PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 36 modern dressing. Teknik perawatan luka saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana perawat luka sudah menggunakan modern dressing. Perawatan luka menggunakan metode modern dressing ini memberikan manfaat yang sangat besar untuk perbaikan pengelolaan perawatan luka khususnya luka kronis seperti luka diabetes mellitus.(Irwan et al., 2022). Definisi Luka Luka menyebabkan disentegrasi dan discontinuitas dari jaringan kulit sehingga kulit kehilangan fungsinya untuk memproteksi jaringan di bawahnya menjadi terganggu. Manajemen dalam modern dressing antara lain adalah pemilihan bahan topical therapy yang di dasarkan pada pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety). Tingkat kemandirian dan professional perawat akan tampak pada proses pemilihan topical therapy saat melaksanakan modern dressing (Kartika et al., 2015). Penyembuhan Luka Menurut (Prima et al., 2022) Berdasarkan proses penyembuhan luka, dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut: 1. Penyembuhan primer (healing by primary intention). Pada proses penyembuhan primer ini tepi luka bisa menyatu kembali, permukaan bersih, tidak ada jaringan yang hilang. Biasanya terjadi setelah suatu insisi, berlangsung dari internal ke eksternal. 2. Penyembuhan sekunder (healing by secondary intention). Pada proses penyembuhan luka sekunder ini sebagian jaringan hilang, proses penyembuhan berlangsung mulai dari pembentukan jaringan granulasi di dasar luka dan sekitarnya. 3. Delayed primary healing (tertiary healing). Pada proses penyembuhan luka berlangsung lambat, sering disertai infeksi, diperlukan penutupan luka secara manual.
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 37 Berdasarkan lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi akut dan kronis. Luka dikatakan akut jika penyembuhan terjadi dalam 2-3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak ada tanda-tanda sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu. Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung sesuai dengan proses penyembuhan normal, tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika penyembuhan terlambat (delayed healing) atau jika menunjukkan tanda-tanda infeksi (Siregar et al., 2020). Proses Penyembuhan Luka Fase penyembuhan luka dibagi menjadi tiga fase, yaitu: fase inflamasi, fase proliferasi atau epitelisasi, fase maturasi atau remodeling.Sedangkan faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka yaitu sebagai berikut: status imunologi atau kekebalan tubuh, kadar gula darah, rehidrasi dan pencucian luka, nutrisi, kadar albumin (Nandita Melati Putri, Ruth Fitri Margareta Lumbuun, Prasetyanugraheni Kreshanti, 2022). Definisi Perawatan Luka Modern Modern dressing adalah suatu balutan modern yang sedang berkembang pesat dalam melakukan asuhan keperawatan praktik wound care, dimana perawatan luka modern ini disebutkan lebih efektif bila dibandingkan dengan metode konvensional. Luka dapat memproduksi eksudat mulai dari jumlah sedikit, sedang, hingga banyak. Luka dengan eksudat banyak dapat menyebabkan maserasi pada kulit sekitar luka dan luka dengan eksudat sedikit atau tidak ada eksudat dapat menjadi kering (Nabila et al., 2013). Manajemen dengan metode modern dressing menggunakan pemilihan bahan topical therapy yang di dasarkan pada pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety) (Suryati et al., 2021).
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 38 Manfaat Perawatan Luka Modern Prinsip menggunakan metode modern dressing bermanfaat untuk menjaga kehangatan dan kelembaban lingkungan sekitar luka untuk meningkatkan penyembuhan dan mempertahankan kehilangan cairan, jaringan, dan kematian sel (Irwan et al., 2022). Ada beberapa keuntungan prinsip moisture dalam perawatan luka antara lain adalah untuk mencegah luka menjadi kering dan keras, meningkatkan laju epitelisasi, mencegah pembentukan jaringan eschar, meningkatkan pembentukan jaringan dermis, mengontrol inflamasi dan memberikan tampilan yang lebih kosmetis, dapat mempercepat proses autolysis debridement, dapat menurunkan kejadian infeksi, cost effective, dapat mempertahankan gradient voltase normal, mempertahankan aktivitas neutrophil, menurunkan nyeri, memberikan keuntungan psikologis dan mudah digunakan (Lenny et al., 2022). Tujuan Perawatan Perawatan Modern Tujuan utama dari modern dressing adalah untuk menggunakan prinsip moisture balance yang mengkondisikan luka dalam keadaan lembab karena lingkungan yang lembab akan mempercepat proses penyembuhan luka (Nabila et al., 2013). Pemilihan Balutan Luka Metode perawatan luka menggunakan metode wound dressing secara khusus telah mengalami perkembangan yang sangat maju selama hampir dua dekade terakhir ini. Perubahan dan terobosan dalam perawatan luka dimulai dengan adanya hasil penelitian yang dipublikasikan dalan jurnal nature tentang keadaan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka. Alasan dari teori perawatan luka dengan suasana lembab ini antara lain adalah untuk mempercepat fibrinolysis dimana fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat di hilangkan lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab. Selain itu untuk mempercepat proses angiogenesis dimana dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 39 merangsang lebih pembentukan darah dengan lebih cepat, selanjutnya dibandingkan dengan perawatan kering. Alasan lain yaitu untuk mempercepat pembentukan growth factor karena growth factor berperan dalam proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum corneum dan angiogenesis, dimana produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam lingkungan yang lembab. Alasan lain yaitu untuk mempercepat terjadinya sel aktif, dimana pada keadaan lembab, invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih kecil (Alzarea et al., 2022). Prinsip pemilihan balutan yang akan digunakan untuk membalut luka harus memenuhi kaidah-kaidah seperti kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang dikeluarkan oleh luka (absorbing), kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme, dan meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration), melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan, dan kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke seluruh bagian luka (Puguh Santoso, Dwi Rahayu, 2022). Pemilihan Terapi Pada dasarnya untuk melakukan pemilihan terapi harus berdasarkan pada apakah suplai telah tersedia, bagaimana cara memilih terapi yang tepat, bagaimana dengan keterlibatan pasien untuk memilih, bagaimana dengan pertimbangan biaya, apakah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku dan bagaimana cara mengevaluasi (Lenny et al., 2022). Cara Perawatan Luka dengan Modern Dessing Metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah menggunakan prinsip moisture balance, yang disebutkan lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture balance ini dikenal sebagai metode modern dressing. Selama ini, ada anggapan bahwa suatu luka akan cepat sembuh jika luka
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 40 tersebut telah mengering. Namun faktanya, lingkungan luka yang kelembabannya seimbang memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen dalam matriks nonseluler yang sehat. Pada luka akut, moisture balance memfasilitasi aksi faktor pertumbuhan, cytokines, dan chemokines yang mempromosi pertumbuhan sel dan menstabilkan matriks jaringan luka. Jadi, luka harus dijaga kelembabannya. Lingkungan yang terlalu lembab dapat menyebabkan maserasi tepi luka, sedangkan kondisi kurang lembab menyebabkan kematian sel, tidak terjadi perpindahan epitel dan jaringan matriks. Perawatan luka modern harus tetap memperhatikan tiga tahap, yakni mencuci luka, membuang jaringan mati, dan memilih balutan. Mencuci luka bertujuan menurunkan jumlah bakteri dan membersihkan sisa balutan lama, debridement jaringan nekrotik atau membuang jaringan dan sel mati dari permukaan luka. Perawatan luka konvensional harus sering mengganti kain kasa pembalut luka, sedangkan perawatan luka modern memiliki prinsip menjaga kelembaban luka dengan menggunakan bahan seperti hydrogel (Mufarika et al., 2022). Hydrogel berfungsi menciptakan lingkungan luka tetap lembab, melunakkan serta menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat, yang kemudian terserap ke dalam struktur gel dan terbuang bersama pembalut (debridemen autolitik alami). Balutan dapat diaplikasikan selama 3-5 hari, sehingga tidak sering menimbulkan trauma dan nyeri pada saat penggantian balutan (Heru Supriyatno, Dwi Ari Murti Widigdo, 2022). Jenis Modern Dressing Menurut (Nabila et al., 2013) mengatakan bahwa jenisjenis balutan modern dressing dan terapi alternative yang dapat digunakan untuk merawat dan melindungi luka adalah: 1. Film Dressing Bentuk Semi-permeable primary atau secondary dressings, clear polyurethane yang disertai perekat adhesive, conformable, anti robek atau tergores, tidak menyerap eksudat, dapat digunakan sebagai bantalan
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 41 untuk pencegahan luka dekubitus, pelindung sekitar luka terhadap maserasi, berfungsi sebagai pembalut luka pada daerah yang sulit, pembalut/penutup pada daerah yang diberi terapi salep, sebagai pembalut sekunder, transparan, bisa melihat perkembangan luka, dapat breathable, tidak tembus bakteri dan air, pasien bisa mandi, memiliki indikasi: luka dengan epitelisasi, low exudate, luka insisi. Jenis modern dressing ini memiliki kontraindikasi berupa luka terinfeksi, eksudat banyak. Contoh: Tegaderm, Opsite, Mefilm. 2. Hydrocolloid Memiliki kandungan pectin, gelatin, carboxymethylcellulose dan elastomers. Memiliki fungsi autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough. Bersifat occlusive yaitu hypoxic environment untuk mensupport angiogenesis, waterproof, digunakan untuk luka dengan eksudat minimal sampai sedang, dapat menjaga kestabilan kelembaban luka dan sekitar luka, menjaga dari kontaminasi air dan bakteri, bisa digunakan untuk balutan primer dan balutan sekunder, dapat diaplikasikan 5–7 hari serta memiliki indikasi: luka dengan epitelisasi, eksudat minimal dan kontraindikasi: luka yang terinfeksi atau luka grade III-IV. Contoh: Duoderm extra thin, Hydrocoll, Comfeel. 3. Alginate Terbuat dari rumput laut, membentuk gel diatas permukaan luka, mudah diangkat dan dibersihkan, bisa menyebabkan nyeri, membantu untuk mengangkat jaringan mati, tersedia dalam bentuk lembaran dan pita, kandungan calsium dapat membantu menghentikan perdarahan. Alginate digunakan pada fase pembersihan luka dalam maupun permukaan, dengan cairan banyak, maupun terkontaminasi karena dapat mengatur eksudat luka dan melindungi terhadap kekeringan dengan membentuk gel serta dapat menyerap luka > 20 kali bobotnya.
