The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ungautami, 2021-12-08 01:24:14

PERMASALAHAN, MODAL DASAR, DAN SOLUSI PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Keywords: #ebook #pendidikan #modaldasar #pendidikananak #pendidikankeluarga #pemberdayaanmasyarakat

c. Kesepahaman Pendapat Ayah dan Ibu (0rang tua)
Sudah menjadi rahasia umum, ayah dan ibu sering tidak
sepaham dalam pendidikan keluarga. Sebenarnya,
realitas ini merupakan penyebab gagalnya pendidikan
dalam keluarga. Anak menjadi bingung dalam
menentukan sikap. Ayah dan ibu boleh saja tidak
sepaham, namun hal itu tidak boleh ditunjukkan di
depan anak.

Pendidikan yang baik akan terwujud manakala
keluarga, sekolah, dan masyarakat saling berhubungan.
Begitu pula masyarakat pada umumnya, harus menyadari
betapa pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang
dimulai dari tingkat keluarga hingga kepada sekolah serta
lembaga pendidikan nonformal lainnya dalam pencerdasan
umat.

Ki Hadjar juga memiliki gagasan bahwa keluarga
adalah pusat pendidikan. Alam keluarga itu adalah suatu
tempat yang sebaik-bainya untuk melakukan pendidikan
sosial juga, sehingga boleh dikatakan, bahwa keluarga itulah
tempat-pendidikan yang lebih sempurna sifat da ujudnya
daripada pusat-lain-lainnya, untuk melangsungkan
pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti (pembentukan
watak individuil) dan sebagai persediaan hidup
kemasyarakatan.‖ Pendidikan keluarga tidak dapat
dipisahkan dari pusat-pusat pendidikan lain.

Istilah keluarga dan pendidikan adalah dua istilah
yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga di
situ ada pendidikan. Di mana ada orang tua di situ ada anak
yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika
ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada
waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan
dari orang tua. Dari sini muncullah istilah ―pendidikan
keluarga‖. Artinya, pendidikan yang berlangsung dalam
keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas
dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam

199

keluarga.
Jika keluarga sudah mampu menjalankan fungsi

pendidikannya, maka anak kelak bisa mengeksplorasi lebih
banyak hal yang mereka inginkan. Anak adalah mahaguru
bagi dirinya dan sumber belajar bagi tema-temannya, jadi di
sekolah ketemu saling belajar dan bersinergi, bukan untuk
bersaing.

Dengan demikian, pendidikan keluarga adalah usaha
sadar yang dilakukan orang tua, karena mereka pada
umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk
membimbing dan mengarahkan, pengendali dan
pembimbing (direction control and guidance, konservatif
(mewariskan dan mempertahankan cita-citanya), dan
progressive (membekali dan mengembangkan pengetahuan
nilai dan ketrampilan bagi putra-putri mereka sehingga
mampu menghadapi tantangan hidup di masa datang.

3. Pola Asuh Demokratis Orangtua dengan Pendekatan
Humanis
Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang-
tua yang humanis dalam menunjang pendidikan anak :
a. Dukungan Orangtua : Orang-tua sebaiknya memberi
perhatian kepada anak-anak mereka dan menanamkan
kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan. Mereka juga
berupaya mengetahui perkembangan anak mereka di
sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah
untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di
sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan
secara langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.
b. Kerjasama dengan Guru : Biasanya apabila timbul
masalah-masalah gawat, barulah beberapa orang-tua
menghubungi guru anak-anak mereka. Sebaiknya, orang-
tua perlu mengenal guru di sekolah dan menjalin
hubungan yang baik dengan mereka. Berkomunikasilah
dengan guru untuk perkembangan anak Anda.

200

c. Sediakan waktu untuk anak : Selalu sediakan waktu
yang cukup banyak bagi anak Anda. Jika anak pulang
sekolah, umumnya mereka cukup stres dengan beban
pekerjaan rumah, ulangan, maupun problem lainnya.
Sungguh ideal jika orang-tua misalnya seorang ibu
berada di rumah pada saat anak-anak di rumah. Seorang
anak akan senang bercerita ketika pulang sekolah seraya
mengeluarkan semua keluhan dan bebannya kepada
orang-tua.

d. Awasi kegiatan belajar di rumah : Tunjukkan Anda
berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak-
anak Anda sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR)
mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu
bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama
mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk
memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan
waktu menonton TV, Internet dan bermain game dari anak-
anak Anda.

e. Ajari tanggung jawab : Sekolah umumnya akan memberi
banyak tugas untuk dipersiapkan anak di rumah dan di
sekolah. Apakah mereka mengerjakan tugas-tugas itu
dengan benar dan baik? Cobalah mulai memberikan
anak Anda pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari
seperti membersihkan tempat tidur sendiri menurut
jadwal yang spesifik. Hal itu akan mengajar anak Anda
rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar
berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam
kehidupan.

f. Disiplin : Jalankan disiplin dengan tegas namun dengan
penuh kasih sayang.

g. Kesehatan : Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi
belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang
cukup untuk anak Anda. Hindari makanan seperti junk
food, karena selain menyebabkan problem obesitas, juga
mendatangkan pengaruh yang buruk terhadap
kesanggupannya untuk berkonsentrasi.

201

h. Jadi teman terbaik : Jadilah teman terbaik bagi anak
Anda. Luangkan waktu untuk berbagi berbagai hal
dengan mereka. Seorang anak membutuhkan semua
teman yang matang yang bisa ia dapatkan.
Sebagai orang-tua, Anda dapat menghindari banyak
problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak Anda
dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses
dibangun di atas komunikasi yang baik. Kerja sama yang
baik dengan para pendidik di sekolah juga dapat
membantu melindungi anak Anda.

4. Penanaman nilai keagamaan dan pendidikan moral
Kebutuhan seseorang terhadap pendidikan bukanlah

hanya sekedar mengembangkan aspek individual dan sosial
yang bersifat mementingkan pertumbuhan dan
perkembangan secara fisik saja, akan tetapi juga untuk
mengarahkan naluri agama yang telah ada dalam setiap
diri anak, karena pada dasarnya setiap jiwa manusia itu
telah disirami dengan nilai-nilai agama dari keluarga
masing-masing. Naluri agama yang dimiliki oleh manusia
untuk melangsungkan kehidupannya di dunia ini
merupakan suatu pedoman yang harus di tanamkan kepada
anak sejak dini, sehingga proses pendidikan adalah untuk
mengembangkan potensi agama tersebut ke arah yang
sebenarnya.

Pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan
jiwa anak tidak mungkin tumbuh dan berkembang baik
tanpa adanya latihan dan bimbingan yang bersifat
mendidik. Pendidikan tersebut menyangkut dengan
pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani
anak. Dengan bekal pendidikan rohani/agama yang baik
yang didapat dari lingkungan keluarga diharapkan dapat
menghasilkan anak yang memiliki kompetensi personal ,
rohani dan sosial sehingga menjadi anak dan warga
negara yang baik

202

Sama halnya dengan ilmu pelajaran lain di sekolah,
ilmu agama selalu mengedepankan kebaikan dan memberi
manfaat yang luar biasa bagi kecerdasan anak. Melalui
agama, anak bisa mengenal berbagai kebaikan dari yang
paling dasar hingga yang paling tinggi tingkatannya.
Melalui ilmu agama, anak-anak akan menjaga diri dan
menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang norma
masyarakat atau pun agama.
Jika memang orang tua kurang tahu tentang ilmu agama,
tidak ada salahnya untuk mengirimkan anak ke sekolah
agama. Undang seseorang yang dirasa memiliki ilmu agama
cukup untuk mengajar anak. Dengan pengetahuan ilmu
agama yang cukup, sadar atau tidak hal ini akan
membentuk karakter anak di masa depan. Seorang anak
yang telah dibekali ilmu agama cukup saat usianya masih
dini, ketika dewasa umumnya ini akan membuatnya bisa
memahami dirinya sendiri. Ini juga membuatnya tak mudah
terpengaruh dengan nilai-nilai negatif yang ada di
sekitarnya.

Pendidikan moral/karakter yang diajarkan sejak dini,
nilai-nilai karakter akan tertanam dan lebih mengakar
dalam diri peserta didik, dan menjadi dasar dalam rangka
mengembangkan karakter pribadi generasi muda Indonesia
yang akan berguna di masa depan. Penanaman nilai-nilai
karakter kemanusiaan sangat penting untuk ditanamkan
sedini mungkin melalui pendidikan. Hal ini disebabkan
pendidikan bukan hanya memberikan peningkatan
kemampuan intelektual saja, akan tetapi juga bertanggung
jawab atas pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam diri
peserta didik.

Di lingkup pendidikan sekolah, terjadinya
penyimpangan dan pelanggaran nilai- nilai tidak hanya
menjadi tanggungjawab mata pelajaran agama semata,
tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh mata
pelajaran di sekolah. Jika pendidikan karakter hanya
dibebankan pada pendidikan kepada guru agama, maka

203

nilai-nilai karakter yang tumbuh hanya sebatas hafalan

tentang doktrin-doktrin agama. Pengetahuan tentang

doktrin-doktrin agama saja tidak akan menjamin

tumbuhnya nilai-nilai karakter yang dapat diandalkan.

Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah

mewujudkan proses demokratisasi belajar atau

humanisme pendidikan, yakni terwujudnya

pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan

tindakan belajar sesuai dengan karakteristiknya.

Dengan diberikannya pendidikan

moral/karakter bagi anak SD diharapkan dapat

merubah perilaku anak, sehingga peserta didik jika

sudah dewasa lebih bertanggung jawab dan menghargai

sesamanya dan mampu menghadapi tatangan jaman yang

cepat berubah. Disinilah pentingnya nilai-nilai moral yang

berfungsi sebagai media transformasi manusia Indonesia

agar lebih baik, memiliki keunggulan dan kecerdasan di

berbagai bidang; baik kecerdasan emosional, kecerdasan

sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan kinestika,

kecerdasan logis, musikal, lenguistik, kecerdasan Spesial

(Habibah, 2007: 1). Peran orang tua (guru) hanya sebatas

memberi hal terbaik sesuai dengan jiwa jaman yang

sedang dihadapi saat ini, agar kelak peserta didik (anak-

anak SD) bagaikan anak panah lepas dari busurnya

menentang, mengatasi permasalahannya sendiri, namun

memiliki keunggulan moral yang baik dan luhur.

Konsep pendidikan moral bagi anak-anak usia SD di atas

tidak hanya sebagai wacana tetapi harus diaktualisasikan

ke dalam kehidupan nyata, sehingga pendidikan budi

pekerti bisa mewujudkan masyarakat ideal seperti yang

dicita-citakan.

Pendidikan moral/karakter diharapkan dapat

menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi

personal dan sosial sehingga menjadi warga negara

yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya

antara lain: berani mengambil sikap positif untuk

204

menegakkan norma-norma sosial, aturan hukum dan nilai-

nilai moral demi masa depan bangsa yang mengedepankan

nilai-nilai kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan,

kebangsaan, kebhinekaan,multikultural, nasionalisme,

demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai

budi pekerti danmoral bangsa.

Dengan tersosialisasikan pendidikan moral

diharapkan anak dapat memahami, menganalisis,

menjawab masalah-masalah yang dihadapi bangsa, dan

dapat membangun kehidupan budi pekerti luhur dan

moral bangsa secara berkesinambungan, konsisten yang

bersumber pada nilai-nilai budi pekerti dan moral bangsa

sehingga cita-cita bangsa dan tujuan nasional bisa

tercapai. Pendidikan moral/karakter melalui keluarga,

pola asuh orangt ua sangat dominan dalam menanamkan

nilai-nilai moral sejak usia dini seuai dengan tumbuh

kembang jiwa anak. Anak-anak akan patuh pada

perintah orang tuanya untuk melakukan yang baik dan

tidak merugikan orang lain.

