JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 185
61Demikian pula sikap aslama Abraham dan anak cucunya
kepada Allah yang digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
[2] ayat 131-133 berikut ini:
ٓ َو َو َّ ٰ� بِ َها١٣١ �َ إِ ۡذ قَا َل َ ُ�ۥ َر ُّ� ُه ٓۥ أَ ۡسلِ ۡمۖ َقا َل أَ ۡسلَ ۡم ُت لِ َر ِّب ٱ ۡل َ�ٰ َل ِم
�َ َٱ َّ َ� ٱ ۡص َط َ ٰ� َل ُ� ُم ٱ ِّ�ي َن ف
َ� ُمو ُ� َّن ُش َه َدآ َء إِ ۡذ َح َ َ� َ� ۡع ُقو َب ٱلۡ َم ۡو ُت أََ�ٰۡمَب ِ َُّك�ن ُتإِ َّۡمن إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� ُم بَنِيهِ َو َ� ۡع ُقو ُب
إِ ۡذ قَا َل َوأَن ُتم َّ
١٣٢ ُّم ۡسلِ ُمو َن �ِإ
ِ َ�نِيهِ َما َ� ۡع ُب ُدو َن ِم ۢن َ� ۡع ِدي� َقالُواْ َ� ۡع ُب ُد إِ َ�ٰ َه َك � َ�ٰ َه َءابَآ�ِ َك إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم
� ۡس َ�ٰ ِعي َل � ۡس َ�ٰ َق إِ َ�ٰ ٗها َ�ٰ ِح ٗدا َو َ ۡ� ُن َ ُ�ۥ ُم ۡسلِ ُمو َن
Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!”
Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta
alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai
anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih din ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda)
maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu
abdi sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan mengabdi
pada Tuanmu dan Tuan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan
Ishak, (yaitu) Tuan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya.”
62Penegasan akan kesempurnaan Nabi Ibrahim menjalani
semua ujian keimanan dari Allah diabadikan dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah [2] ayat 124 yang berbunyi:
ۖفَ َ� َ� َّم ُه َّن
لِل َّنا ِس َجا ِع ُل َك ّ َقا َل بِ َ�لِ َ�ٰ ٖت َر ُّ� ُهۥ إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم �ٰٓ َ ٱ ۡ� َت ِ۞�ذ
�ِ ِإ
َ� َنا ُل َ ُذ ّرِ َّ� ِ��قَا َل َقا َل
�َ ٱل َّ�ٰلِ ِم َ� ۡه ِدي � َو ِمن ۖ إِ َما ٗما
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa
kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam
bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon
Jalan Kebenaran Universal
186 | MILLAH ABRAHAM
juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak
mengenai orang yang zalim.”
63Ikatan iman antara orang-orang beriman kepada Allah
yang menjadi perjanjian spiritual inilah yang selanjutnya menjadi
ikatan (aqidah) dan penghubung (habl) antara Allah dengan mereka
yang beriman. Dari sini muncullah hubungan kausalitas atau timbal
balik antara Allah sebagai Tuan yang memiliki kehendak dan
perintah, dengan manusia beriman sebagai hamba yang siap
tunduk patuh (aslama) kepada-Nya. 64Maka sebagai upah (ajran)
dari bukti kecintaan dan ketaatan mereka kepada Allah, Dia pun
akan menganugerahkan kekuasaan kepadanya atau menjadikan
mereka imam (pemimpin) ummat manusia.
65Millah Abraham mengajarkan monoteisme murni dan
meninggalkan segala bentuk kemusyrikan dalam hidup dan
kehidupan ini. Bentuk kemusyrikan yang dimaksud bukanlah
bentuk kepercayaan kepada sesuatu benda yang memiliki kekuatan
mistis, melainkan masih adanya kecintaan, kesetiaan, dan
kepatuhan selain kepada Dia, Allah, Tuan Semesta Alam. 66Hal ini
dengan jelas dikatakan dalam Al-Quran surat Al Baqarah [2] ayat
165 berikut ini:
أَ َنظ َدَلا ُمٗدآواْ ُإِ�ِ ۡذُّبويَ َ�َر ُه ۡو ۡم َن َكٱ ۡل ُحَع َّذِاب ٱَب َّأَ�ِۖ َّن َوٱٱَّ ۡل ِ� ُقي َّوَ َةن
ِ�َّ َ� َّت ِخ ُذ ِمن ُدو ِن ٱ َمن َو ِم َن ٱ�َّا ِس
ِّ َّ�ِۗ َولَ ۡو يَ َرى ٱ َّ ِ�ي َن ُح ّٗبا َءا َم ُن ٓواْ أَ َش ُّد
ِ َّ�ِ َ�ِي ٗعا َوأَ َّن ٱ َّ َ� َش ِدي ُد ٱ ۡل َع َذا ِب
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-
orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat
siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah
semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal).
67Hal ini akan terlihat dalam cara atau tata hidup keseharian
manusia. Jika segala cara, gaya, atau tata hidup manusia tidak
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 187
didasari oleh wahyu, hal tersebut merupakan wujud dari
kemusyrikan. Sebagai contoh, paham kesukuan atau kebangsaan
(nasionalisme) yang merupakan bagian dari sunnatullah penciptaan
manusia seringkali menjadi sumber pertikaian dan perpecahan
dalam kehidupan sosial keagamaan dan politik. 68Jika kita
mencerdasi paham nasionalisme yang dibangun oleh setiap bangsa
di dunia saat ini, sesungguhnya hal itu merupakan tembok pemisah
antar bangsa, sehingga sulit menciptakan persatuan dan kedamaian
dunia. Terlebih lagi dengan sistem politik (demokrasi ala Barat)
yang saat ini merajai sistem politik bangsa-bangsa di dunia
(termasuk Indonesia), sistem yang hanya menyuburkan benih
perpecahan bangsa (pusat dan daerah) dan permusuhan
antarsesama anak bangsa hanya karena berbeda partai, suku,
agama, dan antar golongan. 69Mari kita cerdasi firman Allah dalam
Al-Quran surat Ar-Rūm [30] ayat 31-32 berikut ini:
ِم َن٣١ �َ ِ��ِ ۡ ُمنِيبِ َ� إِ َ ۡ�هِ َوٱ َّ� ُقوهُ َوأَ�ِي ُمواْ ٱل َّصلَ ٰو َة َو َ� تَ ُ�ونُواْ ِم َن ٱلۡ ُم
٣٢ ٱ َّ ِ�ي َن َف َّرقُواْ ِدي َن ُه ۡم َو َ�نُواْ ِش َي ٗعاۖ ُ ُّ� ِح ۡز ِۢب بِ َما َ َ�يۡ ِه ۡم فَرِ ُحو َن
Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertaqwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu
orang-orang yang memecah-belah din (sistem hukum) mereka
dan mereka menjadi beberapa golongan (partai), tiap-tiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka.
70Demikian pula surat Al-An’ām [6] ayat 116:
َۡ �َ َ �ۡ َأ
َّ يَ َتّبِ ُعو َن إِن ِۚ�َّ ٱ َسبِي ِل َعن يُ ِض ُّلو َك ٱ�� ِض �ِ َمن تُ ِط ۡع �ن
�ِإ َّ
�ِإ
َ ۡ� ُر ُصو َن ُه ۡم � ۡن ٱل َّظ َّن
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka
bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
Jalan Kebenaran Universal
188 | MILLAH ABRAHAM
71Sangatlah tegas dan jelas, bahwa kehidupan musyrik adalah
sistem kehidupan yang berpecah-belah, berpartai-partai,
bergolong-golongan dalam menjalankan Din Allah. Padahal,
sistem kehidupan (Din) dari Allah itu adalah sistem tauhid.
72Bagaimanapun, Kebenaran Sejati tidaklah didasari oleh sedikit
banyaknya orang yang mengikutinya, tetapi kebenaran sejati itu
didasari oleh sesuai atau tidak sesuainya dengan wahyu (firman)
Allah Yang Maha Benar. Benar kata kebanyakan manusia, tetapi
salah kata Allah, maka nilainya tetaplah SALAH untuk selamanya.
73Demikianlah konsep Millah Abraham tentang keimanan
kepada Allah, Tuan Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa. Dalam
praktiknya, konsep keimanan tersebut diajarkan oleh para Nabi
dan Rasul Allah di setiap zaman karena Dia berbicara hanya
kepada manusia pilihan-Nya saja. Di sinilah letak permasalahan
iman kepada seorang Rasul Allah. 74Para Nabi dan Rasul-Nya
diutus kepada ummat manusia sebagai wakil Allah; juru bicara
Allah atau; mulut Tuan Semesta Alam, dengan menggunakan
bahasa kaumnya masing-masing. Isi seruan semua Rasul Allah pun
sama, mengajak manusia untuk menghambakan diri (mengabdi)
hanya kepada Allah semata. 75Al-Quran surat An-Nahl [16] ayat 36
menegaskan:
ٱ ِ َّ� ُ� ُ ِّ َ�و ِمأُ ۡنَّم ُهةٖم َّر َُّمسوۡنً� أََح َِّقن ٱۡت ۡ� ُب َُعد َلوۡياْهِٱ َّٱلَ� َّ َضوٱَ�ٰ ۡلَج َُتة ۚنِ ُب َفواِْسٱل ُ�َّو�ٰاْ ُغوِ� َتۖٱ َۡف�َِم� ۡن ُِهمض
َولَ َق ۡد َ� َع ۡث َنا
َّم ۡن َه َدى
�َ ِ�فَٱن ُظ ُرواْ َك ۡي َف َ� َن َ�ٰقِ َب ُة ٱلۡ ُم َك ِّذ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
ummat (untuk menyerukan): “Mengabdilah kepada Allah (saja),
dan jauhilah thaghut itu”, maka di antara ummat itu ada orang-
orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah
kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
76Ayat ini menegaskan bahwa setiap Rasul Allah selalu
mengajak ummatnya untuk mengabdi hanya kepada Allah dan
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 189
sekaligus meninggalkan bentuk pengabdian atau ketaatan selain
kepada-Nya atau kepada Thaghut. Secara bahasa, thāghūt berasal
dari kata thaghā-thughyān yang berarti melampaui batas. 77Seorang
Fir’aun disebut melampaui batas karena ia menempatkan dirinya
sebagai Tuan bagi rakyat Mesir, padahal fitrah dirinya adalah
hamba Allah, Sang Tuan sejati. Fir’aun disebut thaghut karena
telah membuat aturan hukum yang tidak berdasar pada hukum
Allah. Untuk itu, siapa pun yang memutuskan perkara atau
berhukum kepada selain hukum Allah, maka ia berarti berhukum
kepada Thaghut. Adalah fitrah manusia untuk memutuskan
perkara atau berhukum hanya kepada hukum Allah yang dibawa
oleh Rasul-Nya.
78Bagi mereka yang meyakini apa yang disampaikan oleh
Sang Rasul, maka dia akan mengimani lalu mengikutinya, dan
sebaliknya, mereka yang tidak mengimani ucapan Sang Rasul,
maka dia akan mengkafiri dan memusuhinya. Sikap bagi orang-
orang beriman, yaitu segala apa yang dibicarakan oleh seorang
Rasul Allah adalah bernilai wahyu, sesuatu yang suci yang berasal
dari Yang Maha Suci, bukanlah ucapan atas dasar syahwat
pribadinya. 79Nabi Isa pernah berkata:
Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan aku; dan
barang siapa menolak kamu, ia menolak aku; dan barang siapa ia
menolak aku, ia menolak Dia yang mengutus aku (Lukas 10: 16)
Barang siapa yang menyambut kamu, ia menyambut aku, dan
barang siapa yang menyambut aku, ia menyambut Dia yang
mengutus aku (Matius 10: 40)
80Bagaimanapun, aplikasi kecintaan dan ketaatan kepada
Allah adalah dengan mengikuti apa yang menjadi perintah Rasul-
Nya. Barang siapa yang menaati Rasul-Nya berarti dia telah
menaati Allah. 81Rasul adalah pembawa misi risalah Allah bagi
ummat manusia, maka siapa pun yang membenci atau
memusuhinya berarti membenci dan memusuhi Allah. Siapa yang
memerangi pembawa misi risalah Allah, berarti dia memerangi
Sang Pemilik Risalah, Penguasa langit dan bumi. Siapa yang telah
Jalan Kebenaran Universal
190 | MILLAH ABRAHAM
mendurhakai dan memerangi Rasulullah Muhammad berarti dia
telah memusuhi dan memerangi Allah yang telah mengutusnya.
82Demikianlah para Rasul Allah mewartakan firman-firman-
Nya (wahyu: Ruhul Qudus) kepada manusia pada zamannya
masing-masing yang selanjutnya dituliskan dalam satu kitab oleh
generasi sesudahnya. 83Iman kepada Kitab-kitab Allah bukanlah
iman kepada keberadaan kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran, tetapi
esensinya adalah mengimani dan menaati semua ketetapan atau
perintah Allah yang tertulis dalam Kitab Suci-Nya, baik ketetapan
hukum Allah yang ada pada alam semesta maupun yang tertulis
dalam firman-Nya (Al-Kitab). 84Demikian pula dalam meyakini
segala ketetapan (qadha) dan ketentuan (qadr) yang telah digariskan
oleh Allah pada alam semesta dan pada firman-firman-Nya, baik
yang telah terjadi maupun yang akan terjadi.
85Meyakini ketetapan Allah yang akan terjadi di masa datang
adalah meyakini tegaknya kembali Kerajaan Allah (Khilafah Allah)
di muka bumi yang masih bersifat ghaib. Inilah yang umum disebut
sebagai Iman Kepada Hari Akhir atau Hari Qiyamah (hari tegaknya
hukum Allah) atau Hari Kebangkitan (yaum al-ba’ats). 86Hari
Qiyamah sering juga disebut sebagai hari ketika Allah akan
memberikan pembalasan yang seadil-adilnya, baik bagi mereka
yang beriman maupun bagi mereka yang kafir-musyrik. Dengan
tegaknya Kerajaan (Khilafah) Allah, maka hukum Allah pun dapat
ditegakkan dalam segala lini kehidupan manusia. 87Sedangkan
mengenai kehidupan setelah mati adalah sesuatu yang pasti adanya
dan kita harus mengimaninya agar kita senantiasa sadar, koreksi
diri, waspada, dan mempersiapkan diri dengan sebenar-benarnya.
2. Pengabdian (Ibadah)
88Ketika seseorang telah mampu mengenal Allah, Sang
Pengatur alam semesta, dengan benar dan telah mengikat
perjanjian dengan-Nya dalam satu ikatan iman (aqidah) yang kuat,
barulah seseorang dapat beribadah dengan bersih dan benar
kepada-Nya. 89Syarat utama untuk dapat beribadah dengan benar
kepada-Nya adalah kebersihan diri dari segala isme atau ideologi
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 191
yang dapat mengotori keimanan; tidak syirik kepada Allah, Tuan
Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa.
