ii TIM PENYUSUN Penulis: Mahasiswa Sastra Indonesia A 2021 Layout: Ananda Cika R. & Yona Elya Cover: Yona Elya Penyunting: Ananda Cika R. & Yona Elya
iii KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat juga hidayah-Nya serta memberikan kelancaran dan kemudahan kepada kami untuk menyelesaikan kumpulan esai ini dengan tuntas, yang kami beri judul ―Apresiasi Sastra melalui Semiotika‖. Kumpulan esai ini telah penulis susun sedemikian rupa dengan maksimal beserta referensi dan bacaan dari berbagai sumber sehingga memperlancar pembuatan kumpulan esai kami. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada referensi dan sumber yang membantu serta pembaca yang telah membaca kumpulan esai kami. Kumpulan esai ini disusun sebagai tugas dalam Ujian Akhir Semester (UAS) dari mata kuliah Semiotika yang diampu oleh dosen kami Prof. Dr. Drs. Suroso M.Pd. Dengan tujuan untuk membahas apresiasi sastra melalui kajian Semiotika. Untuk itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu kami yang telah memberikan arahan dan bimbingannya dalam menyelesaikan kumpulan esai ini. Dengan adanya kumpulan esai ini kami mendapatkan banyak ilmu tambahan juga dapat mengaplikasikan pembelajaran dari mata kuliah tersebut yang dituangkan dalam kumpulan esai ini.
iv Kami menyadari bahwa kumpulan esai ini penuh akan kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga dengan adanya kumpulan esai ini dapat memberikan kontribusi dan wawasan baru bagi pembaca maupun dalam dunia kesastraan, serta menambah referensi baru untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Kami berharap penelitian dari kumpulan esai ini dapat bertahan dan dilanjutkan oleh generasi di masa mendatang. Yogyakarta, 17 Desember 2023 Sastra Indonesia A
v DAFTAR ISI SEMIOTIKA DALAM CERPEN.............................................1 Pemaknaan, Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen "Sepatu Kulit Ular" Karya Seno Gumira Ajidarma ............................2 Ikon, Simbol, dan Indeks dalam Cerpen Dilalap dalam Lelap Karya Miranda Seftiana.............................................10 Citra Perempuan sebagai Kanca Winking dalam Cerpen ―Seorang Perempuan dari Sungai Nipah‖ ...........................17 Representasi Zaman Komunis dalam Cerpen ―Meruwat Kakung‖ Karya Ikrom Rifa'i ...............................................27 Citra Wanita Tokoh Nania dalam Cerpen ―Cinta Laki-Laki Biasa‖ Karya Asma Nadia...................................................34 Analisis Semiotika Ikon dan Indeks Cerpen Mencari Seikat Serunikarya Leila S. Chudori ..............................................44 Representasi Kekuasaan dalam Cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖..................................................................................55 Representasi Dua Budaya Melalui Penamaan Tokoh.........67 Citra Pemimpin dalam Cerpen ―Kota Kami‖ Karya Ilham Wahyudi ..............................................................................76 Citra Tokoh dalam Cerpen ―Saksi Mata‖ sebagai Representasi Kebebasan Berpendapat dan Penegakan Keadilan di Indonesia ..........................................................85 Analisis Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Nyai Sobir Karya A. Musthofa Bisri ...................................................100
vi Essay Bentuk Ikon yang Terdapat dalam Cerpen ―Anak Mercusuar‖ Karya Masdhar Zainal ...................................107 Impian Surga dalam Gorokan Kakek pada Lehernya (Citra Lansia yang Taat Ibadah pada Tokoh Kakek di ‖Robohnya Surau Kami‖).....................................................................111 Analisis Ikon dalam Cerpen ―Antara Desa dan Kota‖ Karya Baron Yudo Negoro ..........................................................120 Tragedi Timor-Timur dalam Cerpen Ze Akan Mati Ditembak Karya Helvy Tiana Rosa: Kajian Semiotika Sanders Pierce ...................................................................130 Eksistensi Citra Laki-Laki dalam Cerpen ―Lelaki yang Menderita Bila Dipuji‖ Karya Ahmad Tohari: Kajian Semiotika...........................................................................140 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Menunggu LayangLayang Karya Dee Lestari.................................................147 Citra Sifon dalam Cerpen ―Cumbu Ular‖ Karya Risda Nur Widia .................................................................................158 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen "Empat Puluh Hari Sebelum Mati"...................................................................163 Ikon, Indeks, dan Simbol pada Cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ Karya Mashdar Zainal.............................................173 Representasi Kelas Sosial dalam Cerpen ―Sagra‖ Karya Oka Rusmini .............................................................................184 Kelas Sosial dalam Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono: Kajian Semiotika .......................197 Refleksi Permasalahan Ekonomi pada Tanda Ikon dan Indeks dalam Cerpen Anak Wandu Karya Puspa Seruni...204
vii Citra Anak Jalanan dalam Cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ Karya Ahmad Tohari .....................212 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita tentang Lidah Karya Guntur Alam.................................................223 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Teks Cerpen Jawaban Alina Karya Seno Gumira Ajidarma ...........................................231 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Celurit di Atas Kuburan.............................................................................237 Citra Anak Sulung dalam Cerpen ―Paman Gordi‖ Karya Yoga Zen ...........................................................................246 SEMIOTIKA DALAM PUISI.....................................................257 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Puisi Sia-Sia Karya Chairil Anwar................................................................................258 Pencarian Entitas Diri dalam ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ Karya Sapardi Djoko Damono............................264 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar....................................................................275 Unsur Simbolik pada Puisi ―Kepada Hawa‖ Karya Aan Mansyur.............................................................................281 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Puisi ―Jendela Ibu‖ Karya Joko Pinurbo......................................................................288 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Puisi "Dalam Mata Ibu" Karya Komang Ira .............................................................297 Makna Simbolik dalam Puisi ―Tidak Ada New York Hari Ini‖ Karya M Aan Mansyur...............................................302 Metafora dan Makna dalam Puisi ―Kau Pun Tahu‖ Karya Acep Zamzam Noor ..........................................................310
viii Analisis Ikon, Indeks dan Simbol Dalam Puisi Tahanan Karya W.S Rendra..............................................316 Simbol Perjalanan Hidup dalam Puisi Derai.....................319 Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Puisi ―Ciliwung yang Manis‖ Karya W.S. Rendra ...............................................324 Metafora dalam Puisi "Hanya" Karya Sapardi Djoko Damono .............................................................................332 SEMIOTIKA DALAM LAGU....................................................338 Representasi Elegi dalam Lirik Lagu Biru Karya Aryo Bimo ...........................................................................................339 Kajian Semiotika terhadap Makna Gila dalam Lirik Lagu Rayuan Perempuan Gila Karya Nadin Amizah ................347 Interprestasi Lirik Lagu ―Rona Merah Langit‖ Karya Kunto Aji dalam Album Pengantar Purifikasi Pikir: Kajian Semiotika Michael Riffaterre ............................................356
SEMIOTIKA DALAM CERPEN
2 PEMAKNAAN, IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN "SEPATU KULIT ULAR" KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Ananda Cika Rahmadany | 21210141001 PENDAHULUAN Karya sastra ditulis oleh pengarang belum mempunyai makna dan belum menjadi objek estetik, bila belum diberi arti oleh masyarakat pembacanya (Pradopo, 1995: 106). Oleh karena itu, sebuah karya sastra, baik prosa, maupun puisi baru dapat mempunyai makna dan menjadi objek estetik bila telah diberi makna oleh masyarakat pembacanya. Untuk memberi makna terhadap karya sastra harus terikat pada teks karya sastra sebagai sistem tanda yang mempunyai konvensi sendiri berdasarkan hakikat karya sastra. Berdasarkan hal tersebut, untuk dapat menangkap hakikat karya sastra, diperlukan cara-cara yang sesuai dengan sifat hakikat karya sastra. Dalam karya sastra, bahasa disesuaikan dengan sistem dan konvensi sastra. Karya sastra yang berbentuk puisi, misalnya, mempunyai konvensi sastra yang berbeda dengan prosa. Konvensi itu mempunyai arti tambahan kepada arti bahasa. Dalam bidang sastra, semiotic mengkaji tanda-tanda berupa bahasa yang muncul dalam suatu karya. Karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan, dan keinginan pengarang lewat bahasa. Pengarang sebagai seorang pelaku bahasa, kerap menyediakan tanda-tanda untuk bisa ditafsirkan oleh pembaca. Bahasa itu sendiri tidak sembarang bahasa, melainkan bahasa yang khas yakni bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik (Endraswara, 2008: 63).
