The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Waktumu lima jam lebih dulu daripada milikku. Aku membayangkan,
barangkali pada waktu yang sama engkau pun sedang berkereta pulang ke
Cisalangka. Mungkin engkau sedang memandang ke luar jendela. Menatap
sawah dan gunung yang sama. Apa-apa yang tidak pernah berubah pada tiga
tahun kebersamaan kita. Aku juga sedang berkereta, Kanya. Meski itu
mustahil, ada detik ketika aku berkhayal, tiba-tiba engkau muncul di antara
orang-orang itu, memanggilku.

Kurasa ini tak akan mudah bagiku. Bahkan, setelah kita terpisah setengah
bumi.

Engkau akan tahu, mengasihi seorang bramacorah, bagi hati, urusan mudah.
Engkau tersandera sebentar saja, kemudian waktu akan menghambarkan
getarannya. Namun, jika engkau terpilih untuk menyerahkan rasa kepada
seseorang sepurnama Ramadan, engkau akan berkuasa mengendalikan
kebahagiaanmu sendiri. Apakah engkau beruntung mengabdi kepadanya atau
ikhlas melepas pada akhirnya.

Keduanya akan memberimu serenity. Bahkan, ketika engkau mesti
meninggalkannya, keimananmu selalu menjaga rasa itu. Mengasihinya tak
pernah melahirkan keburukan. Dia selalu mampu memanggil sisi terbaik
dalam dirimu. Melepaskan kebencian, kecemburuan, ketidakberterimaan,
bahkan keinginan untuk memiliki.

Sebab, mengasihinya saja telah utuh memberimu kebahagiaan.
Aku terus termangu ketika kereta sudah berhenti. Keriuhan orang-orang di
luar jendela baru menyadarkanku kereta ini sudah sampai di T-Centralen. Aku
buru-buru bangkit sementara pintu kereta masih terbuka. Aku tidak tergesa
melangkah keluar kereta, karena ingin betul-betul menikmati suasana.
Stasiun pusat mempertemukan semua penumpang dari berbagai arah.
Pertemuan tiga jalur warna; merah, biru, dan hijau pada gambar peta rute T-
Bana. Keramaiannya memberi semangat atau malah menularkan keterburu-
buruan.
Hari kedua di Swedia dan tampaknya aku masih akan takjub dalam waktu
lama. Dua hari yang lalu, duniaku masih sama. Bertemu dengan orang-orang
yang sama. Keasingan seseorang hanya diukur dari kapan kami saling
mengenal atau bertegur sapa. Tidak ada perbedaan bahasa, kulit, muka, warna
rambut. Semuanya Indonesia.
Lalu, dua hari ini, tiba-tiba aku sendiri dalam bahasa dan kebangsaanku.
Meski aku berdoa berkali-kali agar secara tidak sengaja bertemu dengan orang

Indonesia, itu tak kunjung terjadi. Aku memikirkan Mulyana dan sedikit
mengkritik pertanggungjawabannya. Bagaimana bisa dia membiarkanku
sendirian? Meski kami belum saling mengenal, setidaknya dia tahu aku baru
dalam segala hal. Apakah tidak ada rasa sebangsa yang menggerakkannya
untuk setidaknya tak melepasku begitu saja?

Entahlah, aku mulai yakin mampu bertahan dengan caraku sendiri. Namun,
aku tetap berpikir untuk segera mendapatkan seorang teman. Agak aneh di
tengah keramaian begini aku terus-terusan berbicara sendirian.

Perjalanan satu blok dari T-Centralen kunikmati sembari melihat ke segala
arah. Berpikir ada apakah setelah belokan di ujung jalan? Hendak pergi ke
manakah orang-orang? Aku rasa suhu udara terus menurun sewaktu aku
berbelok ke Jalan Klara N. Kyrkog. Pejalan kaki atau mereka yang bersepeda
datang dan pergi ke arah yang berbeda.

Di depan asrama, dari pintu kacanya, aku melihat Madam Samantha duduk
menulis sesuatu di atas meja. Aku merasa sangat beruntung, karena jika dia
tidak ada di sana, aku belum tahu mesti mencarinya ke mana. “Bos agen
rahasia Rusia” itu tidak mendongak sama sekali ketika aku membuka pintu.

“Ursäkta.” Menurutku itu kata punten versi Swedia. Entah pemakaiannya
tepat entah tidak.

Madam Sam mengabaikan usaha kerasku. Dia berkata, “Tutup lagi
pintunya.”

Aku merapatkan pintu, lalu menghampiri dia yang masih menulis sesuatu.
“Madam Sam. Bisakah saya meminta waktu Anda sebentar?”
Barulah sekarang dia menghadapkan wajahnya kepadaku.
“Saya perlu informasi bagaimana menggunakan dapur. Apakah di sana ada
peralatan untuk memasak?”
“Kamu harus membelinya sendiri, Anak Muda.”
“Oh, begitu?”
“Cobalah berbaur. Pull someone’s leg dan semoga kamu beruntung mendapat
teman yang mau menunjukkanmu di mana berbelanja yang murah.”
Tidak mudah memahami kalimat cepat Madam terutama bagian menarik
kaki seseorang. Kupikir itu semacam idiom. Entahlah. “Baiklah, Madam.”
“Atau kamu bisa coba ke Lidl, Willys, atau Netto.”
“Supermarket?”
“Minimarket. Harganya lebih murah untuk beberapa produk.”
“Terima kasih banyak, Madam,” aku teringat sesuatu, menunda kepergianku,

“… untuk keperluan mencuci pakaian, apa yang harus saya lakukan?”
“Pergilah ke tvättstuga. Penghuni gedung ini dan dua gedung lainnya pergi ke

sana untuk mencuci baju.”
“Tvat … apa tadi?”
“Tvättstuga, laundry,” nada bicara Madam Sam mulai terdengar ketus, “…

ada di belakang gedung ini.”
“Oh, baik. Terima kasih.”
Dia tidak menjawab dengan jelas. Kembali sibuk dengan pulpen dan kertas.

Aku meninggalkannya dengan gerutuan dalam hati. Walaupun begitu,
setidaknya aku memperoleh beberapa jawaban pasti.

Meski tidak mendesak, kupikir aku harus tahu soal tempat mencuci pakaian,
karena cepat atau sedikit lambat, aku pasti membutuhkan. Sambil menaiki
tangga aku mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan nanti malam.
Mungkin, mencari minimarket yang disebut Madam Sam bisa menjadi
pilihan. Setidaknya aku punya sedikit pilihan dibanding tidak sama sekali.

Gh a 15

Menyaks ikan Gamla Stan

A khirnya, aku menemukan panci yang aneh, tetapi bukan di toko mana
pun yang disebutkan Madam Sam. Baik Lidl, Willys, maupun Netto,
rupanya adalah nama-nama supermarket waralaba yang konon ada di pelosok
Swedia. Supermarket kelas tiga, karena ada dua kelompok merek supermarket
lain yang biasanya punya pelanggan orang-orang kaya.

Aku mendapatkan cerita itu dari pemilik toko muram yang kutemui setelah
berjalan hampir empat blok dari asrama. Itu cukup melelahkan, tetapi
menyenangkan. Pemilik toko bernama Ahmad Khan dan dia adalah generasi
kedua imigran dari India. Tokonya tidak termasuk dalam daftar rekomendasi,
tetapi justru memenuhi semua kebutuhanku. Aku membeli peralatan
memasak, piring, sendok, gelas, dan beras. Itu sudah lebih dari cukup.

Aku merasa Ahmad Khan akan menjadi sahabat pertamaku di Stockholm.
Selain dia mau berbicara banyak denganku, dia tahu kurang lebih aturan
hidupku. Tentu saja karena dia seorang Muslim. Itu sangat melegakan. Seperti
bertemu dengan saudara sebangsa yang hilang. Dia tahu beberapa hal dari
hidupku. Bagaimana aku memahami Tuhan, apa yang boleh dan tidak boleh
kumakan, dan hal-hal khusus lainnya.

Kedekatan kami yang kilat bermula dengan ekspresi menggelikan pada
wajahnya ketika bertanya berulang-ulang, apakah aku sedang bercanda. Sebab,
dia tak percaya ada seseorang berbangsa Indonesia yang berwajah Cina,
bernama India, dan beragama Islam.

Setelah kuyakinkan berkali-kali sampai kubuktikan dengan paspor, dia
memelukku begitu hangat. Rupanya ibu-bapaknya berasal dari Kashmir dan di

kampung halamannya bahkan tidak ada anak laki-laki yang dinamai Kashmir.
Aku bercerita sedikit tentang alasan keberadaanku di negara ini dan dia

mendengarkanku dengan mata berbinar-binar. Aku berjanji akan sering datang
ke tokonya, lalu dia melepasku dengan sebuah kecupan di pipi kanan dan kiri.
Sejak hari itu dia minta kupanggil Aa Ahmad.

Sudah dua hari panci India itu kupakai untuk merebus Indomie. Lauk
sempurna untuk sepiring nasi. Lain waktu, nasi sepiring penuh kumakan
dengan sepotong kecil rendang. Aku bisa memasak beberapa jenis masakan,
tetapi belum ingin melakukan itu. Kurasa aku akan menghabiskan Indomie-ku
dulu. Targetku memang, asal tidak kelaparan.

Besok adalah hari besar, hari pertama bertemu teman-teman kuliah. Aku
sudah menyiapkan baju terbaikku, lungsuran dari Pak Suganda, dan hari ini
aku harus mencuci pakaian. Aku membawa pakaian kotor dengan keresek
besar, bekas belanja di toko Ahmad Khan, ke gedung di belakang asrama dan
menemukan kenyataan bukan aku saja yang berpikir ini waktu yang baik
untuk mencuci pakaian.

Beberapa orang berdiri mengantre dengan membawa tas-tas plastik mereka.
Tampak seperti tas khusus untuk mencuci. Aku mulai deg-degan karena
tampaknya aku satu-satunya orang baru. Bukan saja kali pertama datang ke
tvättstuga, melainkan baru sekali ini hendak menggunakan mesin cuci. Cara
hidup baruku ini memang terlalu melompat dalam segala hal. Aku hanya bisa
berusaha tidak melakukan kesalahan memalukan karena tidak berpengalaman.

“Kamu tuliskan nama, dan tempat tinggalmu di papan itu.”
Aku menoleh ke seorang perempuan yang antre di belakangku.
“Saya?”
“Iya. Tulis nama kamu agar orang lain tidak mendahului antreanmu.”
Aku menuruti kata perempuan tadi. Kuhampiri papan kertas yang
digantungi tali mengikat sebatang pensil. Aku menuliskan namaku di bawah
nama lain yang mengantre sebelumku. Perempuan tadi lalu menyusulku,
menuliskan namanya di situ.
Nina.
Dia menulis begitu. Kurasa dia pun membaca namaku.
“Masih suka jalan-jalan ke Drottninggatan?”
Aku menoleh kepada perempuan itu. Memperhatikannya dengan sungguh-
sungguh. Kukira hanya perasaanku. Rupanya memang aku pernah melihatnya.
“Kamu seniman yang bermain gitar di Drottninggatan?”

Dia mengangguk. “Kamu meninggalkan 20 krona, jadi aku sangat mudah
mengingat wajahmu.”

Aku tertawa canggung. Tidak mungkin aku katakan bahwa waktu itu aku
mengira lembar uang yang kuberikan adalah pecahan 2 krona.

“Kamu tinggal di sini?”
“Gedung sebelah. Aku tahu kamu orang baru, tetapi tidak menyangka kita
bertetangga.”
Aku mengulurkan tangan. Sangat menyenangkan rasanya bertegur sapa
setelah hampir seminggu aku lebih banyak berbicara dengan diri sendiri.
“Kashmir.”
“Nina.”
Aku menunjuk papan antrean. “Aku tadi membaca namamu di situ.”
“Aku juga.”
Kami tertawa sedikit. Agak malu juga jika keakraban kami mengganggu
kesunyian orang-orang di depan dan belakangku.
“Kamu diterima di mana?” Perempuan bermata dalam itu meneruskan
keingintahuannya.
“KMH. Mulai minggu depan.”
“Keren, kamu belajar musik?”
“Kamu bernyanyi jauh lebih baik dari aku.”
“Kapan-kapan kita harus berduet.”
Aku mengiakan dengan senyumku. Nina jauh lebih ramah dibanding kesan
yang kutangkap ketika aku menyaksikan penampilannya. Dia pun lebih tinggi
dari perkiraanku. Dengan sandal jepitnya, Nina bertinggi sama denganku.
“Kamu kuliah musik juga, Nina?”
Nina menggeleng, “Kamu tidak akan percaya kalau kuberi tahu.”
“O, iya?”
“Aku sekolah agama. Studi Bible.”
“Oh, amazing.”
“Kukira kamu akan bereaksi berbeda.”
“Mengapa kamu berpikir begitu?”
“Karena semakin sedikit anak muda yang tertarik dengan agama.”
“Di tempat asalku tidak begitu.”
“Dari mana kamu berasal? Korea?”
Cina, Jepang, dan sekarang Korea. Aku tertawa dalam hati. Betapa wajahku
amat mudah disalahpahami.

