The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Ziggy itu. Warna salju yang ringan.
Nyonya Bintik masuk kembali ke mobil, lalu meninggalkan anjingnya yang

terus menyalak memanggil-manggil. Meninggalkan aku juga yang kini
kebingungan harus bagaimana.

“Ziggy …,” kurasa aku pun mulai gila karena mengajaknya bicara, “... kita
hanya perlu berteman satu hari. Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Jadi,
kumohon bersikaplah yang sopan.”

Anjing itu malah semakin kencang menyalak. Aku buru-buru berjongkok
sembari merogoh lembaran makanannya dari kemasan, lalu mengulurkan ke
moncongnya. Ziggy merampas lembar daging itu dengan cepat.

Aku mulai berpikir jika ini saja yang kulakukan, dalam waktu cepat,
makanan di tanganku akan habis dan makhluk ini akan mencari daging yang
lain. Aku maksudnya.

“Ziggy …,” aku tersenyum sampai tampak gigiku, lalu kuacungkan bola ke
udara, “... aku lempar ya, kamu ambil bolanya.”

Aku lalu melempar bola itu jauh-jauh. Ziggy menoleh ke bola, tapi sama
sekali tidak bergerak dari tempatnya. Dia lalu menoleh kepadaku lagi.
Menggeram kemudian. Duh, sial. Anjing ini sama sekali tidak mau kuajak
berteman.

“Tulang …,” kataku bergaya seolah teman lama, “... aku lempar kamu kejar.
Oke?”

Aku lempar tulang mainan itu. Tidak terlalu kencang. Tidak terlalu jauh.
Kali ini Ziggy bahkan tidak menoleh. Dia fokus kepadaku. Geramannya kian
dalam. Lalu, dia menyalak kencang.

“Tenang Ziggy … tenang.” Aku berdiri. Mundur perlahan. Dia menyalak
semakin garang. Re ek aku melemparkan daging gepeng itu. Ziggy sama sekali
tidak mengendusnya. Alamak, apa yang dia inginkan?

Aku mundur semakin jauh, sedangkan Ziggy menggeram, punggungnya
melengkung. Begitu dia menyalak lagi, aku lempar makanannya, sebungkus-
bungkusnya. Tapi, masih ada selembar yang tergenggam di tangan. Semoga
aku semujur Timun Mas dan Ziggy sebodoh Buto Ijo.

Aku lalu berbalik kanan, berlari sekencang-kencangnya. Ajaib dan tidak
kumengerti mengapa re eksku adalah melintasi padang rumput menuju
perairan. Sepertinya aku yakin kemungkinan terburuk yang bisa kuusahakan
adalah mencebur ke air. Anjing tidak bisa berenang, bukan?

Ketika aku menoleh ke belakang, nyata Ziggy mengejarku dengan tatapan

garang. Aku berlari semakin kencang. Aku melihat kerumunan orang yang
sedang berkumpul di padang rumput dan setidaknya mereka adalah manusia.
Mereka akan mengerti jika aku meminta tolong dalam bahasa manusia.

“Tolong! Tolong!” Aku berteriak dalam bahasa Inggris dan Swedia.
Orang-orang melihat ke arahku, tapi rasanya belum ada yang menyongsong
untuk menyelamatkan hidup dan rasa maluku. Aku terus berlari, tapi jarak
antara aku dan Ziggy semakin dekat. Aku membayangkan dia akan melompat
ke punggungku dan menggigit leherku dari belakang.
“Hej! Hej!”
Aku mendengar suara di belakangku dan rasanya Ziggy menghentikan
gonggongannya. Apa yang terjadi?
Ketika aku menoleh, Ziggy sudah tenang dan menggeliat manja di pelukan
seorang perempuan yang seketika membuatku terpana. Bagaimana dia bisa
menjinakkan anjing yang bukan peliharaannya?
Aku membungkuk, memegang dua lututku sembari terengah-engah. Masih
belum berani melangkah, tapi perempuan itu justru yang menghampiriku
sembari Ziggy menggelendot manja dalam dekapannya.
Dia perempuan sangat muda dengan berkemeja putih lengan panjang, dan
rok dengan bahan yang mengingatkanku pada brokat kebaya dengan lapisan
dalam berwarna putih. Ikat pinggang merah muda tebal dan berkilau. Motif
bawahannya dedaunan, bunga warna merah muda dan putih, memanjang
hingga betis. Rambutnya legam, bergelombang buatan, sepinggang. Dijepit
kanan-kiri di atas telinga.
Dengan latar belakang hutan pada musim gugur, di mataku dia tampak
seperti peri. Aku tidak pernah berpikir akan bertemu seseorang yang
menimbulkan perasaan riang hanya dengan melihatnya. Dia seperti perpaduan
antara keceriaan, kepolosan, kepercayaan diri tinggi.
Ketika jarak kami telah dekat dan aku berdiri tegak, aku meyakini dia bule
campuran. Mungkin pertemuan Kaukasia dan Tiongkok, atau Jepang, atau
Korea. Wajahnya bundar, kulitnya terang, hidungnya setajam bagian miring
segitiga siku-siku, matanya cokelat, bentuknya sangat kebarat-baratan.
Tingginya, kukira sama persis dengan tinggiku atau dia lebih tinggi satu, dua
senti. Sebuah jarak yang tak berarti. Mungkin sepatu bot hitamnya
berkontribusi.
“You need to pull yourself together.”
“Pull apa?”

“Maksudku tenangkan dirimu,” senyum gadis itu bersahabat, “ini
anjingmu?” Bahasa Inggrisnya sangat Amerika.

“Bukan,” aku mengatur berdiriku agar tidak harus mendongak “... aku hanya
menjaganya.”

Dia mengangguk. “Pantas saja.” Dia masih mengelus-elus kepala Ziggy.
Bermula dari ubun-ubunnya, turun ke punggungnya. “Jangan biasakan
memberi makan ketika dia menyalak. Tenangkan dulu. Baru beri makan.”

Tangan perempuan itu terulur.
Aku kebingungan. “Ya?”
“Makanan anjing ini.”
“Oh …,” aku baru sadar masih ada selembar makanan Ziggy yang
kugenggam sedari tadi. Hampir remuk bentuknya. Aku melampiaskan
kepanikanku padanya, rupanya, “... ini.”
Dia menerima daging remuk itu sambil menahan tawa. Dia lalu menyuapi
Ziggy yang menggeliat manja. Aku sungguh kesal berlipat-lipat pada anjing
itu. Bukan hanya membahayakan nyawaku, dia sekarang membuatku malu di
hadapan seorang gadis yang tak kukenal.
“Kalau setiap menggonggong kamu beri makan, dia akan mengira, cara
minta makan itu dengan menggonggong. Tapi, kalau kamu tenangkan dulu,
baru diberi makan, dia akan berpikir, ‘aku harus diam, agar dikasih makan’.”
Aku melengos. Merapatkan jaket. “Pemiliknya tidak berpesan apa-apa.”
“Bukankah kamu yang menjaga dia? Harus tahu ilmunya.”
Gadis Peri menurunkan Ziggy. Anjing itu lalu mengendus-endus rumput di
sekeliling kaki penjinaknya tadi.
“Aku terpaksa mengambil pekerjaan ini. Kurasa aku tidak akan
mengulanginya selamanya. Tapi, terima kasih banyak sudah membantu.”
“Sama-sama. Kamu orang Indonesia, ya?”
Aku melongo. Tiga orang Swedia menebak kewarganegaraanku dan
semuanya salah. Gadis ini menyebut tempat asalku selihai dia menjinakkan
anjing yang menyulitkan hidupku.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aksen bahasa Inggris kamu.”
“Kamu tahu aksen orang Indonesia?”
“Perkenalkan namaku Dru,” dia mengulurkan tangan, “Drupadi
Ardanareswari.”
Aku menyambut tangannya sambil gelagapan. “Kamu orang Indonesia?”

Dia mengangguk sembari tersenyum penuh kemenangan.
“Siapa namanya?” Sekarang dia berbahasa Indonesia dengan logat yang keren
sekali. Gaya Jakarta, tapi versi terbaiknya. Tidak sebule Ida Iasha, tidak pula
sebetawi Mandra.
“Kashmir.”
Bibir penuhnya tersenyum, jajaran gigi Dru membuatku merasa
terintimidasi. “Maksudku anjing imut itu.”
“Oh …,” maluku setengah mati, “... Ziggy. Dia tidak seimut itu.”
“Ziggy lucu banget, lho …,” Dru berjongkok, bercengkerama dengan Ziggy
seperti tadi, “... kapan pemiliknya menjemput?”
“Nanti sore.”
“Seru. Kita punya banyak waktu, Ziggy.”
Aku memasukkan dua tanganku ke saku. Memandang perairan yang
berkilauan. Air laut yang tenang malah tampak seperti danau. Pada kejauhan,
pulau-pulau lain memecah gelombang. Tidak ada ombak sampai pinggiran.
“Mau aku temani?”
Aku menoleh kepada Dru. Tidak yakin dia berbicara kepadaku. Dia sudah
menggenggam ujung tali Ziggy dan anjing itu mulai berjalan genit
meninggalkan padang rumput sembari mengendus-endus. Iya, Dru berbicara
pada anjing itu, bukan kepadaku.
Aku mengikuti mereka karena sudah terang tidak punya pilihan. Aku pun
tidak berbasa-basi. “Ah, apa tidak merepotkan?” kepada Dru, karena aku tidak
mau mengambil risiko, dia benar-benar meninggalkanku. Sudah cukup Ziggy
memburuku sekali dan orang-orang tak kukenal mentertawakanku.
“Kamu baru di Swedia, Kashmir?”
“Ya. Satu bulan lebih.”
Dru menolehiku. “Kuliah apa?”
“Musik di KMH.”
“Keren sekali. Bachelor degree?”
Aku mengangguk lagi. “Aku baru lulus SLTA tahun ini.”
“Juniorku kalau begitu.”
“Kamu?” Sudah pasti aku penasaran. Dru terlalu tampak belia untuk
mengaku lebih tua, “semester berapa?”
“Aku baru saja selesai master degree di Stockholm University.”
“Kamu bersungguh-sungguh? Berapa umurmu?” Jika dia bukan orang
Indonesia, atau konteks yang berbeda, pertanyaanku akan terdengar sangat

tidak sopan.
“Lebih tua dari kamu,” Dru tertawa, “... tapi tidak setua itu.”
“Kamu pasti bercanda, Dru.”
“Tidak. Aku masuk kelas percepatan sejak SMP. Dua tahun selesai. SMA

begitu juga. Kuliah sarjana tidak sampai tiga tahun. Master satu tahun. Jadi,
aku menghemat tiga tahun, kira-kira.”

“Jadi, kita seharusnya seangkatan?”
“Mungkin aku lebih tua satu atau dua tahun dari kamu.”
“Kalau kamu tidak katakan, orang tidak akan tahu.”
Dru tertawa. Itu tawa paling renyah dan bisa kudengarkan seharian. Lebih
membuai dibanding suara tawa Yossy, penyiar Yasuka FM.
“Kamu sudah ke mana saja di Swedia, Kash?”
Kami menyusuri setapak Hutan Djurgården yang kanan kirinya tersisa satu
dua bunga yang warna-warni. Mungkin mereka akan segera lunglai ke tanah
karena musim dingin segera datang satu bulan lagi. Sekarang pun, tengah
siang, tapi udara sudah lebih dingin dibanding malam paling dingin pada
puncak musim kemarau di kampungku.
“Selain asrama dan kampus? Gamla Stan dan hari ini Djurgården.”
“Di mana asramamu?”
“Satu blok dari T-Centralen.”
“Cukup jauh dari sini. Kamu naik metro?” Maksud Dru kereta T-Bana.
“Aku bersepeda. Kutitipkan di depan rumah majikan Ziggy di sekitar
Skansen.”
“Bersepeda? Kamu benar-benar sudah menjadi orang Swedia rupanya.”
“Aku mau berhemat saja sebenarnya.”
Akhirnya, aku bisa tertawa. Mentertawakan diri sendiri.
“Bersepeda sangat bagus, bukan?”
“Tentu saja.” Aku tidak ingin membahas lebih lanjut. Masalahku pribadi
bukan isu hidup orang lain. Terutama karena kami baru saja bertemu. Tambah
lagi, jika dia seperti peri.
“Kamu tinggal di mana, Dru?”
“Sekarang aku tinggal di sini. Di dekat Gröna Lunds Tivoli.”
“Museum terkenal itu?”
Dru mengiakan dengan anggukan. “Dulu aku tinggal dekat-dekat kampus.
Lama-lama bosan juga karena dunia jadi sempit. Pulau Djurgården cocok
dengan kepribadianku.”

Ketika menyebut kata kepribadianku, cara Dru memberi penekanan sungguh
unik. Susah menerangkan kesan yang kutangkap. Lebih ke kocak, mengolok-
olok diri sendiri, tapi pada saat yang sama membuat dia tampak keren.

“Dari sini berapa lama perjalanan?”
“Aku tinggal di Bergbanan. Naik trem ke Stasiun Karlaplan. Dari Karlaplan
langsung ke T-Centralen. Pindah kereta ke jalur biru. Total, kurang satu jam
perjalanan. Itu menyenangkan.”
“Tidak ada kemacetan di sini, jadi waktumu lebih terkendali.”
“Kecuali aku bangun kesiangan.” Dru tertawa lagi.
Segerombolan bebek yang cerewet menyeberangi setapak yang hendak kami
lalui. Ziggy hendak mengejar mereka, membuat Dru sedikit repot
menenangkannya. Bersamaan dengan itu sekelompok camar terbang menuju
laut.
“Jadi ini tahun keduamu di Stockholm, Dru?”
“Iya. Aku baru menyelesaikan masterku. Mungkin aku akan beberapa tahun
lagi tinggal di sini. Aku mengambil Ph.D. di sini.”
Agak aneh karena aku merasa lega mendengar apa yang Dru katakan.
Mungkin, karena itu berarti dia masih punya waktu lama tinggal di Swedia.
“He …,” Dru seperti baru ingat sesuatu, “bukankah kampus kamu di Jalan
Valhallavagen?”
“Betul.”
“Aku ada teman yang kuliah di Tekniska Högskolan. Itu terletak satu stasiun
setelah stadion.”
“Berarti kami mungkin saja pernah bertemu di kereta.”
“Mungkin saja. Kami memanggil dia Ben. Ini tahun kedua dia di sini. Tapi,
kuliah dia setingkat S-1.”
“Junior juga rupanya.”
Dru tertawa. “Kami seusia. Hanya aku sekolah lebih dulu.”
“Dan, lebih cepat.”
“Kira-kira begitu.” Dru melanjutkan tawanya. Dia lalu berjalan setengah
berjingkat. Ada iramanya. Seperti pebalet atau sekadar gadis yang berbakat
dengan gerak tubuhnya.
“Kamu sering berkumpul dengan sesama mahasiswa Indonesia, Kash?”
“Justru baru kamu orang Indonesia pertama yang aku temui di Swedia.”
“Serius?”
Aku mengangguk cepat. “Tentu saja kalau aku menganulir Mulyana.”

