menyeimbangkan antara bermain di perangkat digital
dan bermain di dunia nyata.
h. Menunda Perkembangan Bahasa Anak: Penelitian telah
menunjukkan bahwa penggunaan media digital bisa
menunda perkembangan bahasa anak, terutama bagi
anak-anak yang berusia dua tahun ke bawah.
Selain penjabaran di atas tentang risiko-risiko negatif
dari pengunaan terknologi digital yang berlebihan
dijelaskan juga oleh seorang Dokter anak asal Amerika
Serikat, Cris Rowan, dalam tulisannya di Huffington Post,
mengatakan perlu ada larangan penggunaan gadget pada
usia anak di bawah 12 tahun karena dapat mengakibatkan
pertumbuhan otak terlalu cepat, gangguan tidur, obesitas,
penyakit mental, agresif serta pikun digital. (Palar, J. E.,
Onibala, F., & Oroh, W, 2018). Lebih lanjut dijelaskan bahwa
ketika seorang anak menerima banyak informasi, namun tak
kuat menahan arus informasi, maka akan berpengaruh
terhadap kesehatan mental anak. Anak yang sudah lekat
dengan teknologi bisa menjadi pengguna aktif yang
berakhir menjadi pecandu teknologi digital. World Health
Organization (WHO) menetapkan kecanduan game
merupakan penyakit gangguan mental. Bermain game
disebut sebagai gangguan mental dimana game tersebut
dapat menggangu atau merusak kehidupan pribadi,
keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan (WHO, 2018;
Zaini, M. & Soenarto, 2019).
Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa
sebagian besar anak yang memiliki kebiasaan bermain
gadget lebih dari 1 jam setiap hari mengalami degradasi
perkembangan sosial dengan aktivitas gadget yang tinggi
akan menjadi apatis terhadap lingkungan, tingkat agresif
juga akan meningkat (Ra et al., 2018; Novianti, R. & Garzia,
M, 2018). Pada anak yang berusia 2 hingga 12 tahun tidak
dianjurkan memiliki kontak terlalu lama dengan layar
televisi tanpa kehadiran orang dewasa yang berinteraksi
399
dan mengedukasikan secara langsung (Bach, Zoroja, &
Vukšić, 2013; Novianti, R. & Garzia, M, 2018). Waktu yang
ideal bagi anak untuk menggunakan gadget yaitu 5-30
menit dengan intensitas 1-2 kali per hari (Rowan, 2013;
Novianti, R. & Garzia, M, 2018).
Dengan demikian, penting bagi orang tua untuk
memperhatikan kebutuhan penggunaan teknologi digital
dan gadget bagi anak. Penggunaan gadget harus
disesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak. Orang tua
harus mengetahui pedoman pemberian gadget dan cara anak
berinterkasi dengan teknologi digital untuk untuk
menghindari anak dari pengguna aktif berlebihan maupun
kecanduan. Panduan penggunaan gadget bagi anak
dijelaskan pada tabel berikut ini.
Tabel.1 Kategori penggunaan gadget berdasarkan usia anak
Pengelompokkan Rekomendasi Indikasi
Usia Durasi Kecanduan
0-2 Tahun NO GADGET
3-5 Tahun Maksimal 10 menit Total > 15 jam
5-7 Tahun Maksimal 20 menit dalam
7-9 Tahun Maksimal 30 menit sepekan
9-12 Tahun
Maksimal 1 jam
12-15 Tahun Maksimal 2 jam
Sumber: Yayasan Kita dan Buah Hati dan American
Academy of Pediatrics
2. Analisis Potensi sebagai Modal Dasar
Dalam menghadapi perubahan digitalisasi yang serba
mendadak dan tidak dapat diprediksi tentu diperlukan
modal dasar bagi anak. Beberapa modal dasar yang menjadi
pedoman orang tua agar dapat menyikapi digitalisasi secara
tepat dan bijak untuk anak meliputi:
400
a. Penanaman nilai
Penanaman nilai merupakan pondasi yang krusial
bagi anak dalam menyikapi maraknya tangtangan-
tantangan dari digitalisasi. Terdapat nilai-nilai yang
perlu diindahkan yang sifatnya mengikat norma dan
universal sebagai identitas bangsa Indonesia. Nilai-nilai
tersebut yang perlu dibelajarkan kepada anak akan
dijelskan sebagai berikut.
1) Nilai relegius
Nilai religius atau nilai-nilai yang erat
kaitannya dengan nilai agama merupakan nilai utama
dalam membentengi seorang anak dalam menjalani
kehidupannya. Penanaman nilai-nilai agama
merupakan hal penting yang diharapkan mampu
untuk meminimalisir dampak-dampak negatif dari
Era Digital yang disebut juga Era Disruptif
(Maulidiyah, E. C, 2018). Nilai relegius menjadi modal
dasar untuk memisahkan baik buruknya hal-hal yang
dihadapi anak di era digital ini. Sudah hal mutlak
bagi orang tua untuk menanamkan nilai relegius ini
sebagai bentuk tanggung jawabnya dalam
mengemban amanah predikat orang tua. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‗alaihi wa
sallam:
―sََكهكَمََكeَمَهؤKََم˚عkََته،َaaََََسmَlَعيiََعكaَماuرnََأَرَاََزَهsَهbَيe،ََمكekََرَتَمعَ˚لraَََََكtََlََai.َتanعتََييلnَاَ˚لأgَgََaََيبudََؤnََaةgَب،سlَََعaَزهبأhَعjَمaََراwpهَجَمeaََنmمbَََاَعiََmaسَجtpa،ك،ََيََزsَiَnَََده,oََنrdيََاتaَََعكaنnََnََgََفkََعy،aرعَاaرmَnَمuاgر
dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah
pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas
keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi
rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu
sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian
akan diminta pertanggungjawabannya atas
kepemimpinannya.‖
401
Hal serupa terkait perintah untuk mendidik
anak juga dijelaskan dalam QS. At-Tahrim: 6 yang
berbunyi:
َأَ ََهَي َك َم أَ َوفَ َس َك وب َرا
َم قََا آَ َمىََا انََ َذي َه
أَيََََب يَب
―Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka‖.
Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir (7: 321),
‗Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat
ini adalah, ―Beritahukanlah adab dan ajarilah
keluargamu.‖.
Berdasarkan Al-Qur`an dan Hadist tersebut
maka sudah sepatutnya orang tua sangat konsen
dalam menanamkan nilai religius kepada anak.
Seorang anak dapat memiliki akhlakul karimah
melalui didikan orang tuanya. Orangtua juga harus
melaksanakan pengasuhan terhadap anak dengan
sepenuh hati utamanya dalam hal ibadah dan
membentuk akhlak anak agar terhindar dari hal-hal
yang tidak diinginkan (Maulidiyah, E. C, 2018).
Penanaman nilai religius akan sangat bermanfaat bagi
kehidupan anak di tengah-tengah arus digital yang
tidak dapat terbendung. Anak-anak akan bijak
memilih informasi yang bermanfaat dan bernilai
positif bagi kehidupannya. Anak yang memahami
kodratnya sebagai manusia ciptaan Alllah Subhanahu
Wata‘ala mampu mendeteksi dirinya untuk dapat
menggunakan teknologi digital dengan cara tidak
berlebih-lebihan karena bisa memberikan dampak
yang buruk bagi dirinya.
2) Nilai karakter
Nilai karakter merupakan nilai yang melekat
pada identitas seorang individu/anak. Nilai karakter
juga akan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak
402
dalam menyikapi digitalisasi. Dalam kurikulum 2013
403
di sekolah dasar, terdapat 18 karakter yang perlu
dipahami dan dibelajarakan oleh anak sejak dini.
Kedelapan belas karakter tersebut meliputi: Religius,
Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri,
Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaaan,
Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi,
Bershabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar
Membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung
jawab. (Goleman, 2004; Adisusilo, 2012; Sahronih, S,
2018 ) menjelaskan bahwanilai-nilai pendidikan
karakter mencakup sembilan nilai-nilai dasar yang
terkait diantaranya: (1) responsibility (tanggung
jawab); (2) respect (rasa hormat); (3) fairness
(keadilan); (4) courage (keberanian); (5) honesty
(kejujuran); (6) citizenship (rasa kebangsaan); (7) self-
discipline (disiplin diri); (8) caring (peduli); dan (9)
perseverance (ketekunan). Nilai-nilai karakter ini dapat
menjadi pedoman bagi orang tua dalam mengarahkan
dan menumbuhkan karakter pada anak.
Karakter anak menjadi sesuatu yang berharga
dalam cerminan perilaku dan kebiasaan anak.
Karakter anak yang diharapkan adalah kualitas
mental atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti
yang merupakan kepribadian khusus yang harus
melekat pada diri anak-anak bangsa ini, sebagai
sebuah dimensi yang positif dan konstruktif (Elfindri,
2012; Hendayani, M, 2019). Pendidikan karakter bisa
menjadi alternatif pemecahan masalah yang ada
yakni untuk meminimalisir adanya degradasi
moral (Sahronih, S, 2018). Degradasi moral perlu
menjadi perhatian yang belakangan ini menjadi isu
dalam menghadapi dampak negatif dari digitalisasi.
Penanaman nilai karakter tentu tidak terlepas
dari peran serta orang tua. Keluarga merupakan pusat
pendidikan utama yang akan memberikan pengaruh
yang sangat besar dalam pembentukan karakter atau
akhlak seorang anak (Hendayani, M, 2019). Lebih
404
lanjut dijelaskan bahwa lingkungan keluarga
sangatlah besar pengaruhnya terhadap karakter
seseorang (Hendayani, M, 2019). Karakter merupakan
sesuatu yang tidak instan untuk didapatkan bagi
anak. Hal ini perlu pembiasaan dan kesinambungan
dari orang-orang terdekat anak, dalam hal ini orang
tua yang merupakan bagian dari keluarga anak.
b. Perilaku orang tua
Anak-anak memiliki kecenderungan meniru
orang-orang di sekitarnya terkhsusnya orang tua.
Metode uswatun hasanah ―contoh teladan yang baik‖
dari orang-orang yang dekat dengan anak itu yang
paling tepat untuk memberikan pengaruh pada
pembentukan mental dan akhlak anak-anak.
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode yang
paling meyakinkan keberhasilannya dalam
mempersiapkan dan membentuk anak di dalam moral,
spiritual, dan sosial. (Suhartono & Yulieta, N.R , 2019)
Perilaku orang tua dihadapan anak sangat
menentukan kebiasaaan pemahaman dan kebiasaan
anak. Orang tua seharusnya menjadi cermin bagi anak
mereka. Hal ini dimulai dari usia dini, dimana orang tua
harus menjauhkan jangkauan anak dari gadget.
