The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fazila6292, 2021-09-05 09:43:50

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 135

ditafsirkan bahwa Allah memberikan syariat kepada masing-masing
Rasul-Nya yang berarti Dia memberikan syariat yang berbeda-beda.

67Dari segi manifestasi hukum-hukum agama (parsial), khususnya
hukum agama-agama samawi, betul, terdapat banyak perbedaan (titik
tengkar). Bahkan, di internal agama (Islam) pun memiliki manifestasi
hukum yang berbeda-beda akibat perbedaan penafsiran atau perbedaan
mazhab. Namun, yang dijadikan fokus dalam pembahasan ini adalah
hukum dasar dan esensi hukum Allah yang bersifat universal dan tak
pernah berubah oleh perubahan zaman dan perbedaan tempat. 68Itulah
sebabnya, setiap kali Tuan Semesta Alam mengutus utusan-Nya, maka
perintah dasarnya adalah untuk menegakkan kembali Kerajaan Allah di
muka bumi sebagai sarana menegakkan Din (sistem hukum)-Nya dalam
seluruh sendi hidup dan kehidupan ummat manusia, sehingga setiap
manusia tetap berada dalam area fitrawi-nya sebagai hamba dari Allah,
Tuan Semesta Alam, Sang Pencipta dirinya.

69Dengan demikian, Millah Abraham adalah Jalan Kebenaran
Allah, Tuan Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa, yang menjadi konsep
dan jalan hidup para Nabi dan Rasul-Nya dalam memperjuangkan
tegaknya sistem hukum yang benar demi terwujudnya kedamaian dan
kesejahteraan hidup di muka bumi. 70Millah Abraham inilah yang disebut
dengan dīn al qayyim, yakni Din Al-Islam yang hanif (sistem Islam yang
murni).

B. FIGUR SENTRAL ABRAHAM
1Abraham (Arab: Ibrahim) adalah orang Semit yang nama aslinya

adalah Abram. Alkitab menceritakan bahwa Abram (Ibrani), Avram
(Tiberias) yang berarti bapak yang terpuji atau bapak yang dipuji/dimuliakan.
Selanjutnya dalam hidupnya, ia diberi nama Abraham oleh Allah, yang
berarti bapak dari banyak suku dan bangsa (Kejadian 17: 4-5).

2Nama Ibrahim sendiri, ada yang menyebut nama itu diambil dari
kata dalam bahasa Semitik Kona di Babilonia yang berarti menyeberang atau
mengembara, sehingga turunannya pun disebut bangsa Habiru atau Ibrani
(Arab: ‘Ibrani, Inggris: Hebrew) yang dimaknai sebagai bangsa nomad
(pengembara). Dalam bahasa Aran, kata ‘Ibrani sendiri satu akar kata

Jalan Kebenaran Universal

136 | MILLAH ABRAHAM

dengan kata ‘abara yang berarti menyeberang atau melintas, yang juga masih
satu akar kata dengan kata-kata ‘arab, yang bermakna pelintasan,
penyeberangan, dan pengembaraan.

3Dari segi silsilah, terdapat perbedaan tentang silsilah geneologis
Abraham. Di dalam Kitab Kejadian, silsilah Abram disebutkan sebagai
putra Terah, putra Nahor I, putra Serug, putra Rehu, putra Peleg, putra
Eber, putra Selah, putra Arpakhsad, putra Sem, putra Nabi Nuh, putra
Lamekh, putra Metusalah, putra Henokh, putra Yared, putra Mahaleel,
putra Kenan, putra Enos, putra Set, putra Adam. Sedangkan dalam Al-
Quran menyebut Ibrahim sebagai putra Azar. 4Dalam catatan Alkitab,
Ibrahim memiliki tiga orang istri, yaitu Sara (Sarah binti Haran), Hagar
(Siti Hajar), dan Keturah (Qaturah binti Yaqtan).

5Abraham difigurkan oleh Alkitab dan Al-Quran sebagai sosok
nabi teladan. Dengan keteguhan dan kekuatan imannya, Nabi Abraham
mampu membuktikan ketaatan dan kecintaannya kepada Allah melebihi
kecintaannya kepada putra-putranya, keluarganya, dan bangsanya.
6Sebagai balasannya, dia dipilih oleh Allah yang kemudian berjanji
kepadanya dan keturunannya akan menjadikan mereka penguasa dunia
dan memberikannya “Tanah Perjanjian”; tempat yang akan menjadi pusat
kekuasaan dari keturunannya kelak. Karenanya, beliau sering dijuluki
sebagai “Bapak Monoteisme” dan “Bapak para Nabi”, karena agama-
agama samawi terbesar saat ini merujuk ke Millah Abraham.
7Bagaimanapun, sejarah asal muasal dari millah Yahudi, Nasrani
(Kristen), dan Islam tentu saja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari akar
kesejarahan Millah Abraham dan figur sentral Nabi Abraham.

8Dalam tradisi Yahudi, Abraham adalah penerima perjanjian
(kovenan) asli antara orang-orang Ibrani dengan Allah. 9Dalam tradisi
Nasrani, Abraham adalah patriark (pemimpin) terkemuka dan penerima
suatu perjanjian formatif yang orisinal dengan Allah yang selanjutnya
disarikan sebagai kovenan Mosaik, sedangkan kovenan kedua diyakini
telah dibuat untuk Yesus Kristus. 10Dalam tradisi Islam (Arabisme),
Ibrahim adalah sosok teladan dari seorang pewarta wahyu yang memiliki
aqidah yang tak tergoyahkan dan seorang monoteis sejati (muslim hanīf),
serta pembawa Millah Ibrahim (dīn al-qayyim) yang diamanahkan Allah

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 137

untuk diajarkan kepada para keturunannya dan segenap ummat manusia,
termasuk generasi pengikut Nabi Muhammad.

11Selain itu, dalam trio tradisi agama samawi ini, Ibrahim secara
khusus juga dinobatkan sebagai “sahabat Tuhan” sebagaimana tertera
dalam beberapa firman-Nya di bawah ini:

Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub yang telah Kupilih,
keturunan Ibrahim yang Kukasihi ... (Yesaya 41: 8)
Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari
depan ummat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan
Ibrahim, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? (2 Tawarikh 20: 7)
Dengan jalan demikian, genaplah nas yang mengatakan: “Lalu
percayalah Ibrahim kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran. (Yakobus 2: 23)
Dan siapakah yang lebih baik dinnya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun melaksanakan
kebaikan, dan ia mengikuti Millah Ibrahim yang lurus? Dan Allah
mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya (QS. An-Nisā [4]: 125).

12Satu-satunya Nabi yang namanya disebut secara tegas oleh Allah,
Tuan Semesta Alam, dalam Al-Quran untuk diteladani adalah Nabi
Abraham, yakni pada surat Al-Mumtahanah [60] ayat 4:

ْ‫ ِ ٓ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َوٱ َّ ِ�ي َن َم َع ُه ٓۥ إِ ۡذ قَالُواْ لِ َق ۡو ِم ِه ۡم إِنَّا بُ َر� ُؤا‬ٞ‫قَ ۡد َ�نَ ۡت َل ُ� ۡم أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
ِ‫ٱَ ِمۡل�َن َعۡس َ َت�ٰ َُۡ�غوةُِۡفم َر َوََّوٱن ِۡملَ�َ َّمۡغَاك َضَ�َوآ َۡعمُء ُبآ ُأَدَ� ۡبمَولًَِدنا ُك ِملََحنََّكٰ� ُد ِموتَُنِۡؤنٱِم ُنٱَّو�ِاَّْ�ِ ِمبِٱن َّ ََ��ِ َفۡ�ۡرَوٖءنَ�اۡح َّر ََّ�دبِ َُنهآۥ ُ� َعإِۡمَّلَ ۡي� َوَ َ�كَق َۡودتَاَ َول َّبَ�ۡ ۡيإَنِبَۡان ََن�ٰا�هِ َي َۡ�و َمَ� َۡيك َن ِ َ��َنَ�ُِبۡ�ي َن ُمها‬

�ُ ‫� َ ۡ� َك ٱلۡ َم ِص‬

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim
dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata
kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan
dari apa yang kamu ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan
telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat
selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali

Jalan Kebenaran Universal

138 | MILLAH ABRAHAM

perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan
memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu
pun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Rabb kami,
hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada
Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

13Ayat ini mengandung beberapa pesan sosial-spiritual seputar
pribadi Nabi Abraham, yaitu: Setiap mu’min wajib meneladani Nabi dan
para pengikutnya yang setia pada ajarannya; zaman itu, Abraham sebagai
pemimpin memiliki satu jemaah (komunitas) tauhid tersendiri, yaitu
komunitas Millah Abraham. 14Konsekuensi logis dari perjalanan dakwah
Abraham dan ummatnya, mereka harus berbenturan dan bermusuhan
dengan ideologi kafir-musyrik bangsa dan keluarganya; permusuhan dan
kebencian (atas dasar iman) itu sebatas aqidah (mu’min vs musyrik)
bukan atas dasar etnik atau bahasa; dan persoalan hidayah keimanan
kepada-Nya adalah hak mutlak Dia.

15Abraham adalah Rasul Allah, sebagaimana halnya Musa, Yesus,
dan Muhammad. Jadi, ketika Al-Quran berbicara Rasul Allah, itu tidak
terbatas hanya pada sosok seorang rasul (Muhammad) saja, namun
berlaku bagi semua Rasul-Nya. 16Semua Rasul Allah nilainya adalah suri
teladan bagi manusia, dan itu harus digenapi dalam diri orang-orang yang
beriman dengan memahami hikmah di balik kisah para Rasul tersebut.
Tatkala ada manusia yang tidak menjadikan Rasul-Rasul Allah sebagai
suri teladan, maka mereka itulah kaum yang inkar-sunnah. 17Bukan
penampilan fisik para Rasul Allah –seperti rambut, jenggot, pakaian dan
sebagainya, yang harus dijadikan uswah bagi orang-orang yang beriman,
melainkan akhlak (karakter) para Rasul Allah dalam perjalanan
menggenapi firman Allah yang ada tertulis dalam Kitab-kitab-Nya.
18Perhatikan perkataan Yesus mengenai hal tersebut dalam Injil Yohanes
8 ayat 39:

Jawab mereka kepadanya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus
kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah
kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.”

19Pada diri Abraham dan para pengikutnya terdapat akhlak yang
harus diteladani oleh para pengikut Millah Abraham. Uswah utama dari
Abraham adalah perihal kekafirannya terhadap ideologi bangsanya (Ur

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 139

Kasdim; Babilonia atau Irak); “Sesungguhnya kami berlepas diri dari
kamu dan dari apa-apa yang kamu puja (abdi) selain Allah”. Bangsa Ur-
Kasdim adalah bangsa “penyembah berhala”, bangsa yang mengabdi
kepada selain Allah. 20Berhala sama maknanya dengan thaghut (setan),
yakni para pemimpin selain Allah atau ideologi yang tidak berasal dari
Allah. Hal ini bisa dipahami dari kalimat: “… mereka hendak berhakim
kepada thaghut”. Tidaklah logis jika berhala dipahami sebagai batu
(patung batu), sebab tidak ada sejarahnya manusia meminta keadilan
kepada batu yang dibentuk. Makna logis dari berhala (thaghut) adalah
para penegak hukum yang bukan dari Allah. 20Perhatikan firman Allah
dalam Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 60:
‫َو َمآ أُنزِ َل‬ ‫أُأُن ِم ِز ُرَلٓواْإِ َأَۡ�ن َك‬ ٓ‫ٱَي�ُللَ ِر َّۡم�ش ُۡيدتَ َ َور�ٰ َنُإِن َأأََ�ننٱ َّيُ ِ�َ�يَِتض َنَّلَح ُهايَ ۡمَۡكز ُُم� َ ٓوُضماْ َو�ٰإََِۢنَ�� َ�بَ َّ�عِٱ ُهيل َّٗۡمدا�ٰ ُغَءاو َم ُِنتواْ َوبِقَ َمۡدا‬
‫َ� ۡبلِ َك‬ ‫ِمن‬ ْ‫يَ ۡ� ُف ُروا‬
‫َو ُ� ِر� ُد‬ ‫بِهِۖۦ‬

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya
telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa
yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan
setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya

21Setiap bangsa memiliki sebuah ikatan yang mengikat di antara
warga bangsanya. Ikatan kebangsaan itu dapat berupa kesamaan sejarah,
tradisi, atau ideologi. Bahwa nasionalisme suatu bangsa merupakan
produk dari imperialisme, adalah suatu yang tidak bisa dipungkiri,
sebagaimana halnya negara-negara bangsa di dunia yang merupakan
produk sejarah, imperialisme, dan perang dunia. 22Tidak demikian dengan
konsep Millah Abraham, dunia ini adalah satu, sesuai dengan fitrah Allah
Yang Esa. Batas-batas negara dunia tidak berlaku bagi Millah Abraham.

23Kondisi politik nasionalisme yang demikian itu pun sudah terjadi
pada zaman Abraham. Pada awalnya Abraham berdakwah di lingkungan
bangsanya yang musyrik, hingga “patung-patung” (berhala; ideologi
musyrik) berhasil dihancurkan oleh Abraham, kecuali (dibiarkannya) satu
patung yang paling besar. 24Namun, akhirnya Abraham diusir keluar dari

Jalan Kebenaran Universal

140 | MILLAH ABRAHAM

negerinya disebabkan perbuatannya yang dianggap meresahkan dan
memecah belah kesatuan bangsanya. Karenanya, Abraham dan para
pengikutnya berlaku “kafir” terhadap bangsanya itu. 25Kafir yang
dimaksud adalah dalam makna barā’ah, yakni menolak; berlepas diri; tidak
bertanggung jawab; atau memisahkan diri. Abraham dan para
pengikutnya bukan lagi bagian dari bangsa Ur-Kasdim yang mengabdi
kepada selain Allah. Kondisi Abraham yang kafir (barā’ah; berlepas diri)
dari bangsanya itu sudah berlaku sejak Abraham dan pengikutnya masih
berdiam di tengah-tengah bangsanya. 26Oleh sebab itu, berbahagialah
orang-orang yang dikatakan kafir oleh mereka yang mengabdi kepada
selain Allah, Tuan Semesta Alam, dan bebaskanlah diri kalian dari
program-program (makar) mereka yang membuat kalian lupa diri dari
misi Millah Abraham.

27Abraham, sang Sahabat Tuhan, hidup sekitar delapan generasi
setelah kenabian Nuh. Hal utama yang tidak bisa dilepaskan dari sosok
Abraham adalah perjanjian Allah kepadanya. Banyak teolog yang
menyebut perjanjian tersebut sebagai perjanjian kedua Allah dengan
manusia, setelah yang pertama Dia melakukan perjanjian dengan Nuh.
28Meski demikian, perjanjian Allah dengan manusia sesungguhnya sudah
dimulai pada saat kenabian Adam. Logikanya, tidaklah mungkin Allah
melakukan eksekusi sepihak terhadap pelanggaran Adam dan anak
cucunya jikalau saja tidak didahului oleh kontrak perjanjian, dimana
perjanjian itu selalu berisi tata aturan hidup; perintah dan larangan
(sebagai hukum).

29Intisari dari perjanjian Allah dengan Abraham adalah bahwa
Abraham dan keturunannya harus menjaga perjanjian tersebut dan harus
melakukan khitan. Tuan Semesta Alam berjanji bahwa Dia akan menjadi
Allah bagi Abraham dan keturunannya melalui Ishak dan Ismail, serta
keturunannya akan berkembang biak menjadi banyak bangsa. 30Lebih
jauh, Abraham dan keturunannya melalui Ishak akan mewarisi tanah
Palestina sebagai tanah perjanjian tersebut. Keseluruhan sejarah Bani
Israel kemudian berporos pada perjanjian ini, relasi antara Allah dan
manusia diubah selamanya, dan hubungan yang spesial pun ditetapkan
antara Dia dan keturunan Ishak.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 141

31Dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, perjanjian (kovenan) antara
Allah dan Abraham diimani sebagai salah satu warisan eksklusif bagi
mereka. Dari seluruh anak-cucu Abraham, hanya Ishak dan
keturunannyalah yang akan mewarisi perjanjian dengan Allah.
Eksklusifitas pewarisan ini semakin mengerucut ketika dinyatakan bahwa
pewarisan atas perjanjian tersebut tidak diberikan kepada anak sulung
Ishak, Esau, demi mendukung putra mudanya, Yakub. 32Dan saat nama
Yakub diubah oleh Allah menjadi Israel, yang mendudukkannya sebagai
bapak-moyang yang menjadi asal garis keturunan biologis dua belas suku
Bani Israel, maka eksklusifitas pewarisan tersebut lalu diklaim sebagai
hanya milik Bani Israel.

