The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-15 18:02:17

Sembilu Pengembaraan Rasa

Sembilu Pengembaraan Rasa (Tasaro GK.)

kebingungan. Terlebih ketika melihat abahnya berlinangan air mata.
“Ya, Bah?”
Pak Haji menoleh. “Duduk, Pin.”
Kami berempat duduk berhadap-hadapan. Namun, semua perhatian tertuju

ke Pak Haji sekarang.
“Pipin, sebelumnya, Abah minta maaf karena mungkin selama ini Pipin

menganggap Abah terlalu keras kepada Pipin.”
Tentang apa pula ini? Aku benar-benar tidak bisa menebak ke mana arah

pembicaraan Pak Haji. Meski aku gembira, karena kalimat itulah yang
ditunggu Pipin selama ini, tetapi aku tidak menemukan hubungannya
denganku, berkaitan dengan pertanyaan terakhirku.

“Pipin harus tahu,” suara Pak Haji semakin serak, “Abah, Umi selalu
menyayangi Pipin. Abah hanya tidak bisa selalu menuruti apa yang Pipin
inginkan.”

Pipin menoleh kepadaku. Aku menggeleng lemah. Dia tidak menemukan
jawabannya padaku. Pipin lalu memperhatikan abahnya lagi.

“Aa, sekarang Pak Haji mau bercerita. Dua puluh tahun lalu, Pak Haji
hanyalah anak muda perantauan yang luntang-lantung di Cisalangka. Kerja
serabutan. Tidak punya rumah, tidak punya apa-apa. Pak Haji ditolong oleh
seorang suku Cina perantauan dari Malang yang baik hati. Namanya Babah
Chuyu.”

Pak Haji terkesan begitu terharu. Dia menyebut nama orang itu dengan
penuh hikmat. “Babah Chuyu pemilik toko material besar di Cisalangka.
Orangnya sangat royal dan baik. Ada lima orang pegawainya yang dibiayai
naik haji, termasuk Pak Haji dan Bu Haji. Waktu itu kami belum menikah.”

Sebenarnya, sampai di sini aku mulai mampu menerka-nerka, tetapi masih
belum berani memastikannya.

“Babah Chuyu masuk Islam, lalu menikahi gadis Cisalangka bernama Asih.
Malangnya …,” Pak Haji tergugu, kalimatnya baru sampai di situ, “… ada
musibah. Seluruh toko Babah Chuyu terbakar. Babah Chuyu meninggal
karena terperangkap dalam kebakaran.”

“Terperangkap?”
“Iya, A. Babah Chuyu waktu itu sedang sakit. Badannya sehat. Tetapi, sering
bingung. Sering lupa. Kadang-kadang bahkan lupa dia sedang di mana. Lupa
siapa dirinya. Saat kebakaran, Babah Chuyu tidak keluar toko. Terperangkap
di dalam.”

Pak Haji menatapku hampir tanpa mengedip. “Pak Haji dan Bu Haji
mengungsi ke Tanjungsari membawa Bu Asih. Beberapa bulan kemudian, Bu
Asih melahirkan bayi laki-laki.”

Aku menghela napas. Berat, terasa berat. Aku mulai yakin dengan tebakanku,
perihal kisah yang selama ini tidak kumengerti.

“Bayi laki-laki itu diberi nama Kashmir. Itu Aa.”
Aku takjub dengan reaksiku sendiri. Aku hanya mengangguk-angguk,
mencerna cerita Pak Haji sambil terus menyimak kelanjutan cerita dengan
tenang.
“Ibu Asih meninggal karena sakit ketika Aa berusia enam bulan. Sebelum
meninggal, Ibu Asih menitipkan satu kotak perhiasan dan selembar cek kepada
Pak Haji,” Pak Haji tergugu lagi, “Ibu Asih berpesan agar Pak Haji
menggunakan peninggalan itu untuk membuka usaha. Ibu Asih menitipkan
Aa kepada Pak Haji. Meminta Pak Haji untuk menjaga, mendidik,
menyekolahkan Aa sampai mandiri.”
Aku menyadari, dari ekor mataku, Pipin menoleh kepadaku. Mungkin dia
baru saja menyadari sesuatu. Alasan di balik semua sikap Pak Haji selama ini.
Namun, aku tidak punya waktu untuk itu. Aku ingin mendengarkan lebih
banyak. Ingin tahu lebih banyak.
“Ibu Asih meminta Pak Haji, setelah Aa dewasa, untuk menceritakan
semuanya.”
Aku tertegun. Rasanya susah bernapas.
“Pin,” Pak Haji menolehi anaknya. Aku tidak mengikuti pandangannya.
Mendengarkan saja, “kamu sekarang tahu alasan Abah, bukan? Semua yang
ada di rumah ini, bukan milik Abah. Semua milik Aa. Abah hanya mengelola.
Hanya dititipi oleh orang tua Aa.”
Pipin tidak menjawab. Kukira, dia sama terkejutnya denganku. Ruangan ini
hening kemudian. Isak Bu Haji masih kudengar.
“Pak Haji,” kupikir aku telah cukup menguasai emosiku sendiri, “bisakah Pak
Haji tunjukkan di mana makam orang tua saya?”

AKU mengelus nisan Ayah yang tidak pernah kukenal, lalu nisan ibuku.
Kedua makam ini tampak terawat. Dinding makamnya rapi bercat putih.

Bersih dari rumput. Ada marmer yang menamai setiap nisannya. Huang Chuyu
dan Asih binti Suherman.

“Papa … Ibu, maafkan Kashmir baru datang hari ini.”
Sejak lama aku selalu berharap bisa menyebut namaku sendiri menggantikan
kata ‘aku’. Aku menyiapkannya jika suatu ketika bertemu dengan ayah atau
ibuku. Harapan itu menjadi nyata, tetapi aku tidak menyangka harus
mengatakannya di depan pusara.
“Kashmir mohon restu,” berusaha kutahan emosiku, “Kashmir akan
menikah. Semoga Papa dan Ibu bahagia dengan pernikahan ini.”
Aku mencoba tersenyum, “Kashmir akan mendoakan Papa dan Ibu. Semoga
tenang di sisi Allah.”
Aku menahan kata-kata, supaya mampu kutahan air mata.
“Pak Haji selalu datang kemari setiap awal Ramadan dan Lebaran, A.”
Aku berusaha keras untuk tidak menangis. Aku tahu, kuburan bukan tempat
bersedu sedan. “Terima kasih, Pak Haji.”
“Ibu Asih meninggal di Tanjungsari. Sebelum meninggal sempat berwasiat
ingin dimakamkan di sisi Babah Chuyu. Pak Haji membawa jenazahnya
kemari.”
“Keluarganya,” aku merasa ada yang janggal, “orang tua ibu saya, saudara-
saudaranya? Apakah mereka masih di Cisalangka?”
Pak Haji tidak segera menjawabku.
“Pak Haji belum menceritakan semuanya?”
Pak Haji hanya menatapku. Dia pun berupaya menahan air mata. “Suatu
hari. Pak Haji berjanji. Tidak sekarang.”
Rupanya belum semua tragedi ini kumengerti. Aku merasa Pak Haji masih
menyimpan bagian paling menyakitkan dari masa laluku. Aku tidak bisa
menebaknya. Namun, aku bisa menangkap keganjilan itu. Keluarga
Suherman, ayah dari ibuku, seperti lenyap begitu saja. Bukankah seharusnya
ada cerita tentang mereka?
“Bagaimana dengan keluarga ayah saya, Pak Haji?”
Pak Haji menggeleng, “Pak Haji tidak tahu sama sekali, A. Babah Chuyu
tidak pernah bercerita apa-apa.”
Aku lalu bangkit dan mengikuti langkah Pak Haji, keluar dari kompleks
makam.
“Kapan Aa mau melamar Neng Kanya?”
“Secepatnya, jika Pak Haji tidak keberatan.”

“Tentu tidak, A.”
“Saya perlu mampir ke stasiun sekarang, Pak Haji. Menemui Kanya sebentar,
untuk menentukan hari lamaran.”
“Begitu?”
“Saya ingin mengenalkan Kanya kepada Pak Haji juga. Tidak apa-apa di
stasiun, Pak Haji?”
“Tidak masalah, A. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting. Pak Haji
ikut bahagia jika Aa bahagia.”
Aku mengangguk. “Sebentar lagi kereta Kanya tiba di stasiun. Kita bisa ke
sana sekarang.”
“Tentu … tentu.”
Kami naik dolak Pak Haji yang diparkir di pinggir jalan, di seberang
permakaman. Pak Haji yang menyetir. Aku menoleh ke permakaman, seolah
pamit kepada orang tua yang baru saja kutemukan.
Dari makam, perjalanan menuju stasiun tidaklah panjang. Menyusuri jalan
aspal lurus ke arah Bandung, kami segera merapat ke stasiun tua itu. Bukan
hanya aku, Pak Haji pun tampaknya punya memori dengan tempat ini. Dia
menghela napas berat berkali-kali. Ketika kami turun dan melangkah ke
stasiun, Pak Haji melihat ke sekeliling dengan tatapan yang amat sedih.
“Dulu,” Pak Haji menatapku, “Ibu Asih kami antar dengan bendi ke sini.
Beliau hendak ke Malang. Menemui keluarga papa Aa.”
Cerita baru lagi. Aku benar-benar kehausan dengan apa pun yang
berhubungan dengan masa laluku.
“Kami bertangisan lama sekali. Ibu Asih hendak mengabarkan meninggalnya
papa Aa kepada keluarganya di Malang, sendirian.”
Kami sampai di depan masjid. Berdiri di sana. “Pak Haji ingin mengantar,
tetapi Ibu Asih melarang. Kami pengantin baru, waktu itu. Bu Haji sedang
hamil, tapi kemudian keguguran.”
“Kakak Pipin?”
Pak Haji mengangguk. “Terlalu berat beban perasaan waktu itu. Bu Haji
sampai kehilangan bayinya. Ibu Asih pun meninggal sepulang dari Malang.”
“Apa yang terjadi di Malang, Pak Haji?”
“Ibu Asih tidak bercerita apa-apa, A,” Pak Haji menggeleng, “pulang dari
Malang, Ibu Asih terus murung. Sedikit sekali bicara. Sakit, mungkin karena
tertekan perasaan, lalu meninggal.”
Kereta terakhir dari Bandung datang. Orang-orang segera turun darinya.

“Pak Haji menunggu di sini tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, A.”
Aku setengah berlari menuju pintu stasiun. Aku ingin segera menemukanmu.
Aku cermati pintu-pintu gerbong dan melihat para penumpang turun
berkelompok-kelompok. Aku menoleh ke sana sini. Akhirnya, kutemukan
engkau dengan bakul bambumu. Melihatmu kerepotan hendak menurunkan
bawaanmu, aku segera menghampirimu.
“Perlu bantuan, Neng?”
Engkau menoleh. Menemukanku. Engkau sembunyikan senyummu.
“Jadi kaget, Ko. Saya kira siapa.”
Aku lalu meraih bakulmu, kupeluk sepenuh hati. Aku menolehimu yang
tersenyum kepadaku. Lalu, aku sadari sesuatu yang berbeda pada rambutmu.
Aku tertawa tanpa suara. Tidak bisa kutimbang seberapa besar rasa bahagiaku.

ENTAH sudah berapa puluh kali aku memasuki teras rumahmu, Kanya.
Namun, sekali ini aku merasa sungguh seperti melangkahkan kaki dengan
terompah berduri. Perutku berkali-kali bergolak. Bagaimana bisa, sedangkan
aku akan mengunjungi rumahmu, menemui bapakmu, berjumpa denganmu
ditemani oleh orang-orang yang kutahu. Semestinya aku tenang. Namun, aku
sungguh merasakan guncangan.

Di mobil sewaan, hanya Pak Wawan yang tetap tinggal. Turun dari mobil,
Pak Haji menepuk punggungku berkali-kali. Bu Haji berjalan di sebelah
kiriku, berdoa tak putus-putus tanpa suara. Pipin di belakangku membawa
bingkisan. Pagi yang dingin, tapi aku merasa kepanasan. Bukan karena jas
pinjamanku terlalu tebal, melainkan karena rasa grogi merembeskan
keringatku.

Di depan rumahmu, tiga adikmu berjajar manis. Bercelana panjang dan
berbaju koko.

“Koko,” Pahmi berteriak lucu. Dua kakaknya senyum-senyum tampak
gembira.

Aku berjongkok, menyalami Pahmi. Dia mengecupku, membasahi pipiku.
Orang-orang tertawa. Setidaknya ini mengurangi rasa panikku. Oh, alangkah
urusan ini serasa tak tertanggungkan, Kanya. Membayangkanmu hendak

menjadi istriku, meruntuhkan kepercayaan diriku.
“Assalamualaikum.”
Pak Haji menguluk salam ketika tuan rumah muncul memberi

penyambutan. Bapak dan ibumu ke luar pintu. Bapakmu berpenampilan
hampir sama dengan adik-adikmu. Kecuali, ia menambahkan peci di
kepalanya. Ibumu istimewa. Berciput dan selendang panjang menutup
rambut. Baju kurung yang rapi dan teliti.

“Waalaikumsalam,” suara rendah bapakmu menyambut kami, “silakan
masuk, Pak Haji, Bu Haji.”

“Terima kasih …. Terima kasih.”
Kami lalu masuk ke rumahmu, memenuhi seluruh kursi di ruang tamu
keluargamu. Pahmi tidak mau lepas dariku. Dia kugandeng masuk, lalu
kupangku ketika aku duduk.
“Akhirnya, bisa bertemu dengan Pak Haji.” Bapakmu melihat Pak Haji
dengan senyum yang canggung.
“Mohon maaf baru berkunjung sekarang, Pak.”
“Tidak apa-apa. Orang tua memang selalu urusan belakang.”
Dua bapak-bapak itu tertawa. Lainnya senyum-senyum mengimbangi.
“Sudah lama tinggal di Cisalangka, Pak?” Pak Haji memulai basa-basi.
“Saya lahir dan besar di Cisalangka.”
“Oh, begitu?”
“Tapi, dulu rumah orang tua saya dekat alun-alun kecamatan. Setelah
menikah, saya pindah kemari.”
Pak Haji tersenyum. Aku menangkap ada yang aneh pada senyumnya. Belum
pernah aku melihat Pak Haji tersenyum dengan cara seperti itu, “Di sini masih
banyak pohon, ya, Pak?”
“Alhamdulillah, Pak. Jadi lebih adem. Dulu tahun awal ‘80-an, kan, ramai di
dekat alun-alun. Sering kerusuhan, kebakaran. Jadi, saya sekeluarga pilih
pindah ke sini. Ya, meski rumah seadanya.”
Aku melihat senyum perlahan hilang dari bibir Pak Haji. Dia melihatku. Aku
tak bisa membaca tatapannya.
“Pak Haji asli Tanjungsari?”
“Eh … sudah lama tinggal di sana, Pak.”
“Oh, perantau? Dari mana, Pak, aslinya. Sunda palih mana?”
“Saya dari Banten, Pak.”
“Oh, Banten?”

