i*&*fl$&ffi . Endokardium. Manusia. Paraffin Seffi*&n ? . Serat Purkinje. Hematoksilin besi.
section. x 132. Paraffin section. x 132.
Endokardium adalah lapis paling dalam darijantung, Pulasan yang digunakan dalam sajian miokardium
dibatasi oleh epitel selapis gepeng yang merupakan
lanjutan endotel berbagai pembuluh darah yang ventrikel ini, mewarnai sel darah merah (RBC)
masuk atau keluarjantung. Endokardium terdiri atas dan sel otot jantunC (CM) dengan sangat jelas.
tiga lapisan, lapisan paling dalam terdiri atas endo- Karena itu, berkas serat Purkinje (PF) yang tebal
tel (En) danjaringan ikat (CT) subendotel, berisi tampak jelas, karena kualitas pulasan yang kurang
serat kolagen dan inti (N) sel-seljaringan ikat. Lapisan
padat. Jaringan ikat (CT) yang mengitari serat-
tengah endokardium, meskipun terdiri atas serat kola-
gen yang padat dan serat elastin dan beberapa sel-sel serat ini banyak sekali pembuluh darahnya, seperti
otot polos, dalam fotomikroskopik ini ditempati oleh tampak adanya kapiler berisi sel darah merah. Serat
percabangan sistem konduksi jantung yaitu serat
Purkinje terdiri atas sel yang terpisah, masing-masing
Purkinje (PF). Lapisan ketiga dari endokardium
berbatasan dengan miokardium (My) yang tebal dengan inti (N) terletak di tengah. Serat ini mem-
dan terdiri atas unsurjaringan ikatjarang, di dalam- bentuk sejumlah taut rekah (gap juncrion) saflt sama
nya ada pembuluh darah, terkadang lemak dan juga lain dan dengan sel-sel otot jantung. Daerah kotak
seljaringan ikat. diperlihatkan pada pembesaran yang lebih besar.
&&MmAm 3 o Katup jantung. l.s. Paraffin Daerah kotak. Serat Purkinje. Hematok-silin
section. x 132. eosin. Paraffrn section. x 270. Masing-masing
Gambar ini memperlihatkan daun katup (Le) juga sel dari serat Purkinje lebih besar daripada sel otot
endokardium (EC) janrung. Daun katup itu terletak
dalam lumen (L) ventrikel, seperti tampak oleh ada- jantung. Namun, adanya miofibril (m) yang ter-
nya sejumlah sel darah merah (RBC). Endo-tel
(En) membatasi endokard merupakan lanjutan dorong ke tepi memperlihatkan pita A dan pita I
(panah) dengan jelas menunjukkan bahwa serat
endotel yang membatasi daun katup. Ketiga lapisan
endokard tampak jelas, juga kadang ada sel-sel Purkinje merupakan modifikasi sel otot jantung. Inti
otot polos (SM) dan pembuluh darah (BV). (N) dikelilingi oleh daerah jernih, yang ditempati
glikogen dan mitokondria.
Tengah daun katup terdiri atas jaringan ikat padat
kolagen dan elastis, ditempati sejumlah sel-sel yang
intinya jelas terlihat. Karena bagian tengah daun
katup tidak ada pembuluh darah, sel-sel jaringan
ikat menerima nutrisi langsung dari darah dalam
lumen janting secara difusi sederhana. Jaringan ikat
di tengah daun katup adalah kontinyu dengan rangka
jantung yang membentuk cincin fibrosa mengelilingi
lubangkatup.
Otot jantung
2oo . Atlas Berwarna Histologi
*:++..', \.-
tr, l'.. ;r
*..'..r$t
;,*i'
i
'fi,tri":
t,: -
t'' l'
;i il:+
#tti'-'
R8C
l-*s-ffises 3 I
KUNCI En endotel My Miokardium
BV pembuluh darah L lumen N inti
CM selototjantung Le daunkatup PF seratPurkinje
CT jaringanikat m miofibril RBC seldarahmerah
EC endokard
Sistem Sirkulasi . 2oI
&&S!BAS f . Kapiler kontinyu. x.s. 0tot jantung. pembuluh dan lumen berisi sel darah merah (RBC).
Mencit. Mikroskop elektron. x 29.330. Perhatikan bahwa sel endotel sangat tipis dan sel itu
membentuk taut kedap (tight junction) (panoh) satu
Gambar mikroskop elektron ini dari kapiler kon-
sama lain. Kepala panah menunjuk ke vesikula
tinyu dalam potongan melintang diambil dari jan- pinositosis yang menembus sel endotel. Lamina
densa (LD) dan lamina lusida (LL) dari lamina
tung mencit. Perhatikan potongan itu melewati inti
basalis jelas terlihat.
(N) salah satu sel endotel yang men)"usun dinding
Fenestra Fenestra
Basal lamina
lnti4''
s.s
F'rffi
.ii.&
Kapiler fenestrata
202 . Atlas Berwarna Histologi
l-l{l
f**x.xeeffi r I
Sistem Sirhulasi . 203
t.r.!i:.a
,/-- rw*::
hg_ry :"q1ifu
fr
t*ee$see ? l
.S&&€S&m 9 Kapiler fenestrata. Hamster. menunjukkan garis pertemuan antara dua sel endo-
Mikroskop elektron. Potong beku. x 205.200. tel, yang tampak pada permukaan. Perhatikan
bahwa banyak fenestra (F), yang berdiameter 57-
Gambar mikroskop elektron ini adalah contoh kapi-
ler fenestrata dari korteks adrenal hamster, diper- 166 nm, tersusun berderet, dengan daerah antara
lihatkan dengan teknik replika potong beku. Garis
sejajar (panoh) berjalan diagonai menyilang bidang deretan tidak berfenestra. Terkadang kaveola (Ca)
juga ada. (Seizin Ryan U, Ryan J, Smith D, Winkler
H: Tbsue cell T:181-190)
2O4 . Atlas Berwarna Histologi
rl
ffi Ringkasan Histologik
I. ARTERI TIPE ELASTIS (ARTERI B. Tunika media
PENGHANTAR) Khas karena adanya banyak lapisan sel otot polos
Contohnya adalah aorta, arteria karotis kom- yang tersusun melingkar, dengan beberapa serat
elastin, serat retikulin, dan serat kolagen di antara
munis dan arteria subklavia. sel-sel otot. Lamina elastika eksternajeias terlihat.
A, Tunika intima G. Tunika adventisia
Tunika intima dibatasi oleh sel-sel endotel yang Biasanya merupakan jaringan kolagen dan elastis
sangat tebal, dengan beberapa serat otot polos
berbentuk poligonal. Jaringan ikat subendotel memanj ang. Vasa vasorum juga ada.
adalah fibroelastis dan ditempati oleh beberapa sel III. ARTERIOL
otot polos terpotong memanjang. Lamina elastika
interna tidak tampakjelas. Ini adalah pembuluh arterial yang mempunyai dia-
meter kurang dari 100 pm
B. Tunika media
A. Tunika intima
Khas ada sejumlah membran fenestrata (lembaran
membran elastis fenestrata tersusun spiral sampai Endotel dan jaringan ikat subendotel yang jum-
lahnyabervariasi, selalu ada. Lamina elastika interna
konsentris). Di antara membran elastis ada sel-sel
otot polos berjalan melingkar danjuga serat-serat ada pada arteriol agak lebih besar, tetapi tidak dite-
kolagen, serat retikulin dan serat elastin. mukan pada arleriol yang lebih kecil.
G. Tunika adventisia B, Tunika media
Jaringan ikat kolagen tipis dengan beberapa serat Serat otot polos yang tersusun spiral mungkin tebal-
elastin dan sel-sel otot polos yang berjalan meman- nya sampai tiga lapis. Lamina elastika eksterna
jang. Vasa vasorum (pembuluh untuk nutrisi pem- ada pada arteriol yang lebih besar, tetapi tidak dite-
buluh)juga ada. mukan pada arteriol yang lebih kecil.
II. ARTERI TIPE MUSKULAR G. Tunika adventisia
(ARTERI DISTRIBUSI)
Lapisan ini terdiri atas jaringan ikat kolagen dan
Di antara arteri tipe muskular adalah nama-nama elastis yang tebalnya mendekati seperti pada tunika
arteri, dengan perkecualian arteri tipe elastis. media.
A. Tunika intima IV. KAPILER
Dibatasi oleh sel endotel berbentuk poligonal Kebanyakan kapiler pada potongan melintang tam-
gepeng menonjol ke dalam lumen sewaktu vaso- pak tipis melingkar dengan diameter 8-10 pm. Ter-
konstriksi. Jaringan ikat subendotel di dalamnya
kadang, dalam sajian tampak inti sel endotel, sel
ada serat- kolagen halus dan sedikit sel otot polos
memanjang. Lamina elastika interna, jelas ter- darah merah atau yang sangatjarang ada sel darah
lihat, sering terpisah menjadi dua membran.
Sistem Sirkulasi . 205
putih. Sering, kapiler mengempis daa tidak nyata VII. VENA BESAR
dengan mikroskop cahaya. Perisit biasanya berada A. Tunika intima
dekatkapiler.
Sama seperti vena ukuran sedang tetapi jaringan
V. VENULA ikat subendotel lebih tebal. Beberapa vena besar
mempunyai katup yang berkembang baik.
Venula mempunyai lumen lebih besar dan berdin-
ding lebih tipis daripada arteriol yang sejenis. B. Tunika media
A. Tunika intima Tidak berkembang baik, mungkin ada beberapa sel-
sel otot polos yang tersebar di antara serat-serat
Endotel bersandar pada lapisanjaringan ikat sub- kolagen dan elastis.
endotel yang sangat tipis, menjadi makin tebal
dengan meningkatnya ukuraa pembuluh. Perisit C. Tirnika adventisia
sering berada dekat venulayang lebih kecil.
Paling tebal dari ketiga lapisan dan membentuk
B, Tunika media bagian terbesar dinding pembuluh. Mungkin berisi
berkas serat otot polos yang berjalan memanjang
Tidak ditemukan pada venula yang lebih kecil, di antara lapisan tebal dari serat kolagen dan serat
sedangkan pada venula yang lebih besar bisa ter- elastin. Vasa vasorum umumnya ada.
lihat satu atau dua lapis sel-sel otot polos.
VIII. JANTUNG
G. Tunika adventisia
Organ muskular yang sangat tebal terdiri atas tiga
Terdiri atas jaringan ikat kolagen dengan fibro- lapisan yaitu endokardium, miokardium dan epi-
kardium. Adanya otot jantung adalah khas untuk
blas dan beberapa serat elastin. organ ini. Parameter tambahan lainnya mencakup
serat Purkinje, valvula (katup) yang tebal, nodus
VI. VENA UKURAN SEDANG atrioventrikular dan nodus sinoatrial, juga korda
A, Tunika intima tendinae dan jaringan ikat yang tebal dari rangka
jantung.
Endotel dan sedikitjaringan ikat subendotel selalu
ada. Terkadang, tampak lamina elastika interna IX. PEMBULUH LIMF
yang tipis. Valvula mungkin tampak.
Pembuluh limf mungkin tampak mengempis dan
B. Tunika media karena itu tidak jelas atau terisi dengan cairan limf.
Dalam hal bila terisi cairan limf, tampak ruangan
Lebih tipis daripada arteri yang sejenis tetapi mem- jernih dibatasi oleh endotel menyerupai pembuluh
punyai sedikit lapisan sel otot polos. Terkadang, darah. Namun, lumennya tidak berisi sel darah
beberapa serat otot, selain letaknya melingkar, juga merah, meskipun mungkin ada limfosit. Endotel
ada yang tersusun memanjang. Juga ada berkas
mungkin memperlihatkan adanya katup.
serat kolagen menyusup, dengan sedikit serat
elastin.
G. Tirnika adventisia
Terdiri atas serat kolagen dan beberapa serat
elastin yang menyusun tebal keseluruhan dinding-
nya. Terkadang, ada sel otot polos berjalan meman-
jang. Vasa vasorum menyusup bahkan sampai ke
tunikamedia.
t06 . Atlas Berwarna Htstologt
\l
ffi Ringkasan Fungsinya
I. BANGKITAN DAN HANTARAN di sel endotel, merangsang sel endotel untuk mele-
IMPLUS paskan oksida nitrat (NO), yang dulunya dikenal
Nodus sinoatrialis (nodus SA) jantung membang- sebagai endothelial-derived releasing factor (EDRF).
kitkan impuls, yang menghasilkan kontraksi otot Oksida nitrat bekerja pada sistem cGMP di sel otot
atrium, dan darah dari atrium masuk ke ventrikel. polos, menimbulkan relaksasi.