“Indonesia.”
“Indonesia?”
“Asia Tenggara.”
Aku tidak tertarik lagi untuk memakai mantra kamu tahu Bali?
Dia mengangguk-angguk. “Orang di negerimu semua berwajah sepertimu?”
“Tidak. Kami multietnis.”
“Orang Indonesia percaya agama?”
“Penganut Kristen juga banyak. Jutaan.”
“O, ya?”
“Kamu bisa mengeceknya di ensiklopedia.”
Nina tertawa.
Dua orang keluar dari ruang cuci. Nina mendorong bahuku. Aku
menangkap maksudnya. Sekarang giliran kami mencuci.
“Tampaknya kamu harus mengajariku lagi selain soal menulis dengan pensil
tadi, Nina.” Aku mulai menghilangkan rasa canggungku. Aku yakin Nina tak
akan mempermasalahkannya, “aku tidak yakin bagaimana cara kerja mesin
ini.”
Di hadapan kami, ada tiga mesin cuci setinggi alisku. Setiap mesin punya dua
lubang kaca. Tentu saja aku bisa mengira-ngira ke dalam lubang itu baju mesti
kumasukkan. Namun, aku tidak terlalu yakin tombol mana yang mesti
kutekan duluan. Aku bisa saja mencoba-coba sambil membaca tulisan yang
menempel di situ. Namun, bertanya kepada Nina jauh lebih terjamin
efektivitasnya.
“Masukkan baju kamu,” Nina sama sekali tidak terkejut dengan
ketidaktahuanku. Dia membukakan lubang berkaca itu buatku, “detergen
kamu ambil dari mesin di belakangmu, tuangkan ke bajumu.”
“Terima kasih.” Aku mengambil gelas plastik khusus untuk mengambil
detergen cair dari mesin di pojok ruangan. Tanganku satunya memasukkan
satu-satu pakaianku ke mesin itu. Detergen kutuangkan ke tumpukan baju.
“Tutup dulu …,” Nina mencontohkan tahapan yang juga sedang dia
lakukan, kepadaku, “… baru tekan tombol ini.”
Aku menirukan persis yang Nina contohkan.
Mesin cuci mulai memutar baju-baju kami. Sambil menunggu, aku merasa
mendapat kesempatan besar untuk banyak bertanya kepada Nina.
“Kamu sudah lama tinggal di lingkungan ini?”
“Ini tahun kedua,” Nina tersenyum, “aku bukan orang jauh, Kashmir. Asli

Swedia. Cuma rumahku jauh di desa.”
“Wow, kamu orang Swedia? Beruntung sekali mengenalmu.”
“Mengapa begitu?”
“Aku ingin bisa berbahasa Swedia.”
“Ah, bagus sekali.”
“Tack.”
“Kamu sudah belajar rupanya.”
“Setelah mengetahui jadwal kuliah, aku mungkin akan mencari semacam

kursus bahasa Swedia. Syukur-syukur gratis.” Aku tertawa lirih.
“Ada. Aku akan mengajakmu ke sana jika mau.”
“Sungguh?”
“Iya. Memang ada program bahasa Swedia gratis untuk para pendatang.

Namanya SFI, Swedish for Immigrants. Tetapi, kamu harus punya person
number.”

“Person number?”
“Semacam nomor identitas agar kamu bisa mengakses bermacam-macam
fasilitas publik. Gampang itu. Aku akan bantu kamu mengurusnya.”
“Sungguh? Beruntung sekali aku bertemu kamu, Nina.”
“Kalau kamu tidak meninggalkan 20 krona waktu itu, mungkin lain lagi
ceritanya.”
Kami tertawa. Kali ini tidak terlalu menahannya.
Mesin cuci menyelesaikan tugasnya beberapa saat kemudian. Aku merasa
sangat bersemangat bertemu dengan Nina. Kami lalu berpisah di pintu ruang
cuci, tapi berjanji untuk segera bertemu lagi. Aku kembali ke asrama dengan
langkah yang lebih ringan. Aku merencanakan banyak cara untuk memulai
pertemanan, tetapi justru mendapatkannya dengan kebetulan.
Sampai asrama aku lalu membawa cucian bersih ke ruang pengeringan.
Hanya sekotak ruangan dengan jendela tertutup dan batang-batang besi
jemuran yang dipasang dari dinding ke dinding. Ada kipas angin besar yang
dinyalakan agar pakaian betul-betul kering.
Aku mengeceknya lebih dulu, apakah besi-besi jemurannya bisa aku
kugunakan. Ada yang memakai, tapi masih ada ruang tersisa. Aku lalu
menjemur baju-baju yang tampak tidak memalukan jika ada orang yang
melihatnya.
Semua baju-baju pemberian Pak Suganda. Pakaian yang kira-kira tak layak
pandang kubawa ke kamar. Ada saja caranya untuk mengeringkannya. Lagi

pula keluar dari mesin cuci, pakaian ini sudah tidak meneteskan air.
Mengeringkannya tinggal diangin-angin.

“Halo.”
“Ya.”
Christopher, wajah anak teknik berambut merah asal Texas, Amerika, itu,
tampak masam ketika hendak menjemur baju, tapi tempat jemuran sudah
penuh.
“ e early bird gets the worm.”
Dia bergumam tentang burung dan cacing.
“Kamu mau memakainya dulu, Chris?”
Aku sempat berkenalan dengan Chris di dapur, tetapi tidak sekali pun terlibat
pembicaraan panjang.
“Kamu serius? Aku sangat perlu mengeringkan satu kemeja saja. Besok aku
memakainya ke kampus.”
Aku mengambil satu kemeja dari besi jemuran, memasukkannya lagi ke
plastik. “Pakailah.”
“Terima kasih banyak ...,” dia lupa namaku, “… what was your name again?”
“Kashmir.”
“Terima kasih banyak, Kashmir.”
“Sama-sama.”
Aku meninggalkan Chris karena aku menebak dia tidak seperti Nina yang
suka mengobrol dan bertukar kata. Lagi pula kami berada di ruang pengering
baju. Mau membicarakan apa di tempat semacam itu?
Asrama mahasiswa semestinya menjadi tempat ideal bagi pemula sepertiku.
Di dalamnya berkumpul anak-anak muda dari berbagai negara, dengan
bermacam-macam latar belakangnya.
Tentu menjadi pengalaman baru yang memperkaya ketika bertemu banyak
orang dari kebudayaan yang berbeda. Aku hanya belum menemukan
keasyikannya karena belum ada seorang pun penghuni asrama yang berbicara
lama. Bahkan, di dapur. Mungkin mereka merasa aneh juga karena beberapa
hari ini aku hanya memasak beras dan Indomie.
Asrama punya beberapa koridor dan masing-masing berisi 15 kamar, sebuah
dapur komunal dengan televisi. Aku belum menghitung komposisinya, tetapi
penghuni laki-laki dan perempuan sepertinya berjumlah seimbang. Setiap
penghuni harus membersihkan kamar masing-masing dan dapur setelah
pemakaian.

Ketika aku datang, kamarku hanya berisi satu tempat tidur dan lampu
ruangan. Beberapa penghuni lain lebih beruntung karena kamarnya sudah
dilengkapi dengan perabot, bahkan bantal, selimut, dan seprai.

Aku masih tidur berbantal ransel dan berselimut sarung. Toh, tidurku di
Indonesia tidak pernah merepotkan. Meski memang di asrama ini tantangan
suhunya lebih terasa. Sudah beberapa hari ini suhu terus mendingin. Aku
mengenakan jaket musim dingin untuk menahannya. Ini bulan September.
Aku belum bisa membayangkan apa yang akan kualami Desember nanti ketika
suhu mencapai nol bahkan minus derajat.

Sepertinya mengeringkan pakaian di kamar pun akan mendatangkan
kesulitan jika suhu terus turun. Beberapa pakaian tak layak tayang memang
kubawa ke kamar. Kuletakkan di depan pintu balkon. Aku harus menemukan
cara lain untuk menghadapi musim dingin nanti.

Sekarang, aku memulai kerja besarku membuat pola di atas kertas,
menggambari dengan spidol, lalu mengguntingnya. Satu lokomotif dan empat
gerbong kereta tua selesai kubuat. Salah satu dinding kamar ini tak akan lagi
sepi.

GADIS Jepang bernama belakang Samawatsu di sebelahku begitu antusias
mendengarkan penjelasan perwakilan kampus yang menjelaskan latar sejarah
panjang KMH. Matanya seperti tersenyum. Mengerjap-ngerjap di antara
anggukannya yang sungguh-sungguh. Berkali-kali dia seolah mengiakan apa
yang dikatakan narasumber, lalu bertepuk tangan tanpa suara.

Perwakilan kampus mungkin seorang dosen muda, atau asisten dosen, aku
melewatkan sesi perkenalan karena memikirkan hal lain sewaktu dia
membicarakan latar belakangnya. Aku hanya menangkap namanya terdengar
seperti Berdict atau semacam itu. Alasan sebenarnya, ya, karena bahasa
Inggrisku pun masih pas-pasan. Tidak semua pengucapan kata Pak Berdict bisa
terpahami dengan benar

“Kungliga Musikhögskolan i Stockholm is the oldest institution of higher
education in music in Sweden,” Pak Berdict mengulang informasi yang sudah
kubaca di brosur, “… founded in 1771 as the conservatory of the Royal Swedish
Academy of Music.”

Pak Berdict melanjutkan, “KMH memublikasikan banyak biogra tokoh
musik, buku-buku teori, naskah analisis, dan menawarkan beasiswa ke
berbagai negara.”

Rin Samawatsu lagi-lagi bertepuk tangan rapat sambil bersorak lirih.
Aku mulai bertanya-tanya, dia sedang antusias terhadap hari pertama kuliah
yang akan segera tiba atau kepada Pak Berdict yang berbicara di muka.
Sungguh menyenangkan melihat kelakuannya. Aku pun sebenarnya seantusias
dia. Hanya ketika ekspresi dia bisa seimut Sailor Moon, aku tak bisa
mengimbanginya menjadi sekeren Tuxedo Bertopeng. Aku bahkan
mengenakan batik, celana kain, dan tak bertopi hari ini.
Kelas kami mungkin terdiri atas tiga puluh mahasiswa baru. Tidak ada satu
pun wajah kami yang menandakan kesamaan negara asal. Tentu saja itu sudut
pandangku. Karena orang di luar Asia dengan sangat yakin akan menebak aku
dan Rin datang dari satu kampung yang sama. Mungkin satu RT yang sama.
“KMH dikenal dunia sebagai institusi yang selalu terbuka. Seperti musik itu
sendiri, kampus ini tidak pernah berhenti berubah dan berkembang.”
Tepuk tangan menggema di ruangan ini. Versi terbaik dari sebuah kelas
belajar yang bisa kubayangkan. Tidak ada bangku dan meja penuh tulisan
Tipp-Ex, tidak ada papan tulis berdebu, ember berisi air kobokan. Semoga
tidak ada juga dosen yang akan mencuci mukaku jika konsentrasiku
teralihkan.
Aku agak rindu sekolah lamaku. Membayangkan jika Iding ada di sini. Dia
pasti kesepian. Sebab, tidak ada truk Pantura yang memberinya inspirasi setiap
hari.
“Setiap tahun, kami mengadakan sedikitnya dua ratus konser dan pentas
untuk umum. Hampir setiap hari, kampus ini terbuka untuk umum.
Pengunjung bisa menikmati pagelaran musik simfoni, jaz, paduan suara, dan
banyak lagi.”
Aku sendiri mengalami euforia sebenarnya. Apa yang disampaikan Pak
Berdict adalah segala yang kuinginkan dalam musik.
“Bagaimana prospek alumni KMH?” tanya mahasiswa berwajah Latin yang
duduk sebaris denganku, terpisah empat kursi.
“Para alumni KMH adalah para musisi, guru musik, atau profesional sukses
di berbagai bidang yang masih berkaitan dengan musik,” Pak Berdict
mengangkat telunjuk, memberi penegasan, “Mereka punya satu kesamaan.
Pendidikan KMH memberi fondasi yang kuat untuk membangun masa depan

karier bermusik setiap dari mereka.”
Seseorang di barisan paling depan mengangkat tangan, “Apa ikatan KMH

dengan industri musik setidaknya di Stockholm?”
“Tidak hanya karena KMH memang ada di jantung Kota Stockholm, kita

juga menjadi bagian tidak terpisahkan dengan kota ini. Mahasiswa dan para
dosen bekerja sama dengan berbagai konser dan teater, museum, sekolah-
sekolah di seluruh Stockholm dalam kegiatan sehari-hari.”

Hal yang membuatku merinding antara merasa ngeri dan bangga, selain
bahwa pembahasan ini terlalu tinggi bagiku sebagai anak muda yang seolah-
olah baru keluar gua, adalah prospek kerennya hari-hari yang akan kujalani.

Kukira setelah usai pemaparan Pak Berdict, setiap wajah di ruang kelasku
dibinari oleh optimisme yang meluap-luap. Secara mandiri kami kemudian
saling berkenalan. Aku sangat bersyukur tahapan itu tidak dilakukan secara
resmi sehingga tidak ada yang menyaksikan berantakannya kemampuan bahasa
Inggrisku.

Mungkin aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, untuk
mengutarakan maksudku dalam tata bahasa yang tepat, pengucapan nan
sempurna sungguh-sungguh aku belum bisa. Aku berharap kemampuanku
akan membaik dengan sendirinya.

Kami bubar dari kampus dan aku cukup ragu untuk langsung pulang ke
asrama. Hari tak terlalu dingin dan mengurung diri di dalam kamar rasanya
hanya buang-buang kesempatan. Ketika menuruni tangga stasiun bawah tanah
dan aku sibuk berpikir sebaiknya melakukan apa.

Pertemanan di negeri ini tidak terlalu mudah dijalin. Sepertinya tidak
mungkin setelah bersenda gurau di dalam kelas, lantas aku mengajak atau
diajak salah seorang teman satu jurusan untuk berjalan-jalan, tersesat bersama,
atau melakukan apa saja. Itu hal paling beda yang kurasakan dengan pola
pertemanan di Indonesia, Bandung setidaknya.

Aku ingat dulu, hari pertama mengenal Iding, sepulang MOS, kami langsung
berburu pernak-pernik bersama di Buah Batu. Tidak butuh waktu lama untuk
merasa senasib sependeritaan dan satu tekad untuk melakukan petualangan
bersama.

Sedangkan, di sini, teman satu asrama pun, satu minggu aku baru mengenal
beberapa nama dan terlibat satu-dua kali tukar kata. Kecuali dengan Nina
tentu saja. Aku berharap banyak dari gadis desa itu. Sebab, kepada Ahmad
Khan yang usianya jauh di atasku, aku tidak yakin akan lahir banyak

tantangan. Kuperkirakan, kami cocok dalam segala hal, kecuali petualangan.
Aku masuk ke kereta dan masih menimang-nimang apa yang mesti aku

kerjakan. Bisa jadi turun di T-Centralen, aku akan berjalan acak seperti pekan
lalu. Jika aku bisa menemukan toko Ahmad Khan dengan cara itu, mungkin
aku akan menemukan hal lain yang menyenangkan dengan cara yang sama.

Akan tetapi, aku masih punya waktu ratusan hari untuk menemukan hal-hal
baru, teman-teman baru. Rasanya misteri semacam ini justru yang membuat
masa depan menjadi lebih menarik. Aku sungguh-sungguh tidak punya
pengetahuan tentang siapa-siapa yang akan memengaruhi hidupku satu, tiga,
lima, atau sepuluh tahun ke depan.

Aku tidak percaya Tuhan hanya menyiapkanmu untuk mewarnai hidupku,
Kanya. Meski aku ragu siapa pun itu yang kelak akan mampu menghapusmu.

Perhentian pertama, Ostermalmstorg. Mungkin suatu saat aku akan pindah
asrama agar stasiun yang kulewati tidak hanya ini. Aku tidak percaya pikiran
itu sudah muncul pada hari kedua aku berkereta. Aku sudah merasa sebagai
penguasa Stockholm rupanya.

