The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang, 2023-03-13 08:15:29

Perawatan Luka dan Terapi Komplementer

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Keywords: Rawat Luka Tehnik Terapi Komplementer

PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 86 Pada tahap ini, terjadi vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah di lokasi cedera dan melibatkan trombosit. Trombosit diaktifasi oleh cedera, agregrat untuk membentuk sumbat trombosit dan penghentian perdarahan. Aktivasi kaskade pembekuan menghasilkan pembentukan fibrin dan anyaman fibrin, yang selanjutnya menjebak trombosit dan sel lain. Hasil akhir dari proses ini adalah pembentukan bekuan fibrin, yang menyediakan penutupan luka awal, mencegah kehilangan darah dan cairan tubuh yang berlebihan, dan menghambat kontaminasi luka oleh mikroorganisme (Baranoski & Ayello, 2016; Grey et al., 2006; Middleton, 2011). b. Inflamasi Proses inflamasi merupakan bentuk adaptasi pertahan tubuh terhadap jaringan cedera yang melibatkan respon vaskular dan seluler. Selama respon vaskular, cedera jaringan dan aktivasi sistem protein plasma merangsang pelepasan berbagai mediator kimia, seperti histamin (dari sel mast), serotonin (dari trombosit), komplemen, dan kinin. Zat vasoaktif ini menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas. Ini kemudian mengakibatkan peningkatan aliran darah dan kebocoran cairan serosa ke jaringan di lokasi cedera (Hess, 2013). Peningkatan suplai darah membawa nutrisi dan oksigen, yang penting untuk penyembuhan luka, dan mengangkut leukosit ke daerah tersebut untuk berpartisipasi dalam fagositosis atau pembungkus dan pembuangan mikroorganisme. Peningkatan suplai darah juga menghilangkan sel-sel mati, bakteri, dan eksudat, atau bahan dan sel yang dikeluarkan dari pembuluh darah. Sebagai akibat dari proses ini, timbulah manifestasi peradangan pada lokasi cedera yakni kemerahan, edema, dan peningkatan suhu lokal pada lokasi cedera dan memiliki jumlah eksudat yang bervariasi (Norris, 2020).


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 87 Pada respon seluler, leukosit bergerak keluar dari pembuluh darah (migrasi-kemotaksis) ke ruang interstisial. Sel leukosit yang berperan utama pada respon akut ini adalah neutrofil. Sebagai sel yang pertama tiba di lokasi cedera, neutrofil kemudian memulai fagositosis. Neutrofil kemudian mati dan digantikan oleh makrofag, yang muncul dari monosit darah. Makrofag melakukan fungsi yang sama seperti neutrofil tetapi bertahan lebih lama. Selain sebagai fagosit utama debridement, makrofag merupakan sel penting dalam penyembuhan luka karena mensekresi beberapa faktor, antara lain fibroblast activating factor (FAF) dan angiogenesis factor (AGF). FAF menarik fibroblas, yang membentuk kolagen atau prekursor kolagen, sedangkan AGF merangsang pembentukan pembuluh darah baru. Perkembangan mikrosirkulasi baru ini mendukung dan menopang luka dan proses penyembuhan (Loeffler & Hart, 2020). 2. Fase Rekonstruksi (Proliferatif) Fase Fase rekonstruktif dimulai pada hari ketiga atau keempat setelah cedera dan berlangsung selama 2 hingga 3 minggu. Fase ini berisi proses deposisi kolagen, angiogenesis, perkembangan jaringan granulasi, dan kontraksi luka.Fibroblas, biasanya ditemukan di jaringan ikat, bermigrasi ke dalam luka karena berbagai mediator seluler. Mereka adalah sel yang paling penting dalam fase ini karena mensintesis dan mengeluarkan kolagen. Kolagen adalah protein yang paling melimpah di dalam tubuh dan merupakan bahan perbaikan jaringan. Awalnya, kolagen berbentuk seperti gel, tetapi dalam beberapa bulan ia akan berikatan silang untuk membentuk fibril kolagen dan menambah kekuatan tarik pada luka. Saat luka bertambah kuat, risiko luka terbuka atau pecah menjadi lebih kecil. Luka dapat menahan tekanan normal seperti ketegangan atau puntiran setelah 15 hingga 20 hari. Selama waktu ini, "punggungan penyembuhan" yang terangkat mungkin


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 88 terlihat di bawah garis cedera atau jahitan (Loeffler & Hart, 2020). Angiogenesis, pembentukan pembuluh darah baru, dimulai dalam beberapa jam setelah cedera. Sel-sel endotel di pembuluh yang sudah ada sebelumnya mulai memproduksi enzim yang memecah membran basal. Membran terbuka, dan sel endotel baru membangun pembuluh baru. Kapiler ini tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah, yang meningkatkan suplai nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka (Nair & Peate, 2015). Perbaikan dimulai saat jaringan granulasi, atau jaringan baru tumbuh ke dalam dari jaringan ikat sehat di sekitarnya. Jaringan granulasi diisi dengan kapiler baru yang rapuh dan mudah berdarah, sehingga memberikan area penyembuhan tampilan granular merah, tembus cahaya. Saat jaringan granulasi terbentuk, epitelisasi, atau pertumbuhan jaringan epitel, dimulai. Sel epitel bermigrasi ke dalam luka dari tepi luka. Akhirnya, sel-sel yang bermigrasi menghubungi sel-sel serupa yang telah bermigrasi dari tepi luar. Kontak menghentikan migrasi. Sel-sel tersebut kemudian mulai berdiferensiasi menjadi berbagai sel yang menyusun berbagai lapisan epidermis (Nair & Peate, 2015). Kontraksi luka merupakan langkah terakhir dari fase rekonstruktif penyembuhan luka. Kontraksi terlihat 6 sampai 12 hari setelah cedera dan diperlukan untuk penutupan semua luka. Tepi luka disatukan oleh aksi miofibroblas, sel khusus yang mengandung berkas serat paralel di sitoplasmanya. Miofibroblas ini menjembatani luka dan kemudian berkontraksi untuk menarik luka agar tertutup (Sorenson et al., 2019). 3. Fase Maturasi (Remodelling) Fase maturasi merupakan fase akhir dari proses penyembuhan luka yang dimulai sekitar hari ke-21 dan dapat berlanjut hingga 2 tahun atau lebih, bergantung pada kedalaman dan luas luka.


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 89 Selama fase ini, jaringan parut mengalami remodelling (dibentuk kembali atau direkonstruksi oleh deposisi kolagen dan lisis serta debridement tepi luka). Meskipun jaringan parut terus bertambah kuat, tetapi tetap lebih lemah daripada jaringan yang digantikannya. Kapiler akhirnya menghilang, meninggalkan bekas luka avaskular (bekas luka yang berwarna putih karena kekurangan suplai darah) (Grossman & Porth, 2014). Faktor Penyembuhan Luka Pada bagian sebelumnya di atas, telah dijelaskan tentang proses dengan perkiraan waktu dari tiap-tiap tahapan penyembuhan luka. Namun, oleh karena beberapa faktor, tiap-tiap tahapan penyembuhan luka dapat memanjang dan mengakibatkan keterlambatan dimulainya tahap proses selanjutnya. Faktor-faktor ini dapat berupa faktor lokal (luka) maupun kondisi umum dari penderita. Berikut ini akan dijelaskan terkait faktor-faktor yang memengaruhi proses penyembuhan luka. 1. Usia Faktor usia pada proses penyembuha luka merujuk pada kelompok individu sangat muda (anak) dan dewasa tua (DeLaune & Ladner, 2011). Anak pada dasarnya memiliki kemampuan perbaikan jaringan yang lebih besar jika dibandingkan orang dewasa (Norris, 2020). Namun, perlambatan penyembuhan luka pada anak dimungkinkan karena kurangnya cadangan yang diperlukan untuk memastikan penyembuhan yang tepat. Kurangnya cadangan ini tampak dari keseimbangan elektrolit yang mudah terganggu, perubahan suhu secara tiba-tiba, dan cepatnya penyebaran infeksi. Belum matangnya sistem imunitas tubuh pada neonatus dan anak kecil tanpa pengalaman antigenik dengan organisme yang mencemari luka turut menjadikannya rentan mengalami infeksi (Grossman & Porth, 2014).


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 90 Selain itu, status nutrisi dan penyakit penyerta pada anak juga sangat memengaruhi keberhasilan penyembuhan luka. Anak membutuhkan jumlah kalori yang cukup untuk mempertahankan pertumbuhan dan penyembuhan luka. Bayi yang lahir premature, seringkali lahir dengan sistem organ yang belum matang dan simpanan energi minimal, namun kebutuhan metabolisme tubuh tinggi. Hal ini menjadi faktor pendukung gangguan penyembuhan luka. Anak-anak dengan penyakit penyerta tertentu seperti diabetes dan masalah malabsorpsi akan berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi luka (Baranoski & Ayello, 2016; Grossman & Porth, 2014; Norris, 2020). Berbeda dengan anak, gangguan penyembuhan luka pada individu dewasa tua disebabkan karena berbagai kemunduran dari seluruh sistem tubuh akibat proses penuaan (Potter et al., 2017). Individu dewasa tua mengalami penurunan fungsi makrofag yang mengakibatkan penundaan respon inflamasi (Potter et al., 2017), pengurangan sintesis kolagen dan fibroblas, gangguan kontraksi luka, dan reepitelisasi luka (DeLaune & Ladner, 2011; Grossman & Porth, 2014; Norris, 2020). Meskipun penyembuhan luka mungkin tertunda, sebagian besar luka sembuh, bahkan pada orang dewasa yang lebih tua yang lemah yang menjalani prosedur bedah besar. Orang dewasa tua lebih rentan terhadap luka kronis, terutama tekanan, diabetes, dan ulkus iskemik, dibandingkan dengan individu yang lebih muda, dan luka ini sembuh lebih lambat. Namun, luka ini lebih mungkin disebabkan oleh gangguan lain seperti imobilitas, diabetes mellitus, atau penyakit pembuluh darah, daripada penuaan (Shiffman & Low, 2021). 2. Nutrisi Nutrisi yang sesuai dibutuhkan untuk proses penyembuhan luka (Kozier et al., 2018). Nutrisi dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan pertahanan tubuh melawan patogen penyebab infeksi pada luka (DeLaune & Ladner, 2011) dan sebagai bahan baku pembentukan jaringan baru dalam proses penutupan


