- 89 -
Yang dimaksud dengan “penyederhanaan prosedur pelayanan
publik” adalah mengurangi dan/atau mengintegrasikan persyaratan
atau langkah-langkah pemberian layanan, sehingga mempermudah
proses pemberian layanan kepada masyarakat.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 350
Cukup jelas.
Pasal 351
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “ombudsman” adalah sebagaimana
dimaksud dalam undang-undang mengenai ombudsman Republik
Indonesia.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “penyelenggara” adalah unit kerja di
Daerah yang menyelenggarakan pelayanan publik.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pelaksana” adalah pejabat, pegawai
negeri sipil atau petugas di dalam organisasi penyelenggara
yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian
tindakan pelayanan publik.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 352
Cukup jelas.
Pasal 353
Cukup jelas.
Pasal 354 . . .
- 90 -
Pasal 354
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “efektif” adalah partisipasi
masyarakat tersebut bukan hanya bersifat formalitas
melainkan benar-benar menyangkut kepentingan untuk
menyejahterakan masyarakat.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 355
Cukup jelas.
Pasal 356
Cukup jelas.
Pasal 357
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3) . . .
- 91 -
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “fasilitas pelayananan perkotaan” meliputi
fasilitas sosial dan fasilitas umum antara lain jalan, jembatan,
penerangan jalan umum, rumah ibadah, fasilitas olah raga, dan
fasilitas lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Yang dimaksud dengan “tidak merugikan kepentingan umum”
adalah penyerahan fasilitas tersebut tidak membebani APBD
dan/atau Pemerintah Daerah mendapatkan kompensasi yang
layak guna membiayai fasilitas sosial dan fasilitas umum.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 358
Cukup jelas.
Pasal 359
Cukup jelas.
Pasal 360
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i . . .
- 92 -
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Termasuk dalam kategori ini antara lain kawasan bandara,
kawasan pelabuhan dan kawasan sepanjang rel kereta api.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 361
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Hurub b
Cukup jelas.
Huruf c
Pembangunan sarana dan prasarana kawasan antara lain
jalan/jembatan, listrik, air minum, telekomunikasi, rumah
sakit, pasar, pos lintas batas, transportasi, pemerintahan,
sosial, dan ekonomi.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6) . . .
- 93 -
Ayat (6)
Menugaskan camat di kawasan perbatasan dimaksudkan untuk
memberikan tugas kementerian/lembaga pemerintah
nonkementerian dalam memberikan pelayanan langsung yang
dipandang tidak efisien dilaksanakan sendiri oleh
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian, sehingga dapat
ditugaskan kepada camat, misalnya pelayanan keimigrasian di pos
lintas batas di Daerah terpencil.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal 362
Cukup jelas.
Pasal 363
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pihak ketiga” adalah pihak swasta,
organisasi kemasyarakatan, dan lembaga nonpemerintah
lainnya.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 364
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5) . . .
- 94 -
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan “biaya pelaksanaan kerja sama
diperhitungkan dari APBD masing-masing Daerah” adalah dengan
pemberian bantuan keuangan oleh masing-masing Daerah yang
diambil alih pelaksanaan kerja samanya yang besaran bantuan dari
masing-masing Daerah mempertimbangkan antara lain jumlah
penduduk, luas wilayah, dan cakupan pelayanan yang
dikerjasamakan.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Pasal 365
Cukup jelas.
Pasal 366
Cukup jelas.
Pasal 367
Cukup jelas.
Pasal 368
Cukup jelas.
Pasal 369
Cukup jelas.
Pasal 370
Cukup jelas.
Pasal 371
Cukup jelas.
Pasal 372 . . .
- 95 -
Pasal 372
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “menugaskan” dalam ketentuan ini adalah
pemberian tugas dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah
provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota kepada Desa
bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah
pemberian tugas dari Pemerintah Pusat kepada Desa bukan dalam
rangka penerapan asas Tugas Pembantuan.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah
pemberian tugas dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Desa
bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “ditugaskan” dalam ketentuan ini adalah
pemberian tugas dari Pemerintah Daerah kabupaten/kota kepada
Desa bukan dalam rangka penerapan asas Tugas Pembantuan.
Pasal 373
Cukup jelas.
