The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ungautami, 2021-12-08 01:24:14

PERMASALAHAN, MODAL DASAR, DAN SOLUSI PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Keywords: #ebook #pendidikan #modaldasar #pendidikananak #pendidikankeluarga #pemberdayaanmasyarakat

Oleh karena itu perlu pembinaan akhlak dalam hal ini
dikarenakan sangat berkaitan tujuan atau orientasi dalam
tujuan Pendidikan perlu disinkronkan pasalnya hal-hal
terkait ekonomi,tingkat pendidikan dan penguasaan prihal
teknologi harus mampu disesuaikan dengan akhlak dan
akhlak mampu dijadikan sebagi media toleransi dari adanya
perjalanan tinggi rendahnya teknologi tingkat Pendidikan
dan ekonomi. Oleh karena itu diperlukan solusi prihal
pembinaan akhlak Pembinaan Akidah dan Akhlak,
Keluarga merupakan salah satu faktor utama dalam
perkembangan kepribadian anak, di damping faktor-faktor
yang lain. Dikutip oleh Lazarus, Freud mengatakan bahwa
pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan
anak merupakan titik tolak perkembangan kemampuan atau
ketidakmampuan penyesuaian sosial anak. Menurutnya pul,
priode ini sangat menentukan dan tidak dapat di abaikan
oleh keluarga (Helmawati, 2014: 49).

2. Permasalahan Pemberdayaaan Pendidikan Masyarakat -
Problem Solving Permasalahan
Dalam konteks ini yang menjadi faktor permasalahan
adalah lembaga seperti komite pemberdayan masyarakat
yang kurang dilibatkan dalam hal pengukuhan pendidikan,
padahal di sinilah peran komite dalam menjembatani
masyarakat dengan sistem yang sesungguhnya.
Pemberdayaaan masyarakat di sini dalam artian
memberdayakan seluruh masyarakaat dalam memahami
konsep pendidikan seutuhnya juga dalam artian jejaring
social yang harus disenergikan. Yang mana antar bagian
dalam kontribusi pendidikan siapapun dalam masyarakat
dapat menjadi kontributor di dalamnya. Dalam hal ini
adalah kerjasama yaang terbentuk di dalamnya membangun
suatu komite. Pada tahun 1997, Asosiasi Guru Oraangtua
Nasional AS (PTA) menerbitkan standard Nasional untuk
Kemitraan Keluarga – Sekolah (FSP). – Yang dibangun atas
tipologi keterlibatan orangtua (Epstein,2001). – Untuk
menyediakan sekolah-sekolah dan pemangku kepentingan

149

lainnya dengan praktik pedoman pelaksanaan tentang
bagaimana keluarga, sekolah dan masyarakat harus bekerja
sama untuk mendukung keberhasilan siswa (Untuk
gambaran umum lihat asosiasi Orang tua-Guru 2009).
Dalam hal ini jejaring sosial yang juga turut diperlukan
dalam upaya pendidikakn masyarakat. jejaring sosial
merupakan indikator penting yang mendukung seorang
anak dalam menempuh pendidikan. Jejaring sosial
didefinisikan sebagai "sebuah struktur yang terdiri dari
sekumpulan aktor, beberapa di antaranya terhubung oleh
satu set atau lebih relasi" (Shweta, 2020). Jejaring sosial yang
dimaksudkan disini merupakan masyarakat di lingkungan
tempat tinggal, konseptualisasi ini terkait dengan jejaring
sosial yang memberikan akses ke berbagai bentuk modal
sosial seperti informasi dan dukungan sosial kepada anak
yang menempuh pendidikan. Mekanisme di mana berbagai
bentuk modal sosial diakses dan dimobilisasi rumit dan
bergantung pada komposisi dan karakteristik jaringan
sosial. Komposisi jaringan berfokus pada jenis hubungan
jaringan, seperti hubungan dekat, termasuk anggota yang
mirip satu sama lain dalam hal usia, pendidikan, kelas sosial
misalnya, hubungan dengan keluarga dan teman.Pola
pertemanan dan jejaring social yang mendominasi dan
mengikat angka hubungan memungkinkan interaksi yang
mana masyarakat berinteraksi dengan menempatkan
akhlak.

150

Oleh karena itu solusi yang dapat ditawarkan adalah
sebagai berkut :

Bagan iii. Menunjukkan mekanisme dari kuatnya arus
keluarga dan masyarakat dalam system jejaring social dan

perannannya terhadap komite (Epstein,2001)

Terkait dengan permasalahan Pendidikan perlu
adanya evaluasi, perlunya pendidikan akhlak yang tidak
boleh dilepaskan dalam pendidikan lainnya karena aspek
yang fundamental membentuk kegiatan pembelajaran yang
seharusnya. Dan perlunya peran aktif dalam berbagai pihak
perihal kepentingan akhlak sebagai main aspek pendidikan.
Baik dalam lingkup yang coba diatasi permasalahannya
melalui siswa, tingkat Pendidikan dan penguasaan
teknologi, oleh karena itu penekanan akan akhlak di setiap
permasalahan perlu lebih ditekankan.

Jadi, dalam hal ini dalam pemberlakuan
pemecahan masalah terkait tiga pokok masalah pendidikan
yakni permasalahan pendidikan anak, keluarga, masyarakat
sangat dibutuhkan aspek penggembangan yang
menjembatani diantara ketiganya yakni akhlak dan
spiritualitas-nilai agama. Hal ini dikarenakan aspek penting
utamanya dalam memberikan kesantunan pendidikan dan
interaksi pendidikan adalah akhlak. Akhlak dalam
pembahasan yang telah disebutkan memberikan banyak
aspek penawaran entah dalam ruang lingkup apapun dalam
permasalahan yang ada. Permasalahan-permasalahan yang
ada diatasi dengan adanya pemberian solusi sesuai dengan

151

hakikat permasalahannya. Rendahnya pendidikan, faktor
ekonomi serta penguasaan teknologi menjadi faktor yang
selama ini menjadi momok, namun bukan berarti tidak
dapat diselesaikan begitupun dengan pendidikan anak
berupa arus komunikasi dan penekanan pembelajaran yang
paradoks serta upaya pemecahan masalah dalam
pengembangan masyarakat.

152

DAFTAR PUSTAKA

Agus, H. Z. 2017 . Pendidikan Akhlak Anak Dalam Keluarga

Menurut Islam . Sakatiga : Journal Tasbiyah Islamiyah , Vol. 2

No. 1, Juni 2017 . P-ISSN : 2541-3686. https://ejournal.stit-

ru.ac.id

Al-Qur‘an al Karim

Androne, Mihai. 2014. Notes on John Locke‘s views on education.

Romania: Elsevier. Procedia - Social and Behavioral Sciences,

page 75-79. https://doi.org/10. 1016/j.sbspro.2014.05.255

Helmawati. 2014. Pendidikan Keluarga. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya

Intxausti Nahia et al. 2013. Involvement of immigrant parents in

their children‘s schooling in a bilingual educational context:

The Basque case (Spain). International Journal of Educational

Research. Vol 59 page 35-48.

https://doi.org/10.1016/j/ijer.2013.02.006

Manea, Andriana Denisa. 2014. Influence of Religious Education on

the Formation Moral Consciousness of Students. Romania:

Journal Social and Behavioral Sciences.

https://doi:10.1016/j.sbspro.2014.08.203

Melissa A. Barnett,dkk.2020.Pengaruh keterlibatan orang tua di

pusat pendidikan anak usia dini dan beranda pada sekoah

taman kanak-kanak.jurnal Elsevier Inc. All rights reserved..vol

53(2020)260-273.

https://doi.org/10.1016/j.ecresq.2020.05.005

Mishra, S. 2019. ―Social networks, social capital, social support and

academic success in higher education: A systematic review

with a special focus on ―underrepresented‖ students‖.

Educational Research Review. Vol 29, Jerman: Elsevier.

100307. doi:10.1016/j.edurev.2019.100307.

Rosa S. Wong.2020. Penggunaan Teknologi Orang Tua, Interaksi

Orang Tua-Anak, Waktu Layar Anak, dan Masalah

Psikososial Anak di antara Keluarga Tertinggal. The Journal

of Pediatricsvol S0022-3476 (20) 30849-0.

https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2020.07.006

153

Ruiz, Karin Romero, dkk. 2016. Information and Communication

Technologies Impact on Family Relationship. Spanyol: Journal

Social and Behavioral Sciences.

https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2017.02.007

Sari, Nur Indah. 2015. Konsep Pendidikan Islam Dalam Membina

Akhlak terhadap Anak. Lampung : Jurnal As-Salam,Vol. 4

No. 2,

http://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/as

salam/article/view/72.

Sartika M. Taher, Erni Munastiwi.2019. Peran Guru Dalam

Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini Di TK Islam

Terpadu Salsabila Al-Muthi‘in Yogyakarta. Jurnal Ilmiah

Tumbuh Kembang Anak Usia Dini.Vol. 4 No. 2 Juni 2019.

https://doi.org/10.14421/jga.2019.42-04

Siswanto, Hadi. 2012. Pendidikan Kesehatan Unsur Utama dalam

Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta. Cakrawala

Pendidikan. https://doi.org/10.21831/cp.v5i2.1565

Stephens, Nicole & Brannon, Tiffany. 2015. ―Feeling at Home in

College: Fortifying School-Relevant Selves to Reduce Social

Class Disparities in Higher Education‖. Amerika Serikat: The

Society for Psychological Study Of Social Issues. [versi

elektronik].Social Issues and Policy Review, 9(1), 1–24.

https://doi.org/10.1111/sipr.12008.

