The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Tentu saja agar kita memulai perjalanan pulang yang sama. Aku tidak ingin
mencari-carimu di kereta.

Aku akan bernyanyi untukmu. Mungkin aku akan memulainya dengan
mengucap salam kepadamu. Aku akan membantu mengangkat bakul
bambumu. Kita akan naik ke kereta. Duduk di bangku yang bersebelahan,
banyak berbincang. Lalu, kamu tak sengaja menyebutkan namamu.

Aku akan mencari cara bagaimana agar kita selalu bertemu. Supaya lebih
banyak cerita yang kudengar darimu. Aku ingin tahu mengenai orang tuamu,
adik-adikmu yang banyak itu. Engkau juga pasti ingin bercerita tentang kota
tempat asalmu dan masa kecil yang belum lama berlalu.

Ah, kita punya banyak hal untuk dibincangkan. Aku akan bercerita perihal
cita-citaku. Bahkan, aku ingin menjadi pencipta lagu. Tidak perlu terkenal.
Aku tidak ingin orang-orang terlalu mengenalku. Lebih penting bagiku jika
mereka menyanyikan lagu-laguku. Mungkin engkau masih terlalu kecil untuk
mengerti. Namun, siapa tahu engkau sepertiku. Cepat dewasa karena keadaan
memaksa. Mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang tua.

“Kashmir!”
Aku membaca bahasa tubuhmu, wahai gadis bersuara manis. Engkau lebih
matang daripada anak-anak seusiamu. Itu menyenangkan. Karena, kita tidak
akan terlalu banyak membicarakan hal-hal tak penting. Kita akan lebih banyak
membahas masa depan.
“Kashmir! Senyum-senyum sendiri.”
Astaga. Bu Imas menyebut namaku.
“Kamu memikirkan apa? Dari tadi senyum-senyum.”
Kelas riuh seketika. Tawa Ujang paling tinggi oktafnya.
“Memikirkan pacar, Bu!” Iding berteriak dekat telingaku.
“Ingat utang, Bu,” sahut yang lain.
Sahut Iding, “Memikirkan utang pacar, Bu.”
Suara tawa semakin rata.
“Tidak, Bu,” aku membela diri, “… saya memperhatikan Ibu, kok.”
“Siapa yang membunuh Ken Arok?” Bu Imas sudah berdiri persis di pinggir
mejaku. Hanya Iding pembatas antara dia dan aku. Tangan Bu Imas
bersembunyi di belakang pinggang.
“Katanya kamu memperhatikan Ibu? Tadi Ibu menjelaskan sejarah berdirinya
Kerajaan Singasari. Jadi, siapa yang membunuh Ken Arok?”
“Bu … bukan saya, Bu. Sumpah, demi Allah, Bu.”

“Bukan menjawab serius malah melucu. Sini, Ibu cuci mukamu.”
Bu Imas condong sedikit, tangannya membasuh mukaku, agak bau.
Kelas semakin pecah oleh tawa. Aku gelagapan karena tak menyangka tangan
Bu Imas selebar itu. Kasarnya seperti tanganku. Sementara Bu Imas masih
mengomel-omel, aku mengelap wajahku menggunakan kerah baju.

SEPULANG sekolah, begitu turun dari angkot, aku buru-buru berlari menuju
Stasiun Kiaracondong. Di sana titik kemacetan kota sejak lama. Susah diurai
karena semakin banyak saja angkotnya. Stasiun tua ini bersebelahan dengan
pasar dengan nama sama. Setiap pagi pedagang tumpah ke jalan hingga ke
tengah.

Mencangklong tas punggung, menenteng gitar, aku semakin berlari tanpa
berhenti. Sudah kutabung rasa sejak tadi pagi. Rasa ingin buru-buru
menemuimu. Membaca bahasa tubuhmu yang lugu. Meski aku tahu engkau
belum ada di sana, tiba lebih dahulu, menjadi pihak yang menunggu, bagiku
telah memenuhi kebutuhan dalam batinku.

Masuk ke stasiun aku segera ke peron, membeli karcis. Tidak kupikirkan
muka petugas peron yang bersungut-sungut. Bertanya sekali saja sembari
cemberut. Bapak-bapak yang tampaknya masih meragukan kebahagiaan
hidupnya.

“Terima kasih.” Aku pun tidak peduli bapak-bapak itu menjawab kalimatku
atau tidak. Aku berjalan cepat, seolah takut kesempatan baik terlewat. Setelah
masuk bagian dalam stasiun dan celingukan sebentar, aku menemukan bangku
kosong. Buru-buru aku ke situ. Gitar aku geletakkan supaya dua tempat
duduk tak diganggu oleh siapa pun nanti yang datang. Kereta terakhir dari
Bandung datang tiga jam lagi. Masih banyak waktu untuk menanti.

Aku belum banyak tahu, tetapi bisa mengira-ngira apa yang engkau lakukan
ketika itu. Keluar masuk kompleks perumahan di sekitar stasiun. Menjual
jajanan pasar agar pergimu ke kota menghasilkan uang yang agak banyak.
Engkau pergi dari rumahmu menjual sayur dan buah dari kebunmu. Uang
yang engkau dapatkan diputar untuk belanja ikan dan jajanan pasar. Jajanan
engkau jual duluan, ikan asin kau bawa pulang, dijual kemudian.

Berapa keuntungan yang engkau dapatkan setiap hari? Sebandingkah dengan

tenaga yang kau keluarkan? Bisakah mencukupi keperluan keluarga besarmu
sehari-hari?

Aku mengeluarkan gitar. Tidak keberatan untuk menyanyikan semua lagu
yang aku bisa nyanyikan, demi menunggumu. Siang itu, suasana stasiun ramai,
tetapi tak penuh sesak. Kereta-kereta datang dan pergi dengan syahdu.
Setidaknya dalam pikiranku. Kereta jarak dekat atau kereta-kereta bertujuan
jauh membawa penumpang-penumpang yang menikmati perjalanan. Para
pengantar melambaikan tangan. Beberapa fragmen keharuan terlihat di
jendela-jendela kereta. Mereka yang beranjak pergi dan tak tahu kapan hendak
kembali.

Macam-macam pedagang asongan mendatangiku berulang-ulang, bergantian.
Menawarkan barang. Setiap aku menolak, datang lagi wajah yang berbeda.
Mereka yang tidak mendekat sama sekali adalah para pengamen. Tentu saja
karena aku pun sedang memainkan gitar. Jika tidak melihat seragam abu-abu
putihku, mereka akan mengira aku pun sedang bekerja menjual suara.

Setelah lebih dari dua jam menunggu, aku mulai kerap melihat ke pintu
masuk stasiun. Membayangkan engkau datang menggendong bakul bambu
yang membuatmu berjalan sempoyongan. Bahkan, aku sudah mengira-ngira
apa yang hendak aku lakukan. Menyambutmu, meminta bakul yang
membebani punggungmu, lalu bertanya bagaimana harimu?

Lalu, pada suatu titik waktu, aku melihat lagi ke pintu stasiun. Merekahkan
senyum ketika menyaksikanmu memenuhi janjimu. Engkau berjalan seperti
terayun-ayun. Tatapanmu menatap lantai stasiun. Ke depan dan belakang
menuju arahku; ke bangku-bangku para penunggu. Aku bangkit buru-buru.
Meletakkan gitar, lalu berjalan cepat ke arahmu.

“Assalamualaikum.”
Engkau mengangkat sedikit wajahmu. “Waalaikumsalam, Ko Kashmir.”
Aku mengangguk bahagia. Engkau sudah berhasil menyebut namaku dengan
sempurna.
“Saya bawakan?”
Engkau menggeleng. “Tidak usah, Ko.”
Aku tahu tak bisa memaksamu. Memindah barang bawaan di tengah jalan
tentu malah merepotkan. Lalu, aku mempersilakanmu dengan tanganku,
supaya engkau menuju bangku yang sejak tiga jam lalu menunggumu.
Sampai di bangku barulah engkau mau menerima bantuanku. Engkau
melepaskan ikatan selendang di bahumu, lalu aku terima bakul bambumu,

perlahan-lahan kuletakkan di lantai keramik hitam. Engkau berdiri saja di
sebelahku tanpa melakukan apa-apa.

Aku mengambil gitar kemudian, mempersilakanmu duduk dengan
senyuman. Seolah-olah ini rumahku dan engkau tamu yang datang dari jauh.
Padahal, engkau lebih memiliki tempat ini dibanding aku dan kebanyakan
orang yang sekarang berlalu-lalang. Engkau telah terjebak di stasiun ini sejak
bertahun-tahun lalu dan mungkin sampai bertahun-tahun nanti.

Kita duduk di kursi tunggu. Bakul bambu besar ada di sampingmu. Sekarang
bakul itu engkau tutupi dedaunan. Dari aromanya, aku tahu bakul itu telah
terisi ikan asin yang kau ceritakan.

“Sejak kapan melakukan ini, Malisa?”
Engkau melirik sedikit, lalu membuang jauh tatapanmu.
“Malisa ....” Aku memancingmu lagi. Ingin tahu namamu, tetapi tidak
dengan cara menanyakannya langsung kepadamu.
Engkau cemberut. Caramu merajuk tak menyebalkan. Sama sekali tidak
membuatku bosan. Aku malah kian senang. “Salah, ya?”
“Siapa Malisa?”
Aku tertawa. Berjongkok di depanmu, kuletakkan gitar di lantai terlebih
dahulu. Kemudian, kuulurkan tangan kepadamu. “Kita ulang, atuh,
perkenalannya. Nama saya Kashmir. Tinggal di Tanjungsari.”
Awalnya engkau diam saja sebelum menyambut tanganku, tetapi tak
memberiku tatapan matamu. “Kanya.”
“Anya?”
“Kanya,” engkau mengencangkan suaramu, sedikit, “Kanyakumari. Rumah
di Cisalangka.”
“Oh ...,” aku tak segera melepasmu. Terasa kasar telapak tanganmu. Seperti
tanganku, “... nama yang indah sekali, Kanya.”
Engkau menarik tanganmu. “Terima kasih.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu, aku meraih gitar, duduk di
sebelahmu. Menemanimu menunggu kereta ... kita.
“Kanya capek?” Pertanyaan bodoh. Namun, aku tak merasa harus terkesan
pintar.
Engkau menggeleng. “Sudah biasa.”
“Tadi habis dagangannya?”
“Alhamdulillah.”
Aku menoleh ke bakul bambumu. “Itu ikan asinnya?” Pertanyaan bodoh

kedua.
“Iya.”
“Kanya buka warung di rumah?”
Engkau menggeleng. “Bapak punya kios di Pasar Cisalangka. Nanti sampai

rumah, ikan-ikan asin ini dikemas plastik. Dijual per bungkus.”
“Dijualnya besok?”
Engkau mengangguk lagi. “Sebelum subuh.”
“Kanya juga ikut ke pasar?”
Engkau menggeleng. “Bapak sama adik-adik. Mamah menjual nasi pagi

harinya. Tetapi, karena Mamah sakit, kemarin-kemarin saya yang
menggantikan.”

Aku membiarkan jeda beberapa lama.
“Adik Kanya berapa?”
“Tiga.” Engkau tidak ragu menyebut angka itu. Aku menghitung cepat, jika
ibumu tidak keguguran, ia akan menjadi adikmu yang keempat. “Adik yang
paling besar kelas VI SD.”
Engkau anak sulung dari sebuah keluarga yang cukup besar, sedangkan
umurmu paling jauh hanya tiga tahun lebih muda dibanding aku. Alangkah
hebat hidupmu.
“Jadi ...,” aku ingat pertanyaanku yang tertunda, “... sejak kapan Kanya
melakukan ini?”
“Sejak kecil. Kelas III SD. Dulu hanya tiap Minggu. Bapak mengajak saya ke
Bandung untuk menjual sayuran dan buah-buahan. Pulangnya membawa ikan
asin.”
“Setelah lulus, Kanya mulai berani sendiri?”
Engkau mengangguk. “Saya juga berjualan jajanan pasar. Modalnya saya
kembalikan ke Bapak, untungnya saya tabung.”
Aku tertegun. Betapa miripnya kita, Kanya.
“Kanya punya rencana dengan tabungan itu?”
Engkau mengangguk. “Untuk sekolah.”
Aku kian mengagumimu. Hampir menangis karena rasa haru. Merasa Tuhan
telah menyengaja mengirimkan engkau kepadaku. Sebab, untuk kali pertama
seumur hidup, aku merasa tak sendirian. Engkau bukan gadis malang,
melainkan seorang pejuang. Ceritamu melampaui angan-angan.
Petugas stasiun mengumumkan dari pengeras suara, kereta menuju kotamu
segera tiba. Engkau berdiri. Selendang hendak kau ikatkan ke bakul besarmu.

Namun, aku menghentikanmu buru-buru. “Biar saya saja.”
“Ko Kashmir juga banyak bawaan.”
“Tidak apa-apa.”
Tas gitar punya selempang panjang. Aku menaruhnya di belakang. Menimpa

tas cangklong yang isinya hanya buku tulis dan partitur. Tak terlalu repot
seharusnya. Kemudian, aku angkat bakulmu ke dada. Serasa hampir sama
dengan satu sak semen beratnya.

Engkau tersenyum! Mentertawaiku tanpa suara. “Berat, Ko?”
Aku menggeleng cepat. “Tidak. Saya sudah biasa,” kataku sambil mengatur
napas. Rangkaian kereta sudah datang. Berhenti perlahan. Aku berjalan rada
sempoyongan. Ini cara membawa barang yang tidak ideal. Depan belakang
punya beban. Namun, aku tidak akan menyerah.
Engkau berjalan di sebelah dengan terus menahan senyum yang hendak
merekah. Senyum pertamamu sejak kita kali pertama bertemu. Aku ikut
tertawa tanpa suara. Aku bahagia karena membuatmu tertawa meski tanpa
suara.
Langkahku semakin memburu pintu kereta. Menunggu antrean orang-orang
yang masuk lebih dahulu, aku menurunkan bakulmu perlahan-lahan. Begitu
mendapat kesempatan, aku lalu mengangkatnya, mendorongnya masuk ke
pintu kereta yang tingginya sedada. Aku naik kemudian, mendaki tangga besi.
Sampai di atas aku ulurkan tangan kepadamu. Engkau tertegun. Hanya
menatapku, tetapi tak berbuat apa-apa. Ragu. Barangkali engkau berpikir,
apakah menyambut tanganku tak akan membuatmu malu? Tidakkah
menyeberangi batas pergaulan yang engkau gugu? Sampai kemudian, orang-
orang yang mulai saling desak hendak naik kereta memaksamu menggenggam
tanganku. Aku menarikmu perlahan-lahan. Tidak ingin engkau tersentak dan
hilang keseimbangan.
“Terima kasih, Ko.” Engkau menarik tanganmu buru-buru. Kemudian,
engkau hampiri bakul ikan asinmu, mendorongnya ke tengah gerbong.
Memberi ruang kepada orang-orang. Aku menyusulmu. Kita tidak kebagian
bangku duduk. Kereta sore selalu penuh muatan dan supersibuk.
“Saya boleh mengantar Kanya sampai Cisalangka?”
Kita bergelantungan, terpaksa, bersisihan. Aku menatapmu dengan sedikit
menunduk, engkau melihat pemandangan yang bergerak di luar jendela.
Kepalamu, setelingaku. Agar segera suaramu sampai ke pendengaranku.
“Untuk apa, Ko?”