Pasal 374
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pembinaan teknis yang dilakukan oleh kementerian/lembaga
pemerintah nonkementerian misalnya dibidang pendidikan antara
lain pelatihan guru, penelitian dan pengembangan kurikulum
lokal, dan konsultasi akreditasi guru.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “fasilitasi” dalam ketentuan ini meliputi
kegiatan pemberdayaan Pemerintah Daerah provinsi, penguatan
kapasitas Pemerintah Daerah provinsi, dan bimbingan teknis
kepada Pemerintah Daerah provinsi.
Pasal 375
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2) . . .
- 96 -
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan “fasilitasi” dalam ketentuan ini meliputi
kegiatan pemberdayaan Pemerintah Daerah kabupaten/kota,
penguatan kapasitas Pemerintah Daerah kabupaten/kota, dan
bimbingan teknis kepada Pemerintah Daerah kabupaten/kota.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 376 pelatihan
pendidikan
Ayat (1)
Dalam menyelenggarakan pendidikan dan
kepamongprajaan, Kementerian menyelenggarakan
tinggi kepamongprajaan.
Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi
kepamongprajaan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “pengajaran” adalah mencakup pemahaman
terhadap teori-teori pemerintahan dan Otonomi Daerah.
Pengasuhan dalam ketentuan ini ditujukan untuk pembentukan
sikap, watak, mental, dan disiplin sebagai abdi negara.
Pelatihan dilakukan melalui pemahaman terhadap praktik-praktik
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah termasuk dalam
lingkup Desa, Kecamatan, Daerah kabupaten/kota dan Daerah
provinsi serta kaitannya dengan praktik penyelenggaraan
pemerintahan di tingkat nasional.
Pasal 377 . . .
- 97 -
Pasal 377
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pengawasan umum” adalah pengawasan
terhadap pembagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah provinsi, kelembagaan Daerah provinsi, kepegawaian pada
Perangkat Daerah provinsi, keuangan Daerah provinsi, pembangunan
Daerah provinsi, pelayanan publik di Daerah provinsi, kerja sama
Daerah provinsi, kebijakan Daerah provinsi, Gubenur dan DPRD
provinsi, dan bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pengawasan teknis” adalah pengawasan
terhadap teknis pelaksanaan substansi Urusan Pemerintahan yang
diserahkan kepada Daerah provinsi sesuai dengan kewenangan
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian masing-masing.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 378
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pengawasan umum” adalah pengawasan
terhadap pembagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah kabupaten/kota, kelembagaan Daerah kabupaten/kota,
kepegawaian pada Perangkat Daerah kabupaten/kota, keuangan
Daerah kabupaten/kota, pembangunan Daerah kabupaten/kota,
pelayanan publik di Daerah kabupaten/kota, kerja sama Daerah
kabupaten/kota, kebijakan Daerah kabupaten/kota, bupati/walikota
dan DPRD kabupaten/kota, dan bentuk pembinaan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Yang dimaksud dengan “pengawasan teknis” adalah pengawasan
terhadap teknis pelaksanaan substansi Urusan Pemerintahan yang
diserahkan kepada Daerah kabupaten/kota.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 379 . . .
- 98 -
Pasal 379
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Khusus untuk pengawasan yang terkait keuangan Daerah meliputi
kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan bimbingan teknis
dalam pengelolaan APBD provinsi yaitu sejak tahap perencanaan,
pelaksanaan, pemantuan dan evaluasi atas pelaksanaan
APBD (termasuk penyerapan APBD), sampai dengan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD provinsi yang dilakukan oleh
inspektorat provinsi dapat bekerja sama dengan inspektorat jenderal
Kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang pengawasan.
Pasal 380
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Khusus untuk pengawasan yang terkait keuangan Daerah meliputi
kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan bimbingan teknis
dalam pengelolaan APBD kabupaten/kota yaitu sejak tahap
perencanaan, pelaksanaan, pemantuan dan evaluasi atas
pelaksanaan APBD (termasuk penyerapan APBD), sampai dengan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten/kota yang
dilakukan inspektorat kabupaten/kota dapat bekerja sama dengan
Inspektorat Jenderal Kementerian dan/atau lembaga pemerintah
nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
bidang pengawasan.
Pasal 381
Cukup jelas.
Pasal 382
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “fasilitasi khusus” antara lain berupa
keterlibatan Pemerintah Pusat secara langsung dalam perumusan
dan pengarahan pelaksanaan kebijakan untuk
perbaikan/penyempurnaan penyelenggaraan pemerintahan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4) . . .