33Dalam kajian Taurat dan Al-Quran, apa yang menjadi tradisi
keagamaan tersebut dapatlah dimaklumi. Namun, beberapa hal yang
harus dicatat diantaranya:

34Pertama, pengurapan Abraham kepada Ishak yang menjadikannya
pewaris perjanjian tidak bisa menafikan eksistensi Ismail sebagai putra
sulung Abraham, yang juga dinubuatkan Allah akan menjadi bangsa yang
besar melalui keturunannya pula. Itu berarti eksklusifitas perjanjian Allah
tidak hanya diwariskan Abraham kepada Ishak, tetapi juga kepada Ismail
meski giliran awal kekuasaan diberikan kepada Bani Israel. Bukankah
Ismail adalah putra sulung Abraham (usianya lebih tua 14 tahun dari
Ishak), sehingga kewajiban mendidik anak sesuai tuntunan Allah sudah
pasti dilakukan juga oleh Abraham kepada Ismail. 35Selain itu, Nabi-Nabi
Allah juga banyak berasal dari generasi di luar Bani Israel, misalnya, Nabi
Ayub, Hud, Shalih, Syuaib, dan Muhammad. Meski demikian, sudah
menjadi keputusan (qadha) Allah bahwa keturunan Ishak-lah yang akan
menggenapi “Tanah Perjanjian”, bumi Palestina, sebagai Kerajaan Allah;
Yerusalem (negeri yang damai sejahtera).

36Kedua, keberhasilan generasi Bani Israel memasuki negeri
Palestina tidak bisa dipisahkan dari pertolongan generasi Ismail kepada
Musa cs. Artinya, kerjasama di antara keturunan Abraham sesungguhnya
terus terjalin, baik bantuan dari pihak Bani Ismail kepada Bani Israel
maupun sebaliknya. Sebut saja bagaimana Yitro yang menolong Musa
tatkala ia lari menyelamatkan diri ke Selatan (Madian; Madyan) dari
kejaran tentara Fir’aun.

Jalan Kebenaran Universal

142 | MILLAH ABRAHAM

37Ketiga, Al-Quran menegaskan soal perjanjian tersebut, bahwa
perjanjian itu betul berlaku abadi dan eksklusif, tetapi eksklusifitasnya
bukan atas dasar kebangsaan atau garis keturunan biologis, melainkan
lebih berdasarkan kepada garis keturunan spiritual (keturunan ruh; misi
keimanan) Abraham. 38Silakan cerdasi firman Allah dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah [2] ayat 124 berikut ini:
‫�ذِ ٱ ۡ� َت َ ٰٓ� إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم َر ُّ� ُهۥ بِ َ�لِ َ�ٰ ٖت َف َ� َ� َّم ُه َّنۖ َقا َل إِ ِّ� َجا ِع ُل َك لِل َّنا ِس إِ َما ٗماۖ َقا َل‬
‫َ� َنا ُل‬ َ ‫ُذ ّرِ َّ� ِ�� َقا َل‬
�َ ‫ٱل َّ�ٰلِ ِم‬ ‫َ� ۡه ِدي‬ � ‫َو ِمن‬

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat
(perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”
Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah
berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.”

39Allah menegaskan kembali bahwa Dia berjanji untuk menjadikan
Abraham dan keturunan-keturunannya sebagai imam (pemimpin;
khalifah) bagi seluruh bangsa di dunia. Akan tetapi janji tersebut tidak
berlaku manakala generasinya (meskipun dari garis keturunan
biologisnya) berlaku zalim. Sebaliknya, meskipun secara garis keturunan
biologis mereka bukanlah dari keturunan Abraham (di luar Bani Israel
dan Bani Ismail) tetapi tidak berlaku zalim, maka pucuk kepemimpinan
dunia akan diberikan kepadanya. 40Itu berarti, perjanjian Allah dengan
Abraham mengandung sisi eksklusifitas dan sisi universalitas sekaligus.
Tergantung pada zalim tidaknya suatu generasi (komunitas bangsa).

41Selanjutnya, hal yang ditegaskan oleh ayat ini, bahwa Abraham
adalah Nabi dan pemimpin yang diperuntukkan bagi seluruh manusia (li
an-nāsi Imāman), tanpa melihat asal garis keturunannya. Ini berarti
Abraham pun membawa millah dan misi yang bersifat universal; rahmatan
li al-‘ālamīn. Tidak hanya Abraham yang dijanjikan akan dijadikan sebagai
pemimpin bagi seluruh manusia, kepada anak generasinya pun demikian.
Demikian pula dengan universalitas Kitab Suci yang dibawanya juga
berlaku kepada semua manusia, semua suku bangsa, bukan hanya khusus
kepada Bani Israel atau Bani Ismail semata. 42Karenanya, doktrin agama
yang mengatakan bahwa setiap Nabi diutus hanya untuk bangsanya
sendiri (nabi lokal) adalah sebuah penyimpangan.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 143

43Allah menegaskan bahwa Taurat dan Injil adalah Kitab petunjuk
bagi semua manusia, demikian halnya dengan Kitab Suci Al-Quran. 66Jika
Kitab Suci sebagai petunjuk para Rasul Allah bersifat universal, berarti
para Rasul sebagai penyampai pun bersifat universal karena dia bertindak
atas dasar petunjuk wahyu dalam Kitab Suci itu.

44Semua kepemimpinan dan misi para Nabi sejatinya bersifat
universal, meskipun pada awal kenabiannya atau masa hidupnya mereka
memulai dakwahnya dari bangsanya masing-masing. Hal ini disebabkan
karena setiap bangsa memiliki akar sejarahnya masing-masing, sehingga
setiap Nabi dan Rasul Allah memulai misinya dari bangsanya sendiri.
45Nabi Musa, misalnya, memulai dakwahnya di Mesir dan Yesus memulai
pekabaran Injil di Yerusalem. Nabi Muhammad pun adalah nabi lokal
yang sebenarnya memiliki visi universal. Semasa hidupnya, Nabi
Muhammad hanya berdakwah di sekitar jazirah Arab dengan Mekah dan
Yatsrib sebagai pusat aktivitas dakwahnya. Namun demikian, tidak
mengurangi nilai kenabian dan kerasulan beliau sebagai rahmatan li al-
‘ālamīn karena misi kenabian dan kerasulannya terus berlanjut hingga
generasi sesudahnya. 46Secara kuantitas, hingga saat ini, mayoritas
populasi generasi Nabi Muhammad, hanya mendiami jazirah Arab,
sebagian Afrika, dan Asia Tenggara. Sedangkan populasi non-muslim
yang mengaku generasi Yesus mayoritas mendiami Eropa, Amerika,
Australia, Afrika, dan sebagian kecil Asia.

47Selanjutnya, apa yang dimaksud Allah dengan kezaliman itu?
Berbuat zalim berarti berbuat kesalahan, berbuat dosa; sesuatu yang tidak
sesuai dengan ajaran/hukum Allah. Ruhul Qudus menegaskan bahwa
kezaliman (dosa) yang paling besar di sisi-Nya adalah kemusyrikan;
perzinaan dan perselingkuhan aqidah; dosa yang tidak akan diampuni
oleh-Nya. Tidak heran jika orang-orang musyrik dinilai oleh Allah sebagai
manusia najis, sehingga wajar jika amal ibadah mereka sia-sia dan doa-doa
mereka pun tidak akan terkabul oleh-Nya. 48Di dalam Taurat dan Injil,
istilah kemusyrikan diungkapkan dalam bahasa hikmah (amsal), seperti
penyakit kusta, seorang wanita (Bani Israel) yang menjual diri (berzina)
dengan lelaki lain, yakni mengikuti aqidah (ideologi) bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah.

Jalan Kebenaran Universal

144 | MILLAH ABRAHAM

49Adapun kemusyrikan erat kaitannya dengan iman, dan inti dari
keimanan itu sendiri adalah perjanjian; kesediaan seseorang untuk tunduk
patuh (taat) pada aturan hukum Allah semata. 50Jadi, wujud keimanan
adalah ketaatan, bukan sebatas persoalan percaya kepada (keberadaan
atau kekuasaan) Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta, karena Iblis
pun “beriman” akan keberadaan-Nya tetapi tetap ingkar (kafir) atas
perintah-Nya. Itu sebabnya, Iblis termasuk dalam komunitas kaum yang
kafir-zalim. Artinya, masalah kemusyrikan adalah masalah ketaatan
kepada Sang Pengatur. Perbuatan syirik adalah menduakan aturan hukum
Allah; membuat tandingan atas aturan hukum Allah. 51Tegasnya, esensi
kemusyrikan adalah manakala seseorang taat kepada dua aturan hukum
sekaligus dalam hidupnya; dalam masalah keagamaan dia taat kepada
aturan Allah, namun dalam masalah yang lain (seperti hukum, sosial,
ekonomi, dan politik) dia tunduk pada aturan hukum penguasa bangsa.

52Inilah sesungguhnya inti dari ajaran Millah Abraham; Lā Ilāha illā
Allāh; Jangan ada ilah selain Allah. Kesetiaan dan konsistensi Abraham
terhadap ajaran tauhid (monoteisme) inilah yang menyebabkan dia
disebut sebagai Muslim hanif; seorang yang hanya tunduk patuh (taat)
pada sistem aturan/hukum Allah secara konsisten dan lurus. Abraham
ditampilkan Allah sebagai sosok yang harus diteladani (di-uswah); sosok
yang tegar dan tegas meskipun terhadap orang tua dan bangsanya yang
musyrik; tidak beriman (taat) kepada hukum Allah semata. 53Yesus
pernah berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi
yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan
yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
Mamon.”

54Konsekuensi logis dari pelepasan diri Abraham terhadap
bangsanya adalah semakin nyatanya permusuhan bangsa Babilonia
kepada Abraham dan para pengikutnya. Jadi, jika kita (para pengikut
Millah Abraham) sekarang ini dimusuhi oleh orang-orang yang mengabdi
kepada selain Allah, itu merupakan risiko dari penegakan misi risalah
Millah Abraham. 55Janganlah kita takut dan menyesali adanya
permusuhan dengan orang-orang kafir, sebab apa yang kita alami
sekarang ini adalah penggenapan dari sunnah Millah Abraham.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 145

56Perdamaian antara orang-orang yang beriman dengan orang-
orang kafir hanya terwujud jika mereka –orang-orang kafir, ber-ilah hanya
kepada Allah saja. Sebelum hal itu terjadi, maka permusuhan dan
kebencian antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir berlaku
untuk selama-lamanya. 57Beriman kepada Allah dan mengkafiri thaghut
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidaklah patut bagi
manusia ketika mereka mengaku beriman kepada Allah tetapi berhakim
kepada thaghut. Sebelum manusia benar-benar meninggalkan thaghut,
Allah tidak akan menerima orang tersebut sebagai ummat-Nya.
Seandainya kita sudah benar-benar bersih dari kemusyrikan, niscaya Allah
akan memberikan bumi ini kepada kita. Tatkala seseorang merasa
nyaman dan ni’mat tinggal di negeri musyrik –dan menyebabkan ia tidak
mau berjuang di Jalan Kebenaran, ia termasuk orang musyrik.
58Perhatikan Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 256 dan surat An-Nahl
[16] ayat 36 berikut ini:
�‫ََ��َٓقإِِد ۡكٱ َر ۡاسهَ َت ِۡم� َسٱ َِّ�كيبِِٱن� ۡل َقُع ۡدر َوتَّةِبَ َّٱلَۡ ُ�و ۡ�ٱلَ ُّٰر� ۡش َ ُد‬
ِ�َّ ‫ِم َن ٱ ۡل َ ِّ�ۚ َ� َمن يَ ۡ� ُف ۡر بِٱل َّ ٰ� ُغو ِت َو ُ� ۡؤ ِم ۢن بِٱ‬
‫ٱن ِف َصا َم لَ َهاۗ َوٱ َّ ُ� َس ِمي ٌع َعلِي ٌم‬

Tidak ada paksaan dalam din (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang
ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya
ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan
putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
‫َٱ� َعَّ ۡث ُ� َنا َو ِِم ۡ�ن ُه ُمِّ� َّمأُ ۡ َّنمةٖ َح َّرَّق ُس ۡوت ً� َعأَ َل ۡيِنهِٱٱلۡ� ُبَّضُد َ�ٰواَلْ ُةٱۚ َفَّ َ�ِس َوُ�ٱو ۡاْج َت ِنِ�ُبوٱاْ ۡ�َٱ�ل َّ ِ�ٰضُغو َفٱَنتۖ ُظ َف ُر ِموۡناْ ُه َمك ۡي ََّم ۡفن‬
‫َو َل َق ۡد‬
‫َه َدى‬

�َ ِ�‫َ� َن َ�ٰقِ َب ُة ٱلۡ ُم َك ِّذ‬

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat
(untuk menyerukan): “Abdilah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”,
maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan
baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Jalan Kebenaran Universal

146 | MILLAH ABRAHAM

59Karena bangsanya tidak mau menerima prinsip-prinsip Millah
Abraham, tidak mau menerima ideologi tauhid yang diwasiatkan Allah
kepada Abraham, maka Abraham memilih untuk pergi meninggalkan
bangsanya. Abraham dan para pengikutnya keluar (hijrah; eksodus) dari
lingkungan bangsanya. Azar, bapak Abraham, tentu saja tidak ikut ke
Kana’an bersamanya karena justru Azar sendirilah yang mengusir
Abraham keluar dari negerinya. 60Jika cerita dalam Alkitab menyebutkan
bahwa Azar ikut pergi (hijrah) ke Kana’an, sejatinya cerita itu adalah
dusta, sebuah bentuk penyimpangan terhadap Kitab Suci. Yang terjadi
sebenarnya adalah Abraham berseberangan paham (ideologi) dengan
bapaknya.

61Selanjutnya, selain sikap kekafiran Abraham terhadap bangsanya,
fragmentasi pada surat Al-Mumtahanah [60] ayat 4 di atas juga
menceritakan tentang teguran Allah terhadap Abraham yang mendoakan
bapaknya –Azar, yang musyrik: “Kecuali perkataan Ibrahim kepada
bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu
dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.”
62Sebagai manusia darah daging, wajar jika Abraham menyayangi
bapaknya. Namun, tatkala Abraham menyadari bahwa bapaknya
termasuk golongan orang-orang yang menentang perintah Allah
(musyrik), dia mencabut kembali doa untuk bapaknya dan memohon
ampun kepada Allah: “Ya Tuan kami hanya kepada Engkaulah kami
bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya
kepada Engkaulah kami kembali.” Abraham menyadari kesalahannya,
kesalahan yang berbuah teguran keras dari Allah.

63Janganlah kita mendoakan orang-orang yang dibenci oleh Allah,
yaitu orang-orang musyrik yang najis. Jika kita mencintai (menaati) orang
musyrik –sekalipun orang tua kita sendiri, maka kita akan terkena murka
Allah. Abraham pernah berbuat salah –mendoakan bapaknya yang
musyrik, dan kesalahan tersebut tidak boleh dijadikan uswah.

64Sangatlah pantas Allah memilih Abraham, sebab dia sangat lurus
(hanif) dalam pengabdian kepada-Nya. Apapun yang terjadi pada dirinya,
Abraham tidak pernah berpaling dari Allah. Jika kita adalah pengikut
Millah Abraham, maka kita harus ber-uswah kepada Abraham. 65Nabi
Muhammad –keturunan Ismail, adalah salah satu dari Rasul-Rasul Allah

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 147

yang ber-uswah kepada Abraham. Apabila seseorang tidak mau ber-
uswah kepada Abraham, sesungguhnya dia bukanlah ummat Muhammad.
66Seandainya Bani Israel tidak mau meneladani Abraham, niscaya mereka
bukanlah keturunan ruh Abraham. Oleh karenanya, kita harus menjadi
orang-orang yang menjadikan Abraham sebagai uswatun hasanah (teladan
yang baik).

67Jadilah kamu anak-anak ruh Abraham yang mengabdi hanya
kepada Allah Abraham, Tuan Semesta Alam, Tuan YME. Anak-anak
Abraham adalah mereka yang mengerjakan perintah Allah Abraham. Jika
engkau anak-anak Abraham, pastilah engkau tidak akan menyesah Rasul-
Nya. 68Jadilah gandum yang bermanfaat bagi manusia, jangan menjadi
ilalang yang mengganggu pohon gandum. Namun demikian, biarkanlah
gandum dan ilalang tumbuh sewajarnya, kelak jika musim panen tiba,
gandum akan dimasukkan ke lumbung dan ilalang akan dibakar di dalam
tabunan.

C. MILLAH ABRAHAM SEBAGAI JALAN KEBENARAN
1Surat Al-Fātihah disebut juga dengan ummul kitab (induk Al-

Quran) yang mengandung seluruh apa yang ada di dalam Al-Quran.
Surat Al-Fātihah juga menjadi surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat
shalat. Tujuh belas kali surat ini dibaca setiap hari oleh mereka yang rajin
melakukan shalat lima waktu.