90Mengenal Allah adalah mengenal kehendak dan perintah-
Nya yang tertuang dalam Kitab-Kitab-Nya. Mengenal Allah adalah
mengenal sifat atau karakter Dia, mengenal apa yang dicintai dan
apa yang dimurkai-Nya, menyadari apa yang diperintahkan dan apa
yang dilarang-Nya, dan seterusnya. 91Demikianlah kesadaran orang
beriman yang senantiasa zikir (ingat dan sadar) kepada Allah, yakni
mereka yang selalu ingat dan sadar akan kehendak dan perintah
Allah dalam diri dan kehidupannya. 92Orang yang paling mengenal
Allah adalah para Rasul-Nya. Apa yang dikatakan dan diperbuat
oleh seorang Rasul adalah saksi atau cerminan (potret) dari
perkataan dan perbuatan Allah bagi orang-orang yang beriman.
93Millah Abraham mengajarkan kepada manusia untuk
kembali kepada fitrahnya yang sejati, yakni menjadi hamba dari
Allah, Sang Tuan alam semesta, Raja sejati ummat manusia.
Sebagai seorang makhluk (hamba), sudah seharusnya manusia itu
tunduk patuh (aslama) hanya kepada Allah, Sang Pencipta dirinya,
bukan kepada tuan-tuan atau raja-raja selain Dia. 94Dengan kata
lain, setiap manusia (hamba) harus mampu meninggalkan segala
bentuk pengabdian atau penghambaan kepada tuan-tuan atau raja-
raja lain selain Allah, Raja semesta alam. Inilah sistem hidup yang
haq dan fitrah bagi manusia.
95Kata ibadah (pengabdian; penghambaan; tunduk patuh)
berasal dari bahasa Arab, yakni kata ‘abada - ya’budu - ‘ibādah, yang
berarti mengabdi, menghambakan diri, merendahkan diri serta tunduk.
Secara bahasa, kata ibadah berarti tunduk patuh. Sedangkan menurut
syariat, ibadah adalah ungkapan kesempurnaan cinta,
ketundukpatuhan, dan ketakutan kepada Allah. 96Jadi, ibadah
adalah aktivitas seseorang dalam pengabdian kepada Allah dengan
tata aturan tertentu. Dalam ajaran Millah Abraham, tujuan
penciptaan manusia memang dimaksudkan agar manusia
senantiasa mengabdi, menghambakan diri, tunduk patuh hanya
kepada-Nya, bukan menyembah-Nya.
Jalan Kebenaran Universal
192 | MILLAH ABRAHAM
97Dalam doktrin kaum agamis, kata ibadah seringkali
diartikan dengan penyembahan atau sembahyang (Sansekerta: sembah
Sang Hyang), yang identik dengan tata ritual dan sesembahan
tertentu dari seseorang kepada yang disembahnya. 98Penyimpangan
arti kata ibadah, dari pengabdian; penghambaan diri kepada penyembahan
ini berakibat pada penyimpangan aqidah dan ibadah manusia
kepada Allah. Kaum agamis akhirnya terjebak pada kegiatan
ibadah ritual semata dan sudah merasa cukup dengan ibadah ritual
tersebut, bahkan sudah merasa dirinya sebagai manusia yang paling
suci dan paling benar. Tidak terkecuali dalam terjemah Al-Quran
yang menggunakan kata menyembah, bukan mengabdi atau
menghambakan diri. Bukankah Allah meminta manusia untuk
menghambakan diri atau mengabdi kepada-Nya, bukan untuk
menyembah-Nya? 99Perhatikan beberapa ayat Al-Quran di bawah
ini:
• 100Al-Quran surat Adz-Dzāriyāt [51] ayat 56: ٱ ۡ ِ� َّن
ِ�َ ۡع ُب ُدو ِن َّ َوٱ ۡ ِ�� َس َخلَ ۡق ُت َو َما
�ِإ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.
• 101Al-Quran surat Al-Fātihah [1] ayat 5:
�ُ إِيَّا َك َ� ۡع ُب ُد �يَّا َك � َ ۡس َت ِع
Hanya kepada-Mu lah kami mengabdi, dan hanya kepada
Engkaulah kami meminta pertolongan.
• 102Al-Quran surat Al-Bayyinah [98] ayat 5: ْأُ ِم ُر ٓوا
ٱل َّصلَ ٰو َة َْو ُ� ِقي ُموا ُح َن َفآ َء ٱ ِّ�ي َن �ُ َ �َ ُ ۡ�لِ ِص �َ َّ ٱ ِْ َ� ۡع ُب ُدوا َّ َٓو َما
�ِإ
َو ُ� ۡؤتُواْ ٱل َّز َك ٰوةَۚ َو َ�ٰلِ َك دِي ُن ٱ ۡل َق ّيِ َم ِة
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mengabdi kepada
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) din yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah din yang
lurus.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 193
• 103Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 138:
ِص ۡب َغ َة ٱ َّ�ِ َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن ِم َن ٱ َّ�ِ ِص ۡب َغ ٗة ۖ َو َ ۡ� ُن َ ُ�ۥ َ�ٰبِ ُدو َن
Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya dari
pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami mengabdi.
• 104Al-Quran surat Al-Mu’minūn [23] ayat 47:
َ� َقالُ ٓواْ َ�نُ ۡؤ ِم ُن لِبَ َ َ� ۡ� ِن ِم ۡثلِ َنا َو َق ۡو ُم ُه َما َ�َا َ�ٰبِ ُدو َن
Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua
orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani
Israel) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada
kita?
105Perubahan, pengaburan, dan penyimpangan makna
mengabdi menjadi menyembah telah menjebak kesadaran religius
manusia kepada satu keyakinan, bahwa Allah, Tuan Yang Maha
Esa, cukup disembah dengan tata ritual tertentu tanpa perlu
menjalankan kehendak dan perintah-Nya dalam kehidupan sehari-
hari secara kāffah (menyeluruh). 106“Betul, Allah itu Maha Kuasa,
tetapi Dia hanya berkuasa di alam raya, dan tidak berkuasa pada
alam manusia. Pada alam manusia, kita harus mengabdi kepada apa
yang telah menjadi kesepakatan bersama, baik kepada ideologi atau
pemimpin/raja manusia di bumi”, demikian ajaran mainstream
kaum agamis. Ajaran seperti ini telah jauh menyimpang dari apa
yang dikehendaki oleh Allah dan dari apa yang telah diajarkan oleh
para Rasul-Nya. Inilah akibat bagi mereka yang tidak mengenal
Allah dengan benar.
107Mengabdi kepada Allah bukanlah sebatas mengerjakan
tata ritual (ibadah ritus), melainkan kesanggupan seorang mu’min
untuk berkorban harta dan dirinya dalam mewujudkan apa yang
menjadi kehendak dan rencana Allah pada kehidupan manusia.
Untuk itu manusia harus melaksanakan segala hal yang
diperintahkan oleh Dia dan meninggalkan segala hal yang dilarang
oleh-Nya. 108Lalu bagaimana cara ibadah yang benar itu? Tentu saja
beribadah seperti yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan
Jalan Kebenaran Universal
194 | MILLAH ABRAHAM
Rasul Allah. Jika Anda beriman kepada Nabi Musa, beribadahlah
seperti yang dicontohkan olehnya. Jika Anda mengimani Nabi Isa
(Yesus Kristus), beribadahlah seperti yang diajarkan dan
dicontohkan olehnya. Dan jika Anda mengimani Nabi
Muhammad, contohlah ibadah yang dilakukan olehnya mulai
periode Makkiyah hingga periode Madaniyah, mulai dari kondisi
gelap hingga terbitnya fajar kemenangan Din Al-Islam, din seluruh
Nabi dan Rasul Allah.
109Agar manusia dapat beribadah (tunduk patuh) secara
benar kepada Allah, maka Dia mengajarkan kepada manusia
wahyu-Nya yang berisi sistem hukum universal sebagai pedoman
dalam hidup dan kehidupannya melalui perantaraan seorang
manusia utusan (Rasul)-Nya. 110Saat seseorang sudah menyadari
fitrah dirinya sebagai hamba, maka dia tidak akan memiliki tuan-
tuan selain Allah, Tuan Semesta Alam, dan juga tidak akan
menjadikan dirinya sebagai tuan atas dirinya dan manusia lainnya.
111Renungkan kembali firman Allah dalam Al-Quran surat Ar-Rūm
[30] ayat 30-32 berikut ini:
َفأَقِ ۡم َو ۡج َه َك
��ٱإِلِ َ َّ ۡ�ّ ِ��ِۚهِي َِ�نَٰولِٱ َّ� َ َُكقحنوِٱ ُهي ّٗفِ� َايوۚأَ ُ�ِنفِي ۡٱ ُطمۡل ََورقاْ ّيَِٱتُمل َّٱَوصَ�ََّٰل ٰ�ِو َة ِ�ٱ َّلََّون َِ أ�َ� تَ َ�ۡ� َ َط ُ�َ�َروٱنُٱو�َّاْاَّ�ا ِ ِم َسَنس َٱ�لۡ َعُمَ�لَ ۡۡعۡي َلَه ِ�اُۚم�ِو َ ََن َ� ۡب ِدي َل ِ َ� ۡل ِق
�َ ِ ۞ ُمنِيب٣٠
٣٢ ِم َن ٱ َّ ِ�ي َن َف َّرقُواْ ِدي َن ُه ۡم َو َ�نُواْ ِش َي ٗعاۖ ُ ُّ� ِح ۡز ِۢب بِ َما َ َ�يۡ ِه ۡم فَ ِر ُحو َن٣١
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Din Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) din yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan
bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka dan mereka
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga
dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 195
112Lalu bagaimana dengan perintah menegakkan shalat,
menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan berhaji? Ibadah
shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji –yang semuanya kita kenal
sebagai bagian dari Rukun Islam, adalah praktik-praktik ibadah
yang sudah ada jauh sebelum Muhammad menjadi Nabi dan Rasul
Allah. Ibadah-ibadah tersebut juga diwajibkan Allah kepada
ummat Islam di zaman rasul-rasul sebelum Rasulullah
Muhammad. 113Ketika Nabi Muhammad mengawali dakwah dan
perjuangannya di Mekah, masyarakatnya sudah melaksanakan
ibadah tersebut secara ritual, mulai dari ritual shalat hingga haji.
Namun, yang menjadi visi risalah beliau adalah menegakkan
kembali sistem Allah dalam kehidupan ummat manusia sesuai
dengan sunnah dan tuntunan-Nya, bukan menjadi seorang juru
agama.
114Tradisi keagamaan yang sudah turun temurun –berupa
pelaksanaan aktivitas ibadah ritual masyarakat Arab pada
umumnya dan masyarakat Mekah pada khususnya, tidak hanya
diceritakan dalam buku-buku sejarah para Nabi, tetapi juga dapat
dipahami dari beberapa firman Allah dalam Al-Quran. 115Misalnya
tradisi ritual shalat yang sudah dilakukan sejak zaman Nabi
Ibrahim dan anak cucunya seperti tertulis dalam Al-Quran surat
Ibrāhīm [14] ayat 40 berikut ini:
َِر ِّب ٱ ۡج َع ۡل ِ� ُمقِي َم ٱل َّصلَ ٰوةِ َو ِمن ُذ ّرِ َّ� ِ�� َر َّ� َنا َو َ� َق َّب ۡل ُد َ�ٓء
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang
tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.
116Begitu pula tradisi keagamaan lainnya yang tecermin
dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 125 berikut ini:
��ّٗ � ۡذ َج َع ۡل َنا ٱ ۡ َ� ۡي َت َم َثابَ ٗة ّلِل َّنا ِس َوأَ ۡم ٗنا َوٱ َّ�ِ ُذواْ ِمن َّم َقا ِم إِبۡ َ�ٰ ِ�ۧ َم ُم َص
�َ َِوٱ ۡل َ�ٰ ِكف �َ ِلِل َّطآ�ِف َ �ٰٓ َ ِإ َٓو َع ِه ۡدنَا
�َ ِ بَ ۡي َط ِّه َرا أن � ۡس َ�ٰعِي َل إِبۡ َ�ٰ ِ�ۧ َم
َوٱل ُّر َّك ِع ٱل ُّس ُجو ِد
Jalan Kebenaran Universal
196 | MILLAH ABRAHAM
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah)
tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan
jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah
Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah
rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang
ruku’ dan yang sujud.”
117Begitu pula perintah shalat kepada Nabi Musa seperti
yang ditegaskan dalam Al-Quran surat Thāhā [20] ayat 14 berikut:
إِنَّ ِ ٓ� َ�نَا ٱ َّ ُ� َ�ٓ إِ َ�ٰ َه إِ َّ�ٓ َ�نَا۠ فَٱ ۡ� ُب ۡد ِ� َوأَقِ ِم ٱل َّص َل ٰو َة ِ ِ� ۡ� ِر ٓي
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuan (yang haq)
selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku.
118Dan perintah shalat dan zakat kepada Nabi Isa seperti
yang dikisahkan dalam Al-Quran surat Maryam [19] ayat 30-31
berikut:
َو َج َعلَ ِ� ُم َبا َر ً� َ� ۡ� َن َما٣٣٠١َق ُكا َنل ُإِت ِّ�َوأَ ۡوَ� ۡبَ�ُٰد ِٱ� َّبِ�ٱِل َءَّاصتَ َلى ٰٰوِةَِ� َوٱٱلۡل َّز ِك َكَ�ٰٰوةِ َب َما َو ُدَج ۡمَعلَ ُ ِت� َحنَ ّٗيبِاّٗيا
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia
memberiku Al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja
aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan)
shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.”
119Ibadah puasa Ramadhan bahkan dengan tegas dikatakan
sebagai ibadah wajib yang sudah diperintahkan sebelum masa
Rasulullah Muhammad, seperti ditegaskan dalam surat Al-Baqarah
[2] ayat 183 berikut:
َ ٰٓ� َ� ُّ� َها ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ ُكتِ َب َعلَ ۡي ُ� ُم ٱل ِّص َيا ُم َك َما ُكتِ َب َ َ� ٱ َّ ِ�ي َن ِمن
َ� ۡبلِ ُ� ۡم لَ َع َّل ُ� ۡم َ� َّت ُقو َن
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 197
120Ibadah zakat pun telah menjadi ibadah wajib sebelum
Rasulullah Muhammad seperti yang diperintahkan Rasulullah
Ismail kepada ummatnya, sebagaimana dijelaskan dalam surat
Maryam [19] ayat 54-55 berikut ini:
٥٤ نَّبِ ّٗيا �ٗ ٱلۡ َو ۡع ِد َو َ� َن َر ُسو َ�نَ َصا ِد َق ِٱأَ ۡل ۡه َِلك َُه�ٰۥ ِبِبٱلإِ َّ ۡصس َلَ�ٰٰو ِعةِيَوٱَلل َّۚزإِنََّك ُٰهوةۥ ََووٱَ�ۡذ َنُك ۡيرَأۡ ُِم�ُر
٥٥ َر ّ�ِهِۦ َم ۡر ِض ّٗيا َو َ� َن ِعن َد
Dan ceritakanlah kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-
Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan
dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Dan ia menyuruh ahlinya
(generasinya) untuk (mendirikan) shalat dan menunaikan zakat,
dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Rabbnya.
