93 Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel. Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya. “Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas. (Ajidarma, 2016). Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klikklik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah. (Ajidarma, 2016). 3. Citra Tokoh Sebagai Perwujudan Karakter dalam Penegakan Hukum 3.1. Saudara Saksi Mata Sebagai Perwujudan Karakter Saksi Sekaligus Korban Keadilan Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu. Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dengan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap
94 sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu dari segala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas. (Ajidarma, 2016). 3.2. Bapak Hakim Yang Mulia Sebagai Perwujudan Karakter Penegak Hukum yang Bersih Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan. “Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!” (Ajidarma, 2016). “Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?” “Mereka berlima Pak.” “Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?” (Ajidarma, 2016). “Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?” “Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”
95 “Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.” (Ajidarma, 2016). Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya? (Ajidarma, 2016). Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel. Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya. “Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas. (Ajidarma, 2016). Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klikklik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah. (Ajidarma, 2016). Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakim Yang Mulia berkata pada sopirnya, “Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?” (Ajidarma, 2016). 3.3. Lima Orang Berseragam Sebagai Perwujudan Karakter Pelanggar Keadilan “Ada beberapa orang Pak.”
96 “Berapa?” “Lima Pak.” “Seperti apa mereka?” “Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.” “Masih ingat pakaiannya barangkali?” “Yang jelas mereka berseragam Pak.” Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.(Ajidarma, 2016). “Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?” “Saya Pak.” “Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satu pun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.” “Saya Pak.”.(Ajidarma, 2016). Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut. (Ajidarma, 2016). 3.4. Pengunjung Persidangan dan Warga Kota Sebagai Perwujudan Masyarakat yang Setengah Hati Mendukung Tegaknya Keadilan Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dengan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap
97 sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu dari segala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas. “Terlalu!” “Edan!” “Sadis!” (Ajidarma, 2016). “Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?” “Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.” Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah. (Ajidarma, 2016). “Demi keadilan dan kebenaran Pak.” Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel. Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya. (Ajidarma, 2016). Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.
98 Tapi orang-orang tidak melihatnya. (Ajidarma, 2016). Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya. (Ajidarma, 2016). Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya. (Ajidarma, 2016). Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya sampai kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya. (Ajidarma, 2016). 3.5. Para Wartawan Sebagai Perwujudan Media yang Kebebasan Berpendapatnya Dibatasi Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klikklik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah. (Ajidarma, 2016). SIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat dua wujud pelanggaran kebebasan berpendapat yang terdapat dalam cerpen ―Saksi Mata‖ karya Seno Gumira Adjidarma (2016), antara
99 lain (1) pencungkilan mata tokoh Saudara Saksi Mata sebagai metafora penghilangan kebebasan akses informasi; dan (2) pencabutan lidah tokoh Saudara Saksi Mata sebagai metafora penghilangan kebebasan berpendapat, terutama dalam bersaksi atas kebenaran. Selain itu, Ajidarma (2016) juga menggambarkan lima aspek yang ada dalam penegakan keadilan di Indonesia, antara lain (1) diabaikannya korban dan saksi mata; (2) disembunyikannya kebenaran; (3) ketidaksadaran korban atas pelanggaran yang dialaminya; (4) adanya usaha untuk menegakkan keadilan; dan (5) respons masyarakat. Terakhir, Ajidarma (2016) memberikan citraan berbeda pada setiap tokoh yang ada dalam cerpen ―Saksi Mata‖. Citraan tersebut antara lain, (1) Saudara Saksi Mata sebagai saksi sekaligus korban dalam kebebasan berpendapat dan penegakan keadilan; (2) Bapak Hakim Yang Mulia sebagai wujud aparat penegak hukum yang bersih; (3) Lima Orang Berseragam sebagai pelaku pelanggaran kebebasan berpendapat; (4) Pengunjung Persidangan dan Warga Kota sebagai wujud respons masyarakat yang setengah hati dalam mendukung kebebasan berpendapat dan penegakan keadilan; serta (5) Para Wartawan sebagai gambaran kondisi media yang kebebasannya dalam berpendapat dan menyebarkan informasi dibatasi oleh oknum pemangku kepentingan. DAFTAR PUSTAKA Ajidarma, S. G. (2016). Saksi Mata. Bentang.
100 ANALISIS IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN NYAI SOBIR KARYA A. MUSTHOFA BISRI Ghina Tsabitah | 21210141021 PENDAHULUAN Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang digemari oleh masyarakat. Tidak hanya karena penggalan sedikit, namun dalam kesedikitan tersbeut terdapat makna yang luar biasa. Cerpen bisa bersifat fiksi namun diinspirasikan dari kisah nyata. Pengarang menggunakan tanda sebagai penggambaran dair kisah nyata di ke dalam karyanya. Untuk menganalisis tanda tersebut dapat digunakan kajian Semiotika. Semiotik adalah ilmu atau metode untuk mengkaji tanda (Hoed dalam Nurgiyanto, 1995:40). Suatu tanda (representamen) merupakan sesuatu yang mencerminkan atau mewakili sesuatu yang lain dalam berbagai konteks. Sesuatu yang lain dinamakan interpretan dari tanda pertama yang muncul lalu pada giliran selanjutnya mengacu kepada objek. Dengan demikian, hubungan antara tanda, interpretan, dan objek terjadi secara tidak langsung. Trikotomi pada bagian objek yang diacu terdiri atas tiga jenis yakni, ikon, indeks, dan simbol. Penulis memilih cerpen Nyai Sobiri sebagai bahan pengkajian karena dalam cerpen ini memiliki berbagai tanda yang disajikan oleh pengarang. Pemilihan kata dan tema yang disajikan pengarang membuat penulis tertarik untuk melakukan analisis semiotika pada cerpen ini. HASIL DAN PEMBAHASAN
101 Pada cerpen berjudul Nyai Sobir menunjukkan adanya tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Hasil pembahasan sebagai berikut, 1. Ikon Ikon adalah tanda yang berhubungan dengan objek atau acuan yang memiliki sifat atau makna yang mirip (Wulandari dan Siregar, 2020). Ikon biasa disebut sebagai tanda yang merujuk pada benda yang menyerupai atau diwakilinya. Beberapa ikon yang ditemukan dalam cerpen Nyair Sobir sebagai berikut, Di samping mengasuh pesantren dengan ratusan santri lakilaki perempuan, beliau secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ‟santri kalong‟. Penanda ikon ‗mengasuh‘ dan ‗melayani‘ dimaknai sebagai membimbing dan mengajari. Mengasuh identik dengan merawat seseorang yang tidak mampu (anak bayi atau orang lanjut usia) dengan hati-hati dan hampir mengurusi semua kebutuhan sehairharinya. Arti melayani pun tidak jauh dengan mengasuh namun dalam artian khusus melayani kondisi suatu status sosial yang membedakan. Dalam kutipan di atas, mengasuh dan melayani dimaknai tokoh Kyai Sobir merupakan guru yang benar-benar mengayomi dan membantu semua kebutuhan santrinya dengan benar. Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan. Penanda ikon ‗pembesar‘ dimaknai sebagai seorang yang memiliki jabatan tinggi. Pembesar biasanya dimaknai melakukan pembesaran atau zoom in dalam hal ukuran barang, seperti foto, ukuran file, dan sebagainya.
102 Alhamdulillah ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan pesantren kita. Penanda ikon ‗ustadz-ustadz yang gede-gede‘ dimaknai sebagai ustadz yang sudah berumur atau memiliki ilmu yang melebihi siapa pun. Tidak dimaknai sekedar gede karena memiliki badan yang besar. 2. Indeks Indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya keterkaitan antara hubungan sebab-akibat. Singkatnya, indeks dapat dikatakan sebagai hubungan sebab akibat antara simbol dan maknanya. Beberapa indeks yang ditemukan dalam cerpen Nyair Sobir sebagai berikut, Aku adalah istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang kemarin-kemarin juga merekaperhatikan dan hormati bersama almarhum. Kalimat pertama menunjukkan adanya sebab dan kalimat kedua menunjukkan adanya akibat. Tokoh aku merupakan istri dari almarhum Kyai Sobir sehingga dirinya diperhatikan dan dihormati oleh para santri ketika Kyai Sobir masih hidup. … yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di desaku. Kalimat pertama menunjukkan adanya sebab dan kalimat kedua menunjukkan adanya akibat. Istri pertama Kyai Sobir wafat menyebabkan Kyai Sobir mencari istri baru yang ternyata tokoh aku yang dipilih.