2Shalat adalah doa, karena di dalam shalat ada banyak doa yang
dibaca, termasuk di dalam surat Al-Fātihah yang mengandung doa agar
kita ditunjuki jalan yang lurus, Jalan Kebenaran (shirāthal mustaqīm). Itu
berarti setiap hari tujuh belas kali pula Anda berdoa meminta petunjuk
akan jalan yang lurus. 3Pertanyaannya, sudahkah Anda ditunjuki jalan
yang lurus itu? Sudahkah Anda berjalan pada jalan yang lurus itu?
Apakah wujud dari jalan yang lurus itu?

4Semasa kanak-kanak, kita pernah disampaikan doktrin agamis
tentang shirāthal mustaqīm. Menurut doktrin agamis, shirāthal mustaqīm
adalah jembatan di akhirat nanti yang harus dilalui oleh setiap orang yang
akan menuju surga, akan tetapi sangatlah sulit untuk dilalui. Kesulitannya
bagai berjalan di atas sehelai rambut yang dibelah tujuh, sangatlah sulit.

Jalan Kebenaran Universal

148 | MILLAH ABRAHAM

Hanya amal ibadah manusia yang dapat menolongnya melewati jembatan
shirāthal mustaqīm tersebut. Diperlukan kecepatan tertentu untuk bisa
berhasil melewatinya. Bagi mereka yang tidak berhasil melewatinya, akan
jatuh ke dalam neraka (api yang menyala-nyala). Demikian ajaran atau
doktrin yang pernah kita terima kala masih kanak-kanak dahulu.

5Mari kita cerdasi dan renungi bersama ajaran tersebut. Bagaimana
mungkin shirāthal mustaqīm itu adanya nanti di akhirat, padahal kita
memintanya saat di dunia dan untuk keselamatan hidup di dunia?
Bukankah keselamatan di akhirat (kehidupan setelah mati) ditentukan
oleh kehidupan di dunia ini? Belum lagi jika bicara soal surga dan neraka
yang sesungguhnya seperti apa. Cerita tersebut hanyalah doktrin spiritual
nenek moyang. 6Namun, ada satu hal yang dapat menjadi benang
merahnya, bahwa “berjalan” di atas shirāthal mustaqīm adalah sesuatu yang
sangat sulit dan berat. Jika Anda tidak konsisten, Anda akan tergelincir ke
dalam neraka (jalan yang sesat; jalan yang penuh dengan murka Allah).

7Lalu, apa sesungguhnya shirāthal mustaqīm itu? Bukanlah hal yang
sulit untuk menjawabnya dan menemukan wujud dari shirāthal mustaqīm,
selama pertanyaan itu dikembalikan kepada sumbernya yang benar, yakni
Al-Quran. Biarkan Allah (Al-Quran) sendiri yang menjawab dan
menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Hilangkan segala prasangka
dan doktrin nenek moyang yang ada dalam pemikiran kita. Fungsikan Al-
Quran sebagai Kitab Petunjuk dalam mencari kebenaran sejati. Kita tidak
akan salah jalan selama kita konsisten mengikuti petunjuk wahyu Allah
sebagai sumber Kebenaran Sejati. 8Silakan cerdasi kembali firman Allah
dalam surat Al-Fātihah [1] ayat 6-7:

‫ ِص َ�ٰ َط ٱ َّ ِ�ي َن َ� ۡ� َع ۡم َت َعلَ ۡي ِه ۡم َ� ۡ ِ� ٱلۡ َم ۡغ ُضو ِب‬٦ ‫ٱ ۡه ِدنَا ٱل ِّص َ�ٰ َط ٱلۡ ُم ۡس َتقِي َم‬
٧ �َ ِ‫َع َل ۡي ِه ۡم َو َ� ٱل َّضآ ّل‬

Tunjukilah kami jalan yang lurus (benar), (yaitu) jalan orang-orang
yang telah Engkau anugerahi ni’mat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

9Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu fungsi ayat-
ayat Al-Quran adalah kemampuannya dalam menafsirkan dirinya sendiri.
Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran menafsirkan ayat-ayat yang lainnya

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 149

(tafsīr al-āyāt bi al-āyāt). Dalam kasus ayat di atas, Allah sendiri sudah
menafsirkan apa yang dimaksud dengan shirāthal mustaqīm itu.

10Para penafsir sering menerjemahkan shirāthal mustaqīm dengan
jalan yang lurus sebagai lawan dari jalan yang sesat atau jalan yang menyimpang.
Tentu saja yang dimaksud adalah menyimpang dari kebenaran, sehingga
shirāthal mustaqīm lebih tepat jika diartikan sebagai Jalan Kebenaran, yakni
Jalan Allah, lawan dari jalan kesesatan atau jalan yang dimurkai Allah.

11Apa yang dimaksud “Jalan Kebenaran” (pada ayat 6) itu
ditafsirkan pada ayat berikutnya (ayat 7), “(yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Jadi, ayat 7 sudah
menjelaskan apa yang dimaksud dengan shirāthal mustaqīm, jalan yang
selama ini diminta oleh miliaran manusia. Hanya saja, penjelasan tersebut
masih belum konkret, karena masih menyimpan beberapa pertanyaan
lanjutan. Siapa yang dimaksud dengan kata mereka yang telah diberi ni’mat
oleh Allah? Dan apa bentuk ni’mat tersebut?

12Mari kita cari tahu penjelasannya! Yang dimaksud dengan kata
ganti mereka pada ayat di atas dijelaskan atau ditafsirkan dalam surat An-
Nisā [4] ayat 68-70 berikut ini:

‫ألُ ْو َّ َ�ٰٰٓ��لِِ َِحك َ�َۚم َع َوٱ َحَّ ِ�ُيس ََنن‬٧‫و َفٱ‬٠َ ‫نِم َ َنو َوَمٱٱل َّنِّ�ِۚصيُِّدَو ِيطَ� ِقِ َع ٰ�َٱ�بَِّٱ َ�َوٱَّل�َِو ُّٱشل َََّعهرلَُِدسيآوٗمِءَال‬٦َ ٨�ۧ‫طما َ�ٰلُِّمِّم َ َۡكسن َتٱ ۡلقِٱ َيف ٗ�َّم ۡبِاض ُِّل‬٦‫ٰ ِٗه‬٩�‫أَُ� َوْۡ�ولَ ََعَهٰٓ� َم�َِديۡ َٱَك�ٰ َُّهَرُ�ۡ�ِمي ٗق َعاِصلَ َۡي‬

Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barang
siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-
sama dengan orang-orang yang telah dianugerahi ni’mat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddīqīn, syuhadā, dan shālihīn. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari
Allah, dan Allah cukup mengetahui.

13Dari penjelasan (tafsir) ayat di atas, sudah jelas bahwa yang
dimaksud dengan kata mereka yang diberi ni’mat oleh-Nya pada surat Al-
Fātihah [1] ayat 7 adalah mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
yaitu para Nabi, para orang-orang yang benar (shiddīqīn), orang-orang

Jalan Kebenaran Universal

150 | MILLAH ABRAHAM

yang telah bersaksi (syuhadā‘) dan orang-orang yang saleh (shālihīn).
Mereka inilah yang telah dikaruniai ni’mat dari Allah, yang menjadi Rabb,
Malik, dan Ilah ummat manusia. Merekalah yang berjalan pada jalan
kebenaran Allah. 14Dengan demikian, shirāthal mustaqīm adalah jalan yang
ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah beserta orang-orang beriman di
zaman dahulu yang juga harus ditempuh oleh mereka yang beriman saat
ini. 15Perhatikan juga firman-Nya dalam Al-Quran surat Maryam [19] ayat
57-58 berikut ini:

ِ‫ أُ ْو َ ٰٓ��ِ َك ٱ َّ ِ�ي َن َ� ۡ� َع َم ٱ َّ ُ� َعلَ ۡي ِهم ِّم َن ٱ�َّبِ ِّ ۧ� َن ِمن ُذ ّرِ َّ�ة‬٥٧ ‫َو َر َ� ۡع َ�ٰ ُه َم َ�نًا َعلِ ًّيا‬
ۚٓ‫َءا َد َم َو ِم َّم ۡن َ َ� ۡل َنا َم َع نُو ٖح َو ِمن ُذ ّرِ َّ�ةِ إِبۡ َ�ٰهِي َم � ۡس َ�ٰٓ ِءي َل َو ِم َّم ۡن َه َد ۡ� َنا َوٱ ۡج َتبَ ۡي َنا‬

٥٨‫إِ َذا ُ� ۡت َ ٰ� َع َل ۡي ِه ۡم َءا َ�ٰ ُت ٱل َّر� � � َو ُ� ِ� ّٗيا‬

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. Mereka itu
adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi
dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama
Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Bani Israel, dan dari orang-orang
yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan
ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka
menyungkur dengan bersujud dan menangis.

16Lalu apa bentuk ni’mat yang telah Allah anugerahkan kepada
mereka? Jika mempelajari sejarah peradaban dunia dan informasi wahyu
yang ada di dalam Al-Quran, bentuk anugerah atau karunia yang telah
Dia berikan kepada para Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah
“Khilafah”, yakni menjadi penguasa di muka bumi. Inilah tradisi Allah
(sunnatullah) yang berlaku bagi mereka yang berjalan di jalan-Nya.
Bahkan hal ini sudah menjadi janji Dia yang pasti ditepati bagi mereka
yang beriman dan beramal saleh. 17Secara tegas, janji Allah tersebut
tertuang dalam surat An-Nūr [24] ayat 55 berikut ini:
َۡ
‫َك َما‬ ‫ٱ�� ِض‬ �ِ ‫َل َي ۡس َت ۡخلِ َف َّن ُه ۡم‬ ‫ٱل َّ�ٰلِ َ ٰ� ِت‬ ْ‫َو َع ِم ُلوا‬ ‫ِمن ُ� ۡم‬ ْ‫َءا َم ُنوا‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ �ُ َّ ‫ٱ‬ ‫َو َع َد‬
َّ
‫َو َ ُ� َب ِّد َ�َّ ُهم‬ ‫ٱ ۡرتَ َ ٰ� لَ ُه ۡم‬ ‫ٱ ِ�ي‬ ‫أَِم ۡم ٗنناۚ َ� َۡ�ب ۡلِع ُبِه ُۡمدو َنَو َِ ُ�� َم َ ِّك� َ َّ� ُن ۡلَ ُِ�ه ُ�ۡمو َدِني َن ِ ُه� ُم‬ ‫ٱ ۡس َت ۡخلَ َف ٱ َّ ِ�ي َن‬
‫َ� ۡع َد َ�ٰلِ َك‬ ‫َو َمن َ� َف َر‬ ۚ‫َش ۡ ٗٔ�ا‬ ‫ِّم ۢن َ� ۡع ِد َخ ۡوفِ ِه ۡم‬

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 151

‫فَأُ ْو َ ٰٓ��ِ َك ُه ُم ٱ ۡل َ�ٰ ِس ُقو َن‬

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara
kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana
Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka din yang telah diridai-Nya
untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,
sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap
mengabdi kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun
dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.

18Sudah menjadi sunnah-Nya, Dia akan menjadikan mereka yang
beriman dan beramal saleh –dalam pengertian mereka yang taat kepada
Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan segala perbuatan baik yang
diperintahkan oleh-Nya, sebagai Khalifah (penguasa) dunia seperti yang
telah dianugerahkan kepada para Rasul dan orang-orang beriman di
zaman dahulu.

19Misalnya, Allah menganugerahkan Khilafah (kekuasaan) kepada
Rasulullah Nuh beserta pengikutnya, seperti tertulis dalam surat Yūnus
[10] ayat 73:

‫َف َك َّذبُوهُ َ� َن َّج ۡي َ�ٰ ُه َو َمن َّم َع ُهۥ ِ� ٱ ۡل ُف ۡل ِك َو َج َع ۡل َ�ٰ ُه ۡم َخ َ ٰٓ��ِ َف َوأَ ۡغ َر ۡ� َنا ٱ َّ ِ�ي َن‬
‫َك َّذبُواْ � َ�ٰتِ َناۖ َفٱن ُظ ۡر َك ۡي َف َ� َن َ�ٰ ِق َب ُة ٱلۡ ُمن َذرِ� َن‬

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-
orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu
pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

20Khilafah (kekuasaan) juga Allah berikan kepada Rasulullah Musa
beserta Bani Israel seperti tertulis dalam surat Al-A’rāf [7] ayat 137:

‫�َِوأيَ َۡهواَۖر ۡ� َوَن َ�ا َّمٱ ۡلۡ َتق ۡو ََم�ِ َٱم َّ ُِ�تي َنَر ّ�ِ َ َ�كنُوٱاْ ۡ� ُُ� ۡ ۡسس َت َ ٰۡ�ض َع َُفَ ٰو� َنبَ ِ َٓم� َإِ ٰ� ۡس ِر َ�َٰٓق ِءيٱ َۡل�َ�بِ َِماض َ َصو ََم ُ�َ�ٰۖواْرِ َ� َوَه َاد َّمٱ َّۡلرنَِا� َم َا�ٰ َر َ ۡ�� َن َان‬

Jalan Kebenaran Universal

152 | MILLAH ABRAHAM

‫يَ ۡص َن ُع فِ ۡر َع ۡو ُن َو َق ۡو ُم ُهۥ َو َما َ�نُواْ َ� ۡع ِر ُشو َن‬

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-
negeri bagian Timur bumi dan bagian Baratnya yang telah Kami beri
berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik
(sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan
Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa
yang telah dibangun mereka.

21Begitu pula Dia memberikan Khilafah (Kerajaan; Kekuasaan)
kepada Rasulullah Isa beserta pengikutnya setelah melalui kemenangan
dalam peperangan, seperti tertuang dalam surat Ash-Shāff [61] ayat 14:

‫ِه َح ِرِّمَو�ا َۢنرِن ّ ِبَ�ۧ ِ َٓ�ن‬ٞ‫واۖنَُفَلَٓو�اْيَّٱ ۡأَدنۡنََ�ا ََوصاٱاَّرِ َرِ�ُّ�يوٱ َنَنَّ�َِءاَ ۡ�َمَك ُُننَموااْأَنقََاَ َ َصٰ�لا ُر َعِعٱ ُيد ََّّوِ�ِۖهِ�َۡم َٔ�ٱفَا ۡ�أََم ُ َننۡص َبَمت ُۡرح َ�َّوطاَْمآ�َِلَِف ٰۡ�لة‬ٞ‫إََِم ٰۡٓ�سۡ َن�َ�ُّٰٓ�أَ َءِهنيا ََٱلص َّا َِ�ورِيَ� ََٓفين َرإِ َءَات� َم ُنٱَّطواَّآْ�ِ�َِۖف ُك َقة‬

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (din) Allah
sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-
pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-
penolongku (untuk menegakkan din) Allah?” Pengikut-pengikut yang
setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong din Allah,” lalu
segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan lain kafir; maka
Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap
musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

22Berkat kekuatan (pertolongan) dari Allah, orang-orang beriman
dan kaum Anshar di bawah pimpinan Isa berhasil memenangi
peperangan. Ayat ini sekaligus ingin meluruskan keyakinan sebagian besar
atau mayoritas ummat manusia, bahwa Nabi Isa bukanlah Nabi yang
gagal dalam menggenapi nubuat para Nabi Bani Israel sebelumnya, atau
Nabi yang hanya berdakwah selama 3 tahun kemudian disalib, mati,
dikubur, selanjutnya pada hari ketiga naik ke langit dan duduk di samping
Allah di surga. 23Tidak logis apabila ada seorang Rasul Allah yang gagal
dalam menjalankan tugasnya untuk menegakkan Khilafah Allah di bumi.
Bukankah Allah Yang Maha Kuasa senantiasa membimbing mereka,

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 153

selama mereka taat kepada-Nya? Dan ini juga terbukti pada zaman
Rasulullah Isa.

24Jika saat ini bukti sejarah akan kejayaan Nabi Isa dan generasinya
tidak dapat ditemukan, bukan berarti mereka tidak punya sejarah dan
karya. Adalah hal yang lumrah bagi penguasa kafir-musyrik (Romawi)
untuk membumihanguskan semua peninggalan peradaban Islam di
zaman Nabi Isa demi maksud dan tujuan tertentu. Sebuah orde penguasa
akan mampu melenyapkan sejarah orde penguasa sebelumnya.