- 99 -
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan “berpotensi merugikan kepentingan umum
secara meluas” adalah apabila kerugian yang ditimbulkan dialami
oleh sebagian besar masyarakat di Daerah tersebut.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 383
Cukup jelas.
Pasal 384
Cukup jelas.
Pasal 385
Cukup jelas.
Pasal 386 lain penerapan hasil ilmu
dan temuan baru dalam
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Bentuk pembaharuan antara
pengetahuan dan teknologi
penyelenggaraan pemerintahan.
Pasal 387
Cukup jelas.
Pasal 388
Cukup jelas.
Pasal 389
Cukup jelas.
Pasal 390
Cukup jelas.
Pasal 391
Cukup jelas.
Pasal 392 . . .
- 100 -
Pasal 392
Cukup jelas.
Pasal 393
Cukup jelas.
Pasal 394
Cukup jelas.
Pasal 395
Yang dimaksud dengan “Informasi Pemerintahan Daerah lainnya” antara
lain informasi mengenai proses pembentukan Perda, kepegawaian,
kependudukan, dan layanan pengadaan barang dan jasa.
Pasal 396
Cukup jelas.
Pasal 397
Cukup jelas.
Pasal 398
Cukup jelas.
Pasal 399
Cukup jelas.
Pasal 400
Cukup jelas.
Pasal 401
Cukup jelas.
Pasal 402
Cukup jelas.
Pasal 403
Cukup jelas.
Pasal 404
Cukup jelas.
Pasal 405 . . .
- 101 -
Pasal 405
Cukup jelas.
Pasal 406
Cukup jelas.
Pasal 407
Cukup jelas.
Pasal 408
Cukup jelas.
Pasal 409
Cukup jelas.
Pasal 410
Cukup jelas.
Pasal 411
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5587
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTA
DAN DAERAH PROVIN
I. MATRIKS PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN KONKURE
DAERAH KABUPATEN/KOTA
A. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDI
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT
12 3
1. Manajemen Pendidikan
a. Penetapan stand
nasional pendidikan.
b. Pengelolaan pendidik
LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2014
TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
AHAN KONKUREN ANTARA PEMERINTAH PUSAT
NSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
EN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH PROVINSI DAN
IKAN
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
dar a. Pengelolaan pendidikan a. Pengelolaan pendidikan
menengah. dasar. pendidikan
kan b. Pengelolaan pendidikan b. Pengelolaan
-2
tinggi.
2. Kurikulum Penetapan kurikulu
3. Akreditasi nasional pendidik
4. Pendidik dan Tenaga menengah, pendidik
Kependidikan
dasar, pendidikan anak u
dini, dan pendidik
nonformal.
Akreditasi perguruan ting
pendidikan meneng
pendidikan das
pendidikan anak usia d
dan pendidikan nonformal
a. Pengendalian form
pendidik, pemindah
pendidik, d
pengembangan kar
pendidik.
b. Pemindahan pendidik d
tenaga kependidik
lintas Daerah provinsi.
2-
khusus. anak usia dini dan
pendidikan nonformal.
um Penetapan kurikulum muatan Penetapan kurikulum
kan lokal pendidikan menengah muatan lokal pendidikan
kan dan muatan lokal pendidikan
usia khusus. dasar, pendidikan anak usia
kan dini, dan pendidikan
nonformal.
ggi, --- ---
gah,
sar,
dini,
l.
masi Pemindahan pendidik dan Pemindahan pendidik dan
han tenaga kependidikan dalam
dan tenaga kependidikan lintas
rier Daerah kabupaten/kota.
Daerah kabupaten/kota
dan
kan dalam 1 (satu) Daerah
provinsi.
-3
5. Perizinan Pendidikan a. Penerbitan izin perguru
tinggi swasta ya
diselenggarakan o
masyarakat.
b. Penerbitan i
penyelenggaraan satu
pendidikan asing.
6. Bahasa dan Sastra Pembinaan bahasa d
sastra Indonesia.
