BEKAM KERING 330 Daftar Pustaka Almi, E., & Al-Muqsith, A. (2015). Pengaruh Terapi Bekam terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik pada Pasien di Klinik Sehat DR. Abdurrahman Kota Medan Tahun 2014. Samudera. Faidah, N., & Muliawati, N. K. (2021). Reduction Blood Pressureby Neck Massage Therapy Using Virgin Coconut Oil (VCO) and Dry Cupping Therapy. Jurnal Ners Dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 8(1), 019–025. https://doi.org/10.26699/jnk.v8i1.art.p019-025 Fatahillah, A. (2010). No Title KeampuhaN Bekam Penyembuhan Dan Pencegahan Penyakit Ala Rasululloh. Qultum Media. Hikayati, Flora, R., & Purwanto, S. (2013). Penatalaksanaan Non Farmakologis Terapi Pada Penderita Hipertensi Primer Di Kelurahan Indralaya Mulya Kabupaten Ogan Ilir. Jurnal Pengabdian Sriwijaya. Kasmui. (2010). No Title Bekam Pengobatan Menurut Sunah Nabi. ISYFI. O Santoso. (2012). Pelatihan Bekam atau hijamah. Yayasan Amal Media Suara Islam. Ridho. (2015). No Title BEKAM SINERGI, rahasia sinergi pengobatan nabi, medis modern dan tradisional chinese medicine. Aqwamedika. Setiawan, W. A., Yunani, & Kusyati, E. (2014). Prosiding konferensi nasional ii ppni jawa tengah 2014 hubungan frekuensi senam lansia terhadap tekanan darah dan nadi pada lansia hipertensi. Prosiding Konferensi Nasional II PPNI Jawa Tengah. Sharaf, A. . (2012). Penyakit dan Terapi Bekamnya : Dasardasar Ilmiah Terapi Bekam. Thibbia.
BEKAM KERING 331 Profil Penulis Nurul Faidah Ketertarikan penulis dalam bidang Kesehatan khususnya keperawatan sejak tahun 2004. Hal tersebut membuat penulis memilih untuk masuk dan menempuh Pendidikan keperawatan selama 5 tahun dikampus Universitas Kadiri. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan program pasca sarjana di Universitas Udayana Jurusan Kesehatan Masyarakat. Penulis memiliki kopetensi keperawatan terutama dibidang keperawatan komunitas khususnya keperawatan gerontic dan keperawatan komplementer. Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Dan melakukan pengabdian kepada masyarakat berfokus kepada keperawatan gerontic serta Beberapa penelitian yang telah dilakukan didanai oleh internal perguruan tinggi dan juga Kemenristek DIKTI. Selain peneliti, penulis belajar menulis buku yang berfokus pada bidang keperawatan gerontic dalam bidang keperawatan komplementer. Untuk mengembangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis. Email Penulis: [email protected]
332
333 22 TERAPI TERTAWA Israfil, S.Kep., Ns., M.Kes. Institut Teknologi dan Kesehatan Bali Pengertian Terapi tertawa adalah bentuk komunikasi yang membangkitkan tawa, senyum, perasaan menyenangkan, dan memungkinkan interaksi seseorang. Menurut American Association for Therapeutic Humor (AATH) terapi tertawa mengacu pada aktivitas yang meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pasien menggunakan pengalaman dan ekspresi yang menarik (Yim 2016). Terapi tertawa adalah suatu aktivitas yang sengaja diberikan untuk memicu tawa dan mempengaruhi humor seseorang. Pasien yang menjalani terapi tertawa akan menertawakan tugas yang diberikan tetapis yang membuatnya merasa lucu dan merespon dalam bentuk tawa atau tertawa (Kmita et al. 2017). Dapat disimpulkan bahwa terapi tertawa adalah terapi komunikasi yang sengaja diberikan dengan bentuk tugas yang lucu untuk dikerjakan sehingga menghasilkan tawa, senyum, humor, dan perasaan menyenangkan bagi pasien yang mengerjakannya. Terapi tertawa telah diterapkan secara lebih terstruktur dan dilaporkan banyak memberi efek positif bagi pasien dalam pelayanan kesehatan. Terapi tertawa menjadi perawatan hemat biaya sebagai terapi pelengkap setelah terapi utama (Wal and Kok 2019). Terapi tertawa merupakan terapi terstruktur, berbeda dengan humor biasa yang didefinisikan sebagai situasi dimana emosi seseorang sangat terpengaruh; bisa lucu, ceria, menghibur, dan bahkan menyindir (Bag 2020).
TERAPI TERTAWA 334 Tujuan Tujuan terapi tertawa dalam praktik keperawatan dan kesehatan adalah: 1. Meningkatan hubungan fisik, psikologis, dan sosial pasien untuk menjadi lebih sehat dan meningkatkan kualitas hidup; 2. Sebagai pengobatan alternatif non-farmakologis yang memiliki efek positif pada kesehatan mental dan sistem kekebalan tubuh; 3. Menurunkan produksi hormon kartisol dan hormon penyebab penyebab stres lainnya; 4. Memperbaiki aktivitas hormon dopamin dan serotonin menjadi lebih baik sehingga meningkatkan fungsi tubuh, suasana hati, dan istirahat tidur 5. Meningkatkan hormon endorfin yang dapat membantu pasien menghilangkan rasa tidak nyaman, nyeri, atau rasa suasana hati yang tertekan (Yim 2016) Manfaat Secara umum, terapi tertawa atau stimulasi tawa akan menghasilkan tawa yang memiliki manfaat yaitu: 1. Sebagai salah satu penyembuh walau terkadang sesaat dan mungkin tidak langsung menyembuhkan pada luka ditubuh dan jiwa. 2. Menjadi penyeimbang konflik interpersonal dan hubungan kelompok yang tegang, berfungsi dalam situasi yang menegangkan baik secara fisik, mental, budaya maupun saat kondisi berbicara yang secara emosional. 3. Memberi kekuatan dan menjadi obat dari alam yang mengeluarkan energi internal dan menggerakkannya. 4. Saat benar-benar tertawa, seseorang sebenarnya sedang berada dalam keadaan meditasi yang dalam, dimana dapat dimengerti bahwa tertawa dan berpikir suatu masalah tidak dapat dilakukan pada saat yang bersamaan (Fernández Poncela 2019)
TERAPI TERTAWA 335 Secara khusus, terapi tertawa sangat bermanfaat bagi pasien baik secara fisik, mental, maupun sosial (Rajesh 2019). 1. Manfaat secara fisik Mengurangi kecemasan dan emosi negatif lainnya, meningkatkan kekebalan tubuh, sebagai antidepresan alami, menghilangkan rasa sakit dan membakar kalori. Tertawa hasil terapi bermanfaat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko stroke dan serangan jantung, mengurangi produksi kadar hormon stres sehingga meningkatkan kesehatan jantung. Meningkatkan produksi katekolamin yang berguna untuk fungsi otak seperti memori, penangkapan kembali, kewaspadaan, menurunkan sekresi hormon kortisol dan hormon stres, merangsang pelepasan endorfin yang berguna untuk mengurangi tingkat rasa sakit dan menghasilkan perasaan gembira atau euphoria, dan meningkatkan produksi sel T-limfosit dan K-sel yang berguna untuk kekebalan tubuh. 2. Manfaat secara mental Saat pasien tertawa, tubuh akan memproduksi endorfin yang dianggap sebagai “hormon kebahagiaan”. Tertawa juga menekan atau melawan hormon kortisol dan epinefrin yang merupakan hormon stres yang dilepaskan sebagai respons terhadap stres. Terapi tertawa bermanfaat meningkatkan fungsi kognisi, emosi, pembelajaran dan memori, memberi pasien waktu yang menyenangkan dan menciptakan efek yang positif pada pikiran. 3. Manfaat secara sosial Terapi tertawa dapat meningkatkan kerjasama dan empati antara pasien atau pasien dengan keluarga yang diberi terapi tertawa dalam kelompok dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda dan menumbuhkan komunikasi yang lebih baik. Tertawa juga merupakan indikator vitalitas keluarga yang sangat menarik ditingkat interpersonal.
TERAPI TERTAWA 336 Fisiologi Tertawa Tertawa adalah respons fisiologis normal dan alami terhadap suatu rangsangan tertentu yang dianggap lucu yang memberikan manfaat psikologis yang diakui secara luas (Louie and Frates 2016). Tertawa secara fisiologis menyatukan tiga sistem yaitu sistem neurologi, otot dan pernapasan. Ada sangat sedikit penyelidikan empiris langsung tentang korelasi neuroanatomi dengan tawa normal. Hipotetis neuroanatomi tawa pertama diteorikan pada tahun 1924 oleh Kinnier Wilson. Menurut model Wilson, tawa dihasilkan oleh pusat efektor medula yang menghubungkan nukleus saraf ketujuh di pons dengan nukleus motorik ke-10 di medula dan dengan nukleus frenikus di korda servikal atas. Pusat ini dimodulasi oleh korteks serebral dan struktur limbik melalui pusat integratif di talamus, hipotalamus, dan subtalamus (Vaid 2002). Tertawa adalah proses tipe refleks yang dikendalikan oleh area otak (talamus dan hipotalamus) yang mengontrol aktivitas refleks dan perilaku emosional lainnya terhadap suatu stimulus, bukan dikorteks serebral yang mengontrol kemampuan kognitif (Berger, 1999 ; Fernández Poncela, 2019). Efek tawa terhadap sistem pernapasan adalah terjadinya inspirasi yang lebih dalam, jeda pernapasan menjadi lebih lama, dan pengembangan otot pernapasan menjadi meningkat yang akhirnya dapat mengosongkan paru-paru dari volume residu (RV). Volume residu merupakan volume udara yang tetap berada dalam paru-paru meskipun seseorang mengembuskan napas. Kondisi tertawa akhirnya mampu mengeluarkan volume residu dan memberikan efek pertukaran oksigen yang lebih baik dalam paru-paru. Selain itu, kerja sistem saraf pada tertawa akan merangsang perlepasan hormone endorphin yang meningkatkan sistem imunologi atau kekebalan tubuh (Rodríguez-Cabezas; Fernández Poncela, 2019). Endorfin merupakan hormon neuropeptide yang terlibat penting dalam manajemen nyeri, memiliki efek menenangkan, meningkatkan rasa bahagia, dan terlibat dalam perasaan menyenangkan yang alami seperti saat makan, minum, dan seks (Sprouse-Blum et al. 2010).