“Siapa Mulyana?”
“Seseorang yang menjemputku di bandara, mengantarku ke asrama, lalu
menghilang begitu saja.”
“Kamu tidak ikut mailing list?”
“Mungkin nanti. Sekarang aku sedang berusaha bertahan hidup dulu.”
“Justru dari mailing list kamu bisa bertemu banyak orang Indonesia dan
punya peluang lebih banyak untuk bertahan hidup.”
Cara Dru mengucapkan frasa bertahan hidup mirip-mirip dengan gaya dia
berkata kepribadianku.
“Aku sedikit trauma mungkin,” aku tertawa, “paling tidak aku sudah punya
pekerjaan sekarang.”
“Kamu yakin akan terus mengambil pekerjaan ini?”
Aku mengangkat bahu. “Aku tidak terlalu yakin. Tapi, aku sudah melamar
macam-macam pekerjaan dan selalu gagal.”
“Datanglah ke acara barbeku mahasiswa Indonesia minggu depan.”
“Ada acara seperti itu?”
“Kalau kamu ikut mailist pasti tahu. Hari Minggu depan kita berkumpul di
sini. Kamu tahu musim dingin akan segera datang, jadi setelah minggu depan
pertemuan hanya mungkin dilakukan di dalam ruangan.”
“Siapa saja boleh datang?”
“Tentu saja.”
“Meski bukan anggota mailist?”
“Iya. Itu undangan terbuka. Kita kumpul. Berbagi cerita, pengalaman. Saling
membantu kalau ada kesulitan, dan tentu saja makan-makan masakan
Indonesia.”
“Nah, yang terakhir itu sepertinya paling kuat untuk menjadi motivasi.
Masakan Indonesia terakhir masuk ke perutku adalah Indomie rasa soto,
sebulan lalu.”
“Oh, ya?”
Aku tertawa. “Itu pun rasanya tak karuan karena kucampur nasi beriani yang
mengeras karena kaldunya mengering sebelum berasnya matang.”
Dru tertawa senang. Aku mulai ber rasat pada masa depan dia akan semakin
sering tertawa di atas penderitaanku.

Gh a 18

Salj u Pertama Tur un

K ata orang-orang, lazimnya acara barbeku, kumpul-kumpul, bakar satai,
bercengkerama dengan banyak orang, dilakukan pada musim panas. Aku
belum pernah mengalaminya di Stockholm. Tapi, aku tidak seantusias mereka
karena aku baru saja datang dari negeri yang musim panasnya berlangsung
sepanjang tahun. Bahkan, ketika hujan turun.

Tiba di Swedia pada musim gugur seperti sekarang menurut beberapa
kenalan adalah pemanasan yang tepat menuju musim dingin. Sebab, bagiku
sebulan ini sudah dingin bukan main. Agak cemas aku memikirkan datangnya
musim dingin yang konon menjadikan Swedia menjadi kulkas raksasa.

Hal yang lebih kukhawatirkan tentu saja perihal pekerjaan yang belum juga
berjodoh denganku. Pengalamanku bersama Ziggy terlalu traumatis dan tidak
ingin kuulang. Meski Nyonya Bintik menginginkan aku menjaga anjingnya
sepanjang sisa musim gugur, aku menolak. Sudah pasti alasannya karena aku
tidak benar-benar mengendalikan Ziggy. Tapi, aku tidak perlu mengatakannya.

Satu-satunya peluang bekerja di musim dingin adalah mengantar makanan
dari restoran Italia itu. Tapi, aku belum memutuskan untuk menerimanya
karena ingin mengukur kemampuanku beradaptasi dengan salju. Bukan hanya
pada tubuhku, melainkan juga pada roda sepedaku.

Aa Ahmad pun berhenti bersepeda karena trauma kecelakaan sepeda musim
dingin tahun lalu. Aku harus memperhitungkan semua kemungkinan sebelum
mengambil keputusan.

Sekarang aku datang ke perkumpulan sebagian orang-orang Indonesia di
Stockholm kali pertama dan aku cukup rindu untuk melakukannya. Setelah

satu bulan lebih tidak berbincang dengan bahasa Indonesia, Dru memecah
puasa panjang itu. Sekarang, semua orang justru berbahasa Indonesia. Aku
merasa pulang kampung di negeri orang. Sebagian yang datang membawa
potongan daging sapi, ada yang menenteng kecap, sekeranjang jagung,
macam-macam sayuran, buah, minuman, nasi, dan pelengkap lainnya.

Kuharap bukan aku seorang yang hanya membawa harga diri.
Meski tak banyak sinar matahari, udara kian dingin, bahkan sepekan ini
hujan sesekali, suasana Djurgården masih ramai. Sebenarnya semakin sedikit
turis. Sebagian besar pengunjung adalah warga lokal dan para mahasiswa
internasional. Musim gugur punya keindahan yang tidak ada pada tiga musim
lainnya. Sewaktu pepohonan menguning atau memerah, mengering. Pada
kamera akan seperti suasana sephia.
Bagiku, segalanya baru sehingga mudah membuatku terharu.
“Kashmir.”
Peri itu.
Apakah Dru tahu warna putih memang paling mewakili kepribadiannya? Dia
mengenakan gaun renda putih panjang hingga ke mata kaki. Potongan gaun
itu menampakkan bahunya. Lalu seperti ada kelopak bunga melingkari bagian
atas tubuhnya. Aku tidak tahu itu model baju apa. Aku hanya sering
melihatnya dipakai Paramitha Rusady, Nia Daniaty, Desy Ratnasari di gambar
kalender atau sampul buku teka-teki silang.
Waktu masih SD, kupikir artis-artis itu punya masalah sama denganku.
Karena kaus sudah terlalu lama dipakai, karet lehernya melar hingga berubah
ukuran. Lubang leher menjadi lubang lengan ke lengan.
Pada Dru, baju itu sempurna. Dia menjinjing jaket kulit warna tanah. Hari
ini rambutnya lurus terurai tanpa diapa-apakan.
“Kamu sudah lama di sini?”
“Belum, Dru.”
Kami bersalaman, lalu Dru menyeret seseorang di sebelahnya, ke depanku.
“Ini Ben. Anak teknik yang waktu itu aku ceritakan.”
“He,” aku mengangsurkan tangan, “Kashmir.”
“Ben,” dia menyambut tanganku, “Benua Hutapea.”
Aku mengangguk-angguk sembari menyengalkan senyum.
Benua dengan huruf “e” dilafalkan seperti pada kata tante. Begitu namanya
disingkat menjadi Ben, huruf “e” berubah lafal masih seperti pada kata tante,
tapi diucapkan Ruhut Sitompul.

“Ada yang lucu?”
“Oh, tidak. Teman lamaku juga bernama Benua. Aku jadi bernostalgia.”
“Oh, ya?” Ben tampak sedikit tidak percaya, “namaku pasaran rupanya.”
Kami tertawa canggung. Tentu aku tidak mengatakan kepadanya, Benua
yang pernah kukenal adalah Sembilan Benua, karakter komik Tapak Sakti yang
kubaca waktu SMP. Dia paman si kembar Sam Sun dan Devilito.
Benua yang satu ini jauh lebih klimis dibanding Sembilan Benua. Berkemeja
pas badan, dua kancing atasnya terbuka. Jin standar, sepatu bot. Rambutnya
sepertinya diminyaki, tersisir rapi. Kutebak dia menggunting kumisnya, alih-
alih mengeroknya dengan pisau cukur. Tas tangan dia genggam.
“Aku tidak bawa apa-apa. Tidak enak jadinya,” aku menengok ransel di
bahuku, “cuma bawa air.”
“Tenang saja,” Ben menepuk bahuku, “aku sudah setahun ikut acara seperti
ini dan selalu datang untuk menumpang makan saja.”
Kami tertawa lagi. Kali ini lebih alami.
“Aku kira aku saja anak beasiswa yang sedang berusaha bertahan hidup di
negeri ini.”
Ben dan Dru saling pandang. Aku mencoba membaca gelagat mereka.
“Tampaknya aku salah, ya?”
“Bukan salah,” Ben mengibaskan tangan, “aku pun kalau cukup pintar pasti
ke sini memakai beasiswa, Kash. Dasar otakku saja kurang setengah. Ikut
seleksi, tapi tidak lulus.”
Ben tertawa sendiri.
“Kalau Dru ini,” Ben melanjutkan, “dia memang memilih untuk kuliah
dengan biaya sendiri.”
“Kuliah master biaya sendiri?” Aku menghitung cepat berapa biaya yang
dihabiskan Dru selama kuliahnya. Ah, kalkulator di otakku mengalami
gangguan. Terlalu banyak digit yang harus dijumlahkan.
“Menabung lama,” kata Dru mencari alasan, “... aku juga kalau mengajukan
beasiswa belum tentu lulus. Kamu hebat, Kash. Jatah beasiswa mahasiswa
internasional itu cuma tiga persen, lho. Dari Indonesia paling berapa setiap
tahun? Berapa ribu orang yang kamu sisihkan. Jempol itu.”
Aku tahu Dru sedang membesarkan hatiku. Pada saat yang sama aku justru
merasa terbanting dalam segala hal. Dua orang ini tampaknya berasal dari
keluarga mapan. Jika kami hidup sendiri-sendiri, itu tidak pernah
menggangguku. Namun, bergaul seperti ini membuatku diterpa rasa rendah

diri.
Orang-orang yang datang lalu membaur. Aku lihat, banyak dari mereka

memang sudah saling kenal. Segera berbincang dan berbagi tawa. Beberapa
ibu, mungkin mahasiswa doktoral, menggelar kain pengganti tikar. Berbagai
makanan mulai ditaruh di situ. Para lelaki mengipasi satai atau daging
panggang di atas tungku barbeku yang tersedia di taman.

“Kerja yang lalu kamu teruskan, Kash?”
Dru mengalihkan perhatianku.
“Tidak. Aku kapok.”
Dru tertawa sembari menutup mulutnya. “Minimal agar Ziggy mau
berteman itu kalau sudah lewat tiga hari. Wajar kamu baru bertemu jadi Ziggy
masih malu-malu.”
“Malu-malu …,” aku memutar mata, “... aku yang bikin malu.”
“Apa, sih? Apa, sih?” Ben mendorongku menjauh dari Dru, “cerita, dong.”
“Dru tidak cerita?” Aku langsung masuk ke keakraban Ben, “syukurlah. Aib
itu, Ben.”
Dru menahan tawa sambil sedikit membungkuk. Aku yakin dia mengingat
adegan sewaktu aku lari pontang-panting dikejar Ziggy. Sewaktu itu terjadi,
dia tidak tertawa sama sekali. Sekarang dia terpingkal-pingkal ketika kejadian
itu dia ingat lagi.
“Apa, sih, Dru?” Sekarang Ben menghampiri Dru.
“Bukan apa-apa.” Dru berusaha berdiri tegak menahan gelak.
Ben semakin penasaran. “Siapa Ziggy?”
Sebuah panggilan menyelamatkanku dari pengungkapan fakta “dikejar-kejar
anjing” yang memalukan itu. Ibu-ibu yang menyiapkan makanan memanggil
kami untuk bergabung. Aku dan dua teman baruku ikut menduduki kain yang
dibentang. Kainnya tidak terlalu lebar, beberapa orang tidak kebagian.
“Bagaimana rasanya tinggal di Stockholm?” Seorang ibu yang menyadari
keberadaanku sebagai pendatang baru bertanya sambil tersenyum kepadaku.
“Eh … karena biasa tinggal di satu pulau dengan banyak kota, sedangkan di
sini adanya satu kota dengan banyak pulau, jadi ya, perlu penyesuaian, Bu.”
Beberapa orang tertawa. Ben menyenggol bahuku, sepertinya dia bangga
dengan jawabanku. Mengikuti yang lain aku pun mengambil piring. Aku
mengisinya dengan nasi dan dua satai, kuah, dan tempe. Akhirnya, temu
kangen masakan Indonesia.
“Sudah rindu, ya?” seloroh Dru. Dia ikut makan, tapi di piringnya hanya ada

nasi satu sendok dan sepotong tempe.
Aku mengiakan dengan anggukan. Sebab, mulutku sibuk mengunyah

makanan.
“Kamu mainlah ke apartemenku, Kash,” Ben berbicara setelah menelan

makanannya, “kalau sedang santai.”
“Kamu tinggal di mana, Ben?”
“Dekat-dekat kampus. Daerah Verdandig namanya.”
“Baik. Terima kasih tawarannya.”
Tangan Ben jatuh di bahuku. “Sopan sekali kawan kita ini.”
Aku hampir tersedak karena tak bisa menerima pujian Ben.
“Rencana musim dingin kamu bagaimana, Kash?”
Sekarang Dru yang bertanya. Nasi sesendok pun lama dia habiskan.
“Kemungkinan ambil tawaran kerja di restoran Italia, Dru. Di Skeppsbron.”
“Jadi pramusaji?” sela Ben.
Aku menggeleng. “Lowongannya antar pesan makanan.”
“Naik apa?” Ben terus memburu.
“Sepeda,” Dru menjawabnya untukku.
Ben meletakkan piringnya. “Musim dingin naik sepeda. Yakin kamu, Kash?”
“Belum, sih, Ben”, aku membuka ransel, mengambil botol minum

Tupperware, “... tapi aku memang harus bekerja.”
“Kalau saranku, hindari berkendara di musim dingin, Kash. Terutama

dengan sepeda. Jalanan licin sekali.”
Aku menenggak air bening hasil pendinginan di panci India terbaik dari toko

Ahmad Khan. “Aku sudah melamar ke sepuluh tempat, tapi hanya restoran itu
yang menerimaku.”

“Aku punya teman yang kurasa perlu orang pada bagian kebersihan,” Ben
menoleh kepada Dru, “ omas, Dru.”

“Oh, omas,” komentar Dru pendek.
“Oh, ya? Di mana?”
“Kawasan Gamla Stan.”
“Itu tidak jauh dari asramaku.”
“Nah …,” Ben menunjukku, “... pas sekali, bukan?”
“Itu kafe, kantor, atau restoran?” Aku sangat antusias.
“Bar,” jawab Ben.
“Maksudnya, tempat minum miras?”
Ben tersenyum sembari mengangguk pelan. “Kamu bermasalah dengan itu,

Kash?”
“Aku tidak mungkin kerja di tempat seperti itu, Ben.”
“Kamu tidak harus minum, Kash,” Ben berusaha meyakinkanku, “... hanya

bersih-bersih. Sebelum dan setelah bar buka.”
Aku tetap menggeleng. “Terima kasih tawarannya, Ben. Tapi, aku tidak bisa.”
Dru menyimak saja. Dia seperti menarik diri dari obrolan kami.