Kemudian sampai pada usia yang sewajarnya, orang tua
baru dapat memberikan kepercayaan pada mereka untuk
menggunakan gadget dalam keadaan dan waktu
tertentu, dengan adanya pengawasan dan bimbingan
penuh (Palar, J. E., Onibala, F., & Oroh, W, 2018).
Sebuah kajian yang perlu menjadi perhatian
bersama bahwa ditemukan data 70% orangtua mengaku
mengizinkan anaknya yang berusia 6 bulan sampai 4
tahun bermain smartphone ketika mereka sedang
mengerjakan pekerjaan rumah, dan 65% orangtua
melakukan hal yang sama untuk menenangkan anak saat
berada di tempat umum (Louis, 2015; Zaini, M. &
405
Soenarto, 2019). Orang tua yang seharusnya memahami
dan menunjukkan perilaku bijak terhadap penggunaan
teknologi justru memfasilitasi anak yang belum cukup
umur dalam berinteraksi dengan teknologi digital. Hal
ini bertolak belakang dengan yang dikemukakan oleh
Zaini, M. & Soenarto. (2019) bahwa orangtua harus bisa
menjadi tameng pertama jika mereka menyanyangi anak-
anak mereka, karena tanpa pengawasan orangtua dalam
menggunakan teknlogi digital maupun gadget, bisa jadi
anak-anak tanpa sengaja melihat dan tertarik terhadap
iklan atau konten-konten yang tidak layak untuk
dikonsumsi anak.
Selain itu, pendidikan yang dimiliki orang tua juga
menjadi salah satu faktor dalam menyikapi digitalisasi
yang dihadapi oleh anak. Studi menemukan bahwa
orang tua yang berpendidikan lebih tinggi tampaknya
lebih efektif dalam aktivitas keterlibatan anak-anaknya.
Sebuah penelitian yang melibatkan para ibu sebagai
partisipan dalam penelitian tersebut menunjukkan
bahwa elemen kunci dari keterlibatan pendidikan orang
tua terkait teknlogi digital adalah dengan pengelolaan
informasi, menjaga pencatatan, menjadwalkan, dan
manajemen waktu (Head, E. 2020). Lebih lanjut
dijelaskan bahwa pengelolaan teknologi digital,
menuntut kepastian keterampilan dan sumber daya dari
orang tua yang tidak semua dimiliki dan hal ini
berpotensi memperdalam ketidaksetaraan dalam
pengalaman pendidikan bagi anak-anak. (Head, E. 2020).
3. Solusi Tantangan Digitalisasi
Diperlukan langkah-angkah preventif sebagai kunci
keberhasilan pendidikan anak dalam menghadapi era
digitalisasi. Adapun beberapa solusi yang ditawarkan
dalam penulisan ini dijabarkan sebagi berikut.
406
a. Keterlibatan Orang Tua
Keterlibatan orang tua juga menjadi hal vital
dalam menyelenggarakan pendidikan keluarga. Orang
tua yang proaktif merupakan bukti keterlibatannya
terhadap kehidupan keluarga. Sebagian besar kasus
memperlihatkan bahwa keterlibatan orang tua masih
sangat minim. Bahkan yang paling parah bahwa adanya
sebagian asumsi kebanyakan orang terkait keterlibatan
orang tua dalam kehidupan anak yang didominasi oleh
sang Ibu.
Terdapat dua program terkait keterlibatan orang
tua yang dapat dilakukan sebagai bagian pendidikan
keluarga berdasarkan teori dan bukti empirik, meliputi:
1) Parent Environment yaitu lingkungan keluarga yang
difasilitasi oleh orang tua agar anak memiliki
motivasi dalam proses belajarnya dengan baik (home
learning environment);
2) Parent Partnership yaitu pengembangan sekolah
seperti membuat kebijakan atau pembagian otoritas
di sekolah. Lebih lanjut akan dijelaskan berdasarkan
penelitian-penelitian.
Grolnick dan Slowiaczek (1994) yang
menggambarkan keterlibatan orang tua sebagai "dedikasi
sumber daya oleh orang tua kepada anak‖ dan
LaRocque, Kleiman, dan Darling (2011) yang
menjelaskan keterlibatan orang tua sebagai "investasi
orang tua atau pengasuh dalam pendidikan anak-anak
mereka" untuk yang lebih spesifik yang mendefinisikan
Keterlibatan orang tua sebagai kegiatan orang tua di
rumah dan di sekolah yang terkait dengan pembelajaran
anak di sekolah (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997).
Pembuat kebijakan dan peneliti tampaknya
sepakat bahwa keterlibatan orang tua adalah sebuah
bahan penting untuk keberhasilan akademis anak-anak
(Graves & Brown Wright, 2011; Mattingly, Prislin,
407
McKenzie, Rodrigues, & Kayzar, 2002; Boonka, L.,
Gijselaersa, H.J.M., Ritzenb, & H., Gruwela, S B, 2018).
Para orang tua yang merupakan peserta aktif dalam
pendidikan anak-anak mereka dianggap
mempromosikan sosial, emosional dan pertumbuhan
akademik emosional anak (Green, Walker, Hoover-
Dempsey, & Sandler, 2007). Terlepas dari kepercayaan
luas bahwa keterlibatan orang tua adalah unsur penting
untuk kesuksesan akademis anak-anak, ada beberapa
isu-isu yang terkait dengan penelitian tentang
keterlibatan orang tua (Desforges & Abouchaar, 2003).
Variabel keterlibatan orang tua ini diartikan
sebagai pemberian dukungan dan dorongan semangat,
seperti memuji kinerja, kemajuan, dan upaya anak-anak
serta memberi tahu anak bahwa mereka peduli dengan
kinerja sekolah mereka. Dorongan dan dukungan secara
signifikan memprediksi prestasi akademik yang lebih
tinggi (Hung, 2007; Rogers dkk., 2009). Selain itu,
dukungan orang tua seperti menyediakan lingkungan
yang sesuai dan materi yang kondusif untuk
pembelajaran tampaknya berdampak hubungan positif
yang signifikan dengan prestasi akademik. Hal ini tidak
terlepas bahwa keterlibatan orang tua merupakan salah
satu bentuk pengasuhan. Pengasuhan telah
direpresentasikan sebagai pusat keberhasilan pendidikan
anak-anak dan mengamati bahwa 'Keterlibatan dalam
pendidikan anak dipandang sebagai tanggung jawab
utama orang tua akan berdampak pada kesejahteraan
masa depan dan peluang hidup anak' (Vincent, 2017;
Gillies, 2006; Head, E. 2020).
Digital teknologi semakin banyak digunakan oleh
sekolah untuk mendukung keterlibatan orang tua dalam
pendidikan anak-anak (Selwyn et al. 2011, 315). Studi
Selwyn et al. tentang penggunaan pembelajaran platform
untuk keterlibatan orang tua dalam pendidikan
menunjukkan bahwa penggunaannya terkait dengan
408
'kontrol dan regulasi keterlibatan orang tua' (2011, 322).
Tema serupa ditemukan di Analisis Manolev, Sullivan,
dan Slee (2019, 36) dari ClassDojo yang berpendapat
bahwa teknologi ini mengintensifkan dan menormalkan
pengawasan siswa. Dalam karya Bradbury tentang
'datatifikasi' pendidikan tahun-tahun awal di Inggris, dia
berpendapat bahwa 'datafikasi' ini menghasilkan
'subjektivitas berbasis data untuk guru dan anak' dan
lingkungan di mana pengukuran ditekankan di atas
konseptualisasi pembelajaran lainnya (Bradbury, 2019;
Head, E. 2020). Teknologi digital melibatkan orang tua
lebih dekat dalam pendidikan anak mereka, memperkuat
tanggung jawab orang tua untuk hasil anak-anak mereka
(lihat Lupton 2011; Geinger, Vandenbroeck, dan Roets
2014; Lee et al. 2014; Head, E. 2020).
Keberhasilan pendidikan semakin terkait dengan
keterlibatan orang tua dan sekolah yang mengarah pada
penggunaan teknologi digital. Teknologi digital merujuk
pada 'datafikasi' dan 'digitalisasi' pendidikan. Datafikasi
mengacu pada perpindahan aspek pendidikan ke digital
data; digitalisasi adalah 'penerjemahan beragam praktik
pendidikan ke dalam kode perangkat lunak', sedangkan
'digitalisasi' praktik pendidikan inilah yang menjadi
perhatian tulisan ini, khususnya, digitalisasi unsur
keterlibatan orang tua dalam pendidikan (Williamson,
2017; Head, E, 2020).
Keterlibatan orang tua dapat dipahami ketika
orang tua mampu memainkan perannya dengan baik,
terkhususnya di era digital yang dihadapi anak. Apabila
peran keluarga baik maka besar perilaku anak dalam
menggunakan gadget juga baik, hal itu dikarenakan
orang tua banyak memberikan pengarahan bagaimana
menggunakan gadget yang tepat dan baik. Namun
sebaliknya bila peran keluarga kurang baik maka
perilaku anakpun akan kurang baik karena kurangnya
penjelasan tentang bagaimana menggunakan teknologi
409
dalam hal ini gadget untuk hal-hal yang baik.
(Markustianto, 2017; Palar, J. E., Onibala, F., & Oroh, W,
2018). Hermawan, A. (2020) juga menjelaskan bahwa
pola asuh anak merupakan hal urgen sekali diketahui
agar para orang tua bisa memiliki kesadaran dan
perhatian lebih terhadap pengasuhan anak-anaknya
yang hidup di era globalisasi dan digitalisasi seperti
sekarang ini.
b. Membangun Kemampuan Berpikir Kritis anak
Critical thinking atau biasa diartikan berpikir kritis
merupakan salah satu keterampilan abad 21 yang perlu
dikuasai oleh anak. Cotrrell (2011) yang mengatakan
“critical thinking is a cognitive activity, assosiated with using
the mind. Learning to think in critical analytic and evaluative
ways means using mental processes such as attention,
categorization, selection, and judgement”. Dengan demikian,
berpikir kritis merupakan kegiatan kognitif yang melalui
beberapa proses mental seperti perhatian, kategorisasi,
memilih dan menentukan. Dengan mengasah anak
terampil berpikir kritis, anak-anak dapat menilai,
merasakan, memilah, dan mampu menyaring segala
informasi yang datang.