N. Penutup
Orang tua merupakan orang pertama yang paling

berperan dalam perkembangan anak. Anak berinteraksi
dengan ibu, ayah, dalam kehidupan kesehariannya. Apa
yang diberikan dan dilakukan oleh orang tua tersebut
menjadi sumber perlakuan pertama yang akan mempengaruhi
pembentukkan karakteristik pribadi perilaku anak. Dalam
keluarga, orang tua harus mampu menciptakan hubungan
keluarga yang harmonis dan agamis. Karena sebagian
besar waktu anak digunakan dalam lingkungan keluarga,
maka hubungan dengan anggota keluarga menjadi landasan
sikap anak dalam kehidupan sosial. Pergaulan anak
dalam keluarga inilah yang akan membentuk sikap
dari kepribadian anak.

205

Pola asuh orang tua yang demokratis ditandai dengan

adanya hubungan yang humanis antara anak dengan orang

tua. Pendidikan keluarga yang dilakukan dengan humanis

yaitu pendidikan yang penuh kemesraan dan tanggung jawab

yang didasari oleh kasih sayang yang tulus dari orang tua.

Sehingga anak-anak akan mampu mengembangkan aspek-

aspek kepribadiannya yang bersifat individu, sosial dan

keagamaan. Jadi peran orang tua melalui pola asuh yang benar

dan sesuai tingkat perkembangan anak akan memberikan

dampak kepada nilai-nilai perilaku keagamaan anak, semakin

orang tua memberikan perhatian kepada anak, maka

perilaku keagamaan anak menjadi lebih baik dibandingkan

perilaku keagamaan anak yang orang tuanya disibukkan

dengan pekerjaan di luar rumah.

Pada umumnya sikap dan kepribadian anak ditentukan

oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan, yang dilalui

sejak masa kecil. Pendidikan merupakan kebutuhan hidup dan

tuntutan kejiwaan. Anak harus diberikan pendidikan dengan

pola asuh yang demokratis dan humanis sedini mungkin

bahkan sejak kedua orang tuanya memasuki jenjang

perkawinan, harus sudah mengklasifikasikan bagaimana anak

yang akan mereka lahirkan nanti. Setiap orang tua menaruh

harapan agar putra-putrinya berhasil dalam perkembangan

sosialnya, yakni mampu menjadi sosok manusia sosial yang

dapat diterima oleh lingkungan sosialnya dan menjadi anggota

masyarakat yang bermanfaat bagi kehidupan sesamanya.

Orang tua akan merasa gagal manakala putra-

putrinya berkembang sebagai manusia yang asosial (tidak

lumrah/wajar secara sosial ) apalagi sampai menjadi

manusia anti sosial (membuat resah bahkan

membahayakan bagi kehidupan masyarakatnya ).

206

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mustaqim, Menjadi Orang Tua Bijak, Bandung:
Mizan, 2005.

Ambarwati, dkk. Pendekatan dan Metode Pengembangan Moral
Anak Usia Dini. Yogyakarta; FIP UNY. (makalah).

Budi Istanto, 2007. Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Generasi
Penerus. Yogyakarta: FIP. UNY.

Hendrowibowo, l. 2007. ―Pendidikan Moral‖, Majalah Dinamika,
FIP, UNY. LAI, 2003, Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia.

Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak (Jakarta: Pustaka Inti, 2005)
Kaelan, 2001. Pendidikan Moral Pancasila, Yogyakarta: Penerbit

Paradigma.
Parjono. 2005. Pendidikan Nilai-nilai Moral .

Yogyakarta: MKU, UNY.
Romi Toufiqoh, 2007. Pentingnya Pendidikan Moral, Yogyakarta:

FBS, UNY.
Slamet Suyanto, 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.

Jakarta: Depdikbud,
Said, 2007. Google Pendidikan Moral.
Setyo Raharjo, 2005. Pendidikan Multi Kultural. Yogyakarta: FIP,

UNY.
Sofia Hartati. 2005. Perekembangan Belajar Pada Anak Usia Dini.

Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Dikti
Direktorat Pembinaan Tenaga Pendidikan dan Ketenagaan
Perguruan Tinggi.
Kompas.com dengan judul "Mendikbud Nadiem: Karakter,
Pengetahuan dan Keterampilan Jadi Modal Dasar", Klik
untuk
baca: https://edukasi.kompas.com/read/2019/11/18/13
260101/mendikbud-nadiem-karakter-pengetahuan-dan-
keterampilan-jadi-modal-dasar?page=all#page2.
Sri Sultan Hamengkubuwono X, ‖Budi Pekerti Masuk
Muatan Lokal‖, Kompas, 15 Maret 2007.
http://www.slideshare.net/dianechristina/human-capital-
measurement- resentation?from=ss_embed

207

BAB 8
TINJAUAN PUSTAKA: PERMASALAHAN

BULLYING DALAM PENDIDIKAN DI
SEKOLAH DASAR

Eva Amalia
Program S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

[email protected]

Abstrak
Masalah bullying menjadi salah satu permasalahan pendidikan
anak di Indonesia. Bullying merupakan tindakan menyakiti,
mempermalukan seseorang secara verbal atau fisik. Penyebab
bullying biasanya disebabkan oleh empat faktor. Pertama yaitu
keluarga, kedua orang tua, ketiga teman sebaya, keempat
tontonan. Orang tua yang sering melakukan kekerasan. Kekerasan
tersebut menyebabkan anak meniru perilaku orang tua dengan
melakukan kekerasan. Perlakuan KDRT dalam keluarga akan
memicu tumbuh kembang anak menjadi seorang pelaku bullying.
Perilaku bullying juga dapat terjadi di sekolah. Minimnya
ketegasan dan konsekuensi dari tindakan bullying akan
menyebabkan perilaku bullying merajalela. Kurangnya
pengawasan dari pihak sekolah misal dalam kegiatan Masa
Orientasi Siswa atau MOS dan perkemahan dapat memicu
berkembangnya tindakan bullying. Pelaku bullying melakukan
aksi demi menunjukan kepada teman sebaya atau teman
sepermainan bahwa ia tidak lemah. Tidak dipungkiri tindakan
bullying merupakan sesuatu yang sangat meresahkan pada
permasalahan pendidikan. Faktor lain yang menyebabkan hal ini
terjadi adalah tontonan atau tayangan televisi. 56% anak meniru
adegan yang ditontonnya, 64% meniru gerakan dan 43% meniru
kata yang diucapkan.
Kata Kunci: bullying, permasalahan anak, solusi bullying.

208

A. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami

berbagai ancaman permasalahan bullying. Berdasarkan data
Komnas Perlindungan Anak Indonesia tahun 2019
permasalahan bullying menjadi salah satu masalah dalam
dunia pendidikan dengan persentase sebanyak 7%.
Permasalahan ini menjadi satu dengan permasalahan
pendidikan lainnya seperti: pembelajaran jarak jauh, anak
jalanan, putus sekolah, kesehatan mental, anak berkebutuhan
khusus, dan krisis pendidikan karakter. Bahkan data dari
PISSA tahun 2018 Programme for International Student
Assessment siswa di Indonesia yang telah mengalami bullying
sebanyak 41.1%. Hampir mendekati 50% atau setengah dari
seluruh siswa yang ada di Indonesia. Angka 41.1% ini lebih
banyak dibandingkan dengan rata-rata bullying pada
organisasi dunia OECD 22.7%. Indonesia juga menempati
posisi kelima negara dengan bullying terbanyak setelah
Filipina, Brunai Darussalam, Dominika, dan Maroko (PISA:
Murid Korban “Bully” Di Indonesia Tertinggi Kelima Di Dunia |
Databoks, n.d.).

Bullying adalah sebuah perilaku yang membuat orang
lain menjadi tidak nyaman, menekan, mencederai, dengan
sengaja secara berulang-ulang (Olweus, 1993). Tindakan
bullying juga dapat dilakukan secara verbal dengan
menyebarkan desas-desus palsu, menggoda, mengejek, dan
kekerasan secara verbal lainnya. Bullying telah menjadi
permasalahan yang marak di kehidupan social. Lebih dari
empat puluh negara telah menganggap bullying sebagai
permasalah umum di seluruh dunia dan bukan lagi sebagai
masalah pribadi ataupun bersifat lokal (Craig et al., 2009).
Bullying menyerang korban secara psikologis dan fisik yang
dapat mengakibatkan berbagai ancaman depresi. Bullying telah
mengganggu kejiwaan korban dengan berbagai perasaan
tertekan, cemas, insomnia, psikosis, melukai diri sendiri,
bahkan ingin bunuh diri.

209

Pada pelajar sendiri, berbagai penelitian menjelaskan
bahwa dampak dari bullying adalah penurunan prestasi belajar
(Juvonen et al., 2011). Permasalahan bullying bukan hanya
persoalan yang dapat ditangani dengan salah satu pihak misal
menghentikan pembully saja. Berdasarkan penelitian (Bong et
al., 2021) perilaku bullying mempengaruhi korban bullying.
Korban bullying suatu saat memiliki potensi akan menjadi
pelaku bullying. Pengalaman menjadi korban bullying
menjadikan korban menjadi pelaku bullying nantinya. Hal ini
menggambarkan adanya mata rantai yang terus berputar dan
tidak akan ada habisnya.

Pada gambar siklus di atas menjabarkan adanya potensi
pelaku akan menjadi korban, dan korban dapat menjadi pelaku
(Widayanti, 2009). Untuk itu, solusi harus mencakup pelaku
dan korban. Perlu adanya pencegahan perilaku bullying dari
sisi korban maupun pelaku. Dalam artikel ini penulis mencoba
membahas mengenai permasalahan bullying di sekolah dasar,
modal anak, dan solusi dalam permasalahan ini.

B. Pembahasan
1. Analisis Permasalahan Bullying dalam Pendidikan
Sekolah Dasar
Bullying adalah sebuah fenomena social yang terjadi
di masyarakat dan umumnya melibatkan teman sebaya.
Pada karakteristiknya bullying ditandai dengan tiga factor

210

utama. Pertama bullying ditandai dengan adanya niat untuk
menyakiti. Kedua, bullying sifatnya merupakan suatu
perbuatan yang berulang. Ketiga, pada kejadian bullying
terjadi ketidakseimbangan antara kekuatan pembully
dengan korban bullying. Bullying dapat dikelompokan
menjadi enam jenis. Pertama, yaitu kontak fisik langsung.
Bullying pada tataran ini berupa tindakan memukul,
mendorong, menggigit, menjambak, memaki, mengunci
dalam ruangan, mencakar, mencubit, memeras dan merusak
barang. Kedua, adalah kontak verbal langsung. Pada
tindakan bullying jenis ini terdapat tindakan mengancam,
mempermalukan, merendahkan, mengejek, mencela,
memberi panggilan buruk, menyebar gossip, sarkasme dan
mengintimidasi. Ketiga adalah perilaku non-verbal
langsung. Tindakan ini antara lain: melihat dengan sinis,
menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang
merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya
disertai oleh bullying fisik atau verbal. Keempat, perilaku
non-verbal tidak langsung. Bullying jenis ini misalnya
mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan
sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau
mengabaikan, dan mengirimkan surat kaleng. Kelima
adalah cyber bullying. Cyber bullying adalah tindakan
menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik
(rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat
media social). Keenam adalah pelecehan seksual.

