The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ungautami, 2021-12-08 01:24:14

PERMASALAHAN, MODAL DASAR, DAN SOLUSI PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

E-book ini membahas terkait permasalahan, modal dasar, dan solusi pendidikan anak, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat terhadap pendidikan.

Keywords: #ebook #pendidikan #modaldasar #pendidikananak #pendidikankeluarga #pemberdayaanmasyarakat

Henderson, A.T., & Mapp, K.L. (2002). A new wave of evidence.
Austin, TX: National Center for family and Community
Connections with Schools

Hikmah, F. , N. (2020). Peran pendidikan sosiologi dalam

membentuk perilaku masyarakat sesuai nilai dan

norma. Jurnal IKA PGSD (Ikatan Alumni PGSD) UNARS,

8(1), 142 - 147, june 2020. ISSN 2656-4459. Available at:

<https://unars.ac.id/ojs/index.php/pgsdunars/article/vie

w/592>

Izzati, U. A., Bachri, B. S., Sahid, M., & Indriani, D. E. (2019).

Character education: gender differences in moral knowing,

moral feeling, and moral action in elementary schools in

indonesia. Journal For The Education Of Gifted Young

Scientists, 7(3), 547–556.

Https://Doi.Org/10.17478/Jegys.597765

Jackson, L. (2019). The challenges of learning to live together:

navigating the global, national, and local. Asia Pacific

Education Review, 20(2), 249–257. doi:10.1007/s12564-019-

09591-3

Jeynes, W. H. (2017). A meta-analysis on the relationship between

character education and student achievement and

behavioral outcomes. Education and Urban Society,

001312451774768. doi:10.1177/0013124517747681

Jingna, D. (2012). Application of Humanism Theory in the

Teaching Approach. Higher Education of Social Science, 3(1),

32–36.

https://doi.org/10.3968/j.hess.1927024020120301.1593

John M. Braxton (2010). Norms and the Work of Colleges and

Universities: Introduction to the Special Issue—Norms in

Academia, The Journal of Higher Education, 81(3), 243-250.

Juadani, S. (2010). Implementasi pendidikan karakter di sekolah

dasar melalui penguatan kurikulum. Jurnal Pendidikan dan

Kebudayaan, 16(3), 280-289.

Karo-Karo, D. (2019). Membangun Karakter Anak Dengan

Mensinergikan Pendidikan Informal Dengan Pendidikan

99

Formal. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1–

13.

Lickona, Thomas. (1991). Educating for character, mendidik untuk

membentuk. Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Lickona, T. (2012). Mendidik untuk membentuk karakter: bagaimana

sekolah dapat memberikan pendidikan tentang sikap hormat dan

bertanggung jawab. (Terj.: Wamaungo). Jakarta: PT. Bumi

Aksara

Lin, Tse-Chun and Pursiainen, Vesa, (2020). Fund What You Trust?

Social Capital in Crowdfunding. Available at

SSRN: https://ssrn.com/abstract=3088905 or http://dx.doi.

org/10.2139/ssrn.3088905

Makmur, T. , & Wenny D. (2018). Cultivating local wisdom in

character education: lessons from family education values

of indonesian traditional ceremony. Jurnal Penelitian Sosial

Keagamaan, 26(21), 417-444, DOI:

http://dx.doi.org/10.21580/ws.26.2.2753

Marcus, R. (2018). Education and gender norm change. Advancing

Learning and Innovation on Gender Norms, 1-21.

Martsiswati, E. & Yoyon S. (2014). Peran orang tua dan pendidik

dalam menerapkan perilaku disiplin terhadap anak usia

dini. Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, 1(2),

November 2014.

Maslamah. (2016). Nilai-nilai karakter dalam kurikulum

humanistik di FITK IAIN Surakarta J. At-Tanbawi 1(1) 1–20.

Matemba, Y., & Addai-Mununkum, R. (2017). ―These religions are

no good – they‖re nothing but idol worship‘:

mis/representation of religion in Religious Education at

school in Malawi and Ghana. British Journal of Religious

Education, 1–19. doi:10.1080/01416200.2017.1329706

Maulidiyah, E. C. (2018). Penanaman nilai-nilai agama dalam

pendidikan anak di era digital. Martabat. Jurnal Perempuan

dan Anak, 72-90. http://ejournal.iain-

tulungagung.ac.id/index.php/martabat/article/view/1433

Mayer, R. C., Davis, J. H., & Schoorman, F. D. (1995). An

Integrative Model Of Organizational Trust. Academy of

100

Management Review, 20(3), 709–734.

doi:10.5465/amr.1995.9508080335

Minsih dan Murfiah Dewi W. (2012). Pendidikan karakter berbasis

kecerdasan majemuk dalam membentuk kemandirian siswa

SD muhammadiyah program khusus kota surakarta. Varia

Pendidikan, 24(1), 66-72.

Muazimah, A., & Wahyuni, I. W. (2020). Pendidikan karakter

berbasis kearifan lokal melalui permainan tradisional tarik

upih dalam meningkatkan motorik kasar anak. Jurnal

Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 3(1), 7

Munawir, Haris dan Hilyatul Auliya. (2019). Urgensi pendidikan

agama dalam keluarga dan implikasinya terhadap

pembentukan kepribadian anak. Masile: Jurnal Studi Ilmu

Keislaman, 47-63.0–76.

Muthivhi, A. E. (2015). Piaget‘s Theory of Human Development

and Education. International Encyclopedia of the Social &

Behavioral Sciences, 125–132. doi:10.1016/b978-0-08-097086-

8.92013-0

Muttaqin, M. F., Raharjo, T. J., & Masturi. (2018). The

implementation main values of character education

reinforcement in elementary school. Journal of Primary

Education, 103-112 https://doi.org/10.15294/jpe.v7i1

Murray G, Agyare A (2018) Religion and perceptions of

community-based conservation in Ghana, West Africa. PLoS

ONE 13(4): e0195498.

https://doi.org/10.1371/journal.pone.0195498

Nast, T. P. J., & Yarni, N. (2019). Teori Belajara Menurut Aliran

Psikologi Humanistik dan Implikasinya dalam

Pembelajaran. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 2(2),

270–275.

Newton, K. (2001). Trust, Social Capital, Civil Society, and

Democracy. International Political Science Review, 22(2), 201–

214. doi:10.1177/0192512101222004

Nuryanto, S. (2017). Peningkatan nilai-nilai karakter dengan

metode mendongeng cas cis cus Di Ba Aisyiyah Kaponan 2

Ponorogo. Journal Of Nonformal Education, 3(1), 1–20.

101

Https://Doi.Org/10.24914/Pnf.V3i1.8732

Perni, N. N. (2019). Penerapan Teori Belajar Humanistik Dalam

Pembelajaran. Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 3(2), 105.

https://doi.org/10.25078/aw.v3i2.889

Putro, A. P., Waluyo, H. J., & Wardhani, N. E. (2020). Nilai-nilai

pendidikan karakter dalam naskah drama opera kecoa

karya n. Riantiarno. Dialektika : Jurnal Bahasa, Sastra, Dan

Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(1), 1–16.

Https://Doi.Org/10.1155/2010/706872

Pratama, R. A. (2019). Implementation of Character Education in

Historical Learning in the Industrial Revolution Era 4.0

International. Journal of Multicultural and Multireligious

Understanding, 6(6) 487–496

Presiden Republik Indonesia. (2017). Peraturan Presiden (Perpres)

Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Prihatmojo, A. & Badawi. (2020). Pendidikan karakter di sekolah

dasar mencegah degradasi moral di era 4.0. DWIJA

CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik 4 (1) (2020) 142-152.

Retrieved from

https://jurnal.uns.ac.id/jdc/article/view/41129/28119

Priyanto, P. (2018). Character education on family environment in

Indonesia. International Conference of Moslem Society, 2, 62-73.

https://doi.org/https://doi.org/10.24090/icms.2018.1853

Qodir, A. (2017). Teori belajar humanistik dalam meningkatkan

prestasi belajar siswa‘, 04(02), p. 15

Rachmahana, R. S. (2008) ‗Psikologi Humanistik dan Aplikasinya

dalam Pendidikan‘, el-Tarbawi, 1(1), pp. 99–114. doi:

10.20885/tarbawi.vol1.iss1.art8.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20, Tahun

2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Rusydiyah, E.F. (2014). Character education through the

constructivist design of islamic education subject at

elementary school pembangunan jaya ii in gedangan

sidoarjo. Al-talimjournal, 21(3), 221-238

Samsuri, (2019). Analisis nilai-nilai karakter kewargaan dalam karya-

karya hamka, J. Pendidik. Kewarganegaraan dan Hukum,

102

8(9) 857

Scott, C. L. (2015). The Futures of Learning 3: What Kind of

Pedagogies For The 21st Century? (Education Rasearch and

Foresight Working Papers Series, No. 15). Paris.

Setiawai. (2018). The role of character education in the family.

Proceedings of the 1st Non Formal Education International

Conference (NFEIC 2018) Advances in Social Science,

Education and Humanities Research, 978-94-6252-652-5 DOI

https://doi.org/10.2991/nfeic-18.2019.20.

Shun-wing Ng and Wai Kwan Gail Yuen. (2018). The micro-

politics of parental involvement in school education in Hong

Kong: ethnocentrism, utilitarianism or policy rhetoric.

Educational Review, 67(2), 253–271,

http://dx.doi.org/10.1080/00131911.2013.868786.

Sobel, Joel. 2002. "Can We Trust Social Capital?" Journal of Economic

Literature, 40 (1): 139-154.DOI: 10.1257/0022051027001

Sukadari. (2018). Implementasi pendidikan karakter melalui budaya

sekolah. Yogyakarta: Kanwa Publisher.

Sukardi, I. (2016). Character Education Based on Religious Values:.

Ta‟dib: Journal of Islamic Education, 41-57.

http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tadib/article/vie

w/744/pdf.

Sultoni, Imam G. & Hasan A. (2020). Dampak pembelajaran

berkarakter terhadap penguatan karakter siswa generasi

milenial. JAMP: Jurnal Adminitrasi dan Manajemen Pendidikan,

3(2), 160-170. Retreived from

http://journal2.um.ac.id/index.php/jamp/

Sumantri, B. A. & Nurul Ahmad. (2019). Teori belajar humanistik

dan implikasinya terhadap pembelajaran pendidikan agama

islam. Jurnal Pendidikan Dasar, 3(2), 1-18.

Sumardi, L., Rohman, A., & Wahyudiati, D. (2020). Does the

Teaching and Learning Process in Primary Schools

Correspond to the characteristics of the 21st century

learning?. International Journal of Instruction, 13(3), 357-370.

https://doi.org/10.29333/iji.2020.13325

Surat Luqman ayat 11, 17, dan 18 tentang pendidikan anak.

103

Takaya, K. (2015). Bruner ‘ s Theory of Cognitive Development. 2,

880–885. https://doi.org/10.1016/B978-0-08-097086-8.23095-

X

Trilling, Bernie and Charles Fadel. (2009). San Francisco: Jossey-

Bass.

Wijaya, Estika Yuni, Dwi Agus Sudjimat, & Amat Nyoto. (2016).

Transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan

pengembangan sumber daya manusia di era global.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika 2016,

Volume 1 Tahun 2016 – ISSN 2528-259X

Wrahatnolo, T., & Munoto. (2018b). 21st Centuries skill implication

on educational system. IOP Conference Series Materials Science

and Engineering, 296, 012036. https://doi.org/10.1088/1757-

899X/296/1/012036.

Yanasari, P. (2016). the Humanistic Aprroach To Change and the

Development of Behavior. Nuansa, IX(2), 159–167.

Yuliandri, M. (2017). Pembelajaran Inovatif di Sekolah Berdasarkan

Paradigma Teori Belajar Humanistik. Journal of Moral and

Civic Education, 1(2), 101–115.

https://doi.org/10.24036/8851412020171264

Zagoto, M. M., Yarni, N., & Dakhi, O. (2019). Perbedaan Individu

dari Gaya Belajarnya Serta Implikasinya Dalam

Pembelajaran. Jurnal Reviuw Pendidikan Dan Pengajaran, 2(2),

259–265.

http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp%

0Ahttps://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jr

pp/article/view/481/0

Zuchdi, D., dkk. (2006). Pendidikan karakter melalui

pengembangan keterampilan hidup dalam kurikulum

persekolahan. Laporan Penelitian Hibah Pasca 2005-2006.

Yogyakarta: Lembaga Penelitian UNY.

