The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Skandinavia.”
“Menerbitkan buku?” aku menggeleng, “aku sama sekali tidak paham soal

itu.”
“Bukan kamu yang menerbitkan buku. Kamu tawarkan lagi ke penerbit

Swedia untuk menerbitkannya. Kamu cukup membuat penilaian terhadap
sebuah buku, syukur-syukur kamu terjemahkan satu bab, mungkin. Kamu
tawarkan pada penerbit di sini. Jika proposalmu tembus, Kash,” Dru
mengipasi wajahnya dengan telapak tangan, “ongkang-ongkang, uang datang.”

“Kok, bisa?” Aku benar-benar tidak mengerti.
“Dalam perjanjian dengan penerbit, kamu bisa cantumkan fee agen naskah.
Setahuku bisa tunai atau royalti. Penerbit asal mendapatkan royalti yang akan
dia bagi dengan penulisnya. Sedangkan kamu, mendapat fee agent. Bisa sekitar
1 sampai 2 persen dari setiap penjualan buku. Bayangkan jika bukunya terjual
ribuan atau ratusan ribu eksemplar.”
“Ada usaha seperti itu, Dru?”
“Kamu pikir bagaimana buku berbahasa Inggris di tanganmu bisa dicetak
dalam bahasa Svenska?”
Svenska, bahasa resmi Kerajaan Swedia.
Aku terbengong-bengong.
“Begini saja, kita berbagi tugas,” kata Dru, “aku akan mencari tahu cara
mendirikan agen naskah. Kukira beberapa temanku bisa membantu. Mereka
orang lokal dan praktisi hukum. Kamu,” Dru menunjukku dengan tatapannya,
“fokus pada buku apa yang ingin kamu terbitkan di sini. Maksudku, buku
berbahasa Inggris yang belum diterjemahkan dalam bahasa Svenska.”
“Aku?” Ben sedikit kesal karena merasa tidak dilibatkan.
“Kamu selesaikan saja novelmu. Jika sudah, Kashmir akan membacanya. Agar
tahu layak terbit atau tidak.”
“Itu menyakitkan, Dru.”
“Naskahmu akan diperlakukan sama di agen naskah mana pun, Ben.”
“Benarkah?”
“Kamu menulis novelmu dalam bahasa apa?”
“Inggris.”
“Berarti kamu harus bersaing dengan ratusan atau mungkin ribuan naskah
lain yang juga menunggu kabar gembira dari agen naskah di Amerika, Inggris,
Australia, dan negara lain yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris.”
“Ya, ampun,” Ben seperti terkejut menghitung masa depannya, “aku tidak

pernah berpikir begitu.”
“Kalau kamu ingin peluang yang berbeda, sebaiknya kamu menulis dalam

bahasa Indonesia. Di Indonesia bahkan kamu bisa menyerahkan naskahmu
langsung ke penerbit. Tidak harus melalui agen naskah.”

“Bagaimana kamu bisa tahu itu semua, Dru?”
Maksudku semua adalah segala hal berkaitan dengan dunia penerbitan.
Dru menggerakkan kepalanya sedikit dengan kesan, “masih harus
diterangkan, ya?” pada wajahnya. “Anggap saja sebagai pemegang gelar Master
of Law in European Economic Law, pergaulanku lumayan luas dan berkelas,
Kash.”
Ben memajukan bibirnya. “Sombong.”
Dru tertawa.
Aku merasa, musim semiku benar-benar telah tiba.

AKU masuk ke kamar asrama dengan semangat membara. Ingin segera
menemukan buku yang layak kubuat ringkasannya. Buku yang bisa menjadi
proyek pertama usaha yang tak terduga. Tidak pernah kubayangkan ada
pekerjaan seperti itu jika tidak dikatakan Dru. Di dunia ini ada orang-orang
yang kerjanya membaca buku impor, menulis resume, menawarkan buku itu
pada penerbit untuk diterjemahkan, lalu mendapatkan uang.

Aku menaruh ransel dan bersegera memeriksa tumpukan buku yang
kusandarkan di kamar. Puluhan milik perpustakaan dan beberapa kubeli
dengan susah payah. Swedia adalah surga buku. Meminjam di perpustakaan
bisa sampai puluhan judul. Mengembalikannya pun bisa berminggu-minggu.
Tidak harus ke perpustakaan tempatku meminjam, cukup datang ke
perpustakaan terdekat. Sistem mereka sudah begitu hebat.

Buku-buku yang kupinjam sebagian besar tentang musik. Sedikit perihal
biogra , buku motivasi, dan beberapa novel. Kebanyakan memang berbahasa
Inggris. Sedikit judul asli terbitan lokal, karena aku ingin melatih bahasa
Swediaku agar tidak terhenti pada pembicaraan sehari-hari.

Di antara sedikit buku Swedia itu, aku meminjam Röda Rummet karya
August Strindberg, Det går an buku klasik Carl Jonas Love Almqvist, dan satu
buku bacaan anak Pippi Langkous milik Astrid Lindgren. Sekilas

mengingatkanku kepada Pipin.
Tugasku sekarang, menemukan buku berbahasa Inggris yang belum

diterjemahkan ke bahasa Swedia. Buku-buku yang bagus menurutku. Dari
puluhan buku yang semua bagus, menurutku, aku menyeleksi berdasar pada
genrenya. Kupikir ksi akan lebih mudah mendapatkan pasar. Kelompok besar
buku kusingkirkan. Tinggal lima novel kontemporer yang kusisakan.

Aku tidak akan memilih semua. Harus kupilah lagi menjadi satu atau dua,
lalu kupastikan satu saja yang kubuat resumenya. Kekuatannya, peluang
pasarnya, ceruk pembacanya.

Tunggu-tunggu, jika untuk terbit di Swedia, bukankah wajib menarik bagi
pembaca Swedia?

Astaga, aku harus membuat kriteria baru dalam proses seleksi ini. Sebab,
ketika memilih buku-buku berbahasa Inggris itu aku menggunakan
ketertarikan pribadiku. Kadang bahkan dengan keindonesiaanku. Berarti aku
harus berpikir, seandainya aku seorang Swedish, buku apa yang akan menarik
untukku?

Aku teringat sesuatu. Topik berita di koran e Local yang dipamerkan Ben
beberapa hari lalu. Aku lalu keluar kamar, setengah berlari ke lobi asrama. Ada
tumpukan koran langganan di sana. Aku segera menghampiri meja,
mengambil setumpuk koran. Belum lama, aku yakin sekali, Ben membahas
soal ini.

Ini dia. Aku mendapatkannya.
“Kashmir.”
Aku menoleh. “He, Chris.”
“Kamu punya waktu sebentar?”
Aku melirik-lirik. “Sebenarnya aku agak sibuk.”
“Baiklah.” Chris hendak berbalik kanan.
“Kamu ada di asrama hari ini, Chris?”
“Iya.”
“Setelah aku menyelesaikan sesuatu, aku akan ke kamarmu.”
“Oke.”
Aku setengah berlari lagi, menuju kamarku. Aku buka koran itu. Sebuah
hasil survei membuktikan beberapa topik yang paling dibicarakan dan
diminati orang Swedia. Mereka paling gemar bicara politik dan ekonomi, gaya
hidup dan kesehatan, kriminal, budaya dan hiburan, dan olahraga. Politik dan
ekonomi ada di peringkat teratas, 53 persen.

Aku kembali membuka-buka koleksi yang sudah kuseleksi. Dari lima buku,
tidak ada satu pun yang kuanggap layak untuk kulanjutkan sebagai proposal.
Bukan karena kualitasnya. Tapi, rasa Swedianya. Tidak ada satu pun yang
mewakili minat rata-rata orang Swedia, setidaknya yang tergambar dalam
survei.

Aku mengembuskan napas. Ternyata ini bukan pekerjaan enteng.
Tidak ada yang bisa kukerjakan sekarang. Aku lalu teringat dengan Chris
yang secara tak terduga ingin mengajakku bicara. Sudah dua musim kami
hidup di bawah satu atap dan baru kali ini dia ingin berbicara denganku.
Seingatku hanya Madam Sam yang pernah melongok kamarku untuk managih
rekening telepon. Wajahnya datar seperti biasa. Melihat penampakan kamarku
tanpa berkomentar apa-apa.
Jadi, kalau Chris kali ini mengajakku bicara, tampaknya ada hal yang tak
biasa.
Aku memutuskan untuk menemui Chris setelah meletakkan kembali buku-
buku ke tumpukannya. Aku lalu keluar kamar dan menuju kamar Chris.
“He, Chris.”
Sekali ketuk, pemilik kamar membuka pintu.
“Masuk, Kashmir.”
Aku melihat ruangan Chris dan segera merasakan perbedaannya dengan
kamarku. “Enak sekali kamarmu, Chris.”
“Standar saja.”
Kamar Chris sama persis besarnya dengan punyaku. Namun, dia
memanfaatkan ruangan ini dengan baik. Mengisinya dengan perabotan
lengkap. Menutup lantai dengan karpet yang hangat. Menaruh buku-buku di
rak yang layak. Bahkan, dinding kamar dia hiasi poster sepeda motor besar.
“Ada yang perlu kubantu, Chris?” Aku mengambil bangku kecil di dekat
jendela, mendudukinya.
Chris tidak langsung menjawab. Aku mengenalnya memang seperti itu.
Sedikit bicara, setiap berkata pun tidak terasa jiwanya. Chris mengambil buku
besar di meja. Aku merasa pernah melihat buku itu, tapi tidak yakin di mana.
Chris membuka halaman tertentu lalu menyerahkan kepadaku.
“Apa ini?”
“Catatan Madam Samantha.”
Dahiku terasa mengerut. “Lalu?”
“Itu catatan dia tentang kamu.”

“Tentang aku?”
“Baca saja.”
Aku menerima buku itu. Membacanya dengan rasa ingin tahu yang tak
terlalu.

Penghuni nomor 3876: Kashmir, Indonesia.
Anak muda ini datang dari negeri yang belum pernah kudengar. Pertama
dia datang, kesanku, dia begitu lugu. Dia tidak layak untuk dunia yang
penuh kekacauan ini.

Aku menoleh kepada Chris. “Betul ini tulisan Madam Sam?”
“Kamu tidak mengenali bukunya?”
“Kurasa iya. Ini punya Madam Sam.”
“Tadi pagi dia pulang ke kampung halamannya dan tidak akan pernah
kembali.”
“Pulang? Ke mana? Kukira dia orang Stockholm.”
Chris menggeleng. “Dia orang Kiruna. Swedia bagian utara. Tempat kamu
bisa melihat aurora.”
Aku masih tidak mengerti.
Kata Chris, “Madam Samantha mengelola asrama ini puluhan tahun dan
sekarang memutuskan untuk pensiun. Ternyata, dia menulis semua kesannya
terhadap setiap penghuni asrama ini. Tapi, kurasa, kamu yang istimewa.”
Aku tersentak sedikit. Terheran-heran. Aku lalu melanjutkan membaca
tulisan Madam Sam.

Kashmir adalah duta dunia ketiga yang berjuang keras untuk mengubah
hidupnya. Dia berusaha sangat gigih untuk belajar dengan baik,
bersosialisasi, dan bekerja untuk menyelesaikan masalah keuangannya.

Aku terkesan dengan kesederhanaannya. Kamarnya bahkan tidak berisi
apa-apa.

Aku jadi tahu orang di negaranya tidak bisa makan tanpa nasi. Kashmir
memakan nasi keras yang tak layak dan kurasa tidak pernah
mengeluhkannya. Dia bekerja sungguh-sungguh dan pulang selalu larut.

Kashmir adalah anak muda yang sopan. Dia selalu tersenyum saat
menyapaku. Sewaktu dia menelepon kepada seseorang di rumahnya, aku
mendengar bahasa ibunya yang indah dan mendayu.

D

Dia tidak pernah bercerita, tapi aku menebak hidupnya sangat tidak
mudah. Seperti juga rata-rata mahasiswa yang berkuliah dengan beasiswa.
Tapi, Kashmir memiliki sebuah penderitaan pada tatapannya. Aku bisa
membaca itu.

Aku berharap, dia bernasib baik. Sehingga dia bisa memperbaiki
hidupnya dan orang-orang yang dekat dengannya.

Kashmir-lah yang membuatku yakin akan keputusan untuk pulang ke
Kiruna. Dia menjelajah setengah bumi untuk belajar sesuatu lalu dia akan
pulang dan membuat perubahan. Aku hanya perlu satu penerbangan
singkat untuk pulang ke kampung halaman, tapi aku menundanya hingga
puluhan tahun. Menyaksikan tekad anak muda itu aku tersentuh dan
memutuskan untuk pulang, mengabdikan diri untuk tanah leluhur.

Aku tertegun.
“Aku tidak menyangka Madam Sam begitu perhatian.”
“Tidak ada yang menyangka,” Chris bersedekap, “dia agak misterius.”
“Bagaimana buku ini bisa tertinggal?”
“Kurasa dia sengaja meninggalkannya, agar kita baca.”
“Untuk apa?”
“Agar kita tahu bahwa dia bersimpati kepada perjuangan kita.”
Aku menutup buku itu. Kuletakkan di meja. “Kurasa Madam Sam belum
terlalu tua. Apa yang akan dia lakukan di kampungnya?”
“Membuka hotel es.”
“Hotel apa?”
“Es. Ice hotel.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kiruna adalah daerah paling utara Swedia. Orang datang ke sana untuk
melihat aurora, mengalami malam sehari semalam atau siang selama 24 jam.”
“Itu mungkin terjadi?”
“Di Kiruna itu terjadi. Warga lokal membuka paket wisata yang menawarkan
pengalaman itu. Kukira Madam Samantha tertarik untuk memulai usahanya. I
think she has bigger sh to fry.”
“Hanya di musim dingin?”
“Iya,” kata Chris, “... hotel serba-es, bangunan, kamar, kursi, tempat tidur,
gelas, semua dari es.”
“Menarik, tapi bukan buatku. Di kamarku sendiri pun musim dingin sudah

seperti gua es dinginnya. Hotel seperti itu hanya akan membunuhku.”
Aku melanjutkan, “Penghuni asrama yang lain juga membaca tulisan Madam

Sam.”
Chris mengangguk. “Ya, dan sebagian dari mereka menganggap dia aneh.

Beberapa catatan agak menyudutkan.”
“Aku tidak bisa menyalahkan mereka,” aku hendak meninggalkan ruangan

itu, “apakah kita perlu merespons dengan sikap tertentu?”
“Maksudmu?”
“Kamu ingin aku tahu bahwa Madam Sam menulis sesuatu tentang aku. Aku

pikir itu melegakan. Sebab, aku merasa dia selama ini tidak peduli kepada kita
sama sekali. Kamu berharap aku bagaimana?”

