The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ungautami, 2021-12-08 01:24:14

PERMASALAHAN, MODAL DASAR, DAN SOLUSI PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Keywords: #ebook #pendidikan #modaldasar #pendidikananak #pendidikankeluarga #pemberdayaanmasyarakat

mengejar karir dan kesenangan duniawi saja sehingga
ketika dirumah hanya timbul rasa lelah, emosi, marah,
mencari-mencari kelemahan dan kekurangan pasangan,
ingin menang sendiri sehingga terjadi pertengkaran dan
kekerasan sehingga berakibat pada disharmonisasi dalam
keluarga.

Oleh karena itu, perlu dibutuhkan solusi untuk
meminimalisasi permasalahan disharmonisasi keluarga
dengan membangung konsep resliensi atau ketahanan
hubungan suami istri dengan harapan bisa menciptakan
ketahanan dalam menjaga hubungan suami istri. Jika
seseorang memiliki resiliensi rendah, maka dia akan mudah
terjerumus pada dampak-dampak negatif yang dapat
menimpa, namun seseorang dengan resiliensi yang tinggi,
akan dengan cepat memposisikan diri tentang bagaimana
cara bersikap terhadap masalahnya, dia juga akan berusaha
sebisa mungkin untuk tetap menjalani kehidupan yang
normal, dan bahkan mampu mengambil suatu pembelajaran
atas suatu masalah yang sedang dihadapi serta pemikiran-
pemikiran positif yang mampu dikembangkan dan menjadi
salah satu motivasinya dalam menjalani hidup serta
memecahkan masalah yang sedang di hadapinya.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat

di tuliskan rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
a. Apa saja jenis permasalahan disharmoni dalam keluarga?
b. Apa saja faktor yang menimbulkan permasalahan

disharmoni keluarga?
c. Bagaimanakah solusi dalam menangani permasalahan

disharmoni keluarga?

3. Tujuan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat

di tuliskan rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
a. Mengetahui jenis permasalahan disharmoni dalam

keluarga.

249

b. Mengetahui faktor yang menimbulkan permasalahan
disharmoni keluarga.

c. Mengetahui solusi dalam menangani permasalahan
disharmoni keluarga.

B. Pembahasan
1. Konsep Keluarga
Keluarga merupakan kumpulan beberapa individu
yang memiliki ikatan hubungan darah, perkawinan maupun
adopsi yang masing-masing memiliki peran dalam
mencapai tujuan bersama yaitu menciptakan keharmonisan,
mengembangkan pertumbuhan fisik dan psikologis serta
sosial setiap anggota. Secara umum sebuah keluarga yang
sah dibentuk melalui satu seremonial yang disebut dengan
pernikahan. Pernikahan merupakan suatu ikatan yang
dianggap sakral bagi seorang laki-laki dan perempuan
dalam membentuk keluarga yang sah dan sejahtera serta
bahagia. Keluarga dibangun dari individu-individu yang
masing-masing memiliki keunikan psikologis oleh karena
itu berbeda dengan membangun rumah yang cukup dengan
pendekatan teknis (meski ada juga psikologi bangunan),
membangun keluarga harus menggunakan pendekatan
psikologis (Mubarok, 2009: 2).
Keluarga (usrah) merupakan struktur terkecil dalam
masyarakat. Sebuah keluarga biasanya terdiri dari orang
tua, anak-anak dan kakek nenek. Keluarga juga bisa terdiri
dari bibi, paman, sepupu, keponakan laki-laki dan
perempuan. Di samping itu, keluarga juga dapat meliputi
para anggota yang bukan saudara sedarah, namun orang
yang memiliki hubungan erat dengan para anggota keluarga
yang mempunyai sifat multigenerasional (Geldard, 2011:
17).
Keluarga merupakan satuan kekerabatan yang sangat
mendasar dalam masyarakat. Biasanya terdiri dari ibu,
bapak, dengan anak-anaknya; atau orang seisi rumah yang
menjadi tanggungannya. Dalam Kamus Besar Bahasa

250

Indonesia (1991: 413) Keluarga batih biasanya disebut
keluarga inti, yaitu keluarga yang terdiri atas suami, istri
(suami atau istri) dan anak. Keluarga dalam dalam bahasa
Arab dipergunakan al-usroh. Al-usrah dalam Mu‘jam al
Wasit sebagaimana dikutip Abud (1979: 2). Secara
etimologis berarti ikatan (al-qayyid), dikatakan asarahu wa
isaran artinya menjadikannya sebagai tawanan (akhazahu
asran). Al-asru maknanya mengikat dengan tali, kemudian
meluas menjadi segala sesuatu yang diikat, baik dengan tali
lainnya.

Terkadang ikatan ini bersifat alami yang tidak bisa
diputuskan seperti dalam penciptaan manusia. Ikatan juga
ada yang bersifat paksaan dan ada yang dibuat oleh
manusia seperti penawanan musuh di medan perang. Ada
pula ikatan yang bersifat pilihan yang dipilih oleh manusia
untuk dirinya, dan bahkan diusahakannya, sebab tanpa
ikatan tersebut dirinya dapat terancam (Riyadi, 2013: 103).
Pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa keluarga
tersebut atas dasar ikatan. Meski demikian ikatan ini bersifat
pilihan (ikhtiari). Sehingga bukan dipaksakan baik dirinya
sendiri maupun orang lain.

Oleh karena itu, perkawinan adalah sebuah ikatan
lahir maupun batin antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga atau rumah tangga yang bahagia atas dasar saling
suka dan rela. Geldard (2011: 82) menjelaskan bahwa
keluarga pada dasarnya dibentuk dan berkembang dengan
cara yang berbeda-beda. Dimulai dengan dua orang yang
berlawanan jenis (laki-laki dan perempuan) yang
melibatkan diri dalam suatu ikatan yang kuat (pernikahan).
Kemudian mereka dikarunia anak-anak yang bergabung
dalam sebuah rumah tangga. Adakalanya keluarga dengan
orang tua tunggal karena salah satu orang tua telah
meninggal dunia atau terjadi perceraian namun single parent
tersebut dapat memerankan peranannya sebagai seorang
ibu dan sekaligus sebagai seorang ayah.

251

Unsur-unsur keluarga bisa berbeda-beda jika dilihat
dari berbagai perspektif dan berbagai pendapat, hal ini akan
tergantung dari perspektif masyarakat mana yang
memandang. Istilah yang lebih komprehensif keluarga itu
mencakup kakek-nenek, paman-bibi, dan sepupu dari dua
belah pihak ikatan pernikahan. Dalam arti luasnya, keluarga
dapat dipandang sebagai unit yang bahkan lebih besar,
yang sama dengan umat, atau keluarga mukmin (Riyadi,
2013: 103). Oleh karena itu, unsur keluarga jika dijabarkan
meliputi:
a. Ayah/ bapak sebagai pemimpin seluruh keluarga
b. Ibu, sebagai istri ayah, yang bertanggung jawab

mengurus segala urusan keluarga terutama pendidikan
dan ekonomi keluarga. Ibu juga bertugas sebagai
sekretaris, bendahara sekaligus juga sebagai pelaksana
operasional.
c. Anak-anak, sebagai anggota keluarga (baik laki-laki
maupun perempuan, baik anak kandung maupun
angkat/tiri).
d. Saudara (baik saudara ayah maupun saudara ibu, yang
meliputi kakek, nenek, paman, kakak, adik dan lain-lain)
dengan catatan tinggal dalam satu rumah.
e. Saudara lain yang tinggal serumah dan dianggap sebagai
keluarga (biasanya dimasukkan dalam daftar kartu
keluarga/ KK).

Kehidupan berkeluarga atau menempuh kehidupan
dalam perkawinan adalah harapan dan niat yang wajar dan
sehat dari setiap anak muda dan remaja dalam masa
pertumbuhannya. Pengalaman dalam kehidupan
menunjukkan bahwa membangun keluarga itu mudah,
namun memelihara dan membina keluarga hingga
mencapai taraf kebahagiaan dan kesejahteraan yang selalu
didambakan oleh setiap pasangan suami-istri sangatlah
sulit. Nah, keluarga yang bisa mencapai kebahagiaan dan
kesejahteraan inilah yang disebut dengan keluarga sakinah.

252

Penggunaan kata sakinah diambil dari dari al-Qur‘an
surat ar Rum: 21,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ”

Kata litaskunu ilaiha, mempunyai arti bahwa Tuhan
menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu
merasa tenteram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab,
kata sakinah didalamnya terkandung arti tenang, terhormat,
aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh
pembelaan. Pengertian ini pula yang dipakai dalam ayat-
ayat al-Qur‘an dan Hadis dalam konteks kehidupan
manusia. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat
ideal dalam kehidupan keluarga, dan yang ideal biasanya
jarang terjadi, oleh karena itu ia tidak terjadi mendadak,
tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, yang
memerlukan perjuangan serta butuh waktu serta
pengorbanan terlebih dahulu (Mubarok, 2006: 148).

Bangunan keluarga yang ideal adalah dilandaskan
atas dasar sakinah, mawaddah dan rahmah. Dimana yang
dimaksud dengan rasa kasih (mawaddah) dan sayang adalah
rasa tenteram dan nyaman bagi jiwa raga dan kemantapan
hati menjalani hidup serta rasa aman dan damai, cinta kasih
bagi kedua pasangan. Suatu rasa aman, tentram dan cinta
kasih yang terpendam jauh dalam lubuk hati manusia
sebagai hikmah yang dalam dari nikmat Allah SWT. kepada
makhluk-Nya yang saling membutuhkan. Keluarga sakinah
berarti keluarga yang tenang atau keluarga yang tenteram.
Sebuah keluarga bahagia, sejahtera lahir dan batin, hidup
cinta-mencintai dan kasih-mengasihi, dimana suami bisa

253

membahagiakan istri, sebaliknya, istri bisa membahagiakan
suami, dan keduanya mampu mendidik anak-anaknya
menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yaitu anak-
anak yang berbakti kepada orang tua, kepada agama,
masyarakat, dan bangsanya. Selain itu, keluarga sakinah
juga mampu menjalin persaudaraan yang harmonis dengan
sanak famili dan hidup rukun dalam bertetangga,
bermasyarakat dan bernegara (Darajat, 1988: 87).

