A. Kolon 4. Tunika Serosa
l.TunikuMukos& Kolon mempunyai tunika serosa dan funika adven-
Tunika mukosa tidak ada lipatan yang khusus.
Tunika mukosa ini lebih tebal daripada yang ada di tisia. Di tunika serosa ada kantong kecil berisi
usus halus. lemak yaitu appendices apiploicae.
a. Epitel B. Apendiks
Epitel selapis torak mempunyai sel goblet dan Lumen apendiks biasanya berbentuk bintang dan
sel torak. lumen ini mungkin menufup (obliterasi). Epitel sela-
pis torak melapisi lamina propria yang kaya
b. LaminaPropria dengan nodulus limfatikus dan beberapa kriptus
Lieberkiihn. Tunika muskularis mukosa, tunika
Kriptus Lieberkiihn di lamina propria
submukosa dan tunika muskularis eksterna
lebih panjang daripada yang ada di usus halus.
bersama-sama membentuk susunan umum pada
Kelenjar ini terdiri atas sejumlah sel goblet,
sedikit sel DNES dan stem cell (sel punca). saluran cema. Seluruhnya dilapisi oleh tunika serosa.
Sering ada nodulus limfatikus.
C. KanalisAni
c. Tunika Mu s kulari s Muko s a
Kanalis ani memperlihatkan lipatan memanjang
Tunika muskularis mukosa terdiri atas yaitu kolumna ani, yang menjadi satu pada lubang
lapisan otot polos sirkularis dalam dan anus untuk membentuk katup anus dan berada di
longitudinalis luar. antara sinus-sinus anus. Epitel berubah dari selapis
2, Tunika Submukosa torak dari rektum menjadi selapis kubis pada
Tunika submukosa serupa dengan yang adadi jeju- katup anus, kemudian menjadi berlapis gepeng
nummaupunileum.
pada sisi distal katup anus, menjadi epidermis pada
3. T unika Mu skularis E kst ernu
pintu anus. Kelenjar sirkumanalis, folikel ram-
Tunika muskularis eksterna terdiri atas lapisan but dan kelenjar sebaseajuga ada di sini. Tunika
otot polos sirkularis dalam dan longitudinalis
luar. Lapisan otot longitudinalis luar berubah men- submukosa mengandung banyak pembuluh darah,
jadi tenia koli, merupakal tiga pita gepeng dari otot sedangkan tunika muskularis eksterna memben-
polos yang tersusun memanjang. Bangunan ini tuk muskulus spingter ani internus. Tunika adven-
menyebabkan terbentuknya haustra koli (kantong tisia menghubungkan anus dengam bangunan seki-
kecil). Pleksus Auerbach terletak di antara kedua tar[ya.
lapisan otot ini.
350 . Atlas Berwarna Histologt
)
15Sistem Cerna III
Kelenjar-kelenjar utama sistem cerna terletak di membatasi mukosa saluran cerna. Bagian endokrin
luar dinding saluran cerna tetapi berhubungan ke pankreas terdiri atas kumpulan bulatan tersebar,
lumen saluran cema melalui duktus. Kelenjar-
kelenjar ini mencakup kelenjar liur utama, pankreas kaya dengan pembuluh darah, sel-sel endokrin mem-
danhati. bentuk taii-tali, dikenal sebagai pulau Langerhans.
O KELENJAR LIUR UTAMA Ada lima jenis sel dalam bangunan ini: sel a (sel A)
menghasilkan glukagon; sel B (set B) menghasil-
Ketiga kelenjar liur utama yaitu kelenjar parotis, kan insulin; sel G menghasilkan gastrin; sel 6 (sel
kelenjar submandibularis dan kelenjar sub- D) menghasilkan somatostatin; dan sel PP meng-
lingualis, melepaskan sekretnya yaitu saliva ke hasilkan polipeptida pankreas.
rongga mulut. Saliva terdiri atas cairan seperti air
berisi enzim-enzim, mukus, ion-ion anorganik dan O HATI
antibodi. Kelenjar parotis menghasilkan sekret serosa' Hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh. Hati
sedangkan kelenjar submandibularis dan kelenjar melakukan banyak fungsi, beberapa di antaranya
sublingualis menghasilkan sekret campuran. bukanlethbersifat kelenj ar (lihat Gambn 1 5-2). Sel-
sel parenkim hati disebut hepatosit, mampu melaku-
. PANKREAS
kan setiap fungsi hati. Fungsi eksokrin menghasilkan
Pankreas adalah kelenjar campur, berfungsi
eksokrin dan endokrin. Bagian eksokrin pankreas cairan empedu, dialirkan ke dalam sistem duktus
menghasilkan cairan alkalis kaya akan enzim- biliaris, yang kemudian langsung menuju ke kandung
enzim pencernaan, yang dilepaskan ke duodenum empedu, suatu organ penyimpan berkaitan dengan
melalui duktus pankreatikus . Enzim dibentuk oleh hati. Pelepasan cairan empedu yang pekat ke dalam
sel-sel asinus, sedangkan cairan alkali dilepaskan duodenum melalui duktus sistikus dan duktus biliaris
oleh sel-sel sentroasinar dan sel-sel duktus interka- komunis, diatur oleh hormon-hormon dari sel-sel APUD
laris. Perlu diketahui bahwa pankreas, tidak seperti di saluran cerna. Karena setiap hepatosit berbatasan
dengan sinusoid pembuluh darah, sel-sel hati dapat
kelenjar liur, tidak mempunyai duktus striata. mengabsorpsi zat-zat tacun dan hasil pencernaan,
Pelepasan enzim-enzim dan cairan alkalis terjadi yang mana sel hati buang racunnya dan disimpan untuk
secara intermiten dan dikendalikan oleh hormon kelak digunakan kembali. Selain itu, hepatosit dapat
yang dihasilkan oleh kolesistokinin dan sekretin melepaskan berbagai molekul biosintetik ke dalam
aliran darah untuk digunakan di seluruh tubuh. Selan-
dan kedua jenis sekresi itu mungkin dilepaskan jutnya, benda-benda asing difagosit oleh sel-sel Kupffer
secara terpisah satu sama lain. Hormon-hormon ini dalam hati, suatu makrofag yang berasaldarimono-
dihasilkan oleh sel-sel APUD dari epitel yang sit.
Sistem gerna II . 351
I:.EMPEDU melalui duktus sistikus dan duktus biliari komunis.
Cairan empedu mengemulsikan lemak, memudah-
Kandung empedu merupakan organ kecil ber- kan kerja enzim lipase pankreas. Lamina propria
bentuk buah per yang menerima cairan empedu dari dibatasi oleh epitel selapis torak, membentuk lipatan
hati. Kandung empedu tidak hanya menyimpan tinggi berkelok-kelok ke dalam pada kandung empedu
tetapi juga memekatkan cairan empedu dan mem- yang kosong. Lipatan ini hilang saat teregang. Ter,
beri respons terhadap kolesistokinin yang dilepas- kadang, adakeleniar mukosa tubulo alveolar.
kan oleh sel-sel APUD dari saluran cerna, mendo-
rong cairan empedu ke dalam lumen duodenum
552 . Atlas Berwarna Htstologt
GAMBAR 15-1 Pankreas
/S' Fungsi eksokrin pankreas dilakukan oleh sel-sel asinus, sel-sel sen-
troasinar dan duktus interkalaris. Sel-sel asinar mensekresi enzim
f-,{ pencernaan; dan sel-sel duktus memberikan larutan buffer bersifat
alkali.
Duktus biliaris Fungsi endokrin terdiri atas pulau-pulau Langerhans, kumpulan
komunis sel-sel berbentuk bulat mengandung banyak pembuluh darah dibungkus
Duktus pankreatikus oleh serat-serat retikulin. Rrlau Langerhans terdiri atas lima jenis sel, yang
mayor dapat dibedakan satu sama lain hanya dengan pulasan khusus.
ir.
Duktus intralobularis
,w&
+' q&
Duktus interkalaris
Sel-sel sentroasinar
Pulau Langerhans F#e Ww
;5ffi
Sel asinus @-q ,
pankreas
Kanalikuli interselular
Asinus pankreas
rr - i;t ir I'
.1"..i{
'.@# Granula zimogen
'$ea Golgi
Retikulum
,'W endoplasma kasar
Sel sentroasinar .r9s..,
r "'l
Sel asinus pankreas
Sistem Cerna III r 353
GAMBAR 15-2 Hati
Lobus kanan Lobus kiri LOBULUS PORTAL
Ligamentum falsiformis cairan empedu dialirkan
ke duktus biliaris. LOBULUS KLASIK
Arteria hepatika Area portal di tengah sinusoid dialirkan
ke vena sentralis
Vena kava
Vena porta t
I
LOBULUS HEPATIK: ASINUS PORTAL
Daerah portal Jaringan mendapat darah dari
Vena sentralis cabang-cabang terminal arteri
hepatika dan vena porta-
TRIAD PORTAL: Sel-sel yang paling dekat pembuluh
Arteria hepatika ini mendapat O, dan nutrien
Vena pofta
Sinusoid
Duktus biliaris
TRIAD PORTAL
Vena sentralis Arteri hepatika
Kanalikulis biliaris : #2*rr,"
;=l.l
,.i'.'i"",1'' Hepatosit yaitu sel-sel hati, melepaskan sekresi endokrin ke dalam
."r.:r4 aliran darah, dan sekresi eksokrin yaitu cainn empedu, ke dalam saluran
keluar yaitu duktus biliaris. Setiap sel hati berbatasan dengan ruang
Sel pembatas sinusoid pembuluh darah yaitu sinusoid, paling sedikitpada satu sisi dan hepa-
tosit lainnya pada sisi satunya lagi. Dimana hepatosit bergabung jadi
Celah Disse satu, keduanya dibatasi oleh ruang antar-sel kecil yaitu kanalikuli
biliaris, cairan empedu dialirkan ke dalam saluran ini.
Sel Kupffer
Karena sinusoid dibatasi oleh sel-sel endotel (sel pembatas sinu-
soid) dan makrofag (sel Kupffer), maka hepatosit tidak bersentuhan
dengan aliran darah. Celah Disse terletak di antara hepatosit dan sel
pembatas sinusoid. Dalam celah Disse terdapat mikrovili hepatosit,
terkadang sel penyimpan lemak (sel Ito) dan serat retikulin yang
halus membantu membentuk ranska hati.
354 . Atlas Berwarna Htstologi
t
ffi Histofisiologi
I. KELENJAR LIUR UTAMA yang berbeda, masing-masing berperan untuk sekresi
Kelenjar liur yang utama adalah kelenjar parotis, suatu hormon, yang paling penting dari ini adalah
kelenjar submandibularis, dan kelenjar sub- insulin dan glukagon.
lingualis. Kelenjar-kelenjar ini menghasilkan liur
sekitar 1 L per hari, kira-l<tra95%o dari sekresi liur per III. HATI DAN KANDUNG EMPEDU
hari. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai komponen A. Hepatosit
sekretorik yang berperan untuk pembentukan liur Telah diketahui bahwa setiap hepatosit mampu
melakukan fungsi hati sebanyak sekitar 100jenis.
yang primer (liur isotonik), yang diubah oleh bagian
awal sistem duktus (duktus striata) untuk memben- Cairan empedu yang dibentuk dan dikeluarkan,
tuk liur yang sekunder (Hur hipotonik). Liur adalah merupakan fungsi eksokrin hati. Cairan empedu
larutan hipotonik yang fungsinya mencakup melu- berwarna hijau, berupa cairan yang agak kental ter-
masi dan membersihkan rongga mulut (dan mengu- diri atas air, ion-ion, kolesterol, fosfolipid, bilirubin
rangi flora bakteri oleh adanya lisozim, lactoferin glukuronida dan asam empedu. Salah satu unsur ini.
peroksidase, histidine-rich proteins, dan imuno-
globulin A (IgA), pencefflaan awal karbohidrat oleh bilirubin glukuronida, adalah konyugasi yang
larut dalam air dari bilirubin yang tak larut, suatu
amilase liur, dan membantu proses pengecapan
hasil pemecahan yang bersifat racun dari hemo-
rasa (dengan jalan melarutkan substansi makanan). globin. Ini terjadi dalam retikulum endoplasma
halus (sER) dari hepatosit yang mendetoksikasi
Saliva juga bekerja sebagai bufer karena isinya bilirubin.
bikarbonat dihasilkan oleh sel-sel duktus striata. Detoksifikasi berbagai obat, toksin, sisa meta-
bolisme dan bahan-bahan kimia yang terdapat baik
II. PANKREAS oleh sistem oksidase mikrosomal fungsi cam-
puran dari retikulum endoplasma halus atau oleh
Sel-sel asini dari bagian eksokrin pankreas mense- peroksidase dari peroksisom.
kresi enzim-enzim pencemaan sebagai reaksi terha-
dap hormon kolesistokininr ymg dilepaskan oleh Fungsi endokrin hati mencakup mensintesis
sel-sel enteroendokrin dari usus halus dan asetil-
kolin dilepaskan oleh sel saraf dari sistem saraf dan melepaskan sejumlah protein plasma dan kom-
enterik. Beberapa en:zim-enzim ini dilepaskan seba- ponennya, sepefii fibrinogen, urea, albumin, protrom-
gai proenzim (kimotripsin, tripsin, elastase dan kar- bin dan lipoprotein, menyimpan glikogen dan lemak
boksipeptidase) dan lainnya dilepaskan sebagai enzim untuk dilepaskan selama interval antara waktu makan,
yang aktif (DNase, RNase,lipase pankreas dan amilase mensintesis glukosa yaitu glukoneogenesis, dari
pankreas). Sebagai reaksi terhadap sekretin (dile- sumber-sumber bukan karbohidrat (asam amino
paskan oleh sel-sel enteroendokrin dari usus halus), dan lemak) dan mentransport IgA ke dalam cairan
sel-sel sentro-asinar dan sel-sel dari duktus inter- empedu, dan selanjutnya ke dalam lumen usus halus.
kalaris melepaskan sejumlah cairan alkalis yang
diduga membantu menefralkan dan membentuk buffer B. Sel Kupffer dan sel lto
kimus yang asam dan memasuki duodenum dari
lambung. Sel-sel Kupffer di hati berfungsi menyingkirkan
Pulau Langerhans terdiri atas lima jenis sel eritrosit tua dan zat-zat lain yang tidak berguna dari
aliran darah. Sel penyimpan lemak (sel lto) diduga
Sistem Cerna III o 355
berfungsi mengumpulkan dan menyimpan vitamin G. Kandung empedu
alkohol, sel-sel
A, tetapi pada kasus sirosis karena berperan untuk Kandung empedu menyimpan dan memekatkan
cairan e"mpedu. tianaung empedu melepaskan
ini juga membentuk kolagen tipe I, cairan empedu karena rangsangan hormon kole-
fibrosis hati'
sistokinin dari sel enteroendokrin.
t56 . Atlas Berwarna Histologi
\
*+fr5. CONTOH KASUS KLINIS
Gastrinoma obat, melalui penggunaan jarum suntik bersama.
pasien dapat menjadi karier virus dan pada l}Vo
Gastrinoma adalah suatu penyakit dimana sel-sel G pasien kondisinya mungkin menjadi kronis, menuju
pankreas mengalami proliferasi yang berlebihan ke sirosis dan kanker hati. Dulu, Hepatitis C ditular-
(seringkali kanker), mengakibatkan produksi hor- kan melalui transfusi darah, tetapi penapisan darah
mon gastrin yang berlebihan. Hormon ini beryeran hampir secara sempuma menghapuskan cara penu-
untuk berikatan ke sel-sel parietal lambung, menye- laran ini dan sekarang penyakit ini ditularkan mela-
babkan sel-sel ini menseklesi asam hidroklorida lui penggunaan jarum suntik bersama di antara
berlebihan dengan akibat terbentuknya ulkus pepti- pengguna obat adiksi. Sekitar tiga perempat indi-
kum pada lambung dan duodenum. Obat anti ulkus vidu yang terkena Hepatitis C akan menjadi kronis
mungkin meringankan hiperasiditas dan memper- dan daripada ini,20Vo sampai 257o akan berkem-
baiki ulkus; bila tidak maka perlu tindakan pem- bang menjadi sirosis dan kemudian kanker hati.
bedahan Hepatitis D juga ditularkan melalui penggunaan
jarum suntik bersama dan selalu disertai dengan
Diabetes tipe I
Hepatitis B. Infeksi ganda ini kondisinya lebih
Diabetes tipe I (tergantung insulin) dicirikan oleh
polifagia (lapar terus), polidipsia (haus terus) dan berat. Hepatitis E disebarkan melalui jalur fekal-
poliuria (kencing berlebihan). Kelainan ini biasa- oral dan berperan secara epidemiologis, tetapi keba-
nya mulainya tiba-tiba sebelum usia 20 tahun, nyakan di negara-negara yang kurang berkembang.