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 42 Bersifat tidak lengket pada luka, tidak sakit saat mengganti balutan, dapat diaplikasikan selama 7 hari serta memiliki indikasi dapat dipakai pada luka dengan eksudat sedang sampai dengan berat seperti luka decubitus, ulkus diabetik, luka operasi, luka bakar deerajat I dan II, luka donor kulit. Dengan kontraindikasi tidak bisa digunakan pada luka dengan jaringan nekrotik dan kering. Contoh: Kaltostat, Sorbalgon, Sorbsan 4. Foam Dressings Digunakan untuk menyerap eksudat luka sedang dan sedikit banyak, tidak lengket pada luka, menjaga kelembaban luka, menjaga kontaminasi serta penetrasi bakteri dan air, balutan dapat diganti tanpa adanya trauma atau sakit, dapat digunakan sebagai balutan primer/sekunder, dapat diaplikasikan 5-7 hari, bersifat non-adherent wound contact layer, tingkat absorbsi yang tinggi, semi-permeable dengan indikasi pemakaian luka dengan eksudat sedang sampai dengan berat. Dressing ini memiliki kontraindikasi tidak bisa digunakan pada luka dengan eksudat minimal, jaringan nekrotik hitam. Contoh: Cutinova, Lyofoam, Tielle, Allevyn, Versiva. Jenis modern dressing lain, yakni Ca Alginat, kandungan Ca-nya dapat membantu menghentikan perdarahan. Kemudian ada hidroselulosa yang mampu menyerap cairan dua kali lebih banyak dibandingkan Ca Alginat. Selanjutnya adalah hidrokoloid yang mampu melindungi dari kontaminasi air dan bakteri, dapat digunakan untuk balutan primer dan sekunder. Penggunaan jenis modern dressing disesuaikan dengan jenis luka. Untuk luka yang banyak eksudatnya dipilih bahan balutan yang menyerap cairan seperti foam, sedangkan pada luka yang sudah mulai tumbuh granulasi, diberi geluntuk membuat suasana lembab yang akan membantu mempercepat penyembuhan luka (Mufarika et al., 2022).
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 43 Prinsip dan Kaidah Balutan Luka (Wound Dressing) Prinsip dan kaidah balutan luka (wound dressings) telah mengalami perkembangan sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Teori yang mendasari perawatan luka dengan suasana lembab antara lain: 1. Mempercepat fibrinolisis. Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh neutrofil dan sel endotel dalam suasana lembab. 2. Mempercepat angiogenesis. Keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang pembentukan pembuluh darah lebih cepat. 3. Menurunkan risiko infeksi; kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering. 4. Mempercepat pembentukan growth factor. Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum korneum dan angiogenesis. 5. Mempercepat pembentukan sel aktif. Bahan Modern Wound Dressing Menurut (De Francesco et al., 2022) mengatakan bahwa bahan modern wound dressing dapat berupa yaitu sebagai berikut: 1. Hidrogel Dapat membantu proses peluruhan jaringan nekrotik oleh tubuh sendiri. Berbahan dasar gliserin/air yang dapat memberikan kelembaban; digunakan sebagai dressing primer dan memerlukan balutan sekunder (pad/kasa dan transparent film). Topikal ini tepat digunakan untuk luka nekrotik/berwarna hitam/ kuning dengan eksudat minimal atau tidak ada. 2. Film Dressing Jenis balutan ini lebih sering digunakan sebagai secondary dressing dan untuk luka-luka superfi sial dan non-eksudatif atau untuk luka post-operasi. Terbuat dari polyurethane film yang disertai perekat
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 44 adhesif; tidak menyerap eksudat. Indikasi :luka dengan epitelisasi, low exudate, luka insisi. Kontraindikasi: luka terinfeksi, eksudat banyak. 3. Hydrocolloid Balutan ini berfungsi mempertahankan luka dalam suasana lembab, melindungi luka dari trauma dan menghindarkan luka dari risiko infeksi, mampu menyerap eksudat tetapi minimal; sebagai dressing primer atau sekunder, support autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough. Terbuat dari pektin, gelatin, carboxy-methylcellulose, dan elastomers. Indikasi: luka berwarna kemerahan dengan epitelisasi, eksudat minimal. Kontraindikasi: luka terinfeksi atau luka grade III-IV. 4. Calcium Alginate Digunakan untuk dressing primer dan masih memerlukan balutan sekunder. Membentuk gel di atas permukaan luka; berfungsi menyerap cairan luka yang berlebihan dan menstimulasi proses pembekuan darah. Terbuat dari rumput laut yang berubah menjadi gel jika bercampur dengan cairan luka. Indikasi: luka dengan eksudat sedang sampai berat. Kontraindikasi: luka dengan jaringan nekrotik dan kering. Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita, mudah diangkat dan dibersihkan. 5. Foam/absorbant dressing Balutan ini berfungsi untuk menyerap cairan luka yang jumlahnya sangat banyak (absorbant dressing), sebagai dressing primer atau sekunder. Terbuat dari polyurethane; non-adherent wound contact layer, highly absorptive. Indikasi: eksudat sedang sampai berat. Kontraindikasi : luka dengan eksudat minimal, jaringan nekrotik hitam. 6. Dressing Antimikrobial Balutan mengandung silver 1,2% dan hydrofiber dengan spektrum luas termasuk bakteri MRSA (Methicillin-Resistant Staphy-Lococcus Aureus).
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 45 Balutan ini digunakan untuk luka kronis dan akut yang terinfeksi atau berisiko infeksi. Balutan antimikrobial tidak disarankan digunakan dalam jangka waktu lama dan tidak direkomendasikan bersama cairan NaCl 0,9%. 7. Antimikrobial Hydrophobic Terbuat dari diakylcarbamoil chloride, non-absorben, non-adhesif. Digunakan untuk luka bereksudat sedang – banyak, luka terinfeksi, dan memerlukan balutan sekunder. 8. Medical Collagen Sponge Terbuat dari bahan collagen dan sponge. Digunakan untuk merangsang percepatan pertumbuhan jaringan luka dengan eksudat minimal dan memerlukan balutan sekunder.
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 46 Daftar Pustaka Alzarea, A. I., Alruwaili, N. K., Ahmad, M. M., Munir, M. U., Butt, A. M., Alrowaili, Z. A., Shahari, M. S. Bin, Almalki, Z. S., Alqahtani, S. S., Dolzhenko, A. V., & Ahmad, N. (2022). Development and Characterization of Gentamicin-Loaded Arabinoxylan-Sodium Alginate Films as Antibacterial Wound Dressing. International Journal of Molecular Sciences, 23(5). https://doi.org/10.3390/ijms23052899. De Francesco, F., De Francesco, M., & Riccio, M. (2022). Hyaluronic Acid/Collagenase Ointment in the Treatment of Chronic Hard-to-Heal Wounds: An Observational and Retrospective Study. Journal of Clinical Medicine, 11(3), 537. https://doi.org/10.3390/jcm11030537 Heru Supriyatno, Dwi Ari Murti Widigdo, W. R. R. (2022). Comparison of Non-Adhesive Hydrocolloid Dressing and Conven- tional Dressing Methods in Healing Process of Diabetic Ulcers. Journal OfResearch and Opinion, 9(1). Irwan, M., Indrawati, Maryati, Risnah, & Arafah, S. (2022). Efektivitas perawatan luka modern dan konvensional terhadap proses penyembuhan luka diabetik. Jurnal Ilmiah Mappaddis, 4, 237–245. Kartika, R. W., Bedah, B., Paru, J., & Luka, A. P. (2015). Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing. Perawatan Luka Kronis Dengan Modern Dressing, 42(7), 546–550. Lenny, E., Marisi, D., Mataputun, D. R., & Aprilya, D. (2022). PELATIHAN PERAWATAN LUKA METODE MODERN DRESSING PADA PERAWAT DI PSTW BUDI MULIA 4 CENGKARENG. 6, 422–426. Mufarika, M., Amir, F. A., Zuryaty, Z., Muhyi, A., Haryanto, A., & Widyastuti, M. (2022). the Effect of Ozone Bagging Therapy on Wound Healing in Diabetic Ulcer Patients. International Journal of Nursing and Midwifery Science (Ijnms), 6(1), 26–33.