Seorang gadis bule yang mencolok penampilannya melompat ke dalam
kereta.

“Nina!”
Gadis ramah yang pandai bernyanyi itu mengenakan pakaian terusan yang
sopan dengan motif bunga-bunga. Celana jeans membuat penampilannya
tampak lebih tangkas dan modern.
“Hej, Kashmir.”
“Kamu naik di sini?”
Nina duduk di sebelahku. “Aku belum bilang kalau kita di jalur T-Bana yang
sama?”
Aku menggeleng, “Pertemuan di ruang laundry kurasa baru sedikit memberi
kita informasi.”
Nina tersenyum lepas. “Kampusku hanya beberapa blok dari
Ostermalmstorg. Dekat Kungliga Biblioteket, perpustakaan nasional. Setiap
hari aku berjalan kaki dari dan ke stasiun ini.”
Aku berkata, “Itu sangat menyenangkan.”
Kereta berjalan. Nina masih menyisakan senyuman. “Apakah orang Indonesia
semua seperti kamu?”
“Apanya?”
“Suka sekali berkata-kata manis.”

“Nej,” kataku, “… tapi kurasa hampir semuanya suka sekali tersenyum.
Apalagi kepada bule sepertimu.”

“Bule?”
“Berkulit putih, rambut pirang, mata biru.”
Nina tertawa tanpa menyuarakannya, “Kamu merayuku.”
“Tidak. Aku bersungguh-sungguh. Datanglah ke Indonesia, kamu akan
membuktikannya.”
“Well, sepertinya, orang-orang di negerimu benar-benar ramah dan
menyenangkan.”
“Orang Swedia juga sangat baik. Setidaknya aku sudah bertemu tiga orang
Swedia yang ramah dan sangat membantu.”
“O, ya?”
“Ja. Sopir bus dari Bandara ke Cityterminalen, front o cer kampusku, dan
kamu.”
“Cara kamu mengatakan ja sudah bagus.”
“Bernarkah? Tack. Mungkin karena pelafalan kata yes dalam bahasa Swedia
dan bahasa Indonesia hampir sama.”
“Benarkah?”
“Kamu bilang ja dan aku bilang ya. Sama. Ja Swedia hanya sedikit lebih
sengau, mendengung di langit-langit mulut. Tetapi kurasa hanya itu satu-
satunya kata yang mirip.”
Aku tertawa karena merasa terlalu bersusah payah untuk menerangkan satu
kebetulan yang tidak bermakna banyak.
“Menurutku kamu sudah tidak sabar untuk mengikuti kursus bahasa
Swedia.”
Aku mengangguk-angguk.
“Mengapa kamu ingin belajar bahasa Swedia selain karena kamu tinggal di
sini?”
“Bahasa Swedia terdengar eksotis, seksi.”
“Kurasa setelah urusan persiapan kuliahmu selesai, kamu harus segera
mengurus person number.”
“Caranya?”
“Hanya perlu mengajukan aplikasi ke skatteverket.”
“Skatt apa?”
“Skatteverket. Kantor pajak. Dengan personal number, kamu bisa mengakses
perpustakaan, perbankan, urusan kesehatan. Kadang, otoritas skatteverket

datang ke kampus untuk menerima pendaftaran dari para mahasiswa
internasional yang baru tiba. Tetapi, lebih baik kamu tidak menunggu.”

“O, begitu?”
“Kamu juga bisa mengajukan pencetakan kartu identitas di skatteverket.”
“Kartu itu untuk apa?”
“Pengganti paspor. Artinya kamu tidak perlu membawa-bawa paspormu ke
mana-mana. Kartu itu juga bisa jadi alat legitimasi diri untuk berbagai urusan
semacam jual beli, perbankan, kesehatan, dan lainnya.”
“Banyak yang harus aku kerjakan rupanya?”
“Tanpa itu semua kebutuhanmu di Swedia menjadi sangat mahal.”
“O, ya?”
“Contohnya kursus bahasa Swedia yang gratis itu. Jika kamu tidak punya
nomor pribadi, kamu harus mencari kursus berbayar. Itu mahal.”
Aku mengangguk-angguk. “Aku harus segera mencari cara bertahan hidup
selain mengandalkan beasiswa,” aku segera teringat sesuatu, “… kamu tidak
menyanyi hari ini?”
“Aku melakukannya jika tidak terlalu sibuk saja.”
“Sewaktu kita bertemu kali pertama, aku juga melihat anak-anak yang
menyanyi di jalan bersama seorang dewasa, mungkin ayahnya. Aku cukup
terkejut karena kukira tidak akan menemukannya di Swedia.”
“Mengapa kamu berpikir begitu?”
“Di tempatku berasal, itu hal biasa. Aku sering melihat anak-anak yang lebih
kecil lagi ada di jalanan untuk mencari uang. Tetapi, Swedia adalah negara
maju, kehidupan tampaknya sangat menyenangkan bagi semua orang. Tetapi,
aku masih menemukan eksploitasi anak semacam itu.”
“Kamu salah, Kashmir.”
Aku sedikit tersentak. Pertama, karena aku merasa keceplosan mengkritik
sebuah masyarakat dan Nina tersinggung karena dia bagian dari masyarakat
itu. Kedua, karena aku tidak menyangka Nina akan sefrontal itu
menyalahkanku.
“Di sini, motivasi orang tua mengajak anak-anaknya tampil di jalan bukan
untuk uang. Mereka melatih anak-anaknya berani menunjukkan
kemampuannya di muka publik agar punya rasa percaya diri tinggi. Uang dari
penonton hanya bonus.”
Aku lega karena Nina menerangkan itu tanpa tampak gusar atau emosional.
“Kamu juga begitu?”

“Kalau aku memang mencari tambahan uang. Aku, kan, bukan anak kecil,”
Nina tertawa, “… aku datang dari desa, Kashmir. Keluargaku tidak begitu
setuju dengan pilihan program studiku. Aku tidak ingin membuat mereka
semakin tidak happy dengan meminta uang tambahan.”

Aku mengangguk-angguk lagi. Berjanji untuk lebih berhati-hati. Nina bukan
hanya seorang teman baru. Dia teman baru yang berasal dari kebudayaan
berbeda. Tuan rumah pula. Aku mesti lebih peka dalam bertanya.

“Kamu ada agenda setelah ini, Kashmir?”
Aku menggeleng. “Justru aku sedang berpikir bagaimana menghindar dari
kamarku.”
“Hmmm … apakah kamu tahu, dari T-Centralen, perhentian kereta
selanjutnya adalah Gamla Stan?”
“Gamla Stan?”
“Jangan-jangan kamu bahkan tidak tahu apa itu Gamla Stan?”
Aku menggeleng.
“Ya, ampun, Kashmir.”
“Aku benar-benar tidak tahu, Nina.”
“Semua orang tahu, jika kamu hanya punya waktu satu hari berada di
Stockholm, maka kamu harus ke Gamla Stan.”
“Well, aku punya waktu sekitar empat tahun. Apakah saran itu tetap berlaku.”
“Bunyi sarannya menjadi tempat pertama yang wajib kamu kunjungi.”
“Seistimewa itu?”
“Gamla Stan adalah pusat kota terbesar abad pertengahan dan masih
bertahan sampai sekarang.”
“Kota kuno?”
“Kota kuno yang cantik dan menarik jutaan wisatawan dari berbagai penjuru
dunia setiap tahun.”
Aku tersenyum, “Kamu mau menemaniku ke sana?”
“Tentu saja.”
Kereta berhenti di T-Centralen dan aku merasa telah memulai sebuah
petualangan.
“Apakah desamu sangat jauh dari Stockholm, Nina?”
“Sebagian besar penduduk di sana bahkan belum pernah pergi ke kota ini.”
“Benarkah?”
“Iya. Kami punya kehidupan yang sangat tenang dan menyenangkan.
Beberapa cara hidup kami sangat khas dan agak susah dipahami orang-orang

kota.”
“Misalnya?”
“Suatu saat kamu harus mengunjungi desaku saat Natal.”
“Mungkin saja.”
“Kamu punya waktu empat tahun, bukan? Banyak hal yang bisa terjadi.”
Aku tertawa. “Kamu benar.”
“Stockholm terasa hangat bagi penduduk desaku. Pada November, sebentar

lagi, siang di sana sangat pendek. Kamu berangkat tidur saat gelap, bangun
pun masih gelap.”

“Aku tidak tahu kalau dalam satu negara ada perbedaan iklim yang begitu
ekstrem.”

“Ini Swedia, bukan sembarang negara.” Nina membanggakan negaranya
tanpa terkesan sombong.

Bahuku terangkat sedikit sambil membuka mulut, pengganti tawa, “Aku
percaya.”

Kereta berangkat lagi.
Kali ini, penumpang lebih padat dibanding sebelumnya.
“Seseorang memberitahuku, ada banyak pilihan pekerjaan paruh waktu yang
bisa dikerjakan oleh mahasiswa di Swedia. Kamu tahu tentang itu, Nina?”
“Ya. Aku bekerja di panti jompo saat liburan musim panas.”
“Benarkah?”
“Upahnya bagus, pekerjaan tidak berat. Terutama jika kamu suka mengobrol
dengan orang tua.”
“Kurasa aku bisa melakukannya.”
“Tetapi, kamu harus lancar berbahasa Swedia. Karena semua penghuni panti
jompo adalah warga lokal.”
Aku menepuk dahi, “Ah … tentu saja.”
“Mahasiswa yang bekerja di restoran dan panti jompo hampir semua orang
asli Swedia. Sebab, mereka harus berkomunikasi dengan bahasa Swedia.”
“Paling tidak, motivasiku untuk kursus bahasa Swedia bertambah satu.”
Nina tersenyum, “Sepertinya kamu seorang pekerja keras, Kashmir.”
“Aku yatim piatu sejak bayi, Nina. Aku terbiasa bekerja untuk bertahan
hidup.”
“Aku ikut prihatin mendengarnya.”
“Tidak perlu. Aku sudah menerima takdir itu sejak lama.”
“Kamu sangat tegar, kurasa.”

“Tack.”
“Banyak peluang pekerjaan pada semua musim di Stockholm. Bersih-bersih,
mengantar koran, menempel iklan. Saingannya akan selalu banyak, tapi kamu
tetap punya peluang.”
“Semoga saja begitu.”
Perjalanan yang diisi obrolan terasa lebih cepat terlampaui. Kereta kami
berhenti di Stasiun Gamla Stan yang ramai. Nina segera bangun dan aku
menyusulnya. Kami berjalan depan belakang menuju eskalator ke luar. Akses
masuk-keluar stasiun seperti pintu mal di Bandung; kaca besar yang bisa
terbuka dan tertutup sendiri. Di atas pintu ada garis biru tua dengan tulisan
Gamla Stan putih dan semacam logo huruf T di sebelah kirinya.
Keluar dari stasiun, kaki langsung menjejak paving block kuno yang sekilas
seperti tak beraturan geometrinya, tetapi secara keseluruhan rapi dan apik. Ada
kios buah di depan stasiun. Satu-dua mobil sedan berjalan perlahan, pesepeda,
dan pejalan kaki menggunakan akses yang sama tanpa kekacauan lalu lintas.
Aku baru menyadari bahwa kami benar-benar sedang berjalan di atas pulau.
Maksudku, bagiku yang lahir besar di Jawa Barat, Pulau Jawa adalah daratan
luas yang garis pantainya tidak kusaksikan setiap hari. Aku bahkan melewatkan
acara piknik ke Pantai Pangandaran sehingga praktis aku belum pernah
melihat laut seumur hidup. Sedangkan, kami sekarang berjalan di lantai batu
yang tua dengan laut tampak di mana-mana. Pulau ini benar-benar dikelilingi
lautan. Maksudku pulau ini cukup kecil sehingga mudah untuk melihat
lautan.
“Apa nama pulau ini, Nina?” Sekarang aku menjejeri langkah Nina yang
tidak tergesa-gesa.
“Stadsholmen. Lihatlah ...,” Nina menunjuk ke jajaran bangunan tua warna-
warni di sepanjang pantai, “… menakjubkan, bukan?”
“Luar biasa.” Aku memang sungguh-sungguh terpana dengan apa yang
kusaksikan. Kukira para pengunjung lain merasakan ketakjuban yang sama.
Arus turis sore itu sangat ramai. Aku terperangkap dalam kegembiraan yang
menular.
Nina mengajakku masuk ke kompleks kota tua yang di sana, ratusan tahun
lalu, penduduk asli menjalani hari-hari. Berbagai bangunan tua, macam-
macam warna, membuatku mendongak karena menjulang tingginya. Entah
teknologi apa yang mereka gunakan hingga bangunan bertumpuk seperti itu
bisa bertahan hingga berabad-abad.

Bangunan-bangunan berwarna kuning, emas, sampai jingga, berselang-seling,
menempel satu sama lain, tanpa jeda. Gugusan bangunan itu dipisahkan gang
sempit yang memanjang, menciptakan labirin raksasa. Kebanyakan bangunan
berbentuk balok, dengan banyak kaca jendela. Benar-benar mengingatkanku
pada rumah boneka dari kayu berwarna merah muda yang dijual di Jalan
Rancaekek, Bandung.

“Jadi, tempat ini pernah benar-benar ditinggali?”
Aku memperlakukan Nina sebagai pemandu wisata dadakan.
“Raja, bangsawan, prajurit, rakyat biasa, semua tinggal di sini.”
Aku langsung memikirkan Majapahit. Kerajaan adidaya yang kekuasaannya
membentang sampai ke seberang samudra yang jejaknya tinggal sisa-sisa saja.
Kata Bu Imas, guru sejarahku yang legendaris, jangankan satu kota utuh
semacam ini, fondasi batu bata saja jadi jarahan pencuri.
“Pada ujung gang ini kita akan menemui sebuah alun-alun bersejarah.”
Tentu saja aku tidak berpikir, di alun-alun yang disebut Nina barusan berdiri
Masjid Agung, semacam di Bandung.
Gang antara jajaran bangunan ini tidak sangat sempit sebenarnya. Lima
sampai enam orang bisa berdiri bersama-sama dan masih terasa lega. Bebatuan
yang menyusun jalan bentuk dan teksturnya belum pernah kulihat. Bisa jadi
karena petualanganku yang belum memberi banyak pengalaman atau memang
batu-batu pipih itu sangat langka dan tua.
“Itu dia alun-alunnya.” Nina sangat bersemangat menerangkan segala yang
baru di mataku, “… namanya Lapangan Stortorget.”
Dia mengajakku bergabung dengan para wisatawan yang duduk-duduk santai
di tengah alun-alun sambil menyeruput kopi. Mereka yang menyeruput kopi.
Aku dan Nina hanya memandangi.
Banyak bangku kayu dengan sandaran di tengah lapangan. Kenyataannya,
alun-alun ini berbeda dengan alun-alun Bandung yang ditumbuhi rumput dan
dipenuhi pedagang asongan. Lapangan ini sepenuhnya berlantai paving block
kuno berwarna batu kali. Lebarnya pun mungkin hanya setengah dari rata-rata
alun-alun kota di Indonesia.
Ketika duduk di tengahnya, pemandangan sekeliling adalah bangunan-
bangunan tua dari berbagai abad. Latar belakang kami adalah dua bangunan
yang mencolok warnanya. Kuperkirakan dari posisi jendelanya, kedua
bangunan itu lima atau enam lantainya.
Pada gedung yang berwarna salem ke oranye, setiap lantai berjendela dua.