3-
uan a. Penerbitan izin pendidikan a. Penerbitan izin
ang
oleh menengah yang pendidikan dasar yang
diselenggarakan oleh
izin diselenggarakan oleh
uan masyarakat.
masyarakat.
b. Penerbitan izin pendidikan b. Penerbitan izin
khusus yang pendidikan anak usia
diselenggarakan oleh dini dan pendidikan
masyarakat. nonformal yang
diselenggarakan oleh
masyarakat.
dan Pembinaan bahasa dan sastra Pembinaan bahasa dan
yang penuturnya lintas sastra yang penuturnya
Daerah kabupaten/kota dalam Daerah
dalam 1 (satu) Daerah kabupaten/kota.
provinsi.
-4
B. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KESEHAT
NO URUSAN PEMERINTAH PUSAT
12 3
1. Upaya Kesehatan
a. Pengelolaan upa
kesehatan perorang
(UKP) rujuk
nasional/lintas Daer
provinsi.
b. Pengelolaan upa
kesehatan masyarak
(UKM) nasional d
rujukan nasional/lint
Daerah provinsi.
c. Penyelenggaraan
registrasi, akreditasi, d
standardisasi fasilit
pelayanan kesehat
publik dan swasta.
4-
TAN
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
aya a. Pengelolaan UKP rujukan a. Pengelolaan UKP Daerah
gan tingkat Daerah kabupaten/kota dan
kan provinsi/lintas Daerah rujukan tingkat Daerah
rah kabupaten/kota. kabupaten/kota.
b. Pengelolaan UKM Daerah b. Pengelolaan UKM Daerah
aya provinsi dan rujukan kabupaten/kota dan
kat tingkat Daerah rujukan tingkat Daerah
dan provinsi/lintas Daerah kabupaten/kota.
tas kabupaten/kota. c. Penerbitan izin rumah
c. Penerbitan izin rumah sakit kelas C dan D dan
sakit kelas B dan fasilitas fasilitas pelayanan
dan pelayanan kesehatan kesehatan tingkat Daerah
tas tingkat Daerah provinsi. kabupaten/kota.
tan
NO URUSAN -5
PEMERINTAH PUSAT
12 3
d. Penerbitan izin rum
sakit kelas A dan fasilit
pelayanan kesehat
penanaman modal asi
(PMA) serta fasilit
pelayanan kesehat
tingkat nasional.
2. Sumber Daya Manusia a. Penetapan standardis
(SDM) Kesehatan dan registrasi tena
kesehatan Indones
tenaga kesehatan war
negara asing (TK-WN
serta penerbit
rekomendasi pengesah
rencana pengguna
tenaga kerja asi
(RPTKA) dan iz
mempekerjakan tena
asing (IMTA).
5- DAERAH PROVINSI DAERAH
4 KABUPATEN/KOTA
mah
tas 5
tan
ing
tas
tan
sasi Perencanaan dan a. Penerbitan izin praktik
aga dan izin kerja tenaga
sia, pengembangan SDM kesehatan.
rga kesehatan untuk UKM dan
NA),
UKP Daerah provinsi. b. Perencanaan dan
tan
han pengembangan SDM
aan
kesehatan untuk UKM
ing
zin dan UKP Daerah
aga
kabupaten/kota.
NO URUSAN -6
12 PEMERINTAH PUSAT
3
b. Penetapan penempat
dokter spesialis d
dokter gigi spesialis b
Daerah yang tid
mampu dan tid
diminati.
c. Penetapan stand
kompetensi teknis d
sertifikasi pelaksa
Urusan Pemerintah
bidang kesehatan.
d. Penetapan stand
pengembangan kapasit
SDM kesehatan.
e. Perencanaan d
pengembangan SD
kesehatan untuk UK
dan UKP Nasional.
6- DAERAH PROVINSI DAERAH
4 KABUPATEN/KOTA
tan
dan 5
bagi
dak
dak
dar
dan
ana
han
dar
tas
dan
DM
KM
NO URUSAN -7
PEMERINTAH PUSAT
12 3
3. Sediaan Farmasi, Alat a. Penyediaan obat, vaks
Kesehatan, dan alat kesehatan, d
suplemen kesehat
Makanan Minuman
program nasional.
b. Pengawasan ketersedia
pemerataan, d
keterjangkauan obat d
alat kesehatan.
c. Pembinaan d
pengawasan indust
sarana produksi d
sarana distribusi sedia
farmasi, obat tradision
alat kesehatan d
perbekalan kesehat
rumah tangga (PKR
bahan obat, bahan ba
alam yang terkait deng
kesehatan.