Pak Haji terdiam. Seperti kebingungan.
“Bukannya dulu Pak Haji pernah tinggal di Cisalangka?” Aku mencoba
menyambungkan obrolan yang terjeda. Aku menangkap keterkejutan di wajah
Pak Haji.
“Eh, geningan pernah tinggal di sini, Pak Haji?”
“Iya, Pak. Tetapi sudah lama sekali.”
“Tahun berapa itu?”
“Yah, ‘70 sampai ‘80-an.”
“Lho, seharusnya saya kenal berarti waktu Pak Haji masih muda. Cisalangka
mah, kecil, Pak Haji. Satu kecamatan saja.”
“Saya jarang ke mana-mana, Pak.”
“Dulu tinggal di mana?”
“Namanya juga perantau. Saya berpindah-pindah,” Pak Haji terkekeh dengan
aneh, “… mencari pekerjaan.”
“Oh … tetapi sempat bekerja di Cisalangka?”
“Sempat, tapi tidak lama.”
“Di pasar atau kantor?”
“Apa, ya, dulu. Sudah lama, jadi lupa, Pak.”
Aku semakin tidak memercayai apa yang dikatakan Pak Haji. Mengapa dia
merumitkan masalah yang sederhana. Hanya menjawab di mana dia pernah
bekerja. Di toko ayahku, tentu saja. Mengapa jadi tidak apa adanya? Aku jadi
mengkhawatirkan sesuatu yang tidak kupahami.
“Sewaktu peristiwa bakar-bakar di dekat alun-alun, Pak Haji di sini berarti?”
Pak Haji hanya terkekeh sembari mengangguk. Bahasa tubuhnya semakin
tidak kumengerti.
“Waktu itu ada toko material yang terbakar di dekat alun-alun. Pemiliknya
meninggal karena terjebak di dalam toko. Tahu, Pak Haji?”
“Saya dengar-dengar saja, Pak.”
Dengar-dengar saja? Bapakmu kemungkinan sedang membicarakan ayahku
dan Pak Haji mengaku “dengar-dengar saja”, padahal dia mengalaminya. Aku
semakin tidak mengerti.
“Pemiliknya orang Cina tersangkut PKI, Pak Haji.”
Aku terkesiap. Kakiku lemas seketika.
“Dulu pegawainya banyak itu. Orang-orang sini. Licik dia. Pegawainya
dihajikan. Jadi, orang-orang tidak mengira dia tersangkut PKI.”
Pak Haji terbatuk-batuk.

“Saya kenal beberapa pegawainya. Mati-matian mereka membela majikannya.
Siapa itu namanya. Lupa-lupa ingat saya,” bapakmu melihat ke Pak Haji,
memperhatikan dengan saksama, wajahnya berubah muram,“… Yayat.”

Pak Haji re eks mengangkat wajah ketika namanya disebut.
“Pantas sejak tadi saya merasa pernah ketemu Pak Haji di mana begitu,”
bapakmu mengangguk-angguk, “… kamu Yayat, bukan? Kamu pegawai
Chuyu yang paling setia itu.”
“Saya juga sudah sejak awal mengenalimu, Hendar.”
“Kamu lupa dulu kita berkelahi di pernikahan majikanmu?”
“Saya kemari sebagai orang tua, Hendar. Apa yang sudah berlalu, untuk apa
diingat-ingat?”
Bapakmu lalu menoleh kepadaku. Wajahnya menggarang. Mengangguk-
angguk kemudian. “Sejak awal bertemu, saya sudah mencurigai wajah kamu,
Kashmir. Tetapi, saya terus berpikir, ini tidak mungkin. Rupanya memang
kamu.”
“Hendar …,” Pak Haji bersuara agak bergetar, “… itu sudah lama berlalu.
Sebaiknya kita lupakan saja. Demi anak-anak kita. Mereka tidak tahu-
menahu.”
Bapakmu menggeleng, “Melupakan? Dengan kamu, saya bisa melupakan.
Kamu tidak ada kaitannya dengan masalah ini. Tetapi, dengan dia,” bapakmu
menunjukku, “… aku tidak akan pernah lupa.”
Bapakmu bangkit, “Sekarang kamu mau melamar anak saya? Sampai mati
saya tidak akan merestui. Tidak akan saya berikan anak saya kepada anak PKI.”
Pahmi menangis di pangkuanku. Mungkin dia tidak pernah melihat
bapaknya semarah itu.
“Hendar, Kashmir betul-betul mencintai anakmu.”
Napas bapakmu menderu. Tangannya berkacak di pinggang. “Ibumu
menamai kamu Kashmir?”
Dia mengangguk-angguk, “Pantas saja sejak awal saya curiga. Tidak ada
orang Sunda bernama Kashmir. Rupanya kamu anak ibumu.”
Aku belum bicara. Memang tidak tahu harus bicara apa. Ini semua terlalu
cepat dan menyentak.
“Keluar kamu! Jangan berani muncul di rumah ini lagi! Keluar!”
Bapakmu menghampiriku. Kukira hendak memukulku. Ternyata dia
menyentak Pahmi dari pangkuanku. Menoleh kepadaku, “Kamu itu racun!”
Pahmi menjerit-jerit. Ibumu mengambilnya dari bapakmu. Dia pun

menangis tanpa suara. Opik dan Ujang lari masuk ke ruang dalam. Engkau
muncul dari tirai itu.

Melihatmu, bapakmu semakin kalap. “Masuk kamu! Jangan pernah kamu
bertemu dengan anak PKI itu. Durhaka kamu kalau menentang bapakmu!
Masuk!”

Engkau menutup mulutmu. Lalu, menatapku. Hancur perasaanku
melihatmu menangis, Kanya. Aku pun berair mata. Tak bisa aku menahannya.

“Pulang kamu!” Bapakmu menunjuk pintu keluar. “Jangan pernah kembali
kemari! Kalau kamu ingin tahu kekejaman orang-orang seperti bapakmu,
tonton lmnya. Kamu akan malu punya ayah seperti itu.”

Pak Haji meraih tanganku. Tanpa bicara mengajakku ke luar. Bu Haji
menangis terisak dipapah Pipin. Kami kembali ke mobil.

Pak Wawan sempat keluar mobil ketika mendengar keributan di dalam
rumah. Begitu melihat kami menuju mobil, dia lalu membuka pintu depan
dan belakang, memudahkan kami yang masih tercengang.

Pak Haji duduk di depan. Aku bertiga dengan Pipin dan Bu Haji di kursi
tengah.

“Pulang, Wan.”
“Baik, Pak Haji.”
Mobil berjalan dalam diam. Aku sama sekali tidak bicara. Masih mencoba
mencerna apa yang kualami baru saja. Rasanya sangat mustahil. Tidak
mungkin. Aku berangkat dari rumah dengan bunga-bunga dalam pikiranku.
Kebahagiaan telah di depan mata. Seketika, semua runtuh begitu saja.
Aku sungguh-sungguh tak percaya. Tidak siap untuk menghadapi
konsekuensi-konsekuensinya. Bagaimana masa depan kita, Kanya?

“AA tahu, tidak semua yang ada di lm itu tepat, meski harus diakui sebagian
memang benar,” suara Pak Haji membisik, “tetapi, saya kenal papah dan ibu
Aa, mereka orang-orang baik.”

Kami sedang membicarakan lm “PKI” yang selalu diputar pada akhir
September di TVRI. Sejak aku kecil dulu, hingga setahun lalu. Aku merasakan
gelombang mendeburi dada. Memanaskan mata. Namun, kupaksa suaraku
membata-bata. “Saya ... saya tidak peduli lm itu benar atau salah.

Sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah,” menggeleng kemudian, aku
mengumpulkan kata-kata yang meremah-remah, “separuh benar atau separuh
salah.”

Aku terduduk di kursi rotan kemudian. Lantai dan tatapanku bertumbukan,
“Saya hanya ingin menjalani hidup yang bisa saya pertanggungjawabkan.
Bukan sesuatu yang dipilih oleh orang tua saya, lalu ... lalu saya ... anak cucu
saya, mesti hidup dalam ketakutan selama-lamanya.”

“Kehidupan memang tak akan pernah memberikan segala hal yang kita
inginkan, A.”

Aku tatap Pak Haji. Mencoba memeriksa hatinya lewat kejujuran mata. “Saya
tidak membutuhkan banyak hal, Pak Haji. Saya hanya butuh Kanya. Saya
tidak akan pernah bisa menikahi dia karena papah saya terlibat PKI.”

“Aa tahu keadaan kita tidak sesederhana itu. Sebelum Peristiwa 1965, PKI
mengorbankan banyak orang. Setelah ‘65, mereka yang tersangkut PKI
mengaku sebagai korban berkepanjangan.”

Tanganku terangkat ke udara; dua-duanya lalu lunglai seketika. “Beri tahu
saya ..., beri tahu saya, bagaimana agar semua menjadi sederhana, Pak Haji.
Saya percaya, PKI telah melukai banyak orang, puluhan tahun sebelum saya
lahir. Bagaimana caranya agar saya bisa merawat hati yang telanjur terluka?
Setiap keluarga yang kehilangan orang yang mereka cinta?”

Air mata menahan kalimatku, “Bagaimana caranya, Pak Haji? Saya sungguh-
sungguh ingin melakukannya. Saya hanya ingin ini berakhir. Saya tidak bangga
menjadi anak PKI. Tapi ... tapi ... saya tetap anak seseorang,” isak
mengalahkanku, menghancurkan pertahanan terakhirku, “... satu di antara
orang-orang yang paling dibenci oleh bangsa ini.”

Kami terdiam lama. Aku menahan suara tangis sebisa-bisanya.
“Sebenarnya bukan masalah itu saja yang membuat bapak Kanya menolak
Aa.”
Aku mengangkat wajah. Menatap Pak Haji dengan pikiran tak karuan. Apa
lagi ini?
“Maksud Pak Haji?”
“Pak Haji belum memberi tahu Aa sesuatu yang tidak mungkin diceritakan
bapak Kanya.”
Aku menggeleng. Semakin tidak mengerti. Menunggu penuh emosi.
Pak Haji melepas napas, melirikku sesaat. Berpikir beberapa lama. “Aa berhak
tahu.”

Aku semakin tak sabar, tapi memilih untuk diam. Aku tahu Pak Haji akan
mengatakannya juga akhirnya.

“Sewaktu muda, bapak Kanya adalah kekasih ibu Aa.”
Mataku melebar. Aku menggeleng-geleng kemudian.
“Keduanya bahkan hampir menikah. Tapi, papah Aa melamar ibu Aa lebih
dulu. Kakek Aa merestui pernikahan itu meski ibu Aa tak mau.”
Seketika lemas badanku. Perlahan-lahan menyadari betapa urusanku teramat
rumit dan berliku. “Bapak Kanya membenci papah saya karena itu?”
“Terutama ibu Aa, karena mau menikah dengan lelaki yang tidak dia cintai,”
Pak Haji tampak sangat berat melepas kata-katanya, “... pada hari pernikahan
papah dan ibu Aa, bapak Kanya datang. Dia ....”
Pak Haji menoleh kepadaku. Memeriksa keadaanku. “Dia menyumpahi ibu
Aa. Bahwa, hidupnya akan menderita. Begitu juga anak turunannya. Kami
sempat baku hantam karena Pak Haji berusaha menenangkan, tetapi dia tidak
terima.”
Aku semakin memahami sepedih apa nasibku. Bagaimanakah kemungkinan
masa depanku? “Bapaknya Kanya pernah bercerita. Ia menamai Kanyakumari
karena sewaktu muda, dia sangat menyukai sebuah lm India berjudul
Kashmir dan Kanyakumari. Itu masa-masa dia bersama ibu saya rupanya.”
Pak Haji sekarang yang memperhatikan kalimatku.
Aku mengangguk-angguk. “Dia menamai anaknya Kanyakumari. Ibu
menamai saya Kashmir,” memanas mataku, “... mereka masih saling
mengenang.”
Aku tahu Pak Haji tidak akrab dengan tema semacam ini. Sekali ini aku tidak
peduli.
“Apakah karena masalah PKI ini juga Kakek tidak mau menerima ibu saya,
Pak Haji?”
Pak Haji mengangguk lemah. “Isu tentang papa Aa terlibat PKI menyebar
setelah papa Aa menikahi ibu Aa. Itu membuat malu keluarga Pak Suherman.
Mereka tidak menerima ibu Aa lagi.”
“Bahkan, setelah kebakaran itu?”
Pak Haji mengangguk lagi.
“Hanya Pak Haji dan Bu Haji yang menerima ibu saya dan saya?”
Pak Haji tidak menjawab.
Aku tidak tahu lagi macam apa perasaanku kini. Semua hal yang
menyakitkan datang secara bersamaan.

“A ...,” Pak Haji hendak memberi wejangan setiap dia memanggilku dengan
cara itu, “Aa bisa mengambil sisi baik dari kejadian ini. Aa masih sangat muda.
Masa depan masih sangat panjang. Aa malah sudah siap untuk ke luar negeri.
Aa harus percaya, Allah adalah Perencana Terbaik.”

Aku sudah menduga Pak Haji akan mengatakan itu. Amat mudah ditebak
dan sebenarnya aku tidak merasa perlu diberi tahu. Memangnya apa lagi yang
bisa aku usahakan?

Gh a 13

Telaga d i Matamu

K “amu sudah dengar jawaban saya,” bapakmu menyalakan rokok, tak
menatapku. Dia duduk bersilang kaki, “... untuk apa ke sini lagi?”
Aku tidak bisa menyerah begitu saja, Kanya. Aku mendatangi bapakmu
sendirian. Aku tidak ingin membuatnya terkesan. Aku hanya ingin
membuktikan sebuah ketulusan.

“Saya ...,” aku menguatkan pikiranku, menjelaskan kata-kataku, “... saya
hendak menitip sesuatu untuk Kanya, Pak.”

Bapakmu menatapku. Ada kebencian yang menyala di matanya. Sesuatu yang
hampir merobohkan keberanianku.

“Kamu tahu saya tidak akan menyampaikannya.”
“Saya mohon, Pak,” aku membuka tas, lalu mengeluarkan amplop besar itu,
“Kanya tidak perlu tahu bahwa ini dari saya.”
Bapakmu mengembuskan asap dari mulut dan hidungnya, menggantikan
kata-kata. “Apa yang kamu titipkan?”
“Tabungan saya.”
“Uang?”
Aku merasakan ketidakberterimaan pada kata yang menjadi pertanyaan.
“Saya harap bisa membantu Kanya untuk sekolah.”
“Kamu seperti bapakmu,” kalimat itu bernada datar, berat, dan menahan
kemarahan, “... persis seperti bapakmu. Kamu berpikir segala hal bisa kamu
beli.”
“Saya ....”
“Cukup. Saya tidak akan marah-marah meski kamu, anak kecil,

merendahkan martabat saya. Saya hanya mau, kamu pergi. Itu saja. Bawa
uangmu.”

“Tabungan ini ....” Tak akan ada waktu yang lain lagi. Apa pun yang
bapakmu katakan tidak akan menghentikanku, “Saya menyiapkannya untuk
pernikahan saya dan Kanya.”

