Keosoema, Doni. 2009. Pendidikan Karakter di zaman keblinger.
Jakarta: Grasindo
Keosoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter Integral. Kompas, 11
Februari
Kirschenbaum, Howard & Sydney B. Simon. 1974. Values and
Futures Movement in Education,
dalam Alvin Toffler (ed.), Learning for Tomorrow: The Role of the
Future in Education,
New York: Random House.
M. Anis Matta, 2006. Membentuk Karakter Cinta Islam, Jakarta: al-
I‘tishom Cahaya Umat.
Mulyana Rahmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai,
Bandung; Alfabeta.
Mulyo, Karso. 2009. Membangun Karakter Bangsa melalui
Pembelajaran kontektual. Tersedia,
online: http//mitrawacanawrc.com
Munir Abdullah. 2010. Pendidikan Kalakter. Yogyakarta: Pedagogia.
Nata Abuddin, dkk. 2002. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum.
Jakarta; Raja Grafindo
Persada
Sulhan, Najib. 2010. Pendidikan Berbasis Karakter. Surabaya: Jape
Press Media Utama ( Jawa
Pos Grup).
Q-Anees Bambang, Hambali Adang. 2008. Pendidikan Kalakter
Berbasis Al-Quran. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media.
Sadulloh Uyoh 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung;
Alfabeta.
Shihab, M. Quraish, 1996. Wawasan al-Qur‘an: Tafsir Maudhu`I
atas berbagai Persoalan Umat.
Bandung: Mizan.
Sauri, S. 2006. Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung: Genesindo
Suwito. 2004. Filsafat Pendidikan Etika Ibnu Miskawaih,
Yogyakarta, Belukar
Soebahar Abd Halim. 2002. Wawasan Baru Pendidikan
Islam.Kalam Mulia. Jakarta
299
Supriyatno, Triyo 2009. Pendidikan Karakter di Sekolah. Tersedia,
online,
http://kahmiuin.blogspot.com.
Phillips, C. Thomas. 2000. Family as the School of Love. Makalah
pada National Conference on
Character Building, Jakarta, 25-26 Nopember.
300
BAB 13
DEGRADASI MORAL 4.0 ANAK DI INDONESIA,
BAGAIMANAKAH SOLUSINYA?
Rafiuddin
Universitas Negeri Yogyakarta/UPTD SD Negeri Kecil Palapi
[email protected]
ABSTRAK
Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia yang
memiliki lebih dari 17.000 pulau. Sekitar 7.000 pulau berpenghuni
dan tersebar sekolah dasar di dalamnya termasuk sekolah dasar
yang memiliki fasilitas yang lengkap, kurang memadai,
multikultur, serta khas kearifan lokal masing-masing.
Keanekaragaman anak yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan
dan fasilitas yang berbeda tentu menghasilkan karakter yang
berbeda pula bagi anak disetiap daerah. Pengaruh lain karakter
anak adalah kemajuan teknologi dan globalisasi yang dapat
mengancam terjadinya degradasi moral. Artikel ini bertujuan
mendeskripsikan pendidikan karakter anak di Indonesia terkait
dengan masalah degradasi moral 4.0 dan alternatif solusinya.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.
Hasil temuan yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan
anak di Indonesia utamanya usia sekolah dasar adalah keluarga,
sekolah, dan lingkungan. Cara yang tepat dalam mengatasi
degradasi moral 4.0 adalah dengan pendidikan karakter berbasis
agama dan kearifan lokal (budaya) dalam berbagai kegiatan positif
anak. Hasil dari temuan ini disarankan tripusat pendidikan tetap
menjadi relevan dan humanis sebagai pusat pendidikan anak
utamanya pendidikan karakter.
Kata kunci: pendidikan anak, pendidikan karakter, degradasi
moral
301
A. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang majemuk yang diikat
oleh satu pandangan hidup yang sama yaitu Pancasila serta
semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda namun tetap
satu jua). Kemajemukan inilah yang membawa salah satu
faktor banyaknya permasalahan yang ada di dalamnya
utamanya pendidikan anak di Inonesia dalam hal karakter.
Pendidikan karakter sudah menjadi tujuan pendidikan nasional
yang telah tuangkan dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan
nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab‖. Secara tersirat tujuan tersebut akan
tercapai dengan diterapkannya pendidikan karakter di sekolah
agar masyarakat Indonesia memiliki core value yang bersumber
pada nilai-nilai ketuhanan dan akhlak mulia karena pendidikan
nilai merupakan bagian yang penting dalam sistem pendidikan
di Indonesia saat ini apalagi banyaknya terjadi degradasi moral
baik terhadap guru terlebih khusus peserta didik (anak) itu
sendiri.
Melihat fakta yang terjadi apalagi diterapkannya
pembelajaran jarak jauh (daring), pendidikan karakter seakan
menjadi pendidikan nilai yang tidak mendapatkan tempat yang
jelas tergantung peran orang tua dalam pendampingan anak
belajar daring. Degradasi moral yang terjadi seperti aksi
tawuran antarpelajar yang menimbulkan korban dan merusak
lingkungan, perbuatan asusila terhadap siswa lain, kecurangan
dalam ujian nasional yang marak akhir-akhir ini adalah contoh
kongkret telah bergesernya nilai-nilai budaya dan sosial di
kalangan pelajar yang dapat menjadi masalah serius demi
pembangunan bangsa Indonesia (Priyono, Abu, Ahmadi, 2006 :
48), contoh lain kasus penyimpangan yang terjadi di Indonesia
disebabkan oleh perilaku guru hingga berujung pada laporan
302
di kepolisian sebagaimana diberitakan oleh media online
bahwa seorang guru SD di Desa Cintamulya Kecamatan
Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat dilaporkan ke
Mapolres Jatinangor karena adanya pelecehan seksual guru
agama terhadap muridnya (Saputra, 2017). Kasus lainnya aksi
tindakan arogan guru Sekolah Dasar memukul siswanya
karena tidak mengerjakan PR juga terjadi di SD Negeri 4 Sawah
Lama Lampung yang dilakukan oleh Rompidah saragih guru
matematika sekaligus guru agama Kristen (Saputra, 2016).
Penyebab permasalahan degradasi moral bukan bersumber
pada siswa itu sendiri melainkan pada guru yang
bersangkutan. Kurangnya nilai-nilai karakter dalam
pembelajaran dan kompetensi kepribadian guru bisa menjadi
penyebab utama yang perlu diperhatikan secara serius. Nilai-
nilai karakter yang bersumber dari budaya setempat maupun
nilai-nilai karakter bangsa yang terkikis dapat terjadi akibat
pengaruh globalisasi. Jati diri bangsa yang berasal dari karakter
kebudayaan Indonesia yang telah melekat dalam kepribadian,
baik dalam tindakan maupun dalam ucapan telah dipengaruhi
oleh budaya luar. Perilaku dan jati diri bangsa juga akan
semakin tidak terkontrol, hal ini disebabkan oleh pengaruh era
globalisasi yang melibatkan hubungan antara bangsa tanpa
sekat. Nieto dan Booth (2010) mengatakan bahwa
pengintegrasian kompetensi budaya dalam berbagai profesi
sebenarnya menjadi dasar kebermaknaan pelayanan
profesional, termasuk juga layanan yang berpengaruh kepada
budaya, agama, dan ideologi yang mampu merasuki pola pikir
dan bertindak masyarakat yang akhirnya dapat mengancam
karakter penerus bangsa.
Pemerintah mewajibkan setiap guru Indonesia minimal
memiliki empat kompetensi profesional diantaranya yaitu
kompetensi kepribadian yang berkaitan dengan karakter guru
itu sendiri. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Republik
Indonesia nomor 14 tahun 2005 pada BAB IV pasal 10 ayat 1
bahwa kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
303
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh
melalui pendidikan profesi, oleh karena itu pembentukan
karakter guru mesti dibentuk dalam dunia pendidikan
(Mulyasa, 2013). Permasalahan dunia pendidikan yang paling
urgen sekarang ini adalah kompetensi kepribadian sebagai
seorang guru dalam berinteraksi dengan siswa, orang tua
siswa, masyarakat, dan lembaga sekolah, serta pemerintah.
Adanya nilai-nilai karakter positif yang melekat pada diri
seorang guru merupakan modal awal dalam mendidik anak-
anak yang juga akan memiliki nilai-nilai karakter baik yang
berlaku seperti mata uang. Revitalisasi pendidikan nilai
karakter bagi anak merupakan modal utama dalam
memperbaiki pendidikan anak dimasa era globalisasi saat ini.
B. Hasil Dan Pembahasan
1. Degradasi Moral 4.0
Kemajuan teknologi di era digital keberadaanya
sebagai multisentra pendidikan tidak dapat dibendung
keberadaanya utamanaya internet. Teknologi komunikasi
dan informasi berbasis internet merupakan bagian utama
dari revolusi 4.0. Penggunaan internet pada generasi milinial
sudah menjadi kebutuhan bahkan melekat dalam
kehidupan sehari-hari. Internet semakin mudah untuk
diakses melalui gawai sehingga berbagai konten dan
informasi diperoleh tanpa mengenal jarak, waktu dan usia
sangat tersedia. Menurut Sahronih (2018) penggunaan
internet melalui gawai bisa dimana saja dan kapan saja
seolah menjadikan dunia dalam genggaman. Smartphone
menjadi alat komunikasi yang selalu dibawa untuk dapat
mengakses google, youtube, instagram, whatsapp, facebook, dan
segala macam media sosial lainnya yang bisa diakses selama
bisa tehubung ke jaringan internet. Alat komunikasi gawai
sudah lazim dimiliki oleh siswa sekolah dasar, terkhusus
adanya pembelajaran jarak jauh akibat pandemi covid-19
ini. Penggunaan gawai oleh siswa sekolah dasar
memberikan dampak positif seperti pembelajaran dalam
jaringan dengan menggunakan aplikasi zoom, google meet,
304
webex, class dojo, edmodo, whatsapp group dan lainnya, namun
terdapat sisi negatif seperti iklan konten yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai karakter bangsa, nilai-nilai kearifan lokal,
karakteristik perkembangan anak dan usianya. Menurut
Munir (2008) sisi positif dari adanya perkembangan
teknologi tersebut pun menjadikan mobilitas yang
dilakukan oleh manusia lebih mudah dan lebih canggih
dalam segala hal sedangkan dampak negatif dari
perkembangan teknologi adalah kemerosotan
moral/degradasi moral. Degradasi moral dari pengaruh
internet sangat memungkinkan karena pintu akses konten
internet tanpa batasan usia membuat dampak negatif bagi
anak-anak. Degradasi moral sering terjadi di lingkungan
sekolah dasar seperti siswa yang tidak jujur (berbohong),
sikap tidak sopan santun (sembrono) terhadap guru dan
teman-teman kelas dalam berbicara serta menunjukkan
eksistensi berlebihan di media sosial layaknya orang
dewasa. Degradasi moral siswa di sekolah dasar paling
mengkhawatirkan yaitu 68 % siswa sekolah dasar sudah
aktif mengakses konten porno (Zubaidah, 2013).
