The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ungautami, 2021-12-08 01:24:14

PERMASALAHAN, MODAL DASAR, DAN SOLUSI PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Keywords: #ebook #pendidikan #modaldasar #pendidikananak #pendidikankeluarga #pemberdayaanmasyarakat

sibuk dengan pekerjaannya. Kesibukan atau urusan lain
yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak
dengan baik. Anak hanya diberi materi atau harta saja
dan terserah anak itu mau tumbuh danberkembang
menjadi apa. Pola asuh ini dapat diterapkan dalam
pengasuhan anak-anak.Akibatnya anak tumbuh menjadi
seseorang yang berperilaku agresif dan anti sosial,
karena sejak awal ia tidak diajari untuk patuh pada
peraturan sosial. Dalam hal ini anak dianggap mampu
berfikir sendiri. Selain itu ketidak acuhan orang tua
mengembangkan emosi anak yang tidak stabil pada anak
memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak untuk
melakukan sesuatu sesuai kehendaknya tidak adanya
pengawasan, bahkan cenderung membiarkan anak tanpa
nasihat dan arahan (Ilahi, 2013:136)

D. Kewajiban Pengasuhan Anak Dalam Pandangan Hukum

Islam Dan Undang-Undang Di Indonesia

1. Kewajiban Pengasuhan Anak Menurut Hukum Islam

Setiap orang tua berkewajiban mendidik dan

mengasuh anak agar menjadi manusia shalih, berguna bagi

agama, nusa dan bangsa. Lebih khusus lagi membuat

kebahagiaan kedua orang tua, baik ketika masih didunia

maupun setelah diakhirat kelak. Bukankah Al-Qur‘an telah

memerintahkan: َ‫َذَدََيىَباَنأىََََمبىََسَََاَقانحََََََاأَجب‬ ََ‫َََ ََاان‬ ‫ََأي‬
َ‫َم ََأَ ََه‬ ََ ََ ‫ََق‬
‫َرا‬ ‫َمىَب‬ ‫َي َك‬ َ‫َيََب َمهَئ‬ ‫َك‬ ‫َس‬ َ‫َوف‬ ‫ي‬
َ‫َكت‬ ‫َه‬ ‫َع‬ َ‫َرة‬

‫ش َدا ˚د ََََلي َع ََص ََوَبنهََ َمبأَ َم َزََ َم ََيف ََ َعهَ ََوَ َمبي َؤ ََ َم َز‬
˚‫غ ََلظ‬
‫ََ َن‬

―Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah

dirimu dan keluargamu dari api neraka yang

bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang
keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa

yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS.
At-Tahrim:6). Maksud dari ayat tersebut adalah
Allah memerintahkan kepada orang-orang yang

beriman, dalam hal ini adalah orang tua agar
349

memelihara keluarganya dari api neraka dengan
350

mendidik dan memeliharanya agar menjadi orang
yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan
menjauhi larangan-larangannya. Anak termasuk
salah satu anggota keluarga. Maka wajib bagi
orang tua untuk mendidik dan memeliharanya.
Jadi terpeliharanya dari api neraka merupakan hak
anak yang wajib dilaksanakan oleh orang tuanya
(Ghazaly, 2006:183).Orang tua bertanggung jawab
dihadapan Allah terhadap pendidikan anak-
anaknya. Sebab merekalah generasi yang akan
memegang tongkat estafet perjuangan agama dan
khalifah dibumi. Oleh karena itu, bila pendidikan
terhadap anak-anak baik, maka berbahagialah
orang tua, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebaliknya, kalau orang tua mengabaikan
pendidikan terhadap anak-anaknya, maka akan
sengsara sejak di dunia hingga di akhirat nanti
(mahalli, 2007:532).

Pemeliharaan anak dalam bahasa Arab disebut
dengan istilah “hadhanah”. Hadhanah menurut bahasa berarti
―meletakkan sesuatu dekat tulang rusuk atau di pangkuan‖,
karena ibu waktu menyusukan anaknya meletakkan anak
itu di pangkuannya, seakan-akan ibu di saat itu melindungi
dan memelihara anaknya, sehingga hadhanah dijadikan
istilah yang maksudnya adalah pendidikan dan
pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai sanggup berdiri
sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak
itu. Dalam hadhanah terkandung pengertian pemeliharaan
jasmani dan rohani, di sampimg itu terkandung pula
pengertian pendidikan terhadap anak (Ghazaly, 2006).
Dalam istilah teknis sehari-hari, kata hadhanah atau al
hidhanah lazim digunakan untuk maksud pengasuhan dan
pengerjaan mengasuh anak. Pada prinsipnya hukum
merawat dan mendidik anak adalah kewajiban orang tua,
karena apabila anak yang masih kecil atau belum mumayyiz
tidak dirawat dan dididik dengan baik, maka akan berakibat
buruk pada diri dan masa depan mereka (Summa, 2005:100).

351

Para ulama sepakat bahwasanya hukum hadhanah,
mendidik dan merawat anak wajib. Tetapi mereka berbeda
dalam hal, apakah hadhanah ini menjadi hak orang tua
(terutama ibu) atau hak anak. Ulama mazhab Hanafi dan
Maliki misalnya berpendapat bahwa hak hadhanah itu
menjadi hak ibu sehingga ia dapat saja menggugurkan
haknya. Tetapi menurut jumhur ulama, hadhanah itu
menjadi hak bersama antara orang tua dan anak. Bahkan
menurut wahbah al-Zuhaily, hak hadhanah adalah hak
bersyarikat antara ibu, ayah dan anak. Hadhanah yang
dimaksud dalam hal ini adalah kewajiban orang tua untuk
memelihara dan mendidik anak mereka dengan sebaik-
baiknya. Pemeliharaan ini mencangkup masalah ekonomi,
pendidikan,dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan
pokok si anak (Ghazaly, 2006).

Pemeliharaan anak juga mengandung arti sebuah
tanggung jawab orang tua untuk mengawasi, memberikan
pelayanan yang semestinya sertamencukupi kebutuhan
hidup dari seorang anak oleh orang tua. Selanjutnya,
tanggung jawab pemeliharaan berupa pengawasan dan
pelayanan serta pencukupan nafkah anak tersebut bersifat
kontinu sampai anak tersebut mencapai batas umur yang
legal sebagai orang dewasa yang telah mampu berdiri
sendiri. Sedangkan yang dimaksud pendidikan adalah
kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan dan
pengajaran yang memungkinkan anak tersebut menjadi
manusia yang mempunyai kemampuan dan kecakapan
sesuai dengan pembawaan bakat anak tersebut yang akan
dikembangkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia
sebagai landasan hidup dan penghidupannya setelah ia
lepas dari tanggung jawab orang tua (Nuruddin Tarigan,
2014).

Kedua orang tua anak wajib menjaga sikap saling
mengerti dan penuh keharmonisan dan kecintaan. Dan
pemeliharaan anak menjadi tanggung jawab ayah tetapi
ayah seorang bayi itu wajib mengeluarkan nafkah untuk

352

ibunya dan memberikan pakaian tanpa disertai ucapan dan
sikap yang menyakitkan, tetapi dengan cara yang ma‟ruf,
atau pemberian yang disertai rasa cinta, saling menghormati
dan saling memahami. Antara ayah dan ibu diperlukan
adanya kerja sama untuk mendidik anak-ananya (Al-
Shabbagh, 1994:199). Keluarga yang kondusif bagi proses
pendidikan anak dalam Islam adalah keluarga sakinah.
Keluarga ini dicirikan dengan dua hal pokok yaitu:
1. Adanya kesetiaan dalam kasih sayang antara ayah, ibu

dan anak
2. Terciptanya sistem pembagian kerja yang adil antara

suami dan istri dengan melihat kebutuhan dan
kenyataan yang dihadapi.

Keluarga sakinah dibangun atas dasar prinsip
kesetaraan antara suami dan istri sehingga satu sama lain
saling mengisi dan menghargai. Dalam kondisi ini anak
mendapatkan kesempatan berkembang dengan baik tanpa
tekanan dan paksaan. Keluarga sakinah mendorong
perkembangan anak sesuai dengan potensi yang
dimilikinya, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.
Dalam banyak hal sang ayah dan ibu bisa mengambil
langsung mendidik anak dalam lingkungan keluarga.
Bimbingan akan etika anak dalam bersikap, bertindak, dan
berkomunikasi dapat dilakukan langsung oleh orang tua,
antara lain dengan memberikan contoh secara terus-
menerus dalam kehidupan sehari-hari. Adanya saling
pengertian antara ayah dan ibu adalah penting bagi proses
anak, sehingga satu sama lain tidak merasa dibebani tugas
yang berlebihan. Sinergi hubungan kedua orang tua itulah
yang menjadi kekuatan utama dalam keberhasilan anak
menjalani pendidikan dilingkungan keluarga.

Islam menuntut supaya para ibu dan bapak mendidik
anak-anaknya dengan pendidikan keagaman dan keluhuran
budi, serta kecerdasan akal otak. Untuk menjadikan mereka
orang yang berbakti dan berharga. Anak itu amanah Allah

353

yang harus dijaga keselamatan lahir dan batinnya.

Pendidikan yang harus diajarkan oleh para orang tua adalah

pendidikan yang berdasarkan dunia dan akhirat. yaitu

pendidikan yang berlandasan ajaran Islam yangmencakup

semua aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia. Untuk

membentuk manusia yang berahklak mulia (Ash Shiddieqy,

1952:388).

Salah satu dasar pentingnya peran orang tua dalam

mendidik anak adalah sabda Rasullulah Saw yang

menyatakan bahwa:

ََ‫ط َز َةفَأَب ََص َزاوَ ََأَ ََيَ َم ََج َسبو‬ ‫كهََ َم ََنَ ََ َدي ََ ََ َن َد َعهَىب نَ َف‬

َ‫ََاَيََ ََ ََ َداو‬
ََ ‫ََأَ ََي َه‬
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam),

maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi,

Nashrani atau Majusi. (H.R Al Aswad Ibnu sari).

Berdasarkan hadits ini jelas sekali bahwa anak

dilahirkan dalam keadan suci seperti kertas putih yang

belum terkena noda. Anak adalah karunia Allah yang tidak

dapat di nilai dengan apapun ia menjadi tempat curahan

kasih sayang orang tua. Ia akan berkembang sesuai dengan

pendidikan yang di peroleh dari kedua orang tuanya dan

juga lingkungan sekitar. Yang akan membentuk karakter

anak kelak adalah orang tuanya sendiri, akankah menjadi

baik atau pun menjadi buruk (Leter, 1985:221).

