The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yona Elya, 2023-12-17 23:10:31

Kumpulan Esai Apresiasi Sastra melalui Semiotika

Sastra Indonesia A

143 Hal tersebut, mencerminkan di kacamata pembaca bahwasanya Mardanu memiliki citra sosial atau pandangan masyarakat berupa laki-laki pekerja keras serta gigih karena uang pensiunan yang masih utuh dan memiliki intelegensi yang tinggi yang dapat dibuktikan melalui keberhasilan anak-anaknya yang dapat diraih dengan berbekal kecerdasan dari tokoh Mardanu. Citra sosial yang dimilikinya pun sesuai dengan realitas kehidupan bahwa laki-laki di mata masyarakat harus memiliki karakter pekerja keras, gigih, dan berkompeten. Tak hanya itu, tokoh Mardanu pun memiliki citra lainnya yaitu citra diri yang sama-sama memiliki eksistensi yang tinggi seperti halnya dengan citra sosial. Konflik yang dihadapi oleh Mardanu pun menjadi indikator pengidentifikasian citra diri yang dimiliki oleh Mardanu, yaitu tidak percaya diri atau biasa disebut dengan insecure terhadap pujian yang diterimanya. Hal tersebut, dapat dilihat melalui penggalan cerpen berikut ini. “Bagi Mardanu, pujian hanya pantas diberikan kepada orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dan berharga dalam kehidupan. Mardanu merasa belum pernah melakukan pekerjaan seperti itu. … Ini yang membuatnya menderita karena pujian itu seperti menyindirnyindirnya.” Ketidakpercayaan diri yang dialami oleh Mardanu dalam menerima pujian membuatnya memiliki citra diri yang kurang bersyukur dan idealis. Sikapnya yang cenderung kurang bersyukur karena Mardanu menganggap pujian itu seolah-olah hanya menyindirnya yang belum melakukan pekerjaan luar biasa menurut pandangan idealisnya. Namun,


144 disisi lain Mardanu memiliki citra diri positif yaitu memiliki ambisi yang besar untuk melakukan pekerjaan yang berjasa. Ditinjau dari perspektif problem solving atas perasaan tidak pantas terkait pujian yang dianggap terlalu dilebih-lebihkan, Mardanu melakukan hal yang berjasa. Perlakuan Mardanu melepaskan seekor burung peliharaannya memberikan dampak pemunculan citra baru terhadap tokoh tersebut yaitu memiliki sifat berbesar hati. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui penggalan cerpen berikut ini. “Sudah kakek lepas. Mungkin sekarang kutilang itu sedang bersama temannya di pepohonan.” “Biar kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka? Waj, itu luar biasa. Kakek hebat, hebat banget. Aku suka Kakek.” “Mardanu terkesima oleh pujian cucunya. Itu pujian pertama yang paling enak didengar dan tidak membuatnya menderita.” Kebesaran hati Mardanu dalam melepaskan burung peliharaannya untuk memvalidasi diri sendiri bahwa ia telah melakukan hal-hal berjasa dan luar biasa di hidupnya. Oleh karena itu, citra diri lain yang dimiliki Mardanu yakni seorang laki-laki yang mampu berlapang dada dan berani berkorban demi mendapatkan rasa nyaman atas pujian yang diberikan oleh orang lain. 2. Korelasi dengan Aspek Sosial dan Budaya Keberadaan citra laki-laki dalam cerpen ―Lelaki yang Menderita Bila Dipuji‖ karya Ahmad Tohari tersebut memiliki korelasi dengan aspek sosial dan budaya yang terdapat di lingkungan penulis maupun pembaca. Realitas


145 sosial-budaya yang turut dihadirkan dalam cerpen tersebut melalui tokoh utama bernama Mardanu sangat kental dan dekat dengan masyarakat, seperti halnya seorang pensiunan yang tidak memiliki hutang dan anak yang mapan termasuk sebuah kebangaan dan prestasi. Hal tersebut, linier dengan penggalan cerpen berikut ini. “Mardanu tidak mengerti mengapa hanya karena uang pensiun yang utuh, badan yang sehat, anak yang mapan, bahkan burung piaraan membuat orang sering memujinya.” Kutipan di atas, menunjukkan bahwa pencapaian yang diperoleh oleh Mardanu termasuk representasi realitas sosial yang terdapat di kehidupan nyata bahwa hal tersebut juga menjadi norma tak tertulis dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, hobi Mardanu memelihara burung pun mencerminkan tren atau budaya masyarakat bahwa laki-laki cenderung lebih memilih memelihara burung daripada hewan lainnya. Hal tersebut, dapat dilihat melalui penggalan cerpen berikut ini. “Kemudian terdengar kicau kutilang di kurungan yang tergantung di kaso emper rumah. Burung itu selalu bertingkah bila didekati majikannya. Mardanu belum menaruh pakan ke wadahnya di sisi kurungan.” Hobi memelihara burung seperti yang dilakukan Mardanu mengandung nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat bahwa seorang laki-laki yang memelihara burung dipandang sebagai orang berada karena burung hias


146 memiliki harga yang mahal dan biasanya hobi ini dilakukan oleh laki-laki yang sudah lanjut usia. KESIMPULAN Citra laki-laki dalam cerpen ―Lelaki yang Menderita Bila Dipuji‖ karya Ahmad Tohari terdiri dari dua jenis yakni citra sosial dan citra diri. Tokoh utama dalam cerpen tersebut yang bernama Mardanu memiliki citra sosial atau dipandang masyarakat sebagai laki-laki yang pekerja keras, gigih, dan berkompeten yang dibuktikan dengan berbagai pujian yang diterimanya. Di samping itu, Mardanu memiliki citra diri berupa karakteristik lapang dada, berani berkorban, tidak percaya diri, kurang bersyukur, dan idealis. Korelasi antara citra sosial maupun citra diri yang dimiliki oleh Mardanu tokoh utama salah satu cerpen karya Ahmad Tohari tersebut memiliki keterkaitan dengan aspek sosial dan budaya. Aspek sosial yang terkandung dalam citra sosial Mardanu sesuai dengan realitas kehidupan sosial bahwa laki-laki yang memiliki uang pensiunan utuh dan anak-anak yang mapan merupakan suatu prestasi. Begitu pula, dengan citra diri Mardanu yang dianggap memiliki hobi memelihara burung pun mencerminkan tren atau budaya yang berkembang di masyarakat bahwasanya orang yang memelihara burung rata-rata dilakukan oleh laki-laki yang telah lanjut usia.


147 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN MENUNGGU LAYANG-LAYANG KARYA DEE LESTARI Ryan Sadhi | 21210141027 PENDAHULUAN Seperti ibu yang melahirkan dan membesarkan anaknya, pengarang juga berperan melahirkan karya sastra dan menumbuhkan pesan-pesan didalamnya. Pengarang memiliki kebebasan seluasluasnya dalam membuat karya sastra. Pengalaman dan intuisi pengarang menjadi senjata utama dalam menyusun ide-ide cerita bermediumkan bahasa. Dengan senjata tersebut benih-benih ide mulai ditanam dan dikembangkan dalam karyanya sehingga dapat dinikmati pembaca. Setiap pengarang memiliki teknik atau gayanya sendiri dalam menyusun karya hal ini tentu dipengaruhi latar belakang mereka yang berbeda-beda pula. Namun justru itu yang membuat menarik karena perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya menjadi ciri khas dari setiap pengarang. Karya sastra serupa surat mengandung pesan yang disisipkan pengarang agar pembaca mengetahuinya. Pesan yang terkandung terkadang mudah dipahami terkadang perlu analisis khusus untuk mengetahuinya dan itu semua tergantung pada selera pengarang. Pesan-pesan tersebut termuat di sebuah tanda-tanda yang memang disiapkan oleh oleh pengarang. Tanda-tanda ini menunggu diartikan dan dipahami oleh pembaca untuk itu perlu kajian analisis khusus untuk mengetahui tanda-tanda tersebut. Budiman dan Kris (via Wulandari & Siregar, 2020:30) menjelaskan bahwa tanda adalah perwujudan konkret dari sebuah citra bunyi dan diidentifikasikan dengan citra bunyi tersebut sebagai penandanya. Untuk itu kajian lebih lanjut mengenai tanda-tanda khususnya dalam karya sastra adalah disiplin ilmu semiotika.


148 Semiotika secara umum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tanda. Sistem analisis semiotika memandang tanda sebagai sesuatu dengan struktur jelas, dalam arti tanda yang seolaholah memiliki makna tertentu padahal bermakna lain (Yuliantini & Putra, 2017:66). Teeuw (via Sartini, 2007) menjelaskan bahwa semiotika merupakan tanda sebagai bentuk tindak komunikasi yang kemudian disempurnakan menjadi sebuah model sastra yang mempertanggungjawabkan berbagai faktor dan aspek hakiki untuk memahami gejala kesusastraan sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat. Jadi dapat disimpulkan bahwa semiotika merupakan kajian yang memandang sebuah tanda sebagai sesuatu yang memiliki struktur jelas serta dapat dipertanggungjawabkan berbagai faktor dan aspek hakikatnya dalam memahami gejala kesusastraan. Terdapat banyak tokoh yang menjadi pilar hadirnya ilmu semiotika, dimulai dengan Ferdinand De Saussure, Charles Sanders Pierce, Charles Williams Morris, Roland Barthes, dan lain sebagianya. Dalam kajian ini pendekatan akan menggunakan teori semiotika dari Charles Sanders Pierce. Teori C. S. Pierce digunakan karena teorinya begitu menyeluruh, deskripsi struktural dari semua sistem penandaan. Konsep semiotika C. S Pierce memfokuskan hubungan trikotomi yang terdiri dari hubungan antara objek, representamen dan interpretan. Dalam hubungan antara trikotomi dibagi menjadi tiga yaitu ikon yang berdiri sebagai sebagai tanda yang ada, indeks yang berdiri sebagai tanda yang bergantung terhadap denotatum, dan simbol yang merupakan tanda yang berkaitan dengan donotatun dan ditentukan oleh suatu konvensi. (Asriningsari & Umaya, 2014:77) Cerpen Menunggu Layang-layang karya Dee Lestari mengisahkan kisah persahabatan Christian dan Starla dari yang awalnya baik-baik, sempat renggang, namun akhirnya kembali dan