Sedangkan, gedung bercat merah bata di sebelahnya setiap lantai berjendela
tiga. Ukuran dan detail jendelanya sama persis. Persegi panjang yang
diberdirikan, dengan salib sempurna sebagai tulangnya. Kemudian, tulang besi
yang lebih kecil membuat kaca jendela berbentuk kotak-kotak kecil.

Sedangkan, bagian puncak kedua bangunan itu berbeda. Gedung dua jendela
puncaknya seperti busur yang tengkurap. Sedangkan, gedung berjendela tiga,
puncaknya runcing, lebih mendekati bentuk segitiga, tetapi tidak sempurna.

“Kebanyakan bangunan,” Nina mengelilingkan pandangannya, “… dibangun
pada abad ke-18. Dua ratus tahun lalu.”

Aku mengangguk-angguk saja.
“Di lapangan ini, tahun 1520 terjadi pemenggalan hampir seratus orang
lawan politik Raja Christian II.”
“Raja Swedia?”
“Denmark dan Swedia.”
Aku menatap Nina sungguh-sungguh. “Aku curiga, jangan-jangan kadang
kamu jadi pemandu wisata, Nina?”
Nina tertawa. “Mengapa kamu berpikir begitu?”
“Sepertinya kamu tahu banyak hal perihal sejarah Gamla Stan dan tempat-
tempat lain.”
“Memang,” Nina menoleh ke keriuhan kecil di sudut alun-alun. Sekelompok
anak-anak sedang bernyanyi dengan panduan gurunya. Orang-orang
mengerubungi mereka dengan antusias.
Nina kembali melihatku, “Aku melakukan banyak pekerjaan paruh waktu
untuk mewujudkan cita-citaku.”
“Sepertinya kamu punya cita-cita yang menarik.”
“Aku ingin pergi ke Afrika.”
“Afrika?”
Nina mengangguk. “Itu seperti get something out of your system. Aku ingin
pergi ke tempat orang-orang membutuhkanku.”
Udara dingin mengembusi wajahku. Aku mencoba memahami kalimat Nina
perlahan-lahan. Tidak ujug-ujug berkomentar.
“Kamu sudah merencanakan kapan akan berangkat?”
“Mungkin setelah lulus kuliah. Tetapi, aku akan menjajaki semua
kemungkinan.”
“Hatimu memang sangat mulia, Nina.”
“Aku merasakan kekosongan dalam kenyamanan, Kashmir. Kupikir, misi

kemanusiaan akan mengisinya.”
Pak Haji dulu sering memberitahuku hikmah bersedekah. Namun, aku tidak

pernah membayangkan jika memberi berarti menyerahkan hidup,
meninggalkan kemapanan, justru untuk mendatangi penderitaan.

“Hei …,” Nina mengoyak jeda pembicaraan kami, “… ceritakan tentang
Indonesia. Aku belum tahu apa-apa tentang negerimu.”

“Orang Indonesia suka tersenyum, makan nasi, pekerja keras. Kami pernah
dikuasai Belanda selama tiga setengah abad.”

“Benarkah?”
“Ja. Indonesia baru merdeka tahun 1945. Lepas dari Belanda dan Jepang.
Dulu dunia menyebut negeri kami sebagai Hindia Belanda.”
“Kadang aku tidak bisa membayangkan orang-orang zaman itu melakukan
pelayaran begitu jauh untuk menjajah bangsa lain.”
“Negeri kami beriklim tropis. Matahari bersinar sepanjang tahun, bahkan
pada musim hujan. Orang-orang Belanda kuno kurasa sangat senang berjemur
sehingga rela jauh-jauh pergi ke negeri kami dan bertahan tiga ratus lima
puluh tahun.”
Aku berharap Nina memahami kalimat satireku.
“Sebelum aku berangkat, seorang diktaktor baru saja mengundurkan diri
setelah tiga puluh dua tahun menguasai negeri kami.”
“Oh, ya?”
“Harga-harga meroket, mahasiswa turun ke jalan, kerusuhan SARA terjadi di
Ibu Kota. Kurasa tidak ada pilihan lain kecuali mundur.”
“Bagaimana dengan orang-orang terdekatmu?”
“Kami sudah terbiasa hidup sulit. Untungnya kerusuhan semacam itu tidak
terjadi di semua kota. Jadi, tantangan sebagian besar orang Indonesia adalah
bertahan hidup dalam ekonomi yang sulit. Mungkin untuk mereka yang
berwajah sepertiku, keadaannya jadi lebih rumit.”
“Seperti kamu? Maksudmu.”
“Orang Indonesia punya beragam etnis. Kelompok yang cukup sering
disalahpahami adalah mereka yang punya darah Cina sepertiku.”
“Mengapa?”
Aku menggeleng, “Aku tidak terlalu yakin. Korban kerusuhan besar-besaran
di Ibu Kota kami pun dari etnis Cina kebanyakan.”
“Dibunuh?”
“Dijarah dan dibakar tokonya, dibunuh orangnya, diperkosa perempuannya.”

“Ya, Tuhan. Mengapa bisa seperti itu?”
“Kurasa, SARA memang menjadi isu paling sensitif di Indonesia. Mungkin
ada kelompok-kelompok orang kuat yang kemudian memanfaatkan itu demi
kepentingan mereka.”
“Saat ini pun Swedia sedang menghadapi krisis. Tetapi, kurasa pemerintah
bisa mengelolanya dengan baik. Aku berdoa semoga negerimu damai dan
orang-orang menderita segera tertolong.”
“Terima kasih, Nina.”
“Allt kommer bli bra, Kashmir.”
Aku mengangkat dua alis, bertanya tanpa kata-kata.
“Semua akan baik-baik saja,” jawab Nina, mengerti maksudku.
Sejarah berdarah Lapangan Stortorget seolah-olah terhubung dengan cerita
yang baru saja kukatakan. Kulihat Nina sangat terpengaruh dengan ceritaku.
Dia berhenti bertanya perihal Indonesia. Selebihnya kami hanya menikmati
suasana.

Gh a 16

Rahas ia Madam Samantha

A “ssalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Saudaraku.”
Aa Ahmad menyambutku begitu aku masuk pintu kaca tokonya yang buram.
Aku masih belum terbiasa sewaktu dia memeluk begitu erat dan mengecup
dua pipiku dengan kuat, sampai berbunyi. Dia mengenakan gamis yang
memanjang hingga pangkal sepatu. Warnanya kelabu.

“Bagaimana kabarmu, Kashmir?”
“Alhamdulillah, Aa Ahmad, Allah melindungi saya.”
Aa Ahmad awalnya melarangku memanggil dia “mister” yang kuterjemahkan
dalam batin sebagai pengganti kata ‘pak’, tetapi aku bersikeras menyebutnya
begitu. Aku tidak biasa memanggil orang lebih tua dengan namanya saja. Lalu,
dia bertanya kepadaku, bagaimana orang Indonesia menerjemahkan kata
brother?
Aku menjawab dengan mantap, di kampungku orang yang lebih muda
memanggil seniornya Aa. Maka, sejak hari pertama berkenalan, aku resmi
memanggilnya Aa Ahmad karena Khan itu nama bapaknya, kakeknya, bapak
dari kakeknya, kakek dari kakek kakeknya.
“Bagaimana kuliahmu?”
“Saya kira mulai terkendali.”
Aa Ahmad menepuk bahuku. “Kamu sudah urus personal number?”
Aku mengangguk. “Alhamdulillah. Pekan lalu. ID card saya juga sudah
keluar. Saya sekarang merasa jauh lebih tenang.”
“Alhamdulillah.”

Berkali-kali mendatangi toko ini selama satu bulan pertama membuatku
banyak bercerita. Kepada Aa Ahmad aku bercerita bahwa aku sedang
mengurus ID card dan personal number beberapa minggu lalu. Itu
membuatnya tahu setiap perkembanganku.

Aku sudah bisa menjalani keseharian seperti orang Swedia kebanyakan.
Punya hak dan kewajiban yang sama. Aku bahkan sudah punya rekening di
Färs och Frosta Sparbank. Sehari lalu, uang biaya hidup dalam paket
beasiswaku sudah cair dan pikiran pertamaku adalah mengembalikan uang
pinjaman kepada Pak Suganda.

“Kamu segera bisa mengikuti kursus bahasa Swedia.”
“Saya sudah tidak sabar. Tapi, saya rasa ada keperluan yang ingin saya
dahulukan.”
“Apa itu?”
“Saya ingin membeli sepeda. Setidaknya saya menghemat biaya kereta,
sekaligus berolahraga.”
“Kamu sungguh memerlukannya?”
“Tentu saja.”
“Ikut saya ….” Aa Ahmad mengajakku menuju pintu belakang. Bagian
belakang toko adalah gang buntu yang dimanfaatkan untuk gudang. Segera
mataku menemukan sepeda di sana.
“Saya memakainya terakhir musim dingin tahun lalu. Jalan licin dan saya
terjatuh. Setelah itu tampaknya saya trauma bersepeda.”
Aku menghampiri sepeda itu dan segera menyukainya. Bahkan, aku jatuh
hati dengan keranjang yang melekat di bagian depannya. Meski memang tidak
ada alasan bagiku untuk tidak menyukai apa pun dengan keterbatasanku saat
ini. Aku coba menaiki sepeda itu dan menginjak pedal. Merasakan putaran
rodanya. “Masih sangat bagus, Aa Ahmad.”
“Memang tidak rusak. Saya yang cedera. Sepeda itu tidak apa-apa.” Aa
Ahmad tertawa.
“Tetapi, saya rasa sepeda ini terlalu bagus. Saya tidak akan sanggup
membelinya.”
“Kamu pakai saja. Lalu, kamu cicil pembayarannya sesuai kemampuanmu.”
“Masya Allah, Aa Ahmad. Serius?”
“Tentu saja. Saya tidak ingin menjualnya kepada orang lain. Tetapi, kepada
saudaraku, aku akan rela melepaskannya.”
Aku turun dari sepeda, lalu segera memeluk Aa Ahmad. Mungkin itu kali

pertama aku memeluknya dengan penuh penjiwaan. “Terima kasih, Akhi.”
“Berterimakasihlah kepada Allah.”
“Alhamdulillah.”
Kami sama-sama tertawa.
“Saya langsung bisa membawa barang belanjaan dengan sepeda.”
“Tentu saja, Kashmir. Kamu sudah memutuskan untuk berbelanja apa?”
“Saya akan mulai memasak sendiri, Aa Ahmad. Barangkali kamu bisa

mengajariku resep India.”
“Tentu saja. Nasi beriani adalah menu paling mudah dan enak. Saya akan

mengajari kamu.”
Aa Ahmad membuka pintu dan aku menuntun sepeda keluar melalui bagian

dalam tokonya. Melewati rak-rak dagangannya.
“Kamu gembok dulu di depan toko.” Aa Ahmad mengambil gembok sepeda

dari laci mejanya, dia serahkan kepadaku.
“Terima kasih.”
Aku benar-benar merasa beban pikiranku terangkat bersamaan. Syarat

kependudukanku yang sudah selesai, utang ke Pak Suganda yang segera bisa
kukembalikan, lalu sepeda ini. Aku bisa menghemat banyak pengeluaran
dengan sepeda ini. Selain itu, tentu saja peluangku mencari pekerjaan jadi
lebih terbuka.

Aku menggembok roda sepeda dan menyandarkannya di dinding toko. Tidak
ada pagar, palang besi, atau tambatan khusus sepeda yang bisa kugunakan.
Kurasa lingkungan ini aman dari tindak kejahatan, seperti umumnya di
Swedia.

“Kamu jadi memasak nasi beriani, Kashmir?”
“Tentu saja.”
Aa Ahmad lalu duduk di belakang meja, menuliskan sesuatu di atas kertas.
“Yang kamu butuhkan adalah bawang bombai, yoghurt, tomat, beras basmati,
dan kaldu.”
“Itu saja?”
Aa Ahmad mengangguk. “Dan, tentu saja lidah yang peka.” Dia tertawa.
Aku ikut tertawa sambil mengambil keranjang belanja. Kemudian, aku
menghampiri rak-rak bahan makanan. Aku mencari beras basmati. Beras jenis
sama yang menghidupiku sejak minggu pertama tinggal di Swedia. Kutanak
sejadinya yang penting cukup lunak untuk teman makan Indomie. Sayangnya,
tekstur nasi India ini masih terlalu keras untukku. Kurasa resep Aa Ahmad

akan membantuku memasak beras ini dengan benar.
Beberapa pelanggan masuk ke toko dan menanyakan stok beberapa barang,

sewaktu aku mengambil bawang bombai dan tomat. Tomat di toko Aa Ahmad
berkali lipat lebih murah dibanding produk sama yang dijual di supermarket
waralaba. Tetapi, memang pengunjung toko ini kebanyakan sesama orang Asia
yang mencari bahan dapur dengan harga di bawah pasaran.