Pengaruh lingkungan keluarga terhadap

perkembangan anak sejak kecil hingga dewasa sangat

menentukan perkembangan kepribadian anak selanjutnya.

Hal ini disebabkan oleh:

a. Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama

yang didapat oleh anak

b. Pengaruh yang diterima oleh anak masih terbatas jumlah

dan luasnya.

c. Intensitas pengaruh itu tinggi karena berlangsung terus

menerus

d. Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman

dan bersifat untim dan bernada emosional (baharudin,

354

2007:225).
355

Terdapat berbagai cara mendidik anak muslim yang
baik, antara lain:
a. Jujur dalam bergaul dengan anak
b. Mendampingi anak dalam melakukan sesuatu hal
c. Melatih anak untuk beribadah
d. Mengajari anak tentang Al qur‘an dan hadits
e. Mengajari anak tentang etika dan moral

Seperti pesan Rasullullah saw yaitu ―ajarkanlah

kebaikan (moral dan etika) kepada anak anakmu (laki-laki

dan perempuan) dan keluargamu dan didiklah (memberi

kesempatan belajar mereka)‖.

Sungguh sangat berat beban yang ditanggung oleh

orang tua terhadap anak-anak mereka yang menjadi buah

hati pengarang jantung. Jika orang tua dapat memenuhi

segala yang diperlukan oleh pendidikannya, berbahagialah

mereka (para orang tua). Sebaliknya jika berlaku taksir

dalam persoalan pendidikan dan pengsuhannya, celakalah

mereka. Para orang tua hendaklah mendidik anaknya

dengan akhlakul karimah.

Sabda Nabi s.a.w
‫) راَبتزمذ ( مبوَ َحهَضهَ َم ىَبَ َدبَ َح َس َه‬

˚‫ََانَ د‬
َ‫ََن‬
‫َدََبَ َف‬

―Tiada seorang ayah memberi kepada anaknya
sesuatu pemberian yang lebih utama dari
memberikan adab (didikan) yang baik‖.(H.R.At
Turmudzi).(Ash-Shiddieqy, 1952:393).
Peran keluarga dalam mengasuh anak pengaruhnya

adalah memainkan peranan yang besar dalam memberikan

pengarahan dan membentuk pribadi anak. Sejauh mana

nilai-nilai pendidikan itu diberikan oleh orang tua kepada

anak, sejauh itulah anak terbentuk, tumbuh, berkembang,

serta menghadapi masyarakat dengansegala

permasalahnya.Sebagai orang tua untuk mengajarkan

tentang nilai-nilai agama, moral, pembentukan keluarga,

356

pendidikan anak, dan hubungan masyarakat. Di antara
nilai-nilai pendidikan yang terpenting dan harus
ditanamkan adalah kejujuran dan amanah. Peran ibu adalah

357

mampu menjadikan anak sebagai anggota yang
berpartisipasi secara positif dan mengajaran mengenai
tatanan nilai sosial. Kemudian peran ayah juga sangat besar
dalam menentukan kepribadian anak.

Kenyataan budaya ini sangat fleksibel, karena ajaran
Islam memang hanya menyediakan prinsip-prinsip
pengasuhan dan pendidikan anak secara umum. Prinsip
penting dalam kaitan ini adalah pandangan bahwa anak
adalah manusia yang sempurna sehingga ia harus diberikan
perhatian secara utuh dan penuh (Fuadudin, 1999:23-24).

2. Kewajiban Pengasuhan Anak dalam Undang-Undang di
Indonesia
Menurut Undang-undang perlindungan anak No. 23
tahun 2002, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya
atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau
keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah
sampai dengan derajat ketiga. Kemudian orang tua adalah
ayah dan atau ibu kandung, atau ayah dan ibu tiri, atau
ayah dan ibu angkat. Dan anak adalah seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang
masih dalam kandungan.
Untuk mengenai kewajiban dan tanggung jawab
orang tua terhadap anaknya dalam Undang-undang
perlindungan anak nomor 23 tahun 2002 ini tercantum
dalam bab IV pasal 26 yaitu:

3. Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak
b. Menumbuhkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat,
dan minatnya
c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak

358

Untuk itu sebagai orang tua dituntut untuk mengasuh
dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya untuk
membentuk kebribadian yang baik dan untuk membentuk
karakter anak kelak baik pula.
4. Dalam hal orang tua tidak ada (tidak diketahui
keberadanya) atau karena suatu sebab, tidak dapat
melaksanakan kewajibanya dan tanggung jawab
sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih
kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam hal ini hanya berlaku ketika orang tuanya
tidak ada, tetapi selama orang tua itu masih ada maka
kewajiban itu harus dilakukan oleh orang tu tersebut.

Kemudian dalam Undang-undang nomor 1 tahun
1974 tentang perkawinan bab X pasal 45 menyebutkan
mengenai hak dan kewajiban antara orang tua dan anak
yaitu:
a. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-

anak mereka sebaik-baiknya
b. Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1)

pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat
berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus menerus
meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Dalam bab ini menjelaskan bahwasanya kewajiban
orang tua terhadap harus dilakukan dengan sebaik-baiknya
sampai anak itu dapat berdiri sendiri meskipun kedua
orang tuanya ada yang bercerai.

Kemudian dalam Undang-undang nomor 4 tahun
1979 tentang kesejahteraan anak disebutkan pada bab 1
pasal 1 yaitu :
a. Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan

penghidupan yang dapat menjamin pertumbuhan dan
perkembanganya dengan wajar baik secara rohani,
jasmani, maupun sosial. Kesejahteraan itu harus

359

diciptakan atau diberikan terhadap anak meskipun
orang tua sibuk bekerja.
b. Usaha kesejahteraan anak adalah usaha kesejahteraan
sosial yang ditunjukan untuk menjamin terwujudnya
kesejahteraan anak terutama terpenuhinya kebutuhan
pokok anak.

Misalnya dengan memberikan kasih sayang dan
perhatian yang cukup kepada anak. Kemudian,
memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk anak.

Dalam Undang-undang ini merumuskan hak-hak
anak sebagai berikut:
1) Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan

dan bimbingan berdasarkan kasih sayang yang baik
dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus
untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
Dengan memberikan kasih sayang dan perhatian
yang cukup maka kesejahteraan dan ketentraman
anak akan tercipta.
2) Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan
kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan
kepribadian bangsa dan untukmenjadi warga negara
yang baik dan berguna. Orang tua diharapkan dapat
mengerti potensi-potensi yang dimiliki oleh sang
anak agar tidak salah dalam menentukan langkah
untuk anak.
3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan
dari pihak terkait, baik sesama dalam kandungan
maupun sesudah dilahirkan.
4) Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan
hidup yang dapat membahayakan atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangan yang wajar. Untuk
pemenuhan hak anak ini harus diberikan dari orang
tua dan orang-orang disekitarnya. Sebagai orang tua
untuk mengawasi semua yang dilakukan anak
supaya tidak membahayakan.

360

Dari penjelasan uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya telah diatur
dengan jelas. Untuk itu orang tua harus menjalankan
kewajiban-kewajiban dalam rangka pemenuhan hak anak
dan untuk perkembangan sang anak yang lebih baik. Dan
para pengasuh yang menjadi mengasuh anak diharapkan
juga dapat mengasuh dam membimbing anak dengan sebaik-
baiknya. Apabila anak hanya diberikan pengawasan dan
pengetahuan yang kurang maka akan mempengaruhi
kepribadian kehidupan sang anak. Ayah dan ibu
berkewajiban mempersiapkan tubuh, jiwa dan sifat anak-
anaknya untuk sanggup menghadapi pergaulan
masyarakat. Memang memberikan ajaran yang sempurna
kepada anak itulah tugas yang terbesar bagi orang tua.
Kewajiban itu diberikan di pundaknya oleh agama dan
hukum masyarakat. Untuk itu seseorang yang tidak
maumemperhatikan pendidikan anak, dianggap orang yang
menghianati amanah Allah dan etika sosial (Al Ashee,
2004:99).

E. Solusi
1. Alternatif Solusi Tempat Pentitipan Anak sebagai solusi
Berdasarkan hasil analisis deskriptif taman penitipan
anak (TPA) merupakan wahana yang digunakan orangtua
sebagai sarana pengganti dalam mengasuh dan merawat
anak selama bekerja. Hal ini dijelaskan oleh Hidayah (2008)
dalam penelitiannya bahwa peran dari taman penitipan
anak antara lain sebagai pengganti peran orangtua
sementara waktu karena kehadiran taman penitipan adalah
untuk menjawab ketidakmampuan keluarga di dalam
pengasuhan anak sebagai akibat dari kesibukan di dalam
bekerja. Sosialisasi diberikan pada anak disertai dengan
pendidikan pra-sekolah, asuhan, perawatan dan
pemeliharaan sosial.selanjutnya taman penitipan anak
merupakan sumber informasi, komunikasi dan konsultasi di
bidang kesejahteraan pra-sekolah.

361

Direktorat pendidikan anak usia dini mengatakan
taman penitipan anak (TPA) atau day care merupakan salah
satu bentuk PAUD pada jalur nonfomal sebagai wahana
kesejahteraan yang berfungsi sebagai pengganti keluarga
untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orangtuanya
bekerja. Taman penitipan anak (TPA) menyelenggarakan
program pendidikan dan pengasuhan serta kesejahteraan
sosial terhadap anak sejak lahir sampai usia sekolah
(Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Taman Penitipan Anak,
2011).

Patmonodewo (2003) mengatakan bahwa taman
penitipan anak merupakan sarana pengasuhan anak dalam
kelompok, biasanya dilaksanakan pada saat kerja. Taman
penitipan anak merupakan upaya yang terorganisasi untuk
mengasuh anak-anak di luar rumah selama beberapa jam
dalam satu hari selama orangtua bekerja atau memiliki
kesibukan yang lain.

