasulullah Muhammad menikahi Zaenab, mantan
istri Zaid; anak angkat beliau. Orang yang melamar Zaenab untuk
dinikahkan dengan Zaid adalah Nabi Muhammad. Namun,
pernikahan Zaid dan Zaenab tidak berjalan mulus karena Zaenab
tidak mau diperlakukan sebagaimana layaknya hubungan suami
istri dalam sebuah keluarga. Karenanya, Zaid menceraikan istrinya
–Muhammad pula yang menceraikan keduanya. Dan kemudian
turun perintah Allah agar Nabi Muhammad menikahi Zaenab.

71Sungguh kondisi yang sangat sulit dihadapi oleh Nabi
Muhammad, bagai makan buah simalakama. Beliau yang melamar
Zaenab untuk Zaid, beliau juga yang menceraikan mereka, dan
kemudian turun wahyu (perintah) dari Allah agar beliau menikahi
Zaenab. Perasaan takut kepada cercaan dan tuduhan miring dari
masyarakat bangsanya –terlintas, muncul di dalam pikirannya. Ada
dua kutub ketakutan yang dihadapinya, yaitu takut kepada
manusia dan takut kepada Allah.

72Latar belakang dari peristiwa ini sesungguhnya adalah
bagian dari rencana Allah. Sesungguhnya Dia ingin menggenapi
hukum pernikahan yang haq menurut Undang-Undang Allah.
Tradisi musyrik Quraisy mengharamkan seorang bapak menikahi
istri bekas anak angkatnya, tetapi menurut Allah hal itu halal
hukumnya. Oleh sebab itu, Muhammad sebagai seorang Rasul
atau Syahid Allah di bumi harus membuktikan kepada publik
secara nyata, sehingga tergenapilah hukum pernikahan pada kasus
Zaid, Zaenab, dan Rasulullah Muhammad.

73Tidaklah pantas bagi Muhammad, sebagai seorang Nabi
dan Rasul Allah yang menjadi uswah bagi para mu’min, untuk
menolak atau merasa keberatan terhadap apa yang diperintahkan
Allah kepadanya. Al-Quran menyebutkan, “Tidak ada suatu
keberatan atas seorang nabi terhadap apa yang telah ditetapkan
Allah baginya. Karakter yang demikian itu sudah menjadi sunnah
(tradisi) para nabi sebelumnya. Dan demikianlah ketetapan Allah
yang telah dirancang-Nya pasti tergenapi.” Siapa para Nabi

Jalan Kebenaran Universal

278 | SUNNATULLAH

sebelumnya itu? Mereka adalah orang-orang yang menyampaikan
risalah-risalah Allah, mereka takut akan azab-Nya (jika menentang
tugas risalah), dan mereka tidak merasa takut kepada siapa pun
kecuali hanya kepada Allah.

74Perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk menikahi
Zaenab adalah suatu yang haq dan halal, karena Muhammad
bukan ayah kandung dari Zaid. Hal inilah yang menyebabkan
Allah menurunkan firman-Nya, bahwa Muhammad itu bukanlah
bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah
utusan Allah yang akan memberikan contoh mana perbuatan yang
halal dan mana perbuatan yang haram. Rasulullah Muhammad
sanggup menentang budaya musyrik yang berlaku dalam hal
menikahi mantan istri anak angkat, beliau tidak takut akan cercaan
manusia. 75Sifat seperti inilah yang menyebabkan Allah
memberikan predikat kepada Muhammad sebagai khātaman
nabiyyīn, yaitu nabi yang sempurna dan menjadi cincin atau
kebanggaan para nabi.

76Dari penjelasan singkat di atas, jelaslah bahwa makna
yang dikehendaki dari kata khātam bukan lagi makna tekstualnya;
cincin para Nabi, stempel para Nabi, segel/penutup para Nabi,
yang terakhir dari para Nabi, akan tetapi makna majaz-nya yang
konstekstual.