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 91 jaringan yang terputus oleh karena cedera yang terjadi (Baranoski & Ayello, 2016). Nutrisi yang dimaksud diantaranya protein, vitamin, lemak, karbohidrat, mineral seng dan tembaga. Protein dibutuhkan tubuh untuk pembentukan immunoglobulin (antibodi) yang berperan dalam melawan infeksi, dan berperan penting dalam membangun dan menopang jarringan tubuh (kolagen). Vitamin C diperlukan untuk sintesis kolagen, sedangkan vitamin A berfungsi dalam merangsang dan mendukung epitelisasi, pembentukan kapiler, dan sintesis kolagen. Vitamin B adalah ko-faktor penting dalam reaksi enzimatik yang berkontribusi pada proses penyembuhan luka. Vitamin K memainkan peran tidak langsung dalam penyembuhan luka dengan mencegah gangguan perdarahan yang berkontribusi pada pembentukan hematoma dan infeksi selanjutnya (Norris, 2020). Karbohidrat dibutuhkan sebagai sumber energi bagi sel darah putih. Karbohidrat juga memiliki efek hemat protein dan membantu mencegah penggunaan asam amino sebagai bahan bakar saat dibutuhkan untuk proses penyembuhan. Lemak adalah konstituen penting dari membran sel dan dibutuhkan untuk sintesis sel-sel baru. Makromineral termasuk natrium, kalium, kalsium, dan fosfor, serta mikromineral (trace mineral), seperti tembaga dan seng, harus ada untuk fungsi sel normal. Seng adalah kofaktor dalam berbagai sistem enzim yang bertanggung jawab untuk proliferasi sel (Norris, 2020). Saat tubuh mengalami kekurangan salah satu nutrisi di atas, proses penyembuhan luka akan mengalami gangguan atau tertunda (Potter et al., 2017). Gangguan atau penundaan proses penyembuhan luka ini dapat berupa pemanjangan inflamasi maupun kegagalan pembentukan jaringan baru untuk menyambung kembali jaringan yang terputus. 3. Aliran Darah dan Oksigenasi Darah membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk pembuatan dan perbaikan jaringan luka (Kozier


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 92 et al., 2018). Oleh kareanya, luka harus memiliki aliran darah yang memadai. Ini bertujuan agar luka memperoleh pasokan nutrisi yang cukup dan sebagai sarana pembuangan limbah yang dihasilkan, racun lokal, bakteri dan kotoran lainnya dari luka (Norris, 2020). Beberapa kondisi sebagai akibat dari kondisi luka (seperti adanya pembengkakan) atau masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya dapat menjadi pencetus terjadinya gangguan penyembuhan luka oleh karena terganggunya aliran darah (Grossman & Porth, 2014). Adanya edema lokal di daerah luka atau anggota tubuh yang terkena juga dapat mengganggu penyembuhan. Edema mengganggu transportasi oksigen dan nutrisi ke sel-sel luka dengan meningkatkan jarak antar sel, dan dapat menciptakan tekanan pada pembuluh darah lokal (Kozier et al., 2018). Oksigen pada tingkat molekular diperlukan untuk sintesis kolagen. Kurangnya kadar oksigen (hipoksia) menjadi faktor serius yang telah terbukti menyebabkan penurunan pertumbuhan fibroblast, produksi kolagen, dan angiogenesis. Selain itu, polimorfonuklear (PMN) dan makrofag membutuhkan oksigen untuk menghancurkan mikroorganisme yang telah menginvasi daerah luka. Sekalipun sel-sel ini dapat melakukan fagositosis dalam lingkungan yang minim oksigen, namun sel-sel ini tidak dapat mencerna bakteri (Grossman & Porth, 2014).Anemia merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan tidak terpenuhinya pasokan nutrisi dan oksigen pada luka. Penurunan kadar haemoglobin yang terjadi pada anemia menyebabkan penurunan oksigen ke jaringan dan mengganggu proses perbaikan jaringan. Kondisi penurunan tingkat hemoglobin fungsional ini biasanya terjadi pada perokok (DeLaune & Ladner, 2011). Contoh penyakit lainnya adalah penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus dapat menjadi pencetus terganggunya perfusi jaringan dan oksigenasi (Kozier et al., 2018).


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 93 Pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol, haemoglobinnya memiliki peningkatan afinitas terhadap oksigen yang mengakibatkan oksigen yang dilepaskan ke dasar luka lebih sedikit (DeLaune & Ladner, 2011). 4. Gangguan Respon Peradangan dan Kekebalan Tubuh Mekanisme inflamasi dan imun berfungsi dalam penyembuhan luka. Peradangan sangat penting untuk fase pertama penyembuhan luka, dan mekanisme kekebalan mencegah infeksi yang mengganggu penyembuhan luka. Di antara kondisi yang mengganggu peradangan dan fungsi kekebalan adalah gangguan fungsi fagositosis, diabetes melitus, dan pemberian terapi obat kortikosteroid (Norris, 2020). Gangguan fagosit dapat dibagi menjadi cacat ekstrinsik dan intrinsik. Gangguan ekstrinsik adalah gangguan oleh karena pengurangan jumlah total sel fagosit, mengganggu daya tarik sel fagosit ke lokasi luka, mengganggu fagositosis oleh sel fagosit, atau penekanan jumlah total sel fagosit. Gangguan fagositosis intrinsik adalah hasil dari defisiensi enzim dalam jalur metabolisme untuk menghancurkan bakteri yang dicerna oleh sel fagosit. Gangguan fagositosis intrinsik termasuk penyakit granulomatosa kronis, penyakit bawaan terkait-X di mana terdapat defisiensi enzim mieloperoksidase atau NADPH oksidase. Kekurangan senyawa ini mencegah pembentukan superoksida dan hidrogen peroksida yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri (Grossman & Porth, 2014). Banyak orang dengan diabetes mellitus yang memiliki luka tidak merespon dengan baik metode pengobatan luka tradisional karena kadar glukosa darahnya yang tinggi. Bukti menunjukkan penyembuhan luka yang tertunda dan komplikasi seperti infeksi berkepanjangan pada penderita diabetes. Yang paling penting adalah efeknya hiperglikemia pada fungsi fagositosis. Neutrofil, misalnya, telah mengurangi fungsi kemotaktik dan fagositosis, termasuk menelan dan membunuh bakteri secara intraseluler, ketika


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 94 terkena perubahan kadar glukosa. Penyakit pembuluh darah kecil juga umum di antara penderita diabetes, mengganggu pengiriman sel inflamasi, oksigen, dan nutrisi ke lokasi luka (Grossman & Porth, 2014). Penggunaan steroid menghambat proses penyembuhan luka. Hal ini disebabkan karena steroid bersifat imunosupresan yang mengakibatkan berkurangnya respon inflamasi dan memperlambat sintesis kolagen pada luka. Obat anti inflamasi juga menekan sintesis protein, kontraksi luka, epitelisasi, dan inflamasi. Selain itu, penggunaan antibiotik yang berkepanjangan, dengan berkembangnya strain bakteri yang resisten, dapat meningkatkan risiko superinfeksi yang pada akhirnya menghambat proses penyembuhan luka (DeLaune & Ladner, 2011). 5. Infeksi, Benda Asing, dan Pemisahan Luka Infeksi mengakibatkan terganggunya semua tahapan penyembuhan luka. Infeksi yang terjadi pada luka mengakibatkan proses inflamasi memanjang, rusaknya pembentukan jaringan granulasi, dan terhambatnya proses proliferasi fibroblas dan deposisi serat kolagen (Grossman & Porth, 2014). Infeksi pada luka mengakibatkan peningkatan produksi sitokin proinflamasi yang menyebabkan bertambahnya kerusakan jaringan yang terjadi (Potter et al., 2017). Selain itu, keadaan infeksi sistemik dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan sumber daya seluler yang semula difokuskan untuk penyembuhan luka kemudian berfokus pada upaya pertahanan terhadap bakteri. Hal ini mengakibatkan kebutuhan untuk penyembuhan luka tidak terpenuhi dan proses penyembuhan luka mengalami penundaan (Kozier et al., 2018). Kondisi yang mengindikasikan adanya infeksi luka diantaranya adalah drainase purulen, perubahan bau, volume dan/atau karakteristik luka, kemerahan di jaringan sekitar luka, peningkatan suhu (demam), dan nyeri (Potter et al., 2017). Lebar luka atau jarak antar tepi luka. Perkiraan tepi luka sangat meningkatkan penyembuhan dan mencegah infeksi. Epitelisasi luka dengan jarak tepi


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 95 yang hampir mendekati (tidak lebar) terjadi dalam 1 sampai 2 hari. Luka besar yang menganga cenderung sembuh lebih lambat karena seringkali tidak mungkin menutup. Faktor mekanis seperti peningkatan tekanan lokal atau torsi dapat menyebabkan luka terlepas atau pecah (Grossman & Porth, 2014). Benda asing cenderung mengundang kontaminasi bakteri dan menunda penyembuhan. Fragmen kayu, baja, kaca, dan senyawa lain mungkin memasuki luka di lokasi cedera dan sulit ditemukan saat luka dirawat. Selain itu, benda asing juga berkaitan dengan jahitan (benang) luka karena pada dasarnya jahitan merupakan benda asing. Meskipun jahitan diperlukan sebagai bentuk upaya untuk menyambung dan menutup luka, jahitan juga merupakan penghalang untuk penyembuhan luka. Hal ini yang alasan dasar perlunya pelepasan jahitan sesegera mungkin setelah operasi atau penjahitan luka non operasi (Grossman & Porth, 2014).