121Demikian halnya ibadah haji sebagai tradisi tahunan
ummat Islam sudah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim dan anak
cucunya, seperti dinyatakan dalam surat Al-Hajj [22] ayat 26-27
berikut ini:
ِ� ِ�ٱ َّ�اَش ِ ۡسٗٔ�ابِٱ َو َۡ َ�ط ِِّّهج ۡريَ ۡ�بَتُ ۡيو ِ ََ�ك٢ ۡك٧َع� ِم َ�ويُأَ ّٖۡذِق ِ�ن٢َّ ٦لِرِل� ََّجۡذطاآٗ�ِبَ� ِفَّو ۡ�َونََ�َا َ ٰ�َوِٱ ِ�ۡلُبَِّۡق َ�ا�ٰٓ�ِهِ َِميضاَمَ�ِمرٖ ََموٱيََلأۡ�ُّر�ِ َنَّك َ�ِعٱ ۡ ِمٱ�َل ۡين ُّسِ ُت ُِّج�أَو َفِدنٍّج
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada
Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah
kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan
sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan
orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan
sujud.” Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu sebagai pemimpin,
dan sebagai duta (pengganti) yang datang dari segenap penjuru
yang jauh.
122Dengan demikian, tradisi ibadah yang dikenal dalam
Rukun Islam sudah ada dan telah diwajibkan oleh Allah melalui
Rasul-Nya sejak zaman Abraham dan ditegaskan kembali oleh
Rasulullah Muhammad. Untuk itu, praktik ibadah yang dilakukan
Jalan Kebenaran Universal
198 | MILLAH ABRAHAM
harus dipahami makna dan fungsinya sesuai petunjuk Allah dan
sunnah Rasul-Nya. 123Dalam ibadah shalat, misalnya, Allah
mengingatkan dalam Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 43:
َوأَن ُت ۡم َ ٰٓ� َ� ُّ� َها
َما َْ� ۡعلَ ُموا �ٰ َّ َح ُس َ�ٰ َر ٰى َٱل َّص َل ٰوة َْ� ۡق َر ُ�وا َ َْءا َم ُنوا ٱ َّ ِ�ي َن
�
... َ� ُقولُو َن
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang
kamu ucapkan ...
124Ayat ini bukanlah berisi larangan shalat bagi orang-orang
beriman yang sedang mabuk, karena meminum khamar atau
sesuatu yang memabukkan adalah sesuatu yang terlarang. Namun,
ayat ini menekankan agar orang yang sedang shalat mengerti apa
yang dibacanya di dalam shalat. 125Ketika seseorang membaca
firman Allah dalam shalatnya tetapi dia tidak memahami apa yang
dibacanya, itu sama nilainya dengan orang mabuk yang melakukan
shalat. Bukankah orang yang mengucapkan sesuatu tetapi tidak
memahami maknanya sama seperti perkataan orang yang mabuk?
126Dengan kata lain, shalatnya di hadapan Allah hanya sia-sia
belaka. Belum lagi jika shalatnya dilakukan karena takut kepada
seseorang atau ingin mendapat pujian dari orang lain dan
mengharap pahala. Pantas jika shalatnya tidak memberi pengaruh
apapun terhadap kesadaran dan perilaku atau akhlaknya. Shalatnya
rajin, tetapi kejahatannya pun rajin.
127Berapa banyak orang yang mengerjakan shalat tetapi tidak
dapat menghindarkan diri mereka dari perbuatan keji dan munkar.
Bukankah di antara fungsi shalat adalah mencegah manusia dari
perbuatan keji dan mungkar? 128Perhatikan firman Allah dalam Al-
Quran surat Al-Ankabūt [29] ayat 45 berikut ini:
� إِ َّن ٱل َّصلَ ٰو َة َ� ۡن َ ٰ� َع ِن ٱ ۡل َف ۡح َشآ ِء َوٱلۡ ُمن َك ِر...
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)
keji dan mungkar.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 199
129Begitu pula dengan sabda Rasulullah Muhammad:
“Barang siapa yang shalatnya tidak dapat mencegah dirinya dari
perbuatan buruk dan kemungkaran, maka orang itu tidaklah
bertambah dekat dengan Allah melainkan bertambah jauh.”
(H.R. Thabrani).
130Jika shalat yang dilakukan hanya menjadi rutinitas ritual
belaka dan hanya menjadi simbol identitas agama semata, yang
demikian itu sama halnya dengan kebiasaan praktik shalat yang
dahulu dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy Mekah yang
menolak dakwah Nabi Muhammad untuk kembali menegakkan
hukum Allah melalui ajaran Millah Abraham. 131Perhatikan
pernyataan Allah dalam Al-Quran surat Al-Anfāl [8] ayat 35
berikut ini:
بِ َما ٱ ۡل َع َذا َب َْف ُذو ُقوا ۚ َوتَ ۡص ِديَ ٗة ُم َ�ٓ ٗء َّ ٱ ۡ�َ ۡي ِت ِعن َد َص َ� ُ� ُه ۡم َ� َن َو َما
�ِإ
ُكن ُت ۡم تَ ۡ� ُف ُرو َن
Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan
dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan
kekafiranmu itu.
132Menegakkan atau mendirikan shalat bukanlah dengan
melaksanakan ritual shalat lima waktu semata, melainkan menjaga
hubungan (shilah) antara manusia dan Sang Pencipta serta
menegakkan prinsip-prinsip yang ada dalam ibadah shalat dalam
kehidupan. Prinsip-prinsip shalat yang dimaksud mulai dari prinsip
meng-akbar-kan Allah (takbiratul ihram), menegakkan prinsip
pengabdian dalam surat Al-Fātihah (Allah sebagai Rabb, sebagai
Mālik, dan sebagai Ma’būd), menjalankan prinsip ruku’ (tunduk)
dan sujud (patuh), hingga prinsip membangun hubungan
antarsesama manusia yang penuh dengan kedamaian (as-salām)
dalam satu struktur kepemimpinan (imam) dan barisan ummat
(jemaah shalat) yang teratur dan tersusun rapi (shaff shalat).
133Prinsip-prinsip shalat inilah yang harus ditegakkan dan dibina
oleh kaum mu‘minin, tanpa ada maksud untuk pamer (riya),
sehingga shalatnya menjadi sia-sia (sāhūn) dan menjadi penghuni
neraka wayl.
Jalan Kebenaran Universal
200 | MILLAH ABRAHAM
134Menjalankan aktivitas pengabdian (shalat) harus dibarengi
dengan sikap yang selalu menjaga kebersihan diri dan harta (zakat)
sebagai amanat (titipan) dari Sang Pencipta. 135Kebersihan diri dan
harta ini merupakan simbol kebersihan iman atau kecintaan
kepada-Nya, dengan kesanggupan kita untuk berkorban harta dan
diri. Pengorbanan harta ini juga menjadi simbol pembenaran
(shadaqah) seseorang kepada misi risalah para Rasul. Syaratnya
adalah semua harta yang telah kita korbankan (zakat) tidak perlu
diikuti oleh sikap pamer dan menyakiti perasaan si penerima.
136Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2]
ayat 263-264 berikut ini:
ناق٢ٍُم٦َّ ٣من َّوِمِفاِٞطل ُُّلِمن َو�ابنِْ َٱ َ� ََََّ�صص�ُِهََددۥ ََوقَ�ٱٰتٖۡةِ َ�َصيَۡو ۡتُِۡٗم�َب��ۖمُٱع َهَّبِ�آٱ�لِۡأخَ َمَٗذ�ِر� ِّۡقن َ�ىِۗدََوم ُٱَروَثۡٱوُل َ� َُّهََذنُ�ۥ ٰى َََغك َ ََِٰمك� ٌّٱَث� َّ َِلِ� َح ۡ�لِيَيصءٖيُۡفِٞمٞ�ِب َٱنف�فََّ ََاءأَوا َِمََم ۡصغُنسافِبوَاََْوُره ٌَةَۥ�� ََيُخوُ�ا ۡۡ ۡؤببٞ ٞ ُۡي�لُّ�ۥهَِهَّمارتُِۡعٱ َئَُرَّراآ ِ�وَءيٞ�ََََقََمَعٰۡٓا�ول
ٱ ۡل َ�ٰفِرِ� َن ٱ ۡل َق ۡو َم َ ْ َك َس ُب ۗوا
٢٦٤ َ� ۡه ِدي � �ُ َّ َوٱ
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari
shadaqah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
(perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak
beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Maka perumpamaan
orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang
mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang kafir.
137Kewajiban puasa Ramadhan adalah kewajiban tahunan
yang sudah diwajibkan sejak zaman dahulu sebelum kerasulan
Muhammad. Tujuan dari shaum tersebut jelas, yakni agar orang-
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 201
orang beriman menjadi pribadi yang taat dan disiplin (taqwa).
138Kemampuan diri untuk menahan (imsak) segala keinginan
materiel dalam kehidupan dunia ini, khususnya yang kita
konsumsi, baik makanan fisik maupun makanan rohani, adalah
esensi dari ibadah shaum tersebut. Ibadah puasa bukan hanya
sebatas menahan lapar dan dahaga.
139Perjalanan Rasulullah Muhammad beserta para
sahabatnya dalam menegakkan misi risalah Allah di muka bumi
senantiasa dibarengi dengan shaum, yakni menahan diri dari segala
macam godaan duniawi yang dapat membatalkan visi perjuangan
di jalan Allah. Itulah sebabnya, ketika Rasulullah Muhammad dan
para sahabatnya sudah berhasil menegakkan kembali Khilafah
Allah (Darussalam), maka hari kemenangan tersebut juga disebut
dengan “Idul Fitri”, hari ketika manusia telah menjadi manusia
yang merdeka, yakni kembali kepada fitrahnya menjadi hamba
Allah, bukan lagi menjadi budak dari tuan-tuan selain Allah, Tuan
Semesta Alam.
140Selanjutnya, ibadah haji dapat menjadi puncak ibadah
ritual ummat Islam, bahkan ummat manusia, baik secara pribadi
maupun kelompok sosial (bangsa-bangsa). Ibadah haji seharusnya
dapat menjadi wahana bertemunya berbagai jenis suku bangsa
dalam melakukan muktamar internasional yang dipimpin oleh
Amirul Hajj. Ibadah haji tidak hanya melakukan ritual secara
simbolik, tetapi juga menjadi ajang koordinasi dan konsolidasi,
bukan hanya ummat Islam tetapi juga ummat manusia sedunia.
141Dengan demikian, segala persoalan ummat dan bangsa serta
ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di dunia dapat
dibicarakan dan dicarikan solusinya dalam muktamar internasional
tersebut. Bukan sebaliknya, ibadah haji dan umrah hanya dijadikan
wisata spiritual dan ladang bisnis bagi penguasa dan pengusaha.
142Masih banyak lagi jenis ibadah yang seharusnya dapat
dilakukan oleh orang-orang beriman seperti hukum nikah, waris,
berbuat baik kepada orang tua, ibadah qurban, hijrah, dan jihad.
143Tentu saja semua itu dilakukan atas dasar iman dan ilmu. Sebab,
salah satu ciri dasar orang beriman adalah mengerjakan sesuatu
Jalan Kebenaran Universal
202 | MILLAH ABRAHAM
selalu atas dasar ilmu, bukan atas dasar tradisi, prasangka, atau
ikut-ikutan belaka. Segala sesuatu yang dikerjakan atas dasar
prasangka, praduga, atau ikut-ikutan belaka akan menghasilkan
kesia-siaan dan kerugian. 144Perhatikan Al-Quran surat Al-Isrā' [17]
ayat 36 berikut ini:
َو َ� َ� ۡق ُف َما َل ۡي َس لَ َك بِهِۦ ِع ۡل ٌۚم إِ َّن ٱل َّس ۡم َع َوٱ ۡ�َ َ َ� َوٱ ۡل ُف َؤا َد ُ ُّ� أُ ْو َ ٰٓ��ِ َك
�ٗ َ� َن َ� ۡن ُه َم ۡ ُ�ٔو
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan akal pikiran, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.
3. Hukum (Syariat)
145Akar tunggang dari ajaran Millah Abraham adalah
keimanan kepada Allah, Tuan Semesta Alam, secara mutlak, yakni
mengabdi hanya kepada Dia, Yang Mencipta dan Yang Mengatur
kehidupan ini dengan sistem hukum-Nya yang benar (Dīn Al-
Haqq). Allah pula yang mengutus semua Nabi dan Rasul-Nya ke
tengah-tengah ummat manusia pada zamannya masing-masing
dengan membawa misi risalah yang sama, yakni lā ilāha illā Allāh.
146Esensi dari kalimat tauhid ini adalah menjadikan Allah sebagai
satu-satunya yang ditaati dan dipatuhi segala kehendak dan
perintah (hukum)-Nya. Kesiapan untuk tunduk patuh (aslama)
kepada hukum Allah adalah esensi pengabdian (ibadah) setiap
manusia beriman agar tercipta suatu kehidupan yang seimbang,
harmonis, teratur, dan penuh damai, tidak hanya bagi ummat
manusia tetapi juga bagi alam sekitar. 147Oleh karenanya, dimensi
iman dan dimensi hukum dalam Millah Abraham adalah sesuatu
yang tidak bisa berdiri sendiri. Inilah sebabnya prinsip hukum yang
pertama dan utama dalam Millah Abraham adalah prinsip lā ilāha
illā allāh; jangan ada ilah-ilah lain selain Allah, Tuan Semesta Alam.
Dalam bahasa Alkitab dikatakan, “Kasihilah Tuan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu” (Injil Matius 22: 37).
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 203
148Hukum Allah adalah hukum yang sejati dan hukum yang
fitrah bagi seluruh makhluk, khususnya manusia. Allah adalah Raja
alam semesta, Yang mengendalikan kehidupan langit dan bumi
beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya sebagai teritori
Kerajaan Allah. Dia tidak pernah istirahat dalam mencipta,
mengatur, dan mengendalikan kehidupan alam semesta termasuk
bumi tempat manusia berdiam. 149Artinya, seluruh manusia berada
dan hidup dalam Kerajaan-Nya. Untuk itu, sudah seharusnya jika
ummat manusia berserah diri (tunduk patuh) kepada aturan
hukum Sang Raja, baik hukum yang berlaku pada kehidupan alam
semesta maupun hukum yang berlaku pada kehidupan manusia
yang tertulis dalam Kitab Suci-Nya.
150Secara prinsip, hukum Allah merupakan satu sistem
aturan yang di dalamnya terhimpun seluruh aspek yang mengatur
kehidupan manusia, baik hubungan dengan Dia, Raja ummat
manusia, maupun hubungan antarsesama manusia dan hubungan
dengan alam sekitarnya. Semua aturan hukum tersebut lagi-lagi
ditujukan dalam rangka menjaga fitrah manusia, menciptakan
kedamaian dan kebahagiaan hidup dan kehidupan ummat manusia
di muka bumi, serta menjaga kesetimbangan dan keharmonisan
alam semesta. 151Penyimpangan atau pelanggaran manusia terhadap
hukum-hukum Allah (sebagai sesuatu yang fitrah) pasti akan
menimbulkan ketidakadilan dan ketidakteraturan hidup yang pada
akhirnya akan menciptakan kesengsaraan dan malapetaka sosial
bagi kehidupan manusia.