2. Tinjauan Disharmoni Keluarga
a. Konsep Disharmoni Keluarga
Disharmoni dapat diartikan sebagai kejanggalan
atau ketidakselarasan. Disharmoni keluarga yaitu
kondisi di mana keluarga tidak dapat menjalankan
fungsi dan perannya sehingga masing-masing anggota
keluarga gagal menjalankan kewajiban peran mereka.
Pada umumnya disharmoni keluarga terbentuk karena
relasi orang tua dan anggota keluarga yang ada pada
setiap keluarga tidaklah dapat dikatakan baik. Hal ini
menyebabkan banyaknya masalah, karena kesibukan
suami membuat mereka tidak memiliki cukup waktu
untuk bertemu, saling berbagi cerita atau berkomunikasi
dengan baik. Keluarga yang memiliki skema percakapan
tinggi akan selalu senang berbicara atau ngobrol.
Keluarga dengan skema percakapan rendah adalah
keluarga yang tidak banyak menghabiskan waktu
bersama untuk ngobrol (Marissan, 2013).
Komunikasi dapat berupa verbal maupun non
verbal yang meliputi gesture, bahasa tubuh, nada suara,
dan intensitas perilaku. Komunikasi dalam keluarga ini
dapat berfungsi untuk mengendalikan anggota keluarga,
menegaskan kekuatan hubungan dan perintah, serta
memfungsikan anggota keluarga menjadi lebih baik
(Namora, 2011).

254

b. Jenis-Jenis Disharmoni dalam Keluarga
William J. Goode sebagaimana dikutip dalam

bukunya ―Sosiologi Keluarga‖ Zenziko.Wordpress,
menerangkan bahwa bentuk-bentuk disharmoni
keluarga itu sebagai berikut:
1) Ketidaksahan (kegagalan peran). Merupakan unit

keluarga yang tak lengkap. Dapat dianggap sama
dengan kegagalan peran lainnya dalam keluarga
karena sang ayah atau suami tidak ada atau karena
tidak menjalankan tugasnya. Setidaknya ada satu
sumber keluarga baik ibu maupun bapak untuk
menjalankan kewajiban perannya.
2) Pembekalan, perpisahan, perceraian dan
meninggalkan. Terputusnya keluarga di sini
disebabkan karena salah satu atau kedua pasangan
itu memutuskan untuk saling meninggalkan.
3) Keluarga selaput kosong, disini anggota-anggota
keluarga tetapi tinggal bersama, tetapi tidak saling
menyapa atau bekerja sama satu dengan yang lain
dan terutama gagal memberikan dukungan emosional
satu kepada yang lain.
4) Ketiadaan seorang dari pasangan karena hal yang
tidak diinginkan. Beberapa keluarga terpecah karena
sang suami atau istri telah meninggal, dipenjarakan
atau terpisah dari keluarga karena peperangan,
depresi atau malapetaka yang lain.
5) Kegagalan peran penting yang tidak diinginkan.
Malapetaka dalam keluarga mungkin mencakup
penyakit mental, emosional.

c. Faktor-Faktor Disharmoni dalam Keluarga
Dalam hal ini konflik sebagai sesuatu yang tidak

bisa dihindarkan. Adapun faktor penyebab terjadinya
disharmonis keluarga antara lain seperti yang
disampaikan oleh Anisa (2018) yakni internal dan faktor
eksternal. Faktor internal adalah sebab-sebab yang

255

timbul dari dalam diri masing-masing pasangan hidup
dan anggota keluarga, antara lain faktor internal:
1) Krisis ruhiyah, bagi seorang muslim krisis ruhiyah

adalah penyebab utama lemahnya semangat
keagamaan. Imanlah yang senantiasa mendorongnya
untuk melakukan amal-amal kebijakan dan ketaatan
kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan
mengantarkan ke puncak kebijakan dan sebaliknya.
2) Minimnya pengetahuan kerumahtanggaan. Kematangan
naluri seksual sering kali tidak diimbangi dengan
kematangan pengetahuan keislaman, khususnya
mengenai kerumahtanggaan. Masalah yang kerap
datang menjadi tidak terantisipasi dan tidak tahu juga
bagaimana cara mengatasinya. Akibatnya
pertengkaran yang terjadi dan berujung pada
hilangnya keharmonisan rumah tangga.
3) Sikap egosentrisme, masing-masing suami istri
merupakan penyebab pula terjadinya konflik rumah
tangga yang berujung pada pertengkaran terus
menerus. Egoisme adalah suatu sifat buruk manusia
yang mementingkan dirinya sendiri.

Selanjutnya penyebab terjadinya disharmonis
keluarga antara lain faktor eksternal:
1) Masalah ekonomi. Dalam hal ini ada dua jenis

penyebab krisis keluarga yaitu, kemiskinan dan gaya
hidup. Dalam hal ini ekonomi bisa menjadi penyebab
ketidakharmonisan keluarga. Jika kehidupan
emosional suami istri tidak dewasa, maka akan
timbul pertengkaran. Sebab istri banyak menuntut
sedangkan suami berpenghasilan tidak seberapa.
2) Masalah kesibukan. Kesibukan adalah salah satu kata
yang telah melekat pada masyarakat modern yang
berfokus pada pencarian sumber materi yaitu harta
dan uang. Yang mana bisa menjadikan anak merasa

256

haus kasih sayang dan sering melakukan hal-hal
negatif.
3) Masalah pendidikan, masalah pendidikan sering
merupakan penyebab terjadinya disharmonis
keluarga. Jika pendidikan agak lumayan pada suami
istri, maka wawasan tentang kehidupan keluarga
dapat dipahami oleh mereka.

Selanjutnya pendapat lain tentang
ketidakharmonisan keluarga juga dapat disebabkan oleh
faktor biologis, di mana suami atau istri tidak memiliki
kemampuan secara jasmani dalam membina perkawinan
yang diakibatkan oleh beberapa penyakit seperti mandul
atau impoten atau penyakit lainnya. (Rahmadani, F.
2016). Selain itu faktor kesehatan seksual menjadi hal
yang sangat penting juga dalam membina hubungan
natara suami dan istri (Wakhidah, M.,2017). Adapun
faktor terakhir yang menjadi penyebab terjadinya
disharmonis keluarga disebut dengan faktor umum atau
global yang meliputi beberapa aspek:
1) Suami istri dan anggota keluarga tidak pernah atau

jarang duduk bersama membahas keberlangsungan
rumah tangga.
2) Urusan agama serta hak dan kewajiban setiap
anggota keluarga jarang dimusyawarahkan.
3) Tidak adanya rasa tanggung jawab dari masing-
masing anggota keluarga dan tidak saling terbuka
atau tidak jujur.
4) Adanya campur tangan dari pihak luar anggota
keluarga dan pilih kasih terhadap anak.
5) Terjadinya Pernikahan Dini. Usia pernikahan baiknya
itu dilakukan pada usia matang 21 tahun untuk
perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Sesuai
dengan undang-undang perlindungan anak, usia
kurang dari 18 tahun masih tergolong anak-anak.

257

3. Resiliensi Hubungan Suami Istri Solusi Permasalahan

Disharmoni Keluarga

a. Konsep Resiliensi

Menurut Grotberg (Desmita, 2014: 200) secara

sederhana mengartikan resiliensi sebagai ‖The human

capacity to face, overcome, be strengthened by, and even be

transformed by experiennces of adversity.‖ artinya yaitu

kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi,

dan menjadi kuat atas kesulitan yang dialaminya.

Sedangkan menurut Prihastusi (2011) Reivich dan Shatte

(2002) menjelaskan bahwa resiliensi memiliki empat

fungsi dasar dalam kehidupan manusia, yaitu 1)

Mengatasi kesulitan-kesulitan yang pernah dialami di

masa kecil. 2) Melewati kesulitan-kesulitan dalam

kehidupan sehari-hari, 3) Bangkit kembali setelah

mengalami kejadian traumatik atau kesulitan besar. 4)

Mencapai prestasi terbaik.

Resiliensi dapat membantu untuk

mengoptimalkan segala potensi diri untuk mencapai

seluruh cita-cita dalam hidup. Mencapai tujuan hidup

dengan bersikap terbuka terhadap berbagai pengalaman

dan kesempatan. Dalam resiliensi, terdapat beberapa

tahapan proses yang akan dilewati oleh seseorang yang

memiliki permasalahan hingga dia mampu menjadi

seseorang yang resilien. Menurut Coulson (Putra, 2010)

Proses resiliensi terdiri dari 4 proses yaitu 1) Succumbing,

yaitu suatu kondisi yang menggambarkan penurunan

pada individu sehingga ia mengalah dan menyerah atas

kemalangan yang menimpanya. 2) Survival, yaitu

menggambarkan individu yang telah larut dengan

kemalangan yang telah ia alami sehingga ia mengalami

kesulitan untuk mengembalikan fungsi psikologis dan

emosi yang positif 3) Recovery, yaitu menunjukkan

adanya peningkatan secara positif pada diri individu

yang mengalami masalah, ia mulai mampu bangkit

menumbuhkan fungsi psikologis dan emosi yang positif

258

dan ia sudah mampu untuk berkembang secara positif

dengan perlahan. dan 4) Thriving, yaitu tahap dimana

individu mengalami perkembangan pesat, ia mampu

keluar dari kemalangan atau masalah yang menimpa

dirinya.

Dalam resiliensi juga terdapat aspek-aspek

pendukung yang dapat membuat seseorang menjadi

resilien terhadap masalahnya. Menurut Dewanti dan

Veronika (Shatte, 2002) terdapat tujuh kemampuan

yang dapat membentuk ketahanan (resiliensi) pada diri

individu, yaitu 1) Emotion Regulation, yaitu pengelolaan

emosi. 2) Impuls Control, yaitu pengendalian dorongan

ataupun keinginan yang muncul dari dalam diri. 3)

Optimism, yaitu kepercayaan individu bahwa akan ada

kemudahan dan masa indah setelah kesulitan yang

menimpa. 4) Causal Analys, yaitu kemampuan

mengindentifikasi secara akurat permasalah yang di

hadapi. 5) Emphaty, Kemampuan dimana individu dapat

membaca tanda-tanda dari kondisi psikologi dan

emosional orang lain. 6) Self Efficacy, yaitu keyakinan

bahwa mampu untuk menyelesaikan masalah dengan

menggunakan kemampuan diri untuk sukses. 7) Reaching

Out, kemampuan individu untuk dapat meraih aspek

positif dari kehidupan setelah kemalangan menimpa.

b. Family Therapy untuk meningkatkan resiliensi sebagai

solusi disharmoni

Solusi untuk rumah tangga yang disharmoni

keluarga (relasi antar pasangan) terlebih dahulu dapat

dilselesaikan oleh anggota keluarga yang bersangkutan

dengan cara mengkomunikasikan masalah-masalahnya.

Jika hal tersebut tidak dapat membantu memulihkan

keutuhan keluarga, pasangan suami-istri perlu

berkonsultasi kepada tokoh agama atau mengunjungi

instansi-instansi yang bersangkutan untuk

menyelesaikan masalah keluarga. Hambatan-hambatan

dalam kegiatan menyelesaikan masalah dan mencari

259

solusi untuk tujuan dan harapan yang lebih baik lagi
tidak terlepas dari usaha yang lebih besar lagi untuk
mengatasinya. Solusi terhadap disharmoni keluarga
dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam menentukan
proses-proses perbaikan untuk keluarga.

