COVER
BUNGA RAMPAI PERAWATAN LUKA DAN TERAPI KOMPLEMENTER
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PERAWATAN LUKA DAN TERAPI KOMPLEMENTER Maria Agustina Making, S.Kep., Ns., M.Kep. Agustina Boru Gultom, S.Kp., M.Kes. Ns. Meta Rosaulina, S.Kep., M.Kep. Veronika Toru, S.Kep., Ns. M.Kep. Emiliandry Febryanti T. Banase., S.Kep., Ns Ns. Servasius To’o Jala Mulu, S.Kep., M.Kep. Ineke Noviana, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep | Ester Radandima, S.Kep., Ns., M.Kep. Amelia Nurul Hakim, M.Tr.Kep. | Ika Subekti Wulandari, S.Kep., Ns., M.Kep. Ns. Putu Sintya Arlinda Arsa, S.Kep., M.Kep. Ns. Dimas Dewa Darma, S.Tr.Kep., CWCCA. Ns. Nadhifah Rahmawati, M.Tr.Kep Melkisedek Landi, SKep.NS.,MMedEd Agus Setyo Utomo, A. Mkes | Ns. Devanda Faiqh Albyn, S. Kep Leni Landudjama, S.Kep.,Ns., M.Kep. Yosephina E. S. Gunawan, S.Kep.Ns., M.Kep. Syamsyuriyana Sabar, S.Kep., Ns., M.Kep. Ns. Mohammad Shiddiq Suryadi, M.Tr.Kep.,Ch.,Cht Ns. Nurul Faidah, S. Kep., M. Kes | Israfil, S.Kep., Ns., M.Kes. Ns. Apriza, S.Kep., M.Kep. | Ns. Aris Setyawan, S.Kep., MHPE. Editor: Ns. Arif Munandar, S. Kep., M. Kep. Penerbit CV. MEDIA SAINS INDONESIA Melong Asih Regency B40 - Cijerah Kota Bandung - Jawa Barat www.medsan.co.id Anggota IKAPI No. 370/JBA/2020
PERAWATAN LUKA DAN TERAPI KOMPLEMENTER Maria Agustina Making, S.Kep., Ns., M.Kep. Agustina Boru Gultom, S.Kp., M.Kes. Ns. Meta Rosaulina, S.Kep., M.Kep. Veronika Toru, S.Kep., Ns. M.Kep. Emiliandry Febryanti T. Banase., S.Kep., Ns Ns. Servasius To’o Jala Mulu, S.Kep., M.Kep. Ineke Noviana, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep | Ester Radandima, S.Kep., Ns., M.Kep. Amelia Nurul Hakim, M.Tr.Kep. | Ika Subekti Wulandari, S.Kep., Ns., M.Kep. Ns. Putu Sintya Arlinda Arsa, S.Kep., M.Kep. Ns. Dimas Dewa Darma, S.Tr.Kep., CWCCA. Ns. Nadhifah Rahmawati, M.Tr.Kep Melkisedek Landi, SKep.NS.,MMedEd Agus Setyo Utomo, A. Mkes | Ns. Devanda Faiqh Albyn, S. Kep Leni Landudjama, S.Kep.,Ns., M.Kep. Yosephina E. S. Gunawan, S.Kep.Ns., M.Kep. Syamsyuriyana Sabar, S.Kep., Ns., M.Kep. Ns. Mohammad Shiddiq Suryadi, M.Tr.Kep.,Ch.,Cht Ns. Nurul Faidah, S. Kep., M. Kes | Israfil, S.Kep., Ns., M.Kes. Ns. Apriza, S.Kep., M.Kep. | Ns. Aris Setyawan, S.Kep., MHPE. Editor : Ns. Arif Munandar, S. Kep., M. Kep. Tata Letak : Syahrul Nugraha Desain Cover : Syahrul Nugraha Ukuran : A5 Unesco: 15,5 x 23 cm Halaman : x, 380 ISBN : 978-623-362-633-0 Terbit Pada : Agustus 2022 Hak Cipta 2022 @ Media Sains Indonesia dan Penulis Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit atau Penulis. PENERBIT MEDIA SAINS INDONESIA (CV. MEDIA SAINS INDONESIA) Melong Asih Regency B40 - Cijerah Kota Bandung - Jawa Barat www.medsan.co.id
i KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga buku kolaborasi dalam bentuk book chapter dapat dipublikasikan dan dapat sampai dihadapan pembaca. Book chapter ini disusun oleh sejumlah akademisi dan praktisi sesuai dengan kepakarannya masing-masing. Buku ini diharapkan dapat memberi kontribusi positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan Perawatan Luka dan Terapi Komplementer. Sistematika buku Perawatan Luka dan Terapi Komplementer ini mengacu pada pendekatan konsep teoritis dan contoh penerapan. Oleh karena itu diharapkan book chapter ini dapat menjawab tantangan dan persoalan dalam sistem pengajaran baik di perguruan tinggi dan sejenis lainnya. Kami menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat banyak kekurangan, sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Yang Kuasa. Oleh sebab itu, kami tentu menerima masukan dan saran dari pembaca demi penyempurnaan lebih lanjut. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung dalam proses penyusunan dan penerbitan buku ini, secara khusus kepada Penerbit Media Sains Indonesia sebagai insiator book chapter ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Bandung, 20 Juni 2022 Editor
ii
iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........................................................i DAFTAR ISI....................................................................iii 1 KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA....1 Definisi ...................................................................1 Faktor Penyebab Luka ............................................1 Jenis–Jenis Luka ....................................................2 Dampak Terjadinya Luka........................................5 Tahapan Penyembuhan Luka .................................6 Type Penyembuhan Luka........................................7 Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka ................................................8 Pengkajian Luka .....................................................8 Pengobatan Atau Penatalaksanaan Luka ................9 Komplikasi Luka...................................................12 2 PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF .............................................17 Pendahuluan ........................................................17 Problematika Luka Diabetik..................................19 Problematika Luka Operatif ..................................26 3 PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE)......................................................35 Pendahuluan ........................................................35 Definisi Luka ........................................................36 Penyembuhan Luka ..............................................36 Proses Penyembuhan Luka...................................37 Definisi Perawatan Luka Modern ..........................37
iv Manfaat Perawatan Luka Modern .........................38 Tujuan Perawatan Perawatan Modern...................38 Pemilihan Balutan Luka .......................................38 Pemilihan Terapi...................................................39 Cara Perawatan Luka dengan Modern Dessing......39 Jenis Modern Dressing .........................................40 Prinsip dan Kaidah Balutan Luka (Wound Dressing)...............................................................43 Bahan Modern Wound Dressing.............................43 4 PERAWATAN LUKA OPERASI................................49 Pengertian Perawatan Luka Operasi .....................49 Klasifikasi Luka Operasi .......................................51 Kategori Luka Post Operasi...................................52 Prinsip–Prinsip Manajemen Luka Operasi.............52 Prinsip–Prinsip Umum: Manajemen Luka Bedah Pasca Operasi .......................................................53 Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Pasca Operasi .................................................................54 Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka Operasi .................................................................57 5 PERAWATAN LUKA DIABETES .............................67 Definisi Luka Diabetes ..........................................67 Teknik Perawatan Luka Diabetes Mellitus.............71 6 PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA .....85 Proses Penyembuhan Luka...................................85 Faktor Penyembuhan Luka...................................89 7 EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN .....................................................99
v 8 MANAJEMEN PERAWATAN LUKA.......................109 Luka ...................................................................109 Prinsip Umum dalam Perawatan Luka................119 9 PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN ...........................127 Perawatan Luka dengan Pendekatan Multidisiplin .......................................................127 Konsep Moist Wound Healing ..............................128 Tujuan Pemilihan Balutan Moist Wound Healing.128 Prinsip Moist Wound Healing...............................129 Manfaat Moist Wound Healing .............................129 Karakteristik Moist Wound Healing .....................130 Pemilihan Balutan Luka dengan Moist Wound Healing ...............................................................131 10 PENATALAKSANAAN LUKA DI EMERGENCY.......137 Luka Pasca Trauma ............................................137 Luka Bakar.........................................................140 Manajemen Luka Akut........................................144 Balutan Luka Pasca Trauma...............................147 11 PEMILIHAN BALUTAN DAN PENGAMBILAN KULTUR JARINGAN............................................153 Pendahuluan ......................................................153 Tujuan Pemilihan Balutan Luka .........................155 Balutan Luka yang Ideal.....................................156 Jenis Balutan Luka yang Tepat dan Cara Pemilihannya......................................................156 Fungsi Modern Dressing......................................158 Penggantian Balutan...........................................167