104

BAB 5
PERMASALAHAN, POTENSI DAN
ALTERNATIF SOLUSI DARI PROBLEMATIKA
PENDIDIKAN ANAK DAN KELUARGA
SERTA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Aufal Kautsar
S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yoggyakarta

A. Permasalahan Pendidikan Anak di Indonesia
Pendidikan anak bukan semata-mata diserahkan kepada

lembaga pendidikan. Perkembangan dan pembentukan
karakter sang anak tidak terlepas dari edukasi orang tua, maka
peran orang tua sangat vital dalam mendidik anak terutama
mengenai akhlak dan sebagai pondasinya agama dimulai dari
usia dini. Jika berkaca pada zaman sekarang orang tua terlena
anaknya terlalu di serahkan kepada lembaga pendidikan
formal tanpa mengulas pendidikan budi pekertinya di
lingkungan keluarga.

Orang tua siswa seyogyanya mendidikan anak yang
merupakan generasi penerus bangsa. Orang tua yang hanya
sekedar mengandalkan pendidikan bagi anaknya melalui
pendidikan formal yang berasal dari lembaga pendidikan
seperti sekolah dianggap belum cukup karena pendidikan
mengenai akhlak dan budi pekerti masih belum cukup.
Implementasi pendidikan mengenai akhlak dan moral
diperlukan oleh anak melalui pendidikan orang tua di
lingkungan keluarga.

Fenomena meningkatnya kenakalan remaja pada saat ini
karena kurangnya bimbingan maupun perhatian dari orang tua
untuk mengawasi anak dalam bergaul sehari-hari, polemik
seperti ini menjadi vital untuk lebih diperhatikan oleh orang
tua dalam membagi waktu bersama anak-anak di keluarga
untuk membina mental dan akhlaknya. Inilah yang menjadi
kemunduran terkait dengan sistem pendidikan dan peran
orang tua, ke banyakkan orang tua mendidik anak hanya untuk
berguna bagi mereka sendiri dan bagaimana bisa bertahan

105

hidup. Kehidupan anak yang diberikan orang tua menuntun ia
menjadi hedonis tanpa menghiraukan yang ada di sekitarnya
disebabkan orang tua belum cerdas dalam mendidik anak.
Sesungguhnya belum mampu memberikan pendidikan yang
sesungguhnya kepada anak mereka seperti pendidikan agama,
kehidupan berbangsa, bernegara, adat, dan budaya.

Perkembangan zaman dan teknologi khususnya saat ini,
telah memberi dampak yang tak sedikit terhadap
perkembangan perilaku maupun pola pikir anak dan remaja.
Adalah baik jika anak dan remaja mengenal dan menguasai
teknologi (internet) sejak dini. Sebab tak terhindarkan di
kemudian hari, teknologi akan berperan penting dalam
memudahkan kehidupan manusia. Namun menjadi hal yang
mengkhawatirkan tatkala internet telah disalahgunakan dan
orangtua kehilangan kontrol terhadap apa yang dilihat dan
dilakukan oleh anak dan remaja di berbagai situs pertemanan
yang mereka masuki. Kehadiran internet itu akan kita rasakan
manfaat dan kegunaannya sejauh kita memandang dan
memanfaatkan internet untuk hal-hal positif. Tak bisa di
pungkiri juga bahwa internet dengan segala yang ada di
dalamnya kerap menawarkan hal-hal yang menggiurkan, dan
tak sedikit juga hal-hal konyol di luar akal sehat dan
menyimpang.

Hal inilah yang sering kali kita temukan yang
kebanyakan dilakukan anak-anak dan remaja kita tak kalah
setelah anak/remaja mengenal Internet dan memasuki situs
pertemanan yang ada di internet seperti Facebook, Twitter dan
situs pertemanan yang lain-lainnya. Dan juga banyaknya game-
game on-line yang tersedia di internet membuat anak dan
remaja betah berjam-jam di depan monitor komputer, bahkan
begadang hingga larut malam sehingga anak dan remaja
cenderung menjadi malas dan tidak berkonsentrasi dalam
belajar. Dan juga pada jam belajar dengan sebuah gadget di
saku yang sebentar-sebentar berbunyi, anak dan remaja akan
buru-buru melihatnya dan tersenyum sendiri bagai tak waras
untuk kemudian membalas komentar yang ada. Dan jika

106

dilarang, umumnya mereka anak memilih cara lain, yakni tetap
bermain dengan sembunyi-sembunyi.

Tatkala internet telah disalahgunakan anak dan remaja
tentu memperbesar peluang munculnya hal-hal negatif bagi
anak atau remaja dan orang tua disebabkan oleh hilangnya
kontrol orang tua terhadap anak dan remaja. Tanpa
sepengetahuan orangtua, anak dan remaja dengan mudah
dapat mengakses foto atau video dewasa dari temannya
maupun dari situs porno yang ada. Hal ini jika tak dicegah,
tentu dapat memicu hal-hal negatif yang tak diinginkan, seperti
seks bebas, penyimpangan seksual, hingga kehamilan di usia
dini. Tak dapat dipungkiri, kita hidup dalam masyarakat
dengan kemajemukan sifat dan perilaku. Adalah tidak
mungkin bagi kita untuk mengubah perilaku setiap individu
menjadi sesuai keinginan atau baik menurut penilaian kita,
belum tentu juga baik buat orang lain. Tentu saja, setiap orang
itu sah-sah saja melakukan apa saja yang dia inginkan.

Penggunaan internet oleh anak-anak tanpa kontrol dan
pengawasan dari orang tua tentu mendatangkan efek negatif
dan bahaya bagi anak. Diantara bahaya tersebut adalah:
1. Kecanduan

Anak-anak yang menghabiskan sebagian besar waktu
mereka di internet cenderung menunjukkan perilaku yang
aneh yang ditandai dengan dorongan untuk berada di
internet sepanjang waktu, sehingga anak mungkin
menghindari semua kegiatan dan menjadi menjadi
tenggelam dalam dunia maya. Selain itu anak yang gila
internet dan game online akan tersita waktunya, seharian
hanya di depan laptop atau komputer, ini akan
mengacaukan jadwal beribadah, belajar, makan, isirahat,
membantu orang tua, dan aktivitas fisik dan sosial yang lain
si anak. Akibatnya lupa ibadah, istirahat tidak teratur, susah
makan dan malas belajar. Tentu hal ini sangat merugikan
dan menganggu tumbuh kembang anak.

107

2. Kurang Aktivitas Fisik
Ada sejumlah permainan yang tersedia di internet

dan ini telah membuat kebanyakan anak untuk
menghindari semua kegiatan di luar ruangan. Dengan tidak
adanya aktivitas fisik, anak-anak dapat dengan mudah
menjadi mangsa banyak penyakit, dan duduk terus di
depan layar komputer dapat merusak mata anak, dan
menyebabkan ketegangan pada leher dan bahu. Selain itu
juga bisa membuat mereka gagal untuk mengembangkan
keterampilan diri.
3. Akses Pornografi

Ini adalah salah satu dampak negatif terbesar internet
bagi anakanak. Internet telah memberikan media yang
mudah bagi anak-anak untuk mendapatkan akses ke
pornografi, dan ini dapat mengantarkan mereka kepada
perbuatan dosa dan zina. Orangtua tidak akan mampu
mengontrol sepenuhnya situs apa yang diakses oleh
anakanaknya di dalam kamar atau di warung internet atau
di tempattempat di mana jauh dari jangkauan orang tua.
Situs-situs yang memuat ponografi dan pronoaksi sangat
mudah terakses oleh para peselancar dunia maya tanpa dia
sendiri secara sengaja mencarinya.
4. Kejahatan Cyber

Internet juga telah mempermudah elemen yang tidak
bermoral untuk berhubungan dengan anak-anak, remaja,
dan pemuda melalu media sosial dan jejaring pribadi (japri).
Fenomena ini telah menyebabkan peningkatan kasus
penculikan, pencabulan, dan pencurian identitas. Perilaku
semacam ini sangat beresiko dan telah membuat anak-anak
sangat terjerumus dalam pergaulan buruk serta rentan
menjadi kejahatan cyber. Sudah banyak kasus ada anak
remaja yang menghilang dari rumah karena terpengaruh
oleh teman chatting-nya di media sosial. Anak-anak dan
remaja belum memiliki kematangan psikologis dalam
memilih hal yang benar dan yang salah.

108

B. Permasalahan Pendidikan Keluarga di Indonesia
Keluarga merupakan satu komponen yang berperan

penting dalam perkembangan dan kehidupan seorang anak.
Pendidikan dan pembelajaran 24 jam di sekolah pun belum
tentu bisa menandingi efektifitas pendidikan keluarga lantaran
ikatan emosional orang tua dan anak yang sudah terbentuk
sejak awal masa kehidupannya. Namun demikian, pendidikan
keluarga tidak lepas dari tantangan dalam pelaksanaanya.
Nyatanya, masih kerap dijumpai keluarga yang tidak tuntas
mengantarkan anaknya menjadi pribadi yang berhasil
seutuhnya. Dengan perkataan lain masih banyak ditemui
kegagalan pendidikan keluarga untuk mencetak generasi
―jenius‖ meminjam istilah Karen Armstrong dalam bukunya
Awakening Genius in the Classroom.

Beberapa pemicu yang berpotensi mengganggu proses
pendidikan anak di keluarga yakni.
1. Disfungsi Emosional
2. Kemiskinan
3. Gaya Hidup
4. Prinsip keluarga yang kaku

Beberapa faktor teknis lain yang menjadi hambatan
pendidikan anak dalam keluarga di antaranya kurangnya
percaya diri, kesenjangan generasi, kesibukan pekerjaan, norma
dan nilai budaya, budaya kelas, pengalaman negatif masa lalu,

Kenyataan lain tentang faktor terjadinya kegagalan bisa
dari orang tua atau anak itu sendiri. Orang tua yang memiliki
pendidikan rendah tapi memiliki perhatian terhadap belajar
anak, maka anak tersebut akan berusaha semaksimal mungkin
agar kesulitan-kesulitan belajar dapat teratasi sampai pada
perolehan prestasi yang tinggi pula. Sementara ada orang tua
yang memiliki perhatian tinggi tapi anaknya tidak
menunjukkan adanya kemajuan, seperti kemampuan orang tua
memahami emosi diri rendah, cepat puas dengan hasil prestasi
yang rendah serta mereka sekolah hanya untuk memenuhi
kepuasan-kepuasan batin tanpa ada target perolehan hasil

109

prestasi yang tinggi. Dan yang paling menarik untuk diteliti
adalah orang tua tak peduli dengan pendidikan anak tetapi
anak tersebut berusaha untuk mendapatkan prestasi yang
tinggi, berusaha belajar yang giat, memecahkan masalah
dengan kemampuannya serta tidak peduli apakah nantinya
orang tua senang atau susah, yang penting anak tersebut
memiliki target perolehan prestasi yang tinggi melebihi anak-
anak yang dipandang umum memiliki kelebihan dibanding
dirinya. Keberhasilan orang tua tidak semata-mata ditentukan
oleh tingkat intelektualnya akan tetapi sangat ditentukan oleh
kemampuan orang tua memahami emosinya.

Adalah tidak mungkin untuk saat ini keluarga mampu
memberikan layanan pendidikan bagi seluruh anggota
keluarganya sesuai kebutuhan belajar yang diperlukan. Karena
tuntutan ekonomi, kemajuan ilmu dan teknologi, serta karena
dampak revolusi informasi, satuan pendidikan keluarga tidak
mampu lagi memenuhi fungsinya sebagai lembaga pendidikan
secara utuh, sebagaimana yang diharapkan.

Keluarga jelas tidak memiliki kemampuan secara
ketenagaan dan kemampuan isi pendidikan. Pada beberapa
kasus juga tidak memiliki kemampuan di bidang sumberdaya
dana, waktu dan fasilitas. Apalagi kebutuhan pendidikan dan
sistem pendidikan yang ada sekarang ini amat beragam dan
kompleks, sehingga jelas para anggota keluarga tidak akan
mampu secara swadaya memenuhi kebutuhan akan
pendidikannya. Akibatnya upaya pendidikan dalam keluarga
menjadi terabaikan dan terlantar, baik yang terjadi pada
masyarakat rural, sub urban maupun urban. Untuk itu
diperlukan suatu upaya reformasi sistem pendidikan keluarga
secara tepat. Karena proses demikianlah yang dikatakan bahwa
di bidang pendidikan wibawa keluarga semakin berkurang.
Bahwa kemampuan keluarga untuk mendidik anak dan
anggota keluarga yang lain semakin tidak ada. Pada keluarga-
keluarga yang mempunyai tingkat kesibukan tinggi, karena
belajar di sektor industri (non pertanian) bukan hal yang
mustahil jika mereka sedikit sekali sempat memerankan diri

110

berinteraksi mendidik diri dan anak-anak mereka dalam
keluarga.