Impuls kemudian diteruskan ke nodus atrioven-
trikularis (nodusAV). III. FUNGSI METABOLIK KAPILER
Berkas atrioventrikularis (dari His) timbul Zat-zat mungkin masuk atau keluar dari lumen
dari nodus AV dan berialan dalam septum interven- kapiler melalui fenestra (kapiler fenestrata) atau
melalui vesikel pinositotik (kapiler tipe kontinyu).
trikularis, di mana bercabang lagi membentuk serat Fenestra mempunyai tingkat lebih rendah dalam
Purkinje. Serat Purkinje menghantarkan impuls ke mengendalikan lewatnya molekul daripada vesikel
pinositotik.
sel otot jantung di ventrikel, yang berkontraksi
Sel endotel kapiler mempunyai kemampuan
memompa darahke dalam aorta. untuk tidak mengaktifkan zat-zat seperti pros-
taglandin, serotonin dan bradikinin, katabolisme
II. VASOKONSTRIKSI DAN lipoprotein menjadi trigliserida, asam lemak, dan
VASODILATASI monogliserida, melakukan konversi angiotensin I
Konstriksi pembuluh darah disebabkan karena menjadi angiotensi II, melepaskan prostasiklin
kerja serat saraf simpatis postganglionik yang
bekerja pada otot polos di tunika media. Hal ini untuk menghambat agregasi trombosit, memacu
fibrinolisis dengan cara menghasilkan aktivator
sangat penting pada arteriol, yang bertanggung jawab plasminogen, sebagai tempat ikatan untuk faktor
untuk pengaturan tekanan darah. pembekuan tefientu dan bila terluka, melepaskan
faktor jaringan yang mengawali respons pem-
Dilatasi pembuluh darah dicapai melalui serat
saraf parasimpatis secara tidak langsung. Bukannya bekuan.
bekerja pada sel-sel yang lembut, asetilkolin yang
dilepaskan oleh ujung saraf berikatan ke reseptor
Otot . 207
2o8 . Atlas Berwarna Histologi
Iaringan Limfoid
Jaringan limfoid membentuk dasar sistem imunitas T yang berperan serta dalam fenomena penolakan
tubuh dan diatur ke dalam jaringan limfoid difusa graft dan dalam menyingkirkan sel-sel yang ber-
dan jaringan limfoid nodular (lihat Gambar 9-I). ubah karena virus. Ada beberapa subgrup limfosit T
Limfosit, sel utama jaringan limfoid, adalah peran dan limfosit B, seperti halnya sel memori, sel T
utama yang mengendalikan agar sistem imun ber- helper (Tn0, Tn1 dan sel Tn2), sel T reg (sel T regu-
fungsi dengan baik. Meskipun secara morfologik lator) dan sel T sitotoksik (sel T killer); penjelasan
identik, limfosit kecil mungkin selanjutnya dikenali
menurut fungsinya menjadi tiga kategori: sel nol hal ini ditemukan dalam akhir bab ini). Sekali
(nul cell), limfosit B dan limfosit T. Sel nol terdiri
limfosit T menjadi aktif oleh adanya suatu antigen,
atas dua kategori sel, yaitu sel punca dan sel natural sel ini melepaskan sitokin , zat yang mengaktifkan
makrofag, menariknya ke tempat masuknya antigen
killer (NK) (meskipun beberapa ahli imunologi dan meningkatkan kemampuan fago sitnya. S ering-
kali, limfosit T juga membantu limfosit B untuk
lebih tidak suka menggunakan sistem klasifikasi ini meningkatkan dan menyesuaikan respons imunnya'
dan meniadakan kategori sel nol). Sel punca adalah O JARINGAN LIMFOID DIFUSA
sel yang belum berdiferensiasi yang berkembang Jaringan limfoid difusa terdapat di seluruh tubuh,
menjadi berbagai unsur sel dan deretan sel darah, terutama di bawah membran epitel yang lembab,
sedangkan sel NK adalah sel sitotoksik yang ber- dimana jaringan ikat jarang disebuk oleh sel-sel
limfoid, seperti halnya limfosit, sel plasma, makro-
peran untuk penghancuran kategori sel-sel asing fag dan sel retikulum. Karena itu, jaringan ini di-
tertentu. Sel NK menyerupai sel T sitotoksik tetapi kenal sebagai mucosa-associated lymphoid tissue
(MALT). MALT terutama nyata dalam lamina
sel ini tidak memasuki timus untuk menjadi sel propria saluran cerna dan dalamjaringan ikat sub-
pembunuh dewasa. Limfosit B, diduga menjadi epitel saluran napas, dimana jaringan ini dikenal
sebagai gut-associated lymphoid tissue (GALT)
dewasa dalam sumsum tulang mamalia (bursa Fabri-
sius pada burung), mempunyai kemampuan ber- dan bronchus-associated lymphoid tissue
ubah menjadi sel plasma; Limfosit T ditingkatkan (BALT), perlu dicatat bahwa limfoid-limfoid itu
dalam timus. Sel plasma mempunyai kemampuan tidak tersusun dalam gambaran tefientu, tetapi ter-
membuat antibodi humoral spesifik melawan anti- sebar tidak beraturan. Sering, nodulus limfatikus,
gen tertentu. Antibodi, sekali dilepaskan, berikatan bangunan peralihan yang tampak sebagai kelom-
ke suatu antigen spesifik. Pada beberapa keadaan, pokan padat jaringan limfatik terdiri terutama
ikatan menjadikan antigen tidak aktif' sedangkan limfosit-limfosit. Nodulus limfatikus mempunyai
pada keadaan lainnya perlekatan antibodi ke anti-
gen mungkin meningkatkan fagositosis (opsoni- gambarankhas yaitu sentrum germinativum yang
sasi) atau mengaktifkan kaskade komplemen, meng-
akibatkan kemotaksis neutrofil dan seringkali, meli-
siskan yang masuk. Limfosit T tidak menghasilkan
antibodi; melainkan, limfosit T berfungsi dalam
respons imun yang diperantarai sel. Adalah limfosit
Iaringan Limfoid . 2og
lebih pucat dan korona yang lebih gelap letaknya di faringea dan tonsila lingualis. Bangunan ini meng-
tepi; menandakan diaktifkan oleh antigen. Sentrum hasilkan antibodi terhadap sejumlah antigen dan
germinativum adalah tempat produksi sel plasma, mikroorganisme yang penuh di sekitarnya.
sedangkan korona dihasilkan oleh mitosis dari lim-
fositB yang sudah ada. O LIMPA
O NODUS LIMFA Limpa adalah organ limfoid terbesar dalam tubuh
(lihat Gambar 9-2). Fungsi utamanya adalah menya-
Nodus limfatikus adalah organ yang berbentuk
seperli ginjal dimana cairan limf disaring melalui ring darah, memfagosit sel-sel darah yang sudah tua
paparan sejumlah besar sel-sel limfoid (lihat Gam-
bar 9-2). Nodus limfatikus mempunyai permukaan dan memfagosit mikroorganisme yang masuk,
yang cembung, yang menerima pembuluh limf afe-
ren dan hilus, dimana pembuluh darah masuk dan menyediakan limfosit T dan limfosit B yang
pembuluh limf keluar dari organ itu. Setiap nodus
limfatikus dibagi lagi menjadi kompartemen yang imunokompeten dan membuat antibodi. Tidak
tidak sempurna oleh septajaringan ikat yang berasal seperti nodus limfatikus, limpa tidak terbagi men-
dari kapsula. Melekat pada septa dan sisi dalam jadi daerah korteks dan medula, juga tidak menda-
kapsula ada jala-jala jaringan retikular dan sel-sel patkan pembuluh aferen limf. Pembuluh darah
masuk dan keluar meninggalkan limpa melalui
retikulum yang berkaitan yang bekerja sebagai rangka hilus dan berjalan dalam parenkim melalui trabe-
untuk tempat sejumlah sel-sel bebas, kebanyakan kula yang berasal dari kapsula jaringan ikat. Limpa
limfosit, yang menempati organ itu. Dalam korteks terbagi menjadi pulpa rubra danpulpa alba;pulpa
nodus limfatikus ada sinus kapsularis dan sinus kor- rubra terdiri atas tali-tali pulpa (dari Billroth)
tikalis, juga nodus limfatikus, yang terutama terdiri terletak di antara sinusoid-sinusoid, sedangkan pulpa
alba terdiri atas jaringan limfatik yang berhubungan
atas limfosit B dan sel-sel retikulum. Antara kor- dengan arteri. Jaringan limfatik ini tersusun sede-
teks dan medula adalah parakorteks ditempati oleh mikian rupa, baik sebagai periarterial lymphatic
limfosit T. Medula terdiri atas sinusoid medularis sheaths (PALS) terdiri atas limfosit T atau sebagai
dan tali-tali medula. Sinusoid medularis adalah
kontinyu dengan sinus kapsularis dan sinus korti- nodulus limfatikus terdiri atas limfosit B. Daerah
kalis, sedangkan tali-tali medula terutama terdiri
sel-sel limfoid. Komponen sel lain dari nodus antara pulpa rubra dan pulpa alba disebut zona mar-
limfatikus adalah makrofag, antigen-presenting ginalis dan kaya dengan pembuluh arterial dan
penuh dengan makrofag yang bersifat fagositik.
cells dan beberapa granulosit. Di samping ber- Pulpa rubra terdiri atas jala-jala sinusoid seperti
spons yang dibatasi sel-sel endotel yang sangat
fungsi dalam mempertahankan dan menghasilkan memanjang, memperlihatkan ruang antar sel yang
sel-sel imuno-kompeten, nodus limfatikus juga
besar, disokong oleh membrana basalis tebal, tidak
menyaring cairan limf. Juluran sel-sel retikulum kontinyu. Sel-sel retikulum dan serat-serat retikulin
berkaitan dengan sinusoid ini terbentang ke dalam
yang terbentang dalam sinus nodus limfatikus mem- tali-tali pulpa ikut serta ke kelompokan sel yang
perlambat dan mengganggu aliran limf, sementara terdiri atas makrofag, sel plasma dan sel-sel yang
makrofag yang ada akan memfagosit antigen dan
debris lainnya. berasal dari aliran darah.
o'TONSIL Untuk memahami susunan limpa bergantung
Tonsil adalah kumpulan jaringan limfatik di- pada pengetahuan tentang aliran darah limpa. Arteri
lienalis masuk melalui hilus, dibagikan ke bagian
bungkus kapsula terletak pada tempat masuk oro- dalam organ melalui trabekula sebagai arteria trabe-
farings dan nasofarings. Ikut serta dalam pembentukan kularis. Saat meninggalkan trabekula, pembuluh
cincin tonsilaris adalah tonsila palatina, tonsila masuk parenkim, dikelilingi periarterial lymphatic
sheath danterkadang nodulus limfatikus dan disebut
arteri sentralis. Arteri sentralis masuk pulpa rubra
dengan melepaskan selubung limfatik periarterial
210 . Atlas Berwarna Histologi
GAMBAR 9-1 Jaringan Limfoid
Nodus servikalis Jaringan limfoid terdiri atas beberapa organ ter-
Nodus trakeobronkial
bungkus kapsul, nodus limfatikus, tonsil, timus
Nodus aksilaris dan limpa, juga jaringan limfoid difus, terdiri
Duktus torasikus atas kelompokan sel limfoid yang tersusun long-
Nodus aorta gar: limfosit B, limfosit T, sel plasma, makro-
fag dan antigen-presenting cell. Sering, sel-sel
Plaques Peyeri limfoid ini bersama-sama sebagai nodulus lim-
(ileum)
fatikus tampak pada saat diperlukan, meskipun
Nodus nodulus ini selalu ada di saluran cerna (GALT,
iliaka gut-associated lymphoid tissue dan plaques
Nodus
inguinal Peyeri), di saluran bronkus (BAIT, bronchus-
associated iymphoid tissue) dan di mukosa
tertentu (MALT, mucosa-associated lymphoid
tissue).
\'+*\ - ,:- r:l - 1' Limfosit T berasal dari sumsum
-*t tulang dan kemudian berpindah
'i;, ke timus untuk menjadi sel T
k,t+"ri '.:'. kompeten secara
#;n I-.'1" imunologik
!i Limfosit B diduga
tetap ada dalam
:fi '/;rI$,t:f',:; sumsum tulang
,.i/l' : untuk menjadi sel B
i'lii/t l .nj ", kompeten secara
'J/ ' i imunologik.
'{f',
Nodus limfatikus
!' ii:$iit'rl r
ii j
l
t;,
i
l i"t;.... Sumsum
;i I ir tulang
j.i
.i,t
i
I 1i
:i
it
\.
Sel-sel T dan B yang imuno-
kompeten ini kemudian berada
dalam jaringan limfoid, terutama
',,1 limpa, nodus limfatikus dan
nodulus limfatikus dan mampu
menjadi aktif (matang) dan Sel-sel matang dan imu-
menjawab terhadap suatu nokompeten beredar di
antigen yang mengancam. antara berbagai jaringan
limfoid, menggunakan
pembuluh darah dan
pembuluh limf.
faringan Limfoid . 21t
GAMBAR 9-2 Nodus limfatikus, Timus dan Limpa
Pembuluh Pusat germinal I
eferen limf Nodulus limfatikus ) Korteks
Sinus korteks )
Tali medularis ) t"o,'u
Sinus medularis
Trabekula
Pembuluh aferen Iimf
Kapsula
Jaringan lemak
Kapsula timus
ffi{i Vena kapsularis
,!"i4 Korteks
Medula
Korpuskulum Hassall
(timik)
.ffi
Timus berperan dalam pematangan sel T. trsrs.d* ii+h \ 1*j
Sel-sel T helper berperan sebagai pusat
perkembangan dan pertahanan respons w+., Arteri kapsularis
imun. Sel-sel ini berinieraksi dengan {.- .i;. :-
antigen-presenting cell dan melepaskan * r-Ws.th r Pulpa rubra
sitokin, membangkitkan sel-sel plasma Pulpa alba
untuk sel humoral dan sel T killer .*+ Sinusoid limpa
(sitotoksik) sebagai respons yang
diperantarai oleh sel. I i* Trabekula
+!;",.-ny4g;L. . .:!l
:.:.t'rt,.
.Ij !\. . r.
"--* t! ..