25Bukti bahwa Dia telah menganugerahkan Khilafah kepada Bani
Israel di zaman Isa Al-Masih, secara indah (dalam bahasa alegoris)
dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Māidah [5] ayat 112-115 berikut ini:

‫امَاِ�ِٓمِّ��قَِيّۡنلِمُاَََٗدههَدَ ٗةاناال‬١َ ‫ُدم‬١ٗ‫ال‬٣َ‫آَ�نن�ٓءُِقَدٱُأاُ�لتَََأََلعَّّ�ِ َِّٰنٱ�ذ ُل�بُِه َّنَُّوه ُِأ�دَۡٓۥعُينإلَِأََۡيِّنَُ�َن��ََحا‬١‫َمَِّر‬١َ‫نُ ِمأ‬٤‫َُّّ�عِمٰ َعزََِقنََلَعر�ِا ۡيلُّ�َُٱذَهلوَاا�َْاٗب َّكاس‬١‫ۥ‬١‫ةَُنهيل‬٢ٗ‫إَِِِّّموَِععۡذ�ََ�َيَلَّنوۡ ۡيقَطَِاٱ�ََمَلال�ِ�َُّ� ََّسٱونۡٱمََۖءمۡ�اۡآُقَ� َُ�ءِلُنَِوخ�اَمورِقَُر�َِمنَانُّ�َناۡرَاولَ�يََوَََمنوٱَء َا�َّ� ۡٱَيَ�ُۡلع�ٰقُٗةفَّلَلِعواُْۡيَهرمِّم ََّمٱنأََ� ََّۡعَنر�َك�َُّۖ�دٱقََن َإوِۡا�ٓۡٱدِم َۡنأرَننن ُزَزَِۡ�صمُكَُۡنَۡ�نرلدا ُتَ�ۡۡم� َََتمموَعأََنَفنَلاإَُِّهۡمي ََِّۡنَۡٓوؤ�تلانَِم�أُنََِمَخَۡاعُٓسۡ�َ�ِ�َتُِّ�ذوَدبُِطٱ‬
١١٥ �َ ‫ٱ ۡل َ�ٰلَ ِم‬

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putra
Maryam, sanggupkah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada
kami?” Isa menjawab: “Bertaqwalah kepada Allah jika kamu betul-betul
orang yang beriman.” Mereka berkata: “Kami ingin memakan
hidangan itu dan supaya tenteram qalbu kami dan supaya kami yakin
bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-
orang yang menyaksikan hidangan itu.” Isa putra Maryam berdoa: “Ya
Rabb kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit
(yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang
yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda
bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi
rezeki Yang Paling Utama.” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku

Jalan Kebenaran Universal

154 | MILLAH ABRAHAM

akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barang siapa yang kafir di
antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan
menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada
seorang pun di antara ummat manusia.”

26Bani Israel memohon kepada Nabi Isa agar meminta “hidangan
dari langit” kepada Allah. Yang dimaksud dengan “hidangan dari langit”
di sini bukanlah makanan biologis, karena hal itu tidak masuk akal. Tetapi
yang diminta adalah hidangan berupa “Kerajaan Allah” atau “Khilafah”
di muka bumi seperti yang pernah diberikan kepada nenek moyang
mereka di zaman Nabi Musa. 27Hal ini juga dapat ditemukan dalam Injil
Matius 6 ayat 9-10:

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga,
Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-
Mu di bumi seperti di surga.

28Untuk memperoleh “hidangan” tersebut, maka Bani Israel
diharuskan untuk iman dan taat kepada-Nya. Mereka sangat berharap
dapat menikmati dan menyaksikan datangnya “hidangan” tersebut
semasa hidup mereka. 29Nabi Isa dalam Injil Markus 9 ayat 11 berkata
kepada para pengikutnya: “Katanya lagi kepada mereka: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak
akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang
dengan kuasa.” Untuk itulah mereka meminta Nabi Isa untuk berdoa
kepada Allah agar diturunkan (dianugerahkan) hidangan dari langit
tersebut.

30Pada Al-Māidah [5] ayat 114 sangat jelas dikatakan, bahwa
“hidangan” (Al-Maidah) yang diminta oleh mereka bukanlah makanan
biologis, karena “hidangan” tersebut akan menjadi “Hari Raya” bagi
mereka dan bagi orang-orang yang datang kemudian (anak keturunan
mereka) dengan memperingatinya pada setiap tahun. 31Menjadi “Hari Id”,
karena hari kemenangan ummat Islam Bani Israel adalah hari kembalinya
mereka kepada fitrahnya yang sejati, yakni menjadi hamba-hamba Allah
yang tunduk patuh kepada sistem hukum-Nya yang ditegakkan oleh
penguasa kekuasaan (Kerajaan) Allah atau Yerusalem (Darussalam). Hari
ketika mereka telah terbebas dari dosa, merdeka dari perbudakan dan
penjajahan Raja bangsa-bangsa yang selama itu menindas Bani Israel.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 155

Mereka tidak akan dapat merayakan “Hari Id”, jika mereka tidak
dianugerahi kemenangan dan kekuasaan (Khilafah) oleh Allah.

32Ayat 115 menegaskan bahwa “hidangan dari langit” yang
ditunggu-tunggu oleh Bani Israel dijawab oleh Allah. Dengan kata lain,
karena Bani Israel tetap iman dan taat kepada perintah Allah (beramal
saleh) –termasuk perintah untuk perang, maka Dia menganugerahkan
kemenangan dan kekuasaan (Khilafah) sebagai “hidangan dari langit”;
anugerah Kerajaan Allah. Inilah bentuk dari ajran ‘adziman (ganjaran yang
amat besar) atau ni’mat dari Allah bagi mereka yang beriman dan beramal
saleh.

33Janji untuk menjadikan mereka penguasa atau pemimpin dunia
juga pernah disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim seperti tertera
dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 124:
‫�ذِ ٱ ۡ� َت َ ٰٓ� إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم َر ُّ� ُهۥ بِ َ�لِ َ�ٰ ٖت َف َ� َ� َّم ُه َّنۖ قَا َل إِ ِّ� َجا ِع ُل َك لِل َّنا ِس إِ َما ٗماۖ َقا َل‬
‫َ� َنا ُل‬ َ ‫ُذ ّرِ َّ� ِ��قَا َل‬
�َ ‫ٱل َّ�ٰلِ ِم‬ ‫َ� ۡه ِدي‬ � ‫َو ِمن‬

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat
(perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”
Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah
berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”

34Begitu pula penegasan Dia dalam surat An-Nisā [4] ayat 54:

‫أَ ۡم َ ۡ� ُس ُدو َن ٱ َّ�ا َس َ َ ٰ� َمآ َءاتَٮٰ ُه ُم ٱ َّ ُ� ِمن َف ۡضلِهِۖۦ َ� َق ۡد َءاتَ ۡي َنآ َءا َل إِبۡ َ�ٰهِي َم‬
‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ�ِ ۡك َم َة َو َءا َ� ۡي َ�ٰ ُهم ُّم ۡل ً� َع ِظي ٗما‬

Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah
telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab
dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan
kepadanya kerajaan yang besar.

35Renungkan juga surat At-Tawbah [9] ayat 111:

�ِ ‫إِ َّن ٱ َّ َ� ٱ ۡش َ َ� ٰى ِم َن ٱلۡ ُم ۡؤ ِمنِ َ� أَن ُف َس ُه ۡم َوأَ ۡم َ�ٰلَ ُهم بِأَ َّن لَ ُه ُم ٱ ۡ َ� َّن َة ۚ يُ َ�ٰتِ ُلو َن‬

Jalan Kebenaran Universal

156 | MILLAH ABRAHAM

‫َوَس َمبِ ۡين ِلأَ ۡٱو َ َّٰ��ِبِ َ�َع َيۡه ۡق ِدُتهُِلۦو َنِم َ َنو ُ�ٱۡق َتَّ ُل�ِۚو َف َنٱۖ ۡسَو َت ۡعۡب ًدِا ُ� َوعاْ َل ۡيبِبَهِ ۡيعِ َح ّٗقاُ� ُمِ�ٱ َّٱ ِ� َّ� ۡوي َربٮَٰا ِةَ� ۡعَو ُتٱ ۡمِ� بِ ِ�هِۚيۦ ِل َو َوَ�ٱٰلِۡل ُقَكۡر َءا ُه َِ�نو‬
‫ٱ ۡل َف ۡو ُز ٱ ۡل َع ِظي ُم‬

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan
harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka
berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu
telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-
Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu, dan itulah kemenangan yang besar.

36Begitu pula ni’mat kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada
Nabi Muhammad, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Māidah [5]
ayat 3:
‫أَ ۡ� َم ۡل ُت‬
‫ٱ ۡ َ� ۡو َم‬ ‫فَ َ� َ ۡ� َش ۡو ُه ۡم َوٱ ۡخ َش ۡو ِ�ن‬ �‫ٱَل ۡ�َ ۡوُ� َم ۡميَ�دِِي َ َنس ُٱ� َّ ۡمِ�ي َوََ�ن ۡ� َم ۡم َ� َُفت ُروَعاْ َل ۡيِمن ُ� ِدۡميننِِ ۡع َمُ� ِ ۡم‬
ۚ‫ِدي ٗنا‬ ‫َو َر ِضي ُت َل ُ� ُم ٱ ۡ ِ� ۡس َ�ٰ َم‬

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
dinmu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dinmu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu
jadi din bagimu.

37Perhatikan pula penegasan surat Al-Ahzāb [33] ayat 27:

‫َوأَ ۡو َرثَ ُ� ۡم أَ� َض ُه ۡم َودِ َ�ٰ َر ُه ۡم َوأَ ۡم َ�ٰلَ ُه ۡم َوأَ� ٗضا َّل ۡم تَ َ ُٔ�و َهاۚ َو َ� َن ٱ َّ ُ� َ َ ٰ� ُ ِّ� َ ۡ� ٖء‬
�‫قَ ِدي ٗر‬

Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan
harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak.
Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.

38Demikianlah bentuk ni’mat (anugerah atau karunia) yang telah
Allah berikan kepada mereka yang berjalan pada “Jalan Kebenaran-Nya”.
Sudah semakin jelas apa yang dimaksud dengan shirāthal mustaqīm itu.

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 157

Lalu pertanyaan selanjutnya, apa wujud dari shirāthal mustaqīm yang
menjadi pegangan dan jalan para Nabi dan Rasul Allah tersebut? 39Untuk
menjawabnya, mari kita perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat
Al-An’ām [6] ayat 161 di bawah ini:

‫قُ ۡل إِنَّ ِ� َه َدٮٰ ِ� َر ِّ ٓ� إِ َ ٰ� ِص َ�ٰ ٖط ُّم ۡس َت ِقي ٖ� دِي ٗنا �ِ َي ٗما ِّم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفاۚ َو َما َ� َن‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫ِم َن ٱلۡ ُم‬

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada
jalan yang lurus, (yaitu) din yang benar, millah Ibrahim yang lurus, dan
Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

40Ayat ini sudah sangat jelas dan tegas menyatakan, bahwa
petunjuk shirāthal mustaqīm yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad
adalah din yang benar; yakni Millah Abraham yang murni. Ayat ini juga
menegaskan, bahwa din yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi
Muhammad sesungguhnya bukanlah din yang baru, melainkan din yang
sudah pernah diberikan Allah kepada Nabi Abraham, yang juga diikuti
oleh para Nabi dan Rasul Allah sesudahnya. Bahkan Nabi Muhammad
memproklamirkan dirinya sebagai pengikut Millah Abraham yang hanif.
41Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat An-Nahl [16] ayat 123
berikut ini:
َ ‫أَ ۡو َح ۡي َنا‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫ٱلۡ ُم‬ ‫ِم َن‬ ‫َ� َن‬ ‫َو َما‬ ۖ ‫َحنِي ٗفا‬ ‫إِبۡ َ�ٰهِي َم‬ ‫ِم َّل َة‬ ‫ٱتَّبِ ۡع‬ ‫أ ِن‬ ‫إِ َ ۡ� َك‬ ٓ ‫ُ� َّم‬

Kemudian Kami wahyukan kepadamu: “Ikutilah millah Ibrahim
seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah.

• 42Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 125:

ۗ‫ن َوٱ َّ� َب َع ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفا‬ٞ ‫َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن دِي ٗنا ِّم َّم ۡن أَ ۡسلَ َم َو ۡج َه ُهۥ ِ َّ�ِ َو ُه َو ُ ۡ� ِس‬
�ٗ ‫َوٱ َّ َ� َذ ٱ َّ ُ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َخلِي‬

Dan siapakah yang lebih baik din-nya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan
kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang lurus? Dan Allah
mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Jalan Kebenaran Universal

158 | MILLAH ABRAHAM

• 43Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 95:

�َ ِ��ِ ۡ ‫ُق ۡل َص َد َق ٱ َّ ُ�ۗ َفٱتَّبِ ُعواْ ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفاۖ َو َما َ� َن ِم َن ٱلۡ ُم‬

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.” Maka ikutilah
Millah Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
musyrik.

• 44Al-Quran surat Al-Hajj [22] ayat 78:

ْ‫ٱَولَح َّرََر ُ�ٰس ٖ ِه�وج ُُدل ِّمواَّْل َ َشة ِ ِه�أَي�ِٱًيداَّ�ِ ُ�َع ۡلَمَح ۡي َّإِقبۡ َ�ُٰ� ِجهِۡم َهيا ََۚمو ِدتَهِۚ ُهۦ َوُ� ُهو ََوسنُ َّومٱاْٮٰ ۡج َُتش ُبَ�َهٮُٰمَدآٱلَُءۡ� ُمۡم َۡسََول�َِم ِماٱ َ�َّ َ�جا َعِ ِم َ �سلنفَ َعَ�أَ َۡلب�ِ ۡيُيل ُم َُوو�اْ ِۡم�ٱل ِ ََّ��ٰصٱَلَذاٰوِّ�َةيِ َ� َِون َُءكا ِموتُ ۡوَننا‬
�ُ ‫ٱل َّز َك ٰوةَ َوٱ ۡ� َت ِص ُمواْ بِٱ َّ�ِ ُه َو َم ۡولَٮٰ ُ� ۡمۖ َفنِ ۡع َم ٱلۡ َم ۡو َ ٰ� َونِ ۡع َم ٱ�َّ ِص‬

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-
benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) millah orang tuamu
Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim
dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka
Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

45Dengan demikian, semakin jelaslah bagi kita apa yang dimaksud
dengan “jalan yang lurus” itu. Shirāthal mustaqīm adalah Millah Abraham,
yakni Jalan Kebenaran Allah, Tuan Yang Maha Esa, yang menjadi konsep
dan jalan hidup atau sistem hidup para Nabi dan Rasul Allah dalam
memperjuangkan tegaknya sistem hukum yang benar dalam suatu
Khilafah (kekuasaan) Allah demi terwujudnya kedamaian dan
kesejahteraan hidup ummat manusia di muka bumi.

46Millah Abraham adalah konsep atau jalan hidup yang berbeda
dengan apa yang ditempuh oleh mereka yang berjalan pada jalan yang
dimurkai Allah dan jalan yang sesat. Kenapa mereka mendapat murka
Allah? Allah murka karena mereka sesungguhnya ummat atau bangsa

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 159

yang telah disampaikan misi risalah-Nya dan memahami “Kebenaran
Allah” yang sejati, tetapi mereka lebih memilih jalan hidup yang lain, yang
dibuat oleh nenek moyang mereka sendiri (kafir-zalim).

47Mereka mengkafiri (menolak) kebenaran yang disampaikan oleh
saksi-saksi Allah hingga pada saatnya tiba, Allah memberikan azab-Nya
kepada mereka. Begitu pun halnya dengan mereka yang berjalan pada
jalan kesesatan, yang tidak mendapatkan wahyu Allah atau Sinar Allah,
sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan. 48Ketika Nur Allah
menghampiri mereka dan ada yang menerimanya, mereka akan keluar
dari kehidupan yang gelap menuju kehidupan yang penuh dengan sinar
(ilmu) Allah. Namun, tidak sedikit yang menolak Nur Allah tersebut,
sehingga mereka tetap bergelimang dalam kegelapan dan kesesatannya
hingga datangnya hari penghakiman bagi mereka di dunia ini. 49Mari kita
cerdasi firman Allah dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 257 berikut ini:

�ِْ‫ٱأُ ْو�ُّ َوٰٓ��ِرِ� َكَوٱأََّ ِ�ۡيص َنَ�ٰ ُب َ�ٱ َف ُ�َّرا ٓوار‬ َ ‫ٱل ُّظ ُل َ�ٰ ِت‬ ‫ِّم َن‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن َءا َم ُنواْ ُ ۡ�رِ ُج ُهم‬ �‫أٱَ ۡو َّ ِ ُ�َ�آ ُؤ َوُه ِ ُُّم‬
�ِ‫إ‬ ‫ٱل َّ�ٰ ُغو ُت ُ ۡ�رِ ُجو َ� ُهم ِّم َن‬
‫ٱل ُّظ ُل َ�ٰ ِ�ت‬ َ
�ِ‫إ‬ ِ‫ٱ�ُّور‬

‫ُه ۡم �ِي َها َ�ٰ ِ ُ�و َن‬

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka
dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang
kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka
dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.