TERAPI TERTAWA 337 Tertawa telah terbukti meningkatkan toleransi rasa sakit, dan meskipun tidak berdasar, umumnya dianggap bahwa tawa melepaskan endorfin, analgesik alami tubuh. Secara psikologis, setidaknya, tawa berfungsi sebagai pengalih perhatian dari rasa sakit, dan satu survei tentang manajemen nyeri non farmakologi menilai tawa sebagai cara paling efektif untuk mengatasinya. Setelah rasa sakit itu mereda, perasaan baik yang bertahan lama adalah perasaan lebih baik yang biasanya tidak dirasakan saat keluhan sakit mereda (Pattillo and Itano 2001). Tertawa adalah respons fisiologis terhadap suatu stimulus yang diberikan. Tertawa terdiri dari satu set gerakan dan produksi suara. Ketika tertawa terjadi atau terbahakbahak, otot-otot di seluruh tubuh mengalami kontraksi dan menyebar dari wajah melalui sistem pernapasan dan berlanjut ke seluruh tubuh. (Rajesh 2019). Kategori dan Karateristik Tertawa Tertawa telah menunjukkan efek positif psikologis pada aspek kesehatan tertentu. Karateritsitik tertawa dikelompokkan dalam lima bentuk yaitu spontaneous laughter, simulated laughter, stimulated laughter, induced laughter dan pathological laughter (Yim 2016). 1. Spontaneous laughter Tertawa spontan adalah tertawa yang terjadi tidak terkait dengan kehendak bebas seseorang, dipicu oleh rangsangan (eksternal) yang berbeda dan emosi yang positif. 2. Simulated laughter Simulasi tawa adalah tertawa dipicu oleh diri sendiri sesuka hati (self-induced) dari dalam diri, tanpa alasan khusus dan tidak ditimbulkan oleh humor, kesenangan, rangsangan lain, atau emosi positif. 3. Stimulated laughter Tertawa yang dirangsang adalah tertawa yang terjadi sebagai akibat dari kontak fisik atau tindakan (refleks) dari faktor eksternal tertentu seperti geli, gerakan
TERAPI TERTAWA 338 wajah atau tubuh tertentu, dan kontak fisik lain yang merangsang tertawa. 4. Induced laughter Merupakan tertawa hasil dari efek obat atau zat tertentu seperti minuman beralkohol, kafein, amfetamin, ganja, dan zat lain yang menimbulkan sensasi tertentu yang membuat seseorang tertawa. 5. Pathological laughter Merupakan cedera sekunder pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh berbagai penyakit neurologis sementara atau permanen dan juga dapat terjadi dengan gangguan kejiwaan tertentu. Tertawa ini merupakan tertawa yang tidak normal. Tertawa Terapeutik Ada berbagai bentuk tawa dan memiliki efek fisiologi pada seseorang. Tertawa terapeutik dapat digunakan sebagai pendekatan terapi komplementer/alternatif yang mencakup kombinasi tubuh, pikiran, dan kemauan. Tertawa terapeutik dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu tertawa spontan (Spontaneous laughter), simulasi tawa (Simulated laughter), dan tertawa yang dirangsang (Stimulated laughter). 1. Tawa spontan (Spontaneous laughter) adalah tertawa yang terjadi secara spontan tidak terkait dengan kehendak bebas seseorang, dipicu oleh rangsangan (eksternal) yang berbeda dan emosi positif. 2. Tertawa simulasi (Simulated laughter) dipicu oleh diri sendiri sesuka hati (self-induced, self-initiated, sukarela), tanpa alasan khusus (bertujuan, tanpa syarat), dan karena itu tidak ditimbulkan oleh humor, kesenangan, rangsangan lain atau emosi positif. 3. Tawa terstimulasi (Stimulated laughter) tertawa yang terjadi sebagai akibat dari kontak fisik atau tindakan (refleks) dari rangsangan eksternal tertentu (gelitik, pelukan, pijatan, dan lain-lain). Nilai terapeutik tertawa akan lebih banyak diperoleh dua jenis
TERAPI TERTAWA 339 pertama yaitu tawa spontan dan simulasi, dan pada tingkat yang rendah adalah tawa terstimulasi (Ripoll 2017). Dasar dan Aturan Terapi Tertawa Tertawa yang akan digunakan sebagai terapi dalam praktik klinis keperawatan dan kesehatan adalah yang memenuhi dasar pertimbangan sebagai berikut : (Ripoll 2017) 1. Terapi tertawa harus didasarkan pada teknik yang terdefinisi dengan baik dan latihan yang sesuai 2. Dapat dilakukan dengan mudah dan siapa saja bisa melakukannya. Tidak memerlukan pemikiran atau berfikir. 3. Menumbuhkan rasa sukacita dan memberdayakan untuk kesehatan 4. Aman secara sosial dan emosional 5. Tawa yang dihasilkan saat terapi dapat ditransmisikan 6. Dapat dengan mudah diubah menjadi tertawa spontan 7. Menghilangkan penghambat untuk melapaskan tawa 8. Durasi dan intensitas yang tepat untuk mencapai semua manfaat kesehatan. Aturan yang harus disarankan kepada pasien atau peserta sebelum memulai simulasi terapi tertawa adalah : (Ripoll 2017) 1. Tidak ada sakit baru : hormati tubuh pasien. Tidak ada yang harus menyakitkan atau tidak nyaman. 2. Fake is fine: apakah benar benar tertawa dan tidak tertawa memiliki perbedaan. Semua peserta akan mendapatkan keuntungan dari terapi tertawa 3. Pertahankan kontak mata: membantu menjaga pikiran pasien agar tetap berada bersama petugas terapi saat ini. Kontak mata juga memberi efek tawa
TERAPI TERTAWA 340 secara visual yang sangat menular saat terapi berlangsung. 4. Tidak berbicara : berbicara, berdiskusi atau bercanda selama terapi akan mengalihkan potensi tawa seseorang saat terapi tertawa berlangsung. Hindari berbicara selama terapi berlangsung. 5. Bersikap bahagia, gembira, energik, dan bergerak: pasien atau peserta berinteraksi dengan orang atau peserta lain saat terapi tertawa, tersenyum, dan biarkan semua orang mendengar tawa semua orang yang mengikuti terapi. Tindakan ini akan membantu membuat semua orang tertawa dan merasakan manfaat terapi tertawa yang lebih baik. Tipe Terapi Tertawa Terapi tertawa yang akan diberikan dalam pelayanan keperawatan atau kesehatan dibagi dalam beberapa tipe yang dapat digunakan, yaitu: (Rajesh 2019) 1. Hearty laughter Atau tertawa hangat, pada terapi ini pasien diminta untuk tertawa dengan terbuka dan sepenuh hati. 2. Imitation laughter Atau tertawa imitas, pada terapi ini pasien diminta meniru suara orang lain untuk memulai tertawa. 3. Embarrassing scenario Atau skenario memalukan, pada terapi ini pasien diminta mengingat suatu kejadian memalukan atau kejadian yang lucu dan tertawa. 4. Celebration laughter Atau tertawa perayaan, pada terapi ini pasien diminta untuk membagikan kejadian kecil apa pun yang patut dirayakan dengan kelompok dan mulailah tertawa. 5. Silly laughter Atau tertawa konyol, pada terapi ini pasien diminta bertingkah seperti anak kecil atau bertingkah konyol dan lucu dan tertawa. 6. Swinging laughter
TERAPI TERTAWA 341 Swinging tertawa, pada terapi ini pasien secara berkelompok membentuk lingkaran besar, membuat suara, dan tertawa bersama. Efek Terapi Tertawa Terapi tertawa yang dilaksanakan dengan baik akan menghasilkan efek yang fisiologi bermanfaat baik pada fisilogi fisik maupun mental. Berikut ini adalah efek terapi tertawa terhadap kesehatan fisik dan mental: (Yim 2016) Efek pada Kesehatan Fisik Efek pada Kesehatan Mental 1. Melatih dan melemaskan otot 1. Mengurangi stres, kecemasan, dan ketegangan, dan melawan gejala depresi 2. Meningkatkan pernapasan 2. Meningkatkan suasana hati, harga diri, harapan, energi, dan semangat 3. Merangsang sirkulasi 3. Meningkatkan daya ingat dan pemikiran kreatif 4. Menurunkan hormon stres 4. Meningkatkan interaksi interpersonal 5. Meningkatkan pertahanan sistem kekebalan tubuh 5. Meningkatkan keramahan 6. Meningkatkan ambang dan toleransi nyeri 6. Meningkatkan kesejahteraan psikologis 7. Meningkatkan fungsi mental 7. Meningkatkan kualitas hidup dan perawatan pasien 8. Meningkatkan kegembiraan dan menular Tertawa yang baik selama terapi akan memberi efek kerja yang lebih baik pula untuk mengembalikan suasana hati dengan cepat. Mengurangi ketegangan fisik, mengurangi stres dan membuat otot-otot pasien menjadi rileks yang disebabkan oleh meningkatnya aliran darah, membantu melindungi dari serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular lainnya. Tertawa dari hasil terapi membuat pasien merasa bahagia. Perasaan bahagia yang didapatkan ketika tertawa akan tetap dirasakan bersama