152Hukum Allah disampaikan dan diajarkan kepada manusia
melalui media Rasul-Nya dengan proses pewahyuan. Kumpulan
aturan hukum Allah tersebut tersusun dan tertulis secara jelas
dalam Kitab-Kitab Suci, mulai dari Taurat Nabi Musa, Injil Nabi
Isa, hingga Kitab Al-Quran yang menjadi peninggalan Nabi
Muhammad. 153Dalam Millah Abraham, Kitab-Kitab Suci tersebut
menjadi sumber utama dan terpenting dari aturan hukum Allah
yang tertulis. Itulah kenapa ketiganya disebut dengan “Al-Kitab”,
yakni kumpulan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum Allah,
Tuan Semesta Alam.
Jalan Kebenaran Universal
204 | MILLAH ABRAHAM
154Mayoritas kaum agamis Islam meyakini bahwa Islam
adalah agama terakhir dan paling sempurna dibanding agama-
agama lainnya yang diturunkan Allah sebelumnya. Islam adalah
agama yang dibawa Rasulullah Muhammad dengan ajaran dan
syariat (hukum) yang berbeda dari ajaran dan syariat para Nabi dan
Rasul Allah sebelumnya, kecuali dalam hal keimanan kepada-Nya.
155Inilah doktrin yang menyesatkan dan selanjutnya melahirkan
benih-benih kebencian dan kesombongan di antara pemeluk
agama hingga menjadikannya fanatis buta.
156Allah adalah Tuan Yang Maha Kuasa dan Maha
Mengetahui. Dia telah menyatakan ke-esa-an diri-Nya dalam
mencipta dan mengatur semesta ini. Hukum Allah adalah bagian
inti dari sistem aturan universal yang benar (Dīn Al-Haqq), yang
diperuntukkan bagi segenap makhluk-Nya termasuk manusia,
siapa pun, di mana pun, dan hingga kapan pun.
157Hukum Allah adalah sesuatu yang benar dan fitrah,
sehingga dia tidak pernah mengalami perubahan hanya karena
berubahnya tempat dan zaman. Meskipun Allah mengutus Rasul-
Nya untuk lokasi dan zaman yang berbeda, tetapi aturan hukum
yang diajarkan dan diperintahkan oleh-Nya tetaplah sama dan
tidak pernah berubah. 158Hukum Allah berasal dari Yang Maha
Benar, sifatnya mutlak benar dan tidak pernah berubah serta tak
boleh diubah (diamandemen). Ketika hukum Allah telah diubah
oleh tangan-tangan manusia, Dia mengutus Nabi Musa dengan
membawa Taurat. Ketika hukum-Nya yang ada di dalam Taurat
diubah oleh tangan-tangan jahil manusia, Dia mengutus Nabi Isa
untuk meluruskannya dengan Injil. Dan ketika hukum-Nya yang
ada di dalam Taurat dan Injil telah disimpangkan oleh tangan-
tangan jahil manusia, Dia mengutus Nabi Muhammad untuk
meluruskan segala penyimpangan yang terjadi atas keduanya.
159Dengan demikian, tidak benar sama sekali jika dikatakan ajaran
dan syariat yang dibawa oleh para Rasul Allah berbeda antara satu
dengan yang lainnya.
160Selain itu, Allah, Tuan Yang Maha Adil, yang mengutus
para Rasul adalah Allah yang sama. Wajar jika Dia mensyariatkan
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 205
hukum yang sama kepada mereka meski berbeda masa dan tempat,
karena watak dasar manusia tetaplah sama. 161Perhatikan Al-Quran
surat Asy-syūra [42] ayat 13 berikut ini:
َْوَو ِعَّي ٰ َ� ٰٓبِ�ۖهِأَۦ ۡننُأَو�ِٗحيا ُمو َاوْٱ َّٱ ِ� ِّ� ٓيي َنأَ ۡوَو ََح�ۡي َنآَ� َتإَِف َ َّۡ�ر ُق َوكا َل ُ�م ِّم َن ٱ ِّ�ي ِن َما
َو َما �ٰ َ بِهِۦٓ إِبۡ َ�ٰهِي َم َو ُمو َ َ� َع
ِ�ِي �ه َو َّص ۡي َنا
َو َ� ۡه ِد ٓي � َ َشآ ُء َمن ِإِ َ ۡ�ه �ٓ ِ َ ۡ� َت �ُ َّ ٱ ِإِ َ ۡ� �ه تَ ۡد ُعو ُه ۡم َما �َ ِ��ِ ۡ َ َ� ٱلۡ ُم �َ ُ َك
َمن يُنِي ُب ِإِ َ ۡ�ه
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang din apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah Din dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik din yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik
kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
162Secara aqidah, hukum yang benar (haq) adalah hukum
Allah, dan segala hukum dan perundang-undangan yang dibuat
bukan atas dasar firman (wahyu)-Nya adalah tidak sah (batil). 163Al-
Quran menyebut hukum yang dibuat atas dasar kesepakatan
manusia dengan sebutan hukum jahiliyah, karena manusia sudah
berani membuat aturan hukum di luar hukum Allah. Manusia
merasa dirinya lebih mengetahui, lebih cakap, dan lebih pantas
membuat aturan hukum bagi manusia. Selain itu, hukum
digunakan oleh manusia untuk menjajah, memperbudak, dan
menindas manusia lainnya yang bodoh, lemah, dan miskin.
164Bagaimanapun, hukum dan perundang-undangan buatan
manusia hasil konsensus politik penjajah atau penguasa (hukum
sekuler) sangat rentan akan keterbatasan dan ketidakadilan serta
cenderung memihak pada yang kuat, pintar, dan kaya (penguasa
dan pengusaha).
165Hakikatnya, Allah Sang Pencipta adalah Yang paling
mengetahui apa saja yang bermanfaat dan yang dapat merugikan
ummat manusia. Hukum Allah berisi tentang perintah dan
Jalan Kebenaran Universal
206 | MILLAH ABRAHAM
larangan atas perbuatan-perbuatan yang sejatinya untuk
melindungi manusia, baik secara pribadi maupun sosial, dari
berbagai kerugian dan kerusakan. 166Itulah sebabnya, orang-orang
beriman selalu diingatkan untuk senantiasa mengabdi (tunduk
patuh) hanya kepada-Nya dengan jalan melaksanakan segala
perintah-Nya dan menjaga diri dari segala hal yang dilarang dan
dimurkai-Nya.
167Jika merujuk pada Kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran,
dapat disimpulkan bahwa “Sepuluh Perintah Allah” (The Ten
Commandments) merupakan simpul ajaran hukum Millah Abraham.
Sepuluh Perintah Allah ini selanjutnya menjadi dasar bagi nilai-nilai
hukum dalam ajaran Millah Abraham. Kesepuluh Perintah Allah
itu terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama, Kitab Keluaran 20
ayat 1-17 dan Kitab Ulangan 5 ayat 1-21. 168Secara singkat isi dari
Sepuluh Perintah Allah tersebut adalah:
1. Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku;
2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun;
3. Jangan menyebut nama Tuan, Allahmu, dengan
sembarangan;
4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat;
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu;
6. Jangan membunuh;
7. Jangan berzina;
8. Jangan mencuri;
9. Jangan mengucapkan saksi dusta;
10. Jangan dengki (mengingini sesuatu yang bukan milikmu).
169Saat Nabi Isa (Yesus) diutus oleh Allah, ajaran hukum
Taurat tersebut tidaklah dilenyapkan atau ditiadakan, justru
dikukuhkan kembali oleh beliau sebagaimana tertuang dalam Kitab
Matius 5 ayat 17-19 berikut ini:
Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk
meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang
bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum
lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 207
ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum
Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang
paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang
melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum
Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan
Surga.
170Dari Sepuluh Perintah Allah tersebut selanjutnya
disimpulkan oleh Yesus menjadi dua hukum yang terutama, yang
akhirnya diadopsi menjadi hukum pokok gereja saat ini, yakni;
pertama, “Kasihilah Tuan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Kedua,
“Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri”. 171Pada kedua
hukum inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para
nabi (lihat Matius 22: 36-40). Jelas sekali bahwa ajaran keimanan
tidak bisa dipisahkan dengan ajaran hukum Allah itu sendiri.
172Al-Quran juga memperkuat kesepuluh hukum dasar Allah
tersebut, meski tidak dinyatakan secara kolektif dalam satu
susunan ayat. Yang pasti, ajaran hukum dalam Millah Abraham
tidak terpisahkan dengan masalah iman. Bahkan, ayat-ayat hukum
yang memuat perintah dan larangan Allah dalam Al-Quran
ditujukan kepada orang-orang yang telah beriman (yā ayyuha al-
ladzīna āmanū; wahai orang-orang yang telah beriman). Semua ayat
hukum dalam Al-Quran diturunkan pada kondisi Madaniyah,
pasca eksodus.
173Pembenaran Al-Quran terhadap poin-poin dari The Ten
Commandments dapat dilihat dalam berbagai ayat, misalnya, dalam
Al-Quran surat Al-Isrā' [17] ayat 31-35 dan surat Al-Mumtahanah
[60] ayat 12. Dalam Injil Matius sepuluh hukum Allah disimpulkan
oleh Yesus menjadi dua hukum utama, yakni kasih kepada Allah
dan kasih kepada sesama manusia, dan dalam Al-Quran digunakan
istilah hablum min Allāh dan hablum min al-nās. 174Empat hukum
pertama dari The Ten Commandments berhubungan dengan Allah
(hablum min Allah), yakni hukum aqidah tauhid, hukum berhala
(meninggalkan kemusyrikan), hukum penyebutan nama Allah, dan
Jalan Kebenaran Universal
208 | MILLAH ABRAHAM
hukum Sabath. Sedangkan enam hukum berikutnya berkaitan
dengan sesama manusia (hablum min al-nās), yakni hukum
menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak
mencuri, hukum saksi palsu, dan hukum dengki. Kesepuluh
Perintah Allah inilah yang menjadi pedoman hidup yang harus
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya
kedamaian dan kesejahteraan hidup di dunia.
175Secara konseptual, hukum Allah yang tertulis dalam Kitab
Al-Quran sudah sempurna dan lengkap. Prinsip-prinsip hukum
Allah tentang hubungan dengan Dia dan hubungan dengan sesama
manusia dapat menjadi dasar bagi hukum-hukum kemanusiaan
lainnya dalam hal pidana, perdata, sosial, ekonomi, dan politik
(berbangsa dan bernegara), sehingga mampu menciptakan dan
menjaga tatanan kehidupan ummat manusia.
176Dalam aqidah Millah Abraham, manusia beriman wajib
menjalankan segala kehendak dan perintah (hukum) Allah, Tuan
Semesta Alam, dalam segenap sendi hidup dan kehidupannya,
bukan sebatas menjalankan kewajiban ritual belaka. 177Ketika ada
seseorang atau sekelompok orang yang tidak menerapkan hukum
Allah dan tidak memutuskan perkara atas dasar hukum Allah,
mereka disebut orang kafir, zalim, dan fasiq. Demikianlah
penegasan dan perintah Allah kepada manusia beriman untuk
menerapkan hukum-Nya di tengah-tengah kehidupannya.
178Penegasan ini dapat kita lihat dalam Al-Quran surat Al-Māidah
[5] ayat 44-47 di bawah ini:
َْْۚما َ ۡٱ� ۡس ُتُ� ُۡمح ِفبُِ َظهاواْٱ ِم ّ�َبِن ُّيوكِ َنَ�ٰٱ َِّبِ�يٱ َنَّ�ِأَ ۡ َسو َلَ� ُنمُووااَُٞهوٱ ٗ ۡد َ�ىۡح َب َاونُُروبِر إِ َّ�آ أَن َز ۡ�َا ٱ َّ� ۡو َرٮٰ َة �ِي َها
لِ َّ ِ�ي َن َها ُدواْ َوٱل َّر َّ�ٰنِ ُّيو َن
ۚ ٗنبِاٱ َۡو َق ََ��لِنَتي ۡبِٗ َنا�ف٤ َم٤َبٱِ ۡ� َم�َّآَ ۡشف ُوأََاْنٱَسز َ�َّلابِٱَٱ�َّس َّ ۡفُ�َو ِٱ َفۡسخأُ َْوشََو ۡٱوٰٓ� ۡل�ِِ َنع َۡ َكوَ�َ� ُهب�ِ َُٱم ۡۡلش َعٱَ ۡۡلُ� ِ�وَاْ�ٰفِ َو ُٱ�ر َۡ�وٰ َ� ِنَن َ� َ�ف
�َ َع َل ۡيهِ ُش َه َدآ َءۚ َف
َو َمن َّل ۡم َ ۡ� ُ�م
َعلَ ۡي ِه ۡم �ِي َهآ أَ َّن
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 209
و٤َ ه٥ُ �َ َ ۚصٰٓ��ِ َ� َ َمكن ُهتَُم َصٱلَّدَّ َ�ٰقلِبُِمهِوۦ َنَٞن َّبُ�ِۚٱۥ ۡ�ُ َوُذ َم ِنن َوٱَّلل ۡم ِّس ََّنۡ� بِٱلُ� ِّمس ِّبنِ َم َآوٱ أَ ۡن ُ� َزُر َلو َٱح َّقُِ� َصفَاأُ ْوَٞوَكٱ َّۡفا�ُ َُذرة
�ِدايٓۡيۡأهَِهِن َزِمِمَ َلَننٱٱٱ َّ ََّّ��ُ� ۡۡوو ََ�ِررٮٮيٰٰ �ةِِةه٤َ ََمد٧َرۡۡحرٰٓ� َ��َِو َم َُُم�ك ُۡمَمصُهَأَ ِّصدُۡمه ّٗقِدُٱالٗقۡلالَّٱِ�ٰۡلَّمِ ِاَ�مِسا َُق�ِ� َ�ۡيو َۡ�ََِلن�يَبِيَٞ ُ�بۡ ََووِفَننُۡأُ�َوْوَم٤ َّىٱ٦�ََََوووو َََ�ءُمهاَّفَٗ�دنۡيۡي َن َّلَاى�ٰ ۡمُهََو َََٱم ٰٓۡ��ۡ ۡوِ� َِءعاُ�َِ�َظ�ٰيمٗةَرِلبِهِّلِ َمۡلما�ِٓ ُميبأََِّتنهِِع ِقَزي َُهََل�ٗدٱ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di
dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang
dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim
mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi
saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada
manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu
menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan Kami
telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat)
bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata,
hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi,
dan luka luka (pun) ada qishashnya. Barang siapa yang
melepaskan (hak qishash)nya, maka melepaskan hak itu
(menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang yang zalim. Dan Kami iringkan jejak
mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam,
membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami
telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya
(ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan
kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi
petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa.
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang
Jalan Kebenaran Universal
210 | MILLAH ABRAHAM
siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq.
