Mari kita dukung hak cipta penulis dengan tidak menggandakan, memindai,
atau mengedarkan sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin. Hak cipta bisa
menjadi pendorong kreativitas penulis, penyebarluasan gagasan, dan
penguatan nilai-nilai keberagaman. Terima kasih sudah membeli buku
cetak/digital edisi resmi. Anda telah turut mendukung penulis dan penerbit
agar terus berusaha membuat buku-buku terbaik bagi semua kalangan
pembaca.
Sembilu
Karya Tasaro GK
Cetakan Pertama, Januari 2020
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Perancang sampul: Bella Ansori
Pemeriksa aksara: Pritameani, Achmad Muchtar, Mia Kusuma, Rani Nura
Penata aksara: Adrianus Adhistama, Rio Ap
Digitalisasi: Rahmat Tsani H.
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang
(PT Bentang Pustaka)
Anggota Ikapi
Jln. Palagan Tentara Pelajar No. 101, Jongkang, RT 004 RW 035, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
55581
Telp.: 0274 - 2839636
Surel: [email protected]
Surel redaksi: [email protected]
http://www.bentangpustaka.com
Sembilu / Tasaro GK ; penyunting, Rini Nurul Badariah. — Yogyakarta : Bentang, 2020.
ISBN 978-602-291-678-9
ISBN 978-602-291-679-6 (EPUB)
ISBN 978-602-291-680-2 (PDF)
E-book ini didistribusikan oleh:
Mizan Digital Publishing
Jln. Jagakarsa Raya No. 40
Jakarta Selatan - 12620
Telp.: +62-21-7864547 (Hunting)
Faks.:+62-21-7864272
Surel: [email protected]
Engkau adalah setiap kata yang kut ul is atas nama cinta.
Engkau ada pada r ind u yang mengenang mu bagai sembilu.
Persembahan untuk:
Sang Dewi
M acam-macam hal meletupi kepalaku dengan buru-buru. Suara, visual,
kerumunan, pergerakan, aroma, ancaman, berhamburan dari
kegelapan. Mungkin sebaliknya, aku yang sebelumnya berdiam dalam
kesunyian, seketika terlempar dalam gegap gempita yang tak kukenal.
“Gaes, gaes,” seorang anak sekolah, earphone tak lepas dari telinganya, “lirik
lagu ‘Drive Save’ ini edan, geura.”
Gerombolan anak putih abu-abu menghalangi jalanku. Mereka berempat
atau berlima, bersorak dan tertawa bersama-sama. Meributkan lagu di telepon
genggam mereka.
“Naon kitu? Lagu Rich Brian keneh?” tanya satu-satunya perempuan di antara
mereka. Berkerudung, tetapi seperti laki-laki tingkahnya.
“Iya. Ini kata-katanya, I’m tryin’ hard to stop the rain. Cause smilin’ doesn’t feel
the same.”
“Artinya apa?” tanya temannya yang memeluk gitar. Mengingatkanku kepada
seseorang.
“Masa tidak tahu?” teriak si pemilik earphone. “Aku berusaha keras
menghentikan hujan. Sebab, tersenyum tidak lagi terasa sama.”
“Iya, artinya apa? Makna? Maksud? Meaning? Ngarti teu?” tanya si pemeluk
gitar mengotot.
Pemilik earphone mengangkat bahu, “Teuing. Tidak tahu. Tanya Rich Brian,
jangan aku.”
“Storm X-Men meureun,” sergah temannya yang lain, “menghentikan hujan.”
“Bukan,” debat si Pemeluk Gitar, “Avatar, pengendali air.”
Mereka tertawa, menyakitkan telinga.
Napasku tersengal-sengal. Keringat berlelehan, menatap penuh ketakutan.
Aku di antara orang-orang berjejalan di dalam kereta yang rasanya bergerak tak
seimbang. Aku meraih-raih besi pegangan di langit-langit kereta. Berupaya
segera menyadari, di mana aku? Mengapa aku ada di sini? Aku tak mengingat
apa-apa. Dalam pikiranku lebih banyak tanda tanya.
Aku mulai mengkhawatirkan keadaanku. Terjebak dalam kerumunan orang-
orang tak kukenal, sedangkan aku tak mengingat apa-apa. Sekuat apa pun aku
mencoba meraih memori, titik kecil di benakku justru berlari pergi. Aku
mengatupkan mata, mencoba membuang suara-suara. Itu amat menyiksa,
tetapi aku merasa harus melakukannya.
Rasanya aku sanggup mendengar detak jantungku sendiri sampai perlahan
kemudian titik kecil dalam ingatanku kembali, memberi pencerahan yang aku
cari-cari. Ingatan yang akan menolongku saat ini. Namamu ... aku ingat
namamu.
“Kanya!”
Mataku terbuka. Aku menoleh ke sana sini. Mencari-cari. Aku harus
menemukanmu. Membalikkan badan mengikuti maksud hati. Seseorang
menghalangi mauku. Dia berdiri dengan pandangan seperti menembus
pikiranku. Sesaat menenangkan gejolakku. Perempuan dewasa yang sepintas
membuatku berpikir bahwa dia orang yang kukenal. Pasmina sewarna terung
membingkai wajahnya yang sepucat tepung. Anak-anak rambut di atas kening
sempitnya tak tersisir rapi. Beberapa helai menjuntai lengket dan tak karuan.
Aku menggeleng kemudian.
“Permisi.”
Kedua tangannya menahan bahuku.
“Koko.”
“Kamu siapa?”
Aku merasakan datangnya bahaya, entah bagaimana. Kutepis kedua
tangannya. Pada tatapan perempuan di hadapanku, kutemukan penderitaan.
Namun, aku tak tahu, apakah aku perlu mengkhawatirkannya?
“Mari pulang, Koko.”
Aku menggeleng. Perempuan ini mulai membuatku merasa terancam. Aku
memunggunginya dengan buru-buru. “Saya harus mencari seseorang.”
“Koko mau mencari Kanya?”
Dia mengenalmu, Kanya? Aku abaikan bagaimana orang-orang memandangi
dan mengomentari kami. Aku menatapnya lagi.
“Kamu kenal Kanya?”
Harapan membanjiri perasaanku.
“Di mana Kanya? Kamu tahu di mana Kanya?”
Perempuan itu tak bersuara. Bibirnya bergetar. Kelopak matanya mendanau.
“Koko ... saya Kanya.”
Hilang senyumku seketika. Apa yang terbit di pikiranku tenggelam begitu
saja. Aku tak tahu apa tragedi yang menimpa perempuan di hadapanku ini.
Namun, sungguh aku berharap seseorang menolongnya, bukan aku.
“Maaf ... saya buru-buru.” Aku membalikkan badan lagi, lalu menyeruak
kerumunan di dalam kereta itu. Mengabaikan gerutuan juga makian orang-
orang. Kanya ... Kanya ... di mana engkau, Kanya?
Aku terus berusaha bergerak maju. Langkahku berusaha menghabiskan
gerbong sembari menoleh ke sana sini. Mencari-cari. Penumpang yang duduk
di kursi berhadapan atau mereka yang berdiri dengan tangan bergelantungan
mengomentariku macam-macam. Kalimat mereka tak melukaiku.
“Permisi ... permisi.”
Berpindah gerbong aku melakukan hal yang sama. Memeriksa setiap
sudutnya dan berusaha menemukanmu. Lalu, pada ujung gerbong kedua,
persis di muka pintu geser yang agak terbuka, aku menemukan apa yang sedari
tadi aku pikirkan. Bakul bambu besar dengan timbunan sayur dan buah-
buahan kampung.
Aku menghampirinya dengan semburat kegembiraan. Berjongkok,
mengangguk-angguk sembari meraba bakul bambu itu penuh perasaan.
“Mau beli kangkung, Pak? Atau pepaya?”
Aku menoleh ke asal suara. Seorang lelaki berambut keriting duduk
menghadap bakul milikmu, Kanya. Wajahnya lelah, matanya agak merah.
Aku menggeleng. “Bapak tahu pemilik bakul ini?”
Lelaki berwajah lelah itu menatapku sengit. Tangannya meraih tepi bakul.
“Ini dagangan saya.”
Aku menggeleng lagi. “Ini ... ini milik Kanya. Saya hafal bakul ini. Buah-
buahan dan sayuran ini. Ini milik Kanya.” Aku mengangkat wajah, menatap
sekeliling. Mencari-cari. Kanya ... Kanya, cepat kemari. Mengapa engkau
tinggalkan bakulmu?
“Mau apa, Pak?”
Aku terperenyak. Tak paham mengapa lelaki itu begitu marah.
“Gelo, nya? Orang gila.”
Beberapa penumpang mulai mengerumuni kami. Satu-dua menenangkan
lelaki pemarah itu. Aku bangkit dengan perasaan yang kian tak mengerti.
Mengapa dia memanggilku Bapak? Apa yang salah dengan lelaki ini?
Aku mundur sedikit. Mengabaikan suara orang-orang yang berusaha
menjangkau pendengaranku. Berbicara apa yang mereka mau. Aku menoleh
ke pintu gerbong. Berharap engkau muncul dari sana, dan orang-orang segera
tahu bahwa aku tak mengarang-ngarang cerita.
Akan tetapi, tak ada yang datang. Hanya kaca pintu gerbong bergetar-getar
oleh gerakan roda baja. Kaca yang memantulkan bayangan orang-orang di
hadapannya. Tidak sempurna, tetapi cukup jelas menggambarkan keriuhan
orang-orang, juga memantulkan bayangan seseorang yang berdiri kaku sembari
menoleh ke pintu.
Bayangan laki-laki yang tak lagi muda, meski juga tak terlalu tua. Aku seperti
mengenalnya, tetapi tidak sungguh-sungguh tahu siapa dia. Bayangan itu
mengikuti setiap gerakanku. Aku tercekat. Segera rasa takut meringkusku
begitu rupa. Kebingungan memaksaku kehilangan keseimbangan. Tanganku
menggapai batang besi yang menggantung di langit-langit kereta, tempat
orang-orang menggenggamkan tangan mereka.
Panik bukan main. Aku kembali merasakan keterasingan yang amat akut.
Aku terjebak dalam ketakutan yang mengerikan. Siapa orang dalam kaca itu?
Mengapa kaca memantulkan bayangannya, sedangkan seharusnya wajahku
yang ada di sana?
“Koko ....”
Suara itu datang lagi. Perempuan berpasmina terung. Seperti datang dari
ketiadaan. Dia berdiri amat dekat denganku. Aku mundur. Merapatkan
punggung ke pintu kaca. Menggeleng-geleng tak tentu. Perlahan-lahan aku
dirambati kebencian. Perempuan ini juga orang-orang itu, sepertinya sedang
merencanakan hal buruk kepadaku.
“Kamu bukan Kanya.”
Perempuan itu tak menyeka air matanya. “Mari pulang, Koko. Di stasiun
depan, kita turun.”
Aku menggeleng. “Kamu mau apa?”
“Kita pulang agar Koko bisa istirahat.”
Kucengkeram kepalaku dengan dua tangan. “Pulang ke mana? Di mana
rumah saya? Saya mau Kanya! Di mana Kanya?”
Aku berbalik, menggeser paksa pintu gerbong agar terbuka, lalu melompat.
Agak terayun-ayun ketika kaki menjejak lempengan besi, menyeberang ke
gerbong berikutnya. Aku tak mau tertipu.
Kanya, aku harus menemukanmu.
Gh a 1
Datang dan Hilang
P ada kenyataan, hari-hari telah datang, lalu hilang, sedangkan aku tak
kunjung menemukanmu mencariku, Kanya.
Aku terlambat menyadari, engkau tak pernah menoleh ke belakang lagi. Aku
tidak tahu apakah engkau bahagia ataukah menderita. Namun, aku semakin
paham sekarang, engkau tidak pernah menoleh ke belakang.
Mungkin engkau tak meniatkan diri untuk menghapusku. Namun, engkau
menyambut hari-hari tanpa pernah menoleh ke belakang maka aku
terlupakan.
Robbana ....
Kadang aku bertanya-tanya. Apakah hal yang kurasakan pun sama melanda
semua manusia yang pupus cinta? Semacam inikah kerentanan yang mereka
derita? Aku sudah merintih begitu lama. Bahkan, hanya karena aku
merindukanmu, Kanya. Mengharap engkau singgah ke mimpiku.
Kadang, terpikir olehku untuk berbagi kisah ini kepada seseorang. Siapa pun.
Menumpahkan semua yang mengapung di permukaan pikiran. Namun, aku
tahu, hanya hatimu yang layak menerima ceritaku.