149 menjadi sepasang kekasih. Singkat cerita sudah selama empat tahun Christian jadi tempat curhat Starla dengan topik yang selalu sama saja yaitu tentang lelaki yang berkencan dengannya. Akhir curhatpun dari minggu ke minggu juga selalu sama karena Starla tidak menemukan kecocokan pada setiap lelaki yang dikencani. Hingga di suatu momen Christian sudah muak dengan semua curhatan Starla dan menyuruh Starla untuk tidak menghubunginya lagi. Hingga disuatu mome akhirnya Starla menghubungi Christian lagi karena terjadi masalah dan akhirnya Christian membantu Starla dan mengizinkannya untuk menginap diapartemennya. Dimomen tersebut tanpa sengaja Christian mulai ada rasa nyaman kepada Starla dan Starla-pun juga merasakan hal yang sama. Terapi Christian terlalu takut untuk mengakui rasa nyaman kepada Starla dan meminta Starla menjauhinya. Setelah Starla menjauh rasa kosong dihati Christian mulai menggeliat dan pada akhirnya Christian sudah tidak tahan lalu mengakui semua perasaanya kepada Starla. Banyak tanda-tanda yang disisipkan Dee Lestari dalam cerpen yang bisa dibaca sekali duduk ini. Untuk itu cerpen ini dipilih karena untuk dianalisis tanda-tandanya yang berkaitan dengan ikon, indeks, dan simbol. Selain itu gaya bahasa Dee Lestari yang cukup santai dengan penggunaan yang cukup sering majas simile membuat cerpen ini sangat menarik itu dikaji. Dan yang terakhir sejauh pengamatan penulis belum ada kajian yang membahas cerpen ini dengan menggunakan teori semiotika yang berkaitan dengan ikon, indeks, dan simbol HASIL DAN PEMBAHASAN A. Ikon Sobur (via Wulandari & Siregar, 2020:31) menjelaskan bahwa ikon merupakan benda fisik yang hampir mirip dengan apa yang direpresentasikan. Kemiripan menjadi tandai representasi tersebut. Contoh dari ikon adalah karya seni berupa gambar, patung,


150 dan lain sebagainya. Dalam cerpen Menunggu Layang-layang karya Dee Lestari terdapat tiga ikon yang ditemukan, yaitu layang-layang, tempat sampah, dan kaos kaki. Berikut penjabarannya. 1. Layang-layang penanda sesuatu yang dikendalikan Layang-layang yang menjamah tinggi diangkasa dapat dilambangkan sebagai penanda sesuatu yang dikendalikan. Meskipun layang-layang terkesan bebas kesana-kemari namun sebenarnya ada seseorang yang mengendalikan dari bawah lewat benang. Dalam cerpen Menunggu Layanglayang karya Dee Lestari, ikon layang-layang menggambarkan kondisi dua tokoh utama dalam cerpen yaitu Christian dan Starla. Dalam hal ini Christian yang selalu berusaha untuk mengontrol atau mengendalikan Starla ketika dekat dengan lelaki. Seperti dijelaskan dalam cerita bahwa Starla sering berganti-ganti pasangan karena ketidakcocokan, dan setiap pasangan yang dikencani selalu diceritakan pula kepada Christian. Disinilah fungsi Christian sebagai yang mengontrol atau mengendalikan Starla agar tidak kelewat batas bahkan dia berani berterus terang bahwa sikap Starla yang demikian dia tidak sukai. Dilain sisi Christian juga selalu menjaga dan menolong Starla ketika Starla dalam suatu masalah. 2. Tempat Sampah penanda penampung hal yang tidak berguna Tempat sampah merupakan wadah untuk membuang segala sesuatu yang tidak berguna. Untuk itu tempat sampah dapat dilambangkan sebagai penanda penampung hal-hal yang tidak berguna. Dalam cerpen Menunggu Layang-layang karya Dee Lestari, ikon tempat sampah ini menggambarkan kondisi Christian yang menjadi tempat bercerita Starla. Christian hampir seminggu sekali selalu dihubungi Starla untuk menceritakan kencanya dengan lelaki yang dia pilih. Topik Starla setiap minggu tidak lebih dari itu dan dengan


151 akhir cerita yang sama yaitu Starla selalu meninggalkan lelaki yang berkencan dengannya. Tentu cerita Starla ini menjadi hal yang tidak berguna karena sudah berulang kali Starla bercerita tentang kencannya dengan lelaki namun selalu berakhir perpisahan. Dan Christian selama empat tahun menjadi tempat sampah semua cerita Starla yang selalu sama saja dengan objek lelaki yang berbeda-beda. Berikut kutipannya. "Kalau kita teruskan-apa pun itu," aku bahkan tak bisa memberi judul atas apa yang terjadi, "dua minggu, paling tiga minggu lagi, aku yang bakal pasang tenda di depan apartemenmu. Ngemis-ngemis supaya kamu sudi menerimaku. Dan kalau udah begitu, kamu mau lari ke siapa lagi, Star? Aku satu-satunya tempat sampahmu selama ini." (Lestari, 2015:168-169) 3. Kaos kaki penanda mudah diganti Dibandingkan dengan sepatu yang sama-sama melekat di kaki, kaos kaki lebih sering untuk mudah diganti. Apabila tidak suka dengan mudah kaos kaki dapat diganti dengan segara. Untuk itu kaos kaki dapat dilambangkan sebagai penanda sesuatu yang mudah diganti. Dalam cerpen Menunggu Layang-layang karya Dee Lestari, ikon kaos kaki menggambarkan lelaki-lelaki yang silih berganti berkencan dengan Starla. Starla merupakan perempuan dengan daya tarik tinggi sehingga mudah memikat minat lelaki. Namun Starla susah menemukan lelaki yang cocok dengannya sehingga mudah berganti-ganti pasangan layaknya bergantiganti kaos kaki. Berikut kutipannya. Starla berganti pacar sama gam- pangnya dengan ganti kaus kaki, dan ketika saha- bat terdekatku terancam menjadi


152 kaus kaki, dia membalikkannya seolah-olah aku ini si paranoid yang tidak setia kawan. (Lestari, 2015:152) B. Indeks Sobur (via Wulandari & Siregar, 2020:31-32) menjelaskan bahwa indeks merupakan tanda yang menunjukan terdapatnya hubungan antara tanda dan petanda yang bersifat kausalitas atau hubungan sebab akibat. Contoh indeks adalah asap sebagai tanda dari adanya api, lebam sebagai tanda dari adanya luka, dan lain sebagainya. 1. Indeksi terjadi pada kutipan berikut ini. "Selamat pagi." Suara Starla yang khas menyapaku. Merdu, tapi mengganggu. Enak didengar, tapi selalu berbuntut kurang enak. Berdasarkan statistik, dia lebih sering menelepon untuk minta tolong. (Lestari, 2015:140) Hubungan sebab terjadi pada kutipan di atas, dengan kalimat ―Merdu, tapi mengganggu. Enak didengar, tapi selalu berbuntut kurang enak‖ yang menunjukkan akibat karena meskipun suara Starla merdu namun ada sesuatu yang dicurigai oleh Christian. Sementara kalimat ―Berdasarkan statistik, dia lebih sering menelepon untuk minta tolong‖ merupakan sebab karena Starla menelpon pasti lebih sering untuk minta tolong dan hal itu merepotkan bagi Christian. 2. Indeksi berikutnya terjadi pada kutipan berikut ini. Tangannya tiba-tiba meraih tanganku. Hangat. Impuls listrik. Dari sana, yang terjadi adalah reaksi kimia. Yang bahkan aku, atau Starla, tidak punya kendali lagi atasnya. (Lestari, 2015:165) Hubungan sebab akibat terjadi pada kutipan diatas, dengan kalimat ―Yang bahkan aku, atau Starla, tidak punya kendali


153 lagi atasnya.‖ merupakan akibat karena Starla dan Christian tidak mampu mengendalikan diri masing-masing saat itu. Sementara kalimat ―Tangannya tiba-tiba meraih tanganku‖ merupakan sebab karena dengan tangan Starla memegang tangan Christian membuat mereka melakukan hal diluar kendali mereka 3. Indeksi berikutnya juga terjadi pada kutipan berikut ini. "Dua hari kemarin adalah kesalahan terbesar dalam hidupku," berat mulutku "Kita sama-sama tahu ini akan berakhir seperti apa. Aku bukan yang kamu cari, Kamu bukan yang aku cari. Kita kembali kayak dulu lagi, Oke?" (Lestari, 2015:168) Hubungan sebab akibat terjadi pada kutipan diatas, dengan kalimat ―Aku bukan yang kamu cari, Kamu bukan yang aku cari.‖ merupakan sebab karena Christian beranggapan bahwa Strala bukan tipe perempuan dia dan dia bukan tipe laki-laki Starla. Sementara kalimat "Dua hari kemarin adalah kesalahan terbesar dalam hidupku," merupakan akibat karena saat dua hari itu Christian merasa jatuh cinta kepada Starla dan itu dianggap Christian sebagai kesalahan terbesarnya sehingga Christian perlu meluruskan hal ini kepada Starla. 4. Indeksi lainnya juga terjadi pada kutipan berikut ini. "Aku... memang segitu takutnya... segitu nggak percayanya...," kataku terbata, "tapi, aku sekarat tanpa kamu." (Lestari, 2015:172) Hubungan sebab akibat terletak pada kutipan diatas, dengan kalimat "Aku... memang segitu takutnya... segitu nggak percayanya...," merupakan sebab karena Christian takut


154 Starla akan berpaling darinya sehingga dia tidak mempercayai Starla apabila jadi pasanganya. Sementara kalimat "tapi, aku sekarat tanpa kamu." merupakan akibat karena pada nyatanya Christian merasa kesepian tanpa kehadiran Starla disampingnya. C. Simbol Sobur (via Wulandari & Siregar, 2020:32) menjelaskan bahwa simbol merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan ini bersifat arbitrer atau berdasarkan kesepakatan dari masyarakat. Contoh simbol misalnya kata ―kamar‖ yang menjadi simbol untuk konsep kita beristirahat atau tidur. 1. Simbol Kemapanan Simbol kemapanan dalam cerpen ditunjukan secara langsung dengan makanan yang dipesan dan koleksi anggur yang dimiliki. Tentu makanan tersebut merupakan menu makanan orang luar negeri berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia yang memakan nasi sehingga secara tidak langsung menunjukan tingkat perekonomian yang dimiliki adalah menengah ke atas. Berikutnya diketahui bahwa sebotol anggur bahkan sempat untuk jadi koleksi tentu memiliki harga yang tinggi dan tidak semua orang mampu membelinya. Berikut kutipannya. Aku berdehem. Satu dori steak, light oil, saus lemonnya terpisah. Saladnya pakai vinaigrette, Baked potato, tanpa toping. Minumannya satu botol Perrier, still, suhu ruangan. (Lestari, 2015:142-143) Satu botol koleksi anggurku dibuka agar sesi mengobrol ini mengalir lancar (Lestari, 2015:161) 2. Simbol Kepedulian Simbol kepedulian terlihat dalam kutipan di bawah.