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 47 https://doi.org/10.29082/ijnms/2022/vol6/iss1/39 5 Nabila, N. P., Efendi, P., Kesehatan, P., Kesehatan, K., & Keperawatan, J. (2013). Proses Penyembuhan Luka Ulkus Diabetikum Dengan Metode Modern Dressing Diklinik Maitis Efrans Wound. 146–151. Nandita Melati Putri, Ruth Fitri Margareta Lumbuun, Prasetyanugraheni Kreshanti, Y. R. S. & N. T. (2022). Article Comparison Study Of Bacterial Profile , Wound Healing , And Cost Effectiveness In Pressure Injury Patients Using Treatment Honey Dressing And Hydrogel. 9(1), 30–41. Https://Doi.Org/10.14228/Jprjournal.V9i1.334 Puguh Santoso, Dwi Rahayu, H. I. (2022). ANALISA PENERAPAN PERAWATAN LUKA GANGGREN PADA PENDERITA ULKUS DIABETES: LITERATUR REVIEW. Jurnal Keperawatan, 14(Dm), 171–178. Prima, A., Putra, Q., & Yusrini, Y. (2022). Penggunaan Madu Untuk Penyembuhan Luka Pada Pasien Diabetic Foot Ulcer (Dfu): Literature Review. JINTAN: Jurnal Ilmu Keperawatan, 2(1), 14–26. https://doi.org/10.51771/jintan.v2i1.185 Siregar, H. K., Tanjung, D., & Sitepu, N. F. (2020). The Effect of Nursing Intervention-based Levine Conceptual Model Program on Rehabilitation Process among Fracture Patients. Jurnal Ners, 15(1), 72–78. https://doi.org/10.20473/jn.v15i1.18572 Suryati, S., Meriatna, M., Sulhatun, S., & Lestari, D. A. (2021). Preparation and Characterization of ChitosanGelatin-Glycerol Biocomposite for Primary Wound Dressing. International Journal of Engineering, Science and Information Technology, 2(1), 64–69. https://doi.org/10.52088/ijesty.v2i1.203
PERAWATAN LUKA MODERN (MODERN WOUND CARE) 48 Profil Penulis Meta Rosaulina Meta Rosaulina, lahir di Medan pada tanggal 26 April 1988. Penulis menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga di STIKes Deli Husada Deli Tua pada tahun 2006, dan melanjutkan pendidikan Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners di STIKes Deli Husada Deli Tua. Pada tahun 2019, penulis dapat menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana di Universitas Sumatera Utara dengan peminatan Keperawatan Medikal Bedah. Penulis memiliki kepakaran di bidang Keperawatan Medikal Bedah dan Keperawatan Gawat Darurat. Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen professional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Beberapa penelitian yang telah dilakukan didanai oleh internal perguruan tinggi dan juga Kemenristek DIKTI. Selain peneliti, penulis juga aktif menulis buku dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif, bagi bangsa dan negara yang sangat tercinta ini. Email Penulis: [email protected]
49 4 PERAWATAN LUKA OPERASI Veronika Toru, S.Kep., Ns. M.Kep. Poltekkes Kemenkes Kupang Pengertian Perawatan Luka Operasi Luka merupakan gangguan pada struktur normal dan fungsi anatomi. Luka juga merupakan suatu kondisi rusaknya kontinuitas jaringan, struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat adanya proses patologis yang berasal dari lingkungan internal ataupun eksternal dan mengenai organ tertentu. Luka dapat diklasifikasikan berdasarkan luka akut dan kronis (Caldwell, Michael D. 2010). Luka akut adalah luka yang sembuh sesuai dengan periode waktu yang diharapkan, luka akut dapat dikategorikan sebagai luka akut pembedahan (insisi, eksisi dan skin graft), luka akut bukan pembedahan (luka bakar), luka akut akibat faktor lain (abrasi, laserasi, ataupun injuri pada lapisan kulit superfisial). Sedangkan luka kronis adalah luka yang proses penyembuhannya mengalami keterlambatan (luka decubitus, luka diabetes dan leg ulcer) (Aminuddin,M. dkk. 2020). Luka Operasi yaitu luka akut yang dibuat oleh ahli bedah yang bertujuan untuk terapi atau rekonstruksi (Murtutik & Marjiyanto, 2013). Luka operasi merupakan luka yang paling sering ditangani di ruangan perawatan akut. Luka akut dan kronik beresiko tinggi terkena infeksi. Luka akut memiliki serangan yang cepat dan penyembuhannya dapat diprediksi. Contoh luka akut yaitu luka jahit karena pembedahan, luka trauma dan luka lecet. Angka kejadian infeksi luka bedah di Indonesia mencapai 2.30 sampai dengan 18.30 % (Depkes RI, 2001). Jenis penyembuhan
PERAWATAN LUKA OPERASI 50 luka terdiri dari penyembuhan secara primer, sekunder dan tersier (Konvalenko, 2020). Luka akut masuk ke dalam jenis penyembuhan luka secara primer dengan cara dijahit atau dengan menggunakan balutan yang dapat menyatukan ujung sayatan luka. Luka akut bila terdapat kontaminasi dapat menghambat proses penyembuhan sehingga menjadi luka kronik (Gatta & Ahmad, 2019). Pada luka kronik, waktu penyembuhannya tidak dapat diprediksi dan dikatakan sembuh jika fungsi dan struktur kulit sudah utuh. Jenis luka kronik yang paling banyak yaitu luka dekubitus, luka diabetik, luka kanker. Luka operasi jika tidak ditangani dengan baik dan benar maka akan menyebabkan infeksi. Agar tidak terjadi infeksi, diperlukan perawatan luka operasi. Perawatan luka adalah salah satu tindakan keperawatan yang dilakukan oleh perawat dengan sistematis dan komprehensif. Perawatan luka yang sistematis merupakan urutan langkah perawatan yang harus dikerjakan oleh profesional di bidang perawatan luka, sedangkan komprehensif merupakan metode yang dilakukan saat melakukan perawatan luka dengan mempertimbangkan kondisi bio, psikologis, sosial dan spiritual secara menyeluruh (Aminuddin,M. dkk. 2020). Perawatan luka operasi merupakan perawatan yang dilakukan untuk meningkatkan proses penyembuhan luka, mengurangi nyeri, memberikan kenyaman pada pasien dan menghindari terjadinya infeksi. Perawatan pasca operasi adalah perawatan yang dilakukan untuk meningkatkan proses penyembuhan luka dan mengurangi rasa nyeri dengan cara merawat luka serta memperbaiki asupan makanan tinggi protein dan vitamin (Riyadi & Harmoko, 2012). Luka operasi biasanya ditutup dengan jahitan atau klip, yaitu: dibiarkan di tempat selama 5-7 hari tergantung pada jenis operasi, dan kedalaman luka yang di tutup. Penelitian telah menunjukkan bahwa setelah 24 jam kulit akan terbentuk penghalang alami di area jahitan yang berarti balutan mungkin tidak perlukan (Chrintz 1989 di dalam Rainey Joy, 2002). Pasien akan membutuhkan balutan jika: ada kebocoran dari bagian jahitan atau untuk melindungi luka dari gosokan pada pakaian.
PERAWATAN LUKA OPERASI 51 Klasifikasi Luka Operasi Menurut Flanagan, Madeleine (2013) mengatakan ada 3 klasifikasi luka operasi, yaitu pada tabel berikut: Tabel 4.1. Klasifikasi Luka Operasi Cara Penyembuhan Definisi Gambar Primer Tepi luka disatukan dalam posisi dengan jahitan, klip atau strip penutup kulit. Epitelisasi berlangsung dalam waktu 48 jam dan sebagian besar luka ini disegel dalam 24-48 jam pertama. Sekunder Luka yang dibiarkan terbuka, sengaja atau tidak sengaja, dan sembuh dengan pembentukan jaringan granulasi, kontraksi dengan atau tanpa epitelisasi akhir Tersier Lukanya sengaja dibiarkan terbuka untuk memungkinkan drainase, untuk kompensasi mayor tekanan intrakompartemen atau untuk mengendalikan kontaminasi utama dengan niat menjalani operasi tambahan (tertunda) untuk menutup luka.
PERAWATAN LUKA OPERASI 52 Kategori Luka Post Operasi Menurut Clevan (2021) Luka post operasi dikelompokkan dalam empat kategori. Pengelompokan ini dilakukan berdasarkan tingkat kebersihan luka tersebut dan kaitannya dengan kontaminasi bakteri, risiko terjadinya infeksi pada luka, maupun lokasi luka pasca operasi, yaitu: 1. Derajat I: Luka post operasi yang dikategorikan bersih dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi maupun peradangan (inflamasi). Luka ini biasanya adalah luka pasca operasi pada mata, kulit, maupun sistem peredaran darah. 2. Derajat II: Luka post operasi yang dikategorikan bersih dan sedikit terkontaminasi. Meski belum ditemukan tanda-tanda infeksi, risikonya akan meningkat karena lokasi luka. Contohnya, luka pasca operasi di saluran cerna. 3. Derajat III: Luka akibat benda asing yang bersentuhan dengan kulit sejak sebelum operasi. Luka ini memiliki risiko tinggi untuk terkontaminasi oleh bakteri. Contoh luka derajat III adalah luka tembak. Bakteri yang menempel di peluru dapat mencemari kulit di sekitar areaoperasi. 4. Derajat IV: Luka post operasi yang mutlak terkontaminasi, misalnya luka yang terpapar oleh feses. Prinsip–Prinsip Manajemen Luka Operasi Menurut Flanagan, Madeleine (2013), berikut prinsipprinsip manajemen luka untuk memberikan kondisi optimal pasca penyembuhan luka operasi dengan: 1. Menjaga pasien tetap hangat, terhidrasi dengan baik, baik teroksigenasi dan bebas rasa sakit; 2. Mengendalikan hemostasis; 3. Memfasilitasi drainase luka yang efektif; 4. Melindungi lokasi sayatan;
PERAWATAN LUKA OPERASI 53 5. Meminimalkan infeksi lokasi bedah dan komplikasi pasca operasi lainnya; 6. Mengoptimalkan jaringan parut; 7. Memberikan informasi pasca operasi yang tepat dan perawatan setelahnya. Meskipun kurangnya bukti klinis langsung untuk mendukung penyediaan layanan spesialis perawatan luka untuk mengelola pasien dengan luka operasi yang sulit disembuhkan, pedoman klinis merekomendasikan pendekatan terstruktur untuk manajemen pasien yang didukung dengan bimbingan dari keahlian tim spesialis manajemen luka (NICE, 2008). Prinsip–Prinsip Umum: Manajemen Luka Bedah Pasca Operasi Menurut Flanagan, Madeleine (2013), tabel berikut menjelaskan manajemen luka bedah operasi: Tabel 4.2 Manajemen Luka Bedah Operasi Prinsip Tindakan Pertahankan hemostasis; antisipasi perdarahan pos operasi atau dalam beberapa kasus perdarahan sebelum operasi, misalnya bebas cedera traumatis untuk memfasilitasi drainase Pilih balutan yang menyerap agar sesuai dengan gejala luka dan/atau drainase yang sesuai sistem (terbuka atau tertutup) untuk menyesuaikandrainase Optimalkan lingkungan penyembuhan luka lokal Pilih balutan yang sesuai dan agen topikal sekunder yang dimaksud untuk penyembuhan luka bedah. Oleskan balutan tanpa ketegangan, terutama balutan melingkar untuk meminimalkan masalah peredaran darah, misalnya iskemia, nekrosis jaringan, kulit melepuh Terapkan 'pengatur jarak' Selama di bersihkan penerapan balutan melingkar untuk melepaskan ketegangan.