L1"".,9"--- ;
1ttr,j
,1
Lien membersihkan darah,
menyingkirkan sel-sel darah merah
yang tua, membentuk sel T dan
sel B dan pada beberapa hewan
tetapi tidak pada manusia,
menyimpan sel darah merah
212 . Atlas Berwarna Histologi
dan bercabang-cabang lagi menjadi beberapa pem- lobulus. Timus, tidak seperti struktur limfatik sebe-
buluh yang jalannya lurus disebut arteria lumnya, berasal dari endoderm yang disebuk oleh
penisilar. Pembuluh yang kecil ini mempunyai tiga limfosit. Selain itu, timus tidakmempunyai nodulus
daerah yaitu arteriol pulpa, arteriol berselubung limfatikus; melainkan timus dibagi menjadi kor-
dan kapiler arteri terminal. Apakah kapiler arteri teks sebelah luar, yang terdiri atas sel-sel reti-
terminal mencurahkan isinya langsung ke dalam
sinusoid (sirkulasi tertutup) atau berakhir sebagai kulum epitelial, makrofag dan limfosit T kecil
pembuluh akhir terbuka dalam tali-tali pulpa (sir-
kulasi terbuka) belum dapat ditentukan secara pasti; (timosit) dan sebelah dalam, medula yang terpulas
namun, pada manusia, sirkulasi terbuka itu diyakini
menonjol, yaitu selama saluran sel-sel darah merah lebihjernih, terdiri atas sel-sel retikulum epitelial'
dari pita-pita limfa ke sinusoid-sinusoid yang rusak
dan sel-sel darah merah yang telah tua dibuang. Dari limfosit T besar dan korpuskulum timus
sinusoid dialirkan oleh venapulpa, kemudian menuju
vena trabekularis dan akhirnya bergabung dengan (Hassall). Pembuluh darah dapat masuk ke medula
venalienalis. dengan melalui jaringan ikat septa, yang kemudian
O TIMUS keluar pada perbatasan korteks-medula, dimana
Timus adalah organ limfatik mempunyai dua pembuluh ini membentuk lengkung kapiler ke
lobus, letaknya di mediastinum, menutupi pembuluh- korleks. Kapiler-kapiler ini termasuk kapiler tipe
kontinyu dan dikelilingi oleh sel-sel retikulum
pembuluh besar dari jantung (lihat Gambar 9-2)
epitelial yang memisahkannya dari limfosit korteks,
Fungsi utamanya adalah pembentukan, penguatan sehingga terbentuk sawar darah-timus (blood
dan penghancuran limfosit T. Limfosit T yang tidak
thymus barrier), menyediakan lingkungan bebas
imun (tidak dewasa) memasuki timus, di mana
antigen untuk mendulmng limfosit T imunokompeten.
limfosit-limfosit itu kemudian menjadi (kompeten)
imun dan dilepaskan ke sirkulasi umum sambil Pembuluh darah medula adalah sepefti biasa dan
memperingatkan bahwa limfosit-limfosit yang
akan mengenali dan menyerang diri itu tidak dibiar- tidak memperlihatkan sawar darah-timus. Timus
dikosongkan melalui venula di medula dan juga
kan lepas tetapi dihancurkan di lapisan kofieks' menerima darah dari kapiler-kapiler korleks. Sel
Kapsula jaringan ikat yang tipis pada timus mem- retikulum epitelial membentuk suatu sawar khusus
percabangkan septa ke dalam organ ini, secara tidak antara korleks dan medula, mencegah zat-zat di
medula berhubungan dengan korteks. Timus men-
sempurna membagi organ ini menjadi lobulus- capai perkembangan paling pesat segera setelah
lahir, tetapi setelah mencapai usia pubefias, timus
mengalami kemunduran dan disebuk oleh jaringan
lemak. Namun, pada orang dewasa timus tetap
mampu membentuk lim-fosit T.
Iaringan Limfoid o 2t3
\.
ffi Histofisiologi
I. RESPONS IMUNOLOGIK tujuan melawan diri sendiri. Dalam medula sel ini
akan kehilangan baik petanda CD4 atau CDS dan
Sistem imunologik mengandalkan pada interaksi
komponen sel primernya, limfosit dan antigen-pre- berkembang menjadi sel CD8. atau sel CD4.. Sel-
senting cells, untuk memberi efek pada respons
sel ini masuk ke dalam pembuluh darah medula
imun. Respons ini secara cermat mengendalikan
untuk menjadi anggota populasi limfosit yang ber-
dan mengarahkan, tetapi penjelasan lengkap meka-
nisme kerjanya bukan wewenang Atlas ini. Karena edar.
itu, hanya sedikit gambaran mekanisme proses keke-
balan yang akan dijelaskan. Sel T mencakup beberapa kategori sel yang
A. SelSistem lmun yang tidak hanya berperan untuk respons imun
yang diperantarai sel tetapi juga untuk membantu
Sel-sel sistem imun mungkin dibagi lagi menjadi r€spons yang diperantarai humoral dari sel B
sampai antigen tergantung timus. Agar dapat
empat kategori utama: klon limfosit T dan klon
limfosit B, sel NK dan antigen-presenting cells. melakukan fungsinya, sel T mempunyai protein
Klon adalah suatu populasi kecil dari sel-sel yang
integral membran yang khas pada permukaan sel-
identik, masing-masing sel dapat mengenali dan
merespons pada satu epitope spesifik (atau sangat nya. Salah satunya adalah reseptor sel T (TCR),
erat berkaitan) (penentu antigen). Sel T istirahat dan yang mempunyai kemampuan mengenali epitope
tertentu yang mana sel secara genetik direncana-
sel B istirahat menjadi aktifjika sel-sel ini bersen- kan; namun, sel T hanya dapat mengenali epitope
ini yang berikatan ke molekul MHC yang ada pada
tuhan dengan epitope spesifik dan sitokin tertentu. permukaan antigen-presenting cells. Jadi sel T
Sel-sel yang aktif ini berproliferasi dan berdiferen- dikatakan jadi MHC terbatas. Ada tiga kat'egori
siasi menjadi sel efektor. Antigen-presenting cells, umum sel T: sel T naive, sel T memori dan sel T
seperti halnya makrofag, ikut dalam proses imuno- efektor.
logik melalui fagositosis zat asing, memecahkannya
menjadi epitope. Sel ini membawa epitope ini pada a. Sel T Naive adalah secara imunologik kompeten
permukaan sel dalam kaitan dengan kompleks mole- dan mempunyai molekul CD45RA pada membran
kul histokompatibilitas utama (molekul MHC) plasmanya, tetapi sel ini telah teraktivasi sebelum
sel ini berfungsi sebagai sel T. Aktivasi meliputi
dan petanda membran yang berkaitan lainnya. Perlu
interaksi sel T naive kompleks sel T reseptor-CD3
dicatat bahwa pada manusia molekul MHC juga
dikenal sebagai molekul antigen leukosit manusia dengan kompleks MHC-epitope dari antigen-
(molekulHLA).
presenting cells, seperli halnya interaksi sel T mole-
1. LimfositT kul CD28 dengan antigen-presenting cell molekul
87. Sel T naive yang aktif memasuki siklus sel dan
Limfosit T (sel T) adalah imunoinkompeten sampai membentuk sel T memori dan sel T efektor.
sel ini masuk ke korteks timus. Di sini, di bawah
pengaruh lingkungan korteks, sel memperlihatkan b. Sel T Memori adalah sel imunokompeten yang
reseptor sel T dan kelompok diferensiasi petanda adalah turunan sel T teraktivasi yang mengalami
(CD2, CD3, CD4, CD8 dan CD28) dan menjadi aktivitas mitosis selama tantangan antigenik. Sel-
imunokompeten. Sekali imunokompeten, sel T sel ini berusia panjang, yang ditambahkan ke sel-sel
masuk medula timus atau dibunuh.iika sel ini ber- yang beredar dan meningkatkan iumlah sel dari
klon aslinya. Peningkatan dalam ukuran klon yang
berperan untuk respons anamnestik (suatu respons
214 . Atlas Berwarna Histologi
sekunder yang lebih cepat dan lebih hebat) melawan karena sel ini mempunyai kemampuan
pertemuan lain dengan antigen yang sama.
mengenali anti-gen lipid.
c. Sel T efektor. Kategori sel T efektor adalah sel T
2. LimfositB
helper (sel Tn), limfosit T sitotoksik (CTL, sel T
killer) sel T regulatori (sel T reg) dan natural killer Limfosit B (sel B) terbentuk dan menjadi imuno-
kompeten dalam sumsum tulang. Sel ini masuk sir-
cells. kulasi umum, membentuk klon yang anggota inti
dari berbagai organ limfoid dan berperan untuk
1. Sel T Helper dibagi lagi menjadi tiga kate- respons imun humoral. Ketika sel B menjadi imu-
gori: sel Tr0, sel Tr1 dan sel Tr2 dan sel-sel ini nokompeten, sel ini membentuk IgM atau IgD dan
seluruhnya adalah CD4-. Sel TnO masuk siklus menempatkannya pada membran selnya sedemi-
sel dan dapat membentuk sel Tr1 dan sel Tn2. kian rupa tempat epitope berikatan dan terletak pada
Sel T"1 menghasilkan dan melepaskan sitokin ruang ekstraselular dan setengah Fc dari imunoglo-
bulin permukaan (SIG) terbenam dalam plasma-
interleukin 2, interferon-y dan tumor-necrosis
factor-cr. Sel Tr1 mempunyai peran penting lema yang terkait dengan dua pasang protein
dalam mengawali respons imun yang diper- integral, Igp dan Igo. SIG dari sel B sasaran ter-
antarai sel dan dalam penghancuran patogen tentu mempunyai kemampuan bekerja sebagai
intraselular. Sel Tn2 menghasilkan dan mele-
antigen-presenting cells dan memberikan kompleks
paskan interleukin 4, 5, 6,9, 10 dan 13, yang MHC Il-epitope ke selT"1.
peran lainnya, menginduksi sel B untuk berpro- Ketika sel B yang baru terbentuk berikatan ke
liferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma epitope-nya, IgB dan Igcr meneruskan informasi
yang menghasilkan antibodi. Selain itu, sel T,,2
mengawali reaksi terhadap infeksi parasit dan dengan penjumlahan aktivasi dari sel B. Sekali
infeksimukosa.
teraktivasi, sel B membuat dan melepaskan IL-12,
2. Limfosit T sitotoksik adalah sel-sel CDS.. suatu sitokin yang membantu pembentukan sel T"1.
Pada saat kontak kompleks MHC-epitope yang Sel B berproliferasi selama respons imun humo-
benar diperlihatkan oleh antigen-presenting cells
dan telah diaktifkan oleh interleukin 2, sel-sel ral untuk membentuk sel plasma dan sel B
ini mengalami mitosis untuk membentuk sejum-
memori.
lah limfosit T sitotoksik (CTL). Sel-sel yang
baru terbentuk ini membunth zat asing dan sel a. Sel plasma adalah sel yang berdiferensiasi
yang tidak mempunyai imunoglobulin permu-
sendiri yang berubah karena virus dengan men- kaan tetapi adalah "pabrik antibodi" yang men-
sintesis dan melepaskan sejumlah besar kopi
sekresi perforin dan fragmentin dan dengan yang identik dari antibodi yang sama yang ada-
mengeluarkan CD95L (ligand yang mati) pada lah khas terhadap epitope tertentu (meskipun
mungkin reaksi silang dengan epitope yang
plasmalemanya, yang mengaktifkan CD95 (resep-
tor yang mati) pada membran plasma sel tujuan, sama).
yang mendorong sel tujuan menjadi apoptosis.
b. Sel B memori adalah serupa dengan sel T
3. Sel T Reg adalah sel-sel CD4- yang ber-
memori yang mana sel beredar, berusia panjang
fungsi dalam menekan respons imun. Ada dua yang ditambahkan dan meningkatkan jumlah
jenis sel T regulator: sel T reg alamiah, yang sel-sel klon aslinya. Sel ini mempunyai imu-
noglobulin permukaan sehingga sel ini dapat
CTRnya berikatan ke antigen-presenting cells
dan menekan respons imun dan sel T Reg yang diaktifkan oleh antigen yang sesuai selama res-
dapat didorong yang melepaskan sitokin yang pons imun sekunder. Jadi, hal ini meningkatkan
menghambat pembentukan sel Tn 1. ukuran klon yang berperan untuk respons anam-
4. Sel T killer alamiah adalah serupa sel NK nestik terhadap paparan berikutnya dengan
tetapi sel ini setelah masuk korteks timus men-
jadi imunokompeten. Sel ini tidak seperti biasa antigenyang sama.
3. Naturalkillercells
Natural killer cells (sel NK) adalah anggota pem-
Iaringan Limfoid . 215
bagian sel nol dari limfosit. Sel NK tidak mem- glandin E, ymg melemahkan beberapa respons
punyai penentu sel permukaan khas dari sel T atau
sel B dan sel ini imunokompeten segera setelah sel imun. Sitokin, seperti misalnya interferon, dilepas-
kan oleh sel limfosit lainnya seperti halnya oleh
ini terbentuk dalam sumsum tulang. Sel-sel ini makrofag, meningkatkan kemampuan makrofag
untuk fagositosis dan sitolitik.
membunuh sel-sel yang terkena virus dan sel-sel
tumor dengan cara tidak khas dan sel ini bukan II. NODUS LIMFATIKUS
MHC terbatas. Sel NK juga mengenali dan menjadi (KELENJAR GETAH BENINGI
aktif melalui bagian Fc dari antibodi ini yang Sisi cembung nodus limfatikus menerima pembu-
luh limf afer€n yang mencurahkan isinya ke dalam
berikatan ke epitope permukaan sel. Sekali aktif, sel sinus subkapsularis. Sinus paratrabekularis (korti-
kalis) mengosongkan sinus subkapsularis dan meng-
NK melepaskan perforin dan fragmentin untuk
hantarkan cairan limf ke sinusoid medula, yang
membunuh sel yang tercemff ini melalui cara yang dikosongkan melalui pembuluh limf eferen pada
dikenal sebagai antibody-dependent cell-mediated hilus. Korteks dibagi menjadi beberapa kompar-
temen yang tidak sempurna, yang masing-masing
cytotoxicity (ADCC). Perforin menyusun suatu ditempati nodulus limfatikus yang kaya akan sel-sel
pori dalam plasmalema dari sel sasaran, berperan B juga APC dan makrofag. Daerah nodus limfa-
pada kematian nekrotik sel, sedangkan fragmentin tikus antara korteks dan medula yaitu parakor-
teks, ditempati kebanyakan sel T, APC dan makro-
mendorong sel sasaran menjadi apoptosis, kema- fag. Sel-sel yang timbul di korteks atau parakorteks
tian sel langsung. Sel NK juga mempunyai protein pindah ke dalam medula, dimana sel-sel ini mem-
integral yang dikenal sebagai reseptor pembunuh bentuk tali-tali medula yang terdiri atas sel T, sel B
dan sel plasma. Sel T dan sel B masuk ke sinusoid
yang aktif yang mempunyai afinitas ke protein dan meninggalkan nodus limfatikus melalui pem-
khusus pada membran sel berinti. Untuk melin- buluh limf eferen. Limfosit juga masuk nodus lim-
fatikus melalui arteriol yang menembus nodus lim-
dungi sel sendiri dari respons ini, sel NKjuga mem- fatikus pada hilus, berjalan ke parakorteks dalam
punyai tambahan protein transmembran, yang dike- trabekula jaringan ikat dan membentuk pembuluh
endotelial tinggi (venula pasca kapiler)
nal sebagai reseptor penghambat pembunuh,
III. LIMPA
yang menghindari pembunuhan sel-sel sehat mela-
lui pengenalan molekul MHC I pada permukaan sel Percabangan arteria lienalis yaitu arteria trabekula-
dari sel-sel ini. ris, memasuki pulpa altra dengan meninggalkan
4, Antig en- Pre s e nting C ells trabekula dan ketika pembuluh ini dikelilingi oleh
selubung sel-sel T yaitu periarterial lymphatic
Antigen-presenting Cells (APC), makrofag dan sheath (PALS), dikenal sebagai arteria sentralis.
limfosit B mempunyai molekul kompleks histokom- Sepanjang perjalanan arteria sentralis terkadang
patibilitas mayorkelas tr (molekulMHC ID, sedang- nodulus limfatikus terdiri terutama sel-sel B tetapi
kan seluruh sel berinti lainnya mempunyai molekul masih dikelilingi oleh PALS. Ketika arteria sen-
MHCI. tralis hilang selubung limfatiknya, pembuluh ini
bercabang berulang kali, membentuk pembuluh
APC memfagosit dan memecah antigen menjadi yang lurus yaitu arteria penisili, yang mempunyai
epitope, peptida kecil yang sangat antigenik tiga daerah yaitu arteriol pulpa, arteriol berselubung
makrofag dan kapiler arlerial terminal. Kapiler arte-
patjangnya7 sampai 11 asam amino. Setiap epitope
melekat ke suatu molekul MHC II dan kompleks ini
diletakkan pada sisi luar membran selnya. Kom-
pleks MHC Il-epitope dikenali oleh sel T reseptor
(TCR) dalam kaitan dengan molekul CD4 dari sel
Tn1 atau Tn2, suatu proses yang dikenal sebagai
restriksiMHC II.
