The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

penjelajahan di lorong-lorong kios buku itu. Sambil melihat ke sana sini, kami
berbicara sesekali. Sementara para pedagang tidak berhenti menawarkan
koleksi bukunya dengan sapaan, “Cari buku apa, A, Teh?”

Aku biasa yakin pada sesuatu ketika sudah ada di hadapanku. Termasuk
perihal buku mana yang aku perlu. Acara pentas musik pop di Dago tinggal
seminggu lagi. Aku cukup percaya kami cukup baik dalam mempersiapkan
diri. Hanya perlu beberapa detail kejutan yang ingin kuselipkan dalam
penampilan kami nanti. Belum pasti terpikirkan, tetapi aku rasa memang
harus ada. Supaya penampilan kami jadi tidak biasa-biasa saja. Jadi, selain
mencari buku latihan bahasa Inggris, datang ke Palasari maksudku untuk
menyegarkan ide. Berharap ada inspirasi yang menghampiri.

“Bagaimana kalau kita memakai kostum?” Iding mencoba memberi saran
perihal kejutan yang coba kubicarakan. Dia memamerkan halaman majalah
berisi foto band luar negeri yang seluruh personelnya mengenakan semacam
seragam.

“Seperti Rama Aipama, begitu?” sergahku sambil membuka-buka halaman
majalah HAI.

Rama Aipama adalah penyanyi dangdut terkenal sejak aku SD. Muncul di
TVRI setiap Minggu pagi. Berjubah macam-macam motifnya, bertopi Afrika
di kepala.

“Tanggung …,” kata Iding dengan suara melengking, “… Ria Jenaka
sekalian.”

Aku tertawa setengah kesal. Ria Jenaka, hiburan masa kanak-kanak di layar
TV hitam putih. Lakonnya bapak beranak: Semar, Petruk, Gareng, Cepot.
Orang Jawa menyebut Cepot sebagai Bagong. Di Sunda, bagong artinya ‘babi
hutan’.

Empat punakawan itu setiap pekan memainkan cerita yang
mengampanyekan Pancasila. Bertelanjang dada, kadang berompi yang tidak
menutup perut mereka. Muka dibedaki putih tepung, mata sehitam panda,
dan topi yang sekilas seperti kupluk bayi.

Iding memilih Ria Jenaka untuk menggambarkan rasa kesal dia karena aku
melecehkan ide “memakai kostum” sebagai wujud kejutan pada penampilan
band kami nanti.

Aku meletakkan HAI, lalu memberi tanda kepada mereka untuk melanjutkan
pencarian kami. “Tetapi, ide Iding tadi brilian, teman-teman. Kurasa kita
memang harus punya ciri khas.”

Iding bersedekap, sombong. Dua alisnya dikejut-kejutkan.
“Apa misalnya, Kash?” Rusi serius bertanya.
“Aku sudah beberapa hari ini memikirkan angklung.”
“Angklung?” Parlin menggoyangkan tangan di udara, seolah ada angklung di
tangannya.
Aku mengangguk. “Aku memikirkan bagaimana caranya memasukkan unsur
angklung dalam musik kita. Tidak penuh. Sedikit-sedikit, tetapi manis.”
“Contohnya pada lagu ‘Ekspresi’, Kash. Kalau kita masukkan pas jeda re ,
unik sepertinya.”
“Genius!” Aku mendorong bahu Iding sampai hampir terjungkal.
“Kancing” dan “coplok” keluar beruntun dari mulut Iding.
“Semua lagu kita, ciri khasnya adalah unsur angklung. Bagaimana?”
Parlin mengangguk-angguk, “Sekaligus kita beri nama band ini dengan unsur
angklung.”
“Aku ada ide …,” Iding setengah berteriak, “Angklung Mang Ujo!”
Sekarang Parlin yang mendorong punggung Iding. Dia menyeruduk ke
depan sambil mengumpat-umpat.
“ e Angklung saja,” kata Rusi, “… kesannya modern, tapi etnik.”
“Bagus … bagus,” komentarku, “kalau bule bacanya jadi i Engklung.”
Aku mengangsurkan tangan. Rusi dan Parlin menumpuk telapak tangan
mereka di atasku. Iding mendekat antara mau tidak mau. Takut diempaskan
lagi. Dia memberikan ujung jari sembari bersiap-siap jika harus berlari.
“Kita masih perlu latihan dua atau tiga kali lagi terutama untuk memasukkan
unsur angklung ini,” kataku kemudian, “… tapi untuk sewa studio kita perlu
uang lumayan banyak.”
“Ngamen saja yuk ke alun-alun, ramai siah,” Iding sudah sembuh dari rasa
trauma.
“Kamu tidak malu?” Aku menantang. “Kalau aku, sudah terbiasa.”
“Aku malu?” Iding dengan sombong menunjuk hidungnya sendiri, “…
mengejar-ngejar bokong truk saja aku tidak malu.”
Aku tersenyum sedikit. “Sekarang Ramadan, Ding. Barangkali saja kamu
kehausan.”
“Aku tadi sahur, kok.”
“Serius kamu puasa?”
“Sudah buka.”
Aku menonjok bahu Iding.

“Lin?”
Parlin mengedik. “Tidak masalah.”
“Kamu bagaimana, Rus?”
“Aku belum pernah, sih,” dia sedikit ragu, “… tapi beranilah coba. Sekalian
melatih mental.”
“Kapan kita mulai? Pulang sekolah?”
“Siap.”
“Oke.”
“Tidak masalah.”
Kata Iding, “Jangan rombongan. Dua tim saja. Kashmir dengan Parlin
khusus lagu-lagu lama. Aku dan Rusi, top porti.”
“Fourty,” aku mengoreksi, “… bukan porti.”
“Penting, ya?” Iding melotot, “… dibahas.”
Kami tertawa. Iding menyambar sebuah buku terjemahan. Semacam
ensiklopedia kota. “Aku juga punya hadiah buat kamu, Kash.”
“Apa itu?”
“1001 Hal tentang Swedia,” Iding membaca judul buku di tangannya, “…
kalaupun kamu tidak pernah ke sana, paling tidak punya gambar-gambarnya.
Ada percakapan sehari-harinya juga.”
Aku menerima buku itu sambil mengomel, “Doa yang optimis, atuh.”
“Kalian sudah menganiayaku seharian. Hati-hati kalau minta aku doakan.”
Aku menepuk perut Iding. “Doa orang teraniaya tidak sampai langit kalau
tidak berpuasa.”
Muka Iding berkerut, bibirnya cemberut.

SIANG itu, aku tidak menemanimu menjual jajanan pasar. Aku baru
menyampaikan alasannya kepadamu setelah kita bertemu. Di kereta aku
bercerita, aku perlu uang tambahan untuk dua kali pemantapan latihan di
studio. Kami mesti berkeliling alun-alun dan di sepanjang jalan menuju Kebon
Kalapa untuk menjual suara.

Engkau mengerti. Sangat mudah untuk memahami. Engkau hanya berkata,
sempat mengkhawatirkanku. Sebab, aku tidak muncul di tempat kita biasa
bertemu untuk menjajakan jajanan pasarmu.

“Apa ada kemungkinan Kanya bisa melihat saya tampil di Dago, hari Minggu
nanti?”

Menunggu kereta, kita bersisian di kursi kayu. Engkau duduk tegak, tak
menyandar ke kursi, menatap jalur kereta.

“Saya tidak biasa ke tempat rekreasi, Ko. Saya hanya tahu pasar dan kereta.”
“Ada saya.”
“Saya takut, Koko nanti malu.”
Aku memeluk gitar menjorokkan badanku. “Mengapa malu?”
“Saya orang kampung.”
“Saya juga sama, orang kampung,” aku tersenyum, “… kalau Kanya datang,
saya akan tambah bersemangat.”
“Koko banyak teman. Da, saya mah apa atuh?”
“Tidak boleh bicara begitu,” aku sedih setiap engkau merendahkan dirimu.
Inginku membangkitkan semangatmu, “Kanya penting bagi saya.”
“Kalau saya bikin malu, bagaimana? Diolok-olok teman-teman Koko.”
“Saya akan menjaga Kanya. Tidak akan ada yang berani mengolok-olok.”
Engkau gagal dengan alasan pertamamu. Terpekur, mencari alasan baru.
“Saya khawatir Bapak tidak akan memberi izin, Ko. Karena saya tidak pernah
main ke tempat keramaian.”
“Apa perlu saya ke rumah? Bertemu Bapak?”
Engkau buru-buru menggeleng. Rupanya dalam keluargamu, aku masih
rahasia. Tidak boleh diketahui siapa-siapa.
“Saya tidak bisa menjawab sekarang, Ko.”
Tentu saja aku kecewa. Aku hanya tidak ingin terlalu memperlihatkannya.
Engkau tidak tahu betapa penting kehadiranmu, Kanya. Pentas itu menggerus
banyak waktuku. Aku sungguh-sungguh menyiapkannya karena aku ingin
engkau melihat hasilnya. Menyaksikan keberhasilanku. Tidak ada orang lain
yang kuingin ada di sana melebihi dirimu.
Engkau kian menjadi keresahanku, Kanya. Ketiadaanmu membuatku resah.
Terutama pada saat-saat yang aku begitu berharap engkau ada di situ.
“Kalau saya bisa datang, di sana apa yang saya lakukan?”
“Menonton saya.”
“Bukannya sudah banyak yang menonton?”
“Kalau Kanya menonton, saya lebih percaya diri bisa tampil lebih baik.”
“Mengapa begitu, Ko?”
Aku berusaha menemukan jawaban yang memahamkanmu. “Kanya bisa

belajar sendiri. Mengapa harus dengan saya?”
“Karena kalau saya bingung, bisa bertanya ke Koko.”
“Semua jawaban sudah ada di buku. Kanya bisa mencarinya sendiri.”
Engkau terdiam sebentar, “Karena … saya jadi lebih yakin.”
Aku tersenyum. Lega karena menemukan jawabannya, “Seperti Kanya, saya

pun sama. Saya bisa pentas sendiri. Tetapi, kalau ada Kanya, saya lebih merasa
yakin.”

Aku menatap senyummu. Senyummu yang keempat. Senyum kikuk ketika
engkau merasa rahasiamu terungkap.

Aku menggetarkan senar gitar. Ingin engkau mengetahui sesuatu. Agar
engkau mendengar Keresahanku.

Engkau segera mengubah cara dudukmu agar orang-orang tak menganggap
aku berhubungan denganmu. Bahwa lagu ini bukan kunyanyikan untukmu.
Namun, aku tidak peduli.

Aku mencari-cari wajahmu yang berpaling dariku.
“Malu, Ko.” Engkau memakai selendangmu, menutupi setengah wajahmu.
Itu tidak menghentikanku.
Orang-orang mulai memperhatikan kita. Mereka mendapat tontonan
sembari menunggu kereta.
Engkau berdiri, menggusur bakulmu. “Kereta sudah datang, Ko.”

RAMADAN ini, aku semakin jarang menonton televisi. Selain memang
sepulang sekolah begitu lelah, acara-acara televisi sudah tidak memenuhi
kebutuhan imajinasiku. Aku lebih suka mendengarkan radio. Acara-acaranya
memberiku ruang untuk membuat cerita sendiri.

Favoritku masih BBC London di saluran SW yang suaranya datang dan
pergi. Bukan beritanya yang kusukai, melainkan penggunaan bahasa Inggris
yang membantuku lebih cepat mengerti.

Ada satu lagi acara di frekuensi FM yang setiap minggu aku tunggu-tunggu.
Kenangan Terindah judul acaranya. Sepasang penyiar yang suaranya saling
melengkapi membacakan surat-surat dari pendengar. Surat itu berisi kisah-
kisah masa lalu. Kebanyakan cerita sedih. Namun, ada juga cerita bahagia.
Pada akhir surat, biasanya si pengirim akan memesan sebuah lagu kenangan

untuk diputar.
Itu acara yang manis sekali. Dua sampai tiga cerita dibaca setiap minggunya.

Nama penyiarnya Yossy dan Beng-Beng. Aku curiga itu bukan nama KTP
mereka, terutama penyiar prianya. Mungkin nama aslinya Bambang. Diubah
mirip merek cokelat biar tersamar. Beberapa nama penyiar Yasuka FM
memang tidak masuk akal. Ada Lobo, ada juga Domino. Kurasa tidak
mungkin kalau ayahnya betul-betul memberi nama kartu gaple kepada
anaknya.

Suara Yossy renyah sekali. Apalagi jika tertawa. Aku suka. Jika bicara atau
membaca cerita, seperti ada efek equalizer pada huruf “s”-nya. Sedangkan
Beng-Beng, bersuara rendah, berat, dan kukira sedikit menipu.

Setiap membaca cerita dari pendengar, ada musik latar yang menghanyutkan
suasana. Paling sering kudengar instrumennya Kitaro. Pilihan yang cerdik. Itu
selalu berhasil membangun rasa yang emosional.

Aku mengikuti acara ini setelah mengenalmu, Kanya. Aku terinspirasi
dengan setiap kisah di dalamnya. Ada beberapa yang kurasa karangan belaka.
Ditulis dengan sangat baik sehingga pendengar merasa itu kisah nyata.
Namun, kebanyakan kukira sungguh-sungguh terjadi. Seperti yang dibaca
Yossy malam ini, selepas Tarawih aku bersiap mendengarkan ceritanya.

“Cerita malam ini istimewa karena membahas idola saya …,” suara Yossy
mulai membuat suasana berbeda, “… Tommy Page.”

“Ada apa dengan Tommy Page?” Suara bass Beng-Beng membangun sebuah
obrolan.

“Ini kisah seorang perempuan yang mengalami kisah cinta tak berbalas.”
“Hubungannya dengan Tommy Page?”
“Ya … dia jatuh cinta pada Tommy Page.”
“O, ya?”
“Langsung Yossy bacakan ceritanya.”
Musik Kitaro mulai mengalun. Yossy lalu membacakan kisah yang dia
maksudkan. Cerita soal gadis model asal Bandung yang mengalami hal teraneh
sepanjang hidupnya. Dia sangat yakin jatuh cinta kepada penyanyi Tommy
Page. Tentu saja mereka belum pernah bertemu. Namun, perasaan gadis itu
sangat-sangat dalam. Padahal, dia punya begitu banyak pilihan, tetapi dia
menolaknya. Sebab, dia telanjur cinta mati kepada penyanyi itu.
Si gadis merasa, apa yang dia rasakan bukan hal biasa yang dialami seorang
fan kepada idolanya. Sebab, rasa itu begitu kuat. Memengaruhi hidupnya

setiap detik. Membuatnya menangis setiap hari. Dia sadar diri perasaan itu
tidak bisa diperjuangkan. Namun, si gadis bertekad untuk
mempertahankannya. Sampai kapan pun.