PERAWATAN LUKA OPERASI 54 Memberikan kontrol nyeri yang efektif Meresepkan penutup analgesik yang memadai untuk periode pasca operasi dan perubahan balutan. Menggunakan dressing rendah kepatuhan yang sesuai Meningkatkan penampilan estetika sayatan dengan menggunakan teknik penutupan luka yang tepat Pertimbangkan penggunaan tisu perekat untuk menutup sayatan bedah bersih tidak termasuk area tegangan tinggi. Tidak ada perbedaan dalam penyembuhan antara jahitan, pita dan perekat. Optimalkan kualitas bekas luka pasca operasi Mengontrol peradangan, melembabkan & menunjang bekas luka. Menunjang bekas luka insisi yang rentan terhadap kekuatan vektor dengan pita/ balutan mikro yang diterapkan memanjang sepanjang bekas luka. Pasien membutuhkan informasi yang memadai tentang perawatan luka pasca operasi dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda komplikasi Beri tahu pasien bahwa mereka dapat mandi dengan aman 48 jam setelah operasi. Instruksi yang jelas harus diberikan sehubungan dengan mendapatkan jahitan atau metode penutupan kulit basah lainnya, tanda dan gejala apa yang harus diwaspadai berhubungan dengan komplikasi Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Pasca Operasi Menurut Rainey,Joy (2002) faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi, yaitu; Kondisi fisiologis pasien, pembedahan dan lingkungan keperawatan akan memiliki efek mendalam pada penyembuhan luka. Seperti semua faktor luka seperti penuaan, penyakit yang mendasari, nutrisi dan gaya hidup akan mempengaruhi penyembuhan. Lama rawat
PERAWATAN LUKA OPERASI 55 inap di rumah sakit sebelum operasi telah disarankan sebagai faktor yang mempengaruhi pemulihan pasca operasi (Partridge 1998 dalam Rainey,Joy, 2002). Trauma pasien yang membutuhkan pembedahan atau mereka dengan penyakit praoperasi menjadi faktor penyembuhan lebih lambat. Bersamaan dengan terapy lainnya juga dapat menunda penyembuhan. Kortikosteroid akan mempengaruhi semua tahap penyembuhan. Obat Imunosupresif menunda respon inflamasi dalam penyembuhan luka, yang menghasilkan jumlah sel darah putih yang berkurang, meningkatkan kerentanan infeksi (David 1986 dalam Rainey,Joy. 2002). Antikoagulan kadang-kadang diberikan profilaksis ketika pasien menjalani operasi besar. Ini merusak pembekuan darah dan dapat menyebabkan pembentukan hematoma. Obat sitotoksik mengganggu replikasi sel dengan menekan respon inflamasi dan sintesis protein pada pasien yang sudah lemah dari penyakit ganas (Bland et al. 1984 Rainey,Joy. 2002). Radioterapi juga dapat merusak kulit dengan mengurangi vaskularisasi dan fibrosis, yang membuatnya lebih rentan terhadap trauma serta mengurangi sel-dimediasi non-spesifik respon pasien terhadap invasi bakteri. Infeksi luka juga dapat menjadi komplikasi dari penyembuhan luka. Tingkat infeksi lebih tinggi pada pasien yang tua, obesitas, mengonsumsi steroid, kurang gizi atau diabetes, dan mereka yang sudah lama dirawat pra operasi. Pasien yang menjalani operasi juga dapat mengalami stres dan kecemasan. Meskipun hubungannya dengan penyembuhan luka tidak sepenuhnya berkaitan erat, namun ini tampaknya mengganggu proses penyembuhan. Stres dan kecemasan juga dapat mengurangi motivasi dan mengganggu istirahat dan tidur yang penting untuk mengoptimalkan penyembuhan luka. Menurut Flanagan, Madeleine (2013), Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi penyembuhan luka operasi, yaitu:
PERAWATAN LUKA OPERASI 56 Tabel 4.3. Faktor Ekstrinsik yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Operasi Waktu Faktor yang mempengaruhi penyembuhan (ekstrinsik) Rekomendasi Pra-operasi Kecemasan dan stres pasien Persiapan kulit Pembersihan rambut sebelum operasi Profilaksis antibiotik Jelaskan prosedur pembedahan dan manajemen luka pascaoperasi Memotong dalam preferensi untuk mencukur; jika mencukur harus dilakukan, lakukan sedekat mungkin untuk operasi Intraoperatif Durasi operasi Teknik bedah Pengatur suhu Normoglikemia Anestesi Minimalkan lama prosedur pembedahan Penanganan jaringan yang lembut, hemostasis yang baik, debridement yang baik, penutupan hati-hati Pertahankan suhu ruang sekitar, hindari memaparkan pasien, cairan infus dingin; hindari hipotermia, jaga agar pasien tetap hangat Mempertahankan kadar gula darah yang seimbang, hipoglikemia dapat berdampak pada infeksi pasca operasi Jaga agar pasien tetap terhidrasi dengan baik, teroksigenasi dengan baik, dan bebas rasa sakit Post-operasi Aturan berpakaian Drainase luka Bebas ketegangan; perawatan dengan balutan melingkar,
PERAWATAN LUKA OPERASI 57 Pembersihan luka Kepatuhan pasien periksa kemampuan balutan untuk menyerap cairan luka Dorong drainase cairan luka secara bebas, cegah pembentukan hematoma Pilihan bahan pembersih yang tidak beracun secara hati-hati Edukasi pasien yang baik tentang perawatan luka, ganti balutan, kewaspadaan tandatanda komplikasi dan perawatan kulit All Faktor pasien: usia lanjut penyakit penyerta perfusi jaringan merokok keadaan gizi buruk kegemukan Optimalkan kondisi pra operasi pasien untuk mengurangi risiko komplikasi pasca operasi Sumber: Data dari NICE (2008), Franz et al. (2008) dan WHO (2009). Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka Operasi Standar operasional prosedur dikutip dari hasil penelitian Nursanty,O,E & Arofiati,F. 2020 dan hasil penelitian Istikomah,N 2010, sebagai berikut: 1. Menyiapkan alat Medikasi set steril dalam bak instrument steril : Pinset anatomi dan pinset cirurgis, Kom steril 2 buah, gunting jaringan, hipavix/ Verban transparan, gunting verban, kassa steril secukupnya, NaCl 0,9 %, bengkok dan handscoen steril.Perawatan luka bertujuan untuk meningkatkan proses penyembuhan jaringan juga untuk mencegah infeksi. Luka yang sering ditemui oleh perawat di klinik atau rumah
PERAWATAN LUKA OPERASI 58 sakit, biasanya luka yang bersih tanpa kontaminasi misal luka sectio caesarea, dan atau luka operasi lainnya. Perawatan luka harus memperhatikan teknik sterile, karena luka menjadi port de entre nya mikroorganisme yang dapat menginfeksi luka. Pada standar SIKP 5, rumah sakit dituntut untuk mampu mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan /infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang dialami oleh pasien yang diperoleh selama dirawat di rumah sakit yang meliputi luka dekubitus, phlebitis, sepsis, dan infeksi luka operasi. 2. Mengkomunikasikan pada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan. Salah satu isi SOP perawatan luka adalah melakukan informed consent lisan pada klien/keluarga dan instruksikan klien untuk tidak menyentuh area luka atau peralatan steril. Tujuh standar Hospital patient safety dan dijadikan sebagai acuan RS untuk melaksanakan program Patient Safety dalam pencegahan dan pengendalian infeki antara lain Joint Commission International (JCI), 2018: a. Hak pasien dan keluarganya untuk mendapatkan informasi tentang rrencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan KTD. b. Mendidik pasien dan keluarga mengenai kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. c. Rumah sakit menjamin keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan antar tenaga dan unit pelayanan. d. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan meningkatkan keselamatan pasien. e. Adanya peran pimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien dengan menjamin implementasi program patient safety. f. Mendidik staf tentang keselaman pasien melalui pendidikan dan latihan serta in service training.