Bagi bangsa Indonesia, keluarga sebagai salah satu pusat
pendidikan dan pilar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara adalah sangat penting untuk diselamatkan. Bahkan
harus dikembangkan ke arah keadaan dan aksi (conduct) yang
sesuai dengan tuntutan dan kondisi jaman, juga terhadap
kehandalannya dalam segenap fungsi yang seharusnya
dimiliki. Keluarga konservatif di Amerika yang ingin
menyelamatkan dan mengembangkan kehandalan lembaga
keluarga menyatakan: … ―the family as a way of reducing the
state‟s budgetary problems; if families would take care of the very
young, the very old, the sick, and the mentally ill, there would be less
need for day care, hospital, social security, and public resources and
agencies‖ (Skolnick and Skolnick, 1983:6 dalam Arifin 1989:3-4).

Masalah nyata yang kini tengah kita hadapi ialah belum
semua keluarga mampu melaksanakan pendidikan di
lingkungannya sendiri sebagaimana diamanatkan Undang-
undang Sistem Pendidikan Nasional. Banyak para orangtua
yang tidak memahami fungsi dan peranan pendidikan keluarga
dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Ada yang terlalu
overestimate ada yang terlalu underestimate (terhadap peran
dan fungsi pendidikan keluarga), bahkan ada yang tidak tahu
sama sekali peran pendidikan apa yang mesti dilakukan di
dalam keluarga. Pada keluarga yang terakhir ini
―ketidaktahuan‖ itu disebabkan (1) tingkat pendidikan yang
sangat rendah, dan (2) kesempatan berkomunikasi dan
penerimaan informasi untuk peningkatan wawasan berpikir
terbatas. Pada kelompok yang pertama dan kedua lebih
disebabkan karena (1) tingkat kesibukan dan mobilitas sosial
yang tinggi, (2) penghasilan rendah, (3) hidup di daerah
terpencil/terbelakang, atau (4) malah karena tingkat
kemakmurannya yang tinggi sehingga mereka mengambil alih
peran pendidikan dalam keluarga dengan berbagai fasilitas
lembaga les privat.

111

Implikasi dari keadaan di atas berdampak pada
kurangnya atau terlalu berlebihannya perhatian terhadap
kebutuhan pendidikan dalam keluarga. Pada keluarga
masyarakat yang overestimate memang tidak akan terlalu
menimbulkan masalah secara nasional, sebaliknya yang akan
terjadi pada mereka yang underestimate dan yang tidak tahu
sama sekali akan peran proporsional lembaga keluarga dalam
sistem pendidikan nasional. Para keluarga yang karena
keterbatasan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan
cenderung bersikap apatis terhadap pendidikan pada
umumnya, termasuk pendidikan keluarga. Mereka akan
cenderung bersikap apatis terhadap pendidikan pada
umumnya, termasuk pendidikan keluarga. Mereka akan
cenderung menyerah pada nasib, karena tidak ada pilihan lain
dalam memenuhi kebutuhan pendidikan keluarga. Jadilah para
anggota keluarga yang demikian tumbuh menjadi sumberdaya
manusia yang menurut istilah Iskandar (1993) sebagai ―salah
jadi, tidak jadi, atau jadi sejadi-jadinya‖.

Keadaan itu diperparah lagi oleh adanya sebagian besar
pemangku keilmuan pendidikan, penyelenggara pemerintahan,
agen pendidikan masyarakat, dan pelaku pendidikan keluarga
yang belum sepenuhnya mengerti posisi dan peranan
pendidikan keluarga dalam sistem pendidikan nasional.
Fenomena itu ditunjukkan melalui berbagai kasus saling
lempar tanggung jawab dalam menyelesaikan satu masalah
pendidikan, yang lain populer adalah masalah kenakalan
remaja, tawuran pelajar, agresifitas remaja, sadisme,
konsumerisme, penyalahgunaan obat bius, gejala perilaku seks
meyimpang atau yang lain. Tiga pihak yang selalu mendapat
tudingan sebagai biang dan gagal memerankan fungsi
pendidikannya adalah: sekolah, keluarga dan media massa
(termasuk di dalamnya hiburan massa). Tragisnya lembaga
keluargalah yang paling berat menanggung akibatnya. Yang
dipanggil polisi karena kasus-kasus itu adalah para orangtua
remaja yang bersangkutan untuk ―diberikan bimbingan dan
pengarahan‖.

112

C. Permasalahan Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia
Di era modern ini persaingan pendidikan semakin

meningkat dan berbagai strategi dilakukan untuk menarik
perhatian masyarakat atau peminat dalam hal ini
stakeholder eksternal agar agar memiliki antusias yang tinggi
terhadap dunia pendidikan khususnya lembaga pendidikan.
Untuk menarik perhatian masyarakat lembaga selalu berusaha
untuk menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan
berbagai pihak termasuk di dalamnya masyarakat dengan
melibatkan mereka dalam merumuskan pengelolaan lembaga
pendidikan serta yang menjadi pemantau proses pendidikan.

Adanya keterkaitan antara lembaga pendidikan
dengan masyarakat inilah yang masih belum disadari oleh
kedua belah pihak, terutama masyarakat awam yang
beranggapan bahwa mereka dengan lembaga pendidikan
adalah lingkungan yang berbeda, padahal keterlibatan mereka
sangat memberikan pengaruh yang positif bagi

Dalam era revolusi komunikasi dan informasi sekarang
ini sering dipertanyakan, masihkah lembaga keluarga memiliki
peran yang demikian besar dalam proses pendidikan, atau
apakah lembaga keluarga masih mampu memerankan
fungsinya sebagai lembaga pendidikan sebagaimana
diharapkan. Atau pertanyaan-pertanyaan sejenis, sekitar
persoalan peran pendidikan yang bagaimanakah yang mesti
ditunaikan oleh lembaga keluarga dalam era revolusi informasi
dan globalisasi sekarang ini. Sementara kelembagaan keluarga
sendiri juga mengalami metamorfosis, perubahan bentuk dan
peran, di mana tidak lagi bentuk keluarga inti di mana ayah,
ibu, dan anak-anaknya hidup dalam sebuah rumah (house) dan
dalam sebuah rumah tangga (home). Bentuk keluarga jaman
sekarang sudah bervariasi, misalnya keluarga di mana di antara
anggota keluaganya tinggal di lain kota, keluarga di mana
bapak dan ibu bekerja penuh hari sementara anak juga sekolah
penuh hari (fullday school), keluarga di mana ayah dan ibu
sangat jarang bertemua karena kesibukan kerja, dan keluarga
yang hidup terpisah jarak karena tuntutan pekerjaan.

113

Bahkan ada juga keluarga yang anak-anaknya tinggal di
pondok atau asrama untuk menuntut ilmu karena alasan untuk
mendapatkan pendidikan yang baik atau karena alasan yang
subjektif lainnya misalnya agar bisa memperbaiki sikap dan
perilaku, karena kasus penyalahgunaan obat terlarang. Belum
lagi bentuk-bentuk keluarga tak utuh seperti anak dengan
orangtua tunggal, keluarga dengan anak adopsi, dan keluarga
dengan anak asuh yang banyak karena tuntutan pekerjaan.
Bahkan ada juga keluarga yang anak-anaknya tinggal di
pondok atau asrama untuk menuntut ilmu karena alasan untuk
mendapatkan pendidikan yang baik atau karena alasan yang
subjektif lainnya misalnya agar bisa memperbaiki sikap dan
perilaku, karena kasus penyalahgunaan obat terlarang. Belum
lagi bentuk-bentuk keluarga tak utuh seperti anak dengan
orangtua tunggal, keluarga dengan anak adopsi, dan keluarga
dengan anak asuh yang banyak.

Merosotnya akhlak generasi sekarang karena
kurangnya kerjasama berbagai pihak dalam mengontrol
perkembangan generasi, fakta sosial yang terjadi bahwa
walaupun generasi sudah dididik dengan maksimal di
lembaga pendidikan tidak menjamin dia akan berperilaku
baik di lingkungan masyarakat, bisa saja lingkungannya
adalah wahana kebebasannya baginya sehingga muncul
masalahmasalah sosial yang tidak diinginkan seperti
narkoba, miras, kriminalisasi dan sebagainya. Masyarakatlah
yang bertanggungjawab dalam mengawasi perkembangan
generasi di luar jam sekolah melalui kegiatan dan kemauan
yang kuat yang sudah direncanakan oleh pihak sekolah dan
masyarakat.

D. Potensi Modal Dasar Pendidikan Anak di Lingkungan
Keluarga
Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi
pembentukan jiwa anak. Orang tua berperan untuk
membentuk arah keyakinan anak-anak. Karena setiap bayi
yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama,

114

namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak
sepenuhnya tergantung dari bimbingan, pemeliharaan dan
pengaruh kedua orang tua mereka. Orang tua harus mampu
menyediakan waktu yang luang untuk memperhatikan anak-
anaknya, bercengkerama, bertukar pikiran, berdialog tentang
masalah-masalah yang dihadapi anak-anaknya, baik yang
berkaitan dengan prilaku anak sehari-hari maupun tentang
pendidikan anak-anaknya.Sosok orang tua adalah pusat hidup
rumah tangga, pemimpin dan pencipta kebahagiaan anggota
keluarga. Sosok orang tua bertanggung jawab menjaga dan
memperhatikan kebutuhan anak, mengelola kehidupan rumah
tangga, memikirkan keadaan ekonomi dan makanan anak-
anaknya, memberi teladan akhlak, serta mencurahkan kasih
sayang bagi kebahagian sang anak.

Orang tua dalam keluarga berperan sebagai guru,
penuntun, pengajar, serta sebagai pemimpin pekerjaan dan
pemberi contoh, tetapi juga perlu disadari bahwa sebagai
pendidik tidak mempunyai kemampuan untuk merubah
pribadi anak. Anak hanya sekedar berupaya secara optimal.
Oleh sebab itu keteladanan berupa disiplin positif dari orang
tua merupakan disiplin positif yang sangat besar peranannya
dalam membantu anak untuk memiliki dan mengubah dasar-
dasar disiplin sehingga memberikan pelayanan dan motivasi
agar selalu belajar rajin dan kontinyu.

Orang tua yang berperan penting dalam keberhasilan
siswa dalam meningkatkan prestasi belajar yang diwujudkan
dengan perilaku/akhlak terpuji tentunya dalam
keberhasilannya juga sangat dipengaruhi tingkat kemampuan
memahami emosi diri disamping tingkat kecerdasan
intelektualnya. Bila orang tua sudah memiliki kecerdasan
intelektual, dan kemampuan memahami emosi diri sudah baik,
dimungkinkan orang tua mampu mengatasi masalah-masalah
yang dihadapi anak dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

Orang tua sebagai pendidik anak bertanggung jawab
agar anak-anak dibekali kekuatan rohani maupun jasmani
dalam menghadapi segala tantangan zaman dan menjadi

115

manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, Orang tua
sebagai pengatur rumah tangga merupakan tugas yang berat.
Sebab seorang orang tua harus dapat mengatur segala
peraturan rumah tangga. Oleh karena itu orang tua dapat
dikatakan sebagai adistrator dalam kehidupan keluarga. Oleh
karena itu orang tua harus dapat mengatur waktu dan tenaga
secara bijaksana.

Salah satu tujuan pendidikan dalam keluarga
diantaranya yakni tujuan jasmani. Tujuan secara jasmani
pendidikan anak dalam keluarga ialah mencetak anak agar
memiliki potensi secara individu, sosial, dan professional,
kita perlu takut dan khawatir jika keturuan keluarga dalam
kondisi yang lemah pada segala aspek, oleh karena sejak
dini harus menyiapkan keluarga yang kuat. kuat secara
individu dimana anak memiliki kemampuan pada aspek
kognitif (otak), afektif (sikap), dan psikomotrik (perilaku).
Arti kuat secara sosial ketika anak mampu bersosialisasi dalam
kehidupan sosial masyarakat. Sementara kuat pada aspek
profesional anak mampu hidup mandiri untuk
mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat
dipergunakan memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Pendidikan keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga :
1. Keterampilan menguasai diri. mendidik anak untuk

menguasai diri sendiri bisa dimulai saat orang tua
memberikan pelatihan kepada anak dengan cara menjaga
kebersihan diri sendiri, latihan ini menjadi latihan pada
diri anak. Dilanjutkan pengembangan fisik kepada
penguasaan diri anak secara emosional. Orang tua dalam
hal ini dituntut untuk memberikan intruksi atau secara
demokratis.
2. Pendidikan nilai, menanamkan pendidikan nilai pada
anak bersamaan dengan keterampilan menguasai diri,
Misalkan ketika anak memasuki usia 6 tahun saat
bermain menggunakan mainan bersama dengan teman-
temannya, orang tua dapat memberikan arahan supaya
meminjamkan mainan kepada teman-temannya.

116

3. Peranan sosial, setelah anak memunculkan kesadaran
diri dan mampu membedakan perannya dengan orang
lain, maka anak dilatih untuk memiliki peran yang sesuai
dengan gambaran dirinya. Hal ini bisa dilatih melalui
lingkungan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah.