• 179Al-Quran surat An-Nisa [4] ayat 60: َ�لَ ۡم تَ َر
َو َمآ أُن ِز َل ٱيُإلِ ِرَ َّ��ش ُۡيدٱَوَّ�ٰ ِ�َنُينأََأنَننيَ َ�ۡزيُ َت ُ�ِ َضُحم َّالو ُهَكَ ۡنمُم ٓوَ�اََّْ�ضإُِهَ�َٰ ۡمَ�ۢ�ٱ َءلباَ َّ َِعم ٰ�يُن ُغٗوداْوا بِِت َمآَو َقأُنۡد ِزأَُل ِم ُرإِ َٓو ۡ�اْ أََكن َ� ۡبلِ َك
ِمن ْ يَ ۡ� ُف ُروا
بِهِۖۦ َو ُ� ِر� ُد
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
• 180Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 50:
أَفَ ُح ۡ� َم ٱ ۡل َ�ٰ ِهلِ َّي ِة َ� ۡب ُغو َ ۚن َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن ِم َن ٱ َّ�ِ ُح ۡك ٗما ّلِ َق ۡو ٖ� يُوقِ ُنو َن
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-
orang yang yakin.
• 181Al-Quran surat Al-Jātsiyah [45] ayat 18:
أَ ۡه َوآ َء ٱ ۡ َ� ۡم ِر
َ ٱ َّ ِ�ي َن تَ َّتبِ ۡع �َ َو فَٱتَّبِ ۡع َها ِّم َن َٖ ِ�� َعة �ٰ َ َ َج َع ۡل َ�ٰ َك ُ� َّم
�
َ� ۡعلَ ُمو َن
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan, maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
182Semua penegasan tentang penegakan hukum Allah di atas
adalah firman (ayat-ayat) yang jelas dan tegas, sehingga tidak
membutuhkan penafsiran yang berbelit-belit yang malah akan
menjadikannya kabur, tanpa nilai petunjuk. Ketetapan Allah ini
dapat dimengerti, karena dengan menjalankan hukum Allah secara
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 211
menyeluruh (kāffah) akan menjaga manusia untuk selalu berada
dalam kondisi fitrah dan suci, serta membantu manusia dalam
menegakkan dan mewujudkan keadilan, kedamaian, dan
kesejahteraan bersama. 183Keadilan sejati tidak akan dapat
ditegakkan selama hukum yang digunakan dalam memutuskan
perkara manusia adalah hukum hasil konsensus syahwat manusia
yang tidak didasari dan dilandasi oleh kesadaran firman (wahyu)
Allah atau menggunakan hukum jahiliyah.
184Pertanyaannya, bagaimana dengan penegakan hukum
Allah di negara yang bukan negara agama (Islam)? Apakah kita
harus mewajibkan ummat Islam menjalankan hukum Allah di
negara yang bukan negara agama (Islam)? Kapan dan di manakah
hukum Allah itu dapat diterapkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
harus dapat dijawab dengan benar sesuai tuntunan wahyu Allah
dan sunnah Rasul-Nya agar ayat-ayat-Nya tidak disalah-gunakan
dan disalah-tafsirkan, sehingga melahirkan kelompok-kelompok
radikal (teroris) dengan mengatasnamakan agama tertentu (Islam).
185Bagaimanapun, ada tuntutan spiritual dan historis bagi ummat
Islam Indonesia untuk menjadikan syariat Islam sebagai dasar dari
negara ini, sehingga sangatlah wajar jika hasrat untuk menegakkan
hukum Allah secara kāffah di Indonesia tidak akan hilang,
khususnya oleh kaum fundamentalis. Sekali lagi, permasalahan ini
harus dijawab dengan jelas.
186Dalam kehidupan bernegara, kata hukum sering
diidentikkan dengan kumpulan peraturan, undang-undang, dan
semacamnya, yang berfungsi mengatur tata pergaulan hidup
masyarakat dan dipandang mengikat bagi masyarakat tersebut.
Karena itu, sebuah negara politik tidak akan pernah tegak
manakala tidak didukung oleh undang-undang atau peraturan-
peraturan sebagai pilar utama dari ketertiban berbangsa dan
bernegara, atau sering disebut ius constitutum (hukum positif).
187Dalam adagium hukum dikatakan, there is no state without law
(tidak ada negara tanpa ada hukum). Atau ungkapan klasik Marcus
Tullius Cicero (106-43 SM), seorang filsuf dan negarawan Romawi,
Ubi societas ibi ius (di mana ada masyarakat di situ ada hukum).
Hukum seharusnya dijadikan alat untuk mengatur manusia sebagai
Jalan Kebenaran Universal
212 | MILLAH ABRAHAM
anggota masyarakat agar tercipta kehidupan yang teratur, damai,
dan sejahtera.
188Di Indonesia, perjuangan untuk menjadikan hukum Allah
(syariat Islam) sebagai bagian dalam tatanan hukum positif sudah
berlangsung sejak masa pra-kemerdekaan. Perseteruan antara
kelompok nasionalis dan kelompok agamis Islam sudah dimulai
saat penentuan dasar negara Republik Indonesia di sidang-sidang
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI). Kelompok Islam (yang saat itu dimotori oleh ulama
Muhammadiyah dan NU) sangat berkeinginan agar negara RI
berdasar atas agama Islam, sehingga hukum (syariat) Islam berlaku
bagi para pemeluknya di Indonesia. 189Perjuangan ini mencapai
klimaksnya saat sidang BPUPKI menyepakati susunan sila-sila
Pancasila sebagai dasar negara, khususnya sila pertama, yakni
“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”. Hal ini sekaligus menjadi kemenangan
politik terbesar bagi ummat Islam Indonesia. Lima dasar tersebut
kemudian disepakati masuk dalam rumusan rancangan preambul
Pembukaan UUD 1945. Rumusan politik tanggal 22 Juni 1945 ini
kemudian oleh Mohammad Natsir disebut sebagai “Djakarta
Charter (Piagam Jakarta)”. Muhammad Natsir menyebut Piagam
Jakarta sebagai tonggak sejarah bagi tercapainya cita-cita Islam di
bumi Indonesia.
190Namun demikian, sehari pasca Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dibacakan, ijtihad politik ummat Islam Indonesia untuk
menegakkan syariat Islam lewat Djakarta Charter kandas kembali.
Sebab, 15 menit sebelum pengesahan UUD 1945 (yang di
dalamnya memuat hasil Djakarta Charter) pada tanggal 18 Agustus
1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mencoret
tujuh kata dari Piagam Jakarta tersebut. 191Kalimat “Negara
berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya” diganti dengan, “Negara berdasar atas
Ketuhanan Yang Maha Esa”. Begitupula dengan pasal 29 ayat 1
UUD 1945 berbunyi, “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang
Maha Esa”, sebagai ganti dari “Negara berdasarkan atas
Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 213
pemeluk-pemeluknya”. 192Perubahan ini dilakukan atas desakan
politik dari kaum nasionalis, khususnya kelompok non-Islam dari
Indonesia wilayah Timur, seperti Latuharhary, Sam Ratulangi, dan
I Gusti Ketut Pudja yang didukung oleh Mohammad Hatta
dengan melobi tokoh-tokoh Islam saat itu, khususnya Ki Bagus
Hadikusumo selaku Ketua Umum Muhammadiyah.
193Pelbagai komentar muncul atas peristiwa politik tersebut.
Bung Karno menyebutnya sebagai kompromi politik kelompok
Islam dan nasionalis. Mohammad Natsir menyebut peristiwa
tersebut sesuatu yang tidak bisa dilupakan oleh ummat Islam.
Namun, tidak sedikit tokoh (Islam) yang menyebutnya sebagai
“musibah” terbesar bagi ummat Islam Indonesia.
194Perjuangan kelompok Islam tidak serta merta pupus.
Pasca pemilu tahun 1955, kelompok Islam tetap berjuang di dalam
Sidang Majelis Konstituante untuk mengembalikan Piagam Jakarta
dan mengajukan Islam sebagai dasar negara. Sidang Majelis yang
dilakukan berjalan alot dan bertele-tele, sehingga dari tahun 1956
sampai dengan tahun 1959 belum juga ada hasilnya. Akhirnya,
Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang
berisi pembubaran Konstituante dan menetapkan berlakunya
kembali UUD 1945 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta 22 Juni 1945.
Pasca dekrit tersebut, selisih dan diskursus soal Piagam Jakarta di
bangsa ini mulai surut. Perjuangan ini muncul kembali di awal era
reformasi, tetapi tetap saja tidak berhasil. 195Demikianlah gambaran
singkat perjuangan kelompok Islam Indonesia untuk menjadikan
Islam sebagai dasar negara agar syariat Islam (hukum Allah) dapat
ditegakkan secara kāffah di Indonesia.
196Meskipun dalam Dekrit Presiden dikatakan, “Kami
berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945
menjiwai Undang-Undang Dasar 1945”, akan tetapi hal itu adalah
keyakinan politik pribadi Bung Karno. Secara dejure, dekrit tersebut
tidaklah menjadikan Negara Republik Indonesia menjadi negara
agama (Islam) yang mewajibkan ummat Islam menjalankan syariat
Islam dalam segala lini kehidupan.
Jalan Kebenaran Universal
214 | MILLAH ABRAHAM
197Bagi sebagian ummat Islam, dicabutnya tujuh kata dalam
Piagam Jakarta adalah sebuah pengorbanan atau musibah, bahkan
kerugian politik yang menyakitkan. 189Musibah itu terjadi karena
cara menegakkan syariat Islam yang demikian tidak mencontoh
sunnah Rasul. Semua Rasul menegakkan Din Al-Islam didahului
dengan dakwah dan pembentukan kader mujahid yang
berlandaskan iman kepada Allah. Orang-orang beriman tidak
bekerja sama dengan kelompok di luar mu’min, walaupun orang-
orang musyrik, yaitu mereka yang bertuan kepada selain Tuan
Semesta Alam, tidak menyukainya. 198Perhatikan pernyataan Al-
Quran surat At-Tawbah [9] ayat 33 berikut ini:
ٱ ۡ َ� ِّق ٱ َّ ِ� ٓي أَ ۡر َس َل َر ُسو َ ُ�ۥ
ُ�ِّهِۦ ٱ ِّ�ي ِن �َ َ ِ ُ� ۡظ ِه َر ُهۥ َو ِدي ِن بِٱلۡ ُه َد ٰى َكرِ َه ٱلۡ ُم ۡ ِ� ُ�و َن ُه َو
َولَ ۡو
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa)
petunjuk (Al-Quran) dan din yang benar untuk dimenangkan-
Nya atas segala din, walaupun orang-orang musyrik tidak
menyukai.
199Selain itu, dilihat dari sudut pandang wahyu (spiritual),
peristiwa tersebut adalah wujud “campur tangan” Allah yang tidak
rida atau mengizinkan hukum-Nya ditegakkan di negara yang tidak
menjadikan Dia sebagai satu-satunya Rabb, Malik, dan Ilah.
200Secara hukum, syarat sah untuk melakukan ibadah kepada-Nya
adalah suci. Tidak hanya manusianya yang harus suci secara lahir
dan batin, tetapi wilayah (masjid; tempat sujud) untuk melakukan
ibadah pun harus suci. Demikian halnya untuk bisa menegakkan
hukum Allah secara totalitas dalam kehidupan manusia, maka
dibutuhkan manusia-manusia beriman yang suci (bersih dari
kemusyrikan), aparat-aparat hukum yang suci, dan bangsa (tempat
ditegakkannya hukum Allah) yang suci pula.
201Secara Ruhul Qudus (wahyu), bangsa Indonesia bukanlah
bangsa yang suci untuk bisa menegakkan hukum Allah yang suci
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 202Pancasila yang
menjadi dasar negara dan ideologi bangsa bukanlah ideologi Allah,
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 215
Tuan Semesta Alam. Pancasila diambil dari ideologi bangsa-bangsa
yang sudah lebih dahulu merdeka. Bung Karno sendiri sebagai
penggagas Pancasila mengakui bahwa gagasannya tentang
Pancasila dipengaruhi oleh gagasan Sun Yat Sen, tokoh komunis
China, yang dikenal dengan gagasan San Min Chu I (three people
principles; nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme), sehingga Bung
Karno menyebut dirinya campuran dari Nasionalis, Islamis, dan
Marxis (lihat pidato Soekarno di depan BPUPKI tanggal 1 Juni
1945 di Pejambon, Jakarta). 203Wajar jika nilai-nilai yang ada dalam
Pancasila belumlah sempurna, semenjak kemerdekaannya,
Indonesia belum juga mampu membawa bangsa ini masuk ke
dalam “Istana Merdeka”.
204Sejak 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia masih saja
berada di depan pintu gerbang kemerdekaannya dan belum ada
pemimpin yang mampu dan berani membawa rakyat Indonesia
melewati “jembatan emas” untuk bersama-sama memasuki “Istana
Merdeka” yang sesungguhnya. 205Pasca reformasi, Pancasila justru
semakin tersudut oleh derasnya isme-isme yang “menjajah” bangsa
ini, yang kesemuanya tetap bersumber dari ideologi Barat dan
Timur, ideologi yang berlawanan dengan ideologi Allah, Tuan
Semesta Alam. Hal ini semakin membuat bangsa ini tidak suci.
206Ingat! Di mata Allah, ideologi yang plural (kemusyrikan) adalah
sesuatu yang najis, sehingga Dia melarang orang-orang beriman
mengabdi kepada-Nya di tempat yang najis. Sesuatu yang suci
hanya pantas dilakukan di tempat yang suci pula (lihat QS. At-
Tawbah [9]: 28)
207Lalu bagaimana konsep Millah Abraham dalam menyikapi
kondisi tersebut dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas
sesuai petunjuk wahyu dan sunnah para Rasul Allah?
208Salah satu fungsi dari wahyu Allah adalah menjadi nur
(cahaya penerang) bagi orang-orang beriman. Untuk itu, Kitab Al-
Quran seharusnya menjadi Kitab Petunjuk sekaligus cahaya
penerang bagi ummat Islam, termasuk dalam proses penegakan
syariat Allah di muka bumi. 209Bahasa wahyu adalah bahasa nilai,
sehingga ayat-ayat (firman) Allah selalu mengandung nilai-nilai
Jalan Kebenaran Universal
216 | MILLAH ABRAHAM
khusus di balik kata-kata yang tersurat. Makna hakiki inilah yang
sulit dipahami oleh mayoritas manusia, karena Allah hanya
memberi pemahaman kepada mereka yang memiliki kesadaran
spiritual yang suci dan dengan memaksimalkan tiga sarana dasar
yang dimilikinya. 210Para Nabi dan Rasul Allah adalah orang-orang
yang bisa memahami pesan-pesan tersirat dari ayat-ayat Allah yang
tersurat, termasuk dalam “membaca” alam sosial manusia. Di
tangan Rasul Allah dan orang-orang berimanlah Al-Quran
berfungsi sebagai petunjuk hidup dan menjadi penerang jalan di
alam kegelapan.
211Allah mencipta alam semesta di atas prinsip
kesetimbangan dan kesepasangan, sehingga segala sesuatu
memiliki ukuran dan pasangannya masing-masing. Secara alamiah,
Dia mencipta langit dan bumi, malam dan siang, gelap dan terang,
mati dan hidup, sebagai suatu kesepasangan. Ketika matahari
(sumber cahaya) terbenam, maka bumi akan mengalami kegelapan.
Ketika matahari (fajar) terbit, maka bumi akan terang kembali.