Sedangkan semakin hari aku kian ragu, apakah engkau berkenan
mendengarkan?
Tidakkah engkau akan semakin gamang terhadapku? Meludahi ceritaku.
Aku merasa aman ketika cerita ini tak kukisahkan. Pada saat yang sama,
rasanya, seperti menyimpan sebukit kehancuran. Ini akan menjadi romansa
tersedih sepanjang masa. Bahkan, bukan kasih tak sampai, melainkan rasa yang
tidak pernah terkatakan. Haram diungkapkan.
Aku akan terus berkarya, Kanya. Seperti pernah kau pesankan dahulu.
Engkau tetap akan menjadi kampung halaman bagi semua rasa yang
kubisikkan dalam setengah juta kata.
Akhirnya, aku paham bahwa aku tidak menghendaki sebuah pertemuan. Aku
lebih mendambakan keterusterangan. Aku berharap engkau katakan. Meski
kemungkinannya kian tak ada, aku tidak akan berhenti berdoa; kelak engkau
mengakuinya.
Jika tidak, aku berharap agar hidupku lebih lama daripada umurmu, agar
kelak bisa kuziarahi pusaramu. Sebab, aku tak percaya engkau akan melakukan
sebaliknya. Aku akan menemuimu dan bercerita kepadamu ketika engkau
sudah tak bisa lagi menjawabku.
Semoga aku cukup beruntung mengalami itu.
Kukisahkan kepadamu, hari itu, aku ada di dalam perut kereta api kelas
ekonomi menuju Malang dan merasa nasibku mendadak begitu malang.
Bangku tiga karcis berhadap-hadapan, selain aku, sisanya adalah satu
gerombolan. Mereka lima muda-mudi yang merdeka pikirannya dan merasa
dunia akan selalu baik-baik saja. Termasuk ketika berlima mereka
mendorongku ke muka kamar kecil dan hampir-hampir melemparkan gitarku
sembari cengengesan.
Kami belum seharian saling mengenal. Aku hanya tahu bahwa mereka
berlima mahasiswa perguruan tinggi yang namanya tidak terkenal dan kabur
dari perkuliahan demi pendakian ke puncak Sindoro Sumbing. Iya, mereka
salah naik kereta. Namun, tak seorang pun pusing karenanya. Mari kita
tersesat, sorak mereka.
Tentangku, mereka hanya tahu, aku pecinta kereta. Melakukan banyak
perjalanan hanya karena suka dan mengamen dari kota ke kota untuk
membiayainya.
Mereka memintaku menghibur para penumpang yang mulai merasa bosan
dibekap perjalanan panjang dari Bandung menyisir Jawa bagian selatan. Kereta
ini, telah beberapa waktu tak seperti dahulu. Di dalamnya tak ada lagi penjaja
makanan apalagi seniman jalanan. Lebih nyaman sekaligus membuat
penghuninya teramat kesepian.
“Saya hanya tahu lagu-lagu Titi DJ.”
Aku masih saja menoleh kepada lima muda-mudi kurang ajar, tetapi
membuatku meremaja itu. Bukan kepada penumpang lain yang sebagian
mulai memperhatikan tingkah kikukku. Berdiri membelakangi pintu gerbong,
menyebelahi kamar kecil yang agak pesing.
“Aha ….” Terangkat tangan salah satu pemuda yang sempit jidatnya, kupluk
di kepala. “… ‘Sang Dewi’.”
Aku separuh tertawa, mengibaskan tangan sembari meloloskan tali gitar ke
punggung hingga melintang.
Si Kupluk lalu berdiri di antara kursi-kursi, jalur masinis dan para polisi
kereta memeriksa karcis penumpang. “Penontooon …,” serunya setengah
dangdut, “… ada yang mau request lagu Titi DJ?”
Tidak banyak yang benar-benar memperhatikan. Terlebih kursi yang
berhadap-hadapan membuat selang-seling baris wajah yang bisa aku temukan.
“‘Jangan Berhenti Mencintaiku’, Mas!” Teriakan dari kejauhan. Seorang ibu
berbahu tebal, berkerudung instan di barisan pertengahan. Detail wajahnya tak
mudah kupastikan. Namun, jelas dia membuatku sedikit tersipu.
Aku mengatur kunci dahulu. Memastikan setiap nada agar terpetik merdu.
“Pensiun balapan, Mas?” celetuk penumpang lain. Kali ini laki-laki. Aku
mendengar saja, tak merasa harus memeriksa siapa pemilik suara. Apalagi
menjawabnya. Aku tahu maksud dia. Kurasa, jika dia pergi ke Glodok pun,
setiap pemilik toko di sana akan dia anggap mirip dengan pembalap kenamaan
oleh sebab kesamaan wajah turunan.
Akan tetapi, itu ide yang rupanya banyak diamini. Beberapa orang mulai
menimpali. Memirip-miripkan. Membahas-bahasnya. Termasuk lima muda-
mudi kawan seperjalananku ini.
“Apa kataku, Bang? Memang kalian seperti om dan keponakan.” Si Kupluk
nyeletuk sembarangan. Bukan “kakak-adik” perumpamaan yang dia pilih,
melainkan om dan keponakan. Begitu percaya diri berpikir aku pantas
menikahi tantenya.
Dia lalu menghampiriku, menenteng topi “Jason Miraj” yang kutinggalkan
di bangku. Menindih gulungan matras di atas ransel pengelana yang tak
kebagian bagasi. Si Kupluk melesakkan topi itu ke kepalaku, “Kenakan topi
koboimu supaya agak tersamar. Salah-salah orang-orang itu minta tanda
tangan Abang gara-gara salah orang. Atau, minta hape karena mengira Abang
bintang iklan telepon pintar.”
Sedikit risi, tetapi kubiarkan dia mematut-matut topi itu di kepalaku. Sebab,
senar-senar gitar nadanya belum patut benar. Si Kupluk mengangkat ibu jari,
lantas melompat ke tengah kerumunannya lagi.
Aku masih terus tersenyum, tak menanggapi komentar para penumpang. Itu
pun bukan pengganti jawaban. Aku tersenyum karena aku tidak tahu cara
untuk tidak tersenyum. Seperti itu orang mengenalku sedari dahulu. Beberapa
orang yang tak tahu akan susah memahami senyumku. Mereka menilaiku tak
peka terhadap keadaan karena terlalu receh memberikan senyuman. Bahkan,
dalam kesedihan. Padahal, memang seperti ini komposisi wajahku. Aku tak
bisa mengatur senyumku agar datang dan hilang mengikuti perasaan.
“Nama saya Kashmir … yang artinya ‘surga’,” aku merencanakan sebuah
perkenalan yang langsung menjawab semua rasa penasaran, “… saya seorang
Muslim, keturunan Tionghoa, bernama India, berbahasa ibu Sunda, dan tidak
punya hubungan darah apa pun dengan orang terkenal mana pun.”
Beberapa penumpang tertawa. Aku tahu, beberapa di antara mereka
menganggap ini tabu. Tak banyak orang yang merasa nyaman menyebut
SARA pada perkenalan kali pertama. Namun, aku tak minat memikirkannya.
Sebab, pengalaman memberi tahu, meski tak dikatakan, mereka ingin tahu
hal-hal semacam itu.
“Tadi ada yang pesan ‘Jangan Berhenti Mencintaiku’?”
Ibu berbahu tebal langsung melambai-lambai. Aku mulai curiga dia guru TK.
Kubaca dari kelincahan dan bahasa tubuhnya.
“Saya pilih lagu lainnya, ya, Bu.”
“Yah.” Penonton kecewa.
“Saya punya gantinya. Tidak kalah romantis.”
Aku memainkan intro lagu. Guncangan kereta memberi ritme yang
melahirkan suasana. Aku menemukan romantisme itu pada pergerakan semu
di luar jendela.
“Judulnya ‘Kala Senandung Itu Pergi’ …,” aku mulai menemukan banyak
wajah menatapku. Bahkan, mereka yang duduk membelakangiku, “… ini lagu
tentang seseorang yang mencintai sepenuh hati. Namun, dia tahu dia tidak
akan pernah memiliki. Lalu, dia merelakan kekasihnya itu pergi meski
kenangannya tidak akan pernah terganti.”
Mulutku tak bicara lagi. Kemudian, bunyi kunci berganti-ganti. Nada
memenuhi kereta. Menyepikannya dalam waktu yang sama.
Aku lebih percaya pada kekuatan lagu ini, alih-alih pada caraku bernyanyi.
Ketika bait berikutnya kujeda dengan bunyi gitar saja, lalu kuperhatikan
tatapan orang-orang, padanya segera kutemukan kepedihan.
Pada bait kedua, aku mulai menemukan beberapa orang yang berair mata,
sisanya menikmati saja.
Aku melangkah pelan agar laguku kian banyak yang mendengar. Bernyanyi
dengan senyuman meski sama dengan yang mendengar, batinku tidak baik-
baik saja karenanya.
Seandainya ada biola, niscaya kian perih udara. Aku percaya, lagu berbicara
dengan nada dan jiwa yang merdeka dari de nisi-de nisi. Menyusupi batin
manusia tanpa menerangkan makna kata per kata.
Mendekati ujung lagu, aku menuju bagian tengah barisan bangku-bangku,
mengirim kerapuhan itu atau kerapuhan itu yang memangsaku. Aku merasa
bukan lagi manusia, melainkan lagu yang kunyanyikan.
Selesai.
Ibu yang kuduga guru TK itu berdiri dan bertepuk tangan kencang.
Mungkin dia salah mengira, dirinya baru saja diangkat menjadi juri ajang
pencarian bakat. Namun, tepuk tangan itu bertambah-tambah. Menular,
mengajak-ajak teman. Beberapa orang bersuat-suit. Bayaranku menyanyi lima
menit kurang sedikit.
Aku tidak sungguh-sungguh mempertimbangkan apa yang orang-orang
lakukan. Sebab, sejak nada pertama hingga aku menyelesaikannya, aku merasa
tidak sepenuhnya ada di tempat ini. Aku tak memetik nada ini demi siapa
pun.
Kecuali engkau, hanya kereta yang memahaminya.
Sepuluh tahun kedua, aku begitu mencintai kereta. Tak mampu bosan
merasakan roda-roda bajanya menggilas rel, bunyi peluit yang memulai
perjalanan dari setiap stasiun, pula pemandangan matahari terbit dan
tenggelam di luar jendela.
Di kereta, aku selalu berhasil mengenangmu, cerita yang telah berlalu. Meski
belakangan, setiap perjalanan rasanya seperti menusukkan rintihan piano
Yiruma ke telinga. Menyembilu batinku. Seandainya hari itu tak pernah ada,
barangkali mimpiku, tentangmu, masih hidup dan menggebu. Sebab, apa yang
tak tersampaikan adalah napas yang memanjangkan umurku.
Aku rela menua dengan kenangan dan harapan. Namun, matamu, hari itu,
adalah jawaban. Bahwa aku telah selesai pada hidupmu. Setelah aku
memelihara asa hampir seperempat abad lamanya, sekarang apa? Aku hanya
memiliki gitar tua, ransel pengelana, tas tidur, selimut tenun toraja, dan matras
bergelombang tempatku rebah di mana pun malam mencegah kakiku
melangkah.
Mengasihimu seperti membincangi Tuhan. Tarik ulur rasa hingga ke batas
yang tak berdosa. Ia membolehkanku mengingatmu, tetapi tak melampaui itu.
Lalu, melanjutkan hari, dari kereta ke kereta. Masih dengan kenangan, air
matamu dan suara bidadarimu, dahulu.
TELEPON genggam mengentak penuh dendam. Tanpa suara, hanya getaran
yang menyentak dada. Kali ini panggilan masuk. Aku hampir-hampir
melompat sembari menyumpah serapah. Menelepon orang pada pagi buta
semacam ini sama saja dengan perundungan tak termaafkan. Aku menyesal,
tadi tak mematikannya sekalian.
Begitu terbaca nama penelepon di seberang, berlipat ganda rasa kesalku
kemudian. Sebab, mau atau terpaksa aku tetap harus menerimanya. Ini pula
rupanya alasan aku menyetel alarm sepagi buta ini. Memori yang datang amat
lambat.
“Ben ....”
“Selamat malam, Pak Ustaz.”
Aku mengangguk-angguk. “Aaamiiin.”
“Wah, salut. Pak Editor sekarang rajin shalat malam.”
Gigiku beradu.
“Aku baru mau tidur setelah menulis semalaman. Kamu, Kash?”
Aku menolah-noleh. Berusaha agar suaraku tak membangunkan orang-orang.