Berkenaan dengan kajian resiliensi, maka peranan
resiliensi atau ketahanan dalam hubungan suami istri
untuk mengurangi atau meninimalisasi masalah
disharmoni keluarga penting untuk diupayakan, dengan
harapan tujuan dari pernikahan yakni membangun
keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dapat
terbentuk atau terlaksana. Ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk membangun resilensi hubungan suami
istri diantaranya adalah melakukan Family Therapy atau
terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui
permasalahan seseorang, memahami perilaku,
perkembangan masalah dan cara penyelesaiannya.
Terapi keluarga adalah upaya mengubah hubungan
dalam keluarga untuk mencapai keharmonisan.
Membantu keluarga menjadi bahagia dan sejahtera
dalam mencapai kehidupan efektif. Keluarga yang
interaktif ialah membantu keluarga dalam mencapai
kondisi psikologis yang serasi atau seimbang sehingga
semua anggota keluarga bahagia (Eti, 2011).

Proses konseling keluarga berbeda dengan
konseling individual karena ditentukan oleh berbagai
faktor seperti jumlah kliennya (anggota keluarga) lebih
dari seorang. Relasi antar anggota keluarga amat
beragam dan bersifat emosional, dan konselor harus
melibatkan diri (partisipan penuh) dalam dinamika
konseling keluarga. Secara umum proses konseling
berjalan menurut tahapan berikut:
1) Pengembangan rapport, memiliki tujuan yakni

menciptakan hubungan konseling adalah agar
suasana konseling itu merupakan suasana yang

260

memberikan keberanian dan kepercayaan diri klien
untuk menyampaikan isi hati, perasaan, kesulitan.
2) Pengembangan apresiasi emosional. Anggota keluarga
yang sedang mengikuti konseling keluarga, jika
semua terlibat, akan terjadi interaksi yang dinamik di
antara mereka, serta keinginan untuk memecahkan
masalah mereka. Dengan demikian, segala kecemasan
dan ketegangan psikis dapat mereda, sehingga
memudahkan untuk treatment konselor dan rencana
anggota keluarga.
3) Pengembangan alternatif modus perilaku. Aplikasi
perilaku dilakukan melalui praktik di rumah.
Mungkin konselor memberi suatu daftar perilaku
baru akan dipraktikan selama satu minggu, kemudian
melaporkannya pada sesi konseling berikutnya tugas
tersebut disebut juga home assignment (pekerjaan
rumah). Misalnya, seorang ayah mempunyai
alternatif perilaku baru yang ia temukan dalam
konseling, seperti akan berusaha selalu makan
bersama pada waktu makan siang. Dan alternatif baru
pada anak seperti tidak akan menginap di rumah
teman, atau tidak pulang malam-malam.
4) Fase membina hubungan konseling. Fase ini amat
penting di dalam proses konseling, dan keberhasilan
tujuan konseling secara efektif ditentukan oleh
keberhasilan konselor dalam membina hubungan
konseling.

Dalam upaya atau proses pemecahan masalah
yang terjadi dalam keluarga, dapat digunakan pula
Model McMaster sebagaimana dikutip dari Kethryn Dan
David Gerldard mengemukakan pemecahan masalah
terjadi dalam beberapa tahap:
1) Mengenali masalah, ialah upaya dari pasangan suami

istri menelaah dan mengetahui berbagai

261

permasalahan dalam keluarga yang mungkin sudah
terjadi dan berupaya untuk menyelesaikannya.
2) Mengomunikasikan masalah kepada orang yang yang
tepat, ialah melalui tahapan ini. Anggota keluarga
(pasangan) bisa mengkonsultasikan perihal
masalahnya terhadap orang yang dipercayanya.
3) Mengembangkan tindakan alternatif, ialah
memberikan suatu bimbingan dan arahan kepada
pasangan tentang bagaimana seharusnya hubungan
masalah antara suami istri dapat diselesaikan.
4) Memutuskan satu tindakan khusus, ialah senantiasa
berupaya untuk menyelesaikan permasalahan dalam
rumah tangga tentang keputusan bagaimana
seharusnya langkah yang akan ditempuh untuk ke
depannya.
5) Mengambil tindakan, ialah mengembangkan tindakan
dari keputusan yang telah disepakati oleh keluarga
secara optimal dan menyesuaikan keluarganya dalam
proses penyelesaian masalah.
6) Mengevalusi keberhasilan tindakan itu, ialah
mengetahui bagaimana perkembangan atas tindakan-
tindakan yang telah dtempuh sebelumnya oleh
pasangan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.

C. Penutup
1. Kesimpulan
Terapi keluarga ialah yang bertujuan untuk
membantu meningkatkan resiliensi hubungan pasangan
suami-istri sehingga mengurangi gangguan keharmonisan
rumah tangga. Suami dan istri berhak dan berkewajiban
untuk mencipatakan kedamaian dalam keluarga. Oleh
karena itu, solusinya perspektif family therapy ialah
membantu suami-istri menghilangkan perselisihan,
melestarikan budaya perdamaian dan musyawarah,
menghapuskan tindak kekerasan, dan semata-mata
menghindarkan keluarga dari status perceraian. Bukan

262

hanya menjaga image pernikahan yang baik di mata
masyarakat saja melainkan keharmonisan rumah tangga
sejatinya ialah hanya bisa dirasakan dan dinikmati bersama
dengan pasangan, seluruh anggota keluarga juga akan
berpengaruh positif kepada lingkungan dan masyarakat
sekitarnya. Bisa disimpulkan, bahwa sebagai pasangan
suami-istri dalam menyelesaikan masalah antar anggota
keluarganya tentu ada kendala atau hambatan dalam proses
pelaksanaannya. Keharmonisan rumah tangga dapat
terwujud jika apa yang diharapkan oleh masing-masing
pasangan dapat dipenuhi.
2. Saran

Pernikahan merupakan sarana mengikat antar
individu dengan dindvidu yang lain dengan tujuan yang
mulia yakni membangun keluarga yang sakinah, mawadah
dan warrahmah. Oleh karena itu, disarankan jika terdapat
masalah disharmonisasi dengan berbagi jenisnya hendaknya
pasangan suami istri mampu meningkatkan resiliensi
hubungan dengan cara berkomunikasi atau family therapy.

263

DAFTAR PUSTAKA

Anisa, S. (2018). ―Keharmonisan keluarga dan pengaruhnya
terhadap pengamalan agama anak di gampong beurawe
banda aceh‖. Skripsi.: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Darussalam Banda Aceh.

Aries, P. (1962). Centuries of childhood: A social history of family life.
New York: Knopf.

Desmita. (2014). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Eti, Nurhayati. (2011). Bimbingan, konseling & psikoterapi inovatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geldard, Kathryn. (2011). Konseling keluarga: membangun relasi
untuk saling memandirikan antaranggota keluarga, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Goode, Willian J. (2007). Sosiologi keluarga. Jakarta: Bumi Aksara.
Https://Zenziko.Wordpress.Com/2021/02/23/Kehidupanbermas

yarakatindivid ukeluargamasyarakat Diambil Tanggal 24
April.
Morissan. (2013). Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Mubarok, Achmad. (2009). Psikologi keluarga: dari keluarga sakinah
hingga keluarga bangsa. Jakarta: Wahana Aksara Prima.
Putra, Gangsar. (2010). Resiliensi perempuan penderita systemic
lupus erythematosus (SLE). Skripsi. Surabaya: Fakultas Ilmu
Pendidikan.
Rahmadani, F. (2016). Hubungan Komunikasi Interpersonal
dengan Keharmonisan Keluarga pada Ibu-Ibu Sebagai
Karyawan Di Kecamatan Percut Sei Tuan (Doctoral
dissertation).
Ridjal, F. 1993. Dinamika gerakan perempuan di indonesia.
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Riyadi, Agus, 2013, Bimbingan konseling perkawinan (dakwah dalam
membentuk keluarga sakinah). Yogyakarta: Ombak.
Wakhidah, M. S., Hastuti, U. R. B., & Dewi, Y. L. R. (2017). The
influence of personal factor, husband‘s support, health
workers and peers toward the use of IVA screening among

264

women of reproductive age in the Regency of Karanganyar.
Journal of Health Promotion and Behavior, 2(2), 124- 137.
Wirawan, Sarwono. (1992). Menuju keluarga bahagia. Jakarta:
Bhratara Karya Aksara.

265

BAB 11
TANTANGAN SERTA PERAN ORANG TUA

TERHADAP ANAK GENERASI ALPHA

Irfan Adi Nugroho
S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Mendidik anak di zaman millennial perlu usaha
ekstra jika dibandingkan dengan zaman puluhan tahun
yang lalu. Perkembangan dunia digital tidak hanya
memberi kemudahan, namun juga dapat membuat jurang
pemisah antara anak dan orang tua. Generasi Alpha sangat
membutuhkan peran dan kasih saying lebih dari orang tua.
Butuh strategi khusus untuk mendidik anak yang terlahir
pada generasi ini agar mereka tumbuh menjadi anak yang
mahir dalam teknologi akan tetapi menghargai dan
mempertahankan nilai-nilai keluarga.
Teknologi sekarang ini merupakan hal yang sangat
berpengaruh di kalangan masyarakat, khususnya di
kalangan anak-anak. Apalagi seiring dengan maraknya
teknologi informasi seperti handphone, internet, android,
facebook, twiter, Instagram, youtube, whatsapp dan
sejenisnya membuat anak-anak semakin mudah mengakses
informasi.
Memang harus diakui bahwa perkembangan
teknologi sebenarnya merupakan hal yang patut disyukuri,
mengingat perkembangan teknologi ini bisa mempermudah
kehidupan umat manusia. Namun, juga diakui bahwa
dampak perkembangan teknologi tersebut juga bersifat
negatif dan destruktif. Banyak persoalan-persoalan yang
muncul, termasuk di kalangan anak-anak karena
perkembangan teknologi ini.

266

Padahal tidak semua informasi yang disebarkan oleh
produk-produk teknologi tersebut berisi hal-hal yang bagus,
kadang justru menyebarkan hal-hal yang buruk, dalam
berbagai bentuknya, termasuk dalam bentuk gambar dan
video. Seperti gambar atau video erotis, bertengkar dan
sebagainya. Gambar-gambar yang dilihat oleh anak-anak
bisa mempengaruhi tingkah laku.

Menurut pandangan islam, anak adalah amanah yang
dititipkan kepada orang tuanya. Pandangan ini menyiratkan
ada keterkaitan eksistensi anak dengan khaliknya. Amanah
yang diberikan kepada orang tua berarti memberikan
kesejahteraan lahir dan batin berlandaskan keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT, terutama memberikan
Pendidikan agama sejak dini agar anak tumbuh menjadi
anak yang saleh.