Merujuk pada petunjuk teknis penyelenggaraan
taman penitipan anak, Kementerian Pendidikan Nasional
(2011) mengemukakan tujuan dari layanan taman penitipan
anak (TPA) diantaranya (1) memberikan layanan kepada
anak usia 0-6 tahun yang terpaksa ditinggal orangtua karena
pekerjaan atau halangan lainnya, (2) memberikan layanan
yang terkait dengan pemenuhan hak-hak anak untuk
tumbuh dan berkembang, mendapatkan perlindungan dan
kasih sayang, serta hak untuk berpartisipasi dalam
lingkungan sosialnya. Dengan demikian, taman penitipan
anak dapat dijadikan sebagai upaya preventif dalam
menghadapi kekhawatiran keterlantaran melaluiasuhan,
perawatan, pendidikan, dan bimbingan bagi anak yang
ditinggalkan oleh orangtua selama bekerja.

Dengan menitipkan anak di taman penitipan anak,
orangtua akan lebih memiliki waktu untuk melakukan
kegiatan keseharian/bekerja dengan perasaan yang aman,
bahwa anak-anak tetap ada yang mengasuh, menjaga, dan
merawat. Di taman penitipan anak pula anak-anak dapat

362

bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya,
ataupun dengan yang beragam usia, sehingga dapat
meningkatkan tingkat interaksi anak secara sosial (Rizkita,
2017). Anak-anak yang dititipkan di taman penitipan anak
berkualitas memiliki kemampuan kognitif dan bahasa yang
lebih baik. Di taman penitipan anak, anak mendapat
kesempatan yang lebih luas untuk bersosialisasi dengan
anak-anak lain seusianya dibandingkan ketika tinggal di
rumah, sehingga lebih berkembang berbagai pengalaman
dan pemikiran anak (Gibson, 2004). Dengan adanya TPA
tentu diharapkan dapat membantu orangtua untuk tetap
mengembangkan potensi maupun mengoptimalkan tugas
perkembangan anaknya.

Sudaryanti (2012) mengatakan bahwa anak usia dini
memiliki perkembangan fisik, motorik, intelektual, dan
sosial yang sangat pesat dan menjadi landasan awal bagi
tumbuh dan kembang anak. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya masa pertumbuhan dan perkembangan anak
usia dini yang tentunya membutuhkan stimulasi yang baik
dari lingkungan di sekitarnya. Maka dari itu, apabila masa
usia dini anak tidak diberikan pengasuhan yang baik, maka
dimungkinkan akan terjadi permasalahan pada
perkembangan anak di masa mendatang. Kamtini (2015)
menambahkan bahwa pemberian rangsangan pada anak di
TPA ditujukan untuk mengembangkan seluruh aspek
perkembangan anak sesuai dengan standar ketercapaian
perkembangan anak usia dini, dengan tidak
mengesampingkan penanaman nilai-nilai agar terbentuknya
karakter pada anak.

Di taman penitipan anak, anak diajarkan hal-hal yang
bisa merangsang perkembangan potensinya. Baik dari segi
kognitif, afektif maupun psikomotor. Biasanya proses
stimulus diawali dari aspek motorik baik motorik halus
maupun kasar. Supsiolani, Puspitawati, dan Hasanah (2015)
dalam penelitiannya mengatakan bahwa tenaga pengajar di
taman penitipan anak mayoritas mempunyai latarbelakang

363

pendidikan yang mumpuni sehingga diharapkan
perkembangan dan pertumbuhan anak bisa lebih optimal
melalui. Dalam hal ini TPA merupakan solusi terbaik bagi
ibu yang bekerja dengan harapan anak-anak memperoleh
pendidikan yang baik.

Patmonodewo (2003) mengataan bahwa pada saat
orangua menitipkan anak di TPA memiliki kelebihan
diantaranya yaitu, (1) anak-anak akan memiliki ruang
bermain (baik di dalam maupun di luar ruang) yang relatif
lebih luas bila dibandingkan rumah mereka sendiri; (2)
anak-anak lebih memiliki kesempatan berinteraksi atau
berhubungan dengan teman sebaya yang akan membantu
perkembangan kerjasama dan keterampilan berbahasa; dan
(3) para orang tua dari anakanak mempunyai kesempatan
saling berinteraksi dengan staf TPA yang memungkinkan
terjadi peningkatan keterampilan dan pengetahuan dan tata
cara pengasuhan anak, dan sebagainya. Kamtini (2015) juga
menjelaskan bahwa kebutuhan akan keberadaan TPA dapat
membantu orang tua membentuk kepribadian, penanaman
nilai–nilai agama, norma, budi pekerti, karakter, kecerdasan,
toleransi, etika, dan estetika dalam diri anak.

Kebanyakan orangtua menitipkan anaknya juga
karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Selain itu,
orangtua akan lebih merasa nyaman dan aman menitipkan
anaknya di taman penitipan anak, karena bila di TPA anak
selain diasuh dan dijaga, juga diberikan pendidikan. Di TPA
anak juga dapat menemukan lingkungan dan teman baru
sebayanya sehingga anak lebih mampu memahami dan
berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Kamtini (2015)
dalam penelitiannya membuktikan bahwa peranan taman
penitipan anak sangat dibutuhkan bagi orangtua karena
dapat membentuk kepribadian, penanaman nilai–nilai
agama, norma, budi pekerti, karakter, kecerdasan, toleransi,
etika, dan estetika dalam diri anak.

Taman penitipan memiliki banyak manfaat jangka
panjang untuk perkembangan anak. Hal ini didukung oleh

364

hasil temuan Hiilamo, Haataja, dan Merikukka (2015) dalam
penelitiannya yang berjudul ―Children who do not attend
day care: What are the implications for educational
outcomes?‖. Hasil penelitian menunjukkan adanya
perbedaan antara anak yang dititipkan di taman penitipan
anak dan anak yang hanya di rumah.

2. Jelaskan Konsep, Teoritis Dan Konsepnya Taman

Penitipan Anak (TPA)

a. Pengertian Taman Penitipan Anak (TPA)

Tempat Penitipan Anak (TPA) merupakan salah

satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang

secara tegas diamanatkan oleh Undang-undang No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam

UU tersebut dijelaskan bahwa PAUD adalah ―suatu

upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir

sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui

pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu

pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak

memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih

lanjut”. Dalam pelaksanaannya PAUD dapat

dilaksanakan melalui jalur formal maupun jalur

nonformal. Jalur formal antara lain melalui Taman

Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Anfal (RA) sedangkan

jalur nonformal dapat berbentuk Taman Penitipan Anak

(TPA), Kelompok Bermain (Kober) dan bentuk lainnya

yang sederajat.

Khususnya mengenai TPA menurut modul

Pendidikan Anak Usia Dini yang dikeluarkan oleh

Direktorat PAUD, yang dimaksud dengan TPA adalah

salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan

nonformal sebagai wahana kesejahteraan yang berfungsi

sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu

bagi anak yang orang tuanya bekerja. TPA merupakan

layanan PAUD yang menyelenggaran pendidikan

sekaligus pengasuhan terhadap anak sejak lahir sampai

dengan usia enam tahun (dengan prioritas anak usia di

bawah 4 tahun).

365

Dengan demikian, TPA merupakan salah satu
bentuk layanan PAUD yang berusaha mengabungkan
dua tujuan, yaitu tujuan pengasuhan karena orang tua
anak bekerja serta tujuan pendidikan melalui program-
program pendidikan anak usia dini. Dalam hal ini TPA
merupakan solusi terbaik bagi orang tua yang keduanya
bekerja yang diharapkan anak-anak mereka aman dan
memperoleh pendidikan yang baik.

Oleh karena itu, dasar filsafat pendidikan di TPA
dapat dirumuskan menjadi: Tempa, Asah, Asih dan
Asuh.
1) Tempa

Tempa adalah upaya mewujudkan kualitas
fisik anak usia dini melalui upaya pemeliharaan
kesehatan, peningkatan mutu gizi, olahraga secara
teratur dan terukur, serta aktivitas jasmani sehingga
anak memiliki fisik yang kuat, lincah, daya tahan dan
disiplin tinggi.
2) Asah

Asah berarti memberi dukungan kepada anak
untuk dapat belajar melalui bermain agar memiliki
pengalaman yang berguna dalam mengembangkan
seluruh potensinya. Kegiatan bermain yang
bermakna, menarik dan merangsang imajinasi,
kreativitas anak untuk melakukan, mengekplorasi,
memanipulasi, dan menemukan inovasi sesuai
dengan minat dan gaya belajar anak.
3) Asih

Asih merupakan pemenuhan kebutuhan anak
untuk mendapatkan perlindungan dari pengaruh
yang dapat merugikan pertumbuhan dan
perkembangan anak, misalnya dari perlakuan kasar,
penganiayaan fisik dan mental dan eksploitasi.
4) Asuh

Asuh merupakan proses pembiasaan yang
dilakukan secara konsisten untuk membentuk

366

perilaku dan kualitas kepribadian dan jatidiri anak
dalam hal:
a) Integritas, iman dan taqwa
b) Patriotisme, nasionalisme dan kepeloporan
c) Rasa tanggung jawab, jiwa ksatria, dan sportivitas
d) Jiwa kebersamaan, demokratis, dan tahan uji
e) Jiwa tanggap, daya kritis dan idealisme
f) Optimis dan keberanian mengambil resiko
g) Jiwa kewirausahaan, kreatif dan profesional.

F. Kelembagaan TPA
Seperti diuraikan di atas bahwa TPA merupakan salah

satu bentuk PAUD nonformal dengan fungsi ganda, yaitu
layanan pengasuhan dan layanan pendidikan. Pengertian
PAUD nonformal adalah kelembagaan PAUD yang tidak
diformalkan. Organisasi maupun kurikulumnya lebih bersifat
fleksibel sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Hal
itu, menurut M. Solehhudin (1997:56) bahwa pendidikan
prasekolah (sekarang dikenal dengan PAUD) memiliki
karakteristik dan cara belajar tersendiri, program
pendidikannya tampak tidak terstruktur, bersifat informal, dan
bahkan kelihatan solah-olah ‖tidak terencana‖.

Namun sesungguhnya, karakteristik di atas hanya salah
satu wujud dari pendekatan pendidikan anak usia dini yang
disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Sekarang ini,
seiring perkembangan, jalur PAUD nonformal pun dewasa ini
telah memiliki organisasi dan kurikulum yang lebih baik,
sehingga mampu mencapai tujuan-tujuannya, baik tujuan
kelembagaannya maupun tujuan pendidikan nasional itu
sendiri.