“Lebih kurang sama.”
Tawa di seberang. “Aku tahu kamu sedang bergulat dengan matrasmu entah di
kota apa di pojok Indonesia sebelah mana.”
“Ya. Aku menyetel alarm dini hari begitu Nora menyampaikan pesanmu, dua
hari lalu. Sampai aku lupa alarm untuk apa.”
“Aku harap kamu tak menganggap ini berlebihan,” jeda sekejap, “aku memang
baru akan menghubungimu setelah naskahku selesai. Aku katakan kepada Nora
dini hari ini halaman terakhir selesai aku ketik.”
Aku menghargai setiap proses kreatif penulis. Namun, rasa-rasanya, Ben
menduduki peringkat paling atas penulis dengan kebiasaan paling
menyusahkan.
“Aku ingin dengar presentasimu.”
Aku meremas rambut. “Tentang?”
“Novel baruku.”
“Oh ...,” aku berusaha berpikir cepat, “... penerbit terbaik. Royalti yang
bagus, display di semua toko buku. Road show.”
“Kamu tidak berpikir idemu orisinal, bukan?”
“Agen naskahku masih yang terbaik saat ini, Ben. Aku tidak perlu
menjelaskannya, bukan?”
“Ya ...,” suara Ben mengerut, “... tapi tak ada yang istimewa dari
penawaranmu. Aku mendapat penawaran yang sama dari agen lain, bahkan
penerbit langsung, dengan angka royalti yang lebih besar.”
“Engkau serius merusak tidurku cuma untuk merundungku, Ben?”
Tawa lepas di seberang. “Ayolah. Aku ingin tahu seberapa serius kamu
menginginkan naskahku.”
Aku diam sejenak. Ada hal yang ingin aku tahan, tetapi terpaksa aku katakan,
“Frankfurt Book Fair, tahun ini.”
“Frankfurt? Maksudnya?”
“Tentu saja aku akan menerjemahkan novelmu dalam bahasa Inggris dan
membawanya ke sana, Albert Einstein.”
Ben mengabaikan sindiranku. “Dengan penulisnya?”
Aku menggeram dalam batin, Tentu saja.
“Tidak terlalu menarik sebenarnya. Kita sudah dua kali ke sana.”
“Tetapi, kali ini kamu sebagai pembicara. Bagaimana?”
“Aku masih perlu satu sentuhan istimewa lagi.”
“Engkau pikir ada yang bisa menawarkan lebih, Ben?”
Aku mendengar nada kemenangan pada suara Ben.
“Terserah engkau mau ambil atau tidak.”
“Katakan.”
“Naskah terbaruku ini sangat istimewa jadi aku tidak mau mengirimkannya via
surat elektronik atau pos.”
“Omong kosong.”
Ben tergelak. “Kamu tidak punya pilihan, Kash. Kamu harus mengambilnya
sendiri.”
“Ke Hong Kong?”
“Hong Kong yang sebenarnya!”
Antara sengaja dan setengah tak sadar, seperti biasa, aku menyebut tempat
tinggal Ben setahun terakhir seperti sebuah hardikan. Sebelum “ke Jonggol”
jadi gurauan terkenal, dari generasi ke generasi frasa “ke Hong Kong” atau
“dari Hong Kong” amat melegenda. Contohnya, “Duit dari Hong Kong! Enak
saja kau minta-minta kepadaku.” Aku sudah mengenal gurauan itu sejak SMP.
“Engkau tidak praktis sekali, Ben.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan kepraktisan.”
“Aku sedang di Malang sekarang.”
“Bukan urusanku.”
Si keras kepala.
“Setidaknya aku harus pulang ke Jakarta untuk mengatur penjadwalan.”
“Aku yakin engkau hanya perlu alasan untuk datang ke Hong Kong. Aku adalah
alasan terbaikmu.”
Itu sindiran. Aku sangat paham. “Sok tahu kamu.”
“Lima tahun lalu kamu datang ke sini dan misimu tidak terlalu berhasil,
bukan?”
“Kamu tahu cerita itu sudah selesai, Ben?”
“Justru baru akan dimulai.”
“Maksudmu?”
Diam sebentar. Ben mempermainkan rasa penasaranku.
“Aku akan menutup telepon ini, Ben.”
“Aku tak nyaman membicarakannya di telepon.”
“Aku tutup sekarang.”
“Baik ... baik. Sabarlah sebentar.”
“Setidaknya jika engkau segera menyelesaikan kalimatmu, aku bisa tidur
lagi.”
“Aku bertemu dengan dia, Kash.”
“Dia?”
“Masa lalumu.”
Apa yang masuk ke kuping menggembok mulutku.
“Kamu pikir kamu siapa? Sherlock Holmes?”
“Aku tak perlu menyelidiki apa pun, Kash. Istriku belakangan cukup sering
bertemu dia di depan KJRI. Aku sekali-sekali.”
Terasa mengerut dahiku. “Dia tidak bekerja?”
Aku bangkit, mencari posisi yang paling nyaman dari orang-orang karena aku
mengira, perbincangan selanjutnya akan sangat pribadi.
“Izin tinggalnya di Hong Kong habis.”
“Dia overstay?”
“Iya.”
“Tinggal ilegal?”
“Iya.”
“Apa yang dia lakukan di depan KJRI?”
“Jualan jamu.”
“Ilegal?”
“Tentu saja.”
“Dan ... kamu baru memberitahuku sekarang?”
“Memangnya aku harus mengatakan apa? ‘Hai, Kash, tebak aku bertemu siapa?
Kamu masih ingat perempuan masa lalumu yang membuatmu remuk hati
berkali-kali? Orang yang memaksamu jadi bujang lapuk, sedangkan kalau engkau
mau menikah dengan siapa pun, tinggal tunjuk? Belakangan kami cukup sering
bertemu, tapi dia tidak pernah sekali pun menyinggung namamu.’ ...,” terjeda
satu ketukan, “... kamu mau mendengar itu?”
“Lalu, mengapa sekarang kamu memberitahuku?”
“Tentu saja karena aku ingin kamu ke sini, BJ Habibie!”
Ben membalas sindiranku. Aku diam beberapa lama. Bukan karena
memikirkan sindirannya.
“Apa dia terlihat bahagia?” Aku berusaha meredam letupan dalam pikiran.
“Untuk ukuran TKI overstay tampaknya begitu?”
“Syukurlah.”
“Kamu masih memikirkan dia?”
“Hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu.”
“Hidupmu masih Titi DJ, Kash?”
Memang aku mengutip lirik “Hanya Cinta yang Bisa” milik sang Diva. Setiap
lagunya adalah tema kisahku sejak remaja. Seolah dinyanyikan kepadaku.
Mengabadikan setiap babak hidupku.
“Jika dia baik-baik saja, tidak ada alasan aku mengganggu hidupnya.”
“Setidaknya sebagai kawan lama, Kash. Apa salahnya? Barangkali saja kamu
bisa mengingatkan dia soal status tinggalnya.”
“Bukankah itu tugas KJRI?”
“Sudah. Istriku selalu mengatakan itu kepada para TKW yang overstay. Tetapi,
mereka selalu punya alasan yang masuk akal.”
Istri Ben baru beberapa bulan bertugas di Konsulat Jenderal Republik
Indonesia di Hong Kong. Negara kedua penugasannya. Ben, tentu saja dengan
pekerjaannya yang eksibel, memilih mendampingi istrinya, ke mana pun dia
kelak dipindahkan.
“Masuk akal?”
“Mengumpulkan uang untuk keluarga di kampung halaman. Beberapa lagi
punya alasan yang berbeda.”
“Bagaimana dengan risiko hukum?”
“KJRI pun selalu mengingatkan tentang itu. Tetapi, beberapa dari mereka
berpikir, itu masih lebih baik daripada pulang ke kampung dan menjadi
penganggur.”
“Kalau tertangkap?”
“Dalam beberapa kasus, mereka menyerahkan diri ke aparat Hong Kong. Ya,
setelah diproses, mungkin setengah tahun penjara, lepas itu dideportasi.”
“Itu tidak menakutkan?”
“Ada yang bilang penjara Hong Kong seperti hotel, Kash. Itu tidak terlalu
menakutkan.”
Pikiranku tak karu-karuan. Perkembangan ini terasa mendadak dan
membuatku khawatir.
“Aku punya tawaran buatmu, Kash.”
“Apa itu?”
“Kamu tahu Episentrum.com?”
“Ya. Portal berita itu.”
“Betul sekali ...,” Ben terdengar berlebihan dalam penekanan kata-katanya kali
ini, “... KJRI dan Episentrum minggu depan bikin acara di Universitas Hong
Kong. Istriku bisa mengusahakan agar kamu terlibat di acara itu.”
“Acara apa?”
“Pelatihan penulisan untuk TKW. Kamu bisa mengisi sesi ‘Menulis Kreatif’,
misalnya.”
“Kamu tidak mengira aku tidak sanggup datang ke Hong Kong dengan biaya
sendiri, kan, Ben?”
Ben tertawa. Lantang sekali. “Aku hanya memberimu konteks, Kash. Tidak
bermaksud meragukanmu. Menurutmu itu salah?”
Aku menggeleng seolah Ben bisa menyaksikannya. “Tidak ada salahnya,” aku
tahu Ben merasakan senyuman pada kalimat yang aku katakan, “... tetapi juga
tak harus dilakukan.”
“Hai, Kahlil Gibran, kamu tahu bukan itu yang kamu pikirkan.”
Aku diam dan berpikir. Tidak. Aku tidak bisa benar-benar berpikir.
“Entahlah, Ben.”
“Setidaknya datanglah demi dua keponakanmu yang lucu.”
“Amanda dan Maria sudah besar, ya?” Aku lega Ben memindahkan topik
perbincangan.
“Engkau akan merasa umurmu berhenti sampai engkau punya anak, Kash.
Setiap mereka bertumbuh, berarti kamu semakin menua.”
Ben kemudian larut bercerita tentang kelucuan dua anaknya. Dia sangat
paham, aku membutuhkannya. Aku membutuhkan pintu keluar karena apa
yang baru saja dia sampaikan, membuat sesak benakku yang terdalam.
Aku menyimpan diam-diam kabar dari Ben, seolah-olah itu tak penting.
Meletakkannya pada relung yang tersembunyi dalam pikiranku dan
menengoknya sewaktu-waktu. Kabar tentangmu, Kanya. Betapa pun banyak
pertanyaan yang membuatku begitu penasaran, aku pilih untuk tak
membicarakannya.
Apa yang terjadi kepadamu? Mengapa engkau melepas keyakinan moral yang
engkau percaya begitu lama? Apakah engkau tersakiti? Adakah yang engkau
perlukan?
Banyak lagi. Begitu banyak pertanyaan yang inginku segera menemukan
jawaban. Namun, aku pilih untuk diam.
Seharian kemudian, aku terjebak di stasiun tua Malang yang membuatku
merasa kian bernasib malang. Aku menunggu senja. Hampir-hampir tidak
melakukan apa-apa selain memikirkanmu, Kanya.
Di Victoria Park lima tahun lalu, pintu itu telah tertutup bagiku. Sejak
belasan tahun lalu, sesungguhnya. Hanya saja, hari itu aku memastikannya.
Pada suatu pertemuan tak berapa lama di suatu sudut taman yang tak aku
kenal, kutemukan keasingan pada tatapanmu, bahasa tubuhmu. Aku benar-
benar tak lagi mengenalmu. Tidak ada jejak kisah kita pada kata-kata terlebih
bahasa rasa. Aku meyakini, bagimu, kisah kita telah selesai.
Engkau meninggalkanku lebih dahulu, alih-alih melepasku, melambaikan
tanganmu. Aku menerimanya, tentu saja. Menatap senja di luar jendela
pesawat, aku meninggalkan kotamu dengan pikiran hambar. Kapal-kapal
mengapung, laut membentang, dan hari menuju temaram. Tetap saja mengalir
air mata. Mengecup kemalangan. Aku mengasihani diriku sendiri. Sebab,
menunggu lama untuk hal yang sia-sia.
Pertemuan yang tak berasa. Tatapan mata yang tak berkenangan. Seolah
putus engkau dari hari-hari sewaktu kata-katamu engkau setiakan kepadaku.
Tak hanya engkau. Aku pun sama. Melihatmu lagi tak mendebarkan perasaan.
Bahkan, setelah dua dekade auramu terkenang-kenang. Ada yang tercerabut
pada sinar matamu. Tak lagi sendu. Aku tak lagi menemukan kita di sana.
Engkau tahu, aku tidak bertekad memilikimu. Hanya berharap masih ada
kenangan pada bilik matamu.