Antigen-presenting cells dan secara khas, makro-
fag, menghasilkan dan melepaskan berbagai sitokin
yang mengubah respons imun. Hal ini mencakup
interleukin 1, yang merangsang sel T helper dan sel
makrofag yang aktif sendiri seperti halnya prosta-
216 . Atlas Ber$arna Histologi
rial terminal mungkin berakhir pada sinusoid limpa nya tidak mudah membedakannya dalam sajian
(sirkulasi tertutup) atau bebas dalam pulpa rubra histologik. Sel-sel ini berasal dari kantong faringeal
(sirkulasi terbuka). Pada manusia, sirkulasi ter- ketiga dan bermigrasi ke dalam timus yang sedang
buka lebih dominan. Pulpa rubra terdiri atas sinu- berkembang. Sel ini membentuk hormon-hormon
soid, jala-jala serat retikulin dan cel-sel dari tali-tali
limpa. Suatu daerah dari sinusoid yang lebih kecil timosin, faktor serum timik dan timopoietin'
membentuk daerah antara pulpa alba dan pulpa
rubra, daerah ini disebut zona marginalis. Kapiler seluruhnya membantu perubahan sel T yang belum
yang keluar dari arleria sentralis mencurahkan darah- dewasa menjadi sel T imunokompeten. Selama per-
nya ke sinusoid zona marginalis. APC zona mar ubahan, yang terjadi dalam korteks timus, sel T
ginalis memantau darah ini bila ada antigendanzat- yang belum dewasa (timosit) mengalami penyu-
sunan gen kembali, yang mana sel memperlihat-
zat asing.
kan pada membran sel reseptor sel T (TCR) dan
rv. TrMus kelompok petanda diferensiasi (CD) (terutama
Korteks timus benar-benar terpisah dari seluruh CD2, CD3, CD4 danCD8).
unsur vaskular dan jaringan ikat oleh sel-sel reti-
kulum epitelial. Selain itu, dalam korteks, sel-sel Kebanyakan sel T mati ketika sel berpindah dari
ini membentuk jala tiga dimensi yang mana korteks ke medula; sisa-sisanya difagosit oleh
kelompokan sel-sel T menjadi dewasa. Meskipun makrofag. Diduga bahwa sel-sel yang dibunuh secara
ada enam jenis yang berbeda sel epitel retikulum genetik terprogram untuk mengenali protein-sendiri
sebagai antigen. Dalam medula timus, sel T kehi-
(tiga dalam korteks dan tiga dalam medula), semua-
nya berada dalam gambaran yang sama sebagai sel langan petanda CD4 atau CD8 dan berkembang
besar, pucat dengan inti besar, lonjong dan karena-
menjadi sel CD8- dan sel CD4-.
Iaringan Limfoid . 217
ii GONTOH KASUS KLINIS
PenyakitHodgkin han sepuluh tahun pertama terkena leukemia atau
Penyakit Hodgkin adalah suatu penjelmaan kega- limfoma.
nasan limfosit yang sering pada pria usia muda.
Tanda-tanda klinis awalnya tanpa gejala karena SindromDiGeorge
pembengkakan hati, limpa dan nodus limfatikus Sindrom DiGeorge adalah nama kelainan konge-
tidak disertai nyeri. Gambaran lain termasuk nital ketika timus gagal berkembang dan pasien
hilangnya berat badan, suhu meningkat, napsu tidak dapat menghasilkan limfosit T. Pasien ini
makan berkurang dan kelemahan umum. Ciri his- tidak dapat menampilkan respons imun seluler
dan beberapa respons yang diperantarai humoral
topatologik meliputi aclarrya sel-sel Reed- juga tidak mampu atau terkendala. Kebanyakan
Sternberg, mudah dikenali karena ukurannya individu dengan sindrom ini meninggal pada
besar dan adanya dua inti besar, pucat lonjong
awal usia kanak-kanak sebagai akibat infeksi
pada setiap sel. yang tak terkendali.
Sindrom Wiskott-Aldrich Nodus Limfatikus Selama Infeksi
Sindrom Wiskott-Aldrich adalah suatu kelainan Pada seorang pasien yang sehat dengan jumlah
imunodefisiensi hanya terdapat pada anak laki- jaringan lemak yang normal, nodus limfatikus
laki dan dicirikan oleh adanya eksema (derma- merupakan struktur kecil, lembut yang tidak
titis), hitung trombosit yang rendah dan limfo- mudah diraba. Namun, selama suatu infeksi
sitopenia (kadar limfosit rendah, baik populasi nodus limfatikus setempat menjadi besar dan
sel B maupun sel T). Keadaan imunitas yang ter- keras pada perabaan karena sejumlah besar lim-
tekan dari anak-anak ini menimbulkan infeksi fosit sedang terbentuk dalam nodus.
bakteri berulang, perdarahan dan kematian pada
usia muda. Kebanyakan anak-anak yang befia-
218 . Atlas Berwarna tlistologt
O CA'TATATd
taringan Ltmfotd . 219
tSAfr&HAA . Sebukan limfatik. Duodenum monyet. .SAnflgAffi R Nodulus limfatikus. Monyet. Plastic
Plastic section. x 540. section. x 132.
Jaringan ikat (CT) sebelah dalam dari epitel yang Gut-associated lyrnphatic nodule dalam foto mikros-
basah biasanya disebuk oleh limfosit (Ly) dan sel
plasma (PC) berkelompok secara longga4 seperti kopik ini merupakan sebagian dari kelompokan
contoh dalam fotomikroskopik ini yang diambil dari nodulus dan dikenal sebagai bercak peyeri (plaques
Peyeri,zPP) dan diambil dari ileum monyet. Lumen
duodenum monyet. Perhatikan adanya epitel sela- (L) usus halus dibatasi oleh epitel (E) selapis torak
dengan sejumlah sel-sel goblet (GC). Namun, per-
pis torak (E) terdapat tidak hanya inti (N) sel-sel hatikan bahwa epitel yang menutupi jaringan limfoid
epitel, tetapi juga inti limfosit yang gelap padat mengalami modifikasi menjadi epitel yang berkaitan
(panah), beberapa dari padanya berada dalam
dengan folikel (follicle-associated epithelium
proses berpindah dari lamina propria fiaringan ikat)
ke dalam lumen duodenum. Perhatikan juga adanya = FAE) dimana sel-selnya lebih pendek, disebuk
lakteal (La), suatu saluran limf yang berujung buntu oleh limfosit dan tidak memperlihatkan adanya sel-
sel goblet. Perhatikan nodulus limfatikus yang khu-
berisi cairan limf. Pembuluh ini dikenali karena tidak sus ini tidak memperlihatkan adanya pusat germinal
adanya sel darah merah di dalam pembuluh. tetapi terdiri atas beberapa jenis sel, seperri tampak
adanya inti dari berbagai ukuran dan kepadatannya.
.SefSfiAR 3 Nodulus limfatikus. Monyet. Hal ini akan dijelaskan dalam Gambar 3 dan Gambar
4. Meskipun nodulus limfatikus ini tidakmempunyai
Plastic section. x 210.
kapsula, jaringan ikat (CT) antara otot polos
Ini adalah pembesaran yang lebih tinggi dari suatu
(SM) dan nodulus limfatikus bebas dari sebukan
nodulus limfatikus bercak Peyeri di dalam ileum limfosit.
monyet. Perhatikan pusat germinal (Gc) yang
terpulas lebih pucat dikelilingi oleh korona (Co) .SAtr B&X 4 Nodulus limfatikus. Monyet.
dari sel-sel yang terpulas lebih gelap, mempunyai Plastic section. x 540.
hanya sedikit sitoplasma mengelilingi inti yang Ini adalah pembesaran yang lebih kuat dari daerah
padat. Sel-sel ini adalah limfosit (Ly) kecil. Pusat kotak gambar sebelumnya. Perhatikan limfosit kecil
(Ly) di bagian tepi pusat germinal (Gc). Aktivitas
germinal bereaksi terhadap suatu rangsangan anti-
pusat ini nyata oleh adanya gambaran mitosis
genik dan terdiri atas limfoblas dan plasmablas,
(panah), juga adanya limfoblas (LB) dan plasma-
dimana intinya terpulas lebih pucat daripada sel-sel blas (PB). Pusat germinal adalah tempat pembuatan
limfosit keciI. Daerah korak diberikan dengan pem- limfosit kecil yang kemudian berpindah ke tepi
besaran kuat dalam gambar berikutnya.
nodulus limfatikus untuk membentuk korona.
KUNCI GC sel goblet N inti
Co korona
CT jaringanikat L lumen PB plasmablas
E epitel La lakteal PC selplasma
FAE follicle-associatedepithelium LB limfoblas PP bercak Peyeri
Gc pusatgerminal Ly limfositkecil SM otot polos
220 . Atlas Berwarna Histologi
le**$ffiefr { ]
tsesff#e* s l
Iaringan Limfoid . z2l
SAM$AR t r Nodus limfatikus. Paraffin section. &AMBA$ 3 o Nodus limfatikus. Monyet. Plastic
x 14, section. x 132.
Nodus limfatikus berupa bangunan berbentuk seperti Korteks nodus limfatikus terdiri atas sejumlah nodu-
ginjal mempunyai permukaan yang cembung dan lus limfatikus, salah satunya tampak dalam fotomi
permukaan yang cekung (hilus). Bangunan ini dibung- kroskopik ini. Perhatikan nodus limfatikus biasanya
kus oleh jaringan ikat kapsula (Ca) yang memper- dikelilingi oleh jaringan lemak (AT). Kapsula
cabangkan trabekula (T) ke dalam nodus, mem- (Ca) jaringan ikat yang tipis mempercabangkan
baginya menjadi ruang yang tidak sempurna. Pem- trabekula (T) ke dalam substansia nodus limfati-
bagian ini terutama jelas di korteks (C), sisi tepi kus. Perhatikan nodulus limfatikus mempumrai korona
(Co) yang terpulas gelap, terutama terdiri atas lim-
nodus limfatikus. Daerah tengah yang terpulas pucat fosit kecil (Ly) yang mana inti heterokromatin ber-
adalah medula (M), sedangkan daerah antara medula peran untuk sifat khas pulasan. Pusat germinal
dan korteks disebut parakorteks (PC). Perhatikan (Gc) memperlihatkan sejumlah sel dengan inti ter-
di korteks ada sejumlah nodulus limfatikus (LN), pulas jernih, kepunyaan sel-sel retikulum dendritik,
banyak dengan pusat germinal (Gc). Ini adalah
plasmablas dan lim foblas.
daerah limfosit B, sedangkan parakorteks terutama
kaya akan limfosit T. Perhatikan bahwa medula ter- r&AMF&A 4 Nodus limfatikus. Manusia. Pulasan
diri atas sinusoid (S), trabekula (T) jaringan ikat perak. Paraffin section. x 1 32.
menghantarkan pembuluh darah dan tali-tali
medula (MC). Tali-tali medula terdiri atas limfosit, Hilus dari nodus limfatikus manusia memperlihatkan
makrofag, sel retikular dan sel plasma. Cairan limf kapsula (Ca) jaringan ikat kolagen yang memperca-
masuk nodus limfatikus dan ketika merembes mela- bangkan sejumlah trabekula (T) ke dalam sub-
lui sinus-sinus dan sinusoid , zat-zat asing disingkir-
kan oleh aktivitas fagositosis dari makrofag. stansia nodus limfatikus. Perhatikan daerah hilus
tidak ada nodulus limfatikus, tetapi terutama mem-
.GAMSAA ? Nodus limfatikus. Monyet. Plastic
punyai tali-tali medula (MC). Perhatikan dasar
section. x 270.
rangka tali medularis, juga nodus limfatikus, terdiri
Pembuluh aferen limf (AV) masuk nodus lim- atas serat retikulin yang tipis (ponah), yang dihu-
bungkan ke berkas serat kolagen dari trabekula dan
fatikus pada permukaan cembungnya. Pembuluh- kapsula.
pembuluh ini mempunyai katup (V) yang mengatur
arah aliran. Cairan limf masuk sinus subkapsu- ;i*]tl*" )-"**"
laris (SS), yang berisi sejumlah makrofag (Ma), tali medula \
limfosit (Ly) dan sel-sel yang membawa antigen.
Sinus-sinus ini dibatasi oleh sel-sel endotel (EC), sinus lmeouta
yang juga melapisi serat-serat kolagen yang halus medula )
yang sering merentangkan sinus agar terjadi aliran
trabekula
limf yang memutar. Cairan limf dari sinus sub-
kapsularis memasuki sinus kortikalis, kemudian pembuluh
pindah ke sinusoid medula. Di sini limfosit juga aferen limf
kapsula
pindah ke dalam sinusoid, meninggalkan nodus lim-
fatikus melalui pembuluh eferen limf yang akhirnya jaringan lemak
masuk sirkulasi umum.