Selain itu kemampuan berpikir kritis adalah
keterampilan yang perlu dikembangkan secara terus
menerus. Mengingat bahwa kemampuan berpikir
seseorang akan dapat mencermati dan mencari solusi
atas segala permasalahan yang dihadapi dalam
kehidupannya. Oleh karena itu,dalam masa revolusi
industri 4.0 keterampilan berpikir menjadi keterampilan
esensial yang harus dimiliki oleh setiap lulusan pada
setiap jenjang pendidikan (Zubaidah, S, 2018 ). Menurut
(Johnson, 2002; Zubaidah, S, 2018 ) menjelaskan bahwa
berpikir kritis adalah aktivitas mental untuk
merumuskan atau memecahkan masalah, mengambil
keputusan, memahami hal tertentu, menemukan
410
jawaban untuk pertanyaan, dan menemukan jawaban
yang relevan.
Berpikir kritis adalah keterampilan untuk
menwajab era digital sekarang ini. Pada dasarnya bahwa
berpikir kritis dapat diartikan sebagai proses juga
sebagai suatu kemampuan yang digunakan untuk
memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan
mengevaluasi informasi yang didapat atau informasi
yang dihasilkan. Tidak semua informasi yang diterima
dapat dijadikan pengetahuan yang diyakini
kebenarannya untuk dijadikan panduan dalam tindakan
(Zubaidah, S, 2018 ).
Seorang anak atau individu tentu memiliki
kategori tersendiri sehingga dikatakan mampu berpikir
kritis. Berpikir kritis merujuk pada beberapa unsur yang
saling berkaitan. Berpikir kritis memiliki unsur-unsur
yang perlu dipahami sebagi dasar bagi orang tua
membangun keterampilan berpikir kritis anak. Menurut
Ennis (1996; Zubaidah, S, 2018) terdapat 6 unsur dasar
dalam berpikir kritis yang dijelaskan secara singkat
dengan singkatan FRISCO pada tabel di bawah ini.
411
Tabel. 2 Unsur bepikir kritis
Unsur Penjelasan
Berpikir
Memfokuskan pertanyaan atau isu yang ada
Kritis
Focus untuk membuat keputusan tentang apa yang
Reason
Inference diyakini
Situation Mengetahui alasan-alasan yang mendukung
Clarity atau menolak putusan-putusan yang dibuat
Overview
berdasar situasi dan fakta yang relevan
Membuat kesimpulan yang beralasan atau
meyakinkan. Bagian penting dari langkah
penyimpulan ini adalah mengidentifikasi
asumsi dan mencari pemecahan,
pertimbangan dari interpretasi terhadap
situasi dan bukti
Memahami situasi dan selalu menjaga situasi
dalam berpikir untuk membantu
memperjelas pertanyaan (dalam F) dan
mengetahui arti istilah-istilah kunci, bagian-
bagian yang relevan sebagai pendukung
Menjelaskan arti atau istilah-istilah yang
digunakan
Meninjau kembali dan meneliti secara
menyeluruh keputusan yang diambil
Berdasarkan tabel tersebut para orang tua
memiliki pedoman yang kuat dalam melatih
keterampilan berpikir kritis anak-anaknya terkhususnya
dalam menyikapi fenomena digitalisasi. Keterampilan
bernalar kritis menjadi hal yang perlu diperhatikan
orang tua bagi tumbuh kembang anaknya. Orang tua
dapat menerapkan pendekatan dialogis untuk
membangun nalar kritis pada anak-anak. Dengan bekal
nalar kritis, anak-anak menjadi lebih mampu berpikir
412
bijak terutama ketika memproses derasnya informasi
yang merupakan pondasi penting bagi bangunan literasi
digital saat ini.
c. Pendidikan Berbasis Adaptif, Modifikatif, dan
Transformatif
Salah satu yang upaya yang dapat dilakukan
dalam menghadapi era digital adalah dengan
memanfaatkan kecanggihan teknologi digital ke arah
yang lebih baik sebagai sebuah peluang. Pendidikan dan
teknologi digital dapat dikemas dalam sebuah
pendidikan yang adaptif, modifikatif, dan transformatif.
(Menristekdikti, 2018; Syamsuar & Reflianto, 2018)
bahwa dalam menghadapi era revolusi industri 4.0
beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam dunia
pendidikan dan pembelajaran diantaranya:
1) Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif
untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan
terampil terutama dalam aspek data literacy,
technological literac, and human literacy.
2) Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan
tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi
industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin
ilmu dan program studi yang dibutuhkan.
3) Persiapan sumber daya manusia yang responsive,
adaptif, dan handal untuk menghadapi revolusi
industri 4.
4) Peremajaan sarana prasarana dan pembangunan
infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu
dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan,
riset, dan inovasi.
Dengan pemanfaatan teknologi di bidang
pendidikan secara optimal tentu akan menciptakan
wajah pendidikan yang lebih berwarna dan inovatif.
Belakangan ini banyak sekali model pembelajaran
ataupun strategi pembelajaran berbantuan teknologi
413
digital yang dapat diimplementasikan ke dalam
pembelajaran. Pendidikan dan pembelajaran berbasis
Adaptif, modifikatif, dan transformatif di era digital
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel. 3 Model dan Aplikasi pembelajaran di era digital
Srtategi Aplikasi Pembelajaran di Era
Pembelajaran di Digital
Era Digital
Video pembelajaran
Multimedia interaktif Google Meet
E-learning
Blended Learning
Flipped Learning
Learning Management System
414
Secara singkat dijelaskan juga solusi lain yang
ditawarkan dalam mereduksi dampak negatif dari era
digital dalam dunia pendidikan (Syur‘aini, Setiawati, &
Sunarti,V, 2018) diantaranya adalah: 1) kerjasama yang
terus menerus antara sekolah dengan orang tua; 2)
kerjasama sekolah dengan dunia usaha dan industri,
lembaga pemerintahan, organisasi agama, sosial dan
kemasyarakatan. 3) menanamkan nilai-nilai karakter
pada anak didik melalui Full Day School. Solusi-solusi ini
tentu memperkaya pengetahuan dan pandangan orang
tua maupun stakeholder dalam bidang pendidikan di era
digital ini. Sehingga orang tua dapat lebih berhati-hati
dan lebih bijak dalam membersamai anak-anak
menghadapi digitalisasi.
Berdasarkan paparan tentang modal dasar dan
solusi dari tantangan digitalisasi yang merujuk pada
teori dan hasil penelitian, berikut ini penulis merangkum
cara mendidik anak di era digital yaitu:
1) Memperkokoh nilai relegius dan karakter anak
2) Menjadi contoh yang baik atau role model bagi anak
3) Membangun komunikasi antara anak dan orang tua
4) Mendampingi anak dalam menggunakan teknologi
digital atau pun gadget
5) Memberikan pemahaman tentang kontent-konten
yang positif
6) Memberikan aturan (rules) terkait manajemen waktu
dalam menggunakan gadget
7) Mengontrol aktivitas anak di dunia maya
8) Memberikan fasilitas teknologi digital sesuai umur
dan kebutuhan anak
C. Penutup
Digitalisasi merupakan perubahan tatanan kehidupan
dari yang bersifat manual (analog) menuju kehidupan yang
lebih canggih (digital). Digitalisasi mendorong setiap individu
untuk mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta
415
teamwork yang dibutuhkan di masa depan. Teknologi digital
dapat membantu kehidupan kita untuk lebih cepat dan lebih
efektif berubah dan berkembang. Digitalisasi memberikan
tantangan sekaligus peluang bagi individu untuk memeroleh
kehidupan yang lebih baik. Digitalisasi yang memberikan
tantangan dan peluang secara berbarengan merupakan PR
bersama agar kita lebih tepat dan terampil menghadapi era
digital.
Tantangan yang beragam tentu dapat dihindari ketika
seseorang memiliki pemahaman dan keterampilan dalam
menyikapi persoalan-persoalan era digital. Modal dasar
menjadi bekal terpenting untuk menentukan langkah di era
digital. Modal dasar ini meliputi: a) penanaman nilai (nilai
relegius dan karakter); b) perilaku orang tua; dan c) pendidikan
orang tua. Adapun solusi-solusi yang dapat menjadi
pertimbangan sekaligus peluang agar kita mampu bersikap
bijak berhadapan dengan digitalisasi yaitu: a) keterlibatan
orang tua; b) membangun keterampilan berpikir kritis; dan c)
pendidikan berbasis adaptif, modifikatif, dan transformatif.
Akhirnya, penulis mengajak para orang tua merenungi
bahwa diperlukan pemahaman dan self awarness yang tinggi
bagi orang tua terkait bijak memberikan gadget kepada anak.
Jika penggunaan teknologi digital ataupun gadget tidak
digunakan secara tepat kepada anak maka akan berdampak
serius terhadap masa depan anak.
416
DAFTAR PUSTAKA
Bach, M. P., Zoroja, J., & Vuki?, V. B. (2013). Determinants of Firms
Digital Divide: A Review of Recent Research. Procedia
Technology, 9, 120128.
https://doi.org/10.1016/j.protcy.2013.12.013
Boonka, L., Gijselaersa, H.J.M., Ritzenb, & H., Gruwela, S B. (2018).
A Review of the Relationship Between Parental Involvement
Indicators and Academic Achievement. Educational Research
Review. 24 (2018) pg. 10–30.
https://doi.org/10.1016/j.edurev.2018.02.001
Bradbury, A. 2019. ―Datafied at Four: The Role of Data in the
‗Schoolification‘ of Early Childhood Education in England.‖
Learning, Media and Technology 44 (1): 7–21.
doi:10.1080/17439884.201 8.1511577
Cottrell, Stella. 2011. Critical Thingking Skill: Developing Effective
Analysis And Argument (Plagrave Study Skill). Plagrave
Macmillan
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Direktorat Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Masyarakat.
(2019). Modul Mendidik Anak di Era Digital. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Edy., CH M., Sumantri., M. S., & Yetti, E. (2018). Pengaruh
Keterlibatan Orangtua dan Pola Asuh Terhadap Disiplin
Anak. Jurnal Pendidikan Usia Dini. Volume 12 Edisi 2 November
2018 DOI: https://doi.org/10.21009/JPUD.122.03
Geinger, F., M. Vandenbroeck, and G. Roets. 2014. ―Parenting as a
Performance: Parents as Consumers and (De) Constructors
of Mythic. Parenting and Childhood Ideals.” Childhood 21 (4):
488–501. doi:10.1177/0907568213496657.
Gillies, V. 2006. ―Working Class Mothers and School Life:
Exploring the Role of Emotional Capital.‖ Gender and
Education, 18 (3): 281–293. doi:10.1080/09540250600667876.