PERAWATAN LUKA OPERASI 59 g. Menerapkan komunikasi sebagai kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. 3. Membaca doa Obat dan perawatan yang maksimal adalah hanya sarana untuk berusaha, akan menjadi lengkap jika pengobatan yang dilakukan disertai doa. Manusia telah berusaha untuk mencapai derajat kesembuhan dan Tuhan Yang Maha Esa adalah penentu kesembuhan yang sempurna. 4. Membuka balutan secara perlahan-lahan perhatikan kenyamanan pasien Ganti balutan merupakan salah satu penerapan SOP perawatan luka dalam upaya program pencegahan dan pengendalian infeksi. Hal ini juga di sampaikan dalam tujuan dibuatnya SOP perawatan luka oleh RS PKU Muhammadiyah Bantul yaitu agar tidak terjadinya infeksi maupun tempat masuknya segala mikroorganisme. Selain itu adanya SOP juga berfungsi menjaga kompetensi dan tingkat kinerja staff atau operator dalam suatu organisasi atau unit. 5. Memasukkan balutan kotor kedalam bengkok Beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan. Langkah berikutnya, tindakan kebersihan untuk membuang bekas balutan harus tepat. Bengkok merupakan tempat yang telah disediakan rumah sakit untuk membuang sampah khusunya bekas balutan. Bekas balutan luka yang mengandung bakteri jika dibuang sebarangan maka, akan menganggu pasien yang lain dan akan mengakibatkan berkembangnya bakteri tersebut serta dapat memicu timbulnya infeksi nosokomial yang akan mempengaruhi kelamatan pasien
PERAWATAN LUKA OPERASI 60 6. Membersihkan luka dengan NaCl 0,9% sampai bersih, jika NaCl 0,9% maka Povodine Iodine 10% bias digunakan untuk membersihkan luka Istikomah,N (2010). NaCl dipilih sebagai cairan pembersih luka karena bersifat isotonik, sehingga tidak mengganggu proses penyembuhan luka. Selain itu, air saline memiliki kadar toksik yang rendah dan tidak menyebabkan reaksi alergi atau perubahan ekosistem di kulit. Menurut hasil penelitian Istikomah,N (2010) mengatakan Ada perbedaan signifikan antara perawatan luka menggunakan Povodine Iodine 10% dengan perawatan luka menggunakan NaCl 0,9% dimana terlihat bahwa penurunan mean antara perawatan luka menggunakan Povodine Iodine 10% dengan NaCl 0,9% berbeda jauh. Betadine mempunyai aktivitas sprektum yang luas yang dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mikrobakteria, serta jamur. Betadin juga tidak mengiritasi kulit atau selaput lendir karena sifatnya yang non toksik dan non iritatif (Titjen,L.2004). 7. Memperhatikan adanya tanda-tanda infeksi sekunder seperti kemerahan, bengkak, panas, atau adanya pus di sekitar luka Pasien pasca operasi sangat rentan terhadap infeksi, baik dari virus, bakteri maupun jamur. Namun terkadang kita tidak menyadari kapan infeksi mulai terjadi pada luka sehingga setelah infeksi sudah sangat parah kita baru tahu karena menimbulkan masalah kesehatan. Diatas merupakan tanda-tanda kejadian infeksi sekunder yang perlu diperhatikan saat melakukan perawatan luka operasi. Jika terlihat tanda-tanda tersebut, perlu adanya kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapy. 8. Menutup luka menggunakan sufratule secukupnya, bila tidak ada tanda infeksi sekunder. Sufratule merupakan kasa penutup luka yang dilapisi dengan antibiotik. Sufratule efektif dalam menyembuhkan bekas luka operasi atau luka lainya.
PERAWATAN LUKA OPERASI 61 Membalut luka dengan kassa sterile apabila menggunakan verban transparan tidak perlu menutup dengan kassa steril. 9. Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematoma. Apabila balutan tidak sesuai dengan karakteristik luka maka balutan tersebut akan memperhambat penyembuhan luka. Pada luka operasi dengan penyembuhan primer, umumnya balutan dibuka segera setelah drainase berhenti. Berikut tujuan pembalutan luka: a. Melindungi luka dari kontaminasi mikroorganisme; b. Membantu hemostasis; c. Mempercepat penyembuhan dengan cara menyerap drainase dan untuk melakukan debridement luka; d. Menyangga atau mengencangkan tepi luka; e. Melindungi klien agar tidak melihat keadaan luka (bila luka terlihat tidak menyenangkan); f. Meningkatkan isolasi suhu pada permukaan luka; g. Mempertahankan kelembaban yang tinggi diantara luka dengan balutan. Penanganan luka yang tepat dijelaskan dalam algoritma perawatan luka, dapat meningkatkan keselamatan pasien dan pengendalian pencegahan infeksi. Selain itu, dalam penanganan luka, sudah umum diketahui bahwa salah satu yang harus dilakukan adalah tindakan debridement. Debridement bertujuan untuk membuat luka menjadi bersih sehingga mengurangi kontaminasi pada luka dan
PERAWATAN LUKA OPERASI 62 mencegah terjadinya infeksi. Debridement bisa dilakukan dengan beberapa cara, dari yang kurang invasif hingga invasif, yaitu debridement secara biologik, mekanik, otolitik, enzimatik, dan surgical. 10. Menutup balutan menggunakan hipavix secara rapat Menutup balutan luka dengan hipavix secara rapat merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya infeksi atau penyebaran mikroorganisme lainnya. 11. Membereskan alat Merapikan alat merupakan bagian dari Dasar Kewaspadaan universal ini meliputi, pengelolaan alat kesehatan, cuci tangan guna mencegah infeksi silang, pemakaian alat pelindung diantaranya sarung tangan untuk mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain, pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan, pengelolaan limbah. 12. Merapikan Pasien Salah satu tugas perawat dalam merawat dan melayani pasien secara benar adalah merapikan pasien. Ketepatan posisi pasien akan menjadikan pasien nyaman yang pada akhirnya akan membantu mempercepat penyembuhan luka setelah operasi yang diderita pasien. 13. Mencuci tangan dan mendokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan Sebagian besar perawat mempunyai kebiasaan melakukan cuci tangan setelah selesai melakukan seluruh tindakan pada banyak pasien, karena sebagian besar perawat menggunakan sarung tangan saat melakukan tindakan. Penggunaan sarung tangan sudah dianggap perawat sebagai alat pelindung diri, padahal cuci tangan harus dilakukan sebelum dan setelah tindakan keperawatan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan menempatkan perawat pada resiko
PERAWATAN LUKA OPERASI 63 terinfeksi penyakit dari pasien atau alat-alat yang terkontaminasi, yang mengakibatkan meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial. Tingkat kontaminasi pada luka bersih terkait materi pelatihan yang diberikan oleh narasumber dibagi menjadi dua yaitu: a. Luka bedah yang tidak terinfeksi tidak akan terdapat inflamasi dan biasanya dijahit tertutup. Kemungkinan untuk terjadinya infeksi relative antara 1% sampai 5%. b. Luka bedah saluran pernafasan, pencernaan, genital atau perkemihan. Kemungkinan terjadinya infeksi relative antara 3% sampai 11 %. Cuci tangan yang dilakukan secara benar dapat menghilangkan mikroorganisme yang menempel ditangan. Cuci tangan harus selalu dilakukan sebelum dan setelah melakukan tindakan perawatan ke pasien, memakai sarung tangan, menyentuh darah, cairan tubuh, atau eksresi pasien. Mencuci tangan yang kurang tepat dapat menimbulkan perpindahan organisme pathogen dari pasien ke petugas atau sebaliknya. Organisme inilah yang nantinya akan menyebabkan infeksi nosokomial pada pasien.
PERAWATAN LUKA OPERASI 64 Daftar Pustaka Aminuddin,M. dkk. 2020. Modul Perawatan Luka. Penerbit : CV Gunawana Lestari Clevelan Clinic. (2021). Incision Care. [online] Available at: https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/15 709-incision-care [Accessed 08 Juni 2022] Caldwell, Michael D. 2010. Wounds and wound management. Publisher : W.B. Saunders. Pages : 138. DEPKES RI. (2001). Profil Kesehatan Indonesia 2000. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Flanagan, Madeleine. (2013). Wound healing and skin integrity : principles and practice. Publisher: WileyBlackwell. Pages: 314 Franz, M.G., et al. (2008) Guidelines to aid healing of acute wounds by decreasing impediments of healing. Wound Repair and Regeneration, 16, 723–748 Gatta, F. G., & Ahmad, S. M. (2019). Clinics in Surgery Post-Laparotomy Pain : How to Achieve a Satisfactory. Remedy Publications LLC, 4, 1–3. http://www.clinicsinsurgery.com/open-access/postlaparotomy-pain-how-toachieve-a-satisfactorycontrol-5485.pdf [Accessed 06 Juni 2022] Kovalenko, О. М. (2020). Patient Care after Surgery: Suture Care and Wound Care Process. Infusion & Chemotherapy, (3.2), 138–140. https://doi.org/10.32902/2663-0338-2020-3.2-138- 140 [Accessed 08 Juni 2022] Murtutik, L. dan Marjiyanto. (2013). Hubungan Kadar Albumin Dengan Penyembuhan Luka Pada Pasien Post Operasi Laparatomy Di Ruang Mawar Rumah Sakit Slamet Riyadi Surakarta. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, Vol. 6 (3). NICE. (2008) Clinical guideline 74 – Surgical site infection. Prevention and treatment of surgical site infection. Available at: www.nice.org.uk, last accessed on 14 Juni 2022
PERAWATAN LUKA OPERASI 65 Nursanty,O,E & Arofiati,F. 2020. Penerapan Standar Operasional Prosedur Perawatan Luka Bersih melalui Pelatihan Perawatan Pasca Operasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Riyadi, S. & Harmoko. (2012). Standard Operating Prosedure dalam Praktek Klinik Keperawatan Dasar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rainey,Joy. 2002. Wound Care: a Handbook for. Community Nurses. EBook Tietjen, L. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. World Health Organization (2009) WHO Guidelines for Safe Surgery: Safe Surgery Saves Lives. WHO/IER/PSP/ 2008.08-1E