7-
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
sin, a. Penerbitan pengakuan a. Penerbitan izin apotek,
dan toko obat, toko alat
tan pedagang besar farmasi
kesehatan dan optikal.
aan (PBF) cabang dan cabang
dan
dan penyalur alat kesehatan b. Penerbitan izin usaha
mikro obat tradisional
dan (PAK) .
tri, (UMOT).
dan b. Penerbitan izin usaha kecil
aan obat tradisional (UKOT). c. Penerbitan sertifikat
nal,
dan produksi alat kesehatan
tan
RT), kelas 1 (satu) tertentu
aku
gan dan PKRT kelas 1 (satu)
tertentu perusahaan
rumah tangga.
d. Penerbitan izin produksi
makanan dan minuman
pada industri rumah
tangga.
e. Pengawasan post-market
produk makanan-
NO URUSAN -8
PEMERINTAH PUSAT
12 3
d. Pengawasan pre-mark
obat, obat tradision
kosmetika, a
kesehatan, PKRT, d
makanan minuman.
e. Pengawasan post-mark
obat, obat tradision
kosmetika, a
kesehatan, PKRT, d
makanan minuman.
4. Pemberdayaan Pemberdayaan masyarak
Masyarakat Bidang bidang kesehatan mela
Kesehatan tokoh nasional d
internasional, kelomp
masyarakat, organis
swadaya masyarakat se
dunia usaha tingkat nasion
dan internasional.
8-
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
4 5
ket minuman industri rumah
nal, tangga.
alat
dan
ket
nal,
alat
dan
kat Pemberdayaan masyarakat Pemberdayaan masyarakat
alui bidang kesehatan melalui bidang kesehatan melalui
dan tokoh provinsi, kelompok tokoh kabupaten/kota,
pok masyarakat, organisasi kelompok masyarakat,
sasi swadaya masyarakat dan organisasi swadaya
erta dunia usaha tingkat provinsi. masyarakat dan dunia usaha
nal tingkat kabupaten/kota.
-9
C. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PEKERJA
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT
12 3
1. Sumber Daya Air (SDA) a. Pengelolaan SDA d
bangunan pengam
pantai pada wilay
sungai lintas Daer
provinsi, wilayah sun
lintas negara, dan wilay
sungai strategis nasiona
b. Pengembangan d
pengelolaan sistem irig
primer dan sekund
pada daerah irigasi ya
luasnya lebih dari 30
ha, daerah irigasi lint
Daerah provinsi, daer
irigasi lintas negara, d
daerah irigasi strate
9-
AAN UMUM DAN PENATAAN RUANG
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
dan a. Pengelolaan SDA dan a. Pengelolaan SDA dan
man
yah bangunan pengaman bangunan pengaman
rah pantai pada wilayah sungai pantai pada wilayah
ngai
yah lintas Daerah sungai dalam 1 (satu)
al. kabupaten/kota. Daerah kabupaten/kota.
dan b. Pengembangan dan b. Pengembangan dan
gasi
der pengelolaan sistem irigasi pengelolaan sistem irigasi
ang
000 primer dan sekunder pada primer dan sekunder
tas
rah daerah irigasi yang luasnya pada daerah irigasi yang
dan
egis 1000 ha - 3000 ha, dan luasnya kurang dari 1000
daerah irigasi lintas ha dalam 1 (satu) Daerah
Daerah kabupaten/kota. kabupaten/kota.
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
2. Air Minum
3
3. Persampahan nasional.
a. Penetapan pengembang
Sistem Penyediaan
Minum (SPAM) seca
nasional.
b. Pengelolaan d
pengembangan SPA
lintas Daerah provin
dan SPAM unt
kepentingan
strate
nasional.
a. Penetapan pengembang
sistem pengelola
persampahan seca
nasional.
b. Pengembangan siste
pengelolaan persampah
lintas Daerah provin
10 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
4 KABUPATEN/KOTA
5
gan Pengelolaan dan Pengelolaan dan
Air pengembangan SPAM lintas pengembangan SPAM di
ara Daerah kabupaten/kota. Daerah kabupaten/kota .
dan
AM
nsi,
tuk
egis
gan Pengembangan sistem dan Pengembangan sistem dan
aan pengelolaan persampahan pengelolaan persampahan
ara regional. dalam Daerah
kabupaten/kota.
em
han
nsi
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
4. Air Limbah 3
dan sistem pengelola
persampahan unt
kepentingan strate
nasional.
a. Penetapan pengembang
sistem pengelolaan
limbah domestik seca
nasional.
b. Pengelolaan d
pengembangan siste
pengelolaan air limb
domestik lintas Daer
provinsi, dan siste
pengelolaan air limb
domestik unt
kepentingan strate
nasional.