Maka, di pesawat itu, senja tertinggal di belakang, begitu pula harapan.
Bunyi biola paling nelangsa seperti menggema. Bukan karena kehilanganmu.
Sebab, itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Aku hanya mentertawakan jalan
hidupku. Mentertawakannya dengan air mata.
Seperti kali pertama mengenalmu, aku tetap akan melakukan perjalanan
bersama kereta. Mencapai tempat-tempat yang jauh dan sunyi. Stasiun-stasiun
kecil yang sedih dan terlupakan, pula pemberhentian-pemberhentian di kota-
kota tua berlegenda.
Di kereta, kenanganmu hidup, Kanya.
Engkau ... gadis remaja berjiwa purba, yang mengepang rambut panjangmu
menjadi dua. Menggendong bakul sayur menuju pasar di kota. Menaiki kereta
setiap pagi masih buta. Senyummu akan hidup selamanya, pada derit roda baja
ketika menggilas rel kereta. Sewaktu peluit panjang mengucapkan selamat
jalan dan kegembiraan menyatu dengan kesedihan.
Gh a 2
Der it Roda Kereta
M asih ingatkah engkau, Kanya, dari derit roda kereta, ceritamu bermula.
Engkau datang dari sebuah kota yang tak banyak orang
menggunjingkannya. Kota sekepal dengan jalan-jalan aspal berlubang-lubang.
Kotoran kuda membercaki permukaannya. Kota yang orang lupa, sejarah
berkali-kali lahir di sana. Bahkan, ketika negeri ini belum bernama.
Tentang kotamu ingatan yang mendekam tinggal udara yang kian
menghangat, debu menghitamkan udara, dan aroma sampah basah. Semakin
membosankan dan kering harapan. Perlahan terputus dari ingar bingar masa
depan.
Kereta lokal datang dan pergi, sekali dalam satu hari. Pilihanmu tak ada lagi.
Berbaju kurung, kau tinggalkan rumahmu sewaktu pagi masih muda, belum
menyala. Kau geret badan beliamu dengan semangat yang menyalak-nyalak.
Kau tak ingin bernasib seperti kotamu. Tertinggal dan dilupakan.
Di punggungmu kau ikat bakul bambu yang engkau bisa masuk ke sana,
saking besar ukurannya. Di situ, kau lesakkan macam-macam hasil tanah
keluargamu yang menyuapi banyak mulut sejak kelahiranmu hingga adikmu
yang ketiga.
Kereta itu mengantarmu ke kota provinsi. Tempatmu menjual semua isi
bakul bertuahmu dan membawa pulang setumpuk ikan asin sebagai ganti.
Ikan-ikan gepeng dan garing yang kemudian dipilah apik oleh ibumu;
dibungkusi dalam plastik-plastik kecil. Dini hari berikutnya, bapakmu
menjualnya ke pasar dekat rumahmu. Mendorong gerobak sewaktu azan awal
belum disuarakan. Adik-adikmu satu dua membantu. Sebelum mereka
berangkat ke sekolah begitu terang matahari tak bisa dicegah.
Sekolah yang sama tempatmu lulus, setahun lalu. Sekolah dasar yang
jaraknya selemparan batu dari pasar. Begitu. Setiap hari.
Ya. Kau masih sangat belia. Itu mudah ditebak dari keremajaan di matamu
yang belum sempurna. Juga bahasa tubuhmu yang banyak malu. Bahkan,
meski engkau bersosok perawan yang segera matang, aku jelas tahu, engkau
teramat belia, sewaktu wajahmu memerangkap pandanganku, kali pertama.
“Hatur nuhun, Ko. Terima kasih.” Suaramu rapuh, tetapi berusaha kukuh.
Pagi itu, kabut masih membasahi udara, sewaktu aku melihatmu sempoyongan
menggusur bakulmu yang penuh macam-macam buah dan sayuran. Hari
pertama aku bersekolah di kota. Celana panjang abu-abu yang kedodoran dan
kemeja lungsuran aku kenakan.
“Ke pasar, Neng?”
Aku mengangkat bakulmu ke tepi kereta yang berhadap-hadapan bangku
tempat duduknya. Tidak mudah ketika isi kereta berjejal-jejal manusia: para
buruh, pedagang pasar, dan anak-anak desa yang bersekolah ke kota. Macam-
macam aroma meremas udara.
“Iya, Ko.”
Engkau bukan orang pertama yang memanggilku begitu. Aku merasa baik-
baik saja meski rasanya sebutan itu tak pada tempatnya. Selain mataku yang
tak lebar terbuka, aku tak tahu apa-apa perihal budaya Tionghoa.
“Sendirian?”
Kita berdiri berhadapan. Terjepit di antara para penumpang. Tanganku
menggapai-gapai mencari pegangan. Engkau mengandalkan bakul beratmu
agar seimbang badanmu. Sebelah tanganmu menggenggam pinggiran bakul.
Kepalamu, setelingaku.
Engkau mengangguk.
“Sudah lama?”
Engkau mengangguk lagi. Agak menunduk tatapmu. Namun, tidak
tekadmu. Aku melihat semangat mengaum di matamu, hari itu. Pada sosokmu
yang malu-malu, aku meyakini kekuatan besar yang mendekam dalam pikiran.
Engkau mengepang rambutmu yang panjang. Selendang panjang kembang-
kembang menyampiri leher. Baju kurung ungu membungkus badanmu. Satu
bahan untuk baju dan rok panjang. Atasan lengan panjang, bawahan semata
kaki ujungnya sesekali menyentuh lantai kereta, setiap kau sedikit merunduk
mengikuti guncangannya.
“Turun di mana, Neng?”
Aku ingin mencebur dalam matamu, pagi itu. Sekadar mencerap
perjuanganmu dan ingin tahu kisah di sebalik itu.
“Kiaracondong, Ko.”
Stasiun yang sama denganku. “Setiap hari?”
Senyummu mekar, mengangguk kemudian. Namun, engkau tak menatapku.
Senyummu seperti milikku. Beberapa kali kereta berhenti di stasiun-stasiun
kecil, menjeda obrolan kita yang satu-satu.
“Harus pagi-pagi sekali, ya?”
“Iya …,” engkau menyampirkan sebelah selendang ke bahu kanan, “… kalau
tertinggal kereta, tidak bisa jualan.”
“Bukankah ada angkot?”
“Lama, Ko. Harus berganti empat kali. Ongkosnya mahal.”
Aku tersenyum. Bukan karena ada yang jenaka, tak tahu mengapa, aku
begitu sering melakukannya. Sekadar jeda di antara kata-kata. Bahkan, aku
tersenyum saat berbicara.
“Pulang jam berapa?”
“Sore, Ko.”
“Sore?”
Engkau mengangguk dengan sedikit tenaga. “Belanja dulu.”
“Beli apa?”
“Jajanan pasar dan ikan asin.”
Ah, pembicaraan kita semakin beranak pinak.
“Untuk lauk?”
Kali ini engkau menggeleng. “Untuk dijual lagi.”
“Jadi, Eneng pulang pergi bawa dagangan?”
Engkau mengangguk. Suara-suara di sekeliling kita kian bergemuruh.
“Ikan asin saya titip dulu di stasiun. Jajan pasar saya jual berkeliling. Sore
saya pulang bawa ikan asin.”
Aku tercekat waktu itu. Mengukur betapa kuatnya badan lemahmu.
Orang-orang yang baru masuk kereta saling menyapa, bertemu penumpang
yang dikenalnya.
“Tidak sekolah, Neng?”
Tidak sekadar mengisi waktu, aku memang benar-benar ingin tahu. Engkau
masih begitu belia. Aku merasa engkau tidak berada di tempat yang
semestinya.
“Sudah lulus, Ko.”
Aku menahan kalimatku, tetapi tak bisa lama-lama. “SD?”
Engkau mengangguk. Berubah kesan di wajahmu. Senyum menghilang dari
bibirmu. Ada sesuatu pada tatapanmu.
Aku menyesal bukan kepalang.
Engkau menyiapkan dirimu. Stasiun kita akan tampak sebentar waktu.
Cukup banyak orang yang duduk segera berdiri. Tak berapa lama, kereta
benar-benar berhenti.
“Saya bantu.”
“Jangan, Ko.”
Aku tidak sedang berbasa-basi. Aku angkat bakulmu dan segera sadar,
seberapa berat usahamu menjalani keseharianmu. Bahkan, bagiku, bakul
penuhmu ini memaksa begitu banyak tenaga untuk mengangkatnya.
“Sudah, Ko. Tidak usah. Berat.”
Aku tak menjawab. Tersenyum saja. Sampai di muka pintu aku meletakkan
bakulmu, lalu melompat ke lantai stasiun. Aku menurunkan bakulmu dan
berusaha tak menampakkan kepayahanku saat melakukan itu.
Engkau menyusul bakulmu.
“Terima kasih banyak, Ko.”
Aku mengangguk. Barangkali engkau pun tahu, senyumku untukmu
bermaksud mengelabuimu. Sebab, tak ada yang sedang kurayakan. Aku
bersedih untukmu. Bahkan, untuk alasan-alasan yang belum kuketahui ketika
itu.
Kereta hendak berangkat lagi. Para penumpang baru berlompatan mendaki
pijakan besi, naik lagi ke pintu terbuka. Ketika roda-roda baja berputar lagi
aku berkata kepadamu, “Nama saya Kashmir. Besok kita ketemu lagi?”
Engkau menatapku sembari susah payah mengangkat bakul bambu ke
punggung, menalinya dengan selendang yang kau simpulkan di bawah
lehermu. Engkau tak tersenyum, tidak cemberut, tidak bersuara. Sampai pintu
stasiun melenyapkan sosokmu dari mataku.
Hari itu aku, ingat benar, apa pun yang dilakukan kakak-kakak kelas pada
hari pertama sekolah, tidak menarik minatku. Penataran Pancasila, baris-
berbaris, dan beberapa hal yang mudah dilupakan. Aku ingin cepat-cepat
pulang supaya cepat berganti hari dan pagi berikutnya aku menumpang kereta
lagi.
Jika pagi itu aku tidak membelokkan perjalananku, mungkin selamanya kita
tak akan bertemu. Semestinya aku menaiki Bus Damri dari Pasar Tanjungsari
yang berujung di Pasar Kebon Kalapa. Aku bisa turun di Buah Batu,
perjalanan ke sekolahku tinggal menyusuri trotoar dan jalan berbatu.
Akan tetapi, sesuatu telah membujukku untuk naik angkot dan memburu
kereta itu. Mengapa begitu, aku tidak tahu. Keinginan yang tiba-tiba datang
dan aku tidak bermaksud menentang. Alasan sepelenya karena aku gampang
pusing setiap naik bus dengan asap knalpot hitam seperti tinta gurita itu.
Kepala seperti terayun-ayun, perut bergolak, tenggorokan hendak menyentak.
Itu jarang terjadi jika aku naik angkot dan tidak pernah kurasakan setiap naik
dolak Pak Haji.
Akan tetapi, kukira di atas segalanya, ada takdir yang mempersinggungkan
kita, di kereta.
Pagi kedua, aku menghitung rangkaian kereta. Mengira-ngira, sehari
sebelumnya, kita bertemu di gerbong yang mana. Aku tidak yakin apakah aku
memilih gerbong yang benar. Sebab, aku tak menemukanmu pagi itu. Aku
sisir setiap sudut kereta, gerbong ke gerbong. Dari ujung ke ujung. Namun,
aku tak menemukanmu. Tidak menyaksikan kelebatan selendangmu, bakul
bambumu.
Berdiriku gelisah sepanjang perjalanan. Kepalaku menoleh-noleh hampir
tanpa jeda. Berharap engkau terselip dalam pencarianku. Wajahmu
membayang lebih dahulu. Sosokmu nyata dalam imajinasiku. Namun, tak
kunjung menjadi realitasmu. Engkau tak tampak di mana-mana. Hingga akhir
perjalanan kereta.
Hari ketiga begitu juga, selanjutnya tidak ada yang berbeda. Aku tetap
melakukannya. Menyusuri gerbong demi gerbong. Ke depan, lalu ke belakang.
Mengabaikan keluhan orang-orang, setiap aku mengoyak padatnya
penumpang. Berakhir di gerbong terakhir dengan hasil yang sama: engkau
tetap tak ada.
Setiap kereta sampai di Stasiun Kiaracondong, aku menengok semua pintu
kereta. Mencari-cari barangkali aku melewatkanmu. Menatap tempatmu
berdiri beberapa hari sebelumnya. Sewaktu aku mengenalkan namaku dan
engkau membisu. Tidak terjadi apa-apa. Engkau tetap tak ada.