Menghabiskan nasi, lalu meletakkan piringnya dengan hati-hati.
“Setidaknya kamu bekerja di dalam ruangan, Kash. Setelah musim dingin

kamu bisa mencari pekerjaan lain.”
“Tidak perlu mengkhawatirkan aku, Ben. Aku akan baik-baik saja.”
“Oke …,” akhirnya Ben menyerah, “... tapi kalau kamu berubah pikiran,

jangan ragu menghubungi aku.”
“Terima kasih.”
Ben lalu membuka tas kulitnya. Mengambil buku catatan dan menuliskan

sesuatu di sana. Setelah selesai, dia lalu menyobeknya. “Ini alamat dan nomor
kontakku. Nomor kontak Dru juga aku tulis di situ.”

“Kamu baik sekali, Ben.”
Ben lagi-lagi menepuk bahuku. “Itu gunanya teman, bukan?”
Seseorang baru saja tiba dan disambut hangat beberapa orang lainnya. Aku
terkejut ketika menyadari siapa dia. Ketika semua orang sudah berbasa-basi
dengannya aku memanggil nama dia.
“Kang Mulyana, apa kabar?”
Dia menoleh. “Oh, kamu. Siapa nama kamu? Saya lupa.”
“Kashmir, Kang.”
“Nah … ke sini juga kamu, Kashmir.”
Aku tidak tahu itu pertanyaan atau pernyataan. Aku mengangguk saja.
Sedangkan Mulyana ditepuk seseorang di sebelahnya. Mereka lalu berbincang
sambil sesekali tertawa.
Ben menyenggol bahuku dengan bahunya. “Itu Ziggy yang kamu maksud
tadi?”
Dru memukul lengan Ben. “Sembarangan.”

AKU harus melakukannya. Atas nama apa pun, aku harus mampu bertahan

hidup tanpa membebani siapa pun. Mendatangi kompleks perkantoran di
Vapnarg ini adalah bagian langsung dari perjuangan panjang itu. Mengikuti
rekomendasi Nina aku datangi tempat kursus Swedish for Immigrants.

Kenyataan bahwa bahasa Inggrisku pun belum mapan tidak boleh menunda
niatku untuk belajar bahasa Swedia. Terlalu banyak pintu tertutup karena aku
tidak menguasai bahasa lokal ini.

Sampailah aku di kompleks perkantoran yang sibuk. Aku tidak mengecek apa
yang mereka kerjakan dan bidang apa yang mereka geluti. Fokusku adalah
menemukan tempat kursus bahasa Swedia yang bisa membantu mengatasi
segala keterbatasanku di negeri yang jauh ini.

Aku segera menemukan papan nama Swedish for Immigrants di sebuah pintu
ruangan serbakaca yang memang menjadi wajah keseluruhan gedung ini.
Kelas-kelas di balik dinding kaca itu tampak hidup. Kursi-kursi sudah mulai
terisi. Seseorang berdiri di depan kelas memegang setumpuk kertas.

Aku menuju sana. Beberapa orang masuk hampir berbarengan. Aku memilih
duduk di kursi sisa barisan paling depan. Sementara kanan kiriku wajah-wajah
Timur Tengah, Afrika, dan Asia telah bersiap lebih dulu.

Aku peserta baru. Lebih banyak melihat dan menunggu.
Bapak-bapak yang ada di depan kelas sepenuhnya berbicara dengan bahasa
Swedia. Kukira dia memang orang lokal. Cuma dua atau tiga kata setiap dia
bicara aku tahu artinya. Kulirik peserta lain ada yang tampak paham ada yang
juga masih tampak bertanya-tanya. Aku belum tahu posisiku di mana, di
antara seisi kelas ini.
Bapak yang di depan mulai membagikan selembar demi selembar kertas
dengan lebih dulu memanggil nama, lalu si empunya kertas berjalan ke muka.
“Ursäkta, itu kertas apa?”
Seorang perempuan berkulit hitam, berdandan dengan baik, duduk dengan
sikap elegan menjawabku dalam bahasa Inggris, “Itu latihan soal yang kami
kerjakan pada pertemuan sebelumnya.”
Pak Guru menyebut nama dan membahas sedikit perihal hasil tes pada setiap
lembar yang dia bagikan. Reaksi kelas beragam. Kadang bertepuk tangan
sambil bersuit-suit, lain waktu berdecak kagum, atau sekadar mengangguk-
angguk penuh pemahaman. Aku tidak tahu apakah itu reaksi dari penilaian
Pak Guru saat memuji, mengkritik, atau sekadar mengapresiasi setiap peserta
atau lainnya.
“Kami akan menghadapi ujian kenaikan pekan depan,” kata perempuan di

sebelahku tadi.
Aku ber “oh-oh” saja sebagai tanda mengerti situasi.
Aku sekarang bertanya-tanya, apakah aku masuk ke kelas yang seharusnya?
Nina mengatakan kepadaku untuk berbaur saja. Pada waktunya aku akan

mengerti dari titik mana aku akan memulai pembelajaran ini.
Pembagian kertas hasil tes itu akhirnya selesai. Seisi kelas mulai membuat

diskusi tidak resmi dengan teman-teman di kanan atau kiri.
“Se hit!” Pak guru mengangkat tangan sembari bersuara agak kencang. “Se

hit!”
Mungkin artinya semacam “Perhatian! Perhatian!”
Setelah kelas tenang, Pak Guru berbicara lagi, aku tetap tidak mengerti.

Sampai kemudian dia menyebut kata namnet dan membaca tulisan dalam
selembar kertas, “Kashmir.”

Aku mengangkat tangan, langsung menjadi pusat perhatian.
Dia berbicara lagi dan satu-satunya kata yang kupahami hanya namaku
sendiri.
“Eh …,” serbuan rasa grogi kembali mengelukan lidahku, “... tack.”
Pak Guru berbicara lagi. Aku sama sekali tidak mengerti.
Perempuan di sebelahku berbisik, “Perkenalkan dirimu pada kelas.”
“Oh,” aku berdiri, membalikkan badan, “namnet,” aku menunjuk diriku
sendiri, “Kashmir.”
Aku mengelilingkan pandangan, mengumpulkan kepercayaan diri. Lalu, aku
buka kedua tanganku, “Allt kommer bli bra. Semuanya akan baik-baik saja.”
Sebagian orang tertawa. Sisanya, kurasa, paham bahwa aku sedang
merundung diriku sendiri.

PAGI ini, ketika gelap sudah terangkat dan aku merasa sarungku tidak
berguna mengusir dingin, aku membuka pintu balkon dan menjadi orang
paling terharu sedunia. Dari langit yang redup, seperti curah hujan, serpih
salju berhamburan. Sedangkan parkir sepeda telah berubah warna. Semuanya
memutih. Aku seperti terdampar di negeri dongeng.

Aku buru-buru mengenakan jaket musim dingin dan hendak turun ke
halaman. Ingin merasakan apakah salju selembut kapas teksturnya, sebab

seperti itu bayanganku sejak dulu. Aku tidak peduli jika penghuni asrama ini
akan mengolok-olok keluguanku. Segera setelah kubebatkan syal di leherku,
kupluk wol melindungi kepalaku, aku keluar kamar.

Rupanya yang ingin merasakan salju kali pertama bukan aku saja. Di lorong,
beberapa penghuni tempat ini juga keluar kamar. Kami turun beriringan
dalam suasana gaduh. Sampai di halaman, aku menengadah, membiarkan
serpihan salju mendarat di wajahku. Dingin dan kesat.

Sejak semalam rupanya salju mulai turun menyiram bumi. Membekukan
permukaan tanah, memutihkan atap dan dedaunan. Aku lalu berjongkok,
meraup salju mendekatkan ke mukaku. Ini tak lebih dari versi terbaik es serut
yang tak terhitung luasnya. Aku mencoba menggumpalkannya, dan
menghitung beratnya dalam pikiran. Rasanya seperti menggenggam pasir
basah.

Penghuni asrama lainnya kukira sudah cukup terbiasa. Itu tak membuat
mereka lalu menyembunyikan kegembiraannya. Beberapa pasangan saling
melempar bola salju. Tertawa dan berlarian, berkejaran seperti lm India.

Kanya, aku mengingatmu seketika. Seandainya engkau ada di sini kita akan
berbagi rasa dingin yang perlahan menyakitkan.

Aku lalu bangun dan menghampiri sepedaku. Kubersihkan sebisaku.
“Kashmir ….”
Seseorang memanggilku dan aku hafal siapa pemilik suara itu.
“Halo, Nina.”
Dia seperti tahu aku sedang menikmati euforia terhadap salju. Nina datang
ke asramaku dan dengan mudah menemukanku. Dia memakai jaket tebal dan
tudung yang dia pasang. Dia bahkan memakai sarung tangan.
“Aku ingat ini pekan pertama kamu kerja.”
Kepada Nina aku memang sudah bercerita, akhirnya aku mengambil
pekerjaan di restoran Italia. Aku tidak punya pilihan lain.
“Kamu tidak akan memikirkannya kembali?”
“Jag måste välja, Nina. Saya harus memilih antara tinggal di kamar dan
berusaha mencari uang tambahan.”
“Kukira kamu bisa mengusahakan pekerjaan lain. Kamu belum pernah
bersepeda di salju.”
“Permintaan mengantar makanan justru tinggi di musim dingin, Nina.
Sedangkan yang mau mengerjakannya sedikit orang. Bagiku ini peluang.”
“Kashmir, är du säker? Yakin?”

Aku mengangkat bahu. “Aku akan mencobanya.”
Aku menatap kekhawatiran pada mata Nina.
“Aku akan baik-baik saja, Nina. Kamu sudah memberiku pengetahuan
tentang kota ini. Itu sangat membantuku.”
“Jangan lupa sepatu musim dinginmu.”
“Tentu saja.”
Nina mendongak, menatap langit. “Jika tiga sampai empat hari ini salju terus
turun, kamu bisa bersepeda. Tapi, jika sedikit seperti ini, berarti es ada di
mana-mana. Sangat berbahaya. Kamu seperti bersepeda di lapangan es batu.”
“Aku mengerti, Nina,” aku hendak membuka gembok sepedaku, “ya ampun,
rantai pengamannya juga beku.”
“Periksa minyak pelumasnya juga, Kash.”
Nina menghampiri sepedaku. Aku mengikuti anjurannya. Benar saja, minyak
pelumas sepedaku juga beku.
“Sebaiknya kamu rawat dulu sepedamu. Jangan pergi ke kampus
menggunakannya. Naik metro saja.”
“Kamu benar, Nina.”
Aku mulai merasakan ujung-ujung tanganku terasa ngilu dan membeku.
“Sepertinya aku perlu mengambil sarung tangan.”
“Astaga. Kamu tidak mengenakannya?”
“Aku ingin menikmati pengalaman pertamaku dengan salju.”
Nina tertawa. “Tapi, kamu beku karenanya. Masuklah. Aku juga harus
bersiap ke kampus. Aku tunggu di stasiun.”
“Baiklah.”
“Bagaimana kursus bahasa Swediamu?” Nina mengurungkan kepergiannya.
“Jag klarar det,” kataku. Entah penempatan kalimatnya tepat atau tidak. Aku
hanya bermaksud mengatakan, semua terkendali. Aku bisa mengikuti dan
mengatur waktu untuk pertemuan dua kali seminggu di tempat kursus itu.
Nina tertawa. Dia melambaikan tangan lalu meninggalkanku menggigil
bersama sepedaku. Pagi ini, tadinya akan menjadi pengalaman pertamaku
bersepeda ke kampus pada saat salju turun. Sepuluh dari sepuluh orang yang
aku tanya tip bersepeda pada musim dingin punya jawaban sama. “Kamu naik
metro saja.”
Aku tidak harus menerangkan bahwa setiap keping krona bagiku sangat
berharga. Aku harus sangat menghitungnya agar daftar keinginanku terlaksana.
Tapi, melihat keadaan sepedaku, juga anjuran Nina, kupikir aku harus sedikit

keras kepada diriku sendiri.

“KAN jag räkna med dig?”
Meski aku sudah katakan, bahasa Swediaku sama sekali tidak bisa diandalkan,

Pak Matteo tetap mengajakku bicara dalam bahasa Swedia, sembari kemudian
menerjemahkannya ke bahasa Inggris. Itu bahkan bukan bahasa ibunya. Dia
generasi kedua imigran dari Italia dan fasih bicara beberapa bahasa. Tapi, Pak
Matteo ingin semua karyawannya bisa berbahasa Swedia demi kepentingan
pelanggan restorannya.

“Saya akan melakukan yang terbaik, Sir. Anda bisa mengandalkan saya.”
Aku sudah menyiapkan sepedaku di samping restoran, gang menuju pintu
dapur, ketika Pak Matteo menyusulku. Aku bahkan sudah mengenakan jaket
warna lavendel, seragam seluruh pengantar masakan restoran ini. Begitu juga
dengan kotak besar berisi pasta yang kubawa sebagai tas ransel. Warnanya pun
ungu tua. Helm di kepala begitu juga.
“Kiriman pertamamu ke Glasbruksg,” kata Pak Matteo. Ketika dia membaca
nota di tangan, dahinya mengerut lebih dari normal. Wajah Pak Matteo
memang kurasa bermasalah. Meski badannya bugar, tapi wajahnya tampak
sangat tua. Kerutan di dahinya besar-besar dan bertumpuk-tumpuk.
“Kamu tahu daerah itu?”
Aku mengangguk. “Menyusuri dermaga, belok di Stargardsleden.”
“Bagus. Segera berangkat. Kamu harus lebih berhati-hati karena salju.
Pelanggan sudah menunggu.”
Aku mengiakan, lalu naik ke sepeda, perlahan-lahan aku mengayuhnya.
Perlahan-lahan dalam pengertian sebenarnya. Tadi pagi aku sudah
membuktikannya. Bersepeda ke kampus di bawah gerimis salju. Sensasinya
menakjubkan, tapi aku mesti menduakalikan kewaspadaan. Menuruti tip
bersepeda ala Nina, aku menunggu sampai salju turun terus-menerus selama
hampir sepekan.
Salju yang terus turun membuat lapisan es yang keras bertumpuk, lebih kesat
digilas ban. Rem pun akan bekerja, tidak seperti ketika salju masih sedikit
turun, sedangkan udara beku, membuat jalanan licin bukan main. Sepeda
direm pun percuma, tidak akan menghentikan lajunya.

Waktu pulang-pergi ke kampus tadi pagi aku merasakan terpaan angin yang
menembus tulang. Meski telah mengenakan pakaian tahan dingin, syal,
penutup kepala, wajah, kaus tangan, tetap saja pipi serasa beku, kuping mulai
mendengar desingan, pedih jika tergesek. Kulit di ujung-ujung jariku
mengelupas. Aku merendamnya dengan air hangat untuk mengurangi
penderitaan tangan dan kakiku.

Sekarang, aku mengulanginya demi pekerjaan. Aku menghangatkan
pikiranku dengan doa yang aku bisa. Pada jalur jalan yang lengang, sedikitnya
manusia yang satu arah atau berpapasan, aku mengayuh sepeda membawa
makanan pesanan pelanggan.