Aku tersenyum. “Ingin saja.”
“Saya ... saya tidak enak. Bapak saya ....”
“Sampai stasiun kereta saja ...,” aku menangkap kekhawatiranmu, “... tidak
sampai ke rumah.”
Engkau tak menjawab, tidak menatap, tidak memberi tanda apa pun.
“Nanti saya pulang naik angkot. Sepertinya kereta ini tidak kembali ke
Bandung.”
Engkau tak memperhatikan aku berbicara. Aku tahu itu pura-pura saja.
Perjalanan kereta petang itu jauh dari biasa. Melampaui perasaan apa pun yang
pernah aku alami sebelumnya.
“Saya juga seperti Kanya.” Sekarang gantian aku yang menerawangkan
pandangan. Aku tahu, engkau menoleh kepadaku diam-diam. “Saya juga
menabung untuk masa depan.”
Aku menoleh kepadamu, buru-buru. Tak mau engkau larikan lagi
tatapanmu. Mata kita bertemu. Aku ingin engkau yakin dengan kata-kataku.
Menemukan kejujuranku.
“Saya tidak pernah tahu siapa orang tua kandung saya ...,” aku tidak
mengatakannya dengan nada yang sedih, “... saya dibesarkan oleh seorang
juragan yang baik hati. Saya memanggil beliau Pak Haji.”
Aku menangkap itu. Usaha untuk percaya di matamu.
“Saya tidak diperlakukan sebagai pekerja, tapi saya tetap bekerja. Sejak kecil
saya melakukan apa saja di toko material Pak Haji, setiap hari. Menyapu,
membereskan toko, melayani pembeli, mengantar barang pesanan.” Aku
benar-benar merasakan kebahagiaan saat menceritakan itu kepadamu.
“Awalnya saya tidak mau menerima uang Pak Haji. Sebab, saya melakukannya
sebagai ucapan terima kasih saja. Pak Haji menampung saya di rumahnya.
Memberi saya makan yang sama dengan anaknya. Membayar uang sekolah
saya.”
Kali ini aku mulai mengendurkan suaraku. Bukan karena sedih, melainkan
lebih karena rasa haru. Setiap mengingat kebaikan keluarga Pak Haji, aku
selalu merasakan itu. “Karena Pak Haji terus memaksa, akhirnya saya mau
juga. Tetapi, saya tidak pernah mau menerima uang cuma-cuma. Saya harus
melakukan apa saja, kemudian Pak Haji memberi saya uang sebagai upahnya.
Kami bersepakat kemudian. Waktu itu, saya kelas I SMP. Pak Haji berhenti
membayar uang sekolah saya, tapi menolak ketika saya bertekad hendak
membayar uang makan dan sewa kamar.”

Tatapan kita berselang-seling. Kadang, sama-sama mencari-cari apa yang tak
ada di dalam kereta. Menatap gunung, sawah, rumah penduduk yang seolah
bergerak cepat di luar jendela. Lalu, kembali bertemu untuk sesaat ... atau
kadang beberapa waktu hingga engkau merasa malu.

“Pak Haji memberi saya uang bulanan. Saya menggunakannya untuk
membayar sekolah, membeli beberapa keperluan. Sisanya saya tabung untuk
masa depan.”

Aku yakin engkau tahu maksudku, Kanya. Paham makna pada mataku, pada
detik itu. Bahwa kita sama. Memiliki persamaan. Sama-sama sedang berjuang
tanpa lelah. Sama-sama punya mimpi masa depan yang lebih baik. Aku
beruntung dalam beberapa hal, tetapi engkau jauh lebih beruntung dalam hal
lain.

“Setelah saya masuk SMK,” aku anggap engkau masih ingin tahu lebih
banyak tentangku. Atau, aku sengaja banyak bercerita supaya engkau tak
sungkan lagi untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak hari ini, tak apa,
suatu hari nanti, “... saya hanya punya sedikit waktu di toko. Saya pulang
sekolah, toko sudah tutup. Saya hanya bisa membantu pada hari Minggu.
Paling malam-malam saya mengecek pembukuan saja. Agak tidak enak
sebenarnya. Tetapi, Pak Haji memaksa saya untuk tetap menerima uang
bulanan.”

Jeda beberapa lama. Engkau tidak berkomentar apa-apa. Kereta tak berhenti
lagi sampai stasiun tempat semestinya aku turun seperti biasanya. Namun, hari
ini akan berbeda. Aku akan mengantarmu sampai batas yang engkau tentukan.
Melihatmu sampai titik tak bisa lagi aku usahakan.

“Saya banyak bicara, ya?” Pertanyaan bodoh ketiga. Memangnya aku
mengharapkan jawaban seperti apa?

“Tidak apa-apa.”
Jawaban seperti ini. Engkau benar-benar memahami.
Bunyi peluit panjang. Kereta melambat, berhenti perlahan-lahan. Aku seolah-
olah mendengarkan musik yang membahagiakan sekaligus menyedihkan pada
waktu bersamaan. Penumpang turun dengan macam-macam gaya. Ada yang
bersabar, banyak yang tergesa-gesa. Aku tahu, ini kali pertama, kereta dan
isinya memasuki pikiranku dengan cara yang berbeda. Segalanya seperti
bergerak perlahan dan penuh makna. Tak ada pembicaraan apa-apa di antara
kita. Seperti hendak menunggu keberangkatan kereta.
Setelah sebagian penumpang turun, tak begitu banyak yang naik. Kereta

bergerak lagi, peluit panjang mengantarnya pergi. Kita bersitatap, bertukar
senyum sesaat.

“Pasti menyenangkan di rumah, ya?” aku mencoba membuka kembali
perbincangan kita, “... banyak cerita.”

“Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan.”
“Menyebalkan?” Aku tertarik dengan pilihan katamu.
“Kalau sedang nakal, adik-adik membuat saya kesal.”
“Mengacak-acak rumah?” Aku ingin engkau bercerita, Kanya.
Engkau menggeleng. “Di rumah kami berbagi tugas. Paling tidak masing-
masing harus menjaga barang kepunyaan sendiri.”
“Lalu, apanya yang menyebalkan?”
Engkau diam sebentar. “Kalau sudah punya keinginan ...,” engkau
memainkan selendangmu yang menggantungi leher, “... tidak mau tahu Bapak
tidak punya uang.”
“Terus apa yang Kanya lakukan? Marah-marah?”
“Kadang-kadang,” engkau tersipu, “... tetapi jarang. Saya coba beri mereka
pengertian. Tapi, kalau tetap tidak bisa, ya, saya diamkan.”
“Berarti adik Kanya tahun depan lulus SD, ya?”
Engkau mengangguk. “Kalau Bapak tidak punya biaya, saya akan berusaha
menyekolahkan dia. Mudah-mudahan tabungan saya cukup.”
“Kanya tidak punya rencana sekolah?” Tadinya aku mengira tabunganmu
untuk sekolahmu sendiri.
“Ingin ...,” engkau melepas napas perlahan, “... tapi kasihan Opik kalau
hanya lulus SD. Dia anak pintar.”
“Kanya sayang sekali pada adik-adik, ya?”
Engkau tidak menjawab pertanyaanku dengan cara yang biasa. “Semoga saya
bisa membantu adik-adik saya meraih kehidupan yang lebih baik.”
Aku kehabisan pertanyaan. Takut membuatmu tak nyaman.
“Saya dulu bercita-cita menjadi guru ...,” justru engkau yang menjawab tanpa
kutanya lebih dulu, “... tapi menjadi guru itu susah. Sekolahnya harus tinggi.”
“Saya yakin Kanya akan jadi guru ....” Aku berusaha menghiburmu, tetapi
entah dari mana keyakinanku engkau akan meraih apa yang menjadi
impianmu. “Kanya sudah menjadi guru yang baik untuk adik-adik. Kelak,
Kanya akan jadi ibu guru yang sesungguhnya.”
“Amin,” lirih suaramu ditelan suara kereta menembus temaram, mendekati
stasiun terakhir.

Ketika perjalanan benar-benar berakhir, engkau membiarkan orang-orang
turun lebih dahulu. Benar-benar hingga isi gerbong tinggal beberapa orang
yang melakukan hal sama denganmu. Ketika engkau mulai menyiapkan
selendangmu, aku mengangkat bakul besarmu ke pinggir pintu. Melompat ke
luar kereta, lalu menurunkan bakulmu tanpa meminta izinmu lebih dahulu.
Engkau turun menyusulku.

“Kanya yakin tak usah saya antar sampai ke rumah?”
Engkau menggeleng. Aku membantumu mengangkat bakul itu ke
punggungmu. Rasa-rasanya, bakul itu lama-lama akan melukai tulangmu,
Kanya. Ia begitu besar berbanding dengan tubuhmu.
“Rumah Kanya masih jauh dari sini?”
“Tidak, Ko. Paling sepuluh menit.”
Aku mengangguk lega.
“Koko langsung pulang?”
Rasanya berhenti bernapas. Jantungku seperti tak kudengar mendetak.
Engkau memanggilku dengan cara yang akan kuingat selamanya.
Aku menoleh ke sana sini. Mencari-cari. “Shalat dulu. Musala di mana, ya?”
Engkau menunjuk ke arah jauh. “Keluar stasiun, Ko. Ada masjid.”
“Oh. Jadi, kita bersama-sama lagi, ya?” Bahkan, bertambah beberapa menit
kebersamaan denganmu, menyenangkan perasaanku.
Engkau hanya mengangguk, lalu mendahului langkahku. Aku buru-buru
menyusulmu, menjejerimu. Stasiun ini tampaknya sudah sangat tua. Tua dan
semakin dilupakan. Meski orang-orang tetap berdatangan, tak banyak yang
benar-benar memperhatikan. Dinding-dindingnya tua dan nelangsa.
Permukaan jalan bergerunjal dan berserak sampah. Lampu-lampunya jarang
dan terlalu remang.
“Suatu hari, boleh saya main ke rumah Kanya?”
“Mau apa, Ko?”
“Mau ...,” aku berpikir secepat yang aku bisa, “... main dengan Opik.”
Engkau tersenyum dalam keremangan. “Main apa?”
“Main gitar?” Aku merasa menang.
“Opik tidak bisa main gitar.”
“Nanti saya ajarkan.”
Kita terlalu cepat sampai ke masjid kecil itu. Engkau belum sempat
menjawabku.
“Kanya tidak shalat Maghrib dulu?”

“Nanti saja di rumah, Ko.”
Kita berhenti di depan masjid, di pinggir jalan. Beberapa jemaah sudah
selesai shalat. Rupanya memang hanya beberapa yang petang itu datang untuk
beribadah.
“Tidak apa-apa saya tinggal?” Engkau menatapku dengan ragu-ragu.
“Tentu saja tidak apa-apa.”
“Ya, udah atuh, Koko shalat sekarang.”
“Kanya berangkat saja dulu.”
Lalu, kita tiba-tiba saling ingin menjadi orang yang ditinggalkan, bukan
meninggalkan.
Engkau mengangguk lemah. “Terima kasih, Ko.”
“Untuk apa?”
“Koko sudah bantu saya.”
Aku menggeleng. “Saya tidak melakukan apa-apa.”
Engkau mengangguk lagi. Seperti ragu-ragu, engkau membalikkan badanmu,
berjalan pelan-pelan meninggalkan masjid stasiun itu.
“Kanya.” Aku menoleh lagi.
“Ya, Ko?”
“Besok pagi, tunggu saya di gerbong tiga.”
Engkau tersenyum.
Aku tersenyum lebih lebar. “Hati-hati.”
Engkau mengangguk lagi, melanjutkan langkahmu. Aku bergeming. Aku
ingin terus melihatmu sampai usahaku tak bisa lagi melakukannya. Aku ingin
merasakan keberadaanmu sampai engkau benar-benar berlalu.
Sampai suatu belokan yang diterangi lampu jalan, engkau menoleh ke
belakang. Persis seperti bayanganku, tepat seperti bunyi doaku. Engkau
menemukanku, aku melambai kepadamu. Engkau mengangguk, lalu berjalan
lagi. Pergi bersama malam yang datang.
Aku merasakan kebahagiaan dan kepedihan yang menyerbu bersamaan.
Bahkan, aku tak yakin apakah alasannya, bagaimanakah nanti ceritanya. Aku
hanya berkeyakinan, itulah hari pertama engkau benar-benar memasuki
hidupku, Kanya. Masuk ke pikiranku dan tak pernah benar-benar pergi setelah
itu.
“Selamat datang, Kanyakumari.”

“AA?”
Suara Bu Haji. Mengetuk beberapa kali.
“Ya, Bu Haji.” Aku membuka pintu kamar. Kupersilakan Bu Haji masuk

kemudian.
“Sedang beres-beres, A?”
“Iya, Bu Haji.” Aku memindahkan tumpukan buku lamaku dari kursi.

Memindahkannya ke atas tempat tidur. “Mangga, Bu Haji. Duduk. Hapunten
kamar sedang berantakan.”

Bu Haji lalu duduk di kursi. “Hendak dijual ke tukang loak buku-bukunya,
A?”

Aku menggeleng. “Tidak, Bu Haji. Ada teman perlu buku-buku SMP. Saya
sedang memisahkan mata pelajaran dan tingkatannya.”