Sudjana, Nana. 2000. Dasar dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung:

Sinar Baru Algelindo

Suparlan & Hajaroh, M. 1994. Mengefektifkan Peran Keluarga

Dalam Mendidik Anak. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan.

https://dx.doi.org/10.21831/cp.v2i2.9119

Supsiolani.2019.Pemberdayaan Masyarakat melalui Pembangunan

Bidang Pendidikan Nonformal.Jurnal Antropologi Sosial

dan Budaya.Vol. 5 (1) (2019): 20-30.

https://doi.org/10.24114/antro.v5i1.13172

Yotyodying, Sittipan. dkk. 2019. Quality Features of Family-School

Partnership in German School: Measurement and Association

with Parent-child Communication About School. Jerman: Journal

Pre-proofs https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.105078

154

BAB 7
POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA
DENGAN PENDEKATAN HUMANISTIK

DALAM PENDIDIKAN KELUARGA

C. Lenny Susilawati S
Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia

[email protected]

Abstrak:.
Pada umumnya sikap dan kepribadian anak ditentukan oleh
pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan, yang dilalui sejak
masa kecil. Pendidikan merupakan kebutuhan hidup dan
tuntutan kejiwaan. Anak harus diberikan pendidikan keluarga
dengan pola asuh yang demokratis dan humanis sedini mungkin.
Setiap orang tua menaruh harapan agar putra-putrinya berhasil
dalam perkembangan sosialnya, yakni mampu menjadi
sosok manusia sosial yang dapat diterima oleh lingkungan
sosialnya dan menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat bagi
kehidupan sesamanya.
Orang tua merupakan orang pertama yang paling berperan
dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak berinteraksi
dengan orangtua dalam kehidupan kesehariannya. Apa yang
diberikan dan dilakukan oleh orang tua tersebut menjadi sumber
perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Dalam pendidikan keluarga, orangtua harus
mampu menciptakan hubungan keluarga yang humanis dan
demokratis, karena sebagian besar waktu anak digunakan dalam
lingkungan keluarga, maka hubungan dengan anggota keluarga
menjadi landasan sikap anak dalam kehidupan sosial.
Pergaulan anak dalam keluarga inilah yang akan
membentuk sikap dari kepribadian anak kelak.
Pola asuh orang tua yang demokratis ditandai dengan adanya
hubungan yang humanis antara anak dengan orang tua.
Pendidikan keluarga yang dilakukan dengan humanis,
demokratis dan tanggung jawab yang didasari oleh kasih sayang

155

yang tulus dari orang tua mampu mengembangkan aspek- aspek
kepribadiannya yang baik bagi pendidikan anak kelak. Jadi peran
orang tua melalui pola asuh yang benar dan sesuai tingkat
perkembangan anak akan memberikan dampak kepada nilai-nilai
perilaku anak, semakin orang tua memberikan perhatian kepada
anak, maka perilaku anak menjadi lebih baik.
Kata kunci: Pola asuh demokratis, Pendekatan humanis, Pendidikan
Keluarga

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan,
keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan
dapat terjadi di bawah bimbingan orang lain ataupun secara
otodidak atau belajar sendiri. Pendidikan adalah aspek yang
sangat penting dalam kelangsungan hidup individu.
Biasanya, pendidikan dibagi menjadi beberapa tahap seperti
prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama,
sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi.
Pendidikan pada hakikatnya mengandung tiga unsur, yaitu
mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik menurut Darji
Darmohidarjo lebih ditujukan kepada pengembangan budi
pekerti, hati nurani, semangat, kecintaan, rasa kesusilaan,
ketaqwaan, dn lain-lainnya. Mengajar berarti member
pelajaran tentang berbagi ilmu yang bermanfaar bagi
perkembangan kemampuan berpikirnya. Sedangkan latihan
ialah usaha untuk memperoleh keterampilan dengan
melatihkan sesuatau secara berulang-ulang, sehingga terjadi
mekanisme atau pembiasaan.
Menurut Ahmadi, keluarga merupakan suatu sistem
kesatuan yang terdiri dari anggota-anggota yang saling
mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain. Pendapat
ini sejalan dengan ungkapan Suparlan yang mengatakan
bahwa hubungan antara anggota dijiwai oleh suasana kasih

156

sayang dan rasa tanggung jawab. Pengertian lain tentang
keluarga dikemukakan pula oleh Kartono yaitu
kelompok sosial paling intim, yang diikat oleh relasi seks,
cinta, kesetiaan dan pernikahan; di mana perempuan
berfungsi sebagai isteri dan laki-laki berfungsi sebagai
suami. Selanjutnya Elliot dan Merril mengatakan bahwa
keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua
orang atau lebih bertempat tingggal sarma yang
mempunyai hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
Karena itu Vembriarto mengemukakan bahwa keluarga
adalah kelompok sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-
anak yang mempunyai hubungan emosi dan tanggung
jawab dan memelihara yang menimbulkan motivasi dan
bertanggungjawab.

Orang tua adalah sosok model bagi anak sejak kita
lahir hingga dewasa bahkan sampai lansia. Apa yang kita
terapkan kepada anak kita adalah tak jauh hasil dari apa
yang orang tua kita terapkan kepada kita. Pola asuh
orangtua menjadi salah satu tolak ukur karakter dan
kepribadian anak kedepannya. Oleh karena itu, penting bagi
kalian para anak sekaligus para calon orang tua untuk
mengetahui macam-macam Pola asuh orang tua yang sudah
di terapkan.

Seperti namanya, teori belajar humanistik lebih
cenderung melihat pada perkembangan kepribadian
manusianya. Pendekatan yang satu ini dilihat dari kejadian
di mana dirinya melakukan berbagai hal positif.
Kemampuan positif inilah yang disebut dengan potensi
manusia. Para pendidik yang beraliran teori ini biasanya
lebih memfokuskan diri pada pembangunan positif para
muridnya saat mengajar. Kemampuan positif tersebut
sangat berkaitan erat dengan pengembangan emosi posifit
yang ada dalam domain afektif. Tentu saja, emosi menjadi
karakterikstik yang sangat kuat dari pada pendidik yang
beraliran humanistik. Bahkan dalam teori pembelajaran
humanistik disebutkan bahwa belajar adalah proses yang

157

dimulai dan memiliki tujuan demi kepentingan
memanusiakan manusia.

Pendekatan humanistik sangat menekankan pada
pentingnya sebuah emosi atau perasaan, komunikasi secara
terbuka dan juga nilai-nilai yang dimiliki oleh tiap anak.
Untuk itulah kenapa teori ini lebih cenderung untuk
mengasah kemanusiaan anak, sehingga para pendidik aliran
ini lebih menekankan pada nilai kerjasama, saling
membantu dan menguntungkan, kejujuran dan krativitas
dalam proses pembelajarannya. Dengan begitu akan
menghasilan suatu proses pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan serta hasil dari belajar yang dicapai anak.

Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategis
dalam pembentukan kepribadian anak. Sejak kecil, anak
sudah mendapat pendidikan dari kedua orang tuanya
melalui keteladanan dan kebiasaan hidup sehari-hari dalam
keluarga. Baik tidaknya keteladanan yang diberikan dan
bagaimana kebiasaan hidup orang tua sehari-hari dalam
keluarga akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak
(Zain, 2010:53). Dengan demikian, pola asuh orang tua akan
sangat mempengaruhi kepribadian atau tingkah laku
seorang anak, dan menentukan perkembangan kognitif anak
sekarang dan masa depan mereka. Peran orang tua yang
humanis dibutuhkan dalam membentuk kepribadian yang
baik bagi anak dengan cara memberikan peraturan-
peraturan dan kebebasan kepada anak.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah pola asuh orangtua dalam membangun
Pendidikan bagi anak?
2. Bagaimanakah permasalahan pola asuh orangtua dalam
Pendidikan keluarga?
3. Bagaimanakah solusi pola asuh orangtua dengan
pendekatan humanistik dalam Pendidikan keluarga ?

158

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan pola asuh orangtua dalam membangun
Pendidikan bagi anak
2. Mendeskripsikan permasalahan pola asuh orangtua dalam
Pendidikan keluarga
3. Mendeskripsikan solusi pola asuh orang tua dengan
pendekatan humanistik dalam Pendidikan keluarga

D. Pembahasan
1. Konsep Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian
pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan. Pendidikan juga dapat dimaknai sebagai proses,
cara dan perbuatan mendidik. Sedang pengertian
pendidikan menurut para ahli :
a. Plato. Menurut Plato, pendidikan adalah sesuatu yang
dapat membantu perkembangan individu dari jasmani
dan akal dengan sesuatu yang dapat memungkinkan
tercapainya sebuah kesempurnaan. Menurut Plato
pendidikan direncanakan dan diprogram menjadi tiga
tahap dengan tingkat usia, tahap pertama adalah
pendidikan yang diberikan kepada murid hingga sampai
dua puluh tahun; dan tahap kedua, dari usia dua puluh
tahun sampai tiga puluh tahun; sedangkan tahap ketiga,
dari tiga puluh tahun sampai usia empat puluh tahun.
b. Edgar Dalle. Pengertian pendidikan adalah usaha sadar
yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan
pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan
latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah
sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik
agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai
lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan
datang.

159

c. John Stuart Mill. pendidikan adalah meliputi segala
sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya
atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan
tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.

d. H. Horne. Menurut Horne, pendidikan adalah proses
yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih
tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang
secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada
vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar
intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

e. Prof. Richey. Pengertian pendidikan adalah yang
berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan
dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama
membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru)
bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di
dalam masyarakat.

Adapun fungsi pendidikan menurut Horton dan
Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang
nyata sebagai berikut:
a. Melestarikan kebudayaan.
b. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari

nafkah.
c. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi

dalam demokrasi.
d. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan

pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
e. Melalui pendidikan di sekolah orang tua melimpahkan

tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada
sekolah.
f. Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah
memiliki potensi untuk menanamkan nilai
pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin
dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah
dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya
pendidikan seks dan sikap terbuka.

160

g. Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah
diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak
didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese,
dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga
diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status
sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan
status orang tuanya.

h. Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat
pula memperlambat masa dewasa seseorang karena
siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang
tuanya.

Sementara itu, menurut David Popenoe, ada beberapa
fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
a. Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
b. Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
c. Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
d. Menjamin integrasi sosial.
e. Sumber inovasi sosial.

Tujuan Pendidikan di Indonesia Menurut
Konstitusi, yaitu :
a. Tap MPRS No. XXVI/MPRS/1966, menurut Tap MPRS

No. XXVI/MPRS/1966 tentang Agama, pendidikan dan
kebudayaan, tujuan pendidikan adalah untuk
membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan
pembukaan UUD 1945.
b. UU No. 2 tahun 1989, dalam UU No. 2 tahun 1989
menjelaskan pendidikan nasional bertujuan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
berkepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

161

c. TAP.MPR No.II/MPR/1993, menurut TAP.MPR
No.II/MPR/1993 tentang GBHN dijelaskanbahwa tujuan
pendidikan nasional adalah meningkatkan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,
ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat
kepribadian dan mempertinggi semangat kebangsaan
agar tumbuh manusia-manusia pembangunan yang
dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama
bertanggungjawab ataspembangunan bangsa.

d. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, menurut
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan
nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jenis Pendidikan di Indonesia, meliputi :
a. Pendidikan Formal, adalah jalur pendidikan yang
terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas :
1) Pendidikan Dasar, diselenggarakan untuk
memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk
hidup dalam masyarakat berupa pengembangan
sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Di Indonesia,
pendidikan dasar meliputi sekolah dasar (SD) dan
sederajat.
2) Pendidikan Menengah, dalam hubungan ke bawah
berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan pendidikan
dasar, dan dalam hubungan ke atas mempersiapkan
peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi
ataupun memasuki lapangankerja. Di Indonesia,
pendidikan menengah meliputi SMP, SMA, dan
sederajat.
3) Pendidikan tinggi, merupakan kelanjutan pendidikan
menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan

162

peserta didik menjadi anggota masyarakat yang

memiliki kemampuan akademik dan/atau

professional yang dapat menerapkan,

mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu

pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Di

Indonesia, pendidikan tinggi meliputi perguruan

tinggi dan sederajat.