103 Di samping berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri, aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama, aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai Sobir. Kalimat pertama dan kedua menunjukkan sebab dan kalimat ketiga dan keempat menunjukkan akibat. Tokoh aku berusaha untuk berkegiatan dan menyumbangkan tenaga kepada pesantren agar dilihat. Pada akhirnya pun, hasilnya terlihat dan dipandang sebagai Nyai yang pantas bagi Kyai Sobir. Aku kini benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu. Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang menasihati dan memarahiku. Tokoh aku aku merasakan sendirian disebabkan tidak ada lagi laki-laki yang diurusnya tiap hari, tidak ada yang selalu meperhatikan, menasihati dan memarahi dirinya lagi. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Kalimat pertama menunjukkan adanya akibat dan kalimat kedua menunjukkan adanya sebab. Tokoh aku merupakan wanita muda yang sudah ditinggal oleh suami yang mewariskan pesantren sehingga tidak hanya dia, namun pesantren juga memerlukan seorang
104 kyai laki-laki. Karena hal ini pun, masyarakat menjadi iba dan dan prihatin akan kondisi tokoh aku dan pesantren warisan Kyai Sobir. Namun ketika aku tanya ”Kawin dengan siapa?” kedua orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi. Kalimat pertama menunjukkan sebab dan kalimat kedua menunjukkan akibat. Ketika tokoh aku bertanya balik kepada orang tuanya untuk menikah dengan siapa, orang tuanya tidak dapat menjawab karena juga bingung harus menikah dengan siapa. 3. Simbol Simbol merupakan tanda yang bersifat konvensional yaitu kesepakatan sosial. Simbol adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang secara kaidah konvensional telah lazim digunakan masyarakat. (Pierse dalam Santosa, 1993: 11). Penanda ini bersifat arbiriter. Contoh, sapi merupakan hewan ternak yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum, namun bagi masyarakat beragama Hindu, sapi merupakan salah satu dewa yang diagungkan sehingga tidak boleh dikonsumsi. Dari minta air suwuk**) untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Air suwuk merupakan pengobatan tradiosional yang masih dipercayai Masyarakat dengan menggunakan rapalan doa-doa dari pemuka agama yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari obat-obatan. Suwuk tidak hanya digunakan untuk mengobati manusia namun benda-benda seperti undangan pernikahan juga bisa. Dari minta dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Kalimat diatas menunjukkan adanya simbol bahwa masyarakat Indonesia memiliki pemikiran bahwa pernikahan
105 sangatlah penting, tidak hanya dari diri sendiri bahkan sampai orang tua pun ikut campur. Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Simbol yang terdapat di atas adalah peletakan batu pertama. Hal ini dilakukan sebagai tanda dimulainya pembangunan suatu gedung dan diharapkan berjalan lancar tanpa hambatan. Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke 7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Simbol 100 hari wafar, 1 tahun wafat, dan peringatan haul dimaknai salah satu kegiatan berdoa bersama kepada seseorang yang sudah meninggal. Tujuan utama kegiatan ini dilakukan adalah untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal beserta ibadah yang dilakukan dapat diterima oleh Allat SWT. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi. Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran, lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku tolak dengan halus. Sudah menjadi rahasia muda bahwa masyarakat Indonesia memandang seorang janda muda bukan dalam konteks yang baik. Tanpa memerdulikan bagaimana perasaan yang sesungguhnya dari
106 pihak wnaita, banyak pria yang berburu untuk mendapatkannya. Hal ini menjadi simbol bahwa masyarakat Indonesia masih menganut patriarki yang Dimana seorang wanita, terlebih janda, harus segera memiliki lelaki. SIMPULAN Maka cerpen Nyai Sobir terdapat ikon, indeks, dan simbol menurut kajian Semiotika. Untuk ikon, terdapat berapa 3. Untuk indeks, terdapat 6 kutipan. Untuk simbol, terdapat 5. Disimpulkan dari ketiga tersebut, yang paling banyak ditemukan dalam cerpen Nyai Sobir adalah indeks. Indeks merupakan hubungan antara sebabakibat dan ini sudah cocok dengan cerpen Nyai Sobir karena kisah ini menceritakan kegelisahan hati Nyai Sobir setelah ditinggal mati oleh suaminya. Banyak kilasan masa lalu yang menunjukkan sebabakibat. DAFTAR PUSTAKA Bisri, A. Mustofa. 2012. “Nyai Sobir” dalam Cerpen Pilihan Kompas 2012 Laki-Laki Pemanggul Goni. Jakarta: Kompas. Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Santosa, P. (1993). Ancangan Semiotika dan Pengkajian Sastra. Bandung: Angkasa. Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41.
107 ESSAY BENTUK IKON YANG TERDAPAT DALAM CERPEN “ANAK MERCUSUAR” KARYA MASDHAR ZAINAL Dewi Rirys Jati | 21210141022 Semiotika Semiotika adalah bidang studi yang berhubungan dengan representasi simbol dalam karya sastra. Semua karya sastra terbuka terhadap pendekatan semiotika untuk dianalisis. Karya sastra disampaikan melalui media bahasa. Melalui penggunaan konten tekstual, penulis menunjukkan bahwa tulisannya menyenangkan secara visual. Sastra tertulis ditingkatkan oleh keindahan karakter yang diciptakan oleh penulis. Dalam prosesnya, Semiotika dibagi menjadi beberapa konsep yaitu, Semiotika karya Ferdinand de Saussure, Semiotika karya Charles Sanders, Semiotika karya Umberto Eco, Semiotika karya John Fisk, dan Semiotika karya Roland Barthes. Perbedaan kelima gagasan semiotika yang dikemukakan sarjana ini tidak terlalu signifikan. Definisi semiotika menurut Umberto Eco adalah konsep mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengarang sebuah cerita. John Fiske berkonsentrasi pada tiga studi utama: simbol, kode, dan budaya. Saat ini fokus utama Ferdinand De Saussure adalah pada simbol dan penanda. Berbeda pendapat dengan tokoh Ferdinand de Saussure , C.S. Pearce mengkategorikan konsep menjadi tiga kelompok, yang biasanya disebut sebagai "trikotomi", yaitu ekspresi, penafsir, dan objek. Roland Barthes, seorang tokoh dan pakar semiotika, memaparkan teorinya mengenai konotasi, denotasi, dan mitos.
108 Konsep semiotika menurut C. S. Pierce menekankan ikatan trikotomis antar tokoh dalam sastra. Hubungan antara objek, ekspresi, dan penafsir disebut sebagai trikotomi. Hubungan antar trikotomi adalah hubungan kepribadian yang dilihat atas dasar persamaan (identitas) antar unsur yang disebutkan, biasa disebut ―ikon‖, dan persamaan (kesetaraan) antar unsur yang disebutkan. Hubungan sebab dan akibat dapat dibangun dengan melihat hal ini. ―Indeks‖ berfungsi sebagai bahan acuan, sedangkan simbol diartikan sebagai hubungan antar objek yang dijadikan bahan acuan. Istilah ikon mengacu pada entitas berwujud yang serupa dengan representasinya. Menurut Pierce (dalam Sobur, 2003) Menunjukkan bahwa ikon merupakan indikasi, dan hubungan antara penanda dan maknanya identik secara ilmiah. Ikon dapat didefinisikan sebagai hubungan antara individu dan objek, seperti gambar lanskap atau denah tanah yang dinebulasi. Pada hakikatnya ikon adalah suatu kesatuan yang mempunyai kemiripan dengan objek sumbernya. A. Cerpen “Anak Mercusuar” karya Masdhar Zainal Judul : Anak Mercusuar Karya : Masdhar Zinal Tahun : 2019 Ayahku sebuah mercusuar di akrab dermaga. Mercusuar tua berbadan jangkung, berkemeja putih, & bertopi coklat tahi karat. Ketika malam sorot matanya masih bekerja dgn baik, menyala & menelanjangi semesta pantai: kapal-kapal yg berayun di tepi dermaga, para nelayan berkalung sarung yg sibuk membetulkan mesin, sepasang kekasih yg duduk saling merapat di sebuah dingklik panjang, seekor kepiting yg kehilangan ibunya—yang merangkak gegas meninggalkan garis-garis tipis di atas pasir.