Aku cukup bingung menyimak kisah itu. Lebih karena cara dia mencintai
tidak bisa kupahami. Yossy lalu membuat simpulan sedikit sebelum memutar
lagu yang juga tak terlalu kunikmati. Aku tidak menyukai jenis suara Page
yang terlalu lembut dan tidak bertekstur. Aku meminjam istilah di toko
material untuk menjelaskan kepolosan suaranya.

Ada hal yang menggelitik pikiranku saat itu. Sedikit menantang
keberanianku. Apakah aku cukup punya nyali menulis tentangmu, lalu
kukirimkan ke acara itu? Mungkin aku bisa memakai nama samaran.

Itu akan menjadi sebuah langkah maju dibanding kebiasaanku dan teman-
teman selama ini. Mengirim salam, memesan lagu lewat telepon umum
berbekal beberapa koin seratus rupiah. Wartel bukan pilihan karena tarifnya
yang mahal. Operator penerima telepon di radio juga tidak perlu dikesankan.
Mereka tidak terganggu meski bunyi koin bergemerencing setiap kami
menambah durasi menelepon.

Redaksi sapa-sapa pendengar itu tidak pernah lebih dari sekadar, “Kirim
salam untuk Iding di pengkolan, juga Parlin yang sedang rebonding,” dan basa-
basi kecil lainnya. Sedangkan pada acara Kenangan Terindah, berlembar-lembar
surat akan membahas perasaanku, kisahku seorang. Itu istimewa, tentu saja.

Jika aku menuliskan sesuatu untukmu, lalu engkau mendengarkan curahan
hatiku, apa yang akan terjadi, Kanya? Apakah kita masih bisa bersikap biasa di
kereta?

Aku tiduran di dipan. Memandang kota papercraft-ku seolah dari ketinggian.
Aku membayangkan kita melayang dalam keranjang balon udara, lalu
berbincang perihal dunia di bawah sana. Itu beberapa tahun lagi ketika kita
sudah menjadi suami dan istri.

Tanyamu, “Lalu, di mana kita tinggal?”
“Kanya lihat pulau di bawah itu?”
Engkau menggeser pandangan. “Pulau pribadi?”
Senyumku terasa melebar. “Mungkin ... dengan beberapa tetangga.”
Kita menatap pulau awan hijau. Jalan aspal menuju teluk, menyeberangi laut
menuju daratan utama.
“Itu gedung pertunjukan ...,” aku menggeser telunjuk, persis di tengah
keramaian, “... tempat saya bernyanyi.”

Aku meyakini senyum merekah pada bibirmu meski tak kutatap wajahmu.
Engkau mengelus punggung tanganku. “Jadi, setiap pagi kita bangun di
kamar kaca dan laut lepas menjadi pemandangannya?”
“Dan, jika pasar sibuk, sehingga Kanya terlambat pulang, saya akan menunggu
bersama matahari tenggelam di ujung samudra.”
Elusan pada punggung tanganku terhenti. “Koko tidak menjemput saya?”
“Saya bekerja seharian, lalu menyiapkan makan malam romantis untuk Kanya.”
“Koko menyebut itu sebagai sebuah kejutan?”
Aku menggeleng sembari mengulas senyum. “Mencari alasan saja.”
Secubitan jarimu tak menyakiti lenganku.
Aku pura-pura mengaduh, lalu buru-buru melanjutkan pandanganku,
“Kanya nanti tidak perlu jauh-jauh untuk piknik. Lihat itu ...,” aku menunjuk
ke pojok tembok, “... hutan perawan, rumah para dinosaurus.”
Hutan purba itu.
“Kita bisa berkemah di sana ...,” kataku lagi, “... dinosaurus itu robot raksasa
yang benar-benar tampak hidup, tapi tidak akan memakan kita.”
Engkau tertawa akhirnya.
Aku merasa geli dengan pikiranku sendiri. Senyum-senyum tak karuan.
Itu buyar begitu seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Aa.”
Suara Bu Haji.
“Ya …,” aku mematikan radio menghampiri pintu, membukanya untuk
tamuku, “ada apa, Bu Haji?”
“Sedang sibuk?”
“Tidak, Bu Haji.”
“Ada yang mau dibicarakan oleh Pak Haji.”
“Oh …,” aku menduga perihal uang hilang itu akhirnya hendak dibicarakan,
“… saya ke sana, Bu Haji.”
“Ditunggu, ya, A.”
Mudah kubaca dari wajah Bu Haji apa yang dia khawatirkan akan terjadi.
Kukira Bu Haji sedang sangat gelisah. Dia meninggalkanku dengan langkah
gontai, senyumnya pun tak santai.
Aku memastikan tak ada yang terbengkalai di kamarku sebelum kututup
pintu. Aku menyusul Bu Haji, menuju ruang tengah. Rumah ini sebenarnya
tiga kaveling perumahan yang dijadikan satu. Aku tidak pernah berpindah dari
kamar di bagian paling ujung. Bersebelahan dengan jalan. Sementara itu,

keluarga Pak Haji menghuni ujung yang lain. Toko bangunan memakai rumah
bagian tengah.

Pak Haji sudah duduk serius di ruang keluarga. Ada Bu Haji, Pipin, dan Pak
Wawan di depannya. Tahu aku hadir, Pak Haji tersenyum canggung.

“Duduk, A.”
“Baik, Pak Haji.”
Aku lalu mengambil posisi dekat pintu. Di sebelah Pak Wawan. Dari bahasa
tubuh mereka, kukira, pembicaraan ini sudah dimulai sebelum kedatanganku.
Semua canggung, tidak ada suara, menunggu Pak Haji yang memulainya.
“Usaha ini sudah Pak Haji rintis hampir dua puluh tahun lamanya,” Pak Haji
menahan emosi pada kata-katanya, “… belum pernah ini terjadi sebelumnya.”
Pak Haji melihatku. “Tentang kehilangan uang itu, A. Pak Haji ingin kita
saling terbuka. Karena yang bisa membuka brankas itu hanya kita berlima, Pak
Haji ingin tahu bagaimana ini bisa terjadi.”
“Iya, Pak Haji.” Aku melirik Pipin. Dia mengabaikanku.
“Uang yang hilang tidak banyak. Tetapi, juga tidak sedikit. Masalahnya,
kalau hal seperti ini dibiarkan, usaha kita bisa berantakan. Pak Haji maunya,
sekarang jujur saja. Siapa yang mengambil uang itu dan untuk apa. Pak Haji
akan sangat menghargai siapa pun yang mau bicara.”
Hening lagi.
“Pin …,” Pak Haji menyapa anaknya sendiri, “… barangkali Pipin mau
mengatakan sesuatu?”
Pipin mengedik sembari menggeleng. Dia jelas-jelas menghindar untuk
bersitatap denganku.
“Kalau saya, Pak Haji,” Pak Wawan berbicara dengan kalimat bergetar, “demi
Allah demi Rasulullah, saya lebih baik kelaparan daripada saya mencuri dari
Pak Haji. Saya sekeluarga sudah berutang budi kepada Pak Haji. Saya tidak
akan mengkhianati kepercayaan Pak Haji.”
Pak Haji mengangguk-angguk, “Saya percaya, Pak Wawan.”
“Ehm ….” Aku merasa harus menyampaikan pendapatku. Itu tidak terpikir
sebelum-sebelumnya. Namun, sekarang aku merasa harus mengatakan sesuatu.
“Saya yang menemukan adanya selisih keuangan pada pembukuan pekan lalu,
Pak Haji. Artinya, saya pun punya kemungkinan menjadi orang yang
mengambil uang itu.”
“Oh, tidak, A,” Pak Haji menyelaku, “Aa justru yang berjasa. Kalau Aa tidak
teliti, kita tidak pernah tahu ada uang yang hilang.”

“Tetap saja, Pak Haji,” aku bersikukuh dengan pemikiranku, “saya pun bisa
saja menjadi pelakunya. Tetapi, di depan Pak Haji, Bu Haji, Pak Wawan, juga
Pipin, saya hendak menyampaikan bahwa saya tidak melakukan kecurangan.
Wallahi, saya tidak mencuri uang itu dan tidak bermaksud menuduh siapa
pun.”

Hening lagi.
Pak Haji kembali menoleh ke Pipin. “Menurutmu, bagaimana, Pin?”
“Tuyul, mungkin, Bah. Kalau tuyul mencuri, kan, memang tidak banyak.
Hanya beberapa lembar.”
“Kata siapa?” Pak Haji menyabar-nyabarkan suaranya.
“Kata orang-orang.”
“Takhayul itu. Kalau ini yang mengambil uang tuyul berambut.”
Pipin terdiam. Lengang kemudian.
Aku merasa permasalahan di rumah ini akan berlarut-larut. Seperti malam
yang semakin larut. Guruh berdeham-deham di kejauhan. Udara sesak tersesat,
mengundang keringat.
Sekali entakan, hujan nyaring berdentam di atap-atap rumah, rata di
permukaan tanah.

“KANYA suka mendengarkan radio?”
“Kadang-kadang, Ko.”
Di luar jendela kereta masih remang-remang. Matahari belum sepenuhnya

bersinar. Udara menggigit. Sisa hujan semalam.
“Kanya bawa jas hujan?”
Engkau mengangguk.
Aku berdeham. “Musim hujan sudah datang.”
“Semalam hujan deras sekali, Ko. Saya shalat Tarawih di rumah.”
“Saya juga, Kanya.”
Aku merapatkan jaket, berusaha bernapas dengan tenang. Ini tak sesederhana

yang kubayangkan.
“Pernah mendengar acara Kenangan Terindah?” Aku melihat matamu

kebingungan, “di Radio Yasuka FM.”
“Saya belum pernah menyetel radio itu, Ko.”

“O, ya? Itu radio anak muda nomor satu se-Bandung, lho.”
Engkau tersenyum sedikit sekali. Menggeleng sembari agak menunduk.
“Kamis nanti Kanya simak acaranya, ya. Pukul delapan malam.”
“Acara apa itu teh, Ko?”
“Pembacaan cerita.”
“Sandirawa radio?”
“Bukan, Kanya,” aku segera teringat Brama Kumbara, “… ini beda. Jadi,
pendengar mengirim ceritanya ke radio. Terus dibacakan penyiarnya.”
“Dibacakan untuk apa, Ko?”
“Untuuuk ...,” aku kebingungan sendiri, “… untuk apa, ya?”
Engkau menunggu. Aku masih mencari kalimat yang lebih mudah
memahamkanmu.
“Misalnya begini. Ada sahabat sudah lama tidak bertemu. Terus salah seorang
di antara keduanya menulis curahan hatinya. Mungkin rasa kangen, ingin
ketemu dengan sahabatnya itu.”
Aku memeriksa akibat perkataanku pada wajahmu. Engkau berusaha terus
menyimakku. “Nah, dia ceritakan dalam surat itu masa-masa masih bersama
sahabatnya. Jalan-jalan ke mana, mengalami apa saja.”
“Terus, dibacakan di radio?”
Aku mengangguk. “Siapa tahu sahabatnya mendengar dan mereka bisa reuni.
Atau, setidaknya, para pendengar yang lain terinspirasi. Jadi lebih menghargai
arti persahabatan.”
Engkau diam beberapa lama. “Ada ya, Ko, acara seperti itu?”
Hampir-hampir aku memukul kepalaku sendiri.
“Kanya simak, ya, Kamis nanti.”
“Ya, kalau ingat, Ko.”
“Harus ingat. Kalau perlu dicatat.”
Engkau tambah keheranan. Katamu, “Memangnya ada apa, Ko?”
“Saya ….,” aku menguatkan tekad, “… saya mengirim surat ke acara itu.”
Senyummu terbit. Senyum kelima, senyum ketika engkau merasa gembira.
Tidak ada embel-embelnya. “Koko bercerita tentang apa di surat itu?”
“Tentang … kereta.”
“Kereta?”
Aku mengangguk lugu.
“Kamis nanti, ya?”
“Kalau tidak Kamis minggu ini, berarti minggu depannya lagi.”

“Belum pasti?”
“Pasti hari Kamis. Hanya, karena banyak surat yang dibacakan, jadi kalau
tidak pekan ini ya, satu pekan lagi.”
Engkau mengangguk-angguk. “Saya akan mendengarkan.”
Aku meniup udara. Lega. Namun, aku tahu, masa menunggu surat itu dibaca
akan membuatku setengah gila.
Cahaya mulai menerangi sawah-sawah di luar jendela. Bunyi roda,
guncangan kereta, menggantikan perbincangan kita.
“Kanya …,” aku harus mengurangi rasa canggungku, “… tentang pentas di
Dago bagaimana?”
“Eh … saya sudah sampaikan ke Bapak.”
“Diizinkan?”
“Bapak ingin bertemu dengan Koko.”
“Bertemu saya?”
Kanya mengangguk. “Kalau Koko mau mengajak saya, kata Bapak, harus
ketemu Bapak dulu.”
“Oh …,” lebih berdebur jantungku, “… bisa … bisa.”
“Bapak tunggu di rumah, Ko.”
Aku mengangguk-angguk lagi. Tanpa suara. Bahkan, meski aku sangat
menginginkan hal ini, ketika menjadi kenyataan, justru membuat kacau
perasaan. Bertemu dengan bapakmu rasanya akan menjadi ujian terbesarku.

KAMIS malam, lepas waktu tarawih, hujan menggiring orang-orang untuk
masuk ke rumah. Menghangatkan badan dengan secangkir minuman,
berkumpul dengan keluarga, membincangkan hal-hal tak penting.

Itu tidak terjadi dalam keluarga Pak Haji. Aku bukan tidak memperhatikan
bahwa setelah malam interograsi itu, kesenyapan menaungi keluarga ini. Buka
puasa dan santap sahur dalam sedikit tukar kata.

Pulang sekolah dua hari ini, aku tidak bertemu dengan siapa-siapa. Pak Haji
dan Bu Haji sudah masuk ke kamar. Mungkin aku memang pulang terlalu
malam. Penghuni rumah ini sudah menyepi sendiri-sendiri.