50Akhirnya, jalan apapun yang menjadi pilihan dari setiap manusia
adalah menjadi hak asasi dan tanggung jawabnya sendiri. Setiap pilihan
jalan yang akan ditempuh memiliki proses dan konsekuensi tersendiri.
Untuk itu, pahami dan yakini jalan apa yang akan menjadi pilihan Anda.
51Jadikan Shirāthal mustaqīm, Jalan Kebenaran Allah, yakni Jalan Millah
Abraham; Jalan para Nabi dan Rasul Allah, sebagai pilihan jalan hidup
Anda untuk mendapat ni’mat dari-Nya. Jika sudah demikian, itu berarti
doa Anda telah dijawab oleh-Nya dan shalat Anda pun tidak sia-sia lagi.

Jalan Kebenaran Universal

160 | MILLAH ABRAHAM

D. MILLAH ABRAHAM BUKAN SINKRETISME
1Di antara tuduhan yang dihembuskan oleh penguasa dan kaum

agamis adalah bahwa ajaran Millah Abraham merupakan ajaran yang
menggabungkan dan mencampuradukkan (sinkretisme) ajaran agama
Yahudi, Nasrani, dan Islam. Oleh karena itu, majelis ulama memfatwakan
Millah Abraham sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan.

2Dari penjelasan yang panjang lebar tentang “Apa Itu Millah
Abraham?”, “Figur Sentral Abraham”, serta “Millah Abraham Sebagai
Jalan Kebenaran”, adalah tidak tepat dan tidak benar jika ajaran Millah
Abraham dikatakan sebagai sinkretisme agama.

3Sudah ditegaskan, bahwa Millah Abraham adalah wujud dari dīn
al-haqq ciptaan Allah, yakni Jalan Kebenaran Allah yang diajarkan kepada
Nabi Abraham, dan selanjutnya diajarkan pula kepada generasi
setelahnya. 4Jadi, Millah Abraham adalah Jalan Kebenaran ciptaan Allah
yang menjadi jalannya para Nabi dan Rasul Allah termasuk Rasulullah
Muhammad sebagai cara atau jalan hidup dan kehidupan manusia
beriman agar menjadi ummat (bangsa) yang diberkati, yakni menjadi
bangsa yang dianugerahi Kekuasaan Allah (Kerajaan Allah) di muka
bumi.

5Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi Bani Israel dalam
perjalanannya melahirkan generasi Nabi Musa dan Nabi Isa, dan generasi
Bani Ismail dalam perjalanannya melahirkan generasi Nabi Muhammad.
7Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad adalah generasi biologis dan
sekaligus generasi spiritual Nabi Abraham yang mengajarkan ummatnya
untuk kembali kepada ajaran Allah yang murni dengan tidak
mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun, yakni kembali kepada
jalan Allah, Millah Abraham, din yang lurus (Islam hanif).

6Secara historis, sangatlah jelas bahwa millah Yahudi bukanlah
agama yang dibawa oleh Nabi Musa, karena munculnya millah Yahudi
jauh setelah wafatnya Nabi Musa. 7Begitupula dengan agama Kristen,
bukanlah agama (millah: din) yang diajarkan oleh Nabi Isa kepada
ummatnya. Munculnya nama agama Kristen bukanlah di Palestina
(Yerusalem) tetapi di Antokia, Turki. 8Perhatikan Perjanjian Baru kitab
Kisah Para Rasul 11 ayat 25-26 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 161

Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan
setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka
tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil
mengajar banyak orang. Di Antiokhia lah murid-murid itu untuk
pertama kalinya disebut Kristen.

9Jadi, Nabi Musa bukanlah orang Yahudi atau ber-millah
(beragama) Yahudi dan Nabi Isa bukanlah orang Kristen atau ber-millah
(beragama) Nasrani. Jika Nabi Musa, bukanlah pembawa agama Yahudi
dan Nabi Isa bukanlah pembawa agama Kristen, terlebih lagi dengan
Nabi Abraham yang jelas-jelas bukan Yahudi atau Nasrani. 10Penegasan
ini dapat kita lihat dalam Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 65-68 berikut
ini:
‫َوٱ ۡ ِ� ِ�ي ُل‬ ‫ ُّج َو ٰٓ�َنأَن ُِت ٓ� ۡمإِبۡ َ َ�ٰٰٓ� ُهِؤيَ َٓ�م ِء َو َمَآ�ٰ أُ َنجزِ ۡجلَ ُت ِۡمت‬٦ٓ‫ا‬٥�َ ُ ‫أَٱفَۡل َ ِك� َ�َٰ� ۡع ِقِبلُلِوَم َن‬ ‫َ ٰٓ�أَ ۡه َل‬
‫ِم ۢن‬ َّ ‫ٱ َّ� ۡو َرٮٰ ُة‬ ‫َ� ۡع ِدهِۚ ٓۦ‬
�ِ‫إ‬
‫فَلَِم َام‬٦‫م‬ٞ٦‫َ�ِوأَين َمُتا ۡم َل َ� ُ� َ�م ۡعبِلَهُِمۦو َنِع ۡل‬
‫ۚم َوٱ َّ ُ� َ� ۡع َل ُم‬ٞ ‫ُ َ�آ ُّجو َن �ِي َما لَ ۡي َس لَ ُ�م بِهِۦ ِع ۡل‬
‫َ� َن إِبۡ َ�ٰهِي ُم َ� ُهودِ ٗيّا َو َ� نَ ۡ َ�ا�ِ ّٗيا َو َ�ٰ ِ�ن َ� َن َحنِي ٗفا ُّم ۡسلِ ٗما َو َما َ� َن ِم َن‬
‫ إِ َّن أَ ۡو َ� ٱ َّ�ا ِس �ِإِبۡ َ�ٰهِي َم لَ َّ ِ�ي َن ٱ َّ� َب ُعوهُ َو َ�ٰ َذا ٱ�َّ ِ ُّ� َوٱ َّ ِ�ي َن‬٦٧ �َ ِ��ِ ۡ ‫ٱلۡ ُم‬
٦٨ �َ ِ‫َءا َم ُن ۗواْ َوٱ َّ ُ� َو ِ ُّ� ٱلۡ ُم ۡؤ ِمن‬

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal
Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan
sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu,
kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu
ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang
tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak
mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula)
seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi
berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling
dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan
Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada
Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang
beriman.

Jalan Kebenaran Universal

162 | MILLAH ABRAHAM

11Al-Quran mengakui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang muslim
hanif. Sedangkan tuduhan Nabi Ibrahim dan ajarannya adalah ajaran yang
musyrik, sudah ada sejak zaman generasi Nabi Musa dan Isa, bahkan juga
di zaman Nabi Muhammad. Untuk itulah, Allah menegaskan bahwa Nabi
Abraham bukan seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang
muslim hanif; pengikut Din Al-Islam yang murni, yang tidak bercampur
dengan ajaran nenek moyang ataupun ideologi bangsa-bangsa musyrik.

12Dengan demikian, ajaran Yahudi ataupun Nasrani bukanlah
ajaran Millah Abraham. Ajaran millah Yahudi adalah ajaran yang sudah
menyimpang dari Taurat Nabi Musa, dan ajaran millah Nasrani adalah
ajaran yang juga sudah menyimpang dari Injil Nabi Isa. Millah Yahudi
dan Nasrani adalah ranting yang patah dari pokok pohon anggur Allah,
Millah Abraham.

13Selanjutnya, jika Millah Abraham dikatakan sebagai bentuk
sinkretisme agama, berarti Nabi Muhammad –yang oleh ayat di atas
disebut paling dekat dengan ajaran Nabi Abraham, adalah juga
melakukan sinkretisme, padahal dengan tegas beliau memproklamirkan
diri sebagai pengikut Millah Abraham, pengikut Islam hanif. 14Sangat
tidak benar atau menyesatkan jika dikatakan bahwa ajaran Millah
Abraham adalah bentuk sinkretisme agama Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Hal ini terjadi karena kedangkalan paham mereka akan Millah Abraham
dan keterbatasan informasi akan sejarah para nabi dan agama-agama
tersebut.

15Millah Abraham mengakui eksistensi Taurat dan Injil sebagai
kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya kepada para Rasul-Nya. Bahkan
mengimani kitab-kitab tersebut adalah bagian dari keimanan Millah
Abraham: Islam hanif. 16Tidak ada larangan dalam Al-Quran untuk
mempelajari kitab Taurat dan Injil, bahkan Nabi Muhammad pun
diperintahkan oleh Allah untuk bertanya kepada para Ahli Kitab Taurat
dan Injil. 17Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat Yūnus [10] ayat
94 berikut ini:
‫ِ� َش ّٖك ِّم َّمآ أَن َز ۡ�َآ إِ َ ۡ� َك‬
‫ِمن‬ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬ ‫َف ۡ َ�ٔ ِل ٱ َّ ِ�ي َن َ� ۡق َر ُءو َن‬ �َ ‫َجآ َء َك ٱ ۡ َ� ُّق ِمن َّر ّ�ِ َك َف‬ ‫فَإِن ُكن َت‬
‫تَ ُ�و َ� َّن ِم َن ٱلۡ ُم ۡم َ�ِ� َن‬ ‫َ� ۡبلِ َكۚ لَ َق ۡد‬

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 163

Maka jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami
turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang
membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang
kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali
kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.

18Bukanlah hal yang salah atau diharamkan untuk mengkaji Kitab
Taurat dan Injil. Jika dikatakan ada banyak penyimpangan dan perubahan
dari Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), jadikanlah Al-Quran
sebagai penguji dan patokan kebenaran (muhaimin). Selama tidak
bertentangan dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, maka
hal itu adalah sah.

19Tatkala generasi Millah Abraham –yang mengimani semua Kitab
Allah dan mengimani semua Rasul Allah tanpa membeda-bedakan satu
dengan yang lainnya, mengkaji dan menggunakan ayat-ayat dalam Alkitab
Perjanjian Lama (Taurat) dan Alkitab Perjanjian Baru (Injil) serta Al-
Quran, tidak berarti hal tersebut mencampuradukkan (sinkretisme)
agama Yahudi, Nasrani, dan Islam.

20Generasi Millah Abraham tidak pernah memusuhi kaum Yahudi
dan kaum Nasrani, apapun yang menjadi Iman dasar mereka. Namun,
komunitas Millah Abraham selalu mengingatkan dan mengajak kepada
seluruh keturunan Abraham, baik dari generasi Ishak maupun generasi
Ismail, untuk kembali berjuang menegakkan sistem (hukum) Allah yang
haq (Din Al-Islam) sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh
Rasulullah Musa dan Rasulullah Isa dalam menegakkan Yerusalem
(Kerajaan Allah), dan seperti apa yang dicontohkan Rasulullah
Muhammad dalam menegakkan Darussalam. 21Ajakan yang demikian itu
juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad kepada para Ahli Kitab
Taurat dan Injil seperti yang diabadikan dalam Al-Quran surat Al-Māidah
[5] ayat 68 berikut ini:
‫َّحِم َّۡن ُٰه�متُقِ َّميآُم أوُاْن ِزٱ َلَّ� ۡوإِ َرَٮۡ�ٰ َة َك َوٱ ِۡم ِ�ن ِ�يَّر َّ�ِل َ َكو َمآُطأُۡغن َ�ِٰز َٗنلا‬ ‫ُق ۡل َ ٰٓ�أَ ۡه َل ٱ ۡل ِك َ�ٰ ِب لَ ۡس ُت ۡم َ َ ٰ� َ ۡ� ٍء‬
��ٗ‫إَِوَ ُۡ�� ۡف ٗر ُ��ۖمفَ َ ِّم� تَنأۡ ََّر ّ�سِ َ َُ��ۡمۗٱ ۡل َوَق َل ۡوَ ِمِ��ٱ َۡلد ََّن�ٰ ِف َرِك�ثِ َن‬

Jalan Kebenaran Universal

164 | MILLAH ABRAHAM

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang ber-din sedikit pun
hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Quran
yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” Sesungguhnya apa yang
diturunkan kepadamu dari Rabbmu akan menambah kedurhakaan dan
kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu
bersedih terhadap orang-orang yang kafir itu.

22Tegasnya, generasi Millah Abraham bukanlah pengikut ajaran
sinkretisme agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Misi risalah Millah
Abraham tidak membawa misi agama tertentu, kecuali hanya ingin
menyeru dan memperjuangkan tegaknya sistem (hukum) Allah di muka
bumi, sesuai dengan tuntunan wahyu dan sunnah para Rasul-Nya. 23Oleh
karenanya, tidaklah berdasar jika dikatakan bahwa para pengikut Millah
Abraham menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan, apalagi berniat
menodai salah satu agama dengan melakukan sinkretisme agama.

E. NABI MUHAMMAD PENGIKUT MILLAH ABRAHAM
1Nabi Muhammad selalu diklaim oleh komunitasnya sebagai

pembawa agama terakhir, yaitu agama Islam. Sebuah agama yang berbeda
dengan agama-agama yang dibawa dan diajarkan oleh para Nabi dan
Rasul Allah sebelumnya. Bahkan, para Nabi dan Rasul Allah sebelum
beliau dikatakan membawa ajaran dan agama yang belum sempurna,
berbeda dengan agama yang dibawa olehnya. Demikian doktrin
keagamaan yang ditanamkan ke dalam kesadaran mereka yang mengaku
pengikut Nabi Muhammad atau yang umum disebut ummat Islam.

2Sekali lagi ditegaskan, bahwa Islam adalah sebutan bagi din
(sistem kehidupan) ciptaan Allah yang tidak pernah mengalami
perubahan apapun, baik prinsip-prinsip dasar iman (aqidah) maupun
hukum-hukum (syariat) yang ada di dalamnya. Karenanya, din yang Allah
ridai hanyalah Din Al-Islam yang diajarkan-Nya kepada seluruh Rasul-
Nya.

3Beberapa ayat Al-Quran menegaskan bahwa din (millah) yang
dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad sesungguhnya bukanlah
suatu agama dan ajaran baru, melainkan din yang sudah pernah diberikan
Allah, Tuan Semesta Alam, kepada Nabi Abraham, yang juga diikuti oleh
para Nabi dan Rasul Allah sesudahnya. 4Bahkan, Nabi Muhammad

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 165

sendiri secara tegas dan terbuka menyatakan kepada bangsanya dan dunia
bahwa dirinya adalah pengikut Millah Abraham yang hanif, disertai
penegasan ulangnya tentang figur Abraham sebagai orang yang tidak
mensyarikatkan Allah. Penegasan ini diucapkan Nabi Muhammad pada
saat itu karena banyaknya tuduhan bahwa Nabi Abraham termasuk orang
musyrik.

5Berikut beberapa ayat Al-Quran yang menegaskan kedudukan dan
posisi Nabi Muhammad sebagai pengikut dan pembawa misi risalah
Millah Abraham:
• 6Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 95 :

�َ ِ��ِ ۡ ‫ُق ۡل َص َد َق ٱ َّ ُ�ۗ فَٱتَّبِ ُعواْ ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفاۖ َو َما َ� َن ِم َن ٱلۡ ُم‬

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.” Maka ikutilah
Millah Ibrahim yang hanif, dan bukanlah dia termasuk orang-orang
yang musyrik.

• 7Al-Quran surat An-Nisā [4] ayat 125:

ۗ‫ن َوٱ َّ� َب َع ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفا‬ٞ ‫َو َم ۡن أَ ۡح َس ُن ِدي ٗنا ِّم َّم ۡن أَ ۡس َل َم َو ۡج َه ُهۥ ِ َّ�ِ َو ُه َو ُ ۡ� ِس‬
�ٗ ‫َوٱ َّ َ� َذ ٱ َّ ُ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َخلِي‬

Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya (aslama) kepada Allah, sedang dia pun
mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti Millah Ibrahim yang hanif?
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

• 8Al-Quran surat Al-An’ām [6] ayat 161:

‫قُ ۡل إِنَّ ِ� َه َدٮٰ ِ� َر ِّ ٓ� إِ َ ٰ� ِص َ�ٰ ٖط ُّم ۡس َتقِي ٖ� ِدي ٗنا �ِ َي ٗما ِّم َّل َة إِبۡ َ�ٰهِي َم َحنِي ٗفاۚ َو َما َ� َن‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫ِم َن ٱلۡ ُم‬

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada
jalan yang lurus, (yaitu) din yang benar; Millah Ibrahim yang hanif; dan
Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Jalan Kebenaran Universal

166 | MILLAH ABRAHAM

• 9Al-Quran surat An-Nahl [16] ayat 123: َ ٓ‫أَ ۡو َح ۡي َنا‬
‫أ ِن‬
�َ ِ��ِ ۡ ‫ٱلۡ ُم‬ ‫ِم َن‬ ‫َ� َن‬ ‫َحنِي ٗفاۖ َو َما‬ ‫إِبۡ َ�ٰهِي َم‬ ‫ِم َّل َة‬ ‫ٱتَّبِ ۡع‬ ‫إِ َ ۡ� َك‬ ‫ُ� َّم‬

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah
Ibrahim seorang yang hanif”. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang
yang mempersekutukan Allah.