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 96 Daftar Pustaka Baranoski, S., & Ayello, E. A. (2016). Wound Care Essentials : Practice Principles (4th Editio). Wolters Kluwer. DeLaune, S. C., & Ladner, P. K. (2011). Fundamentals of Nursing : Standards & Praktice (Fourth Edi). DELMAR CENGAGE Learning. https://books.google.co.id/books?isbn=1133007619 Grey, J. E., Enoch, S., Harding, K. G., Grey, J. E., Enoch, S., Harding, K. G., Grey, J. E., Enoch, S., Harding, K. G., Benson, A., Dickson, W. A., & Boyce, D. E. (2006). ABS of Wound Healing. BMJ, 332. Grossman, S. C., & Porth, C. M. (2014). Porth’s Pathophysiology : Concepts of Altered Health States (Ninth Edit). Wolters Kluwer. Hess, C. T. (2013). Clinical Guide to Skin and Wound Care (C. Harold & E. Kors (eds.); Seventh Ed). Wolters Kluwer. Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Snyder, S. J., Frandsen, G., Buck, M., Ferguson, L., Yiu, L., & Stamler, L. L. (2018). Fundamental of Canadian Nursing : Concepts, Process, and Practise (4th Editio). Pearson Canada Inc. Loeffler, A. G., & Hart, M. N. (2020). Human Disease : Pathophysiology for Health Professionals (Seventh Ed). Jones & Bartlett Learning. Middleton, J. E. (2011). Wound Healing : Process, Phases and Promoting (J. E. Middleton (ed.)). Nova Science Publisher, Inc. Nair, M., & Peate, I. (2015). Pathophysiology for Nurse : At A Glance (1st Editio). Wiley-Balckwell. Norris, T. L. (2020). Essentials of Pathophysiology (5th Editio). Wolters Kluwer. Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2017). Fundamentals of Nursing (Ninth Edit). Elsevier Inc.


PROSES DAN FAKTOR PENYEMBUHAN LUKA 97 Shiffman, M. A., & Low, M. (2021). Chronic Wounds , Wound Dressings and Wound Healing. Springer. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/978-3-030- 10698-0 Sorenson, M., Quinn, L., & Klein, D. (2019). Pathophysiology : Concepts of Human Disease. Pearson Education. Profil Penulis Servasius Too Jala Mulu Penulis merupakan seorang dosen dan peneliti keperawatan yang berfokus pada Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana. Penulis menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan dan Ners di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya pada tahun 2017 dan Magister Keperawatan Peminatan Gawat Darurat di Universitas Brawijaya pada tahun 2020. Saat ini penulis bertugas sebagai dosen magang di Prodi Keperawatan Waingapu yang mengampuh mata kuliah Keperawatan Dasar, Patofisiologi, dan Keperawatan Medikal Bedah dan Gawat Darurat. Email: [email protected]


98


99 7 EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN Ineke Noviana, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep Poltekkes Kemenkes Kupang Evidance Based Practice (EBP) Perawatan Luka Modern 1. Evidance Based Practice (EBP) Evidance Based Practice adalah pemanfaatan bukti ilmiah berdasarkan penelitian klinis mutakhir dalam tatalaksana penyembuhan penyakit (Sukirno 2021). Tujuan utama diimplementasikannya evidance based practice di dalam ptaktek keperawatan adalah untuk meningkatkan kualitas perawatan dan memberikan hasil yang terbaik dari asuhan keperawatan yang diberikan. Beberapa komponen dari evidence based practice dan dijadikan sebagai alat yang akan menerjemahkan bukti kedalam praktek untuk meningkatkan pelayanan kesehatan (Grove 2012). Gambar 7.1 Evidance Based Practice (EBP) Sumber (Grove 2012)


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 100 Pendekatan yang dilakukan berdasarkan evidance based bertujuan untuk menemukan bukti-bukti terbaik sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan klinis yang muncul dan kemudian mengaplikasikan bukti tersebut ke dalam praktek keperawatan guna meningkatkan kualitas perawatan pasien karena tanpa bukti-bukti terbaik maka praktek keperawatan akan sangat tertinggal dan seringkali berdampak kerugian untuk pasien. 2. Evidance Based Practice (EBP) Perawatan Luka Modern Studi meta analisis yang dilakukan oleh (Handayani 2016) dari jurnal artikel pertama Cost-effectiveness Analysis dengan membanding perawatan luka dengan menggunakan metode konvensional dengan metode perawatan luka modern menunjukkan perbedaan efektifitas pembiayaan antara modern dan konvensional. Karena dressing dengan menggunakan konsep lembab ini dapat dilakukan perawatan luka sekali dalam 3-5 hari (Kartika 2015). Perawatan luka konvensional harus sering mengganti kain kasa atau balutan luka sedangkan perawatan luka modern mempunyai prinsip menjaga kelembapan luka (Ronald 2015). Penelitian dari jurnal kedua efektifitas metode perawatan luka moisture balance (perawatan luka modern) terhadap penyembuhan luka pasien ulkus bahwa kondisi luka sebelum perawatan dengan rerata skor penyembuhan luka 28,4 dan setelah dilakukan skornya adalah 19,3. Uji t paired didapatkan perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Sehingga dalam penelitian ini perawatan luka modern dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasien ulkus dengan baik (Handayani 2016). Pemilihan balutan yang sudah mulai beralih menggunakan konsep lembab karena mempunyai beberapa keuntungan yaitu nyaman, mengurangi nyeri pada saat penggantian balutan (Ronald 2015) dan mendukung proses penyembuhan luka (Wijaya 2018).


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 101 Penelitian true experimental pada 40 responden yang dilakukan oleh (Ineke 2021) dengan pendekatan pretest posttest with control group design yang membandingkan perawatan luka modern dengan menggunakan dressing hydrogel pabrikan dan hydrogel dari bahan tradisional. Menunjukkan bahwa pada kedua kelompok yang diteliti setelah di uji repeated anova didapatkan hasil masing-masing kelompok dengan sig 0.000 yang artinya ada perbedaan yang bermakna dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perawatan luka modern dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Praktek mandiri Arya Wound Care Blitar oleh perawat tempat penelitian menerapkan penggunaan metode perawatan luka modern dikarenakan beberapa alasan yang diantaranya adalah mempercepat proses penyembuhan luka dan frekuensi perawatan luka yang semakin sedikit karena tidak perlu mengganti balutan atau melakukan perawatan luka sesering apabila menggunakan metode konvensional (Ineke 2021). Hal ini juga membuat pasien merasa puas karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih sedikit serta mengurangi rasa nyeri yang diakibatkan dari penggantian balutan (Ronald 2015). Penelitian tentang modern wound dressing : hydrogel dressing oleh (Brumberg 2021) : Perawatan luka modern dengan prinsip lembab didapatkan hasil bahwa tingkat penutupan luka yang lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan pentingnya perawatan luka modern sebagai penyembuhan luka yang efisien. Hydrogel menunjukkan kemampuan dalam menahan volume air yang signifikan tetapi tidak larut dalam air (Wang 2015). Balutan yang digunakan dalam perawatan luka modern bukan hanya hydrogel, namun juga hydrocolloid, foam dressing, alginate, film dressing dan dressing antimikrobial (Kartika 2015, Mardiyono 2017, Francesco 2022). Dalam penelitiannya (Muhammad 2022) mengenai efektifitas perawatan luka modern dan konvensional terhadap proses penyembuhan luka diabetik dengan menggunakan metode penelitian


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 102 quasi experiment rancangan pre-test post-test control group design menjelaskan bahwa perawatan luka modern mempunyai efektivitas perkembangan perbaikan luka yang lebih baik di bandingkan dengan kelompok perawatan luka konvensional. Penyembuhan luka menjadi 50% lebih cepat dalam suasana lembab dibandingkan dengan luka kering melalui pemberian suasana yang dibutuhkan dalam pertahanan lokal makrofag (Perdanakusuma 2017). Metode perawatan luka modern lebih efektif dibandingkan dengan metode konvensional (Kartika 2015). Baik perawatan luka modern maupun konvensional keduanya juga menjaga kelembapan namun pada perawatan luka konvensional NaCL akan menguap sehingga kasa menjadi cepat kering (Suriadi 2015, Muhammad 2022). Hasil penelitian oleh Lucia dan Unit Promosi Kesehatan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta bahwa perawatan luka modern berbasis lembab meningkatkan epitelisasi dan angka infeksi lebih rendah dibandingkan dengan perawatan kering (2,6% vs 7,1%). Proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat dan waktu rawat inap pasien (Length of stay) menjadi pendek (Mardiyono 2017). Pembalutan luka yang optimal dengan menjaga kelembapan dan bersih dapat menstimulasi pemulihan (Risal 2020). Literatur Review oleh (Desnita 2021) dengan menelaah 4 artikel yang diantaranya menggunakan metode penelitian berbeda yaitu dengan quasy exsperiment, praexsperimental, true-exsperimental dan deskriptif analitik, menyimpulkan dari ke empat artikel tersebut bahwa perawatan luka dengan modern dressing terbukti dapat membantu penyembuhan luka. Bahan yang digunakan dalam perawatan luka dengan modern dressing mudah didapatkan, mudah digunakan, ekonimis, tidak menimbulkan adiksi, dapat diberikan kapan saja dan minim efek samping pada pasien (Desnita 2021). Keunggulan dari perawatan luka modern ini dapat digunakan dalam perawatan luka di fasilitas pelayanan kesehatan.