Adapun prosedur perizinan kelembagaan TPA , adalah
sebagai berikut:
1. Setiap lembaga TPA berkewajiban untuk mendaftarkan

lembaganya ke Dinas Pendidikan c.q Bidang Pendidikan
Non-Formal di wilayahnya. TPA yang sudah terdaftar dpat
memberikan layanan kepada anak-anak sesuai ketentuan.

367

2. Lembaga TPA yang telah memenuhi persyaratan
sebagaimana yang ditentukan dalam buku pedoman ini
dapat mengajukan diri untuk memperoleh izin operasional.
Izin operasional diatur oleh daerah setempat.

3. Lembaga TPA yang telah memiliki program yang permanen
dan pendidikan yang sesuai dengan ketentuan dalam
Standar PAUD, berhak mengajukan akreditasi lembaga
PAUD Non-Formal.

Administrasi yang harus dilengkapi, mencakup:
1. Administrasi kelembagaan:

a. Visi, misi, dan tujuan lembaga yang disusun oleh
Pengelola dan Pemilik Yayasan;

b. Struktur Kepengurusan;
c. Surat-surat berharga: Izin Pendirian dari Pejabat yang

Berwenang, Akta Kepemilikian/Akta Kerjasama/Izin
Penggunaan Bangunan, Izin Oparsional, dsb
2. Administrasi ketenagaan, mencakup:
a. Data tenaga pendidik: nama, tempat/tanggal lahir, jenis
kelamin, pendidikan, mulai bertugas, bertugas di
kelompok apa, dan pelatihan yang diterima;
b. Data pengelola: Nama, tempat/tanggal lahir, jenis
kelamin, pendidikan,mulai bertugas, dan pelatihan yang
diterima;
c. Data tenaga administrasi: nama, tempat/tanggal lahir,
jenis kelamin, pendidikan, mulai bertugas, dan pelatihan
yang diterima;
d. Data petugas lainnya bila ada.
3. Administrasi Anak, meliputi:
a. Buku induk:nama anak, tempat dan tanggal lahir, anak
ke berapa, nama orang tua, pekerjaan orang tua, tanggal
masuk;
b. Buku catatan perkembangan anak/buku raport.
4. Administrasi Keuangan, mencakup:
a. Buku kas/bank;
b. Buku Pengeluaran dan Penerimaan;

368

c. Kartu Pembayaran/iuaran dari peserta didik;
d. Buku inventaris barang;
e. Buku untuk kearsipan lainnya.
5. Administrasi Program, meliputi:
a. Rencana kegiatan semester, bulanan, harian;
b. Formulir pendaftaran calon peserta didik;
c. Buku komunikasi/penghubung antara pendidik dan

orangtua;
d. Jadwal kegiatan bermain;
e. Pernyataan orangtua;
f. Buku daftar hadir untuk anak;
g. Buku daftar hadir untuk pendidik dan pengasuh;
h. Buku tamu; dan
i. Buku agenda kegiatan.

G. Mekanisme

1. Dasar Hukum TPA
Penyelenggaraan program PAUD di Indonesia

mengacu pada aturan dan kebijakan yang dikeluarkan
pemerintah sebagai berikut.
a. UUD 1945
b. UU. No. 4 Tahun 1974 mengenai Kesejahteraan Anak
c. UU. No. 23 Tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak
d. UU. No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan

Nasional.
e. PP. No. 19 Tahun 2005 mengenai Standar Pendidikan

Nasional
f. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 7 Tahun 2005

mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Tahun 2004-2009.
g. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13
Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat
Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Departemen
Pendidikan Nasional.
h. Peraturan menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan
Anak Usia Dini

369

i. Rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2005-2009. (M. Hariwijaya dan Bertiani ES,
2007:20-21).

Selain itu pada tahun 2009 diterbitkan Peratutan
Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 58 tahun
2009 tentang Standar pendidikan Anak Usia Dini, yang
menetapkan beberapa standar PAUD sebagaima tertuang
dalam pasal 1 ayat (1) Permendiknas tersebut, yaitu:
a. Standar tingkat pencapaian perkembangan
b. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
c. Standar isi, proses, dan penilaian; dan
d. Standar sarana dan prasarana, pengelolaan dan

pembiayaan.

2. Tujuan TPA
Tujuan layanan TPA adalah:
a. Memberikan layanan pembelajaran dan pengasuhan
kepada anak-anak usia 0-4 tahun yang terpaksan
ditinggal orang tuanya karena bekerja atau halangan
lainnya.
b. Memberikan layanan yang terkait dengan pemenuhan
hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang,
mendapatkan perlindungan dan kasih sayang, serta hak
berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya.

3. Kurikulum TPA
Dalam hal prinsip-prinsip pengembangan kurikulum

TPA mengacu pada kurikulum PAUD secara umum.
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, menetapkan
beberapa prinsip pengembangan kurikulum TPA meliputi:
a. Bersifat komprehensif, artinya kurikulum harus

menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan
perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai
aspek perkembangan.

370

b. Didasarkan pada perkembangan secara bertahap,
sehingga proses pembelajaran harus dilakukan secara
bertahap sesuai dengan usia anak dan tahapan
perkembangan anak.

c. Melibatkan orang tua sebagai pendidik utama, sehingga
peran orang tua dalam menyusun rancangan kegiatan
pembelajaran harus ditingkatkan agar tujuan PAUD
lebih terarah dan tepat sasaran.

d. Melayani kebutuhan anak, yakni mampu
mengembangkan kemampuan, kebutuhan, minat,
potensi setiap anak.

e. Merefleksikan kebutuhan dan nilai-nilai yang dalam
masyarakat

f. Mengembangkan standar kompetensi anak sebagai
upaya menyiapkan lingkungan belajar anak.

g. Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus, sehingga
semboyan pendidikan untuk semua dapat dilaksanakan.

h. Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat
i. Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak,

khususnya di lingkungan sekolah.
j. Menjabarkan prosedur pengelolaan lembaga yang

diungkapkan kepada masyarakat sebagai bentuk
akuntabilitas.
k. Manajemen sumber daya manusia yang terlibat dalam
lembaga pendidikan anak usia dini.
l. Penyediaan sarana dan prasarana yang optimal dan
mampu menunjang proses pembelajaran.

4. Komponen Kurikulum TPA
a. Peserta didik
Sasaran pendidikan anak usia dini khususnya TPA
adalah anak yang berada di sekurang-kurangnya berusia
3 bulan sampai 6 tahun, dengan prioritas anak yang
kedua orang tuanya bekerja.

371

b. Pendidik
1) Guru
Kompetensi pendidik PAUD adalah sekurang-
kurangnya memiliki kualifikasi akademik Diplomas
Empat (D-IV) atau Sarjana (S-1) di bidang pendidikan
usia dini, psikologi atau lainnya; dan memiliki
sertifikat profesi guru PAUD. Kompetensi yang harus
dimilikinya adalah memiliki kompetensi kepribadian,
profesional, pedagogik dan sosial.
Adapun kewajiban guru adalah:
a) Menjadi teladan bagi pembentukan karakter anak
b) Mengembangkan rencana pembelajaran sesuai
dengan tahap perkembangan anak
c) Mengelola kegiatan bermain untuk anak sesuai
dengan tahapan perkembangan anak dan minat
anak
d) Melaksanakan penilaian sesuai dengan
kemampuan yang dicapai anak.

2) Guru Pendamping
Kompetensi pendidik PAUD adalah sekurang-

kurangnya memiliki kualifikasi akademik Diplomas II
PGTK atau SMA yang telah mendapat pelatihan
PAUD. Kompetensi yang harus dimilikinya adalah
memiliki kompetensi kepribadian, profesional,
pedagogik dan sosial. Adapun kewajiban guru
pendamping adalah membantu guru pendidikan
dalam melaksanakan tugas-tugasnya di atas.

3) Pengasuh
Kualifikasinya adalah minimal lulusan SMA

sederrajat, sedangkan kompetensinya adalah:
memahami dasar pengasuhan, terampil
melaksanakan pengasuhan dan bersikap dan
berperilkau sesuai dengan kebutuhan psikologis
anak.

372

Adapun kewajiban pengasuh adalah:
a) Membantu guru dan guru pendamping sesuai

keperluannya
b) Melakukan perawatan kebersihan anak
c) Merawat kebersihan fasilitas yang digunakan anak
d) Bersikap dan berperilaku sesuai kebutuhan

psikologis anak.

4) Pengelola

Pengelola TPA minimal mempunyai kualifikasi

lulusan SMA dan mempunyai sertifikat pelatihan

PAUD, serta telah berpengalaman menjadi guru

PAUD minimal selama 2 tahun. Kompetensi yang

harus dimiliki sama dengan kompetensi pendidikan

TPA, serta kewajibannya adalah:

a) Mengelola Rencana Anggaran Belanja Lembaga

b) Mengelola dan mengembangkan lembaga dalam

pelayanan pendidikan, pengasuhan dan

perlindungan

c) Mengkoordinasikan pendidik dalam

melaksanakan tugas di lembaganya

d) Mengelola sarana dan prasarana yang dimiliki

lembaga

e) Menjalin kerjasama dengan lembaga lainnya.

5) Ruang Lingkup Kurikulum
Kurikulum TPA mencakup seluruh aspek

perkembangan anak, yakni:
a) Nilai agama dan moral
b) Fisik, motorik kasar, motorik halus dan kesehatan

fisik
c) Kognitif: pengetahuan umum dan sains, konsep

bentuk, warna, ukuran dan pola, konsep bilangan,
lambang bilangan dan huruf
d) Bahasa: bahasa yang diterima dan didengar,
bahasa untuk mengungkapkan hasil
fikiran/perasaan, dan keaksaraan.

373

e) Sosial emosional.
Kurikulum yang digunakan adalah

kurikulum menu generik atau acuan lainnya yang
sesuai.

