The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang, 2023-03-13 08:15:29

Perawatan Luka dan Terapi Komplementer

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Keywords: Rawat Luka Tehnik Terapi Komplementer

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 84 Perencanaan Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi ah Manajemen Hiperglikemia Observasi: a. Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia b. Monitor kadar glukosa darah, c. Monitor tanda dan gejala hiperglikemia d. Monitor intake dan output cairan e. Monitor keton urine, kadar analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi Terapeutik: a. Berikan asupan cairan oral dakan keperawatan 3x24 jam lukosa darah membaik Sedang Cukup Membaik Membaik 3 4 5 3 4 5 Sedang Cukup Menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5


18


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 85 b. Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk c. akupresure d. Edukasi a. Anjurkan kepatuhan diet dan olahraga b. Ajarkan pengelolaan diabetes Kolaborasi c. Kolaborasi pemberian insulin d. Kolaborasi asupan cairan e. Kolaborasi pemberian cairan IV f. Kolaborasi pemberian kalium, jika perlu


18 Diagnosa Keperawatan Pe Tujuan & Kri Resiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan Integritas Kulit dan Jaringan D.0129 Tujuan: Setelah dilakukan tind diharapkan integritas kulit dan j Pengertian : Kriteria Hasil: Kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen) Menurun Cukup Menurun Sed 1 Elastisitas 1 2 3 2 Hidrasi 1 2 3 Meningkat Cukup Meningkat Sed 3 Kerusakan lapisan kulit 1 2 3 4 Perdarahan 1 2 3 5 Nyeri 1 2 3 6 Hematoma


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 86 rencanaan Keperawatan teria Hasil Intervensi Perawatan Integritas Kulit Observasi: f. Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit Terapeutik: e. Hindari produk berbahan dasar alkohol pada kulit Edukasi g. Anjurkan menggunakan pelembab h. Anjurkan minum air yang cukup dakan keperawatan 3x24 jam jaringan meningkat dang Cukup Meningkat Meningkat 3 4 5 3 4 5 dang Cukup Menurun Menurun 3 4 5 3 4 5 3 4 5


18 1 2 3


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 87 3 4 5 i. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi j. Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem k. Anjurkan mandi dan menggunkan sabun secukupnya Perawatan Luka Observasi: g. Memonitor karakteristik luka h. Memonitor tanda-tanda infeksi Terapeutik: f. Lepaskan balutan dan plester secara perlahan


18


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 88 g. Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik h. Berikan salep yang sesuai ke kulit/lesi, jika perlu i. Pasang balutan sesuai jenis luka j. Pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka Edukasi l. Jelaskan tanda dan gejala infeksi m. Anjurkan mengkonsumsi makanan tinggi kalori


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 189 Daftar Pustaka Bryant, R (2016) Acute and chronic wounds. (3nd ed.) St Louis: Mosby Year Book David S Perdanakusuma (2007): Anatomi fisiologi dan penyembuhan luka. Short Course wound care update. JW Marriot Surabaya Doughty, Beckley D, McNichol, Laurie L (2016). Wound, Ostomy and Continence Nurses Socienty core curriculum. Wound Management. Philadelphia: Wolters Kluwer Pramesti, A., Andiyanti, L., & Effendi, A. (2017a). Evaluation Of Using Wound Cleansers To The Wound Healing : Literature Review. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 2(2), 14–20. Pramesti, A., Andiyanti, L., & Effendi, A. (2017b). Peranan Pencucian Luka Terhadap Penurunan Kolonisasi Bakteri Pada Luka Kaki Diabetes. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 2(2), 110–115. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, PersatuanPerawat Indonesia Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia


ASUHAN KEPERAWATAN LUKA AKUT DAN KRONIS 190 Profil Penulis Dimas Dewa Darma Penulis biasa dipanggil dimas, lahir di Tugumulyo, 15 November 1997. Saat ini penulis masih menjalani pendidikan S2 di Poltekkes Kemenkes Semarang. Penulis aktif dalam melakukan penelitian bersama dosen yang berada di poltekkes kemenkes bengkulu. Ini merupakan tulisan ke 4 namun terbitan kali ini merupakan karya tulisan asli tanpa campur tangan dosen senior yang biasanya memberikan masukkan terhadap tulisan. Penulis pernah bekerja sebagai Asisten Dosen di salah satu kampus yang berada di Bengkulu. Penulis juga pernah bekerja di Klinik sebagai perawat dan menjalani rutinitas Home Care di wilayah Bengkulu. Penulis memiliki kepakaran selain dalam bidang Keperawatan beliau juga memiliki soft skill dalam bidang editor. Penulis memiliki bloger dan you tube yang bisa kamu tonton nanti nya seputar keperawatan. You tube penulis bernama Ca Ners. Penulis memiliki banyak mimpi yang akan dicapai. Mimpi itu selalu diucapkan oleh penulis setiap hari dan penulis percaya mimpinya akan tercapai dengan mengucapkannya setiap hari tanpa lelah. Percayalah APA YANG KAMU UCAPKAN SETIAP HARI DAN DILAKUKAN PASTI AKAN TERCAPAI. Email Penulis : [email protected]


191 13 REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA Ns. Nadhifah Rahmawati, M.Tr.Kep STIKes Kendedes Malang Regulasi Terapi Komplementer di Indonesia Kesehatan adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi. Sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia, salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Meskipun sama fundamentalnya dengan hakhak yang lain, hak atas pelayanan kesehatan sering dianggap lebih mendasar. Oleh karena itu, hak atas pelayanan kesehatan merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap warganegara Indonesia. Sehingga tidak ada masyarakat yang tidak bisa melakukan pengobatan. Pengobatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat dapat berupa bantuan medis ataupun pengobatan secara tradisional. Meskipun memiliki metode pengobatan yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi seorang pasien. Salah satu pengobatan yang menjadi trend saat ini adalah pengobatan komplementer karena Sebagian besar masyarakat beranggapan pengobatan komplementer bukan hanya sebagai pengobatan kuratif namun juga dapat meningkatkan Kesehatan, mengurangi stress, meminimalisir tanda gejala serta mengontrol penyakit.


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 192 Berdasarkan meningkatkan minat masyarat terhadap trend pengobatan komplementer, pemerinta membuat Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1109//Menkes /PER/IX/2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Dalam Permenkes tersebut disebutkan pengobatan komplementer-alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum diterima dalam kedokteran konvensional. Menurut WHO Pengobatan komplementer (complementary and alternative therapies) adalah pengobatan nonkonvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakanpengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudahdari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun–temurun pada suatu negara. WHO menerima pengobatan komplementer-alternatif sebagai suatu cara pengobatan yang diintegrasikan dalam Sistem Kesehatan Nasional. Menurut WHO pada tahun 2017, terdapat sekitar 70 hingga 80 persen dari seluruh penduduk dunia pernah menjalani pengobatan nonkonvensional. Di Indonesia sendiri, sejak turun temurun sudah dikenal pengobatan tradisional yang tergolong non konvensional tetapi tidak termasuk pengobatan komplementer seperti jamu, dan praktek pijit tradisional untuk memulihkan dari penyakit. Berikut beberapa dasar dalam ketentuan penyelenggaraan pengobatan komplementer khususnya dalam bidang keperawatan di Indonesia: 1. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1109//Menkes/ PER/IX/2007