Bullying dapat terjadi dimanapun dan kapanpun.
Beberapa tindakan bullying terjadi pada orang dewasa
ataupun pelajar bahkan pelajar dengan pendidikan jenjang
sekolah dasar. Pada penelitian Widayanti (2009)
menjelaskan bahwa guru di sekolah dasar pun bisa menjadi
pembully. Guru biasanya melakukan tindakan bullying
secara verbal yang berakibat pada menurunnya minat dan
prestasi siswa. Padahal seharusnya guru menciptakan iklim
yang sejuk dalam pembelajaran. Beberapa perilaku bullying
yang terjadi di sekolah dasar antara lain:

211

Perilaku bullying ini seharusnya tidak terjadi di
sekolah dasar. Siswa sekolah dasar merupakan siswa
dengan tingkat usia kanak-kanak. Pada usia tersebut anak
belajar menirukan berbagai hal. Anak masih dapat diajari
oleh orang tua dan memiliki kecepatan dalam belajar. Untuk
itu seyogyanya anak diajarkan hal-hal yang positif. Bullying
pada anak sangat berbahaya. Bullying dapat mengganggu
psikologis anak serta menurunkan semangat belajar.
Bullying dapat menyebabkan anak melabeli diri mereka
dengan konsep diri yang negatif. Selain itu, terjadinya
mental blocking akan memperparah korban bullying dalam
tataran anak-anak. Anak yang menjadi korban berpikir jika
mereka tidak memiliki solusi dalam permasalahan bullying.
Korban bullying pada anak akan menjadikan anak berubah
menjadi anak dengan tindak kekerasan. Bullying anak dapat
pula mengakibatkan efek domino dimana anak akan
melakukan bullying ketika telah dewasa dan berperilaku
sama terhadap anaknya kelak. Perilaku bullying pada anak
juga turut menghambat perkembangan otak anak dengan
menekan kognisi yang seharusnya dapat berkembang
dikarenakan berbagai ketakutan, kecemasan dan kesedihan
(Sabandar, 2018).

Bebagai pihak dapat terdampak perilaku bullying.
Antara lain anak-anak korban pembullyian, pembully yang
pada akhirnya dijatuhi sanksi, orang yang menjadi saksi
pembullyian, dan pihak-pihak yang terlibat termasuk
pendidik dan sekolah. Bullying memiliki berbagai macam

212

dampak baik secara fisik maupun mental. Bullying
merupakan salah satu penyebab depresi yang berkelanjutan
bahkan bisa menyebabkan kematian akibat bunuh diri.
Dampak secara individu yang dialami korban bullying
antara lain marah dan depresi, rendahnya prestasi akademik
siswa, menurunnya kecerdasan, kemampuan social dan
analitis siswa. Pelaku bullying juga akan mengalami
kecenderung untuk bersifat agresif. Mereka akan memiliki
perilaku yang pro terhadap kekerasan. Selain itu pembully
menjadi berwatak keras, impulsive dan mudah marah serta
sering mengalami frustasi. Mereka memiliki kebutuhan kuat
untuk mendominasi orang lain dan kurang memiliki empati.
Pada akhirnya pembully dapat menjadi seseorang yang
cenderung berperilaku kriminal. Celakanya bagi siswa yang
menyaksikan perbuatan bullying akan merasa tindakan
tersebut adalah wajar dan menggabungkan diri pada
kelompok pembully. Siswa yang menyaksikan perilaku
bullying tersebut menjadi takut terbully sehingga jalan satu-
satunya agar tidak terbully adalah membully. Siswa lain
adapula yang hanya mendiamkan dan tidak berani berbuat
apa-apa karena takut dibully.

Beberapa ciri dan potensi anak menjadi pembully
biasanya mereka memiliki control diri yang sangat rendah.
Pada masa sebelumnya bisa jadi mereka merupakan korban
kekerasan yang terabaikan sehingga menganggap diri
mereka dapat menyerang sebelum diserang. Namun dilain
sisi bisa jadi seorang pembully tidak mengetahui dampak
yang akan ditimbulkan dalam perilaku mereka. Pembully
kurang bertanggungjawab terhadap tindakan mereka.
Keadaan yang mendukung adalah mereka memiliki hasrat
untuk mendominasi, mengontrol, dan tidak dapat
menghargai orang lain. Cukup besar pula kemungkinan
pembully memiliki motif untuk balas dendam terhadap
perilaku orang lain.

213

Dalam sebuah kajian penelitian, pembully tidak serta
merta terus menerus membully ada kalanya korban bully
dan pembully secara bergantian melakukan tindakan
tersebut karena ada rasa saling balas dan saling dendam
(Chen, et.all.,2015). Berbeda dengan pembully yang
memiliki kuasa lebih, korban bully memiliki kekurangan
ataupun ketidakmampuan secara fisik, psikolgis, atau
apapun yang menyebabkan mereka dirundung. Orang tua
yang suka bertengkar pun menjadi salah satu penyebab
perilaku bullying. Anak yang dibesarkan dengan perilaku
bullying akan meniru tingkah laku orang tuanya yang
menyebabkan perilaku bullying merajalela. Orang tua jenis
ini tidak mampu memberikan pengasuhan yang benar
untuk anak sehingga anak tidak mendapatkan suri tauladan
yang baik dari kedua orang tua mereka (Korua,et all., 2015).
Selain orang tua yang menjadi penyumbang perilaku
bullying, teman sebaya pun ikut andil dalam menjamurnya
perilaku bullying. Support, dukungan kekuasaan,
polpularitas dan status menjadikan teman sebaya ikut andil
menjadi penyemangat dalam melakukan bullying. Biasanya
pembully melakukan bullying semakin menjadi ketika ada
teman yang dapat dijadikan gerombolan. (Hidayati, 2019).
Sekolah merupakan lingkungan yang seharusnya
menciptakan rasa aman dalam belajar. Namun pada kondisi
sekolah, lingkungan sekolah dan kebijakan sekolah yang
kurang mendukung dan kurangnya kepedulian terhadap
siswa dapat menjadi sebuah tempat sarangnya tindakan
bullying. Untuk itu manajemen sekolah yang baik, aturan
dan kepedulian sekolah menjadi sesuatu yang sangat
penting. Media massa sering menampilkan adegan
kekerasan yang juga mempengaruhi tingkah laku kekerasan
anak dan remaja.

Berbagai kasus bullying muncul kepermukaan tanpa
disadari oleh berbagai pihak. Beberapa contoh kasus
bullying yang terjadi di Indonesia antara lain: Siswa SD N
Wirosari, Kabupaten Grobogan mengalami depresi berat

214

karena dibully oleh teman-temannya. Anak yang bernama
RS berkali-kali diperiksakan ke dokter saraf dan psikiater
karena mengalami berbagai gejala seperti kepribadian yang
berubah, takut bertemu orang lain, sering mengurung diri,
hingga tidak mau datang ke sekolah. Teman-teman RS
membully dengan awal cerita bahwa RS pernah bermain
bola kemudian bola mengenai jam dinding hingga pecah.
Orang tua RS tidak dapat mengganti jam dinding karena
ayahnya merupakan buruh bangunan dan ibunya penjual
krupuk. Ekonomi yang sulit membuat RS belum bisa
mengganti jam dinding kemudian mengakibatkan teman-
temannya membully. Perlakuan teman-teman RS dengan
menyekap di dalam kelas, menjambak, meludahi, menyiram
air, dan kekerasan lain. Pihak sekolah yang dikonfirmasi
pada saat itu menganggap hal itu hanyalah perbuatan
kegaduahan wajar antar siswa. Pihak sekolah membantah
adanya tindakan bullying.

Selain itu ada pula kasus Nabila siswa sekolah dasar
di SD Pangauban, Kecamatan Batujajar, Bandung Barat. Ia
dibully oleh temannya masalah sepatu. Sepatu yang dibeli
dirusak oleh teman-temannya. Temannya mengganti
dengan iuran, namun Nabila menangis karena sepatu yang
dirusak teman-temannya adalah sepatu hasil kerja kerasnya
mengumpulkan rongsokan. Nabila dari kecil diasuh oleh
nenek kakeknya. Orang tua Nabila meninggalkan Nabila
sejak kecil,

Artikel ini diambil dari berita di Kompas.com dengan
judul(4 Kasus “Bullying” Di Sejumlah Daerah, Dibanting Ke
Paving, Amputasi Hingga Korban Depresi Berat Halaman All -
Kompas.Com, n.d.)

Dua kasus tersebut merupakan potret permasalahan
kecil dari banyaknya kasus bullying di Indonesia yang
menimpa siswa sekolah dasar. Berdasarkan contoh kasus
diatas permasalahan terjadi karena adanya bullying antar
teman. Parahnya pihak sekolah seakan menutupi ataupun
merasa hal tersebut bukan sebuah bullying. Motif bullying

215

pada kasus pertama adalah balas dendam. Ketika RS belum
dapat mengganti jam dinding teman-temannya kemudian
membully. Motif pada kasus kedua adalah niat iseng
ataupun bercanda. Padahal hal itu menyinggung perasaan
dan membuat Nabila sakit hati dikarenakan sepatu tersebut
merupakan hasil dari kerja kerasnya. Pada kasus RS sangat
berat hingga yang bersangkutan harus bolak-balik menemui
dokter saraf dan psikiater. Korban juga tidak mau berangkat
ke sekolah, takut bertemu dengan orang, merasa depresi.
Permasalahan korban telah merambah ke psikis. Lain
halnya dengan Nabila yang selalu menangis ketika teman-
temannya menginjak-injak sepatu, ia merasa sakit hati pada
teman-temannya. Perilaku menginjak-injak barang milik
orang lain merupakan perilaku yang buruk untuk anak
sekolah dasar.

Tindakan bullying mampu berakibat pada putus
sekolah. Anak sekolah dasar yang dibully cenderung tidak
mau lagi untuk berangkat ke sekolah. Mereka yang menjadi
korban enggan untuk bertemu teman-teman di sekolah.
Situasi ini membuat ketidaknyaman pula dalam belajar.
Mereka menjadi tidak termotivasi untuk menuntut ilmu.
Korban berpikir bahwa pergi ke sekolah adalah sesuatu
yang tidak aman. Padahal dalam hierarki Moslow
kebutuhan akan rasa aman adalah sebuah tingkatan
kebutuhan yang masih dalam taraf sangat dasar yang harus
dimiliki.

216

2. Analisis Potensi Modal dan Solusi Pendidikan Anak
Modal Anak adalah sesuatu yang harus ada dan

dimiliki oleh anak. Modal yang sesuai untuk anak adalah
modal keterampilan, sikap, dan pengetahuan. Modal adalah
sebuah potensi yang dimiliki. Pada agama Islam potensi
disebut sebagai fitrah yang bermakna bawaan dari sejak
lahir. Bardasarkan fitrah ini setiap orang memiliki potensi
untuk berkembangn menjadi orang yang baik. Pada intinya
setiap anak memiliki potensi untuk menjadi baik. Di bawah
ini beberapa hadis yang sesuai dengan potensi anak
Pertama, hadis riwayat Bukhari No. 1385:

‫ ٍٍ ع الل ٍٍه ٍل ص ٍٍب ال ٍنا م ˚ٍ ك‬: ‫لهال ض ر ةٍ ٍر ٍي ˚ر‬ ‫ٍا ٍل ق˚ ٍه ٍن ع‬
‫ٍل ق) „ٍ ٍدل ٍو ٍو‬ ‫ٍٍم ٍلس و ٍه ٍي ٍل‬ ٍ ‫هب ٍى ٍأ ٍن ˚ع ٍج ٍت ˚ن‬
ٍ
‫˚ن ٍي ٍو ٍأ ٍها ٍن ٍٍد ٍو ه˚ ˚يا‬ ‫ت ٍة ٍم ٍي‬
‫ٍه ٍو فأ ٍب ٍة ٍر ٍطف ا ٍل ٍٍص‬ ‫ك ٍها ٍن ٍٍس ٍج ˚م‬ ٍ‫ٍه ٍٍ ال‬
‫ٍي ٍو ٍأ ٍها ٍن‬ ‫ٍل ٍث ٍم‬
ٍ’ ٍٍ

‫ٍء ج ٍه ف ٍر ه ةٍ ٍم ٍي ٍه ٍال‬ ‫ع ٍٍ ٍل ˚وي‬
‫ٍع ٍيى ٍت‬
‫ٍدا ٍل‬

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, ‖Nabi

Saw. bersabda, ‗Setiap anak dilahirkan di atas fitrah,
kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau
Nasrani, atau Majusi. Sama halnya hewan yang
menghasilkan hewan (yang sempurna), apakah engkau
melihat adanya kekurangan (cacat)?

