The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Terjemahan Clausewitz in the 21st Century

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Unhan RI Press, 2023-07-23 22:03:57

Buku Terjemahan Clausewitz in the 21st Century

Buku Terjemahan Clausewitz in the 21st Century

NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI CLAUSEWITZ DI ABAD KE-21 CLAUSEWITZ IN THE TWENTY-FIRST CENTURY PUSAT STUDI STRATEGI PERTAHANAN UDARA FAKULTAS STRATEGI PERTAHANAN UNIVERSITAS PERTAHANAN RI


CLAUSEWITZ DI ABAD KE-21 CLAUSEWITZ IN THE TWENTY-FIRST CENTURY Anggota IKAPI (415/Anggota Luar Biasa/JBA/2021) Katalog Dalam Terbitan Clausewitz Di Abad Kedua Puluh Satu, Amarulla Octavian, dkk. 2021. Bogor: Unhan RI Press 355.02– ddc 23 v + 395 hlm; 18 cm x 25 cm Cetakan Pertama, UNHAN RI PRESS Tahun 2021 Universitas Pertahanan RI Kawasan IPSC Sentul, Bogor, Jawa Barat 16810 Telp: (021)-87951555, http://www.idu.ac.id Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk tidak terbatas pada memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa seizin tertulis dari penerbit. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2018 TENTANG HAK CIPTA 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerjemahan dan pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada poin kedua di atas yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Penulis : Hew Strachan dan Andreas Herberg-Rothe Penerjemah : Amarulla Octavian, Lasmono, Jonni Mahroza, Anton Iman Santosa, Koesnadi Kardi, Marsono, Bastari, H. M. Kemalsyah, Andi Arman, Supri Abu, Bambang Eko, Sukmo Gunardi, Rujito D. Asmoro, Hilman Putra Sandika Editor : Haposan Simatupang, I Nengah Putra A., Ari Pitoyo Sumarno Desain Sampul : Sri Sundari, I Nengah Putra A.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA iii NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI PRAKATA Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga edisi terjemahan bahasa Indonesia dari buku berjudul “Clausewitz in the 21st Century” yang disunting oleh Hew Strachan dan Andreas Herberg-Rothe dapat diterbitkan oleh Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Secara garis besar, buku ini membahas relevansi gagasan-gagasan dan tema-tema utama dalam buku On War yang ditulis Clausewitz dihadapkan pada konteks abad ke-21. Di tengah maraknya komentator yang berpendapat bahwa buku On War telah kehilangan keunggulan analitisnya sebagai alat untuk memahami perang sejak berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1990, buku ini berhasil menemukan lebih banyak inspirasi dan wawasan terhadap relevansi gagasan-gagasan dan tema-tema utama Clausewitz di abad ke-21 daripada yang disangkakan oleh para komentator tersebut. Dengan merangkul perspektif sejarah, filsafat, dan ilmu politik, buku ini menafsirkan kembali On War dan implikasinya saat ini. Buku ini sangat bermanfaat untuk memperoleh wawasan baru terkait berbagai tantangan dan persoalan tentang perang dan strategi di abad ke-21 dari gagasan-gagasan dan perspektif Clausewitz dalam On War. Kami tim penerjemah dari Pusat Studi Strategi Pertahanan Udara Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (termasuk di dalamnya para Dosen) sengaja menerjemahkan buku ini untuk kepentingan proses belajar mengajar di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam seluruh proses yang ditempuh hingga buku ini selesai dan dapat diterbitkan. Akhir kata, kami berharap semoga buku ini dapat membawa kemanfaatan yang berlimpah bagi para pembacanya dan memberi sumbangsih yang besar dalam memperluas khazanah ilmu pertahanan di negara kita tercinta, Republik Indonesia.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA iv NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI DAFTAR ISI PRAKATA ....................................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................... iv KATA PENGANTAR ......................................................................................... 1 CATATAN TENTANG PARA KONTRIBUTOR....................................................... 4 PENDAHULUAN.............................................................................................. 7 BAB 1 – CLAUSEWITZ DAN PERANG DIALEKTIKA.............................................. 22 BAB 2 – CLAUSEWITZ DAN SIFAT PERANG NON-LINIER: SISTEM KOMPLEKSITAS TERORGANISIR............................................................................................... 58 BAB 3 – BUKU ON WAR KARYA CLAUSEWITZ: PERMASALAHAN NASKAH DAN TERJEMAHAN................................................................................................. 73 BAB 4 – KEUTAMAAN KEBIJAKAN DAN 'TRINITAS' DALAM PIKIRAN DEWASA CLAUSEWITZ .................................................................................................. 92 BAB 5 – INSTRUMEN: CLAUSEWITZ TENTANG MAKSUD DAN TUJUAN DALAM PERANG.........................................................................................................113 BAB 6 – KEKUATAN MORAL DALAM PERANG..................................................131 BAB 7 – PERANG SEBAGAI 'SENI': ESTETIKA DAN POLITIK DALAM PEMIKIRAN SOSIAL CLAUSEWITZ.......................................................................................148 BAB 8 – GAGASAN CLAUSEWITZ MENGENAI STRATEGI DAN KEMENANGAN ....167 BAB 9 – TENTANG PERTAHANAN SEBAGAI BENTUK PERANG YANG LEBIH KUAT .............................................................................................................199 BAB 10 – CLAUSEWITZ DAN PERANG KECIL .....................................................224 BAB 11 – CLAUSEWITZ DAN SIFAT PERANG MELAWAN TEROR.........................241 BAB 12 – CLAUSEWITZ DAN PRIVATISASI PERANG...........................................269 BAB 13 – CLAUSEWITZ DAN PEPERANGAN INFORMASI ...................................284 BAB 14 – CLAUSEWITZ DAN DUA GODAAN DARI PEMIKIRAN STRATEGIS MODERN .......................................................................................................309 BAB 15 – HUBUNGAN SIPIL-MILITER DAN DEMOKRASI....................................328 BAB 16 – CLAUSEWITZ DAN PEMBENDUNGAN BARU: BATASAN PERANG DAN KEKERASAN ...................................................................................................349


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA v NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI INDEKS.......................................................................................................... 379


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 1 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI KATA PENGANTAR Clausewitz On War: Sejarah Terjemahan Howard-Paret Ide terjemahan baru dari Buku On War muncul pada akhir dekade 1950-an ketika Peter Paret dan saya bekerja bersama di King's College London. Peter sedang mempelajari hubungan antara gagasan-gagasan militer dan politik di Prusia pada abad kedelapan belas untuk tesisnya tentang Yorck vOn Wartenburg, sementara saya sedang menyusun kursus pertama saya untuk Departemen Studi Perang terbaru. Peter sangat prihatin dengan ketidakakuratan dan kesalahan penafsiran dalam terjemahan bahasa Inggris Buku On War. Saya lebih tertarik pada nilai berkelanjutan dari naskah sebagai alat didaktik untuk mahasiswa sipil dan militer, terutama terkait wawasan tentang konsep 'gesekan' dan pentingnya 'kekuatan moral' yang mana saya menjadi sangat sadar akan hal tersebut ketika saya menjalankan dinas militer. Saat kembali ke Princeton pada tahun 1961, Peter membahas masalah ini dengan sejarawan Gordon Craig dan ilmuwan politik Klaus Knorr. Mereka membujuk Princeton University Press agar mensponsori proyek penerjemahan seluruh karya tulisan militer dan politik Clausewitz dalam enam jilid, masing-masing dengan editor dan penerjemah terpisah. Pertemuan para peminat proyek tersebut berlangsung di Berlin pada bulan Juni 1962. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Werner Hahlweg, yang edisi On War-nya akan menjadi dasar untuk terjemahan bahasa Inggris, sejarawan Amerika John Shy, Knorr, Craig, Peter, saya sendiri, dan ditambah pemikir strategis Bernard Brodie. Brodie baru saja menerbitkan Buku Strategy in the Nuclear Age dan sangat tertarik dengan pemikiran Clausewitz tentang 'perang terbatas'. Klaus Knorr dan Pers sangat ingin mendapatkan kerja sama tersebut karena menganggap bahwa nama mereka akan memberikan kredibilitas pada proyek tersebut dengan khalayak yang jauh lebih luas. Ketegangan pada panel muncul di antara para sejarawan yang melihat saya sebagai editor yang tepat untuk Buku On War dengan para ilmuwan politik serta perwakilan Pers yang lebih memilih Brodie. Hal tersebut berakhir dengan menunjuk kami berdua karena tidak ada yang memiliki cukup penguasaan bahasa Jerman untuk melakukan terjemahan. Saya berusaha mencari penerjemah professional. Sementara Peter yang sebenarnya bilingual akan menerjemahkan buku A Droit De Regard dan dibuat sejumlah enam jilid.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 2 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Saya beruntung menemukan penerjemah yang sangat baik, yakni Angus Malcolm. Angus adalah mantan anggota Kantor Luar Negeri Inggris yang belakangan ini menyelesaikan terjemahan The German Officer Corps karya Karl Demeter. Dia sangat akrab dengan materi pelajaran tersebut. Dia memiliki keuntungan lebih karena cukup berjalan kaki singkat untuk menuju tempat saya di London. Namun, pekerjaan itu berjalan lambat. Malcolm dan saya yang bekerja di London menghasilkan draf yang kami coba buat sedekat mungkin dengan penggunaan bahasa Inggris kontemporer. Kami kemudian mengulas draf tersebut pertama kali dengan Peter yang sekarang mengajar di Universitas California. Selanjutnya dengan Brodie di Los Angeles dan terakhir dengan Princeton University Press di New Jersey yang penerjemahnya menganggap sebagian besar versi Malcolm – Howard terlalu menggunakan bahasa ‘sehari-hari’. Semua ini terjadi di era sebelum mesin faks atau email ditemukan. Pada tahun 1970, tugas tersebut masih belum selesai dan Malcolm justru meninggal saat masih mengerjakan proyek tersebut. Namun kemajuan yang lebih sedikit justru terjadi pada jilid-jilid lain dalam seri yang diproyeksikan. Nyatanya, tidak satupun dari jilid tersebut yang turun cetak sama sekali. Wajar saja, Princeton University Press membatalkan proyek aslinya. Sementara On War bertahan karena antusiasme dan pengaruh yang terus-menerus dari Bernard Brodie, yang memang antusiasmenya begitu besar sampai esai pengantarnya menjadi tebal sedemikian panjang, sehingga sebagian besar harus dilepaskan dan dicetak sebagai penutup terpisah. Pada tahun 1974, Brodie membujuk penerbit untuk menandatangani kontrak baru. Peter dan saya kemudian memperbaiki seluruh naskah, dan jilid ini akhirnya terbit pada tahun 1976. Penerbitannya tepat waktu. Peristiwa Perang Vietnam telah menarik perhatian para pemimpin militer dan ilmuwan politik dalam hubungan antara kepemimpinan politik dan militer. Ancaman senjata nuklir yang berkelanjutan membuat perbedaan antara perang 'absolut' dan 'terbatas' menjadi sangat relevan, sementara penekanan Clausewitz pada gesekan, kekuatan moral, dan kualitas kepemimpinan memberinya kredibilitas dengan tentara profesional yang mungkin telah menemukan banyak tulisannya yang sangat abstrak atau ketinggalan zaman. Kami sangat beruntung dapat mempresentasikan karyanya dalam naskah yang dapat diakses baik oleh perguruan tinggi militer maupun mahasiswa. Masih ada masalah penerjemahan yang gagal kami atasi. Politik, misalnya: apakah berarti 'kebijakan' atau 'politik'? Keduanya tidak membawa bobot penuh seperti aslinya: keduanya menyiratkan bahwa tentara diperintahkan untuk tunduk pada intrik 'politisi' belaka dan masih tetap menjadi poin penting bagi komentator terkemuka seperti Sir John Keegan. 'Strategi raya’ (Grand strategy), istilah yang


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 3 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI kemudian dipopulerkan oleh Paul Kennedy, mungkin lebih baik, tetapi tidak ada kata dalam bahasa Inggris yang benar-benar sesuai. Hal yang sama ditemukan pada kata wunderlich yang diterapkan Clausewitz pada 'trinitas' pemerintahan, militer, dan rakyatnya yang terkenal. Penerjemah sebelumnya telah menggunakan 'keajaiban' (wondrous), arkaisme yang sekarang hanya ditemukan dalam himne Kristen yang menggambarkan jenis Tritunggal yang berbeda. Tapi mungkinkah itu yang diinginkan Clausewitz? Baik 'luar biasa' maupun 'paradoksal' tidak membawa bobot asli sepenuhnya. Jika saya memulai dari awal lagi, saya mungkin puas dengan 'luar biasa', namun saya terbuka untuk saran-saran lain. Michael Howard


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 4 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Catatan Tentang Para Kontributor Christopher Bassford adalah Profesor Strategi di National War College, Washington, DC. Dia adalah penulis Clausewitz dalam bahasa Inggris, The Reception of Clausewitz in Britain and America, 1815–1945 (Oxford University Press, 1994) dan editor dari The Clausewitz Homepage (http://www.clausewitz.com). Dia juga salah satu editor dari The Boston Consulting Group’s business-oriented pada buku Clausewitz On Strategy: Inspiration and Insight from a Master Strategist (2001). Alan Beyerchen mengajar sejarah Jerman abad ke-19 dan ke-20 di Departemen Sejarah di Ohio State University. Dia terkenal karena bukunya, yakni Scientists Under Hitler, dan telah menerbitkan Jurnal Clausewitz, Nonlinearity and the Unpredictability of War, International Security Vol. 17 (winter 1992–3): 59–90. Christopher Daase adalah Profesor Ilmu Politik dan Ketua Hubungan Internasional di University of Munich. Sebelumnya dia adalah Dosen Senior di University of Kent dan Direktur Program Analisis Konflik Internasional di Brussels School of International Studies. Dia adalah penulis Kleine Kriege—Grosse Wirkung (Small Wars—Big Effects) dan telah menerbitkan banyak artikel tentang teori hubungan internasional, lembaga internasional, kebijakan luar negeri dan keamanan, terorisme, dan isu-isu terkait lainnya. Benoît Durieux, seorang perwira militer Prancis yang ditugaskan di Staf Pertahanan Bersama Prancis sebagai kolonel setelah sebelumnya bertugas di berbagai unit Legiun Asing Prancis. Pada tahun 2005, ia menerbitkan Relire De la guerre de Clausewitz (Editions Economica, Paris). Antulio J. Echevarria II (mantan perwira militer) adalah Direktur Riset di US Army War College. Dia telah menerbitkan banyak artikel tentang Clausewitz dan peperangan kontemporer. Bukunya, Clausewitz and Contemporary War, diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2007, dan dia juga penulis dari After Clausewitz: German Military Thinkers before the Great War (2000). Andreas Herberg-Rothe adalah dosen swasta dalam ilmu politik Humboldt University di Berlin. Dia menjadi anggota asosiasi dari Program Oxford Leverhulme tentang Perubahan Karakter Perang (2004–5) dan tamu kunjungan di London School of Economics and Political Science (2005–6). Karyanya termasuk Das Rätsel


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 5 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Clausewitz (2001), diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Clausewitz Puzzle: The Political Theory of War (2007) dan Der Krieg. Geschichte und Gegenwart (2003). Beatrice Heuser adalah Direktur Riset di Kantor Riset Sejarah Militer Bundeswehr, saat ini menyokong Universitas of Bundeswehr di Munich. Setelah memperoleh gelar di London dan Oxford, dia belajar Habilitasi di University of Marburg. Dia telah mengajar di University of Reims and Lille dan menjadi profesor studi internasional dan strategis di Departemen Studi Perang, King's College, London. Buku-bukunya yakni Reading Clausewitz (2002) dan Nuclear Mentalities? Strategy and Beliefs in Britain, France and Germany (1998). Saat ini ia sedang mengerjakan sebuah buku berjudul The Evolution of Strategy since Vegetius, yang akan diterbitkan pada tahun 2008. Jan Willem Honig adalah Dosen Senior Studi Perang di King's College London dan Profesor Strategi di Swedish National Defense College di Stockholm. Publikasinya termasuk buku Clausewitz baru-baru ini, yaitu perkenalan edisi ulang lengkap dari terjemahan J. J. Graham untuk Barnes & Noble di New York. Jan Willem Honig bersama Norbert Both juga penulis dari buku Srebrenica: Record of a War Crime (1996). Ulrike Kleemeier adalah dosen swasta dalam bidang filsafat di Westfälische Wilhelms-Universität di Münster. Terbitannya antara lain Gottlob Frege Kontext — Prinzip und Ontologie (1997) dan Grundfragen einer Philosophischen Theorien des Krieges. Über die Konzeptionen von Platon-Hobbes-Clausewitz (2002). David J. Lonsdale adalah Dosen Kajian Strategis di University of Hull. Dia seorang spesialis dalam teori strategis dan aplikasinya pada setting strategis historis dan kontemporer. Publikasinya antara lain The Nature of War in the Information Age: Clausewitzian Future (2004), dan Alexander the Great: Lessons in Strategy (2004). Daniel Moran adalah profesor sejarah internasional dan militer di Naval Postgraduate School di Monterey, California. Dia bersama Peter Paret adalah penyunting dari Carl von Clausewitz: Historical and Political Writings (Princeton, NJ, 1992) dan penulis Wars of National Liberation (2001). Herfried Münkler adalah profesor teori politik dan sejarah gagasan politik di Humboldt University di Berlin. Pada tahun 1992, ia menjadi anggota Akademi Sains Berlin-Brandenburg dan Ketua International Marx-Engels-Foundation, Amsterdam. Buku-bukunya antara lain Machiavelli (1982), Gewalt und Ordnung (1992), Über den Krieg (2002), Die Neuen Kriege (2004), yang telah diterjemahkan sebagai The New Wars (2005), Der Wandel desKrieges. Von der Symmetrie zu Asymmetrie (2006), dan