TERAPI TERTAWA 342 pasien bahkan sampai setelah sesi terapi tertawa selesai (Rajesh 2019) Kontra Indikasi Terapi tertawa tidak direkomendasikan pada pasien dengan masalah kesehatan atau jenis penyakit dengan kondisi tertentu, seperti: 1. Penyakit jantung; 2. Epilepsi; 3. Operasi baru-baru ini; 4. Sakit punggung parah; 5. Gangguan psikiatri mayor (Rajesh 2019). Terapi tertawa juga tidak dianjurkan pada pasien dengan kondisi: 1. Hamil; 2. Sakit pada bagian perut; 3. Sakit mata; 4. Influenza; 5. TBC; 6. dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan pernafasan dan perut (Hartanti 2012). Tahapan Terapi Tertawa Terapi tertawa merupakan suatu intervensi yang sistematis untuk merangsang atau menstimulasi tertawa pada pasien. Sesi tawa individu dalam intervensi terapi tertawa terapeutik biasanya terdiri dari tiga tahapan, yaitu: 1. Pembukaan dan pemanasan 2. Mengalami emosi positif, humor dan tertawa 3. Pemulihan, penutupan dan evaluasi (Ripoll 2017). Latihan Terapi Tertawa dilakukan dalam tiga fase yaitu: (Rajesh 2019)
TERAPI TERTAWA 343 1. Fase-I: Pada fase ini dimulai dengan tepukan kedua tangan secara berirama untuk mengaktifkan titik-titik akupunktur. 2. Fase-II : Pada latihan pernapasan dalam ini dilakukan untuk meningkatkan tingkat mood. 3. Fase-III: Dalam hal ini seseorang harus tertawa seperti lepas mungkin anak kecil yang benar benar sedang bahagia dengan tertawa. Durasi Terapi Tertawa 1. Durasi sesi tawa individu biasanya berkisar antara minimal 20 menit dan maksimal 2 jam. 2. Setidaknya dua kali seminggu selama minimal 6-8 minggu intervensi. 3. Tertawa harus dialami pasien setidaknya selama 3 menit persesi atau setiap tahapan, biarkan pasien tertawa sampai waktu tersebut sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. 4. Kecepatan dan konten teknik tawa dari setiap sesi disesuaikan dengan kebutuhan peserta yang berpartisipasi (Ripoll 2017). Proses Terapi Tertawa Terapi tertawa harus dilakukan secara berkelompok untuk mendapatkan hasil terapi yang lebih baik. Terapi tertawa dapat dilakukan kepada kelompok sesama pasien, atau pasien bersama anggota keluarga yang mendampingi membentuk satu kelompok terapi dalam ruang perawatan. Terdapat berbagai proses tindakan dan prosedur terapi tertawa. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut: (Hartanti 2012) Persiapan: 1. Semua peserta diingatkan untuk mulai tertawa secara bersamaan, sesuai dengan aba-aba petugas;
TERAPI TERTAWA 344 2. Jarak antara peserta tidak berjauhan dapat menggunakan rentangan tangan untuk mengatur jarak; 3. Ingatkan semua peserta untuk saling kontak mata selama terapi tertawa berlangsung; 4. Ingatkan peserta khususnya pasien untuk jangan terlalu banyak menggunakan tenaga saat tertawa, hal terpenting adalah merasakan dan menikmati proses tertawa yang terjadi; 5. Peserta yang termasuk dalam kriteria kontra indikasi dikeluarkan dari kelompok terapi tertawa. Pelaksanaan: 1. Minta peserta bertepuk tangan seirama secara bersama-sama sambil mengucapkan Ho-Ho, Ha-HaHa (1-2, 1-2,-3) sebanyak 2 sampai 3 kali, ingatkan peserta untuk saling mempertahankan kontak mata sesama peserta; 2. Anjurkan peserta mengambil nafas dalam sambil mengangkat kedua tangan, lalu turunkan kedua tangan dan hembuskan nafas sambil mengucapkan Ha-Ha, ha-ha-ha ulangi 2-3 kali, ingatkan peserta untuk saling kontak mata. Biarkan peserta tertawa; 3. Lakukan latihan peregangan leher, bahu, tangan, lengan, dan kaki (bila perlu) sebelum ketahapan terapi tertawa selanjutnya; 4. Tawa bersemangat : minta peserta tertawa Ha-ha sambil mengangkat kedua tangan ke atas dan kepala mendongak ke belakang dan tertawa ho-ho sambil turunkan tangan, anjurkan peserta untuk merasakan tertawa keluar dari hati, ulangi 2-3 kali, ingatkan peserta untuk saling kontak mata, dan biarkan peserta tertawa; 5. Tawa sapaan : mengatupkan kedua telapak tangan dan letakkan didada, minta peserta saling menyapa dengan sedikit menundukan kepala dalam kelompok, sambil tertawa ha-ha, ha-ha, ulangi 2-3 kali. Peserta dapat berjalan keliling mendekati peserta lain untuk
TERAPI TERTAWA 345 saling sapa namun tetap berada dalam satu kelompok terapi. Ingatkan peserta untuk pertahankan kontak mata, dan biarkan peserta saling tertawa; 6. Tawa penghargaan: minta peserta saling memberikan pujian dengan mengangkat kedua jari jempol sambil tertawa ha-ha, ha-ha-ha, anjurkan peserta untuk saling mendekati dan memberikan jempol kepada setiap peserta, ingatkan untuk pertahankan kontak mata, dan biarkan peserta saling tertawa; 7. Tawa milk shake: minta peserta berpura-pura memegang dua gelas susu atau kopi dan minta saling menuangkan sambil mengucapkan ho-ho, ha-ha-ha; 8. Tawa bersenandung dengan mulut terkatup : minta peserta untuk tertawa dengan mulut tertutup dan hanya mengeluarkan senandung hmmmmm .... saat bersenandung, peserta diminta saling berhadapan satu dengan yang lainnya, peserta dapat berjalan keliling mendekati peserta lain yang jauh dari jangkauan namun tetap berada dalam satu kelompok terapi, pertahankan kontak mata, dan biarkan tertawa; 9. Tawa bantahan: minta peserta tertawa sambil menudingkan jari untuk membatah, peserta diminta saling menudingkan jari saling membantah sambil tertawa ha-ha, ho-ho-ho, ulangi 2-3 kali, pertahankan kontak mata, biarkan tertawa; 10. Tawa memaafkan : minta peserta saling bersalaman atau dapat berpelukan sambil tertawa ha-ha, ha-haha, rasakan tertawa keluar dari hati, ulangi 2-3; 11. Minta peserta berpegangan tangan sambil tertawa dan mengatakan : aku bahagia, sehat, dan sejahtera. Ha ..... ha ..... ha .... Terminasi: 1. Minta peserta mengambil posisi tenang dan rileks dengan menarik napas dalam selama hitungan satu,dua,tiga, dan hembuskan nafas lewat mulut dengan membentuk bibir seperti bersiul. Hembuskan
TERAPI TERTAWA 346 nafas dilakukan selama hitungan empat, lima, enam, tujuh. Peserta dapat menutup mata saat menarik napas dan membuka mata saat menghembuskan, ulangi 2-3 kali, 2. Minta peserta minum air putih 1 gelas untuk meningkatkan relaksasi yang lebih baik diakhir terapi tertawa. Daftar Pustaka Bag, Beyhan. 2020. “Therapeutic Use of Humor in Psychiatric Care.” Psikiyatride Guncel Yaklasimlar - Current Approaches in Psychiatry 12(4):519–33. Fernández Poncela, Anna María. 2019. “Laugher: Concept, Approaches and Reflections.” Revista Científica Guillermo de Ockham 17(1):95–103. Hartanti. 2012. “Terapi Tawa : Suatu Langkah Maju Sebagai Upaya Penurunan Stres.” Pp. 430–34 in Permasalahan Psikologi Perkotaan dan Solusinya ; Kumpulan Artikel yang Diterbitkan dalam Rangka 30 Tahun Fakultas Piskologi Universitas Surabaya, edited by D. A. Santosa. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Kmita, Maria, Aleksandra Bronowicka, Anna Moszczy, Renata Zych, and Krzysztof Małyszczak. 2017. “Humour and Laughter Therapy.” PSYCHOTERAPIA 2 (181) 2017 2(181):65–74. Louie, Dexter, and Elizabeth Frates. 2016. “The Laughter Prescription: A Tool for Lifestyle Medicine.” American Journal of Lifestyle Medicine 10(4):262–67. Pattillo, Charlene Gayle Story, and Joanne Itano. 2001. “Laughter Is the Best Medicine.” AJN .April 2001.Supplement Http://Www.Nursingcenter.Com April:40–43.
TERAPI TERTAWA 347 Rajesh, B. 2019. “Laughter Therapy.” Journal of Psychiatric Nursing 8(3):105–7. Ripoll, Ramon Mora. 2017. “Simulated Laughter Techniques for Therapeutic Use in Mental Health.” Journal of Psychology & Clinical Psychiatry 8(2):8–11. Sprouse-Blum, Adam S., Greg Smith, Daniel Sugai, and F. Don Parsa. 2010. “Understanding Endorphins and Their Importance in Pain Management.” Hawaii Medical Journal 69(3):70–71. Vaid, Jyotsna. 2002. “Humor and Laughter.” Encyclopedia of the Human Brain 2(December 2002):505–16. Wal, C. Natalie van der, and Robin N. Kok. 2019. “Laughter-Inducing Therapies: Systematic Review and Meta-Analysis.” Social Science and Medicine 232(March 2018):473–88. Yim, Jong Eun. 2016. “Therapeutic Benefits of Laughter in Mental Health: A Theoretical Review.” Tohoku Journal of Experimental Medicine 239(3):243–49.