Kualitas pendidikan hendaknya selalu meningkat pada
setiap tahunnya. Dalam mewujudkan kualitas pendidikan
yang lebih maju, maka sudah seharusnya penyelenggaraan
pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pendidik
(guru) di sekolah, tetapi keluarga juga harus berperan
dalam penyelenggaraan pendidikan di rumah. Hal ini
bertujuan untuk membentuk sinergi yang baik.

Kemendikbud menyatakan perlu adanya kerjasama yang
sinergis antara program pendidikan yang dilakukan dengan
lingkungan keluarga. Dalam hal ini yang menjadi pedoman
adalah Tri Sentra Pendidikan yang diprakarsai oleh Ki Hajar
Dewantara. Tri Sentra Pendidikan menuntut adanya
keselarasan pendidikan pada satuan pendidikan, keluarga, dan
masyarakat.Keluarga merupakan salah satu pilar yang dapat
mendukung berhasilnya program Merdeka Belajar. Sebab
pendidikan yang penting dan paling utama adalah dimulai dari
keluarga. Baharun (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
―Pendidikan Anak Dalam Keluarga: Telaah Epistemologi‖
menyatakan bahwa peran aktif keluarga (orang tua) di
sekolah harus prioritaskan. Pendidikan dalam keluarga
hendaknya berlandaskan pada asas kebebasan, pendidikan
seharusnya memberi kebebasan sepenuhnya kepada anak
untuk melakukan proses pembelajaran yang kreatif dan
inovatif, tanpa ada pemaksaan dari kedua orang tuanya. Tugas
orang tua adalah sebagai pengendali (controller) bagi
perkembangan anak. Memaksakan perkembangan dan
pertumbuhan anak dapat menyebabkan anak memiliki mental
yang rendah dan memiliki sikap kurang percaya diri.
Maka, pendidikan dalam keluarga orang tua sebaiknya
memberi ruang bebas kepada anak, supaya anak dapat

117

mengembangkan potensi pribadi tanpa tekanan dari orang tua.
Pendidikan dalam keluarga sebaiknya menggunakan prinsip
yang tepat, artinya orang tua harus paham betul terhadap
potensi yang dimiliki anak dan mampu mengerti akan
kebutuhan anak.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anaknya
di sekolah akan terlaksana dengan baik, bila telah tercipta
komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua
siswa. Hal ini didukung dengan pernyataan dari
Mendikbud dalam sebuah seminar ―Pentingnya Membangun
Komunikasi Efektif Orangtua-Sekolah‖, bahwa komunikasi
antara orang tua dan sekolah akan lebih efektif bila tercipata
komunikasi dua arah. Semakin sering orang tua dan walikelas
berbagi informasi yang relevan tentang peserta didik, maka
semakin besar pula potensi mereka dalam membantu siswa
mengatasi problem kesulitan belajar, serta menguatkan
potensi yang dimiliki siswa, sehingga siswa dapat meraih
prestasi, baik pada bidang akademis maupun non-
akademis. Mereka juga dapat bekerja sama dalam mengubah
perilaku dan kebiasaan siswa menuju yang lebih baik lagi.
Peluang untuk komunikasi dua arah dapat terjadi melalui (1)
Pertemuan orangtua dengan walikelas; (2) Pembentukan
organisasi orangtua dan walikelas; (3) ada lembar kerja siswa
mingguan atau bulanan dibawa pulang untuk diperhatikan
langsung oleh orang tua; (4) Komunikasi via telepon, website
atau email dan (5) home visit (kunjungan) ke rumah siswa.

Era digital yang melaju dengan pesat membuka
pertukaran informasi dan budaya tanpa ada batasan. Hal ini,
membawa dampak dari segi positif dan segi negatif. Aspek
positif yang didapat, seperti adanya kemudahan dalam
mengakses ilmu pengetahuan, teknologi, serta informasi
yang membangun. Namun, disisi lain juga terdapat dampak
negatif yang menyertainya, misalnya dapat menggerus budaya
dan identitas bangsa Indonesia. Dengan demikian pendidikan
keluarga sangat dibutuhkan keberadaannya dalam mencetak
generasi bangsa yang memiliki intelektual tinggi, inovatif,

118

dan kreatif, sesuai yang tertuang dalam kebijakan program
Merdeka Belajar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Karena
peranan orang tua tidak dapat tergantikan dengan teknologi
yang canggih.

E. Potensi Modal Dasar Pendidikan Masyarakat di Indonesia
Peluang besar bagi lembaga pendidikan dengan

adanya desentralisasi pendidikan yang memberikan kebebasan
bagi lembaga pendidikan untuk mengelola lembaganya sesuai
dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan menjadi
cikal bakal munculnya teori dan aplikasi manajemen
berbasis sekolah (MBS) yang menuntut peran masyarakat
secara maksimal di dalamnya. Dengan adanya kebijakan
desentralisasi tersebut salah satu konsekuensi dalam
penyelenggaraan pendidikan yang berbasis masyarakat adalah
menanti keterlibatan masyarakat secara keseluruhan yaitu
orangtua siswa, masyarakat sekitar sekolah, pengusaham
organisasi sosial kemasyrakatan dan pemerintah dalam
penyelenggara pendidikan. Oleh karena itu sekolah sebagai
unit pelaksana pendidikan harus dapat menjalin kerjasama
dengan masyarakat baik dari segi pemikiran, tenaga,
pembiayaan serta pemecahan masalah yang dihadapi oleh
lembaga pendidikan (Maisyaroh, 2011).

Dari segi edukatif dan psikologis lembaga pendidikan
dan masyarakat saling memiliki kebutuhan yang sama
dimana masyarakat membutuhkan tempat untuk menuntut
ilmu dan lembaga pendidikan membutuhkan masyarakat
untuk menuntut ilmu di lembaganya, karena adanya
kecenderungan perubahan yang terus terjadi dalam
pendidikan untuk menekan perkembangan pribadi dan
sosial masyarakat. Perubahan yang terus terjadi inilah yang
mengharuskan lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan
diri dengan masyarakat. Elsbree dalam Mulyono (2008:202)
menyatakan ada tiga faktor yang menyebabkan lembaga
pendidikan harus berhubungan baik dengan masyarakat,
yaitu (1) faktor perubahan sifat, tujuan dan metode

119

pengajaran di lembaga pendidikan, (2) faktor masyarakat
yang menuntut adanya perubahan dalam pendidikan dan
perlunya bantuan masyarakat terhadap lembaga pendidikan,
(3) faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat
terhadap pendidikan.

F. Alternatif Solusi Permasalahan Pendidikan Anak, Keluarga
dan Masyarakat di Indonesia
Panduan mengenai bentuk pendidikan anak di
lingkungan keluarga atau masyarakat umumnya tidak
memiliki aturan baku yang tertulis. Karena fenomena atau
karakteristik yang dimiliki setiap anak itu berbeda, sehingga
pendidikan yang dihadirkan oleh keluarga maupun
masyarakat pun berbeda-beda.
Di Indonesia, bentuk pendidikan yang paling melekat di
lingkungan keluarga terhadap anak yakni pendidikan agama
dan moral/etika. Internalisasi nilai-nilai keyakinan agama
terhadap anak oleh orang tua diupayakan melalui praktik
pendidikan agama. Contoh yang diberikan bisa diberikan
langsung oleh orang tua maupun ke lembaga non formal
seperti Taman Pendidikan Al-Qur‘an atau sejenisnya. Orang
tua memberikan pendidikan agama kepada anak sejak usia dini
melalui praktik beribadah dan perilaku yang menganut norma
kesopanan
Sedangkan pendidikan terhadap di lingkungan
masyarakat yakni pendidikan formal di sekolah, penanaman
nilai budaya/adat istiadat, penanaman nilai-nilai agama dan
moral serta pengembangan keterampilan.
Secara naluriah dan instinktif pendidikan keluarga akan
memberikan pelajaran tentang keyakinan agama, nilai budaya,
nilai moral, dan keterampilan. Keyakinan agama adalah
pendidikan tentang internalisasi nilai-nilai agama, keyakinan
agama, tata cara beribadah dan perilaku sebagai umat
beragama baik secara transenden maupun secara horizontal.
Setiap keluarga atau orang tua pasti menginginkan anak
keturunannya memiliki keyakinan agama yang sama dengan

120

dirinya, bahkan kalalu bisa mampu melebihi dalam hak iman
dan ketaqwaaanya. Nilai budaya berkaitan dengan nilai-nilai
dan perilaku berbudaya sesuai dengan konteks sosial budaya
di mana yang bersangkutan hidup, disertai dengan proyeksi
seperti apa situasi zaman ketika anak-anaknya dewasa kelak.
Demikian juga nilai moral adalah nilai-nilai yang bisa
menjadikan seseorang berperilaku etis dan estetik, sesuai
dengan konteks lingkungan fisik dan sosial di mana yang
bersangkutan hidup. Sedangkan pelajaran keterampilan adalah
yang terkait dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan
hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik, psikis, dan sosial

Menciptakan komunikasi antara orangtua siswa dan
sekolah secara reguler, dua arah, dan bermakna merupakan
salah satu solusi dalam mengupayakan penyelesaian beberapa
problem berkaitan dengan pendidikan dalam keluarga.
Meningkatkan keterampilan orangtua dalam mengasuh anak
mendorong orangtua agar berperan dalam membantu belajar
siswa. Sekolah terbuka terhadap bantuan orangtua Sekolah
menjadikan orangtua siswa sebagai mitra dalam pengambilan
keputusan yang mempengaruhi anak didik. Memanfaatkan
sumber daya masyarakat untuk memperkuat sekolah, keluarga
dan belajar siswa.

Selain menciptakan komunikasi yang efektif antara
anggota keluarga, bentuk pendidikan keluarga juga terdiri atas
beberapa aspek, yakni
1. Menanamkan Pendidikan Agama

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik
untuk meresapkan dasar dasar hidup beragama. Bagi
keluarga-keluarga beragama islam, anak-anak dibiasakan
ikut serta ke mesjid bersama sama untuk menjalankan
ibadah, mendengarkan khotbah atau ceramah-ceramah
keagamaan, menghadiri atau mengikuti kegiatan
keagamaan, tableq, dan kegiatan seperti ini besar
pengaruhnya terhadap kepribadian anak. Bagi keluarga
yang beragama selain Islam pelibatan anak pada ritual
keagamaan dan penghayatan hidup beragama menjadi hal

121

perlu terdesain pula dengan baik, bukan sekedar mengikuti
kelaziman. Kehidupan dalam keluarga hendaknya mampu
memberikan kondisi kepada anak untuk mengalami
suasana hidup keagamaan.
2. Menanamkan Pendidikan Moral

Penanaman moral bagi anak tercermin dalam sikap
dan perilaku orang tua sebagai teladan yang dapat di contoh
oleh anak dan segala nilai yang dikenal anak akan melekat
pada orang-orang yang disenangi dan dikaguminya, dan
melalui inilah salah satu proses yang ditempuh anak dalam
mengenal nilai-nilai etis dalam kehidupan. Perilaku etis
mencerminkan keluhuran dan kemuliaan kemanusiaan
yang bersumber dari filsafat, kearifan lokal, nilai-nilai
agama, dan kebudayaan. Cara yang bisa dilakukan antara
lain melalui keteladaanan, petuah-petuah, penyediaan
buku-buku bacaan, penyediaan film-film, dan lingkungan
hidup yang merangsang tumbuhnya moralitas yang baik. Isi
pendidikan moral itu bermacam-macam, tentang
ketuhanan, kasih sayang, kesetiaan, nasionalisme,
patriotisme, charity (kebaik dan kelembutan hati), kejujuran,
keadilan, kebenaran, kebijakan, keindahan, dan sebagainya.
Dengan kepemilikan moral yang baik manusia akan
memiliki perilaku yang sinkron dengan sifat-sifat
kemanusiaan yang luhur dan beradab mulia. Keluarga
adalah tempat paling baik penyemaian sifat dan karakter
moral yang baik. Kepemilikan moral yang baik dapat
dilakukan melalui proses sosialisasi, yaitu proses
menjadikan seseorang dalam hal ini anak, tumbuh kembang
sebagai warga masyarakat yang memahami, menghayati
dengan tingkah laku yang sesuai dengan kebiasaan dan adat
istiadat pada masyarakat setempat, yang melipiti nilai-nilai
dan norma-norma. Nilai-nilai yang diinginkan antara lain:
(a) nilai tatakrama, (b) nlai sopan-santun, (c) nilai
kebersamaan dan gotong royong, (d) nilai teloransi, (e) nilai
ketelitian, kerapian, kedisiplinan dan kesempurnaan, dan (f)
nilai kesabaran dan keuletan

122

3. Menanamkan Nilai-Nilai Sosial

Keluarga bagi kepentingan pendidikan merupakan

lembaga sosial yang minimal terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Keluarga merupakan lembaga internalisasi nilai-nilai sosial,

yaitu nilainilai yang mewarnai harmonis tidaknya

kehidupan bersama antara manusia. Dalam keluarga anak

belajar berbagi peran, berbagi kepentingan, berbagi hak dan

kewajiban, membentuk kesepakatan sosial, dan belajar

menyusun struktur sosial sebagaimana kehidupan di

masyarakat. Perkembangan kesadaran sosial pada anak

dapat dipupuk sedini mungkin, terutama lewat kehidupan

keluarga yang penuh dengan rasa tolong-menolong, gotong-

royong, teleransi, saling asah-asih-asuh, dan saling

melengkapi. Dalam keluarga anak-anak dibiasakan untuk

mengambil peran dan tanggung jawab sosial dalam

kelaurga, yang pada akhirnya akan mengambil peran di

masyarakat.