“Oh, teman dari kompleks?”
“Eh, bukan, Bu Haji. Teman di luar.”
Bu Haji mengangguk-angguk lagi. “Ari, Aa sekolahnya memang sampai
sore?”
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Agak penasaran mengapa Bu Haji
mempersoalkannya. Lebih berpikir bagaimana cara menjawabnya agar tidak
berbohong, tidak juga mengada-ada.
“Tidak, Bu Haji. Hanya sampai siang. Tetapi, saya biasa latihan gitar dulu
dengan teman-teman.”
“Latihan di sekolah, A?”
“Kadang di sekolah, kadang di luar, Bu Haji. Di stasiun, di pasar.”
“Oh, siga mengamen, A?”
Bu Haji terus memburuku. Membuatku mulai tak enak hati.
“Eh, tujuannya mah agar terbiasa tampil, Bu Haji. Biar tidak malu menyanyi
di depan orang lain.”
“Oh, begitu.”
“Eh … maaf saya jadi pulangnya sore, Bu Haji. Nanti saya kurangi saja
latihannya agar bisa cepat pulang dan membantu Pak Haji di toko.”
“Bukan begitu, A,” Bu Haji seperti baru menyadari pertanyaannya salah
kupahami, “… tidak apa-apa Aa pulang sore juga. Pak Haji tidak akan

keberatan.”
Aku mengangguk-angguk. Merasa lega, sebenarnya. Sekarang aku menduga-

duga alasan Bu Haji mengajakku bicara.
“Dengan Pipin sudah jarang mengobrol ya, A?”
Dugaanku tepat. Ini perihal anak tunggal Bu Haji.
“Masih, Bu Haji. Tetapi, memang sekilas-kilas saja. Mungkin Pipin juga

sedang sibuk.”
“Pulangnya telat terus, A sekarang mah.”
“Begitu?”
Bu Haji mengangguk. “Dadung, teman satu kelas Pipin, anaknya Pak Atim,

Aa kenal, bukan?”
“Iya, Bu Haji.”
“Dadung mah, selepas zuhur sudah di rumah, geningan. Sedangkan Pipin,

magrib kadang baru sampai rumah. Pernah tengah malam baru pulang.”
“Astag rullah. Hapunten, Bu Haji. Saya kira teh Pipin biasa saja sekolahnya.

Berangkat pagi pulang siang.”
“Tidak, A. Pipin banyak berubah sekarang. Kalau Bu Haji tanya, dia marah-

marah. Mau Pipin, abah-uminya diam saja. Sedari kecil Pipin lebih
mendengarkan Aa daripada abah-uminya.”

Aku terdiam seketika. Ini sudah berjalan berapa lama sebenarnya? Belum
setengah semester aku bersekolah di kota. Rasanya, terakhir aku mengobrol
panjang dengan Pipin masih terbilang baru atau tidak juga? Apakah memang
rutinitasku sudah begitu berubah?

“Saya coba mengajak Pipin bicara, Bu Haji.”
“Iya, A. Alhamdulillah, kalau begitu mah. Bu Haji khawatir sekali. Kalau
terlalu lama di luar rumah, kami tidak tahu apa yang Pipin lakukan dan
bergaulnya dengan siapa.”
“Betul, Bu Haji.”
“Takutnya Pipin jadi salah bergaul, A.”
Kudengar suara Bu Haji mulai tertimpa isak.
“Insya Allah, tidak, Bu Haji. Nanti saya ajak bicara Pipin. Supaya Pak Haji
dan Bu Haji tidak khawatir. Tetapi, memang harus pelan-pelan, Bu Haji. Pipin
mah peka anaknya.”
“Mengapa bisa begitu, ya, A? Dari bayi Pipin diasuh baik-baik. Bu Haji juga
berdoa setiap hari agar Pipin menjadi anak saleh. Tetapi, semakin besar
semakin sulit diatur. Shalat saja kalau tidak diteriaki abahnya, tidak

dijalankan.”
“Mungkin, Pipin inginnya tidak dipaksa, Bu Haji.”
“Kalau tidak dipaksa, tidak dikerjakan, A,” Bu Haji seperti ragu hendak

mengatakan sesuatu, “… dua hari lalu Pak Haji marah besar. Pipin tidak
membayar uang SPP dua bulan.”

Apa yang dikatakan Bu Haji barusan cukup mengejutkanku. “Dua bulan, Bu
Haji?”

“Iya, A. Tapi, sudah Bu Haji bayar kemarin. Bu Haji ke sekolah diantar Pak
Wawan.”

“Kalau tidak dibayarkan, uangnya Pipin pakai untuk apa?”
Bu Haji menggeleng. “Waktu Bu Haji ke sekolah, Pipin tidak ada. Tadinya,
Bu Haji hendak menanyakannya.”
“Pipin membolos?”
“Iya, A. Kata gurunya sudah hampir satu minggu.”
“Pipin teh kumaha? Kalau tidak sekolah, ke mana dia?”
“Itulah mengapa Bu Haji minta tolong ke Aa. Kalau Pak Haji tahu Pipin
membolos, pasti marah bukan main.”
“Kalau sekarang, Pipin belum pulang, Bu Haji? Saya hendak ajak bicara.”
Bu Haji menggeleng. “Tadi pagi pamit, malam ini menginap di temannya
untuk mengerjakan tugas kelompok.”
“Kalau begitu, besok sepulang sekolah saya bicara dengan Pipin, Bu Haji.
Aduh, saya benar-benar minta maaf karena tidak tahu Pipin jadi begitu, ya, Bu
Haji.”
“Bukan salah Aa.”
“Tetapi, sebelum-sebelumnya kalau ada apa-apa Pipin selalu bercerita ke saya.
Mungkin karena saya terlalu sibuk, Pipin jadi enggan terbuka. Tetapi, besok
saya insya Allah akan menanyakannya, Bu Haji.”
Bu Haji mengiakan tanpa berkata-kata. Dia lalu menyeka air mata. Aku
merasa bersalah tentu saja. Aku mengakui, setelah aku mengenalmu, Kanya,
engkau menjadi satu-satunya penghuni dunia. Tiba-tiba aku melakukan
segalanya karenamu dengan tujuan dirimu. Itu sedikit menggelisahkanku.

Gh a 4

Kita Berj alan Bers is ihan

P ipin sempat menolak ajakanku, tetapi aku memaksa dia ikut denganku ke
bengkel sepeda Pak Ojos. Nama KTP-nya aku tidak tahu. Orang-orang
seperumahan memanggilnya begitu. Ibu-ibu yang setiap pagi berbelanja sayur-
mayur di warungnya memanggil dia dengan nama itu. Bapak-bapak yang
membetulkan sepeda begitu juga. Anak-anak yang dia latih bermain sepak bola
tidak berbeda.

Pak Ojos membuka bengkel sepeda di sebelah warung yang dikelola istrinya.
Lebih banyak anak-anak yang datang ke bengkelnya. Ketika ban kempes atau
bocor, rem tidak pakem, rantai putus, dudukan bengkok, solusinya cuma satu:
Pak Ojos.

Sebenarnya aku bisa juga membongkar pasang sepeda asal buat diri sendiri.
Sejak kecil sudah terbiasa bereksperimen meski tidak bertanggung jawab
terhadap hasilnya. Namun, kali ini aku sengaja membawanya ke Pak Ojos.
Selain supaya hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan, aku perlu berbicara
dengan Pipin.

Sore itu, kami menuntun sepeda yang kedua bannya sudah bocor. Ada
masalah dengan rantainya, juga sedikit bengkok stangnya.

“Mengapa tidak beli baru saja, A?”
Kami mendaki aspal bergerunjal, menuju blok tempat tinggal Pak Ojos.
“Sayang uangnya atuh, Pin.”
“Sudah butut begitu. Dipakai bisa lepas sendiri onderdilnya.”
“Eh …,” aku menepuk dudukan sepeda, “… masih kuat ini. Karena lama
tidak dipakai saja jadi terlihat tua. Dipoles sedikit jadi baru lagi.”

“Aa mau naik sepeda ke mana?”
“Ke sekolah atuh.”
“Ke Bandung?”
“Bukan. Ke stasiun. Sepeda aku titip di sana. Lanjut naik kereta ke
Bandung.”
“Jauh keneh atuh.”
“Sekalian olahraga. Biar sehat. Irit juga. Ongkos angkot bisa ditabung.”
Kami segera sampai di rumah sekaligus warung plus bengkel Pak Ojos. Tuan
rumah sedang memompa ban sepeda mini. Kaki jangkungnya menahan
pompa selagi tangannya turun naik mengempas udara.
“Sepedanya kenapa, Kash?” Dia segera mengetahui masalahku.
Aku lalu memarkir sepedaku di pinggir jalan. Di depan bengkelnya. “Lama
tidak dipakai saja, Pak. Bisa dibetulkan, ya, Pak? Hendak saya pakai lagi.”
“Setelah ini, ya. Sudah mau selesai kok, ini.”
Pak Ojos memeriksa ban sepeda mini itu sembari tersenyum kepadaku.
Senyum pekerja keras. Senyum yang tidak menghibur siapa pun. Dia
melakukan itu karena merasa sepantasnya begitu.
“Santai saja, Pak. Saya tidak buru-buru.”
“Kamu tunggu di benteng saja. Nanti kalau sudah beres, saya panggil.”
“Siap, Pak …,” aku memberi tanda kepada Pipin agar mengikutiku, “... ke
benteng, yuk.”
Pipin tidak menolak atau mengiakan. Dua tangan masuk saku celana
pendeknya. Dia lalu mengikutiku tanpa bicara apa-apa.
Semua warga perumahan ini sudah mengetahui, benteng yang disebut Pak
Ojos barusan adalah tembok sepinggang yang dibangun di pinggir tebing pada
ujung blok. Orang-orang biasa kongko-kongko di tempat itu pada pagi dan
sore hari. Dari benteng itu, pemandangan lepas ke Gunung Manglayang.
Sebagian Kota Bandung juga tampak di kejauhan.
Benteng yang tingginya tak seberapa itu dibangun memanjang agar jalan
kompleks tidak langsung berbatas dengan tebing curam. Rumah-rumah tipe
kecil berjajar di seberang jalan.
Aku mengajak Pipin duduk persis di siku benteng. Dengan begitu, kami
hampir berhadap-hadapan. Beberapa orang sudah mendahului kami mengisi
sore dengan menikmati suasana di tempat itu.
“Sekolah bagaimana, Pin?” Aku membuka pembicaraan.
“Biasa-biasa saja, A.” Pipin menatap ke kejauhan.

“Bisa mengikuti?”
“Biasa-biasa saja.”
Aku agak kesusahan mengembangkan pembicaraan. Ketika obrolan punya
tujuan, itu malah sedikit membebaniku. Membuatku terlalu banyak berpikir.
“Kita jarang mengobrol sekarang, ya, Pin?” Akhirnya, keluar pernyataan
konyol itu.
“Aa yang sibuk.”
“Iya ….” Aku tidak berusaha membela diri. “Tapi, Pipin juga pulangnya
malam terus, bukan?”
“Di rumah tidak tahu mau apa.”
“Ada Pak Haji, Bu Haji. Mengobrol apa saja, kan, bisa.”
“Paling disuruh antar pasir.”
Aku masih mengira-ngira, masuk ke inti pembicaraan ini dengan kalimat apa
baiknya. “Setelah sekolah kegiatan Pipin apa?”
“Main saja ke rumah teman.”
“Sampai malam?”
Pipin menoleh. Dia rupanya mulai menduga-duga juga. Tidak ada yang
kebetulan dalam pembicaraan ini.
“Aa disuruh Umi, ya?”
“Disuruh apa?”
“Nasihatin aku?”
“Kok, kamu berpikir begitu?”
Pipin membuang pandangan. “Sudah berbulan-bulan Aa tidak bertanya
pukul berapa aku pulang sekolah. Kok, sekarang pengin tahu?”
“Memangnya tidak boleh?”
“Untuk apa?” Pipin menaikkan bunyi kalimatnya. “Selama ini juga Aa tidak
peduli.”
Aku mulai mengerti. Pipin ternyata kecewa kepadaku. Mungkin dia
kehilangan perhatianku.
“Masalahnya bukan aku peduli atau tidak, Pin.”
“Terus apa masalahnya?”
“Bu Haji—”
“Betul, bukan?” Pipin memotong kalimatku. “Umi menyuruh Aa. Kalau
Umi tidak menyuruh, Aa tidak akan bertanya masalahku apa.”
“Bukan begitu, Pin.”
“Teuing, ah. Pusing,” Pipin bangkit dari duduk dengan kalimat sengit, “… Aa

urus hidup Aa saja sendiri. Sekolah Aa, teman-teman baru Aa,” menoleh ke
bengkel Pak Ojos, “… sepeda butut Aa. Tidak usah mengurus aku. Aku bisa
mengurus diri sendiri.”

“Dengar dulu, Pin.”
“Embung. Tidak perlu.” Pipin meninggalkan benteng itu, mengabaikanku.
“Pin,” separuh berteriak aku mencoba menghentikan dia.
Pipin mengibaskan tangan di udara, ke atas kepalanya. Menolak untuk
mendengarkanku. Langkah marahnya meninggalkanku.

AKU mengkhawatirkan Pipin, tentu saja. Namun, aku menyimpan dahulu
rasa khawatir itu, setiap aku bertemu denganmu. Membersamaimu seperti
menjalani bagian dunia yang berbeda. Kenyataan hidup yang sepenuhnya aku
inginkan. Tidak ada bagian yang aku keluhkan. Semua menyenangkan.

“Saya punya ide untuk Kanya.”
Sudah berpekan-pekan, kita mengulang perjalanan yang sama hampir setiap
hari. Aku selalu menemukanmu duduk di gerbong ketiga, menungguku. Kita
berpisah di Kiaracondong, lalu bertemu lagi pada sore hari. Aku lantas
mengantarkanmu sampai stasiun kecil di pinggir kota itu. Lalu, aku pulang
menjelang malam, sembari tak sabar menanti pagi.
“Ide apa, Ko?”
Kita dalam perjalanan pulang pada Sabtu petang. Selalu terasa berat karena
besok pagi kita tak akan bertemu. Aku akan berada di rumah membantu Pak
Haji dan engkau ada di rumahmu mengurus adik-adikmu.
“Bagaimana kalau mulai Senin depan, kita belajar di kereta?”
“Maksud Koko?”
“Saya tak pandai, tetapi bisa menemani Kanya belajar. Saya bawakan buku-
buku SMP saya. Kanya bisa mempelajarinya di rumah. Lalu, setiap di kereta
kita membahasnya.”
Engkau menatapku. Ada yang menyala pada tatapanmu.
“Koko bersungguh-sungguh?”
Aku mengangguk gembira. Gembira dengan reaksimu yang persis seperti
harapanku. “Kanya mau?”
Engkau mengangguk sembari tersenyum. Senyum paling rekah yang pernah

kusaksikan.
“Dua lagi.”
“Dua?”
“Iya ....” Aku mengangkat telunjuk, “satu ... mulai Senin, selesai sekolah, saya

akan menyusul Kanya berjualan keliling. Jadi, saya tidak kelamaan menunggu
di stasiun.”