Baik kondisi kronis maupun karier berada dengan
diketahui karena kerusakan dan hancurnya sel beta, bentuk virus Hepatitis ini. Vaksinasi massal dianjur-
mengakibatkan insulin plasma kadarnya rendah kan untuk melindungi masyarakat dari Hepatitis B
dan diobati dengan kombinasi pemberian insulin
dan diet, dan hal ini memberi tambahan keuntungan mem-
beri perlindungan terhadap Hepatitis D; dianjurkan
Diabetestipell bagi yang melakukan perjalanan ke negara yang
Diabetes melitus tipe II (tidak tergantung insulin) belum berkembang dimana hepatitis A masih sering
umumnya terdapat pada individu yang beratnya mendapatkan vaksinasi untuk Hepatitis A. Belum
berlebihan setelah berusia 45 tahun. Kelainan ini
bukan akibat dari insulin plasma kadarnya rendah ada vaksin saat ini terhadap Hepatitis C atau E.
dan merupakan resistensi insulin, yang merupa-
kan faktor utama pada patogenesisnya. Resistensi Ikterus
insulin karena penurunan ikatan insulin pada resep-
tor plasmalema dan karena cacatpada kerja insulin Ikterus dicirikan oleh adanya bilirubin yang ber-
pasca-reseptor. Diabetes tipe II biasanya dikendali-
kan melalui diet. lebihan dalam darah dan penimbunan pigmen empedu
pada kulit dan sldera mata, sehingga memberi gam-
Hepatitis
baran kekuningan. Kelainan ini mungkin herediter
Hepatitis adalah inflamasi hati dan meskipun ada atau karena kondisi patologis seperti penghancuran
banyak penyebab seperti penggunaan salah dari sel darah merah yang berlebihan (ikterus hemo-
alkohol atau obat-obatan tertentu, penyebab yang
paling sering adalah satu dari lima jenis virus litik), gangguan hati, sumbatan aliran empedu
hepatitis, ditandai dengan lima huruf pertama alfa-
bet, A sampai E. Hepatitis A biasanya menyebar (ikterus obstruktif).
melalui higiene yang buruk ( rute fekal-oral dan air
yang terkontaminasi) sama halnya melalui kontak Batuempedu
seksual. Biasanya tidak ada gejala, pasien sembuh
dan tidak menjadi karier. Hepatitis B, kondisi yang Batu empedu adalah pemekatan, biasanya kristal
lebih serius daripada Hepatitis A, biasanya ditular- kolesterol yang menjadi satu terbentuk dalam kan-
kan melalui cairan tubuh dan pada kasus adiksi dung empedu atau saluran empedu. Kumpulan batu
mungkin menyebabkan duktus sistikus tersumbat,
sehingga cairan tidak bisa keluar dari kandung
empedu dan mungkin memerlukan tindakan bedah
untuk menyingkirkannya jika tindakan yang kurang
invasif gagal untuk melarutkannya atau menghan-
curkannya.
Sistem Cerna III . t5?
ffiAMS&ffi { r Kelenjar Parotis, Monyet. Plastic .&AfmmAR S Kelenjar sublingualis. Monyet.
section. x 132. Plastic section. x270.
Kelenjar parotis adalah murni kelenjar serosa dengan Kelenjar sublingualis merupakan kelenjar campur
kapsula jaringan ikat yang mempercabangkan tra- yang menghasilkan sekretnya baik serosa maupun
bekula (T) ke dalam stroma kelenja4 membaginya
menjadi lobulus-lobulus (Lo). Lembaran jaringan mukosa. Asini yang mukosa (MA) mempunyai
inti (N) yang gelap, gepeng mendekati membrana
ikat yang tipis masuk ke dalam lobulus, mengelilingi basalis sel. Selanjutnya, sitoplasma terisi dengan
gambaran seperti "busa", menandakan hasil
pembuluh darah (BV) kecil dan duktus intra-
lobularis (iD). Duktus interlobularis (ID) sekresinya kental. Banyak asini mukosa dipetuk oleh
dikelilingi olehjaringan ikat (CT) yang lebih tebal
sel serosa, membentuk bangunan seperti bulan sabit
dan pembuluh darah yang besar. Perhatikan asini
yaitu demilune serosa (SD). Kelenjar sublingualis
(Ac) tersusun rapat dalam setiap lobulus. Sisrpan. dibagi-bagi menjadi lobus dan lobulus oleh septa
Kelenjar parotis. Monyet. Plastic section. jaringan ikat (CT) yang berfungsi sebagai jala
x 540. Perhatikan inti (N) yang bulat dalam asini penyokong untuk saraf, pembuluh darah dan duktus
serosa terletak di bagian basal. Membran sel sebelah kelenjar. Daerah kotak diperlihatkan dengan pem-
lateral (panah) tidak jelas terlihat, juga lumen asini besaran kuat dalam Gambar 3.
tidak terlihat. Perhatikan lembaran jaringan ikat
yang tipis (kepala panah) mengitari seriap asinus. GAMBAfr { o Kelenjar submandibularis. Monyet.
Plasticsection.xl32.
*&e{S&ffi S . Kelenjar sublingualis, Monyet. Kelenjar submandibularis juga menghasilkan sekret
campuran; namun, tidak seperti kelenjar sublingualis,
Plastic section. x 540.
Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran asinus serosa lebih jelas. Asini serosa (SA) dan
kuat doerah kotak Gambar 2. Inti (N) gepeng dan asini mukosa (MA) mudah dibedakan satu sama
gelap dari asini mukosa terlihat jelas sepertinya lain, tetapi kebanyakan bagian mukosa dicakup oleh
tertekan ke membran basal sel. Perhatikan bahwa demilune serosa. Selanjutnya, kelenjar submandi-
kebanyakan sitoplasma berisi vesikel-vesikel kecil
(panah), dan dinding lateral membran sel (kepala bularis mempunyai ciri bahwa sistem duktus (D)
banyak, terlihat sitoplasma pucat, lumen (L) lebar
ponah) jelas terlihat, juga lumen (L) biasanya tam- dan inti bulat. Kelenjar ini juga terbagi menjadi lobus
pak. Demilune serosa (SD) terdiri atas sel-sel peng-
dan lobulus oleh septa jaringan ikat (CT).
hasil sekret serosa yang inti-nya (N) berbentuk bulat
sampai lonjong. Perhatikan juga dinding lateral Sisipan. Kelenjar submandibularis. Monyet.
Plastic section. x 540. Perhatikan gambaran gra-
membran sel tidakjelas pada sel-sel serosa. nular dari sel-sel yang terdiri atas demilune
Sel serosa serosa (SD) berbeda dengan gambaran sitoplasma
seperti "busa" dari asinus mukosa (MA).
l"uu
nri $
''- t'i"ii,g!
Sel mioepitel
Asini serosa -I {+rr.rg Sel duktus interkalaris
Asini mukosa -
Duktus interkalaris
Demilune &*;
serosa
'i{.1''f
Sel mukosa
Kelenjar Saliva
358 . Atlas Berwarna Histologi
Ac Asinus ID duktus interlobularis N inti
BV pembuluh darah L lumen SA asini serosa
CT jaringanikat SD demiluneserosa
D duktus Lo lobulus T trabekula
iD duktusintralobularis MA asinimukosa
Sistem Cerna III . 559
ffiAn lg&fr 1 . Pankreas. Manusia. Paraffin GAIdSAR ? . Pankreas. Manusia, Paraffin
section. x 132. section. x 270.
Pankreas adalah kelenjar kompleks karena mempu- Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran kuat
nyai unsur eksokrin dan unsur endokrin. Bagian daerah korok Gambar 1. Perhatikan bahwa septa
eksokrin merupakan bagian terbesar organ ini seba-
gai kelenjar tubuloalveolar kompleks, mensekresi jaringan ikat (CT), sementara itu banyak pada
cairan serosa. Kelenjar terbagi menjadi lobulus oleh
bagian tertentu, dan sangat tipis di daerah inter-
septa jaringan ikat (CT). Setiap asinus (Ac) lobular. Bentuk segi empat dari masing-masing sel
asini serosa jelas terlihat pada sajian yang terdapat
terdiri atas beberapa sel berbentuk piramid, berinti secara kebetulan (panah). Perhatikanjuga sel sen-
troasinar (CA), terletak di tengah asini, yang menun-
bulat. Letak sel di tengah asinus yaitu sel sen-
troasinar (CA) membentuk saluran keluar kelenjar jukkan saluran keluar terkecil dari pankreas.
paling kecil. Bagian endokrin pankreas terdiri atas
kelompokan kecil sel-sel bulat yaitu pulau GAMBAR 4 o Pulau Langerhans. Monyet. Plastic
Langerhans (IL), yang kaya dengan kapiler-kapi- section, x 270.
ler darah. Pulau Langerhans ini tersebar tidak ber-
Pulau Langerhans (IL) yang merupakan bagian
aturan di antara asini serosa pankre as. Daerah kotok
diperlihatkan dengan pembesaran kuat dalam Gam- endokrin pankreas, sel-selnya berbentuk lebih kurang
bar2. bulat tersebar di antara bagian eksokrin kelenjar.
Juga, setiap pulau dikelilingi oleh asini serosa
*A|lnffiAR 3 . Pankreas. Monyet. Plastic (Ac). Pulau Langerhans mendapat banyak pem-
buluh darah (BV) yang terdapat dalam unsur
section. x 540.
jaringan ikat (CT) bagian eksokin pankeas.
Dengan menggunakan sajian plastik, bentuk asinus Sisipan. Pulau Langerhans. Monyet. Plastic
pankreas jelas terlihat. Perhatikan irisan asinus
menyerupai kue, dengan masing-masing sel ber- section. x 540. Perhatikan banyaknya pembuluh
batas tegas (panah). Inti (N) setiap selyangberben- darah dalam Pulau Langerhans, seperti tampak ada-
tuk segi empat adalah bulat dan sitoplasma bagian nya kumpulan eritrosit (RBC) dalam pembuluh
basal (kepala panah) relatif homogen, sedangkan
sitoplasma bagian apikal dipadati dengan granula darah. Meskipun setiap pulau Langerhans terdiri atas
sel-sel A, B, C dan D, sel-sel itu dapat dibedakan satu
zimogen (ZG). Sel sentro-asinar (CA) dapat sama lain hanya dengan menggunakan pulasan khu-
dikenali karena letaknya juga gambaran intinya sus. Namun, perlu diingat pada manusia, sel B meru-
yang pucat. Sisipan. Pankreas. Monyet. Plastic pakan sel yang paling banyak dan biasanya terletak
di tengah pulau Langerhans, sedangkan sel A umum-
section. x 540. Perhatikan sel sentroasinar nya ditemukan di bagian perifer. Keadaan ini sebalik-
nya pada monyet.
(CA), intinya yang pucat dapat dibedakan dari inti
Sel pankreas
sel asinus di sekelilingnya.
Pulau Langerhans
Sel asinus pankreas
tr
sentroasinar
360 . Atlas Berwarna Histologi
fc"irwAn i I
tsAwEAa 4 I
Ac asinus CT septa jaringan ikat RBC Eritrosit
BV pembuluh darah IL pulau Langerhans ZG granula zimogen
CA selsentroasinar N inti
Sistem Cerna III . 361
&AIW*AR 1 r Hati. Babi. Paraffin section. x '14. .G&&fiBAR 2 Hati. Anjing. Paraffin section. x 132.
Perhatikan bahwa hati dibungkus oleh kapsula Area portal hati ditempati cabang akhir arteria
jaringan ikat. yaitu kapsula Glissoni (GC), dari hepatika (FIA) dan vena porta (PV). Perhatikan
sini, pada hati babi septa (S) meluas membagi-bagi vena lebih lebar daripada arteri dan dindingnya
hati menjadi bangunan lebih kurang berbentuk
heksagonal yaitu lobulus klasik (Lo). Pembuluh sangat tipis dibandingkan dengan ukuran lumennya.
darah, pembuluh getah bening dan duktus biliaris Percabangan pembuluh getah bening (LV) dan
berjalan dalam jaringan ikat septa untuk mencapai
bagian apikal lobulus klasik, yang dikenal sebagai duktus biliaris (BD) juga ada di area portal.
area portal (PA). Cairan empedu mencapai area Duktus biliaris dapat dikenali melalui epitelnya kubis
sampai torak. Perhatikan bahwa tidak seperti pada
portal dari dalam lobulus, sedangkan darah masuk babi, septa jaringan ikat tidak membatasi lobulus
ke substansia lobulus dari area portal. Dalam setiap klasik hati, meskipun berbagai struktur area portal
terbungkus oleh unsurjaringan ikat. Lempengan sel-
lobulus, darah mengalir melalui saluran yang
berkelok-kelok yaitu sinusoid hati, untuk masuk ke sel hati (PL) dan sinusoid (Si) meluas dari area
vena sentralis (CV) di tengah-tengah lobulus kla-
portal.
sik.