155 “Kamu aman disini,” kataku pelan. (Lestari, 2015:156) Ujaran ―kamu aman disini‖ merupakan bentuk kepedulian Christian yang menenangkan Starla karena mengalami suatu masalah. Saat itu Christian mengizinkan Starla tinggal diapartemennya agar Starla merasa aman. 3. Simbol Jatuh Cinta Simbol jatuh cinta nampak pada ujaran Christian saat bangun pagi setelah semalam bersama dengan Starla. Saat itu Christian tidak lagi memperdulikan rutinitasnya karena merasa sudah ada Starla, seseorang yang dia butuhkan dan membuat Christian jatuh cinta. Berikut kutipannya. Aku duduk. Tubuhku terasa ringan, kepala terasa enteng. Sungguh sensasi yang asing. Tidak ada bunyi beker. Tidak ada iringan musik. Aku tak peduli soal sarapan. Aku tak butuh itu semua. Ada seseorang di sebelahku. Dan sorot matanya lebih memukau daripada matahari pukul limaempat- lima. (Lestari, 2015:166) 4. Simbol Kesedihan Simbol kesedihan dapat dilihat pada kutipan di bawah. Matahari di bola mata itu padam seketika. Berganti dengan air yang menumpuk di pelupuk, terus membuncah hingga menetes satu demi satu, dan akhirnya membanjir. Inilah kali kedua aku melihat Starla menangis. Namun baru kali ini aku melihat ia begitu kesakitan. Terpaksa aku menunduk. Tidak sanggup melihat. (Lestari, 2015:169) Kalimat ―matahari di bola mata itu padam‖ dan air yang ―menumpuk di pelupuk‖ merupakan simbol dari kesedihan yang dialami Starla. Saat itu Starla menangis kesakitan karena perkataan Christian.


156 5. Simbol Kehilangan Simbol kehilangan dapat dilihat pada kutipan di bawah. Ada kekosongan yang tak bisa kujelaskan. Aku berfungsi, tapi sebagian diriku seperti bermutasi menjadi zombie. (Lestari, 2015:169) Kata ―kekosongan‖ dan kalimat ―bermutasi menjadi zombie‖ menjadikan simbol hilangnya sesuatu dalam diri Christian. Christian merasa kehilangan sosok Starla karena ucapannya tempo hari. 6. Simbol Kebahagian Simbol kebahagian dapat dilihat pada kutipan di bawah. Dan, Starla mulai menangis, dibarengi tawa. Dari makhluk angkasa, ia bertransformasi menjadi makhluk air di bawah tanah. Namun, matahari justru kembali terbit di bola matanya yang kini berbinar cantik. (Lestari, 2015:173) Kalimat ―bola matanya yang kini berbinar cantik‖ menjadikan simbol kebahagian sudah hadir dalam diri seseorang. Dalam hal ini Starla sudah kembali bahagia dan memaafkan Christian serta kembali bersama Christian lagi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas ditemukan unsur tanda berupa ikon, indeks, dan simbol pada cerpen Menunggu Layang-layang karya Dee Lestari. Ikon yang didapat dari cerpen berupa layang-layang sebagai penanda sesuatu yang dikendalikan, tempat sampah sebagai penanda tempat pembuangan hal tidak berguna, dan kaos kaki sebagai penanda sesuatu yang mudah diganti. Sementara itu indeks juga terdapat dalam cerpen ini berjumlah empat


157 indeks yang seluruhnya berikatan dengan tingkah laku dua tokoh utama. Terakhir simbol yang didapat dalam cerpen ini yaitu simbol kemapanan, kepedulian, jatuh cinta, kesedihan, kehilangan, dan kebahagian. DAFTAR PUSTAKA Asriningsari, A., & Umaya, N. (2010). Semiotika teori dan aplikasi pada karya sastra. Sartini, N. W. (2007). Tinjauan teoritik tentang semiotik. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 20(1), 1-10. Lestari, Dee. (2015). Menunggu Layang-layang dalam Kumpulan Cerita Madre. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41. Yuliantini, Y. D., & Putra, A. W. (2017). Semiotika dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye. Literasi: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya, 1(2), 65-72.


158 CITRA SIFON DALAM CERPEN “CUMBU ULAR” KARYA RISDA NUR WIDIA Tia Aprilita | 21210141033 PENDAHULUAN Risda Nur Widia adalah salah satu penulis Indonesia yang lahir di Narmada, Nusa Tenggara arat pada 23 November 1991. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan doktor di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Risda Nur Widia telah memiliki beberapa karya dan menghasilkan buku tunggal dengan judul Berburu Buaya di Hindia Timur yang terbit tahun 2020. Ia juga aktif menulis cerpen yang sudah dimuat di berbagai media. Salah satu cerpnnya adalah Cumbu Ular. Cumbu Ular adalah salah satu cerpen karya Risda Nur Widia yang terbit di Kompas pada 12 November 2023. Cerpen ini bercerita tentang Kawa yang akan dijual oleh ayahnya kepada Balene sebagai seorang sifon. Hal ini dikarena desa dalam cerpen yang tidak disebutkan apa nama desa tersebut mencari tumbal sifon. Bermula dari tikus-tikus yang menyerang tanaman penduduk desa hingga membuat kerugian besar-besaran. Tak hanya itu, hama tikus begitu sulit diatasi oleh penduduk tapi musim kemarau juga tidak kunjung usai setelah hampir lima bulan hujan tidak turun. Kemarau membuat ladang-ladang menjadi kering. Warga dan maveva (kepala adat) akhirnya berembuk untuk mnegadakan upacara toit ulan agar hujan datang, beberapa ekor ayam dan babi menjadi persembahannya. Namun, setelah beberapa minggu hujan tidak juga turun, dan maveva berkata bahwa desa tersebut membutuhkan tumbal sifon. Sifon dalam cerpen Cumbu Ular dicitrakan begitu kompleks. Citra merujuk pada gambaran mental atau persepsi yang seseorang


159 miliki mengenai suatu objek, situasi, atau orang. Citra juga dapat diartikan sebagai image yang dibangun oleh seseorang dalam pikiran mereka mengenai sesuatu, seperti reputasi seseorang atau identitas suatu merk. Citra sifon dalam cerpen Cumbu Ular begitu kompleks, apalagi bila diliht berdasarkan konteks sosial, budaya, dan religi. Hal ini dikarenakan ritual sifon yang tidak berkaitan langsung dengan adat dan budaya yang dipercayai masyarakat. Namun, juga berkaitan dengan hak dan kebebaasan kaum perempuan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Citra Sifon dalam Konteks Sosial, Religi, dan Budaya Sifon merupakan suatu ritual tradisional masyarakat etnis suku timor (Atoin Meto) di beberapa daerah di tengah hingga barat pulau Timor, yakni melakukan kegiatan penyunatan, namun yang uniknya adalah pasca sunat si lelaki diharuskan melakukan hubungan seks yang dipercaya mampu menyembuhkan luka pasca penyunatan tersebut (Natonis, 2013). Jadi, sifon adalah hubungan seks yang dilakukan oleh seorang lelaki pasca sunat dengan tujuan membuang panas, supaya organ seksual pria kembali berfungsi dengan baik. Namun, hubungan ini tidak boleh dilakukan dengan istri atau calon instrinya sendiri. Hubungan seks tersebut biasanya dilakukan dengan janda dan saat ini dapat juga dilakukan dengan pekerja sex komersil. Ritual sifon ini biasaynya dilakukan setiap musim panen, dengan tujuan untuk membersihan diri dari berbagai penyakit dan membersihkan diri dari noda dosa dan pengaruh bela setan, bila dilihat secara biologis ritual ini bertujuan untuk menambah kejantanan dan keperkasaan seorang pria. Dalam cerpen Cumbu Ular sifon digambarkan dengan sedikit berbeda. Sifon di sini adalah tumbal yang dipersembahkan guna menghindari desa dari bencana. Bagi penduduk dengan berkorban atau mengorbankan keluarga mereka menjadi sifon maka orang tersebut akan dianggap sebagai penyelamat desa, hal ini berdasarkan


160 tujuan tumbal sfon itu sendiri yang bertujuan untuk membuang kesialan di desa. Dalam cerpen ini, awalnya papa Kawa sempat menolak dan marah karena Balene yang akan membeli anaknya untuk dijadikan sifon. Namun, semua kemarahannya lenyap ketika Balene berkata bahwa ia akan dianggap penyelamat karena merelakan putrinya menjadi sifon, ditambah dengan kekeringan dan hama tikus yang membuatnya gagal panen dan tidak memiliki pemasukan sama sekali akhirnya membuat papa Kawa bersedia menjual anaknya. Papa Kawa sempat marah karena tawaran Balene ini. Namun, Balene tidak kehabisan akal. Selain menawarkan uang yang jumlahnya banyak, Balene menjelaskan bahwa papa Kawa akan menyelamatkan penduduk desa bila mau menjual anaknya sebagai sifon. Ditambah lagi papa Kawa kini tidak memiliki pemasukan apapun karena musim tanam gagal dilakukan. Papa Kawa akhirnya menyetujui Balene. Walaupun ritual sifon bertujuan untuk kebaikan, tapi pada dasarnya ritual tersebut tetap bertentangan dengan norma dan agama karena melibatkan hubungan seks bebas tanpa terikat dengan pernikahan. Bahkan tumbal sifon harus bersedia menjadi pelacur setelah selesai menjalani ritual untuk membuang tulah desa. 2. Citra Sifon sebagai Alat Menguasai Perempuan Ritual sifon menjadi salah satu alat untuk menguasai perempuan, di mana perempuan dijadikan sebagai objek dan orientasi seksualits laki-laki. Menjadi sifon sendiri memiliki syarat, yaitu harus seorang perempuan yang masih perawan, belum pernah tidur dengan seorang lelaki. Hal ini membuat sulitnya mencari tumbal sifon, gadis-gadis di desa tidak ada yang mau mengorbankan dirinya dan merelakan keperawana dan kehidupan masa mudanya untuk lelaki yang tidak dicintainya.


