The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

“TEKAN yang kuat,” aku menahan jemari Opik ke senar gitar, “telunjuk di
sini, jari tengah di atasnya, kelingking di bawah.”

Aku melihat keteguhan di mata Opik. Bibirnya terkatup menahan sakit.
“Nyeri, Pik?” Ujang yang berdiri di hadapan Opik menyela perjuangan
kakaknya.
“Saeutik …,” jawab Opik, “sedikit.”
“Kalau sudah terbiasa nanti tidak sakit,” aku memberi semangat, “coba Opik
bunyikan.”
Opik memakai jari-jari tangan kanan untuk membunyikan gitar di
pangkuannya.
Senyum bangga pada wajahnya.
“Bisa, bukan?” Aku menepuk bahu adik sulungmu. Adikmu yang paling
mirip masa kecilku. Tekadnya, kengototannya, sedikit keinginannya.
Sedangkan, Ujang yang paling amboyan, ingin didengarkan, semangatnya
harus sering-sering dinyalakan.
Pahmi adalah hiburan seutuhnya. Pipi gembilnya, rambut poninya, cara
bicaranya yang menggemaskan membuatku banyak tertawa. Dia selalu bicara
dengan bahasa Sunda lemes. Sunda paling halus.
Sementara itu, Opik meluweskan jari-jarinya, Ujang terus-menerus
mengkritik tekniknya, Pahmi mengemil kudapan kemasan. Duduk di atas
pagar tembok, dua kakinya mengayun bergantian.
“Coba kunci A, Pik.”
Opik mengubah posisi jarinya, genjrang-genjreng kemudian.
“F.”
Jemarinya berpindah dengan lincah. Gigi atasnya menggigit bibir.
“A.”
Kali ini agak kesulitan. Namun, akhirnya dia selesaikan.
“Nanti latihannya langsung ke lagu, ya. Koko tuliskan kunci-kunci nadanya.”
Kepada mereka bertiga aku bisa menyebut diriku sendiri “Koko” dan itu
terasa sangat menyenangkan.
“Balonku ada lima, Ko.” Pahmi ingin dilibatkan.
“Boleh …,” aku memberi isyarat kepada Opik, “… pinjam, Pik.”

Opik menyerahkan gitar, aku lalu duduk dan mereka bertiga berjajar.
“Balonku ada lima,” aku mulai menyanyi, Opik dan Pahmi mengikuti. Pahmi
bersemangat sekali, Opik memang ingin membahagiakan adiknya, sedangkan
Ujang asyik sendiri. “Rupa-rupa warnanya.”
“Merah, kuning, kelabu,” aku mengencangkan suaraku, “merah muda dan
biru. Meletus balon hijau ….”
Pahmi berteriak paling keras, “Doooooor!”
“Sebentar, sebentar …,” aku menghentikan bunyi gitarku, “… balon hijau
punya siapa, ya?”
“Punya Pahmi,” Pahmi tidak ingin didahului.
“Coba dengarkan lagi,” aku menyanyi akapela, “Balonku ada lima. Rupa-rupa
warnanya. Merah, kuning, kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau
….”
“Dooor,” Pahmi tidak peduli.
Tanyaku, “Balon hijau dari mana?”
“Eh …,” Ujang yang tampak paling serius, “… benar juga, ya, Ko. Kok, ada
balon hijau?”
Opik mengulang lagi itu lirih, sambil berpikir mendalam, “Merah, kuning,
kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau. Hatiku sangat kacau.”
“Aneh, ya?” aku pura-pura ikut berpikir.
“Koko salah,” Pahmi mengarahkan wajahku ke mukanya. Dua tangan
montoknya memencet bibirku sampai menjorok ke depan, “Hijau, kuning,
kelabu. Merah muda dan biru. Begitu. Tidak ada warna merah.”
Aku tertawa, kupeluk Pahmi sampai penuh dadaku. “Masa? Pahmi barangkali
yang lupa.”
“Tidak,” Pahmi mencubit dua pipiku, “… kata Ibu Guru, hijau, kuning
kelabu, merah muda, dan biru.”
“Koko ngerjain kita,” Opik menggelitik pinggangku.
“Serbuuu,” Ujang ikut-ikutan. Mengucek rambutku serampangan.
“Ampuuun …. Ampuuun.” Aku bergulingan di lantai semen teras rumahmu.
Adik-adikmu menindih badanku. “Menyerah … menyerah.”
“Opik, Ujang, Pahmi,” engkau keluar dari rumah, membawa nampan dan
mungkin secangkir teh tawar, “… tidak boleh begitu. Tidak sopan.”
Opik, Ujang, dan Pahmi serentak menghentikan serangannya. Mereka lalu
berpencar di teras, mencari tempat berlindung masing-masing.
“Minta maaf ke Koko,” katamu agak judes.

“Tidak usah,” aku menengahi, “... memang tadi bercanda, ya.”
“Kalau dibiarkan jadi kebiasaan. Dengan yang lebih tua harus hormat.”
Opik yang lebih dulu menghampiriku.
“Maaf, ya, Ko.”
Dia meraih tanganku, mengecupnya hikmat. Ujang menyusul ogah-ogahan.
Mencium tanganku cepat-cepat. Pahmi menirukan kedua kakaknya, tapi
sedikit berlebihan. Sampai basah punggung tangan. Aku menariknya ke
pelukan.
“Sudah, sekarang mandi, sana,” engkau memerintah adik-adikmu, “… sudah
mau Dhuhur.”
“Iya, Teh.”
Opik menjawab lirih, sedangkan Ujang dan Pahmi berlalu begitu saja. Agak
kesal dengan kakaknya. Aku salah tingkah juga. Merasa engkau sebenarnya
sedang marah kepadaku dan bukan mereka. Candaku tentang akad nikah di
kereta, kemarin, masih mengganggu hatimu, rupanya.
Sepeninggal adik-adikmu, engkau tidak mempersilakanku minum, seperti
biasa. Duduk saja tafakur sambil memainkan ujung bajumu.
“Boleh saya minum?”
Engkau mengangguk.
Aku meneguk setengah cangkir, lalu meletakkannya di meja. Aku meraih tas
dan mengeluarkan lembar jawaban soal Agama yang kemarin kamu serahkan.
“Ini hasil ujian Kanya.”
Engkau menerima lembaran itu dan tampak agak terhibur.
“Nilai sempurna,” kataku.
“Alhamdulillah.”
“Senin depan kita mulai pelajaran kelas II SMP.”
Aku melihat matamu menelaga. “Terima kasih, Ko.”
Aku mengangguk. Kali ini tidak ingin memperdebatkan kata itu. Barangkali
memang apa yang kulakukan sangat berarti bagimu. Jika berterima kasih
membuatmu bahagia, aku tidak akan menolaknya.
“Sama-sama.”
Kita terdiam agak lama. Pandangan ke jalan aspal di depan rumahmu.
Menyaksikan lalu-lalang orang yang berseliweran.
“Kanya sudah memaafkan saya?”
Aku mencari matamu. Engkau balas menatapku. “Memaafkan apa, Ko?”
“Kemarin, candaan saya berlebihan.”

Engkau mengangguk. “Tidak apa-apa, Ko.”
Aku meraih gitar, rasanya lebih baik daripada kita banyak diam.
“Kanya mau menyanyi ‘Bintang-Bintang’?”
Engkau mengangguk. Hatiku merunduk.

Gh a 9

Mimpi Keraj aan Swed ia

S “elamat pagi, Pak Maman.”
“Pagi, Kashmir.”
Aku dan dirimu sedang mengulang apa yang sudah kita lakukan, ratusan kali.
Menaiki kereta pada awal hari. Mencari bangku paling nyaman untuk duduk
berdua. Setahun terakhir aku mulai mencoba hal baru. Sesuatu yang tidak
pernah engkau lakukan. Aku berkenalan dengan macam-macam penumpang
yang bersama kita memulai perjalanan.

Engkau melihat mereka hampir setiap hari. Menyapa sekadarnya. Tidak
pernah saling mengenal nama. Padahal, telah bertahun-tahun menempuh
perjalanan bersama. Pulang dan pergi setiap hari. Aku ingin mengenal mereka
selayaknya teman. Meski jarak usia kita dan mereka kadang jauh nian.

“Segar-segar buahnya, Pak Dodo.”
“Alhamdulillah. Habis panen, Mir.”
Sudah setahun ini aku mengenal mereka lebih dekat. Belasan orang pedagang
dan pekerja yang berangkat dari stasiun yang sama.
“Depan kosong, Mir.”
“Hatur nuhun, Bu Dedeh.”
Aku menjunjung bakulmu, memanggul gitarku. Engkau mencangklong tas
punggungku. Orang-orang sudah lama memaklumi itu. Aku tidak
memikirkan bagaimana mereka menyebut kita, memikirkan kaitan antara kita,
Kanya. Telah dua tahun kita bersama dalam kereta. Aku yakin sudah lebih dari
700 kali bertatap muka. Kita tidak lagi membutuhkan de nisi-de nisi.
Pekan itu, engkau mulai belajar materi kelas III SMP. Kadang, terasa tak

percaya, dari sebuah pertemuan yang tak sengaja, kita bisa menjalani itu
semua. Mampu memiliki kedekatan begitu rupa.

“Duduk, Kanya.”
Tentu saja aku tidak perlu mempersilakanmu. Namun, aku merasa lengkap
ketika mengatakan itu. Engkau memangku tasku, memperhatikanku mengatur
bakulmu. Aku duduk menyebelahimu.
“Nanti di Rancaekek, Pipin naik.”
“Dia jadi sekolah di Bandung, Ko?”
Aku mengangguk. Sudah dua tahun ini, beberapa kali, aku mengenalkanmu
tentang Pipin, dalam cerita-ceritaku. Tidak ada yang terlalu pribadi. Bukan
pula berupa keluhan-keluhan. Aku hanya ingin engkau tahu dengan siapa aku
hidup. Siapa saja yang ada di rumah Pak Haji. Bagiku sendiri ini sebuah
kejutan, ketika Pipin memutuskan untuk menyusulku sekolah di Bandung.
“Satu sekolah dengan Koko?”
“Tidak. Pipin sekolah di SMA.”
“Oh.”
“Tetapi, turunnya di Kiaracondong. Sama dengan kita.”
Aku melongok ke luar jendela. Telah kita saksikan hujan dan terang pada
pagi dan petang dari jendela-jendela itu. Aku masih merasakan sensasi yang
sama setiap peluit panjang dibunyikan, lalu roda kereta mulai berjalan.
“Nanti, saya kenalkan dengan Pipin, Kanya tidak keberatan?”
Badan kereta bergetar, bunyi mesin terdengar nyaring.
“Koko tidak malu?”
“Mengapa malu?”
“Pipin jadi tahu Koko berteman dengan saya.”
“Pipin sudah tahu Kanya sejak bertahun-tahun lalu.”
“Masa?”
Aku mengangguk. “Acara Kenangan Terindah itu, ingat?”
“Ingat.”
“Pipin mendengarkan waktu surat saya dibacakan penyiar.”
“Kok, Koko tidak pernah bercerita?”
“Bahwa, Pipin tahu Kanya?”
Kamu mengangguk.
Aku menggaruk dagu, “Saya tidak berpikir kalian akan bertemu. Baru
menjelang lulus SMP, Pipin minta ke Pak Haji untuk bersekolah di Bandung.”
“Mengapa tidak mencari sekolah di Sumedang, Ko?”

“Mungkin dia ingin merasakan suasana baru.”
Tak seberapa lama, kereta merapat ke Stasiun Rancaekek. Berhenti lima
menit, menurun dan menaikkan penumpang. Aku melongok-longok jendela,
mencari-cari sosok Pipin. Terlalu banyak yang naik. Mereka yang berseragam
putih abu-abu pun cukup banyak. Menyulitkanku memastikan di mana Pipin
di antara mereka yang berdesak-desakan.
Ketika sebuah entakan menandai kereta hendak berangkat lagi, aku hanya
mengira-ngira Pipin sudah ada di dalam. Entah di gerbong berapa. Setelah
turun di Kiaracondong nanti, akan lebih mudah aku cari.
“A.”
Aku cukup kaget ketika tahu-tahu Pipin sudah berdiri di dekat tempat duduk
kita.
“Aku tidak lihat Pipin naik.”
“Penuh,” komentarnya pendek, “setiap hari begini, A?”
“Setiap pagi dan sore memang begini.”
Pipin menoleh kepadamu.
“Eh …,” aku segera sadar ada yang hampir kulewatkan, “… kenalkan. Pipin,
ini Kanya. Kanya, ini Pipin.”
Kalian bersalaman.
“Aa bercerita banyak tentang Kanya.” Pipin berusaha berkenalan denganmu
seperti di sinetron-sinetron yang dia tonton.
“Bohong,” sergahku buru-buru, “… jangan percaya, Kanya.”
“Se-Bandung Raya juga sudah tahu siapa Kanya.”
Aku memelototi Pipin. Dia menutup mulut. Merasa keceplosan atau
setidaknya berpura-pura begitu. Engkau tersenyum kikuk. Ini kali pertama,
perjalanan kereta kita tak lagi berdua. Agak sulit kukira-kira, kelanjutannya
akan seperti apa.

ISTIRAHAT pertama, kami berempat tidak ke mana-mana. Aku menahan
lapar, Iding rela membiarkan bibirnya terasa asam. Seperti itu dia keluhkan
setiap lama tidak mengisap rokok. Pada jam istirahat antarpelajaran, biasanya
Iding ke luar gerbang sekolah untuk merokok di warung pinggir jalan. Dia
tetap melakukannya meski berkali-kali Pak Kusman, kepala sekolah kami,

membawa mistar besi memburu dia dan murid lain yang nekat merokok
selama jam sekolah.