vi Cara Membalut Luka ..........................................167 Kultur Jaringan Luka .........................................169 Cara Pengambilan Kultur Luka...........................169 Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium Pada Saat Kultur Luka .......................................170 12 ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS ......................................................173 Konsep Luka.......................................................173 Konsep Asuhan Keperawatan .............................177 13 REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA .......................191 Regulasi Terapi Komplementer di Indonesia........191 Penerapan Terapi Komplementer di Indonesia ....197 14 KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER ..................................201 Pendahuluan ......................................................201 Pengertian ..........................................................202 Konsep Terapi.....................................................203 Tujuan Terapi Komplementer..............................204 Manfaat Terapi Komplementer ............................204 Klasifikasi Terapi Komplemeneter .......................204 Terapi Komplementer di Indonesia......................205 Terapi Komplementer dan Penggunaannya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan............................206 Peran Perawat.....................................................208 Fungsi Perawat...................................................209 Perawat dalam Pelaksanaan Tindakan Terapi Komplementer ....................................................210
vii Tindakan keperawatan komplementer ................211 15 TERAPI ENERGI WARNA.....................................217 Pendahuluan ......................................................217 Energi Tubuh Manusia .......................................218 Penggunaan Warna Menciptakan Keseimbangan Energi.................................................................220 Aplikasi Terapi Warna Untuk Masalah Kesehatan...........................................................222 Kasus Hipertensi ................................................223 Kasus Asam Lambung ........................................224 Kasus Insomnia ..................................................225 Kasus Diare Kronis .............................................226 Kasus Emosional Kecemasan..............................227 16 MODEL KONSEP PRAKTIK HOLISTIK CARING DAN KOMPLEMENTER .......................................231 Pendahuluan ......................................................231 17 TERAPI HOMEOPATI DAN NATUROPATI ............251 Konsep Umum Terapi Homeopati........................251 Konsep Umum Terapi Naturopati........................255 18 TAI CHI DAN YOGA.............................................269 Sejarah Taichi dan Yoga .....................................269 Pandangan Masyarakat tentang Taichi dan Yoga 270 Manfaat Taichi dan Yoga bagi Kesehatan............273 19 PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION.................287 Definisi ...............................................................287 Jenis Relaksasi Otot ...........................................287 Indikasi Progressive Muscle Relaxation................289 Kontra Indikasi Progressive Muscle Relaxation ....289
viii Aplikasi dan Dosis ..............................................290 Efektifitas Progressive Muscle Relaxation Terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi ..............290 Langkah–langkah Progressive Muscle Relaxation.293 20 HIPNOTERAPI DAN MEDITASI............................301 Pengertian Hipnotis dan Hipnoterapi ..................301 Jenis–Jenis Hipnotis...........................................303 Gelombang Otak Manusia...................................303 Sugesti dan Imajinasi .........................................304 Cara Kerja Hipnotis atau Hipnoterapi .................305 Prosedur dan Tahapan Hipnoterapi ....................307 Indikasi dan Kontra Indikasi...............................309 Hipnoterapi Sebagai Terapi Komplementer .........309 Pengertian Terapi Meditasi..................................310 Meditasi Sebagai Managemen Nyeri ....................311 Cara Melakukan Meditasi ...................................312 Proses Pelaksanaan Terapi Meditasi ...................314 Prosedur Proses Meditasi....................................315 21 BEKAM KERING .................................................319 Pengertian ..........................................................319 Jenis Bekam.......................................................319 Manfaat Bekam Kering .......................................320 Hal-Hal yang Diperhatikan dalam Melakukan Bekam Kering .....................................................321 Larangan -Larangan dalam Melakukan Bekam...322 Waktu yang Dianjurkan untuk Bekam ...............323 Titik Bekam ........................................................323
ix Langkah-Langkah Melakukan Bekam.................325 Penerapan Terapi Bekam dengan Penyakit Hipertensi...........................................................327 22 TERAPI TERTAWA ..............................................333 Pengertian ..........................................................333 Tujuan................................................................334 Manfaat ..............................................................334 Fisiologi Tertawa.................................................336 Kategori dan Karateristik Tertawa.......................337 Tertawa Terapeutik.............................................338 Dasar dan Aturan Terapi Tertawa.......................339 Tipe Terapi Tertawa ............................................340 Efek Terapi Tertawa ............................................341 Kontra Indikasi...................................................342 Tahapan Terapi Tertawa .....................................342 Durasi Terapi Tertawa ........................................343 Proses Terapi Tertawa.........................................343 23 TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) ...........................................................349 Pendahuluan ......................................................349 Terapi Bekam Basah...........................................350 Perlengkapan Bekam ..........................................359 Tahapan Teknik Bekam Basah ...........................362 24 AROMA TERAPI ..................................................369 Aroma Terapi dalam Keperawatan Islam.............369 Jenis Aroma Terapi dan Manfaatnya...................371 Aplikasi Aroma Terapi.........................................373
x Evidence Based Aroma Terapi untuk Diagnosa Keperawatan.......................................................374 Implementasi Aromaterapi dalam Keperawatan ..378
1 1 KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA Maria Agustina Making, S.Kep., Ns., M.Kep. Poltekkes Kemenkes Kupang Definisi Luka adalah terputusnya kontinuitas jaringan yang disebabkan oleh rusaknya atau hilangnya substansi jaringan akibat cedera atau pembedahan yang mengakibatkan perubahan fungsi, struktur, dan bentuk kulit. Luka merupakan rusaknya integritas jaringan epitel (Price, S. A. dan Wilson, 2006). Cedera dapat timbul ketika integritas kulit, permukaan mukosa, atau organ utama terganggu. Menurut (Granick & Teot, 2012) penyembuhan luka yaitu suatu respons organisme terhadap kerusakan jaringan atau organ, serta upaya untuk mengembalikannya ke keadaan homeostatis yang mana proses remodeling jaringan kulit ditentukan oleh pembentukan epitel yang berfungsi yang menutupi luka dan dapat menghasilkan stabilisasi fisiologis dari jaringan atau organ. Faktor Penyebab Luka Menurut (Price et al., 2022) faktor penyebab kerusakan integritas kulit atau luka, yaitu: 1. Trauma mekanis, seperti trauma fisik, benda tajam, senjata, dan bahan peledak yang merupakan misalnya trauma mekanis;
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 2 2. Trauma fisik, seperti paparan suhu, panas, dan dingin, serta paparan listrik; 3. Faktor kimia seperti paparan asam maupun basa. Jenis–Jenis Luka Menurut (Suzanne C. O’Connell Smeltzer, Brenda G. Bare, Janice L. Hinkle, 2004) dan (Price et al., 2022) terdapat berbagai jenis luka sesuai dengan kategorinya masingmasing, yaitu: 1. Berdasarkan kategori sifat luka a. Luka Akut. Luka akut yaitu kerusakan organ yang sembuh sama dengan periode waktu yang diharapkan. Luka akut dapat dikategorikan sebagai: 1) Luka akut akibat pembedahan, misalnya: insisi, eksisi dan skin graft. 2) Luka akut yang disebabkan bukan karena pembedahan, misalnya: Luka bakar. 3) Luka akut karena disebabkan faktor lain, misalnya:abrasi, laserasi, atau injuri pada lapisan kulit superfisial. b. Luka Kronis. Luka kronis yaitu luka akibat kerusakan organ yang proses penyembuhannya mengalami keterlambatan. misalnya: Luka decubitus, luka diabetes, dan leg ulcer. 2. Luka berdasarkan kategori Kehilangan Jaringan. a. Superfisial merupakan luka hanya terdapat pada area lapisan epidermis. b. Parsial (partial-thickness) merupakan luka yang terdapat pada lapisan epidermis dan dermis c. Penuh (full-thickness) yaitu luka yang meliputi dermis, epidermis maupun jaringan subcutan yang dapat melibatkan otot, tendon, dan tulang.