Perihal persiapan pentas dua hari lagi, sudah kuberitahukan kepada Pak Haji.
Selain mengiakan, dia tak mengatakan apa-apa lagi. Sedangkan Pipin, aku tak

melihatnya sama sekali. Setidaknya sampai pentas itu selesai, aku tidak ingin
menemuinya. Aku benar-benar butuh menyimpan tenaga.

“Yasuka, 99 koma 99 FM, Mojang Jajaka Bandung, Kamis malam waktunya
kamu semua menyimak cerita-cerita indah, mengharukan, dan menginspirasi
dalam Kenangan Terindah.”

Ya, ampun, jantungku berpacu lebih terburu-buru dibanding kapan pun.
Sedari tadi, yang aku tunggu akhirnya terdengar juga. Beng-Beng membuka
acara dan aku mulai mengembus napas seperti praktisi yoga. Mengatur takaran
yang ideal udara keluar masuk dada.

“Malam ini, Bandung diguyur hujan, Mojang Jajaka. Tetapi, rupanya di
dalam studio Yasuka pun sama.”

Kudengar tawa Yossy jauh dari pengeras suara.
“Yossy tidak ikut membuka acara karena sibuk menghapus hujan air mata.”
Musik Kitaro mengencang, suara penyiarnya hilang.
“Oke, Mojang Jajaka, kita beri kesempatan Yossy untuk berdamai dengan
masa lalu.” Beng-Beng tertawa, sementara Yossy mengomel-omel di kejauhan.
Aku semakin curiga, Yossy benar-benar sedang memegang suratku. Aku
bertanya-tanya, apakah isi suratku mampu membuat Yossy terharu begitu
rupa? Jangan-jangan dia juga punya memori dengan kereta?
“Beng-Beng akan bacakan surat pertama, dari Ajat Sudrajat di Cimahi.”
Kitaro masuk lagi. Aku segera kehilangan keinginan untuk menyimak cerita
Beng-Beng. Ini baru kali pertama terjadi. Rupanya malam ini aku hanya ingin
mendengar kisahku sendiri.
Aku menghampiri tempat tidur, meraih gitar, kumainkan beberapa nada.
Menjadi lagu, dua lagu. Durasinya sama dengan cerita Beng-Beng, lagu tema,
dan beberapa iklan setelahnya.
Sewaktu musik Kitaro kembali terdengar, aku hampir melempar gitar.
Langsung duduk di dekat radio kaset. Bersiap-siap.
Suara Beng-Beng kembali terdengar.
“Yossy, ayo …, Mojang Jajaka di rumah sudah tidak sabar mendengar
suaramu dan ceritamu.”
“Ehm …,” suara Yossy sekarang benar-benar kencang, “… selamat malam,
Mojang Jajaka di rumah.”
“Tarik napaaas …,” Beng-Beng menggoda Yossy, “… lepaskan.”
Tanpa terasa aku pun mengikuti instruksi Beng-Beng. Menarik napas dalam,
melepaskannya pelan-pelan.

“Maaf, ya, Mojang Jajaka Yasuka FM semua, ini Beng-Beng terlalu
mendramatisasi suasana.”

Beng-Beng tertawa sambil menjauhi pengeras suara.
“Fitness, Mojang Jajaka. Fitness lebih kejam daripada pembunuhan,” plesetan
paling hits dekade itu, “… Yossy malam ini benar-benar menangis darah gara-
gara sepucuk surat yang akan segera dia baca untuk Mojang Jajaka di rumah.”
“Oke … oke, mengaku, Pak, mengaku …,” Yossy tampaknya sudah
menguasai emosi, “… memang Yossy malam ini kebagian membaca sebuah
surat yang istimewa. Aduuuh … membacanya jadi seperti bagaimanaaa,
begitu. Terbawa suasana.”
“Bukan karena ingat mantan?”
“Bukaaan.” Yossy sepertinya sama dengan kebanyakan perempuan.
Mengatakan tidak, sedangkan hatinya bilang iya.
“Cerita tentang apa, sih, Yos?”
“Tentang kereta.”
“Mantan Yossy dulu masinis?”
Mereka berdua tertawa. Beng-Beng begitu merdeka kedengarannya,
sedangkan Yossy sedikit manja. Tertawa, tetapi ada merengeknya. “Jadi, ini
cerita perihal kereta, ya, Yos?”
“Betul, Beng.”
Deg. Sudah pasti itu suratku. Sudah pasti. Napasku semakin tidak karuan.
Reaksi tubuhku seperti terserang demam. Jemari gemetaran.
“Kereta Senja?”
“Itu lagu, Pak.”
Keduanya tertawa.
“Ini cerita tentang kereta, ditulis oleh Kash-mir,” Yossy menekan dua suku
kata pada namaku, “nama penulisnya saja sudah romantis.”
“Memangnya apa arti Kashmir, Yos?”
“Emm … tidak tahu. Terdengar romantis saja begitu.”
Beng-Beng tertawa lepas.
Aku buru-buru memencet tombol “rec” pada radio kaset sehingga siaran
radio itu terekam dalam kaset yang sudah kupasang sebelumnya. Bukan kaset
yang betul-betul baru, melainkan kaset rekaman yang sudah kutimpa berkali-
kali. Kuperhatikan pitanya yang kini berputar tanda sedang merekam.
“Ya, sudah, kalau begitu, kamu segera saja baca agar Mojang Jajaka di rumah
tidak bertanya-tanya.”

“Oke. Oke.” Yossy kembali ke performa suaranya yang biasanya, “… cerita
kedua malam ini ditulis Kashmir di Tanjungsari, Sumedang. Yossy bacakan
untuk Mojang Jajaka di rumah.”

Musik Kitaro masuk. Cukup lama menunggu. Beberapa detik saja, tetapi
lama terasa.

“Saya memuja kereta itu atas nama perempuan yang melahirkan saya. Ibu
yang tidak pernah sempat menyeka air mata saya, namun selalu tersebut dalam
doa-doa saya. Jika bisa, ingin saya hias kereta itu dengan rangkaian bunga, saya
wangikan dengan rempah-rempah aneka warna.”

Musik Kitaro mengencang lagi, ketika perlahan-lahan instrumen mengecil,
suara Yossy terdengar lagi. Perasaanku saja atau mungkin memang suaranya
menjadi sedikit serak. “Di kereta itu, saya menemukan wajahnya. Seolah saya
mendengar sebuah lagu sewaktu dia memberi saya senyuman.”

Jeda lagi, tetapi musik tidak mengeras. Seolah-olah, Yossy yang sedang
mengatur emosi.

“Kami berbahasa dengan sederhana. Tidak saya ukir kata karena kami tahu
itu tak berguna. Namanya Kanyakumari. Nama seorang dewi. Kami telah
bersama dalam banyak perjalanan. Pagi dan petang. Saya mendengar kisahnya,
dia tahu cerita saya.”

Kanya, semoga engkau mendengarkan.
“Saya tidak ingin menyaksikan air matanya, dia akan selalu menemukan
senyum saya.”
Aku mendengar jelas Yossy mengatur napas. Berusaha keras tidak terbawa
suasana dalam kata-kata yang dia baca.
“Kami masih muda, tetapi masa depan tidak pernah terlalu jauh. Waktu
amatlah tajam. Ia akan menggunting kebersamaan.”
Kitaro masuk lagi. Beberapa lama, tetapi tidak benar-benar lama.
“Saya ingin memastikan kepadanya. Hari-hari ini adalah kenangan indah
bagi waktu yang belum terjadi. Saya akan membiarkan masa depan
menemukan jawaban. Tetapi, saya tetap akan bersama kereta. Mencari Kanya.
Meski kelak, seandainya dia sudah tidak ada di dalamnya. Itu janji saya. Suatu
saat dia akan percaya.”
Musik Kitaro tak terdengar lagi, sebagai pengganti datang intro lagu yang
kuingini. “Selamat Malam”. Lagu Titi DJ bersama Elfa’s Singers.
Tiba-tiba aku gagap menjelaskan kepada diriku sendiri bagaimana
perasaanku saat ini. Berdiri menghadap kaca lagi dan lagi. Berkali-kali melatih

dialog yang mungkin akan terjadi di dalam kereta. Aku mencoba setiap
kemungkinannya.

“Kanya semalam mendengar Yasuka FM?”
Tidak … tidak … tidak. Itu terlalu bodoh.
“Begitulah, Kanya, isi hati saya.”
Tidak puitis sama sekali.
Tampaknya aku tidak akan bisa tidur malam ini. Hujan masih riuh,
membuat kelam suasana. Jika sampai waktu sahur tak juga reda, artinya aku
harus bersepeda di bawah hujan. Pada kesempatan berbeda, itu mungkin akan
terdengar romantis. Namun, setelah mendengar suratku dibacakan, lalu orang
se-Bandung Raya mendengarkan, itu sedikit menggerus kepercayaan diri.
Ditambah basah-basahan menjelang subuh nanti, entahlah apakah aku masih
bisa tenang berhadapan denganmu, Kanya.
Di antara banyak pemikiran itu aku seperti mendengar teriakan yang ditimpa
deru hujan. Tidak jelas terdengar, tetapi rasanya bukan khayalan. Aku
menghampiri pintu, membukanya, mencari tahu dari mana asal suaranya.
“Pipiiiiin!”
“Astag rullah, Pipiiin.”
Tidak salah lagi. Itu suara Pak Haji dan Bu Haji. Aku buru-buru berlari.
Pintu terbuka tak kupikir lagi.
Menembus hujan, basah-basahan, aku pilih melewati jalan di depan rumah
dibanding lorong dalam rumah yang pasti terkunci. Pada siang hari, pintu
yang menghubungkan rumah tempatku tinggal, toko, dan bangunan tempat
tinggal Pak Haji memang terbuka. Itu memudahkan tugas Pak Wawan karena
sebagian stok barang tersimpan di rumah yang kutinggali.
Akan tetapi, setelah toko tutup, Pak Wawan mengunci semua pintu sehingga
jalur dalam rumah antara toko, rumah Pak Haji, dan rumah yang kutinggali
terpisah dua pintu terkunci. Aku tidak punya waktu mencari payung. Berlari
saja melewati toko, menuju rumah utama.
Sampai di sana, pintu masih tertutup, tetapi kegaduhan itu lebih terdengar.
“Pak Haji ….” Aku mengetuk pintu lebih keras dibanding kapan pun. “Ada
apa, Pak Haji?”
Aku mendengar suara tangis keras. Jelas itu Bu Haji. Juga suara Pak Haji
yang memerintah itu dan ini.
Aku semakin gelisah.
“Pak Haji …,” aku coba mengetuk lagi, “ada apa dengan Pipin, Pak Haji?”

Bu Haji berlari ke pintu, membukakannya untukku.
“Pipin, A.”
“Ada apa, Bu Haji?” Aku bertanya sambil masuk. Tidak terlalu menunggu
jawaban Bu Haji.
“Pipin menelan pembersih lantai, A.”
“Astagh rullah al ‘adzim.”
Pikiranku ikut kacau, tetapi segera kukendalikan karena aku tahu Pak Haji
membutuhkan ketenanganku. Bukan di kamar Pipin, rupanya. Di depan
kamar mandi, kulihat Pak Haji sedang berusaha membangunkan Pipin. Anak
itu, matanya membelalak, dari bibirnya merembes darah segar.
Aku buru-buru membantu Pak Haji, mengangkat tubuh Pipin,
memindahkannya ke kursi panjang.
“Sudah telepon Dokter Yuda, Mi?”
Pak Haji berbicara dengan napas yang terengah-engah.
“Tidak diangkat, Bah.” Bu Haji menderita sekali. Tangannya gemetar, air
matanya keluar terus-terusan.
“Astagh rulloh. Ya, Allah … ampun, ya, Allah.”
Pak Haji mulai meracau di depan wajah anaknya yang memucat. Mata Pipin
mulai menutup.
“Pak Haji kita bawa Pipin ke rumah sakit saja.”
Pak Haji betul-betul kehilangan ketenangan. Dia hanya menatapku dengan
mata merah. Tidak menolak, tidak mengiakan.
“Saya keluarkan dolak dulu, Pak Haji. Pipin nanti didudukkan di depan saja.”
Tidak menunggu izin Pak Haji, aku lalu mengambil kunci dolak dan kunci
toko yang digantung di dekat pintu. Segera berlari ke garasi. Kubuka rolling
door, kukeluarkan dolak. Aku lalu menjemput Pipin.
“Mari, Pak Haji.”
Aku seperti mendapat limpahan tenaga. Aku bopong Pipin seorang diri,
sedangkan Pak Haji seperti kehilangan nyali. Terduduk dan hampir tidak
berkutik sama sekali.
“Punten, Pak Haji. Harus ada yang bantu di mobil.”
Baru setelah aku mengatakan itu, Pak Haji bangkit, disusul istrinya.
Aku hanya berpikir bagaimana secepatnya membawa Pipin ke rumah sakit.
Apa pun caranya. Pak Haji kuminta naik ke jok lebih dahulu. Membantuku
mendudukkan Pipin. Sebab, kurang ruang untuknya menelentang. Pipin
terduduk dipeluk Pak Haji, lalu diapit Bu Haji. Penuh sesak sudah pasti.

Aku lalu berlari memutar, naik ke kursi sopir.
“Dibantu doa, Pak Haji,” kataku berusaha menenangkan. Kuhidupkan
mesin, injak gas perlahan, “Bismillah ....”

Gh a 7

Anak Buj ang Kesayangan

P “ipin teh ketahuan ambil uang di toko, A.”
Aku tidak meminta Bu Haji bercerita. Namun, sementara Pak Haji
berbicara dengan dokter, Pipin masih di ICU, dan kami berdua di ruang
tunggu, Bu Haji bertutur sembari tergugu.

Malam, di rumah sakit yang bagiku terlalu temaram.
“Pak Haji memergoki Pipin membuka toko semalam. Lalu, Pak Haji marah
sekali. Pipin dipukul …,” tangis Bu Haji menjeda kalimatnya yang nelangsa,
“… tahu-tahu Pipin ke kamar mandi. Dia ambil pembersih lantai, lalu dia
telan.”
Aku masih belum berkomentar. Bu Haji berkali-kali melafazkan istigfar.
“Pipin ditanya, uangnya untuk apa, tetapi tidak mau menjawab.”
Aku membatin, kemungkinan kebutuhan tubuh Pipin akan obat-obatan
semakin tidak tertahankan.
“Padahal, untuk keperluan sehari-hari dari sekolah, jajan, pakaian, semua
dicukupi Pak Haji.”
Aku tidak yakin harus mengatakan apa. Aku menyembunyikan fakta itu dari
Pak Haji dan istrinya. Fakta bahwa Pipin memakai obat-obatan terlarang.
Pikiranku buram. Mulai menyalahkan diri sendiri. Seandainya aku
mengatakan ini kepada Pak Haji, barangkali peristiwa tragis tidak akan terjadi.
“Ari Pipin teh kunaon, ya, A? Anak itu ada masalah apa?”
Di antara tangis Bu Haji, aku sibuk menghitung salahku sendiri.
“Waktu saya coba tanyakan kepada Pipin …,” kataku, “… dia menolak
bercerita, Bu Haji.”