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 193 Menurut Permenkes nomor 1109//Menkes/ PER/IX/2007 Bab 3 pasal 3 menyebutkan bahwa: “Pengobatan komplementer-alternatif dilakukan sebagai upaya pelayanan yang berkesinambungan mulai dari peningkatan kesehatan (promotive) pencegahan penyakit (preventif) penyembuhan penyakit (kuratif) dan atau pemulihan kesehatan (rehabilitatif)” Selain itu, permenkes nomor 1109//Menkes/ PER/IX/2007 Bab 3 pasal 4 menyebutkan ruang lingkup komplementer-alternatif berlandaskan pengetahuan biomedik meliputi: a. Intervensi Tubuh dan Pikiran (Mind and body interventions), b. Sistim pelayanan pengobatan Alternatif (Alternatif Systims of Medical Practice), c. cara Penyembuhan manual (Manual Healing Methodes) d. Pengobatan Farmakologi dan Biologi (Pharmacologic dan Biologic Threatment), e. Diet dan Nutrisi untuk Pencegahan dan Pengobatan (Diet and Nutrition the Prevention and Treatment of Desease) f. Terapi lain dalam diagnose dan pengobatan 2. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 1 angka 16 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Menyebutkan bahwa: “Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat”


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 194 Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat dijabarkan bahwa pengertian pelayanan kesehatan tradisional mengandung persyaratan: a. adanya aktifitas pengobatan dan atau perawatan; b. Menggunakan cara atau obat tradisional; c. Berdasarkan pengalaman dan keterampilan turun-temurun; d. Dapat dipertanggung jawabkan secara empiris; dan e. Penerapannya sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. 3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan pengobatan Tradisional Komplementer. Ketentuan mengenai pengobatan tradisional juga ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan pengobatan Tradisional Komplementer. Adapun tujuan dari KepMenKes tersebut adalah sebagai upaya untuk membina pengobatan tradisional, memberikan perlindungan kepada masyarakat, menginventarisasikan jumlah pengobatan tradisional, serta jenis dan cara pengobatannya. 4. Undang-undang no.36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 23 ayat (5) 5. UU No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan Disebutkan pada 21: (2) Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi Asuhan Keperawatan di bidang upaya kesehatan masyarakat, Perawat berwenang: l. … m. melakukan penatalaksanaan Keperawatan komplementer dan alternatif. Lampiran Penjelasan UU:


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 195 Merupakan bagian dari penyelenggaraan Praktik Keperawatan dengan memasukkan/ mengintegrasikanterapi komplementer dan alternatif ke dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pasal 28 bahwa: a. Praktik Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan tempat lainnya sesuai dengan Klien sasarannya. b. Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: 1) Praktik Keperawatan mandiri; dan 2) Praktik Keperawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pasal 30: Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi asuhan keperawatan di bidang pelayanan kesehatan perorangan,perawat berwenang: a. Melakukan pengkajian keperawatan secara holistik; b. Menetapkan diagnosis keperawatan; c. Merencanakan tindakan keperawatan; d. Melaksanakan tindakan keperawatan; e. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan. Pasal 37: Ayat 4 : Dalam memberikan Asuhan Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, Perawat dapat melakukan penatalaksanaan Keperawatan komplementer dan alternatif sesuai dengan kompetensi. (5) Pelaksanaan kewenangan Keperawatan komplementer dan alternatif pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan berupa tempat praktik mandiri Perawat mengikuti ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) sampai dengan ayat (5) kecuali ayat (4).


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 196 Ayat 5: Pelaksanaan kewenangan Keperawatan komplementer dan alternatif pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan berupa tempat praktik mandiri Perawat mengikuti ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) sampai dengan ayat (5) kecuali ayat (4). 6. Permenkes No. 26 tahun 2019 tentang pelaksanaan UU 38 tahun 2014 tentang keperawatan Disebutkan pada Pasal 15: a. Ayat (2-3) Perawat menjalankan praktek kep di: praktek mandiri, klinik, puskesmas, rumah sakit, rumah klien, rumah jompo, panti asuhan, panti social, sekolah; b. Ayat (6-8) Praktek mandiri pasang papan nama praktek : Nama perawat, no. STRP, no. SIPP dan asuhan keperawatan.


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 197 Penerapan Terapi Komplementer di Indonesia Terapi komplementer menjadi pilihan banyak masyarakat di Indonesia. kebutuhan masyarakat yang meningkat, berkembangnya berbagai penelitian yang terkait terapi komplementer, serta metode praktik komplementer yang bisa berupa penggabungan cara pengobatan medis konvensional dengan non konvensional menjadikan terapi komplementer sebagai tren pilihan pengobatan saat ini. Di Indonesia ada tiga jenis pengobatan komplementer yang telah ditetapkan Departmen kesehatan dimana telah diintegrasikan ke dalam pelayanan medis konvensional yakni akupuntur, terapi hiperbarik dan terapi herbal medik. Metode akupuntur berasal dari Cina bermanfaat untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan serta pereda nyeri (anagesi). Terapi akupunktur berfungsi memperbaiki keadaan umum, meningkatkan sistem imun tubuh, mengatasi konstipasi atau diare, meningkatkan nafsu makan serta menghilangkan atau mengurangi efek samping yang timbul akibat dari pengobatan kanker itu sendiri, seperti mual dan muntah, fatigue (kelelahan) dan neuropati.Sementara terapi hiperbarik adalah metode terapi pada sebuah alat khusus menyerupai ruangan yang memiliki tekanan udara 2 – 3 kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal lalu diberi pernapasan oksigen murni. Manfaat terapi heperbarik untuk pasien – pasien dengan gangren supaya tidak perlu dilakukan pengamputasian bagian tubuh. Alat terapi hiperbarik tidak banyak dimiliki pada rumah sakit karena harganya yang sangat mahal. Sedangkan terapi herbal medik adalah terapi dengan menggunakan obat bahan alam berupa herbal terstandar yang telah melalui uji preklinik untuk keamanan dan efektifitas obat. Terapi herbal, berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Obatobat herbal yang digunakan dalam terapi herbal medik adalah obat herbal biomedik yang telah melalui proses uji klinik dan penelitian laboratorium sesuai SK Menkes No. 121/2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herbal dan PMK No. 35/2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian.


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 198 Meskipun masih tiga jenis pengobatan komplementer yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan namun terapi komplementer yang telah berkembang di Indonesia sebenarnya cukup banyak. Sebagian besar pengobatan komplementer yang sudah dikembangkan memanfaatkan ilmu biomedis dan biocultural. Selain itu, Teknik terapi komplementer berupa keterampilan dengan menggunakan teknik manual, terapi energi dan terapi olah pikir. Cara lainnya ialah dengan ramuan obat tradisional ataupun kombinasi yang memadukan antara keterampilan dan ramuan. Perkembangan terapi komplementer di Indonesia tidak hanya sebatas pemanfaatan keilmuan dan Teknik pemberian terapinya saja tetapi juga pada organisasi yang berkecimpung di bidang terapi komplementer. Himpunan Perawat Holistik Indonesia (HPHI) merupakan wadah bagi perawat yang memiliki minat mengembangkan diri di bidang terapi komplementer. Peran perawat dalam terapi komplementer di Indonesia sangat penting mengingat sudah adanya regulasi yang jelas tentang penyelenggaraan terapi komplementer dalam keperawatan dan didirikannya Himpunan Perawat Holistik Indonesia (HPHI) diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dan terapi komplementer sebagai salah satu upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang Kesehatan.


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 199 Daftar Pustaka Penulisan daftar pustaka menggunakan format APA Edisi7 ataau 6. Contoh: Menkes RI. (2007). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Menkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Indonesia, R. (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan. Manuscript. Menkes RI. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan No. 26 tahun 2019 Indonesia, R. (2009). Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta Republik Indones. Indonesia, R. (2017). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan. Manuscript. Michaelsen, K. F., Grummer‐Strawn, L., & Bégin, F. (2017). Emerging issues in complementary feeding: Global aspects. Maternal & Child Nutrition, 13, e12444.


