The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang, 2023-03-13 08:15:29

Perawatan Luka dan Terapi Komplementer

Buku ini berisikan tentang tehnik Perawatan Luka dan Kumpulan berbagai Terapi Komplementer

Keywords: Rawat Luka Tehnik Terapi Komplementer

TAI CHI DAN YOGA 280 motorik yang mempengaruhi postur, keseimbangan dan gaya berjalan. Latihan taichi dan yoga dapat dilakukan di rumah bagi individu dengan penyakit diatas yang bergejala lebih ringan. Taichi telah diteliti secara ekstensif dalam banyak kondisi medis, termasuk penyakit Parkinson dengan bukti yang sangat baik untuk meningkatkan keseimbangan dan daya tahan, sedangkan gerakan meditasi pada yoga meningkatkan kapasitas latihan paru dan fungsi paru-paru pada penderita penyakit paru menahun (Deuel & Seeberger, 2020; Khuzema et al., 2020; Singh et al., 2021; Wang et al., 2019).


TAI CHI DAN YOGA 281 Daftar Pustaka Barretto, J. R. (2021). Benefits of Exercise in Pregnant Women [Dominican University of California]. https://doi.org/https://doi.org/10.33015/dominica n.edu/2022.NURS.ST.17 This Bougea, A. (2020). A Critical Evaluation of the Studies Included in Brenes et al. 2019 on the Therapeutic Effects of Yoga in People With Dementia. American Journal of Geriatric Psychiatry, 28(11), 1224–1225. https://doi.org/10.1016/j.jagp.2020.06.017 Chen, X. P., Wang, L. J., Chang, X. Q., Wang, K., Wang, H. F., Ni, M., Niu, W. X., & Zhang, M. (2021). Tai Chi and Yoga for Improving Balance on One Leg: A Neuroimaging and Biomechanics Study. Frontiers in Neurology, 12(October), 1–10. https://doi.org/10.3389/fneur.2021.746599 Debora, O., & Sulistyono. (2022). The Effect of Touch Less Spiritual Therapy and Yin Yoga Toward Student’s Perceived Stress During Covid-19 Pandemic. Jurnal Keperawatan Komprehensif, 8((2) April), 156–164. Deuel, L. M., & Seeberger, L. C. (2020). Complementary Therapies in Parkinson Disease: a Review of Acupuncture, Tai Chi, Qi Gong, Yoga, and Cannabis. Neurotherapeutics, 17(4), 1434–1455. https://doi.org/10.1007/s13311-020-00900-y Fogarty, S., Huberty, J., & Hay, P. (2022). Parent ’ s Experience with and Desire to Use Complementary and Alternative Medicine After Stillbirth : Findings from an Online Survey. Integrative Medicine Reports, 1, 43–52. https://doi.org/10.1089/imr.2021.0010 Hima, I. F. (2019). Fungsi Musik Olahraga Taichi Di Sasana Mandala Taichi Institut Seni Indonesia Surakarta. Skripsi. http://repository.isi-ska.ac.id/ Jelita, M. A., Tanjung, J. R., Haryono, I. R., & Prastowo, N. A. (2021). A comparison of balance and leg muscle strength between tai chi and yoga in older adults: A cross-sectional study. Baltic Journal of Health and


TAI CHI DAN YOGA 282 Physical Activity, 13(3), 71–77. https://doi.org/10.29359/bjhpa.13.3.09 Khuzema, A., Brammatha, A., & Arul Selvan, V. (2020). Effect of home-based Tai Chi, Yoga or conventional balance exercise on functional balance and mobility among persons with idiopathic Parkinson’s disease: An experimental study. Hong Kong Physiotherapy Journal, 40(1), 39–49. https://doi.org/10.1142/S1013702520500055 Lesley, D., Meindersma, B., & Velazquez-garcia, C. (2022). Dance / Movement Therapy Combined with Tai-chi as a Regulation Strategy for Children Who Have Experienced Trauma : Developing a Method Dance / Movement Therapy. Miller, S., & Taylor-Piliae, R. (2021). Perceptions of the Eight Active Ingredients of Tai Chi Exercise among Older Adults. Pan, C., Tie, B., Yuwen, W., Su, X., Deng, Y., Ma, X., Wu, Y., Liao, Y., Kong, L., Zhang, Y., Li, Z., Pan, Q., & Tang, Q. (2022). “Mindfulness Living with Insomnia”: An mHealth intervention for individuals with insomnia in China: A study protocol of a randomised controlled trial. BMJ Open, 12(2), 1–9. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2021-053501 Quigley, A., Brouillette, M. J., Gahagan, J., O’Brien, K. K., & MacKay-Lyons, M. (2020). Feasibility and Impact of a Yoga Intervention on Cognition, Physical Function, Physical Activity, and Affective Outcomes among People Living with HIV: A Randomized Controlled Pilot Trial. Journal of the International Association of Providers of AIDS Care, 19(1), 1–15. https://doi.org/10.1177/2325958220935698 Rohmah Fauziah, M. (2020). Perbedaan Pengaruh Senam Yoga dan Senam Tai Chi Terhadap Penurunan Nyeri Pada Osteoartritis Lutut. Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(7), 365. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i7.1467


TAI CHI DAN YOGA 283 Rosado-Pérez, J., Castelán-Martínez, O. D., MújicaCalderón, A. J., Sánchez-Rodríguez, M. A., & Mendoza-Núñez, V. M. (2021). Effect of tai chi on markers of oxidative stress: Systematic review and meta-analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(7), 1–14. https://doi.org/10.3390/ijerph18073458 Saravanakumar, P., Higgins, I. J., Van Der Riet, P. J., & Sibbritt, D. (2018). Tai chi and yoga in residential aged care: Perspectives of participants: A qualitative study. Journal of Clinical Nursing, 27(23–24), 4390–4399. https://doi.org/10.1111/jocn.14590 Silva, D. F., Santos, M. E. R. A., Carmo, T. S. do, Moura, M. E. da C., Arruda, I. P. de D. e M. A., & Pereira, S. da C. (2022). Yoga implications for preventing accidental falls in older adults: a systematic review. Fisioterapia Em Movimento, 35(35201), 1–10. https://doi.org/10.1590/fm.2022.35201 Singh, J. (2022). Tele-yoga in the management of Ankylosing Spondylitis amidst COVID pandemic : A Prospective Randomized Controlled Trial. Singh, J., Tekur, P., Metri, K. G., Mohanty, S., Singh, A., & Nagaratna, R. (2021). Potential Role of Yoga in the Management of Ankylosing Spondylitis: A Retrospective Study. Annals of Neurosciences, 28(1– 2), 74–78. https://doi.org/10.1177/09727531211035335 Stroe, Z. A., Axelerad, S. D., Stuparu, A. F., & Axelerad, D. D. (2020). Assessing the effectiveness of yoga, Tai Chi and aerobics on the fatigue of multiple sclerosis patients. Timisoara Physical Education and Rehabilitation Journal, 13(24), 12–18. https://doi.org/10.2478/tperj-2020-0002 Suiraoka, I. (2012). Penyakit Degeneratif: Mengenal, Mencegah dan Mengurangi faktor resiko 9 Penyakit Degenaratif. Nuha Medica, 1–123. Taylor, J., McLean, L., Korner, A., Stratton, E., & Glozier, N. (2020). Mindfulness and yoga for psychological


TAI CHI DAN YOGA 284 trauma: systematic review and meta-analysis. Journal of Trauma and Dissociation, 21(5), 536–573. https://doi.org/10.1080/15299732.2020.1760167 Walter, A. A., Van Puymbroeck, M., Bosch, P., & Schmid, A. A. (2020). Complementary and integrative health interventions in post-stroke rehabilitation: a systematic PRISMA review. Disability and Rehabilitation, 0(0), 1–10. https://doi.org/10.1080/09638288.2020.1830440 Wang, C. C., Li, K., Choudhury, A., & Gaylord, S. (2019). Trends in Yoga, Tai Chi, and Qigong use among US adults, 2002-2017. American Journal of Public Health, 109(5), 755–761. https://doi.org/10.2105/AJPH.2019.304998 Yekti, P., Asih, B., Edra, I. P., Indrawan, P., Susila, V. P., Ratna, P., Puspita, C., Perdana, A. P., Wahyuni, N., & Adiatmika, I. P. G. (2022). TAI CHI ROLES IN REDUCING FATIGUE , PAIN , AND TNF - alpha PLASMA LEVEL ON BREAST CANCER PATIENTS : A SYSTEMATIC REVIEW. Sport and Fitness Journal, 10(2), 124–137. Zou, L., Sasaki, J. E., Wei, G. X., Huang, T., Yeung, A. S., Neto, O. B., Chen, K. W., & Hui, S. S. C. (2018). Effects of mind–body exercises (Tai Chi/Yoga) on heart rate variability parameters and perceived stress: A systematic review with meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Clinical Medicine, 7(11). https://doi.org/10.3390/jcm7110404