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 6 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Empires: The Logic of World Domination from Ancient Rome to the United States (2007). Hew Strachan adalah Profesor Chichele dari Sejarah Perang di University of Oxford. Dia juga adalah Direktur Program Leverhulme tentang Perubahan Karakter Perang dan anggota dari All Souls College. Dia adalah anggota seumur hidup Corpus Christi College, Cambridge, dan telah menjadi dosen di Royal Military Academy Sandhurst dan Profesor Sejarah Modern di University of Glasgow. Terbitannya mencakup secara umum sejarah Angkatan Darat Inggris, Perang Dunia Pertama, dan pelaksanaan perang, dan juga Clausewitz’s On War: A Biography (2007). Jon Sumida adalah profesor sejarah di Universitas Maryland, College Park, dan pernah menjabat sebagai Ketua Teori Militer Mayor Jenderal Matthew C. Horner di US Marine Corps University (2004–6). Dia juga mengajar di US National War College, US Marine Corps School of Advanced Warfighting, dan US Army Advanced Strategic Arts Program. Buku-bukunya antara lain In Defence of Naval Supremacy: Finance, Technology and British Naval Policy, 1889–1914 (1989), Inventing Grand Strategy and Teaching Command: The Classic Works of Alfred Thayer Mahan Reconsidered (1997), dan monografnya Engaging the Clausewitzian Mind yang sedang dalam penerbitan. José Fernández Vega mengajar filosofi dan estetika sosial di University of Buenos Aires. Dia adalah peneliti tetap di Conicet, Dewan Riset Ilmiah Nasional Argentina, dan telah mendapatkan beasiswa DAAD di Humboldt University di Berlin dan beasiswa Fulbright. Bukunya termasuk Carl von Clausewitz: Guerra, politica, filosofia (1995) dan Las guerras de la política: Clausewitz entre Maquiavelo y Perón (Buenos Aires, 2005). Wilfried von Bredow adalah profesor ilmu politik di Philipps-Universität, Marburg. Dia telah menulis tentang kebijakan luar negeri Jerman, kebijakan keamanan transatlantik, hubungan sipil-militer, dan juga buku terbarunya yaitu Streitkräfte in der Demokratie (Wiesbaden, 2007).


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 7 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI PENDAHULUAN Hew Stachan dan Andreas Herberg-Rothe Buku On War karya Carl von Clausewitz adalah buku utama yang digunakan sebagai rujukan perang. Terkenal di Eropa maupun luar Eropa, para juru ulas di bidang militer telah menggunakan tulisannya sebagai titik permulaan untuk pertanyaanpertanyaan mereka, jika bukan untuk jawaban-jawaban mereka. Seorang reporter yang meliput perang di Afghanistan setelah serangan di Amerika Serikat pada 11 September 2001 menemukan salinan seluruh edisi On War di sebuah rumah persembunyian al-Qaeda. Penemuan tersebut sangat jelas menunjukan hal-hal berikut. Pertama, menunjukkan bahwa para pakar dari Barat mengutuk Teori Clausewitz sebagai teori yang sudah ketinggalan zaman. Teori Clausewitz hanya relevan dengan era ketika tentara Eropa bertempur satu sama lain dalam konflik 'simetris', sebuah zaman yang tampaknya berakhir seiring dengan berakhirnya Perang Dingin di tahun 1990. Kedua, bagian buku yang ditandai oleh teroris membahas tentang keberanian. Buku tersebut tidak membahas penggunaan perang sebagai instrumen politik. Ada lebih banyak Clausewitz daripada satu ‘formula rahasia’ yang diulang. 1 Karena Clausewitz telah memberi kita begitu banyak alat konseptual yang memungkinkan kita untuk memahami sifat perang, terdapat dua hal yang cenderung terjadi ketika perang menunjukkan karakteristik yang berbeda. Pertama, kami bertanya-tanya apakah Clausewitz masih relevan. Mereka yang ingin meneriakkan hal-hal baru tentang apa yang sedang terjadi mengatakan bahwa Clausewitz sudah tidak releven. Clausewitz menyamakan perang dengan bunglon, yang memungkinkan adanya perubahan dalam wujudnya, tetapi menunjukkan bahwa sifat dasarnya tetap tidak berubah. Para pengkritiknya mengatakan bahwa beberapa perubahan dapat mengubah sifat perang dan bahwa sifat perang saat ini sangat berbeda dari sifat perang pada zaman Clausewitz sendiri, yakni zaman Napoleon. Dengan kata lain, perubahan tersebut lebih mendasar daripada yang dapat dijelaskan dengan pergeseran karakteristik. Kedua, ketika situasi mulai tenang, Clausewitz cenderung menyelamatkan posisinya, tetapi dia melakukannya karena pembacanya menemukan sudut pandang baru untuk mendekati naskah. 1Lucasta Miller, 'Bound for Glory', sebuah wawancara dengan David Campbell, penerbit serial Everyman, The Guardian, Review, 13 Mei 2006, hlm. 11.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 8 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Oleh karena itu, pertanyaan kunci yang muncul dari poin kedua ini cenderung berbeda dari pertanyaan yang diajukan oleh kritikus Clausewitz. Mereka menuntut secara retoris apakah On War akan terus memiliki relevansi. Semakin terbuka pertanyaan yang diajukan, semakin terungkap kesadaran yang lebih besar tentang apakah interpretasi Clausewitz yang terbaru dan modern tetap menjadi yang paling relevan. Setiap generasi yang membaca On War membangun pemahamannya sendiri tentang perang dan masing-masing memiliki penafsiran sendiri tentang Clausewitz. Tidak ada ilustrasi yang lebih menarik tentang hal ini selain yang paling terkenal dari semua pepatah Clausewitz adalah bahwa 'perang adalah instrumen kebijakan'. 2 Hal itu bukanlah pengetahuan baru ketika Clausewitz menulisnya, dan itu dibagikan oleh rekan-rekannya di Akademi Perang di Berlin, seperti Otto August Rühle von Lilienstern, 3 dan juga diasimilasi oleh saingan terbesarnya di dunia teori militer abad kesembilan belas, Antoine-Henri Jomini, dalam bukunya Précis de l'art de la guerre (1838). Lebih jauh lagi, ini bukanlah tentang di mana beban On War berada. Clausewitz menulis jauh lebih banyak dan secara definitif tentang hubungan antara elemen penyusun perang, strategi dan taktik, daripada yang dia tuliskan tentang hubungan antara perang dan kebijakan. Dia mencurahkan diskusi paling ekstensif dalam On War untuk pertahanan. Dia memberi konsep seperti 'gesekan' dengan maksud yang sangat longgar seperti 'kabut perang', dia mencoba untuk mendefinisikan 'jenius militer'; dan dia membuat perbedaan penting antara perang nyata dan 'perang absolut', yaitu perang dalam bentuk yang ideal tetapi tidak dapat direalisasikan. Namun ini bukanlah wawasan yang dirujuk oleh jurnalis saat ini ketika mereka sering menggunakan julukan 'Clausewitzian'. Itu adalah julukan mereka untuk gagasan bahwa perang 'hanyalah sebuah bagian dari aktivitas politik; bahwa perang sama sekali tidak bisa berdiri sendiri'. 4 Titik awal untuk setiap bab yang membentuk jilid ini adalah perhatian para jurnalis kontemporer, bukan masalah Clausewitz ketika dia menulis (meskipun lebih terpusat pada beberapa hal terkait). Hal itu berarti hubungan antara perang dan politik begitu besar. Hal tersebut mengharuskan proposisinya telah berada di bawah penelitian, dan karena Clausewitz sendiri telah teridentifikasi menjadi sasaran. Perkara nilai dalam mempelajari Clausewitz harus ditetapkan kembali. Dengan sendirinya, penyederhanaan On War memiliki dua efek yang merusak. Secara khusus, penyederhanaan ini salah menafsirkan perbedaan pandangan Clausewitz 2 On War, VIII, 6B, p. 610. 3 Beatrice Heuser, Reading Clausewitz (London, 2002), pp. 30, 44–5. 4 On War, VIII, 6B, p. 605.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 9 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI dengan hubungan antara perang dan politik, dan secara umum dapat mendistorsi pesan-pesan lain di dalam buku yang berkaitan dengan lebih dari sekedar hubungan tersebut. Pembelajaran Clausewitz pada awal abad kedua puluh satu menghadapi tantangan kedua dan bahkan lebih penting dari yang biasa terjadi dan berakibat penghinaan. Karakter perang telah berubah sedemikian rupa sejak zamannya, sehingga beberapa juru ulas mengatakan bahwa ini telah mencapai titik kritis. Sifat perang juga telah berubah secara fundamental. Perbedaan antara karakter sebuah fenomena dan sifat dasarnya adalah hal yang penting. Clausewitz tentu boleh menjadi yang pertama, tetapi mungkin tidak menjadi yang terakhir. Pada akhirnya apa yang saat ini menjadi bab yang paling banyak dibaca dari On War, buku I, Bab 1, adalah bagian yang disebut 'trinitas'. Christopher Bassford mengeksplorasi maknanya secara lebih lengkap dalam babnya di buku ini. Terjemahan bahasa Inggris terbaru dari naskah tersebut oleh Michael Howard dan Peter Paret membuat kalimat pembukanya sebagai berikut: 'Perang lebih dari sekedar bunglon sungguhan yang menyesuaikan karakteristik dirinya dengan kasus tertentu. Sebagai sebuah fenomena, kecenderungan dominannya selalu membuat perang menjadi trinitas yang luar biasa.’ 5 Jelas bahwa bunglon tetaplah bunglon, apa pun warna yang diadopsinya untuk saat ini. Dua kata penting dalam terjemahan tersebut adalah 'lebih dari', yang menyiratkan bahwa keadaan perang dapat menyebabkan perang berubah lebih dari karakteristiknya. Perang dengan kata lain tidak seperti bunglon. Namun, dalam terjemahan terdahulu oleh OS Matthijs Jolles, yang lebih condong pada bahasa Jerman asli, menerjemahkan: 'Perang bukan hanya bunglon sungguhan, karena bagaimanapun dalam setiap kasus konkret perang dapat berubah karakternya, tetapi juga… adalah trinitas yang ganjil’. 6 Implikasinya adalah bahwa perang mungkin saja seperti bunglon, yang mengubah karakternya tetapi bukan sifatnya, yang terdiri dari trinitas. Tetapi baik terjemahan Howard-Paret maupun oleh Jolles tidak menangkap nuansa yang tepat dari naskah asli Clausewitz, yakni ‘Der Krieg ist also nicht nur ein wahres Chamäleon, weil er in jedem konkreten Fall seine Natur etwas ändert, sondern er ist auch seinem Gesamterscheinungen nach, in Bezeihung auf die in ihm herrschenden Tendenzen, eine wunderliche Dreifaltigkeit'. 7 Implikasi ini adalah bahwa perang memang bisa menjadi bunglon, karena ia mengubah sedikit sifatnya dalam setiap kasus individu ('karakter' nya), tetapi bukan sifatnya secara umum, yang terdiri dari trinitas (Bassford). Jadi kita 5 On War, I, 1, § 28, hlm. 89. 6 Karl von Clausewitz, On War, Diterjemahkan oleh O. J. Matthijs Jolles (Washington, DC, 1950), I, 1, § 28, hlm. 18. 7 Vom Kriege, ed. Werner Hahlweg (19th edn, Bonn, 1980), I, 1, § 28, hlm. 212–13


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 10 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI berakhir dengan terjemahan yang berbunyi: 'perang bukanlah bunglon sungguhan, karena ia sedikit mengubah sifatnya dalam setiap kasus konkret dan juga dalam wujudnya secara keseluruhan dalam kaitannya dengan kecenderungan yang melekat padanya, yaitu trinitas yang luar biasa'. Dalam buku ini terdapat bab-bab yang mengembangkan kedua tema tersebut. Jan Willem Honig mengeksplorasi masalah penerjemahan Clausewitz, dan Antulio Echevarria berpendapat bahwa perubahan karakter perang dapat memengaruhi sifatnya. Dalam dunia tindakan sosial dan politik, tidak seperti bunglon, perubahan karakter yang komprehensif dapat menyebabkan perubahan sifat. Bab Echavarria berfokus mengenai dampak pada sifat perang dari apa yang diidentifikasi oleh Amerika Serikat sebagai 'perang melawan teror'. Jika terorisme sendiri adalah salah satu alat untuk berperang dan jika memungkinkan berperang melawan alat pertempuran itu sendiri untuk tujuan mengalahkan musuh tertentu dalam pencarian sasaran kebijakan, sifat perang itu kemungkinan besar akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari yang dipahami Clausewitz. Namun rangkaian kondisi tersebut bertumpu pada asumsi bahwa kita telah memulai dengan pemahaman yang tepat tentang perang itu sendiri. Bagaimanapun, seperti yang ditunjukkan Bassford, inilah alasan mengapa kebanyakan orang membaca On War sejak awal untuk memahami perang, bukan karena mereka tertarik secara khusus untuk memahami Clausewitz. Anggapan dalam banyaknya tanggapan kontemporer di tahun-tahun pertama abad kedua puluh satu dan terlebih lagi dalam kebijakan pemerintah Amerika Serikat dan Inggris adalah bahwa serangan teroris 11 September 2001 telah mengubah setidaknya karakter dan sifat perang. Tetapi seperti yang sering terjadi dalam urusan manusia, kita berada dalam bahaya karena mengistimewakan peristiwa yang dapat didefinisikan secara jelas dalam jangka panjang dan perubahan yang lebih bertahap. Serangan 9/11 jelas merupakan momen yang menentukan dalam kehidupan masyarakat dan tidak hanya di Amerika Serikat. Berkat berita yang disiarkan di televisi secara real-time, peristiwa tersebut menjadi semacam peristiwa yang mendorong individu untuk bereaksi terhadap berita ke dalam istilah yang lebih subjektif daripada objektif tentang apa yang mereka lakukan dan di mana mereka berada saat pesawat menabrak menara kembar. Sama seperti orang-orang saat mengingat di mana mereka berada ketika mereka mendengar masuknya negara mereka ke dalam Perang Dunia Pertama atau apa yang mereka lakukan ketika mereka mendengar berita pembunuhan Presiden J. F. Kennedy.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 11 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Serangan 9/11 mungkin telah mengubah karakter dan bahkan sifat perang. Namun, banyak dari apa yang terjadi setelahnya dan terutama invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak tidaklah mendukung proposisi itu. Angkatan bersenjata digunakan oleh Amerika Serikat dan Inggris untuk mengejar tujuan politik: Tindakan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris adalah tindakan para Clausewitzian yang paling kuno. Sejak serangan tersebut, berkat lamanya, korban jiwa, dan kegigihan pertempuran di Irak dan Afghanistan, serta keyakinan yang berkembang bahwa perang mungkin tidak dapat mencapai tujuan politik Amerika Serikat, studi strategis menjadi terpaku pada perang tersebut. Terlebih lagi perang di Irak yang dapat disebut sebagai bentuk perang eksklusif di abad mendatang. Yang lebih menarik perhatian adalah kurangnya perspektif yang menyebabkan kegagalan untuk melihat perang lain yang terjadi di belahan dunia lainnya pada saat yang sama atau mengabaikan untuk melihat peristiwa terkini dalam konteks sejarah, sehingga tidak dapat membedakan apa yang benar-benar baru dan apa yang seolah-olah baru. Clausewitz menghadapi kesulitan yang sama. Setelah menulis sebuah buku yang sebagian besar berasal dari pengalaman Perang Napoleon, dan yang memperlakukannya sebagai model implisit untuk masa depan, ia tiba-tiba menyadari terdapat kekurangan terhadap sejarah dari metodologi yang ia buat. Dia telah menulis apa yang diinginkan untuk pembelajaran perang sebagai fenomena umum yang mengabaikan banyak bukti yang diberikan oleh perang sebelum tahun 1792, dan hampir semua perang sebelum tahun 1740. Dia menyadari, mungkin pada tahun 1827, dia harus memiliki teori perang yang mencakup semua perang, bukan hanya beberapa perang. Secara khusus, dia harus mengikuti pola peperangan yang berlaku di abad kedelapan belas sebelum Revolusi Prancis. Clausewitz awal telah terjebak dalam kekuatan strategi Napoleon yang memiliki kekerasan yang tak terkendali dan membawa kemenangan besar di Austerlitz pada tahun 1805 serta Jena pada tahun 1806. Tetapi Clausewitz kemudian terpaksa mempertimbangkan kembali asumsi yang dihasilkan dari pertempuran tersebut dengan gagalnya strategi yang sama di Rusia pada tahun 1812 dan kekalahan terakhir Napoleon di Waterloo. Strategi yang membawa awal mula kesuksesan bagi Napoleon pada akhirnya berkontribusi pada kejatuhannya. Clausewitz menyimpulkan bahwa tekad yang kuat untuk berperang mungkin akan menghasilkan kemenangan dalam jangka pendek tetapi dapat menyebabkan kekalahan dalam jangka panjang, kecuali jika hal tersebut berada di bawah kebijakan yang unggul. 8 8 Andreas Herberg-Rothe, Clausewitz’s Puzzle: The Political Theory of War (Oxford, 2007).