212Dalam dunia sosial manusia, ada kalanya manusia hidup pada
zaman kegelapan dan ada kalanya manusia hidup pada zaman
terang. Inilah dunia nilai dari kehidupan manusia yang dalam
bahasa wahyu disebut “malam dan siang” (layl dan nahr); salah dan
benar (bathil dan haq); gelap dan terang (zhulumat dan nūr); atau
kutuk dan berkat (ghadhab dan ni’mat).
213Kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi
alam. Perubahan kondisi alam (cuaca; musim, misalnya) akan
mempengaruhi dan mengubah perilaku manusia. Dalam kondisi
malam, secara alamiah tubuh manusia meminta untuk beristirahat
menanti fajar, dan siang hari (kondisi terang) menuntut manusia
untuk bekerja mencari penghidupan lahir dan batin. 214Kondisi
gelap dan terang (malam dan siang) ini terus berlangsung secara
silih berganti dan tidak akan pernah berubah. Inilah wujud dari
sunnatullah; tradisi Allah, Tuan Semesta Alam, pada kehidupan
alam semesta. Tidak bisa dibayangkan, jika kehidupan ini malam
selamanya atau siang selamanya, kehidupan ini pasti akan binasa.
215Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Qashash [28]
ayat 71-73 berikut ini:
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 217
ُق ۡل أَ َر َء ۡ� ُت ۡم إِن َج َع َل ٱ َّ ُ� َع َل ۡي ُ� ُم ٱ َّ ۡ� َل َ ۡ� َم ًدا إِ َ ٰ� يَ ۡو ِم ٱ ۡل ِق َ�ٰ َم ِة َم ۡن إِ َ�ٰ ٌه
قُ ۡل أَ َر َء ۡ� ُت ۡم٧١ يَأۡ�ِي ُ�م بِ ِض َيآ ٍء� أَ َف َ� � َ ۡس َم ُعو َن ِ�َّ َ� ۡ ُ� ٱ
ٱإِ َّن�ِ َجيَأَۡع�َِيل ٱ ُ�َّ ُ�م �ُ ۡ �َ َم ۡن إِ َ�ٰ ٌه ٱ�َّ َها َر َ ۡ� َم ًدا إِ َ ٰ� يَ ۡو ِم ٱ ۡلقِ َ�ٰ َم ِة َعلَ ۡي ُ� ُم
لِ َهِوۦِم َنولَ ََّعر َّلۡ َ�تِ ُ�هِ ۡۦم٧ ۡض٢َبَِوٱَل ۡي�َّ َٖلها�ََر ۡسلِتَ ُك ۡ ُنسو ُك َنُنواْ�ِي�ِ �هِيهِأَ َف َوَ ِ��َ ۡب ُ�َت ۡبُغوِاْ ُ� ِمونَنف
ٱ َّ ۡ� َل َج َع َل َل ُ� ُم
٧٣ � َ ۡش ُك ُرو َن
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan
untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah
ilah (tuan) selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang
kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang
itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah ilah (tuan) selain
Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu
beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan
siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu
mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar
kamu bersyukur kepada-Nya.
216Secara alamiah, Allah sudah menciptakan kondisi malam
sebagai masa bagi manusia untuk beristirahat dan kondisi siang
sebagai masa bagi manusia untuk mencari karunia-Nya, bukan
sebaliknya. Namun, silih bergantinya antara malam dan siang
adalah suatu kepastian yang tidak dapat berubah.
217Pada alam sosial politik manusia pun berlangsung hukum
kehidupan yang sama seperti pada alam semesta. Di dunia ini,
hanya ada dua model kehidupan manusia, yakni model kehidupan
batil yang dikuasai oleh Kerajaan Bangsa-Bangsa kafir musyrik
(kekuasaan manusia) dan kehidupan haq yang dikuasai oleh
Kerajaan Allah (kekuasaan Allah atau kekuasaan Wakil Allah;
Khilafah). 218Saat Kerajaan Bangsa-bangsa yang berkuasa di dunia,
hukum yang dipergunakan adalah hukum bangsa-bangsa (hukum
manusia). Pada kondisi seperti ini, manusia disebut oleh Allah
sedang berada dalam kondisi jahannam, manusia berada dalam
Jalan Kebenaran Universal
218 | MILLAH ABRAHAM
kuasa kegelapan, tirani yang kafir dan zalim (thaghut). Inilah yang
disebut oleh wahyu dengan kondisi malam (layl; zhulumat).
219Sebaliknya, saat Kerajaan Allah (Khilafah Allah) yang
berkuasa di dunia, hukum yang dipergunakan adalah hukum Allah.
Pada kondisi seperti ini, ummat manusia sedang berada dalam
kondisi jannah (ni’mat), manusia berada dalam Kuasa Terang;
Penguasa yang selalu melayani rakyatnya dengan Kasih Allah.
Inilah yang disebut oleh wahyu dengan kondisi siang (nahr; nūr).
220Baik kondisi malam maupun siang, masing-masing
memiliki waktu dan tempat tersendiri yang tidak dapat bercampur.
Sesuatu yang haq tidak dapat dicampur dengan sesuatu yang batil.
Begitu pula sesuatu yang haq (suci) tidak boleh ditempatkan pada
tempat yang batil (najis). 221Hukum hasil kekuasaan manusia
(penguasa zalim-kafir) tidak boleh dan tidak diizinkan oleh Allah
untuk diterapkan di dalam Kerajaan Allah (Khilafah Allah), dan
sebaliknya hukum Allah (syariat Allah) tidak boleh dan tidak
diizinkan oleh Allah untuk diterapkan di dalam Kerajaan Bangsa-
bangsa (kekuasaan buatan manusia).
222Jika disepakati, bahwa negara Republik Indonesia ini
bukanlah negara Islam, atau bukan Kerajaan Allah (Khilafah),
maka ummat Islam Indonesia tidak boleh mewajibkan syariat
Islam (hukum Allah) di wilayah hukum negara ini. 223Begitu halnya
dengan komunitas Millah Abraham yang tidak punya kuasa untuk
mewajibkan atau melarang orang lain atas praktik-praktik ibadah
atau hukum Allah di negara Indonesia. Namun, hal itu bukan
berarti Millah Abraham mengingkari atau tidak mengakui
kewajiban dari ibadah-ibadah atau hukum Allah tersebut.
224Selanjutnya, para pengikut Millah Abraham sebagai warga
Negara Republik Indonesia tentunya harus tunduk patuh pada
hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara
ini. Betapa pun, misalnya, penguasa di negara ini melakukan
kezaliman, tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan tindakan
makar ataupun teror. Kita harus tetap tunduk patuh pada
kekuasaan yang ada hingga pada saatnya nanti Allah akan
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 219
mengganti kondisi malam menjadi siang, yang diawali dengan
terbitnya sang fajar.
225Perlu digarisbawahi, dalam iman Millah Abraham, segala
bentuk kekuasaan yang ada di muka bumi ini berada dalam
genggaman Allah Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu pun
kekuasaan atau penguasa bangsa yang berkuasa di bumi ini, tanpa
ketetapan dan seizin Dia, termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia
pada 17 Agustus 1945 adalah “Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa”. 226Hal ini merupakan suatu pandangan politik yang
memiliki landasan spiritual yang kuat. Suatu kesadaran yang
menggambarkan bahwa Allah, Tuan YME, adalah satu-satunya
Penguasa dan senantiasa aktif dalam mengatur tata kehidupan
ummat manusia. Dia tidak hanya berkuasa atas kehidupan di
langit, tetapi juga atas semua kehidupan di bumi. 227Tegasnya,
Tidak ada satupun kekuasaan (seseorang atau bangsa) yang ada di
muka bumi ini yang tanpa seizin Dia. Baik penguasa kafir-zalim
maupun penguasa yang beriman dan adil, semuanya atas kehendak
dan seizin-Nya.
228Bukanlah suatu pelanggaran atau dosa bagi orang-orang
beriman jika hari ini mereka tunduk patuh pada hukum buatan
penguasa kafir-zalim, sebab manusia tidak akan bisa melihat sinar
matahari dalam kondisi malam. 229Perhatikan pesan yang
disampaikan oleh Paulus dalam Kitab Roma 13 ayat 1-3 berikut
ini:
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di
atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari
Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh
Allah. Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan
ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan
mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang
berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia
berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap
pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh
pujian dari padanya.
230Perhatikan juga Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 26-27:
Jalan Kebenaran Universal
220 | MILLAH ABRAHAM
ٱلۡ ُم ۡل َك ِم َّمن � َ َشآ ُء َ�ٰلِ َك ٱلۡ ُم ۡل ِك تُ ۡؤ ِ� ٱلۡ ُم ۡل َك َمن � َ َشآ ُء َوتَ�ِ ُع ُق ِل ٱل َّل ُه َّم
٢٦ رٞ ُ ِّ� َ ۡ�ءٖ َق ِدي �ٰ َ َ � َ َشآ ُء َوتُ ِذ ُّل َمن � َ َشآ ُءۖ �ِ َي ِد َك ٱ ۡ َ� ۡ ُ�ۖ إِنَّ َك َوتُ ِع ُّز َمن
تُولِ ُج ٱ َّ ۡ� َل ِ� ٱ َ�ّ َهارِ َوتُولِ ُج ٱ�َّ َها َر ِ� ٱ َّ ۡ� ِل� َو ُ ۡ�رِ ُج ٱ ۡل َ َّ� ِم َن ٱلۡ َم ّيِ ِت
٢٧ َو ُ ۡ� ِر ُج ٱلۡ َم ّيِ َت ِم َن ٱ ۡل َ ِّ�ۖ َوتَ ۡر ُز ُق َمن � َ َشآ ُء بِ َغ ۡ�ِ ِح َسا ٖب
Katakanlah: “Wahai Tuan Yang mempunyai kerajaan, Engkau
berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau
masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup
dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.
Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa
hisab (batas).”
231Keberadaan kekuasaan penguasa bangsa-bangsa adalah
atas kehendak dan ketetapan Allah, siapa pun yang menentang
kuasa bangsa-bangsa berarti telah menentang ketetapan Dia Yang
telah memberi kuasa. Runtuh dan tegaknya sebuah kekuasaan
bangsa, semua berdasar atas kehendak dan ketetapan Allah Yang
Maha Kuasa. 232Karenanya, bagi generasi Millah Abraham,
melakukan makar kepada penguasa bangsa Indonesia yang sah
berarti telah melakukan makar kepada Allah, Tuan Semesta Alam,
dan konsekuensinya sudah pasti akan terkena azab-Nya. Tidak ada
sedikit pun niat dari pengikut Millah Abraham untuk melakukan
makar kepada pemerintah yang sah atau tidak mengakui eksistensi
khususnya pemerintahan negara ini.
232Allah telah menegaskan, hal yang harus dilakukan pada
kondisi malam adalah beristirahat, tidak melakukan aktivitas
apapun (tidur), sambil menunggu terbitnya fajar. Namun demikian,
menjelang fajar, orang-orang beriman harus bangun beraktivitas
(shalat tahajud), mempersiapkan diri menyambut terbitnya fajar
(masa peralihan antara malam dan siang). Masa persiapan ini diisi
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 221
dengan aktivitas pembinaan keimanan (spiritual) dan
mempersiapkan kader-kader mu’min yang berkarakter dan
bermoral baik dan benar. Menanamkan dan membangun
kepribadian yang beriman dan berakhlak mulia inilah yang harus
dilakukan di kondisi malam menjelang fajar saat ini. 233Ingat!
Manusia tidak diberi paham tentang kapan waktu fajar itu, tetapi
Dia memberi tahu tanda-tanda akan terbitnya fajar. Inilah salah
satu tugas dari Rasul Allah untuk dapat membaca tanda-tanda
akhir zaman dan munculnya zaman baru.
234Aktivitas yang seharusnya dilakukan dalam kondisi malam
adalah pembinaan iman (aqidah), bukan memaksakan penerapan
ibadah (syariat). Pembinaan iman dilakukan dengan jalan
pembinaan keilmuan akan ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat alam
maupun ayat-ayat suci yang berkaitan dengan keimanan.
235Aktivitas ummat haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi
alam, tidak boleh memaksakan aktivitas siang hari dalam kondisi
sedang malam, begitu pula sebaliknya. Mampukah kita
memaksakan melihat matahari dalam kondisi malam?
236Yang dapat kita lakukan adalah menunggu saat datangnya
Sang Fajar sambil mempersiapkan diri dengan sebenar-benarnya.
Harapannya adalah, ketika fajar tiba, kita siap untuk melakukan
aktivitas pengabdian dalam mencari karunia Allah, Tuan Semesta
Alam. 237Dengan demikian, pemaksaan penerapan syariat Islam
seperti Perda Syariat oleh ummat Islam Indonesia adalah sesuatu
yang tidak memiliki landasan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya
serta landasan konstitusional yang kuat dan benar, bahkan dapat
dikategorikan sebagai tindakan yang melanggar dasar negara dan
UUD 1945. Misalnya, pengharusan pegawai negeri wanita
mengenakan jilbab, berpakaian olah raga dengan jilbab, dan lain
sebagainya.
4. Kekuasaan (Khilafah)
238Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa masalah kekuasaan
dalam pandangan Millah Abraham adalah menjadi hak prerogatif
Allah, Tuan Semesta Alam. Hal ini dapat dimengerti karena Dia
Jalan Kebenaran Universal
222 | MILLAH ABRAHAM
adalah Pencipta dan Raja alam semesta yang bertanggung jawab
atas segala hidup dan kehidupan yang ada di alam ini, termasuk
dalam keberlangsungan hidup ummat manusia. Dia tidak memiliki
sekutu dalam mengatur dan memelihara seluruh makhluk-Nya.
Dialah Pemilik segala kekuasaan yang ada dalam kehidupan sosial
politik ummat manusia. Dia Maha Kuasa untuk memberikan
kekuasaan (menjadikan penguasa) kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, begitu pula untuk mencabut kekuasaan dari
siapa saja yang dikehendaki-Nya. 239Begitulah sistem kekuasaan
yang berlaku dalam kehidupan bangsa-bangsa yang menjadi tradisi
Tuan Semesta Alam (sunnatullah). Tradisi ini berlaku tidak hanya
pada kekuasaan bangsa-bangsa kafir musyrik, tetapi juga berlaku
pada kekuasaan Kerajaan Allah (Khilafah).
240Semua Nabi dan Rasul Allah yang bertugas menerima,
membawa, dan menegakkan misi risalah-Nya, yakni Millah
Abraham, tidak bercita-cita atau berkeinginan untuk merebut
kekuasaan dari penguasa bangsa-bangsa. Allah melarang para
Rasul-Nya dan orang-orang beriman melakukan makar
(pemberontakan) terhadap penguasa bangsa. 241Dalam aqidah
(iman) Millah Abraham diyakini bahwa apapun ideologi
bangsanya, di mana pun bangsa itu lahir, merdeka, dan eksis di
muka bumi, itu semua atas izin Dia Yang Maha Kuasa. Begitu pula
semua pemimpin bangsa di dunia ini terpilih dan berkuasa juga
atas kehendak dan ketetapan Dia. Untuk itulah, pengikut Millah
Abraham wajib untuk tunduk patuh pada aturan hukum penguasa
bangsa-bangsa yang sedang berkuasa. 242Namun, yang harus selalu
diingat adalah bahwa dalam masalah kekuasaan, berlaku tradisi
Tuan (sunnatullah), yakni hukum pergiliran dan hukum ajal
kekuasaan (bangsa-bangsa). Sesuatu yang tidak pernah berubah
dan berganti dalam peradaban ummat manusia.