Pada satu titik, perjalanan ini begitu aneh. Seperti bergerak di ruang kedap
suara raksasa. Pemandangan putih di mana-mana. Setelah seminggu melihat
salju, aku mungkin menjadi satu dari sedikit orang yang tidak terlalu
menikmatinya. Pemanas ruangan di asrama yang sering mati, orang-orang
semakin banyak diam dan dingin, warna putih yang hampir menutup segala
hal memberiku rasa sepi.

Menjadi ironi ketika aku justru mendapatkan pekerjaan oleh sebab salju ini.
Karena tidak banyak orang yang mau melakukannya pada musim dingin.
Paling tidak, jauh lebih sedikit dibanding musim-musim lain, sedangkan
pesanan musim dingin jauh lebih tinggi karena lebih banyak orang malas
bergerak.

Keheningan yang akbar ini mengingatkanku kepadamu, Kanya. Sedang
apakah engkau gerangan? Lima jam dari sekarang, di rumahmu hari telah
malam. Mungkin engkau sedang mengajari adik-adikmu, menyelesaikan
pekerjaan rumah mereka. Pasti hangat dirimu, di antara keluarga yang cinta
dan engkau cintai. Engkau juga memiliki lebih banyak matahari.

Kurasa salju ini membantuku menempatkanmu dengan layak pada
kenanganku, Kanya. Menciptakan suasana. Ketika sepedaku berbelok lembut
di Katarinahissen, aku menoleh ke laut dangkal, selat yang memisahkan
daratan ini dengan Pulau Skeppsholmen.

Aku merasa bersalah karena tidak bisa berbagi panorama ini denganmu,
Kanya. Gambar yang dulu hanya kulihat pada adegan lm atau foto di
majalah, sekarang ada di hadapan mata. Aku berharap engkau ada di sini.
Kebekuan ini akan indah oleh keberadaanmu. Cuaca dingin ini akan
menghangat oleh senyummu.

Aku sedang berjuang, Kanya. Engkau tahu aku selalu memperjuangkan setiap

bagian hidupku. Sekarang, perjuangan ini sampai pada tahapan paling berat.
Aku berharap mampu bertahan. Agar aku bisa menyaksikanmu lagi. Entah
kapan dan sebagai apa.

Setiap embusan napas di kota yang dingin ini adalah doa. Semustahil apa
pun cerita kita, aku tidak akan menyerah begitu saja. Setidaknya engkau tahu,
aku ada. Di belahan bumi yang berbeda, aku menyebut namamu.

Serpihan salju menerpa wajahku, seperih ujung jarum. Bersamaan ketika
sepedaku menembus jalan besar Stadsgardsleden dan berbelok ke tujuan
perjalanan: Glasbruksg.

Gh a 19

Seperti Buah Kul d i

A “r du klar?”
Aku hampir membuka kotak makan siang ketika Pak Matteo muncul dari
dapur, menghampiriku yang hendak mengisi perut sambil duduk di depan
pintu dapur, menghadap gang sempit sebelah restoran.

Dia bertanya dengan kalimat itu setiap memintaku pergi mengantarkan
pesanan makanan.

“Saya baru saja tiba, Sir. Saya selesai mengantar pesanan ke daerah
Tavastgatan. Itu cukup jauh.”

“Bagaimana lagi, pesanan sedang ramai. Sekarang ada pengiriman ke Svea
Hovrätt.”

“Itu tidak jauh dari Stasiun Gamla Stan, bukan?”
“Ja.”
“Boleh saya makan dulu?”
“Get your act together. Pelanggan pun kelaparan. Låt inte chanson gå förlorad.”
Pak Matteo memakai kalimat itu lagi. Campur-campur Inggris dan Swedia.
Bahwa aku harus bersyukur karena mendapatkan pekerjaan di restorannya.
Seharusnya tidak kusia-siakan. Aku menutup kotak makan siangku.
Memasukkannya lagi ke tas, lalu aku mengangguk tanpa bicara apa-apa. Aku
kembali ke dapur, mengambil pesanan makanan yang sudah dikemas dalam
kotak penghangat.
Pak Matteo memperhatikan setiap gerak-gerikku. Sejak masuk dapur hingga
mendorong pintu, menghampiri sepedaku. Beberapa saat kemudian, aku
sudah kembali menembus gerimis salju pada pekan kedua kerjaku.

Benar kata beberapa kenalan, bekerja pada musim dingin terasa lebih berat
bukan hanya karena hawa yang begitu dingin dan menyakitkan. Pekerjaan
menumpuk karena yang mengerjakan berkurang. Aku sampai tidak punya
waktu untuk memakan nasi beku dan lauk telur mata sapi yang kusiapkan
ketika keluar asrama siang tadi.

Jadwal kuliah pada pagi hari berarti siang sampai malam aku ada di jalan.
Menyelamatkan perut orang-orang, sewaktu perutku sendiri keroncongan.
Aku tidak ingin bersikap dramatis, tapi hari-hariku belakangan sanggup
membuat siapa pun menangis.

Di jok sepeda, sembari menembus lalu lintas lengang, aku membayangkan
apa yang akan dilakukan Pak Haji jika tahu, aku bekerja begini keras untuk
membiayai hidupku. Mungkin dia akan menyuruhku pulang hari ini juga. Dia
akan memesan tiket penerbangan pertama. Dia tidak akan sanggup melihatku
menderita.

Akan tetapi, aku tidak merasa menderita, sebenarnya. Aku sedang
menempuh sebuah perjuangan untuk sekadar bertahan. Tulangku masih
muda, napasku masih ringan. Aku tidak akan membiarkan semangatku
melemah apalagi menyerah.

Pemikiran itu menguatkan kayuhan sepedaku. Aku tetap mengatur kecepatan
dan memperhatikan jalan dengan penuh kewaspadaan. Beberapa hari ini suhu
naik, meski salju tetap turun sesekali. Kurasa ada di tiga sampai lima derajat.
Bagi badan tropisku, suhu itu tetap dingin. Tapi, bagi jalanan Stockholm,
cuaca ini mengundang bahaya. Sebab, sebagian salju akan mencair, membuat
sebagian rute melicin bukan main.

Beberapa tanjakan membuat kakiku mendorong lebih kuat. Keringat
merembes dan membuat badanku semakin basah dan dingin. Aku terus
mengayuh, berharap perjalanan segera selesai. Melewati Munkebroleden,
Stasiun Gamla Stan, setelahnya. Berikutnya merapat ke kawasan Svea Hovrätt.

Aku mengetuk pintu apartemen di lantai lima itu dan seorang anak muda
membukanya.

“Mengapa lama sekali?”
Aku menyerahkan kemasan pasta sambil menahan emosi. “Maaf, pesanan
sedang sangat banyak.”
Anak muda itu sepertinya mahasiswa internasional, sama denganku. Dia
berambut merah keriting, bermata biru, kulitnya terang.
“Berapa?”

Aku menyerahkan nota tagihan. Dia membayarku sesuai dengan angka
dalam catatan. Tidak ada tip kali ini. Pintu tertutup, aku menuju lift. Keluar
dari lobi aku hampiri sepedaku di parkiran sepi apartemen ini. Hanya ada
sepedaku terkunci dengan roda masuk ke area besi.

Tempat parkir sepeda di apartemen milik pemerintah. Ada persis di pinggir
jalan, seperti pada semua pusat keramaian. Bentuknya berupa jajaran lima
segitiga besi dengan pucuk tumpul. Tinggi segitiga tumpul itu kukira lebih
dari dua meter. Jarak antarsegitiga cukup untuk empat sampai lima sepeda. Di
bagian atasnya ada wadah setengah lingkaran memanjang seperti talang
penyalur air hujan, berfungsi sebagai pot. Tanaman menjuntainya memutih
oleh salju.

Salju sedang tidak turun, tapi udara tetap menggigilkan badanku. Musim
dingin pertama dan aku tidak punya waktu untuk beradaptasi. Tidak dengan
bertahan di kamar, bergelung selimut dan mengintip jendela sesekali. Bernapas
ke udara menjadi asap menyembur bagai tiupan naga.

Aku sudah mengalami bagian terburuk dari musim dingin bagi tubuhku dan
berharap tidak ada yang lebih buruk dari itu. Hari-hari pertama, aku sampai
mimisan karena dinginnya udara. Menghirupnya pun menyakiti
penciumanku. Memecahkan beberapa pembuluh darah di hidungku. Mata
perih, kulit kering bukan main, bibir gemetaran sepanjang hari.

Obat-obatan dan botol-botol perawatan tubuh yang dibekalkan oleh Bu
Suganda benar-benar berguna. Aku tidak pernah mengira sebelumnya. Setiap
hari sepulang kuliah, selain mandi air hangat, aku harus mengoleskan
pelembap ke hampir seluruh kulitku. Begitu juga bibirku. Bahkan, obat tetes
mata sangat membantu. Sebab, mataku menjadi sangat kering, perih sepanjang
waktu. Aku meneteskan cairan supaya mataku lembap. Mengurangi
kepedihannya.

Hari ini bukan berarti lebih nyaman. Tubuhku tetap saja kedinginan,
kesakitan. Tapi, paling tidak aku sudah memperkirakan sakitnya, bekunya. Jadi
tidak ada kekagetan yang kurasa.

Aku mengeluarkan sepeda dari “segitiga parkir” dan kembali melaju di jalan
raya. Menggelinding di jalur kanan, pada jalur pejalan kaki yang kini putih
sama sekali. Aku mesti lebih dulu ke jalur penyeberangan khusus sepeda
sebelum berbalik arah menuju tempat bekerja. Setelah menyeberang, aku
kembali mengayuh dengan tenang.

Di jalur tengah, bekas ban mobil membuat jalur sendiri di tengah salju.

Hitam di antara putih. Mobil yang lewat pun cenderung mengikuti pola itu
karena lebih menguntungkan bagi roda mobil mereka.

Aku meluncur ke turunan dengan dada lebih deg-degan. Ketika jalurnya
terlampaui, lega bukan main rasanya. Aku lalu merapat ke kawasan Gamla
Stan. Tidak ideal, tapi mungkin aku bisa menemukan sebuah ceruk bangunan,
pojok gedung, emper toko, atau apa pun untuk bisa membuka bekalku dan
mengisi perutku.

Kustandarkan sepeda di tempat parkir, lalu aku menghampiri stasiun metro.
Diusir petugas setelahnya pun tak apa. Semoga tidak sampai kena denda. Aku
perlu makan. Bekalku pun mungkin sudah sangat mendingin.

Di depan pintu stasiun yang ramai orang, persis di bawah jendela kaca, ada
kelebihan marmer yang cukup untuk duduk. Kali ini kosong karena orang-
orang memilih untuk masuk ke stasiun yang lebih hangat dan musim dingin
bukan waktu untuk duduk-duduk melihat lalu-lalang orang.

Aku duduk di sana dan membuka kotak perbekalanku. Sementara
penumpang kereta yang jumlahnya berkali lipat dibanding musim-musim
lainnya, keluar dari pintu itu.

“Hej!”
Seorang ibu berjaket supertebal menyapaku. Aku tidak tahu mengapa dia
tersenyum sambil menatapku dengan simpati. Mungkin dia kasihan. Dia
keluar dari stasiun sembari sesekali menoleh kepadaku.
“Hej.” Aku membalas sapaannya dengan kikuk.
Aku belum lama tahu bahwa sebagian orang Swedia suka menyapa, bahkan
kepada orang-orang yang baru pertama bertatap muka.
Tidak menunggu keadaan terasa lebih patut, aku lalu menyantap makan
siang sekaligus sarapanku hari itu. Nasi basmati beku dan telur mata sapi yang
dingin bukan main. Hampir seperti makan es batu dinginnya. Tapi, aku tetap
memakannya, demi mendapatkan tambahan tenaga.
Aku lihat tak jauh dari pintu stasiun, antrean orang memasuki sebuah tempat
yang sepertinya menyenangkan. Setidaknya bagi orang-orang yang, masuk
pun, berdesakan dalam antrean. Mungkin semacam kafe atau tempat hiburan.
Tempat orang-orang yang berlebih uang.
Aku tidak hendak mendramatisasi keadaan, tapi kurasa ini memang cukup
menyedihkan. Tapi, aku tidak akan pernah menangis oleh karena merasa
menderita. Aku sudah membuat sebuah pilihan, lebih dari kekuatanku akan
tetap kuusahakan.

Sembari mengunyah aku memikirkanmu, Kanya.
Setidaknya aku masih bisa makan dan darinya kuperoleh kekuatan. Sebab,
perjalanan pulang masih panjang. Aku perlu mengumpulkan banyak kekuatan.
Bagaimana denganmu hari ini? Semoga engkau bisa makan kenyang, Kanya.
Mudah-mudahan tidurmu cukup, mimpimu indah.
Memikirkanmu adalah bumbu makananku. Aku menyelesaikannya dengan
mengingat memori kita di kereta. Aku memastikan tidak ada sisa makananku
yang menyampahi lantai. Aku kemudian meninggalkan pintu stasiun, bersiap
kembali berkendara di jalan raya.
Mungkin Pak Matteo akan mengomeliku lagi karena terlambat sampai ke
dapurnya. Tapi, aku tidak terlalu memikirkan itu. Dia mengupahku, tapi tidak
memiliki hidupku. Aku merasa sudah cukup berdedikasi terhadap pekerjaan
ini. Pekerjaan yang tidak akan kugeluti sampai mati.
Perjalanan sepedaku semakin mengarah ke dermaga. Beberapa kali aku
menghantamkan roda ke gundukan salju keras agar remnya berfungsi lebih
paten. Mengerem di permukaan es tidak akan berguna. Hanya akan
menggelincirkanku.
Pada belokan Karl J. Tong yang bersambung dengan Jalan Raya Skeppsbron,
aku berusaha untuk tidak membelok tajam. Arah roda melengkung lebih lebar.
Pada saat itu aku mendengar teriakan, lalu seketika aku kehilangan kendali.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Rasanya cepat sekali. Aku terlempar ke
jalan raya bersalju.
“Allah!”
Aku sempat meneriakkan itu, sebelum badanku terempas ke aspal. Kepalaku
terbentur. Aku berusaha menahan dengan tanganku sehingga benturan itu
tidak terlalu fatal.
Aku tersaruk ke tumpukan salju. Sakit, maka terhentilah badanku. Detik
seperti berhenti. Mataku menatap langit putih lengang tanpa awan.
“Kamu tidak apa-apa?”
Putihnya langit terisi sebuah wajah. Siapa dia, entah.
“Saya tidak tahu,” jawabku lugu, “... tapi sepertinya saya baik-baik saja.”
“Tunggu sebentar,” wajah itu, lelaki yang mungkin umurnya dua kali
umurku, “... saya akan mencari bantuan.”
Aku memastikan tidak ada bagian tubuhku yang fungsinya berkurang.
Kugerakkan tangan, kaki, kepala, perlahan-lahan. Aku lalu berusaha duduk,
dan baru kurasakan ada yang tidak beres di lengan kanan.