.GAIWBAR 3 Hati. Monyet. Plastic section. x 132. Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran kuat
Vena sentralis (CV) lobulus hati (cabang akhir daerah kotak gambar sebelumnya. Perhatikan
vena hepatika) mengumpulkan darah dari sinu- lumen vena sentralis (CV) dibatasi oleh epitel
soid (Si) dan menyalurkannya ke vena sublobularis.
Lempengan sel-sel hati (PL) dan sinusoid hati (Ep) selapis gepeng, yang merupakan lanjutan
endotel pembatas sinusoid (Si) hati, adalah saluran
tampak radier, sepertijeruji roda dari vena sentralis.
Daerah korak diperlihatkan dengan pembesaran darah yang berkelok-kelok secara bebas saling berhu-
kuat dalam Gambar 4. bungan satu sama lain. Perhatikan juga bahwa lem-
pengan sel-sel hati (LP) terdiri atas hepatosit
(H), tebalnya satu atau dua sel dan setiap lempengan
berbatasan dengan sinusoid.
Lobulus hepatik
Sinusoid
Arteria hepatika
Duktus biliaris
Hati
362 . Atlas Berwarna Histologi
t-eAtuBAall l-eAMtsAnT-l
( eAfrlrc,qn*-l [sAi$EAR 4 I
KUNGI
BD duktus biliaris HA arteria hepatika PL lempengan sel hati
CV venasentralis Lo lobulus
PV venaporta
Ep epitel LV pembuluhgetahbening S septa
GC kapsulaGlissoni LP lempenganhati S sinusoid
H hepatosit PA
areaportal
Slstem Cerna III . 363
GAFtgAn I . Hati. Monyet. Plastic section. x 540, SAflfiS&& 3 o Kandung empedu. Manusia. Paraffin
Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran section. x 132.
kuat lempengan sel-sel hati (LP). Perhatikan
bahwa setiap hepatosit (H) berbentuk poligonal. Kandung empedu merupakan organ kosong berben-
tuk buah pe4 yang berfungsi menyimpan dan meme-
Setiap hepatosit mempunyai satu atau dua inti, mes- katkan cairan empedu. Susunan histologiknya rela-
kipun terkadang beberapa mempunyai tiga inti. tif sederhana, tetapi gambarannya mungkin tidak
Lempengan hati dikelilingi oleh sinusoid (Si) hati
yang dibatasi oleh sel pembatas sinusoid (SC); sederhana. Mukosa kandung empedu yang kosong,
karena itu hepatosit tidak berhubungan langsung seperti tampak dalam fotomikroskopik ini, banyak
lipatan-lipatan yang menjulur ke dalam (panah),
dengan aliran darah. Celah antara sel-sel pembatas sehingga memberi gambaran seperti kelenjar. Namun,
sinusoid dan hepatosit yaitu celah Disse, terlihat
dengan mikroskop cahaya secara terbatas. Sisrpan. pengamatan yang teliti pada epitel (Ep) menun-
Hati. Manusia. Paraffin section. x 540. Mem- jukkan bahwa semua sel selapis torak pada membran
bran sel hepatosit jelas terlihat dalam fotomikros-
kopik ini. Perhatikan bahwa secara kebetulan celah mukosa adalah sama. Jaringan ikat jarang (CT)
antar sel yang kecil terlihat (panah). Ini adalah kana- kadang-kadang menyerupai lamina propria, terletak
likuli biliaris yang mengalirkan cairan empedu ke sebelah dalam dari epitel. Perhatikan bahwa tunika
bagian perifer lobulus.
muskularis mukosa tidak ada dan otot polos (SM)
GAIlJIBAR 2 r Hati. Paraffin section. x 540. yang mengelilingi jaringan ikat adalah tunika mus-
kularis eksterna. Bungkus paling luar kandung
empedu adalah tunika serosa atau tunika adventisia.
Daerah serupa dengan daeroh korak diperlihatkan
dalam Gambar 4.
Suatu sistem makrofag yang dikenal sebagai sel rSAS4SAR 4 Kandung empedu. Manusia. Paraffin
Kupffer (KC) terdapat tersebar di antara sel endotel
section. x 540.
pembatas sinusoid (Si). Makrofag ini lebih besar
daripada sel-sel epitel dan dapat dikenali oleh Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran kuat
adanya bahan-bahan yang difagosit di dalamnya. suatu daerah serupa dengandaerahkotak Gambar 3.
Sel-sel Kupffer dapat diperlihatkan melalui pem- Perhatikan epitel (Ep) terdiri atas sel-sel torak
berian suntikan secara intravena dengan tinta India,
seperti dalam sajian ini. Perhatikan pada beberapa tinggiyang gambarannya sama, inti-nya (N) terletak
sel tampak adanya bercak hitam besar karena sel itu di bagian basal. Membran lateral sel jelas terlihat
dipenuhi dengan tinta yang difagosit (bintang), pada daerah tertentu (ponah),sedangkan brush bor-
sedangkan sel lainnya mempunyai hanya sedikit der di apikal biasanya tidak tampak pada jaringan
bahan yang difagosit (kepala panah). Perhatikan
juga bahwa kebanyakan sel pembatas sinusoid tidak yang dipulas dengan hematoksilin dan eosin. Perhati-
mengandung tinta, menandakan bahwa sel-sel endo- kan membrana basalis (BM) relatif tebal memi-
tel mungkin tidak bersifat fagositik. sahkan epitel dari jaringan ikat (CT) jarang di
bawahnya.
Sinusoid
TRIAD PORTAL:
Arteri hepatika
Duktus biliaris
Vena porta
Celah Disse*-{ffijff
Sel pembatas sinusoid jffi
364 . Atlas Berwarna Histologi
[freffiffiefftl
!fi$*
#6hF
#
&,' ;:.
.tu
KUNCI KC sel Kupffer [*sese*41
LP lempenganhati
BM membrana basalis N inti SC sel pembatas sinusoid
CT jaringan ikat Si sinusoid
Ep epitel SM ototpolos
H hepatosit
Sistem Cerna III . 365
.mAnfiBAR X Kelenjar Sublingualis. Manusia. ,"ffidffgir$: Sel duktus interkalaris
Mikroskop elektron. x 4.050. F*^il ';
,io a"*i+'bpg
Kelenjar sublingualis manusia terdiri terutama asini
mukosa ditutupi oleh demilune serosa. Sel-sel
mukosa (mc) memperlihatkan sejumlah badan
filamentosa (0 dan granula sekretoris, yang
tampak koson g (bintang) . Sel-sel $erosa (de) dapat
dikenali melalui sitoplasma yang lebih pucat dan
adanya granula sekretoris (panah) berisi bahan padat
elektron. Perhatikan juga adanya sel mioepitel
(myo), julurannya (kepala pcnah) melingkari asinus.
(SeizinDr.A. Riva)
Sel serosa
"1.*
I-1
t* dr: .:i,'; ;tl
+h.*u'
-,Eu
Asini serosa
Asini mukosa
r!
Demilune Serosa !1 !. ftr';. r;i!n+. Sel duktus striata
KUNCI *t .i'l;i e\j-:'=;!4t
dc sel serosa
f badanfilamentosa u _..[_'t-*,rt ,.rs;*,E+..i
# .is."_! i:.
Sel mukosa
,tli.r,.r:,.;_
Kelenjar Saliva
mc sel mukosa myo sel mioepitel
366 . Atlas Berwarna Histologi
s
-\f
t!.. ....
ws &.u' Y
,' , ,,', .1'!1&&fft{! iiFr""{ri
v
.:.. ," 'rq$$v,
j
'" ,.! ,ill rit:tr\.:'
Sistem Cerna III . 367
f&Atlqffietq'.]
$,effimA& $ . Hati, Mencit. Mikroskop elektron. Sel hati yang berlekatan satu sama lain dicirikan
x 11.255. oleh adanya kanalikuli biliaris (BC), suatu celah
Hepatosit dengan fotomikroskopik elektron ini mem- antar sel yang terpisah oleh adanya pembentukan
perlihatkan kedua permukaannya, yang satu ber-
occluding junction (OC). Sitoplasma sel hati di-
batasan dengan sinusoid (Si) dan yang lain dimana
tempati organel sel yang normal, seperti sejumlah
dua sel hati berlekatan satu sama Iain (panah). per-
mukaan yang menghadap ke sinusoid memperlihat- mitokondria (m), retikulum endoplasma
kan adanya mikrovili (mv) yang menjulur ke dalam kasar (rER), aparatus Golgi, retikulum endoplasma
celah Disse (sD). Mikrovili hampir bersentuhan
dengan sel-sel pembatas sinusoid (SC) yang halus, lisosom dan badan inklusi seperti glikogen
menunjukkan sejumlah fenestra (kepalo ponah). (g) dan tetesan lemak (l). Inti (N) salah satu
hepatosit jelas terlihat.
368 . Atlas Berwarna Histologi
t6&rv!ffieRT-]
t .SANWSAm Pulau Langerhans. Kelinci. juga ditempati banyak granula sekretoris, juga ditem-
Mikroskop elektron. x 3.578. pati banyak granula sekretoris; namun sel ini tidak
adazonajernih di tepinya. Sel-sel D (DC) adalah
Pulau Langerhans ditempati oleh empat jenis sel sel yang paling sedikit jumlahnya dan mempunyai
yaitu selA, sel B, sel C dan sel D. Sel-sel B (B) ada-
lah paling banyak dan dapat dikenali oleh adanya ciri bahwa granula sekretoris kurang padat elektron
granula sekretoris yang bagian tengahnya padat
elektron, dikelilingi oleh zonajernih (ponah). Sel A dibandingkan dengan kedua jenis sel lainnya.
(A), sel sekretoris nomor dua yang paling banyak,
I(Seizin Sato Herman L.: Am J Anat 76I: 71-84)
Sistem Cerna III . 369
L
ffi Ringkasan Histologik
I. KELENJAR LIUFf UTAMA ikatnya mempercabangkan septa untuk membagi
Ada tiga kelenjar liur utama yang berhubungan parenkim pankreas menjadi lobulus. Asininya ada
sel sentroasinar, awal saluran yang mengalirkan-
dengan rongga mulut. Kelenjar ini adalah kelenjar nya ke dalam duktus interkalaris, kemudian ke
parotis, kelenjar submandibularis dan kelenjar duktus intralobularis, dan duktus interlobularis.
sublingualis. Duktus utama menerima hasil sekresi dari duktus
interlobularis. Bagian endokrin pankreas dengan
A. Kelenjar Parotis pulau Langerhans (terdiri atas sel-sel A, B, G dan
D) tersebar di antara asini yang serosa.
Kelenjar parotis adalah murni suatu kelenjar
III. HATI
serosa tubuloalveolar bercabang kompleks yang A. Kapsula Hati
kapsula pembungkusnya mengirimkan septa Kapsula Glisson membungkus hati dan memper-
(sering berisi sel lemak) ke dalam substansi kelen- cabangkan septa ke dalam substansi hati pada
jar, membaginya menjadi lobus dan lobulus. Asini porta hepatis untuk membagi parenkim hati men-
serosa, dikelilingi oleh sel-sel mioepitel, meng-
hantarkan sekretnya ke dalam duktus interkalaris. jadi lobulus.
B. Kelenjar Submandibularis B. Lobulus
Kelenjar tubuloalveolar kompleks ini banyak
1. Lobulusklasik
serosanya, meskipun cukup mengandung unit
mukosa, dicakup oleh demilune serosa, untuk Lobulus klasik berbentuk heksagonal dengan area
menghasilkan sekret campuran. Asini dikelilingi portal (triad) pada bagian perifer dan vena sentra-
oleh sel mioepitel (sel trasket). Kapsula mem-
percabangkan septa ke dalam substansi kelenjar, lis berada di tengah. Trabekula hati (lempeng
membaginya menjadi lobus dan lobulus. Sistem
hati) dari sel-sel hati saling beranastomosis. Sinu-
saluran keluar sangat luas. soid dibatasi oleh sel pembatas sinusoid dan sel-
sel Kupffer (makrofag). Dalam celah Disse, mung-
G. Kelenjar Sublingualis kin terlihat sel pengumpul lemak. Area portal
Kelenjar sublingualis adalah kelenjar tubulo- ditempati duktus biliaris, pembuluh limf dan
alveolar kompleks yang kapsulnya tidak begitu
jelas. Kelenjar ini menghasilkan sekret campuran, cabang arteria hepatika dan vena porta dikelilingi
mempunyai banyak asini mukosa dicakup oleh ujung lempengan hepatosit. Cairan empedu meng-
demilune serosa dan dikelilingi oleh sel mioepitel alir ke perifer dalam kanalikuli biliaris, yaitu celah
(sel basket). Sistem duktus intralobularis tidak interselular antara sel-sel hati, untuk masuk ke duk-
banyak. tuli biliaris, kemudian kanal Hering (dan cho-
langioles), untuk disalurkan ke duktus biliaris di
II. PANKREAS
areaportal.
Bagian eksokrin pankreas adalah kelenjar serosa
tubuloalveolar kompleks yang kapsula jaringan 2. Lobalusportal
Puncak dari potongan sajian berbentuk segitiga dari
lobulus portal adalah vena sentralis. Jadi, area
5?0 . Atlas Berwarna Htstologi
portalmembentukpusatlobulus ini. Lobulusportal B' Lamina Propria
berdasarkanalirancairanempedu. Lamina propria membentuk banyak lipatan-
3. Asinus Rappaport (Asinus hati) lipatan, lipatan ini menghilang saat kandung empedu
Asinus Rappaport pada sajian adalah daerah hati meregang. sinus Rokitansky Aschoff (diverliku-
yang berbentuk belah ketupat dimana sumbu pan- lum epitel) mungkin ada'
jangnya adalah garis yang menghubungkan vena C' Muskularis Eksterna
sentralis yang berdekatan dan sumbu pendeknya
adalah garis penghubung antara area portal yang Tunika muskularis eksterna terdiri atas lapisan
berdekatan. Asinus hati berdasarkan pada aliran ototpolosyangjalannyaserong.
darah.
D. Tunika Serosa
lV. KANDUNG EMpEDU Tunika adventisia melekatkan kandung empedu
Kandung empedu dihubungkan ke hati melalui ke kapsula l,rati',sedanskan tunika serosa menutupi
duktus sistikus, yang bergabung aurrtus permukaankandungempedupadasisilainnya'
dengan
hepatikus komunis.
A, Epitel
Kandung empedu dilapisi epitel selapis torak.