Aku lalu mengira-ngira apa yang terjadi kepadamu. Terpikir, apakah
pertanyaan terakhirku begitu melukaimu? Aku percaya engkau tidak
menikmatinya. Kenyataan bahwa sekolahmu yang baru selangkah tak
membahagiakanmu. Engkau tidak mengatakannya, tetapi matamu
mengungkapkan itu kepadaku. Aku membaca tatapanmu yang bercerita.
Aku merasa, engkau berbeda dengan anak-anak seusiamu yang kutemui
sebelum-sebelumnya. Mereka yang terpaksa putus sekolah, tetapi tidak pernah
menyesalinya. Menyalahkan orang tua, tetapi menikmatinya pada waktu yang
sama. Tentu karena mereka tak tahu apa yang akan mereka jalani pada masa
setelah itu.
Anak-anak itu menyisir pinggiran kota dengan kecrekan di tangan mereka
atau sekadar tangan ditadahkan, meminta orang-orang mengasihaninya.
Engkau tidak seperti itu. Aku menangkap keagungan pada bahasa tubuhmu.
Harga diri yang datang begitu dini. Kelahiran kita tak berjarak lama, kurasa.
Aku lebih dahulu dua atau tiga tahun sebelum engkau menghirup udara.
Aku menerima kesan yang sama. Bahwa kita memiliki banyak kemiripan.
Aku pada usiamu beberapa tahun sebelumnya, rasanya juga punya pemikiran
yang serupa. Bahwa, kita mendewasa sebelum waktunya. Jika itu kuanggap
sebagai sebuah keberuntungan, kita adalah bocah-bocah yang meninggalkan
masa kanak-kanak karena sebuah pemahaman. Keyakinan bahwa masa depan
mesti diperjuangkan. Ilham yang tak datang terhadap setiap anak pada usia
kita yang belia.
Akan tetapi, aku tidak benar-benar tahu. Sebab, aku segera kehilanganmu.
“BAGUS kirimannya, A?”
Aku sedang menyandarkan lembar-lembar tripleks yang baru saja turun dari
mobil pemasok ke dinding gudang sewaktu Pak Haji masuk membawa
penggaris besi dan pemotong tajam dalam satu genggaman. Di telinganya
menyelip pensil tukang.
“Bagus, Pak Haji,” aku mengelus permukaan lembaran kayu olahan itu, “…
sudah kayak pipi bayi saja saking halusnya.”
Pak Haji tertawa tanpa membuka mulutnya. Selalu, kerut di dua sudut
matanya membuat kegembiraannya seperti hasil sebuah paksaan.
“Bawa ke sini selembar, A.” Pak Haji berjongkok sambil menyiapkan
penggaris dan pemotongnya.
Aku mengangguk sembari memisahkan selembar tripleks dari tumpukannya.
“Pak Haji mau membuat apa?” Hati-hati kuletakkan tripleks di depan Pak
Haji agar tidak jatuh kaget dan mengepulkan debu.
“Bu Iroh perlu sekat di warungnya.”
Aku mengangguk-angguk. “Saya potongkan, Pak Haji.”
Pak Haji menggeleng. “Pegang ujungnya saja,” mulai menggaris dengan
pensil gepengnya, “... Satu lembar dibagi dua.”
Aku masih mengiakan dengan anggukan. Aku mengerti, Pak Haji bukan
juragan toko material saja. Dia tetangga yang baik bagi hampir seribu keluarga
yang tinggal di permukiman gunung ini. Ikut repot setiap kali tetangga-
tetangga sibuk ini itu. Selalu siap jika ada yang membutuhkan isi tokonya.
Dari pasir dan batu untuk membangun bangunan atau papan kayu untuk
mengubur jenazah.
Tidak rumit hitungannya. Pak Haji seperti sedang membagi-bagi hadiah saja.
Walau begitu, tetangga-tetangga selalu tahu diri. Tak kemudian memanfaatkan
keadaan, lalu memberinya terlalu banyak beban. Satu dua terlambat melunasi
tagihan, tetapi tidak pernah mengabaikan perhitungan.
“Tripleks saja, Pak Haji?”
Pak Haji menaruh penggaris besi, rapat dengan garis pensil, lalu menekan
ujung pemotong isi ulang kuat-kuat. “Dengan kayu, paku. Tadi Pak Haji
sudah bilang ke Wawan agar disiapkan.”
“Oh, yang di dolak?”
“Sudah dinaikkan?” Tangan legam Pak Haji bergerak sigap. Dua kali
menggaris dengan pemotong hingga tripleks tebal itu terbelah dua.
“Sudah, Pak Haji.” Aku mengambil alih langkah setelahnya. Menumpuk
potongan tripleks itu, lalu memindahkannya ke pinggir. “Saya ambil ra a
dulu, Pak Haji.”
“Minta Pipin bantu, A.”
Aku mengangguk, lalu berlalu. Waktu kecil terdengar biasa saja. Namun,
pada hari-hari itu, sewaktu aku meremaja, mulai merasa tidak pada tempatnya
setiap Pak Haji memanggilku “Aa”. Rasanya tidak tepat saja. Aku ini siapa?
Anak asing yang menumpang hidup di rumah Pak Haji entah sejak kapan.
Aku belum pernah mendengar cerita lengkap perihal sejarahku sendiri waktu
itu. Bagaimana ceritanya aku bisa berada di rumah Pak Haji masih menjadi
misteri.
Hal yang kurekam dalam pikiran hanyalah Nek Ipah yang tinggal di kamar
pinggir jalan, bagian rumah paling ujung milik Pak Haji. Dia merawatku sejak
aku mulai bisa mengingatnya. Mungkin sejak sebelum aku bisa bicara. Nenek
lembut tutur katanya itu, yang bicara kepadaku bahkan dengan bahasa Sunda
lemes, meninggal sewaktu aku lulus SD. Sepeninggal Nek Ipah, aku mulai
mengurus diriku sendiri. Menempati kamar Nek Ipah, membantu macam-
macam pekerjaan rumah dan bersekolah.
Pak Haji tak pernah jelas memperlakukanku sebagai apa. Sebagai anak tidak,
sebagai pekerja, apalagi. Dia memanggilku “Aa”, sedangkan aku bukan
anaknya. Bukan kakak dari anaknya. Setidaknya kulit kami tegas-tegas
menampiknya.
Bahkan, istri Pak Haji dan anak tunggal mereka, Pipin, memanggilku dengan
sebutan yang sama. Pak Haji dan istrinya seolah merahasiakan alasannya,
sedangkan Pipin mengikuti dengan patuh, mungkin karena orang tuanya
menyuruh.
Sejak kecil aku dan Pipin memang tak terpisahkan. Karena dia dua tahun
lebih muda dariku, tanpa direncana memang aku berposisi sebagai kakaknya.
Saudara tua karena keadaan saja.
“Beres, Pin?” Aku menghampiri gulungan ra a di atas etalase alat-alat listrik.
Pipin masih memenceti kalkulator menghitung jumlah angka yang mesti dia
tuliskan di nota. “Tripleksnya satu, ya, A?”
Aku meraih ra a, mengulurnya, mengira-ngira berapa panjang yang aku
butuhkan. “Iya. Yang tebal.”
Pipin selesai memindahkan angka-angka dan menjumlahkannya. “Sekalian
kirim bata dan pasir ke Pak Ayi, bukan?”
Aku mengangguk. “Tadi sudah aku naikkan ke dolak. Sudah Pipin tulis
notanya?”
Pipin memeriksa buku nota, lalu menyobeknya. “Bata seribu, semen empat
sak, pasir satu dolak,” mengangsurkannya kepadaku, “... Blok N No. 4.”
“Pipin ikut, kan?” Aku menggulung ra a ke lengan, “... Pipin saja yang
berikan.”
“Pak Wawan ke mana?”
“Biar istirahat ...,” aku berlalu, “... kasihan.”
Aku mengabaikan kekesalan Pipin yang ia tunjukkan lewat suara lantang,
“Aku banyak PR, A.”
“Gampang nanti aku bantu kerjakan.”
“Fisika?”
“Aku paling rajin dulu.”
“Rajin mengerjakan?”
“Rajin bolos.”
“Aing mah.”
Aku tertawa. Tahu Pipin tidak benar-benar memakiku dengan omelannya.
Itu ungkapan kesal semata.
Sampai gudang, Pak Haji sudah tak ada. Pak Wawan, pegawai “resmi” toko
material ini sedang menyusun keramik-keramik yang baru datang dari
pemasok.
Aku menghampiri potongan tripleks yang dibelah Pak Haji, lalu
mengikatnya rapi. “Kunci mobil di Pak Wawan?”
“Mau antar barang, A?” Suara Pak Wawan menyelinap dari rak-rak kayu
tempat ia menata keramik-keramik baru.
“Iya. Sambil jalan-jalan.”
Pak Wawan muncul dengan kunci dolak; mobil bak terbuka, yang setiap hari
dia kendarai untuk mengantar macam-macam barang pesanan pelanggan.
“Capek, lho, A menurunkan bata dan pasir.”
Aku menggulung lengan kaus, memamerkan otot lengan yang nyaris tidak
kelihatan. “Kuaaat.”
Pak Wawan tertawa pendek. “Bersama Pipin?”
“Iya. Supaya dia sedikit olahraga.”
Pak Wawan mengangsurkan kunci dengan hati-hati. “Terima kasih, A.”
“Untuk?”
“Meringankan tugas saya?”
Aku mengangkat dagu sedikit. “Naon, sih, Pak Wawan?”
Bukan pertanyaan. Hanya berusaha bersikap sopan.
Aku masukkan kunci di saku training, lalu kuraih tripleks dari dinding.
“Saya bantu, A.”
Aku menggeleng. “Wios, Pak. Tidak usah. Pak Wawan beres-beres keramik
saja.”
Pak Wawan mengangguk-angguk. Rasa sungkan dari kata dan bahasa
tubuhnya sesekali membuatku berpikir dia termasuk orang-orang yang
menyimpan rahasia. Sepaket dengan Pak Haji dan istrinya. Menurutku, Pak
Wawan tak perlu bersikap seperti itu.
“Pipin!”
Keluar gudang, aku menghampiri mobil bak yang diparkir di pinggir jalan.
Kutimpakan tripleks ke atas kayu balok, semen, dan pasir. Berjalan setengah
putaran, membuka pintu sebelah kanan. Menyalakan mesin.
Pipin muncul dari pintu kiri, membukanya, duduk di jok dengan terpaksa,
lalu membanting pintu. Aku menoleh sebentar, tetapi tidak benar-benar
menghiraukan kelakuannya. Kututup pintu perlahan, memindahkan
persneling dari posisi netral, dolak pun mulai berjalan.
Rumah Pak Haji persis di puncak bukit. Tiga rumah tipe biasa dilebur
menjadi satu. Dihubungkan oleh pintu-pintu. Sebagian diubah menjadi toko
material, sisanya untuk tempat tinggal. Dinding pagar yang mengelilinginya
menempel dengan rumah-rumah lain di kanan kiri dan belakang. Di belakang
barisan rumah itu, padang bebatuan menjadi tempat bermain anak-anak pada
pagi dan sore hari. Latar belakangnya Gunung Geulis: gunung cantik dengan
dua beringin di atas pucuknya. Gunung legendaris itu sangat dekat. Saking
dekatnya, oleh penduduk di sini, sudah dianggap saudara sendiri.
Mengantar barang pelanggan selalu menjadi perjalanan menuruni bukit.
Jalan aspal yang sudah berkali-kali ditambal. Kadang tambalan masih utuh,
sebelahnya bolong besar seperti balas dendam. Sudah seperti hasil servis tambal
gigi yang tidak punya izin praktik saja jeleknya. Mungkin punya izin, cuma
sudah kedaluwarsa atau izinnya masih berlaku, tetapi spesialisasinya tambal
gigi dinosaurus.
Rumah-rumah di kanan kiri jalan macam-macam bentuknya. Sudah tak sama
dengan IMB-nya. Antartetangga berlomba-lomba. Gentengnya saja tidak ada
yang sama. Ada yang genteng tanah liat biasa. Tetangganya genteng beton.
Tetangganya lagi genteng baja. Paling ujung, genteng baja tank tempur.
Desain rumahnya juga rupa-rupa. Kebanyakan masih satu lantai. Sebagian
dibangun menjadi dua lantai. Beberapa tiga lantai. Sisanya lantai semua.
“Ka mana, Kashmir?”