Nodus Limf
222 . Atlas Berwarna Histologi
t-gAnfiE,&RTl
teAn*sAsT-l
KUNGI
AT jaringan lemak Gc pusat germinal PC parakorteks
AV pembuluhaferenlimf nodulus limfatikus S sinusoid
C korteks LN Limfositkecil SS sinus subkapsularis
Ca kapsula Ly medula T trabekula
Co korona M makrofag
EC selendotel Ma talimedula V katub
MC
tarin*an Limfoid . 223
ffA,W*effi t . Nodus limfatikus. Paraffin .fi&n?gAffi 2 Nodus limfatikus. Monyet. Plastic
section. x 1 32. section. x 540.
Medula nodus limfatikus terdiri atas sejumlah sinu- Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran kuat
soid (S) yang dibatasi oleh endotel, yang menerima
dari sinusoid (S) dan tali-tali medula (MC) yang
cairan limf dari sinus kortikalis. Sekitar sinusoid ada mengitarinya dari medula nodus limfatikus. Per-
hatikan tali-tali medula terdiri atas makrofag, sel
banyak tali-tali medula (MC), terdiri atas makro- plasma (PC) dan limfosit (Ly) kecil. Sinusoid
dibatasi oleh sel-sel endotel (EC) yang memben-
fag, limfosit kecil dan sel plasma, yang intinya ter- tuk batas yang kontinyu. Lumennya mengandung
pulas jelas (panoh). Baik limfosit T maupun limfosit cairan limf, limfosit (Ly) kecil dan makrofag (Ma).
Gambaran bervakuola dari makrofag ini menan-
B terdapat dalam tali-tali medula, karena sel-sel itu
dakan aktifnya fagositosis bahan tertentu.
berada dalam proses perpindahan dari parakorteks
dan korteks. Beberapa limfosit ini akan meninggal- .&&fdffi&R 4 Tonsila faringea. Manusia. Paraffin
kan nodus limfatikus melalui sinusoid dan pem-
buluh eferen limfatik pada hilus. Di medula juga ada section. x 132,
jaringan ikat trabekula (T) yang mengandung
pembuluh darah (BV), yang masuk nodus limfa-
tikus pada hilus.
.&A{V!6&K 3 Tonsila palatina. Manusia. Paraffin Tonsila faringea terletak di nasofarings merupakan
section. x 14. kumpulan nodulus limfatikus, sering tampak pusat
germinal (Gc). Pembatas epitel (E) adalah ber-
Tonsila palatina merupakan kumpulan nodulus tingkat torak bersilia dengan terkadang bercak-
limfatikus (LN), banyak di antaranya mempunyai
pusat germinal (Gc). Tonsila palatina dilapisi oleh bercak epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
epitel (E) berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
yang membatasi kriptus primer (PCr) yang mele- (bintang). Nodulus limfatikus terletak dalam
kuk ke dalam ke jaringan tonsil. Seringkali tampak jaringan ikat (CT) kolagen jarang, disebuk oleh
limfosit (Ly) kecil. Perhatikan limfosit berpindah
kriptus sekunder (SCr) juga dibatasi oleh epitel
melalui epitel Qtanah) untuk mencapai nasofarings.
yang sama. Ikiptus sering berisi debris (panah) yang
terdiri atas partikel-partikel makanan yang membu- pembuluh ;: -" ) n'n"n'
suk, juga limfosit yang berpindah dari nodulus iim- aferen limf
fatikus melalui epitel masuk ke kriptus. Permukaan
dalam tonsiia palatina dilapisi oleh kapsula (Ca)
jaringan ikat yang menebal.
i.",, , r,,/;"':' tali medula
"i trabekula
pembuluh
f .;, aferen limf
kapsula
ii-l ;f
",ii 's.:-r!l'
," ia.
I
i.
Nodus Limf
224 . Atlas Berwarna Histologi
tee*irses tr I
[**xv]s*fii I f&$lq#etr 4l
KUNCI
BV pembuluh darah Gc pusat germinal PC sel plasma
Ca kapsula nodulus limfatikus PCr lciptus primer
CT jaringanikat LN limfosit S sinusoid
E Ly makrofag SCr kriptus sekunder
EC epitel Ma tali-tali medula T trabekula
sel endotel MC
Iaringan Limfoid r 225
.SAMBAR'! Nodus limfatikus poplitea. Mencit. inti ada di korteks, jauh di dalam sinus. Juluran
Mikroskop elektron. x 8608. masuk lumen sinus subkapsularis melalui pori-pori
Gambar mikroskop elektron ini dari nodus limfa- (panah) di dasarnya (FL). Diduga sel pembawa anti
tikus poplitea mencit memperlihatkan kapsula (Ca) gen tidak bersifat fagositik dan sel itu menangkap
dan sinus subkapsularis. Sinus ditempati oleh tiga antigen pada tempat antigen masuk dan membawa-
limfosit, satu di antaranya bertanda (L),jugajuluran
nya ke nodulus limfatikus di tempat itu menjadi
(P) dari suatu sel pembawa antigen (antigen- dewasa dan menjadi sel-sel dendritik retikulum.
(Seizin Szakal A, Homes K dan Tew J. J Immunol
presenting), yang badan selnya (kepalapanah) dan
73I:I7'1.4- 1717 ,1983) .
: -. .; f
:.-..,rf.t\.aeaL!,t.", f=. ,ire,+,
F:J+!4,
{ Sinus subskapularis
kapsula
1:'."
-J.*
r&*+iit
::i \''
Nodus Limf
226 . Atlas Berwarna Histologi
,*ft: . $",;l:
b, *. jr"-,,[email protected].'.'
'1Ft-r $: S-.:;'...4
li 'lrli ! '
[Ce$d}seeTl
Iaringan Llmloid c 227
SAll*g&n 1 r Timus. Janin manusia, Paraffin .SAgWffiAn 3 Timus. Monyet. Plastic section.
section. x 14.
x 132.
Timus seorang janin adalah organ yang berkem- Lobulus timus yang tampak dalam gambar fotomi-
bang baik yang memperlihatkan banyak ciri-ciri kroskopik ini tampak dikelilingi septa (Se) jaringan
khas. Gambar fotomikoskopik ini memperlihatkan ikat secara sempurna. Namun, dalam rekonstruksi
sebagian dari satu lobus. Timus dibungkus oleh kap-
sula (Ca) jaringan ikat yang tipis, yang tidak sem- tiga-dimensi, tampak bahwa lobulus ini kontinyu
purna membagi-bagi timus menjadi lobulus (Lo) dengan lobulus (Lo) di sekitarnya. Perhatikan se-
oleh septa (Se) jaringan ikat. Setiap lobulus mem- jumlah pembuluh darah (BV) dalam septa, juga
punyai korteks (C) bagian tepi yang terpulas lebih korteks (C) yang terpulas lebih gelap dan medula
gelap dan medula (M) terpulas lebih jemih. Namun,
medula dari satu lobulus kontinyu dengan medula (M) yang terpulas lebih jernih. Bercak jernih di kor-
lobulus lainnya. Kapsula jaringan ikat dan septa
teks mungkin adalah sel-sel retikulum dan makrofag
menghantarkan pembuluh darah ke dalam medula (panoh), sedangkan struktur yang terpulas lebih
timus. Segera setelah pubertas, timus mulai menge- gelap adalah inti sejumlah limfosit T. Medula berisi
rut dan septa jaringan ikat mengalami sebukan sel korpuskulum timus (TC) yang khas, juga pem-
buluh darah, makrofag dan sel-sel retikulum epite-
lemak.
lial.
€AMnAn 3 . Timus. Monyet. Plastic section. .GAMBAfi i! Timus. Monyet. Plastic section.
x 210.
x 540.
Bagian tengah fotomikroskopik ini adalah medula
Korteks timus bagian luarnya dibungkus oleh septa
(M) timus, di sini ada korpuskulum timus (Se) jaringan ikat kolagen. Substansi korteks dipi-
(Hassall) (TC), terdiri atas sel-sel retikulum sahkan dari septa oleh sel-sel retikulum epi-
telial (ERC), dikenali karena intinya pucat. Selain
epitelial (ERC) yang susunannya konsentris.
itu sel-sel retikulum epitelial membentuk suatu reti-
Fungsi bangunan ini tidak diketahui. Medula timus
kulum selular, di dalamnya terdapat limfosit (Ly)
ditempati banyak pembuluh darah (BV),
makrofag, limfosit (Ly) dan terkadang sel-sel yang berkembang menjadi limfosit T dewasa. Sejum-
plasma lah makrofag (Ma) juga tampak di korteks. Sel-sel
ini memfagosit limfosityang rusak di timus.
korpuskulum timus
vena kapsularis
korteks
korpuskulum timus
(Korpuskulum Hassal)
3
. .tli"
,iFi
',+
iI- .,?,i
.id,:
Timus
228 . Atlas Berwarna Histologi
Sc,:+:
[s,Ei,tBAe a I
"e* .Y
.**, "$i; T
S,H:
mffffi€i- i-*%;#1
#* '<4
t-s"-\,rEAR { l
KUNCI Lo lobulus Ma makrofag
BV pembuluh darah Ly limfosit Se septum
C korteks M medula TC korpuskulumtimus
Ca kapsula
ERC selretikulumepitelial
taringan Limfoid . 229
&ANIEAR t . Limpa. Manusia. Paraffin section. rSeMmAn 3 Limpa. Monyet. Plastic section,
x 132. x 132.
Limpa merupakan organ limfoid terbesa4 mempunyai Terletak dalam periarterial lymphatic sheath
kapsula (Ca) jaringan ikat kolagen yang tebal. (PALS) limpa, ada susunan kedua dari pulpa alba,
Karena limpa terletak dalam rongga abdomen, limpa yaitu nodulus limfatikus (LN) yang mempunyai
pusat germinal (Gc). Nodulus limfatikus sering
dikelilingi oleh epitel (E) selapis gepeng. Septa terdapat pada percabangan arteria sentralis (CA).
Nodulus adalah kelompokan terutama limfosit B
(SE) jaringan ikat yang berasal dari kapsula, masukke (panah) yang menyebabkan korona (CO) tampak
substansi limpa, membawa pembuluh darah (BV) gelap. Pusat germinal merupakan tempat produksi
aktif limfosit B selama terpapar antigen. Zona mar-
ke bagian dalam organ. Limpa tidak dibagi menjadi
ginalis (MZ) juga ada di sekitar nodulus limfatikus
korteks dan medula; melainkan limpa terdiri atas
pulpa alba (WP) dan pulpa rubra (RP). Pulpa merupakan daerah dimana limfosit meninggalkan
kapiler-kapiler kecil dan mula-mula masuk ruang
alba tersusun berupa suatu lembaran silindris dari jaringan ikat limpa. Dari sini limfosit T pindah ke
periarterial lymphatic sheath, sementara limfosit B
limfosit (Ly) mengelilingi suatu pembuluh darah mencapai nodulus limfatikus. Baik zona marginalis
maupun pulpa alba ditempati sejumlah makrofag
yang disebut arteria sentralis (CA), sedangkan pulpa juga antigen-presenting cells (kepala panah) disam-
rubra terdiri atas sinusoid-sinusoid (S) berkelok- ping adanya limfosit.
kelok melalui jaringan selular dikenal sebagai tali-
tali pulpa (PC). Pulpa alba limpa terdapat dalam dua .g&mK&R { Limpa. Manusia, Pulasan perak.
susunan yang berbeda. Salah satu tampak dalam Paraffin section. x 132.
fotomikroskopik ini dikenal sebagai suatu peri-
arterial lymphatic sheath (PALS) terutama
terdiri dari limfosit T. Zona limfosit pada pertemuan
PALS dan pulpa rubra dikenal sebagai zona mar-
ginal (MZ).
&AMS&& 3 o Limpa. Monyet. Plastic section. Rangka jaringan ikat limpa tampak dengan meng-
x 540. gunakan pulasan perak, yang mengendap di sekitar
Pulpa rubra limpa yang tampak dalam fotomikros- serat-serat retikulin. Kapsula (Ca) limpa ditembus
oleh pembuluh darah (BV) yang masuk substansi
kopik ini, terdiri atas sinusoid limpa (S) dan tali-
tali pulpa (PC). Sinusoid limpa dibatasi oleh epitel organ melalui trabekula (T). Pulpa alba (WP)
dan pulpa rubra (RP) terlihatjelas. Ternyata, nodu-
yang jenisnya tidak kontinyu, dikelilingi oleh susunan lus limfatikus memperlihatkan pusat germinal
(Gc) yang jelas, juga korona (CO). Arteria sen-
yang tidak biasa yaitu membrana basalis (BM) tralis (CA) juga tampak dalam sajian ini. Serat-
serat retikulin (RF) yang membentuk suatu jala-
yang melingkari sinusoid dengan cara tidak kontinyu.
jala yang luas di substansia limpa, melekat ke kapsula
Sinusoid berisi sejumlah sel-sel darah (BC). Inti
danke trabekula.
(N) sel-sel dinding sinusoid menonjol ke dalam lumen.
Daerah antara sinusoid ditempati oleh tali-tali pulpa,
dalamnya ada berbagai makrofag, sel-sel retikulum
dan sel plasma. Pembuluh yang memperdarahi pulpa
rubra berasal dari arteria penisili, yang memperca- Vena lienalis
bangkan arteriol (AR) dimana sel-sel endotel [--p,
(EC) dan sel-sel otot polos (SM) tampak di tengah l.'
bidang ini.
Arteria lienalis "%.
Kapsula
Lien
2to . Atlas Berwarna Histologi
{-e-es$ffiss s I fsdrvrEARAl
KUNCI
AR arteriol EC sel endotel PC tali pulpa
BC seldarah pusat germinal RF seratretikulin
BM membranabasalis Gc limfosit RP pulpanrbra
BV pembuluhdarah nodulus limfatikus S sinusoid
Ca kapsula Ly zonamarginalis SE septum
CA arteriasentralis LN inti SM ototpolos
CO korona MZ periarterial limphatic T trabekula
E epitel N sheath WP pulpaalba
PALS
Iaringan Limfoid . 231
L
ffi Ringkasan Histologik
Jaringan limfatik terdiri atas jaringan limfatik difus kula, tali-tali medula (terdiri atas makrofag, sel
dan jaringan limfatik padat. Sel-sel utama dalam plasma dan limfosit) dan sinusoid medularis diba-
jaringan limfatik adalah limfosit, dimana terdiri
atas dua kategori yaitu limfosit B dan limfosit T. tasi oleh sel-sel endotel yang tidak kontinyu. Sinu-
Selain itu, makrofag, sel retikulum, sel plasma,
sel dendritik dan antigen-presenting cells mela- soid berisi limfosit, sel plasma dan makrofag.
kukan fungsi-fungsi penting dalamj aringan limfatik. Daerah hilus tampak sebagai suatu penebalan kap-
sula dan tidak ada nodulus limfatikus.