Pendidikan formal dapat mendidik kedisiplinan anak

dan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak itu

sendiri. Sehingga terjadi keselarasan antara

pendidikan di dalam keluarga dengan sekolah dalam

hal menanamkan suatu kebiasaan-kebiasaan dan budi

pekerti yang baik.

b. Pendidikan Nonformal, adalah jalur pendidikan di luar

pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal
meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak
usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan
pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan,
pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja, pendidikan
kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik.
c. Pendidikan Informal, adalah jalur pendidikan keluarga
dan lingkungan. Kegiatan pendidikan informal yang
dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk
kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan formal
diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal
setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar
nasional pendidikan.

E. Landasan Yuridis
Landasan yuridis pendidikan adalah seperangkat konsep

peraturan perundang-undangan yang menjadi titik tolak sistem
pendidikan Indonesia, yang menurut Undang-Undang Dasar
1945 meliputi, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia,

163

Ketetapan MPR, Undang-Undang Peraturan Pemerintah
pengganti undang-undang, peraturan pemerintah, Keputusan
Presiden peraturan pelaksanaan lainnya, seperti peraturan
Menteri, Instruksi Menteri dan lain-lain.

Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya
manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan
dan menyesuaikan dengan perubahan global serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa
Indonesia melalui DPR dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003
telah mensahkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
yang baru, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas
Nomor 2 Tahun 1989.
Adapun landasan yuridis terkait pendidikan, yaitu :
1. Pendidikan Menurut Undang-undang Dasar 1945

Undang undang dasar 1945 merupakan hukum
tertinggi di indonesia. Semua peraturan harus tunduk
kepada undang undang termasuk pendidikan. Pasal-pasal
yang bertalian dengan pendidikan dalam UUD 1945 hanya 2
pasal yaitu pasal 31 dan 32 yang menceritakan tentang
pendidikan dan kebudayaan. Pasal 31 UUD 1945 tentang
pendidikan sebagai berikut :
Ayat 1 : Setiap warga negara berhak mendapatkan
pendidikan.
Ayat 2 : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan
dasar pemerintah wajib membiyayainya.
Ayat 3 : Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
diatur dengan undang-undang.
Ayat 4 : Negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran
pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran
pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendid ikan nasional.

164

Ayat 5 : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan
persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia.

2. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Diantara peraturan perundangan-undangan RI yang
paling banyak membicarakan pendidikan adalah Undang-
Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Undang-undang ini
disebut sebagai induk peraturan perundang-undangan
pendidikan . Undang-undang ini mengatur pendidikan
pada umumnya artinya segala sesuatu yang bertalian
dengan pendidikan, mulai dari prasekolah sampai dengan
pendidikan tinggi ditentukan dalam undang-undang ini.
Ada beberapa pasal yang berkaitan dengan pendidikan
antara lain:
a. Pasal 1 ayat 2 dan ayat 5 tentang pendidikan yang
berakar pada kebudayaan dan nilai-nilai agama yang
berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945
b. Pasal 5 tentang hak untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu
c. Pasal 6 tentang kewajiban mengikuti pendidikan dasar
dan kerja sama antara komponen masyarakat dalam
uapaya pengembangan pendidikan.
d. Pasal 13 tentang perbedaan pendidikan jalur formal,
nonformal dan informal.
e. Pasal 15 tentang pembagian jalur pendidikan formal
f. Pasal 29 tentang jalur kedinasan
g. Pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini
h. Pasal 20 tentang pendidikan akademik dan pendidikan
profesional
i. Pasal 24 tentang kebebasan akademik, kebebasan
mimbar akademik dan otonomi keilmuan
j. Pasal 12 tentang hak peserta didik untuk memperoleh
pendidikan agama

165

k. Pasal 39 tentang tenaga kependidikan
l. Pasal 36 tentang pengembangan kurikulum
m. Pasal 45 tentang pengadaan dan pemberdayaan sumber

daya pendidikan
n. Pasal 58 tentang evaluasi hasil belajar peserta didik.

Pendidikan dasar merupakan hak dan sekaligus
kewajiban warga negara, maka kebijakan pemerintah
tentang wajib belajar disertai dengan program-program
pendukungnya seperti pemerataan kesempatan pendidikan
dengan membangun sekolah-sekolah dengan berbagai
model adalah kebijakan yang bagus yang berlu didukung
oleh semua pihak.

F. Landasan Filosofis
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk

memanusiakan manusia. Artinya melalui proses pendidikan
diharapkan terlahir manusia-manusia yang baik. Standar
manusia yang ―baik‖ berbeda antar masyarakat, bangsa atau
negara, karena perbedaan pandangan filsafah yang menjadi
keyakinannya. Perbedaan filsafat yang dianut dari suatu
bangsa akan membawa perbedaan dalam orientasi atau tujuan
pendidikan. Bangsa Indonesia yang menganut falsafah
Pancasila berkeyakinan bahwa pembentukan manusia
Pancasilais menjadi orientasi tujuan pendidikan yaitu
menjadikan manusia indonesia seutuhnya.Bangsa Indonesia
juga sangat menghargai perbedaan dan mencintai demokrasi
yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang
maknanya ―berbeda tetapi satu.‖

Dari semboyan tersebut bangsa Indonesia juga sangat
menjunjung tinggi hak-hak individu sebagai mahluk Tuhan
yang tak bisa diabaikan oleh siapapun. Anak sebagai mahluk
individu yang sangat berhak untuk mendaptkan pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Dengan
pendidikan yang diberikan diharapkan anak dapat tumbuh
sesuai dengan potensi yang dimilkinya, sehingga kelak dapat

166

menjadi anak bangsa yang diharapkan. Melalui pendidikan
yang dibangun atas dasar falsafah pancasila yang didasarkan
pada semangat Bhineka Tunggal Ika diharapkan bangsa
Indonesia dapat menjadi bangsa yang tahu akan hak dan
kewajibannya untuk bisa hidup berdampingan, tolong
menolong dan saling menghargai dalam sebuah harmoni
sebagai bangsa yang bermartabat. Sehubungan dengan
pandangan filosofis tersebut maka kurikulum sebagai alat
dalam mencapai tujuan pendidikan, pengembangannya harus
memperhatikan pandangan filosofis bangsa dalam proses
pendidikan yang berlangsung.

G. Landasan Keilmuan
Landasan keilmuan yang mendasari pentingnya

pendidikan anak didasarkan kepada beberapa penemuan para
ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan
perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan
perkembangan struktur otak. Menurut Wittrock (Clark, 1983),
ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat,
yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan
sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak
tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas
berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan
bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar
hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang
sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat
stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

Jean Piaget (1972) mengemukakan tentang bagaimana
anak belajar:― Anak belajar melalui interaksi dengan
lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan
percobaan dan penelitian sendiri. Orangtua dan guru bisa
menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang
tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami
sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia
harus menemukannya sendiri.‖ Sementara Lev Vigostsky
meyakini bahwa : pengalaman interaksi sosial merupakan hal

167

yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak.
Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk
melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan
menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat
melakukan sesuatu atas lingkungannya. Howard Gardner
menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan
manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik,
kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
naturalistik, kecerdasan logiko – matematik, kecerdasan visual
– spasial, kecerdasan musik.

H. Konsep Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang

berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang
tua sebagai tugas dan tanggungjawabnya untuk mendidik
anak-anaknya (Djamarah, 2014: 2). Pendidikan keluarga
memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar, agama,
kepercayaan, nilai moral, norma sosial, dan pandangan hidup
yang diperlukan anak untuk dapat hidup dalam keluarga dan
di masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama
dan utama bagi anak. Keluarga disebut sebagai lingkungan
pendidik pertama karena keluarga merupakan tempat pertama
dalam interaksi pendidikan anak. Sebelum anak memasuki usia
sekolah, lingkungan sosial pertama baginya adalah keluarga.
Keluarga seharusnya mampu menjadi ruang pertama bagi
berlangsungnya edukasi dari orang tua kepada anaknya. Orang
tua menjadi sentral dalam memberikan pengasuhan, perhatian
dan pengalaman. Orang tua sebagai orang yang terdekat
mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap
keberhasillan anak dalam menyelesaikan tugas
perkembangannya.

Hurlock berpendapat bahwa keluarga merupakan
―Training Centre‖ bagi penanaman nilai-nilai (termasuk juga
nilai-nilai agama). Pendapat ini menunjukkan bahwa
keluarga mempunyai peran sebagai pusat pendidikan bagi

168

anak untuk memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai (tata
krama, sopan santun, atau ajaran agama) dan kemampuan
untuk mengamalkan atau menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari, baik secara personal maupun sosial
kemasyarakatan.

Istilah keluarga dan pendidikan adalah dua istilah yang
tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga di situ ada
pendidikan. Di mana ada orang tua di situ ada anak yang
merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang
tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang
sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua.
Dari sini muncullah istilah ―pendidikan keluarga‖. Artinya,
pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang
dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung
jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga. Peranan
keluarga terkait dengan upaya- upaya orang tua dalam
menanam nilai-nilai agama kepada anak, yang prosesnya
berlangsung pada masa pralahir atau dalam kandungan dan
pasca lahir.

Dengan demikian, pendidikan keluarga adalah usaha
sadar yang dilakukan orang tua, karena mereka pada
umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk
membimbing dan mengarahkan, pengendali dan pembimbing
(direction control and guidance, konservatif (mewariskan dan
mempertahankan cita-citanya), dan progressive (membekali
dan mengembangkan pengetahuan nilai dan ketrampilan bagi
putra-putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan
hidup di masa datang.

Selain itu, keluarga juga diharapkan dapat mencetak
anak agar mempunyai kepribadian yang nantinya dapat
dikembangkan dalam lembaga-lembaga berikutnya, sehingga
wewenang lembaga-lembaga tersebut tidak diperkenankan
mengubah apa yang telah dimilikinya, tetapi cukup dengan
mengkombinasikan antara pendidikan keluarga dengan
pendidikan lembaga tersebut, sehingga masjid, pondok

169

pesantren, dan sekolah merupakan tempat peralihan dari
pendidikan keluarga.