Suara Pak Nur pemilik toko kelontong persis di tikungan jalan. Di luar pagar,
ia sedang berjemur menikmati matahari pagi.
Aku menjawab dengan gembira, “Biasa, Pak.”
Itu jawaban yang dikatakan oleh kebanyakan orang jika dia melewati
tetangga dan ditanya, “Mau ke mana?”
Seperti rumus matematika, jawabnya selalu biasa. Seolah-olah setiap orang
memang mengetahui kebiasaan tetangganya. Lagi pula, orang bertanya, “Mau
ke mana?” belum tentu ingin tahu tujuan pergi orang yang sedang ditanya.
Supaya kesannya manis saja. Namanya juga basa-basi. Kalau pahit, itu
namanya janji basi.
Sudah, lakukan saja.
“Punten, Pak Nur.”
“Mangga.”
Jalan semakin menurun. Pada kejauhan, menjulang Gunung Manglayang.
Kaki-kakinya menginjak beberapa kota yang berbeda, seperti raksasa segitiga.
Nun di utara, Kota Bandung meriah terlihat mesti tak terlalu dekat. Nanti
petang, barulah lampu-lampunya tampak gemerlap.
“Pengajian, Buibu?”
Persis di simpang jalan menuju masjid kompleks, ibu-ibu berseragam warna-
warni berkerumun bak rumpun bunga. Setiap warna mewakili RW yang
berbeda. Kerudung sama warnanya, gamis begitu juga, sampai sepatu pun tak
berbeda. Meriah seperti set Tupperware.
Agenda Minggu pagi; melantunkan barzanji bersama para santri. Aku sudah
tahu, semua orang juga tahu. Kang Emon yang tidak pernah ke masjid saja
tahu. Kang Emon dahulu sebenarnya rajin ke masjid. Namun, gara-gara
ditolak masuk majelis taklim, Kang Emon jadi mogok beribadah. Padahal, dia
sudah beli kain seragam majelis taklim yang sama dan menjahitnya jadi kemeja
ketat dan celana cut bray.
Setiap Minggu pagi, ibu-ibu ini meninggalkan rumah untuk mengikuti
pengajian pekanan. Tetap saja aku menyapa dan bertanya. Biar terkesan renyah
saja. Namanya juga basa-basi.
“Bukan, A. Ini mah mau ka pasar. Balanja!”
Ibu-ibu tertawa. Aku begitu juga.
“Mau saya antar, ibu-ibu?”
“Alim, ah. Tidak mau. Masa, naik dolak? Luntur bedak saya.”
Aku pura-pura kecewa. “Saya pulang dulu, atuh. Ganti mobil.”
“Serius, A Kashmir?”
“Bercanda, Bu.”
“Kurang ajar sama orang tua. Pamali.”
“Ampuuun, Ibu tunggu di sini, atuh, sebentar.”
“Beneran?”
“Bercanda, Bu.”
Aku masih tertawa sembari meninggalkan mereka yang menyorakiku
beramai-ramai. Aku mengenal mereka semua sejak lama. Begitu juga
sebaliknya. Beberapa anak ibu-ibu itu adalah teman bermainku sejak kecil.
Sebagian lagi punya anak sealmamater denganku di SMP. Mereka yang
anaknya bukan teman bermain atau teman almamaterku, berarti suami-
suaminya lawanku gaple di pos ronda. Sedangkan yang anaknya bukan teman
masa kecil, bukan kawan almamater SMP, dan suaminya bukan lawanku gaple,
berarti ibu itu temanku sesama anggota arisan Tupperware.
Saling menggoda mah hal biasa.
Aku menoleh pada Pipin yang menyandarkan kepala ke pintu mobil. Lesu,
tak bersemangat.
“Kunaon, Pin? Ada apa?”
“Henteu. Tidak ada apa-apa.”
“Meni kitu ...,” bergantian aku menatap samping dan ke depan, “...
memangnya Pipin mau ke mana, tadi? Sepertinya bukan karena mengerjakan
PR.”
“Teuing, ah.”
“Deuh, seperti perawan. Mudah merajuk.”
“Bae.”
Aku tertawa sedikit. Itu kata paling mematikan yang Pipin ucapkan jika
sudah tersudut soal apa pun. Bae: ‘biarkan saja’, ‘masa bodoh’.
“Sok atuh, bilang saja. Nanti aku bantu.”
Diam sebentar. “Mau nonton sama teman.”
“Ke bioskop?” Aku melirik. “Habis antar barang, kan, bisa, Kasep?”
Pipin benar-benar fotokopi bapaknya. Gelap kulitnya, rambut belah
tengahnya, bersungut-sungutnya, sampai senyum dia yang selalu terkesan
dipaksakan.
“Bukan itu masalahnya, A.”
“Lalu, apa?”
“Anak-anak lain tidak ada yang dipaksa bekerja oleh bapaknya. Kapan
menikmati masa muda? Rodi ini namanya.”
Aku segera menangkap kegelisahan Pipin. Hal yang tak mengagetkan, tetapi
baru sekarang benar-benar diungkapkan. Sejak kami kecil, memang Pak Haji
sudah biasa melibatkan kami di toko. Dari pekerjaan kecil semacam
mengelompokkan cat kayu dan cat tembok, lalu semakin hari semakin macam-
macam sesuai pertumbuhan.
Aku bisa menyetir mobil sejak kelas I SMP saking ingin buru-buru ikut
membantu mengirim barang pesanan. Bagiku, yang merasa hidup
menumpang, pekerjaan-pekerjaan itu tak kujadikan beban. Bagi Pipin, sebagai
anak kandung Pak Haji, mungkin lain persoalan.
“Tong kitu atuh, Pin. Tidak boleh begitu. Maksud Pak Haji, kan, biar Pipin
terbiasa mengelola usaha Pak Haji. Suatu saat nanti, Pipin yang menjalankan
usaha Pak Haji.”
“Siapa yang mau mengurus pasir, bata, semen, paku seumur hidup?”
Aku menoleh tanpa berkomentar.
“Abah seharusnya membiarkan aku berkembang, atuh. Masa bapaknya jualan
bahan bangunan, anaknya sama?”
“Pipin sudah punya rencana kelak menjadi apa?”
“Dokter.” Pipin menjawab cepat, tanpa keraguan. Seolah-olah itu bukan cita-
cita paling populer anak-anak SD se-Indonesia. Jangankan anak-anak manusia,
boneka Susan saja cita-citanya sama.
“Bagus,” aku mengangguk-angguk, “... itu bagus.”
“Bagaimana bisa terkabul? Setiap hari mengurus bahan bangunan.”
Aku tersenyum sedikit. “Harusnya bagaimana, Pin?”
“Ya, aku fokus belajar saja supaya pintar.”
Mobil kami sudah masuk blok rumah tipe besar. Penduduknya rada-rada
jarang. Sebagian, kalau tidak kosong, dikontrakkan.
“Ya, sudah, atuh, maaf. Nanti biar aku yang menurunkan barang. Atau, Pipin
mau langsung ke bioskop saja?”
“Terlambat.”
Satu kali kelokan sudah sampai tujuan. Namun, aku meminggirkan mobil
pelan-pelan, lalu mesin kumatikan.
“Pin. Maaf kalau aku harus menyampaikan hal yang tidak akan Pipin sukai.
Tetapi, tetap harus aku katakan.”
Pipin membuang pandangannya ke luar jendela.
“Aku sudah masuk SMK. Tiga tahun tidak akan terasa,” aku tidak terlalu
peduli reaksi Pipin, “... lulus SMK aku keluar dari rumah Pak Haji. Pipin
harus mulai belajar untuk bekerja sama dengan Pak Haji. Karena, nanti aku
tidak ada lagi.”
Pipin menoleh, akhirnya. “Aa mau ke mana?”
Aku menggeleng lemah. “Belum pasti. Hanya saja, aku tidak mungkin
merepotkan Pak Haji terus-menerus.”
“Masa tidak ada rencana sama sekali?”
“Ada ...,” aku tersenyum sedikit, “... mungkin lewat musik.”
“Ngamen?”
“Apa saja,” aku menoleh lagi ke Pipin, “... jadi, Pipin harus baik-baik dengan
Pak Haji. Aku sudah tidak bisa membelamu lagi.”
Entah bagaimana, kalimatku amat mengena rupanya. Pipin diam sama sekali.
Seperti tak menyangka aku akan mengatakan ini. Sejak pertengkaran pertama
dengan bapaknya, mungkin kelas IV atau V SD, aku selalu menjadi tempat
Pipin bersembunyi. Bahkan, aku tidak tahu alasannya, mengapa Pak Haji pun
selalu melunak setiap aku memohon-mohon kepada dia agar tak lagi
memarahi anaknya.
“Aa mah enak. Bisa bebas memilih sekolah. Boleh sekolah di kota. Pergaulan
luas.”
“Pergaulan apa?” Aku hendak memutar kunci kontak. “Setiap hari aku tidak
ke mana-mana. Bergaul sama ibu-ibu arisan maksud Pipin?”
“Paling tidak sekolah Aa di kota. Bisa kenal banyak orang dari mana-mana.”
Aku batal memutar kunci. “Aku sekolah di Bandung karena hanya di sana
ada sekolah musik setingkat SLTA. Pipin, kan, tahu alasannya. Aku suka
musik, aku ingin menjadi musisi. Kalau beruntung, aku bisa hidup dari situ.”
Aku sungguh-sungguh menyalakan mesin, siap melanjutkan perjalanan yang
tinggal satu kelokan. “Tidak ada yang pantas dicemburui dari hidupku, Pin.”
Mobil kami mulai berjalan pelan-pelan.
“Nasibku bagaimana kalau tidak ada Aa?”
Aku menoleh sambil tertawa tanpa suara. “Baik-baik sajalah. Lima tahun lagi
Pipin sudah jadi mahasiswa kedokteran. Tak perlu lagi mengurus bahan
bangunan.”
Pipin tidak menjawab sama sekali, sementara mobil kami telah sampai di
depan rumah pemesan barang. Kediaman yang sedang dipugar. Beberapa
tukang bangunan sedang bekerja. Mengaduk semen dengan pasir. Sebagian
lagi mengangkut air.
Obrolan kami terhenti.
LEPAS Isya, berkain sarung, kupangku gitar sambil duduk di dipan, di dalam
kamar yang menjadi duniaku sendiri sejak beberapa waktu. Dunia yang tidak
semua orang pahami. Hampir-hampir aku menyiapkan semuanya sendiri.
Lemari baju tanpa tutup, meja belajar dan kursinya, rak buku yang menyundul
langit-langit, kotak kaset sampai cengcelengan.
Aku memakai kayu-kayu cacat yang tak terjual dari toko material Pak Haji.
Kurapikan, kupotong sendiri, kupaku dengan hati-hati. Cengcelengan; tempat
menabung yang tidak benar-benar menyerupai celeng itu, modal masa
depanku. Kubuat hampir setinggi pinggang. Berbentuk kotak dengan lubang
sebesar koin di atasnya. Sekilas seperti meja tinggi. Di atasnya kuletakkan
sebagian buku-buku. Aku hendak melakukan sesuatu dengan isinya, tetapi
sampai hari itu aku tak tahu apa sesuatu itu.
Ada satu dinding paling lebar kujadikan media imajinasiku. Aku
menciptakan sebuah dunia paper craft di sana. Menatap tembok kamar itu,
seperti melayang dalam keranjang balon udara. Melongok dunia kecil di
bawah sana. Jalan-jalan besar bersaling-silang, gedung berlantai-lantai yang
mengapit lalu lintas. Macam-macam kendaraan yang berlalu-lalang. Bus-bus
melaju lancar, atap-atapnya saja yang kelihatan. Kereta cepat masuk ke stasiun,
bandara udara sibuk oleh pesawat yang datang dan pergi.
Aku menciptakan pulau pribadi. Sebuah vila di sana dengan beberapa
tetangga. Pulau hijau berbentuk awan. Jalan aspal menyambungnya ke teluk,
melintasi laut yang membatasi daratan utama. Di pojok tembok yang bersiku
dengan langit-langit kamar, telah kuciptakan hutan rimbun dengan
pepohonan jutaan daun. Juga gunung-gunung yang belum tersentuh. Lalu,
menyembul dari rerimbunan, leher panjang dinosaurus pemakan daun. Di
pinggir danau pada kaki gunung, stegosaurus minum air dengan tenang,
sedangkan tak jauh darinya T Rex menatap garang.
Ada dua pulau berbeda karakter yang mengapung di lautan. Satu bekas kota
nelayan pada masa lalu, sedangkan pulau satunya perkampungan suku asli.