Sistem Gerna III r 371
372 . Atlas Berwarna Histologi
__)
16Sistem Urinarius
Sistem urinarius berfungsi untuk pembentukan urin, cabang langsung dari aorta abdominalis. Pembuluh
mengatur tekanan darah dan volume cairan tubuh, ini selanjutnya bercabang-cabang menjadi beberapa
keseimbangan asam-basa, dan pembentukan serta cabang utama ketika pembuluh memasuki hilus
pelepasan hormon-hormon tertentu. Komponen- ginjal. Setiap cabang selanjutnya bercabang lagi
komponen sistem urinarius adalah ginjal, ureter, memberikan dua atau lebih arteria interlobaris.
kandung kemih dan uretra.
Arteria interlobaris berjalan antara piramid
Unit fungsional ginjal adalah tubulus urini-
ferus (tihat Gambar 16-1) terdiri atas nefron dan yang bersebelahan menuju korteks dan pada per-
tutrulus koligens (collecting tubulus), masing- batasan korteks-medula, bercabang membentuk
masing berasal dari primordium embriologi yang
arteria arkuata yang jalannya mengikuti dasar
berbeda. piramid. Arteria interlobularis, yang berasal dari
O GINJAL arteria arkuata memasuki korteks yang berbentuk
labirin (beriarak sama dari prosesus medularis yang
Ginjal mempunyai batas tepi cembung dan cekung, bersebelahan) untuk mencapai kapsula renalis.
dan yang cekung disebut hilus. Di hilus ini arteri Sepanjang perjalanan arteri interlobularis, ada pem-
masuk ke ginjal dan ureter serta vena keluar mening- buluh yang lebih kecil yaitu arteria aferen glome-
galkan ginjal. Setiap ginjal dibagi menjadi korteks
ruli, timbul untuk memasuki kapsula Bowman
danmedula.
Daerah korteks dibagi lagi menjadi labirin kor- membentuk pleksus kapiler yang dinamakan glo-
tikat dan prosesus medularis. Medula terdiri atas merulus.
10-18 piramid gir\ial. Setiap piramid ginjal dikata-
kan menyusun lobus ginjal. Apeks setiap piramid Secara keseluruhan, kapsula Bowman dan glo-
ditembus oleh 15-20 duktus papilaris @ellini) pada merulus disebut sebagai korpuskulum renal (lihat
areakribrosa.
Gambar 16-2). Arteriol eferen glomeruli meng-
Daerah medula antara piramid ginjal yang ber-
dekatan ditempati oleh substansi kortikal yang dike- alirkan darah dari glomeruli ke dalam labirin kor-
nal sebagai kolumna renalis (Bertini). Prosesus tikal (membentuk jala-jala kapiler peritubular)
medularis adalah perluasan medula ginjal ke dalam atau masuk ke dalam medula sebagai arteriol rekta
korteks, dimana iuluran ini membentuk bagian spuria (bagian dari vasarekta).
tengah dari lobulus ginjal. Bagian yang terletak antara labirin korteks dan
kapsula renalis darahnya dialirkan melalui vena
Untuk mengerti histofisiologi ginjal' maka harus interlobularis, kebanyakan dari situ masuk vena
memperlajari percabangan pembuluh darah. Setiap arkuata, percabangan dari vena interlobaris. Darah
ginjal mendapatkan darah dari arteri renalis, suatu dari vena interlobaris memasuki vena renalis, yang
selanjutnya menghantarkan isinya ke vena kava
inferior.
Sistem Urinarius . 373
Tubulus Uriniferus Bagian yang lurus (pars rekta) dari tubulus prok-
simal (uga dikenal sebagai segmen tebal desen-
Unit fungsional ginjal adalah tubulus uriniferus, dens Ansa Henle) secara histologis serupa dengan
terdiri atas nefron dan duktus koligens, masing- bagian yang berkelok-kelok; namun, brush border
nya lebih pendek pada ujung distalnya, dimana
masing berasal dari bakal embriologik yang berbeda.
saluran itu berhubungan dengan segmen tipis
Nefron
desendens AnsaHenle.
Terdapat tiga jenis nefron, diklasifikasikan menurut
letaknya korpuskulum renal dalam korteks ginjal: Segmen tipis desendens dari nefron juksta-
jukstamedularis (mempunyai kaki tipis panjang
dari Ansa Henle), dan nefron kortikal. Ini merupa- glomerularis melebar ke apeks piramid medula, di-
kan kaki tipis panjang dari lengkung Henle yang
membantu dalam penentuan derajat konsenfrasi dalam mana saluran ini membentuk lengkungan seperti
medula renal, memungkinkan pembentukan urine
hipertonis. jepitan rambut dan meneruskan diri ke arah korteks
sebagai segmen tipis asendens Ansa Henle. Seg-
Nefron mulai sebagai suatu pelebaran bagian men tipis Ansa Henle terdiri atas sel-sel epitel sela-
tubulus berujung buntu dengan invaginasi, dikenal
sebagai kapsula Bowman. Sel-sel sebelah dalam pis gepeng (tipe I-IV) yang strukturnya bervariasi
yang mengalami modifikasi, lapis viseralis dikenal
sebagai podosit. Beberapa dari juluran primer tergantung padapermeabilitas terhadap air, banyak-
(utama), tetapi terutama juluran sekundernya dan nya organel dan kompleksitas taut lekat. Sel-sel tipe
pedikel akhir membungkus mengitari kapiler glo-
merulus. Kapiler-kapiler ini berlubang-lubang dengan I hanya ada di nefron kortikal, sedangkan sel-sel
tipe II,III dan IV ada di nefronjukstaglomerularis.
pori-pori besar (diameter 60-90 nm) tanpa diafragma.
Segmen tebal asendens Ansa Henle (juga
Lamina basalis yang tebal berasal dari podosit disebut pars rekta tubulus distal) terdiri atas sel-
dan sel-sel endotel kapiler saling berhadapan. Ruang sel selapis kubis yang menyerupai sel-sel dari tubu-
antara pedikel-pedikel yang berdekatan dikenal seba- lus kontortus distalis. Sel tubulus distal yang ber-
dekatan dengan arteriol aferen (dan eferen) glo-
gai celah filtrasi, dihubungkan oleh diafragma meruli bermodifikasi menjadi sel kubis tinggi, tipis
celah filtrasi yang tipis, terbentang dari satu pedi- yang intinya berdekatan satu sama lain. Daerah ini
kel ke pedikel di dekatnya. Jaringan interstisial ter- dikenal sebagai makula densa dari tubulus distal.
diri atas sel mesangial intraglomerularis dan Se1 makula densa berhubungan dengan sel otot
polos yang bermodifikasi yaitu sel-sel jukstaglome-
matriks ekstraselular yang dibentuknya juga ber- rularis (JG) dari arleriol aferen (dan eferen) glome-
kaitan dengan glomerulus. ruli. Makula densa dan sel-sel JG bersama-sama mem-
bentuk aparatus jukstaglomerularis. Seringkali,
Ultrafiltrat dari kapiler masuk ruang Bowman sel-sel mesangial ekstraglomerularis (sel-sel lacis)
(urinari) dan dialirkan dari situ melalui leher tubu- juga diduga termasuk aparatus jukstaglomerularis.
lus proksimal. Epitel selapis kubis dari tubulus
proksimal berpadu dengan epitel selapis gepeng Duktus Pengumpul,/ Duktus Koligens
lapis parietal kapsula Bowman.
Beberapa tubulus kontortus distalis bergabung
Sel-sel bagian berikutnya, tubulus kontortus dengan setiap duktus koligens, yang terdiri atas epitel
proksimal, mempunyai banyak brush border (mi- selapis kubis dimana membran lateral sel jelas ter-
lihat dengan mikroskop cahaya. Duktus koligens
krovili) pada permukaan lumennya. Membran turun dari juluran medula di korteks melewati pira-
mid ginjal. Saat turun, beberapa duktus koligens
plasma di lateral dan basalnya sangat berkelok-kelok, menjadi satu membentuk duktus Bellini, yang ber-
membenfuk sejumlah interdigitasi dengan mem- akhir pada area kribrosa. Sel-sel kubis dari tubulus
bran sel-sel di dekatnya. Lipatan plasmalema basal koligens ada dua jenis, yang terpulas pucat yaitu
yang banyak merupakan daerah yang kaya dengan sel prinsipal dan yang terpulas lebih gelap sel
interkalaris. Sel prinsipal mempunyai silia tunggal
mitokondria dan memberi gambaran bergaris jika
dilihat dengan mikroskop cahaya.
3?4 . Atlas Berwarna Htstologi
GAMBAR 16-1 Tubulus Uriniferus
Ginial Arteria renalis masuk dan vena renalis serta ureter keluar pada hilus. Medula
renal terdiri atas 10-18 piramid ginjal yang dikelilingi oleh korteks renal
yang ditempati oleh korpuskulum renis, tubulus kontortus distal dan
tubulus kontortus proksimal dan prosesus medularis.
Tubulus kontortus distal
Aderiol aferen
glomeruli
Tubulus kontortus proksimal (Sel-sel epitel kubis dengan
mikrovili pendek)
Arteriol
Tubulus distal terdiri atas sel-sel
eferen kubis rendah dengan mikrovili pen-
glomeruli dek dan jarang, mulai dari sebelah
dalam medula dari tubulus proksimal
berakhir.
Duktus koligens
(Sel-sel epitel kubis dengan
mikrovili panjang dan padat)
Tubulus proksimal terdiri atas sel-sel kubis (sel-sel epitel kubis)
dimana di membran basal tampak lipatan-
lipatan dalam (striata) ditempati mitokondria, Duktus koligens mempunyai sel-
pertanda transpor aktif. Bagian apikal mem- :ie3 sel kubis, mulai dari dalam prosesus
bran plasma tampak mikrovili panjang dan
banyak, menandakan absorpsi dan sekresi. medularis korteks, dan berakhir pada
Segmen tipis Ansa Henle area kribrosa.
(Sel-sel epitel gePeng) Segmen tebal Ansa Henle
Segmen tipis Ansa Henle terdiri atas sel-sel Arteria ffi
gepeng, panjang di jukstamedularis dan ffi ;Aie
sangat pendek di nefron kortikal. \"*:li ilJffi
(Sel-sel epitel kubis)
Arteria rekta dari vasa rekta mulai dari percabangan arteriol
eferen glomeruli dari nefron jukstamedularis. Pasangannya dari
nefron kortikal membentuk jala-jala kapiler peritubular di
korteks.
Sistem Urinarius . t75
GAMBAR 16-2 Korpuskulum Ginjal
Tubulus distal
Makula densa
Sel-sel jukstaglomerularis
(modifikasi otot polos)
Kapsula Bowman Polus vaskularis
(lapis parietal)
Kapsula Bowman
Ruang urinari (podosit Iapis viseral)
{
Lapis parietal Lapis parietal kapsula Bowman terdiri atas epitel
t:.' Polus urinarius selapis gepeng, sedangkan lapis viseralnya meng-
alami modifikasi membentuk podosit. Ultrafiltrat
: Sikat perbatasan masuk ruang Bowman (ruang urinari) dan mening-
(mikrovilli) galkan korpuskulum renalis pada polus urinarius,
Tubulus kontortus melalui tubulus kontortus proksimal. Arteriol aferen
proksimal glomeruli masuk dan arteriol eferen glomeruli
meninggalkan korpuskulum renalis pada polus
vaskularisnya, arteriol aferen glomeruli membawa
masuk darah dan arterioi eferen glomeruli mengo-
songkan darah dari glomerulus. Makula densa
menrpakan komponen tubulus kontortus distalis
mendekat ke sei-seljuksta glomerularis dari arteriol
aferen (dan eferen) glomeruli.
Endotel
Lamina basalis
Kapiler fenestrata yang menyusun glomerulus Juluran Celah filtrasi
dilapisi oleh pedikel yang dipercabangkan sekunder Badan sel podosit
(pedikel)
dari juluran primer podosit. Celah filtrasi
'L'". trt., '
antara pedikel yang berdekatan dijembatani t :t '''
oleh diafragma tipis yang berkaitan dengan
lamina basalis yang melebur dari endotel Juluran
kapiler dan podosit, berperan dalam pem-
sekunder
bentukan sawarfiltrasi. (pedikel)
Juluran primer
3?6 o Atlas Berwarna Histologi
sebelah apikal nonmotil, yang mungkin berfungsi Epitel transisional yang membatasi kandung
sebagai mekanosensot yartg mengawasi aliran kemih (juga saluran urin lainnya) membentuk
cairan sepanjang lumen tubulus. Sel prinsipal mem- sawar terhadap urin. Agar dapat melakukan fungsi-
punyai kanal ADH- yang sensitif aquaporin-2 yang nya, membran plasma dari sel yang paling permu-
memungkinkan sel permeabel terhadap air. Sel ini kaan lebih tebal dari pada membran plasma lainnya
juga mempunyai polikistin-1 dan polikistin-2 pada dan terdiri atas struktur kisi-kisi terdiri atas unsur-
plasmalemanya. Polikistin - dari dua protein adalah unsur yang berjalan secara heksagonal. Selanjur
suatu kanal kalsium, Sel-sel interkalaris ada dua nya, karena sel epitel transisional harus membatasi
ienis, A dan B; sel A membawa H* ke dalam lumen permukaan yang lebih lebar seperti membesarnya
kandung kemih, membran plasma melipat dengan
tubulus dan sel B menyerap H- dan mensekresi cara seperti mosaik. Lipatan terdapat pada daerah
antarplak, sedangkan daerah plak yang menebal
HCO.. memperlihatkan gambaran vesikular, yang mung-
Duktus Bellini kemudian menyalurkan urine kin menjadi tidak terlipat saat urine terkumpul
yang terbentuk oleh tubulus uriniferus ke saluran
intrarenal, disebut kaliks minor, selanjutnya dicu- dalam kandung kemih.
rahkan ke kaliks mayor dan kemudian ke dalam
pelvis dari ureter. Saluran keluar ini, dibatasi oleh Jaringan ikat subepitelial kandung kemih terdiri
epitel transisional, mempunyai jaringan ikat fibro- atas lamina propria dan tunika submukosa. Ketiga
elastis subepitelial, lapisan otot polos terdiri atas lapisan otot polos secara luas saling menyilang,
lapis longitudinal dalam dan sirkularis luar, juga membuatnya tidak dapat dibedakan pada beberapa
tunika adventisia dari j aringan ikat fibroelastis. daerah.