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 3 3. Berdasarkan kategori Stadium. a. Stage I. Lapisan epidermis utuh, tetapi terdapat eritema maupun perubahan warna. b. Stage II. suatu keadaan yang terjadi akibat kehilangan kulit bagian superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis. Eritema di jaringan sekitar yang panas, nyeri maupun edema. ada juga exudate dengan jumlah yang sedikit sampai sedang. c. Stage III. Kodisi tubuh yang menunjukkan adanya kehilangan jaringan sampai dengan bagian jaringan sub cutan, yang mana terbentuknya rongga (cavity), jumlah exudate dari sedang sampai banyak. d. Stage IV. kondisi tubuh yang menunjukkan hilangnya jaringan subcutan dengan terbentuknya rongga (cavity) yang melibatkan otot, tendon dan atau tulang. Jumlah exudat sedang sampai banyak. 4. Berdasarkan mekanisme terjadinya. a. Luka insisi (Incised wounds), merupakan luka teriris yang disebabkan karena benda tajam. Misalnya luka yang diakibatan pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi) b. Luka memar (Contusion Wound), merupakan luka yang diakibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak. c. Luka lecet (Abraded Wound), merupakan luka pada area kulit yang bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 4 d. Luka tusuk (Punctured Wound), merupakan kerusakan organ akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. e. Luka gores (Lacerated Wound), merupakan terputusnya kontiunitas jaringan yang disebabkan benda yang tajam contohnya kaca atau kawat. f. Luka tembus (Penetrating Wound), merupakan terputusnya kontiunitas jaringan yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. g. Luka Bakar (Combustio). 5. Berdasarkan Penampilan Klinis. a. Nekrotik (hitam): Pembentukan jaringan yang mati yang mudah terlepas dari kulit atau eschar yang mengeras dan nekrotik, mungkin kering atau lembab. b. Sloughy (kuning): pembentukan jaringan mati yang sudah terbentuk jaringan ikat atau fibrous. c. Granulasi (merah): Jaringan yang sudah tampak granulasi yang sehat. d. Epitelisasi (pink): pembentukan sel epitelisasi. e. Terinfeksi (kehijauan): Struktur luka yang menunjukkan adanya perubahan klinis infeksi contohnya nyeri, bengkak, panas kemerahan maupun peningkatan eksudat.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 5 Dampak Terjadinya Luka Luka merupakan terputusnya suatu jaringan sehingga apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi luka. Berikut gambaran dampak terjadi luka menurut (Granick & Teot, 2012) yaitu: 1. Hilangnya sebagian atau seluruh fungsi organ yang mengalami kerusakan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi organ. 2. Reaksi stres pada sistem saraf simpatik Alergi yang berhubungan dengan sistem kekebalan adalah reaksi terhadap respons stres simpatik. Ada empat macam reaksi yang sering terjadi. Reaksi langsung atau vasoaktif terhadap bahan sel mast atau basofil, diikuti oleh reaksi spesifik antigen atau antibodi, adalah tipe satu. Respons kerusakan sel, fagositosis, dan proses bula adalah contoh reaksi sitotoksik jenis kedua. Tipe tiga ditandai dengan antigen atau antibodi yang bersirkulasi yang diarahkan ke jaringan inflamasi, trombosit yang rusak, vasoaktivitas yang berkurang, dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. 3. Pendarahan dan pembekuan darah pada area Luka dapat menyebabkan perdarahan dan pembekuan darah yang diakibatan oleh respon imun di dalam tubuh. Perdarahan terdiri dari pendarahan internal dan eksternal. 4. Adanya kecenderungan terjadi kontaminasi kuman bakteri pada area luka traumatic karena sistem imunitas tergantung pada organisme yang hidup di dalam atau di luar sel. 5. Adanya kematian sel Luka akibat kerusakan sel dari beberapa faktor yaitu terdapat friction (gesekan), terkontaminasi bahan kimia, ashear (lipatan), pressure (tekanan), iskemia/kekurangan oksigen, maupun neuropati/mati rasa.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 6 Tahapan Penyembuhan Luka Menurut (Falanga et al., 2012; Sebastian probst, 2020) tahapan penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase, yaitu: 1. Fase Koagulasi dan Inflamasi (0-3 hari). Koagulasi adalah reaksi berbasis platelet yang dimulai dengan cepat setelah cedera. Vasokonstriksi disebabkan oleh pelepasan trombosit. Prosedur ini berusaha mengembalikan homeostasis untuk menghentikan pendarahan tambahan. Fase peradangan berikut dimulai beberapa menit setelah kerusakan dan berlangsung selama kira-kira tiga hari. Fase inflamasi memungkinkan leukosit untuk bermigrasi (terutama neutrofil). Neutrofil selanjutnya memfagosit dan menghancurkan kuman sebelum memasuki matriks fibrin untuk mempersiapkan perkembangan jaringan baru. 2. Fase Proliferasi atau Rekonstruksi (2-24 hari). Pada fase inflamasi jika tidak terjadi infeksi atau kontaminasi maka tahapan penyembuhan dapat memasuki tahapan Proliferasi atau rekonstruksi. Dengan demikian pada fase tersebut bertujuan untuk: a. Proses granulasi (untuk mengisi ruang kosong pada luka). b. Angiogenesis (pertumbuhan kapiler baru). Secara klinis akan tampak kemerahan pada luka. Angiogenesis terjadi bersamaan dengan fibroplasia. Apabila tidak ada proses angiogenesis sel-sel penyembuhan maka sel tidak mampu bermigrasi. c. Proses kontraksi (untuk menarik kedua tepi luka agar saling berdekatan). Proses tersebut merupakan suatu peristiwa fisiologi yang dapat menyebabkan adanya penutupan pada luka terbuka. Kontraksi terjadi bersamaan dengan sintesis kolagen.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 7 Dengan demikian hasil dari kontraksi akan tampak dimana ukuran luka akan tampak semakin mengecil atau menyatu. 3. Fase Remodelling atau Maturasi (24 hari-1 tahun). Pada tahap ini merupakan fase terakhir dan paling lama pada proses penyembuhan luka. Ada juga proses sintesis dan degradasi kolagen berada pada keseimbangan, yang mana terdapat serabut-serabut kolagen yang meningkat sesuai dengan tahapan dan bertambah tebal lalu disokong oleh proteinase untuk perbaikan sepanjang garis luka (Carrie Sussman & Barbara Bates-Jensen, 2012). Kolagen menjadi unsur yang utama pada matrks. Serabut kolagen menyebar dengan saling terikat dan menyatu serta berangsurangsur menyokong pemulihan jaringan.Akhir dari penyembuhan didapatkan adanya tanda parut luka yang matang dengan kekuatan 80 % apabila dibandingkan dengan kulit normal. Type Penyembuhan Luka Menurut (Falanga et al., 2012; Kumar & Kothari, 2021) luka dapat dibagi dalam beberapa tipe yaitu: 1. Primary Healing. Proses penyembuhan luka menunjukkan jaringan yang hilang minimal dan bagian tepi luka dapat rapat sesuai dengan bagian jahitan, klip maupun plester. 2. Delayed Primary Healing. Proses yang timbul jika luka terinfeksi maupun adanya benda asing yang mapu menghambat penyembuhan. 3. Secondary Healing. Proses penyembuhan yang tertunda dan hanya bisa terjadi melalui proses granulasi dan kontraksi maupun epitelisasi. Tipe tersebut dapat menghasilkan scar.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 8 Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka Menurut (Granick & Teot, 2012; Kumar & Kothari, 2021; Price, S. A. dan Wilson, 2006) proses penyembuhan luka dapat terbagi atas beberapa faktor, yaitu: 1. Faktor Intrinsik Dalam proses penyembuhan luka dipengaruhi ole faktor intrinsik yaitu berbagai faktor patofisiologi umum (contohnya, adanya gangguan sistem kardiovaskuler, keadaan malnutrisi, serta gangguan metabolik dan endokrin, obesitas, penurunan daya tahan terhadap infeksi) karena dapat menganggu vaskularisasi. Adapun faktor fisiologis normal seperti tingkat usia dan kondisi lokal yang merugikan pada tempat luka (contohnya, eksudat yang berlebihan, adanya dehidrasi, infeksi luka, trauma kambuhan, penurunan suhu kelembapan luka, pasokan darah yang buruk, edema, hipoksia lokal, jaringan nekrotik, pengelupasan jaringan yang luas, produk metabolik yang berlebihan, serta benda asing) (Ganong, 2010; Suzanne C. O’Connell Smeltzer, Brenda G. Bare, Janice L. Hinkle, 2004). 2. Faktor Ekstrinsik Penyembuhan luka yang baik juga dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik yaitu penatalaksaan luka yang tidak tepat (contohnya, hasil pengkajian luka yang tidak tepat seperti infeksi atau kelembapan luka serta bahan yang dipakai untuk perawatan luka primer yang tidak sesuai, dan teknik penggantian balutan yang kurang tepat). Pengkajian Luka Metode pengkajian tersebut mempunyai tujuan bagi perawat untuk dapat persiapkan dasar luka sehingga tidak cepat terkontaminasi infeksi atau benda asing, maupun jaringan mati. Pengkajian tersebut dapat dilakukan pada semua jenis luka sehingga dapat menentukan gambaran atau jenis luka yang tepat, dengan