PERAWATAN LUKA OPERASI 66 Profil Penulis Veronika Toru Staf Dosen pada Prodi Keperawatan Waingapu. Lahir di Sumba Timur 13 September 1984, penulis menempuh Sekolah Dasar Inpres Lailara, SLTP Negeri 2 Waingapu, SMA Kristen Payeti Waingapu yang berada di Kabupaten Sumba Timur, tamat DIII Keperawatan di Prodi Keperawatan Waingapu tahun 2005, lulus CPNS tahun 2006 dan langsung ditempatkan kembali pada Program Studi Keperawatan Waingapu. Tahun 2010 melanjut Pendidikan S1 Keperawatan pada Universitas Diponegoro dengan peminatan CMHN (Community Mental Healht Nursing), tahun 2015 melanjutkan Pendidikan Magister Keperawatan di Universitas Diponegoro Semarang dengan peminatan manajemen keperawatan. Penulis sangat tertarik dengan perawatan luka, penulis memiliki harapan untuk mengikuti pelatihan tentang perawatan luka modern. Penulis juga melakukan Tri dharma Perguruan Tinggi yaitu melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan berfokus pada penyakit tropik yang sesuai dengan keunggulan Prodi Keperawatan Waingapu. Hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang penulis lakukan telah dipublikasi pada Jurnal Keperawatan Nasional terakreditasi. Ini merupakan pengalaman pertama menjadi bagian dalam menulis book chapter. Berharap kedepannya penulis lebih aktif lagi dalam menulis. Email Penulis: [email protected]
67 5 PERAWATAN LUKA DIABETES Emiliandry Febryanti T. Banase., S.Kep., Ns POLTEKKES KEMENKES KUPANG Definisi Luka Diabetes Luka diabetes merupakan komplikasi penyakit diabetes dan menjadi masalah yang paling sering terjadi. Pada umumnya luka diabetes atau Diabetic ulcers juga disebut diabetics foot ulcers, luka neuropati, luka diabetik neuropath yang terjadi karena adanya gangguan pada saraf perifer dan otonomik. Berdasarkan klasifikasi sifat luka, luka diabetic termasuk dalam luka kronis, yang terjadi karena kegagalan dalam proses penyembuhan luka. (Aminuddin,dkk 2020; Endang Subandi, 2019). Luka Diabetes Melitus tidak akan sembuh sendiri, namun harus dengan perawatan aktif. (Desy Arifatul Hidhayah, dkk. 2021). Infeksi, penyakit pembuluh darah perifer dan neuropati perifer merupakan penyebab luka diabetic yang terjadi akibat tingginya kadar glukosa darah dan meningkatkan proliferasi bakteri. Penderita diabetes mellitus akan mengalami kekurangan oksigen pada pembuluh darah parifer. Gangguan pembuluh darah ini sering terjadi pada tungkai dan kaki. Masalah seperti kulit kering dan hilang rasa akan menjadi trauma dan menyebabkan ulcer diabetikum bila penderita tidak berhati-hati. Perawatan luka pada pasien diabetes mellitus sangat diperlukan karena perawatan luka merupakan sistem pendukung untuk menyembuhkan luka dan mencegah terjadinya infeksi. (Tarafiar Choerunisa, 2020). Defisiensi sistem imun juga menjadi salah satu factor yang akan
PERAWATAN LUKA DIABETES 68 menyebabkan masa inflamasi luka berlangsung lama. Pada penderita Diabetes yang mengalami luka dengan Kadar glukosa darah yang tinggi akan mengalami penyembuhan luka yang lebih lama dibanding dengan luka pada orang normal tanpa kenaikan glukosa darah. Perawatan luka pada pasien diabetes mellitus sangat diperlukan karena perawatan luka merupakan sistem pendukung untuk menyembuhkan luka dan mencegah terjadinya infeksi. (Tarafiar Choerunisa.2020). Akibat perpanjangan fase penyembuhan luka yaitu haemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling (Enoch and Leaper, 2008). Penanganan yang tidak tepat pada luka kronis pada DM akan mengakibatkan infeksi yang umumnya diatasi dengan amputasi (Jeffcoate and Harding, 2003; Karri et al., 2015). Luka diabetic jika salah penanganan dan perawatan akan menjadi terinfeksi. Luka kronis dapat menjadi luka ganggren (Aminuddin,dkk (2020). Pencegahan komplikasi Diabetes Melitus meliputi luka Diabetes penting sekali dilakukan yang dapat dicapai dengan kontrol gula darah, pengetahuan tentang faktor resiko untuk berkembangnya ulkus kaki diabetik, dan menginspeksi kaki secara teratur. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi luka dan memberikan perawatan tepat pada waktunya (Holt, Eun, & Thacker, 2013). (Desy Arifatul Hidhayah, dkk. 2021). 1. Luka Diabetes menurut tingkat kontaminasi terhadap luka (Ali Maghfuri,2016) a. Luka Bersih atau Luka yang tidak terinfeksi (Clean wounds); b. Luka bersih terkontaminasi (Clean – Contamined wounds); c. Luka terkontaminasi (Contamined Wounds); d. Luka infeksi atau luka kotor (Dirty or Infected Wounds). 2. Luka Diabetes berdasarkan penampilan luka a. Nekrotik (hitam) yang merupakan luka ganggren yang disebabkan oleh infeksi. Luka ganggren pada kaki akan menunjukan tanda pada kaki yang
PERAWATAN LUKA DIABETES 69 merah kehitaman dan juga bau akibat sumbatan pada pembuluh darah sedang atau besar ditungkai. (Askandar, 2001 cit Ali Maghfuri,2016). Luka dapat kering atau lembab b. Sloughy (kuning), jaringan mati yang fibrous c. Terinfeksi (Kehijauan), pada luka ini akan muncul tanda-tanda infeksi seperti nyeri, bengkak, panas, kemerahan dan peningkatan eksudat. d. Epitelialisasi (merah jambu), ini merupakan tanda adanya pertumbuhan jaringan baru e. Granulasi (merah), luka telah menunjukan adanya pertumbuhan jaringan baru dengan banyak pembuluh darah sehingga akan mudah terjadi perdarahan bila ada gesekan. 3. Klasifikasi Luka Diabetik Pada luka diabetik diklasifikan berdasarkan derajat luka derajat luka dengan menggunakan skala Wagner. Derajat Karakteristik luka Kriteria 0 Kulit utuh tanpa ada lesi terbuka, dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti claw dan callus 1 Luka/ulkus superficial yang melibatkan jaringan (hanya kulit dan jaringan subcutaneous) 2 Luka/ulkus dengan penetrasi sampai tendon, tulang, atau kapsul persendian tapi kurang menampakkan abses atau osteomilitis 3 Luka/abses dalam dengan osteomilitis, atau pyoarthrosis 4 Adanya gangrene pada jari-jari (bagian distal kaki) dengan atau tanpa selulitis 5 Adanya gangrene yang luas pada kaki (seluruh atau Sebagian tungkai. (Baranoski S and Ayello EA. (2003). Wound care essentials: practice principles. New York: Lippincott Williams & Wilkins cit Aminuddin,dkk (2020))
PERAWATAN LUKA DIABETES 70 4. Fase-Fase Penyembuhan Luka a. Fase Inflamasi: Fase ini dimulai sejak terjadi luka hingga hari ke 5, muncul tanda–tanda seperti; kemerahan, panas, nyeri dan bengkak b. Fase Proliferasi: Fase ini merupakan akhir dari fase inflmasi hingga minggu ketiga, muncul tanda angiogenesis atau pembentukan pembuluh darah baru dan epitelisasi c. Fase Maturasi/Remodeling Pada fase ini proses pematangan terjadi mulai minggu ketiga hingga bulan ke-12 dimana mulai terjadi penyerapan jaringan lebih, proses pengerutan dan timbul jaringan baru. 5. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Pada Diabetes Mellitus Adapun faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pada diabetes mellitus yaitu: a. Suplai oksigen, dimana oksigen merupakan kritikal untuk leukosit dalam menghancurkan bakteri dan untuk fibroblast dalam menstimulasi sintesis kolagen. b. Stres, cemas dan depresi telah dibuktikan dapat mengurangi efisiensi dari sistem imun sehingga dapat mempengaruhi proses penyembuhan. c. Gangguan sensasi atau gerakan, dimana aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan gesekan benda asing pada pembuluh darah kapiler dapat menyebabkan jaringan mati pada tingkat local. d. Status nutrisi, dimana kadar serum albumin rendah akan menurunkan difusi (penyebaran) dan membatasi kemampuan neutrofil untuk membunuh bakteri.
PERAWATAN LUKA DIABETES 71 Teknik Perawatan Luka Diabetes Mellitus 1. Tujuan Perawatan Luka Diabetes Mellitus Dalam perawatan luka diabetes tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya infeksi dan membersihkan daerah luka dari bahan jaringan yang tidak dapat hidup. Bila luka telah mengalami infeksi akan sangat menganggu proses penyembuhan luka,hal ini terjadi karena hilangnya penghalang bawaan yang dibentuk oleh lapisan kulit dan patogen yang terakumulasi di daerah yang terluka. Untuk itu perlu dilakukan perawatan luka yang benar dan tepat dengan mengurangi jumlah bakteri dalam luka, mengurangi risiko infeksi, jaringan yang telah mengalami nekrosis dapat dilakukan nektrotomi sampai debridement. Perawatan luka akan memberikan kenyamanan dan mengurangi risiko bau pada luka sehingga akan mempercepat proses penyembuhan luka. 2. Manajemen Perawatan Luka Kaki Diabetes Dalam Manajemen perawatan luka, umumnya manajemen dilakukan dengan standar untuk pengobatan ulkus kaki diabetik yang meliputi tiga yakni: a. Pembersihan luka/Pencucian luka Tindakan pembersihan atau pencucian dalam perawatan luka merupakan hal dasar yang harus dilakukan dalam perawatan luka, dengan pembersihan luka yang efektif akan dapat mengurangi jumlah kuman atau bakteri pada luka, membersihkan jaringan nekrotik dengan membuang eksudat purulent, melembabkan luka, dan memelihara kebersihan jaringan kulit sekitar luka. (Ali Maghfuri,2016). Dalam pencucian luka terdapat tiga komponen pencucian luka yang dilakukan yakni dengan irigasi atau pengairan, swabbing/scrabbing atau penggosokan dan bathing atau perendaman.
PERAWATAN LUKA DIABETES 72 Hal-hal yang harus diperhatikan saat dilakukan pembersihan luka p diabetik adalah sebagai berikut: 1) Menghindari penggunaan pembersih kulit atau agen antiseptic, seperti povidone iodine, iodophor, larutan natrium hipoklorit (Dakin), hidrogen peroksida, asam asetat) d untuk membersihkan luka dengan jaringan granulasi yang sehat. Hal ini karena meskipun penggunaan povidone iodine efektif membunuh bakteri, gram +/-, spora, jamur virus, protozoa namun kerugian yang ditimbul karena penggunan povidone iodine dapat menyebabkan korosif dan merusak jaringan granulasi, toksik pada fibroblast, aktifitas menurun pada udara terbuka yang menimbulkan reaksi sensitivitas dan menjadi adanya biofilm (penumpukan bakteri). 2) Saat pencucian luka dapat mengunakan larutan normal salin (NaCI 0,9), air steril atau pembersih luka non sitotoksik untuk membersihkan luka. Keuntungannya merupakan cairan isotonic, aman terhadap jaringan tubuh namun tidak disarankan penggunaan pada luka besar dengan penderita gagal jantung dan ginjal karena berisiko terhadap penyerapan. 3) Cairan yang digunakan untuk pembersihan akan lebih baik dihangatkan sampai dengan suhu yang normal atau setidaknya suhu kamar. 4) Saat pembersihan/pencucian luka harus dilakukan irigasi dengan lembut dan efektif untuk mengurangi bakteri permukaan dan trauma jaringan. (5) Pembersihan luka dimulai dari tepi pinggiran luka, kemudian tengah dengan khasa pembersih yang baru secara sirkular.