REGULASI DAN PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER DI INDONESIA 200 Profil Penulis Nadhifah Rahmawati Lahir di Malang, 22 April 1995. Memperoleh gelar sarjana Terapan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Malang tahun 2018 dan Magister Terapan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Semarang tahun 2020, kemudian menyelesaikan Pendidikan Profesi Ners di Poltekkes Kemenkes Malang tahun 2021. Saat ini sebagai pengajar di STIKes Kendedes Malang sebagai pengampu matakuliah Terapi komplementer, Ilmu dasar Keperawatan (IDK), Keperawatan Medikal Bedah (KMB) dan Keperawatan Penyakit Tropis. Pernah mengikuti Short Course Training Program on Clinical Care at Mahidol university and Siriraj Hospital Thailand tahun 2020 Penulis memiliki kepakaran dibidang KMB dan perioperatif. Sebagai bentuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Buku ini merupakan buku kedua dimana buku pertama dalam bentuk monograf bertemakan komplementer yakni intervensi CBT dan Self Efficacy Training terhadap perawatan diri pasien gagal ginjal kronis: Systematic review. Email Penulis: [email protected]


201 14 KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER Melkisedek Landi, SKep.NS.,MMedEd Poltekes Kemenkes Kupang Pendahuluan Ada Peningkatan penggunaan terapi Komplementer baik secara terintegrasi atau berdiri sendiri dalama beberapa tahun terakhir. Terapi Komplementer sering didentikan dengan pengobatan tradisional, walau sebenarnya ada ada perbedaan mendasar, yaitu pada eviden base/bukti ilmiah sebagai dasar tindakan dan tempat penggunaan. Model Terapi ini mempunyai sejarah yang sangat Panjang dengan beberapa sebutan seperti terapi tradisonal, alternatif dan komplementer. Penggunaan terapi komplementer mulai menjadi pilihan banyak masyarakat sebagai alternatif dan bantuan pengobatan konvensional. Pemerintah dalam hal ini Kemenkes dan bahkan WHO (World Health Organization) telah banyak mengadopsi kebijakan yang menyertakan terapi komplementer dalam berbagai kebijakannya. Menurut WHO pada tahun 2018, ada 98 negara atau lebih dari 50% dari 194 negara anggota, telah telah mempunyai kebijakan nasional tentang T&CM (traditional and complementary medicine). Perawat Sebagai Salah Satu tenaga kesehatan Terdepan wajib memahami Keperawatan Komplementer dengan segala tantangannya dalam Proses pengobatan di Masyarakat.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 202 Pengertian WHO Mendefinisikan Terapi komplementer adalah pengobatan yang non konvensional yang tidak berasal dari negara yang bersangkutan. (WHO, 2018). Perawatan tambahan digunakan untuk menggambarkan teknik terapeutik yang bukan bagian dari pengobatan konvensional (juga disebut pengobatan "biasa", "standar" atau "publik umum"). Terapi komplementer digunakan sebagai "pelengkap" atau perawatan konvensional tambahan. Karena perawatan komplementer dapat digabungkan atau diintegrasikan ke dalam perawatan medis konvensional, perawatan ini juga disebut "perawatan integratif". (Breastcancer.org, 2022). Disebut terapi komplementer jika terapi ini dilakukan bersamaan dengan terapi konvensional, namun jika terapi ini menjadi pilihan lain diluar terapi konvensional maka sebutannya adalah terapi alternatif. disebut Tradisional jika dilakukan di tempat asal terapi tersebut, namun jika dilakukan dinegara lain disebut sebagi Komplementer. Kemenkes mendefinisikan perbedaan Terapi tradisional dan Kesehatan Tradisional Komplementer dengan menyebut kesehatan tradisional yang sebagai Pemanfaatan ilmu biomedis dan biokultural dalam penjelasannya serta manfaat dan keamanannya dengan pembuktian secara ilmiah, dan pengobatan tradisonal sebagai pengobatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Merujuk Pada difinisi WHO, terapi asal Indonesia akan disebut tradisional jika digunakan di Indonesia, namun terapi tradisional negara lain akan disebut terapi komplementer jika dilakukan di Indonesia. Perawatan tambahan dilakukan untuk menyelesaikan perawatan medis konvensional dan rasional yang tidak bertentangan dengan nilai–nilai dan hukum kesehatan di Indonesia. Standar pemrosesan pelengkap telah diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jadi untuk indonesia, jamu merupakan bagian dari obat tradisional bukan termasuk perawatan komplementer. Perawatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 203 yang telah terjadi zaman sebelumnya yang digunakan dan ditransmisikan dari generasi ke generasi. Tetapi di Negara ASEAN lainnya, obat tanaman Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai perawatan komplementer. Terapi komplementer adalah metode pencegahan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung perawatan medis konvensional atau sebagai perawatan untuk pilihan lain di luar perawatan medis konvensional. (Rufaida, Lestari, & Sari, 2018) Terapi komplementer adalah sekelompok berbagai jenis sistem medis dan perawatan kesehatan, praktik dan produk yang umumnya bukan bagian dari perawatan konvensional. Perawatan komplementer bukanlah pengobatan alternatif, tetapi perawatan tambahan digunakan dengan pengobatan konvensional. Dalam hal ini Obat alternatif tidak digunakan dan bukan pengobatan konvensional. Perawatan komplementer seperti menambahkan yoga, tai chi atau pijat ke rencana pemeliharaan rutin. Tetapi tidak boleh mengganti bagian dari perawatan rutin (operasi, kemoterapi, radioterapi, perawatan hormon) dengan orang lain. (Breastcancer.org, 2022). Perawatan komplementer meliputi teknik seperti akupuntur, obat berbasis tanaman, pijat, kelompok pendukung dan yoga. Dan saat ini disebut perawatan holistik, perawatan komplementer umumnya menjelaskan bagaimana penyakit mempengaruhi semua orang: fisik, emosional, spiritual dan sosial. Konsep Terapi Perawat Memandang Manusia sebagai holistik. Karena itu keperawtan komplementer sering juga di sebut sebagai Holistic Care. Kesehatan holistik memandang Manusia Sebagai Makhluk Bio, Psiko, Sosial dan spritual sebagai suatu kesatuan yang utuh. Dengan tujuan perawatan adalah peningkatan Penyembuhan seluruh orang dari lahir sampai mati. Konsep terapi komplementer Sangat didukung oleh beberapa teori keperawatan seperti


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 204 Tujuan Terapi Komplementer Terapi komplementer bertujuan meningkatkan fungsi sistem–sistem tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh dan pertahanan tubuh, sehingga terjadi penyembuhan. Prinsip tujuan ini didasari pemahaman bahwa tubuh kita benar–benar memiliki kemampuan untuk sembuh, terutama jika kebutuah tubuh untuk kebutuhan nutrisi yang baik dengan perawatan yang tepat dilakukan dengan baik dan tepat. Terapi komplementer sebagai pilihan pengobatan lain di luar perawatan medis, yang sering di intergrasikan sebagai penunjang untuk meningkatkan fungsi sistem tubuh, khususnya sistem kekebalan tubuh dan pertahanan tubuh diharapkan agar lebih koperatif dan tulus menerima situasinya. Manfaat Terapi Komplementer Nezabudkin, (2007) Pengobatan menggunakan terapi pelengkap keunggulan selain anda meningkatkan kesehatan lebih banyak dan lebih banyak lagi juga lebih murah. terapi komplementer pada khususnya akan terasa lebih murah jika pelanggan penyakit kronis yang harus dikeluarkan secara teratur dana. pengalaman pelanggan yang awalnya menggunakan terapi modern menunjukkan bahwa biaya pembelian obat telah berkurang setelah menggunakan terapi komplementer (Widyatuti, 2008). Klasifikasi Terapi Komplemeneter National Center for Complementary/Alternative Medicine (NCCAM) membuat klasifikasi dari berbagai terapi dan sistem pelayanan dalam lima kategori. 1. Kategori pertama, mind-body therapy yaitu memberikan intervensi dengan berbagai teknik untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala fisik dan fungsi tubuh misalnya perumpamaan (imagery), yoga, terapi musik, berdoa, journaling, biofeedback, humor, tai chi, dan terapi seni. 2. Kategori kedua, Alternatif sistem pelayanan yaitu sistem pelayanan kesehatan yang mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis berbeda dari Barat