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 12 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Paralelnya bersifat instruktif, karena dalam melihat peristiwa 9/11 sebagai titik acuan, kita telah mengabaikan pergeseran yang jauh lebih besar yang lebih lambat dalam evolusinya, tetapi mencapai puncaknya satu dekade lebih dahulu, seiring dengan berakhirnya Perang Dingin. Ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar bagi asumsi-asumsi Clausewitzian. Sebelum tahun 1990, Amerika begitu enggan, terbatas, dan hati-hati untuk berperang. Sejak tahun 1990 hambatan tersebut secara bertahap menghilang. Dua penjelasan yang sangat jelas menonjol untuk menjelaskan pergeseran itu adalah pertama, absennya saingan mana pun yang menandingi Uni Soviet sejak tahun 1990 (betapa pun retorika diarahkan pada al-Qaeda yang mungkin menunjukkan sebaliknya). Kedua, adalah berkurangnya senjata nuklir secara signifikan dan efek jera terhadapnya. Pada tahun 1980, dengan Perang Dingin yang masih memuncak, ClausewitzGesellschaft di Jerman mengadakan konferensi untuk menandai peringatan dua abad kelahiran Clausewitz. Seorang mantan inspektur jenderal Bundeswehr, Ulrich de Maizière, memberikan kata pengantar untuk jilid esai yang menghasilkan Buku Freiheit ohne Krieg? (Kebebasan tanpa perang?). Tujuan dari buku tersebut adalah untuk menunjukkan pemikiran Clausewitz mana yang penting untuk saat ini. Secara khusus, dia bertanya apakah perang masih bisa menjadi instrumen kebijakan mengingat kemungkinan bahwa konflik konvensional, setidaknya di Eropa, akan meningkat menjadi konflik baku hantam nuklir. Hans Apel, Menteri Pertahanan Republik Federal, menjawab dengan tegas: “Perang tidak bisa lagi menjadi instrumen kebijakan. Sebaliknya, kekuatan militer, sebagai instrumen kebijakan hanya dapat memiliki tugas untuk mencegah perang dan mengamankan perdamaian.”9 Dia melanjutkan, tujuan kebijakan keamanan adalah untuk membuat perang menjadi sia-sia, bukan kemampuan untuk memenangkan perang. Clausewitz menulis tentang mengobarkan perang, bukan tentang menjaga perdamaian: di mata Apel dia jelas-jelas berlebihan. Tetapi sebagian besar kontributor memandang Perang Dingin tidak seperti itu, tidak terkecuali Ulrich de Maizière sendiri. Clausewitz, katanya (dengan akurasi yang bisa diperdebatkan), tidak menganggap perang dan perdamaian sebagai lawan, tetapi melihat keduanya dimasukkan dalam konsep kebijakan yang menyeluruh. Oleh karena itu, ia menyimpulkan, pengaruh kebijakan pada kekuatan militer tidak dapat dibatasi hanya pada perang, dan juga era perang menggunakan atom, jauh dari kontradiksi Clausewitz, memperkuat 9 Hans Apel, ‘Vom Kriege—Vom Frieden. Zur Sicherheitspolitik der Bundesrepublik Deutschland’, di Eberhard Wagemann dan Joachim Niemeyer (eds), Freiheit ohne Krieg? Beiträge zur StrategieDiskussion der Gegenwart im Spiegel der Theorie von Carl von Clausewitz (Bonn, 1980), hlm.15.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 13 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI kesimpulan dengan bukti tersebut. Politik tetap menjadi tujuannya dan perang sebagai alatnya, dan alat dalam konteks ini tidak dapat terpisahkan dari tujuan. 10 Buku Freiheit ohne Krieg? membagi pokok bahasannya menjadi tiga kategori, hubungan antara perang dan kebijakan; dimensi strategi yang mempengaruhi angkatan bersenjata tertentu (bahkan ada bab tentang 'validitas penilaian Clausewitz untuk bidang perang udara dan ruang angkasa'); dan tentang diskusi Clausewitz di masa depan. Bab-bab dalam buku ini, Clausewitz in the Twenty-first Century, diambil dari konferensi yang diadakan di Oxford pada Maret 2005, tahun yang menjadi ulang tahun ke-225 kelahiran Clausewitz. Agenda yang dihadapkan pada konferensi itu sangat berbeda dari yang dihadapi oleh Clausewitz-Gesellschaft dua puluh lima tahun sebelumnya. Sekarang pepatah Clausewitz tentang hubungan antara perang dan kebijakan diabaikan karena alasan yang sangat berbeda, bukan karena perang tidak memiliki kegunaan, tetapi karena perang itu dilakukan untuk alasan yang tidak berdasarkan politik atau kebijakan. Perang menurut beberapa ahli bukan lagi kewenangan angkatan bersenjata, namun para aktor non-negara. Dengan demikian, muncul pertanyaan, apakah strategi yang secara sederhana didefinisikan (yang merupakan sebagian besar isi dari On War) adalah cara terbaik untuk melihat apa yang sebenarnya tidak lagi disebut perang, tetapi konflik bersenjata. Akhirnya, bahkan bagian ketiga, yang lebih tidak jelas dari agenda Freiheit ohne Krieg? dipertanyakan. Beberapa kritikus secara terang-terangan meragukan apakah On War milik Clausewitz masih memiliki tempat dalam perdebatan studi strategis dan keamanan. Dia berasal dari masa lalu, pada periode yang dimulai pada tahun 1648 dengan berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun ketika perdamaian di Westfalen atau setidaknya menurut para ahli teori hubungan internasional, menjadikan perang sebagai urusan negara semata-mata, dan berakhir pada tahun 1990, ketika negara-negara diduga kehilangan monopoli dalam perang. Terlepas dari apakah ini merupakan karakterisasi yang akurat dari perang antara tahun 1648 dan 1990 (sebagian besar sejarawan tidak berpendapat demikian), pertanyaan masih muncul, apakah teori Clausewitz hanya berkaitan dengan peperangan antarnegara. Antulio Echevarria telah menyatakan di tempat lain bahwa 'teori perang Clausewitz akan tetap berlaku selama panglima perang, bandar obat terlarang, teroris internasional, komunitas ras atau agama akan 10 Ulrich de Maizière, ‘Politische Führung und militärische Macht’, hlm. 92–107


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 14 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI mengobarkan perang. 11 Untuk menyelaraskan posisi ini dengan beberapa pernyataan Clausewitz tentang kebijakan negara, kita harus melebarkan konsep politiknya. Bagi Echevarria, Clausewitz memahami bahwa sebuah komunitas memiliki identitas politik dan sosialnya sendiri, bahkan jika komunitas itu tidak memiliki status kenegaraan. Penafsiran semacam itu sejalan dengan kepentingan Clausewitz sendiri dalam perang sebelum tahun 1648, di mana ia secara khusus mengaitkan kelemahan negara dengan 'manifestasi luar biasa dalam seni perang,'12 dan dengan tinjauan sejarah perang yang disediakan Clausewitz dalam buku VIII, bab 3B, On War, di mana dia menggambarkan 'orang-orang Tartar yang semibarbar, republik-republik kuno, para penguasa feodal dan kota-kota perdagangan Abad Pertengahan, raja-raja abad kedelapan belas dan para penguasa dan rakyat abad kesembilan belas’sebagai 'semua yang melakukan perang dengan cara mereka sendiri, menggunakan metode yang berbeda dan mengejar tujuan yang berbeda'. 13 Clausewitz menekankan bahwa dalam semua kasus ini perang tetap merupakan kelanjutan kebijakan dengan cara lain. Bagaimanapun juga yang dilakukannya adalah membenamkan perbedaan antara kebijakan negara dan niat komunitas lain yang berperang. Oleh karena itu, untuk membantu pemahaman kita tentang Clausewitz, menjadi masuk akal jika melengkapi keunggulan kebijakan sebagai kategori umum dengan afiliasi pihak yang berperang untuk komunitas yang bertikai. Jika komunitas adalah negara, kita dapat berbicara tentang politik dalam pengertian modern. Jika komunitas adalah etnis, agama, atau lainnya, sistem nilai dan tujuan komunitas tersebut, termasuk budaya mereka, adalah faktor yang lebih penting, meskipun hal ini berarti mengganti penggunaan Clausewitz dari istilah 'negara' dengan 'komunitas yang berperang' atau sebutan sejenisnya. Kita tetap berpegang pada apa yang dia pahami untuk mewujudkan keadaan yang diinginkan. Di sini, seperti juga di manapun, kita bisa berada dalam bahaya jika memaksakan pemahaman modern atas sebuah pernyataan pada konsep Clausewitz. Ini adalah tuduhan yang dapat dilontarkan dengan kekuatan tertentu pada tiga buku khususnya, yang telah menantang keunggulan On War dalam literatur tentang strategi, di mana semua diterbitkan sebelum serangan 9/11 dan setelah berakhirnya Perang Dingin. Pertama, berdasarkan urutan waktunya, adalah The Transformation of War karya Martin van Creveld (judul edisi Amerika, dan On Future War dalam versi Inggrisnya). Mengekstrapolasi dari bagian terakhir buku On War I, bab 1, van 11 Antulio Echevarria, ‘War, Politics and the RMA: The Legacy of Clausewitz’, Joint Force Quarterly, 10 (musim dingin 1995–6), 76–80; lihat juga Isabelle Duyvesteyn, Clausewitz and African Wars (London, 1995). 12 Lihat Chapter Hew Strachan’s di volum ini, hlm. 39. 13 On War, VIII, 3B, hlm. 586.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 15 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Creveld mencirikan pandangan Clausewitz tentang perang sebagai “Trinitarian,” dan mengatakan bahwa tiga elemennya adalah rakyat, tentara, dan pemerintah. Dalam kenyataannya Clausewitz mengatakan bahwa trinitas terdiri dari 'kekerasan primordial, kebencian dan permusuhan'; 'permainan peluang dan probabilitas'; dan 'elemen subordinasi perang, sebagai instrumen kebijakan, yang membuatnya tunduk pada alasan saja'.14 Clausewitz kemudian melanjutkan untuk mengidentifikasi masing-masing hal tersebut, tetapi tidak secara eksklusif dengan rakyat, tentara, dan pemerintah. Bagi van Creveld, Clausewitzian Universe bertumpu pada asumsi bahwa perang dilakukan terutama oleh negara atau, tepatnya, oleh pemerintah. 15 Dengan kata lain, Clausewitz yaitu hasil dari apa yang dilihat Van Creveld sebagai pandangan dunia pasca-Westphalia, yang tidak tertarik meskipun ada 'trinitas' pada orang-orang dan minat mereka. Seperti yang ditunjukkan oleh bab Christopher Daase dalam buku ini, van Creveld pada dasarnya salah mengartikannya. Clausewitz sangat tertarik pada berbagai bentuk perang yang ireguler, yang menurut Van Creveld akan menjadi bentuk perang yang dominan di masa depan. Terbitnya The Transformation of War menjadi tidak relevan hanya karena muncul ketika konflik konvensional terjadi, yakni pada Perang Teluk Pertama, dan tampaknya memberikan kesimpulan yang penuh kemenangan. Oleh karena itu, publikasi tersebut dikritik karena terlalu menekankan peran gerilyawan, bandit, dan teroris di masa depan. Dari perspektif tahun 2005, kegagalan ini terlihat tidak terlalu mengerikan; yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah penggunaan tulisan Clausewitz yang selektif dan menyesatkan untuk membuktikannya. Dua tahun kemudian, pada tahun 1993, John Keegan datang pada titik yang sama dari arah berbeda dalam karyanya, A History of Warfare. 'Perang', ia menyatakan dalam kalimat pembukaan buku, 'bukanlah kelanjutan kebijakan dengan cara lain.'16 Keegan berpendapat bahwa perang mendahului pembentukan negara, dan bukan produk dari kebijakan, melainkan budaya. Dia kemudian salah menafsirkan On War dengan cara yang sangat terang-terangan: ‘Tujuan perang menurut Clausewitz adalah untuk mencapai tujuan politik. Sifat perang, dia berhasil membantah, adalah untuk melayani dirinya sendiri. Sebagai kesimpulan, mereka yang mengakhiri perang dengan sendirinya cenderung lebih berhasil daripada mereka yang berusaha memoderasi karakternya untuk tujuan politik’. 17 Bagian ini merangkai tiga pengamatan yang sangat berbeda, yang pertama mencerminkan 14 Terjemahan Howard dan Paret’s: On War, I, 1, § 28, hlm. 89. 15 Martin van Creveld, The Transformation of War (New York, 1991), 49 16 John Keegan, A History of Warfare (London, 1993), 3. 17 Ibid. 22–3; for a sustained attack on Keegan,Lihat Christopher Bassford, ‘John Keegan and the Grand Tradition of Trashing Clausewitz: a Polemic’, War in History, I (1994), hlm. 319–36.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 16 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI bagian-bagian dalam On War, yang keduanya dalam hal apa pun tidak terhubung dengan cara yang disarankan Keegan. Poin ketiga menolak sepenuhnya pengakuan eksplisit Clausewitz sendiri bahwa Napoleon telah melampaui batas dirinya sendiri dan realisasinya sendiri (terbukti dalam catatannya pada tahun 1827) bahwa teori perang apa pun harus mengakomodasi dua jenis perang. Perang tersebut yakni perang untuk menggulingkan musuh dan perang sebagai dasar untuk bernegosiasi dengannya. Keegan bersalah seperti halnya van Creveld, karena membaca On War melalui kacamata penafsirnya lebih belakangan dibandingkan yang mereka tuliskan, dan melakukannya demi argumennya sendiri. Akibatnya, dia membesar-besarkan perhatian Clausewitz pada masalah perang dan kebijakan, serta memutarbalikkan apa yang dikatakan On War tentang hubungan antara keduanya. Penutupan tren ini adalah Buku Mary Kaldor yang berjudul New and Old Wars: Organized Violence in a Global Era yang diterbitkan pada tahun 1999. Pada beberapa tingkatan, Kaldor adalah kritikus Clausewitz yang jauh lebih canggih dan berbobot daripada van Creveld atau Keegan. Dia mulai dengan mengatakan bahwa Clausewitz suka menunjukkan bahwa 'perang adalah aktivitas sosial’,18 sebuah pengamatan yang mengarah ke inti dari apa sebenarnya yang dimaksud Clausewitz dengan kebijakan atau politik. Kata dalam bahasa Jerman, Politik, memang mencakup keduanya, tetapi jelas juga bahwa Clausewitz memiliki arti yang berbeda pada titik yang berbeda. Terkadang konteksnya menunjukkan bahwa dia memikirkan kebijakan luar negeri, di sisi lain dia juga menyoroti pergolakan sosial dari Revolusi Prancis dan konsekuensinya bagi peperangan. Tetapi Kaldor, seperti kebanyakan orang lain yang mengomentari Clausewitz, tidak berhenti untuk mempertimbangkan konsekuensi dari penafsiran yang berbeda ini. Sebaliknya, dia segera melanjutkan ke model hubungan pasca-Westphalia yang begitu memukau Van Creveld dan Keegan, dan yang melibatkan penggabungan pandangan dan pengamatan dalam urutan yang berbeda dari konteks tempat mereka pertama kali muncul, serta membubuhkan catatan-catatan yang diperdebatkan. Sebagai contohnya: Clausewitz mendefinisikan perang sebagai “tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk memaksa lawan kita agar memenuhi keinginan kita”,' Kaldor menulis, tetapi kemudian melanjutkan:'Definisi ini menyiratkan bahwa “kita” dan “lawan kita” adalah negara, dan “keinginan” dari satu negara dapat didefinisikan dengan jelas. Oleh karena itu perang, dalam definisi loyalis penganut Clausewitz adalah antarnegara untuk tujuan politik yang jelas yaitu kepentingan negara. 19 Buku Kaldor berporos pada studi kasusnya tentang perang di Bosnia-Herzegovina antara 18 Mary Kaldor, New and Old Wars: Organized Violence in a Global Era (Cambridge, 1999), hlm. 13. 19 Ibid. 15.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 17 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI tahun 1992 dan 1995. Dari satu contoh ini, dia menyimpulkan bahwa 'perang baru' melibatkan aktor non-negara, panglima perang, dan penjahat, yang tujuannya adalah keuntungan ekonomi sekaligus tujuan politik, dan siapa yang memiliki banyak kepentingan untuk mempertahankan konflik atau mengakhirinya. Oleh karena itu, Clausewitz tidak menjadi analis perang, tetapi menjadi contoh orang yang jatuh cinta pada 'perang lama'. Argumen yang dikemukakan oleh Martin Van Creveld dan Mary Kaldor secara khusus mengangkat dua pertanyaan penting. Yang pertama diajukan kepada sejarawan. Mereka dan terutama kaum abad pertengahan dan modernis awal, dengan kata lain, mereka yang berurusan dengan sejarah Eropa sebelum tahun 1648, dapat dengan mudah dan cepat mengatakan bahwa tidak ada yang baru dalam fenomena The Transformation of War dan New and Old Wars yang digambarkan oleh: aktor non-negara, panglima perang, perampok, dan interpenetrasi (tindakan saling melakukan penetrasi atau serangan ke wilayah musuh) perang dan kejahatan yang bahkan lebih terkenal daripada sekarang. Akan tetapi, mengatakan bahwa manusia yang telah melihat semua ini sebelumnya tidak membuat kita lebih maju dalam hal memahami perang saat ini, juga tidak berurusan dengan masalah nyata dan penting yang diangkat oleh kedua buku tersebut. Tantangan bagi sejarawan adalah untuk mengidentifikasi, bukan kontinuitasnya, tetapi perubahannya, bukan apa yang lama ,tetapi apa yang benar-benar baru. Pertanyaan kedua ditujukan kepada pengkaji Clausewitz. Seringnya, saat para pengikut Clausewitz dihadapkan pada berbagai tantangan terhadap keyakinan mereka yang diajukan oleh Van Creveld, Keegan, dan Kaldor, mereka merespons dengan pembelaan yang dangkal. Misalnya, seorang Clausewitzian, yakni Colin gray, dalam sebuah buku baru-baru ini tentang masa depan perang menggunakan teori Clausewitz untuk menyatakan bahwa 'semua perang adalah hal-hal yang sifatnya sama', dan kemudian mengatakan bahwa tidak ada perang yang otonom, tetapi selalu menjadi instrumen kebijakan. 20 Kedua poin dapat dipertahankan dan mungkin juga benar (setidaknya menurut penilaian penyunting buku ini, Hew Strachan dan Andreas Herberg-Rothe), tetapi seberapa penting otoritas untuk Clausewitz ini? Jika, misalnya, kita percaya bahwa perang selalu dilakukan untuk memenuhi tujuan politik, apakah mengatakan demikian adalah benar? Dan apakah itu membuat kebenaran menjadi lebih benar jika kita menempatkan nama Clausewitz di sampingnya. Ini adalah penggunaan On War oleh jurnalis, dan juga cerminan dari penggunaan buku yang diajukan oleh kritikus Clausewitz di tahun 1990-an. Tak satu pun dari mereka membutuhkan Clausewitz untuk 20 Colin Gray, Another Bloody Century: Future Warfare (London, 2005), 33, 57