Chris mengangkat bahu. “Aku hanya ingin kamu tahu.”
“Oke. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama.”
Aku tidak sekering itu sebenarnya. Ketika mengetahui ada orang yang peduli,
aku sangat tersentuh dan mudah terharu. Namun, kepada Chris aku memang
tidak ingin menunjukkannya. Kami tidak pernah dekat. Aku pun belum
paham ke mana arah pembicaraannya. Reaksi apa yang dia inginkan dariku.
Atau, barangkali dia memang ingin membuka sebuah pertemanan yang lebih
intens?
Aku tidak tahu. Saat ini bahkan aku tidak memikirkan itu. Aku sedang
memikirkan buku apa yang memenuhi syarat untuk menjadi proyek
pertamaku.

AKU berjalan di selasar kampus, di lantai tiga, berdinding kaca sehingga lalu
lintas Jalan Valhallavagen tampak, tanpa ada yang menghalanginya. Aku perlu
segera sampai di lab musik kampus karena teman-teman seangkatanku sedang
menyiapkan konser akhir tahun. Itu acara tahunan yang sangat melelahkan
sekaligus menggembirakan. Dipersiapkan jauh-jauh hari, dijadikan ajang
pembuktian diri.

KMH tentu saja menjadi bagian langsung masyarakat seni Stockholm yang
punya apresiasi luar biasa terhadap musik. Tahun ini, aku menjadi bagian dari
konser besar itu meski dalam peran yang tidak menonjol. Oleh dosen, aku

diminta membuat uji coba memasukkan unsur angklung dalam konser kami
nanti. Itu sebuah kontribusi yang mungkin kecil, tapi kompleksnya bukan
main.

“Kashmir.”
Ah, gadis Sailormoon menyusulku dengan berlari. Tas tercangklong di bahu
kanan, buku bersampul pohon sakura di tangan kiri.
“Kamu sudah menyelesaikan tugasmu?” Rin Samawatsu menjejeriku,
memberondongku dengan pertanyaan dan gesturnya yang penuh
keingintahuan.
“Aku masih perlu waktu, Rin. Aku sudah mengajukan permohonan kerja
sama ke Kedubes Indonesia. Semoga proposalku bertemu dengan program
kedutaan.”
“Aku berpikir angklungmu akan memberikan sentuhan berbeda dalam
konser itu.”
“Secara teknis, bukan angklung, Rin. Tapi, rekaman musik angklung. Artinya
aku harus menemukan satu tim pemain angklung lengkap yang bisa kubawa
ke studio untuk rekaman. Hasilnya baru digabungkan dengan musik tekno.
Itu sangat eksperimental.”
Aku mengurangi kecepatan langkahku agar Rin bisa mengimbangiku.
“Bukankah itu idenya sejak awal? Bereksperimen?”
Aku mengangguk. “Semoga penikmat musik Stockholm akan menyukainya.”
Rin menepuk bahuku. “Semangat.”
“Bagaimana denganmu, Rin?” aku melirik buku di tangannya, “ada ide
menarik dari buku yang kamu baca?”
“Ya,” Rin tampak sangat bersemangat, “aku ingin sekali membuat skenario
pentas musikal dengan cerita novel ini.”
Aku berhenti berjalan, hendak menunjukkan perhatian. Aku melihat sampul
buku itu dan tidak terlalu terkesan. “Cerita tentang bunga sakura?”
“Judul novel ini Ō no niwa,” Rin tersenyum sampai menyempit matanya,
“artinya, ‘Taman Raja’.”
“Oke.” Aku menunggu Rin mempresentasikan novelnya.
“Ini cerita roman antara seorang ahli sakura Jepang dan arsitek Swedia.”
“Swedia?”
“Iya, kamu mungkin belum tahu, di Stockholm ada 62 pohon sakura yang
sudah ditanam di pusat kota.”
“Aku tahu,” aku menyela kalimat Rin, “tempatnya di Kungsträdgården. Itu

tidak jauh dari tempat tinggalku.”
“Benarkah? Kalau begitu kamu harus membaca novel ini.”
“Aku tidak bisa membaca huruf kanji.”
“Itulah,” Rin tampak sebal tanpa kutahu kepada siapa maksudnya,

“seharusnya ada edisi berbahasa Svenska. Paling tidak bahasa Inggris.”
“Jadi ceritanya bagaimana?”
“Tidak sabar, ya?” Rin menggodaku dengan caranya yang sangat Jepang.

Mengingatkanku pada karakter drama Jepang Tokyo Love Story.
“Seorang ahli Sakura dari Jepang bernama Ayumi datang ke Stockholm. Dia

lalu bertemu dengan Lennart, insinyur tata kota yang bertanggung jawab
terhadap Kungsträdgården. Keduanya tidak pernah sepakat bagaimana dan di
mana posisi pohon sakura ditanam.”

“Dari perdebatan muncul romansa?”
“Iya. Tapi, tidak sesederhana itu. Ah, aku sangat ingin kamu membaca novel
ini, Kashmir.”
Aku memikirkan sesuatu. Sampai-sampai tidak semua kalimat Rin kusimak
dengan jelas. Kecuali kalimat terakhirnya. “Aku benar-benar tidak mengerti
mengapa buku sebagus ini tidak dipedulikan orang.”
“Aku peduli, Rin.”
“Hm?”
“Apakah kamu tidak keberatan jika aku minta kamu terjemahkan sinopsisnya
dalam bahasa Inggris?”
“Bisa aku usahakan.”
Senyumku melebar. “Itu bagus sekali.”
“Kamu sangat tertarik, Kash?”
“Sangat.”
Aku melihat wajah Rin menguat. Tangannya sedikit mengepal. “Akan aku
lakukan.”

Gh a 21

Mus im Semi Ja!

D ari bisik-bisik sesama pegawai bar, aku akhirnya tahu mengapa Ben
terlalu sering muncul di tempatku bekerja, punya relasi kimia yang unik
dengan omas, dan nyaman duduk pojok bar, menulis hampir setiap hari
ditemani sebotol bir.

Dia pemilik bar ini.
Aku belum tahu apakah kepemilikannya resmi atau hanya sebagai pemegang
modal. Tapi, kurasa di negeri dengan berbagai peraturan ketat ini, Ben akan
sangat berhati-hati. Dia akan berusaha agar uangnya betul-betul terlindungi.
Sebab, usia kami yang tidak terpaut jauh dan kami berasal dari tempat sama,
negara yang kebanyakan orang menamainya dunia ketiga, agar tidak terlalu
kasar menyebutnya tempat orang-orang miskin, fakta bahwa Ben pemilik bar
ini membuatku bangga dengan cara yang aneh.
Ini menerangkan banyak hal. Termasuk mengapa dulu sewaktu Dru
mendesakku agar mau menerima pekerjaan ini, dia terkesan sangat percaya
diri. Aku sempat merasa heran karena bagaimana mungkin ada orang
Indonesia yang begitu bersemangat merekomendasikan tempat usaha milik
orang Swedia?
Aku diterima kerja begitu mudah. omas pun terkesan mengistimewakanku
meski dia memang bukan tipe atasan yang menjajah anak buah. Aku tidak
akan bertanya, tapi kukira Dru pun punya peran yang tidak kecil. Dia
memastikan usaha Ben berjalan pada jalur yang benar. Pengetahuan, jaringan,
dan kompetensi Dru dalam hukum kurasa sangat membantu. Ini
menerangkan dengan gamblang relasi tiga orang itu: Ben, Dru, omas, yang

selama ini terasa tidak masuk akal bagiku.
Jadi, pada dasarnya, aku, Dru, dan Ben adalah tiga anak muda Indonesia

yang menuntut ilmu di negeri orang dan sama-sama bekerja sampingan.
Bedanya, aku menggeluti pekerjaan berkasta paling kasar, sedangkan Dru dan
Ben berada di pucuk piramida. Setidaknya sangat dekat dengan puncaknya.

“Kupikir keteranganku sudah jelas soal mencari naskah asli berbahasa Inggris,
Kash?”

Dru tidak tampak berang. Kalimatnya hanya sedikit menyengal. Dia
membaca lembar resume yang kutulis, berdasarkan sinopsis novel Ō no niwa
oleh Rin, dan wawancaraku dengan gadis Jepang itu tentang keseluruhan
kon ik cerita Ayumi dan Lennart. Naskah ini “kuswediakan” dengan judul
Kungsträdgården.

Ben meneguk birnya. Kami duduk bertiga, berlatar musik hidup yang
bersahaja entakannya, juga obrolan para tamu bar yang berseling tawa.

“Argumentasinya bukan karena puluhan buku berbahasa Inggris yang kubaca
di perpustakaan kota tidak bersinggungan dengan selera orang Swedia, Dru.
Itu juga, tapi alasan utamanya bukan itu,” aku berusaha mengesankan Dru
dalam presentasi kecil itu, “novel ini menceritakan dua budaya: Jepang dan
Swedia yang sangat kuat, dibumbui kisah cinta mengharukan, dan ending yang
tidak terduga.”

Aku membuka halaman koran e Local perihal survei topik paling diminati
orang Swedia. “Budaya masuk dalam topik paling diminati orang Swedia.
Jangan lupa bahwa Kungsträdgården adalah kebanggaan orang Swedia. Salah
satu ikon Stockholm. Orang-orang tidak berhenti membicarakannya.”

Dru membaca resumeku, dia tenggelam di dalamnya. “Resume yang
menarik,” komentarnya mengambang.

“Tapi?” Aku menebak kalimat dia berikutnya. Seperti kebanyakan orang yang
hendak menolak idemu, tapi tidak ingin menyakiti hatimu dan berkata,
“Kamu benar, tapi ….”

Dru tersenyum, menatapku dengan tegas. “Tidak ada tapi. Aku kira aku
setuju denganmu, Kash. Novel ini harus diterjemahkan ke bahasa Svenska.”

Ben menepuk bahuku. “Kamu luar biasa.”
“Kamu serius, Dru?”
Dru mengangguk sambil melebarkan matanya.
Aku mengepalkan satu tangan. Senang bukan main.
“Tapi, bukan aku dan Ben saja yang harus kamu yakinkan.”

“Aku tahu, Dru. Tapi, buatku sampai di sini saja luar biasa.”
Ben menyentak bahuku. “Jangan mau sampai di sini saja, Kash. Maju terus.”
Aku mengajaknya tos. Ben menyambarnya.
“Selanjutnya bagaimana, Dru?”
“Kamu siapkan proposal pengajuan kerja sama dengan penerbit Ō no niwa di
Jepang. Jika mereka percaya kepada kita, pilihannya ada dua. Apakah mereka
atau kita yang menerjemahkannya ke bahasa Svenska. Itu berpengaruh pada
angka royalti. Selanjutnya, terjemahan kita tawarkan pada Penerbit Svenska.”
“Kamu harus sadar, langkahmu masih sangat panjang, Kash,” Ben
menimpali.
“Tidak masalah,” aku menegakkan punggung, “masih banyak pekerjaan di
bar ini yang akan mengalihkan perhatianku.”
“Pemilihan penerjemah juga sangat penting, Kash.”
Aku mengangguk. “Kukira dia harus seorang native Swedia yang memahami
budaya Jepang.”
Kata Dru, “Dan bercitarasa sastra.”
“Jag håller med,” kataku menyetujui pendapat Dru.
“Dru,” aku teringat sesuatu, “bagaimana dengan biaya? Kukira tidak murah
untuk mengurus persyaratan hukum, penerjemahan naskah, dan lainnya.”
“Serahkan kepadaku,” Dru merapikan lembaran resumeku, “anggap saja aku
menanam modal dalam usahamu. Kamu akan membayarku setelah usahamu
menguntungkan.”
Aku tercekat. Baik pikiran maupun perkataan. Tidak bisa mengatasi rasa
senangku yang melimpah ruah.
“Kamu fokus saja untuk mencari cara membaca pikiran pencinta buku di
Swedia, Kash,” lanjut Dru, “setelah lima sampai sepuluh buku terbit, kukira
kamu sudah cukup pengalaman untuk melangkah lebih jauh.”
“Maksudmu, Dru?”
“Swedia hanya seluas Sumatra dengan penduduk separuh Jakarta. Ini pasar
menantang bagimu saat ini. Tapi, kamu perlu pasar lebih luas setelah bisnismu
mapan.”
“Itu mengapa ABBA menjual musiknya ke seluruh Eropa, Amerika, dan
dunia, bukan?” Ben memperjelas maksud Dru.
“Langkah awal, Skandinavia sudah cukup bagus, Kash. Setelah itu baru kamu
memikirkan Eropa.”
“Itu mimpi yang sangat berani,” komentarku.

“Kamu kurang berani?” tantang Dru.
“Tentu saja aku berani.”
Ben menimbrung, “Jangan lupa memilih nama yang kuat, Kash.”
“Ben benar,” kata Dru.
“Nama?”
“Nama agen naskah kamu,” jelas Ben.
“Oh.”
“Namanya Oh?” canda Dru.
“Bukan … bukan.”
“Aku usul namanya Java Literary Agent. Itu mewakili tempatmu berasal.”
“Aku orang Sunda.”
“Iya, tapi di Pulau Jawa, bukan?”
Aku menggeleng. “Beda, Ben. Jawa juga nama suku. Sukuku Sunda. Well,
setidaknya separuh.”
“SARA, deh,” celetuk Ben.
“Aku memikirkan satu kata dalam bahasa Svenska yang hampir sama
pengucapan maupun maknanya dalam bahasa Indonesia. Kupikir itu unik
untuk sebuah nama perusahaan.”
Dru bertanya, “Apa itu?”
“Ja.”
Dua tangan Dru terbuka. “Ja Literary Agent? Filoso nya?”
“Kita siap melayani naskah apa saja. Tidak ada kata nej, yang ada kata ja.”
“Lumayan,” kata Dru.
“Tambahkan tanda seru, akan lebih kuat.”
Ben munulis di lembaran bukunya. Satu kata besar-besar. Ja!
“Ja! Literary Agent,” aku menoleh kepada Dru, “bagaimana, Dru?”
Dru memasukkan resumeku ke tasnya. “Bagus. Urusan nama sudah selesai.
Sekarang banyak-banyaklah menulis resume semacam ini. Kamu tidak bisa
bersaing dengan agen naskah yang sudah eksis. Caramu mencari buku-buku
yang tidak diperhitungkan agen naskah besar, sangat jitu.”
“Baiklah,” Dru menatapku dan Ben bergantian, “aku harus bersosialisasi
dengan teman-teman kandidat doktorku ….”
“Karena terlalu lama bergaul di bar ini akan mendegradasi insting Ph.D.-
mu,” Ben menirukan kalimat Dru yang dia ucapkan setiap waktu, “ya … ya …
ya … pergilah menuju teman-temanmu yang kebanyakan botak dan
berkacamata tebal itu.”