Rumah-rumah adat, piramida, dan laut dangkal tempat mampir paus yang
bermigrasi.
Separah itu imajinasiku.
Poster penyanyi atau grup musik terkenal dunia kupasang di dinding yang
berpintu. Tidak semua musisi itu favoritku. Cenderung acak malah. Aku
hanya ingin memasang poster-poster itu supaya tampak meriah.
Ada Queen, e Beatles, Guns N’ Roses, Richard Max, termasuk ABBA;
grup asal Swedia yang mendunia. Dua pasang genius yang menciptakan musik
brilian. Dua laki-laki dengan celana pipa dan rambut poni. Sementara itu, dua
perempuan berpose macam ratu kecantikan dengan rok hemat bahan.
Akan tetapi, hanya ada kaset Titi Dwi Jayati di kamar ini. Semua albumnya
aku koleksi. Menabung lama untuk membeli setiap kepingnya. Sementara itu,
radio kaset yang kuletakkan di atas lemari buku adalah hadiah dari Pak Haji
sewaktu aku lulus SMP. Berikut gitar akustik yang sekarang kumainkan.
Aku merasa gitar adalah takdirku sejak masih SD. Lancar memainkan semua
kuncinya setelah setiap sore mengunjungi Kang Asep dan meminjam gitar
tuanya. Gitar kayu yang fasih memainkan lagu-lagu Koes Plus dan Ebiet G.
Ade. Bermodal itu, Kang Asep keliling kota kecamatan setiap pagi hingga
petang. Mengamen di jalan-jalan.
Aku belajar kunci dengan menyanyi semua lagu Iwan Fals. Lagu-lagunya
membuatku dewasa pada usia belia. Memandang dunia dengan cara yang
berbeda. Menyadari kepedihan dari “Tampomas”, merasakan simpati lewat
“Ethiopia”, mengerti kejahatan berdasi melalui “Tikus Kantor”, mencerap
ketidakadilan pada “Bento” dan “Bongkar”, menangis tersedu setiap menyanyi
lagu “Ibu”, sampai berpikir nakal setiap memainkan “Obat Awet Muda”.
Kemudian, beberapa tahun setelahnya, aku mulai mendengarkan Titi DJ di
radio. Ada kemeriahan yang aku suka dari musiknya. Bahkan, pada lagu-lagu
sedih dan sengsara, irama musiknya selalu membuatku bertenaga, bergerak-
gerak kaki dan kepala. Rima pada ujung-ujung liriknya pun selalu berhasil dan
alami. Penuh makna, tetapi tidak dipaksa-paksa. Seperti lm yang menyimpan
kejutan-kejutan, notasi setiap lagunya memberi entakan tak terduga. Membuat
setiap lagu menjadi istimewa.
Penyiar radio memutar “Ekspresi” berulang-ulang. Aku larut di dalamnya.
Kemudian, kudengarkan “Hidupku Berwarna”, “Dunia Boleh Tertawa”, dan
lagu lain pelan-pelan kubeli kasetnya. Aku merasa terhubung dengan setiap
lagunya. Sampai hari ini, teman gitarku selalu lagu-lagu Titi DJ. Perlahan-
lahan aku memahami setiap liriknya dan semakin menyukai lagu-lagunya.
Selalu menemukan momentum pada suasana yang berbeda-beda.
Seperti malam itu, ketika aku memikirkan masa depan Pipin dan segala hal
yang kelak aku tinggalkan. Kaset memutar “Kita Masih Muda” dan aku mulai
mengira-ngira kunci nada, lalu ikut menyanyikannya.
Pagi sebelumnya, Pipin memasang wajah jengah sepanjang kami
menurunkan pasir, semen, dan semua pesanan pelanggan dari atas dolak.
Hampir-hampir dia selalu menjauhkan pandangan matanya dariku. Menolak
bertemu. Tidak ada kalimat apa pun. Dia menjawab setiap pertanyaanku
hanya dengan anggukan atau gelengan. Sampai semua pesanan pelanggan kami
antar dan aku membawa dolak Pak Haji masuk ke kandang.
“Aa.”
Aku menoleh ke pintu. Ketukan setengah tenaga terdengar dari situ. Tentu
saja aku hafal suaranya. Juga bisa mengira-ngira tujuan kedatangannya. Jika
seharian Pipin mendiamkanku, lalu malam itu mengetuk pintu, kemungkinan
dia menyesali kekanak-kanakannya. Di luar kenyataan dia memang masih
anak-anak.
Aku meletakkan gitar, mengecilkan bunyi radio kaset, lalu membuka pintu.
“Masuk, Pin.”
Pipin menerobos pintu, lalu menuju pinggir dipan. Duduk di situ. Kepala
menunduk. Aku segera tahu, urusan tadi siang tidak akan cair dengan alami.
Mesti ada yang dibicarakan, sedikit drama, dan berakhir dengan akhir yang
bahagia.
Aku membalikkan kursi kayu di depan meja belajar, membuat posisiku dan
Pipin saling berhadapan. “Sudah shalat?”
Pipin mengangguk.
Aku masih mengira-ngira, kapan Pipin hendak mengungkapkan pikirannya.
Sebab, aku jelas tidak akan bertanya, “Ada apa dengan kamu?”
“Perlu bantuan mengerjakan PR Fisika?”
Sekarang, Pipin menggeleng. “Sudah selesai tadi.”
Aku mengangguk, lalu meraih gitar dari dipan. Memetik nada meneruskan
lagu yang tadi terjeda lebih pantas dibanding diam-diam tak jelas maksudnya.
Aku menyanyi lagi.
“Aa benar-benar mau pergi dari sini?”
Aku mendongak tak banyak. Pipin melihat ke arahku, sedikit.
Mengangguk-angguk aku tanpa menghentikan denting gitarku. “Aku juga
punya cita-cita, Pin.”
“Ke mana?”
Aku mendengar getar saat Pipin berkata-kata.
“Ke Swedia.” Nama negeri itu melompat dari mulutku begitu saja.
“Swedia?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum khas wajahku yang memang
tak bisa tidak tersenyum.
“Mau apa ke sana?”
“Belajar musik,” jemariku berhenti memetik senar. Telunjuk kanan mengarah
ke poster di dinding, “Swedia melahirkan grup sehebat ABBA, Roxette,
Europe, Ace of Base. Aku rasa banyak yang bisa kupelajari di sana.”
“Aa punya uang?”
“Tidak sekarang ...,” aku memutar-mutar kunci gitar, lalu mengetes bunyi
senarnya, “... tiga tahun lagi, siapa tahu? Lagi pula, aku bisa mengikuti
program beasiswa.”
“Tidak jadi mengamen?”
“Jadilah ...,” aku memeluk gitar, “... tapi, di Swedia.”
“Aa meni tega.”
“Tega bagaimana?”
“Meninggalkan Abah dan Umi.”
Aku menatap Pipin dengan lebih serius. “Setiap anak pasti suatu saat akan
meninggalkan rumah, Pin. Lagi pula, ada Pipin. Pak Haji dan Bu Haji tidak
akan kesepian.”
“Mereka lebih butuh Aa daripada butuh aku.”
Aku menggeleng. “Tadi pagi kita sudah membahasnya, Pin. Itu prasangka
Pipin saja.”
“Dari kita kecil Aa tidak pernah dimarahi. Aku saja terus-menerus disalah-
salahkan.”
“Kalau pikiran Pipin begitu, lebih baik aku keluar lebih cepat,” aku mencoba
memberi kesan serius dalam kalimatku, “... kalau aku sudah tidak di rumah,
Pipin tak akan merasa punya saingan.”
Pipin terdiam beberapa waktu. “Aku tidak menganggap Aa sebagai saingan.”
“Terus sebagai apa?”
Pipin tidak segera menjawab.
“Pipin selalu bilang seolah-olah hidup Pipin di rumah ini begitu tertekan.
Lalu, Pipin bilang Pak Haji lebih peduli kepadaku daripada anak sendiri. Apa
itu bukan berarti Pipin menganggapku sebagai saingan? Orang yang membuat
Pipin jadi tidak tenang.”
Pipin menggeleng lemah. “Sejak aku TK, Aa yang selalu menjagaku.
Berkelahi dengan teman-teman yang nakal. Membelaku kalau Abah atau Umi
marah-marah …,” menggeleng lagi, “... aku tidak menganggap Aa saingan.”
Tentu saja aku masih mengingatnya. Semua terasa basah di pikiranku.
Perkelahian-perkelahian kecil semasa TK dan SD setiap Pipin dirundung
teman-temannya. Aku selalu membalaskan kekesalannya. Pipin selalu datang
kepadaku setiap kali dibuat menangis oleh siapa saja. Tidak pernah kepada
abah dan uminya.
Pipin memang selalu membuat Pak Haji uring-uringan setiap hari.
Sewaktu TK, Pipin paling suka kegiatan mewarnai. Isi tasnya alat mewarnai
semua. Kadang-kadang alat mewarnai dibawa, tasnya malah lupa. Temannya
mewarnai gambar pohon dan daun dengan krayon hitam, alasannya ada
kebakaran hutan. Teman satunya mewarnai gajah dengan pensil hitam karena
si gajah lahir di Afrika, katanya. Pipin mewarnai muka gurunya dengan cat air
hitam supaya menjadi Satria Baja Hitam. Berubah!
Guru TK Pipin lapor kepada Pak Haji. Pak Haji memarahi Pipin. Pipin
tersedu-sedu sembari mengadu kepadaku. Pipin baru diam setelah aku biarkan
dia mewarnai wajahku dengan cat air warna hitam dan berpura-pura menjadi
Kotaro Minami sang Satria Baja Hitam.
Semasa SD, Pipin paling bahagia setiap bulan puasa tiba. Dia sangat rajin ke
masjid untuk shalat Tarawih. Teman-temannya datang ke masjid menjelang
maghrib, Pipin pulang sekolah sudah ada di masjid. Bukan bermain di teras,
melainkan duduk di tempat imam. Sebelum ingin jadi dokter, cita-cita Pipin
adalah menjadi imam masjid. Dia sangat mengidolakan imam.
Ketika waktu shalat Tarawih tiba, macam-macam kenakalan anak SD karena
tak sabar mengikuti bacaan imam yang panjang-panjang. Anak-anak di saf
yang sama mulai saling melempar peci. Anak-anak yang safnya berbeda
mengambil peci temannya, lalu dia lemparkan ke saf di depannya. Pipin
mengambil peci dari kepala bapaknya, dia lemparkan ke kepala imam yang
persis berada di depannya.
Giliran pulang, teman-teman Pipin berlomba-lomba menukar sandal. Ada
yang menukar sandal paling mirip, tetapi keadaannya lebih baik. Ada yang
menukar sandalnya dengan merek jelas-jelas beda, yang penting ukurannya
sama. Pipin fokus mencari sandal milik imam dan ia bawa pulang sambil
kekeuh mengatakan bahwa itu sandalnya, tetapi ukurannya agak membesar
karena kesal, shalatnya kelamaan.
Imam masjid lapor kepada Pak Haji. Pak Haji memarahi Pipin. Pipin
tersedu-sedu sembari mengadu kepadaku. Dia baru diam setelah aku berjanji
besok malam akan mengajaknya shalat Tarawih di masjid di luar kompleks. Di
sana imamnya teman karib penyanyi rap Iwa K. Selain pendek surat-suratnya,
kecepatan bacanya pun luar biasa. Makmum baru niat shalat, imam sudah
selesai rukuk.
Masalah semakin serius ketika Pipin masuk SMP. Pipin masuk sekolah swasta
yang lokasinya agak masuk kampung, tetapi fasilitasnya kota. Sekolahnya
dilengkapi dua kolam renang. Satu untuk anak-anak, satu lagi untuk yang
sudah mahir berenang. Karena takut tenggelam, Pipin minta izin kepada
pelatih agar boleh belajar berenang di kolam untuk anak-anak yang dangkal.
Di sana, duduk pun Pipin tidak akan tenggelam.
Masalahnya, kolam itu dibuka untuk umum. Setiap hari, warga kampung
sekitar sekolah membawa anak-anak mereka untuk bermain air di sana. Kolam
penuh dengan ibu-ibu yang datang bukan mau berenang, melainkan
mengasuh anak.
Hari pertama Pipin datang, ada ibu-ibu masuk air berbaju lengkap sambil
membawa sepiring nasi, lalu menyuapi anaknya sembari basah-basahan. Hari
kedua, ibu-ibu yang lain mengambil ember besar bekas cat kiloan dari ruang
bilas, dilempar ke dalam kolam. Anak-anaknya memakai ember itu sebagai
pelampung. Satu anak satu ember. Kolam jadi lautan ember. Hari ketiga ada
lagi ibu-ibu yang berendam sambil membawa batu kali untuk menggosok
kulitnya, mengelupaskan daki dari sana.