I. NODUS LIMFATIKUS
(KELENJAR GETAH BENING) E, Serat retkulin
A. Kapsula Dengan pulasan khusus dapat terlihat suatu jala-jala
Kapsula biasanya dikelilingi oleh jaringan lemak, yang luas dari serat retikulin yang menyusun
terdiri atas jaringan ikat kolagen yang padat tidak
beraturan, berisi beberapa serat elastin dan otot rangka nodus I i mlatikus.
polos. Pembuluh aferen limfatik masuk korteks;
pembuluh eferen limfatik dan pemtruluh darah il. TONSTL
menembus hilus limpa. A. Tonsila palatina
B. Korteks 1. Epitel
Dibungkus oleh epitel berlapis gepeng tanpa
Korteks dari nodulus limfatikus mempunyai ciri lapisan tanduk yang meluas ke dalam kriptus
dengan adanya nodulus limfatikus dengan korona tonsil. Limfosit mungkin pindah melalui epitel.
yang gelap terutama terdiri dari limfosit B dan 2. Nodaluslimfatikus
Mengelilingi kriptus dan sering tampak pusat ger-
pusat germinal yang lebih pucat pada pewarnaan, minal.
ditempati oleh limfoblas B yang aktif, makrofag
dan sel-sel retikulum dendritik semuanya ditemu- 3. Kapsula
kan dalam korteks. Trabekula dari jaringan ikat
membagi korteks menjadi kompartemen yang tidak Kapsula jaringan ikat kolagen padat tidak ber-
sempurna. Sinus subkapsularis dan sinus korti- aturan memisahkan tonsil dari dinding muskulatur
kalis memperlihatkan limfosit, sel-sel retikulum farings di bawahnya. Septa, berasal dari kapsula,
danmakrofag.
meluas ke dalam tonsil.
4. Kelenjar
Tidakada.
C. Parakorteks B. Tonsila faringea
Parakorteks adalah daerah antara korteks dan 1. Epitel
medula, terdiri atas limfosit T. Terdapat venula
pasca kapiler dengan endotel kuboidal yang khas. Sebagian besar permukaan bebasnya dibungkus
D. Medula oleh epitel bertingkat torak bersilia (diinfiltrasi
Medula memperlihatkan jaringan ikat trabe-
oleh limfosit) juga lipatan-lipatan yang menyerupai
kriptus.
252 . Atlas Berwarna Histologi
2. Nodulus limfatikus C.Zona marginalis
Kebanyakan nodulus limfatikus memperlihatkan
pusatgerminal. Kelompokan longgar dari limfosit' makrofag dan
sel plasma, terletak antara pulpa alba dan pulpa
3. Kapsula rubra. Zonaini diperdarahi oleh lengkungan kapi-
Kapsula yang tipis, letaknya dalam tonsil, mem- ler yang berasal dari arteria sentralis.
bentuk septa untuk tonsil.
D. Pulpa rubra
4. Kelenjar
Saluran keluar kelenjar seromukosa, di bawah Pulpa rubra terdiri atas tali-tali pulpa dan sinu-
kapsula, menembus tonsil untuk terbuka ke epitel soid. Tali-tali pulpa terdiri atas serat-serat retikulin
yang melapisinya. yang halus, sel retikulum yang berbentuk bintang,
sel-sel plasma, makrofag dan sel-sel darah yang
G. Tonsila lingualis
beredar. Sinusoid dibatasi oleh sel-sel endotel me-
L Epitel manj ang tidak kontinyu, dikelilingi oleh membrana
Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk basalis seperli simpai menebal dalam kaitannya
membungkus tonsil dan meluas ke dalam kriptus dengan serat retikulin. Padabeberapa daerah peni-
yangdangkal. sili jelas terlihat di pulpa rubra. Ini adalah arteriol
pulpa, arteriol berselubung dan kapiler arteri ter-
2. Nodulus limfatikus minal. Untuk membuktikan bahwa sirkulasi dalam
Kebanyakan nodulus limfatikus memperlihatkan pulpa rubra terbuka atau tertutup tidak ada, walau-
pusatgerminal. pun pada manusia sirkulasi terbuka lebih sering ada.
3. Kapsula E. Serat retikulin
Kapsula tipis, tidak j elas terlihat
Dengan memakai pulasan khusus dapat tampak
4. Kelenjar jala-jala luas dari serat retikulin yang menyusun
Kelenjar seromukosa terbuka ke dasar kriptus. rangkalimpa.
III. LIMPA IV. TIMUS
A. Kapsula A. Kapsula
Kapsula terdiri atas jaringan ikat kolagen padat Kapsula yang tipis terdiri atas jaringan ikat kola-
tidak beraturan paling tebal pada hilus, mempu- gen padat tidak beraturan (dengan beberapa serat
nyai beberapa serat elastin dan sel-sel otot polos. elastin) yang membentangkan trabekula interlo-
Limpa dibungkus oleh mesotel, tetapi tidak dike- bularis dan secara tidak sempunta membagi timus
lilingi oleh jaringan lemak. Trabekula, di dalam- meniadilobulus.
nya ada pembuluh darah, terbentang dari kapsula ke B. Korteks
dalam substansia limpa.
Korteks tidak mempunyai nodulus limfatikus atau
B. Pulpa alba sel-sel plasma. Korteks terdiri atas sel-sel retiku-
lum yang terpulas pucat, makrofag dan limfosit
Pulpa alba terdiri atas periarterial lymphatic T kecil, tersusun padat, gelap disebut timosit menye-
sheath dan nodulus limfatikus dengan pusat ger- babkan gambaran korleks gelap. Sel retikulum epite-
lial juga mengelilingi kapiler, satu-satunya pem-
minal. Baik periarterial lymphatic sheath (ditempati
limfosit T) maupun nodulus limfatikus (ditempati buluh darah yang ada di korteks.
limfosit B) mengelilingi arteria sentralis yang C. Medula
letaknya tidak tepat di tengah, ini merupakan ciri
Medula yang terpulas lebih jernih daripada kor-
khaslimpa.
Iaringan Limfoid r 233
teks, kontinyu dari satu lobulus ke lobulus lainnya. fositsertasel-selretikulumepitelialdigantikanoleh
Medula berisi sel plasma, limfosit, makrofag dan lemak. Dalam medula, korpuskulum timus
sel retikulum epitelial. Selanjutnya, korpusku- meningkatjumlahdanukurannya.
lum timus (Hassall), tersusun melingkari sel-sel
retikulum epitelial, merupakan gambaran khas E. Serat retikulin dan sinusoid
medulatimus'
Timus tidak mempunyai serat-serat retikulin
D. rnvorusi -auPunsinusoid'
Timus mulai involusi segera setelah pubertas. Kor-
teks menjadi kurang padat karena kumpulan lim-
254 . Atlas Berwarna Histologt
)
10Sistem Endohrin
Sistem endokrin, bersama-sama dengan sistem duksi dan/atau pelepasan hormon tertentu diham-
saraf, menyusun homeostasis melalui pengaruh,
koordinasi dan penggabungan fungsi fisiologik tubuh. bat.
Sistem endokrin terdiri atas beberapa kelenjar. O KELENJAR PITUITARI
berupa kelompokan sel-sel yang terpisah dalam
Kelenjar pituitari (hipofisis) terdiri atas bebe-
organ tertentu dan sel-sel yang tersebar di antara sel-
rapa daerah, yaitu pars anterior (pars distalis), pars
sel parenkim tubuh. Bab ini hanya menjelaskan tuberalis, tangkai infundibulum, pars intermedia
dan pars nervosa (dua yang terakhir disebut pars
bagian sistem endokrin yang terdiri atas kelenjar.
Pulau Langerhans, sel-sel interstisial Leydig, sel-sel posterior) (lihat Gambar 10-1). Karena kelenjar
yang berperan untuk produksi hormon ovarium dan pituitari berkembang dari dua asal embrional yang
sel-sel APUD/DNES (diffuse neuroendocrine) akan
terpisah, epitel atap farings dan dasar diensefalon,
dijelaskan dalam bab yang berkaitan. hal ini sering dibicarakan sebagai dua bagian yang
terpisah yaitu adenohipofisis (pars anterior, pars
Kelenjar endokrin dijelaskan di sini adalah tuberalis dan pars intermedia) dan neurohipofi-
sis (tangkai infundibulum dan pars nervosa). Pars
kelenjar pituitari, kelenjar tiroid, kelenjar parati- nervosa adalah kontinyu dengan hipotalamus mela-
Iui tangkai neural yang tipis (tangkai infundibulum).
roid, kelenjar suprarenalis dan badan pineaLis. Seluruh
Kelenjar hipofisis menerima pasokan darah
keleniar ini menghasilkan hormon, molekul-
dari arteri hipofisialis superior kanan dan kiri,
molekul dengan berat molekul rendah yang dibawa
melalui aliran darah ke sel-sel tujuannya. Karena memperdarahi eminensia mediana, pars tuberalis
itu, kelenjar endokrin mempunyai suplai darah yang dan infundibulum dan dari arteri hipofisialis infe-
rior kanan dan kiri, memperdarahi pars nervosa.
luas, terutama kaya akan kapiler fenestrata. Karena
beberapa hormon adalah protein, hormon ini tidak Sistem Portal Hipofisialis: kedua arleri hipo-
menembus plasmalema sel tujuan tetapi melekat ke fisis superior mempercabangkan ke pleksus kapi-
reseptor khusus pada membran plasma sel tujuan, ler primer yang terletak di daerah eminensia mediana.
jadi mengaktifkan sistem messenger kedua intra- Vena porta hipofisialis menyalurkan darah plek-
selular. Hormon lainnya adalah larut dalam lemak, sus kapilaris primer dan mengalirkannya ke dalam
dan selanjutnya masuk ke sitoplasma sel tujuan, pleksus kapiler sekunder, yang terletak di pars dista-
memberikan pengaruhya secara intraselular. Masih
ada hormon lainnya yang bekerja mengubah per- lis. Keduapleksus kapilerterdiri atas kapilerfenestrata.
bedaan potensial listrik melalui plasmalema sel ter-
tentu, seperti sel otot atau neuron. Karena itu, akti- Pars anterior
vitas hormon secara luas, tergantung padaresep-
torsel tujuan yang mana menjadi melekat. Kebe- Pars anterior terdiri atas sejumlah sel parenkim
radaat kebanyakan hormon juga memancing res- yang tersusun dalam tali-tali tebal, dengan kapiler-
pons umpan balik melalui pembuluh darah, yang
mana selan'iutnya respons yang diinginkan, pro-
Sistem Endohrin . 255
GAMBAR 10-1 Kelenjar Pituitari dan Hormon-hormonnya
Sel-sel neurosekretoris terletak Hipotalamus
dalam hipotalamus mensekresi
hormon pelepasan dan
hormon penghambatan
Absorpsi air Eminensia
mediana
b'j&*d#*4$tr
'ffi,i:.tuff
Ginjal #";.ai Sistem portal
Kontraksi -nl-e1r.1'y'-o-s-a" ",,- '+ai Pars distalis
mioepitel r,i,.,,:,,i:Fi; 'E .''rl"ffiADH s
i:1+ r rri N4
S'r'egt :* 'r't ;.:sitosin.ti.:::.,ril'ii
fu:r , l.ii
"$l=ffi,fri
Korteks
adrenal
TSH%-* \: J. .., {,,'rr Sekresi
'..4 EC
Kelenjar payudara Hormon pertumbuhan I i.,.'.
melalui somatomedin It * I'i:;,i1'
;: '*l#. j.I" i. .i/
Tiroid
1\W\ A
*: i ..,
ri i)ilfrd' "rt,r)'
, rl Spermatogenesis
Pertumbuhan # -4 j
Tulang , seKresr
ff,di ffi' Testis ',""".4 androqen
Hiperglikemia &4 Otot
g ,r Jaringan a"l+q d--$\j! folikel: sekresi
lemak
Peningkatan ',"do estrogen i
asam lemak
bebas ,: .. H ovulasi:
: sekresi
progesteron
; Kelenjar
'VI oavudara
Sekresi susu
236 . Atlas Berwarna Htstologt
GAMBAR 1O-2 Kelenjar Endokrin Kelenjar suprarenalis
Kelenjar Tiroid
Z. retikularis
Sel parafolikular
Sistem Endohrin o 23?
kapiler lebar disebut sinusoid yang kaya akan vas- stimulating hormone dan adrenocorticotropin.
kularisasi. Sel-sel parenkim diklasifikasikan men-
jadi dua kategori yaitu salah satunya menunjukkan Ada kemungkinan bahwa satu jenis sel basofil meng-
granula terpulas baik disebut kromofil dan jenis lain- hasilkan kedua j enis hormon ini.
nya adalah sel-sel yang tidak mempunyai afinitas
kuat terhadap zat warna disebut kromofob. Kromo- Pars nervosa dan tangkai
infundibulum
fil ada dua jenis yaitu asidofil dan basofil. Mes-
Pars nervosa tidak memberi gambaran yang
kipun diperdebatkan klasifikasi seperti ini terutama tersusun baik. Bagian ini terdiri atas pituisit, diduga
fungsinya, diduga ada paling sedikit enam atau sebenarnya merupakan sel saraf yang berfungsi
tujuh hormon dibuat oleh pars anterior oleh sel-sel sebagai penyokong untuk sejumlah serat saraftidak
yang berbeda. Hormon-hormon ini adalah somato- bermielin dari pars nervosa. Akson ini dengan badan
tropin, tirotropin (TSH), follicle-stimulating hor- sel yang terletak di supraoptik dan nukleus para-
mone (FSH), interstitial cell-stimulating hormone ventrikular dari hipotalamus masuk ke pars ner-
(luteinizing hormone/LH), prolactin, adrenocor- vosa melalui traktus hipofisis-hipotalamus. Ujung
ticotropin (ACTH) dan melanocyte-stimulating akson yang melebar dari serat saraf tidak bermielin
hormone (MSH). Diduga ada duaienis sel asidofil
yang menghasilkan somatotropin dan prolaktin, ini disebut badan Herring. Bangunan ini berisi
sementara berbagai kelompok basofil menghasi-
lkan lima hormon lainnya. Kromofob, mungkin hormon neurosekretorik oksitosin dan hormon
tidak menghasilkan hormon. Diduga asidofil dan antidiuretik (vasopresin, ADH). Kedua jenis hor-
basofil yang telah melepaskan granulanya. mon ini tidak dihasilkan dalam pars nervosa tetapi
dalam badan sel di hipotalamus. Pelepasan hormon
Kendali Pelepasan Hormon Hipofisis Ante- neurosekretoris ini (neurosekresi) diperantarai oleh
impuls saraf dan terdapat pada permukaan antara
rior: Akson dari neuron parviselular, hipofisio- akhiran akson dan kapiler fenestrata. Ketika akson
siap melepaskan hasil sekresinya, pituisit menarik
tropik dimana soma terletak di nukleus paraventri- julurannya dan membiarkan hasil sekresi langsung
kularis dan nukleus arkuata dari hipotalamus ber- kekapiler.