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 9 demikian perlu adanya pendekatan terstruktur pada pengkajian luka diperlukan untuk mempertahankan standar yang baik dari perawatan. Adapun cara pengkajian luka yang perlu diperhatikan yaitu dimulai dari cara menentukan anatomi struktur luka, lama waktu terjadinya luka, ukuran luka seperti panjang/lebar/ kedalaman luka, perubahan warna jaringan sekitar luka, tiper jaringan luka seperti granulasi /subcutan/ otot/escar/nanah, keberadaan eksudat, perabaan luka dan jaringan sekitar yang panas /dingin/ lembut/ keras, dll, adapun keluhan dari pasien seperti nyeri/rasa tertarik/gatal-gatal pada sekitar jaringan area luka. Pengobatan Atau Penatalaksanaan Luka Secara teori, semua luka akan sembuh dengan cara yang sama, meskipun cara penanganan setiap luka akan bervariasi berdasarkan kesehatan luka, keadaan yang memberatkan, dan variabel lingkungan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat (McLain et al., 2021) bahwa luka perlu jaga kelembaban luka, mengelola infeksi, menyerap kelebihan cairan luka, membuang jaringan mati (mendukung autolisis debridement), menjaga luka tetap steril, dan menjaga luka tetap hemat biaya serta memilih jenis cairan pembersih luka yang tepat (pembersihan luka) dan menggunakan dressing antimikroba (wound dressing) yang memadai sehingga dapat membantu manajemen luka. 1. Pencucian Luka (Wound Cleansing) Tindakan pencucian luka yaitu suatu kegiatan mencuci dengan menggunakan cairan non-toksik pada jaringan kulit/tubuh, maka untuk mencuci luka menggunaka beberapa jenis cairan, yaitu: a. Cairan natrium clorida atau normal saline (NaCl 0,9%) Menurut (Suzanne C. O’Connell Smeltzer, Brenda G. Bare, Janice L. Hinkle, 2004) cairan normal saline adalah suatu cairan dengan tekanan isotonis yang sesuai dengan jaringan tubuh.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 10 Cairan tersebut dapat diberikan pada luka dengan derajat kontaminasinya rendah. b. Air keran (tap water) Air keran (tap water) adalah suatu cairan alternatif untuk pencuci luka di lingkungan tempat tinggal. Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian (Haskas & Restika, 2021) bahwa Luka tersebut dapat dicuci dengan menggunakan air yang telah dimasak/air matang. 3. Cairan pencuci luka komersial Pencucian luka komersial dapat digunakan pada luka-luka yang memerlukan pencucian yang lebih agresif. Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian (Haskas & Restika, 2021) bahwa pencucian luka dapat digunakan dengan cairan pencuci luka komersial seperti povidone-iodine, chlorexidine gluconate & cetrimide (savlon), chlorine atau sodium hypochlorite, hydrogen peroxide, alkohol 70%, revanol, dan mercurochrome. 4. Balutan Luka (Wound Dressing) Pemasangan balutan luka adalah suatu cara memberikan lingkungan yang kondusif terhadap penyembuhan luka dengan penyerapan cairan yang dikeluarkan oleh luka dan tindakan mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi risiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme, selain itu juga menurut (Barownsky, S., & Ayello, 2012) balutan tersebut mampu meningkatkan kemampuan rehidrasi luka serta sarana pengangkut antibiotik ke seluruh bagian tubuh. a. Primary dressing. Primary dressing menggunakan balutan yang diletakkan secara langsung di atas permukaan luka. Menurut (Kartika, 2015) terdapat berbagai macam Primary dressing yaitu: 1) Kassa yang digunakan sebagai Primary dressing atau secondary dressing pada luka dengan atau tanpa
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 11 infeksi serta absorben (penyerap eksudat) yang cukup kuat. 2) Tule (tulle), balutan dressing seperti kasa berlubang agak besar daripada kasa tetapi lebih kuat serta bentuknya relatif tetap (tidak seperti kasa) yang dapat digunakan untuk luka yang bentuknya datar dan dangkal. Tule juga mengandung antiseptik atau antibiotika topical, gel, vaselin, parafin. contoh tule: Bioplacenton Tulle, tule Bactigras serta Sofra-Tulle yang mengandung antibiotik framycetin sulfate 1%. 3) Hydrogel (hydrogel dressing), adalah jenis terapi topikal yang mengandung air dalam jumlah besar yang menimbulkan efek menyejukkan. Misalnya nya Intrasit Gel dan DuoDerm Gel. 4) Hidrokolid (hydrocolloid dressing) adalah suatu dressing yang mengandung sodium carboxymethylcellulose, balutan tersebut dapat tahan air dan impermeabel terhadap bakteri serta mampu melekat sendiri pada permukaan luka. 5) Alginat (alginate dressing) yang merupakan dressing derivat dari ganggang laut. 6) Foam dressing yaitu foam polyurethane hidrofilik yang dapat menyerap eksudat. 7) Film transparan (transparent film dressing yaitu dressing yang terdapat membran polimer semipermeabel yang tipis dan transparan dan dilapisi dengan perekat akrilik tahan air (Wintoko & Yadika, 2020). b. Secondary dressing Mmerupakan balutan luka yang tidak dapat kontak secara langsung pada luka tetapi disimpan pada Primary dressing. Balutan ini biasanya digunakan untuk memfiksasi atau melindungi Primary dressing. Menurut (Spence, 2018) (McLain et al., 2021) contoh secondary dressing yaitu yang absorbent seperti kassa, kassa anti lengket, padding, dan lain-lain.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 12 Komplikasi Luka Menurut (Wijaya & Kep, 2018) luka yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi luka, yaitu: 1. Infeksi Infeksi merupakan suatu respons ketika terjadi luka yang tidak segera diobati dengan tepat. Luka infeksius yang dapat diketahui melalui pemeriksaan kultur luka yaitu memiliki lebih dari 10 hingga seperlima perbanyakan mikroba per gram jaringan. Mikroorganisme merupakan penyebab paling umum dari infeksi. Pembengkakan di daerah setempat, kemerahan, panas, rasa tidak nyaman, dan demam (suhu tubuh lebih dari 380C), menimbulkan baua atau aroma yang tidak sedap atau keluarnya cairan bernanah, dan perubahan warna cairan adalah tandatanda infeksi. Infeksi bakteri pada cedera dapat berkembang selama atau setelah pembedahan, serta selama atau setelah trauma. Infeksi dapat terjadi pada luka 5 sampai 7 hari setelah operasi (Sebastian probst, 2020). 2. Perdarahan Perdarahan adalah suatu kejadian yang perlu mendapatkan penanganan dengan baik. Apabila ada perdarahan dari luar atau dalam (hematoma) yang tidak diatasi maka akan terbentuk jaringan nekrosis, oleh karena itu perlu adanya tindakan yang tepat untuk menunjukan proses pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi atau erosi dari pembuluh darah yang disebabkan benda asing. 3. Hipovolemia Suatu keadaan hipovolemia tidak tampak, dengan demikian penggunaan balutan harus diobservasi selama 48 jam pertama setelah pembedahan serta observasi setiap 8 jam setelah pemasangan balutan. Apabila terjadi perdarahan yang berlegihan sehingga butuh penambahan tekanan luka steril.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 13 4. Dehiscence dan eviscerasi Dehiscence dan eviscerasi merupakan suatu keadaan komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence yaitu terbukanya lapisan luka partial atau total. sedangkan eviscerasi yaitu keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut yaitu kegemukan atau kurang nutrisi. Keadaan multiple trauma atau keadaan terputusnya jaringan yang gagal untuk menyatu serta gejala batuk yang berlebihan, muntah, serta dehidrasi. 5. Sinus Sinus adalah suatu bentuk jalan ke permukaan kulit (terowongan) yang disebabkan oleh abses atau benda asing yang memberikan efek iritasi pada kulit yang sehat. Keadaan tersebut dapat menyebabkan infeksi, misalnya jahitan, serat kasa, dan lain–lain.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 14 Daftar Pustaka Barownsky, S., & Ayello, E. A. (2012). Wound Care Essentia: Practice Principles. In Wound Care Essentia: Practice Principles (3th Editio). Lippincott Williams and Wilkins. Carrie Sussman & Barbara Bates-Jensen. (2012). Wound Care: A Collaborative Practice Manual for Health Professionals (Sussman, Wound Care) (4th Editio). Wolters Kluwer. Falanga, V., Lindholm, C., Carson, P. A., Panuncialman, J., Mamakos, L., Tiziana, L. N., & Falanga, J. K. (2012). Text Atlas of Wound Management. CRC Press. https://books.google.co.id/books?id=V4XOBQAAQB AJ Ganong. (2010). Review of Medical Physiology Ganong’s. pp: 609-610. In 23rd edition (23rd editi). Granick, M. S., & Teot, L. (2012). Surgical Wound Healing and Management. CRC Press. https://books.google.co.id/books?id=- aLSBQAAQBAJ Haskas, Y., & Restika, I. (2021). Evaluasi Ragam Metode Perawatan Luka Pada Pasien Dengan Ulkus Diabetes: Literature Review. Jurnal Keperawatan Priority, 4(2), 12–28. Kartika, R. W. (2015). Perawatan luka kronis dengan modern dressing. Cermin Dunia Kedokteran, 42(7), 546–550. Kumar, P., & Kothari, V. (2021). Wound Healing Research: Current Trends and Future Directions. Springer Singapore. https://books.google.co.id/books?id=J3M5EAAAQBA J McLain, N. E., Moore, Z. E., & Avsar, P. (2021). Wound cleansing for treating venous leg ulcers. The Cochrane Database of Systematic Reviews, 3(3), CD011675. https://doi.org/10.1002/14651858.CD011675.pub2
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 15 Price, S. A. dan Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi Konsep Proses-Proses Penyakit. In Edisi IV (IV). EGC. Price, A., Grey, J. E., Patel, G. K., & Harding, K. G. (2022). ABC of Wound Healing. Wiley. https://books.google.co.id/books?id=9tdKEAAAQBAJ Sebastian probst. (2020). wound care nursing A Person centered approach. Elsevier Health Sciences. Spence, J. D. (2018). Controlling resistant hypertension. Stroke and Vascular Neurology, 3(2), 69–75. https://doi.org/10.1136/svn-2017-000138 Suzanne C. O’Connell Smeltzer, Brenda G. Bare, Janice L. Hinkle, K. H. C.-. (2004). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-surgical Nursing (3rd ed.). Lippincott Williams & Wilkins. Wijaya, N. I. M. S., & Kep, M. (2018). Perawatan Luka dengan Pendekatan Multidisiplin. Penerbit Andi. Wintoko, R., & Yadika, A. D. N. (2020). Manajemen Terkini Perawatan Luka. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 4(2), 183–189.