TERAPI TERTAWA 348 Profil Penulis Israfil Lahir tahun 1990, staf pengajar pada Fakultas Kesehatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Bali (ITEKES Bali). Pendidikan bidang kesehatan dimulai sejak tahun 2008-2011 pada program Diploma III Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang. Tahun 2012-2015 melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners pada Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya. Tahun 2016-2018 melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Magister pada Program Pasca Sarjana Universitas Nusa Cendana Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saat ini sedang menempuh pendidikan S3 pada Program Doktor Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Aktif dalam kegiatan penelitian dan publikasi baik pada jurnal nasional maupun jurnal internasional. Pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dilakukan pada penanggulangan penyakit tidak menular dan penyakit menular dibidang ilmu keperawatan komunitas dan keperawatan keluarga. Pernah menjadi Tim Riset Nasional - Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan RI Tahun 2018 sebagai PJT Kabupaten/Kota, menjadi Tim Riset Nasional - Riset Fasilitas Kesehatan (RIFASKES) Kementerian Kesehatan RI Tahun 2019 sebagai PJT Kabupaten/Kota, dan pernah menjadi staf pengajar pada program studi DIII Keperawatan dan Pendidikan Ners Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang tahun 2015-2020. Email Penulis: [email protected]
349 23 TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) Ns. Apriza, S.Kep., M.Kep. Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Pendahuluan Perkembangan terapi komplementer menjadi sorotan banyak negara. Terapi ini telah menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan di Amerika Serikat dan negaranegara lain didunia (Lindquist, 2014). Estimasi di Amerika Serikat 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004 dalam Widyatuti, 2008). Terapi komplementer juga menjadi pilihan pengobatan alternative bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia meyakini bahwa terapi komplementer merupakan bentuk penyembuhan yang bersumber pada berbagai sistem modalitas dalam praktik kesehatan yang didukung oleh teori dan kepercayaan. Pelayanan terapi komplementer di Indonesia diatur dalam Permenkes RI No 1109/MENKES/PER/IX/2007 tentang pelayanan terapi komplementer di fasilitas pelayanan kesehatan. Pengobatan terapi komplementer dilakukan sebagai upaya pelayanan yang berkesinambungan mulai dari peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif), dan atau pemulihan kesehatan (rehabilitatif) (Menkes RI, 2007). Terapi komplementer ada dua jenis yaitu; invasif dan noninvasif. Contoh terapi komplementer invasif adalah akupuntur dan wet cupping (bekam basah) yang menggunakan jarum dalam pengobatannya.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 350 Sedangkan jenis non-invasif seperti terapi energi (reiki, chikung, tai chi, prana, terapi suara), terapi biologis (herbal, terapi nutrisi, food combining, terapi jus, terapi urin, hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas; akupresur, pijat bayi, refleksi, reiki, rolfing, dan terapi lainnya (Hitchcock, J.E, Schubert, P.E., Thomas, 2008). Terapi bekam merupakan salah satu teknik pengobatan yang di sunnah kan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak penyakit yang bisa disembuhkan dengan terapi ini terutama penyakit bersifat kronis yang sulit disembuhkan dengan metode pengobatan modern. Terapi Bekam Basah 1. Sejarah Bekam Referensi paling awal yang tercatat untuk penggunaan bekam atau Cupping Therapy (CT) ditemukan dalam Papirus Ebers, yang ditulis oleh orang Mesir Kuno dalam Hieroglif, sekitar tahun 1550 M.C. Di Cina diketahui seorang alkemis dan dukun Tao terkenal dari Cina, Ge Hong telah menulis tentang CT. Penggunaan CT di Mesir berasal dari 3500 sebelum masehi dan praktiknya didokumentasikan dalam tulisan hieroglif. Di Yunani kuno, Hippocrates menganjurkan CT untuk banyak penyakit. Pada awal 1900-an, Sir Arthur Keith (1866–1955 SM) menyebutkan bahwa CT dilakukan dengan hasil yang sukses. Di Tiongkok, CT membentuk salah satu landasan pengobatan tradisional Tiongkok (TCM/ Tradisional Chine Medicine). CT sangat populer di rumah sakit umum China yang menggunakan TCM, dan penelitian ekstensif tentang CT telah dilakukan di Cina. Berbasis bukti nilai CT telah didokumentasikan melalui ratusan tahun penelitian, pengalaman klinis praktisi dan pengalaman subjektif pengguna di seluruh dunia. Di Makedonia kuno (3300 SM), CT adalah untuk mengobati penyakit dan gangguan kesehatan. Dalam ilmu kedokteran modern, CT digunakan dalam berbagai penyakit manusia. CT biasanya dilakukan oleh wanita di seluruh Eropa, Afrika, Asia, Timur Tengah, dan benua lainnya.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 351 Dokumen dan buku yang ditemukan dari budaya kuno terutama di Mesir, Cina, Yunani dan Timur Tengah adalah sumber utama informasi dari sejarah awal bekam. Peradaban kuno serupa juga merupakan sumber dari berbagai instrumen dan alat yang digunakan dalam praktik CT, seperti tanduk hewan berlubang, tulang, bambu, kacang-kacangan, kerang dan labu. Perangkat ini digunakan untuk menyedot toksin berbahaya dari orang sakit. Secara historis, Banyak instrumen dan alat bekam, termasuk tanduk hewan dan gelas logam, yang digunakan dalam praktik awal perlahan-lahan digantikan oleh cangkir dengan berbagai ukuran, bentuk dan bahan, seperti kaca, plastik, karet dan Silikon. Demikian pula, mesin hisap listrik adalah inovasi baru yang dapat menggantikan instrumen hisap manual dan api sebagai metode untuk mengurangi tekanan di dalam cangkir CT. Selain itu, instrumen yang digunakan untuk skarifikasi, atau pertumpahan darah, seperti pisau cukur tradisional, juga telah digantikan oleh pisau bedah steril, jarum bunga prem dan lancet otomatis (Qureshi et al., 2017).Pengobatan bekam semakin dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode bekam masuk ke Indonesia. Bekam masuk ke Indonesia diduga seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang menyebarkan agama Islam ke Nusantara sejak abad ke-12. Bekam memiliki empat masa perkembangan di Indonesia yaitu: a. Tahap pertama bekam dikenal sebagai pengobatan bekam tradisional yang dilakukan dengan alat-alat sederhana dan bersifat tradisional di masyarakat Indonesia. Alat bekam yang digunakan antara lain adalah tanduk kerbau, bambu, irisan bola karet, dan alat yang digunakan untuk menyayat biasanya sekadar pisau silet biasa. b. Tahap kedua sekitar tahun 1990 dengan berkembangnya sistem Multilevel Marketing (MLM) ke Indonesia, yaitu HPA (perusahaan yang
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 352 menerapkan sistem MLM Syariah). Sejalan dengan mendakwahkan ilmu pengobatan Nabi SAW (Thibbun Nabawi), HPA memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk berlatih menjadi terapis bekam. c. Tahap ketiga sejarah bekam di Indonesia dipelopori oleh Ustadz Khatur Suhardi yang khas dengan upaya beliau memediskan pengobatan bekam melalui analisis anatomi dan fisiologis tubuh. Ustadz Khatur juga dikenal sebagai pionir yang menasehatkan dan memberikan penekanan pada faktor sterilisitas pada proses pembekaman serta kehati-hatian agar tidak terjadi malpraktik bekam. 2. Defenisi Bekam Basah Bekam secara bahasa berarti menghisap. Menurut istilah, bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan yang dimulai dari penyayatan kulit dan dilanjutkan dengan proses pengeluaran darah dari permukaan kulit yang disayat, dan darah yang keluar kemudian di tampung ke dalam wadah bekam, baik berupa gelas maupun plastik. Dalam bahasa Arab, bekam disebut sebagai hijamah, sedangkan mihjam dan mihjamah artinya alat bekam yang meliputi semua alat yang dipakai dalam prosedur bekam, baik itu alat penghisap yang menciptakan tekanan negatif, alat untuk menyayat kulit permukaan maupun alat untuk mengumpulkan darah selama proses pembekaman (Umar, 2015). Bekam basah atau disebut juga Wet Cupping (WC) merupakan metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah yang terkontaminasi toksin atau oksidan dari dalam tubuh melalui permukaan kulit ari. Dalam istilah medis dikenal dengan istilah ‘Oxidant Release Therapy’ atau ‘Oxidant Drainage Therapy’ atau istilah yang lebih populer adalah ‘detoksifikasi’ (Kasmui, 2007). Bekam basah menggunakan alat bedah disebut lancet/jarum digunakan untuk membuat luka kecil di kulit, kop bekam ditempatkan di atas area yang akan dibekam pada kulit dan dengan penghisap maka darah akan
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 353 tertarik kedalam kop bekam (Cupping, 2011). Nama lain Wet Cupping adalah Terapi hijama (HT) adalah versi Islam dari bekam basah yang dilakukan di negara-negara Timur Tengah. WC atau HT juga terapi yang populer di di Asia, Eropa Tengah dan negaranegara Muslim lainnya. Hal ini terkait dengan keyakinan agama karena disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bekam basah telah digunakan sejak lama dalam pengobatan kondisi kronis seperti nyeri muskuloskeletal, sakit kepala, radikulopati dan gangguan pernapasan (Polat Ekinci and Pehlivan, 2020; Al Bedah et al., 2016) 3. Hadist-Hadist Tentang Bekam Beberapa hadist tentang bekam berdasarkan beberapa literatur (Umar, 2015; (Kasmui, 2007); (Kasmui, 2012); (W. Umar, 2019) a. Sesungguhnya cara pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah hijamah (bekam) (Muttafaq ‘alaihi, Shahih Bukhari (no. 2280) dan Shahih Muslim (no. 2214) b. Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah al hijamah (HR. Ahmad, shahih). Materi c. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pada bekam itu terkandung kesembuhan.” (Kitab Mukhtashar Muslim (no. 1480), Shahihul Jaami’ (no. 2128) dan Silsilah al-Hadiits ash- Shahiihah (no. 864), karya Imam al-Albani) d. Dari Ashim bin Umar bin Qatadah RA, dia memberitahukan bahwa Jabir bin Abdullah RA pernah menjenguk al-Muqni’ RA, dia bercerita: “Aku tidak sembuh sehingga aku berbekam, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya didalamnya terkandung kesembuhan’.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Ya’la, al-Hakim, alBaihaqi)
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 354 e. Kesembuhan bisa diperoleh dengan 3 cara yaitu: sayatan pisau bekam, tegukan madu, sundutan api. Namun aku tidak menyukai berobat dengan sundutan api (HR. Muslim). f. Penyembuhan terdapat dalam tiga hal, yakni meminum madu, sayatan alat bekam, dan sundutan dengan api. Dan aku melarang umatku berobat dengan sundutan api. (HR. Bukhori) g. Dari Uqbah bin Amir RA, Rasulullah SAW bersabda: “Ada 3 hal yang jika pada sesuatu ada kesembuhan, maka kesembuhan itu ada pada sayatan alat bekam atau minum madu atau membakar bagian yang sakit. Dan aku membenci pembakaran (sundutan api) dan tidak juga menyukainya.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya) h. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika ada suatu kesembuhan pada obat-obat kalian maka hal itu ada pada sayatan alat bekam.” Beliau bersabda: “Atau tegukkan madu.” (Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil Bazar,karya alHaitsami, III/388) i. Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda: "Orang yang paling baik adalah seorang tukang bekam (Al Hajjam) karena ia mengeluarkan darah kotor, meringankan otot kaku dan mempertajam pandangan mata orang yang dibekamnya." (HR. Tirmidzi, hasan gharib). j. Jika pada sesuatu yang kalian pergunakan untuk berobat itu terdapat kebaikan, maka hal itu adalah berbekam (Shahih Sunan Ibnu Majah, karya Syaikh Al-Albani (II/259), Shahih Sunan Abu Dawud, karya Syaikh Al-Albani (II/731)). k. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus berbekam dan menggunakan al-qusthul bahri." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan an-Nasai dalam kitab asSunan al-Kubra no. 7581).