Dru tertawa, mencangklong tas kulitnya. “Maaf aku menyakitimu Ben.”
“Hei … tahun depan aku akan kuliah master. Tidak akan lama lagi kamu
tidak akan bisa menyombongkan masyarakat Ph.D.-mu.”
Dru bangkit. “Setelah kamu benar-benar lulus, baru kita membahasnya lagi.”
Ben berlagak kesal. Dru tidak ambil pusing. Dia menyalamiku, hanya
melambaikan tangannya kepada Ben, kemudian berlalu. Aku kadang benar-
benar kebingungan dengan cara keduanya berkomunikasi. Seperti selalu saling
mengejek, tapi sebenarnya sama-sama peduli. Kukira mereka tidak pernah
benar-benar saling menyakiti.
“Kalian sangat serasi, Ben,” komentarku setelah Dru pergi.
Ben membuka tangan kiri, sembari meraih botol bir dengan tangan satunya
lagi. “Dalam imajinasimu.”
“Aku bisa melihatnya.”
“Kamu rabun dekat.”
“Kata orang tua, kalau dua orang terlalu sering bertengkar nantinya akan
jodoh sampai pelaminan.”
“Dru juga setiap hari mengomelimu.”
“Tapi, aku tidak pernah membalasnya.”
“Itu bedanya. Denganku, Dru bertengkar. Denganmu, dia bersikap manja.”
“Manja apanya?”
“Kepadamu, Kash, dia lebih cenderung merajuk, bukan marah-marah.”
“Kukira kamu keliru, Ben.”
“Usiaku lebih tua daripada kamu, Kash. Aku lebih berpengalaman.”
“Dru seusia denganmu. Jadi, tidak punya peluang denganku.”
“Belum tentu.”
“Dru tidak mungkin tertarik dengan lelaki yang lebih muda.”
“Katakan itu kepada Dru, semua piring dan gelas di ruangan ini akan habis
dia banting.”
Aku tertawa kecil. “Apakah setiap perempuan begitu sensitif tentang usia?”
“Tidak semua. Tapi, mungkin 99,9 persen.”
Kami tertawa bersama. Aku lalu bangkit dan merapikan kursi. “Kukira ada
toilet berbau bir yang harus kubersihkan saat ini.”
“Pergilah.”
Aku mengangkat alis, lalu kutinggalkan Ben yang kemudian memesan botol
birnya yang kedua.

SETELAH aku tahu cara menangani setiap masalah, waktu memang terasa
memelesat secepat anak panah. Musim panas tiba dan aku merasa Swedia tak
ubahnya Indonesia. Udara panas meski tidak terlalu menyakitkan. Selama
beberapa bulan, seluruh kota tumpah ruah oleh kegembiraan. Setiap
penduduk keluar rumah, berjemur di tempat-tempat terbuka. Wisatawan dari
segala penjuru dunia pun berdatangan. Berbagai festival digelar.

Bagi tiga makhluk tropis yang kini berkumpul di balkon kamarku, musim
panas cukup diisi dengan bermain gitar dan menyanyi. Tentu saja sebelum aku
kembali berjibaku dengan sapu dan tongkat pel, Ben dengan novel dan botol
bir, dan Dru dengan masyarakat Ph.D.

Aku sudah menyanyikan beberapa lagu Titi DJ, Dru membaca buku, dan
Ben duduk gelisah bersandar di pagar balkon.

“Selera musik kamu itu bagus, Kash …,” wajah Ben mendadak aneh, “...
cuma kurang macho.”

Aku tertawa. “Kalau aku suka Guns ‘n Roses terus lebih macho,
menurutmu?”

“Ya, tidak harus Guns ‘n Roses, lah. Dewa 19 sudah cukup.”
“Kalau aku menyanyi lagu Dewa, kesannya lebih laki-laki, begitu?”
“Iya, dong …,” melirik ke Dru, “... iya, kan, Dru?”
Dru menjawab sekenanya, “Sisiran rambut kamu saja kurang macho, Ben.”
“Kok, jadi rambut?” Ben memprotes.
Dru semakin ketus. “Macho, kan, bukan hanya soal selera lagu.”
Ben beretorika. “Macho tidak harus gondrong semacam Axl Rose.”
“Ya, tidak harus seperti Axl-lah. Ahmad Dhani sudah cukup,” balasku penuh
dendam.
“Kalian berkomplot, ya?”
Kami tertawa, kecuali Ben tentu saja.
“Ben … Ben. Bagaimana kita menjadi laki-laki, ukurannya bukan bagaimana
pandangan orang.”
“Harus, Kash.”
“Itu terjadi barangkali karena kamu kurang nyaman dengan dirimu sendiri.
Jadi merasa harus menjaga citra supaya orang terkesan.”

“Semua orang melakukan itu.”
“Aku tidak ….” Aku siap-siap hendak mengambil gitar.
Dru buru-buru menepis tanganku. “Tidak usah menyanyi. Tidak harus
semua adegan punya theme song.”
Aku menarik tanganku. “Aku suka lagu-lagu Titi DJ karena aku suka
suaranya, notasinya, musiknya. Setiap tahapan hidupku terwakili lirik lagunya.
Kalau ada preman pasar memasang poster Nike Ardilla di kamarnya juga tidak
apa-apa,” aku menoleh kepada Dru, “Dru perempuan, meski agak diragukan
keperempuanannya.”
Dru memukul bahuku dengan buku.
Aku tertawa. “Maksudku, Dru perempuan, tapi, misalnya, suka Sepultura.
Apa salahnya?”
“Jangan menilai buku dari sampulnya, bla … bla … bla,” kata Ben nyinyir.
“Persis,” komentarku penuh kemenangan.
“Ngomong-ngomong, itu kancing baju dibetulkan,” tentu saja yang
dimaksud Dru adalah dua kancing kemeja Ben paling atas, “geli aku
melihatnya.”
Bersungut-sungut, Ben mengancingkan kemejanya. Menyisakan satu kancing
saja agar tidak sesak lehernya.
Aku lagi-lagi hendak mengambil gitarku. Dru memelotot.
“Kan, sudah selesai urusannya …,” aku mencoba petik senar gitar,
memastikan nadanya benar, “... ada lho, Ben, lagu Dewa yang dinyanyikan
Titi DJ.”
“Serius?”
“Aku punya kasetnya.”
“Lagu yang mana?”
“‘Tak Kan Ada Cinta yang Lain’,” aku membunyikan senar gitar berbarengan,
biar dramatis, “aransemen baru.”
“Lebih bagus tidak?”
“Lebih Titi DJ.” Aku memulai awal lagu, tempo yang lebih cepat, gembira.
Aku memandang Dru, seolah kepada dia aku melagu. Kali ini Dru duduk
penuh kesopanan. Tersenyum seperti Monalisa, aku tahu dia sedang berpura-
pura.
Aku tertawa melihat tingkah Dru yang berlebihan.
Sekarang Dru ikut berdiri. Seolah kami pengisi acara Aneka Ria Safari, aku
penyanyi dan dia penari.

Dru menggerak-gerakkan tangannya.
Aku tertawa.
Kami lalu bernyanyi bersama, bertiga, beda-beda nada. Menyanyikan re
lagu bersama-sama.
Dru menyanyi paling kencang, sendirian, keluar tempo, sedikit sumbang.
Lagu selesai, Dru menjura meniru penyanyi opera. Dia kembali ke kursinya
setelah mengomeliku, “Puas mempermalukan aku, Kash?”
Aku menjawabnya dengan lagu “Matamu”.
Dru memutar mata, meraih bukunya. Ada bunyi dari dalam kamarku. Dru
meninggalkan kami dengan buru-buru. Seseorang meneleponnya.
“Paling dari profesornya,” komentar Ben.
“Drupadi is speaking,” sapa Dru kepada seseorang di seberang.
Aku mendengar Dru lebih sering mengatakan “ya” dan sisanya hanya
mendengarkan. Setelah membalas salam, dia lalu kembali ke balkon. Aku dan
Ben tidak merasa harus bertanya, siapa yang meneleponnya. Aku mulai
terbiasa untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
“Proposalmu disetujui, Kash.”
“Apa?”
“Penerbit novel Ō no niwa setuju Ja! menjadi perwakilannya di Swedia.”
“Artinya kita bisa mulai penerjemahannya?”
Dru mengangguk dengan mata sedikit berkaca-kaca. Aku tidak tahu dia
gembira untuk siapa. Tapi, kukira bukan untuk dirinya.
Kedua tanganku saling genggam. Aku seperti diserang rasa panik dan
mendadak kedinginan di puncak musim panas. Mengembuskan napas sambil
tak tahu harus bagaimana.
Ben merangkul bahuku dan berkata dekat wajahku. “Selamat, Kash.”
Aku bahkan tidak bisa membalas kalimat sederhana itu.

DARI lingkaran pergaulan Rin Samawatsu, aku akhirnya menemukan seorang
pencinta sastra, orang asli Swedia, yang memiliki ketertarikan akut terhadap
budaya Jepang. Dia bukan penerjemah profesional, tetapi kemampuan
literasinya mengagumkan. Nama perempuan nyentrik itu Hedda
Waegmunding.

Hedda menyelesaikan penerjemahan novel Ō no niwa pada musim gugur lalu
dan aku mulai mendatangi berbagai kantor penerbitan untuk menawarkannya
dengan judul baru: Kungsträdgården. Penerbit terkenal yang kudatangi
memintaku menunggu selama tiga bulan. Kemudian pada musim dingin ini,

omas memberitahuku ada surat dari penerbit ke alamat bar, yang menjadi
kantor sementara Ja!, dan membuatku berdebar-debar bukan main.

Penerbit itu menolak naskah itu tanpa alasan pasti. Hanya menyebut “naskah
yang Anda tawarkan tidak sesuai dengan pasar buku kami”. Aku menghitung
waktu yang kuperlukan untuk secara acak mengetahui apakah naskahku
ditolak atau diterima. Jika satu penerbit butuh tiga bulan untuk mengatakan
“tidak”, dalam setahun aku hanya bisa mengusahakan empat penerbit dan
masa menunggunya akan sangat membosankan.

Lalu, aku membengkokkan standar etikaku dengan mengirim sepuluh surat
dan sepuluh salinan naskah terjemahan itu ke sepuluh penerbit yang berbeda
selama musim dingin itu. Sebagian penerbit besar, sisanya penerbit yang
bahkan baru menerbitkan satu atau dua buku. Itu perkara mudah. Aku tinggal
melihat alamat penerbit pada buku berbahasa Svenska yang kutemukan di
perpustakaan.

Aku kembali menunggu sambil meneruskan pekerjaanku bersih-bersih.
“Kurasa, kamu tidak boleh berhenti di naskah Ō no niwa, Kash.”
Aku mengelap meja bar, sementara Dru meminum Coca-Cola-nya sembari
mengajakku berbincang. Itu tidak profesional bagiku, tapi jika bar ini milikmu
atau milik temanmu, batas-batas profesionalisme memang bisa dilenturkan.
Pengunjung belum datang, sedangkan omas berbincang dengan Ben di
ruang manajemen.
“Biaya yang kamu keluarkan sudah sangat besar, Dru.”
“Itu biar jadi konsentrasiku.”
Aku menggeleng. “Kurasa itu bukan ide bagus.”
“Tapi, terlalu lama menunggu juga hanya akan membuang waktu.”
“Aku mengirim ke sepuluh penerbit. Jika tidak ada satu pun yang tertarik
untuk menerbitkan naskah itu, kukira memang proposalku tidak menarik.
Mungkin aku tidak berbakat di dunia literasi. ”
“Jangan berkata begitu.”
Aku berhenti mengelap. “Aku sudah terbiasa menerima kenyataan bahwa
tidak semua orang lahir dengan keberuntungan, Dru.”
“Maksudmu?”

“Mungkin memang apa yang kujalani sekarang terlalu jauh dari batas
keberuntunganku. Kamu, Ben, bisa melakukannya. Tapi, aku tidak.”

Tatapan Dru menyilet mukaku. “Aku paling benci orang yang tidak
menghargai dirinya sendiri.”

Dru bangkit dari duduk lalu pergi begitu saja. Dia mendorong pintu dengan
kuat dan agak membantingnya.

Aku tidak pernah melihat Dru segusar itu. Aku merasa bersalah, tapi aku
tahu, tak bisa membuatnya menjadi lebih mudah. Aku tidak mungkin
menerima kebaikan yang berlebihan. Uang yang sudah Dru keluarkan tak
akan sanggup kubayar selama setahun bekerja di bar ini. Jika aku mengikuti
keinginannya untuk memulai proyek baru, dengan buku baru, aku bisa
membayangkan berapa utang yang harus kubayar.

Aku tahu, Dru tidak akan memosisikan dirinya sebagai bank yang memberi
kredit usaha dan akan rutin menagihnya. Tapi, bagiku utang budi lebih
mengikat dibanding uang. Itu tak tertanggungkan.

“Mana Dru?”
Ben keluar dari ruang manajemen dan datang ke meja bar. omas kulihat
menuju dapur, memeriksa persiapan tim kuliner.
Aku menunjuk pintu. “Baru saja pergi.”
“Kok, pergi? Aku berpesan agar dia menunggu.”
Aku mengangkat bahu. Meneruskan pekerjaanku.
“Apa yang baru saja terjadi, Kash?”
Aku tidak langsung menjawab. Meraih gelas-gelas, kulap satu per satu.
“Kash.”
Ben mengadu pandangan denganku. Dia tahu aku tidak terlalu jujur.
“Mungkin dia marah.”
“Marah kepadamu?”
Aku mengangguk.
“Tentang apa?”
“Mungkin aku salah bicara.”
“Bicara tentang apa?”
“Tentang Ja! Dru ingin aku membuat proposal baru sambil menunggu
jawaban penerbit untuk naskah Ō no niwa. Aku menolaknya.”
“Alasannya?”
“Biayanya terlalu besar. Aku tidak bisa menerima kebaikan Dru terlalu
banyak.”

“Dia sedang berinvestasi, Kash. Bukan memberimu kebaikan. You can’t make
an omelet without breaking some eggs.”