O SALURAN KELUAR Uretra pada pria berbeda dari wanita yang tidak
hanya panjangnya tetapi juga fungsinya dan epitel
EKSTRARENAL pembatasnya. Lamina propria pada kedua jenis
kelamin berisi kelenjar mukosa Littr6 dan kelen-
Saluran keluar ekstrarenal terdiri atas ureter, jar intraepitelial, yang melumasi permukaan uretra,
sehingga memudahkan keluarnya urin. Uretra di-
kandung kemih, dan uretra. Ureter dan kandung jelaskan dalam Bab 11 , "Sistem Reproduksi Wanita"
kemih juga dibatasi oleh epitel transisional. Ureter dan Bab 18, "Sistem Reproduksi Pria"
mempunyai lamina propria fibroelastis dan dua atau
tiga lapis otot polos, tersusun seperti di atas. Lapis
otot yang ketiga, lapis longitudinal paling luar'
tampak di sepertiga bagian bawah ureter.
Sistem Urinarius . 377
rl
@ Histofisiologi
I. PEM BENTU KAN U LTRAFI LTRAT II. FUNGSI TUBULUS PROKSIMAL
Karena arteria renalis merupakan percabangan lang- Pada orang sehat tubulus proksimal menyerap kem-
sung dari aorta abdominalis, kedua ginjal menerima bali sekitar 80Vo air, natrium dan klorida dari ultra-
20Vo daivolume darah keseluruhan per menit. Keba- filtrat. Selain itu, tubulus proksimal menyerap kem-
nyakan darah ini memasuki glomeruli, dimana tekanan bali semua protein, asam-asam amino dan glukosa
arteri yang tinggi memberikan sekitar 10% volume dari ultrafiltrat. Bahan-bahan yang diserap kembali
dikernbalikan ke dalam jala-jala kapiler peritubular
cairan yaitu 1.25 rnl/ment ke dalam ruang Bowman. dari labirin korlikal untuk didistribusikan ke bagian
Tekanan vaskular dilawan oleh dua kekuatan yaitu tubuh lainnya. Perpindahan natrium melalui meka-
tekanan koloid osmotik darah dan tekanan yang nisme transpor aktif mempergunakan suatu pompa
ditimbulkan oleh adanya ultrafiltrat dalam ruang
Bowman. Namun, ratarata tekanan filtrasi, mem- natrium-kalium-ATPase dalam plasmalema
perlihatkan ultrafiltrat dari darah ke dalam ruang basal, dengan klorida dan air ikut secara pasif.
Bowman, adalah relatif tinggi, sekitar 25 mmHg.
Karena garam dan air diserap kembali dalam kon-
Sawar filtrasi ginjal, terdiri atas sel endotel sentrasi yang ekuimolar, osmolaritas ultrafiltrat
tidak berpengaruh dalam tubulus proksimal, tetapi
dengan lubang-lubang, lamina basalis yang men- tetap sama seperti dalam darah. Protein yang
jadi satu dari podosit dan kapiler, dan celah filtrasi mengalami endositosis dipecahkan menjadi asam-
antara pedikel yang dihubungkan diafragma, hanya
memungkinkan lewatnya air, ion-ion dan molekul- asam amino yang juga dilepaskan ke dalam
molekul kecil ke dalam ruang Bowman. Adanya
polianionik heparan sulfat dalam lamina rara dari interstisial ginjal untuk didistribusikan melalui
lamina basalis menghalangi lewatnya protein besar sistem vaskular. Tubulus proksimal iuga men-
dan bermuatan negatif melalui sawar. Selanjutnya,
kolagen tipe IV dari lamina densa bekerja sebagai sekresi asam-asam organik, basa dan zat-zatlainke
saringan molekul dan menghalangi protein yang dalamultrafiltrat.
lebihbesar dari 69.000 MW.
III. FUNGSI SEGMEN TIPIS
Untuk memperlahankan efisiensi sistem filter, ANSA HENLE
sel mesangial intraglomerularis memfagosit Segmen tipis desenden Ansa Henle adalah benar-
benar permeabel terhadap air dan garam, sehingga
lamina densa, yang kemudian diperbarui melalui ultrafiltrat dalam lumen akan berusaha menye-
aksi bersama dari podosit dan sel endotel. Selain itu, imbangkan osmolaritasnya dengan interstisial renal
sel mesangial intraglomerularis juga membentuk di sekitarnya.
matriks mesangial sekitar sel itu sendiri dan mele-
Segmen tipis asenden hampir tidak permeabel
paskan prostaglandin, interleukin-1 dan sitokin
lainnya. Sel-sel ini juga bersifat kontraktil, bahwa terhadap air tetapi relatif permeabel terhadap
melalui konstriksi glomerulus, mengubah tekanan garam; jadi pergerakan air dihalangi, tetapi natrium
darah dalam jala-jala glomerulus. Akhirnya, sel-sel dan klorida tidak. Ultrafiltrat akan dipertahankan
mesangial intraglomerularis membentuk suatu struk- osmolaritasnya yang sama seperli interstisial renal
tur penyokong untuk glomerulus. Plasma yang ter- dengan sekitamya ketika gradien konsentrasi menu-
modifikasi yang memasuki ruang Bowman dikenal run mendekati korteks.
sebagai ultrafiltrat.
378 . Atlas Berwarna Histologi
IV. FUNGSI TUBULUS DISTAL VI. KONSENTRASI URINE
A. Nefron (Gountercurrent
Pars rekta tubulus distal (segmen tebal asenden
Ansa Henle) tidak permeabel terhadap air tetapi Multiplier System)
mempunyai suatu kotransporter Na* lK.l2C1 pada
permukaan lumen dari sel-selnya yang secara aktif Konsentrasi urine halya terjadi di nefronjukstaglo-
merularis, dimana segmen tipis Ansa Henle yang
memompa natrium dan klorida dari lumenke dalam panjang berfungsi dalam penentuan derajat kon-
sentrasi osmotik. Derajat ini secara perlahanlahan
sel. Sisi basal terletak pompa Na. / K. ATPase meningkat dari 300 mOsm,/L dalam interstisial
medula sebelah luar sampai sekitar 1.200 mOsm/L
mernindahkan natrium dan klorida ke luar sel ke- padapapilarenalis.
dalam interstisial renal. Namun, karena air tidak
dapat masuk atau meninggalkan lumen, ultrafiltrat Kotransporter Na* /K*/ ZCT dari segmen tebal
adalah hipoosmotik dengan berlangsungnya waktu asendens Ansa Henle memindahkan ion klorida dan
air mencapai daerah makula densa. ion natrium dari lumen ke dalam interstisial ginjal.
Air tidak bisa keluar; karena itu kadar garam dari
Tubulus kontortus distal, yang sel-selnya mem- interstisial meningkat. Karena suplai natrium dan
punyai reseptor aldosteron, menyerap kembali ion klorida dalam segmen tebal asendens menurun
natrium dari ultrafiltrat dan mensekresi hidrogen, ketika ultrafiltrat lewat ke arah korteks (karena
secara terus menerus dipindahkan dari lumen),
kalium dan ion amonium ke dalam ultrafiltat,yang natrium dan klorida yang ada untuk transpor makin
kemudian disalurkan ke duktus koligens. berkurang; akibatnya, kadar garam interstisial menu-
run mendekatikorteks.
V. FUNGSI APARATUS
JUKSTAGLOMERULARIS Derajat konsentrasi osmotik dari medula sebe-
lah dalam, sebelah dalam dari pertemuan segmen
Diketahui bahwa sel makula densa mengawasi tipis dan segmen tebal Ansa Henle asendens, diken-
osmolaritas dan volume ultrafiltrat. Jika keduanya dalikan oleh urea daripada oleh natrium dan klorida.
meningkat, sel-sel makula densa melalui gap junction, Ketika ultrafiltrat berialan menuruni segmen
tipis desendens Ansa Henle, ultrafiltrat bereaksi
memerintahkan sel jukstaglomerularis untuk untuk meningkatkan derajat konsentrasi osmotik
melepaskan enzim proteolitik yang disimpannya dalam interstisial. Air dan garam pindah memasuki
lumen, menurunkan volume dan meningkatkan
yaitu renin, ke dalam aliran darah. Renin memecah kadar garam dari ultrafiltrat (yang menjadi hiper-
dua asam amino dari dekapeptida yang beredar tonik).
dalam darah yaitu angiotensinogen, mengubahnya
menjadi angiotensin I, ymg selanjutnya dipecah- Dalam segmen tipis asendens Ansa Henle, air
kan oleh enzim konversi yang terletakpadapetmu- dipertahankan tetapi garam bisa meninggalkan
kaan lumen kapiler (terutama di paru), membentuk ultrafiltrat, menurunkan osmolaritasnya dan ikut
mempertahankan deraj at konsentrasi osmotik.
angiotensin II. Vasokonstriktor yang kuat ini juga
B. Duktus koligens
segera melepaskan mineralokortikoid aldosteron
dari korteks suprarenalis. Ultrafiltrat yang masuk duktus koligens adalah
hipoosmotik. Ketika ultrafiltrat menuruni duktus
Aldosteron berikatan ke reseptor pada sel tubu- koligens mengalami peningkatan derajat osmotik
lus kontortus distalis, langsung menyerap kem-bali
natrium (dan klorida) dari ultrafiltrat. Penambahan dari interstisial renal.
natrium ke kompartemen ekstraselular menye-
babkan retensi cairan dengan akibat peningkatan
tekanan darah.
Sistem Urinarius . t79
Hormon antidiuretik (ADH) dilepaskan dari lengkung kapiler ini seluruhnya permeabel terha-
dap garam dan air. Jadi, saat darah turun dalam
pars nervosa hipofisis, sel-sel duktus koligens men-
jadi permeabel terhadap air, meninggalkan lumen arteria rekta, darah menjadi hiperosmotik, tetapi
duktus koligens, meningkatkan konsentrasi urine. saat naik dalam vena rekta, osmolaritasnya kembali
normal.
Bila tidak ada ADH sel-sel duktus koligens tidak
permeabel terhadap air dan urine tetap hipotonis. Juga penting untuk diketahui bahwa arteria
rekta membawa volume yang lebih kecil daripada
Duktus koligens juga berperan dalam membiar- vena rekta, memungkinkan perpindahan cairan dan
kan urea berdifusi ke dalam interstisial medula
sebelah dalam. Osmolaritas interstisial yang tinggi garam ke dalam interstisial renal oleh tubulus
di daerah ini berkaitan dengan konsentrasi urea.
uriniferus.
G. Vasa rekta (Gountercurrrent
Exchange System)
Vasa rekta membantu dalam memperlahankan
derajat konsentrasi osmotik dari medula renal, karena
* *.sl,r
s.*,
CONTOH KASUS KLINIS
Bau Urine dan Warna Urine merkuri atau karbon tetraklorida. atau mati karena
syok kardiovaskular yang berat yang mengurangi
Bau dan wama urine mungkin memberi petunjuk ke aliran darah ke ginjal. Sel-se1 yang mati menjadi
kondisi penyakit individu. Urine normal selain tidak terkelupas dan menyumbat lumen tubulusnya. Jika
berwarna atau berwarna kuning jika urine menjadi Iamina basalis tetap utuh, pembelahan sel epitel mung-
pekat. Demikian juga, urine yang encer mempunyai kin dapat memperbaiki kerusakan dalam waktu kurang
sangat sedikit bau, sedangkan urine yang pekat mem- dari 3 minggu.
punyai bau menyengat. Jika wama urine kemerahan,
individu mungkin mempunyai porfiria atau darah Glomerulonefritis Akut
segar dalam urine;jika warnanya coklat, kemungkinan
terjadi pemecahan hasil akhir otot yang rusak atau Glomerulinefritis akut biasanya akibat infeksi Strep-
pemecahan hasil akhir hemoglobin dalam urine. Warna tokokus beta setempat pada suatu daerah tubuh lain
gelap dapat karena adanya pigmen melanin dalam
urine, sedangkan urine keruh bisa merupakan tanda daripada ginjal (misalnya kerongkongan). Sel-sel
adanya laistal asam atau adanya pus yang berasal dari
infeksi saluran urine. Selain itu, obat-obatan tertentu plasma mensekresi antibodi yang berikatan dengan
dapat menyebabkan perubahan warna urine dan pasien antigen sffeptokokus, membentuk kompleks antigen-
sebaiknya diingatkan nantinya mengenai pembahan antibodi yang tidak larut yang disaring oleh lamina
warna urinenya. Perubahan dalam bau urine dapat basalis antara podosit dan sel-se1 endotel glomemlus.
karena diabetes yang tidak terkendali (bau manis); bau Ketika kompleks imun terbentuk pada lamina basalis
pesing dapat menandakan adanya infeksi saluran glomeruli, sel epitel dan sel mesangial berproliferasi.
urine; dan bau busuk dari urine pada pasien muda
mungkin menandakan fenilketonuria. Selain itu, leukosit berkumpul dalam glomerulus,
memadat dan menyumbat glomerulus. Lebih jauh,
Nekrosis Tubular
agen farmakologik lepas pada tempat kerusakan menye-
Nekrosis tubular mungkin akibat gagal ginjal akut. Sei babkan glomerulus menjadi bocor, dan protein, trom-
tubulus renalis mati, baik karena keracunan karena bosit dan eritrosit mungkin masuk filtrat glomerulus.
paparan pada bahan kimia beracun, seperti halnya Biasanya setelah inflamasi akut berkurang, glome-
rulus membaik sendiri dan fungsi ginjal kembali nor-
mal. Terkadang, kerusakan demikian luas dan gang-
guan fungsi ginjal menjadi menetap.
38o . Atlas Berwarna tlistologi
Diabetes Insipidus pemeriksaan mikroskopik urine. Biasanya, kanker
Diabetes insipidus terjadi karena kerusakan sel ginjal disertai dengan nyeri dan demam, tetapi sering-
hipotalamus yang membentuk ADH (hormon anti- kali kanker ginjal ditemukan melalui palpasi abdomen
diuretig. Kadar ADH yang rendah mempengaruhi selama pemeriksaan fisik rutin, ketika dokter menge-
kemampuan tubulus koligens ginjal untuk memekat- tahui suatu benjolan di daerah ginjal. Jika kanker tidak
kan urine. Kehilangan cairan yang berlebihan dalam bermetastasis, pilihan pengobatan adaiah pengang-
bentuk jumlah urine yang sangat banyak serta encer katan ginjal yang terkena dan nodus limfatikus regio-
mengakibatkan polidipsia (rasa haus yang berlebihan) nal. Karena kanker ginjal menyebar secara dini dan
dan dehidrasi. biasanya ke paru, prognosis adalah buruk, tetapi terapi
interleukin-2 terlihat menjanjikan.