Aku menaruh telunjuk di bibirku. Menghentikanmu yang hendak
memotong kalimatku. Lalu, aku menambahkan jari tengah, menjadikannya
bilangan dua. “Dua ... mulai Senin saya akan naik kereta dari stasiun yang
sama dengan Kanya. Sebelum subuh saya naik sepeda dari rumah ke
Cisalangka. Nanti sepeda saya titip di stasiun, lalu kita berangkat bersama-
sama.”

“Jauh sekali, Ko.”
“Karena itu, saya berangkat sebelum shalat Shubuh. Kita jadi punya waktu
lebih lama di kereta ...,” aku menatapmu, tetapi pandangan kita tak bertemu,
“... untuk belajar.”
Engkau kian menjauhkan pandanganmu. Lalu, dengan selendang engkau
seka sesuatu yang menetesi pipimu. Apakah aku melukai kepekaanmu?
“Maaf, saya menyinggung perasaan Kanya.”
Engkau menggeleng. “Tidak, Koko. Saya ... saya merasa beruntung. Koko
sangat baik kepada saya.”
Aku merasa lega seketika. Sebab, menyakitimu sama saja menyakiti diriku
sendiri. Aku tak akan pernah melakukannya, Kanya. Keriuhan kereta menjeda
pembicaraan kita. Mungkin sebaliknya, kita membiarkan suasana menjeda
perbincangan kita. Memberi kesempatan pada batin untuk mencerna apa yang
baru saja terjadi.
“Mengapa menangis, Kanya?”
Engkau tak segera menjawabnya. “Saya ingat Bapak,” engkau bergulat
dengan emosimu, “... Bapak selalu berharap saya bisa sekolah. Bapak selalu
meminta maaf setiap teringat saya yang bekerja, sedangkan teman-teman saya
berangkat sekolah.”
“Bapak sangat sayang Kanya.”
Engkau mengangguk-angguk. “Jika saya turuti keinginan Bapak agar saya
sekolah, beban Bapak akan sangat berat.”
“Bapak pasti sangat bangga dengan Kanya.”
“Bapak akan sangat berterima kasih kepada Koko.”

“Saya?”
Engkau mengangguk. “Karena Koko memberi kesempatan saya untuk terus
belajar.”
Aku segera paham apa yang engkau rasakan. Hal di luar perkiraanku sama
sekali. Mengapa aku menawarimu untuk belajar di kereta alasannya karena aku
tak ingin kita kehabisan alasan untuk bicara, Kanya. Selain aku percaya,
engkau anak pintar dan haus ilmu pengetahuan.
Kita terdiam cukup lama. Bingung hendak bicara apa.
Aku memilih caraku sendiri. Membuka tas gitar, meletakkannya di
pangkuan, lalu segera menemukan lagu yang mewakili perasaanku,
perasaanmu, saat itu. “Hidupku Penuh Warna” kunyanyikan dengan sendu.
Aku tahu engkau merasakan emosi itu. Emosi dalam lagu. Meski engkau tak
tahu apa artinya secara makna. Memandangi panorama di luar kereta sembari
laguku pada pendengaranmu, menyentuh batinmu, meminta air matamu.
Aku tak lagi mencari matamu. Aku menyanyi dengan hatiku dan tak peduli
bagaimana orang-orang di kereta memahaminya.
Perasaanku saja atau memang ada keheningan di sekelilingku. Orang-orang
itu menyimak laguku menyerap emosi di dalamnya.
Lagu itu mengalir saja. Seolah aku telah mengenal bapakmu dan bagaimana
ia memahamimu. Sebab, lagu ini, kurasa, adalah kata hatinya, kesedihannya,
rasa yang ingin ia ungkapkan kepadamu.
Lagu itu usai ketika kereta telah menyelesaikan perjalanannya. Seperti hari-
hari sebelumnya, kita kemudian turun dengan cara yang sama. Aku lebih
dahulu menurunkan bakul ikan asinmu, lalu engkau menyusulku.
Kita berjalan bersisihan, sementara gelap mulai turun. Lampu-lampu
memberi keremangan seperti hari-hari sebelumnya.
“Lagu tadi ...,” untuk kali pertama, engkau menjadi pembuka bicara di antara
kita berdua, “... tentang apa, Ko?”
“Rasa-rasanya tentang apa?”
“Kedengarannya lagu sedih.”
Aku mencoba mencari kalimat yang paling sederhana. “Lagu itu hidup yang
penuh warna. Kadang bahagia, kadang sedih. Semua orang mengalaminya.”
Aku tahu engkau menyimakku. “Kita harus penuh semangat, tidak boleh
menyerah. Saya yakin, Bapak ingin mengatakan itu kepada Kanya.”
Engkau terdiam. Menunduk, seperti tengah memastikan kaki-kakimu
melangkah dengan benar, menghindari setiap lubang.

“Kanya mau kalau saya tuliskan liriknya?”
“Apa tidak akan merepotkan Koko?”
“Tidak. Repot apanya? Hanya menyalin dari kaset. Mau, ya?”
Engkau mengangguk.
“Mau?” Aku ingin mendengar suaramu.
“Mau.”
Kita berpisah di masjid kecil itu, seperti hari-hari lalu. Besok, kita tak akan
bertemu. Namun, aku merasa pekan depan adalah hari-hari yang layak
ditunggu. Sangat layak aku tunggu.

SABTU, hari tutup buku. Sejak kapan aku tidak tahu Pak Haji
memberlakukan aturan itu. Dahulu, Pak Haji sendiri yang mengecek
pemasukan toko. Sejak aku sekolah di kota, pembukuan toko menjadi
tanggung jawabku. Memastikan setiap nota yang keluar sama angkanya
dengan jumlah rupiah yang ada di brangkas.

Pembukuanku hanya berupa kas besar. Berapa pemasukan, jumlah
pengeluaran, lalu saldo yang tersisa. Saldo itu pemasukan bruto toko di luar
modal. Bisa untuk tambahan modal atau disimpan di bank setiap akhir bulan.

Gaji pegawai dimasukkan ke belanja toko. Para pegawai digaji pekanan, pada
Minggu. Senin dimulai pembukuan yang baru. Pada akhir bulan, semua data
dicermati ulang. Memastikan tidak ada yang terlewatkan.

Untuk belanja barang, seluruhnya dibayar dari kas yang berbeda. Kas modal
yang dipegang Pak Haji sendiri. Sebagian barang di toko Pak Haji
menggunakan perjanjian konsinyasi. Jika laku, untung dibagi dua dengan
pemasok. Sedangkan jika menumpuk, barang diambil lagi. Namun, banyak
juga yang mesti dibeli dahulu.

Barang material semacam kayu, genteng, batu bata, pasir, keramik, Pak Haji
belanja lebih dahulu. Untungnya lebih besar, risikonya pun tak kecil. Jika
barang rusak atau tak laku, alamat jadi stok. Kadang dijual murah atau
disumbangkan.

Malam itu, aku mengecek nota satu per satu. Menjumlah angka, lalu
memeriksa bundel uang di brankas. Setiap hari, bisa Pak Haji, Bu Haji, atau
Pak Wawan melayani pembeli. Hasil penjualan dibundel dan dimasukkan

brankas. Ada tujuh ikat uang yang kuperiksa. Setiap bundel ada nama harinya.
Senin sampai Sabtu. Penjualan Minggu dan Senin dijadikan satu. Pekan ini
penjualan cukup bagus. Ada puluhan nota dengan angka yang rata-rata cukup
besar. Mereka yang belanja tidak hanya dari lingkungan perumahan. Banyak
juga yang datang dari luar. Beberapa nama pembeli pada salinan nota sama
sekali tidak kukenal.

Aku memindahkan angka-angka di nota ke kas besar. Setiap transaksi barang
kuperiksa lagi. Jangan sampai ada selisih. Satu per satu nota kemudian
kutempelkan sebagai lampiran. Setiap pembelanjaan kuurutkan sesuai hari dan
tanggal.

Pada kas bulanan, transaksi hanya diwakili oleh nota per pekan. Redaksi pada
kolom keterangan berbunyi, pengeluaran gaji karyawan pekan pertama atau
pemasukan pekan pertama. Detailnya sudah ada pada pembukuan pekanan.

Aku tidak tahu dan tidak pernah bertanya ilmu akuntansi mana yang diikuti
Pak Haji. Bertahun-tahun dia terbantu dengan cara itu. Semua tercatat,
kebocoran keuangan bisa ditekan, perputaran barang bisa diketahui dengan
pasti. Mana barang yang laku, mana yang tidak diminati pelanggan. Kapan
mesti belanja lagi, kapan mesti menagih piutang.

“Beres, A?”
Dari konsentrasi tinggi, sejak tadi sendiri, lalu serasa tiba-tiba di hadapanku
berdiri Pak Haji. Itu cukup menganggetkanku.
“Saya kaget, Pak Haji …,” aku mentertawakan diri sendiri, “… saya sedang
memeriksa ulang transaksi hari Kamis, Pak Haji.”
Pak Haji dengan senyumnya yang selalu kubaca sebagai kesedihan, duduk di
sebelahku. Sama-sama menghadap etalase kaca yang berisi macam-macam
onderdil alat listrik.
“Ada yang tidak cocok, A?”
Aku mengangguk ragu, “Sedang saya periksa lagi, Pak Haji. Mungkin saya
salah hitung. Hari-hari lain sudah cocok, sesuai nota.”
Pak Haji melongok catatanku. “Berapa selisihnya, A?”
“Lumayan banyak, Pak Haji. Sekitar seratus ribu.”
Pak Haji tersentak, “Banyak itu, A.”
“Iya, Pak Haji. Ini coba saya hitung lagi notanya.”
Pak Haji tidak berkata-kata lagi. Dia membuka bundel uang, yang diikat
karet, penghasilan pada Kamis, sedangkan aku memisahkan nota pembelian
dan pemasukan sekali lagi. Kubaca lebih teliti. Satu per satu kujumlahkan di

kalkulator. Hasil penjumlahan kutuliskan di buku.
“Berapa seharusnya jumlah uangnya, A?”
“Ini, Pak Haji.” Aku menyodorkan buku yang kutulis jumlah rupiah di situ.
“Sudah dikurangi belanja?”
“Sudah, Pak Haji …,” aku mengarahkan ujung pulpen ke jumlah angka

belanja barang, “… ini jumlah belanjanya.”
“Benar, ada selisih seratus ribu. Itu banyak sekali.”
“Seingat saya belum pernah terjadi, Pak Haji.”
“Apa terpakai oleh Bu Haji, ya …,” Pak Haji buru-buru menggeleng, “…

tidak mungkin. Uang toko tidak boleh diutak-atik.”
Aku tidak berani berkomentar sama sekali.
“Kalau terpakai untuk kembalian, pasti ada hari lain yang kelebihan jumlah

saldonya.”
Aku mengangguk-angguk. Kemungkinan itu masuk akal. Jika ada saldo

terpakai transaksi, Pak Haji sudah lama mengajari kami agar membuat catatan
tersendiri. Dengan begitu, angka akhir setiap harinya bisa sesuai dengan nota.

“Jangan-jangan ada yang mencuri, A?”
“Bukankah kunci brankas yang punya hanya Pak Haji?”
Pak Haji mengangguk. Berpikir, lalu hendak mengatakan sesuatu, tetapi
tertahan oleh kedatangan Bu Haji.
“Abah …,” Bu Haji muncul dari pintu dalam, bergabung dengan kami di
bagian depan toko, “… Pipin tidak bangun-bangun.”
“Dari pulang sekolah masih tidur?” Ada nada kesal pada suara Pak Haji.
“Iya, Bah.”
“Ashar tadi Abah bilang ke Umi untuk membangunkan Pipin.”
“Iya, Bah. Tapi, Pipin tidak bangun. Pintu dikunci.”
“Jadi, tidak shalat Ashar dan Maghrib?”
Bu Haji terdiam.
“Umi ini memang terlalu memanjakan Pipin.”
Sesudah mengatakan itu, Pak Haji langsung beranjak dari kursi,
meninggalkan aku yang buru-buru membereskan pekerjaan pembukuan.
Selain perihal selisih seratus ribu itu tentu saja, aku ingin segera menyusul Pak
Haji. Ingin tahu apa yang terjadi. Juga berjaga-jaga jika Pak Haji lepas kendali.
Aku memasukkan seluruh uang ke brankas, menguncinya, lalu menyusul Pak
Haji dan Bu Haji masuk ke rumah. Menghampiri kamar Pipin yang tertutup
sedari tadi. Sekarang Pak Haji berdiri sambil menggedor-gedor pintunya.

“Pipin! Bangun!”
Tidak ada jawab dari dalam kamar. Tinju Pak Haji makin kencang
menghantam pintu. “Pipin, kalau tidak buka pintu, Abah dobrak! Ayo buka!”
Bu Haji mulai menangis tanpa suara. Tangannya menutup mulut, air
matanya terus berlinangan.
“Pak Haji, barangkali ada kunci cadangan?” Aku berusaha mencegah hal-hal
tak perlu. Mendobrak pintu bisa menimbulkan masalah baru.
“Umi …,” Pak Haji menghardik istrinya sendiri, “… ambil kunci cadangan.”
Bu Haji mengangguk tanpa kata-kata. Dia lalu berlalu cepat menuju
kamarnya.
“Anak ini makin susah diatur!” Pak Haji mengentak pintu, memuaskan
emosinya, “… apa-apa dituruti jadinya begini.”
Bu Haji datang membawa kunci. Pak Haji mengambilnya tanpa kata permisi.
Dia masukkan anak kunci ke lubangnya, dia putar, lalu menyentak pegangan
pintu. Kamar pintu Pipin terbuka. Gelap. Pak Haji meraba dinding,
menyalakan lampu.
Pipin menggeletak di tempat tidur tanpa bergerak.
“Pipin!” Bu Haji yang pertama menubruk anaknya. Mungkin khawatir
suaminya akan menyakitinya. Bisa juga Bu Haji justru berpikir jiwa Pipin
dalam bahaya.
Pak Haji menyusul. Sebelum berkata apa pun, dia memeriksa napas Pipin,
menepuk-nepuk pipinya. “Tidur anak ini.”
“Tidur, kok, lama sekali, Bah?”
Aku ikut mendekat ke dipan. Wajah Pipin biasa saja. Tidak sangat pucat,
tetapi juga tak terlihat sehat. Ada pikiran yang melintas di benakku. Namun,
kutahan, tidak kukatakan.
“Sebaiknya kita panggil dokter saja, Pak Haji.”
Pak Haji menoleh kepadaku. Hendak mengatakan sesuatu.
Aku mendahuluinya, “Untuk memastikan saja, Pak Haji.”
Pak Haji menoleh ke istrinya. “Telepon Dokter Yuda, Mi.”
Bu Haji yang tidak berhenti menangis, lalu meninggalkan kamar itu, menuju
ruang tengah, menelepon Dokter Yuda; dokter praktik yang tinggal di
kompleks. Dokter Yuda bukan dokter keluarga, tetapi kedekatannya melebihi
keluarga. Aku dan Pipin bergantian disunat oleh Dokter Yuda sewaktu kami
masih bersekolah di TK. Jika sakit, Pak Haji hanya mau diperiksa oleh Dokter
Yuda. Dia yakin betul hanya tangan Dokter Yuda yang bisa

menyembuhkannya.
Aku duduk di sebelah Pak Haji. Meraih tangan Pipin, merasakan panas

tubuhnya. Aku lagi-lagi menduga-duga.
“Anak ini kenapa?”
Sudah tidak ada kegarangan dalam suara Pak Haji. Tinggal suara seorang

ayah yang mengkhawatirkan anaknya.
“Pin … bangun, Pin..,” suara Pak Haji mulai bergetar, “… kamu kenapa,

Cep?”
Aku tidak yakin harus berbuat apa, berkata apa. Rasa bersalah itu tidak hanya

punya Pak Haji. Aku pun memilikinya. Setelah perbincangan di benteng
beberapa hari lalu aku sama sekali belum berbicara banyak dengan Pipin. Kami
tinggal serumah, tetapi hanya sempat bertukar sapa pada pagi hari ketika sama-
sama hendak berangkat sekolah. Di luar itu, tidak sama sekali.