Aku melirik Ben. “Aku tahu makna idiom itu.”
“Aku senang kamu mau belajar.”
Aku menaruh gelas yang sudah kulap ke atas rak. Mengambil gelas lain
sambil berpikir.
“Tapi, kalau bukan karena aku, Dru tidak akan menaruh uangnya pada bisnis
ini, kan, Ben?”
“Itu namanya melihat peluang. Ini proses bisnis yang sangat wajar.”
Aku terdiam. Omongan Ben termakan akal.
“Aku telanjur menolaknya,” kataku menyerah.
“Kamu tinggal meneleponnya dan mengatakan bahwa kamu berubah
pikiran. Mengapa jadi rumit sekali?”
“Maafkan aku.”
“Ya ampun, Kash,” Ben duduk di bangku bar. Dua lengannya bertemu di
meja, “kalian ini, ya, membuatku sakit kepala. Dru setiap hari merundungku
dan sebaliknya tetap tidak pernah menjadi masalah besar. Ini soal beda
pendapat saja, kalian terbawa perasaan.”
“Aku tidak ….”
“Sssttt …. Kalian memang perlu liburan.”
“Liburan?”
“Aku sudah bilang kepada omas, liburan musim dingin ini kamu ikut aku
ke Kiruna.”
“Kiruna?” Aku merasa pernah mendengar nama itu.
Telunjuk Ben menunjuk ke satu arah. Kurasa itu arah utara. “Tempat kamu
bisa melihat aurora dan mengalami polar night: 24 jam tanpa matahari.”
“Swedia utara?”
Ben mengangguk. “Kita akan bermalam di hotel es.”
Astaga, aku ingat sekarang. Itu kampung halaman Madam Samantha.
“Kudengar wisata ke sana sangat mahal, Ben?”
Ben memutar mata. “Bisakah kamu sedikit santai, Kash? Aku yang
mengajakmu dan Dru. Berarti aku yang membereskan semua keperluanmu.”
“Dengan Dru?”
“Itulah mengapa aku minta dia menunggu. Aku ingin merasakan Natal
dengan teman-teman terdekatku.”
Aku terdiam.

“Maksudku aku yang merayakan Natal, sedangkan kalian anggap saja ini
sebagai liburan.”

“Dru?”
“Dia tidak merayakan Natal. Kamu baru tahu?”
“Waktu Lebaran musim dingin tahun lalu dia mengucapkan selamat
kepadaku. Tetapi, aku tidak tahu kalau dia ….”
“Muslim?”
Aku mengangguk.
“Kamu memang kurang peka.”
“Waktu Ramadan dia tetap minum Coca-Cola,” kataku masih tidak percaya.
“Aku juga sangat jarang ke gereja.”
Astaga. Aku benar-benar tidak menyangka jika Dru juga seorang Muslim,
sepertiku. Dia tidak pernah menunjukkan identitas keislaman meski juga tidak
memperlihatkan perilaku keagamaan yang lain. Di Swedia agama seseorang
bukan urusanmu. Engkau tidak bisa bertanya, menebak, menghakimi orang
mau beragama apa, berpakaian macam apa, dan menjalani hidupnya dengan
cara bagaimana.
“Aku benar-benar tidak menyangka, Ben.”
“Dia berhenti minum bir juga setelah kamu datang.”
“Benarkah?”
“Kamu kira apa yang dia kerjakan di sini kalau bukan pesta? Minum,
menari.”
“Mengapa dia harus berubah?”
Ben memukul keningnya, agak keras. “Tanyakan pada Ziggy. Dia lebih tahu
urusan ini.”
Aku meletakkan gelas dan berusaha berpikir lebih keras. Betapa aneh
hidupku belakangan. Aku belum memutuskan hendak berbicara apa ketika
pintu bar terbuka, seorang kurir masuk membawa setumpuk surat.
“Tack,” kataku kepada kurir itu, anak muda yang mungkin baru menjalani
tahun pertama kuliahnya. Dia menjawabku sambil tersenyum, lalu
meninggalkanku yang antusias memeriksa surat-surat itu, sedangkan Ben
menyangga dagu.
Aku mengecek surat yang sebagian ditujukan kepada omas terkait bar, dan
tiga surat kepadaku. Tiga-tiganya dari penerbit jika kulihat dari nama dan
alamat pengirimnya. Ketiga-tiganya bukan penerbit terkenal.
Kumulai dari penerbit paling asing namanya.

“Aku juga buka,” sergah Ben. Dia memilih satu surat.
Aku membaca surat pertama dengan cepat. Mencari intinya. Aku
menemukan pada paragraf tengah suratnya. Intinya, ditolak.
“Punyaku ditolak,” kata Ben datar. Aku meletakkan surat yang kubuka.
Sudah dua yang isinya bukan kabar gembira.
“Tinggal satu.” Aku mengambil surat terakhir. Kubuka dengan perlahan.
Penuh penjiwaan. Hasilnya sama saja.
“Ditolak.”
“Kamu kirim ke berapa penerbit?”
“Sepuluh.”
“Good things come to those who wait.”
“Kamu menggunakan kata sebanyak itu hanya untuk bilang sabar, Ben?”
Ben mengangkat bahu.
Aku memungut surat-surat penolakan itu, lalu kusimpan di saku. Aku akan
mengarsipkannya atau mungkin kubuang saja.
“Kashmir.” omas datang dari dapur.
“Ya, omas?”
“Kurasa teman-teman di dapur butuh bantuanmu.”
“Oke.”
Aku meletakkan lap dan bersiap hendak menuju dapur.
“Kamu sudah mengambil surat untukmu?”
“Sudah,” kataku sambil tersenyum masam.
“Maksudku yang ada di lokermu.”
“Di loker?”
“Ya, kemarin sebelum kamu tiba ada surat datang. Aku menyimpannya di
lokermu. Maaf aku lupa mengatakannya.”
“Akan kuperiksa.”
Aku meninggalkan Ben dan omas. Sebelum ke dapur aku menengok
lokerku. Loker yang memang tidak pernah terkunci. Sebenarnya tidak ada
anak kuncinya. Jadi omas biasa memasukkan sesuatu di sana, jika tidak
bertemu denganku. Kadang makanan, hadiah kecil, dan sekarang surat.
Aku membuka loker dengan penasaran dan baru menyadari di bawah tas
ranselku ada amplop bertuliskan namaku. Dari penerbit. Pengalaman tiga
surat sebelumnya membuatku tidak terlalu berharap. Mungkin ini kata tidak
yang keempat. Tidak ada adegan dramatis. Aku menyobeknya begitu saja.
Bahkan, bagian pinggir surat yang terlipat ikut koyak karena amplopnya

kurobek begitu saja.
Pengenalan dan seterusnya, awalan dan sebagainya, lalu inti surat bahwa

naskah Ō no niwa diterima. Terjemahannya akan dicetak dan diterbitkan di
Swedia. Lima ribu eksemplar pada cetakan pertama.

Apa tadi?
Aku membacanya ulang. Bibirku bergetar. Tanganku ikut gemetaran.
Napasku bersusulan. Bau cat loker yang karatan terisap kemudian.
Aku lari kembali ke bar dan menemukan Ben sudah berduaan dengan botol
birnya. Dia melihat ke arahku, menyaksikan bahasa tubuhku, mungkin
membaca bahasa mataku. Ben lalu mengangkat tinggi-tinggi botol birnya.
“Haleluya! Selamat, Sahabatku.”

SEPEDAKU serasa menjadi seringan kertas. Kukayuh ke Toko Ahmad Khan
setelah entah berapa pekan kulewatkan. Salju tipis memerihkan pipiku, tapi itu
tidak menghentikanku. Aku merasa sedang ada di puncak dunia.

Aku tahu, usaha agen naskah masih perlu waktu untuk berkembang dan
menjadi sebuah bisnis yang mapan. Tapi, setidaknya, aku telah berhasil
meyakinkan sebuah perusahaan untuk memakai jasaku. Jasa seorang
mahasiswa yang bahkan belum menyelesaikan kuliahnya. Itu terasa sangat
absurd, tapi sungguh-sungguh terjadi.

Dru rupanya cepat memaafkanku. Begitu aku menelepon dia dari bar, dia
mengucapkan selamat kepadaku sembari tertawa. Ben lalu menyela teleponku,
memastikan Dru mau merayakan proyek pertama Ja! dengan sebuah liburan di
Kiruna. Dru mengiakannya dan Ben segera mengurus semuanya. Tiket,
penginapan, dan segala yang kami butuhkan.

Sedangkan aku, dengan kebahagiaan yang susah dibahasakan, hanya berpikir
untuk segera menemui Aa Ahmad. Urusanku dengannya terkait pencicilan
sepeda sudah selesai. Tapi, aku menyimpan ganjalan lama karena
menyembunyikan kenyataan bahwa aku bekerja di sebuah bar. Bagi Aa Ahmad
itu hal yang tidak bisa dimaklumi. Dia percaya bahwa uang yang dihasilkan
dari bar akan selalu haram.

Dia adalah orang yang memelukku kali pertama di negeri ini. Memberiku
kehangatan persaudaraan. Aku tidak ingin mengecewakannya. Kali ini aku

ingin membawa kabar gembira. Bahwa aku, anak muda yang memelas ketika
kali pertama kami bertemu, sedang dalam tahap lompatan yang luar biasa.
Memasuki dunia yang sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan. Dunia
penerbitan yang menempati piramida sosial sangat terhormat dan prospek
ekonomi yang menjanjikan. Sebuah pekerjaan yang tidak hanya halal, tapi juga
membanggakan.

Sampai di depan toko Aa Ahmad, aku benar-benar kehabisan kemampuanku
untuk menahan haru. Mata menghangat oleh rasa syukur luar biasa. Aku ingin
Aa Ahmad mengetahui, pertolongannya sejak aku datang kali pertama,
berbuah sesuatu yang berguna.

“Assalamualaikum.”
Aku mendorong pintu toko dan membayangkan Aa Ahmad menyapaku dari
meja kasir, seperti sebelum-sebelumnya.
Akan tetapi, bukan dia yang ada di sana. Aku menemukan perempuan
bercadar, serbahitam, sedang melayani seorang pembeli. Setelah pembeli yang
berwajah Asia Selatan itu pergi, aku lalu mendekat.
“Saya mencari Aa Ahmad.”
“Siapa Ahmad?”
“Oh, maksud saya, Pak Ahmad Khan.”
Perempuan bercadar itu mengangguk-angguk. “Dan, kamu adalah?”
“Kashmir,” bicaraku berubah kikuk, “saya pelanggan toko ini, beberapa
waktu lalu.”
“Ahmad pernah bercerita tentang kamu,” perempuan itu melongok pintu
kaca, mengecek sepeda yang kuparkir di luarnya, “kamu merawat sepedanya
dengan baik.”
“Ah … Pak Ahmad bercerita rupanya.”
“Dia bangga kepadamu.”
“Terima kasih. Apakah dia sedang tidak bekerja?”
“Dia meninggal musim gugur lalu.”
“Apa?”
“Saya istrinya. Ahmad meninggal karena jantung, musim gugur lalu.”
Seketika lemas badanku. Hilang kata-kataku. “Innalillahi wa innailaihi
raji'un.”
“Allah mencintainya.”
Aku mengangguk-angguk. “Amin … amin.”
Aku sungguh-sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku teringat

sesuatu dan itu mengentak-entak pikiranku. “Saya ikut berduka cita.”
“Terima kasih, Kashmir.”
“Jika demikian, saya pamit, Mrs. Khan.”
Dia mengangguk. Aku kebingungan, tapi tetap membalikkan badan.

Kudorong pintu dengan batin tak karuan. Aku lalu menaiki sepeda, meluncur
kembali di jalan raya, di antara salju. Air mataku terus merembes.
Memberatkan kelopak mataku.

Ya Allah, uang itu.
Tidak ada hal lain yang kupikirkan selain bahwa aku terlalu menyesal karena
melawan kata kalbuku. Aku membohongi Aa Ahmad dan dia meninggal
dalam ketidaktahuan. Barangkali aku bisa memberi pembenaran untukku
sendiri, tapi Aa Ahmad meyakini agama ini tanpa pertanyaan. Dia berhak
mengetahui dari mana uang yang aku berikan untuk mencicil sepedanya.
Sebab, itu penting baginya.
Pintu telah tertutup dan aku tidak akan pernah punya waktu untuk
menerangkannya. Kesadaran itu menghantam ketabahanku. Penyesalan yang
merambat naik dan tak segera sampai ke puncak. Memang tidak ada
puncaknya. Aku mengerem sepeda dan hampir saja terpelanting ke timbunan
salju.
Aku berdiri kebingungan. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sepeda aku
geletakkan. Kepalaku mendongak, menatap serpih salju yang turun tanpa
jarak. “Maafkan saya. Maafkan saya.”

Gh a 22

Natal Putih Kir una

S “ejak kali pertama aku mendengar tentang hotel es aku tidak
membayangkan bahwa hotel itu benar-benar dibangun dari balok es.”
Di dalam pesawat, sebentar lagi mendarat. Berderet tiga kursi, Dru di dekat
jendela, aku di tengah, dan Ben di sebelah lorong. Perjalanan udara hampir
berakhir, aku baru tergerak untuk bertanya, setelah sejak berangkat lebih sering
menekuk muka. Meninggalnya Aa Ahmad mengubah sesuatu dalam diriku.

“Benar-benar dari es, Kash,” Ben bergaya bak pemandu wisata, “tempat tidur,
kursi, bar, gelas, patung, semuanya.”

“Lalu, kita benar-benar, dalam arti sebenarnya, tidur di balok es?”
“Iya.”
Aku segera ingat Bibi Lung, guru dan kekasih Yoko, yang punya tempat tidur
balok es di dalam kuburan kuno. Tempat tidur sakti yang sanggup
menyembuhkan segala luka dalam. Itu tontonan yang sempat membuat
seluruh kampungku sepi pada sore hari karena semua orang duduk di depan
televisi. Kembalinya Pendekar Rajawali.
“Bagaimana cara menahan hawa dinginnya?”
“Ya, kamu tahan-tahan saja,” jawab Ben seenaknya.
“Kamu akan mendapat kantong tidur dan kasur dengan bed cover kulit rusa,
Kash,” sela Dru.
Ben melirik. “Cieee … ada yang sudah baikan.”
Kikuk sesaat.
“Kamu pernah ke Kiruna, Ben?” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Pernah, pada musim panas. Sensasinya berbeda. Pada musim panas, kamu

akan mengalami midnight sun.”
“Matahari tengah malam?”
“Secara har ah.”
“Jadi, Kiruna pada musim dingin mengalami 24 jam malam, dan pada

musim panas, 24 jam siang?”
“Kira-kira seperti itu.”
Dru menyela, “Bagiku lebih menarik 24 jam siang, Ben.”
“Tapi, kamu tidak akan menemui hotel es.”
“Karena sudah mencair?” Dru melihat ke luar jendela pesawat.
“Tentu saja. Juga tidak ada Aurora Borealis.”
Dru memangku dagu. “Betul juga.”
“Bagian luar biasa liburan kita dimulai saat turun pesawat.”
“Apa itu?” tanyaku.
“Kita akan naik kereta sampai ke hotel es.”
“Di salju?”
“Iya.”
“Ditarik kuda?”
“Itu biasa, Kash.”
“Rusa? Seperti Sinterklas.”
“Kiruna punya ribuan reindeer: rusa liar yang hanya bisa dijinakkan oleh

Suku Sami. Tapi, kereta kita tidak akan ditarik rusa. Mereka terlalu liar. Lagi
pula kita bukan Sinterklas.”