Kedua, hadist riwayat Abu Daud Nomor 495

‫لٍ ˚وس قٍد ج ٍن ع‬ ٍٍ , ‫˚ع ش و ب ٍن ٍر ع ٍن ٍع ˚م ٍها ٍو ٍه ٍي ٍل‬ ‫ٍا ٍن‬ ‫ٍ ٍه ٍيب‬
‫رالٍهص‬ ‫ٍه ٍي ٍل ع الل ٍٍه ٍل هللا‬ ‫مٍعٍبٍي‬
‫ ٍٍ ٍٍملٍ ب ض و ٍٍ ٍب ˚سا ٍء ٍنب ٍأ صا ٍل ٍب ˚م ٍك ٍدال‬. ‫ٍ ٍعا ٍج‬
‫ٍوا ٍأ ˚و ˚ر م‬ ‫ ٍع ˚م ٍه ٍ ٍي ٍن ˚م ٍه و ٍةالٍٍسٍع‬:‫ٍسو‬
‫˚وض ٍا‬

‫ال ٍم ٍٍ ف ˚م ٍه ٍن ٍيا ٍب ˚و ٍٍق ٍرف و‬,‫ٍ ٍٍ ٍي ٍنس ٍٍ ٍش ٍعا ء ٍن ٍبأ‬

Artinya: Dari Abdullah Amr bin Syu‘aib dari ayahnya,
dari kakeknya dia berkata Rasulullah Saw. bersabda,
―Perintahkanlah kepada anak-anakmu shalat, sedang

217

mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka
kalau meninggalkannya, sedang mereka berumur
sepuluh tahun. Dan pisahlah di antara mereka itu
dari tempat tidurnya‖

218

Berdasarkan kedua hadist diatas dijelaskan bahwa
sejak lahir anak memiliki potensi sesuai fitrahnya tinggal
bagaimana orang tua mendidik. Dalam hal ini orang tua
dapat mendidik anak dengan ilmu agama sehingga terhidar
dari berbagai hal seperti bullying. Pada ajaran Islam sendiri
misalnya terdapat berbagai hal yang telah diatur mulai dari
seorang anak lahir hingga meninggal.

Ajaran tersebut telah berisi dalam Al-Qur‘an yang
sekaligus menjadi solusi dalam permasalahan dalam
bullying.

Tabel 1. Pendidikan Anak lewat Al-Quran.

Pada table diatas terdapat berbagai acuan dan solusi
dalam setiap permasalahan yang diatur oleh Al-Quran
khususnya dalam Pendidikan Anak. Aturan pada Al-Quran
tersebut menjelaskan bagaiaman seorang ayah dan ibu saat
belum memiliki keturunan, ikhtiar dari mulai mengandung,
saat kelahiran buah hati, anak usia dua tahun ke atas, ketika
mulai bersekolah, untuk meningkatkan prestasi anak,
menghindarkan dari pergaulan bebas dan bagaimana ketika
mulai menyukai lawan jenis. Anak yang diajarkan dengan
agama akan menjadi anak yang religious. Pada setiap ajaran
agama terkandung ajaran untuk saling mengasihi antar
sesama. Melalui ajaran saling mengasihi antar sesame,
perilaku bullying dapat dihindarkan. Anak tidak akan lagi
melakukan bullying karena bullying tidak sesuai dengan
kaidah agama. Rasa takut anak kepada Tuhan dan

219

keyakinan bahwa Tuhan selalu mengawasi dimanapun dan
kapanpun akan meningkatkan control diri dari enggan
berbuat bullying.

Selain modal fitrah dan pendidikan agama, anak
sendiri memiliki modal berupa kemampuan secara kognitif,
afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif adalah
ranah hasil belajar yang berkenaan dengan kemampuan
pikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, pengetahuan
yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan,
pengenalan, pemahaman,konseptualisasi, penentuan dan
penalaran.Ranah kognitif dapat pula diartikan sebagai
kemampuan intelektual. Kemampuan afektif adalah
kemampuan yang berkenaan dengan perasaan, emosi,
sikap/derajat penerimaan atau penilaian suatu obyek
(Bloom: 1987). psikomotor dapat diartikan sebagai
serangkaian gerakan otot-otot yang terpadu untuk dapat
menyelesaikan suatu tugas (TIM pekerti UNS, 2007).
Berdasarkan berbagai modal anak diatas maka bukan
sebuah kemustahilan perilaku bullying dapat dihindarkan
atau dicarikan solusi.

Perilaku bullying haruslah segera dipecahkan dan
dicarikan solusinya. Hal ini pula dilandasi dari komitmen
untuk melindungi dan mengakui hal anak sesuai dengan
Undang-undang Dasar 1945 pasal 28B ayat (2) yang
menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perilaku
bullying merupakan salah satu pelanggaran terhadap pasal
tersebut, karena anak seharusnya dilindungi bukan
mendapat kekerasan ataupun diskriminasi.

Salah satu alternative solusi melalui penelitian yang
telah diberikan oleh ahli. Beberapa hasil penelitian
menunjukan bahwa program anti bullying berbasis sekolah
secara efektif mampu menekan tingkat bullying
(pendekatan pedagogis). (Gaffney et al., 2019)
mengemukakan bahwa program pencegahan bullying

220

berbasis sekolah dapat menurunkan sekitar 15-16% korban
bullying serta mengurangi kasus bullying disekolah sekitar
19-20%. Pada penelitian ini dijabarkan bahwa pendekatan
seluruh warga sekolah, kebijakan anti bullying, aturan
dalam kelas, informasi untuk orang tua, keterlibatan teman
bermain, berbicara dengan korban merupakan upaya-upaya
yang dapat meminimalisir tindakan bullying (pendekatan
humanis).

Selain itu berdasarkan komnas perlindungan anak
dan perempuan solusi dalam menangani masalah bullying
adalah pencegahan serta penanganan menggunakan
rehabilitasi. Rehabilitasi dengan terus menerus memperbaiki
apa yang telah dilakukan pembully memberikan edukasi
dan solusi. Pencegahan dapat pula dilakukan melalui
keluarga, dengan cara meningkatkan ketahanan keluarga
serta memperbaiki pola pengasuhan. Cara-cara ini antara
lain mengajarkan nilai agama dan nilai kasih sayang sesame
manusia. Memberikan lingkungan yang penuh dengan
kasih sayang kepada anak sehingga anak tidak merasa
memiliki potensi berperilaku kasar dan melakukan tindakan
kekerasan. Berusaha membangun rasa percaya diri,
keberanian, dan ketegasan. Belajar etika terhadap sesama
(menumbuhkan kepedulian dan sikap menghargai), berikan
teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan. Berusaha
untuk mendampingi anak dalam menyerap informasi
utamanya dari media televisi, internet dan media elektronik.

C. Kesimpulan
Masalah bullying menjadi salah satu permasalahan

pendidikan anak di Indonesia. Bullying merupakan tindakan
menyakiti, mempermalukan seseorang secara verbal atau fisik.
Penyebab bullying biasanya disebabkan oleh empat faktor.
Pertama yaitu keluarga, kedua orang tua, ketiga teman sebaya,
keempat tontonan. Orang tua yang sering melakukan
kekerasan. Kekerasan tersebut menyebabkan anak meniru
perilaku orang tua dengan melakukan kekerasan. Perlakuan

221

KDRT dalam keluarga akan memicu tumbuh kembang anak
menjadi seorang pelaku bullying. Perilaku bullying juga dapat
terjadi di sekolah. Minimnya ketegasan dan konsekuensi dari
tindakan bullying akan menyebabkan perilaku bullying
merajalela. Kurangnya pengawasan dari pihak sekolah dapat
memicu berkembangnya tindakan bullying. Secara modal dan
solusi permasalahan bullying dapat diatasi dengan pendidikan
agama, pendidikan dalam lingkungan sekolah (pedagodi) dan
pengobatan rehabilitasi dalam pendekatan humanis.

222

DAFTAR PUSTAKA

4 Kasus “Bullying” di Sejumlah Daerah, Dibanting ke Paving, Amputasi
hingga Korban Depresi Berat Halaman all - Kompas.com. (n.d.).
Retrieved June 17, 2021, from
https://regional.kompas.com/read/2020/02/08/06060081/
4-kasus-bullying-di-sejumlah-daerah-dibanting-ke-paving-
amputasi-hingga?page=all

5 Bahaya Laten Bullying terhadap Anak - Regional Liputan6.com. (n.d.).
Retrieved June 18, 2021, from
https://www.liputan6.com/regional/read/3669126/5-
bahaya-laten-bullying-terhadap-anak

Bong, S. H., Kim, K. M., Seol, K. H., & Kim, J. W. (2021). Bullying
perpetration and victimization in elementary school
students diagnosed with attention-deficit/hyperactivity
disorder. Asian Journal of Psychiatry, 62, 102729.
https://doi.org/10.1016/j.ajp.2021.102729

Craig, W., Harel-Fisch, Y., Fogel-Grinvald, H., Dostaler, S.,
Hetland, J., Simons- Morton, B., Molcho, M., de Mato, M.G.,
Overpeck, M., Due, P., Pickett, W., HBSC Violence & Injuries
Prevention Focus Group, HBSC Bullying Writing Group,
2009. A cross-national profile of bullying and victimization
among adolescents in 40 countries. Int. J. Public Health 54
(Suppl 2(Suppl 2)), 216–224

Chen, et.all. (2015). Perceived severity of school bullying in

elementary schools based on participants‘ roles. Educational

Psychology. Vol.35 (4).

https://doi.org/10.1080/01443410.2013.860220

Gaffney, H., Farrington, D. P., & Ttofi, M. M. (2019). Examining the
Effectiveness of School-Bullying Intervention Programs
Globally: a Meta-analysis. International Journal of Bullying
Prevention, 1(1), 14–31. https://doi.org/10.1007/s42380-019-
0007-4\

223

Hidayati. 2019. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Bullying Di Kalangan

Peserta Didik Era Milenial. SKRIPSI:UMS.

Korua, et.all., (2015). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan

Perilaku Bullying Pada Remaja SMK N 1 Manado. E-journal

Keperawatan. Vol 3(2).

https://media.neliti.com/media/publications/112963-ID-

hubungan-pola-asuh-orang-tua-dengan-peri.pdf

Olweus, D., 1993. Bullying at School: What We Know and What

We Can Do (Understanding Children‘s Worlds). Blackwell

Publishing, Oxford.

PISA: Murid Korban “Bully” di Indonesia Tertinggi Kelima di Dunia |

Databoks. (n.d.). Retrieved June 17, 2021, from

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/12/

pisa-murid-korban-bully-di-indonesia-tertinggi-kelima-di-

dunia

Sabandar, S. (2018). (5 Bahaya Laten Bullying Terhadap Anak -

Regional Liputan6.Com, n.d.)

https://www.liputan6.com/regional/read/3669126/5-

bahaya-laten-bullying-terhadap-anak diakses pada tanggal

18 Juni 2021.

224

BAB 9
TINJAUAN PUSTAKA: PERMASALAHAN
PENDIDIKAN ANAK DAN ALTERNATIF

SOLUSINYA

Hendra Prasetia
Program S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

[email protected]

Abstrak. Permasalahan kehidupan anak sangat beragam dan
memiliki keunikan sendiri. Permasalahan yang terjadi pada anak
perlu untuk ditangani dan diatasi secepat mungkin agar tidak
mengganggu tumbuh kembang mereka kedepannya.permasalahan
pada saat ini yaitu masalah kurang gizi (stunting) dan
pembelajaran pada tingkat PAUD yang seharusnya 80 persen
membangun sikap. Namun saat ini justru fokus pada
pembelajaran calistung yang bernuansa akademik. Sehingga dari
permasalahan ini perlu dicari solusi yang tepat dalam
menyelesaikannya. Pihak pengambil kebijakan dalam hal ini
pembuat kurikulum di sekolah dasar jangan membuat aturan pada
satuan pendidikan agar seorang anak bisa baca tulis dan hitung,
ketika masuk di jenjang pendidikan dasar melainkan yang utama
yaitu membangun sikap melalui kebiasaan yang baik dengan nilai-
nilai karakter pada anak. Setiap keluarga dan orang tua harus
berdaya dalam hal ekonomi sehingga dapat mencukupi kebutuhan
dari setiap anggota keluarga terutama kebutuhan seorang anak
yang membutuhkan asupan kecukupan gizi dan nutrisi. Orang tua
harus dapat mencukupi kebutuhan dan gizi anak-anaknya agar
tumbuh kembang setiap anak tidak memiliki gangguan dan
hambatan.
Kata kunci: Permasalahan, Pendidikan Anak, Alternatif solusinya

225

A. Pendahuluan Pendidikan Anak memiliki
Permasalahan

keanekaragaman dan macam yang unik antara anak yang satu

dengan lainnya. Namun pada umumnya di Indonesia secara

umum permasalahan yang terjadi pada pendidikan anak

utamanya pada anak akan beranjak memasuki ke sekolah dasar

yaitu:

1. Pembelajaran pada anak terutama pada tingkat PAUD yang

seharusnya 80 persen membangun sikap, namun saat ini

justru fokus pada pembelajaran calistung yang bernuansa

akademik.