TAI CHI DAN YOGA 285 Profil Penulis Yosephina Elizabeth Sumartini Gunawan Penulis adalah seorang Dosen di Poltekkes Kemenkes Kupang, Kampus D3 Keperawatan Waingapu. Penulis memiliki kepakaran dibidang Keperawatan Penyakit Tropik, yang berfokus pada penyakit TBC, Demam Berdarah dan Malaria. Penulis pernah terlibat dalam tim mata kuliah Keperawatan Komplementer pada tahun 2016-2019. Ketertarikan penulis pada Yoga dan aktivitas mindbody spirit mulai dirasakan sejak tahun 2018. Pada saat itu, Penulis secara otodidak mencari informasi tentang Yoga dan berlatih Yoga dengan mengikuti berbagai kelas online atau tutorial dalam aplikasi. Banyak manfaat yang telah dirasakan Penulis sejak melakukan Yoga. Hingga saat ini Penulis aktif mengikuti latihan Yoga di Upeksha Yoga Sumba sebagai salah satu kegiatan yang membantu Penulis untuk tetap aktif bergerak. Keterlibatan penulis dalam buku ini merupakan salah satu wujud tanggungjawab Penulis sebagai seorang Dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta bentuk kecintaan Penulis terhadap Yoga dan aktivitas serupa yang bermanfaat dalam membangun tubuh serta jiwa yang sehat, kuat dan senantiasa memancarkan berbagai hal positif dalam kehidupan setiap orang. Email Penulis: [email protected]


286


287 19 PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION Syamsyuriyana Sabar, S.Kep., Ns., M.Kep. Universitas Megarezky Definisi Progressive Muscle Relaxation (PMR) adalah terapi relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan melemaskan otot-otot pada satu bagian tubuh pada satu waktu untuk memberikan perasaan relaksasi secara fisik. Gerakan mengecangkan dan melemaskan secara progresif kelompok otot ini dilakukan secara berturut-turut. Dengan terus menggunakan PMR, seseorang dapat merasakan ketegangan otot tanpa harus melalui ketegangan dan relaksasi kelompok otot tertentu (Lindquist and Snyder, 2006). Relaksasi otot progresif (progressive muscle relaxation) didefinisikan sebagai suatu teknik relaksasi yang menggunakan serangkaian gerakan tubuh yang bertujuan untuk melemaskan dan memberi efek nyaman pada seluruh tubuh (Corey, 2013). Jenis Relaksasi Otot Jenis relaksasi otot menurut (Ramdhani and Putra, 2008; Harmono, Nurachmah and Widyatuti, 2010; Safithry, 2014) yaitu: 1. Relaxation via tension-relaxation Teknik ini Bertujuan mengurangi ketegangan dan atau kecemasan, dengan merelaksasikan atau melemaskan otot-otot badan.


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 288 Individu di minta untuk menegangkan otot dengan ketegangan tertentu kemudian disuruh mengendorkan atau melemaskannya, antara ketegangan dan pengendoran individu diminta untuk merasakan perbedaannya, sampai mampu membedakan antara otot yang tegang dengan yang lemas. Metode ini digunakan agar individu dapat merasakan perbedaan antara saat-saat otot tubuh tegang dan saat otot tubuh lemas. Otot yang dilatih adalah otot lengan, tangan, bisep, bahu, leher, wajah, perut dan kaki. 2. Relaxation via letting go Salah satu jenis terapi relaksasi otot progresif yang bertujuan agar individu dapat lebih peka terhadap ketegangan dan lebih ahli dalam mengurangi ketegangan yang dialami sehingga individu dapat mengurangi ketegangan akibat depresi yang dialaminya. 3. Differential relaxation Merupakan salah satu penerapan keterampilan relaksasi progresif dimana tidak hanya menyadari kelompok otot yang diperlukan untuk melakukan aktifitas tertentu saja tetapi juga mengidentifikasi dan lebih menyadari lagi otot-otot yang tidak perlu untuk melakukan aktifitas. Selain itu, jenis relaksasi otot menurut Alim (2009) dalam (Harmono, Nurachmah and Widyatuti, 2010) yaitu: 1. Over PMR (tense up and letting go): yakni relaksasi secara sadar menegangkan kelompok otot sekitar 5- 10 detik kemudian melepaskan selama kurang lebih 30 detik, seringkali menggunakan 11 kelompok otot 2. Cover PMR (Letting go): jenis PMR yang hanya merilekskan kelompok otot tanpa menegangkannya lebih dahulu.


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 289 Indikasi Progressive Muscle Relaxation Progressive Muscle Relaxation dilaporkan efektif dalam mengurangi ketegangan otot di tubuh. Relaksasi otot dapat secara langsung menghambat kecemasan dan aktivitas otot yang umumnya mendahului mual dan muntah (Lorenc, Cooke and the CAM Cancer Consortium, 2019). Teknik Progressive Muscle Relaxation dianjurkan untuk orang-orang dengan gangguan kecemasan, imsomnia dan nyeri (Tobing, Keliat and Wardani, 2012), selain itu PMR juga digunakan sebagai terapu dalam managemen stress dan kecemasan, nyeripada gangguan fisik seperti pasien asma, hipertensi, COPD (chronic Obstrctive Pulmonary Diseases), klien dengan gangguan jiwa (Psychiatric), klien pemulihan memori, pasien kanker, postoperative, sakit kepala, pasien mual-muntah, HIV, penyakit herpes dan klien yang mendapatkan prosedur medik tertentu (Lindquist and Snyder, 2006). Kontra Indikasi Progressive Muscle Relaxation Klien dengan gangguan otot, jaringan atau nyri punggung bawah tidak dianjurkan melakukan relaksasi otot progresif, serta klien dengan tekanan intracranial meningkat, hipertensi tidak terkontrol atau penyakit arteri korononaria yang berat (Lewis et al., 2016); Richmond, 2009). Beberapa kekhawatiran telah dikemukakan tentang penggunaan PMR di antara individu yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan, tetapi efek sampingnya tidak didokumentasikan dengan baik (Lorenc, Cooke and the CAM Cancer Consortium, 2019). Hal yang disaranakan dan diperhatian dalam latihan Progressive Muscle Relaxation (Harmono, Nurachmah and Widyatuti, 2010) yaitu: 1. Selalu latihan di tempat yang tenang, sendirian, tanpa atau menggunakan audio untuk membantu konsetrasi pada kelompok otot; 2. Melepaskan sepatu dan pakaian tebal; 3. Hindari makan, merokok dan minum, yang terbaik melakukan latihan sebelum makan; 4. Tidak boleh latihan setelah minum minuman keras;


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 290 5. Latihan dilakukan dengan posisi duduk, tetapi dapat juga dengan posisi tidur; 6. Jangan terlalu menegangkan otot berlebihan karena dapat melukai diri sendiri; 7. Latihan membutuhkan waktu 15-20 menit. Aplikasi dan Dosis PMR dapat diajarkan oleh profesional perawatan kesehatan, termasuk psikolog klinis dan perawat, serta hipnoterapis, instruktur yoga, dan praktisi pelengkap lainnya. Pelatihan dapat dilakukan dalam kelompok atau satu lawan satu, selama satu atau serangkaian sesi, atau melalui CD/rekaman audio sebagai teknik swadaya. Ada beberapa bukti bahwa PMR untuk pasien kanker hanya berhasil jika disampaikan oleh orang yang terlatih secara profesional. Pelatihan dapat ditawarkan sebelum, selama, atau setelah perawatan atau prosedur medis. Sesi PMR biasanya berlangsung selama 20 sampai 30 menit, tetapi tidak standar dan karena itu dapat bervariasi dalam durasi, frekuensi dan jumlah kelompok otot yang terlibat, dan mungkin juga termasuk teknik pernapasan dalam (Lorenc, Cooke and the CAM Cancer Consortium, 2019). Pelaksanaan PMR untuk hasil maksimal dianjurkan dilakukan secara rutin selama 25-30 menit setiap sesi dan dianjurkan untuk melakukan latihan 2x sehari selama 2 jam setelah makan untuk mencegah rasa kantuk. Jadwal latihan diperkirakan membutuhkan waktu minimal 1 minggu untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal. Berstein dan Borkovec menganjurkan menggunakan 10 sesi untuk latihan PMR. Namun beberapa penelitian mengatakan bahwa dengan 4 sesi latihan sudah memberikan efek positif terhadap terapi ((Lindquist and Snyder, 2006; Tobing, Keliat and Wardani, 2012). Efektifitas Progressive Muscle Relaxation Terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Hasil penelitian (Sabar and Lestari, 2020) menunjukkan bahwa penderita hipertensi yang diberikan terapi progressive muscle relaxation selama 5 hari berturut-


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 291 turut memperlihatkan perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna antar sebelum dan setelah melakukan PMR. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Akhriansyah, 2019) yang mengatakan bahwa ada pengaruh progressive muscle relaxation (PMR) terhadap penuruan tekanan darah pada lansia hipertensi di panti tresna wherda Palembang dengan nilai p value untuk sistol dan diastole adalah 0,000. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian terapi ini menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic secara bermakna dari tingkat hipertensi derajat I menjadi tingkat prehipertensi. Latihan relaksasi otot progresif memberikan dampak yang signifikan dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi esensial atau primer. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Shinde et al., 2013) menggambarkan tentang study eksperimental yang dilakukan di berbagai fakultas di India bulan September 2011 hingga Desember 2011 dengan subjek penelitian berjumlah 105 orang yang menderita hipertensi primer dengan tekanan darah diatas 140/90 mmHg dalam rentang usia 25-55 tahun. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada tekanan darah dan denyut jantung pre dan post intervensi, secara statistik didapatkan hasil pada tekanan darah sistolik (p<0,01), tekanan darah diastolik (p=0,05) dan denyut jantung (p<0,05) terjadi penurunan yang signifikan setelah melaksanakan relaksasi otot progresif. Setelah mengalami relaksasi maka aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Sebagaimana diketahui bahwa usia muda mempunyai elastisitas pembuluh darah yang lebih baik. Elastisitas pembuluh darah ini menyebabkan besarnya toleransi pembuluh terhadap tekanan akhir diastolik. Dinding pembuluh darah arteri yang elastis dan mudah berdistensi akan mudah melebarkan diameter dinding pembuluh darah untuk mengakomodasi perubahan tekanan. Kemampuan distensi arteri mencegah pelebaran fluktuasi tekanan darah (Price and Wilson, 2002).