Kudukku seketika merinding, membuatku terentak menggigil. “Maksudmu,
kereta anjing?”

“Cerdas,” Ben menubrukkan bahunya ke bahuku, “husky dog, terbaik di atas
salju.”

Aku seketika susah bernapas. “Astaga.”
Dru merapatkan wajahnya ke jendela. Menahan tawa dengan dua tangannya.
“Kamu baik-baik saja, Kash?” Ben tidak tahu ketakutanku, “kamu takut
anjing?”
“Hanya tidak terbiasa.”
“Anjing-anjing itu hanya akan menarik keretamu. Kamu tidak perlu
memegangnya.”
“Apakah mereka sudah jinak.”
“Mereka terlatih seperti kuda.”
“Berapa jumlahnya?”

“Empat …. Bisa jadi sepuluh ekor.”
“Ya, ampun.”
Rasanya hampir pingsan. Aku benar-benar menyesal menerima tawaran Ben
untuk liburan musim dingin dengan cara seperti ini. Apa pun yang berkaitan
dengan anjing telah melenyapkan kekalemanku. Pengalamanku dengan Ziggy
telah membuatku trauma. Aku tidak siap berhadapan dengan anjing-anjing
penarik kereta salju. Terlebih jika jumlahnya begitu banyak.
“Apa tidak ada cara lain, Ben?”
“Ada,” Ben melengos, “jalan kaki.”

“ALLAHU Akbar!”
Kedua tanganku menggenggam pegangan kursi kereta sementara sepuluh

anjing husky, yang lebih mirip srigala, berlari di depanku menggonggong tanpa
henti. Dalam saat yang sama aku diteror oleh rasa dingin, kecepatan kereta,
dan kemungkinan anjing-anjing menjadi gila dan balik menyerangku.

Aku sudah membujuk musher: kusir kereta yang ada di belakangku, untuk
bertukar tempat. Tapi, dia memastikan, jika aku yang memegang kendali,
kami tidak akan pernah sampai di tujuan. Itu lebih mengerikan.

Jadi inilah yang harus kujalani. Ditampar-tampar angin minus 5 derajat, di
kereta ski, ditarik anjing-anjing mengerikan, dan tidak tahu kapan perjalanan
ini berakhir. Di kereta luncur kanan-kiriku, Dru dan Ben melambai-lambai
tangan saja. Mereka tidak peduli jika aku mati seketika.

Perlengkapan penumpang kereta yang menutup sedari kepala sampai ujung
jempol kaki tidak cukup membuatku merasa aman. Tanganku tetap
gemetaran, seperti penumpang ojek mabuk yang menghantam setiap polisi
tidur di jalan menurun. Tentu jarang ada polisi di turunan. Tapi, ketika itu
terjadi, sebagian orang akan meyakininya sebagai polisi terkejam di dunia.
Gundukan tajam, berulang-ulang. Aku tidak bisa memikirkan perumpamaan
yang lebih mewakili kepanikanku.

“He, Kash,” Ben berteriak-teriak dari kereta samping kananku, “Dru baru
saja bercerita tentang Ziggy.”

Aku mengembus-embuskan napas, asap putih mengepul seperti uap dari
mulut ketel. Aku menyumpah dalam hati. Sempat-sempatnya mereka

membicarakan hal semacam itu dalam keadaan segawat ini.
“Kash …,” sekarang Dru yang meneriakiku dari sisi kiri, “... nikmati. Kamu

akan baik-baik saja.”
“Terakhir kali aku merasa baik-baik saja, Ziggy mengejarku di sepanjang

Taman Djurgården.”
Dru tertawa. “Aku akan menyelamatkanmu lagi.”
Beberapa detik, aku justru merasa kalimat Dru membekukanku. Ada hal

yang membuatku memikirkan kata-katanya. Tapi, aku tidak cukup waktu
untuk mencerna. Setiap realitas di sekelilingku merampasnya.

“Kapan perjalanan ini berakhir, Pak?” tanyaku kepada Pak Kusir di
belakangku. Dalam teriakan, tentu saja.

“Sekitar 15 menit lagi.”
“Apakah tidak ada jalan pintas atau semacamnya?
“Allt du kan göra nu åär att.”
Sialan. Kusir pun tidak menghiburku. Dia hanya mengatakan bahwa aku
hanya bisa menunggu sampai perjalanan ini selesai. Aku akhirnya pasrah saja.
Berdoa banyak-banyak, sambil berkonsentrasi, membuat keheningan. Seolah-
olah semua yang ada di sekelilingku menghilang. Gagal, aku bukan praktisi
yoga.
Kereta anjing ini terus meluncur di salju, menembus hutan pinus yang aneh.
Pohon-pohon pinus di Kiruna tak sama dengan daerah lain di Swedia.
Tumbuhnya tidak tinggi menjulang. Daunnya pun tidak merindang. Sekarang
semua pemandangan menjadi putih oleh salju.
Ketika akhirnya aku melihat bangunan kota di ketinggian, hampir
membentuk formasi busur, aku lega luar biasa. Cobaan hidupku akan segera
berakhir. Benar saja. Sebab, kusir kereta ini menyentakkan tali kekangnya
dengan cara berbeda sehingga anjing-anjing di depanku mulai melambatkan
larinya.
Kereta ski ini lalu berjalan tak terlalu cepat, tapi masih belum membuatku
merasa aman. Selama aku belum menjauh dari anjing-anjing serigala itu,
hidupku masih dalam ancaman. “Di depan itu Desa Jukkasjarvi, tempat ice
hotel,” kata Pak Kusir, “maafkan jika perjalanan Anda agak mengesalkan.”
“Såg det inte,” kujawab tak mengapa. Jelas aku tidak jujur saat
mengatakannya.
Kereta telah sampai di pemberhentian. Aku buru-buru melompat sebelum
dipersilakan. Mengambil ransel dan mendahului Ben maupun Dru. Aku

menunggu di tempat dalam jarak aman dari anjing-anjing srigala itu.
Merapatkan jaket, membetulkan kupluk.

“Akhirnya, kita sampai, Kash.” Ben menyusulku bersama Dru.
“Ya, kamu perlu mengatakan itu kepadaku,” sindirku.
“Lihat di belakangmu,” Ben memintaku membalikkan badan, “hotel es dan
Sungai Torne.”
Masih ada jalan berbatu yang mesti kami lalui. Jauhnya tak berarti. Lalu,
tampak muka hotel itu mengingatkanku pada Igloo: rumah orang Inuit. Tidak
sebulat itu. Tapi, dindingnya memang betul-betul terdiri atas balok-balok es
yang dibentuk melengkung seperti gerbang masjid. Persis di tengah
lengkungan itu ada pintu kotak yang ditutup kulit binatang sebagai tirainya.
Mungkin kulit rusa kutub. Dinding kanan-kiri pintu berbentuk persegi
panjang, semua berupa balok-balok es memutih. Sedangkan belakangnya
seperti gundukan bukit.
“Sungai itu,” Ben menunjuk sungai yang berada di samping hotel, sementara
kami berjalan menuju sana, “Torne namanya. Semua balok es untuk
membangun hotel berasal dari sana.”
“Waktu kamu datang kemari, hotel itu tidak ada?” Aku penasaran.
“Tidak ada. Setelah musim dingin hotel itu pun kembali menjadi air,
mengalir ke Sungai Torne.”
Ben menyibak tirai kulit rusa, mendorong pintu kayu di sebaliknya, dan
kami segera melihat keajaiban tangan manusia. Benar-benar sebuah lobi hotel
dengan meja penerima tamu, sofa-sofa ruang tunggu, dinding-dinding,
patung-patung, hiasan yang menggantung. Istimewanya semua terbuat dari
balok es yang dipahat. Suasana Natal menonjol pada lilin-lilin besar yang
menyala di sebalik balok es. Pendarannya pecah dan membias.
“ID kalian.” Ben menengadahkan tangan.
Aku merogoh ke dalam tas, menemukan kartu ID-ku di kantong dalam. Aku
biasa menyimpannya di situ. Aku menyerahkannya kepada Ben. Dru
menyusul kemudian.
Ben menuju resepsionis sementara aku dan Dru duduk menunggu. Sekalian
merasakan sensasi pertama di sofa es. Tempat duduk ini berbentuk kotak
tembus pandang, dengan alas duduk berupa kulit binatang. Cukup nyaman,
meski aku tidak bisa mengharap lebih. Pencahayaan ruangan sangat
menyenangkan. Lampu-lampu ditanam di langit-langit, di lantai, di dinding.
Karena semua serbatembus pandang, seperti air, dan memang air beku, cahaya

lampu itu mendapat efek yang mengagumkan.
“Kamu yakin bisa tidur di es, Kash?” Dru menggodaku.
“Harus banyak berdoa.”
Dru tertawa kecil.
“Tapi, kukira suksesmu memang perlu dirayakan.”
Aku bersedekap, berusaha mengurangi dingin. “Sukses kita, Dru.”
“Jiwanya adalah resumemu dan kejelianmu memilih judul buku.”
“Tidak akan pernah terjadi tanpa bantuanmu.”
“Baiklah,” Dru tersenyum tanpa menatapku, “sukses kita.”
“Kungsträdgården akan dicetak 5.000 eksemplar. Bagaimana peluangnya

menurutmu?”
“Sejumlah itu habis terjual, kukira fee agent yang kamu terima sudah cukup

besar.”
“Cukup untuk hidup sederhana makan dua kali sehari, mungkin membeli

satu atau dua buku?”
Dru menoleh. “Kamu ingin berhenti bekerja di bar, Kash?”
“Aku mengalami sebuah peristiwa yang kubaca sebagai pertanda, Dru.

Intinya, aku merasa harus mengundurkan diri dari bar.”
“Alasan spiritual?”
Aku mengangguk.
“Dulu aku mendukungmu bekerja di bar omas karena kamu tidak punya

pilihan, Kash. Sekarang tentu berbeda.”
“Kamu tidak keberatan aku mundur?”
“Sebenarnya ini bukan tentang aku. Dulu, jika kamu tetap bersikeras untuk

menolak bekerja di bar pun, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Aku tidak ingin menghakimi siapa-siapa, Dru. Tapi, aku memang akan

merasa lebih nyaman jika tidak bekerja di bar.”
“Aku mengerti,” ada yang berbeda pada nada bicara Dru, “setiap aku melihat

kamu shalat, aku merasa bersalah.”
“Bersalah?”
“Karena aku turut mendorongmu untuk melawan keimananmu. Itulah

mengapa aku sangat lega ketika kamu mau mencoba peluang baru. Agen
naskah itu.”

“Itu juga mengapa kamu marah sewaktu aku hampir putus asa?”
Dru tidak menjawab buru-buru. “Kamu cerdas. Tidak masuk akal jika kamu
berakhir sebagai tenaga kebersihan. Meski itu hanya untuk sementara.”

“Sudah satu tahun aku menjalaninya, Dru.” Aku setengah tertawa.
“Mengenai pekerjaannya aku sama sekali tidak keberatan. Di tempatku berasal
pun, aku bekerja sik setiap hari. Tapi, tempatku bekerja itu yang selalu
membuat pikiranku tidak tenang, Dru.”

“Aku mengerti.” Dru menoleh kepada Ben yang kini menghampiri kami,
“jadi kapan kamu akan memberi tahu Ben?”

“Mungkin malam ini.”
“Kukira bagus.”
Ben seperti merasa antara aku dan Dru baru saja mendiskusikan sesuatu.
Tapi, dia tidak mempersoalkannya. Ben memberikan kartu kamar dan ID
kami masing-masing.
“Aku menyewa tiga kamar. Karena Dru tidak mungkin tidur satu kamar
denganku dan aku tidak sudi satu tempat tidur denganmu, Kash.”
“Kamu bukan tipeku, Ben?”
“Lagi pula kita beda keyakinan, Kash.”
Kami tertawa.
“Kita bertemu satu jam lagi di sini, ya. Kita akan ke kota. Nanti malam,
pihak hotel akan membunyikan bel jika muncul aurora. Semoga kita
beruntung.”
Aku bangun dari kursi. “Oke, Ben.”
Kata Dru, “Aku duluan, guys. Sudah tidak sabar ingin merasakan tempat
tidur Putri Salju.”
Ben dan Dru melangkah lebih dulu. Kamar berada di lorong yang berbeda-
beda. Aku mencermati kartu kamarku dan mencocokkan petunjuk arahnya.
Ini seperti mencari pintu studio di gedung bioskop. Sayang tidak ada suara
Maria Untu yang terdengar di pelantang suara, “Pintu teater satu sudah
dibuka.”
“Kashmir Indonesia.”
Aku menoleh ke sumber suara. Cukup terkejut meski sebagian pikiranku
mengatakan kemungkinan ini ada.
“Halo, Madam Sam.”
“Halo.” Kesan wajah Madam Sam sudah sangat jauh berbeda. Hari ini dia
tampak begitu bergembira. Bahkan, senyum melebar di bibirnya. “Bagaimana
kamu bisa ada di sini?”
“Seorang teman mengajak saya. Lagi pula saya memang penasaran ingin
merasakan sensasi hotel es. Saya mengira akan bertemu Anda di sini. Ternyata

itu benar-benar terjadi.”
“Ini adalah usaha keluarga. Saya memutuskan untuk sepenuhnya mengelola

hotel ini dan meninggalkan Stockholm.”
“Iya, saya mendengarnya.”
“Kalau begitu selamat menikmati hotel kami. Kamu pasti sangat lelah,”

Madam Sam berkacak pinggang, “jangan sampai terlewat saat aurora nanti
malam.”