3 Seno sendiri selalu menghadirkan berbagai cerpen dengan cerita sederhana dan mudah dicerna namun penuh makna. Tak luput pada cerpen Sepatu Kulit Ular. Cerpen ini berkisah tentang sang tokoh ‗aku‘ yang memiliki kekaguman kepada seorang wanita dengan sepatu kulit ular berwarna merah. Tanpa mengetahui atau bahkan melihat wajah wanita tersebut tokoh ‗aku‘ sudah sangat tertarik dengannya. Tampak dari bagaimana tokoh ‗aku‘ selalu melontarkan pujian pada wanita itu. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari cerpen Sepatu Kulit Ular tokoh ‗aku‘ tampak asik berkhayal akan wanita tersebut. Seperti takdir pula sang tokoh ‗aku‘ tak dapat melihat bagaimana rupa wanita itu entah karena ramainya tempat ia bertemu wanita sepatu kulit ular atau karena sedang berbicara dengan orang lain. Pada akhir cerita pun pembaca tampak digantungkan oleh Seno karena tak dijelaskan bagaimana rupa wanita itu atau apa yang selanjutnya terjadi. Seno tampaknya ingin melepaskan akhir cerpen sepenuhnya kepada pembaca. Seno secara apik mendeskripsikan wanita bersepatu kulit ular tersebut. Secara kolektif ia membawa pembaca penasaran dan menerka tanpa tahu pasti bagaimana sifat sebenarnya dari wanita sepatu kulit ular. Tampak pada gaya bahasa dan pemilihan simbolsimbol seni yang digunakan Seno untuk mendeskripsikan wanita kulit ular tersebut. Pembaca pun tanpa sadar terhanyut akan pemilihan diksi juga simbol seni yang terlihat begitu menarik. Pemaknaan : Gaya Bahasa Dalam cerpennya ini Seno banyak menggunakan perumpamaan pada setiap kalimatnya. Ia menekankan pada permisalan yang membandingkan suatu deskripsi dengan deskripsi lainnya. Selain itu ditemukan juga pengulangan kata untuk menekankan dan memperindah situasi. Kalimat retoris banyak pula digunakan Seno yang mendapatkan nilai seni lebih. Pada paragraf pertama misalnya ditemukan beberapa pengulangan seperti kata lambat, indah, perkasa, juga otot biru. Yang
4 semata-mata digunakan untuk memperindah suatu paragraf. Dimana kata lambat pada paragraf di bawah diulang hingga tiga kali hingga pesan tersebut tersampai secara indah yaitu pesan bagaimana lambatnya kilasan memori tersebut walaupun pada kenyataannya itu berlalu dengan cepat. Begitu pula dengan pengulangan kaki yang putih mulus, indah, dan perkasa juga otot yang tampak biru terulang pada awal dan akhir paragraf yang ditujukan untuk menekankan bahwa kaki tersebut memanglah indah dan menarik sekaligus memperindah bacaan pada paragraf tersebut. Beberapa pengulangan kata selain digunakan untuk memperindah paragraf juga digunakan untuk menunjukkan makna kebingungan tokoh ‗aku‘ maupun menghiperbolakan keadaan atau situasi tokoh ‗aku‘ saat itu. Agar pembaca bisa lebih merasakan perasaan tokoh ‗aku‘ terutama kekagumannya terhadap wanita yang memiliki sepatu kulit ular tersebut. Seno juga banyak menggunakan kalimat perumpamaan atau pengandaian. Perumpamaan ini banyak digunakan Seno untuk menggambarkan atau mendeskripsikan sang wanita sepatu kulit ular tersebut. Penggambaran dilakukan menggunakan gaya bahasa yang indah. Seperti pada paragraf dibawah ia mengumpamakan wanita tersebut seperti ular yang sedang menggoda mangsanya. Sangat berbahaya tetapi sungguh menarik perhatian. Dengan gaya bahasa ini pembaca juga seolah-olah terhipnotis dengan wanita bersepatu kulit ular. Apakah ia seperti berkata, "Datanglah padaku, biar kubelit dirimu seperti ular membelit mangsa, biar kuremukkan tulang-tulangmu dan kutelan hidup-hidup dirimu itu. Datang, datanglah padaku, biar kubelit dirimu dengan kenikmatan yang begitu membahagiakan sehingga dikau tidak akan menyesal membayarnya dengan kematian....‖ ……Sepasang kaki yang indah, kuat dan perkasa, bagaikan selalu siap menjepit kita, dengan jepitan yang begitu kuat, sampai kita bisa meninggal dunia. Sepasang kaki yang itu, yang itu-itu juga, dengan betis berbulu tipis yang seperti selalu minta dielus–sepasang kaki siapakah itu?
5 Kalimat retoris juga banyak ditemukan di cerpen ini. Seperti pada paragraf di bawah kalimat yang tidak memerlukan jawaban tersebut dilakukan untuk memperindah dan memperkuat bahwa sang tokoh ‗aku‘ sedang berkhayal dan berandai-andai tentang wanita bersepatu kulit ular. Seno juga menambahkan kalimat retoris sebagai penguat terkaan tokoh ‗aku‘ terhadap wanita sepatu kulit ular tersebut. Pertanyaan retoris ini muncul sebagai isi pikiran atau batin tokoh ‗aku‘ dalam upayanya memahami wanita sepatu kulit ular. Pertanyaan yang muncul berulang ini juga mendapatkan nilai seni dimana dengan adanya pertanyaan ini pembaca bisa merasakan rasa penasaran tokoh ‗aku‘ yang dibungkus secara apik. Kepribadian macam apa? Kalimat retoris juga ditemukan dalam pertanyaan batin tokoh ‗aku‘. Pertanyaan batin tersebut berfungsi untuk memperindah situasi pengandaian tokoh ‗aku‘ juga mempertegas bagaimana tokoh ‗aku‘ berkhayal tentang wanita sepatu kulit ular. Bagaimana tokoh aku membayangkan kemungkinan yang mungkin terjadi pada wanita kulit ular. Bagaimana kita harus menafsirkannya? Apakah kita boleh menafsirkannya seperti ular di taman firdaus yang menggoda? Kalimat retoris juga ditemukan sebagai kalimat yang mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam agar penyampaian kebingungan tokoh ‗aku‘ juga dirasakan para pembaca. Ikon : Wanita Pada cerpen ini jelas sekali Seno menjadikan wanita sebagai ikon untuk cerrpennya. Ia menyimbolkan wanita sepatu kulit ular sebagai wanita yang sangat menarik. Wanita sebagai kubu ketertarikan sang tokoh ‗aku‘ dalam cerpen ini.
6 Indeks : Sepatu Kulit Ular Bersambung dari sebelumnya daya tarik wanita tersebut dari sepatu kulit ularnya yang sebelumnya telah dijelaskan. Sepatu kulit ular mempunyai banyak makna simbol yang secara implisit disampaikan Seno. Simbol : Seni Simbol seni banyak digunakan Seno untuk memperkuat fakta bagaimana menariknya wanita yang memakai sepatu kulit ular tersebut. Simbol seni juga difungsikan untuk mempermudah pembaca membayangkan betapa indahnya wanita kulit ular dengan simbol seni yang ada. Dengan cerpennya ini Seno seperti menggambarkan pemikiran seorang seniman yang sedang berandaiandai. Simbol seni itu dapat dibagi menjadi beberapa yang memiliki artinya masing-masing. Seperti simbol seni ular, jaguar, dan juga warna merah. Simbol seni yang pertama dilambangkan dengan ular. Seno menggambarkan wanita tersebut seperti ular yang menantang. Bagaimana wanita tersebut berhasil menarik perhatian tokoh ‗aku‘ dengan perumpamaan seperti ular yang membelit. Yaitu sangat menarik walaupun berbahaya. Seno memilih ular sebagai simbol wanita yang menarik tersebut. Karena dalam karya seni ular juga terkenal dengan sifatnya yang berbahaya misterius namun dilain sisi juga menarik. Pada mitologi Yunani misalnya simbol ular juga tidak luput akan keindahan yang berbahaya. Contohnya pada cerita Medusa dengan rambutnya yang terkenal tersusun atas ular. Dimana setiap orang yang menatapnya akan menjadi batu. Medusa sendiri adalah salah satu dari tiga Gorgon Mitologi Yunani, putri Phorcys dan Keto. Tidak seperti saudara perempuannya Stheno dan Euryale, Medusa— yang namanya berarti ratu, atau penguasa—adalah fana. Dalam versi mitos yang paling umum, Medusa yang awalnya cantik dirayu atau
7 diperkosa oleh dewa Poseidon dalam bentuk kuda, di salah satu kuil Athena. Akibatnya, dia mengandung dua anak laki-laki, tetapi gagal melahirkan mereka. Athena menghukum penistaan dengan mengubah rambut Medusa menjadi ular mendesis yang menakutkan: Siapa pun yang menatapnya akan membatu. Seno juga menggambarkan simbol ularnya sebagai keindahan yang berbahaya. Bagaimanakah kita harus menafsirkannya? Apakah kita boleh menafsirkannya seperti ular di taman firdaus yang menggoda? Ular di taman firdaus berwarna merah, turun ke bumi dengan tekad menggoda. Menggoda dengan pesona, pesona kaki yang membelit, belitan ular yang membunuh dan melenyapkan kita ke dalam perutnya. ……karena dari suaranya terbayangkan tenggorokan yang dalam, sedalam-dalamnya tenggorokan, yang seolah-olah bisa menelan segalanya seperti seekor ular…. Selain simbol ular Seno juga menggunakan simbol seni yaitu warna merah. Warna merah dalam perspektif seni menggambarkan karakter yang kuat, energik, agresif, juga berbahaya. Seno juga mengartikan warna tersebut untuk menggambarkan sang wanita. Dimana wanita ini memiliki kepribadian yang menantang hingga membuat tokoh ‗aku‘ penasaran dan juga banyak berandai-andai. Seperti pada kutipan paragraf dibawah ini misalnya. …..Ramping dan berisi, melangkah dengan yakin, dan masih tetap menjanjikan belitan luar biasa dari seekor ular yang berwarna merah seperti merahnya lampu-lampu rumah bordil itu. …..Tidak ada ular sawah berwarna merah, jadi warna merahnya datang dari cat. Sepatu kulit ular itu dicat warna merah karena warna itu sangat mencolok dan menantang.