77Beberapa makna majaz dari Khātaman Nabiyyīn adalah: (a).
Cincin para Nabi, dalam arti Muhammad itu merupakan
kebanggaan para Nabi lantaran berbagai keistimewaan beliau,
sebagaimana cincin yang baik dan mahal menjadi kebanggaan
pemiliknya. (b). Stempel para Nabi, maknanya bahwa dengan
perantaraan Rasulullah Muhammad, status para Nabi dan legalitas
risalah mereka menjadi jelas dan resmi, setelah sebelumnya seperti
kabur dan meragukan, seperti halnya kegunaan stempel untuk
melegalisir surat-surat penting dan berharga. Atau arti (c).
Segel/penutup/yang terakhir dari para Nabi, maksudnya bahwa
beliau adalah Nabi yang derajatnya paling akhir, tidak ada Nabi
yang derajatnya melebihi beliau, karena seluruh karakter dan

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 279

sunnah para Rasul Allah sebelumnya telah tergenapi dalam diri
beliau.

78Demikianlah, ketika kita berpikir jernih dan objektif
dalam mencerdasi penegasan Allah tentang makna predikat
khātaman nabiyyīn atas Nabi Muhammad. Apalagi begitu banyak
ayat yang mengisyaratkan akan datangnya seorang Rasul setelah
Nabi Muhammad. Tegasnya, Nabi Muhammad adalah nabi
penutup pada zamannya. Sedangkan untuk zaman setelahnya,
tentu saja Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana akan
menggenapi tradisi-Nya dalam menjaga kesetimbangan peradaban
ummat manusia.

3. Kejadian dan Kebangkitan Ummat Islam

100Salah satu fungsi Al-Quran adalah sebagai pedoman
dalam menegakkan Khilafah Allah (Din Al-Islam) di muka bumi.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa seluruh ayat Al-Quran
mengandung nilai petunjuk bagi Rasulullah Muhammad dan
orang-orang beriman dalam mewujudkan Khilafah dan bagaimana
tata cara hidup di dalamnya. Lalu bagaimana hubungannya dengan
ayat-ayat tentang proses penciptaan manusia di atas?

101Untuk menjawabnya, silakan perhatikan surat Luqmān
[31] ayat 28 berikut ini:

�ٌ ‫بَ ِص‬ ۢ ‫َس ِمي ُع‬ �َ َّ ‫ٱ‬ ‫إِ َّن‬ �‫َ�ٰ ِح َد ٍة‬ ‫َك َن ۡف ٖس‬ َّ ‫َ� ۡع ُث ُ� ۡم‬ �َ ‫َو‬ ‫َخ ۡل ُق ُ� ۡم‬ ‫َّما‬
�ِ‫إ‬

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian
melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan)
satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.

102Kata kunci pada ayat di atas adalah kata kum, kata ganti
(dhamir) dari kalian; komunitas, jemaah, atau ummat. Komunitas
orang-orang yang beriman tumbuh dan berkembang dari seorang
diri, yaitu Rasulullah Muhammad. Melalui jalan dakwah secara
selektif dan secara terang-terangan, ummat Allah semakin
bertambah besar. Terlebih pasca perang Badar, ketika ummat

Jalan Kebenaran Universal

280 | SUNNATULLAH

Islam meraih kemenangan yang tidak diperhitungkan. Sejak saat
itu, kabilah yang ada di sekitar Yatsrib masuk menjadi warga
Madinah secara berbondong-bondong. 103“Kamu lihat mereka
berbondong-bondong masuk ke dalam Daulah Islam” (simak QS.
An-Nashr [110]). Dan akhirnya, ummat Islam bangkit merebut
kemenangan di Ibu Kota, yakni pada saat Futuh Mekah.