Menurut Fuad Ihsan, tanggung jawab pendidikan
oleh kedua orang tua meliputi:
1. Memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab

ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan,
karena anak memerlukan makan, minum dan perawatan,
agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
2. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara
jasmani maupun rohani dari berbagai gangguan penyakit
atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan
dirinya.
3. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga
apabila ia dewasa ia mampu berdiri sendiri dan
membantu orang lain serta melaksanakan fungsi
kekhalifahannya.
4. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat
dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan
tuntunan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.
Tanggung jawab ini dikategorikan juga sebagai tanggung
jawab kepada Tuhan.

Agar tanggung jawab orang tua dalam pendidikan

anak dapat terealisasi, maka perlu ditempuh dengan berbagai

cara, antara lain:

1. Adanya kesadaran orang tua akan tanggung jawab

pendidikan dan membina anak terus menerus.

2. Orang tua perlu dibekali dengan teori-teori pendidikan

atau bagaimana cara- cara mendidik anak.

3. Disamping itu orang tua perlu juga

meningkatkan ilmu dan keterampilannya sebagai

pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, dengan

cara belajar terus menerus.

170

Namun demikian, orang tua perlu bekerja sama dengan
pusat pendidikan tempat mengamanatkan pendidikan
anaknya, seperti belajar di sekolah. Tujuannya adalah tetap
memantau setiap perkembangan pendidikan anak dan tidak
melepaskan tanggungjawab. Hal itu merupakan bentuk
tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya
apabila ia sendiri merasa tidak mampu untuk memberikan
pendidikan yang dibutuhkan anaknya.

I. Fungsi Pendidikan Keluarga
Fungsi keluarga itu terdiri atas dua pokok yaitu:

pertama, fungsi dari keluarga inti tidaklah hanya merupakan
kesatuan biologis, tetapi juga merupakan bagian dari hidup
bermasyarakat. Disini keluarga bukan hanya bertugas
memelihara anak, tetapi berfungsi untuk membentuk ide dan
sikap sosial. Dan kedua bahwa keluarga itu mempunyai
kewajiban untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan, rasa
keagamaan, kemauan, kesukaan, keindahan, kecakapan
berekonomi dan pengetahuan perniagaan. Jika dilihat dari
sudut kebutuhan keluarga maka fungsi keluarga adalah
pemenuhan kebutuhan biologis, wadah emosional atau
perasaan, pendidikan sosialisasi, ekonomi dan pemuasan
sosial. Keluarga berfungsi mendidik anak mulai dari awal
pertumbuhan hingga terbentuknya pribadi anak. Anak
dilahirkan tanpa bekal sosial, maka orang tua (ibu)
berkewajiban memberikan sosialisasi tentang nilai yang ada
dalam masyarakat pada anak-anaknya agar dapat
berpartisipasi dengan anggota keluarga dan kelak pada
masyarakat. Dalam keluarga anak memperoleh segi-segi utama
dari pembentukan kepribadian, tingkah laku, budi pekerti,
sikap dan reaksi emosionalnya. Keluarga menjadi perantara di
antara masyarakat luas dan individu. Perlu diketahui bahwa
kepribadian seorang anak diletakkan dalam keluarga pada usia
yang sangat muda dan yang berpengaruh besar terhadap
kepribadian seseorang anak adalah ibunya.

171

Achir mengatakan bahwa dengan adanya perubahan
yang terjadi dalam masyarakat, maka fungsi keluarga
dipadatkan menjadi delapan fungsi.
1. Fungsi keagamaan, yang mendorong dikembang-

kannya keluarga dan seluruh anggotanya menjadi insan-
insan agamis yang penuh iman dan taqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Apabila fungsi ini dapat dikembangkan
dengan baik, maka keluarga tersebut niscaya akan
mempunyai motivasi yang kuat dan luhur untuk
membangun dirinya agar bisa melaksanakan amal
ibadahnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebaik-baiknya;
2. Fungsi sosial budaya, yang memberikan kepada keluarga
dan seluruh anggotanya kekayaan budaya bangsa dan
motivasi luhur untuk memelihara kehidupan sesuai dengan
sosial budaya bangsa dan membangun masa depannya yang
gemilang;
3. Fungsi cinta kasih dalam keluarga yang memberikan
landasan yang kokoh untuk hubungan anak dengan anak,
suami dengan isteri, orang tua dengan anaknya serta
hubungan kekerabatan antargenerasi sedemikan rupa
sehingga keluarga tersebut adalah tempat atau wadah yang
pertama dan utama dimana sesorang dapat mendapatkan
kehidupan yang penuh cinta kasih, lahir dan bathin;
4. Fungsi perlindungan atau proteksi, yang menumbuhkan
rasa aman dan kehangatan yang tidak ada batas dan
tandingannya. Apabila fungsi ini dapat dikembangkan
maka keluarga bisa menjadi tempat perlindungan yang
aman lahir dan batin bagi seluruh anggotanya;
5. Fungsi reproduksi, yang merupakan mekanisme
untuk melanjutkan keturunan dari generasi ke generasi
yang dewasa ini perlu direncanakan agar tercapai
keseimbangan internal dalam keluarga, sekaligus antar
keluarga, antar keluarga dengan masyarakat dan daya
dukung lingkungan;
6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan yang memberikan peran
kepada keluarga untuk mendidik anak keturunan agar

172

dapat melakukan penyesuaian dengan alam kehidupan di
masa depan. Dengan fungsi yang dinamis maka anak
dibekali kemampuan dinamika sumber daya insani
untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang;
7. Fungsi ekonomi, yang menjadi unsur pendukung
kemampuan kemandirian keluarga dan anggotanya dalam
batas-batas ekonomi masyarakat, bangsa dan negara di
mana keluarga hidup. Fungsi inilah yang apabila dapat
dikembangkan dengan baik memberikan kepada setiap
keluarga kemampuan untuk mandiri dalam bidang
ekonominya, sehingga mereka dapat memilih bentuk dan
arahan sesuai kesanggupannya;
8. Fungsi pembinaan lingkungan, yang memberikan kepada
setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara
serasi, selaras dan seimbang dalam keadaan yang berubah
secara dinamis. Kemampuan inilah yang kiranya dapat
menjadikan setiap keluarga tidak dikucilkan dalam
lingkungannya yang bersifat luas.

Kesimpulan yang bisa diambil bahwa keluarga
memegang peran penting dalam menjalankan fungsi
sosialisasi pada anak. Dalam perspektif sosiologis, psikologis
dan kultural peran orang tua sebagai pengendali keluarga
merupakan kewajiban sebagai peran sosial orang tua. Terutama
dikaitkan dengan upaya membentuk kepribadian anak yang
diterima dan tidak sampai menjadikan anak tidak bersikap dan
berperilaku yang tidak diterima lingkungan masyarakat
sosialnya. Fungsi-fungsi keluarga yang dilakukan dengan baik
akan memberikan hal yang positif bagi perkembangan
individu di dalamnya dan pada gilirannya memberikan
kontribusi bagi kehidupan lingkungan sosialnya. Keluarga
yang mempunyai fungsi- fungsi pokok yakni fungsi yang sulit
dirubah dan digantikan oleh orang lain, sedangkan fungsi-
fungsi lain atau fungsi sosial, relatif lebih mudah berubah atau
mengalami perubahan.

173

Orang tua sebagai orang yang terdekat mempunyai
tanggung jawab yang sangat besar terhadap keberhasillan
anak dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Orang
tua diharapkan dapat memberikan arah, memantau,
mengawasi, dan membimbing anak mereka. Maksud
pendidikan pertama adalah sebelum anak-anak mendapat
pendidikan dari lembaga pendidikan (sekolah) mereka telah
memperoleh pendidikan dari keluarga. Sehingga perlu
diketahui bahwa keluarga merupakan lingkungan
pendidikan pertama yang bertanggungjawab penuh atas
pembentukan moral dan penanaman nilai terhadap anak.

Kewajiban orang tua pada pendidikan anak, tidak
akan selesai dengan menyekolahkannya. Ketika anak
memasuki bangku sekolah, orang tua perlu berkomunikasi
dengan sekolah untuk meninjau dan membantu proses
perkembangan anak, sehingga terjadi keseragaman pemberian
pendidikan antara rumah dan sekolah. Orang tua tidak bisa
lepas dari tanggung jawabnya, karena pola pendidikan
keluarga berbeda dengan pendidikan formal maupun non-
formal. Pendidikan keluarga lebih mengedepankan aspek kasih
sayang, sehingga anak merasa lebih nyaman (Musmalim, 2011:
17).

Pendidikan keluarga mempunyai peranan yang sangat
berarti dalam kehidupan anak. Karena dengan pendidikan
keluarga yang didapat, anak dalam kiprahnya di dunia ini
dapat berbuat banyak. Melalui pendidikan keluarga pula anak
nantinya berhasil memecahkan segala persoalan yang ia
hadapi. Maka ia akan memperoleh pengalaman dan
pengetahuan baru yang akan bermanfaat di dalam perjalanan
hidupnya.

J. Konsep Pola Asuh Orangtua
Secara epistimologi kata pola diartikan sebagai cara

kerja, dan kata asuh berarti menjaga (merawat dan
mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih, dan
sebagainya) supaya dapat berdiri sendiri, atau dalam bahasa

174

populernya adalah cara mendidik. Secara terminologi pola
asuh orang tua adalah cara terbaik yang ditempuh oleh
orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari
tanggung jawab kepada anak.

Menurut Kohn yang dikutip Chabib Thoha bahwa pola
asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan
anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain
dari cara orang tua memberi peraturan pada anak, cara
memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua
menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan
perhatian dan tanggapan terhadap keinginan anak.

Menurut Broumrind yang dikutip oleh Dr. Yusuf
mengemukakan perlakuan orang tua terhadap anak dapat
dilihat dari :
1. Cara orang tua mengontrol anak.
2. Cara orang tua memberi hukuman.
3. Cara orang tua memberi hadiah.
4. Cara orang tua memerintah anak.
5. Cara orang tua memberikan penjelasan kepada anak.

Jadi yang dimaksud dengan pola asuh orang tua adalah
pola yang diberikan orang tua dalam mendidik atau mengasuh
anak baik secara langsung maupun tidak secara langsung.
Cara mendidik secara langsung artinya bentuk asuhan orang
tua yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian,
kecerdasan dan ketrampilan yang dilakukan secara sengaja,
baik berupa perintah, larangan, hukuman, penciptaan situasi
maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan.
Sedangkan mendidik secara tidak langsung adalah
merupakan contoh kehidupan sehari-hari mulai dari tutur
kata sampai kepada adat kebiasaan dan pola hidup,
hubungan orang tua, keluarga, masyarakat dan hubungan
suami istri. Akan tetapi setiap orang tua juga mempunyai cara
yang berebeda-beda untuk mengasuh dan mendidik anak-
anaknya. Pola asuh orang tua yang sebatas menjadi ibu
rumah tangga akan lebih maksimal untuk mengurus dan

175

mendidik anak-anaknya di rumah. Beda dengan pola asuh ibu
yang mempunyai peran ganda, selain menjadi ibu rumah
tangga ia juga disibukkan dengan mencari kebutuhan ekonomi
untuk mengais rezeki. Dan waktu untuk keluargapun
berkurang dengan kesibukan yang ada di luar rumah, orang
tua yang mempunyai kerja ganda salah satunya adalah orang
tua pekerja.