“Mungkin dosa kami, orang tuanya, Pipin jadi seperti ini.”
Bu Haji kembali terisak-isak.
“Sabar, Bu Haji. Sekarang yang penting Pipin selamat dulu.”
Bu Haji tidak menanggapiku. Dia terus menangis tanpa berusaha
menahannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pakaian basah yang melekati
badan mulai membuatku tergigil. Mengeriputkan ujung-ujung jari.
“A ….” Suara Pak Haji.
Lelaki tua itu menghampiri kami. Aku menyambutnya dengan berdiri. Bu
Haji menutup setengah wajahnya dengan selendang. Matanya tampak sangat
takut.
“Bagaimana, Pak Haji?”
Pak Haji tidak ingin duduk. Dia menatapku, berdiri di hadapanku.
Setelingaku. “Aa basah kuyup begitu. Nanti masuk angin, A.”
“Saya tidak apa-apa, Pak Haji. Pipin bagaimana?”
“Kata dokter kalau kita terlambat, mungkin tidak tertolong. Tadi cairan
pembersih lantai sudah dipaksa keluar. Pipin sudah tidak kritis.”
“Alhamdulillah.” Aku benar-benar merasa lega. Kutengok Bu Haji yang
lemas. Kepalanya lunglai di senderan kursi.
“Tetapi, belum sadar, A. Pemulihannya agak lama. Banyak luka dalam.”
Aku mengangguk-angguk saja. “Rawat inap, Pak Haji?”
“Iya, A.”
Aku berusaha berpikir cepat. “Begini saja, Pak Haji. Saya pulang dulu,
berganti baju. Nanti langsung kembali ke sini.”
“Dengan Bu Haji, ya, A ..,” Pak Haji menoleh kepada istrinya, “… ambil
uang sama baju ganti, Mi. Sepertinya kita akan menginap di sini beberapa
hari.”
Bu Haji mengangguk saja. Mengiakan tanpa suara. Kami lalu meninggalkan
Pak Haji, menyusuri lorong rumah sakit tanpa banyak bicara. Hujan berumur
panjang. Masih membunyikan atap dan terdengar ribut diayun angin.
Rumah sakit ini paling dekat jaraknya dari rumah Pak Haji. Menyeberang
kabupaten. Di pinggir jalan provinsi. Tidak terlalu besar, tetapi menjadi
rujukan jika pasien tidak tertangani klinik atau puskesmas.
Kepastian bahwa Pipin selamat membuatku lega. Setelahnya, pikiran-pikiran
lain berhamburan. Konsekuensi rawat inap jelas akan merembet ke mana-
mana. Sembari menggigil ketika basah pakaianku memberi efek sebagaimana
mestinya, aku segera teringat pada kereta.

Sudah pasti aku tidak ke mana-mana pagi nanti, mungkin juga besoknya,
begitu pun hari setelahnya. Berdesir pemikiran bahwa aku tidak akan bertemu
denganmu pagi nanti, Kanya. Aku tidak bisa mengetahui reaksimu setelah
suratku dibacakan di radio.

Pentas itu!
Sangat berat kukira untuk meninggalkan Pak Haji sendiri, sedangkan
keadaan Pipin serbabelum pasti. Bagaimana aku pamitan untuk tampil di acara
bersenang-senang, sedangkan Pak Haji sedang kesusahan?
Tidak mungkin. Tidak mungkin.
“Basah-basahan tidak apa-apa, Bu Haji?”
Aku memastikan saja. Dari pintu utama, tampak halaman rumah sakit masih
diguyur hujan. Mobil-mobil yang terparkir juga demikian.
“Tidak apa-apa, A.”
Suara Bu Haji masih serak, lirih, sedih. Kami lalu berjalan setengah berlari
menuju dolak. Aku mesti mengimbangi jalan Bu Haji yang tak seberapa
kencang. Dia baru menyadari tampaknya, berdaster saja tanpa jaket yang
melindungi, di bawah hujan besar begini, betul-betul menyiksa diri. Selendang
yang menutupi rambutnya pun hampir tak berguna.
Aku membukakan pintu untuk Bu Haji yang buru-buru naik ke jok. Aku
menyusul kemudian, dari pintu berseberangan.
“Besok sekolah Aa bagaimana?”
Aku menyalakan mesin, lalu mulai keluar dari tempat parkir.
“Absen dulu, Bu Haji.”
Hening lagi. Jalanan masih sepi. Cahaya lampu menangkap serpihan air yang
berhamburan.
“Acara hari Minggu bagaimana, A? Kasihan Aa sudah lama menyiapkan
acaranya.”
Kata kasihan pada kalimat panjang Bu Haji tidak tertangkap sebagai makna
sebenarnya oleh pendengaranku. Itu basa-basi Bu Haji untuk mengutarakan
harapan sebaliknya. Bu Haji tidak sedang benar-benar kasihan kepadaku. Aku
tahu.
“Besok saya telepon teman-teman, Bu Haji. Mudah-mudahan mereka mau
mengerti.”
“Apa tidak sayang, A?”
Aku memang selalu bercerita kepada Pak Haji perihal persiapanku tampil di
Dago. Bukan hanya ingin membuatnya bangga, melainkan lebih

kumaksudkan untuk menjaga kepercayaan Pak Haji. Bahwa, aku pulang
terlambat hampir setiap hari karena ada yang sedang aku persiapkan bersama
teman-temanku. Sesuatu yang penting bagiku. Bagi masa depanku.

“Mudah-mudahan mereka tetap bisa tampil meski saya tidak ikut, Bu Haji.”
“Oh, bisa meskipun Aa tidak ikut?”
Aku mengangguk. Kemungkinan batal tampil di Dago itu memberatkan
pikiranku. Namun, sekarang ada yang lebih membuatku membisu. Janjiku
untuk menemui bapakmu, Kanya. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana cara
menghubungimu. Memberitahukan alasanku ketika besok aku tidak muncul
di hadapanmu.

“HALO, selamat pagi.”
Warung telekomunikasi yang menempel di masjid dekat rumah sakit hanya

satu kotak. Kotak kaca bertulang aluminium yang berderit setiap dibuka tutup.
Aku mesti menunggu beberapa lama sampai giliranku tiba. Menelepon selepas
subuh mungkin memang menjadi pilihan banyak orang agar tarif teleponnya
lebih murah. Terutama mereka yang hendak menelepon ke interlokal, telepon
antarkota.

Jika mau berjalan agak jauh, ada juga telepon koin di pinggir jalan besar.
Namun, selain berisik suara kendaraan, kali ini aku tidak memilihnya karena
aku perlu berbicara dengan tenang. Tidak apa-apa biayanya sedikit lebih
mahal.

“Selamat pagi,” suara di seberang. Mungkin ibunya Rusi.
“Bisa bicara dengan Rusi?”
“Dari siapa?”
“Kashmir, Bu.”
“Ditunggu sebentar.”
Suara gagang telepon digeletakkan di meja. Begitu sensitif sensor suaranya
sehingga agak menyakitkan telinga. Aku menunggu cukup lama.
“Halo.” Suara Rusi.
“Hai, Rus.”
“Kashmir? Tumben pagi-pagi telepon.”
Bukan tumben sebenarnya. Aku memang baru sekali ini menelepon Rusi.

Aku pernah meminta nomor rumahnya untuk berjaga-jaga terkait latihan
kami. Di antara anggota band, hanya Rusi dan aku yang bisa dihubungi via
telepon. Rusi punya telepon rumah sendiri, sedangkan aku tentu saja
menumpang di rumah Pak Haji.

“Rus, aku sepertinya tidak bisa ikut tampil di Dago.”
“Lho, ada apa, Kash?”
“Adikku semalam masuk rumah sakit, Rus. Masih kritis sampai sekarang.”
“Sakit apa, Kash?”
“Salah makan.” Aku menjawab sepenangkapan pikiranku saja. Asal tidak
bohong, tetapi juga tidak terlalu vulgar.
“Tidak bisa ditinggal, Kash?”
“Tidak, Rus.”
“Keluargamu tidak bisa menunggui?”
Aku tidak menjawab cepat-cepat. Berpikir bagaimana menata kalimat.
“Kamu tahu ini juga berat buatku, Rus. Aku sangat ingin kita bisa tampil.
Tetapi, dia adikku, Rus. Keadaannya gawat.”
Rusi sekarang yang diam. Aku melihat kotak digital. Tempat angka rupiah
terus bertambah. Lebih cepat dibanding wartel-wartel lainnya.
“Aku berpikir, kalian bisa tampil tanpa aku, Rus. Parlin bisa main gitar.”
“Tetapi, kita sudah latihan bersama, Kash. Akan beda hasilnya.”
“Maaf, Rus. Aku benar-benar tidak punya pilihan.”
“Ya sudah, aku nanti bicara dengan teman-teman, Kash. Aku tidak bisa
memutuskan sendiri.”
“Oke, Rus,” aku menunggu beberapa detik, “… sudah dulu, ya.”
“Oke, Kash.”
“Eh … Rus. Hampir lupa.”
“Apa, Kash?”
“Tolong sampaikan pesan kepada Iding, aku tidak bisa masuk sekolah. Minta
tolong Iding untuk menyampaikan ke guru. Surat izinnya menyusul.”
“Nanti aku sampaikan.”
“Terima kasih banyak, Rus.”
“Sama-sama.”
Aku meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Bunyi mesin pencetak
transaksi telepon di meja penjaga wartel mengiris pendengaran. Aku lihat
papan digital, memastikan jumlah uang yang mesti kubayar, lalu menghitung
uang koin di tangan. Aku keluar dari kotak kaca dan seseorang segera

menggantikanku masuk ke sana.
“Berapa, Teh?”
Penjaga wartel adalah perempuan yang mungkin sedikit lebih tua dibanding

aku. Alisnya lancip, bedaknya tidak rata, rambutnya kelihatan diluruskan
paksa. “Seribu, A.”

Memang mahal rupanya. Ini termasuk wartel dengan “argo kuda”. Angka
digitalnya cepat betul larinya. Aku mengangsurkan dua koin lima ratusan
rupiah. “Hatur nuhun.”

“Sami-sami, A.”
Aku lalu berjalan agak lemas keluar wartel, kembali ke rumah sakit. Aku
memikirkanmu, Kanya. Tentu saat ini engkau sudah naik kereta. Mungkin
kamu kecewa karena aku tidak muncul di sana. Kita tidak bisa membahas
suratku yang dibaca di radio, semalam. Aku juga tidak bisa memenuhi janjiku
besok untuk mengunjungi rumahmu, menemui bapakmu.
Aku sempat berpikir untuk meminjam dolak Pak Haji, pergi ke rumahmu,
sore nanti. Sekadar memberi tahu keadaanku. Namun, aku merasa itu tak
pantas kulakukan. Aku tidak tahu bagaimana cara memberi alasan. Meski aku
yakin Pak Haji tidak akan keberatan, bagiku tetap tidak bisa kupaksakan.
Pipin masih dirawat di ruang gawat darurat. Bahkan, kami belum boleh
masuk ke kamarnya. Kukira Bu Haji juga tidak akan mampu bertahan lama di
rumah sakit. Badannya ringkih. Tidur di lantai selama berhari-hari akan
menimbulkan masalah baru. Aku lihat Bu Haji sudah kesakitan ketika
terbangun di lantai lorong rumah sakit. Rematiknya kambuh.
Keadaan Pak Haji juga tidak lebih baik. Jika tidak karena sangat
mengkhawatirkan keadaan Pipin, mereka tidak akan melakukan ini. Tidak
akan bertahan di lorong rumah sakit dan menahan sakit mereka sendiri.
Setidaknya setelah dua atau tiga hari, baru aku bisa meminta izin kepada Pak
Haji untuk sebentar meninggalkan rumah sakit. Itu pun jika keadaan Pipin
telah membaik. Aku melihat sendiri bagaimana Pak Haji tampak panik dan
tidak tahu harus berbuat apa sewaktu Pipin mereka temukan terkapar di depan
kamar mandi.
Sambil memasuki selasar rumah sakit, aku masih sempat berpikir, sebenarnya
di antara aku dan Pipin siapa yang lebih beruntung? Sebab, bagiku, jika aku
jadi Pipin, aku tidak akan meminta lebih. Dia punya semuanya. Orang tua
yang lengkap, berusaha mendidiknya dengan baik, juga memenuhi segala
keperluannya. Sementara itu, aku tidak punya apa-apa. Tidak ada yang bisa

kubandingkan dengannya. Kecuali bahwa aku selalu berusaha menjalani
semuanya dengan gembira. Itu yang kupikir Pipin tidak punya. Hidupnya
kurang santai.