Aku mengangguk sambil mengiakan. Lalu, aku hendak terus mencari kamar.
“Madam Sam.” Aku teringat sesuatu.
“Ya, Kashmir.”
“Terima kasih catatan Anda tentang saya di buku itu.”
Dia hanya tersenyum. Mengangguk tanpa bicara. Aku balas tersenyum, lalu
meninggalkannya.
Aku memasuki lorong seperti gua, melengkung pada puncaknya. Kamar-
kamar di kiri-kanan, berpintu kayu. Aku akhirnya menemukan kamarku.
Begitu kubuka pintu, baiklah, aku terkagum-kagum oleh isinya. Kamar ini
secara fungsi sama persis dengan kamar hotel di mana pun. Tapi, setiap benda
di dalamnya menjadi istimewa karena bahan pembuatnya.
Semuanya es. Air yang beku lalu dipahat dengan seni tinggi. Tempat tidur
tembus pandang dengan kasur yang ditutup bulu binatang, meja kursi santai
berfungsi baik meski suhunya sangat dingin. Lima pahatan ubur-ubur bening,
detailnya luar biasa, seperti berenang di kedalaman lautan. Setelah
kuperhatikan, tentakel setiap ubur-ubur yang tingginya menyundul langit-
langit itu berfungsi sebagai kaki. Menjaga keseimbangan patung yang dipahat
penuh seni.
Pada dinding kamar ada rak-rak yang dilengkapi balok-balok es menyerupai
buku. Aku benar-benar bisa mengambil “buku” itu dan membayangkan
seolah-olah ada teks padanya.
Balok es sebesar tempat tidur diberi ceruk seukuran kasur, lalu kasur
sungguhan dilesakkan ke dalamnya. Aku duduk di tepi pembaringan empuk
tertutup lembaran kulit binatang, mungkin rusa, yang cukup hangat. Namun,
suhu ruangan tetap saja sangat dingin. Jika tidak, semua perabot kamar ini
akan mencair.
Aku meletakkan ransel di meja dan sama sekali tidak berpikir untuk bersalin
pakaian. Hawa yang begini dingin memaksamu untuk melapisi pakaianmu,
bukan melepasnya. Aku juga tidak berpikir untuk tidur-tiduran karena kurasa

hanya rasa kantuk parah yang bisa membuatku tertidur.
Kurasa aku akan langsung kembali ke lobi dan berharap ada hal yang bisa

menghangatkan tubuhku. Aku meninggalkan ransel dan hanya menyimpan
dompet berisi ID ke kantong jaket. Berjalan lagi di lorong hotel mencari
petunjuk ke arah bar. Pada titik tertentu aku merasa bangunan ini lebih mirip
kastil-kastil kuno, hanya saja semua dindingnya berupa es. Lorong
melengkungnya, ceruk-ceruk pintunya, semua tampak klasik, unik, sekaligus
futuristik.

Sampai di lobi, Ben dan Dru sudah menunggu.
“Kita akan mengunjungi permukiman Suku Sami sebelum pergi ke kota,”
kata Ben.
“Jalan kaki?” tanyaku.
“Ya.”
“Semoga cukup untuk menghangatkan badan.”
Dru menyela. “Aku mengira perjalanan kereta luncur sudah membuatmu
berkeringat, Kash.”
“Keringat karena ketakutan justru membuatku semakin kedinginan.”
Dru tertawa kecil. Kami lalu keluar hotel dan mendapati para turis lain juga
tampak mencari kesibukan untuk mengurangi rasa dingin.
Seseorang menyapa kami, “Kalian hendak ke perkampungan Suku Sami?”
“Madam Sam.”
Ben dan Dru keheranan karena aku mengenal pemilik hotel itu.
“Madam Sam, mereka Dru dan Ben,” aku menoleh kepada dua kawanku,
“Dru, Ben, perkenalkan Madam Sam. Beliau pemilik ice hotel.”
Mereka bersalaman, bergantian.
“Sekaligus mantan ibu asrama Kashmir di Stockholm,” kata Madam Sam.
Dru dan Ben mengangguk-angguk. Baru mengerti.
“Resepsionis mengatakan kalian hendak pergi ke perkampungan Suku Sami?”
Kami mengiakan hampir bersamaan.
“Mari saya temani,” kata Madam Sam.
“Kami beruntung sekali,” kataku berbasa-basi.
“Saya sangat senang setiap ada anak muda yang punya keingintahuan tentang
Suku Sami.”
“Anda keturunan Suku Sami?” Dru bertanya secara langsung. “Wajah Anda
berkarakter seperti mereka.”
“Kamu sangat teliti.”

Aku yang pernah bertemu setiap hari dengan Madam Sam pun baru
menyadari, mata “Eskimo”-nya adalah petunjuk paling tegas bahwa Madam
Sam berdarah Sami.

Madam Sam memberi isyarat agar kami mulai berjalan. “Suku Sami sudah
ribuan tahun hidup nomaden di kawasan Fjället. Nenek moyang kami sudah
menyatu dengan alam. Pernah mengalami fase yang menyedihkan ketika kaum
pendatang menguasai tanah ini. Mendesak hidup kami.”

Aku cukup terkesan karena Madam Sam berubah drastis dari sosok yang
pernah kukenal. Mungkin, karena dia sedang membahas sesuatu yang dia
cintai. Sehingga, bicaranya lancar dan terdengar sangat menjiwai.

“Nenek moyang kami pernah ditindas, dipaksa pergi ke gereja, dibatasi
hidupnya, diperlakukan rasis oleh penduduk baru Lapland. Kami tertindas di
tanah leluhur sendiri.”

“Anda pernah mengalami itu?” aku beranikan bertanya.
“Iya sewaktu masih kecil. Tapi, perlahan-lahan perlakuan terhadap Suku
Sami berubah. Semakin baik. Kami punya parlemen sendiri, dan kepemilikan
reindeer, sepenuhnya diserahkan kepada kami.”
“Saya pernah menonton tayangan televisi ketika laki-laki Suku Sami
mengumpulkan ribuan rusa liar,” Ben menimbrung pembicaraan, “itu sangat
menakjubkan.”
“Sekarang generasi baru Suku Sami sudah menyebar ke seluruh Swedia.
Bekerja di berbagai bidang, tapi tidak melupakan warisan budaya nenek
moyang.”
“Seperti Anda,” pujiku.
“Saya sudah tua. Sudah waktunya pulang dan merawat peninggalan leluhur.”
Perjalanan pendek kami segera berakhir. Kami menyusuri jalan papan
menuju gapura kayu bertuliskan SÀMI SIIDA dan versi Inggris Sámi Camp di
sebelahnya. Kami masuk ke sana dan segera menemukan perkampungan unik
yang merekonstruksi gaya permukiman Suku Sami.
Rumah-rumah kayu yang mengingatkanku pada rumah limasan di Yogya
atau Piramida suku Inca. Intinya, puncak bangunan tidak betul-betul
mengerucut, tapi rata. Tidak ada tiang-tiang seperti pendopo limasan, tetapi
dinding kayu gelondongan yang rapat membentuk segi empat. Dinding itu
setinggi tiga anak tangga. Memasukinya, seseorang harus mendaki tangga, lalu
menarik pintu yang menyatu dengan salah satu sisi atap miring.
“Tidak ada paku,” kata Madam Sam membanggakan arsitektur leluhurnya,

“tapi rumah Suku Sami sangat kokoh. Kayunya mengunci satu dengan yang
lainnya.”

Madam Sam memimpin kami menghampiri salah satu bangunan rumah itu.
Dia naik tangga, lalu hendak menarik pintunya keluar.

“Biar saya yang membukanya,” Ben menawarkan diri.
Madam Sam tersenyum sedikit. “Lelaki sejati.”
Ben lalu mendahului kami. Naik ke tangga dan menarik pintunya. Kami
bertiga satu per satu masuk ke rumah unik itu. “Jaga baik-baik pintunya, Ben,”
selorohku.
“Baik, Nyonya,” balas Ben.
Ketika kami duduk di dalam rumah kayu itu, baru terasa, mengapa
perkampungan ini disebut camp atau perkemahan. Sebab, rasa-rasanya
memang tinggal di dalam kemah pramuka. Hanya saja tendanya terbuat dari
papan kayu, bukan gelondongan seperti yang kubayangkan. Lantainya tanah,
dilapisi ilalang kering.
Di tengah-tengah tenda kayu ini ada perapian yang tidak sedang menyala.
Aku membayangkan betapa payahnya sebuah keluarga tinggal di dalamnya,
ketika asap perapian memenuhi ruangan. Tentu saja pikiran itu tidak adil
karena aku menimbangnya dengan standar hidup zaman modern. Suku Sami
membangun rumah semacam ini untuk menghadapi cuaca superdingin di
Lapland ketika penghangat ruangan belum ditemukan.
“Desain rumah Suku Sami sudah menjadi kebanggaan nasional,” sambung
Madam Sam, “jika kalian ke Kota Kiruna, kalian akan menemukan bangunan
paling indah di Swedia yang terinspirasi rumah Suku Sami.”
“Gereja Kiruna?” tebak Ben ragu-ragu.
“Benar,” jawab Madam Sam mantap.
“Kami akan ke sana, setelah ini.”
Bangunan terindah di Swedia? Setelah melihat keajaiban arsitektur di
Stockholm, tentu saja aku penasaran.
“Sekarang waktunya kalian menikmati kuliner khas Suku Sami,” Madam
Sam bangkit dari duduk, “kalian bisa pergi ke kafe masih dalam kompleks ini.
Tapi, saya tidak bisa menemani. Saya harus kembali ke hotel.”
“Anda sudah sangat membantu, Madam,” kata Dru menirukan caraku
memanggil Madam Sam.
“Selamat menikmati suasana Jukkasjarvi,” kata Madam Sam ramah.
Ben tidak ingin kehilangan label lelaki sejatinya. Dia mendorong pintu, lalu

keluar lebih dulu. Dia menahan pintu itu sampai Madam Sam dan Dru keluar.
Setelahnya dia melepaskan pegangannya. Pintu itu terbanting di hadapan
mukaku.

Kurang ajar.

SARAPAN atau makan siang, entahlah, yang kami santap tadi bernama
renskav: daging rusa iris, saus jamur, dan kentang almond potato, dan
lingonberry. Kafe tempat kami makan bentuknya hampir sama dengan rumah
Suku Sami, hanya dibuat lebih besar dan nyaman. Lantainya dari papan kayu.
Meja-meja kecil untuk pengunjung selebar tiga papan, dilengkapi kursi-kursi
kayu. Langit-langit bagian miring dihiasi foto atau lukisan, memutar. Jendela-
jendela kaca memanjang dengan kusen bawah dihiasi pot-pot kecil.

Ben agak mendesak kami agar sedikit buru-buru. Kami harus segera naik bus
untuk kembali ke Kiruna, sebab tentu saja aku menolak ketika Ben
menawarkan perjalanan kereta luncur dengan sepuluh anjing yang
menariknya.

Kami akhirnya menaiki bus wisata ke Kiruna. Kota kecil di pegunungan itu
ada di lingkar Arktika yang membuat suhunya sangat mencengangkan ketika
musim dingin datang. Bisa puluhan derajat di bawah titik nol. Bernapas pun
menyakitkan.

Kenyataannya arus turis ke kota kecil ini sangat tinggi. Mereka ingin
merasakan 24 jam tanpa matahari pada musim dingin atau justru mengalami
24 jam bersama matahari pada musim panas.

Kami terlambat datang ke Kiruna sehingga tidak menemui momentum
bangun, tidur, bangun lagi dalam kegelapan yang diburu orang-orang. Tapi,
target utama liburan ini adalah White Christmas bagi Ben yang ingin
merasakan Natal dengan semesta putih seperti yang kami lihat sejak turun dari
pesawat, sampai masuk ke Kota Kiruna.

Bus yang kami tumpangi sudah masuk kota. Pemandangan khas utara
tampak mata. Kota itu hampir berbentuk lingkaran, rumah-rumah berdekatan.
Jalan raya turun-naik khas pegunungan. Bersih, tentu saja, dengan taman-
taman yang mungkin penuh bunga pada musim semi.

Semangat Natal terasa pada hiasan kerlap-kerlip di tiang lampu jalan, pohon

pinus, rumah-rumah penduduk. Boneka-boneka yang meniru fragmen
kelahiran bayi Yesus dipasang di halaman rumah. Patung Tomte, Sinterklas
khas Swedia, juga menghiasi kawasan pertokoan.

“Kota ini bergerak dalam arti har ah, lho, guys,” Ben pamer pengetahuan
umumnya.

“Kamu rajin baca katalog, Ben?” sindir Dru.
“Hanya butuh sedikit kepedulian untuk tahu isu-isu lingkungan Dru,” balas
Ben ketus, “tidak perlu pergaulan kandidat doktor.”
“Berpindah bagaimana, Ben?” aku memisahkan keduanya yang sebenarnya
tidak pernah benar-benar bertengkar.
“Pelan-pelan, kota ini berpindah ke arah timur karena pemerintah meyakini
pada masa depan seluruh kota akan runtuh.”
“Penyebabnya?”
“Pertambangan biji besi. Kiruna dibangun hampir satu abad lalu dan
berkembang bersama pertambangan. Sekarang pertambangan itu justru
membahayakan penduduk kota.”
“Jadi, seluruh kota, seisinya, berpindah?”
“Iya.”
“Lalu, bagaimana dengan pariwisatanya?”
Dru menimpali, “Bekas bom perang dunia pun tetap didatangi orang, Kash.
Mungkin objek wisata lama akan hilang, tapi bekasnya pun tetap mengundang
rasa ingin tahu.”
Ben berkata, “Tapi, itu berlangsung dalam waktu sangat lama. Perpindahan
ini pun bisa berjalan puluhan tahun.”
Kami tiba di terminal bus wisata, dan Ben sepenuhnya kami angkat sebagai
ketua rombongan. Kami bersisian, menatap salju, bergerak menghalau dingin.
Ben yang sudah pernah mengunjungi tempat ini seperti sudah hafal betul
dengan liku-liku jalan, sampai ke Gereja Kiruna yang terkenal.
Aku mengira, karena dominasi arsitektur di Swedia cenderung ke abad
pertengahan dengan batu bata bahan dasarnya, fungsional, megah menjulang,
maka desain serbakayu yang etnik menjadi sangat menarik. Bisa jadi itu
mengapa Gereja Kiruna dianggap sebagai bangunan terindah di Swedia.
Madam Sam mengatakan inspirasi utama tampak luar bangunan gereja ini
adalah rumah Suku Sami. Aku justru tidak terlalu menemukan persamaan
antara keduanya. Kecuali memang geometri dasarnya sama-sama segitiga dan
kayu sebagai bahan utamanya.

Aku dan Dru berdiri di hadapan gereja, sementara Ben bersiap hendak
mengikuti peribadatan Natal. Gereja Kiruna lebih mengingatkanku pada
rumah Gadang orang Minang. Hanya tidak ada lengkungan-lengkungan
eksotis mendekati sudut atapnya. Atap gereja berwarna merah bata itu
bertumpuk, dengan banyak wajah, mungkin ke empat arah. Jendela-jendela
kaca khas tempat peribadatan Nasrani memberi ciri. Anak tangga setinggi
orang dewasa mengantar jemaat dari halamannya ke ruangan utama.