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 205 misalnya pengobatan tradisional Cina, Ayurvedia, pengobatan asli Amerika, cundarismo, homeopathy, naturopathy. 3. Kategori ketiga dari klasifikasi NCCAM adalah terapi biologis, yaitu natural dan praktik biologis dan hasilhasilnya misalnya herbal, makanan). 4. Kategori keempat adalah terapi manipulatif dan sistem tubuh. Terapi ini didasari oleh manipulasi dan pergerakan tubuh misalnya pengobatan kiropraksi, macam-macam pijat, rolfing, terapi cahaya dan warna, serta hidroterapi. 5. Terakhir, terapi energi yaitu terapi yang fokusnya berasal dari energi dalam tubuh (biofields) atau mendatangkan energi dari luar tubuh misalnya terapetik sentuhan, pengobatan sentuhan, reiki, external qi gong, magnet. Klasifikasi kategori kelima ini biasanya dijadikan satu kategori berupa kombinasi antara biofield dan bioelektromagnetik (Snyder & Lindquis, 2002 dalam Widyatuti, 2008). Terapi Komplementer di Indonesia Indonesia dengan segala kemajemukannya, mempunyai banyak terapi tradisional sebagai bagian dari usah menngkatkan darajat kesehatan. Merujuk pada definisi WHO, terapi tersebut menjadi terapi tradisional karena berasal dari negara Indonesia dan dilakukan pada negara asal sendiri. Karena itu Kemenkes menyebutnya sebagai terapi tradisional komplementer. Saat ini beberapa RS yang ada di Jakarta telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan pengobatan komplementer ini. Oleh karena tingginya kebutuhan masyarakat akan terapi komplementer pada berbagai ranah perawatan dan berkembangnya penelitian terhadap terapi komplementer dalam hal ini perawat dapat berperan aktif sebagaI konselor bagi masyarakat untuk memilih terapi komplementer yang tepat bagi masyarakat (Wijaya, Yudhawati, Dewi, & Ilmy, 2022).


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 206 Jenis–jenis terapi Komplementer yang di lakukan di Indonesia sesuai PERMENKES No: 1109/Menkes/ Per/IX/2007, antara lain: 1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) meliputi: Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga. 2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif meliputi: akupuntur, akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, ayurveda. 3. Cara penyembuhan manual meliputi: chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut 4. Pengobatan farmakologi dan biologi meliputi: jamu, herbal, gurah. 5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan meliputi: diet makro nutrient, mikro nutrient. 6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan: terapi ozon, hiperbarik, EECP. Terapi Komplementer dan Penggunaannya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Upaya peningkatan kualitas kesehatan selain dengan pengobatan konvensional, juga banyak dilakukan dengan pengobatan komplementer alternatif. UU No. 36 Tahun 2009 pasal 48 menyatakan “Pelayanan kesehatan tradisional merupakan bagian dari penyelenggaraan upaya kesehatan”. Untuk kepentingan tersebut perlu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan tradisional oleh tenaga kesehatan baik di fasilitas kesehatan maupun praktek tenaga kesehatan. Penyelenggaraan pengobatan komplementer alternatif diatur dalam Permenkes no. 1109 tahun 2007, Menurut Permenkes nomor 1109//Menkes/ PER/IX/2007 Bab 3 pasal 3 menyebutkan bahwa: “Pengobatan komplementer-alternatif dilakukan sebagai upaya pelayanan yang berkesinambungan mulai dari peningkatan kesehatan (promotive) pencegahan penyakit (preventif) penyembuhan penyakit (kuratif) dan atau pemulihan kesehatan (rehabilitatif)”.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 207 Sesuai Permenkes nomor 1109//Menkes/PER/IX/2007, Tenaga kesehatan yang melakukan praktek pelayanan kesehatan komplementer alternatif harus memiliki Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan Komplementer – Alternatif (SBR-TPKA) yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan provinsi dan Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif (ST-TPKA) yang dikeluarkan dinas kesehatan kabupaten/kota. SBRTPKA diperoleh dengan mengajukan permohonan kepada kepala dinas kesehatan provinsi. ST-TPKA/ SIK-TPKA diperoleh dengan mengajukan permohonan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat. Pelayanan kesehatan komplementer alternatif oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu alternatif pengobatan yang dapat berkontribusi meningkatkan derajat kesehatan dan dewasa ini banyak diminati oleh masyarakat. Di Negara Indonesia terdapat 3 jenis teknik pengobatan komplementer medis yang telah diintegrasikan ke dalam pelayanan medis konvensional, yaitu: 1. Akupuntur medik yaitu metode pengobatan alternatif yang telah dilandasi dengan ilmu biomedik serta bersinergis dengan pengobatan konvensional. Disebut pengobatan alternatif karena akupuntur adalah pengobatan tradisional dari Cina yang digunakan di Indonesia. Akupuntur bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri). 2. Terapi hiperbarik, yaitu metode terapi dimana pasien berada di dalam sebuah nruangan dan diberikan tekanan oksigen murni. Terapi ini sering digunakan pada pasien dengan kasus gangrene untuk mencegah amputasi. 3. Terapi herbal medik, yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa fitofarmaka.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 208 Terapi dengan munggunakan herbal medik ini diatur lebih lanjut oleh Keputusan Meteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 121/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herbal. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: 1. Memilik sertifikat kompetensi di bidang herbal dan telah mendapatkan kewenangan dari organisasi seminat Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT). 2. Standar ketenagaan (SDM) adalah dokter dan atau dokter gigi yang sudah memiliki kompetensi. 3. Bahan yang digunakan harus yang telah terstandar (obat jadi) namun apanila meracik sendiri dokter pelaksana harus didampingi assisten apoteker. 4. Rumah sakit yang dapat melakukan pelayanan medik herbal wajib mendapatkan izin dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (Purwanto,2013). Peran Perawat Sesuai UU No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan, Perawat dapat melakukan penatalaksanaan Keperawatan komplementer dan alternatif sesuai dengan kompetensi, dalam hal pelayananan dan pengembangan penelitian terapi komplementer perawatan berpartisipasi aktif dalam masyarakat, maka peran perawat sangan diperlukan. Adapun peran perawat dalam terapi alternatif dan komplementer diantaranya Doheny (1982) mengidentifikasi beberapa elemen peran perawat professional, meliputi: 1. Care giver, sebagai pemberi asuhan keperawatan; 2. Client advocate, sebagai pembela untuk melindungi klien; 3. Counsellor, sebagai pemberi bimbingan/konseling klien; 4. Educator, sebagai pendidik klien;