8 Mereka yang membeli dan mengenakan sepatu itu seperti mengirimkan pesan dengan kata-kata kepada pemilik mata yang melihatnya. ―Lihat, lihatlah aku, aku mengenakan sepatu kulit ular warna merah yang menantang pandanganmu. Tataplah sepatu kulit ular warna merah ini, tafsirkanlah maknanya, dan tafsirkanlah diriku.‖ Seno menggambarkan wanita sepatu kulit ular juga melalui simbol seni jaguar. Dimana karakter jaguar terkenal akan kecepatannya ketika akan menerkam mangsanya. Dengan arti ini Seno menggambarkan bahwa wanita tersebut memiliki sifat yang sama terutama kegesitannya yang digambarkan dengan jaguar. Penggambaran ini juga memberikan nilai seni karena secara tidak langsung pembaca membayangkan bagaimana gesitnya jaguar tersebut. Dengan paragraf tersebut secara tidak langsung Seno mengajak pembaca untuk membayangkan bagaimana karakter seorang jaguar. Karakter jaguar tersebut juga menjadi bagian dari penceritaan sang tokoh wanita. Secara tidak langsung sang wanita digambarkan dengan menarik dan berbeda dari cerita biasanya. SIMPULAN Seno banyak menggunakan simbol seni seperti warna dan bentuk yang memiliki arti dan definisinya masing-masing, juga banyak menggunakan perumpamaan pada setiap kalimatnya. Ia menekankan pada permisalan yang membandingkan suatu deskripsi dengan deskripsi lainnya. Selain itu ditemukan juga pengulangan kata untuk menekankan dan memperindah situasi. Kalimat retoris banyak pula digunakan Seno yang mendapatkan nilai seni lebih. Simbol seni banyak digunakan Seno untuk memperkuat fakta
9 bagaimana menariknya wanita yang memakai sepatu kulit ular tersebut. Simbol seni juga difungsikan untuk mempermudah pembaca membayangkan betapa indahnya wanita kulit ular dengan simbol seni yang ada. Dengan cerpennya ini Seno seperti menggambarkan pemikiran seorang seniman yang sedang berandaiandai. Simbol seni itu dapat dibagi menjadi beberapa yang memiliki artinya masing-masing. Seperti simbol seni ular, jaguar, dan juga warna merah. DAFTAR PUSTAKA Ajidarma, Seno Gumira. (2019). Transit. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama. Sherinklak. (2018). Apa Arti Warna Merah dalam Lukisan. Diakses pada 14 Desember 2023, dari https://www.dictio.id/t/apaarti-warna-merah-dalam-lukisan/23005, Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Prinsip-prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Setia, Budi, Prihadi., Firmansyah, Dida. 2019. Analisis Semiotika Pada Puisi ―Barangkali Karena Bulan‖ Karya WS. Rendra. Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 2 (2), 269-271.
10 IKON, SIMBOL, DAN INDEKS DALAM CERPEN DILALAP DALAM LELAP KARYA MIRANDA SEFTIANA Anggraeni Sekar Pangestu | 21210141002 PENDAHULUAN Karya sastra digunakan pengarang untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada pembacanya. Ide atau gagasan tersebut dapat berupa kritik sosial, politik, budaya, nilai-nilai moral maupun permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Wicaksono (2017:4) bahwa karya sastra merupakan ungkapan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, tentang makna hidup dan kehidupan, penderitaanpenderitaan manusia, dan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya, pengarang menggunkan bahasa sebagai alat mediumnya. Cerpen merupakan salah satubentuk prosa fiksi, dalam proses penciptaanya dapat melalui peng-imajinasian yangdiuraikan dalam penandaan berupa ikon, indek dan simbol dalam penceritaannya. Ikon, indek, dan simbol dalam cerita yang disajikan tersebut biasanya terdapat makna-makna yang tersembunyi. Sehingga untuk menangkap atau memahami makna tersembunyi dalam cerpen haruslah dianalisis dengan menggunakan metode semiotik. Ikon atau icon merupakan tanda yang mirip dengan objek yang mewakilinya. Ikon dapat dikatakan sebagai tanda yang memiliki ciri-ciri yang sama denga napa yang dimaksudakan. Ikon tidak hanya berupa gambar yang disederhanakan tetapi setiap gambar memiliki objek yang direpresentasikan. Ikon biasanya bersifat denotative. Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab-
11 akibat dengan apa yang diwakilinya, atau disebut juga tanda sebagai bukti. Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan, perjanjian yang telah disepakati bersama. Simbol biasanya bersifat konotatif. Makna yang muncul dalam simbol memerlukan kesepakatan bersama. Analisis ini Cerpen yangberjudul ―Dilalap dalam Lelap‖ karya Miranda Seftiana ini menceritakan tentang pembakaran hutan secara besarbesaran. Pembakaran besar-besaran ini dipersiapkan untuk membuka lahan baru agar dapat ditanami pohon sawit. Cerpen ini juga menceritakan bagaimana seekor Orang Utan bersama Umanya mencoba untuk bertahan hidup. Diceritakan juga bahwa Abahnya meninggal karena terpanggang oleh bakaran hutan. Akhibat pembakaran tersebut, banyak makhluk hidup yang harus mati karena terpanggang atau tersumbatnya saluran pernapasan oleh asap yang mengepul. Dan di akhir cerita, Umanya harus mati karena pembakaran hutan besar-besaran ini. Dan yang dimaksud dengan ―Dilalap dalam Lelap‖ adalah ketika Umanya mati ketika masih tertidur. Akibat dari pembakaran hutan secara besar-besaran tersebut hanya menyisakan beberapa Orang Utan saja. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Ikon “Cuih!” Aku meludah berkali-kali, berusaha memusnahkan rasa getir dilidah. Kutipan di atas menunjukkan adanya ikon dalam cerpen yang berjudul ―Dilalap dalam Lelap‖, yaitu pada kata ―Cuih!‖ yang menggambarkan ekspresi tidak enak di lidah, seperti keasaman, kepahitan, keasinan, dan lain sebagainya.
12 Ketika aku bertanya seperti apa rupa Abah, Uma akan lekas-lekas menudingkan telunjuk ke arah sebatang pohon enau yang paling kokoh dan lebat ijuknya. Abahmu itu serupa batang enau. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa Abah diindikasikan sebagai pohon enau yang kokoh, adil dan kuat. Abah merupakan seorang kepala keluarga yang biasanya dikaitkan dengan pahlawan, sehingga haruslah ia memiliki sifat adil, dan kuat agar dapat melindungi seluruh keluarganya. Beberapa pasang mata menatap kami yang sedang membasuh tangan dari getah anggrek tawa-tawa. Kutipan tersebut juga menunjukkan adanya ikon yang terletak pada kalimat ―Beberapa pasang mata‖ yang dapat dimaknai sebagai ada banyak orang yang berada di sana atau lebih tepatnya sedang menatap ke arahnya. Mata mereka memicing tajam. Kutipan tersebut menunjukkan adanya ikon pada kalimat ―memicing tajam‖, hal ini dapat diartikan bahwa mereka menatap dengan tatapan yang tajam, yang mana tatapan tajam dapat diindikasikan dengan rasa marah, kesal atau ketegangan. “Pembakar jahanam!” umpatku pada siapapun yang melenyapkan api di hutan adat ini. Kalimat di atas menunjukkan adanya bentuk ikon yang terletak pada kata ―jahanam‖. Kata jahanam tersebut dapat diindikasikan dengan kejahatan. Sehingga dalam kalimat tersebut, jahanam merujuk pada sekelompok orang yang suka membakar hutan dan menyebabkan banyak makhluk hidup yang mati terpanggang. Dengan demikian, kata ―pembakar jahanam‖ merupakan ikon sekelopok orang yang sering membakar hutan secara besarbesaran. Ia betina yang cerdas dan cermat. Kutipan di atas menunjukkan bahwa kata ―betina‖ dalam kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai mahkluk yang cerdas dan
13 cermat. Dengan demikian, betina atau wanita merupakan simbol atau ikon cerdas dan cermat. Kadang kala berandai-andai juga bagaimana nasib kami jika Abah masih ada? Tentu tak semuram saat ini. Kutipan di atas menunjukkan bahwa kata ―semuram‖ dapat diindikasikan dengan suasana kesedihan. Kesedihan tersebut dikarenaka ia sudah ditinggalkan ayahnya meninggal dunia dan kesedihan atas nasibnya yang kurang menyenangkan. B. Indeks Sementara kini kemarau terasa lebih panjang, ditandai dengan rawa yang kering kerontang. Kutipan tersebut menunjukkan adanya indeks dalam cerpen yang berjudul ―Dilalap dalam Lelap‖. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya hubungan sebab-akibat, yang mana dalam kutipan tersebut rawa yang kering kerontang tersebut akibat dari kemarau yang panjang. “Lalu mengapa Uma memintaku mencoba?” “Karena kau perlu tahu cara mengolah bongkol anggrek ini agar bisa menjadi obat.” Kutipan di atas juga menunjukkan adanya hubungan sebabakibat yang mana Uma memintaku mencoba supaya aku bisa mengetahui bagaimana cara mengolah bongkol anggrek untuk dijadikan sebagai obat. Asap membumbung dari bakaran daun yang ditumpuk dengan batang-batang kayu. Kutipan tersebut juga mengandung indeks berupa sebab-akibat, yaitu asap yang membumbung tersebut merupakan akibat dari bakaran daun yang ditumpuk dengan batang-batang kayu. Tak seperti mereka yang rakus sehingga senantiasa kelaparan sebab tidak benar-benar tahu apa yang dimau.