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 103 Anita dalam risetnya penerapan perawatan luka modern di RSUD DR. Achmad Mochtar Bukittinggi dengan menggunakan metode penelitian studi kasus mendapatkan hasil bahwa terdapat perubahan pada pasien setelah dilakukan perawatan luka modern. Sebelum perawatan luka dengan menggunakan perawatan luka modern luka tampak terpasang peran, kondisi perban masih basah, kulit sekitar area post operasi tampak kemerahan dan pasien merasa nyeri saat luka dibersihkan. Namun setelah dilakukan perawatan luka dengan perawatan luka modern selama 3 hari tampak kemerahan disekitar kulit berkurang, luka mulai mengering dan pasien mengatakan nyeri sudah mulai berkurang (Anita 2019). Santoso dan Purnomo menjelaskan bahwa perawatan luka menggunakan metode modern dressing merupakan metode yang efektif dalam penyembuhan luka pasien rawat jalan di daerah Mojokerto (p=0,001). Peneliti juga memaparkan bahwa perawatan luka menggunakan modern dressing membuat kondisi area luka menjadi lembab sehingga membantu mempercepat proses granulasi sel kulit (Santoso 2017). Literatur Review yang dilakukan oleh (Ade 2019) tentang efektifitas proses penyembuhan luka dengan modern wound dressing pada luka diabetik dipaparkan: penelitian oleh (Mohajeri-Tehrani, Mohseni et al. 2016) Comparison of a Bioimplant Dressing With a Wet Dressing for the Treatment of Diabetic Foot Ulcers: A Randomized, Controlled Clinical Trial dengan total sampel 57 dan desain penelitian RCT berlokasi di Iran menghasilkan bahwa kelompok intervensi menunjukkan adanya efek yang signifikan terhadap proses penyembuhan luka. Kemudian Hyaluronic acid dressing (Healoderm) in the treatment of diabetic foot ulcer oleh (Lee and K. H. 2016) dengan jumlah sampel 34 dengan lokasi penelitian di Korea menggunakan desain penelitian RCT hasil yang didapatkan adalah kelompok intervensi menunjukkan adanya efek yang signifikan terhadap tingkat penyembuhan luka lebih tinggi dibandingkan dengan


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 104 kelompok kontrol. Riset selanjutnya (Mathur, Patheja et al. 2017) di London dengan jumlah sampel 30 dan desain penelitian RCT mendapatkan hasil kelompok intervensi menunjukkan adanya efek perbedaan yang signifikan antara pengurangan daerah ulkus. Selanjutnya (Abdullah 2018) dengan jumlah sampel 50 mendapatkan hasil bahwa kelompok intervensi menunjukkan adanya efek yang sangat signifikan antara rerata lama rawat inap dan proses penyembuhan luka. Sehingga dapat disimpulkan dalam literatur review ini bahwa modern wound dressing adalah pilihan yang tepat untuk meningkatkan proses penyembuhan luka (Ade 2019). Perawatan luka modern telah diterapkan dibanyak layanan fasilitas kesehatan rumah sakit, puskesmas sampai pada klinik-klinik praktek mandiri perawat maupun dokter baik di Indonesia maupun di luar negeri. Metode perawatan luka modern bisa menjadi alternatif yang tepat dalam mempercepat proses penyembuhan luka, mengurangi nyeri sebagai akibat dari pergantian balutan dan yang pasti adalah mengurangi biaya perawatan luka karena metode perawatan luka modern membuatnya tetap lembab sehingga tidak perlu melakukan perawatan luka yang yang sering seperti apabila menggunakan perawatan luka konvensional.


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 105 Daftar Pustaka Abdullah (2018). "Negative Pressure Wound Therapy Versus Conventional Dressing in Treatment of Diabetic Foot Wound." The Egyptian Journal of Hospital Medicine 72 (3): 4054–4059. Ade (2019). "Efektivitas Proses Penyembuhan Luka Dengan Penggunaan Modern Wound Dressing Pada Pasien Ulkus Diabetik: A Sistematik Review." Jurnal Keperawatan dan Kebidanan 3 (2): 12-21. Anita (2019). Penerapan Perawatan Luka Modern Dressing Dengan Metode Moist Wound Healing Pada Otitis Media Di Ruang Tht RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi, Program Studi Pendidikan Profesi Ners Stikes Perintis Padang. Brumberg (2021). "Modern Wound Dressing : Hydrogel Dressings." Biomedicines Journal 9 (9): 1-15. Desnita (2021). "Literatur Review: Perawatan Luka Dengan Modern Dressing Terhadap Penyembuhan Ulkus Diabetikum." Jurnal Nurse 4 (2): 52-63. Francesco (2022). "Hyaluronic Acid/Collagenase Ointment in the Treatment of Chronic Hard-to-Heal Wounds: An Observational and Retrospective Study." Journal of Clinical Medicine 11 (3): 537. Grove (2012). The Practice of Nursing Research: Appraisal, Synthesis and Generation of Evidence Elsevier Health Sciences. Handayani, L. T. (2016). "Studi Meta Analisis Perawatan Luka Diabetes dengan Modern Dressing." The Indonesian Journal Of Health Science, 6 (2): 149-159. Ineke (2021). "Treatment of Grade II Diabetic Ulcer with Mindi Leaf Hydrogel Againt Wound Healing Process." STRADA Jurnal Ilmiah Kesehatan 10 (1): 318-324. Kartika (2015). " Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing. Perawatan Luka Kronis Dengan Modern Dressing." 42: 546–550.


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 106 Lee, M., Han, S. H., Choi, W. J., Chung, and L. K. H., J. W (2016). "Hyaluronic acid dressing (Healoderm) in the treatment of diabetic foot ulcer: A prospective, randomized, placebo-controlled, single-center study. Wound Repair and Regeneration." 24 (3): 581–588. Mardiyono (2017). "Studi Uji Pra Klinik Perawatan Ulkus kaki Diabetik dengan Topikal Hidrokoloid Kunyit." Jurnal Kebidanan dan keperawatan 13 (2): 111-119. Mathur, R. K., Sahu, K., Saraf, S.,, et al. (2017). "Low-level laser therapy as an adjunct to conventional therapy in the treatment of diabetic foot ulcers." Lasers in Medical Science 32 (3): 275–282. Mohajeri-Tehrani, M. R., Variji, Z.,, et al. (2016). "Comparison of a Bioimplant Dressing With a Wet Dressing for the Treatment of Diabetic Foot Ulcers: A Randomized, Controlled Clinical Trial. Wounds 2016." 28 (7): 248-254. Muhammad (2022). "Efektivitas Perawatan Luka Modern dan Konvensional terhadap Proses Penyembuhan Luka Diabetik " Jurnal Ilmiah Mappadising 4 (1): 237- 245. Perdanakusuma (2017). Cara Mudah Merawat Luka. Surabaya, Airlangga University Press. Risal (2020). "Manajemen Terkini Perawatan Luka." Jurnal Kedokteran Universitas Lampung 4 (2). Ronald (2015). "Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing." CDK-230 42 (7): 546-550. Santoso (2017). "Effectiveness wound care using modern dressing method to diabetic wound healing process of patient with diabetes mellitus in home wound care." International Journal of Nursing and Midwifery 1 (2): 172- 181. Sukirno (2021). "Kolaborasi Pustakawan dalam Pengambilan Keputusan Klinis Berbasis Bukti Terkini." Visi Pustaka 23: 76-75.


EVIDANCE BASED PRACTICE PERAWATAN LUKA MODERN 107 Suriadi (2015). Pengkajian Luka dan Penanganannya Sagung Seto, Jakarta. Wang (2015). "Adaptable hydrogel networks with reversible linkages for tissue engineering. adv." 27: 3717–3736. Wijaya (2018). Perawatan Luka dengan Pendekatan Multisiplin. Yogyakarta, ANDI. Profil Penulis Ineke Noviana Penulis merupakan seorang pengajar di Poltekkes Kemenkes Kupang Program Studi D3 Keperawatan Waingapu. Ketertarikan penulis terhadap ilmu keperawatan terapan dimulai pada tahun 2018 yang pada saat itu penulis sedang menimba ilmu magister terapan keperawatan. Sehingga penulis terus terdorong untuk mencari pembaharuan ilmu yang dapat diterapkan di dunia keperawatan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya. Penulis menjadi peneliti pada tahun 2020 mengenai perawatan luka modern dan telah dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi, membuat sebuah buku panduan pembuatan hydrogel bahan tradisional yang telah di-HAKI kan serta membuat sebuah terobosan dimana penulis membuat hydrogel bahan tradisonal sebagai bahan dalam perawatan luka modern bersama tim laboratorium yang saat ini sedang dalam proses di patenkan. Penulis memiliki kepakaran ilmu dalam bidang keperawatan terapan yang berfokus pada ilmu bedah. Penulis memulai pendidikan D3 Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Kupang Program Studi Keperawatan Waingapu pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2017 penulis melanjutkan pendidikan D4 Keperawatan jurusan Keperawatan Perioperatif di Poltekkes Kemenkes malang dan setelah itu maka pada tahun 2018 penulis melanjutkan pendidikan magister terapan keperawatan di Poltekkes Kemenkes Semarang. Penulis terdorong untuk bergabung sebagai tim dalam penulisan buku ini sebagai bentuk pengabdian seorang pengajar. Selain tergabung dalam penulisan buku, penelitian, penulis juga secara aktif melaksanakan pengabdian pada masyarakat. Email Penulis: [email protected]


108


109 8 MANAJEMEN PERAWATAN LUKA Ester Radandima, S.Kep., Ns., M.Kep. Poltekkes Kemenkes Kupang Luka Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul, perubahan suhu, paparan zat kimia, ledakan, sengatan listrik, maupun gigitan hewan. Luka dapat menyebabkan kerusakan fungsi perlindungan kulit akibat hilangnya kontinuitas jaringan epitel dengan atau tanpa kerusakan jaringan lain, seperti otot, tulang, dan saraf. Menurut (DepKes RI, 2013) Tujuan dasar dari manajemen luka adalah untuk mencegah atau mempersingkat infeksi pada luka yang terkontaminasi, untuk menghilangkan proses septik pada luka yang sudah terinfeksi dan bernanah, dan pada masing-masing untuk mendapatkan penyembuhan yang baik(Aminudin ,2020). Berikut ada dua jenis luka yaitu: 1. Luka Akut Luka akut adalah luka yang sembuh sesuai dengan fisiologis proses penyembuhan luka. Pada proses penyembuhan luka memiliki tahap yaitu; tahap inflamasi selama cedera sampai tiga atau lima hari, tahap proliferasi mulai hari pertama sampai 21 hari dan maturasi dari hari ke-21 sampai dua tahun . Luka akut akan melewati proses fisiologis penyembuhan luka . berdasarkan penyebabnya luka akut dibagi dua yaitu; luka yang direncanakan dan luka tidak direncanakan. Luka akut yang direncanakan cenderung dilakukan di ruang yang