Anak-anak tempo dulu lebih kaya akan pengalaman
di masyarakat dibandingkan dengan anak-anak zaman
sekarang. Jika ayah tukang pedate atau kusir bendi, maka
dia diajak ayahnya naik pedari atau bendi sampai anak itu
cepat paham akan kehidupan. Itulah yang mematangkan
dia sampai masuk sekolah dasar. Anak perempuan
membantu ibunya memasak berbagai masakan didapur.
Dibidang agama, sehabis maghrib ibu atau ayah duduk di
tikar untuk mengajar mengaji Al-Qur‘an sehingga anak-
anak zaman dulu lebih unggul dalam agamanya disbanding
anak-anak zaman sekarang. Anak sekarang mampu duduk
berjam-jam di depan televisi sehabis maghrib dan isya.
Tanpa disadari televisi itu dapat merugikan terhadap proses
belajar anak dalam ilmu umum dan agama.

Di era digital seperti saat ini, sebenarnya bukan hanya
anak zaman sekarang yang perilakunya beda dengan anak-
anak pada zaman dulu. Ternyata, orang tua zaman
sekarangpun memiliki perilaku berbeda dengan orang tua
zaman dulu. Puluhan tahun lalu, fasilitas pendukung dalam
mengerjakan tugas rumah tangga belum secanggih sekarang

267

sehingga orang tua mengerjakan banyak hal sendiri secara
apa adanya.

Era modern saat ini sering digantikan oleh gadget,
media, dan sekian banyak instrument teknologi. Memang
kehadiran media dan teknologi dapat mempermudah, serta
membantu hidup orang tua dalam mengasuh anak. Namun,
jika dilakukan secara berlebihan ada proses alami dalam
pola asuh orang tua yang tergantikan.
2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar penjabaran latar belakang diatas,
maka disusunlah rumusan masalah bagaimana peran orang
tua terhadap anak terutama pada generasi Alpha.
3. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui
bagaimana peran orang tua terhadap generasi Alpha.

B. Pembahasan
1. Pengertian Generasi Alpha
Generasi Alpha menurut Tolbize adalah sekelompok
orang yang dapat diidentifikasikan berdasarkan tahun
kelahiran, usia, lokasi, dan peristiwa dalam kehidupan yang
memberi pengaruh signifikan terhadap tahapan
perkembangan mereka. Anggota generasi saling berbagi
pengalaman yang mempengaruhi pikiran, nilai, perilaku,
dan reaksi mereka. Setiap individu membawa kepribadian
sendiri serta memiliki latar belakang yang berbeda seperti
ras, kelas sosial, jenis kelamin, wilayah, keluarga, agama
dan banyak lagi, akan tetapi terdapat beberapa generasi luas
yang dimungkinkan tentang karakteristik mereka yang lahir
di sekitar dan pada tahun yang sama.
Victoria berpendapat bahwa generasi muda
berikutnya akan memiliki pengalaman teknologi yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Generasi Alpha
merupakan istilah yang diciptakan oleh peneliti Mark
McCrindle untuk menggambarkan kelompok yang lahir
dari tahun 2011-2025. Alasan dari Mark membedakan setiap

268

generasi yang berbeda, seperti adanya generasi X, Y, Z dan
Alpha karena terdapat perbedaan antar generasi. Dalam
teorinya Mc Crindle menyatakan bahwa mereka yang lahir
secara global dari tahun 2011-2025 disebut generasi Alpha.
Generasi Alpha sama seperti iPad pertama diluncurkan.
Mereka tumbuh dikelilingi oleh teknologi yang canggih.
Generasi Alpha bahkan akan melampui generasi Z yang
dikenal canggih dalam hal Pendidikan dan teknologi.

Generasi Alpha adalah sekumpulan manusia yang
lahir pada 2011-2025. Di era ini ada fenomena baru yang
muncul dengan munculnya tokoh-tokoh berbeda dan baru.
Generasi yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X
dan generasi Y. Generasi yang terdidik termasuk dan masuk
sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata memiliki
orang tua yang tingkat perekonomian dan informasi. Orang
tua dari generasi Alpha ini juga sudah banyak
menggunakan teknologi sehingga pengenalan teknologi
sedari dini serta pembuatan akun sosial media pada usia
yang sangat balia bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan
untuk generasi ini.

Tidak ada hal dapat diketahui mengenai masa depan
atau gaya hidup dari generasi ini, namun beberapa ahli
mengatakan bahwa generasi Alpha akan membawa
sejumlah perubahan yang drastic dalam tatanan sosial,
ekonomi, maupun gaya hidup, dikarenakan generasi Alpha
besar pada kondisi insfrastruktur yang sudah berkembang
pesar, dan orang tua mereka cenderung memiliki ekonomi
yang mapan disbanding generasi sebelumnya sehingga
mereka mampu menyekolahkan anaknya dijenjang
tertinggi. Selain itu, generasi Alpha sudah terbiasa
menggunakan teknologi pada usia yang sangat dini,
integrasi gaya hidup sehari-hari dengan teknologi. Karena
sudah setiap hari bersama teknologi maka teknologi
tersebut tidak dapat dipisahkan pada generasi Alpha ini.

Generasi Alpha yang dilahirkan di era digital, dimana
perangkat teknologi berada pada tingkat kecerdasan yang

269

tinggi. Lingkungan fisik dan digital terhubung menjadi satu.
Ketika mereka tumbuh dewasa, teknologi telah menjadi
bagian hidup mereka akan membentuk pengalaman sikap,
dan harapan mereka terhadap dunia.

2. Ciri-ciri generasi Alpha
Generasi dapat diidentifikasikan dalam lima jenis

dalam kaitannya dengan teori generasi mereka adalah;
a. Generasi Baby Boomer, lahir pada 1946-1964,
b. Generasi X, lahir 1965-1980,
c. Generasi (Y), lahir 1981-1994,
d. Generasi Z, lahir 1995-2010, dan
e. Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Z disebut juga

sebagai generasi I, The Net atau generasi internet yang
lahir dari generasi X dan Y (Tapscott, 2009).

Perubahan pola piker setiap generasi juga memicu
pergeseran perilaku mereka secara positif maupun negatif.
Eliza t. Dresang dan Koh Kyungwon (2009) meneliti tipologi
perilaku informasi di kalangan anak muda di era digital,
dimana mereka secara aktif mencari informasi. Dari hasil
studi yang dilakukan Dresang menemukan bahwa
pencarian informasi di kalangan generasi muda tidak
dipandang sebagai satu kegiatan. Mereka sebenarnya aktif
mengembangkan perilaku baru dalam membaca. Ini adalah
kebiasaan baru untuk mengubah bacaan konfensional ke
digital. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai grafik
dan organisasi non linier baru dalam literaurnya, dapat
dikatakan bahwa terdapat perubahan perilaku pada
generasi ner, seperti;
a. Perubahan pembelajaran karena pengaruh TI dimana

konvergensi media telah mengarah pada situasi yang
membentuk banyak media, seperti memperoleh
informasi system dan berbagai sumber data, pemaparan
referensi dalam bentuk grafik visual, dan multitasking.
Di era digital, anak muda lebih menyukai atau

270

mendalami lebih banyak informasi grafis baik yang
benar maupun yang hoax. Itu juga membebani dunia
Pendidikan. Institusi Pendidikan yang adaptif akan
memasukkan praktek teknologi informasi dalam
perilaku pendidikannya. Namun demikikan, masih
sedikit sekolah yang bergerak menuju jenis Pendidikan
masa depan. Pasalnya, keberadaan generasi X sebagai
otoritas penggerak regulasi Pendidikan. Maka dari itu,
kita masih dapat menemukan metode pendikatan
konvensional yang diterapkan di antara institusi.
Akibatnya masih banyak pelanggaran Hak Cipta dan
Hak intelektual ditemukan pada dewasa ini.
b. Perubahan cara pandang umumnya terjadi karena
generasi muda atau generasi Y dan Z memiliki
kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya sendiri,
seperto,
1) Mengungkapkan pendapat melalui media sosial,
2) Menunjukkan identitas dengan membuat informasi,

baik dalam bentuk teks maupun gambar. Misalnya,
meme. Gambar dan video viral telah berubah menjadi
perilaku buruk. Video porno mudah diakses oleh
anak-anak di bawah umur. Keberadaan media sosial
telah disalah gunakan untuk mempromosikan
identitas diri dengan memperbarui gambar atau
status pribadi seperti Instagram, facebook, twitter,
tiktok dll.
3) Fleksibilitas dan identitas ganda, dan
4) Menghadapi berbagai perspektif dari tanda dan
media yang berbeda. Yang mengarah pada
pemahaman diri tanpa konteks yang dipelajari
sebelumnya.

c. Ubah Batasan umum. Karakteristik yang sesuai adalah;
1) Memperoleh akses cepat pada ketersediaan informasi
yang luas. Seperti google yang dianggap sebagai
professor, guru sering menyarankan siswanya untuk

271

mengakses situr tersebut dengan mangabaikan
pentingnya mengutip sumber
2) Mencari berbagai informasi, seperti wiki, e-mail,
konferensi video.
3) Pembentukan jejaring sosial jenis baru, seperti media
sosial, dan
4) Partisipasi dalam komunitas.

Barkowitz (2016) melaksanakan penelitian etnografi
pada generasi Alpha. Penelitian ini dilakukan dengan
berbagai aspek antara lain interaksi dengan kelompoknua,
waktu kumpul keluarga dan kelas balet pada perlombaan.
Hasilnya ia memberikan ciri-ciris generasi Alpha sebagai
berikut;
a. Mereka tidak menyukai perinsip berbagi secara

ekonomis. Merupakan anugrah bagi perekonomian
karena menunjukkan perilaku generasi anti saham.
b. Mereka sangat gesit, kecuali dalam posisi diam. Generai
yang sebenarnya sangat aktif ini bisa menjadi kelompok
yang sangat diam terbukti pada bayi 0-6 bulan yang
mengikuti percobaan.
c. Mereka mengabaikan privasi. Mereka memiliki
kecenderungan untuk melepas baju baju tau kaus kaki
saya. Lebih banyak petunjuk ke eksibisionis
d. Mereka tidak suka aturan. Segala sesuatu yang
berbentuk aturan mentah biasanya dilanggat karena
tidak sesuai dengan yang diinginkan.
e. Mereka melepaskan diri dari segala bentuk pembatasan.
Mereka tidak suka ruang yang dibatasi dengan perilaku
yang terbukti melepaskan diri dari popok bayi, kursi,
selimut, pakaian tenang, dll.
f. Lebih suka susu alami, mereka cenderung sadar akan
fungsi Kesehatan jadi pilihan susu yang segar dan alami.
g. Suka biscuit, pasta, nasi, sereal, dan vitamin.

272

h. Pemberontak dalam ritual keagamaan. Dalam ritual

keagamaan resmi, mereka memiliki kecenderungan

untuk memisahkan diri atau membuat keributan.

i. Berinovasi dengan item yang bisa digunakan. Mereka

bisa saja tertarik dan bereksperimen dengan barang-

barang yang dulu dimiliki oleh orang tuanya.

j. Apa yang lebih baik dari sentuh? Layarnya sedikit.