“Ada apa, Rus?”
Aku menarik kursi, kami berempat kini berhadapan. Rusi dan Parlin datang
dari kelas berlainan. Sengaja mereka mendatangi kelas kami. Rusi meminta
pertemuan ini.
“Berita baik dan berita buruk.” Rusi menawan seperti hari-hari lainnya. Dia
berdandan, tetapi tidak berlebihan untuk ukuran anak SMA. “Kamu mau
yang mana dulu?”
“Berita buruk,” jawabku.
“Berita baik,” Iding menyenggol bahuku, “… hariku sudah buruk. Kalau
ditambah berita buruk yang lain itu tidak baik bagi kesehatan.”
“Terus, berita buruknya?” Rusi tersenyum geli.
“Urusan Kashmir itu.”
“Bukan begitu, maksud Rusi, Ding,” Parlin menengahi, “dua-duanya mau
disampaikan, hanya kamu pilih yang mana dulu.”
“Aku paham, Lin,” Iding berlagak tersinggung, “… bukan kamu saja yang
menonton lm Hollywood.”
“Film apa?” tantang Parlin.
“Skeri Mupi.”
“Berkualitas sekali.”
“Aku diajak gabung di sebuah band di Jakarta.” Rusi memotong basa-basinya.
Kami bertiga diam seketika. Aku pun masih menganggap kalimat Rusi
berakhir dengan koma. Belum sampai titiknya.
“Itu berita baik atau buruk?” Iding terdengar tak sabar.
“Band itu dikelola label nasional khusus mencari penyanyi baru.”
“Iya, itu gud nyus atau bed nyus, Rus?” Iding memamerkan pemahamannya
tentang adegan lm- lm Hollywood.
“Bagiku …,” Rusi melemahkan suaranya, “… good news.”
“Memang good news,” aku menimpali, “… kita harus bangga, Ding, Lin.
Vokalis kita punya kesempatan untuk menjadi penyanyi nasional. Kalau kamu
tetap bersama kami di Bandung, mungkin akan begini-begini saja.”
“Begini-begini saja bagaimana?” Iding sekarang benar-benar tampak emosi,
“… kita sudah dua tahun lebih satu tim. e Angklung sudah manggung di
mana-mana. Dari pentas 17-an, kondangan, sampai sunatan. Sudah juara di
macam-macam lomba. Mengapa kamu bilang begini-begini saja, Kash?!”

“Sabar … sabar,” aku bangun dan memijiti tengkuk dan bahu Iding, “…
yang kita jalani sudah luar biasa, Ding. Tetapi, kalau Rusi mendapat
kesempatan lebih besar, kita harus dukung.”

“Kamu sudah terima, Rus?”
“Belum. Aku tadi bilang, ada tawaran. Aku belum menjawab. Karena kalau
aku terima, otomatis aku harus pindah sekolah. Pindah tempat tinggal juga.”
“Ya, sudah, tolak saja,” kata Iding ringan.
“Menurutmu bagaimana, Kash?”
“Aku pasti kehilangan, Rus,” aku kembali duduk di sebelah Iding, “kita sudah
bersama-sama cukup lama. Tetapi, demi masa depan kamu, tentu aku dukung
apa pun keputusan kamu.”
“Lin?”
“Sama, Rus. Bakat kamu besar. Kamu butuh kesempatan lebih luas.”
“Aku tidak kamu tanya, Rus?” Iding masih emosi.
“Ini hendak aku tanya. Menurutmu bagaimana?”
“Aku inginnya, kalau kamu ke Jakarta, kita ke Jakarta bersama-sama.
Mengamen di jalanan, kita, kan, sama-sama. Sukses ya, harus sukses bersama.”
“Kita berharapnya seperti itu, Ding,” aku berusaha keras menenangkan Iding,
“… tetapi keberuntungan orang berbeda-beda.”
“Rusi, kan, bisa menawarkan kepada mereka agar kita bersama-sama ke
Jakarta.”
“Tawarannya hanya untuk vokalis, Ding,” Rusi menjawab pelan-pelan.
“Berarti kamu keluar dari band kita?” Konsekuensi yang sudah terang-
benderang itu seperti baru saja dipahami Iding, padahal Rusi sudah
mengisyaratkannya sejak awal.
“Itu bad news-nya, Ding,” aku membuat simpulan.
Sementara itu, Iding perlu waktu mencerna kalimatku, dari pintu kelas
seseorang meneriakkan namaku.
“Kashmir, dipanggil ke ruang guru.”
Iwan, sang Ketua Kelas.
“Ada apa, Wan?”
Dia menggeleng. Rambut Andy Lau-nya mengibas dua kali. “Kamu tanya
Pak Sugema saja.”
“Aku ke ruang guru dulu, ya,” aku bangun sambil mendorong kursi, “...
pokoknya keputusan ada padamu, Rus. Aku dukung apa pun pilihanmu.”
“Iya, Kash.”

Aku meninggalkan mereka bertiga yang masih bertukar kata. Ke luar kelas,
menyisir lorong sekolah yang riuh. Beberapa teman menyapaku. Aku
melambaikan tangan sambil terus berjalan. Ruang guru ada di ujung lorong.
Bersebelahan dengan ruang parkir.

Aku mengetuk pintu yang sudah terbuka.
“Punten, Bu,” kulihat Bu Dhani, Guru Musik Tradisional sedang memeriksa
berkas di sofa ruang guru, “... saya dipanggil?”
“Siapa yang memanggil?” kacamata Bu Dhani melorot sampai ke ujung
hidung. Matanya jadi terkesan lebih menyorot ketika menatapku.
“Pak Sugema, katanya.”
“Oh ...,” Bu Dhani memeluk berkasnya, lalu bangun, “... duduk. Kamu
tunggu dulu.”
Aku mengiakan.
“Kash ...,” Pak Sugema datang dari dalam ruangan. Berpapasan dengan Bu
Dhani yang berbasa-basi tentang sesuatu yang tidak kupahami. Dia membawa
lembaran kertas di tangan.
Aku bangun, lalu menyalami Pak Sugema. “Bapak memanggil saya?”
“Iya. Ada kabar untuk kamu.”
Kami duduk berhadapan kemudian. Terpisah oleh meja kaca bertaplak batik
dengan vas berisi bunga kertas di atasnya.
“Saya mendapat informasi tentang beasiswa ke …,” Pak Sugema membuka
brosur yang terlipat-lipat di tangannya, “… Swedia.”
Aku menyimak saja. Belum terlalu yakin apa yang hendak dikatakan Pak
Sugema.
“Sekolah kita diminta Dinas untuk mengajukan siswa berprestasi dalam
seleksi beasiswa Pemerintah Swedia,” Pak Sugema meletakkan brosur ke atas
meja, “Bapak mengusulkan kamu.”
“Kok, saya, Pak?”
Guru tersantai di sekolah kami itu tersenyum, “Bapak sudah mengamati
kamu sejak kelas I SMK. Kamu giat, berbakat, bahasa Inggris bagus. Lagi pula
Bapak dengar kamu memang bercita-cita kuliah di Swedia, bukan?”
“I … iya, Pak. Cuma, kan, banyak yang lebih pintar dari saya.”
Hal yang sebenarnya terjadi adalah, batinku tidak karuan. Aku hampir-
hampir tidak bisa menjelaskan. Ini seperti sebuah entakan yang tidak siap
kuantisipasi.
“Ini pun baru tahap seleksi, Kash. Prestasi di sekolah bukan satu-satunya

pertimbangan. Saran Bapak kamu ambil kesempatan ini.”
“Eh … saya harus mempersiapkan apa, Pak?”
“Persiapan paling wajib adalah penguasaan bahasa Inggris. Nanti Bapak akan

bimbing kamu untuk mendapat serti kat IELTS.”
“Serti kat?”
“Itu semacam serti kat kursus, tapi khusus bahasa Inggris. Kalau kamu

punya serti kat itu, kamu punya kesempatan untuk lulus beasiswa ke Amerika,
Eropa, atau Australia.”

“Saya harus tes dulu, Pak?”
Aku ingat buku latihan bahasa Inggris yang kubeli di Palasari. Aku sudah
lama mengerjakan soal-soalnya, karena rasa penasaran saja. Sering mendengar
Pak Sugema membahas bahasa Inggris bagi masa depan membuatku ingin
mengetes kemampuanku.
“Iya. Perbaiki dulu bahasa Inggris kamu. Kamu bisa les atau belajar sendiri.
Saya akan mengawasi perkembanganmu.”
“Kalau seleksi beasiswanya, Pak?”
“Tahun depan.”
“Masih lama.”
“Satu tahun itu tidak lama, Kash. Banyak yang harus kamu persiapkan.
Kamu sudah punya paspor?”
“Belum, Pak.”
“Sudah punya KTP?”
“Sudah, Pak.”
“Nah, kamu buat dulu paspor ke kantor imigrasi.”
“Baik, Pak.”
Kataku baik itu bukan berarti aku benar-benar siap melakukannya. Aku baru
tahu kantor kelurahan saat mengurus KTP. Tidak terbayangkan bagaimana
mendatangi kantor imigrasi dan menghadapi sistem yang sudah membuat
grogi sebelum kantornya aku masuki.
“Nanti waktu tes IELTS syaratnya KTP dan paspor.”
“Begitu, Pak?”
Pak Sugema tersenyum, “Iya, begitu.”
“Bisa dipakai untuk kuliah musik, Pak?”
“Terserah kamu. Kamu bisa memilih jurusan apa saja sesuai minat kamu.”
“Oh, seperti itu.”
Bel masuk kelas berbunyi. Dering dua kali. Namun, Pak Sugema belum

selesai menyampaikan informasinya.
“Beasiswa Pemerintah Swedia ini menanggung seluruh biaya kamu selama

kuliah di sana, Kash. Mulai dari uang kuliah, tempat tinggal, makan, sampai
asuransi kesehatan.”

“Artinya saya tinggal kuliah saja?”
“Ya. Bahkan kamu bisa menyambi kerja untuk uang jajan.”
“Menarik sekali, ya, Pak.”
“Ayo, Kash. Semangat. Bapak dukung betul.”
“Terima kasih, Pak.”
“Nanti kamu saya kenalkan dengan adik saya. Namanya Pak Suganda. Dia
baru saja pulang dari Swedia, selesai kuliah S-2. Kamu bisa bertanya apa saja
kepada Pak Suganda.”
“Siap, Pak.”
“Sekarang, kamu perbaiki bahasa Inggrismu dulu. Persiapan yang lain bisa
mengikuti.”
“Baik, Pak. Insyaallah.”
“Sekarang kamu masuk kelas lagi.”
“Baik, Pak.”
Aku bangun, lalu menyalami Pak Sugema. Sambil keluar ruang guru, ada
yang berkecamuk dalam batinku. Berawal dari celetukanku kepada Pipin soal
pergi ke Swedia, wacana itu sepertinya benar-benar bergerak menuju nyata.

Kash, aku tahu surat ini tidak penting bagimu. Tetapi, aku ingin kamu
tahu.

Aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Orang tuaku sudah memberi
izin. Bandung akan selalu menjadi memori indah bagiku.

Berat sebenarnya meninggalkan kota ini. Tapi, aku harus menyongsong
masa depan. Jakarta menawarkan lebih banyak kesempatan.

Band kita punya arti penting untukku, karena di sini aku melatih
bakatku. Tetapi, sebenarnya ada yang lebih membuatku berat meninggalkan
band ini. Alasanku adalah kamu. Aku memilih band ini karena di
dalamnya ada kamu, Kash.

Aj

Aku bersimpati kepadamu sejak MOS dulu. Kamu baik. Selalu berusaha
membuat siapa pun merasa nyaman. Kamu teman terbaik yang pernah aku
kenal. Dua tahun ini, kebersamaan kita terasa sangat menyenangkan.
Banyak memori indah denganmu yang mungkin tidak kamu sadari.

Terima kasih untuk semuanya, Kash. Aku tidak akan pernah
melupakannya. Aku berdoa, kamu akan memperoleh apa yang kamu cita-
citakan. Suatu saat kamu pasti akan berhasil. Aku yakin itu.

Maaf aku harus pergi, Kash. Jaga dirimu.

Temanmu,

Rusi
“Apa katanya?”
Aku buru-buru melipat surat Rusi agar Iding tidak ikut membacanya.
“Rusi pamit, Ding.”
“Sini kubaca.”
Aku memasukkan surat itu ke saku celana. “Surat ini, kan, bukan untuk
kamu. Hargai Rusi atuh.”
“Pakai surat segala. Ke aku dia cuma salaman, ‘ciao’. Sudah.”
“Mungkin karena kami tidak sempat ketemu, Ding.”
Iding mencibir, “Kamu kira aku anak kecil?”
Aku tidak terlalu mendengarkan kalimat Iding terakhir. Siang itu, angin di
lapangan sekolah menyapu wajahku dengan rasa yang berbeda. Lebih
menyengat dari biasa. Aku merasa telah melewatkan sesuatu dan tidak bisa
memperbaikinya.
“Sudah aku katakan dari dulu,” Iding terus menyerangku dengan kata-
katanya, “Rusi suka kamu. Kamu tidak percaya.”
Aku masih tidak tahu harus menjawab apa.
“Giliran orangnya sudah pergi, bengong kamu.”
“Aku tidak paham, Ding.”
“Tidak paham apa?”
“Apa yang Rusi lihat dari aku?”
“Salah tanya kamu, Kash.”
“Kok, salah?”
“Aku tidak tahu keistimewaan kamu. Selain mukamu satu cetakan dengan
Takeshi Kaneshiro, aku tidak tahu apa nilai lebih kamu. Terutama dibanding
aku.”

Pada kesempatan yang berbeda mungkin aku akan tertawa. Pertama karena
perumpamaan Iding yang membandingkanku dengan aktor Hong Kong
bernama Jepang itu, kedua karena kepercayaan dirinya karena selalu merasa
lebih baik dibanding aku.

“Aku naksir Rusi sejak di MOS. Dua tahun satu band. Ke mana-mana
bersama. Tetapi, tidak dibalas-balas juga.”