2. Masalah kurangnya gizi dan kecukupan nutrisi anak juga

masih menjadi persoalan.

Analisis Modal Dasar Pendidikan Anak:
Masa anak-anak adalah masa yang paling berharga

untuk mencapai masa depan atau generasi penerus bangsa.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini tahun-
tahun ini mendapatkan perhatian yang cukup baik dari
berbagai kalangan masyarakat, pemerintah, pihak swasta,
orang tua, dan lain-lain.

Usia di bawah lima tahun (balita) adatah usia yang
paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan
karakter atau kepribadian seseorang. Perkembangan inteligensi
juga hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun
dimana pada usta ini anakanak memiliki inteligensi laten
(potential inteligence} yang luar biasa. Anak-anak usia belia
memiliki berrnllyar-milyar sel syaraf otak yang sedang
berkembang dan memiliki kemampuan serta daya memori
yang kuat. Menurut Dirjen PLSP Depdiknas Fasli Jalal (Pikiran
Rakyat, 8 Januari 2004) sel-sel otak yang terus dirangsang akan
semakin cepat berkembang, semua synap-synap akan
mengental dan otak menjadi berfungsi. Anak yang jarang
mendapat rangsang atau stimulasi bisa mengakibatkan
terputusnya syaraf-syaraf otak. lni dapat berbuntut pada tidak
berfungsinya otak secara sempurna.

226

Pada umumnya kita selalu menyalahkan anak-anak
apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang kita inginkan.
Kalau anak tidak bisa menangkap pelajaran dikatakan bodoh.
Kenyataannya hal ini lebih banyak disebabkan karena
kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua terhadap
perkembangan jiwa anak sehingga perlakuan yang diberikan
kepada mereka menjadi kurang tepat.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan
kemampuan untuk menyerap informasi yang sangat tinggi.
Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami
kemampuan "magic" yang ada pada anak ini. Mereka hanya
bisa berkata, "Saya tahu anakanak belajar lebih cepat", tetapi
mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar.

Menurut Hurlock (1997), perkembangan intelektual anak
yang sangat pesat justru terjadi pada usia 0-6. Selama dalam
kandungan, susunan syaraf yang tumbuh cepat adalah jumlah
dan ukuran sel syaraf.Cortex (lapisan tebal kelabu yang
membentuk permukaan luar otak) anak terdiri dari 100 milyar
neuron dan sekitar satu triliun sel g1ia yang berfungsi sebagai
sambungan. Setelah dilahirkan pertumbuhan sel syaraf lebih
diarahkan pada pengembangan sel yang belum berkembang.
Tidak lama setelah dilahirkan, otak bayl menghasilkan triliunan
sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan.
dalam perkembangan. Sete!ah anak berusia 4 tahun
pertumbuhan susunan syaraf berlangsung sedikit lebih lambat.

Menurut Vander, Sherman & Luciano (2001), ketika lahir,
ada bagian-bagian cortex yang belum memiliki fungsi. Bagian
inilah yang memungkinkan rnanusia untuk belajar. Melalui
persaingan alami, sambungan-sambungan yang tidak atau
jarang digunakan akan mengalami pemutusan sambungan.
Sementara itu pemantapan sambungan akan terjadi apabila
neuron mendapatkan informasi dan mampu menghasilkan
letupan-letupan 1istrik. Disinilah letak panting stimulasi
rangsangan sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung,
mulut, maupun perabaan.

227

Hasil penelitian Dr. Mark R Rozenzweig dari fakultas
Psikologi Universitas California memperlihatkan bahwa
stimulasi atau pemberian rangsangan di masa kecil bisa
mengubah ukuran dan fungsi kimiawi otak. Makin banyak
rangsangan yang dikirim, makin besar pula kemampuan otak
untuk berfungsi secara cerdas. Sebaliknya, kurangnya
rangsangan lingkungan atau stimulus psikososial akan
membuat ukuran otak menjadi lebih kecil 20-30%
dibandingkan ukuran normal anak seusianya (Suara Merdeka
Cybemews, 21.6.2004). Pendidikan anak usia dini (PAUD) ini
semakin terasa urgensinya bila mengingat adanya batasan
waktu dimana sel-sel otak tidak lagi dapat digiatkan dengan
mudah. Bloom, pimpinan American Educational Research
Association menyebutkan 50% dari potensl inteligensi anak
sudah terbentuk di usia 4 tahun, kemudian mencapai 60%
ketika ia berusia 8 tahun. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat
lingkungan dan bentuk pendidikan yang diperoleh,
kemampuan kecerdasan anak hanya dapat diubah sebanyak
20%. Di slsl lain, perubahan paling besar dari kemampuan
mental juga terjadi saat otak mengalaml pertumbuhan pesat.
Semakin bertambah umur, pertumbuhan otak semakin
menurun dan akhirnya mencapai kestabilan pada usia 17
tahun.

Dengan potensi yang ada padanya, Hurlock (1994)
mengatakan bahwa masa usia dini merupakan periode
keemasan da1am proses perkembangan anak. Di usia ini anak
mengalami lompatan kemajuan yang luar biasa, baik dalam hal
fisik, emosional maupun sosial sehingga sangat berpotensi
untuk belajar. Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila
proses pembe1ajaran anak usia dini kurang diperhatikan. Bila
masa peka ini lewat, akan sulit atau bahkan tidak mungkin lagi
untuk melakukan jenis pembelajaran tersebut. Akibatnya anak
akan mengalami kerugian sepanjang hidupnya.

Anak merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Seorang anak hadir sebagai amanah dari Tuhan untuk dirawat,
dijaga dan dididik yang kelak setiap orang tua akan diminta

228

pertanggungjawaban atas sifat dan perilaku anak semasa
didunia. Secara harfiah anak adalah seorang cikal bakal yang
kelak akan meneruskan generasi keluarga, bangsa dan negara.
Anak juga merupakan sebuah aset sumber daya manusia yang
kelak dapat membantu membangun bangsa dan Negara.

Anak juga merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi
baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan
sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Masa
depan bangsa dan negara dimasa yang akan datang berada
ditangan anak sekarang, Semakin baik kepribadian anak
sekarang maka semakin baik pula kehidupan masa depan
bangsa.Begitu pula sebaliknya, Apabila keperibadian anak
tersebut buruk maka akan bobrok pula kehidupan bangsa yang
akan datang. Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa
kanak-kanak merupakan masa yang panjang dalam rentang
kehidupan.

Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal.
―Pertama, pendidikan anak usia dini tidak memiliki kurikulum
yang universal,‖ ungkap Byrnes yang merupakan kepala
sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Tidak adanya
standar universal membuat begitu banyak sekolah untuk anak
usia dini yang bermunculan. ―Belum ada yang membuat
batasan, di usia anak sekian, ia harus sudah bisa melakukan
apa saja. Jadi, beda sekolah, beda standar. Padahal tak sedikit
yang menggunakan embel-embel ‗internasional‘. Embel-embel
tersebut ternyata tidak menjadi jaminan kualitasnya,‖ papar
Byrnes yang diberi gelar sebagai Australia‘s & International
Teacher of the Year. pendidikan anak usia dini itu penting,
karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling
bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan
dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi
terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah
persiapan pendidikan mereka di usia dini,‖ terang Byrnes yang
berasal dari Australia ini.

Byrnes mengungkapkan salah satu hal yang
membuatnya kecewa adalah sering terjadi power struggle

229

(tarik-ulur kekuatan) antara anak dengan gurunya. Ini bisa
menjadi indikasi bahwa kurikulum atau cara guru mengajar
membuat anak tidak merasa kerasan. Seharusnya sumber daya
pengajar memiliki pengetahuan bagaimana cara menghadapi
anak-anak, karena setiap anak berbeda.

Menurut Byrnes, beberapa lembaga pendidikan usia dini
yang ia datangi di Indonesia tidak konsisten. Bahkan, beberapa
sekolah anak usia dini yang ia temui memperbolehkan
pengasuhnya ikut ke dalam kelas. ―Buat saya, pengasuh
mengambil alih otoritas orangtua. Saya tidak menyarankan
pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak
harus belajar mandiri. Saya pernah melihat dalam kelas ada
seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru
mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan
menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan
sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya pengambil risiko,‖
terang Byrnes.

Alternatif Solusi
Dari permasalahan yang ada tentang Pendidikan Anak

dan modal dasar pendidikan anak, yaitu:
Permasalahan terkait Pembelajaran pada anak yang

seharusnya 80 persen membangun sikap, namun saat ini justru
fokus pada pembelajaran calistung yang bernuansa akademik.
Pendidikan anak, seharusnya masa mereka bermain dan
membangun sikap dan dikenalkan pada nilai karakter yang
sesuai dengan tingkat mereka. Namun karena tuntutan
kurikulum yang ada sehingga mereka dituntut untuk bisa baca
tulis dan hitung memaksa mereka untuk bisa baca tulis dan
hitung justru tidak membangun kebiasaan sikap yang baik
melalui pengenalan nilai-nilai karakter.

Alternatif dari solusi tersebut, maka sebaiknya pihak
pengambil kebijakan dalam hal ini pembuat kurikulum di
sekolah dasar jangan membuat aturan pada satuan pendidikan
untuk seorang anak agar bisa baca tulis dan hitung, ketika
masuk di jenjang pendidikan dasar melainkan yang utama

230

yaitu membangun sikap melalui kebiasaan yang baik dengan
nilai-nilai karakter pada anak. Sehingga moral, akhlak dan
karakter setiap anak dapat tumbuh dan terbangun. Selain itu
orang tua dari setiap anak jangan memaksakan anak untuk bisa
baca tulis dan hitung, ketika seorang anak belum mau dan
belum bisa untuk melaksanakannya. Alangkah baiknya
seorang anak dibiasakan untuk mengembangkan sikap, moral,
nilai dan karakter anak.

Pendidikan bagi anak telah menjadi perhatian
Internasional dan Nasional. Da1am pertemuan Forum
Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal dihasilkan 6
kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua
(The Dakar Framework for Action Education for Alf) yang
salah satu butirnya menyatakan untuk memperluas dan
memperbaiki seluruh perawatan dan pendidikan anak,
terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang
beruntung. Terkait dengan hal tersebut, tanggal 19 April 2001
dibentuklah Direktorat Pendldikan Anak Usia dini di bawah
Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen
Pendidikan Nasional. Upaya pertama yang harus dilakukan
adalah menumbuhkan kesadaran pada semua pihak (orangtua,
guru, pemerintah) bahwa anak usia dini pun memiliki hak atas
pendidikan. Mereka bertanggung jawab mengoptimalkan
perkembangan anak, baik inteligensi, kecerdasan emosi, moral
maupun kecerdasan spiritualnya.