4. Mengembangkan Keterampilan Kerumahtanggaan

Di dalam keluarga anak-anak, remaja, dan pemuda

belajar mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kerumahtanggaan

seperti menyapu, mencuci, memasak, dan lain sebagainya.

Secara alamiah keterampilan kerumahtanggaan diajarkan

dari generasi senior kepada generasi junior melalui

kehidupan sehari-hari secara informal. Di rumah anak-anak

belajar menyelesaikan sendiri kebutuhan

kerumahtanggaannya seperti membersihkan kamar tidur,

membersihkan lingkungan rumah, mencuci pakaian,

menata dan merapikan buku-buku miliknya, dan

menyiapkan makanan yang menjadi kebutuhannya.

Pada keluarga-keluarga menengah ke atas, urusan

kerumahtanggaan biasanya diurus oleh pramuwisma atau

tenaga tata graha, namun tetap saja ada tanggung jawab

setiap orang untuk tahu dan mampu mengerjakan

pekerjaan-pekerjaan kerumahtanggaan tersebut secara

mandiri. Seseorang yang canggung dalam mengerjakan

urusan kerumahtanggan akan mengalami kesulitan ketika

123

berada di tengah masyarakat, karena di situ dibutuhkan

keterampilan kerumahtanggaan sebagai sebuah norma

sosial

5. Menanamkan Keterampilan Okupasional dan Vokasional

Di dalam keluarga anak-anak, remaja, dan pemuda

belajar mengerjakan keterampilan okupasional dan

vokasional. Keterampilan okupasional adalah keterampilan

yang terkait dengan penyelesaian urusan-urusan pribadi

sampai dengan memenuhi kebutuhan ekonominya secara

mandiri. Keterampilan vokasional adalah keterampilan

yang terkait dengan kemampuan mengerjakan

pekerjaanpekerjaan yang dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan pribadi tingkat dasar dan yang menghasilkan

nafkah. Setiap orang dituntut bisa mengerjakan kebutuhan

okupasionalnya seperti menjaga kebersihan badan,

mengurusi kebutuhan eksresi (kencing dan buang air besar),

berpakaian, dan membersihkan kamar atau lingkungan

tempat tinggalnya. Lebih lanjut, keterampilan okupasional

juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bekerja

mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Apabila tingkat keterampilan yang dimiliki sudah semakin

tinggi sehingga dia bisa menanggung nafkah orang lain,

maka tingkat okupasionalnya sudah naik menjadi

vokasional.

Dalam keluarga setiap anak dan remaja akan diajari

untuk mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan

okupasional dan vokasional sebagai bekal yang

bersangkutan untuk hidup lebih lanjut di masyarakat.

Pembelajaran okupasional dan vokasional diajarkan dalam

keluarga secara informal. Pada tingkatan tertentu dan

situasi tertentu

Kehidupan keluarga edukatif adalah iklim kehidupan
dalam keluarga yang tercipta atas dasar keadaan struktur dan
proses sosial keluarga yang dianggap dapat menciptakan
keteladanan, bimbingan, dan pengajaran, serta pelatihan bagi

124

keberhasilan pendidikan anak-anaknya, khususnya
keberhasilan prestasi akademik anak di sekolah
(Sudiapermana, 2012:40). Situasi kehidupan keluarga dan
lingkungan keluarga yang edukatif dapat digambarkan sebagai
struktur dan proses sosial keluarga yang penuh dengan nilai
pendidikan. Setiap hubungan, interaksi intra, antar, dan ekstra
keluarga dipilih dan disengaja sebagai interaksi pendidikan
atau nilai pembelajaran yang berdampak pada nilai
pendidikan. Sebaliknya keluarga menghindarkan kemungkinan
terjadinya paparan informasi yang berpengaruh destruktif
terhadap perkembangan anak dan fungsi pendidikan dalam
keluarga. Di tengah kehidupan global saat ini fungsi
keteladanan, bimbingan, dan pengajaran, serta pelatihan itu
sudah tidak memadai lagi dengan iklim lingkungan keluarga
yang menyertainya. Dengan terpaan teknologi komunikasi dan
mobilitas orang yang semakin cepat, maka fungsi keluarga
bergesar menjadi sebuah moderator dan manajer agar setiap
anggota keluarga tetap mendapatkan sentuhan komunikasi dan
informasi yang edukatif dan menghindarkan dari paparan
informasi yang destruktif. Dengan hadirnya teknologi
informasi ke rumah-rumah, bahkan ke kamar-kamar pribadi,
ke ruang-ruang publik; maka sangat sulit bagi orang tua untuk
mengontrol, mengendalikan, dan melarang masuknya
informasi negatif bagi anak. Sehingga diperlukan peran
lembaga pendidikan yang ada di masyarakat sebagai salah satu
alternatif dalam memberikan pemahaman kepada anak dan
orang tua akan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi
yang sifatnya positif.

Lembaga pendidikan tidak dibenarkan untuk
menutup diri dari masyarakat terutama masyarakat
sekitarnya juga tidak wajar melaksanakan idenya sendiri
dengan tidak mendengarkan atau melaksanakan aspirasi-
aspirasi masyarakat karena pada hakikatnya lembaga
pendidikan adalah milik masyarakat. Masyarakat
menginginkan lembaga pendidikan berdiri di lingkungannya
untuk meningkatkan perkembangan sumber daya

125

manusianya, masyarakat juga menginginkan agar lembaga
pendidikan bisa memberikan pengaruh positif terhadap
perkembangan masyarakat baik langsung maupun tidak
langsung dengan harapan masyrakat pula turut
mendukung usahausaha yang dilakukan oleh lembaga
pendidikan di lingkungannya.

Lembaga pendidikan merupakan sistem terbuka bagi
masyarakat, sebagai sistem yang terbuka sudah jelas tidak
dapat mengisolasi diri serta penting untuk menyadari
keberadaan masyarakat baik ide-idenya, kebutuhan-
kebutuhannya serta nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Begitupun sebaliknya menyadari bahwa lembaga pendidikan
sangat membantu mereka untuk menyiapkan SDM yang
berkualitas tentu sesuai dengan keinginan mereka sendiri
dengan tidak membiarkan lembaga pendidikan saja yang
berperan aktif tetapi masyarakat juga karena bagaimanapun
dalam membentuk manusia dewasa melalui proses
pendidikan tidak akan bias terwujud tanpa dukungan dan
kerjasama dari masyarakat. Pada hakekatnya lingkungan
pendidikan itu ada tiga yang sangat erat kaitannya dan tidak
bisa berdiri sendiri, yaitu lingkungan pendidikan di keluarga,
lingkungan pendidikan di lembaga pendidikan dan lingkungan
pendidikan di masyarakat. Jadi, antara lembaga pendidikan
dan masyarakat terjadi komunikasi dua arah untuk saling
bias memberi dan saling menerima.

Komunikasi dua arah yaitu dari lembaga pendidikan ke
masyarakat dan dari masyarakat ke lembaga pendidikan
adalah untuk saling memberi informasi dan berpartisipasi
dalam membina proses pendidikan. Pemikiran dalam
pengembangan pendidikan tidak selalu harus datang dari
lembaga pendidikan dan tidak menutup kemungkinan ide-
ide dari masyarakat dapat diterapkan dalam proses
pendidikan karena tidak semua program atau ide dari
lembaga pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Hubungan komunikasi dua arah ini sangat efektif dalam

126

pengembangan proses pendidikan apabila benar-benar
diterapkan oleh kedua belah pihak.

G. Mekanisme dari Alternatif Solusi Pendidikan Anak Jenjang
SD
1. Solusi Interaksional Pendidikan Anak
Solusi interaksional pendidikan anak berupa
kerjasama antara lembaga pendidikan dengan masyarakat
digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu:
Hubungan edukatif, yaitu hubungan kerjasama
antara lembaga pendidikan dan masyarakat dalam hal
mendidik peserta didik, antara guru di lembaga pendidikan
dan orangtua dalam keluarga. Kerjasama tersebut dapat
direalisasikan dengan mengadakan pertemuan yang
direncanakan secara periodik antara guru-guru dan
orangtua peserta didik sebagai anggota komite sekolah.
Hubungan kultural, yaitu kerjasama antara lembaga
pendidikan dan masyrakat untuk membina dan
mengembangkan kebudayaan masyarakat setempat
karena bagaimanapun pendidikan merupakan bagian dari
kebudayaan masyarakat sekitar. Untuk mewujudkan
kerjasama ini yaitu dengan mengerahkan peserta didik
untuk membantu kegiatan-kegiatan sosial yang
diperlukan oleh masyarakat dengan bergotong-royong
memperbaiki jalan, membersihkan lingkungan, menjaga
kelestarian lingkungan dan juga bersama-sama
menyelenggarakan perayaan yang bersifat keagamaan
ataupun nasional.
Hubungan institusional, yaitu hubungan kerjasama
antara lembaga pendidikan dengan lembaga atau instansi
resmi lainnya baik swasta maupun pemerintah, misalnya
hubungan lembaga pendidikan dengan puskesmas,
pemerintah setempat, dinas-dinas, pasar dan sebagainya (Sri
Minarti, 2011:278-280).

127

2. Solusi Instruksional Pendidikan Anak
Merujuk pada beberapa sistem pendidikan yang ada

di luar Indonesia, alternatif solusi yang dapat diterapkan

untuk mengatasi problematika pendidikan anak di

Indonesia berkenaan dengan sistem/tradisi/kebiasaan

tertentu yang dibangun di lingkungan keluarga dan

mengakar di masyarakat. Langkah ini dapat memberikan

dampak yang cukup besar terhadap pola pengasuhan dan

kebiasaan belajar anak di rumah hingga dapat membantu

perkembangan kognitif dan sikap anak tidak hanya di

lingkungan rumah atau di masyarakat. Akan tetapi akan

berdampak pada gaya belajar anak di sekolah.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan disadur dari

beberapa sistem/tradisi/kebiasaan yang coba diterapkan di

negara-negara yang sistem pendidikannya lebih maju.

a. Penggunaan gadget/smartphone tidak diperbolehkan

hingga anak-anak berusia 12-14 tahun

b. Waktu belajar di sekolah dasar 6 jam

c. Kurikulum pendidikan formal tingkat playgroup, TK,

preschool, atau sejenisnya hingga kelas 2 SD

diperketat/mutlak dengan memuat materi yang tidak

menekankan aspek kognitif.

d. Orang tua anak-anak kelas 3 SD hingga sebelum SMP

ditekankan untuk membersamai anak dalam

mengerjakan tugas

e. Guru wajib senantiasa memantau perkembangan anak di

rumah melalui komunikasi via online dengan orang tua.

f. Bayi yang baru lahir akan diberikan paket buku gratis

dari pemerintah bagi orang tua dan bayi yang

dipersiapkan saat memasuki masa balita

g. Wajib baca satu buku per satu atau dua minggu setiap

anak. Setiap akhir pekan atau akhir dua pekan, anak-

anak diminta menyampaikan mengenai buku yang telah

dibaca. Tidak ada tuntutan penyampaian harus sesuai

EYD atau aturan ketat lainnya.

128

h. Konten buku-buku TK dan kelas 1 dan 2 SD harus lebih
interaktif lagi.
Mekanisme instruksional di atas tentu dapat

dilaksanakan jika di daerah perkotaan atau urban atau
daerah-daerah lain yang masih belum masuk dalam
kategori daerah 3T. Sedangkan untuk daerah 3T, perbatasan
atau daerah-daerah tertentu dengan lokasi sekolah yang
masih serba terbatas, pada poin 5 diatas dimana guru
memantau perkembangan anak tidak melalui komunikasi
seperti gadget/smartphone, melainkan melalui kunjungan
ke rumah orang tua siswa. Praktik ini sebenarnya saat ini
(sebelum pandemi) sudah banyak dilakukan oleh sekolah-
sekolah swasta di perkotaan dan daerah-daerah 3T yang
tidak memungkinkan untuk melakukan komunikasi via
smartphone atau akses lain selain dari datang ke rumah
orang tua siswa secara langsung.