“Aku merasa tidak enak, Ding.”
Iding mengibaskan tangan. “Tidak perlu. Aku tidak mudah patah hati.”
“Maksudku, tidak enak kepada Rusi.”
Iding memencet jerawat di pipi tembamnya. Menutupi rasa gengsi yang
terluka, “Kenapa tidak enak?”
“Ya, karena aku tidak tahu dia berpikir seperti itu.”
“Muna k kamu.”
“Maksudmu?”
“Kamu itu pura-pura lugu dari dulu, Kash. Tidak mungkin kamu tidak tahu
Rusi punya rasa ke kamu.”
Aku mengangkat bahu.
“Alasan yang sebenarnya, kamu sudah punya kabogoh. Jadi, kamu tidak
merespons perasaan Rusi.”
“Siapa maksud kamu?”
“Pedagang pasar itu.”
Namamu terlintas dalam pikiranku, Kanya. Meski memang begitu
kenyataannya, tetapi ketika Iding menyebut pekerjaanmu, dengan nada itu,
aku merasa dia kurang ajar.
“Tidak perlu mengejek begitu.”
“Mengejek bagaimana?”
“Nada kamu tadi?”
“Lha, memang benar dia pedagang pasar, bukan?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Kamu mau tahu?” Iding bicara serius, nadanya mengetus, “Rusi pernah
minta aku menemani dia untuk membuntuti kamu ke stasiun kereta. Gara-
gara kamu buru-buru menyudahi latihan kita. Dia lihat kamu membantu
kabogoh kamu membawa bakul besarnya. Masuk ke stasiun.”
Aku terdiam. Tidak menyangka.
“Aku baru ingat, itu awewe yang fotonya pernah jatuh di kelas, bukan?”
“Kalau iya bagaimana?”

“Eta mah budak leutik, Kash. Anak kecil. Kamu teh mau jadi pedopil?”
Aku tidak nyaman dengan apa yang dikatakan Iding. “Kalian memata-matai
aku?”
“Karena Rusi penasaran apakah suratmu di acara Kenangan Terindah itu
fakta atau ksi.”
“Lalu, bagaimana?”
“Ya, tidak bagaimana-bagaimana.”
Kami diam. Aku tidak yakin harus mengembangkan perbincangan ini
menuju mana.
“Tanpa Rusi, band kita tidak punya vokalis, Ding.”
“Bubar saja.”
“Bubar?”
“Untuk apa lagi? Kita sudah tidak punya tujuan.”
“Mengapa begitu?”
“Rusi sudah pergi, kamu sibuk dengan beasiswa itu. Tinggal aku dengan
Parlin. Kamu pikir kami pemain bulutangkis? Sudah, bubar saja.”
“Beasiswa itu masih jauh, Ding.”
“Iya. Tapi gereget kamu sekarang ada di sana. Percuma kamu paksakan.”
“Sayang sekali, Ding.”
“Waktu Rusi bilang ada tawaran ke Jakarta, kamu bisa bijaksana
mengomentarinya?”
Aku terdiam. Di luar segala cara bicara dia yang seenaknya, Iding benar
dalam hal ini. Mungkin memang sudah waktunya band kami bubar. Bukan
berarti tidak ada yang kami hasilkan. Dua tahun ini, kebersamaan kami
berempat memberi banyak pelajaran, pemaknaan.
Mungkin hanya Rusi yang akan melanjutkan cita-cita kami. Membuat
album, menjadi penyanyi yang dihargai. Aku mungkin memang harus lebih
serius menyiapkan program beasiswa itu. Apa pun hasilnya. Jika gagal,
setidaknya aku punya cerita bahwa aku pernah mengusahakannya.
“Aku berharap Rusi sukses jadi penyanyi,” Iding bicara dengan nada yang
dewasa, “… kamu bisa ke Swedia. Terserah di sana kuliah atau mengamen di
kereta, yang penting ke Swedia.”
“Kamu?” Aku ingin tahu benar, apa yang Iding pikirkan, “mau ke mana?”
“Aku? Selama masih ada truk-truk Pantura berseliweran di jalan-jalan raya,
hidupku akan baik-baik saja.”
Aku tertawa. Akhirnya.

AKU, dulu, selalu yakin suatu saat cengcelengan ini akan berguna. Belum tahu
untuk apa. Akhirnya, aku menemukan jawaban. Aku harus menyiapkan diri
untuk mengejar beasiswa. Beasiswa berarti seluruh kebutuhanku akan ditutupi
oleh pemberi beasiswa itu. Namun, proses untuk mengurus syarat-syaratnya
pun butuh biaya.

Biaya yang kumaksudkan, rupanya sangat besar. Aku sudah bertanya-tanya
bagaimana caranya membuat paspor dan besaran biayanya. Begitu juga dengan
tes kemampuan bahasa Inggris beserti kat. Dua kebutuhan ini pun sudah
menuntut banyak uang. Namun, kurasa ini pengorbanan yang layak
dilakukan.

Aku membongkar tabungan kayuku. Melepas paku-paku, menemukan
timbunan uang yang menggembirakanku. Lembaran sepuluh ribu, lima ribu,
seribu, dan lima ratusan. Banyak sekali. Belum lagi koin seribuan dan lima
ratusan yang aku yakin beratnya lebih dari dua kilogram. Kurasa aku perlu
waktu lama untuk merapikannya.

Aku mulai bekerja. Mengelompokkan uang dengan sesama warnanya. Hijau,
biru, abu-abu. Kuikat setiap genap Rp10.000,-.

“A.” Pipin mengetuk pintu.
“Masuk, Pin.”
Bunyi engsel pintu berderit.
“Bongkar cengcelengan, A?”
“Bukan, Pin. Aku sedang membongkar rahasia teman.”
“Aa mah.”
Aku tertawa. “Geus puguh sedang menghitung uang cengcelengan. Masih
kamu tanyakan. Sudah jelas, bukan?”
“Untuk apa, A?”
“Untuk membuat paspor dan tes bahasa Inggris.”
Pipin duduk di sebelahku. Membantuku mengelompokkan pecahan meski
aku tidak memintanya.
“Aa benar-benar mau berangkat ke luar negeri?”
“Kalau lolos beasiswa. Kalau tidak, ya, mengamen saja di alun-alun.”
“Mengapa tidak minta Abah saja, A? Pasti dikuliahkan oleh Abah.”

“Aku bukan pengemis cinta, Pin. Bukan pula pengemis cita-cita.”
“Jhonny Iskandar, atuh.”
“Pokoknya, aku usaha,” aku sudah mengikat sepuluh tumpukan sepuluh
ribuan, “hasilnya, bagaimana Allah saja.”
“Kalau Aa pergi, bagaimana dengan Kanya?”
Aku menoleh dalam sentakan. “Ada apa dengan Kanya?”
“Bukankah Aa sudah lama bersama-sama Kanya?”
“Nanti pasti ada jalan.”
“Kalau lolos beasiswa, Aa lama kuliahnya?”
“Tiga sampai empat tahun.”
“Kanya pasti kesepian.”
“Mengapa jadi kamu yang terlalu mengkhawatirkan Kanya, Pin?”
Aku sekarang mengumpulkan koin-koin. Seribu, lima ratus, dan seratus
rupiah. Ditumpuk dulu, nanti dibungkus dengan koran bekas setiap jumlah
sepuluh ribu.
“Aa tidak khawatir meninggalkan Kanya?”
“Khawatir tentang apa?”
“Barangkali ada orang lain yang mengambilnya?”
“Itu mudah,” jawabku ringan, “aku nikahi sebelum berangkat ke luar negeri.”
“Aa serius?”
“Serius. Hanya saja, lolos beasiswa juga belum tentu. Jadi, aku selesaikan
dulu satu per satu.
Kudorong bahu Pipin dengan bahuku, “Karena itu, jangan bertanya melulu.”

Gh a 10

Förstår Du Vad Jag Menar?

K uhitung benar-benar, peserta tes bersamaku ada sembilan orang.
Menurutku, mereka rata-rata sudah tua. Maksudku tua, mungkin lima
atau enam tahun lahir lebih dulu daripada aku. Waktu kuajak ngobrol,
sebelum masuk ruangan itu, hampir semua adalah sarjana yang hendak
melanjutkan ke jenjang S-2. Anak SLTA hanya aku sendiri.

Pagi ini, kami akan menghadapi ujian listening, reading, dan writing alias
mendengarkan, membaca, dan menulis. Sedangkan nanti siang, yang
membuatku berdebar-debar, adalah ujian speaking. Aku harus berbicara dalam
bahasa Inggris dengan seorang penutur asli atau bule.

Masing-masing peserta sudah menghadapi komputernya. Kami diberi
selembar kertas kecil berisi kata kunci dan identitas peserta.

Setelah mengisi semua data diri pada halaman identitas, aku mengeklik
tombol benar, yang disusul dengan pertanyaan, “Apakah Anda ingin
mengubah tampilan layar?”

Kukira bagus juga kalau latar belakang kuubah menjadi biru dan warna
hurufnya menjadi hitam. Kombinasi sebelumnya, layar hitam dan warna huruf
kuning, terlalu menyakiti mataku.

Tes pertama adalah mendengarkan.
Aku mengenakan headphone dan mulai menyimak soal-soal. Sepuluh soal
pilihan ganda. Bunyi setiap kata jernih masuk telinga. Namun, entah
bagaimana tidak semua mampu kupahami dalam konteks yang tepat. Aku
agak panik, tetapi kucoba memberi motivasi diri sendiri agar mau
berkonsentrasi. Terutama karena tes ini benar-benar mahal. Kalau gagal, aku

tidak bisa meminta uangku kembali.
Ayo, Kashmir. Jangan buang-buang uang. Setidaknya kerjakan dengan tenang.
Paling tidak, semua soal aku selesaikan. Waktu berjalan, masih banyak yang

belum aku kerjakan. Setelah pilihan ganda, terbitlah soal dengan peta. Aku
harus mengikuti panduan audio di telinga untuk mencari jawabannya.

Aku hadapi, meski benar atau salahnya aku tidak tahu pasti.
Tipe soal berikutnya mencocokkan jawaban. Dengan mouse aku menyeret
pilihan yang aku anggap benar ke kotak pertanyaan. Itu menyenangkan. Aku
cukup yakin lebih banyak jawabanku yang benar. Setidaknya, aku menyeret
dengan benar.
Seluruh soal mendengarkan sudah kuisi. Hasilnya bagaimana nanti. Masih
ada tiga menit waktu, aku menggunakannya untuk mengecek jawabanku.
Adakah salah tik, atau pengejaan yang tidak tepat.
Tiga menit terlewati, layar tertutup sendiri.
Tes berikutnya, membaca. Aku merasa tidak terlalu buruk pada bidang ini.
Tipe pertama, aku hanya diminta memilih salah atau benar.
Rupanya, aku terlalu cepat membuat simpulan itu. Rumitnya soal
membuatku kehabisan waktu. Istilah-istilah banyak yang tidak kupahami.
Kalimat-kalimat panjang yang mesti kubaca berulang-ulang, tapi tetap aku
tidak mengerti. Aku berkejaran dengan waktu. Sepertinya ketika semua teks
ini kupahami maksudnya, sudah tidak ada waktu tersisa.
Jebakan salah atau benar kadang tersembunyi dalam satu kata, bahkan kata
sambung. Itu mengesalkan. Namun, aku tidak boleh kalah sekarang. Aku
berusaha mencermati betul-betul setiap kata sambung yang memberi konteks
kalimat. Cek ulang itu beberapa kali menyelamatkanku dari kesalahan.
Menurutku begitu.
Pada soal-soal yang memberikan pilihan jawaban, aku menggunakan pola
lama. Menggeser fokusku ke jawaban, bukan pertanyaannya. Dari jawaban
adakah yang janggal? Jika ada, kuhapus dari kemungkinan. Ada berapa
jawaban yang tertinggal? Jika hanya satu, berarti jawabanku itu. Walaupun
begitu, tetap saja aku hampir kehabisan waktu. Namun, kukira aku selamat
pada detik-detik terakhir.
Pada ujian menulis, aku hanya perlu berimajinasi. Menulis banyak,
minimalisasi kesalahan tata bahasa. Apakah solusi yang kuberikan benar-benar
bisa dipraktikkan itu urusan belakang. Bagaimanapun, aku berusaha untuk
menulis di bawah 100 kata untuk setiap jawabannya. Berbicara melebar,

ngayayay, memperbesar potensi kesalahan.
Lalu, menjelang siang, sampailah aku pada babak yang paling menakutkan:

speaking.
Pengetesku adalah bule pertama yang kulihat dalam dunia nyata. Perempuan,

berbadan dua kali lipatku, mata biru, dan terus-menerus bermain kancing
baju. Hanya disela sewaktu dia berbicara.

Karena gugup, kadang aku harus mengartikan secara bebas apa yang dia
katakan. Dia pun tidak berusaha mengoreksi penangkapanku. Hanya
mendengarkan, membuat catatan.

“Bahasa apa yang kamu pelajari akhir-akhir ini?”
“Inggris,” jawabku lugu.
“Selain Inggris?”
Sunda? batinku. Itu terkesan menyepelekan.
“Swedia.”
Syukurlah Iding memberiku buku tentang Swedia itu. Di dalamnya ada satu
halaman contoh percakapan sehari-hari. Itu termasuk belajar bahasa, bukan?
“Mengapa kamu belajar bahasa Swedia?”
“Karena saya berharap bisa kuliah di Swedia.”
“Kuliah apa?”
“Musik.”
“Bisa kamu contohkan kalimat bahasa Swedia?”
“Kan du prata lite långsammare?”
“Apa artinya?”
Aku tidak mengantisipasi dia akan menanyakan arti kalimatku tadi.
‘“Bisakan Anda berbicara sedikit lebih lirih?’”
“Itu artinya?”
“Iya.”
“Apakah saya berbicara terlalu keras?”
Dua telapak tanganku bergoyang di udara. “Tidak. Tidak. Itu tadi hanya
contoh.”
“Contoh lain?” lanjutnya dengan nada dingin.
“Förstår du vad jag menar?”
“Artinya?”
‘“Apakah Anda mengerti maksud saya?’”
Dia menggeleng, “Tidak. Saya tidak mengerti.”
“Itu tadi contoh,” kataku lagi.

“Itulah mengapa saya bertanya.”
Aku tidak mengerti, dia sedang bercanda atau memang menyebalkan saja.