109 Ayahku suatu mercusuar di dekat dermaga. Kakinya tak pernah mengenakan ganjal. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas. Anak-anak kepiting & binatang-binatang kecil tanpa nama senantiasa suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Namun ayah tak pernah tertawa, alih-alih beranjak dr tempatnya. Karena ayah adalah sebuah mercusuar. Dan suatu mercusuar harus menyetujui dua sumpah, yg pertama ia mesti teguh berdiri di daerah yg ditentukan, & kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam. Dan ayahku tak pernah menyalahi sumpah. Ia akan tetap menjadi suatu mercusuar, bahkan sesudah cinta pertama menemukannya. Dst… akses cerpen (https://wargamasyarakat.org/anak-mercusuarcerpen-mashdar-zainal/) B. Bentuk Ikon Dalam Cerita Pendek “Anak Mercusuar” karya Masdhar Zainal (1) Ikon Dermaga Sebagai Penanda Tempat Menururt KBBI (2017), dermaga adalah sekumpulan tembok rendah yang menjulang di sepanjang tepi pantai dan memanjang ke laut yang berfungsi sebagai tempat berlabuh, bongkar muat di dermaga. Pada isi cerpen ―Anak Mercusuar‖, ikon dermaga menjadi penanda tempat atau latar tempat cerita. Cerpen Anak Mercusuar sangat erat kaitannya dengan tokoh dan isinya dengan penggunaan ikon-ikon latar seperti ikon ―dermaga‖. Selain itu, menggunakan ikon dok sebagai latar belakang membantu pembaca memahami isi cerita pendek. (2) Ikon Mercusuar Sebagai Penanda Kebaikan Menurut KBBI (2017), mercusuar bisa berupa menara di permukaan tebing, yang terletak di tengah lautan ("elemen"), atau
110 menerangi area berbatu di dekat permukaan untuk membantu navigasi di malam hari. Mercusuar adalah ikon kelahiran kembali dalam cerita pendek "Anak Mercusuar" fungsinya dijelaskan melalui metafora dan memiliki makna baik. Mercusuar berfungsi sebagai menara dan dapat digunakan untuk menandai batas batuan, wilayah rawan, pulau-pulau kecil, dan bahkan pantai. Ikon mercusuar berfungsi sebagai representasi nasib baik. Cerpen diawali dengan penjelasan tentang lambang mercusuar, dilanjutkan dengan uraian wujud fisiknya dan cara pemanfaatannya. (3) Ikon Laut Sebagai Penanda Kesengsaraan Cerpen tersebut mengisyaratkan bahwa simbol mercusuar memiliki tujuan yang berguna, yang dapat diperjelas dengan mendalami fungsi benda tersebut. Mercusuar ibarat menara yang dapat berfungsi sebagai penanda, indikator batas, dan instrumen sinyal batas batuan, daerah rawan, pulau-pulau kecil, atau pantai.mercusuar berfungsi sebagai representasi nasib baik. Dalam cerpen, simbol mercusuar dijelaskan di awal cerita, dijelaskan bentuk fisik mercusuar, kemudian dijelaskan fungsi mercusuar itu sendiri. (4) Ikon Sekoci Sebagai Penanda Keselamatan Sekoci adalah perahu atau kapal kecil. Ikon keselamatan dilambangkan dengan sekoci dalam cerpen ―Anak Mercusuar‖. Alasannya, sekoci berfungsi sebagai ikon. Hal ini dicontohkan oleh sang ibu yang berhasil bertahan hidup di malam dan laut. Sosoknya yang selamat dari malam dan laut menjadi buktinya. Sekoci tersebut tetap setia pada patung induknya sampai ditemukan di pantai. Ombak mengguncang sekoci kecil itu, namun terbalik dan Ibu tidak tenggelam. DAFTAR PUSTAKA Sobur, A. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
111 IMPIAN SURGA DALAM GOROKAN KAKEK PADA LEHERNYA (CITRA LANSIA YANG TAAT IBADAH PADA TOKOH KAKEK DI ”ROBOHNYA SURAU KAMI”) Feninda Rahmadiah | 21210141023 A. Pendahuluan ‖Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, laku-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.‖ (QS. An-Nisa‘ Ayat 124). Bagi orang-orang yang beriman atau merasa dirinya beriman tentulah masuk surga menjadi impian. Bayangan atas kebahagiaan tiada tara tanpa rasa bosan yang Tuhan tawarkan melalui kitabnya berhasil membuat para umatnya tergiur, meskipun tak dapat dipungkiri sering kali terjadi miskonsepsi atas hal ini. Entah itu karena keminiman pengetahuan sebab enggan untuk memperdalam ilmu atau penyebab lain yang belum terpikirkan, atau hal lain yang tak dapat diterka sebab hati manusia siapa yang tahu bagaimana rupa akarnya. Kisah seorang tokoh utama dalam cerpen karya A. A. Navis yang berjudul ‖Robohnya Surau Kami‖ pantas mendapat perhatian lebih. Tidak disebutkan siapa nama tokoh tersebut, hanya saja orang-orang biasanya memanggil dengan sebutan ‖Kakek‖. Kakek digambarkan sebagai tokoh utama yang taat beribadah sekaligus taat mengajak orang-orang beribadah. Sebagai seorang garin, ia bertempat tinggal di suatu surau. Bagian pelataran sisi kiri dari surau itu adalah tempat di mana biasanya Kakek duduk.
112 Kakek sosok ahli ibadah, begitulah pandangan orang-orang pada Kakek pun bagi Kakek sendiri. Namun, suatu hari hal menarik terjadi. Orang tua yang taat beribadah serta taat mengajak banyak orang ibadah tersebut, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan gorokan di leher menggunakan pisau cukur. Hal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan. Meski demikian, hanya akan ada dua pertanyaan yang akan diulas dan dikaji dalam tulisan ini, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana peristiwa yang terjadi sebelum akhirnya Kakek memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri? 2. Bagaimana hubungan antara citra tokoh utama dalam cerita yang Ajo Sidi ceritakan dengan citra Kakek dalam cerpen Robohnya Surau Kami? B. Analisis Perlu dipahami bersama jalan cerita dari cerpen ‖Robohnya Surau Kami‖ yang ditulis oleh A. A. Navis sebelum akhirnya menganalisis apa yang terjadi pada tokoh utama dalam cerpen tersebut. Maka berikut penceritaan secara singkat yang dapat menjadi ringkasan atau acuan. Biasa dipanggil Kakek, sebab usia dan perawakannya memang sejalan dengan panggilan tersebut. Ia bertempat tinggal di sebuah surau, hidup hanya dengan mengandalkan sedekah yang dipungutnya setiap jumat, sebagian kecil keuntungan dari kolam ikan mas yang berada di depan surau, serta harapan masuk surga. Kadang pun sesekali ia membantu banyak orang di sekeliling surat, dari bantuan itu ia sering diberi makanan, uang, rokok, meski lebih sering mendapat senyuman dan ucapan terima kasih. Begitulah Kakek hidup sehari-harinya.
113 Hingga akhirnya suatu hari, Kakek telah tiada. Surau itu tersisa sendirian. Alih-alih menjaga, manusia lebih suka menghabiskan dan mengabaikan sesuatu yang ada. Sialnya begitu pula nasib surau itu bermuara. Bangunan suci yang boleh jadi robohnya sedang dihitung mundur oleh waktu. Proses kerobohan ini bermula dari Kakek yang tiada. Proses kerobohan ini ditandai dengan suatu bulan yang lebih fakta dari berita manapun juga. Ajo sidi dan bualannya yang terkenal meresahkan hati banyak orang, kali itu ia datang menemui Kakek. Ia menceritakan sesuatu yang tak pernah Kakek duga sebelumnya. Singkatnya, Ajo Sidi bercerita soal seorang haji yang taat ibadah, tetapi ia dilempar oleh Tuhan ke neraka bersama beberapa orang (yang merasa bahwa dirinya adalah orang) yang paling pantas menjadi penghuni surga. Berikut adalah percakapan Haji Saleh dengan Tuhan ketika dirinya sedang diadili oleh Tuhan. ”Engkau?” ”Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.” ”Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.” ”Ya Tuhanku.” ”Apa Kerjamu di dunia?” ”Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.” ”Lain?” ”Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.” ”Lain?” ”Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosadosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu/”
114 ”Lain?” ”Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk mengingsafkan umat-Mu.” ”Lain?” ... Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu. ”Lain lagi?” ”Sudah hambamu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi pengasih dan penyayang, Adil dan Mahatau.” (Navis, A, A, 2008:6-8) Setelah diwawancarai oleh Tuhan, Haji Saleh kemudian dimasukkan ke dalam neraka. Di sanalah ia bertemu dengan manusia lain yang sepandangan dengannya. Mereka berpendapat bahwa Tuhan bisa jadi telah salah menilai. Maka dari itu, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan protes dan meresolusikan keresahan mereka. Di sana, Haji Saleh menjadi pemimpin dan juga juru bicara. Berikut adalah percakapan antara Tuhan dengan para pendemo. Tuhan sempat bertanya perihal tempat tinggal para pendemo. Maka dengan semangat mereka menjawab mereka tinggal di Indonesia. ”Di negeri di mana penduduknya sendiri melarat? ”Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.” ”Negeri yang lama diperbudak orang lain?” ”Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penajajh itu, Tuhanku.”