Hans, V. B. & Crasta, S. J. (2019). Digitalization in the 21st Century
– Impact on Learning and Doing. Journal of Global Economy,
Volume 15 No 1, March, 2019
417
Head, E. (2020). Digital technologies and parental involvement in
education: the experiences of mothers of primary school-
aged children. British Journal of Sociology of Education Volume
41, 2020 - Issue 5
https://doi.org/10.1080/01425692.2020.1776594
Hendayani, M. (2019). Problematika Pengembangan Karakter
Peserta Didik di Era 4.0. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,
Vol. 7, No. 2, 2019 DOI:
https://doi.org/10.36667/jppi.v7i2.368
Hermawan, A. (2020). Urgensi Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Di
Era Globalisasi. http://e-
repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/id/eprint/8887
Johari Talib, Zulkifli Mohamad, & Maharam Mamat. (2011). Effects
of Parenting Style on Children Development. World
Journal of Social Sciences, 1(2), 14–35.
http://www.wjsspapers.com/static/documents/May/2011
/2. Johari.pdf
Kamar, K.., Asbari, M., Purwanto, Agus., Nurhayati, W.,
Agistiawati, E., & Sudiyono R.N. 2020. Membangun
Karakter Siswa Sekolah Dasar Melalui Praktek Pola Asuh
Orang Tua Berdasarkan Genetic Personality. JINoP (Jurnal
Inovasi Pembelajaran). Volume 6, Nomor 1, Mei 2020 Hal. 75-86
DOI: https://doi.org/10.22219/jinop.v6i1.10196
Manolev, J., A. Sullivan, and R. Slee. 2019. ―The Datafication of
Discipline: ClassDojo, Surveillance and a Performative
Classroom Culture.‖ Learning, Media and Technology 44 (1):
36–51. doi:10.1080/17439884.2018.1558237
Maulidiyah, E. C. (2018). Penanaman Nilai-Nilai Agama dalam
Pendidikan Anak di Era Digital. Martabat: Jurnal Perempuan
dan Anak, Vol 2 No 1 (2018)
https://doi.org/10.21274/martabat.2018.2.1.71-90
Novianti, R. & Garzia, M. (2018). Penggunaan Gadget pada Anak
Usia Dini; Tantangan Baru Orang Tua Milenial. Jurnal Obsesi
: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Volume 4 Issue 2 (2020)
Pages 1000-1010. DOI: 10.31004/obsesi.v4i2.490
418
Nyarko, K. (2011). The influence of authoritative parenting
style on adolescents‘ academic achievement. American
Journal of Social and Management Sciences, 2(3), 278–282.
https://doi.org/10.5251/ajsms.2011.2.3.278.282
Palar, J. E., Onibala, F., & Oroh, W. (2018). Hubungan Peran
Keluarga Dalam Menghindari Dampak Negatif Penggunaan
Gadget Pada Anak Dengan Perilaku Anak Dalam
Penggunaan Gadget Di Desa Kiawa 2 Barat Kecamatan
Kawangkoan Utara. ejournal keperawatan (e-Kp), Volume 6
Nomor 2, Agustus 2018
Pratiwi, S. (2015). Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah Etnis
Cina Ditinjau dari Gaya Pengasuhan Orang Tua. Proceeding
Seminar Nasional Positive Psychology 2015.
Prensky, Marc. 2001. Digital Natives, Digital Immigrants. Jurnal On
the Horizon, MCB University Press, Vol. 9 No. 5.
Ra, C. K., Cho, J., Stone, M. D., De La Cerda, J., Goldenson, N. I.,
Moroney, E. Leventhal, A. M. (2018). Association of digital
media use with subsequent symptoms of attention-
deficit/hyperactivity disorder among adolescents. JAMA -
Journal of the American Medical Association, 320(3), 255–263.
https://doi.org/10.1001/jama.2018.8931
Radjagukguk, D. L. (2020). Pola Strategi Komunikasi Orang Tua
Terhadap Anak pada Era Digitalisasi (Studi: Warga
Malinjo Pasar Minggu Jakarta Selatan). Syntax Literate:
Jurnal Ilmiah Indonesia, Vol. 5 No. 3 Maret 2020
DOI: http://dx.doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i3.973
Rahmatullah, A. S. (2017).Pendidikan Keluarga Seimbang yang
Melekat Sebagai Basis yang Mencerahkan Anak di Era
Digital. Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan Vol
15,No 2 DOI: https://doi.org/10.21154/cendekia.v15i2.1144
Rahmat, H. K. (2019). Mobile Learning Berbasis Appypie Sebagai
Inovasi Media Pendidikan Untuk Digital Natives Dalam
Perspektif Islam. Jurnal Tarbawi Vol. 16. No. 1. Januari - Juni
2019. DOI: Https://Doi.Org/10.34001/Tarbawi.V16i1.999
Rowan, C. (2013). The impact of technology on child sensory and
motor development. Retrieved March, 10, 2017
419
Sahronih, S. (2018).Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Dalam Mengatasi Degradasi Moral Anak Sekolah Dasar Di
Era Digital. Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional Pendidikan
Dasar 2018 TemaMenyonsongTransformasi Pendidikan Abad 21
Selwyn, N., S. Banaji, C. Hadjithoma-Garstka, and W. Clark. 2011.
―Providing a Platform for Parents? Exploring the Nature of
Parental Engagement with School Learning Platforms.‖
Journal of Computer Assisted Learning, 27 (4): 314–323.
doi:10.1111/j.1365-2729.2011.00428.x
Suhartono & Yulieta, N.R . (2019). Pendidikan Akhlak Anak Di Era
Digital. AT-TUROTS: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 1 No. 2
(2019)
Syamsuar & Reflianto. (2018). Pendidikan dan Tantangan
Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi di Era Revolusi
Industri 4.0. E-TECH: Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan Vol
6, No 2 (2018) DOI: https://doi.org/10.24036/et.v2i2.101343
Syur‘aini, Setiawati, & Sunarti,V. (2018). Penanaman Nilai
Karakter sebagai Upaya Mereduksi Dampak Negatif Era
Digital. E-TECH: Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, Vol 6, No
2 (2018) DOI : https://doi.org/10.24036/et.v2i2.101344
Vincent, C. (2017). ―‗The Children Have Only Got One Education
and You Have to Make Sure It‘s a Good One‘: Parenting and
Parent–School Relations in a Neoliberal Age.‖ Gender and
Education, 29 (5): 541–557.
doi:10.1080/09540253.2016.1274387.
Williamson, B. (2017). Big Data in Education: The Digital Future of
Learning, Policy and Practice. London: SAGE.
Zaini, M. & Soenarto. (2019). Persepsi Orangtua terhadap
Hadirnya Era Teknologi Digital di Kalangan Anak Usia
Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Volume
3 Issue 1 (2019) Pages 254 – 264 DOI:
10.31004/obsesi.v3i1.127
Zubaidah, S. (2018) Mengenal 4C: Learning And Innovation Skills
untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.01. 2nd Science
Education National Conference, 2018
https://almanhaj.or.id/1048-kewajiban-mendidik-anak.html
https://rumaysho.com/4959-pendidikan-agama-sejak-dini.html
420
BAB 16
ANALISIS PERMASALAHAN ANAK
Perundungan (Bullying) di Sekolah Dasar: Bentuk,
Faktor Penyebab, Dampak, dan Alternatif Solusinya
Yunaifah
Universitas Negeri Yogyakarta
[email protected]
Abstrak. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor
penyebab adanya perundungan (bullying) di sekolah dasar,
dampak adanya perundungan dan alternatif solusi mengatasi
permasalahan tersebut. Bentuk perundungan yaitu fisik, verbal,
dan relasional. Faktor adanya perundungan disebabkan dari orang
tua, sekolah, pertemanan, dan tontonan. Dampak yang
ditimbulkan bagi pelaku maupun korban terbagi dalam dampak
jangka pendek dan dampak jangka panjang. Alternatif solusi
pencegahan perundungan di sekolah dasar adalah edukasi
mengenai pola dan konsep perundungan, pola asuh anak dalam
keluarga, dan sinergitas sekolah keluarga dan masyarakat di
dalam mengatasi masalah perundungan.
Kata Kunci: perundungan, sekolah dasar
A. Pendahuluan
Pendidikan di tingkat sekolah dasar merupakan pondasi
guna mempersiapkan generasi menghadapi berbagai
permasalahan di tingkat pendidikan selanjutnya. Sudah
selayaknya pada tingkatan sekolah dasar peserta didik
disiapkan baik sikap, mental, kognitif, dan keterampilannya.
Tak hanya menjadi tugas guru dalam mendidik siswa, akan
tetapi diperlukan keterlibatan dari orang tua dan masyarakat
guna menunjang keberhasilan tujuan pendidikan tersebut.
Di dalam proses pendidikan di sekolah dasar, berbagai
permasalahan dapat ditemukan. Selain permasalahan terkait
dengan penyampaian materi pembelajaran, penggunaan media,
sarana dan prasarana, terdapat pula permasalahan terkait
421
dengan hubungan antar siswa. Salam satu permasalahan
tersebut adalah perundungan (bullying) yang terjadi di
kalangan siswa sekolah dasar.
Perundungan, terutama yang terjadi di sekolah sudah
menjadi masalah global. Pada tahun 1997 hingga 1998
(Sampson, dalam Problem Oriented Guide for Police Series No. 12)
melakukan sebuah penelitian internasional yang melibatkan
120.000 siswa dari 28 sekolah dengan hasil 20% dari siswa yang
usianya kurang dari 15 tahun melaporkan pernah mengalami
bullying saat mereka berada di sekolah. Penelitian secara
nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 30 %
anak di tingkat sekolah dasar atau 5,7 ribu anak setiap tahun
mengalami perundungan selama di sekolah, baik sebagai
pelaku, korban, pengamat maupun keduanya (Storey, dkk,
2008).
Kondisi di Indonesia tampaknya hampir sama. Berbagai
kasus tentang perundungan di sekolah dasar dapat kita temui
dan kita lihat di berbagai media, atau bahkan secara langsung
kita lihat dan kita alami di sekitar kita. Sebagaimana dituliskan
pada laman https://news.okezone.com. pada Selasa 10 Maret
2020 bahwa seorang siswi SD mengalami perundungan hingga
kekerasan fisik yang mengakibatkan siswi tersebut depresi
berat. Hal ini terjadi di SD Negeri 33 Merangin Jambi. Kejadian
tersebut dialami oleh siswi karena ia tidak mau memberi
contekan pelajaran kepada teman-temannya. Siswi SD ini
mengalami depresi berat dengan ditandai korban selalu
menjerit histeris ketika melihat seseorang berseragam dinas
atau seragam sekolah.