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 110 steril dan sudah dipersiapkan seperti pada luka paska pembedahan. Luka yang tidak direncanakan terjadi secara tiba-tiba akibat trauma tumpul atau tajam yang cenderung terkontaminasi dengan lingkungan luar. Kedua penyebab luka akut tersebut memiliki prinsip manajemen yang berbeda (Carvile, 2007). Luka akut tersebut juga dapat berisiko terjadi infeksi 2%-5% seperti surgical site infection (SSI) atau infeksi daerah operasi (IDO) jika tidak mendapatkan perawatan luka yang tepat (Bratzler dan Hunt, 2006). Komplikasi lainnya yang dapat terjadi pada luka akut, antara lain; perdarahan, dehisen, hipertropik scar dan lainnya. a. Deskripsi Luka Akut Luka akut sembuh sesuai dengan fisiologis proses penyembuhan luka. Penyembuhan luka akut paska pembedahan membutuhkan waktu untuk perpindahan sel epitel melalui sisi luka selama 48 jam. Selama proses penyembuhan luka akut membutuhkan lingkungan luka yang optimal yaitu lingkungan luka moist atau lembab. Luka akut dapat sembuh sekitar 4-14 hari dalam lingkungan luka optimal (Hess, 1999; Gabriel, 2015). Luka akut dapat sembuh menggunakan tipe penyembuhan primer atau sekunder bahkan tersier jika ada infeksi atau benda asing. Tipe penyembuhan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu; 1) Tipe penyembuhan primer; luka akut yang sembuh dibantu dengan jahitan atau menggunakan tape (plaster) atau glue (lem); 2) Tipe penyembuhan sekunder; luka akut yang sembuh dengan mendukung pertumbuhan jaringan granulasi dari dasar luka; 3) Tipe penyembuhan tersier; luka akut yang sembuh dengan menghilangkan benda asing atau infeksi terlebih dahulu sebelum dilakukan tipe penyembuhan primer atau sekunder.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 111 b. Manajamen perawatan luka Manajemen perawatan luka akut akibat trauma (tidak direncanakan) dan paska pembedahan (direncanakan) memiliki prinsip yang berbeda. Fokus manajemen pada luka paska trauma adalah menstabilisasi keseimbangan tubuh (homeostasis) akibat dari perdarahan atau kekurangan cairan dan lainnya. Fokus manajemen pada luka akut akibat pembedahan adalah untuk mencegah infeksi. Berikut manajemen perawatan luka akut akibat trauma dan paska pembedahan. Manajemen luka akut paska trauma 1) Mengembalikan dan mempertahankan homeostasis tubuh; 2) Mengkaji derajat dan tipe jaringan yang mengalami trauma; 3) Melakukan pencucian luka, debridemen dan cegah infeksi; 4) Menggunakan teknik aseptik sesuai indikasi; 5) Menghindari komplikasi paska trauma seperti perdarahan dan adanya benda asing; 6) Mengembalikan fungsi bagian tubuh yang mengalami trauma; 7) Mendukung proses pemulihan dan rehabilitasi kembali ke aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan; 8) Manajemen luka akut paska pembedahan. c. Manajemen Luka akut paska pembedahan 1) Mencegah infeksi; 2) Menggunakan teknik aseptik untuk 48 jam pertama sampai epitelisasi primer muncul; 3) Melindungi luka dari trauma dan dukung tipe penyembuhan primer dengan penggunaan dressing yang tepat; 4) Menghindari komplikasi pembedahan seperti infeksi, hematoma dan dehisense;


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 112 5) Mendukung proses pemulihan dan rehabilitasi kembali ke aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. d. Pemilihan Balutan Luka Akut Balutan dalam perawatan luka akut harus dapat mendukung fisiologis proses penyembuhan luka. Balutan luka akut harus dapat melindungi luka atau proses migrasi sel epitel yang berlangsung selama 48 jam dari trauma fisik, termal ataupun kimiawi. Beberapa balutan yang dapat direkomendasikan pada luka akut antara lain; 1) Kasa non adeheren Kasa non adeheren berbeda dengan kasa biasanya karena tidak melekat pada luka. Bahan polyester film yang menempel pada dasar luka tidak menyebabkan lengket sehingga mudah dibuka dan mencegah trauma pada saat mengganti balutan. Beberapa kasa non adeheren digabung (impregnated) dengan plester atau transparan film untuk memberikan perlindungan pada luka. Contoh produk kasa non adeheren; melolin, telfa, interpose dan lainnya 2) Tulle grass Mengandung serabut cotton yang bergabung (impregnated) dengan paraffin atau antimicrobial seperti neomycin, silver dan lainnya. Tulle grass hanya dapat digunakan pada stadium luka I dan II sehingga tidak melekat pada luka. Tulle grass dapat digunakan pada luka akut paska pembedahan atau trauma seperti abrasi. 3) Transparan film Balutan yang mengandung polyurethane film. Balutan ini tidak dapat menyerap eksudat akan tetapi mampu untuk mengatasi tahap inflamasi pada luka akut. Balutan ini dapat berbentuk lembaran atau spray.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 113 4) Hidrokoloid Balutan yang mengandung carboxylmethyl cellulosa (CMC) dan gelatin atau rumput laut. Balutan ini digunakan untuk mengatasi inflamasi pada luka akut dan memberikan perlindungan dari trauma. 5) Calcium Alginate Mengandung polisakarida rumput laut yang mampu mengeluarkan ion kalsium dalam proses menghentikan perdarahan minor. Alginate berbentuk lembaran atau gel yang dapat memberikan lingkungan luka lembab dengan menyerap eksudat dari sedikit ke sedang. 6) Foam Mengandung polyurethane foam untuk menyerap eksudat. Foam dapat menyerap eksudat dari sedang sampai banyak. Balutan foam juga digunakan untuk mencegah trauma fisik dari benturan atau gesekan sehingga migrasi sel epitel tidak terganggu.. 7) Antimikrobial Balutan antimikrobial dapat diberikan jika ditemukan luka akut yang berisiko infeksi. Pemberian balutan antimikrobial bukan untuk mengatasi infeksi akan tetapi mengontrol dan mencegah terjadinya infeksi.. 2. Luka Kronik Luka kronis merupakan jenis luka yang dapat dikatakan sebagai luka yang proses penyembuhannya tidak terjadi secara fisiologis, atau luka yang tidak sembuh dalam serangkaian tahapan yang teratur dan dalam jumlah waktu yang dapat diprediksi seperti kebanyakan luka; luka yang tidak kunjung sembuh dalam waktu tiga bulan seringkali dianggap kronis. Luka kronis tampaknya tertahan dalam satu atau lebih fase penyembuhan luka. Jenis luka kronik antara lain luka dekubitus, luka diabetes, luka abses, luka akut yang gagal sembuh secara fisiologis dan luka lainnya yang tidak termasuk luka akut.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 114 Ada banyak kondisi yang dapat menyebabkan luka terbuka kronis yang dapat dievaluasi dalam pengaturan perawatan darurat. Kategorisasi jenis dan penyebab luka penting untuk diagnosis karena proses penyakit yang mendasarinya perlu dikelola dengan tepat, biasanya oleh dokter perawatan primer. Aspek terpenting dari manajemen perawatan luka dalam perawatan darurat adalah memulai pembalut luka dan mengidentifikasi kemungkinan infeksi. Pasien juga dapat datang dengan luka traumatis atau pascaoperasi yang meminta evaluasi atau penggantian balutan. Prinsip perawatan luka yang sama akan diterapkan dengan rujukan ke ahli bedah setelah perawatan dimulai. (Springer International Publishing Switzerland 2016). Salah satu luka kronik adalah luka decubitus. a. Luka decubitus Luka Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus dalam waktu lama sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat (WOCN Society, 2003 dalam Bryant, 2007.) Luka Kaki diabetik adalah salah satu komplikasi diabetes yang paling signifikan dan merusak, dan didefinisikan sebagai kaki mengalami luka yang berhubungan dengan neuropati dan/atau penyakit arteri perifer ekstremitas bawah. Prevalensi ulserasi kaki diabetik pada populasi diabetes adalah 4 -10%; kondisi ini lebih sering pada pasien yang lebih tua. Mayoritas (60-80%) dari luka kaki akan sembuh, sementara 10-15% dari mereka akan tetap aktif, dan 5-24% dari mereka akhirnya akan menyebabkan amputasi anggota tubuh dalam jangka waktu 6-18 bulan setelah evaluasi pertama. Luka neuropatik lebih mungkin sembuh dalam waktu 20 minggu, sementara luka


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 115 neuroischemik membutuhkan waktu lebih lama dan lebih sering menyebabkan amputasi anggota gerak. Studi melaporkan bahwa 40-70% dari semua amputasi nontraumatic pada tungkai bawah terjadi pada klien dengan diabetes. Selain itu, banyak penelitian telah melaporkan bahwa luka kaki sekitar 85% dari semua amputasi yang dilakukan adalah pada klien diabetes. Risiko luka kaki dan amputasi tungkai meningkat dengan bertambahnya usia dan lamanya diabetes. Perawatan luka kaki diabteik yang tepat dan pencegahan kaki diabetik sangat penting, mengingat dampak negatif pada kualitas hidup klien dan beban ekonomi terkait pada sistem perawatan kesehatan. b. Luka diabetik neuropati Luka diabetik tipe neuropati adalah perlukaan yang terjadi dampak dari penekanan yang terlalu lama dan timbul trauma karena klien tidak merasakan sensasi pada area kaki. Ciri-ciri luka neuropati pada klien adalah dasar luka umumnya tampak merah dan tepi luka mengalami hiperkeratosis. dapat terlihat dengan ciri-ciri luka adalah paling sering terjadi pada plantar. Manajemen Perawatan 1) Perawatan luka dengan agresif debridemang pada tepi luka hingga tipis. Lakukan debridemang setiap klien visit. 2) Perlakuan pada luka neuropoti harus kering dan atau tidak boleh dengan dressing yang membuat lembab atau basah: menggunakan dressing yang fungsinya menyerap eksudat, dan atau dressing yang kering yang memiliki fungsi antimikroba. Luka neuropati tidak cocok dengan menggunakan seperti salep atau dengan kompres atau minyak