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 292 Perubahan akibat teknik relaksasi adalah menurunan tekanan darah, menurunkan frekuensi jantung, mengurangi distritmia jantung, mengurangi kebutuhan oksigen dan konsumsi oksigen, mengurangi ketegangan otot, menurunkan laju metabolic, meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika sadar, tidak memfokuskan perhatian dan rileks, meningkatkan kebugaran, meningkatkan konsentrasi dan memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stressor (Potter, 2006). Relaksasi dapat merangsang munculnya zat kimia yang mirip dengan beta blocker di saraf tepi yang dapat menutup simpul-simpul saraf simpatis yang berguna untuk mengurangi ketegangan dan menurunkan tekanan darah. Selain itu relaksasi otot progresif dapat memicu penurunan aktivitas memompa jantung dan pelebaran arteri, sehingga banyak cairan yang keluar dari sirkulasi peredaran darah. Hal tersebut akan mengurangi beban kerja jantung karena pada penderita hipertensi mempunyai denyut jantung yang lebih cepat untuk memompa darah akibat dari peningkatan darah (Ramdhani and Putra, 2008). Relaksasi pada dasarnya berhubungan dengan sistem kerja saraf manusia, yang terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom (saraf simpatis dan saraf parasimpatis). Keadaan rileks mampu menstimulasi tubuh untuk memproduksi molekul yang disebut oksida nitrat (NO). Molekul ini bekerja pada tonus pembuluh darah sehingga dapat mengurangi tekanan darah. Relaksasi otot progresif dapat meningkatkan relaksasi dengan menurunkan aktivitas saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas saraf parasimpatis sehingga terjadi vasodilatasi diameter arteriol. Sistem saraf parasimpatis melepaskan neurotransmiter asetilkolin untuk menghambat aktivitas saraf simpatis dengan menurunkan kontraktilitas otot jantung, vasodilatasi arteriol dan vena kemudian menurunkan tekanan darah (Muttaqin, 2009).


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 293 Langkah–langkah Progressive Muscle Relaxation 1. Gerakan pertama ditujukan untuk otot dahi dan mata yang dilakukan dengan cara mengerutkan dahi dan alis sekeras-kerasnya, memejamkan mata sekuatkuatnya hingga kulit terasa mengerut dan dirasakan ketegangan di sekitar dahi, alis, dan mata. Lemaskan dahi,alis dan mata secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi; 2. Gerakan kedua bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh otot -otot pipi dengan cara mengembungkan pipi sehingga terasa ketegangan disekitar otot -otot pipi. Lemaskan dengan cara meniup secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi; 3. Gerakan ketiga ini dilakukan untuk mengendurkan otot-otot sekitar mulut. Monyongkan bibir ke depan sekeras-kerasnya hingga tertasa tenang dimulut. Lemaskan mulut dan bibir secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi;


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 294 4. Gerakan keempat bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh rahang dan mulut dengan cara mengatupkan mulut sambil menggigit gigi sekuat-kuatnya sambil tarik lidah ke belakang sehingga terasa ketegangan disekitar otot-otot rahang. Lemaskan mulut secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi; 5. Gerakan kelima bertujuan untuk otot-otot leher belakang, klien dipandu untuk menekangkan kepala kearah punggung sedemikian rupa sehingga terasa tegang pada otot leher bagian belakang. Lemaskan leher secara perlahanhingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi. 6. Gerakan keenam bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan. Gerakan ini dilakukan dengan cara tekuk atau turunkan dagu hingga menyentuh dada, kemudian responden diminta untuk membenamkan dagu kedada sehingga dapa merasakan ketegangan


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 295 didaerah leher bagian depan. Lemaskan dan angkat dagu secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi; 7. Gerakan ketujuh ditujukan untuk melatih otot-otot baru. Relaksasi untuk mengendurkan bagian otototot bahu dapat dilakukan dengan cara mengankat kedua bahu kearah telinga setinggi. Lemaskan atau turunkan kedua bahu secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi dibahu, punggung atas, dan leher; 8. Gerakan kedelapan ditujukan untuk melatih otot tangan yang dilakukan dengan cara menggenggamkan tangan kiri sambil membuat suatu kepalan. Selanjutnya responden diminta membuat kepalan ini semaki kuat sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi. Pada saat kepalan dilepaskan,responden dipandu untuk merasakan rileks selama 10 detik. Gerakan pada tangan kiri dilakukan dua kali sehingga pasien dapat membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks selama 10 detik. Gerakan pada tangan kiri dilakukan dua kali sehingga pasien dapat membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks yang dialami. Prosedur serupa juga dilatihkan pada tangan kanan;


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 296 9. Gerakan kesembilan adalah gerakan untuk melatih otot tangan bagian belakang. Gerakan ini dilakukan dengan cara menekuk kedua pergelangan tangan ke belakang secara perlahan hingga otot- otot tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang. Jarijari menghadap kelangit. Lemaskan atau turunkan kedua tangan secara perlahan hingga 10 detik, lakukan kembali sekali lagi; 10. Gerakan kesepuluh adalah untuk melatih otot-otot lengan atau bisep. Otot bisep adalah otot brsar yang terdapat dibagian atas pangkal lengan. Gerakan ini diawali dengan menggenggamkan kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa kedua kepalan kepundak sehingga otot-otot lengan bagian dalam menegang. Lemaskan atau turunkan kedua tangan secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi;


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 297 11. Gerakan kesebelas bertujuan untuk melatih oto-otot punggung. Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, lalu busungkan dada dan lengkungkan punggung kebelakang dan dipertahankan selama 10 detik lakukan kembali sekali lagi. Pada saat rileks, letakkan tubuh kembali kekursi,sambil membiarkan otot - otot menjadi lemas; 12. Gerakan keduabelas ditujukan untuk melatih otototot dada. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik nafas dalam sedalam –dalamnya dan tahan beberapa saat sambil merasakan ketegangan pada bagian dada dan daerah perut. Hembuskan nafas perlahan-lahan melalui bibi, lakukan gerakan ini sekali lagi; 13. Gerakan ketigabelas bertujuan untuk melatih otototot perut. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik perut kearah dalam atau mengempiskan sekuat-kuatnya. Tahan selama 10 detik hingga perut terasa kencang dan tegang. Lemaskan perut secara perlahan hingga 10 detik, lakukan kembali sekali lagi;


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 298 14. Gerakan keempatbelas ditujukan untuk otot-otot betis. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik kedua telap kaki kearah dalam sekuat-kuatnya dan kedua tangan berusaha untuk menggapai ibu jari hingga terasa tegang di kedua betis selama 10 detik.lemaskan kedua kaki secara perlahan hingga 10 detik,lakukan kembali sekali lagi.


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 299 Daftar Pustaka Akhriansyah, M. (2019) ‘Pengaruh Progressive Muscle Relaxation (PMR) terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi di Panti Sosial Tresna Wherda Palembang Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2018’, Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 19(1), p. 11. doi:10.33087/jiubj.v19i1.544. Corey, G. (2013) Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. 9th edn, History of Indian Philosophy. 9th edn. Belmont, USA: Cengage Learning. doi:10.4324/9781315666792. Harmono, R., Nurachmah, E. and Widyatuti, W. (2010) Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Primer di Kota Malang, Unpublished thesis in Indonesian Depok: Universitas Indonesia. Lewis, S.L. et al. (2016) Medical-Surgical Nursing-E-Book: Assessment and Management of Clinical Problems, Single Volume. Elsevier Health Sciences. Lindquist, R. and Snyder, M. (2006) Complementary & alternative therapies in nursing, Choice Reviews Online. doi:10.5860/choice.51-4474. Lorenc, A., Cooke, H. and the CAM Cancer Consortium (2019) ‘Progressive Muscle Relaxation’, (Aug 2011), pp. 1–3. Muttaqin, A. (2009) Pengantar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem Kardiovaskular. Penerbit Salemba. Potter, P.A. (2006) ‘Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik, vol. 2’, in. Egc. Price, S.A. and Wilson, L.M. (2002) Pathophysiology: Clinical Concepts and Disease. Mosby. Ramdhani, N. and Putra, A.A. (2008) ‘Pengembangan multimedia relaksasi’, Yogyakarta: bagian psikologis klinis fakultas psikologi UGM [Preprint]. Sabar, S. and Lestari, A. (2020) ‘Efektifitas latihan progressive muscle relaxation terhadap penurunan


PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION 300 tekanan darah pada pasien hipertensi di Makassar’, Jurnal ilmiah kesehatan pencerah, 09(1), pp. 1–9. Safithry, E.A. (2014) ‘Latihan Relaksasi Untuk Mengurangi Gejala Insomnia’, Pedagogik: Jurnal Pendidikan, 9(1), pp. 70–79. doi:10.33084/pedagogik.v9i1.615. Shinde, N. et al. (2013) ‘Immediate effect of Jacobson’s progressive muscular relaxation in hypertension’, Indian Journal of Physiotherapy and Occupational Therapy, 7(3), p. 234. Tobing, D.., Keliat, B.A. and Wardani, I.. (2012) ‘Pengaruh Progressive Muscle Relaxation dan Logoterapi Terhadap Ansietas Dan Depresi, Kemampuan Relaksasi dan Kemampuan Memaknai Hidup Klien Kanker di RS Kanker Dharmais’, Jurnal Ilmu Keperawatan, 7, pp. 79–86. Profil Penulis Syamsyuriyana Sabar Ketertarikan penulis dalam bidang keperwatan dimulai pada tahun 2004 silam. Hal tersebut membuat penulis memilih untuk melanjutkan pendidikan jenjang sarjana pada program studi ilmu keperawatan di Universitas Hasanuddin (2008) dan profesi ners (2009). Tiga tahun kemudian, penulis melanjutkan studi S2 di Magister keperawatan di Universitas Indonesia dan lulus tahun 2015. Penulis memiliki kompetensi di bidang Keperawatan Medikal Bedah. Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Beberapa penelitian yang telah dilakukan didanai oleh internal perguruan tinggi dan juga Kemenristek DIKTI. Selain peneliti, penulis juga aktif menulis buku dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara yang sangat tercinta ini. Email Penulis: [email protected]