Penyelesaikan permasalahan degradasi moral tersebut
pendidikan karakter merupakan salah satu solusi dari peran
pendidik dilingkungan sekolah utamayanya revitalisasi
nilai-nilai pangngadakkang tupanrita sebagai kearifan lokal
suku Makassar. Samani dan Hariyanto (2013) menagatakan
bahwa pendidikan karakter adalah sebagai upaya yang
dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter
siswa. Secara garis besar pendidikan karakter diterapkan
untuk membentuk atau membimbing bagaimana agar
manusia memiliki sikap dan moral yang baik. Sejalan
dengan penelitian Çobanoğlu dan Demir (2014) di Turki
menunjukkan bahwa pendidikan karakter merupakan fokus
utama dalam mendidik anak di sekolah yang secara sadar
maupun tidak sadar mengajarkan anak untuk berpikir
secara kognitif yang harus sejalan dengan keterampilan
soisal dan emosional. Pemerolehan nilai-nilai nasional dari
305
nilai-nilai universal yang diperoleh di masyarakat kembali
diulas dalam dunia pendidikan di sekolah. Penanaman nilai-
nilai tersebut dimaksudkan agar anak dapat berpikir secara
global namun tidak melanggar nilai-nilai nasionalisme
mereka sebagai warga negara Turki.
Niali-nilai karakter dapat terwujud setelah siswa
memasuki lingkup interaksi yang lebih luas. Beberapa pusat
pendidikan seperti keluarga, sekolah, masyarakat menjadi
unsur yang sangat berpengaruh dan bertanggung jawab
dalam revitalisasi nilai-nilai karakter bangsa. Keterlibatan
orang tua merupakan sesuatu yang tren dalam reformasi
kurikulum di Hong Kong yang menjadikan orang tua
berperan aktif dalam urusan sekolah yang dikenal dengan
istilah ―Gubernur sekolah‖ (Ng dan Yuen, 2015) hal ini
untuk menjadikan sekolah dan rumah sebagai tempat yang
stategis untuk menanamkan nilai-nilai pada siswa.
Selanjutnya, guru juga sangat berperan penting dalam hal
revitalisasi nilai-nilai karakter dalam mencegah terjadinya
degradasi moral baik pada diri sendiri maupun bagi siswa
dan lingkungannya. Hal ini merupakan salah satu
kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam mendidik
yaitu kompetensi kepribadian. Kompetensi seorang guru
memiliki kajian yang sangat kompleks. Namun secara
konstitusional berdasarkan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 14 tahun 2005 Pasal 10 ayat 1 tentang
Guru dan Dosen bahwa kompetensi yang harus dimiliki
seorang guru minimal meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional. Keempat kompetensi tersebut wajib dimiliki
oleh guru karena hal ini merupakan kompetensi dasar,
dimana kemampuan mengelola pembelajaran, kepribadian
yang mantap dan berakhlak mulia, arif, dan berwibawa,
penguasaan materi secara luas dan mendalam, serta
kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi secara efisien
dengan lingkungan sekitar sangatlah penting (Nur
Irwantoro dan Yusuf Suryana, 2016: 2). Selain kompetensi
306
yang merupakan tuntutan bagi guru, nilai-nilai budaya
sebagai kearifan dari nilai-nilai lokal menjadi terpadu dan
selalu terintegrasi dengan kompetensi guru secara
konstitusional baik dalam pembelajaran maupun di luar
pembelajaran karena guru adalah role model baik terhadap
siswa maupun masyarakat.
Ada empat faktor utama dalam degradasi moral 4.0
yaitu gawai, internet, media sosial, dan game online. Lohr
(Sawyer and Williams, 2011) menyatakan bahwa gawai
adalah telepon seluler yang dilengkapi dengan prosesor
mikro, memori, tampilan layar dan modem built-in.
Manusia dimudahkan dengan adanya teknologi gawai yang
bisa digunakan untuk komunikasi jarak jauh, akan tetapi
jika tidak digunakan secara humanis maka bisa
menimbulkan banyak hal negatif. Internet (inter-network)
merupakan jaringan yang menggabungkan beberapa
komputer yang terhubung dalam sebuah internet protocol
(IP) yang mencakup secara luas ke seluruh dunia. Jaringan
tersebut membawa informasi dan beberapa layanan seperti
surat elektronik (email), obrolan (chatting), pindai data
(transfer file), dan web (Utomo & Syafrudin, 2009). Media
sosial adalah situs jaringan sosial berbasis web yang
memungkinkan bagi setiap individu untuk membangun
profil publik ataupun semi public dalam sistem terbatas,
daftar pengguna lain dengan siapa mereka terhubung dan
melihat serta menjelajahi daftar jaringan mereka yang
dibuat oleh orang lain dengan suatu sistem (Henderi, 2007).
Sosial media adalah platform (perangkat lunak) yang
digunakan untuk interaksi dan bertukar informasi di dunia
maya seperti memperoleh kawan atau menemukan kawan
lama, berbagi cerita, berbagi kebahagiaan melalui tulisan,
foto bahkan video. Namun sosial media juga dapat
digunakan untuk hal negatif contohnya untuk wadah
promosi menjual diri, untuk pamer, dan untuk penipuan
jual beli. Menurut Samuel (2010) game online adalah
permainan berbasis internet sebagai jaringan interaksi
307
antara satu gamers dengan yang lainnya dalam dunia
virtual. Game online adalah permainan digital yang
diaplikasikan melalui media komputer atau gawai
dimainkan secara online/menggunakan akses internet.
Game online menjadi hiburan yang paling diminati anak-
anak usia sekolah bahkan orang dewasa sehingga
banyaknya games online membuat gamers (pecandu game)
lupa akan waktu, lupa belajar bahkan ada yang terganggu
psikisnya karena kecanduan game online, secara tidak
langsung maupun langsung hal ini dapat mengakibatkan
degradasi moral pada era disrupsi ini.
Degradasi moral siswa sekolah dasar semakin
memprihatinkan dalam interaksi sosial yang menunjukkan
nilai yang tidak bermoral. Perkembangan berita di media
massa menampilkan berita banyaknya penyimpangan-
pernyimpangan perilaku oleh siswa sekolah dasar, seperti
perkelahian antar pelajar, pemerkosaan, bullying, narkoba,
pelecehan seksual, mabuk dan merokok dilingkungan
sekolah. Penyimpangan perilaku jika tidak segera diatasi
akan menjadi persepsi seolah-olah menjadi hal yang biasa.
Degradasi moral akibat menonton tayangan dewasa
membuat anak seusia sekolah dasar sudah mengalami
penurunan akhlak dan moral. Inilah yang sangat
menghawatirkan sehingga revitalisasi nilai-nilai
pangngadakkang tupanrita dalam mencegah degradasi moral
4.0 harus dijalankan secara optimal dan berkesinambungan
dalam pembelajaran karakter di sekolah dasar.
2. Pendidikan Karakter
Karakteristik berasal dari kata "characteristic" yang
berarti sifat yang khas. Sifat khas inilah yang membedakan
antara individu dengan individu yang lainnya. Karakter
adalah wujud pemahaman dan pengetahuan seseorang
tentang nilai-nilai mulia dalam kehidupan yang bersumber
dari tatanan budaya, agama dan kebangsaan seperti : nilai
moral, nilai etika, hukum, nilai budi pekerti, kebajikan dan
308
syari‘at agama dan budaya yang diwujudkan dalam sikap,
perilaku dan kepribadian sehari-hari hingga mampu
membedakan satu dengan lainnya. Hakekat pendidikan
karakter bukan hanya harus dipahami dan diketahui
ataupun hanya diajarkan tetapi harus diteladani. Karakter
individu yang terbentuk tersebut diharapkan akan
membangun karakter-karakter daerah dan bangsa sesuai
dengan harapan dan cita-cita luhur dalam tujuan
pendidikan nasional. Gunarto (2004 : 22) mengatakan bahwa
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, budaya dan
nilai kebangsaan yang diaktualisasikan dalam kehidupan
sehari-sehari menjadi suatu pembiasaan yang melekat. Salah
satu contoh nilai-nilai karakter tersebut dalam norma-norma
agama dan budaya dapat dilihat pada gambar berikut:
309
Gambar 1. Gemar membaca kitab suci (kiri),
gotong-royong dalam kegiatan budaya dan keagamaan
(kanan).
Sistem pendidikan nasional di Indonesia dalam
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, dinyatakan bahwa
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
310
bangsa dan negara. Pendidikan karakter adalah pendidikan
budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action), tanpa
ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan
efektif dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara
sistematis dan berkelanjutan serta mampu membedakan
satu dengan lainnya (Lickona, 2012). Seorang anak yang
memiliki pendidikan karakter yang baik akan menjadi
cerdas emosinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel
(2007 : 89) tentang ―Keberhasilan seseorang di masyarakat,
ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ), dan
hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ)‖. Dalam
kajian tersebut dibahas delapan pendekatan pendidikan
nilai berdasarkan kepada berbagai literatur dalam bidang
psikologi, sosiologi, filosofi dan pendidikan yang
berhubungan dengan nilai. Namun, selanjutnya
berdasarkan kepada hasil pembahasan dengan para
pendidik dan alasan-alasan praktis dalam penggunaannya
di lapangan, pendekatan-pendekatan tersebut telah
diringkas menjadi lima jenis pendekatan (Superka, 2006 : 78)
yaitu Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach);
Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral
development approach); Pendekatan analisis nilai (values
analysis approach); Pendekatan klarifikasi nilai (values
clarification approach); dan Pendekatan pembelajaran berbuat
(action learning approach). Di Negara Turki sendiri,
pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah
meruapakan bagian penting dalam kurikulum tersembunyi
pada pendidikan yang ada di Negara tersebut. Meskipun
pendidikan karakter dipisahkan dari kurikulum nasional
mereka, namun secara sadar atau tidak sadar dampaknya
sangat dirasakan, pendidikan nilai sangat penting yang
tentunya bukan hanya lingkungan kognitif siswa yang
dibangun namun juga lingkungan fisik dan emosinal
mereka adalah sama pentingnya. Penelitian Çobanoğlu dan
Demir (2014) di Turkey menunjukkan bahwa pendidikan
311
karakter merupakan fokus utama dalam mendidik anak di
sekolah yang secara sadar maupun tidak sadar
mengajarkananak untuk berpikir secara kognitif dan sejalan
dengan keterampilan soisal dan emosional. Pemerolehan
nilai-nilai nasional dari nilai-nilai universal yang diperoleh
di masyarakat kembali diulas dalam dunia pendidikan di
sekolah. Penanaman nilai-nilai tersebut dimaksudkan agar
anak dapat berpikir secara global namun tidak melanggar
nilai-nilai nasionalisme mereka sebagai warga negara Turki.
Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2017), 18
nilai karakter bangsa wajib dimasukkan dalam proses
pembelajaran sejak tahun 2011 hingga saat ini pada
kurukulum 2013 di sekolah dasar meliputi: 1) Religius yaitu
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan
ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain. 2) Jujur yaitu Perilaku yang didasarkan pada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. 3)
Toleransi yaitu Sikap dan tindakan yang menghargai
perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan
tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. 4) Disiplin
yaitu Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5) Kerja
Keras yaitu Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.Jadi dengan
peirlaku tertib ini dapat membangun karakter siswa dalam
kehidupan nyata. 6) Kreatif yaitu Berpikir dan melakukan
sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.7) Mandiri yaitu Sikap dan
perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain
dalam menyelesaikan tugas-tugas. 8) Demokratis yaitu Cara
berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain. 9) Rasa Ingin Tahu yaitu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui
lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
312
dipelajarinya, dilihat, dan di dengar. 10) Semangat
Kebangsaan yaitu Cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 11) Cinta
Tanah Air yaitu Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan
yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya. 12) Menghargai Prestasi
yaitu Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 13)
Bersahabat/Komunikatif yaitu Sikap dan tindakan yang
mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain. 14) Cinta Damai yaitu
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 15)
Gemar Membaca yaitu Kebiasaan menyediakan waktu
untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan
kebajikan bagi dirinya. 16) Peduli Lingkungan yaitu Sikap
dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan
pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan
upaya-upaya untuk memperbaiki.Hal inis angat penting
mengingat bahwa siswa seringkali berinteraksi dengan
masyarakat sekitar. 17) Peduli Sosial yaitu Sikap dan
tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang
lain dan masyarakat yang membutuhkan. dan 18) Tanggung
Jawab yaitu Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya
dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan
(alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha
Esa.
Pada implementasi gerakan penguatan
pendidikan karakter, dari 18 nilai-nilai karakter tersebut
dikristalkan menjadi 5 nilai dasar pendidikan karakter yaitu:
(1) Nilai religius sebagai pencerminan sikap keberimanan
313
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam
perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang
dianut, menghargai perbedaan agama, menjujung tinggi
sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan
kepercayaan lain, serta hidup rukun dan damai dengan
agama lain. Nilai karakter religius meliputi tiga dimensi
relisasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan,
individu dengan sesama, dan individu dengan alam
semesta. Nilai karakter religius ditunjukkan dalam perilaku
mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan. Secara
keseluruhan sub-sub nilai yang terkandung dalam nilai
religius meliputi cinta damai, toleransi, menghargai
perbedaaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian,
percaya diri, kerja sama antar-pemeluk agama dan
kepercayaan, anti buli dan kekerasan, persahabatan,
ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai
lingkungan, serta melindungi yang kecil dan tersisih. (2)
Nilai nasionalis yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat
yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan
yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, dan politik bangsa, serta menempatkan
kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan
kelompoknya. Sub nilai nasionalis yang lain seperti sikap
untuk mengapresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga
kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul,
berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat
hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku,
dan agama. (3) Nilai mandiri merupakan sikap dan perilaku
tidak bergantung kapada orang lain dan mempergunakan
segala tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan
harapan, mimpi, dan cita-cita yang ditunjukkan dengan etos
kerja atau kerja keras, tangguh, tahan banting, daya juang,
profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar
sepanjang hayat. (4) Nilai gotong royong sebagai cerminan
tindakan menghargai, semangat kerjasama dan bahu
membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin
314
komunikasi dan persahabatan, serta memberi bantuan dan
pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Nilai
lain dari sikap gotong royong yang perlu dikembangkan
seperti inklusif, komitmen atas keputusan bersama,
musyawarah mufakat, solidaritas, empati, anti deskriminasi,
anti kekerasan, dan sikap kerelawanan. dan (5) Nilai
integritas yaitu nilai perilaku yang didasarkan kepada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan,
memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai
kemanusiaan dan moral. Sub nilai dari integritas
diantaranya sikap tanggung jawab sebagai warga negara,
aktif terlibat dalam kehidupan sosial, serta konsistensi
tindakan dan perkataan yang berdasarkan atas kebenaran.
Alur kristalisasi penguatan pendidikan karakter menurut Ki
Hajar Dewantara (1962) sampai 5 nilai utama karakter dapat
dilihat pada gambar berikut:
315
Gambar 2. Nilai-Nilai Karakter Bangsa
Alterntif solusi: Degradasi Moral 4.0 Anak di Indonesia
Pendidikan karakter atau pendidikan yang berbasis
pada pembangunan karakter siswa menjadi kebutuhan
generasi milenial bangsa Indonesia dalam menghadapi
revolusi mental 4.0. Degradasi moral yang terus menerus
terjadi pada generasi bangsa ini dan nyaris membawa
bangsa ini pada kehancuran. Budaya korupsi yang seakan
telah mengakar pada kehidupan bangsa ini mulai dari
tingkat kampung hingga pejabat tinggi negara,
penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang semakin
menggurita, tawuran antarpelajar dan berbagai kejahatan
yang telah menghilangkan rasa aman setiap warga,
merupakan bukti nyata akan degradasi moral generasi
bangsa ini. Melindungi generasi bangsa ini adalah tugas
guru khususnya guru di sekolah dasar untuk memberikan
bekal sebagai pondasi bagi generasi bangsa yang tentunya
316
harus dibarengi dengan nilai-nilai agama utamanya nilai-
nilai islami bagi anak muslim karena mayoritas penduduk
Indonesia adalah beragama Islam. Upaya yang dilakukan
untuk menanamkan nilai-nilai karakter di sekolah dasar
yang di integrasikan dengan nilai-nilai islami pernah
dilakukan oleh seorang bapak yang bernama Luqman yang
memberikan didikan kepada anaknya yang Allah abadikan
dalam Al-Qur‘an Surah ke 31 Ayat 12-19 diantaranya yaitu
mendidik anaknya untuk memurnikan Tauhid (tidak
menyekutukan Allah) dalam sila pertama pancasila yaitu
Ketuhanan yang Maha Esa, berbuat baik kepada kedua
orang tua (maupun kerabat dan orang lain), bersyukur atas
nikmat yang Allah berikan, mematuhi orang tua kecuali
meminta menyekutukan Allah namun tetap berbuat baik
kepada kedua orang tua, segala perbuatan akan
dipertanggungjawabkan dan akan diberi balasan,
laksanakan perintah Allah (sholat, berdakwah yaitu
mengajak manusia ke jalan Allah dan mencegah
kemungkaran, dan sabar), menghindari sifat sombong dan
membanggakan diri, serta sederhana dalam hal bertutur,
berbuat, dan bertindak. Indonesia khusunya Negara yang
mayoritas penduduknya adalah muslim memerlukan
sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang
berkualitas dalam meneruskan cita-cita bangsa ini.
Pemenuhan keperluan bangsa akan sumber daya yang
berkualitas dan mampu bersaing dalam era industri 4.0 ,
pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan
untuk arah ke depan bangsa. Hal ini sesuai dengan Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Pasal 3 yang menyebutkan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk
mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
317
berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Berdasarkan pengalaman empirik sebagai data primer
yang dilakukan di salah satu sekolah di Sulawesi Barat,
beberapa upaya dalam mengantisipasi terjadinya degradasi
moral 4.0 bagi anak serta penanaman nilai karakter berbasis
Islami dalam pembelajaran yaitu dengan mengintegrasikan
nilai-nilai agama (islam) dan kearifan lokal dalam
pembelajaran tematik yang dimaksudkan agar siswa dapat
mensyukuri dan mengetahui hakikat ilmu pengetahuan
yang bersumber dari Al-Qur‘an sebagai firman Allah dan
Hadits sebagai sabda Rasulullah. Hal ini juga membuktikan
bahwa pembelajaran yang ada dalam kurikulum 2013 yang
tengah diterapkan dalam sistem pendidikan (kurikulum
pendidkan) di Indonesia sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Beberapa contoh integrasi nilai-nilai islam
baik dalam pembajaran tematik mapun pada mata pelajaran
yang telah berdiri sendiri seperti matematika, dan
pendidkan jasmani olahraga dan kesehatan yaitu: (a)
Integrasi nilai-nilai islam dalam pembelajaran tematik
muatan pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) tema
selamatkan makhluk hidup kelas VI diantaranya yaitu
menjelaskan tentang proses penyerbukan pada tumbuhan
dalam perkembangbiakan secara generatif melalui bantuan
angin pada tanaman jagung (QS. Al-Hajr [15] : 22)
https://youtube.be/wTuL6xavV0c dan menjelaskan tentang
perkembangbiakan hewan dengan proses penciptaan hewan
(QS. An-Nur [24] : 45). (b) Integrasi nilai-nilai islam dalam
pembelajaran tematik muatan pelajaran ilmu pengetahuan
sosial (IPS) tema selamatkan makhluk hidup kelas VI
diantaranya yaitu mengenai keberagaman anggota Negara-
negara ASEAN. Hal ini menjelaskan tentang kekuasaan
Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda-
beda baik bangsa, suku, agama, ras, dan lainnya namun
dapat hidup damai saling berdampingan (QS. Al-Hujurat
[49] : 13). (c) Integrasi nilai-nilai islam dalam pembelajaran
318
tematik muatan pelajaran pendidikan kewarganegaraan
(PKn) tema selamatkan makhluk hidup kelas VI diantaranya
yaitu dalil yang bersumber dari Al-Qur‘an yang berkenaan
dengan sila pancasila pada materi penerapan nilai-nilai
pancasila sila 1 ketuhanan Yang maha Esa (QS. Al-ikhlas 1-4,
Al-Hasyr 22-24, Al-Maidah 73, Al-Baqarah 256), sila 2
kemanusiaan yang adil dan beradab (QS. At-Tiin 4, Al-Isra
70, Al-Hujurat 11, Al-Maidah 2, dan Al-Insaan 2), sila 3
persatuan Indonesia (QS. Al-Hujurat 13, Al-Hujurat 9, Al-
Hujurat 10, An-Nisaa 59), sila 4 kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan (QS. As-Syuura 38, Al-
Mujadilah 11, Al-Mujadilah 9), dan sila 5 keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia (QS. An_Nahl 71, Al-Imran
180, Al-Furqaan 67, Al-Hadiid 11, Adz-Dzariyat 19, Al-
Ma‘un 1-3). (d) Integrasi nilai-nilai islam dalam
pembelajaran tematik muatan pelajaran seni budaya dan
prakarya (SBdP) tema selamatkan makhluk hidup kelas VI
diantaranya yaitu larangan menggambar patung yang
memiliki ruh seperti patung manusia dan hewan sehingga
alternatif pilihan yaitu membuat perabot rumah tangga
yang bahan dasarnya berasal dari tanah liat (HR. Bukhari
No. 5954 dan 2105 serta HR. Muslim No. 2107, dalam M.