Hukum Pergiliran
243Sifat dari Tradisi Tuan Semesta Alam dalam Dia
mengendalikan kehidupan ummat manusia di muka bumi ini
adalah tradisi pergantian dan pergiliran. Artinya, kekuasaan yang
Dia berikan atau anugerahkan kepada para penguasa kafir musyrik
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 223
ataupun kepada para Rasul-Nya itu tidak bersifat abadi. Ada masa
di mana yang menguasai dunia ini adalah penguasa kafir musyrik
(kerajaan bangsa-bangsa musyrik) dan ada masa di mana yang
diberi giliran berkuasa adalah para Rasul dan orang-orang beriman
(Kerajaan Allah; Khilafah). 244Perubahan peradaban kekuasaan di
dunia hanyalah sesuatu yang silih berganti dan dipergilirkan oleh
Allah, seperti halnya pergiliran antara malam dan siang yang selalu
berganti dan bergiliran. Tradisi pergantian dan pergiliran
peradaban kekuasaan ini adalah sesuatu yang tidak pernah berubah
sepanjang zaman kehidupan ummat manusia.
245Fakta sejarah yang dapat diambil sebagai contoh adalah
perjalanan peradaban kekuasaan Bani Israel, seperti yang
digambarkan secara singkat dalam Al-Quran surat Al-Isrā' [17] ayat
4-7 berikut ini:
ََبَف�اإُُِۡ�� ٗدَذَِّۡماا�م٥ََلسيَجۡينَاَف ِهلُتإُِسۡۡممَذاوِاأَْ�َو ۡأََحج ِۡٱخمآَۡلَسََء�ٰدنَِۡكدُتلَوََ ۡ�ٰم�ٰۡٱع ُِِدِّ�بُ�َ�يَنأُامُفَورِ� ُ�َل ِبسۡٮِفَٰأَوُهَ ِۡم�سَمَُ�ا�َُٰدن ۡمٖۖلََّ�ن َوَع�َۡۡثوع َِنَ�ٗۡن�دانِاأَٱََََّع�مۡسلَۡۡ�َ�ف ۡي�ُ�َُعو ِۡموَجٗ ُ�ضَفَع� َۡۡللم ََهَم�ٰاَِّۚعر٤ۡلََكٓش�إبَِِك ِدَّۡنٗإريِ� َة�أَٖۡدس َۡح�ََٰٓفع ِء٦ِ أَََََّورو�َ َقََدآ�َ ۡۡدَ�ۡأعُنضَ َاْلُۡيو َ�َنَِّنآلَ�نَفِإبَُِعأَُۡ�ًٰلُ��اُّٖٗمو�سبَٱ
َد َخلُو ُه َك َما ٱلۡ َم ۡس ِج َد َْو ِ َ� ۡد ُخ ُلوا ْ َجآ َء
ُو ُجو َه ُ� ۡم �ا ِٱ� ِخ َرة َو ۡع ُد
٧ أَ َّو َل َم َّر�ٖ َو ِ ُ�تَ ِّ ُ�واْ َما َع َل ۡواْ تَتۡبِ ً�ا
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu:
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi
ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman
bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami
datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai
kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-
kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan
Jalan Kebenaran Universal
224 | MILLAH ABRAHAM
mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan
dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih
besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi
dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu
bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi
(kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain)
untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke
dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada
kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja
yang mereka kuasai.
246Ketika Kerajaan Allah (Khilafah Allah; Yerusalem) yang
dianugerahkan kepada ummat Nabi Musa telah sampai pada masa
akhir kekuasaannya, maka ummat Nabi Musa berubah menjadi
ummat yang terkutuk dan terjajah. Hal ini juga disebabkan oleh
Bani Israel yang melakukan perzinaan ideologi dengan ideologi
bangsa-bangsa. Karena itu Allah mengutus hamba-Nya yang lain
(Raja Nebukadnezar dari Babel) untuk membumihanguskan
kekuasaan Bani Israel. 247Kemudian ketika tiba saatnya, Dia
kembali memberi giliran kedua kepada Bani Israel untuk bangkit
mengalahkan penguasa bangsa-bangsa musyrik (Romawi), dengan
cara mengutus Nabi Isa sebagai Rasul-Nya. Kemudian, Nabi Isa
mengajak Bani Israel untuk kembali berjuang menegakkan din atau
sistem hukum-Nya yang haq, sehingga ummat Bani Israel yang
tadinya terkutuk dan terjajah (berdosa) kembali menjadi ummat
yang diberkati oleh Tuan Semesta Alam, menjadi ummat yang
berkuasa di muka bumi (khilafah fil ardh).
248Dalam perjalanannya, ummat Nabi Isa (Bani Israel)
kembali melakukan kerusakan di muka bumi untuk kali yang
kedua. Sebagai azab atau hukumannya, maka kekuasaan atau
khilafah yang dipegang oleh Bani Israel diruntuhkan kembali oleh
Allah melalui tangan hamba-Nya yang lain. 249Selanjutnya,
Kerajaan Allah tidak lagi dianugerahkan kepada Bani Israel karena
mereka sudah melakukan dua kali kerusakan. Dua kali Bani Israel
mengkhianati kesetiaannya kepada Tuannya, Allah Yang Maha
Esa.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 225
250Giliran kekuasaan Kerajaan Allah selanjutnya diberikan
kepada Bani Ismail, yakni bangsa Arab, dengan memilih
Muhammad sebagai Rasul-Nya. Melalui bimbingan dan
kepemimpinan Rasulullah Muhammad, Tuan Semesta Alam
kembali memenangkan Din-Nya, menegakkan Kerajaan-Nya di
muka bumi (Khilafah). Dia kembali menjadikan kehidupan ummat
manusia menjadi kehidupan yang penuh damai dan sejahtera
(rahmatan lil ‘ālamīn). Seperti halnya dengan rasul-rasul sebelumnya,
Rasulullah Muhammad beserta pengikutnya berhasil menegakkan
Din Allah atau hukum Tuan Semesta Alam di muka bumi, yakni
dalam wujud dianugerahkannya kekuasaan politik (khilafah) di
muka bumi oleh Allah Yang Maha Kuasa.
251Sesuai dengan Tradisi Tuan Semesta Alam, maka
kekuasaan ummat Nabi Muhammad juga mengalami masa
keruntuhan, yakni ketika Khilafah Abbasiyah yang berpusat di
Basrah (kini Irak) dihancurkan oleh Hulagu Khan dari bangsa
Mongol di abad ke-13. Inilah sesungguhnya hari kematian (ajal)
dari ummat yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad. Akibat
dari runtuhnya khilafah tersebut, ummat Nabi Muhammad
kembali menjadi ummat yang terjajah dan menjadi budak bangsa-
bangsa. Kalaupun masih ada khilafah yang muncul, sifatnya hanya
sebatas kebangsaan (kerajaan bangsa) bukan bersifat rahmatan lil
‘ālamīn lagi. 253Inilah realita politik yang harus diakui oleh ummat
Nabi Muhammad. Ummat Islam harus legowo menerima ketetapan
Allah ini dan selanjutnya belajar dari tradisi para Rasul untuk bisa
kembali menegakkan Din-Nya atau dapat kembali mendapat
anugerah kekuasaan dari-Nya (khilafah). 254Hingga saat ini, ummat
Bani Israel dan Bani Ismail masih berada dalam kondisi terjajah
oleh kekuasaan bangsa-bangsa musyrik yang memang sedang
mendapat giliran dari Allah untuk berkuasa di muka bumi.
Pertanyaannya, sampai kapan? Hanya Allah sendiri yang
mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman diberi kemampuan
untuk membaca dan melihat tanda-tanda akhir zaman tersebut.
255Saat ini, dunia sedang dikuasai oleh peradaban kekuasaan
bangsa-bangsa musyrik dengan ideologinya masing-masing yang
tidak bersumber pada ideologi Allah. Secara khusus, dunia saat ini
Jalan Kebenaran Universal
226 | MILLAH ABRAHAM
dikuasai oleh dua ideologi besar, yakni ideologi Barat dengan
paham liberal-kapitalis dan ideologi Timur dengan paham
komunis-sosialis. Secara politik, bangsa-bangsa yang berpaham
liberal-kapitalis disebut sebagai bangsa-bangsa Blok Barat dan yang
menganut paham komunis-sosialis bersekutu menjadi bangsa-
bangsa Blok Timur. 256Pergumulan antara Barat dan Timur
sesungguhnya selalu ada dalam sejarah kekuasaan bangsa-bangsa di
dunia ini, seperti Blok Romawi (Barat) dan Blok Persia (Timur) di
zaman Nabi Muhammad. Bahkan dalam Al-Quran ada satu surat
yang disebut surat Ar-Rūm (Roma). Di tempat lain, saat ini negara-
negara Islam atau negara dengan rakyatnya yang mayoritas ummat
Islam, menjadi bangsa kelas tiga, menjadi negara boneka yang
berkiblat ke Barat atau ke Timur. 257Dalam hal ini, Allah berfirman
dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 177 sebagai berikut:
َ
َم ۡن �َّ ِ ٱ ۡل َو َ�ٰ ِ� َّن َوٱلۡ َم ۡغ ِر ِب ٱلۡ َم ۡ ِ� ِق قِ َب َل ُو ُجو َه ُ� ۡم ْتُ َو ُّلوا أن �َّ ِ ٱ ۡل َّل ۡي َس
َءا َم َن بِٱ َّ�ِ َوٱ ۡ َ� ۡو ِم ٱ� ِخ ِر َوٱلۡ َم َ ٰٓ��ِ َكةِ َوٱ ۡل ِك َ�ٰ ِب َوٱ�َّبِ ِّ ۧ� َن َو َءا َ� ٱلۡ َما َل
َََْْوووَٱأُ َِلْٰو�� ََّ ٰٓ�ٱ�ٰل�ُِحِِّرّبَِ�َِقك�هِاۦَنُِهب ُمَذ ِ َوِٱو�ألَۡقَُميٱا َّتۡ َمُٱَ�ق ۡلأۡوٱُقلَسَۡنرآَّ َصِء ٰ�َل ٰوَوََةوٱٱل ۡ َوَ�َّ َءَاَّ�ٰ�آََ�ءِ ٰ�ٱلَوَوَّزٱ ِحلۡ َكَم َٰو� ََة ٰ�ٱ َوۡٱِكَ�لۡأۡ ُمَ ِ�و ُف�س َووٱأُۡ�َنْو َ َنبِٰٓ� َ�ٱعِل ۡه ََّكسِدبِهِٱي َّۡمِلِ�يإِ ََوَذنٱال َّسََ�اٰصٓ�َهَِدلُِدُق َۖۖووا�ا
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-
kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-
minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat,
dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-
orang yang bertaqwa.
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 227
258Allah menegaskan bahwa sistem Barat dan sistem Timur
bukanlah sesuatu yang dapat membawa “kebaikan” dalam
kehidupan manusia. Sistem yang dapat membawa manusia ke
dalam kehidupan yang penuh kebaikan sejati adalah sistem
keimanan (kepatuhan) kepada Allah, Tuan Semesta Alam, dengan
menjalankan segala kehendak dan perintah-Nya.
259Sudah menjadi Tradisi Tuan Semesta Alam bahwa semua
sistem kekuasaan itu diberi waktu oleh Dia untuk berkuasa, dan
apabila saatnya tiba, sistem kekuasaan yang tadinya berkuasa akan
diruntuhkan (dimatikan) oleh Dia. Tentu saja, pergiliran antara
kekuasaan bangsa-bangsa musyrik dengan ideologinya masing-
masing dan kekuasaan Kerajaan Allah dengan ideologi-Nya yang
benar memiliki masa dan tempatnya tersendiri. 260Ini adalah dua
hal yang tidak bisa bercampur, seperti pergiliran waktu antara
malam hari dan siang hari. Namun demikian, setiap kejadian alam
selalu ada tanda-tanda awalnya. Masuknya waktu malam ditandai
dengan terbenamnya matahari dan binatang-binatang malam mulai
keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Sedangkan masuknya
waktu siang ditandai dengan terbitnya fajar di ufuk Timur.
Hukum Ajal Kekuasaan
261Selain sifat dari Tradisi Tuan Semesta Alam pada
peradaban kekuasaan bangsa-bangsa yang berupa pergantian dan
pergiliran, hukum ajal adalah sesuatu yang tidak terlepas dari
sebuah peradaban kekuasaan. Hukum ajal berkaitan dengan umur
seseorang dan umur ummat atau umur bangsa. Ketika berbicara
soal ajal, berarti berbicara soal kelahiran dan kematian. Dengan
kata lain, segala sesuatu yang lahir pasti akan mati. Inilah hukum
ajal dan kesepasangan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun atau
oleh kekuasaan apapun dan di mana pun.
262Semua peradaban bersifat siklus. Perjalanan peradaban
bagaikan riwayat organisme yang hidup: mengalami tahap
kelahiran, tumbuh dewasa, dan runtuh (mati). Tetapi,
keruntuhannya tidak selalu berakhir dengan kehancuran total.
263Hal ini adalah bagian dari hukum baja sejarah, sehingga proses
Jalan Kebenaran Universal
228 | MILLAH ABRAHAM
itu akan berulang dan akan berganti, meski dengan corak yang
tidak sepenuhnya sama dengan peradaban induk sebelumnya.
Sebab, peradaban baru hasil dari regenerasi sebelumnya terkadang
mampu melebihi prestasi peradaban yang digantikannya. 264Hal ini
sesungguhnya sudah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat
Luqmān [31] ayat 28:
�ٌ بَ ِص َۢس ِمي ُع �َ َّ ٱ إِ َّن �َ�ٰ ِح َد ٍة َك َن ۡف ٖس َّ َ� ۡع ُث ُ� ۡم �َ َو َخ ۡل ُق ُ� ۡم َّما
�ِإ
Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu itu
melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan)
satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.