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 18 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI mempertahankan poin dasar mereka. Kemunculan gerilya, peran budaya, dan dominasi panglima perang dalam membentuk perang lebih kurang adalah benar karena mereka disajikan sebagai bagian dari kehancuran Clausewitz. Gagasan bahwa perang adalah instrumen politik lebih kurang juga benar karena apa yang diyakini Clausewitz tentang hubungan antara keduanya. Pada pengantar babnya dalam buku ini, Christopher Bassford mengidentifikasi empat pendekatan untuk mempelajari Clausewitz. Pertama, 'the original intent school' adalah sejarawan yang berfokus pada Clausewitz dan tulisannya dalam konteks zaman di mana dia hidup dan menulis. Kedua, ‘the inspirationist school’ menggunakan gagasan Clausewitz untuk tujuan ilmu politik, untuk memancing pemikiran lebih lanjut dan gagasan segar (seperti relevansi On War dengan perang di udara dan ruang angkasa). Ketiga, ‘the receptionist school’, yang juga terdiri dari sejarawan, mempelajari pengaruh gagasan-gagasannya dan dampaknya pada generasi selanjutnya. Terakhir, ‘the editorial school’ terdiri dari mereka yang ingin menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksud Clausewitz ketika dia menulis seperti yang dia lakukan. Jelas, tidak ada batasan yang tegas antara keempat kelompok ini, dan pandangan dari satu disiplin ilmu dapat memberikan pandangan bagi ilmu yang lain. Memang itu adalah premis dari Oxford Leverhulme Programme tentang Perubahan Karakter Perang dan konferensi tentang Buku Clausewitz in the Twenty-first Century yang disponsori. Program ini bertujuan untuk melihat perang secara interdisipliner dari perspektif sejarawan, filsuf, ilmuwan politik, praktisi, begitu pula Clausewitz, meski ia sendiri kurang menyadarinya. Esai berikutnya mencakup semua disiplin ilmu tersebut dan keempat pendekatan Bassford. Selama Perang Dingin, aspek normatif dari Clausewitz awal dikurangi bobotnya, terutama pada seruan untuk mempersenjatai diri dan nasionalisme Jerman yang mendalam yang ia ungkapkan dalam manifesto yang ditulis pada Februari 1812 ketika ia meninggalkan dinas Prusia untuk memperjuangkan Rusia melawan Napoleon (dapat dilihat pada bab Strachan dalam buku ini). Tiga buku yang muncul pada tahun 1976, sebuah Buku Annus Mirabilis untuk studi Clausewitz, yang justru memperburuk bacaan bermasalah ini, buku kedua yakni Penser la guerre dari Raymond Aron, Clausewitz and the State Peter karya Peter Paret, serta terjemahan Michael Howard dan Peter Paret ke dalam bahasa Inggris. Semua adalah mahakarya, tetapi mereka memiliki hak istimewa yang utama dari delapan buku On War dan dalam beberapa hal menganggap bab pertama dari buku pertama masih relevan. Mereka menekankan rasionalitas pendekatan Clausewitz, sehingga perang hanya dapat dipahami sebagai alat untuk mencapai tujuan politik yang telah ditentukan,


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 19 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI atau karena keberadaan senjata nuklir. Aron berargumen bahwa karena penghancuran nuklir di planet tidak bisa menjadi tujuan politik, perang tidak bisa lagi dilakukan, hanya bisa divisualisasikan. Pengurangan sifat liberal teori Clausewitz menjadi rasional adalah faktor yang menyebabkan Clausewitz diserang dalam periode perubahan revolusioner setelah 1989. Tampaknya teori itu tidak lagi berlaku untuk bentuk-bentuk baru kekerasan otonom atau bentuk tindakan lain, misalnya oleh panglima perang. Dalam jilid ini, Christopher Daase dan Herfried Münkler secara eksplisit menguji nilai pendekatan Clausewitz di area yang secara umum dianggap ketinggalan zaman, yakni perang kecil dan bentuk baru kekerasan yang diprivatisasi. Daase membebaskan tulisan Clausewitz tentang perang kecil dan manifestonya tahun 1812 dari beban normatifnya dan menunjukkan betapa bermanfaatnya tulisan tersebut dalam analisis 'perang kecil' kontemporer. Münkler menunjukkan bagaimana penerapan teori Clausewitzian pada 'perang yang diprivatisasi' saat ini mengandung arti pergeseran tafsir mendasar yang melibatkan perpindahan dari apa yang disebut Aron sebagai 'formula'. Dengan kata lain perang sebagai kelanjutan kebijakan dengan cara lain ke keterlibatan eksplisit dengan 'trinitas yang menakjubkan’ dari perang. Dalam trinitas, yang ditekankan Clausewitz mengandung konsep perang yang sebenarnya dan dilihat sebagai titik awal untuk keseluruhan teorinya, dia mengulangi 'formula' secara tidak langsung dan dalam bentuk yang lebih lemah. Kebijakan dalam trinitas menikmati status yang sama dengan dua kecenderungan lainnya dalam perang, dengan kekerasan primordial serta interaksi kemungkinan dan peluang. Pada konferensi tersebut, terbukti tidak mungkin untuk mencapai kesepakatan tentang diferensiasi 'trinitas', tetapi hal itu dipahami sebagai titik awal, yakni dalam kombinasi dengan konsep gesekan Clausewitz untuk teori perang dan konflik kekerasan yang umum dan non-linear (lihat bab Alan Beyerchen). Dengan interpretasi tersebut, penerapan konsep Clausewitz pada keadaan kontemporer, yang diperjelas oleh Beatrice Heuser bahwa hubungannya dengan konsep strateginya tetap terikat pada peristiwa di masanya sendiri mungkin kurang membantu dibandingkan dengan proposisi yang lebih luas. Ulrike Kleemeier menggunakan konsep Clausewitz tentang keberanian dan dasar moral tindakan untuk menguraikan konsep 'prajurit ideal', yang akan memiliki kualitas yang tidak hanya diperlukan dalam perang besar, tetapi juga memungkinkan untuk menetapkan batasan pada tindakannya sendiri dalam 'konflik intensitas rendah'. José Fernández Vega mendukung Kleemeier menggunakan karya Immanuel Kant dan Hannah Arendt untuk menelusuri konsep tindakan Clausewitz kembali ke


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 20 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI konsep penghakiman, sebuah konsep yang sangat diperlukan untuk penggunaan kekuatan oleh tentara modern. Relevansi Buku Clausewitz berjudul On War untuk analisis konflik kontemporer tidak hanya bergantung pada 'trinitas' sebagai teori umum perang. Ini juga merupakan hasil dari politisasi ulang yang mendasar dari perang dan kekerasan di dunia Barat. Jon Sumida menjelaskan bahwa keunggulan politik dalam teori Clausewitz terkait langsung dengan identifikasi pertahanan sebagai bentuk perang yang lebih kuat. Merujuk pada penafsiran Clausewitz tentang hubungan antara tujuan atau akhir dan sasaran atau maksud, Daniel Moran menganalisis konsekuensi politik bagaimana kekuatan dan kelemahan militer telah terpisah di negara-negara industri Barat. Begitu banyak kasus sehingga persepsi Amerika tentang strategi sekarang sangat berbeda dari yang ada di Eropa. ‘Kecenderungan’ masing-masing dieksplorasi oleh Benoît Durieux saat dia menggunakan Clausewitz untuk menjelaskan kekurangan keduanya. Antulio Echevarria juga menantang interpretasi yang diterima secara umum dengan menekankan bahwa globalisasi dan pertumbuhan teknologi informasi (diperiksa secara rinci oleh David Lonsdale) pada kenyataannya telah membuat tindakan politik menjadi lebih signifikan. Echevarria berpendapat bahwa perjuangan melawan terorisme pada dasarnya adalah perjuangan tentang hegemoni atau kekuasaan tertinggi bagi gagasan-gagasan politik. Andreas Herberg-Rothe menyetujui proposisi umum ini dan menarik kesimpulan bahwa pandangan Clausewitz tentang hubungan antara perang dan kebijakan masih berlaku. Namun, ia melihat konten politik dalam masyarakat demokratis sangat berbeda dari asumsi implisit On War. Dengan menggunakan hal tersebut sebagai dasar, Herberg-Rothe menyimpulkan buku tersebut dengan mengembangkan gagasan tentang pembatasan baru, pembatasan perang dan kekerasan di masyarakat dunia sebagai prasyarat untuk pembentukan masyarakat demokratis dan untuk mempertahankan keutamaan sipil atas urusan militer. Wilfried von Bredow mengambil tantangan ini secara langsung, mengomentari ketegangan antara masyarakat, dengan etos sipil mereka yang sangat besar, dan militer dalam demokrasi modern. Para editor, yang juga menjadi promotor konferensi, memiliki sejumlah utang. Di Oxford, Dr Andrew Fairweather-Tall membuat semua pengaturan administrasi, dan sejak konferensi tersebut kedua editor mengandalkan Nyonya Rosemary Mills untuk mendukung kesekretariatan dan administrasi. Daniel Moran telah sangat membantu Andreas Herberg-Rothe. Namun, utang yang paling penting adalah pada Leverhulme Trust, yang mendukung Program Perubahan Karakter Perang, dan juga mendanai konferensi tersebut. Secara khusus, ini memungkinkan Program untuk


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 21 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI menghadirkan para sarjana Oxford dari lima negara yang berbeda, sehingga menyatukan mereka yang memiliki bahasa lain (tidak hanya bahasa Inggris) dengan pengguna bahasa Clausewitz sendiri, Jerman. Selama tiga puluh tahun terakhir, evolusi studi Clausewitz di dua bidang linguistik sangat berbeda. Pada tahun 1952, Werner Hahlweg menyunting edisi ke16 dari Vom Kriege dalam bahasa Jerman, dan selanjutnya mengembalikan ke naskah asli edisi pertama tahun 1832–4. Selama karirnya yang panjang dan terhormat, Hahlweg juga membimbing sejumlah mahasiswa riset yang mengerjakan Clausewitz: mereka termasuk dalam salah satu sekolah sejarah yang diidentifikasi oleh Bassford. Di Jerman, Clausewitz tidak banyak dipelajari dalam konteks ilmu politik atau studi strategis, paling tidak karena strategi itu sendiri diabaikan di Republik Federal Jerman setelah Perang Dunia Kedua. Jerman menjadikan perang adalah alat kebijakan yang layak dan begitu pula dengan karakteristik militerisme Prusia. Tidak sampai setelah tahun 1990, studi Clausewitz mendapat giliran baru di Jerman, terutama melalui karya Herfried Münkler, dan juga melalui muridnya, Andreas Herberg-Rothe dan Beatrice Heuser (bukunya tentang Clausewitz berawal saat ia dipekerjakan di Inggris dan pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris). Studi kritis tentang Clausewitz berbahasa Inggris di dunia dimulai pada tahun 1976 ketika Michael Howard dan Peter Paret menerjemahkan naskah yang digunakan oleh Hahlweg. Edisi mereka, dapat dibaca namun dogmatis, segera menggantikan terjemahan oleh J. J. Graham (yang pertama kali muncul pada tahun 1873) dan O. S. Matthijs Jolles (pertama kali diterbitkan pada tahun 1943), paling tidak karena yang terakhir sama-sama menggunakan naskah dari edisi kedua dalam bahasa Jerman. Memang, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ketika banyak cendekiawan bahasa Inggris membahas On War, mereka sebenarnya sedang mendiskusikan interpretasi Howard dan Paret. Sir Michael Howard sendiri hadir di konferensi tersebut dan memberikan kontribusi jitu tidak hanya dalam menguraikan motif yang telah mendorong Profesor Paret dan dirinya sendiri dalam pekerjaan mereka. Kami sangat berterima kasih kepadanya karena telah menyumbangkan kata pengantar untuk buku ini. Terkecuali dalam keadaan lain, diperjelas bahwa semua terjemahan On War yang diberikan dalam buku ini adalah berasal dari edisi Howard dan Paret, dan semua referensi ke edisi Jerman adalah terjemahan Hahlweg, yang sekarang sudah dalam edisi kesembilan belas. Karena On War tersedia dalam berbagai format, rujukan di bagian berikut tidak hanya berisi nomor halaman dari edisi yang digunakan oleh masing-masing kontributor, tetapi juga nomor buku dan bab yang relevan


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 22 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI BAB 1 Clausewitz dan Perang Dialektika Hew Strachan Ketika Carl von Clausewitz meninggal pada tahun 1831, dia adalah orang yang kecewa dan frustrasi. Dia bercita-cita menjadi terkenal, tetapi benar bahwa dia merasa belum mencapainya seumur hidupnya. Dia tidak boleh gagal di saat-saat kelam seperti yang dia bayangkan, tetapi dia hanya memiliki peran selintas dalam sejarah, bukan sebuah peran utama. Dia adalah seorang prajurit profesional, tidak pernah menjadi pahlawan penakluk, dan meskipun menjadi seorang mayor jenderal, dia belum mencapai pangkat yang dirasa pantas dia dapatkan. Clausewitz adalah putra seorang perwira. Dia telah bergabung dengan tentara pada usia 12 tahun dan aktif menjalankan dinas pada tahun berikutnya. Tetapi karakteristik utama Prusia selama perang yang melanda Eropa antara Revolusi Prancis pada tahun 1789 dan kejatuhan terakhir Napoleon pada tahun 1815 adalah untuk menghindari masalah. Selama sebelas tahun, antara 1795 dan 1806, Prusia dalam keadaan damai, menyerahkannya kepada Austria, Inggris, dan Rusia untuk menghadapi aspirasi Prancis terhadap hegemoni Eropa. Awal karier Clausewitz dengan demikian dipenuhi dengan tugas-tugas lazim sebagai prajurit di masa damai: tugas resimen, belajar di sekolah perang, dan pengangkatan staf. Namun daftar tugas membosankan itu tidak sesuai dengan gejolak intelektual yang melingkupi Berlin pada pergantian abad kedelapan belas dan kesembilan belas, begitu pula dengan Clausewitz. Situasi ini juga mengasumsikan bahwa Clausewitz adalah tipikal subaltern, terjebak antara masa remaja dan dewasa dalam campuran semangat tinggi dan kecerobohan yang disebabkan alkohol. Sebenarnya Clausewitz adalah orang yang paling membosankan. Langkahnya menuju kedewasaan didorong oleh keinginannya sendiri untuk mendidik diri, dimulai dengan filosofi, dan dibesarkan oleh reformis militer hebat Gerhard Scharnhorst, yang memperkenalkannya pada studi sejarah militer, yaitu berperang sebagaimana benar-benar bertentangan dengan perang dalam bentuk idealnya. Scharnhorst dengan cepat menyadari bahwa perubahan dalam peperangan yang dilakukan oleh Prancissejak tahun 1789 memiliki akar atau fondasi sosial dan politik: pertumbuhan jumlah pasukannya melalui wajib militer, dan antusiasme tentara yang merupakan warga negara, bukan orang paksaan. Revolusi Prancis telah mengubah kekuatan negara, yang memungkinkan untuk memanfaatkan sumber