Abduh Tausikal: 2013) https://youtu.be/9NsuewZCPf8
serta menggambar bunga nasional Negara-negara ASEAN
dengan menjelaskan hakikat penciptaan bunga dan
dijadikannya bunga sebagai manzilah kehidupan dunia (QS.
Thahaa [20] : 131). (e) Integrasi nilai-nilai islam dalam mata
pelajaran matematika diantaranya yaitu fakta menarik
tentang nilai phi dalam menghitung luas dan keliling pada
lingkaran serta hubungannya dengan proses tawaf pada
kegiatan haji dan umroh umat islam dan kaitannya dengan
peletakan surah Al-Hajj sebagai surah ke 22 dalam Al-
Qur‘an (QS. Al-Hajj [22] : 29). (f) Nilai karakter yang muncul
adalah religius, integritas, nasionalisme, gotong-royong, dan
mandiri seperti pada gambar berikut:
319
Gambar 3. Integrasi pendidikan karakter dengan
pendekatan agama dan kearifan lokal dalam Pembelajaran
Tematik (kiri dan tengah) dan Mata Pelajaran Matematika
kanan.)
Penanaman nilai karakter (pendidikan karakter bukan
hanya dilakukan pada kegiatan dala proses pembelajaran.
Akan tetapi dalam berbagai kegiatan sekolah seperti: 1)
Kegitan Literasi Al-Qur‘an. Kegitan ini dilaksanakan
sebelum membaca buku non-pelajaran sekitar 5 menit.
Waktu yang dibutuhkan untuk mendalami kitab suci Al-
Qur‘an setiap hari adalah 20 menit sebelum pelajaran
dimulai termasuk kegiatan membaca buku non-pelajaran.
320
Adapun tahapan yang dilakukan yaitu: (a) Siswa
melanjutkan bacaan ayat / membaca ayat minimal 2 dan
maksimal 5-7 ayat setiap hari (tergantung panjang
pendeknya ayat); (b) Siswa melanjutkan mempelajari
terjemahannya; (c) Mengambil hikmah/pesan dalam ayat
yang dibaca; (d) Menyampaikan kepada temannya tentang
pesan apa yang diperoleh dari sebuah ayat yang dibaca; (e)
Diskusi singkat; (f) Penjelasan guru mengenai ayat yang
dibahas pada hari itu; (g) menanyakan jika ada yang tidak
dipahami; (h) Penjelasan lanjutan (baik oleh temannya
sendiri dibawah pengawasan guru maupun penjelasan
langsung dari guru); (i) membuat letter setiap satu minggu
mengenai hikmah dari sebuah ayat yang pernah siswa baca;
(j) Menempelkan pada dinding literasi atau kamar rumah
siswa; dan yang terakhir (k) Aplikasi dalam kehidupan
sehari-hari isi kandungan Al-Qur‘an. Nilai karakter yang
muncul yaitu religious, integritas, mandiri. 2) Weekand anak
dalam (WAD) dilakukan setiap akhir pekan dan waktu libur
siswa. WAD muncul karena beberapa siswa belum
pernah/cenderung tidak pernah di ajak oleh orang tuanya
untuk pergi liburan atau mengunjungi sebuah tempat baik
itu tempat umum seperti pasar terlebih tempat wisata. Salah
satu faktor yang mengakibatkan siswa yang tinggal di
pedalaman Palapi kurang menikmati masa kecil mereka di
luar kampungnya karena kesibukan orang tua mereka
dalam mencari nafkah di kebun maupun di empang mereka.
Munculnya program WAD dengan kerjasama orang tua
siswa yaitu setelah gempa bumi menghantam Palu yang
mengakibatkan daerah pinggir laut ini terkena dampaknya
maka kepindahan guru timggal ke daerah yang lebih jauh
dari pantai inilah yang membuat program WAD
dilaksanakan. Siswa dalam program WAD akan membuat
laporan perjalanan setelah melakukan kegiatan WAD,
mendeskripsikan apa yang merupakan pengalaman baru
yang mereka dapatkan dalam perjalanan mereka. WAD
selain wali kelas, keterlibatan orang tua sangat membantu
321
guru kelas (wali kelas) dalam kegiatan ini. Orang tua siswa
diminta sesekali meluangkan waktu untuk mengajak
anaknya pergi mengunjungi tempat-tempat umum,
misalnya museum untuk mempelajari sejarah, kota untuk
mempelajari kondisi dan keadaan masyarakat diperkotaan,
mengajak menggunakan ATM dan bertransaksi,
memberikan uang misalnya Rp. 50.000 kemudian membuat
daftar belanja dan melaporkan apa yang dibelinya di pasar,
dan masih banyak yang lainnya. Nilai karakter yang muncul
yaitu integritas, nasionalisme, mandiri. Kegiatan literasi Al-
qur‘an dan WAD dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4. Literasi Al-qur‘an (kiri), Weekand Anak Dalam
tengah dan kanan.
322
Selain kegiatan tersebut di atas, kegiatan lainnya
yaitu: 1) Dinding Literasi merupakan dinding untuk mengisi
ruang-ruang kelas utamanya dinding yang masih kosong
mengenai bacaan sumber nformasi terkait pelajaran yang
akan dibahas dalampembelajaran di kelas. Kurangnya
sumber informasi merupakan asal-usul munculnya ide
untuk membuat dinding literasi. Pada dinding literasi,
selain informasi terkait pelajaran yang akan dibahas di
dalam kelas, maka karya siswa juga ikut meramaikan
dinding literasi tersebut. Nilai karakter yang muncul
integritas, nasionalisme, gotong royong, mandiri. 2)
Pembinaan Siswa Palapi Bercahaya (PSPB). Pembinaan
siswa Palapi bercahaya dilakukan setiap sore hari yaitu dua
kali sepekan. Pembinaan ini diberikan kepada siswa yang
masih membutuhkan bimbingan dalam membaca dan
mempelajari Al-Qur‘an dengan metode Iqra. Siswa yang
telah bagus bacaannya akan menerima materi ilmu tajwid
dasar, bimbingan sholat, puasa, wudhu, dan lainnya. Pada
kegiatan ini, sesekali di selingi dengan pengembangan diri
seperti membuat karya, praktik membaca puisi, menari
(khusus siswa perempuan), serta kegiatan lain seperti
karaoke lagu-lagu nasional dan daerah nusantara. Karakter
yang muncul yaitu religious dan mandiri. 3) Dapur Kita.
Siswa selain dibekali dengan ilmu agama, memiliki
kecakapan hidup dalam menghadapi era industry 4.0 sangat
penting untuk menumbuhkan kecakapan hidup mandiri,
dan mampu membaca situasi daerahnya untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dapur kita
hadir sebagai solusi bagi siswa untuk membekali mereka
dalam memberikan keterampilan mengolah sumber daya
alam yang ada di daerah Palapi untuk kemudian dapat
berguna dan memiliki daya saing tinggi, selain menciptakan
maskan Indonesia yang kaya akan rasa. Contoh hasil karya
siswa diantaranya yaitu mengolah buah sukun menjadi
gorengan keripik seribu rasa, membuat lauk insan tudang
dari ikan bandeng dan udang, membuat kue penganan dari
323
bahan dasar ubi jalar, dan lainnya
https://youtu.be/IVNdzAoMzB0. karakter yang muncul yaitu
integritas, nasionalisme, gotong royong, dan mandiri. 4)
Program Cahaya Hati. Program cahaya hati adalah program
yang dilakukan untuk membantu siswa yang tidak mampu
untuk membeli Al-Qur‘an dan terjemahannya karena latar
belakang kondisi ekonomi keluarganya. Program cahaya
hati dimaksudkan agar satiap siswa kelas VI SD Negeri
Kecil Palapi memiliki Al-Qur‘an dan terjemahannya serta
membiasakan untuk membaca setiap hari dan mengambil
hikmah dan manfaat dari Al-Qur‘an dan melaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan agar siswa
bukan hanya mampu bersaing di era industry 4.0 namun
siswa juga tetap memiliki adab dan akhlak serta budi
pekerti atau nilai-nilai karakter yang positif di masa
mendatang. Program cahaya hati ini dilakukan sesuai
mottonya ―membumikan Al-qur‘an, mempelajari isinya dan
mengamalkannya, ayo kita pasti bisa!‖ satu siswa satu Al-
Qur‘an dan terjemahannya. Karakter yang muncul yaitu
religius. 5) Program Ayo Menjelajah adalah program yang
diperuntukkan untuk menjelajah mulai dari lingkungan
tempat tinggal sampai sejauh mungkin. Program ini selain
dilakukan untuk di daerah sendiri, program ayo menjelajah
juga dilakukan melalui bantuan video dalam mempelajari
Negara-negara yang ada di dunia serta alam semesta. Selain
itu, pengalaman guru dalam mengunjungi daerah yang ada
di nusantara serta Negara-negara ASEAN adalah hal yang
tak kalah menarik untuk disampaikan kepada siswa agar
sejak dini siswa menyadari bahwa dunia ini bukan hanya
sekedar Palapi saja namun banyak tempat indah yang dapat
di kunjungi yang tentunya dengan modal ilmu pengetahuan
dengan tekun belajar adalah kunci menuju tercapainya cita-
cita dan impian untuk mengelilingi dan menjelajah alam
semesta. Karakter yang muncul yaitu religius, integritas,
nasionalisme, gotong-royong, dan mandiri. Kegiatan
tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
324
325
Gambar 4. Dinding Literasi (kiri atas), PSPB (tengah atas),
Dapur Kita (kanan atas), PCH (kiri bawah) dan PAM (kanan
bawah)
Karakter adalah ―value in action‖ yaitu nilai yang
diwujudkan dalam tindakan. Nilai adalah apa yang dihargai
oleh seseorang dan menjadi jiwa perbuatan lahiriah
seseorang. Sehingga terkait hal ini maka pendidikan
karakter sering juga dikatakan dengan pendidikan nilai-
karena yang utama dan mendasar dalam proses pendidikan
adalah menginternalisasi nilai-nilai kebaikan (Lickona,
326
2012). Lickona juga mengemukakan unsur-unsur karakter
yang telah diidentifikasinya dengan istilah 3M yaitu moral
knowing, moral feeling, and moral action. Pada Moral knowing,
Peserta didik perlu diberikan pengetahuan dan pemahaman
akan nilai-nilai kebaikan yang universal (moral knowing)
sehingga pada akhirnya membentuk beliefs. Pada Moral
feeling, Peserta didik tidak hanya sampai memiliki
pemahaman saja namun sistem pendidikan yang ada juga
harus berperan aktif mendukung dan mengondisikan nilai-
nilai kebaikan tersebut sehingga semua anak mencintai
nilai-nilai tersebut sebagai sebuah kebaikan untuk dianut
(moral feeling), dan Pada Moral action, Setelah membentuk
pemahaman dan sikap, maka dengan penuh kesadaran
anak-anak akan bertindak dengan nilai-nilai kebaikan (moral
behavior) yang dianut sebagai ekspresi martabat dan harga
diri. Implementasi nilai-nilai karakter berbasis islami untuk
penguatan pendidikan karakter merupakan solusi yang
diterapkan atas permasalahan degradasi moral 4.0 bagi anak
utamanaya di sekolah dasar sebagai pondasi awal yang baik
meliputi religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan
integritas. Rata-rata capaian pada anak menunjukkan yaitu:
(1) Anak cenderung patuh baik di sekolah maupun di
rumah; (2) Membiasakan untuk tidak meninggalkan sholat
wajib dan melakukan sholat sunah dan tedarus Al-Qur‘an
sebagai tambahan ibadah; (3) Tumbuh dalam diri sikap
menolong dan kemandirian; (4) Menghargai hak orang lain
dan mengetahui kewajibannya; (5) Berpakaian rapi dan
menutup aurat; dan (6) Cenderung sekolah pilihan untuk
lanjutan adalah sekolah Tahfidz dan Pondok Pesantren. Dari
orang tua siswa merasa senang dengan pembelajaran yang
dikemas dengan mengintegrasikan nilai-nilai islami kepada
anak-anaknya. Dari guru dan kepala sekolah merasa
terbantu dengan kegiatan ini karena kontrol sikap siswa
dapat lebih mudah dilakukan.