6) Pengelolaan Kegiatan Layanan
a) Pengelompokan Peserta
Kegiatan pengasuhan dan bermain di TPA
dilakukan dengan cara dikelompokan berdasarkan
usia, sebagai berikut:
(1) Kelompok usia 3 bulan - < 2 tahun
(2) Kelompok usia 2 tahun - < 4 tahun
(3) Kelompok usia 4 tahun - < 6 tahun

b) Jumlah dalam Kelompok
Jumlah anak dalam kelompok di lembaga

TPA disesuaikan dengan kemampuan lembaga
dengan memperhatikan jumlah guru/pendamping
/pengasuh yang tersedia dan luas ruangan yang
dimilikinya.

c) Alokasi Waktu Layanan
Waktu layanan TPA disesuaikan dengan

kebutuhan lapangan, dengan alokasi sebagai
berikut:
(1) TPA full Day: 6-8 jam per hari, minimal 3 kali

dalam seminggu
(2) TPA setengah hari: 4-5 jam per hari, minimal 3

kali dalam seminggu
(3) TPA non reguler: 1-3 jam per hari

7) Kegiatan Pembelajaran Harian
Kegiatan anak di TPA dapat diatur sebagai berikut:
a) Kegiatan penyambutan
b) Kegiatan ini merupakan transisi anak dari rumah
untuk melakukan kegiatan pembelajaran di TPA
c) Kegiatan anak bermian bebas

374

d) Kegiatan anak di sentra bermain

Kegiatan ini dilakukan bersama pendidik yang

mencakup :

a) Penataan lingkungan bermain

b) Pijakan sebelum bermain

c) Pijakan selama bermain

d) Pijakan seusah bermain atau mengingat kembali

setelah bermain (recalling) dan

mebereskan/merapikan kembali

e) Makan bersama

f) Tidur siang/istirahat

g) Mandi sebelum pulang ke rumah

h) Kegiatan untuk menyerahkan anak kepada orang

tua

8) Contoh Jadwal di TPA
08.00 anak datang
09.00 main di luar (pengalaman gerakan kasar)
09.40 transisi (toilet training)
10.00 kegiatan di sentra
12.00 makan bersama
12.30 transisi
12.40 persiapan tidur siang
15.00 mandi
15.30 bermain bebas
16.00 pulang

9) Layanan Kesehatan dan Gizi

a) Layanan Kesehatan
(1) Layanan kesehatan di TPA dilakukan secara
langsung dan tidak langsung
(2) Layanan kesehatan langsung berupa
pemeriksaan kesehatan anak yang dilakukan
oleh tenaga medis secara berkala misalnya
pemeriksaan gigi, pemberian vitamin A,
penimbangan, imunisasi dan penanganan
375

darurat. Untuk kegiatan ini lembaga TPA dapat
bekerja sama dengan Posyandu atau
Puskesmas terdekat.

Layanan kesehatan tidak langsung berupa
pemeliharaan kebersihan lingkungan dan alat
main, pengatuan cahaya dan ventilasi,
ketersediaan air bersih untuk kegiatan bermain
ataupun untuk toileting, pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular, penyehatan
lingkungan, dsb.

b) Layanan Gizi
(1) Layanan gizi dilakukan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang
bagi anak di TPA
(2) layanan gizi dilakukan melalui pemberian
makanan yang sehat dan bergizi tinggi, dengan
memperhatikan variasi makanan, catatan
kebutuhan dan sensitivitas jenis makanan
untuk setiap anak.
(3) sangat dianjurkan bagi para pengelola TPA
untuk mengkonsulasikan menu gizi seimbang
dengan petugas kesehatan gizi terdekat.

5. Kelebihanan dan kelemahan Taman PenitipanAnak
Menurut Newman (1975) keuntungan TPA, adalah:

Lingkungan lebih memberikan rangsangan terhadap panca
indera, Anak-anak akan memiliki ruang bermain (baik di
dalam maupun diluar ruang) yang relatif lebih luas bila
dibandingkan ruang mereka sendiri, Anak-anak lebih
memiliki kesempatan berinteraksi atau berhubungan
dengan teman sebaya yang akan membantu perkembangan
kerja sama dan ketrampilan berbahasa. Para orang tua dari
anak-anak mempunyai kesempatan saling berinteraksi
dengan staf TPA yang memungkinkan terjadi peningkatan
ketrampilan dan pengetahuan dan tata cara pengasuhan
anak, Anak akan mendapat pengawasan dari pengasuh

376

yang bertugas. Pengasuh adalah orang dewasa yang sudah
terlatih, Tersedianya beragam peralatan rumah tangga, alat
permainan, program pendidikan dan pengasuh serta
kegiatan yang terencana, Tersedianya komponen
pendidikan seperti anak belajar mandiri, berteman dan
mendapat kesempatan mempelajari berbagai ketrampilan.
Berikut merupakan kelebihan dan kelemahan tempat
pengasuhan anak :
a. Kelebihan Tempat Pengasuhan Anak

1) Para staf pengasuh memiliki dasar pendidikan anak
sekaligus ilmu kesehatan dasar anak yang diawasi
oleh pengelola TPA.

2) Program di TPA dirancang sesuai perkembngan bayi
dan balita. Untuk balita TPA biasanya menerapkan
kurikulum pendidikan anak usia dini (PAUD).

3) Anak akan memiliki aktivitas dan alat yang beragam
serta ruangan bermain (baik di dalam maupun diluar
ruangan) yang relatif lebih luas bila dibandingkan
ruang mereka di rumah sendiri.

4) Anak akan berkenalan dengan suasana baru, orang
baru dan bertemu/mengenal anak-anak seusianya.
Kemampuan sosial anak bisa terasah sejak dini.

5) Karena staf pengasuh yang bertugas mengurus dan
merawat anak tidak hanya satu, maka anak akan lebih
mandiri. Tidak tergantung dengan orang tua atau
pengasuhnya.Biaya pengasuhan di TPA lebih murah
dibandingkan dengan pengasuhan baby sitter di
rumah.

6) Jika lokasi TPA dekat dengan tempat orangtua
bekerja memungkinkan orangtuabisa menengok anak
secara langsung ketika waktu istrirahat.

b. Kelemahan Tempat Pengasuhan Anak
1) Dalam sistem pengasuhan di TPA satu pengasuh
untuk 4-6 orang anak, sehingga pengasuh tidak bisa
fokus memberikan perhatian penuh pada anak.

377

2) Anak sangat berisiko tertular penyakit dari orang di
sekitar TPA.

3) Membawa anak ke TPA menciptakan kondisi yang
merepotkan, karena Bunda harus membereskan
beberapa pakaian, alat makan, dan perlengkapan
mandi, dan lain-lainnya milik anak .

4) Jika si kecil sedang sakit, Anda tidak diperbolehkan
untuk membawanya ketpa. Kondisi ini menyebabkan
Bunda harus siap untuk mengasuhnya sendiri atau
menyiapkan pengasuh cadangan.

5) Di TPA orang tua yang harus siap menerima kondisi
bahwa si kecil harus mengikuti aturan dan nilai
kebiasaan di day care tersebut. Jika aturan tersebut
tidak sesuai dengan kebiasaan yang orang tua
lakukan di rumah, si kecil akan kesulitan untuk
menyesuaikan diri dan akan membuatnya kurang
nyaman.

6) Jika jam kerja orang tua melebihi jam operasional
TPA, maka mau tidak mau, Orang tua harus
mengambil si kecil lebih cepat dan membawanya ke
tempat kerja sampai pulang. Atau Bunda harus
mencari penyedia jasa pengasuhan anak lainnya.

6. Faktor-Faktor yang Memmpengaruhi Keberhasilan

penyelenggaran Pendidikan Program TPA dalam
Faktor yang Berperan Penting

Penyelenggaraan Pendidikan Program Pendidikan Anak

Usia Dini (PAUD) adalah pendidik, pengelola, dan peran

serta orang tua dan masyarakat (Depdikkas 2006).

a. Pendidik
Pendidik anak usia dini adalah profesional yang

bertugas merencanakan, melaksanakan proses
pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran serta
melakukan pembimbingan, pengasuhan, dan
perlindungan anak didik. Pendidik kelompok bermain
harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:

378

1) Memiliki kualifikasi akademik minimal SLTA

sederajat;

2) Mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini;

3) Memahami dan menyayangi anak;

4) Memahami tahapan tumbuh kembang anak;

5) Memahami prinsip-prinsip pendidikan anak usia

dini;

6) Memiliki kemampuan mengelola

(merencanakan,melaksanakan, mengevaluasi,

membuat laporan) kegiatan/proses pembelajran

pendidikan anak usia dini;

7) Diangkat secara sah oleh Pengelola kelompok

bermain;

8) Sehat.

b. Pengelola
Pengelola kelompok bermain hendaknya memiliki

kualifikasi sebagai berikut :
1) Pendidikan minimal SLTA atau sederajat Memiliki

kemampuan dalam mengelola program kelompok
bermain; secara profesional;
2) Memiliki kemampuan dalam melakukan koordinasi
dengan tenaga pendidik, instansi terkait dan
masyarakat;
3) Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan
masyarakat dan anak didik serta orangtuanya.
4) Memiliki tanggung jawab moril mempertahankan
dan meningkatkan keberlangsungan kelompok
bermain yang dikelolanya.

c. Peran Serta Orangtua dan Masyarakat
Lembaga pendidikan harus menjalin hubungan

kerjasama dengan orangtua peserta didik. Karena orang
tua memiliki peranan penting dalam pendidikandan
kemajuan sekolah hal tersebut karena peserta didik
dipengaruhi oleh latarbelakang keluarga seperti sosial
ekonomi, ras, etnis dan struktur keluarga.

379

Olehkarenanya ketika ada parktik di sekolah seperti
kegiatan atau program yang seringdilakukan di sekolah
hendaknya mengikutsertakan sebab peran orang tua
dapatmenolong dan meningkatkan partisipasinya.
Menurut Irene (2011:60) orang tuamemiliki peran dalam
membentuk lingkungan belajar yang kondusif
dirumah,diantaranya: (a). Menciptakan budaya belajar di
rumah, (b). Memprioritaskantugas yang terkait secara
langsung dengan pembelajaran di sekolah, (c).
Mendorong anak untuk aktif dalam berbagai kegiatan,
(d). Memberikankesempatan untuk mengungkapkan
gagasan atau ide, (e). Menciptakan situasiyang
demokratis, (f). Memahami apa yang telah, sedang dan
akan dilakukan olehsekolah dalam mengembangkan
potensi anak dan (g). menyediakan sarana belajaryang
memadai sesuai dengan kemampuan orang tua dan
kebutuhan sekolah.

Irene (2011:65) menyatakan bahwa interaksi yang
terjalin antara orang tuadan sekolah meliputi dua
kategori yaitu parental involvement dan
participation.Menurut Davis dalam Irene (2011:65) bahwa
parental involvement adalahketerlibatan orang tua pada
jenis aktifitas yang ditujukan untuk mendukung program-
program sekolah, sedangkan participation adalah orang
tua berpengaruhatau berupaya mempengaruhi dalam
pengambilan keputusan pada hal- hal yang sangat penting
di sekolah, seperti penentuan program sekolah dan lain-
lain.