Aku merasa gagal melaksanakan pesan Bu Haji. Gagal secara keseluruhan
memenuhi harapan keluarga Pak Haji. Sebab, sejak kecil aku diposisikan
sebagai kakak Pipin. Semestinya aku lebih menjaganya. Sedikit pun tak boleh
terlena.

“Pak Haji ….” Dokter Yuda datang bersama Bu Haji. Dia segera masuk ke
kamar Pipin, seperti tak mau membuang waktu. “Pipin sakit?”

“Pak Dokter …,” Pak Haji tampak lega bantuan datang lebih cepat daripada
yang dia perkirakan, “… maaf malam-malam merepotkan.”

Aku bangun, menjauh dari dipan, menghampiri Bu Haji.
“Tidak apa-apa, Pak Haji.” Dokter Yuda duduk di pinggir dipan. Memeriksa
dengan sigap. Menyenter kedua mata Pipin, dua-duanya, bergantian.
Memeriksa denyut nadi, mengeluarkan stetoskop, mengecek dengan lebih
teliti.
“Anak saya kenapa, Dok?” Pak Haji berbicara setengah merintih.
“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kecapekan saja sepertinya.”
“Alhamdulillah ....” Bu Haji menyatukan dua tangannya di dada. Tampak
lega luar biasa.
Sementara itu, Pak Haji belum bersuara. Dia masih terkesan bingung dan
tidak percaya. “Kecapekan apa?” menoleh pada istrinya, “Pipin ikut kegiatan
apa, Mi?”
“Beberapa kali Pipin menginap di temannya, kan, Bah. Mungkin badannya
kewalahan. Kurang makan.”
Pak Haji mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Pipin.

Aku memperhatikan semua adegan ini dengan batin bertanya-tanya.
“Saya resepkan vitamin saja, ya, Pak Haji …,” Pak Dokter menghampiri
meja, hendak menulis di sana, “… nanti kalau sudah ada vitaminnya
diminumkan begitu Pipin bangun.”
Bu Haji mendekati dipan sembari menjawab, “Iya, Pak Dokter. Terima kasih
banyak.”
“Vitaminnya harus ke apotek ini, di klinik tidak ada,” sambung Dokter Yuda.
“Biar saya yang ke apotek, Pak Haji,” kataku menawarkan diri.
“Malam-malam, A,” komentar Pak Haji.
“Tidak apa-apa, Pak Haji …,” aku menghampiri Dokter Yuda, “… cuma
vitamin, Dok?”
Dokter Yuda mengangguk. “Saya suntik sekali biar cepat bangun. Tapi,
pemulihannya nanti harus didukung vitamin.”
Aku menerima lembar resep dari Dokter Yuda, lalu menoleh ke Pak Haji,
“Saya panaskan dolak dulu, Pak Haji.”
“Mi …,” Pak Haji memberi isyarat kepada istrinya, “… Aa mau menembus
vitamin itu.”
“Iy … iya, Bah,” Bu Haji bangun dari dipan, “… sebentar, A.”
Aku mengiakan sanbil keluar kamar, menuju toko. Setelah mengambil kunci
pick up, aku lalu membuka rooling door garasi. Menyalakan mobil,
mengeluarkannya dari tempat parkir.
Tidak lama dokter keluar dari pintu diantar Pak Haji. Basa-basi sebentar, apa
bunyinya, aku tidak jelas mendengar. Dokter Yuda lalu menghampiri
mobilnya. Aku buru-buru mematikan mesin, turun dari mobil, lalu
menyusulnya.
“Maaf, Dok …,” aku menghentikannya persis sewaktu dia hendak membuka
pintu mobil, “… boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tanya apa, A?”
“Apa benar Pipin hanya kecapekan?”
Dokter Yuda mengurungkan niatnya, “Saya tadinya mau bicara dengan Pak
Haji jika situasinya sudah memungkinkan. Tetapi, saya kira kamu sudah tahu
kebenarannya.”
Aku menunggu Dokter Yuda membuka mulutnya.
“Pipin minum obat terlarang.”
“Pil koplo, Dok?”
“Ada yang menyebutnya begitu.”

Meski sudah menduga, diyakinkan oleh Dokter Yuda membuatku kaget juga.
“Apa bahaya, Dok?”
“Sementara tidak. Tetapi, kalau Pipin terus memakai, dia bisa kecanduan.
Susah untuk berhenti.”
Aku terdiam.
“Besok saya akan bicara dengan Pak Haji.”
“Dok …,” aku buru-buru memotong kalimat Dokter Yuda, “… kalau boleh,
biar saya saja yang menyampaikan ke Pak Haji.”
“Begitu?”
Aku mengangguk cepat, “Pak Haji sedang emosional. Saya takut, kabar ini
akan memperburuk keadaan.”
Dokter Yuda mengangguk-angguk. Dia menepuk pundakku. “Saya serahkan
ke kamu. Kamu lebih tahu keluarga Pak Haji.”
Aku mengangguk lagi. “Terima kasih, Dok.”
Dokter Yuda tersenyum sembari masuk ke mobilnya. Ketika mobilnya
meninggalkan rumah Pak Haji, suatu kesadaran mengentak dadaku. Aku
mengira, kehilangan uang di toko Pak Haji berkaitan dengan ini.

DUA malam itu, aku tidur di kamar Pipin. Memastikan dia baik-baik saja.
Setelah disuntik Dokter Yuda, Pipin sadar persis tengah malam. Aku
meminumkan vitamin yang diresepkan Dokter Yuda, lalu membuatkannya mi
instan. Dia kelaparan dan aku tidak bisa menemukan makanan apa pun yang
tidak membeku pada dini hari itu.

Pipin cepat pulas lagi sampai esok hari. Hari Minggu, dia masih malas keluar
kamar. Abah dan uminya menengok ke kamar, tetapi tidak banyak
berkomentar. Selain mengingatkan untuk shalat, keduanya tidak bicara banyak
kalimat.

Malah aku yang kemudian diserang demam. Aku membawa sampul-sampul
kaset Titi DJ ke kamar Pipin dan mulai menyalinnya ke lembaran buku,
sembari berkemul sarung. Aku sudah berjanji kepadamu, Kanya. Aku tidak
akan mengingkari janji pertamaku kepadamu. Aku akan menyalin lirik-lirik
lagu ini dan menghadiahkannya kepadamu.

Pipin terbangun tengah malam dan menemukanku menggigil sambil terus

menulis di meja kecil belajarnya.
“A…,” Pipin bangun, duduk menyender tembok, “… menulis apa?”
“Lirik lagu, Pin.”
“Buat apa?”
“Ada teman yang perlu.”
“Teman musik?”
“Kira-kira begitu.”
Aku menyela kegiatanku. Kuletakkan pulpen di atas buku. Aku rapatkan

sarungku.
“Aa sakit?”
Aku menolehi Pipin. “Pipin yang sakit.”
“Aku tidak sakit,” Pipin bergeser ke pinggir dipan, “sedang malas saja.”
Hening kemudian. Aku tidak terlalu yakin apakah ini waktu yang tepat

membahasnya. Namun, jika tidak sekarang, kurasa susah mencari waktu yang
pas pada hari-hari setelah ini.

“Aku minta maaf, Pin.”
“Maaf untuk apa, A?”
“Aku gagal menjaga Pipin.”
Kurasa sedikit banyak Pipin sudah tahu arah omonganku. Namun, dia
berusaha menghindarinya.
“Aku tidak perlu dijaga, A. Aku sudah besar.”
“Masalah Pipin itu serius,” aku merendahkan suaraku, “… aku sudah tahu.
Sementara ini aku tidak akan menyampaikan kepada Pak Haji dan Bu Haji.
Tetapi, aku tidak janji akan terus merahasiakannya.”
“Masalah apa, A?”
“Dokter Yuda memberi tahu aku.”
Pipin mulai gelisah meski tidak bicara apa-apa.
“Dari mana Pipin dapat obat terlarang itu?”
Semakin diam. Kurasa Pipin tidak akan membuka mulutnya sama sekali.
“Beli dari siapa?”
Pipin menunduk. Menatap lantai.
“Kemarin Pak Haji kehilangan seratus ribu dari toko.”
“Aa menuduh aku mencuri?”
Aku merapikan sampul-sampul kaset di meja. “Aku cuma bilang, Pak Haji
kehilangan uang. Aku tidak menuduh siapa-siapa.”
“Tapi, kalimat Aa itu sama saja dengan menuduh aku.”

“Oke ….” Aku mengadu tatapanku dengan Pipin. Aku menangkap
kemarahan di matanya. “Pipin mengambil uang Pak Haji atau tidak?”

Pipin tidak menjawab. Diam sama sekali. Giginya beradu.
“Aku menyesal karena tidak bisa menjaga Pipin. Tetapi, pada sisi lain, aku
sangat kecewa karena Pipin melakukan semua ini.”
Pipin sudah tidak menatapku. Dia memamerkan ketidakpeduliannya.
Kemarahannya.
“Aku gagal menjaga Pipin. Gagal menjadi kakak yang baik. Mungkin
memang aku harus lebih cepat meninggalkan rumah ini.”
Aku bangun dari kursi, merapatkan sarungku, lalu menghampiri pintu.

Gh a 5

Sebelu m Terang Datang

A khirnya aku tahu, sejak menjelang subuh hari itu, hingga hari-hari yang
akan datang, prioritasku adalah dirimu. Tidur yang sebentar, badan yang
sedikit demam, kekhawatiranku akan keadaan Pipin tidak menghentikan
rencanaku mengawali hari-hari istimewa itu.

Aku mengayuh sepeda dalam kegelapan dini hari, mengandalkan lampu
sepeda yang sampai malam tadi baru selesai aku benahi. Berjaket parasut,
berpelindung tas ransel di dada dan gitar yang menempel di punggung. Bunyi
rantai sepeda yang mengikuti perputaran pedal yang kukayuh terdengar
nyaring dalam kesenyapan awal hari.

Dingin yang lembap menerpa wajah yang kulindungi dengan kupluk rajut.
Sampai jalan raya, angkutan yang lewat hanya sesekali. Mereka membawa para
pedagang menuju pasar. Ada rasa aman setiap mendengar suara angkot
mendekat. Sebab, aku tak sendirian. Itu pengalamanku kali pertama dan
rasanya akan kuingat selamanya.

Jalan menuju Cisalangka berkelok dan terasa tak berujung jika aku tak punya
alasan luar biasa untuk tetap menempuhnya. Engkau akan tahu, alasanku
adalah dirimu. Aku bisa saja naik angkutan menuju stasiun tempatmu
menunggu, tetapi itu akan menghabiskan tabunganku sampai titik tertentu.

Ini cara terbaik yang bisa kuusahakan. Mengayuh sepeda pulang dan pergi
stasiun. Menitipkan sepedaku di sana, lalu meneruskan perjalanan dengan
kereta. Bersamamu.

Rute yang panjang, suasana yang senyap, memberiku banyak waktu untuk
berpikir dan berusaha menjauhkan rasa kantuk. Bahkan, setelah kutinggalkan

Pipin dengan keadaan yang membuatku sedih, baru di atas sepeda itu aku
benar-benar bisa sungguh-sungguh memikirkannya.

Tak habis pikir, apa yang telah mengubahnya begitu cepat? Apa yang
memerosotkan keyakinannya hingga membolehkan apa yang dia tahu itu
melanggar larangan? Apa justru aku yang terlalu sibuk hingga tak melihat
perubahan-perubahan kecil pada dirinya yang berujung dengan peristiwa yang
tak terbayangkan?

Aku masih belum tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang
sungguh-sungguh terjadi kepada Pak Haji. Aku tidak bisa
menyederhanakannya. Pak Haji, Pipin bukan sakit karena kelelahan. Pipin
minum pil terlarang dan hampir-hampir tak tertolong.

Tidak ... tidak. Itu akan memukul perasaan Pak Haji dan Bu Haji. Aku tak
akan sanggup menyaksikan dua orang baik itu begitu gusar dan murka kepada
anaknya. Pada sisi sebaliknya, aku tahu masalah ini sudah di luar
kemampuanku. Aku tak mungkin menyimpannya sendiri.

Pembicaraan pendek tadi, sewaktu Pipin siuman meski masih sempoyongan,
belum bermakna apa-apa. Sebab, aku tahu tak cukup waktu untuk berbicara
banyak kepadanya. Aku baru bisa berjanji meski aku sendiri tak yakin akan
mampu menepati. Sebab, prioritasku kini adalah engkau, Kanya. Apa-apa yang
kurencanakan kepadamu, saat ini lebih penting daripada segalanya.

Perjalanan ini bisu, tetapi tidak pikiranku. Temanku hanyalah pikiran-pikiran
yang riuh. Sampai Rancaekek, lalu lintas provinsi tampak benar tak pernah
mati. Bus-bus besar dari Jakarta dan Bandung meluncur menuju Garut,
Tasikmalaya, serta kota-kota di tengah dan timur Pulau Jawa.

Akan tetapi, tak berlangsung lama. Begitu laju sepedaku membelok pada
lajur jalan melengkung semacam busur, aku segera mencapai pertigaan menuju
Cisalangka. Setelahnya jalan kembali sepi. Tinggal angkot pembawa pedagang
yang berpapasan denganku sesekali.