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 23 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI dayanya sendiri dan mengambil sumber daya orang lain atas nama kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Scharnhorst percaya bahwa jika tentara Prusia sebagai perwujudan keunggulan militer di abad kedelapan belas, menambah kemenangan yang telah dikumpulkannya pada masa pemerintahan Frederick Agung (1740–86), maka perubahan akan diperlukan tidak hanya pada angkatan bersenjata sendiri, tetapi juga pada negara secara keseluruhan. Namun, ini bukanlah pandangan raja. Frederick William III, yang naik tahta pada tahun 1799, lebih tertarik pada seragam dan musik militer daripada taktik dan strategi: nalurinya konservatif dan dapat dibenarkan bahwa ia mengaitkan bisnis perang yang sebenarnya dengan revolusi. Pada tanggal 2 Desember 1805, Napoleon menghancurkan tentara Austria dan Rusia di Austerlitz. Prusia tetap netral, namun Prancis tidak juga merasakan ketenangan. Frederick William terlambat menyadari bahwa pujian yang terus menerus tidak akan memungkinkannya untuk mencegah penghinaan dan subordinasi Prusia kepada Napoleon, dan memberikan ultimatum kepada kaisar Prancis. Pada musim gugur tahun 1806, saat Clausewitz akhirnya pergi berperang, dengan optimis dia menulis kepada calon istrinya, Marie von Brühl. Pada tanggal 14 Oktober 1806, Prusia menderita salah satu kekalahan paling besar di zaman modern di medan perang kembar Jena dan Auerstädt. Clausewitz menjadi tawanan perang. Penghinaan dan frustrasi yang dialaminya menyisakan kebencian mendalam terhadap semua hal mengenai Prancis, bahkan masakannya. Frederick William masih enggan untuk merangkul reformasi penuh yang didesak oleh Scharnhorst dan lainnya, termasuk perwira kedua yang sangat mempengaruhi Clausewitz, August von Gneisenau. Gneisenau terinspirasi oleh contoh-contoh yang bermunculan di tempat lain khususnya di Eropa, tidak hanya di Spanyol. Ia mendukung perang pembebasan nasional: lebih baik berperang dan kalah dengan mulia daripada tidak berperang sama sekali, begitu juga pandangan Clausewitz. Namun, pada tahun 1812 raja membawa Prusia ke arah yang berlawanan. Raja menyetujui permintaan Napoleon agar Prusia menyediakan kontingen untuk invasi Rusia. Terlalu sulit bagi seorang junior untuk dapat menemukan jalan keluar yang terhormat, hanya sebuah pilihan yang tersedia bagi Scharnhorst dan Gneisenau. Clausewitz meninggalkan dinas di mana dia dibesarkan, mengkhianati rajanya sendiri dan bergabung dengan tentara Rusia. Dia sekarang berjuang untuk musuh Prusia atas nama nasionalisme Jerman. Betapa pun keberaniannya secara moral, tindakan itu tetap meninggalkan jejak permanen dalam kariernya. Setidaknya menurut dugaannya sendiri, dia tidak akan pernah mendapatkan kembali dukungan kerajaan.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 24 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Perang pembebasan nasional Jerman akhirnya dimulai bukan oleh Scharnhorst atau Gneisenau, tetapi oleh seorang jenderal yang lebih konservatif, Hans von Yorck, komandan kontingen Prusia pada dinas Prancis. Ketika tentara Prancis yang hancur dengan letih mundur ke barat pada musim dingin tahun 1812, kontingen Prusia mengikuti rute lebih ke utara melintasi Lituania menuju Prusia Timur. Yorck merundingkan sikap netral Prusia dengan Rusia di konvensi Tauroggen pada 30 Desember. Clausewitz adalah perantara. Prusia dan Rusia sekarang berada di pihak yang sama, dan keterasingannya sendiri tampaknya akan berakhir. Meskipun demikian, raja tidak bisa begitu saja memaafkan dan melupakan: Clausewitz terus mengenakan seragam Rusia, bukan Prusia, hingga April 1814, meskipun ia kini bertugas bersama sesama warga negaranya. Awalnya raja juga mengutuk tindakan Yorck, tetapi pada Maret 1813 Prusia Timur bertindak sepihak dalam mengumpulkan milisi atau Landwehr untuk melawan Prancis, dan Frederick William akhirnya setuju menyatakan perang terhadap Prancis. Perang pembebasan nasional tidak kehilangan apa pun dalam kisahnya, baik saat itu maupun sepanjang kehidupan bangsa hingga kepunahan terakhir Prusia pada tahun 1945. Namun, tahun 1813–15 bukanlah periode manis yang tak dapat disangkal oleh Clausewitz. Scharnhorst meninggal karena luka-luka pada bulan Juni 1813, dan Clausewitz tidak hadir pada 'pertempuran bangsa-bangsa' penting serta yang terjadi selama tiga hari di sekitar Leipzig pada bulan Oktober. Kekuatan gabungan dari koalisi Austro-RusiaPrusia membanjiri Napoleon. Kontribusi Clausewitz tidak lagi dibedakan ketika Napoleon meninggalkan hak perlindungannya pada Elba. Melayani sebagai kepala staf korps, ia menghabiskan 18 Juni 1815 bukan di Waterloo, tetapi di Wavre, memaksa korps Prancis dan mencegahnya bergabung dengan Napoleon di medan perang utama. Korps Prusia melakukan tugasnya, tetapi dianiaya sangat parah. Pada tanggal 19 Juni, ketika pasukan utama sekutu bergerak maju ke Paris, korps Clausewitz mundur. Dia tidak pernah sepenuhnya melemparkan tuduhan kewaspadaan yang tidak semestinya di medan perang. Tuduhan itu tidak adil, tetapi tidak dapat dibantah: tidak adil karena Clausewitz bukanlah komandan lapangan pada hari itu atau hari lainnya, tidak dapat dibantah karena dia tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk membantahnya dalam pertempuran. Pada tahun 1818, ia menjadi direktur sekolah perang di Berlin. Ini adalah tugas administratif, bukan akademis. Ahli teori perang yang hebat tidak mengajar siapa pun. Pada tahun 1830, ia diseret keluar dari kehidupan ibu kota yang menyenangkan untuk mengambil alih inspektorat artileri di Breslau. Prusia bukanlah tentara pertama atau satu-satunya yang menunjuk seorang prajurit infanteri untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian spesial penembak, tetapi pos tersebut mengisyaratkan kemungkinan kembali ke dinas yang lebih aktif. Revolusi di Polandia


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 25 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI (saat itu menjadi bagian dari Rusia) mengancam ketenangan perbatasan Prusia. Di sebelah barat Prancis mengusir Bourbons, kembalinya tahta oleh kemenangan sekutu, dan dengan demikian mengancam kokohnya perdamaian Eropa setelah Waterloo. Revolusi Prancis terakhir telah menyebabkan perang besar, dan itulah yang ditakuti Clausewitz kali ini. Raja Frederick William yang selalu mewaspadai hubungan antara revolusi dan perang, membentuk pasukan pengawas untuk mengamati situasi Polandia. Dia memberi perintah kepada Gneisenau dan yang terakhir memerintahkan Clausewitz sebagai kepala stafnya. Pada waktu itu, tugas yang paling memberatkan Clausewitz bukanlah untuk berperang, tetapi untuk menguburkan pemimpinnya yang meninggal karena kolera tiga bulan sebelum wafatnya Clausewitz sendiri. Ini adalah kisah hidup yang berakhir dengan rintihan, bukan dengan ledakan. 1 Atau begitulah tampaknya. Clausewitz tidak pernah dengan sengaja mengabaikan kontribusi istrinya, Marie, baik dalam menstimulus kecerdasannya maupun dalam meredakan amarahnya. Tetapi mungkin tanpa disadari, dia telah merasa kecewa di tahun-tahun senja hidupnya. Mulai tahun 1832, janda yang berduka ini mulai menerbitkan tulisan Clausewitz. Itu adalah tugas yang sangat berat, yang penyelesaiannya melampaui umur hidupnya sendiri. Tulisan Clausewitz mencakup sepuluh jilid, tujuh di antaranya adalah sejarah militer, tetapi tiga yang lainnya adalah karya teori utama, yang disebut Vom Kriege atau dalam bahasa Inggris On War. Saat ini karya tersebut diakui sebagai pembahasan paling penting yang pernah ditulis di bidangnya dan telah menjamin Clausewitz mendapatkan gelar anumerta terkenal yang telah melampaui mentornya sendiri, Scharnhorst dan Gneiseneau, bahkan menyaingi 'musuh bebuyutan' Clausewitz, orang yang ia sebut sebagai 'dewa perang', Napoleon Bonaparte. Tahun-tahun yang tampak damai di sekolah perang tidaklah sia-sia. Mereka memberi Clausewitz lebih dari satu dekade untuk mempelajari perang yang ia ikut serta di dalamnya. Tanpa Napoleon, On War tidak akan pernah bisa ditulis. Buku ini pada awalnya merupakan eksplorasi perang seperti yang dialami Clausewitz, dan mencerminkan fakta bahwa jika bukan sifat dasar perang, setidaknya karakter perang, telah diubah secara fundamental oleh Napoleon. Pasukan Prusia dikalahkan di Jena karena masih terjerumus dalam cara-cara Frederick Agung. Tetapi jika On War hanya berisiseperti itu, ketenarannya sebagai sebuah buku akan dibatasi oleh parameter kronologis yang melahirkan keberadaannya. Clausewitz bercita-cita untuk melakukan sesuatu yang lebih ambisius: bukunya membahas perang secara lebih umum, dan 1 The best biography of Clausewitz is Peter Paret, Clausewitz and the State (Oxford, 1983).