161 Mereka tahu bahwa mencri sifon sangatlah sulit di desa. Apalagi syarat seorang sifon harusla seorang wanita perawan yang belum pernah tidur dengan seorang pria. Menjadi sifon seolah menjadi kehancuran hidup gadis-gadis di desa, bukan hanya karena mereka harus melpaskan keperawanan dan masa mudanya untuk lelaki yang tidak dcintainya, tetapi setelah mereka menunaikan ritual atau hajat membuang bencana di desa, mereka juga harus menjadi pelacur setelahnya. Mereka tidak ingin merelakan keperawanan dan kehidupan masa mudanya pada laki-laki yang tidak dicintainya. Bahkan mereka tak mau harus hidup sebagai pelacur setelah menunaikan hajat membuang tulah desa. Citra sifon sebagai alat untuk menguasai perempuan juga dapat dilihat dengan Kwa yang berusaha melarikan diri dari desa. Untuk mencapai tujuannya karena pengaruh Balene, akhirnya papa Kawa memaksa anaknya untuk menjadi sifon. Kawa yang tidak ingin menjadi sifon memilih untuk melarikan diri. Ia tak berniat kembali meskipun banyak warga desa yang mengejarnya. Hingga di hutan ia melihat ular dan lebih memilih mencumbu ular yang ditemuinya, menghisap bisa ular tersebut. Kawa lebih memilih menghabisi nyawanya dibandingkan menjadi seorang sifon. KESIMPULAN Sifon dalam cerpen Cumbu Ular digambarkan sedikit berbeda dengan sifon pada umumnya yang merupakan kebudayaan masyarakat NTT. Sifon dalam cerpen Cumbu Ular adalah salah satu ritual yang dipercayai masyarakat untuk menghilangkan bencana, dan digambarkan digambarkan sebagai penyelamat karena membung tulah desa. Tetapi, di lain sisi bagi perempuan di desa sifon dianggap dan digambarkan sebagai bencana dan kehancuran hidupnya serta digambarkan sebagai alat untuk menguasai prempuan karena mereka


162 harus merelakan keperawanan dan masa mudanya, ditambah tumbal sifon yang harus menjadi pelacur setelahnya. Maka dapat disimpulkan bahawa ritual sifon tidaklah dibenarkan terlepas dari tujuannya yang membuang tulah. Ritual sifon dalam cerpen Cumbu Ular. Sifon juga digambarkan sebagai budaya yang bertentangan dengan nilai dan norma karena ritual tersebut dilaksanakan dengan melakukan hubungan seks di luar nikah, ditambah dengan aturan bahwa tumbal sfon haruslah perempuan yang masih perawan dan harus rela menjadi pelacur setelahnya. DAFTAR PUSTAKA Natonis, Z. (2013). LARANGAN BERZINA DALAM AL-QUR‘AN DAN RITUAL “SIFON” PADA ETNIS SUKU TIMOR NTT. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Widia, R. N. (2023) Cumbu Ular. Runag sastra. Diunggah pada 12 November 2023 melalui https://ruangsastra.com/31930/cumbu-ular/.


163 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN "EMPAT PULUH HARI SEBELUM MATI" Muhammad Ziadatul Khoir | 21210141034 PENDAHULUAN Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra memiliki daya tarik yang khas dalam membangkitkan imajinasi pembaca dan mengundang mereka untuk menjelajahi dimensi-dimensi yang tersembunyi di dalam kata-kata. Salah satu pendekatan analisis yang dapat memberikan wawasan mendalam terhadap struktur dan makna dalam cerpen adalah kajian semiotika. Kajian semiotika merupakan kajian analisis yang sangat berguna untuk mengeksplorasi makna dan simbol yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Semiotika sebagai disiplin studi yang memusatkan perhatian pada ikon, indeks, dan simbol memberikan pandangan spesifik terhadap bagaimana kata, kalimat, dan bahasa dalam sebuah karya dapat diartikan dan diinterpretasikan pada kehidupan nyata. Dalam penelitian ini, kajian semiotika menjadi pendekatan yang relevan untuk menganalisis cerpen "Empat Puluh Hari Sebelum Mati" karya Dody Widianto. Cerpen "Empat Puluh Hari Sebelum Mati" menceritakan tentang sebuah keluarga kecil yang mengalami kemalangan, yaitu meninggalnya sosok bapak. Empat puluh hari menjelang kematian, tokoh Bapak sering kali berbuat baik kepada tetangganya dengan memberikan bunga anggrek hasil budidayanya. Dari ketiga anaknya, hanya satu yang sering mengunjungi orang tuanya untuk menjenguk. Kematian tokoh Bapak terbilang mendadak karena tidak mengalami sakit apa pun sebelumnya. Maka dari itu, hanya anak bungsunya saja yang mengetahui kematian tokoh Bapak tersebut. Cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati" menghadirkan dimensi naratif yang


164 kompleks disertai kata, kalimat, dan wacana yang dapat dipecahkan dan diinterpretasikan melalui sudut pandang semiotika. Prayogi dan Ratnaningsih (2020:21) mendeskripsikan bahwa cerpen merupakan salah satu bentuk prosa fiksi, sebagai karya fiksi cerpen dalam penciptaanya melalui peng-imajinasian yang diuraikan dalam bentuk cerita fiktif dan sering menggunakan penandaan berupa ikon, indeks dan simbol dalam pengisahan ceritanya karena di dalam tanda terdapat makna-makna yang tersembunyi. Dengan mempertimbangkan tanda-tanda, simbol, dan makna yang terkandung dalam teks cerpen tersebut, peneliti dapat menggali lebih dalam pesan tersembunyi yang ingin disampaikan oleh penulis menggunakan kajian semiotika. Charles Sanders Peirce, seorang filsuf dan ahli logika Amerika, menitikberatkan kajian semiotika pada konsep tanda dan pengklasifikasian mereka ke dalam tiga kategori utama, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Peirce memandang semiotika sebagai ilmu yang mempelajari proses tanda dan makna di dalamnya. Dapat dikatakan bahwa analisis semiotika dapat mengeksplorasi penggunaan bahasa simbolis dan tanda-tanda lainnya yang dapat memberikan sudut pandang baru terhadap makna yang terkandung dalam cerpen ini. Dalam konteks semiotika, karakter, objek, hingga peristiwa dalam cerpen dapat dianggap sebagai tanda-tanda yang membawa makna lebih beragam dari sekadar penjelasan literal. Kajian semiotika pada cerpen "Empat Puluh Hari Sebelum Mati" bukan hanya mengarah pada pemahaman lebih mendalam terhadap aspek intrinsik dan ekstrinsik, tetapi juga membuka pintu untuk mengidentifikasi bagaimana tanda dan simbol dapat meresap ke dalam bawah sadar pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi tanda-tanda dalam karya sastra yang merujuk pada objeknya, konsep yang diterapkan dalam penelitian ini disebut sebagai konsep triadik.


165 Konsep triadik ini melibatkan hubungan tanda dengan objeknya melalui tiga cara, yaitu melalui kemiripan fisik atau visual (ikon), keterkaitan kontekstual atau hubungan kausal (indeks), serta hubungan konvensional atau disepakati (simbol). Pilihan pendekatan ini sangat relevan digunakan karena konsep triadik mencakup kajian terhadap tiga jenis tanda utama, yakni ikon, indeks, dan simbol serta menjelaskan hubungan kompleks antara tanda-tanda tersebut dengan interpreternya. Dengan kata lain, pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menyelidiki bagaimana tanda-tanda, baik dalam bentuk ikon, indeks, maupun simbol yang saling berkaitan dan memberikan makna dalam konteks tertentu. Ikon merupakan tanda yang memiliki kemiripan fisik atau visual dengan objeknya, contohnya foto atau sketsa. Indeks adalah tanda yang memiliki hubungan langsung atau kausal dengan objeknya, misalnya asap adalah indeks keberadaan api. Simbol adalah tanda yang memiliki hubungan konvensional atau disepakati dengan objeknya. Kata-kata, angka, dan bahasa merupakan contoh simbol. Penting untuk dicatat bahwa pemilihan pendekatan semiotika triadik ini didasarkan pada kesesuaian dengan permasalahan penelitian yang akan diteliti. Selain itu, pendekatan ini memberikan kajian yang holistik terhadap unsur-unsur tanda, memperhatikan ikon sebagai representasi visual, indeks sebagai tanda kausal, dan simbol sebagai representasi konvensional. Dengan demikian, pendekatan semiotika triadik ini dianggap sebagai metode yang logis untuk mengeksplorasi dan menganalisis tanda-tanda dalam karya, terutama ketika fokus penelitian adalah pada hubungan antara tanda-tanda dan interpretasinya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan paparan di atas, kajian semiotika Charles Sanders Pierce memuat; ikon, indeks, dan simbol. Berikut


166 merupakan hasil analisis kajian semiotika pada cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati‖ karya Dody Widianto. A. Ikon dalam Cerpen “Empat Puluh Hari Sebelum Mati” Karya Dody Widianto Pierce dalam teorinya menjelaskan bahwa ikon adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan. Jadi, representamen mempunyai kemiripan dengan objek realita yang diwakilinya (Ilmayanti, 2018:44). 1) Ikon ―empat puluh hari‖ penanda kemalangan ―Empat puluh hari‖ sering kali dilambangkan sebagai penanda cobaan dan kemalangan. Dalam agama Islam, terdapat tanda-tanda yang dialami oleh manusia 40 hari sebelum meninggal. Di samping itu, terdapat juga tradisi tahlilan 40 hari yang masih dilakukan oleh masyarakat untuk mendoakan orang yang sudah meninggal selama 40 hari. Sementara itu, dalam alkitab disebutkan bahwa 40 hari berkaitan dengan musibah banjir besar yang menimpa Nuh selama 40 hari 40 malam. Hal inilah yang menimpa Bapak dalam cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati.‖ Bapak diceritakan meninggal dunia, namun Bapak sering kali berbuat baik kepada tetangga pada empat puluh hari sebelum meninggal. Bahkan, Bapak sempat memberikan pesan dan petuah kepada tokoh Aku, tepat empat puluh hari sebelum Bapak meninggal dunia. Kejadian pada empat puluh hari sebelum Bapak meninggal dunia merupakan semacam pertanda yang kebetulan untuk mempersiapkan diri dengan berbuat amal baik agar kelak segala