Generasi ini suka mejilat sesuatu untuk merasakan

sensasi. Perkembangan teknologi proses yang cenderung

mengembangkan layer sentuh diubah menjadi layer

sedikit.

k. Menyukai hal yang sama untuk dinikmati berulang kali.

Mereka tidak suka sesuatu yang bertele-tele seperti

drama atau serial sinetron. Semakin mereka suka adalah

tontonan terkhir yang mereka lihat, dan mainkan

berulang kali.

l. Mereka hidup di masanya. Lupakan masa lalu, dan

jangan punya konsep masa depan. Mereka

menginginkan segalanya saat itu.

m. Mereka terus berkembang. Dia mengira pola berubah

dengan cepat, membuatnya sangat suli ditebak. Mereka

adalah generasi yang kreatif.

Berbeda dengan generasi Alpha dari Barkowitz yang
lebih khas dalam sudut negatif, Schawbel (2014) lebih
memprediksikan generasi Alpha sebagai generasi yang
memiliki banyak peluang dan tantangan. Pada tahun 2050.
Populasi generasi Alpha telah mencapai 35 juta di Amerika
saja. Terdapat 5 ciri generasi Alpha yang dijabarkan sebagai
berikut:
a. Mereka adalah generasi yang lebih berjiwa wirausaha.

Karena kemampuan mengakses informasi, orang, dan
kekuatan usia anggota sejak dini. Banyak diantara
mereka yang mempunyai usahanya di usia kurang dari
10 tahun. Meskipun ada beberapa yang gagal, mereka

273

memiliki lebih banyak peluang dan menjadi lebih sukses
seiring dengan perkembangan zaman.
b. Mereka memiliki lebih banyak teknologi intelijen dan
sangat bergantung pada media sosial. Perubahan
teknologi dalam dirinya berkembang menuju aplikasi
ponsel pintar. Keberadaanya akan mengubah
dominasinya di PC, laptop, atau tablet. Generai ini
sangat bergantung pada kecanggihan fitur ponsel pintar.
c. Mereka lebih suka belanja online dan lebih jarang
melakukan kontak fisik dalam berkomunikasi dengan
lawan bicara. Akibatnya secara psikologis mereka akan
direpotkan oleh perilaku menyendiri meski masih bisa
berkomunikasi memalui media sosial.
d. Mereka akan lebih dimanjakan dan dipengaruhi oleh
orang tua mereka yang merupakan generasi x dan y.
perilaku menikah di usia lebih tua menjadikan kehadiran
generasi penerus semakin istimewa dan dimanjakan. X
memanjakan y, y memanjakan z, dan keberadaan
generasi z yang akan memajakan generasi Alpha.
e. Mereka mampu memebuhi kebutuhannya sebdiri, lebih
berpendidikan, dan lebih siap menghadapi tantangan
yang lebih besar. Perkembangan teknologi yang sangat
canggih di zamannya, memberikan kesempatan kepada
mereka untuk menjadi lebih mandiri dan siap
menghadapi tantangan global seperti pemanasan global,
perdagangan bebas dan persaingan. Di bidang
pendidiskan keberadaan konsep Pendidikan online gratis
lebih diutamakan. Pada sat yang sama, keluarga kaya
akan lebih banyak menginventasikan biaya Pendidikan
untuk anaknya.

Generasi Alpha adalah generasi yang lahir tanpa
mengetahui kehidupan tanpa internet, dalam kata lain
generasi Alpha ada anak yang hidup dimasa Internet,
computer, dan telepon genggam. Anak seperti ini lahir pada

274

era digital. Anak dalam era digital memiliki ciri sebagai
berikut;
a. Anak generasi Alpha cenderung praktis dan berperilaku

Instan
Anak-anak generasi Alpha menyukai pemecahan

masalah yang praktis. Mereka enggan meluangkan
proses Panjang mencermati suatu masalah. Hal ini
disebabkan anak-anak yang lahir dalam dunia serba
instan. Dimulai dari bangun tidur, makan, ke sekolah,
belajar, semua serba instan. Sebagaiknya orang tua perlu
mendidik anak tentang konsep proses, daya tahan, dan
komitmen dalam menyelesaikan tugas/masalah.
b. Cinta kebebasan dan perilaku bermain yang berubah

Generasi Alpha menyukai kebebasan. Kebebasan
berpendapat, kebebasan berkreasi, dan lain sebagainya.
Mereka lahir di dunia modern, di mana rezim tirani
otoriter tidak memiliki kekuasaan lagi dalam mengontrol
penduduknya. Anak-anak generasi ini tidak menyukai
pelajaran yang bersifat menghafal. Mereka lebih
menyukai pelajaran yang bersifat eksplorasi.

Munculnya permainan canggih yang menarik
minat generasi Alpha turut membuat pola perilaku
bermain berubah. Bila anak millennial memiliki banyak
kesempatan bermain diluar rumah, maka anak generasi
Alpha banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Dengan alasan seperti lingkungan tidak mendukung dan
keamanan.
c. Percaya diri

Anak generasi ini juga terlahir dengan percaya diri
yang tinggi. Ini merupakan sikap yang sangat positif.
Namun, anak-anak ini juga harus tau bahwa apabila
ingin sukses, rasa percaya diri juga harus diimbangi
dengan kompetensi diri. Sebagai orang tua berikanlah
lingkungan yang kondusif untuk anak agar kepercayaan
diri dan kompetensi anak bisa tumbuh subur. Namun,
orang tua juga perlu perlahan melepasnya agar

275

mengembangkan kompetensinya secara mandiri. Anak-
anak akan mulai percaya diri melangkah tanpa
pendampingan orang tua.
d. Memiliki keinginan besar untuk mendapatkan
pengakuan

Semua orang butuh pengakuan atas usaha dan
kerasnya. Terlebih generasi ini cenderung ingin
mendapatkan reward, seperti pujian, hadiah, ataupun
penghargaan.
e. Jauh dari buku dan majalah

Hal ini disebabkan mudahnya mencari informasi
di zaman sekarang. Dengan menulis topik yang ingin
ditelusuri melalui google, terbukalah jendela dunia yang
berisi segala informasi dan gambar yang berkaitan
dengan topik tersebut. Buku dan majalah fisik juga telah
tergantikan dengan adanya buku elektronik atau e-book.
f. Terbiasa dengan digital dan teknologi informasi

Generasi ini mahir dalam menggunakan segala
macam gadget yang ada, dan menggunakan teknologi
dalam keseluruhan aspek serta fungsi sehari-hari. Anak-
anak ini lebih memilih berkomunikasi melalui dunia
maya, media sosial daripada menghabiskan waktu
bertatap muka dengan orang lain.
g. Tantangan untuk Orang tua

Tantangan terbesar orang tua dan pendidik adalah
saat kita tidak dapat menydiakan informasi yang cukup
untuk anak. Generasi ini pun jadi lebih suka mencari
jawaban melalui internet dari pada orang tua.

3. Tantangan generasi Alpha
Generasi Alpha harus bisa lebih unggul dalam bidang

Ilmu, teknologi dan yang terpenting pada akhlak remaja
muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan
menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Beberapa
hal yang harus disiapkan adalah Pendidikan, keterampilan,
dan Bahasa agar bisa lebih siap bersaing tidak hanya pada

276

local saja tapi juga internasional, selain itu juga harus terus

berpacu dengan negara lain. Dalam sebuah studi kebijakan

OECD tentang masa depan, pekerjaan menunjukkan bahwa

kecerdasan buatan (AI), otomasi, dan digitalisasi mulai

menggantikan pekerjaan subtansial dan rutin manusia pada

berbagai tingkat keterampilan.

Tantangan yang akan dihadapi generasi Alpha

bersaing dengan robot dan teknologi menurut Victoria

yaitu:

a. Technologies that will define Generation Alpha (teknologi

akan menentukan generasi Alpha)

Perangkat yang semakin pintar akan menjadi

norma bagi generasi yang tumbuh bersama mereka:

kecerdasan buatan akan memperluas ide-ide tentang apa

yang bisa dilakukan teknologi, algoritme mengolah data

akan membuat pengalaman menjadi lebih personal dan

interaksi baru akan menawarkan cara komunikasi yang

baru. Tren ini akan memberikan harapan teknologi

generasi Alpha dan mewarnai interaksi mereka dengan

dunia sekitar mereka.

b. Devides will gain emotional intelligence (perangkat akan

mendapatkan kecerdasan emosional)

Generasi Alpha kemungkinan akan memiliki

ekspetasi yang lebih tinggi dari perangkat pintar karena

mereka terpapar sejak usia muda.

c. Interaction with technology will become more physical

(Interaksi dengan teknologi dengan menjadi lebih dekat)

Bukan hanya suara yang menjadi alternatif untuk

papan ketik dan layer. Bahasa tubuh juga

memungkinkan orang berinteraksi menggunakan konten

digital dengan Gerakan tangan atau tubuh,

menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh

perangkat yang dapat digunakan untuk berinteraksi di

dunia maya dan dunia nyata tanpa perlu memegang atau

menyentuk pengontrol. Anak-anak semakin banyak

menuntut pengalaman bermain mereka untuk

277

melakukan banyak hal, lebih menyenangkan, lebih

interaktif dan lebih responsive, agar mereka menjadi

bagian dari proses itu.

d. Experinces will be personalised to suit the individual

(pengalaman menjadikan pribadi sesuai dengan

individu)

Diperkirakan teknologi tumbuh dan beradaptasi

bersama generasi Alpha. Mereka akan berubah, mereka

akan memodifikasi, mereka akan belajar tentang

interaksi yang terjadi untuk menciptakan pengalaman

yang dirancang lebih dahulu, disesuaikan,

diinformasikan dan pengalaman unik untuk anak.

e. Increased data collection will fuel privacy risks (peningkatan

pengumpulan data akan memicu resiko privasi)

Dalam sepuluh tahun kedepan kita akan melihat

lebih banyak aplikasi yang dapat digunakan dengan

mudah untuk mengukur dan merekan. Otang tua dapat

merekan suasana hari anak atau kegiatan sehari-hari.

Meskipun ini bisa dikendalikan. Dengan adanya aplikasi

pengumpul data jika digunakan secara tidak terduga

juga dapat menyebabkan orang tua lebih khawatir

tentang perkembangan anak mereka dan mendorong

pengasuhan yang berlebihan.

f. The need for technological literacy is greater than ever (akan

membutuhkan teknologi lebih besar daripada

sebelumnya)

Produk-produk teknologi dapat melanjutkan

tradisi mainan konstruksi seperti balok dan LEGO yang

mengajarkan anak-anak keterampilan fisik dan

pemecahan masalah yang penting serta mendidik

mereka tentang teknologi itu sendiri.