KONSEP DASAR LUKA DAN JENIS-JENIS LUKA 16 Profil Penulis Maria Agustina Making Penulis adalah seorang anak perempuan dari pasangan orang tua Bpk. Dr. Pius Weraman dan Ibu Katarina L Ola sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Penulis lahir di Oe,Ekam, SoeTTS NTT, tanggal 14 Agustus 1988. Adapun riwayat pendidikan yang telah ditempuh mulai SDK Andaluri Waingapu (lulus tahun 2000), SMPK Sanctissima TrinitasHokeng (lulus tahun 2003), SMAK Syuradikara Ende (lulus 2006), dilanjutkan menempuh Pendidikan S1 Ilmu Keperawatan STIKES St. Vincentius A Paulo Surabaya (lulus Ners tahun 2011), kemudian melanjutkan ke Pendidikan Magister Keperawatan di Universitas Airlangga (lulus tahun 2015). Penulis saat ini aktif sebagai Dosen tetap NON PNS di Poltekkes Kemenkes Kupang pada keilmuan Keperawatan Medikal Bedah. Penulis juga tergabung sebagai anggota dalam organisasi PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kota Kupang NTT dan organisasi HIPMEBI (Himpunan perawat medikal bedah indonesia) Kota Kupang. Adapun pengalaman riset dimulai sejak tahun 2017 hingga saat ini dengan fokus pada bidang penelitian keperawatan medikal bedah khusus pada penyakit degenerative. Demikian juga Hasil Karya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sudah terpublikasi pada jurnal nasional yang terakreditasi. Email Penulis: [email protected] (Hp. 085230940884)
17 2 PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF Agustina Boru Gultom, S.Kp., M.Kes. Poltekkes Kemenkes Medan Pendahuluan Luka dapat didefinsikan sebagai terputusnya integritas epitel jaringan atau adanya masalah struktur dan fungsi anatomi yang berubah dari jaringan. Masalah seputar luka menjadi issu yang mendapat perhatian didunia, dua diantaranya adalah mengenai luka kaki diabetik dan luka operasi. Penyembuhan luka didefinisikan sebagai pemulihan dari bentuk dan fungsi semirip mungkin dengan keadaan semula atau sebelum terjadinya cedera. Luka akut maupun kronis mengacu kepada jumlah waktu yang dialami pasien dalam penyembuhannya. Gambaran luka akut dipertimbangkan secara umum adalah luka tertutup tanpa komplikasi, bersifat teratur dan terorganisir, serta proses penyembuhan cepat. Sedangkan luka kronis dapat didefinisikan sebagai penyimpangan penyembuhan luka dari fase perbaikan atau penyembuhan luka yang diharapkan, baik dari masalah waktu, gambaran ataupun respon terhadap pengobatan. Proses penyembuhan luka pada luka akut, biasanya disebabkan trauma atau pembedahan, secara umum melalui empat tahap proses penyembuhan luka. Tahap-tahap tersebut adalah (Schultz,G,S.,2012) (Kohr,R.,Colwell,J,C., 2020) (Coleman,K.,Neilsen,G., 2020).
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 18 1. Hemostasis Hemostatis merupakan suatu terminologi yang menyatakan tentang penghentian perdarahan. Hemo berarti darah, sedangkan stasis berarti berhenti. Kondisi ini terjadi segera setelah cedera atau pembedahan. Segera setelah suatu cedera atau pembedahan, maka pembuluh darah menyempit, kemudian jalur koagulasi menjadi aktif dengan menghadirkan faktor pembekuan untuk menghentikan perdarahan. Pembentukan bekuan darah menyebabkan aliran darah mengalami hambatan sehingga kehilangan darah dapat dikontrol. Trombosit melepaskan faktor pertumbuhan, seperti faktor pertumbuhan yang diturunkan trombosit (PDGF), faktor pertumbuhan seperti insulin-(IGF-1), faktor pertumbuhan epidermal (EGF), faktor pertumbuhan fibroblast (FGF), dan transforming growth factor-B (TGF-B). Fungsi dari faktor pertumbuhan ini adalah untuk menstimulasi pertumbuhan dan proliferasi sel-sel luka dan meningkatkan migrasi sel-sel lain ke dalam luka seperti makrofag. Hal ini dibutuhkan untuk memulai proses perbaikan Inflamasi. Dalam beberapa hari pertama, terjadilah vasodiltasi pembuluh darah, sehingga memberi kesempatan plasma dan sel darah masuk ke dalam luka, yang ditampilkan sebagai edema, eritema dan eksudat. Leukosit masuk ke dalam luka untuk memulai membersihkan luka. Makrofag, satu jenis dari leukosit akan muncul dan mulai mengatur perbaikan luka. Out put dari tahap inflamasi adalah terbentuknya dasar luka yang bersih dan siap untuk meletakkan sel-sel epitel di luka sehingga bergerak ke penyembuhan aktif. 2. Proliferasi Pada tahap ini, pembangunan epidermis baru dimulai dan jaringan granulasi merah muda terbentuk. Kapiler baru atau disebut angiogenesis dibuat, sehingga memulihkan pengiriman oksigen dan nutrsi yang penting kedasar luka.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 19 3. Remodelling Pada tahap ini, kolagen dirombak menjadi lebih kuat dan memberikan kekuatan tarikan pada luka. Pada permukan luka yang tidak rumit, bekas luka akan sembuh dengan baik. Tahap ini dapat bertahan sampai 2 tahun, dan kekuatan regangan jaringan yang sembuh paling banyak 80 persen dari kulit aslinya. Problematika Luka Diabetik Diabetes mellitus adalah gangguan bersifat menahun yang terjadi apabila pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau ketika tubuh tidak mampu secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan. Peningkatan gula darah atau dapat juga disebut hiperglikemia, merupakan dampak umum dari diabetes mellitus yang tidak terkendali dan bila situasi ini berlangsung terus maka dapat mengakibatkan kerusakan yang serius pada berbagai sistem tubuh, terutama pembuluh darah dan saraf. Dampak dari pembuluh darah dan saraf, salah satunya yang sering terjadi adalah luka pada diabetes mellitus atau disebut luka diabetik. Luka diabetik adalah ulkus atau penghancuran jaringan yang terjadi pada pasien diabetes melitus, terjadi sebagai akibat dari penyakit tidak terkendali dengan baik. Luka diabetek biasanya terjada pada daerah kaki. Ulserasi yang terjadi bisa superfisial saja yaitu lesi yang hanya pada dermis ataupun lesi yang lebih dalam dimana menembus jaringan dibawah dermis seperti subkutan, fasia, otot, tendon atau sampai tulang. Etiologi luka diabetik adalah kombinasi dari neuropati perifer, kelainan bentuk kaki, trauma dan penyakit pembuluh darah perifer (denDekker,A,D.,Gallagher,K,A., 2020). Pengukuran luka diabetes biasanya menggunakan klasifikasi WagnerMeggitt dan dapat diterapkan secara luas (Khan,Y., Khan, M, M., Farooqui,M.R., 2017) Grade Lesi 0 Tidak ada luka terbuka 1 Ulkus pada superfisial/dangkal
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 20 2 Ulkus dalam pada tendon atau kpasul sendi 3 Ulkus dalam dengan abses, osteomyelitis, atau sepsis sendi 4 Gangren lokal-pada kaki depan atau tumit 5 Gangren seluruh kaki Luka kaki diabetik sangat ekstrim terjadi, dan seumur hidup seorang pasien diabetes mellitus akan beresiko mengalami luka kaki diabetes sebesar 15%. Sekitar 2 sampai 3 pasien luka kaki diabetes akan mengalami kesembuhan, namun terjadi dengan proses yang lambat, lebih sering mengambil waktu lebih dari 1 tahun, lebih dari setengah mengalami kembali luka tersebut dalam 12 bulan. Luka kaki diabetes memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien dimana lebih banyak pasien tercatat mengalami dampak mayor luka pada kehidupannya mencakup mobilitas menurun, nyeri, cemas dan depresi. Seorang pasien bila ditemukan mengalami ketidakmampuan untuk berdiri dan berjalan maka hal itu merupakan determinan yang paling penting mempengaruhi kualitas hidupnya. Kemungkinan yang paling mengkhawatirkan dari perkembangan luka kaki diabetes adalah menjadi prognosis utama untuk terjadinya resiko kematian. Lebih dari setengah pasien yang mengalami perkembangan luka kaki diabetes akan mengalami kematian dalam jangka waktu 5 tahun. Sedangkan komplikasi yang paling mengkhawatirkan dari luka kaki diabetes adalah dapat berkembang untuk terjadinya amputasi. Kondisi kematian dan komplikasi ini terjadi karena pasien gagal menyembuhkan luka kaki yang pertama kali didapatkan, atau pasien sembuh namun kembali mendapatkan luka kaki diabetes ataupun karena adanya infeksi kronis. Banyak pasien luka diabetes yang mengalami komplikasi masuk rumah sakit membutuhkan amputasi minor seperti amputasi dibawah pergelangan kaki, jari-jari yang dilakukan sebagai bagian dari perawatan untuk mengangkat jaringan mati dan mengontrol infeksi. Dari segi ekonomi, mengatasi masalah pasien dengan perkembangan luka kaki diabetik adalah sangat mahal. Faktor-faktor tersebut diperlihatkan dalam bagan (Yavuz,D,G., 2022) (Zemaitis,M,R.,Boll,J,M.,