Menurut Beck (1996), lingkungan dapat meningkatkan
atau menurunkan taraf kecerdasan anak. Hal ini dibuktikan
dalam proyek Head-Start yang berlangsung 8 minggu. IQ anak-
anak setelah proyek ini selesai naik antara 6-14 angka. Jadi
kecerdasan anak dapat dltlngkatkan jika dilakukan dengan cara
dan saat yang tepat. Oleh karena itu anggapan yang telah
berkembang di tengah masyarakat bahwa pendidikan anak
tidak ter!alu penting keberadaannya perlu diluruskan.

Gutama (2001), Direktur Pendidikan Anak Usia dini
Departemen Pendidikan Nasional mengatakan bahwa
Depdiknas mempunyai program untuk mengadakan sosialisasi

231

PAUD karena hingga saat ini diakui masih terdapat sejumlah
kebingungan dan ketidaktahuan sebagian masyarakat tentang
batasan, arti panting, dan pemahaman tentang PAUD. Selain
itu, sejumlah sekolah bagi anak usia dini mulai play group,
kepompong dan sebagainya terkesan mahal dan hanya bisa
dijangkau masyarakat kelas atas saja. Kesan eksklusif ini perlu
dihilangkan di tengah-tengah masyarakat. Untuk ltu Direktorat
PAUD tengah mengembangkan sebuah kurikulum PAUD yang
dinamai Acuan Menu Pembelajaran Generik yang memberikan
rincian tentang metode pembelajaran untuk anak usia 0-4
tahun. Pasal 28 Undang Undang Republik Indonesia Nomer 20
tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan
bahwa

Pendidikan Anak diselenggarakan sebelum jenjang
pendidikan dasar (usia 0-6 tahun). Pendidikan ini dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal,
dan/atau informal. Pendidikan melalui jalur pendidikan formal
berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal, atau
bentuk lain yang sederajat. Pendidikan non formal berbentuk
Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau
bentuk lainnya. Pendidikan informal berbentuk pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh
lingkungan. Tujuan Pendidikan Anak Usia dini adalah untuk
memberikan pembinaan terhadap upaya pelayanan pendidikan
anak usia dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal sesuai tahap tumbuh kembang dan potensi masing-
masing anak.

Taman Kanak-kanak di Indonesia adalah suatu tahap
dalam pendidikan anak yang tidak menjadi prasyarat untuk
memasuki tahap pendidikan selanjutnya (Penjelasan pasal 28
Undang Undang Republik Indonesia Namer 20 tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Program pendidikan
taman kanak-kanak yang ada saat ini sangatlah bervariasi.
Beberapa sekolah taman kanak-kanak mungkin lebih
menekankan pada perkembangan sosial, sementara yang lain
lebih menekankan perkembangan kognitif (Suprapti, 1999).

232

Bahkan beberapa pakar meyakini bahwa sebagian
pendidikan taman kanak-kanak dewasa ini sarat dengan
orientasi pada pencapaian prestasi (Santrock, 1994). Suatu
orientasi yang lebih mengedepankan "nama baik" sekolah yang
dibebankan terlalu dini pada anak-anak. Para ahli psikologi
perkembangan anak telah lama mempercayal peran penting
permalnan di dalam pengajaran anak-anak.

ldealnya, pendidikan di TK harus disesuaikan dengan
tahap perkembangan anak agar tidak menjadi beban bagi
siswa. Bermain bagi anak, menurut Semiawan (Pikiran Rakyat,
8 Januari 2004) adalah suatu kebutuhan. Dengan merancang
pelajaran TK untuk dilakukan sambil bermain, maka anak
dapat belajar sesuai tuntutan perkembangannya. Pelaksanaan
pendidikan TK yang melupakan kebutuhan bermain anak
dikatakan Semiawan sebagai pendidikan yang salah kaprah
dan perlu dlluruskan. Dari pengalaman sehari-hari dengan
anak-anak, guru maupun orang tua dengan mudah dapat
mellhat bahwa permainan spontan adalah suatu cara alami bagi
anak dalam belajar.

Pengamatan atas permainan anak-anak mengungkapkan
bahwa permainan dapat menjadi wadah yang luas dan
mendalam untuk semua wilayah perkembangan anak, baik
fisik, emosional. sosial, dan intelektual. Belajar melalui
penyelidikan spontan (pengamatan dekat, percobaan, dan
pemeriksaan) bagi anak-anak sama alaminya dengan
permainan spontan. Banyak observer sudah mencatat bahwa
anak-anak usia dini adalah ahli antropologi dan ilmuwan
alami. Energi mereka seolah-olah tak ada habisnya untuk
mempelajari semua aspek yang menyangkut kutturtempat
mereka dilahirkan, bahasa, cerita, musik, dan literatur. Mereka
memeriksa dengan seluruh akal sehat dan ketrampilan yang
dibutuhkan. Apakah suatu hal sesuai atau tidak, darimana hal-
hal datang, apa arti keberadaan mereka, bagaimana mereka
dibuat, serta bagaimana panutan dan orang dewasa bereaksi
terhadap mereka.

233

Kurikulum dan metode pengajaran yang sesuai untuk
anak usia dini adalah kurikulum yang memasukkan dorongan
dan aktivitas anak-anak sla dini untuk melakukan
penyelidikan- penyelidikan tersebut dan menonjolkan
pentingnya emosi dan perasaan individu anak-anak di dalam
kelompok. Karakteristik anak-anak usia dini menuntut suatu
kurikulum yang melibatkan suatu variasi dan keseimbangan
aktivitas yang dapat disiapkan dalam bentuk konteks proyek
bekerja (Katz dan Chard, 1989). Sebagai contoh, anak-anak
taman kanak kanak dapat melakukan proyek di mana mereka
memeriksa suatu perisliwa riil. Selama proyek seperti itu, anak-
anak akan mempelajari huruf, kemampuan matematika,
kemampuan bicara serta ketrampilan mendengarkan dan
memperoleh kata-kata baru selagi mereka membagi bersama
hasll penemuan mereka dengan orang lain.

Suatu kurikulum yang baik (Katz and Chard, 1989)
menyediakan aktivitas-aktivitas berikut
1. Studi topik yang terintegrasi, bukannya instruksi-lnstruksi

untuk melakukan ketrampilan tertentu pada seluruh anak
2. Peluang bagi anak-anak untuk belajar dengan mengamati

dan mengadakan percobaan dengan objek riil
3. Keseimbangan antara aktivitas yang dilakukan atas inisiatlf

anak dan guru
4. Peluang bagi anak untuk melakukan permainan spontan

dan melakukan aktivitas yang difasilitasi guru
5. Proyek kelompok dimana kerjasama dapat terjadi secara

alami
6. Bidang aktivitas yang menuntut penggunaan otot kecil dan

besar
7. Pengenalan 1iteraturyang baik dan music yang terkait

dengan ku1tur di kehidupan anak-anak dan kuftur lain
yang diwakili oleh masing-masing anak di dalam kelas
8. Penilaian murni terhadap tiap kemajuan perkembangan
anak

234

9. Peluang untuk anak-anak dengan 1atar belakang dan
tingkatan perkembangan yang berbeda untuk mengambil
bagian di seluruh aktlvitas kelompok

10. Waktu untuk individu atau kelompok keen untuk bertemu
guru guna mendapat bantuan yang spesifik dalam
memperoleh dasar membaca, menulis, matematika, dan
ketrampilan lain jika dibutuhkan.

Suatu tantangan utama untuk sekolah yang peduli

dengan penggunaan terbaik dari waktu anak-anak di taman

kanak kanak adalah menetapkan pengajaran dan aktivitas

pembelajaran yang penuh arti. Program TK yang sesuai dengan

tahap perkembangan anak setidaknya harus memenuhi syarat-

syarat berikut: Pertama, menggabungkan pelajaran baru

dengan pengalaman masa lalu melalui tugas-tugas yang

mencakup beragam kemampuan dan pengelompokan

beragam usla dalam situasi yang santai. Kedua, melibatkan

anak-anak dalam mengalami secara 1angsung dan melakukan

interaksi informal dengan objek, anak-anak lain, dan orang

dewasa. Ketiga, menekankan pengembangan bahasa dan

pengalaman preliteracy (persiapan belajar membaca) sesuai

tahap perkembangan anak.

Selain itu, program lersebut harus memperhatikan puta

kerjasama dengan orangtua untuk berbagi lnformasi tentang

anak-anak mereka, membangun suatu pemahaman tentang

peran guru dan orang tua, menekankan keblasaan

membacakan buku untuk anak-anak di sekolah dan di rumah,

dan menetapkan langkah untuk kerjasama lebih lanjut antara

orang tua dan guru. Penawaran aktivitas yang melibatkan

kelompok kecil, kelompok besar dan aktivitas

individual secara seimbang menjadi syarat

PSIKOLOGIKA Nomor 18 tahun IX JuH 2004 PENDIDlKAN

ANAK USIA DINI DI INDDNESIA selanjutnya. Sebagai

tambahannya ke-majuan siswa melalui pengamatan guru dan

pengujian, serta pengumpulan sistematis dari tugas-tugas

siswa harus dilaksanakan. Terakhir, mengembangkan

235

ketrampilan sosial anak-anak, mencakup juga strategi resolusi
konflik.

National Association for the Education of Young
Children (NAEYC) menyarankan para orang tua untuk teriibat
aktif dalam memilih sekolah bagi anaknya. Guna memudahkan
orang tua dalam menilai apakah suatu TK baik atau buruk bagi
perkembangan anaknya NAEYC menyarankan orangtua untuk
memperhatikan indikasi-indikasi seperti: Anak-anak
menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bermain
dan belajar dengan material atau anak-anak yang lain. Mereka
tidak mengeluyur tanpa tujuan. dan mereka tidak diharapkan
untuk duduk dengan tenang untuk periode waktu yang lama.
Selaln itu, anak-anak mempunyai akses untuk berbagai
aktivitas sepanjang waktu belajar. Anak-anak tidak diharuskan
untuk melakukan hal yang sama pada waktu yang sama.

Guru bekerja dengan anak-anak secara individual,
da1am ke1ompok kecil, dan keseluruhan ke1ompok pada
waktu berbeda sepanjang hari. Mereka tidak menghabiskan
seluruh waktu mereka dengan keseluruhan kelompok. Sekolah
yang memberi stimulasi tepat sesuai perkembangan biasanya
juga menyediakan kelas yang dihias dengan hasi1 karya asli
anakanak, tulisan mereka sendiri dengan ejaan asli, dan cerita-
cerita yang didiktekan o1eh anak-anak ke guru. Anak-anak
mempelajari angka-angka dan abjad dalam konteks
pengalaman sehari-hari mereka. Mereka juga mengerjakan
tugas-tugas lapangan dan mempunyai waktu (sedikitnya satu
jam) untuk bermain dan bereksplorasi. Worksheets digunakan
sedikiVtidak sama sekali.

Selanjutnya anak-anak mempunyai kesempatan untuk
bermain di luar setiap hari. Permainan di luar tidak pernah
dikorbankan untuk kegiatan yang bersifat instruksional. Guru
membacakan buku pada anak-anak secara individual atau
dalam kelompok kecil sepanjang hari, tidak hanya pada waktu
cerita kelompok. Untuk itu kurikulum disesuaikan untuk
mereka yang cepat menangkap dan juga untuk mereka yang
memerlukan bantuan tambahan. Guru mengetahui bahwa

236

pengalaman dan latar belakang yang berbeda pada anak-anak
berarti bahwa mereka tidak mempelajari hal yang sama pada
waktu yang sama dengan cara yang sama. Sehingga anak-anak
dan orang tua mereka selalu menanti-nanti saat untuk
berangkat sekolah. Orang tua merasa aman mengirimkan
anaknya ke sekolah. Anak-anak senang untuk datang ke
sekolah, mereka tidak menangis/berteriak secara terus
menerus atau mengeluh merasakan sakit jika akan berangkat
sekolah.