Aku benar-benar berharap tidak ada yang serius pada lenganku.
Lelaki yang tadi menyela pemandangan langitku datang lagi. Sebuah mobil
ikut merapat ke pinggir.
“Saya akan membawa kamu ke rumah sakit,” katanya.
Seorang pengendara juga keluar dari mobilnya, menghampiriku. Dia
tampaknya seorang pekerja sukses yang hendak berangkat ke suatu lokasi
bisnis. Aku melihat dasi menyembul di balik jaketnya. “Bagaimana
keadaanmu?”
“Saya baik-baik saja.” Aku berusaha berdiri. Dia membantuku.
“Kamu tetap harus diperiksa dokter,” kata pemilik mobil.
Si bapak-bapak yang pertama menopang punggungku. “Saya minta maaf
karena menabrakmu. Mari saya bantu.”
Rupanya, sepeda si bapak menabrakku dari belakang. Aku menoleh ke
sepedaku yang tergeletak di salju. Satu lagi sepeda berdiri tersandar di
sebelahnya.
Dingin udara lebih menyiksa dibanding hari-hari sebelumnya.

“UNTUK sementara kamu harus berpisah dengan sepedamu.”
“Aku tidak apa-apa, Dru.”
“Tidak apa-apa bagaimana?” Dru tampak sebal. “Kamu beruntung hanya

sepeda menabrakmu. Tapi, lain kali bisa saja lebih parah.”
Aku merasa tersanjung sekaligus malu ketika Dru dan Ben muncul di rumah

sakit ini. Bapak-bapak yang menabrakku itu tidak mau meninggalkanku,
kecuali aku memberikan nomor seseorang yang aku kenal. Aku tidak akan
memberikan nomor Pak Matteo karena kukira dia tidak akan merespons ini
kecuali sebagai gangguan kerja saja.

Nomor telepon Nina ada di kamar asrama, belum kupindahkan dari
lembaran brosur itu. Lagi pula aku tidak ingin merepotkan dia. Dia teman
yang banyak membantu, tetapi tetap saja dia orang lain. Di tasku hanya ada
kertas pemberian Ben yang ditulisi nomor telepon dia dan Dru.

Akhirnya, aku mengizinkan bapak-bapak itu menelepon Ben, karena
setidaknya dia dan aku sesama orang Indonesia. Aku hanya ingin dia bisa
meninggalkan aku dan kembali kepada keluarganya. Setelah masa observasi

selesai, mungkin nanti sore, aku bisa kembali ke asrama. Itu saja. Namun, yang
terjadi adalah, Ben betul-betul datang dan dia tidak sendirian. Dru ikut dan
terus berbicara seperti rentetan senapan.

“Aku harus bekerja, Dru,” aku yakin Dru tidak akan bisa memaksakan
kehendaknya kepadaku, “mungkin aku harus memperbaiki sepedaku, tapi aku
harus kembali bekerja secepatnya.”

“Orang yang menabrakmu itu bertanggung jawab, Kash?”
Ben menyela perdebatanku dengan Dru.
“Iya, Ben. Dia akan mengirim sepedaku ke asrama setelah keadaannya seperti
semula.”
“Mengapa kamu tidak pikirkan ulang tawaran Ben waktu itu, Kash?” Dru
masih memburuku, “setidaknya selama musim dingin kamu bisa bekerja di
Bar omas. Demi keselamatanmu.”
“Aku tidak bisa, Dru.”
“Apa yang kamu khawatirkan?”
“Itu terlalu prinsip bagiku.”
“Kalau kamu anggap bekerja di bar itu haram, semua pegawai bank,
pegadaian, hotel, sebagian supermarket di Indonesia juga makan uang haram.
Hampir semua bank, kan, membungakan uang? Sebagian supermarket dan
banyak restoran hotel juga menjual miras.”
“Lalu,” Dru tidak tampak hendak selesai menceramahiku, “... makanan Italia
yang kamu antar itu, memangnya bisa kamu pastikan bebas dari babi?”
Aku terdiam. Tidak terbayang Dru bisa mendesakku sampai ke titik itu. Aku
tidak punya cukup pengetahuan untuk mendebatnya.
“Tapi, Dru ….”
“Kalau masih tapi-tapi, aku kirim Ziggy dan teman-temannya ke sini.
Menemani kamu di ICU.”
Aku terbungkam. Ben yang berdiri di sebelah dipan pasien melongo. Dia
bertanya dengan sungguh-sungguh, “Siapa sih, Ziggy ini? Kalian membuatku
penasaran saja.”
“Intinya, setelah kamu sembuh, kamu datang dulu ke tempat omas,” Dru
mulai bersikap seperti ibu yang mengomeli anaknya, “setelah ke sana, terserah
kamu mau apa. Mau menyanyi, bersih-bersih, jadi pramusaji, kerja di dapur.
Banyak pilihan yang aman. Bekerja di bar tidak berarti setiap saat kamu
minum bir.”
Ben menoleh kepadaku. Dua alisnya terangkat. Senyumnya aneh. Wajahnya

seperti berkata, Jangan membantah atau Dru akan semakin marah.
“Bukankah ini waktunya kamu mengatakan sudah kubilang, Ben?”
“Tidaklah, Kash,” Ben seperti hendak memamerkan sikap paling bijak

sedunia, “siapa orang yang mau celaka. Tapi, kurasa kamu harus memikirkan
masukan Dru tadi. omas akan senang menerimamu.”

Aku memikirkannya betul-betul. Kulihat Ben dan Dru bergantian. “Kukira
mengunjungi omas tidak ada salahnya. Selanjutnya bagaimana nanti saja.”

“Itu baru temanku.” Ben menepuk bahu kananku. Seketika aku menjerit
menahan sakit.

AKU masih ragu, tapi benar-benar tidak bisa menolaknya. Sekeluarku dari
rumah sakit, Dru dan Ben mengantarkanku ke asrama. Mereka memastikan
sepedaku kembali dengan keadaan prima.

Ben mengurus keterangan dokter untuk kampus, sedangkan Dru bolak-balik
ke asrama untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia membawakan sarapan
paling enak yang pernah aku makan. Aku ragu dia memasaknya sendiri. Dia
lalu memesan makanan untuk makan siang dan makan malam atas namaku.

Pada hari ketiga setelah kecelakaan kecil itu, kami membuat janji bertemu di
bar omas. Aku tidak pernah menyadari bahwa tempat itu sering aku lewati.
Letaknya sangat dekat dengan stasiun metro. Aku bahkan mengamatinya dari
tempatku makan nasi beku waktu itu. Tapi, tetap tidak membatin, apalagi
menduga-duga, hari ini aku akan mendatanginya.

“Selamat siang.”
Aku mendorong pintu kaca dan menemukan tiga orang menungguku di
samping meja. Mena kan kenyataan bahwa dagangan pokok tempat ini adalah
miras, seluruh ruangannya memang sangat berkelas. Pemiliknya jelas
membayar seorang arsitek mahal untuk itu.
Secara keseluruhan, kesan yang ditangkap pengunjung adalah nyaman.
Elemen kayu lapis mendominasi. Dimainkan dengan komposisi baik pada
lantai, dinding, langit-langit. Meja biliar di sisi kanan pintu, papan sasaran
panah di beberapa lokasi.
Meja bar yang memisahkan pengunjung dan bartender memanjang dengan
kursi-kursi kayu tinggi. Di kursi itulah Dru, Ben, dan mungkin omas

duduk menungguku. Di meja ada dua botol bir dan satu Coca-Cola.
“Halo, Kash.” Dru menyambutku tanpa turun dari kursinya. Ben begitu

juga. Aku menyalami mereka satu per satu.
“Aku omas.” Dugaanku benar rupanya. Memangnya siapa lagi? Mulyana?
“Aku Ben,” canda Ben lama melepas tanganku.
“Ambil bangkumu sendiri, Kash,” kata omas.
Aku menurut. Aku geser bangku setinggi pinggang itu agar berposisi

nyaman, kami membentuk lingkaran.
omas bertanya, “Bagaimana tanganmu?”

“Memar sedikit. Sekarang sudah jauh lebih baik.”
“Syukurlah.”
Aku memutar pandangan ke seluruh ruangan.
“Aku baru sadar sering lewat di sini.”
“Oh, ya?” omas menampakkan antusiasme, “sayang sekali kamu belum
pernah mampir.”
Aku tertawa kikuk. Sebelum ini memang aku tidak akan, bahkan sekadar
berpikir untuk mampir. omas mungkin akan sulit memahami, tapi orang
Swedia sepenuhnya menghargai pilihan orang lain dan tidak ingin
mencampurinya.
“Kashmir ini mahasiswa KMH, omas. Mungkin dia bisa mengisi live music
bar ini juga, sesekali.”
“Oh, ya?”
Oh, ya yang kedua. Kukira omas orang yang menyenangkan. Dia berusaha
membuat lawan bicaranya merasa dihargai dan menarik. Dia lelaki rata-rata
Swedia yang mewarisi DNA ras Aria Jerman. Mungkin orang akan lebih ingat
dia karena matanya seperti lelaki yang sedang mengalami patah hati. Kelopak
matanya mencolok, tulang alisnya menjorok ke depan, seperti kanopi.
“Dru terlalu berlebihan. Aku masih amatir.”
Bukan bermaksud merendah. Tentu saja aku merasa tidak pantas menjadi
bagian dari sebuah performa yang terkesan mahal ini.
“Kamu bisa belajar,” omas mungkin ingin menghiburku, “bar ini
menampilkan musik khas Swedia. Menurutku bagi mahasiswa KMH, tidak
akan susah mempelajarinya.”
“Itu semacam dangdut bagi orang Indonesia, Kash,” timpa Ben, “musiknya
para Viking.”
Aku mengangguk. “Folk music. Kami mempelajarinya di kuliah.”

“Nah,” omas mengangkat dua tangan, “aku tidak perlu buka lowongan
pemain gitar.”

Mereka bertiga tertawa dengan gaya berbeda. Aku sedikit menyumbang saja.
“Kalau aku tampil sekarang mungkin semua pelangganmu akan pergi,

omas.”
“Var inte så blygsam, Kashmir. Jangan terlalu merendah.”
“Paling tidak aku bisa membantu membersihkan,” aku mengelilingkan
pandanganku, “bar yang sudah bersih ini. Membuka tutup pintu. Apa saja,
sambil menonton live music dan berharap ada yang bisa aku pelajari dari sana.”
“Har du bestämt dig?” Dru menyelaku dengan bahasa Swedia yang fasih.
Bertanya apakah aku sudah mengambil putusan. Pada tatapannya kulihat ada
rasa lega dan gembira.
Ben menyambar, “You have to bite the bullet, Kash.”
“Menggigit peluru?” tanyaku, “apa?”
“Itu idiom. Lupakan. Maksudku kamu tampaknya tidak punya pilihan.”
“Daripada Dru kirim Ziggy ke kamarku.”
Semoga Tuhan mengampuniku.
Ben tertawa lantang, Dru mengangkat ibu jari, sedangkan omas ingin
tahu, arti kalimatku bagian bahasa Indonesia barusan.
“Untuk Ziggy!” Ben mengangkat botol birnya, mengajak bersulang. omas
menyambutnya sambil tertawa dengan gaya terserah kamu saja, deh.
“Coca-Cola, Kash?” Dru menawariku.
“Terima kasih, Dru,” aku mengambil botol minumku sendiri, “aku bawa
sendiri.”
“Kamu benar tidak pesan bir, Dru?” omas bertanya dengan raut muka
penasaran.
“Aku sudah berhenti minum alkohol, omas.”
“Oh, ya? Sejak kapan?”
“Baru saja,” jawab Dru santai.

omas mengangkat botolnya tinggi-tinggi. “Semoga sukses.”
Mereka tertawa lagi.
Bukan hanya detik ini, sedari berangkat kemari pun aku sudah merasakan
ketidaknyamanan yang sangat mengganggu. Walau aku penuhi pikiranku
dengan pembelaan bahwa yang sedang aku lakukan ini bisa dibenarkan, ajaran
moral yang melekat di kepalaku menolaknya. Aku tetap menggelisahkan
prospek shalatku, upah yang nanti kuterima, akibatnya pada hidupku.

“Jadi, kapan kamu bisa mulai bergabung, Kashmir?” tanya omas.
Aku agak gelagapan, sebab di benakku masih berseteru berbagai pemikiran.
“Hari ini, barangkali?”
Ajaran moralku kalah. Aku merasa sebagian diriku rebah.
“Mengapa tidak?” omas tampak semangat, telapak tangannya terbuka,
“anggap saja rumah sendiri.”

SEPULANG dari kampus, aku langsung menuju toko Aa Ahmad. Tidak
banyak waktu lagi. Sebab, sebelum sore aku sudah harus sampai di bar

omas. Karena itu, aku hendak menemui Aa Ahmad lebih dulu. Sampai di
toko, ada beberapa pembeli yang sedang antre di meja kasir, dan aku pilih
menunggu sambil melihat-lihat katalog produk terbaru.

“Kamu lupa di mana tempat beras, Kashmir?”
Aa Ahmad menyapaku sembari menghitung belanjaan seorang ibu dengan
pakaian serbahitam dan bercadar.
“Hari ini saya tidak belanja, Aa Ahmad. Saya ingin berbicara sebentar
denganmu.”
“Baiklah.” Aa Ahmad sibuk lagi dengan pembelinya.
Setelah mereka menyelesaikan urusan pembayaran, baru aku maju.
“Ya?” Aa Ahmad memberiku senyuman hangat, “aku melihat wajahmu
seperti sedang bergembira.”
Aku merogoh tas, mengeluarkan amplop. “Cicilan sepeda saya, Aa Ahmad.”
Aa Ahmad melihatku dulu, tidak segera menerima amplop pemberianku.
“Aku tidak memaksamu untuk buru-buru mencicilnya, Kashmir.”
“Saya sudah bekerja. Sebagian upah saya bisa untuk mencicil sepeda.”
“Benarkah,” Aa Ahmad tampak bergembira untukku, “Alhamdulillah. Allah
membuka pintu rezeki untukmu. Di mana kamu bekerja, Kashmir?”
“Kawasan Gamla Stan.”
“Kawasan mahal. Syukurlah. Upahmu pasti lumayan.”
“Alhamdulillah, Aa Ahmad. Saya bekerja sebagai petugas kebersihan.”
Aa Ahmad mengangguk-angguk. “Itu pekerjaan mulia. Kebersihan adalah
sebagian iman. Semoga Allah mengangkat derajatmu.”
“Amin.”

“Kamu bekerja di museum atau,” Aa Ahmad mengayunkan lehernya, “istana
raja?”

Aku sudah menyiapkan jawabanku sebelumnya. “Tempat orang makan, Aa
Ahmad.”