• 10Al-Quran surat Al-Hajj [22] ayat 78 :

‫َع َل ۡي ُ� ۡم ِ� ٱ ِّ�ي ِن ِم ۡن‬ ‫َو َح ََر�ٰ ٖ ِه�ج ُد ِّمواَّْل َة ِ�أَ�ِٱي َّ�ِ ُ� ۡمَح َّإِقبۡ َ�ٰ ِجهِ َهيا َۚمدِهِۚ ُهۦ َو ُه ََوس َّمٱٮٰ ۡج َت ُبَ�ٮُٰم ٱلُۡ� ُمۡم ۡسَولَِم ِما َ�َج َع ِم َلن‬
ْ‫فَ َ�أَ ۡب�ِ ُيل ُم َوواْ ِ�ٱل ََّ�ٰص َلَذاٰو َة ِ�َ َو َُءكاوتُوَان‬ ‫ٱل َّر ُسو ُل َش ِهي ًدا َع َل ۡي ُ� ۡم َوتَ ُ�ونُواْ ُش َه َدآ َء َ َ� ٱ َ�ّا ِ �س‬

�ُ ‫ٱل َّز َك ٰوةَ َوٱ ۡ� َت ِص ُمواْ بِٱ َّ�ِ ُه َو َم ۡولَٮٰ ُ� ۡمۖ فَنِ ۡع َم ٱلۡ َم ۡو َ ٰ� َونِ ۡع َم ٱ�َّ ِص‬

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-
benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam din suatu kesempitan. (Ikutilah) millah orang tuamu
Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim
dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka
Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

11Demikian halnya dengan syariat (hukum) yang diperintahkan
Allah kepada Nabi Muhammad adalah syariat yang dahulu telah
diperintahkan kepada Nabi Nuh, Abraham, Musa, dan Isa. 12Hal ini
ditegaskan pada Al-Quran surat Asy-Syūra [42] ayat 13 berikut ini:

‫إِ َبۡ َ َ�ٰ�هِ َعي َملَ َو ُُم�وم َ ِّمٰ� َن َوٱ ِعيِّ�يَ ِنٰٓ�ۖ َأَما ۡن َأوَ�َِّي ُٰم�واْبِٱهِۦ ِّ�ينُ َون ٗح َوا َ�َوٱ ََّ� َتِ� َف ٓ َّير ُقأَو ۡاوْ َح�ِ ۡيي َن �هِآ إَِك َ ُۡ� َ� َك َ َ َو� َمٱالۡ ُم َو ۡ َّص ِ� ۡي�َِنا َ�بِهَِمآۦ‬
‫تَ ۡد ُعو ُه ۡم إِ َ ۡ� �هِ ٱ َّ ُ� َ ۡ� َت ِ ٓ� إِ َ ۡ�هِ َمن � َ َشآ ُء َو َ� ۡه ِد ٓي إِ َ ۡ�هِ َمن يُنِي ُب‬

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 167

Dia telah mensyariatkan bagi kamu (Muhammad) tentang din apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa,
dan Isa yaitu: Tegakkanlah Din (sistem hukum) dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din
yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada din itu orang
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang
yang kembali (kepada-Nya).

13Dari beberapa ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Nabi
Muhammad hanyalah pelanjut dari estafeta visi dan misi risalah Millah
Abraham yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Abraham, sebagai
pokok pohon anggur Allah. 14Nabi Muhammad adalah salah satu dahan
dari pokok pohon anggur Allah, sehingga seluruh sifat dan
karakteristiknya sama dengan yang ada pada pokoknya. Sedangkan millah
Yahudi dan millah Nasrani merupakan ranting patah dari pokok pohon
anggur Allah; ajaran yang sejatinya telah menyimpang dari ajaran tauhid
dan sistem hukum Millah Abraham yang hanif, sehingga pada akhirnya
ranting tersebut akan mengering bersama daunnya. 15Lalu bagaimana
dengan posisi ummat Islam saat ini, apakah mereka masih muslim yang
hanif atau juga sudah menjadi millah yang menyimpang atau telah
disimpangkan?

16Bila melihat kondisi ummat Islam di dunia saat ini, mereka sudah
hidup secara berkelompok-kelompok atau berpartai-partai, sehingga tidak
ada lagi kesatuan dan persatuan ummat Islam di dunia, begitu juga di
negeri ini. Secara sosial, aktivitas keagamaan ummat Islam tidaklah
berbeda dengan aktivitas keagamaan ummat Yahudi dan Nasrani yang
hanya disibukkan dengan kegiatan ritual semata, tetapi melupakan Din
Al-Islam sebagai satu sistem hukum yang harus ditegakkan dan
dilaksanakan secara menyeluruh. 17Semua sistem kehidupan ummat Islam
hari ini sudah berkiblat pada sistem Barat dan sistem Timur yang
sesungguhnya tidak sejalan dengan sistem Kebenaran Sejati, Millah
Abraham. Biang dari perpecahan ummat Islam itu semua adalah
penyimpangan aqidah ummat Islam dari aqidah tauhid yang murni.

18Demikianlah ciri dari ajaran yang tauhid, tidak berpecah belah
dan beragam. Setiap Rasul hanyalah mandataris Allah di bumi, Duta
Allah dalam memakmurkan bumi dan menjaga sistem tatanan sosial

Jalan Kebenaran Universal

168 | MILLAH ABRAHAM

manusia, sehingga aturan hukum Allah yang dibawa oleh para Rasul-Nya
tidaklah pernah berubah meski zaman, tempat, dan kaum yang mereka
hadapi berbeda-beda. 19Karenanya, Millah Abraham adalah satu-satunya
Jalan Kebenaran, jalan hidup yang dapat digunakan di dalam
menjembatani perbedaan iman anak-anak spiritual Abraham, baik dari
keturunan Israel maupun dari garis keturunan Ismail.

20Dari kerangka tersebut, dapat dipahami mengapa Allah
menyindir dengan keras sikap mereka yang tidak mau menerima atau
membenci Millah Abraham. Dia menegaskan, hanya orang bodoh saja
yang menolak Millah Abraham sebagai jalan hidup, konsep Kebenaran
Sejati. 21Penegasan ini diungkapkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2]
ayat 130:

ۖ‫ٱ ُّ� ۡ� َيا‬ �ِ ‫ٱ ۡص َط َف ۡي َ�ٰ ُه‬ ‫َو َل َق ِد‬ ‫َ� ۡف َس ُهۚۥ‬ ‫َس ِف َه‬ ‫َمن‬ َّ ‫إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم‬ ‫ِّم َّل ِة‬ ‫َعن‬ ‫يَ ۡر َغ ُب‬ ‫َو َمن‬
�ِ‫إ‬
�َ ‫�نَّ ُهۥ ِ� ٱ� ِخ َرةِ لَ ِم َن ٱل َّ�ٰلِ ِح‬

Dan tidak ada yang benci kepada Millah Ibrahim, melainkan orang yang
memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di
dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-
orang yang saleh.

22Dengan demikian, sudah sangat jelas bahwa Nabi Muhammad
adalah pengikut dan penerus misi risalah Millah Abraham yang
merupakan Jalan Kebenaran Allah, Tuan Yang Maha Esa, yang juga
menjadi jalan hidup para Nabi dan Rasul Allah sebelumnya. Saat ini,
generasi spiritual Millah Abraham hanyalah mengikuti dan meneruskan
jejak risalah Millah Abraham yang dicontohkan oleh Rasulullah
Muhammad. 23Jika ada pihak yang memfatwakan bahwa aliran dan
paham Millah Abraham adalah sesat dan menyesatkan, sama saja mereka
memfatwakan Rasulullah Muhammad dan para sahabatnya adalah
komunitas yang sesat karena menjadi pengikut Millah Abraham.

24Kita, generasi Millah Abraham, hanya ingin mewarisi, mengikuti,
dan meneruskan segala apa yang dicontohkan oleh para Rasul Allah,
khususnya Rasulullah Muhammad. Bukankah pada diri Rasulullah
terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang beriman untuk
diteladani? Bukankah Allah sendiri yang memerintahkan orang-orang

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 169

beriman untuk mengikuti Rasulullah Muhammad? 25Perhatikan kembali
firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Ahzāb [33] ayat 21 berikut ini:

‫ لِّ َمن َ� َن يَ ۡر ُجواْ ٱ َّ َ� َوٱ ۡ�َ ۡو َم ٱ� ِخ َر‬ٞ‫َّل َق ۡد َ� َن َل ُ� ۡم ِ� َر ُسو ِل ٱ َّ�ِ أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
��ٗ ِ‫َو َذ َك َر ٱ َّ َ� َكث‬

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak menyebut Allah.

26Hal ini sejalan dengan pernyataan Allah dalam surat Al-
Mumtahanah [60] ayat 6 sebagai berikut:

‫ لِّ َمن َ� َن يَ ۡر ُجواْ ٱ َّ َ� َوٱ ۡ�َ ۡو َم ٱ� ِخ َرۚ َو َمن َ� َت َو َّل‬ٞ‫لَ َق ۡد َ� َن َل ُ� ۡم �ِي ِه ۡم أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
‫فَإِ َّن ٱ َّ َ� ُه َو ٱ ۡل َغ ِ ُّ� ٱ ۡ َ� ِمي ُد‬

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan ummatnya) ada teladan
yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan
(keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling,
maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji.

27Begitu pula dalam surat 'Ali-Imrān [3] ayat 31 menerangkan agar
manusia mencontoh kehidupan Rasulullah Muhammad:

�ُ َّ ‫ُق ۡل إِن ُكن ُت ۡم ُ�ِ ُّبو َن ٱ َّ َ� َفٱتَّبِ ُعو ِ� ُ ۡ�بِ ۡب ُ� ُم ٱ َّ ُ� َو َ� ۡغ ِف ۡر لَ ُ� ۡم ُذنُو َ� ُ� ۡۚم َوٱ‬
‫م‬ٞ ‫ر َّر ِحي‬ٞ ‫َ� ُفو‬

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku
(Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-
dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

28Mengikuti teladan dan sunnah Rasulullah Muhammad adalah
suatu keharusan bagi mereka yang iman kepada Allah dan Rasulullah
Muhammad. Hal lain yang harus digarisbawahi, bahwa Millah Abraham
tidaklah sama dengan millah Yahudi ataupun millah Nasrani karena Nabi
Abraham sendiri dinyatakan oleh Al-Quran bukanlah orang Yahudi dan
bukan pula orang Nasrani. 29Mari simak dengan teliti Al-Quran surat Al-
Baqarah [2] ayat 135-136 di bawah ini:

Jalan Kebenaran Universal

170 | MILLAH ABRAHAM

‫َوقَالُواْ ُكونُواْ ُهو ًدا أَ ۡو نَ َ�ٰ َر ٰى َ� ۡه َت ُد ۗواْ ُق ۡل بَ ۡل ِم َّل َة إِبۡ َ�ٰ ِ�ۧ َم َحنِي ٗفاۖ َو َما َ� َن ِم َن‬
�ٰٓ َ ِ‫إ‬ ‫َن ِز َٰ�ل‬١ُ‫أ‬٣‫ي‬٦ٓ‫قُققُوَ� ۡو َلَُب�ٓواْأََوٱَءَۡحا ََ�ٖمد َّۡنساَِّبماۡنبِ ُٱهِطۡمَّ�ََِوو َمََوآۡ� َم ُاأُٓنوأُ َنُِ� َ�زِۥ َل ُُممإِوَۡسَۡ�لَِن ُٰام�و َوَوَنَم ِعا‬١ُ‫ ۡع‬٣‫َّ�ِر‬٥‫ٱَّرلۡ�ّ�ُِم ِۡهسۡ ۡم َ ِ� َ�ٰ�ِ َ�ق َُ�� ََفو‬
‫إِبۡ َ�ٰ ِ ۧ� َم � ۡس َ�ٰعِي َل‬ ٓ‫َو َما‬
‫أُو ِ َ� ٱ�َّبِ ُّيو َن ِمن‬

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut Yahudi
atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak,
bahkan (kami mengikuti) Millah Ibrahim yang hanif. Dan bukanlah dia
(Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” Katakanlah (hai orang-orang
mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada
kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub
dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta
apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Rabbnya. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya
tunduk patuh kepada-Nya.”

30Demikian pula penegasan akan posisi Nabi Ibrahim yang bukan
seorang Yahudi maupun seorang Nasrani dalam surat 'Ali-Imrān [3] ayat
67-68:

‫َما َ� َن إِبۡ َ�ٰهِي ُم َ� ُهودِ ٗيّا َو َ� نَ ۡ َ�ا�ِ ّٗيا َو َ�ٰ ِ�ن َ� َن َحنِي ٗفا ُّم ۡسلِ ٗما َو َما َ� َن ِم َن‬
ْ‫َءا َم ُن ۗوا‬ ‫َوٱ َّ ِ�ي َن‬ ‫لَ َّ ِ�ي َن‬ �َ ‫ إِ َّن أَ ۡو‬٦٧ �َ ِ��ِ ۡ ‫ٱلۡ ُم‬
�ُّ ِ َّ�‫ٱ‬ ‫َو َ�ٰ َذا‬ ‫ٱ َّ� َب ُعو ُه‬ ‫�ِإِبۡ َ�ٰهِي َم‬ ‫ٱ َّ�ا ِس‬ ٦٨ �َ ِ‫َوٱ َّ ُ� َو ِ ُّ� ٱلۡ ُم ۡؤ ِمن‬

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan
tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri (kepada Allah),
dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-
orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang
yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang
beriman.

31Saatnya ummat manusia hari ini, khususnya dari kaum Yahudi,
Nasrani, dan Islam, bersedia untuk duduk bersama mendialogkan hal-hal
prinsipil yang memiliki akar teologi yang sama dengan cara

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 171

mengembalikannya kepada sumber utamanya, Millah Abraham, sebagai
Pokok Anggur Allah. Sebuah tindakan nyata untuk mewujudkan kesatuan
iman ummat manusia, khususnya bagi para generasi iman Abraham
(anak-anak spiritual Abraham), yang akan menjadi sumber mata air utama
bagi terciptanya perdamaian ummat manusia, kesejahteraan insan dunia,
dan keharmonisan seluruh makhluk di alam semesta.

F. DASAR-DASAR AJARAN MILLAH ABRAHAM

1. Keimanan (Aqidah)

1Visi dari semua Utusan Allah (Rasul Allah) adalah tegaknya
Dīn Al-Haqq ciptaan Allah dalam hidup dan kehidupan ummat
manusia, sehingga akan tercipta sebuah tatanan kehidupan yang
setimbang, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan bagi
semua makhluk di alam semesta. 2Namun demikian, akar (dasar)
dari sistem hukum universal yang benar (Dīn Al-Haqq) itu adalah
keimanan kepada Sang Pemilik sistem.

3Semua Nabi dan Rasul Allah pada setiap awal misi
perjuangannya selalu mengajak bangsanya untuk kembali kepada
kalimat tauhid, yakni Lā ilāha illā Allāh, bahwa tidak ada ilah (tuan)
yang pantas untuk ditaati kehendak dan perintah-Nya kecuali
Allah, Tuan Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa. 4Perhatikan Al-
Quran surat Al-Anbiyā' [21] ayat 25:
۠‫َ�نَا‬ ٓ�َّ ِ‫إ‬ ‫إِ َ�ٰ َه‬ ٓ�َ ‫َ�نَّ ُهۥ‬ ِ‫إِ َ ۡ�ه‬ َّ ‫َ� ۡبلِ َك‬ ‫أَ ۡر َس ۡل َنا‬ ٓ‫َو َما‬
�ٓ ِ ‫نُو‬ �ِ‫إ‬ ‫َّر ُسو ٍل‬ ‫ِمن‬ ‫ِمن‬

‫َفٱ ۡ� ُب ُدو ِن‬

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada
ilah melainkan Aku, maka abdilah olehmu sekalian akan Aku.”

5Kalimat tauhid tersebut yang selalu menjadi akar tunggang
dari aqidah setiap orang beriman atau komunitas orang-orang
beriman. Kesaksian akan ke-Maha Esa-an Allah ini pula yang
menjadi dasar bagi setiap pikir, kata, dan laku orang-orang beriman
dalam kehidupannya.

Jalan Kebenaran Universal

172 | MILLAH ABRAHAM

6Jika akar tauhid ini sudah tercabut dari kesadaran iman
manusia, manusia akan kembali kepada kehidupan syirik, yakni
kehidupan yang ber-ilah dan menghambakan diri kepada tuan-tuan
selain Allah, Tuan Semesta Alam. Alhasil, manusia akan kembali
ke dalam kehidupan yang tidak fitrah, kehidupan yang selalu
berpangkal pada hal-hal materialis. 7Tidak heran apabila manusia
bisa berubah menjadi makhluk yang lebih buas dan lebih jahat dari
binatang liar sekalipun. Kehidupan manusia akan dikuasai oleh
nafsu serakah yang selalu berlindung di balik topeng-topeng
politik, hukum, sosial, budaya, ekonomi, dan agama. Mereka yang
berkuasa akan menindas dan mengisap darah rakyatnya. Mereka
yang berilmu akan memperdaya mereka yang bodoh. Mereka yang
kaya akan memperbudak mereka yang miskin, dan seterusnya.