“ASSALAMUALAIKUM.”
Aku tak berani masuk ke halaman berpagar sedadaku itu. Sama sekali belum

pernah aku berkunjung atau menemui pemiliknya. Pak Sugema memintaku
datang ke sini, sepulang sekolah, dan menemui tuan rumahnya. Rumah
berpagar warna tanah dalam gang di seberang Hotel Garnis, Jalan Diponegoro.
Tidak seberapa jauh dari Museum Geologi.

Bangunan rumah ini terlihat klasik, memanjang dengan teras sama seperti
halamannya. Menurutku, keluarga penghuni rumah ini suka dengan segala hal
yang berasa etnis. Dinding luar rumah digantungi angklung, topeng, dan
hiasan dari akar pohon.

Pot-pot besar dan kecil berjajar di teras. Tumbuhan penghijau dan bunga
berupa-rupa memberi warna.

“Waalaikumsalam.” Keluar dari pintu seorang ibu yang ramah senyumnya,
cerah wajahnya, menyipit matanya, “… mencari siapa, A?”

“Benar ini rumah Pak Suganda, Bu?”
“Benar …,” ibu bersenyum ramah itu menghampiri pagar, membuka pintu,
“… dari mana, A?”
“SMK Seni, Bu. Saya murid Pak Sugema.”
“Oh, murid Ua. Mari masuk, A. Mau bertemu Bapak?”
“Iya, Bu. Pak Sugema meminta saya bertemu Pak Suganda.”
“Oh, tentang beasiswa Swedia itu, ya?” Ibu itu tampaknya sedikit tahu alasan
kedatanganku, “Ua sempat cerita juga beberapa waktu lalu.”
Aku memasuki pekarangan rumah itu. Kulepas sepatu, lalu aku naik ke teras,
menuju pintu yang sudah dibuka si Ibu.
“Duduk, dulu, ya, A. Saya panggilkan Bapak dulu.”
Aku mengiakan dengan sopan, lalu duduk di kursi kayu dan mencuri
pandang ke seluruh ruangan. Iya, rumah ini diisi dengan semangat seni.
Menutupi ruang belakang, ada partisi kayu dengan ukir-ukiran rumit. Meja
penuh dengan berbagai cendera mata, yang sepertinya, dari luar negeri.
Semacam oleh-oleh ketika seseorang pergi ke berbagai negara. Ada televisi

besar yang tidak menyala di sebelah meja.
Foto-foto ukuran besar dan kecil menempeli dinding. Keluarga kecil. Ayah,

ibu, dan dua anak. Anaknya yang perempuan masih usia SD. Sedangkan, yang
laki-laki lebih kecil lagi. Aku menemukan kemiripan antara sang ayah dalam
foto itu dengan garis wajah Pak Sugema. Mereka memang benar kakak
beradik.

“Kashmir, ya?”
Aku berdiri sambil mengangguk, “Benar, Pak. Assalamualaikum, Pak.”
Pak Suganda adalah versi lebih muda Pak Sugema. Tinggi badannya, rapi
rambutnya, rapat kumisnya. Dia datang membawa map biru, yang aku curiga
dia persiapkan buatku.
“Waalaikumsalam. Tidak susah, kan, mencari rumah ini?”
“Tidak, Pak,” aku berusaha sesopan mungkin berbicara, “dari depan gang
saya bertanya rumah Bapak. Orang-orang tahu.”
“Oh, kamu sepertinya bertanya kepada teman main gaple saya.”
Kami tertawa. Aku bersyukur, Pak Suganda sesantai kakaknya. Ketika tahu
aku harus menemui seorang dosen universitas ternama, langsung ke rumahnya,
nyaliku menciut seketika. Bahkan, meski Pak Sugema berkali-kali mengatakan
kepadaku agar santai saja. Adik bungsunya itu seorang akademisi yang berjiwa
seni. Jadi, berbicara dengannya tidak akan terasa menakutkan.
“Tes IELTS-nya sudah?”
“Sudah, Pak. Tinggal menunggu hasilnya.”
“Bagus … bagus,” Pak Sugema meletakkan map di meja. Lalu, dia buka,
diambil lembaran dari dalamnya, “kamu hendak mengajukan kuliah di mana
rencananya?”
“ e Royal College of Music in Stockholm, Pak. Saya tertarik mengambil
Music and Media Technology.”
“KMH? Bagus … bagus. Sekolah bona de itu.”
Pak Suganda memutar kertas, menghadapkannya kepadaku. “Saya sudah tik
semua tahapan yang harus kamu lakukan, Kash. Banyak, tapi kalau dilakukan
satu per satu tidak akan berat.”
“Saya tidak tahu apa-apa, Pak.”
“Oh, tidak apa-apa. Semua hal pasti perlu pengalaman pertama, bukan? Saya
juga waktu mengambil S-2 di Stockholm tidak mengerti apa-apa. Insyaallah,
tahun depan kami berangkat lagi ke Swedia untuk melanjutkan S-3. Kalau
kamu lolos beasiswa, kita akan bertemu di sana.”

“Oh, begitu, Pak?”
“Masih dalam rencana. Kondisi Indonesia sedang tidak menentu sekarang.
Mudah-mudahan memang tidak berpengaruh ke program beasiswa.”
“Amin. Semoga, ya, Pak.”
Aku membaca perlahan segala macam persiapan dan tahapan yang harus aku
jalankan agar bisa ikut seleksi beasiswa. Agak pusing juga melihat begitu
banyak syaratnya.
“Beasiswa Pemerintah Swedia diberikan saat tahun ajaran musim gugur,
Kash. Istilahnya Autumn Semester. Itu sekitar bulan September. Jadi, kamu
bisa mengirimkan semua berkasnya sebelum lulus sekolah. Nanti ijazah kamu
bisa disusulkan setelah kamu lulus.”
Pandanganku terantuk pada angka yang tercantum pada biaya pendaftaran
program beasiswa itu. “Ada biayanya, ya, Pak?”
“Iya, sama saja kalau kamu tahun depan ikut UMPTN, Kash. Ada biaya
formulirnya.”
“Lumayan, ya, Pak?”
Biaya pendaftaran program ini mamakai standar uang Swedia: krona.
Namun, pada lembaran itu, Pak Suganda sudah mengonversikannya ke dalam
mata uang Indonesia. Jumlahnya sekitar dua kali upah bulananku di toko
material Pak Haji.
Pak Suganda tertawa kecil, “Nanti membayarnya lebih mudah dengan kartu
kredit, Kash.”
“Saya tidak punya, Pak.”
“Tidak apa-apa. Nanti pakai kartu kredit saya.”
“Terima kasih, Pak. Nanti saya ganti ke Bapak.”
“Uang pendaftaran kamu sudah dilunasi oleh Pak Suganda, Kash.”
Aku melongo. “Saya malu, Pak.”
“Nanti kamu bicarakan lagi saja dengan Pak Suganda bagaimana baiknya.
Tetapi, memang Pak Suganda sudah menitip uang untuk keperluan
pendaftaran kepada saya.”
Aku terdiam. Cukup menyesal aku karena pernah bercerita kepada Pak
Sugema perihal kehidupan pribadiku. Dia tahu dari berkas sekolah bahwa Pak
Haji adalah waliku. Bukan ayah atau orang tua angkatku. Aku bercerita sedikit
perihal kehidupanku dan mungkin Pak Sugema jatuh iba kepadaku.
“Saya akan mengembalikan uang itu kepada Pak Sugema, Pak. Insyaallah.”
“Kamu punya attitude yang bagus, Kash. Pantas Pak Sugema sangat bangga

kepadamu.”
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Pak Sugema itu sejak dulu selalu dekat dengan murid-muridnya. Tetapi,

baru kali ini beliau mendorong muridnya ikut program beasiswa. Artinya,
kamu memang istimewa.”

Aku mengangguk-angguk saja. Tidak yakin harus menjawab apa.
“Sekarang kita bahas satu per satu dokumen yang harus kamu siapkan, ya.”
“Baik, Pak.”
Aku menyimak daftar dokumen sambil mendengarkan penjelasan Pak
Suganda. “Pertama, print-out cover sheet, sampul berkas. Nanti saya beri
contohnya. Kedua, fotokopi ijazah asli yang sudah dilegalisasi. Satu berbahasa
Indonesia, satu lagi berbahasa Inggris. Karena kamu belum lulus, nanti kamu
susulkan setelah lulus.”
Aku mengangguk-angguk.
“Selanjutnya,” sambung Pak Suganda, “… fotokopi transkrip asli yang sudah
dilegalisasi. Sama ini, ya. Dua bahasa dan kamu kirim setelah lulus. Keempat,
hasil tes IELTS. Harus lulus, Kash. Nanti kamu minta ke lembaga tempat
kamu tes untuk mengirim ke alamat perguruan tinggi yang kamu lamar.”
“Kalau tidak lulus, Pak?” celetukku.
“Ulang lagi sampai lulus. Waktu kamu masih banyak.”
Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Syarat kelima, fotokopi paspor. Kamu sudah punya?”
“Sudah, Pak.”
“Bagus.”
“Syarat keenam, surat rekomendasi. Kamu nanti tanya Pak Sugema. Siapa
yang bisa membuat surat itu.”
Aku mengangguk sambil membuat catatan kecil pada lembar kertas.
“Kalau sudah siap semua, berkasnya tidak perlu kamu stapler, ya.”
“Jangan distapler, Pak?”
“Jangan. Karena di Swedia nanti berkas kamu dipindai dan menjadi fail
digital. Fail itu yang dikirim ke masing-masing program studi untuk dinilai.
Kalau kamu pakai stapler pasti petugas seleksi kerepotan.”
Istilah fail itu baru kupahami satu tahun lalu, sewaktu ekstrakurikuler
menambahkan keterampilan komputer sebagai salah satu kegiatan pilihan
selepas jam sekolah. Memang berguna rupanya.
“Sekarang perihal Curriculum Vitae, Kash.”

“Biodata, Pak?”
“Semacam itu, tetapi lebih lengkap lagi. Ada beberapa hal yang kamu harus
jawab dengan meyakinkan. CV ini menentukan sekali kamu lolos atau tidak
dalam seleksi penerima beasiswa.”
“Minumnya, A,” Bu Suganda keluar dari ruang dalam. Membawa dua
cangkir minuman. “Biar berkurang stresnya.”
Aku tersenyum karena merasa ketahuan. Memang sedari tadi aku sudah
merasa pening dengan begitu banyak hal yang mesti aku siapkan. “Terima
kasih, Bu.”
“Ayo diminum dulu,” Bu Suganda duduk di sebelah suaminya.
“Ditampi, Pak, Bu,” aku mengangkat cangkir, “saya minum.”
“Silakan … silakan.” Pak Suganda juga menyeruput tehnya.
“CV cukup satu halaman, ya, Pak?” Aku melanjutkan pembicaraan kami.
“Betul. Kamu tonjolkan prestasi, pengalaman yang berhubungan satu sama
lain.”
“Misalnya pernah juara lomba musik, begitu, Pak?”
“Boleh. Kamu punya band?”
“Iya, Pak.”
“Nah, itu bagus kamu tuliskan di CV. Sudah pentas di mana saja dan
berprestasi apa.”
“Memakai bahasa Inggris, Pak?”
“Bahasa Inggris, tentu saja.”
Aku membuat catatan lagi dalam lembaran kertas pemberian Pak Suganda.
“Surat motivasi sudah, Yah?” Bu Suganda menyela suaminya.
“Nah, betul.” Pak Suganda seperti baru saja ingat hal yang hampir terlewat.
“Surat motivasi sangat penting, Kash. Kamu harus tulis dengan cerdik.
Jawaban kamu akan sangat menentukan kelulusanmu.”
“Surat motivasi itu apa, Pak?”
“Isinya alasan-alasan kamu layak lulus dalam seleksi beasiswa ini.”
Aku mencoba mencari perumpamaan. “Seperti orang mau melamar
pekerjaan, Pak?”
“Iya, semacam itu. Biasanya pertanyaan di dalamnya menyangkut visi misi
hidup kamu.”
Dahiku mengernyit. Berpikir.
“Coba kamu jawab pertanyaan saya, Kash.”
“Iya, Pak?”

“Menurut kamu, mengapa kamu layak mendapatkan beasiswa?”
“Saya …,” tidak mungkin aku jawab karena saya yatim piatu, “… saya unik,
Pak. Saya pembelajar, tahan banting.”
“Lumayan,” Pak Suganda tersenyum, “… kamu bisa memperbaiki lagi nanti.
Tapi, yang barusan sudah lumayan. So, what is the purpose of your existence?”
“Visi misi, Pak?”
“Ya.”
“Saya lahir besar dengan musik Sunda. Jadi, saya ingin musik saya tetap
berkarakter tradisional, tetapi peka terhadap perkembangan zaman. Kuliah
Music and Media Technology akan membantu saya mewujudkannya.”
“Don’t talk the talk, but walk the talk. Apa prestasi, penghargaan, dan
keberhasilan hidup kamu yang berhubungan dengan program yang kamu
pilih?”
“Dua tahun ini saya memimpin sebuah band pop. Kami mengeksplorasi
musik tradisional Sunda dalam instrumennya. Kami beberapa kali menjadi
juara dalam kompetisi. Sudah tampil di banyak acara di Bandung dan
beberapa kota lainnya.”
Pak Suganda mengangguk-angguk. Kurasa dia cukup puas dengan
jawabanku.
“It’s a win-win proposition, Kash. Jadi, kamu harus meyakinkan jika kamu
lolos program ini, bukan kamu saja yang beruntung. Pemerintah Swedia juga.
Misalnya dalam hal pertukaran budaya.”
“Baik, Pak.”
Kurasa aku semakin kesulitan mencerna kalimat-kalimat Pak Suganda. Bukan
hanya karena dia menyelipkan bahasa Inggris, melainkan juga memang inti
kalimatnya agak rumit. Mungkin karena aku kurang membaca.
“Kamu beri saya tiga contoh bagaimana kuliah di Swedia dan program yang
kamu pilih dapat memengaruhi perkembangan pribadi kamu.”
Aku butuh waktu untuk memproses kalimat itu. Memahami maksudnya, lalu
mengira-ngira jawabannya. Sebab, aku tidak akan pernah mengatakan, saya
tidak paham maksud pertanyaan Bapak.
“Eh … satu, kuliah yang jauh dari rumah membuat saya fokus. Dua, sistem
pendidikan yang baru membuat saya terpacu untuk selalu ingin tahu. Tiga,
bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara memancing saya untuk
belajar dari pengalaman dan latar belakang mereka.”
“Bagus, lho, jawabannya,” komentar Bu Suganda.