Orang tua dan anak mempunyai kewajiban dan
tugasnya masing-masing, orang tua bertugas untuk
mendidik dan mengajarkan anak-anaknya kepada kebaikan
dan berperilaku sesuai dengan perintah agama serta
memerintahkan anak untuk selalu mendirikan shalat,
begitupun kewajiban anak kepada orang tua harus sopan dan
berbuat baik kepada kedua orang tua. Orang-tua sebaiknya
memberi perhatian kepada anak-anak mereka dan
menanamkan kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan.
Mereka juga berupaya mengetahui perkembangan anak mereka
di sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah
untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah.
Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara
langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.

Menurut Djamarah (2014 : 51) ―Pola asuh orang tua
dalam keluarga berarti kebiasaan orang tua, Ayah dana tau
ibu, dalam memimpin mengasuh dan membimbing anak
dalam keluarga‖. Sedangkan menurut Mulyadi (2016 : 184)
―Pola asuh dapat diartikan sebagai proses interaksi total antara
orang tua dengan anak, yang mencakup proses pemeliharaan
(pemberian makan, membersihkan dan melindungi) dan proses
sosialisasi (mengajarkan perilaku yang umum dan sesuai
dengan aturan dalam masyarakat‖. Menurut Shochib (2014 :
15) ―Pola asuh orang tua merupakan upaya orang tua dalam
membantu anak untuk mengembangkan disiplin diri yang
diaktualisasikan terhadap penataan lingkungan fisik,
lingkungan sosial internal dan eksternal, pendidikan internal
dan eksternal, dialog dengan anak-anaknya, suasana psikologis,
sosial budaya, perilaku yang ditampilkan, kontrol terhadap

176

perilaku anak, dan menentukan nilai-nilai moral. Kemudian
Masni (2017 : 73) berpendapat bahwasannya ―Pola bimbingan
atau pola asuh orangtua pada umumnya sangat mempengaruhi
kepribadian seorang anak. Pola bimbingan orangtua dalam
mendidik anak dapat terlihat pada kemandirian, mengenali dan
memahami dirinya, mampu membuat pilihan dan dapat
merencanakan masa depannya‖.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat dikatakan
bahwa pola asuh orangtua dapat diartikan sebagai suatu
kesatuan sistem atau cara yang dilakukan oleh orang tua
dalam rangka merawat, mendidik serta membimbing
anaknya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang demi
ketercapaian kualitas hidup yang baik.

K. Pola Asuh Orangtua Dalam Pendidikan Keluarga
Pola asuh yang diterapkan oleh para orang tua untuk

mendidik anaknya sangatlah berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh setiap
keluarga merupakan pola pengasuhan yang terbaik menurut
keluarga atau orang tua tersebut, dengan demikian pada
zaman sekarang sangat banyak sekali tipe-tipe pola asuh yang
diterapkan para orang tua untuk mendidik buah hatinya,
diantaranya sebagai berikut:

1. Pola Asuh Demokratis
Djamarah (2014 : 51) ―Pola asuh orang tua dalam

keluarga berarti kebiasaan orang tua, ayah dan atau ibu,
dalam memimpin mengasuh dan membimbing anak dalam
keluarga‖. Menurut Mustari (2014 : 137), ―Demokratis
adalah cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai
sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.‖ Oleh
karena itu dapat kita ketahui bersama bahwasannya yang
dimaksud pola asuh demokratis orang tua menurut Thoha
(1999 : 111) adalah: Pola asuh yang ditandai dengan
pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak-anaknya,
dan kemudian anak diberi kesempatan untuk tidak selalu
tergantung kepada orang tua. Dalam pola asuh seperti ini

177

orang tua memberi sedikit kebebasan kepada anak untuk
memilih apa yang dikehendaki dan apa yang diinginkan
yang terbaik bagi dirinya, anak diperhatikan dan
didengarkan saat anak berbicara, dan bila berpendapat
orang tua memberi kesempatan untuk mendengarkan
pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang
menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri.

Di samping itu, orang tua memberi pertimbangan dan
pendapat kepada anak, sehingga anak mempunyai sikap
terbuka dan bersedia mendengarkan pendapat orang
lain, karena anak sudah terbiasa menghargai hak dari
anggota keluarga di rumah. Pada dasarnya pola asuh tipe
ini sangat memprioritaskan kepentingan bagi anak, akan
tetapi para orang tua tidak ragu untuk mengendalikan
mereka. Orang tua pada tipe pola asuh demokratis selalu
bersikap rasional dan mendasari tindakan- tindakan yang
dilakukannya melalui pemikiran-pemikiran yang matang.
Para orang tua yang menerapkan tipe pola asuh demokratis
selalu bersikap realistis terhadap kemampuan yang dimiliki
oleh anak-anaknya, tidak mengharapkan kemampuan anak
yang lebih, tidak memaksakan anak untuk melampaui batas
kemampuannya. Orang tua cenderung memberikan
kebebasan kepada anak untuk dapat memilih dan
melakukan suatu kegiatan atau tindakan yang dilakukan
oleh anak, pendekatan pada tipe pola asuh ini bersifat
hangat kepada anak, sehingga menciptakan situasi dan
kondisi pola asuh yang terkesan memberi kenyamanan
kepada anak. Dalam pola asuh demokratis terdapat ciri-ciri
atau indikator sebagai berikut yang telah di ungkapkan
menurut (Fitriany, 2018 : 16) :
a. Anak diberi kesempatan untuk mandiri dan

mengembangkan kontrol internal.
b. Anak diakui sebagai yang dilibatkan oleh orang tua

dalam mengambil keputusan.
c. Menetapkan peraturan serta mengatur kehidupan anak.

Saat orang tua menggunakan hukuman jika anak

178

menolak melakukan apa yang telah disetujui bersama,

dengan hukuman yang edukatif untuk anak.

d. Memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak

terlepas dari pengendalian mereka.

e. Bersikap realistis terhadap

kemampuan yang dimiliki oleh anak.

f. Memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan

melakukan tindakan dengan tetap mengawasinya.

g. Pendekatan yang dilakukan bersifat hangat.

Penerapan pola asuh tipe demokrasi ini dirasa paling
efektif jika diterapkan oleh para orang tua untuk mendidik
anak-anaknya terlihat dari indikator yang telah disebutkan,
pola asuh demokrasi ini sangat mementingkan dan
cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk
mengembangkan segala kemampuannya dengan tetap
memberi pengawasan dan pengendalian terhadap anak
serta di dukung oleh pendekatan yang bersifat hangat dapat
membuat anak merasa nyaman berada di lingkungan
keluarganya. Berikut beberapa indikator dari pola asuh
demokratis :
a. Anak diberi kesempatan mengembangkan diri secara

mandiri sesuai kemampuannya.
b. Pendekatan orang tua bersifat hangat.
c. Diberi kesempatan terlibat

dalam mengambil keputusan.
d. Diberi kebebasan di dalam memilih hal yang anak sukai,

akan tetapi tetap dalam pengendalian orang tua.
e. Jika anak melakukan kesalahan akan diberi hukuman

yang bersifat edukatif.

Selain hal yang disebutkan di atas, mendidik anak
dengan cara demokratis yaitu orang tua memberikan
pengakuan tehadap kemampuan anak, anak diberi
kesempatan untuk tidak tergantung kepada orang tua.
Orang tua memberi kebebasan kepada anak untuk

179

memilih apa yang yang terbaik baginya, mendengarkan
pendapat anak, dilibatkan dalam pembicaraan, terutama
yang menyangkut kehidupan anak sendiri. Pola asuh secara
demokratis sangatlah positif pengaruhnya pada masa depan
anak, anak akan selalu optimis dalam melangkah
untuk meraih apa yang diimpikan dan di cita-citakan.

Pendidikan keluarga dikatakan berhasil manakala
terjalin hubungan yang harmonis antara orang tua dengan
anak, baik atau buruk sikap anak dipengaruhi oleh
bagaimana orang tua menanamkan sikap.

2. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik anak

dengan menggunakan kepemimpinan otoriter,
kepemimpinan otoriter yaitu pemimpin menentukan semua
kebijakan, langkah dan tugas yang harus dijalankan.
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang ditandai dengan
cara mengasuh anak-anak dengan aturan yang ketat, sering
kali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang
tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri
dibatasi, anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak
ngobrol, bercerita, bertukar pikiran dengan orang tua.
Orang tua malah menganggap bahwa semua sikap yang
dilakukan itu sudah benar sehingga tidak perlu minta
pertimbangan anak atas semua keputusan yang mengangkat
permasalahan anak-anaknya.

Pola asuh yang bersifat otoriter ini juga
ditandai dengan hukuman-hukuman yang dilakukan
dengan keras, anak juga diatur dengan berbagai macam
aturan yang membatasi perlakuannya. Perlakuan seperti ini
sangat ketat dan bahkan masih tetap diberlakukan sampai
anak tersebut menginjak dewasa.

Mulyadi (2016 : 184)―Pola asuh dapat diartikan
sebagai proses interaksi total antara orang tua dengan anak,
yang mencakup proses pemeliharaan (pemberian makan,
membersihkan dan melindungi) dan proses sosialisasi

180

(mengajarkan perilaku yang umum dan sesuai dengan
aturan dalam masyarakat‖. Menurut Agustiawati (2014 : 14)
―Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik anak yang
dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-
aturan dan batasan- batasan yang mutlak harus ditaati oleh
anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak.
Dengan demikian dapat kita maknai bahwa pola asuh
otoriter merupakan pola asuh yang menggunakan
pendekatan memaksakan kemauan serta kehendak orang
tua kepada anak yang harus dituruti dan dipatuhi dengan
cara mutlak oleh seorang anak. Menurut teori Wahyuning
(dalam Fitriany, 2018 : 11) ―pola asuh otoriter sangat kuat
dalam mengontrol perilaku anak‖. Merujuk dari definisi
tersebut bisa digambarkan bahwasannya tipe pola asuh
otoriter cenderung memiliki kekuasaan yang penuh dan
menuntut ketaatan yang mutlak kepada anak, sehingga
cenderung dapat menghambat keterbukaan anak kepada
orang tua.