“Tidak akan ada pernikahan.”
“Saya mengerti,” aku mengangguk-angguk, “karena itu, Pak. Saya berharap
Bapak mau menerimanya untuk biaya sekolah Kanya.”
Bapakmu menggeleng, “Sombongmu persis bapakmu.”
Sampai di situ, aku merasa keliru jika membiarkannya berlalu. “Bapak sangat
membenci bapak saya.”
“Karena bapak kamu PKI.”
“Saya tidak pernah mengenal bapak saya.”
“Itu tidak mengubah jati diri kamu.”
Aku merasakannya, Kanya. Mataku menghangat. Bukan karena mengasihani
diriku sendiri, melainkan karena aku mengingatmu. Betapa tinggi penghalang
antara kita, yang datang begitu seketika.
“Saya mohon, Pak.”
Bapakmu membuang pandangan. “Saya tidak akan pernah berubah pikiran.”
Aku tidak akan pernah menyakitimu, Kanya. Tidak akan pernah menyengaja
menyakitimu. Itulah mengapa aku tahu, aku tidak akan memaksa bapakmu.
Membuatnya lebih terluka. Sebab, itu akan melukaimu.
“Bolehkah saya memohon satu hal yang tidak akan memberatkan Bapak?”
Bapakmu tidak menjawab, tapi juga tidak menghardikku. Dia tampak begitu
jemu.
“Izinkan saya menemui Kanya untuk kali terakhir, Pak. Saya sebentar lagi
akan berangkat ke luar negeri. Saya hendak berpamitan kepadanya.”
Kurasa, bapakmu mulai memperhatikan kalimatku, Kanya.
“Saya hanya tidak ingin terkesan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-
apa.”
Aku mengira bapakmu akan menyela kalimatku, tapi dia tidak melakukan
itu.
“Saya sangat yakin, Kanya tidak akan melanggar apa yang Bapak larang. Tapi,
izinkan saya berbicara sekali saja, Pak.”
Aku merasakan emosi itu lagi, “Kanya sangat menyayangi Bapak.”
“Kamu tahu apa? Saya bapaknya. Saya yang membesarkannya. Mendidiknya.

Saya akan mengatakan apa pun yang saya mau. Tidak perlu kamu atur-atur.
Saya menolak kamu karena bapak kamu orang PKI. Orang-orang yang
membunuh dan menyakiti banyak orang.”

Aku menunduk. Aku telah memeras semua keberanianku. Memaksakan
semua yang sanggup dilakukan remaja seusiaku. Semuanya sia-sia.

“Kalau begitu, saya pamit, Pak. Mohon maaf telah mengganggu Bapak.”
Tanganku mengambang, dia biarkan. Aku menariknya lagi.
“Assalamualaikum.”
Tak ada jawaban. Aku lalu gontai keluar rumah. Mengambil sepeda yang
menyender di pagar, kunaiki, kutatap rumahmu lagi. Mungkin untuk kali
terakhir.
“Koko! Koko!”
Pahmi meronta di pelukan bapakmu. Dia menangis kencang karena ingin
berlari kepadaku, tetapi dicegah bapakmu.
Aku tertegun. Perasaanku hancur. Sehancur-hancurnya. Menjadi remah-
remah.
Opik dan Ujang mengintip dari samping rumah. Berdiri di sebelah tembok.
Menangis.
Aku melambaikan tangan. Mencoba tersenyum. Mereka membalas
lambaianku, tetapi tidak senyumku. Keduanya menangis pilu.
Aku lalu mengayuh sepedaku, meninggalkan rumahmu.

AKU sangat ingat, ketika itu musim hujan sedang sangat lebat. Apa yang
kualami kemudian terasa lebih menyedihkan. Aku perlu untuk menemuimu.
Sekadar menatap matamu. Jas hujan usang itu tidak terlalu berhasil
membungkus badanku. Beberapa bagian merembeskan air. Jalanan sangat licin
dan aku berusaha keras agar ban sepedaku yang gundul tidak
menggelincirkanku.

Hari masih gelap dan aku tiba di stasiun kereta sambil menggigil. Pada
remang lampu stasiun aku menyaksikan ujung-ujung jemariku mengerut beku.
Kebas dan kedinginan. Aku menunggumu. Membayangkan engkau datang
berpayung, muncul di belokan jalan. Itu tidak pernah terjadi.

Di mana engkau, Kanya?

“Kashmir?”
Seseorang mengenaliku. “Pak Dodo. Berangkat, Pak?”
Pedagang buah-buahan itu.
“Kanya mana?”
“Belum datang, Pak.”
“Sejak kemarin saya tidak melihat Kanya.”
Pak Dodo meletakkan dua bakul bambu besar yang penuh pepaya dan
pisang. Ada dua ikatan tali yang menggantungkan dua bakul itu ke bilah
bambu yang biasa ditanggung di bahu. Dia membetulkan letak lembaran
plastik transparan yang menjaga buah-buahannya tidak basah oleh air hujan.
“Kamu sudah beli tiket, Mir?”
“Saya menunggu Kanya saja, Pak.”
Pak Dodo selesai dengan dua bakulnya. “Kereta sudah mau berangkat, lho.”
“Tidak apa-apa, Pak.”
Pak Dodo menyiapkan bilah bambu tanggungan kedua bakulnya.
Aku memanggilmu dengan sebuah lagu. Kali pertama aku menyapamu
dengan nama itu. Dulu, tiga tahun lalu. “Malisa”.
Aku menunggumu sampai hari terang hingga beranjak siang. Engkau tidak
kunjung datang. Aku menyerah, lalu bersepeda pulang. Bajuku mengering
dalam perjalanan.

“MASUK, A,” Bu Suganda memang nyonya rumah yang menyenangkan.
Bahkan, kepadaku yang tidak punya nilai tawar apa pun, dia tetap menyapaku
dengan sopan dan penuh perhatian, “Bapak sedang membuat catatan di
dalam.”

Aku tersenyum masam. Catatan kesekian. Sejak setahun lalu, setiap aku
mengunjungi Pak Suganda, pulang selalu membawa catatan. Dia sengaja
mencicil catatan yang banyak tak terkira itu agar aku tidak terlalu pening
barangkali. Namun, memang setiap tahapan beasiswa ini selalu membutuhkan
persiapan yang berbeda. Jika pembimbing tak resmiku bukan Pak Suganda,
aku sudah menyerah sejak lama.

“Masuk, Kash.”
Tidak seperti biasanya, televisi di ruangan tamu kali ini menyala. Pak

Suganda menulis di kertas sembari menoleh ke televisi sesekali. Berita sama
yang kusaksikan tadi pagi. Demo mahasiswa yang makin tak terkendali.

“Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di
hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada
kesempatan silaturahmi. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI,
Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden
Mandataris MPR 1998—2003.”

Aku duduk ketika layar televisi kini menyiarkan gambar Pak Harto, kepala
negara yang sejak aku mengenal istilah presiden tidak pernah terganti.

Pak Suganda melihat ke layar televisi penuh konsentrasi. Istrinya muncul dari
ruang dalam, ikut menyaksikan. Suara Pak Harto masih sama seperti
memoriku sejak kanak-kanak.

“Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa
Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan
kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila
dan UUD 1945.”

Apakah ini berarti, gambar presiden di ruang-ruang kelas sekolah akan
berganti?

“Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para
menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan
untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk
menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan
negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga akan melaksanakan
sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.”

“Akhirnya …,” komentar pendek Pak Suganda.
“Diganti Habibie, ya, Yah?”
“Otomatis, Bu.”
Pak Habibie, ilmuwan genius yang namanya disebut oleh Iwan Fals di lagu
“Guru Oemar Bakri”, tampak kikuk berdiri di sebelah Pak Harto. Gambar
televisi lalu berganti adegan ketika Pak Habibie disumpah menjadi presiden
RI.
“Saya tidak menyangka Pak Harto mau turun, Yah,” Bu Suganda tampak
kurang bersemangat, “tiga puluh dua tahun jadi penguasa.”
“Kerusuhan sudah tidak terkendali, Bu.”
“Ngeri sekali Jakarta, ya. Orang Cina jadi sasaran.”
“Mudah-mudahan setelah ini semuanya jadi lebih baik.”

“Beasiswa Ayah bagaimana kira-kira, Yah?”
Pak Suganda melihat ke arahku, “Sepertinya kita tidak bisa bertemu tahun ini
di Swedia, Kash.”
“Ada perubahan, Pak?”
Pak Suganda mengangguk, “Beasiswa kamu ditanggung Pemerintah Swedia.
Kalau beasiswa saya berbeda, Kash. Keadaan Tanah Air sangat berpengaruh.
Kemungkinan ditunda sampai tahun depan.”
Ini cukup memukulku. Sebab, sejak awal mengurus beasiswa, aku berpikir
akan berangkat bersama keluarga Pak Suganda. Keyakinan itu memberiku
harapan, di tanah rantau aku tidak akan sendirian. Setidaknya aku tahu
seseorang yang kukenal. Kalimat Pak Suganda barusan membuatku cemas.
“Tidak usah khawatir. Banyak anak Indonesia di sana. Kamu tidak akan
kesepian.”
Aku mencoba meyakinkan diri meski tidak sanggup berkata apa pun.
Pak Suganda menuliskan beberapa catatan lagi sebelum menyodorkannya
kepadaku. “Ini daftar barang yang sebaiknya kamu bawa, Kash. Beberapa
barang seperti sepele. Tetapi, kalau terlewat, di sana kamu bisa repot. Swedia
jauh berbeda dengan Indonesia.”
Aku mulai membaca daftar tetek bengek yang mesti kusiapkan sebelum
berangkat. Makanan, untuk hari-hari pertama, sebelum lidahku bisa memakan
bumbu Eropa, Pak Suganda memintaku untuk membawa rendang dan
Indomie.
“Harus Indomie, ya, Pak?” tanyaku iseng.
Pak Suganda tertawa, “Boleh mi instan apa saja yang penting ada untuk
beberapa hari.”
“Saya suka Indomie.”
Pak Suganda setengah bernyanyi, “Indonesia tanah airku, Indomie seleraku.”
Aku langsung ingat iklan televisi yang bertahan ketika sebagian besar iklan
produk menghilang.
“Rice cooker ….” Aku melanjutkan membaca saja, belum yakin harus
berkomentar apa.
“Ukuran kecil saja, Kash. Perut orang Indonesia kalau belum bertemu nasi
susah kenyang.”
“Iya, Pak.”
Bu Suganda menimbrung, “Bea cukai Swedia masih baik, A. Kalau di
Australia atau negara lainnya tidak boleh kita membawa makanan dari

Indonesia.”
“Rendang juga tidak boleh, Bu?”
“Iya. Mereka takut ada penyakit yang terbawa makanan itu.”
Aku mencoba melucu, “Wah, bisa busung lapar kita.”
“Kalau tidak biasa dengan makanan orang bule repot juga, Kash.”
Aku meneliti macam-macam pakaian yang ditulis Pak Suganda. Pakaian

sehari-hari, aku mesti menyiapkan kaus katun, kaus lengan panjang, celana
jeans, celana pendek, jaket tipis.

“Celana jeans, ya, Pak?”
Pak Suganda tersenyum, “Agar hangat saja, Kash. Saya perhatikan kamu tidak
pernah mengenakan jeans?”
Aku tersenyum canggung. “Saya tidak punya jeans, Pak. Celana kain semua.”
“Di Swedia musim panasnya saja dingin, Kash.”
Aku lalu meneliti daftar pakaian musim dingin. Jaket tebal, sweter, syal, jaket
musim dingin dengan tudung, topi kupluk wol, kaus kaki wol, sarung tangan,
pakaian olahraga.
“Kalau bujetnya ada, lebih baik beli di Swedia saja, Kash. Di sana lebih
beragam pilihan modelnya dan tentu sudah teruji untuk musim dingin di
Swedia.”
Aku menelan ludah. Sepertinya seluruh tabunganku pun tidak akan cukup
untuk membeli semua barang baru ini. Terutama jika di Swedia belanjanya.
Aku belum memperhitungkan dana kebutuhan hidup sebelum beasiswa cair.
Pada daftar pakaian khusus, aku membaca baju batik dan jas. Dua-duanya
aku tidak punya. Alas kaki, sepatu kets untuk pergi kuliah, sepatu bot untuk
musim dingin, sandal jepit untuk di apartemen, sepatu olahraga, dan sepatu
untuk acara-acara resmi.
Sampai pada daftar itu, aku sudah lemas sebenarnya. Pemikiran untuk
meminjam uang kepada Pak Haji beberapa kali terlintas, tetapi pada saat yang
sama aku hapus sampai bersih. Terutama ketika Pak Haji berkali-kali
mengatakan bahwa seluruh isi toko material dan keuangannya adalah warisan
orang tuaku, semakin aku bertekad untuk tidak akan menyentuhnya. Kurasa,
itu harga diri yang akan aku pertahankan sampai mati.
Aku meminggirkan kecemasanku dulu. Kemudian, aku membaca daftar
perlengkapan kuliah. Justru tidak banyak. Hanya kamus Inggris-Inggris dan
kalkulator. Obat-obatan yang banyak bukan main. Obat batuk, u, masuk
angin, macam-macam minyak; minyak angin, minyak kayu putih, minyak

tawon. Obat mag, obat diare, salep kulit, obat tetes mata, obat luka.
Sampai pada daftar perawatan tubuh, aku merasa geli. Pelembap wajah,

pelembap tubuh, pelembap bibir, sabun mandi, sabun muka, pasta gigi,
sampo, dan obat jerawat. Rasanya seperti daftar bekal pergi berkemah.

Bu Suganda menebak kegelianku. Sepertinya, dia ikut menyusun daftar
barang yang sedang kubaca.

“Laki-laki tetap harus memakai, A. Kalau tidak, kulit bisa pecah-pecah
karena kedinginan.”

“Oh, begitu, Bu?”
“Untuk sabun, pasta gigi, itu sementara saja. Kalau sudah adaptasi dengan
produk lokal, bisa beli di sana.”
Aku mengangguk-angguk. Daftar berikutnya adalah macam-macam
dokumen. Kebanyakan memang dokumen yang sudah kuurus sebelumnya.
Paspor, residence permit, ijazah dan dalam bahasa Inggris, pasfoto hitam putih
dan berwarna. Mungkin aku akan menambahkan beberapa lembar kertas
warna untuk membuat papercraft.
Daftar selanjutnya adalah perlengkapan ibadah dan kitab suci, peralatan
menjahit, peniti, koper ukuran kabin. Tampaknya aku akan menambahkan
buku 1.001 Hal tentang Swedia ke dalam daftar ini. Buku pemberian Iding itu
sudah menjadi doa yang menjadi nyata. Selain tentu saja, sedikit banyak akan
membantuku.
“Koper ini yang ukuran kabin bisa diganti ransel, Pak?”
“Oh, itu untuk keperluan kalau kamu punya kesempatan jalan-jalan ke
negara lain di Eropa, Kash. Tidak perlu koper besar. Cukup ukuran kabin saja.
Ransel juga bisa.”
Untuk koper besar pun aku belum punya. Apalagi koper tambahan.
Kalkulator imajinatifku terus menghitung jumlah uang yang harus kusiapkan.
Bu Suganda menimpali, “Kamu juga harus buka rekening bank, A. Pakai
kartu ATM yang ada logo Visa-nya. Itu buat kebutuhan dua sampai empat
minggu pertama. Beasiswa untuk kebutuhan hidup biasanya tidak langsung
cair.”
Aku tahu. Pak Suganda pernah mengatakan hal yang kurang lebih sama
kepadaku.
“Kira-kira berapa kalau dirupiahkan, Bu?”
“Dua jutaan mungkin, ya, Yah?”
Bu Suganda menjawab pertanyaanku, tetapi menoleh kepada suaminya.