Dengan demikian partisipasi orangtua sangat
penting demi kemajuan suatulembaga pendidikan.Peran
serta orang tua dan masyarakat adalah keterlibatan
orang tua danmasyarakat dalam pemenuhan fasilitas
untuk menunjang kebutuhan lingkunganbelajar anak
serta keikutsertaan orang tua dan masyarakat dalam
membantumendukung penyelenggaraan program
pendidikan anak usia dini (PAUD), baikberupa

380

kerjasama atau bentuk apapun.Kerjasama dengan orang
tua dan masyarakat perlu diusahakan untukterciptanya
lingkungan belajar yang kondusif dan menyelaraskan
program yangtertuang dalam kurikulum di sekolah
dengan lingkungan anak di rumah. Orang tuaperlu
mengetahui keadaan anak mereka dari unsur sekolah,
dan manfaat bagi guruadanya komunikasi dengan orang
tua siswa, diantaranya untuk memahamiperilaku anak
selama berada di rumah dari masukan orang tua.
Sebagaimanapendapat yang menyatakan bahwa ―Jika
sekolah tidak membuat dan melakukanusaha untuk
mengikutsertakan orang tua dalam proses pembelajaran,
anak-anakdapat menemukan kesulitan untuk
menggabungkan dan menyatukan pengalaman-
pengalamanmereka yang terpisah antara rumah dan
sekolah, (Henderson, dalamMariyana, 2010:150).Adapun
bentuk kerjasama yang dapat dibangun antara sekolah
denganpihak masyarakat dapat lebih luas. Masyarakat di
sini tidak hanya masyarakatyang berada di sekitar
sekolah saja yang dapat dilibatkan dalam program
sekolah.Akan tetapi semua unsur dan pihak-pihak lain
yang dapat dilibatkan untukmembantu terciptanya
lingkungan belajar yang kondusif. Unsur masyarakat
yang dapat dilibatkan dalam pemenuhan kebutuhan
lingkungan belajar sekolah adalah lembaga pendidik lain
yang sederajat atau yang lebih tinggi, perusahaan-
perusahaanyang bergerak di bidang pengadaan sarana
dan prasarana belajar sertafasilitas pendidikan
khususnya di bidang pendidikan anak usia dini,
pemerintahan,serta perseorangan yang ikut terlibat
dalam pengadaan dan pemenuhan lingkungan belajar di
PAUD (Mariyana, 2010: 157).

7. Indikator Keberhasilan TPA
a. Tingkat kehadiran mencapai 80%
b. Tingkat kehadiran pendidik/pengasuh mencapai 90%

381

c. Program berjalan sesuai dengan visi, misi dan tujuan
lembaga

d. Memiliki ratio pendidik sesuai dengan yang ditetapkan.
e. Kualiifikasi pendidik/pengasuh minimal mencapai 60%
f. Memiliki kurikulum, perencanaan program, hasil

perkembangan anak yang diadministrasikan dengan
baik.
g. Tersedia sarana 3 (tiga) jenis main (sensorimotorik, peran
dan pembangunan) sesuai dengan tahapan
perkembangan anak
h. Data pribadi (tumbuh kembang) anak terekam dengan
baik.

H. Pengertian Day Care (Taman Penitipan Anak)
1. Pengertian Day Care (Taman Penitipan Anak)
Day care atau sering disebut juga sebagai Taman
Penitipan Anak (TPA), sesuai yang tertulis pada Pedoman
Teknik Penyelenggaraan Taman Penitipan Anak
(Jakarta:2010) adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur
nonformal (PAUD nonformal) sebagai wahana
kesejahteraan yang berfungsi sebagai pengganti keluarga
untuk jangka waktu tertentu bagi anak yang orang tuanya
bekerja. Day care menyelenggarakan program pendidikan
sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan sosial terhadap
anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun (dengan
prioritas anak usia empat tahun ke bawah).
Menurut Patmonodewo (2003:77) Day care adalah
salah satu sarana pengasuhan anak dalam kelompok,
biasanya dilakukan pada saat jam kerja. Day care adalah
upaya untuk mengasuh anak-anak yang kurang dapat
menerima asuhan orang tua secara lengkap, bukan untuk
menggantikan tugas orang tua dalam mengasuh anak.
Bila ditinjau dari pengertian tiap kata, maka arti kata
taman menurut KBBI adalah kebun yang ditanami dengan
bunga-bunga atau tempat yang menyenangkan dsb.
Sedangkan arti kata penitipan menurut KBBI berasal dari

382

kata titip yang berarti menumpang untuk meletakkan.

Penitipan itu sendiri memiliki arti proses menaruh barang

sesuatu untuk dijaga atau dirawat. Kemudian dari hasil arti

kata-kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa Taman

Penitipan Anak merupakan sebuah tempat yang

menyenangkan untuk menitipkan anak oleh orang tuanya

untuk dijaga dan dirawat

2. Tujuan Layanan Day Care

Tujuan diadakannya Day Care berdasarkan NSPK

(Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria) Petunjuk Teknis

Penyelenggaraan Taman Penitipan Anak adalah untuk

mengoptimalkan tumbuh kembang anak dalam

pengasuhan, pendidikan, perawatan, perlindungan dan

kesejahteraan. Selain itu day care bertujuan untuk

mengganti sementara peran orang tua selama

bekerja/ditinggal.

3. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Day Care (TPA)

Untuk mendukung mewujudkan anak usia dini yang

berkualitas, maju, mandiri, demokrasi, dan berprestasi,

maka prinsip filsafat pendidikan di TPA dapat dirumuskan

menjadi: Tempa, Asah, Asih, Asuh.

a. Tempa

Tempa dimaksudkan untuk mewujudkan kualitas

fisik anak usia dini melalui upaya pemeliharaan

kesehatan, peningkatan mutu gizi, olahraga yang teratur

dan terukur, serta aktivitas jasmani sehingga anak

memiliki fisik kuat, lincah, daya tahan dan disiplin

tinggi.

b. Asah

Asah berarti memberi dukungan kepada anak

untuk dapat belajar melalui bermain agar memiliki

pengalaman yang berguna dalam mengembangkan

seluruh potensinya. Kegiatan bermain yang bermakna,

menarik, dan merangsang imajinasi, kreativitas anak

untuk melakukan, mengekplorasi, memanipulasi, dan

383

menemukan inovasi sesuai dengan minat dan gaya
belajar anak.
c. Asih

Asih pada dasarnya merupakan penjaminan
pemenuhan kebutuhan anak untuk mendapatkan
perlindungan dari pengaruh yang dapat merugikan
pertumbuhan dan perkembangan, misalnya perlakuan
kasar, penganiayaan fisik dan mental dan ekploitasi.
d. Asuh

Melalui pembiasaan yang dilakukan secara
konsisten untuk membentuk perilaku dan kualitas
kepribadian dan jati diri anak

4. Jenis-Jenis Day Care (TPA)
Secara umum TPA terbagi menjadi dua jenis, yaitu

berdasarkan waktu layanan dan tempat penyelengaraan.
a. Berdasarkan waktu layanan

1) Full day TPA Full day diselenggarakan selama satu
hari penuh dari jam 7.00 sampai dengan 16.00, untuk
melayani anak-anak yang dititipkan baik yang
dititipkan sewaktuwaktu maupun dititipkan secara
rutin/setiap hari

2) Semi day/Half day TPA semi day/half day
diselenggarakan selama setengah hari dari jam 7.00
s/d 12.00 atau 12.00 s/d 16.00. TPA tersebut melayani
anak yang telah selesai mengikuti pembelajaran di
Kelompok Bermain atau Taman KanakKanak, dan
yang akan mengikuti program TPQ pada siang hari.

3) Temporer TPA yang diselenggarakan hanya pada
waktu- waktu tertentu saat dibutuhkan oleh
masyarakat. Penyelenggara TPA Temporer bisa
menginduk pada lembaga yang telah mempunyai izin
operasional. Contohnya : di daerah nelayan dapat
dibuka TPA saat musim melaut, musim panen di
daerah pertanian dan perkebunan, atau terjadi situasi
khusus seperti terjadi bencana alam dll

384

b. Berdasarkan tempat penyelenggaraan
1) TPA Perumahan, yaitu TPA yang diselenggarakan di
komplek perumahan untuk melayani anak-anak di
sekitar perumahan yang ditinggal bekerja oleh
orangtua mereka.
2) TPA Pasar, yaitu TPA yang melayani anak-anak dari
para pekerja pasar dan anak-anak yang orangtuanya
berbelanja di pasar.
3) TPA Pusat Pertokoan yaitu Layanan TPA yang
diselenggarakan di pusat perkantoran. Tujuan
utamanya untuk melayani anak-anak yang
orangtuanya bekerja di kantor pemerintahan/swasta
tertentu namun tidak menutup kemungkinan TPA ini
melayani anak -anak di luar pegawai kantor.
4) TPA Rumah sakit yaitu Layanan yang diberikan
selain untuk karyawan rumah sakit juga melayani
masyarakat di lingkungan Rumah Sakit.
5) TPA Perkebunan Taman yaitu Penitipan Anak (TPA)
Berbasis Perkebunan adalah layanan yang
dilaksanakan di daerah perkebunan. Layanan ini
bertujuan untuk melayani anak-anak pekerja
perkebuanan selama mereka ditinggal bekerja oleh
orangtua.
6) TPA Perkantoran yaitu Layanan TPA yang
diselenggarakan di pusat perkantoran. Tujuan
utamanya untuk melayani anak-anak yang
orangtuanya bekerja di kantor Pemerintahan/Swasta
tertentu namun tidak menutup kemungkinan TPA ini
melayanianak- anak di luar pegawai kantor.
7) TPA Pantai yaitu Layanan TPA Pantai bertujuan
untuk mengasuh anak-anak para nelayan dan pekerja
pantai, namun tidak menutup kemungkinan melayani
anak-anak disekitar daerah tersebut. Tempat
penyelenggaraan TPA seperti contoh diatas bisa
berkembang sesuai kebutuhan masyarakat, dengan
mengembangkan layanan diberbagai tempat seperti :

385

di komplek Indusri, tempat-tempat nelayan dan
pekerja pantai, namun tidak menutup ke. mungkinan
melayani anakanak disekitar daerah tersebut.
8) TPA Pabrik yaitu Layanan TPA Pabrik bertujuan
untuk melayani anakanak para pekerja Pabrik dan
namun tidak menutup kemungkinan melayani anak-
anak disekitar daerah tersebut. Tempat
penyelenggaraan TPA seperti contoh diatas bisa
berkembang sesuai kebutuhan masyarakat, dengan
mengembangkan layanan diberbagai tempat seperti :
di komplek , tempat-tempat nelayan dan pekerja
pantai, namun tidak menutup ke. mungkinan
melayani anak-anak disekitar daerah tersebut. Bagi
TPA yang memberikan layanan secara temporer
jadwal kegiatan dapat menyesuaikan dengan
kebutuhan anak.