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 21 Dreyer,M,A., 2022) (Khan,Y., Khan, M, M., Farooqui,M.R., 2017) (Moghadas, S, M., Vilches, T, N., Zhang, K., Wells, C, R., Shoukat, A., Singer, B, H., Meyers, L, A., Neuzil, K, M., Langley, J, M., Fitzpatrick, M, C., Galvani, A,2021) (Boulton,A,J,M.,Armstrong,D,G.,Kirsner,R,S.,Attinger,C,E .,Lavery,L,A.,Lipsky,B,A.,Mills,J,L.,Steinberg,J,S., 2018). 1. Karakteristik Pasien Suatu studi menunjukkan bahwa jenis kelamin lakilaki dikaitkan dengan peningkatan 1,5 kali lipat resiko luka kaki diabetik. Studi yang lain memperlihatkan bahwa pasien dengan luka kaki diabetik biasanya usia lebih tua, memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah, durasi mengalami penyakit diabetes lebih lama, memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, retinopati diabetik, memiliki riwayat merokok dibandingkan pasien tanpa luka kaki diabetik, lebih banyak pada pasien diabetes mellitus tipe 2.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 22 2. Pengontrolan Kadar Gula Darah Pengendalian gula darah pada pasien dengan luka kaki diabetik sangtlah diperlukan. Pasien diharapkan mampu memantau glukosa darahnya sendiri dan pada setiap keadaan disesuaikan tujuan dari perawatan diabetes. Perawat dapat menggabungkan upaya pengukuran glukosa darh dengan mencari riwayat tentang diet, olahraga atau aktifitas fisik dan pengobatan yang dikonsumsi pasien yang mampu menurunkan glukosa darah apakah dalam bentuk tablet atau dalam bentuk insulin. Metode yang standar untuk menilai jangka panjang pengendalian glukosa darah adalah pengukuran hemoglobin terglikasi (HbA1c) dengan target harus kurang dari 7%. Namun, jika pasien merupakan pasien rawat jalan dapat menggunakan glukometer dengan glukosa darah praprandial 80-130 mg/dl dan paskaprandial <180 mg/dl. 3. Neuropati Neuropati merupakan masalah yang paling umum terjadi pada komplikasi mikorvaskular diabetes mellitus. Kadangkala penentuan seorang pasien mengalami neuropati, seringkali menemukan keterlambatan. Pengendalian glukosa darah masih merupakan upaya utama untuk memodifikasi masalah neuropati. Neuropati diabetes mellitus patut dicurigai pada pasien yang didiganosa diabetes mellitus tipe 2 dan yang didiagnoa diabetes mellitus tipe 1 lebih dari 5 tahun. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kondisi neuropati diabetes dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah yaitu umur tua, durasi mengalami diabetes, dan tinggi badan. Sedangkan faktor yang dapat diubah adalah pengendalian glukosa yang rendah, kegemukan, kegemukan pada abdomen, dislipidemia (tingginya LDL, hipertriglyserida. Rendahnya HDL), Hipertensi, merokok, pencandu alkohol berat. Neuropati sensori
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 23 somatik merupakan disfungsi saraf serat kecil yang mengakibatkan hilangnya rasa sakit, suhu dan raba. Kondisi ini umum terjadi pada diabetes mellitus, sampai mempengaruhi 50 % orangtua dengan diabetes mellitus tipe 2, yang kerap kali mengalami jatuh namun tidak menyadari terjadinya situasi ini.Neuropati motorik somatik merupakan disfungsi saraf serat besar yang memberi dampak ketidakstabilan dalam berjalan dan meningkatkan resiko untuk jatuh yang sering dilakukan berulang kali tanpa disadari, mengakibatkan peningkatan cedera ringan. Neuropati motorik somatik juga berkontribusi pada upaya melelahkan otot-otot kecil dan potensial ketidakseimbangan fleksor and ekstensor fungsi kaki. Kondisi ini menyebabkan kelainan bentuk dari kaki yang mengakibatkan peningkatan tekanan pada metatarsal, dimana bila dilakukan berulang-ulang dapat terjadi kerusakan jaringan yang dalam.Neuropati otonomik terjadi karena adanya disfungsi saraf simpatis perifer yang mengakibatkan penurunan berkeringat seperti kulit kering, resiko formasi kalus meningkat dan bisa kaki menjadi hangat karena mengalami vasokonstriksi, Biasanya neuropati otonomik berkembang pada pasien bila sudah menyandang diabetes selama 20 tahun. 4. Penyakit Arteri Perifer Penyakit arteri perifer atau perifer arterial disease (PAD) merupakan kondisi dimana terjadi penurunan perfusi darah arteri ekstremitas bawah. Biasanya PAD disebabkan oleh plak arteriosclerosis yang mempersempit lumen aliran arteri yang membatasi aliran darah ke ekstremitas distal. Akibatnya dapat terjadi nyeri paha atau betis saat beraktifitas karena iskemia sementara pada otot-otot kaki saat beraktifitas. Nyeri berjalan pada PAD tersebut dinamakan sebagai klaudikasio intermitten yang berarti pincang. Namun pada kenyataannya, banyak pasien dengan PAD tidak mempunyai gejala atau keluhan yang sesuai dengan definisi klaudikasio.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 24 Gejala klasik PAD adalah nyeri pada kaki ketika melakukan aktifitas seperti berjalan dan akan membaik setelah istirahat. Gejala nyeri atau kram saat berjalan (klaudikasio) dapat terjadi dibokong, pinggul, paha atau betis. Manifestasi klinis dari PAD adalah atrofi otot/kelemahan otot, rambut rontok, kulit halus dan berkilau, kulit yang dingin saat disentuh terutama jika disertai rasa sakit saat berjalan, denyut nadi menurunan atau tidak ada didaerah kaki, luka atau ulkus ditungkai atau kaki yang tidak kunjung sembuh, jari kaki dingin atau mati rasa (CDC, 2021). 5. Trauma pada kaki Trauma kecil yang berulang dapat terjadi oleh karena dampak tekanan tinggi pada masalah neuropati pada kaki atau karena sepatu yang digunakan tidak pas ataupun ada benda asing dalam sepatu. 6. Infeksi Pasien dengan luka kaki diabetik sekitar setengahnya memiliki bukti klinis infeksi. Perkembangannya dimulai dari lapisan kulit paling luar dan menyebar ke jaringan yang lebih dalam. Bila kondisi ini terjadi maka sebagai suatu alasan paling umum untuk pasien harus menjalani rawat inap dan untuk melaksanakan amputasi ekstremitas bawah. Pengenalan yang cepart tentang kemungkinan infeksi dan pengeloaan dapat mencegah hal yang merugikan ini. Kehadiran dari adanya temuan respon peradangan sistemik terutama demam atau leukositosis menggambarkan bahwa luka kaki diabetiknya semakin parah. Pada kondisi infeksi yang mulai meningkat biasanya akan dihadirkan hitung darah lengkap dan pemeriksaan rontgen untuk mencari benda asing, gas dalam jaringan dan kelainan tulang. Pada kondisi infeksi yang semakin berkembang kemungkinan akan dihadirkan pencitraan tulang, spesimen tulang untuk kultur dan bukti histologis.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 25 7. Debridemen Debridement adalah eksisi jaringan rusak, mati atau terinfeksi untuk mengoptimalkan potensi penyembuhan jaringan. Tipe debridement meliputi: a. Debridemen mekanis melibatkan penggunaan irigasi dengan normal saline, dressing basah, dressing basah-kering, hidroterapi. Namun debridement mekanis bukanlah pilihan terbaik, karena dapat merusak jaringan yang sehat bila tidak dilakukan dengan cermat. b. Debridemen enzimatik melibatkan penggunaan bahan kimia untuk pengelupasan jaringan nekrotik. Enzim ini diturunkan dari mikroorganisme seperti clostridium histolyticum atau dari tanaman termasuk kolagenase, varidase, papain dan bromelain. Metode ini paling berguna untuk mendebridement luka dengan jumlah jaringan nekrotik yang besar dan menimbulkan sedikit resiko untuk jaringan yang sehat. c. Debridemen autolitik menggunakan proses enzimatik tubuh sendiri untuk debridemen jaringan nekrotik. Proses debridemen ini adalah menginterupsi jaringan mati atau lemah dengan membiarkan cairan luka untuk mempertahankan kontan dengan tetap pada dasar luka untuk melembabkan, melembutkan dan mencairkan jaringan nekrotik dan eskar. Debridement tercapai dengan pembalut oklusif atau diupayakan tertutup sempurna dengan atau tanpa suplemen hidrokoloid, hydrogel dan film transparan. Metode ini cocok untuk kasus luka dengan jumlah jaringan mati tidak luas dan tidak ada infeksi. d. Debridemen biologi menggunakan belatung medis yang telah tumbuh dilingkungan steril. Belatung akan memakan secara selektif pada jaringan nekrotik inang tanpa melalui jaringan hidup. Metode ini memiliki keuntungan menjadi metode non bedah yang bekerja secara alami, bekerja