Contoh kasus lain, sebagaimana dikutip dari
https://m.merdeka.com terjadi di Surakarta yaitu beredarnya
video perundungan yang dilakukan oleh delapan anak
perempuan di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta. Dalam
penyelidikan polisi terungkap bahwa pelaku merupakan anak-
anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Terlihat dalam video tersebut bahwa seorang anak perempuan
422
ditampar, didorong, dan dicaci maki, sementara korban
memilih diam.
Berbicara mengenai perundungan, sebenarnya telah
terjadi sejak dahulu, baik di lingkungan pendidikan/sekolah,
lingkungan teman sebaya, maupun dalam masyarakat. Faktor-
faktor yang menjadi penyebab terjadinya perundungan di
sekolah tentunya perlu ditelusuri lebih jauh. Demikian juga
dengan dampak dan alternatif solusi dalam menyelesaikan
permasalahan terkait dengan perundungan/bullying.
Berdasarkan hal tersebut maka kajian ini mencoba untuk
menelusuri apa saja berbagai faktor penyebab perundungan di
sekolah, bentuk-bentuk perundungan, akibat atau dampak dari
adanya perundungan, dan allternatif solusi dalam
menyelesaikan masalah perundungan.
B. Pembahasan
1. Pengertian Perundungan (bullying)
Olweus (2005) menyatakan bahwa bullying adalah
sebuah tindakan atau perilaku agresif yang disengaja,
dilakukan oleh sekelompok orang atau seseorang secara
berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang
korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan
mudah atau sebagai penyalahgunaan kekuasaan.
Hertinjung (2013:450) menyebutkan bahwa bullying
atau perundungan merujuk pada pada tindakan kekerasan
yang dilakukan oleh pelaku (bully/bullies) yang memiliki
kekuatan atau kekuasaan kepada orang lain yang dianggap
lemah. Dalam Bahasa Inggris, bullying berasal dari kata bully
yang berarti menggertak atau mengganggu orang yang
lemah (Echols & Shadily, 1995). Secara konsep, bullying
dapat diartikan sebagai bentuk agresi dimana terjadi
ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan antara pelaku
(bullies/bully) dengan korban (victim), pelaku pada
umumnya memiliki kekuatan/kekuasaan lebih besar
daripada korbannya (Papler & Craig 2002; Rigby, 2003;
Kim,dkk., 2011). Storey, dkk (2008) mendefinisikan bullying
sebagai suatu bentuk abuse emosional atau fisik yang
423
mempunyai 3 karakteristik, yakni: deliberate, dimana pelaku
cenderung untuk menyakiti seseorang; repeated, yakni
seringkali target bullying adalah orang yang sama; dan power
imbalance, dalam hal ini pelaku memilih korban yang
dianggapnya rentan. Kekerasan yang dilakukan bisa
berbentuk kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis dan
dapat terjadi secara langsung seperti misalnya memukul,
menendang, mencaci maki maupun secara tidak langsung
seperti mengaliniasi dan menggosip (Papler & Craig, 2002;
Storey, dkk, 2008). Selanjutnya diuraikan oleh Storey, dkk
(2008) bahwa bullying terjadi dalam beberapa bentuk,
dengan variasi keparahan yang berbeda-beda.
Menurut Coloroso (2007), bullying merupakan
tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang
oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih
lemah, dilakukan dengan sengaja dan bertujuan untuk
melukai korbannya secara fisik maupun emosional. Rigby
(dalam Astuti, 2008), menyatakan bullying merupakan
perilaku agresi yang dilakukan secara berulang-ulang dan
terus menerus, terdapat kekuatan yang tidak seimbang
antara pelaku dan korbannya, serta bertujuan untuk
menyakiti dan menimbulkan rasa tertekan bagi korbannya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat
dikatakan bahwa perundungan (bullying) adalah tindakan
negatif baik secara fisik, psikis, maupun verbal yang
dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan untuk
menyakiti korban, dan atau menunjukkan kekuasaan pelaku
kepada korban dan individu lainnya.
2. Bentuk-bentuk Perundungan
Berbagai macam bentuk perundungan dapat
ditemukan. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan oleh
Coloroso (2007) bahwa ada 3 bentuk perundungan (bullying)
yaitu:
Verbal bullying (Perundungan melalui Kata-kata)
Kata-kata bisa digunakan sebagai alat yang dapat
mematahkan semangat anak yang menerimanya. Verbal
424
abuse adalah bentuk yang paling umum dari bullying yang
digunakan baik anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini
dapat terjadi pada orang dewasa dan teman sebaya tanpa
terdeteksi. Verbal bullying dapat berupa teriakan dan
keriuhan yang terdengar. Hal ini berlangsung cepat dan
tanpa rasa sakit pada pelaku bullying dan dapat sangat
menyakitkan pada target. Jika verbal bullying dimaklumi,
maka akan menjadi suatu yang normal dan target menjadi
dehumanized. Ketika seseorang menjadi dehumanized, maka
seseorang tersebut akan lebih mudah lagi untuk diserang
tanpa mendapatkan perlindungan dari orang di sekitar yang
mendengarnya.
Verbal bullying dapat berbentuk name-calling (memberi
nama julukan), taunting (ejekan), belittling (meremehkan),
cruel criticsm (kritikan yang kejam), personal defamation
(fitnah secara personal), racist slurs (menghina ras), sexually
suggestive (bermaksud/bersifat seksual) atau sexually abusive
remark (ucapan yang kasar). Hal ini juga meliputi pemerasan
uang atau benda yang dimiliki, panggilan telepon yang
kasar, mengintimidasi lewat e-mail, catatan tanpa nama yang
berisi ancaman, tuduhan yang tidak benar, rumor yang jahat
dan tidak benar.
3. Physical bullying (Perundungan berbentuk Tindakan
Fisik)
Bentuk bullying yang paling dapat terlihat dan paling
mudah untuk diidentifikasi adalah bullying secara fisik.
Bentuk ini meliputi menampar, memukul, mencekik,
mencolek, meninju, menendang, menggigit, menggores,
memelintir, meludahi, merusak pakaian atau barang dari
korban.
4. Relational bullying (Perundungan melalui Pembatasan
Hubungan)
Bentuk ini adalah yang paling sulit untuk dideteksi,
relational bullying adalah pengurangan perasaan ‗sense‘ diri
seseorang yang sistematis melalui pengabaian,
pengisolasian, pengeluaran, penghindaran. Penghindaran,
425
sebagai suatu perilaku penghilangan, dilakukan bersama
rumor adalah sebuah cara yang paling kuat dalam
melakukan bullying. Relational bullying paling sering terjadi
pada tahun-tahun pertengahan, dengan onset remaja yang
disertai dengan perubahan fisik, mental, emosional, dan
seksual. Pada waktu inilah, remaja sering menggambarkan
siapa diri mereka dan mencoba menyesuaikan diri dengan
teman sebaya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
perundungan /bullying terdiri dari 3 bentuk yaitu: fisik,
verbal dan relasional.
5. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Perundungan
Perundungan atau bullying terjadi, tentunya memiliki
beberapa penyebab yang melatarbelakangi. Jane Cindy
Linardi seorang Psikolog dalam https:// theAsianparent.
com menjelaskan bahwa ada beberapa faktor penyebab
terjadinya perundungan pada anak yaitu faktor keluarga,
faktor sekolah, pertemanan, dan tontonan anak.
6. Keluarga
Seorang anak dengan latar belakang orang tua yang
sering melakukan kekerasan fisik (memukul, mencubit, dsb)
atau orang tua yang sering melakukan kekerasan verbal
(komunikasi kasar, penuh makian) kepada anak dapat
menyebabkan anak menjadi pelaku perundungan. Selain
itu, iklim rumah yang penuh agresi, konflik, dan
permusuhan (antara ayah dan ibu), KDRT yang terjadi
dalam keluarga, serta tidak adanya hubungan dan langkah
yang positif antara orang tua dan anak juga menjadi pemicu
untuknya menjadi pelaku perundungan.
7. Sekolah
Kejadian perundungan dapat saja berkembang
sebagai akibat pihak sekolah yang sering mengabaikan
tindakan perundungan, kurangnya ketegasan, dan
minimnya konsekuensi atas tindakan perundungan.
Akibatnya, pelaku perundungan tidak jera dan berani
mengulangi tindakan perundungan. Selain itu, kurangnya
426
pengawasan dari pihak sekolah pada kegiatan-kegiatan
seperti MOS atau kemah sekolah juga dapat menjadi pemicu
perundungan.
8. Pertemanan
Pertemanan atau hubungan dengan teman sebaya
sering kali diabaikan dalam hal pengawasannya. Padahal,
hal ini justru penting dilaksanakan. Anak-anak dalam
tataran usia SD masih berada pada tahap imitasi dan
pemodelan, di mana anak masih mudah meniru dan
terpengaruh oleh teman sebaya.
9. Tontonan
Sejumlah 56,9% anak meniru adegan film yang
ditontonnya. Mereka meniru gerakan yang diperlihatkan
(sebesar 64%) dan kalimat atau kata-kata yang diucapkan
dalam dialog apa yang dilihatnya (misalnya: film, tayangan
di youtube, dsb).
10. Dampak/Akibat Perundungan
Bullying akan menimbulkan dampak yang sangat
merugikan, tidak hanya bagi korban tetapi juga bagi
pelakunya (Craig & Pepler, 2007). Menurut Coloroso (2007)
pelaku bullying akan terperangkap dalam peran sebagai
pelaku bullying, mereka tidak dapat mengembangkan
hubungan yang sehat, kurang cakap dalam memandang
sesuatu dari perspektif lain, tidak memiliki empati, serta
menganggap bahwa dirinya kuat dan disukai sehingga
dapat mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa
yang akan datang. Sementara dampak negatif bagi
korbannya adalah akan timbul perasaan depresi dan marah.
Mereka marah terhadap diri sendiri, pelaku bullying, orang
dewasa dan orang-orang di sekitarnya karena tidak dapat
atau tidak mau menolongnya. Hal tersebut kemudian mulai
mempengaruhi prestasi akademik para korbannya. Mereka
mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam
pengasingan karena tidak mampu mengontrol hidupnya
dengan cara-cara yang konstruktif.