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 209 5. Collaborator, sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain; 6. Coordinator, sebagai coordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber dan potensi klien; 7. Change agent, sebagai pembaru yang selalu dituntut untuk mengadakan perubahan – perubahan; 8. Consultant, sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah klien. (Prasetyaningati & Rosyidah, 2019) Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilakukan sesuai dengan perannya, fungsi dapat berubah dari suatu keadaan ke keadaan lainnya. Lingkup dan fungsi keperawatan berkembang dengan konsentrasi manusia sebagai fokus layanan perawatan. Bentuk perawatan yang utuh, berdasarkan kepercayaan bahwa manusia sebagai makhluk biopsico – sosial – spiritual yang unik dan utuh. Ilmu keperawatan fokus pada fenomena khusus dengan penggunaan metode khusus untuk memberikan basis teoretis dan fenomena perawat yang diidentifikasi. Dengan demikian, perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas hal -hal yang dilakukan dalam praktik keperawatan. Dalam hal ini, praktik keperawatan harus didasarkan pada prinsip–prinsip yang ilmiah, kemanusiaan dan pengetahuan serta terampil dalam melaksanakan layanan keperawatan dan bersedia dievaluasi. Ini adalah karakteristik yang menunjukkan profesionalisme perawat yang sangat penting untuk implementasi fungsi mandiri, ketergantungan, dan kolaboratif (Kozier, 1991) dalam (Prasetyaningati & Rosyidah, 2019). Teori keperawatan yang ada dapat dijadikan dasar bagi perawat dalam mengembangkan terapi komplementer misalnya teori transkultural yang dalam praktiknya mengaitkan ilmu fisiologi, anatomi, patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini didukung dalam catatan keperawatan Florence Nightingale yang telah menekankan pentingnya mengembangkan lingkungan


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 210 untuk penyembuhan dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses penyembuhan. Selain itu, terapi komplementer meningkatkan kesempatan perawat dalam menunjukkan caring pada klien (Snyder &Lindquis, 2002) dalam (Widyatuti, 2008). Perawat dalam Pelaksanaan Tindakan Terapi Komplementer 1. Caregiver Peran perawat dapat memberikan tindakan langsung kepada pasien dalam terapi komplementer, seperti : a. Masase; b. Terapi musik; c. Diet; d. Teknik relaksasi; e. Vitamin dan produk herbal. 2. Educator Peran perawat dapat memberitahukan informasidan edukasi tentang terapi komplementer. 3. Konselor. Peran perawat sebagai konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya untuk pasien, konsultasi dan diskusi sebelum mengambil keputusan tentang terapi komplementer yang akan dipilih. 4. Koordinator. Perawat dapat mendiskusikan terapi komplementer dengan dokter yang merawat dan unit manajer terkait 5. Advokat Peran perawat berperan untuk memenuhi permintaan kebutuhan perawatan komplementer yang akan diberikan dan perawat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasien.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 211 6. Konsultan Peran perawat membantu dalam memecahkan masalah yang dialami pasien. 7. Kolaborator Peran perawat berkolaborasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya dalam memberikan terapi komplementer. (Prasetyaningati & Rosyidah, 2019) Tindakan keperawatan komplementer Jenis tindakan komplementer keperawatan selain berpedoman pada peraturan dan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, perawat dalam melaksanakan jenis tindakan keperawatan komplementer berpedoman pada kaidah intervensi NIC (Nursing Intervention Classification) yang dikembangkan dan dikaitkan dengan kategori diagnosis keperawatan yang diakui oleh North American Nursing Diagnosis Association (NANDA). NANDA adalah suatu badan formal yang dibentuk oleh asosiasi perawat amerika untuk meningkatkan, mengkaji kembali dan mengesahkan daftar terbaru dari diagnosis keperawatan yang digunakan oleh perawat praktisi. Menurut Perry & Potter (2010) strategi penatalaksanaan nyeri non farmakologis dapat diterapkan sebagai tindakan keperawatan holistik yang dipandang sebagai tindakan komplementer. Beberapa terapi dan teknis medis alternatif dan komplementer bersifat umum dan menggunakan proses alami (pernapasan, pikiran dan konsentrasi, sentuhan ringan, pergerakan, dan lain-lain) untuk membanti individu merasa lebih baik dan beradaptasi dengan kondisi akut dan akut. Berikut jenis–jenis terapi yang dapat dilakukan: 1. Terapi Relaksasi Respon relaksasi merupakan bagian dari penurunan umum kognitif, fisiologis, dan stimulasi perilaku. Relaksasi juga melibatkan penurunan stimulasi. Proses relaksasi memperpanjuang serat otot, mengurangi pengiriman impuls neural ke otak, dan


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 212 selanjutnya mengurangi aktivitas otak juga sistem tubuh lainnya. Relaksasi membantu individu membangun keterampilan kognitif untuk mengurangi cara yang negatif dalam merespon situasi dalam lingkungan mereka. Keterampilan kognitif adalah seperti sebagai berikut: a. Fokus (kemampuan untuk mengidentifikasi, membedakan, mempertahankan perhatian pada, dan mengembalikan perhatian pada rangsangan ringan untuk periode yang lama). b. Pasif (kemampuan untuk menghentikan aktivitas analisis dan tujuan yang tidak berguna). c. Kesediaan (kemampuan untuk menoleransi dan menerima pengalaman yang tidak pasti, tidak dikenal, atau berlawanan). Tujuan dari relaksasi jangka panjang adalah agar individu memonitor dirinya secara terusmenerus terhadap indikator ketegangan, serta untuk membiarkan dan melepaskan dengan sadar ketegangan yang terdapat di berbagai bagian tubuh. 2. Meditasi dan Pernapasan Meditasi adalah segala kegiatan yang membatasi masukan rangsangan dengan perhatian langsung pada suatu rangsangan yang berulang atau tetap. Ini merupakan terminasi umum untuk jangkauan luas dari praktik yang melibatkan relaksasi tubuh dan ketegangan pikiran. Menurut Benson, komponen relaksasi sangat sederhana, yaitu: a. Ruangan yang tenang, b. Posisi yang nyaman, c. Sikap mau menerima, dan d. Fokus perhatian. Praktik meditasi tidak membutuhkan seorang pengajar, banyak individu mempelajari prosesnya dari buku atau kaset, dan mudah untuk diajarkan.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 213 Sebagian besar teknik meditasi melibatkan pernapasan, biasanya pernapasan perut yang dalam relaks dan perlahan. (Rufaida, Lestari, & Sari, 2018). Penting bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui dan memahami terapi komplementer sebagai pendukung terapi konvensional untuk mendukung kesembuhan pasien. Penyelenggaraan dan pengembangan pelayanan kesehatan tradisional perlu terus didorong melakukan pengembangan terapi lewat pengkajian yang lebih komprehensif, riset yang lebih mendalam serta pengujian pengobatan tradisional untuk pelayanan dan pengobatan yang lebih baik dan berkualitas. Bukan tidak mungkin banyak terapi yang bisa dihasilkan dari Pengembangan yang terus menerus dari pilihan pengobatan ini.