129

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 1989. Pandangan Mahasiswa di Kodya Malang terhadap
Mitos Tradisional Kelembagaan Keluarga. Laporan Penelitian.
Malang: Pusat Penelitian IKIP Malang.

Baharun, Hasan. 2016. Pendidikan Anak Dalam Keluarga; Telaah
Epistemologis. Karanganyar Paiton Probolinggo. Jurnal
Pendidikan, Vol. 3, No. 2

Helmawati. 2014. Pendidikan Keluarga: Teoritis dan Praktis. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Iskandar, Anwas. 1993.‖Mencari Jati diri Profesional Pendidikan Luar
Sekolah‖, Makalah pada Seminar Nasional PLS di IKIP
Malang, Februari 1993.

Jatnika, Yanuar (2018). Hambatan Pelibatan Keluarga dalam Satuan
Pendidikan
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.ph
p?r=tpost/xview&id=249900147

Maisyaroh. 2011. Maksimalisasi Peran Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Pendidikan. Tesis Manajemen Pendidikan
Islam UIN Maliki Malang.

Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Padil, M. & Suprayitno, Sosiologi Pendidikan.
Sri Minarti. 2011. Manajemen Sekolah Mengelola Lembaga Pendidikan

secara Mandiri. Yogyakarta. Ar-Ruzz Media.
Sudiapermana, H. Elih. 2012. Pendidikan Keluarga: Sumber daya

Pendidikan Sepanjang Hayat. Bandung: Edukasia Press.
Waliyadin. (2017). Pendidikan Keluarga dan tantangannya.
https://www.nu.or.id/post/read/79379/pendidikan-keluarga-

dan-tantangannya

130

BAB 6
PENGARUH DAN PERMASALAHAN
PENDIDIKAN ANAK, PENDIDIKAN
KELUARGA DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

Ayatullah Muhammadin Al Fath
[email protected]

S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

A. Analisis Permasalahan Pendidikan Anak, Pendidikan
Keluarga, dan Pemberdayaan Masayarakat
Pendidikan menjadi sebuah sarana dalam bersosialisasi
pada proses pembelajaran yang meningkatkan mutu atau
kualitas untuk berperan di dalam ilmu pengetahuan dan
kemajuan bangsa maupun negara. Pendidikan merupakan
peran penting untuk mendorong seseorang atau masyarakat
untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan (Sartika:2019).
Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dalam
dirinya sehingga dapat mempunyai kekuatan nilai spiritual
dalam keagamaan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Permasalahan timbul dengan banyaknya persoalan yang
menyangkut pengembangan tentang pengembangan potensi
dengan melalui pendidikan. Orang tua bahkan lembaga
pendidikan lebih lebih banyak melakukan suatu kegiatan yang
berorientasi pada pengembangan akademik (Kognitif),
sedangkan psikologi pengembangan diperlukan dalam rangka
memberikan upaya yang sistematis logis dan rencana agar
potensi seorang anak didik dapat berkembang diarah sesuai
dengan tujuan yaitu mengembangkan sumber daya manusia,
sehingga keterlibatan peran orang tua di pendidikan anak
memiliki dampak yang positif dalam perkembangan seorang
anak menuju kesiapan sekolah. (Barnet: 2020) mengungkapkan
adanya ketidakhadiran orang tua dalam peran anak di sekolah
juga akan berpengaruh dalam kesiapan anak, sehingga anak-

131

anak akan merasa kurangnya perhatian orang tua teerhadap
pembelajaran anak dirumah cenderung lebih sedikit serta
kemajuan dan perkembangan anak di dalam dunia pendidikan
akan terhambat dengan adanya kesenjangan antara keluarga
maka keluarga yang berlatar belakang rendah dapat dijadikan
evalusi dalam penerapan orang tua di sekolah.

Proses pemberdayaan masyarakat berarti kemampuan
seseorang untuk memahami dan mengendalikan keadaan
sosial, ekonomi, dan kemampuan politiknya yang sangat
diperlukan dalam upaya memperbaiki keduduknya
dimasyarakat(Supsiolani: 2019). Untuk itu diperlukan
seperangkat teknik yang dapat menciptakan kondisi adanya
keberdayaan masyarakat melalui proses pemberdayaan
masyarakat secara partisipatif dengan melaukan kegiatan
pendidikan di masyakarat. Pendidikan saat ini telah berada
pada era globalisasi yang mana informasi dan komunikasi
berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang
mengakibatkan peersaingan ketat dalam dunia pendidikan,
karena pendidikan merupakan investasi yang mempunyai nilai
lebih tinggi serta menjadi elemen yang dapat berguna serta
dijual di negara manapun. Pemberdayaan masyarakat yang
mengalami gangguan teknologi juga kurang perhatian dan
sensitif terhadap anak-anak, selain itu paparan bahasa yang
buruk selama penggunaan media dapat meningkatkan risiko
anak-anak membuat ekspresi dan perilaku sosial yang salah
dikemudian hari (Wong, et al. 2020). Disisi lain masih dalam
tulisan Wong, et al. 2020, dapat dikatakan bahwa perangkat
digital mampu menganggu aktivitas anak-anak setidaknya
sekali dalam sehari, pemakaian teknologi anak-anak yang
berlebihan terjadi akibat kedua orang tua mereka juga
melakukan hal yang sama.

Menurut pendapat Sudjana (2000) supaya pembelajaran
bisa menjadikan masyarakat wajib didasarkan pada 5 sterategi
dasar ialah: 1) pendekatan kemanausiaan, warga dipandang
selaku subjek pembangunana serta warga diakui mempunyai
kemampuan buat berkembangn sedekimian rupa ditumbuhkan

132

supaya sanggup membangun dirinya. 2) pendekatan
partisipatif, memiliki makna kalau warga, lembaga- lembaga
terpaut serta ataupun komunitas dilibatkan dalam pengelolaan
serta penerapan pemberdayaan warga, 3) pendekatan
kolaboratif, dalam melakukan pemberdayaan warga butuh
terdapatnya kerjasama dengan pihak lain, serta terkoordinasi
serta sinergi, 4) pendekatan berkepanjangan , ialah
pemberdayaan warga wajib dicoba secara berkesinambungan
serta buat seperti itu pembinaan kader yang berasal dari warga
jadi perihal yang sangat pokok, serta 5) pendekatan budaya ,
penghargaan budaya serta kebisaan, adat istiadat yang
berkembang di tengah- tengah warga dalam pemberdayaan
warga merupakan perihal yang butuh dicermati. Bersumber
pada 5 pendekatan diatas, apbila dipahami betul oleh para
agent pembaharu( social change), tercantum didalamnya
tenaga kependidikan pembelajaran Nonformal, hendak
membagikan kemudahan dalam menganalisis, meningkatkan
serta melakukan program pembelajaran nonformal ataupun
pembelajaran luar sekolah yang cocok dan diperlukan
masyarakat warga. Maksudnya program pembelajaran yang
dilaksanakan memegang serta mengangkut masyarakat
belajar/ warga jadi lebih baik dalam kehidupannya yang
diisyarati dengan meningkatnya pemasukan( ekonomi),
pemahaman hendak area sosialnya ataupun masyarakat
belajar/ warga yang paham serta menguasai gimana
membangun dirinya( memberdayakan dirinya).

Kesimpulan: Pendidikan menjadi sebuah sarana dalam
bersosialisasi pada proses pembelajaran yang meningkatkan
mutu atau kualitas untuk berperan di dalam ilmu pengetahuan
dan kemajuan bangsa maupun negara. Pendidikan merupakan
peran penting untuk mendorong seseorang atau masyarakat
untuk mencapai kemajuan ilmu pengetahuan . Psikologi
pengembangan diperlukan dalam rangka memberikan upaya
yang sistematis logis dan rencana agar potensi seorang anak
didik dapat berkembang diarah sesuai dengan tujuan yaitu
mengembangkan sumber daya manusia. Keterlibatan peran

133

orang tua di pendidikan anak memiliki dampak yang positif
dalam perkembangan seorang anak menuju kesiapan
sekolah. Adanya ketidakhadiran orang tua dalam peran anak di
sekolah juga akan berpengaruh dalam kesiapan anak pada
tahap selanjutnya. anak-anak akan merasa kurangnya
perhatian orang tua teerhadap mereka, pembelajaran anak
dirumah cenderung lebih sedikit, serta kemajuan dan
perkembangan anak di dalam dunia pendidikan akan
terhambat. Sektor pendidikan saat ini telah berada pada era
globalisasi yang mana informasi dan komunikasi berkembang
pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang mengakibatkan
peersaingan ketat dalam dunia pendidikan, karena pendidikan
merupakan investasi yang mempunyai nilai lebih tinggi serta
menjadi elemen yang dapat berguna serta dijual di negara
manapun. Pemberdayaan masyarakat yang mengalami
gangguan teknologi juga kurang perhatian dan sensitif
terhadap anak-anak, selain itu paparan bahasa yang buruk atau
kejahatan selama penggunaan media dapat meningkatkan
risiko anak-anak membuat ekspresi dan perilaku sosial yang
salah dikemudian hari pendekatan kemanausiaan pendekatan
partisipatif pendekatan kolaboratif, dalam melakukan
pemberdayaan warga butuh terdapatnya kerjasama dengan
pihak lain pendekatan berkepanjangan pendekatan
budaya, penghargaan budaya serta kebisaan, adat istiadat yang
berkembang di tengah- tengah warga dalam pemberdayaan
warga merupakan perihal yang butuh dicermati.

B. Analisis Potensi
1. Modal Dasar Pendidikan Anak
Seorang anak yang baru lahir belum mengerti
apapun, seringkali diibaratkan sebagai kertas kosong yang
belum tercoret., pendapat ini dikuatkan dengan salah satu
ayat yang artinya ―Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun,
dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati
nurani, agar kamu bersyukur‖ (QS An-Nahl ayat 78).

134

Seorang filsuf dari inggris, John Locke dalam salah satu

bukunya yang berjudul ―An Essay Concerning Human

Understanding‖ juga mempunyai pendapat yang sama

bahwa ketika lahir, pikiran anak itu seperti kertas kosong

(tabula rasa) yang nantinya akan diisi dengan hal yang

diperoleh dari pengalaman-pengalaman selama hidupnya.

Pada saat anak usia 0-6 tahun merupakan masa emas

untuk membentuk karakter dan kepribadian demi

keberhasilan proses kehidupannya dimasa depan agar dapat

menjadi individu, masyarakat, dan generasi penerus bangsa

yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, taat, dan

bermartabat. Disamping hal tersebut, pengetahuan tentang

pendidikan kesehatan pada anak usia tingkat dasar juga tak

kalah penting. Pendidikan tentang kesehatan anak usia

sekolah dasar adalah salah satu unsur utama yang menjadi

modal pendidikan anak, karena pendidikan kesehatan anak

tingkat dasar tidak hanya berisi pembelajaran kesehatan

namun juga digunakan sebagai pengetahuan tentang

pengoptimalan pertumbuhan fisik, potensi kognitif-motorik

dan emosional yang akan berperan sebagai landasan

pembentuk karakter, kepribadian, dan kecerdasan anak

yang akan digunakan dalam pendidikan selanjutnya

(Siswanto, 2012).

Karena kepribadian anak dibentuk sejak usia 0-6

tahun, maka menjadi penting untuk orang-orang

disekitarnya bersikap dan berperilaku baik karena anak

akan cenderung meniru apa yang orang-orang

dilingkungannya lakukan. Anak-anak juga seringkali

mempunyai keingintahuan yang besar terhadap hal-hal

disekitar mereka, dan mereka akan senang dan puas jika

mereka diberikan jawaban yang memuaskan atas

keingintahuan mereka (Androne, 2014), dsamping itu John

Locke seringkali mengingatkan pembacanya untuk

memperhatikan pertanyaan-pertanyaan tentang

keingintahuan yang dimiliki oleh anak.

135

Maka dapat disimpulkan bahwa manusia memang
terlahir tanpa mengetahui apapun. bagaimana nantinya
kertas tersebut akan diisi tergantung dari pendidikan-
pendidikan dan pengalaman yang akan terjadi di hidupnya.
Pendidikan semasa anak masih berusia awal akan sangat
penting demi terbentuknya dasar kepribadian anak. Orang
tua (keluarga), lingkungan masyarakat dan pendidik sangat
berperan penting untuk melakukan pembentukan karakter
tersebut. Baik orang tua, masyarakat, dan juga pendidik
harus bekerja sama selangkah demi selangkah untuk
membentuk akhlak, moral, tingkah laku, dan kepribadian
anak

2. Modal Dasar Pendidikan Keluarga
Keluarga memikul tugas yang semakin berat sejalan

dengan perkembangan dan perubahan waktu, di satu sisi
mereka harus menembus persaingan untuk memenuhi
permintaan hidup, dan di sisi lain mereka dihadapkan pada
kewajiban membimbing, mengarahkan dan mendidik anak.
Kelihatannya tugas kehidupan kedua saat ini mulai sering
bergeser baik karena kesalahpahaman atau karena ambisi
yang berlebihan. Sementara itu, ada kecenderungan untuk
menyerahkan tanggung jawab penuh atas perkembangan
anak kepihak sekolah, dan juga banyak keluarga yang
kemudian melailaikan anaknya karena kesibukan kerja,
prestasi, organisasi dan sejenisnya. Dalam Al-Quran juga
dijelaskan bahwa keluarga diperingatkan dengan tegas
sehingga mereka menjaga anggota keluarganya (anak-anak)
dari berperilaku dan perilaku yang dapat merugikan (Q.S:
66:6), dan dengan tegas memerintahkan agar kita bangkit
untuk memberi peringatan kepada kerabat dekat (Q.S.:
Syu'aro: 214).