“Sudah semua?”
Setelah keranjangku penuh, aku kembali ke meja Aa Ahmad. Aku menaruh
keranjang belanjaan di atas meja. Aa Ahmad mulai menghitung total harganya.
“Ini saya tuliskan cara memasak nasi beriani,” kata Aa Ahmad setelah
menyebut total belanjaanku. Aku membayarnya dengan lembar pecahan 20
SEK.
“Saya berutang budi kepadamu, Aa Ahmad.”
“Masya Allah. Ini hanya pertolongan kecil, Kashmir.”
“Ditambah sepeda itu, tentu pertolongan yang sangat besar. Semoga Allah
memberkahi hidupmu.”
“Amin. Begitu juga kepadamu.”
Aa Ahmad lalu memasukkan seluruh belanjaanku ke tas belanja besar yang
dia hadiahkan kepadaku beberapa waktu lalu. Aku merasakan semangat yang
menderu-deru begitu keluar dari toko. Aku letakkan belanjaanku di keranjang
sepeda.
Aa Ahmad tersenyum di pintu. Tampaknya dia sangat bahagia karena
membantuku.
“Hati-hati dengan pengalaman pertamamu bersepeda di Swedia, Kashmir.”
Aku tersenyum setulus-tulusnya. “Tentu. Doakan saya selalu selamat.”
“Belilah helm untuk keamananmu.”
“Tentu, tentu,” aku siap untuk berangkat, “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku ingin menikmati saat pertamaku mengayuh sepeda di kota tua ini.
Sensasinya sungguh luar biasa. Pemandangan kota di kanan dan kiri tampak
berbeda ketika kunikmati dalam kecepatan bersepeda. Lebih cepat bergerak,
tetapi juga tidak buru-buru.
Perjalanan tiga blok menuju asramaku pun jauh lebih cepat dan
menyenangkan. Aku merasa bangga meski perasaan itu tidak kutujukan
kepada siapa-siapa. Ketika aku jejerkan sepeda baruku di antara sepeda lain
yang parkir di depan asrama, aku merasa baru saja diterima sebagai bagian tak

terpisahkan dari peradaban baru ini.
Aku menjadi sangat bersemangat dan percaya diri untuk melakukan apa saja

saat ini. Ketika aku masuk pintu asrama, beberapa penghuni lain justru
hendak keluar. Aku menyapa mereka meski tidak mengharapkan balasan kata.

Ana, gadis Rusia yang semampai dan amat suka bercelana pendek itu
membalas sapaku meski dengan wajah yang muram. Aku terus naik ke lantai
dua mampir ke dapur sebelum menyambangi kamar.

Ini cara yang baru dan cukup menerangkan mengapa beras basmati yang
selama ini kumakan dengan Indomie keras bukan main. Aku melewatkan satu
tahapan yang tertulis di kertas resep Aa Ahmad. Mestinya aku merendam
beras, yang lebih panjang butirannya dibanding beras Cianjur ini, di dalam air
selama lima belas menit.

Aku sedikit bersiul ketika masuk ke dapur. Tidak ada yang sedang memasak.
Hanya, kulihat Chris dan Philip; mahasiswa dari Jerman sedang bersantai
sambil menonton televisi.

“Saya akan memasak menu India. Apakah ada dari kalian yang ingin
mencicipi?”

Aku mulai tidak peduli dengan reaksi mereka setiap aku sok akrab menyapa
atau melibatkan mereka dalam perbincangan ringan.

“Pastikan dulu masakanmu enak,” komentar Philip si rambut perak.
Aku menganggapnya sebagai gurauan. “Kalau begitu aku akan makan sendiri
malam ini.”
Mereka tak menanggapi lagi. Asyik menonton televisi.
Aku membuka kemasan beras satu kiloan dan mengambil dua gelas.
Kurendam dalam mangkuk rice cooker. Lima belas menit cukup lama. Aku bisa
kembali ke kamar dulu untuk mengerjakan beberapa hal.
“Saya akan kembali lima belas menit lagi. Tolong jika ada yang mau memakai
peralatan, saya akan membutuhkannya lima belas menit setelah ini.”
Philip mengangkat satu tangan tanda mendengarkan.
“Oh, iya, Philip. Kamu pernah menelepon keluargamu dari asrama?”
“Your guess is as good as mine.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak tahu. Demi Tuhan perbaikilah bahasa Inggrismu, Kash.”
“Kalau kamu tidak tahu katakan saja I don’t know.”
“Mintalah kamus idiom berhenti terbit.”
Aku menoleh ke Chris. “Chris?”

Chris menggeleng. “Kalau menelepon pacarku, sudah beberapa kali.”
“Ke Amerika?”
Dia mengangguk.
“Iya, maksudku itu. Bagaimana caranya. Maksudku prosedurnya.”
“Ke ruangan pengelola saja.”
“Oke, thank you.” Akhirnya, ada jawaban sederhana, langsung ke intinya, dan
membantu.
Aku lalu menuju kamarku. Menyimpan bahan makanan, lalu membuka
koper besarku. Aku tak menghafal nomor telepon Pak Suganda dan telah
mencatatnya dalam sebuah kartu yang kusimpan di situ.
Ketika akhirnya kutemukan kartu itu, aku merasa sangat lega. Aku perlu
untuk menelepon dia begitu uang telah siap kutransfer ke rekeningnya.
Sebelum berangkat ke Swedia, aku mau menerima bantuan keluarga baik hati
itu dengan syarat bahwa aku akan membayarkan pinjaman mereka begitu uang
beasiswa bulan pertama cair. Pak Suganda terpaksa menyerahkan nomor
rekeningnya karena aku pilih tidak menerima bantuannya jika dia tidak mau
menuliskan nomor rekening pribadi yang dia punya.
Aku lalu keluar kamar, menuju ruangan pengelola asrama di lantai satu.
Ruangan itu ada di belakang lobi persis. Hanya ruangan berpartisi setinggi
dada, tidak ada pintu yang mesti kuketuk.
“Permisi, Madam.” Madam Samantha sedang sibuk menulis catatan seperti
biasa. Aku tidak pernah ingin tahu atau berniat bertanya, sebenarnya dia
sedang menuliskan apa. Setiap aku melihatnya selama satu bulan ini, dia selalu
dalam aktivitas sama. Menuliskan sesuatu di buku besarnya.
“Ya?”
“Saya perlu untuk melakukan panggilan internasional.”
Madam Sam menunjuk meja telepon. “Kamu catat nomor yang kamu tuju
dan tulis durasinya. Bulan depan kamu bayar tagihannya.”
Aku mengangguk sambil berterima kasih. Aku lalu duduk di sebelah meja
telepon. Kuperkirakan, karena waktu di Indonesia bergerak lima jam lebih
dulu dibanding di Swedia, Bandung sudah malam saat sekarang. Kutekan
kombinasi nomor didahului kode 62 dan segera terdengar nada sambung di
telingaku.
“Halo.” Suara di seberang. Aku yakin itu suara Pak Suganda.
“Assalamualaikum, Pak. Ini Kashmir, Pak.”
“Waalaikumsalam, Kashmir. Wah, senang sekali mendengar suaramu.

Bagaimana kabar kamu di Stockholm?”
“Alhamdulillah mulai beradaptasi, Pak.”
“Bagus … bagus. Kuliah bagaimana?”
“Semua lancar, Pak. Paling kendala di bahasa sedikit-sedikit.”
“Kamu pasti bisa.”
“Insya Allah, Pak. Oh, iya, Pak. Saya mau menyampaikan, beasiswa saya

sudah turun. Jadi, rencana saya mau mengembalikan uang pinjaman ke
Bapak.”

“Tidak usah kamu pikirkan itu dulu, Kashmir. Kamu masih perlu biaya untuk
berjaga-jaga, kan? Uang beasiswa, jumlahnya, kan, mepet sekali.”

“Insya Allah bisa saya atur, Pak. Saya sudah punya sepeda, jadi bisa untuk
usaha mencari kerja paruh waktu. Sekalian menghemat biaya transportasi.”

“Hebat kamu, Kash, sudah bisa beli sepeda.”
“Ada kenalan baik hati, Pak. Baru hari ini saya ambil sepedanya.
Pembayarannya dicicil semampu saya.”
“Alhamdulillah. Kamu anak baik, akan selalu dipertemukan dengan orang
baik.”
“Amin. Insya Allah, Pak.”
“Oh, iya. Bagaimana Mulyana. Kalian sering bertemu?”
Aku bingung menjawabnya.
“Cuma waktu penjemputan, Pak. Beliau sepertinya sangat sibuk. Tetapi,
tidak apa-apa, Pak. Saya banyak bertemu teman baru.”
“Wah, begitu? Padahal, saya sudah titip pesan agar dia menemani kamu sampai
terbiasa dengan Stockholm.”
“Tidak masalah, Pak. Malah kalau ada yang menemani terus saya tidak cepat
mandiri.”
Pak Suganda tertawa. Entah apa artinya.
“Begitu dulu, ya, Pak. Punten tidak bisa lama.”
“Oh, iya, tidak apa-apa. Telepon internasional tentu mahal. Oke. Oke.”
“Secepatnya saya transfer, Pak. Titip salam untuk Pak Sugema. Kapan-kapan
saya telepon beliau.”
“Baik, Kash. Akan saya sampaikan. Kamu jaga diri baik-baik, ya.”
“Baik, Pak. Hatur nuhun. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku menutup telepon. Ketika aku menoleh kepada Madam Sam, dia pun
sedang menatapku.

“Itu tadi bahasa Indonesia?”
“Ja.”
“Indah sekali terdengarnya.”
Aku tersengal tawa. Tidak menyangka Madam Sam mengatakan pujian itu.
“Oh, iya? Terima kasih, Ma’am.”
“Jangan lupa bulan depan sisihkan uang untuk tagihanmu.”
“Siap, Madam.”
Aku baru saja hendak bangun dari kursi ketika suara jeritan dan tangisan
mengagetkanku. Jeritan dan tangisan yang riuh, jauh dan dekat. Semakin lama
semakin kencang dan mengerikan.
Aku terpaku.
“Bukan apa-apa,” komentar Madam Sam.
“Apakah ada yang tidak beres, Madam?”
“Itu tradisi di asrama ini.”
Madam Sam kembali menulis.
“Tradisi menangis dan menjerit-jerit?”
“Kamu akan terbiasa,” dingin dan datar nada bicara Madam Samantha, “…
anak-anak di sini diberi kesempatan untuk menumpahkan stres mereka
menghadapi ujian dan tugas kuliah.”
“Dengan menjerit dan menangis?”
“Itu terbukti membantu mereka mengurangi ketegangan.”
Aku masih tidak percaya. Apakah Madam Sam menyembunyikan sesuatu di
balik ketenangannya?
Aku meninggalkan ruang pengelola asrama dan kembali ke dapur. Sampai di
sana, tidak ada seorang pun yang tinggal. Aku menyiapkan peralatan
memasakku yang mulai lengkap macamnya. Semuanya kusimpan di dapur dan
seluruh penghuni asrama kubolehkan memakainya. Toh, tak banyak dari
mereka yang memasak makanannya sendiri.
Suara jeritan dan tangisan itu masih terdengar. Suara laki-laki yang berteriak
marah, tangis para mahasiswi yang aneh dan dramatis. Aku mencoba untuk
mengabaikannya.
Aku panaskan minyak di wajan sembari kuiris bawang bombai sebisaku. Ini
bukan kompetisi memasak, jadi aku bisa memakai gayaku sendiri. Menuruti
cara memasak yang ditulis Aa Ahmad, potongan bawang bombai kumasukkan
ke minyak panas dan mulai kutumis, sebisaku. Intinya bawang itu dibolak-
balik sampai layu. Setelahnya kumasukkan tomat.

Sementara dua bahan itu mencoba bekerja sama di dalam wajan, aku
mendidihkan air dalam panci. Aku menghitung domba khayalan, satu sampai
seratus. Ketika airnya mendidih, aku masukkan kaldu sapi berbentuk balok
padat macam terasi. Berturut-turut aku masukkan yoghurt dan daging. Api
kunyalakan kecil saja, agar nasinya matang merata. Jika apinya terlalu besar,
kaldunya menguap, nasinya akan tetap keras dan gosong. Sekarang tinggal
menunggu air kaldunya meresap, dan nasi berianiku siap.

Jeritan dan teriakan horor itu masih terdengar sesekali. Semakin lama
semakin sedikit. Aku menonton acara televisi selama tiga puluh menit ketika
aku mengingat sesuatu yang hampir menghentikan jantungku.

Aku lupa memasukkan berasnya.

PERPUSTAKAAN umum di Kota Stockholm seperti sebuah dongeng yang
menjadi nyata. Tidak terbayangkan, bagiku. Jadi, sewaktu berada di dalamnya,
mengalami sendiri, aku seperti terperangkap dalam mimpi. Bagian utama
perpustakaan ini adalah lingkaran sempurna, dengan teras-teras bertingkat
pada pinggirnya. Setiap teras berdinding rak-rak buku. Saking banyak
koleksinya, tampak seperti ribuan kaset yang disusun rapi.

Teras tiga tingkat itu berpagar besi, memberi keamanan bagi yang melintasi.
Dari lantai dasar, tempatku berkumpul dengan Rin dan Gerard, ada tangga
dua kaki, menyerupai segitiga menuju teras kedua.

Di bawah “dasar segitiga” itu terdapat tangga lain menuju pintu keluar
perpustakaan. Lalu, di kaki kanan “segitiga”, ada panggung dengan tiga baris
bangku yang semakin ke belakang semakin melengkung bentuknya. Mungkin
tempat untuk bedah buku atau pentas sastra. Meja-meja dengan komputer,
tanpa kursi, diisi pengunjung yang sedang mengecek judul buku atau penulis
yang mereka cari.

Sedangkan kami bertiga, telah menghabiskan berjam-jam dalam
kebingungan. Aku, Rin Samawatsu dari Jepang, dan Gerard Lambert dari
Irlandia, sedari tadi menunggu inspirasi yang tidak kunjung menghampiri.
Kami duduk mengelilingi meja, di sana menumpuk beberapa buku yang kami
bahas satu per satu.

Gerard mungkin salah memilih buku, karena dia lebih banyak mengambil

buku yang dia mau dan bukan buku yang kami perlu. Di depan kepalanya
yang menelungkup di meja, ada dua buku yang menggeletak percuma. e
Norton Manual of Music Notation tulisan George Heussenstamn dan karya
Charles Rosen, Sonata Forms.

Aku tidak tahu apakah buku kedua yang dia pilih punya hubungan dengan
grup milik Rhoma Irama atau tidak.

Rin, dengan ekspresi Sailor Moon-nya yang selalu tertarik dan apresiatif
terhadap apa pun, lebih banyak menumpuk buku. Di antaranya, Scales,
Intervals, Keys, Triads, Rhythm and Meter, dan Basic Harmonic Progressions. Dia
memilih dua buku itu karena keduanya ditulis bersama oleh Clough & Joyce
Conley. Buku-buku lainnya belum dia buka. Termasuk satu novel berhuruf
kanji, bergambar kebun sakura dengan latar belakang bangunan Stockholm.
Ini agak kontradiktif.

Aku? Pilihanku hanya dua buku. A Guide to Musical Styles milik Douglas
Moore. Satu lagi novel terjemahan berjudul Dödssynden. Alasannya, judul dan
sampul buku pertama mirip-mirip buku panduan memainkan melodi gitar
yang pernah Rusi hadiahkan kepadaku. Sedangkan novel itu sudut
pandangnya seorang bocah delapan atau sembilan tahun. Bahasanya masih
sederhana. Memudahkanku memahami bahasa Swedia.