“Amannya sebesar itu,” jawab Pak Suganda.
Aku lemas seketika. Namun, tidak berkata apa-apa.
Pak Suganda membaca kegelisahanku. “Jangan khawatir, Kash. Mahasiswa
internasional boleh bekerja selama menempuh studi. Asal punya residence
permit, kamu bisa bekerja tanpa izin kerja. Bebas tanpa batasan jam.”
Aku mengangguk-angguk saja. Daftar kebutuhan itu sudah habis dan semua
kecemasanku datang bersamaan. Semuanya perihal uang.
“Apa yang kamu pikirkan, Kash?”
Satu tahun terlibat banyak pembicaraan dengan Pak Suganda dan dia sudah
sangat bisa membaca bahasa tubuhku. Reaksi-reaksi emosiku. Namun, aku
masih ragu untuk menyampaikan kesulitanku. Sebab, bantuan Pak Suganda
dan Pak Sugema sudah membuatku malu.
“Sampaikan saja, A,” suara lembut Bu Suganda agak menenteramkanku,
“tidak apa-apa. Siapa tahu kami bisa membantu.”
“Saya …,” aku hampir mengatakannya, “… malu, Pak, Bu,” tertahan di
ujung lidahku.
“Sudah, sampaikan saja. Kamu sudah seperti keluarga bagi kami.”
Aku yang mudah terharu segera merasakan hangat di kelopak mataku.
Kalimat terakhir Pak Suganda membebaskanku. “Saya punya tabungan, Pak,
Bu. Sejak SD saya menabung. Upah kerja saya sebagian besar saya simpan.
Setelah saya buka, jumlahnya saya kira cukup untuk persiapan sebelum
berangkat. Membeli barang-barang ini. Tetapi, saya khawatir, kalau beasiswa
kebutuhan hidup tidak langsung cair, saya tidak ada pegangan pada minggu-
minggu pertama di sana.”
Pak Suganda dan istrinya seperti membiarkanku menumpahkan
kegundahanku. Tidak memotong kalimatku.
“Apa kira-kira, saya bisa langsung bekerja di sana, ya, Pak, Bu?”
Pak Suganda tersenyum. “Pekerjaan itu banyak, Kash. Asal tekadmu kuat,
insyaallah dapat. Tetapi, butuh proses. Karena pelamarnya pun banyak.
Kadang butuh keberuntungan. Jadi, memang, yang terbaik, kamu harus siap
dana talangan dulu.”
Aku mengangguk-angguk. Memainkan jemari, aku berpikir betul ke mana
mesti mencari pinjaman uang. Siapa yang mau meminjamiku.
“Bu …,” Pak Suganda menoleh kepada istrinya.
Bu Suganda mengangguk, “Begini, A. Pak Suganda sebelumnya sudah
membuat jadwal keberangkatan tahun ini ke Swedia. Tetapi batal. Saya sudah

siapkan semua keperluannya. Kurang lebih sama dengan kebutuhanmu tadi.
Koper besar seisinya.”

Aku menyimak kalimat Bu Suganda sambil menebak-nebak.
“Karena batal, kami semalam sempat berbincang, daripada tersimpan tidak
terpakai, sudah, kamu pakai saja.”
Aku melongo.
“Pakaian semuanya lengkap, tetapi bukan barang baru, A. Kalau kamu mau,
daripada beli, perlengkapan Pak Suganda kamu pakai saja. Saya kira ukuran
kalian tidak jauh berbeda.”
Aku mengangguk-angguk tanpa bicara.
“Kamu mau, A?”
Anggukanku semakin tegas dan cepat. “Terima kasih, Bu. Sangat mau. Tapi,
tahun depan Bapak bagaimana?”
“Ya, tahun depan kita pikirkan,” sahut Pak Suganda sambil tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Satu lagi,” kali ini Pak Suganda yang berbicara, “… untuk kebutuhan kamu
bulan pertama di Swedia, bagaimana kalau saya pinjami dulu? Kamu boleh
mengembalikan kapan kamu punya uang. Tidak usah buru-buru.”
Aku sungguh-sungguh tersekat. Malah jadi susah bernapas.
Aku langsung meraih tangan Pak Suganda dan istrinya, bergantian. Mencium
punggung tangan suami-istri yang terlalu baik hati ini. “Saya malah jadi sangat
merepotkan Bapak dan Ibu.”
“Tidak usah dipikirkan,” Pak Suganda berkata dengan ringan, “sudah sejak
pertama Pak Sugema bercerita, saya memang ingin membantu kamu. Setelah
melihat kerja keras kamu setahun ini, saya tidak ragu sama sekali.”
Aku tidak bisa menyahut lagi. Tenagaku kupakai untuk menahan haru.
Dadaku sesak oleh rentan hati dan bahagia.
“Tetapi, Kash. Ada hal yang sangat penting kamu harus pahami.”
Aku mendongak.
Wajah Pak Suganda berubah serius. “Kalau Indomie, kamu harus beli
sendiri.”
Kami tertawa bersama. Lepas dan saling menimpali. Aku merasa lega bukan
main. Seperti ada batu besar yang menggelinding dari punggungku.

AKU tidak tahu, apakah demo-demo berkepanjangan itu, ataukah memang
bapakmu berusaha keras untuk mencegahmu bertemu denganku jadi
penyebab aku tidak menemukanmu di mana pun. Aku menyisir Pasar
Kiaracondong setiap hari. Mencari-carimu, Kanya.

Aku pun menyusulmu ke perumahan-perumahan tempatmu biasa berjualan.
Aku berharap akan menemukanmu tengah menjual jajanan pasar ke rumah-
rumah pelangganmu. Tetap saja tak bertemu. Aku menunggu lama di Stasiun
Kiaracondong dan tetap tidak menemukanmu.

Aku berpikir untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Sebab, waktunya
sudah semakin sedikit. Aku tidak mau menyesal selamanya karena tidak
sempat menemuimu, sebelum pergi meninggalkanmu.

Aku lalu membeli tiket menuju stasiun terakhir kereta itu. Stasiun kita sejak
tiga tahun lalu: Cisalangka. Aku benar-benar harus menemukan caranya. Cara
menemuimu.

Dalam kereta, tanpa gitarku, aku menulis puisi dalam hati. Memandang ke
luar jendela, membayangkan hari-hari yang berlalu menyesakkan batinku. Aku
menyusun mimpiku setiap hari di kereta itu. Aku percaya masa depanku
adalah dirimu. Perlahan-lahan aku meyakini itu. Mempersiapkan segalanya
agar aku merasa layak menjadi lelakimu.

Tidak pernah terpikir seluruh mimpi itu akan runtuh seketika. Sampai aku
tidak bisa membayangkan, apakah akan ada kemungkinan bagiku
mengumpulkan serpihannya dari semula.

“Kashmir.”
Aku mendongak. Aku segera mengenali pemilik suara sebagai salah seorang
“penghuni” kereta ini. “Calik Bu Dedeh, silakan duduk.”
Aku bangun dan mempersilakannya untuk memakai bangkuku.
“Ah, berdiri tidak apa-apa, Mir.”
Aku memaksanya. Seperti biasa dalam basa-basi di kereta.
“Bagus jualan hari ini, Bu?”
Bu Dedeh menyamankan letak ciput di kepalanya, “Susah, Mir. Demo di
mana-mana. Pelanggan mau belanja juga takut. Da, orang kecil mah, tidak
paham politik. Penginnya jualan mudah, harga sembako murah. Sudah.”

Bu Dedeh memamerkan bakul cabai merah yang masih terisi setengah. “Ini
paling saya bikin menjadi cabai kering. Busuk kalau dibiarkan. Besok-besok
saya tidak ke Bandung dulu, Mir. Habis di ongkos kalau begini terus.”

“Kapan tenangnya, ya, Bu?” Aku mencoba memahami cara berpikirnya.
“Teuing, Mir. Apalagi tadi saya dengar Pak Harto mundur jadi presiden. Saya
mah, takut keadaan akan semakin buruk.”
“Iya, Bu. Tadi saya juga lihat beritanya di TV.”
“Orang-orang pinter kadang-kadang keblinger, ya, Mir. Berantem sendiri-
sendiri. Rakyat kecil yang terus sengsara.”
Aku mengangguk-angguk saja. Khawatir salah menanggapinya.
“Kanya ke mana, Mir? Saya sudah tidak melihat dia beberapa hari.”
“Mungkin sama dengan Bu Dedeh,” jawabku cepat. Hasil berpikir cepat, “…
keadaan sedang susah untuk berjualan. Takut ada apa-apa.”
“Iya, Mir. Seperti di Jakarta. Aduh, saya takut juga. Mudah-mudahan di sini
mah, aman.”
“Amin. Mudah-mudahan, Bu.”
“Kamu mau melanjutkan kuliah, Mir?”
Aku mengangguk, “Insyaallah, Bu.”
“Kalau sudah kuliah tidak usah ikut demo-demo, Mir. Belajar saja yang
benar. Kasihan orang tua kamu sudah membiayai.”
“Iya, Bu.”
“Di Bandung kuliahnya?”
“Bukan, Bu.”
“Jakarta?”
“Insyaallah di luar Indonesia, Bu.”
“Hebat kamu,” Bu Dedeh menepuk tanganku, “… di Amerika?”
“Swedia, Bu.”
“Di mana eta?”
“Eropa, Bu.”
“Dekat Belanda?”
“Kira-kira begitu, Bu.”
“Aduuh, Ibu ikut bangga, Mir,” Bu Dedeh menatapku sungguh-sungguh, “…
atuh da’ setiap hari bertemu di kereta. Saya doakan kamu sukses.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan lupa kalau sudah sukses, ya.”
“Mana mungkin saya lupa dengan Bu Dedeh. Di kereta, saya sering dibagi

makanan.”
Bu Dede tertawa. “Kanya bagaimana?”
“Bagaimana apanya, Bu?”
“Ditinggal jauh atuh nanti bagaimana?”
“Ya tidak bagaimana-bagaimana, Bu.”
“Kamu berapa tahun di luar negeri?”
“Kira-kira, ya, tiga sampai empat tahun, Bu.”
“Lama pisan atuh. Keburu dilamar orang.”
Wajahmu melintasi pikiranku.
“Diikat we atuh, Mir. Tunangan begitu. Jadi, kamu pulang dari luar negeri

tinggal menikah.”
Aku tersenyum canggung.
“Kalian itu serasi. Saling mengisi.”
“Ibu bisa saja.”
“Saya, kan, memperhatikan kalian bertahun-tahun. Kamu teh telaten pisan

mengajari Kanya.”
“Belajar bersama, Bu.”
“Kanya pernah mengatakannya ke saya.”
“Mengatakan apa, Bu? Bu Dedeh mah, macam-macam saja.”
Sebenarnya aku ingin tahu, apa yang engkau beri tahu tentangku.
“Ya, bahwa kamu teh baik sekali.”
“Baik apa, Bu? Biasa saja.”
“Kamu akan menjadi suami yang baik kelak, Mir.”
“Amin. Terima kasih, Bu.”
“Sudah, kamu tunangan saja dulu dengan Kanya.”
Aku tertawa tanpa suara. Lebih karena aku ingin menyembunyikan keadaan

yang sebenarnya.
“Bagaimana? Nanti saya katakan ke Kanya.”
“Doakan saja yang terbaik, ya, Bu.”
Pembicaraan itu tidak terlalu mengganggu. Aku hanya sedang tidak ingin

terlalu berbagi perihal perasaanku. Sisa waktu bersama Bu Dedeh kami
habiskan untuk membicarakan hal-hal ringan dalam keseharian.

Kami turun di Stasiun Cisalangka dan berpisah di sana. Aku lalu berjalan
menuju rumahmu, tetapi tidak benar-benar hendak bertamu. Aku tahu di
mana aku mesti menunggu jika berharap untuk bertemu seseorang yang bisa
mempertemukanku denganmu.

Aku hendak mencegat Opik sepulang di sekolah. Namun, aku harus
memastikan bapakmu tidak akan melihatku. Sebab, itu bisa berakibat buruk
kepadamu. Tidak jauh dari belokan tanda nama jalan itu, ada sebuah
poskamling yang lebih sering kosong. Pos tempat warga berkumpul setiap
melakukan ronda. Berdinding anyaman bambu, beratap asbes yang dicat
kelabu. Kukira aku bisa menunggu adikmu di situ.

Hujan mungkin akan segera turun dan bagiku tidak ada pilihan lebih baik
dibanding pos keamanan itu. Selain terlindung dari hujan, aku akan langsung
melihat adikmu jika dia sudah pulang dari sekolah melewati jalan itu.

Aku pun mulai menunggu. Sewaktu hujan merintik, lalu guruh menggeram
di kejauhan, aku melihat Opik berjalan sembari menunduk menuju rumahmu.
Dia berada di seberang jalan dari tempatku menunggu. Mengenakan seragam
putih biru.

“Opik.”
Adikmu menoleh dan segera menyeberang jalan raya. Aku menangkap
semangatnya.
“Ko.”
Aku menyambutnya, dia meraih tangan kananku, mengecupnya.
“Opik sehat?”
Dia mengangguk. Kami lalu duduk bersebelahan.
“Pahmi menangis terus minta ketemu Koko.”
“Begitu?”
Opik mengangguk. “Tetapi, Bapak tidak memberi izin.”
“Tidak apa-apa, Pik. Eh, sekolah Opik bagaimana?”
“Lancar, Ko. Ahamdulillah.”
“Syukurlah. Nanti kalau keadaan sudah memungkinkan, Koko pasti
mengunjungi Opik dan adik-adik.”
“Teh Kanya juga menangis terus, Ko. Kalau tidak sedang ke pasar,
mengurung terus di kamar.”
Kau tahu, Kanya, seseorang layak kau sebut cinta, jika menyebut namanya
merapuhkan hatimu, tetapi pada saat yang sama ia mengeluarkan hal-hal
terbaik dari dirimu. Demikianlah namamu, bagiku.
“Tidak dagang ke Bandung?”
Opik menggeleng. “Tidak boleh sama Bapak. Teteh hanya boleh jualan ke
Pasar Cisalangka, Ko. Menggantikan Mamah di kios.”
Pantas saja aku tidak bisa menemuimu di mana pun, Kanya.