427
Menurut Peterson (dalam Berthold dan Hoover,
2000), bullying akan mempengaruhi self esteem korbannya
dan hal tersebut merupakan pengaruh yang ditimbulkan
dari pengaruh jangka panjang. Demikian pula Olweus
(dalam Berthold dan Hoover, 2000) menyatakan bahwa
bullying memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan
korbannya hingga dewasa. Saat masa sekolah akan
menimbulkan depresi dan perasaan tidak bahagia untuk
mengikuti sekolah, karena dihantui oleh perasaan cemas
dan ketakutan. Selain itu menurut Swearer, dkk. (2010)
korban bullying juga merasa sakit, menjauhi sekolah,
prestasi akademik menurun, rasa takut dan kecemasan
meningkat, adanya keinginan bunuh diri, serta dalam
jangka panjang akan mengalami kesulitan-kesulitan internal
yang meliputi rendahnya self esteem, kecemasan, dan
depresi. Korban bullying cenderung merasa takut, cemas,
dan memiliki self esteem yang lebih rendah dibandingkan
anak yang tidak menjadi korban bullying (Olweus, Rigby, &
Slee, dalam Aluedse, 2006). Duncan (dalam Aluedse, 2006)
juga menyatakan bila dibandingkan dengan anak yang tidak
menjadi korban bullying, korban bullying akan memiliki self
esteem yang rendah, kepercayaan diri rendah, penilaian diri
yang buruk, tingginya tingkat depresi, kecemasan,
ketidakmampuan, hipersensitivitas, merasa tidak aman,
panik dan gugup di sekolah, konsentrasi terganggu,
penolakan oleh rekan atau teman, menghindari interaksi
sosial, lebih tertutup, memiliki sedikit teman, terisolasi, dan
merasa kesepian. Penelitian yang dilakukan di Swedia
mengenai dampak bullying terhadap korbannya
menunjukkan bahwa remaja yang saat berusia 16 tahun
pernah mengalami bullying akan mengalami penurunan self
esteem dan peningkatan kadar depresi (Olweus dalam
Arseneault, dkk., 2009).
Korban bullying cenderung menunjukkan gejala
peningkatan kecemasan dan depresi (Hodges & Perry dalam
Arseneault dkk., 2009), self esteem yang rendah dan
428
keterampilan sosial yang buruk (Egan & Perry, dalam
Arseneault dkk., 2009). Penelitian yang dilakukan oleh
Riauskina dkk. (2005), juga menemukan bahwa korban
merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal,
tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) ketika
mengalami bullying, namun tidak berdaya menghadapi
kejadian bullying yang menimpa mereka. Dalam jangka
panjang emosi-emosi tersebut dapat berujung pada
munculnya perasaan rendah diri dan merasa bahwa dirinya
tidak berharga.
Selanjutnya, Jane cindy Linardi (2020) menyebutkan
bahwa dampak perundungan terbagi menjadi dua yaitu
dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.
11. Dampak Jangka Pendek
Dampak jangka pendek yang dapat terjadi pada
korban perundungan adalah: syok, cedera fisik (jika terkena
perundungan secara fisik) takut dan merasa tidak aman
untuk dating ketempat terjadinya perundungan atau
menghindari tempat tersebut. Adanya kecemasan saat harus
berpapasan atau berinteraksi dengan pelaku.
12. Dampak Perundungan Jangka Panjang
Dampak perundungan jangka panjang yang dapat
dialami korban adalah: konsep diri yang menjadi negatif,
adanya penurunan nilai akademis, berkurangnya motivasi
belajar dan sekolah, adanya kecemasan dan ketakutan
dengan suasana yang baru, menutup diri dari pergaulan,
depresi, keinginan bunuh diri, dam menjadi pelaku
perundungan (pada individu tertentu).
13. Alternatif Solusi Masalah Perundungan
Chen, Cheng, & Chi Ho (2013) dalam penelitian yang
membahas mengenai tingkat keparahan perundungan di
sekolah dasar Taiwan mengemukakan bahwa alternative
solusi mengatasi adanya perundungan adalah: (1) siswa dan
guru harus menyadari interaksi antara peran peserta dan
kategori perilaku. Pelaku mungkin tidak menyadari efek
mental dan fisik dari tindakan mereka pada korban, pelaku
429
intimidasi / korban dan siswa yang tidak terlibat dan
mungkin tidak memahami perbedaan dalam dampak dari
perilaku yang berbeda, (2) siswa sekolah dasar mungkin
tidak mau campur tangan atau mungkin mengabaikan
beberapa jenis intimidasi (misalnya cyberbullying) karena
tingkat keparahan yang dirasakan lebih rendah, (3) Siswa
harus diberi tahu bahwa penindasan dalam bentuk apa pun
tidak diizinkan.
Selanjutnya, Jan, Scholar, dan Husain (2015) dalam
hasil penelitiannya tentang bullying di sekolah dasar di
Pakistan merekomendasikan alternatif pencegahan adanya
perundungan di sekolah yaitu (1) adanya pelatihan harus
dikelola oleh Dinas Pendidikan untuk semua personel
sekolah, yaitu guru, administrator, dan staf sekolah lainnya
untuk mengetahui, mengenali intimidasi, melakukan
intervensi secara efektif dan memperkuat pentingnya upaya
pencegahan dan reaksi intimidasi di dalam dan di luar
rumah. pengaturan (mis., kantin, taman bermain, dsb), (2)
Administrasi sekolah kabupaten secara teratur mendorong
kepala sekolah untuk memantau tingkat intimidasi dan
mengidentifikasi siswa yang rentan dengan semacam survei
kuesioner; (3) Guru harus tetap berhubungan melalui
pertemuan orang tua-guru dengan murid Orang tua / wali
dan memantau pola pertemanan siswa dan menyelidiki
mengapa anak-anak tertentu tidak memiliki atau tampaknya
tidak memiliki setidaknya satu teman, mereka mungkin
menderita karena diintimidasi; (4) Semua sekolah harus
didorong untuk membangun semacam sistem dukungan
sebaya, mungkin dengan bantuan pendidik, orang tua atau
psikolog sekolah dan profesional lainnya, dan (5) Guru,
profesional dan otoritas terkait harus mengembangkan
sistem pemantauan secara teratur penyebab siswa sering
absen dari sekolah.
Berdasarkan pada temuan tersebut dapat dirangkum
bahwa alternatif solusi yang dapat dilakukan guna
mencegah tindakan perundungan adalah: 1) memberi
430
edukasi mengenai konsep perundungan pada anak, orang
tua, sekolah dan masyarakat, 2) pola asuh orang tua tidak
melibatkan kekerasan verbal, fisik, namun tidak permissive,
3) mengekspresikan kasih sayang (verbal, gestur tindakan)
dan penerimaan kepada anak, 4) menjalin komunikasi
terbuka, luangkan waktu rutin untuk sharing session, 5)
menjadi pendengar yang baik , tidak memotong atau
menganggap cerita tidak penting, 6) memastikan pelaku
bahwa perilaku mereka tidak dapat diterima, 7)
membangun kedekatan emosional melalui aktivitas yang
dilakukan bersama, 8) menanamkan rasa empati pada anak
dan melatih problem solving skill anak, dan 9) sekolah aktif
memberi edukasi dan melakukan koordinasi dengan orang
tua dan masyarakat.
C. Simpulan dan Saran
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dalam kajian dan
analisis ini dapat diambil kesimpulan bahwa perundungan
memiliki tiga bentuk yaitu perundungan fisik, verbal, dan
relasional. Berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya
perundungan berasal dari orang tua, sekolah, pertemanan, dan
tontonan. Dampak adanya perundungan adalah dampak
jangka pendek dan dampak jangka panjang baik pada pelaku
maupun pada korban. Alternatif solusi sebagai bentuk
pencegahan terjadinya perundungan adalah edukasi mengenai
pola dan konsep perundungan, pola asuh anak dalam keluarga,
dan sinergitas sekolah keluarga dan masyarakat di dalam
mengatasi masalah perundungan.
Saran yang dapat disampaikan dalam kajian ini adalah
perlunya sekolah melaksanakan pemantauan rutin tentang
gejala perundungan pada anak, pelaporan dan koordinasi
dengan orang tua siswa tentang perundungan, melibatkan ahli
dan tokoh sekitar sekolah dalam proses edukasi terkait
perundungan misalnya psikolog, polisi, tokok agama, dan
tokoh masyarakat.
431
DAFTAR PUSTAKA
Chen, L.M., Cheng, W., Chi Ho, H. (2015). The Severity of Bullying in
Schools Based on Participation. Journal of Education Psycology.
London & New York: Routledge.
Coloroso, B. (2007). Stop Bullying. Jakarta: Penerbit Serambi Ilmu
Semesta.
Echols & Shadily. (2005). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Jan, MSA., Scholar, MP., Husain, S. (2015). Bullying in Elentary
Schools: causes and effect on students. Journal of Education &
Practice www.iiste.org Vol.6, No.19, 2015.
Linardi, JC. (2020). Faktor Penyebab Bullying pada Anak. Artikel pada
https://theAsianparent.com diakses pada 29 Maret 2021
pukul 22.21 WIB.
Papler, D.J., & Craig, W. (2000). Making a Difference in Bullying.
London and New York: Routledge.
Riauskina, I.I., Djuwita, R., & Soesetio, S.R. (2005). ―Gencet-
gencetan‖ di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif
tentang arti, scenario, dan dampak ―gencet-gencetan‖. Jurnal
Psikologi Sosial, 12(01), 1-13.
Smith, P., Y. Morita, J., Junger-Tas, D., Olweus, R., Catalano, & P.
Slee (eds.). (1999). The nature of School Bullying: A Cross-
National Perspective.
Stevens, V., I. De Bourdeaudhuij & P. Van Oost. (2000). Bullying in
Flemish Schools: An Evaluation of Anti-Bullying Intervention in
Primary and Secondary Schools. British Journal of Educational
Psychology 70:195–210.
Stevens, V., P. Van Oost & I. De Bourdeaudhuij. (2000). The Effects
of an Anti-Bullying Intervention Programme on Peers' Attitudes
and Behaviour. Journal of Adolescence.23:21– 34
Tarshis, T.P., & Huffman, L. C. (2007). Psychometric properties of the
Peer Interactions in Primary School (PIPS) questionnaire.
Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, 28, 125-
132.
432
Alami Bullying hingga Kekerasan Fisik, Siswi SD Depresi Berat. Artikel
dalam https://news.okezone.com yang diakses pada 29
Maret 2021 pukul 22.46 WIB.
Polisi Sebut Pelaku Bullying di Solo Diduga 8 Anak Sekolah Dasar.