Solusi dari permasalahan yang kedua tentang masalah
kurangnya gizi dan kecukupan nutrisi anak juga masih menjadi
persoalan, sehingga alternatif dari solusi permasalahan tersebut
yaitu tentu saja setiap keluarga dan setiap orang tua harus
berdaya dalam hal ekonomi sehingga dapat mencukupi
kebutuhan dari setiap anggota keluarga terutama kebutuhan
seorang anak yang masih membutuhkan asupan kecukupan
gizi dan nutrisi. Orang tua harus dapat mencukupi kebutuhan
dan gizi anak-anaknya agar tumbuh kembang setiap anak tidak
memiliki gangguan dan hambatan.

Usia masa anak-anak merupakan masa dimana proses
pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat pesat. Pada
masa ini balita membutuhkan asupan gizi yang cukup dalam
jumlah dan kualitas yang lebih banyak karena balita umumnya
mempunyai aktivitas fisik yang cukup tinggi dan masih dalam
proses belajar (Welassih & Wirjatmadi, 2012). Salah satu
permasalahan gizi yang sering terjadi adalah stunting.

Stunting merupakan suatu kondisi dimana kurang gizi
kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam
jangka waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi (Millennium
Challenga Account, 2014). Kekurangan gizi pada usia dini
meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan
penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tidak
maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif para penderita
juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi
jangka panjang bagi Indonesia (Millennium Challenga Account,

237

2014). Kejadian stunting pada balita lebih sering mengenai
balita pada usia 12-59 bulan dibandingkan balita usia 0-24
bulan. Kejadian Stunting dapat meningkatkan beberapa risiko
misalnya kesakitan dan kematian serta terhambatnya
kemampuan motorik dan mental (Chirande et al., 2015).
(Rahmayana, Ibrahim, & Damayati, 2014)

Di dunia, lebih dari 2 juta kematian anak dibawah 5
tahun berhubungan langsung dengan gizi buruk terutama
akibat stunting dan wasting. Terdapat sekitar 195 juta anak yang
hidup dinegara miskin dan berkembang mengalami stunting
(Rahmayana et al., 2014). Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2013 di Indonesia mencatat bahwa prevalensi
stunting sebesar 37,2%, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan
tahun 2007 (36,8%). Kemenkes RI tahun 2016 prevalensi
stunting dapatkan 38,9%. Prevalensi stunting di Provinsi Jawa
Tengah sendiri sebesar 33,9% dengan katagori pendek sebesar
17,0% dan sangat pendek sebesar 16,9%. Sedangkan di
Kabupaten Boyolali persentase balita stunting mengalami
penurun pada tahun 2014 (32,7%), dan tahun 2015 (28%) (Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali, 2015). WHO tahun 2010
memberikan rekombendasi batasan kejadian 3 stunting < 20%
itu artinya prevalensi stunting di Kabupaten Boyolali masih
tinggi.

Menurut data dari BPS Boyolali, data makro kemiskinan
tahun 2016 didapatkan 12,09%. Tingkat pengetahuan ibu
tentang gizi di Kabupaten Boyolali masih kurang di dapatkan
45,6% (Kusuma et al., 2016). Tingkat pendidikan dikabupaten
boyolali sangat rendah di dapatkan data bahwa tidak atau
belum tamat SD didapatkan 30,23%, SD 33,71%, SLTP 13,87%,
SLTA 13,87%, dan PT 4,66%. (Kusuma, Kusumawati, & Astuti,
2016).

Sulastri (2012) menunjukan bahwa penyebab stunting
pada anak sekolah adalah tingkat pendidikan ibu dan tingkat
sosial ekonomi. Penelitian yang dilakukan Welassih (2012)
mendapatkan bahwa kejadian stunting terbanyak pada balita
yang BBLR dan sosial ekonomi rendah. Tingkat pendidikan

238

orang tua akan berpengaruh terhadap pengetahuan orang tua
terkait gizi dan pola pengasuh anak, dimana pola asuh yang
tidak tepat akan meningkatkan risiko terjadinya stunting.

Sosial ekonomi, demografi, dan kesehatan anak, jenis
kelamin anak, dan menyusui menjadi faktor yang paling
berpengaruh signifikan secara statistik terhadap stunting di
Kota Lalibela, Ethiopia Utara (Yalew et al., 2014). Penelitian
dilakukan Teferi et al (2016) yaitu balita yang berusia 6-59 bulan
memiliki risiko tinggi terjadi stunting. Faktor lain yang
berkaitan dengan stunting yaitu adanya riwayat terkena
penyakit kronis.

Stunting merupakan gambaran status gizi kurang yang
berkepanjangan selama periode paling genting dari
pertumbuhan dan perkembangan diawal kehidupan. Stunting
disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya
disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil
maupun anak balita. Beberapa faktor penyebab terjadinya
stunting, menurut TNP2K (Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan) 2017 antara lain: 1) Praktek
pengasuhan yang kurang baik, dalam hal ini kurangnya
pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan
pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan.2) Masih
terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-
AnteNatal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa
kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang
berkualitas, informasi yang dikumpulkan dari publikasi
Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat
kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dan anak
belum mendapatkan akses yang memadai ke layanan
imunisasi. 3) Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga
ke makanan bergizi, hal ini dikarenakan harga makanan bergizi
di Indonesia masih tergolong mahal. Terbatasnya akses
makanan bergizi di Indonesia juga tercatat telah berkontribusi
pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia. 4) Kurangnya
akses ke air bersih dan sanitasi.

239

Status sosial ekonomi yang rendah merupakan faktor
risiko kejadian stunting pada anak balita. Apabila keluarga
dengan pendapatan yang rendah mampu mengelola makanan
yang bergizi dengan bahan yang sederhana dan murah maka
pertumbuhan bayi juga akan menjadi baik. Pendapatan yang
diterima tidak sepenuhnya dibelanjakan untuk kebutuhan
makan pokok, tetapi untuk kebutuhan lainnya. Tingkat
pendapatan yang tinggi belum tentu menjamin status gizi baik
pada balita, karena tingkat pendapatan belum tentu
teralokasikan cukup untuk keperluan makan.

Pendapatan keluarga berkaitan dengan kemuampuan
rumah tangga tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup baik
primer, sekunder, maupun tersier. Pendapatan keluarga yang
tinggi memudahkan dalam memenuhi kebutuhan hidup,
sebaliknya pendapatan keluarga yang rendah lebih memalami
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pendapatan yang
rendah akan mempengaruhi kualitas maupun kuantitas bahan
makanan yang dikonsumsi oleh keluarga. Makanan yang di
dapat biasanya akan kurang bervariasi dan sedikit jumlahnya
terutama pada bahan pangan yang berfungsi untuk
pertumbuhan anak sumber protein, vitamin, dan mineral,
sehingga meningkatkan risiko kurang gizi. Keterbatasan
tersebut akan meningkatkan risiko seorang balita mengalami
stunting. Rendahnya tingkat pendapatan dan lemahnya daya
beli memunngkinkan unntuk mengatasi kebiasaan makan
dengan cara-cara tertentu yang menghalangi perbaikan gizi
yang efektif tertutama untuk anak-anak mereka.

Jumlah anggota keluarga merupakan salah satu faktor
yang berpengaruh pada pola pertumbuhan anak dan balita
dalam suatu keluarga. Jumlah anggota keluarga yang semakin
besar tanpa diimbangi dengan meningkatnya pendapatan akan
menyebabkan pendistribusian konsumsi pangan akan semakin
tidak merata. Menurut Hong (2007) prevalensi anak stunting
sama dari urutan kelahiran pertama sampai ketiga, tetapi
secara signifikan lebih tinggi pada anak keempat. Hal ini
karena urutan kelahiran berkolerasi dengan usia anak, dan

240

kompetisi untuk makanan cenderung lebih besar di rumah
tangga dengan anak yang lebih banyak.

Balita yang memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih
sedikit belum tentu terbebas dari stunting. Karena bias jadi
faktor pembagian makanan yang kurang adil dapat juga
mengakibatkan balita tersebut mendapatkan jumlah makanan
yang kurang, sehingga asupan gizinya pun kurang. Selain itu,
pola asuh yang salah seperti membiasakan anakyang lebih tua
mendapatkan jumlah makanan atau asupan gizi yang lebih
banyak di bandingkan dengan anak yang lebih muda (balita)
dapat juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
tingginya jumlah kejadian stunting pada balita yang justru
berasal dari keluarga kecil.

Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan ibu tentang
gizi yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak. Konsep
adopsi perilaku yang dikemukakan oleh Mubarak (2011) bahwa
proses pembentukan perilaku adalah evolusi dari pengetahuan
yang dapat membentuk sikap dan kemudian dapat
mempengaruhi terciptanya perilaku.

Hal tersebut dapat terwujud dengan memberikan suatu
informasi atau pengalaman responden. Sesuai karakteristik
responden dalam penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar
responden berpendidikan rendah dan pekerjaan reseponden
adalah ibu rumah tangga, hal tersebut menunjukan bahwa
tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan untuk
lebih memahami bagaimana mendidikan anak dan
mengarahkan anak dalam pendidikan serta dalam memberikan
makanan gizi seimbang sehingga dapat menunjang
pertumbuhan dan perkembangannya.

Dalam mendapatkan suatu informasi mengenai
pengetahuan gizi baik yang berasal dari pemberian informasi
yang secara sengaja misalnya dalam penyuluhan ataupun yang
berasal dari pengalaman baik yang bersifat langsung maupun
pengalaman yang tidak langsung. Hal tersebut mendorong
pengetahuan menjadi lebih baik, namun dari hasil penelitian ini
didapatkan ibu yang memiliki pengetahuan yang kurang

241

sebanyak 45 dari 70 responden. Kondisi tersebut dipengaruhi
oleh rendahnya intensitas informasi kepada responden tentang
gizi serta kurangnya partisipasi tenaga kesehatan dalam
menyampaikan informasi.

Pengetahuan tentang gizi dipengaruhi oleh beberapa
faktor antaranya umur dimana semikin tua umur seseorang
maka proses perkembangan mentalnya menjadi baik,
intelegensi atau kemampuan untuk belajar dan berpikir abstrak
guna, menyesuaikan diri dalam situasi baru, kemudian
lingkungan dimana seseorang dapat memperlajari hal-hal baik
juga buruk tergantung pada sifat dari kelompoknya, budaya
yang memegang peran penting dalam pengetahuan, dan
pendidikan merupakan hal yang mendasar untuk
mengembangkan perngetahuan, dan pengalaman yang
merupakan guru terbaik dalam mengasah pengetahuan
(Notoatmodjo, 2010).

Pendidikan ayah tidak berpengaruh secara langsung
dengan asupan gizi anak, tetapi tingkat pendidikan ibu
berpengaruh secara langsung dengan asupan gizi anak ( Boylan
et al., 2017). Hal tersebut berkaitan dengan seberapa rutin
kunjungan ke posyandu untuk mengikuti penyuluhan tentang
tumbuh kembang anak dan asupan gizi yang diperlukan oleh
anak, yang akan meningkatkan tingkat pengetahuan ibu
tentang gizi. Ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan yang
baik akan menyajikan menu makanan yang sesuai dengan
kebutuhan anak sesuai dengan usianya. Selain itu, pendidikan
orang tua mempunyai pengaruh langsung terhadap pola
pengasuhan anak yang kemudian akan mempengaruhi asupan
makan anak.

Tingkat pendidikan ayah dapat mempengaruhi
pekerjaan ayah, yang pada akhirnya akan mempengaruhi
pendapatan keluarga. Ayah dengan pendidikan tinggi
cenderung memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih
baik. Sehingga pemasukan keluarga untuk dialokasikan dalam
pembelian bahan makanan pun lebih tinggi.