Beberapa orang, termasuk turis, masuk gereja mendahului kami. Salju tentu
saja melimpahi seluruh tutup gereja membuat gambar yang sangat
menakjubkan. Seperti foto kartu pos edisi Natal. Halaman gereja, lingkungan,
atapnya berwarna putih mutlak, sedangkan dinding-dinding luarnya
kemerahan.

“Gereja ini mulai dibuka pada tahun yang sama ketika Titanic tenggelam,”
gumam Ben meresapi perjalanan spiritualitasnya. Itu nilai tambah dari gereja
ini. Sejarah.

“Kami menunggu di sini?” Dru bertanya sambil memantul-mantulkan
lututnya.

Ben menjawab sambil berjalan, “Kalau kamu kuat kedinginan, ya, silakan.”
Aku dan Dru menyusul di belakang.
“Apakah ada larangan kami ikut masuk?” Dru terus memburu.
“Larangan apa?”
“Aku dan Kashmir, kan, beda.” Dru mewakilkan keislaman kami pada sebuah
kata “beda.”
“Aliranku pun berbeda dengan gereja ini.”
“Serius?”
“Masalahnya di kamu. Kamu nyaman tidak kuajak ke dalam?”
“Aku tidak masalah,” Dru menjawab buru-buru, “kamu, Kash?”
Aku belum yakin sebenarnya. Satu tahun tinggal di Stockholm sudah
meruntuhkan batas-batas tabu bagiku. Tapi, meninggalnya Aa Ahmad
menggelisahkanku. Jika aku tak jujur mengenai asal uang yang kuberikan
kepada dia berakhir dengan kematiannya, bagaimana dengan ini? Bukan hanya
masuk gereja, aku akan serta dalam ibadah mereka.
“Aku belum pernah masuk ke gereja,” jawabku lugu.
Ben membalas, “Aku pun hanya setahun sekali, Kash.”
Dru membisik ke telingaku, “Daripada kamu beku di luar, Kash. Lama
ibadahnya.”

Sambil memasukkan kedua tanganku di saku jaket, aku mengangguk. Toh,
shalat di gudang miras pun kujalani. Mengingat Tuhan di tempat berdoa orang
beriman kuharap tidak akan merusak syahadatku.

Kami mendaki undak-undakan dengan setengah berlari. Ketika masuk ke
ruangan utama, bangku-bangku panjang telah hampir terisi semua. Kami
bukan satu-satunya rombongan orang asing yang ikut menyaksikan
peribadatan Natal paling terkenal di Swedia.

Ben mengajak kami mengambil posisi duduk paling belakang. Itu cukup
melegakan. Aku lalu memperhatikan detail interior gereja yang menjulang ini.
Bentuk-bentuk segitiga yang kami saksikan tadi, dari dalam tampak benar
fungsinya sebagai jendela raksasa. Tempat masuknya cahaya.

Bagian depan, jauh di depan, pemimpin peribadatan, mungkin seorang
pastur memulai peribadatan mereka dalam bahasa Svenska. Aku mengerti
sedikit-sedikit.

Kulirik Dru. Dia hendak berdiri ketika jemaat gereja dipersilakan berdiri. Dia
menatapku. Seperti hendak mengajakku. Aku menggeleng pelan. Sangat
perlahan. Dru batal ikut berdiri. Dia menemaniku duduk. Selama ritus itu
terlaksana, aku dan Dru melihat suasana saja. Dru tidak terlihat kikuk dengan
ritus berdiri dan duduk selama peribadatan. Dia tidak ikut menyanyi, tapi
tampak biasa saja. Setidaknya tak merasa terintimidasi.

Itu beda denganku. Satu-satunya teman Kristenku sejak kecil hanya Rusi:
vokalis band-ku itu. Tapi, kami tidak pernah berbicara agama, sama sekali.
Dalam masyarakat kampungku pengikut Yesus tidak sampai sepuluh keluarga.
Aku tidak pernah memperhatikan pola hidup mereka. Pelajaran Pendidikan
Moral Pancasila tentu cukup membantuku agar bersikap biasa saja terhadap
perbedaan. Tapi, tidak pula kemudian membuatku merasa nyaman. Alasannya,
karena tidak terbiasa.

Kehadiran Dru, yang setidaknya sama syahadatnya denganku, membuat
sedikit santai. Peribadatan itu kami ikuti sampai selesai, dan kusaksikan wajah-
wajah bahagia di antara mereka yang datang. Mungkin alasannya berbeda-
beda. Tapi, aku betul-betul melihat banyak wajah yang bersukacita.

“Selamat Natal, Ben,” Dru mengangsurkan tangannya, “maaf lahir dan
batin.”

Ben tertawa kecil. “Itu Lebaran, Dru. Tapi, terima kasih ucapanmu.”
“Lagu Trio Kwek-Kwek begitu, lho, Ben,” Dru tidak mau mengalah, “Natal
juga waktu untuk saling memaafkan.”

Dru tampak seperti terdegradasi insting Ph.D.-nya ketika memakai lagu
anak-anak sebagai referensi. Aku memang pernah melihat di televisi. Tapi,
kurasa bukan lagu Trio Kwek-Kwek.

“Maaf, ya, Ben,” susulku menyalami Ben.
“Untuk apa?”
“Kira-kira sama dengan Dru tadi.”
Intinya kami ikut bahagia untuk Ben. Dia tampak mencintai Natal, dan aku
senang melihat dia penuh cinta. Kami keluar dari gereja mendahului jemaat
lain. Ben bahkan melewatkan beberapa sesi peribadatan. Mungkin semacam
jemaah shalat Idul tri yang meninggalkan lapangan sebelum khatib naik ke
mimbar. Faktanya bagaimana, aku tidak tahu benar.
Ben ingin kami segera mengejar bus kembali ke Desa Jukkasjarvi karena
jadwal keberangkatannya tidak banyak. Jika kami tertinggal bus terakhir,
mungkin Ben betul-betul harus menyewa kereta luncur yang ditarik anjing itu.
Sudah pasti aku yang angkat tangan.
Dru berbicara selagi kami berjalan cepat menuju terminal bus. “Jadi, inti
kunjungan kita ke kota adalah mengantarmu ikut Misa Natal, Ben?”
“Kalau kalian kutinggal berdua di hotel, kan, bukan muhrim.”
Dru menghajar bahu Ben dengan bahunya. Ben terhuyung sembari tertawa.
“Sekalian aku ingin menunjukkan kalian bangunan terindah di Swedia,” kata
Ben kemudian, “selagi gereja tua itu masih berada di tempatnya.”
“Gereja Kiruna juga akan dipindah?” Aku ikut penasaran.
“Sudah kukatakan, seluruh isi kota. Bangunan seperti gereja yang serbakayu
kemungkinan akan dipindahkan secara utuh.”
“Itu membengkokkan sejarah,” lirihku.
“Membuat sejarah baru,” Dru menyergah. Dia tidak suka dengan ide
sentimental perihal orisinalitas yang selalu kujunjung tinggi. Mungkin insting
Ph.D. membuatnya begitu.
Kami tiba di terminal dan sungguh-sungguh mendapat kursi di bus terakhir
tujuan Jukkasjarvi. Sebuah keberuntungan. Tepatnya, buah dari perhitungan
yang matang. Di bus, beberapa bangku masih kosong. Rupanya banyak
wisatawan yang bertahan di Kiruna. Betah dengan panoramanya yang
bersahaja.
Dru mengarahkanku duduk sederet dengan Ben, sedangkan dia memilih
bangku di seberang. Kami dipisahkan lorong antara dua baris tempat duduk
dua-dua.

“Pemilik hotel itu,” Dru melihat kepadaku, “kalian dekat selama di
Stockholm, Kash?”

“Justru tidak,” aku tidak ingin membahas catatan buku besar itu, “ketika dia
memandu kita tadi, itu kejutan bagiku. Sebab, anak-anak asrama mengenalnya
sebagai pribadi yang sedikit bicara.”

“Kukira hotel es hanya akan bertahan selama, paling lama, empat bulan,”
Dru seperti bergumam, “apa yang mereka kerjakan setelah hotel itu mencair?”

“Seperti katamu, Dru,” aku menjawab pertanyaan yang tidak ditujukan
kepadaku, “mereka akan datang ke lokasi bekas hotel es dan pemandu wisata
akan bercerita, ‘di sini, setiap musim dingin, Anda akan menemukan hotel es
pertama di dunia.’”

Aku merasa baru saja melayangkan serangan mematikan. Dru terdiam.
“Pada musim panas mereka punya tema wisata yang berbeda. Selain midnight
sun, pemandangan musim panas juga sangat indah.”
“Mungkin, secara ekonomi itu lebih baik dibanding menjadi pengelola
asrama,” Dru menduga-duga.
“Alasan ekonomi tidak selalu menjadi pertimbangan, Dru. Mungkin secara
spiritual Madam Sam sungguh-sungguh merasa tenang bekerja di kampung
halamannya sendiri.”
Dru melirikku. Bus telah meninggalkan Kota Kiruna. Menembus jalan mulus
diapit hutan pinus.

MALAM ini, kami berjanji berkumpul di bar hotel es. Di sana, kami
menyengaja menunggu penampakan aurora.

Aku tiba paling akhir, karena sebelumnya aku memutuskan untuk tidur
sebentar setelah rasa lelah betul-betul mengalahkanku. Dingin bukan kepalang
sampai ke mimpi. Tapi, pada saat yang sama sensasi rasa itu memberiku
semacam meditasi. Memberi sugesti pada pikiran bahwa dingin itu tidak akan
menggangguku.

Aku terbangun cukup malam lalu bersegera menuju bar. Aku memperhatikan
sekeliling dan merasa salut dengan wujud seni yang berbeda bar ini dengan
ruangan-ruangan lainnya. Detail meja barnya mengembalikanku ke Gamla
Stan, tempat bar omas berada.

Sebab, detail meja barnya pun hampir sama. Pembedanya tentu saja karena
segalanya di ruangan ini tembus pandang. Bahannya air yang beku. Jadi, di
ruangan ini, dan ruangan-ruangan lain, seluruh dindingnya yang keras adalah
balok es yang ditutup salju keras berwarna putih, bergeronjal. Sedangkan
perabotnya sebening air, terpahat detail.

“Kalian sudah di sini,” aku menyapa Dru dan Ben yang sudah duduk di
depan meja bar dan di hadapan keduanya sudah tersedia minuman dan
sepiring makan malam. Gelasnya berbentuk kotak, tetapi ceruknya berwujud
silinder. Gelas Dru berwarna hitam Coca-Cola, sedangkan milik Ben berwarna
merah menyala.

“Tidak ada yang bisa dikerjakan di kamar,” kata Dru, “lebih baik kita di sini
menunggu aurora muncul.”

“Pesan minum, Kash,” sambut Ben, “tapi tidak ada cendol di sini.”
“Coca-Cola?” Dru menawariku.
“Boleh, Dru.”
Dru berbicara kepada bartender. Aku duduk di sebelahnya. Di tengah-tengah
antara Dru dan Ben. Posisi ini rupanya akan selalu kuulang di mana pun.
“Terima kasih, Dru.”
Coca-Cola datang, dan aku takjub melihat gelasku sendiri. “Minum pun jadi
punya tantangan tinggi.”
“Coba saja.”
Aku mencoba sensasi ini sambil senyum-senyum. Menyeruput sedikit. “Lebih
dingin.”
“Mungkin memang itu fungsinya es batu,” Dru memutar matanya,
“membuat minuman jadi lebih dingin.”
“Coba punyaku, Kash,” Ben menggeser gelasnya, “ini beda rasanya.”
Aku menggeser kembali gelasnya. “Kata Bang Haji Rhoma, haram
hukumnya.”
Tentu saja Ben tidak serius. Gaya bercandanya memang tak halus.
Tanyaku, “Jadi, kapan kamu akan memberi tahu aku, Ben?”
“Tentang apa?”
“Bahwa kamu pemilik sejati bar omas.”
Ben tampak sedikit terkejut. Sedikit sekali. “Itu tidak berpengaruh apa-apa,
kan, Kash?”
“Ke siapa? Kalau kepadaku, besar pengaruhnya. Karena tidak setiap karyawan
bar omas kau bayari liburan musim dingin hingga ke tempat ini.”

“Itu beda konteksnya.”
“Bagaimanapun terima kasih sudah memberiku pekerjaan, Ben.”
Ben melirik. “Kamu bicara begitu seperti mau pamitan saja, Kash?”
“Sayangnya, memang begitu.”
“Apa?”
“Aku pikir Ja! punya peluang untuk berkembang, Ben. Aku ingin fokus
untuk mencari buku-buku yang bisa terbit di Swedia. Seperti perbincangan
kita dulu, mungkin Ja! bisa berkembang ke pasar Skandinavia, bahkan Eropa.
Ditambah kuliah, kukira waktuku tidak akan cukup jika aku bertahan di bar

omas.”
Ben seperti membiarkanku menyelesaikan kalimatku.
“Maaf, Ben.”
Ben melirik, lalu menepuk bahuku. “Keputusan yang baik. Kamu kira aku
juga nyaman melihatmu setiap hari membersihkan toilet bar, Kash?” Ben
menggeleng-geleng, “aku sangat gembira ketika Dru menemukan bakatmu dan
bisa menciptakan peluang bisnis dalam bidang itu.”
“Jadi kamu tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak.” Ben tertawa.
“Aku berutang banyak kepada kalian.”
“Jangan bicara utang kepada sesama teman Kash,” Dru menyela.
“Kenyataannya aku betul-betul berutang kepadamu, kan, Dru?”
“Iya, jangan dibicarakan. Kalau sudah punya uang, bayar.”
Kami tertawa. Ben paling kencang bunyinya.
Sirene berdering sangat kencang dan panjang. Semua orang terperanjat dan
riuh rendah suaranya.
“Aurora,” kata Ben.
Dru bangkit lebih dulu. “Ayo keluar.”
Kami bertiga berbaur dengan para tamu hotel lainnya. Berlarian seperti orang
merespons peringatan kebakaran. Berjubel di pintu keluar, tidak sabar
menunggu giliran. Begitu sampai ke halaman hotel, semua orang tengah
mendongak, mulut berdecak.
Aku pun terkena sihirnya. Menatap langit yang tak terkira ajaibnya. Langit
malam yang hitam berbintik bintang, menjadi kanvas bagi cahaya yang susah
dilukiskan keindahannya. Seperti cat yang jatuh di air. Seperti lukisan surealis
yang mencampur banyak warna. Ungu yang bergradasi, hijau yang bergradasi,
biru, oranye, kuning. Seperti ada kuas raksasa yang mencoret-coret angkasa.