14 Kutipan di atas menunjukkan adanya indeks berupa sebabakibat, hal ini dapat dilihat bahwa sifat rakus tersebutlah yang menjadi penyebab mereka kelaparan dan tidak tahu apa yang diinginkan. Napasnya sesak akibat terlalu banyak menghirup asap. Kutipan tersebut menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat, hal ini dapat dilihat bahwa sesak napas tersebut merupakan akibat dari terlalu banyak menghirup asap. Sejatinya kami hanyalah Orang Utan yang tak mengerti cara membuat api. Sebab sepanjang hidup makanan kami dimatangkan oleh alam. Kutipan tersebut juga terdapat hubungan sebab-akibat, hal ini dapat dilihat pada kata ―sebab‖. Ketidaktahuan mereka tentang cara membuat atau menyalakan api dikarenakan mereka tak pernah memakan makanan yang dimasak menggunakan api. Secukup perut kami kenyang lalu mengantar tenaga pada tangan agar kuat berayun di dahan-dahan. Kutipan di atas juga terdapat hubungan sebab-akibat, hal ini dapat dimaknai bahwa mereka memakan makan yang cukup merupakan sebab agar mereka dapat bertenaga untuk mengayunkan tangan mereka ke dahan-dahan. Sebab Uma percaya, air akan menyelamatkan kami dari ganasnya api. Kutipan di atas terdapat hubungan sebab-akibat, yaitu Uma percaya bahwa api dapat mati karena air. Sifat api yang panas akan mati dengan sifat dingin dari air. Sehingga, api dapat padam Ketika disiram dengan air. C. Simbol Uma menyudahi ceritanya tentang Abah ketika matahari senja telah turun balik rerimbunan daun. Kutipan di atas merupakan bentuk simbol bahwa malam segera datang. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan ―matahari senja
15 telah turun balik rerimbunan daun.‖ Yang mana dapat dimaknai sebagai penanda bahwa waktu malam akan segera tiba. Hal ini ditandai dengan tenggelamnya matahari senja, yang kemudian akan digantikan dengan kegelapan malam. Abah sang pelindung yang serupa pohon enau sebagaimana cerita-cerita Uma. Kutipan di atas merupakan bentuk penyimbolan sosok seorang ayah bagi keluarganya. Ayah digambarkan sebagai seorang pelindung yang siap melindungi keluarganya. Dalam masyarakat, ayah juga digambarkan sebagai sosok pelindung atau super hero bagi keluarganya. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dadanya. Kutipan tersebut merupakan bentuk simbol kematian. Hal ini dapat dilihat bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan di dadanya, sehingga dapat diartikan bahwa sudah tidak ada detak jantung di dadanya. Detak jantung sendiri merupakan bagian terpenting dalam kehidupan, jika jantung sudah tidak berdetak berarti dapat dikatakabn bahwa orang atau hewan tersebut telah tiada atau mati. Asap pekat mengepul kemudian. Asap pekat dalam kutipan tersebut menyimbolkan kebakaran. Hal ini dikarenakan ketika terjadi kebakaran yang besar tentu akan disertai dengan asap yang pekat juga. “Hanya kita yang tersisa” Kutipan di atas merupakan simbol kesendirian atau kesepian karena kata ―hanya kita yang tersisa‖ merujuk pada makna sedikit atau bahkan sangat sedikit. PENUTUP Penelitian ini memfokuskan pada analisis ikon, indeks, dan simbol yang terdapat di dalam karya sastra berupa cerpen. Dalam cerpen yang berjudul ―Dilalap dalam Lelap‖ karya Miranda Seftia ini
16 terdapat beberapa kalimat yang dapat dimasukkan ke dalam ikon, indeks, dan simbol. Dalam menganalisis cerpen ini, peneliti menggunakan metode semiotic untuk menemukan makna tersembunyi dari kata atau kalimat yang ditemukan. Ikon berhubungan dengan tanda kemiripan. Indeks berhubungan dengan kedekatan eksistensial atau sebab-akibat. Dan simbol yang berhubungan dengan acuannya yang konvensional. Dalam cerpen ini terdapat contoh ikon, indeks, dan simbol. Salah satu contoh ikon adalah kata “Cuih!”, kata cuih ini diindikasikan dengan ekspresi atau reaksi mulut ketika menerima makanan dengan cita rasa yang terlalu pahit, asin, atau sesuatu yang tidak enak dilidah. Salah satu contoh indeks terdapat pada kalimat “Sementara kini kemarau terasa lebih panjang, ditandai dengan rawa yang kering kerontang.” Kutipan tersebut menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat, yaitu ketika kemarau panjang menyebabkan rawa-rawa itu kering kerontang. Dan salah satu contoh simbol dalam cerpen tersebut terdapat dalam kalimat ”Tak ada tanda-tanda kehidupan di dadanya.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa taka da tanda-tanda kehidupan di dadanya sebagai simbol kematian. Dada yang dimaksud mengarah pada jantung dan jantung sendiri merupakan bagian terpenting dalam kehidupan. Ketika jantung sudah tidak berdetak lagi, berarti dapat dipastikan bahwa orang atau makhluk tersebut telah meninggal dunia. DAFTAR PUSTAKA Prayogi, R., & Ratnaningsih, D. (2020). Ikon, indeks, dan simbol dalam cerpen tiga cerita tentang lidah karya guntur alam. Edukasi Lingua Sastra, 18(2), 20-27. Seftia, M. (2023, Desember 03). Dilalap dalam Lelap. Retrieved from ruagsastra: https://ruangsastra.com/32155/dilalapdalam-lelap/
17 CITRA PEREMPUAN SEBAGAI KANCA WINKING DALAM CERPEN “SEORANG PEREMPUAN DARI SUNGAI NIPAH” Kaila Afifa | 21210141006 PENDAHULUAN Karya sastra pasti memiliki hubungan dengan kehidupan sekitar kita. Dalam teori Plato mengatakan bahwa sejatinya sebuah karya itu merupakan mimesis atau tiruan dari keberadaan yang sesungguhnya. Seorang sastrawan bisa menulis suatu karya berdasarkan dengan peristiwa nyata yang terjadi di sekitarnya. salah satu fenomena yang sangat menarik untuk dikaji di lingkungan sosial yaitu mengenai perempuan di lingkungan sosial. Sudah banyak karya sastra yang memiliki tema perempuan mewarnai dunia sastra di Indonesia, baik itu sastra Roman maupun sastra novel. Tidak dapat dipungkiri memang perempuan selalu menjadi objek kajian yang menarik untuk dikaji dan diperbincangkan di masyarakat karena dari segi keistimewaan, keunikan, dan kepintaran seorang wanita namun posisinya selalu dimarginalkan di dalam masyarakat. Bentuk sastra ada beragam., salah satu ragam sastra yaitu cerita pendek. Cerita pendek menurut Burhan (2012: 10) yaitu suatu fiksi pendek yang dibaca hanya dalam ‗sekali duduk‘. Biasanya dalam cerita pendek hanya mengemukakan suatu masalah, suatu ide, krisis, dan efek kepada pembacanya. Maka dari itu, cerita pendek memberikan efek yang sangat penting di dalam kehidupan masyarakat untuk memberikan suatu gambaran tentang kehidupan secara singkat dan jelas. Banyak penulis menggunakan cerita pendek untuk menyampaikan pesan atau ideologi yang ingin disampaikan.