115 ”Di negeri yang selalu kacau itu hingga kamu degna kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?” ”Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.” ”Engkau rela tetap melarat, bukan?” ”Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.” ”Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?” ”Sungguh pun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.” ”Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?” ”Ada, Tuhanku.: ”Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!” (Navis, A. A. 2008: 10-12) Haji Saleh masih penasaran perihal salah atau tidaknya yang ia lakukan hingga saat ini, tetapi ia sudah terlalu takut untuk bertanya kepada Tuhan. Jadilah dirinya hanya bertanya pada malaikat yang
116 mengangkutnya. Jawaban malaikat tersebut pun akhirnya membuat Haji Saleh mengerti perihal apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya Tuhan pikirkan tetapi ia tidak. ”Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, sehingga mereka itu kucarkacir selamanya. Inilah kesalahamu yang terbesar, terlalu egoistis.” (Navis, A. A. 2008: 12) Seperti itulah suatu kisah yang Ajo Sidi ceritakan kepada Kakek hingga akhirnya Kakek menjadi murung sekali. Hal terparahnya adalah ia yang tadinya berniat menggorok leher Ajo Sidi dengan pisau cukur yang telah ia asah sedemikian rupa sebab begitu besar pula rasa kesalnya terhadap Ajo Sidi, berakhir pada gorohan atas pisau cukur itu ke dirinya sendiri. Itulah yang terjadi pada Kakek. Kemudian, setelah persoalan pertama terjawa, mari jangan lupakan persoalan kedua. Permasalahan berikutnya yang akan di bawah terletak pada perbandingan antara Haji Saleh dan Kakek, sehingga akhirnya psikologis Kakek menjadi terganggu dengan kehadiran sosok fiksi yang Ajo Sidi ceritakan. Windfried North (2006) menyebutkan bahwa citra adalah sesuatu yang bersifat ikonik, yang menggambarkan kualitas secara sederhana. Hal ini dapat dijadikan acuan dalam menjawab permasalahan kedua dengan mempertanyakan: a. Bagaimana citra sosok Kakek? b. Bagaimana citra sosok Haji Saleh? Kakek digambarkan sebagai sosok yang taat beribadah. Ia bahkan rajin pula untuk mengajak orang menuju jalan yang benar. Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi citra dari seorang Haji Saleh. Haji Saleh pun digambarkan sebagai seseorang yang rajin
117 beribadah. Persamaan pertama atas citra Kakek dan Haji Saleh ditemukan, yakni rajin beribadah. Berikutnya, Kakek digambarkan sebagai seseorang yang tinggal di surau. Dengan dirinya tinggal di surau dan melalui narasi yang terdapat di dalam novel dapat ditangkap bahwa Kakek tidak dekat dengan sanak saudara. Usia tua renta yang boleh jadi akan menyenangkan bila dihabiskan bersama cucu dan anak-anaknya tersayang, tidak menjadi salah satu kegiatan di masa tua yang Kakek lakukan. Meski demikian, tak dijelaskan secara pasti mengapa akhirnya Kakek memilih untuk tinggal di surau. Tidak pula ada kejelasan mengenai latar belakang keluarga dari sosok Kakek. Lalu bagaimana dengan Haji Saleh? Mengutip dari pernyataan malaikat, Haji Saleh memang peduli dengan pendidikan agama bagi istri dan anak atau bahkan cucu cicitnya. Namun, pengetahuan agama tersebut hanya sebatas sampai di kepala atau teori saja. Tidak dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian? Sebab seperti itu pulalah Haji Saleh. Persamaan kedua atas citra Kakek dan Haji Saleh ditemukan, yakni tidak memiliki kedekatan yang cukup signifikan dalam artian tidak menuntun istri dan anaknya mengamalkan apa yang diperintahkan oleh agama, melainkan hanya memikirkan dirinya sendiri. Menilik dua persamaan di atas, tentulah Kakek cukup tertegun setelah mengetahui bagaimana kisah Haji Saleh. Boleh jadi, pernyataan malaikat dalam kisah fiksi yang berada dalam fiksi tersebut menyadarkan Kakek akan satu hal hingga akhirnya menganggu pikirannya, membuatnya murung, dan berakhir dengan menggorok lehernya menggunakan pisau cukur.
118 Sosok Kakek dengan citranya sebagai sosok yang religius mengalami suatu proses yang tak dapat dengan mudah dirinya terima setelah mendengar kisah yang Ajo Sidi katakan. Proses yang selama ini Kakek yakini benar kebenarannya, ternyata boleh jadi termuat suatu kekeliruan. Kakek yang hanya berteman dengan surau serta masa tua, membuat dirinya tak dapat benar-benar mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sempat pula hal ini tertuang dalam penggalan dialog yang Kakek ucapkan. ”Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.” (Navis, A. A. 2008: 4). Selain itu, fakta bahwa bualan Ajo Sidi biasanya memiliki tokoh yang mirip wataknya dengan tokoh-tokoh yang nyata dalam cerita tersebut tentu saja juga menggores harga diri Kakek. Sebagai salah satu pemuka agama, tentulah dirinya mengerti bahwa setiap orang di kampung paham bahwa ia ahli ibadah, rajib ibadah, dan taat dalam beragama. Hingga akhirnya suatu hari datang seorang pembual yang seakan-akan tahu mengenai apa yang sebenarnya menjadi diri Kakek selama ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sosok Kakek dan Haji Saleh yang diceritakan oleh Ajo Sidi memiliki kesamaan yang signifikan. Isi kisah yang Ajo Sidi sampaikan memenuhi pikiran Kakek sebab dirinya merasa bahwa Ajo Sidi sedang menceritakan tentang Kakek itu sendiri. Segala kekalutan itu akhirnya membawa Kakek untuk membawa mimpinya menjadi penghuni surga bersama gorokan pisau cukur yang bersemayang di leher tua rentanya. DAFTAR PUSTAKA Navis, A. A. (2008). Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
119 North, Winfried. (2006). Semiotik. Surabaya: Airlangga University Press
120 ANALISIS IKON DALAM CERPEN “ANTARA DESA DAN KOTA” KARYA BARON YUDO NEGORO Tyas Nirmalasari | 21210141024 A. PENDAHULUAN Karya sastra merupakan suatu bentuk ekspresi seni yang menggunakan bahasa sebagai sarana utama untuk menyampaikan ide atau gagasan, perasaan, dan pengalaman pengarang. Dalam karya sastra, kata-kata dipilih dan disusun secara cermat untuk menciptakan sebuah karya yang estetis dan mengandung makna yang mendalam. Setiap genre mempunyai karakteristik unik yang membedakannya dengan genre lainnya. Karya sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan merupakan bentuk seni yang mampu mengobarkan imajinasi, mengungkap realitas baru, dan menggugah pemikiran. Karya sastra mencakup berbagai bentuk, salah satunya adalah cerita pendek atau biasa disebut dengan cerpen. Cerita pendek termasuk dalam karya sastra prosa dengan panjang cerita antara 500 hingga 5000 kata dengan konflik yang sangat sederhana. Oleh karena itu cerita pendek bisa dibaca dalam beberapa menit atau sekaligus dalam sekali duduk. Cerpen merupakan media yang dapat menggambarkan cerita, tokoh, dan konflik dalam waktu singkat. Karya sastra dalam bentuk cerpen mengandung berbagai unsur semiotika yang menggambarkan hubungan antara bahasa dan makna. Dalam konteks ini, analisis sastra menjadi alat penting untuk memahami makna cerpen. Cerpen merupakan salah satu bentuk prosa fiksi yang mana sebagai karya fiksi cerita pendek, ia diciptakan melalui imajinasi yang diuraikan dalam bentuk cerita fiktif. Menurut Wulandari & Siregar, 2020 (via Annisa, R & Liza, S. W., 2022:193) menjelaskan bahwa ciri khas
121 dari cerpen terdapat pada penceritaannya. Cerita dalam cerpen hanya terfokus pada satu permasalahan pokok saja. Alur cepen tidak terlalu rumit dan tidak terlalu kompleks. Dapat diartikan bahwa cerpen hanya fokus pada satu persoalan melalui pembahasan cerita yang mendalam. Dalam cerita pendek, jumlah tokoh biasanya sangat terbatas. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro, 2012 (via Annisa, R. dan & Liza, S. W., 2022:193) yang mengemukakan bahwa cerpen dibentuk oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsurunsur tersebut dapat berupa tema, alur, latar, sudut pandang, hingga peristiwa. Cerpen memerlukan penyampaian cerita yang serba ringkas dan bebas dari detail cerita yang tidak relevan sehingga memperpanjang cerita. Cerpen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah cerpen Antara Desa dan Kota karya Baron Yudo Negoro. Cerpen ini diunggah pada media online ruang sastra pada 22 Juli 2023. Cerpen Antara Desa dan Kota menceritakan tentang suatu kehidupan tokoh Ahmad Malik yang tinggal di desa dengan kesehariannya bertani ke sawah, ia ingin merantau ke kota. Dalam cerpen ini menampilkan penggunaan bahasa yang kreatif dan kaya akan makna, serta menyiratkan kompleksitas dalam naratifnya. Untuk mengungkapkan dan merinci elemen-elemen semiotik yang terkandung dalam cerpen ini, penelitian ini akan menerapkan pendekatan semiotika yang dikembangkan oleh filsuf dan ahli logika Amerika, Charles Sanders Pierce. Berdasarkan teori Charles Sanders Pierce, terdapat tiga bentuk relasi tanda yang perlu diketahui yaitu: (1) Ikon adalah hubungan antara suatu tanda dengan rujukannya yang mengandung kemiripan. Ikon merupakan bagian dari ilmu semiotika yang menandai suatu hal keadaan untuk menjelaskan atau menginformasikan objek terhadap subjek. Dalam hal ini tanda selalu merujuk pada sesuatu yang nyata, seperti benda, peristiwa, tulisan,