PERAWATAN LUKA DIABETES 73 5) Saat pembersihan/pencucian luka untuk meningkatkan pembersihan luka tanpa menyebabkan trauma pada dasar luka dapat menggunakan tekanan irigasi yang cukup. Tekanan irigasi luka yang aman dan efektif berkisar antara 4 hingga 15 cm. 6) Membuang benda asing/jaringan mati atau Debridement. Membuang jaringan mati atau benda asing pada luka ulkus diabetes dapat dilakukan dengan Debridement atau nekrotomi merupakan salah satu standar yang baik dalam manajemen penyembuhan luka dan berkontribusi terhadap proses penyembuhan luka termasuk ulkus diabetes. Debridement dilakukan berdasarkan jumlah jaringan nekrotik, luasnya luka, dan lokasi luka. Debridement yang dilakukan pada luka kronis untuk menghilangkan kotoran permukaan, kuman dan jaringan nekrotik yang bertujuan untuk meningkatkan penyembuhan luka dengan meningkatkan produksi jaringan granulasi dan dapat dicapai dengan debrideman bedah, enzimatik, biologis, dan melalui autolisis. a) Debridement bedah atau Debridement Surgical, merupakan Debridement yang cepat dan efektif dalam menghilangkan hiperkeratosis dan jaringan mati yang dilakukan dengan scalpel, gunting, dan instrument tajam lain. Tindakan ini dapat dilakukan baik di tempat tidur dan atau di laur kamar operasi dan hanya pada bagian mati yang dibuang, rekomendasi luka pada jaringan nekrosis luas dan terinfeksi. b) Teknik Debridement yang dapat dilakukan yakni; 1). Lakukan Tindakan aseptic dan antiseptic pada luka, 2). Lakukan pencucian luka sampai bersih, 3). Identifikasi jaringan nekrotik dan struktur
PERAWATAN LUKA DIABETES 74 neurovascular, 4). Lakukan pengangkatan jaringan mati/nekrotik dengan menjepit jaringan menggunakan pinset, 5). Buang jaringan mati/nektrotik dengan gunting/scalpel, 6). Kembali lakukan Tindakan pencucian luka sampai bersih, 7). Perhatikan kondisi dan tipe luka, dapat dilanjutkan dengan perawatan luka terbuka/tertutup. Bila sampai terlihat jaringan normal dengan tanda adanya darah segar segera hentikan pengangkatan. b. Pemilihan Balutan Luka Pembalutan luka dilakukan dengan tujuan agar kondisi luka dapat tetap bersih sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung optimal. Selain itu untuk melindungi luka terhadap kontaminasi mikroorganisme, membantu hemostasis, menyangga atau mengencangkan tepi luka, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematoma, mempertahankan kelembapan yang tinggi diantara luka dengan balutan, mempercepat penyembuhan dengan cara menyerap drainase dan untuk melakukan debridemen luka. Jenis balutan luka terdiri atas berbagai jenis bahan dan cara pemakaiannya seperti balutan basah atau kering. Pembalutan luka sangat bergantung pada penilaian kondisi luka dan harus dapat digunakan dengan mudah, nyaman, dan terbuat dari bahan yang mempercepat penyembuhan luka. Pemberian balutan pada luka diabetic dengan metode dressing harus dipastikan agar dressing yang digunakan bebas dari kontaminan dan dapat membuang eksudat yang berlebihan, menjaga luka pada kondisi yang lembab, menjadi kedap mikroorganisme, memungkinkan pertukaran gas, dan, harus mudah dihilangkan serta biayaefektif.
PERAWATAN LUKA DIABETES 75 Berbagai dressing yang tersedia dimaksudkan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan penyembuhan luka. Pada luka diabetic dressing yang digunakan harus sesuai dengan kodisi dasar luka, tipe dressing terdiri dari primary dressing dan secondary dressing. Dressing yang dapat dipakai seperti: alginate, aquacel/aquacel Ag, dressing silver, dressing hidrofiber, dressing hidropobik (seperti sorbact), gel, iodosorb, dermozone, madu murni, dan lain-lainya berdasarkan basis bukti. Berikut beberapa pilihan dressing yang umum dengan memperhatikan kondisi luka: Keadaan Luka Pilihan Dresing Kelebihan Luka dengan kondisi kering/ nekrotik Hidroaktif gel; DuoDERM atau IntraSite gel, Hydrocolloid, Tidak dapat ditembus oleh oksigen, berbentuk gel dengan bahan dasar gliserin/air, menjaga lingkungan yang lembab, mengisi jarigan mati/nekrotik, membantu proses peluruhan jaringan nekrotik, dan mendukung debridemen autolitik Luka dengan Kondisi berwarna merah dan abses Hidrokoloid (hydrocolloid); Comfeel, Extra Thin, Duoderm Pasta Terbaut dari karboksimetilselulosa (carboxymethycellulos e), gelatin, dan pektin. Mempertahankan kelembapan luka, lentur dan lengket dapat beruabah menjadi gel, menyerap eksudat, kedap air dan moist serta sangat baik untuk proses autolysis debridement, menghindari risiko infeksi dan melindungi
PERAWATAN LUKA DIABETES 76 skin barrier, menyerap eksudat sedikit hingga sedang Luka eksudatif Kalsium alginate; cutimed Alginate, Corosorb, kaltostat Terbuat dari serat polisakarida (rumput laut). Menyerap sedang hingga banyak eksudat, dapat berikatan dengan eksudat hingga menjadi sel Luka Sedang hingga sangat eksudatif Hidroselulosa (hydrocellulos e); Aquacel, Aquacel-Ag, dressing hydrofobik, Terbuat dari selulosa, tidak mudah larut, meningkatkan proses granulasi dan reepithelialization, sangat mudah diserap dan sesuai untuk luka sangat eksudatif, memberikan kenyamanan pada pasien. Mudah dilepaskan dan mendukung debridemen autolitik. Allevyn Plus Cavity Setelah menyerap eksudat secara maksimal, Panjang, dan lebar, dressing akan bertambah 2-3 kali ukuran awal dan ketebalan akan bertambah hingga 1 cm. Efektif pada luka dalam, eksudat banyak, berongga, cairan produktif. Luka yang terinfeksi Dressing hydrofiberperak (Aquacel-Ag), Dressing hidrofobik , Membantu mengendalikan luka yang eksudatif dan berpotensi infeksi
PERAWATAN LUKA DIABETES 77 madu dan lainnya Luka yang berbau Metronidazole Berbentuk bubuk, mengurangi bau, mengurangi nyeri, menghindari trauma saat buka balutan dan mempertahankan kelembapan. Kulit periwound yang mudah lesi dapat mengunakan dressing yang dapat mengurangi atau melindungi kulit sekitar luka bisa dengan dressing bentuk nonadhesif yang berguna untuk mengamankan pembalut luka ketika kulit di sekitarnya mengalami lesi seperti Iodosorb yang berbentuk serbuk coklat tua mengandung cadexomer dan berisi iondin0,9%, anti-mikroba dengan lama kerja 72 jam yang dapat menghilangkan eksudat berlebih dan slough dari dasar luka. Dressing bentuk nonadhesif lainnya yang dapat digunakan seperti stomahesive powder, salep dermozone, dan lainnya yang sesuai. c. Metode Perawatan Luka Diabetes Mellitus Metode perawatan Luka yang diterapkan berdasarkaan stadium luka. Sebelum melaksanakan perawatan luka lakukan pengakjian awal dengan mengidentifikasi pasien, mengkaji keluhan pasien saat ini, mengkaji luka berdasarkan klasifikasi luka, mengkaji lokasi luka diabetic (ulkus ekstermitas atas, bawah atau lainnya), melakukan pengecekan tanggal balutan, Mengkaji luka ganggren (warna, tanda-tanda infeksi, luas luka ganggren). Perawatan luka metode I ; Perawatan luka seperti pada umumnya dengan pilihan dressing sesuai keadaan luka
PERAWATAN LUKA DIABETES 78 I Persiapan Alat 1. Pinset chirurgis ( 1 Buah ) dan pinset anatomis (2 Buah), gunting debridemen steril, kom 2 buah, kasa steril dalam baki instrument steril 2. Sarung tangan bersih 3. Sarung tanga Steril 4. Gunting plester 5. NaCl 0,9%, Savlon 6. Plester atau perekat 7. Bengkok 8. Kantong Plastik (Hitam/Kuning) 9. Verband 10.Perlak 11. Obat Obat luka sesuai kebutuhan (antibiotik topikal) Balutan modern (Duoderm, Foam) II Prosedur pelaksanaan 1. Pasang sampiran di sekitar klien 2. Siapkan peralatan dekat pasien 3. Atur posisi yang nyaman bagi klien untuk memudahkan daerah luka dapat dijangkau dengan mudah 4. Sediakan perlatan yang diperlukan dalam troley di samping pasien. 5. Ambil kantong plastik buat lipatan di bengkok, letakkan dekat jangkauan 6. Cuci tangan, gunakan sarung tangan bersih 7. Pasang pengalas/perlak 8. Mengatur posisi pasien sehingga mempermudah proses perawatan 9. Membuka peralatan yang telah disediakan di dekat pasien 10. Membuka balutan lama secara hati-hati, apabila sulit untuk dibuka basahi dengan NaCl 0,9% 11. Memakai sarung tangan steril 12. Membersihkan luka dengan menggunakan cairan NaCl 0,9% dan Salvon 13. Melakukan nekrotomi pada jaringan nekrotik 14. Mencuci luka lagi dengan menggunakan NaCl 0,9% sampai bersih