Pada pola asuh otoriter bersifat satu arah yang mana
orang tua lebih cenderung memberikan perintah yang harus
selalu dipatuhi oleh anak, sehingga memunculkan
kepribadian anak yang cenderung memiliki rasa ketakutan
yang lebih kepada orang tua serta menutup diri. Biasanya
orang tua dengan tipe pola pengasuhan ini mengawasi
anak-anak mereka dengan sangat ketat, sehingga
menimbulkan ke cemasan pada anak jika melakukan
kesalahan pada segala sesuatu yang diperintahkan oleh
orang tuanya.

Menurut (Fitriany, 2018 : 12) pola asuh otoriter memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Anak harus tunduk dan patuh kepada kehendak orang

tua.
b. Pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak sangat

ketat.
c. Anak hampir tidak pernah menerima pujian.
d. Orang tua yang tidak mengenal kompromi dan

181

dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.

Ciri-ciri pola asuh otoriter di antaranya :
a. Hukuman yang keras
b. Suka menghukum secara fisik
c. Bersikap mengomando
d. Bersikap kaku (keras)
e. Cenderung emosional dalam bersikap menolak
f. Harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan

tidak boleh membantah.

Akibatnya anak cenderung memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
a. Mudah tersinggung
b. Penakut
c. Pemurung tidak bahagia
d. Mudah terpengaruh dan mudah stress
e. Tidak mempunyai masa depan yang jelas
f. Tidak bersahabat
g. Gagap (rendah diri).

Pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang cenderung
memaksakan segala kehendak dan tuntutan orang tua
kepada anaknya, dengan pengontrolan sangat ketat, yang
dapat menimbulkan perasaan takut, merasa tidak bahagia
dan mudah stress pada anak. Berdasarkan penjelasan di atas
dapat kita ketahui bahwa indikator dari pola asuh otoriter
adalah sebagai berikut:
a. Orang tua memiliki kuasa penuh terhadap anak.
b. Komunikasi bersifat satu arah.
c. Anak hampir tidak pernah diberi pujian dari orang tua.
d. Anak cenderung merasa ketakutan dibawah tekanan

orang tua.
e. Memaksakan segala kehendak orang tua.
f. Orang tua hendaknya tidak memperlakukan anak secara

otoriter atau perlakuan yang keras karena akan

182

mengakibatkan perkembangan pribadi atau akhlak
anak yang tidak baik.

3. Pola Asuh Permisif
Pola Permisif adalah membiarkan anak bertindak

sesuai dengan keinginannya, orang tua tidak memberikan
hukuman dan pengendalian. Pola asuh ini ditandai
dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk
berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, orang tua
tidak pernah memberikan aturan dan pengarahan kepada
anak, sehingga anak akan berperilaku sesuai dengan
keinginannya sendiri walaupun terkadang bertentangan
dengan norma sosial.

Menurut (Fitriany, 2018 : 14) ―pola asuh permisif
merupakan segala kehendak orang tua diberikan kepada
anak untuk bebas memilih sesuka hati tanpa memikirkan
dampaknya yang dilakukan oleh anak‖. Sedangkan
menurut Dariyo (dalam Agustiawati 2014 : 16) menyebutkan
bahwasannya ―pola asuh permisif ini orang tua justru
merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan
serta kebebasan secara luas kepada anaknya‖. Adapun
menurut Wahyuning (dalam Fitriany, 2018 : 13) ―pola asuh
permisif sangat toleran, ini membuat orang tua memiliki
sikap yang relatif hangat dan menerima sang anak dengan
apa adanya‖. Meskipun demikian kehangatan yang tercipta
dapat membuat orang tua memanjakan sang anak dan
cenderung selalu menuruti apa kemauan sang anak,
sedangkan dengan orang tua menerima anak dengan apa
adanya dapat menimbulkan kebebasan kepada anak untuk
melakukan hal-hal apa saja yang mereka inginkan tentunya
dengan pengontrolan yang kurang.

Berikut merupakan ciri-ciri atau indikator dari
tipe pola asuh permisif menurut (Fitriany, 2018 : 14) :
a. Orang tua bersikap acceptance tinggi namun kontrolnya

rendah.
b. Anak diizinkan membuat keputusan sendiri dan dapat

183

berbuat sekehendaknya.
c. Orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk

menyatakan dorongan atau keinginan.
d. Orang tua kurang menerapkan hukuman kepada

anak, bahkan tidak menggunakan hukuman.

Dalam hal ini Elizabeth B Hurlock berpendapat
disiplin permisif tidak membimbing ke pola perilaku yang
disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman.
Ciri-ciri pola asuh permisif yaitu :
a. Kontrol orag tua terhadap anak sangat lemah.
b. Memberikan kebebasan kepada anak untuk

dorongan atau keinginannya.
c. Anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang

dianggap benar oleh anak.
d. Hukuman tidak diberikan karena tidak ada aturan

yang mengikat.
e. Kurang membimbing.
f. Anak lebih berperan dari pada orang tua.
g. Kurang tegas dan kurang komunikasi.

Sebagai akibat dari pola asuh ini terhadap
kepribadian anak kemungkinannya adalah:
a. Agresif
b. Menentang atau tidak dapat bekerja sama dengan

orang lain.
c. Emosi kurang stabil.
d. Selalu berekspresi bebas.
e. Selalu mengalami kegagalan karena tidak ada

bimbingan.

Pola asuh ini sebaiknya diterapkan oleh orang tua
ketika anak telah dewasa, di mana anak dapat memikirkan
untuk dirinya sendiri, mampu bertanggung jawab atas
perbuatan dan tindakannya. Dari definisi menurut beberapa
ahli tersebut kita dapat mengetahui bahwa, pola asuh tipe

184

permisif ini dapat dikatakan sangat bertolak belakang
dengan pola asuh otoriter, pola asuh permisif cenderung
serba membolehkan serta memberikan kebebasan kepada
anak tanpa memberikan kontrol dan pengawasan sama
sekali, pada pola asuh permisif anak diberikan kebebasan
untuk mengatur apa yang diinginkannya dan orang tua
tidak banyak mengatur anaknya. Semua keputusan lebih
banyak dibuat oleh anak dibandingkan oleh orang tuanya.
Berikut merupakan indikator yang terdapat pada pola asuh
permisif diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kontrol atau pengawasan orang tua yang rendah.
b. Memberikan kebebasan kepada anak secara berlebihan.
c. Anak diberikan kebebasan dalam melakuan

keinginannya.
d. Tidak diberlakukan sistem hukuman kepada anak.
e. Membolehkan anak melakukan segala kegiatan tanpa

diawasi oleh orang tua.

Dari ketiga pola asuh orangtua tersebut di atas dapat
diringkaskan bahwa pola asuh sebagai cara mendidik anak
yang baik adalah yang menggunakan pola demokratis,
tetapi tetap mempertahankan prinsip-prinsip nilai yang
universal dan absolute terutama yang berkaitan
dengan pendidikan. Hal ini dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
a. Pola asuh otoriter orang tua mempunyai pengaruh tapi

negatif terhadap kemandirian siswa, artinya jika pola
asuh otoriter semakin meningkat, hal ini akan
menimbulkan penurunan terhadap kemandirian.
b. Untuk pola asuh demokratis orang tua menunjukkan
bahwa pola asuh demokratis mempunyai pengaruh
yang positif terhadap kemandirian siswa, artinya jika
pola asuh demokratis semakin meningkat hal ini akan
menimbulkan peningkatan terhadap kemandirian.
c. Sedangkan untuk pola asuh permisif orang tua
menunjukkan bahwa pola asuh permisif juga

185

mempunyai pengaruh yang positif terhadap kemandirian
siswa. artinya jika pola asuh permisif semakin
meningkat, hal ini akan menimbulkan peningkatan
terhadap kemandirian.

L. Pendekatan Humanstik
Istilah Humanistik berasal dari kata latin humanitas

(pendidikan manusia) dalam bahasa Yunani disebut Paideia.
Menurut Alauddin (2015) teori belajar humanistik adalah teori
belajar yang membantu peserta didik untuk senang belajar
pada suatu objek atau materi pelajaran yang berhubungan
dengan aspek-aspek kemanusiaan. Tujuan belajar menurut
aliran humanistik untuk memanusiakan manusia. Proses
belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami
lingkungan dan dirinya sendiri (Arbayah, 2013)

Menurut Rofikoh (2014) pembelajaran humanistik
memberi kebebasan kepada peserta didik untuk
mengungkapkan pendapat. Guru sebagai tenaga pendidik
tidak berhak mencela atau mengkritik peserta didik, karena
peserta didik diperlakukan sebagai subjek dan bukan sebagai
objek pembelajaran.

Pembelajaran yang humanis merupakan proses belajar
mengajar yang ditujukan untuk kepentingan memanusiakan
manusia itu sendiri. Indikator dari keberhasilan pembelajaran
humanis yang diungkapkan oleh Rogers dalam Zimring (1994:
4) adalah peserta didik merasa senang, bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjadi pola pikir, perilaku serta sikap
belajar atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan
menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh
pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
Pendidikan humanis juga menekankan penghayatan dan
menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter seperti rendah
hati, kesetiaan, integritas, kesederhanaan, keadilan,
kedamaian, kerja keras, dan lain sebagainya.

186

Teori belajar humanistik lebih cenderung melihat pada
perkembangan kepribadian manusianya. Pendekatan yang satu
ini dilihat dari kejadian di mana dirinya melakukan berbagai
hal positif. Kemampuan positif inilah yang disebut dengan
potensi manusia. Kemampuan positif tersebut sangat berkaitan
erat dengan pengembangan emosi posifit yang ada dalam
domain afektif. Tentu saja, emosi menjadi karakterikstik yang
sangat kuat dari pada pendidik yang beraliran humanistik.
Bahkan dalam teori pembelajaran humanistik disebutkan
bahwa belajar adalah proses yang dimulai dan memiliki tujuan
demi kepentingan memanusiakan manusia. Perkembangan
positif merupakan pendekatan yang dilakukan dalam
pendidikan oleh para penganut aliran ini. Pendekatan ini
cenderung fokus pada potensi manusia dalam mencari dan
juga menemukan kemampuan yang mereka miliki. Kemudian,
memfokuskan diri untuk lebih mengembangkan kemampuan
tersebut. Kemampuan tersebut mencakup kemampuan
interpersonal sosial, memperkaya diri, menikmati hidup dan
juga masyarakat. Kemampuan untuk membangun diri secara
positif ini sangatlah penting dalam pendidikan sebab sangat
berkaitan dengan keberhasilan akademik.