122 bahasa, tindakan, kejadian, dan bentuk tanda lainnya. (2) Indeks adalah hubungan tanda dengan acuannya yang berupa kedekatan eksistesial. Indeks merupakan tanda dengan dimensi keberadaan paling jauh. Dalam indeks, dapat menghubungkan tanda sebagai penanda dan petandanya yang mempunyai sifat: nyata, terorganisir, kausal, dan selalu mengisyaratkan sesuatu. (3) Simbol adalah hubungan antara tanda dengan acuannya yang berhubungan konvensional. Simbol menunjukkan hubungan antara penanda dan petanda yang sifatnya arbitrer. Kepada penafsir harus menemukan hubungan penanda itu secara kreatif dan dinamis. Tanda-tanda yang berubah menjadi simbol secara otomatis dibubuhi dengan sifat-sifat kultural, situasional, dan kondisional. Fokus penelitian ini adalah analisis ikon dalam cerpen Antara Desa dan Kota karya Baron Yudo Negoro. Dalam proses analisis tersebut, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca, menganalisis cerpen, hingga kemudian dituangkan dalam artikel. Metode ini digunakan guna menggambarkan kondisi apa adanya, tanpa memberi perlakuan atau manipulasi pada variabel yang diteliti. Metode analisis data dalam penelitian ini diawali dengan data penelitian pada karya sastra dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖ karya Baron Yudo Negoro. Selain itu, untuk menunjang hasil penelitian menjadi lebih baik juga menggunakan beberapa referensi buku, jurnal, dan lainnya yang berhubungan dengan analisis penelitian. B. PEMBAHASAN 1. Ikon desa sebagai penanda lokasi Desa adalah suatu wilayah yang mempunyai tingkat kepadatan rendah yang dihuni oleh penduduk dengan interaksi sosial yang bersifat homogen, bermata pencaharian di bidang agraris dan
123 juga mampu berinteraksi dengan wilayah lain di sekitarnya. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, desa menjadi ikon sebagai penanda lokasi dan menjadi latar cerita yang dominan. Tokoh-tokoh penting dalam cerpen berada di suatu daerah yang mencirikan sebuah tempat dengan aktivitas melalui tindakan tokoh yaitu di desa. Ikon desa juga dapat ditafsirkan sebagai penanda pandangan rendah bila dibanding dengan ikon kota. Ditampilkan melalui tokoh utama yang ingin merantau ke kota untuk menjadi lebih baik daripada di desa. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon desa sebagai penanda lokasi “Aku tak mau terus-terusan di desa” “Apa yang salah dengan desa?” 2. Ikon kota sebagai penanda lokasi Kota adalah suatu wilayah yang di mana jumlah penduduk yang tinggal cukup padat dan lebih padat daripada kepadatan wilayah nasional dan bagi para penduduk yang tinggal di perkotaan biasanya bekerja di sektor non agraris atau bukan sektor pertanian. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, kota menjadi ikon sebagai penanda lokasi dan juga dapat ditafsirkan sebagai penanda sebuah pengharapan. Pengharapan yang dimaksud adalah ketika tokoh utama berada di kota, dirinya mengharapkan akan menjadi seseorang yang lebih baik. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon kota sebagai penanda lokasi. Dia berhasil membius Ahmad Malik dengan peristiwaperistiwa mencengangkan yang berasal dari kota perantauan. “Belum di kota tapi sudah sombong. Kau pernah kekurangan?”
124 3. Ikon sawah sebagai penanda tempat dan sumber penghidupan Lahan merupakan salah satu sumber daya alam dan sangat penting bagi petani. Lahan sawah juga merupakan lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi atau tanaman palawija. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, kota menjadi ikon sebagai penanda tempat yang dapat ditafsirkan sebagai lahan yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari oleh tokoh utama dan beberapa tokoh lain. Sawah menjadi suatu latar tempat pokok yang menjadi ciri khas dalam desa. Dalam cerpen ini banyak disebutkan mengenai ikon sawah. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon sawah sebagai penanda tempat dan sumber penghidupan. Seorang petani menggiring sapi untuk membajak sawah. Ia lalu menelusuri tepian sawah untuk mendatangi bapaknya. 4. Ikon hutan sebagai penanda tempat Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, hutan menjadi ikon sebagai penanda tempat yang disebutkan sebagai daerah yang selalu dilalui oleh tokoh utama ketika menuju ke sawah. Terdapat beberapa bagian cerita yang menyebutkan hutan sebagai penanda tempat karena memiliki keterkaitan yang erat pada isi cerita terutama pada keseharian tokoh utama. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon hutan sebagai penanda tempat.
125 Dengan nafas tersengal-sengal, ia sekali lagi berjalan jauh melewati hutan untuk pulang ke desanya. 5. Ikon gubuk sebagai penanda tempat/singgasana Gubuk pada sawah merujuk pada bangunan atau pondok sederhana yang dibangun di sekitar lahan sawah. Gubuk ini biasanya digunakan oleh petani atau pekerja pertanian sebagai tempat berteduh, menyimpan alat pertanian, atau sebagai pusat aktivitas terkait pertanian. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, gubuk menjadi ikon sebagai penanda tempat yang disebutkan sebagai suatu singgasana yang digunakan oleh para petani termasuk tokoh utama dalam melepas penat ketika di sawah atau sekadar tempat menyimpan bekal makanan. Dahulunya gubuk juga digunakan untuk kumpul pemuda setempat untuk sekadar bercengkrama dan bermain kartu. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon gubuk sebagai penanda tempat. Mereka kemudian bertemu di gubuk pinggir sawah, tempat di mana mereka dulunya sering berkumpul bersama pemudapemuda lain untuk bermain kartu, ngopi, dan menggoda gadisgadis sepulang mandi dari sungai. 6. Ikon langgar sebagai penanda tempat Langgar merupakan tempat ibadah dalam agama Islam. Istilah "langgar" biasanya lebih khas digunakan untuk merujuk kepada tempat ibadah yang terletak di pedesaan atau daerah terpencil dan biasanya memiliki struktur yang lebih sederhana dibandingkan dengan masjid di pusat kota atau wilayah yang lebih padat penduduk. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, langgar menjadi ikon sebagai penanda tempat yang ditampilkan pada bagian cerita tokoh bapak yang sering mengunjungi tempat itu sebagai untuk beribadah sekalian berlama-lama di tempat itu untuk mengurangi intensitas
126 bertemu dengan tokoh utama/anaknya. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon langgar sebagai penanda tempat. Setelah itu, si bapak menjadi sering ke langgar dari Maghrib hingga pukul sembilan malam. 7. Ikon petani/bertani sebagai penanda kaum rendah Petani atau bertani merujuk kepada individu yang berprofesi atau beraktivitas dalam bidang pertanian. Secara umum, petani adalah seseorang yang terlibat dalam kegiatan bercocok tanam, pemeliharaan tanaman, peternakan, atau kegiatan lain yang terkait dengan produksi pangan atau hasil pertanian. Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, petani/bertani menjadi ikon sebagai penanda kaum rendah dikarenakan tokoh utama yaitu Ahmad Malik merasa dirinya tak bisa berkembang di desa hanya dengan bertani. Menjadi seorang petani sangat melelahkan, contohnya saja mencangkul. Apalagi ketika ia sedang teleponan dengan kawannya yang sudah merantau ke kota. Kawannya membujuk dirinya ke kota agar lebih berkembang di kota. Hal itulah yang menjadi penafsiran bahwa petani/bertani sebagai penanda kaum rendah. Berikut merupakan data kutipannya. Ahmad Malik, 22 tahun, adalah seorang petani dengan badan ramping berotot akibat kesehariannya yang mencangkul tanah subur. “Hanya karena bertani, bukan berarti kita miskin.” 8. Ikon koloni burung sebagai penanda kebebasan Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, koloni burung menjadi ikon sebagai penanda kebebasan. Koloni burung ditampilkan dalam cerpen sedang terbang bebas di udara. Melihat hal tersebut tokoh utama ingin menemukan kebebasan dalam hidupnya.