“Bagaimana, A?”
Pak Haji menyapaku dari bangku besi. Dia tampak kelelahan sekali. Entah ke
mana Bu Haji.
“Sudah, Pak Haji,” aku tersenyum, “saya sudah memberi tahu teman, saya
tidak berangkat sekolah.”
Pak Haji memberi tanda supaya aku duduk di sebelahnya.
“Sebenarnya, Pak Haji penginnya Aa tetap sekolah. Biar Pak Haji yang
menunggui Pipin.”
“Tidak apa-apa, Pak Haji.”
“Acara Aa yang di Dago juga batal?”
Aku menggeleng, “Tidak batal, Pak Haji. Mereka tetap tampil tanpa saya.”
Pak Haji menepuk bahuku. “Aa malah jadi korban keteledoran Pipin.”
“Tidak begitu, Pak Haji. Acara seperti itu masih banyak. Bisa kapan saja.”
Pak Haji agak mendengus, “Pak Haji benar-benar tidak mengerti, dosa apa
Pak Haji ini. Kok, Pipin tidak berhenti-berhenti membuat masalah. Nakal
sedari kecil.”
“Pipin masih labil, Pak Haji.”
“Usia dia dengan Aa, kan, tidak jauh. Hanya terpaut dua tahun. Tetapi, Aa
jauh lebih dewasa.”
“Setiap anak beda-beda, Pak Haji.”
“Mungkin kami terlalu memanjakannya. Pak Haji waktu kecil sampai tua
terbiasa hidup susah. Jadi lebih menghargai apa pun. Pipin sejak lahir apa pun
terbeli. Tidak pernah berjuang. Jadi tidak bersyukur.”
Aku diam saja. Tak berani berkomentar apa-apa.
Kataku kemudian, “Mudah-mudahan hari ini sudah bisa keluar ruang gawat
darurat, ya, Pak Haji.”
“Amin. Moga-moga cepat keluar rumah sakit juga. Biayanya mahal, A. Ini
bukan rumah sakit pemerintah.”
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mengamuk di benak Pak Haji. Namun,
aku melihat dari tatapannya, dia porak poranda. Untuk orang yang setahuku
banyak uangnya, aku merasa Pak Haji terlalu banyak perhitungan. Justru,
terutama untuk anaknya. Termasuk sekarang, ketika ia mengeluhkan
kemungkinan biaya rumah sakit. Kekhawatiran Pak Haji jika biaya yang harus

dikeluarkan terlalu besar, rasanya tidak imbang ketika nyawa anaknya menjadi
taruhan.

Aku masih bisa mengerti jika sikap semacam itu Pak Haji terapkan pada hal
lain, misalnya kendaraan, menu makanan, pakaian. Sejak kecil aku
menyaksikan sendiri bagaimana Pak Haji melakukan penghematan dalam
segala hal. Hanya ada satu dolak reyot itu di rumahnya yang cukup besar. Pipin
tidak pernah memiliki motor meski hampir setiap hari dia merengek minta
dibelikan. Dia pun sangat biasa dalam berpakaian. Apa yang dimasak Bu Haji
pun tidak pernah terasa berlebihan.

Justru, kepadaku, Pak Haji terkadang terasa sedikit memaksakan. Bahkan, dia
hendak membelikan motor ketika aku melanjutkan sekolah di kota. Aku
sungguh-sungguh harus bersikeras untuk menolaknya. Sejak kecil begitu. Pak
Haji selalu ingin memenuhi kebutuhanku lebih dibanding untuk anaknya
sendiri. Meski aku tidak pernah mau, kukira itu dipahami berbeda oleh Pipin.
Anak itu cemburu. Hanya karena dia tahu, aku cukup tahu diri, juga
kepadanya aku menaruh peduli maka dia tidak membenciku.

Belum. Belum membenciku. Setidaknya sampai beberapa waktu lalu. Sebab,
terakhir saat kami dikumpulkan Pak Haji, aku melihat sorot mata yang
berbeda. Ada kilat kebencian pada tatapannya. Entahlah.

“Aa kenal Pak Dadan yang rumahnya pojok?”
“Iya, Pak Haji.”
“Baru kemarin keluar rumah sakit ini. Hanya dirawat tiga hari karena demam
berdarah. Habis biayanya banyak sekali.”
Aku diamkan saja. Ada ketidaknyamanan selama aku mendengarkannya. Di
luar kenyataan bahwa Pipin memang menyebalkan, dia tetap anak Pak Haji
satu-satunya. Tidak wajar rasanya jika Pak Haji mengeluhkan biaya yang
mungkin dia keluarkan untuk kesehatan anaknya. Terutama karena Pak Haji
punya uang. Lagi pula, Pipin belum melewati masa berbahaya. Ini pendapatku
saja.
Bu Haji muncul dari ujung lorong. Mungkin dari kamar mandi. Langkahnya
agak sempoyongan. Kakinya setengah diseret. Semakin dekat semakin terlihat,
wajahnya menahan sakit.
“Kambuh, Mi?” Pak Haji menyambut istrinya sambil berdiri.
“Iya, Bah. Nyeri pisan.”
“Sekalian periksa ke dokter mau?”
Bu Haji menggeleng. “Obatnya masih ada di rumah.”

“Kumaha atuh? Kita sepertinya masih lama di sini.”
“Pak Haji ...,” aku menyela pembicaraan keduanya, “… menurut saya mah,
Pak Haji dan Bu Haji pulang dulu saja. Biar istirahatnya nyaman. Kasihan Bu
Haji. Saya jaga Pipin sendiri saja.”
“Kasihan Aa sendirian,” komentar Bu Haji. Kasihan yang bagiku masih tidak
dalam arti sebenarnya.
“Tidak masalah, Bu Haji. Cuma menunggui kok.”
“Nanti …,” Pak Haji mendapat solusi, “… Pak Haji minta Pak Wawan ke
sini, ya, A. Bergantian saja. Nanti Pak Wawan pulang, Pak Haji ke sini.”
“Nanti Bu Haji titip makanan buka dan sahur untuk Aa ke Pak Wawan,” Bu
Haji menimpali. Sekarang keduanya terlihat lebih lepas memperlihatkan rasa
lega mereka.
“Tidak usah repot-repot, Bu Haji. Gampang soal makan mah.”
“Makan di sekitar sini mahal, A. Dikirim dari rumah saja.”
Aku mengangguk-angguk kemudian. Jika sudah perkara uang, apa yang bisa
kubilang?
“Tadi kata perawat, hari ini Pipin sudah bisa masuk ke ruang rawat inap.”
“Pindah kamar, Bah?” Bu Haji yang lebih ingin tahu.
“Iya, di kelas tiga.”
“Tidak di kelas satu, Bah?” Bu Haji lebih lembut hati, “Karunyak. Kasihan
Pipin satu ruangan dengan banyak orang.”
“Kelas tiga oge sudah mahal, Mi.” Suara Pak Haji terdengar sedikit gusar.
“Sama saja di kelas tiga juga sembuh.”
Aku tidak ikut-ikutan. Kualihkan pandangan. Pura-pura tidak mendengar
apa yang mereka perdebatkan.

AKU terperenyak ketika seseorang menepuk bahuku, sedangkan tidurku terasa
baru saja dimulai. Di lorong rumah sakit, beralas tikar, berbantal lengan.

“Ding ….” Aku tolah-toleh, “… dengan siapa?”
“Sendiri.” Iding duduk dengan gerakan kaget. Membuat rambut sapu ijuknya
memantul di udara. Aku sering berpikir, sapu ijuk benar-benar ditempelkan di
kepala Iding. Membuat wajahnya seperti gabungan dua bentuk geometri:
lingkaran dan segitiga.

Akan tetapi, aku sungguh-sungguh kaget dia sudah ada di sini.
Aku duduk menyandar ke dinding, menyebelahinya.
“Naik apa, Ding?”
“Angkot. Masa truk.”
Aku tertawa sedikit. Pemanasan. Agak kangen juga beberapa hari tidak
mendengar lawakan seputar truk dari mulut Iding.
“Kalian tetap tampil di Dago, bukan?”
“Tidaklah.”
“Semestinya bisa, kan, Ding?”
“Beda hasilnya. Kamu tidak ada.”
Agak ganjil mendengar Iding bicara serius. Namun, aku mengerti keadaannya
memaksa jadi seperti ini.
“Maaf ya, Ding, penampilan pertama kita batal.”
“Memang sayang. Tetapi, bagaimana lagi?”
“Aku juga tidak tahu bolos sekolah berapa hari lagi.”
“Aku tadi menengok adikmu,” wajah Iding bertambah lucu, “… beda amat
muka kalian. Seperti beda cetakan.”
Aku tertawa sedikit.
“Kamu anak dapat nemu, ya?”
Aku tahu Iding berkelakar.
“Kira-kira begitu.”
“Hah?”
“Sebenarnya anak pungut juga bukan, Ding. Pak Haji yang di ruangan tadi
waliku saja. Bukan ayah adopsi atau semacam itu.”
“Jadi, adikmu itu?”
“Ya, karena dia anak Pak Haji, otomatis kami sudah seperti saudara.”
Wajah Iding semakin aneh. Hidungnya mengembang dan mengempis tak
proporsional. Matanya membesar.
“Kamu tidak pernah cerita, Kash.”
“Kamu tidak pernah bertanya.”
Semakin aneh melihat Iding tampak kehabisan bahan untuk melucu.
“Sebenarnya lebih seperti majikan, Ding. Cuma Pak Haji tidak
memperlakukanku seperti pegawai.”
Aku merasa Iding boleh tahu sedikit perihal hidupku, “Dia membesarkan
aku sedari bayi. Kamu tahu, kan, aku tidak mungkin meninggalkan mereka
saat kesulitan begini.”

Iding mengangguk-angguk. “Ibu-ibu tadi, istri Pak Haji?”
“Iya.”
“Dia yang kau ompoli waktu bayi?”
Aku meninju lengan Iding.
Dia meringis kesakitan. “Cuma bertanya.”
“Pertanyaanmu tidak penting,” aku menggaruk kepalaku yang memang terasa
gatal, “… Parlin dan Rusi tidak kamu ajak ke sini?”
“Rusi marah ke kamu.”
“Gara-gara kita tidak jadi manggung?”
“Bukan.”
“Terus alasannya apa?”
“Karena kamu menulis surat buat awewe lain dan bukan buat dia mungkin?”
“Surat apa?”
“Suratmu yang dibaca di Yasuka.”
“Rusi tahu acara itu?”
“Semua awewe se-Bandung Raya tahu, Kash. Kalau kamu tanya aku, baru
tidak tahu.”
“Kamu tahunya apa?”
“Radio Dahlia.”
“Dangdut atuh?”
“Rhoma Irama.”
Sekarang Iding yang tertawa. Aku tidak tahu di mana bagian yang dia anggap
lucu.
“Rusi marah betul?”
“Cemburu mungkin.”
“O, ya? Kok, bisa.”
“Ya, karena dia awewe. Kalau aku yang cemburu, itu baru tidak normal.”
“Maksudku, aku dengan Rusi, kan, teman. Tidak ada yang istimewa.”
“Itu kata kamu. Kata dia? Belum tentu.”
“Sok tahu.”
“Rusi mau kuajak gabung dengan band kita karena ada kamu, Kash. Aku
tembak dia sejak MOS selalu ditolak. Dia tidak tahu loso truk jalur selatan
Jawa, Kalah rupo menang bondo, kalah duit menang wirid, kalah pangkat
menang tirakat.”
“Apa artinya itu?”
“Cinta ditolak, Lamborgini bertindak.”

“Kamu punya Lamborgini?”
“Tinggal digunting dari majalah.”
“Oh, begitu?”
“Kalau sedang ada masalah begini, dia curhat kepadaku. Kalau ada kamu,
kucolek sedikit marah melulu.”
“Aku betul-betul tidak tahu soal itu, Ding.”
“Ibarat kata, Pergi dicari, pulang dimarahi. Cintanya tak seberat muatanku.”
Aku tidak tahu lagi truk berplat huruf apa yang
“kata-kata mutiaranya” dikutip Iding baru saja. Namun, cerita dia perihal Rusi
membuatku heran. Kenyataan bahwa benar banyak orang mendengar saat
surat itu disiarkan membuatku lebih deg-degan.

“AKU lap dulu, Pin.”
Aku letakkan ember berisi air hangat di bawah tempat tidur pasien. Pak

Wawan membawa titipan Bu Haji dua termos air panas, setiap hari. Aku
menggunakannya untuk mengelap Pipin dan membuat kopi saat berbuka.

Pipin yang sudah tidak semalu lima hari lalu, melepas kausnya perlahan-
lahan. Setelah masa balita memang baru sekarang dia kembali butuh orang lain
untuk membersihkan badannya. Dahinya mengernyit ketika kepalanya sedikit
sakit. Masih pening, katanya.

Aku mencelupkan handuk kecil ke dalam ember, memeras hingga
bergemerecik air yang kembali ke ember. Aku mulai mengelap badan Pipin
seperti caraku memandikannya ketika masih kecil. Lehernya, lengan,
punggung, dada, perut, rata semua.

Pipin masih sedikit bicara. Masih sakit tenggorokan dia. Mungkin banyak
luka di dalamnya. Ini malam kelima aku jadi penghuni rumah sakit tanpa bisa
ke mana-mana. Seperti biasa, Pak Haji dan Bu Haji datang tadi siang. Petang
mereka pulang. Pak Wawan satu kali ikut bermalam di sini. Sisanya aku
sendirian. Pipin hanya mau dilap jika sudah pulang abah dan uminya. Aku
tidak bertanya apa alasannya.

Lima hari ini aku melewatkan banyak acara, tentu saja. Tidak menemuimu di
kereta. Tidak pergi ke sekolah, tidak berlatih dengan teman-teman band. Aku
tidak menelepon Rusi. Aku tidak ingin mendengar kabar apa-apa. Terutama

jika bukan kabar gembira.
Pada saat yang sama, memikirkanmu, semakin menyiksaku, Kanya.
“Cepat pulih, Pin.” Aku membantu Pipin mengenakan kausnya yang baru.

Kaus bersih yang kemarin dibawa Bu Haji. “Biar bisa sekolah lagi, main lagi.”
Sejak dia mulai bisa bicara, meski satu dua kata, aku tidak membahas alasan

kami ada di rumah sakit ini. Pengalaman membuktikan, Pipin tidak suka
ditanya. Dia akan mengatakan kepadaku jika dia sudah merasa perlu
melakukannya.

“Lapar tidak?”
Aku memeriksa kresek yang dikirim bersama dengan termos tadi pagi. Isinya
rantang. Kuperiksa makanan yang ada di dalamnya. Sayur lodeh, ikan goreng.
Kuangsurkan ke muka Pipin, “Masakan spesial Bu Haji.”
Pipin menggeleng. Merengut.
Aku letakkan kembali kantong keresek itu.
“Mau buah?”
Pipin menggeleng lagi.
Aku berdiri, membuka tirai kain di seberang kaki Pipin. Tadi aku
menutupnya karena hendak mengelap badannya. Bunyi rel tirai agak
menyentak. Ruangan ini diisi belasan tempat tidur besi. Pasien dan
penunggunya dipisahkan oleh tirai saja. Setiap perbincangan di sebelah
terdengar utuh. Begitu juga erangan pasien yang kesakitan.
Seperti sekarang. Persis di sebelah Pipin, tadi pagi masuk pasien kecelakaan
sepeda motor. Tempat tidurnya ada di tengah, diapit dua pasien yang lain. Dia
bapak-bapak yang umurnya sedikit di bawah Pak Haji, barangkali. Aku
mendengar dokter yang memeriksanya menyebut-nyebut soal risiko tinggi jika
dilakukan operasi. Seharian pasien itu mengerang dan mungkin berhalusinasi.
Ketika tahu perihal pasien itu, Bu Haji sempat membujuk Pak Haji untuk
memindahkan Pipin ke ruangan yang lain. Pak Haji menolak. Katanya, tidak
ada yang perlu dikhawatirkan.
“Aaaaaarrrg.”
Erangan itu lagi. Aku bersitatap dengan Pipin. Tanpa kesepakatan, aku tutup
lagi tirai yang tadi kubuka. Tidak berpengaruh sama sekali jika maksudku
adalah meredam suara dari sebelah. Namun, setidaknya itu memberi rasa yang
lebih privat.
“Ambil infusnya …,” teriak lelaki pasien tadi, “… mau saya minum. Saya
pakai mandi. Panas badan saya. Panas.”