“Koko minta maaf sudah membuat keadaan tidak nyaman, ya, Pik.”
Opik seperti sedang memikirkan sesuatu yang susah dikatakannya.
“Ko, apa benar ayah Koko seorang PKI?”
Aku tidak mau menjawabnya dengan buru-buru. “Koko tidak tahu cerita
sebenarnya, Pik. Ayah-ibu Koko sudah meninggal sejak Koko masih bayi.”
“Kata Bapak, PKI itu jahat sekali.”
“Apa Opik berpikir, Koko juga jahat seperti PKI?”
Opik menggeleng, “Koko orang baik. Baik sekali.”
Aku menepuk bahu Opik. “Kadang urusan orang dewasa susah dipahami,
Pik.”
Opik mengangguk-angguk. “Jadi, Koko gagal menikah dengan Teteh?”
Itu pertanyaan yang langsung dan membuatku tak bisa segera menjawabnya.
“Koko hanya bisa berdoa, semoga kami diberi kemudahan, Pik.”
“Kata Bapak, tidak akan pernah Bapak ikhlas Koko menikahi Teteh.”
Aku mengangguk-angguk, “Koko mengerti. Tetapi kita harus percaya kepada
Allah, Pik. Allah yang menakdirkan semua.”
“Koko tidak marah kepada Bapak?”
“Tidak. Bapak hanya bermaksud melindungi anak-anaknya.”
“Tapi, Koko kan, orang baik.”
Aku diam sejenak. Kupikir memang aku tidak perlu menanggapinya.
“Koko akan segera berangkat ke Swedia, Pik.”
“Koko akan kembali ke Indonesia, tidak?”
“Tentu saja,” aku menyimak suara hujan yang makin genap derasnya, “Koko
boleh meminta tolong kepada Opik?”
“Minta tolong apa, Ko?”
“Jaga Teteh baik-baik, ya, Pik,” aku menahan emosi ketika mengatakan ini,
“jangan sampai ada yang menyakitinya.”
Opik mengangguk-angguk.
“Opik anak laki-laki terbesar di keluarga. Harus menjadi pelindung buat
Teteh dan adik-adik semuanya.”
Opik seperti terpengaruh oleh kata-kataku. Dia tidak lagi berani menatap
mataku.
“Koko juga minta tolong, agar Opik menyampaikan pesan kepada Teteh.”
Opik menatapku. Matanya sudah memerah.
“Besok sebelum subuh, Koko tunggu di depan kios itu.” Aku menunjuk kios
yang menjadi bagian terluar dari pasar. Kios tempat berjualan macam-macam

peralatan plastik.
“Tidak akan lama, Pik. Koko hanya perlu menyampaikan beberapa hal.”
“Nanti Opik sampaikan ke Teteh, Ko.”
“Terima kasih, Pik.”
Dia menjauhkan pandangannya dariku. Dia tidak ingin aku memergoki air

matanya.
“Opik belajar yang baik, ya. Harus selesai sekolah agar kelak bisa bantu

Bapak dan Mamah.”
Opik mengangguk-angguk saja, tak mau bertatap muka. Kami menikmati

keriuhan hujan bersama-sama.

“KOKO.”
Ingatkah engkau, Kanya? Bagaimana aku menatapmu dini hari itu. Temaram

lampu pertokoan menerpa wajah-wajah kita. Aku berusaha tersenyum dan
menahan air mata. Engkau mulai tersedu-sedu. Kita berdiri berhadapan dan
tak seorang pun dari kita berusaha melangkah lebih dekat.

“Saya minta maaf, Ko.”
Aku menggeleng. Ingin merengkuhmu, membenamkan kepalamu di dadaku.
Menyeka air matamu. Namun, kita tahu itu tak mungkin. Aku sangat menjaga
kehormatanmu. Bahkan, dalam pikiranku.
“Tidak ada yang perlu saya maafkan,” aku meneguhkan kalimatku. Seteguh-
teguhnya, “... Kanya pasti bisa melalui ini.”
Engkau menatapku, pipimu telah begitu basah oleh kepedihanmu. “Saya
mengecewakan Koko.”
Aku menggeleng lagi. “Saya tidak kecewa ...,” tersenyum sebisaku, “... masa
depan masih panjang. Masih banyak kemungkinan.”
“Tapi Bapak ....”
“Maksud saya bukan itu ...,” aku mengangguk, “... saya paham. Kanya tidak
perlu menunggu saya. Saya pun ...,” tersedak batinku saat itu, “... saya pun
tidak akan mengharapkan Kanya. Bapak Kanya sangat menyayangi Kanya.
Beliau ingin yang terbaik untuk Kanya.”
Aku meraih tas dari punggungku. Membukanya, mengambil amplop cokelat
dari dalamnya. “Saya menemui Kanya bukan hendak membahas itu.”

Engkau menatapku.
Aku mengangsurkan amplop itu. “Kanya terima, ya.”
Tanganmu kaku. Tidak menyambut pemberianku. “Ini apa, Ko?”
“Tabungan saya.”
Engkau menggeleng tanpa suara.
Aku berusaha meyakinkanmu, “Saya tidak membutuhkannya.”
“Koko akan pergi jauh. Tentu membutuhkannya.”
Aku sekarang yang menggeleng, “Saya sudah menyiapkan ini sejak lama
untuk Kanya.”
“Saya tidak bisa menerimanya, Ko.”
Aku menurunkan tangan. Sudah menebak engkau akan mengatakan ini.
Namun, mengalaminya tetap merapuhkan hati.
“Saya membongkar semua tabungan saya untuk pernikahan kita.”
Tatapanmu nanap.
“Karena itu sudah tidak mungkin terjadi, saya ingin uang ini tetap berguna
untuk Kanya. Saya ingin Kanya bersekolah. Sekolah apa saja. Kanya bisa
memakai uang ini.”
Engkau menatapku. Air mata kembali mendanaukan matamu. Tangan kiri
menutup mulutmu. “Koko terlalu baik kepada saya.”
Aku menggeleng lagi, “Kanya berhak diperlakukan dengan baik,”
mengangsurkan lagi amplop cokelat itu, “... mohon diterima.”
Engkau masih terpaku.
“Meski kita tidak bisa bersatu, tetapi saya akan merasa bahagia jika saya tahu,
Kanya bisa mengubah hidup Kanya,” kulebarkan senyumku, “... dengan
bersekolah.”
Isakmu kian menjadi. Badanmu berguncang-guncang. Tidak lagi kau tatap
aku.
Bukan main debur dadaku, ketika kuberanikan diri meraih tangan kananmu.
Menyentuh kulitmu pun meruntuhkan ketabahanku. Aku tahu air mataku
berjatuhan tanpa sanggup kukembalikan. Aku genggamkan amplop itu ke
jemarimu. Lemah jemarimu mengikuti mauku.
“Kanya harus bersekolah. Apa saja. Agar Kanya punya kesempatan lebih
baik,” suaraku bergetar. Hampir-hampir isak tak mampu kudesak, “... agar
kelak Kanya bisa membantu Bapak dan Mamah lebih banyak. Bisa
menyekolahkan adik-adik.”
Kulepaskan tanganmu, meski batinku tak mau. Engkau masih tergugu tanpa

menatapku. Kita berdiri berhadapan tanpa suara beberapa lama. Aku
menenangkan batinku, sebisa-bisaku.

“Saya juga hendak pamit, Kanya. Besok saya berangkat.”
Tangismu memelan. Berusaha engkau angkat wajahmu, mempertemukan
tatapan kita. Engkau berusaha tersenyum. Benar-benar mengusahakannya.
“Koko baik-baik di negeri orang, ya. Sukses sekolahnya. Kelak bertemu dengan
seseorang yang lebih baik daripada saya. Koko berhak untuk bahagia.”
Aku tidak ingin membahas ini, tapi engkau memulainya, Kanya.
“Tidak, Kanya ...,” aku berusaha menemukan titik pandanganmu,
menguncimu di situ, “... Kanya tidak akan pernah terganti.”
“Jangan berkata begitu, Koko,” isakmu berbunyi lagi, “Koko lelaki baik. Pasti
berjodoh dengan perempuan yang jauh lebih baik.”
Aku menggeleng lagi. Aku bisa kau suruh mengatakan apa saja kecuali satu
hal itu.
Telapak tangan kuletakkan ke dada kiriku. Sampai terasa degup jantungku.
Engkau tahu maksudku. “Hidup saya tidak akan terhenti, Kanya,” kuberikan
senyum terbaikku untukmu, “... tapi saya tahu, ada yang tidak bisa saya
usahakan lagi.”
Aku yakin engkau tahu. Meski aku tidak pernah mengatakan kepadamu. Aku
tidak akan mampu mengasihi seperti aku mengasihimu. Tak peduli berapa
puluh tahun lagi, aku tahu aku tak akan sanggup mengusahakannya. Hidupku
akan terus berjalan, tapi rasaku telah berhenti. Kepadamu.
“Bapak pasti mencari Kanya ...,” aku menghindari kemungkinan kita akan
terjebak dalam perbincangan ini, “... Kanya pulang sekarang.”
Engkau mengangguk-angguk.
“Saya pamit,” aku menangkupkan tangan. Menunggu tatapan kita bertemu,
lalu tersenyum menenangkanmu.
“Assalamualaikum.”
Engkau membalas salamku dengan lirih. Aku lalu melangkah,
meninggalkanmu, mendekati sepedaku.
“Koko.”
Suaramu menghentikan kakiku. Kubalikkan badan, kembali menatapmu
yang menghampiriku. Engkau mengulurkan tanganmu. Aku kehilangan
senyumku. Ketika tangan kita bertemu, aku kehilangan ketegaranku. Lalu ...
engkau mengecup punggung tanganku, membuatku beku.
Kali ketiga. Aku menghitungnya. Engkau mengecup punggung tanganku kali

ketiga. Pertama di stasiun itu, di depan rumahmu, lalu sekarang. Mungkin ...
untuk kali terakhir. Aku tak sanggup menahan tangan kiriku. Gemetar,
kuletakkan di kepalamu. Mengelus rambutmu. Kuwakilkan seluruh
perasaanku.

“Terima kasih, Ko.”
Aku hanya mengangguk. Seberapa besar keinginanku merengkuhmu, sebesar
itu aku menahannya. Aku tak sanggup lagi menciptakan kata. Engkau tahu
aku telah berlimpah bahagia. Hanya karena merasa engkau pun
menganggapku ada.
Aku melangkah lagi dalam kebisuan. Meninggalkanmu. Menaiki sepedaku,
mengayuh pedalnya. Aku tahu aku akan menyesalinya karena semestinya aku
lebih banyak mengungkapkan perasaanku kepadamu. Namun, aku tetap
melakukannya. Kepergianku yang tak berbahasa.
Aku tak menoleh lagi, meski aku tahu engkau menatapku hingga hilang
bayanganku.

TENTU saja kami kerepotan pada pengalaman pertama pergi ke bandara
terbesar se-Indonesia. Pak Haji pernah berangkat ke Mekah, tetapi semua
urusan ia serahkan kepada panitia haji. Dia dan Bu Haji tinggal menuruti.

Kali ini kami datang tanpa pendampingan. Pak Haji menyewa mobil yang
menurutnya lebih pantas dibanding bak terbuka yang ia punya. Bu Haji
membawa bekal sarapan, Pak Haji memberiku wejangan macam-macam, Pak
Wawan menyetir dengan kencang.

Kami berangkat dini hari dan sampai di Cengkareng pagi-pagi sekali. Setelah
banyak bertanya, aku tahu tidak bisa membawa keluarga Pak Haji ke ruang
tunggu. Pesawat akan berangkat beberapa jam lagi. Maka, aku putuskan untuk
berkumpul di selasar bandara sekali lagi.

Barang bawaanku tidak banyak. Hanya ransel, koper seisinya milik Pak
Suganda, surat-surat, dan inginku gitar bersejarah itu. Gitar yang
mengiringimu bernyanyi lagu-lagu Mbak Titi. Aku berharap bisa
menyimpannya di bagasi. Namun, aku tidak terlalu yakin kini.

Kami duduk di kursi selasar, di antara lalu-lalang orang-orang. Pak Haji dan
Bu Haji duduk berdekatan. Pipin di sebelahku, sedangkan Pak Wawan

memilih jarak yang sedikit jauh.
“Waktu Abah pergi haji mah, bandara ramai pisan. Ini sih, sepi,” Pak Haji

berbicara sendiri, tetapi tentu berharap semua orang menanggapi, “… krisis
moneter meureun, nya. Orang-orang berhemat.”

“Tetapi, sepertinya bandaranya lebih luas, ya, Bah,” sela Bu Haji.
“Beda bandaranya, Abah,” Pipin tidak sabar menjelaskan, “Abah dulu mah,
terbangnya dari Halim Perdana Kusumah.”
“Beda kitu?” Pak Haji celingak-celinguk, “tapi ini hitungannya memang sepi,
Pin.”
“Iya itu mah, lain lagi. Pipin, kan, cuma meluruskan Abah naik hajinya
bukan dari bandara ini. Bukan soal ramai atau sepi.”
Iya. Soal bandara saja ayah-anak ini bisa berdebat hebat.
Pak Haji masih meneruskan teori-teori ekonominya. Bu Haji mendengarkan
dengan saksama. Pak Wawan pun terpaksa mengikuti kuliah umum
majikannya.
Aku mengambil gitar. Memainkan nada. “Kali terakhir, ah.”
“Tidak jadi Aa bawa?”
“Bagasinya rumit, Pin,” aku menemukan lagu yang senada dengan suasana
pikiranku, “tadi aku sudah tanya ke petugas. Harus dirapikan dulu
kemasannya, rawan rusak.”
Pipin memperhatikan jari-jariku. Mendengarkan nadaku, tentu dia tahu.
“Kuingin”, lagu penyanyi kecintaanku. Dia tahu, kepada siapa aku nyanyikan
lagu itu. Untukmu, Kanya.
Aku ajak Pipin tersenyum. Kurasa dia sedikit serbasalah jadinya. Tatapannya
beralih ke orang-orang yang berseliweran.
“Bareng nyanyi, Pin …,” ajakku yang diabaikan Pipin.
Sekarang, aku mengingat wajahmu, Kanya. Air matamu. Janji yang pernah
kuucapkan. Kelembutan yang telah engkau tinggalkan.
Mataku menghangat, memburam pandangan. Ketika notasi masih
kumainkan, Pak Haji menghampiriku, mengelus-elus bahuku. Aku tidak
mengharapkan keberangkatanku menjadi sedramatis ini. Namun, engkau
telanjur menjadi drama bagi hidupku, Kanya. Aku tidak mampu
menghentikannya.
“Sabar, A …,” Pak Haji terus menguatkanku dengan caranya, sudut
pandangnya, “… insyaallah sudah ada jodoh yang lebih baik untuk Aa.”
Aku menghentikan laguku.