327
C. Penutup
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam
menghadapi permasalahan degradasi moral 4.0 pada anak di
Indonesia adalah dengan menanamkan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan verbal saja
namun diaplikasikan dalam berbagai kegiatan anak yang
mendorong anak untuk melakukan secara terus-menerus
berdasarkan kesadarn diri mereka sendiri. Pendidikan karakter
yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan agama dan
kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan suatu keyakinan
anak misalnya pendekatan berbasis islami bagi anak muslim
karena mayoritas anak di Indonesia adalah muslim. Hal ini
agar anak tidak kehilangan identitas agama mereka serta tidak
kehilangan identitas anak sebagai produk Indonesia.
Pendidikan karakter yang utama adalah keteladanan dari orang
tua, keteladanan dari guru, masyarakat yang mendukung
keteladanan yang baik. Masalah keteladanan merupakan
metode pembelajaran yang efektif yang telah dilakukan oleh
para nabi, terutama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
dalam menanamkan akhlak mulia kepada umatnya. Allah
menyatakan bahwa pada diri Nabi Muhammad salllahu alaihi
wasallam terdapat uswatun hasanah yaitu teladan yang baik (Qs.
Al-Ahzab, 33 : 21). Nabi-nabi yang lain seperti Nabi Ayub
memiliki keteladan dalam ketabahannya menanggung berbagai
penderitaan, Nabi Isa dikenal dengan kesederhanannya, Nabi
Musa dikenal dengan kebeberaniannya. Ada empat karakter
yang dimiliki oleh para nabi, yaitu: Selalu berkata yang benar
(Sidiq); dapat dipercaya (Amanah) sehingga mendapat gelar Al-
Amin; selalu menyampaikan tidak pernah menyembunyikan
(Tablig); dan cerdas (Fatonah). Pendidikan karakter sebaiknya
diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan yang
holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good,
dan acting the good. Pengetahuan tentang kebaikan (knowing the
good) mudah diberikan karena bersifat kognitif, kemudian perlu
ditumbuhkan perasaan senang atau cinta terhadap kebaikan
(feeling the good), dan selanjutnya, feeling the good diharapkan
menjadi mesin penggerak sehingga seseorang secara suka reka
melakukan perbuatan yang baik (acting the good).
328
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, dan Priyono. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Çobanoğlu, R. dan Demir, C., E. 2014. Okullardaki Örtük
Programın Görünen Kısmı. Elementary Education Online,
13(3), 776-786; İlköğretim Online, 13(3), 776-786.
Daniel, N. 2007. Implementasi Pendidikan Karakter. Jakarta: Salemba
Jaya.
Dewantara, K., H. 1962. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta:
Percetakan Taman Siswa.
El-Qurthuby, U. 2014. Al-qur‟an Cordoba: Terjemahan Tematik dan
Tajwid Berwarna, Al-qur‟an Tafsir bil Hadis. Bandung:
Cordoba Internasional-Indonesia.
Gunarto. 2004. Konsep Kurikulum di Indonesia. Bandung: Rosda
Karya.
Henderi. 2007. Unified Modelling Language (UML): Konsep dan
Implementasinya pada Pemodelan Sistem Berorientasi Objek dan
Visual. Tanggerang: STMIK Raharja.
Irwanto, N. dan Suryana, Y. 2016. Kompetensi Pedagogik. Surabaya:
Genta Group Production.
Kemendikbud. 2017. Modul: Konsep dan Pedoman Pendidikan
Karakter. Jakarta: Kemendikbud.
Lickona, T. 2012. Mendidik untuk Membentuk Karakter: Bagaimana
Sekolah dapat Memberikan Pendidikan Tentang Sikap Hormat
dan Bertanggung Jawab. (Terj.: Wamaungo). Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Bandung: Alfabeta.
Ng, S., W. dan Yuen, W., K., G. 2015. The micro-politics of parental
involvement in school education in Hong Kong:
ethnocentrism, utilitarianism or policy rhetoric! Educational
Review, 67(2), 253-271.
329
Nieto, C., Booth, M.Z. 2010. Cultural Competence: Its Influence on
the Teaching and Learning of International Education‖.
Jurnal of Studies in International Education, 14(4): 406-425.
Sahronih. 2018. Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
dalam Mengatasi Degradasi Moral Anak Sekolah Dasar di
Era Digital. Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional Pendidikan
Dasar UNJ. Jakarta: UNJ.
Samani, M. dan Hariyanto. 2013. Konsep dan Model Pendidikan
Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Samuel, H. 2010. Cerdas dengan Game Panduan Praktis bagi Orangtua
dalam Mendampingi Anak Bermain Game. Yogyakarta: Kompas
Gramedia.
Saputra, B. 2016. Guru Memukul Siswa Karena Tidak Mengerjakan PR.
(Online: lampung.tribunnews.com 19 Oktober), diakses 1
Maret 2021.
Saputra, R.W. 2017. Pelecehan Seksual Guru Agama Terhadap
Muridnya. (Online: jabar.tribunnews.com 24 Januari),
diakses 1 Maret 2021.
Superka. 2006. Konsep Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Sekolah.
Yogyakarta: Andi.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
Tentang Guru dan Dosen.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Utomo, E., P. dan Syafrudin. 2009. Koneksi Internet Untuk PC,
Laptop dan HP. Yogyakarta: Mediakom.
Williams, BK. dan Sawyer, SC. 2011. Using Information Technology:
A Practical Introduction to Computers and Communications. Ed.
9th. New York : The Mc. Graw Hill Companies Inc.
Zubaidah, N. 2013. 68 Persen Siswa SD Sudah Akses Konten
Pornografi. Diakses 1 Maret 2021 dari
http://nasional.sindonews.com/read/801494/15/68-
persen-siswa-sd-sudah-akses-konten-pornografi.
330
BAB 14
TEMPAT PENITIPAN ANAK ”CHILREN
DAYCARE”SEBAGAI SALAH SATU SOLUSI
PENGASUHAN ANAK BAGI ORANG TUA KARIR
Oleh : Suyoto
[email protected]
S3 Pendidika Dasar Universitas Negeri Yogyakarta
A. Latar Belakang Masalah dan Analisis Potensi
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria
dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan
kekal berdasarkan ketuhan Yang Maha Esa (UU no 1 thn 1974
pasal 1). Perkawinan merupakan salah satu sunntullah yang
berlaku pada semua makhluk tuhan, perkawinan merupakan
cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk
beranak-pinak, berkembang biak, dan melestarikan hidupnya
setelah masing-masing pasangan siap melakukan perannya
yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan ( Ghazaly
Ahmad, 2006:10).
Perkawinan mengandung aspek hukum, melangsungkan
perkawinan ialah saling mendapatkan hak dan kewajiban serta
bertujuan mengadakan hubungan pergaulan yang dilandasi
tolong menolong. Dalam Kompilasi Hukum Islam pengertian
perkawinan dan tujuannya dinyatakan dalam pasal 2 dan 3
sebagai berikut:
Pasal 2 : Perkawinan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mutsaqon
ghalizhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya
merupakan ibadah. Perkawinan itu adalah sunnah Allah jika
dilaksanakan dengan menurut ketentuan tertentu hukum Islam
maka akan mendapatkan pahala karena bernilai ibadah.
Pasal 3: Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan
kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Yang artinya keluarga yang selalu diberikan kedamaian hati,
331
dilapisi dengan kasih sayang antar anggota keluarga, dan
mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Dan tujuan itu akan
tercapai jika para anggota keluarga untuk saling tolong
menolong (KHI, pasal 2 dan 3).
Seperti yang dijelaskan di atas, bahagia dalam rumah
tangga itu ketika suami istri saling tolong menolong dan bahu
membahu dalam melakukan pekerjaannya. Serta bekerja sama
untuk mendidik anaknya dengan baik. Suami adalah kepala
keluarga dan ibu menggurus rumah tangga. Tugas suami
adalah memberikan nafkah kepada seluruh anggota
keluarganya sedangkan tugas ibu mengurus rumah tangganya.
Dalam Al Qur‘an surat Annisa ayat 34 menyebutkan:
―Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,
oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-
laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah
lagi memelihara diri, ketika suaminya tidak ada, oleh karena
Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan
pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah
kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya
sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar‖.