Artikel dalam https://m.merdeka.com yang diakses pada
29 Maret 2021 pukul 23.21 WIB.
433
BIODATA PENULIS
Nama : Abdul Rahim
Tempat, Tanggal Lahir : Makassar, 10
Oktober 1986
Alamat :
Perum Pesona Madina Blok F9
Sribitan Desa Bangunjiwo Kec.
Kasihan Kab. Bantul D.I.Y
Pendidikan :
S1 Universitas Negeri Makassar lulus
tahun 2009
S2 Universitas Pendidikan Indonesia
lulus tahun 2012 .S3 Universitas Negeri Yogyakarta masa studi
Email : [email protected] :Program Studi
Pendidikan Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Aji Heru Muslim, M.Pd, Lahir di
Banjarnegara, 06 Mei 1989. Riwayat
Pendidikan SD-SLTP-SMK
ditamatkan di Kabupaten
Banjarnegara. Pendidikan S1 di
tempuh di Universitas
Muhammadiyah Purwokerto (UMP)
jurusan PGSD. Pendidikan S2
ditempuh di Universitas Negeri
Semarang (UNNES) dengan jurusan
Pendidikan Dasar Konsentrasi PGSD.
Saat ini sedang menyelesaikan studi lanjut S3 di Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY) mengambil jurusan Pendidikan Dasar.
Penulis saat ini mengabdikan diri sebagai Dosen PGSD di
Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pengalaman menjabat
struktural diantara lain sebagai kepala Laboratorium Kelas Model
PGSD tahun 2012-2013, Koordinator BIPA UMP tahun 2014-2016,
Sekertaris Prodi PGSD UMP masa jabatan 2016-2018, dan
434
Sekertaris Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) masa jabatan
2018-2020. Selain aktif di akademik kampus penulis ikut aktif
dalam organisasi lainya meliputi Pengurus ISPI Kab.Banyumas
masa bakti 2014-2019, Pengurus APPBIPA Jawa Tengah masa bakti
2019-2023, Pengurus Daerah ISPI Jawa Tengah masa bakti 2016-
2021, dan Pengurus Asosiasi PGSD LPTK PTM masa bakti 2018-
2022. Beberapa karya ilmiah diterbitkan berupa buku diantaranya
Buku Startegi Belajar Mengajar di Sekolah Dasar, Buku Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus, dan Media Pembelajaran PKn di SD.
Nama : ANA ROHMATULLOH
Tempat dan Tanggal Lahir :
BANTUL, 30 JUNI 1986
Jenis Kelamin : LAKI - LAKI
Agama : ISLAM
Status Pernikahan : MENIKAH
Warga Negara : INDONESIA
Alamat KTP : Ngelaren Potorono
Banguntapan Bantul
Nomor Telepon / HP : 085228087837
e-mail : [email protected]
Kode Pos : 55196
Anesa Surya, S.Pd, M.Pd.
merupakan Dosen dari
Universitas Sebelas Maret (UNS) .
Lahir di Ngawi, 20 April 1990,
putri pasangan Bapak Arif Budi
Utomo dan Ibu Tri Wahyuningsih.
Pendidikan Sekolah Dasar
ditempuah di SDN Jogorogo 3
selesai tahun 2002. Pendidikan
Menengah Pertama ditempuh di
SMPN 1 Jogorogo selesai tahun
2005. Pendidikan Sekolah Menengah Atas ditempuh di SMAN 1
Ngawi selesai tahun 2008. Pendidikan Strata satu (S1) ditempuh di
435
Universitas Sebelas Maret Jurusan Ilmu Pendidikan, Program
Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar selesai tahun 2012.
Pendidikan Strata dua (S2) pada jurusan Pendidikan Dasar
(Dikdas) ditempuh di Universitas Negeri Yogyakarta selesai tahun
2015. Saat ini melanjutkan pendidikan jenjang strata tiga (S3) di
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada jurusan Pendidikan
Dasar (Dikdas) sejak 2020. Lama mengajar sebagai Guru SD sejak
tahun 2012 dan mulai mengajar di Universitas Sebelas Maret
sebagai Dosen di Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah
Dasar sejak tahun 2016. Selain itu juga aktif menulis karya ilmiah
yang diseminarkan pada kegiatan seminar Nasional dan
Internasional, jurnal Nasional dan Internasional, baik dalam
maupun luar negeri.
Aufal Kausar, S.Pd., M.Pd. lahir
pada tanggal 30 Januari 1993 di
Desa Pongkalaero, ujung selatan
Pulau Kabaena yang berada di
wilayah Kabupaten Bombana,
Sulawesi Tenggara. Merupakan
anak dari pasangan Abd. Halim,
A.Ma. dan Jusma sekaligus anak
pertama dari empat bersaudara.
Riwayat pendidikan lulus di SD
Negeri 1 Pongkalaero tahun 2005,
lulus di SMP Negeri 3 Kabaena
pada tahun 2008, dan lulus di
SMA Negeri 1 Kabaena pada
tahun 2011. Di jenjang perguruan
tinggi, menamatkan pendidikan di Program Studi Pendidikan
Matematika Universitas Halu Oleo Kendari tahun 2016 dan
menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia pada Program Studi Pendidikan
Matematika. Saat ini menjadi dosen di STKIP Pelita Nusantara
Buton dan sedang menempuh studi pada Program Doktoral
Universitas Negeri Yogyakarta sejak tahun 2020.
436
Nama : Ayatullah
Muhammadin Al Fath
Alamat : Balak, Tegaldowo,
Gemolong, Sragen, Jawa Tengah
Pendidikan : S1 Universitas
Muhammadiyah Surakarta PGSD
lulus tahun 2011, S2 Universitas
Negeri Semarang lulus tahun
2014, S3 Universitas Negeri
Yogyakarta masa studi.
Instansi : STKIP PGRI Pacitan
Buku yang pernah diterbitkan: 1) Pembelajaran IPS SD 2015
2. Pendidikan Kewarganegaraan 2016
3. Belajar Mengingat (keluaran PDP) tahun 2017
4. Sikap Peduli Lingkungan Sekolah Dasar 2021
Catatan :
1. Hell is Other People (P.J Sartre)
2. Belilah kesulitanmu dengan cara bersedekah (At Thabrani)
3. ―Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari
seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu
kesusahan di hari Kiamat. (Muslim)
437
Nama : CEICILIA LENNY
SUSILAWATI SAPUTRA,
M.Pd.
Tempat/tanggal Lahir : Bantul,
20 Pebruari 1975
Alamat : Siten, RT.04
Sumbermulyo Bambanglipuro
Bantul, DIY
Email :
[email protected]
c.id
Ponsel : 081327065652
Pekerjaan : Guru SD
Alamat Unit Kerja : SD 1 Patalan
Jetis Bantul
Riwayat Pendidikan : S1 EKONOMI UWMY 1998
S1 BK STKIP CATUR SAKTI 2007
S2 PENDIDIKAN IPS UPY 2010
S1 PGSD UT YOGYAKARTA 2017
S3 PENDIDIKAN DASAR UNY 2020
Eva Amalia, M.Pd. Penulis bernama
Eva Amalia. Penulis merupakan salah
satu mahasiswa Pendidikan Dasar S-3
UNY angkatan 2020. Sebelumnya
penulis telah menamatkan S1-PGSD di
UNY kemudian mendapatkan
beasiswa SPP UNY untuk melanjutkan
di Prodi Pendidikan Dasar S2 UNY.
Penulis adalah putri Bapak Drs. Sudya
Marsita, MM. dan Ibu Mujiyati.
Penulis merupakan kakak dari Pratita
Pawestri. Lahir pada tanggal 10 Maret
1994, penulis memulai pendidikan
pada jalur formal TK, SD, SMP, dan SMA di sekolah negeri.
Penulis merupakan alumni SD Negeri Semanu III, SMP N 1
438
Wonosari, dan SMA N 1 Wonosari. Penulis menyukai dunia anak,
pendidikan dan seni. Hal ini terbukti dari kegigihan dan
ketekunan penulis dalam menimba ilmu hingga S3 di usia muda.
Penulis juga menekuni hobi sebagai pelaku seni. Penulis memiliki
berbagai prestasi dibidang seni seperti Juara Festival Karawitan
tingkat kabupaten dan provinsi dari tahun 2017-202, serta
mendapat kategori penyiter terbaik. Pengalaman yang telah
didapat penulis antara lain: sebagai asisten dosen di prodi PGSD
UNY, asisten penelitian, membantu seminar internasional, dan
menjadi anggota SV UNY. Berdasarkan berbagai pengalaman
dalam dunia pendidikan, penulis bercita-cita menjadi pendidik
yang humanis.
Hendra Prasetia, S.Pd, M.Pd.
merupakan Dosen dari Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY). Lahir di
Surabaya Provinsi Jawa Timur pada
tanggal 22 September 1986, anak ke
lima dari lima bersaudara, pasangan
Bapak Ngadimin dan Ibu Sumiyarti.
Pendidikan Dasar ditempuh di SDN
Gunungsari 1 Kota Surabaya selesai
tahun 1998. Pendidikan Menengah
Pertama ditempuh di SMP Negeri 21
Surabaya selesai tahun 2001. Pendidikan Sekolah Menengah Atas
ditempuh di SMA HANG TUAH 1 SURABAYA selesai tahun
2004. Pendidikan Strata satu (S1) ditempuh di Universitas Negeri
Surabaya (UNESA) pada Jurusan PPKn selesai tahun 2009.
Pendidikan Strata dua (S2) pada jurusan Pendidikan Dasar
(Dikdas) ditempuh di Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
selesai tahun 2017. Saat ini melanjutkan pendidikan jenjang strata
tiga (S3) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada jurusan
Pendidikan Dasar (Dikdas) sejak 2020. Lama mengajar sebagai
Guru SMP dan SMA di Kota Surabaya dan Sidoarjo sejak 2009 dan
mulai mengajar sebagai Dosen di perguruan tinggi sejak 2018 di
439
Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, dan sejak tahun 2019
mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta sebagai Dosen. Selain
itu juga aktif menulis karya ilmiah yang diseminarkan pada
kegiatan seminar Nasional dan Internasional, jurnal Nasional dan
Internasional, baik dalam maupun luar negeri.
Hermawan Wahyu Setiadi, M. Pd.
Kelahiran Purbalingga, 23 Juni 1986.
Mendapatkan gelar sarjana dari
Prodi S1 PGSD Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas
PGRI Yogyakarta lulus tahun 2011.