“Sabar, Pak. Istigfar. Astagh rullaah al ‘adziiim.”
Semakin malam, tentu suasananya semakin tidak nyaman. Aku bisa
membayangkan istri pasien di sebelah lebih gelisah. Dia pasti tidak enak
dengan “tetangga”-nya yang terganggu.
Erangan itu berlanjut. Disela isak perempuan yang tertahan-tahan.
Aku menghampiri tempat tidur Pipin. Menarik kursi bulat di sebelahnya.
Duduk di sana. Aku tidak hendak menceramahi Pipin. Kurasa dia paham
dengan sendirinya. Selain keadaannya sendiri, apa yang kami dengarkan dari
kamar sebelah adalah sebuah pembuktian. Ketika seseorang sakit, orang
terdekatnyalah yang paling kerepotan.
Pipin memandang tembok.
Aku sengaja mengejar pandangannya. Dia terus menjauhkan wajah. Aku
tersenyum sambil terus mencari matanya. “Mengapa bersedih, Pin?”
Pipin menggunakan punggung tangan untuk menghapus air matanya.
“Takut?”
Pipin menggeleng.
“Pulang saja, A.”
“Siapa?”
“Aa.”
“Terus Pipin dengan siapa?”
Dia tidak menjawab. “Biar mati saja.”
Oh, Kanya. Rasanya ini lebih-lebih dibanding menghadapimu. Aku harus
punya kemampuan membaca pikiran Pipin, sedangkan aku pun sering tak
mampu membaca hatimu.
“Tidak boleh bicara begitu,” tetap itu yang keluar dari mulutku, “… pamali.”
“Aa capek.”
“Kata siapa? Aku baik-baik saja.”
Ini kali kedua aku menemukan Pipin berair mata selama aku menungguinya.
Pertama, dua malam sebelumnya, sewaktu aku terbangun dan Pipin menyadari
kepalaku tak jauh dari kepalanya. Aku memang tidur sambil duduk di kursi
bulat itu dengan kepala menggeletak di dekat telinganya. Sedikit mengambil
bagian bantalnya.
Bu Haji membawakanku tikar, tetapi di ruangan ini, barang itu tidak bisa
digunakan. Areanya terlalu sempit, terbagi dengan penunggu pasien di sebelah.
Jika mau lega, aku mesti tidur di selasar. Artinya harus ke luar ruangan. Jadi,
aku pilih memanfaatkan waktu besuk Pak Haji saja dengan menggelar tikar di

selasar dan tidur di sana untuk balas dendam.
“Kalau Pipin mau aku tidur nyenyak, gampang. Cepat sembuh. Nanti kita

pulang.”
Pipin masih diam.
“Hal yang sudah terjadi, ya, sudah. Tidak usah dipikirkan, Pin.”
“Aku mau pulang.”
Aku baru saja hendak menanggapi Pipin yang masih seperti balita merajuk

itu ketika pasien di sebelah kembali membuat ulah.
“Pak … jangan, Pak. Nanti dimarahi Pak Dokter. Infusnya jangan dicabut,

Pak.”
Aku lalu bangun dan keluar dari bilik Pipin. Aku menduga ibu-ibu itu

membutuhkan bantuan.
“Perlu bantuan, Bu?”
“Ini bapaknya mau lepas infus … aduuuh … tenaganya kuat pisan.”
Aku buru-buru membantunya. Menahan lengannya sambil mengira-ngira

bagaimana agar tidak menambah sakit lukanya.
“Pak … istigfar, Pak.” Aku mengulang saja apa yang tadi dikatakan oleh

istrinya.
“Arrrg … sakiiit …. Saaakiiit.”
“Bu, saya tahan bapaknya. Ibu bisa ke ruang suster di luar. Minta bantuan,

Bu.”
Si Ibu berciput itu mengiakan tanpa bicara apa-apa. Tampaknya dia panik

luar biasa. Dia lalu meninggalkanku, sementara aku mencoba menangani hal
yang sama sekali tidak kukuasai.

“Paaanaaas … saya mau mandi pakai infus.”
Aku tidak bicara lagi selain menahan tangannya sekuat tenaga. Mencegah dia
mencabut infus di tangan kirinya.
Untunglah tak berapa lama, tiga perawat; dua laki-laki dan satu perempuan
datang. Mereka memintaku menjauh. Perawat laki-laki menahan tubuh si
bapak, sedangkan yang perempuan menyuntikkan sesuatu di lengannya.
Erangan bapak itu semakin lemah dan jarang, hingga akhirnya terdiam.
Namun, matanya masih terbuka, hanya tidak bersuara.
“Dijaga ya, Bu.” Perempuan perawat itu mengatakan apa yang sudah
dimengerti penunggu pasien. “Ini bapaknya masih puasa. Besok pagi
operasinya. Kalau ada apa-apa seperti tadi, beri tahu kami.”
Ibu Ciput mengangguk-angguk sambil berkata lirih dalam isaknya, “Terima

kasih, Bu.”
Aku menyandar ke tembok, menjejeri ibu malang itu.
“Hatur nuhun, A,” katanya kepadaku.
“Sama-sama, Bu.”
“Si Bapak teh kalau kalau naik motor suka ngebut.”
Dia mulai mencurahkan isi hatinya tanpa kuminta.
“Tulang rusuknya patah, A. Menusuk paru-paru.”
Tidak usah membayangkan saja sudah membuatku ngilu.
“Besok operasinya, ya, Bu?” Aku mengalihkan pembahasan detail itu

sebisaku.
Air mata Ibu Ciput berlelehan. “Kemungkinan selamatnya kecil, A. Tetapi,

kalau tidak dioperasi juga, Bapak tidak akan bertahan lama.”
Aku kebingungan sendiri. Bagaimana melanjutkan obrolan ini. “Sabar, ya,

Bu.”
Bu Ciput mengangguk-angguk di antara isak tangisnya. Aku lalu berpamitan

untuk kembali ke bilik Pipin. Sebelumnya, aku katakan jika memerlukan
bantuan, dia tidak perlu sungkan. Bu Ciput mengucapkan terima kasih
berulang-ulang.

Aku lalu menyibak tirai bilik Pipin, dan melongo. Pipin sudah berdiri tegak
di pinggir pembaringan. Sudah bercelana panjang dan berbaju hangat,
mukanya masih pucat.

“Mau ke mana, Pin?”
“Kita pulang sekarang, A.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

MALAM itu, setelah kubujuk habis-habisan, Pipin mau menunda usahanya
untuk pulang lebih cepat dari rumah sakit. Satu-satunya alasan yang bisa
mengurungkan tekad Pipin tentu saja karena aku tidak punya uang untuk
melunasi tagihan.

Akhirnya, meski tampak gelisah bukan main, Pipin mau bertahan sampai
pagi hari ketika Pak Haji datang melunasi biaya rumah sakit dan menggerutu
terus-menerus ketika membahas jumlah rupiah yang mesti ia tebus. Semalam
penuh, Pipin tidak tidur. Aku tidak habis pikir bagaimana orang yang begitu

takut kematian sempat memilih untuk mati.
Mungkin itu bukti bahwa Pipin benar-benar hanya ingin mencari perhatian.

Bahkan, ketika dia menenggak cairan pembersih lantai itu, dia tidak benar-
benar memikirkan risikonya. Dasar anak-anak. Begitu tahu pasien di bilik
sebelah bisa meninggal sewaktu-waktu, dia ketakutan bukan kepalang.

Sebelum pulang, Pak Haji harus lebih dahulu menandatangani berkas
khusus. Surat yang menerangkan bahwa keluarga pasien tidak akan menuntut
jika terjadi sesuatu terhadap yang bersangkutan. Sebab, semestinya Pipin masih
dirawat. Tentu saja Pak Haji menandatanganinya tanpa ragu. Dia sempat
berkata, jika tahu pasien bisa pulang tanpa persetujuan dokter, Pipin sudah
dibawa sejak awal.

Apa pun itu, aku cukup lega karena setelah Pipin pulang, aku bisa
memikirkan hidupku lagi. Subuh ini, aku tidak punya cukup kepercayaan diri
untuk bertemu denganmu, Kanya. Namun, keinginanku untuk melihat
senyummu, lebih besar daripada ketidakpercayaan diri itu. Setelah
menyelesaikan shalat Shubuh yang tidak khusyuk dan berdoa sekadarnya, aku
ke serambi musala.

Menunggumu.
Sudah lama aku tak seberdebar ini menanti sosokmu muncul di kelokan
jalan, persis di bawah papan nama Jalan Pahlawan. Maksudku, engkau selalu
mampu membuatku grogi tak karuan, tetapi kali ini, perasaan itu lebih
menggelisahkan. Kita sudah tidak bertemu sepekan. Jeda terlama sejak kita
saling mengenal.
Sekarang rasanya seperti pertemuan kali pertama. Bahkan, ketika engkau
belum menyebutkan nama.
Dalam remang, tanpa hujan, aku melihatmu berbelok di siku jalan itu. Aku
bersorak dalam hati. Tidak menahannya lagi. Aku bangun dan
menyongsongmu. Mendatangimu, menghentikan jalanmu.
“Assalamualaikum, Kanya.”
“Waalaikumsalam, Koko ….” Engkau hampir-hampir menjerit, “… ke mana
saja, Ko? Koko sehat? Tidak ada apa-apa, kan, Ko?”
Engkau tahu, Kanya, ketika aku mendengar kalimatmu itu, aku merasa
menjadi manusia paling bahagia sedunia. Tak mengapa jika penghuni dunia
mentertawakannya. Aku mengira engkau akan marah kepadaku. Sedikitnya
kecewa atas hilangnya aku. Namun, tidak. Aku membaca kekhawatiran pada
suaramu, sorot matamu.

“Saya baik-baik saja, Kanya.”
Aku mengulurkan tangan sebab aku tidak tahu bagaimana tepatnya memulai
perbincangan ini.
Engkau menyambut tanganku, lalu melakukan apa yang akan kuingat
selamanya. Engkau mengecup punggung tanganku. Seketika buram
pandanganku. Engkau membekukan waktu. Air mataku mengambang oleh
sebuah rasa. Antara bahagia dan pilu yang datang seketika.
“Saya bawakan.”
Aku hanya mampu mengatakan itu, untuk mencairkan apa yang sempat
membeku. Engkau pun merasakan kikuk. Mungkin engkau pun terkejut
dengan ekspresimu sendiri. Apakah engkau pun merindukanku? Lalu,
kecupanmu itu menjadi pelepas rasamu?
Aku mengambil bakul bambu dari punggungmu, memindahkannya ke
punggungku. Engkau meminta tasku.
“Tidak bawa gitar, Ko?”
Aku menggeleng. “Hari ini tidak latihan dulu.”
Engkau berjalan di sisiku. Kita menyusuri trotoar.
“Kanya, maaf saya tidak bisa memenuhi janji saya.” Rasanya aku ingin
mengatakan semuanya dalam waktu seketika. Agar engkau segera mengerti.
“Anak Pak Haji masuk rumah sakit. Saya menungguinya lima hari ini.”
“Ya Allah, sakit apa, Ko?”
“Lambungnya berdarah.”
“Innalillahi, sekarang bagaimana?”
“Kemarin pagi sudah keluar rumah sakit. Sekarang istirahat di rumah.”
“Alhamdulillah.”
“Bapak pasti kecewa saya tidak datang, ya?”
Engkau menggeleng. “Saya sudah katakan kepada Bapak, pasti ada hal yang
menghalangi Koko. Tadinya saya mengira Koko sakit.”
“Syukurlah kalau begitu …,” kita memasuki pelataran stasiun, seperti waktu-
waktu lalu, “Sabtu nanti insya Allah saya ke rumah Kanya.”
“Nanti sore saya sampaikan ke Bapak.”
“Tapi, tujuannya sudah bukan minta izin mengajak Kanya ke Dago.”
“Acaranya ikut batal, Ko?”
Aku mengangguk. “Kami batal manggung di Dago. Tapi, lain waktu pasti
ada acara lain.”
“Aamiin …,” engkau merogoh tas kecilmu, “… saya beli tiket dulu, Ko.”

Aku mengiakan. Setelah engkau berlalu, aku menatap langit. Masih banyak
bintang. Tidak ada hujan. Aku hirup udara dingin. Mulai memikirkan
bagaimana membahas suratku atau sebaiknya kubiarkan saja.

“Sudah, Ko.”
Engkau kembali kepadaku. Aku menggumamkan hamdalah, lalu kita
melewati penjaga. Engkau menyerahkan tiket, lalu kita menyusul orang-orang
naik ke kereta yang sudah menunggu. Kita mendapatkan bangku kosong
seperti setiap kita memulai perjalanan. Pedagang-pedagang yang hendak ke
kota mengobrol seru di antara mereka. Berceloteh dengan gaya Sunda.
“Cuaca cerah pagi ini, ya?” Itu bukan pertanyaan. Aku hanya tak ingin
menciptakan suasana. “Sudah dua hari tidak hujan.”
“Alhamdulillah.”
“Kalau hujan, jualan jajanan pasarnya bagaimana, Kanya? Masih laku?”
“Berkurang, Ko. Tetapi, masih lumayan. Saya ambil ke pasar tidak banyak.”
“Jas hujan tidak ketinggalan?”
Engkau menggeleng. “Saya bawa payung, Ko. Ada di bakul.”
“Cukup? Maksudku, apakah payung bisa melindungi kepala dan bakulmu
sekaligus?”
“Kalau dagangan saya tutup lagi dengan plastik, Ko.”
“Oh, begitu.”
Peluit petugas berbunyi panjang. Kereta membuat satu entakan, lalu rodanya
berputar perlahan. Kita saling pandang, lalu bertukar senyum bersamaan.
“Kanya dengar Yasuka Kamis lalu?”
Aku perlu keberanian besar untuk menanyakan itu. Apa pun jawabanmu
akan tetap menggelisahkanku.
“Dengar, Ko.” Engkau menjauhkan pandanganmu dariku. Namun, aku
sempat melihat kesan di matamu. Tersipu malu.
Sekarang malah aku yang kebingungan sendiri. Seperti dugaanku, jika
engkau menjawabku begitu, selanjutnya bicara apa pun aku tak tahu.
“Terima kasih, Ko.”
“Terima kasih untuk apa, Kanya?”
“Surat Koko.”
Aku mulai menemukan keisenganku. “Surat saya kenapa?”
“Bagus.”
“Bagus bagaimana?”
“Tidak tahu.”