Keterlibatan pendidikan orang tua merupakan
investasi sumber daya orang tua dalam menyekolahkan
anaknya saat mencari definisi yang ringkas terdapat
perbedaan dalam konseptualisasi keterlibatan orang tua.
Keterlibatan orang tua sebagai konstruksi multidimensi

136

termasuk dalam aspek keterlibatan seperti memastikan anak
tersebut bersekolah atau melakukan pekerjaan rumah
tangga tambahan untuk memberi anak lebih banyak waktu
untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dll, jenis
keterlibatan yang paling sering muncul dalam konteks sosial
yang paling tidak menguntungkan bagi masa depannya.
Pada saat yang sama aspek lain dari keterlibatan pendidikan
keluarga yang dikenal sebagai kontribusi orang tua ke
sekolah. ini mengacu pada kontribusi yang diberikan
keluarga dalam bentuk uang tunai, tenaga kerja dan
material untuk meningkatkan modal dan infrastruktur
sekolah, meskipun kita mengetahui semakin berkualitas,
semakin sarana prasarana suatu sekolah lengkap semakin
tinggi pula tagihan bayaran orang tua ke pihak sekolah.

Keluarga memandang sekolah sebagai kekuatan
eksternal, dengan demikian, fungsi pendidikan keluarga di
rumah dari fungsi sekolah tidak dapat dipisahkan. Secara
umum, seperti yang ditunjukkan, ada kecenderungan yang
lebih besar bagi keluarga untuk melibatkan diri mereka
secara pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi di luar
sekolah ( Lee & Bowen, 2006; Rodrı´guez-Brown, 2009 ).
Keterlibatan orang tua di sekolah masih rendah, terutama
dalam kegiatan sekolah secara umun. Namun, orang tua
cenderung mencari hubungan pribadi dengan guru kelas,
mereka tidak bermaksud untuk memasukkan visi
pendidikan mereka ke dalam sekolah, dan fungsi mereka
dengan yang terakhir dibatasi untuk memastikan
kesejahteraan sosial dan pendidikan anak-anak mereka
sedangkan sikap keluarga tidak proaktif; mereka lebih
cenderung menunggu inisiatif guru untuk membuat janji
daripada mengambil inisiatif sendiri. Kepedulian keluarga
dalam menjaga nilai-nilai jati diri dapat menimbulkan
keterlibatan ketika mencari kontak dengan guru untuk
mengatasi perilaku dan sikap anak-anak mereka tetapi tidak
dalam kaitannya dengan hasil akademis.

137

Anak-anak seperti permata indah yang selalu ada,
kehadiran anak diharapkan oleh setiap pasangan dalam
keluarga. Dalam keluarga akan tercipta suasana yang lebih
segar menyembuhkan kepenatan dan keletihan orang tua
dalam prosesnya berjuang dengan kekerasan dalam
kehidupan dunia, tawa riang, manis, cekatan, kecerdasan
dan kesuksesan anak adalah kebanggaan yang sulit
dibandingkan. Pengorbanan orang tua begitu besar,
ketabahan dan kesabaran yang begitu keras diberikan
kepada anak demi satu berharap untuk menciptakan
permata yang indah. "Anak" ini tampaknya memiliki kodrat
illahi itu adalah perhiasan kehidupan dunia‖ (Q.S, 18:46)
juga demikian dibuat masuk sebagai alam yang disukai
seorang anak-anak (Q.S, 3:14). Dan dalam doa yang sering
diungkapkan "Rabbaha hablana qurrata a'yunll di nlana
menurut beberapa Penerjemah "qurrata a" yun
"mengidentifikasi dirinya sebagai "waladun mum tazun‘
atau anak khusus". Ayat-ayat di atas bersifat implisit
menegaskan bahwa orang tua rentan terhadap mencintai
dan mengharapkan anak yang istimewa. Motivasi ibu pada
dasarnya proses alami yang dengan demikian digariskan
oleh Allah SWT. bahwa ibunya akan menyukainya selama
hamil, melahirkan, menyusui (Q.S, 46:15). Sebaliknya, saya
senang jika dia dekat dengan anak itu dan sangat senang
melihat sukses anaknya. Dorongan untuk menjadi ayah
lebih merupakan penguatan psikologis, kebutuhan ini jelas
sangat besar cinta seorang ayah untuk putranya karena anak
adalah sumbernya kesenangan dan kegembiraan baginya,
sumber kekuatan dan kebanggaan dan merupakan faktor
kelangsungan hidup yang penting kehidupan keluarga.
Harapan dan kecintaan orang tua kepada anak-anaknya
merupakan awal dari kesadaran alam untuk tumbuh
kembang anak. Kesadaran semacam ini harus selalu dijaga
dalam arti bahwa orang tua tidak cukup mencintai, tetapi
harus mencoba untuk mengajar. Terutama dalam
pengembangan budaya modern, seperti yang sering

138

dihadirkan saat ini, gaya bentuk budaya yang tidak sesuai
dengan moralitas dan agama.

3. Modal Dasar Pendidikan Masyarakat
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting

dalam kehidupan bermasyarakat, semakin tinggi
pendidikan yang ditempuh mayoritas masyarakat dalam
suatu wilayah, maka semakin tinggi pula kesadaran anak
untuk menemuh jalur pendidikan., hal tersebut berarti
bahwa pendidikan yang ditempuh oleh orang tua dan
jejaring sosial merupakan indikator penting yang
mendukung seorang anak dalam menempuh pendidikan.
Jejaring sosial didefinisikan sebagai sebuah struktur yang
terdiri dari sekumpulan aktor, beberapa di antaranya
terhubung oleh satu set atau lebih relasi. Jejaring sosial
yang dimaksudkan disini merupakan masyarakat di
lingkungan tempat tinggal, konseptualisasi ini terkait
dengan jejaring sosial yang memberikan akses ke berbagai
bentuk modal sosial seperti informasi dan dukungan sosial
kepada anak yang menempuh pendidikan. Mekanisme di
mana berbagai bentuk modal sosial diakses dan dimobilisasi
rumit dan bergantung pada komposisi dan karakteristik
jaringan sosial. Komposisi jaringan berfokus pada jenis
hubungan jaringan, seperti hubungan dekat, termasuk
anggota yang mirip satu sama lain dalam hal usia,
pendidikan, kelas sosial misalnya, hubungan dengan
keluarga dan teman.

Ada 2 faktor yang mempengaruhi anak yaitu faktor
individu dan structural, faktor individu merupakan ciri atau
atribut individu yang dapat memandu perilaku siswa,
seperti ciri-ciri pribadi, keterampilan, kemampuan, dan
motif (Nicole M. & Tiffany, 2015). Tanpa orang tua yang
berpendidikan, siswa sering mengalami kesulitan dalam
memahami bagaimana mendaftar sekolah dan mendapatkan
bantuan secara psikologi, pihak sekolah lah yang akan
mendorong perilaku akademis adalah yang memberikan
pemahaman kepada siswa dan pemberdayaan di sekolah.

139

Siswa akan memiliki kesempatan lebih besar untuk
mendapatkan akses ke pendidikan dan menunjukkan
potensi mereka baik akademik maupun non-akademik
ketika mereka mendapat dukungan dan bimbingan dari
orang tua, serta motivasi yang mereka peroleh dari
masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun
sampai saat ini masih banyak problematika terkait
pemberdayaan di sekolah yang mengakibatkan
miskomunikasi antara pihak sekolah dan wali murid.
Permasalahannya terletak pada pihak sekolah yang jarang
mengajak diskusi wali murid tentang perkembangan
pendidikan anak. Faktor struktural adalah sumber daya
lingkungan dan materi yang dapat memandu perilaku
siswa, seperti uang dan dukungan orang tua. Salah satu
faktor struktural penting yang berkontribusi pada disparitas
kelas sosial dalam akses pendidikan adalah kurangnya
akses ke mentor. Keterbatasan akses ini sangat merugikan
mengingat orang tua seringkali tidak mampu membayar
biaya sekolah, sehingga menimbulkan fenomena dimana
anak lulusan SD dan SMP banyak yang tidak melanjutkan
pendidikan dan memilih untuk bekerja.

Siswa yang orang tuanya memiliki riwayat
pendidikan tinggi dan kesadaran tinggi terhadap
pendidikan memiliki posisi yang lebih baik untuk
mengakses dan memobilisasi informasi yang relevan untuk
pencapaian gelar yang sukses. Informasi dan pengetahuan
tentang bahan pelajaran, persiapan ujian, menghadapi
tantangan akademik memainkan peran penting dalam
menentukan keberhasilan. Anak-anak dari latar belakang
berpendidikan tinggi dari kecil pastinya sudah dikenalkan,
dilatih, dan dibiasakan untuk merancang dan menyusun
masa depan terlebih lagi tentang rencana dalam
pendidikannya. Mereka lebih diberkahi dengan norma,
nilai, aturan, dan terintegrasi sejak dini dalam jaringan
pendidikan yang relevan.

140

Tabel 1. Presentase keberhasilan pendidikan anak sampai
perguruan tinggi

No Variabel Hipotesis Parameter Hasil Ukur
1 Tingkat Semakin tinggi tingkat
Pencapaian pendidikan orang tua, Latar Belakang 1. 13,3 % siswa
Pendidikan semakin tinggi pula
presentase keberhasilan Pendidikan dengan
pendidikan anak
sampai perguruan Masyarakat Pendidikan orang
tinggi.
tua menengah

2. 49,4 % siswa

dengan orang tua

bergelar sarjana

3. 65,4 % gelar

master, 73,3%

gelar doctor, 62 %

siswa dengan

orang tua bergelar

sarjana

4. 52% orang tua

siswa tidak

bergelar sarjana

5. 27 % orang tua

siswa

pascasarjana.

(Nicole M. & Tiffany, 2015)

Hasil yang diperoleh mengungkapkan bahwa tingkat
pencapaian pendidikan anak dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan orang tua atau lingkungan tempat tinggalnya
yang mana dalam hal ini kesadaran akan pendidikan sangat
diperlukan. Dengan demikian, mereka relatif lebih
diuntungkan dibandingkan dengan peserta didik yang
tinggal di lingkungan masyarakat berpendidikan rendah
atau kelompok minoritas lainnya yang orang tuanya
terbilang terbatas dalam ikatan mereka di luar keluarga dan
komunitas terdekat (Nicole M. & Tiffany, 2015). Selain
modal sosial yang terkait dengan informasi, peran
dukungan sosial, yang didefinisikan sebagai "interaksi atau
hubungan sosial yang memberikan bantuan nyata kepada
individu atau dengan perasaan keterikatan pada seseorang
atau kelompok ada hal lain yang juga berdampak pada
kemudahan akses pendidikan anak yaitu aspirasi yang

141

tinggi, perhatian, sikap positif orang tua terhadap
pendidikan dan motivasi atau dorongan dari anggota
jaringan dapat berkontribusi terhadap hasil akademik yang
positif. Untuk siswa yang kurang terwakili, dukungan sosial
yang tinggi dari masyarakat dapat memberikan efek
pelengkap dan mengimbangi kurangnya modal sosial
terkait informasi, yang pada akhirnya berkontribusi
terhadap kesuksesan mereka

Anak mendapat manfaat dari dukungan sosial
yang diterima dari anggota masyarakat, seperti meneruskan
nilai-nilai keluarga, memberikan dukungan informal dan
bimbingan akademis. Keterkaitan dengan keturunan etnis
dan tumbuh dengan teman-teman dari latar belakang etnis
yang sama secara positif dikaitkan dengan keberhasilan
menyelesaikan pendidikan. Lebih jauh, jaringan komunitas
menjalankan kontrol sosial yang membuat anak anak dan
remaja lebih cenderung menyesuaikan diri dengan norma
dan nilai terkait pendidikan. Di lingkungan masyarakat
yang berpendidikan rendah, harapan dan cita-cita anak
kadang karam karena kurangnya kesadaran terhadap
pendidikan, mereka mempunyai pemikiran daripada
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan
mengeluarkan biaya lagi, seringkali anak justru dimotivasi
untuk segera mencari pekerjaan yang mapan dan
mendapatkan penghasilan sendiri agar tidak menjadi beban
orang tuanya. Stigma tentang anggapan bahwa anak yang
bersekolah merupakan beban keluarga, mahasiswa yang
memiliki gelar sarjana dapat menguasai segala bidang, dan
lainnya justru dapat merusak mental dan masa depan anak.
Perbedaan dalam kesadaran masyarakat di lingkungan
tempat tinggal dapat berkontribusi pada kinerja rendah
siswa di sekolah. Jadi, meskipun orang tua dan masyarakat
sangat termotivasi untuk mengirim anaknya ke bangku
sekolah, mereka jarang memiliki akses ke nasihat khusus
misalkan dalam memilih jurusan yang dibutuhkan siswa
untuk menavigasi pengalaman secara paling efektif.