“Terima kasih, Pak Haji.”
Pak Haji berkata lagi, “Aa yakin tidak perlu uang untuk pegangan?”
Aku menggeleng, “Semua sudah ditanggung beasiswa, Pak Haji.”
“Aa harus ingat juga …,” Pak Haji duduk di sebelahku, menyuruh Pipin
pindah ke kursi yang lain, “… rumah, toko, semuanya yang Pak Haji kelola,
itu punya Aa. Kapan pun Aa pulang, Aa mau, Aa bisa pergunakan. Pak Haji
akan urus surat-suratnya. Semuanya jadi atas nama Aa.”
Aku menggeleng, “Jangan begitu, Pak Haji. Ada hak Pak Haji di dalamnya.
Ada hak Pipin sebagai putra Pak Haji.”
“Tidak … tidak,” Pak Haji sedikit mengotot, “… Pak Haji hanya
menjalankan amanah papah dan ibu Aa. Menjaga harta itu untuk masa depan
Aa.”
Aku tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas warisan. Meski
kenyataannya, tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk itu.
Kuperhatikan cara Pak Haji bicara. Kesungguhan setiap kata yang ia ucapkan.
Ekspresi wajahnya yang kukuh. Kerut wajahnya yang kian kerap. Sampai di
sana, aku terkesiap. Waktu telah menuakannya. Waktu yang sebagian besar
dipakai untuk menjagaku. Sedari aku bayi. Betapa aku berutang budi.
“Pak Haji …,” seketika aku tidak bisa menahan sesak dadaku, air mataku,
“… terima kasih sudah membesarkan saya. Menjaga saya, mengajari saya
banyak hal.”
Tentu saja ketika saat-saat perpisahan semakin dekat, masa lalulah yang
kuingat. Kebersamaan kami. Kupahami bagaimana Pak Haji begitu berharap
aku menjadi orang baik, dalam ukuran yang ia yakini. Mengajariku agama,
mendidikku disiplin, dan kerja keras.
“Papah dan ibu Aa pasti sangat bangga ...,” Pak Haji memelukku,
membuatku teringat masa kecil dulu, “… Aa akan jadi orang hebat.”
Aku berusaha tersenyum dalam air mata. Aku lalu meraih tangan Pak Haji,
menciumnya sepenuh hati. Bu Haji menghampiriku. Pipinya sudah berkilat
oleh air mata. Melunturkan bedaknya. Dia mengelus kepalaku. Aku balas
mencium tangannya.
“Bu Haji, terima kasih.”
Bu Haji mengangguk-angguk sembari terisak. Ia selalu sedikit dalam berkata-
kata. Namun, aku menangkap kasih sayangnya yang sederhana.
“Jaga salat, ya, A.”
Aku mengiakan dengan sungguh-sungguh. Sedari kanak-kanak, Bu Haji

memang hanya punya pesan satu itu. Jangan tinggalkan salat. Dia percaya
urusan apa pun bisa mengikuti, masalah serumit apa pun akan terselesaikan,
jika aku menjaga salatku.

Aku menoleh ke Pipin. “Saya titip Pipin, Pak Haji, Bu Haji. Harus sekolah
sampai jadi dokter.”

Kami bersedu-sedan. Semakin sedikit kata-kata. Aku lalu meletakkan gitar,
bangun menghampiri Pipin. Dia menghamburiku lebih dulu. Membenamkan
wajahnya ke bahuku.

Kataku, “Harus jadi dokter, ya, Pin. Bikin bangga Pak Haji, Bu Haji.”
Pipin tak menjawab kecuali mengangguk-angguk. Aku hanya mendengar
suara hidungnya. Beberapa lama seperti itu.
“Aku minta maaf, A. Sudah membebani Aa sejak kecil.”
Aku mengucek kepala Pipin. “Setiap kakak akan mengusahakan yang terbaik
untuk adiknya.”
Tangis Pipin semakin menjadi. Dia memelukku kian kencang. Ada hal yang
kami pahami tanpa terkatakan. Aku tahu kegelisahan Pipin. Dia tahu, aku
tahu. Tentu saja itu mengenaimu, Kanya.
“Pin …,” aku merenggangkan pelukan Pipin, “… sebentar.”
Aku mengambil gitar yang menyender di kursi, lalu menyerahkannya ke
Pipin, “Rawat baik-baik, ya. Jika Kanya ingin menyanyi, Pipin bisa
mengiringi.”
Pipin menerima gitar itu tanpa berkata apa-apa. Namun, aku tahu, dia tahu
maksudku.
Aku lalu bersiap-siap. Sudah waktunya berangkat. Sedikit basa-basi dengan
keluarga Pak Haji, lalu aku melangkah ke pintu keberangkatan. Melambai
sekali lagi, berpamitan kali terakhir.
Sebuah episode hidup sudah kuselesaikan. Episode berikutnya segera
kujelang. Babak baru yang seperti apa sama sekali tidak kutahu. Di negeri jauh
yang misterius dan dingin. Aku berharap beruntung hingga hidupku akan
lebih baik.
Setidaknya aku jauh darimu, Kanya. Semoga itu membantuku
melupakanmu. Aku tahu, itu harapan hampa. Sia-sia.

Gh a 14

Seniman Jalan Dr it tninggatan

M elakukan perjalanan udara kali pertama, jauhnya tak terkira. Aku
merasa penerbangan ini akan berjalan selamanya. Aku tidak punya
persiapan apa pun untuk menanggulanginya. Ketika akhirnya pesawat yang
kutumpangi mendarat di Bandara Arlanda, Stockholm, ada perasaan lega
sekaligus cemas pada waktu yang sama.

Lega karena akhirnya kakiku menjejak lagi ke bumi. Cemas karena
kenyataannya ini pengalaman kali pertama bagiku dan apa pun tentangnya
aku tidak tahu. Sudah kucatat setiap langkah yang harus aku lakukan dan
setiap hal yang mesti aku perhatikan. Bagaimanapun, rasa risau tidak bisa
hilang. Rasa aman tidak seketika terpasang.

Apalagi ketika kulihat banyak polisi menunggu di ujung tangga pesawat.
Polisi-polisi jangkung dengan anjing-anjing besar mereka. Aku tidak yakin apa
yang menjadi target kerjanya. Setiap penumpang yang turun mesti melewati
barikade mereka. Sudah pasti aku merasa tak tenang.

Dengan anjing pun aku tidak terbiasa. Apalagi anjing yang raksasa
ukurannya. Mulut terbuka, gigi tajam, liur menetes, lidah menjulur. Sudah
begitu, jumlahnya lebih dari tiga. Aku amati para penumpang di depanku.
Seorang ibu-ibu berambut pirang menggandeng anak perempuan yang setinggi
pinggang. Mereka tampak biasa saja. Mungkin mereka bahkan punya anjing
peliharaan di rumah. Itu membuat situasi ini menjadi lebih mudah.

Aku tidak begitu. Pikiran-pikiran buruk menerpaku. Bagaimana jika anjing-
anjing itu salah mengendus isi tasku? Bagaimana jika mereka lalu
menerkamku? Hampir-hampir menutup mata saking takutnya, aku berjalan

dengan gugup. Lega luar biasa ketika kulewati anjing-anjing itu tanpa ada
insiden yang kutakuti.

Masuk ke bandara, kami antre di counter imigrasi. Kukeluarkan buku
panduan yang kubuat sendiri. Hasil wawancara dengan mereka yang lebih
tahu tentang Swedia dan seluk-beluk peraturannya. Aku menuju barisan all
passport alias mereka yang memegang paspor non-Eropa.

Sengaja tak melangkah buru-buru, kuperhatikan beberapa orang di depanku.
Aku ingin melihat bagaimana petugas imigrasi memperlakukan mereka. Tidak
lebih menghibur dibanding ketika kami berhadapan dengan polisi dan anjing
pelacak tadi. Semua yang antre denganku berwajah Asia. Mungkin aku yang
berkulit paling terang dibanding mereka. Dua orang di depanku telah lebih
dari sepuluh menit berdiri dan belum ada perubahan. Orang pertama dalam
antrean, seorang berkulit Asia Tengah masih beradu muka dengan petugas
sementara paspor dan visanya masih diperiksa.

Ini pun membuatku gelisah. Meski aku sudah diberi tahu, izin tinggal yang
kupegang akan lebih memudahkan, tetap saja aku tidak bisa menekan
kekhawatiran. Antara ingin segera mengakhiri antrean ini dan waswas jika
harus berhadapan dengan petugas imigrasi yang tidak pernah tersenyum itu.

Ketika akhirnya sampai pada giliranku, aku berdoa dalam kata tanpa suara.
Aku lalu berusaha sepercaya diri mungkin berdiri di hadapan loket kaca
petugas dan menyerahkan pasporku. Petugas yang kuhadapi adalah pria
Kaukasia yang ketika duduk pun hampir setelingaku tingginya. Dia melihat
pasporku. Mungkin dia kebingungan karena belum menemukan cap negara
mana pun di dalamnya.

Petugas itu berbicara kepada temannya dan tidak kepadaku. Dia lalu
mengetik di komputer di hadapannya.

“Nama belakang Anda?”
“Kashmir saja.”
Petugas itu mengetik lagi. Selanjutnya dia memeriksa residence permit. Aku
mengira-ngira, dia lebih menemukan kejelasan, karena izin tinggalku
ditanggung oleh Pemerintah Swedia.
“Apa keperluan Anda ke Swedia?”
“Oh, ternyata tidak semudah itu, Justo.” Aku segera teringat adegan dialog
para budak Tuan Baron dalam telenovela Little Missy di TVRI
“Kuliah, Sir.”
“Di mana?”

“ e Royal College of Music, Stockholm.”
“Berapa lama?”
“Empat tahun.”
“Selama di Swedia, Anda tinggal di mana?”
“Di asrama mahasiswa.”
“Bisa tunjukkan surat beasiswanya?”
Aku sudah menyiapkan dokumen sakti itu. Bukan lebih mudah, urusan
tinggal sebagai mahasiswa malah membuat sesi wawancara ini lebih susah.
Semakin banyak pertanyaan yang harus kujawab. Namun, setidaknya aku
memang sudah menyiapkan diri untuk itu. Setelah hampir seperempat jam
berdiri dan berusaha tenang menjawab setiap pertanyaan, akhirnya petugas itu
menyetempel pasporku. Memperbolehkanku secara resmi menginjak tanah
Eropa. Masuk ke negara asing pertama dalam hidupku; Swedia.
Di antara keramaian mereka yang datang atau bersiap terbang, aku menyeret
koper sebesar lemari mini pemberian Pak Suganda untuk mencari tempat
menepi. Aku tidak mau pura-pura telah terbiasa dengan semua yang kualami.
Aku memilih berdiri, mengatur napas, menenangkan diri. Perlahan-lahan
kuproses segala kejadian yang kuhadapi sejak naik pesawat hingga ke titik ini.
Semuanya serbabaru.
Bahkan, mengambang di udara selama belasan jam adalah pengalaman yang
sedikit mengerikan sebenarnya. Sensasi naik pesawat kali pertama memang
tidak terduga. Rasanya ringan, seperti …. terbang. Di luar kenyataan bahwa
memang pesawat itu bernama kapal terbang.
Dalam pesawat besar dengan ratusan orang berwajah asing, segala hal canggih
di sekeliling, dan keluguanku yang membawa malu. Aku bahkan sempat
kebingungan mengenakan sabuk pengaman. Sewaktu semua orang tertidur
dengan nyaman, aku justru tertimpa banyak pikiran. Sesekali melirik ke luar
jendela dan melihat awan putih mengambang sejauh mata memandang.
Meyakinkanku bahwa kami sedang di atas ketinggian yang tak terbayangkan.
Semua baru. Termasuk ketika ditawari menu makan dan minum oleh
pramugari, sewaktu menahan keinginan untuk ke kamar kecil karena takut
salah prosedur, dan berkali-kali membuka brosur berisi operasi keselamatan
ketika pesawat mendarat darurat di atas air. Aku mencoba menghafal
prosedurnya, tetapi sia-sia. Rompi pelampung tetap tersimpan di bawah kursi
sehingga aku tidak bisa mempraktikkan instruksinya.
Dua penumpang di kanan kiri adalah laki-laki dengan ras yang berbeda. Satu

berkulit sangat terang satunya sangat gelap. Dua-duanya tidak suka bicara.
Lagi pula aku tidak terlalu ingat bagaimana memulai sebuah obrolan dalam
bahasa Inggris. Seolah-olah aku mengalami amnesia sementara oleh sebab
segala grogi yang kualami.

Semua peristiwa itu berujung di tempat aku berdiri dan akan berlanjut terus
sampai aku beradaptasi dengan segala hal baru. Namun, saat ini, aku benar-
benar hanya ingin menikmati. Memberi waktu kepada pikiranku untuk
mencerna. Satu tahun sejak mimpi ini mulai kutapaki, macam-macam hal
merintangi, lalu tibalah aku di titik ini.

Rasanya tidak percaya. Orang-orang yang kukenal seperti ada, berbicara pada
dimensi berbeda. Entah apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Termasuk
engkau, Kanya. Mungkin aku tidak mengingatmu dengan rasa yang
mencukupi. Namun, namamu tetap terlintas kali pertama. Mungkin setelah
semua hal baru ini kuproses dengan baik, aku akan mengingat wajahmu lagi
dengan layak.

Akhirnya, aku merasa cukup melakukan perhentian. Aku mengangguk
kepada diriku sendiri, lalu melangkah sembari mencari-cari. Aku tahu ini baru
awal dari segala tantanganku memulai hari yang panjang di Stockholm. Aku
segera harus mencari bus menuju cityterminalen.

Aku tidak memilih kereta ekspres karena tiketnya sangat mahal. Lagi pula
aku tidak sedang terburu-buru dan pemandangan apa pun di luar jendela bus
akan sangat menarik karena aku baru kali pertama melihatnya. Aku juga tidak
tergesa ingin mengenangmu, Kanya. Aku masih punya banyak waktu untuk
menaiki kereta dan membayangkan kehadiranmu di sana. Terminal kota atau
cityterminalen itu yang akan mengantar semua penumpang ke berbagai tujuan.
Mungkin semacam Terminal Leuwipanjang.

Ada seorang mahasiswa kenalan Pak Suganda yang menjemputku di sana.
Sebelum mencari bus itu, sudah pasti aku mesti menemukan mesin ATM lebih
dulu. Aku sama sekali tidak membawa uang negara mana pun.

Aku punya pilihan. Jika aku ingin prosesnya lebih mudah, aku tinggal
bertanya kepada seseorang di mana letak ATM Bankomat bisa kutemukan. Pak
Suganda memberiku catatan untuk segera menarik Swedish Kronor, krona
Swedia, begitu tiba di bandara. Maksudnya tentu setelah aku tiba di bandara
dan menyelesaikan urusan keimigrasian yang penuh ketegangan itu.

Aku mengambil pilihan kedua. Kuputuskan untuk mencari sendiri mesin
ATM itu. Selain segala tanda penunjuk di bandara jelas memberi arahan, aku

memang ingin sedikit melakukan petualangan.
Bahkan, mesin ATM pun suatu hal yang baru bagiku. Mesin ATM di sebuah

bandara asing di negeri yang jauh, menambah nilai kebaruannya bagiku.
Sembari melihat-lihat dunia yang jauh dari ketenangan lereng Gunung Geulis,
jauh dari tuanya kereta Cisalangka-Bandung, aku berusaha menekan
ketakjubanku. Meski tidak seorang pun yang memperhatikanku.

Sebuah papan penunjuk memberitahuku ke mana arah yang mesti dituju.
Setelah meniti tangga berjalan, berdiri di sebelah kanan, ransel di punggung
dan koper besar membuatku kerepotan, sampailah aku di lantai tempat
macam-macam mesin ATM bersisian.