1. Prinsip-prinsip teori humanistik :
a. Peserta didik mempunyai cara belajar yang alami, karena
peserta didik menangkap pemahaman berdasarkan apa
yang dilihat, didengar dan menemukan kreatifitasnya.
b. Belajar yang melibatkan peserta didik seutuhnya dapat
memberi hasil yang mendalam. Disinilah peserta didik
mulai mengenali dirinya dan lingkungan yang
berpengaruh terhadapnya.
c. Kritis terhadap lingkungan disekitarnya, membangun
pola pikir yang logis dan berwawasan. Keingintahuan
yang besar cukup membuatnya penasaran dan selalu
mencari tahu. Disinilah pola pikir itu dilatih untuk
mengkritisi hal-hal di sekitarnya yang menurutnya
kurang sesuai dengan apa yang diketahuinya.

187

2. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam teori humanistik :
a. Kejujuran (tidak menyontek, tidak merusak, dan bisa
dipercaya).
b. Menghargai hak orang lain (menerima dan menghormati
perbedaan individu yang ada, mau mendengarkan orang
lain, menolong orang lain, dan bisa berempati terhadap
problem orang lain).
c. Menjaga lingkungan (menghemat penggunaan listrik,
gas, kayu, logam, kertas, dll. Menjaga barang milik
sendiri ataupun milik orang lain).
d. Perilaku (mau berbagi, menolong orang lain, ramah
terhadap orang lain, dan berlaku pantas didepan publik).
e. Perkembangan pribadi (menjalankan tanggung jawab,
menghargai kesehatan dan kebersihan fisik,
mengembangkan bakat yang dimiliki secara optimal,
mengembangkan rasa hormat dan rasa bangga terhadap
diri sendiri, mengontrol perilaku, memiliki sikap berani,
terhormat dan patriotik, serta menghargai keindahan).

3. Kelebihan Teori Humanistik :
a. Mengedepankan demokratis, partisipatif dialogis, dan
humanis.
Kelebihan pertama yang dapat diperoleh dari ilmu
psikologi humanistis adalah prinsipnya yang selalu
mengedepankan sifat sifat dan aturan yang berakitan
dengan demokratis, partisipasif dialogis, dan humanis
sehingga sangat mengesankan menghargai seseorang
dengan baik. Teori humanistik menjadi lebih baik
dibandingkan teori belajar kognitif.
b. Suasana yang saling menghargai
Kelebihan selanjutnya dari teori pembelajaran
humanistik adalah dapat membuat suasana jadi semakin
menghargai satu sama lain, Munculnya kebebasan untuk
berpendapat tanpa dibatasi, dan kebebasan
mengungkapkan batasan. Dengan begitu maka peserta
didik dapat menjadi lebih kreatif. Ada banyak contoh

188

penerapan psikologi humanistik dalam

pembelajaran yang berhasil dilakukan dalam suasana

saling menghargai.

c. Peran aktif peserta didik

Sebagai teori untuk memberikan pembelajaran yang baik

berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan teori

humanitis, pendekatan demokratis, humanis seperti

yang disebutkan sebelumnya dapat menjadikan

pembelajaran lebih mendapatkan peran aktif dari peserta

didik. Selain peran aktif, antar individu juga dapat hidup

bersama meskipun memiliki berbagai macam

pertimbangan masing masing yang memicu perbedaan.

4. Kekurangan Teori Humanistik
a. Pengujian yang tidak mudah
Kekurangan atau kelemahan yang pertama
dalam teori belajar humanistik untuk mempelajari ilmu
psikologi adalah pengujiannya yang dirasa tidak mudah
atau dapat dikatakan cukup sulit. Bahkan kerap kali
ditemukan kecurangan kecurangan yang menjadi sebuah
tradisi.
b. Beberapa konsepnya masih buram dan subjektif
Hal lainnya yang juga menjadi salah satu
kekurangan dari teori humanistik dalam pembelajaran
ilmu psikologis adalah adanya beberapa konsep yang
masih dikatakan buram dan subjektif karena guru tidak
dapat memberikan informasi yang jelas. Konsep yang
masih buram tersebut dapat menjadi penghambat
pembelajaran.
c. Kreatifitas yang sering disalahgunakan
Kelemahan lain dari teori humanistik atau
kreatifitas yang semakin bebas dan tanpa batas, kerap
kali sering disalahgunakan untuk tujuan yang tidak
sesuai dengan arah pendidikan. Kondisi ini terjadi
ketika ada individu yang tidak bertanggung jawab
ditengah tengah kelompok.

189

d. Pemikiran yang tidak terpusat
Pembelajaran teori humanistik dapat

menyebabkan adanya pemikiran yang tidak terpusat
pada pokok permasalahan karena tiap individu
diberikan kebebasan untuk dapat mengali potenisnya
masing masing untuk menjawab persoalan yang
diberikan.

Teori humanistic lebih mementingkan isi yang dipelajari
dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih
banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses
belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dalam
pelaksanaannya, teori humanistic ini antara lain tampak juga
dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel.
Pandangannya tentang belajar bermakna atau ―Meaningful
Learning‖ yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini,
mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna.
Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

Di dalam teori ini, belajar akan dianggap berhasil apabila
siswa dapat memahami dengan baik lingkungannya dan
dirinya sendiri. Dalam proses belajarnya, siswa dituntut untuk
berusaha supaya secara perlahan mampu mencapai aktualisasi
diri dengan baik. Teori ini pun berusaha untuk memahami
perilaku belajar dari sudut pandang sang pelaku, bukan dari
sudut pandang sang pengamat. Setiap pendidik beraliran ini
memiliki tujuan dalam mengembangkan siswa, yaitu
membantu tiap siswa untuk lebih mengenal diri mereka sendiri
sebagai manusia yang unik dan dapat mewujudkan potensi
dalam diri mereka. Di teori ini terdapat satu ide penting, yaitu
siswa dituntut mampu untuk mengerahkan dirinya sendiri
dalam proses belajar mengajar. Hal ini membuat siswa dapat
mengetahui apa yang dipelajarinya dan tahu seberapa besar
siswa dapat memahami materi yang diajarkan. Siswa pun
dapat mengetahui mana, kapan dan bagaimana harus belajar.

190

Dengan pemahaman ini, siswa diharapkan mendapatkan
manfaat dan juga kegunaan dari hasil belajarnya untuk dirinay
sendiri. Sebab, aliran humanisme menganggap bahwa belajar
adalah sebuah proses yang terjadi dalam diri individu, yang
meliputi bagian atau domain, terdiri dari kognitif, afektif dan
juga psikomotorik.

Dengan artian, pendekatan humanistik sangat
menekankan pada pentingnya sebuah emosi atau perasaan,
komunikasi secara terbuka dan juga nilai-nilai yang dimiliki
oleh tiap siswa. Untuk itulah kenapa teori ini lebih cenderung
untuk mengasah kemanusiaan siswa, sehingga para pendidik
aliran ini lebih menekankan pada nilai kerjasama, saling
membantu dan menguntungkan, kejujuran dan krativitas
dalam proses pembelajarannya. Dengan begitu akan
menghasilan suatu proses pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan serta hasil dari belajar yang dicapai siswa. Dengan
diterapkannya teori ini diharapkan siswa lebih bisa memahami
potensi dirinya dan mengembangkannya secara positif dan
meminimalkan yang negative.

Pembelajaran teori yang satu ini akan sangat tepat
diterapkan pada materi yang sifatnya untuk membentuk
kepribadian, hati nurani, analisis fenomena sosial dan
perubahan sikap. Indikator keberhasilan dari teori yang satu ini
adalah siswa lebih aktif dalam berinisiatif dan merasa senang
bergairah dalam bekerja. Siswa pun mengalampi perubahan
pola piker, perilaku dan sikap atas kemauan dirinya sendiri
bukan orang lain. Siswa pun diharapkan menjadi manusia
berani, dan bebas serta tidak terikat akan pendapat orang lain
tanpa harus melanggar hak-hak orang lain, norma kedisiplinan
dan lain sebagainya.

Pendidikan yang humanis juga sangat penting bagi
peserta didik karena pendidikan yang humanis mampu
menciptakan manusia yang ideal, dan menjunjung tinggi nilai-
nilai kemanusiaan.

191

M. Analisis Masalah Dan Solusi

1. Analisis Masalah

Dalam usaha pelaksanaan pendidikan anak, tidak

akan terlepas dari berbagai tantangan yang akan

dihadapi oleh orangtua. Namun semua tantangan

tersebut bukanlah menjadi suatu halangan untuk

mendidik anak-anak dengan baik. Berbagai tantangan

justru harus kita anggap sebagai hiasan dalam

perjuangan, sehingga usaha yang dilakukan dalam

pendidikan anak akan lebih serius dengan berbagai cara

yang tepat. Tantangan dalam pendidikan anak dapat

dibagi dua, yaitu tantangan yang berasal dari dalam

(intern) dan dari luar (ekstern). Kedua tantangan ini

saling mempengaruhi dalam upaya pendidikan anak.

Sumber tantangan intern yang utama adalah orang

tua si anak itu sendiri. Banyak orang tua yang kurang

bahan dan tidak memahami bagaimana cara mendidik

anak. Keadaan akan bertambah rumit bila keharmonisan

rumah tangga terganggu. Padahal anak membutuhkan

tempat berlindung yang aman bagi perkembangan fisik,

jiwa dan pemikirannya. Tantangan lain bisa berasal dari

anggota keluarga. Orang tua mungkin sudah berusaha

mendidik anak dengan sebaik-baiknya, namun

intervensi dari anggota keluarga bisa merusak suasana.

Kasus yang umum terjadi adalah sikap kakek dan nenek

yang selalu memanjakan si anak. Akibatnya anak

menjadi lebih dekat kepada kakek dan nenek, dan

menganggap orang tuanya terlalu membatasi dirinya.

Demikian juga halnya antara ayah dan ibu. Sering

terjadi ketika seorang ayah menegur si anak karena

melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, maka ibu

tampil sebagai pembela, atau sebaliknya, akibatnya sianak

merasa mendapat pembelaan dan dukungan, sehingga

anak merasa mendapat ―pengesahan‖ untuk

mengulangi perbuatannya.

192

Tantangan ekstern lebih luas lagi cakupannya.

Berbagai informasi akan mempengaruhi perkembangan

anak dari berbagai sisi. Tantangan pertama

bersumber dari lingkungan masyarakat. Interaksi

anak dengan lingkungannya tidak dapat dielakkan,

anak membutuhkan teman bermain dan kawan sebaya

yang dapat diajak berbicara. Sedikit banyak, informasi

yang diterimanya akan terekam. Seorang ibu mungkin

pernah terkejut ketika mendengar anaknya

mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Setelah

diselidiki ternyata anak tersebut meniru ucapan

temannya yang orang tuanya kebetulan sering cekcok.

Proses penyerapan informasi ini sering dialami oleh

anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Mereka cepat

sekali meniru berbagai ucapan yang didengarnya.