18 Citra atau dalam bahasa inggris impression adalah suatu gambaran atau prasangka yang dimiliki orang mengenai suatu pribadi, perusahaan, organisasi, ataupun produk lainnya yang muncul atau yang di mana gambaran tersebut ditimbulkan oleh suatu visual tidak hanya visual, gambaran ini bisa ditimbulkan oleh kata-kata atau satuan frase, hingga kalimat. Esai yang akan ditulis adalah akan menjelaskan citra tokoh yang ditimbulkan melalui frasa, klausa, atau kalimat di dalam cerita pendek. Citra yang akan dibahas yaitu citra dari seorang pribadi wanita, yaitu tokoh utama Imah, seorang perempuan dari Sungai Nipah. Banyak permasalahan tentang wanita yang masih belum belum terjawab, bahakn sepanjang histori tidak akan terjawab sepenuhnya (Kartono, 2006: 14). Maka dari itu banyak sastra mengangkat mengenai isu wanita, salah satunya mengenai pencitraan. Pencitraan wanita merupakan perwujudan dari peran seorang wanita di keluarga maupun masyarakat sekitar. Wanita juga erat kaitannya dengan masyarakat, di mana biasanya wanita itu selalu terikat dengan norma-norma dan sistem nilai sosial yang berlaku di masyarakat, (Sugihastuti: 2002, 143). Wanita juga merupakan mahluk sosial yang berhubungan dengan orang banyak. Jika ditinjau dari segi psikologisnya, wanita juga merupakan mahluk yang mempunyai emosi, mampu berpikir, berperasaan, dan beraspirasi. Maka dari itu, pencitraan wanita bisa dilihat melalui kacamata psikologi dan sosial. Cerita pendek yang berjudul ―seseorang Dari Sungai Nipah‖ yang ditulis oleh Ir. Erizon melalui portal pesisirselatankab.go.id merupakan objek kajian yang tepat karena cerita pendek ini menggambarkan seorang wanita yang memiliki status sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga. Cerita pendek ini menceritakan seorang wanita janda tua yang bernama Imah (63 tahun) arena ditinggal suaminya meninggal akibat kecelakaan di laut saat bekerja sebagai
19 nelayan yang sudah tidak berdaya dan memiliki apa-apa lagi karena anak-anaknya sudah pergi meninggalkannya ke luar kota. Bagaimana bentuk pengabdian Imah sebagai wanita yang berstatus istri dari seorang laki-laki dan ibu dari kedua putranya akan menjadi poin penting dalam penelitian analisis ini. Penulis harap, melalui penelitian ini pembaca akan lebih terbuka wawasannya mengenai bagaimana penggambaran seorang tokoh perempuan di dalam karya sastra Indonesia, yang di mana merupakan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Penulis faham bahwa penelitian ini tidak luput dari kesalahan. Maka peneliti harap untuk penelitian selanjutnya agar bisa menulis dari apa yang luput dari penelitian ini. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu dengan menggunakan fokus pengamatan yang lebih dalam melalui penggambaran deskriptif yaitu melalui penggambaran mengenai fenomena tingkah laku dan interaksi tokoh utama cerita. Sumber data yang digunakan yaitu cerita pendek yang berjudul ―Seorang Perempuan dari Sungai Nipah‖ oleh Ir. Erizon yang terbit melalui laman pesisirselatankab.go.id pada tahun 2018. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. PEMBAHASAN Pencitraan wanita melalui cerita pendek ―Seorang Perempuan dari Sungai Nipah‖ digambarkan melalui tingkah laku, ekspresi, melalui komponen frasa, klausa, dan kalimat. Citra wanita yang ditemukan di dalam cerita pendek ini yaitu citra diri, citra sosial, dan citra publik. Berikut merupakan penjabaran setiap citra serta kutipan ini cerita pendek:
20 1. Citra Diri Citra diri menurut Chaplin (2009) dalam perspektif psikologi yaitu gambaran yang mengenai suatu individu atau jati diri sesuai dengan apa yang digambarakn atau dibayangkan. Dalam konteks sastra, berarti suatu penggambaran individu tokoh yang digambarkan di dalam suatu karya sastra. Pencitraan tokoh Imah di dalam cerita melalui aspek fisik digambarkan sebagai berikut : 1) Wanita Tua Wanita Tua aspek yang dimaksud di dalam novel yaitu seorang wanita yang umurnya melebihi 60 tahun serta memiliki tubuh yang renta, serta seorang wanita yang memiliki 2 putar dewasa yang merantau di kota lain. Tidak hanya diekspresikan sebagai wanita tua, Imah juga disandingkan dengan kata janda karena sudah ditinggal suaminya meninggal. ―Mak Imah, adalah seorang wanita tua yang sudah menjanda sangat lama.‖ (Erizon, 2018) . ― Ia telah melewatkan 63 tahun umurnya, dan sekitar 37 tahun dihabiskan di lingkungannya sekarang, kampung Sungai Nipah.‖ (Erizon, 2018) ―Sekarang Mak Imah hidup sendiri. Nurdin telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kedua anaknya sudah besar, dan pergi merantau ke Pulau Batam. Namun Imah tetap tak mau meninggalkan Sungai Nipah, seperti janjinya dengan almarhum Suaminya, bahwa ia akan tetap setia di Sungai Nipah hingga hayat menjemputnya.‖ (Erizon, 2018)
21 Citra wanita tua dan janda ditampilkan melalui narasi pertama dalam cerita dengan sudut pandang orang ketiga. 2) Berbadan kurus. Citra diri lainnya yang ditampilkan di dalam cerpen yaitu Imah sebagai wanita tua terlihat memiliki badan yang kurus, karena sebelumnya disebutkan bahwa Imah merupakan seorang wanita tua janda yang hidup sendiri karena sudah ditinggal meninggal oleh suaminya dan kedua putranya merantau di kota Batam. Sehingga di rumah Imah hanya tinggal sendiri dan tidak ada yang mengurusnya. Maka dari itulah Imah digambarkan sebagai wanita berbadan kurus serta kulitnya yang keriput dan berbagai luka-luka di tangan sebagai penguat bahwa Imah sudah sangat tua dan banyak bekerja menangkap ikan sebagai nelayan. Citra tersebut digambarkan melalui narasi dengan sudut pandang orang ketiga. ―Pagi itu, Mak Imah tampak kurus dan ekspresi wajahnya suram, terdapat kerutan kerutan yang dalam di punggung lehernya. Tandanya Mak Imah sudah tua. Di pipinya terdapat bercak bercak berwarna kecokelatan, yang tampak kontras dengan kulitnya yang terang. Bercak bercak itu didapatnya dari pantulan sehari hari sinar matahari di pantai. Bercak itu berjejer menuruni sisi wajahnya yang kurus. Pada telapak tangannya terdapat berkas-berkas gores akibat pekerjaannya menghela pukat bersama tetangganya kaum laki-laki setiap hari.‖ (Erizon, 2018) 3) Berkulit keriput
22 Selain berbadan kurus, tanda-tanda fisik yang menunjukkan bahwa Imah merupakan seorang wanita tua yaitu kulitnya yang mulai berkeriput. Argumen tersebut dijelaskan melalui narasi dengan sudut pandang orang ketiga. ―Pagi itu, Mak Imah tampak kurus dan ekspresi wajahnya suram, terdapat kerutan kerutan yang dalam di punggung lehernya. Tandanya Mak Imah sudah tua.‖ (Erizon, 2018). 2. Citra Sosial 1) Citra di lingkungan keluarga (domestik) Citra Imah di dalam cerita diceritakan sebagai sesosok istri yang patuh terhadap suaminya serta ibu dari dua orang putra. Gambaran dan image perempuan dimasyarakat Indonesia masih sangat marginal, yaitu perempuan harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Urusan rumah di sini sering dikatakan sebagai urusan dapur dan sumur. Setelah Imah menikah dan dibawa oleh Nurdin untuk tinggal di kampung halamannya, baik Nurdin maupun Imah mempunyai peran masing-masing dalam rumah tangga mereka. Imah yang mengurus hasil tangkapan ikan Nurdin di rumah dan menjualnya ke pasar, sedangkan Nurdin yang bekerja untuk mengambil ikan di laut pada siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan itu terikat dengan pekerjaan di dalam rumah sedangkan lelaki diidentikkan dengan pekerjaan berat di luar rumah. ―Setiap pagi menjelang matahari naik, Imah dengan setia melepas Suaminya ke laut. Siang menjelang suaminya datang biasanya Imah menjemur ikan, sisa ikan kemaren yang tak terjual. Jenis ikan-ikan yang sulit terjual kepada
23 pedagang pengumpul dari Painan seperti bada balang, ikan maco, dan ikan maledang, dijadikan ikan asin yang kemudian dijual pada pedagang pengumpul dari Solok.‖ (Erizon, 2028). 2) Citra perempuan sebagai kanca wingking. Dalam kalangan masyarakat Jawa, terdapat istilah yang sering disandingkan kepada seorang perempuan yang sudah menjadi istri, istilah tersebut adalah kanca wingking. Kata kanca artinya teman, sahabat, orang yang sama-sama bekerja, sedangkan kata wingking memiliki arti belakang. Maka makna lugas dari kata kanca wingking yaitu sebagai wanita yang posisinya tidak sama dengan laki-laki. Posisi perempuan di belakang laki-laki bukan di depan dan sejajar dengan laki-laki. Posisi belakang diartikan sebagai tempat perempuan yaitu di dapur, sumur, dan kasur. Hal tersebut membuat ruang gerak perempuan menjadi sempit (Suhandjati & Sofwan, 2001: 6) . Konsep ini kemudian dijabarkan di dalam cerita bahwa Imah perempuan yang mengurus pekerjaan rumah dan selalu mendukung pekerjaan suaminya dengan mencoba menjemu ikan-ikan yang berhasil ditangkap oleh Nurdin, suaminya dan menjualnya di pasar. Tingkah laku Imah seperti itu digambarkan sebagai bentuk dukungan mental kepada suaminya yang bekerja sebagai nelayan. ―Semenjak menikah dengan Nurdin, seorang pemuda Sungai Nipah, di Teluk Kuantan, Tanah Melayu, kampung kedua orang tuanya, dia merantau mengikuti Nurdin ke Sungai Nipah. Awalnya Nurdin berjualan kaki lima di Pasar Teluk Kuatan, tapi karena tidak ada kemajuan jual beli setelah
24 mereka menikah akhirnya Nurdin pulang kampung dengan membawa Imah.‖ (Erizon, 2018). Selain itu, gambaran kanca wingking tidak hanya sebagai seorang istri yang bekerja di bagian domestik rumah saja. Istilah kanca wingking atau teman dari belakang juga bisa diibaratkan sebagai seorang istri yang mengikuti suaminya kemanapun. Ketika seorang wanita sudah berstatus menjadi seorang istri dari suami, seorang perempuan harus mau mengikuti kemanapun ketika dibawa oleh suaminya. Di dalam cerita, Imah sebagai soerang istri dari Nurdin siap mengikuti Nurdin untuk tinggal di kampung halamannya dan bekerja. Ibaratnya seorang wanita jika sudah dijadikan istri, maka sang suamilah yang mengurus tempat tinggal istri. 3. Nilai Pendidikan Karakter 1) Setia Seorang tokoh Imah digambarkan sebagai seseorang yang setia. Lebih tepatnya, seorang istri yang setia terhadap suaminya. Meskipun suaminya sudah meninggal, Imah tetap setia untuk selalu menjaga rumah mereka. Imah melanjutkan dan menggantikan Nurdin yang bekerja sebagai nelayan. Imah tidak mau untuk pergi ke luar kota ketika kedua putranya mengajak Imah untuk tinggal di Batam bersama mereka. Imah berkata dia ingin tetap tinggal di Sungai Nipah dan menjaga rumah suaminya. Imah setia tinggal di rumah mereka hingga menunggu ajalnya. 2) Sabar dengan kondisi ekonomi apapun.