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 355 l. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah menyampaikan sebuah hadits tentang malam dimana beliau diperjalankan bahwa beliau tidak melewati sejumlah malaikat melainkan mereka semua menyuruh beliau SAW dengan mengatakan: ‘Perintahkanlah umatmu untuk berbekam’.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani (II/20), hasan gharib). m. Pada malam aku di-isra'kan, aku tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata: “Wahai Muhammad suruhlah umatmu melakukan bekam.” (HR Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, Shahih Jami'us Shaghir 2/731) Dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku berjalan melewati segolongan malaikat pada malam aku diisra’kan, melainkan mereka semua mengatakan kepadaku: ‘Wahai Muhammad, engkau harus berbekam’.” (Shahih Sunan Ibnu Majah, Syaikh al-Albani (II/259)) n. Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku melewati satu dari langit-langit yang ada melainkan para malaikat mengatakan: ‘Hai Muhammad, perintahkan ummatmu untuk berbekam, karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al- kist, dan syuniz semacam tumbuh-tumbuhan’.” (Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil Bazar, karya alHaitsami, III/388) o. Dari Jabir al-Muqni RA, dia bercerita: “Aku tidak akan merasa sehat sehingga berbekam, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya pada bekam itu terdapat kesembuhan’.” (Shahih Ibnu Hibban (III/440)) p. Dari Anas RA, dia bercerita: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika terjadi panas memuncak, maka netralkanlah dengan bekam sehingga tidak terjadi hipertensi pada salah seorang diantara kalian
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 356 yang akan membunuhnya’.” (diriwayatkan oleh alHakim dalam kitab al-Mustadrak, dari Anas RA secara marfu’, beliau mensyahihkannya yang diakui pula oleh adz-Dzahabi (IV/212) 4. Manfaat dan Mekanisme Kerja Bekam Beberapa manfaat bekam basah berdasarkan mekanisme kerja bekam diantaranya yaitu: a. Proses biologis dan mekanis yang terkait dengan sesi bekam. Misalnya, pengurangan nyeri dapat disebabkan oleh perubahan sifat biomekanik kulit seperti yang dijelaskan oleh "Pain-Gate Theory" (PGT), "Diffuse Noxious Inhibitory Controls" (DNICs), dan "Reflex Zone Theory" (ZRT). b. Relaksasi otot, perubahan spesifik dalam struktur jaringan lokal dan peningkatan sirkulasi darah dapat dijelaskan oleh "Teori Oksida Nitrat". c. Efek imunomodulator dari terapi bekam dapat dikaitkan dengan "Aktivasi Teori Sistem Kekebalan Tubuh" (AIST). d. Pelepasan racun dan pembuangan limbah dan logam berat dikaitkan dengan "Teori Detoksifikasi Darah". Teori ini telah berinteraksi secara harmonis dengan menghasilkan efek menguntungkan dari bekam dalam merawat pasien dengan berbagai penyakit dan mempromosikan kesejahteraan pada orang sehat. Mengkaji literatur tentang bekam dan mekanismenya telah mengungkapkan informasi yang tidak hanya cukup tentang perubahan fisiologis, biologis dan mekanis tubuh selama terapi bekam. Pemahaman yang lebih baik tentang seluruh prosedur bekam dapat dicapai dengan menghubungkan efek terapi bekam dengan mekanismenya berdasarkan teori-teori yang disebutkan di atas (Al-Bedah et al., 2019)
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 357 Berikut diuraikan beberapa manfaat bekam berdasarkan berbagai literatur (Arslan et al., 2014; Chen et al., 2014; Lauche et al., 2013; Lund and Lundeberg, 2006; Rozenfeld and Kalichman, 2016; Sato, 1997; Niasari, Kosari and Ahmadi, 2007; Vaskilampi and Hanninen, 1982; Yoo and Tausk, 2004; Kordafshari et al., 2017; Qureshi et al., 2017; Lindquist, 2014) 1. Ada bukti konvergen bahwa bekam dapat menimbulkan kenyamanan dan relaksasi pada tingkat sistemik dan peningkatan yang dihasilkan dalam produksi opioid endogen di otak mengarah pada peningkatan kontrol rasa sakit. 2. Terapi bekam meningkatkan sirkulasi darah dan untuk menghilangkan racun dan limbah dari tubuh. Hal tersebut dapat dicapai melalui peningkatan sirkulasi mikro, mempromosikan perbaikan sel endothelial kapiler, mempercepat granulasi dan angiogenesis di jaringan regional, sehingga membantu menormalkan keadaan fungsional pasien dan relaksasi otot progresif. 3. Bekam juga menghilangkan bahan berbahaya dari mikrosirkulasi kulit dan kompartemen interstitial yang bermanfaat bagi pasien. 4. Bekam merupakan metode yang efektif untuk mengurangi low density lipoprotein (LDL) pada pria dan akibatnya memiliki efek pencegahan terhadap aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular (CVD).
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 358 5. Bekam diketahui secara signifikan menurunkan kolesterol total, rasio low density lipoprotein LDL/high density lipoprotein (HDL). 6. Terapi bekam dapat secara signifikan menurunkan jumlah limfosit dalam darah lokal yang berhubungan dengan daerah yang terkena dengan peningkatan jumlah neutrofil, yang merupakan salah satu mekanisme antivirus yang mengurangi skor rasa sakit. 7. Kehilangan darah bersama dengan vasodilatasi cenderung meningkatkan aktivitas parasimpatis dan mengendurkan otot-otot tubuh yang bermanfaat bagi pasien dan juga dapat dikaitkan dengan efek setelah cupping. Selain itu, hilangnya darah dianggap meningkatkan kualitas darah yang tersisa. Telah ditemukan bahwa bekam meningkatkan RBC (Red blood Cell)/sel darah merah. 8. Telah diklaim bahwa terapi bekam cenderung mengalirkan kelebihan cairan dan racun, melonggarkan adhesi dan merevitalisasi jaringan ikat, meningkatkan aliran darah ke kulit dan otot, mengurangi rasa sakit, mengontrol tekanan darah tinggi dan memodulasi sistem kekebalan tubuh. 9. Beberapa pencari ulang percaya bahwa penumpukan racun adalah alasan utama untuk perkembangan penyakit. Di daerah yang ditangkupkan kop bekam, maka pembuluh darah akan melebar oleh aksi vasodilator tertentu seperti adenosin, noradrenaline dan histamin. Akibatnya, ada peningkatan sirkulasi darah ke daerah yang sakit. Hal ini memungkinkan penghapusan langsung racun yang terperangkap dalam jaringan, dan karenanya, pasien merasa lebih baik. 10. Bekam telah ditemukan untuk meningkatkan aliran darah subkutan dan untuk merangsang sistem saraf otonom. Seperti cedera pada kulit karena sayatan, stimulasi kulit menyebabkan beberapa reaksi otonom, hormonal, dan keke-
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 359 balan yang dikaitkan dengan saraf eferen simpatik dan parasimpatis dengan refleks somato visceral yang terkait dengan organ. 11. Bekam dilaporkan untuk mengembalikan keseimbangan simpatovagal dan bersifat kardioprotektif dengan merangsang sistem saraf simpatik dan parasimpatik perifer. 12. Bekam berperan dalam aktivasi sistem komplemen serta modulasi bagian seluler dari sistem kekebalan tubuh. Ada juga pengurangan gula darah yang signifikan pada pasien diabetes setelah bekam. 13. Secara keseluruhan, bekam dilaporkan mempengaruhi perubahan dalam properties biomekanis kulit, meningkatkan ambang nyeri langsung pada pasien dengan nyeri leher dan pada pasien yang sehat juga, serta mengurangi peradangan. Perlengkapan Bekam 1. Perlengkapan bekam SOP (Standar Operasional Prosedur) PBI (Perkumpulan Bekam Indonesia) (Ahmad fatahillah, 2020) a. Kop bekam; b. Pompa bekam; c. Lancing device; d. Lancet/jarum steril; e. Nampan/baskom stainless; f. Mangkok oval (nier beken); g. Mangkok kecil stainless; h. Sarung tangan; i. Masker; j. Skort/Apron/celemek dan tutup kepala; k. Baju klien;
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 360 l. Kaca mata; m. Minyak herbal; n. Alkohol; o. Klorin; p. Kassa steril; q. Tempat sampah; r. Alat cukur atau gunting rambut; s. Larutan H2O2 3%; t. Sterilisator. 2. Standar Peralatan Bekam Medik (W. A. Umar, 2019) a. Ruang praktik bekam 1. Ruang pendaftaran; 2. Ruang konsultasi; 3. Ruang administrasi; 4. Ruang pengobatan/ruang tindakan; 5. Kamar mandi; 6. Ruang lain sesuai kebutuhan. b. Ruang tindakan 1) Almari tempat penyimpanan peralatan; 2) Meja bekam/dressing trolley; 3) Bed/matras; 4) Kursi bekam; 5) Savety box/kotak sampah; 6) Wastafel; 7) Meja kursi terapis; 8) Tabung oksigen (emergency). c. Set peralatan bekam 1) Glass cup/kop bekam;
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 361 2) Vacuum pump/pompa kop; 3) Lancing device/pen bekam; 4) Blood lancet/jarum bekam steril; 5) Surgical blade/bisturi/pisau bedah. d. Set peralatan kesehatan 1) Nampan stainless; 2) Bak instrumen tertutup; 3) bak instrumen tidak tertutup; 4) Scalpel handle/bisturi holder; 5) Needle holder; 6) Nier beken/bengkok; 7) Dressing jar stainless; 8) Clamp/klem arteri; 9) Kom tempat alkohol; 10) Kom tempat bethadine; 11) Baskom stainless; 12) Korentang; 13) Kain doek tidak berlubang. e. BHP (bahan habis pakai) 1) Kasa steril; 2) Betadine; 3) Alkohol 70%; 4) Salep antibiotik (gentamicin) jika perlu. f. Bahan dekontaminasi, antiseptik, dan sterilisasi 1) Klorin; 2) Formalin; 3) Glutaraldehida 2%; 4) Lysol, PK;