“Tentu saja. Di Gamla Stan banyak restoran dan toko roti.”
Aa Ahmad tertawa, aku mengikutinya.
“Asal jangan bekerja di bar atau kafe yang menjual makanan dan minuman
haram. Hidupmu tidak akan berkah.”
Tawaku semakin kikuk. Patah-patah.
“Kamu tidak bekerja di bar, bukan?”
“Tentu saja tidak, Aa Ahmad.”
Kebohongan pertamaku di Swedia.
“Alhamdulillah,” Aa Ahmad mengambil amplop di meja, “kalau uang haram,
saya tidak mau. Nanti anak istri saya makan uang haram. Hidupnya tidak
berkah.”
“Iya, Aa Ahmad. Tentu saja,” aku tidak bisa berlama-lama memainkan
kebohonganku, “saya harus segera berangkat bekerja. Insya Allah, saya akan
mencicil setiap bulan.”
“Amin,” Aa Ahmad bangun dari duduk, dia angkat dua tangan,
mendoakanku dengan kepala terangkat. Dia lalu mengajakku bersalaman,
memelukku kuat-kuat, “berangkatlah Kashmir.”
Aku mengangguk-angguk saja. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku keluar dari toko Aa Ahmad dengan pikiran gundah. Rasanya, bahkan
lebih baik jika upah kerja di bar kumakan sendiri dan bukan kuberikan kepada
Aa Ahmad. Setidaknya dosanya menjadi dagingku dan bukan darah keluarga
Aa Ahmad. Bukan kepanjangan napas anak istrinya.
Sempat terpikir untuk menukar jatah uang beasiswa dan penghasilanku di
tempat kerja. Uang pemerintah kuberikan sebagian kepada Aa Ahmad dan
upahku per minggu untuk kebutuhanku pribadi. Tapi, berbelanja pun aku
datang ke toko Aa Ahmad. Akhirnya, sama saja. Ditambah penghasilanku
bekerja di bar, seluruh uang yang kupegang setiap bulan masih pas-pasan.
Sangat membantuku untuk makan dan membeli buku-buku, tapi tidak bisa
lebih dari itu.
Aku mengayuh sepeda menuju tempat bekerja dengan badan menggigil.
Bukan hanya karena hawa di bawah nol derajat, melainkan juga disebabkan

oleh rasa bersalah sudah berbohong kepada Aa Ahmad. Mungkin, itu
kebohongan serius pertama yang pernah kulakukan seumur hidup.

Engkau akan lebih mudah memahamiku, Kanya. Sebab, engkau tahu prinsip
hidupku. Semua kemudahan dari Pak Haji pun tidak kuterima. Bahkan, meski
aku sudah tahu dia hanya mengelola uang warisan keluargaku. Keras kepalaku
bisa memecahkan batu.

Akan tetapi, sekarang aku telanjur kalah oleh keadaan. Aku berkompromi
dan menciptakan kebenaranku sendiri. Sesuatu yang menggelisahkan batinku,
tetapi tetap aku jalani. Seumpama Adam saat ia memetik buah kuldi.

Engkau tahu aku Kanya. Aku memperlakukanmu dalam rasa takut kepada
Tuhan. Engkau seperti Ramadan, amat sendu kuperlakukan. Engkau selalu ada
pada versi terbaik dari dunia.

Sekarang, ketika Ramadan sungguh-sungguh datang, apakah takdir kita akan
semakin berjauhan?

BAGIAN yang nyaris tak tertahankan dari Ramadan kali ini bukanlah musim
dingin yang membuat persendian ngilu, kulit terkelupas, atau hidung sakit dan
berdarah, melainkan rasa sepi yang menyakitkan. Aku tidak hidup di gunung
dan menjadi manusia satu-satunya yang tinggal di sana. Di sekelilingku begitu
banyak orang, tapi aku menjalani puasa ini sendiri. Seumur hidupku itu tidak
pernah terjadi.

Hanya aku yang terbangun pukul 8.00 pagi ketika semua manusia masih
terlelap. Sewaktu langit masih gelap. Menghangatkan apa saja yang masih
tersisa, menyeduh teh untuk membuat badanku sedikit bersemangat. Berpuasa
sampai pukul 3.00 sore sama sekali tidak menyiksa. Itu sebentar saja. Tapi,
kesendirian ini yang membuatku merasa frustrasi.

Aku berbuka di antara aroma bir dan musik pesta di bar omas. Tidak ada
kegembiraan seperti tahun-tahun sebelumnya, sewaktu azan Maghrib
berkumandang dan semangkuk kolak menggelincir di tenggorokan.
Memaniskan keimanan. Di tempatku sekarang, tidak ada azan, tidak ada takjil,
bahkan di sekelilingku tak ada yang menyadari aku sedang berpuasa. Mereka
bahkan tidak tahu apa itu Ramadan. Mengapa puasa harus dilakukan.

Menyela waktu membersihkan meja-meja bar, mengepel lantai, mengelap

kaca-kaca, aku meminta izin kepada omas untuk menyelinap ke ruang
ganti. Aku membuka ransel, mengeluarkan bekal berbukaku. Tidak ada yang
istimewa. Aku tidak sempat memasak apa-apa. Hanya pisang dan buah sisa
belanja di toko Ahmad Khan, kemarin. Lalu, air bening yang kumasak di
asrama.

Aku duduk bersandar di loker besi dan berusaha menikmati.
“Allahuma lakasumtu …,” doaku terhenti di situ. Seketika teringat masa kecil
sewaktu Pak Haji mengajariku. Ramadan yang selalu berkesan. Setiap sahur,
Pak Haji membangunkanku dengan lembut. Mengajakku bergabung di meja
makan, sementara Pipin melanjutkan tidur dengan kepala lunglai di meja.
Pak Haji selalu mengajakku ke masjid sepanjang waktu. Subuh hingga subuh
lagi. Setiap waktu magrib tiba, aku bersama teman-teman sebaya sudah
berlomba-lomba menebak menu takjil hari itu apa. Biasanya tidak pernah
membuat kecewa. Kolak, es buah, gorengan ….
Ah … masa lalu.
Aku menggigit pisangku dan punggungku mulai berguncang oleh kenangan.
Air mataku berlelehan menemani kesendirian. Isak tak bisa kutolak. Berkali-
kali aku hapus air mata dan kenangan itu berkali-kali kembali.
“Kashmir.”
Aku buru-buru menyeka air mata. Menoleh lebih dulu, memastikan kering
pipiku.
“Kamu tidak apa-apa?”
Ben berdiri di pintu ruang ganti. Dia tampak sedikit salah tingkah.
Aku memberinya senyum. “Aku baik-baik saja.”
Ben menghampiriku. “Boleh aku duduk?”
“Silakan.”
Ben duduk di sebelahku. Kedua kakinya dilipat, punggungnya menyandar di
lemari loker, meniru caraku.
“Pekerjaan ini terlalu berat buatmu, Kash?”
Aku menggeleng tanpa bicara.
“Ini Ramadan dan aku terkenang masa kecil. Itu saja, Ben.”
“Ramadan?” Ben memukul jidatnya pelan, “maafkan aku tidak
menyadarinya.”
“Wajar saja,” aku menggigit pisang, menyegerakan buka puasaku, “tidak ada
sirine di radio, tidak ada azan di televisi, tidak ada penjual kolak di jalan-jalan.”
“Lalu, bagaimana kamu tahu jadwal puasamu?”

“Aku punya toko langganan milik orang Muslim India. Aku mendapat
selebaran jadwal sahur dan berbuka dari dia.”

Ben mengangguk-angguk. “Aku benar-benar minta maaf karena tidak peka,
Kash.”

Aku menggeleng. “Bukan kewajibanmu, Ben.”
Aku menghabiskan pisangku, membereskan kulitnya. Ben menunggu. Dia
tidak ingin mengganggu ritualku.
“Kamu rindu keluargamu?”
Aku menyengalkan tawa. “Kira-kira begitu. Ramadan adalah saat terbaik
untuk berkumpul dengan sanak famili.”
“Aku pun mengalami hal seperti itu di Natal pertamaku, Kash.”
Aku menoleh dengan antusias.
“Seperti katamu, dalam keluargaku pun, Natal adalah waktu berkumpul
terbaik. Bertukar kado, menghias pohon Natal,” Ben tersenyum sendu,
“bagiku justru ramainya perayaan Natal di Stockholm membuatku sangat
merindukan kampungku di Toba.”
Kukira, Ben berhasil menciptakan rasa senasib satu penderitaan, denganku.
Menemani kesepianku.
“Apa yang kamu lakukan waktu itu, Ben?”
“Aku?” Ben menyentakkan bahu, “aku menelepon ke rumah. Berpura-pura
tidak menangis, mendengarkan suara Bapak, Ibu, dan saudara-saudaraku.”
Aku kehilangan senyumku.
“Itu tidak akan menghilangkan sedihmu, tapi bisa memberimu sedikit
kebahagiaan, Kash.”
Aku menunduk, mengangguk.
“Teleponlah ayah-ibumu. Itu akan sangat membantu.”
Aku diam sebentar. “Aku tidak punya orang tua, Ben. Ayahku meninggal
sebelum aku lahir. Ibuku menyusul sewaktu aku bayi.”
Ben agak tersentak. “Maaf, Kash.”
Aku menggeleng sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, Ben. Terima kasih
saranmu.”

AKU berdiri menggigil di depan toko cendera mata, tapi tak kunjung berani

memasukinya. Hanya melihat-lihat dari jendela kaca. Aku tidak yakin sisa
uangku cukup untuk membeli apa pun di toko itu. Tapi, aku tak akan sanggup
untuk tidak mengusahakannya. Ini Ramadan pertamaku di negeri orang. Akan
datang Ramadan-Ramadan lain. Saat terbaik untuk mengusahakan sebuah
perjumpaan.

Kanya, aku tahu, tak akan ada lagi perbincangan bermakna di antara kita.
Tapi, aku tidak akan menyerah untuk memberi tahu dirimu bahwa aku masih
mengingatmu, akan selalu menyimpanmu dalam pikiranku. Aku tidak punya
lagi kesempatan untuk meletakkan telapak tanganku di dada kiriku, dan
engkau melihatku melakukan itu.

Akan tetapi, aku ingin engkau tahu, engkau ada dalam ruang berpikirku. Aku
tidak akan sering mengingatkanmu. Cukuplah setiap Ramadan datang. Sebab,
engkau seumpama Ramadan bagiku. Engkau mengeluarkan sisi terbaik dari
diriku.

Aku telah meniatkannya. Aku akan mengirim sesuatu untuk ibumu. Sebab,
aku telanjur menyayanginya sebagai ibuku. Aku tidak akan lagi mengirim apa
pun kepadamu. Aku hanya akan menghadiahkan sesuatu kepada ibumu.
Cukup setiap Ramadan kembali. Agar ia tahu, aku begitu mengingatmu.

Akan tetapi, lihatlah aku, Kanya. Bahkan, aku tak punya daya apa-apa. Aku
tidak cukup mampu untuk membeli hadiah kecil untuk ibumu. Melihat
harga-harga yang tampak di sebalik kaca, aku mulai putus asa.

“Hej. Silakan masuk,” seorang ibu yang ramah wajahnya, energik gerakannya
menyapaku.

“Eh, saya hendak melihat-lihat saja.”
Dia fasih berbahasa Inggris. “Tidak apa-apa. Ayo masuk, Anak Muda.”
Aku menurutinya dengan ragu. Tapi, keramahan ibu itu meluluhkanku.
“Kamu mencari apa?”
“Cendera mata khas Swedia, Bu.”
Ibu itu tersenyum sangat lembut. Dia lalu mengambil sesuatu dari etalase.
“Tidak ada yang lebih mencerminkan Swedia dibanding Kuda Dala.”
Patung kecil segenggaman tangan. Tidak betul-betul berbentuk kuda. Tapi,
mungkin memang di sana nilai seninya. Bercat merah, dengan ornamen-
ornamen mirip batik menghiasi punggung, leher, dan surainya.
“Berapa harganya, Bu?”
Ibu itu menyebut harga, dan aku hampir membelalakkan mata. Uangku
bahkan tidak sampai setengahnya.

“Kuda Dala punya sejarah panjang, Anak Muda. Dulu, ada seorang petani
miskin membuatkan sebuah mainan kuda kayu untuk anaknya yang tidak bisa
bermain keluar rumah. Musim dingin berlangsung sangat lama dan
menyedihkan. Anak itu terhibur dengan kuda kayu buatan ayahnya dan
bermain di dalam rumah sampai musim dingin berlalu.”

Kisah yang menyentuh tentang mainan keluarga miskin. Namun, mengapa
kemudian mainan itu berharga sangat mahal? Terlebih untuk ukuran yang tak
sampai seibu jari?

“Uang saya tidak cukup, Bu.”
Ibu itu memperhatikan wajahku. “Untuk siapa Kuda Dala kamu beli?”
“Ibu saya. Saya sedang merantau. Bersekolah di sini untuk waktu lama.”
“Berapa uangmu?”
Aku mengeluarkan koin-koin sisa upahku setelah kuambil untuk cicilan
sepeda. Aku bahkan tidak punya cadangan untuk berbuka.
Ibu itu lalu kembali meraih kuda lain dari etalase. Ukurannya lebih kecil.
Mungkin sepanjang dua ruas jari kelingking.
“Uangmu masih belum cukup untuk membeli Kuda Dala seukuran ini,” dia
menyorongkan kuda kayu itu kepadaku, “tapi saya tersentuh olehmu.
Ambillah untuk ibumu.”
Aku merasa malu, tapi kemurahan hati ibu ini menguatkanku.
“Ambillah,” desaknya.
Aku menerima kuda kayu itu lalu kuserahkan uangku.
“Terima kasih banyak, Bu.”
Dia mengangguk-angguk. Aku lalu berpamitan. Kuda kayu itu kujaga benar-
benar. Kumasukkan ke kantong ransel supaya aman. Aku lalu menaiki sepeda,
meluncur ke asrama.
Aku tahu, mungkin ibumu tidak akan menghargainya sebagaimana aku
menilai kuda kayu ini dengan usahaku, Kanya. Kuda kayu mainan anak-anak
di Pasar Tanjungsari pun jauh lebih murah sekaligus lebih besar daripada ini.
Tapi, aku tetap membelinya. Sebab, kuda kayu ini mewakili keberadaanku di
Swedia. Menceritakan perjalananku.
Ada perasaan lega yang sulit kujelaskan ketika aku akhirnya punya sesuatu
untuk kukirimkan kepada ibumu. Sekadar tanda mata dariku. Mengabarkan
bahwa aku masih ingat kebaikan ibumu. Aku tidak akan melupakan sejarah
kita. Setiap ibumu melihat kuda kayu ini, dia akan tahu, jauh di seberang
benua, napasku masih berembus dalam perjuangan.

Aku tidak akan berkata banyak dalam suratku. Hanya ucapan selamat
Ramadan dan semoga Lebaran datang dalam kedamaian. Aku tidak akan
menyebut namamu. Tidak akan menanyakan kabarmu. Sebab, aku tidak ingin
membebanimu. Aku hanya ingin engkau tahu, masih ada telapak tangan di
dada kiriku, menggantikan tiga kata untukmu.