127 Dirinya ingin mendapatkan kebebasan seperti koloni burung itu, yaitu ingin merantau ke kota tanpa halangan restu bapaknya. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon koloni burung sebagai penanda kebebasan. Ia menemukan koloni burung terbang bebas di udara kemudian hinggap di sembarang tempat. Seandainya bisa, ia ingin sebebas burung di langit dan ia tak ingin hinggap di tempat itu-itu saja. 9. Ikon sepucuk surat di meja sebagai penanda kenekatan Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, sepucuk surat di meja menjadi ikon sebagai penanda kenekatan tokoh utama. Sepucuk surat itu juga dapat ditafsirkan sebagai bentuk ucapan pamit dan selamat tinggal pada keluarganya. Tokoh utama yaitu Ahmad Malik nekat pergi dari rumah untuk merantau ke kota atas restu ibunya dan tanpa sepengetahuan bapaknya dengan meninggalkan sepucuk surat yang telah ditulisnya semalam. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon sepucuk surat di meja sebagai penanda kenekatan. Dengan pikiran was-was, ia mulai kemas-kemas. Ia meletakkan sepucuk surat di meja yang ia tulis semalam. 10. Ikon gulungan lembar-lembar uang sebagai penanda dukungan Dalam cerpen ―Antara Desa dan Kota‖, gulungan lembarlembar uang menjadi ikon sebagai penanda dukungan kepada tokoh utama. Gulungan lembar-lebar uang tersebut ditafsirkan sebagai bentuk dukungan ibu kepada Ahmad Malik sebagai bekal di kota perantauan. Dalam hal ini, ibunya telah memberikan izin dan mendoakan tokoh utama yang hendak merantau ke kota. Berikut merupakan data kutipan yang menunjukkan ikon gulungan lembarlembar uang sebagai penanda dukungan.
128 Si ibu kemudian mengendap-endap ke dalam kamar, keluar lagi dengan gulungan lembar-lembar uang. C. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis ikon menggunakan teori Charles Sanders Pierce, dapat ditarik kesimpulan bahwa ditemukan beberapa ikon yang terdapat dalam cerpen Antara Desa dan Kota karya Baron Yudo Negoro. Beberapa ikon tersebut diantara adalah (1) ikon desa sebagai penanda lokasi, (2) ikon kota sebagai penanda lokasi, (3) ikon sawah sebagai penanda tempat, (4) ikon hutan sebagai penanda tempat, (5) ikon gubuk sebagai penanda tempat, (6) ikon langgar sebagai penanda tempat, (7) ikon petani/bertani sebagai penanda kaum rendah, (8) ikon koloni burung sebagai penanda kebebasan, (9) ikon sepucuk surat di meja sebagai penanda kenekatan, (10) ikon gulungan lembar-lembar uang sebagai penanda dukungan. Melalui beberapa ikon tersebut dapat dikatakan bahwa dalam cerpen ini mengandung penanda-penanda berupa keterkaitannya antara desa dengan kota. DAFTAR PUSTAKA Negoro, Baron Yudo. (Juli 2023). Antara Desa dan Kota. Ruangsastra.com. Diakses pada 29 November 2023, dari https://ruangsastra.com/31167/antara-desa-dan-kota/ Rizky, Andra Muhammad. (2023). Analisis Ikon Pada Cerpen ―Gubrak!‖ Karya Seno Gumira Adjidarma. Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa, dan Budaya, 1(4), 74-79. Doi: https://doi.org/10.61132/semantik.v1i4.80 Wulandari, Sovia & Erik D Siregar. (2020). KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE: RELASI TRIKOTOMI (IKON, INDEKS DAN SIMBOL) DALAM CERPEN ANAK MERCUSUAR KARYA MASHDAR ZAINAL.
129 Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41. Doi: https://doi.org/10.22437/titian.v4i1.9554 Rahmayori, Annisa & Liza Septa Wilyanti. (2022). ANALISIS SEMIOTIKA DALAM CERPEN IBU YANG ANAKNYA DICULIK ITU KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(2), 192-198. Doi: http://dx.doi.org/10.33087/aksara.v6i2.383
130 TRAGEDI TIMOR-TIMUR DALAM CERPEN ZE AKAN MATI DITEMBAK KARYA HELVY TIANA ROSA: KAJIAN SEMIOTIKA SANDERS PIERCE Salna Debby Putriyan | 21210141025 Pendahuluan Kelahiran karya karya sastra dilatarbelakangi oleh berbagai macam hal, salah satunya dalah peristiwa atau tragedi besar yang terjadi. Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka tentu mempunyai rekaman jejak kelam, seperti tragedi yang terjadi di Timor Timur. Tragedi Timor Timur sudah menjadi suatu hal bukan rahasia lagi bagi masyarakat Indonesia. Salah satu bentuk dokumentasi dari tragedi tersebut adalah karya sastra. Peritiwa kelam trjadi padatahun 1990-an, terjadi kekerasan kolektif di Timor-Timur yang saat masih mejadi bagian dari provinsi di Indonesia berakar dari permasalahan ekonomi dan politis (Irfan, 2022). Cerpen yang membahas tentang tragedi ini salah satunya adalah cerpen karya Helvy Tiana Rosa dengan judul Ze Akan Mati Ditembak yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014 dalam kumpulan cerpen Juragan Haji. Cerpen ini menggambarkan kondisi dan situasi yang dialami oleh masyarakat Timor-Timur saat tragedi tersebut melalui tokoh Ze, seoarang anak mencintai tanah kelahirannya dan menginginkan keadilan diatas tanah kelahirannya tersebut. Namun tokoh Ze berakhir karena tembakan saat ia ingin menyuarakan suara untuk tanah kelahiran yang dicintainya. Meskipun karya beberapa karya satra membahas trageditragedi kelam di Indonesia, namun para pengarang tetap melupakan nilai-nilai estika di dalam sebuah karya sastra. estetika dalam karya sastra dapat disampaikan dalam bentuk tanda-tanda, untuk
131 menghindari dari penyampaian secara gamblang apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat pembaca. Dalam karya sastra unsur tanda dibagi menjadi ikon, indeks dan simbol. Unsur-unsur tanda dalam karya sastra dapat digali lebih lanjut dengan menggunakan kajian semiotika sastra, kajian yang berurusan dengan tanda mulai dari sistem tanda, dan penggunaan tanda dari segi prosesnya (Ambarini & Umaya, 2010). Tokoh yang terkemuka dalam dalam konsep semiotika salah satunya adalah Charles Sanders Pierce. Dalam konsep yang dikemukakan oleh Pierce, ia menitikbertakankepada relasi antara-antra tanda-tanda yang ada dalam sebuah karya sastra, yaitu ikon sebagai bentuk fisik dari beda yang direpresentasikannnya. Indeks sebagai sebuah tanda memuat hubungan sebab-akibat antara tanda dan petandanya. Dan simbol sebagai sebuah tanda yang di dalamnya ada hubungan yang arbiter dan semena-mena antara tanda dan petandanya berdasarkan kesepakatan masyarakat (Wulandari & Siregar, 2020). Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan semiotika menurut Charler Sanders Pierce sebagai pisau analisis terhadap unsur tanda dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati karya Helvy Tiana Rosa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memahami unsur-unsur tanda (ikon, indeks, dan simbol) dalam cerpen yang telah dipilih. Penelitian ini menggunakakna metode kualitatif deskriptif. metode digunakan kualitatif untuk untuk mengidentifikasi unsur-unsur tanda dalam karya sastra. metode deskriptif digunakan untuk memaparkan hasil penelitian. Pada penelitian ini yang menjadi sumber primer adalah cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa yang unsur-unsur tanda. Data sekunder dalam penelitian ini berupa literatur, jurnal, surat kabar, dan sumber-sumber yang memuat informasi tentang fokus masalah yang diteliti oleh peneliti. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunkaan teknik baca, simak, dan catat untuk memperoleh data dalam wujud kata, frase, maupun