Itulah mengapa semenjak datang, kami masih belum bersepakat menentukan
topik presentasi kami nanti. Seluruh mahasiswa di kelasku dibagi dalam
kelompok kecil masing-masing terdiri atas tiga orang. Kami harus membuat
makalah seputar teknologi dalam musik.

“Jika kita tidak berpikir di luar kotak, kurasa, makalah kita tidak akan
mencuri perhatian,” kata Gerard. Dia berkali-kali mengelus brewoknya yang
agak mengerikan. “Ini seperti wrap your head around something.”

“Tidak ada yang rumit, Gerard.” Rin dengan ekspresinya yang kadang
berlebihan berkomentar, “Kita ada di abad komputer, bukan? Teknologi yang
paling relevan tentu saja komputer. Aku kira membahas peluang teknologi
komputer bagi industri musik akan sangat menarik.”

“Kamu benar, Rin,” kata Gerard, “… tapi aku khawatir kelompok lain akan
berpikir sama.”

“Bagaimana supaya kita berbeda?” Rin menyipitkan kedua matanya.
“Kashmir …,” Gerard mengangkat alis, “… menurutmu?”
“Aku punya pendapat sendiri, tapi tidak yakin kalian akan berpikir ini ide
bagus.”

“Katakan saja.” Gerard terkesan ingin tahu.
“Kashmir, kamu pasti bisa.” Rin bertepuk tangan tanpa suara. Seperti biasa.
“Aku justru terpikir untuk menulis tentang teknologi masa lalu.”
Gerard menggaruk hidung. “Maksudmu?”
“Bukankah menarik untuk kita tahu bagaimana orang-orang pada masa lalu
menggunakan teknologi untuk menciptakan musik. Kita pun melakukan hal
yang sama pada konteks zaman ini.”
Rin berusaha mengikuti alur berpikirku. “Bisa lebih spesi k, Kashmir?”
“Di tempatku berasal, ada alat musik bernama angklung. Dipergunakan sejak
ribuan tahun lalu. Angklung berbahan bambu, dimainkan dengan cara
digoyangkan. Angklung adalah contoh bagaimana orang masa itu memakai
teknologi sederhana untuk menciptakan musik.”
“Premisnya apa?”
“Angklung adalah alat musik hasil teknologi.”
“Semua alat musik klasik adalah hasil teknologi?” Rin tidak yakin dengan
premis mayornya.
“Apa yang ingin kamu gali dari topik itu?” Gerard berlagak seolah-olah
seorang panelis yang sedang menguji.
“Menjawab kekhawatiranmu, Gerard. Agar presentasi kita tidak terjebak pada
pemahaman teknologi masa kini. Agar kita bisa mengeksplorasi hasil budaya
masa lalu untuk perkembangan musik masa depan.”
“You can say that again,” Gerard mengangguk-angguk, “menurutku ide
bagus.”
“Yeee ....” Rin bertepuk tangan lagi. Ada suaranya kali ini.
“Aku akan berikan bahannya kepadamu.”
Gerard memundurkan kepalanya. “Kepadaku? Itu idemu. Kamu yang
melakukan presentasi. Aku dan Rin membereskan sisanya.”
“Bahasa Inggrisku buruk, Gerard. Kosakataku sangat terbatas dan tidak
ilmiah.”
“Itu dia … kamu menyiapkan presentasi, aku mengedit bahasa Inggrismu,
dan Rin …?”
“Aku akan menyiapkan gambar-gambar pendukung dari internet.”
Gerard mengentakkan telunjuknya, mengganti kata eureka!
Aku lemas seketika.

“HEJ.”
Nina semacam muncul tiba-tiba sewaktu aku hendak menggembok sepedaku

di depan asrama.
“Halo, Nina.”
“Pantas saja aku sudah tidak melihatmu lagi di kereta. Kamu sudah punya

sepeda.”
“Maaf belum memberitahumu. Aku beruntung ada seorang dermawan

menjualnya dengan cara yang memudahkanku.”
“Syukurlah,” Nina menyodorkan segepok kertas kepadaku, “… aku

mengumpulkan brosur untukmu.”
“Brosur?” Aku menerimanya sembari bertanya-tanya.
“Lowongan pekerjaan. Kuharap berguna untukmu.”
“Astaga, Nina,” aku membalik-balik lembaran brosur macam-macam warna

itu sekilas, “kamu baik sekali.”
“Aku melepasnya acak dari beberapa tempat. Tidak menyeleksinya lebih

dulu. Tetapi, semoga ada yang cocok untukmu.”
Aku agak mengacungkan kertas-kertas itu. “Ini sudah sangat membantu,

Nina. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama …,” dia tampak hendak bersiap-siap pergi, “… di kertas paling

atas, aku sudah tuliskan nomor telepon asrama jika kamu sewaktu-waktu
membutuhkanku.”

Aku memeriksa kertas yang Nina maksud. “Kamu benar. Aku
menemukannya. Aku akan menghubungimu.”

“Baiklah …,” Nina tersenyum tulus, “… sampai bertemu lagi, Kashmir.”
“Semoga segera, Nina.”
Nina meninggalkanku dengan langkah yang tak terburu-buru. Aku tak sabar
hendak membaca dengan teliti setiap lembar pengumuman lowongan
pekerjaan itu. Segera setelah memastikan sepedaku tergembok aman, aku lalu
masuk asrama.
“Hei, Kashmir.”
Pablo, anak muda Spanyol yang kamarnya ada di sebelahku, baru saja hendak
keluar asrama. Dia membawa botol kosong berukuran besar. “Aku dengar

kamu mengumpulkan botol-botol plastik?”
“Ja. Daripada mengotori kamar kalian, aku akan membereskannya.”
Dia memberikan botol bekas minuman ringannya. “Ambil punyaku. Di

kamar masih ada bekas kaleng bir jika kamu mau.”
Aku menerima botol itu. “Sisihkan saja sampahmu, nanti aku mampir ke

kamarmu.”
“Oke.” Pablo berlalu buru-buru. Rambut belah tengahnya memantul-mantul

karena cara jalannya begitu.
Aku memelesat ke kamar. Tidak sabar untuk menemukan pekerjaan baruku.

Setelah menutup pintu, aku membanting diri ke tempat tidur. Lalu, aku mulai
menyeleksi mana jenis pekerjaan yang bisa segera kulamar.

Pertama, mengantar makanan ke pelanggan. Sangat menarik dan masuk
prioritas. Sebab, aku sudah memiliki sepeda, dan siap mengayuhnya ke mana
saja.

Aku menyimpan brosur itu.
Kedua, kerja di kafe. Menarik. Kedengarannya pun sangat keren. Mungkin
aku bisa mencoba melamarnya. Menjadi pelayan kafe cukup menjanjikan. Aku
meletakkannya di atas brosur sebelumnya.
Brosur ketiga … astaga. Menjaga anjing peliharaan. Aku sama sekali tidak
membacanya. Aku remas kertas itu, lalu melemparnya ke pojok kamar. Aku
bukan pembenci anjing. Hanya saja aku tidak mungkin berurusan dengan
binatang itu. Membayangkan air liur najisnya yang terus menetes, gigi-giginya
yang mungkin berabies, gonggongannya yang mengganggu, meyakinkanku
untuk tidak pernah berhubungan dengan binatang itu. Apalagi menjaganya,
mengajak bermain, itu tidak akan pernah terjadi.
Brosur selanjutnya sungguh unik. Lowongan pekerjaan untuk menempelkan
dan membagikan pam et atau brosur. Aku menyimpannya. Lowongan satunya
sangat menantang. Menjadi kelinci percobaan para peneliti. Ini pantas dicoba.
Jika penelitiannya tidak berkaitan dengan jenis obat yang belum teruji, kukira
aku bisa terlibat di dalamnya.
Nina benar-benar penyelamat hidupku. Pilihan pekerjaan ini rasanya tidak
akan menyulitkanku. Aku bahkan cukup yakin bisa mendapatkan dua atau
tiga pekerjaan sekaligus. Beberapa brosur lain aku simpan sebagai cadangan.
Aku menjadikannya prioritas kedua karena ada satu-dua kendala jika aku
hendak melamarnya.

TUJUAN pertamaku adalah Skeppsbron. Ini daerah pelabuhan di belakang
Gamla Stan. Sepedaku meluncur tenang, aku pun menyisihkan semangatku
sebagian untuk menikmati pemandangan. Daerah ini seolah halaman belakang
Gamla Stan yang terkenal. Area pelabuhan yang beraroma asin air laut dan
riuh oleh suara camar yang berkelompok-kelompok.

Dari jok sepeda aku melihat Royal Palace berdiri megah dengan ratusan
kamarnya. Rata atapnya seperti Tembok Cina dengan detail mengesankan.
Ratusan jendela berjajar mengingatkanku pada lengkungan jendela masjid di
kampung. Bedanya, lengkungan jendela istana ini dilengkapi kerumitan kusen
kaca, dan keramik dinding yang dari jauh tampak seperti jaring laba-laba.

Setelah aku melewati istana, pemandangan berganti kapal-kapal mewah
mengapung di perairan biru Dermaga Skeppsbron. Di kejauhan, di batas
panorama, tampak pulau dengan hutan memerah dan bangunan-bangunan
kuno. Nina memberitahuku, pulau cantik itu bernama Skeppsholmen.

Aku menghentikan sepeda demi memeriksa lagi alamat restoran yang
membutuhkan jasa pengantar makanan itu. Setelah menengok ke sana-sini,
aku lalu mengayuh sepedaku lagi. Merasa berada di jalur yang benar. Aku
segera menemukan kepastian letak restoran itu begitu aku lihat plang besar
Grand Hotel. Letak restoran itu ada di tengah antara Grand Hotel dan
National Museum.

Restoran Italia rupanya. Tidak terlalu besar. Terjepit di antara restoran lain
dengan beragam menu dan atraksi menarik perhatian. Sore mulai larut ketika
aku mengamankan sepeda, lalu nekat mendorong pintu kaca, mencari orang
untuk kutanya.

“Saya membaca lowongan pekerjaan di sini,” aku menunjukkan brosur
kepada penerima tamu, “… adakah yang bisa saya temui untuk bertanya lebih
lanjut?”

Lelaki muda penerima tamu yang sepertinya merangkap jadi pelayan itu
mengangguk kaku dan menunjuk ke sebuah meja di sudut ruangan.
Sepertinya, dia anak muda Swedia yang bahasa Inggrisnya satu tingkat
denganku; pas-pasan. “Di sana,” katanya.

“Tack,” jawabku sembari meninggalkannya.

Restoran masih sepi. Hanya dua meja yang terisi. Sepasang orang tua yang
masih mesra dan pasangan paruh baya yang sepertinya sedang
mempertengkarkan hal sepele.

“God kväll.”
Aku mencoba mengesankan bapak-bapak yang duduk di belakang meja itu
dengan menyapa selamat malam dalam bahasanya. Dia menjawab dengan
kesan wajah yang datar.
Aku meletakkan brosur itu di meja. “Saya datang setelah membaca lowongan
pekerjaan ini.”
Dia bertanya dalam bahasa Swedia yang cepat dan sulit.
“Saya lebih mengerti bahasa Inggris.”
“Kamu punya personal number?”
“Tentu, Pak.”
“ID card?”
“Ada.”
“Kami memang membutuhkan pengantar pesanan makanan, tetapi untuk
sekarang jumlahnya sudah mencukupi.”
Aku agak bingung hubungan kalimat panjang bapak berambut pirang tipis,
berdahi lipat, bermata muram ini dengan pertanyaannya mengenai ID card
dan personal number-ku.
“Jadi lowongannya sudah terisi, Pak?”
“Kami masih perlu orang untuk musim dingin.”
“Satu bulan lagi?”
“Paling cepat.”
Aku kebingungan sendiri. “Jadi Anda memasang iklan lowongan untuk
musim dingin?”
“Kira-kira begitu.”
“Tetapi, saya perlu pekerjaan sekarang.”
“Kami perlu karyawan musim dingin mendatang.”
Krik … krik … krik.

AKU meninggalkan Skeppsbron dengan tergesa-gesa karena harus segera
sampai ke target yang kedua. Jaraknya tidak jauh. Jalan Västerlånggatan. Masih

satu kawasan dengan Gamla Stan.
Aku berusaha cepat melupakan bapak-bapak restoran Italia itu. Dia tidak

bersalah. Aku tidak perlu kesal hanya karena dia tidak bisa menerimaku
dengan serta-merta. Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi pada musim
dingin nanti. Jadi, aku pun tidak mengiakan tawarannya. Agak mengerikan
kalau aku menyetujuinya begitu saja, sedangkan bentuk salju dan akibatnya
terhadap roda sepedaku pun aku tak tahu. Bagaimanapun, aku menerima
kartu nama yang dia berikan. Dia tampaknya begitu putus asa menghadapi
musim dingin dan fenomena sedikitnya orang yang mau bekerja pada waktu
itu.

Sekarang, saatnya aku berfokus pada prioritas kedua: melamar sebagai
pelayan kafe di Västerlånggatan. Sebuah pekerjaan yang tidak akan terganggu
oleh musim. Aku sudah membayangkan diriku memakai seragam pelayan dan
melakukan pekerjaanku dengan baik.

Sudah malam, tetapi langit Stockholm masih cukup terang. Lampu jalanan
yang benderang, orang-orang yang berlalu-lalang membuat semangatku terus
melaju, seperti roda sepedaku.

Ketika memasuki lorong Jalan Västerlånggatan, suasana justru sedang ramai-
ramainya. Ini kawasan yang selalu didatangi wisatawan sedunia. Mereka
membelanjakan uangnya dengan royal karena semua barang dan jasa di jalan
ini harus dibayar dengan harga mahal. Toko, restoran, kafe berjajar dengan
tampilan yang menggugah selera. Aroma kue dan kopi bertabrakan di udara.

Lorong Västerlånggatan terlalu sempit sehingga hampir tidak ada kafe,
restoran, atau toko kue yang menyediakan kursi-kursi di jalan. Semua
pengunjung masuk ruangan, jendela tua bangunan dibuka hingga tak bersisa.
Etalase-etalase kaca bening memamerkan kue-kue yang warna dan bentuknya
membuat perut sibuk bersuara.

Kuperkirakan, orang-orang yang berdatangan itu memang mengejar suasana
klasik dan bukan sekadar karena cita rasa makanan yang ditawarkan. Sebab,
kawasan lain yang lebih lega dan lebih murah pun banyak. Tetapi, mereka
tetap datang ke lorong sempit ini, membayangkan rasanya menjadi bagian dari
masyarakat Abad Pertengahan.