Aku sampai di asrama ketika salju mulai turun lagi. Serpihannya melayang
seperti ribuan kapas yang terbawa angin. Aku membawa sepeda ke parkir
dalam, melindungi minyaknya agar tak membeku. Setelahnya aku menuju
ruang pengelola. Ada yang ingin kulakukan di sana.

“Halo, Madam.”
Aku mengetuk pintu pengelola asrama. Madam Sam duduk di belakang
meja, seperti biasa. Dia masih menulis sesuatu di buku besarnya. Setumpuk
koran e Local ada di meja. Itu koran harian yang setiap pagi dilempar
pengantar koran ke pintu asrama. Terbungkus plastik pada edisi musim
dingin.
“Saya hendak memakai telepon.”
Madam Sam melirikku sedikit, lalu melirik meja telepon.
Aku anggap itu sebagai sebuah persetujuan. Aku lalu menghampiri telepon.
Menekan kombinasi angka yang sudah kuhafal dalam kepala.
“Assalamualaikum.”
Suara di seberang. Seketika membuat air mataku mengambang.
“Waalaikumsalam, Pak Haji.”
“Aa?” Suara Pak Haji mengencang. “Masya Allah, Aa. Alhamdulillah, Ya
Allah. Aa sehat? Pak Haji baru saja membatin. Aa bagaimana puasanya?
Sahurnya bagaimana? Makan apa untuk buka? Tarawih di mana?”
Aku tersenyum sembari menghapus air mata yang menitik.
“Satu-satu, Pak Haji.” Aku tertawa.
“Atuh da’ Aa tidak kirim kabar. Hanya kartu pos. Pak Haji mau telepon tidak
punya nomor Aa.”
“Saya baik-baik saja, Pak Haji. Ini saya telepon dari asrama.”
“Pak Haji minta nomor asrama, Aa. Jadi, kalau Pak Haji rindu bisa
menelepon.”
Aku tertawa.
“Aa buka apa sekarang?”
“Masih lama, Pak Haji. Di Swedia baru pukul 1.00 siang.”
“Naha beda?”

“Mataharinya juga beda, Pak Haji. Indonesia lebih dulu lima jam.”
“Meni aneh. Tapi, Aa sehat?”
“Sehat, Pak Haji. Masih adaptasi dengan musim dingin. Tapi sehat,
alhamdulillah.”
“Dingin mana dengan di kampung?”
Aku tertawa lagi. “Jauh Pak Haji. Di sini seperti hidup di dalam kulkas.”
“Euleuh … euleuh. Bisa jualan es lilin, atuh?”
Aku tertawa agak kencang. Madam Sam mendeham. Aku meliriknya, lalu
meminta maaf dengan anggukan.
“Pak Haji, Bu Haji sehat?”
“Alhamdulillah. Encok wungkul, A. Kadang-kadang kambuh.”
“Pipin masih susah bangun sahur?”
“Ah, anak itu. Harus diguyur air dulu baru mau bangun.”
“Sekolah Pipin bagaimana, Pak Haji?”
“Sekarang mah semangat pisan, A. Tidak tahu apa sebabnya. Sekolah rajin.
Bangun pagi langsung bangun, pakai parfum segala.”
Aku merasakan sesuatu. Kurasa aku tahu mengapa Pipin begitu.
“Masih naik kereta?”
“Iya. Naik motor ke stasiun. Kemarin beli motor butut di Pak Ojos. Tidak mau
pakai sepeda Aa. Katanya bikin keringatan.”
“Ya, biarkan saja, Pak Haji. Anak muda.”
“Aa kapan pulang?”
“Masih lama, Pak Haji.”
“Memangnya tidak ada liburan?”
“Ada. Hanya saya bekerja sekarang. Jadi kalau liburan justru waktu untuk
mencari tambahan uang.”
“Aa mah. Tidak di rumah tidak di luar negeri tidak mau diam.”
“Biar bergerak, Pak Haji.”
“Jangan capek-capek, A.”
Aku mengangguk seolah-olah Pak Haji bisa melihatku. “Pak Haji, selamat
Ramadan, ya. Semoga Ramadan tahun ini lebih bermakna. Maafkan saya
karena tidak bisa pulang Lebaran nanti.”
Suara Pak Haji melirih. Agak serak. “Aa teh jangan keasyikan di negeri orang,
A. Harus ingat pulang. Pak Haji sudah tua. Keburu Pak Haji meninggal.”
“Tidak boleh bicara begitu, atuh, Pak Haji. Pak Haji harus sehat, kuat.
Jangan lupa bahagia.”

“Kalau Lebaran tidak ada Aa mah sepi, A.”
“Ada Pipin, Pak Haji.”
“Pipin ulin wae. Main melulu.”
“Suatu saat saya pasti pulang Pak Haji. Tapi, saya harus menyelesaikan
sekolah dulu.”
“Jangan tinggalkan shalat, ya, A.”
Aku terdiam. Pesan sederhana itu selalu bisa membuatku terpaku. Air mata
kembali mengambang. Aku susah bicara tanpa menangis. “Iya, Pak Haji.”
“Manusia teh, mau khilaf bagaimana, mau dosa seperti apa, asal masih shalat,
insya Allah ada jalan insaf. Allah akan mengampuni.”
“Sumuhun, Pak Haji. Iya.”
Di antara segala kalimat bijak dan rumit sedunia, aku mudah takluk oleh
nasihat bersahaja, yang tidak ada perdebatan di dalamnya. Nasihat Pak Haji
yang berangkat dari cintanya, ketulusannya.
“Sudah dulu, Pak Haji, saya harus berangkat kerja.”
Alasanku sebenarnya, aku khawatir dia mendengar suara tangisku.
“Iya, A. Sing waras, sehat. Nomornya, A.”
Aku lalu mendiktekan nomor asrama. Pak Haji berkali-kali minta diulang,
sampai akhirnya terselesaikan. Aku lalu mengucap salam. Tertegun sebentar.
Aku menemukan Madam Sam memperhatikanku, tapi segera mengalihkan
pandangannya dengan buru-buru.
“Tagihan telepon saya antar ke kamar, akhir bulan.”
Aku mengangguk. “Baik, Madam. Terima kasih.”
Aku beranjak dari ruang itu, menuju kamarku. Melewati ruang lobi, kulihat
Chris sedang mengacak-acak koran bekas. Koran e Local yang terbit
seminggu terakhir. Menumpuk di bawah meja tamu.
“Halo, Chris.”
“He.”
Aku berlalu. Naik ke lantai kamarku. Setelah mendorong pintu, aku
menguncinya, menutup gorden pintu balkon. Dari ransel kuambil kuda Dala,
lalu duduk di dipan, perlahan rebah dan meringkuk kedinginan. Kuda Dala
kudekatkan ke wajahku. Kukecup dengan syahdu. Aku merindukan apa yang
tak sanggup kuperjuangkan.

Gh a 20

Kado dar i Dr u

K etika musim semi datang, tidak hanya dedaunan dan bunga yang
bermekaran, tapi juga harapan. Perkuliahanku semakin berpola dan aku
bisa mengaturnya. Kapan serius kapan sangat serius dalam menyiapkan segala
detailnya. Makalah, penelitian, pentas musik, semua bisa kuikuti meski tidak
semuanya memuaskan hati.

Nina berpamitan kepadaku untuk pergi ke Afrika, mengikuti misi
kemanusiaan selama satu tahun. Itu membuatku sedih. Tapi, dia berjanji
sekembali nanti, akan mengajakku mengunjungi desanya yang jauh. Janji yang
menghiburku. Aku tidak bercerita kepadanya tentang kecelakaan sepeda yang
membuatku menginap semalam di ICU itu. Aku tidak mau dia terlalu
mengkhawatirkanku.

Kelas bahasa Swedia telah kujalani tiga bulan lamanya dan sedikit-sedikit aku
mulai mampu berbicara. Cicilan sepeda telah kuselesaikan dan aku mulai
jarang mengunjungi toko Aa Ahmad Khan. Entahlah, mungkin rasa bersalah
atau memang perutku mulai beradaptasi dengan makanan Swedia. Meski tetap
memasak sendiri, sesekali, aku mulai terbiasa dengan roti.

Tidak ada hura-hura. Keseharianku tetap penuh penghematan. Aku sedang
merencanakan beberapa pembelian. Salah satunya gitar. Sebab, aku memang
membutuhkannya. Lebih dari itu, aku memang merindukannya. Meski di
kampus aku memainkan macam-macam alat musik, termasuk gitar, aku ingin
memeluk milikku sendiri. Agar bisa kunyanyikan lagu-laguku sendiri.

Aku juga mengirimimu kartu pos, Kanya. Sudah beberapa kali. Aku tidak
berharap engkau membalasnya. Tapi, aku berdoa semoga engkau sempat

membacanya. Dalam kartu pos aku tidak banyak menulis cerita. Sekilas hal
tentang Swedia dan doaku agar hari-harimu berjalan baik. Aku
mengirimkannya lewat alamat Pak Haji dan berharap Pipin mau
menyampaikannya kepadamu. Sebab, jika kukirim langsung ke alamatmu, aku
ragu bapakmu akan membiarkanmu membacanya, bahkan sekadar melihat
gambarnya.

Aku masih menjadi pekerja kebersihan di bar omas dan cukup bertanya-
tanya karena terlalu sering melihat Ben ada di sana. Dia tampaknya sangat
menyenangi suasana bar atau tidak bisa berpisah dengan bir. Tapi, untuk
datang hampir setiap hari di bar ini betul-betul mengagumkan. Dia
mengambil posisi di pojok ruangan, ditemani sebotol bir, menulis dengan
khidmat. Buku tulis tebal selalu dia bawa, dan kurasa, halamannya semakin
tipis setiap aku memergoki dia sedang menulis.

Aku mengira dia dan Dru datang dari keluarga kaya sehingga berkuliah di
Swedia tidak perlu beasiswa. Selain itu, mereka masih bisa hidup begitu santai.
Tapi, di tempatku yang baru ini, aku belajar untuk tidak banyak bertanya.
Setiap orang memegang penuh hidupnya sendiri-sendiri. Aku tidak perlu
terlalu ingin tahu. Bahkan, tentang Ben dan Dru.

Mengenai dua teman baruku itu, aku benar-benar hanya sedikit tahu. Tidak
pernah bertanya, mereka siapa sebenarnya. Di antara keduanya ada hubungan
apa. Aku bahkan tidak tahu apa agama keduanya. Aku tidak merasa kompeten
untuk bertanya. Tapi, mereka tahu aku seorang Muslim yang shalat. Aku
mulai tidak peduli bagaimana aku menilai diriku sendiri. Apalagi orang lain
yang menghakimi. Aku hanya perlu selembar sajadah untuk shalat di ruang
ganti dan berusaha menjaganya tetap suci.

Bar milik omas ini berbeda dari bayanganku sebelumnya. Sekarang aku
melihatnya sebagai tempat berkumpul, berbicara bisnis, bertemu teman,
sembari minum dan makan, ditemani musik hidup. Iya, minuman yang
disediakan kebanyakan beralkohol. Makanan yang menemani pun sebagian
berunsur daging babi.

Ini agak berbeda dengan pikiranku yang tercampur oleh adegan-adegan lm
kungfu, koboi, silat nusantara, yang hampir selalu dihiasi adegan warung tuak
berbagai versi yang berisi orang mabuk berat, jagoan berduel, barang pecah
belah berhamburan.

Di bar omas, seingatku belum pernah, setidaknya saat aku bekerja, ada
pengunjung yang mabuk berat, sempoyongan, bicara meracau, apalagi

membuat kacau. Seperti di kafe dan restoran saja. Semua orang bicara dengan
tenang, sesekali tertawa hingga tergelak, lalu pulang dengan tertib.

Masih ada sebagian pikiranku yang memberontak, mengatakan tidak. Tapi,
itu kalah oleh realitas bahwa akan sangat sulit sekali aku mendapatkan
pekerjaan yang benar-benar lepas dari unsur keharaman dalam referensi yang
aku yakini. Hampir semua restoran yang membutuhkan pramusaji
menyediakan wine, terlalu banyak menu makanan yang memakai unsur babi.

Peluangku mungkin ada toko-toko halal semacam Ahmad Khan yang sejak
aku datang sampai sekarang tidak pernah membuka lapangan pekerjaan. Aa
Ahmad mesti sangat berhemat karena harga dagangannya jauh di bawah toko
waralaba sehingga tidak banyak keuntungan yang dia kumpulkan.

Aku tahu, aku sedang membela diri. Menutupi ketidaknyamananku dengan
fakta bahwa aku belum bisa memperoleh pekerjaan yang menenangkan
batinku. Tapi, setidaknya di tempat ini aku masih bisa shalat. Tidak ada orang
yang melarang maupun mempertanyakan.

Seperti sekarang, sebelum membuka bar, aku shalat Dhuhur di ruang ganti.
Keanehan yang paling kurasakan justru karena shalatku di sini jauh lebih
masuk hati. Ada rintihan-rintihan naif yang kubisikkan seusai salam yang
membuat aku seolah-olah berhadapan dengan Tuhan. Aku merayu-Nya agar
memaklumi pekerjaanku yang sekarang. Aku hanya perlu waktu sampai bisa
melepaskan diri dari keterdesakan.

“Kashmir .…”
Aku terhenti, ketika doaku belum selesai. Menyegerakan amin dan menoleh
pada suara yang belakangan amat sering menemuiku. Dru.
“Ya, Dru? Kapan datang?”
Aku melipat sajadah dan memasukkannya ke ransel. Aku tahu Dru sedang
memperhatikanku. Dia membiarkanku menutup ransel dan memasukkannya
ke loker.
“Baru saja. Kamu masih sibuk?”
“Shalat,” aku tersenyum, “bukan sibuk.”
“Maaf,” Dru membalas senyumku, “kamu sudah selesai berdoa?”
“Sudah.”
“Aku dan Ben menunggumu di depan.”
Aku merapikan rambut dengan jemari. “Ben sudah datang juga?”
“Iya.”
Aku mengenakan sepatu, lalu celemek hitam, seragam para karyawan.

Kami meninggalkan ruang ganti dan masuk ke bar. Ben sudah berdiri sambil
membuka lembar koran e Local. Kakinya menyilang, pinggang belakang
menyandar meja. Kurasa cara itu bukan posisi membaca yang ideal. Dia seperti
menutupi meja tamu di belakangnya.

omas sudah di belakang meja bar, mengelap gelas dan perkakas. Untuk
ukuran seorang pemilik modal, omas adalah seorang pekerja keras. Dia
tetap menjadi bartender pada hari-hari tertentu. Dia ikut membereskan segala
hal.