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 26 lebih cepat daripada debridemen autolitik atau enzimatik dengan sedikit resiko untuk jaringan yang sehat. e. Debridemen bedah merupakan debridemn paling umum dan bervariasi. Seperangkat instrumentasi digunakan untuk memotong jaringan yang sudah mati seperti menggunakan pisau, gunting, forcep dan lain-lain. Debridemen ini terbaik untuk luka diabetic yang bertahao penyembuhannya, berukuran lebih besar dan gambaran lokasi luka tidak normal, sangat terinfeksi, bisa karena penyebab luka tidak diketahui dan yang memerlukan biopsy atau reseksi bedah. Debridemen ini dianggap sebagai metode tercepat karena sangat selektif, memberikan pengendalian luka yang lebih unggul, tercepat untuk mencapai dasar luka yang bersih dan mempercepat proses penyembuhan pada pasien luka diabetic. 8. Pengobatan Biasanya infeksi luka diabetik adalah kokus gram positif aerobik terutama staphylococcus aureus. Pemberian antibiotik biasanya akan disesuaikan dengan tingkat keparahan infeksi yang ada atau ada tidak resiko faktor patogen gram negatif. Untuk infeksi ringan lebih cocok terapi antimikroba topikal dan untuk infeksi berat terapi antibiotik sistemik melalui enteral. Problematika Luka Operatif Perioperatif meliputi kegiatan pra, intra dan pasca operasi dimana dimulai ketika pasien diberitahu tentang perlunya pembedahan, proses pembedahan dan pemulihan, dilanjutkan dengan keluarnya pasien dari ruang pemulihan dalam fungsi pasca operasi yang optimal. Luka perioperatif merupakan jenis luka yang terjadi akibat proses pembedahan, dimana biasanya luka akibat ada sayatan-sayatan dengan alat pisau operasi, mes cembung dan lain-lain dan serangkaian upaya untuk mengatasi masalah lewat pembedahan dan diakhiri dengan serangkaian penutupan luka.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 27 Prosedur perioperatif merupakan prosedur yang komplek dan kemungkinan besar membawa resiko yang signifikan bagi pasien yang mengalaminya. Pasien yang menghadapi situasi ini membawa mereka pada suatu pengalaman kesehatan yang unik secara individual. Sebagian mereka yang mengalami akan membawa kepada kesehatan dalam bentuk kembali baik dengan tercapainya harapan penyembuhan luka yang cepat, namun sebagian prosedur perioperatif dengan kompleksitas isu atau riwayat kesehatan pasien membawa pada kerusakan yang serius dalam pemulihan pasien secara umum dan secara khusus pada penyembuhan luka operasinya. Berdasarkan suatu studi menunjukkan 77 persen kematian pasien pada masa perioeratif dicatat disebabkan oleh infeksi dan selebihnya oleh penyebab yang lain (Harris, C,L.,Kuhnke,J.,Haley,J.,Cross,K.,Somayaji,R.,Dubois,J., Bishop,J.,Lewis,K., 2017). Ada Beberapa Syarat agar Penyembuhan Luka Operasi Bisa Berjalan dengan Baik yaitu: 1. Pengendalian infeksi Pengendalian infeksi luka operasi dilakukan pada fase pra, intra, dan paska operasi. Pengendalian infeksi pra operasi meliputi (Graft,K.,Vonberg,R,P., 2014) (Granick,M,S.,Teot,L., 2012) (Phillips,N., 2013) a. Faktor yang berasal pasien yaitu penyakit antara lain kanker, sirosis dan penyakit hari lainnya, gagal jantung kongestif, koagulopati, penyakit paru obstruksi menahun, berbagai jenis penyakit penurunan imun berat, bayi kurang satu tahun, usia diatas 65 tahun, penggunaan anastesi yang tinggi, pasien memerlukan prosedur operasi namun asal luka sudah terkontaminasi. Faktor lain adalah kegemukan, diabetes, perokok, sedang mengalami infeksi, b. Faktor yang berasal dari rumah sakit, yaitu lama rawat inap pasien sebelum operasi dilaksanakan.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 28 Hal ini terutama menjadi faktor resiko pada operasi by pass ateri koroner, operasi usus besar dan kecil, prosthesis pada pinggul dan lutut dan pembedahan pembuluh darah. Pengendalian infeksi intra operasi meliputi: a. Sistem aliran udara, dimana ruang operasi bisa terkontaminasi melalui aliran udara secara langsung. Oleh karena itu penataan sistem aliran udara perlu dilakukan. Salah satunya dengan radiasi ultraviolet secara berkala. b. Instrumen dan bahan pembedahan meiputi alatalat bedah, benang jahitan, cairan untuk membilas luka, bahan untuk membersihkan luka, bahan untuk pembalut luka haruslah disterilkan dengan benar. c. Baju operasi, dimana setiap orang yang mengambil bagian dalam proses pembedahan pasien baik ketua tim bedah, satu atau beberapa asisten bedah, instrumentator, wajiblah menggunakan baju dan topi steril dan masker, dalam rangka mempertahankan kesterilan dan mencegah terjadinya infeksi dan juga melindungi diri sendiri dari agen-agen infeksi yang mungkin diperoleh dari pasien. Hal lain yang perlu juga dijaga adalah jumlah tenaga yang hadir di ruangan operasi. Semua tenaga yang masuk ruang operasi haruslah melakukan cuci tangan untuk mendisinfeksi secara menyeluruh tangan dengan menggunakan antiseptik dan air mengalir dengan tehnik yang tepat. d. Tehnik pembedahan antara lain perpanjangan waktu pembedahan dapat meningkatkan infeksi. Tipe operasi by pass arteri coroner, pembedahan abdomen, penggantian pinggul secara total, prosthesis lutut, pembedahan usus besar dan pembedahan vaskular seringkali waktu operasinya dapat mengalami perpanjangan. Tehnik pembedahan lainnya adalah mengenai cara melakukan sayatan operasi, mulai dari kulit
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 29 sampai ke bawah, cara mencari masalah dan menyelesaikan masalah selama sayatan sudah dibuka, meminimalisir jaringan yang nekrotik, hindari perdarahan yang berlebihan. e. Bahan operasi yang dimplankan seperti plat screw pada tulang besar, wire pada tulang kecil, prothesis lutut dan lain-lain. Resiko infeksi akan menjadi lebih tinggi dengan kehadiran bahan yang dimplankan ketika operasi dijalankan. Oleh karena itu, tehnik mensterilisasi bahan operasi yang diimplankan harus dilaksanakan dengan benar. f. Pembalut luka, dimana setelah operasi selesai yang ditandai jaringan kulit sudah dijahit, maka dilakukan kegiatan membalut luka operasi. Penggunaan pembalut luka itu dilakukan secara individual setiap pasien yang dioperasi sangatlah ditentukan oleh tipe operasi yang diterima. Pengendalian Infeksi Pasca Operasi Meliputi: a. Debridemen, yang digunakan untuk menghilangkan jaringan yang rusak dan bakteri dengan ketentuan bila selesai maka dasar luka akan bersih dari hal tersebut. Perawatan debrimen luka diperlukan dengan sering dilakukan untuk menghilangkan debris dan eksudat serta sel-sel tua yang dapat mengganggu penyembuhan luka. Pada luka kronis selain debridemen, juga diperlukan pengangkatan jaringan nekrotik jika menghendaki luka cepat terjadi penyembuhan. Secara keseluruhan, kolonisasi bakteri yang besar dan tingkat infeksi yang lebih tinggi akan berkolerasi dengan pengobatan topikal yang akan digunakan dan eksisi luka yang lambat. Eksisi luka yang segera, seiring dengan perbaikan resusitasi cairan dan perawatan medis umum, secara signifikan akan mengurangi kejadian infeksi setelah cedera termal. Bila jaringan granulasi baru terbentuk maka dapat dimulai deretan penyembuhan.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 30 b. Perfusi jaringan yang memadai akan mengizinkan oxygen, zat nutrisi dan sel-sel darah terkirim ke area luka dan membatasi kesempatan mikroorganisme untuk membentuk kolonisasi. Kondisi hypoxia menyebabkan kematian sel dan nekrosis jaringan yang menciptakan kondisi pertumbuhan yang ideal untuk pertumbahan mikroorganisme. Kondisi tekanan rendah, insufisiensi vena, trauma, hilangnya darah dan edema akan memberi kesempatan berkembang biak bakteri anaerob yang akan mengganggu perfusi jarngan dan meningkatkan kemungkinan proliferasi mikroba. 2. Tidak adanya hematoma dam seroma Hematoma merupakan suatu keadaan dimana adanya penumpukan darah yang abnormal di luar pembuluh darah. Seroma merupakan penumpukan cairan dibawah kulit yang sering muncul pada bekas sayatan operasi atau dilokasi jaringan yang dibuang. Penyebabnya merupakan multi faktor yang melibatkan antara lain hemostasis yang tidak memadai, gangguan limfatik, adanya pergeseran antara permukaan jaringan, terciptanya ruang mati dalam luka, dan koagulapati sistemik, migrasi makrofag dan leukosit polimorfonuklear, hadirnya mediator inflamasi seperti histamin dan prostaglandin. Pembentukan hematoma dan seroma pada luka operasi memiliki efek negatif pada penyembuhan luka operasi dan morbiditas (Bullock,S,J.,Basu,C,B.,Hsu,P.,Singer,R., 2006). 3. Aposisi jaringan yang akurat dan terhindarnya tekanan pada luka Penyambungan jaringan operasi memiliki dua tujuan utama yaitu kompresi tepi luka dengan sarana melakukan jahitan dan pemasangan bidai/splinting yang aman. Setiap jahitan hendaknya memberikan penyambungan jaringan/aposisi yang memuaskan yang ditampilkan dengan siklus benang sama dengan panjang saluran jahitan dan mengisi sepenuhnya.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 31 Untuk mempertahankan tekanan diantara tepi luka, kompresi jahitan harus dikencang sampai jaringan tertutup dengan penuh, yang dapat dilakukan dengan memperpendek jahitan. Ketika membuat siklus jahitan harus memiliki kecenderungan membentuk garis lurus. Namun, jaringan yang mau disatukan tidak boleh dilakukan dengan dipaksa dan meggunakan tekanan, haruslah diatur pengencangannya agar tidak merusak luka jahitan operasi. Begitupun untuk penyatuan luka yang baik, pada saat pensayatan luka dihindari adanya penekanan pada jaringan (Eisner,G., 2012).