Batu Ginjat
KankerKandungKemih
Batu ginjal biasanya terbentuk karena keadaan yang
dikenal sebagai hiperparatiroidisme, dimana pem- Setiap tahun ada lebih dari 50.000 kasus baru karsi-
bentukan hormon paratiroid yang berlebihan (PTH) noma sel transisional dari kandung kemih di Amerika
oleh kelenjar paratiroid mengakibatkan peningkatan Serikat. Yang menarik, hampir 657o individu yang
kadar aktivitas osteoklastik. Resorpsi tulang, demikian terkena adalah pria dan sekitar setengah dari pasien-
juga peningkatan absorpsi kalsium dan fosfat dari pasien ini adalah perokok. Gejala yang mencolok dari
saluran cerna, terjadi lebih tinggi daripada kadar kal- kanker kandung kemih adalah adanya darah dalam
sium darah yang normal. Karena ginjal mengekskresi urine, diikuti dengan rasa terbakar dan nyeri waktu
lebih daripada normal kadar kalsium dan fosfat, kebe-
radaannya dalam.urine, terutama pada kondisi alkalis, berkemih, demikian juga meningkatnya frekuensi
menyebabkan pengendapan pada tubulus ginjal. Penam- dorongan untuk berkemih. Meskipun gejala ini
bahan terus menerus ion-ion ini ke permukaan kristal
menyebabkan peningkatan ukuran kristal dan kristal seringkali dikacaukan dengan sistitis, kondisi ini men-
ini dikenal sebagai tratu ginjal. jadi mencurigakan ketika antibiotika gagal meringan-
kan masalah dan sitologi urine memperlihatkan ada-
KankerGinjal nya sel-sel transisional kanker. Jika secara dini diketa-
Kanker ginjal biasanya tumor padat, sedangkan kista hui, sebelum karsinoma menyebuk ke jaringan yang
ginjal biasanyajinak. Gejala yang paling sering dari lebih dalam, angka ketahanan hidup sebesar 95%;
kanker ginjal adalah adanya darah dalam urine, namun, bila tumor secara cepat membelah menyebuk
lapisan muskular kandung kemih dan mencapai nodus
meskipun jumlah darah mungkin tidak diketahui tanpa limfatikus, angka ketahanan hidup 5 tahun tunrn sam-
paik.urangdai45Vo.
Sistem Urinarius o 381
.SAfdffiAR tr Korteks dan medula ginjal. Manusia. .&AMSAR S Korteks ginjal. Manusia. Paraffin
Paraffin section. x 14. section. x 132.
Korteks ginjal dan bagian medula ditunjukkan Berbagai komponen bagian labirin korteks dan
dengan pembesaran lemah untuk memberikan
gambaran dalam susunan korteks. Kapsula (Ca) bagian dua prosesus medularis tampak di sini.
renalis tampak tipis, sebagai garis tipis pada bagian Kedudukan fotomikroskopik ini tegak lurus terhadap
atas fotomikroskopik. Daerah yang lebih gelap di
bawah, menempati setengah bagian atas foto- Gambar 1. Perhatikan dua korpuskulum renal
mikroskopik adalah korteks (C), sedangkan lebih (RC) di tengah fotomikroskopik tampak artefak
bawah daerahnya lebih jernih adalah medula (M). sedikit mengerut dan karena itu jelas memper-
Perhatikan juluran longitudinal dari medula tampak lihatkan ruang Bowman (BS). Korpuskulum renal
dikelilingi oleh potongan melintang tubulus kon-
masuk ke korteks; ini dikenal sebagai prosesus
medularis (MR). Jaringan antara prosesus medu- tortus proksimal (PT), tubulus kontortus
laris tampak berkelok-kelok dan dikenal sebagai distal (Df) dan makula densa (MD). Karena
labirin korteks (CL). Daerah ini ditempati oleh
struktur yang bulat, padat yaitu korpuskulum tubulus kontortus proksimal lebih panjang daripada
renal (RC). Ini merupakan bagian pertama dari tubulus kontortus distal, maka jumlah tubulus kon-
tortus proksimal sekitar korpuskulum renal melebihi
nefron dan letaknya dalam korteks menunjukkan awal gambaran tubulus kontortus distal dengan per-
bandingan sekitar 7 berbanding 1. Prosesus medu-
perkembangannya, juga fungsinya. Bangunan ini
dinamakan nefron superfisial (1), nefron mid- laris berisi pars rekta (PR) dari tubulus prok-
kortikal (2) atau nefron jukstamedularis (3). simal, segmen tebal pars asenden Ansa
Setiap prosesus medularis dan setengah labirin
Henle (AT) dan duktus koligens (CT).
korteks pada kedua sisinya men''usun lobulus ginjal.
.6AM&Afr { Ginjal disuntik dengan koloidin
Lobulus ini meluas ke dalam medula, tetapi batasnya
secara histologik tidak dapat ditentukan (kira-kira benruarna. Paraffin section. x 132,
oleh garis vertikal). Pembuluh darah besar pada
Jaringan ini dipersiapkan dengan memberi suntikan
peralihan kortikomedularis adalah pembuluh pada arteri renalis dengan koloidin berwama dan irisan
arkuata (A$, sedangkan yang ada dalam labirin tebal dilakukan untuk memperlihatkan percabangan
korteks adalah pembuluh interlobularis (M. pembuluh darah di korpuskulum renal. Setiap korpu-
kulum renal berisi juluran kapiler yaitu glome-
&AI1Il$&R X . Kapsula ginjal. Monyet. Plastic
rulus (G), yang mendapatkan darah dari arteriol
section. x 540. aferen glomerulus (AA) dan aliran keluarnya
melalui arteriol eferen glomerulus (EA). Per-
Ginjal dibungkus oleh kapsula renal (Ca) yang
terdiri atas jaringan ikat padat kolagen berisi fibro- hatikan diameter luar arteriol aferen glomerulus lebih
blas (Fb). Meskipun struktur ini tidak mempunyai besar daripada arteriol eferen glomerulus; namun,
banyak pembuluh darah, jaringan ini mempunyai diameter kedua lumennya kira-kira sama. Hal ini
beberapa pembuluh kapsular (CV). Perhatikan penting untuk mengetahui bahwa glomerulus adalah
adanya sejumlah eritrosit dalam lumen pembuluh jala-jala kapiler arteri; karena itu tekanan dalam
ini. Lapisan kapsula yang lebih dalam mempunyai pembuluh ini lebih besar daripada jala-jala kapiler
banyak jala kapiler (CN) yang mendapatkan yang biasa. Hal ini rnenyebabkan tekanan filtrasi lebih
efektif. Pembuluh darah besar pada kanan bawah
darah dari ujung arteria interlobularis dan seterus-
nya dialirkan ke vena stellata yang merupakan per- adalah arteria interlobularis (tA) dan merupa,
cabangan dari vena interlobularis. Perhatikan kan awal percabangan dari arteriol aferen glomerulus.
potongan melintang tubulus kontortus proksi-
mal (PT).
- 'r '"1"Tubulus koligens
j;;j
382 . Atlas Berwarna Histologi lr.'.r..'r{.rl,:.-,'li!;1jr,;iirrl:r!rr:" Ginjal
--.--ca
t-GAMEAnT-l t-effis&m a I
KUNCI [eAmBAR s I
AA arteriol aferen CN jala-jala kapiler IV Pembuluh interlobulatis
AT segmen tebal CT tubulus koligens M medula
CV pembuluh kapsular MD makula densa
asendens AnsaHenle DT tubulus kontofius distal MR prosesus medularis
AV pembuluh arkuata EA arteriol eferen PR pars rekta
BS ruang Bowman Fb fibroblas PT tubuluskontortusproksimal
C korteks G glomeruius RC korpuskulumrenis
Ca kapsula IA
CL labirinkortikal arteriainterlobularis
Sistem Urinarius . t8t
**MmA8 t r Labirin Korteks Ginjal. Monyet. .6&M#&S S Labirin Korteks Ginjal, Monyet.
Plasticsection.x210. Plasticsection.xZl0.
Di tengah fotomikroskopik ini ditempati korpuskulum Polus vaskularis dari korpuskulum renis ini sangat jelas
renal. Polus urinarius tampak sebagai leher yang pendek terlihat. Dalam daerah ini arteriol aferen glomeru-
lus (AA) memasuki korpuskulum renis dan arteriol
menuju ke dalam bagian kontortus dari tubulus eferen glomerulus (EA) keluar, meninggalkan glo-
proksimal (PT). Korpuskulum renal terdiri atas merulus. Perhatikan kedua pembuluh ini dan kapiler-
glomerulus (G), juluran kapile4 lapis viseral kapsula kapilernya disokong oleh sel-sel mesangial (Mg).
Bowman (podosit) yang berkaitan dengan glomerulus Perhatikan meski diameter arteriol aferen glomerulus
yaitu ruang Bowman (BS) ke dalam ruang ini ultra- lebih besar daripada yang di arteriol eferen glomerulus,
lumennya mempunyai diameter yang lebih kurang sama.
filtrat di keluarkan dari kapiler dan lapis parietal (PL) Korpuskulum renis dikelilingi oleh potongan melintang
kapsula Bowman yang terdiri atas epitel selapis gepeng. tubulus distal (DT) dan tubulus proksimal (pT).
Selain itu, sel-sel mesangial juga ada di korpuskulum
renal. Kebanyakan gambaran tubulus sekitar renal DaeralT korak diperlihatkan dengan pembesaran kuat
korpuskulum adalah potongan melintang tubulus dalam Gambar 4.Sisipan. Glomerulus. Ginjal. Monyet.
proksimal (PT) yang terpulas lebih gelap, jumlahnya Plastic section. x 720. Glomerulus terdiri atas kapiler-
lebih banyak potongan melintang tubulus distal (DT)
kapiler yang inti sel endotel (En) nya menonjol ke
yang terpulas lebih jernih. dalam lumen. Sel-se1 endotel terpisah dari podosit (p),
.&AmSS,e* ? Labirin Kofteks Ginjal. Monyet. yaitu modifikasi sel-sel lapis viseral kapsula Bowman
dengan adanya lamina basalis yang tebal (panah). Sel-
Plastic section. x 210. sel mesangial (Mg) membentuk unsur penyokong dan
Korpuskulum renal di tengah gambar fotomikroskopik unsur fagosit dari korpuskulum renis. perhatikan
memperlihatkan seluruh ciri-ciri khas dalam Gambar 1,
kecuali yang sebagai polus urinarius, ada terlihat polus cabang-cabang utama (bintang) dari podositjuga dapat
dibedakan dalam gambar fotomikrokopik ini.
vaskularis ftP). Tempat itu adalah daerah dimana
.fi&ffiSffi&* 4 Aparatus jukstaglomerularis. Ginjal.
arteriol aferen glomeruli dan arteriol eferen glomeruli
masuk dan meninggalkan korpuskulum renal. Beberapa Monyet. Plastic section. x 1.325.
sel-sel otot polos dari arteriol aferen (dan kadang-kadang
eferen) glomeruli mengalami modifikasi mengandung Daerah kotak dalam Gambar 3 dibesarkan untuk meli-
granula renin. Sel-sel yang mengalami modifikasi ini
hat aparatus jukstaglomerularis. Ini terdiri atas makula
disebut sel-sel jukstaglomerularis (JC). Sel-sel ini densa (MD) yaitu daerah di tubulus distal dan tampak
erat berkaitan dengan daerah makula densa (MD) sel jukstaglomerularis (JC) yang merupakan modi-
fikasi sel-sel otot polos dari arteriol aferen glo-
dari tubulus distal. Juga, perhatikan bahwa kebanyakan merulus (AA). Perhatikan granula (kepala panah)
potongan melintang adalah tubuius mengelilingi kor- dalam sel jukstaglomerularis, yang diketahui adalah
puskulum renal kepunyaan bagian yang berkelok-kelok enzlm renin. Perhatikan inti (bintqng) sel-sel endotel
dari tubulus proksimal (PT) sementara hanya satu yang membatasi arteriol aferen glomerulus.
atau dua adalah tubulus distal. Perhatikan korteks renalis
mengandung banyak pembuluh darah (BV), serta
sedikit unsurjaringan ikat (panah) dengan pembuluh-
pembuluhini.
Kapsula Bowman Polus vaskularis
(lapis parietal)
Kapsula Bowman
(podosit lapis viseral)
Polus urinarius
Endotel Podosit
Juluran sekunder 1\
(pedikel)
384 . Atlas Berwarna Histologi Juluran primer Korpuskulum ginjal
#",t-;#ffi
ffi*--*;t;"t;'
:;'T+!:,69"T ';, 1" :;
*.;:Jii*-#*;
** .,' ''t.i' *F
;i t,. ,,
*'",i' +
,
ir" $3
IEAMBAn,l I GAMsAn a I
KUNCI En sel endotel P podosit
G glomerulus PL lapis parietal
AA arteriol aferen JC sel jukstaglomerularis PT tubulus proksimal
BS ruangBowman MD makuladensa VP polus vaskularis
BV pembuluh darah Mg selmesangial
DT tubulus distal
EA arteriol eferen
Sistem Urinarius . 385
&AMBAR t . Gambar scanning elektron mikros- x 6000. (Seizin Ross MH, Reith EJ, RomrellLJ.
kopi suatu glomerulus, memperlihatkan juluran Histology. A Text and Atlas. 2nd ed. Baltimore:
primer dan juluran sekunder dan pedikel dari
IWilliam Wilkins.:5361
podosit, Atas. x 700; bawah, x 4000; dan sisipan
386 . Atlas Berwarna Histologi
SASfi&AR * . Korteks ginjal. Korpuskulum renis. (RBC) dan sel endotel (En). Sisipan. Podosit
dan glomerulus. Mencit. Mikroskop elektron.
Mencit. Mikroskop elektron. x 3.780.
x 6300. Ini adalah pembesaran kuat daerah kotak,
Berbagai komponen korpuskulum renal diperlihat- memperlihatkan sebagian podosit. Perhatikan inti (N),
kan dalam gambar mikroskop elektron ini. Perhati-
kan lamina basalis (kepala panah) memisahkan sel- juluran utama (MP) dan pedikel (Pe). Perha-
tikan pedikel terletak pada lamina basalis (BL)
sel epitel selapis gepeng dari lapis parietal (PL) kap-
sula Bowman dari interstisial ginjal (RI). Ruang yang terdiri atas lamina rara eksterna, lamina densa
Bowman (BS) dan podosit (P) terlihat untuk meng-
amati glomeruli (G) dan pedikel (Pe) sekelilingnya. dan lamina rara interna. Perhatikan lubang-lubang
Sel mesangial (Mg) menempati ruang antara
lengkungkapiler danjuga tampakbeberapa eritrosit (fenestra) (panah) dipembatas endotel (En) glome-
rulus. Ruang antara pedikel, disebut celah filtrasi
(FS), menjurus ke dalam ruang Borrman (B S).
Sistem Urinarius . 387
GAfV{BAR 1 . Medula renalis. Monyet. Plastic .SAMSAR 3 Papila renalis. x.s. Monyet. Plastic
section. x 270. section. x 540.