132 kalimat yang terdapat pada unsur karya sastra yang menunjukkan unsur-unsut tanda pada cerpen. Pembahasan Hasil dari analisis data beserta capaian dari penelitian dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa dalam bentuk unsur-unsur tanda, yaitu 1) Ikon dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa, 2) Indeks dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa, dan 3) Simbol dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa yang akan dijelaskan sebagai berikut. Ikon dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa Bentuk ikon dalam karya sastra berupa hubungan tanda dengan petandanya dengan acuan kemiripan diantara keduanya. Menurut Pierce ikon merupakan unsur tanda yang memiliki hubungan kesaaman secara bentuk ilmiah antara tanda dan petandanya (Wulandari & Siregar, 2020). Dalam cerpen dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa ditemukan ikon dalam berbentik sebagai berikut. a) Ikon Darah sebagai Penanda Luka Dalam KBBI darah adalah cairan yang terdiri atas plasma, selsel merah dan putuh yang mengalis dalam pembuluh darah manusia atau binatang. Ikon dalam cerpen dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa menjadi penanda dari bentuk luka yang pedih dan pilu. Hal ini dapat dilihat dilihat dari bagaimana darah menenggambarkan akibat dari kerusuhan yang terjadi di masyarakat Timor-Timur. Luka-luka yang dirasakan oleh masyarakar, keluarga dan, tokoh Ze menguluarkan darah akibat dari keberingasan suatu kelompok
133 dalam usaha penertiban dalam masyarakat tertentu. Luka yang ditandai dengan darah dalam cerpen bukan hanya merujuk pada luka fisik yang dialami oleh masyarakat korba, tapi juga luka mental dan psikis yang dirasakan. b) Ikon Tembakan sebagai Penanda Tindak Kekerasan Tembakan merupakan hasil dari aktivitas menembak dengan menggunakan senjata api. Ikon tembakan sebagai penanda suatu kekerasan. Dalam cerpen dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa dapat dilihat bagaimana suatu tembakan membuat masyarakat berlarian dan ketakutan. Tembakan sebagai hasil dari aktivitas menembak dengan sejata api juga merujuk kepada kelompok tertentu yang memiliki akses untuk menggunakan senjata api dengan leluasa. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tersebut dilakukan dengan semena-mena kepada masyarakat tanpa senjata. Kekeran yang dilakukan dengan senajata api terjadi akibat adanya gerakan yang dianggap sparatis yang dilakukan oleh kelompok tertentu, namun kenyataannya tembak-menembak juga disasarkan kepada masyarakat awam yang hanya menginginkan kedamaian di tanah kelahiran mereka. c) Ikon Lorosae sebagai Penanda Tempat Bentuk ikon Larosae berasal dari bahasa Tetun, bahasa yang digunakan di Timor-Timur. Larosae diartikan sebagai tempat matahari terbit, yaitu bagian Timur. Masyarakat menyebut larosae untuk menyebut Timor-Timur saat itu untk merujuk kepada keindahan negeri timur tersebut, sebagai penanda tempat yang menerbitkan harapan seiring dengan terbitnya matahari dari sana. Larosae mengacu pada tempat dimana tragedi ini terjadi di Timor-Timur, daerah Timur, tempat matahari terbit. Larosae sebagai penanda tempat dapat dilihat dari tokoh Ze yang dominan menyebut Timor-Timur sebagai
134 larosae dibanding nama yang lainnya untuk menyatakan tanah kelahirannya tersebut. d) Ikon Mati sebagai Penanda Pembunuhan Mati merupakan saat dimana seseorang tidak lagi bernyawa, tidak lagi memiliki kehidupan. Dalam cerpen dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa mati ditujukan untuk menggambarkan sesuatu kesengajaan penghilangan nyawa secara tragis, seperti mati yang dialami avo pai adalah dengan pemenggalan kepalanya, kematian yang dialami oleh Ze adalah dengan ditembak berkali-kali. Masyarakat seperti sedang menunggu giliran untu mati dan mempertanyakan bagaimana mati yang akan mereka hadapi. Kematian yang digambarkan dalam cerpen ini merupakan kematian yang terjadi karena pembunuhan, dilakukan secara sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu. Indeks dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa Bentuk indeks dalam karya sastra merupakan hubungan yang terjadi diantara tanda dan penandnaya dalam bentuk eksistensial. Dalam hubungan pada indeks tanda dan penanda memiliki keterkaitan yang bersifat nyata, berurutan, sebab -akibat dan merujuk pada sesuatu (Prayogi & Ratnaningsih, 2020). Berikut bentuk indeks dalam cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa. Amaa yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari empat puluh tahun usianya itu tergesa-gesa menutup jendela kayu dan mengunci pintu. “Kita harus mengungsi, Ze. Mungkin ke Atambua. Orang-orang bilang besok atau lusa ada truk tentara yang bisa mengangkut kita!“ DOR!
135 Ze tersentak lagi. “Jangan ke mana-mana? Kau dengar, Ze? Aku tak ingin kau seperti Apaa-mu yang hilang begitu saja,“ suara Amaa bergetar. (Rosa, 2014) Kutipan cerpen di atas menunjukkan bentuk indeks dalam cerpen Ze Akan Mati Ditembak. Dua kalimat pertama, yaitu Amaa yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari empat puluh tahun usianya itu tergesa-gesa menutup jendela kayu dan mengunci pintu. ―Kita harus mengungsi, Ze. Mungkin ke Atambua. Orang-orang bilang besok atau lusa ada truk tentara yang bisa mengangkut kita!“ merupakan bentuk akibat, sementara pada kalimat selanjutnya merupakan bentuk sebab, yaitu “Jangan ke mana-mana? Kau dengar, Ze? Aku tak ingin kau seperti Apaa-mu yang hilang begitu saja,“ suara Amaa bergetar. Dalam kutipan yang menunjukkan akibat tampak amaa Ze panik dengan kerusuhan yang terjadi dan memutuskan untuk mengungsi, hal ini dilakukan untuk menghindari kehilangan orang disayang seperti pada kalimat dalam bentuk sebab. Namun Ze pun tak benci pada mereka yang menginginkan kemerdekaan, meski ia sendiri tak pernah merasa dijajah. Sejarah Lorosae memang berbeda dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Dan mereka yang menginginkan merdeka berharap dapat hidup lebih baik bila lepas dari Indonesia. Kutipan cerpen di atas menunjukkan bentuk indeks yang memuat hubungan sebab-akibat didalamnya. Pada kalimat yang menunjukkan sebab, Namun Ze pun tak benci pada mereka yang menginginkan kemerdekaan, meski ia sendiri tak pernah merasa dijajah. Sejarah Lorosae memang berbeda dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Menunjukkan bahwa faktanya ada perbedaan latar antara Larosae dengan provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia sehingga merujuk pada akibat, Dan mereka yang menginginkan
136 merdeka berharap dapat hidup lebih baik bila lepas dari Indonesia. Pada unsur indek yang ditemukan dalam kuripan ini tampak sebat dan akibat ini menjelaskan salah satu alasan ada kelompok yang merasa jika melepas diri dari Indonesia akan lebih baik. Simbol dalam Cerpen Ze Akan Ditembak Mati Karya Helvy Tiana Rosa Simbol dalam semotik merupakan sesuatu yang bersifat arbitrer dan konvensional yang membutuhkan proses penyerapan makna secara lebih detail.Simbol dalam semiotik merupakan hubungan antara tanda dan penanda, yang dalam hubungan tersebut tanda dan petandanya ditentukan oleh kesepakan sebagai acuan umum (Rahayu, 2021). Berikut simbol yang ditemukan dalam cerpen Ze Akan Mati Ditembak karya Helvi Tiana Rosa. a) Kemerdekaan sebagai Penenanda Pelepasan Diri dari Indonesia Kemerdekaan merupakan kondisi atau keadaan dimana sesuatu itu dapat berdiri sendiri, tidal lagi terjajah, dan mencapai kebebasanya. Dalam Ze Akan Mati Ditembak karya Helvi Tiana Rosa kemerdekaan menjadi simbol dari pelepasan diri Timor-Timur dari Indonesia untuk membentuk sebuah negara yang baru. Kelompok tertentu yang berasal dari sebagain masyarakat Timor-Timur saat itu menganggap bahwa mereka berada dalam penjajahan Indonesia. Dapat dilihat dari kutipan berikut Sejarah Lorosae memang berbeda dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia. Dan mereka yang menginginkan merdeka berharap dapat hidup lebih baik bila lepas dari Indonesia.