Aku tersipu. Entah itu pujian entah sindiran.
“Bagaimana Swedia bisa membantu kamu mewujudkan cita-cita kamu?”
“Saya berpikir, pasti ada sesuatu yang istimewa bagaimana Swedia bisa
melahirkan band-band ternama dunia. Mulai dari ABBA, Roxette, Ace of Base,

e Cardigans, Europe, dan lainnya. Saya akan mencari tahu alasannya. Akan
saya pakai untuk mewujudkan impian saya dalam bermusik.”

“Oke …,” Pak Suganda beradu pandang dengan istrinya, lalu melihatku lagi,
“lalu bagaimana program studi yang kamu pilih bisa kamu terapkan dalam
karier kamu kelak?”

“Musik akan selalu berubah dan teknologi punya peran sangat aktif.
Contohnya penggunaan teknologi komputer. Saya membayangkan apa yang
akan saya pelajari di program studi ini bisa membekali saya untuk beradaptasi
dengan perubahan zaman.”

Pak Suganda menyeruput tehnya lagi. “Sekarang tentang passion for your
action. Ceritakan bagaimana gereget kamu terhadap bidang studi yang kamu
pilih berhubungan dengan pengalamanmu.”

“Saya tidak bisa bosan untuk bermusik. Bagaimana manusia bisa bosan
bernapas?”

Oke, aku mengambil kalimat itu dari sebuah adegan lm untuk konteks yang
berbeda, “Setiap hari saya bermusik. Dari rumah ke sekolah, sekolah ke rumah
dan di antara keduanya, saya menenteng gitar, menyanyi. Saya naik kereta
setiap hari, menyerap banyak cerita, menyampaikannya dalam lagu.”

“Gereget sekali,” Bu Suganda kembali menyela latihan wawancara kami,
“hasrat kamu dalam bermusik kuat sekali.”

“Terima kasih, Bu.”
“Setuju,” Pak Suganda menguatkan komentar istrinya, “berikutnya, Kash,
coba kamu gambarkan bagaimana studimu di Swedia dapat memberi
sumbangan penting bagi Indonesia?”
“Sepengalaman saya, di Bandung saja, bakat bermusik anak muda Indonesia
sangat luar biasa. Sayangnya untuk bersaing dalam industri musik tidak cukup
bakat. Kemampuan beradaptasi dengan zaman, terutama teknologi sangat
menentukan. Saya membayangkan bagaimana ilmu yang akan saya dapat
dalam perkuliahan bisa memberi peluang bagi bakat-bakat itu untuk
mempertunjukkan eksistensinya.”
“Start small but think big, Kash. Apa contoh konkretnya. Sederhana saja.”
“Hmmm …,” aku tidak bisa menjawab cepat, “… misalnya teknologi

rekaman. Sekarang jika membuat demo-demo musik butuh proses rumit dan
mahal karena keterbatasan teknologi. Harapannya, jika sudah diketahui
teknologi yang efektif, itu akan sangat membantu para pemusik muda di
Indonesia.”

“Jawaban-jawaban kamu itu seperti jawaban mahasiswa, lho.” Bu Suganda
rupanya sangat tertarik dengan perbincangan kami. Tidak cukup menyimak
saja, dia juga merasa perlu mengemukakan pendapatnya.

“Mungkin karena saya banyak mengoleksi majalah bekas, Bu.”
“Majalah musik?” timpal Pak Suganda.
“Iya, Pak. Palasari.”
“Bekas masih bolehlah. Asal bukan KW.”
Kami tertawa bersama.
“Nah, Kash. Jawaban-jawaban kamu tadi tinggal kamu pindahkan ke tulisan.
Setiap jawaban cukup 600 karakter.”
“Karakter itu apa, Pak?”
“Huruf, Kash.”
Aku mengangguk-angguk.
“Iya. Nanti berkas satu set lengkap kamu kirim satu amplop. Pakai pos
reguler saja.”
“Ke alamat ini, Pak?” Aku menunjuk alamat: University Admissions in
Sweden FE 1 SE Stroemsund SWEDEN.
“Betul.”
“Kamu mulai kerjakan saja. Sambil berjalan, semua dilengkapi satu per satu.
Tidak rumit sebenarnya. Apalagi kamu memang punya tekad untuk itu.”
“Insyaallah, Pak.”
“Kalau ada pertanyaan, kamu datang kemari atau bisa telepon. Kami akan
bantu.”
“Terima kasih banyak, Pak, Bu. Saya beruntung sekali ada yang
membimbing.”
“Saya setuju dengan Pak Sugema. Kamu berkarakter, Kash. Saya tidak tahu
tentang musik, tetapi mengenai karakter, saya kira kamu sangat kuat. Terus
belajar, jangan mudah puas.”
Aku mengangguk sambil menekan rasa gembira agar tak berlebihan, “Baik,
Pak.”

Gh a 11

Menahan Tiga Kata

H ari-hari itu adalah episode penuh kejutan. Barangkali engkau
mengingatnya, Kanya?
Melejit harga-harga tanpa dikira. Harga Indomie dari dua ratus menjadi
seribu rupiah dalam sehari saja. Jajanan di kantin sekolah naik empat kali
dibanding harga sebelumnya. Iklan di televisi swasta menghilang, kecuali
sampo dan satu dua produk lainnya. Makanan di warung pun menyusut.
Mahasiswa mulai turun ke jalan.

Kejutan yang lain adalah, aku lulus tes IELTS hanya dalam sekali mencoba,
meski nilainya biasa-biasa saja. Aku memang sangat mengharapkannya, agar
tidak lagi keluar biaya. Tetap saja lulus pada tes pertama membuatku setengah
gila.

Pak Sugema benar-benar membekaliku dengan sangat baik. Tips-tipsnya
untukku benar-benar berguna. Pada waktu yang tak lama, ijazah dan NEM-ku
sudah kuterima. Kelulusan sekolah tidak terlalu membuatku emosional.

Akan tetapi, ketika aku sadari seluruh syarat mengajukan beasiswa telah aku
siapkan, itu sungguh-sungguh mengharukan. Sejak hari pertama aku bertemu
Pak Suganda dan mulai memproses semua persyaratan, aku tidak yakin akan
mampu menyelesaikannya.

Terlalu banyak hal yang harus kuselesaikan. Namun, aku sungguh mengikuti
sarannya. Mencicil daftar syarat yang diwajibkan. Menulis CV dan
mengoreksinya puluhan kali. Menyusun surat motivasi sambil membuka
semua koleksi majalah Rolling Stone bekas. Mengunjungi warung internet di
Jatinangor untuk terus mencari tahu perkembangan beasiswaku dan itu

mengejutkan bagiku yang gagap teknologi. Dari yang kebingungan
menghadapi layar internet dengan gambar bergerak begitu banyak, aku
menjadi cukup paham bagaimana menggunakan teknologi baru itu.

Akan tetapi, tidak ada yang mengalahkan keterkejutanku dengan perubahan
sikapmu. Aku merasakannya, hanya tidak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.
Tidak pula bisa menanyakannya kepadamu.

Akan tetapi, sepanjang tahun ini, setiap kita selalu bertiga saat berkereta, aku
jarang merasakan kedekatan seperti hari-hari sebelumnya sewaktu kita hanya
berdua. Engkau tidak terlalu bersemangat dengan sekolah keretamu. Kita tak
pernah lagi mendebatkan materi pelajaran atau isi buku seperti dulu.

Jika aku menjelaskan, engkau hanya mendengarkan. Tidak pernah bertanya,
tidak pula tampak sungguh-sungguh menyimaknya. Semula aku beranggapan,
kehadiran Pipin membuatmu segan. Belajar dalam kereta sambil dia
perhatikan, kukira membuatmu kurang nyaman. Namun, aku merasa bukan
hanya itu alasannya. Bukan itu satu-satunya.

“Keadaan seperti ini, Bapak jualan ikan asinnya bagaimana, Kanya?”
Aku menutup buku pelajaranmu. Membantumu memasukkannya ke dalam
tas. Mengubah pembicaraan agar engkau tidak merasa tertekan.
“Disesuaikan, Ko. Harganya tetap, isinya dikurangi.”
“Chiki juga isinya jadi tipis,” Pipin menyerobot obrolan kita, seperti biasa,
“rokok juga jadi mahal sekali.”
Aku melirik Pipin, “Aku tidak bisa bohong kalau Bu Haji bertanya kamu
merokok atau tidak, lho, Pin.”
“Rojali, A. Rokok jarang beli. Cerita teman-teman saja.”
“Iya, sama saja. Intinya Pipin merokok, bukan?”
Aku lalu menoleh ke Kanya, “Sayuran juga begitu, Kanya?”
Engkau mengangguk saja.
Aku hampir putus asa setiap ini terjadi. Aku berusaha mengembalikan
keceriaan kita dulu dan selalu terantuk dengan diammu. Pada akhirnya aku
pun kehabisan bahan. Jadi ikut diam. Mengambil gitar dan memainkannya,
sebunyi-bunyinya.
Sesekali aku memeriksa dirimu dengan lirikanku. Beberapa kali ekor mataku
menangkap gerakan Pipin. Aku mulai merasa, kalian berkomunikasi tanpa
kata-kata. Saling melihat meski tak pernah bersitatap. Kecuali, ketika kereta
sudah mendekati Stasiun Rancaekek. Di stasiun itu Pipin akan turun. Sebelum
bangun dari bangku aku jelas melihat Pipin memperhatikanmu, seolah hendak

berpamitan kepadamu. Engkau pun memandang Pipin, meski tidak berkata
apa pun.

“A, aku turun, ya,” Pipin berdiri, mengantre dengan orang-orang, “Kanya,
aku turun dulu.”

“Ya,” jawabku, “Titi DJ.”
Pipin tertawa, “Dedi Dores,” melirikmu lagi, “diiringi dengan doa restu.”
Hening dalam keriuhan. Aku selengang dirimu. Kita tidak saling berkata-
kata. Sampai penumpang turun semua, naiklah beberapa orang, lalu kereta
melanjutkan perjalanannya.
“Kanya,” aku memeluk gitar, menatapmu, “saya sedang memikirkan
kemungkinan-kemungkinan.”
Aku memperoleh perhatianmu. Engkau membalas tatapanku.
“Jika saya tidak lulus ujian beasiswa, mungkin saya akan mencari kerja.”
“Koko tidak kuliah?”
Aku menggeleng, “Pak Haji menawarkan itu. Tetapi saya tidak mau.
Walaupun universitas negeri, biayanya mahal sekali. Apalagi kalau harus
swasta. Saya malu merepotkan Pak Haji.”
“Kerja apa, Ko?”
“Apa saja. Asal bisa untuk hidup dan menabung untuk masa depan.”
Engkau merapatkan bakulmu. Mendekatkannya ke kakimu.
“Tetapi,” aku melanjutkan angan-anganku, “kalau saya lulus beasiswa, saya
mungkin akan tinggal tiga sampai empat tahun di Swedia.”
Engkau tidak bereaksi. Seolah perkiraan itu tidak berarti dan aku bukan
seseorang yang engkau kenali. Engkau hanya tersenyum. Senyummu yang
kedua, senyum setiap engkau merasa tidak nyaman akan sesuatu. Senyum yang
mengulum bibirmu.
Ingatkah engkau, Kanya, ketika itu aku sampai begitu mengiba-iba.
“Kanya tidak ingin mengatakan sesuatu?”
“Tentang apa, Ko?”
Aku menelan ludah. “Tentang kemungkinan saya lama di luar negeri.”
“Ya, semoga Koko sehat dan sukses.”
Bukan itu yang kumaksud, Kanya. “Kanya tidak apa-apa kalau saya
tinggalkan lama?”
Tidakkah tiga tahun kebersamaan kita di kereta telah menjadi bagian dari
hatimu, Kanya? Ketika itu hendak lepas darimu tidakkah engkau akan merasa
kehilangan?

“Koko, kan, sedang mempersiapkan masa depan Koko. Saya ikut senang.
Semoga dimudahkan.”

Aku merasa ada yang lepas pada cara kita berbicara, Kanya. Aku tidak bisa
meraihmu meski duduk persis di sebelahmu. Gagal kutemukan antusiasme
dalam tatap matamu, bahasa tubuhmu. Bahkan, dalam kesan yang engkau
sembunyikan sekalipun. Dulu, meski malu-malu, dalam kepura-puraanmu,
aku tetap akan menemukan tanda itu. Tanda bahwa engkau peduli kepadaku.
Namun, belakangan ini aku kehilangan itu.

Aku lalu membiarkanmu. Kupetik gitar. Kupilih lagu. Kali ini, aku mengira-
ngira apa bunyi perasaanmu.

Lagu agak lama, tentang hati yang mendua. “Salahkah Aku”.
Aku menatapmu, mencari matamu.
Aku tahu, engkau memperhatikan kata-kataku. Tahu mengapa aku memilih
lagu itu. Lagu Titi DJ yang petang itu menyuarakan kecemburuanku.
Sampai lagu selesai, aku bisa membaca kegelisahanmu. Seolah engkau tidak
kerasan lagi duduk di sebelahku.
“Bagus lagunya, ya?” Aku memancing komentarmu.
Anggukanmu tidak bersungguh-sungguh. Engkau memeriksa isi bakulmu,
padahal kita tahu kamu tidak perlu melakukan itu.
“Kanya mengerti isi lagu ini?”
Engkau menutup lagi bakulmu dengan lembar koran, lalu bersiap-siap.
“Sudah mau sampai, Ko, keretanya.”
Sekarang aku yang terdiam. Mungkin kali pertama sejak kita mulai bicara.
Engkau tidak pernah melakukan ini kepadaku, Kanya. Memperlihatkan
keenggananmu dengan begitu nyata. Kukira, meski aku sanggup
menerimanya, itu menjadi penderitaanku yang pertama.