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 362 5) Sterilisator autoklaf; 6) Lampu UV ruang bekam; 7) Klorheksidin glukonat 4%. g. Set untuk terapis 1) Baju terapis; 2) Masker; 3) Kop/penutup kepala; 4) Hand scoon/sarung tangan steril; 5) Alas kaki. h. Set untuk pasien 1) Baju pasien; 2) Alat pencukur. i. Administrasi 1) SIP; 2) Informed consent; 3) Rekam medis; 4) Buku pendaftaran. Tahapan Teknik Bekam Basah Berdasarkan buku yang disusun oleh pengurus pusat BPI dan dewan syuro BPI, (Ahmad fatahillah, 2020), tahapan teknik bekam basah menurut SOP BPI sebagai berikut: 1. Berwudhu; 2. Siapkan ruangan bekam dan perlatan bekam; 3. Terapis memakai apron; 4. Terapis memakai sarung tangan; 5. Menyiapkan lancing device; 6. Menyiapkan kantong plastik dan bak sampah; 7. Atur posisi pasien (duduk atau tengkurap); 8. Tentukan titik bekam;
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 363 9. Olesi area yang akan dibekam dengan minyak zaitun; 10. Lakukan pengekopan pada area yang akan dibekam selama 5 menit; 11. Buka kop bekam kemudian lakukan perlukan kecil pada area kulit menggunakan lancing device; 12. Kemudian area titik bekam tadi di kop kembali untuk mengeluarkan darah lebih kurang 3-5 menit; 13. Siapkan kasa steril dan letakkan dibawah kop untuk menampung darah; 14. Buka kembali kop dengan hati-hati; 15. Kop yang sudah dipakai diletakkan kedalam nierbeken; 16. Kassa pembersih darah dibuang kedalam kantong plastik; 17. Bersihkan area pengekopan dengan kassa steril; 18. Olesi area pembekaman dengan minyak zaitun; 19. Bersihkan alat bekam yang telah digunakan; 20. Cuci tangan.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 364 Daftar Pustaka Ahmad fatahillah, K. S. dkk (2020) Panduan Pengajaran Bekam Perkumpulan Bekam Indonesia (BPI). Al-Bedah, A. M. N. et al. (2019) ‘The medical perspective of cupping therapy: Effects and mechanisms of action’, Journal of Traditional and Complementary Medicine, 9(2), pp. 90–97. doi: 10.1016/j.jtcme.2018.03.003. Arslan, M. et al. (2014) ‘Wet cupping therapy restores sympathovagal imbalances in cardiac rhythm’, Journal of Alternative and Complementary Medicine, 20(4), pp. 318–321. doi: 10.1089/acm.2013.0291. Al Bedah, A. M. N. et al. (2016) ‘Evaluation of Wet Cupping Therapy: Systematic Review of Randomized Clinical Trials’, Journal of Alternative and Complementary Medicine, 22(10), pp. 768–777. doi: 10.1089/acm.2016.0193. Chen, B. et al. (2014) ‘2 . Some improvements on the mechanism research of cupping therapy , but it needs further research .’ Cupping, I. (2011) Cupping Hijama Times. Hitchcock, J.E, Schubert, P.E., Thomas, S. A. (1999). (2008) Community health nursing: Caring in action. USA: Delmar Publisher. Key, G. Kasmui (2007) ‘Panduan Ringkas Praktek Bekam Pengobatan Menurut Sunnah Nabi Dilengkapi Penjelasan Ringkas Ruqyah Syar’iyyah dan Herbal’, p. 21. Available at: https://docplayer.info/31493525- Bekam-pengobatan-menurut-sunnah-nabi.html. Kasmui (2012) ‘Bekam Pengobatan Menurut Sunah Nabi.’, Materi Pelatihan Bekam Singkat oleh Drs. Kasmui, M.Si, pp. 1–52. Kordafshari, G. et al. (2017) ‘Cupping therapy can improve the quality of life of healthy people in Tehran’, Journal of Traditional Chinese Medicine. Traditional Chinese Medicine Periodical Press, 37(4), pp. 558–562. doi: 10.1016/s0254-6272(17)30164-4.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 365 Lauche, R. et al. (2013) ‘Effectiveness of Home-Based Cupping Massage Compared to Progressive Muscle Relaxation in Patients with Chronic Neck Pain-A Randomized Controlled Trial’, PLoS ONE. doi: 10.1371/journal.pone.0065378. Lindquist, R. (2014) Complementary & alternative therapies in nursing, Choice Reviews Online. doi: 10.5860/choice.51-4474. Lund, I. and Lundeberg, T. (2006) ‘Are minimal, superficial or sham acupuncture procedures acceptable as inert placebo controls?’, Acupuncture in Medicine, 24(1), pp. 13–15. doi: 10.1136/aim.24.1.13. Menkes RI (2007) ‘Penyelengaraan Pengobatan Komplementer Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan’. Niasari, M., Kosari, F. and Ahmadi, A. (2007) ‘The effect of wet cupping on serum lipid concentrations of clinically healthy young men: A randomized controlled trial’, Journal of Alternative and Complementary Medicine, 13(1), pp. 79–82. doi: 10.1089/acm.2006.4226. Polat Ekinci, A. and Pehlivan, G. (2020) ‘Cupping therapy as alternative medicine turns into a trigger of disease via the Koebner phenomenon: A case report of Hijamainduced psoriasis and review of the literature’, Dermatologic Therapy, 33(6). doi: 10.1111/dth.14264. Qureshi, N. A. et al. (2017) ‘History of cupping (Hijama): a narrative review of literature’, Journal of Integrative Medicine. doi: 10.1016/S2095-4964(17)60339-X. Rozenfeld, E. and Kalichman, L. (2016) ‘New is the wellforgotten old: The use of dry cupping in musculoskeletal medicine’, Journal of Bodywork and Movement Therapies. doi: 10.1016/j.jbmt.2015.11.009. Sato, A. (1997) ‘Neural Mechanisms of Autonomic’, Neuroscience and Behavioral Physiology, 27(5), pp. 610–621.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 366 Umar, W. (2015) Sembuh Dengan Satu Titik. Edited by E. A. Ahmad. Al Qowam. Umar, W. (2019) BEKAM MEDIS DALAM PERSPEKTIF KEDOKTERAN MODERN. Edited by Aminah sholikah. THibbia. Umar, W. A. (2019) Bekam Medik. Edited by A. Sholikah. Sukoharjo: Thibbia. Vaskilampi, T. and Hanninen, O. (1982) ‘Cupping As an Indigenous Treatment of Pain Syndromes in the Finnish Cultural’, Soc. Sci. Med, 16, pp. 1893–1901. Widyatuti (2008) ‘Terapi komplementer dalam keperawatan’, Jurnal Keperawatan Indonesia, 12(1), pp. 53–57. doi: 10.7454/jki.v12i1.200. Yoo, S. S. and Tausk, F. (2004) ‘Cupping: East meets West’, International Journal of Dermatology, 43(9), pp. 664–665. doi: 10.1111/j.1365-4632.2004.02224.x.
TERAPI BEKAM BASAH (WET CUPPING THERAPY) 367 Profil Penulis Apriza Lahir di Batubelah, Kabupaten Kampar Provinsi Riau, Indonesia, dan merupakan putri kelima dari pasangan Muhammad Yunus Anis kadimi (Alm) dan Syariah (Alm) serta istri dari H. Ismail, S.Ag, M.Pd. Menyelesaikan kuliah S-1 di Universitas Riau, program studi ilmu Keperawatan (2006), program Ners (2007) dan melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) di Program Pascasarjana Universitas Andalas Padang, program studi Keperawatan (2012). Saat ini bertugas sebagai dosen Ners & Keperawatan di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Provinsi Riau sejak tahun 2002-sekarang, serta sedang mengikuti program doktoral di Unisza Malaysia. Aktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat dari tahun 2016-sekarang. Penulis juga aktif dalam menulis artikel hasil penelitian dan pengabdian masyarakat dan dipublikasikan di Scopus 2 dan 3, Sinta 2, 3 dan 4. Penulis mulai aktif menulis buku serta tergabung dalam tim penulis di penerbit Kita Menulis bulan Agustus 2020, bergabung sebagai penulis di penerbit Insania tahun 2021 dan sebagai penulis di Media Sain Indonesia tahun 2021. Hingga saat ini, penulis telah berhasil menulis 9 buah buku yang ditulis secara bersama dengan penulis se-Indonesia, diantara buku yang telah diterbitkan yaitu, Merdeka Menulis, ditulis oleh 75 akademisi seluruh Indonesia yang diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 bulan Agustus 2020, buku Belajar mandiri Pembelajaran daring di tengah pandemic Covid-19, buku gizi dan kesehatan, buku ilmu obstetri & ginekologi untuk kebidanan, buku konsep dasar keperawatan maternitas, buku Asuhan Keperawatan Gawat Darurat, buku Nilai esensial dalam praktik keperawatan, Ilmu keperawatan medikal bedah dan gawat darurat dan buku keperawatan medikal bedah. Penulis juga berkontribusi menulis dikolom opini koran Riau Pos dan kolom berita di koran Tribun tahun 2021. Email Penulis: [email protected]
368
AROMA TERAPI 369 24 AROMA TERAPI Ns. Aris Setyawan, S.Kep., MHPE. STIKes Surya Global Yogyakarta Aroma Terapi dalam Keperawatan Islam Allah menciptakan manusia dengan sebaik baiknya bentuk, penuh kesempurnaan dan keseimbangan. Kesempurnaan, karena manusia tersusun atas unsur jasad (fisik), ruhh (nafs), qolbu, dan akal. Allah berfirman “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tin : 4). Selain sempurna Allah juga memberikan keseimbangan di dalam tubuh manusia. "Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” (QS. Al Infithar : 7). Kesempurnaan dan keseimbangan yang bersinergi akan membentuk sebuah kondisi sehat. Inilah fitrah yang sudah seyogyanya wajib dijaga oleh manusia. Banyak upaya yang bisa diakukan untuk menjaga Kesehatan, namun sebagai seorang muslim kita paham betul bahwa Allah sudah memberikan petunjuk melalui Al Quran dan As Sunnah. Di dalam Al Quran Allah sebutkan banyak jenis tanaman herbal dan bunga yang harum baunya. Diciptakanya wewangian merupakan salah satu bentuk kecintaan Allah kepada kita, seperti dalam Firman-Nya : “Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya), di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, an biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya” (QS Ar-Rahman :10-12). Selain Al Quran, Allah berikan petunjuk melalui As Sunnah, yaitu apa apa yang di lakukan, di perintahkan dan di cintai oleh Nabi Muhammad.