242

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, N.U. 2003. Krisis Ekonomi Hancurkan Anak

Indonesia. Suara Pembaharuan Daily (on-line).

www.suaraoembaharuan.com/new/2003/01

/30/Editor/edi03, htm

Akombi, B. J., Agho, K. E., Hall, J. J., Merom, D., Astell-Burt, T., &

Renzaho, A. M. (2017). Stunting and Severe Stunting Among

Childrewn Under-5 Years in Nigeria:A Multilevel Analysis.

BMC Pediatrics, Vol 17 No 1 1-16.

Anindita, P. (2012). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu,

Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein dan Zinc dengan

Stunting pada balita usia 6-35 Bulan di Kecamatan

Tembalang Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol

1 No2 617-626.

Aramico, B., Sudargo, T., & Susilo, J. (2013). Hubungan Sosial

Ekonomi, Pola Asuh, Pola Makan dengan Stunting pada

Siswa Sekola Dasar di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten

Aceh Tengah. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia, Vol 1 No3

121-130.

Badan Pusat Statistik. (2016). Badan Pusat Statistik. Dipetik Agustus

2017, 27, dari

http://sp2016.bps.go.id/index.php/site/table?wid=340000

0000&tid=32 8&fi1=58&fi2=2. Diakses pada Agustus 2017,

27.

Beck, J. 1999. How to Raise a Brighter Child. New York: Simon &

Schuster Inc.

Chirande, L., Charwe, D., Mbwana, H., Victor, R., Kimboka, S., &

Issaka, A. (2015). Determinants of stunting and severe

stunting among under five in Tanzania: evidence from the

2010 cross sectional household survey. BMC Pediatric, Vol 15

No 165, 2-13.

Cryan, J. 1992. Successful Outcomes of Full Day Kindergarten:

More Positive Behavior and Increased Achievement in Years

After. Early Childhood Research Quarterly 7(2): 187-203.

Dakar Framework for Action Education for All.

243

Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. (2015). Profil Kesehatan di

Kabupaten Boyolali. Di undu dari web:

http://www.depkes.go.id/resources/download/

profil/PROFIL_KAB_KOTA_2015/3309_Jateng_Kab_Boyola

li_2015.pdf. di akses pada bulan Agustus 2017, 28.

Elkind, D. 1987. Miseducation: Preescholers at Risk. New York:

Knott

Filkenstein, J.M. 1983. Result in Midwestern University Professors

Study: Kindergarten Scheduling. http:flwww. kidsource

.com/29/12/03

Herman, B.E. 1984. The Case for The All Day Kindergarten.

Bloomington: Phi Delta Kappa Educational Foundation

Hurlock, E.B. 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan

Sepanjang Rentang Kehidupan (edisi 5). Alih bahasa:

lstiwidayanti & Soedjarwo. Jakarta: Erlangga

Hurlock, E.B. 1997. Perkembangan Anak (Edisi 6). Alih bahasa:

Tjandrasa & Zarkasih. Jakarta: Erlangga

Jesmin, A., Yamamoto, S., Malik, A., & Aminul, H. M. (2011).

Prevalence and Determinants of Chronic Malnutrition

Among Preschool Children: A Cross-Sectional Study in

Dhakka City, Bangladesh. J Health Pop Nutrition, Vol 29 No 4,

494-499.

Kusuma, A. R., Kusumawati, Y., & Astuti, R. (2016). Penngaruh

Pengetahuan dan Sikap Kader Terhadap Perilaku kader

Dalam Penyuluhan Gizi Balita di Posyandu Wilayah Kerja

Puskesmas Ngemplak kabupaten Boyolali. jurnal e-Biomedik.

Kartz, LG., Chard, S.D .1989. Engaging Children's Minds: The

Project Approach. Norwood: Ablex Publishing Corporation.

Kretzmann, S. 2004. Early Childhood: What are the Advantages

and Disadvantages? (on-line). htto:/fwww.dPi, state.wi.us

Media Indonesia On-line. 2003. PAUD Perlu Mendapat Prioritas.

http://www.mediainda.ca.id/11/9/2003 National

Association for the Education of Young Children. 2004. 10

Signs of a Great Preschool (on-line). b.lli!..1l

www.naevc.org/default.hlm

244

Millennium Challenga Account. (2014). Dipetik Agustus 27, 2017,

dari Stunting dan Masa Depan Indonesia info@mca-

indonesia.go.id: www.mca-indonesia.go.id

Ni'mah, K., & Nadhiroh, S. R. (2015). Faktor yang Berhubungan

D=dengan Kejadian Stunting pada Balita. Media Gizi

Indonesia, Vol 10 No 1, 13-19.

Pikiran Rakyat. 2004. PendidikanAnak-anak Sudah salah Kaprah; .,

8 Januari 2004

Psikologi Universitas Surabaya Undang Undang Republik

Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Nasional. Pasal 28 (1-6) tentang Pendidikan Anak Usia Dini.

Jakarta: Ojambatan IKAPI

Rahayu, L. S., & Sofyaningsih, M. (2011). Pengaruh BBLR (Berat

Badan Lahir Rendah) dan Pemberian ASI Eksklusif

Terhadap Perubahan Status Stunting Pada Balita di Kota

dan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Prosiding

Seminar Nasional "Peran Kesehatan Masyarakat dalam

Pencapaian MDG's di Indonesia .

Ramayana, Ibrahim, I. A., & Damayanti, D. S. (2014). Hubungan

Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian Stunting Anak Usia 24-59

Bulan Di Posyandu Asoka II Wilayah Pesisir Kelurahan

Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar Tahun

2014. Al-Sihah: The Public Health Science Journal Vol 6 No 2,

424-436

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Kementrian RI . Dipetik Agustus

2017, 27, dari http://www.dep

kes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesda

s%202013.pdf

Santrock, J.W. 1994. Child Development. Dubuque: Brown &

Benchmark.

Semba, R. D., Saskia, D. P., Kai, S., Mayang, S., Nasima, A., &

Martin, W. B. (2008). Effect Parental Formal Education On

Risk Of Child Stunting In Indonesia And Bangladesh: A

Cross Sectional Study. Johns Hopkins Bloomberg School of

Public Health, Vol 371 No 9609, 328-332.

245

Stinard, T.A. 1982. A synopsis of Research on Kindergarten
Scheduling: half Day, Everyday; Fulf Day, Alternate Day;
and PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA Full
Day, Eve"I Day

Suara Merdeka Cybernews. 2004. Tips Membangkitkan Potensi
Anak. b1!J2.lL www.suaramerdeka.com/cvbernewst
waoita/tips3.html

Sulastri, D. (2012). Faktor Determinan Kejadian Stunting pada Anak
Usia Sekolah di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang.
Majalah Kedokteran Andalas.

Suprapti, V. 1999. Psikologi Perkembangan Anak Usia Pra-Sekolah
dan lmplikasinya Pada Pendidikan. Anirna, Indonesian
Psychologlcal Journal. Volume 15 No 1 . Oktober 1999.
Fakultas

Teferi, M. B., Hussen, H. Y., Kabede, A., Adugnaw, E.,
Gebrekrstos, G., & Guesh, M. (2016). Prevalence of Stunting
and Associated factors among Children Aged 06-59 Months
In Southwest Ethiopia:A Cross-sectional Study. Department
Of Public Health, Vol 4 No 6, 1-6.

Vander,A., Sherman, J.,Luciano, D., 2001. Human Physiology: The
Mechanism of Body Function. New York: Mc Graw Hill
Companies, Inc.

Welassih, B. D., & Wirjatmadi, R. B. (2012). Beberapa Faktor yang
Berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunting. The
Indonesian Journal of Public Health, Vol 8 No 3, 8-70.

Yalew, B. M., Amsalu, F., & Bikes, D. (2014). Prevalence and
Factors Associated with Stunting, Underweight and
Wasting: A Community Based Cross Sectional Study among
Children Age 6-59 Months at Lalibela Town, Northern
Ethiopia. OMICS International, Vol 4 No 2, 1-16.

Zottarelli, L. K., Sunil, T. S., & Rajaram, S. (2007). Influence of
Parental and Socioeconomics Factors on Stunting in
Children Under 5 Years in Egypt. Eastern Mediterranean
Health Journal, Vol 13 No 6, 1330-1342.

Zaporozhets, AV., Elkonin, 0.8. 1974. The Psychology of Preschool
Children. Massachusetts: Williams Grapic Service lnc.

246

BAB 10
RESILIENSI HUBUNGAN SUAMI ISTRI
DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN

DISHARMONI KELUARGA

Hermawan Wahyu Setiadi
S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Pada dasarnya, keluarga merupakan sistem terkecil
dari masyarakat, oleh karena itu di dalam suatu
masyarakatpun sebenarnya ada sifat-sifat kekeluargaan
meski lebih longgar dibanding kekeluargaan dalam sebuah
keluarga bahkan sesungguhnya dalam kemasyarakatan
bahkan kebangsaan juga ada nilai-nilai kekeluargaan.
Keluarga dibangun dari individu-individu yang masing-
masing memiliki keunikan psikologis oleh karena itu
berbeda dengan membangun rumah yang cukup dengan
pendekatan teknis (meski ada juga psikologi bangunan),
membangun keluarga harus menggunakan pendekatan
psikologis (Mubarok, 2009: 2). Pendekatan ini juga
umumnya digunakan oleh konseling dalam mensolusi
setiap permasalahan keluarga.
Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa
memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan
hubungan yang baik antara anggota keluarga. Menurut
William J. Goode (2007: 184) Peran keluarga sangat
berpengaruh untuk perkembangan anak. Apabila orangtua
tidak dapat menjalani perannya dengan baik maka dapat
menimbulkan kekacauan dalam keluarga. Retaknya struktur
peran sosial apabila salah satu anggota keluarga gagal
menjalankan kewajiban peran mereka sehingga
mengakibatkan kekacauan dalam keluarga.

247

Keluarga merupakan forum pendidikan yang utama
terhadap anak yang menjadi dasar penting dalam
pembentukan karakter manusia itu sendiri. Untuk
terciptanya karakter yang kuat dan memiliki jiwa yang baik
pada anak, didalam keluarga perlu menciptakan suasana
keluarga yang harmonis dan dinamis. Hal tersebut dapat
tercipta jika terdapat koordinasi dan komunikasi dua arah
antara orangtua dan anak. Hubungan di dalam keluarga
antara suami dan istri tidak hanya sebatas perasaan, namun
juga menyangkut dengan rasa tanggung jawab, perhatian,
pemahaman dan keinginan untuk menumbuh kembangkan
anak. Suami dan istri yang hubungannya tidak harmonis
dapat mengembangkan masalah-masalah dalam keluarga.
Kehidupan anak sepenuhnya sangat bergantung pada
keluarga untuk terpenuhinya segala kebutuhan materi,
psikologis dan sosiologis. Kebutuhan psikologis dan
sosiologis dapat berupa penghayatan kejiwaan dan sosial
yang dialami oleh anak dalam sikap pergaulan.

Dalam kenyataan, tidak semua keluarga dapat
mencapai keluarga yang bahagia dan harmonis. Banyak
diantara keluarga mengalami masalah dalam berkeluarga
seperti masalah hubungan suami istri, ekonomi keluarga,
pendidikan anak dan lain sebagainya. Konflik dalam
keluarga tetap ada karena manusia tidak akan pernah
terlepas dari masalah. Kesulitan dalam merangkum
penyebab-penyebab masalah yang terdapat di dalam
keluarga dikarenakan setiap keluarga memiliki masalah
sendiri-sendiri (Wirawan, 1992: 17).

Menurut Ridjal (1993: 9) berkeluarga dan memiliki
keturunan merupakan keinginan setiap manusia, namun
banyak diantaranya yang melupakan makna berkeluarga itu
sendiri. Masing-masing hanya mengutamakan ego, keluarga
asal, hanya menuntut hak namun melalaikan kewajibannya,
kurangnya saling pengertian dan kasih sayang, kurang ada
komunikasi, kebersamaan, senda gurau dan lain sebagainya.
Sehingga sebagian besar waktu dihabiskan untuk bekerja,

248


Click to View FlipBook Version