104Ayat ini menegaskan adanya kesamaan proses penciptaan
dan kebangkitan sebuah ummat (Islam) dengan proses penciptaan
dan perkembangan seorang manusia. Kebangkitan kalian di sini
bukanlah kebangkitan ummat manusia dari kuburan, tetapi
kebangkitan peradaban ummat Islam dari dunia kegelapan yang
zalim, keluar menuju kehidupan dunia yang penuh dengan terang
(nur; ilmu) Allah. Terbebasnya ummat yang berdosa dan terjajah
menjadi ummat yang merdeka dan berkuasa.

105Merujuk pada surat Al-Mu’minūn [23] ayat 14
sebelumnya, setidaknya seorang anak manusia melalui enam
tahapan penciptaan dan kebangkitan (perkembangan) dirinya, tiga
tahap sebelum lahir dan tiga tahap lainnya setelah lahir. 106Keenam
tahap tersebut adalah: 1) Nuthfah (tahap fertilisasi); 2) ‘Alaqah
(tahap embrio); 3) Mudhgah (tahap fetus); 4) ‘Idzāman (tahap
pertumbuhan tulang); 5) Lahman (tahap pembentukan otot); dan
6) Khalq Akhar (manusia dewasa).

107Apabila melihat sejarah perjuangan para Rasul Allah
dalam memperjuangkan misi risalah-Nya, proses tersebut juga
melalui enam tahapan perjuangan, yakni: 1) Tahap dakwah secara
selektif; 2) Tahap dakwah secara terbuka; 3) Tahap hijrah atau
eksodus, tahap yang juga disebut sebagai tahap kelahiran suatu
ummat yang baru; 4) Tahap jihad melawan serangan pasukan
penguasa kafir-musyrik; 5) Tahap Kemenangan; dan 6) Tahap
Khilafah, yakni tegaknya Kekuasaan Allah di bumi sebagai sarana
untuk menegakkan hukum-Nya dalam seluruh aspek kehidupan
ummat manusia. 108Inilah anugerah atau ni’mat yang Allah
anugerahkan kepada mereka yang teguh berjuang melalui tahapan
iman, hijrah, dan jihad di jalan-Nya (shirāthal mustaqīm).
109Perhatikan Al-Quran surat At-Tawbah [9] ayat 20:

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 281

‫َوأَن ُف ِس ِه ۡم‬ ‫بِأَ ۡم َ�ٰلِ ِه ۡم‬ ِ�َّ ‫ٱ‬ ‫َدَءاَر َمَجُن ًةواْ ِع َنو ََهداٱ َج َّ ُر�ِۚواَْوأُ َْوو َ ٰٓ�َ��ِٰ َه َكُدوُهاْ ُم ِٱ�ۡل َفآ َ�سِ ُبزِيو ِ َلن‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬
‫أَ ۡ� َظ ُم‬

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan
Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi
derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat
kemenangan.

110Jika enam tahap dari proses penciptaan manusia
melahirkan seorang “manusia baru” –yakni manusia dewasa yang
beriman kepada Allah dan memiliki kepribadian baru yang
berkarakter wahyu, enam tahap perjuangan Rasul Allah
melahirkan “peradaban baru” –yakni kekuasaan baru yang akan
menata dan mengatur dunia dengan sistem hukum Allah.
Peradaban baru yang dibangun Rasul Allah merupakan kehidupan
negeri yang harmonis, adil, damai, dan sejahtera (Darussalam).

111Enam tahapan perjuangan Rasul Allah tersebut tertuang
jelas dalam Al-Quran dan dapat dipahami dari sejarah mereka
yang tersaji dalam bahasa wahyu yang sangat indah. Bila enam
tahapan tersebut disandingkan sejajar, didapatkan perbandingan
yang sama antara kelahiran “manusia baru” dengan kebangkitan
“peradaban baru”. 112Perhatikan tabel di bawah ini:

Tahap Penciptaan Manusia Penegakan Khilafah

1 Nuthfah Dakwah Selektif
2 ‘Alaqah Dakwah Terbuka
3 Mudhgah Hijrah / Eksodus

4 Idzaman Jihad / Perang
5 Lahman Meraih Kemenangan
6 Khalq Akhar Tegaknya Khilafah

113Secara biologis, tubuh manusia merupakan satu kerangka
struktur yang paling baik. Allah menyatakan: “Laqad khalaqnā al-
insana fī ahsani taqwīm, sesungguhnya Kami telah menciptakan

Jalan Kebenaran Universal

282 | SUNNATULLAH

manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Oleh sebab itu, wajar
dan rasional jika struktur biologis tubuh manusia dijadikan patron
dalam berorganisasi atau manajemen bernegara oleh Rasul Allah.
Sistem kerja fisik tubuh manusia merupakan contoh terbaik bagi
penerapan manajemen sistem sosial manusia. Sadar atau tidak,
sistem kehidupan dalam sebuah organisasi negara meniru sistem
tubuh manusia.

114Nabi Muhammad menyatakan: “Inna fil jasadi lā mudghah,
idzā shaluhat, shaluhal jasadu kulluhu, waidzā fasadat, fasadal jasadu
kulluhu, alā wahiyal qalbu; sesungguhnya di dalam tubuh itu ada
segumpal organ, apabila organ itu baik maka baiklah seluruh
tubuh, dan apabila rusak maka rusak juga seluruh tubuh, itulah
yang disebut qalbu.” Hadis ini sudah cukup menjadi pelajaran bagi
ummat Islam dalam menata organisasi, jemaah, atau sosial ummat
dalam satu tatanan kekuasaan. 115Apabila negara ini diibaratkan
tubuh manusia, ada organ yang berfungsi sebagai eksponen yang
sangat menentukan kondisi ummat. Jika ia baik, baiklah seluruh
kehidupan bangsa itu, tapi jika dia rusak, rusaklah seluruh
kehidupan bangsa, ketahuilah itulah pemimpin.

116Dalam hal hubungan antarmanusia di dalam suatu sistem
kekuasaan, Rasulullah Muhammad bersabda: “Sesungguhnya
kehidupan mu’min itu ibarat tubuh yang satu, apabila salah satu
bagian tubuh itu sakit maka bagian tubuh yang lainnya ikut
merasakan sakit.” 117Perhatikan penjelasan hal tersebut pada tabel
di bawah ini:

Tahap Manusia Kekuasaan

1 Berasal dari nuthfah sebagai Dipelopori oleh founding
nafsin wāhidah father/perintis

2 Berpadu menjadi ‘alaqah (zygot) Menentukan jemaah atau
kader kepemimpinan

Embrio ummat, yaitu satu
struktur kepemimpinan
3 Berkembang menjadi mudghah dan ra’yah (rakyat) sebagai
hingga proses kelahiran bayi penduduk atau kelahiran

ummat yang baru

Jalan Kebenaran Universal

TRADISI TUAN SEMESTA ALAM | 283

Proses pembentukan dan Pembentukan militer atau
struktur kepemimpinan
4 penyempurnaan tulang sebagai penegak kekuasaan

sebagai penopang tubuh

5 Penyusunan otot sebagai Penetapan Undang-
penggerak tulang Undang atau job description
lembaga-lembaga

6 Kejadian manusia mu’min Proklamasi sebuah
sebagai makhluk dewasa yang kekuasaan yang
independen (insan kamil) independen (tegaknya
kekuasaan)

118Perkembangan manusia selanjutnya sama dengan
perkembangan sebuah kekuasaan, yaitu:

Tahapan Manusia Kekuasaan
Perang untuk
Menjadi lebih dewasa dan mempertahankan diri,
dan mengembangkan
7 kuat atau mati (perjuangan kedaulatan atau runtuh
sama sekali
hidup). Berumur panjang sampai
kehilangan jati dirinya,
8 Hidup dengan umur sehingga tidak lagi
panjang sampai pikun memahami nilai-nilai
yang orisinal

119Fase-fase penciptaan manusia dan penciptaan peradaban
Madani tersebut di atas merupakan sunnatullah yang tidak pernah
berubah atau menyimpang. Sunnatullah tersebut diimplementasi-
kan oleh Rasulullah Muhammad dalam jihadnya dari sejak periode
awal Mekah sampai dengan periode akhir Madinah.