Jalur aspal yang naik turun dan berbelok-belok, dengan kanan kiri sawah
gelap, kadang perkampungan sepi, sampai kemudian kian mendekat kota
kecamatan. Semangatku kian memompa kaki-kakiku. Telah kurencanakan,
pada saat azan Shubuh, aku telah sampai di stasiun. Sehingga, aku bisa berdoa
dengan tak tergesa-gesa, dan punya sejenak waktu untuk beristirahat sembari
menunggumu.

Lampu-lampu kota kecamatan yang jarang-jarang berkelipan, seperti mata
yang kurang tidur. Aku terus memacu sepeda hingga sampai ke stasiun yang

sedini ini mulai didatangi orang-orang dengan bermacam keperluan. Oh,
alangkah lega hati karena janji pertamaku kepadamu telah terpenuhi.

Memasuki stasiun, aku terus mengayuh sepeda ke tempat penitipannya.
Tersenyum sendiri karena baru menyadari apa yang aku lakukan bukan hal
luar biasa dan tak ada yang menyamainya. Puluhan sepeda mengantre
memasuki tempat penitipan. Mereka orang-orang yang akan melanjutkan
perjalanan menuju kota.

Bersama orang-orang, aku meninggalkan tempat penitipan sepeda. Sebagian
dari mereka bersegera masuk stasiun, sebagian lagi sama denganku, melangkah
ke masjid. Sebagian kecil.

Azan mengudara, memacu langkah jemaah. Tidak banyak. Satu saf saja. Laki-
laki semua. Sejak balita aku menjalani ini. Aku setengah tidur ketika Pak Haji
menggendongku, sedangkan hari masih gelap dan dingin, dahulu sekali. Shalat
Shubuh ke masjid. Begitu juga waktu-waktu shalat yang lain. Selagi aku di
rumah, sedang melakukan apa pun, Pak Haji akan mendatangiku dan
mengajakku, setengah memaksa, pergi ke masjid. Sampai sekarang, rutinitas
itu yang mendorongku melakukan yang sama meski belum benar-benar
menikmatinya.

Aku tak terlalu memikirkan sejauh mana shalat rutin membuatku merasa
lebih religius. Aku hanya merasakan, disiplin ini memberiku arah yang benar.
Perhentian-perhentian yang memaksaku diam sejenak. Meski sampai sekarang
diamku dalam shalat belum melahirkan hal-hal yang besar.

Usai shalat dua rakaat yang tak memberi banyak kesan itu, aku duduk di
teras masjid, menyandari tiang, memandang ke kejauhan. Ke belokan tempat
engkau biasa hilang dari penglihatan. Menunggu, sementara orang-orang
mulai meninggalkan masjid. Aku lalu menarik tas, kemudian membuka-buka
isinya. Buku-buku pelajaranku saat kelas I SMP, tiga tahun lalu. Kuambil buku
bahasa Indonesia.

Aku merasa inilah jawaban mengapa aku tak pernah tega memindahkan
buku-buku itu dari lemari kamarku. Buku-buku itu menunggumu. Aku mulai
memikirkan ide bahwa Tuhan sejak lama telah menyiapkan pertemuan kita.
Sebab, aku pernah memimpikanmu sebelum aku mengenalmu. Jauh sebelum
pertemuan pertama kita, Kanya.

Aku benar-benar menyaksikan wajahmu. Merasakan kehalusan tanpa
menyentuhnya. Kelopak mata yang menyendukan tatapanmu, dagu yang halus
dan baik. Bahkan, aku tidak bisa menemukan kata yang tepat selain baik.

Sebab, dagumu memberi kesan itu. Kesan istimewa, tidak rata-rata, ningrat ...
entahlah. Persis sama dengan wajah dalam mimpi itu.

Berapa mimpi dalam hidup yang bisa engkau ingat, Kanya? Aku sedikit saja.
Mimpi perihal wajahmu itu salah satunya. Setidaknya aku meyakini begitu.
Bahwa pada suatu waktu pada masa lalu, aku telah mengenal auramu.

“Ko ....”
Buyar lamunanku. Kuletakkan buku pelajaran itu. Buru-buru berdiri
menyambutmu yang berdiri tak jauh dariku, dengan senyum malu-malu.
“Saya bawakan.” Aku menghampirimu, tak mau menerima penolakanmu.
Aku menahan bakul bambu besar yang menyakiti punggungmu itu, sementara
engkau melepaskan ikatan selendangmu. Iya, kali ini engkau tidak menolak
tawaranku. Mungkin karena engkau merasakan kesungguhanku.
“Tas Koko, saya bawakan.”
Aku mengangguk sambil merasakan debur pada rasaku. Engkau
memanggilku “Koko”. Itu selangkah lebih dekat dibanding jika engkau
memanggil “Ko Kashmir”. Aku tersenyum oleh rasa bahagia yang
mengharukan. Sementara engkau menghampiri tasku, memasukkan buku
yang tadi kuletakkan di lantai, aku mulai menemukan kebingungan baru.
Bagaimana caranya mengangkat bakul besarmu?
Jika aku pedagang kampung, aku akan membawa dua bakul. Mengangkatnya
dengan bilah bambu kokoh sebagai penanggungnya. Meletakkan bagian
tengahnya di bahu. Namun, bakulmu cuma satu. Jika aku mengangkatnya
seperti caramu, itu akan terlihat lucu. Sedangkan jika kuletakkan di dadaku,
tidak ada yang melakukannya sebelumku. Kalau kuangkat saja dengan kedua
lenganku, butuh waktu lama untuk menyelesaikan jarak masjid menuju kereta.
Aku menggenggam selendangmu dan masih tak yakin apa yang mesti
kulakukan.
Aku menoleh kepadamu dan menemukanmu duduk di sebelah tasku sambil
tersenyum dan menunduk. Jelas-jelas engkau mentertawakan kebingunganku.
“Lucu, ya?” tanyaku pura-pura kesal.
Engkau menggeleng sembari menahan tawamu. Telapak tangan menutupi
mulut.
Ya, Allah, engkau benar-benar tertawa tanpa suara. Itu membuatku amat
berbahagia. Aku tak peduli apa-apa lagi. Segera aku tirukan caramu.
Kuselempangkan selendang panjangmu ke dudukan bakul, lalu aku duduk
membelakanginya. Membuat simpul di dadaku, lalu bangkit perlahan,

memastikan bakul berisi buah dan sayuran itu tak merosot di punggungku.
Segera kurasakan beban yang tak ringan di sana.

Sementara itu, engkau semakin bersungguh-sungguh menelan tawamu.
Sesekali keluar juga ekor tawamu yang pasti menyiksa perutmu. Sebab,
semestinya tawa dibiarkan lepas ke udara.

“Ayo ...,” ajakku, “... saya sudah siap.”
Aku benar-benar tak peduli bagaimana penampilanku. Hal yang kupikirkan
hanyalah bagaimana mengurangi bebanmu, setiap engkau bersamaku. Aku lalu
meraih gitar dan penampakanku kian ganjil. Namun, aku benar-benar tidak
hendak memikirkan apa yang akan dipikir oleh orang-orang.
Akhirnya, engkau mampu mengendalikan tawamu, bersisa senyummu. Lalu,
kita berjalan bersisian dengan ganjil. Aku yang berseragam putih abu-abu,
menanggung bakul sayuran dan menenteng gitar. Engkau, dengan baju
kurungmu; kembang-kembang atas bawah satu motif, mencangklong tas
sekolahku.
“Berat tasnya?” Aku bersungguh-sungguh ingin tahu.
Engkau menggeleng.
“Nanti saya bungkus kresek, jadi Kanya gampang bawa pulang.”
Engkau mengangguk. “Terima kasih, Ko.”
“Sama-sama,” jawabku gembira. Engkau tahu, kelak kita akan sering berdebat
soal ini. Aku ingin engkau berhenti mengatakan “terima kasih” karena aku
melakukan apa pun untukmu tidak bertujuan mengasihkan apa-apa. Engkau
pun tidak menerima apa-apa. Aku melakukannya dengan rela. Itu seperti
bernapas semata.
Aku tahu, sepanjang perjalanan pendek kita menuju kereta, orang-orang
memperhatikan kita. Terutama aku. Mereka yang setiap hari menggunakan
kereta itu telah pasti mengenal sosokmu meski bisa jadi tak tahu namamu.
Lalu, tiba-tiba ada aku berjalan di sebelahmu. Mengenakan seragam sekolah,
tetapi menggendong bakulmu.
Aku tahu engkau risi juga, tetapi memendamnya. Engkau mulai tahu apa
yang akan aku katakan jika engkau ingin kita menghentikan ini. Bahwa, aku
tak peduli dengan apa yang dipikirkan orang-orang. Seperti halnya aku tak
mencampuri urusan mereka. Aku belum mengatakannya, tetapi suatu saat
pasti aku akan meyakinkanmu, bahwa sejak hari itu, prioritasku adalah
engkau, Kanya.
Dunia kelak menjadi panggung raksasa yang menurut rasaku, isinya hanya

engkau dan aku. Aku akan memikirkan hal lain, tetapi semuanya akan kembali
tentangmu. Senantiasa begitu.

“Saya beli tiket dulu, Ko.”
“Biar saya saja.”
Engkau menggeleng, lalu mendahuluiku menuju loket. Aku tak sanggup
mencegahmu. Menunggu. Engkau masuk antrean, aku berpikir bagaimana
urusan pertiketan tak menyulitkan kita pada waktu-waktu mendatang. Aku
mengelilingkan pandangan, sesekali membalas senyum keheranan orang-orang.
Engkau akan tahu Kanya, jika itu memudahkan hidupmu, aku tak keberatan
untuk mempermalukan diriku sendiri. Hari pertama ini bukan apa-apa.
“Dapat?”
Aku memastikan saja. Sebab, dari tempatku berdiri pun aku bisa melihatmu
bertransaksi dengan petugas tiket. Begitu menyelesaikan urusanmu dan
menghampiriku, kita akan segera menempuh perjalanan pertama kita dari
pangkal rute kereta.
“Dapat, Ko.”
Aku memberikan senyum terbaikku. “Begini saja, agar tidak saling
membebani, tiket berangkat Kanya yang beli. Tiket pulang, saya yang bayari.”
Engkau menatapku sekejap. Lalu, mengangguk sembari tersenyum. Kalau
tidak sejak awal kita sepakati ini, hari-hari ke depan tentu akan menyulitkan.
Tidak murah jika dikalikan setiap hari mentraktir tiket kereta baik bagiku
ataupun bagimu. Bergantian membeli tiket sama saja membayar sendiri-
sendiri, tetapi kita akan merasakan kebersamaan. Bertukar perhatian.
Pengumuman petugas dari pengeras suara nyaring terdengar. Kereta sudah
siap berangkat. Pengumuman itu diulang-ulang, menggiring orang-orang.
Rada berlomba-lomba naik kereta. Aku melepas ikatan selendang,
menurunkan bakul dari punggung. Meletakkannya sementara di keramik
stasiun. Bersebelahan dengan gitarku. Akan lebih mudah urusannya ketika
nanti aku mengangkatnya ke atas kereta.
Tidak ada tangga yang memudahkanmu naik gerbong. Aku lebih menjagamu
dari desakan orang-orang, sedangkan engkau memijak lubang besi di bawah
pintu yang menggantikan tangga, fungsinya. Setelah engkau berhasil naik, aku
mengangkat bakulmu ke pintu, lalu mendorongnya. Engkau menariknya lebih
dalam. Aku lalu meraih gitar dan menyusul naik setelah dijeda beberapa
penumpang.
Kita bersitatap dan tertawa. Tentu engkau melakukannya tanpa suara.

Namun, kita benar-benar merayakan ini. Hal yang akan kita ulang hampir
seribu kali, setelahnya.

Masih ada tempat duduk tersisa. Namun, hanya muat untukmu. Persis di
sebelah pintu kereta yang terbuka. Aku memberimu tanda agar segera mengisi
bangku kosong itu. Aku berdiri di sebelahmu, kemudian. Kereta segera
bergetar, bersambung dengan peluit panjang.

Sejak hari itu, perjalananmu sepenuhnya menjadi pengembaraanku.
Subuhmu menjadi milikku, petangmu menjadi akhir petualanganku. Gunung
dan sawah yang engkau saksikan setiap pagi, menjadi isi mataku tanpa
terkecuali. Beban di punggungmu beralih ke punggungku. Gelisah dan
gembiramu menjadi laguku.

“KITA buat band, yuk.” Aku menyenggol siku Iding, ketika sesendok soto
hampir saja masuk ke mulutnya. Jadi menyodok hidungnya, sebagian
berantakan di meja.

Iding melotot, aku mengambil kain lap. “Maaf … maaf,” kataku sambil
mengelap meja, baju seragam, mulut, sampai seluruh mukanya.

“Nanaonan, siah!” Iding mengumpat sambil agak tersedak.
Aku tergelak melihat ekspresi wajahnya, mata mendeliknya, sampai ceceran
nasi di sekitar mulutnya. Ditimpa tawaku, caci maki yang keluar dari
mulutnya terdengar seperti kata “kancing, coplok, kancing, coplok” yang
diulang-ulang.
Makan siang di kantin sempit, menempel di kamar kecil pesing dengan pintu
susah ditutup itu memang perlu sedikit hiburan. Kami punya selera humor
yang slapstick. Seperti semua penonton Warkop dan Srimulat.
“Mau tidak?”
“Naon? Mau apa?”
“Bikin band, bel!”
Iding menyuap lagi.
“Daripada kita praktik-praktik cuma untuk nilai pelajaran, sekalian nge-band
saja.”
“Berdua?”
“Cari lagi siapa gitu. Kalau bisa mah perempuan satu.”