Apabila istri dan suami mampu membina keluarganya
dan mereka mampu untuk melaksanakan hak dan kewajiban
masing-masing, maka keluarga yang kekal dan bahagiapun
akan terwujud, karena semuanya mempunyai peran yang
optimal. Disisi lain ada suatu keluarga yang suami dan istri
sama-sama bekerja. Dalam hal ini istri yang seharusnya
mengurus rumah tangga, melayani dan mengasuh anak, tetapi
karena dalam situasi tertentu dan kondisi tertentu
mengaharuskan bekerja sama seperti yang dilakukan oleh
suami yaitu bekerja. Kemudian timbul masalah mengenai
bagaimana mereka dalam mengurus anak. Padahal
pengasuhan yang baik adalah ketika suami dan istri bekerja
332
sama untuk mengasuh dan memberikan pendidikan. Orang tua
merupakan orang yang penting dalam proses pengasuhan dan
pendidikan anak. Orang tua dalam ranah ini adalah
pengembangan dalam upaya membentuk kepribadian anak,
mengembangkan potensi akademik maupun non akademik
melalui olah potensi, rasio, etika dan moral. Kedekatan orang
tua terhadap anak, sungguh sangat memberi pengaruh besar
dalam proses pembentukan anak, dibandingkan pengaruh
yang diberikan oleh komponon pendidikan lainya. Pola
pengasuhan maupun pendidikan anak di lingkungan keluarga
sangat ditentukan oleh kualitas dan kesiapan keluarga (suami
istri) sendiri untuk melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya
melalui peran edukasi (pendidikan). Di lingkungan keluarga
peran ibu atau istri sangat dominan karena ditangannyalah
akan menentukan kehidupan bagi anak dan suaminya.
(Fuaduddin, 1999: 9).
Dalam mendidik anak, kedua orang tua merupakan
sosok manusia yang pertama kali dikenal anak. Yang
karenanya perilaku keduanya akan sangat mewarnai tehadap
proses perkembangan kepribadian anak selanjutnya, sehingga
faktor keteladanan dari keduanya menjadi sangat diperlukan.
Orang tua memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan
karakter dan memaksimalkan kecerdasan yang harus
senantiasa dimiliki oleh anak. Apa yang didengar, dilihat dan
dirasakan anak di dalam berinteraksi dengan kedua orang
tuanya akan sangat membekas dalam memori anak. Orang tua
janganlah hanya disibukkan dengan urusan duniawi semata,
tetapi urusan lainya pula yaitu mengenai pendidikan akhlak
dan moral itu sangatlah penting. Orang tua yang tidak
memperhatikan kasih sayang terhadap anaknya dan hanya
disibukkan dengan urusan duniawi semata maka akan
menyebabkan si anak menyimpang tingkah lakunya, di
samping itu juga dapat menyebabkan si anak kehilangan
pegangan. (Juwairiyah, 2010: 5).
Pengasuhan anak merupakan suatu kewajiban suami
istri, karena anak merupakan darah daging mereka. Anak
333
adalah amanah sekaligus karunia Tuhan yang maha Esa, yang
senantiasa harus dijaga karena di dalam dirinya melekat
harkat, martabat, dan hak-hak sebagai anak atau manusia,
seperti dalam bunyi Kompilasi Hukum Islam pada pasal 77
poin 3 yaitu; ―suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh
dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai
pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan
pendidikan agamanya‖. Sejatinya seorang anak membutuhkan
fikur kedua orang tuanya (ayah dan ibu) dalam perkembangan
kematangan kepribadiannya. Fenomena yang terjadi pada
sekarang ini, dan nyaris membudidaya di kalangan masyarakat
adalah adanya pengalihan pengasuhan anak kepada orang lain.
Dengan alasan kesibukan yang dilakukan oleh kedua orang
tuanya. Mereka menitipkan mengenai pengasuhan anaknya
kepada orang lain. Hal ini disebabkan oleh ayah dan ibu sama-
sama bekerja. Dan orang tua kurang memperhatikan
perkembangan si anak.
Kewajiban orang tua adalah untuk memelihara dan
mendidik anak mereka dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan
ini mencakup masalah ekonomi, pendidikan, dan segala
sesuatu yang menjadi kebutuhan pokok dan kebutuhan
sekunder anak. Pengasuhan juga berarti sebuah tanggung
jawab orang tua untuk mengawasi, memberi pelayanan yang
senantiasa yang semestinya serta mencukupi kebutuhan hidup
seorang anak oleh orang tuanya. Anak merupakan amanat bagi
orang tua, serta merupakan anugrah dan amanah dari Allah
kepada manusia yang menjadi orang tuanya. Oleh karena itu
orang tua bertanggung jawab penuh agar anak dapat tumbuh
dan berkembang menjadi manusia yang berguna bagi diri
sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya
sesuai dengan tujuan dan kehendak Tuhan.
Dalam surat Al Baqarah ayat 233 telah diterangkan
dengan jelas sebagai berikut :
―Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama
dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan
penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
334
kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah
karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. (QS. Al
Baqarah : 233).
Dalam ayat tersebut mewajibkan agar kedua orang tua
anak menjaga sikap saling mengerti dan penuh keharmonisan
dan kecintaan. Dan pemeliharaan anak menjadi tanggung
jawab ayah tetapi ayah seorang bayi itu wajib mengeluarkan
nafkah untuk ibunya dan memberikan pakaian tanpa disertai
ucapan dan sikap yang menyakitkan, tetapi dengan cara yang
ma‟ruf , atau pemberian yang disertai rasa cinta, saling
menghormati dan saling memahami (Al-Shabbagh, 1994:199).
Kemudian dalam hadits Rasulullah saw yang artinya:
“Jika salah seorang diantara kamu sekalian mau mendidik
anaknya, maka perbuatan itu lebih baik baginya ketimbang
bersedekah setengah sha‟ setiap hari untuk para fakir
miskin”.Maksud dari hadits tersebut adalah orang tua yang
mau mendidik anak nya dengan baik berdasarkan ajaran agama
Islam maka itu lebih baik dari pada mereka bersedekah yang
banyak.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata: ―sebaik-baiknya yang
diwariskan oleh bapak kepada anak adalah pendidikan.
―IbnMas‘ud berkata: ―setiap pendidikan sangat senang diadili
bersama didikannya. Dan sesungguhnya pendidikan Allah
adalah Al-Qur‘an. Kebahagian anak tidak dapat dinilai dari
banyaknya materiyang diberikan oleh orang tua tetapi
pendidikan mengenai moral dan etika yang baik itulah yang
harus diberikan oleh orang tuanya ‖(Al Shabbagh, 1994:204-
205). Dalam Undang-undang perkawinan No 1 tahun 1974
pasal 45 disebutkan bahwa:Ayat 1: Kedua orang tua wajib
memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya‖.
Dengan mengunakan ahklak dan anjuran yang berdasarkan Al
Quran orang tua dianjurkan untuk mendidik dan mengasuh
anaknya. Untuk menjadikan anak tumbuh kembang dengan
baik.
335
Pasal 2: Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat
(1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri
sendiri, kewajiban mana berlaku meskipun perkawinan antara
kedua orang tua putus. Dalam mengasuh dan mendidik anak
itu sampai mereka dapat mengurus dirinya sendiri dan
sehingga dapat membedakan antara hal yang baik dan hal yang
buruk.Kemudian dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal
83 ayat 2 yang berbunyi ―Istri menyelenggarakan dan
mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-
baiknya. Sebagai seorang istri ia adalah wakil dari suaminya
untuk itu berkewajiban untuk membantu suaminya dengan
cara untuk mengatur rumah tangganya dan merawat anak-
anaknya dirumah. Melayani suaminya dan mendidik anak-
anaknya.
Dalam Undang-undang perlindungan anak pasal 2
disebutkan bahwa:
1. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan, dan
bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarga
maupun didalam asuhan khusus untuk tumbuh dan
berkembang dengan wajar.
2. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan
kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan
negara yang baik dan berguna.
3. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik
semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.
4. Anak berhak perlindungan terhadap lingkungan hidup
yang dapat membahayakan atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar (UU RI
No.23 th 2002).
Pola pengasuhan anak yang ideal adalah apabila
dilakukan oleh kedua orang tuanya.Ayah dan ibu saling
bekerja sama untuk mengasuh dan mendidik anak. Mereka
menyaksikan dan memantau tumbuh perkembangan anak
secara langsung dan optimal. Namun dalam kenyataannya
kondisi ideal tersebut tidak dapat diwujudkan karena hal-hal
336
tertentu. Di sisi lain ada beberapa keluarga yang kedua orang
tuanya berkarir atau bekerja dan meninggalkan anak mereka
dan menitipkan kepada orang lain. Sehingga ada suatu peran
yang tidak dapat berfungsi lagi. Dalam hal ini istri yang
seharusnya melayani suami, mengasuh anak tidak dilakukan
lagi, dan kewajiban suami istri tersebut adalah mendidik,
mengasuh anak-anaknya supaya tumbuh menjadi anak yang
berguna bagi semuanya. Pengasuhan anak sangatlah
berpengaruh kepada kepribadian dan pertumbuhan anak
kelak.
Dalam kasus yang sering terjadi saat ini adalah adanya
pengalihan pengasuhan anak kepada orang lain ketika
ditinggal bekerja. Bahkan diantara mereka ada yang
menitipkan anaknya dari usia dini sampai ia tumbuh dewasa
itu dalam pengasuhan orang lain, melainkan tidak langsung
diasuh kedua orang tuanya. Fenomena yang terjadi saat ini
semakin merabah yaitu dengan cara pengasuhan anak
diserahkan kepada orang lain. Dan otomatis di sini akan
muncul sebuah problem seperti kurangnya pelayanan istri
terhadap suaminya karena sibuk bekerja, kurangnya kasih
sayang yang dirasakan oleh anak-anaknya. Karena anak bukan
hanya membutuhkan perhatian materi saja, tetapi juga
membutuhkan kehadiran orang tuanya dalam berbagai hal.
Namun, pada kenyataannya banyak orang tua yang bekerja
dan meninggalkan anaknya dan menitipkan kepada orang lain.
Padahal pola pengasuhan yang baik adalah saat ayah dan ibu
bekerja sama, bahu membahu dalam memberikan pengasuhan,
perhatian, kasih sayang dan pendidikannya.
Dengan bekerjanya kedua orang tua otomatis dalam
ranah ini akan timbul kurangnya keharmonisan dan kedekatan
keluarga karena kedua orang tua telah meninggalkan waktu
untuk keluarganya dan menyebabkan anak menjadi kurang
kasih sayang, mereka menjadi tidak terurus. Kemudian
kurangnya komunikasi antara suami istri dan anak-anak akan
menyebabkan ketidak harmonisan dalam sebuah keluarga. Dan
dari kurangnya waktu dan pendidikan yang diberikan oleh
337
kedua orang tua ini akan mempengaruhi kehidupan anak
dimasa yang akan datang, yaitu akhlak anak yang tidak baik.