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 214 Daftar Pustaka Breastcancer.org. (2022). Treatment Options / Complementary Therapy "What Is Complementary Therapy?". Retrieved from Breastcancer.org: https://www.breastcancer.org/treatment/compleme ntary-therapy/what-is Potter,P.A& Perry, AG 2010 Fundamental of Nursing, 7th Edition.Singapore Rufaida, Z., Lestari, S. P., & Sari, D. P. (2018). Buku Terapi Komplementer. Mojokerto: STIKes Majapahit Mojokerto. Retrieved from http://ejournal.stikesmajapahit.ac.id/index.php/EB ook/article/view/309 WHO. (2018). Traditional, Complementary and Integrative Medicine. Retrieved from WHO: https://www.who.int/health-topics/traditionalcomplementary-and-integrative-medicine#tab=tab_1 Widyatuti. (2008). TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN. Jurnal Keperawatan Indonesia, 53- 57. Wijaya, Y. A., Yudhawati, N. S., Dewi, K. K., & Ilmy, S. K. (2022). KONSEP TERAPI KOMPLEMENTER KEPERAWATAN (Complementary Nursing Concepts). Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa Universitas Brawijaya. Snyder, M.,Tracy,M.,Lindquist, R.2014. Complementary alternative therapies in nursing. Newyork: Springer Publishing Company Inc. Potter,P.A& Perry, AG 2010 Fundamental of Nursing, 7th Edition.Singapore Permenkes No 26. 2019 tentang pelaksanaan Undang Undang keperawatan


KONSEP DASAR DAN TUJUAN TERAPI KOMPLEMENTER 215 Profil Penulis Melkisedek Landi Penulis Pernah Bekerja di Puskesmas Zumalai, bekas Provinsi Timor Timur, Dinas Kesehatan Sumba Timur dan terakhir di Prodi Keperawatan Waingapu Poltekes Kemenkes Kupang pada Program Pendidikan DIII Keperawatan sampai dengan sekarang. Penulis Menyelesaikan Pendidikan S1 Keperawatn di PSIK UGM tahun 2006 dan kemudian melanjutkan Pendidikan pada Magister Pendidikan Kedokteran UGM 2015. Penulis Memiliki Kepakaran dibidang Keperawatan Penyakit Tropik yang berfokus pada malaria, Filariasis dan demam berdarah. Penulis Adalah Bagian dari Tim Mata Kuliah Gawat darurat, Promosi Kesehatan dan terapi Komplementer. Ketertarikan penulis terhadap terapi komplementer didasari trend Penggunaan terapi komplementer yang terus meningkat. Banyak Isyu menarik terkait pengobatan Komplementer dan tradisional yang menjadi pilihan alternatif bagi banyak masyarakat, baik berdiri sendiri sebagai alternatif maupun sebagai Komplementer. Hal ini menjadi salah satu Dasar penulis terlibat dalam penyusunan Buku ini. Email Penulis: [email protected]


216


217 15 TERAPI ENERGI WARNA Agus Setyo Utomo, A. MKes Poltekkes Kemenkes Malang Pendahuluan Tubuh manusia mempunyai beberapa energi yang berbeda mengalir terus menerus untuk mencapai keseimbangan yang tepat. Ketika terdapat ketidakseimbangan antara energi tersebut, tubuh akan menunjukkan tanda dan gejala terjadinya gangguan kesehatan atau penyakit. Proses penyeimbangan energy dalam Terapi Sujok, dilakukan dengan menggunakan bantuan magnet, jarum akupungtur, biji, twist, warna dan lain-lain. Terapi warna atau kromoterapi merupakan terapi yang memanfaatkan cahaya dan warna sebagai metode penyembuhan klien dengan masalah kesehatan fisik maupun mental. Metode terapi warna sudah ada sejak zaman mesir kuno, Warna dipercaya dapat masuk ke dalam tubuh melalui mata (penglihatan) dan pemberian warna pada bagian tubuh sesuai dengan kebutuhan (melalui kulit). Cahaya merupakan salah satu bentuk energi, dan dapat dipecah menjadi beberapa warna dimana setiap warna memiliki panjang gelombang dan frekuensi yang unik. Metode terapi warna yang akan diuraikan dalam buku ini merupakan salah satu bagian terapi warna metode Su Jok yang merupakan hasil karya cemerlang Profesor Park Jae Woo. Metode terapi warna Su Jok dapat dilakukan cara memberikan warna tertentu sesuai kebutuhan di Korespondensi Organ di tangan serta dapat dilakukan dengan pewarnaan jalur meridian tubuh.


TERAPI ENERGI WARNA 218 Terapi warna dalam buku ini dilakukan dengan melalui pewarnaan jalur meridian sebagai stimulasi energy tubuh. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, meridian merupakan jalur energi vital yang dikenal sebagai qi yang berfungsi dalam pengaturan homeostatis berbagai fungsi tubuh. Terdapat 12 meridian utama dalam tubuh manusia dimana masing-masing mengikuti jalur arah tertentu di sepanjang tubuh (Health Jade Team, 2019). Meridian tubuh dalam keilmuan sujok terletak di jari-jari tangan dimana telapak tangan dan jari tangan mempunyai kemiripan bentuk dengan tubuh besar atau tubuh sesungguhnya, sehingga pewarnaan meridian sebagai salah satu bentuk terapi warna pada sujok dilakukan pada jari-jari tangan dengan mempertimbangkan pemilihan warna dan arah energy sesuai dengan masing-masing meridian. Energi Tubuh Manusia Tubuh manusia merupakan satu kesatuan 5 unsur yang saling berinteraksi hingga menjadi harmonis. Hubungan yang dinamis antar unsur memungkin kinerja setiap organ tubuh manusia menjadi optimal, sehingga dalam kondisi ini tubuh manusia dikatakan sehat tanpa adanya keluhan masalah kesehatan. Kelima unsur tersebut meliputi kayu, api, tanah, logam dan air. Kayu, api, tanah, logam dan air dalam hal ini bukan merupakan benda sesungguhnya namun meminjam dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda tersebut (Patricia Lantz, 2021). Gambar 15.1 Teori Six Ki (Park Jae Woo, 2009)


TERAPI ENERGI WARNA 219 Pengembangan dari teori 5 unsur telah dilakukan dalam Su Jok dimana Prof Park Jae Woo membagi jenis energy menjadi heat dan hotness (api), humidity (tanah), dryness (logam), coldness (air) dan wind (kayu), teori ini dikenal sebagai Six Ki. Organ-organ tubuh manusia sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki dapat digolongkan menjadi enam kategori yakni ginjal dan kandung kemih (coldness), hati dan kandung empedu (wind), Jantung dan Usus kecil (heat), tulang belakang/spine dan otak (hotness), limpa dan lambung (humidity) serta paru-paru dan usus besar (dryness) (Park Jae Woo, 2009). Penjelasan tentang energy tubuh dapat dilihat pada video energi tubuh dengan cara scan qr code video dibawaah ini. Meridian sebagai jalur energi vital yang dikenal sebagai qi yang berfungsi dalam pengaturan homeostatis berbagai fungsi tubuh. Meridian standar dibagi menjadi kelompok Yin dan Yang. Meridian Yin pada lengan adalah Paru-paru, Jantung, dan Otak. Meridian lengan Yang adalah Usus Besar, Usus Kecil, dan Tulang belakang. Meridian Yin kaki adalah Limpa, Ginjal, dan Hati. Meridian Yang pada kaki adalah Lambung, Kandung Kemih, dan Kandung Empedu. Bersadarkan kemiripan tangan dengan tubuh besar atau tubuh sesungguhnya dalam keilmuan Sujok, maka tangan pada tubuh besar mempunyai kemiripan dengan jari telunjuk dan jari kelingking sedangkan kaki pada tubuh besar atau tubuh sesungguhnya mempunyai kemiripan dengan jari manis dan jari tengah (Park Jae Woo, 2002). Penjelasan terkait dengan meridian tubuh sesuai keilmuan sujok dapat dilihat pada video meridian tubuh dengan cara scan qr code video dibawah ini.