AROMA TERAPI 370 Salah satu hal didunia ini yang dicintai Rasulullah adalah wewangian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "diberi kecintaan kepadaku dari (urusan) dunia kamu, ialah: wanita, harum-haruman/wangi-wangian dan dijadikan kesejukan mataku di dalam shalat." (SHAHIH Riwayat Ahmad, Nasa'i, Hakim dan Baihaqi dari jalan Anas bin Malik). Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata, “Rasulullahصلى الله عليه وسلم memerintahkan membangun masjid-masjid di kampung-kampung dan dibersihkan serta diberi wewangian.” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ahmad, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan al-Albany). Jika kita menghayati ayat dan hadits tersebut, maka kita akan sadar ternyata bunga-bunga wangi yang diciptakan Allah memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan. Lebih dari lima ribu tahun yang lalu bangsa mesir telah menggunakan getah dan minyak dari tumbuhan untuk dijadikan dupa pengharum ruangan, obat berbagai penyakit dan perawatan tubuh. Banyak jenis minyak esensial yang bisa digunakan sebagai aromaterapi yang bermanfaat melancarakan fungsi tubuh dan mengembalikan keseimbangan bioenergy tubuh. Banyak jenis-jenis tumbuhan herbal yang diresepkan oleh Rasulullah sebagai obat. Di dalam Ayat Quran dan Hadits tentang minyak aromaterapi menjelaskan bahwa masyarakat muslim senang membakar wangi-wangian minyak aromaterapi di rumah mereka. Prestasi puncak dalam peradaban Islam terjadi pada masa Kerajaan Islam Cordoba. Ibnu Sina yang menguasai bidang kimia, kedokteran, dan matematika;penemuan teknik destilasi pemanasan uap air untuk menghasilkan essential oil Rose dan mengabadikannya dalam sebuah literatur ilmiah. Setelah pasca perang Salib, banyak literatur-literatur Islam yang dihancurkan dan dilupakan dan industri essential oil berpindah dari dataran Arab ke Eropa, yakni negara Paranci. Aroma terapi merupakan salah satu terapi komplementer dengan kategori mind body therapy yang terbukti efektif dalam mengatasi masalah psikologis seperti kecemasan, stress dan depresi karena sifatnya yang menenangkan (Dehkordi et al., 2017)
AROMA TERAPI 371 (Setyawan et al., 2021)(Akbari et al., 2019) (Setyawan & Oktavianto, 2020). Theophratus menyatakan bahwa zat aromatic yang terkandung pada tanaman memiliki respon positif terhadap kondisi kesehatan mental (pikiran, perasaan) dan kesehatan tubuh, sehingga aromaterapi dapat disebut sebagai terapi multidimensi (Akbar, 2020). Jenis Aroma Terapi dan Manfaatnya 1. Lavender Salah satu jenis aromaterapi yang bermanfaat untuk kesehatan adalah minyak Lavender. Minyak lavender telah digunakan sejak dulu sebagai salah satu jenis pengobatan karena sifatnya yang menenangkan, merangsang tidur, efek anxyolitic (anti kecemasan), dan efek psikologis lainya (Setyawan & Oktavianto, 2020)(Tayebi et al., 2015) (Seifritz et al., 2019) (Zhang & Yao, 2019). Hal ini sesuai dengan efek pemberian aromaterapi lavender terhadap penurunan kecemasan pada pasien koroner (Cho et al., 2013) (Karadag et al., 2017) pasien hemodialisis (Tayebi et al., 2015) selama persalinan (Lamadah & Nomani, 2016) Patients Undergoing Coronary Artery Bypass Graft Surgery (Rajai et al., 2016). Minyak lavender memiliki beberapa kandungan seperti monoterpenehidrokarbon, camphene, limonene, geraniol lavandulol, nerol dan sebagian besar mengandung linalool dan linalool asetat dengan jumlah sekitar 30-60% dari total berat minyak, dimana linalool adalah kandungan aktif utama sebagai relaksasi untuk mengurangi kecemasan. Linalool memberikan efek relaksasi melalui saraf penciuman (Nuraini, 2014; De Sousa et al., 2015; Harada et al., 2018). 2. Peppermint Peppermint dengan nama ilmiah Mentha piperita adalah salah satu esens yang digunakan untuk aromaterapi. Mentha piperita adalah ramuan aromatik dengan efek analgesik dan penenang. Efek analgesik peppermint dapat disebabkan oleh senyawa
AROMA TERAPI 372 utamanya seperti Carvone, Limonene, dan Menthol. Menthol dalam peppermint mempengaruhi Kappa Reseptor opioid dan menenangkan rasa sakit sebagai balasannya. Selain itu, mentol efektif juga dalam menenangkan rasa sakit melalui peningkatan ambang stimulasi sel dan penurunan stimulasi sinoptik dan transmisi (Mahboubi, 2017). Minyak peppermint bermanfaat sebagai anti-inflamasi, analgesik, antiinfeksi, antimikroba, antiseptik, antispasmodik, astringen, pencernaan, karminatif, efek fungisida, anxyolitic (anti cemas), vasokonstriktor, dan dekongestan (Ali et al., 2015). 3. Eucalyptus Eucalyptus atau biasa dikenal dengan minyak kayu putih merupakan salah satu essensial oil yang sudah dimanfaatkan sejak ratusan tahun. Daun dan minyaknya terutama digunakan untuk penyakit pernapasan Kandungan utamanya cineol memiliki manfaat sebagai Analgesik, antineuralgic, antirematik, antiseptik, antispasmodik, antivirus, balsamic, cicatrisant, dekongestan, deodoran, depurative, diuretik, ekspektoran, obat penurun panas, hipoglikemik, parasiticide. Eucalyptus mudah menyatu dengan thyme, rosemary, lavender, marjoram, pinus, cedarwood dan lemon. Aromaterapi Eucalyptus bisa digunakan sebagai perawatan di rumah seperti perawatan kulit (Luka bakar, lecet, luka, herpes, gigitan serangga, obat nyamuk, kutu, infeksi kulit, luka), Sakit dan nyeri otot, buruk sirkulasi, rheumatoid arthritis, keseleo, Asma, bronkitis, radang selaput lendir hidung, batuk, sinusitis. 4. Rosemary Salah satu tanaman yang paling awal digunakan untuk makanan, obat-obatan dan sihir, yang dianggap suci di banyak peradaban. Essensial oil rosemary telah digunakan untuk berbagai keluhan termasuk pernapasan dan gangguan peredaran darah, kemacetan hati, keluhan pencernaan dan
AROMA TERAPI 373 saraf, nyeri otot dan rematik, masalah kulit dan rambut. Analgesik, antimikroba, anti-oksidan, antirematik, antiseptik, antispasmodik, afrodisiak, astringen, karminatif, cephalic, cholagogue, choleretic, cicatrisant, ramah, cytophylactic, yg mengeluarkan keringat, pencernaan, diuretik, emmenagogue, fungisida, hati, hipertensi, menenangkan, parasiticide, restoratif, rubefacient, stimulan (peredaran darah, korteks adrenal, hepatobilier), sakit perut, sudorific, tonik (gugup, umum), rentan. Aplikasi Aroma Terapi Penggunaan minyak esensial dalam tubuh akan tergantung pada jalur dimana molekul diberikan, yang dapat terjadi melalui inhalasi, konsumsi atau jalur kulit. Metode pemberian aromaterapi yang paling umum adalah inhalasi (langsung atau oleh difusi) dan aplikasi topikal, terkadang melalui pijat (Lindquist et al., 2018). Minyak lavender diberikan dengan cara inhalasi efektif untuk meningkatkan perhatian dan mengurangi kecemasan, memberikan relaksasi, dan mengarah pada pengurangan parameter fisik sistem saraf otonom seperti denyut nadi, laju pernapasan, dan darah tekanan (Lyra et al., 2010; Setyawan, 2020). Aroma terapi dengan cara inhalasi efektif karena, ketika minyak memasuki tubuh melalui inhalasi, molekul-molekul merangsang jalur penciuman yang erat terhubung ke bagian-bagian dari sistem limbik otak, yang mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan, memori, dan kadar hormon (Setyawan, 2020). Limbik sistem termasuk amigdala otak, yang memainkan peran utama dalam reaksi seperti ketakutan dan kemarahan, dan menjadi sangat aktif selama trauma emosional (Edris, 2007). Selain itu penggunaan aroma terapi secara inhalasi akan mempercepat efek penghambatan Monoamine Oxidise yang berperan dalam mengembalikan keseimbangan neurotransmitter (serotonin, norepinefrin, dan dopamine) sehingga dapat meningkatkan mood. Beberapa senyawa yang dapat menghambat Monoamine Oxidise adalah eugenol, linalool, dan benzyl benzoate (Zhang et al, 2016).