11 - DAERAH PROVINSI DAERAH
4 KABUPATEN/KOTA
aan
tuk 5
egis
gan Pengelolaan dan Pengelolaan dan
air pengembangan sistem air pengembangan sistem air
ara limbah domestik regional. limbah domestik dalam
Daerah kabupaten/kota.
dan
em
bah
rah
em
bah
tuk
egis
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
5. Drainase
3
6. Permukiman
a. Penetapan pengembang
sistem drainase seca
nasional.
b. Pengelolaan d
pengembangan siste
drainase lintas Daer
provinsi dan siste
drainase unt
kepentingan strate
nasional.
a. Penetapan siste
pengembangan seca
infrastruktur
permukiman
nasional.
b. Penyelenggaraan
infrastruktur pa
permukiman di kawas
12 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
gan Pengelolaan dan Pengelolaan dan
ara pengembangan sistem pengembangan sistem
drainase yang terhubung drainase yang terhubung
dan langsung dengan sungai lintas langsung dengan sungai
em Daerah kabupaten/kota. dalam Daerah
rah kabupaten/kota.
em
tuk
egis
em Penyelenggaraan infrastruktur Penyelenggaraan
pada permukiman di kawasan infrastruktur pada
Daerah
strategis Daerah provinsi. permukiman di
ara kabupaten/kota.
ada
san
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
7. Bangunan Gedung
3
8. Penataan Bangunan strategis nasional.
dan Lingkungannya
a. Penetapan bangun
gedung unt
kepentingan strate
nasional.
b. Penyelenggaraan
bangunan gedung unt
kepentingan strate
nasional d
penyelenggaraan
bangunan gedung fun
khusus.
a. Penetapan pengembang
sistem penata
bangunan d
lingkungannya seca
nasional.
b. Penyelenggaraan
13 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
4 KABUPATEN/KOTA
5
nan a. Penetapan bangunan Penyelenggaraan bangunan
tuk gedung untuk kepentingan gedung di wilayah Daerah
egis strategis Daerah provinsi. kabupaten/kota, termasuk
b. Penyelenggaraan bangunan pemberian izin mendirikan
gedung untuk kepentingan bangunan (IMB) dan
tuk strategis Daerah provinsi. sertifikat laik fungsi
egis bangunan gedung.
dan
ngsi
gan Penyelenggaraan penataan Penyelenggaraan penataan
aan bangunan dan lingkungan di bangunan dan
dan kawasan strategis Daerah lingkungannya di Daerah
ara provinsi dan penataan kabupaten/kota.
bangunan dan lingkungannya
lintas Daerah
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
9. Jalan
3
10. Jasa Konstruksi
penataan bangunan d
lingkungannya
kawasan strate
nasional.
a. Pengembangan siste
jaringan jalan seca
nasional.
jal
b. Penyelenggaraan d
secara umum
penyelenggaraan jal
nasional.
a. Penyelenggaraan
pelatihan tenaga ke
konstruksi percontohan
b. Pengembangan siste
informasi jasa konstruk
cakupan nasional.
c. Penerbitan izin usa
14 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
4
5
dan kabupaten/kota.
di
egis
em Penyelenggaraan jalan Penyelenggaraan jalan
ara provinsi. kabupaten/kota.
lan
dan
lan
a. Penyelenggaraan a. Penyelenggaraan
erja pelatihan tenaga ahli pelatihan tenaga terampil
n. konstruksi. konstruksi.
em b. Penyelenggaraan sistem b. Penyelenggaraan sistem
ksi informasi jasa konstruksi informasi jasa konstruksi
cakupan Daerah provinsi. cakupan Daerah
aha kabupaten/kota.
NO SUB URUSAN -1
12 PEMERINTAH PUSAT
11. Penataan Ruang 3
jasa konstruksi asing.
d. Pengembangan stand
kompetensi kerja d
pelatihan ja
konstruksi.
e. Pengembangan pas
dan kerja sam
konstruksi luar negeri.
a. Penyelenggaraan
penataan ruang wilay
nasional.
b. Pelaksanaan kerja sam
penataan rua
antarnegara.