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 26 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI mungkinkah dia berpikir, setidaknya menurut catatan yang dia tulis pada tanggal 10 Juli 1827, tentang ‘membawa persoalan revolusi dalam teori perang'.2 Tidak ada tanda-tanda yang menggambarkan introspeksi dan kecemasan khususnya di dalam isi surat-surat untuk istrinya. Memang, banyak hal dalam On War yang diekspresikan secara terus terang dan dapat dengan mudah disalahartikan sebagai dogma. Itu adalah bagian konsekuensi dari gaya prosa Clausewitz. Terlepas dari kegemaran penggunaan bahasa Jerman awal abad kesembilan belas untuk konstruksi pasif, kalimat panjang, dan kata sifat ambigu, On War berkelip dengan frasa yang mudah diingat dan penuh arti, sederhana dan indah, banyak dihiasi dengan kisah metafora dan kiasan. Selain itu, banyak kata-kata mutiara yang memperkuat isi karena dituliskan dengan jelas. Clausewitz memberitahu kita apa yang sudah kita ketahui sebagai hal yang benar, tetapi dengan cara yang akrab dan hangat: sering kali kecemerlangan sebuah karya terletak di mata yang melihat atau membacanya, sama banyaknya dengan yang ada di benak pencipta. Tidak mengherankan, mengingat kematian mendadak penulisnya, On War terus berisi ketidakjelasan yang tidak terselesaikan dan kontradiksi internal. Tema yang berulang dalam studi Clausewitz, dan yang diteruskan oleh para akademisi yang terkenal seperti Hans Delbrück (1848–1929), sejarawan militer Jerman, dan Raymond Aron (1905–83), ilmuwan politik Prancis, telah berspekulasi tentang apa yang tokoh besar akan tulis jika dia menghindar untuk menyelesaikan buku itu. Spekulasi ini lebih banyak menyampaikan tentang keasyikan para penulis dan pandangan mereka tentang perang daripada yang mereka tuliskan tentang Clausewitz dan karyanya. Hal yang lebih penting adalah mereka mengambil risiko dengan mengabaikan kualitas yang membentuk ketangguhan On War itu sendiri. Upaya Clausewitz untuk memahami sifat perang itu sendiri sedang dalam proses: kekuatan dan umur panjang On War sebagian besar berasal dari penolakannya untuk menetapkan kesimpulan yang pasti. Mungkin tidak terlalu sinis untuk mengatakan bahwa tidak akan ada habisnya jika ditujukan untuk kepuasan penulis. Tetapi lebih jauh, ada poin sejarah khusus di dalamnya. Kita bisa menjadi jauh lebih yakin tentang alur pemikiran Clausewitz daripada bukti yang ditunjukkan oleh On War karena kita memiliki korpus yang luas dari karya lain, yang sebagian besar tidak diterbitkan dalam Hinterlassene Werke, edisi anumerta dari karyanya yang dikeluarkan antara tahun 1832 dan 1837. Tampaknya masih menjadi rasa ingin tahu 2 Carl von Clausewitz, On War, Diterjemahkan dan diedit oleh Michael Howard and Peter Paret (Princeton, NJ, 1976), hlm. 70.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 27 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI yang tak kunjung hilang, bahwa sampai hari ini tidak ada edisi pasti dari seluruh hasil karyanya dalam bahasa apa pun. Tradisi memproyeksikan pada apa yang dikatakan Clausewitz mulai muncul tidak lama setelah kematiannya. Berhadapan dengan tumpukan kertas, Marie, janda Clausewitz yang berduka, meminta saudara laki-lakinya Friedrich Wilhelm von Brühl untuk membantunya mempersiapkan penerbitan. Dia melakukan proses tersebut setahap lebih jauh ketika penerbitnya, Dümmler, mengeluarkan edisi kedua Hinterlassene Werke pada tahun 1853. Brühl menata kembali On War, mengoreksi kesalahan cetak, dan membuat bagian tambahan yang mudah dipahami pembacanya. Sebagian besar bagian tambahan dari Brühl telah menjadi bagian dari naskah yang diterima, meskipun saat dia memulai proses edisi pertama, kami tidak lagi memiliki manuskrip asli yang dia kerjakan dan hingga kini kami tidak pernah tahu sejauh mana yang mereka kerjakan. Pengecualian utama terjadi di buku VIII yang membahas tentang rencana perang dan yang terakhir dari On War, di mana dalam bab 6B Clausewitz menyarankan bahwa panglima tertinggi harus menjadi anggota kabinet, sehingga dia dapat membantu membentuk kebijakan pada saat perang dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil dapat sejalan dengan sifat perang. Brühl mengubah naskah untuk edisi kedua dalam rangka menunjukkan bahwa panglima tertinggi harus berperan dalam semua keputusan kabinet, tidak hanya yang berkaitan dengan perang. Mengingat peran Jerman dalam dua perang dunia, bagian ini dikaitkan dengan pertumbuhan militerisme Prusia. Baik edisi Jerman ke-16 (tahun 1952, disiapkan oleh Werner Hahlweg) maupun terjemahan bahasa Inggris Michael Howard dan Peter Paret, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1976, dikembalikan ke naskah edisi bahasa Jerman pertama. Perhatian yang diberikan pada perubahan tekstual ini menyiratkan bahwa On War sangat berpengaruh di Jerman, dan terutama untuk apa yang dikatakannya tentang hubungan antara perang dan kebijakan. Tidak ada pernyataan yang harus benar, paling tidak dalam kaitannya dengan periode sebelum perang penyatuan Jerman (1864–71). Pada awalnya, Clausewitz mungkin lebih dikenal sebagai sejarawan militer daripada ahli teori strategis. On War hanya menyumbang tiga dari sepuluh jilid Hinterlassene Werke, tujuh sisanya adalah studi tentang kampanye, terutama tentang Perang Napoleon. Selain itu, 1.500 eksemplar edisi pertama belum terjual ketika disusul oleh edisi kedua. Pada tahun 1853, meskipun On War baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, ulasan penting Bahasa Prancis tentang buku tersebut mengatakan bahwa reputasinya menurun (orang mungkin bertanya apakah pada saat itu buku itu pernah berkuasa) dan bahwa banyak penilaian yang telah dilakukan terbukti salah.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 28 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Dalam sejarah penerbitannya, selama empat puluh tahun setelah tahun 1871, On War menyajikan gambaran yang sangat berbeda dari empat puluh tahun sebelumnya. Ketika tentara Prusia muncul sebagai pemenang pada tahun 1871, tentara Eropa lainnya mencari saingan dan inspirasi. Mengintai di balik kesuksesan medan perang Prusia bersembunyi Helmuth von Moltke, yaitu kepala staf umum Prusia. Setidaknya dalam hagiografi yang disajikan oleh pengagum Moltke, Carl von Clausewitz mengintai juga di belakangnya. Pada tahun 1873, jurnal profesional utama pada masa itu, Militär-Wochenblatt, menyatakan bahwa Clausewitz adalah otoritas pertama dalam ilmu militer; pada tahun 1876, dalam kamus biografi nasional, Allgemeine Deutsche Biographie, F. von Meerheimb mengatakan bahwa perang tahun 1866 melawan Austria dan tahun 1870 melawan Prancis telah dilakukan dalam semangat Clausewitz; dan pada tahun 1891 Max Jähns dalam tiga jilid sejarah ilmu militer menggambarkan pengaruh Clausewitz sebagai 'hampir tabu'. 3 Antara tahun 1871 dan 1918, ada sebelas edisi Jerman On War; pada tahun 1873, J. J. Graham menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris (dengan edisi baru naskah Graham yang dibawa oleh Kolonel F. N. Maude pada tahun 1908); dan Letnan Kolonel de Vatry menghasilkan terjemahan bahasa Prancis baru pada tahun 1886–9. Menghubungkan gelombang minat ini dengan pengaruh Moltke dan bertumpu pada paradoks yang mendasarinya, menempatkan On War sebagai dialog berkelanjutan antara teori dan praktik. Pada awal pendidikan mandiri Clausewitz, inspirasi masa remajanya adalah dalam bidang filsafat. Dia telah membaca karya Pencerahan dan untuk semua komentarnya yang memberatkan tentang ahli teori militer tertentu, dia bertekad untuk menulis teorinya sendiri. Baik pengalamannya sendiri sebagai seorang prajurit dan sejarah militer yang diperkenalkan oleh Scharnhorst, adalah pengecekan realitas atas kecenderungan untuk abstraksi ini. Sebaliknya, Moltke mengajari para perwira stafnya melalui permainan perang dan wahana para staf, bukan dengan teori. Mereka memeriksa masalah operasional yang konkret dan melihat hubungan antara strategi dan taktik sebagai hal yang sangat praktis untuk dipelajari dengan metode terapan. 'Aksi perang berturut-turut bukanlah tindakan yang direncanakan', tulis Moltke; 'mereka spontan, didikte oleh intuisi militer.'4 On War mengimbau para perwira sebelum tahun 1914 justru karena secara eksplisit dikatakan bahwa teori tidak boleh mengiringi jenderal ke medan perang, bahwa peran dari teori adalah mendidik untuk memberikan wawasan, 3 Untuk referensi yang sama, lihat Ulrich Marwedel, Carl von Clausewitz. Persönlichkeit und Wirkungsgeschichte seines Werkes bis 1918 (Boppard am Rhein, 1978), 119–20. 4 Kutipan dari Hugo von Freytag-Loringhoven, The Power of Personality in War (terbitan pertama 1905), seperti yang diterbikan di Roots of Strategy, book III (Harrisburg, PA, 1991), 270.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 29 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI bukan preskriptif, dan bukan untuk membatasi komandan dengan solusi yang pasti di sekelilingnya. 5 Selain itu, Clausewitz mengakarkan konsepnya pada realitas, dalam apa yang disebutnya 'gesekan' dalam perang, dalam ketidakpastian, peluang, dan moral. Tetapi hasilnya adalah para perwira pra-1914 menolak dimensi filosofis dan teoretis On War. Alfred von Schlieffen, penerus Moltke yang paling terkenal dan kepala staf umum, menyumbangkan kata pengantar pada On War edisi Jerman kelima yang diterbitkan pada tahun 1905, di mana ia memuji buku itu dalam istilah Moltkean, karena mengajarkan 'bahwa setiap kasus dalam perang harus dipertimbangkan dan dipikirkan sesuai dengan karakteristiknya sendiri', tetapi mengutuk bagian filosofisnya yang disebut ketinggalan jaman.6 Schlieffen dikutip pada tahun 1908 oleh Mayor Jenderal Hugo von Freytag Loringhoven dalam studinya, Kriegslehren nach Clausewitz aus den Feldzügen 1813 und 1814, di mana dia membandingkan pengaruh pasukan Prancis Antoine Henri Jomini yang tulisannya dia anggap terlalu teoretis dan abstrak, dengan tulisan Clausewitz di Jerman yang refleksinya didasarkan pada pengalaman atau 'sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua kebenaran filsafat'. 7 Di Prancis sendiri, Kolonel Hubert Camon mengatakan bahwa 'Kesalahan Clausewitz adalah membebankan dirinya sendiri dengan sistem Hegelian'.8 Di Inggris, Spenser Wilkinson, bukan tentara seperti yang lain tetapi ia profesor pertama Oxford untuk penulisan sejarah militer pada tahun 1891, mengatakan bahwa pengaruh Kant yang telah diserap oleh Clausewitz melalui ceramah Johann Gottfried Kiesewetter di sekolah perang, cenderung memperluas dan meningkatkan sebagian besar nilai risalahnya tentang perang'.9 Hasilnya adalah filosofi abstraksi Clausewitz yang sangat terkenal, ide 'perang absolut' yang dicita-citakan oleh perang tetapi tidak pernah tercapai, ditafsirkan sebagai kenyataan dan menjadi sebuah indikasi bagi penulis pra-1914 tentang bagaimana perang telah berkembang sejak zaman Clausewitz. Namun, Clausewitz berusaha untuk menyelaraskan teori perang dengan sifat aslinya, begitu juga pada buku On War yang mengandung unsur-unsur yang menjamin perlakuan perang absolut sebagai deskripsi realitas yang akan terjadi di masa depan serta konsep filosofis. Yang terakhir hanya secara tersirat di seluruh bab 1 buku I (pertama), tentang sifat perang yang telah diasumsikan berstatus kanonik (mengandung unsur 5 On War, VIII, 1, hlm. 578. 6 Vom Kriege (Berlin, 1905), iii–vi. 7 Hugo Freytag-Loringhoven, Kriegslehren nach Clausewitz aus den Feldzügen 1813 und 1814 (Berlin, 1908), 21, 151, 154. 8 H. Camon, Clausewitz (Paris, 1911), 58. 9 Spenser Wilkinson, ‘Literatur Militer, pada Buku War and Policy (London, 1910), hlm.152.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 30 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI keagamaan) karena dianggap sebagai satu-satunya buku On War yang penulisnya selesaikan untuk tujuan kepuasan sendiri. Di sisi lain dalam buku VIII (kedelapan) bab 2, Clausewitz berpendapat bahwa Perang Napoleon sendiri telah mendekati deskripsi perang absolut. Freytag-Loringhoven menggunakan studinya tentang kampanye tahun 1813 dan 1814 untuk menyimpulkan bahwa ‘teori perang absolut ini membebaskan perang itu sendiri dari setiap model dan aturan tingkah laku, dan yang dikembangkan dari perang besar pada awal abad kesembilan, adalah hasil dari pengabdian Jenderal von Clausewitz’. Hal ini membuat Clausewitz mengatakan bahwa, ‘kemenangan kita di tahun 1866 dan 1870 akan terjadi lagi'. 10 Selain itu, dalam buku VI (keenam) yaitu tentang pertahanan, Clausewitz telah menyarankan bahwa semakin banyak orang yang terlibat dan memiliki minat dalam perang pertahanan nasional, maka perang tersebut akan semakin ekstrem. Dihadapkan dengan nasionalisme yang merajalela dan adopsi wajib militer yang meluas setelah kemenangan Prusia, tentara melihat bahwa perang absolut ini akan lebih dapat diterapkan setelah tahun 1871 daripada setelah 1815. Pada tahun 1909 Mayor Stewart Murray menulis komentar tentang Clausewitz untuk menyumbangkan kata pengantar kepada Wilkinson, ia menyimpulkan bahwa ‘Hari ini kita dapat mengatakan bahwa perang mendapat bentuk absolutnya dalam perang nasional besar modern, yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang berperang dengan seluruh kekuatan fisik dan mental yang terkonsentrasi dari nation-in-arms (bangsa yang berperang)’. 11 Pada tahun-tahun antara Perang Prancis-Prusia dan Perang Dunia Pertama, fakta bahwa Clausewitz adalah penafsir utama Perang Napoleon merupakan alasan untuk membaca bukunya dan tidak mengabaikannya. Buku III (ketiga) sampai VII (ketujuh) On War yang meliputi strategi, pertempuran, kekuatan militer, pertahanan, dan penyerangan adalah buku yang digunakan tentara profesional untuk fokus dipelajari, bukan pada buku I, II (pertama dan kedua: tentang teori perang), dan VIII (kedelapan: buku-buku intervensi yang membahas urusan perang dalam perang yang paling parah dan berkelanjutan yang pernah diderita oleh Eropa). Vatry memulai terjemahan bahasa Prancisnya dengan buku III (ketiga) hingga VI (keenam), kemudian dia hanya menerjemahkan buku VII (ketujuh) dan VIII (kedelapan) setelah sukses, dan meninggalkan buku I (pertama) dan II (dua) hingga terakhir. Di Jerman, Letnan Jenderal Rudolf von Caemmerer memberikan pemikiran tersendiri untuk setiap buku On War dalam bukunya tentang Clausewitz, kecuali 10 Freytag-Loringhoven, Kriegslehren nach Clausewitz, 156 11 Stewart L. Murray, The Reality of War: An Introduction to ‘Clausewitz’ (London, 1909), 23; lihat juga Wilkinson, War and Policy, 180, hlm. 421


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 31 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI untuk buku I dan II, yang ia saring menjadi sejumlah prinsip filosofis. Saudaranya, Perwira Freytag-Loringhoven, menggunakan On War sebagai dasar untuk membahas peran kepribadian komandan dalam perang di Die Macht der Persönlichkeit im Kriege (1911), tetapi dia tidak mengatakan apa pun di dalam buku itu tentang tema buku I dan VIII, yaitu hubungan antara komandan dan negarawan atau antara perang dan kebijakan. Vatry menjelaskan, buku III dan VI memuat eksposisi prinsip-prinsip strategis yang paling jelas. Namun, ironisnya justru di sinilah Clausewitz diserang dari bidang akademik secara terus-menerus dan dari perwira Prancis pada khususnya. Tentara Prancis yang merupakan korban superioritas militer Prusia dalam perang tahun 1870–1871 menemukan teori Clausewitz pada awal dekade 1880-an. Hampir secara bersamaan, sekelompok tentara-sejarawan, Hubert Camon, Henri Bonnal dan kepala sekolah Jean Colin, di antara mereka menggunakan makalah Bonaparte untuk menafsirkan ulang sifat perang Napoleon. Titik terakhir dari upaya mereka adalah cara Napoleon menggabungkan manuver dengan pertempuran yang menentukan, terutama melalui eksekusi pembungkaman, atau yang mereka sebut La manuver sur les derrières. Clausewitz mengkritik cara pembungkaman dan mendukung operasi di 'garis interior' seperti yang disebut oleh Jomini, sehingga tentara tetap terkonsentrasi dan dapat memastikan massa pada titik yang menentukan. Hubert Camon, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1911, menunjukkan bahwa meskipun seolah-olah Clausewitz menulis tentang Perang Napoleon, namun ia tidak memahami strategi Napoleon. Argumennya dianut oleh semua pakar lain pada zamannya, terlepas dari kebangsaannya, termasuk di Jerman, baik Rudolf von Caemmerer dan Hans Delbrück. Menurut Camon, salah satu konsekuensinya adalah bahwa sejarah militer Clausewitz diabaikan sebagai ‘studi kampanye’.12 On War membantu dalam memahami peran kontingensi dan moral, tetapi bukan sebagai sejarah berbasis sumber, oleh karena itu dirancang sebagai dukungan untuk pekerjaan utama. Dengan kata lain, mereka bisa dengan aman diletakkan di satu sisi. Analisis Freytag-Loringhoven tentang kampanye tahun 1813 dan 1814 berdasarkan ajaran Clausewitz sama sekali tidak mengacu pada laporan Clausewitz sendiri tentang pertempuran tersebut, melainkan menetapkan sejarah yang lebih baru terhadap pandangan yang diberikan oleh On War itu sendiri. 12 Camon, Clausewitz, vii; also 71–3.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 32 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Dalam hal ini Vatry benar. Sebagian besar On War adalah studi tentang strategi, sebuah elemen dalam perang yang secara teratur dan konsisten didefinisikan Clausewitz sebagai penggunaan pertempuran untuk tujuan perang. Menurutnya, taktik merupakan ‘penggunaan angkatan bersenjata dalam pertempuran’.13 Meskipun dia menekankan bahwa pertempuran adalah inti dari perang, dia melihat pertempuran sebagai alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri: ketegasan berasal dari eksploitasi. Tetapi Camon dan orang-orang pada zamannya tidak hanya menunjukkan bahwa Clausewitz tidak memahami strategi Napoleon, mereka juga menyiratkan bahwa pertempuran itu sendiri adalah akhir dari strategi. 14 Akibatnya, mereka membaca buku Clausewitz untuk pendapatnya tentang taktik sebanyak atau lebih dari pendapatnya tentang strategi. Ini bahkan terjadi di Jerman sendiri. Salah satu pendukungnya yang paling bijaksana, Rudolf von Caemmerer, menulis, 'Clausewitz baru menekankan pada fakta bahwa kesuksesan taktik di medan perang harus menjadi objek pertama dan terpenting dari semua upaya, dan bahwa kesuksesan ini selalu mempertahankan sepenuhnya nilai tertinggi dalam segala keadaan'. 15 Caemmerer menarik perhatian pada pembahasan pertempuran yang terdapat dalam buku IV dan menekankan seperti pemikiran Clausewitz, bahwa tujuan utama pertempuran adalah penghancuran angkatan bersenjata musuh. 16 Demikian pula, Freytag-Loringhoven mengutip Clausewitz sepenuhnya secara akurat tentang penggunaan pertempuran untuk tujuan perang, tetapi kemudian membahas kampanye tahun 1813 dalam istilah yang memperjelas bahwa apa yang dia kagumi tentang pelaksanaannya adalah penggunaan strategi untuk mencapai pertempuran yang menentukan. Hal ini sangat berbeda dengan gaya perang yang dilakukan pada abad kedelapan belas dan pada awal abad kesembilan belas oleh Archduke Charles dari Austria.17 Hasilnya adalah perbedaan antara strategi dan taktik dipalsukan. Sebagian besar On War adalah pembahasan tentang hubungan perbedaan strategi dan taktik, selain juga pembahasannya tentang hubungan antara perang dan kebijakan. Ahli teori Clausewitz selalu sangat sadar akan perbedaan antara strategi yang membangkitkan keberanian moral dan kejeniusan militer sang komandan, serta taktik yang sering kali merupakan persoalan rutinitas. Dia sengaja menghindari kata 'operasi' dan 'operasional', kata tersebut merupakan penjelas yang menguraikan 13 e.g. On War, II, 1 adalah pembahasan utama dalam poin ini, lihat juga III, 1, hlm. 177, dan 10, hlm. 202. 14 Camon, Clausewitz, hlm. 22–3. 15 Rudolf von Caemmerer, The Development of Strategical Science in the Nineteenth Century (London, 1905), 109. 16 Caemmerer, Clausewitz (Leipzig, n.d.), hlm. 95–6. 17 Freytag-Loringhoven, Kriegslehren nach Clausewitz, hlm. 19–20.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 33 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI strategi dan taktik. 18 Jelas sekali dalam kenyataannya strategi dan taktik memiliki makna yang berseberangan, dan para juru ulas sebelum tahun 1914 menyadari bagaimana inovasi teknologi mungkin telah mengubah analisis pertempuran Clausewitz, yang khususnya tertarik untuk fokus pada efek perubahan taktis terhadap strategi. Tetapi konsekuensinya adalah bahwa menurut mereka pandangan Clausewitz tentang strategi harus lebih ditinjau kembali dari pada taktik. 19 Kebingungan inilah yang membuat kontroversi yang meletus antara Schlieffen dan para jenderal di satu sisi dan Hans Delbrück di sisi lain begitu memanas. Sejarawan resmi tentara Prusia menulis catatan mereka tentang Perang Tujuh Tahun (diterbitkan pada 1901–14), berpendapat bahwa strategi Frederick Agung terkait langsung dengan yang digunakan oleh Moltke dalam perang penyatuan Jerman. Dijuluki strategi pemusnahan atau penghancuran ('Vernichtung' dalam bahasa Jerman, meskipun judul 'Niederwerfungsstrategie' juga digunakan), jalur kronologisnya dari Frederick ke Moltke dilacak melalui Napoleon, paling tidak seperti yang ditafsirkan oleh Clausewitz dalam buku III hingga VI On War. Tema sentralnya adalah penggunaan manuver untuk membawa kekuatan yang lebih unggul ke titik yang menentukan, sehingga dapat bertarung dalam pertempuran yang menentukan. Oleh karena itu, intinya adalah hubungan antara taktik dan strategi, dan memang menghilangkan keduanya. Pengejaran Schlieffen dalam pengepungan strategis, misalnya, didasarkan pada masalah taktis serangan frontal dalam menghadapi ledakan industri. 20 Hans Delbrück terkejut karena ia melihat Frederick tidak mengejar pertempuran yang hebat, tetapi menghindarinya. Frederick dihadapkan oleh koalisi yang unggul dalam jumlah dan sumber daya, sehingga dia memutuskan menggunakan strategi 'gesekan' (Delbrück menyebutnya 'Ermattungsstrategie'). Selain itu, dia mengatakan bahwa Clausewitz telah mengakui perbedaan ini, seperti pada catatan yang dia tulis di tahun 1827 dan yang diterbitkan sebagai pengantar untuk setiap edisi On War. Di sana Clausewitz meneliti bahwa perang dapat terdiri dari dua jenis: dirancang untuk menghancurkan musuh sehingga pemenang dapat menentukan persyaratannya, atau untuk mencapai tujuan yang lebih terbatas sehingga perdamaian dapat dinegosiasikan. Clausewitz telah meninggal sebelum dia dapat menyelesaikan tugas yang telah dia tetapkan sendiri, yaitu menulis ulang On 18 Penggunaan kata-kata yang terkait dengan operasi perang dalam terjemahan Howard dan Paret adalah gloss yang tidak tercermin dalam bahasa Jerman asli. 19 Caemmerer, Clausewitz, hlm. 1. 20 Martin Raschke, Der politisierende Generalstab. Der friderizianischen Kriege in der amtlichen deutschen Militärgeschichtsschreibung 1890–1914 (Freiburg, 1993).