akhir pada jala-jala kapiler primer. Akson ini me-
nyimpan hormon pelepasan (somatotropin-releasing Pars tuberalis
hormone, prolactin releasing hormone, corlicotropin-
releasing hormone, thyrotropin-releasing hormone Pars tuberalis terdiri atas sejumlah sel-sel
dan gonadotropin-releasing hormone) dan hormon
penghambat (prolacting-inhibiting hormone, inhi- kuboid yang fungsinya tidak diketahui.
bitin dan somatostatin). Hormon dilepaskan oleh
O KELENJAR TIROID
akson ini ke dalam pleksus kapiler primer dan
Kelenjar tiroid terdiri atas lobus kanan dan
dihantarkan ke pleksus kapiler sekunder oleh vena lobus kiri, dihubungkan oleh ismus yang sempit
pona hipofisialis. Hormon kemudian mengaktifkan yang melintasi kaftilago tiroid dan trakea bagian
(atau menghambat) kromofil adenohipofisis, menye- atas (lihat Gambar 10-2). Kelenjar ini dibungkus
babkan kromofil melepaskan atau mencegahnya dari
pelepas an hormon-hormon ini. oleh kapsula jaringan ikat, dimana septa menembus
Selain mengendalikan, ada mekanisme umpan kelenjar ini, tidak hanya membentuk jala penyo-
balik negatif, sehingga keberadaan kadar plasma kong tetapi juga mendapat banyak aliran darah.
yang khas dari hormon hipofisis mencegah kro- Parenkim kelenjar ini tersusun atas sel-sel dalam
mofil melepaskan tambahan jumlah hormonnya. sejumlah folikel, yang terdiri atas epitel selapis
kubis membatasi suatu lumen yang berisi koloid.
Pars intermedia Koloid disekresi dan diabsorpsi oleh sel-sel folikel,
yang terdiri dari hormon tiroid yang terikat pada
Pars intermedia tidak berkembang baik. Di- protein besar dan komplek disebut tiroglobulin.
duga sel-sel di daerah ini telah berpindah ke dalam
pars anterior untuk menghasilkan melanocyte-
238 . Atlas Berwarna Histologi
Ada sel sekretoris lainnya yaitu sel-sel parafoliku- bentuk korteks, dan neuroektoderm yang mem-
lar (clear cells) ada di tiroid. Sel-sel parafolikular bentuk medula. Pembuluh darah yang banyak pada
ini tidak berhubungan dengan bahan koloid. Sel ini kelenjar dialirkan bersama-sama unsur jaringan ikat
menghasilkan hormon kalsitonin, yang langsung
dilepaskan ke dalam jaringan ikat yang berdekatan yang berasal dari kapsula.
dengan kapiler. Hormon tiroid adalah penting untuk
pengaturan metabolisme basal dan untuk mempe- Itfuiteks
ngaruhi kecepatan pertumbuhan dan proses mental
dan umumnya merangsang kelenjar endokrin ber- Korteks dibagi menjadi tiga daerah konsentris
fungsi. Kalsitonin membantu mengendalikan kon- ataLr zona. Daerah yang paling luar tepat di bawah
kapsula adalah zona glomerulosa, dimana sel-se1-
sentrasi kalsium dalam darah melalui resotpsi tulang
oleh osteoklas (yaitu ketika kadar kalsium darah nya tersusun dalam lengkungan dan bulatan dengan
tinggi, kalsitonin dilepaskan). sejumlah kapiler yang mengelilinginya. Daerah ke-
dua yaitu zona fasikulata, merupakan daerah yang
. KELENJAR PARATIROID paling lebar. Sel-sel parenkimnya biasanya disebut
Kelenjar paratiroid, biasanya berjumlah spongiosit, tersusun tali-tali memanjang dengan
seiumlah kapiler di antara tali-tali itu. Daerah kor-
empat. terbenam dalam selubung fasia sisi posterior teks yang paling dalam adalah zona retikularis,
tersusun dalam tali-tali sel yang saling beranasto-
kelenjar tiroid. Kelenjar paratiroid mempunyai mosis dengan jala-jala kapiler di antaranya. Tiga
jenis hormon yang dihasilkan kofieks suprarenalis
kapsulajaringan ikat yang tipis daripadanya diper- yaitu mineralokortikoid (zona glomerulosa), glu-
cabangkan septa menembus kelenjar dan menghan- kokortikoid (zona fasikulata dan sedikit zonarcti-
tarkan darah ke sebelah dalam. Pada orang dewasa, kularis) dan beberapa androgen (zona fasikulata
ada dua jenis sel yaitu sejumlah sel-sel utama yang
kecil dan sejumlah kecil sel asidofil yang besar dan zonaretikularis).
yaitu oksifil. Pada individu yang lebih tua, sering Medula
terjadi sebukan sel lemak ke dalam kelenjar. Meski- Sel-sel medula suprarenalis, tersusun dalam tali-
pun tidak diketahui fungsi oksifil, sel utama meng- tali pendek tidak beraturan, dikelilingi jala-jala kapi-
ler, mengandung sejumlah granula yang terpulas
hasilkan hormon paratiroid (PTH)' pengatur jelas jikajaringan yang baru dipotong diberi garam
kromium. Hal ini disebut sebagai reaksi kromafin
paling penting "dari menitke menit" kalsium dalam dan sel-selnya disebut sel-sel kromafin. Ada dua
tubuh. Jika kadar kalsium darah turun di bawah nor- jenis sel kromafin yaitu pertama menghasilkan epi-
mal, reseptor pengindra-kalsium pada sel utama nefrin dan yang lainnya menghasilkan norepine-
menyebabkannya untuk melepaskan PTH, yang frin, jadi ada dua jenis hormon di medula supra-
membantu mengendalikan kadar kalsium serum renalis. Karena sel-sel ini dipersarafi oleh serat saraf
dengan bekerja langsung pada osteoblas untuk me- simpatis preganglionar, sel-sel kromafin diduga ber-
ningkatkan aktivitas osteoklastik, mengurangi pele- hubungan dengan neuron simpatis postganglionar
pasan kalsium melalui ginjal dan membantu absorpsi (lihat Gambar 10-3) Selain itu, medula kelenjar
kalsium dalam usus. Kekurangan kelenjar para- suprarenalis juga ditempati badan sel saraf simpatis
tiroid tidak cocok dengan kehidupan. postganglionik yang besar, yang fungsinya masih
tidakdiketahui.
O KFLENJAR SUPRARENALIS
Kelenjar suprarenalis (kelenjar adrenal pada O BADAN PINEALIS
beberapa hewan) dibungkus kapsula jaringan ikat
Badan pinealis (epifisis) adalah suatu tonjolan
(lihnt Gambar l0-2 dan 10-3). Kelenjar ini secara atap diensefal on (lihat Gambar l0-2). Jaringan ikat
yang membungkus badan pinealis adalah piamater
embriologik berasal dari dua jaringan embrional
yang berbeda yaitu epitel mesoderm, yang mem-
Sistem Endokrin r 239
yang mengirimkan trabekula dan septa ke dalam kong pinealosit. Yang menarik, serotonin hanya
substansi badan pineal, membaginya menjadi lobu- dihasilkan pada siang hari, sementara melatonin
lus yang tidak sempurna. Pembuluh darah bersama dihasilkan hanya pada malam hari. Badan pinealis
dengan serat-serat simpatis pasca-ganglionik dari menerima rangsangan tidak langsung dari retina
ganglia servikal superior yang masuk dan keluar yang memungkinkan pinealis membedakan siang
dari badan pinealis berjalan dalam unsur jaringan dan malam yang mengaturirama sirkadian.
ikat dan kehilangan selubung mielin. Unsur sel yang
utama dari badan pinealis adalah pinealosit dan sel Ruang intraselular dari badan pinealis berisi zat-
neuroglia. Pinealosit membentuk melatonin dan
zat granular yang mengalami kalsifikasi disebut
serotonin, sedangkan sel-sel neuroglia sebagai penyo- brain sand (korpora arenacea), kepentingannya
masih tidak diketahui.
240 . Atlas Berwarna Histologi
GAMBAR 10-3 Persarafan Simpatis Visera dan Medula
Kelenjar Suprarenalis
Neuron dan serat preganglionik simpatis a--
Neuron dan serat postganglionik simpatis
f r"6=E.--qJ 4'
.lr*"
L' I * a-i-
j#.
J cri
Gangtitn ."H
radiks
ventralis
Sistem Endohrin . 24t
LI
@ Histofisiologi
I. MEKANISME KERJA HORMON menghambation tefientu dari menembus membran
sel, jadi mempengaruhi potensil membran. Neuro-
Hormon adalah zatyang disekresi oleh sel-sel sis-
tem endokrin ke dalam celah-celah jaringan ikat. transmiter dan katekolamin bekerja pada ion
Beberapa hormon bekerja langsung di dekat sekresi-
nya, sedangkan hormon lainnya memasuki sistem channel.
vaskular dan menemukan sel-sel tujuan jauh dari
tempat asalnya. Ikatan sebagian besar hormon pada reseptornya
Beberapa hormon (misalnya hormon tiroid) hanya akan terjadi sekali saja, yaitu aktivasi
adenilat siklase. Enzim ini berfungsi dalam per-
mempunyai efek umum yaitu hampir semua sel-sel ubahan ATP menjadi cAMP (cyclic adenosine
dipengaruhinya; hormon lainnya (misalnya aldos-
teron) hanya mempengaruhi sel-sel tertentu. Resep- monophosphate), messenger kedua yang utama
tor letaknya pada membran sel atau dalam sel yang dari sel. cAMP kemudian mengaktifkan rantai enzim
khusus untuk hormon tertentu. Pengikatan suatu spesifik, yang penting untuk mencapai hasil yang
diharapkan. Ada sedikit hormon yang mengaktif-
hormon dimulai dengan rangkaian reaksi yang kan zat yang sama yaitu cyclic guanosine mono-
phosphate (cGMP), yang berfungsi dalam cara
menghasilkan respons tertentu. Karena khas reaksi yang serupa.
tersebut, hanya dibutuhkan jumlah hormon yang Beberapa hormon memfasilitasi pembukaan
calcium channel; kalsium masuk sel dan tiga atau
sangat sedikit. Beberapa hormon mengeluarkan dan empat ion kalsium berikatan pada protein calmo-
yang lainnya menghambat respons tefientu. dulin, dengan carayang sama. Kalsium yang dipe-
ngaruhi adalah messenger kedua, yang mengaktif-
Ada dua jenis hormon yaitu non-steroid dan ste- kan rangkaian enzim, memberikan respons yang
roid. Hormon non-steroid mungkin turunan tirosin
(katekolamin dan hormon tiroid) dan sedikit peptida khusus.
(ADH dan oksitosin) atau protein kecil (glukagon,
insulin, protein pituitari antrior dan parathormon). Hormon tiroid adalah tidak biasa, dimana hor-
Hormon steroid adalah turunan kolesterol (aldos-
teron, kortisol, estrogen, progesteron dan testos- mon ini secara langsung masuk inti, dimana hormon
teron).
ini berikatan dengan molekul-molekul reseptor.
A. Hormon non-steroid
Kompleks hormon-reseptor mengendalikan akti-
Hormon non-steroid berikatan dengan reseptor vitas operator dan/promotor, menghasilkan tran-
(beberapa adalah rantai protein G, dan beberapa di skripsi mRNA. mRNA yang baru saja terbentuk
artaranya adalah katalitik) terletak pada membran memasuki sitoplasma, di sini mengalami translasi
sel target, mengaktifkannya memulai suatu reaksi menjadi protein yang meningkatkan aktivitas meta-
intraselular. Hal ini mungkin bekerja oleh pengaruh bolik sel.
keadaan ion channel (membuka atau menutup) atau
melalui aktivasi (atau inhibisi) suatu enzim atau B. Hormon steroid
kelompok enzim yang berkaitan dengan sisi sito-
Hormon steroid berdifusi ke dalam sel target
plasma dari membran sel.
melalui membran plasma dan sekali memasuki sel,
Membuka atau menutupnya suatu ion channel berikatan pada molekul reseptor. Kompleks mole-
akan memungkinkan ion tertentu menembus atau
kul reseptor-hofinon memasuki inti, mencari
daerah yang khusus pada molekul DNA dan memu-
lai sintesis mRNA. mRNA yang baru saja terbentuk
242 . Atlas Berwarna tlistotogi
memberi isyarat untuk pembentukan enzim khu- menghasilkan vitamin D, yang penting untuk
sus yang akan menyempurnakan hasil yang diingin-
kan. absorpsi kalsium.
II. HORMON TIROID Kadar PTH yang meningkat menyebabkan pe-
ningkatan kadar kalsium plasma; namun, hal itu
A, Sintesis memerlukan beberapa jam untuk mencapai kadar
puncak. Kadar PTH dalam darah juga diatur oleh
Iodium dalam aliran darah secara aktif dibawa ke kadar kalsium plasma.
dalam sel-sel folikel pada sisi basalnya melalui
pompa iodium. Iodium dioksidasi oleh tiroid Kalsitonin bekerj a sebagai antagonis terhadap
peroksidase pada membran apikal sel dan ber- PTH. Tidak seperti PTH, kalsitonin bekerja cepat,
karena kalsitonin berikatan langsung ke reseptor
ikatan dengan residu tirosin dari molekul tiro' pada osteoklas, kalsitonin menarik penurunan pun-
cak pada kadar kalsium darah dalam satu jam. Kal-
globulin. Dalam koloid residu tirosin beriodium sitonin menghambat resorpsi tulang, jadi menurun-
kan kadar ion kalsium dalam darah. Kadar ion kal-
menjadi tersusun kembali untuk membentuk tri- sium yang tinggi dalam darah merangsang pele-
pasan kalsitonin.
iodotironin (Tr) dan tiroksin (To).