Membentang luas dan … bergerak! Seperti asap perapian, tapi berwarna,
meliuk-liuk, ditembus cahaya. Kadang serupa sayap yang memenuhi langit
malam.

Aku menahan napas. “Subhanallah.”
Ben berdiri di kiriku. “Praise e Lord.”
“Mari kita membuat janji di hadapan aurora,” kata Dru
Kami menoleh kepada Dru. Mengerut dahiku. Apakah ini tidak terlalu
drama?
“Aku Drupadi Ardanareswari, demi persahabatan ini, tidak akan jatuh cinta
kepada salah satu di antara kalian berdua.”
Ben tertawa lalu bersikap masa bodoh. “Aku Benua Hutapea, berjanji, demi
persahabatan ini, tidak akan menikah sebelum umurku empat puluh tahun.”
Aku diam saja. Hal seperti ini, aku tak biasa.
“Kash?” Dru mendesakku.
“Baiklah,” aku berdoa janjiku ini tak menjadikanku seorang musyrik, “demi
persahabatan ini, aku Kashmir berjanji,” menoleh kepada Dru dan Ben
bergantian, “tidak akan minum miras seumur hidup.”
Ben mendorong bahuku dengan bahunya. “Janji kamu sepele banget, Kash.”
“Karena aku berteman dengan kamu, janji itu jadi berat, Ben.”
Ben masih mengomel.
“Ini janji e ree Musketeers, oke?” Dru mengangkat tangan, menunjuk
aurora. “One for all. All for one!”
“Bukannya e ree Musketeers lelaki semua, Ben?” bisikku.
“Mungkin benar, Dru adalah lelaki yang menyamar,” jawab Ben.
Dru memukuliku dan Ben bergantian. Aku segera berlari. Dru memburuku,
meninggalkan Ben yang berdiri termangu.
Iya, ini sangat mendekati drama. Tapi, kami menikmatinya.

RIN menangkupkan dua telapak tangannya di wajah. Menutup mulut dan
ujung hidung. Matanya meyipit. “Please … please … beli … beli … beli.”

Kami sedang mengawasi, secara sembunyi-sembunyi, seorang perempuan
muda yang sedang membalik-balik novel Kungsträdgården. Di hadapan dia,
tumpukan novel yang sama ditata apik, seperti menara. Ada label buku laris

bulan ini pada langit-langit toko buku Södebokhandeln di Jalan Götgatan ini.
Aku dan Rin sepagian menyisir beberapa toko buku untuk melihat

perkembangan penjualan novel yang menjadi proyek agen naskah pertamaku
itu.

“Yes … yes … yes.” Rin berjingkrak-jingkrak kecil ketika pembeli itu
membawa novel Kungsträdgården ke kasir.

“Fenomena yang sama,” aku pun punya kegembiraan serupa, hanya tidak
sedemonstratif temanku itu, “hampir di semua toko buku, Kungsträdgården
masuk jajaran buku laris. Fru Lotta disersehandel, Drottninggatans Bok &
Bild, Hallongrottan, NK Bokhandel.”

“Hanya di e English Bookshop, novel itu tidak ada.”
“Kukira sudah waktunya kita memikirkan terjemahan bahasa Inggris, Rin.”
Rin mengangguk-angguk sembari tak menahan air matanya.
“Kamu bisa melakukannya?”
Anggukan Rin semakin menjadi. “Iya,” dia menghapus air mata gembiranya,
“maaf. Aku terlalu bahagia.”
Aku tersenyum sembari mengajaknya berpindah ruangan. Kami menyusuri
toko buku itu, mencari tempat duduk yang nyaman untuk bicara.
Södebokhandeln adalah salah satu toko buku paling direkomendasikan di
Stockholm. Tidak sekadar lengkap, grup toko buku ini memanjakan
pengunjung dengan suasana dan fasilitas yang nyaman.
Rak-rak buku ditata sangat baik, berkelompok apik. Pengunjung dengan
macam-macam usia menemukan dunia mereka. Anak-anak punya area khusus
yang bukan hanya dilengkapi buku, tapi juga tempat permainan.
Setelah diterima penerbit pada musim dingin keduaku, Kungsträdgården
mulai masuk toko dan menjadi fenomena dunia penerbitan pada musim semi
tahun berikutnya. Belum pernah sebelum itu, ada buku berbahasa asli Jepang
yang diterjemahkan dan dibicarakan masyarakat ramai hanya dalam beberapa
pekan setelah diterbitkan.
“Ini hampir tidak tertanggungkan.” Rin kembali menangis karena gembira
yang luar biasa. Kami duduk berhadapan di kursi baca dan dia masih belum
sanggup banyak bicara.
“Firasatku,” aku coba menenangkannya, “masih banyak hal mencengangkan
yang akan datang.”
“Ya, ampun,” Rin mendekap diri, dua kakinya seperti mengentak-entak
lantai, “aku tidak percaya ini terjadi, Kashmir.”

“Penerbit-penerbit yang dulu menolak naskah Kungsträdgården mulai
menghubungiku dan meminta agar kita menyuplai buku-buku Jepang ke
mereka.”

Dua mata Rin membelalak. Mulutnya menganga.
“Aku bersungguh-sungguh, Rin,” aku hampir terpingkal-pingkal melihat gaya
Rin yang mirip komik manga itu, “kukira kita akan menjadi mitra tetap
setelah ini.”
“Ini luar biasa.”
“Kamu tahu ini pekerjaan yang keren. Lagi pula, secara ekonomi juga jauh
lebih menjanjikan dibanding pekerjaan sampingan mana pun.”
“Begitu?”
“Kuncinya pada pemilihan buku yang tepat, resume yang tajam, dan insting
pasar yang baik.”
Rin mengangguk terus-menerus.
“Setahuku ilmuwan Jepang unik-unik, Rin. Mungkin ada penemuan yang
sudah dipublikasikan? Artinya peluang kita tidak hanya pada novel.”
“Ada … ada,” Rin mengingat-ingat sesuatu, “sewaktu masih di Jepang aku
pernah membaca buku tentang penelitian kristal salju. Penelitian itu
membuktikan salju bisa merespons tindakan manusia padanya.”
“Oh, ya?”
“Iya, Kashmir. Salju akan menciptakan kristal berbeda jika dihibur dengan
lagu, diajak berbicara, atau diajak bercanda. Kristalnya juga menjadi rusak jika
kamu bentak-bentak, kamu caci maki, dan tindakan buruk lainnya.”
Aku seketika teringat kecelakaan sepedaku waktu itu. Mungkin aku terlalu
kesal dengan salju, dan kristalnya mencelakakanku.
“Itu menarik, Rin. Kamu kumpulkan saja buku-buku semacam itu.”
“Kamu akan menyeriusi usaha ini, Kashmir?”
“Aku menikmatinya.”
“Aku pun berencana untuk meneruskan studiku sampai doktoral di Swedia.
Pekerjaan sampingan semacam ini akan sangat membantu.”
Aku mengulurkan tangan. “Kita sepakat?”
Rin menyambut tanganku sambil menyipitkan matanya. “Seratus persen,
sepakat.”
Kami tertawa optimis, lalu meninggalkan tempat duduk itu, keluar dari toko.
Aku menuju parkir sepeda, sedangkan Rin berjalan ke stasiun metro.
Itu musim semi ketigaku di Stockholm. Dua tahun sejak Dru memunculkan

ide agar aku masuk ke dunia perbukuan. Merangkak, perlahan bagai kura-
kura, dan berbunga pada akhirnya. Dari musim semi ke musim semi
berikutnya. Sudah cukup lama sejak Nina berpamitan kepadaku. Sampai kini
tak ada kabar lagi darinya. Aku sungguh mendoakan kebaikan untuknya.
Gadis baik budi itu layak untuk berbahagia.

Aku melepaskan gembok sepeda, lalu mengayuhnya. Udara Stockholm masih
merekam jejak musim dingin. Tapi, penduduk kota mulai antusias
menyiapkan diri menyambut musim panas. Taman-taman kota mulai
berwarna. Bunga-bunga menguncup, sebagian telah bermekaran. Orang-orang
berkumpul dengan sahabat, menyapa teman, atau sekadar berjalan-jalan
dengan hewan peliharaannya.

Rasanya tidak percaya aku mampu bertahan di kota ini. Berlalu tiga
Ramadan, terlewati tiga Lebaran. Ketiga-tiganya pada musim dingin. Paru-
paruku telah berkompromi dengan udara Stockholm. Cara berpikirku mulai
seirama dengan rata-rata orang Swedia.

Kursus bahasa Svenska telah kuselesaikan awal musim semi ini. Setidaknya
aku bisa berbicara dalam bahasa Svenska dan seseorang di depanku
memahamiya. Aku menyisakan keindonesiaanku dalam beberapa hal, agar
kakiku tidak kehilangan pijakan.

Akan tetapi, aku tidak punya kemampuan untuk memperbarui caraku
mengingatmu, Kanya. Engkau tetap ada meski tanpa suara. Sudah tiga kali aku
memberi tahu keberadaanku dengan mengirim bingkisan Ramadan kepada
ibumu. Termasuk Kuda Dala pada musim dingin pertamaku yang
menyakitkan itu dan cendera mata dari Kiruna: sebuah miniatur rumah Suku
Sami yang kusertai kartu gambar Kiruna memutih oleh salju.

Aku tidak lagi mengirimimu kartu pos, Kanya. Rasanya semakin tidak
pantas. Kucukupkan kabarku pada benda-benda yang kualamatkan kepada
ibumu. Agar setiap Ramadan, dia menyebut namaku. Tidak akan mengubah
apa pun. Aku pun tahu itu. Aku hanya tidak ingin dilupakan. Aku ingin
ibumu tetap menyimpan kenangan. Sebab, dialah yang melahirkan orang yang
melekat pada re eks pikiran. Dirimu.

Aku menyusuri Jalan Vattugatan, merasakan kehangatan siang.
“Hej!” salamku kepada pesepeda yang kudahului. Seorang lelaki bugar yang
berlengan sebesar kakiku.
“Hej!” balasnya, tidak keberatan aku melaju lebih dulu.
Aku ingin segera sampai di asrama. Aku harus menelepon Dru.

Pembicaraanku dengan Rin tadi ingin aku sampaikan kepada Dru. Dia harus
tahu. Meski Dru selalu menghindar jika aku ingin melibatkannya dalam
urusan redaksi Ja! lebih dalam, aku tetap berbagi setiap perkembangan.

Ide untuk menerjemahkan Kungsträdgården ke dalam bahasa Inggris
menurutku semakin relevan. Edisi bahasa Inggris akan mendorongnya ke
sebuah petualangan baru. Novel itu jadi punya kesempatan untuk berbicara
kepada lebih banyak pembaca di berbagai negara, setidaknya di Eropa.
Sedangkan edisi Svenskanya akan kucarikan jalan menembus Denmark,
Norwegia, Finlandia, mungkin Latvia.

Itu baru satu judul buku. Aku hampir tidak bisa membayangkan bagaimana
sibuknya duniaku ketika telah beberapa buku yang Ja! kelola. Aku merasa
keterlibatan Rin akan sangat membantu. Dia sungguh-sungguh menyukai
buku. Dia juga punya ekspresi yang lucu.

Perjalananku sampai di depan asrama, aku segera memarkirkan sepeda. Aku
lalu memasuki lobi dengan menyapa pengelola asrama di ruangannya.

“Halo.”
“Halo, Kashmir.”
Pengganti Madam Sam 180 derajat beda gaya dan perilakunya dibanding
pemilik hotel es itu sewaktu masih mengelola asrama ini. Dia seorang
perempuan empat puluhan tahun dengan gaya modis setiap hari dan wajah
ceria yang tidak dibuat-buat. Dia menghafal namaku hanya dalam sekali
bertemu. Dia pun sangat suka mengobrol. Namanya Bu Mathilda.
“Tadi pagi ada seseorang meneleponmu,” Bu Mathilda memeriksa buku
catatannya, “namanya … Pippi?”
Dia memberitahuku, tapi tidak yakin apakah dia membaca nama itu dengan
cara yang benar.
“Maksud Anda Pipin dari Indonesia?”
“Iya. Your brother, katanya.”
Pipin? Ada apa?
“Dia meninggalkan pesan, Bu Mathilda?”
“Ayahmu sakit,” Bu Mathilda menunjukkan mimik wajah prihatin, “saya ikut
prihatin, Kashmir.”
Aku kehilangan kata. Pak Haji sakit? Seserius apa sampai Pipin
meneleponku?
“Terima kasih, Bu Mathilda,” aku menoleh ke telepon, “boleh saya
menelepon?”

“Silakan … silakan.”
Aku menyergap gagang telepon, memutar nomor rumah Pak Haji. Jantungku
berdebar macam genderang perang. Nada sambung, tapi tak kunjung diangkat
sampai terputus. Aku mencobanya lagi. Hasilnya sama. Aku menekan nomor
sekali lagi. Tersambung, kali ini diangkat segera.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, sareng saha ieu? Dengan siapa?
“Pak Wawan. Ini Aa?”
“Pak Wawan. Iya ini Kashmir. Pak Haji sakit apa, Pak?”
“Pak Haji terserang strok, A.”
“Innalillahi. Kapan?”
“Semalam. Tangan kanan dan kaki kanan Pak Haji tidak bisa digerakkan.
Bicara juga jadi susah.”
“Sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Sudah, A. Sekarang ditunggui Bu Haji dan Pipin.”
“Kata dokter bagaimana, Pak?”
“Saya kurang tahu, A. Tapi, Pak Haji sempat bicara meski tidak jelas. Katanya
Aa harus pulang.”
“Saya?”
Suara Pak Wawan melirih, “Pak Haji takut tidak sempat ketemu Aa lagi. Kata
Bu Haji, semalam menangis di rumah sakit. Minta Aa pulang.”
Perasaanku tidak karuan. Tidak yakin apa yang mesti aku katakan. “Iya, Pak
Wawan. Saya cari cara untuk bisa pulang. Tolong sampaikan ke Pak Haji.”
“Baik, A. Saya sampaikan segera.”
“Hatur nuhun. Terima kasih, Pak Wawan.”
“Sawangsulna, A. Sama-sama.”
Telepon kututup. Aku berusaha tenang, memikirkan jalan keluar.
Bu Mathilda melirikku, ingin tahu, tapi tidak sampai kata untuk bertanya.
Dia lalu mengetik sesuatu dengan komputernya.
Aku menekan-nekan tombol angka lagi.
“Halo.” Dru di seberang.
“Dru, ini Kashmir.”
“He, Kash.”
“Sepertinya aku akan merepotkanmu lagi, Dru.”

Selesai


Click to View FlipBook Version