Aku sampai di kafe yang tertera di dalam brosur, tetapi agak bingung
bagaimana menyimpan sepeda. Akhirnya, aku percayakan saja pada prasangka
baik. Kugembok sepeda, lalu kusandarkan di depan toko. Aku memasuki pintu
bersama pengunjung lainnya.

“Maaf, saya datang untuk lowongan ini ...,” aku menyapa seorang perempuan
bercelemek yang tampak tidak terlalu sibuk jika dibanding para karyawan kafe
yang lain. Aroma kopi yang sangat kuat menyegarkan kepalaku. Bau roti yang
dipanggang agak mengganggu konsentrasiku.

“Anda hendak melamar?”
Perempuan yang menjawab pertanyaanku agak tinggi suaranya. Dia
berambut hitam, berponi, matanya berwarna zamrud. Seperti boneka.
“Ja.”
“Lancar berbahasa Swedia?”
Aku menggeleng. “Harus berbahasa Swedia?”
“Syaratnya tertulis di brosur itu.”
Aku memeriksa lagi brosur di tanganku. Ada bagian berbahasa Swedia yang
tentu saja tidak kumengerti.
“Kamu bisa saja bertemu dengan personalia. Tetapi, sebelum kamu sudah ada
beberapa pelamar yang melakukannya. Semuanya ditolak karena tidak bisa
bahasa Swedia. Kami butuh pelayan yang bisa berbahasa Swedia karena
pelanggan kami mayoritas orang Swedia.”
“Oh, begitu?”
“Benar.”
Aku kecewa tentu saja. Tetapi, aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Bahkan, Nina yang memberikan brosur ini tanpa menjelaskan persyaratannya.
“Baiklah. Maaf sudah mengganggu Anda.”
“Tidak masalah.”
Aku keluar dari kafe dengan pikiran kelabu. Ternyata tidak selancar
harapanku.
Sudah malam. Waktunya pulang.

HARI kedua pencarian, prioritas ketiga: kantor direktreklam, semacam usaha
periklanan melalui surat-menyurat.

Lokasi kantornya ada di Strandvägen, kawasan supermahal dengan dermaga-
dermaga indah menghadap ke laut. Dago-nya Stockholm. Tidak termasuk
panorama perairannya, tentu saja. Dari asrama, aku mengayuh sepeda ke arah
Pulau Djurgården yang terkenal di kalangan turis sedunia.

Dari Bundaran Sergels Tong, mengambil Jalan Raya Hamngatan, berbelok di
Nybroplan sampailah di Strandvägen yang memanjang sampai jembatan ke
Pulau Djurgården.

Strandvägen adalah jajaran bangunan modern klasik dengan dermaga dan
pedestrian berkanopi pohon-pohon tua. Konon, dibangun dua ratus tahun
lalu. Aku harus menemukan Bünsow House karena kantor yang
membutuhkan jasaku tak jauh dari bangunan utama Strandvägen itu.

Bangunan batu bata tua dengan balkon, jendela, kubah, dan menara-menara
yang menyerupai atap Gedung Sate bertebaran di sepanjang jalan yang
terhitung sepi. Hanya beberapa mobil dan satu trem melintas ketika aku
meluncur di seberang pedestrian yang diteduhi pepohonan di sebelah kiri.
Warna dedaunannya telah memerah dan menguning, khas musim gugur.
Sebentar lagi rontok ke bumi.

Aku berhenti persis di depan Bünsow House dan merasa mungil di hadapan
bangunan yang begitu akbar. Ini adalah model utama yang menjadi rujukan
semua bangunan di Strandvägen, bahkan Stockholm. Di seberang jalan, kapal-
kapal orang-orang kaya berlabuh dengan elegan di dermaga.

Bünsow House menurutku adalah bangunan balok raksasa sehingga mata
bahkan tak mudah memastikan ujungnya. Sudut-sudut bangunan
melengkung, setengah lingkaran, seperti silinder, menjulang sebagai menara.
Puncaknya adalah limas dengan jendela dan balkon yang terlalu banyak untuk
dihitung pasti dalam sekali datang.

Detail balkon terendah yang bisa kulihat mirip lengkungan candi-candi di
Jawa. Dindingnya tertata dari batu bata dengan motif sederhana. Mungkin
ruangan-ruangan di dalamnya kini disewakan sebagai tempat hunian yang
menghadap selat, dengan pemandangan Tanjung Blasieholmen. Lain waktu
aku akan lebih banyak mencari tahu.

Aku yakin telah menemukan kantor direktreklam setelah bersepeda lagi
meninggalkan Bünsow House karena papan namanya terbaca dari posisiku.
Kantor itu sepertinya menyewa salah satu sayap bangunan di sebelah Bünsow
House. Kukayuh sepeda ke sana. Menuju musim dingin, aku semakin
membutuhkan jaket setiap bersepeda melawan angin.

“Halo ….” Aku mendorong pintu dengan percaya diri atau lebih pada sikap
“berhasil syukur, gagal coba lagi di tempat lain”.

“Halo.” Seorang perempuan yang sepertinya hidupnya penuh dengan target
menyambutku. Mengenakan setelan blazer warna merah muda, rambut

jagungnya disanggul. Tata rias yang mencolok justru membuat wajahnya
tampak murung dan sedikit stres.

Dia menerima uluran tanganku. “Kamu mencari lowongan memasang
pam et, bukan?” Dia tidak mau membuang waktu, bersimpulan begitu
melihat brosur di tanganku.

“Iy ... iya.” Aku malah menjadi agak gugup menanggapi semangatnya.
“Kami sedang sangat terburu-buru dan butuh bantuanmu.”
“Bagus kalau begitu.” Aku merasa bangga karena dibutuhkan. Dia bahkan
belum bertanya siapa namaku, tidak menyuruhku duduk, dan ingin segera
bertransaksi.
“Kami masih harus menempel seribu lembar pam et konser artis baru dan
harus tersebar paling lambat besok siang.”
“O … ke.” Aku mulai penasaran dengan kelanjutan pembicaraan ini.
“Kami kekurangan orang. Juga mendapat masalah di percetakan. Pam et sisa
yang belum terpasang nanti malam baru datang.”
“Artinya, waktu untuk menempelkannya hanya nanti malam?”
“Dan, besok pagi.”
“Eh …,” aku segera teringat presentasi pertamaku di kampus, “… saya besok
ada presentasi di kampus.”
“Apa mungkin kamu bekerja dini hari?”
“Kompensasinya memadai?”
“Sama seperti semua pengguna jasa ini.”
“Dibayar kontan?”
“Betul.”
Aku langsung membayangkan satu kantong botol bekas yang, jika
beruntung, nilainya sama dengan makan beberapa hari. Aku hanya perlu
mengumpulkan lima kantong untuk menyamai upah kerja gila-gilaan ini.
“Apakah ada pam et lain yang bisa saya tempel, tetapi deadline-nya agak
longgar?”
Wajah ibu-ibu ini langsung berubah. “Kami membutuhkan tenagamu
sekarang. Bukan kapan-kapan.”
“Besok saya harus kuliah.”
“Lalu, mengapa kamu datang kemari?”
“Saya kira waktu kerjanya bisa eksibel.”
Dia tidak menjawabku lagi. Tangannya menepuk udara, lalu berbalik
meninggalkanku. Aku termangu. Kegagalan kali kesekian.

Gh a 17

Gad is Per i Dj urgården

K “ami berdiskusi seharian dan tidak menemukan titik temu karena
masing-masing tidak percaya diri idenya layak untuk dipresentasikan.”
Sekelas tertawa. Kami memang tim yang aneh.
“Saya pun punya kesulitan yang lebih memalukan karena bahasa Inggris saya
sekelas dengan anak-anak TK. Namun, karena perpustakaan kota segera tutup
dan kami harus mendapat nilai pada mata kuliah ini, akhirnya saya menyerah.
Saya coba untuk mempresentasikan makalah kami berjudul Angklung: Bukti
Penggunaan Teknologi Dalam Musik pada Masa Klasik Indonesia.”

Pak Valdemar menatapku serius tanpa ikut terpancing tawa. Dosen Musik
dalam Teknologi itu bukan tipe dosen yang sinis, tapi juga tidak mudah untuk
menarik perhatiannya.

“Makalah yang kami susun bersama ini terinspirasi oleh tradisi musik tua di
tempat saya berasal: Indonesia, yang usianya sudah ribuan tahun. Masyarakat
modern menurut kami sering terlalu cepat mengelompokkan musik nenek
moyang sebagai produk tradisional dengan tendensi yang salah. Itu membuat
pemahaman kita hari ini dalam memahami teknologi dalam musik menjadi
sempit dan sedikit angkuh.”

Aku sanggup menatap seisi kelas, bergantian, karena dulu sudah terbiasa
melakukannya di panggung bersama e Angklung. Bahkan, aku mulai
melupakan kosakata bahasa Inggrisku yang terlalu sederhana dan
pengucapannya yang membuat beberapa orang mengerutkan dahi.

“Di Indonesia, lama musik telah menjadi bagian hidup masyarakat agraris.
Mereka terdorong untuk menciptakan instrumen dari bahan bambu yang

sampai saat ini lestari dan terus dimodi kasi.”
Kurasa, nada bicaraku semakin percaya diri, meski berkali-kali terhenti

karena aku mencari-cari pilihan kata yang mendekati maksudku.
“Kita, manusia modern …,” tegasku, “... berpikir angklung sebagai alat

musik tradisional, kuno, mungkin terbelakang, karena kita punya de nisi
sempit perihal teknologi. Kenyataannya, generasi dahulu justru sudah dengan
tegas melibatkan teknologi yang relevan bagi zamannya untuk menciptakan
instrumen ini.”

Aku melirik Pak Valdemar dan menyaksikan anggukannya yang memompa
semangatku.

“Sebelum tahun 1900, John Calhoun Deagan, seorang musisi mahal di
Amerika pada waktu itu, melihat angklung dalam kegiatan Chicago World
Festival 1897. Angklung dibawa oleh sindikat perdagangan ke Amerika pada
saat Indonesia masih menjadi tanah jajahan Belanda. Deagan lalu menciptakan
alat musik baru, mengadaptasi angklung, tetapi dengan bahan dasar berbeda.
Jika angklung menggunakan bahan bambu, alat musik Deagan
mempergunakan tabung aluminium yang ditata ke dalam tangga nada
diatonis-kromatis. Kita mengenalnya sebagai Deagan Organ Chime’s.”

Gerard dan Rin mengangkat tinggi-tinggi gambar angklung dan Deagan
Organ Chime’s hasil pencarian di internet. Mereka mendapat tepuk tangan
lebih rata dan membahana dibanding kalimat panjangku.

“Great job, Gerard,” teriak seseorang di kursi paling belakang. Orang sekelas
tertawa. Pak Valdemar bahkan mendorong kacamatanya.

“Apakah kamu pikir, teknologi angklung orisinal masih relevan dalam
industri musik yang terus berubah dan berkembang?” tanya Pak Valdemar
mendadak.

Aku mencoba menjawab dengan elegan, “Di Indonesia, saya dan beberapa
teman membuat sebuah band pop yang secara konsisten menggunakan
angklung sebagai warna dalam musik kami. Bahkan, nama band kami adalah

e Angklung.”
Pak Valdemar menambah pertanyaannya, “Bagaimana publik
menyambutnya? Terutama generasi muda?”
“Bandung, lingkungan saya bermusik, adalah kota yang sangat identik
dengan budaya dan berperan sebagai kontributor musik secara nasional. Hal
yang ingin saya sampaikan adalah, eksperimen kami langsung diuji pada
publik yang menjadi barometer musik nasional. Band kami, saya kira, menjadi

pilot project yang cukup berhasil, pada tingkat amatir, mendorong pengaruh
berbagai alat musik tradisional,” aku membuat tanda petik di udara, “dalam
musik generasi muda.”

Pak Vlademar mengangguk-angguk, menuliskan sesuatu di buku catatannya,
lalu mempersilakan mahasiswa bertanya.

Essien asal Nigeria mengangkat tangannya. “Apakah ada alat musik
tradisional lain yang juga menonjol dalam sejarah musik di Indonesia?”

“Indonesia punya begitu banyak alat musik yang merekam penggunaan
teknologi pada masa lampau. Gamelan, misalnya. Alat musik yang berasal dari
Jawa Tengah.”

Rin buru-buru mencari gambar gamelan pada kumpulan kertas di tangannya,
lalu memperlihatkan ke seluruh kelas. Itu menunjukkan betapa kami telah
mempersiapkan diri dengan cukup baik. Kami bisa menebak pertanyaan yang
akan muncul.

“Gamelan alat musik pukul yang sangat jelas terlahir dari teknologi logam
berkualitas tinggi. Memberi tahu kita bahwa para pendahulu sama sekali tidak
tertinggal dalam berinovasi pada konteks bermusik.”

Pak Vlademar mendahului mahasiswanya bertepuk tangan. Seluruh kelas pun
menyusul.

Aku mengembuskan napas. Ada lega luar biasa di dada. Gerard menepuk
bahuku. Rin meloncat-loncat di tempat. Kukira pilihanku untuk menolak
pekerjaan menempel 1.000 pam et konser artis baru itu adalah putusan yang
tepat.

HARI ketiga, prioritas keempat: Karolinska Institutet.
Aku duduk dengan tenang sambil mengatur keyakinan diri supaya tidak

terlalu berlebihan. Tiga pengalaman sebelumnya sudah memberitahuku,
sebelum ada di genggaman, keberhasilan belum waktunya dirayakan.

Tiga tahapan wawancara sudah kulalui. Mengapa aku ada di ruangan ini,
kurasa, karena aku memenuhi syarat sebagai “kelinci percobaan” para peneliti
kampus. Aku belum diberi tahu apa objek penelitian mereka. Tapi, kupikir
akan melibatkan banyak orang hebat. Lebih penting lagi, mereka akan
membayarku dengan pantas.

Aku tidak tahu pekerjaan semacam ini bisa bersifat berkelanjutan atau tidak.
Tapi, setidaknya mengenal lingkaran para peneliti pasti akan memberi nilai
lebih. Aku tidak tahu kerja sama ini akan membawaku ke mana lagi.