IV. KELENJAR SUPRARENALIS
B. Pelepasannya
Parenkim suprarenalis dibagi menjadi korteks sebe-
Ikatan thyroid stimulating hormone ke reseptor lah luar dan medula sebelah dalam.
di sisi basal plasmalema merangsang sel-sel folikel
menjadi sel-sel kuboidal tinggi. Sel-sel ini mem- A. Korteks Suprarenalis
bentuk pseudopodi pada membran apikal sel-nya
yang menangkap dan endositosis cairan koloid. Sel-sel parenkim korteks, berasal dari mesoderm,
Vesikel yang terisi koloid menjadi satu dengan liso- dibagi menjadi tiga zona yang mensekresi hotmon-
som, dan T. serta T, residu dipisahkan dari tiroglo- hormon khusus. Pengendalian sekresi hormonal ini
bulin, bebas berada dalam sitosol dan dilepaskan sebagian besar diatur oleh ACTH dari kelenjar
pada sisi basal sel ke dalam jala-jala kapiler peri- hipofisis.
folikular.
Sel-sel zona glomerulosa mensekresi aldoste-
III. HORMON PARATIROID DAN ron, suatu mineralokortikoid yang bekerja pada sel-
KALSITONIN sel tubulus kontortus distalis ginjal untuk mengatur
keseimbangan air dan elektrolit.
Hormon paratiroid (PTH), dihasilkan oleh sel
Sel-sel zona fasikulata mensekresi kortisol
utama dari kelenjar paratiroid, yang berperan untuk dan kortikosteron. Glukokortikoid ini mengatur
mempertahankan keseimbangan yang tepat ion kal-
sium. Kadar ion kalsium sangat penting untuk fungsi metabolisme karbohidrat, membantu katabolisme
normal sel otot dan sel saraf dan sebagai mekanisme lemak dan protein, memperlihatkan aktivitas anti-
pelepasan untuk zat neurotransmiter. Penurunan inflamasi danmenekan resposn imun.
kadar kalsium darah mengaktifkan mekanisme
umpan balik yang merangsang sekresi sel utama. Sel-sel zona retikularis mensekresi sedikit
PTH berikatan ke reseptor pada osteoblas yang androgen yang membantu sifat maskulinitas.
melepaskan faktor perangsang osteoklas diikuti
B, Medula Suprarenalis
dengan resorpsi tulang dan mengakibatkan pening-
katan kadar ion kalsium darah. Dalam ginjal, PTH Sel-sel parenkim medula berasal dari bahan krista
mencegah kehilangan kalsium dalam urine; jadi, neuralis. Medula terdiri atas dua kelompokan sel-
ion kalsium dikembalikan ke aliran darah. PTH juga sel kromafin yang terutama mensekresi epinefrin
mengendalikan pengambilan kalsium dalam usus (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). Sekresi
secara tidak langsung melalui penyesuaian ginjal kedua katekolamin ini secara langsung diatur oleh
serat-serat preganglionar dari susunan saraf simpa-
Sistem Endohrin o 243
tis yang berpengaruh pada sel-sel neuron simpatis jelas bagaimana fungsi kelenjar pada manusia kelen-
postganglionar menyerupai kromafin. Pelepasan
katekolamin terjadi pada stres fisik dan stres psiko- jar ini berpengaruh pada kendali ritme sirkadian.
logik. Lebih lanjut, sel-sel ganglion simpatis dalam
medula bekerja pada sel-sel otot polos vena medu- Meskipun demikian, melatonin digunakan untuk
laris, sehingga mengendalikan aliran darah dalam mengobati rangguan perbedaan waktu dan dalam
korteks. mengatur respons emosional yang berkaitan dengan
V. BADAN PINEALIS (KELENJAR pemendekan waktu siang hari selama musim dingin,
PINEALIS; EPIFISIS) suatu keadaan yang disebut kelainan afektif mu-
siman (SAD / Seasonal Affective Disorder).
Pinealosit, sel-sel parenkim badan pinealis, men-
sintesis melatonin sewaktu malam. Namun. tidak
244 . Atlas Berwarna Histologi
k
\St.rrrti' CONTOH KASUS KLINIS
Kelenjar Hipofisis merangsang peningkatan produksi hormon tiroid
(hipertiroidisme). Secara klinis, kelenj ar tiroid
Galaktorea adalah suatu kondisi dimana seorang menjadi besar dan tampak goiter eksoftalmik
pria menghasilkan air susu atau seorang wanita (penonjolan bola mata).
yang tidak menyusui bayinya menghasilkan air
susu. Pada pria hal ini sering diikuti dengan impo- Kelenjar Paratiroid
tensia, sakit kepala dan hilang lapang pengli-
hatan perifer dan pada wanita dengan semburan Hiperparatiroidisme mungkin karena adanya
panas (Hot flashes), kekeringan vagina dan siklus suatu tumor jinak yang menyebabkan produksi
mensis yang tidak normal. Kondisi yang jarang berlebihan hormon paratiroid. Kadar PTH tinggi
ini biasanya akibat prolaktinoma, suatu tumor dari
sel-sel yang menghasilkan prolaktin dari kelenjar dalam sirkrulasi menyebabkan peningkatan resorpsi
tulang dengan akibat kalsium darah sangat me-
hipofisis. Kondisi ini biasanya diobati dengan ningkat. Kelebihan kalsium mungkin ditimbun
pada dinding arteri dan pada ginjal, menimbul-
obat-obatan atau pembedahan atau keduanya. kanbatu ginjal.
Infark Hipofisis postpartum adalah suatu Kelenjar Suprarenalis
keadaan pembesaran kelenj ar hipofisis disebab- Penyakit Addison adalah suatu penyakit auto-
kan kehamilan dan selanjutnya menimbulkan imun, meskipun penyakit ini mungkin juga akibat
peningkatan vaskularisasi. Vaskularisasi yang
meningkat pada hipofisis meningkatkan kemung- tuberkulosis. Kelainan ini dicirikan oleh penu-
kinan kejadian vaskular (vascular accident), seperti
halnya perdarahan, yang menyebabkan keru- runan produksi hormon adrenokortikalis akibat
sakan sebagian kelenjar hipofisis. Kondisi ini kerusakan korteks suprarenalis dan tanpa pembe-
jika berat dapat menimbulkan sindroma Sheehan, rian pengobatan steroid mungkin akibatnya fatal.
yang dikenali dengan kurangnya produksi susu,
hilangnya rambutpubis dan aksila serta kelelahan. Sindroma poliglandular tipe 2, suatu
KelenjarTiroid kelainan herediter, mengenai kelenjar tiroid dan
suprarenalis sehingga kelenj ar-kelenj ar ini kurang
Penyakit Grave disebabkan oleh pengikatan aktif (meskipun tiroid mungkin menjadi aktif
berlebihan). seringkali pasien dengan kelainan
autoimun antibodi IgG ke reseptor TSH sehingga ini juga mengidap diabetes.
Sistem Endohrin . 245
GA&.j!BAR t . Kelenjar pituitari. Paraffin section. Komponen neural kelenjar pituitari adalah pars
nervosa (PN) yang tidak membentuk hormon, tetapi
x 19,
menyimpan dan melepaskannya. Bahkan, pada pem-
Gambar fotomikroskopik kelenjar pituitari ini me- besaran ini, tampak jelas mirip dengan jaringan otak
nunjukkan hubungan kelenjar ke hipotalamus (H)
dari sini bergantung infundiblum. Infundibulum dan juga mirip dengan substansi tangkai infundi-
terdiri atas bagian neural yaitu tangkai infundi- bulum. Antara pars anterior dan pars nervosa ada
bulum,/infundibular stem (IS) dan dikelilingi pars intermedia (PI), yang sering memperlihatkan
pars tuberalis (PT). Perhatikan ventrikel ke-
intraglandular cleft (IC), merupakan sisa kan-
tiga (3V) otak yang kontinyu dengan infundi-
bular recess (IR). Bagian terbesar dari pituitari tongRathke.
adalah pars anterior (PA) yang bersifat kelenjar
.GAwIBAB 3 Keleniar pituitari. Pars anterior.
dan mensekresi sejumlah hormon.
Paraffin section. x 270.
GAMBAR 2 r Kelenjar pituitari. Pars anterior. Ini adalah pembesaran kuat dari daerah kotak Gam-
bar 2. Perhatikan kromofob (Co) tidak mengambil
Paraffin section. x 132,
zatwarna dengan baik dan hanya intinya (N) tam-
Pars anterior terdiri atas talitali sel yang besar yang
pak. Sel-sel ini kecil, karena itu kromofob mudah di-
bercabang dan beranastomosis satu sama lain. Tali-
kenali karena intinya tampak berkelompok bersama-
tali ini dikelilingi oleh jala-jala kapiler yang luas. sama. Kromofil dapat diklasifikasikan dalam dua
Namun, kapiler-kapiler ini leba6 yaitu pembuluh kategori berdasarkan afinitasnya terhadap pewar-
yang dibatasi oleh endotel disebut sinusoid (S).
Sel-sel parenkim pituitari anterior dibagi menjadi naan histologik: terpulas biru yaitu basofil (B) dan
dua grup: kromofil (Ci) dan kromofob (Co). berwarna merah muda yaitu asidofil (A). perbe-
daan antara keduajenis sel ini pada sajian diwarnai
Dengan hematoksilin dan eosin perbedaan antara hematoksilin dan eosin tidak tampak jelas seperti
kromofil dan kromofob jelas. Iftomofil terpulas biru
atau merah muda, sedangkan kromofob tidak ter- dengan beberapa pulasan lain. Perhatikanjuga ada-
pulas dengan baik. Daerah kotak diperlihatkan pada
pembesaran kuat dalam Gambar 3. nya sinusoid (S) yang lebar.
niootururr"
)
Pars tuberalis Tangkai infundibulum
Pars intermedia
i3:;""^A Pars anterior
\--Asidofil Basofil
Kromofob
Kelenjar Pituitari
246 . Atlas Berwarna Histologi
f-fiAMBAnll
t-s.AirBAR r-l
A asidofil IC intraglandular cleft PI pars intermedia
IR infundibularrecess PN pars nervosa
B basofil tangkai infundibular PT pars tuberalis
Ci kromofil N inti S sinusoid
Co kromofob pars anterior 3V ventrikelketiga
H hipotalamus N
PA
Sistem Endohrin o 24?
.S&lW&&m n Kelenjar pituitari. Paraffin section. .&A$t48&R 3 Keleniar pituitari. Pars intermedia.
x 540. Manusia. Paraffin section, x 270.
Adalah agak sukar membedakan antara asidofiI (A) Pars intermedia kelenjar pituitari terletak antara pars
dan basofil (B) kelenjar pituitari yang dipulas dengan anterior (PA) dan pars nervosa (PN). Ciri bagian
ini khas oleh adanya basofil (B) yang lebih kecil
hematoksilin dan eosin. Bahkan pada pembesaran daripada yang terdapat di pars anterior. Selain itu,
kuat, seperti dalam fotomikroskopik ini, hanya tam-
pak sedikit perbedaan. Asiofil terpulas agak merah pars intermedia berisi koloid (Cl) yang mengisi foli-
muda dan ukurannya sedikit lebih kecil daripada
basofil, yang terpulas biru pucat. Pada fotomikros- kel, dibatasi oleh sel-sel berbentuk kuboid, pucat dan
kopik hitam dan putih, basofil tampak lebih gelap kecil (panah). Perhatikan beberapa basofil meluas ke
daripada asidofil. Kromofob (Co) mudah dikenali, dalam pars nervosa. Sejumlah pembuluh darah
sedangkan sitoplasmanya sedikit dan tidak meng- (BD dan pituisit tampak di daerah ini dari pars
ambil zat warna. Selanjutnya tali-tali kromofob
nervosa.
tampak sebagai kelompokan inti (N) berkumpul
.*A&{&AS 4 Keleniar pituitari. Pars neryosa.
satu sama lain.
Paraffin section, x 540.
*AMWAR * . Keleniar pituitari. Pars nervosa.
Gambar fotomikroskopik ini adalah pembesaran kuat
Paraffin section. x 132.
daerah kotak pada Gambar 3. Perhatikan inti (N)
Pars nervosa kelenjar pituitari terdiri atas sel-sel
pituisit berbentuk kira-kira lonjong, beberapa tam-
memanjang dengan juluran panjang disebut pituisit pak mempunyai juluran (panah) pada gambar ini.
Serat saraf tidak bermielin dan juluran pituisit mem-
(P), yang sebenarnya merupakan neuroglia. Sel-sel bentuk jala-jala selular pada pars nervosa. Daerah
ujung serat sarafyang meleba4 yang ditempati neuro-
ini, yang mempunyai inti kurang lebih lonjong,
sekret disebut badan Herring (HB). Juga per-
tampak menyokong sejumlah serat tidak bermielin hatikan adanya pembuluh darah (B\| dalam pars
berjalan dari hipotalamus melalui traktus hipota-
lamo-hipofisis. Serat-serat saraf ini tidak dapat dibe- nervosa.
dakan dari sitoplasma pituisit pada sajian yang di-
pulas dengan hematoksilin dan eosin. Zat-zat neuro-
sekretoris berjalan sepanjang serat saraf ini dan
disimpan dalam bagian yang melebar pada ujung
serat, yang diberi nama badan Herring (HB). Per-
hatikan bahwa pars nervosa menyerupai jaringan
saraf. Daera-h kotak diperlihatkan pada pembesaran
kuatdalam Gambar 4.
Pars intermedia
Asidofil Basofil
--Kromofob
Kelenjar Pituitari
248 . Atlas Berwarna Histologi
tseeqffAfi a I
'+'
,{j.
=
teervr**sffiFl {-eAtvteA${n
A asidofil Kromofob pituisit
badanHening pars antrior
B basofil inti pars nervosa
BV pembuluhdarah
CI koloid Sistem Endohrin o 249