SATU-SATUNYA kesibukanku yang bisa sedikit mengalihkan kegelisahanku
tentangmu adalah proses seleksi beasiswaku, Kanya. Hari-hari itu amat
mendebarkan. Setelah proses panjang, setahun lamanya aku berjibaku dengan
macam-macam dokumen, menjalani banyak proses administratif di berbagai
kantor, akhirnya semua selesai dan aku tinggal menunggu hasilnya.

“Ada yang kosong, A?”

Dua laki-laki muda, umur mereka di atasku kukira, mendahuluiku bertanya
kepada penunggu warung internet. Seorang berambut gondrong sebahu
dengan bekas jerawat hampir menutupi dua pipinya. Seorang lagi plontos dan
berwajah jenaka.

“Nomor 17,” jawab penunggu warung internet, bapak-bapak berkacamata
dan keriting rambutnya. Dia berkata-kata, tetapi tidak menatap lawan bicara.
Asyik dengan layar komputernya sendiri.

Aku mendapat giliranku dan belum sempat bertanya apa-apa.
“Nomor 16,” katanya lebih dulu.
Aku pun langsung menyusul dua pemuda yang rupanya menjadi tetangga
mejaku. Di warnet ini mungkin ada lebih dari dua puluh kotak yang masing-
masing terisi komputer dan jaringan internet. Dinding tripleks yang
membatasi antarkotak tidak tinggi. Sepinggangku saja. Jadi, apa yang dibuka
oleh tetangga, orang di sebelah bisa mengetahuinya. Perbincangan, kegaduhan,
asap rokok dari sebelah pun segera menyatu dengan udaraku.
“Serius teman kamu berhasil?” tanya pemilik suara berat di antara kedua
tetangga kotakku.
“Serius. Sudah berkali-kali malah.”
“Beli mobil saja sekalian kalau begitu.”
“Jangan yang terlalu mahal. Ketahuan nanti. Seperti di Surabaya itu. BMW
datang bersama-sama polisi.”
“Bagaimana bisa ketahuan?”
“Orang yang punya rekening sadar bahwa uangnya hilang banyak. Beli
barang-barang biasa saja. Kamera, baju, sepatu. Tidak akan ketahuan.”
Aku tidak tahu persis mereka membicarakan apa. Aku hanya merasa, dari
cara mereka saling sela dengan suara yang rendah setengah berbisik, bukan hal
mulia yang sedang mereka usahakan.
Kunyalakan komputer dan memasukkan nama pada kolom pendaftaran agar
bisa masuk ke jaringan internet. Aku mengatur empasan napasku yang mulai
tak karuan. Begini rasanya ketika masa depan ditentukan oleh sebuah
pengumuman.
Teman-teman sebayaku juga dibuat deg-degan oleh aktivitas menunggu yang
berbeda. Mereka yang mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional
kukira juga sedang diterpa kegelisahan. Menunggu masa depan yang
membingungkan. Proses yang kuhadapi pun serupa.
Proses seleksi penerima beasiswa ini punya kemiripan dengan UMPTN.

Setiap program studi punya persentase penerimaan yang berbeda-beda.
Bergantung banyak pelamarnya, juga passing grade yang sudah ditentukan.

Setiap pengaju beasiswa akan di-rangking dan diantrekan sesuai kuota. Aku
tidak tahu berapa orang dari berbagai benua yang menjadi pesaingku. Ini tidak
hanya bicara tentang angka, tetapi juga keberuntungan. Seberuntung apakah
aku?

Di depan layar komputer, di warung internet pinggir jalan, sebelah Mapolsek
Jatinangor, lingkungan kampus Universitas Padjadjaran, aku tinggal mengetik
alamat universityadmissions.se, tetapi tetap belum kulakukan. Aku benar-
benar belum siap untuk menerima jawaban. Setelah semua yang aku lakukan
selama setahun belakangan, aku tidak siap untuk gagal. Ini terlalu melelahkan.

Aku hanya mengincar jawaban admitted, diakui. Bahkan, meski benar-benar
berangkat ke Swedia masih membuatku sangsi karena beratnya rasa untuk
meninggalkanmu, Kanya. Namun, itu urusan yang berbeda. Setidaknya aku
berhasil dalam tantangan ini. Apakah aku benar-benar mengambil beasiswa ke
Swedia, atau melepaskannya, itu perkara nanti.

“Bismillah.”
Akhirnya, aku pasrah. Jariku mengetik alamat itu dan semakin berdebar-
debar melihat halaman depannya. Lalu, aku melakukan pendaftaran,
memasukkan nama dan kata kunci untuk mengetahui ada noti kasi pada
aplikasi.
Napasku seperti terpenggal. Ada yang luruh pada perasaan. Aku lemas dan
masih berusaha untuk menampik kenyataan. Bukan admitted status yang
tertera pada aplikasi, melainkan reserved.
“Beli komputer saja, Sul.”
“Ketahuan, tidak?”
“Tidak lah.”
“Pengirimannya bagaimana?”
Obrolan di sebelah membuat kekesalanku bertambah-tambah. Kata Pak
Suganda, hanya status admitted yang berarti lamaranku diterima. Bermakna
aku menjadi penerima beasiswa. Status itu tidak tertera. Hanya ada reserved
sebagai gantinya.
“Ya, Allah.” Aku betul-betul lemas. Terbayang apa yang aku usahakan selama
satu tahun ini. Aku benar-benar berusaha menelan kegagalan ini, tetapi tetap
pahit di hati. Tidak terlalu yakin harus bagaimana, aku lalu meninggalkan
komputer, menuju meja operator warnet, membayar tagihan.

Keluar dari warnet aku masih tak mengerti bagaimana mungkin ini terjadi.
Betapa percuma semua proses yang aku jalani. Meski aku sudah terbiasa
dengan kekalahan, kali ini sungguh-sungguh menyakitkan.

Aku merasa perlu mengendalikan diri. Aku duduk di pinggir jalan, bersandar
tembok pembatas trotoar. Aku melihat kendaraan yang berlalu-lalang, tetapi
sebenarnya tidak memedulikannya. Bahkan, ketika serombongan mahasiswa
berjas almamater lewat dalam barisan memanjang dan teriakan tuntutan
revolusi, aku tidak membawanya ke hati. Sekadar memproses kekalahan ini
sebagai sebuah peristiwa yang biasa. Namun, aku sungguh belum bisa.

“Revolusi! Revolusi sampai mati!”
Rombongan mahasiswa yang ratusan jumlahnya itu membuat lalu lintas
Jatinangor menyendat. Orang-orang yang menyaksikan mereka pun tertular
semangat.
Sedangkan, aku masih terpaku dengan kekalahanku. Ini tak akan menjadi
kekalahan biasa. Terlalu lama aku menjalani prosesnya. Meminggirkan banyak
hal, fokus pada satu kemungkinan. Bagiku Swedia telah menjadi syarat masa
depan. Tempatku memulai sebuah harapan. Bukan perkara jaminan
kesuksesan. Sebab, aku percaya keberhasilan bisa kumulai dari mana saja.
Hanya saja, proses yang begini lama telah membuatku percaya, sebuah
kegagalan pada ujungnya bisa membuatku kehilangan arah. Kehilangan
kepercayaan diri. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Apakah mungkin
memulainya kembali dari langkah pertama? Rasanya aku tak akan sanggup
melakukannya.
Ketika akhirnya aku memutuskan untuk berdiri, itu bukan karena aku telah
sanggup menerima kekalahan. Aku hanya berusaha untuk tidak memperparah
kekalahanku dengan sikap pecundang. Aku lalu mencari wartel sembari
berupaya mengurangi rasa kecewa dengan melafalkan doa. Doa apa saja. Kartu
nama Pak Suganda kukeluarkan dari saku.
“Halo. Assalamualaikum.”
Aku menghubungi rumah Pak Suganda. Kurasa dia orang pertama yang layak
kuberi tahu perihal kegagalanku.
“Waalaikumsalam.”
“Ini Kashmir, Pak.”
“Oh, Kashmir. Apa kabar? Sudah keluar pengumuman beasiswanya?”
“Sudah, Pak. Saya gagal.”
“Gagal?”

“Iya, Pak. Sudah ada noti kasi.”
“Apa yang tertulis di situ?”
“Bukan admitted, Pak.”
“Lalu?”
“Reserved, Pak.”
“Kamu yakin?”
“Iya, Pak. Saya yakin. Mungkin bukan rezeki saya, Pak.”
“Tunggu dulu, Kash. Kalau kamu terima status reserved artinya belum tentu
kamu ditolak.”
“Maksud Bapak?”
“Kalau ditolak itu, status yang kamu terima delete.”
“Kalau reserved apa artinya, Pak?”
“Artinya, masih ada kemungkinan statusmu berubah menjadi admitted. Kamu
tunggu noti kasi kedua.”
Ada yang merekah di dadaku.
“Kamu di mana sekarang?”
“Di wartel, Pak. Jatinangor.”
“Begini saja. Kamu pulang sekarang. Nanti saya yang mengecek. Kalau sudah
ada hasilnya, saya telepon ke rumahmu.”
“Tapi, Bapak jadi repot.”
“Tidak repot. Saya bisa cek di internet kampus. Kalau kamu harus ke warnet,
bukan?”
“Benar, Pak.”
“Ya sudah, coba diktekan nama dan kata kunci kamu. Nanti saya cek ulang.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama, Kashmir.”
Aku lalu mendiktekan nama dan kata kunciku. Tidak buru-buru. Setelahnya
aku menutup telepon dan tidak percaya bahwa masih ada harapan. Apa yang
tadi sempat mati, hidup lagi. Aku lalu mencegat angkot dan pulang. Di
sepanjang perjalanan, aku sungguh-sungguh tidak bisa membaca perasaanku
sendiri. Apakah aku harus berharap atau mesti berhenti. Dengan begitu, tak
akan terlalu menyesakkan kecewaku nanti.
Sebelumnya aku telah yakin tertolak. Meski pahit, pikiran itu memberiku
sebuah pemahaman tentang kekalahan. Sekarang, kekalahan itu seperti
tertunda. Digantung kembali hasilnya. Rupanya perasaan semacam ini tidak
kalah menyesakkan.

Aku seperti tuli. Pada sepanjang perjalanan hanya mendengarkan pikiranku
sendiri. Apa yang terjadi di sekitarku tak kuambil peduli. Sewaktu angkot
berhenti, aku lalu membayar ongkos dan menyeberang jalan. Aku masih
berpikir perihal segala kemungkinan sewaktu aku berjalan menuju rumah Pak
Haji.

Pada jalan menanjak itu, aku menimang apa yang terjadi pada dua
kemungkinan. Jika aku diterima, bagaimana? Jika aku gagal, harus apa? Itu dua
pemikiran yang sudah berbulan-bulan menerorku, terutama menjelang tidur.
Lalu, setelah kabar di warnet tadi, pertanyaannya jadi lebih sederhana. Aku
telah gagal, sekarang apa yang mesti kulakukan? Bahkan, meski aku telah
menyiapkan banyak dalih, menghadapi kenyataan tetap saja membingungkan.

Sekarang, dua kemungkinan itu kembali datang. Aku merenungkannya
sendiri. Mengira-ngira apa yang akan terjadi. Sewaktu aku memasuki
pekarangan rumah Pak Haji dan kesibukan di depan toko masih terjadi, aku
hendak menuju kamarku dan mengurung diri.

“A.”
Suara Pak Haji.
Aku batal melangkah pintu rumah dan menoleh ke toko.
“Ya, Pak Haji.”
Aku menyaksikan ada yang berbeda pada mata tuanya. Dia memandangku
dengan senyum canggung dan mata berkaca-kaca. “Tadi ada telepon dari Pak
Suganda.”
Aku terpaku. Secepat itu?
“Kata Pak Suganda, Aa lulus beasiswa ke Swedia.”
Mungkin aku sedikit terbelalak. Dua tangan mencengkeram kepala. Mulut
menganga. “Betul, Pak Haji?”
Pak Haji mengangguk-angguk.
Napasku sungguh serasa berhenti, tak tahu bagaimana mesti berekspresi. Aku
menghampiri Pak Haji, mencium tangannya, lalu dia merangkulku dalam
dekapannya.
“Alhamdulilllaaah,” bisik Pak Haji, “… selamat, A. Kerja keras Aa terbayar
lunas.”
Aku tidak bisa berkata-kata. Sudah lama rasanya aku tidak melakukannya.
Menangis bahagia.
“Besok Aa diminta ke rumah Pak Suganda untuk mengurus surat-surat, A.”
Aku mengangguk-angguk tanpa suara. Memejamkan mata di bahu Pak Haji.

“SELAMAT, Kash.”
Pak Suganda menyambutku di halaman rumahnya dengan jabat tangan yang

amat kuat. Aku sedikit tersakiti, tetapi sama sekali tidak keberatan.
“Saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan Bapak.”
“Saya hanya membantu. Kamu yang sungguh-sungguh bertekad kuat.”
Kami lalu masuk ke rumah. Ini kedatanganku ke sini entah untuk kali

keberapa. Bedanya, hari ini rasanya seperti sebuah pesta.
Kami duduk berhadapan dan segalanya terasa menyenangkan.
“Tadi kamu bertemu demonstrasi mahasiswa?”
“Iya, Pak. Dari Jatinangor sampai Bandung, mahasiswa turun ke jalan.”
“Keadaan semakin memburuk sepertinya, Kash. Jika mahasiswa sudah turun,

artinya akan ada perubahan besar.”
“Semoga perubahan yang baik, ya, Pak.”
“Semoga saja begitu. Tapi di Jakarta situasi cukup mengkhawatirkan.”
Aku tidak tahu politik, tentu saja. Tidak paham juga seluk-beluknya.
“Soal beasiswamu, Kash,” Pak Suganda mengalihkan tema pembicaraannya,

“setelah kamu resmi diterima, kamu harus mengajukan residence permit.”
“Izin tinggal, Pak?”
“Betul. Kalau bukan penerima beasiswa, pengajuan residence permit itu sangat

rumit dan butuh biaya sangat besar. Mereka tidak mau ada orang asing yang
datang dan tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri selama tinggal
di Swedia.”