Berangkat dari latar belakang masalah diatas penulis
tertarik untuk memberikan alternatif pola pengasuhan anak
bagi orang tua karir.
B. Tinjauan Tentang Perkawinan, Keluarga Dan Orang Tua
Karir Sebagai Modal Dasar Pendidikan Keluarga
1. Perkawinan
Perkawinan ialah suatu akad atau perikatan untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan
perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup
berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih
sayang dengan cara yang diridhai Allah yang dilakukan
oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang telah
memenuhi syarat. (Departemen Agama, 1984:49). Dalam
Islam, perkawinan merupakan sesuatu yang sakral dan
menjadi salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Banyak
ayat, hadits maupun Undang-undang yang mengatur
tentang perkawinan.Perkawinan merupakan sesuatu yang
amat penting bagi manusia.Tujuan dari perkawinan adalah
untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan
keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.Harmonis
dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota, sejahtera
artinya terciptannya ketenangan lahir dan batin disebabkan
terpenuhinya keperluan hidup lahir dan batinnya, sehingga
timbulah kebahagiaan, yakni kasih sayang antar anggota
keluarga.
Setiap anggota keluarga diharapkan untuk dapat
memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing, untuk
mencapai kebahagian sesuai dengan tujuan perkawinan
(Ghazaly, 2006:22). Naluri manusia mempunyai
kecenderungan untuk mempunyai keturunan yang
diakuioleh dirinya sendiri masyarakat, negara dan
kebenaran keyakinan agama memberi jalan untuk itu.
Agama memberi jalan hidup manusia agar hidup bahagia di
dunia dan diakhirat.Kebahagiaan dunia dan akhirat dicapai
338
dengan hidup berbakti kepada Tuhan secara sendiri-sendiri,
berkeluarga, dan bermasyarakat. Kehidupan keluarga
bahagia, umumnya antara lain ditentukan oleh kehadiran
anak-anak. Anak merupakan buah hati dan belahan jiwa
bagi setiap pasangan yang telah menikah. Kesempurnaan
perkawinan, apabila dalam rumah tangga hadir anak-anak
sebagai buah hati pengarang jantung bagi suami istri
(Ghazaly, 2006:24).
2. Keluarga
Dari definisi tentang perkawinan yang ada, keluarga
adalah unit terkecil dari suatu masyarakat, yang terdiri atas
suami-istri, suami istri anak-anaknya, atau ayah dan
anaknya, atau ibu dan anaknya.Tidak akan ada masyarakat
bila tidak ada keluarga, masyarakatmerupakan kumpulan
keluarga-keluarga. Jadi, baik dan buruknya masyarakat
tergantung pada baik dan buruknya keluarga. Keluarga juga
dapat dipahami sebagai sebuah sistem yang saling
berhubungan dan saling ketergantungan, saling
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya (Aziz,
2015:16).
Setiap keluarga pada hakikatnya memiliki berbagai
macam fungsi, yaitu salah satunya fungsi sosial adalah
keluarga merupakan sarana pertama dalam proses interaksi
sosial dan menjalin hubungan yang erat baik dalam satu
keluarga maupun secara luas. Fungsi sosial ini dapat
dimaknai pula bahwa keluarga adalah sumber inspirasi
pertama dalam membangunkomunikasi melalui proses
bicara secara sopan, dan tepat dan juga keluarga menjadi
tempat pertama seseorang untuk memulai kehidupannya.
Keluarga membentuk suatu hubungan yang sangat erat
antara ayah, ibu dan anak. (Aziz, 2015:18).
Makna dan fungsi keluarga serta pelaksanaannya
dipengaruhi oleh kebudayaan sekitar dan intensitas
keluarga dalam turut sertanya dengan kebudayaan dan
lingkungannya, keyakinan, pandangan hidup dan system
nilai yang menggariskan tujuan hidup serta kebijaksanaan
339
keluarga dalam rangka melaksanakan tata laksana
(manajemen keluarga). Keluarga merupakan lingkungan
yang pertama dan utama bagi anak. Iklim lingkungan
keluarga, sikap dan kebiasaan hidup semua anggota
keluarga, keberagamaan dalam keluarga, akan memberi
kontribusi yang besar bagi pembentukan kepribadian anak
kelak. Anak sebagai generasi yang baru lahir dari suatu
keluarga akan sangat dipengaruhi oleh suasana keluarga
dimana ia hidup. Dalam hal ini keluarga merupakan faktor
yang sangat penting bagi kehidupan anak karena keluarga
sebagai kelompok primer yang di dalamnya terjadi proses
sosialisasi. Selanjutnya dikemukakan makna dari proses
sosialisasi sebagai berikut :
a. Proses belajar yaitu proses akomodasi dengan mana
individu menahan, mengubah, dan mengambil cara
hidup atau kebudayaan masyarakat di sekitar.
b. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari
kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah
laku dalam masyarakat dimana ia hidup. Dalam hal ini
lingkungan sangat menentukan.
c. Semua sifat dan kecakapan yang di pelajari dan di
dapatkan dalam proses sosialisasi itu di susun dan di
kembangkan sebagai suatu kesatuan system dalam diri
pribadinya.Terlaksananya fungsi sosialisasi dalam
keluarga, diharapkan dapat menjadi upaya membantu
anak mempersiapkan dirinya menjadi anggota
masyarakat yang baik (Ulfatmi, 2011:22).
3. Orang Tua Karir
Menurut Undang-undang Republik Indonesia no. 4
tahun 1979 tentang kesejahteraan anak pasal 1 ayat 3, Orang
tua adalah ayah dan atau ibu kandung. Sedangkan menurut
kamus besar bahasa Indonesia karier berarti pekerjaan yang
memberikan harapan untuk maju. Jadi, orang tua karir
adalah ayah dan ibunya sama-sama bekerja. Bekerja itu
merupakan aktivitas sosial bagi manusia yang memilki
340
motivasi untuk mendapatkan nilai-nilai ekonomis tertentu
dalam wujud gaji, honorium, premi, bonus dan lain-lain.
Dalam hal ini maksud dan harapan dari orang tua yaitu
ayah dan ibu yang sama-sama bekerja untuk dapat
memperbaiki perekonomian keluarganya yang bertujuan
untuk kemajuan dalam hidupnya serta dapat memenuhi
kebutuhan hidup keluarga. (Kartono, 1998:15).
a. Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab dalam
satu keluarga atau rumah tangga yang biasa disebut ibu
dan bapak, orang tua yaitu
b. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari
kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah
laku dalam masyarakat dimana ia hidup. Dalam hal ini
lingkungan sangat menentukan.
c. Semua sifat dan kecakapan yang di pelajari dan di
dapatkan dalam proses sosialisasi itu di susun dan di
kembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri
pribadinya.
d. Terlaksananya fungsi sosialisasi dalam keluarga,
diharapkan dapat menjadi upaya membantu anak
mempersiapkan dirinya menjadi anggota masyarakat
yang baik (Ulfatmi, 2011:22).
Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab
dalam satu keluarga atau rumah tangga yang biasa disebut
ibu dan bapak, orang tua yaituorang-orang yang
bertanggung jawab atas kelangsungan hidup anak.Untuk itu
orang tua dituntut untuk mencari nafkahuntuk anak-anak
mereka. Dalam hal ini kewajiban untuk mencari nafkah
adalah laki-laki. Para ulama menetapkan bahwa
pemeliharaan anak itu hukumnya wajib, sebagaimana wajib
memeliharanya selama berada dalam ikatan perkawinan.
Adapun dasar hukumnya mengikuti umum perintah Allah
untuk membiayai anak dan istri dalam firman Allah pada
surat Al- Baqarah (2) ayat 233:
َ َعهَىب َن َم ََنََ َدنَََ َز َسقََ ََوََ ََ َك َس ََتََ ََوََبَب نَ َم َع َزَف
341
Adalah kewajiban ayah untuk memberi nafkah dan
pakaian untuk anak dan istrinya. Kewajiban membiayai
anak yang masih kecil bukan hanya berlaku selama ayah
dan ibu masih terikat dalam tali perkawinan saja, namun
juga berlanjut setelah terjadinya perceraian. Setelah ayah
dan ibu bercerai perlu diadakanya musyawarah untuk
menjamin kelangsungan hidup anak, yang sejahtera, untuk
menghindari kehidupan anak menjadi terbengkalai
(Syarifuddin, 2006:328). Kemudian kewajiban seorang ibu
sekaligus istri pada hakikatnya memiliki hak dan kewajiban
yang sama-sama berat dalam membangun keluarga yang
unggulan. Menjadi seorang perempuan istri dan ibu adalah
bentuk penyerahan diri untuk menjadi seorang manager
rumah tangga. Menurut Anna Wilson Smith yang dikutip
dalam bukunya Kartono dalam masyarakat ada
kepercayaan bahwa pernikahan yang ideal pernikahan yang
inside the door (ranah private sphere) perempuan menjadi tuan,
artinya dia mengatur seluruh kebutuhan rumah tangga,
seperti melayani suami, membereskan rumah dan mengurus
anak-anaknya. Mencari nafkah adalah merupakan
kewajiban yang mutlak bagi orang tua. Tetapi, kewajiban
orang tua terhadap anaknya bukan hanya mencari nafkah
dan memberikan pakaian, atau kesenangan-kesenangan
yang sifatnya duniawi, tetapi lebih dari itu orang tua harus
mengarahkan anak-anaknya untuk mengerti kebenaran,
mendidik akhlaknya, memberi contoh yang baik-baik, serta
mendo‘akannya. Menjadi orang tua karir akan disibukkan
atas pekerjaanya namun jagan sampai melalaikan
kewajiban-kewajiban lainya (Kartono, 1998).
C. Tinjauan Terhadap Pola Pengasuhan Anak
1. Pengertian Pengasuhan
Pengasuhan atau biasa disebut parenting merupakan
proses menumbuhkan dan mendidik anak dari kelahiran
anak hingga anak tumbuh dewasa. Tugas ini dilakukan oleh
342
ibu dan ayah (orang tua biologis anak). Pengasuhan yang
akan diberikan akan menentukan sifat atau karakter anak.