301 20 HIPNOTERAPI DAN MEDITASI Ns. Mohammad Shiddiq Suryadi, M.Tr.Kep.,Ch.,Cht Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nazhatut Thullab Sampang Pengertian Hipnotis dan Hipnoterapi Secara Bahasa Hipnotis berasal dari Bahasa yunani "hypnos" yaitu dewa tidur Yunani. Yang perlu dipahami adalah kondisi hipnotis tidak sama seperti tidur biasa. Pada saat kodisi tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan pada kondisi hipnotis, walaupun fisiknya beristirahat (seperti tidur), tapi masih bisa menyadari dan mendengar dengan jelas serta dapat menerima informasi yang diterimany. Milton H. Ericson menyatakan bahwa hipnotis adalah suatu metode berkomunikasi, baik verbal maupun nonverbal, yang persuasive dan segestif kepada kepada seorang klien sehingga dia menjadi kreatif (berimajinasi dengan emosional dan terbuka wawasan internalnya), kemudian bereaksi sesuai dengan sistim nilai dasar spiritual yang dimiliki. Hipnosis adalah suatu kondisi dimana pikiran bawah sadar (sub-conscious) manusia dapat menerima informasi lebih intensif dibandingkan dengan kondisi normal. Kondisi itu tercipta melalui proses komunikasi persuasif yang bersifat sangat sugesti atau proses induksi. Berdasarkan definisi di atas dapat dsismpulkan secara sederha hipnoytis adalah cara atau seni komunikasi untuk mempengaruhi orang lain atau memberikan sugsti atau pesan untuk tujuan tertentu dengan cara membuat klien atau subjek merasa rilaks dan nyaman dengan menurunkan gelobang otak dari BETA (pikiran sadar) ke


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 302 ALPHA dan THETA sehinggga klien berada dalam kondisi tidur hipnotis atau pikiran bawah sadar dan dalam kondisi gelombang otak ALPHA dan THETA. Dalam kondisi ini klien atau subjek masih mampu mendengar dan merepos informasi yang diterima. Hipnotis belum tentu hipnoterapi tapi hipnoterapi pasti hipnotis. Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari manfaat sugesti untuk mengatasi berbagai masalah pikiran, perasaan dan perilaku. Hipnoterapi dapat juga berarti suatu teknik terapi pikiran menggunakan hipnotis. Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran dan penyembuhan yang menggunakan metode hipnotis untuk memberi sugesti atau perintah positif kepada pikiran bawah sadar untuk penyembuhan suatu gangguan psikologis dan keluhan fisik atau untuk mengubah pikiran, perasaan dan perilaku menjadi lebih baik. Hipnoterapi ialah salah satu tipe pengobatan komplementer/nonkonvensional yang digunakan selaku pelengkap pengobatan konvensional/pengobatan kedokteran. Hipnoterapi merupakan sesuatu rangkaian proses yang digunakan seseorang hipnoterapis untuk menuntaskan permasalahan klien dengan ilmu hipnotis. Hipnoterapi bisa diartikan sebagai sesuatu tata cara dimana penderita dibimbing buat melaksanakan relaksasi, dimana setelah keadaan relaksasi dalam ini tercapai hingga secara alamiah gerbang gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih gampang buat menerima sugesti pengobatan yang diberikan. Secara umum tingkat kesulitan seseorang untuk dihipnotis dapat dibagi menjadi 5% sulit dihipnotis, 70-85% sedang, 10-15% mudah dihipnotis; skor kemampuan hipnotis wanita lebih tinggi daripada pria, dan anak-anak lebih tinggi daripada orang dewasa. Tujuan dari hipnoterapi adalah untuk memecahkan masalah fisik dan mental seperti rasa nyeri, kesemuta, cemas, tidak percaya diri dan lain-lain atau meningkatkan efikasi diri, dan efek hipnoterapi diharapkan bertahan selamanya. Dalam hipnoterapi, klien dan hipnoterapis


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 303 bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Pasien akan dibimbing sehingga mereka dapat menyadari kekuatan mereka dan, dengan menggunakan kebijaksanaan dan kekuatan pikiran bawah sadar mereka, memecahkan masalah yang mereka hadapi sendiri. Hipnoterapi modern yang berorientasi pada pasien lebih berperan dalam "membuka" kesadaran pasien, mengidentifikasi masalah utama, dan membantu pasien menyembuhkan atau memecahkan masalah secara mandiri. Pasien menjadi lebih nyaman dan relaks dengan kondisinya serta dapat menerima kondisinya sehingga tidak mengganggu aktivitas atau aktivitasnya sehari-hari (Syaputra MD, 2008). Jenis–Jenis Hipnotis Menurut Mahardika (2015) ada 4 jenis hipnotis dilihat dari pelakunya, antara lain: 1. Self hipnotis Hypnotis ini dilakukan oleh seseorang untuk dirinya sendiri. 2. Hetero hipnotis Hypnotis yang dilakukan seseorang untuk orang lain. Contohnya adalah hypnotis yang dilakukan seorang hipnoterapis pada subjek atau kliennya. 3. Para hipnotis Hipnotis yang terjadi kerena efek obat. Misalnya seseorang mengkonsumsi obat anastesi hingga tidak tidak sadar secara fisik, tapi pikiran pasien masih aktif dan tetap bisa mendengar apapun yang ada disekitarnya (Mahardika, 2015). Gelombang Otak Manusia Gelombang otak manusia dibagi dalam 4 wilayah yang dikenal dengan istilah Brainwave, yaitu: Beta, Alpha, Theta, dan Delta. 1. Gelombang Beta yaitu kondisi pikiran pada saat seseorang sangat aktif serta waspada.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 304 Kondisi ini terjadi ketika seseorang sedang beraktivitas normal seperti biasa. Frekwensi gelombang pikiran pada kondisi ini sekitar 14 – 24 Cps (diukur dengan perangkat EEG). 2. Gelombang Alpha yaitu kondisi pikiran pada saat seseorang fokus pada hal tertentu seperti belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi, dan pada saat seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi gelombang pikiran pada kondisi ini sekitar 7 – 14 Cps. 3. Theta yaitu kondisi pikiran pada saat seseorang relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seolah-olah yang bersangkutan merasa seperti “tertidur”, kondisi ini terjadi saat s melakukan meditasi yang sangat dalam, doa atau ibadah yang sangat khusu, dalam kondisi hipnotis dan dan dalam keadaan tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM (Rapid Eye Movement). Frekwensi gelombang pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 – 7 Cps. 4. Delta yaitu kondisi pikiran pada saat seseorang tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi gelombang pikiran pada kondisi ini sekitar 0.5 – 3.5 Cps. Sugesti dan Imajinasi Sugesti ialah tindakan seorang dengan tujuan pengaruhi orang lain, sehingga orang tersebut dapat menerima pengaruh tersebut tanpa kritik.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 305 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sugesti diartikan sebagai pendapat yang dikemukakan antuk dipertimbangkan, anjuran, dan saran. Pengertian kedua dari sugesti yaitu sebuah pengaruh dan sebagainya yang menggerakkan hati orang dan sebagainya. Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa sugesti merupakan tindakan seseorang yang dilakukan untuk mempengaruhi orang lain, sehingga orang tersebut bisa menerima pengaruh tersebut tanpa kritik atau penolakan. Cara Kerja Hipnotis atau Hipnoterapi Keadaan Hipnotis berada pada gelombang otak alfa serta theta. Saat pikiran seseorang dalam keadaan trance atau rilaks, kisaran gelombang otaknya terletak diantara gelombang alfa serta theta. Gelobang otak manusia Beta, Alpha, serta Theta, pada kondisi umum berlangsung secara bergantian. Sesuatu dikala kita di keadaan Beta, setelah itu sekian detik kita berpindah ke Alpha, sekian detik berpindah ke Theta, serta kembali lagi ke Beta, serta seterusnya( Ellias, 2009). Ketika seseorang hendak tidur natural, akan terjadi penuruna gelombang otan secara perlahan mulai dari Beta, Alpha, Theta, setelah itu Delta dimana kita betul- betul mulai tertidur. Perpindahan daerah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sesungguhnya meski seakan- akan seorang telah nampak tertidur, bisa jadi saja dia masih terletak di daerah Theta. Pada daerah Theta seorang hendak merasa tertidur, suara- suara luar tidak bisa didengarkan dengan baik, malah suara- suara ini didengar dengan sangat baik oleh benak dasar sadarnya, cenderung jadi nilai permanen, sebab tidak disadari“ benak sadar” yang bersangkutan ( Ellias, 2009). Pada saat klien mencapai keadaan yang sangat relaks, “critical area” terus semakin melemah sehingga terapis menjadi gampang berkomunkasi dengan alam pikiran bawah sadar klien. Perhatian klien terpusat pada terapis dan sugesti yang diberikan mejadi lebih kuat dan terasa nyata, misalnya imajinasi klien berada di sebuah tempat yang disukai serta klien menganggap imajinasinya menjadi seperti nyata. Antara keadaan pikiran sadar dan