“Itu diurus begitu sampai di sana, Pak?”
“Justru saya minta kamu datang untuk membahas itu. Jadi, izin tinggal ini
harus diurus sekarang-sekarang, Kash. Sebelum kamu berangkat. Harus
disetujui sebelum kamu berangkat. Tanpa izin tinggal, kamu tidak bisa masuk
Swedia. Bisa-bisa beasiswamu pun hangus.”
“Wah.”
“Aturan Migrationsverket, Kantor Imigrasi Swedia memang begitu.”
Pak Suganda lalu meletakkan selembar berkas di meja. Itu seperti déjàvu. Kali
keberapa aku sudah tidak tahu. Berkas ini berisi daftar dokumen yang mesti
aku penuhi.

Aku membacanya dan mulai pening lagi.
Formulir aplikasi permohonan izin tinggal, foto berwarna 4x6 cm, paspor,
salinan paspor, salinan surat penerimaan dari universitas di Swedia, dokumen
beasiswa, salinan laporan bank tentang dana minimum di rekening.
“Pak, nomor tujuh.”
“Itu berlaku untuk yang berkuliah tanpa beasiswa, Kash.”
“Mahal sekali, ya, Pak.”
“Iya. Mereka memperkirakan kebutuhan hidup minimal per bulan.
Dikalikan 10 bulan dalam setahun dikalikan masa studi. Jumlah uangnya
sudah harus ada di rekening.”
Aku meniup udara. Sesak menghitung nominalnya.
“Tetapi, kamu tetap harus punya pegangan, Kash. Amannya untuk satu atau
dua bulan pertama di sana. Berjaga-jaga jika beasiswa terlambat cair.”
“Saya akan mencari kerja di sana, Pak.”
“Itu bagus, tetapi mencari kerja, kan, tidak mudah juga. Belum tentu kamu
langsung mendapatkannya.”
“Saya punya sedikit tabungan, Pak. Mudah-mudahan cukup untuk bertahan
hidup sebelum beasiswa cair.”
“Bagus. Itu bagus.”
Perkara uang benar-benar menggelisahkanku sebenarnya, Kanya. Siang itu
setelah pembicaraanku dengan Pak Suganda, aku lalu berpamitan. Aku
menyetop angkot menuju Stasiun Kiaracondong. Perlu dua kali pindah angkot
dari rumah Pak Suganda menuju sana.
Di dalam angkot aku memikirkan kita, Kanya. Tabunganku seumur hidup
itu jumlahnya tetap tak seberapa. Banyak bagiku, tapi sedikit bagi kebutuhan
hidup. Aku sudah memakainya sebagian untuk membuat paspor, tes IELTS,
dan segala keperluan pemberkasan. Aku masih terbantu oleh Pak Sugema yang
kekeh tidak mau menerima uang pendaftaran yang sudah dia bayarkan.
Aku sekarang dibenturkan dengan kebutuhan lain. Meski beasiswa yang
kuterima menutup banyak sekali pengeluaran, tetapi tetap aku harus
mengusahakan sisanya. Jika aku menggunakan tabunganku, bisa-bisa habis.
Padahal, aku menyiapkan tabunganku itu untuk keperluan yang berbeda.
Keperluan yang akan kutinggalkan di Indonesia.
Aku bisa membuat ini sederhana jika aku mau meminta tolong kepada Pak
Haji. Namun, itu akan meruntuhkan segala yang sudah kubangun. Rasa
terima kasihku kepada Pak Haji akan roboh dalam sekejap. Sebab, aku

memanfaatkan apa yang mestinya aku hindarkan. Tidak semua orang bisa
memahami ini, Kanya. Aku mengerti. Bagaimanapun, aku tetap akan
mempertahankannya. Aku tidak akan meminta tolong kepada Pak Haji, apa
pun perjanjiannya.

Sewaktu aku sampai Stasiun Kiaracondong, aku masih belum menemukan
solusi permasalahanku. Aku memberi jeda kepada diriku sendiri untuk
memikirkannya lagi nanti. Aku hendak menemuimu. Semestinya aku
meninggalkan semua kegelisahan di belakang.

Di pintu stasiun, aku melihat para calon penumpang sudah mulai antre.
Termasuk seorang pedagang pernak-pernik yang sering kulihat, tapi baru kali
ini kuperhatikan. Aku mendatanginya sementara dia sedang menunggu
petugas membuka loket karcis.

“Mang …,” aku membolak-balik ikat rambut warna biru toska yang
menumpuk di antara pernak-pernik lainnya, “… ieu sabaraha? Berapa
harganya sepasang?”

“Wah, itu mah, barang bagus, Kasep. Bahannya awet.”
“Iya, berapa?”
Mang Pernak-Pernik menyebutkan harga. Aku lalu membayarnya. Ikat
rambut ini istimewa karena warnanya, karena kesederhanaannya. Polos tanpa
ada aksesori lainnya. Aku punya rencana dengannya. Rencana yang
melibatkanmu, Kanya.
“A Kashmir!”
Pipin menepuk bahuku seperti tiba-tiba saja muncul di belakangku.
Sebenarnya sekali ini aku ingin mengulang masa lalu, Kanya. Ingin berkereta
berdua saja denganmu. Namun, setahun terakhir, Pipin seperti paling tahu
kapan dia harus muncul di stasiun. Detik keberapa dia mesti melompat naik
kereta. Seperti sekarang, ketika kamu bahkan belum datang, Pipin sudah
muncul dari kesirnaan.

BERTIGA, dalam kereta, seperti hari-hari yang semakin biasa. Kecuali, sikap
Pipin sedikit berbeda. Dia tidak menimbrung perbincangan kita seperti
sebelum-sebelumnya. Dia biarkan aku betul-betul berdua denganmu. Tidak
duduk di sampingku atau berdiri di hadapan kita. Seperti memberi

kesempatan kepadaku.
“Saya lulus, Kanya.”
Engkau menatapku pada detik yang seolah-olah membeku. Waktu berhenti.

Bahkan, setelah ini terjadi berkali-kali. Bedanya, aku tak menangkap
keterkejutan pada tatap matamu.

“Beasiswa, Ko?”
Aku mengangguk. “Kanya sudah tahu?” Aku menoleh ke Pipin. “Pipin
memberi tahu?”
Pipin menjauhkan tatapannya. Dia duduk di seberang bangku kita, seperti
sengaja membiarkan jarak di antara dia dan kita.
“Selamat, Ko.” Engkau tak menjawab pertanyaanku.
Kecewa menelan kalimatku. Aku sama sekali tidak mengharapkan ini.
Semestinya yang memberitahumu aku sendiri. Aku menoleh kepada Pipin lagi.
Matanya tak membalasku.
“Pipin memberi tahu karena saya bertanya, Ko. Maaf, Koko jadi tidak
senang.”
“Mengapa Kanya ingin tahu?”
“Saya selalu berdoa supaya Koko mendapatkan beasiswa itu.”
“Benar begitu?” Aku segera menambahkan senyum pada kalimatku. Tak
ingin engkau terbebani kekesalan kecilku. “Pantas saja Allah
mengabulkannya.”
“Koko suka berlebihan.”
“Doa pekerja keras lebih didengar Allah.”
“Saya baru dengar itu, Ko. Bukan doa orang teraniaya yang pasti didengar
Allah?”
“Orang teraniaya … dan pekerja keras.”
“Koko … mah.”
Aku mendapatkan momentumku lagi. “Kanya mau menunggu saya?”
“Saya tidak akan ke mana-mana, Ko.”
“Hati Kanya juga tidak akan ke mana-mana?”
Engkau tak menjawabku. Tatapanmu tersipu. Malu.
“Saya akan pulang tiga atau empat tahun lagi. Kanya bisa menunggu selama
itu?”
“Kapan pun Koko pulang, Koko tinggal naik kereta ini. Saya tetap di sini.
Setiap hari.”
“Hati Kanya …,” aku meletakkan telapak tangan ke dada, meraba detak di

sana, “… akan selalu ada di sini.”
Engkau betul-betul melihat ke tanganku, lalu menunduk seperti waktu-

waktu lalu.
“Kanya ….”
Wajahmu terangkat, matamu mengerjap.
“Saya tidak akan tenang ketika jauh dari Kanya.”
“Saya akan baik-baik saja, Ko.”
“Saya ingin menjaga Kanya.”
“Koko selama ini sudah melakukannya.”
“Saya ingin lebih lama, Kanya. Selamanya.”
Engkau mencari-cari mataku. Kali ini berani mengadu tatapanmu.
“Boleh, kan, saya menjaga Kanya … selamanya?”
“Saya tidak mengerti, Ko.”
“Saya ingin menghilangkan jarak di antara saya dan Kanya.”
Engkau menatapku lagi. Menggetarkan hati.
“Apakah Kanya pernah tersakiti oleh saya?”
Engkau menggeleng pelan. Tatapanmu kebingungan.
“Apakah saya pernah membuat Kanya kecewa?”
Menggeleng kembali. Tatapanmu beralih lagi. Mendengarkan dengan hati-

hati.
“Apakah saya membawa keburukan kepada Kanya?”
“Tidak, Ko. Mengapa Koko menanyakan itu?”
Aku berusaha tersenyum menambal keberanianku yang berlubang oleh

bimbang. “Apakah Kanya percaya kepada saya?”
“Tentang apa, Ko?”
“Semuanya. Apakah saya lelaki yang bisa Kanya percaya kata-katanya,

perilakunya, janji-janjinya?”
“Saya percaya Koko ….” Engkau meremas-remas jemarimu, tersenyum

sembari menyipit matamu. Senyummu yang ketiga. Senyum haru setiap
engkau mengingat sesuatu yang menyentuh hatimu. “Saya percaya kepada
Koko sejak kali pertama kita bertemu.”

Kalimat itu mengejutkanku. Kata-katamu yang kali pertama rasanya
menyampaikan isi pikiranmu tentang aku. “Tiga tahun lalu?”

Engkau mengangguk.
“Itu hari pertama saya menyadari, Kanya akan selalu menjadi pertimbangan
pertama ketika saya memikirkan apa saja.”

“Koko.”
“Saya …,” ini waktunya, “… saya berharap layak menjadi suami Kanya.”
Tidak hanya gerakan tanganmu yang berhenti. Matamu pun seakan tak
berkedip lagi.
“Saya bersungguh-sungguh, Kanya. Saya melamar Kanya untuk menjadi istri
saya.”
Diam agak lama. Diseling bunyi kereta. “Koko akan pergi ke luar negeri,”
suaramu melirih. Menahan tangis. Entah sedih entah bahagia, “… Koko akan
bertemu banyak orang. Koko akan mudah melupakan saya.”
“Bukankah Kanya percaya saya?”
Engkau tak menjawab.
“Jika Kanya percaya saya mampu menjadi kepala rumah tangga, saya
membayangkan kita menikah sebelum saya berangkat ke Swedia.”
Engkau semakin diam. Sangat diam.
“Kanya mau?”
Sekarang yang mulai khawatir adalah aku. Diammu membuatku berpikir,
aku terlalu berani mengatakan ini, di sini.
“Kanya menolak?”
“Bukan begitu, Ko.”
“Lalu, bagaimana?”
“Bapak ….”
Aku mengangguk-angguk, “Tentu saja saya akan datang ke Bapak. Maksud
saya, sekarang ini hanya memastikan bahwa saya tidak sekadar gede rasa.”
Engkau tersenyum. Aku membaca bibirmu dari samping. Senyummu yang
pertama. Senyummu setiap engkau tak ingin mengecewakan lawan bicara.
“Aa …,” Pipin memanggil. Dia sudah bangkit dari bangku. Bersiap-siap
ketika kereta sudah hendak tiba di Stasiun Rancaekek, “… aku turun duluan.”
“Apa?”
Aku tidak terlalu yakin bagaimana mestinya merespons kalimat Pipin. Terlalu
banyak yang ada di pikiran sampai-sampai kebingungan membuat urutan.
“A Kashmir lanjut Cisalangka, bukan?” Pipin mendesakku lagi.
“Eh ….” Aku menoleh kepadamu. Sedangkan, kamu masih menatap Pipin,
lalu buru-buru membalas tatapanku. Tentu kamu sadar aku menunggu
perhatianmu. “Ya, aku antar Kanya dulu.”
“Tidak harus, Ko,” kamu menyelaku, “Koko, kan, tidak menitip sepeda di
stasiun?”

“Saya bisa naik angkot.”
“Sudah sore, Ko.”
Terasa kereta mulai melambat, aku menatapmu lekat-lekat, “Kanya ingin
sendiri?”
Kamu menatapku kembali. Ada genangan bening di kelopak matamu.
Namun, aku tidak bisa membaca hatimu.
Aku mengangguk karena tahu tak akan mendapatkan jawaban darimu.
“Baik,” aku merogoh saku dan mengeluarkan ikat rambut yang kubeli di
Kiaracondong. Ikat rambut berwarna biru toska. Polos tanpa tambahan apa-
apa. Aku mendekatkan kepalaku ke telingamu. Membisikimu sesuatu.
Kamu menerima dua ikat rambut itu. Aku mencangklongkan tasku, “Saya
turun di sini.”
“Ko ….”
Kuberikan kepadamu, senyum terbaikku. Meski kamu pasti mampu
membaca pikiranku. Bahwa, aku merasa gentar dengan segala kemungkinan.
Tiba-tiba aku khawatir telah salah mengatakan apa yang telanjur aku
sampaikan.
“Maafkan, saya sudah berlebihan.”
Kamu menggeleng tanpa kata-kata.
Aku letakkan telapak tangan ke dada, merasakan degup tak karuan di sana.
Berharap kamu mengerti aku melakukan itu setiap hendak mengatakan tiga
kata yang kutahan untuk kukatakan, entah sampai kapan, “Hati-hati, Kanya.
Saya turun di sini.”
Kereta telah benar-benar berhenti. Aku tepuk bahu Pipin dan mendahului
langkahnya, menyusul punggung orang-orang yang mulai berdesakan. Aku tak
memeriksa apakah Pipin segera menyusulku atau melangkah belakangan.
Aku berjalan dengan gelisah yang melimpah.