TERAPI ENERGI WARNA 220 Setiap manusia secara alamiah mempunyai jumlah energi tertentu di setiap meridian. Setiap meridian saling berinteraksi untuk mempertahankan keseimbangan secara independen. Pola interaksi energi seringkali disebut sebagai konstitusi energi. Ketika salah satu elemen mengalami ekses atau kelebihan energy maka menurut teori lima elemen akan diikuti dengan ekses dua elemen yang lain, sedangkan sisanya elemen sisanya defisiensi . Jika unsur kayu ekses maka dia akan mengajak ekses unsur api dan air sedangkan elemen tanah dan logam deffisiensi. Jika unsur api yang ekses maka dia akan mengajak ekses unsur kayu dan tanah sedangkan elemen logam dan air defisiensi. Jika unsur tanah yang ekses maka dia akan mengajak ekses api dan logam, sedangkan elemen angin dan air defisiensi. Jika unsur logam ekses maka dia mengajak ekses tanah dan air, sedangkan unsur angin dan api defisiensi. Jika unsur air yang ekses maka dia akan mengajak logam dan angina ekses sedangkantanah dan api defisiensi. Adapun penjelasan lebih lanjut terkait dengan konstitusi energy dapat dilihat pada video yang tersedia sebagai berikut. Penggunaan Warna Menciptakan Keseimbangan Energi Manusia hidup berada di lingkungan yang penuh dengan energy, dan energy tersebut akan mempengaruhi kondisi tubuh. Kondisi tubuh dapat dikatakan sehat bila dalam tubuh tercipta keseimbangan energi. Setiap meridian tubuh mempunyai ambang energi normal atas dan bawah dimana manusia dalam kondisi ini tidak menunjukkan gejala dan tanda terjadinya masalah kesehatan.


TERAPI ENERGI WARNA 221 Namun ketika jumlah energi naik di atas batas atas (ekses) atau jumlah energi turun di bawah ambang batas (defisiensi) maka dapat menimbulkan masalah kesehatan yang ditandai dengan munculnya gejala dan tanda masalah kesehatan. Cahaya merupakan salah satu bentuk energy yang dapat diurai menjadi beberapa warna dengan panjang gelombang dan frekuensi masing-masing. Dalam pengobatan TCM warna dapat dipergunakan dalam proses penyembuhan pada organ tubuh yang mengalami masalah kesehatan, dimana organ tubuh manusia mewakili warna tertentu. Liver dan kandung empedu dengan warna hijau (energi wind), jantung dan usus kecil dengan warna merah (energy heat), otak dan tulang belakang dengan warna orange (energy hotness), pancreas, lympa dan lambung dengan warna kuning (energy humidity), paru dan usus besar dengan warna coklat serta ginjal dan kandung kemih dengan warna biru (energy coldness). Pemberian kombinasi beberapa warna tertentu pada jalur meridian dapat dilakukan dalam upaya mencapai keseimbangan energi. Ketika suatu meridian dalam kondisi defisiensi maka dapat diberikan warna pribadi meridian tersebut dengan arah goresan warna searah aliran energi meridian tersebut sehingga energi meridian dapat meningkat hingga mencapai keseimbangan energi yang diharapkan, tindakan ini seringkali dikenal sebagai tindakan tonifikasi. Namun sebaliknya ketika suatu meridian dalam kondisi ekses maka dapat diberikan warna pasangan meridian tersebut dengan arah goresan warna berlawanan arah aliran energy meridian sehingga energi meridian dapat menurun hingga mencapai keseimbangan energi yang diharapkan, tindakan ini seringkali dikenal sebagai tindakan sedasi. Sebagai contoh bila meridian jantung mengalami defisiensi maka dapat diberikan stimulasi pewarnaan dengan warna pribadi meridian jantung yaitu merah dengan arah goresan warna searah aliran energy meridian jantung dan sebaliknya bila meridian jantung mengalami ekses maka dapat diberikan stimulasi pewarnaan dengan warna pasangan meridian jantung yaitu merdian paru (warna coklat) dengan arah goresan warna berlawanan arah


TERAPI ENERGI WARNA 222 aliran energy meridian jantung. Sebagai gambaran lebih jelasnya terkait cara tonifikasi dan sedasi energy meridian dapat melihat pada video sebagai berikut. Aplikasi Terapi Warna Untuk Masalah Kesehatan Terapi warna merupakan terapi yang memanfaatkan cahaya dan warna sebagai metode penyembuhan dengan memberikan stimulasi klien dengan masalah kesehatan fisik maupun mental. Pemberian stimulasi warna dapat dilakukan melalui mata (penglihatan) dan kulit. Terapi warna dengan menggunakan metode Su Jok dalam buku ini menggunakan pewarnaan jalur meridian sebagai stimulasi pergerakan energi dalam mencapai keseimbangan energy tubuh. Tahapan terapi warna yang perlu diperhatikan meliputi: 1. Awali dengan niat dan berdoa melakukan terapi warna. 2. Kenali tanda dan gejala penyakit yang muncul pada klien dengan masalah kesehatan tertentu. 3. Tentukan jenis energy apa yang bermasalah sesuai dengan tanda dan gejala, dan kategorikan pula kondisi energy tersebut sebagai bentuk ekses atau defisiensi. 4. Tentukan axis law dari energy yang bermasalah windhumidity, heat-dryness, hotness-coldness (lihat gambar 1). 5. Tentukan sifat masalah (akut atau kronis) dan pastikan jalur meridian apa saja yang terlibat.


TERAPI ENERGI WARNA 223 6. Yakinkan dalam hati dan berdoa, lalu berikan stimulasi warna pada meridian yang terlibat dengan memperhatikan ketepatan pemilihan warna dan arah pergerakan energi. 7. Terapi warna ini dapat bekerja dengan baik dengan pencahayaan yang cukup sehingga sangat disarankan dilakukan pagi hingga siang hari dimana masih terdapat sinar matahari yang cukup. Agar lebih jelas dalam aplikasi terapi warna dalam buku ini, maka penulis akan memberikan beberapa contoh kasus sederhana beserta tahapan terapi warnanya. Mengingat banyaknya masalah kesehatan yang terjadi disekitar kita maka dalam kesempatan ini penulis akan memberikan contoh aplikasi terapi warna hanya untuk beberapa kasus saja. Berdasarkan beberapa kasus yang disampaikan tersebut harapannya nantinya dapat menstimulasi pemahaman pembaca bagaimana penggunaan terapi warna stimulasi jalur meridian dalam membantu mengatasi masalah kesehatan yang lain. Kasus Hipertensi Seorang pria berusia 58 tahun mempunyai keluhan tekanan darah tinggi 170/100 mmHg yang telah berlangsung selama 3 tahun terakhir. Analisa kasus tersebut adalah sifat masalah kronis, ekses heat (meridian jantung), axis law adalah defisiensi dryness (meridian paru) dengan demikian maka terapinya adalah sedasi meridian jantung dan tonifikasi meridian paru. Sedasi meridian jantung dapat dilakukan dengan cara menggoreskan warna coklat pada sisi dalam jari telunjuk dan atau jari kelingking (meridian jantung) dengan arah goresan warna dari ujung jari telunjuk dan atau jari kelingking menuju pangkal jari telunjuk dan atau jari kelingking (nomor 1 dan 3 pada gambar 2). Tonifikasi meridian paru dapat dilakukan dengan menggoreskan warna coklat pada sisi luar jari telunjuk dan atau jari kelingking (meridian paru) dengan arah goresan warna dari pangkal jari telunjuk dan atau jari kelingking menuju ujung jari telunjuk dan atau jari kelingking (nomor 2 dan 4 pada gambar 2).