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 34 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI War berdasarkan perbedaan ini. Akan tetapi Delbrück menekankan, “Sifat yang sama sekali berbeda” dari kedua upaya ini harus selalu dipisahkan antara satu dan lainnya. Oleh karena itu Delbrück melakukan tugasnya untuk menjelaskan perbedaan tersebut, paling tidak dalam Geschichte der Kriegskunst im Rahmen der politischen Geschichte yang monumental (4 jilid, Berlin, 1908-20). 21 Tentara Jerman dengan cepat mengutuk Delbrück, dalam kontroversi yang berlangsung selama tiga dekade. Mereka benar mengatakan bahwa Frederick telah melakukan pertempuran yang menurutnya sangat menentukan, terutama pada tahap-tahap pembukaan Perang Tujuh Tahun pada tahun 1757. Selain itu, mereka juga benar dalam menekankan bahwa Clausewitz sendiri sangat kritis terhadap perang abad kedelapan belas, yang mana dia melihat Delbrück bertarung dengan setengah hati. Tetapi kenyataannya adalah bahwa masing-masing pihak berbicara melalui pihak yang lain. Para perwira melihat pelaksanaan perang di mana strategi dan taktik berpotongan dan menggunakan analisis Clausewitz tentang perang Napoleon sebagai kerangka analisis mereka. Delbrück melihat hubungan antara strategi dan kebijakan, tidak hanya menggunakan catatan tahun 1827, tetapi juga pandangan-pandangan dari buku I sebagai dasarnya. Divisi perwira sendiri membaca buku VI, di mana Clausewitz telah membandingkan pertahanan dengan serangan, melihat pertahanan sebagai cara yang lebih kuat dalam perang meskipun dengan tujuan negatif, membuat poin ini semakin jelas. Buku VI bergantung pada pemahaman konseptual yang jelas tentang tiga tingkat perang yaitu taktis, strategis, dan politik. Mereka yang menentang pendapat bahwa kekuatan dari pertahanan lebih besar, menggabungkan ketiganya. Mereka yang berpihak pada Clausewitz dalam masalah pertahanan khusus ini, seperti halnya Caemmerer, membedakan antara pertahanan taktis, penggunaan ‘counterstroke’ atau pukulan balasan dalam strategi, dan masalah politik pertahanan diri nasional. Sebuah negara yang mempertahankan diri dari invasi masih bisa menggunakan serangan secara taktis dan bahkan strategis, dan memang harus melakukannya jika ingin mengusir penyerang. Singkatnya, Schlieffen dan pembantunya sedang memikirkan tentang operasi Delbrück yaitu tentang perang secara keseluruhan. Delbrück terlihat lebih modern dan lebih liberal dibandingkan dengan orangorang sezaman militer dengannya, karena dia lebih memperhatikan hubungan antara perang dan kebijakan, tetapi dia tidak dapat memonopoli pengetahuan dari Clausewitz. Tidak semua dari mereka mengabaikan apa yang dikatakan Clausewitz 21 Hans Delbrück, History of the Art of War within the Framework of Political History (Westport, CT, 1985), vol. IV, 454; lihat pada perdebatan, Sven Lange, Hans Delbrück und der ‘Strategiestreit’. Kriegführung und Kriegsgeschichte in der Kontroverse 1879–1914 (Freiburg im Breisgau, 1995).


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 35 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI tentang perang dan kebijakan. Mereka hanya membacanya secara berbeda dari Delbrück. Menurut Moltke, politisi mungkin adalah yang memimpin dalam memutuskan untuk berperang dan akan melanjutkan kepemimpinan saat menegosiasikan perdamaian, tetapi mereka harus diam saat perang sedang dilancarkan. Dengan kata lain, strategi yang harus memimpin, bukan kebijakan, bahkan jika strategi yang diikuti di masa perang mungkin memiliki implikasi politik. Freytag-Loringhoven membandingkan posisi Moltke dengan Clausewitz dengan mengutip surat terakhir yang ditulis pada tahun 1827, di mana ia mengatakan bahwa kebijakan seharusnya tidak menuntut hal-hal yang bertentangan dengan sifat perang. 22 Friedrich von Bernhardi, dalam On War of To-Day yang diterbitkan di Jerman pada tahun 1912 dapat menangkap posisi Moltke dengan tepat: Oleh karena itu, jika kebijakan mengejar tujuannya dengan memperhatikan kekuatan negara, dan dalam kasus perang, dengan kerja sama komandan menentukan tujuan militer yang akan dicapai di sisi lain, maka kebijakan seharusnya tidak pernah ikut campur dalam pelaksanaan perang itu sendiri dan mencoba untuk menentukan cara di mana tujuan militer akan benar-benar dicapai. ... Kebijakan dan pelaksanaan perang tentu dalam banyak hal tunduk pada hukum yang sama, tetapi prosedurnya sama sekali berbeda. 23 Bernhardi memulai paragraf berikutnya dengan mengatakan: ‘Perang adalah kelanjutan kebijakan dengan cara lain’. Ini adalah kata-kata Clausewitz sendiri, meskipun tidak secara langsung diakui oleh Bernhardi, dari buku VIII bab 6B, dengan tambahan penekanan pada kata ‘lain’. Buku VIII melihat kebijakan sebagai pembentuk rencana, tetapi bukan taktik yang digunakan untuk mengimplementasikannya. Perang, menurut Clausewitz dalam bab yang sama, memiliki tata bahasanya sendiri, jika bukan logikanya sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa Clausewitz selanjutnya berpendapat bahwa panglima tertinggi harus ada di kabinet, sehingga logika kebijakan dapat dibentuk sesuai dengan tata bahasa perang dan dengan sifat perang yang sebenarnya. Sejarawan Gerhard Ritter, dalam menghadapi masalah militerisme Jerman setelah Reich Ketiga, berpendapat wajar bahwa sang jenderal harus berada di kabinet sehingga penggunaan sarana militernya dapat sesuai dengan harapan kebijakan. Oleh karena itu, dia menyimpulkan bahwa Moltke dan penerusnya jelas-jelas menyimpang dari pandangan dasar Clausewitz. 24 Mereka telah membaca naskah yang sama secara 22 Freytag-Loringhoven, Kriegslehren nach Clausewitz, 15–16. 23 Friedrich von Bernhardi, On War of To-Day (2 volume , London, 1912–13), I, hlm. 196; huruf miring pada aslinya. 24 Gerhard Ritter, The Sword and the Scepter: The Problem of Militarism in Germany (4 volume, Coral Gables, Florida, 1969–73), I, hlm. 195


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 36 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI berbeda dan memberi bobot pada bagian yang berbeda. Moltke dan perwira Prusia menggunakan Clausewitz dalam pertempuran mereka dengan Otto von Bismarck; Gerhard Ritter memanfaatkannya dalam perjuangan domestik lainnya, yaitu dengan Adolf Hitler dan Nazi. Perang Dunia Pertama memberi Clausewitz pukulan yang nyaris mematikan dalam pemikiran militer Barat. Tuduhan jangka pendek yang disuarakan oleh Basil Liddell Hart adalah bahwa murid-muridnya telah mempraktikkan gagasan perang absolut dengan efek yang menghancurkan: ini adalah hasil dari strategi pemusnahan. 25 Sementara itu, tuduhan jangka panjang yang disuarakan baru-baru ini oleh John Keegan dan David Stevenson adalah bahwa ini adalah perang tanpa utilitas politik. 26 Argumen ini dapat digambarkan sebagai munculnya strategi ‘gesekan’, jika bukan karena fakta bahwa sebagai akibat dari gesekan Perang Dunia Pertama yang memperoleh arti sangat berbeda dari apa yang diberikan Delbrück, menjadi terkait dengan arti bertempur daripada menghindarinya dan dengan interaksi antara taktik dan strategi daripada antara strategi dan kebijakan. Setelah 1918, Clausewitz kehilangan reputasinya di dunia berbahasa Inggris dan belum pulih sepenuhnya hingga tahun 1976. Tetapi kita tidak harus menyamaratakan reaksi dari Inggris dan dunia berbahasa Inggris. Di Prancis, Pierre Lehautcourt, yang menulis nom de plume of Général Palat, menerbitkan komentar untuk On War pada tahun 1921. Dia berkata bahwa dia telah menyusunnya pada tahun 1913, kemudian dia telah memulai membuat sebuah laporan sementara sebanyak empat belas jilid tentang perang di front Barat, tetapi itu tidak membuatnya menarik dukungan terhadap Clausewitz. Baginya, pemikiran Clausewitz telah menang dan bukan menyerah pada Perang Dunia Pertama. Palat membaca analisis Clausewitz tentang hubungan antara perang dan kebijakan sebagai satu di mana masing-masing menuntut saling menghormati, bukan subordinasi yang kaku: tujuan politik adalah 'salah satu elemen utama' dalam mempertimbangkan sifat perang, tetapi pada akhirnya harus selalu menuntut agar perang tidak bertentangan dengan kebijakan dengan cara-cara yang digunakannya.27 Analisis Palat berfokus khususnya pada buku VI On War (sejauh ini merupakan buku terpanjang dalam On War, mencakup sekitar seperempat dari total pembahasan masalah) berisi diskusi tentang pertahanan dan juga memperlakukan perhatian Clausewitz pada masalah operasional dalam istilah yang 25 Paling lengkap pada karya Basil Liddell Hart, The Ghost of Napoleon (London, 1933). 26 John Keegan, A History of Warfare (London, 1993), 22; David Stevenson, 1914–1918: The History of the First World War (London, 2004). 27 Général Palat, La philosophie de la guerre d’après Clausewitz (Paris, 1998; terbitan pertama 1921), hlm. 15–16.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 37 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI lebih menyarankan kontinuitas mendasar antara 1815 dan 1918 daripada perubahan mendasar. Bagi Jerman, bahkan Prancis, karya Clausewitz tetap sangat edukatif. Pertama, uraiannya tentang pertempuran dalam buku IV, baku tembak yang berkepanjangan dan tidak pasti antara pasukan yang sebanding sangat menggugah sifat pertempuran di front barat, untuk semua dampak teknologi baru. Kedua, pengalaman perang dapat menarik pembaca Clausewitz untuk mempertimbangkan kembali buku I dan VIII. Pada bulan Agustus 1914, Delbrück menanggapi pecahnya perang dengan meninjau keunggulan Jerman atas musuh-musuhnya. Salah satu keuntungannya adalah Kaiser: Delbrück mengutip Clausewitz untuk memperingati monarki 'warisan kesatuan tunggal', yaitu puncak kekuatan politik dan militer di Jerman yang dia lihat sebagai jaminan 'penyatuan strategi dan politik'.28 Pada saat itu, Kaiser gagal untuk mengkoordinasikan otoritas sipil dan militer di Jerman, lalu kritikus pasca perang membalikkan argumen Delbrück. Pada tahun 1926, seorang pensiunan jenderal, Leinveber, menggunakan volume sejarah resmi Jerman pada tahun 1914 untuk menerbitkan analisis perang dalam terang Clausewitz. Dia menyalahkan kekalahan Jerman atas kegagalan membaca dan memahami Clausewitz, yang pandangannya telah terungkap sepenuhnya melalui perang. Buku Leinveber menggambarkan perbedaan (tidak secara tegas berbicara bahasa Clausewitzian) antara apa yang disebut 'Krieg', yaitu perang dalam konsepsi sepenuhnya yang mencakup semua urusan negara, serta sebutan 'Heereskrieg', yaitu urusan dan strategi militer yang didefinisikan secara lebih sempit. Sejarah resmi menyatakan bahwa buku Leinveber fokus pada masalah operasional dan tekadnya yang teguh untuk tidak menangani kebijakan, kemudian mengabadikan pemisahan antara 'Krieg' dan 'Heereskrieg' yang telah mematahkan pelaksanaan perang Jerman. Kebijakan seharusnya menyatukan keduanya. Sang jenderal menulis bahwa ‘politisi’, harus menjadi pembangun utama dalam perencanaan perang. Sedangkan penulis sendiri seperti banyak orang Jerman di tahun 1920-an, memandang kepada satu orang 'yang memiliki karakter kuat' sebagai orang yang akan menyatukan perang dan kebijakan. Kegagalan Kaiser yaitu untuk memenuhi harapan yang diinginkan oleh orang Jerman seperti Delbrück pada tahun 1914 tercermin dalam banyak buku harian Jerman selama perang, sebuah harapan pada satu sosok mesianis yang akan membuktikan dirinya sebagai panglima perang sejati. Leinveber mengungkapkan identitas sayap kanannya ketika dia mengatakan bahwa Laksamana Alfred von 28 Hans Delbrück, Delbrück’s Modern Military History, ed. Hans Bucholz (Lincoln, Nebraska, 1997), hlm. 110.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 38 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Tirpitz, seorang pendiri Partai Tanah Air pada tahun 1916, mungkin adalah orang itu.29 Tetapi hal yang sama diajukan ke pihak yang lebih condong ke kiri pada tahun yang sama dengan penerbitan buku Leinveber, ketika komite penyelidikan Reichstag bersidang untuk mengungkap penyebab keruntuhan Jerman pada tahun 1918. Mereka merangkum argumen bahwa penyebab sebenarnya dari kekalahan Jerman terletak pada kegagalan pemerintah untuk menegaskan dirinya sendiri atas para pemimpin militer: mereka ‘tidak menyadari bahwa “perang harus menjadi instrumen kebijakan” seperti yang diungkapkan Clausewitz’.30 Dalam membuat banyak kritikus lebih sadar bahwa perang harus dilihat dalam konteks politiknya, Perang Dunia Pertama yang terjadi lebih mempromosikan daripada menekan minat pada Clausewitz. Seorang jenderal Inggris pada tahun 1918 menggambarkan On War sebagai Alkitab para perwira Jerman dan sebagian besar negarawan Jerman, oleh sebab itu telah menjadi aksioma bagi Jerman bahwa kebijakan tinggi dan strategi harus berjalan beriringan'.31 Orang Jerman yang mempelajari Clausewitz pada tahun 1918 akhirnya tidak dapat menarik kesejajaran antara pengalaman kekalahan dan penghinaannya pada tahun 1806 dengan pengalaman mereka sendiri. Pada tahun perang yang lalu di bulan Januari, Hans Rothfels mengirimkan tesisnya di Universitas Heidelberg, sebuah studi tentang Clausewitz sebelum dia memulai penulisan On War pada tahun 1816 yang mengeksplorasi hubungan antara pengalaman perang dan evolusi gagasan-gagasannya. Menurut Rothfels, setiap akhir dari ketidakjelasan mulai hilang jika dilihat dalam konteks zaman mereka dan evolusi pemikiran Jerman, 'komunitas sedarah yang menyatukan [On War] dengan pandangan dunia dan kebijakan idealisme'.32 Seperti halnya pilihan yang provokatif menggambarkan studi Rothfels, bahwa meskipun menandai titik di mana sejarawan akademi menenggelamkan gigi mereka kepada Clausewitz, pada saat yang sama mereka tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari isu-isu kebijakan kontemporer. Meskipun dia dan beberapa cendekiawan Clausewitz terkemuka lainnya dari periode antar perang, terutama Herbert Rosinski, beremigrasi ke Amerika Serikat sebelum pecahnya Perang Dunia Kedua, mereka telah membuka pintu bagi 29 Jenderal Utama a. D. Leinveber, Mit Clausewitz durch die Rätsel und Fragen, Irrungen und Wirrungen des Welkrieges (Berlin, 1926); pada hlm. 14, 18, 31, 72–7 30 Ralph Haswell Lutz (ed.), The Causes of the German Collapse (Stanford, CA, 1934), 200; Lihat juga 200–1. 31 T. D. Pilcher, War According to Clausewitz (London, 1918), v. 32 Hans Rothfels, Carl von Clausewitz. Politik und Krieg. Eine ideengeschichtliche Studie (Berlin, 1920; dicetak ulang 1980), viii