Melajutkan program Pascasarjana
S2 Magister Pendidikan Dasar di
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja Provinsi Bali lulus tahun
2014. Proses Studi S3 di Prodi Dikdas Universitas Negeri Yogyakarta
konsentrasi Pendidikan Sains SD. Sekarang bekerja menjadi Dosen Prodi
PGSD Universitas PGRI Yogyakarta dan menjabat sebagai Kepala Unit
PMB UPY.
Irfan Adi Nugroho, M.Pd., lahir di Kudus,
01 September 1991. Riwayat Pendidikan
440
SD 6 Margorejo, MTs NU Miftahul Falah, SMA NU Al-Ma‘ruf dan S-
1 di Universitas Muria Kudus (UMK) Prodi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD) yang seluruhnya diselesaikan di Kota
Kretek Kudus. Pendidikan S-2 ditempuh di Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY) dengan Prodi Pendidikan Dasar Konsentrasi
Pendidikan Kewarganegaraan. Saat ini sedang menyelesaikan
studi lanjut S3 di Universitas Negeri Yogyakarta dan mengambil
Prodi Pendidikan Dasar. Penulis mengabdikan diri sebagai Dosen
di PGSD di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
Ofa Ch Pudin, S.Pd., M.Pd
merupakan dosen tetap di Sekolah
Tinggi Agama Islam Al-Falah
Cicalengka bandung. Lahir di
Sumedang, 05 Februari 1989, putra
pasangan dari Bapak H. Koir dan
Hj. Juariah. Pendidikan Sekolah
dasar di tempuh di SDN Bunter I
Cimanggung Sumedang selesai
pada tahun 2002. Pendidikan
Menengah Pertama di Tempuh di
SMP PGRI 314 Parakanmuncang
Cimanggung Sumedang selesai
tahun 2005. Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di tempuh
di SMAN 1 Cimanggung Sumedang selesai tahun 2008.
Pendidikan Strata Satu (S1) di tempuh pada tahun 2011 di
Universitas Pasundan Bandung di Fakultas keguruan Ilmu
Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(PGSD) selesai pada tahun 2015. Pendidikan Strata dua (S2)
Pascasarjana pada Prgram Studi Pendidikan Karakter ditempuh di
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Saat ini
melanjutkan Pendidikan jenjang Strata 3 (S3) Pascasarjana di
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Program Studi
Pendidikan Dasar (PENDAS) Tahun 2020. Lama mengajar sebagai
guru di SDN Pasirluyu Bandung sejak tahun 2013-2015. Dan
mengajar Bahasa Inggris di SD Yayasan Beribu sejak tahun 2015-
441
2018. Mengajar sebagai Asisten Dosen pada tahun 2017 – 2020.
mengajar di Universitas Bhakti Kencana Bandung sebagai Dosen
Luar Biasa di Program Studi S1 Keperawatan Reguler dan Non
reguler pada Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKN) pada tahun akademik 2018-2021 .
sekarang mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Budi Luhur Cimahi sebagai Dosen Luar Biasa (LB) Program Studi
Kebidanan pada tahun 2020. Selain itu juga aktif dalam penulisan
karya ilmiah nasional dan Internasional.
Rafiuddin, S.Pd., M.Pd., Gr.
Merupakan Guru Garis Depan asal
pengabdian SD Negeri Kecil Palapi,
Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi
Sulawesi Barat. Lahir di Parasangan
Beru Kabupaten Takalar Provinsi
Sulawesi Selatan pada tanggal 25
Oktober 1986, anak ke enam dari tujuh
bersaudara, pasangan Bapak Ibrahim,
B. dan Ibu Hatijah. Pendidikan dasar
ditempuh di SDN No. 38 Parasangan
Beru selesai tahun 1998. Pendidikan menengah pertama ditempuh
di Pondok Pesantren Mizanul Ulum Sanrobone selesai 2001.
Pendidikan sekolah menengah atas ditempuh di SMA Negeri 1
Takalar 2004. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di Universitas
Muhammadiyah Makassar selesai tahun 2013. Pendidikan Profesi
Guru ditempuh di Universitas Negeri Makassar selesai tahun 2016.
Pendidikan strata dua (S2) ditempuh di Universitas Negeri Malang
selesai tahun 2018. Saat ini, penulis menempuh Pendidikan strata
tiga (S3) di Universitas Negeri Yogyakarta. Penulis saat ini telah
menerbitkan 14 karya buku ber-ISBN baik karya individu maupun
kolaborasi (Bias Cinta di Langit Senja, 2019; Berlibur (Berliterasi
Budaya dan Religi) 4 Negara ASEAN, 2019; Berjalan di Atas
Kehendak-Nya, 2019; Ketermapilan Abad 21 dan Era Industri 4.0,
2019; Kumpulan Karya Tulis Ilmiah, 2019; Maqam di Atas Batu
Karang, 2019; Kumpulan Best Practice Hasil Pembelajaran STEM,
442
2019; Guru Indonesia Berpuisi di Hari Guru, 2019; Para Guru
Penggerak Peradaban, 2020; Perjalanan Dani, 2020; Model
Pembelajaran Kooperatif Abad 21 di SD, 2019; Guru Menjelajah
Ilmu, 2020; Pengabdian Tanpa Batas, 2020; dan Kumpulan Artikel
Ilmiah (Karil) Sekolah Dasar, 2020) serta membuat buku, media,
dan bahan ajar SD. Penulis juga aktif meneliti dan menulis karya
ilmiah yang diseminarkan pada kegiatan simposium, seminar
nasional, seminar internasional, jurnal nasional, dan jurnal
internasional, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa prestasi
penulis yang berkesan diantaranya Wisudawan Terbaik I 2013 oleh
Universitas Muhammadiyah Makassar, Terbaik II SKJ 2012 oleh
Departemen Agama RI Kab. Takalar, Terbaik I Penulis Buku 2019
oleh Penerbit LEKKAS Bandung, Terbaik IV Penulis Puisi 2019
oleh Penerbit TATA AKBAR Bandung, Terbaik IV Lomba Karya
Tulis Ilmiah 2020 oleh LPMP Sulawesi Barat, serta editor tunggal
buku Pengabdian Tanpa Batas.
Suyoto, M. Pd. Merupakan dosen tetap
di Prodi PGSD FKIP Universitas
Muhammadiyah Purworejo, Jawa Tengah
dan Guru Prakarya SMP VIP PESAWAT
Wates, Kulon Progo. Lahir di Kulon
Progo, 6 Mei 1984 anak ke-3 dari
pasangan Bapak Kemis Sudiyono dan Ibu
Jumirah ini Pendidikan Dasar di tempuh
di SDN Kedungpring selesai tahun 1997,
Sekolah menengah Pertama di tempuh
SMP 4 Wates selesai tahun 2000, Sekolah Menengah Atas di
tempuh di SMA 1 Wates Kulon Progo selesai tahun 2003.
Pendidikan Strata Satu (S1) di Jurusan Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan FIP UNY selesai tahun 2007, Strata dua (S2) di Jurusan
Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNY selesai tahun 2010, Saat
ini penulis sedang menempuh perkuliahan Strata Tiga (S3) di
jurusan Pendidikan Dasar Pascasarjana UNY. Penulis saat ini juga
telah menerbitkan beberapa modul yang sudah terdaftar di HAKI
Kemenkumham. Penulis juga aktif meneliti, mengabdi, menulis
443
karya ilmiah yang diseminarkan pada berbagai kegiatan
simposium, seminar nasional, seminar internasional, jurnal
nasional dan internasional, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Selain menjadi dosen dan guru SMP penulis aktif membina santri
pondok pesantren Al Quran Wates (PESAWAT), dalam organisasi
kemahasiswaan UNY saat ini juga tercatat sebagai pengurus
Himpunan Pascasarjana (Himmpas) UNY, untuk organisasi
daerah penulis juga menjadi Pengurus Ikatan Guru Indonesia
(IGI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta bidang penelitian dan
pengembangan. Untuk prestasi yang pernah diraih adalah juara
satu Try Out SPMB tahun 2003 Se-Kabupaten. Selain itu tahun 2015
pernah membimbing mahasiswa program kreativitas mahasiswa
UM Purworejo sampai tingkat PIMNAS.
Unga Utami, S.Pd, M.Pd. Lahir di
Soppeng, 18 Desember 1990, putri
pasangan Bapak H. Hideng dan Ibu
Hj.Mudaya. Pendidikan Sekolah
Dasar ditempuah di SDN 165 Asanae
selesai tahun 2003. Pendidikan
Menengah Pertama ditempuh di
SMPN 2 Marioriwawo selesai tahun
2006. Pendidikan Sekolah Menengah
Atas ditempuh di SMAN 5 Soppeng
selesai tahun 2009. Pendidikan Strata
satu (S1) ditempuh di Universitas Negeri Makassar, Program Studi
S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar selesai tahun 2013. Pendidikan
Strata dua (S2) pada jurusan Pendidikan Dasar (Dikdas) ditempuh
di Universitas Negeri Malang selesai tahun 2016. Penulis pernah
dilibatkan dalam penulisan buku Tim Hibah Pascasarjana
Universitas Negeri Malang dengan judul Pembelajaran Tematik
SD, Masalah Peran Guru, Pengelolaan, Buku Ajar, dan Integrasi
Karakter tahun 2018. Saat ini penulis melanjutkan pendidikan
jenjang strata tiga (S3) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
pada jurusan Pendidikan Dasar (Dikdas) sejak 2020.
444
Nama : YUNAIFAH, M.Pd.
Tempat/tanggal Lahir : Bantul, 22
Mei 1977
Alamat : Ngujung, Gadingharjo,
Sanden, Bantul DIY
Email :
[email protected]
Ponsel : 081328251974
Pekerjaan : Guru SD
Alamat Unit Kerja : SD 2
Gadingharjo Sanden
Riwayat Pendidikan :
ISI Yogyakarta 1995
PBSI UNY YOGYAKARTA 1996
D2 PGSD UT YOGYAKARTA 2005
PGSD UT YOGYAKARTA 2016
S2 PENDIDIKAN IPS 2010
S3 PENDIDIKAN DASAR 2020
Prestasi : Terbaik VI Simposium Nasional 2015; Finalis ONIP
Matematika SD
Finalis INOBEL 2013,2014; Guru Berprestasi Kabupaten Bantul
2018
Buku Diantaranya: Secangkir Kopi di Denting Rindu Dawai
Gitarku; Komik Pembelajaran IPS; Komik Pendidikan Karakter
Cerita Empat Sahabat; dan Cara Mudah Belajar Menulis dengan
Media UTAKA
445
446