4. Karakteristik generasi Alpha
Generasi Alpha memiliki karakteristik khusu yang

menonjol diantaranya sebagai berikut:

278

1) Tidak akan banyak mengirim pesan teks atau
menggunakan email saat mereka dewasa

2) Lebih menggunakan alat audio/visual untuk
berkomunikasi

3) Sering memakai alat pendeteksi Kesehatan sepanjang
hari

4) Beragam budaya karena meningkatnya pemikiran antar
ras orang tua mereka

5) Kurang melekat pada sejarah keluarga
6) Percaya diri
7) Terdepan secara teknologi
8) Menjadi semakin urban
9) Cenderung dipengaruhi oleh raksasa teknologi seperti

facebook, google, amazom
10) Gamer yang bersemangat
11) Kurang berinteraksi dengan rekan-rekan mereka kecuali

melalui teknologi
12) Bersifat praktis dengan bantuan teknologi
13) Mungkin mampu mengatasu kecanduan teknologi di

awal kehidupan

5. Cara mendidik generasi Alpha
Cara mendidik anak generasi Alpha agar lebih

bijaksana dalam menggunakan perangkat digital dan media
siosial atau games menurut elizabrt adalah
a. Aplikasikan peraturan dasar
b. Pengaturan privasi dalam media sosial
c. Gunakan perangkat lunak yang dapat menyaring website

(filttering software)
d. Tidak memfasilitasi perangkat digital di dalam kamar

anak
e. Memperhatikan situs-situs yang sering dikunjungi
f. Monitor foto-foto yang di post oleh anak di media sosial
g. Mencontohkan perilaku teladan dalam menggunakan

media sosial
h. Batasi penggunaan telephon genggam

279

Cara mendidik dan mengawasi anak dalam dunia

digital sangat penting. Terdapat beberapa perinsip digital

parenting yang harus diketahui oleh orang tua bijak

menurut Yee-jin shin.

a. Prinsip 1 : yang terpenting bukan ―apa‖

jenisnya, melainkan ―kapan‖ perlu

memberikannya

b. Prinsip 2 : kualitas lebih penting daripada

kuantitas. Hal paling awal yang

dilakukan adalah menentukan peraturan

yang jelas tentang kapan ―waktu‖ yang

tepat.

c. Prinsip 3 : tentukan sanksi Ketika anak melanggar

janjinya

d. Prinsip 4 : jelaskan alasan ditetapkannya peraturan

e. Prinsip 5 : berbagilah pengalaman tentang

digital dengan anak

f. Prinsip 6 : libatkan seluruh anggota keluarga

g. Prinsip 7 : mintalah bantuan psikiater jika orang tua

tidak bisa mengatasi.

Generasi Alpha yang notabennya adalah generasi
yang tidak bisa lepas dengan teknologi dan internet
mengakibatkan orang tua harus ketat dalam mengontrol
anak-anaknya. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
menghindarkan anak dari perangkat digital menurut Nurul
yaitu:
a. Tunjukan wewenang sebagai orang tua
b. Berikan contoh yang baik
c. Pasang pengaman di computer atau televisi
d. Control ―password‖ internet
e. Letakkan computer dan televisi di ruang public
f. Buat aturan soal internet
g. Jangan berikan ponsel canggih
h. Damping saat menonton televisi atau menggunakan

internet.

280

C. Penutup
1. Simpulan
Anak merupakan kertas putih yang bersih dan suci.
Lukisan, gambar, maupun coretan yang ada di dalam kertas
tersebut. Terutama pada anak zaman sekarang. Anak
kelahiran 2011-2025 yang dalam teori generasi adalah
generasi Alpha. Generasi yang tidak lepas dari dunia
indernet. Peran orang tua menjadikan pembelajaran/
pengasuhan dirumah menjadi lebih baik dan terkomtrol.
Minimal orang mengetahui 7 perinsip yang harus dimiliki
agar anak menjadi optimal.
2. Saran
Generasi Alpha sebagai generasi yang baru dan angka
kelahirannya masih diambang standar. Jadikanlah prinsip-
prinsip yang ada untuk mendorong terjadinya pembelajaran
/pengasuhan yang baik.

281

DAFTAR PUSTAKA
Turk, Victoria. (2017). Understanding Generation Alpha. London:

conde Nast
Markmccrindle. (2018). The ABC of XYZ (understanding The Global

Generation). Australia: UNSW Press.
Chomaria, Nurul. (2013). 25 Perilaku Anak dan Solusinya. Jakarta:

PT Gramedia
Shin, Yee-jin. (2013). Mendidik Anak di Era Digital. Terjemahan Oleh

Adji Annisa. 2014.: Jakarta: PT Mizan Publika
Santosa, Elizabeth. (2015). Raising Children In Digital Era. Jakarta:

PT Gramedia
Turk, Victoria. (2017). Understanding Generation Alpha. London:

Conde Nast.

282

BAB 12
PERAN KELUARGA DAN MASYARAKAT
DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER YANG
BERKUALITAS PADA ANAK SEKOLAH

DASAR

Ofa Ch Pudin (20706261020)
[email protected] / [email protected]

Universitas Negeri Yogyakarta / STAI Al-Falah
Cicalengka Bandung

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam

segala aspeknya. Pendidikan merupakan suatu yang integral
dari kehidupan. Pendidikan berasal dari kata didik yang berarti
memelihara dan membentuk latihan, jadi pendidikan adalah
suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk
mengubah tingkah laku manusia secara individu maupun
kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Dewasa ini pemerintah mengalakan
pendidikan yang bercirikan agama, atau yang sering disebut
dengan pendidikan karakter. Pada dasarnya pendidikan
karakter merupakan pola pendidikan umum yang di dalamnya
ada muatan mata pelajaran bernuansakan agama. Yang dengan
cita-cita dapat membekali anak didik dengan ilmu pengetahuan
umum dan pengetahuan agama. Dengan pengetahuan umum
diharapkan anak didik mampu menghadapi kehidupan dunia,
dan dengan pendidikan agama diharapkan kehidupan anak
didik nantinya terarah, karena mempunyai tujuan yang pasti,
yaitu bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Untuk
mencapai kebahagiaan tersebut tentunya memerlukan
komponen yang teramat penting yaitu kesadaran diri akan
adanya pencipta dirinya dan pencipta alam semesta, yang akan
berdampak pada kesadaran kepada adanya sang khalik yaitu
yang disebut dengan Tuhan, dalam hal ini adalah Allah Swt.
Dan kesadaran dan keyakinan akan adanya tuhan itu disebut
dengan iman. Persoalan kita ialah bagaimana kita menanamkan

283

rasa iman, rasa cinta kepada Allah, rasa nikmat beribadah
(salat, puasa, dan lain-lain), rasa hormat pada kedua orang tua,
dan sebagainya.

Fenomena melorotnya akhlak generasi bangsa, termasuk
di dalamnya para elit bangsa, acapkali menjadi apologi bagi
sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap
institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena
pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar
yakni membentuk manusia utuh dengan akhlak mulia sebagai
salah satu indikator utama, generasi bangsa dengan karatekter
akhlak mulia merupakan salah satu profil yang diharapkan
dari praktek pendidikan nasional. Adanya kata-kata berakhlak
mulia dalam rumusan tujuan pendidikan nasional di atas
mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia mencita-citakan agar
akhlak mulia menjadi bagian dari karakter nasional. Hal
tersebut diharapkan dapat terwujud melalui proses pendidikan
nasional yang dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan.
Terlebih bangsa Indonesia dengan mayoritas muslim menjadi
daya dukung tersendiri bagi terwujudnya masyarakat dengan
akhlak yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Hal tersebut
dikarenakan akhlak menjadi bagian integral dari struktur
ajaran Islam (akidah, syariah dan akhlak). Terkait dengan
pendidikan berbasis karakter, Koesoema (2010: 135)
mengemukakan bahwa pendidikan karakter hanya akan
menjadi sekadar wacana jika tidak dipahami secara lebih utuh
dan menyeluruh dalam konteks pendidikan nasional kita.
Bahkan, pendidikan karakter yang dipahami secara parsial dan
tidak tepat sasaran justru malah bersifat kontraproduktif bagi
pembentukan karakter anak didik. Pendekatan parsial yang
tidak didasari pendekatan pedagogi yang kokoh alih-alih
menanamkan nilai-nilai keutamaan dalam diri anak, malah
menjerumuskan mereka pada perilaku kurang bermoral.

Lebih lanjut, Koesoema (2010: 2) memberikan formula
bahwa pendidikan karakter jika ingin efektif dan utuh harus
menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya. 1)
Desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis

284

pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai
pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah
proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran.
Relasi guru pembelajar bukan monolog, melainkan dialog
dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru
dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi.
Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan
yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di
dalamnya pula adalah ranah noninstruksional, seperti
manajemen kelas, konsensus kelas, dan lain-lain, yang
membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman. 2) Desain
pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini
mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk
karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah
agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa.
Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan
memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan
moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran
melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan
konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran. 3) Desain
pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik,
komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar
lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan
negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk
mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks
kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam
penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah
mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik
masyarakatnya untuk menjadi manusia yang tidak menghargai
makna tatanan sosial bersama.

B. Pembahasan
1. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter
Karakter ialah perilaku nilai-nilai manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang maha Esa, sesama
manusia, lingkungan, diri sendiri, dan kebangsaan yang
terwujud didalam adat istiadat, budaya, tata karma, hokum,
285

pemikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama. Lickona mengatakan
bahwa karakter pendidikan ialah suatu upaya yang
disengaja untuk membantu seseorang sehingga seseorang
tersebut dapat melakukan nilai-nilai etika yang inti,
memperhatikan dan memahaminya. Karakter pendidikan,
membutuhkan metode khusus yang tepat agar tujuan
pendidikan bisa tercapai, Diantaranya metode pembelajaran
yang sudah sesuai ialah metode pujian dan hukuman,
metode pembiasaan, dan metode keteladanan.