Aku selalu mencari contoh lebih dulu. Melihat orang lain melakukan apa
saja, baru aku menirukannya. Termasuk ketika turun tangga berjalan dan
berhadapan dengan mesin uang. Karena ada pilihan bahasa Inggrisnya,
instruksi dalam kotak ATM ini bisa kupahami.

Aku menarik sejumlah krona untuk keperluan minggu pertama. Ada
perasaan bangga ketika aku menyadari telah menjadi bagian dari masyarakat
modern. Hal yang tak pernah kubayangkan terjadi kecuali di dinding
imajinasi. Dalam dunia papercraft di dinding kamarku itu.

Target selanjutnya adalah membeli tiket bus ke Cityterminalen. Aku kembali
menikmati perjalanan pelan-pelan. Tidak menampakkan keterburu-buruan,
mempelajari apa yang kulihat sembari mencari arah yang tepat.

Seperti ketika mencari mesin ATM, menemukan tempat penjualan tiket juga
tidak memberiku kesulitan. Mengikuti arah Arlanda Visitor Centre aku segera
bertemu dengan banyak tamu bandara yang punya kepentingan sama; mencari
tiket.

Petugas tiket, kebanyakan perempuan, berpenampilan rapi seperti pegawai
bank. Mereka melayani para tamu dari balik meja panjang melengkung seperti
busur. Tampaknya mereka komunikatif meski tidak tersenyum. Aku tahu ini
waktunya menggunakan bahasa Inggrisku yang ajaib.

“Tiket bus ke Cityterminalen, please.”
“Berapa orang?”
“Satu orang.”
“Usia Anda di bawah atau di atas 17 tahun?”
Kukira wajahku membuatnya tidak yakin dengan usiaku.
“Saya 18 tahun.”
Dia lalu menyebut jumlah krona untuk satu tempat duduk Flygbussarna

tujuan Cityterminalen. Aku akan semakin sering melakukan ini. Menghitung
cepat berapakah pecahan krona itu jika kukonversikan ke rupiah Indonesia.
Aku menyerahkan lembaran 100 krona dan mendapat kembalian beberapa
uang kertas dan satu koin warna emas.

Aku telah menggenggam tiket dan merasa telah menjadi penguasa dunia.
Merasa sudah menjadi bagian dari modernitas internasional. Bertahun-tahun
yang kuketahui hanya tiket kereta diesel sambil menyadari puluhan
penumpang lain bahkan melompat ke kereta tanpa membayarnya.

Aku lalu kembali menyeret koper mahal, yang resminya hanya pinjaman,
mengikuti petunjuk arah ke luar bandara. Menuju halte bus. Aku segera
melihat bus-bus besar licin terawat yang parkir berjajar menunggu
penumpang. Tidak, kukira mereka menunggu jadwal berangkat.

Flygbussarna tujuan Cityterminalen yang kucari sudah beberapa kursi terisi.
Ketika aku menghampiri, sopir bus itu turun dan menyambutku. Membantu
mengangkat koper besarku, memasukkanya ke bagasi. Dia lelaki tinggi besar,
cekatan, tidak berwajah masam, tapi juga tidak pula banyak senyuman.

“Tack.”
Dia cukup terkejut aku menggunakan bahasa Swedia dalam berterima kasih
kepadanya. Satu-dua kalimat memang aku menghafalnya dari buku pemberian
Iding.
“Kembali kasih. Anda bisa berbahasa Swedia?”
“Förlåt, jag prata inte svenska. Kan du prata engelska?”
Aku menghafal kalimat itu untuk berjaga-jaga jika ada orang lokal
mengajakku berbicara menggunakan bahasa Swedia. Aku tidak tahu banyak
bahasa Swedia dan balik bertanya apakah Pak Sopir bisa berbahasa Inggris.
“Yes, I do. Seperti kebanyakan orang Swedia, saya bisa bahasa Inggris.”
Aku buru-buru menjawab dengan bahasa Inggris. “Saya berencana untuk
mempelajari bahasa Swedia. Saya datang untuk berkuliah di sini beberapa
tahun.”
“Good for you.”
Aku lalu menyerahkan tiket dan dia memeriksa sejenak. Setelah dia
mengangguk dan mempersilakan aku masuk bus, aku melangkah ke pintu
dengan ransel di punggungku. Aku memilih kursi di tengah dan memastikan
tak ada halangan apa pun untuk menyaksikan pemandangan di luar jendela.
Tidak menunggu penumpang penuh, bus ini mulai bergerak meninggalkan
bandara. Lalu, aku melihat dunia yang sepenuhnya berbeda dari apa yang

kulihat sepanjang aku kecil hingga remaja. Padang rumput yang luas, bersih,
hijau, berpagar pohon-pohon rimbun pada tepi-tepi jalan yang mulus dan
cenderung sepi. Aku belum melihat gunung dan tak menemukan sawah-
sawah, tiang listrik, kabel-kabel yang bersambungan.

Ya ampun, aku sudah benar-benar berada di luar negeri. Jauh dari Indonesia,
negeri tempat tembuniku ditanam oleh paraji desa. Pemandangan hijau di luar
jendela berubah menjadi bebatuan dan tebing cadas yang mengingatkanku
pada jenis batu di lembah Gunung Geulis. Bebatuan hitam dan kering air. Itu
tidak lama. Akhirnya, aku melihat kota. Bangunan-bangunan khas perkotaan
mulai bermunculan. Bentuk bangunan-bangunan itu sepenuhnya berbeda dari
semua pengalamanku. Antara klasik dan modern.

Bangunan peninggalan kolonial di Bandung hampir semua berwarna putih,
sedangkan yang kulihat ini warna-warni yang memunculkan gradasi indah.
Kuning, merah bata, cokelat gerabah, sampai keunguan. Arsitekturnya pun
lebih mirip rumah mainan dengan banyak jendela. Jantungku serasa berdegup
tak sabar, oleh rasa ingin tahu lebih banyak. Ingin segera mengalami hal-hal
baru.

Perjalanan bus ini habis dalam tiga puluh menit atau lebih sedikit. Bus
berhenti di halte bertuliskan Cityterminalen. Beberapa orang duduk di halte
itu. Aku turun santai. Menunggu giliran paling belakang. Sopir baik hati itu
sudah menunggu di depan bagasi. Dia menolong semua penumpang
menemukan tas mereka. Begitu pula aku.

“Anda dari mana?” Sopir itu bertanya tanpa kesan penasaran.
“Indonesia.”
“Cina?”
“No. Indonesia.”
Dia mengangkat koperku dan tidak bertanya lebih lanjut. Untuk sebuah
percakapan beberapa detik tentu dia tidak ingin mengejar rasa ingin tahu.
“Semoga Anda segera bisa berbahasa Swedia.”
Aku tertawa. “Terima kasih banyak.”
Aku sengaja menunggu bus itu berangkat sambil memikirkan apa yang
hendak kulakukan selanjutnya. Udara siang itu cukup dingin. Namun, tidak
sampai menggangguku.
“Kashmir?”
Aku menoleh. Seorang lelaki, yang kepalaku setinggi telinganya, bangun dari
duduk. Berkacamata, rambutnya ikal, jidatnya sempit, pandangannya agak

sengit. Dia memakai jumper dan celana jeans. “Saya menunggu satu jam di
sini.”

“Kang Mulyana?”
“Iya.”
“Maaf, Kang. Saya agak kebingungan di bandara.”
“Kita masuk terminal sekarang, perjalanan ke asrama masih jauh.”
Baiklah. Aku berharap terlalu banyak atau mungkin aku yang terlalu manja
rupanya. Karena Pak Suganda begitu baiknya, aku mengira orang yang ia
rekomendasikan pun punya sikap yang sama. Namun, kesan pertamaku
kepada Mulyana adalah dia bukan tipe orang Indonesia yang senang menjalin
persahabatan.
“Kang Mulyana orang mana?” Aku coba mengurangi kecepatan langkah
Mulyana yang lebar-lebar, karena beban koper besar ini membuat langkahku
sedikit tertahan.
“Sepertinya orang mana?”
Dia masih belum mau membincangiku dengan akrab.
“Sunda?”
Dia tak menjawabku. Kami lalu memasuki gerbang terminal yang besar dan
mengagumkan.

AKU tidak punya kesempatan untuk mengenal Mulyana lebih dekat. Dia
mengantarku ke student dormitory atau asrama mahasiswa dan meninggalkanku
begitu saja. Dia memang menemaniku menemui pengelola asrama.
Memintaku menandatangani kontrak akomodasi sampai menerima kunci.
Namun, setelah itu dia berpamitan karena sedang dalam kesibukan.

Sememangnya, aku pun tidak tahu seberapa aku bisa mengandalkan
Mulyana. Apakah aku berhak untuk memintanya? Mulyana tidak
meninggalkan alamat atau nomor telepon tempat tinggalnya. Dia hanya
menulis alamat surat elektronik moderator sebuah mailing list mahasiswa
Indonesia di Swedia dan memintaku menghubungi moderator itu jika
membutuhkan informasi apa pun.

Lalu, di sinilah aku sekarang. Di sebuah kamar yang sedikit lebih sempit
dibanding kamarku di Tanjungsari. Kecuali tempat tidur, tidak ada apa-apa di

kamar ini. Aku meletakkan koper besar di pojok ruangan, ransel di atas tempat
tidur dan belum melakukan apa-apa. Aku sungguh membutuhkan seorang
pemandu untuk memahami bagaimana bertahan hidup di asrama ini.

Keseluruhan gedung asrama ini sangat besar. Mungkin lima lantai.
Bentuknya melengkung seperti busur raksasa, berwarna batu bata. Jendela kaca
banyak sekali persis pada tengah lengkungan. Dari dalam, lengkungan itu
merupakan lorong menuju kamar-kamar. Sehingga, saat berjalan di lorong,
pemandangan di luar tampak mengesankan.

Halaman berumput dengan pohon besar di tengahnya. Bangku taman
bertebaran. Parkiran sepeda berderet menyenangkan. Kamarku berada di
pangkal busur. Balkon, berbentuk setengah lingkaran, bisa untuk duduk
nyaman dengan beberapa teman.

Masih kupikirkan cara untuk bertanya, menemukan seseorang yang bisa
memberiku jawaban. Kukira hal pertama yang harus kuketahui cara kerjanya
adalah dapur. Penghuni asrama ini tampaknya banyak sekali. Perempuan dan
laki-laki. Pengelola asrama tadi menunjukkan dapur yang dilengkapi televisi.
Beberapa penghuni memberi salam sekadarnya ketika aku diperkenalkan. Aku
tahu, aku tidak boleh menyimpulkan apa pun dan berusaha lebih aktif untuk
menemukan teman.

Aku hanya belum tahu caranya. Untuk sementara, kukira bertahan di kamar
ini adalah pilihan terbaik. Dalam kondisi terjepit, Indomie bisa kumakan
tanpa air. Cukup diremuk, kutambahkan bumbu, lalu dikocok. Ditambahi
rendang, kukira cukup untuk makan malam.

Aku membawa lembaran-lembaran kertas warna untuk membuat papercraft.
Hampir-hampir aku kehilangan gunting dan pemotong kertas jika sebelum
berangkat, Pak Suganda tidak mengingatkanku untuk memasukkannya ke
bagasi, bukan ke ransel yang kubawa ke kabin. “Benda-benda tajam masukkan
ke koper, Kash. Masuk bagasi pesawat. Kalau kamu bawa di ransel pasti diambil
petugas.” Aku tidak punya pemikiran bahwa petugas bandara akan sibuk
dengan hal-hal kecil semacam itu.

Semua perlengkapan itu lolos dan setidaknya aku tidak akan kesepian karena
punya kesibukan membuat macam-macam kerajinan tangan. Dinding kamar
ini akan kutempeli papercraft kereta, relnya, stasiun, dan sebuah kota tua.

Kudorong pintu kaca, berdiri di balkon, melihat pemandangan di luarnya.
Kamarku ada di lantai tiga dan pemandangan di luar sana adalah tempat parkir
sepeda. Aku tersenyum karena segera teringat sepedaku yang selama tiga tahun

parkir di Stasiun Cisalangka.
Oh, Kanya, setengah bumi kutinggalkan dirimu dan aku mungkin tetap akan

melakukan hal yang sama: bersepeda. Itu akan memudahkanku mengingat
seribu dini hariku untuk menemuimu di stasiun kereta itu.

Amat menakjubkan ketika aku diberi tahu, banyak penduduk Swedia yang
menjalani hari-harinya dengan bersepeda. Pahitnya, aku tidak tahu kapan bisa
membeli atau paling tidak menyewanya. Semua kebutuhan mesti kuhitung
dengan cermat.

Untuk saat ini, aku hanya perlu mencocokkan jam dan menempelkan jadwal
salat. Setelah itu aku akan ke luar asrama, sekadar melihat-lihat suasana. Aku
mengenakan jam tangan yang kusimpan di tas ransel sejak berangkat dari
Jakarta. Prosedur lepas barang elektronik dan logam di pos pemeriksaan
membuatku malas melepas dan mengenakannya berkali-kali. Jam tangan
murahan yang kubeli dadakan di Pasar Kebon Kalapa ini kurasa akan cukup
membantu. Bahkan, bagiku yang tidak biasa mengenakannya.

Aku menyempatkan diri untuk berolahraga kecil sebelum membuka pintu
kamar. Sekadar berusaha membuat diri lebih santai. Aku sudah mengalami
banyak kesulitan selama mengusahakan kedatanganku ke negeri ini. Setelah
sampai di sini seharusnya tak ada yang lebih menyulitkan lagi.

Ketika keluar kamar, koridor asrama tampak lengang. Masing-masing
penghuni asyik di kamar barangkali. Aku merapatkan jaket, menuruni tangga,
menuju pintu keluar. Hawa dingin menyapaku begitu kaki ke luar halaman
asrama. Aku berusaha menikmatinya sembari mencari tahu jalan menuju pusat
kota.

Untuk sementara, aku merasa seperti sedang melintasi jalan versi terbaik dari
Kota Tua di Bandung. Sedari Jalan Asia-Afrika sampai Braga. Tanpa asap
knalpot Damri, gas buang angkot, dan sampah yang berserakan di jalan-jalan.
Menyusuri jalan ini, dengan ketidaktahuan akan segalanya membuat
perjalananku menjadi lebih menarik.

Bangunan-bangunan klasik, trotoar yang kesat dan bersih, perairan yang
lancar, dengan jembatan-jembatan yang ramai pejalan kaki. Cuaca sangat
menyenangkan. Suhunya mendekati hari terdingin di lembah Gunung Geulis.
Mungkin malam nanti aku membutuhkan selimut.

Tempat tinggal baruku yang menakjubkan ini berada di area Klara N.
Kyrkog, berjarak satu blok dari stasiun pusat kereta bawah tanah Stockholm
yang terkenal; Tunnelbana alias T-Bana. Tentu saja aku sangat beruntung,

karena kata Mulyana, yang misterius itu, kereta bawah tanah bisa membawaku
ke mana saja. Ke pusat kota sampai ke pinggiran desa.