142

Kesimpulan: Manusia memang terlahir tanpa

mengetahui apapun, bagaimana nantinya kertas tersebut

akan diisi tergantung dari pendidikan-pendidikan dan

pengalaman yang akan terjadi di hidupnya. Pendidikan

semasa anak masih berusia awal akan sangat penting demi

terbentuknya dasar kepribadian anak. Peran keluarga dalam

mendidik anak baik secara sosiologis, psikologis maupun

agamis adalah sangat besar. Namun demikian, peranan

tersebut belum banyak dapat difungsikan oleh banyak

keluarga sehingga masih banyak didapati berbagai masalah

pelaksanaan pendidikan di Iingkungan keluarga baik dan

sesuai dengan yang berkaitan dengan kenakalan anak,

kelemahan kemampuan mendidik dan berkomunikasi

dengan anak. Agar pendidikan keluarga bisa efektif, perlu

upaya peningkatan harmonisasi keluarga, penambahan

wawasan kependidikan, peningkatan kemampuan keluarga

dalam mengatasi masalah atau konflik, dan kemampuan

menyampaikan pesan yang diterima anak. Orang tua dan

masyarakat di lingkungan tempat tinggal anak sangat

berpengaruh pada keberhasilan pendidikan anak. Hal

tersebut dikarenakan semakin tinggi pendidikan di

masyarakat tersebut, maka semakin tinggi kesadaran

mereka akan pentingnya pendidikan anak. Seorang anak

yang hidup dalam lingkungan masyarakat berpendidikan

tinggi memiliki posisi yang lebih baik untuk mengakses dan

memobilisasi informasi yang relevan untuk pencapaian

gelar yang sukses. Informasi dan pengetahuan tentang

bahan pelajaran, persiapan ujian, menghadapi tantangan

akademik memainkan peran penting dalam menentukan

keberhasilan.

C. Problem Solving Bagi Pendidikan Anak, Keluarga, dan

Masyarakat Melalui Metode Pendidikan Nilai Agama
Problem solving atau pemecahan masalah adalah suatu

metode yang paling luas dan relevan dalam penawaran
alternatif solusi masalah. Dalam hal ini pendidikan perihal
akhlak yang terlebih dahulu terintegrasi dengan nuansa akhlak

143

menjadi sebuah kunci bagi pemecahan masalah yang nyata.
Hati nurani moral mengacu pada seperangkat struktur kognitif
dan prinsip-prinsip intelektual yang didukung oleh keadaan
afektif-motivasi yaang memungkinkan kita untuk membedakan
antara yang benar dan yang salah dan menjamin penggunaan
yang benar dalam kaitanya dengan diri sendiri dan orang lain
dari kebebasan bertindak manusia subjek (Stan, C., 2001).
Dengan adanya metode maka garis besar permasalahan dan
perihal potensi masalah menjadi meniliki gambaran atau
setidaknya hipotesa penyelesaian secara tepat. perlunya
pendidikan akhlak yang tidak boleh dilepaskan dalam
pendidikan lainnya karena aspek yang fundamental
membentuk kegiatan pembelajaran yang seharusnya. Dan
perlunya peran aktif dalam berbagai pihak perihal kepentingan
akhlak sebagai main aspek pendidikan.

Menurut bahasa (etimologi) akhlak adalah bentuk jamak
dari khuluq yang berarti budi pekerti, tingkah laku, perangai,
atau tabiat. Akhlak disamakan dengan sopan santun dan
kebiasaan. Jadi, akhlak merupakan suatu sifat yang telah
tertanam dalam jiwa seseorang dan menjadi kepribadian. Kata
“akhlak‖ ini lebih luas artinya daripada etika/moral yang
sering dipakai dalam bahasa indonesia sebab ‖akhlak‖ meliputi
segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahir dan batin seseorang.
(M. Yatimin Abdullah, 2007) Dari definisi tersebut, maka dapat
dijelaskan bahwa akhlak merupakan tingkah laku seseorang
yang dapat menimbulkan kebaikan dan keburukan. Pada
dasarnya, tujuan utama akhlak ialah agar setiap peserta didik
bertingkah laku dan berperangai yang baik sesuai dengan
ajaran masing masing. Maka jelas sekali bahwa tujuan akhlak
adalah untuk menjadikan setiap peserta didik memiliki budi
pekerti serta tingkah laku yang sesuai dengan ajaran dan selalu
mengharap ridha dari Allah SWT. (Rosihan Anwar,2011)

144

1. Pembagian Akhlak (Beni Ahmad Saebani,2013)
a. Berdasarkan sifatnya, akhlak terbagi menjadi dua bagian:
1) Akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak
karimah (akhlak yang mulia).
2) Akhlak mazhmumah (akhlak tercela) atau akhlak
sayyi‟ah (akhlak yang jelek).

b. Berdasar objeknya, akhlak dibedakan menjadi dua :
1) Akhlak kepada khalik (Allah)
2) Akhlak kepada makhluk, yang terbagi menjadi :
a) Akhlak terhadap Rosulullah
b) Akhlak terhadap keluarga,
c) Akhlak terhadap diri sendiri,
d) Akhlak terhadap sesama/orang lain
e) Akhlak terhadap lingkungan alam

Terdapat tiga poin pokok yang akan dibahas yakni
permasalahan pendidikan anak, permasalahan pendidikan
orang tua, dan pemberdayaan pendidikan masyarakat. Edukasi
anak yang secara langsung menggambarkan situasi dalam
keluarga yang mana dalam sebuah ruang lingkup pendidikan
menjadi tendensi gagalnya relasi antara guru dengan wali
murid. Wali murid dalam hal ini membawa implikasi terhadap
penekanan kognitif, psikomotorik, dan afektif namun seringkali
lupa dengan faktor yang ternyata juga sangat fundamental
yakni akhlak. Masalah pokok lainnya adalah pendidikan
keluarga meliputi faktor ekonomi, starta pendidikan, dan
penguasaan terhadap teknologi juga masalah pokok dalam
pemberdayaan masyarakat berupa komite sekolah jarang diajak
dalam diskusi prihal perkembangan anak. Mengacu terhadap
yang dikatakan oleh Stan, moral dengan hubungannya berupa
kognitif yang didukung afektif-motivasi yang memungkinkan
antara aspek benar atau salah menjadikan tenaga kognitif itu
sendiri dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dalam ranah
pendidikan secara garis besar serta pendapat stan dapat
dijadikan sebagai acuan yang mengacu pada skala mayor

145

dalam penggunaan akhlak sebagai model penyelesaian
masalah pendidikan dengan menjadikan sumberdaya
perangkat pendidik dan siswa-siswi ssebagai indikasi di
dalamnya yang mampu memicu masalah dan memecahkan
masalah berdasarkan aspek kematangan akhlak.

D. Permasalahan Pendidikan Anak – Problem Solving
Permasalahan
Kurangnya kerjasama antara sekolah dan orangtua,
Sekolah dan keluarga adalah agen penting untuk sosialisasi
siswa dalam arti bahwa mereka memainkan peran integral
dalam mempromosikan pembelajaran dan perkembangan
siswa di sekolah (Teori Epstein) Penekanan pembelajaran
hanya berdasarkann kognitif, psikomotorik dan afektif semata.
Dalam hal ini faktornya adalah komunikasi yang tidak berjalan
dengan baik antar kedua komponen penting tersebut dan
penekan atau empasis yang kurang korelatif antara yang
disampaikan guru dengan kebutuhan pendidikan siswa, salah
satunya kebutuhan akan akhlak.

Bagan i. Problem Solving Kerjasama orang tua dan Guru
melalui Anak – dengan akhlak (Aisyah Dahlan,1969:21-22)

Penyelesaian sesuai dengan masalah yang dapaat
ditawarkan terhadap permasalahan tersebut adalah
komunikasi intensif antara orangtua dan guru dalam
pembelajaran siswa yang mana pedoman dalam penyelesaian
masalah tersebut adalah akhlak, dalam hal ini perlunya
kerjasama yang harus terjalin antara pendidik dengan orangtua

146

siswa dengan orangtua siswa melaporkan keluhan anak, dan
memberikan report berupa penilaian akhlak sebagai gambaran
kepribadian siswa di sekolah. Namun dalam hal
penanggulangan asesmen buruk orang tua perlu aktif dalam
memberikan informaasi prihal management yang tepat kepada
pendidik. (Hal ini mengacu pada Teori empiris Epstein).
Kemudian solusi yang bisa ditawarkan adalah orangtua
menciptakan lingkungan semacam mungkin untuk
menentramkan hati anak supaya keadaan dalam keluarga
mencapai ketenangan dan ketentraman yang dapat membantu
perkembangan anak, menurut (Aisyah Dahlan, 1969:21-22)
maka kewajiban yang harus dilakukan oleh orangtua terhadap
anak-anaknya adalah sebagai berikut 1) Adanya cinta kasih
dan disiplin, 2) Mengajarkan dan pengalaman agama, 3)
Membiasakan dan menjaga kesehatan, 4) Berbuat baik sesama
manusia dan saling menolong, 5) Memberikan keteladanan
yang baik

Melalui komunikasi keluarga dengan anak, maka anak
dapat menjelaskan bagaimana perlakuan yang diberikan
keluarga sehingga guru dapat memperlakukan sebagaimana
orangtua memperlakukan anak sehingga ini baik bagi
perkembangan anak dan begitupun orang tua akan mampu
mengenali Pendidikan dalam segi karakter yang diberikan oleh
guru melalui si anak. Sehingga melalui seorang anak, tingah
lakunya orangtua dan guru bisa saling dikomunikasikan.

1. Permasalahan Pendidikan Keluarga - Problem Solving
Permasalahan
Permasalahan selanjutnya yakni pendidikan orangtua
yang rendah, faktor ekonomi, dan penguasaan terhadap
teknologi. (Camoy dan Levin, 1985) mengedepankan
pandangan bahwa pendidikan dapat mendobrak hambatan
dan menyediakan mobilitas ke atas bagi mereka yang
kurang beruntung. Ini menjadikan indikasi bahwasanya
ekonomi sangat mendominasi kesejahteraan yang dirasakan
anak dalam pendidikannya anak dapat merasakan
pendidikan, melanjutkan pendidikan atau tidak tergantung

147

pada faktor ini. Tentu saja kaitannya ini dengan ekonomi
menjadikan permasalahan yang lebih meluas yakni perihal
orangtua dengan ekonomi yang lemah tidak dapat
memberikan kualitas terhadap pendidikan selanjutnya
yakni pendidikan anak. Yang dalam permasalahan
sebelumnya adalah seseorang atau orangtua tidak dapat
meneruskan pendidikannya dan hanya menjalankan
pendidikan rendah. Kemudian Pemberdayaan masyarakat
yang mengalami gangguan teknologi juga kurang perhatian
dan sensitive terhadap anak-anak selain itu paparan Bahasa
yang buruk selama penggunaan media dapat meningkatkan
resiko anak-anak membuat ekspresi dan prilaku social yang
salah dikemudian hari (Wong,et.2020).

Perlu untuk mempertimbangkan bahwa orangtua
yang berusia di atas 50 tahun memiliki kemungkinan yang
lebih kecil untuk menyesuaikan gaya hidup mereka dengan
teknologi baru yang lebih kompleks untuk dipahami oleh
lingkungan anak mereka dengan lebih sedikit peluang
percakapan dan alat netralisasi efek negatif dari budaya
teknologi baru yang membenarkan masyarakat saat ini.
(Diazgranadoa, 2007). Terlepas dari kondisi apapun ini
memberikan premis bahwa orang yang adaa dalam usia tua
sudah tidak mampu lagi produktif padahal di usia tua ia
seringkali masih dibutuhkan oleh anak atau mungkin
cucunya dan ada pada suatu kondisi dimana ia tetap harus
menjalani produktifitasnya meskipun tidak lagi produktif.

Bagan ii. Problem Solving Pendidikan Keluarga dalam
Aspek Pendidikan Akhlak (Djuju Sujana, 1996:25)

148


Click to View FlipBook Version