Hari keempat, Pipin tidak sabar lagi. Selagi ibu-ibu itu mengulang
kebiasaannya, Pipin masuk kolam menenteng gayung berisi sabun, sampo, dan
sikat gigi. Dia mandi sempurna di tengah kolam renang, tak peduli dipelototi
orang-orang. Ibu-ibu itu buru-buru mengangkat anak-anak mereka dari dalam
kolam dan lapor ke petugas keamanan.
Petugas Kolam Renang lapor kepada Pak Haji. Pak Haji memarahi Pipin.
Pipin tersedu-sedu sembari mengadu kepadaku. Dia baru diam setelah aku
janjikan akhir pekan kuantar ke kolam renang di kota. Aku jamin di sana tidak
ada ibu-ibu yang menyuapi anaknya di dalam kolam, ibu-ibu yang memberi
mainan ember bekas cat kepada anak-anaknya, apalagi ibu-ibu yang
menggosok-gosok daki dengan batu kali.
Sebab, kolam renangnya khusus laki-laki. Jadi, isinya bapak-bapak, bukan
ibu-ibu. Pasti mereka tidak akan membawa anak-anak karena kebanyakan
sudah aki-aki. Memang kolam renangnya khusus untuk manula.
“Jadi, sebenarnya Pipin takut aku tinggalkan?” Aku sudah menduga hal inilah
yang ada di pikiran Pipin sedari awal.
Pipin tak lagi mengangkat wajah. Aku tebak dia mulai tersedu-sedu dan malu
aku memergoki air matanya.
“Pipin sudah bukan anak kecil ...,” aku menahan geli, “... malah sudah berani
pacaran.”
“Pacaran naon?” Pipin menjawab dengan serak karena menahan dada sesak.
“Aku tidak melarang Pipin pacaran. Tetapi, kita harus punya cita-cita. Fokus
pada cita-cita itu. Semua yang kira-kira mengganggu, singkirkan dulu.”
“Pacaran bisa mengganggu cita-cita?”
“Pada banyak kasus, kan, begitu.”
“Belum tentu juga. Lagi pula, siapa yang sedang pacaran?”
“Pipin mau nonton lm dengan siapa kalau bukan dengan pacar?”
“Dengan teman-teman.”
Aku tertawa sedikit karena Pipin benar-benar menjawab apa yang mestinya
dia abaikan. Aku lalu bangkit dari kursi. “Nyaan, enggak takut kalau aku
tinggalkan? Apalagi masih tiga tahun ke depan. Masih banyak kemungkinan.
Mungkin nanti Pipin, bahkan akan mentertawakan apa yang terjadi hari ini.”
Pipin tak berkomentar.
“Sudah,” aku mengacak rambut Pipin, membuatnya berantakan,
“menangisnya nanti lagi.”
Aku lalu memasang gaya terbaik seperti penyanyi yang hendak memulai
konser tunggal. “Lagu ini aku pelajari karena memang aku mau
menyanyikannya untuk ...,” aku meminjam gaya Elvis Presley saat menunjuk
Pipin dengan lantang, “Pipin Suripin, harus bersemangat. Terus bergerak, kita
masih muda.”
Aku memandang Pipin, lalu mulai bernyanyi kencang.
Gh a 3
Wiluj eng Su mping, Kanya
P agi itu, aku melakukan hal yang itu-itu saja dalam kereta. Tas cangklong
di punggung, gitar di tangan kiri, tangan kanan bergelantungan mencari
pegangan. Dari gerbong ke gerbong. Lebih dari sebulan aku masih belum
menemukanmu. Namun, perasaan terdalamku memberi tahu, ini hanya soal
waktu. Aku pasti akan melihat lagi wajahmu. Terperangkap lagi dalam
keteguhan matamu.
Kereta pagi selalu padat penumpang. Dari pinggir kota mereka berdatangan.
Membawa barang dagangan. Penumpang lain adalah para pelajar. Menyusun
cita-cita dengan bersekolah di kota. Berharap masa depan akan memberi hasil
yang berbeda. Sebagian sisanya adalah para karyawan pabrik dan kantor-
kantor di kota. Setiap hari mereka menyeberang perbatasan. Membawa pergi
mimpi keluarga mereka setiap hari. Pulang petang dalam kelelahan juga
kerinduan.
Aku mengamati setiap baris kursi. Baik yang berhadap-hadapan ataupun
yang berurutan. Mencari-cari bakul bambu yang telah melekat pada
ingatanku. Beberapa kali mengabaikan tempat duduk kosong karena bukan itu
yang kupedulikan.
Masuk ke gerbong ketiga sejak aku menaiki kereta, suasana lebih meriah
dibanding sebelum-sebelumnya. Bangku-bangku yang berhadap-hadapan
menyisakan ruang cukup lega di antara keduanya. Lalu, barang-barang
memadatinya. Kardus-kardus besar, karung-karung goni, ayam bebek dalam
ikatan ... bakul-bakul buah dan sayuran.
Sebulan aku telah menjelajahi kereta ini setiap hari. Mulai hafal dengan
macam-macam penumpangnya. Mulai mengenal kebiasaan dan barang bawaan
mereka. Maka, aku segera yakin, bakul bambu itu milikmu. Aku hanya
melihatnya sekali, tetapi menyimpan memorinya dalam pikiran. Bahkan,
meski bakul itu banyak kembarannya, aku merasa tetap akan mengenalinya.
Senyumku melebar, batinku terhibur, udara lebih segar dibanding biasanya.
Aku melihatmu. Duduk merapat ke pintu. Tak ada orang persis di sebelahmu.
Bakul penuh sayuran dan buah-buahan di bawah bangkumu. Engkau masih
seperti kemarin dahulu. Rambut panjangmu masih dikepang dua,
mengingatkan aku kepada Siti Nurbaya. Selendang gendong melilit leher,
kemeja warna tanah, rok panjang semata kaki.
“Assalamualaikum.”
Aku menghampirimu dan bersumpah tak akan pernah mau kehilanganmu.
Untuk apa aku tidak tahu. Melihatmu membuatku ingin melindungi, ingin
memberi. Tidak mau engkau berpikir hidupmu begitu sedih dan tidak punya
harapan.
“Waalaikumsalam ...,” engkau menatapku, “... Ko Amir?”
Senyumku kian melebar. Engkau tampak begitu lucu dalam kekeliruanmu.
Lucu yang membuatku ingin menenangkan kegugupanmu. “Kashmir. Nama
saya Kashmir.”
Engkau mengangguk sekali, lalu melihat ke arah lain.
“Boleh saya duduk di sebelah Eneng?”
Engkau mengangguk lagi.
Sedikit repot aku meletakkan bawaanku satu per satu. Tas ransel di dekat
kaki, gitar aku pangku dengan hati-hati. “Sebulan saya tidak melihat Eneng.”
Engkau tidak berkomentar. Tampaknya kehadiranku begitu asing bagimu.
Engkau meraih kain gendongan, lalu menutup mulutmu dengan kain itu.
“Kemarin-kemarin Eneng sakit?”
Engkau menggeleng. “Ibu saya sakit.”
“Oh ... bagaimana sekarang?”
Suaramu melirih. “Sudah lebih baik, Ko.”
Aku mengangguk-angguk. “Sakit apa, Neng?”
Engkau masih tak mau menatapku. “Keguguran.”
“Innalillahi ...,” aku berkabung untukmu, “Eneng sabar, ya.”
Aku sudah tidak terlalu yakin harus bertanya apa lagi, sedangkan engkau
semakin tidak bersuara.
“Hari ini mulai jualan lagi?”
“Iya.”
“Sampai sore?”
Engkau tidak segera menjawabku. “Iya,” lirih kemudian.
“Naiknya di Kiaracondong?”
Mengangguk lagi.
“Kita pulang bareng, ya?”
Engkau tidak berkata apa-apa.
Kemudian, pembicaraan kita diganti oleh bunyi kereta yang berisik roda-
rodanya. Juga obrolan penumpang tentang keresahan mereka sehari-hari.
Aku membuka tas gitar, mengeluarkan isinya, lalu mulai memilih-milih lagu
Titi DJ mana yang mewakili rasa dan suasana. Aku atur-atur kuncinya.
Aku menyanyi kepadamu lagu “Sinar Matamu”.
Aku menyaksikan engkau mulai tak nyaman. Terutama karena orang-orang
semakin memperhatikan. Namun, hal itu tak termasuk yang kukhawatirkan.
“Malu, Ko....” Engkau menggeser dudukmu, menjauhiku.
Aku tersenyum kepada orang-orang yang memandangiku dengan kesan
macam-macam.
“Mengapa malu?” Aku berusaha lagi mendekatimu.
“Dilihat orang-orang.”
“Eneng tahu arti lagu tadi?”
Engkau menggeleng.
Aku memeluk gitar. “Itu curahan hati seorang remaja yang baru pertama
bertemu seseorang yang istimewa.”
Engkau seperti meresapi apa yang kukatakan barusan. Namun,
pandanganmu ke luar jendela kereta. Aku masih menunggu engkau sebut
namamu. Sebab, aku tidak akan menanyakannya kepadamu.
Kemudian, aku bangkit tenang. Membiarkan orang-orang menebak-nebak
apa yang hendak aku lakukan. Tentu saja, aku ingin melengkapi laguku.
SEWAKTU aku memutuskan untuk masuk ke sekolah musik, aku berharap
seluruh mata pelajaran sungguh-sungguh hanya berisi cara bernyanyi, notasi,
alat musik, dan lagu. Namun, aku harus menerima kenyataan, tetap ada mata
pelajaran lainnya meski tidak sebanyak jenjang pendidikan sebelumnya.
Itu sedikit membuatku tidak sabar meski tetap berusaha bersemangat
mengikutinya. Paling tidak, aku berusaha untuk bertahan membuka mata dan
tidak meletakkan kepala di meja. Sebab, ketika model gurunya seperti Bu
Imas, tidak ada murid yang ingin kedapatan tidur di kelas.
“Mengantuk, ya, Jang?’” telapak tangan Bu Imas yang baru saja dicelupkan
ke air isi ember cuci tangan mengelap rata muka Ujang, “… sini biar segar
lagi.”
Teman-teman sekelas bersorak bahagia. Setidaknya kali ini bukan hari apes
mereka. Aku menyandar ke dinding, tersenyum saja. Iding, teman semejaku,
bertepuk tangan, berteriak lantang, “Basah, Jang, Basah.”
“Guyur saja, Bu,” sergah murid lain.
“Ngojay … Ngojay. Berenang sekalian.”
Tawa semakin rata.
“Kalau masih ada yang mengantuk, silakan ke ruang BP saja.” Bu Imas
kembali ke muka kelas. Ia membuka lagi buku sejarah yang sudah belasan
menit dia baca.
Memang itu permasalahannya. Bu Imas punya gaya mengajar yang sangat
orisinal. Dia pastikan semua murid mempunyai buku yang dia pegang. Ketua
kelas mengambilnya dari perpustakaan. Semua murid dia minta untuk
membuka halaman tertentu. Kemudian, bu guru itu membaca paragraf yang
dia mau. Ini semacam pembacaan buku. Dari bel masuk sampai tanda habis
pelajaran.
Kami tidak belajar apa-apa. Hanya mencari kalimat mana yang Bu Imas baca.
Lalu, kami memastikan tidak ada salah cetak pada buku yang kami pegang.
Butuh konsentrasi penuh agar kantuk tidak membuat kepala kami jatuh.
Bagiku justru sebaliknya. Jika terlalu berkonsentrasi pada buku, sudah pasti
aku pun mati kutu. Obatku adalah dirimu, wahai Gadis Berkepang Dua.
Memikirkanmu membuat berbinar mataku. Segar kesadaranku. Bu Imas
bukan tipe guru pemberi kuis yang tiba-tiba akan bertanya, dari apa yang dia
baca, apa yang dipahami muridnya. Selama kepalaku tegak, sesekali tampak
antusias memeriksa teks buku, amanlah hariku.
Membayangkanmu, memeriahkan imajinasiku. Meletupkan banyak ide. Aku
benar-benar berpikir bagaimana caranya aku temukan namamu tanpa bertanya
kepadamu. Cara itu tidak puitis. Aku ingin engkau menyebutkan sendiri
namamu. Seperti aku mengenalkan namaku.
Sepulang sekolah, aku akan buru-buru naik angkot ke Stasiun Kiaracondong.