“Bagaimana kalau Rusi?”
“Kelas?”
“IC.”
“Oh, yang waktu malam keakraban tampil itu?”
Aku ingat pada ujung masa orientasi sekolah, pengurus OSIS mengadakan
malam keakraban di sekolah. Isinya pembacaan surat cinta palsu kepada para
kakak OSIS setengah narsis, lalu menyanyi lagu Stinky yang mengesahkan
beberapa pasangan baru hasil cinta lokasi. Terakhir sudah pasti lagu “wajib
nasional” setiap akhir acara apa saja: “Kemesraan”.
Tunggu … tunggu. Ada satu penampilan menonjol ketika anak baru
menyumbangkan satu lagu. Dia menyanyikan lagu “Goodbye” milik Air
Supply. Rusi, suaranya bulat, nada tinggi tidak tajam, nada rendah pun tak
menggerung.
“Dia bisa?”
“Dia sudah ke mana-mana. Semua lagu bisa.”
“Ke mana-mana, ke mana? Kafe? Panggung nikahan? Pesta 17-an?”
“Ya, maksudku sudah biasa menyanyi begitu.”
“Justru itu. Mau tidak bergabung dengan kita? Band amatir.”
“Maulah.”
“Yakin sekali?”
“Serahkan ka aing,” Iding menyeruput es jeruknya, “… asal jamunya cocok,
beres semua.”
“Jamu apa?”
Iding mencekik botol kecap, lalu berakting dengannya. “Sudah lama nih.
Setelah sekolah, ya?”
Aku segera paham. “Haram, bahlul.”
“Itu kenikmatan dunia namanya. Jangan terlalu stres, Kash. Santai … santai.”
“Ding,” aku berusaha mengalihkan obrolan dari tema perkecapan, “di mana,
ya, bisa dapat kunci gitar lagu-lagu lama?”
“Lagu siapa?”
“Siapa sajalah. Tahun-tahun tujuh puluh sampai delapan puluhan.”
“Busyet. Jadul sekali seleramu, Kash.”
“Untuk mengamen.”
“Mengamen?”
“Kalau kita sudah mulai latihan di studio, kan, perlu biaya, Ding. Orang-
orang di jalan setahuku lebih suka lagu lama seperti Pance, Melky Goeslaw,

Diana Nasution, Panbers ….”
“Itu artis semua?”
“Makanya, naik bus Bandung—Cirebon sekali-kali. Jangan menumpang truk

melulu.”
“Mereka naik bus itu?”
“Lagunya, bebel!”
Iding manggut-manggut.
“Nanti aku carikan.”
“Asli?”
“Palsu.”
“Eh, maksudku serius kamu bisa cari?”
Iding sekali lagi meraih botol kecap. Pura-pura menenggak.
“Neraka, Ding.”
Iding mengangkat dua tangannya. Berdeklamasi dengan suara sumbangnya,

“Nerakaku bukan urusanmu, surga belum tentu jadi tempatmu.”
“Truk jurusan mana itu?”
“Plat Z, Sumedang, Garut, Ciamis, dan sekitarnya.”
Aku tertawa sejadi-jadinya. Aku belum pernah bertemu orang seserius Iding

soal memperhatikan tulisan-tulisan di bagian belakang truk. Bahkan, dia
mencatat kalimat-kalimat itu dan dipuisikan kapan dia perlu.

“Pulang malu, tak pulang rindu.” Aku menimpali “puisi” Iding. Tidak benar-
benar menyesuaikan konteks pembicaraan.

“Kuinjak gas dan kopling agar kamu bisa shopping.” Iding terpingkal-pingkal.
Tawanya mereda perlahan. “Jadi moal?” melirik botol kecap.

“Alkohol menyelamatkanmu sementara, tapi menghancurkanmu selamanya.”
“Wah, pelanggaran. Ngarang, Siah.”
“Asli. Truk plat E, Cirebon, Kuningan dan sekitarnya.” Aku melanjutkan
tawa.
“Moal aya,” Iding melemparku dengan sendok bekas mulutnya, “... tidak
mungkin ada. Sopir truk Pantura temanku semua. Aku tahu seleranya.”
“Waduh, najis … najis.” Aku bangun, lalu keluar kantin buru-buru,
menyelamatkan diri dari jejak DNA Iding pada sendok itu.
Iding semakin meradang, “Bayar soto, Kash!”
“Ngutang heula,” teriakku sambil menuju ruang ekstrakurikuler, mengetik
sambil terus tertawa, “… habis ngetik aku bayar.”
“Kampret!” Suara Iding menggema di lorong kantin, membuat orang-orang

balas memakinya.

AKU dan band baruku mulai masuk studio latihan pekan itu. Kami berempat.
Selain aku dan Iding, dua anggota band baru saja bergabung, Parlin dan Rusi.

“Ini lengkap lagu-lagu jadul Indonesia. Selera kamu sekali.”
Iding hampir melempar majalah itu ke dadaku. Aku menahannya. Melihat
sampulnya. “Edaaan, tahun ‘70-an. Dapat di mana. Ding?”
“Beli,” Iding menghampiri drum, duduk di kursinya, “… Palasari banyak.”
Aku membuka-buka majalah yang terbit lebih dari dua puluh tahun lalu itu.
Isinya lengkap dari pro l penyanyi, notasi lagu, kunci-kunci gitar. “Buat aku
ini, Ding?”
“Iya.”
“Perhatian sekali kamu.”
“Japrem,” Iding mengangkat alisnya bergantian, “… jatah preman.”
“Katamu beli?”
“Iya, orang lain yang belikan,” Iding memukul piringan tembaga di atas
drum, “… berisik sekali kamu. Sudah pakai saja.”
Aku takjub membuka-buka majalah lama itu. Juga wajah-wajah yang sama
sekali tidak kukenali. Bukan artis-artis masa kini. Kalau masih hidup, tentu
mereka sudah menua. Aku membolak-balik halamannya.
“Latihan tidak ini?” Iding pura-pura kesal.
“Sebentar …,” aku tidak peduli gerutuan Iding, “… ada ulasan lm juga.
India lagi.”
Aku cekikikan melihat pose-pose bintang lm India zaman dahulu. Masih
tercetak hitam putih. Gaya rambut artis perempuan masih sasak tinggi, bulu
mata menghitam rada berlebihan. Pandanganku terantuk pada judul lm yang
mengejutkanku. Membuat senyumku mengembang.
“Kash …,” Iding benar-benar kesal, “… latihan.”
“Iya … iya.” Aku menaruh majalah itu di lantai studio. Memberi tanda
kepada Parlin dan Rusi untuk melanjutkan latihan kami, “… melanjutkan
yang kemarin, ya.”
“Kemarin yang mana?” Suara Iding masih disebal-sebalkan.
“Setelah re , Iding masuk. Drum terus saja, pokoknya kamu unjuk gigi,

Ding.” Aku mengarahkan teman-temanku seolah aku lebih tahu daripada
mereka. Padahal, aku mengira-ngira saja. “… setelah lirik ekspresikan diri Iding
main setengah menit. Jadi pentas drummer saja, baru masuk lagi re terakhir
mari berkarya.”

Iding mengangguk-angguk. Memamerkan gigi dalam arti sebenarnya. Gigi
kelinci. Sudah pasti dia bersemangat sekali karena aksinya akan menjadi pusat
perhatian pada pentas kami. Rusi dan Parlin masih tampak berpikir meski
berusaha mengiakan apa yang aku katakan.

Parlin Keriting adalah anggota band kami yang terakhir. Setelah Rusi
menerima ajakanku dengan penuh keanggunan, Parlin menjadi satu-satunya
anggota yang mengajukan diri. Meski sudah ditolak Iding berkali-kali. Aku
tidak tahu apakah kesepakatan mereka melibatkan “botol kecap” pada
prosesnya.

“Kita coba, ya …,” aku menunjuk mereka bertiga, “… dari re saja. Siap,
Rus?”

“Siap.” Rusi mendekatkan mikrofonnya.
Drum mengentak, gitar masuk, bas mengikuti. Rusi dan aku membagi suara.
Kami melatih aransemen lagu “Ekspresi”.
Aku dan Rusi saling pandang. Aku mengangguk, memberinya isyarat agar
bersiap-siap. Rusi mengangguk, menyanyi sendiri.
Aku masuk lagi menyumbang suara dua. “Ekspresikan diri.”
“Drum!”
Iding betul-betul penuh energi. Memukul drum sepenuh hati. Kakinya pun
mengentak pedal dengan cekatan. Dia menghitung waktu. Dia mengangguk
kepadaku, aku memberi tanda kepada Rusi. “Tu, wa, ga.”
Vokal masuk lagi.
Kami bersorak, mengapresiasi diri sendiri.
“Keren,” seru Rusi.
Iding mengacungkan tongkat drumnya. “Mantap ... mantap.”
“Tapi, menurutku drum sedikit kelamaan,” komentar Parlin.
“Setuju … setuju,” kataku, “… Ding, agak kelebihan sedikit.”
Iding mengangkat jempolnya, “Siap … siap.”
“Rusi, nada kamu dinaikkan sedikit lagi bisa?”
“Mari berkarya …,” Rusi langsung mencobanya, “… setinggi itu?”
“Dari awal coba?”
Rusi mulai menyanyi tanpa instrumen.

Aku mengangkat ibu jari, setuju dengan titian nadanya. Aku melagukan
bagianku.

Suara kami berpadu, pandangan saling bertemu, membangun ikatan dalam
lagu.

Berempat kami bertepuk tangan. Merasa cukup berhasil dalam latihan.
“Teman-teman …,” Rusi menghadapkan dirinya kepada kami. Senyumnya
merekah. Ia mengambil sesuatu dari saku belakang celana jins. Selembar kertas
dilipat-lipat. Gelang berbandul salibnya bergerak seperti pendulum, “…
rupanya, latihan kita akan segera mendapatkan panggung.”
“Apa itu, Rus?” Iding tetap duduk di belakang drum. Kaus tanpa lengan
kedodoran, rambut jabrik menohok udara. Kupikir dia memirip-miripkan diri
dengan gaya Gilang Ramadhan.
“Kejutan ….,” Rusi membuka lipatan kertas dengan kelingking berdiri, “…
Pentas Ngabuburit Pop Pelajar Bandung di Dago.”
“Kapan?” Aku segera antusias.
Rusi membuka penuh kertas selebaran di tangannya. Warna-warni, huruf
besar-besar, meriah. “Bulan depan.”
“Yeeeeees.” Iding menghajar drum dengan heroik.
Aku menghampiri Rusi, meminjam selebarannya. Senyumku melebar.
“Tanpa seleksi. Satu band dua lagu.”
“Mantaaap.” Parlin mengelus rambut keritingnya, berdiri di sebelahku.
“Kesempatan emas ini,” komentarku.
Euforia kami terhenti ketika kaca studio diketuk dari luar. Teh Sisca, pemilik
studio sewaan ini menusukkan telunjuk kanannya ke telapak tangan kiri.
Tanda kami mesti berhenti. Waktu sewa studio sudah habis.
“Besok latihan lagi, teman-teman?” Aku meletakkan gitar listrik ke
tempatnya.
“Aku besok tidak bisa, Kash,” Rusi mengembalikan mik ke tonggaknya, “aku
ke Ciwidey. Acara keluarga.”
“Sekolah absen?”
Rusi mengangguk.
“Kamu, Lin?” Aku menoleh ke Parlin.
“Aku bisa-bisa saja, Kash.”
“Ding?”
“Aku juga tidak bisa, Kash.”
“Ke Ciwidey juga?”

“Lain …,” Iding bangun dari kursi drum, “… mau nyatat kata-kata mutiara
dari bokong truk.”

Kami tertawa sembari antre keluar studio.

“ANGGOTA band Koko berapa orang?”
“Empat …,” aku mengatur-atur kunci gitar, mencoba-coba bunyi senar, “…

vokalis namanya Rusi, drummer Iding, bassist Parlin, saya gitar merangkap
penyanyi latar.”

“Saya belum pernah melihat pentas musik pop.”
“Kalau dangdut sering, ya?”
Engkau mengangguk. “Setiap hajatan, musiknya dangdut.”
“Dangdut juga bagus …,” aku selalu menjagamu, Kanya, “… tapi susah bagi
saya.”
“Memang berbeda, ya, Ko?”
“Berbeda. Ketukan beda, menyanyinya beda. Ada cengkok-cengkoknya.”
“Di Dago nanti tidak ada dangdut?”
Aku menggeleng. “Acaranya memang pentas lagu pop antarsekolah. Jadi,
semua peserta menyanyi pop. Masing-masing dua lagu.”
“Terus ada juaranya?”
“Tidak, Kanya. Ini hanya pentas. Bagi band-band pemula, pentas seperti ini
sangat berguna. Biar biasa di panggung. Biasa ditonton orang.“
“Oh, begitu?”
“Iya …,” aku tertawa tanpa suara, “… dangdut punya panggung di hajatan
mana pun, sedangkan pop itu jarang-jarang. Kalaupun hajatan, ya, di gedung-
gedung mewah atau di kafe. Jadi, untuk pemula sedikit sekali kesempatannya.”
“Tetapi, banyak yang menonton, Ko?”
“Banyak sekali ...,” aku tambah bersemangat, “… sponsornya radio-radio
terkenal. Anak muda se-Bandung datang. Jalan Dago ditutup untuk
mendirikan panggung-panggung besar. Penontonnya di jalan.”
“Saya belum pernah ke Jalan Dago.”
“Dekat dari Stasiun Bandung. Naik angkot sebentar sudah sampai. Kanya
datang, ya.”
Engkau menggeleng buru-buru. “Takut saya mah, Ko.”

“Mengapa takut?”
“Takut saja.”
Aku tidak ingin terlalu cepat memaksamu. “Di sana nanti band saya
menyanyi dua lagu Titi DJ, lho.”
“Lagu yang Koko tulis kata-katanya, waktu itu?”
“Betul. Judulnya ‘Ekspresi’ dan ‘Dunia Boleh Tertawa’.”
Engkau menutup mulutmu. Tertawa lirih.
“Ada yang lucu?” Aku ikut tertawa meski tidak tahu apa yang engkau
tertawakan.
“Judulnya lucu.”
Aku segera bisa menebak maksudmu. “‘Dunia Boleh Tertawa’, ya?”
Engkau mengangguk-angguk sambil masih menutup mulutmu.
“Enak lho, lagunya ….” Aku lalu memulai intronya. “... Dengarkan, ya.”
Engkau memperhatikanku. Semangat menyala di tatapanmu.
Aku berdiri sembari terus bernyanyi. Mataku dan tatapanmu bertemu. Aku
merasa engkau ikut menyanyi meski tak bersuara.
Engkau tersenyum kepadaku, mengganti tepuk tanganmu. “Bagus, Ko.”
“Ini lagu pertama yang nanti kami bawakan.”
“Kalau pakai band, sepertinya lebih ramai.”
“Tentu saja ...,” aku duduk lagi di sebelahmu, “… Kanya paham apa isi lagu
itu?”
“Sedikit.”
“Apa coba?”
“Apa ya ….”
“Tadi katanya tahu.”
“Malu, Ko.”
“Kok, malu melulu.”
Engkau lagi-lagi menutup mulutmu. Kali ini dengan selendang dari bahumu.
Rupanya karena tak biasa mengutarakan apa yang ada di pikiranmu,
memulainya sungguh perlu waktu.
“Isinya ya, tentang orang bahagia.”
“Seperti kita?” Aku menimpalimu, tidak benar-benar bertanya kepadamu.
Engkau menggeleng. “Tidak tahu, Ko.”
“Tidak tahu … atau malu?”
Engkau sibuk menyembunyikan canggungmu.
Kereta melaju, aku semakin tahu, dalam hatiku telah terjadi sesuatu.