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 306 pikiran bawah sadar terdapat suatu filter mental yaitu “critical area”. Critical area merupakan tempat informasi sementara yang kemudian diproses melalui analisa, logika, pertimbangan etika, serta lain- lain. Critical area ini yang melundungi pikiran alam bawah sadar dari informasi, sugesti atau pesan yang bisa mengganti program pikiran yang sudah ada dibawah sadar. Orang dalam keadaan pikiran sadar susah menerima data baru disebabkan aktifnya critical area ini. Hipnoterapi ialah sesuatu metode yang menuntut seorang buat membentuk bayangan yang disukai. Imajinasi yang tercipta diterima sebagai rangsangan oleh indra, selanjutnya akan diteruskan ke batang otak mengarah ke sensor thalamus. Di thalamus rangsang hendak diformat bedasarkan bahasa otak dan hendak ditransmisikan ke amigdala dan sebagian besar lagi hendak dikirim ke korteks yang kemudian terjadi proses asosiasi pengindraan dimana rangsang dianalisis sehingga otak mengidentifikasi atau mengenal objek tersebut. Sehingga memori bayangan akan memunculkan anggapan yang sesungguhnya serta diterima oleh pikiran seperti kenyataan. Pada kasus penanganan nyeri proses tersebut akan mempengaruhi reseptor nyeri yang dapat menurunkan intensitas nyeri atau bahkan menghilangkan nyeri.Sudah banyak berkembang metode Tindakan medis yang menggunakan hipnoterapi misalkan hipnokhitan, yaitu proses khitan yang menggunakan hinoterapi tanpa menggunakan obat anastesi serta sudah banyak dibuktikan oleh penelitian ilmiah. Pada metode hipnoterapi, corteks visual otak yang memproses imajinasi memiliki hubungan yang erat dengan sistem syaraf otonom, yang mengendalikan gerakan involunter yaitu nadi, respirasi dan reaksi raga terhadap tekanan pikiran dan membantu menghasilkan hormon endorphin (substansi ini bisa memunculkan dampak analgesik yang sebanding dengan yang ditimbulkan morphin dalam dosis 10-50 miligram/ kilogram BB) relaksasi. Seseorang "Hipnoterapist" memakai pengaruh perkata yang di ucapkan dengan teknik tertentu untuk mengantarkan pesan ataupun


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 307 sugesti ke ke dalam pikiran bawah sadar. Salah satunya kekuatan dalam Hipnoterapi merupakan keahlian dalam berbicara ( Kahija YF., 2007). Prosedur dan Tahapan Hipnoterapi 1. Pre - induksi Pre - induksi sesuatu proses awal sebelum hipnotis dilakukakan untuk mempersiapkan situasi dan kondisi yang kondusif antara hipnoterapis dengan klien supaya proses pre - induksi berlangsung baik, hingga lebih dahulu hipnoterapis wajib bisa mengidentifikasi aspek psikologis dari klien, antara lain perihal yang diminati, perihal yang tidak diminati, apa yang dikenal klien terhadap hipnotis serta sebagainya( Prasetya, 2014). 2. Induksi Induksi merupakan sesuatu metode buat bawa seorang ataupun klien ke dalam keadaan hipnotis, dari pikiran sadar ke dalam pikiran alam bawah sadar. Secara simpel, verbal induction merupakan sesuatu rangkaian sugesti atau pesan yang dibawakan secara persuasif, sehingga membawa klien berpindah dari conscisius mind pikiran sadar ke sub conscisius mind (pikiran alam bawah sadar). Porses


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 308 melaksanakan induksi. 1. yang sangat kerap digunakan merupakan metode pernafasan sebab oksigen yang dibawa ke otak akan membuat pikiran dan badan jadi relaks, 2. Relaksasi Sistematis yaitu terpis melaksanakan relaksasi yang sistematis mulai dari kepala hingga kaki. Triknya dengan membuat klien berkonsentrasi pada tiap- tiap bagian badan tersebut, setelah itu terapis membagikan sugesti agar tiap bagian badan tersebut jadi relaks, 3. Pengaktifan rasa dan emosi yaitu terapis menjauhi perkataan yang mengajak klien berpikir. Klien hanya diajak merasakan sugesti yang diberikan. Bersumber pada pertimbangan tersebut, lebih baik memakai perkata “ rasakan” ataupun “bayangkan” dari pada perkata “pikirkan” ataupun “ingatlah”, 4. Pengaktifan cerminan mental yaitu terapis dapat menghasilkan cerminan mental dengan membawa klien ke tempat yang disukainya. saat mengatifkan cerminan mental, kepekaan indera- indera klien perlu ditingkatkan oleh terapis, misalkan pendengaran, pengelihatan, pengecapan, perabaan, serta penciuman. Cerminan atau gambaran mental akan semakin hidup dan terasa nyata jika kepekanaan indra klien semakin aktif dan akan mempercepat klien menuju kondisi hipnotis. 3. Deepening/pendalaman Deepening merupakan sesuatu metode agar keadaan hipnotis klien semakin dalam. Sekin dalam kondisi hionosis klien akan semakin mudah untuk menerima sugesti yang diberikan. Dipening bisa dilakuakan dengan cara membimbing subjek/klien berimajinasi melaksanakan sesuatu aktivitas ataupun berada di suatu tempat yang disukai klien untuk membuat kondisi hipnotis atau pikiran alam bawah sadara semakin dalam. 4. Sugesti Sugesti merupakan kalimat- kalimat anjuran yang di informasikan oleh hipnoterapis kepada klien Ketika klien sudah benar-benar dalam keadaan trance


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 309 ataupun hipnotis yang sangat dalam. Sugesti yang diharapkan berlaku ataupun bisa jadi nilai baru untuk seseorang klien meski sudah disadarkan dari kondisi hipnotis atau post hipnotis suggestion (PHS). PHS tidak bertahan lama jika berlawanan dengan nilai dasar yang diyakini klien. Dalam hipnoterapi, PHS sangat penting, sebab ialah inti dari tujuan hipnoterapi. sugesti bisa dilkukan 15- 20 menit dan bisa diulang proses dipening untuk memperdalam pendalaman relaksasi klien. 5. Termination proses akhir dari sesi hipnoterapi untuk mempersiapkan klien terbangun dari kondisi hipnotis agar tidak terjadi kejutan psikologis. Pada tahap ini diberikan sugesti positif yang membuat badan klien lebih fresh serta segar, sampai pasien Kembali sadar dari kondisi hipnotisnya. Indikasi dan Kontra Indikasi Masalah yang dapat diatangani oleh Hipnoterapi secara umum ada 3, 1. masalah psikis seperti cemas depresi, tidak percaya diri, 2. masalah fisik seperti mengurangi persepsi nyeri ataupun gangnguan rasa nyaman lainnya, 3. Masalah prilaku sepesrti kecanduan meroko, game online dan lain sebagainya. Hipnoterapi Sebagai Terapi Komplementer UU Keperawatan No. 38 tahun 2014 pasal 30 ayat (2) huruf menjelaskan bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan perawat berwenang untuk memberikah terapi komplementer dan alternatif. Secara legalitas hukum tidak ada masalah ketika perawat memberikan terapi komplementer pada praktik mandiri atau di fasilitas kesehatan lainya. Jenis pelayanan pengobatan Komplementer Alternatif berdasarkan Permenkes RI, Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 salah satunya intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi, meditasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga (Permenkes RI, 2007).


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 310 Teori keperawatan yang diungkapkan oleh Florence Nightingle (1954) keperawatan adalah menempatkan manusia dalam kondisi yang terbaik, yaitu kondisi lingkungan yang alamiah dan pendekatan holistik (mindbody-spirit) untuk mencegah atau mengobati penyakit atau cedera. Hipnoterapi merupakan penggunaan teknik hipnosis yang diarahkan untuk membantu individu ke arah kesehatan dan keutuhan pikiran, tubuh, dan jiwanya . Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa ada manfaat hipnoterapi terhadap kesehatan manusia. Beberapa penelitian membuktikan bahwa hipnocaring atau hipnoterapi bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah, berhenti merokok, manajemen stres, menurunkan berat badan, manajemen nyeri/rasa sakit, pobia, dan lain-lain. Proses hipnoterapi dibawa kepada sumber masalahnya lalu diselaraskan dengan tujuan utamanya, ketika klien mengetahui sumber masalahnya, klien akan lebih memahami masalah utamanya dengan demikian klien dapat lebih mudah dalam mencari penyelesaianya (Adelina, Widjaja, & Sapri, 2010). Hipnocaring dapat mengontrol gejala bahkan dapat mencapai dasar permasalahan dari gejala yang muncul. Misalnya kecemasan disebabkan kurang ikhlas menerima kondisi nyata yang dialami, dengan hipnocaring mampu merubah kondisi tidak menerima menjadi ikhlas. Pengertian Terapi Meditasi Meditasi berasal dari kata meditari yang berarti memikirkan atau mencermati suatu. Meditasi merupakan metode buat memfokuskan pikiran agar lebih waspada serta bijaksana, perihal ini bisa digunakan untuk menghindari atau mengobati keluhan penyakit. Meditasi merupakan proses melatih pikiran supaya bisa mengatur serta menjadi lebih fokus. Meditasi pula diprcaya mampu melnghilangkan tekanan pikiran serta memberikan kedamaian pada hati dan pikiran. Kegiatan ini bisa dicoba dengan metode yang gampang serta dalam waktu yang relatif pendek. Meditasi merupakan latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan raga, emosi, mental, serta