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 116 c. Luka diabetic tipe iskemik Luka diabetik tipe iskemik adalah perlukaan yang terjadi karena terjadinya penyumbatan pembuluh darah arteri. Ciri-ciri luka iskemik, luka tampak pucat, tidak teraba denyut nadi pada area dorsal pedis, akral dingin, redahnya nilai Ankle Brachial Index Pressure (ABIP) pada umumnya dibawah 0.6. Manajemen Perawatan 1) Perlakuanya dengan perawatan luka yang kering, perlakuan moist apabila sudah terdapat tanda-tanda vaskularisasi yang membaik, tepi luka tegas dan ada kontraksi luka, denyut nadi jelas dan kuat, suhu kulit membaik, dan tidak pucat, ABI mulai membaik. Pemilihan dressing disesuikan dengan wound bed dengan dressing yang tidak membuat basah. 2) Biasanya luka iskemik apabila dilakukan debridemang dapat terjadi perluasan , oleh karenanya harus teliti dalam melakukan debridemang terutama memperhatikan vaskularisasi baik atau tidak. Apabila ada nekrotik dan bau dapat dilakukan debridemang akan tetapi harus dengan teliti untuk debridemang selanjutnya dengan memperhatikan tepi luka apakah ada tanda infeksi atau tidak, kalau tidak sebaiknya tidak dilakukan debridemang dahulu menunggu vaskularisasinya membaik. 3) Luka iskemik yang cenderung meluas dan tidak ada tanda -tanda perbaikan segera lakukan rujukan ke bedah vaskular, kalau tidak ada ke bedah umum atau bedah tulang. 4) Kolaborasi dengan dokter bedah vaskular dan penyakit dalam untuk penanganan kondisi sistemik dan adanya sumbatan arteri


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 117 5) Hindari pada lingkungan yang ekstrim (dingin) 6) Posisi kaki dalam keadaan posisi neutral 7) Hindari terafi kompresi d. Luka diabetik dengan trauma Luka pada diabetik dapat terjadi karena benda asing seperti tertusuk duri, atau benda tajam gigitan serangga, digaruk dan ataupun stress fisik dan lainnya yang menimbulkan trauma ataupun perlukaan. Luka karena trauma ini dapat mudah mengalami infeksi dan meluas apabila tidak segera ditangani dengan benar. Luka diabetik karena trauma ini dari pengalaman praktik dapat terjadi di pada kedua ekstremitas tangan dan kaki. Manajemen Perawatan 1) Perawatan luka dengan perlakuan moist, pemilihan dressing disesuaikan dengan kondisi wound bed, manajemen eksudat dengan dressing penyerab eksudat dan dressing-dressing atimikrobial baik yang tradisional dan modern yang berbasis bukti. 2) Trauma luka yang disebabkan karena gigitan serangga dan atau trauma karena garukan atau yang lainnya dapat diberkan dengan dressing atau salep antimikrobial. 3) Lakukan debridemang dengan memperhatikan kondisi wound bed dan sekitar kulit luka 4) Kaji adanya tunel, sinus dan undermining, dapat dilakukan irigasi dan atau lakukan insisi ringan-hingga sedang bagi perawat tingkat basic dengan memperhatikan adanya nyeri dan perdarahan. Perdaharan pada luka diabetik pada umumnya akan mudah untuk koagualasi, akan tetapi tetap diperhatikan untuk tidak meneruskan insisi atau


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 118 debridemang tajam dengan adanya perdarahan kuat dan nyeri. Tindakan debridemang autolisis juga dapat dilakukan dengan memperhatikan perluasan infeksi. e. Luka Diabetik Yang Furuncle (Abses) Pada pengalaman praktik sering ditemukan klien diabetes dengan kadar gula darah yang tinggi akan mengalami perlukaan kulit yaitu furuncle. Furuncle ini adalah abses kulit terjadi ketika nanah mengumpul di folikel rambut, jaringan kulit, atau di bawah kulit akibat infeksi bakteri stapiloccocus aureus. Furunkel juga dikenal sebagai bisul, adalah infeksi menyakitkan yang terbentuk di sekitar folikel rambut dan mengandung nanah. Furunkel dimulai sebagai benjolan merah, dan terdernes dan atau eritema/kemarahan, nyeri, benjolan dengan cepat yang berisi nanah, dan saat tumbuh, benjolan itu akan pecah. Manajemen Perawatan 1) Perawatan luka pada kasus furuncle pada umumnya akan mengalami lisis secara alami, dan untuk perawatan tergantung kebutuhan klien. Keluhan nyeri yang dirasakan membuat klien memutuskan berobat. Nyeri yang kuat dapat diberikan analgetik dan luka dibiarkan hingga mengalami lisis. Setelah mengalami lisis dapat dilakukan debridemang baik autolitik maupun dengan benda tajam. 2) Manajemen eksudat pada luka tipe furuncle dengan dressing yang penyerapan kuat. 3) Pemberian antibiotik ringan dapat diberikan kalau ada tanda-tanda infeksi sistemik. Masih terdapat kontroversi pemberian antibiotik, yaitu ada yang memberikan antibiotik dan ada juga yang tidak. Dalam hal ini kondisi imunitas klien dan dan sirkulasi perlu mendapat perhatian.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 119 4) Dressing yang diberikan adalah yang dapat membuat moist dan menyerap eksudat baik yang tradisional maupun dengan dressing modern. Prinsip Umum dalam Perawatan Luka 1. Pencucian pada Luka Pembersihan pada luka adalah salah satu aspek yang paling penting dalam manajemen luka. Optimalisasi penyembuhan luka tidak akan terjadi bisa bendabenda asing yang menyebabkan inflamasi tidak diangkat atau dibersihkan dari luka. Dengan pembersihan luka maka segala kotoran, sel debris, eksudat, bakteri dan bendang asing lainnya akan hilang atau berkurang mengkontaminasi luka. Dalam pencucian luka untuk mempercepat proses penyembuhan dapat dilakukan dengan cara debridement, irigasi atau dengan cara hapusan dengan laruta fisiologis atau air biasa yang dibuat dengan 2 sendok garma dengan satu liter air yang sudah direbus dan juga larutan antiseptik. Pembersihan pada luka dengan menggunakan larutan adalah untuk mengangkat atau menghilangkan kuman, benda-benda asing yang menyebabkan kontaminasi pada permukaan luka. Agar luka tidak mengalami luka trauma pada saat melakukan pembersihan, perlu diperhatikan seperti melakukan irigasi harus dengan tekanan yang tidak terlalu kuat terutama dengan jaringan yang baru bergranulasi. (Haris F, dkk.2022). Alat-alat yang dapat digunakan untuk membersihkan luka dapat dipakai bahanbahan seperti kassa lembut, bahan lap yang lembur dan atau sikat dengan memperhatikan kondisi jaringan luka yang mungkin akan mudah mengalami trauma. Yang harus diingat bahwa proses pembersihan luka dapat menyebabkan trauma pada luka. Pencucian luka akan memperhatikan kondisi jaringan. Bila jaringan masih terdapat 100% nekrotik apakah masih keras atau lembut, luka dapat dibersihkan dengan sabun atau antiseptik secara


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 120 keseluruhan dan atau dari luar dan dalam luka. Bila kondisi jaringan luka terdapat granulasi hindari penggunaan antiseptik yang dapat merusak jaringan atau sabun yang sifatnya mengiritasi dan juga hindari trauma jaringan. Gambar 8.1 Membersihkan Luka dengan air biasa yang sudah di masak dan atau larutan normal 2. Deridrement luka dan manajemen eksudat Proses perbaikan jaringan dari pada injuri sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas jaringan nekrosis. Nekrosis adalah sejumlah perubahan morfologi yang mengindikasikan kematian sel dan disebabkan oleh penurunan progresif aktivitas enzim dan dapat mempengaruhi kelompok sel, atau bagian dari struktur atau organ. Dalam proses statis, nekrosis tidak dapat terlalu lama, akan tetapi tergantung pada keseimbangan antara proteolisis, koagulasi dan denaturasi protein yang menyebabkan perbedaan morfologi pada jaringan nekrosis. 3. Manajemen nekrosis Yang paling jelas untuk penanda luka kronis adalah jaringan nekrotik, yang dapat menjadi fokus bagi bakteri dan penghalang untuk penyembuhan. Dredridement terjadi secara alami di dalam luka dan jika proses ini dipercepat maka penyembuhan akan lebih cepat. Penting dalam debridement awa dan pemeliharaan. Dalam luka kronis adalah proses patologis yang menyebabkan luka sering berlanjut pada jaringan dibawahnya dan dapat menciptakan reservasi untuk produksi eksudat lebih lanjut dan jaringan nekrotik.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 121 Sebelum memulai tindakan deribement ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan yaitu pengetahuan yang baik tentang anatomi yang relevan, kemampuan untuk mengidentifikasi jaringan yang layak, akses peralatan yang memadai, pencahayaan dan bantuan, kemampuan untuk menjelaskan prosedur dan memperoleh informed consesnt, mengelola rasa nyeri dan ketidaknyamanan baik sebelum, selama dan setelah prosedur, mampu menangani komplikasi seperti perdarahan, mengakui keterbatasan keahlian dan meminta bantuan yang lebih ahli dan rencakana teknik debridement sekunder jika perlu setelah debridement tajam dan atau kombinasi dengan autolitik, biologi dan enzimatik a. Debridement secara mekanik Metode debridement secara mekanik dapat mencakup kompres basah kering, hidprterafi dan irigasi. Yang perlu diperhatikan bila melakukan irigasi dan hidroterafi pada luka adalah mudahnya mengalami trauma atau rusak pada jaringan epithelium baru dan granulasi. Penggunaan kompres basah kering adalah yang paling sering dilakukan pada setting pelayanan kesehatan. Metode ini termasuk menggunakan normal salin dan kassa balutan untuk permukaan luka dan diangkat bila sudah kering. Pada saat mengangkat balutan kering pada permukaan luka dan agar tidak merusak jaringan granulasi, perlu dibasahi dahullu sebelum diangkat. Kompres basah kering harus digunakan bila terdapat jaringan nekrotik dengan jumlah yang cukup meoderat dan akalu metode bedah belum pilihan utama b. Debridement secara bedah Tindakan debridement untuk metode secara bedah dapat menggunakan pisau bisturi, electrocautery, gunting atau laser untuk mengangkat jaringan yang sudah mati.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 122 Yang menjadi perhatian pada tindakan ini harus hati-hati dan harus dapat mengidentifikasi antara tendon dengan slough atau sel debris yang sudah mati dan lepas, karena warnanya kadang sama berwarna kuning. Gambar 8.2 Debridement secara bedah c. Modern enzimatik Pertimbangan pada modern enzimatik adalah lebih aman, efektif dan mudah untuk digunakan. Modern enzimatik walaupun aman dan efektif akan tetapi sangat mahal. Modern enzimatik adalah menggunakan enzimatik agent tropikal untuk mengangkat jaringan yang nekrotik. Metode modern ini dapat digunakan sebelum modern dengan metode bedah. Macam dari modern enzimatik adalah kolagenase, fibrolisis, papain/ureau dan tripsin. Sebelum luka dilakukan modern enzimatik sebaiknya luka dibersihkan terlebih dahulu dengan normal salin. Modern ini hanya akan cocok pada eksudat dan jaringan nekrotik yang jumlahnya kira-kira moderat. d. Modern autolitik Modern autolotik adalah menggunakan enzim endogenous tubuh yang secara perlahan membersihkan luka dari jaringan nekrotik. Pada luka yang lembab, sel fagosis dan enzim proteotilitik dapat melunakkan dan mencairkan jaringan nekrotik.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 123 4. Alternatif dressing luka Pengetahuan tentang fungsi dari dressing adalah merupakan kunci kesuksesan dalam perawatan luka. Memahami bagaimana dressing dapat dilekatkan dan kecocokannya untuk pasien juga merupakan esensial dalam perawatan luka. Seperti dressing yang mungkin tidak dapat dilekatkan maka perlu diplester. Sangat penting kita mengetahui bagaimana dressing tersebut pengaruhnya pada luka, seperti luka teriritasi, mudah rapuh atau risak, reaksi alergi karena dressing, menimbulkan rasa nyeri ke pasien pada saat pergantian dan lokasi anatomi yaitu apakah kita akan melekatkan dressing tersebut seperti di daerah persendian dan daerah bokong atau bagian belakang, serta bagaimana mobilitas pasien.