8Itulah sebabnya, kehadiran seorang Rasul Allah selalu
diyakini sebagai rahmat yang luar biasa dari Sang Pengatur hidup
manusia. Kedatangannya menjadi Juru Selamat ummat manusia,
yakni mengembalikan ummat manusia pada fitrahnya sebagai
hamba Allah, Tuan Semesta Alam. 9Rasul Allah bertugas
mengembalikan manusia kepada hidupnya yang fitrah. Rasul-Nya
lah yang akan menjadi “mulut” Allah di muka bumi, dialah yang
menjadi mediator Allah untuk menyampaikan apa yang menjadi
kehendak dan rencana-Nya bagi ummat manusia pada zamannya
dan masa yang akan datang. Untuk itu, dia harus memperkenalkan
kepada manusia, siapa sesungguhnya Allah, Tuan Semesta Alam.

10Pertanyaannya, bagaimana manusia dapat mengenal Allah
Yang ghaib? Bukanlah hal yang sulit bagi Allah untuk
memperkenalkan diri-Nya kepada manusia selama manusia
tersebut ingin berusaha memfungsikan secara maksimal tiga sarana
dasar yang ada pada dirinya, yakni pendengaran, penglihatan, dan
akal pikiran (otak). 11Secara tegas, Allah mengingatkan manusia
akan hal ini sebagaimana tertulis dalam Al-Quran surat Al-A’rāf [7]
ayat 178-179 berikut ini:
‫ٱ ۡل َ�ٰ ِ ُ�و َن‬ ‫ٱلۡ ُم ۡه َت ِدي� َو َمن يُ ۡضلِ ۡل فَأُ ْو َ ٰٓ��ِ َك ُه ُم‬ ‫َمن َ� ۡه ِد ٱ َّ ُ� َ� ُه َو‬
١٧٨ َّ ‫ب‬ٞ ‫َكثِ ٗ�� ِّم َن ٱ ۡ ِ� ِّن َوٱ ۡ ِ�� ِس� لَ ُه ۡم قُلُو‬ ‫َولَ َق ۡد َذ َر ۡ�نَا ِ َ� َه َّن َم‬
‫بِ َها‬ ‫َ� ۡف َق ُهو َن‬ �

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 173

‫أُ ْو َ ٰٓ��ِ َك‬ ۚٓ‫بِ َها‬ ‫� َ ۡس َم ُعو َن‬ َّ ‫ن‬ٞ ‫َولَ ُه ۡم َءا َذا‬ ‫أَُ� ۡب َض ِ ُّلُۚ�أُو ْو َ َن ٰٓ��ِبِ ََهكا‬ َّ �ٞ ُ �ۡ َ‫َولَ ُه ۡم أ‬
� ‫ُه ُم ٱ ۡل َ�ٰفِلُو َن‬ � ‫َكٱ ۡ َ�نۡ َ�ٰ ِم بَ ۡل‬
١٧٩ ‫ُه ۡم‬

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang
mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah,
maka merekalah orang-orang yang merugi. Dan sesungguhnya
Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin
dan manusia, mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

12Tentu saja, sebagai manusia berakal kita tidak ingin
menjadi orang-orang yang merugi, orang-orang yang tidak
mensyukuri tiga sarana dasar yang telah Allah anugerahkan sebagai
syarat untuk mendapat petunjuk dari-Nya. Orang-orang yang
merugi akan selamanya hidup di alam jahannam, yakni kehidupan
yang penuh dengan syahwat kebinatangan atau seperti kehidupan
rimba belantara.

13Untuk mengenal Allah Yang Maha Ghaib, kita harus dapat
memaksimalkan pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran.
Analoginya, untuk mengenal seorang tokoh, tidak selalu harus
bertemu langsung dengan sang tokoh, akan tetapi cukup dengan
mempelajari apa yang menjadi karya dan pemikiran dari sang
tokoh tersebut. 14Kita bisa mengenal dengan benar siapa itu Bung
Karno meski dia sudah tiada. Kita bisa mengenal siapa
sesungguhnya Nabi Muhammad meski kita hidup jauh setelah
beliau wafat. Demikian halnya, kita pun dapat mengenal Allah,
Sang Pencipta alam semesta termasuk Pencipta diri kita, melalui
karya ciptaan-Nya dan isme (ideologi)-Nya. 15Jika kita belum bisa
mengenal Allah dengan benar, tidak mungkin kita bisa beribadah
(mengabdi; menghambakan diri) kepada-Nya dengan benar pula.
“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka
tak percaya, tak percaya maka tak sanggup untuk berkorban”. Pepatah

Jalan Kebenaran Universal

174 | MILLAH ABRAHAM

usang ini pun berlaku atas hubungan kita sebagai hamba dengan
Dia sebagai Tuan. Seseorang tidak akan bisa mencintai Allah
dengan sepenuh akal budinya manakala belum mengenal-Nya
dengan benar.

16Lalu apa yang menjadi karya dan ideologi Allah? Tentu
saja, maha karya yang luar biasa dari Allah adalah alam semesta
dimana manusia menjadi eksponen di dalamnya. Sedangkan
ideologi atau isme-isme Allah adalah wahyu-wahyu Allah yang
diturunkan (diajarkan) kepada para Rasul-Nya yang telah
dibukukan ke dalam Kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran. 17Alam
semesta dan seluruh makhluk ciptaan-Nya merupakan wujud dari
sifat Rahman Allah, dan wahyu yang difirmankan kepada manusia
melalui para Rasul-Nya adalah wujud dari sifat Rahim Allah. Itulah
dua isme utama dari Allah, yakni Ar-rahmān dan Ar-rahīm.

18Para ulama Islam sepakat bahwa ayat yang pertama kali
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad adalah lima ayat
pertama dari surat Al-‘Alaq [96] yang berbunyi:

‫م ٱ ۡق َرأۡ َو َر ُّ� َك‬٢ۡ ‫خلَ ََعق َّلٱَمۡ ِٱ��ۡ ِ�َ� ٰ� َ َ ٰن� َنِم َۡمنا لََع ۡمَل ٍ َ�ق ۡع َل‬٤َ ‫م‬١ِ َ‫ ّ�ِ ٱ َ َّك ِ�ٱ َّي ِ� َعي َّل َمَخبَلِٱَ ۡلق َقل‬٣‫ٱٱ ۡۡق�ََرأۡ بِۡ�ٱ َر ۡسُم ِم َر‬

Bacalah atas nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya

19Pada wahyu pertama di atas, dua kali Allah memerintahkan
kepada Nabi Muhammad untuk membaca, yakni pertama, “Bacalah
atas isme Rabbmu yang menciptakan” dan kedua, “Bacalah demi Rabbmu
yang Maha Mulia”. 20Dapat dijelaskan, bahwa kata ismun berarti
nama, yang mengandung arti sifat; paham, seperti Ar-Rahmān dan
Ar-Rahīm. Ismun atau nama harus sesuai dengan sifat, karena sifat
itu mengandung makna karakter atau akhlak. Lalu apa yang harus
dibaca oleh Nabi Muhammad?

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 175

21Pertama, membaca segala apa yang telah Allah ciptakan,
termasuk mempelajari proses penciptaan manusia yang tercipta
dari ‘alaq, yakni proses ketergantungan atau proses kesepasangan
antara sel sperma dan sel telur. Jadi tidaknya proses penciptaan
manusia ditentukan oleh proses ‘alaqah tersebut, yakni proses
pembuahan sel telur oleh sel sperma. 22Membaca alam semesta
(alam makro) dan alam manusia (alam mikro) adalah awal untuk
dapat mengenal Dia Yang Mencipta alam dan manusia. Dengan
demikian, ketika seseorang dapat membaca (dalam arti
sesungguhnya) alam semesta dan alam manusia, maka dia akan
dapat mengenal Allah, Sang Pencipta, dia akan dapat melihat dan
menemukan kebenaran sejati. 23Hal ini ditegaskan oleh-Nya dalam
Al-Quran surat Fushshilat [41] ayat 53 berikut ini:
‫أَ َو‬ ‫ٱ ۡ َ� ُّق‬ ‫َ�نَّ ُه‬ ‫بِ َءَرا ّ�َِ�ٰتَِكَنا َ�نَّ ِ ُه�ۥٱ َ�َ َٰف�ا ُِق ِّ� َو َِ ٓ� ۡ�أَنٖء ُف َشِس ِه ِهي ۡمٌد‬
‫لَ ۡم‬ ۗ ‫لَ ُه ۡم‬ �َ َّ ‫يَتَ َب‬ �ٰ َّ ‫َح‬ ‫َس ُ ِ�� ِه ۡم‬
‫يَ ۡ� ِف‬

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah
benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuanmu menjadi
saksi atas segala sesuatu

24Alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya
adalah hasil karya cipta Allah Yang Maha Benar, dan Dia mencipta
di atas prinsip kebenaran, sehingga alam semesta sejatinya
merupakan wujud dari kebenaran Allah dan sekaligus wujud dari
karakter atau akhlak Dia. 25Jadi, untuk mengenal Allah, kenalilah
sifat-sifat-Nya, kenalilah karakter-karakter-Nya, kenalilah akhlak-
Nya, dan semuanya itu ada pada alam. 26Alam semesta adalah
Kitab Besar dari Allah yang terjaga oleh-Nya (lauh al-mahfūdz).
Membaca alam adalah membaca ayat-ayat Allah pada alam. Begitu
luasnya ilmu Allah yang ada pada alam, manusia tidak akan
sanggup jika ia ingin meneliti dan menulisnya. 27Perhatikan firman
Allah dalam Al-Quran surat Luqman [31] ayat 27 berikut ini:
‫م‬ٞ ٰ�َ ‫أَ ۡق‬ َۡ ‫َ� َّ� َما‬
‫َس ۡب َع ُة‬ ‫َ� ۡع ِدهِۦ‬ ‫ِم ۢن‬ ‫َ� ُم ُّد ُهۥ‬ ‫َوٱ ۡ َ� ۡح ُر‬ �ٍ ‫َش َج َر‬ ‫ِمن‬ ‫ٱ�� ِض‬ �ِ ‫َولَ ۡو‬

Jalan Kebenaran Universal

176 | MILLAH ABRAHAM

‫م‬ٞ ‫َ� ۡ ُ� ٖر َّما نَ ِف َد ۡت َ�ِ َ�ٰ ُت ٱ َّ�ِۚ إِ َّن ٱ َّ َ� َع ِز� ٌز َح ِكي‬

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah
(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.

28Perhatikan pula surat 'Ali-Imrān [3] ayat 190-191 yang
berbunyi:
�ِ ‫َوٱ ۡختِ َ�ٰ ِف ٱ َّ ۡ� ِل َوٱ�َّ َهارِ � َ�ٰ ٖت ّ ِ ُ� ْو‬ ‫ٱل ٱَّ َّس َِ��ٰي َ�َٰن ِتيَ َۡوذٱ ۡ ُك َ� ُ�روِ َنض‬١٩‫ ِق‬٠‫إٱِ ۡ َّن�َ ۡل َِ�ٰ� ِب َخ ۡل‬
‫َو ُ� ُعو ٗدا َو َ َ ٰ� ُج ُنو�ِ ِه ۡم‬ ‫ٱ َّ َ� قِ َ�ٰ ٗما‬ ‫َو َ� َت َف َّك ُرو َن ِ� َخ ۡل ِق ٱل َّس َ�ٰ َ�ٰ ِت‬
�ٗ ‫َما َخ َل ۡق َت َ�ٰ َذا َ�ٰ ِط‬ ‫َوٱ ۡ َ�� ِض َر َّ� َنا‬

١٩١ ِ‫ُس ۡب َ�ٰ َن َك َف ِق َنا َع َذا َب ٱ�َّار‬

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau mencipta ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka.”

29Orang-orang berakal yang selalu memaksimalkan
pendengaran dan penglihatannya sebagai karakter dasar orang-
orang beriman berkesimpulan bahwa kehidupan alam semesta
adalah wujud kebenaran, sehingga menghasilkan sesuatu yang
seimbang, harmonis, teratur, penuh dengan kedamaian, dan saling
menyejahterakan. Bahkan, tidak ada satu pun makhluk di alam ini
yang batil atau sia-sia. Artinya, semuanya adalah wujud kebenaran
dan karenanya semua makhluk di alam ini senantiasa tunduk patuh
(aslama) menjalankan tugas dan fungsi yang sudah diundangkan
Allah kepadanya tanpa ada penolakan. 30Itulah wujud dari
kehidupan jannah, kehidupan surgawi yang penuh keteraturan,

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 177

kedamaian, dan kesejahteraan, lawan dari kehidupan jahannam
yang penuh dengan ketidakteraturan, kekacauan, dan permusuhan.
31Tapi adakah kita melihat kekacauan pada kehidupan alam?
Pernahkah kita melihat bintang-bintang yang tak terbilang
jumlahnya saling bertabrakan atau saling merusak? Semua sistem
hukum di alam semesta berjalan dengan sempurna tanpa ada
makhluk alam yang melanggarnya. Demikianlah gambaran
keberkahan dan kedamaian yang ada pada kehidupan alam makro.
Lalu bagaimana dengan kehidupan pada alam manusia?

32Bagi orang-orang yang memfungsikan akal (mu’min) yang
dapat membaca alam dengan benar, dia akan bertanya-tanya
mengapa Allah selalu meminta manusia berpikir tentang
penciptaan dan kehidupan yang ada pada alam. Di samping
sebagai jalan atau cara untuk dapat mengenal Allah lebih dekat, hal
tersebut juga sebagai sarana untuk belajar tentang keteraturan
hidup dalam suatu sistem hukum universal ciptaan Allah. 33Jika
semua makhluk yang ada pada alam semesta dapat hidup dengan
seimbang, harmonis, dan teratur, seharusnya pada alam manusia
pun dapat tercipta kehidupan yang seperti di alam semesta
(kehidupan jannah). Lalu bagaimana caranya kita membumikan
firman yang ada pada alam ke dalam kehidupan ummat manusia?
34Jawabannya ada di balik perintah bacalah yang kedua.

“Bacalah demi Rabbmu Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia
dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya”.

35Kedua, Nabi Muhammad diperintah untuk membaca
firman yang diwahyukan (diajarkan) Allah langsung kepadanya
(ayat-ayat qauliyah), yakni sesuatu yang tadinya tidak diketahui oleh
manusia. Hal ini wajar karena sejak masa kanak-kanak, beliau tidak
pernah diajarkan oleh keluarga dan bangsanya akan firman-firman
Allah. Beliau lahir dan besar di tengah masyarakat bangsa Arab
yang ummi, bangsa yang tidak mengenal Alkitab. 36Perhatikan
firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2] ayat 78 dan
surat Al-Jumu’ah [62] ayat 2 di bawah ini:

Jalan Kebenaran Universal

178 | MILLAH ABRAHAM

‫َ� ُظ ُّنو َن‬ َّ ‫ُه ۡم‬ ‫� ۡن‬ �َّ ِ ‫أَ َما‬ ٓ�َّ ِ‫إ‬ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬ ‫َ� ۡعلَ ُمو َن‬ َ ‫أُ ِّم ُّيو َن‬ ‫َو ِم ۡن ُه ۡم‬
�ِ‫إ‬ �

Dan di antara mereka ada yang ummi, tidak mengetahui Al-Kitab,
kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-
duga.
‫ٱ ۡ ُ� ِّم ِّ ۧ� َن‬
‫َو ُ� َز ّ�ِي ِه ۡم‬ ‫َءا َ�ٰتِهِۦ‬ ‫َعلَ ۡي ِه ۡم‬ ْ‫َ� ۡتلُوا‬ ‫ِّم ۡن ُه ۡم‬ �ٗ ‫َر ُسو‬ �ِ ‫َ� َع َث‬ َّ ‫ُه َو‬
‫ٱ ِ�ي‬
�ٖ ِ‫َو ُ� َع ّلِ ُم ُه ُم ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ�ِ ۡك َم َة �ن َ�نُواْ ِمن َ� ۡب ُل َل ِ� َض َ�ٰ ٖل ُّمب‬

Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan
Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar
dalam kesesatan yang nyata.