“Ada apa, Ben?”
“Aku sedang membaca koran. Apakah kurang jelas buatmu?“ Ben
memamerkan halaman koran yang seolah-olah dia baca, “... survei topik paling
disukai orang Swedia. Kamu tahu apa di peringkat pertama?” Ben memutar
matanya, “politik!”
“Lalu, apa hubungannya denganku?”
“Tidak ada.” Ben menggeser posisi berdirinya. “Aku hanya berusaha untuk
tidak langsung ke poin. Ada kotak misteri buatmu.”
“Kotak misteri?”
Aku melihat meja, menemukan kotak besar menggeletak di sana. Besar dan
cukup panjang. Terbungkus kertas kado yang melankolis. Bunga-bunga aneka
warna.
“Percayalah aku ikut memilih isinya, tapi bungkus kado, tanggung jawab Dru
sepenuhnya.”
Aku menoleh kepada Dru. “Ada apa ini, Dru?”
“Buka saja. Itu hadiah dari aku dan Ben.”
“Untukku?”
Dru mengangguk.
“Aku tidak sedang ulang tahun.”
Dru menggeleng. “Itu bukan kado ulang tahun.”
“Lalu apa?”
Dru bersedekap. “Buka saja.”
Aku menghampiri meja dengan ragu. Teman-teman sesama karyawan bar
mulai berdatangan. Mereka tahu ada seorang teman yang hendak diberi
kejutan. Mereka ikut tak sabar, tapi dengan cara yang tenang.
“Prank, ya?” Aku menyentuh kotak itu sembari melihat kepada Ben yang
berlagak misterius.
“ omas?”

Majikanku melambaikan tangan. “Aku tidak ikut-ikut, Kash.”
Apa yang terjadi, terjadilah.
Aku membuka kotak yang rupanya tidak terlalu kotak itu. Salah satu sisinya
mengecil sehingga keempat sisinya tidak ada yang berukuran sama. Aku
menyobek bagian pinggirnya. Awalnya sabar, lama-lama liar. Kusobek
sembarangan. Berjaga-jaga jika apa yang mereka persiapkan adalah kejutan
menyebalkan.
“Astaga.” Sebagian kertas kado telah tersingkap dan aku melihat kardus
kemasan di dalamnya. Gambar dan tulisan yang menjadi petunjuk di
dalamnya. “Ini barang mahal, guys.”
Aku berbalik, melihat kepada Dru yang kini menghampiriku.
“Dru ….”
“Buka dulu.”
Ben menimpali. “Jangan ge-er dulu. Siapa tahu isinya Ziggy.”
“Sok tahu,” gumamku sambil mengeluarkan kotak kardus dari kertas kado,
semakin yakin isinya benar orisinal, “ini terlalu mahal, Dru, Ben.”
Ben dan Dru diam saja sementara aku membuka tutup kardus dan
menemukan barang yang sudah kuduga sebelumnya. Gitar akustik.
“Taylor orisinal, Kash. Klasik, bentuk auditorium, single cuteway, bahan kayu
sapele dan sitka spurs,” Ben membunyikan senarnya, “suara jernih, intonasi
jelas, padat, tidak ada fred buzzing sampai di atas fred 12 sekalipun.”
“Kamu tahu sekali tentang gitar, Ben?”
Ben mendekatkan kepalanya ke telingaku. “Sudah kubilang, aku yang
memilih gitarnya, tapi Dru yang menggesekkan kartu kreditnya.”
“Terima kasih banyak, Dru.” Aku merasa agak kikuk jadinya.
“Kamu sekarang bisa berlatih agar bisa punya pertunjukan sendiri di bar ini.”

omas berteriak, “Aku tidak sabar menunggunya, Kash.”
Semua orang bertepuk tangan.
Aku mengangkat gitar itu, seperti bertemu teman lama. Aku coba beberapa
petikan nada. Agak bingung karena semua orang tiba-tiba terdiam.
“Sepertinya aku harus kembali mengepel lantai sebelum pelanggan datang.”
Sebagian orang tertawa. Hampir semua yang ada di ruangan itu
menyumbang suara.
Kata Ben, “Kupikir kamu mau konser, Kash.”
Aku meletakkan gitar baruku kembali ke kardusnya. “Mungkin lain kali,
Ben.”

“Aku harus bersosialisasi dengan para kandidat doktor, sekarang,” Dru
mengulurkan tangan sambil melirik Ben, “jika terlalu lama di sini, aku
khawatir insting Ph.D.-ku terdegradasi.”

Ben berteriak, “Gayamu, Dru.”
Aku tahu Dru hanya bercanda. Bahkan, aku tidak tersinggung jika kalimat
itu keluar dari hatinya. Aku selalu tersesat setiap menyadari posisi Dru begitu
tinggi. Baik dalam hal ekonomi maupun edukasi.
Aku menyambut tangannya. “Terima kasih Dru, sungguh.”
“Jangan dipikirkan.”
Dru lalu berpamitan kepada omas dan hanya menepuk bahu Ben. Dia
meninggalkan bar dengan langkah yang menawan. Sekali menoleh kepadaku
ketika membuka pintu. Aku mengangkat satu tangan. Dia tersenyum.

DI Swedia pun ada pohon sakura. Setaman banyaknya. Hampir mengelilingi
danau di Kungsträdgården, taman raja yang sangat ternama. Letaknya hanya
satu stasiun dari T-Centralen. Titik awal dari jalur biru. Jalan kaki tak seberapa
jaraknya dari asramaku. Tapi, 63 pohon sakura itu baru ditanam tahun lalu.
Bertahun-tahun lagi mungkin keindahannya baru bisa dinikmati.

Hari itu, Dru mengunjungi asramaku dan mengajakku makan siang di luar.
Aku memaksanya berjanji untuk tidak mentraktirku, baru aku mau.
Menenteng gitar, aku lalu menemaninya ke kafe terbuka di Kungsträdgården.
Tempat kongko-kongko dan makan dengan pemandangan danau kotak yang
dikelilingi gedung-gedung canggih sekaligus klasik Stockholm.

Aku membayangkan, mungkin pada tahun-tahun mendatang, pada musim
semi seperti ini, bunga-bunga sakura serentak mekar, memamerkan kelopak
merah muda. Sebagian berjatuhan.

“Musim dingin lalu kita tidak sempat ke sini, ya, Dru.”
“Maksudmu kamu mau main ice skating,” Dru bersikap sinis yang dibuat-
buat, “... naik sepeda saja nyusruk.”
Aku mentertawakan diri sendiri. “Ya, kan lihat orang-orang main saja sudah
bagus. Aku sempat lewat, lho. Memang indah sekali. Danau itu membeku jadi
es, arena ice skating disorot lampu kuning, danau diterpa cahaya hijau dan
biru.”

Dru mengabaikanku.
Katanya, “Makan.”
Di meja. Di hadapanku sepiring strömming på knäcke. Menu paling murah
yang kutemukan di antara semua pilihan kafe taman ini. Sedangkan Dru
memesan kentang goreng.
“Aku saja atau sudah terlalu banyak yang bilang mata kamu indah sekali,
Dru?”
Dru melempar potongan kentang persis ke wajahku, jatuh ke meja. “Rayuan
gombal.”
Aku tertawa, mengambil potongan kentang itu, memakannya.
“Matamu itu istimewa.”
Dru mengunyah makan siangnya. Matanya berputar, sebal. “Semua mata itu
bulat. Tidak ada yang kotak. Semua sama.”
“Bukan bentuknya.”
“Terus apanya?”
“Apanya, ya,” aku berpikir betul-betul, kupandangi mata Dru lebih teliti, “...
indah saja.”
Dru menenggak minumnya. Kekenyangan. Beserdawa. “Tidak ilmiah.”
“Rasa itu tidak melibatkan sika.”
“Tapi, kimia juga ada rumusnya.”
“Ya, sudah. Aku yang merasakan, kamu yang mencari rumusnya.”
“Jangan-jangan kamu suka aku? Bukannya, aku bukan tipe kamu?”
“Dari mana kamu tahu?”
“Karena,” Dru mengambil tisu, mengelap tangannya, “mana ada lagu Titi DJ
yang menggambarkan wanita seperti aku?”
“Ada.”
“Apa?”
Aku mengambil gitar baruku. Bangun dari duduk, merunduk sedikit. Aku
menyanyikan bagian awal “Matamu”. Lagu Titi DJ yang gembira itu. Kuputari
meja, berdiri persis di depan Dru.
“Ya …ya … ya. Lumayan. Lumayan.”
Aku hendak melanjutkan laguku.
“Duduk.” Dru menunjuk kursiku.
“Belum selesai. Itu baru intro.”
“Duduk,” semakin galak suaranya, “jangan sampai orang mengira ada yang
sedang melamar di sini.”

Aku mengikuti mau Dru. Duduk di tempatku, tapi tidak meletakkan
gitarku.

“Makan.”
“Galak sekali, Dru.”
“Makan! Menyesal aku beri kamu gitar.”
Aku tertawa lagi. Aku mencicipi makan siangku. Ikan haring yang diragi
ditumpuk roti kering, ditaburi bawang dan daunnya. Segigitan, mulutku
seperti tersetrum.
Dru cekikikan.
Aku berusaha mengalihkan perhatian. “Ada ternyata, perempuan dipuji
malah marah-marah.”
“Kalau memujinya tulus, tidak akan ada yang marah-marah.”
“Aku tulus lho, Dru.”
Itu terdengar seperti kalimat Kasino kepada Indro.
“Tulus kok, bilang-bilang.”
“Maaf … maaf ….” Aku berpura-pura menyerah.
“Tidak perlu.”
“Susah, ya, memahami hati perempuan.”
“Ih … aku tidak minta kamu pahami. Makan siangmu itu yang perlu kamu
pahami.”
Aku menggigit lagi. Rasa strömming asam bukan kepalang. Serasa memakan
cuka yang dipadatkan. Aku merasa harus menutup hidung, tapi urung
kulakukan.
Aku melirik Dru yang semakin terpingkal-pingkal. Dia tahu penderitaanku.
Tapi, aku tidak akan mengakuinya begitu saja. Kuhabiskan strömming på
knäcke dengan kunyahan penuh semangat. Dagu sedikit kuangkat. Bau,
aroma, sensasi, serba-asam dan tak karuan, tapi tetap kutelan. Lidahku seperti
disiram pembersih komputer: mati rasa.
Aku berusaha mengabaikannya. Kupangku gitar dengan nyaman. Aku lalu
melanjutkan laguku yang terpenggal.
“Bisa diam tidak?” Dru seperti kesal benar meski aku tahu, hatinya tak
begitu.
“Aku menyanyi sendiri, Dru. Bukan untuk kamu.”
Dru mengubah posisi duduknya. Tak mau menghadap kepadaku.
Aku terus menyanyi.
Dru bangun buru-buru. Menoleh kepadaku. “Gombal.”

Aku tertawa tanpa suara, terus menyanyi untuknya.
Dru pergi separuh berlari. Aku mengejarnya tetap sambil menyanyi. Tidak
peduli orang-orang melihat kami.

JIKA Ben selalu kulihat asyik menulis di pojok bar, aku pilih membaca. Jika
sudah selesai pekerjaanku, tidak ada keluhan tamu, tidak ada lantai yang
tertumpahi bir, toilet baik-baik saja, atau muntahan peminum pemula, artinya
aku tidak punya tugas.

Aku menunggu bar tutup sambil membaca di ruang ganti atau sembari
menemani Ben, sesekali. Aku membaca buku kuliah, kadang buku motivasi,
sesekali novel klasik. Aku suka membaca buku dan menemukan kekurangan di
dalamnya. Kadang perihal pembagian bab, diksi, dan lebih kompleks lagi jika
itu karya ksi.

“Buku bagus itu, Kash,” Dru mengomentari buku yang sedang aku baca,
“aku membacanya justru sewaktu masih di Indonesia.”

“Hanya usaha untuk cepat terbiasa dengan bahasa Swedia, Dru.”
Aku, Ben, dan Dru berkumpul di meja pojok yang biasa menjadi area
kekuasaan Ben. Dru memesan Coca-Cola, seperti biasa. Sedangkan Ben baru
saja memulai botol bir kedua. Dia sedang jeda menulis. Selalu, jika aku, Dru,
atau kami berdua ada di sebelahnya, Ben berhenti menulis. Dia tutup bukunya
dan pura-pura sibuk dengan perenungannya.
“Dödssynden,” Ben membaca sampul novel yang kubaca, “aku tahu, versi
orisinalnya To Kill e Mockingbird. Terkenal sekali buku itu.”
“Pertanyaannya, kamu baca tidak?” Dru menyerang
Ben menggeleng. “Aku tidak membaca novel, Dru.”
“Sombong sekali.”
“Bukan. Kalau aku baca novel, itu akan memengaruhi gaya menulisku.”
Dru hendak meraih buku tulis Ben dan buru-buru ditahan pemiliknya.
“Kamu menulis novel, Ben? Manis sekali.”
“Seperti ini reaksi yang membuat aku malas cerita. Novel itu cermin
kehidupan, Dru. Bukan untuk genit-genitan.”
“Memangnya kamu menulis tentang apa?”
“Tentang cinta.”

Aku menimbrung. “Aku tahu kiblat sastra kamu, Ben.”
“Siapa?”
“Fredy S., bukan?”
“Pengalaman pribadi kamu, Kash.”
Kami berdua tertawa. Dru tampaknya tidak paham di mana letak lucunya.
“Apa yang hebat dari Killing e Mocking Bird, Kash?” kata Ben setelah
tawanya berhenti.
“Ya, terjual puluhan juta eksemplar, penerima Pulitzer, siapalah diriku ini
memberi kritikan.”
“Lho, bebas, dong. Penulis sudah mati ketika buku sampai di tangan
pembaca.”
Idiom klasik itu.
“Memang luar biasa, Ben,” aku menjeda kalimatku sendiri, “ini mungkin soal
selera, ya. Novel ini menakjubkan, tapi tidak sesuai dengan seleraku. Mungkin
karena penceritanya, si tokoh ‘aku’ anak-anak, jadi segalanya yang terjadi
disaksikan dari sudut pandang anak-anak.”
“Tapi, dalam hal isu,” lanjutku, “banyak hal serius yang dibahas. Mulai isu
rasial, gender, politik, hukum. Sangat menarik, tapi kadang menjadi bumerang
bagiku. Karena anak seusia si ‘aku’ rasanya terlalu cerdas untuk memahami dan
mengomentari masalah sekompleks itu. Meski penceritaannya manis,
sederhana, dan dikisahkan si anak ini memang lebih dewasa dibanding
usianya.”
Ben mengangguk-angguk.
Dru menyambar. “Waktu aku membacanya kok, asyik-asyik saja, ya, Kash?
Tidak terasa hal-hal yang kamu temukan.”
“Itulah mengapa aku katakan, mungkin ini tentang selera saja, Dru.”
“Atau … kamu memang punya insting editor?”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang editing.”
“Bukan soal salah tik atau tanda baca, Kash. Tapi, bagaimana cara kamu
melihat sebuah naskah. Keunggulan dan kekurangannya. Itu kerja utama
seorang editor.”
Aku mengangkat bahu. “Barangkali karena aku suka membaca.”
“Kamu tidak tahu itu bisa jadi peluang usaha?”
“Usaha apa?”
“Agen naskah, Kash. Kamu pilih mana buku yang menurutmu bagus. Lalu,
minta izin ke penerbitnya, menerbitkan buku itu untuk pasar Swedia, bahkan


Click to View FlipBook Version