167 kebaikannya dapat dikenang oleh orang lain. Berikut merupakan kutipan petuah yang diujarkan Bapak pada empat puluh hari sebelum meninggal. "Di dunia ini yang perlu kita siapkan adalah memikirkan bagaimana nanti kita akan dikenang oleh semua orang ketika kita sudah tak ada. Tubuh yang perkasa dan sangat kita banggakan akan digerogoti belatung, tulang-tulang perlahan lapuk menjadi tanah. Pepatah bilang, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan utang. Sudah sepatutnya kita menyiapkan kematian dengan cara paling terpuji" (Widianto, 2023). 2) Ikon anggrek penanda kebaikan Tanaman anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang banyak disukai oleh orang. Tanaman anggrek memiliki keanggunan yang terletak pada mahkota bunganya yang indah dan memanjakan mata sehingga cocok untuk dipajang di depan rumah untuk mempercantik bangunan rumah tersebut. Anggrek memiliki banyak makna dan filosofi di dalamnya, yaitu kebaikan, keberuntungan, kesehatan, keselamatan, dan lainnya. Tanaman anggrek ini merupakan salah satu tanaman yang dimiliki oleh Bapak untuk dijual agar dapat menghidupi keluarganya. Bapak juga seringkali memberi dan membagikan bunga-bunga anggrek miliknya kepada tetangga sekitar secara cuma-cuma. Hal ini dilakukan untuk berbuat baik agar mendapat amal ibadah yang senantiasa menjadi bekal ketika sudah meninggal dunia. Selain itu, ketika tokoh Aku


168 mengetahui tagihan biaya pengobatan ibunya yang cukup besar dan tidak mampu untuk melunasinya, tibatiba seseorang mengetuk pintu untuk membeli anggrek peninggalan Bapak dengan harga yang fantastis. Anggrek Bapak menyelamatkan keluarganya ketika masa sulit walaupun pemiliknya (Bapak) telah tiada. B. Indeks dalam Cerpen “Empat Puluh Hari Sebelum Mati” Karya Dody Widianto Menurut Wulandari dan Siregar (2020:37) indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Berikut merupakan indeks yang terdapat dalam cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati.‖ 1) Indeks terdapat pada kejadian ketika ketiga anaknya tersebut telah berkeluarga dan tinggal luar kota. Ibu khawatir jika Bapak telah meninggal, tidak ada yang menemaninya di rumah itu. Kejadian itu mengandung indeks, ketiga anaknya telah berkeluarga dan tinggal di luar kota merupakan sebab. Ibu khawatir akan kesepian di masa tuanya merupakan akibat. 2) Indeks juga terdapat pada kejadian ketika 40 hari sebelum meninggal, Bapak sering berbagi bunga Anggrek kepada tetangganya. Setelah Bapak meninggal, anggrek tersebut dapat terjual dengan harga mahal yang dapat digunakan untuk melunasi pengobatan penyakit Ibu. Kejadian ini tentu saling berhubungan dan berkaitan, di mana pada semasa hidupnya Bapak sering berbagi merupakan sebab dan ketika telah tiada, peninggalannya membuahkan hasil yang bermanfaat


169 merupakan akibat. Hal ini semacam ungkapan ―apa yang ditanam, maka itulah yang dituai.‖ 3) Indeks selanjutnya terlihat pada kutipan “Kami bertiga bisa kuliah juga dari hasil kerja keras bapak dan menjual lima petak sawah. Sekarang hanya pekarangan dan rumah kami yang tersisa. Sudah selayaknya, sebagai anak kami harus membalas kebaikan mereka.‖ Hubungan sebab akibat terlihat pada kutipan tersebut karena saling berkorelasi antara kalimat satu dengan kalimat berikutnya. Kalimat ―kami bertiga bisa kuliah juga dari hasil kerja keras bapak dan menjual lima petak sawah‖ menunjukkan sebab, sedangkan kalimat ―sudah selayaknya, sebagai anak kami harus membalas kebaikan mereka‖ menunjukkan sebuah akibat. 4) Indeks berikutnya terdapat pada kutipan ―Ibu juga tak mau ikut denganku atau memilih di antara kami bertiga, mana yang menurut ibu merasa nyaman. Ibu mencintai rumah mungil kami sama seperti ibu mencintai bapak.‖ Hubungan sebab akibat terletak pada kalimat ―Ibu juga tak mau ikut denganku atau memilih di antara kami bertiga, mana yang menurut ibu merasa nyaman‖ yang menunjukkan akibat, sementara kalimat ―Ibu mencintai rumah mungil kami sama seperti ibu mencintai bapak‖ merupakan sebab. C. Simbol dalam Cerpen “Empat Puluh Hari Sebelum Mati” Karya Dody Widianto Menurut Wulandari dan Siregar (2020:39) simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain di luar bentuk perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Berikut ini merupakan


170 simbol yang terdapat dalam cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati.‖ 1) Simbol duka Terdapat simbol duka pada kutipan ―Kedatanganku dua jam setelah kabar duka itu membuat ibu sedikit lega. Walau dari air muka, ibu tak akan bisa menyembunyikan dusta. Gumpalan awan hitam seolah berarak di wajah ibu yang siap menurunkan hujan lebat sewaktu-waktu.‖ Kutipan tersebut merupakan simbol duka, kesedihan, atau kemalangan yang sedang menimpa Ibu karena kematian Bapak. Kalimat ―Gumpalan awan hitam seolah berarak di wajah ibu yang siap menurunkan hujan lebat sewaktu-waktu‖ bermakna bahwa Ibu sedang bersedih dengan raut wajah yang murung sehingga sewaktu-waktu dapat menangis berlinang air mata. 2) Simbol ketidakberdayaan Dapat dilihat pada kutipan ―Tanpa satu pun anak yang menemaninya. Ibu perlahan akan kerepotan dalam berjalan, memasak, mencuci pakaiannya sendiri, bahkan akan kesusahan berjalan ketika hendak buang hajat, merambat pelan menyusur tembok ketika umur terus menggerogoti kesehatan tubuhnya dalam tangan dan kaki yang gemetaran.‖ Kutipan tersebut menandakan adanya simbol ketidakberdayaan yang dialami oleh Ibu jika hidup sendirian di masa tuanya. 3) Simbol cinta ―Ibu mencintai rumah mungil kami sama seperti ibu mencintai bapak,‖ kutipan tersebut mengindikasi


171 adanya simbol cinta terhadap rumah kecil milik Ibu yang dibangun bersama Bapak serta rumah tersebut memiliki banyak kenangan suka duka di dalamnya. Di sisi lain, dapat dimaknai juga bahwa Bapak merupakan rumah cinta Ibu yang senantiasa mengingatkan untuk selalu pulang berada di tempat paling nyaman. Sudah selayaknya bahwa rumah merupakan tempat paling nyaman di mana hati berada. Home is where the heart is. 4) Simbol kemiskinan Terdapat kutipan ―Sudah tak ada yang tersisa di rumah ini selain pekarangan depan dan taman bunga milik bapak setelah ibu menggadai emas dan beberapa perabot di dalam rumah. Tak ada satu pun dari kami yang ingin mencontoh atau sekadar meneruskan usaha bapak. Kami asyik dengan rutinitas dan keluarga kami,‖ yang menandakan adanya simbol kemiskinan karena sudah tidak mempunyai barang berharga lagi. Hal ini juga disebabkan karena anak-anaknya tidak ada yang tertarik untuk meneruskan usaha orang tuanya. Pada kalimat ―setelah ibu menggadai emas dan beberapa perabot di dalam rumah,‖ menandakan bahwa emas merupakan simbol barang berharga karena mempunyai nilai jual yang tinggi. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis kajian semiotika pada cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati‖ karya Dody Widianto, ditemukan adanya ikon, indeks, dan simbol di dalamnya. Terdapat dua ikon pada cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati,‖ yaitu ikon ―empat puluh hari‖ sebagai penanda kemalangan dan ikon anggrek sebagai penanda kebaikan dan keberuntungan. Selain itu, terdapat empat


172 indeks yang ditemukan pada cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati‖ karya Dody Widianto. Terakhir, terdapat adanya simbol yang ditemukan pada cerpen ―Empat Puluh Hari Sebelum Mati‖ karya Dody Widianto, yaitu simbol duka, simbol ketidakberdayaan, simbol cinta, dan simbol kematian. DAFTAR PUSTAKA Ilmiyanti, R. (2018). Peristiwa Intifadah dalam Cerpen Li Man Nahmil Al-Rasas Karya Jihad Al-Rajbi. Jurnal Alfaz, Vol. 6, No. 1. Prayogi, Rahmad. dan Ratnaningsih, Dewi. (2020). Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita Tentang Lidah Karya Guntur Alam. Jurnal Elsa, Vol. 18, No. 2. Widianto, D. (2023). Empat Puluh Hari Sebelum Mati. Ruangsastra.com. Diakses melalui https://ruangsastra.com/29437/empat-puluh-hari-sebelummati/. Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 4, No. 1.


173 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL PADA CERPEN “MIRA INGIN JADI BATU” KARYA MASHDAR ZAINAL Pebrianur Yuliana | 21210141035 PENDAHULUAN Semiotika merupakan cabang ilmu yang berusaha mengkaji atau membahas suatu hal yang berhubungan dengan tanda. Semiotika dapat mengkaji berbagai hal termasuk teks sastra. Seperti yang dijelaskan oleh Fadhilla, dkk (2022) bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda yang dapat ditemukan pada banyak hal, seperti karya sastra. Karya sastra memiliki banyak genre, salah satunya adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra yang tidak sepanjang novel sehingga dapat dibaca dalam waktu singkat atau sekali duduk (Jacob, dalam Fadhilla, dkk, 2022). Fadhilla, dkk (2022) melanjutkan bahwa cerpen mengandung unsur fiksi karena berasal dari imajinasi pengarang yang kemudian disesuaikan dengan kehidupan manusia. Oleh karena cerpen bersifat fiksi, seringkali pengarang menggunakan tanda sebagai penggambaran apa yang dimaksudnya. Untuk menganalisis tanda dalam suatu karya sastra dapat menggunakan kajian semiotika. Dalam semiotika, penggunaan tanda pastinya digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Seperti pengertiannya, menurut Pierce (dalam Sukandar dan Sidik, 2021) Semiotika adalah studi tentang tanda dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti fungsi, hubungan dengan tanda lain, serta proses pengiriman dan penerimaannya. Hal itu dapat dikatakan bahwa penggunaan tanda dapat dimanfaatkan oleh pengarang untuk berbagai kepentingan.