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 124 Daftar Pustaka Aminuddin,M. dkk. 2020. Modul Perawatan Luka. Penerbit : CV Gunawana Lestari Bratzler, D.W., dan Hunt, D.R. (2006). The Surgical Infection Prevention and Surgical Care Improvement Projects: National Initiatives to Improve Outcomes for Patients Having Surgery. Clin Infect Dis, 43(3): 322- 330 Carville, K. (2007). Wound Care: Manual. 5th ed. Osborne Park:Silver Chain Foundation Cowan T (ed). (2012). Wound Care Handbook. Mark Allen Healthcare, London Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2013. Gabriel, A. (2015). Wound Healing and Growth Factors. Available at https://emedicine.medscape.com/article/1298196- overview#a1 Haris F, dkk.2022 Modul Pelatihan Certified Basic Wound Care Nurse.Respati Press Yogyakarta Sussman, G (2012). Management of the wound environment with dressings and topical agents. In: Sussman C, Bates-Jensen B. Wound Care, A Collaborative Practice Manual for Health Professional, 4th Edition. Philadelphia, PA, Lippincott Williams and Wilkins World Union of Wound Healing Societes (WUWHS). (2007). Princples of best practice: Wound exudate and the role of dressing. A consensus document.London:MEP Ltd Springer International Publishing Switzerland 2016 B. Busse, Wound Management in Urgent Care,


MANAJEMEN PERAWATAN LUKA 125 Profil Penulis Ester Radandima Penulis merupakan staf dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Prodi Keperawatan Waingapu, Ketertarikan penulis dalam bidang Kesehatan khususnya keperawatan yaitu sejak tahun 2001 pendidikan DIII Keperawatan.. selama 3 tahun di kampus Prodi keperawatan Waingapu dan mengambil Pendidikan S1 di Universitas Udayana pada tahun 2010 . Penulis kemudian melanjutkan pendidikan program pasca sarjana di Universitas Airlangga Peminatan Komunitas Tahun 2017 dan lulus Tahun 2019. Penulis memiliki kompetensi keperawatan terutama dibidang keperawatan komunitas khususnya keperawatan gerontic dan keperawatan Keluarga. Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya yaitu gerontic dan keluarga. Penulis juga melakukan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan berfokus pada penyakit tropic yang sesuai dengan keunggulan Prodi Keperawatan Waingapu .Hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang penulis lakukan telah dipublikasikan pada Jurnal Keperawatan Nasional terakreditasi. Ini merupakan pengalaman pertama menjadi bagian dalam menulis book chapter. Berharap kedepannya penulis lebih aktif lagi dalam menulis. Email Penulis: [email protected]


126


127 9 PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN Amelia Nurul Hakim, M.Tr.Kep. STIKes Widya Dharma Husada, Tangerang Perawatan Luka dengan Pendekatan Multidisiplin Pendekatan multidisiplin perawatan luka merupakan elemen terpenting untuk keberhasilan pusat perawatan luka karena tidak ada satupun penyedia layanan kesehatan yang dilengkapi dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk memberikan perawatan komprehensif untuk luka kompleks. Elemen perancu termasuk defisiensi imun/protein, koagulopati, gangguan arteri/vena, komorbiditas medis, keadaan neuropati perifer, kondisi infeksi dan kelainan biomekanik. Elemen tersebut merupakan pertimbangan psikologis dan sosial ekonomi termasuk masalah transportasi, kurangnya sistem dukungan sosial dan stigma luka kronis dan/atau amputasi. Pendekatan multidisiplin untuk perawatan luka telah mengalami perkembangan mulai dari perawatan luka konvensional menjadi perawatan luka modern sesuai standar Internasional yaitu perawatan luka berbasis lembab atau “moist wound healing dan moist wound dressing”. Perawatan luka konvensional merupakan perawatan luka yang menggunakan kasa sebagai metode perawatan utama. Berbeda dengan perawatan luka modern atau Moist wound healing merupakan metode yang mempertahankan lingkungan luka dalam keadaan lembab dan menjaga kehangatan area luka dengan menggunakan dressing modern seperti Alginate, Foam dressing dan Hidrogel.


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 128 Terdapat perbedaan mendasar antara perawatan luka konvensional dengan perawatan luka modern. Di dalam teknik perawatan luka konvensional tidak mengenal perawatan luka lembab, kasa biasanya lengket pada luka karena luka dalam kondisi kering. Pada cara konvensional pertumbuhan jaringan lambat sehingga menyebabkan tingkat risiko infeksi lebih tinggi. Konsep Moist Wound Healing Moist Wound Healing atau nama lain dari Moist Wound Care merupakan proses penyembuhan luka secara lembab atau moist dengan mempertahankan isolasi lingkungan luka berbahan oklusive dan semi oklusive (Fatmadona & Oktarina, 2016). Moist Wound Healing mendukung terjadinya proses penyembuhan luka sehingga terjadi pertumbuhan jaringan secara alami yang bersifat lembab dan dapat mengembang apabila jumlah eksudat berlebih, dan mencegah kontaminasi bakteri dari luar (Ose, Utami, & Damayanti, 2018). Metode “moist wound healing” mulai dikenalkan oleh Prof. Winter pada tahun 1962 dan mulai dikembangkan di Indonesia pada tahun 2000an. Tujuan Pemilihan Balutan Moist Wound Healing Tujuan Moist wound healing yaitu menciptakan lingkungan yang kondusif dalam penyembuhan luka, melindungi luka dan kulit sekitar luka, meningkatkan kenyamanan pasien, mengurangi nyeri pada ujung syaraf (kondisi oklusif), mempertahankan suhu pada luka, mengontrol dan mencegah perdarahan mencegah dan menangani infeksi pada luka, dan mengurangi stress yang ditimbulkan oleh luka dengan menutup secara tepat. Balutan yang dianjurkan dalam luka pasca-pembedahan adalah balutan yang tidak menempel saat dibuka, mencegah trauma pada dasar luka, mengurangi nyeri saat penggantian balutan dan cost-effective dengan meminimalkan frekuensi penggantian balutan. Misalnya, transparent film dressing seperti opsite post op, hydrocolloid, calcium alginate, Vaseline zalf, dan gauze (Arisanty, 2014).


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 129 Prinsip Moist Wound Healing Prinsip Moist Wound Healing atau wound Care terbagi menjadi tiga antara lain pertama, dapat mengurangi dehidrasi dan kematian sel karena sel-sel neutropil dan makrofag tetap hidup dalam kondisi lembab, serta terjadi peningkatan angiogenesis pada balutan berbahan oklusive (Merdekawati & Rasyidah, 2017). Prinsip kedua, yaitu meningkatkan debridement autolysis dan mengurangi nyeri. Pada lingkungan lembab enzim proteolitik dibawa ke dasar luka dan melindungi ujung syaraf sehingga dapat mengurangi/menghilangkan rasa nyeri saat debridemen (Fatmadona & Oktarina, 2016). Prinsip ketiga, yaitu meningkatkan re-epitelisasi pada luka yang lebar dan dalam. Proses epitalisasi membutuhkan suplai darah dan nutrisi. Pada krusta yang kering dapat menekan/menghalangi suplai darah dan memberikan barier pada epitelisasi (Fatmadona & Oktarina, 2016). Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan prinsip Moist Wound Healing cenderung menjadi pilihan perawatan luka dilihat dari kualitas integritas jaringan, waktu proses penyembuhan, peningkatan quality of life dan patient safety dengan memperhatikan kendali mutu dan kendali biaya. Manfaat Moist Wound Healing Manfaat moist wound healing dalam perawatan luka antara lain: 1. Nyeri minimal karena frekuensi penggantian balutan tidak setiap hari tapi tiga sampai lima hari. Hal tersebut berfungsi untuk menciptakan lingkungan luka tetap lembab, melunakkan serta menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat, yang kemudian terserap dan terbuang bersama pembalut, sehingga tidak sering menimbulkan trauma dan nyeri pada saat penggantian balutan (Kartika, 2015). 2. Cost-effective yaitu jumlah pemakaian alat, fasilitas, waktu dan tenaga karena tidak setiap hari dilakukan rawat luka.