265Setiap individu manusia umumnya pasti mengalami masa
lahir, tumbuh dewasa, dan akhirnya mati (wafat). Ummat (bangsa)
pun mempunyai masa kelahiran, kebangkitan, dan kematian
sebagaimana halnya manusia. Contohnya, tanggal 17 Agustus 1945
yang dinyatakan sebagai “hari lahirnya bangsa Indonesia”. 266Satu
hal yang berkaitan dengan hukum ajal ini adalah waktunya yang
menjadi rahasia Allah, dan ketika tiba waktu ajal, maka tidak dapat
diundur atau dimajukan. Karena waktunya yang dirahasiakan,
maka Allah meminta manusia dan bangsa (ummat) untuk selalu
koreksi diri dan bersiap diri untuk menyambut kedatangannya
yang selalu tiba-tiba. 267Beberapa firman Allah yang menegaskan
masalah hukum ajal tersebut adalah sebagai berikut:
• 268Al-Quran surat Al-A’rāf [7] ayat 34:
� َ ۡس َتأۡ ِخ ُرو َن أَ َجلُ ُه ۡم لٞ أَ َج أُ َّم ٍة
� َ ۡس َت ۡق ِد ُمو َن �َ َو َسا َع ٗة َ َجآ َء ۖفَإِ َذا �ِّ ُ َِول
�
Tiap-tiap ummat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila
telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
• 269Al-Quran surat Yūnus [10] ayat 47-49: أُ َّم ٖة
َ َو ُه ۡم بِٱ ۡل ِق ۡس ِط بَ ۡي َن ُهم �َ ِ ُق َر ُسولُ ُه ۡم َجآ َء َفإِ َذا ۖ لٞ َّر ُسو �ِّ ُ َِول
�
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 229
ٓ�َّ ُقل٤٨ �َ ِ� َو َ� ُقولُو َن َم َ ٰ� َ�ٰ َذا ٱلۡ َو ۡع ُد إِن ُكن ُت ۡم َ�ٰ ِد٤٧ ُ� ۡظ َل ُمو َن
َجآ َء ۚ أَ َج ٌل أُ َّم ٍة �ِّ ُ ِل َشآ َء َّ أَ ۡملِ ُك ِ�َ ۡف ِ� َ ّٗ�� َو َ� َ� ۡف ًعا
إِ َذا ۗ�ُ َّ ٱ َما �ِإ أَ َجلُ ُه ۡم َف َ� � َ ۡس َ ۡ�ٔ ِخ ُرو َن َسا َع ٗة
َو َ� � َ ۡس َت ۡق ِد ُمو َن
Tiap-tiap ummat mempunyai rasul; maka apabila telah datang
rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil
dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. Mereka mengatakan:
“Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-
orang yang benar?” Katakanlah: “Aku tidak berkuasa
mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan
kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap
ummat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan
tidak (pula) mendahulukan(nya).
• 270Al-Quran surat Al-Hijr [15] ayat 4-5:
أَ َجلَ َها أُ َّم ٍة أَ ۡهلَ ۡك َنا
ِم ۡن � َ ۡسبِ ُق َّما ٤ َّٞم ۡع ُلوم بٞ كِ َتا َولَ َها َّ َق ۡر َ� ٍة ِمن ٓ َو َما
�ِإ
٥ َو َما � َ ۡس َ ۡ�ٔ ِخ ُرو َن
4Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan
ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. 5Tidak ada
suatu ummat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak
(pula) dapat mengundurkan(nya).
• 271Al-Quran surat Fāthir [35] ayat 43-45:
ٱَ� َۡهس ۡتِل ۡكيَ َبنا ُٗرظ� ُر ِو�َنٱإِۡ َّ َ��� ِ ُسضَّن ََوتَم ٱ ۡۡك َ�َر َّوٱلِل ََّس�ۚ فَ�ۚلَ َون َ�َ ِ� ََد�ِيلِ ُ ُقس َّنٱلۡ َِمت ۡٱك ُرَّ�ٱِل َ�َّ ۡسب ّيِِدي ُئ ٗ إِ�َّۖ�َو َلبِأَن ۡه َلِ ِ�هِۚ َدۦ
ُ� َۡعَوكلَۡي ِۡوجَ َزيُهُف َؤۥا َ ِم�ِخ َُننذ٤ِْوا٤�ُ ِ َأوَ� َ َو�ٱنُۡلَٓو�َاْۡ�مأَ ِ� ََش�ضِسَّدإِنَُّ� ِمُهوۡناۥْ ُه َِۡم�� َُقن َّٱو ۡٗةۚ َع�َ�َلوِيَمِ ٗامضا َ�َقَ� ََِيدننيٱُٗرظ� َّ ُر٤� ۡم٣لِ ََ ُ�ٰس ۡقَِّ�ن َب ٖء ُةِت ِٱ�َّٱ ِ�ٱ َّيل�ََِّنس َ َ�ِمٰ ۡ�َ�ٰوِن� ِ ًَت� ۡب� َلوِ َ ِه
Jalan Kebenaran Universal
230 | MILLAH ABRAHAM
َؤ ِّخ ُر ُه ۡم٤ُي٥إٱِ َ َّٰٓ� ُ�أَ ٱ َج�َّ ٖال َ ُّمس َسبِّٗ َما�� َف َكإِ َذَاس ُب َوجاْآ َءَماأَ تََج َرلُ َُهك ۡم َ َف َإِٰ� َّن َٱظ ۡهَّ َرِ� َهاَ� َِمن بنِ ِع ََبداآبَّدِهٖةِۦ َوبَ َ�ٰ ِص ِ�َ�ۢ�ن
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena
rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan
menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah
yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah
(Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu.
Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi
sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui
penyimpangan bagi sunnah Allah itu. Dan apakah mereka tidak
berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-
orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah
lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang
dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. Dan
kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya,
niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi
suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan
(penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila
datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha
Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
272Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pergantian dan
pergiliran suatu peradaban kekuasaan bangsa-bangsa bagaikan
pergiliran waktu antara malam dan siang. Begitu pula ajal (batas
waktu) dari peradaban kekuasaan bangsa-bangsa tersebut terjadi
bersamaan dengan masa pergantian tersebut. 273Masuknya waktu
malam yang ditandai dengan terbenamnya matahari merupakan
waktu ajal (masa kematian) dari peradaban nūr, yaitu peradaban
Islam berganti dengan peradaban zhulumat, yaitu peradaban
jahiliyah atau bangsa-bangsa kafir-musyrik yang hidup berdasarkan
tradisi nenek moyang. Sebaliknya terbitnya fajar adalah waktu
kelahiran dari peradaban nur atau Islam.
274Meskipun waktu datangnya ajal (masa kematian)
kekuasaan bangsa-bangsa dirahasiakan oleh Allah, tetapi tanda-
tanda datangnya ajal suatu kekuasaan bangsa (ummat) dapat
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 231
diketahui. Sekuat apapun suatu bangsa yang sedang berkuasa
(termasuk blok Barat dan Timur) saat ini, ketika ajal kekuasaannya
tiba, maka mereka tidak dapat menghindarinya. 275Dalam bahasa
kitabiyah, Allah memberi tahu kepada para Rasul-Nya apa yang
menjadi tanda-tanda dari akhir zaman (kehancuran kekuasaan
bangsa-bangsa kafir-musyrik) atau tanda datangnya zaman baru
(kebangkitan kekuasaan Kerajaan Allah).
276Nabi Isa, misalnya, memberi tahu kepada ummatnya
tentang tanda-tanda akhir zaman itu, seperti yang tertulis dalam
Injil Matius 24 ayat 3-14 dan Injil Lukas 21 ayat 25-33. Di antara
tanda-tanda kesudahan dunia (akhir zaman) yang disampaikan oleh
Nabi Isa (Yesus) adalah kamu akan mendengar deru perang dan
kabar-kabar tentang perang atau akan terjadi perang antar bangsa;
akan terjadi resesi ekonomi, khususnya pangan; dan akan terjadi
gempa bumi yang dahsyat.
277Pada masa Nabi Musa, sebelum kekuasaan Fir’aun
ditenggelamkan (dibinasakan) oleh Allah, Dia mengirimkan
sepuluh tulah kepada masyarakat bangsa Mesir, seperti yang
tertulis dalam Kitab Keluaran 7 ayat 14 sampai Keluaran 11 ayat
10. 278Peristiwa ini juga digambarkan kembali dalam beberapa ayat
Al-Quran, misalnya dalam surat Al-A’rāf [7] ayat 130 dan 133
berikut ini:
َولَ َق ۡد أَ َخ ۡذنَآ َءا َل فِ ۡر َع ۡو َن بِٱل ِّسنِ َ� َو َ� ۡق ٖص ِّم َن ٱ ّ�َ َم َ�ٰ ِت َل َع َّل ُه ۡم يَ َّذ َّك ُرو َن
Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan)
kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang
dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil
pelajaran.
فَأَ ۡر َس ۡل َنا َعلَ ۡي ِه ُم ٱل ُّطو َفا َن َوٱ ۡ َ� َرا َد َوٱ ۡل ُق َّم َل َوٱل َّض َفا ِد َع َوٱ َّ� َم َءا َ�ٰ ٖت
�َ ُّم َف َّص َ�ٰ ٖت َفٱ ۡس َت ۡك َ ُ�واْ َو َ�نُواْ َق ۡو ٗما ُّ ۡ� ِر ِم
Maka Kami kirimkan kepada mereka angin topan, belalang,
kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka
Jalan Kebenaran Universal
232 | MILLAH ABRAHAM
tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang
berdosa.
279Tanda-tanda akhir zaman ini adalah sesuatu yang juga
menjadi Tradisi Tuan Semesta Alam, sehingga akan terus berulang
pada setiap zaman, yakni pada setiap datangnya misi risalah Tuan
Semesta Alam yang dibawa oleh manusia pilihan-Nya. 280Tradisi ini
dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Qashash [28] ayat 58-59
berikut ini:
َو َ� ۡم أَ ۡه َل ۡك َنا ِمن َق ۡر َ�ةِۢ بَ ِط َر ۡت َم ِعي َش َت َهاۖ َفتِ ۡل َك َم َ ٰ� ِك ُن ُه ۡم لَ ۡم � ُ ۡس َ�ن
٥٨ �َ ِ�ِٱ ۡل َ�ٰر َ ۡ� ُن َو ُ� َّنا ۖ�ٗ َقلِي َّ
ُم ۡهلِ َك َو َما َ� َن َر ُّ� َك َ� ۡتلُواْ َعلَ ۡي ِه ۡم �ِإ َ� ۡع ِدهِ ۡم ِّم ۢن
�ِ ُِم ۡهل َءا َ�ٰتِ َناۚ َو َما ُك َّنا �ٗ ٱ ۡل ُق َر ٰى َح َّ ٰ� َ� ۡب َع َث ِ ٓ� أُ ِّم َها َر ُسو
َوأَ ۡه ُل َها َّ ٱ ۡل ُق َر ٰٓى
٥٩ َ�ٰلِ ُمو َن �ِإ
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami
binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya;
maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi)
sesudah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kami adalah
Pewaris(nya). Dan tidak adalah Rabbmu membinasakan kota-
kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang
membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah
(pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya
dalam keadaan melakukan kezaliman.
281Jika kita membaca situasi sosial politik kekuasaan bangsa-
bangsa di dunia saat ini, patut diyakini bahwa tanda-tanda akhir
zaman itu sedang terjadi dan akan memasuki puncaknya dalam
beberapa tahun ke depan. Krisis sosial, krisis ekonomi (pangan
dan energi), dan krisis politik akan terjadi secara merata di dunia
ini, tidak terkecuali di bangsa ini. Pertikaian politik yang didasari
oleh kepentingan ekonomi bangsa-bangsa penguasa dunia, akan
menjadi pemicu terjadinya Perang Dunia Ketiga.
282Perang antar bangsa-bangsa blok Barat dan blok Timur
akan terjadi kembali, sebagaimana perang antara Romawi dan
Persia di zaman Nabi Muhammad. Namun, semua itu adalah
Jalan Kebenaran Universal
JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 233
bagian dari skenario besar Allah dalam rangka menegakkan
kembali Kerajaan Dia di muka bumi. Kerajaan yang akan
dianugerahkan atau dikaruniakan kepada bangsa yang dipilih-Nya.
283Jika bangsa Nusantara ingin menjadi bangsa yang
dianugerahkan kekuasaan oleh Allah, syarat utamanya adalah
bangsa ini harus menjadi bangsa yang betul-betul beriman hanya
kepada-Nya dan sanggup untuk beramal saleh. Iman dan amal
saleh adalah syarat utama untuk mendapatkan anugerah kekuasaan
dari Dia Yang Maha Kuasa.
284Kita, generasi Millah Abraham, adalah komunitas yang
sedang mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya anugerah
dari langit tersebut, yakni menjadi penguasa di muka bumi,
sebagaimana janji Allah dalam Al-Quran surat An-Nūr [24] ayat 55
berikut ini:
�ِ َو َع َد ٱ َّ ُ� ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ ِمن ُ� ۡم َو َع ِم ُلواْ ٱل َّ�ٰلِ َ ٰ� ِت َل َي ۡس َت ۡخلِ َف َّن ُه ۡم
ٱٱ َۡۡشر َ�تَۡ� ٗ�َٔ ِاۚ ٰ�ضَو َملَ َُهكن َۡمما َو َٱَ� ُ�َۡفس َب ََتر ِّد ََۡ�خ�ََّۡلع ُهََدمف َ�ِّٰلمِٱ ََّۢن ِ�كي َ�فََ ۡنعأُ ْوِد َِم ٰٓ��َِنخ ۡوَكفَ�ِ ۡبِه ُهلِۡم ُِهمأَۡمٱۡمۡل ٗنََاو�ٰۚ َ�َُِ�س َۡمعُق ُبوِّكُدََنوَّننَ ِلَ�ُه َۡم� ِد� ُي َۡن ُه ِ� ُُم�وٱ ََّن ِ� ِ�ي
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum
mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap mengabdi
kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun
dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.
285Demikianlah janji Allah yang bersifat pasti dan Dia tidak
pernah lalai akan janji-Nya. Bukankah semua kekuasaan di muka
bumi ini adalah dari Dia dan atas kehendak Dia? Apakah salah jika
Jalan Kebenaran Universal
234 | MILLAH ABRAHAM
kita generasi Millah Abraham mempersiapkan diri untuk dapat
memperoleh anugerah Allah tersebut? 286Inilah sikap spiritual kita
dan inilah yang harus kita pahami dan yakini akan maksud dari
iman kepada yang ghaib, yakni iman kepada tegaknya kembali
sistem atau hukum Tuan Semesta Alam di muka bumi ini dalam
suatu Kerajaan Allah (Khilafah).
287Segala pilihan sikap hidup, iman atau kafir kepada risalah-
Nya, memiliki konsekuensi tersendiri. Tuan Semesta Alam tentu
saja tidak akan membiarkan begitu saja orang-orang yang
menzalimi para pengikut Millah Abraham. Hingga masa
kesudahannya, kekuasaan dan negara kafir tersebut secara tiba-tiba
akan hancur atau tenggelam yang menyebabkan mata mereka
terbelalak. 288Penegasan ini secara jelas termaktub dalam Al-Quran
surat Ibrāhīm [14] ayat 42 berikut ini:
�ٖ َو َ� َ ۡ� َس َ َّ� ٱ َّ َ� َ�ٰفِ ً� َ� َّما َ� ۡع َم ُل ٱل َّ�ٰلِ ُمو َ ۚن إِ َّ� َما يُ َؤ ِّخ ُر ُه ۡم ِ�َ ۡو
� َ ۡش َخ ُص �ِيهِ ٱ ۡ َ�بۡ َ�ٰ ُر
Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari
apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya
Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak.
289Demikian beberapa penjelasan dari dasar-dasar ajaran
Millah Abraham (Millah Ibrahim) yang menjadi keyakinan dan
dasar pengabdian orang-orang beriman, generasi Millah Abraham,
dalam membangun komunitas bangsa Nusantara yang penuh cinta
kasih, damai, dan sejahtera.
Jalan Kebenaran Universal