25 Karakter Imah sebagai orang yang penyabar digambarkan melalui narasi meskipun Imah hanya seorang istri dari keluarga yang bekerja sebagai nelayan, di mana penghasilan nelayan itu belum tentu sama setiap harinya, kadang satu hari mendapat ikan yang banyak lalu dijual, terkadang ketika hasil tangkapan hanya sedikit jadi mereka hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit. Meskipun begitu, Imah tetap senang dan ceria dengan kehidupannya karena ia merasa ada Nurdin yang sangat mencintai dan memerhatikan Imah serta kedua putranya. ―Imah tetap senang dan ceria, karena cinta Nurdin yang sungguh-sungguh terhadap Imah dan anak-anak mereka, membuat Imah tak pernah mengeluh atas hasil tangkapan ikan yang diperoleh sehari hari.‖ (Erizon, 2018). KESIMPULAN Citra atau dalam bahasa inggris impression adalah suatu gambaran atau prasangka yang dimiliki orang mengenai suatu pribadi, perusahaan, organisasi, ataupun produk lainnya yang muncul atau yang di mana gambaran tersebut ditimbulkan oleh suatu visual. Tidak hanya visual, gambaran ini bisa ditimbulkan oleh kata-kata atau satuan frase, hingga kalimat. Citra yang akan dibahas yaitu citra dari seorang pribadi wanita, yaitu tokoh utama Imah, seorang perempuan dari Sungai Nipah. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu cerita pendek yang berjudul ―Seorang Perempuan dari Sungai Nipah‖ oleh Ir. Erizon yang terbit melalui laman pesisirselatankab.go.id pada tahun 2018. Hasil yang didapat yaitu citra wanita tokoh utama Imah yaitu terdapat citra diri (tua, berbadan kurus, kulit berkeriput), citra sosial, (perempuan sebagai kanca wingking), dan nilai
26 karakteristik yang dimiliki (setia dalam selalu sabar dengan kondisi apapun). DAFTAR PUSTAKA Chaplin, J.P. 2009. Kamus Lengkap Psikologi. Edisi 1. Cetakan ke13. Penerjemah: Dr. Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali Pers. Erizon, I. (2018, November 12). Cerpen : Seorang Perempuan dari Sungai Nipah. (2023, Desember 4). Diakses dari https://berita.pesisirselatankab.go.id/berita/detail/cerpen-- seorang-perempuan-dari-sungai-nipah Kartono.2006. Perempuan dalam Karya Sastra. Bandung: Gramedia. Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: BPFE. Sugihastuti, & Suharto. (2002). Kritik sastra feminis: teori dan aplikasinya. Pustaka Pelajar. Suhandjati Sukri Sri dan Ridin Sofwan. (2001). Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa. Yogyakarta. Gama Media.
27 REPRESENTASI ZAMAN KOMUNIS DALAM CERPEN “MERUWAT KAKUNG” KARYA IKROM RIFA'I Majid Kurniawan | 21210141012 PENDAHULUAN Peristiwa yang melibatkan wong kiri pastinya adalah peristiwa yang menegangkan sekaligus menyedihkan. Peristiwaperistiwa tersebut dapat kita ketahui dengan cara membaca dokumen-dokumen yang membahas atau mengabadikan momen tersebut, tidak terkecuali sebuah karya sastra. Karya sastra merupakan salah satu hasil pemikiran seseorang untuk mencurahkan perasaan yang ia alami ataupun mengabadikan momen bersejarah di dalamnya. Menurut Rokhman, (2008:23) menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari kolektivitas dan konteks historis yang melahirkannya. Selain itu Wiyatmi (2013: 5-6) juga menyatakan sosiologi sastra, yang memahami fenomena sastra dalam hubungannya dengan aspek sosial, merupakan pendekatan atau cara membaca dan memahami sastra yang bersifat interdisipliner. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa karya sastra itu merupakan ilmu yang bersifat interdisipliner, selain itu karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks historis yang melahirkannya. Cerpen berjudul ―Meruwat Kakung‖ tersebut adalah karya seorang mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang. Dalam cerpen ini menceritakan seorang kakek yang dulunya adalah seorang algojo semasa peristiwa PKI melanda. Ia merupakan seorang yang bertanggung jawab serta orang yang tidak kenal ampun kepada musuhnya. Akan tetapi setelah peristiwa tersebut ia menjadi kehilangan akal sehatnya dan berakhir gila atau mendapati gangguan kejiwaan. Pada cerpen tersebut tokoh Kakung bukanlah tokoh utama,
28 melainkan tokoh sampingan yang keberadaannya diceritakan oleh si tokoh utama yakni cucu dari kakung tersebut. Tokoh utama menceritakan kakung nya mendapati gangguan kejiwaan dikarenakan peristiwa yang dulunya ia alami, dan si tokoh utama mencari cara untuk menyembuhkan kakungnya itu. Pada tulisan ini bertujuan untuk mengetahui ikon, indeks, serta simbol yang terdapat dalam cerpen tersebut yang berkaitan dengan peristiwa PKI. Dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui secara detail dan rinci terkait peristiwa komunis yang ada pada cerpen ―Meruwat Kakung‖. Pada tulisan ini diharapkan menjadi media untuk masyarakat memperoleh ilmu atau informasi mengenai masa-masa komunis yang ada di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan tidak akan melenceng dari tujuan tulisan ini ditulis yaitu, untuk mengetahui Ikon, Indeks, serta Simbol yang ada pada cerpen. Menurut C.S Pierce (via Wulandari dan Siregar, 2020: 31), Ikon adalah hubungan tanda yang dilihat berdasarkan persamaan antara unsur-unsur yang diacu. Sedangkan Indeks adalah hubungan tanda yang dilihat dari adanya sebab akibat antar unsur. Dan simbol adalah sebuah hubungan tanda yang dilihat berdasarkan konvensi antar sumber data yang dijadikan acuan. 1. Ikon dalam cerpen “Meruwat Kakung” Karya Ikrom Rifa’i Ikon merupakan hubungan tanda yang dilihat berdasarkan persamaan antara unsur-unsur yang diacu. Pada cerpen ―Meruwat Kakung‖ karya Ikrom Rifa‘i terdapat beberapa Ikon antara lain, sebagai berikut:
29 - Ikon wong kiwo sebagai penanda pemberontakan atau kejahatan Wong kiwo merupakan sebuah sebutan bagi mereka yang berideologi menyimpang dari kebenaran. Namun, dalam cerpen ini lebih mengartikan wong kiwo sebagai orang yang berafiliasi dengan partai komunis, atau bisa dibilang ideologi komunis. Ideologi komunis adalah ideologi yang berkenaan dengan filsafat, politik, sosial, dan ekonomi yang tujuan utamanya menciptakan masyarakat dengan aturan sosial ekonomi berdasarkan kepemilikan bersama alat produksi dan tidak adanya kelas sosial, uang, dan negara. Karena ideologi komunis yang menyimpang dari ideologi bangsa Indonesia, orang-orang yang terlibat di dalamnya dianggap sebagai pemberontak. - Ikon Hidung Mancung sebagai penanda ketampanan Ikon hidung mancung merupakan sebuah ikon yang menandakan seseorang memiliki ketampanan tiada tara. Pada zaman awal kemerdekaan, orang-orang pribumi masih bercampur dengan orang-orang Belanda yang pada dasar dan hakikatnya memiliki hidung yang berbeda dengan orang pribumi, mereka memiliki hidung yang mancung. Dengan memiliki hidung mancung seperti orang Eropa saat itu, bisa dikatakan bahwa kakung juga termasuk orang yang memiliki ketampanan yang setara dengan mereka. - Ikon Lekra sebagai penanda zaman Komunis Pada awalnya Lekra adalah lembaga organisasi yang dibentuk untuk mengajak para seniman mewujudkan Republik Indonesia yang demokratis. Namun, karena ada beberapa kesepahaman mengenai realisme-sosialis yaitu
30 mempertahankan dan mengembangkan anti kapitalisme internasional. Mulai dari itu Lekra dengan PKI mulai menjalin hubungan dekat. Akan tetapi nasib berkehendak lain, karena PKI dianggap sebagai pemberontak, Lekra juga menjadi sasaran penghabisan oleh algojo-algojo pemerintah, salah satunya adalah tokoh Kakung. 2. Indeks dalam cerpen “Meruwat Kakung” Karya Ikrom Rifa’i Indeks merupakan hubungan tanda yang bersifat sebabakibat atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Pada cerpen karya Ikrom Rifa‘i ini terdapat beberapa indeks, antara lain: - “Kakungmu melalaikan satu hal. Dia lupa meminum darah wong kiwo. Itu sebabnya dia jadi seperti ini!” Jelas Dul Wahid. Kutipan cerpen tersebut menandakan adanya hubungan sebab-akibat atau bisa disebut indeks. Kalimat Kakungmu melalaikan satu hal. Dia lupa meminum darah wong kiwo merupakan sebuah sebab. Sedangkan pada kalimat Itu sebabnya dia jadi seperti ini! merupakan akibat. Kedua kalimat tersebut saling berkorelasi sehingga mendapatkan arti atau makna yang utuh. Atau bisa dikatakan semisal kalimat pertama tidak ada, akan mengakibatkan tidak utuhnya makna tersebut. - “Dua kali Kakung mengamuk dan hampir membunuh orang dengan kudinya,” demikian Eyang Putri menjelaskan alasan kakimu akhirnya harus dipasung. Kalimat awal pada kutipan teks cerpen tersebut menandakan sebagai sebab terjadinya peristiwa yang