Lingkungan sekolah bisa menjadi sumber

tantangan kedua. Bagaimanapun guru-guru di sekolah

tidak akan mampu mengawasi anak didiknya setiap

saat. Interaksi anak dengan teman-temannya di

sekolah yang memiliki perilaku yang bervariasi, apabila

tidak dipantau dengan baik oleh guru sebagai

penanggung jawab pendidikan sekolah, bisa berdampak

negatif. Perkelahian pelajar adalah salah satu contoh

ekses dari dampak negatif tersebut.

Tantangan ekstern selanjutnya adalah yang berasal

dari media massa. Media massa menjadi sumber

tantangan yang sangat sulit diantisipasi. Informasi

yang dilemparkan media massa, baik cetak maupun

elektronik, memiliki daya tarik yang kuat. Apabila tidak

ada pengarahan dari orang tua, anak akan menyerap

semua informasi tanpa terkendali. Kita semua tentunya

prihatin, dengan berbagai acara hiburan yang

ditawarkan media massa, khususnya media elektronik,

yaitu televisi. Tidak ada lagi batasan umur penonton

untuk setiap acara yang ditayangkan televisi. Akibatnya,

senetron semacam pernikahan dini, film India dan

193

latin dikonsumsi oleh semua golongan umur. Para
pendidik di tanah air pernah gusar dengan lagu yang
ditayangkan televisi. Bukan hanya karena syair dan
cerita yang tidak cocok untuk dikonsumsi anak-anak,
tapi juga cara berpakaian para penghiburnya yang
sangat tidak pantas. Film-film yang disuguhkan untuk
anak-anakpun sangat mengkhawatirkan dan bisa
mengganggu fikrah dan akhlaq. Barat dan India serta
China menyerang dengan film-film yang serba super,
pamer aurat dan keintiman pria dan wanita.
Sementara produk-produk lokal juga tidak mau kalah
dengan mengantar anak-anak kepada kehidupan yang
penuh mistik, kurafat dan takhayul, disamping juga
dengan film-film pamer aurat dan keintiman pria
dan wanita. Kalaupun ada acara anak-anak, ternyata
juga banyak yang tidak baik untuk pendidikan anak-
anak, sebut saja salah contoh film anak-anak yang sangat
populer, yaitu Shin Chan. Ternyata ceritanya lebih banyak
bercerita tentang anak yang nakal, tidak sopan dan
bertindak semaunya jauh dari nilai-nilai pendidikan.
Ditambah lagi dengan tayangan iklan yang lebih
banyak mengkomersilkan tubuh wanita, walaupun
sering tidak sesuai dengan maksud iklan. Ini baru
dari televisi, belum dari sumber media yang lain.
Banyak stasiun radio, dan majalah yang menawarkan
pola kehidupan yang tidak baik kepada anak-anak kita.

Kedua bentuk tantangan ini memberikan
ilustrasi betapa usaha-usaha mendidik anak tidaklah
mudah. Namun demikian, bukan berarti tidak ada
jalan keluarnya, semuanya sangat tergantung pada
kepedulian dan kemauan para orang tua untuk
mendidik anak-anaknya agar berakhlaq sesuai
dengan nilai-nilai moral.

194

2. Solusi
Ada 2 aspek yang perlu diperhatikan saat menjadi

orangtua, yaitu : bagaimana dukungan orangtua kepada

anak (parental support), dan bagaimana orangtua

mengontrol anak (parental control).

a. Bagaimana dukungan orangtua

Dukungan orangtua dapat digambarkan melalui

bagaimana cara orangtua memberikan perhatian,

bagaimana kelekatan yang terbangun antara keduanya.

Bagaimana kasih sayang orangtua yang diberikan

kepada anak, dan lain-lain.

Bagi anak, dukungan orangtua sangat

berpengaruh pada akademik, harga diri, dan

kemampuan bersosialisasi kepada msyarakat. Dukungan

orangtua kepada anak yang berlebihan ternyata tidak

baik, begitu juga sebaliknya. Hal demikian akan

berpengaruh pada aspek emosional, sosial, dan

akademik.

b. Bagaimana orangtua mengontrol anak

Kontrol orangtua dapat tergambar melalui

bagaimana cara orangtua membuat peraturan, dan

bagimana orangtua mendisiplinkan anak. Begitu juga

dengan kontrol orangtua, lebih baik seimbang, tidak

lebih dan tidak kurang.

Berdasarkan kajian teoritis, empiris, dan yuridis maka
penulis ingin menyampaikan beberapa solusi dalam
meminimalisir masalah Pendidikan keluarga di atas.

1. Menguatkan pondasi dalam hidup berkeluarga sehingga
terwujud keluarga harmonis
Pastinya setiap keluarga menginginkan keluarga
dalam keadaan harmonis. Ada banyak hal yang harus
diusahakan agar kerharmonisan keluarga tetap terjaga.
dengan harapan dengan adanya keharmonisan dalam
keluarga akan menunjang pendidikan keluarga yang baik
dan kondusif bagi pendidikan anak. Hal-hal sepele yang

195

terkadang terlihat remeh bisa saja membuat keharmonisan
keluarga luntur. Untuk menciptakan keluarga harmonis
dibutuhkan :
a. Komunikasi yang positif, kelancaran komunikasi pada

sebuah keluarga memang menjadi kunci utama untuk
menjaga keharmonisan keluarga. Jika anggota keluarga
tidak memiliki komunikasi yang lancar akan
dikhawatirkan akan terjadi salah paham. Hindari
mengambil keputusan tanpa pengetahuan anggota
keluarga lainnya.
b. Menghargai Satu Sama Lain, setiap orang tentunya akan
sangat senang jika dirinya dihargai. Apalagi dalam suatu
keluarga, menghargai setiap anggota keluarga adalah
sebuah keharusan. Jangan karena anak-anak masih kecil
lalu mengabaikan pendapatnya. Justru saat anak-anak
masih kecil orangtua dapat mengajarkannya cara
menghargai orang lain dengan mendengarkan
pendapatnya.

c. Meluangkan Waktu Khusus Keluarga, di tengah
kesibukan mengurus rumah tangga pastinya orantua
sering melewatkan waktu bersama keluarga. Hal ini pun
membuat komunikasi menjadi kurang lancar. Orangtua
dapat membuat waktu khusus keluarga, di mana seluruh
anggota keluarga dapat saling berbincang-bincang.
Pilihlah waktu yang tepat di mana semua anggota
keluarga dapat meluangkan waktu bersama.

d. Saling Menasihati dalam Kebaikan, Umur yang tua
bukan menjadi alasan untuk tidak menerima nasihat dan
masukan anak-anak. Justru umur yang tua harusnya
lebih bijak dalam menerima nasihat. Toh semua itu juga
untuk kebaikan bersama.

e. Ada apresiasi dan kasih sayang, kasih sayang
diperlihatkan bukan sekadar lewat kata, tapi juga
dibuktikan dengan kepedulian antar satu sama lain.
Apresiasi pun ditunjukkan dengan menunjukkan rasa
hormat kepada masing-masing anggota.

196

f. Komitmen yang kuat, diartikan sebagai adanya rasa
keterikatan dalam keluarga. Dalam hal ini, rasa
kepercayaan antaranggota tertanam dengan kuat. Setiap
orang di dalam keluarga pun juga senantiasa menjaga
kejujurannya. Karena ada ikatan yang harmonis,
keluarga pun bersedia untuk saling berbagi.

2. Mengembalikan Tanggung Jawab Pendidikan pada
Keluarga
Dalam Pasal 1 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974,
dikatakan bahwa: ―Perkawinan adalah ikatan lahir dan
batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia, dan
sejahtera berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. ―Anak
yang lahir dari perkawinan ini adalah anak yang sah dan
menjadi hak dan tanggung jawab kedua orang tuanya
untuk memelihara dam mendidiknya dengan sebaik-
baiknya.
Kewajiban orang tua mendidik anak ini terus
berlanjut sampai ia dikawinkan atau dapat berdiri sendiri.
Bahkan menurut Pasal 45 Ayat 2 UU Perkawinan ini,
kewajiban dan tanggung jawab orang tua akan kembali
apabila perkawinan antara keduanya putus karena
sesuatu hal. Maka anak menjadi tanggung jawab orang tua.
Keluarga juga merupakan agen sosialisasi primer
utama. Seorang bayi menemukan ibunya sebagai orang
yang pertama kali memeluk, membelai, dan mengasihinya
secara fisik. Pelukan, belaian, dan kasih secara fisik ini
merupakan pelajaran pertama yang diperolehnya tentang
aspek afeksi-emosional dari kehidupan. Pelajaran
berikutnya seperti nilai, norma, sikap, dan harapan diterima
dari keluarga seiring dengan berjalannya waktu, yang
terkait dengan pertambahan usia. Tugas utama dari
keluarga bagi pendidikan anak adalah merupakan peletak
dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup
keagamaan. Sifat dan tabi‘at anak sebagian besar diambil

197

dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang
lain.

Pendidikan dalam keluarga dilaksanakan atas dasar
rasa cinta kasih sayang yang kodrati, rasa kasih sayang yang
murni, rasa cinta kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
Rasa cinta kasih sayang inilah yang menjadi sumber
kekuatan yang tak kunjung padam pada orang tua untuk
tak jemu-jemunya memberikan bimbingan dan pertolongan
yang dibutuhkan oleh anak. Rasa cinta kasih sayang ini
pula yang menyebabkan orang tua ikhlas mengorbankan
segala sesuatunya demi kepentingan anaknya.

Hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam
pendidikan keluarga memang berlangsung secara
spontanitas, namun ada hal-hal penting yang perlu
diperhatikan orang tua:
a. Tunjukan Teladan. Anak-anak suka meniru perilaku

orang tua, baik perkataan, sikap maupun perbuatan.
Pendidikan dalam keluarga hanya akan berhasil
manakala orang tua mendidik dengan menunjukkan
teladan. Pendidikan tentang penguasaan diri, nilai-nilai,
dan peran-peran sosial akan gagal apabila orang tua
tidak mampu menguasai diri, tidak memiliki nilai-nilai
yang diajarkan, dan tidak melaksanakan peran sosialnya.
Dalam pendidikan keluarga, orang tua tidak hanya
berperan sebagai pendidik tetapi juga sebagai model
tentang segala sesuatu yang diajarkan. Bahkan tidak
tertutup kemungkinan, tanpa kata-kata pun suatu
teladan dapat ditransfer kepada anak.
b. Konsisten
Hasil dari pendidikan dalam keluarga akan sesuai
harapan manakala dilakukan secara konsisten.
Inkonsistensi sama sekali tidak konstruktif terhadap
pendidikan dalam keluarga. Sejatinya, sikap konsisten
tidak hanya baik bagi pendidikan dalam keluarga tetapi
juga mengajarkan tentang ketegasan, dan keteguhan
dalam berprinsip.

198


Click to View FlipBook Version