AROMA TERAPI 374 Ketika molekul minyak esensial dihirup, molekul akan melintasi saluran pernapasan bagian atas, mencapai saluran udara bagian bawah di mana ia diserap oleh pembuluh darah paru dan menyebar ke tubuh melalui aliran darah ke organ dan jaringan. Ketika diberikan melalui kulit, molekul menembus kulit atau selaput lendir, di mana mereka diserap dan didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh melalui aliran darah. Saat tertelan, molekulnya menembus mukosa usus, mencapai aliran darah dan didistribusikan ke dalam tubuh. Evidence Based Aroma Terapi untuk Diagnosa Keperawatan Salah satu peran perawat adalah sebagai peneliti, maka sudah seharusnya perawat turut berkontribusi dalam melakukan penelitian tentang komplementer terapi. Jika belum berkesempatan melakukan penelitian, minimal membaca dan mempelajari bekam dari hasil penelitian yang sudah ada, sebagai bekal ilmu dalam memberikan pelayanan kepada klien. Berikut penulis mencoba memberikan rangkuman beberapa hasil penelitian tentang aromaterapi yang sesuai dengan diagnosis keperawatan. 1. Gangguan Pola Tidur Gangguan pola tidur merupakan gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat factor eksternal. Kondisi klinis terkait seperti nyeri, kecemasan dan penyakit paru. Dalam sebuah penelitian oleh (Lin et al., 2019), aromaterapi menggunakan esensial tunggal maupun campuran dan dilakukan melalui inhalasi, non-inhalasi, dan campuran Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas tidur. Selanjutnya, dalam studi oleh (kim et al., 2019) telah ditunjukkan bahwa baik inhalasi dan metode pijat efektif dalam meningkatkan kualitas tidur, namun, metode pijat lebih efektif daripada metode inhalasi. Selain itu, ia telah melaporkan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam ukuran efek antara inhalasi, asupan oral, dan metode pijat untuk
AROMA TERAPI 375 aromaterapi, menunjukkan bahwa efek aromaterapi bervariasi tergantung pada aplikasinya metode. 2. Keletihan Keletihan adalah terjadinya penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak pulih dengan istirahat. Penyebab dari keletihan diantaranya : gangguan tidur, penyakit kronis, stress berlebihan dan depresi. Study yang dilakukan oleh (Bahraini et al., 2011) tentang efek pijat effleurage dengan aromatic minyak dan minyak non-aromatik pada kelelahan pada pasien dengan multiple sclerosis. Wanita dengan multiple sclerosis dibagi menjadi dua kelompok terapi pijat, satu kelompok dengan minyak aromatik (10 ml) minyak esensial lavender 2,5%) dan yang lainnya dengan minyak non-aromatik (minyak almond manis). Pasien menerima pijat selama 20 menit, 3 kali seminggu, selama 4 minggu. Perbedaan yang signifikan secara statistik ditemukan antara kedua kelompok dalam tingkat keparahan kelelahan sebelum dan setelah intervensi. Dalam studi lain, (Kohara et al., 2004) melaporkan perbedaan yang signifikan dalam skor total CFS (Cancer Fatigue Scale) sebelum dan sesudah intervensi. Mereka memeriksa keefektifannya kombinasi modalitas pengobatan aromaterapi, rendam kaki dan refleksiologi pada kelelahan pada pasien dengan kanker dalam studi semi eksperimental. Selain itu study yang dilakukan oleh (Karadag & Baglama, 2019) pada pasien yang menjalani hemodialisis, tingkat kelelahan mereka ditemukan menurun setelah pemberian aromaterapi dengan lavender minyak. Kelelahan pasien yang menjalani hemodialisis dapat dikaitkan dengan masalah fisik seperti tidur masalah, depresi, anemia, dan terkait terapi masalah (peningkatan ketergantungan, terhubung dengan) mesin, dll). 3. Nausea Nausea merupakan perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah.
AROMA TERAPI 376 Penyebab nausea diantaranya: gangguan pada esofagus, distensi lambung, iritasi lambung, kehamilan dan efek toksin. Penelitian yang dilakukan oleh (Ghani & Ibrahim, 2013) pada 101 ibu hamil didapatkan hasil bahwa Inhalasi campuran dua esensial oil lavender dan peppermint dapat meminimalkan keparahan mual, meningkatkan energi dan mengurangi kelelahan. Episode mual dan muntah berkurang pada inhalasi minyak atsiri hari ketiga dibandingkan dengan penilaian awal di antara wanita hamil dalam kelompok studi. Selain itu, wanita merasa energik setelah menghirup minyak esensial. Skor suasana hati berkisar antara energi ringan hingga sedang. 4. Nyeri Akut dan Nyeri Kronis Nyeri akut merupakan pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Sedangkan nyeri kronis lebih dari 3 bulan. Aromaterapi menjadi salah satu terapi yang direkomendasikan dalam menurunkan nyeri. Studi yang dilakukan oleh (Lakhan et al., 2016) dengan metode sistematik review dan meta analisis menemukan bahwa aromaterapi efektif dalam menurunkan nyeri. Aromaterapi efektif dalam menurunkan masalah nyeri seperti nyeri leher kronis (Y B Yip & Tse, 2004), nyeri lutut (Yin Bing Yip & Tam, 2008), nyeri menstruasi (Hur et al., 2012), nyeri hemodialisa (Bagheri-Nesami et al., 2014). Aromaterapi bekerja dengan merangsang sistem saraf parasimpatis, sehingga menghasilkan sensasi dan relaksasi yang menyenangkan Aromaterapi juga merangsang sistem saraf pusat (SSP) melalui sistem penciuman yang dapat meningkatkan kenyamanan, relaksasi, dan perasaan alami. Korelasi yang ditemukan antara pereda nyeri dan jaringan otak dalam, dan aromaterapi secara optimal memodulasi aktivitas otak dalam untuk mendapatkan efek analgesik maksimal.
AROMA TERAPI 377 Jadi, ketika nyeri dikelola dengan baik, pasien akan siap menerima pengobatan mereka dengan cara ini meningkatkan kualitas hidup pasien. Aromaterapi harus dianggap sebagai tambahan yang aman untuk prosedur manajemen nyeri saat ini karena tidak ada efek samping yang dilaporkan dalam salah satu studi yang disertakan. 5. Ansietas Ansietas merupakan kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan Tindakan untuk menghadapi ancaman. Secara fisiologi keadaan cemas dapat mengaktifkan hipotalamus yang selanjutnya akan melepaskan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) untuk menstimulus sekresi Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) dan hormon kortisol, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Setyawan et al., 2021) dengan judul Apakah Aromaterapi Peppermint Efektif Terhadap Penurunan Kecemasan Mahasiswa Di Masa Pandemi Covid-19? Didapatkan hasil bahwa aroma terapi peppermint efektif dalam penurunan kecemasan mahasiswa. Hal ini sesuai dengan efek pemberian aromaterapi lavender terhadap penurunan kecemasan pada pasien koroner (Cho et al., 2013) (Karadag et al., 2017) pasien hemodialisis (Tayebi et al., 2015) selama persalinan (Lamadah & Nomani, 2016) Patients Undergoing Coronary Artery Bypass Graft Surgery (Rajai et al., 2016). Aroma terapi efektif dalam menurunkan kecemasan karena mempunyai efek menurunkan pelepasan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) melalui jalur saraf penciuman (olfactory) di hipotalamus. Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) mempunyai peran penting pada terjadinya kecemasan. Meningkatnya CRH akan menginstruksikan kelenjar hipofisis bagian anterior untuk mensekresi Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) hasil dari sekresi hormon ACTH ke dalam darah berupa aktifasi zona fasikulata pada korteks
AROMA TERAPI 378 adrenal yang pada akhirnya mensekresi hormon kortisol (hormone strees) (Ali et al., 2015). Esensial oil yang direkomendasikan untuk mengurangi kecemasal adalah peppermint, lavender, rose tree, sandalwood, dan geranium. Implementasi Aromaterapi dalam Keperawatan No CEKLIST AROMA TERAPI Pra Interaksi 1 MUHASABAH a. Memastikan telah berwudhu / menjaga wudhu b. Membaca Ta’awudz dan berdoa perlindungi diri ( dilengkapi artinya ) A’UUDZU BI KALIMAATILLAAHIT-TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan ciptaan-Nya) Niat kepada Allah Subhanallahhu wa ta’ala 2 Membaca Rekam Medis (diawali dengan Mengucap “bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang ) 3 Mempersiapkan alat a. Esensial oil b. Handuk c. Diffuser d. Cotton bud/kasa/kapas Interaksi 4 Mengucapkan Salam kepada pasien “ Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, dilanjutkan “selamat pagi / siang / malam” dan tanyakan kabar 5 Memperkenalkan diri perawat kepada pasien 6 Menanyakan identitas klien 7 Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan 8 Melakukan kontrak waktu 9 Membrikan kesempatan klien bertanya 10 Meminta persetujuan 11 Menjaga privasi Tah ap Kerj a 12 Berikan edukasi tauhid dan Anjurkan/ajarkan pasien untuk Berdoa
AROMA TERAPI 379 Bismillahirrahmanirrahim 3X (Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang ) A’udzubillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan sesuatu yang aku jupai dan aku takuti) 13 Mencuci tangan (hands rub) 6 langkah 14 Memposisikan klien (Posisi nyaman klien) Jika klien ada masalah pada pernafasanya hindari posisi tengkurap. 15 Menempatkan alat difuser di dekat klien (Menata Alat) 16 Tawarkan kepada klien aromaterapi yang diinginkan atau sesuaikan dengan kebutuhan klien 17 Anjurkan pasien untuk bernafas seperti biasa 18 Lakukan selama 10 menit 19 Observasi keadaan klien 20 Kembalikan klien ke posisi yang nyaman 21 Akhiri Tindakan dengan mengucapkan “ Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)” Terminasi 22 Membereskan alat 23 Tanyakan perasaan klien setelah dilakukan tindakan 24 Berikan reinfoecement positif 25 Mengajak pasien untuk berdoa dan bersabar mengahadapi sakit Allahumma robbannas adzhibilba’ sa isyfi antasysyafi la syifauka syifa’ an la yughodiru saqoma (Ya Allah Ya Tuhanku, Tuhan dari segala manusia dimuka bumi, berikanlah kesembuhan kepadanya, angkatlah penyakitnya, dan jadikanlah penyakit yang ia derita sebagai pelebur dosa. Hanya kepadamu lah kami meminta kesembuhan, kesembuhan yang tak ada kambuh lagi.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)” 26 Membuat janji kontrak untuk pertemuan berikutnya. (dalam membuat janji diawali dengan “INsyaAllah = jika Allah menghendaki”)