31 diakibatkannya. Pada kalimat kedua bisa diperhatikan bahwa akibat yang terjadi karena kalimat pertama adalah kakinya harus dipasung. 3. Simbol dalam cerpen “Meruwat Kakung” Karya Ikrom Rifa’i Simbol merupakan hubungan tanda yang dilihat berdasarkan konvensi antar sumber data yang dijadikan acuan. - Simbol algojo sebagai penanda kematian Pada KBBI, algojo merupakan seorang tokoh atau orang yang memiliki sifat bengis dan kejam, serta mempunyai pekerjaan untuk melaksanakan hukuman mati bagi targetnya. Dalam cerpen ―Meruwat Kakung‖ diceritakan bahwa dahulu kakeknya adalah seorang algojo yang bertugas untuk menghabisi para komunis saat itu. Salah satu korban kekejaman tanpa belas kasihan itu adalah menantunya sendiri yaitu ayah dari tokoh utama. Berikut kutipan teks yang menunjukkan bahwa simbol algojo merupakan penanda kematian terhadap orang-orang. ―….ya, itu, ia diberi mandat untuk menjadi salah satu algojo. Sementara itu, aku bertugas menyeret mereka satu per satu dari bak truk , Kakungmulah yang akan menuntaskan. Semua algojo sudah diinstruksikan untuk meminum barang setenggak darah yang mengucur dari setiap leher korban. Biar tidak gila. Tapi, aku tak tahu apakah Kakungmu melakukan itu atau tidak.” - Simbol Wiyaga sebagai penanda kesenangan terhadap kesenian
32 Wiyaga merupakan orang yang memiliki keterampilan khusus untuk menabuh gamelan pada suatu pertunjukkan kesenian. Simbol wiyaga ini menjelaskan bahwa seorang yang dibutuhkan dalam sebuah pertunjukkan. Pada cerpen ―Meruwat Kakung‖ karya Ikrom Rifa‘i ini dijelaskan bahwa ayah dari seorang tokoh utama tersebut dulunya adalah seorang penabuh gamelan di organisasi Lekra yang berada di bawah naungan PKI. - Simbol Wewelak sebagai penanda penderitaan Wewelak adalah tulah atau kemalangan yang disebabkan oleh suatu perbuatan. Wewelak sendiri bisa disimbolkan sebagai penderitaan seseorang karena melakukan suatu perbuatan, di masa kini biasanya disebut karma. Pada cerpen ―Meruwat Kakung‖ karya Ikrom Rifa‘i ini digambarkan bahwa wewelak adalah suatu hal yang membuat seorang individu mendapatkan penderitaan. Simbol penderitaan pada cerpen tersebut adalah tokoh Kakung yang mendapatkan gangguan kejiwaan dikarenakan perbuatannya di masa lalu yang menjadi seorang algojo. Berikut kutipan teks cerpen yang menunjukkan simbol wewelak sebagai penanda penderitaan “Wewelak itu berasal dari mereka yang disembelih pada malam celaka itu. Kalau Kakungmu ingin sembuh, dia harus diruwat dengan cara menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala supaya terbebas dari segala sukerta. Potonglah beberapa ekor kambing sebagai sesaji–juga sebagai sarana penebusan dosa–dengan jumlah sesuai orang yang dia sembelih.” KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis pada cerpen ―Meruwat Kakung‖ karya Ikrom Rifa‘i terdapat adanya ikon, indeks, dan simbol. Ikon
33 pada cerpen tersebut ada tiga yaitu, (1) Ikon wong kiwo sebagai penanda pemberontakan atau kejahatan. (2) Ikon Hidung Mancung sebagai penanda ketampanan. (3) Ikon Lekra sebagai penanda zaman Komunis. Selain itu, cerpen ini juga terdapat dua indeks yang ditemukan. Kemudian simbol yang terdapat dalam cerpen karya Ikrom Rifa‘i ini ada tiga, antara lain: (1) Simbol algojo sebagai penanda kematian. (2) Simbol Wiyaga sebagai penanda kesenangan terhadap kesenian. (3) Simbol Wewelak sebagai penanda penderitaan. DAFTAR PUSTAKA Damono, S. D. (1978). Sosiologi sastra: Sebuah pengantar ringkas. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Rifa‘i, I. (2023). Meruwat Kakung. Ruangsastra.com. Diakses melalui https://ruangsastra.com/31919/meruwat-kakung/ Rokhman, M. A. (2008). Keterkaitan Kajian Budaya dan Studi Sastra di Inggris: Sebuah Telaah Singkat. Humaniora, 20(1), 18-25. Sobur, A. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wiyatmi. (2013). Sosiologi Sastra. Jakarta: Kanwa Publisher. Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41.
34 CITRA WANITA TOKOH NANIA DALAM CERPEN “CINTA LAKI-LAKI BIASA” KARYA ASMA NADIA Yasinta Maulida Az‘Zahra | 21210141013 PENDAHULUAN Semiotika pada dasarnya merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda dan berkaitan dengan proses bagaimana tanda-tanda mampu mengandung dan menghasilkan makna dalam sistem yang terstruktur dan dikonstruksi. Oleh karena itu, semiotika menjadi sangat relevan untuk diterapkan dalam kajian karya sastra. Menurut Ratna (melalui Hermawan dan Shandi, 2019:11) dalam konsep modernitas, karya sastra merupakan kegiatan kreatif yang berupa keindahan berhubungan dengan berbagai persoalan hidup manusia, ruang dan konkrit, jiwa dan raga. Sebuah novel, cerpen, puisi, maupun drama dapat didekati sebagai sebuah struktur tanda yang saling berkaitan membentuk makna tertentu. Semua unsur yang ada dalam karya sastra, mulai dari tema, karakter, alur, sudut pandang, simbol, citra/image, atau yang lainnya dapat dianalisis sebagai tanda yang mengacu kepada makna tertentu, baik dengan acuan dari dalam karya itu sendiri atau dari kerangka sosial budaya yang lebih luas. Di dalam karya sastra sering dijumpai topik pembahasan yang berhubungan dengan feminisme. Hal tersebut dikarenakan dalam banyak karya sastra dan pada realitasnya, eksistensi perempuan masih sangat minim, kebanyakan didominasi oleh lakilaki. Pembaca biasanya menemukan tokoh perempuan dalam suatu karya sastra tertinggal berbagai aspek oleh laki-laki, seperti pendidikan, prestasi, jabatan, status sosial, dan lain sebagainya. Menurut Sugihastuti dan Suharto (melalui Mawarni & Sumartini, 2020:138) dalam karya sastra, tokoh perempuan sering dibicarakan
35 dan dijadikan subjek pencitraan. Perempuan merupakan karakter yang memiliki dua sisi, perempuan adalah keindahan dan dapat membuat laki-laki tergila-gila, tapi di sisi lain perempuan dianggap lemah. Kelemahan itulah yang sering digunakan laki-laki untuk mengeksploitasi keindahannya. Citra atau image adalah pengalaman batin yang muncul pada diri seseorang yang dipengaruhi oleh ungkapan dalam suatu karya sastra. Citra wanita dapat dibedakan menjadi citra diri dan citra sosial. Citra dapat dilihat dari segi fisik, dan citra diri wanita diungkapkan melalui berbagai pengalaman unik yang tidak dialami laki-laki, seperti sobeknya selaput dara, melahirkan, dan menyusui. Secara fisik penampilan wanita berbeda dengan laki-laki, terlihat dari tubuhnya yang gesit, lentur, cantik, berpenampilan rapih, dan pandai merias diri. (Sugihastuti, dalam Mawarni & Sumartini, 2020:138). Penting bagi wanita untuk memiliki citra diri yang baik agar dapat menjalani hidup dengan percaya diri dan harga diri. Karena sifat kuat laki-laki membuat wanita bisa memahami kelebihannya dan menerima kelemahan serta kelebihannya. Meskipun banyak tantangan dan situasi yang dihadapi wanita, penting untuk mengoptimalkan seluruh keterampilan dan kemampuan mereka untuk mencapai tujuan dan prestasi baik dalam pekerjaan maupun kehidupan mereka sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka untuk berpartisipasi penuh dalam lingkungannya dan perannya dalam masyarakat. Cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ karya Asma Nadia adalah cerpen yang akan dianalisis. Topik analisis yang akan dilakukan peneliti, yaitu citra wanita pada tokoh Nania dan kaitannya dengan persoalan religi, sosial, dan budaya. Cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ menceritakan seorang tokoh Nania yang justru memiliki citra sebagai wanita yang lebih dominan dibanding tokoh laki-lakinya, yaitu Rafli. Nania tidak digambarkan menjadi wanita yang menderita seperti
36 kebanyakan tokoh pada cerita lain yang membahas feminisme. Namun, karena suatu hal Nania yang terbilang hebat pada citra awalnya tersebut akhirnya harus bertumpu hidup pada Rafli, suaminya. Keadaan ini pun menjadi terbalik, Rafli yang tadinya dianggap lebih rendah menjadi sosok yang akhirnya dipandang tinggi. Peran tokoh lain yang pada cerpen juga penting keberadaannya guna melihat pandangan sebagai pembahasan mengenai sosial dan budaya. Dengan demikian, peneliti mengharapkan hasil dari analisis cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‘ yang membahas mengenai citra wanita dan kaitannya dengan religi, sosial, dan budaya dapat dijadikan sumber bacaan maupun rujukan yang bermanfaat bagi para pembaca. PEMBAHASAN 1. Citra Wanita Tokoh Nania dalam Cerpen “Cinta Laki-laki Biasa” Pada bagian pembahasan akan diuraikan mengenai analisis citra fisik dan citra psikis tokoh Nania dalam cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ karya Asma Nadia. Pada bagian akhir pembahasan, turut dipaparkan mengenai keterkaitan citra tokoh dengan persoalan religi, sosial, dan budaya. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat bentuk citra tokoh yang dapat dibuktikan melalui kutipankutipan dan pembahasan berikut. Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Kutipan di atas menggambarkan jika tokoh Nania memiliki citra struktur wajah indo. Jika dikaji lebih mendalam, arti ‗berwajah indo‘ merupakan representasi dari perempuan-perempuan Indonesia yang memiliki kulit sawo matang. Perempuan Indonesia yang memiliki wajah khas biasanya mempunyai bentuk mata yang lebih