120Dalam tradisi para Rasul-Nya, tidak ada hijrah tanpa
dakwah, tidak ada jihad tanpa hijrah, tidak ada kemenangan tanpa
jihad, dan tidak akan ada Khilafah tanpa kemenangan. Sunnah
Rasul ini harus dilaksanakan tahap demi tahap secara berurutan,
tidak bisa acak atau sesuai selera nafs manusia. 121Siapa pun atau
kelompok apapun yang ingin berjuang menegakkan Khilafah,

Jalan Kebenaran Universal

284 | SUNNATULLAH

tetapi tidak mengikuti sunnah para Rasul-Nya, pasti
perjuangannya akan gagal dan sia-sia belaka. Mereka hanya akan
menciptakan teror dan pertumpahan darah yang sia-sia, bahkan
membuat masyarakat dunia semakin anti-Islam atau fobia
Khilafah. 122Allah hanya cinta kepada manusia yang berjuang di
jalan-Nya dan dengan metode yang telah digariskan oleh-Nya,
serta dicontohkan oleh para Rasul-Nya.

C. SUNNATULLAH PERADABAN DUNIA

1Fragmentasi ayat-ayat Allah dalam Al-Kitab seolah-olah
ingin mengajak manusia untuk menjelajah dan melihat siklus
peredaran perjalanan hukum ajal peradaban manusia dari
semenjak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Nabi-nabi Bani Israel,
hingga Nabi Muhammad secara singkat dengan beberapa hikmah
di dalamnya. 2Al-Quran menerangkan hukum ajal dari perjalanan
peradaban manusia yang silih berganti, antara peradaban haq dan
peradaban batil dalam menguasai dunia; silih bergantinya Bani
Iblis dan Bani Adam menjadi adikuasa dunia.

3Pergantian tersebut bak silih bergantinya malam dan siang,
perjalanan min azh-zhulumāti ila an-nūri. Di saat kekuasaan dunia
ada di tangan penguasa jahiliyah, maka peradaban haq berada di
bawah. Sebaliknya, tatkala kekuasaan dunia berada di tangan
kekhalifahan Islam, bangsa-bangsa jahiliyah akan tertindas (hidup
di dalam neraka). Tentu saja perjalanan sejarah peradaban tersebut
harus dicermati dan dijadikan ’ibrah (pelajaran) oleh mereka yang
berakal. Inilah sunnatullah, hukum kehidupan yang mesti terjadi
dan akan terus berulang. 4Perhatikan firman Allah dalam Al-
Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 190 berikut ini:
�ِ ‫َوٱ ۡختِ َ�ٰ ِف ٱ َّ ۡ� ِل َوٱ�َّ َهارِ � َ�ٰ ٖت ّ ِ ُ� ْو‬ ‫ٱل ٱَّسَّ َِ��ٰي َ�َٰن ِتيَ َۡوذٱ ۡ ُك َ� ُ�روِ َنض‬١٩‫ِق‬٠‫إٱِ ۡ َّن�َ ۡل َِ�ٰ� ِبَخ ۡل‬
‫َو ُ� ُعو ٗدا َو َ َ ٰ� ُج ُنو�ِ ِه ۡم‬ ‫ٱ َّ َ� قِ َ�ٰ ٗما‬ ‫َو َ� َت َف َّك ُرو َن ِ� َخ ۡل ِق ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬
�ٗ ‫َما َخ َل ۡق َت َ�ٰ َذا َ�ٰ ِط‬ ‫َوٱ ۡ�َ� ِض َر َّ� َنا‬

Jalan Kebenaran Universal


Click to View FlipBook Version