PAK Sugema selalu mengira, aku benar-benar menguasai mata pelajarannya.
Sumpah, itu berlebihan. Nilai bahasa Inggris-ku di NEM sewaktu lulus SMP
memang delapan. Namun, aku merasa itu lebih karena kebetulan. Aku sama
sekali tidak hafal penggunaan grammar dan mengerjakan soal hanya dengan
mengira-ngira.

Aku penonton serial Friends, 90210, Hunter, Bonanza, dan modalku itu saja.
Menonton lm membuatku terbiasa dengan beberapa kata. Aku juga setiap
malam mendengarkan berita di BBC London. Itu membantuku menambah
beberapa kosakata baru setiap hari. Namun, seisi kelas telah menganggapku
ahli, padahal masalah ada pada mereka, bukan aku yang istimewa.

Jadi, setiap Pak Sugema membuat contoh soal, sedangkan seisi kelas tidak
paham apa yang sedang dia bicarakan, kalimat, “Coba, Kashmir kerjakan,”
menjadi andalan. Aku tidak pernah sempurna mengerjakan soal itu, tetapi
paling tidak koreksinya tidak banyak. Kurang “s” pada kata kerja ketika
subjeknya orang ketiga tunggal, misalnya. Lain waktu, kalimat past tense, tetapi
kata kerjanya masih dalam present tense. Sesekali, aku tertukar antara “has” dan
“have”.

Aku hanya tidak pernah membuat kalimat, “I am is a student,” kesalahan
jamak teman-temanku yang menerjemahkan kata “saya” menjadi “I am”, alih-
alih memahami bahwa “I” artinya “aku” dan “am” hanyalah “to be”.

“Jadi, kata I, jika posisinya menjadi objek, berubah menjadi me.” Pak Sugema
menunjuk papan tulis hitam berdebu kapur. Persis pada kata “me” dalam
kalimat My mother bought a new bag for me.

“Kita baca bersama-sama. Bapak dulu baca, kalian mengikuti,” kata Pak
Sugema, bersemangat ‘45, “My mother bought a new bag for me.”

Seisi kelas menirukan, sebisanya.
Pak Sugema mengartikan kalimat contoh itu. “Ibu saya membeli tas baru
untuk saya.”
Kami sekali lagi menirukannya.
“Iding ….” Pak Sugema sengaja menjeda kalimatnya. Itu nama yang tertera
di papan tulis juga.
Kami menirukan Pak Sugema. “Iding.”

Pak Sugema melanjutkan contoh kalimatnya, “… invites me to his party.”
Kami mengulang kalimat barusan.
“Iding mengundang saya ke pestanya.” Pak Sugema kembali mengartikan
contoh kalimatnya.
Kami kembali menirukannya.
“Jelas?”
“Jelaaaaaas …,” jawab kami sekelas.
“Jelas bahasa Indonesia-nya, Pak,” celetuk murid di pojok belakang.
“Jelas bingungnya,” sambung yang lain.
“Coba, Iding ke depan. Tulis contoh kalimat dengan kata ‘me’.”
Iding membisikkan mantra “kancing, coplok”-nya. “Kashmir saja, Pak.”
Aku menonjok bahunya, “Naha urang? Kamu yang disuruh ke depan.”
“Puguh saya tidak bisa.”
“Bisa.”
“Bisa ngarang?”
“Masa di bokong truk tidak ada contohnya?”
Mata Iding langsung berbinar-binar. “Ada … ada.”
Aku dorong bahunya. “Maju.”
Iding maju ke papan tulis dengan percaya diri. Dia lalu mengambil batang
kapur dari kotaknya yang bergambar topi toga, lalu menulis di bawah contoh-
contoh yang dibuat Pak Sugema.
“Sudah, Pak.”
Iding hendak kembali ke sebelahku, tetapi Pak Sugema menahannya,
“Tunggu … tunggu.”
Iding celingukan.
Raut muka Pak Sugema berubah menjadi ganjil. Ada garis kecil di atas dua
alisnya. “Coba kamu baca.”
Iding membaca tulisannya dengan pelafalan bahasa Indonesia, setiap
hurufnya. Kecuali pada kata “me” karena sudah dicontohkan berkali-kali.
Huruf “e” dia baca “i”. Kata “me” dia lafalkan benar menjadi “mi”. Namun,
sebagai orang Sunda asli, dia merasa wajib membaca “f ” menjadi “ep” sehingga
lafal “ r” menjadi “pear”.
“New pear the mi is three.”
“Artinya apa itu?”
Iding menggeleng, “Tidak tahu, Pak.”
“Mengapa kamu tulis?”

“Ada kata me-nya, Pak.”
“Kamu dapat dari mana kalimat itu?”
“Bokong truk, Pak.”
Seisi kelas terpingkal-pingkal. Seolah-olah yang tertawa lebih tahu dibanding
Iding. Bukannya minder, Iding malah mengangkat dua tangannya. Seumpama
juara tinju dunia merayakan kemenangannya. Seperti Mike Tyson setelah
menggigit telinga Holly eld.
Pak Sugema tipe guru yang santai. Dia ikut tertawa meski tidak bersuara.
Paling tidak, dia tidak mengambil air cuci tangan dan mengelap muka Iding.
“Ada yang tahu arti kalimat ini?” tanya Pak Sugema setelah kelas sedikit
terkendali.
Aku pun berpikir sebentar, mengeja per kata, mena kan tata bahasa, nyeletuk
setelahnya, “Nyu pir de mi is tri.”
Lagi-lagi seisi kelas tergelak-gelak. Kali ini durasinya lebih panjang. Pak
Sugema tidak ketinggalan. Meski berusaha sekuat hati agar tidak terbahak-
bahak, dia memegangi perutnya yang agak buncit. “Oh … begitu maksudnya,”
katanya sambil terus tertawa.
Iding menunjuk kepadaku, seolah-olah aku pahlawan hidupnya.
Pak Sugema menyentak bahu Iding, menyuruhnya kembali ke belakang.
Maksudnya ke kursi di sebelahku.
“Kalau diterjemahkan kata per kata,” Pak Sugema membahas kalimat Iding,
alih-alih melanjutkan materi pelajarannya, “ketakutan baru sang saya adalah
tiga. Jadi, tidak ada maknanya.”
Pak Sugema lalu mengambil penghapus. Aku mengira dia akan menghapus
semua tulisan Iding. Ternyata ia hanya menghilangkan kata terakhirnya. Pak
Iding mengganti kata “three” menjadi “tree”, ‘pohon’.
“Bunyi three dengan tree berbeda. ya, anak-anak,” Pak Sugema melanjutkan
pembahasan kalimat terpenting sepanjang sejarah bahasa Inggris di Indonesia,
“… untuk three artinya ‘tiga’, dibaca ada th-nya. Harus dibedakan dengan tree
yang artinya ‘pohon’. Seperti tri pada kata istri cara membacanya.”
Ya, ampun, Pak Sugema masih membahasnya.
Aku menonjok bahu Iding, “Kamu luar biasa.”
Kami tertawa.
“Ini penting ….” Pak Sugema tahu kami sedang mentertawakan
keseriusannya membahas perbedaan bunyi kata three dan tree.
“Siapa tahu kalian nanti punya teman bule? Atau, mau kuliah di luar negeri,”

Pak Sugema menekuk dua sikunya, “... siapa tahu? Dalam bahasa Inggris,
penekanan suku kata dan bunyi bisa membedakan arti.”

Kali ini aku mengangguk-angguk. Ikut-ikutan serius.
“Sekarang ini ...,” Pak Sugema melanjutkan kalimatnya, “… semakin banyak
beasiswa ke luar negeri. Kalian masih kelas satu. Banyak waktu untuk
mempersiapkan diri. Begitu lulus SMA, bisa melanjutkan kuliah ke Amerika,
Eropa, Australia. Tapi, syaratnya satu. Mahir berbahasa Inggris.”
“Kashmir.”
Akhirnya, rutinitas “Coba, Kashmir kerjakan” dimulai.
Tanya Pak Sugema, “Kamu punya cita-cita ke luar negeri tidak?”
“Ada, Pak. Punya.”
“Mau apa ke sana?”
“Kuliah, Pak.”
Seisi kelas bersorak sorai. Tidak jelas itu mengejek atau memberi semangat.
“Negara mana?”
“Swedia, Pak.”
“Bagus,” Pak Sugema tambah semangatnya, “… Arif, ingin ke negara mana?”
“Afrika, Pak!” celetuk Iding. Seisi kelas riuh bukan kepalang.
“Itu benua, ngehe!” balas Arif.
“Oh, sudah ganti, ya?” gaya Iding seolah kebingungan.
Susana kelas semakin tak karuan. Kali ini aku benar-benar berpikir.
Bukankah cita-citaku memang itu? Kuliah di Swedia. Itu negara di Eropa.
Sementara Pak Sugema melanjutkan materinya, aku justru menemukan sebuah
pemikiran dalam keheninganku sendiri, sebelum berbisik kepada Iding.
“Ding, besok kita ke Palasari, yuk.”
“Cari buku apa?”
“Tes bahasa Inggris. Sambil lihat-lihat juga. Barangkali bertemu inspirasi
untuk memperkaya musik kita.”
“Rusi dan Parlin diajak?”
“Lebih seru kalau mereka mau.”

ENGKAU semakin terbiasa dengan kehadiranku pada saat engkau menjajakan
jajanan pasarmu. Engkau menemui pelangganmu, sementara aku berjalan

menjejerimu. Berbicara apa saja, mengurangi terik matahari yang membakar
kulit kita.

“Kalau nanti saya ke rumah Kanya, saya akan bertanya kepada Bapak tentang
asal nama Kanyakumari.”

Engkau berjalan agak membungkuk karena beban kue yang memenuhi bakul
di punggungmu, “Tanya apanya, Ko?”

“Film India apa yang Bapak tonton ...,” godaku, “… kok, bertemu nama
Kanyakumari?”

“Bapak bercerita kepada saya.”
“Oya? Bapak bilang judulnya apa?”
Engkau mengangguk. “Kashmir dan Kanyakumari.”
Aku pura-pura tersentak karenanya, “Ada judul lm itu?”
“Ada, Ko. Tahun tujuh puluhan.”
“Kok, bisa sama, ya?”
Engkau diam saja. Pura-pura membuang pandanganmu. Aku bertanya
karena aku sudah tahu, Kanya. Aku tahu ada judul lm itu dari majalah bekas
milik Iding. Majalah yang dia dapat dari pasar buku dan majalah Palasari.
Kebetulan yang menakjubkan. Iding membeli atau memaksa seseorang
memberikan majalah itu karena di dalamnya ada ulasan musik tahun ‘70-an.
Tak disangka, ada pula halaman yang membahas lm yang hits tahun-tahun
itu.
“Sudah takdir, mungkin,” kataku sambil senyum-senyum. Kita memasuki
kompleks perumahan tempat para pelangganmu tinggal.
“Itu sebabnya, sewaktu saya cerita tentang Ko Kashmir, Bapak seperti
penasaran.”
“Orang Sunda yang bernama Kashmir dan Kanyakumari, kan, jarang.
Mungkin malah tidak ada.”
“Kalau Koko tahu mengapa dulu diberi nama Kashmir?”
Aku menggeleng. “Pak Haji tidak pernah bercerita. Mungkin memang tidak
tahu.”
Engkau menghampiri rumah bercat cokelat yang di halamannya mekar
macam-macam bunga. Aku mengikutimu.
“Jajan pasarnya, masih hangat …,” suaramu keras dan jelas, “… jajan pasar,
Buuu. Pastel, combro, cireng.”
Seorang perempuan berdaster kelabu membuka pintu. “Mau, Neng.”
Aku menunggu di pinggir jalan. Engkau masuk halaman rumah, duduk di

teras itu, meletakkan bakulmu. Nyonya rumah lalu membuka-buka isi
bakulmu.

Kalian berbincang beberapa lama. Aku tidak bisa mendengarkan kalian
membicarakan apa. Ketika engkau keluar dari rumah itu, wajahmu tampak
lebih gembira.

“Diborong, ya?”
“Si ibunya mau ada tamu, Ko. Tadi beli banyak.”
“Alhamdulillah.”
Kita berjalan lagi. Aku memetik nada, menghibur perjalanan siang kita.
“Saya suka lagu itu, Ko.”
“Ayo, ikut menyanyi.”
“Malu, suara saya jelek.”
“Suara saya juga tidak bagus.”
“Suara Koko, mah, bagus.”
“O, ya?” Aku menggodamu sambil meneruskan lagu. Milik Titi DJ tentu
saja. Judulnya, “Demi Cita-Cita”.
“Kanya mengapa suka lagu ini?” Aku menjeda tanpa menghentikan bunyi
gitarku.
“Karena sesuai keadaan saya.”
Aku tersenyum. “Saya juga. Kita, kan, sama-sama sedang berjuang, …”
melanjutkan lirik laguku.
“Ayo, Kanya ikut menyanyi.”
Akhirnya, engkau memperdengarkan suaramu, aku menemani lagumu.

Gh a 6

Dalam Kenangan Ter indah

C “ocok untuk kamu, Kash.” Rusi memilihkan satu buku berlatih melodi
gitar.
“Berapa harganya?” Aku membalik-balik halamannya. Tampak menarik
dalam sekali baca.

“Kalau kamu perlu, bawa saja. Itu hadiah dari aku.”
“Serius, Rus?” Tentu saja aku suka. Namun, aku tidak biasa menerima hadiah
begitu saja.
“Kamu perlu tidak?”
“Tentu saja.”
“Ya, sudah. Kamu bawa.”
Siang itu, di Palasari, kami adalah e Beatles dan Rusi menggantikan posisi
Paul McCartney. Menjelajah setiap gang toko buku berkoleksi orisinal sampai
bajakan. Gitar menyelempang di punggungku, bando di jidat Iding, Parlin
berjaket kulit, sedangkan Rusi berkacamata gaya; besar hampir menutup
setengah mukanya.
Kami sedang mencari buku yang bisa membantu musik kami. Buku yang
mana, kami pun belum tahu. Sampai kemudian Rusi membelikan buku itu
untukku. Aku punya agenda sendiri. Aku hendak membeli buku latihan
bahasa Inggris. Jika ada yang bekas, itu lebih baik. Kupikir isinya sama saja,
tetapi lebih murah harganya.
“Terima kasih, Rus.”
“Sama-sama.”
Aku memasukkan buku pemberian Rusi ke tas. Kami lalu melanjutkan


Click to View FlipBook Version