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 130 3. Infeksi minimal karena menggunakan konsep balutan oklusif atau tertutup rapat. 4. Mempercepat penyembuhan luka dengan konsep lembab (Arisanty, 2014). Karakteristik Moist Wound Healing Moist Wound Healing terbagi menjadi tiga karakteristik luka diantaranya: 1. Karakteristik luka berdasarkan waktu penyembuhan Berdasarkan lama penyembuhan dapat dibedakan menjadi akut dan kronis. Lama penyembuhan luka akut terjadi dalam 2-3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak ada tandatanda sembuh. Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung sesuai dengan proses penyembuhan normal, tetapi dapat juga dikatakan luka kronis jika penyembuhan terlambat (delayed healing) atau jika menunjukkan tanda-tanda infeksi (Kartika, 2015). 2. Karakteristik luka berdasarkan anatomi kulit Berdasarkan anatomi kulit, jika warna dasar luka merah dan hanya melibatkan epidermis, epidermis masih utuh dan atau tanpa merusak epidermis disebut luka stadium 1, contoh ada kemerahan di bokong. Jika warna dasar luka merah dan melibatkan lapisan epidermis-dermis disebut luka stadium 2. Jika warna dasar luka merah dan lapisan kulit mengalami kehilangan epidermis, dermis, hingga sebagian hipodermis (full-thickness) disebut dengan luka stadium 3. Jika warna dasar luka merah dan lapisan kulit mengalami kerusakan dan kehilangan lapisan epidermis, dermis, hingga seluruh hipodermis, dan mengenai otot dan tulang (deep-full-thickness) termasuk luka stadium 4. 3. Karakteristik luka berdasarkan warna dasar luka Berdasarkan warna dasr luka, hitam menandakan adanya jaringan necrosis (mati) dengan kecenderungan keras dan kering karena tidak ada


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 131 vaskularisasi. Kuning diartikan sebagai jaringan nekrosis (mati) yang lunak berbentuk seperti nanah beku pada permukaan kulit seperti slough. Merah diartikan sebagai jaringan granulasi dengan vaskularisasi yang baik dan memiliki kecenderungan mudah berdarah. Dan Pink diartikan sebagai terjadinya proses epitelisasi dengan baik dan maturasi, atau luka sudah menutup (Arisanty, 2014). Pemilihan Balutan Luka dengan Moist Wound Healing Perawat mempunyai peranan penting dalam melakukan manajemen keperawatan luka untuk mempercepat kesembuhan pasien tidak hanya berfokus pada mengganti balutan namun juga harus memperhatikan kelembapan luka. Pentingnya melakukan pemilihan balutan luka yang tepat lebih efektif dan efisien baik dari segi waktu maupun biaya. Dalam pelaksanaan perawatan luka saat ini masih menggunakan konsep perawatan konvensional dan modern dressing. Modern dressing merupakan proses perawatan luka yang menjaga lingkungan luka agar tetap lembab menggunakan balutan penahan kelembaban, yang membantu pertymbuhan jaringan dan penyembuhan luka secara alami serta mengurangi komplikasi infeksi (Ose et al.,2018). Tujuan utama dari Modern dressing adalah penggunaan prinsip moisture balance ini mengkondisikan luka dalam keadaan lembab karena lingkungan yang lembab akan mempercepat proses penyembuhan luka. Menurut Haimowitz, terdapat beberapa keuntungan prinsip Modern dressing perawatan luka diantaranya untuk mencegah luka menjadi kering dan keras, meningkatkan laju epitelisasi, mencegah pembentukan jaringan eschar, meningkatkan pembentukan jaringan dermis, mengontrol inflamasi dan memberikan tampilan yang lebih kosmetis, mempercepat proses autolysis debridement, dapat menurunkan kejadian infeksi, cost effective, dapat mempertahankan gradient voltase normal, mempertahankan aktifitas neutrifil, menurunkan nyeri, memberikan keuntungan psikologis dan mudah digunakan (Andi Syahputra, 2018).


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 132 Menurut penulis, Balutan modern wound dressing mempunyai karakteristik yang lembut dan dapat mengembang apabila luka mempunyai jumlah eksudat yang banyak sehingga tetap memberikan kesan lembab untuk mencegah bakteri masuk dari luar. Perawatan luka dengan prinsip moist (lembab) akan memberikan efek hangat pada luka yang dapat memicu pergerakan sel dan darah ke area luka dan akan meningkatkan proses proliferasi luka. Selain itu juga akan menghindari kekurangan cairan dalam jaringan dan apotosis sel. Proses penyembuhan luka seseorang akan mengalami hal yang berbeda. Hal ini tergantung dari beberapa faktor internal dan ekternal. Faktor internal seperti imunitas, kadar hemoglobin, albumin dan cairan. Modern dressing sebagai faktor eksternal. Metode perawatan luka Modern dressing merupakan salah satunya menggunakan Alginate. Alginate digunakan untuk jenis luka yang basah dan membentuk terowongan yang dalam. Alginat adalah bahan yang bersifat absorban yang jika mengenai cairan natrium dan cairan yang keluar dari luka yang akan menyebabkan tranfer kalium dan natrium yang mengakibatkanakn terbentuknya gel (sodium alginal gel). Gel ini yang akan mempertahankan suasana luka dalam keadaan lembab. Foam dressing digunakan untuk luka yang basah, luka cenderung kering menggunakan hydrogel. Foam dressing berfungsi sebagai absorban yang terbuat dari polyurethane dan memberikan tekanan pada permukaan luka. Balutan ini dapat di lewati udara dan air, kandungan hydrophilinya dapat menyerap eksudat sampai pada lapisan atas balutan. Foam dressing digunakan dan diindikasikan untuk luka dengan eksudasi sedang sampai berat, perlindungan profilaksis pada tulang yang menonjol atau area yang bersentuhan, luka dengan kedalam sedang sampai keseluruhan, luka yang bergranulasi atau nekrosis. Jenis balutan foam dressing dapat dikombinasi dengan jenis topical dan enzimatis. Hidrogel digunakan untuk merawat luka yang cenderung kering. Prinsip perawatan luka dengan hydrogel merupakan metode perawatan yang mengandung air dalam gel yang tersusun dari struktur polymer yang berisi air dan berguna untuk menurunkan


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 133 suhu hingga 5ºC. Kelembaban dipertahankan pada area luka untuk memfasilitasi proses autolisis dan mengangkat jaringan yang telah rusak. Indikasi penggunaan dari hydrogel dressing ini adalah menjaga kandungan air pada luka kering, kelembutan, dan sebagai pelembab serta mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan yang lain adalah bisa dipakai bersamaan dengan antibakterial topikal. Biaya perawatan luka menggunakan balutan modern modern lebih mahal dibandingkan balutan konvensional. Namun ini tidak berati balutan modern tidak efektif dalam pembiayaan, karena efektifitas pembiayaan sendiri adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi hasil dan biaya yang dikeluarkan pada suatu intervensi yang didesain untuk meningkatkan status kesehatan. Biaya perawatan yang mahal bukan berarti tidak efektif, kondisi ini bisa dianalogikan dengan suatu luka yang dirawat dengan metode konvensional akan memerlukan waktu yang lebih lama dalam perawatan, keadaan seperti adanya perdarahan atau trauma ulang dapat memperlama masa perawatan. Sehingga efektifitas pembiayaan sangat dipengaruhi oleh status kesehatan sebagai tujuan utama perawatan (Subandi & Sanjaya, 2020). Prinsip metode perawatan modern dan konvensional sama yaitu menjaga kelembaban, kehangatan, dan mencegah dari trauma. Perawatan luka modern harus tetap memperhatikan tiga tahap, yakni mencuci luka, membuang jaringan mati, dan memilih balutan. Metode perawatan tradisional kurang dapat menjaga kelembaban karena NaCl 0,9% akan menguap sehingga kasa menjadi kering. Kondisi kering menyebabkan kasa lengket pada luka sehingga mudah terjadi trauma ulang, kekurangan kasa dalam menjaga kelembaban lingkungan luka menyebabkan masa perawatan luka yang memanjang. Sehingga metode perawatan modern adalah pilihan yang baik untuk meningkatkan proses perkembangan luka. Metode perawatan luka sangatlah berkembang pesat salah satunya menggunakan prinsip moisture balance lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture balance ini


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 134 dikenal sebagai metode Modern dressing. Suatu luka akan cepat sembuh jika luka tersebut telah mengering. Namun faktanya, lingkungan luka yang kelembabannya seimbang memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen dalam matriks nonseluler yang sehat. Pada luka akut, moisture balance terdapat beberapa faktor pertumbuhan, cytokines, dan chemokines yang mempromosi pertumbuhan sel dan menstabilkan matriks jaringan luka. Jadi, luka harus dijaga kelembapannya. Lingkungan yang terlalu lembap dapat menyebabkan maserasi tepi luka, sedangkan kondisi kurang lembap menyebabkan kematian sel, tidak terjadi perpindahan epitel dan jaringan matriks. Perawatan luka modern harus tetap memperhatikan tiga tahap, yakni mencuci luka, membuang jaringan mati, dan memilih balutan. Perawatan luka konvensional harus menjaga kelembaban karena NaCl 0,9 % akan menguap sehingga kasa menjadi kering. Kondisi kering menyebabkan kasa lengket pada luka sehingga mudah terjadi trauma ulang, kekurangan kasa dalam menjaga kelembaban lingkungan luka menyebabkan masa perawatan luka yang memanjang. Sehingga metode perawatan modern adalah pilihan yang baik untuk meningkatkan proses perkembangan luka.


PERAWATAN LUKA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN 135 Daftar Pustaka Andi Syahputra. (2018). Perbedaan Kondisi Luka Sebelum dan Setelah Perawatan Dengan Menggunakan Teknik Modern Dressing Pada Penderita Ulkus Diabetikum. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 121. Arisanty, I.P. (2014). Konsep dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta : EGC Fatmadona, R & Oktarina, E. (2016).Aplikasi Modern Wound Care pada perawatan luka infeksi di RS Pemeritah Kota Padang. Handayani, L. T. (2016). Perawatan luka kaki diabetes dengan modern dressing. Jember, Universitas Muhammadiyah, 6(2), 149–159 Kartika, R.W. (2015). Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing, 42(7), 546 – 550. Merdekawati, D & Rasyidah. (2017).Hubungan prinsip dan jenis balutan dengan penerapan teknik moist wound healing Ose dkk, (2018). Efektivitas perawatan luka teknik balutan wet dry dan moist wound healing pada penyembuhan ulkus diabetikum.


Click to View FlipBook Version