15 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
4 5
dar c. Penerbitan izin usaha
dan jasa konstruksi nasional
asa (nonkecil dan kecil).
sar d. Pengawasan tertib usaha,
ma tertib penyelenggaraan
. dan tertib pemanfaatan
jasa konstruksi.
Penyelenggaraan penataan Penyelenggaraan penataan
Daerah
yah ruang Daerah provinsi. ruang
kabupaten/kota.
ma
ang
-1
D. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERUMA
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT
12 3
1. Perumahan
a. Penyediaan rumah b
masyarakat
berpenghasilan rend
(MBR).
b. Penyediaan d
rehabilitasi rumah korb
bencana nasional.
c. Fasilitasi penyedia
rumah bagi masyarak
yang terkena relok
program Pemerint
Pusat.
d. Pengembangan siste
pembiayaan perumah
bagi MBR.
16 -
AHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
bagi a. Penyediaan dan a. Penyediaan dan
dah rehabilitasi rumah korban rehabilitasi rumah korban
dan bencana provinsi. bencana kabupaten/kota.
ban
b. Fasilitasi penyediaan b. Fasilitasi penyediaan
aan
kat rumah bagi masyarakat rumah bagi masyarakat
kasi
tah yang terkena relokasi yang terkena relokasi
em program Pemerintah program Pemerintah
han
Daerah provinsi. Daerah kabupaten/kota.
c. Penerbitan izin
pembangunan dan
pengembangan
perumahan.
d. Penerbitan sertifikat
kepemilikan bangunan
gedung (SKBG).
NO SUB URUSAN -1
PEMERINTAH PUSAT
12 3
2. Kawasan Permukiman
a. Penetapan siste
kawasan permukiman.
b. Penataan d
peningkatan kualit
kawasan permukim
kumuh dengan lu
15 (lima belas) ha at
lebih.
3. Perumahan dan ---
Kawasan Permukiman
Kumuh
4. Prasarana, Sarana, dan Penyelenggaraan PSU
Utilitas Umum (PSU) lingkungan hunian d
kawasan permukiman.
17 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
em Penataan dan peningkatan a. Penerbitan izin
. pembangunan dan
kualitas kawasan
dan pengembangan kawasan
tas permukiman kumuh dengan permukiman.
man
uas luas 10 (sepuluh) ha sampai
tau
dengan di bawah 15 (lima b. Penataan dan
belas) ha. peningkatan kualitas
kawasan permukiman
kumuh dengan luas di
bawah 10 (sepuluh) ha.
--- Pencegahan perumahan dan
kawasan permukiman
kumuh pada Daerah
kabupaten/kota.
di Penyelenggaraan PSU Penyelenggaraan PSU
dan permukiman. perumahan.
NO SUB URUSAN -1
PEMERINTAH PUSAT
12 3
5. Sertifikasi, Kualifikasi, Sertifikasi, kualifika
Klasifikasi, dan klasifikasi, dan registr
Registrasi Bidang bagi orang atau bad
Perumahan dan hukum yang melaksanak
Kawasan Permukiman perancangan d
perencanaan rumah se
perencanaan PSU tingk
kemampuan besar.
18 -
DAERAH PROVINSI DAERAH
KABUPATEN/KOTA
45
asi, Sertifikasi dan registrasi bagi Sertifikasi dan registrasi bagi
rasi orang atau badan hukum orang atau badan hukum
dan yang melaksanakan yang melaksanakan
kan perancangan dan perancangan dan
dan perencanaan rumah serta perencanaan rumah serta
erta perencanaan PSU tingkat perencanaan prasarana,
kat kemampuan menengah. sarana dan utilitas umum
PSU tingkat kemampuan
kecil.
-1
E. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KETEN
MASYARAKAT
NO SUB URUSAN PEMERINTAH PUSAT
12 3
1. Ketenteraman dan a. Standardisasi tena
Ketertiban Umum satuan polisi pamo
praja.
b. Penyelenggaraan
pendidikan dan pelatih
dan pengangka
penyidik pegawai neg
sipil (PPNS) penegak
Perda.
2. Bencana Penanggulangan benca
nasional.