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 32 Daftar Pustaka Boulton,A,J,M.,Armstrong,D,G.,Kirsner,R,S.,Attinger,C,E. ,Lavery,L,A.,Lipsky,B,A.,Mills,J,L., Steinberg,J,S. (2018). Diagnosis And Management of Diabetic Foot Complication. American Diabetes Association. Bullock,S,J.,Basu,C,B.,Hsu,P.,SInger,R. (2006). Prevention of Hematomas and Seromas. Semin Plast Surg, 20(4), 233–240. https://doi.org/https://doi.org/10.1055%2Fs-2006- 951581 CDC. (2021). Peripheral Arterial Disease(PAD).https://www.cdc.gov/heartdisease/PA D htm# :~:text=Peripheral arterial disease (PAD) in,arteries%2C which is called atherosclerosis. Coleman,K.,Neilsen,G. (2020). Wound Care. A Practical Guide For Mantaining Skin Integrity. Elsevier. denDekker,A,D.,Gallagher,K,A. (2020). Dysregulated Inflammation In Diabetic Wounds. In Wound Healing, Tissue Repair, And Regeneration In Diabetes. Elsevier. Eisner,G. (2012). Eye Surgery An Introduction To Operative Technique. Springer Verlag. Graft,K.,Vonberg,R,P. (2014). Infection Control Measures For The Prevention od Surgical Site Infections. In M. Kon,K.,Ray (Ed.), MIcrobiology for Surgicals Infections. Diagnosis, Prognosis and Treatment (pp. 3–17). Elsevier. Granick,M,S.,Teot,L. (2012). Surgical Wound Healing and Management. Informa Helathcare. Harris,C,L.,Kuhnke,J.,Haley,J.,Cross,K.,Somayaji,R.,Dub ois,J.,Bishop,J.,Lewis,K. (2017). Best Practice Recommendations (A. Rosenthal,S.,Orsted,H,L.,Bassett,K.,Latta (ed.)). Canadian Association of Wound Care. Khan,Y., Khan, M, M., Farooqui,M.R. (2017). Diabetic Neuropathy And Clinical Practice. International Journal of Research In Medical Science, 5(11), 4683– 4689.
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 33 https://doi.org/http://dx.doi.org/10.18203/2320- 6012.ijrms20174916 Kohr,R.,Colwell,J,C. (2020). Prevention And Care Skin Breakdown. In Canadian Clinical Nursing Skill Techniques (I). Elsevier. Mc Dermott,K,W.,Liang,L. (2021). Overview of Major Ambulatory Surgeries Performed in Hospital-Owned Facilities, 2019 Statistical Brief #287. In Healthcare Cost and Utilization Project (HCUP) Statistical Briefs. Moghadas, S, M., Vilches, T, N., Zhang, K., Wells, C, R., Shoukat, A., Singer, B, H., Meyers, L, A., Neuzil, K, M., Langley, J, M., Fitzpatrick, M, C., Galvani, A, P. (2021). The Impact of Vaccination ob Coronavirus Disease 2019 {Covid-19} Outbreaks In The United States. Clinical Infectious Diseases. https://doi.org/https://doi.org/10.1093/cid/ciab07 9 Phillips,N. (2013). Berry & Kohn’s Operating Room Technique (12 (ed.)). Elsevier. Schultz,G,S. (2012). The Physiology of Wound Bed Preparation. In Surgical Wound Healing and Management. Informa Helathcare. Shearman,C,P. (2015). Foot Complication In Diabetes : The Problem. In Management of Diabetic Foot Complications. Springer Verlag. Steiner,S.A.,Karaca,Z.,Moore,B,J.,Imshaug,M,C.,Pickens, G. (2020). Surgeries in Hospital-Based Ambulatory Surgery and Hospital Inpatient Settings, 2014: Statistical Brief #223. Europe PMC. Yavuz,D,G. (2022). Classification, Risk Factors, And Clinical Presentation Diabetic Neuropathy. In M. Tavakoli (Ed.), Diabetic Neuropathy. Elsevier. Zemaitis,M,R.,Boll,J,M.,Dreyer,M,A. (2022). Peripheral Arterial Disease. Statpearls Publising. Zhang,P.,Lu,J.,Jing,Y.,Tang,S.,Zhu,D.,Bi,Y. (2017). Global epidemiology of diabetic foot ulceration: a systematic review and meta-analysis. Annals of Medicine, 49(2), 1106–1116. https://doi.org/https: //doi.org/10.1080/078 53890. 2016. 1231932
PROBLEMATIKA LUKA DIABETIK DAN PERIOPERATIF 34 Profil Penulis Agustina Boru Gultom Penulis mengalami ketertarikan mengenai masalah keperawatan medikal bedah dan gawat darurat dimulai pada tahun 1991. Hal ini dimulai dengan masuknya penulis dalam pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akper Depkes RI Medan dan tamat tahun 1994, dilanjutkan pada Ners di Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Bandung tamat tahun 2000. Ketertarikan pada bidang ini penulis lanjutkan dengan masuknya penulis pada pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Bencana di S2 FKM USU tamat tahun 2012. Penulis pernah menjadi perawat di kamar operasi pada tahun 1995-1996, dan setelah penulis menjadi ASN di Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Medan sejak tahun 1996, penulis menjadi pengajar, pembimbing di lahan praktek dibidang keperawatan mesdikal bedah dan gawat darurat baik di Prodi D-III, Prodi Sarjana Terapan dan Prodi Ners, menjadi pemateri seminar dan peneliti serta menulis beberapa artikel di beberapa penerbit jurnal internasional dan nasional dengan konsentrasi keperawatan medikal bedah dan gawat darurat. Email Penulis: [email protected]
35 3 PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) Ns. Meta Rosaulina, S.Kep., M.Kep. Institut Kesehatan Deli Husada Pendahuluan Luka adalah suatu kondisi yang terjadi kerusakan kontinuitas jaringan, struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat adanya proses patologis yang berasal dari lingkungan internal maupun lingkungan eksternal dan dapat memperburuk kondisi organ tertentu. Perawatan dan pengelolaan terhadap luka menjadi salah satu faktor yang menentukan hasil akhir dari proses penyembuhan luka (Nabila et al., 2013). Luka adalah keadaan kerusakaan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar suhu atau pH, zat kimia, gesekan trauma, tekanan, dan radiasi. Respon tubuh terhadap berbagai cedera atau luka dengan proses pemulihan sangat dinamis dan kompleks. Penyembuhan luka dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh kembali pulih yang ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon secara bersamaan dimana sel berinteraksi dan melakukan tugas dan fungsi secara normal. Penyembuhan luka dikatakan sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi, dan penampilan (Lenny et al., 2022). Metode perawatan luka yang sudah berkembang saat ini adalah menggunakan prinsip moisture balance. Metode moisture balance ini disebutkan lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture balance ini dikenal sebagai metode