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 311 spiritual seorang. Sebagian pakar membagikan istilahlain tentang meditasi (dalam P. Satiadarma, 1998) yaitu Visualisasi (Epstein, 1988; Fanning, 1988), relaksasi (Benson, 1975), mind- body healing (Rossi, 1988), dan Mind-body medicine (Goleman&amp;Gurin, 1993). Pengobatan meditasi merupakan sesuatu metode buat melatih diri, supaya mempunyai kondisi cita ataupun perilaku yang lebih berguna. Dimana dalam kondisi cita orang bisa jadi lebih positif sebab dalam tahapnya meditasi menjadikan orang lebih bijakasana. Bersumber pada sebagian komentar tokoh diatas bisa disimpulkan bahawa Meditasi merupakan latihan konsentrasi terhadap sesuatu perihal buat menggapai kesadaran yang lebih besar sehingga orang bisa merasakan lebih positif serta baik yang kesimpulannya hendak membetulkan kondisi keadaan badan seorang, memberikan kenyamanan secara psikologi serta merendahkan tingkatan tekanan pikiran pada orang. Meditasi Sebagai Managemen Nyeri Terapi meditasai dalam praktek klinis dapat digunakan sebagai managemen nyeri. Ada beberapa teori yang menjelaskan meditasi sebagai management nyeri 1. Theory Hypnosis Meditasi sama halnya dengan melakukan hipnotis pada driri sendiri atau self-hypnosis. Pada saat bermiditasi yang menjadi pusat perhatian adalah objek dalam meditasi dan terjadi penurunan gelombang otak sehingga semakin lama akan menjadi semakin rilaks perhatianpun hanya tertuju pada satu objek sehingga tidak dapat merasakan rangsangan, termasuk rangsangan nyeri. 2. Theory Gate-control Tidak semua rangsangan yang diterima oleh tubuh diteruskan ke otak . Jika ada rangsangan lain yang lebih kuat yang diterima otak yang menyebabkan control otak menjadi lebih tinggi pada rangsangan tersebut. Maka rangsangan yang lain misalkan nyeri akan ditolak oleh otak.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 312 Menurut Ludwig (1971) rangsangan yang kuat adalah perasaan yang positif seperti senang, tentram dan damai. 3. Theory Endorphin Hormone erdorphin sama halnya dengan morphin yang punya efek analgesic sangat kuat dalam menghilangkan nyeri. Penguluaran endorphin dapat dirangsang dengan aktivitas yang dapat membuat rileks atau tenang anatara lain adalah meditasi. 4. Relaksasi Benson (2000) menjelaskan sebuah teori yang disebut Relaxation Response, yaitu kondisi rileks yang dihasilkan dari latihan meditasi. Keadaan relaksasi yang menyebabkan terjadinya bebrerapa perubahan fisiologis pada tubuh. Cara Melakukan Meditasi Meditasi bisa dilakukan dengan berbagai cara tergantung dari jenisnnya. Namun Salah satu jenis dan cara meditasi yang paling mudah dan sering dilakukan yaitu mindfulness meditation. Mindfulness meditation merupakan teknik meditasi dengan cara fokus pada perhatian dan kesadaran diri secara penuh. Cara ini bisa melatih pikiran pada keadaan yang sedang dirasakan dan dapat menerimanya dengan damai dan terbuka sehingga tidak menjadi beban atau stresor. Untuk melakukan teknik ini bisa dimulai dengan duduk dengan posisi yang nyaman, mengatur pernafasan, serta focus pada detak jantung atau bisa merasakan keluar masuknya udara saat bernafas. kita juga bisa memfokuskan perhatian pada bunyi yang didengar di sekitar kita , misalnya bunyi datak jam jam. Kemudian mulai konsentrasi pada keadaan yang sedang terjadi pada kita atau di sekitar kita. Lakukanlah selama kurang lebih 3–5 menit, kemudian konsentrasi kembali pada pikiran. Beberapa Manfaat Meditasi: 1. Menjaga kesehatan emosi; 2. Menjaga kesehatan tubuh dan membantu menyembuhkan penyakit;


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 313 3. Membantu meredakan stres; 4. Mengontrol rasa cemas; 5. Mengurangi nyeri; 6. Memperkuat daya ingat dan mencegah demensia. Suatu riset menaujukkan kalau tata cara meditasi yang mencampurkan antara nyanyian serta mantra dengan gerakan jari yang kesekian buat memfokuskan pikiran, bisa melindungi kesehatan daya ingat seorang. Tidak hanya melindungi kesehatan energi ingat yang berkaitan dengan umur, meditasi dikira sanggup tingkatkan sebagian ingatan penderita demensia. Lewat khasiatnya yang pula dapat meredakan tekanan pikiran, meditasi dapat menolong mereka yang menjaga seorang dengan demensia. Dampak fisiologis untuk seorang yang melaksanakan meditasi berdasarkan riset pada gelombang otak yang direkam dengan EEG (Electro Encepahlo Graph) menampilkan banyak timbul gelombang alpha, yaitu gelombang otak yang ada pada keadaan badan rileks. Dalam suatu eksperimen yang dicoba oleh Hirai (dalam Suwandi, 2002), perubahan gelombang otak dipecah jadi 4 sesi; ( 1) dalam 5 puluh menit gelombang otak berganti dari betha ke alpha, (2) gelombang otak kian halus, dekat 50% gelombang alpha timbul pada dikala menutup mata, (3) gelombang otak terus menjadi lambat serta halus, (4) gelombang otak jadi gelombang tetha, gelombang otak yang timbul pada dikala tidur ataupun mimpi. Sebaliknya dampak untuk psikologis, menurut beberapa riset orang yang melaksanakan meditasi lebih rendah kecemasannya, kontrol dirinya lebih internal serta aktualisasi dirinya lebih besar, lebih meningkatkan, kontrol diri, harga diri, empati, sangat efektif untuk orang-orang yang hadapi stress, kecemasan, tekanan mental, phobia, tidak bisa tidur, serta sebagai terapi untuk menghilangan ketergantungan terhadap obat serta alkohol. Dalam praktek klinis meditasi dapat digunakan untuk mengatasi rasa sakit.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 314 Proses Pelaksanaan Terapi Meditasi 1. Posisi duduk a. Duduk dengan santai. b. Anjurkan pasien memfokuskan pandangan pada satu titik dengan jarak satu meter didepan pasien sampai mata merasa letih serta tertutup sendiri. c. Anjurkan pasien menarik napas dalam lewat hidung serta niatkan dalam hati bersamaan dengan menarik napas buat menarik tenaga pengobatan dari sekitar kita d. Keluarkan napas pelan lewat hidung, bertepatan dengan itu keluarkan energi melalui telapak kedua kaki. Jalani secara berulang-ulang (3x). Tarik napas dalam, keluarkan energi lewat kedua telapak tangan. Jalani berulang-ulang sebanyak 3 kali. Tarik nafas dalam, keluarkan energi melalui ubun-ubun. Lakukan berulang-ulangsebanyak 3 kali. Tarik nafas dalam, keluarkan energi ke seluruh badan. Lakukan berulang-ulang sebanyak 3 kali. e. Bawa pikiran pasien kembali pada masa lalu yang mengusik pasien. f. Bimbing pasien buat pasrah kepada Tuhan dan menyadari kalau masalah tersebut merupakan bagian dari kehidupan serta terima apa adanya. g. Bimbing pasien berdo’a kepada Tuhan, “Tuhan berikanlah penyembuhan pada diri saya”. Setelah itu rasakan energi dari atas kepala masuk kedalam badan serta menyapu bersih seluruh energi negatif dalam diri. Perkenankan energi tersebut mensterilkan energi negatif, sedangkan pesien pasrah kepada Tuhan dengan fokus pada hati nurani. 2. Posisi Berbaring a. Anjurkan penderita melaksanakan posisi tidur telentang serta pejamkan mata.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 315 b. Dorong penderita buat merilekskan seluruh organ badan mulai kaki hingga ujung kepala. c. Dorong pasien untuk memfokuskan pikiran Pada kedua kaki pasien dan merasakan tenaga masuk mulai ujung bunda jari naik ke mata kaki, betis, lutut, paha hingga ujung kepala. d. Anjurkan pasien untuk membiarkan energi mengalir terus mulai ujung kaki hingga ujung kepala. e. Membawa penderita kembali pada masa lalu yang menggangg paseien. f. Bimbing pasien untuk pasrah kepada Tuhan dan menyadari bahwa Masalah tersebut ialah bagian dari kehidupan serta terima apa adanya. g. Bimbing pasein berdo’a kepada Tuhan, “Tuhan berikanlah pengobatan pada dirisaya”. Kemudian rasakan energi dari atas kepala masuk kedalam tubuh dan menyapu bersih semua energi negative dalam diri. Biarkan energi tersebutmembersihkan tenaga negatif, sedangkan penderita pasrah kepada Tuhan dengan fokus pada hati nurani. Prosedur Proses Meditasi 1. Fase orientasia) Salam teraupetik b) Bina hubungan saling percaya dengan pasien. c) Eksplorasi perasaan pasien. d) Siapkan pasien untuk berpartisipasi dalam terapi; 2. Fase Relaksasia) Duduk/tidur telentang.b) Konsentrasi. c) Merasakan; 3. Fase Trancea) Hening. b) Berdo’a sesuai dengan kebutuhan. c) Pasrah; 4. Fase Terminasia) Ucapkan terima kasih kepada tuhan karena telah mendapat bantuan dari Tuhan.b) Pertahankan kondisi meditatif dalam keadaan mata dibuka.