I. Evaluasi

Evaluasi, Pelaporan, Dan Pembinaan Lembaga
1. Evaluasi

Pengertian Evaluasi Evaluasi merupakan rangkaian
penilaian terhadap kinerja lembaga TPA. Penilaian
dibedakan menjadi 2 bagian, yakni:
a. Penilaian internal yang dilakukan oleh unsur dalam TPA
b. Penilaian eksternal yang dilakukan oleh orang atau

lembaga dari luar.
2. Tujuan evaluasi ini untuk memperoleh :

a. Gambaran tentang kesesuaian program TPA yang
dilaksanakan oleh lembaga dengan kebutuhan
pertumbuhan dan perkembangan anak sebagaimana
yang ditetapkan dalam pedoman.

b. Gambaran tentang kinerja pengelola, pendidik, tenaga
administrasi dan lainnya dalam mendukung
pelaksanaan program TPA.

3. Metode Evaluasi dapat dilakukan dengan cara :
a. Observasi
b. Tanya-jawab

386

c. Analisa Dokumen
4. Aspek Yang Dievaluasi

a. Kesesuaian program dengan visi, misi dan tujuan
lembaga

b. Kurikulum, Rencana Kegiatan Semester, Rencana
Kegiatan Bulanan, dan Rencana Kegiatan Harian, serta
jadwal harian TPA

c. Kinerja pengelola, pendidik, dan tenaga administratif
d. Keamanan, kenyamanan dan kebersihan lingkungan,

sarana, alat bermain, dan bahan bermain yang dimiliki
serta digunakan anak
e. Layanan kesehatan, gizi makanan dan pengasuhan anak
f. Kelengkapan administrasi
5. Waktu penilaian ditetapkan oleh lembaga TPA
6. Pelaksana Evaluasi lembaga dilakukan secara internal oleh
Yayasan ke Pengelola, oleh Pengelola ke pendidik/
administratif. Secara eksternal penilaian dilakukan oleh
lembaga akreditasi independen.
7. Pemanfaatan Hasil Evaluasi Hasil penilaian digunakan
untuk :
a. Perbaikan kinerja Lembaga
b. Perbaikan program TPA
c. Peningkatan mutu layanan TPA.

J. Pelaporan
Setiap Taman Penitipan Anak wajib membuat laporan

kepada Dinas Pendidikan setempat untuk mengetahui
keberadaan dan kemajuan dari lembaga yang sedang
diselenggarakan, yang meliputi :
1. Pelaporan hasil kegiatan perkembangan aspek anak

meliputi :
a. Anak dapat mengenal nilai-nilai moral dan praktek

keagamaan (sholat, atau berdoa sesuai dengan agama
anak, tempat ibadah) misalnya berdoa sebelum makan,
dll.

387

b. Anak dibiasakan disiplin, dan mandiri misalnya makan,
mandi, tidur, belajar sendiri.

c. Bakat, daya cipta, kreativitas anak
d. Daya juang, kemampuan belajar yang mengikat
e. Budi pekerti yang baik

Pelaporan ini diberikan kepada orangtua peserta
didik agar perkembangan anak selama bergabung dalam
TPA diketahui. Pelaporan ini dalam bentuk buku laporan
semester atau yang dikenal dengan nama Buku
Perkembangan Anak.

2. Pelaporan Kelembagaan semua unsur program meliputi :
a. Tenaga
b. Sarana
c. Prasarana
d. Keuangan
e. dan lain-lain

Pelaporan ini diberikan kepada Kepala Dinas
Pendidikan setempat. Kepala Subdin Pendidikan Non
Formal/Informal (PNFI) di tingkat Propinsi dan
Kabupaten/Kota, Penilik PAUD di tingkat Kecamatan,
diberikan setiap semester dan atau tahunan.

K. Pembinaan
1. Pembinaan TPA dilakukan oleh Penilik PNFI dan atau
Petugas PAUD di tingkat Kecamatan. Pembinaan yang
dilakukan Penilik PNFI/Petugas PAUD terhadap
penyelenggaraan TPA (TPA) ialah :
a. Memonitor kemajuan lembaga termasuk memberikan
informasi bila ada sarana/media yang baru dari
Direktorat PAUD;
b. Memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan program TPA;
c. Membimbing di bidang administrasi lembaga khusus
dalam hal pelaporan;

388

d. Membantu memecahkan masalah bila ada masalah yang
dihadapi Pengelola TPA.

2. Pembinaan TPA oleh Sub Dinas Pendidikan Non Formal
dan informal dan atau Seksi PAUD di tingkat
Kabupaten/Kota serta Propinsi
Pendekatan yang dilakukan dalam rangka
pengembangan TPA:
a. Memberdayakan keberadaan pakar / praktisi /
pemerhati di bidang TPA melalui Forum PAUD;
b. Mengkaji dan merumuskan acuan-acuan teknis TPA
melalui wadah Konsorsium PAUD;
c. Memfasilitasi adanya networking di bidang PAUD, baik
pada skala regional, nasional, maupun internasional;
d. Memfasilitasi program layanan TPA yang
diselenggarakan masyarakat; e. Memfasilitasi pendidikan
dan pelatihan teknis tenaga kependidikan PAUD,
khususnya di bidang TPA;
e. Memfasilitasi peningkatan kualitas staf dan kemampuan
institusi TPA di daerah;
f. Memfasilitasi pengembangan metode dan sarana
pembelajaran pada TPA;
g. Meningkatkan jaringan kemitraan;
h. Memfasilitasi peningkatan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya program TPA.

L. Kesimpulan
Kondisi keluarga yang memiliki anak setiap orang

berbeda-beda, ada orang tua ada yang orang tua bapak ibunya
karir dan ada yang salah satu karir. Jika ada keluarga yang
keduanya karir tentu akan mengalami kesulitan dalam
mengasuh anak ketika anaknya masih kecil-kecil, kondisi
demikian mengharuskan adanya tempat penitipan bagi anak-
anaknya terkhusus jika orang tua tersebut tidak punya saudara
(kakek,nenek, tetangga, atau baby sister) otomatif akan
menitipakan anaknya kepada tempat penitipan anak. Tempat

389

penitipan anak merupakan lembaga yang sangat berpengaruh
terhadap perkembangan anak, sehingga perlu sebuah
manajeman pendidikan TPA, baik dari manajeman kurikulum,
pengasuhan anak, sarana dan prasarana, serta sistem yang lain.
Harapannya jika pengelolaan TPA bisa baik dari perencanaan,
pelakasanaan dan evaluasi yang baik. Tentu akan
menghasilkan tumbuh kembang anak baik secara afektif,
psikomotor maupun afektif. Sehingga akan secara tidak
langsung menghasilkan output dan outcome pendidikan yang
baik di masa anak usia dini.

390

DAFTAR PUSTAKA

Akmal, Janan Absor. 2008. Pola Asuh Orang Tua Karir dalam
Mendidik Anak (Studi Kasus Keluarga Sunaryadi Komplek TNI
AU B lio K No.12 LANUD Adisutjipto Yogyakarta)

Al Ashee, Ibnu Husein. 2004. Pribadi Islam Ideal. Semarang: Pustaka
Nuun

Al Qur‘an dan Terjemah
Al Shabbaqh. Mahmud. 1994. Tuntutan Keluarga Bahagia Menurut

Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ash Shiddieqy. Hasbi. 1952. Al Islam Jilid II. Jakarta: Bulan Bintang
Aziz. Syarifudin. 2015. Pendidikan Keluarga (Konsep dan Strategi).

Yogyakarta: Gavo Media
Badria, Eli Rohaeli. 2018. Pola Asuh Orang Tua Dalam

Mengembangkan Potensi Anak Melalui Homeshooling Di
Kancil Cendikia. Jurnal Comm-Edu. Volume 1 Nomor 1.
Data Monografi Desa Banyuurip Kecamatan Klego Kabupaten
Boyolali
Debdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Kencana
Departemen Agama Republik Indonesia. 1985. Ilmu Fiqh Jilid 2
Ester. Alfiana. 2013. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak dalam
Keluarga Pada Bidang Pendidikan (Studi Kasus di Dusun
Pandanan Desa Pandanan Kecamatan Wonosari Kabupaten
Klaten). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial UNY
Fadal. Moh Kurdi. 2008. Kaidah-Kaidah Fiqih. Jakarta: CV Arta
Rivera
Fuaduddin. 1999. Pengasuhan anak Dalam Keluarga Islam. Jakarta:
Lembaga Kajian Agama Gender
Ghazaly. Abd Rahman. 2006. Fqih Munakahat. Jakarta: Kencana
Hermawan. Asep. 2004. Kiat Praktis Menulis Skripsi Tesis dan
Disertai Untuk konsentrasi Pemasaran. Jakarta: Ghalia
Indonesia
Hikmat. M Mahi. 2011. Metode Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hui, Lim Siew et. al. 2020. The Influence of Instructional
Leadership on Learning Organisation At High Performing

391

Primary Schools in Malaysia. Asian Journal of University

Education (AJUE) Volume 16, Number 2.

https://doi.org/10.24191/ajue.v16i2.10298

Juwairiyah. 2010. Dasar-Dasar Pendidikan. Anak Dalam Al Qur‟an.

Yogyakarta: Teras

Letter, M Bdg. 1985. Tuntutan Keluarga Muslim dan Keluarga

Berencarna. Padang: Anggota Raya

Mahalli, A Mudjab. 2007. Menikahlah Engkau Menjadi Kaya.

Yogyakarta: Mitra Pustaka

Marisa, Cindy. Et. al. 2018. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan

Motivasi Belajar Remaja. Jurnal Konseling dan Pendidikan.