37 besar dengan lipatan kelopak mata ganda. Selain itu, dengan kulit sawo matang khas perempuan Indonesia membuat wajah terlihat manis. Hal yang telah diuraikan tersebut menggambarkan citra dari tokoh Nania yang berkemungkinan memiliki kulit sawo matang, mata belo, dan wajah yang manis. Tokoh Nania juga memiliki citra perempuan cantik yang dibuktikan dengan kutipan berikut. ―Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Dalam cerita dijelaskan bahwa Nania memiliki tiga kakak perempuan, maka berdasarkan ungkapan Papa, di antara anakanaknya yang lain Nania lah yang memiliki paras paling cantik. Tokoh Nania juga memiliki citra sebagai perempuan yang memiliki banyak bakat dan kemampuan. Dirinya memiliki gambaran perempuan cerdas, berprestasi di banyak bidang kesenian, bahasa, mau pun olahraga. Nania juga memiliki citra sebagai perempuan berpendidikan yang mendapatkan gelar menjadi insinyur. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. ―Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa!” Nania memiliki citra sebagai seorang perempuan yang selalu menaruh prasangka baik terhadap orang lain, terutama pada keluarga dan orangtuanya. Hal tersebut ditujukkan pada kutipan yang menjelaskan bahwa Nania baru menyadari bahwa ternyata keluarga dan orangtuanya sangat tidak menyukai laki-laki yang dicintainya, padahal hubungan Nania dengan Rafli sudah berlangsung cukup lama. Jadi, selama menjalin hubungan dengan Rafli, Nania selalu berprasangka kalau orang lain juga menyukai hubungan tersebut.
38 Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Citra ketulusan dan kesederhanaan juga ada pada sosok pribadi Nania. Ia memang tidak mengetahui kenapa dirinya memilih Rafli yang dari segala aspek tidak berada di atas Nania. Namun, Nania hanya mengikuti naluri hatinya yang menandakan ketulusan. Walaupun Nania memiliki kehidupan yang sukses, ia tetap menyukai hal-hal sederhana yang ditunjukkan oleh Rafli. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. “Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.” Hal- hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Penggambaran diri Nania juga sampai pada citra perempuan yang tenang. Walaupun berada di keadaan yang sangat genting dan mempertaruhkan nyawa anak dan dirinya sendiri, dengan ketenangan yang ia ciptakan sendiri membuatnya memiliki citra perempuan yang tenang dan tetap berprasangka baik. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada kutipan berikut. Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Setelah melahirkan, Nania mendapatkan musibah yang cukup besar, yaitu ia mengalami kelumpuhan. Di umurnya yang kemudian bertambah menua, Nania digambarkan menjadi wanita yang sudah tak memiliki fungsi tubuh yang sempurna, kecantikan yang selalu menghiasi wajahnya saat muda juga kian memudar, kemudian karir suksesnya juga hilang. Saat semua itu terjadi, Nania digambarkan sempat mengalami frustasi karena komentar dari orang-
39 orang di sekitarnya. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada kutipan berikut. “Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?” Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? 2. Keterkaitan dengan Persoalan Religi, Sosial & Budaya Cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ karya Asma Nadia menggambarkan bagaimana sebuah rumah tangga yang dibangun atas dasar ketulusan dan keihklasan dalam menerima pasangan apa adanya, tanpa memandang status sosial maupun kekayaan materi, pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan yang hakiki. Sebagaimana tokoh Nania yang hidup bahagia bersama Rafli meskipun sang suami hanyalah seorang laki-laki biasa dengan segala kekurangannya. Hal tersebut sejalan dengan nilai-nilai religi yang mengajarkan kita sebagai manusia untuk selalu bersyukur, berprasangka baik, dan berserah diri kepada Tuhan dalam mengarungi kehidupan. Sikap tokoh Rafli dalam mengarungi kehidupan rumah tangga dengan Nania juga bertanggung jawab sebagai sosok suami walaupun Nania udah hidup berkecukupan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. “Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Rafli tidak melepas kewajibannya hanya karena kehidupan rumah tangganya yang sudah lebih dari cukup berkat kesuksesan Nania. Hal itu dikarenakan menjadi tanggung jawab Rafli sebagai
40 suami mencari nafkah untuk istri, anak, dan kebutuhan rumah tangga. Nilai religi yang dapat tercermin dalam sikap dan perilaku tokoh Rafli juga diperlihatkan saat dirinya menjalankan ibadah salat dan sering membaca Al-Quran saat Nania sedang dalam keadaan koma. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Nilai religi yang ditunjukkan oleh Rafli sebagai sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya juga dipaparkan dalam cerita. Walaupun Nania sedang sakit, Rafli juga tidak melupakan anak-anaknya yang berada di rumah, terutama anaknya yang baru saja lahir. Rafli dengan penuh tanggung jawab membagi wkatunya untuk menemani Nania dan mengurusi anakanaknya di rumah. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Cerpen ini juga menggambarkan realitas sosial budaya di masyarakat Indonesia, khususnya fenomena perkawinan beda kelas sosial yang kerap kali tidak direstui, seperti yang dialami tokoh Nania dan Rafli. Mereka berdua berasal dari latar belakang ekonomi dan status sosial yang jauh berbeda, di mana tokoh Nania digambarkan sebagai perempuan dari keluarga kaya dan hidup penuh dengan prestasi gemilang, sementara Rafli merupakan laki-laki sederhana, dari keluarga yang biasa, dengan pendidikan yang tidak tinggi, dan pekerjaan dan gaji yang tidak sebanding dengan Nania.
41 Namun, pada akhirnya hubungan dan rumah tangga mereka tetap bertahan karena didasari rasa cinta dan kesetiaan yang tulus. Rumah tangga keduanya juga berjalan berlandaskan nilai-nilai luhur seperti saling melengkapi dan tolong-menolong antarpasangan, sebagaimana tradisi dan budaya timur yang menjunjung tinggi institusi pernikahan. Hal tersebut ditunjukkan dalam kutipan berikut. “Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?” “Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!” Selain merepresentasikan realitas sosial mengenai perkawinan beda kelas yang kerap tidak direstui, cerpen ini juga menggambarkan tradisi budaya timur tentang prosesi perlamaran kepada pihak keluarga calon mempelai wanita guna menunjukkan keseriusan dan pertanggungjawabannya. Tradisi tersebut masih yang masih sangat kental di masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. “Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. “Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Selain itu kesederhanaan dan kerukunan kehidupan keluarga Nania dan Rafli juga merefleksikan nilai-nilai sederhana,
42 kebersamaan, tolong-menolong, dan kesetiakawanan sosial yang merupakan ciri khas kehidupan bermasyarakat dan berbudaya di negara Indonesia. Diceritakan bahwa semenjak Nania lumpuh, Rafli sering membantunya dalam banyak hal yang kiranya tidak dapat Nania lakukan sendiri lagi. Hal tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. SIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa tokoh Nania dalam cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ karya Asma Nadia memiliki citra sebagai seorang perempuan yang memiliki struktur wajah seperti khas perempuan Indonesia, Nania juga digambarkan sebagai perempuan yang manis dan cantik. Selain itu, Nania memiliki citra psikis menjadi sosok perempuan yang baik, penyabar, selalu berprasangka baik terhadap orang lain, tulus, setia, dan sederhana. Citranya sebagai sosok perempuan tidak hanya sebatas itu saja, Nania juga memiliki citra sebagai perempuan sukses dan berprestasi. Ia memiliki segudang bakat dan kemampuan dalam banyak aspek. Kemudian pada poin pembahasan selanjutnya mengenai keterkaitan dengan persoalan dengan aspek lain dapat disimpulkan bahwa cerpen ―Cinta Laki-laki Biasa‖ mengandung unsur religi, sosial, dan budaya yang ada di masyarakat Indonesia. Walaupun Rafli merupakan laki-laki yang biasa saja, tetapi dia