“Maaf menunggu lama.”
Seorang lelaki muda mungkin lima sampai sepuluh tahun di atasku umurnya,
masuk ruangan dan duduk di hadapanku. Kami dipisahkan oleh meja kerja, di
atasnya menumpuk berbagai berkas.
“Nama saya Goran Cilic.” Dia mencoba tersenyum, tapi tidak terlalu
berhasil. Wajahnya mungkin telah serius sejak dalam kandungan. Dari
namanya, kutebak dia berasal dari negara pecahan Uni Soviet. Entah negara
yang mana.
“Saya memimpin tim kecil penelitian ilmu sosial. Kami hendak melakukan
penelitian perilaku.”
Aku berusaha mengikuti alur bicara Pak Cilic ini dengan teliti, meski otak
lulusan SLTA-ku belum sepenuhnya mengerti gambaran besarnya.
“Saya sudah membaca resume dari tim penyeleksi dan saya rasa kamu bisa
terlibat dalam penelitian ini.”
Aku mengangguk-angguk. Akhirnya, kesuksesan pertama di depan mata. Aku
selalu percaya nasihat lama, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
“Kami sedang meneliti seputar kecepatan adaptasi mahasiswa internasional
asal Asia terhadap sistem pendidikan dan kehidupan di Swedia.”
Aku sangat lega. Sepertinya tidak ada yang bisa mengalahkan kompetensiku
dalam hal ini.
“Kamu tidak keberatan jika nanti kami akan bertanya hal-hal pribadi?”
“Tidak sama sekali.”
“Termasuk latar belakang ekonomi, budaya ….”
“Tidak masalah,” jawabku cepat. Bahkan, sebelum pertanyaannya tamat.
“Bagus,” Pak Cilic tampak puas, “... ini kali pertama kami melibatkan
mahasiwa dari Indonesia.”
“Saya merasa terhormat.”
“Penelitian akan kami mulai besok. Kami menyesuaikan jadwal kuliah
kamu.”
“Syukurlah jika bisa se eksibel itu.”
Pak Cilic berdiri, mengajakku bersalaman. Aku pun berdiri, menyambut
tangannya.
“Senang bisa bekerja sama dengan Anda,” kataku.

“Begitu juga saya.”
Aku mendorong kursi, lalu menghampiri pintu.
“Satu lagi,” seru Pak Cilic, “bagian registrasi sudah menerangkan perihal
kompensasi kamu.”
Aku menggeleng. “Belum, Pak.”
“Kamu tidak ingin tahu?”
“Saya hanya mengira-ngira, penelitian semacam ini pasti memberi apresiasi
yang pantas untuk subjek penelitian.”
“Itu bergantung tingkat kesulitan dan risiko yang diambil oleh subjek
penelitian.”
“Bagaimana dengan penelitian ini, Pak?”
“Ini penelitian kecil dan tidak berisiko apa-apa. Jadi, kami menyiapkan
kompensasi yang sifatnya ringan.”
“Yaitu?”
“Voucher belanja dan tiket menonton lm.”
Dalam hati, aku mengutuk banyaknya waktu yang kubuang hari ini.

AKU tidak ingin menyerah karena kata itu bahkan bukan sebuah pilihan. Aku
tidak punya jangkar atau sandaran dari keadaanku sekarang. Bertahan hidup
dengan beasiswa mungkin memastikan aku masih bisa hidup karena perutku
tetap terisi. Namun, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa di luar itu.
Sedangkan dengan kebutuhan rutinku: membeli buku, mencicil sepeda, dan
aku mulai berpikir untuk sedikit menabung, memaksaku untuk memutar cara,
bagaimana agar aku bisa mendapatkan uang tambahan. Bahkan, ketika
berbagai skenario telah gagal atau tertunda, aku memakai logika sebaliknya.
Setiap kegagalan berarti satu langkah menuju keberhasilan. Aku hanya belum
tahu seberapa dekat keberhasilan itu.

Pada sore yang dingin, sepulang kuliah, aku mendorong pintu Lidl,
supermarket yang berdiri tak jauh dari T-Centralen. Aku membawa sekresek
besar botol dan kaleng minuman ringan yang kukumpulkan dari penghuni
asrama satu minggu ini.

Aku menghampiri mesin deposit di dekat pintu, lalu mulai merogoh isi tas
kresek dan memasukkannya ke mesin perak besar yang tingginya melampaui

kepalaku. Kotak “pemakan” botol dan kaleng itu dipasang merapat dinding,
diapit lemari pendingin berisi yoghurt.

Bagian kiri atas mesin bergambar botol dan kaleng minuman ringan. Di
bawah gambar itulah lubang tempat memasukkan botol bermacam ukuran dan
kaleng bekas minuman ringan. Sebelah kanannya terpasang layar monitor
seperti yang ada di ATM, lengkap dengan lubang tempat keluar kertas tanda
terima.

Aku memasukkan botol dan kaleng satu per satu, sampai kosong tas
kresekku. Kulipat kantong kresek itu lalu masuk ke saku. Semacam struk
keluar dari lubang ketika aku menekan tombol pada layar monitornya.
Tampaknya aku akan mendapatkan uang pengganti yang lumayan hari ini.

Aku menghampiri kasir dan menukarkan struk deposit. Kasirnya seorang
lelaki berseragam Lidl, berambut keriting, dan berjerawat mencolok di ujung
hidungnya.

Dia mengetik di komputer sembari menarik laci. Menghitung uang, lalu
menyerahkannya kepadaku. Lumayan.

“Tack,” kataku sembari berlalu. Dua botol plastik besar, empat botol kecil,
dan dua kaleng aluminium ditukar dengan krona seharga belanja makan satu
hari. Aku berhitung jika kemampuanku mengumpulkan sampah tetap setiap
minggu, dalam satu bulan aku bisa mendapat uang tambahan untuk belanja
sekitar satu pekan. Bukan angka yang buruk. Sementara menunggu pekerjaan
yang sebenarnya, kurasa memulung botol dan plastik bisa aku teruskan.

Aku keluar Lidl dengan sedikit gontai. Lebih karena kelelahan dibanding
kehilangan harapan. Aku lalu membuka kunci sepeda dan santai menaikinya.
Aku mengayuh pedal menuju asrama sembari berpikir setelah ini hendak
melakukan apa.

Sewaktu Nina memberikan bermacam-macam brosur pekerjaan itu, aku
bersemangat luar biasa. Berharap satu saja di antara pilihan pekerjaan itu aku
kompeten untuk diterima. Tapi, sejauh ini memang belum ada yang sejodoh
denganku.

Aku ingin memeriksa lagi beberapa lembar brosur yang aku sisihkan dengan
beberapa alasan. Siapa tahu dengan cara yang aneh, justru itu menjadi
rezekiku. Sore semakin dingin, dan bersepeda membuat angin lebih kencang
mengembusi kulitku. Sebulan lebih tinggal di Stockholm dan kurasa aku harus
segera bersiap-siap dengan kedatangan musim dingin. Maksudku dingin yang
sesungguhnya.

Aku tidak tahu apakah masih bisa bersepeda jika jalan-jalan yang kulalui
sekarang sudah dilapisi salju. Belakangan pun, sesekali hujan turun dan
bersepeda di jalan berair membuatku deg-degan.

Aku pernah menjalani hari-hari yang lebih mendebarkan ketika musim hujan
dan sebelum subuh aku bersepeda setiap hari dari Tanjungsari ke Stasiun
Cisalangka. Dalam hal jalan berlubang, gelapnya perjalanan, dan rute yang
begitu jauh, pengalaman pada masa lalu itu lebih menyulitkan.

Akan tetapi, bersepeda di negeri asing tetaplah memberi kekhawatiran yang
berbeda. Mungkin saja karena aku belum terbiasa. Kelak mungkin akan
berbeda. Aku sampai di gedung asrama dan memarkir sepeda seperti biasa.
Aku melewati ruang lobi yang kosong dan naik ke lantai tiga. Masih ada nasi
basmati yang tadi pagi kumasak dengan benar sehingga empuknya mencapai
standar, dan telur ceplok yang memang kusisakan untuk makan malam.
Artinya, aku tidak perlu memikirkan bagaimana melewati malam ini tanpa
perut keroncongan.

Aku makan sehari dua kali dan mulai berpikir, bagaimana jika jatah itu
kukurangi menjadi satu kali? Sebagian uang beasiswa bisa kusimpan untuk
membayar cicilan sepeda sambil menunggu mendapat pekerjaan paruh waktu
yang lebih berguna. Kurasa ide itu layak kupertimbangkan nanti pada minggu
kedua atau ketiga, ketika keuangan semakin menipis.

Aku membuka pintu kamar dan menyadari tidak ada perubahan berarti di
ruangan ini dibanding ketika aku memasukinya kali pertama. Tempat tidur
tanpa seprai, koper Pak Suganda yang kuperlakukan sebagai lemari, dan
peralatan makan di pojok ruangan.

Aku mengambil beberapa lembar brosur yang sejak awal memang kusisihkan
dengan berbagai alasan. Aku duduk di tempat tidur dan melihat-lihat lagi dua
brosur yang tersisa. Hanya dua ternyata.

Pertama adalah menjadi pemandu wisata. Lowongan ini sejak awal sudah
kupinggirkan karena aku punya dua masalah besar. Aku tak bisa bahasa Swedia
dan aku tidak mengenal tempat wisata mana pun selain Gamla Stan yang
kuketahui dari Nina. Itu pun pengetahuan umum-umum saja. Memori buku
1001 Hal tentang Swedia hadiah dari Iding juga lebih banyak yang hilang. Lagi
pula buku itu lebih berisi pengetahuan dan bukan panduan perjalanan.

Aku meletakkan brosur itu di kasur dengan kecewa. Rupanya tetap saja
lowongan pekerjaan itu bukan buatku. Brosur kedua aku baca lagi. Lowongan
pada selebaran ini lebih membuatku tak percaya diri. Sebuah agen fotogra

mencari seorang tukang potret profesional. Bisa memotret panorama, pre-
wedding, bayi, makanan.

Aku bahkan belum pernah memegang kamera! Apalagi memilikinya.
Aku lempar selebaran itu ke lantai dan membuatnya melayang semacam
pesawat terbang kertas, menabrak kereta kertas yang menempel di dinding,
lalu menuju pojok ruangan. Menimpa gulungan kertas yang rupanya kulempar
beberapa hari lalu. Aku belum membuangnya ke tempat sampah.
Aku ingat kertas apa yang kuremas, lalu kulemparkan ke sudut ruangan.
Menyala lampu ide di kepalaku. Aku menggeleng-geleng, merinding bahkan
hanya dengan memikirkannya.
“Geus gelo’ maneh, Kashmir. Sudah gila kamu. Amit-amit … jabang bayi.”

“KAMU yakin bisa melakukannya?”
Si Nyonya melihatku dari kaca spion di atas dashboard sementara tanganku

yang gemetaran mengangsurkan makanan anjing yang mirip lembaran kulit
kayu tak beraturan ke moncong peliharaannya: anjing berbulu putih empuk
seperti boneka, tapi galaknya luar biasa.

Tadinya aku yakin akan menyelesaikan pekerjaan pertamaku ini dengan baik
ketika melihat betapa imutnya anjing milik nyonya bermuka bintik berambut
merah itu.

Anjing ini tidak “semanis pudel” piaraan di lm- lm drama romantis
Hollywood. Badannya cukup besar, tapi moncongnya tidak mengerikan seperti
anjing-anjing yang sering dibawa petani ke kebun di lereng Gunung Geulis.
Tidak pula seperti anjing polisi yang mengadangku di tangga pesawat ketika
sampai ke Swedia kali pertama.

Dia lebih mirip siluman rubah dalam lm- lm kungfu legenda. Bahkan,
buatku yang seumur hidup belum pernah berurusan dengan anjing, piaraan
yang diberi nama Ziggy ini seperti bisa diajak berteman. Tapi, sejak
diperkenalkan nyonyanya, sampai sekarang di mobil menuju Taman
Djurgården, Ziggy menyalak tanpa henti.

Aku mengikuti petunjuk Nyonya Bintik dengan menyuapi Ziggy daging
ayam olahan dari jok belakang. Benar, anjing itu diam saat mengunyah dan
menelan. Begitu lembar daging di tanganku habis, dia menyalak lagi. Bahkan,

lebih kencang.
“Jika saya tidak harus segera ke tempat kerja dan pengasuh Ziggy tidak sakit,

saya tidak akan mempekerjakan kamu.”
“Sss … saya bisa menanganinya, Nyonya.”
Aku berdoa dalam hati. Tidak berhenti-henti. Mohon diperciki sedikit saja

ilmu Nabi Sulaiman agar anjing terkutuk ini bisa diam. Setidaknya beberapa
jam, sampai nyonyanya menjemput kami di taman, dan aku tidak sudi
bertemu dia lagi.

Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk melamar pekerjaan ini termasuk
mengabaikan apa yang bisa kulakukan jika air liurnya menetesi kulitku. Ya,
Allah, semoga aku diberi keringanan. Di sini mencari tanah untuk bersuci
tujuh kali akan sulit bukan main.

Akan tetapi, sampai mobil Nyonya Bintik mendekati taman penuh pohon,
yang daunnya kian berubah warna menjadi kuning dan merah menakjubkan
itu, aku tidak punya waktu untuk terkesan. Konsentrasiku sepenuhnya berada
di muka anjing bermasalah ini.

“Saya akan menurunkan kamu di taman, dan saya jemput sore nanti.”
Aku mulai merapal Ayat Kursi dalam hati. Jika ada campur tangan jin, setan,
Ifrit pada kegalakan anjing ini kuharap segera pergi. Sewaktu mobil merapat ke
tempat parkir, Nyonya Bintik mengajak bicara anjingnya dalam bahasa Swedia,
semakin berdegup jantungku rasanya.
“Ziggy, aku harus pergi bekerja dan kamu harus bersama dia untuk
sementara. Kamu pasti akan gembira berjalan-jalan, bukan?”
Mungkin begitu artinya.
Mobil menepi dengan tenang, mesin dimatikan. Aku lalu keluar dari pintu
belakang membawa sebungkus daging semacam dendeng, bola, dan tulang
mainan. Nyonya Bintik berjongkok, lututnya menyembul dari setelan blazer
biru laut yang rapat di atas, terbuka di bawah.
“Ziggy, tunggu aku pulang dan jangan nakal.”
Astaga, dia mencium anjingnya yang mengaing-ngaing. “Siluman rubah” itu
pun menjilati pipi nyonyanya penuh cinta.
Nyonya Bintik lalu menghampiriku, menyerahkan tali lentur yang
tersambung ke leher Ziggy.
“Aku tidak percaya akan menyerahkan Ziggy kepadamu, tapi ini lebih baik
dibanding membiarkannya sendiri di rumah.”
Aku mengangguk kikuk sambil menerima tali yang sewarna dengan bulu


Click to View FlipBook Version