Gh a 12

Sebelu m Aku Pergi

A “a yakin?”
Di kamarku, Pipin sedari tadi begitu ingin mendengar ceritaku. Bertubi-
tubi menanyaiku. Sejak tiba di rumah, aku merasakan kecamuk itu. Pada
pikiranku berkumpul penyesalan dan keyakinan. Aku katakan kepada Pipin,
apa yang kepadamu, di kereta tadi, aku utarakan. Aku sungguh-sungguh
butuh meluapkan perasaan. Bahkan, ketika di hadapanku hanya ada Pipin.
Orang terakhir yang biasanya kujadikan tempat berbagi beban.

“Yakin apa?”
“Mau menikah.”
Aku mengangguk cepat, “Setiap hari, tiga tahun ini, di pikiranku hanya ada
Kanya.”
“Aa masih muda, Kanya juga. Apalagi setelah ini Aa harus berangkat ke
Swedia.”
“Justru karena aku harus pergi, Pin,” Aku mengambil gitar yang menyandar
di dinding, mengurangi kegelisahan. Duduk di pinggir tempat tidur
kemudian. “Pulang dari Swedia umurku sudah dua puluh tahun lebih. Kanya
pun sudah lebih dewasa. Insyaallah kesempatan untuk mendapat penghidupan
lebih baik bisa kami perjuangkan.”
Pipin duduk di sebelahku. “Mengapa tidak nanti saja sepulang Aa dari
Swedia?”
Aku memainkan beberapa nada tanpa jelas apa lagunya. “Aku ….”
“Takut Kanya dilamar orang lain?”
Terasa dahiku mengerut, “Mungkin.”

“Kalau Kanya juga mengasihi Aa, dia pasti menunggu.”
Aku menoleh, terkejut oleh sebuah pemikiran. Kalimat Pipin barusan
membuatku tenggelam. “Kami sudah tiga tahun bersama-sama. Banyak cerita.
Kanya percaya kepadaku. Aku ingin mengabdikan hidupku untuk
melindunginya. Apakah itu tidak cukup?”
“Aa pernah meminta Kanya menjadi kekasih?”
“Kekasih?”
“Semua laki-laki melakukannya sebelum memutuskan untuk melamar
seorang perempuan, A.”
Aku menggeleng.
Aku tidak pernah mengatakan sayang kepadamu, Kanya. Aku tak pernah
menyebutmu dengan istilah apa pun yang biasa orang gunakan. Sebab,
perasaanku kepadamu tak terwakili aksara, melampaui bahasa.
“Apakah Aa yakin benar-benar menyayangi Kanya sebagai seorang kekasih?”
“Aku tak berpikir perasaanku kepada Kanya ada contohnya. Apalagi jika aku
harus menggunakan istilah sama yang orang lain gunakan pada kisah mereka.”
“Aa setiap hari menyanyi lagu cinta, tapi belum juga memahaminya.”
“Pipin paham kitu?”
“Paling tidak, aku tidak memperumit masalah, A. Kalau aku menyukai
seseorang aku bilang ‘I like you’ atau ‘I love you’. Jika dia menjawab ‘I love you
too’, jadilah kita sepasang kekasih. Jika tidak demikian, namanya bertepuk
sebelah tangan,” Pipin menjeda kalimatnya, “Aa pernah, tidak, menyatakan itu
kepada Kanya?”
Aku memeluk gitar, tak jadi memainkan lagu apa pun. “Tidak.”
“Tiga tahun, hampir setiap hari bersama-sama, dan tidak pernah sekali pun
mengatakannya?”
Aku menggeleng.
“Tahu-tahu melamar?”
“Aku percaya Kanya lebih membutuhkan kesungguhan, Pin.”
“Hati perempuan itu sangat rumit, A.”
“Aku melamarnya. Aku katakan kepada Kanya, aku ingin menjaganya
selamanya. Bahwa, dia adalah prioritas hidupku. Aku selalu
mempertimbangkan kepentingannya dalam keputusan apa saja.”
“Karena apa? Sayang atau kasihan?”
“Mengapa dalam hal ini kita harus sibuk dengan de nisi-de nisi?”
“Sebab, Kanya ingin dinikahi oleh lelaki yang mengasihinya, bukan

mengasihani hidupnya.”
Rasanya dahiku mengernyit, “Bagaimana Pipin tahu?”
“Maksudku, eh … kebanyakan perempuan menginginkan itu.”
Aku mengangguk-angguk, “Menurut Pipin, mengasihi itu seperti apa?”
Pipin masih menggebu-gebu, “Selalu rindu, ingin membahagiakan orang

yang dikasihi, menerima kekurangannya, ingin bersama selamanya …,”
melirih, penuh perasaan, “… mengorbankan apa saja.”

Melebar senyumku, “Rupanya bukan aku saja yang sedang punya masalah
dengan hati.”

Pipin merasa tersindir, “Aku tahu dari lm- lm saja.”
Aku tepuk punggung Pipin, “Kalau benar mengasihi artinya seperti yang
Pipin katakan, apa bedanya dengan yang aku rasakan?”
“Aa merasakan itu?”
Aku mengangguk sembari tersenyum. Senyum yang sungguh lahir dari
penghayatan rasaku kepadamu, Kanya.
“Lalu, apa yang membuat Aa tak pernah mengatakan itu kepada Kanya?”
“Aku tak ingin menjadikan kisah kami menjadi roman stensilan.”
“Maksud Aa?”
“Perasaan mengasihi yang Pipin bilang tadi, punya dua sisi yang
berseberangan. Kita cenderung menatap sisi indahnya dan menutup mata pada
sisi suramnya.”
“Suram?”
“Tengoklah teman-teman Pipin yang mulai berpacaran. Mereka merasa saling
memiliki dan tak ingin berbagi. Memiliki, lalu memperlakukan kekasihnya
sebagai properti. Mulai saling menyakiti. Aku milikmu, kamu milikku. Aku
berhak atasmu kamu sepenuhnya mempunyai aku. Kenyataannya, tidak ada
ikatan apa pun yang betul-betul menyatukan. Kecuali romansa remaja.
Keingintahuan yang tak ada habisnya.”
Aku meneruskan kalimatku, menyengaja agar terurai kusut pikiranku. “Aku
dan Kanya punya kisah berbeda. Aku mengasihinya dengan caraku. Ingin
selalu membersamainya, tetapi tak ingin mengikatnya. Menemaninya
menyiapkan masa depan yang cerah dan sekadar berharap aku kelak ada di
sana, menemaninya. Berusaha tak membuat dia menangis, tetapi belajar untuk
rela seandainya orang lain yang mampu membuatnya tertawa.”
“Tiga tahun seperti itu saja? Aa tidak pernah bilang ‘cinta’?”
Aku menggeleng.

“Lalu, bagaimana Aa tahu perasaan Kanya?”
Menggeleng lagi. “Jujur, aku tidak pernah tahu pasti.”
“Lalu, tiba-tiba melamarnya.”
“Kanya tinggal menolak lamaranku jika memang dia tidak menginginkanku.”
“Bagi Kanya tidak akan semudah itu, A.”
“Mengapa menjadi sulit?”
“Tiga tahun Kanya menerima kebaikan Aa. Perlakuan menyenangkan dari
Aa. Bukan hal yang mudah untuk mengatakan ‘tidak’.”
“Pipin yakin sekali Kanya sama sekali tidak punya perasaan apa-apa
kepadaku?”
Aku melihatnya. Kekikukan itu. Ketersentakan yang coba Pipin
sembunyikan. “Bukan begitu, A. Ini, kan, sebuah kemungkinan saja. Bisa jadi
Kanya pun suka kepada Aa, hanya malu mengatakannya.”
“Terus, sekarang bagaimana? Aku telanjur melamarnya.”
“Dia sudah menjawab lamaran Aa?”
“Belum.”
“Mungkin Kanya butuh waktu.”
“Aku yang sudah kehabisan waktu, Pin,” aku bangkit sembari meletakkan
gitar di dipan, “… mungkin aku harus bertanya bagaimana sebaiknya kepada
yang lebih berpengalaman. Mau ikut?”
“Ke mana?”
“Pak Haji.”
“Kok, Pak Haji?”
“Pak Haji pernah melamar seseorang, bukan?”
“Orang tua beda lagi, A, jawabannya.”
“Apa salahnya? Solusi Pak Haji mungkin dulu yang jadi penyebab lahirnya
Pipin.”
Aku tak menunggu Pipin. Mengabaikan antusiasmenya yang terkesan
gamang. Kuputuskan, aku harus meminta pendapat Pak Haji sekarang.

KESAN wajah Pak Haji susah diterka apa maknanya. Apakah dia kecewa atau
bahagia? Air matanya mengambang. Dia memelukku tanpa alasan yang
kutahu. Bu Haji yang duduk diam saja sejak tadi juga menghapus air mata

berkali-kali.
“Aa sudah dewasa. Seperti baru kemarin Pak Haji menggendong bayi Aa.”
Apakah ini semacam adegan pengantin yang sungkem di kaki orang tua pada

hari pernikahannya? Apakah semacam ini perasaan bapak-ibunya? Bahwa, bayi
yang dulu mereka timang telah memilih kehidupannya sendiri. Apakah
perasaan mirip itu yang dihadapi Pak Haji?

“Sejak kecil Aa sudah dewasa melebihi usia Aa sendiri. Jadi, Pak Haji tidak
ingin banyak menasihati,” Pak Haji bersuara dengan getar pada kata-katanya,
“Pak Haji percaya, Aa memilih gadis yang baik. Gadis yang akan mendukung
masa depan Aa.”

“Terima kasih, Pak Haji.”
Ini sungguh kejutan yang sama sekali tidak kuperkirakan. Aku mengira, Pak
Haji setidaknya akan mengatakan bahwa aku masih muda. Masa depan masih
panjang. Keberangkatanku ke Swedia harus diutamakan. Mestinya tidak
direpotkan dengan urusan pernikahan.
Akan tetapi, tidak. Sama sekali tidak. Reaksi Pak Haji jauh di luar imajinasi.
“Kami hanya bisa merestui Aa. Berharap keluarga Aa kelak dilindungi Allah.”
“Amin.”
Aku tidak bisa berbicara banyak. Jawaban Pak Haji ketika aku mengutarakan
niatku untuk menikah malah membuatku tercenung.
Pak Haji lalu bertanya dengan lembut, “Gadis mana, A?”
“Cisalangka, Pak Haji.”
Aku seperti melihat sebuah percikan di mata Pak Haji. Namun, itu
menghilang kemudian.
“Cisalangka,” Pak Haji seperti mengenang sesuatu pada masa lalu, “teman
sekolah?”
“Bukan, Pak Haji. Kami bertemu di kereta. Sudah tiga tahun ini saling
mengenal.”
“Tiga tahun?” Pak Haji dan Bu Haji saling pandang, “sejak Aa kelas I SMK?”
“Iya, Pak Haji. Eh, Pipin juga sudah mengenal dia setahun terakhir. Kami
berangkat dan pulang dengan kereta yang sama.”
“Sekolah di Bandung juga?”
Aku lagi-lagi menggeleng. “Dia pedagang pasar, Pak Haji. Sejak kecil
berjualan di Bandung. Usianya lebih muda setahun dari Pipin. Namanya
Kanya, Pak Haji. Kanyakumari.”
Pak Haji tersenyum. “Rencana Aa bagaimana?”

“Saya ingin menikah saja. Kalaupun belum bisa tercatat di KUA karena usia,
menikah agama tidak apa-apa. Sepulang dari Swedia, baru kami menikah
secara negara.”

“Aa mengingatkan Pak Haji kepada papa Aa.”
Senyumku menghilang. Pak Haji menyebut seseorang yang hampir tidak
pernah dia singgung satu kali pun, seumur hidupku.
Pak Haji kembali bersitatap dengan istrinya. “Sudah waktunya, Mi.”
Bu Haji hanya mengangguk-angguk.
“A, sebaiknya sebelum melamar gadis yang Aa pilih, Aa meminta restu
kepada papa dan ibu Aa.”
Ada yang menghantam perasaanku. Ini hal yang tidak pernah kubayangkan
sebelumnya. Tidak, bahkan dalam mimpi. “Papa dan ibu saya?”
Pak Haji mengangguk. “Pak Haji pernah berjanji jika Aa sudah dewasa, Pak
Haji akan menceritakan masa lalu Aa. Tentang papa dan ibu Aa.”
Aku menangkap kesan, Pak Haji sungguh-sungguh berusaha keras untuk
menahan emosinya. Menahan air mata, supaya selesai kalimatnya. “Pak Haji
tidak menduga akan secepat ini Aa menjadi dewasa.”
“Pak Haji mengenal orang tua saya?”
“Sangat mengenal, A.”
Napasku memberat. Seolah-olah paru-paruku menyempit. Tak sanggup lagi
menampung udara. “Di … di mana mereka, Pak Haji?”
“Di Cisalangka, A.”
“Cisalangka?”
Pak Haji mengangguk. Kulit gelapnya mengilat oleh air mata yang
berlelehan.
“Ceritakan kepada saya, Pak Haji,” aku tak bisa menahan lagi nelangsa ini,
“saya mohon.”
“Mi,” Pak Haji belum pernah kudengar memanggil istrinya selembut itu,
“panggil Pipin.”
“Iya, Bah.”
Bu Haji beranjak dan dadaku semakin tersentak-sentak. Rahasia besar apa
sebenarnya yang hendak disampaikan Pak Haji? Mengapa melibatkan Pipin?
Selama menunggu Pipin, Pak Haji sama sekali tidak bicara. Mulutnya
berkomat-kamit, air matanya sesekali merembes. Aku semakin penasaran,
kebingungan, apa yang akan terjadi kemudian.
Bu Haji kembali bersama Pipin. Sama denganku, Pipin pun tampak


Click to View FlipBook Version