Volume 6 Nomor 1, 2018, Hlm 25-32 DOI:

https://doi.org/10.29210/118700

http://jurnal.konselingindonesia.com

Moleong, Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PP

Remaja Rosdakarya Offset

Munoz, José M. 2017. Daycare Center Attendance Buffers the

Effects of Maternal Authoritarian Parenting Style on

Physical Aggression in Children. Frontiers in Psychology

Journal. Vol. 8,. No.1

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.00391

https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2017.0

0391/full

Nuruddin, Amiur & Azhari Akmal Tariqan. 2014. Hukum Perdata

Islam di Indonesia ( Studi krisis Perkembangan Hukum Islam dari

Fiqh, UU N0.1 Tahun 1974 sampai KHI). Jakarta Kencana

Prenada Media Group

Rif‘ani, Nur Kholish. 2013. Cara Bijak Rasulullah Dalam Mendidik

Anak. Yogyakarta: Real Books

Ruslan. Rosady. 2010. Metode penelitian (Public Reation dan

Komunikasi). Jakarta: Rajawali Press

Sholechah. 2006. Hukum Anak Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya

Bakti

Sholechah. 2006. Istri Karier dalam Perspektif Hukum islam (Studi

Terhadap Istri pencari Nafkah Di Desa Gedangan Kecamatan

392

Tuntang Kabupaten Semarang). Jurusan Ahwal Al

Syakhshiyyah STAIN Salatiga

Suharsimi. Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan

Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Sujarwo. 2007. Model Pembelajaran Tematik Bagi Anak Jalanan.

Diklus Jurnal Pendidikan Luar Sekolah. Jurusan Pendidikan

Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri

Yogyakarta. Hal 33-53. Vol. 6., No. 1. ISSN. No. 0854-896X.

Summa, Muhammad Amin. 2005. Hukum keluarga Islam di Dunia

Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo

Syarifuddin. Amir. 2006. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia

(Antara Fiqh Munakakahat & UU perkawinan. Jakarta: Kencana

Ulfatmi. 2011. Keluarga Sakinah dalam Perspektif Hukum Islam( Studi

Terhadap Pasangan yang Berhasil Mempertahankan Keutuhan

Perkawinan di Kota Padang). Jakarta: Kementrian Agama RI

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Anak

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan

Anak

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan

Wagner, Shannon L.et. al. 2015. Higher Cortisol Is Associated With

Poorer Executive Functioning In Preschool Children: The

role of parenting stress, parent coping and quality of

daycare. A Journal on Normal and Abnormal Development in

Childhood and Adolescence. Vol. 22, No. 7.

https://doi.org/10.1080/09297049.2015.1080232.

https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/09297049.

2015.1080232

Walger, Peter. 2019. Children and adolescents in the CoVid-19

pandemic: Schools and daycare centers are to be opened

again without restrictions. The protection of teachers,

educators, carers and parents and the general hygiene rules

do not conflict with this. Deutsche Gesellschaft für

Krankenhaushygiene Journal. Vol. 15.

doi: 10.3205/dgkh000346.

393

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7273848
/
Witanto, 2012. Hukum Keluarga Hak dan Kewajiban (pasca keluarnya
putusan MK tentang uji materiil UU perkawinan). Jakarta:
Prestasi pustakarya
Yeni Fuziah. 2008. Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Perspektif
Hukum Islam (Studi Nilai Keadilan Gender Terhadap Kewajiban
Mendidik Anak. STAIN Salatiga

394

BAB 15
DIGITALISASI: TANTANGAN
DAN PELUANG BAGI ANAK

Unga Utami
Universitas Negeri Yogyakarta
[email protected]

Abstrak
Perubahan peradaban Era Revolusi Industri 4.0 ditandai

dengan hadirnya digitalisasi. Era ini membawa sejumlah
perubahan yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan.
Tujuan penulisan ini untuk mengidentifikasi tantangan dan
peluang digitalisasi bagi kehidupan anak. Digitalisasi menaruh
dua garis besar yang menjadi tugas setiap individu yaitu
menghadapi tantangan dan mengambil peluang. Dalam
menghadapi tantangan digitalisasi diperlukan modal dasar
sebagai kekuatan agar tidak terbawa arus digitalisasi. Selain itu,
solusi dari setiap tantangan yang muncul dari digitalisasi
merupakan peluang yang sangat berharga dalam memperbaiki
tatanan kehidupan di era digital. Modal dasar menghadapai
digitalisasi meliputi penanaman nilai dan perilaku orang tua.
Sedangkan solusi dari tantangan digitalisasi meliputi: keterlibatan
orang tua, membangun keterampilan berpikir kritis anak, dan
pendidikan berbasis adaptif, modifikatif, dan transformatif. Hal ini
tentu membutuhkan kerja sama yang kuat antara anak, keluarga,
sekolah, masyarakat, dan para stakeholder untuk mewujudkan
generasi digital yang mumpuni dan bermanfaat bagi bangsa
Indonesia.
Kata kunci: digitalisasi, tantangan digitalisasi, peluang
digitalisasi

395

A. Pendahuluan
Perkembangan globalisasi dan digitalisasi semakin masif

memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Fenomena ini sesuatu
yang tidak dapat dihindari oleh semua lapisan masyarakat
termasuk anak-anak. Istilah digital native pun sering disematkan
bagi anak yang tumbuh dan berkembang di era digital ini. Anak-
anak generasi masa kini merupakan generasi digital native yaitu
mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital
sejak lahir (Marc Prensky, 2001). Digital native merupakan
generasi-generasi yang lahir pada era digital (Rahmat, H. K.,
2019). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Direktorat
Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (2019)
bahwa digital native adalah gambaran bagi seseorang (terutama
anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya sudah terpapar
oleh gencarnya perkembangan teknologi, seperti komputer,
internet, animasi, dan teknologi yang sejenisnya.

Kehadiran digitalisasi tentu memberikan tantangan serta
peluang tersendiri bagi masyarakat terkhususnya orang tua.
Berdasarkan Sumber Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) di tahun 2016 menjelaskan bahwa anak-anak
Indonesia menempati urutan ketiga sebagai pengguna aktif
teknologi digital dan internet. Era digital ibarat dua sisi mata
koin yang dapat memberikan dampak positif dan juga dampak
negatif bagi anak. Digitalisasi adalah hal yang dapat
mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi masyarakat
tekhususnya anak-anak kita (Hans, V. B. & Crasta, S. J. 2019).
Digitalisasi memberikan kemudahan dalam berbagai aspek
kehidupan. Banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan secara
efektif dan efisien dengan bantuan kecanggihan teknologi
digital. Begitupun informasi yang mudah dan cepat tersebar
melalui teknologi digital. Namun, sisi lainnya bahwa ternyata
digitalisasi memberikan perubahan besar bagi kehidupan.
Perubahan tersebut beragam seperti perubahan pola hidup,

396

perubahan pandangan dan cara berpikir, perubahan perilaku
dan kebiasaan.

Oleh karena itu, peran orang tua sangat berkontribusi
besar dalam menghadapi era digital. Peran orang tua wajib
memperhatikan metode yang digunakan untuk mengetahui
kemampuan anak dalam menyikapi serta memandang dirinya
secara positif supaya dapat menggunakan perangkat digital
secara benar pada proses pendidikan di era digital ini
(Radjagukguk, D. L, 2020). Orang tua dituntut untuk dapat
paham dan melek teknologi sebagai kesiapan dalam
menghadapi generasi digital.

B. Pembahasan
1. Analisis Permasalahan
Era digital ataupun digitalisasi merupakan proses
kehidupan yang menggunakan sistem digital ataupun
teknologi digital. Digitalisasi merupakan hal yang tidak
dapat dihindarkan dalam aspek kehidupan. Banyak hal
yang telah bergeser dari tatanan hidup seseorang
belakangan ini. Seperti contoh anak-anak yang biasanya
bermain di dunia luar atau ruang terbuka kini berpindah ke
barang-barang elektronik. Anak-anak yang juga biasanya
belajar di sekolah kini dapat merasakan kemudahan belajar
melalui perangkat teknologi seperti komputer maupun
gadget.
Permasalahan lainnya bahwa digitalisasi
menyediakan ragam informasi yang melimpah dan tanpa
batas. Hal ini menjadi kekhawatiran terhadap
perkembangan anak yang masih sangat labil dan belum
mampu menyaring informasi-informasi yang muncul di
sekitar mereka. Anak-anak tidak boleh terbawa arus
digitalisasi yang mengakibatkan anak-anak lupa dengan
esensi moralitas dan karakter yang harusnya lebih
diuatamakan pada usia kanak-kanak.

397

Intensitas penggunaan teknologi digital dalam
berbagai kegiatan anak banyak sedikitnya memberikan
pengaruh besar bagi anak. Penggunaan teknologi digital
yang terlalu sering dan berlebihan dapat membuat anak
kecanduan. Anak-anak yang cenderung menggunakan
gadget dan digital lainnya dapat memberikan risiko-risiko
dan dampak negatif jika digunakan dengan kurang
bijaksana. Berikut ini berbagai potensi risiko yang perlu
diperhatikan oleh orang tua dari penggunaan teknologi
digital dan gadget (Direktorat Pembinaan Pendidikan
Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat, 2019).
a. Kesehatan Mata Anak: Paparan berlebihan terhadap

penggunaan telepon pintar dapat memicu penglihatan
yang buruk.
b. Masalah Tidur: Masalah tidur anak dapat terjadi karena
lamanya melihat layar digital dan media digital.
c. Kesulitan Konsentrasi: Penggunaan media digital
memiliki efek terhadap keterampilan dan mengubah
perhatian anak sehingga bisa meningkatkan perilaku
terlalu aktif dan kesulitan untuk berkonsentrasi.
d. Menurunnya Prestasi Belajar: Penggunaan media digital
yang berlebihan dapat menurunkan prestasi belajar anak.
e. Perkembangan Fisik: Penggunaan media digital
membatasi aktivitas fisik yang diperlukan tubuh untuk
tumbuh kembang yang optimal. Anak sering menahan
lapar, haus, dan keinginan buang air sehingga
mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan
ketidakseimbangan bobot tubuh (terlalu gemuk atau
terlalu kurus).
f. Perkembangan Sosial: Anak tumbuh menjadi pribadi
yang lebih mementingkan diri sendiri sehingga sulit
bergaul secara langsung serta memiliki kesulitan
mengenali berbagai nuansa perasaan.
g. Perkembangan Otak dan Hubungannya dengan
Penggunaan Media Digital: Anak-anak perlu

398


Click to View FlipBook Version