Sekarang aku sudah berjalan dua blok secara acak, dan aku baru saja
membaca papan nama jalan berbunyi Drittninggatan meski tidak yakin apakah
memang demikian cara membacanya. Kerumunan orang berlalu-lalang
bersamaan. Macam-macam ras dan cara mereka tertawa.

Toko-toko berjajar, mulai dari toko baju sampai restoran. Bangunan-
bangunannya berkesan klasik dengan warna dinding krem dan kuning.
Restoran, kedai kopi, toko roti buka, berusaha mengundang minat
pengunjung.

Aku hampir tidak percaya di tempat ini aku akan menghabiskan waktu
setidaknya empat tahun ke depan. Mungkin lebih. Siapa tahu?

Di sepanjang jalan itu orang-orang berkerumun di berbagai titik. Rupanya
bermacam pertunjukan sedang berlangsung. Entahlah, apakah itu mirip-mirip
yang biasa kutemui di jalan-jalan Kota Bandung. Kurasa tidak jauh berbeda
tujuannya. Meski kemasannya lebih rapi dan bermartabat.

Contohnya, seorang pria yang melakukan aksi dengan api, pisau, pedang,
dan mempertontonkan keahliannya di hadapan banyak orang. Itu tidak beda,
atau mungkin malah lebih sederhana, dibanding pertunjukan debus. Hanya
saja, peralatan yang dia pakai rapi dan bagus. Kotak peralatan dia taruh di atas
pedestrian, berbagai tongkat yang ujungnya bisa dinyalakan ditata rapi berjajar
di sebelah kotak itu. Bentuk tongkat-tongkatnya menyerupai botol sasaran
pada olahraga boling.

Pria tadi berbicara dengan bahasa Swedia, lalu memulai aksinya. Semacam
juggling dengan tongkat-tongkat api.

“Är du klar?”
Mungkin, tukang akrobat itu bertanya apakah para penonton siap melihat
aksinya.
“Ja,” jawab orang-orang. Di telingaku terdengar seperti kata “iya” yang
disampaikan dengan sengau dengan tujuan melucu. Artinya memang sama.
“Ett, tva, tre.”
Tukang akrobat berhitung sebelum memulai aksinya. Tiga tongkat botol
yang menyala api pada ujungnya terlempar bergantian di udara. Semakin lama
semakin berani aksinya, berubah pola lemparannya. Penonton bertepuk tangan
mengapresiasi. Sebagian melemparkan koin krona ke dalam topi-topi yang
diletakkan terbalik di beberapa titik.

Aku meninggalkan kerumunan itu dan melanjutkan perjalanan. Melewatkan
seorang ayah yang mengamen bersama seorang anak berusia tujuh atau
delapan tahun. Sang ayah membuat musik dengan tepukan tangannya dan si
anak bernyanyi mengikuti ritme tepukan. Aku menoleh sebentar, lalu
meninggalkan mereka.

Di jembatan, yang di bawahnya mengalir sungai berarus kencang, seorang
perempuan seniman menyanyi dengan syahdu. Tas besar peralatan musik dia
simpan di sampingnya. Dia duduk di kursi lipat dan memainkan gitar elektrik
yang tersambung ke pelantang suara. Kurasa, dia menyanyikan lagu tradisional
Swedia. Itu menarik bagiku.

Wajah seniwati itu mudah diingat. Rambutnya pirang berombak. Jatuh di
bahu. Keningnya ditutupi helaian poni. Wajahnya bulat, ceruk matanya
dalam. Sudah pasti aku ingat pengalamanku sendiri. Meski apa yang kulihat
ini adalah versi terbaik dari seorang pengamen jalanan.

Aku memutuskan untuk berhenti di sana. Menyaksikan penampilannya.

TENTU saja gedung itu sangat mengagumkan. Terasa seperti lompatan
raksasa bagiku ketika bisa merasa memilikinya, meski hanya sementara. Aku
masih dalam proses untuk percaya bahwa gedung ini tempatku belajar nanti.

Berbentuk balok sempurna dengan jendela-jendela kaca. Cat gedung putih
rata, sedangkan kaca-kacanya memberi efek toska. Bagian pintu gerbang
berupa tiang-tiang macam gedung kejaksaan.

Bangunan ini bersambung dengan gedung balok lain yang sepenuhnya
tembus cahaya. Halaman parkirnya luas, dengan pagar besi yang berbatasan
langsung dengan jalan raya. Persis di pertigaan besar lokasinya.

Aku naik kereta jalur merah dari stasiun utama dan turun di Stasiun Stadion
Stockholm. Itu stasiun terdekat dari kampus dan berjalan menuju sana pun
menyenangkan. Dari Stasiun T-Bana Pusat atau T-Centralen, titik turunku
hanya dijeda satu stasiun bernama Ostermalmstorg. Perjalanan kereta yang
pendek.

e Royal College of Music yang benama Swedia Kungliga Musikhögskolan,
lebih terkenal dengan sebutan KMH, diapit stadion kota dan sekolah militer di
pinggir jalan besar nan panjang Valhallavägen. Ada beberapa kampus lain yang

dilintasi jalan ini. Aku membayangkannya semacam Jalan Jatinangor yang
menjadi tempat berkumpul beberapa kampus tersohor.

Sudah pasti diterima masuk KMH adalah rezeki tak terperi atau bisa jadi
buah doa dari ayah, ibu, kakek, atau kakek buyutku dulu yang jatuh kepadaku.
Sebab, rasanya jika hanya mengandalkan kapasitas otakku, atau kesabaranku,
aku tidak akan pernah sampai di sini. Berdiri depan gedung mengagumkan ini.
Menjadi bagian dari sejarah musik warisan dunia yang mencengangkan. KMH
adalah sekolah tinggi paling tua di Swedia. Zaman mengubahnya menjadi
akademi independen yang mempromosikan seni, sains, pendidikan budaya,
dan musik.

Targetku hari ini memang menatap langsung calon sekolahku meski waktu
kuliah masih dua minggu lagi. Aku harus tahu apa yang mesti aku siapkan dan
apa yang akan aku hadapi di kampus ini. Selain, tentu saja, aku butuh
informasi lebih perihal segala hal penunjang hidup.

Aku sudah dua hari menyantap remahan Indomie kering dan rendang. Masih
belum berani masuk ke dapur asrama dan mengurungkan niat untuk makan di
kafe-kafe terdekat. Terlalu mahal.

Datang ke kampus kukira akan memberiku informasi lebih beragam perihal
di mana aku bisa menemukan makanan yang bisa kutelan sekaligus berharga
tak seberapa mahal. Tentu aku tidak bisa berharap menemukan makan siang
seharga warteg, tetapi paling tidak, uang pinjamanku ke Pak Suganda bisa
kupertahankan hingga akhir bulan dan tidak susut hanya untuk keperluan
perut.

“God morgon,” aku menyapa petugas informasi di ruang lobi kampus, dan
mencoba menarik perhatiannya. Aku telah mempelajari sedikit perihal sifat
orang Swedia yang akan merasa senang jika tamunya berusaha berbicara dalam
bahasa mereka.

Perempuan berleher kurus dan rambut bersanggul itu tersenyum. “God
morgon.”

Aku meneruskan kalimatku dalam bahasa Inggris yang mungkin terdengar
tidak jauh lebih baik dibanding dua-tiga kata dalam bahasa Swedia. “Saya
penerima beasiswa Swedish Institute dan sepertinya membutuhkan banyak
informasi.”

“Selamat datang di Stockholm. Anda akan mulai berkuliah di semester
autumn, bukan?”

“Sepertinya demikian.”

Perempuan itu menyiapkan komputernya. Kemeja putihnya memiliki
potongan yang amat baik. Detail pada pangkal leher membuatnya tampil lebih
segar dan profesional.

“Anda mengambil program studi apa?”
“Music and Media Technology.”
Dia mulai mengetik. Mencari data.
“Namnet?”
Tentu saja dia mengetes kata-kata sehari-hariku dalam bahasa Swedia.
“Kashmir.”
Dia tersenyum sembari lanjut mengetik. “Anda terdaftar dan dua minggu lagi
perkuliahan dimulai. Selamat.”
“Apakah ada semacam sesi pengenalan kampus?”
“O, ya,” dia seperti baru saja menemukan informasi yang sempat hilang,
“maafkan saya melupakannya. Hari Senin pagi Anda bisa bertemu dengan
teman-teman Anda dan mengikuti hari pengenalan kampus.”
“Tack. Informasi yang sangat berguna.”
Dia mengangguk sembari tersenyum. “Dari mana Anda berasal? Jepang?”
Aku menggeleng, “Indonesia.”
Garis lembut muncul di dahinya.
“Anda belum pernah mendengarnya?”
“Saya mohon maaf. Mungkin Anda mahasiswa pertama di KMH yang
datang dari negara Anda.”
“Mungkin Anda pernah mendengar nama Bali?”
“Island of Gods? Iya, teman saya pernah berlibur ke sana. Dia pulang ke
Stockholm dengan cerita yang menyenangkan.”
“Bali adalah satu di antara ribuan pulau di negara saya. Indonesia.”
“Benarkah?” dia tampak antusias, “… itu terdengar seperti Stockholm. Kota
ini mempunyai 14 pulau dan dikelilingi ribuan pulau di sekitar Laut Baltik.”
“Setidaknya tempat tinggal kita punya sebuah kesamaan.”
Kami tertawa sopan.
“Kalau begitu, saya akan kembali Senin nanti. Semoga hari Anda
menyenangkan,” aku mengajaknya tersenyum, “... sampai bertemu lagi.”
“Begitu juga dengan Anda.”
Aku melambai sambil keluar dari lobi kampus. Ketika hendak menyeberang,
aku kembali menoleh ke calon sekolahku itu dengan tatapan bangga.
Satu persoalan terselesaikan. Lalu, aku sadar telah lupa, atau mungkin

memang merasa tidak pada tempatnya, untuk bertanya kepada perempuan
front o cer tadi, tempat aku bisa mendapatkan makanan yang murah dan
mengenyangkan.

Aku membawa rice cooker, tapi tetap membutuhkan beras jika aku ingin
mendapatkan nasi. Aku sama sekali belum tahu di mana mesti membelinya.
Indomie yang tersisa beberapa bungkus juga belum bisa kumakan matang
karena aku tidak punya panci untuk memasaknya.

Kukira aku harus pulang ke asrama dan bertanya kepada pengelola asrama
meski sebenarnya aku sangat malas melakukannya. Madam Sam, pengelola
asrama itu, seorang ibu-ibu berbadan dua kali badanku, mungkin lebih,
dengan tatapan datar. Rambutnya gelap, kulitnya sengaja digelapkan, atau
memang begitu, aku tidak tahu.

Kurasa wajahnya memang tidak bule. Agak sipit. Justru mengingatkanku
kepada orang-orang Eskimo. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat
sedikit. Aku mengira dia seorang bos agen rahasia Rusia yang sedang
menyamar.

Akan tetapi, aku tidak mungkin menghabiskan semua Indomie-ku sebagai mi
remas seperti kebiasaanku sewaktu SD. Terlalu kering rasanya. Aku pun belum
bisa memulai sebuah pertemanan di asrama karena setiap penghuni kamar
berjumlah puluhan itu tampaknya sibuk sendiri-sendiri. Antara para penghuni
lama pun, dua hari ini, aku belum pernah mendengar obrolan mereka.

Boleh saja aku menjadi penumpang paling ramah di kereta Cisalangka-
Bandung. Duduk bersebelahan dengan orang tak dikenal pun aku bisa dengan
cepat berbincang dengannya, tahu namanya, mengajak dia bercanda. Namun,
di asrama yang berisi wajah dari berbagai pelosok dunia, macam-macam
perilaku dan bawaan budayanya, membuatku tidak percaya diri. Apakah basa-
basi kami akan sama? Apakah mereka punya selera humor yang cair atau malah
akan mudah tersinggung? Aku masih memikirkan cara terbaik untuk masalah
ini.

Aku kembali ke Stasiun Stadion Kota sembari memeriksa kupon yang kubeli
di T-Centralen sewaktu berangkat tadi. Saat masuk kuliah nanti mungkin aku
akan menggantikannya dengan travel card. Namun, untuk sekarang aku
memilih kupon karena perjalanan keretaku masih terbatas.

Kereta bawah tanah memang tidak memberiku pemandangan apa-apa
sepanjang perjalanan. Namun, moda transportasi ini paling sakti
mengantarkan penumpangnya ke seratus lebih stasiun di seluruh pelosok kota.

Lain waktu aku pasti akan naik trem atau kapal feri yang menyeberangkan
penumpangnya ke berbagai pulau.

Meski semakin tidak sabar untuk mengalami semua perjalanan itu, aku harus
mengaturnya. Aku masih akan tinggal lama di kota ini dan punya kesempatan
tak terhingga untuk mencicipi macam-macam perjalanan. Untuk sementara,
aku akan menikmati T-Banna yang kenyataannya tetap punya banyak kejutan
dalam hal berkereta.

Aku masuk ke dalam perut kereta berwarna biru, dan ini baru kali kedua aku
merasakan sensasinya. Masih sangat baru di mata dan pada rasa. Tidak terasa
guncangan, para penumpangnya duduk rapi dan berpakaian rapi. Aku tidak
sering melihat mereka bertegur sapa apalagi mengobrol sesama penumpang.
Namun, aku melihat masing-masing orang menjaga kepentingan penumpang
lain.

Beda-beda usia dengan macam-macam kegiatannya. Ada yang melamun saja,
ada yang membaca buku, berbincang lirih dengan teman di sebelahnya, atau
seperti aku: terus-menerus melihat ke papan rute kereta. Beberapa orang
mungkin menempuh perjalanan jauh sehingga takut terlewat stasiun yang dia
tuju. Sedangkan aku, lebih karena ini pengalaman pertama, dan tidak siap
mengantisipasi jika sampai salah turun stasiun.

Sewaktu kereta berhenti sejenak menaikturunkan penumpang di Stasiun
Ostermalmstorg, aku baru punya waktu memperhatikan interiornya dengan
lebih teliti. Kukira insinyur yang membangun setiap stasiun ini
mengedepankan seni bermutu tinggi. Selain lantai stasiun yang tentu saja
berkeramik warna-warni dan apik, justru dinding dan langit-langit stasiun
seperti penampakan gua raksasa. Aku tidak yakin apakah memang didesain
demikian atau bentuk itu memang asli dari alam. Tata cahaya yang baik,
lukisan-lukisan dinding mengingatkanku pada gambar kuda manusia purba di
Prancis. Tentu saja aku tahu itu dari majalah.

Tidak lama, kereta berjalan lagi. Di luar jendela tidak ada pemandangan.
Seperti kereta api yang masuk terowongan panjang. Aku hanya bisa
menyaksikan aktivitas para penumpang, tetapi tetap hati-hati agar mereka
tidak risi.

Seperti biasa, namamu melintasi pikiranku, Kanya. Hanya, aku tidak
mengingatmu dengan haru yang terlalu. Mungkin segala hal baru ini mampu
mengalihkan kesyahduanku setiap pikiranku menyebut namamu. Meski tidak
sungguh-sungguh menghapusmu.


Click to View FlipBook Version