Gambar fotomikroskopik ini dari medula renalis Pada sisi sebelah dalam medula renal, duktus koli-
memperlihatkan susunan berbagai struktur tubulus gens satu sama lain menjadi satu, membentuk
dan vaskular. Unsurjaringan ikat antara tubulus dan saluran yang lebih besar. Saluran yang paling besar
vaskular sangat kasar dan terutama fibroblas, makro- ini disebut duktus papilaris (PD) atau duktus
fag dan serat-serat (bintang). Unsur tubulus yang
Bellini yang mudah dikenali dengan adanya sel torak
utama ternyata adalah duktus koligens (CT), yang tinggi, pucat dan sisi lateral membran plasma
dikenali karena membran plasma bagian lateral dari yang jelas (panah). Duktus ini terbuka pada apeks
papila renal, di dalam daerah yang dikenal sebagai
sel-sel kuboid tinggi (atau torak rendah) adalah area kribosa. Segmen tipis Ansa Henle (TL) jelas
segmen tebal Ansa Henle (TH) dan terkadang
terlihat. Bangunan ini membentuk Ansa Henle
segmen tipis Ansa Henle (TL). Banyak unsur
seperti jepitan rambut di daerah ini, dimana segmen
vaskular terlihat; ini adalah vasa rekta spuria yang
dinding segmen desenden lebih tebal adalah arteriol tipis asenden kembali naik dalam medula, yang
rekta spuria (AR) dan dinding segmen asenden akhirnya menjadi lebih tebal, membentuk bagian
yang lebih tipis adalah venula rekta spuria CVR) lurus tubulus distal. Perhatikan bahwa arteriol
rekta spuria (AR) danvenula rekta spuria CVR)
SAMSAR 2 . Papila renalis. x.s. Manusia. Paraffin
mengikuti jalannya segmen tipis Ansa Henle masuk
section. x 270. ke dalam papila renal. Beberapa unsur jaringan ikat
ditandai deng an bintang.
Unsur tubular yang paling banyak dari papila renal
adalah duktus koligens (CT) dengan sel-sel kuboid- .SAMBAA 4 Medula renalis. Ls. Monyet, Plastic
nya, dimana membran lateral plasma jelas terlihat.
Sejumlah bangunan yang berdinding tipis adalah section. x 270.
segmen tipis Ansa Henle (TL), juga arteriol rekta Gambar fotomikroskopik ini serupa dengan Gambar L,
spuria (AR) danvenula rekta spuria [VR) mung- kecuali lebih longitudinal daripada potongan melin-
kin dapat dikenali karena adanya darah dalam
lumennya. Unsur jaringan ikat (bintang) dapat ter- tang medula renal. Di tengah ditempati duktus
lihat dalam interstisial antara berbagai tubulus gin- koligens (CT), ditandai dengan adanya sel kuboid
jal. Terkadang segmen tebal Ansa Henle (TH)
tinggi dimana membran lateral plasma jelas terlihat.
mungkin dapat diamati.
Duktus koligens didampingi oleh segmen tebal
Tubulus Tubulus kontortus distal Ansa Henle (TH). Vasa rekta terisi dengan darah
kontortus dan ketebalan dindingnya terlihat apakah arte-riol
proksimal Arteriol aferen rekta spuria (AR) atauvenula rekta spuria (VR).
glomeruli
Segmen tipis Ansa Henle (TL) juga dapat
dikenali.
Segmen tebal Ansa Henle
Duktus koligens
Segmen tipis
Ansa Henle
Tubulus uriniferus
388 . Atlas Berwarna Histologi
feArvrsART-l
* 1u
& *#+$
@iS
ss
TF 4
$ds
#
*
j'
I
&s
I'sgt'i U
s ;h;
,' :,g
s,'
IEAMBAng-l [sAmmn 4 I
AR arteriol rekta spuria PD duktus papilaris TL segmen tipis ansa Henle
CT duktus koligens TH segmen tebal ansa VR venularekta spuria
Henle
Sistem Urlnarius . 589
*A&qffiAR 1 . Ureter. x,s. Manusia. Paraffin section. GA&4BAR 2 o Ureter. x.s. Monyet. Plastic section.
x 132.
x 14.
Pembesaran kecil fotomikroskopik ini adalah ureter, Mukosa sangat berkelok-kelok dan terdiri atas epitel
memperlihatkan lumen (L) yang berbentuk bintang transisional yang tebal dimana permukaan atasnya
dan epitel (E) pembatas yang tebal. Bagian yang mempunyai sel'sel berbentuk kubah (D) yang
saling berhadapan antara jaringan ikat sub- khas. Lapisan sel-sel basal duduk pada lamina basalis
(panah), yang memisahkan epitel dari jaringan ikat
epitel (SCT) dan otot polos pembungkus (SM)
fibrosa di bawahnya. Tunika muskularis terdiri atas
diberi tanda panah. Otot polos pembungkus dikeli- tiga lapisan otot polos: longitudinalis dalam (IL),
sirkularis tengah (MC) dan longitudinalis luar
lingi oleh tunika adventisia (Ad) dari jaringan
(OL). Ketiga lapisan ini tidak selalu ada, untuk lapisan
fibrosa, yang ditempati sejumlah pembuluh darah longitudinalis luar hanya ditemukan di seperriga bagian
dan serat-serat saraf yang berjalan dengan ureter. bawah ureter, yaitu bagian paling dekat dengan kan-
Jadi, dinding ureter terdiri atas tunika mukosa (epitel
dan jaringan ikat di bawahnya), tunika muskularis dung kemih. Tunika adventisia (Ad) terdiri atas
dan tunika adventisia. jaringan ikat fibrosa yang melekatkan ureter pada
&AM$&R S o Kandung kemih. Monyet. Plastic dinding posterior tubuh dan bangunan di sekitarnya.
section. x 14.
rSSI\$BAR 4 Kandung kemih. Monyet. Plastic
Kandung kemih menyimpan urine sampai siap untuk
dikeluarkan. Karena volume kandung kemih berubah- section. x 132.
ubah sesuai dengan jumlah urine yang di dalamnya,
mukosanya mungkin berlipat atau tidak berlipat. Kandung kemih dibatasi oleh epitel transisional
jaringan yang di sini tidak teregang, karena itu (TE), yang mempunyai ciri sel-sel di permukaannya
banyak lipatan (panah). Selanjutnya, epitel transi- berbentuk kubah. Beberapa sel-sel ini mempunyai
sional (TE) dalam sajian inijuga tebal, sedangkan
inti dua. Epitel dipisahkan dari jaringan ikat di
dalam fase teregang, epitel akan menjadi lebih tipis.
Perhatikan juga tebalnya tunika muskularis terdiri bawahnya oleh lamina b asalis (ponah). Jaringan ikat
atas tiga lapisan otot polos: longitudinalis dalam subepitel ini sering dibagi menjadi lamina propria
(IL), sirkularis tengah (MC) dan longitudi- (LP) dan tunika submukosa (Sm). Daerah ini
nalis luar (OL). Lapisan otot dikelilingi baik oleh
tunika adventisia, yang terdiri atas jaringan ikat mendapatkan darah yang tampak adanya sejumlah
jarang seperti tampak dalam fotomikroskopik ini venula (V) dan arteriol (A). Pembuluh ini mem-
atau dikelilingi oleh tunika serosa, tergantung pada
daerah kandung kemih mana yang diperiksa. punyai percabangan yang lebih kecil dan memper-
darahi daerah yang lebih dekat ke epitel. Sisipan.
Epitel transisional. Monyet. Plastic section.
x 540. Daerah kotak dari epitel transisional diper-
lihatkan dengan pembesaran kuat, untuk memper-
lihatkan sel-sel besar yang berbentuk kubah (ponah)
pada permukaan bebasnya. Sel-sel ini adalah khas
untuk kandung kemih yang kosong. Bila bangunan
itu meregang karena urine, sel-sel yang berbentuk
kubah berubah menjadi gepeng dan seluruh epitel
menjadi lebih tipis (dari lima sampai tujuh lapis
ketebalannya menjadi hanya tiga lapis sel). perhati-
kan, kadang-kadang sel berinti dua.
39O . Atlas Berwarna Histologi
l-fiAnrBAn:l
[_eAJrsiA* 3 l l-sAmEARl-l
KUNCI L lumen SCT jaringan ikat subepitei
LP laminapropria SM sa.rung otot polos
A arteriol MC tunika muskularis tunika submukosa
Ad tunikaadventisia Sm epitel transisional
D selberbentukkubah sirkularis tengah TE venula
E epitel tunika muskularis
L tunikamuskularis Iongitudinalis luar V
longitudinalis dalam
Sistem Urinarius . 591
L
W Ringkasan Histologik
1. GINJAL gian besar adalah tubulus koligens, pars rekta
tubulus proksimal, segmen tebal asendens Ansa
A. Kapsula Ginjal
Henle, dan pembuluh darah.
Kapsula ginjal terdiri atas jaringan ikat kolagen
padat tidak beraturan. Kadang terlihat fibroblas C. Medula Renalis
Medula renalis terdiri atas piramid renal dan
dan pembuluh darah.
kolumna kortikalis yang masuk. Piramid renal
B. Korteks Ginjal terdiri atas tubulus koligens dimana epitel selapis
kubis terlihat 1) jelas terlihat dinding lateral mem-
Korteks ginjal terdiri atas sebagian nefron dan bran sel; 2) segmen tebal desendens Ansa Henle,
tubulus koligens yang tersusun dalam labirin
korteks dan prosesus medularis. Selain itu, juga dimana sel-selnya menyerupai tubulus proksimal;
ada pembuluh darah dan jaringan ikat (interstisial 3) segmen tipis Ansa Henle, menyerupai kapiler
renalis)
tetapi tidak berisi darah; dan 4) segmen tebal
l. Labirin korteks renulis
asendens Ansa Henle, yang sel-selnya menyerupai
Labirin korteks renalis terdiri atas korpuskulum yang terdapat di tubulus distal. Selain itu, juga ada
renal dan potongan melintang tubulus kontortus sejumlah pembuluh darah, vasa rektarjuga ada unsur
proksimal, tutrulus kontortus distal, dan makula jaringan ikat sedikit yaitu interstisial renal. Apeks
densa daerah tubulus distal. Korpuskulum renal piramid renal adalah papila renal, dimana ujung-
terdiri atas sel-sel mesangial, lapis parietal (sela- nya yang berlubang-lubang adalah area kribrosa, di-
pis gepeng) dan lapis viseral (modifikasi menjadi mana duktus papilaris Bellini yang besar terbuka
untuk menyalurkan urine ke dalam kaliks minor.
podosit) dari kapsula Bowman, dan j ala-j ala kapiler
yang berkaitan yaitu glomerulus, juga ruang Bow- D. Pelvis Renalis
man, yang menampung ultrafiltrat. Arteriol aferen
Pelvis renalis, dibagi menjadi dua yaitu kaliks
dan arteriol eferen glomeruli membawa darah minor dan kaliks mayor, merupakan awal dari saluran
ekskresi yang utama dari ginjal. Epitel transisional
masuk dan keluar glomerulus pada polus vaskularis. pada kaliks minor melipat pada papila renal. Kalik-
ses dibatasi oleh epitel transisional. Jaringan ikat
Ruang Bowman dikosongkan melalui polus uri- subepitelial kedua bangunan ini tersusun longgar
nari menuju ke dalam tubulus kontortus proksimal dan berdampingan dengan tunika muskularis yang
terdiri atas lapis otot polos longitudinalis dalam
yang terdiri atas epitel selapis kubis warnakemerahan dan sirkularis luar. Tunika adventisia dari jaringan
dengan brush border. Tubulus kontortus distal tam- ikat j arang, mengitari tunika muskularis.
pak jumlahnya lebih sedikit dan dapat dikenali II. SALURAN EKSTRARENAL
A. Ureter
dengan adanya sel-sel epitel kuboid berwarna pucat.
Makula densa daerah tubulus distal berkaitan dengan Ureter mempunyai lumen berbentuk bintang yang
sel jukstaglomerularis (modifikasi otot polos) dari dibatasi oleh epitel transisional. Jaringan ikat sub-
afieriol aferen (dan kadang-kadang eferen) glome-
ruli.
2. Prosesus medularis
Prosesus medularis merupakan lanjutan j aringan
medula meluas ke dalam korteks. Juluran ini seba-
392 . Atlas Berwarna Histologi
epitelial (kadang-kadang dibagi menjadi lamina lumen berbentuk bintang, meskipun tunika mukosa
propria dan tunika submukosa) terdiri atas jaringan pada kandung kemih yang kosong membentuk
ikat fibroelastis. Tunika muskularis terdiri atas
lapisan otot polos longitudinalis dalam dan sirku- lipatan. Lamina propria bersifat fibroelastis dan
laris luar, meskipun pada sepertiga bagian bawah mungkin ada kelenjar mukosa pada orifisium
dekat kandung kemih ada lapisan otot polos longi- intemum uretra. Tunika muskularis terdiri atas tiga
tudinalis paling luar. Tunika muskularis dikeli- lapisan otot polos yang tidak beraturan: longitudi-
lingi oleh jaringan fibroelastis dari tunika adven- nalis dalam, sirkularis tengah dan longitudinalis
tisia. luar. Otot sirkularis membentuk sfingter internum
pada leher kandung kemih. Tunika adventisia atau
B. Kandung kemih tunika serosa mengitari kandung kemih. Uretra
Kandung kemih menyerupai ureter kecuali
bangunan ini lebih besar dan tidak mempunyai dijelaskan pada Bab 17, "Sistemreproduksi wanita"
dan Bab 1 8, "Sistemreproduksi pria".