174 Sukandar dan Sidik (2021) menyatakan bahwa tanda adalah sesuatu yang terdiri dari suatu hal lain yang memiliki kesamaan atau dapat menjadi pembanding dari sesuatu tersebut dengan menggunakan berbagai hal yang dapat menjadi penggantinya. Ilmu yang mempelajari tentang tanda adalah semiotika. Tanda dalam semiotika dapat berbentuk ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah sesuatu yang mewakili wujud aslinya. Indeks adalah sesuatu yang menyatakan hubungan sebab akibat. Simbol adalah sesuatu yang mewakili suatu hal atas dasar kesepakatan. Cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ menceritakan kisah Mira yang merupakan seorang siswa yang selalu merasa cemas di hari pembagian rapor di sekolahnya. Mira merasa cemas diakibatkan karena nilainya yang selalu jelek sehingga mamanya akan selalu memarahinya dan memperlakukannya dengan kasar. Dalam penulisan cerpen ini, pengarang menggunakan tanda-tanda dalam susunan kalimat yang digunakan. Penggunaan tanda tersebut tentunya memiliki maksud serta arti tertentu. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti cerpen ini. Cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ merupakan salah satu cerpen yang ditulis oleh Mashdar Zainal. Dalam penelitian ini, penulis berusaha untuk menemukan ikon, indeks, dan simbol yang digunakan oleh pengarang di dalam cerpennya. Selain itu, penulis juga ingin mencari tahu terkait bagaimana fungsi tanda serta makna pada tanda-tanda yang digunakan oleh pengarang. Untuk itu penulis menggunakan analisis kajian semiotika untuk mencari dan menemukan jawaban atas permasalahan yang dirumuskan tersebut. Penulis memilih cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ karena cerpen tersebut belum pernah diteliti. Selain itu, cerpen tersebut juga membahas dan berusaha menyampaikan permasalahan-permasalahan


175 sosial dengan menggunakan bahasa yang diperkirakan banyak menggunakan tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada cerpen berjudul ―Mira Ingin Jadi Batu‖ menunjukkan adanya tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Hasil dan pembahasannya adalah sebagai berikut. 1. Ikon Ikon menurut Wulandari dan Siregar (2020) merupakan tanda yang berhubungan dengan objek atau acuan yang memiliki sifat mirip. Ikon dapat juga dikatakan sebagai tanda yang merujuk pada benda yang menyerupai atau diwakilinya. Dalam cerpen yang berjudul ―Mira Ingin Jadi Batu‖ menunjukkan adanya penggunaan ikon yang digunakan oleh pengarang. Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa kutipan berikut. “Malam, sehari sebelum pembagian rapor kenaikan kelas, Mira menatap cermin dalam kamarnya, dia mendengar suara-suara dari dalam dirinya.” Penanda ikon ―cermin‖ dalam kutipan tersebut dimaknai sebagai diri sendiri. Cermin merupakan kaca bening yang dapat memperlihatkan gambar atau bayangan diri sendiri. Cermin dalam kutipan di atas dapat dimaknai sebagai diri tokoh Mira. Digambarkan bahwa Mira menatap cermin dan mendengar suara-suara dalam dirinya, yang dapat dimaknai bahwa Mira sedang melihat dirinya sendiri saat itu dalam keadaan gelisah.


176 “Mia bergegas, dia benar-benar merasa seperti mesin yang harus lekas sibuk, harus lekas bekerja.” Penanda ikon ―Mesin‖ dalam kutipan di atas dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bisa diatur untuk melakukan segala hal sesuai keinginan pemiliknya. Mesin identik dengan sebuah alat yang dikontrol oleh pengguna atau pemiliknya. Mesin diibaratkan sebagai alat yang tidak memiliki perasaan dan rasa lelah. Penggambaran diri Mira yang diibaratkan seperti mesin menunjukkan rasa tertekan dalam diri Mira. Mira seakan dipaksa untuk bergerak dan bekerja sesuai dengan arahan dan keinginan mamanya, tanpa peduli dengan perasaan dan kemampuannya. Dalam hal ini, ikon mesin menunjukkan adanya kondisi Mira yang kehilangan kebebasan untuk menentukan dan menjalani apa yang dia inginkan. “Miraaa! Matikan lampunya dan cepat tidur! Besok pagi kita ambil rapormu. Kita lihat apa kamu bakal naik kelas atau mendekam di kelas empat!” Penanda ikon ―Rapor‖ dalam kutipan di atas dapat diartikan sebagai nilai atau hasil akhir dalam rentang waktu tertentu. Rapor merupakan penilaian akhir di lingkup sekolah yang dibagikan di setiap semester. Nilai pada rapor biasanya juga menentukan apakah seorang siswa bisa melanjutkan ke jenjang kelas berikutnya atau mengulang kembali kelasnya. Nilai pada rapor digunakan sebagai landasan kepintaran seseorang di masa sekolah. Dalam kutipan di atas, rapor dapat dimaknai sebagai penentu kepintaran seorang siswa.


177 “Entah kenapa, setelah menerima rapor, mama selalu berubah menjadi naga yang ganas. Benar-benar persis.” Penanda ikon ―Naga‖ dalam kutipan di atas menunjukkan ikon binatang. Naga digambarkan sebagai binatang yang berbentuk seperti ular, namun memiliki sayap dan kaki. Ciri khas naga adalah bisa menyemburkan api. Penambahan kata ‗yang ganas‘ menunjukkan bahwa hewan naga merupakan salah satu hewan buas. Dalam kutipan di atas, dijelaskan bahwa mama Mira seakan berubah menjadi sosok naga yang ganas setelah menerima rapor Mira. Sehingga ikon naga dalam kutipan tersebut dapat dimaknai sebagai seseorang yang meluapkan emosi marahnya. “Dalam perjalanan pulang, wajah mama masam dan kaku seperti arca raksasa.” Penanda ikon ―arca raksasa‖ dalam kutipan di atas dapat diartikan sebagai seseorang yang mendominasi. Mira menggambarkan mamanya seperti arca raksasa setelah melihat nilai rapornya. Arca dapat dapat diartikan sebagai patung yang berfungsi sebagai media pemujaan, yang biasa dikaitkan dengan dewa atau Tuhan. Raksasa menunjukkan sesuatu yang besar dan kuat. Arca raksasa sebagai penggambaran dari tokoh mama dapat dimaknai sebagai seseorang yang mendominasi. “Mira membayangkan, jika dia membantah kata-kata mama, bisa-bisa dia dikutuk menjadi batu, seperti Malin Kundang.” Penanda ikon ―Batu‖ dalam kutipan di atas dapat diartikan sebagai benda mati yang tidak memiliki kehidupan. Batu disandingkan dengan cerita Malin Kundang, di mana tokoh


178 Malin Kundang dikutuk menjadi batu sebagai akibat dari sikap durhaka kepada ibunya. Batu adalah benda mati dan keras. Batu dalam cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ dapat dimaknai sebagai rasa putus asa. 2. Indeks Indeks menurut Fadhilla, dkk (2022) merupakan lambang yang menunjukkan adanya keterkaitan antara hubungan sebab-akibat dan petanda. Singkatnya, indeks dapat dikatakan sebagai hubungan sebab akibat antara simbol dan makna simboliknya. Pada cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖, terdapat indeks yang dapat dibuktikan melalui beberapa kutipan berikut. “Tak pernah dapat nilai bagus. Tidak banyak disukai teman-teman. Dan selalu menjadi bulan-bulanan omelan para guru.” Dalam kutipan di atas terdapat hubungan sebab akibat pada kalimat pertama dan ketiga. ―Tak pernah dapat nilai bagus‖ menunjukkan adanya sebab, sedangkan pada kalimat ―selalu menjadi bulan-bulanan omelan para guru‖ menunjukkan adanya akibat. Mira sebagai siswa di sekolah yang tidak pernah mendapat nilai bagus, sering menjadi bahan omelan para guru. Pada cerita tersebut digambarkan bahwa nilai merupakan sesuatu hal yang diagung-agungkan, bahkan oleh para guru sendiri. “Dia teringat semester lewat. Selepas pembagian rapor, begitu mama keluar dari ruang kelas, mama langsung menyeretnya pulang.” Dalam kutipan di atas terdapat tanda dalam bentuk indeks. Pada kalimat ―selepas pembagian rapor‖ merupakan sebab yang merujuk pada makna tersirat bahwa nilai Mira tidak


179 memuaskan, sementara akibat terdapat pada kalimat ―mama langsung menyeretnya pulang. Kalimat tersebut menunjukkan adanya hubungan korelasi atau dengan kata lain kalimat pertama tidak bisa berdiri sendiri tanpa dilanjutkan dengan kalimat berikutnya. “Rapor dibanting di atas meja dalam keadaan terbuka. “Lihat nilaimu. Lihat! Merah semua! Kamu selalu bikin marah Mama. Tak pernah bisa bikin Mama bangga!” Data kutipan di atas menunjukkan adanya indeks. Mama Mira membanting rapor Mira di atas meja, kemudian memarahi Mira dan mengatakan bahwa Mira tak pernah membuatnya bangga karena nilai rapornya selalu merah. Hal ini menunjukkan adanya hubungan sebab akibat. Nilai rapor Mira yang selalu merah menunjukkan sebab, sementara kemarahan mama Mira dengan membanting rapor di atas meja menunjukkan akibat. “Mira mengabaikan semua itu. Dia menyesal. Hampir saja dia membenci mama. Untungnya dia teringat pelajaran agama tentang berbakti kepada orang tua.” Pada kutipan di atas, adanya indeks ditunjukkan pada kalimat ―Dia menyesal. Hampir saja dia membenci mama‖ Kalimat tersebut menunjukkan akibat, sementara sebab ditunjukkan pada kalimat ―untungnya dia teringat pelajaran agama tentang berbakti kepada orang tua.‖ Kedua kalimat tersebut menunjukkan adanya hubungan sebab akibat. Mira yang teringat pelajaran agama tentang berbakti kepada orang tua, akhirnya menyesal karena hampir saja dia membenci mamanya. “Tak ada seorang pun kecuali mamanya dan Bu Guru Karti yang tengah duduk berhadap-hadapan, dengan wajah serius. Mira mencium firasat yang kurang enak.