Kita sama-sama kehilangan kata, rupanya, sementara kereta melanjutkan
perjalanannya.

Gh a 8

Teh Tawar Cisalangka

S elepas subuh, hari libur itu, aku mengajak Pipin lari menyusuri sungai
kecil di pertemuan kaki Gunung Geulis dan bukit tempat kami tinggal.
Orang lain perlu menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan
pemandangan alam seperti ini. Penduduk di sini tinggal menyusuri setapak
yang dilewati para petani tadah hujan di belakang rumah kami.

Pada musim basah begini, Gunung Geulis hijau menyegarkan mata. Puncak-
puncak bukit kecil belum banyak dikenali orang. Begitu pula ngarai tempat
sungai kecil mengalir, air terjun bersahaja setinggi dua orang dewasa.

“Lihat itu, Pin …,” aku menunjuk bukit batu yang melekuk unik, “… mirip
apa menurut Pipin?”

“Mirip batu,” jawab Pipin apatis.
Aku terus menuruni jalur licin setelah semalam diguyur hujan, menuju bukit
batu yang kumaksud, “Kalau sedang kemarau, bukit kecil itu warnanya
cokelat. Ilalang di atasnya seperti bulu-bulu. Lekukan atasnya jadi persis
punuk unta.”
“Punuknya saja?”
Pipin malas-malasan mengikuti langkahku. Dia mengenakan sandal jepit,
padahal aku sudah berkali-kali berpesan agar dia memakai kets. Pada musim
hujan, bukit yang pada dasarnya adalah batu raksasa ini bukan main licinnya.
Kabut turun dari puncak Gunung Geulis. Matahari masih enggan
menampakkan diri.
“Kita mau naik ke sana, A?”
“Iya …,” jawabku, “… ke Bukit Punuk Unta.”

“Mau apa di sana?”
“Nanti kamu tahu.”
Sudah satu pekan setelah Pipin keluar dari rumah sakit. Senin besok, Pak
Haji mengharuskan Pipin untuk berangkat sekolah. Aku merasa harus
melakukan sesuatu. Sebab, apa pun yang menyebabkan Pipin menenggak
cairan pembersih lantai beberapa waktu lalu tidak pernah dibahas sama sekali.
Aku berpikir, jiwa labil Pipin akan bergoyang setiap waktu. Jika masalah itu
dianggap hilang begitu saja, lain waktu letupannya akan lebih berbahaya.
Namun, bahaya yang dihadapi Pipin saat ini adalah jalur pendakian yang
basah menuju Bukit Punuk Unta.
Memakai sandal jepit yang menggelincirkan kakinya setiap waktu membuat
Pipin terus mengumpat dan hampir-hampir melemparkan sandalnya. Mantra
“kancing-coplok” berkali-kali dia umpatkan setiap sandalnya lepas dan kakinya
menginjak kerikil tajam. Itu membuatnya sedikit mirip Iding.
Aku senyum-senyum saja. Tidak menganggap umpatan yang mulai fasih
dikatakan Pipin sejak SD itu dia tujukan kepadaku. Aku sampai di puncak
lebih dahulu. Berdiri tegak, lengan kurentangkan, menghirup udara dalam-
dalam. Pipin menyusulku dengan napas memburu. Dia langsung duduk
dengan kaki ditekuk. Menatap langsung Kota Bandung dari ketinggian. Juga,
Gunung Manglayang yang jauh lebih menjulang.
Pipin tidak berkomentar apa-apa. Aku mulai berpikir anak ini terlalu kelabu
menatap kehidupan. Susah digembirakan. Sulit disentuh keindahan.
“Bagus, kan, pemandangannya?”
Pipin mengangguk saja. Tidak bereaksi lebih dari itu.
“Kapan-kapan kita mendaki Gunung Geulis, yuk.”
“Malas. Sampai di sini saja sudah susah naiknya.”
“Itu karena Pipin pakai sandal jepit.”
Pipin mengangkat bahu. Tidak mau disalahkan, atau tidak peduli sama
sekali.
“Di puncak Gunung Geulis itu ada makamnya, Pin.”
Anak-anak di sekitar kaki gunung ini pasti pernah mendengar cerita itu.
Cerita perihal makam seorang putri di puncak Gunung Geulis. Putri yang
amat geulis; cantik memesona. Itulah mengapa gunungnya diberi nama sama;
Gunung Geulis; gunung yang cantik.
“Banyak orang mendaki ke puncak sana agar dimudahkan jodohnya.”
“Aa pernah ke atas?”

“Pernah waktu kelas I SMP.”
“Sudah dapat jodohnya?”
“Ha?”
“Kata Aa orang-orang naik ke sana agar mudah dapat jodoh?”
“Itu, kan, orang-orang. Kata Pak Haji orang berdoa ke kuburan hukumnya
syirik,” aku berusaha mengatakannya dengan nada jenaka, “… kalau aku
mendaki ke sana karena penasaran saja ingin melihat Sumedang dari
ketinggian. Bertualang dengan teman-teman.”
Angin menjeda perbincangan kami. Aku masih mencari cara untuk
memasuki pembicaraan ini. Memancing Pipin untuk lebih terbuka
mengungkapkan kegelisahannya.
“Pin …,” aku kira telah menemukannya, “… aku minta maaf.”
Pipin menoleh, “Maaf untuk apa, A?”
“Sebelum Pipin sakit waktu itu, aku sempat berkata kasar kepada Pipin.”
“Memang Aa benar.” Pipin mengatakan itu dengan datar. Hampir tanpa
perasaan.
“Benar bagaimana?”
“Memang aku yang mencuri uang Abah.”
Aku tidak ingin mendesaknya. Terutama karena kami ada di ketinggian ini.
Lebih baik menunggu saja.
“Kemarin waktu ketahuan Abah juga aku hendak ambil uang di brankas.”
Ini kejutan tentu saja. Kukira Pipin masih akan berkelit tentang pencurian
uang toko itu.
“Untuk apa, Pin? Kalau Pipin minta, Pak Haji pasti memberi, bukan?”
“Abah tidak akan memberi kalau uangnya aku gunakan untuk membeli obat
terlarang.”
Aku semakin hati-hati bertanya. Pipin sangat terbuka dan pasti ada
alasannya.
“Menurutku, yang penting Pipin menyadari itu salah. Tidak diulangi lagi.”
“Aku capek, A.”
“Capek apa?”
“Capek bikin susah.”
“Pak Haji tidak merasa Pipin membuat susah.”
Pipin tersenyum sinis. “Soal biaya rumah sakit saja Abah ungkit-ungkit terus.
Abah tidak pernah ikhlas mengeluarkan biaya apa pun untukku.”
Aku diam lagi. Kali ini aku tidak ingin terlalu membela Pak Haji. Sebab, aku

yakin Pipin sedang ingin didengarkan bukan dinasihati.
“Aku tidak pernah bisa membanggakan Abah, A. Salah terus. Dibandingkan

dengan Aa terus. Sampai aku pikir, lebih baik aku rusak sekalian.”
Aku mencabut batang rumput di dekat kakiku. Memainkannya.
“Cuma Aa yang tulus kepadaku. Mau mendengarkan aku.”
Aku tidak terlalu yakin ke mana arah pembicaraan ini.
“Aa pengin tahu mengapa aku mencuri uang ketika Abah memergokiku?”
“Untuk beli pil?”
“Maksudku, mengapa aku ingin ngobat lagi setelah sebelumnya hampir

overdosis?”
“Aku tidak memaksa Pipin untuk cerita.”
“Aku pengin Aa tahu.”
“Oke.”
Pipin seperti sedang menyiapkan kalimat tersulit sepanjang hidupnya. “Aku

pernah bilang dulu, aku tidak mau Aa pergi dari rumah. Ingat?”
Aku mengangguk. Tentu saja aku ingat.
“Waktu itu Aa bilang, itu baru akan terjadi tiga tahun lagi. Setelah Aa lulus

sekolah.”
Aku mengangguk lagi. Waktu tiga tahun itu terus berkurang. Tidak lama lagi

tahun ajaran baru terulang.
“Aa bohong.”
Aku kebingungan dengan kalimat Pipin barusan.
“Bohong apa, Pin?”
“Sejak sekolah di kota, Aa sedikit sekali waktu di rumah. Kita tidak pernah

lagi main bareng, seperti ini.”
Aku tidak ingin buru-buru membela diri.
“Tadinya kupikir Aa benar-benar sibuk dengan teman band Aa. Sibuk

latihan.”
Aku masih menahan mulutku melakukan pembelaan. Kutahan benar-benar.
“Lalu, malam itu akhirnya aku tahu alasannya.”
Aku yakin, dahiku mengernyit dalam. Aku tidak siap dengan pembicaraan

seperti ini.
“Aa selalu bilang pacaran itu buang waktu. Membahayakan masa depanku.

Tetapi, Aa melanggar omongan Aa sendiri.”
“Maksud Pipin?”
“Sekarang aku tahu mengapa Aa rela bersepeda sebelum subuh setiap hari ke

stasiun kereta. Aa menulis lirik lagu, mengumpulkan buku-buku lama Aa.
Semua buat awewe yang Aa kenal di kereta, bukan?”

Astaga. Akhirnya semua keping puzzle yang tadinya berantakan tersusun di
kepalaku. Termasuk celetukan soal jodoh di awal perbincangan kami tadi.

“Pipin dengar acara Kenangan Terindah?”
Dia mengangguk lemah.
“Itu membuatmu kecewa?”
“Aa berubah.”
“Semua orang berubah, Pin.”
“Abah seperti menyesal punya anak seperti aku. Umi tidak pernah sekali pun
membelaku. Lalu, Aa yang sejak kecil selalu membelaku sekarang punya fokus
hidup baru.”
“Aku tidak akan menampik bahwa Kanya memang sangat berarti bagiku,
Pin. Tetapi, itu tidak berarti aku menganggap Pipin tidak penting lagi.”
Aku sama sekali tidak siap untuk sebuah pembicaraan sepribadi ini. Aku kira
Pipin akan mengungkapkan masalah yang sama sekali tidak berhubungan
denganku.
“Aku ingin seperti anak-anak seusiaku, A.”
“Maka jadilah seperti mereka,” kali ini aku memotong kalimat Pipin. Mulai
putus asa dengan segala sudut pandang kelabu setiap Pipin melihat segala
sesuatu.
“Abah terlalu membebaniku. Abah selalu memaksakan pemikirannya
kepadaku. Tentang apa saja.”
“Dengar, Pin,” aku yakin pembicaraan ini akan semakin membuang waktu
jika kubiarkan Pipin dengan segala urusan mahapenting baginya, tetapi bukan
bagi orang lain itu. “Aku betul-betul tidak ingin terlalu menasihati Pipin. Aku
pun belum tahu banyak tentang hidup. Aku cuma dua tahun lebih tua dari
Pipin. Kita sama-sama masih di bawah umur.”
Entah bagian mana dari kalimat panjangku yang mendiamkan Pipin.
Membuatnya lebih memperhatikan kalimatku selanjutnya. Namun, aku benar-
benar melibatkan perasaanku terdalam kemudian.
“Aku memaksa diriku untuk dewasa sebelum waktunya karena keadaan, Pin.
Aku menumpang hidup di keluarga Pipin. Aku harus tahu diri. Seandainya
aku bisa memilih, aku tidak menginginkan takdir yang seperti ini.”
Aku berusaha untuk menjaga nada suaraku, tetapi aku sungguh tidak bisa
mencegah tumpah emosiku. “Aku tidak tahu siapa orang tuaku, Pin. Aku tidak

tahu siapa bapakku, ibuku. Hanya cerita-cerita sepenggal yang coba aku
syukuri. Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya berusaha bertahan dengan apa
yang ada.”

Kurasa jiwa kekanak-kanakanku muncul lagi ke permukaan. Sesuatu yang
selalu kutekan agar tidak membuatku lemah dan mengasihani diri sendiri.
“Aku menyemangati diriku sendiri, terus-menerus. Bahwa, aku mampu
menciptakan masa depanku sendiri. Padahal, aku tidak sekuat itu. Aku pun
seperti Pipin. Kadang aku rindu orang tuaku. Berkhayal seandainya mereka
ada. Aku bisa mengeluhkan masalahku.”

Mataku memberat. Berkali-kali.
“Pipin ingin tahu mengapa Kanya berarti bagiku? Karena dia pejuang,
sepertiku. Dia kuat dalam kerapuhannya. Dia punya cita-cita, dan aku ingin
dia mewujudkannya.”
Aku menatap Pipin. Setidaknya aku menangkap kesan, dia tidak seperti
sedang kumarahi atau kuceramahi. Dia menjadi pendengar saja.
“Ada kebutuhan dalam diriku yang terpenuhi oleh Kanya. Kebutuhan untuk
dibutuhkan. Kebutuhan untuk melindungi.”
Aku menyadari sesuatu. Hal yang sebelumnya tidak kupikir mengganggu.
“Iya, aku pun berusaha menjadi saudara tua bagi Pipin selama ini. Sejak kita
kecil Pak Haji memosisikanku sebagai seorang kakak. Aku mencoba untuk
melakukannya dengan baik. Kenyataannya tidak mampu.”
“Berarti Aa berpura-pura selama ini?”
“Aku tidak mengerti, Pin.”
“Kata Aa semua kebaikan Aa kepadaku karena Pak Haji ingin Aa begitu. Aa
cuma ingin berterima kasih kepada Abah.”
Aku hampir-hampir meninju batu. Semakin sulit untuk memberi jawaban
yang Pipin inginkan. Sebab, aku memang benar-benar tidak tahu apa yang dia
pikirkan.
“Aku tidak tahu jawaban apa yang Pipin inginkan. Tetapi, aku tidak akan
bohong bahwa memang aku ingin membalas semua kebaikan Pak Haji. Itu
bukan berarti aku berpura-pura baik kepada Pipin. Kurasa, Pipin akan tahu
jika aku membohongi Pipin. Kalau Pipin menganggap begitu,” aku
menggeleng berkali-kali, “… aku tidak bisa memaksa Pipin untuk percaya.”
Matahari mulai meninggi. Udara menghangat, aku pun sudah merasa tak ada
yang perlu dibicarakan lagi dengan Pipin.
“Kita, turun, Pin. Mungkin Pak Haji sudah mencari-cari kita.”