Salah satu tujuan syariat Islam adalah memelihara
kelangsungan keturunan atau hifzh an-nasal melalui
perkawinan yang sah menurut agama, diakui oleh Undang-
undang dan diterima sebagai bagian dari budaya
masyarakat. Keluarga adalah lembaga yang sangat penting
dalam proses pengasuhan anak. Meskipun bukan menjadi
satu-satunya faktor, keluarga merupakan unsur yang sangat
menentukan dalam pembentukan kepribadian dan
kemampuan anak. Secara teoritis dapat dipastikan bahwa
dalam keluarga yang baik, anakmemiliki dasar-dasar
pertumbuhan dan perkembangan yang cukup kuat untuk
menjadi manusia dewasa. Ibu dan ayah dapat dikatakan
sebagai komponen yang sangat menentukan kehidupan
anak, khususnya pada usia dini. Baik ayah maupun ibu,
keduanya adalah pengasuh utama dan pertama bagi sang
anak dalam lingkungan keluarga, baik karena alasan
biologis maupun psikologis (Fuadudin, 1999:5).
Orang tua diwajibkan untuk mengasuh dan mendidik
anak dengan baik sesuai ajaran agama dan norma-norma
yang berlaku di dalam masyarakat dan anak diwajibkan
untuk memahami dan memperdalam ilmu agama. Orang
tua harus berperan aktif dalam mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter anak. Peran orang
tua dalam mendidik anak yaitu:
a. Berperilaku sesuai ajaran agama, perilaku tersebut
misalkan adalah melaksanakan kewajiban shalat fardhu
setiap harinya, kemudian ibadah-ibadah yang
diwajibkan. Dan orang tua yang berperilaku yang baik
maka akan menjadi teladan bagi anaknya.
b. Memahami karakter dan kemampuan anak, dalam
membimbing ataupun memberikan pemahaman tentang
agama selayaknya dapat memahami tingkat kemampuan
setiap anaknya.
343
c. Berperan aktif dalam memberikan bimbingan dan
nasihat, sehingga anak terkontrol dalam bergaul dengan
baik. Anak dapat memfilter terhadap pengaruh negatif
yang akan merusak ahklak bahkan mengubah pola
berfikir anak kedepannya. Yang harus dilakukan adalah:
1) Membekali diri dengan ilmu agama
Dengan cara menjadi teladan yang baik dalam
ilmu dan amal. Memberikan materi pendidikan
akidah dan ahklak, sabar menghadapi berbagai
karakter anak, bersikap rendah hati dan
menggunakan kata-kata yang baik.
2) Memahami kepribadian anak
Setiap anak mempunyai kepribadian yang
berbeda-beda.Kepribadian mereka terbentuk oleh
lingkungan kepribadian adalah bagian dari diri yang
sangat unik. Kita cenderung untuk merespon segala
sesuatu dengan memahami kepribadian anak, sebagai
pengasuh yang baik harus mampu mencari celah atau
solusi terhadap masalah yang terjadi.
3) Memahami anak dalam bertindak
Apa yang dilakukan anak haruslah selalu
diperhatikan dengan baik. Untuk menghindari
tindakan anak yang buruk yang dapat mempengaruhi
sikap anak. Serta mengarahkan anak untuk berakhlak
mulia (Rif‘ani, 2013:114).
Manusia diciptakan dengan tanggung jawab yang
cukup banyak demi kemaslahatan manusia itu sendiri.
Semakin bertanggung jawab terhadap amanah yang
diberikan tentusemakin menjadikan manusia menempati
derajat yang tinggi pula. Diantara tanggung jawab tersebut
adalah anak. Bagi orang tua harus mampu menjadikan anak
sebagai amal jariyah baginya. Dengan cara pendidikan yang
telah diajarkan. Hal utama yang harus dilakukan orang tua
adalah membimbing anaknya supaya berahklak mulia.
344
Anak hendaknya terbiasa ditanamkan pada ahklak
mulia, etika, moral dan nilai-nilai yang baik. Sehingga akan
menjadikan mahluk yang bermanfaat bagi dirinya.
Keluarganya dan semua yang mengasuh. Ahklak mulia dan
agama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Anak jangan diajarkan dan jangan dibiarkan
untuk melakukan akhlak tercela (Rif‘ani, 2013:76).
2. Pola Asuh Anak
Pola asuh merupakan bagian dari proses
pemeliharaan anak dengan menggunakan teknik dan
metode yang menitikberatkan pada kasih sayang dan
ketulusan cinta yang mendalam dari kedua orang tua. Pola
asuh tidak akan terlepas dari adanya sebuah keluarga dalam
hal ini adalah orang tua si anak. Keluarga merupakan suatu
kesatuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat
tinggal yang ditandai oleh adanya kerja sama orang tua
untuk mendidik dan membesarkan anak. Sebagai orang tua
diharuskan untuk mempunyai waktu untuk berkumpul
bersama keluarga, saling menghargai antara sesama dan
rasa saling memiliki. Pola asuh merupakan cara yang
dilakukan orang tua yaitu ayah dan ibu dalam memberikan
kasih sayang dan cara mengasuh yang mempunyai
pengaruh yang besar tentang kehidupan.
Peran orang tua dalam mengasuh sangat berpengaruh
untuk perkembangan jiwa anak mulai dari hal-hal negatif
dan positif. Untuk membentuk karakter dankepribadiannya
agar interaksi antara orang tua terdapat dua dimensi
perilaku orang tua yaitu:
a. Dimensi pertama adalah hubungan emosional antara
kedua orang tua dan anak. Faktor kasih sayang,
kepuasan, emosional, perasaan aman, dan kehangatan
yang diperoleh anak. melalui pemberian perhatian,
pengertian dan kasih sayang dari orang tuanya.
b. Dimensi kedua adalah cara orang tua untuk mengontrol
perilaku anaknya. Kontrol yang dimaksud disini adalah
345
disiplin. Disiplin mencakup tiga hal yaitu peraturan,
hukuman, dan hadiah. Tujuan dari disiplin ini adalah
untuk memberikan pengertian mana yang baik dan
mana yang buruk dan mendorongnya untuk berperilaku
sesuai standar (Ilahi, 2013:133).
Pola asuh anak dalam keluarga yakni usaha orang tua
dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa
maupun raganya sejak lahir sampai dewasa. selain itu yang
dimaksud dengan pola asuh adalah kegiatan kompleks yang
meliputi banyak perilaku spesifik yang bekerja sendiri atau
bersama yang memiliki dampak pada anak. Tujuan utama
pola asuh yang normal adalah menciptakan kontrol.
Meskipun tiap orang tua berbeda-beda dalam cara
pengasuhan anaknya, namun tujuan utama orang tua
adalah sama yaitu untuk menjadi anaknya menjadi anak
yang shaleh. Pola asuh orang tua adalah pola asuh yang
diterapkan pada anak yang bersifat relatif konsisten dari
waktu kewaktu.
Anak akan menjadi cikal bakal penerus keturunan
bagi orang tuanya juga akan membuktikan kesempurnaan
ikatan cinta dan kasih sayang diantaramereka. Pada
umumnya orang tua berharap kelak seorang anak akan
mampu mewujudkan harapan dan cita-citanya yang belum
tercapai. Pola asuh ini dapat dirasakan oleh anak baik
negatif maupun positif. Untuk itu pola asuh akan
menentukan karakter anak dan orang tua diperintahkan
untuk mendidik dengan penuh perhatian dan kasih sayang
(Witanto, 2012).
Metode asuh yang digunakan oleh orang tua kepada
anak menjadi faktor utama yang menentukan potensi dan
karakter seorang anak. Menurut Baumrind dalam bukunya
Muhamad Takdir Ilahi mengatakan ada tiga macam pola
asuh orang tua, jenis-jenis pola asuh tersebut adalah:
346
a. Pola Asuh Otoriter
Otoriter itu sendiri berarti sewenang-wenang. Pola
asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat
pemaksaan, keras, dan kaku dimana orang tua membuat
berbagai aturan yang saklek harus dipatuhi oleh anak-
anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Pola asuh
ini adalah pola asuh yang keras. Anak yang menginjak
usia remaja maupun dewasa akan sangat tertekan
dengan pola pengasuhan semacam ini. Sisi baik dari pola
asuh ini adalah bahwa sikap orang tua yang otoriter
paling tidak menunjang perkembangan kemandirian dan
tanggung jawab sosial. Anak menjadi patuh, sopan, rajin
mengerjakan pekerjaan yang diminta. Akibatnya yang
negatif dari pola asuh ini adalah mudah tersinggung,
penakut, pemurung tidak bahagia, mudah terpengaruh,
mudah stress, tidak mempunyai masa depan yang jelas,
tidak bersahabat, dan gagap (rendah diri).
b. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokrasi adalah jenis pola asuh
dimana anak diberi kesempatan untuk menyampaikan
pendapat, gagasan maupun keinginannya. Jadi, anak
dapat berpartisipasi dalam penentuan keputusan-
keputusan dalam keluarga dengan batas-batas tertentu.
Pola asuh demokrasi ini ditandai dengan adanya sikap
terbuka antara orang tua dan anak. Mereka membuat
aturan yang disetujui bersama.Anak diberi kebebasan
untuk mengemukakan pendapat, perasaan,
keinginannya.Jadi, dalam pola asuh ini terdapat
komunikasi yang baik antara orang tua dan
anak.Responsif dan memberikan perhatian penuh tanpa
mengekang kebebasannya kemudian perhatian penuh.
Orang tua bersikap fleksibel, responsif dan merawat.
Orang tua melakukan pengawasan dan tuntutan dengan
hangat, rasional, dan berkomunikasi. Pemberian
kebebasan terhadap anak disertai pengawasan dariorang
tua dan yang mempunyai acuhan. Dan orang tua
347
mempunyai kontrol untuk mendorong anak kedalam
kepribadian yang baik.
Anak yang dibesarkan di keluarga yang
mempunyai pola asuh demokrasi, perkembangan anak
akan lebih luwes dan anak dapat menerima kekuasaan
secara rasional. Adapun ciri-ciri pola asuh demokrasi
adalah sebagai berikut:
1) Menentukan peraturan dan disiplin dengan
memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-
alasan yang dapat diterima, dipahami, dimengerti
oleh anak.
2) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik
yang dapat perlu, dipertahankan dan yang tidak baik
agar di tingalkan
3) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian
4) Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga
5) Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang
tua dan anak serta sesama keluarga.
c. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola asuh anak
yang cuek terhadap anak. Jadi, apapun yang akan
dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah,
bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan
bebas negatif, matrialistis, dan sebagainya. Pola asuh
orang tua permitif bersifat terlalu lunak, tidak berdaya,
memberi kebebasan terhadap anak tanpa adanya norma-
norma yang harus diikuti oleh mereka.
Pola asuh ini cenderung membebaskan anak tanpa
batas, tidak mengendalikan anak, lemah dalam
keteraturan hidup, dan tidak memberi hukuman apabila
anak melakukan kesalahan, dan tidak memiliki standart
bagi perilaku anak, serta hanya memberikan sedikit
perhatian dalam membina kemandirian dan kepercayaan
diri anak biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua
semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu
348