180 Mengapa mama dipanggil terakhir dan sendirian? Apakah Mira tidak naik kelas? Yang diamati, jika ada orang tua dipanggil sendirian, lalu mengobrol agak lama dengan wali kelas, artinya anaknya tidak naik kelas. Mira semakin takut dan mengkerut. Keringat dingin mulai mengembun di dahinya.” Pada kutipan di atas menunjukkan adanya hubungan sebab akibat. Mama Mira yang berbincang berdua di dalam ruangan memunculkan rasa cemas pada diri Mira. Rasa cemas tersebut ditunjukkan dengan adanya keringat dingin yang mengembun di dahinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa keringat dingin yang muncul di dahi Mira adalah akibat yang ditimbulkan dari adanya kecemasan dalam dirinya yang disebabkan oleh Mamanya yang tak kunjung keluar kelas. 3. Simbol Simbol merupakan tanda yang merujuk kepada hubungan antara penanda dan petanda yang sifatnya arbitrer (Prayogi dan Ratnaningsih, 2021). Artinya, simbol merupakan tanda yang terbentuk karena adanya kesepakatan atau bersifat konvensional. Simbol dalam cerpen ―Mira Ingin Jadi Batu‖ dapat ditunjukkan pada beberapa kutipan berikut. “Apa itu belajar? Memelototi buku-buku penuh tulisan, penuh angka, penuh tanda-tanda aneh. Bikin kepala pusing saja. Lebih asyik menggambar, mewarna, bikin komik. Tapi sayang, komik tidak diujikan di sekolah.” Dalam kutipan tersebut terdapat simbol pada kata-kata ―buku‖ dan ―komik.‖ Simbol tersebut menyatakan bagaimana sistem pendidikan di Indonesia. Siswa dituntut untuk mempelajari banyak buku, matematika, sains, dan ilmu yang


181 menunjang akademik mereka. Siswa dikatakan pintar apabila mampu memahami ilmu-ilmu tersebut. Namun, pendidikan Indonesia seakan mengesampingkan hal-hal yang bersifat nonakademik seperti kreatifitas di bidang seni yang pada kutipan di atas disimbolkan dengan ―komik‖. Dalam hal ini buku menyimbolkan kepandaian yang diagungkan, sementara komik menyimbolkan kreatifitas yang dikesampingkan. “Rapor dibanting di atas meja dalam keadaan terbuka. “Lihat nilaimu. Lihat! Merah semua! Kamu selalu bikin marah Mama. Tak pernah bisa bikin Mama bangga!” Kutipan di atas juga menunjukkan adanya simbol yang masih terkait dengan sistem pendidikan di Indonesia. Simbol yang terdapat dalam kutipan di atas adalah ―rapor‖. Namun merupakan akumulasi nilai selama satu semester. Nilai yang ada pada rapor biasanya menunjukkan hasil seorang siswa selama satu semester yang dianggap sebagai tanda pintar atau tidaknya seorang siswa. Padahal nilai rapor bernilai subjektif. Dalam hal ini, rapor menyimbolkan kepintaran siswa. “Berkelebat beberapa nasihat dalam kepala Mira. Anak yang mengecewakan orang tua dan tak pernah membuat bangga orangtua termasuk anak durhaka. Seperti Malin Kundang. Bakal jadi Batu.” Data kutipan tersebut menunjukkan adanya simbol yang tergambar pada kata ―Malin Kundang‖. Dalam cerita dongeng, Malin Kundang merupakan sosok anak yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri karena durhaka. Dalam kutipan di atas, Mira merasa dirinya telah mengecewakan mamanya karena nilainya selalu jelek. Hal itu membuat dia berpikir bahwa dia adalah anak durhaka dan bisa dikutuk manjadi batu layaknya


182 Malin Kundang. Hal ini menunjukkan bahwa Malin Kundang pada kutipan di atas merupakan simbol kekecewaan. SIMPULAN Dalam cerpen berjudul ―Mira Ingin Jadi Batu‖ karya Mashdar Zainal menunjukkan adanya tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Terdapat 6 ikon yang ditemukan, yakni 1) cermin sebagai penanda tubuh, 2) mesin sebagai penanda tekanan, 3) rapor sebagai penanda kepintaran, 4) naga sebagai penanda kemarahan, 5) arca raksasa sebagai penanda dominasi, dan 6) batu sebagai penanda keputusasaan. Ikon yang digunakan mewakili bentuk aslinya, namun memiliki makna dibaliknya. Sementara itu, ditemukan beberapa kutipan yang menunjukkan adanya indeks. Indeks tersebut merujuk pada adanya hubungan sebab akibat suatu peristiwa atau situasi yang terjadi pada cerpen. Selain itu, simbol juga ditemukan pada cerpen tersebut. Simbol yang ditemukan antara lain 1) buku sebagai penanda akademik, 2) komik sebagai penanda kreatifitas, 3) rapor sebagai penanda kepintaran, dan 4) Malin Kundang sebagai penanda kekecewaan atau ketidaksesuaian dengan harapan. Simbol tersebut merujuk pada hal-hal yang bersifat konvensional. DAFTAR PUSTAKA Prayogi, R., & Ratnaningsih, D. (2020). Ikon, indeks, dan simbol dalam cerpen tiga cerita tentang lidah karya guntur alam. Edukasi Lingua Sastra, 18(2), 20-27. Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41.


183 Fadhilla, I., Hidayatika, U., Hira, H. H., Farihah, H., & Nabilah, A. (2022). Ikon, Indeks, dan Simbol pada Cerpen Sesat Pikir Para Binatang Karya Triyanto Triwikromo. Sukandar, R., & Sidik, B. (2021). Makna Mimpi Dalam Cerpen Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Dalam Kajian Semiotika. Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(2), 93-104.


184 REPRESENTASI KELAS SOSIAL DALAM CERPEN “SAGRA” KARYA OKA RUSMINI Tofikoh Hidayati | 21210141038 PENDAHULUAN Karya sastra merupakan wujud representasi pemikiran, gagasan, ide, dan imajinasi pengarang yang dituangkan melalui medium bahasa. Penyampaian dengan medium bahasa tersebut tentunya tidak lepas dari adanya tanda-tanda dalam karya yang diciptakan. Kehadiran tanda-tanda digunakan sebagai proses komunikasi antara pengarang dan pembaca. Proses komunikasi tersebut berkenaan dengan maksud yang ingin ditunjukkan pengarang kepada pembaca. Tanda-tanda dalam karya sastra lebih lanjut dikaji menggunakan disiplin ilmu semiotika. Semiotika merupakan ilmu yang mengkaji mengenai simbol, indeks, dan ikon. Semiotika berasal dari bahasa Yunani, Semeion, yang berarti tanda. Secara terminologis, Semiotika menurut Sobur (2003) yaitu metode analisis yang digunakan untuk mengkaji tanda. Karya sastra seringkali mempresentasikan kehidupan nyata di dalamnya. Representasi tersebut dapat dianalisis menggunakan tanda-tanda yang dikaji menggunakan disiplin ilmu semiotika. Salah satu karya sastra yang ikut serta mencerminkan kehidupan nyata adalah cerpen Sagra. Cerpen Sagra ini merupakan salah satu cerpen karya Oka Rusmini. Cerpen Sagra menggambarkan mengenai masyarakat Bali. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, menganut sistem stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial merupakan pengelompokkan tingkatan sosial yang berada di tengah masyarakat. Stratifikasi sosial masyarakat Bali ada empat


185 yang diwakili oleh sistem kasta, yaitu : brahmana, kstaria, waisya, dan sudra. Oka Rusmini yang merupakan pengarang berdarah Bali, banyak mengangkat kehidupan masyrakat Bali dalam karya sastranya, tak terkecuali cerpen Sagra. Oleh karena itu cerpen ini menarik untuk dikaji dan dilihat bagaimana penggambaran masyarakat Bali oleh Oka Rusmini di dalamnya menggunakan teori Semiotika Charles Sanderse Pierce. Cerpen Sagra yang menceritakan tentang kehidupan kaum brahmana dan sudra ini penting dikaji untuk melihat representasi kelas sosial di dalamnya. Fokus masalah dalam analisis ini yaitu : 1.) bagaimana ikon, indeks, simbol dalam cerpen Sagra yang merepresentasikan kelas sosial masyarakat Bali?, dan 2.) bagaimana representasi kelas sosial yang ada dalam cerpen Sagra. HASIL DAN PEMBAHASAN Cerpen Sagra merupakan salah satu cerpen yang bernafaskan lingkungan sosial di Bali. Cerpen ini menceritakan bagaimana kehidupan Sagra menjadi seorang pelayan di kediaman Pidada atas permintaan, Sewir, ibunya. Namun, yang tidak Sagra, anak-anak Pidada, dan warga desa ketahui adalah cerita dosa Pidada dan Sewir. Pidada dan Sewir hamil di luar nikah, tetapi mereka menikah bukan dengan pasangan masing-masing karena alasan kasta. Pidada menikah dengan kekasih Sewir, dan Sewir menikah dengan kekasih Pidada. Sehingga, sesungguhnya dalam darah Sagra mengalir darah bangsawan, namun tidak bisa diakui karena rahasia dosa besar Pidada dan Sewir. Cerpen Sagra karya Oka Rusmini ini mengandung data-data simbolisasi sesuai dengan teori Pierce, yaitu ikon, indeks, dan simbol yang mepresentasikan bagaimana kehidupan kelas sosial masyarakat Bali. Berikut data simbolisasi yang ditemukan dalam cerpen Sagra yang selanjutnya akan dibahas analisisnya dalam sub bab pembahasan.