Pipin tidak menjawab. Tidak pula berdiri menyusulku.
“A …,” dia membuka mulutnya yang mahal itu, “… aku minta maaf.”
Aku bersedekap, “Maaf untuk apa?”
“Menganggap Aa berpura-pura.”
Aku mengangguk-angguk. “Tidak usah dipikirkan. Aku justru punya sedikit
saran buat Pipin.”
Pipin bangun, lalu menunggu kalimatku.
“Coba Pipin lebih santai melihat segala sesuatu. Sedikit saja. Biarkan
mengalir.”
Dia mengangguk. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar paham apa yang
kumaksudkan. Aku mengajaknya bersalaman. “Senyumlah sedikit.”
Pipin betul-betul tersenyum sedikit.

“SILAKAN diminum, Nak. Mumpung hangat.”
Aku tidak pernah separah ini kehilangan kepercayaan diri. Berhadapan

dengan bapakmu yang tinggi besar, bersuara berat, dan tidak terkesan ramah,
membuatku tak berhasil menjadi diri sendiri.

“Terima kasih, Pak.”
Senyumku pun kikuk. Bahasa tubuhku, sepenuhnya penuh perhitungan.
Tidak alami sama sekali.
“Saya berterima kasih sekali karena Nak Kashmir mau mengajari Kanya di
kereta.”
Aku mengangguk-angguk saja. Tidak berani mengomentarinya.
“Sudah berapa lama jadinya, ya?”
“Sudah masuk semester kedua, Pak.”
“Enam bulan?”
“Lebih sedikit.”
Bapakmu mengangguk-angguk. “Namanya orang tua, pasti ingin anak-
anaknya sukses, ya, Nak. Tetapi, takdir memang tidak bisa ditawar. Kanya itu
anak pintar. Saya sebenarnya ingin dia terus bersekolah. Tetapi, anaknya
sendiri tidak mau.”
Sementara itu, aku mencoba menikmati pembicaraan sulit ini, ibumu keluar
dari dapur. Membawa nampan berisi sepiring gorengan.

“Gorengannya, Ko,” ibumu duduk di sebelah bapakmu, “tidak ada apa-apa.”
“Ini sudah lengkap, Bu.”
“Kok, dipanggil Koko, memang orang tuanya Cina, ya, Nak?”
Aku batal meneguk teh tawar untuk menjawab itu. “Saya sejak kecil dirawat
keluarga Pak Haji di Tanjungsari, Pak. Jadi, saya tidak tahu orang tua saya.
Tapi, saya mah, rasanya ya, orang Sunda.”
Bapakmu tertawa aneh.
“Islam berarti, ya?”
“Muslim, Pak. Alhamdulillah.”
Bapakmu terus mengamatiku. Seperti sedang menilai seluruh tindak
tandukku.
“Diminum, Ko.” Ibumu kembali menyilakanku.
“Baik, Bu.” Aku meminum teh tawar buatan ibumu.
“Teteh sedang membungkus ikan asin di dapur,” sambungnya tanpa kutanya.
“Oh, tidak apa-apa, Bu.”
Ibumu menoleh ke tirai pintu dalam. Di sana tiga kepala muncul bergantian,
cekikikan. Adik-adikmu. Engkau sudah mengenalkan mereka satu-satu: Opik,
Ujang, dan Pahmi.
“Masuk, tidak sopan,” hardik ibumu kepada adik-adikmu yang buru-buru
menghilang, tetapi tawa mereka masih kudengar.
“Pacar Teteh, nya!?”
“Cieeeeee … cieee, Teteh,” teriak ketiganya.
Mereka lalu tertawa seperti saling berlomba.
“Sssttt …,” ibumu mengencangkan suaranya, “… anak kecil.”
Sepertinya memang ibumu yang menurunkan hampir seluruh ciri wajahmu
dan adik-adikmu, Kanya. Aku menemukan ciri sama di wajah mereka. Alis
yang tebal, kulit terang, wajah bulat, rambut lurus. Semuanya sama. Pada
wajah ibumu aku menemukan asal-usulnya.
“Nak Kashmir sekolah di Bandung?”
“Iya, Pak.” Aku merasa interogasi ini akan berlanjut, semakin mengerucut.
“STM atau SMA?”
“SMK Seni, Pak. Saya memilih jurusan musik.”
“Kalau sudah lulus kerjanya apa itu, Nak?”
“Belum terpikir, Pak. Tapi, saya ingin kuliah musik nantinya. Ingin menjadi
musisi.”
Aku tahu bapakmu tak terlalu mengerti apa yang kumaksudkan. Matanya

mengatakan itu.
“Kalau Pak Haji kerjanya apa, Nak?”
Bapakmu memilih pertanyaan yang lebih mudah.
“Pak Haji punya toko bangunan, Pak.”
“Oh ….” Ada perubahan pada wajah bapakmu. Sebabnya apa, aku tak tahu.
“Sudah mau buka, Pak,” ibumu sedari tadi memang selalu berusaha

menyelamatkanku, “… mandi dulu. Siap-siap ke masjid.”
Bapakmu menengok jam dinding. Setelahnya dia memandangku lagi. “Ya,

paling sebagai orang tua saya cuma berpesan, berhati-hati dalam pergaulan,
Nak. Bukan tidak tahu terima kasih ini, ya.”

“Iya, Pak. Terima kasih nasihatnya.”
“Saya titip Kanya. Mudah-mudahan memang jadi tambah pintar. Sering-
sering ke sini, biar tambah kenal. Jadi seperti keluarga sendiri.”
“Baik, Pak.” Kalimat terakhir bapakmu berdampak luar biasa bagiku.
Rasanya seperti lulus Ujian Nasional. Lega karena semua sudah berakhir.
“Koko buka di sini atau bagaimana?” Ibumu memanggilku seperti caramu
menyebutku. Itu sangat membuatku merasa diterima.
“Saya buka di perjalanan saja, Bu. Lumayan naik sepeda ke Tanjungsari agak
lama. Biar tidak terlalu malam sampai di rumah.”
“Oh, begitu,” ibumu lalu memanggilmu, “Teh, keluar sebentar, Teh.”
Aku tidak sabar ingin membagi wajah gembiraku kepadamu.

AKU sungguh-sungguh tak menduga, waktu akan bergerak secepat ini, Kanya.
Sudah hampir satu tahun kita berkereta bersama. Sudah tidak terhitung berapa
kali tawa kita. Aku tidak pernah bosan dengan apa yang kita miliki dalam
setiap pengulangan ini.

Aku semakin sering berkunjung ke rumahmu dan semakin akrab dengan
keluargamu, adik-adikmu. Opik yang mengingatkanku pada diriku sendiri
sewaktu seusia dia, Ujang yang suka menggambar, dan Pahmi balita yang
gemar memakan kulit ayam.

Aku semakin biasa memanggil ibumu dengan sebutan “Mamah”, mengikuti
caramu memanggilnya. Itu terasa sangat personal. Karena aku bahkan tidak
bisa memanggil Bu Haji dengan sebutan Umi. Denganku, Mamah seperti

menemukan anaknya yang hilang. Aku sangat merasakan kasih sayang.
Bapakmu meski tak ekspresif, tetapi kurasa ia pun peduli. Aku tahu ada yang

dia sembunyikan. Sesuatu yang ingin dia katakan. Namun, dia masih
menahan-nahan. Aku menangkap kesan dia ingin mengungkapkan, hanya aku
tak tahu waktunya kapan.

Kedekatan dengan keluargamu membahagiakanku. Aku tidak bisa
menjelaskan, tapi itu terasa berbeda jika kubandingkan dengan keberadaanku
dalam keluarga Pak Haji. Bersama keluargamu, aku merasa lebih lepas dan tak
terbebani.

Hari ini, dalam perjalanan pulang, aku mulai berani membayangkan hal-hal
yang sebenarnya masih jauh di luar jangkauan.

“Gampang, kan?”
Aku menerima lembar jawaban darimu. Belum sampai ke Stasiun Rancaekek,
engkau sudah menyelesaikan semua soal pelajaran Agamamu.
“Banyak yang sudah saya baca dari buku yang Koko pinjamkan.”
Engkau merendah, Kanya. Aku tahu kemampuanmu belajar memang di atas
rata-rata.
“Kemarin soal Matematika juga hampir betul semua. Kanya memang
sungguh-sungguh belajar …,” pujiku, membesarkan hatimu, “… tidak semua
orang membaca buku lalu mengerti.”
Aku memeriksa sekilas hasil pekerjaanmu. “Nanti saya periksa benar-benar di
rumah, ya.” Aku memasukkan lembaran itu ke dalam tas. Perjalanan kereta tak
bersisa lama. Aku tak mau menghabiskannya dengan memeriksa satu per satu
jawabanmu.
Engkau mengangguk. Bunyi kereta menjeda.
“Ko, Bapak kirim salam.”
“O, ya?” Aku tersenyum biasa, sedangkan batinku tak karuan rasanya,
“Waalaikumsalam. Bapak bicara apa saja, tentang saya?”
Engkau tersipu. Pandanganmu menjadi malu-malu. “Kata Bapak, Koko
pemuda baik.”
“Begitu?”
Engkau mengangguk lagi. Aku tahu, jika aku terus mendesakmu, engkau
malah terpaku. Aku lalu memangku gitar, memainkan senar.
“Tadi di sekolah, ada jadwal pelajaran Agama.”
Engkau menoleh kepadaku. Tampaknya engkau lega karena aku tidak lanjut
membahas perihal bapakmu.

“Fikih nikah materinya.”
Aku hampir tertawa melihat kesan wajahmu, bahasa tubuhmu. Seperti
kelinci hutan yang masuk perangkap pemburu kejam.
“Saya jadi tahu bagaimana tata cara, syarat, sampai akad nikah menurut
Islam.”
“Memangnya Koko mau buru-buru menikah?”
“Saya pengin menikah muda.” Aku kian merasa bahagia dengan
perkembangan perbincangan kita.
“Koko ingin sekolah tinggi, bukan?”
“Menikah sambil sekolah bagus juga.”
Engkau sedikit cemberut. “Dengan siapa?”
Aku melirikmu, “Siapa saja yang mau.”
Pandanganmu menjauh. Ke luar jendela.
“Menikah dalam Islam ternyata mudah sekali.”
“Setelah menikah yang tidak mudah, Ko.”
Entah bagaimana, merajukmu membuatku bahagia.
“O, iya …,” aku pura-pura mengalihkan pokok perbincangan kita, “… lagu-
lagu Titi DJ yang paling Kanya sukai yang mana?”
Engkau bukan tidak sadar aku sengaja mengganti topik pembicaraan.
Namun, sepertinya kamu cukup ingin tahu apa yang hendak kusampaikan
kemudian.
‘“Bintang-Bintang,’” jawabmu.
“Mengapa lagu itu?”
“Kata-katanya penuh kegembiraan.”
Aku mengangguk-angguk.
“Nah, syarat menikah itu salah satunya maskawin. Maskawinnya bisa apa
saja, lho. Bahkan lagu.”
“Kok, kembali ke pernikahan?”
“Saya, kan, perlu memberi contoh. Supaya jelas,” kataku menggodamu.
“Contohnya begini …,” aku menyiapkan laguku, untukmu, “… saya terima
nikahnya Kanyakumari binti Hendar Sunandar dengan maskawin lagu
‘Bintang-Bintang.’”
Engkau agak memelotot, sebal, menggemaskan.
Aku tersenyum saja. Memulai laguku sambil memandangmu yang sekarang
mengabaikanku. Engkau menggeser kakimu, seolah-olah ingin sejauh-jauhnya
menghindariku.

Aku tahu, hatimu tidak berkeinginan begitu.
“Ayo, menyanyi, Kanya.”
“Tidak mau.”
Aku tertawa. Melanjutkan ‘maskawin’ kita. Engkau betul-betul meneruskan
kesebalanmu. Tidak mau bersitatap denganku. Sampai habis lagu, hingga
kereta tiba di stasiun yang kita tuju. Engkau menolakku untuk membawa
bakul ikan asinmu. Ketika aku memaksa, engkau tidak bicara apa-apa. Buru-
buru turun kereta. Tidak mengambil tasku seperti biasa.
Aku menikmati ini meski sedikit khawatir dalam hati.
Sambil terhuyung-huyung, kubawa bakulmu menjauh dari keramaian.
Meletakkannya dengan hati-hati. Engkau mempersiapkan dirimu tanpa bicara.
Hendak menggendong bakulmu tanpa bantuanku, seperti sebelum-
sebelumnya. Namun, aku tetap mengangkatnya ke punggungmu.
Memudahkanmu.
“Maafkan saya sudah keterlaluan bercanda, Kanya.”
Kamu mengencangkan ikatan selendang di pinggangmu. “Pernikahan bukan
candaan, Ko.”
“Iya, saya minta maaf.”
Engkau mulai berjalan, aku menjejerimu.
“Kalau Kanya menikah, kira-kira apa maskawin yang Kanya inginkan?” Aku
melanjutkan kejailanku.
“Saya belum akan menikah.”
“Maksud saya kelak. Pada masa depan.”
Engkau diam saja.
“Mungkin segenggam permata, ya?”
Engkau terus berjalan, tidak lebih pelan.
“Kanya, besok saya boleh ke rumah? Mau antar hasil ujian tadi.”
Tidak engkau iakan tidak juga engkau pedulikan. Sampai di tiang papan
nama jalan itu, engkau mengabaikanku.
Aku berhenti, menatapmu yang terus berlalu. Rupanya engkau betul-betul
tak nyaman dengan gurauanku. Namun, engkau benar, pernikahan bukan
bahan gurauan. Sejujurnya, aku pun tidak sedang bercanda tentang itu. Aku
akan membuktikannya kepadamu.


Click to View FlipBook Version