Karakter yang mutlak dibutuhkan bukan hanya di
lingkungan sekolah saja, tetapi di lingkungan sosial dan
juga di lingkungan rumah. Bahkan sekarang ini pesertanya
bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tapi juga meliputi
usia dewasa. Di zaman ini kita akan berhadapan dengan
persaingan termasuk rekan-rekan diberbagai belahan negara
di dunia. Bahkan kita pun yang masih berkarya di tahun ini
pasti akan merasa perasaan yang sama. Tuntutan dari
berbagai kualitas SDM pada tahun 2021 mendatang
tentunya akan membutuhkan karakter yang baik. Karakter
merupakan kunci dari salah satu keberhasilan individu.
Berdasarkan penelitian bahwa 80% keberhasilan untuk
seseorang di masyarakat ditentukan oleh (EQ). Karakter
pendidikan telah menjadi pusat perhatian di berbagai
belahan dunia dalam rangka menyiapkan generasi yang
baik, tidak hanya untuk kepentingan individu warga
negaranya saja tetapi untuk keseluruhan warga masyarakat.
Pendidikan karakter bisa diartikan sebagai usaha kita secara
sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah
untuk membentu karakter secara optimal. Pembentukan
ialah bagian dari pendidikan nilai melalui sekolah yang
merupakan usaha mulia yang mendesak harus dilakukan.
Ada 18 poin nilai-nilai karakter pendidikan: tanggungjawab,
Peduli sosial, Peduli lingkungan, Gemar membaca, Cinta
Damai, Bersahabat/Komunikatif, Menghargai prestasi,
Cinta tanah air, Semangat kebangsaan, Rasa ingin tahu,

286

Demokratis, Toleransi, Jujur, Disiplin, kreatif, Kerja keras,
Religius, Mandiri. Pembentukan karakter merupakan bagian
dari pendidikan nilai (values education) melalui sekolah
merupakan usaha mulia yang mendesak untuk dilakukan.
Bahkan, kalau kita berbicara tentang masa depan, sekolah
bertanggungjawab bukan hanya dalam mencetak peserta
didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,
tetapi juga dalam jati diri, karakter dan kepribadian. Dan hal
ini relevan dan kontekstual bukan hanya di negara-negara
yang tengah mengalami krisis watak seperti Indonesia,
tetapi juga bagi negara-negara maju sekalipun (Fraenkel
1977: 2).

Karakter pendidikan sekarang ini juga berarti
melakukan usaha yang sungguh-sungguh, sistematik dan
tentunya berkelanjutan untuk membangun dan menguatkan
kesadaran pada keyakinan semua orang di Indonesia bahwa
masa depan yang lebih baik akan hilang tanpa dibangunnya
dan dikuatkannya karakter rakyat Indonesia. Seperti halnya,
tidak aka nada masa depan yang lebih baik yang bisa
diwujudkan tanpa kegigihan, tanpa meningkatkan disiplin
diri, tanpa kejujuran, tanpa semangat belajar yang tinggi,
tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan,
tanpa mengembangkan rasa tanggungjawab, tanpa
semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, dan serta
tanpa optimisme. Untuk mendidik seseorang dalam aspek
kecerdasan otak bukan aspek moral adalah ancaman
marabahaya kepada masyarakat. Sekolah juga berperan
untuk membentuk karakter seorang anak.

Pendidikan karakter merupakan langkah sangat
penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri
bangsa dan menggalang pembentukan masyarakat
Indonesia baru. Tetapi penting untuk segara dikemukakan
sebagaimana terlihat dalam pernyataan Phillips bahwa
pendidikan karakter haruslah melibatkan semua pihak;
rumah tangga dan keluarga; sekolah; dan lingkungan
sekolah lebih luas (masyarakat). Karena itu, langkah

287

pertama yang harus dilakukan adalah menyambung
kembali hubungan dan educational networks yang nyaris
terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini.
Pembentukan watak dan pendidikan karakter tidak akan
berhasil selama antara ketiga lingkungan pendidikan tidak
ada kesinambungan dan harmonisasi.

2. Peran Keluarga
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara

keluarga, sekolah, masyarakat atau pemerintah. Sekolah
sebagai pembentuk kelanjutan pendidikan dalam keluarga,
sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak
adalah dalam keluarga.

Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang
sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW)
menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai
tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturan atau adab
ketika mereka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada
usia empat belas sampai dua puluh satu tahun jadikanlah
anak sebagai mitra orang tuanya. Ketika anak masuk ke
sekolah mengikuti pendidikan formal, dasar-dasar karakter
ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki watak yang
baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih
tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient,
emosional quotient dan spiritual quotient sudah terformat
dengan baik. Peran orang tua dalam mewujudkan
kepribadian anak antara lain:
a. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-

anaknya
b. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan

rumah dan menyiapkan ktenangan jiwa anak-anak.
c. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-

anak.
d. Mewujudkan kepercayaan.
e. Mengadakan kumpulan dan rapat keluarga (kedua orang

tua dan anak)

288

Selain itu kedua orang tua harus mengenalkan
mereka tentang masalah keyakinan, akhlak dan hukum-
hukum fikih serta kehidupan manusia. Yang paling penting
adalah bahwa ayah dan ibu adalah satu- satunya teladan
yang pertama bagi anak-anaknya dalam pembentukan
kepribadian, begitu juga anak yang secara tidak sadar
mereka akan terpengaruh, maka kedua orang tua di sisni
berperan sebagai teladan bagi mereka baik teladan pada
tataean teoritis maupun praktis.

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa lingkungan
rumah dan keluarga memiliki andil yang sangat besar
dalam pembentukan perilaku anak. Untuk itu pastilah ada
usaha yang harus dilakukan terutama oleh pihak-pihak
yang terkait didalamnya sehingga mereka akan memiliki
tanggung jawab dalam hal ini. Beberapa contoh kebiasaan
yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga: a)
Membiasakan anak bangun pagi, mengatur tempat tidur
dan berolahraga, b) Membiasakan anak mandi dan
berpakaian bersih, c) Membiasakan anak turut membantu
mengerjakan tugas– tugas rumah, d) Membiasakan anak
mengatur dan memelihara barang–barang yang dimilikinya,
e) Membiasakan dan mendampingi anak belajar/
mengulang pelajaran/ mengerjakan tugas sekolahnya, f)
Membiasakan anak pamit jika keluar rumah, g)
Membiasakan anak mengucap salam saat keluar dari dan
pulang ke rumah, h) Menerapkan pelaksanaan ibadah shalat
sendiri dan berjamaah, i) Mengadakan pengajian Alquran
dan ceramah agama dalam keluarga, j) Menerapkan
musyawarah dan mufakat dalam keluarga sehingga dalam
diri anak akan tumbuh jiwa demokratis, k) Membiasakan
anak bersikap sopan santun kepada orang tua dan tamu, l)
Membiasakan anak menyantuni anak yatim dan fakir
miskin.

Ada beberapa Kendala–kendala yang dihadapi dalam
keluarga, yaitu a) tidak ada/kurangnya keteladanan/contoh
penerapan yang diberikan oleh orang tua, b) Orang tua atau

289

salah satu anggota keluarga (orang dewasa) yang tidak
konsisten dalam melaksanakan usaha yang sedang
diterapkan, c) Kurang terpenuhinya kebutuhan anak dalam
keluarga, baik secara fisik maupun psikhis sebab ada
ungkapan yang menyatakan bahwa ‘kepatuhan anak
berbanding sama dengan kasih sayang yang diterimanya, d)
Tempat tinggal yang tidak menetap.

Rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan
pembentukan watak dan pendidikan karakter pertama
dan utama mestilah diberdayakan kembali. Sebagaimana
disarankan Phillips, keluarga hendaklah kembali menjadi
―school of love‖, sekolah untuk kasih sayang (Phillips 2000:
11). Dalam perspektif Islam, keluarga sebagai ―school of
love‖ dapat disebut sebagai ―madrasah mawaddah wa
rahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih
sayang. Islam memberikan perhatian yang sangat besar
kepada pembinaan keluarga (usrah). Keluarga merupakan
basis dari (ummah) bangsa; dan karena itu keadaan
keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri.
Bangsa terbaik (khayr ummah) yang merupakan (ummah
wahidah) bangsa yang satu dan (ummah wasath) bangsa
yang moderat, sebagaimana dicita-citakan Islam hanya
dapat terbentuk melalui keluarga yang dibangun dan
dikembangkan atas dasar mawaddah warahmah.

Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan Anas
r.a, keluarga yang baik memiliki empat ciri. Pertama;
keluarga yang memiliki semangat (ghirah) dan kecintaan
untuk mempelajari dan menghayati ajaran-ajaran agama
dengan sebaik-baiknya untuk kemudian mengamalkan dan
mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari- hari.
Kedua, keluarga di mana setiap anggotanya saling
menghormati dan menyayangi; saling asah dan asuh.
Ketiga, keluarga yang dari segi nafkah (konsumsi) tidak
berlebih-lebihan; tidak ngoyo atau tidak serakah dalam
usaha mendapatkan nafkah; sederhana atau tidak konsumtif
dalam pembelanjaan. Keempat, keluarga yang sadar akan

290

kelemahan dan kekurangannya; dan karena itu selalu
berusaha meningkatkan ilmu dan pengetahuan setiap
anggota keluarganya melalui proses belajar dan pendidikan
seumur hidup (life long learning), min al-mahdi ila al-lahdi.

a. Pembinaan karakter anak yang dilakukan oleh

keluarga

Secara etimologi pengasuhan berasal dari kata

―asuh‖ yang artinya, pemimpin, pengelola,

membimbing. Oleh kerena itu mengasuh disini adalah

mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan,

minum, pakaiannya dan keberhasilannya dari periode

awal hingga dewasa. Pada dasarnya, tugas dasar

perkembangan anak adalah mengembangkan

pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini

bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak

dalam perkembangannya adalah mempelajari ―aturan

main‖ segala aspek yang ada di dunia ini. Berbagai pola

asuh orang tua dapat mempengaruhi kreativitas anak

antara lain, lingkungan fisik, lingkungan sosial

pendidikan internal dan eksternal. Intensitas kebutuhan

anak untuk mendapatkan bantuan dari orang tua bagi

kepemilikan dan pengembangan dasar-dasar kreativitas

diri, menunjukan adanya kebutuhan internal yaitu

manakala anak masih membutuhkan banyak bantuan

dari orang tua untuk memiiliki dan mengembangkan

dasar- dasar kreativitas diri (berdasarkan naluri),

berdasarkan nalar dan berdasarkan kata hati. Dari hasil

penelitian bahwa bila orang tua berperan dalam

pendidikan, anak akan menunjukan peningkatan prestasi

belajar, diikuti dengan perbaikan sikap, stabilitas sosio-

emosional, kedisiplinan, serta aspirasi anak untuk belajar

sampai ke jenjang paling tinggi, bahkan akan membantu

anak ketika ia telah bekerja dan berkeluarga.