TERAPI ENERGI WARNA 224 Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video terapi hipertensi dibawah ini. Gambar 2 : Terapi Warna pada Kasus Hipertensi Kasus Asam Lambung Seorang wanita berusia 25 tahun mempunyai keluhan nyeri lambung akut yang telah berlangsung selama 2 minggu terakhir. Analisa kasus tersebut adalah sifat masalah akut, ekses humidity (meridian lambung), axis law adalah defisiensi wind (meridian empedu) dengan demikian maka terapinya adalah sedasi meridian lambung dan tonifikasi meridian empedu. Sedasi meridian lambung dapat dilakukan dengan cara menggoreskan warna hijau pada sisi luar jari tengah dan atau jari manis (meridian lambung) dengan arah goresan warna dari ujung jari tengah dan atau jari manis menuju pangkal jari tengah dan atau jari manis (nomor 1 dan 3 pada gambar 3). Tonifikasi meridian empedu dapat dilakukan dengan menggoreskan warna hijau pada sisi tengah jari tengah dan atau jari manis (meridian empedu) dengan arah goresan warna dari pangkal jari tengah dan atau jari manis menuju ujung jari tengah dan atau jari manis (nomor 2 dan 4 pada gambar 3). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video terapi asam lambung dibawah ini.


TERAPI ENERGI WARNA 225 Gambar 3 : Terapi Warna pada Kasus Asam Lambung Kasus Insomnia Seorang wanita berusia 50 tahun mempunyai keluhan tidak bisa tidur yang telah berlangsung selama 2 minggu terakhir. Analisa kasus tersebut adalah sifat masalah akut, ekses hotness (meridian tulang belakang), axis law adalah defisiensi coldness (meridian kandung kemih) dengan demikian maka terapinya adalah sedasi meridian tulang belakang dan tonifikasi meridian kandung kemih. Sedasi meridian tulang belakang dapat dilakukan dengan cara menggoreskan warna biru pada sisi tengah jari telunjuk dan atau jari kelingking (meridian tulang belakang) dengan arah goresan warna dari pangkal jari telunjuk dan atau jari kelingking menuju ujung jari telunjuk dan atau jari kelingking (nomor 1 dan 3 pada gambar 4). Tonifikasi meridian kandung kemih dapat dilakukan dengan menggoreskan warna biru pada sisi dalam jari tengah dan atau jari manis (meridian kandung kemih) dengan arah goresan warna dari pangkal jari tengah dan atau jari manis menuju ujung jari tengah dan atau jari manis (nomor 2 dan 4 pada gambar 4). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video terapi insomnia dibawah ini.


TERAPI ENERGI WARNA 226 Gambar 4 : Terapi Warna pada Kasus Insomnia Kasus Diare Kronis Seorang wanita berusia 30 tahun mempunyai keluhan diare kronis yang telah berlangsung selama 2 tahun terakhir. Serangan terjadi secara teratur di pagi hari sekitar pukul 7 sampai 9 pagi. Analisa kasus tersebut adalah sifat masalah kronis, ekses humidity (meridian lympa), axis law adalah defisiensi wind (meridian liver) dengan demikian maka terapinya adalah sedasi meridian lympa dan tonifikasi meridian liver. Sedasi meridian limpa dapat dilakukan dengan cara menggoreskan warna hijau pada sisi luar jari tengah dan atau jari manis (meridian lympa) dengan arah goresan warna dari pangkal jari tengah dan atau jari manis menuju ujung jari tengah dan atau jari manis (nomor 1 dan 3 pada gambar 5). Tonifikasi meridian liver dapat dilakukan dengan menggoreskan warna hijau pada sisi tengah jari tengah dan atau jari manis (meridian liver) dengan arah goresan warna dari ujung jari tengah dan atau jari manis menuju pangkal jari tengah dan atau jari manis (nomor 2 dan 4 pada gambar 5). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video terapi diare kronis dibawah ini.


TERAPI ENERGI WARNA 227 Gambar 5 : Terapi Warna pada Diare Kronis Kasus Emosional Kecemasan Seorang pria berusia 50 tahun mempunyai keluhan selalu merasa cemas memikirkan anaknya yang bekerja di perantauan, yang telah berlangsung selama 2 tahun terakhir. Analisa kasus tersebut adalah sifat masalah kronis, ekses humidity (meridian lympa), axis law adalah defisiensi wind (meridian liver) dengan demikian maka terapinya adalah sedasi meridian lympa dan tonifikasi meridian liver. Sedasi meridian lympa dapat dilakukan dengan cara menggoreskan warna hijau pada sisi luar jari tengah dan atau jari manis (meridian lympa) dengan arah goresan warna dari pangkal jari tengah dan atau jari manis menuju ujung jari tengah dan atau jari manis (nomor 1 dan 3 pada gambar 6). Tonifikasi meridian liver dapat dilakukan dengan menggoreskan warna hijau pada sisi tengah jari tengah dan atau jari manis (meridian liver) dengan arah goresan warna dari ujung jari tengah dan atau jari manis menuju pangkal jari tengah dan atau jari manis (nomor 2 dan 4 pada gambar 6). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video terapi emosional kecemasan dibawah ini.


TERAPI ENERGI WARNA 228 Gambar 6 : Terapi Warna pada Kecemasan Daftar Pustaka Health Jade Team, (2019). Meridian therapy. https://healthjade.net/meridian-therapy/ Akses : 1/6/2022 Park Jae Woo, (2009). Sujok Ki – Healing Through Our Triorigin Energy Cosmos, Smile Meditation Academy, Yakutsk Rusia Park Jae Woo, (2002). Onnuri Therapy Series ,The Six Energy Theory Illustrated Handbook. Smile Academy, Moscow Patricia Lantz, (2021). What Chinese Element Am I? https://horoscopes.lovetoknow.com/What_Chinese_ Element_Am_I. akses : 17/11/2021, 18.21


TERAPI ENERGI WARNA 229 Profil Penulis Agus Setyo Utomo Sebagai langkah awal terjun dalam bidang kesehatan dan keperawatan penulis mengikuti Pendidikan Ahli Madya Keperawatan Depkes RI Malang dengan tahun kelulusan 1996, kemudian melanjutkan pendidikan AKTA Mengajar di IKIP Negeri Semarang tahun kelulusan 1998, Diploma IV Perawat Pendidik Universitas Diponegoro Semarang tahun kelulusan 1999, dan Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro tahun kelulusan 2011. Mulai tahun 2002 bekerja sebagai Dosen Poltekkes Kemenkes Malang Jurusan Keperawatan dengan bidang keahlian Keperawatan Komplementer, Keperawatan Gerontik, Keperawaatan Komunitas dan Penyakit Tidak Menular. Selain sebagai dosen penulis merupakan Tenaga Pelatih Program Kesehatan tersertifikasi Kemenkes RI, Praktisi Su Jok (Certified International Sujok Association) dan trainer nasional sekaligus praktisi Totok Punggung Indonesia. Sebagai perwujudan komitmen penulis dalam dunia terapi komplementer, penulis berupaya terus berbagai keilmuan komplementer melalui media social youtube Kestrad Polkesma dan Bolo Waras Media. Selain media social tersebut penulis telah menghasilkan beberapa karya buku diantaranya meliputi Kebugaran Mata Lansia, Lansia Idaman, Status Kesehatan Lansia Berdayaguna, Terapi Biji untuk Masalah Kesehatan Lansia dan Aplikasi Vibrasi dan Friksi Punggung Pada Penyakit Tidak Menular. Email Penulis: [email protected]


Click to View FlipBook Version