37Begitu pula surat 'Ali-Imrān [3] ayat 164 berikut ini:

ْ‫لَ َق ۡد َم َّن ٱ َّ ُ� َ َ� ٱلۡ ُم ۡؤ ِمنِ َ� إِ ۡذ َ� َع َث �ِي ِه ۡم َر ُسو ٗ� ِّم ۡن أَن ُف ِس ِه ۡم َ� ۡتلُوا‬
‫َعلَ ۡي ِه ۡم َءا َ�ٰتِهِۦ َو ُ� َز ّ�ِي ِه ۡم َو ُ� َع ّلِ ُم ُه ُم ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب َوٱ ۡ�ِ ۡك َم َة �ن َ�نُواْ ِمن َ� ۡب ُل‬

�ٍ ِ‫َل ِ� َض َ�ٰ ٖل ُّمب‬

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul
dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka
ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya
sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang
nyata.

38Diutusnya seorang Rasul ke tengah-tengah ummat
manusia atau suatu bangsa sesungguhnya adalah wujud dari
karunia Allah. Setelah Rasulullah Muhammad diajarkan isme-isme
Allah –yang pada awalnya tidak diketahuinya, maka tugas beliau
selanjutnya adalah membacakan ayat-ayat Allah (kauniyah dan
qauliyah) kepada bangsanya dan masyarakat sekitarnya. 39Para Rasul
Allah menjadi penerang, juru selamat, dan teladan bagi orang-
orang yang iman kepada apa yang disampaikannya, sebab

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 179

masyarakat bangsanya hidup dalam kesesatan yang nyata; mereka
hidup tanpa petunjuk wahyu Allah.

40Kini, firman-firman yang diajarkan oleh Allah kepada
Nabi Muhammad pada 14 abad yang lalu telah dikodifikasi ke
dalam mushhaf Al-Quran. Dengan kata lain, agar manusia dapat
mengenal Allah dengan benar, ia harus bisa memahami ayat-ayat
Al-Quran dengan benar. 41Dengan demikian, Al-Quran adalah
kumpulan firman Allah yang harus menjadi petunjuk bagi ummat
manusia, tidak hanya dalam rangka mengenal dan mencintai Dia
dengan sepenuh akal budi, tetapi juga sebagai Kitab Petunjuk
untuk membangun suatu tatanan kehidupan masyarakat manusia
menjadi kehidupan surgawi, yakni suatu tatanan kehidupan dunia
yang setimbang, harmonis, teratur, penuh dengan kedamaian, dan
saling menyejahterakan. 42Di sinilah nilai penting dari kehadiran
seorang Rasul dalam kehidupan ummat manusia. Tanpa kehadiran
seorang Rasul, ummat manusia akan tetap berada dalam kehidupan
(kuasa) kegelapan, kehidupan jahanam (dārul bawār: negeri yang
membinasakan).

43Ketika seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk memaksimalkan akal pikirannya, meninggalkan egoisme
paham dan tradisi keagamaan nenek moyangnya yang batil, dan
membersihkan kesadarannya dari ideologi buatan manusia, niscaya
Allah akan memberikan hidayah iman kepadanya. Dia akan
diizinkan oleh Allah untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan
sanggup berkorban demi Allah yang dicintai-Nya. 44Nabi
Muhammad adalah manusia yang dibesarkan oleh lingkungan
keluarga, masyarakat, dan bangsa yang musyrik. Sehingga, beliau
tidak memahami ketetapan-ketetapan Allah untuk dirinya, dan
tidak memahami makna iman yang sesungguhnya, hingga Allah
mewahyukan atau mengajarkan ruh (wahyu) kepadanya. Jadi, Nabi
Muhammad mengetahui apa itu Al-Kitab dan Iman setelah beliau
dewasa, dia bukanlah orang yang telah beriman sejak dalam
kandungan ibunya. 45Hal ini tertuang dengan jelas dalam Al-Quran
surat Asy-Syūra [42] ayat 52 berikut ini:

Jalan Kebenaran Universal

180 | MILLAH ABRAHAM

�َ ‫َو َ� َ�ٰلِ َك أَ ۡو َح ۡي َنآ إِ َ ۡ� َك ُرو ٗحا ِّم ۡن أَ ۡم ِرنَاۚ َما ُكن َت تَ ۡدرِي َما ٱ ۡل ِك َ�ٰ ُب َو‬
‫ٱ ۡ ِ�ي َ�ٰ ُن َو َ�ٰ ِ�ن َج َع ۡل َ�ٰ ُه نُو ٗر� َّ� ۡه ِدي بِهِۦ َمن � َّ َشآ ُء ِم ۡن ِع َبا ِدنَاۚ �نَّ َك‬

�ٖ ‫َ َ� ۡه ِد ٓي إِ َ ٰ� ِص َ�ٰ ٖط ُّم ۡس َت ِقي‬

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu Al-
Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al Kitab (Al-Quran) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran
itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami
kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya
kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus

46Selain itu, masalah iman dalam ajaran Millah Abraham
adalah menjadi hak prerogatif Allah, bukan kuasa Rasul-Nya atau
siapa pun. 47Perhatikan firman-Nya dalam Al-Quran surat Yunus
[10] ayat 100 di bawah ini:
َ
َ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ �َ َ ‫ٱل ِّر ۡج َس‬ ‫َو َ� ۡج َع ُل‬ ِۚ�َّ ‫ٱ‬ ‫�ِإِ ۡذ ِن‬ َّ ‫تُ ۡؤ ِم َن‬ ‫أن‬ ‫ِ�َ ۡف ٍس‬ ‫َ� َن‬ ‫َو َما‬
� �ِ‫إ‬

‫َ� ۡعقِلُو َن‬

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin
Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang
yang tidak menggunakan akalnya.

48Perhatikan pula surat Al-Qashash [28] ayat 56:

‫إِنَّ َك َ� َ� ۡه ِدي َم ۡن أَ ۡح َب ۡب َت َو َ�ٰ ِ� َّن ٱ َّ َ� َ� ۡه ِدي َمن � َ َشآ ُءۚ َو ُه َو أَ ۡع َل ُم‬
‫بِٱلۡ ُم ۡه َت ِدي َن‬

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada
orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-
orang yang mau menerima petunjuk.

49Inti dari keimanan seseorang kepada Allah sebagai Sang
Pencipta dan Pengatur hidup dan kehidupan adalah kesadaran dan
kesaksian dia akan ke-esa-an Allah, bahwa “Tidak ada ilah yang

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 181

patut untuk ditaati kehendak dan perintahnya selain Allah, Tuan
Semesta Alam”. Kesadaran ini kemudian dipersaksikan secara lisan
dalam satu kalimat tauhid, “Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah
selain Allah; Asyhadu an lā ilāha illā Allāh.” Kesadaran spiritual ini
mampu mengeluarkan manusia dari kesadaran dan lingkungannya
yang syirik dan najis menuju satu kesadaran dan lingkungan
spiritual yang baru, yakni kesadaran yang menafikan segala bentuk
kepatuhan dan kecintaan pada isme-isme atau ideologi bangsa yang
musyrik (pluralis). 50Proses kembalinya seorang manusia kepada
fitrahnya menjadi hamba Sang Tuan (Allah YME) disebut juga
sebagai proses kelahiran manusia yang kedua, yakni kelahiran
spiritual (ruh) sebagai kelanjutan dari kelahiran pertama secara
biologis. Kesadaran ini akan hadir tatkala manusia sudah bisa
memahami dan mengenal Pencipta dirinya, Pencipta alam semesta,
baik melalui perenungannya atas ayat-ayat alam maupun ayat-ayat
suci Al-Kitab (Taurat, Injil, dan Al-Quran) sebagai petunjuk bagi
manusia yang ingin mendapat rahmat hidayah-Nya. 51Perhatikan
pernyataan Allah dalam Al-Quran surat 'Ali-Imrān [3] ayat 3-4
berikut ini.
‫َوأَن َز َل‬ ‫ُهبِ ٗٱد ۡ َ�ى ِّقّلِل َّنُما َِصسِّد ٗقَواأَن لَّزِ ََملا‬
‫ٱ َّ� ۡو َرٮٰ َة‬ ‫ٱ َّ ِ�ي َن‬ ِ‫َ� ۡ َ� يَ َديۡه‬ ‫ٱ ۡل ِك َ�ٰ َب‬ ‫نَ َّز َل َعلَ ۡي َك‬
ْ‫َ� َف ُروا‬ ‫ٱ ۡل ُف ۡر َقا َنۗ إِ َّن‬ ‫ِمن َ� ۡب ُل‬ ٣ ‫َوٱ ۡ ِ� ِ�ي َل‬

٤ �ٍ ‫ز ُذو ٱنتِ َقا‬ٞ �ِ‫دۗ َوٱ َّ ُ� َعز‬ٞ ‫ب َش ِدي‬ٞ ‫� َ�ٰ ِت ٱ َّ�ِ لَ ُه ۡم َع َذا‬

Dia menurunkan Al Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan
sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan
sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al-
Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan
Al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-
ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha
Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).

52Kesadaran akan kalimat, “Saya bersaksi ...” berarti orang
tersebut telah menyaksikan dan menjadi saksi bahwa “Tidak ada
ilah selain Allah.” Seseorang tidak akan bisa bersaksi atau menjadi
saksi manakala dia tidak mengetahui apa yang dipersaksikannya.

Jalan Kebenaran Universal

182 | MILLAH ABRAHAM

Kalaupun dia bersaksi, maka saksinya adalah palsu atau dia
menjadi saksi palsu. 53Orang dikatakan sebagai saksi palsu ketika
dia tidak pernah melihat dan mengenal Allah; dia tidak mengetahui
kehendak dan perintah Allah, akan tetapi dia berani bersaksi
tentang Allah. Sama halnya orang yang tidak mengetahui apa visi
dan misi Muhammad sebagai Rasul Allah, tetapi dia berani
bersaksi tentang Rasulullah Muhammad. Inilah perilaku iman
orang-orang yang hanya merasa atau mengaku-aku telah beriman,
orang-orang yang bersaksi palsu. Tidak heran jika ucapannya
berbeda dengan perbuatannya. 54Perhatikan teguran Allah dalam
Al-Quran surat An-Nisa [4] ayat 60 berikut ini:
‫َو َمآ أُنزِ َل‬ ‫ٱيُإلِرَِ َّ��ش ُۡيدٱَوَّ�ٰ ِ�َنُينأََأنَننيَ َ�ۡزيُ َت ُ�ِ َضُحم َّالو ُهَكَ ۡنمُم ٓوَ�اََّْ�ضإُِهَ�َٰ ۡمَ�ۢ�ٱ َءلباَ َّ َعِم ٰ�يُن ُغٗوداْوا بِِت َمآَوقَأُنۡدزِأَُل ِم ُرإِ َٓو ۡ�اْ أََكن‬ ‫َ�لَ ۡم تَ َر‬
‫ِمن‬ ْ ‫يَ ۡ� ُف ُروا‬ ‫َ� ۡبلِ َك‬
‫بِهِۖۦ‬
‫َو ُ� ِر� ُد‬

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

55Demikian pula firman Allah dalam Al-Quran surat Al-
Baqarah [2] ayat 8-10 berikut ini:

٨ �َ ِ‫بِ ُم ۡؤ ِمن‬ ‫َوَ�ِۡ�ٱ َۡد َ� ُۡعو ِوم َٱن إِ� َّ ِخ�ٓرِأَن َُوف َم َاس ُه ُه ۡمم‬ ِ�َّ ‫َءا َم َّنا بِٱ‬ ‫َو ِم َن ٱ�َّا ِس َمن َ� ُقو ُل‬
‫َو َما � َ ۡش ُع ُرو َن‬ ‫َءا َم ُنواْ َو َما‬ ‫يُ َ�ٰ ِد ُعو َن ٱ َّ َ� َوٱ َّ ِ�ي َن‬
ْ‫ض َف َزا َد ُه ُم ٱ َّ ُ� َم َر ٗضاۖ َولَ ُه ۡم َع َذا ٌب أَ ِ� ُمۢ بِ َما َ�نُوا‬ٞ ‫ ِ� قُ ُلو�ِ ِهم َّم َر‬٩
١٠ ‫يَ ۡ� ِذبُو َن‬

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman
kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal

Jalan Kebenaran Universal

JALAN KEBENARAN TUAN SEMESTA ALAM | 183

mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Dalam qalbu mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta.

56Iman bukanlah barang warisan yang dapat diberikan secara
turun-temurun. Iman kepada Allah bukan berarti sebatas percaya
akan adanya Allah atau meyakini Allah sebagai Pencipta langit dan
bumi. Iman itu bukanlah sebatas kepercayaan. Sebab, orang-orang
kafir sekalipun percaya akan adanya Allah, dan percaya bahwa
Dialah Pencipta langit dan bumi ini (lihat QS. Az-Zumar [39]: 38
dan QS. Mu’minūn [23]: 84-89). Iblis pun iman (percaya) akan
adanya Allah, bahkan berdialog dengan-Nya (lihat QS. Al-A’rāf [7]:
12-14). Dengan kata lain, percaya akan adanya Allah sebagai
Pencipta alam semesta belumlah dapat dikatakan sebagai mu’min
yang sesungguhnya.

57Iman adalah kesadaran dan sikap spiritual seseorang akan
apa yang diimaninya. Iman adalah suatu komitmen kesetiaan akan
kecintaan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah, Tuan
Semesta Alam, sebagai satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan
Pemimpin dirinya dalam kehidupan ini. Apapun yang menjadi
kehendak dan perintah Allah, mu’min akan siap untuk
melaksanakannya, meski harus berkorban harta dan diri atau
mengorbankan apa-apa yang dicintainya. 58Inilah esensi dari iman
yang diajarkan oleh Allah dalam Millah Abraham. Sikap tunduk
patuh atau aslama kepada Din Allah adalah buah keimanan sejati
dalam Millah Abraham. Sikap inilah yang terus dicontohkan oleh
Nabi Abraham dan anak cucunya kepada segenap anak-anak
spiritual Abraham.

59Nabi Abraham mampu mempertahankan dan
membuktikan keimanan (kecintaan dan ketaatan)-nya yang murni
hanya kepada Allah, meskipun harus mengorbankan apa yang
dicintainya, bahkan dia sanggup meninggalkan keluarga dan
bangsanya yang menolak dan memusuhi misi risalah Allah yang
diembannya. Karena sejatinya, orang-orang beriman tidak akan
pernah lepas dari ujian iman.

Jalan Kebenaran Universal

184 | MILLAH ABRAHAM

60Mari kita cerdasi dan renungi firman Allah dalam Al-
Quran surat Al-Ankabūt [29] ayat 2–3 dan Al-Mumtahanah [60]
ayat 4 di bawah ini:
َ َ ‫أَ َح ِس َب‬
‫َولَ َق ۡد‬ ٢ ‫ُ� ۡف َت ُنو َن‬ َ ‫َو ُه ۡم‬ ‫َءا َم َّنا‬ ْ‫َ� ُقولُ ٓوا‬ ‫أن‬ ْ‫ُ� ۡ َ� ُ� ٓوا‬ ‫أن‬ ‫ٱ�َّا ُس‬


�َ ِ�‫َ� َت َّنا ٱ َّ ِ�ي َن ِمن َ� ۡبلِ ِه ۡمۖ َفلَ َي ۡعلَ َم َّن ٱ َّ ُ� ٱ َّ ِ�ي َن َص َدقُواْ َو َ َ� ۡعلَ َم َّن ٱ ۡل َ�ٰ ِذ‬

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji
lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-
orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-
orang yang dusta.

‫ ِ ٓ� إِبۡ َ�ٰهِي َم َوٱ َّ ِ�ي َن َم َع ُه ٓۥ إِ ۡذ قَالُواْ لِ َق ۡو ِم ِه ۡم‬ٞ‫َق ۡد َ�نَ ۡت لَ ُ� ۡم أُ ۡس َو ٌة َح َس َنة‬
‫إإِِبَنبََّۡعۡياََنلَ�ٰ َنۡيبُهِا َيَر َكوَم�َ�تَ ُۡيؤَِواَْن َ�َّ�ۡ�ِ َِمني ُان�هِ ُم َ�ٱُ�ََ�ۡل ۡ�ۡۡمَعس ََتَ�كَٰۡوغَوَ�ِفِمُةنَ ََّرمۡبَواَنٱَّناۡ ََ��لَۡۡغع� ُبََ َكۡ�ُضدآ َوَوُءك ََمنَٱ�آلۡبَ َأمًَِمد ۡام ِنلصِ َح ُُُ�دَّك ٰو�لَ ِنتُ َ ۡكؤٱ ِم َُّنِم�ِو َاْنبِٱٱ ََّ�َّ َ�فِ�ِ ۡر َنوَِما ۡحن َبِدهُ َ ٓۥ ُ�ۡإِ� َّۡمءٖ�� َوََّقر َ� َّۡ�و َََندالا‬

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada
Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika
mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami
berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu abdi
selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara
kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan
Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan
memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak
sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya
Rabb kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan
hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada
Engkaulah kami kembali.”

Jalan Kebenaran Universal


Click to View FlipBook Version