291

b. Keluarga sebagai wahana pertama dan utama

pendidikan
Para sosiologi meyakini bahwa keluarga memiliki

peran penting dalam menentukan kemajuan suatu
bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah
unit yang penting sekali dalam masyarakat. Oleh karena
itu para sosiolog yakin, segala macam kebobrokan
masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi
keluarga. Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat
pertama dan utama bagi pertumbuhan dan
perkembangnnya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB,
fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk
mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak,
mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar
dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan
baik, serta, memberikan kepuasan dan lingkungan yang
sehat guna tercapainya keluarga sejahtera‖. Keluarga
merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk
menjalankan fungsi departemen kesehatan, pendidikan
adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal untuk
mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk
menjadi yang terbaik, dan menguasai kemampuan-
kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi
lain untuk memperbaiki kegagalannya. Karena
kagagalan keluarga dalam membentuk karakter anak
akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang
berkarakter buruk atau tidak berkarakter. Oleh karena
itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa
karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan
karakter anak di rumah.

c. Pola asuh menentukan keberhasilan pendidikan anak
dalam keluarga
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-
nilai kebijakan pada anak sangat tergantung pada jenis
pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola
asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara

292

anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan
kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, serta norma-
norma yang berlaku di masyarakat.agar anak dapat
hidup selaras dengan lingkungannya. Beberapa macam
contoh pola asuh: 1) Pola asuh otoriter, yaitu mempunyai
ciri, kekuasan orang tua dominan, anak tidak diakui
sebagai pribadi, control terhadap tingkah laku anak
sangat ketat, orang tua menghukum anak jika tidak
patuh. 2) Pola asuh demokratis, kerjasama antara orang
tua- anak, anak diakui sebgai pribadi, ada bimbingan
dan penngarahan dari orang tua, control orang tua tidak
kaku. 3) Pola asuh permisif, mempunyai ciri, dominasi
oleh anak, sikap longgar atau kebebasan dari orang tua,
kontrol dan perhatian orang tua sangat kurang. Melalui
pola asuh yang dilakukan orang tua anak akan belajar
banyak hal, termasuk karakter. Artinya jenis pola asuh
yang ditetapkan orang tua terhadap anaknya
menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh
keluarga.

d. Kesalahan keluarga dalam mendidik anak
mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak
Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat
pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.
Beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak
dapat mempengaruhi kecerdasan emosi anak,
diantaranya adalah: a) Orang tua kurang menunjukan
ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik, b)
Kurang meluangkan waktu untuk anak, c) Orang tua
bersikap kasar secara verbal, misalnya, menyindir anak,
mengecilkan anak dan berkata kata kasar, d) Bersikap
kasar secara fisik, misalnya memukul, mencubit atau
memberikan hukuman badan lainnya, e) Orang tua
terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan
kognitif secara dini, f) Orang tua tidak menanamkan
karakter yang baik pada anak.

293

Dampak salah asuh diatas akan menimbulkan
anak yang mempunyai kepribadian yang bermasalah
atau kecedasan emosi yang rendah, seperti: a) Anak
menjadi tak acuh, tidak menerima persahabatan, rasa
tidak percaya pada orang lain dll, b) Secara emosionil
tidak responsif, c) Berprilaku agresif, d) Menjadi minder,
e) Selalu berpandangan negatif, f) Emosi tidak stabil, g)
Emosional dan intelektual tidak seimbang dan lain-lain.

3. Peran Masyarakat
Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah

pentingnya dalam upaya pembentukan karakter anak
bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan masyarakat
disini adalah orang yang lebih tua yang ― tidak dekat ―, ―
tidak dikenal ― ― tidak memiliki ikatan famili ― dengan anak
tetapi saat itu ada di lingkungan sang anak atau melihat
tingkah laku si anak. Orang-orang inilah yang dapat
memberikan contoh, mengajak, atau melarang anak dalam
melakukan suatau perbuatan. Contoh-contoh perilaku yang
dapat diterapkan oleh masyarakat:
a. Membiasakan gotong royong, misalnya: membersihkan

halaman rumah masing-masing, membersihkan saluran
air, menanami pekarangan rumah.
b. Membiasakan anak tidak membuang sampah dan
meludah di jalan, merusak atau mencoret-coret fasilitas
umum.
c. Menegur anak yang melakukan perbuatan yang tidak
baik. Kendala – kendala yang dihadapi dimasyarakat:
d. Tidak ada kepedulian
e. Tidak merasa bertanggung jawab
f. Menganggap perbuatan anak adalah hal yang sudah
biasa Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki
pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-
nilai estetika dan etika untuk pembentukan karakter.
Dari perspektif Islam, menurut Shihab (1996: 321), situasi
kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya,

294

mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat
secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan
mereka terbatas pada ―kini dan di sini‖, maka upaya dan
ambisinya terbatas pada kini dan di sini pula.

Peran serta Masyarakat (PSM) dalam pendidikan
memang sangat erat sekali berkait dengan pengubahan cara
pandang masyarakat terhadap pendidikan. ini tentu saja
bukan hal yang ,mudah untuk dilakukan. Akan tetapi
apabila tidak dimulai dan dilakukan dari sekarang, kapan
rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta
aktif masyarakat dengan tingkatan maksimal dapat
diperolah dunia pendidikan..
a. Norma-norma Sosial Budaya

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga
sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan
fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan
batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk
kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya. Masalah
pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa lepas dari
nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh
semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat,
dimanapun berada pasti punya karakteristik sendiri
sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang
berbeda dengan masyarakat yang lain. Norma-norma
yang terdapat di Masyarakat harus diikuti oleh
warganya dan norma-norma itu berpengaruh dalam
pembentukan kepribadian warganya dalam bertindak
dan bersikap. Dan norma- norma tersebut merupakan
aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada
generasi berikutnya. Penularan-penularan itu dilakukan
dengan sadar dan bertujuan, hal ini merupakan proses
dan peran pendidikan dalam masyarakat.
b. Jenis jenis peran serta masyarakat dalam pendidikan

Ada bermacam-macam tingkatan peran serta
masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Yang

295

biasa diklasifikasikan dalam, dimulai dari tingkat
terendah ke tingkat lebih tinggi, yaitu;1) Peran serta
dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis
ini adalah jenis tingkatan yang paling umum, pada
tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa
sekolah untuk pendidikan anak. 2) Peran serta secara
pasif, Artinya menyetujui dan menerima apa yang
diputuskan lembaga pendidikan lain, kemudian
menerima keputusan lembaga tersebut dan
mematuhinya. 3) Peran serta dengan memberikan
kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada jenis ini,
masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan
pembangunan fisik sarana dan prasaranan pendidikan
dengan menyumbangkan dana, barang atau tenaga. 4)
Peran serta dalam pelayanan. Masyarakat terlibat dalam
kegiatan belajar mengajar, misalnya membantu sekolah
dalam bidang studi tertentu. 5) Peran serta sebagai
pelaksana kegiatan yang didelegasikan misalnya, sekolah
meminta masyarakat untuk memberikan penyuluhan
pentingnya pendidikan, dan lain-lain. 6) Peran serta
dalam pengambilan keputusan. Masyarakat terlibat
dalam pembahasan masalah pendidikan anak, baik
akademis maupun non akademis. Dan ikut dalam proses
pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan
pendidikan.

C. Simpulan
Penguatan pendidikan moral ataupun pendidikan

karakter yang ada dalam konteks sekarang sangat relevan
untuk mengatasi krisis moral yang sudah melanda di negara
kita. Krisis tersebut berupa banyaknya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan terhadap anak-anak dan remaja,
pencurian remaja, kejahatan terhadap teman, kebiasaan
menyontek, pornografi, penyalahgunaan obat-obatan, dan
perusakan milik orang lain yang yelah menjadi masalah social

296

sehingga pada saat ini belum bisa diatasi secara tuntas. Oleh
karena itu betapa sangat pentingnya karakter pada pendidikan.

Para ahli pendidikan karakter melihat proses
internalisasi nilai dalam pembelajaran, termasuk internalisasi

pendidikan karakter di Madrasah pada dua pendekatan.
Pertama, Madrasah secara terstruktur mengembangkan
pendidikan karakter melalui kurikulum formal. Kedua,
pendidikan karakter berlangsung secara alamiah dan sukarela
melalui jalinan hubungan interpersonal antar warga madrasah,
meski hal ini tidak diatur secara langsung dalam kurikulum
formal. Pada beberapa madrasah yang memanfaatkan peluang-
peluang belajar di luar kelas sebagai wahana pengembangan
pendidikan, kegiatan ektrakuriluler muncul sebagai
keunggulan tersendiri yang pada giliranya melahirkan
kredibilitas tersendiri bagi lembaga. Tidak jarang kita dengar
alasan-alasan orang tua dalam memilih sekolah sebagai tempat

belajar anaknya atas dasar pertimbangan mereka terhadap
sejumlah kegiatan di luar kegiatan tatap muka di kelas. Dengan
demikian, kegiatan ektrakurikuler dapat dikembangkan dalam
beragam cara sebagai media pendidikan karakter.
Penyelenggaraan kegiatan yang memberikan kesempatan luas

kepada pihak madrasah, pada giliranya menuntut kepala
madrasah, guru, siswa dan pihak- pihak yang terkait untuk
secara efektif merancang sejumlah kegiatan sebagai muatan
kegiatan ektrakurikuler berbasis pendidikan karakter. Dengan

masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh
keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang
saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat
itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya
manusia terdidik yang bermutu.

297

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S.A. 2010. Character Education, Disajikan Pada Sarsehan
Nasional Pendidikan

Karakter. Dikti Kementerian Pendidikan Nasional di Hotel
Murcure Pontianak, Tanggal 17 April.

Aunurrahman. 2009. Eksistensi dan Arah pendidikan nilai. Pontianak:
STAIN Pontianak Press.

Azra, Azyumardi, 2003 (cetakan 2, 2006), Paradigma Baru
Pendidikan Nasional: Rekonstruksi

dan Demokratisasi. Jakarta: Penerbit Kompas.
Azra, Azyumardi, 1999. ―Membangun Kembali Karakter Bangsa:

Peran dan Tantangan Perguruan Tinggi‖, makalah
disampaikan pada Dies Natalis ke-50 Universitas Gadjah
Mada.
Azra, Azyumardi, 1999. ―Pembinaan pendidikan akhlak didik pada era
reformasi‖, pokok-
pokok pikiran untuk Seminar tentang Pendidikan Anak dalam
Indonesia Baru, Direktorat Pembinaan Pendidikan Islam
pada Sekolah Umum, Depag RI, Jakarta, 2 Nopember.
Ayu S. Sadewo. 2009. Mudahnya Mendidik Anak Beda Karakter dan
Bakat, Beda Perlakukan.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Aziz Hamka Abdul. 2011. Pendidikan Karater berpusat pada Hati.
Jakarta: Almawardi Prima
Bagir, Zainal Abidin dkk. 2005. Integrasi Ilmu dan Agama,
Interpretasi dan Aksi. Bandung:
Mizan Pustaka
Fraenkel, Jack R. 1977. How to Teach about Values: An Analytical
Approach, Englewood, NJ:
Prentice Hall.
Ibn Miskawaih. 1992. Filsafat Akhlak. Bandung: Mizan. Keosoema,
Doni. 2009. Pendidikan
Karakter. Jakarta: Grasindo
Keosoema, Doni 2007. Pendidikan Karakter, strategi mendidik anak di
zaman gobal. Jakarta:
Grasindo

298


Click to View FlipBook Version