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 39 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Clausewitz lain sebagai nasionalis dan tokoh dari apa yang kini kita sebut sebagai 'perang eksistensial'. Pada bulan Februari 1812, saat Clausewitz dihadapkan pada pilihan antara kesetiaannya kepada raja Prusia dan kesadarannya akan identitas nasional Jerman, antara tunduk pada Prancis dan bergabung dengan tentara Rusia, ia menulis keyakinannya dalam tiga pernyataan (meskipun manifesto dapat menjadi judul yang lebih baik). Tulisan ini dikirim ke Gneisenau dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1860-an oleh penulis biografi yang terakhir. Di sini, makna hubungan antara perang dan kebijakan mengambil konotasi yang sangat berbeda dari yang tersirat dalam situasi yang lebih tenang dan reflektif di masa damai Berlin tahun 1827. Pernyataan pertama muncul semakin tinggi yang menunjukkan bagaimana kebijakan tidak serta merta memoderasi dampak perang, namun justru sebaliknya menuntut pengorbanan yang nyata. Clausewitz menulis 'Saya percaya dan mengakui', bahwa ‘orang tidak dapat menghargai apa pun yang lebih tinggi daripada martabat dan kebebasan keberadaannya; bahwa ia harus mempertahankan ini sampai tetes terakhir darahnya; bahwa tidak ada kewajiban yang lebih tinggi untuk dipenuhi, tidak ada hukum yang lebih tinggi untuk ditaati; bahwa noda yang memalukan tidak akan pernah bisa dihapus; bahwa setetes racun dalam darah suatu bangsa ini akan diteruskan ke keturunannya, melumpuhkan dan mengikis kekuatan generasi mendatang’. Clausewitz tidak memiliki harapan akan keselamatannya dalam waktu dekat; mengingat pencapaian Napoleon di medan perang, dia seperti juga yang lainnya hanya bisa mengantisipasi kekalahan setelahnya. Tapi itu lebih baik daripada tidak bertarung sama sekali. Dia percaya bahwa 'bahkan penghancuran kebebasan setelah perjuangan berdarah dan terhormat menjamin kelahiran kembali bagi rakyat. Perjuangan itu adalah benih kehidupan, yang suatu hari akan menghasilkan pohon baru yang berakar kuat.'33 Pada saat itu Prusia mampu pulih jauh lebih cepat setelah tahun 1812 daripada yang diharapkan Clausewitz. Preseden 1813–15 adalah obat bius bagi orang Jerman yang sedang diliputi oleh penghinaan terhadap Perjanjian Versailles pada tahun 1919. Clausewitz yang merupakan seorang nasionalis dan pendukung perang eksistensial, memberikan legitimasi pada retorika Nazi. Hitler pun mengutip Clausewitz dalam Mein Kampf, tetapi sebagai penulis kredo tahun 1812 bukan sebagai penulis On War. Kini hal yang penting dalam On War adalah definisi 33 Ini mengikuti terjemahan yang diberikan Carl von Clausewitz, Historical and Political Writings, disunting dan diterjemahkan oleh Peter Paret dan Daniel Moran (Princeton, NJ, 1992), 290; untuk naskah yang penuh, lihat Schriften—Aufsätze-Studien-Briefe, ed. Werner Hahlweg (2 vols, Göttingen, 1966–90), I, hlm. 678–751.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 40 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI pembuka dari Clausewitz tentang perang, yaitu 'suatu tindakan kekuatan untuk memaksa musuh kita melakukan kehendak kita'.34 Selain itu, Clausewitz sang realis, sosok yang dianut oleh tentara sebelum Perang Dunia Pertama, semakin digulingkan oleh Clausewitz sang filsuf dan ahli teori. Karl Linnebach, yang merentang kedua generasi sebagai seorang prajurit dan sebagai pengkaji Clausewitz, pada tahun 1936 menilai On War sebagai studi tentang pemikiran politik yang sebanding dengan karya-karya Plato, Aristoteles, Machiavelli, dan Montesquieu: 'keseluruhannya dapat dirangkum oleh konsep “kebijakan”’. 35 Pada tahun 1937, Friedrich von Cochenhausen menyunting edisi naskah yang diringkas, yang diawali dengan pidato dari Führer (yang menyatukan kekuatan politik dan militer, yang merupakan perwujudan subordinasi perang kepada kebijakan), kemudian mengacu pada Clausewitz dengan tetap menggemakan sentimen tahun 1812. Pada tahun 1943, Cochenhausen menerbitkan studi tentang kampanye tahun 1814 di Prancis, yaitu Der Wille zum Sieg atau keinginan untuk menang. Seperti yang dilakukan oleh Freytag-Loringhoven pada tahun 1908, Cochenhausen tidak menggunakan nama Clausewitz sendiri tentang kampanye tersebut, tetapi hanya bertujuan untuk menjelaskan naskah On War, atau setidaknya bagian-bagian tertentu, sehingga dapat disusun kembali sebagai satu kesatuan yang dalam kasus ini diadaptasi bukan dari perang penyatuan Jerman, tetapi dari keadaan di mana Jerman berada setelah pertempuran Stalingrad. Meskipun menempatkan kehendak nasional dalam inti analisisnya, Cochenhausen tidak membahas bagian Clausewitz tentang trinitas, dengan pengertian bahwa elemen-elemen dalam perang seperti kutub magnet, keduanya saling menarik atau menolak satu sama lain. Dia menggambarkan orangorang selaras dengan pemimpin mereka, kemudian menyatukan pemimpin, tentara, dan bangsa dalam sebuah hierarki. Ketiganya disatukan di bawah tujuan kekuatan moral, namun kekuatan moral itu sendiri digambarkan sebagai kekuatan politik yang dominan. Kepastian batin seorang pemimpin bisa mengatasi gesekan dalam perang dan semangat juang yang unggul bisa menang atas materi yang lebih unggul. Analisis Cochenhausen tentang perang absolut adalah yang paling berbelit-belit, melalui topik penuh arti yang diberikan Goebbels dalam pernyataannya tentang 'perang total' pada tahun yang sama. Cochenhausen mengikuti argumen dari kritikus akademis Clausewitz yang terkemuka di Nazi Jerman, filsuf Walther Malmsten Schering, yang berpendapat bahwa perang absolut adalah konstruksi yang ideal, bukan sebuah realitas. Cochenhausen mengamati bahwa pergeseran menuju realisasi perang absolut tidak dikendalikan oleh batasan kebijakan tetapi oleh 'jiwa' orang-orang yang berperang dan faktor operasional. Terakhir, geografi juga 34 On War, I, 1, hlm. 75. 35 H. Franke, Handbuch der neuzeitlichen Wehrwissenschaften (3 vols in 4, Berlin, 1936–7), I, hlm. 41


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 41 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI merupakan salah satunya, begitu pun lamanya perang, karena perang absolut tidak terdiri dari satu pukulan palu, tetapi dari rangkaian tindakan yang dipisahkan dalam ruang dan waktu. Dalam buku VIII dari On War, kampanye ideal Clausewitz yang pendek dan ofensif, lalu tiba-tiba panjang, menurutnya berhasil untuk keuntungan pertahanan. Tetapi sekitar tahun 1814, argumen Cochenhausen tampaknya bekerja. Lamanya perang memungkinkan para pemimpin dari kedua belah pihak pada akhirnya mengumpulkan sumber daya mereka, yang berarti bahwa keduanya akhirnya mencapai keadaan perang absolut, 'bentuk perilaku perang yang ideal ini'. Dapat diprediksi Cochenhausen mengakhirinya dengan menghubungkan kesimpulan dari Perang Napoleon dengan perang yang sedang berlangsung, dan khususnya dengan kampanye Rusia. 36 Dalam hal ini Jerman tidak akan menang. Efek langsung dari kekalahan pada tahun 1945 mendiskreditkan Clausewitz di negara lain selain Jerman, padahal On War telah mengakar kuat selama tahun-tahun perang di Soviet Serikat. 37 Tsar Rusia menunjukkan sedikit minat pada Clausewitz, tetapi Marx dan Engels sama-sama mengaguminya. Pada tahun 1915 Lenin, bekerja di pengasingan di perpustakaan negara bagian Bern dan telah membaca On War. Bagi kaum Bolshevik juga, Perang Dunia Pertama membuat pembahasan Clausewitz tentang hubungan antara perang dan kebijakan menjadi lebih relevan, karena keduanya merupakan alat untuk mencapai tujuan lain, yaitu revolusi. Clausewitz, terutama ketika belajar dengan latar belakang perang dunia, memperkuat kesadaran Lenin sendiri tentang penggunaan perang untuk tujuan revolusi. Lenin sangat terkesan dengan buku VIII, bab 6B. Ia bukan hanya menyimpulkan bahwa perang tanpa kebijakan tidak ada gunanya, tetapi juga bahwa kebijakan memperdalam dan memperkuat perang, bukan memoderasinya. Ia mengacu pada buku I, bab 1, dan mencatat bahwa perang berarti 'tampak semakin “gemar berperang”, semakin politis; sehingga semakin “politis”, semakin kurang dalam kebijakan itu sendiri.'38 Ketika Red Army didirikan setelah revolusi Oktober 1917, seorang komisaris perang Leon Trotsky yang juga pernah membaca On War, mendapati dirinya terlibat dalam dua perdebatan mengenai identitas dan misinya. Salah satunya adalah apakah ideologi revolusioner yang seharusnya berkuasa atas profesionalisme 36 Friedrich von Cochenhausen, Der Wille zum Sieg. Clausewitz’ Lehre von dem Kriege innewhohnenden Gegengewichten und ihrer Überwindung, erläutert am Feldzug 1814 in Frankreich (Berlin, 1943), terutama 2–11, 28, 110. 37 Tentang resepsi Clausewitz di Rusia, lihat Olaf Rose, Carl von Clausewitz. Wirkungsgeschichte seines Werkes Russland und der Sowjetunion 1836–1991 (Munich, 1995) 38 Werner Hahlweg, ‘Lenin und Clausewitz. Ein Beitrag zur politischen Ideengeschichte des 20 Jahrhunderts’, dalam Günter Dill (ed.), Clausewitz in Perspektive. Materialien zu Carl von Clausewitz: Vom Kriege (Franfurt am Main, 1980), 601.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 42 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI militer, dan apakah prajurit Tsar harus dimasukkan atau ditolak dalam tentara baru. Trotsky mengutip Clausewitz yang mendukung garis yang pertama dan lebih pragmatis. 39 Yang lainnya adalah apakah tentara revolusioner harus mengadopsi taktik ofensif atau apakah harus terlebih dahulu berkonsentrasi untuk mempertahankan revolusi di dalam negeri. Mengenai hubungan antara perang dan kebijakan, begitu juga dengan serangan dan pertahanan, Lenin sangat terbuka terhadap interaksi kedua elemen dalam pemikiran Clausewitz tersebut. Dia telah memberikan perhatian khusus pada buku VI dari On War, dan mencatat bahwa pertahanan melawan invasi, atau dengan kata lain pertahanan strategis, membutuhkan pasukan untuk dapat melakukan serangan balik. Tentang perbedaan antara pertahanan dan serangan, Lenin menyimpulkan bahwa ini dapat diartikan seperti 'larut di wilayah asing saat mempertahankan wilayah anda sendiri.'40 Di sini tidak ada refleksi dari dua jenis perang Clausewitz yang telah begitu memicu analisis Delbrück. Pada dekade 1920-an di Inggris, para pemikir seperti J. F. C. Fuller dan Basil Liddell Hart melihat mekanisasi munculnya tank dan efek pengeboman udara sebagai pengganti pasukan massal dan sebagai cara untuk melewati jalan buntu, pembantaian di parit perlindungan serta perang terbatas. Di Uni Soviet, pemikir seperti A. A. Svechin menentang spekulasi seperti itu sebagai angan-angan. Dia menyadari bahwa perang di masa depan akan terus mengeksploitasi kapasitas negara untuk memobilisasi semua sumber dayanya, termasuk tenaga kerja, dan menerapkan teknologi baru. Hasilnya adalah visi kesatuan perang: 'Kami menganggap diri kami terikat pada definisi kehancuran yang indah dari Clausewitz', tulis Svechin pada tahun 1927. Akan sangat menyedihkan untuk mengganti definisi kehancuran yang terang dan kaya ini dengan beberapa konsep sederhana tentang penghancuran atau perusakan gesekan, yang tidak menghasilkan kesimpulan yang wajar dengan dalih bahwa penghancuran dalam bentuk sesungguhnya tidak dapat diterapkan saat ini.'41 Ulasan Lenin tentang Clausewitz diterbitkan pada tahun 1930. Dua tahun kemudian terjemahan Rusia baru tentang On War muncul dan pada tahun 1941 buku ini telah melewati lima edisi. Tetapi pada tahun 1945, Clausewitz tidak hanya mewakili musuh bebuyutan yaitu Jerman, tetapi juga tradisi strategis yang telah dua kali gagal. Pada tahun 1946, Stalin menyatakan On War sudah ketinggalan zaman, dan ia baru direhabilitasi di Uni Soviet satu dekade kemudian setelah kematian 39 Bernard Semmel, Marxism and the Science of War (Oxford, 1981), 69. 40 Hahlweg, ‘Lenin und Clausewitz’, 614. 41 Aleksandr A. Svechin, Strategy, ed. Kent D. Lee (edisi kedua, terbitan pertama 1927; Minneapolis, MN, 1992), 65.


UNIVERSITAS PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA 43 NOT FOR SALE UNTUK KALANGAN SENDIRI Stalin dan pidato de-Stalinization Khruschev di kongres partai kedua puluh. Sejak saat itu, pemikiran militer Soviet bergulat dengan hal-hal yang tidak dapat dibayangkan yang sejalan dengan pemikiran strategis Barat setelah munculnya senjata nuklir. Kapasitas mereka untuk penghancuran besar-besaran memberi konsep perang absolut potensi realisasi sambil menekankan dan memastikan bahwa itu tetap menjadi konstruksi yang ideal. Subordinasi perang dengan kebijakan menjadi lebih masuk akal mengingat memiliki kemampuan destruktif yang masif, tetapi kebijakan paling baik memenuhi tujuannya melalui pencegahan dengan menghindarinya daripada dengan melancarkan perang. Pencegahan berpusat pada ketidakmampuan perang, On War diarahkan untuk membuatnya berguna. Oleh karena itu, secara logis, setiap argumen tentang relevansi Clausewitz seharusnya berakhir pada tahun 1945, dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Ironisnya, kekalahan Nazi dan pembentukan citra Clausewitzian tentang kehancuran heroiknya juga membuka jalan bagi interpretasi lain tentang hubungan antara perang dan kebijakan. Selama Perang Dunia Kedua, Clausewitz telah menginspirasi perlawanan terhadap Nazi serta pendukung rezim tersebut. Pada tahun 1942, Ludwig Beck juga terlibat dengan konsep perang total. Dia adalah seorang kepala staf umum angkatan darat yang diberhentikan oleh Hitler pada tahun 1938 dan diduga akan menjadi kepala negara jika komplotan bulan Juli 1944 melawan Hitler berhasil. Erich Ludendorff, intendan jenderal pertama antara tahun 1916 dan 1918 yang juga seorang tokoh sayap kanan radikal pada tahun 1920-an, telah menerbitkan sebuah buku pada tahun 1935 berjudul Der totale Krieg berisi tentang bagaimana kebijakan harus disubordinasikan ke dalam pelaksanaan perang. Dalam menjawab pemikiran Ludendorff, Beck mengaitkan gagasan perang total tersebut dengan Clausewitz, meskipun tidak sepenuhnya jelas apakah dia mengacu pada deskripsinya tentang perang absolut atau gagasan tentang perang pemusnahan. Seperti halnya Delbrück, Beck menyadari bahwa Clausewitz telah mengizinkan perang jenis lain. Menurut Beck, apa yang terjadi dalam perang total menunjukkan bahwa tujuan politik berada di bawah tujuan perang. Clausewitz tidak memandang perang yang harus tunduk pada kebijakan, yang pada gilirannya tidak hanya dapat mencapai tujuan terbatas tetapi juga dapat menemukan solusi tanpa pertumpahan darah. Sebagai politisi, kesimpulan Beck memiliki kewajiban moral, seperti halnya sebagai tentara. 42 Tahun berikutnya, 1943, Gerhard Ritter, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Historische Zeitschrift, membawa argumen ini satu tahap lebih jauh. Dia menolak interpretasi Nazi terhadap Clausewitz serta 42 Ludwig Beck, ‘Die Lehre vom totalen Krieg’, Dicetak di Dill, Clausewitz in Perspektive, 520–41


Click to View FlipBook Version