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 316 Daftar Pustaka Penulisan daftar pustaka menggunakan format APA Edisi7 atau 6. Contoh: Falakhi Naufal, M. (2021, Februari 19). Kenali Mengenai Meditasi dan Manfaatnya. http://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkpunair/30-lihat/681-kenali-mengenai-meditasi-danmanfaatnya Prayitno, B. 2014. Meditasi Penyembuhan dari Dalam Sembuhkan Ragam Penyakit Mental dan Fisik. Jogjakarta: Flash Book. Shidiq Suryadi, M., & Setiyowati, E. (2018). Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Penurunan Skala Nyeri Dan Kecemasan P Ada Gout Arthritis Di Posy Andu Lansia Puskesmas Pademawu Pamekasan. Proceeding Of Emergency Nursing In Respiratory Failure And Chocking. http://repository.unusa.ac.id/id/ eprint/2943 Suryadi, M. S. (2020). Pengaruh Hypnoterapi Terhadap Penurunan Skala Nyeri Pada Lansia Penderita Gout Arthritis Di Posyandu Lansia Puskesmas Pademawu Pamekasan. Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan, 10(1), 10–16. https://doi.org/10.24929/fik.v10i1.937


HIPNOTERAPI DAN MEDITASI 317 Profil Penulis Mohammad Shiddiq Suryadi Penulis mulai tertarik di bidang terapi koplementer sejak menempuh Pendidikan DIII Keperawatan di AKPER Pemkab Pamekasan dan lulus pada tahun 2012. Tahun 2012 penulis melanjutkan ke jenjang SI keperawatan Ners di UM Surabaya. Penulis mulai mengembangkan minatnya di bidang terapi komplementer khususnya hipnoterapi dengan mengikuti berbagai macam seminar ilmiah dan pelatihan. Penulis lulus Pendidikan profesi Ners Dengan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul PELAKSANAAN HYPNOTHERAPI PADA PENURUNAN SKALA NYERI PASIEN SETELAH PELEPASAN PLATE CRURIS DI SURABAYA. 2016 penulis melanjutkan ke jenjang S2 Keperawatan di Universias Nahdlatul Ulama Surabaya dan sambil lalu bekerja sebagai Dosen luar di beberapa Jurursan Keperawatan di Madura. Pada tahun 2018 Penulis menyelesaikan study S2 keperawatan dengan judul Tesis PENGARUH HIPNOTERAPI TERHADAP SKALA NYERI DAN KECEMASAN PADA PENDERITA GOUT ARTHRITIS DI POSYANDU LANSIA PUSKESMAS PADEMAWU PAMEKASAN. Pada tahun 2018 pula penulis bekerja sebagai Dosen Tetap di STIKES Nazhatut Thullab Sampang yang telah menjadi Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang sejak tanggal 13 Juli 2022. Penulis memiliki kepakaran di bidang Keperawatan Komplementer dan Keperawatan Medikal Bedah. Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Beberapa penelitian yang telah dilakukan didanai oleh internal perguruan tinggi. Selain peneliti, penulis juga aktif sebagai narasumber di beberapa seminar ilmiah Kesehatan dan pelatihan khususnya di bidang Terapi Komplementer dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif kepada dunia Keperawatan dan bagi bangsa dan negara yang sangat tercinta ini. Email Penulis: [email protected]


318


319 21 BEKAM KERING Ns. Nurul Faidah, S. Kep., M. Kes STIKes Wira Medika Bali Pengertian Bekam (al-hijamah) adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah. Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit kemudian dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya (Kasmui, 2010). Bekam kering adalah:melakukan pengobatan dengan melakukan penarikan pada kulit sesuai dengan titik tertentu dengan menggunakan Cup Bekam untuk mengeluarkan angin melalui permukaan kulit. Jenis Bekam 1. Bekam kering atau (Hijamah Jaaffah) adalah menghisap kulit dan memijat tempat sekitarnya tanpa pegeluaran darah kotor. 2. Bekam luncur yaitu bekam dengan meng kop bagian tubuh tertentu dan meluncurkan kearah tubuh lainnya untuk pemanasan pasien, melancarkan peredaran darah, pelemasan otot dan menyehatkan kulit. 3. Bekam tarik yaitu melakukan bekam ini dengan cara ditarik-tarik, dibekam hanya beberapa detik kemudian ditarik dan ditempelkan lagi hingga kulit yang dibekam menjadi merah.


BEKAM KERING 320 4. Bekam basah yaitu pertama kali dilakukan bekam kerinmg kemudian kulit dilukai dengan lanset dan dibekam kembali dengan bekam set dan hand pump untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Hisapan dilakukan maksimal 9 menit dengan jarak waktu pengulangan bekam 4 minggu. Bekam basah lebih bermanfaat pada penyakit darah tinggi, asam urat dan kolesterol. Manfaat Bekam Kering Menjaga kesehatan tubuh, menghilangkan letih, meningkatkan daya tahan tubuh, sakit bahu, alergi, perut kembung, mati rasa, asam urat, kolesterol, jantung, migrain, hipertensi, stok dan 72 macam penyakit (Fatahillah, 2010). Dengan melakukan vakum terbemtuklah tekanan negatif di dalam cup sehingga terjadi drainase cairan tubuh dan toksin, menghilangkan perlengketan/si jaringan ikat dan akan mengalirkan darah ke permukaan kulit dan jaringan otot yang mengalami stagnasi serta merangsang sistem saraf perifer. Manfaat lain menurut (Fatahillah, 2010) 1. Membersihkan darah dari racun-racun sisa makanan dan dapat meningkatkan aktifitas saraf tulang belakang; 2. Mengatasi gangguan tekanan darah yang tidak normal dan pengapuran pada pembuluh darah; 3. Menghilangkan rasa pusing, kejang-kejang dan kram pada otot; 4. Bermanfaat bagi penderita asam urat, asma, pneumonia, dan angina pectoris, pericarditis; 5. Menghilangkan sakit bahu, dada dan punggung; 6. Menurunkan nyeri atritis rrheumaoid; 7. Mengatasi gangguan kulit; 8. Mengatasi keracunan dan luka bernanah serta bisul; 9. Meringankan rasa sakit dan masalah masuk angin.


BEKAM KERING 321 Selain manfaat diatas manfaat bekam menurut (Salamah, 2009) yaitu Menjaga kesehatan tubuh, menghilangkan letih, meningkatkan daya tahan tubuh, sakit bahu, alergi, perut kembung, mati rasa, asam urat, kolesterol, jantung, migrain, hipertensi. Hal-Hal yang Diperhatikan dalam Melakukan Bekam Kering Menurut (Ridho, 2015) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bekam adalah: 1. Cup yang akan digunakan untuk bekam bersih dan steril. 2. Kaji kondisi klien pernah dilakukan bekam atau belum, jika belum pernah melakukan bekam pilihlah cup dari yang terbesar meminimalkan nyeri pada saat bekam. 3. Posisi pada saat melakukan bekam kering dianjutkan pasien untuk posisi duduk karena dengan pisisi duduk dapat meningkatkan peredaran darah pada pasien, tetapi jika pasien kondisinya lemah bisa diposisikan berbaring. 4. Observasi kondisi klien pada saat melakukan bekam, terutama pada klien yang pertama kali melakukan bekam, jika keluhan nyeri semakin bertambah, mual, pusing hentikan segera Tindakan bekam. 5. Kaji kondisi suhu tubuh klien setalah dilakukan bekam, klien akan mengalami peningkatan suhu tubuh setelah 1-2 hari setelah dilakukan bekam hal ini normal karena respon tubuh setelah dilakukan bekam. 6. Klien dengan tekanan darah rendah pada saat dilakukan bekam kering harus di monitor tingkat kesadaran klien dan tidak diperbolehkan melakukan pada punggung bagian bawah yang sejajar dengan pusar karena disana terdapat pembuluh darah besar, sehingga akan semakin cepat menurunkan tekanan darah dengan cepat.


BEKAM KERING 322 7. Permukaan kulit setelah dilakukan bekam akan timbul blister kecil, bercak-bercak, noda darah dan darah statis adalah reaksi normal setelah dilakukan bekam. Larangan -Larangan dalam Melakukan Bekam 1. Tidak boleh melakukan pada klien yang mengalami kelelahan atau fatigue 2. Tidak boleh melakukan bekam pada klien yang mengalami infeksi pada kulit seperti ulserasi dan edema. 3. Tidak boleh melakukan bekam pada lansia dengan kondisi fatigue dan anak -anak yang usia 3 tahun. 4. Klien dengan penyakit TBC, Hemophilia, Anemia, Trombositopenia, malignant anemia. 5. Tidak dianjurkan melakukan bekam pada kondisi tertentu seperti setelah makan minimal 2 jam setelah makan baru bisa dilakukan bekam, kelelahan, setelah beraktivitas berat, kondisi demam. 6. Tidak diperbolehkan melakukan bekam pada Wanita hamil trimester awal 7. Tidak diperbolehkan melakukan bekam pada Wanita yang sedang mensruasi dan nifas 8. Bekam tidak dianjurkan pada luka terbuka, patah tulang, varises, dan tumor 9. Jangan melakukan bekam yang terlalu keras pada daerah perut 10. Klien yang mengkonsusmi obat pengencer darah tidak boleh dibekam 11. Tidak dianjurkan melakukan bekam pada orang yang menderita klep pada jantung 12. Jangan melakukan bekam langsung pada klien setelah mandi terutama mandi air dingin 13. Klien dengan kondisi hiperglikemi tidak boleh dilakukan bekam