Sistem Urinarius . 393
o ffi&€eY&ru
594 . Atlas Berwarna Histologi
Sistem 17
Reproduhsi Wanita
Sistem reproduksi wanita (lihat Gambar l7-l) ter- selapis sel-sel folikel yang gepeng. Saatpematangan
berlanjut, sel-sel folikel menjadi berbentuk kuboid
diri atas ovarium, saluran genital, genitalis eksterna dan folikel demikian disebut folikel primer unila-
dan kelenjar mamma, meskipun dalam arti sempit minar. Folikel primer multllaminar memperlihat-
kelenjar mamma bukan organ genital. Sistem repro- kan suatu oosit yang dikelilingi oleh beberapa
duksi berfungsi dalam meneruskan keturunan dan di- lapisan sel-sel folikel dan berada di antara sel-sel
kendalikan oleh suatu rangkaian yang rumit dari hor- folikel dengan oosit ada zona pelusida, juga suatu
mon, saraf dan pada manusia oleh faktor psikologik. teka interna yang terletak sebelah luarnya.
o.i.. ovARruM Seiring dengan perkembangan folikel selanjut-
nya, ada penimbunan cairan folikel dalam ruang
Masing-masing ovarium adalah kecil, berbentuk antarsel dari sel-sel folikel yang terbentuk. Pada
saat ini seluruh bangunan disebut sebagai folikel
seperti buah almond, mempunyai kapsula jaringan sekunder, dan tampak zona pelusida yang berkem-
ikat yang tebal yaitu tunika albuginea, dilapisi oleh bang baik, suatu membrana basalis yang jelas ter-
lihat dan teka interna serta teka eksterna.
mesotel selapis gepeng sampai kubis disebut
epitel germinal. Ovarium dapat dibagi menjadi Saat pematangan berlanjut, dicapai stadium
korteks, yang kaya folikel ovarium tepat sebelah folikel Graaf (ugadisebut sebagai folikel matang).
dalam tunika albuginea dan bagian yang mengan- Bangunan yang besar ini dicirikan oleh adanya
dung banyak pembuluh darah yaitu medula.
cairan folikel yang mengisi antrum di tengah yang
Korteks ditempati sel-sel benih wanita yaitu oogo- dindingnya terdiri atas membrana granulosa. Me-
nia, yang mengalami pembelahan sel untuk mem- nonjol ke dalam antrum adalah kumulus ooforus
bentuk sejumlah oosit. Setiap oosit dikelilingi oleh yang ditempati oosit primer serta zona pelusida dan
lapisan sel-sel epitelial yang dikenal sebagai sel folikel korona radiata. Membrana granulosa dipisahkan
(dan asalnya yang masih kontroversial) dan kedua dari teka interna oleh membrana basalis. Teka eks-
bangunan ini bersama-sama menyusun folikel ova- terna menjadi satu dengan stroma ovarium di seke-
lilingnya. Folikel Graaf, pada umumnya karena akti-
rium. Dibawah pengaruh hormon perangsang vitas hormon luteinizing, pecah, menjadi oosit
lepas bersama-sama sel-sel folikel.
folikel (follicle-stimulating hormone), folikel mem-
besar, berubah menjadi terbungkus oleh stroma ova-
rium (aringan ikat) dan matang.
Folikel Ovarium Korpus Luteum dan Korpus
Albikans
Folikel melewati berbagai stadium pematangan,
dari folikel primordial, folikel primer, folikel sekun- Ketika folikel Graaf melepaskan oositnya, foli-
der dan akhirnya folikel Graaf (matang). Folikel kel mengalami perubahan menjadi korpus hemor-
primodial terdiri atas oosit primer dikelilingi oleh rhagikum. Dalam beberapa hari korpus hemorragi-
Sistem Reproduhsi Wanita . t95
GAMBAR 17-1 Sistem Reproduksi Wanita
uterina (Fallopii
\
lsmus tuba uterina
"' l" y'.." .i. -. , :.r,ti,i,i.
.:l-1:",:_ :l l: l"i_ ,,it..:'
Ou^rirr^/ ./ *a1,.f:",ffi"
' '*.'i
'=Si":;i
d, .I
Ligamentum ovarii :e.: &:tu
'.1,,_\ ET,
Ligamentum latum
Uterus - Fimbriae
Dinding uterus
Kanalis servikalis Endometrium
Serviks Miometrium
Tunika adventisia
Ligamentum
servikalis
lateralis
Vagina 2" FOLIKEL: FOLIKEL GRAAF:
Teka folikuli Membran granulosa
FOLIKEL FOLIKEL Sel granulosa
PRIMER PRIMER Zona pelusida Kumulus ooforus
UNILAMINAR: MULTILAMINAR:
Oosit Zona pelusida
Sel-sel granulosa Teka folikuli Oosit
Membrana
basalis Korona radiata
(sekeliling oosit)
.=1ilH'
rilTi r
' n'a-;::.iirjjiii:i
':,--,1,,-il
Korpus albikans ',ii1:1"ti{' iJi
rFfif.r{
Korpus / Lutein teka 1;
luteum I -Lutein granurosa ;r
:::':- .:J
i::'f
Teka interna
Setiap folikel mempunyai oosit primer Teka eksterna
terperangkap dalam profase dari pembelahan :ii'i"tF*lk-i
meiosis pefiama. Folikel Graaf yang sudah matang ,.t a +S
melepaskan oosit-nya sewaktu ovulasi. Saat oosit primer :l,,liJ! 'r Il!:
=-.t'*
dilepaskan, bangunan ini mengakhiri pembelahan meiosis pertama, \11;;Fi'' . "+l::l9r+:_
Korona radiata
menjadi oosit sekunder dan telperangkap dalam stadium metafase dari ,ii,a, 4:r!. Oosit
pembelahan meiosis sekunder. Selesai ovulasi, folikel Graafberdiferensiasi
menjadi korpus luteum, yang nantinya berdegenerasi menjadi korpus albikans. Nukleus oosit
396 o Atlas Berwarna Htstologi
GAMBAR 17-2 Plasenta Lempeng korion Plasenta manusia terdiri atas bagian ma-
ternal dan bagian fetal. Bangunan ini
l\i+ Anchoring villi tersusun sedemikian rupa sehingga darah
!\ Eiir$ (vilus primer)
matemal tidak berhubungan langsung
:.!. i Vili korialis
(vilus sekunder) dengan darah fetal, hanya memungkin-
Cabang vilus kan untuk perlukaran nutrien, gas dan sisa
(vilus tersie0 metabolisme antara keduanya. Bagian ma-
Septum temal plasenta terdiri atas desidua basa-
plasenta
lis, sedangkan bagian fetal terdiri atas
Desidua basalis lempeng korion dan percabangannya.
Stratum Ada tigaienis vili yang timbul dari lem-
kompakta
peng korion, yang berhubungan langsung
Stratum
Spongiosum dengan desidua basaiis (anchoring villi
atau vilus primer), yang langsung ber-
Miometrium
asal dari lempeng korion tetapi tidakber-
sentuhan dengan desidua basalis (vili ko-
rialis atau vili sekunder) dan percabangan
dari vili sekunder (vili cabang atau vili
tersier).
Siklus i:iej; $ ]"# ffi rffl.". i iJ.l.
ovanum It"etr:r'
Korpus
Folikel Folikel Folikel oviasi
pnmer sekunder Graaf
:Miometrium 'ts 11 12 13 14 15 16 17 18,.19 27,22 24:25 .,2G ?lL28 .1
Efek hipotalamus dan hormon adenohipofisis pada korteks ovarium dan endometrium uterus
Sistem Reproduhsi Wanita . 397
kum berubah menjadi korpus luteum, suatu keluar darah mensis, sedangkan lapisan basal
tetap tidakterganggu.
bangunan kuning yang menghasilkan estrogen dan
progesteron. Ketika korpus luteum berdegenerasi O PLASENTA
bangunan ini berubah menjadi korpus albikans Selama kehamilan uterus ikut dalam pemben-
tukan plasenta, suatu bangunan yang banyak pem-
yang fibrotik. buluh darahnya yang memungkinkan pertukaran
berbagai bahan antara sistem sirkulasi ibu dan anak
O SALURAN.SALURAN (.lihat Gambar I7-2).Perlu ditekankan bahwa per-
tukaran terjadi tanpa percampuran darah maternal
GENITALIA dan darah fetal dan bahwa plasenta berasal baik dari
jaringan ibu maupun dari jaringan fetus.
Tuba Falopii
O VAGINA
Setiap tuba falopii (tuba falopii) merupakan
Vagina adalah sarung muskular yang sesuai untuk
tabung muskular yang pendek berjalan dari tepi menerima penis selama sanggama dan untuk jalannya
ovarium ke lumen uterus. Tuba falopii selanjutnya fetus dari uterus selama kelahiran. Dinding vagina ter-
dibagi menjadi empat daerah yaitu: infundibulum diri atas tiga lapisan: lapis fibrosa luar, lapis musku-
(yang fimbria nya dekat ovarium), ampula, ismus, lar tengah dan lapis mukosa dalam. Lamina pro-
dan pars intramuralis, ymg menembus dinding pria mukosa vagina tidak ada kelenjar. Epitel ber-
uterus. Mukosa tuba falopii sangat berlipat-lipat lapis gepeng tanpalapisan tanduk membatasi vagina.
dalam infundibulum dan ampula, tetapi lipatan
berkurang di ismus dan pars intramuralis. O GENITALIA EKSTERNA
Uterus Genitalia eksterna, terdiri atas labia majora,
labia minora dan kelenjar vestibularis, secara
Uterus, suatu bangunan mirip seperti buah per, ter- keseluruhan juga disebut sebagai vulva. B angunan-
bagi menjadi fundus, korpus dan serviks. Selama bangunan ini mempunyai banyak saraf dan ber-
kehamilan organ ini ditempati dan ditunjang untuk fungsi selama kegiatan seksual dan sanggama.
perkembangan embrio dan fetus. Uterus terdiri atas
otot miometrium yang tebal (dibungkus oleh tunika O KELENJAR MAMMA
serosa dan/ atau tunika adventisia) dan suatu lapisan
sepefti spons yaitu endometrium. Endometrium Kelenjar mamma, merupakan modifikasi kelen-
terdiri atas lamina propria yang dibatasi epitel,
dengan lapisan fungsional superfisial dan lapisan jar keringat, identik pada pria dan wanita sampai
basal sebelah dalam, mengalami perubahan siklis
oleh pengaruh hormonal selama siklus mensis. saat mulai pubertas, ketika di bawah pengaruh hor-
Ketiga stadium endometrium adalah: monal kelenjar mamma wanita berkembang. Kelen-
jar mamma terdiri atas banyak kumpulan kelenjar,
a. Fase folikular (fase proliferatif), selama fase dengan masing-masing kelenjar sebagai suatu lobus
dan saluran keluamya adalah duktus laktiferus yang
ini permukaan bebas endometrium mengalami mengeluarkan sekretnya ke permukaaa puting susu.
epitelisasi ulang dan keler4'ar-kelenjar, unsur
Areola
jaringan ikat dan pembuluh darah endometrium
terbentuk kembali. Daerah kulit berpigmen yang mengelilingi putting
susu disebut areola, mempunyai banyak kelenjar
b. Fase luteal (fase sekretoris), terjadi dalam keringat, kelenjar sebasea dan kelenjar areola. Kelen-
j ar mamma mengalami perubahan siklis dan berikut-
beberapa hari setelah ovulasi, dalam fase ini nya untuk pelepasan plasenta, memberikan susu
kelenjar-kelenjar membesar dan menjadi ber- untuk nutrisi bayi yang baru lahir.
kelok-kelok dan lumennya menjadi terisi dengan
hasil sekresi. Selain itu, arteri yang berbentuk
spiral menjadi lebih berkelok-kelok dan fibro-
blas dari stroma menimbun glikogen dan lemak.
c. Fase mensis, dalam fase ini lapisan fungsional
endometrium mengelupas, mengakibatkan
598 o Atlas Berwarna Histologi
\.l
@ Histofisiologi
I. PENGATURAN MATURASI Jika kehamilan tidak terjadi, kotpus luteum
FOLIKEL DAN OVULASI mengalami atrofi, suatu proses yang dikenal seba-
gai luteolitis. dan tidak adanya estrogen dan proges-
Awal perkembangan folikel dari primordial melalui
stadium folikel sekunder tergantung dengan faktor teron akan sekali lagi menyebabkan pelepasan FSH
lokal. Pada perkembangan selanjutnya sangat tergan-
tung dengan gonadotropin releasing hormon dari dan LH dari adenohipofisis. Dalam hal ini korpus
hipotalamus mengaktifkan gonadotroph adenohipo- luteum dikenal sebagai korpus luteum menstruasi
fisis untuk melepaskan follicle-stimulating hormone dan akanberdegenerasi menjadi korpus albikans.
(FSH) dan luteinizing hormone (LH).
Jika terjadi kehamilan, sinsitiotrofoblas dari
FSH tidak hanya merangsang folikel sekunder plasenta yang terbentuk melepaskan human chorio-
matang menjadi folikel Graaf tetapi juga menye-
babkan sel-sel teka interna mensekresi androgen. nic gonadoteropin (hCG), suatu hormon yang
Selain itu, FSH merangsang sel-sel granulosa mem-
mempertahankan plasenta ke dalam trimester ke-
bentuk reseptor LH, untuk mengubah androgen dua. Sel-sel ini juga mensekresi human chorionic
menjadi estrogen dan untuk mensekresi inhibin' mammotropin (merangsang produksi dan pertum-
activin dan folikulostatin. Hormon-hormon ini buhan susu), tirotropin, kortikotropin, relaksin
dan estrogen. Dalam beberapa bulan menjadi hamil,
membantu dalam pengaturan umpan balik pelepasan ketika plasenta sudah terbentuk sempuma, kotpus
FSH. Selanjutnya, karena estrogen mencapai kadar luteum, dikenal sebagai korpus luteum kehamilan,
ambangnya, maka menyebabkan LH dilepaskan. tidak lagi diperlukan dan bangunan ini mengalami
luteolisis membentuk korpus albikans.
LH yang dilepaskan tidak hanya menyebabkan
meiosis I dalam oosit primer dan inisiasi meiosis II III. RESPONS UTERUS TERHADAP
dalam oosit sekunder tetapi juga dalam ovulasi.
Selain itu, LH juga merangsang perkembangan HORMON.HORMON
korpus luteum dari teka interna dan membran A. Endometrium
granulosa, dan ini dapat terjadi hanya ketika sel-sel
granulosa memberi respons terhadap FSH untuk Endometrium terbagi menjadi lapis basal yang
menghasilkan reseptor LH. lebih dalam dan lapis fungsional yang lebih super-
fisial, masing-masing dengan aliran darahnya. Lapis
II. FUNGSI DAN NASIB KORPUS basal yang tetap utuh selama mensis mendapatkan
arteria yang lurus pendek dan mempunyai dasar
LUTEUM kelenjar uterus. Lapis fungsional mendapat darah
dari arteria helisina (arteria spiralis) yang menga-
Korpus luteum mensekresi progesteron, suatu hor- lami perubahan siklik dipengaruhi oleh hormon.
mon yang menekan pelepasan LH (melalui peng-
hambatan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) FSH merangsang fase proliferasi yaitu pene-
dan merangsang penebalan endometrium uterus. balan endometrium dan penggantian susunan yang
Selain itu, estrogen (penghambat FSH) dan relak- baru darijaringan ikat, kelenjar dan pembuluh darah
sin (yang menyebabkan fibrokartilago simfisis pubis (arteria helisina) yang diikuti dengan fase mensis.
menjadi lebih lunak) juga dilepaskan oleh kotpus
luteum. LH merangsang fase sekretoris, ditandai
dengan adanya penebalan endometrium, kelenjar
endometrium yang berkelok-kelok, penimbunan
Sistem Reproduksi Wanita . t99