186 1. Penanda Ikon dalam cerpen Sagra karya Oka Rusmini Ikon merupakan tanda yang memiliki kesamaan atau kemiripan rupa. Penanda ikon dalam cerpen Sagra meliputi : Ikon penanda lingkungan sosial Narasi dan deksripsi yang tertuang dalam kata, kalimat, maupun paragraf dalam cerpen Sagra memiliki ikon penanda lingkungan sosial, diantaranya : Bali, kediaman keluarga Pidada, pura desa, rumah kediaman Sagra, dan Kali Badung. a. Bali Dalam Cerpen Sagra banyak menarasikan kata ―Bali‖ untuk memudahkan pembaca memahami lingkungan sosial tokoh utamanya. Berikut data lingkungan Bali yang ada dalam cerpen tersebut : “Haruskah sistem kasta di Bali dihapus?” “Dia lahir sebagai bangsawan tertinggi di Bali, seorang Brahmana” Dua data di atas merupakan kutipan narasi yang menggambarkan bahwa tokoh Utama dalam cerpen Sagra hidup di daerah Bali. b. Kediaman Keluarga Pidada “Tugus, jangan keluar halaman, nanti Ibu marah lagi.” “Tubuhnya disandarkan ke pintu dekat teras.” “Ditariknya tubuh Yoga dari bak mandi.” “Berkali-kali Sagra menarik napas panjang, berharap Cemeti keluar dari kamar mandi dan membiarkannya mengurus bayi mungil itu sendiri.” “Tugus marah sama semua orang di rumah.” Kutipan data-data di atas menggambarkan bahwa tokoh utama tinggal di kediaman keluarga Pidada, dan menjadi pelayan di sana. Data di atas menunjukkan kediaman keluarga Pidada melalui tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, yang merupakan anak dan cucu dari Pidada. c. Kali Badung


187 Ikon penanda lingkungan sosial lainnya berada di Kali Badung. “ Ketika Pidada berada di Boston, lelaki buruk rupa itu mati. Hanyut di kali Badung.” “ Bagaimana mungkin seorang laki-laki bisa tergelincir dan mati begitu saja di Kali Badung? Manik juga tidak habis pikir, apa yang dicari suami buruk rupa itu di Kali Badung.” “Ayahnya ditemukan terapung di Kali Badung.” “Mereka menuntut mecaru di Kali Badung, juga di desa.” Lingkungan Kali Badung, memang tidak memiliki hubungan langsung dengan tokoh utama dalam cerpen ini. Namun, lingkungan tersebut memiliki hubungan implisit, di mana suami Pidada yang meninggal di Kali Badung adalah ayah kandung Sagra yang asli, dan suami Sewir yang juga meninggal di Kali Badung adalah ayah dari anak-anak Pidada. Lingkungan Kali Badung ini muncul untuk memperjelas pembaca tentang dosa besar dan hubungan antara Pidada, Sewir, dan Sagra (tokoh utama). d. Pura Desa “Suatu hari, ketika ada piodalan, upacara di pura desa, Sagra ingin sekali memakai kebaya brokat merah milik ibunya.” “Pantas para lelaki yang sering berjongkok di belakang pura desa untuk metajen, selalu memandangku penuh rasa lapar.” Tokoh utama juga berada di lingkungan sosial sekitar pura desa, di tempat itu tokoh utama dan warga desa sering melakukan upacara. e. Rumah Kediaman Keluarga Sagra dan Sewir Sebelum Sagra berpindah ke kediaman Pidada dan menjadi pelayan di sana atas permintaan ibunya, cerpen ini juga menarasikan kehidupan tokoh utamanya di kediaman keluarganya sendiri. Hal ini untuk menggambarkan


188 lingkungan tempat tinggal Sagra sebelumnya dan memperkuat alasan Sewir meminta Sagra untuk ke griya, tempat tinggal Pidada, kepada pembaca. “ Tiba-tiba saja Luh Sewir sudah muncul di ambang pintu dapur.” “Dengan cekatan diambilnya tali timba di sumur, dan dengan kasar ditenggelamkannya tubuh ember itu ke mulut sumur yang menganga.” 2. Penanda Indeks dalam Cerpen Sagra Indeks merupakan sebuah hubungan kausalitas atau sebabakibat yang ada dalam suatu cerita dan memiliki keterikatan fenomensl atau eksistensi antara objek dengan representasinya. Berikut indeks yang ada dalam cerpen Sagra yang berhubungan dengan represntasi kelas sosial : Indeks perilaku yang menggambarkan perasaan tokoh utama “Sagra hanya bisa tersenyum malu. Dia takut Perempuan cantik itu mampu menangkap seluruh cintanya pada Yoga.” Kutipan data di atas menunjukkan perilaku Sagra yang hanya mmapu tersenyuk ketika Cemeti, ibu Yoga, mengatakan bahwa Yoga lebih cocok menjadi anaknya. Perilaku tersebut menggambarkan perasaan Sagra yang senang sekaligus takut jika dia akan ketahuan menganggap Yoga memang sebagai darah dagingnya, bukan sebatas anak asuhnya. Perasaan tersebut juga timbul atas rasa cinta dan kasih sayang Sagra yang besar kepada Yoga. “ Dulu, Sagra pernah merasa hanya akan berperan sebagai pengasuh. Nyatanya, Yoga lebih memilih tidur dengannya daripada dengan ibunya sendiri.” Perilaku Yoga yang lebih memilih tidur dengan Sagra, membuat Sagra merasakan posisi lebih dari sekadar pengasuhnya.


189 “Sagra mengangguk. Dia paham kedudukannya. Sagra juga paham, sebagai wang jero, pelayan Perempuan, dia harus tahu diri. Kutipan data di atas menggambarkan bagimana sikap Sagra yang memahami statusnya sebagai kasta bawah dan posisinya sebagai pengasuh di rumah Pidada. Perasaan Sagra yang tergambar yaitu rasa tahu diri untuk tidak melewati batas. Kutipan di atas juga memiliki hubungan kausalitas dengan perkataan Pidada yang menegaskan perbedaan posisi Sagra dengan keluarganya, berikut narasi kutipan tersebut : “Jangan sembarangan merawat cucuku, Sagra. Kelak, dialah penerus dinasti {idada. Dia yang akan mewarisi hotel yang kumiliki. Ajari dia menjadi bangsawan yang baik. Tugasmu hanya menjaganya dan memberinya pengertian bahwa dia adalah pewari sseluruh bentuk kejantanan lakilaki…” “Kau harus jaga kebangsawanannya. Jangan pernah makan satu piring dengannya. Jaga dia sebagai bangsawan. Jangan kotori darah birunya. Kau paham?!” Perilaku selanjutnya yang mencerminkan perasaan tokoh yang berkorelasi dengan kelas sosial ditemukan pada percakapan antara Luh Sewir dan Sagra. “Meme titipkan kau pada keluarga griya, Sagra. Hanya kau yang diinginkan keluarga Pidada.” “Aku tidak mau!” “Jangan bikin Meme susah!” “Aku puas dengan segala yang kumiliki saat ini, Meme” Perdebatan antara Sagra dan Luh Sewir menggamabrakan perasaan keduanya. Luh Sewir yang merasa hidup Sagra akan terjamin ketika dia bekerja pada keluarga Pidada, sedangkan Sagra merasa cukup dengan segala apa yang sudah mereka miliki. Kekahwatiran Luh Sewir berdasar pada


190 pemikirannya bahwa kaum sudra hidup serba kekurangan, namun jika Sagra tinggal dan melayani keluarga Pidada, hidupnya akan lebih terjamin. 3. Simbol Simbol merupakan tanda konvensional dan bersifat arbitrer. Berikut beberapa simbol yang mencerminkan kelas sosial : a. Penamaan Tokoh Penamaan tokoh dalam cerpen Sagra sangat mencerminkan kelas sosial dengan memberikan nama depan tokoh yang berbeda-beda, antara lain : Luh Sagra, Luh Sewir, Ida Ayu Pidada, Ida Bagus Yoga Saputra, Made Jegog, Ida Ayu Manik, Wayan Maglek, Made Togok, Ida Bagus Astara, Dayu Prami. b. Sapaan Sapaan dalam cerpen Sagra terdapat perbedaan yang begitu kontras, yaitu : - Meme dan Ibu Kutipan data sapaan ―Meme‖ : “Kita punya tanah, Meme. Sejak Bape mati, bukankah kita yang merawat tanah itu?....” “Aku puas dengan segala yang kumiliki saat ini, Meme,” Kutipan data sapaan ―Ibu‖ : “Ibu sudah tidak sayang lagi padaku.” “Habis, Ibu dan Aji hanya memperhatikan adik saja.” - Aji dan Bape Kutipan data sapaan ―Aji‖ “Tugus anak kesayangan Ibu dan Aji.” “Sejak Bape mati, bukankah kita yang merawat tanah itu?....” - Kata Tugus : “Tugus anak kesayangan Ibu dan Aji.”


191 “Tugus Yoga berbuat apa?” “Pertanyaan apa itu, Tugus?” “Kok Tugus marah.” - Kata Ratu : “Ratu…” “Ratu…, jangan berkata seperti itu, tiang…” “Kenapa Ratu bertanya seperti itu?” “Apa maksud Ratu?” “Ah, itu hanya perasaan Ratu.” dll. c. Penyebutan kata ganti yang merujuk pada diri sendiri dan orang lain Penyebutan ini meliputi kata : aku, tiang, ratu, dan tugus. - Kata Aku : “Tidak bolehkah aku menyentuhmu lagi, Sagra?” “Kau marah padaku, Sagra?” “Aku tahu kewajibanku, Ibu” dll. - Kata Tiang : “Ratu…, jangan berkata seperti itu, tiang…” d. Status sosial - Bangsawan “Adakah kaum bangsawan yang tinggal di balik tembok griya memiliki dosa besar?” “Ajari dia menjadi bangsawan yang baik.” - Wang Jero “Sagra juga paham, sebagai wang jero, pelayan Perempuan, dia harus tahu diri.” 4. Representasi Kelas Sosial dalam Cerpen “Sagra” Karya Oka Rusmini Kelas sosial menurut (Abu, 2009) merupakan tingkatantingkatan sosial masyarakat dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Nama lain dari kelas sosial adalah stratifikasi sosial.


192 Stratifikasi sosial merupakan sistem yang menempatkan individu atau kelompok masyarakat ke dalam kelas-kelas tertentu secara hirarki dan hak serta kewajiban yang berbeda pada setiap lapisan tersebut (Muin, 2004). Dalam masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, terdapat stratifikasi sosial berdasarkan sistem kasta. Hal tersebut tercerminkan dalam cerpen Sagra karya Oka Rusmini melalui ikon, indeks, dan simbol yang digunakan dalam kalimat, dialog, atau narasinya. Kelas sosial dalam masyarakat Bali berdasarkan kasta ada empat, yaitu : brahmana, ksatria, waisya dan sudra. Cerpen Sagra menggambarkan kehidupan kelas sosial masyarakat dalam kasta brahmana dan sudra. A. Kasta Brahmana Kasta Brahmana merupakan tingkatan tertinggi dalam masyarakat Bali dan berkaitan dengan keturunan kependetaan. Kasta brahmana dapat diidentifikasikan dari gelar atau nama seseorang. Kaum brahmana menggunakan gelar Ida Bagus dan Ida Ayu pada nama depan seseorang (Anwar, 2016 : 2). Dalam cerpen Sagra gelar/nama tersebut dijadikan simbol kasta Brahmana melalui penamaan tokohnya. - Ida Ayu Ida Ayu merupakan gelar nama untuk kaum brahmana Perempuan. Berikut data nama dalam cerpen Sagra yang menggunakan gelar Ida Ayu : 1. Ida Ayu Pidada 2. Ida Ayu Manik - Ida Bagus merupakan gelar nama untuk kaum brahmana laki-laki. Berikut data namanya : 1. Ida Bagus Yoga Saputra 2. Ida Bagus Astara


Click to View FlipBook Version