BEKAM KERING 323 14. Bekam harus dilakukan di tempat yang tertutup. 15. Daerah anggota tubuh yang dilarang untuk dibekam: a. Lubang alamiah (mata, telingan, hidung, mulut, putting susu, alat kelamin dan dubur); b. Area tubuh yang banyak simpul limpa (kelenjar limfe); c. Area tubuh yang dekat pembuluh besar; d. Bagian tubuh yang ada varises, tumor, retak tulang dan jaringan luka. 16. Kondisi pasien yang tidak boleh dibekam a. Terkena I feksi terbuka dan cacar air; b. Penderita diabetes mellitus; c. Penderita kelainan darah (hemophilia); d. Penderita penyakit anemia dan hipotensi; e. Penderita kanker darah; f. Anak-anak penderita dehidrasi; g. Pada wanita hamil dan wanita sering keguguran. Waktu yang Dianjurkan untuk Bekam Waktu yang tepat dilakukan bekam adalah jam 2-3 sore karena pada saat tersebut saluran darah sedang mengembang dan darah-darah yang mengandng toxin sangat sesuai untuk dikeluarkan. Durasi melakukan bekam perempuan 5-7 menit, laki-laki 7-10 menit sebanyak empat kali, setiap satu minggu satu kali (Almi & Al-Muqsith, 2015). Titik Bekam Gambaran titik bekam menurut gejala yang ditimbulkan (O Santoso, 2012)


BEKAM KERING 324 Keterangan: 1. Puncak kepala: titik ini terletak di ubun-ubun dan bermanfaat untuk vertigo, migraine, sakit kepala menahun; 2. Dua urat leher: disamping kanan kiri leher, dibawah garis batas rambut kepala belakang dan sejajar tulang cervical 3-7. Manfaat untuk mengatasi hipertensi, stroke, sakit kepala dan wajah; 3. Punduk: titik ini berada di ujung tulang belakang, bermanfaat untuk masalah penyakit sekitar kepala dan saraf serta 72 penyakit; 4. Bahu kiri dan kanan: titik ini berada di pundak atau bahu kiri dan kanan, bermanfaat untuk penyakit hipertensi, nyeri bahu, stroke dan sakit leher; 5. Dua jari dibawah punduk: bermanfaat untuk penyakit bronchitis, batuk, sesak nafas, ASI kurang , asma dan stroke;


BEKAM KERING 325 6. Belikat kiri dan kanan: bermanfaat untuk gangguan paru-paru, gangguan jantung, saluran pernapasan, stroke dan masuk angin; 7. Pinggang: pertemuan antara otot gluteus maximus dengan gluteus medius bawah, kiri dan kanan. Titik ini bermanfaat untuk masalah gangguan ginjal, sakit pinggang, haid tidak lancer, susah buang air kecil; 8. Betis: titik ini berada di betis kiri dan kanan, mengatasi gangguan asam urat, kesemutan, pegalpegal dan stroke. Langkah-Langkah Melakukan Bekam 1. Tahap Pra Interaksi a. Cek catatan keperawatan dan medis klien b. Cuci Tangan Efektif c. Siapkan alat-alat 1) Masker 2) Handscoon 3) Baby oil/minyak zaitun 4) Cup 5) 1 buah pompa vacuum 6) Tisu/kapas 7) Bak sampah medis d. Cuci tangan Efektif 2. Tahap Orientasi a. Salam pembuka dan perkenalkan diri b. Lakukan identifikasi, 2 identitas: ( tanyakan Nama dan lihat No.RM/ tanggal lahir); c. Tanyakan Keluhan pasien; d. Jelaskan tujuan tindakan pada pasien dan keluarga; e. Jelaskan prosedur;


BEKAM KERING 326 f. Kontrak waktu; g. Berikan kesempatan pasien untuk bertanya. 3. Tahap Kerja a. Jaga privasi klien (Tutup Sampiran); b. Cuci tangan; c. Pakai Masker; d. Pakai Handscoon; e. Anjurkan pasien buka baju; f. Posisikan klien dengan posisi yang nyaman duduk atau Tengkurap sesuaikan kondisi pasien; g. Bersihkan pada titik yang dilakukan tindakan dry cup menggunakan tisu/kapas; h. Lumuri tangan dengan baby oil/minyak zaitun; i. Usapkan punggung dengan baby oil/minyak zaitun; j. Lakukan pemijatan ringan pada area tubuh yang akan dibekam selama kurang lebih 5 menit; k. Lakukan pembekaman pada titik yang ditentukan menggunakan Cup; l. Pasang Cup di punggung pada titik yang sudah ditentukan; m. Sedot dengan pompa vakum secukupnya sekitar 2 kali pemompaan; n. Lepas alat pompa; o. Pembekaman dilakukan maksimal 7 menit pada klien perempuan dan maksimal 10 menit pada laki-laki; p. Setelah selesai dibekam pijat area yang telah dibekam menggunakan baby oil/minyak zaitun untuk mngurangi lebam atau warna merah bekas bekam; q. Bersihkan sisa bekam dengan tisu kering;


BEKAM KERING 327 r. Tanyakan klien apakah ingin pakai pakian/tidak; s. Bereskan alat; t. Buka sampiran; u. Cuci tangan; v. Catat hasil kegiatan. Penerapan Terapi Bekam dengan Penyakit Hipertensi Mekanisme penyembuhan bekam pada hipertensi didasarkan atas teori aktivasi organ, dimana bekam akan mengaktivasi organ yang mengatur aliran darah seperti hati, ginjal dan jantung agar organ-organ tersebut tetap aktif dalam mengatur peredaran darah sehingga tekanan darah tetap terjaga. Bekam pada titik yang tepat juga menyeimbangkan secara alamiah sehingga membantu penanganan hipertensi (Almi & Al-Muqsith, 2015). (Sharaf, 2012) menyebutkan efek terapi bekam terhadap hipertensi yaitu berperan menenangkan system saraf simpatik, dimana pergolakan system saraf simpatik menstimulasi sekresi enzim yang berperan sebagai system angiotensin-renin. Setelah sistem ini tenang dan aktivitasnya berkurang, tekanan darah akan turun. Bekam berperan menurunkan volume darah yang mengalir sehingga mengurangi tekanan. Bekam berperan menstimulasi reseptor-reseptor khusus yang terkait dengan vasokontriksi dan vasodilatasi pembuluh darah (baroreseptor) sehingga pembuluh darah bsa merespon berbagai stimulus dan meningkatkan kepekaan terhadap faktor-faktor penyebab hipertensi (Hikayati et al., 2013). Terapi bekam kering efektif menurunkan tekanan darah dikeranakan metode dari bekam yang awal menimbulkan keruskan pada sel-sel kulit yang berdampak terhadap pengeluaran zat zat didalm tubuh seperti serotonin, histamine, bradikinin, slowreaching substance (SRS). Dari pengeluaran zat-zat tersebut melebarkan pembuluh darah kapiler dan arteri sehingga ada perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah, yang berdampak terhadap relakasasi otot-otot mengakibatkan vasodilatasi yang dapat menurunkan tekanan darah.


BEKAM KERING 328 Selain itu akan merangsang aktivasi dari organ organ lain seperti hepar, ginjal dan jantung dan merangsang saraf simpatik (simpatico nervous system) sehingga mensekresi enzim yang berperan sebagai sistem angiotensin rennin. Setelah sistem ini tenang dan aktivitasnya berkurang tekanan darah akan turun. Bekam berperan menurunkan volume darah yang mengalir di pembuluh darah sehingga mengurangi tekanan darah (Faidah & Muliawati, 2021). Efektifitas dari kedua intervensi diatas baik pijat tengkuk dengan VCO dan bekam kering sama-sama efektif menurunkan tekanan darah, yang membedakan adalah metode dan mekanisme penurunan tekanan darah pada pasien yang menderita hipertensi untuk pijat tengkuk selain dari gerakan massage ditambah dengan kadnungan VCO yang dapat menurunkan tekann darah dengan efektif kandungan Asam-asam lemak yang tergolong MCFA mudah diserap sampai ke mitokondria sehingga akan meningkatkan metabolisme tubuh. MCFA yang paling banyak terkandung dalam VCO berupa asam laurat. Kandungan asam laurat ini terbukti mampu menanggulangi banyak penyakit seperti jantung dan hipertensi. untuk terapi bekam kerimg dari tehnik dengan menarik kulit dengan gelas atau cup khusus yang dari permulaan mengalami kerusakan sel-sel sehigga dapat mensekresi zat-zat seperti histamin, bradikinin yang dapat meraklasasikan pembuluh darah baik kapiler dan arteri yang mengakibatkan penurunan tekann darah pasien, selain itu dari terapi bekam keraing akan memakasimalkan kerja orga-organ dalam tubuh salah satunya pada ginjal dan jantung, pda ginjal akan memaksimalkan pengeluaran RAA yang beradmapak terhadpa peurunana tekanan darah. Bekam (al-hijamah) adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah. Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit kemudian dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya (Kasmui, 2010).


BEKAM KERING 329 Apabila dilakukan pembekaman pada satu poin kulit, jaringan bawah kulit, fasia dan otot akan terjadi kerusakan dari sel mast, yang mengakibatkan dilepasnya serotonin, histamine, bradikinin, slowreaching substance (SRS). Zat-zat ini menyebabkan terjadinya pelebaran kapiler dan arteriol serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi ditempat yang jauh dari tempat pembekaman ini menyebabkan terjadi perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Timbul efek relaksasi otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil (Setiawan et al., 2014). Contoh Dibawah ini akupoint untuk Bekam kering pada hipertensi.


Click to View FlipBook Version