PERAWATAN LUKA DIABETES 79 15. Mengeringkan luka dengan menggunakan kasa steril 16. Memberikan duoderm pada daerah luka yang keras dan ada slough, pada luka dengan eksudat banyak pasang foam 17. Menutup luka dengan kasa steril. Jika luka pada daerah kaki bisa dilakukan pembalutan. 18. Membuka sarung tangan 19. Merapikan pasien 20. Membereskan alat-alat 21. Mencuci tangan Dokumentasi pada catatan perawatan: kondisi luka, pengobatan pada luka, waktu perawatan luka dan respon pasien selama perawatan luka. Perawatan luka metode II (Luka Stadium 2 -3 ); Perawatan luka dengan prinsip yang sama pada peraawatan luka pada umumnya dengan pilihan dressing sesuai keadaan luka dan penambahan terapi topical. I Persiapan Alat 1. Pinset chirurgis ( 1 Buah ) dan pinset anatomis (2 Buah), gunting debridemen steril, kom 2 buah, kasa steril dalam baki instrument steril 2. Sarung tangan bersih 3. Sarung tanga Steril 4. Gunting plester 5. NaCl 0,9%, Savlon, betadine 6. Kom Sedang 7. Plester atau perekat 8. Bengkok 9. Kantong Plastik (Hitam/Kuning) 10. Spuit 5 cc atau 10 cc 11. Verband 12. Perlak 13. Tulle (Sofra-Tulle) 14. Obat luka sesuai kebutuhan (antibiotik topikal) Balutan modern (Duoderm) II Prosedur pelaksanaan 1. Pasang sampiran di sekitar klien 2. Siapkan peralatan dekat pasien
PERAWATAN LUKA DIABETES 80 3. Atur posisi yang nyaman bagi klien untuk memudahkan daerah luka dapat dijangkau dengan mudah 4. Sediakan perlatan yang diperlukan dalam troley di samping pasien. 5. Ambil kantong plastik buat lipatan di bengkok, letakkan dekat jangkauan 6. Cuci tangan, gunakan sarung tangan bersih 7. Menyiapkan cairan desinfektan (NaCl 0,9%, Salvon dan betadine) sesuai derajat luka dan warna luka 8. Pasang pengalas/perlak 9. Mengatur posisi pasien sehingga mempermudah proses perawatan 10. Membuka peralatan yang telah disediakan di dekat pasien 11. Membuka balutan lama secara hati-hati, apabila sulit untuk dibuka basahi dengan NaCl 0,9% 12. Memakai sarung tangan steril 13. Membersihkan luka dengan menggunakan cairan desinfektan yang disiapkan 14. Melakukan nekrotomi pada jaringan nekrotik (apabila terdapat bula jangan dipecah, tapi dihisap dengan spuit steril) 15. Mencuci luka lagi dengan menggunakan NaCl 0,9% sampai bersih 16. Mengeringkan luka dengan menggunakan kasa steril 17. Memberikan duoderm pada daerah luka yang keras dan ada slough, pada luka dengan granulasi pasang tulle 18. Menutup luka dengan kasa steril. Jika luka pada daerah kaki bisa dilakukan pembalutan. 19. Membuka sarung tangan 20. Merapikan pasien 21. Membereskan alat-alat 22. Mencuci tangan 23. Dokumentasi pada catatan perawatan: kondisi luka, pengobatan pada luka, waktu perawatan luka dan respon pasien selama perawatan luka.
PERAWATAN LUKA DIABETES 81 Perawatan luka metode III (Luka Stadium 3-4 ); Perawatan luka dengan prinsip yang sama pada peraawatan luka pada umumnya dengan pilihan dressing sesuai keadaan luka dan penambahan beberapa terapi . I Persiapan Alat 1. Pinset chirurgis ( 1 Buah ) dan pinset anatomis (2 Buah), gunting debridemen steril, kom 2 buah, kasa steril dalam baki instrument steril 2. Sarung tangan bersih 3. Sarung tanga Steril 4. Gunting plester 5. NaCl 0,9%, Savlon,pehidrol, metronidazole cair,protonson 6. Kom Sedang 7. Plester atau perekat 8. Bengkok 9. Kantong Plastik (Hitam/Kuning) 10. Spuit 5 cc atau 10 cc 11. Verband 12. Perlak 13. Tulle (Sofra-Tulle) 14. Obat luka; Betadine salep, Kanamicyn bubuk, gentamicyn salep Balutan modern (Duoderm) II Prosedur pelaksanaan 1. Pasang sampiran di sekitar klien 2. Siapkan peralatan dekat pasien 3. Atur posisi yang nyaman bagi klien untuk memudahkan daerah luka dapat dijangkau dengan mudah 4. Sediakan perlatan yang diperlukan dalam troley di samping pasien. 5. Ambil kantong plastik buat lipatan di bengkok, letakkan dekat jangkauan 6. Cuci tangan, gunakan sarung tangan bersih 7. Menyiapkan cairan desinfektan (NaCl 0,9%, Salvon) sesuai derajat luka dan warna luka 8. Pasang pengalas/perlak 9. Mengatur posisi pasien sehingga mempermudah proses perawatan
PERAWATAN LUKA DIABETES 82 10. Membuka peralatan yang telah disediakan di dekat pasien 11. Membuka balutan lama secara hati-hati, apabila sulit untuk dibuka basahi dengan NaCl 0,9% 12. Memakai sarung tangan steril 13. Membersihkan luka dengan menggunakan cairan desinfektan yang disiapkan 14. Melakukan nekrotomi pada jaringan nekrotik (apabila terdapat bula jangan dipecah, tapi dihisap dengan spuit steril) 15. Tekan/ pijit daerah luka kemudia guyur dengan metronidazole cair sampai bersih bila ada rongga lukaa/tunneling gunakan spuit untuk menyemprotkan sampai ke dalam luka. 16. Mencuci luka lagi dengan menggunakan prontosan sampai bersih 17. Mengeringkan luka dengan menggunakan kasa steril 18. Memberikan dressing pada luka; membagi tulle sesuai ukuran, oleskan betadine salep pada tulle dan memberikan kanamycin bubuk pada tulle. 19. Olesi sekitar luka yang terlihat bengkak, kemerahan, dan panas dengan garamycin 20. Pada tiap ujung jari kaki yang luka olesi dengan gentamycin. 21. Menutup luka dengan kasa steril, perban dan lakukan pembalutan. 22. Membuka sarung tangan 23. Merapikan pasien 24. Membereskan alat-alat 25. Mencuci tangan 26. Dokumentasi pada catatan perawatan: kondisi luka, pengobatan pada luka, waktu perawatan luka dan respon pasien selama perawatan luka.
PERAWATAN LUKA DIABETES 83 Daftar Pustaka Ali Magfuri. (2016). Buku Pintar Perawatan Luka DIABETES MELLITU: Salemba Medika, Jakarta Muhammad Aminuddin,dkk. (2020). Modul Perawatan Luka. Cetakan Pertama : Penerbit CV Gunawana Lestari, Samarinda Decroli Eva. (2019). Diabetes Mellitus Tipe 2. Ed. 1: Penerbit Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, 2019 Endang Subandi, 2019. Efektifitas Modern Dressing Terhadap Proses Penyembuhan Luka Diabetes Melitus Tipe 2) Vol. 10 No. 1 ; Jurnal Kesehatan Desy Arifatul Hidhayah, dkk. (2021) Hubungan lama sakit dengan kejadian luka pada penderita Diabetes Melitus di Kabupaten Magelang tahun 2020). Tarafiar Choerunisa. (2020) Literature Riview:Efektifitas Perawatan Luka Modern Dressing Pada Ulcer Diabetikum). Volume 5 Nomer 2 Tahun 2020 Halaman : 84 – 94; Journal of Nursing and Health (JNH).
PERAWATAN LUKA DIABETES 84 Profil Penulis Emiliandry Febryanti T. Banase Ketertarikan penulis terhadap profesi perawat dimulai pada tahun 2013, ketika penulis memilih dan menyelesaikan pendidikan diploma tiga keperawatan di Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Kupang dan berhasil lulus pada tahun 2016. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Swasta Melalui Program Ekstensi dan berhasil menyelesaikan studi S1 Keperawatan di Prodi Studi Ilmu Keperawatan Universitas Citra Bangsa pada tahun 2019 dan Profesi Ners pada tahun 2020 di Prodi Profesi Ners, Poltekkes Kemenkes Kupang. Penulis memiliki kepakaran di bidang Keperawatan Dasar dan Keperawatan Medikal Bedah. Penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang keperawatan. Selain itu peneliti juga aktif menulis buku di bidang keperawatan dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif, bagi bangsa dan negara yang sangat tercinta ini khususnya dalam bidang keperawatan. Email Penulis: [email protected]
85 6 PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA Ns. Servasius To’o Jala Mulu, S.Kep., M.Kep. Poltekkes Kemenkes Kupang Proses Penyembuhan Luka Proses penyembuhan luka merupakan sebuah proses fisiologis yang terintegrasi (Potter et al., 2017). Ketika terjadi cedera pada jaringan (luka), tubuh akan memberikan serangkaian respon dengan tujuan untuk menghilangkan agen penyebab cedera dan mempersiapkan proses penyembuhan luka. Terdapat 3 (tiga) fase pada proses penyembuah luka diantaranya defensif (hemostasis dan inflamasi), rekonstruksi (proliferatif), dan maturasi (DeLaune & Ladner, 2011). 1. Fase Defensif (Hemostasis dan Inflamasi) Fase ini dapat berlangsung selama 3-4 hari (DeLaune & Ladner, 2011). Pada fase ini belangsung dua peristiwa penting yang merupakan bentuk pertahanan awal ketika cedera (luka) terjadi yakni hemostasis dan inflamasi. a. Hemostatis Hemostasis merupakan bentuk pertahanan tubuh untuk mencegah terjadinya kehilangan darah secara berlebihan, melakukan pengontrolan terhadap agen penyebab cedera dan menutup lokasi guna mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme pada luka (Potter et al., 2017).