137 b) Simbol Anggota Besi Merah Putih sebagai Penanda Pasukan Tentara Indonesia Anggota besi identik dengan orang-orang yang memiliki kekuatan yanglebih dari manuasia umumnya, karena perjelas dengan penggunaan besi sebagai suatu material yang kuat dan tidak mudah untuk di rusak. Anggota besi juga bisa merujuk pada senjata api yang digunakan karena meterial kokoh besi biasa ditemukan pada senjata api. Warna merah putih merupkan warna dari bendera negara Indonesia, bentuk indentitas yang melekat pada Indonesia. Dalam kutipan, Apakah ia juga akan menggelepar-gelepar sebelum mati, seperti Manuel tetangganya, kala ditikam berkali-kali oleh anggota Besi Merah Putih yang memergokinya minggu lalu itu saat turun dari Hatubute? Atau mungkinkah ia tak sempat mengeluarkan sepatah kata pun seperti Avo pai yang disembelih dan kepalanya digantung pada sebuah galah di dekat rumahnya oleh Fretelin?. (Rosa, 2014) Dapat dipahami bahwa anggota besi merah putih merupakan pasukan tentara Indonesia yang ditugaskan untuk aksi kondusif di masyarakat Timor-Timur. c) Simbol Tentara Kulit Putih sebagai Penanda Keterlibatan Orang Bangsa Asing Dalam cerpen Ze Akan Mati Ditembak karya Helvi Tiana Rosa ditemukan adanya simbol yang menunjukkan keterlibatan bangsa asing dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi di Timor-Timur. Mereka digambarkan lebih arogan dalam cerpen ini, Tak lama sepasukan tentara kulit putih tiba. INTERFET. Dengan pongah mereka menyeruak kerumunan tersebut. Si pemuda ditendang hingga
138 terjengkang beberapa kali.“Who are you?“ bentak mereka kasar. Wajah-wajah bengis menatap pemuda yang tubuhnya penuh luka itu. “What did you do?“ “Saya cuma ingin bicara. Ta… nah ini… harus dibagi… dua…, saya tak memihak siapa pun. Ini demi keadilan....“ Sebuah jab mendarat kembali, kali ini di kepala pemuda itu. Dengan kasar kemudian tentara-tentara berkulit putih itu menggelandangnya ke sebuah pohon besar. (Rosa, 2014) Terlihat bagaimana sikap arogan yang dilakukan bangsa asing kepada Ze, yang ingin menyampaikan pendapatnya kepada tokoh-tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Timur. Dapat dipahami juga bahwa keterlibataan bangsa asing dalam tragedi ini cukup serius untuk memberikan luka yang dalam bai masyarakat Timor-Timur saat itu. Kekuatan dan kekejawan bangsa asing menjadi salah satu senjata untuk bisa melepas diri dari Indonesia saat itu. Kesimpulan Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan semiotika dalam perspektif C. Sanders Pierce untuk menganalisis unsur-unsur tanda dalam cerpen Ze Akan Mati Ditembak karya Helvi Tiana Rosa ditemukan Ikon dalam wujud darah sebagai Penanda luka, tembakan sebagai penanda kekerasan, Lorosae sebagai penanda tempat, dan mati sebagai penanda Pembunuhan. Unsur indeks ditemukan dalam bentuk hubungan sebab-akibat seperti, keputusan untuk mengungsi dikarekan keadaan yang semakin rusuh. Dan simbol yang ditemukan dalam wujud Kemerdekaan sebagai penenanda pelepasan diri dari Indonesia, simbol anggota besi merah putih sebagai penanda pasukan tentara Indonesia , dan Simbol tentara kulit putih sebagai penanda
139 keterlibatan orang bangsa asing. Cerpen ini merupakan medium yang kompeks dan menjadi dokumentasi peristiwa sejarah. Dan dengan penggunaan endekatan Pierce memberikan wawasan yang mendalam terhadap sebuah karya sastra. DAFTAR PUSTAKA Ambarini, & Umaya, N. M. (2010). Semiotika Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press. Irfan, M. (2022). Identifikasi Konflik di Indonesia: Studi Terhadap Kondisi Kekerasan di Timor-Timur dan Maluku-Ambon. Islam dan Contemporary Issues, 2 (1), 23-30. Prayogi, R., & Ratnaningsih, D. (2020). Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tentang Lidah Karya Guntur Alam. Edukasi Lingua Sastra, 18(2), 20-28. Rahayu, I. S. (2021). Analisis Kajian Semiotika dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charle Sanders Pierce. Jurnal Semiotika, 15(1), 30-37. Rosa, H. T. (2014). Juragan Haji. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks,Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian : Jurnal Ilmu Humaniora, 4(1), 29-41.
140 EKSISTENSI CITRA LAKI-LAKI DALAM CERPEN “LELAKI YANG MENDERITA BILA DIPUJI” KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SEMIOTIKA Alna Putri Rahayu | 21210141026 PENDAHULUAN Semiotika memiliki urgensi yang sangat penting di kancah kesusastraan terutama dalam proses resepsi karya sastra. Interdisipliner ilmu yang mengkaji mengenai simbol, tanda, makna, dan metafora yang terkandung dalam suatu teks biasa disebut dengan ilmu semiotika. Analisis teks (textual analysis) termasuk cabang dari semiotika yang berfokus mengkaji terkait tanda-tanda maupun simbol yang memiliki keterkaitan dengan relasi antartanda atau metafora, sistem tanda baik paradigmatik maupun sintagmatik, stratifikasi tanda, ideologi, dan citra atau image (Piliang, 2004). Proses analisis teks menurut sudut pandang semiotika hanya berfokus pada penggunaan unsur-unsur semiotika yang terdapat dalam teks baik secara denotatif maupun konotatif maupun paradigmatik atau sintagmatik. Kerapkali, objek kajian semiotika berupa karya sastra karena pasti menggunakan sistem simbol dan tanda untuk menciptakan nilai estetika suatu karya sastra, seperti puisi, novel, naskah drama, dan cerpen. Karya sastra didefinisikan sebagai sebuah hasil gagasan atau ide yang bersifat fiktif dan bersifat menghibur serta bermanfaat. Di sisi lain, sastra dianggap sebagai gambaran atau rekontruksi kehidupan yang mencakup kenyataan sosial (Damono, 1978). Pada dunia kesusastraan, karya sastra memiliki berbagai macam jenis yang terdiri dari cerpen atau cerita pendek, novel, puisi, gurindam, naskah drama, dan lain sebagainya. Setiap karya sastra memiliki nuansa atau atmosfer cerita yang terkandung di dalamnya atau biasa disebut
141 dengan genre. Beberapa genre yang kerapkali digunakan dalam karya sastra yaitu romantisme, historisme, bahkan psikologis. Di samping itu, karya sastra juga dianggap sebagai rekonstruksi kenyataan sosial berdasarkan pada pengalaman atau peristiwa yang disaksikan oleh penulis kemudian diekspresikan melalui karya sastra yang bersifat fiktif dengan proses kreatif dan imajinatif. Cerita pendek termasuk salah satu karya sastra yang memiliki eksistensi sangat baik dari zaman dahulu hingga saat ini karena melalui cerpen dapat melihat berbagai rekonstruksi realitas kehidupan yang dibungkus melalui proses menulis kreatif. Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang bersifat fiktif dan tidak lebih dari 500 kata karena mengalami pemadatan dan hanya memuat satu konflik (Nurgiyantoro, 2018). Sebuah cerpen meskipun hanya memprioritaskan penceritaan satu konflik saja tetap mengedepankan aspek kepaduan, estetika, semiotika melalui pembubuhan simbol atau tanda atau metafora, dan nilai-nilai moral. Salah satu aspek terpenting dalam memahami moral value yang terkandung dalam cerpen dapat dilakukan melalui pemahaman simbol atau tanda dengan kritis. Kajian semiotika terhadap cerpen menjadi salah satu kajian yang memerlukan kepekaan terhadap simbol, tanda, metafora, bahkan citra atau image yang dikaitkan dengan aspek sosial dan budaya. Cerpen tersebut terbit pada tahun 2018 yang dimuat dalam koran Kompas edisi tanggal 7 Oktober 2018 yang mengangkat tema terkait dengan seorang laki-laki lanjut usia yang memiliki banyak pencapaian namun ketika dipuji oleh orang lain ia justru merasa tidak pantas dan tersinggung (Kompas, 2018). Salah satu karya Ahmad Tohari tersebut mengandung banyak simbol atau tanda yang berfungsi sebagai pembangun citra atau image terhadap tokoh utama cerpen sehingga perlu dikaji menggunakan teori semiotika. Selain itu, melalui kajian semiotika dapat mengidentifikasi representasi atau
142 cerminan aspek sosial maupun budaya yang digunakan sebagai referensi atau inspirasi dalam proses penulisan cerpen tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Citra Laki-Laki dalam Cerpen “Lelaki yang Menderita Bila Dipuji” Penokohan yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra sangat berpengaruh terhadap proses pengidentifikasian citra atau image tokoh tersebut dapat dilihat melalui berbagai cara, seperti melalui karakter, dialog, tindakan, maupun problem solving yang dimiliki suatu tokoh. Sistematika pengidentifikasian citra pada tokoh utama dalam cerpen ―Lelaki yang Menderita Bila Dipuji‖ yaitu Mardanu, ditinjau dari perspektif karakteristik yang ditampilkan dan problem solving atau cara pemecahan masalah yang Mardanu lakukan dalam mengatasi permasalahan. Pemaparan mengenai karakteristik tokoh utama yang bernama Mardanu yaitu seorang laki-laki lanjut usia yang telah pensiun dari pekerjaannya dan mendapatkan berbagai macam pujian karena hal-hal yang ia miliki. Citra yang terkandung dalam tokoh Mardanu termasuk citra sosial yang dapat dilihat melalui penggalan cerpen berikut ini. ―Ketika bertemu teman-teman untuk mengambil uang pensiunan, ada saja yang bilang, “Ini Mardanu, satu-satunya teman kita yang uangnya diterima utuh karena tak punya utang.” “ … Kedua anak Mardanu, yang satu jadi pemilik kios kelontong dan satunya lagi jadi sopir truk semen, juga jadi bahan pujian….”